SiKABAJAN
Utuy T.SontANI
SiXABAJAN
komedi dua babak
Utuy. T. Sontani
diterbitkan oleh :
bagian penerbitan lembaga kebudajaan rakjat (LEKRA) Djakarta 1959.
Idjem! Idjem!"
Jang dipanggil muntjul dari pintu-belakang.
Apa, pak ?" katanja.
Bagaimana sih suamimu itu? Setiap aku man mengadjak dia bekerdja diladang, selalu dia masih tidur! Sehari-harian kutunggu dia kemarin diladang, namun dia tak djuga muntjul. Kata orang, sehari- harian dia duduk sadja-disana ditepi kali. Kalau te rus-terusan begini, rugilah aku mempunjai menantu. Aku mengawinkan dia kepadamu, karena aku mem- butuhkan tenaganja, Idjem. Dan bukan karena mau memberi dia makan tiap hari tanpa kerdja apa-apa."
Akan saja bangunkan sekarang, ja pak?"
Biar, tak usah sekarang. Katakan sadja kepa- danja bahwa aku menunggu dia diladang. Kalau kali ini dia tidak datang lagikeladang, awaslah!"
Dan setelah berkata demikian, mertuanja terus
pergi. Idjem, isteri Si Kabajan, rupanja tak sampai hati mau membangunkan suaminja jang lagi ngorok. Tapi setelah lama berpikir, achir-achirnja ia berani djuga mendekati.
Kak!" katanja seraja badan suaminja itu di. gojang-gojang. Bangun!Sudahsiang!"
Usik tubuh jang meringkuk diatas dipan itu; pantatnja mumbul. Tapi tidak terus bangun, malah terus menutupi kepalanja dengan bantal.
Bagaimana, sih?" kata isterinja. Kau tak akan bekerdja lagi ?"
Kau ini biasa mengganggu orang," djawabnja seraja menggeliat. Sedang asjiknja aku ngadji, kau bangunkan!"
Ngadji! Ngadji! Ngadji apa ? Kalau kau ma- las, ja malas sadja, djangan banjak dalih. Barusan bapak kesini, mau mengadjak kau keladang. Katanja dia akan menunggu kau disana."
Biarlah dia menunggu," djawabnja lagi sam- bil merebahkan lagi badan memedjamkan lagi mata.
E-e-eee," isterinja djengkel, ,memangnja mau terus-terusan tidur ? Tidak kau malu disebut pemalas oleh orang lain ?"
,,Mengapa mesti malu?" djawabnja pula sambil tjengkat lagi. Memangnja datangku kedunia ini ba- wa apa ? Aku berani disumpah — sungguh — aku berani disumpah, datangku kedunia ini tidak bawa apa-apa, bahkan tahu dari manapun aku haram. Me- ngapa sekarang, setelah dewasa, setelah tua, mesti aku sok-tahu, mesti aku tahu malu segala matjam ?"
Ja, ja, itukah hasil ngadjimu ? Ngadji sambil ngorok? Tak punja malu?"
,Memang, djangankan mempunjai malu, bahkan aku tak punja apapun djuga."
Isterinja jang sudah djengkel djadi marah :
Sudah!Djanganbanjak omong. Bising! Aku merasa tertipu, tahu?Dengan bersuamikan kau aku merasa tertipu! Suami oranglain pada punja pen- tjarian jangtentu; setiap waktu ada mengasih be- landja, mengasih pakaian. Tapi kau, mana ?"
Memangnja salah siapa ?" Si Kabajan bertanja sambil menguap.
Salah siapa? Ja,aku jang salah, karena aku tergesa-gesa kawin. Kepada orang asing sematjam kau mestinjaaku pandjang periksa. Tapi sekarang, dari pada begini terus, aku lebih baik ditjeraikan sadja."
Ditjeraikan?" Si Kabajan bertanja lagi sambil menguap.
"Ja, aku minta ditjeraikan!"
Mintalah kepada mang lebe jang dulu menga- winkan kita," djawab Si Kabajan sambil terus mem- baringkan lagi badan. "Djangan minta kepadaku."
Kau jang mesti mintakan!" isterinja berteriak.
Memanga ku ang d wab Si Kabajan lagi sambil terus menutupi kepala.
nja dengan bantal. Isterinja jang marah djadi mengepalkan tangan. Tapi memukul ia tak berani. Achirnja dadanja sadja
naik-turun, terengah-engah menahan nafsu. Baik," katanja sambil terus pergi keluar. Aku akan pergi ke mang lebe. Sekarang djuga aku kele
be!" Anehnja, djika isterinja itu sudah pergi, Si Ka- bajan bangkit dengan tjepat. Terus mendapatkan le. mari makanan. Tapi apa latjur? Tempat nasi nam. pak kosong. Tempat sambelpun kosong. Tak ada apa- apa untuk dimakan. Buset!" katanja seraja menggaruk-garuk ke-
pala.""Tak ada makanan." Tapi setelah lama termenung tiba tiba ia terse- njum. Dan setelah tersenjum ia terus meringkukkan lagi badannja diatas dipan, memperdengarkan lagi
suara ngoroknja dengan keras. Tjih!"kata isterinja jangkembali muntjul dengan muka tetap ketjut. Sudah ngorok lagi?!
Dasar pemalas!" Dan mendengar omongan itu, Si Kabajan jang meringkuk malah kian memperkeras suara ngorok- nja. Tapi apabila diketahuinja isterinja itu sudah masuk kepintu-belakang, pelahan-lahan ia tjengkat, mulutnja komat-kamit, terus menggerung-gerung seperti ia tiba-tiba diserang penjakit demam panas.
Tentu sadja isterinja jang tadi menghilang ke- pintu-belakang itu muntjul lagi. Muntjul dengan penuh keheranan.
Kak," katanja, kena apa, sih?"
Tapi apa djawab Si Kabajan ?Sambil matanja dipelototkan dan mulutnja komat-kamit ia berkata dengan suara bariton :
Ha, tjutjuku! Mari kesini! Mari kesini!" Isterinja jang penuh keheranan djadi melohok. Setelah berdjongkok, ia bertanja dengan gagap :
,Si...... siapakah gerangan jang datang memin- djam djasad suamiku ini? Kalau dia setan-siluman, lekaslahkembali pulang!"
Aku adalah ejangmu, 'ejang Parahulu, nenek- mcjangmu, tahu ?" djawab Si Kabajan dengan suara. baritonnja jang tetap dipertahankan. Sudah lama aku menunggu kesempatan ini. Kebetulan jang punja djasad ini sekarang lagi membubungkelangit ketu- djuh. Djadi aku bisa meminajamnja dengan leluasa."
Maafkan, ejang, tjutjumu jang bodoh ini," ka. ta isterinja seraja menjembah. ,,Bolehkanlah saja bertanja : dengan hadiat apa maka ejang sekarang sengadja datang disini ?"
,Hanja karena kasih-sajang kepadamu, tjutju- ku, aku sekarang datang; karena kudengar kau se- ring merintih kesusahan."
Betul, ejang, diwaktu jang achir-achir ini saja sangat susah, karena saja telah ditakdirkan mempu- njai suami jang berlainan dari jang lain. Dia tak ada pentjarian jang tentu, tak mau bekerdja, sehari-ha- rian hanja tidur sadja."
Si Kabajan tertawa :
Orang jang sedang membubung kelangit ketu- djuh kaukatakan tidur ? Itulah kegoblokan manusia, kegoblokan kau!"
Djadi...... djadi sebenarnja dia bukan pemalas, ejang ?"
Dia sedang menuntut ilmu gaib, tahu? Kalau kau mendjadi susah karena tingkahlaku suamimu, kesusahan itu adalah karena kau sendiri jang goblok, karena kau sendiri jangsalahsangka. Itulah jang dinamakan kesusahan manusia jang dibikin-bikin. Mengerti kau ?"
