Baca PDF (OCR): Anarkis Prancis dan Kelanjutan Kekuatan Mei 68

39 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 224 ms

Daftar isi
  1. Anarkis Prancis dan Kelanjutan Kekuatan Mei 68
  2. David Porter
  3. Peristiwa-Peristiwa Penting
  4. Pandangan Personal
  5. Etika Sosio-politis Anarkis
  6. Pandangan Liris dari Ruang Liminal¹⁴
  7. Sifat Politis Mei 68
  8. Warisan Aktivis
  9. Model Revolusioner Alternatif Mei 68
  10. Kesimpulan
  11. KEPUSTAKAAN
  12. Diarsipkan oleh Archipelago Anarchist Archive (2025)

Anarkis Prancis dan Kelanjutan Kekuatan Mei 68

David Porter

Tulisan ini merupakan terjemahan atas tulisan “French anarchists and the continuing power of May 1968” karya David Porter. Rencananya, ini menjadi bagian dari Seri Sejarah Pustaka Catut. Tapi karena buku ini terlalu tipis dan juga, karena tidak memiliki modal untuk menerbitkannya, maka rencana itu dibatalkan dan tulisan ini disebarkan secara online. Versi pamflet dari tulisan ini akan menyusul.


SEBUAH survei terhadap kaum anarkis Prancis pada pertengahan 1990-an menunjukkan bahwa Hari-Hari Mei 1968 di Prancis masuk ke dalam peringkat yang substansial bersamaan dengan Komune Paris 1871, revolusi Makhnovist Ukraina 1917 dan revolusi Spanyol pada pertengahan 1930-an sebagai salah satu peristiwa anarkis utama dalam sejarah kontemporer (Pucciarelli: 1999). 1 Penempatannya di antara revolusi anarkis yang ikonis ini, yang masing-masingnya secara substansial menambah literatur dan teori anarkis, mendorong saya untuk memeriksa koleksi buku, artikel, dan wawancara yang luas oleh lebih dari tujuh puluh anarkis Prancis, untuk memberikan ingatan, refleksi, dan analisis mengenai pemberontakan terbaru ini. Saya memilih untuk mengabaikan pandangan dari dua dekade pertama pasca-68 untuk memastikan perspektif jangka panjang.

Daripada menawarkan analisis saya sendiri pada Mei 68, saya bermaksud mengidentifikasi pokok khusus dari tema dan pembelajaran analitis anarkis dari pengalaman yang sangat berdampak ini. Hal ini tampaknya sangat sesuai mengingat kenyataan yang hidup, dinamika, dan konteks yang cukup

1 Gerakan ini dinamai setelah proklamasi disepakati pada tanggal 1968 di antara 142 pelajar anarkis dan kiri jauh (far left) (Mintz 2013). Deskripsi dan analisis anarkis terbaru yang paling menyeluruh ditulis misalnya oleh Jean-Pierre Duteuil (1988).

anarkis dari Peristiwa Mei bagi jutaan orang Prancis pada saat itu.

Sekarang, ribuan buku dan artikel pada Mei 68 sudah tersedia. Sebagian besar terdiri dari jurnalisme yang sensasional dan dangkal, koleksi slogan-slogan di dinding, deskripsi konteks lokal tertentu, dan polemik politik anti-Mei

  1. Tulisan ini memberikan interpretasi dan kesimpulan anarkis yang telah lama diabaikan dan menempatkan hal ini di antara upaya serius lainnya untuk memahami Mei 68 dan warisannya. Beberapa pendekatan atau tema paling umum yang muncul dalam tulisan-tulisan ini antara lain: narasi peristiwa-peristiwa penting dalam pergolakan Mei-Juni, kisah-kisah pribadi tentang keterlibatan dalam peristiwa tersebut, refleksi tentang pengalaman yang luas dari etika sosial-politik anarkis, dan kisah liris tentang fenomena kesadaran yang tiba-tiba tidak terikat itu sendiri. Setelah mempertimbangkan masing-masing hal tersebut, saya akan membahas pandangan kaum anarkis Prancis tentang warisan kritik politik yang mendalam dari Mei 68 serta dampak aktualnya terhadap perubahan sosial pasca-Mei. Akhirnya, saya menunjukkan bagaimana beberapa interpretasi alternatif dari penulis anarkis tentang pengalaman Mei 68 menyiratkan model yang bersaing untuk kegiatan dan revolusi anarkis yang sedang berlangsung.

    Peristiwa-Peristiwa Penting

Sebagian besar tulisan anarkis pada Mei 68, tentu saja dalam seri peringatan sepuluh tahun jurnal gerakan anarkis Prancis, mencakup sekurang-kurangnya ikhtisar singkat tentang ledakan yang berkembang pesat selama empat minggu selama bulan Mei dan serangan balasan dari hierarki yang

terancam hingga akhir Juni. Singkatnya, laporan biasanya menggambarkan pemberontakan Mei-Juni pada awalnya diilhami dan didorong oleh gerakan mahasiswa Universitas Nanterre 22 Maret yang secara signifikan terdiri dari kaum anarkis. 2 Pertempurannya di kampus dan di jalanan Paris, mulai Mei, menyebabkan konfrontasi besar yang berdarah-darah oleh mahasiswa, pekerja muda dan orang dewasa dengan polisi di Latin Quarter dan pendudukan Sorbonne. Gambar-gambar dan kisah-kisah penindasan brutal polisi, terutama selama ‘Malam Barikade’ 10 Mei yang terkenal, pada gilirannya mengejutkan dan membuat marah banyak orang di seluruh negeri, memprovokasi prosesi protes hampir satu juta orang di Paris serta di tempat lain di Prancis pada 13 Mei. Segera setelah itu dimulailah gelombang besar pemogokan, pemberontakan kampus yang berkepanjangan, pendudukan di tempat kerja dan komite aksi horizontalis baru di seluruh Prancis, yang secara efektif menutup banyak ekonomi negara dan kapitalis dan membuka realitas sosial alternatif yang hidup, dengan sekitar 10 juta (seperlima dari populasi) mogok pada minggu terakhir bulan Mei. Fokus kehidupan sehari-hari dan kesadaran bergeser secara drastis bagi banyak orang dari hubungan vertikal ke horizontal, kini meluas jauh tidak hanya di ranah pelajar saja.

Selain dari inisiatif gerakan anarkis 22 Maret, yang lain berada dalam gerakan anarkis yang kecil dan simpatisannya di seluruh Prancis. 3 Sebagaimana yang lainnya, awalnya mereka terkejut oleh ledakan sosial yang tiba-tiba. Mereka dengan

2 Menurut Roland Biard (1976), jumlah mereka yang secara resmi di organisasi gerakan anarkis Prancis pada saat itu kurang dari 1000, meskipun jumlah simpatisan mantan anggota anarkis secara signifikan lebih besar (177-178). Diterjemahkan dari: ‘parce que le gaullisme comme le stalinisme refusaient que le monde change de base, ils se mirent d’accord lors des accords de Grenelle et jetèrent quelques miettes au peuple’.

antusias bergabung dan mendorong dengan cepat pengembangan konteks pembebasan anarkik lokal untuk demonstrasi, pemogokan, pendudukan, dan komite aksi anarkis lokal ketika berbagai peluang muncul. Pada prinsipnya, tanpa kepemimpinan terpusat dan percaya pada inisiatif aksi langsung, kaum anarkis Prancis dari segala usia tidak memerlukan arahan untuk secara aktif berintegrasi dengan orang lain dalam berbagai jenis ‘propaganda melalui perbuatan’ (propaganda by the deed). Berkibarnya bendera hitam (atau merah-hitam) dalam demonstrasi dan di atas bangunan pabrik dan kampus pada bulan Mei 68 melambangkan disposisi yang sangat anarkis dari pemberontakan, tetapi tidak berarti menandakan kehadiran yang sangat besar dari gerilyawan militan anarkis.

Selain represi polisi, kekuatan hierarki mulai melakukan serangan balik pada minggu terakhir bulan Mei, dengan de Gaulle mengamankan kesetiaan tentara dan politisi kiri yang dibutuhkan dan rezim secara bertahap menyalurkan pemberontakan menuju arena pemilihan yang sempit, dan pejabat serikat buruh tingkat atas, terutama dalam CGT (Confédération Générale du Travail) yang dipimpin oleh Komunis yang kuat, menyetujui secara defensif dan oportunistik untuk ‘menyelesaikan’ pemberontakan bersama dengan pemerintah melalui kontrak nasional secara keseluruhan untuk sebagian besar keuntungan ‘kuantitatif’. “Karena Gaullisme dan Stalinisme menolak perubahan mendasar di dunia,” sebagaimana diamati seorang penulis untuk Le Monde Libertaire, “mereka mencapai kesepakatan, melalui Perjanjian Grenelle, dan melemparkan beberapa remah-remah kepada rakyat” (Raynaud, 1998). 4 Meskipun

4 Subtitle buku meminjam tanggal yang sepadan dengan Mei 68 dari kalender baru Revolusi Prancis (yang kemudian digunakan juga selama Komune Paris).

perlawanan dari pekerja yang keras kepala terus berlanjut, pada akhir Juni pemogokan runtuh dan masyarakat Prancis melanjutkan penampilan terluar dari ‘normalitas’ yang dipulihkan kembali.

