Baca PDF (OCR): Ecozine Vol.3

27 halaman · 2 halaman diproses dengan OCR · 3.3 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. E ECOZINE VOL.3
  2. ECOZINE [ ECOLOGY ZINE ] VOL. 3
  3. DAFTAR ISI
  4. BASA BASI
  5. Posisi Murray Bookchin dalam Belantara Ilmu Sosial
  6. Paradigma Sosiologi
  7. Simpulan
  8. Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Roasting Kopi [Percakapan Iseng dengan Caesar Coffee Roaster]
  9. Satu Sajak Sebelum Tidur Erick Evans
  10. Vegan Ketika Idul Adha: Wawancara dengan Yudi Seorang Vegan
  11. 2. Bisakah kamu memberi penjelasan mengenai apa itu vegan?
  12. 4. Apa alasan atau latar belakang kamu ingin menjadi seorang vegan?
  13. 6. Bolehkah kami mengetahui pandangan kamu sebagai seorang vegan tentang Idul Adha?

E ECOZINE VOL.3

ECOZINE [ ECOLOGY ZINE ] VOL. 3

ECOZINE Juli 2023

KONTRIBUTOR Moch. Rizky Pratama Putra Melkita’ulamun Erick Evans Tim ECOZINE

EDITOR

Hi The Strange

LAYOUTER

Bonifacius Cecilius

DAFTAR ISI

Hal. 3 Basa BasiHal. 3 Basa Basi
Hal.4Hal. 4 Posisi Murray Bookchin dalam Belantara Ilmu Sosial Moch. Rizky Pratama Putra
Hal. 17Hal. 17 Pengaruh Perubahan Cuaca Terhadap Proses Roasting [Bincang Santai dengan Caesar Coffee Roaster]
Hal. 20Melkita’ulamun Hal. 20 Satu Sajak Sebelum Tidur
Erick Evans
Hal.22Hal. 22 Vegan Ketika Idul Adha: Wawancara dengan Yudi
Seorang Vegan

BASA BASI

Ecozine merupakan wadah responsif terhadap keadaan alam yang tidak pernah baik-baik saja. Sifat manusia yang menganggap diri sebagai pusat alam semesta (antroposentris) adalah salah satu penyebabnya. Antroposentris lebih lanjut menjelma jadi beberapa wujud seperti patriarki, kapitalisme, neoliberalisme dan masih banyak lagi. Bentuk penghancuran alam kemudian saling menopang satu sama lain menjadi pondasi kerusakan multisektoral yang mana korbannya tidak tebang pilih.

Selain beberapa wujud di atas masih adakah penyebab kerusakan alam lain? Ataukah isu alam hanya mitos? Adakah upaya yang bisa dilakukan guna memperlambat laju kerusakan? Ataukah kita hanya akan berpangku tangan menunggu kiamat datang?

Oh….atau mungkin kau punya keresahan tersendiri mengenai alam? Terkhusus mengenai gerakan penyelamatan alam yang dinilai utopis? Zine ini hadir sebagai salah satu alternatif mencari, menemukan, menyampaikan keresahan atau bahkan solusi yang tidak atau mungkin saja sudah sering dipikirkan sebelumnya. Tidak terpaku pada bentuk formal–lazim kaidah tekstual saja namun juga visual.

Zine ini tidak akan pernah jadi sesuatu hal yang sempurna. Namun, lebih baik berupaya dengan cinta dan kesenangan daripada tidak melakukan apapun.

Posisi Murray Bookchin dalam Belantara Ilmu Sosial

Moch. Rizky Pratama Putra

Paradigma Sosiologi

Dalam paradigma sosiologi, para ilmuwan kerap membahas beberapa tipologi paradigma sosiologi; mulai dari tipologi paradigma sosiologi teori George Ritzer, Margaret Poloma, hingga Gibson Burrel dan Gareth Morgan. Dua tipologi paradigma di atas, merupakan tipologi paradigma yang sangat familiar dan sering digunakan dalam diskursus paradigma sosiologi oleh para ilmuwan sosiologi di Indonesia dalam pengajaran di ruang kelas. Pertimbangan tersebut, karena dua karya dari Ritzer dan Poloma Sociology: A Multiple Paradigm Science (1980) dan Sosiologi Kontemporer (1984) sudah lazim dipakai dan lebih mudah didapatkan di Indonesia dibandingkan oleh karya Gibson Burrel dan Garet Morgan Sociological Paradigms and Organizational Analysis: Elements of the Sociology of Corporate Life (1994).1

Pertama, penulis akan menelusuri konsep paradigma yang berusaha Ritzer rumuskan. Sebagai suatu konsep, istilah paradigma (paradigm) sendiri muncul untuk pertama kali setelah diperkenalkan dalam sebuah karya oleh Thomas Kuhn bernama The Structure of Scientific Revolution (1962).2 Thomas Kuhn sendiri merupakan seorang filosof yang meraih gelar sarjana (1943) dan master (1946) di bidang fisika di Harvard University dalam memperoleh gelar Ph.D. (1949) adalah sebuah sejarah dalam sains. Dia mengajar sejarah atau filsafat ilmu di Harvard (1951-56), Universitas California di Berkeley (1956– 664), Universitas Princeton (1964–1979), dan Institut Teknologi Massachusetts (1979– 91).3 Dalam karyanya yang masyhur itu, Kuhn menempati peran yang cukup sentral karena pemikirannya terletak di tengah-tengah rentang perkembangan sosiologi selama kurang lebih dua puluh tahun terakhir.

