Baca PDF (OCR): Ecozine Vol.1

32 halaman · 2 halaman diproses dengan OCR· 2338 ms

Daftar isi
  1. ECOZINE
  2. BUML
  3. Ecology Zine
  4. ECOZINE [ ECOLOGY ZINE] VOLUME 1
  5. ECOZINE
  6. KONTRIBUTOR
  7. EDITOR
  8. Layouter
  9. DAFTAR ISI
  10. BASA BASI
  11. Di Bumi yang Sekarat Mei 2023
  12. Surat Cinta untuk Kekasihku di Penajam
  13. Reklamasi Kebenaran
  14. Geraldi Nugroho
  15. I Bumi Manusia
  16. Zanncog_co
  17. Petani Apel dan Sebuah Ketapel
  18. Julian Sadam
  19. ecozinesaja yang berhasil ditangkap mata kecilnya dari 200 meter kotor hamparan barisan
  20. ecozineLatifa menyiapkan air hangat untuk Samsul yang pulang lebih cepat dari biasanya.
  21. “Aku terpikirkan filosofi ketapel” Samsul menambahkan.
  22. “Maksudmu?” Timpal Tarjo
  23. ecozineyang dituju dengan tepat, pas, dan benar.”
  24. “Alam, ini bencana alam.”
  25. “Hotel-hotel itu maksudmu?”
  26. “Hotel-hotel dan pemerintah?”
  27. “Sal!, Sini.” Panggil Samsul.
  28. Wawancara dengan Ex Buruh Tambang
  29. Filsafat Naturalisme sebagai Fondasi Konsep Ekologi Sosial Murray Bookchin
  30. Moch. Rizky Pratama Putra
  31. ecozine10. Bookchin, 7.
  32. ecozine14 Kropotkin, 98.
  33. Pantura
  34. Bungaku Terbungkus Rapih, Di Balik Asap Peperangan
  35. Huruf Kecil

ECOZINE

BUML

SnN

Ecology Zine

vol.1

ecozine

ECOZINE [ ECOLOGY ZINE] VOLUME 1

ECOZINE

Mei 2023

KONTRIBUTOR

eternalfierystrom Zanncog_co Julian Sadam Moch. Rizky Pratama Putra Sene.wee Huruf Kecil Geraldi Nugroho

EDITOR

Hi The Strange

Layouter

Bonifacius Cecilius

DAFTAR ISI

Hal. 3. Basa Basi Hal. 4. Surat Cinta untuk Kekasihku di Penajam еternalfierystrom Hal. 5. Reklamasi Kebenaran Geraldi Nugroho Hal. 6. Bumi Manusia Zanncog_co Hal. 7. Petani Apel dan Sebuah Ketapel Julian Sadam Hal. 16. Wawancara dengan Ex Buruh Tambang Tim Investigasi Hal. 18. Filsafat Naturalisme sebagai Fondasi Konsep Ekologi Sosial Murray Bookchin Moch. Rizky Pratama Putra Hal. 29. Pantura Sene.wee Hal. 30. Bungaku Terbungkus Rapih, Di Balik Asa Peperangan Huruf Kecil

ecozine

ecozine

BASA BASI

Ecozine merupakan wadah responsif terhadap keadaan alam yang tidak pernah baik-baik saja. Sifat manusia yang menganggap diri sebagai pusat alam semesta (androposentris) adalah salah satu penyebabnya. Androposentris lebih lanjut menjelma jadi beberapa wujud seperti patriarki, kapitalisme, neoliberalisme dan masih banyak lagi. Bentuk penghancuran alam kemudian saling menopang satu sama lain menjadi pondasi kerusakan multisektoral yang mana korbannya tidak tebang pilih.

Selain beberapa wujud di atas masih adakah penyebab kerusakan alam lain? Ataukah isu alam hanya mitos? Adakah upaya yang bisa dilakukan guna memperlambat laju kerusakan? Ataukah kita hanya akan berpangku tangan menunggu kiamat datang?

Oh….atau mungkin kau punya keresahan tersendiri mengenai alam? Terkhusus mengenai gerakan penyelamatan alam yang dinilai utopis? Zine ini hadir sebagai salah satu alternatif mencari, menemukan, menyampaikan keresahan atau bahkan solusi yang tidak atau mungkin saja sudah sering dipikirkan sebelumnya. Tidak terpaku pada bentuk formal–lazim kaidah tekstual saja namun juga visual.

Zine ini tidak akan pernah jadi sesuatu hal yang sempurna. Namun, lebih baik berupaya dengan cinta dan kesenangan daripada tidak melakukan apapun.

Di Bumi yang Sekarat Mei 2023

Surat Cinta untuk Kekasihku di Penajam

еternalfierystrom

Kekasihku yang berani, Meski tembok menjulang langit Walau awan diselimuti dinding batu Cinta kita akan serupa gulma Yang terus liar dan menjalar

Tak berbatas kehendak apapun Tumbuh dimanapun Menggugat siapapun Untuk terus hidup di seluruh raya

Di tempat paling lacur sekalipun Sebagaimana mestinya Cinta kita tak akan habis Hati kita tak akan gersang

Melawan curah hujan Menghadapi gigir waktu dan ruang Selalu bersemi Di sela bercak genangan Dan kenangan

Walau kadang mati dan raib Tak henti-henti cinta kita Tumbuh lagi berkali-kali Akan selalu menggebu Menjadi beribu.

ecozine

ecozine

Reklamasi Kebenaran

Geraldi Nugroho

Sanubari Surya meredup Kekuasaan Alam terlelap Symphony relakan dirinya dibekap Oleh ksatria Wibawa tengkurap

Reklamasi Kebenaran Bercita-cita membangkitkan Kerusuhan Rakyat jelata menjerit, Berteriak penuh Kebencian Penguasa menggeram Menahan Kenistaan

Reklamasi bertujuan Membangun Kreasi Namun Alam menjadi Jaminan Kontroversi Reklamasi luput dari Imajinasi diri Tetapi menyebabkan Perang Instropeksi

Binatang laut, alam sekitar menjadi Saksi Perang leburan Demonstrasi Aktivis segala golongan berkeliaran mencari Kebenaran Sejati Penguasa bergegas menyogok Oknum untuk menculik Aktivis Penggugat Reklamasi

Hentikan teriakan Kebencian Karna satu sebab akibat Bumi Pertiwi Berbenturan Antara Rakyat dan Penguasa saling menebar Kebencian

Dan akibatnya Tanah Air mengerut dari Mata Tuhan.

Puisi Ditulis & Disimpan Sejak Hari Rabu 18 April 2018

ecozine

ecozine

I Bumi Manusia

Zanncog_co

Karya kolase dengan tema "ekofeminisme" dan di beri judul "I Bumi Manusia" menggabungkan elemen-elemen ekologi dan feminisme untuk menyampaikan pesan dan mengkritik hubungan antara manusia, alam, dan gender. Istilah "ekofeminisme" merujuk pada gerakan sosial dan filosofis yang menghubungkan perlakuan manusia terhadap alam dengan perlakuan terhadap perempuan, serta mengajukan solusi untuk kedua isu tersebut.

Mengapa "I Bumi Manusia" ? Nah Judul tersebut dapat mencerminkan tema utama atau pesan yang ingin disampaikan dalam karya kolase di atas. "I Bumi Manusia" bisa menunjukkan hubungan antara manusia dan alam, ketergantungan terhadap Bumi, atau mungkin peran manusia dalam menjaga kelestarian lingkungan. Layaknya seorang anak kepada ibu, kita manusia ini tidak lepas dari sumber daya alam yang di hasilkan oleh bumi.

Kerap kali kita sering mendengar kutipan "kita jaga alam alam jaga kita" bukan kah ini sebuah korelasi antara kita dengan ibu? Akan tetapi mengapa masih banyak manusia manusia rakus yang kerapkali mengeksploitasi alam? Mungkin judulnya terkesan unik dan sedikit ambigu tapi ketergantungan manusia sebagai bagian dari ekosistem alam perlu dilahirkan dan direkonsepsi kembali nilai-nilai urgensinya, supaya akumulasi sumber daya alam dapat direduksi dan dapat ditemani dengan pemulihan-pemulihan ekologis.

Karya kolase dengan tema "ekofeminis" mampu menyampaikan pesan-pesan tentang keberlanjutan, keadilan sosial, dan hubungan antara manusia dan alam dengan menggunakan visual dan simbolisme yang kuat. Tujuannya untuk mendorong pemikiran kritis dan perubahan positif dalam cara kita berinteraksi dengan alam dan masyarakat.

Petani Apel dan Sebuah Ketapel

Julian Sadam

Akhir 2016, bertepatan dengan ramainya televisi oleh narasi penistaan agama yang berbuntut pada ribuan orang berdemo sekuel menuntut diturunkannya Gubernur Ibukota kala itu. Samsul mengamini kolaborasi epic antara sebatang lintingan tembakau malakans dan gerimis tipis pagi yang menyelimuti lereng selatan gunung Arjuno, mengesampingkan berita televisi yang sepanas inferno. Konon, tembakau yang ia hisap itu adalah jenis tembakau yang sama yang dihisap oleh Tan Malaka ketika menulis memoar Dari Penjara Ke Penjara dalam masa pengasingan di Madiun. Tak lama istri Samsul datang menghidangkan segelas kopi hitam dengan santun.

Istrinya bernama Latifa. Berusia lebih tua delapan tahun dari Samsul. Mereka bertemu dengan cara begitu sederhana. Tiga belas tahun lalu di perbatasan antara lereng selatan dan barat gunung Arjuno, keduanya sama-sama menghadiri sebuah acara semacam festival tahunan untuk merayakan panen raya apel yang memang tumbuh sangat subur di daerah itu. Di waktu yang sama, mereka masing-masing sedikit menjauh dari kerumunan karena ingin menghisap rokok. Latifa ingin menghisap rokok namun tidak memiliki korek api, sedangkan Samsul sebaliknya, hanya membawa korek api tanpa mengantongi sebatang rokok pun.

Obrolan normatif mengawali pertemuan mereka, Latifa banyak tertawa karena Samsul berimprovisasi mengisi suara orang-orang yang berada di sekitarnya dengan candaan bahasa jawa yang sedikit tidak senonoh. Latifa yang merasa nyaman pun kembali menawari Samsul batang kedua. Hubungan dan tawa itu mereka jaga, rutin bertemu di sepanjang rute dingin melingkari gunung Arjuno-Welirang, Hingga di tahun berikutnya mereka memutuskan untuk menikah. Sesederhana diawali dari sebatang rokok sampai kini mereka hidup bersama di sebuah pondok, lengkap dengan seorang buah hati mereka diberi nama Salasa, akronim dari ‘Samsul Latifa Saklawasnya’.

