ALIARCHAM
SEDIKIT TENTANG RIWAYAT DAN PERJUANGANNYA
PERHIMPUNAN DOKUMENTASI INDONESIA
KOLOFON
ALIARCHAM
SEDIKIT TENTANG RIWAYAT DAN PERJUANGANNYA
oleh
PERHIMPUNAN DOKUMENTASI INDONESIA
NAALDWIJKSTRAAT 36
1059 GH AMSTERDAM
Penerbit:
Akademi Ilmu Sosial “Aliarcham”
Jakarta 1964
© 2026 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: Koleksi Pribadi Muhammad Reza Magistra
Gambar sampul: Tidak diketahui
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
KATA PENGANTAR
Dalam rangka Peringatan Lustrum I Akademi Ilmu Sosial “Aliarcham” dengan rasa kebanggaan revolusioner kami sadiykan buku keci Aliarcham (Sedikit Tentang Riwayat dan Peryuangannya), sebuah tulisan yang kami terima sebagai sumbangan dari luar—dari Lembaga Sejarah PKI.
Nama Aliarcham yang telah mendiywai dan menghias Akademi kami adalah nama salahseorang perintis kemerdekaan nasional Indonesia, pejuang dan pendiri PKI yang terkenal teguh serta seorang pahlawan nasional dan juga pahlawan proletar yang telah tewas di tempat pembuangan Digul, karena kegihiannya melawan kolonialisme Belanda. Aliarcham adalah tokoh tipikal yang me-wakili angkatan Komunis Indonesia ketika itu.
Bukan orang lain kecuali Presiden Sukarno sendiri yang sering mengetengahkan kepada massa Rakyat tentang kepahlawanan Aliarcham dengan a.l. mensitir sebagian sajak yang pernah tercantum dimakamnya yang terjemahannya dikenal sbb.: “Obor yang dinyalakan di malam gelap-gulita ini, kami serahkan kepada angkatan kemudian”.
Kami yakin bahwa penerbitan buku keci Aliarcham ini tidak hanya akan disambut dengan hangat oleh para mahasiswa Akademi “Aliarcham” dan para kader revolusi lainnya, tetapi juga akan bermanfaat bagi setiap patriot lainnya.
Dengan pernyataan terimakasih yang se-besar-nya kepada Lembaga Sejarah PKI kami mengharap kepada para pembaca untuk memberikan kesan-kesan serta pendapat-pendapat bagi penyempermaan penulisan buku keci Aliarcham ini lebih lanjut.
Penerbit
Akademi Ilmu Sosial “Aliarcham”
Jakarta, 1 Agustus 1964.
KELUARGA ALIARCHAM
KELUARGA ALIARCHAM
MASA MUDA
Aliarcham dilahirkan pada tahun 1901 di Asemlegi, kawedanan Juwana, kabupaten Pati, daerah Semarang. Orang tuanya seorang penghulu dan pemuka agama Islam yang terkemuka di daerah tersebut. Ia mendidik anaknya agar dapat mengikuti jejak penghidupan ayahnya di kemudian hari, dengan memasukkannya ke pesantren. Di samping itu ‘kedudukannya’ yang terkemuka ini memungkinkan baginya untuk memasukkan anaknya bersekolah pada Hollands Inlandse School (H. I. S. , suatu sekolah dasar 7 tahun yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar). Belum banyak yang dapat diketahui tentang masa ketiliyia ini, kecuali keterangan-bahwa ia menempuh sekolahnya hanya dengan memakan waktu 6 tahun dan di dalam klasnya ia selalu merupakan murid yang terpandai dan paling rajin.
Dari guru-guru agamanya, ia menerima ajaran-ajaran Saminisme tentang persamaan dan persaudaraan manusia, tentang gotongroyong dan tiada penindasan, tentang membenci dan melawan penjajah Belanda. Saminisme adalah suatu ajaran kebatinan dengan cita-cita: Sosialisme spontan. Pemimpinnya sendiri Kiyai Samin alias Sorontiko seorang petani dari Blora yang memulai gerakan kebatinannya ini pada tahun 1887, telah ditangkap oleh pemerintah Belanda pada tahun 1907 dan dibuang ke Sawahlunto, Sumatera, dan meninggal di sini pada tahun 1914. Pada awal abad ke-XX Saminisme sangat besar pengaruhnya di daerah Pati. Pada tahun-tahun belasan ternyata masih sangat besar sisa-sisa pengaruhnya bahkan sampai menimbulkan pemberontakan bersenjata 1917 di Rembang. Ketika pemberontakan ini terjadi, Aliarcham sudah menduduki sekolah Kweekschool voor Inlands Onderwiys (Sekolah guru bumiputera) di Ungaran. Ia sangat tertarik pada peristiwa ini dan teringat kembali pada pembicaraan-pembicaraan yang di-dengarnya dari salah seorang teman ayahnya tentang ajar-an-an Kiyai Samin. Ia pelajari keadaan ini dan mengetahui bahwa perlawanau kaum tani Rembang tersebut disebabkan oleh adanya peraturan-peraturan kenaikan pajakbumi baru, larangan pengambilan kayui hutan, pembayaran uang pengganti kewayiban heerendienst (kerja rodi), keharusan menjual ternak, dsb. Pemberontakan ini sangat memberikan pengaruh pada diywa Aliarcham dan mendidiknya untuk membentiki penjajahun Belanda.