Fokus utama Kuhn dalam karyanya tersebut adalah untuk berusaha menantang asumsi yang berlaku secara umum di kalangan ilmuwan mengenai perkembangan ilmu pengetahuan. Seperti kita cermati, kalangan ilmuwan secara umum ketika itu, berpendapat bahwa ilmu pengetahuan itu berkembang secara kumulatif berdasarkan penerbitan buku teks yang mendukung kesan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan berkembang secara kumulatif (makin bertambah, atau bertumpuk-tumpuk dari perkembangan sebelumnya). Sebenarnya di sini, inti tesis Kuhn menilai bahwa perkembangan ilmu pengetahuan itu bersifat revolusioner dibanding kumulatif. Dalam perkembangan yang dimaksud oleh Kuhn, dia memberikan penjelasannya melalui sebuah bagan perkembangan yang menarik.

Paradigma I -> Normal Science -> Anomalies -> Crisis -> Revolusi -> Paradigma II

Kuhn beranggapan bahwa suatu ketika ilmu pengetahuan didominasi oleh suatu pandangan yang mendasar tentang pokok persoalan (subject matter) tertentu dari suatu cabang ilmu.4

Dalam bagan yang ditawarkan oleh Kuhn, kita bisa memahami bahwa bagaimana ilmu pengetahuan berkembang secara revolusioner. Ketika berada dalam titik Normal Science ilmu pengetahuan tengah berada dalam tahap pengembangan Paradigma I, namun setelah itu, ketika paradigma ini tidak mengatasi persoalan atau pertanyaanpertanyaan baru yang diajukan maka akan timbul lah sebuah anomali atau keadaan yang tidak normal. Kemudian setelah itu, lahirlah krisis yang menyebabkan revolusi dengan melahirkan paradigma II atau paradigma baru tersebut.

Tetapi dalam karyanya tersebut, Kuhn tidak merumuskan secara jelas atau gamblang tentang apa saja yang dimaksudkan sebagai paradigma tersebut. Terlebih, paradigma digunakan Kuhn dalam dua puluh satu cara berbeda. Tetapi, sikap tekun dari Masterman untuk mencoba menyederhanakan paradigma yang terlalu banyak dari Kuhn tadi menjadi sebanyak tiga tipe; paradigma metafisik, paradigma sosiologis, paradigma konstruk.5

Pertama adalah paradigma metafisik memerankan beberapa fungsi sebagai berikut:

1. Menunjukkan kepada kita sesuatu yang “ada” (dan sesuatu yang “tidak ada”) yang kemudian menjadi pusat perhatian kajian dari suatu komunitas ilmuwan tertentu.

2. Menunjukkan kepada komunitas ilmuwan yang berharap untuk menemukan sesuatu yang sungguh-sungguh ada yang menjadi pusat perhatian dan disiplin dalam ilmu mereka.

Dengan penjelasan di atas paradigma metafisik ini merupakan sebuah konsensus yang terluas dalam suatu disiplin ilmu, yang membantu membatasi sebuah bidang (scope) dari suatu ilmu sehingga dengan begitu membantu mengarahkan komunitas ilmuwan dalam melakukan penyelidikannya. Di sini Kuhn mengartikan paradigma sebegitu luas dengan mempercayai seluruh konsep, nilai-nilai serta teknik yang samasama dipakai oleh anggota komunitas tertentu.

Kedua, merupakan paradigma sosiologi. Konsep paradigma sosiologi ini sangat mirip dengan sebuah konsep eksemplar dari seorang Thomas Kuhn. Dengan sederhana, paradigma sosiologi Kuhn merupakan kebiasaan-kebiasaan nyata, keputusan-keputusan hukum yang diterima, sebuah kebiasaan-kebiasaan nyata perkembangan ilmu pengetahuan serta hasil-hasil penemuan ilmu pengetahuan yang diterima secara umum. Dengan demikian, karya Durkheim dan Weber mendapatkan tempat yang disebut sebagai exemplar paradigm. Karya mereka diterima dengan baik oleh komunitas ilmuwan fakta sosial dan definisi sosial.

Ketiga, paradigma konstruk adalah sebuah konsep yang paling sempit dalam paradigma yang disederhanakan oleh Masterman. Sebagai contohnya pembangunan reaktor nuklir merupakan peranan penting dalam paradigma ilmu nuklir.

Namun, sekali lagi, apa yang dipaparkan oleh Masterman agaknya masih belum terlihat jelas apa yang dimaksud dengan paradigma itu. Tapi Robert Winslow Friederichs sosiolog yang menulis karya A Sociology of Sociology mencoba untuk merumuskan pengertian paradigma dalam upayanya untuk mengembangkan sosiologi dari perspektif paradigma ini sebagai berikut: “A fundamental image a discipline bas of its subject matter”.6 Dari rumusan yang ditawarkan oleh Robert, ia ingin menunjukkan bahwa paradigma merupakan suatu perangkat yang memudahkan pekerjaan disiplin sosiologi dalam menganalisis suatu pokok persoalan. Sedangkan, terobosan dilakukan oleh George Ritzer yang merupakan ketua American Sociological Association’s divisi Sosiologi teoretis,7 menurutnya paradigma merupakan pandangan mendasar dari seorang atau komunitas ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan atau masalah yang seharusnya dipelajari oleh suatu disiplin cabang ilmu pengetahuan.

Dengan demikian paradigma membantu merumuskan apa saja yang perlu dipelajari, apa saja persoalan yang perlu dijawab, bagaimana seharusnya dalam menjawab persoalan tersebut, serta apa saja peraturan yang perlu diikuti untuk bisa menginterpretasikan informasi dalam rangka menjawab persoalan yang kita jawab tersebut. Namun yang perlu kita cermati juga, bahwa dalam satu cabang ilmu pengetahuan akan sangat memungkinkan bila ada lebih dari suatu paradigma karena perbedaan mendasar tentang pandangan filosofis mereka hingga pertarungan politis untuk mendapatkan tempat utama dalam cabang ilmu pengetahuan tersebut.

Sebagai kesimpulan yang cukup untuk mengantarkan kita memahami paradigma dalam menggolong-golongkan, merumuskan dan menghubungkan: exemplar, teori-teori dan metode suatu ilmu pengetahuan. Sedangkan exemplar, seperti yang sudah Masterman paparkan di atas, merupakan salah satu unsur penting dalam membangun bangunan paradigma tersebut.

