KOLOM
Sejarah, Orang Hilang,
dan Kekerasan Atmakusumah ") IKA PARA AKTIVIS POLITIK YANG DICULIK SE lama beberapa bulan belakangan tidak kunjung muncul kembali, bagaimana reaksi kalangan internasional terhadap Indonesia? Pertanyaan ini saya ajukan kepada seorang pengamat masalah Indonesia dari Jepang sebelum Pius Lustrilanang pada awal April dibebaskan oleh para penculiknya dari teror dan penyiksaan selama dua bulan. "Bantuan luar negeri kepada lndonesia bisa-bisa dihentikan," jawabnya pendek. Penculikan atau peristiwa "orang hilang" bukanlah "barang" baru di Indonesia. Dalam ingatan kita yang pendek, orang hilang secara massal telah terjadi di negeri ini sedikitnya selama 30 tabun terakhir. Mereka raib setelaħ terlibat atau disangka terlibat dalam kegiatan politik atau tindak pidana dan kegiatan lain. Mereka tersebar mulai dari Aceh sampai ke Timor Timur dan Irian- jaya. Sampai hari ini pun ada keluarga yang masih berharap-harap cemas menantikan kepulangan kerabatnya yang telah bertahun- taħun raib. Ada yang sudah berkeliling dari kota ke kota dan dari pulau ke pulau melacak sanak keluarga yang hilang, dan tanpa hasil. Ada pula yang pergi-pulang ke dukun unuk mencari isyarat-isyarat gaib. Sebagian lagi menyerah kepada nasib. Berbagai lembaga kemanusiaan dan bantuan hukum tanpa lelah masih mencoba melacak mereka, atau setidaknya tetap men- catat mereka dalam daftar orang hilang. Catatan ini, bagaimana- pun, harus dipertanggungjawabkan kepada sejarah Itu semua dilakukan, betapapun langkanya informasi yang bisa diperoleh dar para bekas korban penculikan atau orang-orang yang pemah hilang. Korban-korban itu lebih memilih bungkam daripada menanggung akibat yang diancamkan oleh para "pemburu” mereka. Piùs Lustrlanang menupakan kekecualian. la seorang korban yang tidak ingin menyerah kepada nasib. la memilih berbicara, dalam usaha menghentikan kegiatan penculikan terorganisasi. Suatu upaya seperti yang dianjurkan oleh Tery Anderson, war- tawan kantor berita Ässociated Press yang pernah diculik kelom- pok gerilya di tengah perang saudara di L ebanon dua belas tahun yang lampau. Pengalaman getir yang diungkapkan Pius Lastrilanang kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di Jakarta 27 April yang lalu, dan kemudian juga di muka masyarakat internasional di beberapa negara, merupakan peristiwa bersejanah yang dapat meng- ubah nasib banyak orang di masa depan. Bahkan, juga dapat meng- ubah citra dan martabat Indonesia di mata dunia intermasional. Masalah penculikan massal seperti imi bukan lagi sekadar urusan pibak mailiter dan polisi. Melainkan sudah menjadi tang- gung jawab parlemen, kabinet, dan kepala negara. Dengan kata lain, telah menjadi persoalan negara. Sering timbui kebingungan di benak kita: mengapa tindakan kekerasan tak henti-hentinya terjadi di Indonesia? Apakah karena selama ini kita telah "saling bełajat" untuk melakukan tindakan kekerasan? Saya teringat pada satu tulisan di barian Bangkok Post hampir
25 tahum yang silam, yang dikutip di banan Indonesia Raya 14
D&R. 9 Mei 1998
dan 15 Agustus 1973, Tulisan tersebut melukiskan tragedi sejarah Amenka yang penuh kekerasan: sejak awal pendudukan benua itu oleh orang Èropa sampai pada Perang Saudara (Civil War) dan kemudian peristiwa pembunuhan terhadap sejumlah tokoh politik dan Presiden Amerika Serikat. Artikel itu, berjudul Mengapa Orang Suka Kekerasan”", dimaksudkan sebagai bahan perbandingan untuk mencoba memahami kerusuhan rasial yang luas di Bandung sepuluk han sebelumnya, 5 Agusnus 1973. Penulis artikel itu, David Shaw dan Bill Hazletlgmenguup perenungan sejarawan Arthur Schlesinger. Jr., yang mengatäkan: Cobalah bayangkan bahwa kita (Amerika Serikat) mulāi meng- garap negeri ini sebagai orang-orang yang membunuhi orang berkulit merah dan memperbudak orang berkulit hitam. "Tidak satu bangsa pun, apa pun alasannya, yang bisa ber- tindak sebagaimnana pernaħ kita lakukan--yakmi kecenderungan ke arah kekerasan-(anpa meninggalkan suatu bekas di dalam diri kita. Dalam adat-istiadat, kelembagaan, dan pada jiwa kita." Artikel itu juga mengutip pendapat Komisi Nasional Amerika Serikat tentang sebab-sebab dan upaya pencegahan tindakan kekerasan."Tindakan kekerasan seolah-olah sudah bercampur-baur dengan beberapa pasal paling agung dan paling konstruktif dalam sejarah Amerika: kelaħiran negara ini (kekeräsan revolusioner). pembebasan budak dan pemeliharaan persatuan bangsa (kekerasan Perang Saudara). pendudukan Tanah Air (perang dengan Indian), stabilisasi masyarakat terbelakang (kekerasan untuk me- nyiapkan stabilisasi). upaya memajukan petani dan buruh (kekerasan di bidang agraria dan perburuhan), serta pemeliharaan hukum dan ketertiban (kekerasan oleh polisi). Patriot, humanitarian, nasionaßis, pionir, pemilik tanah, pe tani, dan bunuh (juga kapitalis) menggünakan kekerasan sebagai cara untuk tujuan akhir yang lebih baik.. Apa pun juga yang pemāh kita dengung-dengungkan, sebe- tulnya kita tidak perah menjadi orang yang sangat taat pada hukum. Kadang-kadang tindakan kekerasan yang üidak dibenar- kan oleh bukum (kekerasan ilegal) malahan mendapat penghar- gaan yang tinggi sekal." Untuk mengawali terjemahan tulisan yang dimuat di Indonesia Raya itu, saya menambahkan kata pengantar smgkat sebagai berikut. Bukan (semata-mata) karena Insiden 5 Agustus (1973) di Bandung, tetapi sudah sejak lama kita selalu berpikir: mengapa orang suka (kepada) kekerasan. Apakah ini memanglah suatu gejala psikologis atau sosiologis? Átmukah historis? Pengarang nove! Italia, Ignazio Silone. menganggap kekerasan fisik hanyalah sikap primitif, meskipun ta masih harus berpikir sepuluh kali sebelum memutuskan bahwa kekerasan bukan milik orang-orang modern dan intelektual. Apabiła kita mengakui bahwa tindakan kekerasan dapat di- hubungkan dengan latar belakang sejarah, misan (di Bangkok Post) ini dapat dijadikan bahan perbandingan. Sejarah kita dimulai dari peperangan melawan dominasi asing. Perang Dumia Il. Perang Kemerdekaan, dan terakhir Peristiwa 30 September 1965 yang menimbulkan banyak korban kematian. «) Pengamat Masalah Pers dan Peninat Sejarah
LIPUTAN UTAMA
DUKMEGAWATI,DUKUNG REFORMASI
ERA
PIUS (Sedang membaca) DI DPR. Penculiknya adalah tim yang sama.