Saja mengerti, ejang."
Djadi kau tak akan merintih lagi karena urusan itu?"
,,Tidak, ejang."
Baiklah. Sekarang aku akan pulang. Tapi..." Apa, ejang ?"
Suatu kegoblokan masih melekat pada dirimu!" Kegoblokan?"
Ja. Kau tidak tahu bagaimana mestinja me. njambut kedatangan nenekmojangmu sendiri? Akan kaubiarkan aku pergi begitu sadja ?"
O, maafkan saja, ejang. Saja lupa. Ejang mau apa?"
Darah merah dan darah putih."
Darah merah darah putih? Apa itu ?"
Telor, goblok! Telor ajam!"
,,Tapi...... tapi saja tak punja telor."
Kau tidak punja. Tapi bapakmu kaja. Dia pu- nja telor banjak."
,Baik, ejang, akan saja ambilkan."
Tiga butir, djangan kurang!"
Baik, ejang."
Sehidmat menghadapi Si Kabajan, sehidmat itu pulaisterinja itu mengundurkan diri, pergi keluar. DanSi Kabajan jang ditinggalkan, setelah tinggal sendirian terus mengurut-ngurut tenggorokan. Ba- njak djuga rupanja ia mengeluarkan tenaga. Setelah mengurut-ngurut tenggorokan, iapun terus minum sampai habis segelas penuh.
Kira-kira lima menit kemudian isterinja sudah datang lagi membawa tiga butir telor. Terus menje- rahkan telor itu kepada Si Kabajan : ..Nih, ejang."
,Ha bagus! Bagus!" djawab Si Kabajan. Dan ia terus menghirup telor itu sebutir demi sebutir. Terimakasih," katanja setelah ketiga telor itu
masuk kedalam perutnja. Sekarang aku permisi pu- lang. Kudoakan supaja kau dimudahkan menerima redjeki dan didjauhkan dari mara bahaja."
Terus tergeong-geong ia menudju dipan; me ringkukkan lagi badannja dan kemudian memperde- ngarkan lagi suara ngoroknja.
Isterinja menghela nafas pandjang karena me- rasa lega. Tapi setelah mengawasi suaminja bebera. pa lama, tiba-tiba ia berlari keluar dengan tergopoh- gopoh. Tak salah lagi ia mendapatkan bapaknja di- ladang. Sebab tidak lama kemudian mereka berdua datang bersama-sama.
Dia masih tidur," kata isterinja.
,Bangunkan sadja," kata mertuanja. Mau tak mau dia sekarang mesti terusterang, mesti mene- rangkan siapa dia sebenarnja. Ajo, Idjem, bangun- kan !"
Pelan-pelan isterinja mendapatkan dipan, terus pelan-pelan menggojang-gojang tubuh jang mering- kuk disana.
,Kak, bangun," katanja.
Lama dulu, baru tubuh jang digojang-gojang itu usik. Tapi setelah usik tidak terus tjengkat.
,,Kak," kata isterinja lagi.
,"Apa, Idjem ?" djawabnja dengan mata masih dipedjamkan. ,Biasa kau mengganggu aku."
"Ada bapak."
Mau apa? Kalau dia mau mengadjak keladang, katakanlah aku masih ngadji."
,Bukan, Kabajan," kata mertuanja, ,aku bukan mau mengadjak kau keladang. Aku baru pulang dari ladang. Nih, lihat! Aku bawa ketimun. Mau kau?"
Kini ia bangkit duduk; setelah menggosok mata sebentar, terus tangannja diulurkan.
,,Mana, pak ?"
"Nih !"
Dan setjepat ketimun itu pindah tangan, setje- pat itu pula terus masuk kedalam mulut jang mene. rimanja. Ribut ia mengunjah; ribut sendirian, seolah- olah tak ada orang lain didekatnja.
,"Kabajan," kata mertuanja.
"Apa, pak ?"
Kau sudah lama djadi menantuku, bukan?"
Saja tak ingat berapa lama, pak."
,"Sudah hampir setengah tahun, Kabajan."
Betul?"
,"Ja, betul, sudah hampir setengah tahun. Tapi selama itu aku belum tahu siapa kau sebenarnja."
,"Belum tahu siapa saja?"
"Ja."
Ah, masakan bapak belum tahu siapa saja? Kan nama saja Kabajan!"
Bukan namamu. Tapi siapa kau jang sebenar- nja. Jang sebenar-benarnja."
,Maksud bapak, bapak masih penasaran terha- dap asal-usul saja? Mau tahu dari nana saja ber- asal ?"
Bukan itu, Kabajan. Bukan itu jang ingin ku- tanjakan. Dari mana kau berasal, bagiku sudah tidak lagi mendjadi soal. Kau, seperti djuga aku, seperti djuga anakku, adalah berasal dari Gusti Allah, Tu- han jang mentjiptakan kita semua. Bukankah begitu kataku dulu dihadapan lebe tatkala kau kawin dengan anakku?"
Lantas? Kalau bukan itu jang hendak ditanja- kan, apa lagi?"
Begini, Kabajan. Dimata orang lain kau ini se- ring menimbulkan kesan jang kurang baik. Mereka rata-rata menuduh kau seorang pemalas. Dan aku... ja, meskipun aku sering ngomel, sering ikut-ikutan menuduh kau pemalas, namun dalam hatiku aku se- benarnja bertanja-tanja. Nah, sekarang, supaja tidak
lagi timbul salah sangka, kuminta kepadamu supaja kau terusterang sadja; supaja kau menerangkan apa sebenarnja jang kaulakukan dibalik tingkah jang nampaknja malas itu. Biar bagi kami, siapa kau inı tidak lagi merupakan teka-teki."
"Itu susah saja menerangkannja, pak."
"Mengapa susah ?"
Sebab kalian bodoh. Kalian tidak akan menger- ti. Buktinja, meskipun berkali-kali saja katakan bah- wa saja sedang ngadji, isteri saja ini tetap tidak mau mengerti."
"Tapi sekarang saja mengerti, kak,"kata isteri- nja.
Bohong!"
,"Betul, kak, sekarang saja mengerti."
Omongmu! Bagaimana kau bisa mengertide- ngan mendadak ? Memangnja kau baru mimpi ?"
,Begini, Kabajan," kata mertuanja. Sebetulnja barusan sadja ejang Parahulu datang disini."
Ejang Parahulu ?"
,"Ja, ejang Parahulu, jang kuburannja sering ku- djarahi itu !"
Lantas ?"
Dialah jang menerangkan itu semua. Dia me- nerangkan bahwa tidurmu itu bukan sembarangan tidur, bahwa sebetulnja kau sedang menuntut ilmu gaib."
,,Betul dia mengatakan itu semua ?"
,,Betul, kak," djawab isterinja.
Kurangadjar ejang Parahulu itu! Kurangadjar! Mengapa dia tidak minta permisi dulu kepadaku? Padahal dia sudah berdjandji tak akan mentjerita- kannja kepada siapapun djuga."
,"Ejang Parahulu itu nenekmojang kami, Kaba- jan," kata mertuanja. Dan dia bukan sembarangan ejang."
Ja, saja tahu. Tapi biar dia siapa, akan saja adjar dia. Akan saja adjar!"
Dan Si Kabajanjang marah itu terus berdjalan mundar-mandir sambil mengepal-ngepalkan tangan. Isterinja dan mertuanja tinggal terdiam. Sebentar- sebentar mereka saling pandang; tak tahu mereka apa jang mesti mereka katakan.
Setelah lama terdiam, setelah Si Kabajan duduk diatas dipan dengan kepala tertunduk, barulah mer- tuanja berani membuka lagi suara :
Apa hendak dikata, Kabajan? Sekali kami su- dah ada jang memberi tahu, kami sekarang minta, sudilah kau membukakan rahasiamu dengan seterbu- ka-terbukanja."