Uap kopi yang baru saja diaduk Latifa beberapa kali mengepul membentuk simbol menyerupai asap tembakau yang keluar perlahan dari celah-celah gigi Samsul. Dan gerimis pagi itu perlahan hilang berganti garis cahaya matahari yang mengintip di celah awan. Keranjang dan sekotak malakans di tangan, dan saatnya Samsul berangkat.

Samsul adalah seorang petani apel, meneruskan pekerjaan sang ayah yang mewarisinya kebun apel yang cukup luas. Ia mengelola kebun bersama tiga awaknya, salah satunya bernama Tarjo, pemuda yang cukup aktif bersosialisai di kalangan para petani apel se-lereng selatan gunung Arjuno. Kegiatan mereka setiap hari merawat pohon-pohon apel yang menghidupi keluarga bergenerasi, membersihkan kebun, menangkal hama, memotongi daun-daun agar memancing tumbuhnya bunga dan buah, dan tentu memberinya pupuk guna hasil panen yang memuaskan.

Salasa kerap menghampiri ayahnya selepas pulang sekolah. Anak itu belakangan senang menghabiskan waktu di kebun apel membaca buku-buku cerita, atau menggambar apa

ecozinesaja yang berhasil ditangkap mata kecilnya dari 200 meter kotor hamparan barisan

ecozine pohon apel dan burung-burung pleci yang hinggap-terbang diantaranya. Terkadang ia juga membidik burung-burung itu dengan sebuah ketapel ciptaannya hasil rakitan dari sebilah cabang dahan apel dan ban dalam bekas. Tak jarang, Samsul memerhatikan ketangkasan anaknya itu sembari ngaso menghisap lintingan malakans bekal dari pondok.

Selain kutu daun, kutu sisik, tungau, dan ulat, burung pleci merupakan hama bagi perkebunan apel. Mereka kerap mencubiti kertas-kertas pembungkus buah yang mulai manis, meninggalkan bekas dan mengakibatkan buah tidak layak dipasarkan. Hadirnya Salasa yang gemar bermain membidik burung pleci menggunakan ketapel merupakan win win solution bagi Samsul; anaknya riang, hasil panen aman.

Namun kenyataan di suatu pagi tak semenyenangkan bayangannya. Samsul bersama tiga awaknya membuka kertas-kertas yang menutupi buah-buah apel. 90 persen buah apel terkena penyakit mata ayamsehingga menjadi ancaman gagal panen untuk musim ini. Bintik-bintik hitam terlihat di setiap buah apel, jumlahnya tak main-main.. Sedangkan sisanya hanya apel muda yang belum siap panen.

Memang, beberapa tahun belakangan, penyakit mata ayam selalu menyerang buah apel para petani ketika memasuki musim penghujan. Penyebab penyakitnya sendiri sampai sekarang belum diketahui. Sebelumnya, petani hanya memakai pestisida dan insektisida berbagai merek, tapi tidak bisa menyembuhkan tanaman secara signifikan. Dan, musim ini adalah yang terparah. Melihat hal itu, Tarjo langsung bergegas meninjau perkebunan apel lain tidak jauh dari kebun milik Samsul, dan hasilnya sama. Bahkan, para petani di sepanjang lereng selatan gunung Arjuno juga terancam gagal panen seluruhnya. Dengan memendam stres sebanyak bintik hitam pada kulit apel, petani tetap memetik apel-apel itu satu persatu. Di setiap petikan apel yang di buang ke keranjang, mereka merasakan pundi-pundi kebahagiaan gugur satu-dua dan menghilang.

Salasa datang berkunjung dan melihat wajah lesu Samsul serta petani lainnya. Ia menangkap kabar buruk gagal panen itu dan seperti ikut merasakan stres. Reflek, ia mengambil segenggam kerikil di tangan kecilnya dan berkali-kali menembakannya menggunakan ketapel ke arah puncak Arjuno yang tampak tidak goyah di cakrawala. ‘Pletok!’ Salah satu amunisi Salasa tanpa disengaja mengenai kepala Paimin yang berada di kebun sebelah, dan meninggalkan umpatan serta wajah kebingungan bercampur sedikit amarah. “Woy jancok! Opo iku?!”. Salasa meringkuk dan bersembunyi.

Malam di hari yang sama, para petani yang tergabung dalam Hipalesno (Himpunan Petani Apel Lereng Selatan Arjuno) mengadakan pertemuan untuk menyikapi gagal panen musim ini. Dulu, lereng selatan gunung Arjuno memiliki petugas PHP (Pengamat Hama dan Penyakit), tapi kini petugas tersebut sudah pensiun dan tidak ada penggantinya dari Pemerintah. Pernah juga di tahun sebelumnya Dinas Pertanian dan Perkebunan datang mengecek, namun masih belum menemukan solusi. Akhirnya mereka tidak pernah datang kembali sampai hari ini, ketika penyakit mata ayam pada buah apel semakin parah menggagalkan hasil panen para petani.

Dari pertemuan malam itu ditemukan solusi sementara, yakni buah-buah apel yang terpapar bintik-bintik hitam keesokan hari akan disortir, dikupas dan dipilih bagian- bagian daging yang masih bersih untuk diolah menjadi minuman sari apel. Beberapa

yang agak membusuk di campur menjadi satu untuk dilelang pada kolega milik Tarjo guna difermentasi menjadi minuman keras.

Latifa dan ibu-ibu petani lainnya menyortir buah-buah yang terkumpul saat beberapa perwakilan petani –termasuk Samsul menemui Dinas Pertanian dan Perkebunan untuk mendapat solusi lanjutan dari Pemerintah terkait gagal panen musim ini, mengingat buah apel adalah ikon khas lereng selatan gunung Arjuno sejak lama.

Sepanjang jalan Samsul melewati alun-alun kota dan pasar besar. Samsul begitu jarang turun ke kota, karena memang tidak pernah ada alasan baginya untuk melakukannya. Semua kebutuhan hidup sehari-hari sudah terpenuhi oleh kekayaan alam di lereng selatan gunung Arjuno. Pendistribusian apel-apel dari perkebunan miliknya ke pasar-pasar pun sudah ada yang mengurusi. Tidak heran saat itu ia merasa begitu asing. Di sepanjang jalan menuju ke alun-alun penuh sesak oleh mobil dan bus yang mengangkut banyak orang dari luar kota untuk singgah di tempat itu.

Pedagang-pedagang bertebaran, bahkan kedai-kedai yang berdiri sejak jaman ia kecil telah hilang. Antara tertutup oleh pedagang-pedagang lain atau gulung tikar berganti hotel bertingkat yang menjulang lebih tinggi dari pada bianglala di alun-alun. Tempat itu begitu asing, Samsul merasa seperti domba tersesat di tengah hiruk pikuk keramaian kota yang melesat begitu pesat.

Kegusarannya diperparah ketika melewati pasar besar dan melihat begitu banyak apel dijual, dan kebanyakan adalah apel impor yang Samsul dan para petani lainnya tidak mengetahui dari mana asal-usulnya. Kalaupun ada apel-apel dari perkebunan para petani, hanya satu-dua pedagang yang menjualnya. Apel-apel lokal itu ditempatkan pada sudut yang paling jarang –bahkan tak pernah disentuh oleh pembeli.

Ini adalah pemandangan mengerikan bagi Samsul, sama mengerikannya dengan penyakit mata ayam dari apel-apel yang masih dengan telaten disortir dan dipilah oleh Latifa serta ibu-ibu petani lainnya di lereng selatan gunung Arjuno.

Setelah bertemu pihak Dinas Pertanian dan Perkebunan, pemerintah memberikan janji segera mengirimkan ahli tanaman untuk mengecek tanaman apel para petani. Guna meninjau barangkali cara bertani mereka salah atau bagaimana. Namun janji itu tak pernah ditepati hingga musim panen kedua hanya menyisakan tiga bulan lagi.

Bulan berganti, tak jauh di sebelah tenggara kebun milik Samsul mulai dilakukan pembangunan sebuah hotel berbintang. Proyek pembangunan itu dilakukan setelah Mulyadi, seorang juragan tanah tersohor di lereng selatan gunung Arjuno berhasil menjual berhektar-hektar tanah miliknya dan pindah ke Surabaya. Pembangunan itu direncanakan selesai akhir tahun depan.

Selama menanti musim panen kedua, lalu lalang alat berat menjadi pemandangan sehari-hari mengiringi kegiatan para petani di kebun masing-masing. Sejak pagi datang hingga matahari menghilang dari pandangan. Dampaknya pun mulai terasa, suara berisik dan banyak jalan desa rusak akibat lalu lalang alat-alat yang namanya terlalu sulit untuk disebutkan oleh lidah penduduk desa.

ecozineLatifa menyiapkan air hangat untuk Samsul yang pulang lebih cepat dari biasanya.

ecozine Sore itu memang sangat dingin, langit lebih cepat berubah menjadi gelap. Pergerakan angin begitu acak membuat api di tungku lebih sulit dikendalikan, dan proses memasak air panas memakan waktu lebih lama.

Air panas siap, langsung dijemput oleh Samsul diiringi lantunan orchestra alam yang bersiul-siul karena angin terus berhembus dengan kencang.

Sesekali tetesan air yang menggantung di dedaunan sisa gerimis ikut terbawanya. Peluh dan dingin udara perlahan tuntas oleh hangat air yang mengguyur tubuhnya.

Selepas mandi, ia menengok Salasa di ruang tengah sedang menyantap semangkuk capcay sambil membaca lembar bergambar pemberian dari Tarjo. Sekilas Samsul menyimak lembar bergambar itu, tentang peringatan 11 tahun lumpur lapindo Sidoarjo. Bacaan itu mengantar Samsul memejamkan mata menjemput malam yang dingin, dan bunyi orchestra alam masih setia menemani.

Sfssiiiiiiiiiuuuuuuuuuuu…. Sfssiiiiiiiiiuuuuuuuuuuu….