Pandangan Personal

Catatan individu oleh militan anarkis saat itu dan oleh mereka yang direkrut ke dalam gerakan karena pergolakan itu sendiri memberikan wawasan penting tentang bagaimana dan mengapa individu-individu akar rumput dari setiap wilayah tertarik untuk berpartisipasi, serta sifat dari pengalaman langsung mereka. Walaupun Mei 68 mungkin bagi banyak generasi di masa mendatang dipandang sebagai peristiwa abstrak dari dinamika ledakan yang tidak dapat dijelaskan, kisah-kisah ini menawarkan urutan langkah-langkah yang kredibel dan logis di tingkat individu, yang memungkinkan pembaca lebih mudah untuk mengidentifikasi bersama para partisipan dan membayangkan diri mereka secara realistis dalam suatu konteks. Dari sumber daya yang lebih baru seperti itu, salah satu yang bernilai adalah antologi Mai 68 par eux-mêmes: le mouvement de Floréal, An 176, termasuk pandangan sekitar 38 individu (kira-kira setengahnya diantaranya tampaknya anarkis), yang diterbitkan oleh Fédération Anarchiste pada tahun 1989. 5 Pelajar universitas dan lycée⁶, para profesional, petani dan pekerja dari pabrik, toko dan

5 Diterjemahkan dari: ‘Avec la plus grande grève générale dans un pays industriel dit “avancé”, avec la première grève générale “sauvage” de l’Histoire, mai 68 est le retour sur la scène du prolétariat, un peu vite annoncé comme disparu ou intégré.’

Catatan penerjemah: “lycée” adalah sebutan untuk sekolah tingkat dua (secondary school) di Prancis yang dibiayai oleh pemerintah. Di Indonesia, ini setingkat SMP-SMA/SMK.

lingkungan lainnya semuanya diwakili, seperti juga berbagai daerah di seluruh Prancis. Catatan individu lain yang sangat kuat dan luas ditulis oleh sosiolog anarkis Claire Auzias (1988,

2006), seorang pemuda lycée Lyon pada waktu itu, dan oleh ‘Le Flutiste’ (Indonesia: pemain suling –penj) (2008), seorang mantan mahasiswa Sorbonne yang menggambarkan demonstrasi, barikade dan pemogokan Mei di Paris serta dukungan pekerja pabrik pada komite aksi mahasiswa di dekatnya.

Etika Sosio-politis Anarkis

Tulisan-tulisan anarkis soal Mei 68 secara khusus berfokus pada pengalaman langsung dari hubungan sosial yang egalitarian dan penghancuran hidup yang terkotak-kotakkan (dekompartementalisasi) dari refleksi diri sendiri yang penting, atas masyarakat masa depan yang dihasilkan oleh kelompok (prefigurasi), dari etika sosial dan politik yang telah lama diproklamasikan untuk dipertimbangkan bagi masyarakat anarkis tanpa dominasi. Yang juga sangat penting, menurut pengamatan Jean-Pierre Duteuil (1998), “dengan adanya pemogokan umum terbesar yang pernah terjadi dalam masyarakat industri yang dipandang ‘maju’, dengan pemogokan liar (wildcat strike) pertama dalam sejarah, Mei 68 adalah kembalinya proletariat ke tempat kejadian perkara, yang sebelumnya dengan terlalu cepat dinyatakan telah menghilang atau terintegrasi.” 7 Saling membantu (mutual aid) di antara

7 Diterjemahkan dari: ‘[la plupart d’entre eux] ait retiré de cette période intense de mobilisation une expérience essentiellement de l’ordre du vécu, plus que du politique. … Un autre rapport au monde, aux autres et à soi-même. On se lance dans le mouvement, essentiellement parce qu’il est mouvement, c’est-à-dire l’inattendu dans cette France apathique, sous sa chape de plomb gaullienne. On s’y enchante parce qu’il est fort et qu’il peut

para pekerja, pelajar dan petani, penghormatan terhadap individualitas dan hasrat yang dikejar secara bebas, dan pengambilan keputusan bersama melalui majelis akar rumput dengan semua suara untuk hal ini, adalah cita-cita tradisional kaum anarkis yang dipromosikan atau muncul secara spontan dalam berbagai tingkatan dan dalam berbagai konteks akar rumput. Mulai dari ruang pertunjukan kampus hingga ke lantai- lantai pabrik dan dalam ratusan komite aksi ketetanggaan. Sebagaimana dinyatakan dalam pengantar antologi:

[…] pada dasarnya, apa yang diambil [oleh sebagian besar peserta] dalam periode mobilisasi yang intens ini adalah pengalaman hidup yang lebih dari sekedar pengalaman politik. …Sebuah hubungan yang berbeda dengan dunia, dengan orang lain dan dengan diri sendiri, yang mana, sangat tidak dapat disangka berada di bawah Prancis yang apatis, yang dipimpin Gaullist. Seseorang telah terpesona di sana karena hal tersebut begitu kuat dan hal itu bisa melakukan apa saja, dalam satu pikiran. Dan sepadan dengan itu karena ia juga menawarkan pertemuan dengan orang lain; dalam ruang yang sekejap itu saja sudah merupakan dunia yang berbeda (Linhart, 1989: 4). 8

Claire Auzias (1988) menjelaskan bahwa, di ruang pertunjukan kampus, “kami berdebat tentang segalanya. [kami]

tout, pense-t-on. Et également parce qu’il offre la rencontre avec d’autres, qu’il offre déjà l’espace d’un instant un monde différent.’ 8 Diterjemahkan dari: ‘On débattait tout. Jamais une décision tout seule. … mais surtout, aucune prise en charge du voisin, en Mai. Il fallait devenir majeur tout de suite, savoir ce qu’on voulait, chacun, tout de suite, décider, le défendre et se défendre. … Et les gauchistes en carte. Il fallait sans arrêt, veiller à ce qu’ils ne nous concoctent pas une entourloupe, au détours d’une

A.G., d’un tract. Ils étaient très factieux.’ ‘Tout le monde parlait de Reich.’ ‘était épuisée’.

Tidak pernah mengambil keputusan sendirian. …terutama, tidak ada yang memerintah tetangga mereka pada bulan Mei. Seseorang harus menjadi dewasa segera, untuk mengetahui apa yang diinginkannya masing-masing, untuk memutuskan, untuk mempertahankannya dan untuk melindungi diri sendiri, segera.” Dia melanjutkan, bahwa “kami selalu harus mengawasi supaya kaum kiri anggota partai untuk tidak membuat tipuan jahat melalui A.G. [assemblée générale] atau melalui brosur. Mereka sangat faksional.” “Semua orang,” tulisnya, “berbicara tentang [Wilhelm] Reich.” Bukunya yang berjudul The Function of Orgasm telah “terjual habis.” 9 Hasrat revolusioner yang laten, sekarang telah terungkap, dan telah diperlihatkan kepada Auzias dan jutaan orang lainnya sebuah alternatif sosial yang subversif terhadap dominasi dan alienasi.

Duteuil (2008a), salah seorang pendiri gerakan 22 Maret, menekankan bagaimana krisis tenaga kerja, keluarga, sistem sekolah, dan front budaya yang jarang terjadi secara serentak dan mendalam ini, semuanya bersatu “dengan begitu banyak dan begitu baik sehingga setiap masalah bercampur dan saling menembus.” Dengan demikian, “setiap energi dibebaskan” dan segala sesuatu dibicarakan dan ditentang. Karena alasan ini, ia menegaskan bahwa kritik terhadap hierarki adalah satu-satunya sifat paling penting dari Mei 68: “semua bentuk hierarki: penolakan untuk menjadi eksekutor yang tunduk pada perintah direktur; penolakan terhadap masyarakat piramidal, yaitu model yang menembus ruang-ruang paling kecil, mulai dari hubungan individu hingga aktivitas kerja dan rekreasi.” 10

9 Diterjemahkan dari:‘Tant et si bien que tous les problèmes vont se mêler et s’interpénétrer. … toutes les énergies se libèrent’. 10 Diterjemahkan dari: ‘…toutes les formes de hiérarchie. Le refus d’être des exécutants soumis à des dirigeants; le refus d’une société pyramidale dont le modèle pénètre ses moindres recoins, des rapports individuels aux activités professionnelles ou de loisir.’

Di tempat kerja, seperti dijelaskan Pierre Sommermeyer (2008), pada bulan Mei tampaknya ada perkembangan logis yang berasal dari basis pekerja, yang mudah dipahami dan diikuti dalam berbagai tingkatan di seluruh Prancis, dari pemogokan spontan hingga pendudukan hingga penyitaan terhadap pemilik atau manajer di kantor mereka sendiri dan akhirnya untuk setidaknya mempertimbangan swakelola pekerja. “Penghormatan terhadap hierarki tidak lagi diterima. …[Atasan] dihadapkan bukan dengan kekerasan bersenjata tetapi penetapan yang menghasilkan legitimasinya sendiri sedikit demi sedikit sesuai dengan kebutuhannya.” 11

Banyak contoh inisiatif semacam itu serta dialog dan sikap saling menghormati dalam hubungan interpersonal yang baru di banyak pabrik dan toko, telah dijelaskan dan disanjung dalam jurnal gerakan anarkis dan antologi yang diterbitkan Fédération Anarchiste.