Satuan Siluman atau R
DULU, PELAWAK SRI-kejantanan di zaman serba-tak-menentu se- mulat mengatakan, "Un- perti sekarang? Dalam kondisi serbagagap tung ada Gepeng." Seka-kini, niat paling baik pun bukan jaminan un- rang, kelompok pendam-tuk dindahkan. ba demokrasi dan hak Tak tenmungkiri bahwa Sekretaris Jen- asasí mamusia di negeri deral Aliansi Demokrasi Rakyat itu telah ini boleh bilang "untung mencairkan kebekuan panjang. Barangkali ada Pius Lustrilanang". Kalau saja Pius tak bukan dia orang pertama yang melakukan- omong di Komisi Nasional Hak Asasi Ma-nya. Karena, orang seperti Hendrik Dikson nusia, sangat mungkin kisah gelombang pen-Sirait, aknivis Pijar yang hilang setelah Pe- culikan aktivis belakangan im tak akan ber. ristiwa 27 Juli, setdaknya kepada pers sudah tepi, seperti banyak kasus sebelumnya, mulai menceritakan siksaan yang dilakukan aparat dari Gerakan 30 September, Perisitiwa Tan- keamanan terhadap dirinya. Pun korban hi- jungprok, Timor Timur, Aceh, Irianjaya, lang yang lain, Andi Arief. Lewat tuturan hingga Insiden 27 Juli 1996. sanak dan pengacaranya, pers telah mem-Kalau memakai bahasa lakon, Pius bu-beritakan kisah penculikan Ketua Solidaritas kanlah pemain yang cepat in. Lihatlah, se-Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi telah dibebaskan penculk dan kembaßi ke (SMID) itu. Bedanya. selain bicara secara keluarganya di Palembang, ia cooling down terbuka kepada Komisi Nasional Hak Asasi dulu. Seperi Haryanto Tastam dan korban Manusia dan pers, momen kesaksian Pius yang lain, ia mengatakan bukan diculik, me- jauh lebih tepat. Rentetan aktivis yang hilang lainkan sengaja menghilang unuk mene-justru di saat tuntutan refommasi politik se- nangkan din. Dengan cerita seperti itu ham-makin keras dan posisi pemerintah jauh dari pir šaja disappearances kali ini juga masuk menguntungkan, itulah yang membuat ga- peù es. ung kesaksían Pius menjadi begit nyaring. Namun, bak pemain matang, Pins mela-Tentu saja gaung ini akan bertambab ke- kukan manuver. Sungguh mendadak. Di hari ras kalau saja pegiat POł Megawati, Har- kesaksiannya itu juga ia tertang ke Amster-yanto Taslam, bersaksi juga di komisi itu pe- dam. Datang dan perginya seperti angin. rihal penghilangan dirnya. Namun, itu tak Orang boleb bilang anak muda yang pekan ia lakaukan. la cukup meminta agar sikap tu- ini akan bersaksi di Komite Senat Amerika tup mulutnya dimaknai secara arif. Yang me-Serikar tersebut tak jantan. Tapi. apalah ari narik, dia jengatakan tak keberatan terha-
dap kesaksian Pius dan Andi Anef, yang me- nyangkut dirinya. Faksi Militer Tertentu Kesaksian Pius dan aturan Andi Arief kepada keluarga dan pengacaranya pada da- saruya saling menggenapi. Pius yang me- ngalami aniaya sewaktu pemeriksaan awal mengatakan, dari dalam sel bisa bercakap- cakap dengan mereka yang selama ini masuk dalam daftar "hilang", yaitu Haryanto Taslam, Desmon J. Mahesa, Sonny. Yani Av- ri, Herman Sadli. Rahardjo Waluyo Djati, dan Faisol Reza. Dari percakapan mereka. Pius menyimpulkan bahwa pola penculikan para aktivis itu sama. Karena ditempatkan di ruangan yang sama, lulusan Fakultas limu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Parah- yangan. Bandung, um menduga babwa pe- lakunya sama. Tentang Taslam, Pius mengatakan kepada D&R bahwa ia sempat omong panjang dengan Wakil Sekretaris Jenderal PDI-Mega itu di sel. Taslam mengatakan udak pernah disiksa para penculik itn. Akan halnya Andi Arief, ta menyebut pernah bersua dengan Taslam, Faisol Reza. dan Waluyo Djati di sel. Dari Reza, ia mendapat informasi bahwa Pius dan Desmon yäng tadinya mendekam di sana sudah dilepas. Adapun Hernan Hendrawan hanya sehäri di sana, yaitu waktu Pius dan Desmoe D& R. 9 Mei 1998
LIPUTAN UTAMA belum keluar. Dari keterangan Pius dan Arief Munir menyebut, ketika di Mabes Poló, (ABRD) mengatakan tdak tahu-menahu. Ta- itu bisa disimpußkan bahwa mereka semmua ia pemah menanyakan Andi, apakah ada ke- pi, sekarang, Nurfaizimengatakan pihaknya pemah ditempatkan di ruang tahanan yang na petugas yang waktu itu sedang berkum- sama. Dengan dermikian, penculiknya adalah yang menjemput. Polisi itu kan bagian dari pu) di ruangan, Šetelah mencermati, terma- tim yang sama. ABRI. Mengapa údak sejak awal saja dia- suk suaranya, Andi mengatakan tak menge-kui?" ucap Trimoelja. Lalu siapa? Untuk menjawab pertanyaan nal satu pun. "Kalau benar orang Mabes Pol-Menteri Pertahanan dan Keamanan/ itu tim Komisi untuk Orang Hilang dan ri yang menangkap, pasti dong Andi ada Tindak Kekerasan (Kontras), yang mena-Panglima ABRI Jenderal Wiranto sendin kenal. Paling tidak suaranya. Bukankah ia menegaskan bukan kebijakan ABRI meng- ngani kasus penculikan ini, mencoba meng- sudah sebulan ditahan?" käta Munit. identifikasi ciri, modus, topik dalam hilangkan orang. Hal serupa dikatakan Ke-Keterangan Nurfaizi memperlihatkan se- pala Pusat Penerangan ABRI A.W. Moko- interogasi, serta kapabilitas pelaku. Kesim- jumlah keganjilan lain, kata Munir. Misal- dongan. Adapun Komandan Pusat Polisi Mi- pulannya: secara individu, pelako terlatih nya, kalau memang Mabes Polri yang me- melakukan tugas khusus, bekerja profesio-liter ABRI Mayor Jenderal Syamsu yang di- nangkap, pasti mereka akan melakukan tunjuk Jenderal Wiranto sebagai ketua tim nal, punya persenjataan, perlengkäpan, dan koordinasi dengan polda setempat, dalam hal sarana yang memadai untuk menundukan pencan fakta meminta senua pihak jangan ini Polda Lampung. Temyata, pihak Polda korban, punya intensi politik tertentu, cen-berburuk sangka dulu. Karena, nant yang Lampung yang beberapa hari didatangi ke- memutuskannya adalah mabkamah militer. derung superior dibanding polisi, dan punya luarga Andi menyatakan tidak mengetahui informasi memadai tentang korban. Menurut Syarsu, kondisi sel seperti keberadaan Ketua SMID itu. Kepala Dinas yang disebutkan Pius, yaitu ruangan seukur-Kualifikasi yang disebut itu bisa meng-Penerangan Polda Lampung Letnan Kolonel an dua meter kali dua setengah meter, ber- arah ke satuan tenentu, apalagi kalau ditam-Anto Sugiarto, misainya, kaget ketika dikon- pintu terali besi dengan kamera di tiap ruang. bah informasi yang digali Andi Arief dari fimasikan Kompas pada 29 Maret. "Kalau itu tidak identik dengan sel-sel yang digu- pelaku sendiri, yaitu sebagian pernah bertu- petugas polda lain, biasanya ada koordinasi. Se- nakan ABRI. Sebab, sel untuk ÁBRÍ sama
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyimpulkan merekà yang hilang bukanlah karena sukarela, melainkan karena
pemaksaan. Mengapa begitu sulit mengidentifikasi pelakunya?
leguler? gas di Timor Timur dan dari mereka ada yang jauh ini belum ada laporan masuk." ujanya. saja dengan sel untuk sipil. "Sel militer itu baru pulang pendidikan di Inggris. Menunt Munit, sambil memperlihatkan untuk anggota yang melakukan pelanggaran. Pius cenderung berpendapat bahwa ope- surat perintah menangkapan, seorang Bagaimana pula bisa ada kamera atau radio? rasi penculikan dilakukan oleh faksi militer perwira Polda Metro Jaya pemah mengata-Kecuali rumah tahanan yang dahulu me- tententu. Andi Arief yakin polisi mengetahui kan bahwa pihaknya telaħ kedulan pihak lain. mang dikhususkan bagi tahanan politik, Nir- si pelaku. Lalu, apa kata polisí? Di sini ke-Waktu itu Andi sudah di tangan kepolisian. baya. Tapi itu dula, saya tidak tahu kalau terangan Komandan Korps Reserse Markas Lalu, lanjut Munir, waktu Andi diperiksasekarang." ujarya. Besar Kepolisian RI (Mabes Polri) Mayor sebagai saksi dalam kasus Agus Priyono, ter-Syamsu juga menegaskan batwa Andi Jenderal Nurfaizi menarik dicemmati, kendati tuduh dalam kasus ledakan bom di Rumah Arief bukan diculik, tapi ditangkap oleh sa- sebatas penangkapan Andi Arief. la menya-Susun Tanahtinggi, Jakarta Pusat, yang di- tuan antiteror. Di dalam ABRI sendin, seperti takan anggota tim yang dibentuknyalah yang tanyai justru soal Herman Hendrawan, Faisol diakui oleh Syamsu, pasukan antiteror de- "mengambil" Andi di rumah kakaknya di Reza, dan Rahardjo Waluyo Djati yang wak- mikian juga ada. Tapi, dia mengisyaratkan Lampung, waktu itu. Tim yang terdiri dari uu itu sepengetahuan masyarakat masih hi- baħwa pasukan antiteror dalam AßRl tidak reserse mobil dari Mabes Polri dan Kepoli lang. "Ini anch. Darí mana polisi tahm soal digerakkan untuk penculikan para aktivis se- sian Daerah (Polda) Metro Jaya itu bertugas mereka? Jangan-jangan polisi sudah bendakperu sekarang. untuk memantau kegiatan Partai Rakyat De- memindaħkan mereka bertiga waktu itu ke mokratik.Direktur Éksekutf Perhimpunan Banto- tempat Andi." kata Munir. Kesimpulannya, an Hukum dan Hak Asasi Manusia Indone-Munir yakin polisi hanya dikambinghitam-Satuan Antiteror sia, Hendardi, mengomentari bantahan-ban- kan dan tak kuasa mengelak. Meninut dia, tahan dan ABRI itu. Menunt dia, fakta-fakta Namun, keterangan Nurfaizi itu dibantah kasus ini sebenarnya sangat transparan, ka- cukup memperlihaikan babwa dalam pena-Andi dan pengacaranya dari Kontras, Munir. rena ada saksi korban dan sebagian mere- hanan Pius telah digunakan alat-alat atau Lewat Munir, Andi menyatakan dirinya di- ka-Pius dan Andi Arieftelah berbicara. senjata organik yang biasa dimiliki aparat pindahkan ke Mabes Polri lewat sebuah pro-Trimoelja D. Soerjadi, pengacara dari keamanan serta sel tahanan yang punya fa- ses. Maksudnya, setelah diculik di Lampung Surabaya yang dulu menangani kasus Mar- silitas lengkap. Hendardi menyebut, kalau pada 28 Maret, ia tidaklah langsung dibawa sinab, menyatakan modus penculikan para memang aparat keamašan tidak terlibat, ke sana. Tapi, dinterogasi di sebuah sel. Di- aktivis sekarang sama dengan yang dialami berarti Indonesia tak cukup aman. Sebab, ada bawa ke Mabes Polri baru tanggal 17 April. Yudi Susanto. bos Marsinah. Seperti dalam kelompok yang bisa sewenang-wenang dan Adapun surat penangkapan dikirimkan pi- kasus Andi Arief, surat penangkapan Yudi punya periengkapan serta senjata. "Berarti. hak kepolisian ke keluarganya pada keesok-Susanto diberikan jauh setelah dia ditahan. klaim ÁBRI sebagai stabilisator terpatahkan, anharinya lewat pos. Menurut Munir, itu me-Jawaban-jawaban dari Mabes ABRI juga,dong," ucapoya. mupakan keganjiłan. Hal serupa terjadi waktu menurut Tomoelja, aneh. "Ketika ada berita käsus Marsinah. Tarma Sisoro, Bachmat H. Cayono, Seno Joko Sayono, Andi Arief hilang, misalnya. pitak Mabes Bué Nugrono Llakatat, den Abdut Manen (Surabaye) D&R, 9 Mei 1998
LIPUTAN UTAMA
Penjebol Kebungkaman
la akhirnya bicara, setelah menimbang-nimbang dan ditemui
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.