Bagi Ritzer sampai saat ini ada tiga paradigma besar yang mendominasi di cabang ilmu pengetahuan sosiologi. Paradigma tersebut adalah paradigma fakta sosial, definisi sosial, dan perilaku sosial, yang masing-masing paradigma itu dianalisis melalui empat komponen penting, yaitu eksemplar, gambaran masalah pokok (subject matter), metode dan teori.8

Berikut adalah meta paradigma yang Ritzer paparkan dalam karyanya, Sosiologi Berparadigma Ganda.9

Tabel 1ʳ Perbandingan antar paradigma (Ritzer)

Komponen ParadigmaParadigma Sosiologi
Fakta SosialFakta Sosial Definisi Sosial Perilaku SosialPerilaku Sosial
Eksemplar The Rules ofThe Rules ofKarya Weber tentang tindakan sosialKarya BF Skinner: Beyond Freedom and Dignity
SociologicalBeyond Freedom and Dignity
Sociological Method danand Dignity
Suicide, karyaand Dignity
Durkheim

Gambaran Memusatkan Nominalis Perhatian utama Masalah Pokok perhatian pada Mempelajari cara pada hadiah (rewards) yang berskala luas, juga situasi sosial perilaku yang pengaruhnya mereka terhadap diinginkan dan terhadap pikiran tindakan dan hukuman dan tindakan (punishments) integrasi individu yang mencegah perilaku tidak diinginkan Posisi Individu Tidak bebas dan Bebas dan Tidak bebas terikat → otonom → tergantung Deterministik Voluntaristik stimulus yang datang → Deterministik Metode Interview-kuesio Interview-kuesio Eksperimen ner dan metode ner serta perbandingan observasi sejarah Aksi, teori Teori perilaku Teori Teori struktural-fungsi tindakan, dan teori onalisme, konflik interaksionisme pertukaran dan sistem simbolik, fenomenologi, etnometodologi dan eksistensialisme

Tabel 1ʳ Perbandingan antar paradigma (Ritzer) Komponen Paradigma Sosiologi Paradigma Fakta Sosial Definisi Sosial Perilaku Sosial Eksemplar The Rules of Karya Weber Karya BF Skinner: Sociological tentang tindakan Beyond Freedom Method dan sosial and Dignity Suicide, karya Durkheim

Gambaran Masalah PokokMemusatkan perhatian pada struktur dan institusi sosial berskala luas, juga pengaruhnya terhadap pikiran dan tindakan individuNominalis Mempelajari cara aktor mendefinisikan situasi sosial mereka terhadap tindakan dan integrasiPerhatian utama pada hadiah (rewards) yang menimbulkan perilaku yang diinginkan dan hukuman (punishments) yang mencegah perilaku tidak
Posisi IndividuPosisi Individu Tidak bebas dan terikat → DeterministikBebas dan otonom → VoluntaristikTidak bebas tergantung stimulus yang datang →
MetodeMetode Interview-kuesio ner dan metode perbandingan sejarahInterview-kuesio ner serta observasiEksperimen
struktural-fungsi onalisme, konflik dan sistemAksi, teori tindakan, interaksionisme simbolik, fenomenologi, etnometodologiTeori perilaku dan teori pertukaran

Kedua, paradigma Margaret Poloma, tipologi paradigma Poloma juga dibagi menjadi tiga kelompok paradigma. Poloma mengelompokkan paradigmanya menjadi naturalis/positivis, humanis/interpretatif, dan evaluatif.10 Meskipun Poloma tidak pernah sekompleks Ritzer dalam merumuskan paradigma, tapi secara implisit, cara berpikir yang Poloma lakukan masuk dalam kerangka paradigma.

Paradigma yang Poloma paparkan didasarkan pada asumsi paradigma tersebut dalam melihat manusia dan masyarakat. Sebagai catatan hal yang menarik dari paradigma evaluatif adalah sifatnya yang bebas nilai dan bisa mengkritik dua paradigma sebelumnya.

Tabel 2ʳ Perbandingan antar paradigma (Poloma)

Tabel 2ʳ Perbandingan antar paradigma (Poloma)
ParadigmaParadigma Hakikat Teori Tokoh Tokoh dan teori Posisi individuTokohTokoh dan teoriPosisi individu
Naturalistik / PositivistikSosiologi sebagai suatu ilmu seperti halnya ilmu-ilmu alam Keyakinan bahwa fenomena sosial memiliki pola dan tunduk pada hukum-hukum deterministisEmile Durkheim (Fakta sosial)Fungsionalisme Struktural (Robert K Merton), Pertukaran Perilaku (G. C Homans), Strukturalisme Pertukaran (Peter M Blau), Strukturalisme Konflik (Lewis Coser, Dahrendorf), Struktur dan Konflik dalam perspektif Evolusioner (Gerhard Lenski), Sistem Umum (Parsons)Tidak bebas dan terikat, Produk aturan-aturan sosial → Deterministik. Sosiologi harus bebas nilai
Humanistik / InterpretativeMenekankan sifat-sifat (properties) dalam perilaku manusia yang membuat mereka memiliki sifat unik dalam dunia penciptaanMax Weber Dramaturgi(Erving Goffman), Interaksionisme Simbolik (Herbert Blumer), Etnometodologi (Harold Garfinkel), sintesa strukturalisme dan InteraksionismeBebas dan otonom membentuk dunia kehidupan pribadi mereka → Voluntaristik. Sosiologi harus bebas nilai
Evaluatif Mengkritikdunia sosial dan mengajak melakukan perubahan untuk mencegah malapetaka sosiologi harus relevan bagi peristiwa dunia yang pentingAmitai Etzioni Imajinasisosiologis (C Wright Mills), Peramalan sosial (Daniel Bell), Sosiologi Reflexive (Alvin M Gouldner)Sosiologi sarat nilai