Pagi datang bersama kabar buruk dari langit. Paimin dan Tarjo sudah duduk di teras pondoknya sambil menghisap malakans. Hampir semua pohon apel di perkebunan milik Samsul roboh diterjang angin kencang yang berhembus sejak kemarin. Buah apel siap panen banyak yang rusak dan rontok diterjangnya. Kebun porak-poranda. Samsul menanggapinya dengan menarik napas panjang dan melinting malakans, kemudian menyuruh Paimin serta Tarjo berangkat kembali ke kebun, menyelamatkan apa saja yang bisa diselamatkan sebelum ia menyusul.

Lintingan malakans dia hisap dalam-dalam sambil bersandar pada kursi rotan teras pondoknya. Matanya menerawang langit-langit dan terhenti pada sebuah ketapel milik Salasa yang menggantung di pilar kayu jati penyangga pondok. Ia teringat saat Salasa menembakkan banyak kerikil ke udara dan salah satunya mengenai kepala Paimin. Berangkatlah Samsul menuju kebun.

Benar. Seperti laporan Paimin dan Tarjo pagi tadi, kebunnya porak poranda tak tertolong. Bahkan, ada beberapa pohon yang tercerabut sampai akarnya dan banyak buah yang rusak. Melihat kondisi tersebut, Samsul menyadari kejadian itu akan mengancam produktifitas apel kedepan. Karena tanaman apel mengalami tingkat stres tinggi, penyerapan unsur hara di tanah bisa berhenti sejenak karena kondisi pohon apel digoyang angin kencang, bunga serta buah apelnya rontok, pohonnya juga bisa kurus. Bahkan, lengan Latifa akan jauh lebih besar ketimbang batang pohon apel.

Tak banyak bisa dilakukan Samsul, ia hanya mengambil sebilah cabang pohon apel yang tertidur di tanah, mematahkannya dengan mantap, lalu kembali ke pondok. Awak-awaknya hanya terdiam kebingungan menanggapi sikap Samsul, dan kembali melanjutkan memunguti buah-buah apel yang bisa diselamatkan.

Wartawan berdatangan ke kebun-kebun apel yang hancur. Berita tentang bencana angin kencang semalam pun dengan cepat mengudara melalui layar kaca. Latifa dan Salasa begitu antusias melihat daerah yang biasanya mereka lalui sehari-hari ditampilkan di

televisi. Samsul mendengarkan suara televisi sembari khusyuk menguliti sebilah cabang batang pohon yang pagi tadi ia pungut di kebun.

Staf Rehabilitas Rekontruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjelaskan kajian mereka. Total kerusakan tanaman apel ini kurang lebih 200 hektare dan kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah. Sementara berdasarkan kajian Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), faktor penyebab terjadinya angin kencang yaitu karena alih fungsi lahan yang tidak terkendali. Samsul tersenyum dan tetap dengan telaten meneruskan pekerjaan di kedua tangannya. Lalu pergi meninggalkan pondok tanpa berpamitan pada Latifa dan Salasa.

Hipalesno mengadakan pertemuan mendadak setelah para petani selesai memungut buah-buah apel yang bisa di selamatkan. Tahun ini dipastikan dua kali mereka gagal panen. Festival panen raya pun bisa dipastikan tidak diselenggarakan. Ada perwakilan dari pemerintah yang datang di pertemuan itu, juga beberapa wartawan yang masih berbincang dengan para petani apel satu per satu.

Tidak ada solusi konkrit untuk penyelesaian perkebunan apel mereka yang porak poranda, karena angin kencang juga turut merusak sektor ekonomi, sosial, dan sebagian infrastruktur milik pemerintah. Solusi yang didapat saat itu adalah pemerintah menawarkan pinjaman bank dengan bunga ringan untuk para petani guna memulihkan lahan perkebunan mereka.

Samsul tidak banyak bicara, namun ia memerhatikan setiap kata yang keluar dari mulut orang-orang di sekitarnya dengan seksama, dan masih meneruskan menghaluskan bilah cabang pohon apel di tangannya. Paimin dan Tarjo benar-benar tidak tahu apa yang harus di lakukan untuk menyikapi Samsul. Beberapa kali mereka mengajaknya berbicara saat pertemuan, namun sama sekali tidak digubris. Paimin beranalisa masalah ini mengguncang kejiwaan Samsul.

Bilah cabang pohon apel itu sudah rapi membentuk huruf Y, Samsul meninggalkan bualan pemerintah bersama Hipalesno yang terlihat menyetujui solusi yang diberikan oleh pemerintah itu. Tarjo dan Paimin mengikutinya dari belakang.

“Apa yang kau pikirkan?” Tarjo mengawali percakapan dengan nada cukup serius.

“Lihat ketapel ini.” Jawab Samsul sambil melilitkan ban dalam bekas pada kedua pucuk bercabang batang pohon apel di tangannya.

“Dari tadi kami sudah melihat itu, tak ada hal lain yang kau lakukan selain mengurusi batang ketapel itu”

“Ketapel ini adalah aku.” Samsul kemudian meminum segelas air, ketapel ditangannya dilemparkan pada Tarjo dan mengganti kegiatannya dengan melinting malakans. Tarjo kebingungan menerima ketapel ditangannya, apalagi Paimin yang sedari tadi hanya diam, entah sedang menyimak pembicaraan atau memang tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan.

“Aku terpikirkan filosofi ketapel” Samsul menambahkan.

“Maksudmu?” Timpal Tarjo

“Dia perlu ditarik mundur dengan kuat untuk melaju kuat dan cepat menuju sasaran

ecozineyang dituju dengan tepat, pas, dan benar.”

ecozine “Aku masih tak mengerti” Tarjo mengakui kebingungannya, apalagi Paimin yang sungguh saat itu hanya berperan layaknya figuran.

“Menurutmu siapa yang harus disalahkan atas porak porandanya kebun milik para petani?”

“Alam, ini bencana alam.”

“Alam tak pernah salah Jo.” Samsul menjelaskan. “Bencana alam adalah akibat, bukan penyebab.”

“Lalu siapa yang mesti disalahkan? Kita, para petani? Yang benar saja.”

Melihat Tarjo yang sama sekali tidak mengerti, Samsul memaksanya diam dan memerhatikan baik-baik ketapel di genggamannya. “Dulu, di kawasan lereng selatan gunung Arjuno ini masih banyak pohon yang berfungsi sebagai pemecah angin. Namun, dari tahun ke tahun semakin berkurang seiring hasil panen kita yang juga ikut menurun. Siapa yang menghilangkan pohon-pohon pemecah angin itu?”

“Hotel-hotel itu maksudmu?”

“Kau mulai mengerti, ditambah banyaknya apel-apel impor yang membuat hasil panen kita sulit mendapat tempat di pasar. Siapa yang mendatangkan buah-buah impor itu?”

“Pemerintah?”

“Jadi siapa sebenarnya yang harus disalahkan atas porak porandanya kebun-kebun apel milik para petani?”

“Hotel-hotel dan pemerintah?”

“Tepat. Bagiku lebih cocok disebut kolaborasi bajingan serakah penggerogot hutan.”

Paimin yang sedari tadi masih terdiam perlahan mulai mengerti obrolan Samsul dan Tarjo.

“Dan solusi yang ditawarkan pemerintah adalah jebakan untuk para petani, mengikat kita dengan utang yang sampai kapanpun tidak akan bisa kita bayar jika hasil panen kita terus dibuat berkurang dan buah-buah impor selalu didatangkan? Begitu maksudmu Sul?” Paimin memotong percakapan dan sejenak membuat Samsul dan Tarjo terpukau.

“Bisa-bisa kita terpaksa menjual lahan-lahan perkebunan demi melunasi utang-utang itu!” Ia menambahkan.

“Lihat! Butuh berpuluh-puluh tahun untuk mengembalikan hutan yang habis digunduli, tapi hanya butuh beberapa linting malakans untuk menyadari kebodohan kita selama ini.” Samsul kegirangan melihat dua kawannya mulai tercerahkan.

“Seperti ketapel ini.” Tarjo mengembalikan ketapel pada Samsul.

Malam itu juga mereka bertiga mencetuskan rencana sabotase, mempelajari mekanisme alat berat yang terparkir di tempat proyek pembangunan hotel berbintang di bekas lahan milik Mulyadi untuk kemudian hari dilakukan aksi sabotase. Pada bagian hydraulic

pump di atas counterweight adalah tempat mesin alat berat.

Salah satu kabel yang berada disana disambungkan sedemikian rupa dengan satu liter bensin diberi wadah termos alumunium. Dimaksudkan agar ketika tuas mesin berada dalam cab dinyalakan, akan memancing aliran listrik yang terhubung pada bensin dalam termos sehingga mesin alat berat otomatis akan meledak. Samsul mengkondisikan agar ledakan tidak sampai melukai pekerja di dalam cab dengan memanjangkan kabel yang menyulut listrik ke bagian terluar counterweight.

Dan rencana itu berhasil. Tidak tanggung-tanggung, tiga alat berat yang terparkir disana meledak dan memaksa proyek pembangunan hotel berbintang itu terhenti untuk beberapa hari.

Pihak pengembang proyek melakukan investigasi terkait meledaknya tiga alat berat, mendatangkan teknisi mesin alat berat, dan menemukan termos-termos alumunium di sekitarnya. Namun tidak sampai menyimpulkan indikasi sabotase dari para petani. Rasanya, tiga alat berat yang lumpuh bukan merupakan sesuatu yang begitu merugikan bagi mereka.

Sementara kegiatan Samsul dan awak-awaknya melakukan pemulihan kebun apel yang porak poranda pada pagi hingga siang, lalu sorenya mereka habiskan untuk pelan-pelan kembali menanami pepohonan di bagian tepi lahan proyek. Dengan maksud sedikit demi sedikit menyempitkan lahan proyek pembangunan hotel berbintang itu sambil memantau perkembangan aksi mereka.

Dua alat berat berhasil diperbaiki, meninggalkan satu alat berat yang dibiarkan terparkir tanpa beroperasi. Proyek pembangunan kembali dilanjutkan, truk-truk pengangkut material bangunan mulai berdatangan. Membuang muatan di area proyek, dan kembali mengambil muatan dari dataranlebih rendah melewati jalan yang sama. Para petani mulai risau dengan jalan mereka yang rusak.