Melampaui dramatis, meskipun terutama hanya simbolis, penciptaan dan pertahanan yang keras kepala dari puluhan barikade jalanan di Paris dan di tempat lain, kaum anarkis mengutip sejumlah contoh teladan dari praktik horizontalis yang menantang. Salah satu contoh yang paling mencolok adalah di Nantes, kota terbesar di barat laut Perancis, di mana para pekerja, mahasiswa, petani, dan lainnya mengikuti pendudukan pabrik raksasa Sud-Aviation dengan demonstrasi lebih lanjut yang mengarah pada pengambilalihan sementara prefektur oleh komite pemogokan dan pengelolaan bersama petani lokal untuk memasok makanan ke kota. (Di sana, sebagaimana di tempat lain, anarkis lokal adalah yang paling aktif.) Menurut Duteuil (2008a), sebagian besar militan tidak memiliki ilusi bahwa pemberontakan secara keseluruhan akan menggulingkan pemerintah. Tetapi upaya telah dilakukan,

Diterjemahkan dari: ‘Le respect de la hiérarchie n’est plus de mise. … On n’est pas là face à une violence armée mais face à une détermination qui produit sa propre légitimité au fur et à mesure de ses besoins.’

setidaknya untuk sementara, untuk mendapatkan dan mempertahankan kebebasan maksimum dari lingkungan ketetanggaan, kampus dan tempat kerja dari gangguan top- down. Namun, Gildas (2008), seorang anarkis, menulis bahwa “pertempuran dengan polisi bukan hanya untuk hiburan. Hal tersebut akan meniadakan tekad sejumlah demonstran untuk menggulingkan negara borjuis.” 12 13

Pandangan Liris dari Ruang Liminal¹⁴

Di luar penggambaran praktik anarkis secara de facto, berbagai anarkis Prancis menawarkan deskripsi yang hampir puitis tentang euforia emosional dan psikologis yang dialami dengan tiadanya otoritas hierarkis untuk sementara waktu-dengan isolasi yang diatomisasi digantikan oleh keramahtamahan egaliter, sebagian dalam pertempuran bersama, tetapi secara khusus terutama untuk sebagian besar kampus, jalanan, dan pabrik yang diduduki. Suatu masyarakat baru tampak mungkin dan, untuk sementara waktu, dengan penuh semangat, mengalami sesuatu yang dengan mudah dapat diidentifikasi sebagai “anarkis” dalam artiannya yang luas. Dalam “bulan penuh kegilaan” ini, kenang Benoist Rey:

12 Diterjemahkan dari: ‘[Les étudiants aux cheveux longs] se seraient affrontés aux CRS comme pour s’amuser ! On nie ainsi la détermination des manifestants à renverser l’État bourgeois.’ 13 Konfrontasi kekerasan dengan polisi terjadi di seluruh Prancis di berbagai waktu dan tempat sepanjang bulan Mei dan Juni. 14 Catatan penerjemah: “Lyrical” atau “liris”, dapat dimaknai sebagai ungkapan “penuh perasaan”, “bersemangat,” atau “penuh dengan kata pujian.” David Porter menggunakan kata “liminal space”, yang jika diterjemahkan secara harfiah berarti “ruang yang terbatas”. Kata tersebut biasa digunakan untuk merujuk pada ruang transisi, saat menunggu, atau tidak mengetahui dan tidak menentu.

[ada] begitu banyak pertemuan, begitu banyak demonstrasi, begitu banyak tatap muka, begitu banyak kata, begitu banyak berlari-lari di jalanan, begitu banyak dipukul mundur dari serangan polisi, begitu banyak konfrontasi! Saya hanya memiliki ingatan akan suasana rahmat yang permanen, baik secara fisik maupun mental, wujud keringanan, sukacita yang paling dalam dan liar. …Rezim yang benar-benar tanpa kendala. …Pertengkaran lama terlupakan, kita semua bersaudara. (Rey, Benoist. 2006. Les Trous de mémoire. Paris: Les Éditions Libertaires., hlm 111). 15

Dalam kata-kata Auzias (1988), “Aku adalah Kami, di tengah ‘ribuan kelompok kecil yang terisolasi’ yang dengan senang hati memperlakukan diri mereka pada sepotong sejarah.” Sebagaimana orang lain, katanya, gerakan pelajar lycée menggabungkan unsur-unsur dari gagasan situasionisme dan anarkisme, dan lebih dari gerakan 22 Maret, untuk menciptakan festival: “Festival yang datang kepada kami berasal dari Revolusi Prancis, dan dikenal oleh semua ledakan revolusioner, yang bagi kami menjadi satu-satunya kebenaran.” “Kami tertawa sepanjang waktu,” tulisnya. Bagi para pelajar lycée, yang unik adalah “kemampuan mereka untuk berpikir di luar batas. Tidak ada batasan. …Itu adalah akhir dari sistem politik tradisional, itu adalah akhir dari abad ke-19.” Saat teritori politik terurai, “semua orang kehilangan arah.” Kami semua harus berselancar di puncak revolusi, katanya, dan kelompok kiri tidak punya alat untuk itu. “Tapi tidak ada yang bisa menahannya. Itu adalah banjir bandang dan semua titik referensi memberi jalan. Kami menyukai anarkisme

15 Diterjemahkan dari: ‘un mois de folie. … Tant de réunions, tant de manifs, tant de rencontres, tant de paroles, tant de courses dans les rues, tant de replis sous les charges policières, tant d’affrontements ! J’ai seulement le souvenir d’un état de grâce permanent, aussi physique que mental, une légèreté de l’être, une joie profonde et sauvage. … Un vrai régime sans contrainte. … on oublie des vielles querelles, on est tous frères’.

karena orang bisa bermain. …Kami melahap ayat-ayatnya di dinding.” Mei adalah hadiah komunal tanpa batas, …“semesta yang langsung.” “Imajinasi adalah milik bersama.” 16

Sifat Politis Mei 68

Para penulis anarkis sangat memperhatikan agar kedalaman dan luasnya tantangan pemberontakan Mei 68 diakui dan dipahami. Perjuangan mereka sendiri dan orang lain yang berkelanjutan terhadap musuh-musuh politik dalam masalah ini menunjukkan bahwa Mei 68 tetap merupakan penanda revolusioner yang penting -efek percikan dari interpretasinya yang diperebutkan masih sangat hidup, apa pun perubahan selanjutnya dalam konteks dan bentuk perjuangannya. Pembacaan atas pandangan para anarkis Prancis tentu saja dikerdilkan oleh mereka yang terpapar oleh liputan media dan tulisan dari sudut pandang lain -sebagian memusuhi dan beberapa tampaknya bersimpati pada setidaknya aspek-aspek tertentu pada Mei 68. Tetapi kaum anarkis, klaim seorang penulis militan, tetap menjadi musuh jangka panjang yang paling konstan terhadap narasi sejarah yang dominan, bersikeras bahwa Mei 68 terus menjadi sumber inspirasi politik

16 Diterjemahkan dari: ‘En Mai, je était Nous. Les “milliers de groupuscules isolés” qui s’offraient joyeusement une tranche d’histoire.’ ‘Cette fête qui nous venait de la Révolution Française, que toutes les explosions révolutionnaires connurent; qui était pour nous, l’unique vérité.’ ‘On riait tout le temps.’ ‘la capacité à raisonner sans frontière. … il n’y avait aucune frontière. … c’était la fin des schémas traditionnels de la politique. … [c]’est la fin du XIXème siècle’. ‘tout le monde y perdit ses repères’. ‘Mais rien n’a tenu. C’était une marée et tous les repères craquaient. Nous aimions l’anarchisme parce qu’on pouvait jouer. … Nous dévorions ses vers sur les murs.’ ‘l’immédiat universel’. ‘l’imagination était un bien commun’.

yang relevan untuk perubahan sosial transformatif yang mendalam.

Kaum anarkis mengecam sebagian besar politisi, media, dan penulis arus utama karena terus melukiskan dan memarginalkan makna Mei 68 hanya sebagai periode yang tidak bertanggung jawab atas konter-kultur remaja kekanak- kanakan dan psikodrama yang, menurut beberapa orang, meninggalkan warisan ultra-permisif dari budaya egois asosial dan sikap dan perilaku politik yang berlanjut hingga saat ini. Baru-baru ini, sama seperti politisi kiri dan kanan lainnya, persis sebagaimana sebelumnya, dalam pidato kampanye presiden April 2007, Nicolas Sarkozy menyerukan untuk akhirnya membekukan pengaruh Mei 68 karena gagasan “bahwa semuanya relatif, bahwa dengan demikian tidak ada lagi perbedaan antara …benar dan salah, antara cantik dan jelek … [dan] bahwa murid itu setara dengan guru …, bahwa korban dihitung sama dengan berandalan…” (seperti dikutip 17 dalam Duteuil, 2008a: 17).

Alasan sebenarnya untuk serangan semacam itu, kata penulis Alternative Libertaire, adalah bahwa Mei 68 merupakan tantangan yang sangat penting bagi hubungan dominasi, dengan bentuk-bentuk otoritas yang kaum kanan ingin pulihkan saat ini. Karena tidak dapat dipulihkan…, peristiwa tersebut harus dikosongkan dari konten subversifnya 18 dan diperangi” (Bruno dan Renaud, 2008). Anarkis lain

17 Diterjemahkan dari: ‘l’idée que tout se valait, qu’il n’y avait donc désormais aucune différence entre … le vrai et le faux, entre le beau et le laid. … que l’élève valait le maître … que la victime comptait moins que le délinquant’. 18 Diterjemahkan dari: ‘Mai 68 représente une trop importante remise en cause des rapports de domination, des formes d’autorité qui sont celles que veut restaurer la droite actuelle. Puisqu’il ne peut pas être récupéré … l’événement doit donc être vidé de sa substance subversive, et combattu’.

menggemakan hal ini: “Saya selalu bertanya pada diri saya sendiri tentang kebencian atas Mei 68 ini; Justru karena mereka mengerti bahwa itu adalah momen subversif, salah satu momen langka ketika orang memanfaatkan pikiran kritis mereka” (“Un dessin” 1989 “Un dessin hors de commun.” 1989. dalam Mai 68 par eux-mêmes, hlm 169–172. Paris: Edisi du Monde Libertaire., hlm 170). 19

Sebuah editorial 2008 di Infos et Analisis Libertaires berpendapat bahwa, “Mei 68 [adalah] pemogokan umum terbesar dalam sejarah Perancis jauh melampaui tahun

  1. …Secara mendalam sangat egaliter dan anti-otoritarian, ‘gerakan Mei’ dengan demikian merupakan ancaman yang nyata bagi semua kelas istimewa.” Lebih jauh, bertentangan dengan “kebebasan individu yang lebih besar” yang dipuji-puji oleh elit Prancis sebagai tanggapan masyarakat atas Mei 68, kebebasan, pada Mei 68, adalah gagasan untuk mengakhiri semua keterasingan baik dari bos, politisi atau objek konsumen yang akumulasinya diajarkan oleh sistem sebagai satu-satunya tujuan hidup. Apa yang pada saat itu dipertaruhkan adalah membebaskan diri kita dari kehidupan yang buruk yang dipaksakan oleh kapitalisme pada kita, di mana kita seharusnya menerima pekerjaan untuk memperkaya orang lain dan mengkonsumsi dengan alasan yang sama. (“Édito” 2008)
    20

19 Diterjemahkan dari: ‘Je me demande toujours pourquoi cette haine vis-à- vis de 68; c’est justement parce qu’ils ont compris que c’était un moment subversif, un des rares moments où les gens faisaient fonctionner leur esprit critique.’ 20 Diterjemahkan dari: ‘Mai 68 est la plus grande grève générale de l’histoire de France dépassant de loin celle de 1936. …Foncièrement égalitariste et foncièrement anti-autoritaire à la fois, le “mouvement de mai” fut donc une réelle menace pour tous les privilégié-e-s.’ ‘La liberté, en mai 68, c’était l’idée d’en finir avec toute aliénation que ce soit celle du patron, du politicien, ou des objets de consommation dont l’accumulation est la seule raison de vivre que le système veut nous inculquer. Il s’agissait alors de se libérer d’une

Pernyataan di sini secara implisit menargetkan juga para penulis “kiri” seperti Régis Debray dan Gilles Lipovetsky yang menyalahkan orang-orang 68 atas konsumerisme yang narsisistik dan teratomisasi yang muncul selanjutnya yang memicu gelombang cepat kapitalisme pasca-68, yang membuat transformasi sosial di masa depan menjadi tak terbayangkan.