Ketiga, paradigma Gibson Burrel dan Gareth Morgan, dalam karya mereka Sociological Paradigm and Organisational Analysis menyatakan bahwa dalam dimensi analisis ada dua kunci analisis, yang Pertama asumsi tentang sifat ilmu (nature of Science) yang meliputi dimensi Objektif dan dimensi Subjektif, dan Kedua tentang sifat atau hakikat masyarakat (nature of Society) yang mereka istilahkan dengan regulasi dan dimensi perubahan radikal. Dalam sosiologi Regulasi telah diasumsikan perdebatan panjang antara paradigma Sosiologi Interpretatif dan Fungsionalisme. Dalam sebuah karya dari Berger dan Luckman dalam The Social Construction of Reality: A Treatise in The Sociology of Knowledge dan Harold Garfinkel dalam Studies in Ethnomethodology dengan kemunculan minat kembali terhadap fenomenologi.

Di samping itu, sosiologi perubahan radikal telah dikotomi menjadi beberapa pandangan tentang masyarakat tataran subjektif dan objektif antara Radical Structuralist dengan Radical Humanist. Perpaduan dari dua dimensi (hakikat ilmu pengetahuan) dan teori yang berfokus tentang masyarakat, bagi Burrel dan Morgan akhirnya melahirkan empat paradigma, yaitu sosiologi interpretatif, fungsionalis, radikal strukturalis dan radikal humanis. Peneliti akan menyajikan grafis untuk memudahkan kita memahami tentang pembagian paradigma menurut Burell dan Morgan, sebagai berikut:11

Tabel 3ʳ Pembagian paradigma (Burrel dan Morgan) The Sociology of Radical Change

Radical Humanist Radical Structuralist Anarchitic Individualism Contemporary Mediterranean French Existentialism Marxism Critical Theory Russian Social Theory Conflict Theory Subjective Objective Phenomenology Integrative Theory Hermeneutic Social System Theory Phenomenological Sociology Interactionism and Social Action Interpretative Theory Functionalist

The Sociology of Regulation

Dalam grafis di atas Burrell dan Morgan berusaha untuk menyusun paradigma sosiologi menjadi empat bagian. Fungsionalis, interpretatif, humanis radikal dan strukturalis radikal. Empat paradigma yang dipaparkannya dibagi menurut dua dimensi ilmu sosial yang mendukung keteraturan sosial dan perubahan sosial secara radikal, sedangkan dua pendekatan yang dipakai dalam melihat paradigma ini adalah pendekatan subjektif dan objektif.

Dari beberapa paradigma yang peneliti paparkan di atas, terlihat bagaimana masing-masing paradigma memiliki meta paradigmanya masing-masing berdasarkan landasan filosofis hingga pokok persoalan yang menjadi kunci utama dalam suatu paradigma tersebut. Penulis melihat dan mempertimbangkan dengan matang, akan menggunakan meta paradigma Ritzer dalam melihat dan mencari Bookchin dalam belantara ilmu sosial, dengan dua pertimbangan yang cukup mendasar dan membantu mempermudah dalam mencari Bookchin.

Pertama, penulis melihat konsep eksemplar sebagai konsep penting yang tidak dimiliki oleh paradigma lainnya, meskipun paradigma Poloma, Burrell dan Morgan tidak menutup akan bersinggungan antar paradigma mereka. Tapi yang meletakkan konsep eksemplar dengan jelas dan gamblang adalah Ritzer yang berangkat dari konsep Kuhn yang diolah oleh Materman dan disempurnakan oleh dirinya. Dengan konsep eksemplar, Bookchin akan bisa dilihat secara objektif dan komprehensif sebagai jembatan antar paradigma.

Kedua, penulis melihat apa yang ditawarkan Ritzer lebih lengkap dibandingkan dengan konsep paradigma yang ditawarkan oleh Poloma, Burrell dan Morgan. Dilengkapi dengan posisi individu yang dijelaskan begitu gamblang dan sangat terlihat begitu kontradiksi antar paradigma membuat meta paradigma Ritzer tidak akan pernah surut oleh kritik dan reposisi. Konsep posisi individu ini sangat penting, karena dengan melihat posisi individu kita bisa melihat kecenderungan suatu paradigma tanpa mengurangi keterlibatan individu tersebut dalam paradigma lainya

(relasi dengan konsep eksemplar). Dari dua alasan mendasar inilah penulis memutuskan untuk menggunakan meta paradigma Ritzer sebagai pisau untuk mencari Bookchin dalam belantara ilmu sosial.

Dalam membaca Bookchin kata kuncinya terdapat dalam konsep alam pertama dan alam kedua. Dalam konsep ini alam pertama bagi Bookchin adalah alam naturalis yang berkembang begitu kompleks melalui teori evolusi yang meliputi manusia dan non-manusia.

Kemudian pergulatan yang terjadi di alam pertama dan konsekuensi dari manusia sebagai makhluk sosial muncul lah alam kedua yang berisi politik, sosial, ekonomi, budaya dll. Kemudian di mana letak dialektikanya? Letak dialektikanya adalah ketika pergulatan wacana dan ide di alam kedua kemudian mempengaruhi degradasi yang terjadi di dalam pertama. Degradasi terhadap manusia dan non-manusia. Tentu saja, degradasi ini tidak muncul begitu saja dari pergulatan pada alam kedua. Degradasi ini muncul pada kesalahan kita melihat alam pertama, menganggap manusia berada di luar garis perkembangan evolusioner, sehingga manusia seakan menjadi makhluk asing yang berbeda dan lebih tinggi dibandingkan dengan non-manusia. Dengan begitu muncul sebuah hierarki yang kemudian termanifestasikan dalam bentuk dominasi. Dominasi ini muncul lantaran sifat manusia yang ingin menguasai alam pertama, sehingga mereka menciptakan lembaga-lembaga yang terkesan hierarkis dan patriarkis yang buntutnya mereka juga mendominasi manusia lainnya.

