10 KILAS BALIK KERUSUHAN
EPISODE
KERUSUHAN
1998
AMUK SARA BI EMPAT KOTA NOVEMBER-DESEMBER Kerusuhan beraroma SARA bermula dari Ketapang, Jakarta. Gerombolan orang Ambon menghajar seorang warga, memecah- kan kaca jendela masjid. Massa pun merusak dan membakar tiga gereja. 13 orang tewas dan 8 orang luka-luka. Kerusuhan Ketapang dibalas di Kupang, NTT. Acara perkabungan massal jadi amuk massa. 15 masjid dan 142 rumah penduduk dirusak dan dibakar. Rusuh itu dibalas di Ciamis, Jawa Barat. Gereja Pantekos- ta-Bethel dirusak. Lalu, massa membakar Gereja Katolik di Ujungpandang, Sulawesi Selatan.
Almanak Indonesia 1998
penuh kekerasan dan
kerusuhan. Ribuan bangunan
hangus terbakar, ribuan orang
luka-luka, ratusan jiwa
melayang, dan darah pun
mengalir di mana-mana.
Gara-gara sepi pangan dan
demokrasi. RUSUH SEMBAKO FEBRUARI Naiknya harga sembako, rakyat jadi mudah naik pitam. Se- bab, mereka sulit memperolehnya. Sepi pangan itu meletupkan penjarahan dan kerusuhan hampir di seluruh nusantara; Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan NTT. Massa merusak dan membakar pertokoan sembako. Lima orang tewas. MEDAN MEMBARA MEI Mahasiswa IKIP Medan, Sumatera Utara, —menuntut harga sembako turun, bentrok dengan aparat, 4 Mei. Bentrok jadi kerusuhan setelah ditingkahi massa. Tiga hari Medan dan sekitarnya dilanda kerusuhan. Mereka merusak, membakar, dan menjarah pertokoan serta harta milik warga etnis Cina. BARA API DI KEBUMEN SEPTEMBER Awalnya, seorang warga keturunan Tionghoa, Ny. Liestyo- wati di Kebumen, Jawa Tengah, diisukan memukuli Sukiman — pegawai tokonya— Senin (7/9). Teman-teman Sukiman balas dendam. Massa merusak, membakar dan menjarah toko-toko milik warga keturunan. 71 toko, 20 mobil, dan 5 sepeda motor hangus terbakar. PINRANG TERPANGGANG HOVEMBER Di tengah himpitan ekonomi, warga tergiur iming-iming bu- nga besar yang ditawarkan koperasi simpan pinjam CV Buana Sa- wito Jaya dan UD Latimojong di Pinrang-Sulawesi Selatan. Diper- kirakan ratusan miliar rupiah gagal dipertanggungjawabkan pen- gelola praktik mirip operasi YKAM di Jakarta. Mencegah kere- sahan lebih lanjut, Bupati menghentikan praktik simpan pinjam itu. Warga kian marah. Kantor Bupati dan sejumlah kantor pemerintah lainnya dibakar massa. INSIDEN PORSEA NOVEMBER PT Inti Indorayon Utama (IIU) jadi perkara lagi, Masyarakat Porsea, Tapanuli Utara berdemonstrasi menentang berproduksi- nya kembali perusahaan yang dianggap biang pencemaran terse- but. Perlakuan aparat keamanan saat menangani unjuk rasa itu meletupkan kerusuhan Selama emnat hari 711
" Ketika kesenjangan masih berlangsung, gejolak seperti itu (Kerusuhan, Red) secara periodik akan terus terjadi."