Apa perlunja kalian tahu ?" Si Kabajan ber- tanja.
Supaja diantara kita tiada lagi salah paham, Kabajan," djawab mertuanja. Salah paham dian- tara kita adalah tidak baik."
Beberapa saat lamanja Si Kabajan terdiam. Achirnja mendjawab :
Baiklah, karena sudah terlandjur ada jang me- ngatakan, baiklah akan saja terangkan. Tapi saja minta supaja kalian memegang rahasia ini dengan teguh."
Baik, kak. Baik, Kabajan," kata isteri dan mer- tuanja hampir serentak.
Tapi sebelum aku menerangkan, kalian mesti bersumpah dulu."
Sumpah apa_?" tanja mertuanja.
Sumpah kepada Gusti Allah. Mau ?"
Mau sadja, Kabajan," kata mertuanja. Bagai- mana tjaranja?"
Si Kabajan lalu berdiri diatas dipan.
Angkat tangan kananmu!" katanja.
Isteri dan mertuanja menurut mangangkat ta- ngan mereka jangkanan.
,Sekarang utjapkan kalimat-kalimat iní: Demi Allah, saja akan memegang rahasia tentang apa dan siapa sebenarnja Si Kabajan."
Isteri dan mertuanja menurut pula. mengutjap- kan kalimat-kalimat itu. Kemudian, atas titah Si Ka- bajan supaja mereka duduk bersila dilantai, mereka- pun pada menurut. Sedang Si Kabajan terus duduk diatas dipan.
Dengar," katanja dengan suara sungguh-sung- guh. Sudah dua bulan lebih sebenarnja saja sering bertemu dengan Nabi Hidir."
Nabi Hidir ?" mertuanja kaget.
Ja, Nabi Hidir. Tahu bapak siapa Nabi Hidir ?" ,Menurut kata lebe, dia bertempattinggal dida.
lam air." Betul. Dia bertempattinggal didalam air. Tapi sudah dua bulan ini dia sering datang mendjumpai saja."
Datang mendjumpai kau ?" mertuanja kaget lagi.
Ja, dia datang mendjumpai saja dikala saja duduk sendirian disana ditepi kali, atau diwaktu saja tidur disini. Diwaktu itulah saja berguru kepadanja, mendengarkan segala sabdanja tentang keadaan dunia sekarang."
.Oh......," mertuanja melohok. Dan apa kata- nja?"
Bahwa keadaan didunia sekarang ini sudah ser- ba salah. Orang sudah pada mementingkan diri sen- diri; sudah kehilangankepertjajaan pada dirisendi- ri. Inilah akibat nenekmojang kita jang sudah me- nundjukkan djalan jang salah kepada kita. Tapi ke~ pada saja dikatakan bagaimana mestinja saja me- nundjukkan djalan jang baru."
,,Apa itu?" mertuanja penasaran.
Si Kabajan tersenjum :
Itu rahasia jang kedua. Tidak boleh ditjeritakan sekarang."
Mertuanja jang penasaran djadi menarik naras pandjang. Sajang," katanja, ,sajang tidak boleh dikatakan sekarang. Tapi...... ja, dengan mengetahui bahwa kau sering bertemu dengan Nabi Hidir, de. ngan begitu sadja, tahulah aku sekarang siapa kau sebenarnja."
Terus perkataannja diarahkan kepada anaknja :
Idjem, mulai sekarang djangan kau perlakukan Iagi suamimu dengan sembarangan."
,,Tidak, pak, tak akan lagi."
Dia sekarang tentu belum makan, Idjem. Am- billah makanan untuknja dirumahku. Ambillah seka- rang djuga. Aku sendiri sekarang tak akan terus pulang."
Dan setelah berkata demikian, mertua Si Kaba- jan terus bangkit berdiri, melangkah kearah pintu.
Bapak mau keladang lagi ?" anaknja bertanja.
Tidak, mau kerumah lebe," djawabnja sambil terus keluar.
"Apa ?" kata Si Kabajan. Kerumah lebe ?"
,"Ja, kudengar dia bilang begitu."
"Kurangadjar! Dasar manusia goblok!"
,"Mengapa, kak ?"
"Dia tentu akan mengatakan rahasiaku, Idjem."
Tapi...... tapi dia kan sudah bersumpah, kak."
Betul. Tapi siapa bapakmu sudah tjukup kuta- hu. Tapi...... ja, sudahlah! Kalau kau mau mengam- bilkan makanan untukku, pergilah. Aku sekarang maú kekali dulu."
Merekapun lalu keluar hampir bersamaan. Si Kabajan menghilang kepintu-belakang; isterinja ke- luar melalui pintu-depan.
Tidak lama kemudian isterinja datang lagi mem- bawa sepiring nasi bersama lauk-pauknja. Setelah menjimpanja kedaiam lemari, ia terus mengambil sapu, menjapukan kotoran keluar.
Idjem!" kata seorang laki-laki berbadju djas- tutup dan bersarung palekat jang masuk dengan tiba-tiba. ,,Mana suamimu?"
Diakekali, mang lebe."
Aku dengar berita jang aneh tentang dia," kata tamu jang disebut lebe itu.
,Berita apa'?"
Katanja dia sering berdjumpa dengan Nabi Hidir."
Siapa bilang ?"
,Bapakmu."
"Itu...... itu rahasia, mang lebe. Sebenarnja ti- dakboleh ditjeritakan kepada orang lain."
Mengapa mesti dianggap rahasia?Nabi Hidir itu bukan rahasia, Idjem. Didalam kitab2 agama Is- lam djuga disebutkan bahwa dia ialah hamba Tuħan jang keramat jang diam didasar air dan pernah di- gurui oleh Nabi. Musa. Kalau dia sekarang menggu- rui suamimu, itu berarti suamimu itu bukan semba- rangan orang. Ja, patut tingkahlaku suamimu itu aneh-aneh sadja. Ternjata dibelakang tingkahlakunja jang aneh-aneh itu ada apa-apanja."
Ja, tapi suami saja tidak mau hal itu diketahui orang."
Apakatamu? Suamimu tak mau hal itu dike tahui orang? Itu tandanja suamimu betul-betul bu- kan manusia biasa. Itu tandanja dia sudah betul-betul hampir wali. Tapi ada dalil dalam kur'an, Idjem, bah- wa ilmu jang baik mesti disebarkan kepada umum, djangan dipendam dalam diri sendiri."
Apa pula jang mesti dikatakan isteri Si Kaba-
jan ? Bingung ia, achirnja tinggal terdiam dengan tak tahu pula apa jang mesti dilakukan.
mT
Djustru pada saat itu, pada saat mereka terdiam itu, muntjul Si Kabajan dari pintu-belakang. Dan ia muntjul dengan membawa gajung diisi air.
A, mang lebe !" katanja dengan gembira. Un- tung manglebe datang!"
,,Mengapa?"tanjalebe.
Ada dikatakan kepada saja barusan, bahwa sa- ja mesti memberikan air kepada siapa jang datang dirumahsaja. Ternjata manglebelahjangmendapat kesempatan pertama kalinja."
Apa, Kabajan? Kau bilang ada jangberkata kepadamu?Siapa? Nabi Hidir?"
Djangan bertanja. Minumlah!"
Lebe termenung sebentar. Tiba-tiba ia terse- njum. Dan katanja :
Ja, betul, tak salah. Aku tahu, ketika Nabi Mu- sa menerima rahmat dari Nabi Hidir, diapun dila- rang bertanja."
Dan ia terus menerima gajung jang disodorkan kepadanja dan terus meletakkannja kedepan mulut- nja. Tapi ketika hendak meminum isinja, tiba-tiba ia njengir, mundur beberapa langkah. Dan katanja :
Mengapa bau ?"