Bookchin pun berujar bahwa “dominasi manusia terhadap alam berdasar pada dominasi yang nyata dari manusia terhadap sesama manusia”.

Alam Pertama Municipalism Alam Kedua Libertarian

Gambar 1ʺ Posisi Municipalism Libertarian

Sebagai jembatan untuk menghapuskan dominasi dan hierarki, Bookchin kemudian mengeluarkan sebuah teori atas refleksinya terhadap apa yang pernah terjadi di Athena dan Komune-komune masyarakat tradisional sebagai bentuk yang mungkin dan bisa dipraktikkan untuk membongkar krisis sosial-ekologis yang menjamur saat ini. Tata kelola masyarakat ekologis mendasarkan keyakinan mereka terhadap swakelola dan swapolitik yang termanifestasikan dalam bentuk dewan rakyat yang saat ini tengah berjalan dan melawan gempuran dari berbagai pihak di Rojava. Konsep Bookchin ini bernama Muncipalism Libertarian, konsep tentang kekotaprajaan, di mana konsumsi dan produksi berlandaskan kebutuhan primer semata. Tanpa eksploitasi berlebih yang kemudian menuntut sebuah akumulasi dari kebutuhan-kebutuhan semu.

Dalam hal ini, penulis melihat bahwa ada dimensi fakta sosial di dalam konsep berpikir Bookchin dalam Naturalisme Dialektik di mana posisi individu tidak bebas dan terikat atau deterministik akibat kungkungan lembaga-lembaga dan institusi sosial yang hierarkis tersebut. Sehingga menyebabkan manusia, mereka memenuhi kebutuhan-kebutuhan palsu mereka. Gambaran pokok dari permasalahan tersebut bahwa, Naturalisme Dialektik memusatkan perhatian pada struktur dan institusi sosial berskala luas, juga pengaruhnya terhadap pikiran dan tindakan individu di alam kedua terhadap alam pertama. Metode yang dipakai Bookchin menggunakan perbandingan perjalanan teori evolusioner dari waktu ke waktu yang akan mencapai kepada sebuah keutuhan atau pemenuhan (proses become).

Dengan alasan-alasan mendasar inilah penulis memberanikan di menempatkan Bookchin dalam paradigma fakta sosial. Di mana kriteriakriteria tersebut memenuhi yang dipaparkan Bookchin dalam konsep Naturalisme Dialektiknya. Tapi sekali lagi, di sini pentingnya konsep eksemplar yang dibangun oleh Ritzer. Ada dimensi di mana Bookchin melihat manusia sebagai pendukung keberadaan non-manusia secara kreatif dan bebas dari deterministik. Bookchin tidak sedang hendak menyamakan manusia dengan non-manusia, karena bila Bookchin menyamakan manusia dengan non-manusia dia telah mengingkari apa yang dia ungkapkan bahwa manusia memiliki akal yang tidak dimiliki oleh non-manusia yang memiliki insting. Bentuk perbedaan insting dan akal di sini, Bookchin melihatnya sebagai diversitas atau bentuk keragaman yang akan terus berkembang dan menemukan kompleksitas-kompleksitas baru.

Dari penjelasan ini, penulis mendapatkan bahwa ada dimensi manusia untuk menentukan bagaimana cara atau perilaku mereka dalam membangun alam kedua dengan pijakan Naturalisme Dialektik dalam alam pertama. Dalam dimensi ini lah Bookchin masuk ke dalam definisi sosial, di mana individu juga mempunyai kebebasan untuk menggunakan akal mereka sebagai pendukung terhadap makhluk non-manusia. Karena makhluk non-manusia tidak bisa merumuskan tentang hukum-hukum dan norma-normanya sendiri, maka diperlukan peran manusia sebagai perpanjangan lidah dari makhluk non-manusia yang “bisu” tersebut.

Konsep individu yang otonom tersebut termanifestasikan dengan jelas dalam konsep Municipalism Libertarian Bookchin, di mana manusia mempunyai kebebasan untuk mengelola urusan publik mereka sendiri dan mempersenjatai imajinasi mereka bahwa bentuk pemerintahan tidak berhenti pada konsep negara-bangsa yang hierarkis. Bentuk pemerintahan mempunyai dimensi lain yang lebih otonom dan voluntaristik dalam melibatkan masyarakat secara luas yang tidak bisa diwadahi dalam negara-bangsa yang melegitimasi suara-suara elit saja.

Kemudian metode yang diterapkan Bookchin juga menggunakan Observasi terhadap suku-suku tribal dan konsep gerontokrasi yang telah mengakar dalam sejarah peradaban manusia. Observasi ini lah yang memungkinkan Bookchin untuk menemukan sintesa-sintesa baru dari bentuk demokrasi langsung yang radikal. Karena dalam demokrasi langsung yang berlangsung di Athena pun Bookchin masih menemui sifat-sifat patriarki mau tidak mau atau menerima “kodrat” bahwa manusia harus mengeksploitasi alam sebagai bentuk eksistensi dan cara dengan hanya melibatkan laki-laki dalam pertemuan-pertemuan majelis rakyat. Dengan begitu lah konsep municipalism libertarian Bookchin berusaha untuk mempelajari cara aktor (individu) mendefinisikan situasi sosial-politik mereka terhadap tindakan dan integrasinya antara alam pertama dengan alam kedua.

1. Abdul Malik dan Aris Dwi Nugroho, “Menuju Paradigma Penelitian Sosiologi yang Integratif,” Sosiologi Reflektif 10, no. 2, (2016): 75.

2. George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda (PT RajaGrafindo Persada, 2007), 3.

3. Thomas S. Kuhn; American Philosopher and Historian, Britannica, diakses 10 November 2018, https://www.britannica. com/biography/Thomas-S-Kuhn.