Prof. Dr. Juwono Sudarsono (Dikatakan ketika menjabat Wakil Gubernur Lemhanas)
KISANG PERUT
Tahun 1998, penuh operasi di daerah-daerah. Namanya, operasi pasar (OP) beras. Pelakunya; petugas Dolog pemerintah daerah setempat. Sejak pagi-wanita-pria, tua-muda—antre di de- pan sebuah truk hingga sore. Mereka membeli beras OP. Harga- nya murah daripada beras di pasaran. Beras OP sudah didapat. Tapi, muncul masalah baru. Beras itu tak enak dimakan. Nasi jadi keras sehingga susah masuk ke perut. Namun, mereka tak kurang akal. Agar nasi bisa masuk ke perut, beras OP dioplos dengan beras yang kualitasnya lebih baik atau tiwul. "Lebih enak makan tiwul dibanding beras OP," kata Sutiyo, penduduk Gunung Kidul, Yogyakarta. Pada umumnya, mereka tak lagi memikir gizi. "Yang pen- ting, perut ini terisi," ujarnya. Mereka masih beruntung. Bagai- mana dengan nasib mereka yang berada di kantong-kantong ke- miskinan? Jika perut —yang tak kenal kompromi— kosong dan melilit, haruskah dibiarkan? Tentu, tidak. Mereka mencari makanan pengganti beras. Apapun. Demi mengganjal perut. Seperti, keluarga Wagimin, penduduk Urung Kompas, Sumatera Utara. Sabtu, 5 September, malam hari. Perut Wagimin dan keenam anaknya minta diisi. Tapi, beras tak ada. Umbi-umbian tak punya. Apa boleh buat. Sang ayah memunguti biji para (karet). Wanti, anak tertuanya, memasak puluhan biji para itu. Wagimin dan Effendi menyantap hidangan dengan lahap. Kelima anaknya yang lain memilih me- nahan perut dengan menonton televisi di tetangga. Rasa kenyang ayah dan anak berumur empat tahun itu berubah jadi mual dan sa- kit. Dini hari, Effendi tak lagi bernafas. Tewas dengan mulut berbu- ih. Baru kemudian, Wagimin menyusul anaknya. Tragis. Di tengah penderitaan Wagimin, polisi menemukan 340 ton beras ditimbun di Surabaya, Probolinggo, Malang, Jawa Timur, milik A Hok. Polisi pun menggagalkan ribuan ton beras milik Dolog Jaya, Jakarta, mau diselundupkan ke luar negeri. Tokoh-
11 KILAS BALIK KERUSUHAN
INSIDEN SI-MPR NOVEMBER Akhirnya, Sidang Istimewa MPR (SI-MPR), 10-13 November, diwarnai kerusuhan. Esoknya (14/11), ribuan massa di Salemba hingga Senen marah gara-gara tragedi Semanggi. Rakyat benci dan memburu anggota polisi dan AD. Pusat perbelanjaan Atrium Senen dirusak. Api sempat berkobar di Proyek Senen.
NAUDZUBILLAH IAKARTA MEI Menyusul penembakan empat mahasiswa Trisakti, tanggal 13-14 Mei Jakarta diguncang kerusuhan terbesar sepanjang seja- rah Indonesia. Bank-bank dibakar. Ratusan pertokoan dari yang kecil hingga pasar-pasar swalayan dijarah dan dihancurkan. Api berkobar di seluruh penjuru Jakarta. Lebih seribu orang tewas, di Central Klender Plaza saja 300-an orang hangus terpanggang. Termasuk seorang ibu yang tengah hamil. Polisi dan anggota ABRI lain sama sekali tak berdaya. API REFORMASI DI LIMA KOTA MEI Kerusuhan serupa meledak di Solo. Masyarakat yang sehari- hari tampak lembutitu tiba-tiba beringas. Sepanjang Jl. Slamet Ri- yadi —jalan utama— berantakan. Seluruh pusat perbelanjaan lu- mat oleh api. Rumah megah Ketua DPR/MPR Harmoko di Solo Baru rata dengan tanah. Tanaman hiasnya pun habis dicabuti massa. Ratusan orang luka-luka. Kerusuhan yang dipicu oleh pe- ristiwa Jakarta —yang juga dibakar oleh kenaikan harga BBM ser- ta kemarahan mendalam pada Soeharto— itu juga meledak di Su- rabaya, Ujungpandang, hingga Medan. DARAH DI IRIAN JAYA JULI Bendera Bintang Kejora milik Organisasi Papua Merdeka (OPM) berkibar