Aliarcham sejak ini mulai gemar membaca suratkabar-suratkabar dan majalah-majalah, istimewa yang berisi perlawanan terhadap penjajahun seperti Sinar Hindia yang kemudian berubah menjadi Api, yang membawakan suara Sarekat Islam Merah, Suara Rakyat yang membawakan suara ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereniging = Perhimpunan Sosial Demokratis Hindia), Het Vriye Woord juga membawakan suara ISDV, de Express suara kaum Nasionalis radikal yang dipimpin oleh Dr. Cipto Mangunkusumo dan majalah-majalah organisasi buruh lainnya. Dari pembacaan-pembacaan ini ia mulai berkenalan dengan Sosialisme ilmiah yang dipropagandakan oleh ISDV yang memusatkan kegiatanya di Semarang. Ia menyatikkan dirinya sebagai anggota Sarekat Islam Salatiga yang kemudian berubah menjadi Sarekat Islam Merah. Dengan perantaraan Prapto salahseorang pemimpin SI Merah, Aliarcham berkenalan dengan pemimpin-pemimpin SI dan ISDV seperti Se-maun, Sneevliet. Dengah, Sukendar, dll. Melalui Marxis-Marxis terkenuka pada waktu itu, ia dapat membaca dan mempelajiari lebih jauh tentang Sosialisme ilmu. Ia berkenalan dengan Manifes Partai Komunis dan lain-lain tulisan pemimpin-pemimpin Partai Sosial Demokratis (SDP) Belanda yang kemudian berubah menjadi Partai Komunis Nederland (CPN). Aliarcham mulai mengetahui bahwa pemimpin-pemimpin ISDV yang berkebangsaan Belanda seperti Sneevliet, Bergsma, van Burink, dsb. adalah internasionalis-internasionalis yang dengan kesungguhan hati memihak peryuangan Rakyat Indonesia terhadap penindasan penjajah Belanda. Ia mulai melihat bahwa ada\2 macam Belanda, satu penindas dan yang lain yang menentang penindasan.
Masa sekolah Aliarcham di sekolah Guru Bumiputera adalah masa teryadinya kesulitan-kesulitan ekonomi di Indonesia sebagai akibat perang dunia pertama. Secara langsung pemerintah Belanda tidak terlibat dalam peperangan ini, tetapi secara tak langsung ia juga menerima akibat-akibat dan pengaruhnya. Politik penaikan payak, pembelian dan pengumpulan padi Rakyat secara paksa dengan harga murah, wajib kerja rodi, wajib milisi untuk membela kerayaan Belanda, telah mendorong tumbuhnya pemberontakan-pemberontakan Rakyat di banyak tempat di Indonesia, seperti pemberontakan tani di bawah pimpinan Haji Hasan di Cimareme Garut tahun 1917, pemberontakan Kelambit di Jambi tahun 1917, pemberontakan Sarekat Abang di Palembang tahun 1918, pemberontakan tani di Pontianak Kalimantan Barat tahun 1918, pemberontakan tani di Ternate tahun 1918. Revolusi Sosialis Oktober Besar tahun 1917 di Rusia telah memberikan pengaruh yang sangat besar kepada peryuangan Rakyat Indonesia. Suratkabar-Suratkabar dan majalah-majalah revolusioner memuat peristiwa ini dengan kehangatan sambutan yang luarbiasa. Semua peristiwa ini diikuti dan sangat mempengaruhi fikiran dan diywa Aliarcham yang telah dijaluri oleh semangat revolusioner. Situasi ini sering dibicarakkannya dengan teman-temannya sesekolah, tetapi di samping itu pelajaran sekolahnya tetap ditempuhnya dengan baik. Di antara teman-temannya ada yang ‘menjauh'nya karena takut terlibat dengan soal-soal politik. Ada yang menasehatinya supaya hanya memikirkan pelajaran saja dulu dan sedikit ada yang mengaguminya sebagai seseorang yang berbakat dan mempunyai kecerdasan otak yang ta-jam. Tetapi semua temannya menganggap Aliarcham sebagai sahabatnya yang baik dan judur serta dipertiya, karena ia selaininya seorang yang bersifat sederhana, juga selalu mempunyai kesediaan untuk membantu temaninya yang terbelakang dalam pelajarannya.
Aliarcham sangat mengagumi Sneevliet, salahseorang sosial-demokrat revolusioner Belanda dan pemimpin ISDV yang terkemuka. Pembelaan Sneevliet di muka pengadilan negeri Semarang November 1917 yang dituduh menghasut Rakyat Indonesia membertontak melawan penjadahian Belanda dalam tulisannya menyambat Revolusi Februari Rusia 1917—pembelaan mana setelah dibukukan setebal hampir 300 halaman yang isinya menggugat imperialisme Belanda—dipelajarai oleh Aliarcham dengan teliti dan penuh minat. Dan buku ini sangat membantuya untuk mengenal keadaan Indonesia dari sudut pandangan klas buruh.