4. Ritzer, Sosiologi, 4.

4. Ritzer, 5.

6. Ritzer, 6.

7. George Ritzer; University of Maryland, Social Trends Institue; Fostering Understanding, diakses 11 November 2018, http://socialtrendsinstitute.org/experts/all/george-ritzer.

struktur dan 8. George Ritzer & Douglas J. Goodman. Teori Sosiologi Modern, (Prenada Kencana: 2005), 15 aktor

9. Abdul Malik dan Aris Dwi Nugroho, “Menuju Paradigma Penelitian Sosiologi yang Integratif” Sosiologi Reflektif 10, no. institusi sosial mendefinisikan menimbulkan 2, (2016): 75-76.

10. Malik dan Nugroh

11. Burrell, G dan G Morgan, Sociological Paradigms and Organizational Analysis: Elements of the Sociology of Corporate Life (Ashgate Publishing Limiter, 1994), 29.

Simpulan

Konsep eksemplar yang Ritzer kemukakan menjadi konsep penting yang tidak dimiliki oleh konsep paradigma lainnya membantu peneliti untuk melihat Bookchin secara komprehensif dan tidak terjebak dalam satu paradigma. Sehingga Bookchin bagi peneliti layak masuk dalam eksemplar paradigma melalui karyanya The Ecology of Freedom: The Emergence and Dissolution of Hierarchy yang telah menjembatani dimensi ide dari manusia melalui Naturalisme Dialektik menuju dimensi praksis dari manusia melalui Municipalism Libertarian. Kemudian bagaimana dengan konsep perilaku sosial yang juga merupakan salah satu paradigma yang dikemukakan oleh Ritzer? Bagi penulis, konsep perilaku sosial terlalu sederhana dan mudah ditebak dalam penerapannya melihat suatu permasalahan, yang sangat tidak mengakomodasi bentuk-bentuk kreatif dan otonom manusia. Individu hanya dilihat dalam kerangka stimulus dan respon yang tidak mengindahkan dimensi ide (bentuk kreatif dan otonom manusia) yang begitu dinamis dan terus berkembang dalam bentuk yang kompleks. Paradigma perilaku sosial hanya melihat manusia dalam kerangka yang mekanik yang mudah ditebak daripada organik yang penuh dengan kejutan dan segala bentuk kreativitasnya.

Dengan begitu Bookchin merupakan jembatan paradigma dalam belantara ilmu sosial, dan mencari Bookchin dalam belantara ilmu sosial bukan maksud peneliti untuk mengurungnya dalam dimensi ilmu sosial saja. Karena dimensi biologi yang sedari awal menjadi langkah Bookchin menginterpretasikan alam semesta memiliki andil yang tak kalah penting dalam dimensi ilmu sosial.

Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Roasting Kopi [Percakapan Iseng dengan Caesar Coffee Roaster]

Melkita’ulamun

Kalender menandakan hari keempat di bulan Juli sore itu. Saat saya dan beberapa kawan menikmati suguhan kopi di salah satu kedai favorit kami. DS singkatannya kedai yang resmi dibuka tahun 2016 silam (semoga tidak keliru). Teriknya cuaca di sore hari sedikit diredam oleh satu gelas es kopi double shot dan frappucino. Caesar tukang sangrai kopi atau bahasa lainnya coffee roaster turut meramaikan keriuhan di meja bundar sebelah kanan dekat pintu masuk.

Di tengah perbincangan absurd meja kami, tetiba iseng terlintas dalam benak saya untuk menanyakan pengalaman Caesar sebagai seorang coffee roaster. Terkait pengaruh dari perubahan iklim terhadap proses roasting. Saya penasaran apakah perubahan iklim yang tidak menentu berpengaruh terhadap proses roasting atau tidak? Kebetulan dia sedang lowong dan perbincangan pun dimulai.

Roasting atau penyangraian adalah salah satu bagian dari proses untuk menghasilkan cita rasa kopi. Dewasa ini proses roasting kopi sudah banyak dilakukan menggunakan mesin. Cita rasa kopi dari hasil roastingan dipengaruhi oleh dua faktor yakni suhu dan waktu. Roasting dikategorikan dalam pengolahan kopi sekunder. Menurut Sofi’i (dalam Shinta, 2022), Tujuan dari roasting kopi adalah mensintesakan senyawasenyawa pembentuk cita rasa dan aroma khas kopi yang ada di dalam biji kopi dengan memanfaatkan panas yang tersedia dan kemudian diikuti dengan penguapan senyawa volatil serta proses pirolisis/pencoklatan biji. Sehingga jelas salah satu proses penting bagi cita rasa kopi adalah roasting.

Fokus utama tulisan kali ini adalah mengetahui hubungan antara perubahan iklim yang tidak menentu dengan proses sangrai kopi. Berdasarkan pengalaman langsung dari seorang coffee roaster bernama Caesar. Ia memiliki sejumlah art ditubuhnya dan biasanya memakai celana pendek. Sering menyapa pengunjung di DS dengan senyum lebar dan candaan usil. Barangkali kau bertemu dengannya setelah membaca tulisan ini, semoga ciri-ciri yang disebutkan dapat membantu.

Fokus utama tulisan kali ini adalah mengetahui hubungan antara perubahan iklim yang tidak menentu dengan proses sangrai kopi. Berdasarkan pengalaman langsung dari seorang coffee roaster bernama Caesar. Ia memiliki sejumlah art ditubuhnya dan biasanya memakai celana pendek. Sering menyapa pengunjung di DS dengan senyum lebar dan candaan usil. Barangkali kau bertemu dengannya setelah membaca tulisan ini, semoga ciri-ciri yang disebutkan dapat membantu.