Tanjakanlah kepada diri sendiri siapa jang bau!"
Djadi..... djadi dirikukah jang bau ?"
Si Kabajan membentak :
Goblok! Mengapa kau bertanja pula?"
Gemetar karena mendengar bentakan itu, lebe- pun menurut, meminum air dari gajung sampai ha- bis.
Terimakasih,Kabajan,"katanja terengah- engah, terimakasih banjak aku dapat kesempatan minum air berkah jang pertama kalinja."
Sekarang pulang!" kata Si Kabajan seraja me- nundjuk pintu. Katakan kepada orang lain apa jang telah terdjadi barusan."
,Baik, Kabajan, akan saja tjeritakan," djawab lebe sambil terus mundur dengan hormat, menghi- lang keluar.
Nah, Idjem," kata Si Kabajan setelah tinggal berdua dengan isterinja, aku dapat melihat dari se- karang, bahwa nanti akan banjak tamu datang diru- mah kita. Karena itu, sediakanlah gentongdisini de- ngan gajungnja. Setiap waktu gentong itu mesti kau- isi dengan air dari kali."
Tapi......," djawab isterinja.
Tapi apa ?"
,Bukankah kau tak mau hal ini diketahui orang lain ?"
Ja, itu tadi, sebelum aku pergi kekali. Sekarang sudah dibolehkan."
Kalau begitu, bapak saja djadi tidak berdosa dengan melanggar sumpahnja tadi ?"
Bapakmu, Idjem,"kata Si Kabajan dengan ge- mas, ,,dia tetap berdosa. Bukan berdosa kepadaku. Tapi berdosa kepada Gusti Allah. Bukankah dia ta- di sudah bersumpah demi Allah? Dan kaupun tahu siapa Gusti Allah, bukan?"
,Saja tahu, kak. Dialah Tuhan kita sekalian, jang Maha Kuasa, jang mengatur kehidupan kita semua."
Nah, kalau kau sudah tahu begitu, kaupun ten- tu dapat membajangkan apa djadinja dengan orang jang berani melanggar sumpah kepadaNja."
,Ja, aku dapat bajangkan, kak," isterinja ber- kata sambilmenjusutimata. Hidup tjelaka sebagai hukumulah akan datang mengantjam dia...."
Terus suaranja serak :
Oh, kasihan dia, kak, kasihan......"
babak kedua
TIDAK SALAH APA JANG DIKATAKANNJA; sedjak itu djadi banjak orang datang dirumahnja. Setiap jang datang membawa kesusahannja sendiri dan pulangnja dibekali air. Tentu sadja untuk air jang diterimanja itu mereka memberikan apa-apa, tapi biasanja jang mereka berikan itu uang.
Dan karena banjak uang jang masuk, sedangkan uang itu berkuasa, tak heran kita kalau dirumah itu sekarang djadi banjak perubahan. Selain disana se- karang djadi banjak bangku, dipan jang biasa diti- duri Si Kabajan itupun sekarang diberi berseprei. Didekatnja ada sebuah medja pula, dimana ditaro sebuah gentong bersama gajungnja.
Ketika itu hari sudah siang. Diatas bangku su- dah nampak duduk empat orang tamu; seorang pe- rempuan dan tiga orang laki-laki. Sudah lama rupa- nja mereka duduk disana. Matanja sudah pada saju, sudah pada merasa kesal menunggu.
Ketika didengarnja pintu-belakang menderik, mereka pada berdiri. Tapi apabila ternjata jang muntjul itu isteri Si Kabajan — dan bukan Si Ka- bajan — merekapun pada ketjewa.
Kapan dia kesini? tamu perempuan meluap- kan ketidaksabarannja.
Saja tak berani bangunkan, njonja," djawab
isteri Si Kabajan. Tunggulah, djangan kepalang sabar."
,,Apa dia masih tidur ?"
Tidur ? Ja, begitulah nampaknja, tapi sebenar- nja dia bukan tidur," djawab isteri Si Kabajan sam- bilterus menghilang lagi.
Tidur, tapi bukan tidur ?" tamu perempuan melohok.
Dia tentu bukan seperti kita," kata tamu laki- laki gemuk jang berpakaian tentara. ,,Kalau kita ti- dur, ja benar-benar tidur."
,Memang," udjar tamu laki-laki jang seorang lagi, jang hanja berpantalon dan berkemedja, ,seo- rang manusia jang bertingkat wali, gerak-geriknja tak mudah kita pahami. Kata orang, kalau tidak se- hari-harian dia tidur, sehari-harian dia memeluk dengkul ditepi kali. Minggu jang lalu saja kesini, saja pulangkosong, tak bisa ketemu."
Djadi saudara datang sekarang untuk kedua kalinja ?" tanja tamu laki-laki berpakaian tentara.
"Ja."
Saudara dari mana ?"
,,Dari Garut."
Untung masih dekat. Saja dan njonja ini dari Bandung. Kalau sekarang tidak bisa ketemu, berabe djuga."
Kalau begitu, jang paling berabe ialah saja," kata tamu laki-laki jang berdjas dan berdasi, jang sedjak tadi belum buka suara.
,,Mengapa ?" tanja laki-laki berpakaian tentara.
,"Sebab saja lebih djauh lagi. Saja dari Bogor."
Dari Bogor ?" tanja tamu perempuan. Djadi orang di Bogorpun sudah pada tahu bahwa dikam- pung ini ada jang aneh ?"
,,Maklum orang, njonja," kata tamu dari Garut, ,sekali mengetahui ada jang aneh, mulutnja itu tak
bisa ditahan. Berita diberitakan lagi, achir-achirnja diketahui orang dimana-mana. Waktu saja kesini tempo hari, saja lihat ada djuga orang jang datang dari Djawa-Tengah."
Tapi bagaimana menurut pengalaman orang. orang jang sudah pada datang disini ?" tamu perem puan bertanja kepada itu tamu dari Garut. Adakah mereka dapat merasakan kemandjurannja ?"
Ada tetangga saja, setelah dua kali datang di- sini, dagangnja djadi madju; mendadak dia diper. tjaja menghutang oleh jang punja uang."
O, begitu?" tamu perempuan menundjukkan perhatiannja. Tapi itu urusan dagang, bukan? Jang ingin saja tahu urusan lainnja."
,Saja kira," kata tamu laki-laki dari Bogor, ,mengenai urusan apapun djuga, kuntjinja terletak pada kepertjajaan kita sendiri. Kalau kita memper- tjajainja dengan· sepenuh kepertjajaan, kita tentu akan berhasil merasakan kemandjurannja. Sebalik- nja, kalau didalam hati kita masih merasa ragu, lebih baik djangan datang disini sadja."
Betul, itu betul," kata tamu laki-laki gemuk jang berpakaian tentara.
Tapi pertjaja itu kepada apa ?" tamu dari Ga- rut bertanja.
,Ja, kepada kemandjurannja airjang diberi- kan," djawab tamu dari Bogor, kepada keluhungan- nja djiwa jang memberikan air itu."
Bagi saja," tamu dari Garut menerangkan, ,,saja hanja akan pertjaja kepada Tuhan; hanja akan pertjaja kepada keagungan Tuhan, kepada kerah- man-rahiman Tuhan. Tapi untuk menerima kerah- man-rahiman Tuhan itu, disebabkan kita ini kotor, kita tidak bisa menerimania dengan langsung. Kita membutuhkan perantara, jaitu orang jang sudah ber- sih, jang sudah dekat kepada Tuhan. Orang jang su-
dah bersih itu diantaranja ialah mamak jang kita datangi sekarang ini. Dan air jang akan diberikannja adalah untuk mentjutji kotoran jang melekat pada diri kita."