Pertemuan-pertemuan Hipalesno mulai bertitik terang oleh Paimin dan Tarjo yang banyak bersuara. Para petani mulai tercerahkan, mulai bisa berimajinasi tentang konsep utopia dan distopia. Puncaknya, tepat setelah ditangkapnya Walikota lereng selatan gunung Arjuno oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akibat menerima suap dari perusahaan pengembang proyek pembangunan hotel berbintang itu. Para petani melakukan aksi blokade jalan yang kerap dilalui truk-truk dan alat berat. Ibu- ibu dan anak-anak juga tergabung di dalamnya. Aksi itu dilakukan selama empat hari, media massa juga mulai ramai ikut menginvestigasi. Paimin dan Tarjo berkali dimintai keterangan sana-sini, hingga truk-truk dan alat berat itu benar-benar ditarik mundur dan tak pernah kembali lagi. Pihak pengembang memutuskan menghentikan proyek pembangunan hotel berbintang itu.

Para petani merayakannya dengan melakukan syukuran bersama. Memperkuat jaringan solidaritas untuk penyelamatan hutan dengan menggerakkan aksi lanjutan, yakni pendudukan lahan, menanam seribu pohon di tanah lapang bekas proyek, menyisakan sepetak untuk lapangan voli dan sepak bola bagi warga desa.

ecozine

ecozine Minggu sore, Samsul menyeruput kopi hitam buatan Latifa dengan lintingan malakans terselip di jarinya. Memandangi Salasa di halaman sedang menyirami pohon apel yang baru setinggi pinggangnya.

“Sal!, Sini.” Panggil Samsul.

Salasa menghampiri dengan tenang. Samsul memberikan ketapel padanya. Ketapel yang sama yang ia berikan ketika membagi pencerhan pada Tarjo.

“Ini, ayah buatkan ketapel untukmu.” Ucap Samsul dengan mantap.

Sering kali, hukum sosiologi dilampaui oleh keterangan antropologi; bahwa masyarakat kita hidup dalam psikologi ‘nerimo’. Tetapi sejarah politik juga menunjukkan bahwa psikologi ‘ngamuk’ adalah juga ciri antropologis dari masyarakat kita.

--RG

Wawancara dengan Ex Buruh Tambang

Hari pertama di bulan Mei selalu jadi romansa tersendiri ditandai dengan nama “May Day”. Yah....
selamat mengenang perjuangan para pendahulu kalian.

Kali ini kami akan menuliskan wawancara khusus yang memaparkan bagaimana eksploitasi alam sejalan dengan eksploitasi buruh sebagai pekerja. Ia pernah bekerja sebagai buruh di salah satu tambang illegal di desa Mandiodo, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Tanpa banyak basa basi berikut wawancara kami. Beberapa data kami samarkan tanpa mengurangi esensi informasi demi kemanan yang bersangkutan.

1. Kami ingin mengetahui cerita anda saat bekerja pada salah satu tambang perusahaan tambang. Tolong beri kami inisial nama untuk keamanan serta usia. Inisial HS, umur 19 Tahun
2. Di mana lokasi tambang anda bekerja? Berapa lama anda bekerja di sana? Sebagai apa? Dan bagaimana caranya anda masuk? Lokasi tambangnya terletak di Desa Mandiodo, Kecamatan Molawe, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Tak ada syarat khusus buat masuk di Perusahaan saya, yang bahkan tidak memerlukan berkas untuk karyawan inti. Berbeda dengan karyawan inti, driver DT memerlukan beberapa berkas seperti KTP, SIM B Umum, dan Surat Pengalaman Kerja bagi yang punya.
3. Bisa ceritakan pada kami detail pekerjaan anda? Terkait aktivitas, waktu bekerja dan istirahat, tinggal di mana, dan hitungan upah atau gaji? Saya memulai pekerjaan dari jam 07:00, memulai dari mengecek mesin untuk dinyalakan dan mengisi Mobil DT sebelum memulai pekerjaan (ini rutin saya lakukan setiap pagi). Lalu saat stock solar menipis, akan ada truck pembawa solar yang datang dengan memesan memakai sistem pembayaran invoice dari perusahaan kami. Jam istirahat kami ada waktu siang dan sore hari di pukul 12:00 - 13:00 dan 17:00 -18:30, kadang pula di saat cuaca yang baru melewati hujan saat hari hari kemarin, kami tak memakai jam istirahat dan tetap melanjutkan pekerjaan untuk mengejar ketertinggalan. Ketika memasuki malam hari, kami sudah terhitung lembur dengan jam dimulai pukul 18:00 hingga selesai, entah itu jam 22.00 atau bahkan hingga jam 24.00. Saat pengisian, saya juga mencatat dengan detail seperti nomor lambung tiap mobil, lv, menit pengisian, dan literan yang terisi. Setelah balik gunung, saya lanjut mengerjakan laporan dengan merangkum catatan pengisian sebelum pagi hari. Saya tinggal di mess yang berjarak 5km dari site, yang berada dekat dengan jalan poros kabupaten. Terkait upah, saya digaji dengan basic 3.000.000 dan lemburan dihitung 17.500 perjam.
4. Setahu anda, apakah perusahaan tempat anda bekerja memiliki izin? Jika iya jenis izinnya apa? Jika tidak bagaimana caranya perusahaan anda bisa melakukan kegiatan pertambangan? Perusahaan saya tidak memiliki izin pertambangan, mungkin karna susahnya mendapatkan izin jika perusahaan kontraktor tak memiliki K3 dan jaminan bagi karyawan seperti BPJS, tanggungan
ecozine kesehatan, dan cuti yang layak, seperti perusahaan tempat saya bekerja.

ecozine Perusahaan site yang saya tempati menambang ini tak memiliki izin tetapi bisa tetap bekerja karena koneksi serta kongkalikong dari PT ATM yang merupakan pemilik IUP di site tempat saya bekerja. Oh iya, serta kekuatan warga lokal yang rewel jika antam tak memberikan izin untuk menambang, yang akan melakukan kegiatan berdemo serta pemblokiran akses ke site tersebut.

5. Bagaimana kondisi lingkungan tempat anda bekerja? Bentuk perubahan atau lebih tepatnya kerusakan alam seperti apa yang terjadi di sana? Sangat buruk, bahkan seiring saya berada di sana dari waktu ke waktu, makin lama makin banyak pohon dibabat untuk dijadikan tempat penambangan dengan mencari kadar ore yang lebih tinggi. Saya sangat menyadari perubahan dari awal saya datang ke sana, hingga hari di mana saya meninggalkan tempat tersebut. Dari yang tadinya hanya beberapa site penambangan, dengan berkala makin banyak penambang ilegal yang membuka site di sekitar IUP ATM ini. Tentu saja para penambang ilegal ini tak membicarakannya dulu dengan ATM, diam diam mereka melakukan pencurian ore ketika memulai kegiatannya di malam hingga pagi hari. Dampak dari pembabatan hutan tersebut mengakibatkan banjir di sekitaran kampung di kaki gunung tersebut, aliran air dari gunung ini sangat parah hingga terlihat seperti banjir rob jika hujan deras dalam waktu yang lama.
6. Apakah anda merasa upah atau gaji setara dengan pekerjaan? Tentu saja tidak :) bagi saya, waktu yang terbuang selama di sana tidak sebanding dengan gaji yang saya terima, walaupun mess dan makannya ditanggung perusahaan, karena di perusahaan saya tak memiliki cuti selama kerja di sana. Dengan pekerjaan yang berat, serta tanggung jawab yang tinggi di mana tidak semua orang mampu bertahan.
7. Adakah pengalaman buruk anda selama bekerja? Entah itu karena kelalaian anda atau mungkin karena perusahaan tidak memiliki SOP dalam bekerja? Jika ada, apakah anda mendapat sanksi atau hukuman? Seperti apa sanksi atau hukumannya? Saya punya beberapa pengalaman buruk, seperti atasan di satu bidang yang sama selalu mencari kesalahan saya, dan masalah kecelakaan seperti selang yang sudah tak layak, nozzle yang sudah rusak, dan mesin yang tak berfungsi sebagaimana mestinya. Perusahaan saya jelas tak memiliki SOP dalam bekerja. Sanksi yang saya dapat berupa teguran dan penegasan untuk tidak melakukan kesalahan lagi, serta pengancaman buat memulangkan saya dari sana.
8. Apakah anda masih bekerja di sana? Jika iya apa alasan anda tetap bertahan? Jika tidak, mengapa anda berhenti bekerja? Saya telah berhenti bekerja dikarenakan alasan yang awalnya pengurangaran tenaga kerja dengan merumahkan beberapa pekerja, menjadi status phk secara tidak langsung. Saya pun tak ada niat untuk kembali karena sudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemauan saya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan kami. Meski tidak mampu memberi gambaran secara menyeluruh mengenai eksploitas alam dan buruh. Stay safe! Baik, terima kasih kak sudah mewawancarai saya

Filsafat Naturalisme sebagai Fondasi Konsep Ekologi Sosial Murray Bookchin

Moch. Rizky Pratama Putra

Dalam memahami alur berpikir Bookchin dalam kerangka ekologi sosial yang dia bangun, peneliti perlu menjabarkan dasar-dasar Bookchin dalam membangun kerangka berpikirnya. Peneliti mencoba berangkat dari sebuah esai yang Bookchin tulis pada 1995 dengan judul A Philosophical Naturalisme yang menjadi sebuah pengantar dalam esai panjangnya berjudul The Philosophy of Social Ecology: Essays on Dialectical Naturalism yang diterbitkan oleh Black Rose Books, sebuah penerbit yang diusulkan oleh Bookchin yang diambil dari filosofi pemberontakan petani di abad pertengahan. 1

Bookchin dalam esainya membuka dengan pertanyaan dasar tentang apa itu alam? Apa tempat (posisi) manusia di alam? Dan apa hubungan masyarakat dengan dunia alam? 2

Dalam periode krisis ekologis saat ini, menjawab pertanyaan-pertanyaan ini telah menjadi sangat penting bagi kehidupan manusia sehari-hari, untuk masa depan yang lebih baik dan bentuk-bentuk kehidupan lainnya (kenyataan) yang perlu dihadapi. Pertanyaan di atas bukanlah merupakan pertanyaan filosofis abstrak yang harus direduksi ke dalam dunia spekulasi metafisik yang terpencil jauh dan begitu luas. Manusia juga tidak dapat menjawabnya dengan cara yang begitu saja (terlalu sederhana), dengan metafora puitis atau tanpa berpikir, reaksi visceral (merujuk pada keadaan psikologis manusia – semacam reaksi yang keluar begitu saja dari dalam diri manusia). Definisi dan standar etika yang perlu ditanggapi pada pertanyaan-pertanyaan di atas akhirnya dapat memutuskan apakah masyarakat-manusia akan secara kreatif memupuk evolusi alamiah, atau apakah manusia akan membuat planet ini tidak bisa dihuni untuk semua bentuk kehidupan yang kompleks, termasuk diri kita sendiri (manusia secara umum).