Roasting kopi seperti yang sudah dituliskan sebelumnya tergantung pada dua faktor utama suhu dan waktu. Menurut Caesar, suhu menjadi patokan dalam proses sangrai kopi. Suhu mempengaruhi tingkatan hasil sangrai yakni suhu 225°C untuk medium beans, suhu 230°C untuk dark beans. Teknik roasting pun ada beragam yang disebutkan tiga di antaranya yaitu Spanish, italian dan Vena. Berasal dari nama Negara teknik sangrai ditemukan.

Caesar sendiri mendaku sangat bergantung pada suhu di tempatnya melakukan roasting. Kalau suhu ruangan rendah maka suhu pada alat roasting harus tinggi untuk menstabilkan suhu selama proses penyangraian. Menurutnya iklim saat ini semakin tidak bisa diprediksi. Perubahan musim mengalami perubahan yang sangat jauh. Baginya ini bukan anomali dan sudah menjadi hal biasa karena Indonesia hanya punya dua musim.

Perubahan iklim yang sulit diprediksi membuatnya harus menyesuaikan suhu dan waktu roastingan. Biasanya dia membutuhkan waktu 14 menit untuk roasting medium dan 15 menit untuk roasting dark. Namun, karena suhu tidak lagi stabil akibat proses kompleks dari perubahan iklim dia jadi tidak bisa lagi mematok waktu yang pasti.

Ini menandakan bahwa perubahan iklim berpengaruh terhadap apa yang disajikan pada kita setiap makan dan minum. Hal yang jarang kita pikirkan bahkan dianggap utopis bagi sebagian besar manusia. Menurut Caesar perubahan iklim ini dipengaruhi banyak hal salah satunya adalah pabrik. Wacana kendaraan listrik digadang-gadang sebagai salah satu solusi Energi Baru Terbaharukan. Pembangunan pabrik yang menghasilkan banyak polusi seringkali diabaikan menjadi penyebab perubahan iklim.

Pabrik yang dibangun tanpa memenuhi standar studi kelayakan lingkungan sering menimbulkan masalah namun diabaikan. Seperti limbah pembuangan pabrik yang mengandung racun dibuang langsung ke laut. Pembuangan itu disebut tailing dan membunuh ekosistem laut seperti lamun dan terumbu karang yang dapat menyerap karbon. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan bahan baku utama kendaraan listrik yaitu baterai dari ore nikel, manusia acap kali abai menghitung berapa juta hektar ekosistem hutan yang harus dirusak.

Mungkin bagi sebagian besar manusia penjelasan ini terlau jauh memutar dan menghubungkan fenomena di alam. Tapi itulah yang terjadi. Perubahan iklim bahkan sampai mempengaruhi cita rasa kopi yang sering dijadikan karya puitis. Dan manusia semakin hari semakin senang merusak alam untuk kepentingan sendiri. Jargon energi baru terbaharukan dijadikan alat manipulasi opini publik agar korporasi dan negara bisa terus mengeksploitasi alam.

Jadi, sudahkah kamu minum kopi hari ini?

Satu Sajak Sebelum Tidur Erick Evans

Nikmatilah saja kegundahan ini Segala denyutnya yang merobek sepi Kelesuan ini jangan lekas pergi Aku menyelami sampai lelah hati ~Efek Rumah Kaca, “Melankolia”

Di derai-derai malam, Merintih satu pertanyaan dalam benak Di mana segala jiwaku bersemayam?

Jika saja ingin kulukiskan kembali Mengenai bentuk akan jiwaku Di secarik kanvas berdebu Akan kubentuk ia seperti sebuah pohon, Dengan dedaunan lebat Yang bermula kecil & kuning muda

Di awal ku lahir dari rahim ibu Polos, segar, & ranum Perlahan hijau— Di sepanjang nafas Masih berhembus

Arungi samudra kehidupan, hijau tua Kering kerontang, perlahan Gugur dimakan waktu Kala dosa terus mengganda Di tiap lipatan kata-kata Antara senggang hikayat Diriku

Jua menjelma cinta Yang menunda Dedaunan-dedaunan ini berjumpa Pada sebuah musim gugur. Bahkan bila sepi merongrong Dan rindu hendak berkuasa Dari akar-akar jiwa ini

Aku tahu & sangat benar mengetahui!

Bila tiap esok pagi menyambutku Aku musti melalui lara malam Sendirian: dingin yang kejam

Maka kini & di ambang masaku Biarlah ku potret segala irisan jiwaku Menjadi naskah-naskah puisi Yang lekas berdebu di pojok bangku

Biarlah jiwaku abadi di dalam belantara sepi Biarlah dedaunan ranggasku menyuburkan: —tanpa kalian pun ketahui!

19 Mei 2023

Vegan Ketika Idul Adha: Wawancara dengan Yudi Seorang Vegan

Tim Ecozine

Bulan Juni 2023 lalu umat muslim merayakan Idul Adha. Karena sejarah panjang di masa lampau yang diceritakan turun-temurun, setiap tahunnya umat muslim menyembelih hewan qurban seperti sapi dan kambing. Hal ini untuk memperingatkan manusia bahwa hidup di dunia adalah pengorbanan dan keikhlasan.

Seiring berjalannya waktu pengetahuan dan kesadaran baru terus diproduksi. Dewasa ini ada manusia yang menganut kebiasaan sehari-hari yang tidak mengkonsumsi daging atau sejenisnya. Mereka disebut vegan atau vegetarian. Namun, vegan dan vegetarian menjalani kehidupan yang berbeda meski sama-sama mengurangi atau bahkan mengehentikan konsumsi makanan dan minuman yang mengandung unsur hewani.

Maka dalam kesempatan ini tim ECOZINE akan menuliskan wawancara singkat mengenai kehidupan seorang vegan-isme saat perayaan Idul Adha!

1. Boleh kah kami mengetahui nama, usia dan domisili tempat tinggal kamu sekarang?

Halo, perkenalkan saya Yudi, saya lahir dan tumbuh di kota Makassar.