Meskipun meremehkan nostalgia memperingati 1968 sebagai sebuah “tontonan” [spectacle] 21 bersejarah yang lain, sebagian besar penulis anarkis menyatakan perlunya mempertahankan ingatan akan sifat politik dan budaya anarkis sejati dari pemberontakan itu untuk mempengaruhi generasi yang lebih baru dengan realitas yang secara dramatis membebaskan atau dengan mitos yang menginspirasi. Duteuil (2008b) memang menunjukkan bahwa anak-anak generasi Mei 68 mungkin sudah “muak dengan cerita-cerita orang tua mereka.” 22

Secara khusus, kaum anarkis fokus pada fakta bahwa Mei 68 adalah pemberontakan politik dan sekaligus juga budaya yang melibatkan partisipasi besar-besaran dari segala usia, bukan hanya pemuda, dan di seluruh penjuru negeri, bukan hanya di Paris. Untuk membuktikan klaim mereka, mereka

vie de merde, celle que nous impose le capitalisme, où nous sommes justes bons à travailler pour en enrichir un autre et consommer pour en enrichir un autre encore.’ 21 Catatan penerjemah: “spectacle” atau secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “tontonan”, merupakan konsep teoritik yang dikeluarkan oleh Guy Debord, seorang Situasionis. Dalam arti terbatasnya, “spectacle” berarti media massa, yang merupakan “manifestasi dangkal yang paling mencolok.” Dalam masyarakat tontonan, komoditas memerintah kelas pekerja dan para konsumen, alih-alih diperintah oleh mereka, mengubah mereka menjadi subjek pasif. Debord mengatakan bahwa masyarakat dunia tontonan (society of the spectacle) mulai muncul pada akhir 1920-an.

Diterjemahkan dari: ‘avoir plein le cul de ce que racontaient leur parents’.

mengidentifikasi secara keseluruhan atmosfir militansi yang tumbuh di kalangan mahasiswa dan aktivis pada berbagai masalah politik serta aksi langsung dan pemogokan liar oleh pekerja dan petani. Mereka juga menekankan sifat kualitatif keluhan dari masing-masing kelompok sosial pemberontak yang utama yang ikut berpartisipasi, serta keadaan keterasingan dan ketidakberdayaan yang lebih luas yang mempengaruhi jutaan orang Prancis di tingkat akar rumput.

Dimulai, kata mereka, dengan tahun-tahun terakhir perang Aljazair, dan rasa jijik yang dirasakan oleh banyak orang di Prancis terhadap penindasan dan penyiksaan besar-besaran dalam upaya kolonial terakhir yang putus asa itu, tahun 60-an melibatkan atmosfer pemberontakan radikal yang berkembang di seluruh dunia. Rezim Kuba yang anti-imperialis; perang pembebasan Vietnam; pemberontakan urban kulit hitam di AS; tantangan berkelanjutan bagi rezim Franco di Spanyol; konfrontasi, pendudukan kampus dan gerakan mahasiswa radikal di Italia, AS dan Jerman, 23 dan meluasnya aktivisme yang militan melawan penindasan negara dimanapun di dunia Barat, memicu tumbuhnya perhatian dan dukungan yang teradikalisasi termasuk pun peningkatan jumlah di dalam Prancis.

Selain itu, pelajar semakin teralienasi oleh kekakuan kurikuler dan pedagogis, birokrasi sekolah dan masa depan atas pekerjaan konformis yang tidak kreatif; sementara kaum muda, secara umum, merasa semakin terkendala oleh harapan keluarga tradisional akan kepatuhan anak dan jalur orang dewasa yang “bertanggung jawab”, peran gender yang terbatas

23 Beberapa bulan sebelum Mei 68, terjadi serangan ofensif Tet Vietnam yang dramatis pada Januari dan Februari, gejolak perkotaan yang meluas di seluruh AS setelah pembunuhan Martin Luther King pada bulan April, dan reaksi keras satu minggu kemudian terhadap upaya pembunuhan pemimpin mahasiswa radikal Rudi Dutschke di Jerman.

dan konservatisme seksual, dan sifat otoritarian dan birokratis dari institusi dan tempat kerja secara keseluruhan. Auzias (1988) berpendapat bahwa pelajar lycée yang baru, mulai mengeksplorasi dan mengartikulasikan batas-batas keberadaan sosial mereka. Mereka belum melampaui organisasi politik dan tidak berhubungan dengan bahasa kiri yang khas. Hanya dengan kemarahan emosional mereka terhadap represi polisi, anti-otoritarianisme mereka menemukan perwujudan; kemudian, bagi banyak orang, tidak hanya dalam tuntutan untuk reformasi lycée dan berkurangnya pembatasan orang tua, tetapi dalam lanskap yang luas juga, pengalaman pembebasan baru ketika mereka bergabung dengan mahasiswa yang lebih tua dalam pendudukan kampus dan demonstrasi jalanan.

Pilihan gaya hidup yang lebih bebas semakin menarik, disuarakan dan dikejar, dan banyak yang menjadi sadar akan jalur alternatif budaya yang dieksplorasi di AS, Belanda dan di tempat lain. Demikian pula, pada bulan-bulan sebelum Mei 68, media Prancis mempublikasikan secara mengejutkan pemogokan liar yang panjang dan dinamis, serta pendudukan pabrik oleh pekerja muda Perancis di beberapa lokasi yang berkaitan, lebih dari sekedar masalah jumlah —sebuah pesan yang menarik perhatian dan minat besar di antara pekerja dengan masalah serupa di tempat lain. Sementara itu, petani dihantam oleh penurunan harga dan pasar untuk barang-barang mereka dan tekanan yang kuat dirasakan oleh pemilik sebidang tanah yang kecil untuk berdagang dengan pertanian subsisten demi status buruh belaka di perusahaan pertanian kapitalis yang lebih besar atau untuk bermigrasi ke kota untuk mencari pekerjaan. Dengan demikian, banyak yang terlibat dalam demonstrasi jalanan yang militan dan aksi langsung di pedesaan Prancis dalam beberapa bulan bahkan mendahului pemogokan liar yang terkemuka.

Meskipun tidak ada faktor sebelum bulan Mei yang di permukaan tampaknya tidak berhubungan dan memiliki

potensi pemberontakan yang jelas, mereka semua pada akhirnya menyumbangkan energi pelengkap dan unsur-unsur yang semakin mudah terbakar untuk ledakan Mei. “Untuk ideologi dominan,” tulis Duteuil (2008a), “politik adalah 24 negara, pemerintah; … sisanya adalah budaya.” Ia gagal mengenali kritik politik egalitarian yang mendalam yang berperan atas semua otoritas ketika krisis dan pemberontakan di semua bidang menjadi saling terkait.

Warisan Aktivis

Segera setelah serangan balasan bulan Juni yang kuat, banyak orang yang sangat berpengalaman dan berharap untuk mempertahankan realitas sosial alternatif yang baru dapat dipahami mengalami depresi dan disorientasi. Bagi ilmuwan politik Jean-Pierre Bernard (2000), “melankolia dari harapan yang hilang pada bulan Mei mengekspresikan dirinya sedini bulan Juni, dan itu bertahan, diselingi dengan depresi dan 25 bunuh diri.” Auzias menyatakan (1988), “pada bulan Juni saya tahu bahwa kami telah kehilangan Mei. Bahwa itu tidak akan pernah kembali. Sudah selesai. Untuk seumur hidup 26 seseorang.” Setelah Mei, katanya, penderitaan psikologis kembali menjadi individual lagi. Pelajar Lycée, mundur menjadi seperti mahasiswa atau orang dewasa yang lebih tua tanpa struktur pra-Mei mereka sendiri, dibiarkan berkeliaran di lanskap pasca-Mei yang tidak terdefinisikan, mencoba untuk

24 Diterjemahkan dari: ‘pour l’idéologie dominante, le politique c’est l’État, le gouvernement; … le reste, c’est le culturel’. 25 Diterjemahkan dari: ‘La mélancolie de l’espérance déçue en mai s’exprime dès juin, et elle dure, rythmée par les dépressions, les suicides.’ 26 Diterjemahkan dari: ‘Nous le savions … que nous avons perdu Mai. Que ça ne reviendrait plus jamais. C’était fini. Que c’était pour la vie. Nous le savions, en juin.’

menciptakan rasa komunitas yang baru. “Hidup memiliki urgensi tersendiri. Kami membutuhkan waktu dan kami jauh lebih rakus menghabiskan waktu karena semakin jelas bahwa, tanpa dapat cegah, kami telah kehilangan Mei. Nomadisme [menjadi] pilihan yang dikagumi.” Untuk alasan yang sama, mereka memilih “revolusi seksual daripada politik gender” 27

(Auzias: 1988), begitu pun obat-obatan dan gaya hidup hippie (Auzias: 2006).