,"Ja, itu sama sadja," kata tamu dari Bogor. Pendeknja, datang kita kesini ini adalah karena kita tidak bisa menolong diri kita sendiri, bukan ? Katakanlah kita tidak bisa menolong diri kita sen. diri itu disebabkan kita ini kotor, atau disebabkan kita ini djauh dari Tuhan. Tapi hakekatnja sama sa- dja. Didalam kita hidup didunia ini kita membutuh- kan pertolongan orang lain. Itu tidak bisa tidak. Di- mana-mana djuga kita membutuhkan pertolongan orang lain. Disaat rambut kita pandjang, kita mem- butuhkan pertolongan tukang-tjukur, bukan? Disaat kita membutuhkan badju, kita butuh pertolongan tukang-djahit. Nah, disaat kita sekarang butuh te- naga gaib, kitapun datang disini."
,Tapi saja lihat," kata tamu perempuan dari Bandung, ,saudara tidak membawa botol."
Apa kita dimestikan membawanja ?" tamu dari Bogor kembali bertanja.
,Jang memestikan tidak ada,"djawab tamu dari Garut. Saja djuga tidak membawa. Kita nanti akan disuruh meminum air itu disini."
Tapi saja dengar," kata tamu perempuan, .,ada~ lah sebaiknja kalau kita membawa botol, supaja air jang kita terima dari sini itu bisa terpakai lama de- ngan djalan ditjampurkan dengan air sumur diru- mah kita."
,Itu betul djuga," tamu dari Garut membalas lagi. "Tapi njonja djangan menjangka bahwa jang kita butuhkan dari sini itu tjuma air sadja. Air itu hanjalah untuk membersihkan kotoran jang melekat pada diri kita. Tapi kita datang disini tidak hanja mengharap supaja badan kita bersih sadja, bukan? Kita membawa harapan supaja setelah badan kita
ini bersih, kitapun terus diridoi Tuhan supaja bisa mentjapai apa jang kita inginkan. Betul, tidak? Nah, untuk itu, untuk kita bisa mentjapai ápa jang kita inginkan itu, mamak disini nanti akan merekes. kannja kepada Tuhan didalam sembahjang."
O, begitu?" tamu perempuan menundjukkan perhatiannja. Djadi jang penting datang kita ke- sini bukan untuk menerima air itu ? Tapi untuk me minta pertolongannja agar permohonan kita itu di- rekeskan kepada Tuhan?"
"Ja, betul begitu."
Tapi dari mana saudara tahu begitu tjaranja?" tamu dari Bogor mengeluarkan pandangan kritisnja. Kan saudara djuga belum pernah ketemu dengan dia ?"
Saja dengar dari tetangga saja jang sudah da- tang disini, tuan," djawab tamu dari Garut. Dan se- kalipun saja tak pernah mendengarnja lebih dulu dari orang lain, saja sendiri sudah ada dugaan bah- wa begitulah tjaranja dia akan menolong kita."
Sampai disitu berhenti mereka bertjakap-tjakap. Tamu dari Garut terus duduk merunduk. Tamu dari Bogor dan tamu perempuan dari Bandung mengipasi badannja masing-masing. Sedang tamu laki-laki jang seorang lagi — jang berpakaian tentara — menguap berkali-kali tak tahan serangan ngantuk.
Pada saat mereka terdiam itu, tiba-tiba pintu- belakang terdengar menderik. Bagai disentak mere- kapun pada bangkit berdiri. Dan apabila ternjata jang muntjul itu Si Kabajan — muntjul sambil ma- kan ketimun — mereka buru-buru mundur memberi hormat. Tapi jang diberi hormat seperti tak melihat ada
orang lain disana; senang sadja ia berdjalan menu- dju dipan. Dan setelah duduk diatas dipan, senang sadja ia menguniah menghabiskan makanannja. Setelah ketimun beres masuk kedalam perutnja,
ia mendehem beberapa kali, minum air dari gentong sedikit, kemudian baru berkata kepada para tamu :
Ja, ja, kalian sudah lama menunggu, ja?"
,"Betul, mamak," djawab mereka serentak.
,Siapajang lebih dulu datang?"
"Saja, mamak," djawab tamu dari Garut.
Kesini !"
Njempojong tamu dari Garut itu menghampiri, terus duduk bersila dihadapan Si Kabajan.Duduk de- ngan kepala tertunduk.
,Susah apa ?" Si Kabajan bertanja.
,Saja ini pegawai negeri, mamak," djawabnja, ,pegawai ketjil. Sudah lama ingin naik pangkat, ta- pi belum djuga dinaikkan."
Mengapa belum djuga dinaikkan ?"
Entahlah, mamak. Sudah hampir sepuluh ta- hun, tapi pangkat saja belum djuga dinaikkan."
Itu tandanja badan saudara penuh dengan ko- toran!"
Itulah sebabnja saja datang disini, mamak. Tiada lain supaja saja dibersihkan dari segala kotor- an dan supaja keinginan saja itu direkeskan kepada Tuhan."
Tidak berkata lagi Si Kabajan lalu mengambil air dari gentong dengan gajung; menatap air itu se- bentar sambil mulutnja komat-kamit; kemudian ber- tanja :
"Bawa. botol?"
,"Tidak, mamak."
Minumlah!".
Dengan penuh hidmat tamu dari Garut itupun meminum air dari gajung. Sehabis minum air, ia merogoh kantong tjelananja, mengeluarkan bebera- pa lembar uangkertas; kemudian menjerahkan uang- kertas itu kepada Si Kabajan seraja katanja :
,,Ini lumajan, mamak, sebagai tanda terimakasih
saja atas kedjerihpajahan mamak akan membantu mengabulkan permintaan saja." Saudara rido memberikan uang ini ?"
tanja Si Kabajan. Sebab mamak tidak minta." ,,Rido, mamak."
Baiklah, kalau diberikan dengan rido, mamak akan terima. Keinginan saudara insjaalah akan ma mak perhatikan."
Terimakasih, mamak, terimakasih."
Terus tamu dari Garut itu njempojong bersa. laman. Dan setelah bersalaman terus bangkit berdi. ri, berdjalan keluar dengan hati jang lega.
Siapa sekarang ?" tanja Si Kabajan kepada tamu-tamu lainnja.
Saja, mamak, berdua dengan kemanakan saja ini,"djawab tamuperempuan sambil menundjuk kepada tamu laki-laki berpakaian tentara. Dua-duanja kesini!"
Kedua tamu jang dipanggil itupun njempojong menghampiri. Terus duduk dihadapan SiKabajan. Duduk dengan kepala tertunduk.
Susah apa ?" tanja Si Kabajan kepada tamu perempuan.
Begini, mamak," djawabnja. Terusia melihat kekiri-kekanan, kearah tamu dari Bogor. Achirnja menambahkan : Ah, saja malu mengatakannja, ma- mak." Mengerti akan keinginan tamu jang dihadapi,
SiKabajanberkata kepada tamu dari Bogor :
,Sudikah saudara menunggu diluar ?" Saja mesti menunggu diluar ? O, baik, mamak, baik," djawab tamu dari Bogor sambil terus mem- buka pintu, menghilang keluar. Nah, sekarang katakan," kata Si Kabajan ke-
pada tamu perempuan jang apa ?" dihadapinja, susah
Begini, mamak, Suami saja itu seorang pega- wai tinggi."
O! Lantas?"
,Sudah duapuluh tahun saja kawin dengan dia, sedjak dia djadi orang biasa, sedjak dia djadi pega- wai biasa dengan gadji jang tidak mentjukupi untuk hidup berdua."
Lantas?"
,Bertahun-tahun kami hidup menderita, mamak. Kalau dia kekurangan, saja bantu dia dengan men- djualatau menggadaikan barang-barangkepunjaan saja."
Ja. Lantas ?"