Pada perspektif pertama, setiap orang “tahu” apa itu alam. Alam adalah apa yang ada di sekitar kita – pohon, hewan, batu, dan sejenisnya. Tetapi definisi prima facie (bahasa latin – benar atau cukup memadai pada kesan pertama) seperti itu sangat tidak mendasar ketika kita memeriksanya dengan hati-hati. Jika alam memang apa yang ada di sekitar kita, manusia mungkin bertanya, maka apakah rumput halaman di pinggiran rumah yang terawat dengan baik bukan alam? Apakah rumah tingkat (gedung-gedung) itu tidak bagian dari alam? Apakah perabotannya tidak alami?

Saat ini, pertanyaan semacam ini cenderung menghasilkan tanggapan yang hanya bersifat “liar,” “primordial,” (paling dasar) atau bahkan bukan “manusia” yang benar-benar alami di semesta ini. Di sisi lain, bagi sebagian orang yang dikaruniai kecakapan untuk berpikir, akan menjawab bahwa alam pada dasarnya adalah materi,

  1. Black Rose Books History, Black Rose Books, diakses 9 Oktober 2018, http://blackrosebooks.net/about.
  2. Murray Bookchin, The Philosophy of Social Ecology: Essays on Dialectical Naturalism (Black Rose Books, 1995), 1.
    ecozine

ecozine atau materi yang terwujud dari alam semesta dalam segala bentuknya-apa yang oleh para filsuf secara umum disebut dengan Being. Faktanya adalah bahwa perbedaan filosofis yang luas telah ada selama berabad-abad di Barat atas definisi dari kata alam. Perbedaan-perbedaan ini tetap tidak terselesaikan hingga hari ini, bahkan ketika alam menjadi topik utama dalam isu-isu lingkungan yang sangat penting bagi masa depan hampir semua bentuk kehidupan di semesta.

Mendefinisikan alam menjadi tugas yang lebih kompleks ketika memasukkan spesies (jenis) manusia sebagai bagian dari alam. Apakah masyarakat – manusia dengan berbagai perangkat teknologi dan artefaknya – tidak berbicara tentang ciri-ciri yang tak tertulis sebagai kepentingan dan institusi sosial yang saling bertentangan – bagian alam yang berasal dari binatang yang bukan manusia? Dan jika manusia adalah bagian dari alam, apakah mereka hanya satu bentuk kehidupan di antara banyak lainnya, atau apakah mereka unik dalam cara-cara yang menempatkan tanggung jawab utama pada mereka sehubungan dengan sisa dunia kehidupan, tanggung jawab yang tidak dimiliki spesies lain atau bahkan mempunyai kemampuan untuk berbagi?4

Apapun sifat yang mungkin berarti, manusia harus menentukan dengan cara apa manusia “cocok” ke dalamnya. Manusia harus menghadapi masalah kompleks dan menantang dari relasinya masyarakat – lebih spesifik, bentuk-bentuk sosial yang berbeda yang muncul di masa lalu, yang ada saat ini, dan yang mungkin muncul di masa depan – dengan alam. Kecuali dalam hal ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan kejelasan yang masuk akal – atau setidaknya sepenuhnya mendiskusikannya – sehingga manusia tidak akan menuju ke arah etis dalam menangani masalah lingkungan ini. Kecuali kita tahu apa itu alam, di mana tempat manusia dan masyarakat di dalamnya, manusia akan dituntun oleh intuisi yang samar-samar dan sentimen mendalam yang tidak menyatu dengan pandangan yang jelas atau memberikan panduan untuk tindakan yang efektif.

Sangat mudah untuk mencoba menghindar dari menjawab pertanyaan-pertanyaan yang meresahkan ini dengan tidak sabar menolaknya, menanggapi dengan luapan emosi, atau sekadar mencela upaya apa pun untuk mencari jawaban yang koheren, dengan menyerang nalar itu sendiri dengan sebutan “suka campur tangan” (menggunakan istilah William Blake, seorang penyair periode Renaisans).5 Kondisi saat ini, bahkan orang-orang yang peka dalam ilmu pengetahuan yang jumlahnya terus bertambah merasa dikhianati oleh pengayaan alasan yang berabad-abad, dengan klaim dinginnya terhadap efisiensi, objektivitas, dan kebebasan dari batasan etis – atau bentuk nalar yang telah memupuk teknologi yang sangat (bersifat) merusak seperti nukleonik dan persenjataan. Reaksi populer yang bersifat negatif ini dapat dimengerti. Tetapi menjauh dari bentuk alasan tertentu, yang sebagian besar bersifat instrumental dan analitis menciptakan masalah yang tidak kurang mengganggu daripada pertanyaan-pertanyaan yang manusia cari untuk melarikan diri dari sebuah fakta.

Dalam posisi manusia yang tidak peka dan tidak mau memeriksa, manusia dapat dengan mudah memilih intuisionisme dan mistisisme sebagai alternatif. Namun, tidak seperti alasan instrumental dan analitis, penyerahan diri pada emosi dan keyakinan mistis menghasilkan perasaan kooperatif “keterkaitan” dengan dunia alam dan mungkin bahkan sikap peduli terhadapnya. Tetapi justru karena keyakinan intuisi serta mistis

  1. Bookchin, 4.
  2. William Blake; British and Writer Artist, Britannica, diakses 9 Oktober 2018, https://www.britannica.com/biography/William-Blake.

begitu samar dan sewenang-wenang dalam melihat alam, sangat tidak beralasan jika manusia menyerah terhadap wacana atau isu-isu – mereka juga dapat “menghubungkan” kita sebagai manusia dengan hal-hal yang tidak boleh kita kaitkan sama sekali – seperti, rasisme, seksisme, dan sikap tunduk yang hina kepada para pemimpin yang karismatik.

Sesungguhnya, bila manusia mengikuti alternatif intuisi ini, maka akan berpotensi membuat pandangan ekologis manusia sangat berbahaya. Sebagai gagasan vital mungkin berkaitan dengan pandangan ekologis, secara historis sering menjadi dasar mitos dan kepercayaan supranatural yang menjadi sarana untuk kontrol sosial dan manipulasi politik. Paruh pertama abad ke-20 sebagian besar adalah kisah gerakan brutal seperti Sosialisme Nasional (merujuk kepada Nazi) yang populer diberi julukan anti-rasionalisme dan anti intelektualisme, dan rasa keterasingan pribadi, di antara hal-hal lainnya.6 Gerakan ini memobilisasi dan menghomogenisasi jutaan orang dengan ideologi “ekologis” anti-sosial yang sesat didasarkan pada intuisi, dengan “keterkaitan” bumi, rakyat, dan “darah dan tanah” yang bersifat militeristik dan pembunuh dari pada komunitarian bebas (merujuk kepada fasisme yang mengagungkan supremasi kulit putih). Terisolasi dari tantangan kritik rasional oleh anti-intelektualisme dan mistis nasionalisme, gerakan Nazi akhirnya mengubah sebagian besar Eropa menjadi kuburan. Namun secara ideologis, totaliterisme fasis ini telah memperoleh keuntungan dari keyakinan intuisi dan mistis romantisme gerakan abad ini – sesuatu yang tidak dapat diramalkan pada saat itu.

Perasaan, sentimen, dan pandangan moral yang pasti kita butuhkan jika alasan instrumental dan analitis tidak melepaskan manusia dari hasratnya akan kebenaran. Namun mitos, ritual mematikan pikiran, dan kepribadian karismatik juga dapat mereduksi kita dari kemampuan kritis yang disediakan oleh pikiran. Gerakan yang melandaskan dirinya melalui nalar konvensional tersebut diperkuat dalam sebuah organisasi hijau di Kanada secara diam-diam memproklamasikan bahwa ia mencari koalisi untuk “kerja sama” (merujuk kepada SDGs). Selanjutnya saat ini memasuki era SDGs (sustainable development goals), yang dimulai dengan pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 25-27 September 2015 di kantor pusat PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), New York, Amerika Serikat. Acara tersebut merupakan kegiatan seremoni pengesahan dokumen SDGs (Sustainable Development Goals) yang dihadiri perwakilan dari 193 negara. Seremoni ini merupakan lanjutan dari kesepakatan dokumen SDGs yang terlaksana pada tanggal 2 Agustus 2015 yang juga berlokasi di New York. Saat itu sebanyak 193 negara anggota PBB mengadopsi secara aklamasi dokumen berjudul ”Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development” atau ”Mengalihrupakan Dunia Kita: Agenda Tahun 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan”. Dokumen SDGs pun dicetuskan untuk meneruskan dan memantapkan capaian-capaian MDGs sebelumnya agar langgeng dan berlanjut seterusnya.7

SDGs sebagai bagian dari “paradigma baru” daripada “konfrontasi,” yang dianggap sebagai bagian dari “paradigma lama” yang ditolak. Di era yang lebih radikal, konfrontasi adalah tujuan yang dinyatakan dari gerakan radikal! Aspek mitos dan tidak kritis dari “keterkaitan” yang menolak konfrontasi tampaknya telah mengurangi organisasi hijau Kanada ini ke tingkat akomodasi langsung dengan status quo. Di sini, kebutuhan tidak hanya untuk menghadapi keburukan zaman sekarang, tetapi menentang mereka dengan

  1. Nazi Party; Political Party, Germany, Britannica, diakses 9 Oktober 2018, https://www.britannica.com/topic/Nazi-Party.
  2. Ishartono & Santoso Tri Rahajo, “Sustainable Development Goals (SDGs) dan Pengentasan,” Journal of Share: Social Work Journal 6, No. 2 (2016):
    ecozine159-160.

ecozine tanpa kompromi, telah lenyap ke dalam zaman New Age. Jalur kompromi “penuh cinta” di mana seperti itu membawa manusia dapat dengan mudah berakhir dalam oportunisme belaka.8

Dalam realisasinya sendiri, SDGs merupakan sebuah program konkret yang dibangun di atas nalar konvensional dengan mengobjektifikasi alam di balik selubung program-program kapitalisme hijau. Dalam artian, mereka tetap mengembangkan teknologi untuk pembangunan berkelanjutan, tapi akses terhadap teknologi tersebut hanya dimiliki segelintiran negara atau kelompok saja dan akhirnya negara yang tidak memilikinya harus mengimpor untuk bisa memenuhi standarisasi sebagai negara maju yang mendukung gerakan hijau ini.