Ketika PKI lahir 23 Mei 1920 sebagai kelanjutan dari ISDV. Aliarcham sudah menduduki bangku pendidikan Sekolah Guru Atas (Hogere Kweeckschool) di Purworejo. Peryuangan massa revolusioner yang meningkat tepat di bawah pimpinan proletariat, yang dicerminkan oleh tulisan-tulisan di-suratkabar-suratkabar yang semakin radikal menentang penjadahian, pemogokan-pemogokan serikatburuh, demonstrasi-demonstrasi massa, rapatrumum-rapatrumum massa, pembikoitan-pembikoitan radikal terhadap perayuan-perayuan resmi pemerintah, dsb. telah sangat mempe-ngartui dan membakar semangat perlawanan Aliarcham. Ia melihat “sorga kehidupan” dalam peryuangan massa yang heroik. Dalam kehidupan sehari-sehari di sekolah ia mulai bertindak radikal terhadap gurunya yang berkebangsaan Belanda. Ia berani mengadakan perdebatan dengan gurunya dalam hal matapelajaran sedarah, tetapi ia tetap scorang murid yang terpandai dalam klasnya, istimewa dalam matapelajaran aljabar. Seringkali ia diperingat-kan oleh gurunya agar menghentikan ke“bandel”annya dan kegiatan politiknya, tetapi tidak diperdulikan olehnya. Tahun 1921 ia mencattatkan diri sebagai anggota PKI, di-sampingnya ia masih terus menjadi anggota SI Merah. Ia singat menyecuji kritik-kritik yang diberikan di-suratkabar-suratkabar terhadap kelemahan dan kesalahan-kesalahan politik yang dijalankan oleh golongan kanan SI. Kritik-kritik ini disebarankan kepada teman-teman sekolahnya, di samping itu ia menyebarkan fikiran-fikiran proletariat. Ia mendidikkan ke-pada teman-temannya supaya membenci sikap yang menggiina-kan diri, membungkuk-bungkuk kepada atasan dan kepada Belanda. Ia sendiri memberi conoh kepada teman-teman-nya. Ketika akan memasuki ruangan sekolah, selainnya ucapan salam, ia tidak mau membungkuk-bungkuk. Ke-tika ia sudah dekat akan menempuh uyian terakhir, ia diancam oleh gurunya supaya meninggalkan segala kegiatan propaganda politiknya dan kalau kegiatan-kegiatan itu tidak di-hentikannya maka dia akan diberhentikan dan tidak di-bolehkan mengikut uyian. Teman-Teman sekolahnya mengan-jurkan agar dia menghentikan kegiatannya dulu untuk dapat menempuh uyian terakhir. Tetapi Aliarcham melawan ancamian ini dan diywanya memberontak terhadap penghinaan yang dihamburkan gurunya atas peryuangan Rakyat Indonesia, yang dikatakannya pekerjaan orang-orang bodoh-bodoh, butuhuruf dan pengacau-pengacau ketenteraman masyarakaat dan keamanan pemerintah. Ia menahan kemarahan hatinya. Suatu ketika ia dipanggil dan “dimasehati” oleh guru-kepalanya. Untuk kedua kalinya didengarnya lagi ancamian dan penghinaan serta ejekan yang dilemparkan terhadap peryuangan Rakyat dan nama beberapa pemimpin Rakyat. Ia menahan kegeramanya dan tidak berkata sepatah katu pun. Dan ketika akan meninggalkan ruangan, pintu dihempaskannya menutupnya. Gurukepala kaget, marah, memanggilnya kembali dan berkata, bahwa mulai hari tsb. Aliarcham dikeluarkan dari sekolah. Aliarcham menyambut putusan itu dengan tenang dan dengan ketetapan hati yang teguh ia berkata: “Tuan takkan dapat memataikan semangat peryuangan saya. Saya akan berjung melawan penjadahian Belanda”. Berhenti dari sekolah Aliarcham terus menuyu ke Semarang, ke kantor Pengurus Besar PKI dan SI Merah untuk memulai peng-hidupannya yang baru.
MASA DALAM PERGERAKAN REVOLUSIONER
1922-1925
Aliarcham diusir dari sekolah oleh gurunya pada tahun 1922. Ia memulai pekerjaan politiknya dan menyatukkan dirinya dengan perjuangan Rakyat. Ia mulai aktif memberikan pendidikan Marxisme di kalangan anggota-anggota PKI dan SI Merah. Sebagai seorang yang mempunyai pendidikan guru ia pun menyuruhkan perhatian yang besar di lapangan ini. Dan sebagai seorang intelektui, ia sangat membenci kaum intelektui yang tidak mau tahu dan bermasa-bodoh terhadap nasib Rakyat dan bangsanya yang dihina oleh penjajanan. “Kaum intelektui Indonesia hendaknya merasa malu kepada intelektui klas buruh Belanda seperti Sneevliet yang berjyang untuk kemuliaan Rakyat Indonesia”. demikian kata'nia yang seringkali diulanginyia kepada kaum intelektui. Sebagai seorang yang pernah mendapatkan pendidikan pesantren Islam di masa ketilnya, bahkan pernah memahamkan ajaran-ajaran kebatinan “persamaan dan gotongroyong” dari Saminisme, kini sesudah ia mendapatkan pengetahuan tentang Sosialisme ilmiah, ia mulai membenci pemimpin-pemimpin yang berkedok agama tapi melakukan politik “kolaborasi dengan pemerintahan jajan untuk mendapatkan kursi Volksraad. Ketika pertentangan antara SI Putih dan SI Merah dalam SI semakin mendalam dan bertambah tajam dalam menentukan garis perjuangan yang harus dilakukan terhadap penjajan Balanda dan sesudah kongres SI tahun 1922 melakukan tindakan ”partai disiplin“ terhadap anggota'nia yang memasuki PKI, maka Aliarcham dalam satu konferensi gabungan PKI dan SI Merah bulan Maret 1923 di Bandung, mengusulkan agar nama SI Merah diubah menjadi Sarekat Rakyat, dengan tujuan untuk dapat menarik garis pemisah yang tegas antara yang putih dengan yang merah. Usulna ini diterima dengan suara bulat. Sejak ini Sarekat Rakyat atau yang lebih dikonal dengan singkatan SR saja, dengan ceapat tersebar terutama di seluruh Jawa. SR sangat ceapat populer di kalangan Rakyat dan ia segera mendapatkan karakter massanyia yang luas. Konferensi Maret 1923 ini memilih Aliarcham sebagai ketuaanya dan prabidinya segera menjadi tokoh yang menjiwai kehidupan SR selandiyutnya. Konferensi Bandung ini sangat penting artinya bagi per-
, kembangan pekerjaan politik Aliarcham. Di sini ia memaduykan beberapa fikiran a.l. sbb.:
“Ada kaum intelektui yang tidak suka syampur dengan pergerakan kita karena merasa malu, tetapi mereka juga akan berhubungan dengan yihak sana diyuga tidak laku, paling3 diyadi orang suruhan. Jadinya lalu berdiri diyadi klas menengah. Tapi kita kaum intelektui proletar berjyang untuk mendirkiti kulur baru,” di mana tidak terjadi orang minum darah orang lain. Dari sekarang pendidikan harus dimulai dari sekolah rendahan. Kita harus banyak membangun sekolah untuk anak8 Rakyat kita. Di-sekolah ini bukannya mengajar orang takut sama pemerintah tapi mendidik rasa merdeka dan rasa berkumpul dan nafsu berjyang melawan pemerintahan“.