Sekarang, setelah dia djadi pegawai tinggi, se- telahberpangkat tinggi dan banjak uang, sekarang dia kawin lagi dengan seorang gadis."
O, djadi njonja dimadu ?"
,"Betul, mamak."
Dimadudengan perempuan jang djauh lebih múda dari njonja ?"
,"Ja."
Dan lebih tjantik dari njonja?"
,Betul, mamak. Betapa pedihnja hati saja tentu mamak dapat bajangkan. Sama halnja seperti saja ini memungut anak andjing;sedjak ketjildipelihara dikasih makan, setelah besar dia menggigit."
,"Lantas?Njonja sekarang mau apa?"
,Jang saja inginkan ialah supajaisterinja jang baru dia kawini itu ditjeraikan lagi, mamak."
,Supaja isterinja janglebih muda dan lebih tjantik dari nionja itu ditjeraikan? Itu berat, njo- nja, sungguh berat!"
,Djadi...... djadi tidak mungkin dia bisa ditje- raikan ?"
Bahkan mamak lihat, njonjalah jang besar ke- mungkinan akan ditjeraikan!"
Mendengar itu, tentu sadja tamu perempuan itu
engah-engah. mMkmDd
,b,majaa. Ja, begitulah jang mamak lihat. Tapi sesuatu jang akan terdjadi didunia ini segala masih bisa di. robah, njonja, asal kita betul-betul 1 menginginkannja dan betul-betul mengusahakannja."
Muka tamu jang sudah putjat itupun kembali berdarah. Dan katanja setelah menarik nafas :
Djadi..... djadi mamak bisa menolong meng. usahakan? Maksud saja mengusahakan supaja bu- jang akan ditjeraikan ?" kan saja, tapi isterinja jang baru dikawininja itulah
Insjaalah akan mamak usahakan, sekalipun permintaan njonja itu sungguh berat." Begini, mamak. Bagi saja relalah saja membe-
rikan apa sadja kepada mamak, asal saja bisa terlak-
sana keinginan, bebas dari beban penderitaan." O, djangan njonja bitjara perkara itu. Mamak
tidak mengharap diberi apa-apa." Tapi djawaban Si Kabajan itu seperti tak per- nah didengar tamu. Ia bahkan terus mengeluarkan
tjintjin berlian dari djarinja seraja katanja : tahu sebagai manusia saja mesti berterimakasih atas Biar mamak tidak mengharap djuga, tapi saja kedjerihpajahan orang lain jang bersedia memberi- kan pertolongan. Karena itu, harap mamak suka me- nerima tjintjin ini dari saja." jan. Njonja rido memberikannja ?" tanja Si Kaba-
,,Rido, mamak."
"Baiklah," kata Si Kabajan seraja menerima mamak terima." tjintjin itu, ,kalau njonja rido memberikannja, akan saja lakukan?" Dan saja sendiri, mamak, apakah jang mesti
26
,"Sekarangbawa botol?"
,,Bawa, mamak."
Si Kabajan lalu mengambilair dari gentong de- ngan gajung; menatap air itu sedjurus sambil mulut- nja komat-kamit; kemudian menuangkannja kedalam botol seraja katanja :
Nih, bawalah air ini pulang, untuk diminum dan dipakai mandi."
,"Terimakasih, mamak, terimakasih."
Sekarang saudara," kata Si Kabajan kepada ta- mu laki-laki berpakaian tentara. Saudara susah apa ?"
,Saja ini tentara, mamak," djawabnja. "Tapi tentara digaris belakang, bekerdja dibagian gudang bahan makanan."
Ja, ja, mamak mengerti. Menghadapi bahan makanan lebih menarik daripada menghadapi musuh, bukan?"
Betul, mamak. Untuk mati dimedan pertempuran itu saja belum rela. Maklum saja sudah banjak anak, mamak. Tapi djustru sekarang saja mesti pindah. Mesti pindah mengikuti pasukan penggempur digaris depan."
,Hm, lantas?"
Itulah sebabnja saja datang disini, mamak. Maksud saja tidak lain supaja saja mendapat perto- longan mamak agar saja......"
Agar apa ?"
Agar saja kebal, mamak, tidak mempan kena peluru."
,Apa? Agar saudara kebal? Itu permintaan jang bukan-bukan! Manusia bukan tidak bisa kebal, tapi orang sematjam saudara tak akan bisa mentja- painja. Mintalah apa jang bisa saudara tjapai."
"Kalau begitu...... kalau begitu, ja, saja minta agar kepindahan saja kegaris depan itu dibatalkan."
Djadi saudara mau tetap ditempatkan digudang bahan makanan?"
,,Ja."
Bawa botol ?"
,,Bawa, mamak."
Lagi sekali Si Kabajan mengambil air dari gen. tong dengan gajung; menatap air itu sambil mulut nja komat-kamit; kemudian menuangkannja kedalam botol jangdisodorkan tamu.
Ini, mamak, lumajan," tamu berpakaian tenta. ra itu menjerahkan beberapa lembar uangkertas.
Saudara rido memberikan ?" tanja Si Kabajan. ,,Rido, mamak."
Baiklah, akan mamak terima. Nah, sekarang pulanglah! Semua keinginan kalian insjaalah akan mamak perhatikan."
Kedua tamu itupun lalu njempojong bersalaman. Tapi setelah mereka bangkit berdiri, tamu perempu- an tiba-tiba bertanja lagi :
,Apakah air ini untuk saja sadja, mamak, atau untuk suami saja djuga ?"
Untuk njonja sadja."
Ditiampurkan dengan air sumur?" "Ja."
Baiklah, mamak. Terimakasih atas segala. Ka-
lau belum terasa djuga, biar nanti saja kesini lagi." Sepeninggal kedua tamu itu bukan berarti terus ada waktu untuk menghela nafas pandjang, sebab begitu mereka menghilang keluar terus masuk pula tamu dari Bogor. Tak sabar rupanja ia menunggu lama-lama diluar; karena itu iapun masuk dengan tidak menunggu dipersilakan lagi. "Sekarang giliran saja, mamak ?" katanja.
O, ja, hampir mamak lupa bahwa ada saudara
diluar," djawab Si Kabajan. Mari kesini!" Tamu jang gagah berdasi itupun njempojong
kehadapan Si Kabajan, terus bersila disana, kepala- nja ditundukkan.
,"Susah apa ?" tanja Si Kabajan.
,"Saja ini sedang menghadapi perkara, mamak," djawabnja.
Perkara apa ?"
Perkara dengan polisi. Besok atau lusa saja mesti menghadap kepengadilan. Kedatangan saja se- karang kesini tidak lain ialah supaja saja bisa dibe- baskan dari segala tuntutan."
Lantas? Saudara sudah bersalah apa?"
Begini, mamak. Saja ini petugas negara, dise- rahi kewadjiban menjimpan uang."
,Lantas ?"
Uang jang dipertjajakan kepada saja itu saja pakai untuk kepentingan saja sendiri."
,Itu bukan dosa jang ketjil."
,Saja tahu, mamak. Kalau saja dikenakan hu- kum, paling sedikit saja mesti masuk bui dua bulan."
Dan saudara sekarang ingin dibebaskan dari hukuman ?"
"Ja."
Setelah merusak uang negara, saudara masih mau selamat pula ?"
Be......betul, mamak. Terserahlah kepada ma- mak; mau diapakan djuga saja ini, saja akan menu- rut. Soalnja asal saja ini selamat, dibebaskan dari segala tuntutan."
Untukkeempat kalinja Si Kabajan mengambil air dari gentong dengan gajung; menatap air itu sambil mulutnja komat-kamit; kemudian memerin- tah:
Kesini madju !"
Tamu menurut, meng:sarkan silanja; mengulur- kan tangannja dengan maksud akan menerima ga- jung. akan meminum air dari gajungitu.