Jika pemberontakan kontemporer manusia melawan nalar bertumpu pada keyakinan sesat bahwa satu-satunya alternatif bagi realitas yang ada saat ini adalah mistisisme, itu juga bertumpu pada keyakinan yang sama salahnya bahwa hanya ada satu jenis alasan. Dalam bereaksi terhadap bentuk-bentuk penalaran instrumental dan analitis, yang biasanya diidentifikasi dengan alasan seperti itu, manusia mungkin mengabaikan bentuk-bentuk penalaran lain yang bersifat organik dan tetap mempertahankan kualitas-kualitas kritis; yang sedang mengembangkan dan masih mempertahankan wawasan analitis; yang etis dan masih mempertahankan kontak dengan kenyataan. Rasionalisme “bebas nilai” yang biasanya kita (merujuk kepada akademisi) kenal dalam ilmu-ilmu dan teknologi fisik pada kenyataannya bukan satu-satunya bentuk alasan yang telah dikembangkan oleh filsafat Barat selama berabad-abad – Bookchin merujuk secara khusus pada tradisi besar dari alasan dialektis yang berasal dari Yunani. Sekitar 25 abad yang lalu dan mencapai titik puncaknya, tetapi tidak berarti penyelesaiannya, dalam karya-karya logis Hegel.

Pemikir dialektis dari Heraclitus dan seterusnya yang memiliki kesamaan, dalam berbagai tingkatan, adalah pandangan tentang realitas sebagai perkembangan – dari Wujud sebagai Yang Terus Berkembang. Sejak Plato menciptakan dualisme antara dunia supranatural dengan bentuk-bentuk ideal dan dunia sementara dari salinan yang tidak masuk akal yang tidak sempurna, pertanyaan membingungkan tentang identitas di tengah perubahan.

Nalar konvensional didasarkan pada analisis fenomena yang didefinisikan secara tepat, dan yang kebenarannya bergantung pada konsistensi internal dan kepraktisannya. Ini berfokus pada sesuatu atau fenomena sebagai tetap, dengan batas-batas yang jelas yang tidak dapat diubah untuk tujuan analitis. Manusia (masyarakat secara umum) tahu sebuah entitas, dalam pengertian akal yang diterima secara luas ini, ketika dapat menganalisisnya menjadi komponen yang tidak dapat direduksi dan menentukan bagaimana mereka berfungsi sebagai suatu keseluruhan yang berfungsi, sehingga pengetahuan tentang entitas akan memiliki penerapan operasional. Ketika batas-batas yang “menentukan” perubahan hal yang sedang berkembang – seperti, misalnya, ketika pasir menjadi tanah – maka alasan konvensional memperlakukan pasir seperti pasir dan tanah sebagai tanah, seolah-olah mereka independen satu sama lain. Zona yang menarik dalam rasionalitas semacam ini adalah sesuatu atau ketetapan fenomena, kemandiriannya, dan interaksi mekanis berdasar pada hal-hal dan fenomena yang serupa

  1. Bookchin, The Philosophy, 5.

atau berbeda. Kausalitas (sebab-akibat) yang dideskripsikan oleh alasan konvensional⁹, lebih jauh lagi, adalah masalah kinetika: satu bola biliar melaju menghantam yang lain dan menyebabkan keduanya berpindah dari satu posisi ke posisi lain – artinya, dengan cara penyebab efisien. Kedua bola bilyar tidak diubah oleh pukulan tetapi hanya reposisi (berpindah dari titik satu ke titik lainnya) di meja biliar. Dalam hal ini Bookchin mencoba menggambarkan bagaimana nalar konvensional hanya berpijak kepada hukum kausalitas, tanpa melihat esensi sebenarnya dari “sesuatu” tersebut.

Tetapi nalar konvensional tidak dapat mengatasi masalah perubahan sama sekali. Ia melihat seekor mamalia, misalnya, sebagai makhluk yang ditandai oleh ciri-ciri yang sangat kuat yang membedakannya dari segala sesuatu yang bukan mamalia. Untuk “mengetahui” mamalia adalah dengan mengeksplorasi strukturnya, secara harfiah menganalisisnya dengan memotongnya, untuk menguranginya menjadi komponennya, untuk mengidentifikasi organ dan fungsinya, dan untuk memastikan cara mereka beroperasi bersama untuk menjamin kelangsungan hidup dan reproduksi mamalia. Demikian pula, nalar konvensional memandang manusia dalam hal tahap-tahap tertentu siklus kehidupan: seseorang adalah bayi pada satu waktu, seorang anak pada anak yang lain, seorang remaja pada yang lain, seorang remaja dan akhirnya seorang dewasa. Ketika para ilmuwan tradisional menganalisis bayi dengan nalar konvensional, mereka tidak mengeksplorasi apa yang sedang berkembang dalam proses menjadi orang dewasa. Tidak diragukan lagi, ketika psikolog dan ahli perkembangan anatomi mempelajari siklus kehidupan individu, beberapa di antaranya – betapa pun konvensional rasionalitas mereka – mengabaikan fakta bahwa setiap bayi sedang dalam proses menjadi dewasa dan bahwa dua tahap dalam kehidupan – siklus dalam berbagai cara terkait satu sama lain. Tetapi prinsip A sama dengan A (tetap) merupakan premis dasar. Nalar konvensional dengan demikian melayani fungsi praktis menggambarkan identitas entitas tertentu dan memberitahu manusia bagaimana entitas itu diatur untuk menjadi dirinya sendiri. Tetapi ia tidak dapat secara sistematis mengeksplorasi proses menjadi, atau bagaimana entitas yang hidup dipolakan sebagai potensi untuk fase dari satu tahap perkembangannya ke tahap lain. Dalam pandangan ini, nalar konvensional menurut Bookchin hanya sekedar menjabarkan apa itu sesuatu dalam pandangan yang statis. Seperti halnya alam adalah alam, hanya sebuah “sesuatu” yang berada di luar manusia, tanpa ada kaitannya dengan manusia, karena mereka “sesuatu” yang berbeda dengan manusia.

Nalar dialektis, tidak seperti nalar konvensional, mengakui sifat perkembangan realitas dengan menegaskan dalam satu mode atau lainnya bahwa A tidak hanya A tetapi juga tidak A.10 Pemikir dialektis yang memeriksa siklus kehidupan manusia melihat bayi sebagai identitas manusia yang mempertahankan diri sementara berkembang menjadi seorang anak, dari seorang anak menjadi seorang remaja, dari seorang remaja menjadi seorang pemuda, dan dari seorang pemuda menjadi dewasa. Nalar dialektis tidak hanya menangkap bagaimana suatu entitas diorganisasikan pada saat tertentu tetapi bagaimana ia diatur untuk melampaui tingkat perkembangan itu.

Menjadi selain dari apa adanya, bahkan saat alam mempertahankan identitasnya. Sifat identitas yang kontradiktif – khususnya, bahwa A sama dengan A dan bukan A adalah ciri intrinsik dari identitas itu sendiri. Kesatuan dari kebalikan adalah, pada kenyataannya, sebuah status quo yang muncul “lain,” apa yang disebut Hegel “identitas identitas dan non-identitas.”

  1. Bookchin, 6.

    ecozine10. Bookchin, 7.

ecozine Bila kritik Bookchin terhadap nalar konvensional ditarik dalam ranah sosiologis, maka kita sebagai manusia secara umum, dan akademisi secara khusus perlu memeriksa kritik yang ditulis oleh Max Horkheimer dalam tulisannya yang berjudul Traditionelle und kritische Theorie yang terbit pada tahun 1937. menunjukkan bahwa tujuan dari nalar konvensional ini (dalam bahasa Horkheimer disebut dengan teori tradisional) adalah sistem universal sains yang tidak terbatas pada satu area tertentu tetapi mencakup semua jenis objek.

Dalam penjelasan ini, Horkheimer merujuk bahwa nalar konvensional mempunyai tujuan pengetahuan yang universal melalui sistem sains, dan tidak ada lagi bidang khusus yang tidak bisa dipecahkan yang mencakup semua kemungkinan objek. Dari penjelasan inilah peneliti melihat bahwa kritik Bookchin terhadap nalar konvensional cukup mendasar, karena nalar ini nantinya akan mengarahkan manusia kepada pengetahuan bersifat nomotetik (generalisasi). Bila nalar konvensional ini berkembang dalam ilmu sosial, maka diversitas makhluk hidup yang berada di semesta ini tidak lebih dari sekedar angka dan benda. Secara sederhana nalar konvensional a la Cartesian menghendaki unsur-unsur rasional dalam melihat alam. Nalar konvensional menuntut mereka mengobjektifikasi alam sebagai benda mati yang bisa tumbuh atau berkembang berkat campur tangan manusia. Dalam artian, benda mati (berhenti) bila tidak dikenai gaya dari luar, maka benda tersebut tidak akan pernah bisa bergerak dari titik A ke titik B. Alam pun dilihatnya hanya sebagai benda mati, bila tidak ada campur tangan manusia dalam mengubahnya menjadi bentuk lain semisal pohon menjadi kertas maka pohon tersebut berarti belum dimanfaatkan dengan “baik”.

Kemudian bila nalar konvensional ini berkembang dari melihat alam hanya sebagai objek, bukan subjek yang hidup. Maka dalam melihat manusia pun, nalar konvensional ini akan terjebak pada hitung-hitungan matematis tentang apa saja komponen yang berada dalam tubuh manusia, kemudian apa fungsinya, dan banyak hal lainnya. Peneliti merasa ada nilai positif bila melihat nalar konvensional membantu hal-hal praktis manusia dalam memudahkan pekerjaannya sehari-hari dalam matematika. Namun, sifat generalisasi dan objektifikasi ini yang berbahaya bila tidak ditelisik terlebih dahulu fungsi sebenarnya sebagai apa. Karena kalau merujuk pada generalisasi ilmu nomotetik khas ilmu alam, maka melihat dunia akan terlihat seragam. Satu teori untuk memecahkan banyak hal di banyak tempat tanpa melihat karakteristik masalah dan latar belakang tempat yang sangat berkaitan dengan persoalan tersebut.