(sk. “Sinar Hindia” 28-3-1923)
Tahun 1923 adalah tahun mulai pasang naiknya perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia, ditiriyi oleh pemogokan-pemogokan besar buruh kereta-api bulan Mei, yang disertai oleh penangkapan-penangkapan besar atas pemimpin-pemimpin buruh berdasarkan art. 161 bis yang melarang pemogokan dan sangat menggekang kemerdekaan berserikat dan berkumpul. Di samping pemogokan terjadi pula pelemparan-pelemparan granat ke rumah pembesar-pembesar Belanda dan pemboikotan terhadap perayaan-perayaan resmi pemerintah yang memuliakan ke-rajaan. Atas bernacam-macam peristiwa ini, pemerintah kolonial mencurigai pemimpin-pemimpin PKI dan SR sebagai biang-keladiyinya. Banyak yang ditangkapi antara lain K. H. Misbach.
Aliarcham, yang sejak keluarinya dari sekolah selalu diikuti sepak-terjanginya, tidak lepas dari kecuringa pemerintah, tetapi untuk menangkapna pemerintah ketiadaan alasan dan bukti. Dan ini baru diperdapatna, ketika Aliarcham dikenakan pelanggaran bicara dalam satu rapat umum SR di Semarang tanggal 7 Oktober 1923. Semula, dalam bulan Mei Aliarcham sudah akan ditangkap karena kegiataninya berpropaganda dan mengorganisasi secara rahasia persiapan pemogokan buruh kereta-api di daerah
Jawa Timur yang dipusatkan di Surabaya, tetapi tidak jadi dilaksanakan. Sesudah rapat umum Semarang tersebut di atas, ia ditangkap pada tanggal 20 Oktober 1923. Tuduhan yang didiyatuhkan kepadaany adalah melakukan penghinaan terhadap alat-alat negara pamongpraja yang melakukan tugasnya. Dalam rapatunum itu Aliarcham mengatakan:
“Pergerakan buruh tidak dibikin-bikin tetapi timbul sendiri dari penindasan. Filah reaksi berkata, yang orang Jawa bodoh dan sabarhati. Ssk Belanda menghinna kita dan pandang kita seperti binatang yang menurut saja buat dikerjakan. Di mana ada penindasan distiu timbul satu pergerakan yang hendak menghilangkan penindasan itu. Kemayuan kapitalisme membulan pergerakannia ISDV yang sekarang sudah ganti nama diyadi PKI, yaitu perhimpunan yang melawan kapitalisme. Sedang Budi Utomo memuntut baiknya pelajaran saja tapi apa guna-guna nyia pelajaran diika perut kosong?
“Bom-boman yang terjadi iutlah buahnya hati panas. Orang yang mengebom Gouverneur Generaal Fock tentu mempunyai sebab, karena merasa terdepyit. Pada pesta Raja di Semarang terjadi juga pelemparan bom, pertanda telah timbul keberanian didada orang, menyatakan kemarahannia dan protes atas pesia yang diadakan waktu kemiskinan Rakyat itu.
“Kita memberi ingat bahwa kaum buruh tidak bisa dirintangi kemajuannia dan nasib yang jelek membawa dia kekemajuan. Kaum ambienar tidak meraportkan keadaan Rakyat yang sesungguhnya. Ia takut kalau keadaan Rakyat dinyatakan jelek, ia tidak dapat mendapatkan kenaikan pangkat. Kaum priayi kita namakan TOGOG. Yang harus memperbaikkan penghidupan Rakyat harus Rakyat sendiri. Untuk ini perlu kemerdekaan. Kalau musuh bisa menahan angin, mereka baru bisa bikin mati pergerakan kita”.
(sk. “Sinar Hindia” 8-10-1923)
Dalam tahanan Aliarcham bertemu dengan kawan-kawannyia yang telah lebih dahulu ditangkap karena pelanggaran atas artikel 161 bis, yang dikeluarkan pada bulan Januari 1922, yaitu Budisuciro, Partondo, Ambiyah, Suradi, Sam-si, Sumantri, Sundoro, Rabiyah, Ngadino, Brotosewoyo dll. Di beberapa tempat lainnya di Indonesia, di Solo, Semarang, Padangpanjang dan Bukittinggi, pemerintah Belanda juga telah melakukan penangkapan-penangkapan al. terhadap Haji Misbach, Marsudi, Haji Dt. Batuah, Natar Zainuddin, Dengah, Gondoyuwono, dsb. Di luar penjara, kawan-kawan sepertai terus mengadakan gerakan solidaritet uang buat membantu para keluarga yang ditinggalkan.
Tanggal 28 Maret 1924 pengadilan negeri Semarang yang pada bulan November tahun 1917 juga telah meng-adili Sneevliet, telah menjatuhkan hukuman penjara 4 bulan kepada Aliarcham. Dalam jalaninya sidang pengadilan terjadi soaljawab yang hangat antara pesakitan dengan ketua pengadilan. Aliarcham dapat menangkis tuduhan-tuduhan yang menyatakan bahwa dia adalah biangkeladi pemogokan, penggranatan, dan pembikoitap perayaa resmi pemerintah. Dengan kepala yang tegak dan dengan suara yang meyakinkan, ia mengatakan bahwa sumber dari segala pemogokan, penggranatan, pembikoitap, tulisan-tulisan yang keras di-suratkabar-suratkabar dan lain-lain tindakan perlawanan Rakyat, adalah pemerintah penjadiah Belanda yang telah mendatangkan kemelaratian dan kepapaan kepada Rakyat Indonesia. “Penjadiah yang harus diganti dengan kemerdekaan sekarang juga”, demikian Aliarcham mene-gaskan. Polisi ber-kali-kali mengetok media, tapi Aliarcham tidak memperdulikannia, dan dia meneruskan pembitiarannia. Ketika menjawab pertanyaan Ketua pengadilan apakah dia memerlukan pembela dan saksi Aliarcham menjawab: “Saya tidak memerlukan pembela dan saksi. Saya akan membela diri saya sendiri dan saksi saya adalah Rakyat yang mengikuti sidang ini”. Jaksas akhirnya menge-jar Aliarcham dari satu fasal pidana saja, yaitu telah melakukan penghinaan kepada alat-alat negara yang menjalan kan pekerjaannia, yaitu para priayi yang dikatakan se-bagai togog.