Sekalipun demikian, setelah mengalami proses revolusioner dan realitas sosial alternatif di lingkungan pribadi, kampus, tempat kerja, lingkungan ketetanggaan dan yang lainnya di tingkat pribadi dan yang lebih luas, masyarakat Prancis sangat terpengaruh secara mendalam dan positif untuk jangka panjang. Menurut penyanyi dan penulis lagu anarkis Léo Ferré (1989), “Mei 68 adalah pintu terbuka, yang terbuka sebagian, sebuah pintu yang harus didorong ke depan untuk memungkinkan pembebasan di banyak tingkatan.” 28

Karena bentuk-bentuk dan nilai-nilai egaliter baru yang dialami pada bulan Mei, norma-norma masyarakat sebelum Mei yang sewenang-wenang dan otoritarian begitu terdemistifikasi, dan potensi serta kegembiraan aksi militan yang menantang dengan jelas ditunjukkan pada dekade berikutnya melalui gerakan otonom anti-otoritarian yang baru dikembangkan di seluruh arena sosial oleh veteran aktivis Mei

  1. Biasanya, mereka cukup radikal di tingkat basis, termasuk agenda anarkis, seperti yang diungkapkan dalam karya klasik 27 Diterjemahkan dari: ‘La Vie était une urgence en soi. Nous avions besoin de temps et nous avons dévoré le temps d’autant plus goulûment qu’il fut de plus en plus patent que nous perdions irréversiblement Mai. Le nomadisme fut cette volonté sublime. … révolution sexuelle avant la politique des genres’. Diterjemahkan dari: ‘Mai 68, ça a été une porte ouverte, entrouverte plutôt, une porte qu’il faudrait pousser en avant qui a permis la libération sur des tas de plans.’

ekofeminis Françoise d’Eaubonne, Écologie/féminisme: révolution ou mutation? (1978). Sebagaimana Duteuil (2008a) tegaskan, konsisten dengan visi dan pengalaman Mei 68, semua bentuk dominasi di mana-mana perlu dihilangkan. Dengan demikian, “[e]kologi, perjuangan perempuan, homoseksual, anti-militerisme, regionalisme, kritik terhadap institusi-institusi represif (sekolah, penjara, rumah sakit —bukan hanya psikiatris), difabel, dan sebagainya, akan mendapat manfaat dari pelanggaran yang dimulai dengan pemogokan umum.” 29

Termasuk juga antusiasme yang bertahan lama untuk swakelola pekerja, sebuah tema yang menonjol pada bulan Mei 68 yang secara signifikan terisi kembali dengan pendudukan pabrik jam LIP yang dipublikasikan dengan baik pada tahun

  1. Veteran anarkis Georges Fontenis (2008) menyatakan “bahwa Mei 68 adalah pergolakan dalam pemikiran dan dalam hubungan langsung manusia yang masih tetap bertahan hari ini. …Ketundukan sangat dikalahkan, pada inti setiap insan, meskipun penampilannya dipicu oleh kembalinya atau bahkan penguatan hirarki dan birokrasi, dalam waktu dua puluh tahun.” 30 Dampak selanjutnya, klaim kaum anarkis, adalah bahwa generasi baru kaum muda yang terpapar dan menjadi aktif dalam gerakan tahun 70-an itu sendiri, menjadi sumber utama energi visi dan kecakapan militan untuk arena pemogokan aktif yang baru dan perjuangan sosial ke 29 Diterjemahkan dari: ‘L’écologie, la lutte des femmes, les homosexualités, l’antimilitarisme, le régionalisme, la critique des institutions répressives (école, prison, hôpital pas seulement psychiatrique), les handicapés, et j’en passe, vont s’engouffrer dans la brèche ouverte par la grève générale.’ 30 Diterjemahkan dari: ‘c’est le bouleversement des pensées et des rapports humains directs qui restent aujourd’hui encore. … La soumission a été vaincue en profondeur, au fond des êtres, en dépit des apparences qui provoquent le retour ou même le renforcement, en vingt ans, des hiérarchies et des bureaucraties.’

pertengahan tahun 80-an dan 90-an. Bentuk-bentuk konkret aktivisme berkelanjutan di banyak bidang inilah yang juga memperkuat argumen anarkis bahwa Mei 68 memiliki dampak jangka panjang dan politik yang besar pada masyarakat Prancis, bukan hanya di bidang budaya saja.

Penting juga, kata penulis anarkis, adalah bahwa 1968 akhirnya menyebabkan Partai Komunis Perancis merosot tajam dari yang dulunya kuat. Cengkeramannya pada potensi revolusioner terekspos sepenuhnya karena kecamannya atas konfrontasi jalanan, upayanya untuk mengendalikan pemogokan umum dan mempromosikan Perjanjian Grenelle. Sekalipuan demikian, naiknya seorang Sosialis François Mitterrand ke kepresidenan Perancis pada tahun 1981, pada gilirannya, memikat banyak orang untuk menjauh dari aktivisme akar rumput untuk mengharapkan reformasi progresif yang segera dari negara.

Model Revolusioner Alternatif Mei 68

Duteuil (2008a) mengemukakan bahwa adalah tidak masuk akal untuk mempertanyakan apakah Mei 68 adalah sebuah revolusi atau bukan, karena tidak ada revolusi sebelumnya, termasuk Komune Paris, 1905 dan 1917 di Rusia, 1936 di Spanyol dan 1956 di Hongaria, yang telah menyebabkan penghapusan kelas, negara dan hierarki. Itu semua adalah “pencapaian yang tidak terpenuhi, …momen revolusioner yang menandai sejarah kapitalisme.” 31 32 Akan tetapi, apa pun label mereka, kaum anarkis memandang pemberontakan besar-

31 Diterjemahkan dari: ‘des réalisations inachevées, …moments révolutionnaires qui ponctuent l’histoire du développement capitaliste’.

Revolusi Hongaria hanya berlangsung selama 18 hari dan Komune Paris hanya 2 bulan dan 10 hari.

besaran melawan penindasan politik dan ekonomi itu, serta organisasi-organisasi mandiri egaliter dari masyarakat alternatif yang menantang dan kreatif, sebagai momen-momen penting dalam pembebasan manusia, bahkan walau sementara. Mereka semua menunjukkan bahwa masyarakat non-hierarkis adalah mungkin dan lebih memuaskan daripada stratifikasi kelas, eksploitasi kapitalis dan dominasi negara. Dalam pengertian yang lebih terbatas inilah Mei 68 dapat dianggap sebagai sebuah revolusi —meskipun bukan sebagai pengganti radikal dari pemerintah maupun sebagai pencapaian jangka panjang dari masyarakat anarkis. Sebagai revolusi anarkis yang sementara, ia sangat menumbangkan konsep otoritas hierarkis di setiap bidang dan mulai menciptakan masyarakat horizontalis, sebuah proses revolusioner yang berlanjut, meskipun kurang dramatis, dalam gerakan 70-an.

Secara umum, pada dasarnya dua model persaingan militansi dan revolusi berperan dalam diskusi-diskusi anarkis pada Mei 68. Terlepas dari perbedaan dari satu konteks historis ke yang lain, pandangan-pandangan alternatif ini mencerminkan debat serupa dalam gerakan Prancis yang kembali ke asal usulnya pada abad ke-19.

Model tersirat yang pertama muncul dalam kritik pasca-Mei adalah dari persaingan lama anarkis Perancis yang berpengaruh dari tahun 1950-an, Maurice Joyeux dan Georges Fontenis. Meskipun ada perbedaan yang signifikan di antara mereka — terutama tentang bagaimana menyusun gerakan anarkis, bahaya atau tidaknya menggunakan aspek-aspek teori Marxis untuk memperkuat analisis anarkis dan potensi atau tidaknya sekutu kiri statis untuk mendorong masyarakat non-hierarkis, keduanya memuji fakta bahwa anarkisme sekali lagi telah kembali ke kesadaran publik. Namun, keduanya juga mengecam kurangnya organisasi yang memadai, penekanan pada spontanitas alih-alih perjuangan kelas yang terorganisir,

dan kegagalan komitmen untuk lebih serius menantang, jika tidak berhasil menggulingkan, struktur sosial yang dominan.

Joyeux (1988) memuji para pemberontak muda Mei 68 atas “hadiah harapan terindah” yang mereka “berikan kepada pemuda masa depan” dengan mengungkapkan “kehadiran permanen pemikiran kemanusiaan dan libertarian di hati manusia.” 33 Tetapi pada saat yang sama, dalam memoarnya dua dekade setelah 1968, ia mencela anarkis muda mandiri yang baru pada waktu itu, karena penyimpangan mereka terhadap spontanisme individualis hippie dan ketertarikan pada teori Marxis, lebih jauh ia lihat keduanya sebagai dimensi transisional dari pemberontakan remaja dari pemuda kelas menengah yang segera mencari dunia karir dalam kelas mereka. “Para pemikir mendalam” dari kelompok Nanterre, katanya, berada di bawah mantra situasionisme dan menolak Fédération Anarchiste miliknya sendiri sebagai “kentut lama.” 34 Dengan berupaya untuk memberontak atas nilai-nilai baru, pelajar “memberikan kegembiraan yang besar kepada kaum borjuis dengan menolak hubungan kelas, yang merupakan kebenaran abadi.” 35 Namun, setelah semua momen yang lebih dramatis di bulan Mei, pada “akhirnya ada kelesuan dari setiap gerakan yang tampaknya berputar-putar tanpa mengetahui ke mana harus keluar.” 36 Pada kenyataannya,

33 Diterjemahkan dari: ‘le plus beau cadeau … a fait à la jeunesse de demain’. ‘la permanence de la pensée humanitaire et libertaire dans le cœur des hommes’. 34 Diterjemahkan dari: ‘les esprits profonds’, ‘vieux cons’. 35 Diterjemahkan dari: ‘ont contribué, à la grande joie des bourgeois, à écarter les rapports de classes qui sont des vérités éternelles’.