Bookchin menyadari berbahayanya nalar konvensional bila tidak ia beri perhatian khusus dalam membangun filsafat naturalisme dialektiknya. Kehati-hatian Bookchin dalam mencermati nalar konvensional menunjukkan bahwa dirinya menaruh kekhawatiran suatu saat nanti bila nalar konvensional tidak ia sentuh sama sekali dalam membangun filsafatnya, maka akan banyak orang-orang yang mempelajari naturalisme dialektikanya terjebak ke dalam analisis semua la nalar konvensional dalam menganalisis krisis sosial ekologis yang terjadi. Namun, di luar pertentangan Bookchin dengan nalar konvensional, dia mengakui bahwa nalar konvensional memiliki kelebihan pada sisi konsistensi internal proposisinya, yang memainkan peran penting dalam pemikiran matematis dan ilmu matematika yang menunjang aktivitas manusia sehari-hari.

  1. Max Horkheimer, Traditionelle und kritische Theorie: fünf Aufsätze, (Main FischerTaschenbuch-Verl, 2011), 2.

Di sisi lain, Bookchin memiliki keuntungan yang berlebih atas bangunan-bangunan filsafat dan ilmu pengetahuan sebelum dirinya, yang membuat dirinya mempunyai keleluasaan untuk mengambil manfaat dan membuang hal-hal yang bagi dirinya tidak diperlukan dalam membangun bangunan filosofisnya sendiri. Setelah manusia menemukan kelemahan-kelemahan yang ditawarkan Bookchin dalam nalar konvensional. Bookchin, mencoba menelusuri nalar dialektis yang berpijak pada premis-premis yang disusun oleh Hegel.

Berbeda dengan nalar konvensional, nalar dialektis memiliki cara yang berbeda melihat “sesuatu”. Bila premis dasar nalar konvensional, A adalah A (tetap). Maka premis dasar nalar dialektis adalah A tidak hanya sama dengan A tetapi juga A.12 Dengan premis ini, nalar dialektis melihat manusia bukan hanya mamalia yang berbeda dengan mamalia lainnya. Nalar dialektis mencoba melihat manusia tidak hanya sebagai manusia, tetapi juga sebagai manusia. Dalam pengertian manusia bukan hanya sebagai manusia yang berbeda dengan mamalia lainnya, tetapi juga manusia yang memiliki proses dialektis yang ditunjukkan dengan perkembangan dari bayi, menuju remaja dan kemudian menjadi dewasa hingga menemui kematian. Bookchin pun mengambil keuntungan dengan nalar dialektis untuk menemukan pergulatan-pergulatan dari sebuah periode tentang alam semesta. Berbeda dengan Hegel yang menempatkan nalar dialektis dalam tataran ide, Bookchin menaruhnya dalam tataran historis dalam jaring-jaring ekologi, yang mempunyai alasan dasar bahwa alam semesta akan terus menemui antitesisnya yang kemudian membuat mereka berkembang untuk menyesuaikan dengan hal-hal baru. Secara sederhana, Bookchin menggunakan nalar dialektis untuk menjelaskan alam semesta dalam rangkaian jaringan yang saling berkesinambungan, bukan sebagai being (sesuatu), melainkan sebagai become (menjadi) menuju sebuah keutuhan.

Tapi, Bookchin tidak serta-merta menelan semua yang ditawarkan oleh Hegel dalam nalar dialektisnya. Dia pun dengan terang-terangan mengkritik Hegel bahwa nalar dialektis Hegel hanya akan menemui kebuntuan dalam menjelaskan pertanyaan- pertanyaan sosial ekologis. Di samping terlalu abstraknya Hegel dengan konsep Roh-nya (der Geist), Bookchin juga mengkritik keras Hegel dengan konsep absolutisme-nya yang menganggap bahwa ujung dialektis yang dia bangun akan menuju ke sebuah tataran “idealisme Mutlak” (das Absolute) atau merujuk kepada homogenitas. Sedangkan analisis Bookchin, menggunakan nalar dialektis, menunjukkan bahwa alam semesta ini dalam pergulatannya menemui anti-tesisnya maka akan terus berkembang dan menemui kompleksitas yang akan membuatnya semakin menuju ke diversitas (kemajemukan) sebagai bentuk yang utuh dan saling melengkapi. Analisis Bookchin ini, bila diletakkan dalam tataran konsep sosial, maka akan menemukan titik terang tentang sifat-sifat komunal dari masyarakat, prinsip mutual-aid (gotong royong) yang dipaparkan pertama kali oleh Peter Kropotkin,13 hingga kompleksitas masyarakat yang tidak pernah bisa diseragamkan dalam bentuk pemerintahan apapun.

Dalam karyanya Mutual Aid: A factor of Evolution menjabarkan bagaimana gotong-royong atau mutual aid merupakan faktor penting dalam evolusi manusia. Masyarakat dan kebutuhan akan bantuan dan dukungan timbal balik (tolong-menolong) adalah bagian inheren dari sifat manusia sehingga kita tidak dapat menemukan manusia yang hidup dalam keluarga kecil yang terisolasi, saling berkelahi untuk mencari nafkah.14

  1. Max Horkheimer, Traditionelle und kritische Theorie: fünf Aufsätze, (Main FischerTaschenbuch-Verl, 2011), 2.
  2. Peter Kropotkin, Mutual Aid; A Factor of Evolution, (Dover Publication, 2012), Epub. 109.

    ecozine14 Kropotkin, 98.

ecozine Sebaliknya, penelitian modern yang dipaparkan oleh Kropotkin, membuktikan bahwa sejak awal kehidupan prasejarah mereka, manusia biasa berkelompok menjadi keluarga, klan, atau suku, yang paling primordial berasal dari gagasan keturunan bersama (darah) dan dengan pemujaan terhadap leluhur bersama (kepercayaan). Selama ribuan tahun lembaga sosial ini telah menyatukan manusia, meskipun tidak ada otoritas apa pun untuk memaksakannya (suka rela). Ini sangat mengesankan bagi keberlanjutan perkembangan umat manusia berikutnya; dan ketika ikatan keturunan umum telah direnggangkan oleh migrasi dalam skala besar (dalam era berburu dan meramu), sementara perkembangan keluarga yang terpisah dalam klan itu sendiri telah menghancurkan kesatuan lama klan, membentuk persekutuan baru, yang berdasarkan teritorial sebagai prinsipnya — desa komunitas — merupakan sebutan baru bagi perkembangan sejarah manusia pada era berladang atau menetap. Lembaga ini, sekali lagi, menyatukan manusia selama beberapa abad, memungkinkan mereka untuk lebih mengembangkan lembaga sosial mereka dan untuk melewati beberapa periode paling gelap dalam sejarah, tanpa dibubarkan menjadi kumpulan keluarga dan individu yang terpisah, untuk membuat langkah lebih lanjut dalam evolusi mereka, dan untuk mengerjakan sejumlah lembaga sosial sekunder, beberapa di antaranya telah bertahan hingga saat ini.

Manusia sekarang harus mengikuti perkembangan lebih lanjut dari kecenderungan yang selalu ada untuk saling membantu (gotong-royong). Membangun komunitas desa dari apa yang disebut orang barbar pada saat mereka memulai awal baru peradaban setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi, kita harus mempelajari aspek-aspek baru yang diambil oleh keinginan massa masyarakat di abad pertengahan, dan terutama di kota-kota abad pertengahan. Menelisik dari pernyataan yang Kropotkin jabarkan, ini dari gagasannya adalah sifat mutual-aid atau gotong royong ini merupakan sifat dasar manusia, dan dalam catatan sejarah manusia tidak bisa mengingkarinya dengan membentuk negara- negara yang kemudian mendikotomi urusan-urusan politik mereka dengan urusan-urusan sosial yang berlandaskan sukarela.

Secara sederhana, dalam municipalisme libertarian, mutual aid ini merupakan bangunan dasar atau fondasi dalam membentuk komune-komune atau komunitas-komunitas organik berasaskan gotong-royong dan sukarela. Tanpa paksaan administrasi dengan dalil-dalil atas nama nasionalisme sehingga memaksa komunitas-komunitas adat meninggalkan kepercayaan mereka seperti terjadi di pegunungan Kendeng bila pabrik semen beroperasi mereka mau tidak mau harus bekerja ke pabrik karena mereka sudah mempunyai tanah lagi untuk bertani.

Di sisi lain, Friedrich Engels pun tidak luput dari kritik Bookchin tentang nalar dialektis Hegel yang berusaha Engels letakkan dalam tataran materialis. Meski Engels di awal-awal perkenalannya dengan Marx berani menaruh mengeluarkan nalar dialektis dari kungkungan tataran ide, dengan bekal kombinasi nalar dialektis dengan “hukum” alam abad kesembilan belas yang merujuk kepada metafisika plastis dan menghasilkan materialisme dialektis yang masih mentah.15 Dengan latar belakang yang terpelajar, Engels pun dipengaruhi ilmu pengetahuan tentang materi dan gerak yang tidak dapat direduksi dengan konsep Ada (Being), sehingga membuatnya terjebak dalam kinetisme belaka seperti premis-premis nalar konvensional.

  1. Bookchin, The Philosophy, 23.

benar-benar nyata “apa adanya” yang tidak lengkap atau tidak utuh, dan tidak rasional, atau “apa yang seharusnya” disebut lengkap, sepenuhnya dikembangkan dan begitu rasional. Dalam nalar dialektis, nalar dibaca dalam bentuk kausalitas dialektis serta logika dialektis sehingga menghasilkan pemahaman realitas yang tidak konvensional. Pertanyaan-pertanyaan ini mendasarkan kepada yang “nyata” (real) bukan ketimbang “apa-apa” (what is). Nalar mempunyai kewajiban untuk mengeksplorasi potensi dalam perkembangan sosial dan menciptakan aktualisasi aktualnya, pemenuhan dan sebuah kebenarannya melalui dispensasi sosial yang baru dan lebih rasional.16

Di samping itu Bookchin juga menyelami logika filsafat empiris untuk berusaha menguatkan argumennya tentang apa dan bagaimana seharusnya manusia memahami sebuah “realitas”. David Hume yang merupakan filsuf empiris Skotlandia,17 memaparkan tentang gagasannya yang radikal dengan menggantikan gagasan Ada (Being) sebagai Menjadi (Becoming). Hume mencoba mendefinisikan kontinuitas untuk melihat bahwa ada proses panjang dari “sesuatu” dan tidak terjebak pada eksistensialnya yang hanya bersifat semu. Naturalisme dialektik mempunyai pandangan yang menilai bahwa masa lalu dan masa depan merupakan rangkaian kumulatif, logis, dan objektif. Dengan begitu, nalar mempunyai tugas tambahan, bukan hanya sebagai sarana analisis dan menafsirkan kenyataan. Tetapi juga memperlebar batas-batas realitas di luar kejadian yang manusia alami sekarang ini.