Di bawah ini dikutipkan ciatatan singkat jalannya sidang pengadilan yang disiarkan oleh sk. “Sinar Hindia” 29-3-1924 sbb.: Aliarcham: umumnya priaiyi bodoh. Voorzitter: apa itu tidak menghina? Aliarcham: Tidak. Itu gandengna kata togog, yaitu yang dalam wayang digambarkan sifatnya orang yang menjadi budak. Budak itu sekarang di-pakai oleh kaum priaiyi. Voorzitter: Apa togog itu penakut yang tak punyai eigen-waarde (hargadiri)? Aliarcham: Ya. Pengadilan memutuskan hukuman 4 bulan dan atas putusan ini Aliarcham naik appcl, tetapi Pengadilan Tinggi memutuskan tambahan hukuman menjadi 6 bulan. Sekelumarnya dari penjara, Aliarcham kembali aktif da-lam perjuangan. Pekerjaan baru harus segera diselesai-kannya yaitu Kongres ke-II PKI yang akan dilangsungkan bulan Yuni 1924 di Jakarta. Kongres ini sangat penting artinya bagi perkembangan sejarah PKI, karena ia ba-nyak mengambil keputusan-keputusan yang menyerimkkan kemadiyu-an gerakan revolusioner pada waktu itu. Antara lain telah diputuskan beberapa perubahan Anggaran Dasar PKI tahun 1920 yang tadinya mengoper Anggaran Dasar ISDV 1914, perubahan kata India di belakang nama PKI menjadi Indonesia, pemindahan kantor pimpinan Central PKI dari Semarang ke Jakarta. Pemindahan ini berarti menyadikan Jakarta sebagai pusat kegiatan revolusioner antikolonialisme. Kongres ini telah memilih Aliarcham sebagai Ketua presidium Kongres dan dengan ketokan-ketokan palunyalah terdiyelma putusan-putusan tersebut tadi. Kongres memilih Winanta sebagai Ketua dan Budi-sucipto sebagai Sekretaris dari pimpinan Central, sedang-kan Aliarcham dan Alimin sebagai Komisaris daerah Jakarta. Pasang naikna gerakan revolusioner menyebabkan pemerintah kolonial semakin kuat menindas ke-bebasan demokratis. Kcadaan ini menyebabkan pimpinan central PKI secara rahasia dipindahkan ke Bandung dan kegiatan revolusioner se-hari-hari di Jakarta langsung di bawah pimpinan Aliarcham dan Alimin. Dalam Kongres ke-II ini Aliarcham menjiwai para pesertanya dengan semangat perjuangan klas yang pantang mundur, di mana antara lain ia mengatakan: “Pen-jajah tidak dengan suka hatinya sendiri menyeraikan diri kepada kaum Komunis. Kemenangan mesti direbut oleh kaum buruh sendiri. Kemenangan di Rusia memberi keperluyaan kepada kita untuk bisa menang kelak”. Sesudah Kongres ke-II ini, Aliarcham menempuh ke-hidupan baru dengan kawan separtainya yang menjadi juga salahseorang pengurus SR Wanita, yaitu Sukimah. Tadinya Sukimah adalah teman sesekolahanhya di Kweek-school Ungaran yang selalu memberikan minatnya yang besar pada fikiran-fikiran politik Aliarcham, sebagai sesuatu yang dianggapnya asing dan baru samasekali. Ia menga-gumi Aliarcham sebagai pemuda yang diyujur dan cerdas. Mendiawab pertanyaan kawan-kawannya, apakah ia dapat me-langsungkan perkawinannya dengan kehidupan yang serba kekurangan ini, ia mengatakan: “Kitay klas buruh adalah golongan the haves not. Dan saya akan langsungkan per-kawinian ini seperti perkawinian kaum buruh kita yang me-larat itu”. Lima bulan sesudah berlangsungnya Kongres ke-II, pa-da tanggal 29 November 1924 Winanta ditangkap dan di-penjarakan bersama dengan beberapa orang pimpinan central lainnya dan pemimpin daerah. Situasi mendorong untuk diadakannya kembali Kongres untuk memilih pimpinan yang baru dan penyemputaan Komisaris-Komisaris daerah. Kongres ke-III berlangsung dalam bulan Desember 1924 di Yogyakarta. Kongres memilih Sarjono sebagai Ketua menggantikan Winanta. Anggota-Anggota Komisaris ditambah dengan Marjohan untuk Semarang, Prawiro Sarjono untuk Surabaya, Kusno untuk Bandung, Suwarno untuk Solo, H. S. Assor untuk Ternate, Abd. Xarim MS untuk Sumatera Timur/Aceh dan Sutan Said Ali untuk Suma-tera Barat. Kongres ke-III ini juga dijiwai oleh banyak fikiran-fikiran Aliarcham, yang pada pokokna berkisar pada satu per-soalan, yaitu: Pemberontakan untuk merebut kekuasaan politik. Beberapa hari sebelum Kongres berlangsung, sk. Api 17 Desember 1924 menyiarkan sbb.:
“Nalisu untuk kekuasaan atau de wil tot macht inilah yang mulai sekarak harus ditanamkan se-dalam-dalamnya dalam hatt massa buruh dan tani. Pada setiap waktu dan setiap tempat haruslah kita terangkan kepada si buruh dan si tani serta kasta-kasta yang setuju (sympatiser) dengan kita, bahwa pada masa ini perbaikan yang sederhana saja bagi mereka itu sukar amalath dituntut dengan jalan damai. Perbaikan nasib bagi mereka itu hanyalah bisa terdapat dengan sempurna, apabila kekuasaan sudah bisa direbut oleh mereka itu sendiri. Sebelum itu pertiyualah segala harapan.