"TUHAN JESUS ADA- tah pelindungku. Biar se- ribu serdadu mengepung- ku, la akan tetap bersa- maku." Petikan Surat Mazmur 91 Kitab Perjan- jian Lama itu dincapkan Pius, 30 tabun, di malam sebelur ia memberikan kesaksian tentang penculikan dinnya di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, 27 April lalu. Lalu, bagaikan terlepas dari im- pitan beban berat, Pius tertidur pulas dengan tangan kanan masih menggenggam rosano. Siapakah penjebol kebungkaman korban penculikan belakangan-ini itu? Pius Lustrilanang, anak ketiga dari enam bersaudara, lahir di Palembang, 10 Oktober
- la sekolah di Yogyakarta hingga tamat di SM A De Brito dan melanjutkan ke Jurus- an Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Katolik Parah- yangan, Bandung, lulus tahun 1995. Minat politiknya timbul semasa masih di Yogya. la mengaku tertarik melihat mahasiswa akuvis Universitas Gadjah Mada yang di tahun 1987 memilih Golongan Putih dalam pemilihan urum, Dan di tahun 1989. untuk pertama kalinya ia ikut demonstrasi, bergabung dalar Badan Koordinasi Mahasiswa Bandung, membela nasib petani Ba- dega, Jawa Barat. Tahun 1991, Pius bersama beberapa temannya mendirikan Komite Pergerakan Mahasiswa Bandung, Tahun 1993, Pius merintis Aliansi Demokrasi Rakyat, hingga berdirinya pada tahun 1994. Di masa kampanye Pemilihan Umum 1997, bersama dergan Ratna Sarumpaet (ki- ni ditahan di Kepohsian Daerah Metro Jaya, dituduh melakukan rapat tanpa izin) dan beberapa aktivis mahasiswa lain di Jakarta, Pius mendirikan Solidaritas Indonesia untuk Amien Rais dan Megawati (Siaga). Penga- gum Sockamo, Hatta, dan Sjahrir ini diang- kat menjadi sekretaris jenderalnya. Orga- misasi ini lahir untuk mendukaung Amien dan Mega sebagai calon Presiden RI perode 1998-2003. 4 Februari. Pius diculik segerombolan orang tak dikenal di depan Rumah Sakit Cip-
to Mangunkusumo, Jakarta. Sejak itu, kabar tentang dirinya tak perah terdengar. 3 April Tba-tba dikabarkan ia sudah berada di numah orang tuanya di Palembang. Pers pun memburunya, tapi ia menolak diwawascarai. Kalaupun ada yang mende-
şaknya, ia tak bersedia menjawab ihwal "bi- lang"-nya itu. Sementara itu, orang menimbang-tim- bang. haruskah Pius bicara atau kita semua menghormati baknya untuk bungkam. Kemudian diketahui, sejak disekap pencu- liknya, ia sudah punya niat: bila ia selamat, PIUS LUSTRILANANG ja akan membeberkān segalanya. Cuma, di hari-hari pertama ia bebas, mungkin masih menangis, syok. Niatnya terbuka ketika Komisi Nasio-Seusai memberi kesaksian, Pius dibawa nal Hak Asai Manusia tiba-tiba berupaya para pengacaranya masuk ke salah sanu re- menghubugi Pius, membujuknya untuk mau angan. Mereka menunggu langkah komisi bicara di kornisi itu. itu selanjutnya, tenutara soal bentuk konkret 26 Aprit. Aklámya hari ini, sctelah sem-jaminan yang dijanjikan Komisi Nasional pat tertunda sehari, ia tiba di Jakarta, dijem-Hak Asasi Manusia. Pius dan pengacaranya put Albert Hasibuan dari komisi itu dan Pas-menuntit tak banya jamminan moril, tapi juga kah Irianto dari Perhimpunan Bantuan Hu-fisik. Tapi, yang teraklr itu ternyata tak bisa kum dan Hak Asasi Manusia Indonesia diberikan komisi tersebut. (PBHI). Semula, Albert bersedia mencatat Padahal, "Setelah memberikan kesaksi- kesaksian Pius di Palembang. Tapi, Pius an, ia merasa sangat terancam secara fisik. memilih membeberkan kisahnya di Sekre-juga psikis." ujar Hendardi. Maka dilontar- tariat Kommisi Nasional Hak Asasi Manusia kanlah gagasan bagaimana kalau Pius ke luar di Jakarta, secara terbuka. negeri Menurut pengakuan Pius kemudian, per-Komisi Nasional Hak Asasi keberatan. jalanan dari Palembang ke Jakarta, babkąn Samsudin menawari, bagaimana kalau Pius sampai tempat penginapan malam itu, prak-dimintakan jaminan keselamatannya ke po- ts tak mengalami hambatan berarti dar siapa lisi. Pilihan lain, untuk sementara, Pius di- pun. tempatkan di rumab salab seorang anggota 27 April. Pukul 08.00, Pius dan tim komisi itu. Kedua tawaran itu ditolak Pius, pengacara PBHl sudah berada di Sekretariat ja belum merasa aman dengan dua tawaran in. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di Jalan Latuharhary 4-B, Jakarta Pusat. Setengah Diskusi mencari jalan keluar soal jamin- jam kemudian, acara kesaksian dibuka ang-an terhadap Pius rupanya berlangsung alot. gota komisi itu, Mayor Jenderal (Purn.) Sam-Akhirnya disepakti Pius ke luar negeri, de- sudin. Di meja depan duduk berjejer Pius, ngan catatan: tanpa melibatkan pihak-pihak Samsudin, Albert Hasibuan, dan Hendardi asing. Soalnya, bila melibatkan pihak-pihak (Direktur PBHD)—belakangan, menyusul asing dikhawatirkan menimbußkan konfhk anggota komisi ju yang lain: Clementino diplomatik dengan pemerintah Indonesia. Dos Reis Amaral. Sekitar pukal 15.45, Pius dibawa keluar Soal tempat duduk ite sempat diperso-lewat pintu belakang sekretariat komisi itu, alkan Samsudin. "Berdasarkan kebjasaan di menghindari puluhan wartawan. Wartawan sini, sebagai pelapor mestinya Anda duduk D&R sempat memergoki Pins masuk ke mo- di kursi sebefah sana (sambił memunjuk ba-bil Mercedes hitam milik A.A. Bararuli. risan kursi pengunjung, yang sudah dipenuhi Ketua Subkomisi Pemantauan dan Pelaksa- wartawan dan pengunjung lain)." ujar aaan Hak-Hak Asasi Mamisia Komisi Na-Samsudin. Tapi, Pius dan Hendandi berko-sional Hak Asai Manusia. kuh tak mau berpindah tempat. Akhirnya, Pius mengaku telah mengantungi bebe- setelah berdiskusi sebentar, Samsudin rapa tiket open date ke beberapa tijuan."Ta- mengalah, lalu mempersilakan Pins mence-pi. pada säat terakhit, saya mienmituskan ke ritakan kisah pencalikannya. Belanda," tutumya, Di pesawat KLM yang Satu jamı lebih Pius membeberkan ke- mennju Singapura, Pius didampingi seorang saksiannya. Dengan suara tenang. ia men-temannya. Baru dari negara tetangga itu Pius ceritakan seçara kronologis ihwal penculikan sendirian terbang menuju Amsterdam. Di dirinya, molai awal penculikan sampai pem-Negeri Kincir Angin teļah rmenant sejumlah bebasannya. Ada kalanya Pius tak mämpu anggota lembaga swadaya masyarakat. menyerbunyikan kepiluan perasaannya, ia 33.Ataporas Tiamms Siboro dan Ahmad Nur S. D&R, 9 Mei 1998
LIPUTAN UTAMA
Pius Lustrilanang:
"Yang Sebenarnya Terjadi,
Saya Memang Diculik"
Ketika di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Pius menolak diwawancarai langsung. Setelah di
Belanda, ia bersedia menjawab wawancara lewat telepon.
PIUS LUSTRILANANG SEPERTI MENJEBOL
tembok. Itulah tembok kebisuan, tembok yang
membuat sekelompok orang, siapa pun mereka. seenaknya melanggar hukum, melanggar hak asasi manusia. Ia mengungkapkan yang terjadi pada dirinya selama diculik oleh entah siapa, dengan risiko dibunub oleh penculiknya. Maka, terbeber- lah sebuah kisah: di sebuah negara merdeka ini, sekelompok orang memperlakukan beberapa warga negara di luar hukum dan perike- manusiaan. Di Komisi Nasional Hak Asasi Ma- musia, tempat Pius pertama kali mem- 8beberkan kisahnya, ia menolak diwawancarai langsung. Begitu sampai di 3 Belanda, mungkin meräsa sudah lebih aman, ia bersedia menjawab wawan- 1s 2 cara lewat telepon dengan Iwan Se- i tawan dari TÉMPO lnteraktif, seba. gaimana dimuat media cyberiet itu di ta édisi nomor 9 pekan lalu.