Diterjemahkan dari: ‘enfin cette lassitude de tout mouvement qui a l’impression de tourner en rond sans trop savoir sur quoi déboucher’.

katanya, konteks historisnya tidak revolusioner karena hal itu hanya bisa terjadi dengan evolusi kapitalisme ke krisis terakhir.

Sebaliknya, Georges Fontenis (2008) berharap untuk revolusi yang sesungguhnya hingga minggu terakhir bulan Juli. “Fakta bahwa mereka sendiri revolusioner, di jalan dan di pabrik. …Semuanya diblokir, kekuatan represi tersebar dan demoralisasi dengan mudah bisa mengelilingi, gerakan mereka menjadi tidak mungkin, unit militer yang terdiri dari wajib militer tidak dapat digunakan.” Tetapi kemunduran di Paris pada akhir Mei menunjukkan kepadanya bahwa kaum revolusioner tidak memiliki strategi secara keseluruhan. “Tanpa pikir panjang, tanpa arah, pidato, ilusi, dengan seluruh sektor di negara ini benar-benar tenang bahkan di tengah populasi perkotaan yang padat, kekalahan kaum revolusioner adalah bukti.” 37 Menurut Fontenis, ini benar-benar sebuah peluang revolusioner yang langka. Kurangnya kemauan dan organisasi revolusioner adalah kuncinya.

Menurutnya, fakta bahwa sebagian besar penduduk masih tidak pasti atau dalam kondisi yang bermusuhan tidak pernah menjadi penghalang abadi. Sebab, hal itu selalu dijadikan sebagai alasan untuk tidak bergerak maju. Setiap revolusi telah mengetahui masalah-masalah ini dan sebuah revolusi tidak dapat dihitung secara aritmetika: hal tersebut adalah masalah keberanian dan penularan, yang dapat memobilisasi semua orang yang menunggu atau setidaknya, untuk mendapatkan persetujuan mereka.

37 Diterjemahkan dari: ‘les faits eux-mêmes étaient révolutionnaires, dans la rue et dans les usines. … Tout était bloqué, les forces de répression dispersées ou démoralisées, pouvant être facilement encerclées, leurs déplacements rendus impossibles, les troupes du contingent inemployables.’ ‘Pas de pensée, pas de direction, des discours, des illusions, des secteurs entiers du pays parfaitement calmes même dans les grosses concentrations urbaines : la défaite des révolutionnaires était évidente.’

Selain itu, menurutnya terlepas dari ketakutan semua politisi, termasuk mereka yang tersisa untuk revolusi, “tidak adanya avant-garde (pelopor –penj) yang reflektif dan terorganisir”, serta Partai Komunis yang masih kuat, yang, “dalam analisis terakhir, menyebabkan kemacetan dan kemudian kemunduran, dan pada akhirnya, kekalahan politik.” 38

Baik Joyeux dan Fontenis dengan demikian menekankan perlunya organisasi revolusioner yang serius (termasuk kolaborasi dengan kelompok-kelompok sayap kiri, dalam pandangan Fontenis) sementara yang terakhir juga berpikir bahwa pemerintah dapat dan seharusnya diturunkan dari jabatannya melalui tindakan tegas. Tetapi apa yang akan dilibatkan dalam proses tersebut tidak ditentukan dalam kata pengantarnya yang agak singkat. Sementara itu barikade perkotaan dan banyak konfrontasi dengan polisi di seluruh negeri, membuat beberapa anarkis bahkan membayangkan gerilya pedesaan ala maquis³⁹ untuk pemberontakan bersenjata di pegunungan Limousin yang terisolasi di Prancis tengah (Malouvier: 2008, Malouvier, Guy. 2008. Wawancara dalam

38 Diterjemahkan dari: ‘Le fait qu’une grande partie de la population reste dans l’expectative ou soit hostile n’est jamais un empêchement durable. C’est toujours un prétexte donné pour ne pas avancer. Toutes les révolutions ont connu ce genre de problèmes et une révolution ne se calcule par arithmétiquement : c’est l’audace et la contagion qui mobilisent tout un peuple en attente ou qui au moins obtiennent son consentement.’ ‘C’est l’absence d’une réelle avant-garde réfléchie et organisée … qui, en dernière analyse, fut cause de l’arrêt, puis du recul, enfin de la défaite politique’. 39 Catatan penerjemah: “Maquis” adalah gerombolan gerilyawan pedesaan dari pejuang Perlawanan Prancis, yang disebut maquisard, selama Pendudukan Nazi Perancis di Perang Dunia II. Awalnya, mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan yang melarikan diri ke pegunungan untuk menghindari wajib militer ke Service du travail obligatoire Vichy France (“Layanan Wajib Kerja” atau STO) yang menyediakan kerja paksa untuk Jerman. Untuk mencegah penangkapan dan deportasi ke Jerman, mereka semakin terorganisir menjadi kelompok-kelompok perlawanan yang aktif.

“Dossier 68: Rolf Dupuy et Guy Malouvier: ‘chacun de ces mots comptait: organisation; révolution; anarchiste’.” Alternative Libertaire, No. 173), ada sedikit potensi atau keinginan yang ditunjukkan untuk bentuk pemberontakan dan pertumpahan darah yang mungkin terlibat, atas nama “rejim revolusioner” masa depan yang agak kabur dan diperdebatkan. Pierre Sommermeyer (2008) memang berpendapat bahwa “kemenangan politik akan membawa berkuasa” berbagai partai avant-garde Maois dan Trotskyis-Leninis yang percaya pada kekuasaan negara dan “beruntungnya kita lolos dari hal ini.” 40

Namun penekanan pada organisasi revolusioner yang lebih terstruktur dan tersentralisasi telah secara tajam dan terus-menerus dipertarungkan di kalangan kaum anarkis Prancis selama beberapa generasi. 41 Baru-baru ini misalnya, kecenderungan birokrasi hierarkis dan akumulasi kekuasaan di organisasi-organisasi anarkis Prancis saat ini sangat dikritik oleh teoretikus Daniel Colson (2008) dalam edisi yang sama tentang Réfractions yang berfokus pada Mei 68. Gerakan, bahkan dalam beberapa tahun terakhir, laporan seksisme yang konsisten itu sendiri adalah bentuk lain dari hierarki dan dominasi, sama-sama menantang peran pembebasan potensial

40 Diterjemahkan dari: ‘une victoire politique aurait amené au pouvoir’, ‘on l’a échappé belle’. 41 Sementara Joyeux dan Fontenis menekankan pada organisasi gerakan yang memadai alih-alih spontanitas, preferensi konfederasi yang longgar dari keduanya itu bertolak belakang dengan pendekatan yang lebih disiplin dan sentralis, suatu perselisihan organisasi yang menyebabkan perpecahan formal dalam Fédération Anarchiste pada awal tahun 50-an dan menonjol dalam periode sebelum perang juga. Lihat Biard (1976 Biard, Roland. 1976. Histoire du mouvement anarchiste, 1945–1975. Paris: Éditions Galilée.), Berry (2009 Berry, David. 2009. A History of the French Anarchist Movement, 1917 hingga 1945. Oakland: AK Press.) dan juga Mintz (Mintz 2013, Frank. 2013. Histoire de la mouvance anarchiste, 1789-2012. Paris: Edisi Noir et Rouge.).

dari organisasi revolusioner anarkis yang lebih terstruktur seperti yang dibayangkan oleh Fontenis.

Meskipun dipinggirkan sebagai masalah oleh Fontenis, orang harus bertanya bagaimana mungkin mengintegrasikan atau mengakomodasi mereka yang bermusuhan atau setidaknya pasif terhadap pemberontakan bahkan jika mendirikan pemerintahan baru bukanlah tujuan. Para penulis anarkis biasanya menyalahkan negosiasi CGT atas Perjanjian Grenelle atas banyak kegagalan Mei 68 untuk dapat memperpanjang diri. Kesepakatan dan manipulasi CGT untuk menekan penerimaannya dengan menentang para pekerja, secara efektif telah menghilangkan potensi sosial terbesar untuk mempertahankan dan memperluas pemberontakan. Tetapi bersamaan dengan ini, penulis untuk jurnal Alternative Libertaire (Tristan, Renaud, dan Davrange: 2008; Tristan, Renaud, dan Guillaume Davranche: 2008. “Dossier 68: 1968, révolution manquée?” Alternative Libertaire, no. 173.) mengkritik kekurangan pemikiran revolusioner ini terutama di antara sebagian besar pekerja yang lebih tua, sehingga memfasilitasi posisi CGT.

Meskipun dengan jumlah besar yang terlibat dalam Mei 68 terlibat di berbagai sektor, jumlah yang lebih besar tidak terlibat, hanya mengamati dengan berbagai tingkat keterkejutan, kekesalan atau kemarahan atas gangguan kehidupan mereka. Secara simbolis, sikap diam atau oposisi mereka secara dramatis dimobilisasi oleh kaum konservatif dalam pawai besar Paris yang berjumlah lebih dari 600.000 orang di Champs-Élysées pada akhir Mei. Dengan demonstrasi oleh “mayoritas Prancis yang diam” ini dan jaminan dukungan militer, de Gaulle siap menggunakan metode yang lebih kuat, jika perlu, untuk menekan pemberontakan. Di belakang negara Prancis dan kekuatan militernya, tentu saja, kekuatan potensial sekutu negara kapitalis internasional terancam oleh model revolusioner dan tidak diragukan lagi siap untuk campur tangan

jika diperlukan. Selain itu, pemerintah dan kelas politik (termasuk para pemimpin Komunis dan Sosialis) dalam jangka pendek berhasil menyalurkan banyak perhatian politik publik ke ranah persaingan pemilihan umum yang terbatas, dengan partai de Gaulle mendapatkan mayoritas baru di Majelis Nasional.

Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu, Mei 68 telah menghasilkan model khas revolusi anarkis, berbeda dari yang disiratkan oleh Joyeux dan Fontenis. Ia melibatkan skala pengorganisasian awal yang cukup sederhana, bergantung pada inisiatif yang relatif spontan oleh kelompok-kelompok afinitas revolusioner yang non-hierarkis, berjaringan dengan longgar, dan inisiasi serta perpanjangan pemogokan umum. Penting juga adalah upaya untuk mengembangkan dan memaksimalkan unit swakelola egalitarian di setiap bidang sosial, dengan hubungan dan koordinasi melalui gotong royong sukarela. Dari perspektif ini, merebut kendali negara bukan tujuan baik karena, kecuali dalam kondisi krisis dan kehancuran ekstrem, kekuatan pemerintah terlalu besar untuk konfrontasi langsung yang sukses dan karena mendapatkan kontrol politik yang terpusat akan bertentangan dengan komitmen mendasar untuk swakelola yang egalitarian. Sebagai akibatnya, situasi proses pembebasan revolusioner yang berkepanjangan dan kekuatan ganda yang lemah menjadi tampak tersirat.

Bagi Duteuil (2008a), ledakan Mei 68 dipicu oleh “pertemuan dari keberuntungan perjuangan yang tengah tumbuh dan kesalahan kikuk oleh rezim. Kesalahan yang disebabkan sebagian oleh, harus dikatakan, intuisi dari mereka yang dengan senang hati mempertahankan siklus provokasi- represi.” Konteks Mei-Juni memungkinkan jumlah aktivis yang lebih kecil dari tahun-tahun sebelumnya untuk berbagi

“pengalaman dan keinginan” 42 mereka dengan jumlah yang jauh lebih besar. Dia berpendapat (2008b) bahwa gerakan 22 Maret adalah template organisasi yang unik, terus-menerus mendorong inisiatif taktis baru dan diskusi terbuka secara terus-menerus tanpa kepemimpinan, yang dengan demikian memberikan contoh berpengaruh yang penting, yang diadopsi oleh orang lain dalam pendudukan kampus dan tempat kerja dan di jalanan, yang kemudian menjadi harapan para peserta dalam gerakan otonom baru tahun 70-an. 43 Gerakan 22 Maret menerjemahkan ke dalam praktik keinginan untuk bentuk non-birokratis dari suatu perjuangan sosial dan itu, menurutnya, adalah hal penting. “Orang harus menikmati perjuangan. …Bagi saya, itu gagasan yang mendasar: memimpin pemogokan dan perjuangan, tidak boleh menjadi beban di pundak seseorang.” Duteuil juga menekankan:

kebutuhan dan keinginan demokratis. Gagasan itu berulang kali muncul tiap waktu dan dalam gerakan 22 Maret. Tidak ada pemimpin, tidak ada komite pusat. Tentu saja ada kekuasaan. Jelas ada hubungan kekuasaan …Tapi ada keinginan untuk membasmi mereka, untuk tidak puas dengan mereka. Ini adalah hal yang mendasar bagi semua gerakan. 44

42 Diterjemahkan dari: ‘la rencontre fortuite entre cette remontée des luttes et les erreurs grossières du pouvoir. Erreurs induites en partie, il faut le dire, par les intuitions de celles et ceux qui maniaient le cycle provocation- répression avec assez de bonheur.’ ‘expériences et désirs’. 43 Konsisten dengan model ini juga adalah keputusan gerakan 22 Maret untuk membubarkan diri setelah bulan Juni untuk mencegahnya dikooptasi oleh elemen kiri pendatang baru dengan ambisi hierarkis (Duteuil, 2008a; Duteuil, Jean-Pierre. 2008a. Mai 68: un mouvement politique. La Bussière: Éditions Acratie., 207–208). 44 Diterjemahkan dari: ‘C’est important que les gens prennent du plaisir dans les luttes. …C’est une notion fondamentale pour moi, à savoir que mener une grève, une lutte, ce n’est pas un poids qu’on doit porter sur ses épaules.’ ‘la nécessité et le désir démocratique. Cela revient toujours dans le 22 mars. Il n’y a pas de chef, pas de comité central. Bien sûr qu’il y a du

Meskipun selalu diklaim bahwa kepemimpinan pusat diperlukan untuk efisiensi gerakan, kata Duteuil, hal itu tidak demikian.

Orisinalitas lain dari gerakan 22 Maret, katanya (Duteuil 2008b), menyangkut tempat untuk kritik internal. Dengan sendirinya, kritik “tetap menjadi perspektif tertutup dan ini sepenuhnya melumpuhkan, abstrak, ilmiah, dan teoretis.” Pada saat yang sama, adalah sama berbahayanya untuk berpikir bahwa ketiadaan kritik itu melumpuhkan. “Yang penting adalah membuka segala sesuatunya sehingga orang mengekspresikan diri, sehingga sesuatu terjadi. Itu bukan sihir, itu bukan seperti menekan tombol lalu sesuatu akan terjadi.” Kebulatan suara tidak dianggap perlu. Jika suatu kelompok ingin mengambil tindakan, mereka harus melakukannya, tetapi kemudian didiskusikan dengan transparansi penuh. “Kamu 45 kurang lebih selalu berimprovisasi.”

Kesimpulan

Mei 68 menunjukkan potensi ledakan besar yang lebih didasarkan pada inisiatif “spontan” daripada organisasi revolusioner skala besar. Awalnya, kecepatan dan luasnya pemberontakan membuat beberapa orang, termasuk de Gaulle, untuk percaya pada revolusi yang telah direncanakan secara diam-diam. Kenyataan yang paling tepat dapat digambarkan

pouvoir. Il y a des rapports de pouvoir … Mais il y a une volonté de les débusquer, de ne pas s’en contenter. C’est fondamental dans tous les mouvements.’ 45 Diterjemahkan dari: ‘reste en champs clos et c’est complètement paralysant, abstrait, universitaire, théorique’. ‘C’est en favorisant, en ouvrant des brèches pour que les gens s’expriment, pour qu’il se passe quelque chose. Ce n’est pas magique, ce n’est pas en appuyant sur un bouton que cela se produit.’ ‘Tu es toujours plus ou moins dans l’improvisation.’

secara metaforis sebagai gempa bumi atau ledakan vulkanik setelah memuncaknya ketegangan sosial, budaya dan politik jangka panjang dan serangkaian peluang katalitik awal yang direbut oleh para aktivis militan. Dalam gambaran begini, ada berbagai potensi ledakan yang muncul ke permukaan dengan aktivisme dan imitasi yang patut dicontoh. Seperti yang Edward Sarboni (2008) amati, “pemberontakan itu lahir secara spontan dari reaksi berantai”. 46 Bahkan peristiwa tunggal “Malam Barikade” dijelaskan oleh “Le Flutiste” (2008) sebagai “detonator” untuk pergolakan nasional besar-besaran yang akan datang.

Sementara epifani pribadi, rasa baru komunitas akar rumput dan kesadaran yang teradikalisasi merupakan hal yang biasa bagi pergolakan 60-an di tempat lain di Barat, apa yang membedakan Mei 68 di Prancis adalah kemunculan yang mendadak dan terjadi di mana-mana, yang sangat mengguncang banyak masyarakat Prancis dalam periode waktu yang sangat singkat. Pengalaman intens yang secara bersamaan berbagi pengalaman tentang wahyu multidimensi yang muncul tiba-tiba dan hubungan sosial transgresif yang menantang inilah, yang menyarankan citra revolusi jauh lebih meyakinkan di Prancis daripada serangkaian pergolakan kecil dalam periode waktu yang lebih panjang yang dialami di tempat lain.

Bagi kaum anarkis, ledakan besar ini memiliki nilai khusus dalam mengukuhkan dan menyegarkan secara besar-besaran asumsi lama tentang hasrat revolusioner subjektif yang melekat, suatu dorongan yang biasanya tidak disadari untuk menghancurkan struktur politik, budaya, sosial dan ekonomi yang menindas, yang menghalangi kreativitas individu dan martabat dan pencapaian timbal balik sosial yang kooperatif. Sementara manifestasi dari hasrat semacam itu nampaknya

Diterjemahkan dari: ‘La révolte naît spontanément de réactions en chaîne.’

disadari oleh banyak pengamat peristiwa Mei 68 itu sendiri, sebagian besar menganggap hal ini sebagai penyimpangan, yang mungkin memang menyenangkan, tetapi hanya jadi jalan memutar yang sementara dari realitas kehidupan sehari-hari yang biasanya.

Kebanyakan tulisan soal Mei 68 masih menganggapnya sebagai peristiwa yang tidak dapat diulang, karena pada saat itu terjadi konvergensi unik dari faktor-faktor di dalam dan di luar Perancis dan, dalam jangka panjang, sebagian besar atau seluruhnya dipulihkan oleh “realitas” dan dinamika kapitalisme tingkat lanjut dan demokrasi liberal.* Namun, bagi sebagian kecil penulis yang menafsirkan Mei 68 secara umum, ada jauh lebih banyak makna penting dan mereka, seperti kaum anarkis, menolak tulisan reduktif dan negatif pada peristiwa tersebut maupun akibatnya oleh para Filsuf Baru pada akhir 70- an, sebagaimana Debray, Lipovetsky dan lain-lain memberikan interpretasi serupa. Pada saat yang sama, studi terperinci mereka yang lebih baru, misalnya studi yang dilakukan oleh Jacques Guigou dan Jacques Wajnsztein (2008), Kristin Ross (2004), Boris Gobille (2008) dan Julian Bourg (2007), pada dasarnya mengkonfirmasi posisi kunci anarkis yang saling terkait (tanpa mengakui tulisan-tulisan anarkis sendiri). Secara khusus, mereka setuju bahwa Mei 68 secara fundamental menentang dominasi secara keseluruhan, bahwa itu sama politisnya dengan budaya, bahwa pembebasan sosial dan individu saing bergantung, dan (kecuali Bourg), karena kedalaman persepsi yang dialami pada saat itu, tidak mungkin secara penuh mengandung atau menindas kehidupan selanjutnya sebagai visi revolusioner yang anti-otoritarian dan non-hierarkis. Meskipun tidak membahas 1968 dalam sebuah karya terfokus pada subjek, berbagai tulisan dan wawancara yang tersedia hingga hari ini oleh filsuf Perancis Jacques Rancière (2008), Rancière dan Revel (2008) dan Faure

(2013); Grelet, Lèbre, dan Wahnich (2009); Carta (2014) juga menunjukkan posisi anarkis yang penting ini.