Oleh sebab itu de wil tot macht harus dirasa betul-betul oleh setiap proletar revolusioner sebagai kehendak akan makan. De wil tot macht harus senantiasa menyala dalam dada setiap kaum pekerya dari segala macam pekerjaan, mulai dari yang melayani arit, cangkul dan palu, hingga yang melayani mesin dan meriam di darat dan di laut, makin hari makin tambah besar, hingga pada waktunya, nyala itu ber-ganui sifat menjadi api besar, yang membinasakan sekalian pertuanan kapital yang menindas“.
Pidato Kongres Aliarcham yang menekankan tentang pentingnya pendidikan “semangat untuk berkuasa kepada massa”, mendapatkan sambutan hangat dari peserta Kongres dan pidatonya dibanjiri oleh interupsi: “Berontak saja... praktische daad... revoluti”. Menjawab interupsi-interupsi ini Aliarcham menekankan, agar pemberontakan jang diper-main-mainkan, dia memerlukan pimpinan dari suatu partai klas buruh yang kuat, sebagai pelopor yang berdiri sendiri dan bebas, tidak boleh ada saingan dari organisasi politik lain yang menduai PKI. PKI harus bersih dari elemen non proletar dan scetengah proletar yang ragu-ragu dan bimbang. Dan untuk bisa memimpin pemberontakan, PKI harus mempunyai disiplin yang kuat. Chusus tentang disiplin ini sk. Api 17 Desember 1924 menyiarkan sebuah artikel sbb.:
“Klas buruh tidak saja harus berdisiplin tetapi ia waji berdisiplin lebih kuat dan lebih keras daripada musuh-nya. Sebab kaum ‘kerdia’ boleh dikata samasekali tidak bersenjata, sedang pembela kapitalisme bersenjata lengkap, mulai dari kaki sampai kerambut. Oleh sebab itu kita Komunisten sebagai pasukan armada kaum kerja yang terkemuka, yang harus mendidik disiplin itu di kalangan angkatan proletar wajiiblah menundukkan diri kita sendiri di bawah disiplin besi.
“Diyanganlah orang ter-gesa-gesa mengatakan: ‘Bagaimana-kah kamu orang Komunis yang senantiasa menentang militarisme, sekarang se-konyong-konyong cinta kepada disiplin, suatu sifat militarisme yang penting’. Disiplin di dalam militer itu artinya menaklukan serdadu-serdadu bagi melakukan perbuatan yang sesungguhnya tidak dikehendaki dan tidak diketahu maksudnya oleh yang menjalankan. Sedang disiplin di dalam Partai kita sendiri berarti menaklukan lid-lid Partai melakukan perbuatan yang benar-benar dikehendaki dan diyakini maksudnya, yakni sekalian putusan-putusan yang diambil di persidangan atau kongres dengan suara yang terbanyak. Disiplin militer memaksu serdadu-serdadu tunduk dengan mem-butu-tuli, sebagai perkakas, tetapi disiplin Partai menyuruh lid-lid Partai memaksu diri sendiri dengan insyaf dan yakin-yakin‘.
Sesudah Aliarcham menekankan tentang arti pentingnya disiplin bagi PKI, maka ia menjelaskan lagi bahwa sebelum pemberontakan dimulai diperlukan terlebih dulu melatih massa dalam aksi ekonomi yang kemudian ditingkatkan kepada aksi-aksi politik. Aksi-Aksi ekonomi berupa pemogokan-pemogokan dari kaum buruh akan dapat menarik dan membangkitkan massa Rakyat banyak ke dalam kehidupan politik. Oleh sebab itu semua tenaga harus dituyukan untuk memperkuat gerakan buruh. Kaum proletar mengenali dirinya sendiri sebagai klas terhisap sesudah ia masuk ke dalam PKI dan dalam pergerakan Rakyat yang sungguh-sungguh memusuhi kaum modal. Pengetahuanya juga meningkat dari persidangan-persidangan, dari pembacaan suratkabar-suratkabar, dari pemilihan-pemilihan perwakilan dan terpenting dari aksi-aksi. PKI adalah tempat belajar kaum tertindas dan terhisap, demikian Aliarcham.
Dalam perlawannany terhadap kaum modal yang bersenjata lengkap itu, kaum proletar tidak boleh mempertayakan pada jumlahnya yang besar saja, tetapi juga pada pengetahuaninya.
Di samping itu kaum proletar harus juga bisa menarik kaum intelektuall kita kepada perjuangan proletar. Dan tentang ini dikatakan oleh Aliarcham dalam Kongres sbb.:
“Dalam waktu kapitalisme tua, maka keadaan ekonomi kemodalani itu di mana-mana sangatlah mendorong intelektuelen kejurusan kesukaran penyarian (economische moeiliykheden) halmana membikin intelektuelen diyadi revolusioneer, Walaupun kerevolutionerannia itu tidak terang beul arah tudiuyannya. Berhubung dengan dorongan ekonomi tadi yang menindas intelektuelen turun dalam tingkat hidup berjajar dengan proletar, lalu banyaklah dianataranya kaum terpelajar itu memperoleh sentiment proletarisch. Dalam keadaan demikian, wajiiblah kaum Komunisten menarik elemen yang begitu masuk ke kalangan pergerakannia, dengan memberi keyakinan kepadaanya, bahwa kemerdekaan dan dunia baru yang sanggup mengharagai kaum intelektuelen semestinya, hanyalah bisa teriyapai dengan klassenstriyd, yang dilakukan oleh kakm proletar terhadap kaum kapital”.‘
Demikianlah Aliarcham dengan fikiran-fikirannya dalam Kongres ke-III PKI, tentang pemberontakan bersenjata di bawah pimpinan proletariat menggulingkan kolonialisme Belanda, tentang pentingnya aksi3 ekonomi dan politik mendahului pemberontakan, tentang pentingnya disiplin dan tenaga intelektuall dalam barisan proletariat.