S. 38 Berikut kami muatkan wawancara ita, setelah ditarmbah wawancara D&R sendiri sebagai pelengkap. Memang. n~ seperti dikatakan beberapa pihak, per- 3 le tanyaannya ialah benarkah semua yang ak ditanrkan Pius. Tak mudah mengkon- ak firmasikan pengakuan itu, dan ini likmembuktikan betapa profesional para penculik tersebut. Mungkin, kita harus lafmenunggu hasil pelacakan tim khusus 1u, yang dibentuk Panglima ABRI dan juga :ankesäksian korban penculikan yang lam. n0Ketika muncul kembali, Anda alisempat mengatakan Anda sembunyi 5aPIUS LUSTRILANANG. karena kemäuan sendiri; sekarang, VaAndamengaku kepada Komisi Nasio- mal Hak Asasi Manusia bahwa Anda diculik, Mana yang benar? b Yang sebenamya terjadi saya memang diculik, Pada awal saya Ta depaskan, saya belum bisa mengatakan yang sebenarnya karena 1 ke duaalsan Pertama syamas menghtung danberikir pikir rsiko ang yag akan menimpa saya. Kedua, saya buuh waktu untuk "meng- ang denan sapa saya bdaan dala asus penukan Pius Selain itu, saya harus mempersiapkan keluarga serta orang-o- Di mng yang deat dengan saya, mereka juga hanus siap dengan segala alab ko yang mungki umbul akiat pengaku saya Peratan yang dn P (Permpunan Bantuan Hukum dan Hak Asai Manusa
D&R. 9 Mci 1998
Indonesia), juga masyarakat, semakin menguatkan saya untuk
membuat kesaksian di depan komisi ito. Kapan ide membuat kesaksian ini muncul? Sebenanya, sejak saya diculik dan ditahan, lantas disiksa, saya telah merutuskan baħwa, jika saya bisa keluar dari penjara dengan selamat, saya akan memberikan kesaksian atas apa yang terjadi pada din saya. Dan seminggu setelah saya dilepaskan, tekad untuk membuat kesaksian itu makin kuat. Apa yang Anda harapkan dari kesaksian ini? Saya berharap kasus penculikan semacam ini dapat dibenükan. Saya tidak ingin orang lain mengalami hal seperti yang pernah saya alami. Saya disetrur, ditendang, dan dipukuli— sangat tidak manusiawi. Saya diculik tanggal 2 Februari, sekitar pukul 15.30, di depan RSCM (Rumaħ Sakit Cipto Mangunkusumo), Jakarta Pusat, kenka sedang menung- gu bus. Sebuah mobil Toyota Twin Cam abu-abu tibe-tiba berhenti. Di be- lakang saya, seorang menodongkan pistol dan memaksa saya masuk mobil. Di dalam mobil sudah ada tiga orang. Begitu masuk mobil, tangan saya diborgol dan mata saya dittup kain hitam. kepala saya dituup jaket. Salah seorang di antara mereka berteriak, "Langsung ke arah Bogor." Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, saya tiba di suatu tempat dan digiring ke sebuah nuangan. Masih dengan tangan diborgol dan mata tertutup. para penculik itu ber- kata., "Tidak ada HAM (hak asasi manusia) dan tidak ada hukum di sini. Yang harus kamu lakukan adalah menjawab setiap pertanyaan. Dan ingat, ada orang yang mati setelah keluar dari tempat ini dan ada juga yang hidup. Jadi,jika kamu ingin hidup jawablah yang benar." Kata-kata itulah yang saya ingat terus karena tulah yang mereka ucapkan pertama kali keuka kami tiba di tempat. Mereka juga bertanya, apakah saya tahu kenapa dibawa ke situ. Saya bilang tüdak tahu. Lalu, apa yang terjadi? Mereka mengimterogasi saya. Jika saya terlambat menjawab atau saja jawab tidak tahu, mereka menyetrum saya. Setelah itu, mereka merbawa saya ke suats ruangan. Pemutup mata dan borgol saya
LIPUTAN UTAMA
belakang sel di baris pertama. dibuka dan saya disuruh masuk ke dalam bak. Mereka menginjak Yang Anda ketahui dan ingat tentang situtasi lingkungan kepala saya, membenamkan badan saya ke dalam bak air, dan mem- sekitar tempat penyekapan? buka keran air. sehingga air yang semula sebatas bahu menjadi se-Seingat saya, setap pagi hingga pukul 10.00 dan sore hari, saya batas hidung saya. selalu mendengar suara pesawai terbang yang terbang rendah. Ke-Seielah itu, mereka membenamkan kepala saya, Jika saya sudah mudian pemah, ketika ada orang yang membuka pintu, saya sempat enggak kuat, saya meronta, mereka menärik kepala saya sebentar, melihat dua bangunan lain di luar tempat saya ditahan. Bentukrya lalu mencelupkan kepala saya lagi. Itu dilakukan berulang-ulang. bukan seperti rumah tinggal, lebih mirip seperù kantor, suasananya Saya pikir saya akan mati saat itu. Pada hari kedua dan ketiga, mereka mirip di kantor kodim (komando distrik militer). Dengan tembok masih terus melakukan interogasi, tapi siksaan fisik tidak seberat yang dicat dengan wama krem, di bangunan itu juga terdäpat beranda hari pertama. yang berlantai cokelat. Tiap pukul 15.00 selalu äda bunyi terompet Berapa lama Anda mengalami siksaan itu? yang menandai apel sore. Saya rasa tempat penyekapan saya itu Hanya tiga hari pertama. Setelah itu saya lebih banyak mengang- berada dalam sebuah kompleks. gur hingga dua bulan, sampai saya dipulangkan 2 April talu. Hal-hal apa saja yang ditanyakan para penculik itu? Apa yang Anda makan selama dalam tahanan? Pertanyaan-pertanyaan yang diajokan para penculik itu hanya Lauknya selalu ikan, seperti lele, kembung, dan ikan emas; nasi berkisar pada kegiatan politik putih dan sayur. Sepertinya mereka yang saya lakukan pada dua bulan punya tukang masak sendiri karena terakhir menjelang Sidang Umum semua yang saya makan selalu da-Maret lalu. Misalñya mengapa sa- lam keadaan hangat. Apa yang saya ya bersama teman-teman di Alde- makan sama dengan yang dimakan ra (Aliansi Demokrasi Rakyat) oleh para penculik itu. maupun Siaga (Solidaritas Indo-Dapatkah Anda menduga di nesia untuk Ämien-Mega) meno- mana tempat penyiksaan itu? lak pencalonan kembali Presiden Saya tidak tahu persisnya. Da-Soeharto; lalu, apa alasan penca- lam rute perjalanan dari RSCM lonan Amien Rais dan Megawati hingga ke tempat tersebut, yang je- sebagai presiden alternatif; apa sa- las, mobil sempat memasuki jalan ja yang telah dilakukan Siaga; sia- tol. seperinya tol Jagorawi. Setelah pa saja yang hadir dalam rapat-ra- itu, perjalanan dilanjutkan sekitar pat pembentukan Siaga; juga apa dua puluh menit. Perkiraan saya, rencana dan strategi yang akan tempat penahanan itu sedikit di luar dilakukan Amien ataupun Mega-Kota Jakarta. Cibubur barangkali. wati. Termasuk juga perjanjían Jam berapa Anda tiba di apa saja yang saya buat dengan tempat tersebut? Ámien dan Megáwat. Pentanya-Antara pukul 16.30 dan 17.00. an-pertanyaan itu ditanyakan pada Apakah hawa disekitar tem- tiga hari yang pertama. pat itu terasa lebib sejuk diban-Lalu, pada hari-hari selan- dingkan Jakarta? jutnya? Saya tidak terlalu ingat, tapi se-Selanjutnya, mereka sering pertinya hawa di tempat itu üdak bertanya seperti ini: "Kamu tahu, jauh berbeda dengan Jakarta. kamu berada di mana sekarang?" Dapatkah Anda mengenali Atau, "Ayo tebak, tempat ini ada bentuk bangunannya? di Jakarta, Bogor, Cianjur, atau Su-Tidak, karena begitu tiba, dalam kabumi?" Biasanya, saya lebib keadaan tangan diborgol dan mata memilih diam. Atãu, sering juga tertutup, saya dibawa masuk ke pertanyaan ini: "Kamu tahu eng- dalam nuangan. gak, siapa yang mengambil ka-Kapan mata Anda dibuka? mu?" Saya pun sering diam dan Kira-kira pukul 17.30. Tiba di DEMO SIAGA. Pertanyaan berkisar pada keglatan politik. biasanya mereka tertawa. Tetapi. tempat itu saya dibawa ke suatu ru- pemah saya jawab begini: "Yang angan, dinterogasi selama satu jam. mengambil saya adalah BIA (Badan Intelijen ABRI) atau Kopassus Setelah itu baru saya dibawa ke sel dalam keadaan mata masih ter- (Komando Pasukan Khusus)." Mereka hanya diam ketika saya jawab utup; dan baru di dalam sel itulah mata dibuka. seperti itu. Šel itu berwama krem, berjenuji besi, berukuran dua meter kali Dugaan Anda, siapa penculik itu? dua setengah meter, dengan tempat tidur kayu berukuran 160 senti-Tidak mungkin penculikan aktivis it dilakukan oleh para pen- meter kali 80 sentimeter. Juga ada bak mandi terbuat dari porselen jahat yung berlatar belakang kriminal, termasuk mafia sekalipun. putih, yang lebamya seukuran bahu orang dewasa, dengan tinggi Mengapa penculikan itu tidak mungkin dilakukan mafia? sekitar satu meter. Bak mandi inilah yang digunakan unuk menyiksa Karena. di Indonesia, yang memonopoli senjata api hanyalah dengan cara mencelupkan diri saya militer. Saya sempat melihat pistol FN 46 yang dibawa penodong Anda tahu ada berapa sel? saya. satu pistol revolver kecil, dan satu buah magasin senjata di Enam sel, dilengkapi satt kamera di depan masing-masing sel. meja. Menurut cerita Sonny (korban penculikan juga). ia pernah Sel-sel itu dibagi dalani dua baris, masing-masing ada tiga sel setiap melihat senapan mesio M-16 tergeletak di meja. Jika mereka mafia. barisnya, dan letak sel itu tidak berhadapan satu dengan yang lain. mengapa setíap pukul 15.00 ada apel? Penjahat kriminai üdak pemah tetapi searah. Jadi sel yang berada di baris kedua menghadäp tembok D&R, 9 Mei 1998
LIPUTAN UTAMA
melakukan kebiasaan apel Bagaimana ciri-ciri fisik mereka? Sufit mengenali ciri-ciri fisik mereka karena, setiap kali mereka menenmui saya, mereka semua menggunakan topi ninja. yang terlihat hanya matanya. Mereka memakai jas hujan yang besar, tidak terlihat apakah tubuħ mereka kekar atau biasa-biasa sāja. Paling lama dua hari sekali. petugas yang memberi saya makan berganti. Dari suara- nya saya kenali, setidaknya ada. 15 orang berbeda yang memberi saya makan selama dua bulan saya disekap. Anda yakin mereka bukan kelompok kriminal, lalu siapa? Pola yang dipakai dalam penculikan saya sama dengan pola yang mereka lakukan terhadap para aktivis lain. seperti Sonny, Haryanto Taslam, dan Desmond. Dan ketika di penjara, saya sempat bercakap-cakap dengan korhan lain, sehingga saya bisa menduga-duga siapa kira-kira yang melakukan penculikan ini. Tetapi, saya tidak punya bukti yang cukup untuk membawą kasus ini ke pengadilan. Siapa yang Anda ajak bercakap-cakap? Yang paling lama ada di penjara adalah Sonny, ia sudah sekitar sembilan bulan. Sonny ditangkap oleh petugas kodim pada perte- ngahan 1997, ketika kampanye pemilihan umum sedang ramai. Ia ditangkap dengan tuduhan terlibat dalam kasus peledakān di Kela- pagading (Jakaärta). Sonny seorang mantan preman yang bersimpati terhadap perjuangan Megawati ketika terjadi Peristiwa 27 Juli; dan akhimya ia bergabung dan membela Megawati. Kalau tidak salah, tempat Sonny ditahan adalah Kodim Jakarta Utara. Ia sempat ditahan semalam. Esoknya, ia resmi menandatangani surat pembebasan
"Tidak mungkin penculikan
dirinya. Tetapi, belum sempat Sonny ber- ketika saya mengambil risiko mat ini. jalan jauh dari kantor kodim, tiba-tiba se-
aktivis itu dilakukan oleh para saya tidāk perlu takut lagi. Karena.