Tapi Si Kabajan membentak :
Tidak! Saudara tidak tjukup dengan minum air ini. Dosa saudara hanja terlampau berat. kesinikan kepalanja!" Mari
ulurkan kepalanja kehadapan Si Kabajan. Dan mau tak mau ia mesti diam menuru, tatkala kepalanja it digujuri Si Kabajan dengan air.
,Nih, sekarang diminum !" kata Si Kabajan se. telah kepala tamu itu basahkujup.
Terimakasih, mamak," kata tamu terengah. engah, ,,terimakasih."
Dan ia terus merogoh kantong badjunja, menge- luarkan dompet.
Ini lumajan," katanja lagi seraja menjerahkan beberapa lembar uangkertas.
Rido saudara memberikan uang ini?"
,Rido, mamak."
,Baiklah, mamak akan terima. Keinginan sau- dara insjaalah akan mamak perhatikan."
"Ja, pulanglah !"
Sekarang saja boleh pulang?"
Setelah njempojong bersalaman, tamu jang ber- kepala basahkujup itu terus mengundurkan diri, menghilang keluar.
Edan semua !" kata Si Kabajan setelah tinggal chiri !" sendirian. Hidup begini mesti kuachiri. Mesti kua- Terus ia berteriak memanggil isterinja :
"Idjem !"
Apa, kak ?" Jang dipanggil muntjul dari pintu-belakang :
Nih, uang !"
Aduh, banjaknja! Dan adå tjintjin pula!
Orang-orang dari kota betul-betul orang kaja, ja ?" Simnanlah semuanja. Aku kira dengan uang jang sudah terkumpul sampai sekarang ini kau akan bisa hidup dua atau tiga bulan, bukan?"
Bisa, kak."
Sjukurlah; dengan begitu aku akan senang me
ninggalkan kau." Meninggalkan aku ?" isterinja terkedjut. Kau mau kemana ?"
Kau tahu, Idjem, aku sudah lama ada niat mau pergi, mau melandjutkan tapa. Nah, niat itu akan kulakukan sekarang."
Maksudmu : sekarang, hari ini ?"
Hari ini dan djam ini djuga."
Djam ini djuga?" ,Ja, dan djika kepadaku dikatakan mesti pergi djam ini, aku tak boleh mengundurkannja lagi."
Tapi....."
Tapi apa ?"
Berapa lama kau akan pergi ?"
,,Mungkin sebulan. Mungkin kurang. Mungkin pula lebih. Aku tak bisa pastikan dari sekarang."
"Tapi aku harap djangan terlalu lama, kak." "Begitulah harapanku djuga."
Lantas? Apa sadja jang akan kaubawa?"
,Jang akan kubawa ? Tidak, Idjem, tak ada jang kuperlukan."
Kau akan pergi begitu sadja?"
..Ja."
Makanlah dulu. Kau kan belum makan."
Tidak, Idjem, itupun tidak perlu. Tapi ja, kalau kau masih memikirkan perutku, berilah aku sebung- kus nasi dengan lauk-pauknja untuk bekal didjalan."
Baiklah, kak, akan saja sediakan sekarang dju. ga."
Dan isterinja terus masuk kepintu-belakang.
Pada saat itu, pada saat isterinja ada didapur, Si Kabajan buru-buru mengeluarkan setjarikkertas dari kantong badjunja. Buru-buru pula menjimpan kertas itu kebawah sprei dipan. Apabila isterinja muntjul lagi membawa bungkusan sebesar kepala,
adudukagdegaskaaa seperti tadi. Nih, kak," isterinja memberikan
bungkusan Aku kira kau perlu djuga membawa sedikit uang."
Ja, berilah aku barang sepuluh rupiah," djawab Si Kabajan. Selebihnja boleh kausimpan."
Setelah beres semuanja; setelah Si Kabajan me. masukkan bungkusan kedalam sarungnja jang dibun. delkan dan menjimpan uangkertas kedalam kantong badjunja, iapun terus bersedia akan melangkah ke- luar. Tapi tiba-tiba isterinja berkata :
Nanti dulu, kak! Ada sesuatu jang akan saja katakan." Apa ?"
Bapak dari tadi ada didapur. Ia mau bitjara dengan kau, tapi tidak berani." Bitjara perkara apa?"
Perkara keinginannja jang tidak sadja kauka- bulkan. Sudah lama dia mengingini diberkahi, meng- ingini dibersihkan dari segala dosa, tapi kau selalu menolak sadja, bukan?"
Allah bukan dosa jang bisa ditjutji dengan begitu Dosa karena melanggar sumpah kepada Gusti sadja, Idjem."
Tapi untuk membahagiakan aku, kak, kasihani- lah dia. Kau tahu, selama ini dia tidak enak makan, rat." dia jakin bahwa dosa jang dipikulnja itu sangat be- tidak enak tidur. Kian dipikirkan — katanja — kian Memang didunia tak ada dosa seberat dosa lan-
taran melanggar sumpah kepada Gusti Allah." Tapi kau akan bersedia meringankan bebannja, lahannja?" bukan? Kau akan bersedia memaafkan segala kesa- Setelah terdiam sedjurus Si Kabajan mendjawab:
Baiklah, Idjem, dia akan kuberkahi. Panggillah dia kesini!"
Dengan girang isterinja masuk kepintu-bela- kang. Tidak lama kemudian ia kembali lagi. Kembali berdua dengan bapaknja.
Sekali pandang djelas kelihatan mertua Si Ka- bajan itu kehilangan pegangan. Mukanja putjat, ma- tanja laju. Dan ia datang kehadapan menantunja de- ngan kepala tertunduk seperti murid sekolah jang tidak menghafal menghampiri gurunja.
,"Bapak mengaku bahwa bapak berdosa ?" tanja Si Kabajan.
Ja, aku mengaku, Kabajan," djawabnja, suara- nja lemah.
"Berdosa kepada siapa?"
Terutama berdosa kepada Gusti Allah, karena aku sudah melanggar sumpah kepadaNja."
,,Bagaimana rasanja?"
Berat, Kabajan, sebab aku tahu bahwa Gusti Allahlah jang memberi kita redjeki. Dan sekarang, serasa-rasa aku dihadapkan kedjurang kemiskinan jang menganga, jang sewaktu-waktu akan menjeret aku kedalamnja."
,Djadi sekarang bapak merasa menjesal karena sudah melanggar sumpah itu ?"
Betul, Kabajan, aku menjesal."
Tapiapa sebab dulu bapak sampai berani me- langgar sumpah itu ?"
Apa sebab? Ja, sebab aku tak mau dipandang rendah karena mempunjai menantu jang dituduh ma- las. Karena itu, dengan tidak ingat lagi akan baha- janja melanggar sumpah itu, lalu kukatakan kepada setiap orang apa dan siapa kau sebenarnja. Setelah mereka tahu bahwa kau bukan sembarangan orang, orangpun tak lagi memandang rendah kepadaku. Di- mana-mana orang memudji kita."
ulah gara-gara ba mengara tung, selalu mengharap dipudji!"
,,Betul, Kabajan, mengakulah aku bahwa aku salah. Sekarang kuserahkan diriku kepadamu. Ak pun djuga jang akan kaulakukan dengan aku, ting. gal terserah kepadamu."
Bukalah pakaian!"
Buka pakaian?" mertuanja tertjengang.
Ja, buka pakaian!"
Dengan penuh pertanjaan mertuanja menurut, membuka semua pakaiannja. Badju-luarnja, ikatkepa. lanja, badju-dalamnjadan tjelananja. semuanja di- tanggalkan. Tinggallah ia bertjelanakatok.
Idjem !" kata SiKabajankepada isterinja se. telah ia menatap air dalam gentong sambil mulutnja komat-kamit. Sekarangbantulah aku mengangkat gentong ini. Hanja dengan semua air dalam gentong ini dosa bapak akan bisa dibersihkan."