Sesudah Kongres ini, Aliarcham dan kader-kader penting lainnya terjrun kcdalarn gerakan buruh. Ia pergi ke Surabaya dan memimpin Serikat Buruh Gula. Tengahan pertama tahun 1925 ini mengandung banyak sekali kegiatan-kegiatan buruh, konsolidasi organisasi dan pemogokan-pemogokan yang memberi pukulan kepada pemerintah kolonial. Dengan maksud untuk membendung kemajuan ini dikeluarkanlah artikel 153 bis dan ter tahun 1925 yang sangat terkenal bersifat kareninya itu. Banyak suratkabar-suratkabar revolusioneer gulungtikar, redaksiniya ditangkap dan pemimpin-pemimpin PKI serta gerakan buruh banyak pula yang ditangkap. Aliarcham mendapat inceran istimewa, segala gerak-geriknya diikuti dan se-jumlah kakitangan pemerintah disediakan chusus untuk pekerjana ini. Ber-kali-kali ia dipanggil oleh polisi kolonial dan pemerintah (kontroleur) setempat dan setiap dipanggil ia berdiri dengan kepala yang tegak, ia menunduk hidung pemerintah kolonial sebagai orang yang bersalah dan bertanggungyawab atas kemelaratan penghidupan Rakyat.
Suatu ketika ia datang menemui kontroleur. Belanda memenuhi panggilannia, dengan tetap memakai pakaian Rakyat yang biasa, yang melarat. Pakaian Aliarcham ini menerbitkan kemarahann pada sang kontroleur. Ia memaki-maki dan mengusir Aliarcham keluar ruangan. Aliarcham menjawab makian ini: “Tuan ketakutan kepada Rakyat. Pakaian yang seperti ini terhitung pakaian Rakyat yang terbaik. Dan begitulah kemelaratan Rakyat sekarang”. Kontroleur menjawab: “Kenapa kamu mesti memakai pakaian hitam-hitam begitu?” Aliarcham menyahut lagi: “Saya tidak punya pakaian putih-putih. Itu pakaian buruh halus, buruh ningrat, priyai-priyai yang menjadi togog menjilat gubernemen”. Dengan langkah yang tetap dan tenang Aliarcham meninggalkan kontroleur.
Konferensi Nasional kilat dan bersifat rahasia dari PKI yang direncanakan akan dilangsungkan pada bulan Mei 1925 untuk melawan tindakan provokasi pemerintah kolonial terpaksa ditunda berhubung dengan semakin sempitnya kebebasan bergerak dan sangat keras di-mata-matai oleh pemerintah kolonial. Konferensi diundurkan untuk waktu yang belum dapat ditentukan segera. Pemunduran ini mempengaruhi segala persiapan yang telah dikerjakan untuk itu.
Dalam bulan November 1925 terjadi pemogokan-pemogokan besar dan mehuas di kalangan kaum buruh gula Tanggulangin Jawa Timur, buruh-buruh pertiyetakan, industri metal Braat, pabrik es Ngagel, dsb. yang terdapat di Surabaya. Pemerintah kolonial, sangat ketakutan kalau pemogokan ini akan meluas di seluruh pabrik gula Jawa Timur, kemu-dian bersambung ke Jawa Tengah dan Jawa Barat. Pemerintah mengetahui bahwa organisator penting pemogokan ini adalah Aliarcham. Tanggal 5 Desember Aliarcham bersama dengan sejumlah besar pemimpin buruh lainnya ditangkap, yang pada waktu itu mereka sedang berada di Solo untuk mengikuti kongres OPPI (Organisasi Perguruan dan Pendidikan Indonesia). Akibat penangkapan ini kongres OPPI tidak jadi dilanyutkan.
Selama penahanan ini Aliarcham mendapat siksaan dan ia tidak menjawab sepatah pun pertanyaan8 yang dimayukan kepadayan dalam pembikinan proses verbal. Aliarcham berkata hanya satu kali ketika menyelaskan pendirianya: “Tuan8 sudah mengetahui siapa saya ini. Proses verbal ini dilakukan hanya seyara formil saja, karena toch saya akan dihukum juga”. Tiga minggu sesudah ditangkap keluarlah putusan pemerintah untuk menghukumnya dengan pembuangan ke Merauke di Irian. Pada tanggal 24 Desember, bersama dengan kawan seperyuangannya Marjo Yohan, ia dibawa dengan kapal van der Wiyck ke Irian. Sesaat sebelum kapal berangkat, ia dibolehkan bertemu dengan istriinya Sukimah dan anak lelakinya yang masih keciil. Pertemuan yang mengharukan ini hanya berlangsung beberapa menit dengan pengawalan yang keras. Kawan-Kawannya di luar tidak seorang pun yang dapat berjumpa dengan dia. Ia dikurung dalam satu kurungan sempit. Kepada penjaga-penjaga yang bersenjata lengkap itu, Aliarcham berkata: “Pemerintah kalian sangat ketakutan kepada saya yang tidak bersenjata ini” (Keterangan Kawan Mangkudun Sati).