di berbagai kota. Termasuk di gedung DPRD. Ja- era, Biak, Wamena, dan beberapa tempat lain lumpuh karena rusuhan. Di Biak, pelabuhan sempat diduduki massa selama beberapa hari. Darah pun tertumpah, 2 Juli. Massa di berbagi kota bergerak, menuntut pemisahan Irian dari Indonesia jadi Negara Papua Barat. Surat anggota Senat AS pada Presiden Habibie yang dibocorkan dianggap sebagai pemicu. RICUN DIL JULI Pencabutan Daerah Operasi Militer (DOM) di Timor-Timur dan angin reformasi menyulut kericuhan separatis di Dili. Massa anti-integrasi menuntut referendum untuk memerdekakan Timor-Timur dari Indonesia. Aksi itu ditentang, massa pro-integrasi. Bentrokan antarkedua kubu tak terelakkan. Massa anti-integrasi sempat merusak kantor Gubernur, kantor DPRD, rumah Bupati Ainaro, dan Walikota Dilli. Ratusan orang terpaksa meng- ungsi keluar Timtim. RUSUH LHOKSEUMAWE AGUSTUS Kebijakan politik militer; DOM di Aceh di masa Soeharto menimbulkan dendam di masyarakat. Presiden Habibie dan Pangab Jenderal Wiranto minta maaf setelah mencabutnya. ABRI ditarik dari DOM, 31 Agustus. Ketika itu, pecah kerusuhan ber- bau separatis hingga 1 September. Ratusan toko dirusak dan isi- nya dikeluarkan lalu dibakar. Ujung-ujungya, mereka menuntut Aceh Merdeka.
ADIL
"Kalau suhu politik memanas, para perusuh sudah siap. Kalau sudah terbukti begini, masyarakat susah, ABRI juga capek."
Jenderal Wiranto, Pangab
LENEPUS VIVIAN Pro-kontra soal perkosaan tampaknya sudah final. Menses-
neg Akbar Tandjung mengumumkan tak ada perkosaan massal yang dilakukan secara sistematis oleh sekelompok orang terten- tu, Senin (21/12) lalu. Namun pemerintah mengakui, ada perkosaan ketika pecah kerusuhan 13-15 Mei silam. Pengumuman itu, resmi analisis tim pemerintah. Bukan pen- jelasan TGPF. "TGPF membuat laporan, pemerintah membentuk tim untuk menganalis hasil temuannya. Inilah hasilnya," ujar Akbar. Hasil analisis tim pemerintah —Mendagri Syarwan Ha- mid, Menhankam/Pangab Jenderal Wiranto, Menperta Tuty Ala- wiah, Menkes Farid A. Moeloek, Menkeh Muladi, Jaksa Agung Andi M. Ghalib, adalah 52 korban perkosaan, 24 korban penye- rangan seksual, dan empat korban pelecehan seksual. Hasil analisis pemerintah kian meneguhkan temuan TGPF. Tim pencari fakta yang diketuai Marzuki Darusman mendengar langsung pengakuan tiga korban perkosaan. Selebihnya, dide- ngar dari sumber kedua baik keluarga maupun saksi mata. Pene- guhan itu menampar temuan Tim Relawan untuk Kemanusiaan. Seperti diketahui, setelah meledak kerusuhan 13-15 Mei, Tim Relawan untuk Kemanusiaan yang dipimpin Romo Sandyawan melansir perkosaan. Tim Relawan mencatat 117 korban perkosaan, 54 korban penganiayaan seksual, dan 101 korban pelecehan seksual. Mayoritas korban adalah warga Cina. Temuan itu mengundang reaksi yang luar biasa. Apalagi di- tambah kisah Vivian di internet. Seseorang mengaku bernama Vivian bercerita amat deskriptif, detail dan menyentuh; ia meli- hat tetangga dan adiknya diperkosa segerombolan orang. Ia sen- diri jadi korban. Sehingga, ribuan etnis Cina menggelar demons- trasi di Kedubes RI. Polisi mencak-mencak. "Bila buktinya tak ketemu, kami bisa memeriksa mereka dengan tuduhan menyiarkan kabar bohong" kata Kapolri Letjen Pol. Roesmanhadi. Polemik dibedah TGPF dengan hasil temuannya dan diteguhkan analisis pemerintah ter- sebut. Toh begitu, berita perkosaan itu telah menyudutkan Indonesia di mata dunia. Kisah Vivian pun sempat melegenda. tim ADIL