Mertuanja kaget. Tapi sebelum ia sempat me- ngeluarkan sepatah kata, Si Kabajan dan isterinja sudah menuangkan segenap isi gentong kepadanja, membasahkujupkan badannja sedjak dari rambut sampai kekaki. Tentu sadja mertuanja itu menggigil kedinginan.
Djangan disusuti!" kata Si Kabajan. Biar ke ring sendiri."
Terus perkataannja diarahkan kepada isterinja: Nah, Idjem, sekarang aku akan pergi. Kepada para tamu jang pernah datang disini, kalau mereka kesini lagi, katakanlah bahwa aku sedang menapai keinginan mereka. Dan untukmu sendiri aku ada pe- san. Dibawah sprei dipan itu ada surat untukmu. Ta- pi kau tidak boleh membatjanja sekarang. Nanti, se- telah aku pergi djauh, baru kau boleh membatjanja." Dan setelah berkata demikian ia terus melang- kah keluar.
Isterinja mengantarkan sampai pintu. Berdiri
disana beberapa saat lamanja, memandang Si Kaba~ jan sampai sehilang-hilangnja. Kemudian setelah me- nutupkan pintu, gembira ia berdjalan kehadapan ba- paknja sambil menghitung uang.
Duapuluh-lima...... limapuluh...... oh, lebih da- ri duaratus," katanja. ,Belum lagi harga tjintjin ini. Entah berapa."
Aku tahu," kata bapaknja jang menggigil ke- dinginan, kau sekarang lebih kaja dari aku. Kau mesti berterimakasih kepadaku, Idjem."
Mengapa ?"
Kan aku jang mula-mula menemukan suamimu itu!"
Betul, bapak jang menemukan. Tapi ia tidak akan djadi suami saja kalau saja sendiri tidak mau."
,Ja, pendeknja sekarang kau banjak uang itu adalah karena kita berdua. Karena itu, uang jang kauterima itu djangan kaumiliki sendiri. Aku mesti dibagi. Besok atau lusa kau kan akan menerima lagi uang banjak dari para tamu."
Itu kalau suami saja ada dirumah. Tapi dia mungkin akan lama djuga meninggalkan saja."
Kira-kira berapa lama ?"
Tidak tahu; dia tidak katakan."
Dia sebenarnja mau kemana, sih ?"
,Itupun tidak dikatakannja."
Tadi dia katakan bahwa ada surat untukmu. Tjoba batja surat itu!"
,,Surat itu hanja untuk saja, bapak."
"Apa salahnja aku ikut mengetahui isinja ?"
Nantilah, sekarang dia belum djauh. Menurut pesannja surat itu boleh dibatja hanja djika dia su- dah djauh."
Kan sekarang djuga dia sudah djauh, Idjem, sudah tidak kelihatan lagi kemana perginja. Ajo, ba- tja! Aku ingin tahu."
Terpaksa Idjem mentjari-tjari kebawah sprei
dipan. Dan apabila ia sudah menemukan setjarik dertas iapun alu membatja isinja. Dielas keliharn perangainja mendadak berubah, kegembiraannja bertukar dengan kesedihan. Apa sih isinja ?" tanja bapaknja.
Dia tak akan kembali lagi, bapak," Idjem dengan serak. djawab
Apa ? Tak akan kembali lagi ? Tjoba batja de- ngan keras!"
Berat nampaknja Idjem mau membatja surat itu dengan keras. Tapi achir-achirnja keinginan bapak- nja itu dipenuhinja djuga.
Idjem," katanja, ,aku terpaksa meninggalkan kau untuk selama-lamanja. Kemana aku pergi tak usah kau tahu seperti djuga kau tak usah tahu dari mana aku datang. Selama aku diam dikampung ini, aku tjukup banjak mengenal kegoblokan manusia. Dan akupun tjukup kenjang bermain-main dengan mereka. Sebenarnja aku ini manusia biasa sadja. Tak pernah aku memiliki keluhungan djiwa jang berle- bihan, tak pernah pula aku bertemu dengan Nabi Hi- kalian." dir, apa lagi dengan Gusti Allah jang djadi pudjaan Kurangadjar !" bapaknja menjela. Dan kita
semua sudah ditipunja!" .Nanti dulu, pak, nanti dulu," kata Idjem. Ini
masih ada terusnja."
Apa terusnja itu? Bahwa dia sudah berhasil mempermainkan aku, menghina aku ?"
"Tapi bagaimanapun djuga," Idjem melandjut- kan membatja, ,aku pertjaja bahwa kau tak akan mengatakannja kepada orang lain, sebab kau sudah bersumpah kepada Gusti Allah, bukan? Kau sudah siapasebenarnja Si Kabajan." bersumpah bahwa kau tak akan mengatakan apa dan Bedebah! Penipu !" mertua Si Kabajan meren-
tak-rentakkan kaki. Dan kíta djadi tidak berdaja dengan sumpah kita."
Tak usah bapak memaki-maki dia, pak," kata anaknja, sebab bagaimanapun djuga dia telah ber- djasa."
Berdjasa apa?"
Dia sudah mendatangkan redjeki banjak, tanpa membanting tulang dan tanpa meminta-minta. Bagi saja, kepergiannja sekarang ini betul-betul mereng- gut seluruh djiwa saja."
Ja, karena kau isterinja!"
Bukan, pak, tapi karena dia betul-betul seorang jang luhung budinja, karena dia betul-betul seorang
wali." .Bah, wali, wali! Nih, lihat aku! Akan kau biarkan sadja aku kedinginan? Ajo, lekas, ambilkan sarungkujang bersih!"
Idjem jang berada dalam kesedihan sudah me- njusuti mata akan pergi keluar. Tapi sebelum ia sem- pat berdiri, muntjullah lebe dengan tergopoh-gopoh, nafasnja terengah-engah.
Idjem !" katanja. ,Suamimu itu mau kemana? Aku lihat dia naik truk."
Naik truk ?" tanja Idjem.
Ja, naik truk kearah Selatan. Dia mau kema- na ?"
,Katanja, dia mau bertapa, mang lebe."
Kapan dia kembali lagi?Akan lama djuga dia pergi ?"
,Mungkin lama djuga."
"Terlambat!Aku terlambat!"
Mengapa? Ada apa, sih ?"
"Aku barusan dari pak tjamat, Idjem. Dia me- ngatakan bahwa dia menerima tilgram dari famili. nja, dari seorang pembesar di Djakarta. Dengar kau, Idjem ? Dari seorang pembesar! Dan apa isi tilgram itu? Suamimu diminta supaja pergi ke Djakarta,
summbrkd sungkat keluarnegeri. Sajang. ja, sajang suamimu ti rak ada. Dan kita tak tahu pula kapan dia kembali, bukan? Tapi bagaimanapun djuga, Idjem, bmuanja sudah sewadj bnja merasa bangga, karena kita se dikampung kita ini ada seorang jang berdjiwa lu. hung, jang keluhungannia sampai-sampai dibutuh- kan oleh pembesar di Djakarta!" Memang, mang lebe," kata Idjem, kita semua-
saja itu betul-betul seorang wali!" nja sudah sewadjibnja merasa bangga, karena suami
Bahagialah kau jang djadi isterinja," kata lebe lagi. Terus kepada mertua Si Kabajan : Dan kau, sungguh kau beruntung bermenantukan dia. Sungguh kau beruntung!" Ja, betul," djawab mertua Si Kabajan dengan
suara didalam mulut, ,aku beruntung." Tapi tiba-tiba suaranja terus mengerang :
Ajo, Idjem! Ambilkan sarungku!Memangnja
aku mesti mati kedinginan ?"
Djakarta, Oktober 1959.