buah Toyota Hard Top berbenti di depan- nya, turun empat orang berbadan kekar Sonny sempat melawan dan berkeras la sempat berpegangan pada pagar kantor kodim. Mendengar teriakan Sonny, beberapa aparat kodim keluar meng- hampiri tempat keributan. Semula, ada beberapa petugas yang ber- usaha mencegab Sonny "diambil". Tapi, ketikà satu orang dari para penculik itu berbicara kepada petugas dari kodim, yang terjadi justru sebaliknya. Para petugas kodim yangtadinya membantu Sonny ber- balik. Benarkah Anda bertemu Haryanto Taslam sewaktu di dalam sel? Ya, saya bicara banyak dengan dia. Dia cerita diapakan saja dia? Dia tidak disetrum. tidak disiksa, Dia diperlakukan baik-baik. Ditanya dengan sopan, diborgol juga dengan tangan di depan. Waktu mau ditangkap, mobilnya ditabrak dulu di dekat Taman Mini (Jakarta Timor). Kemudian dia turun. Beberapa orang dari mobil penabrak turmn juga dan menodongkan pistol. ltu tanggal 8 Maret malam. Kalau saya tak ketemu dia, saya tak taħu kejadiannya. Apakah ada kejadian yang lain? Saya dibebaskan pada 3 Apnl lalu, saat itu sekitar pukul 11.30, setelah selesai dinterogasi. Ada yang mengaku kepada saya, katanya ia seorang lulusan Akabri (Akadermi ABRI) yang sekarang berusia 36 tahun. la bilang, dulu ketika masih d Akabn, ia permah dipukuli kakak kelasnya sebelum lulus. scbagai kenang-kenangan. Pükulan itu tanda rasa sayang, katanya. Sampai sekarang. ia ingat terus akan kejadian tersebut. Lalu ia bilang, ia juga ingin memberi saya kenang-kenangan yang tak terlupakan, yaitu saya disetrum sekali lagi sebelum dibe- D&R. 9 Mei 1998
baskan. Saat itu mata saya ditutup. jadi saya tidak tahu wajahnya. Setelah disetrum. mereka membelikan saya baju, celana, dan sepatu baru, lantas saya disuruh makan dan menunggu hingga pukul
15.00. Lalu, saya diantar oleh enam orang ke bandar udara Cengkareng. Tiba di sana, sebelum saya diturunkan dari mobil, saya disuruh menundukkan kepala. Lalu, penutup mata saya dibuka, saya diberi tiket pesawat dan mereka meminta untuk langsung berjalan memasuki bandar udara tanpa menengok ke arah mobil. Tetapi. saya sempat menengok sedikit dan melihat bahwa mobil yang digunakan adalah Toyota Kijang berwara abu-abu. Saya berangkat dari terminal B. Cengkareng. tetapi saya diturunkan di terminal C. Saya lantas ber- gegas masuk bandar udara dan memasuki pesawat menuju Palembang. Barangkali, penculikan itu dilakukan polisi? Tidak mungkin. Jika polisi yang melakutkan ini, Andi Arief tentu tidak akan secara mencofok dititipkan ke Mabes Polri (Markas Besar Kepolisian RI). Saya sepakat dengan yang dikatakan Kepala Pusat Penerangan ABRI Mokodongan, ada upaya dari sekelompok orang yang ber- usaha mendiskreditkan ABRI lewat kasus penculikan itu. Saya me- rasa upaya itu tidak dilakukan oleh orang luar. Tugas ABRI-lah mengusut keberadaan kelompok itu. Äpakah Anda tidak takut risiko dari kesaksian ini?
Saya sudah bertekad, apa pun ri- sikonya, saya tetap akan memberikan kesaksian ini. Para penculik itu mengancam, jika saya mémbuka mulut, mereka akan memburu di mana pun saya berada dan membunuh saya. Tetapi.
udak ada lagi risiko yang lebih besar daripada kematian. Anda? menelepon ke rumah orang tua di Palembang. Saya tidak tañu pasti bagaimana keadaan mereka, tetapi saya berharap mereka selämat. Memang, ketika di penjara, mereka mengancam baħwa. jika saya buka mulut, orang dekat dan keluarga saya juga akan menjadi kortän. Saya bangga dengan keluarga saya, ierutama ibu. Tidak mungkin saya bisa memben kesaksian seperti sekarang jika ibu dan selüruh keluarga tidak mendukung saya. Hal ini meñurut saya tidak lepas dari didikan ibu yang sejak kecil kami sekeluarga dibiasakan selalu jujur. Ibu penganut Katołik yang percaya benul bahwa, jika kami pasrah kepada Tuhan, kami pasti akan selalu terlindungi. Saya yakin ibu bisa tabah menghadapi cobaan ini. Anda juga mendapat tawaran melakukan kesaksian di luar negeri? Ya, benar. Mengapa Anda memili bersaksi di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia? Karena kasus ini terjadi di Indonesia dan saya juga seorang warga negara Indonesia, saya ingin agar masyarakat lndonesia tahu bahwa ada penculikan yang menimpä seorang warga negara di negaranya sendiri. Dan. pemerintah sepertnya menutup mata atas kasus im. Dengan demikian, saya berpendapat. lebih baik menyclesaikan kasus penculikan ini di dalam negeri, dengan risiko saya dibunuh. Saya sengaja memilih bersaksi di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia karena, jika saya bersaksi di luar negeri, akan ada anggapan bahwa saya melarikan diri. Saya buktikan bahwa saya bukanlah pe- ngecut, dengan menyelesaikan masalah di dalam negeri. Dan, saya menganggap dukungan dunia intemasional hanyalah faktor tambah-
penjahat yang berlatar yang memaksa Sonny ikut mereka.
belākang kriminal, termasuk Bagaimana dengan keluarga
mafia sekalipun." üidak mau ikut dengan kedua orang itu. Sampai saat ini saya belun sempat
LIPUTANUTAMA
an, faktor penentunya tetap masyarakat Indonesia sendiri. Bagaímana prosesnya sehingga Anda da- pat tiba di Jakarta dengan selamat dari Pa- jembang? Upaya menghambat kehadiran saya di Jakarta selala ada. Misalnya, setelah saya dilepas. saya selalu dikontrol oleh mereka. Setiap hari, sekitar pukul 20.00 hingga
22.00, mereka menelepon rumah saya di Palembang, Ini dilakukan untuk mencegah saya pergi ke Jakarta atau agar saya idak membuka mulut kepada pers. Saya hanya boleh ke Jakarta jika mereka mengizinkan. Akhirnya, saya nekat ke Jakarta untuk memberikan kesaksian itu. Dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, bagaimana lika- likunya Anda bisa tiba di Cengkareng dan selamat sampai di Belanda? Mula-mula, berangkatnya, saya mau pakai mobil Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS). Pihak Kedubes AS memperbolehkan
WN9 8E 00
HARYANTO TASLAM. Bertemu Pius di dalam sel
saya tinggal beberapa jam di tempat mereka sambil menunggu kawan-kawan mengurusi tiket. Tapi, saya enggak boleh menginap. Tapi, ada yang keberatan, B.N. Matbun dan Samsudin. Mereka bilang. lebih baik tak gumakan kendaraan Kedubes AS. Maka jalan tengah diambil: diusahakan kontak dengan Palang Merah Internasional. Kalau bisa, nanti pakai mobil Palang Merah Intermasional. Setelah itu boleh mau ke mana saja, ke Kedubes AS pun tak apa- apa. Tapi, runding punya runding, barulah pada pukal 14.30 dputuskan dua altematif tujuan keberangkatan. Diputuskan juga bahwa anggota Komisi Nasional Hak Asasi yang mendampingi saya sampai ke pintı pesawat. Ide ke Belanda itu kapan munculnya? Saya mulai bicara di Komisi Nasional Hak Asasi pukul 08.30, berangkat pukul 17.00. Sudah ada tim yang menyíapkan pemberangkatan Anda? Ya, menyiapkan alteratif tujuan. Termasuk Bangkok? Ya, antara lain. Mengapa ke Belanda, bukan Amerika atau Australia atau negara lain?