Naturalisme dialektis dengan begitu terikat dalam sebuah ruang obyektif di mana “Ada” akan berubah sebagai “Menjadi” (Being is Becoming). Dalam pemaparannya, naturalisme dialektik tidak hanya menangkap kenyataan sebagai sebuah rangkaian yang secara eksistensial terbentang, tapi juga membuat dasar-dasar yang objektif dalam penilaian etis. “Apa yang seharusnya” menjadi kriteria etis untuk menilai kebenaran sebuah tujuan “apa adanya”. Dengan begitu, Bookchin menuntun kita sebagai manusia untuk menelusuri bahwa menilai sebuah krisis ekologis sebagai masalah etis dalam kerangka “benar” atau “buruk” bukan perkara selera, tapi perkara etis dalam kerangka “Apa yang seharusnya” menjadi sebuah landasan yang kokoh dalam melihat dan menganalisisnya.

Bookchin menekankan, bahwa nalar dialektis digunakan untuk menjelaskan tentang Menjadi (Becoming), bukan hanya mengeksplorasi tentang Ada (Being). Nalar dialektis pun tidak hanya digunakan untuk membedakan dialektika dari interpretasi dialektiknya dan materealistiknya. Namun, jauh lebih penting dari itu, naturalisme dialektik berusaha untuk menunjukkan bagaimana dia memperkaya interpretasi manusia tentang alam dan tempat manusia dalam alam. Kegagalan materialisme dialektik dalam kaca mata Bookchin, adalah ketika Engels berusaha memosisikan dialektika pada fisika materi dan gerak dalam abad ke-19 di revolusi industri tengah berlangsung, yang dari sana entah bagaimana perkembangan (secara historis) bisa muncul. Pernyataan Bookchin ini merujuk pada gerak fisik materi di mana revolusi materialisme dialektik hanya berfokus terhadap gerak fisik materi yang mewujud dalam bentuk kapital (melihatnya hanya sebagai garis sejarah yang berlangsung). Dengan kata lain, Engels gagal melihat apa yang primordial dari revolusi industri, sehingga bisa menciptakan penindasan kelas. Di situlah Bookchin menempatkan dominasi dan hierarki sebagai bentuk primordial jauh sebelum revolusi industri berlangsung.

  1. Bookchin, 25.
  2. David Hume; Scottish Philosopher, Britannica, diakses 11 Oktober 2018, https://www.britannica.com/biography/David-Hume
    ecozine

ecozine Peneliti akan memberi contoh untuk lebih mudah memahami bagaimana kerja nalar dialektis dengan menempatkan pijakan pada teori evolusi bahwa keadaan hewan sekarang telah mengalami berbagai penyesuaian untuk mereka bertahan hidup, dan dengan perkembangan ini maka muncul sebuah diferensiasi dari periode ke periode yang berkembang. Dengan sederhana, nalar dialektis tidak hanya menjelaskan tentang alam atau manusia semata, tapi bagaimana mereka saling terkait dalam tingkatan yang berbeda-beda.

Penjelasan itulah yang kemudian membuat Bookchin secara keras mengkritik paradigma biosentrisme dan antroposentrisme sebagai kegagalan dalam bernalar. Biosentrisme sendiri menurut Bookchin adalah kebobrokan dari sebuah nalar yang mencoba menyamakan nilai intrinsik manusia sama dengan, katakanlah kucing atau anjing dengan dasar “demokrasi biosentrisme” yang berangkat dari ekologi mistik yang begitu suram. Ditambah lagi dengan kontradiksi yang lebih dulu dibangun dengan paradigma antroposentrisme yang mendukung manusia untuk mencapai “realisasi dirinya sendiri” dengan mengabaikan kehidupan lain dengan mengorbankan kehidupan lainnya.

Kedua paradigma besar lingkungan di atas tidak lain hanya seonggok kekeliruan nalar bagi Bookchin. Biosentrisme terjebak dalam kedangkalannya menyamakan nilai intrinsik manusia dengan kehidupan lainnya dan antroposentrisme berdiri dengan gagahnya menilai bahwa nilai intrinsik manusia lebih tinggi dari kehidupan lainnya sehingga berhak untuk mengeksploitasi demi eksistensial diri mereka. Namun, Bookchin tidak menafikan bahwa manusia mempunyai tanggung jawab etis karena kemampuan intelektual, moral, dan estetika yang dimiliki manusia untuk merumuskan nilai-nilai intrinsik kehidupan lainnya.

Kemudian pertanyaannya sekarang, apa itu nilai intrinsik dan berasal dari mana nilai intrinsik manusia? Bookchin mencoba menunjukkan bahwa ada dua alam yang saling berkaitan di biosfer ini dengan kalimat sebagai berikut:

Dari sudut pandang evolusioner, manusia telah terbentuk untuk ikut campur secara aktif, sadar, dan secara purposif ke dalam alam pertama dengan efektivitas yang tak tertandingi dan mengubahnya ke dalam skala planet. Merendahkan kapasitas ini berarti menyangkal dorongan evolusi alam terhadap kompleksitas dan subjektivitas organik itu sendiri – potensi alam pertama untuk mengaktualisasikan dirinya ke dalam intelektualitas sadar diri.18

Secara gamblang Bookchin menjelaskan bahwa nilai intrinsik itu berasal dari alam pertama sebagai sebuah dorongan untuk mengambil tugas dan tanggung jawab terhadap alam kedua. Manusia bisa menyebutnya merupakan given yang berasal dari keilahian atau hanya sebuah kebetulan yang begitu saja terjadi. Tapi Bookchin lebih memilih sebagai kecenderungan alami menuju sebuah kompleksitas dan subjektivitas dari alam pertama. Timbul berkat interaktivitas materi menuju sebuah kesadaran diri. Secara sederhana, bisa juga menyebutnya kodrat dari Tuhan, sebuah tugas manusia di bumi bertindak sebagai khalifah. Sehingga dalam filsafat kausalitas, dorongan manusia yang berasal dari alam pertama ini kemudian menimbulkan alam kedua; sebuah alam budaya, alam sosial, dan politik yang ada saat ini untuk diserap oleh alam pertama sebagai bentuk eksistensi manusia.

  1. Bookchin, 25.
  2. David Hume; Scottish Philosopher, Britannica, diakses 11 Oktober 2018, https://www.britannica.com/biography/David-Hume

Alam kedua sendiri identik dengan masyarakat dan sifat internal manusia, yang saat ini ditandai oleh simbol-simbol yang mengerikan, seperti hierarki, kelas, negara, properti pribadi dan ekonomi pasar yang kompetitif menuntut akumulasi ekonomi dengan men- gorbankan yang lain atau kita sendiri yang akan tumbang. Dengan demikian, dalam pan- dangan Islam, manusia bertugas sebagai khalifah dalam membawa rahmatan lil alamin sebagai upaya untuk membawa rahmat bagi seluruh makhluk. Sebagai penyalur suara dari alam yang “bisu” dan tidak bisa merumuskan apa yang bisa manusia lakukan di alam kedua dalam institusi-institusi sosial mereka.

Dengan demikian, peneliti memberanikan diri untuk membuat kesimpulan, bagaimana nalar naturalisme dialektik ini merupakan cara berpikir evolusioner, yang melihat ses- uatu bukan hanya sebagai eksistensi identitas semata, tapi melihatnya dalam kerangka dialektik dalam sebuah proses menuju keutuhan. Di samping itu, catatan paling penting adalah, nalar naturalisme dialektik ini bukan persoalan siapa atau latar belakang apa yang berbicara, bukan soal selera mengenai latar belakang mereka. Tapi merupakan given atau pemberian dari Tuhan yang memang menugaskan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.

— Esai ini adalah salah satu sub-bab dari jurnal Mencari Murray Bookchin Dalam Belantara Ilmu Sosial yang dipublikasikan di The Sociology of Islam Vol. 1, No.1 (December 2020).

ecozine

ecozine

Pantura

Sene.wee

Karya ini merupakan siluet hitam putih Pantura (Pantai Utara). Jalur Pantura merupakan garis pantai dengan panjang 1.316 km. Tepatnya antara Merak Gutul Ketapang, Banyu- wangi menyusuri hingga garis pantai utara pulau Jawa terkhusus antara Jakarta dan Surabaya. Pantura juga memiliki latarbelakang sejarah kolonialisme di Indonesia.

Pantura awalnya dibangun oleh Deandels tepatnya Jalan Raya Pos (De Grote Postweg), mulai dari Anya hingga Panarukan sekitar tahun 1808. Tujuan utama pembangunan Pantura Postal Highway adalah mempertahankan pulau Jawa dari serbuan Inggris.

Intermezo H T S -

Bungaku Terbungkus Rapih, Di Balik Asap Peperangan

Huruf Kecil

Kolase ini menunjukkan beberapa potongan situasi ketika peperangan terjadi. Aparat menenteng senjata dan siap kapan saja membidik secara membabi buta. Di setiap perang gencatan senjata yang menjadi korban tidak hanya manusia. Alam pun ikut menjadi korban. Perang tidak hanya menggunakan pistol atau tembak. Juga menggunakan bom sebagai bahan peledak.

Bom tidak hanya menghancurkan manusia tetapi juga tanah, tumbuhan, hewan, batu dan lainnya. Perang berdampak tidak hanya pada genosida (pembunuhan massal) na- mun juga ekosida (perusakan atau pembunuhan mahluk biotik–abiotik secara massal). Bunga yang terbungkus rapih bisa diibaratkan sebagai cinta dan daya tahan pihak yang tidak mengharapkan perang.

Intermezo H T S-ecozine

Ecozine merupakan wadah responsif terhadap keadaan alam yang tidak pernah baik baik saja. Sifat manusia yang menganggap diri sebagai pusat alam semesta (androposentris) adalah salah satu penyebabnya. Lebih lanjut menjelma jadi beberapa wujud seperti patriarki, kapitalisme, neoliberalisme, dan masih banyak lagi. Bentuk penghancuran alam kemudian saling menopang satu sama lain menjadi pondasi kerusakan multisektoral yang mana korbannya tidak tebang pilih

Zine ini tidak akan pernah jadi sesuatu hal yang sempurna. Namun, lebih baik berupaya dengan cinta dan kesenangan daripada tidak mėlakukan apapun.