2. Bisakah kamu memberi penjelasan mengenai apa itu vegan?

Secara umum Veganisme adalah filosofi dan gaya hidup penuh kasih yang bersifat politis yang penganutnya berusaha untuk tidak mengonsumsi produk apapun yang berasal dari hewan untuk makanan, termasuk susu, madu, keju dan telur. Selain itu vegan juga tidak menggunakan aksesoris dan pakaian hasil turunan hewani apa pun, seperti bulu, kulit wol, dsb. Seorang vegan juga menolak segala bentuk eksploitasi hewan baik itu untuk eksperimen, hiburan, transportasi atau penyalahgunaan dengan cara lainnya.

3. Sejak kapan kamu memutuskan menjadi seorang vegan? Pertama kali memulai gaya hidup vegan sejak Agustus 2021, sejak saat itu saya perlahan menghindari untuk mengkonsumsi produk hewani baik makanan maupun pakaian.

4. Apa alasan atau latar belakang kamu ingin menjadi seorang vegan?

Alasan seseorang menjadi veganisme sangat beragam. Mulai dari kepedulian terhadap kesehatan, lingkungan, hingga alasan politis dan moral yang berkaitan dengan hak-hak hewan. Dalam hal ini, sebagai seorang yang baru-baru saja memulai gaya hidup vegan, saya meyakini bahwa menjadi vegan adalah bentuk kecintaan terhadap lingkungan dan hakhak hewan. Saya percaya bahwa semua hewan mempunyai hak yang sama untuk hidup, bebas dari perlakuan tidak adil, dan kekejaman, saya percaya bahwa hewan juga dapat merasakan sakit dan merasakan sedih.

Selain itu, sebagai seorang pegiat lingkungan saya menyadari bahwa ada banyak ketimpangan dan daya rusak berkepanjangan yang dihasilkan oleh industri peternakan hewan seperti deforestasi, polusi udara, polusi air, kotoran hewan dan penggunaan antibiotik hewan yang tidak bertanggung jawab. Industri peternakan juga menjadi salah satu penyebab utama krisis iklim, 74 miliar hewan ternak yang dibesarkan di seluruh dunia setiap tahun dan secara kolektif memuntahkan jumlah metana yang besar ke atmosfer, yang dimana metana ini adalah gas rumah kaca kuat yang menjebak setidaknya tiga puluh kali lebih banyak panas atmosfer daripada jumlah karbon dioksida yang sama. Studi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang komprehensif mematok kontribusi industri peternakan terhadap masalah pemanasan global sekitar 14,5 persen.

Bagi saya, menjadi vegan adalah salah satu cara ampuh untuk mengecilkan jejak lingkungan kita, terutama dalam hal krisis iklim. Kita tidak dapat menghilangkan kendaraan bertenaga bensin dan diesel dalam semalam, kita juga tidak dapat tibatiba beralih ke sumber listrik bebas karbon. Tetapi beralih ke diet nabati atau menjadi vegan itu mudah, dan dapat memberikan nutrisi unggul dengan biaya lebih rendah.

Oleh karena itu, menajdi vegan adalah peluang paling realistis untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mencegah sejumlah besar penyembelihan, penderitaan dan eksploitasi terhadap hewan.

5. Baru saja perayaan Idul Adha dilaksanakan. Apa yang kamu alami sebagai seorang vegan saat Idul Adha? Di mana orang-orang beragama Islam beramairamai menyembelih hewan seperti sapi dan kambing?

Setelah menjadi vegan, idul adha menjadi kurang menyenangkan bagi saya, ada perasaan sedih Ketika menyaksikan darah sapi sembelihan mengalir di ruang penjagalan, saya masih merasa ngeri ketika mengingat setiap kejadian di ruang penjagalan. Termasuk saat sapi dibunuh, sekarat, dan bau darah. Selama masa Idul Adha saya tetap menjadi vegan dengan tidak mengkonsumsi daging kurban, saya merasa bahwa ada lebih banyak penderitaan dalam semangkuk daging rendang dibanding semangkuk sayur kangkung.

6. Bolehkah kami mengetahui pandangan kamu sebagai seorang vegan tentang Idul Adha?

Sesuai ajaran agama, menyembelih dan mengonsumsi daging pun menjadi kewajiban di kala hari raya Idul Adha. Di sisi lain, menjadi vegan berarti berkomitmen untuk tidak mengonsumsi daging ataupun produk pangan hewani lainnya. Kedua hal kontradiktif ini terkadang membuat saya dilema.

Saya sepakat bahwa penyembelihan hewan adalah bentuk animal cruelty tapi menurut saya hal itu berlaku untuk industri dan sistem dalam skala makro. Untuk kebutuhan perorangan atau dalam jumlah yang wajar saya rasa tidak apa-apa, apalagi esensi dari kurban adalah berbagi makanan kepada sesama.

Meskipun saya tidak mengkonsumsi daging kurban selama Idul Adha, saya tetap menjalani ibadah sebagaimana yang saya yakini. Terlepas dari pandangan vegan radikal mengenai kurban sebagai jagal massal, bagi saya menjadi seorang vegan bukan berarti melepaskan keyakinan yang selama ini dipercaya dan dijalani. Semua punya pandangan, keyakinan, dan kepercayaan masing-masing, yang harus kita hormati.

Ecozine merupakan wadah responsif terhadap keadaan alam yang tidak pernah baik-baik saja. Sifat manusia yang menganggap diri sebagai pusat alam semesta (antroposentris) adalah salah satu penyebabnya. Antroposentris lebih lanjut menjelma jadi beberapa wujud seperti patriarki, kapitalisme, neoliberalisme dan masih banyak lagi. Bentuk penghancuran alam kemudian saling menopang satu sama lain menjadi pondasi kerusakan multisektoral yang mana korbannya tidaktebang pilih.

Zine ini tidak akan pernah jadi sesuatu ha! yang sempurna. Namun, lebih baik berupaya dengan cinta dan kesenangan daripada tidak melakukan apapun.