Atas pertimbangan teman-teman. Belanda paling aman. Sebe- narnya, saya ingin ke Amerika. Tetapi, setelab berkonsultasi dengan teruan-teman dan Kornist Nasional Hak Asasi Manusia disepakati ke Belanda. Jika ke Amenka, kami khawatir kasus ini akan mem- perburuk hubungan diplomank Amerika-dan Indonesia, dan jika bantuan dari IMF (Daña Moneter Intemasional) maupun bantuan Amerika dihentikan, rakyat kecil juga yang mendenita. Sejauh mana perlindungan Komisi Nasional Hak Asasi? Efektifnya kan hanya perlindungan moral dan politik. Lebih dari itı saya tak yakin. Karena, siapa pun yang meñculik saya, yang jelas kekuatan mereka sangat besat. Cara mereka menangkap, me- nyembunyikan aktivis-aktivis, serta membungkam bhampir seluruh jajaran ABRI menunjukkan mereka punya kekuatan yang luar biasa besar, Jadi. kalau beran mengangkangi bukum dengan tindakan- undakan seperti itu, mereka pun bisa mengulangi lagi kalau man. Jadi, tidak ada jaminan perlindungan fisik dari komisi nasional itu? Enggak ada. Bagaimana Anda melindungi diri sesudahnya? Selama di pesawat, saya berserah kepada perlindungan Tuhan. Di Belanda, saya menycrahkan kepada kawan-kawan. Saya sendin berpindah-pindah sekarang. Katanya, Anda mau bicara di sejumnlah tempat? Ya, sudah dijadwalkan. Setelah ke Bonn, Brissel. London, Irlandia, banu ke Amerika. Setelah itu mungkin ke Jepang dan balik ke Belanda. Menteri Luar Negeri Ali Alatas bilang, kalau perlu, Departemen Luar Negeri Indonesia akan me- pyiapkan tim untuk memantau kegiatan Anda di luar negeri. Berterima kasih sekali kalau Departemen Luar Negeri mau memantau saya. Itu kan berarti masih menganggap saya sebagai warga negara. Sudah tugas mereka memantau kegiatan saya di luar neger. Ada yäng bilang Anda ke luar negeri merupakan upaya melepaskan tanggung jawab. Kalau mau melepaskan tanggung jawab, saya kan enggak perlu omong seperti sekarang. Bungkam saja di numah. Saya tak peru bicara di Komisi Nasional Hak Asasi dengan risiko besar. Tapi. saya berani mengambil risiko itu karena saya pikir masyarakat Indonesialaħ yang pertama-tama harus mengetahui kasus pencußkan ini. Ke- mudian, saya meraša derokratisasi dan hak asasi manusia bukan lagi kasus suatu negara. tapi sudah menjadi semacam standar internasional. Anda serius ingin pulang ke Tanah Air kalau sudah memung- kinkan? Ya. Yang jelas, saya di luar negerí bukan ontuk menetap; saya pasti akan kembali ke Indonesia. Saya tak ada rencana untuk menetap di luar negeri. Jadi,kalau ada jaminan keselamatan, Anda akan segera pulang? Ya: saya utarakan itu berkali-kali. Beberapa syarat saya sebutkan. Pertama, lepaskan semua tahanan yang masih di datarn tanpa proses hukum. Kedua, bentak tim independen yang bebas dari intervensi negera. Keúga, ada jaminan dari pemerintah bahwa kejadian seperti ini tak akao terulang. Apakah Anda berniat mencari suaka politik ke negara lain? Tidak. sam sekah tidak. Suatu saat, jika kondisi di Tanah Air lebih aman, saya pasti kembali ke Tanah Air, karena saya lebih suka berjuang bersama teman-teman di Tanah Air. Saya mencintai Indonesia. Siapa yang Anda anggap paling bertanggung jawab atas kasus iní? Pemerintah. 多 D&R. 9 Mei 1998
LIPUTAN UTAMA
Jalan ke Penderitaan
Terpaksa mengungsi di luar negeri, ternyata tak enak. Tapi, tak
ada pilihan.
"SAYAAKAN KEMBA-nya. la menjadi manusia marginal yang tak li ke Indonesia. Saya takpemah betah di tempat sekarang. seperti kata berniat tinggal lama di Edward W. Said, cendekiawan Palestina Eropa," Pius Lustrilanang yang profesor di Universitas Columbia. menegaskan. Penegasan Amerika Serikat. ini dimaksudkan antara Yeni Rosa Damayanti, aktivis yang per- lain untuk membantah nah dikaitkan dengan demo akbar ant-Pak anggapan hahwa dirinya menghindari tang Harto di Dresden, Jerman, menyebut, kehi- gung jawab, setelah bersaksi di Komisi Na-dupan setengah exile, sepert dirinya selama sional Hak Asasi Manusia. ini dan Pius sekarang. berai sekali untuk Berbagai komentar muncul sehubungan dengan kepergian Pius ke Amsterdam. Ada yang menyebutnya sebagai pilihan ter- baik selama tak ada jaminan ke- selamatan dirinya di negeri ini. Ada pula yang bilang. termasuk
A.M. Fatwa yang permah menjadi korban penculikan dan lama dipenjara, bahwa Pius seharus- nya tetap saja di sini dengan se- gala risiko perjuangan. Jawaban Pius? la menyatakan ingin di sini saja. kalau saja jiwanya tidak sedang terancam. Sebelum ber- pisah, para penculik yang bak siluman itu mengancam akan
8 mengeksekusi dia kalau sarupai 经 buka mulut soal penghilangan. k Kalau memang demikian, à tenumnya aktivis Aliansi Demo- krasi Rakyat (Aldera) dan Soli- 9 e-daritas Indonesia untuk Amien ia dan Mega (Siaga) tersebut sangat di riskan kalau tetap di sini. Sebab. Pius telah ngomong semuanya sebelum ancäman dari para pen- 彩 culik yang masih laksana siluman itu dicabut dan sebelum dia ys mendapat jaminan perlindungan ap dan otoritas resmi. Kalau sam- pai dieksekusi? Siapa yang akan g? an. bertanggung jawab? Toh, pela- ses kunya anonim. 3 nsiSatu hal yang pasti, meng- ertiungsi ke luar negen karena kasus YENI ROSA DAMAYANTI. Berat sekali untuk dijaleni. politik bukanlah pilihan yang án? mudah hagi aktivis seperi Pius. hih dijalani. "Bagaimanapun kita rindu pulang.
Sebab, opsi tersebut merupakan jalan peng-
tang asingan dan penderitaan baru. Bukan jalur Hati dan pikiran kita di Tanah Air. Kalau di peualangan yang memanjakan pencerapain. sana saya sama ternan bisa bareng-bareng atas seperti yang dimaknakan seorang pejabat. di kos-kosan. Di sini kita harus hidup sendiri," ucap dia kepada D&R. Selain itu.
Di pengasingan dengan sendiinya seorang
pelarian atan pengungsi politik akan terce kata pegiat Pusat Informasi dan Jaringan
(Pijar) yang sejak beberapa tahun terakhir
rabut dan liogkungan lama dan masa lalu-
1998D&R. 9 Mci 1998
tinggal di Belanda tersebui, asda modus op- erandi baru untuk menjegal para aktivis ge- rakan proderokrasi Indonesia di luar neger. Yaitu, pengguntingan paspor. Yeni menga- takan dirinya sudah kena Satu setengah tahun lalu paspor Yeni babis. Ia minta perpanjangan, tapi tak dikasih pihak Kedutaan Besar RI. Yang akan di- benkan cuma Surat Keterangan Laksana Paspor (SKLP) yang berlaku sekali perja- lanan untuk pulang ke Indonesia. Kalau mau beroleh SKLP, seseorang harus memperli- hatkan tiket pulang yang sudah konform. Jadi, para akúívis menghadapi kemungkinan paspomya tak akan diperpanjang. "Itu sama saja dengan mencabut nyawa di sini." tutur Yeni. Memang tanpa paspor, kiamat selalu membayang di negerí orang. Aktivis yang paspomya tak diperpanjang. menunt Yeni, banyak. Ía menyebut sejumlah nama. Selama ini sering dikesankan secara sinis bahwa para pelanan politik hanya mencar kehidupan nyaman dan mewah di negerí orang. Modalnya, cukup sikap kritis terhadap pemerintah Indonesia. Memunit Kastorius Sinaga, doktor lulusan Universitas Bielfeld, Jerman, kesan tersebut merupakan mitos yang dimaksudkan sebagai stigma politik untuk mendiskre ditkan. Kenyataannya, menurut Kastorius, di Belanda saja banyak aktivis Indonesia yang depresi. Bahkan, ada dari mereka yang kemudian bunuh diri, atau hilang ingatan, Padahal, seperti kata seorang aktivis, Belanda merupakan ranaħ paling akrab bagi pengungsi politik asal Indonesia. Di negeri itu, suasana lndonesia masib bisa ditemukan. Dan, masyara- katnya lebih toleran. Berbeda dengan Jerman yang rasisoya masih kental. Di pengasingan, tak ada yang membíayai pata pelarian ini, Paling akan ditawan status sebagai asyłwn, alias peminta suaka. Kon- sekuensinya, mereka harus hidup pas-pasan, dan tinggal dalam su- atu kamp yang sangat membatasi gerak setiap hari. Dan, tentu saja tanpa status kewarganegaraan. Kecuali mereka yang punya pe- nanggung. Ada beberapa trik untuk tetap eksis dalam pengasingan. Misalnya, benusaha mem- peroleh beasiswa atau menikah dengan war- ga negara setempat. Tapi, tentu tak semua bisa melakukannya. Laporon Ahmad Nun Sobirio dan Ats
LIPUTAN UTAMA
Siapa Menangkap
Andi Arief
Komandan Korps Reserse Mabes Polri Mayor Jenderal Nurfaizi
menyatakan anak buahnyalah yang menangkap Andi Arief. Bukan
siapa-siapa. Namun, Ketua SMID itu tak percaya. Lalu?