Secara umum, kaum anarkis Prancis, seperti kebanyakan rekan-rekan mereka di tempat lain, telah lama menolak kemungkinan transformasi sosial revolusioner sosial yang inklusif dan abadi, yang disebut grand soir, terutama karena proses pembebasan multidimensi yang terlibat dan pola biasa di mana upaya rezim yang baru di konsolidasi dan pertahanan diri yang keras mengarah pada despotisme baru. Kenyataan tentang keterbatasan dalam konteks Prancis pada bulan Mei-Juni 68 memperkuat keraguan ini, meskipun energi pembebasan yang masif dapat dilepaskan. Sementara mungkin sebagian besar kaum anarkis masih berharap dan meramalkan adanya pecahan-pecahan besar lagi di masa depan, bahan- bahan sosial peledak spesifik tidak diragukan akan berbeda dari yang ada pada tahun 1968. Sementara itu, kaum anarkis Prancis mendesak perluasan imajinasi sosial kaum anarkis dan praktik berskala kecil seluas mungkin, baik untuk keuntungan mereka sendiri di masa sekarang dan untuk mendorong konteks baru pecah menjadi seterbuka mungkin untuk membayangkan dan bereksperimen dengan masyarakat non-hirarkis skala besar. Ketika ini terjadi, kata sejarawan anarkis Prancis Ronald Creagh (2007), kaum anarkis seharusnya “melangkah masuk menerobos.”

Seperti yang diperlihatkan pada Mei 68, apakah perpecahan baru dimulai atau tidak melalui inisiatif anarkis, “inilah dinamika peristiwa revolusioner ini,” kata René Furth (2001), “yang menopang kepercayaan anarkis.” Melalui pembebasan dan penggabungan energi yang kuat, revolusi membuka “penerobosan dan jalur yang tampaknya dihambat.” Tidak memiliki harapan untuk revolusi, katanya, akan mengurangi proyek dan praktik [anarkisme] menjadi ansambel analisis kritis, protes moral dan perlawanan yang tersebar sedikit demi sedikit. Membayangkan masa depan yang berbeda dari

perpanjangan “alami” ekonomi kapitalis, dan tindakan yang koheren di berbagai bidang kehidupan sosial, menuntut perspektif pemecahan dan transformasi radikal. 47

Penegasan Furth pergi lebih jauh dalam menjelaskan kekuatan berkelanjutan Mei 68 bagi kaum anarkis Prancis. •


David Porter meneliti dan menulis tentang pengalaman swakelola pekerja yang raksasa di Aljazair hampir lima puluh tahun yang lalu. Dia adalah profesor emeritus ilmu politik di SUNY/Empire State College di mana dia mengajar banyak kursus, termasuk tentang perbandingan revolusi dan sejarah Aljazair modern. Dia adalah editor Vision on Fire: Emma Goldman on the Spanish Revolution (rev. Ed., AK Press, 2006) dan penulis Eyes to the South: French Anarchists & Algeria. Dia dapat dihubungi di [email protected].


47 Diterjemahkan dari: ‘C’est cette dynamique de l’événement révolutionnaire qui porte la confiance des anarchistes.’ ‘des brèches et des voies là où tout semblait bloqué’. ‘y renoncer serait réduire son projet et sa pratique à un ensemble épars d’analyses critiques, de protestations morales et de résistances parcellaires. L’imagination d’un autre futur que le déploiement “naturel” de l’économie capitaliste, et la cohérence des actions dans les différents champs de la vie sociale exigent la perspective d’une rupture et d’une transformation radicales.

KEPUSTAKAAN

Amalric, David, dan Benjamin Faure. 2013. “Réappropriation des savoirs et subjectivations politiques: Jacques Rancière après Mai 68.” Dissensus, no. 5.

Auzias, Claire. 1988. “Un mai mineur.” IRL: journal d’expressions libertaires, no. 77–78: 8–26.

Auzias, Claire. 2006. Wawancara dalam Mimmo Pucciarelli, Claire l’enragée!. Lyon: Atelier de Création Libertaire.

Bernard, Jean-Pierre A. 2000. “Mélancolies de mai.” Dalam Les Incendiaires de l’imagination, disunting oleh Mimmo Pucciarelli, 41–54. Lyon: Atelier de Création Libertaire.

Berry, David. 2009. A History of the French Anarchist Movement, 1917 to 1945. Oakland: AK Press.

Biard, Roland. 1976. Histoire du mouvement anarchiste, 1945–

  1. Paris: Éditions Galilée.
    Bourg, Julian. 2007. From Revolution to Ethics: May 1968 and Contemporary French Thought. Montreal: McGill-Queen’s University Press.

Bruno dan Renaud. 2008. “Dossier 68: commémorez, commémorez, il en restera bien quelque chose!” Alternative Libertaire, no. 173.

Carta, Gianni. 2014. “Entretien: Jacques Rancière, il n’y a pas de démocratie.” Diakses pada 6 April 2015. http://www.cartacapital.com.br/-internacional/il- n2019y-a-pas-de-democratie-7518.html

Colson, Daniel. 2008. “L’Anarchisme, Foucault et les ‘postmodernes’.” Réfractions, no. 20.

Creagh, Ronald. 2007. “Anarchism is Back: We May Now Re(dis)cover Utopia.” Space of Utopia: An Electronic Journal, no. 6 (Autumn–Winter). Diakses pada 10 Juli

  1. http://ler.letras.up.pt
    D’Eaubonne, Francoise. 1978. Écologie/féminisme: révolution ou mutation? Paris: Les Éditions A.T.P.

Duteuil, Jean-Pierre. 1988. Nanterre 1965–66–67–68: vers le mouvement du 22 mars. Mauléon: Acratie.

Duteuil, Jean-Pierre. 1998. “Éditorial.” Courant Alternatif, nomor spesial (May 1998 supplement).

Duteuil, Jean-Pierre. 2008a. Mai 68: un mouvement politique. La Bussière: Éditions Acratie.

Duteuil, Jean-Pierre. 2008b. Wawancara dalam “Chantier de mai 68.” Diakses 6 April 2015. http://www.la-parole- errante.org/fichiers-/Expo68/-chantierduteuil.pdf

“Édito.” 2008. Infos et Analyses Libertaires, no. 71: 1.

Ferré, Léo. 1989. “Ils ont voté… et puis après?” dalam Mai 68 par eux-mêmes, 173–174. Paris: Éditions du Monde Libertaire.

Fontenis, Georges. 2008. Changer le monde: histoire du mouvement communiste libertaire, 1945–1997. Paris: Alternative Libertaire.

Furth, René. 2001. “La Révolution.” Réfractions, no. 7.

Gildas. 2008. “Des mythes à détruire.” Courant alternatif/offensive (issue gabungan), hors-séries no. 13 dan no. 18 respectively: 38–39.

Gobille, Boris. 2008. Mai 68. Paris: La Découverte.

Grelet, Stany, Jérome Lèbre, dan Sophie Wahnich. 2009. “Insistances démocratiques: entretien avec Miguel Abensour, Jean-Luc Nancy et Jacques Rancière.” Vacarme, no. 48.

Guigou, Jacques, dan Jacques Wajnsztein. 2008. Mai 68 et le mai rampant italien. Paris: L’Harmattan.

Joyeux, Maurice. 1988. Sous les plis du drapeau noir: souvenirs d’un anarchiste. Paris: Éditions du Monde Libertaire.

Le Flutiste. 2008. “Les Anarchistes en Mai-Juin 1968.” Diakses 6 April 2015. inventin.lautre.net/livres/Les-anarchistes-en-MAI-JUIN-1968.pdf

Linhart, Danièle. 1989. “Prèface.” Dalam Mai 68, par eux-mêmes, 3–6. Paris: Editions du Monde Libertaire.

Mai 68 par eux-mêmes: le mouvement de Floréal, an 176.

  1. Paris: Éditions du Monde Libertaire.
    Malouvier, Guy. 2008. Wawancara dalam “Dossier 68: Rolf Dupuy et Guy Malouvier: ‘chacun de ces mots comptait: organisation; révolution; anarchiste’.” Alternative Libertaire, no. 173.

Mintz, Frank. 2013. Histoire de la mouvance anarchiste, 1789–

  1. Paris: Éditions Noir et Rouge.
    Pucciarelli, Mimmo. 1999. “Qui sont les anarchistes?” Alternative Libertaire (Belgia), no. 219.

Rancière, Jacques. 2008. “Politiques de la mésentente.” Contretemps, no. 22: 116–126.

Rancière, Jacques, dan Judith Revel. 2008. “Le Plaisir de la métamorphose politique.” Libération, May 24.

Raynaud, Jean-Marc. 1998. “Mai 68… Mai 68… Mai 68… de la révolte à un changement de société en oubliant la révolution sociale.” Le Monde Libertaire, no. 1122.

Rey, Benoist. 2006. Les Trous de mémoire. Paris: Les Éditions Libertaires.

Ross, Kristin. 2004. May ’68 and Its Afterlives. Chicago, IL: University of Chicago Press.

Sarboni, Edward. 2008. “Mai 68, un formidable amplificateur.” Le Monde Libertaire, no. 1124.

Sommermeyer, Pierre. 2008. “Sous les pavés, la grève.” Refractions, no. 20.

Tristan, Renaud, dan Guillaume Davranche. 2008. “Dossier 68: 1968, révolution manquée?” Alternative Libertaire, no.

173.
“Un dessin hors de commun.” 1989. Dalam Mai 68 par eux-mêmes, 169–172. Paris: Éditions du Monde Libertaire.


Diterbitkan pada 26 Juli 2019 oleh bimasatriaputra (blog pribadi)

Diarsipkan oleh Archipelago Anarchist Archive (2025)