"YOU HARUS BANG- manusia, Akan halnya komunisme, di mana- ga punya anak sepertí mana telah bangkrut. Termasuk di Eropa dia. la sangat berani. la Timut. la mengingatkan bahwa demokrasi sudah mencertakan se- üdak bisa diwujudkan oleh komunisme. Pun muanya." Kalimat itu olch fasisme, otoriterisme, dan diktatonsme. diucapkan anggota Ko-It sebabnya tezimn-tezim penganutnya, yang misi Nasional Hak Asasi menindas rakyat, tumbanig satu pet satu. Manusia B.N. Marbun, dialamatkan kepada Dalam wawancara dengan sebuah me- ayah Andi Arief dan keluarga yang mengadu dia, Andi Anef mengatakan SMID dan PRD ke komisi itu pada Kamis, 30 Apnl lalu. Mar- tak punya pola keketasan. Kedua organisasi bun tak berlebihan. Bahwa Andi Arief punya itu, menurut dia, tidak menganut anadkisme, nyali besar, para pegiat gerakan prodemo- tapı pengerahan massa terpímpin. Ucapan krasi di negeri ini yang mengenal dia per-ini dimaksudkan untuk menepis tuduhan caya. bahwa kedua organisasi tersebutah yang Ketika perburuan terhadap para aktivis telah mengobarkan api kekerasan di Jakarta gencar dilakukan menyusul Peristiwa 27 Juli pada 27 Juli 1996. 1996, hampir semua pegiat gerakan ngum- pet. Termasuk Andi Arief. Sebagai Ketua Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) memang sangat mung- kin dirioya menjadi salah satu bunuan. Bu- kankah Parta: Rakyat Demokratik (PRD) dan organisasi afibiasinya-SMID, Pusat Perjuangan Buruh Indonesia, Serikat Tani Indonesia, dan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat—telah dinyakan pemerintah sebagai biang petaka ekor perseteruan di PDI ter- sebut? Badiran Sudjatmiko dan pengurus PRD yang lain kemudian terjaning. Pun Garda Sembinng beserta pentolan SMD lain. Tapi, Andi Arief selalu luput dari penangkapan. Setelah para tokoh PRD dan añliasinya tadi dibekak. Andi Arief tampil sebagai juru bicara PRD di dalam negeri. Dari pelarian. ja tetap akuf menyosialisasi nilai-nilai anotan ANDI ARIEF. Punya myali besar. kelompoknya serta menjalin komunikasi dengan khalayak luas. Yang teraklir ini Dengan berbagai cara dan di beberapa termasuk media massa. tempat, sejumlah koran dan majalah mewa-Sebuah tulisan Andi munçul di Internet wancarai Andi. Kadang, ia juga keluar untuk untuk meng-counter Letman Jenderal Syar. bersua dengan kawan-kawannya. Pemun- wan Hamid (waktu itu Kepala Staf Sosial- culan seperti itu tentulah saugat riskan. Politik ABRI) yang menyatakaa PRD, juga apalagi kalau di tempat-tempa umum. Itulah ayah dan kakek Budiman, adalah Partai Ko- yang dikhawatirkaù rekan-tekannya. Tapi, manis Indonesia (PK1). Dalam tulisan yang mereka juga tahu baħwa putra tokoh masya- anak juduinya Komanisme Sudah Mati uu cakat Lampung bertubuh ringkih ita tak bisa Andi meyatakan PRD bukan PKI. Sebab, dibendung kalau sudah punya mau."Tak ada asas PKí adalah marxisme-leminisme, se- yang bisa menahan dia. Tidak juga penya- dangkan dasat PRD adalah sosial-demo- kimya." kata seorang mahasiswa Jakarta krasi-kerakyatan. PRD, lanjut dia, menye. yang mengenal dia. Putra tokob H.M. Arief rakan denioransasi dan penegakan hak asasi Mahya itu dikctahui sudah lama mengidap
penyakit dalam. Sekian lama. ia bisa bergerak darí satu tempat ke tempat lain, seakan menjadi orang yang tak tersentuh. Sosok seperti itu mengingatkan orang ke tokoh misterius di zaman revolusi, Tan Malaka. Tapi, pemeo "sepan- dai-pandai tupai meloncat akhimya terjatuh juga" berlaku pula untuk Andi Arief. Siksaan Berat Seperti penuturannya kepada tim Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras). pria kelahiran Lampung. 20 No- vember 1970, itu baru saja uba di studio mi- lik kakaknya ketika didatangi orang tak dikenal pada 28 Maret talu. Wakmu itu sekitar pukul 11.00. la disunuh naik mobil Toyota Kijang. Lalu, matanya ditutup dan tangannya diborgol. Di perjalanan, para penculik yang sibuk melapor pakai telepon genggam itu berkali-kali menyuruh dia istigfar dan berdoa saja. Tengah hari, mata Andi dibuka, tapi tangannya tetap diborgol. Ternyata sudab di Pelabuhan Bakauhemi. Di mobil, ia melihat lima pria. Dua dari mereka berambut gon- droog dan tiga orang berambut biasa (bukan cepak), dengan badan yang tinggi dan tegap. Dalam perjalanan, menurut Andi, la sempat memancing keterangan dari ketiga orang yang tak gondrong itu. Temyata, mereka pernah bertugas di Timor Timur dan salah seorangnya baru beberapa pekan selesai pendidikan di lnggris. Mendekati jalan tol Kebunjeruk, Jakarta, mata Andi kembali dibebat. Pukul 18.00. mereka tiba di tempat tujuan dan masuk ke sebuah ruangan besar. Di sanalah selama 10 bani lulusan Jurasan Ilmu Pemenntahan Fa- kultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univer- sitas Gadjah Mada (UGM) itu dinterogasi betkali-kali. Kecuali ketika menjawab penta- nyaan, mata Andi tetap ditutup. Ketika matanya dibuka, ia hanya bolch melihat ke de- pan. la dikawal bergantian dan dinterogasi olet orang yang berbeda. Sekali dua, ia mendengar jeritan di ruang lain; juga suara te- rompet tanda berkumpul. Pada 6 Apnl, ia dikeluarkan dari ruangan besar. Dikawal tiga orang, ia dibawa ke ruang bawah. Waktu masuk nuangan, ter- dengar musik yang disetel kelewat kencang. la dimasukkan ke sel dan matanya dibuka. Sel itu berukuran sekitar dua meter kali dua setengah meter dan punya bak mand serta jamban, Pukul 22.00. suara radio tak ter- dengar lagi, Lalu, ia mendengar suata orang- oranig berdoa di sebelahhya. Dengan bertiati- hati, menghindari pantauan kamera yang tetpasang di setiap sel, Andi bertanya siapa meteka, Ternyata yang di kanannya adatah Faisol Reza. mahasiswa Fakułtas Filsafat UGM. Kedua sahabat itu amat terperanjat. Dua orang yang laio adalah Haryanto Taslam D&R, 9 Mei 1998
LIPUTAN UTAMA
Komandan Korps Reserse
Mabes Polri Mayjen
Nurfaizi mengatakan:
"Kadang-kadang, anggota
kami yang di lapangan
telat lapor. Tapi, enggak
apa-apalah, nanti kami pertanggungjawabkan, silakan praperadilankan
kami. Tapi, jangan sampai
orang yang kami tangkap
akhirnya jādi pahlawan.
dan Rahardjo Waluyo Djati. Yang terakhir khusus, yang terdini dari anggota reserse mo- ini adalah mahasiswa Fakultas Sastra UGM. bil dari Mabes Polri dan Polda Metro Jaya sobat Andi juga. Timimi bergerak di selunuh Indonesia, berda-Andi Arief tak banyak bercakap dengan sarkan petä milik PRD yang ditemukan. Taslam. Tapi, sempat bertanya di mana Orang-orang yang menjemput Andi akivis PDI-Megawaù itu "diambil”. Ter-Arief temasuk ke dalam tim khusus itu. "Ya, nyata, Taslam digaruk di Taman Mini, Ja-mereka anggota saya," kata Nurfaizi, "tang- karta Timur, setelah mobilnya ditabrak dulu. gal 28 Maret, kami menangkap Andi Arief. Dari Reza, Andi tahu bahwa Pius dan Di-Setelah terbukti dalar pemeriksaan kami. rektur Lembaga Bantuan Hukum Nusantara tanggal 29 Maret, dia ditahan." Jakarta, Desmon J. Mahesa, telah dibebaskan sebelum dirinya tiba. Faisol Reza dan Walu-urfaizi menyebut dirinya mengeta yo Djati ternyata mengalami siksaan berat hui penangkapan Andi pada 28 untuk menunjukkan keberadaan Andi Anef. Maret inu juga. "Cuma, memang sa Pada 15 April. Taslam dibebaskan. Be-lya tidak mengungkapkan kepada sok malamnya, Andi dibawa ke luar. Dengan Anda. Ada yang bisa kami buka, ada yang mata tertutup dan tangan diborgol, ia dibawa kami tutup," katanya kepada wartawan. pergi naik mobil berpenyejuk. Pukul 01.00. Tampaknya,bukan wartawan saja yang tidak la sudah berada di penjara Bagian Reserse tahu. Kepala Polri Jenderal Dibyo Widodo Markas Besar Kepolisian RI (Mabes Polri). pun ketika beberapa kali diminta tanggapan-Di sana, ia diisolasi tiga hari. Pada 23 April. nya oleh wartawan menyatakan tidak tahu- menaħu tentang hilangnya Andi Arief. ia dipertemukan dengan pengacara serta ka- kaknya; dan besoknya dipindahkan ke Kepo-Komandan Korps Reserse Mabes Polri lisian Daerah (Polda) Metro Jaya. Mayjen Nurfaizi mengatakan sudah mengi- rmkan surat pemberitahuan kepada pihak Tak Punya Fasilitas keluarga Andi. Mengenai keterlambatannya, Namun, Komandan Korps Reserse Ma-dengan enteng, ja mengatakan: "Kadang-ka- bes Poln Mayor Jenderal Nurfaizi memban-dang, anggota kami yang di lapangan tela: tah tutran Andi Arief kepada tim Kontras lapor. Tapi, enggak apa-apalah, nant kani iu. Nurfaizi menegaskan, anak buahnyalah pertanggungjawabkan, silakan praperadilan- yang telah menangkap Andi Anef. Bukan kan kamm. Tapi, jangan sampai orang yang sp-siapa Ceritanya, menur dia. pihak-kami tangkap akhirnya jadi pahlawan." Andi oya selama ini telah memantau organisasi Arief, menurut dia, sebenamya sudah diincar sejak Peristiwa 27 Juli 1996. Jadi, udak saja
PRD yang kegiatannya berkaitan dengan
sejumlah teror. Untuk itu ia membentuk tm karena kasus Rumah Susun Tanahtinggi, Ja- D&R, 9 Mci 1998
KELUARGA ANDI ARIEF DI KOMNAS HAM. Yakin Polri mengetahui siapa penculiknya.
karta, 18 Januari 1998. Andi Arief kimi resmi jadi tersangka, bersama Agus Priyono alias Jabo yang saat ini masih meodekam di Polda Metro Jaya. Mereka terkait dalam kasus meledaknya bom rakitan di Rumah Susun Tanahtinggi. ”Andi Arief, bersama lima aktivis yang lain, terkait langsung dengan peledakan bom di Tanahtinggi. Itu dapat terfihat dari luka-luka akibat ledakan di tangan kanannya." kata Kepala Dinas Penerangan Poln Bigadir Jenderal Da’i Bachtiar. Lima tersangka lain yang masib diburu adalah Conny Fraisir, Prayogo alias Narindro, Margiono alias Mahmiud, Suyat, dan Daniel Indra Kusuma. Nurfaizi juga membantah pengakuan Andi Arief dan Pius Lustrilanang bahwa mereka disekap di tempat yang sama dengan aktivis lain, termasuk Herman Hermawan. Faisol Reza, Haryanto Taslam, Rahardjo Walnyo Jati. "Enggak ada tuh, dia enggak ngomong begitu," katanya. Dia yang dimak- sud adalah Andi Arief. Yang pasti, kata Nurfaizi, "Sejak tanggal 28 Maret, Andi Arief berada di tangan kami. Pengacara Andi Arief, Munir, tak yakin kalau kepolisian yang menjemput dan me- nyimpan Andi. Selain tak punya fastlitas se- perti yang digambarkan Andi itu, polisi juga tak bisa bergerak sedahsyat itu, ujar dia. Andi Arief sendiri tak mempercayai keterangan Nurfaizi tersebut. Yang pastí, kepada peng- acaranya, ia mengatakan dirinya yakin bahwa Poln mengetahui siapa penculik yang sebenarnya. Laporan Ondy A. Saputra
LIPUTAN UTAMA
Pius, Haryanto Taslam
v Andi Arief, 27 tabun Ketua Solidantas Mabasiswa Indonesta untuk Denokrasi (SMID), diculik pada pukul 10.30, tanggal 28 Maret, di rumah- toko penyewaan alat musik milik salab seorang kakaknya di Way Halimn. Bandarlampung. La dikabarkan ada di tahanan Markas Besar Polrı, sejak 17 April. Cara penangkapan: Dilakukan oleh dua orang berpakaian preman. Ditodong pis- tof dan diborgol kemudian dipaksa masuk ke dalam mobil. Di- pakaikan topeng dan matanya langsung ditutup. meskipun semput dibuka dalam perjalanan dar Pelabuhan Bakaheuni hingga pin- tu masuk Tol Kebonjeruk, Jakarta. Selama perjalanan, Andi disuruh istigfar. Kendaraan yang digumakan: Tiga buah mobil Toyota Kijang yang berisi sejumlah anggota penculik lainnya. Nomor polisi mobil yang ditumpangi Andi di- ganti di tengah perjalanan. Ciri-ciri penculik: Semuanya berpakaian preman, dua di antaranya berambut gondrong sedangkan yang lain dengan tambut tercukur mpi Salah satu dan üiga orang yang rambutnya tercukur rapi me ngaku pemah di Timor Timur. Salah satu dan kelima orang tersebut juga mengaku baru beberapa pekan pulang dani Inggris. Jumlah penculik: Di dalami mohil yang ditumpangi Andi, ada lima orang. Teknik interogasi/penyiksaan: Selama 10 hari sejak kedatangannya, Andi dünterogasi dengan tangan tetap diborgol-dua buah borgul satuuntuk ungan. yang sau dkaitkan ke kursidan mata ditmtup. Setiap mengawali interogasi selalu disertai dengan ancaman, "Hidup dan mat ada di tangan Tuhan, tapi Tuhan dapat mencabut nyawamu lewat tangan saya, mengerti?" Pertanyaan yang diajukan suat interogusi: Hubungan Partat Rakyat Demokratk (PRD)-SMID de ngan Benny Moendani, Megawau. Gus Dur. Sofyan Wanandi. # Hubungan pribadinya dengan Amen Rais. Struktur dai penknaan PRD. Apakah kenál dengan Hermawan, Rahurdjo Waluyo Djat dan Faisal Reza Perkiraan tempat penyekapan: Sebuah bangunan di sekitar Jakarta, memiliki ruang perte- muun yang cukup luas Di lantar bawah terdapat sel-sel berukuran 2 x 2.5 meter. Sel di sebelah kanan Andi temyata diisi oleh Faisal Reza. Di sebelah Reza adalah selnya Haryanto Taslamdkandiscbelah sel Taslam addah selnya Waluyo Djati. Dugaan pelaku penculikan: Bukan satuan kepolisian. Cara pelepasan: Tanggal 16 April, pukul 23.00. Andi dibawa keluar dari tempat pemyekapan dan dinaikkan ke sebuah mobil ber-AC. Di tengah jalan mobid bertenti, ia dipmdahkan ke mobil lain berbahan bakar solar. Satu setengah jam kemudian ia sudab berada di kantor Mabes Polri. Matanya ditutup dan tangan diborgol. Pada tanggal 22 April Letan Kolonel Polisi Labis, Wakil Direktur Serse Umum Mabes Polri, menelepon keluarga dan pengacara Andi (Munir dari Yayasan Lembaga Babtuan Hukum Indonesia) bahwa Andi Aref ada di tangan mercka. Ancaman: Belum diungkapkan.
e Desmond Junaedi Mahesa Umur 33 tahun, Direktur Lembaga Bantuan Hukum Nusantara cabang Jakarta. Dibentakanhilang sejak 3 Febnuari 1998 dan muncul di rumah orang ttanya di Banjammasin, Kalimantan Selatan, Ia ditangkap penculiknya di depan kantor Genakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKl) di Jalan Salemba, Jakatta pada pukul 15. 10. Cara penangkapan: Serombongan orang tak dikenal mendatanginya ketika ia akan menunggalkan kantor GMKl. Mereka langsung memaksa Desmond naik ke mobil yang sudah menunggu. Di dalam kendaraan langsung mata Desmon dititup kain hitam.
Kendaruan yang digunakan: Mobil, tak ingat jemis dan mereknya. Ciri-ciri penculik: Berpakaian preman. semuanya menggunakan kacamata hitam.
Jumlah penculik: Lima oráng. Teknik interogasi/penyiksaan: Duterogasi dengan keadaan mata ditutup, hanya dilakukan pada malam hart, berlangsung sekitar satu setengal sampai dua jam setiap harinya. Hanya saat uidur saja (masuk kamar) penutup mata dilepas.
Pertanyaan yang diajukan: Tentang aktivitas Desmond schagai pengacara, soal keteribat- annya dalam duna politik. Interogator membentak bila Desmond merjawab "tidak tahu"
Perkiraan tempat penyekapan: Masih di sekitar Jakarta. Merupakan bangunan yang besat, permanen, dan sepi.
Dugaan pelaku penculikan: Tidak bisa mengenali. Cara pelepasan: Jumat. 3 April 1998. sekitar pukul 11.00, ta diajak naik ke mobil, memnggalkan bangunan tempat penyekapan dengan wajah ditmp kain hitam. Setelah mengendarai mobd beberapa jam. ia ditunmkan sekitar [00 meter dari Temmunal F Bandara Cengkareng. Seseomng dan penyckapnya memberikan uiket Garuda jurusan Banjamasin dengan jam keberangkatan 14.25 atas nama Fahmu. Tiba di Bandara Syamsuddin Noot, Banjamasin. pukul 16.00 dan langsung melapor ke Polist Resor Kota Banjarnasin. kemudian pulang ke mumah. Ancamnan: Belum diungkapkan.
D&R.9 Mci 1998
LIPUTANUTAMA
Desmond, dan Andi Arief
e Pius Lustrilanang Usia 30 tahun, Sekjen Aliansi Demokrasi Rakyat tAldera) dan Sekjen Solidaritas Indonesia untuk Amnen dan Mega (Siaga). Dia diculik pada 2 Februan 1998, sektar pukul 15. 30 di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Dilepaskan 2 Aprt 1998. Cara penangkapan: Dilakukao di jalan, dengan ditodong pistol Lalu dipaksa masuk ke dalam mobil dan diborgol Matanya dittup dengan kain hitam dan kepafanya ditutup dengan jaket. Jumlah penculik lima urang.
Kendaraan penculik: Toyota Twm Cam wama abu abu. Ciri-ciri penculik (dan penyekap): Menggunakan penutup kepala ala ninja dan memakai jas hujan besar yang menyembunyikan wajah dan postur tubuh mereka.
Jumlah penyckap: Sendaknya 15 orang. Teknik interogasi/penyiksaan: Cara interogus/penyiksaan: Dipukuli, duendam dibak mandi, dan dimjak-ijak kepalanya. @Disetrum. "Peristiwa yang saya alami adalah sangat bertentangan dengan Pancasila." kata Taslam tentang yang ie alami selama penculikan dan penyekapan. Menurut Pius, selama di dalam penyckapan, Haryanto sama sekali tidak diapa-apakan, selain diborgol. Pertunyaan yang diajukan datam interogasi: Mengapa Aldera dan Siaga menolak pencalonan kembali Pre siden Socharto. Mengapa mencalonkan Amien Rais dan Meguwati. Apa perjanjian yang dibuat dengan Amien dan Megawati. Perkiraan tempat penyekapan: "Langsung ke Bogor." kata penculik. Kemngkinan melewati Jalan Tol Jagorawi. sckitar 20 ment. Mungkin di sekitar Cibubur atau sedikit di luar Jakarta. Dugaan pelaku penculikan: Pias tak yakmn mereka kelompok krminal atau mafia. @ Si penyckap sering menanyakan, memurut Pius, siapa mercka. Tapt, Pius lebih suka diam, dan para penyekap tertawa. Tapi, bila dijawab mercka "BIA atau Kopassus", para penanya diam. Cara pelepasan: Dan tempat penyekapan dibewa ke Bandar Udara Cengkareng dan dikawal olch empat-lima orang dan diberi tiket untuk ke Palembang (rumah orang tanya)."Jamgan libat ke belakang atau saya tembak." kata penculiknya Ancaman: Kadat sampai menceritakan aksi penculikan dan penyckapan ákan diburu di mana pun ta berada dan akan dibunuh. Begitu sampai di Palembang, ia Selalu dikontroł olch penelepon gelap untuk memastikan ta tetap berada di tempat, dan Mengecck apa saja kegiatanya. D&0C9Ma 1998
2 Haryanto Taslam Berusia 44 tatiun, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi lndonesia (PDI) versi Munas 1993 atau dikenal juga DPP PII Perjuangan atau DPP PDI Megawat. Diketahui hilang pada tanggal 8 Maret 1998, namun kemudian muncul di sebuab hotel di Surabaya pada tanggal 16April 1998 Cara penangkapan: Beberapa orang terlihat mondar-mandir di depan rumatnya sebehum Haryanto meninggalkan rumah. Setelah ia meninggalkan rumal, seseorang tak dikenal mendatangi rumah tersebut dan mengatakan mngin menyampaikan surat buat Haryanto. Pada bari yang saana pula, kerika Haryunto sedang mengen- darai mobilnya, sebuah mobil menabrak kendaraan yang dike- maudikannya di sekitar Taman Mim Indonesia Indah, Jakarta Ti. mur. Pengendara mobil penabrak kemudian trun dan meno- dongkan pistol dan menculiknya.
Pertanynan saat interogusi: Berkisar aktivitasnya bersama DPP PDI Megawat
Cara pelepasan: Belum terungkap jelas. Namun, ma memberitahukan kebera- daanya kepada temannya, Soetjipto, Kema DPD PDl Jawa Timur versi Munas, pada tanggal 16 Aput Saatiu ra mengiap di Hotel Satelit yang terletak di Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya. Berdasarkan anfomasi lan, Haryanto diketahui dikeluarkan dari tempat penyckapan di sekitar Jakarta pada tanggal 15 April. Ancaman: Belum diungkapkan.