Tentang pembuangan ini, sk. kolonial “Bataviass Nieuwsblad” 24 Desember 1925 menulis sbb.:
“Aliarcham adalah seorang pemimpin utama dari kaum Komunis Indonesia. Ia adalah tiang penunjangnya. Ia adalah seorang yang sangat patuh pada disiplin dari internasionale ke-III di Moskow. Ia berusaha dengan kekuatan senjata merubuhkan pemerintah Hindia Belanda dan kemudian hendak merubuhkan burjuasi internasional dan mendirikan Republik Sovyet Internasional. Di Indonesia ia mau menyalankan politik Sovyet-Indonesia”.
Demikianlah B. N. yang mencerminkan fikiran pemerintah kolonial sepenuhnya. Tetapi mereka mengungkapkan 2 kenyataan penting, yaitu Aliarcham sebagai patriot yang akan menggugilangkan pemerintah kolonial dan sebagai Komunis ia juga internasionalis yang berduyang untuk masyarakat yang bebas dari segala penghisapan. Mereka juga melihat Aliarcham sebagai tokoh utama yang mau memimpin pemberontakan bersenjata di Indonesia.
Lebih lanjut B. N. 24 Desember 1925 menulis tentang Aliarcham dan PKI sbb.: “Dalam Kongres PKI bulan Juni 1924 dan Desember 1924, diambil putusan-putusan yang sangat dipengaruhi oleh fikiran-fikiran Aliarcham, al. berbunyi:
- mempropagandakan se-giat-giatnya PKI dan SR.
- menyokong segala perkumpulan revolusioner yang bertujuan menyatuhkan pemerintah:
- mendidik kaum buruh untuk tidak takut masuk dalam bui dan berani melakukan pemogokan
- mendirikan sel-sel revolusioner di-perkumpulan-perkumpulan lain
- pemogokan buruh supaya ditingkatkan menjadi aksi boikot terutama di lapangan pengangkutan
- memberikan pendidikan Komunisme kepada pemuda
- memberikan pendidikan revolusioner kepada orang-orang yang mau membikin kacau dan kebakaran-kebakaran
- membikin Partai revolusioner yang terdiri dari grup-grup 10 orang yang berani.
Sebagai akibat putusan-putusan tersebut kini orang-orang yang mengundungi rapat-rapat PKI sudah diberi senjata, kebakaran-kebakaran terjadi di-pabrik-pabrik gula seperti Nganjuk dan sel Komunis sudah terdapat di Tambang Batubara Ombilin dan tambang-tambang minyak“.
Demikianlah B. N. menyarkan “informasi-rahasia” pemerintah kolonial, sesudah Aliarcham ditangkap dan dibuang. Demikian hasil pekerjaan polisi rahasiainya dalam mengikuti perkembangan PKI dan pergerakan buruh, serta pergerakan revolusioner lainnya, tentu saja menurut tanggapan dan pengertian pemerintah kolonial sebagai klas yang berkuasa pada waktu itu yang menentang perjuangan, Rakyat. Dari 8 pokok persoalan yang dikemukakan B. N. itu dapat diketahui, bahwa pribadi atau ketokohan Aliarcham tak dapat dipisahkan dari kegiatan PKI, Sarekat Rakyat dan pergerakan buruh. Ya telah mendidikkan se-mangat keberanian kepada Rakyat melawan pemerintah kolonial, mengutamakan pekeryaanannya di lapangan buruh transpor, pendidikan Komunisme kepada pemuda-pemuda dan pembangunan satu Partai Komunis tipe Lenin yang terdiri dari orang“ yang berani dan militer. Kesimpulan dari keseluruhan pendapat pemerintah kolonial terhadap Aliarcham adalah, bahwa ia adalah tokoh utama yang paling berbahaya dan perlu cetap disingkirkan dari kehidupan politik.
Mari kita lihat bagaimana fikiran Rakyat dan fikiran pers revolusioner tentang penangkapan Aliarcham ini yang bertentangan dengan fikiran pemerintah kolonial. Suratkabar API di Semarang yang terbit akhir Desember 1925 me-nulis sbb.:
“Aliarcham adalah namanya seorang pemimpin kita yang barni3 ini telah diasingkan oleh pemerintahan Hindia Belanda ke Merauke di pulau Nieuw Guinea, yang letaknya di sebelah Timur dari batas tanah jadiyan Belanda. Negeri tersebut sangat tersohor sebagai tempat pembuangan orang-orang yang dianggap oleh pemerintah negeri berdosa besar. Kawan Aliarcham sekarang telah diasingkan dari pergaulannya.
“Kawan muda ini adalah seorang yang sangat tayam ingatan serta otaknya luarbiasa gezondnya. Ketika ia masih duduk dalam bangku sekolah sudah belayar mengetahui tentang ilmu-ilmu yang bersambungan dengan peri pergaulan hidup. Kawan tersebut ketika masih sekolah di Kweek-school Ungaran ada bergaulan rapat dengan Kawan Prapto. Di sana kawan ini setelah mendengar segala uraiannya ten-tang keadaan Rakyat, lalu tidak saja membiarkan hal itu, tetapi ia terus membatai buku-buku dan terus belayar sampai ia pindah kecekolah yang lebih tinggi, yaitu di HKS, tetapi berhubung majunya pergerakan Rakyat yang lantaran ke-miskinan berjalan begitu cepat, maka kawan muda itu sudah tidak tahan lagi menantikan tamatnya pelajaran sekolah guru itu. Kawan muda itu dengan gagah berani menderyunkan dirinya ke dalam pergerakan merah ialah pergerakan yang ia yakin akan bisa menolong dan meng-angkat kesengsaraan Rakyat dari liang, kemiskinan.
“Kawan Ali tidak sekali-kali mempunyai hati kekuatiran, bahwa ia akan mati terlantar atau hidup miskin sama-sekali, karena ia mesti akan dibenci oleh tihak kapitalisten yang sudah memasukkan sistim dalam pelajaran yang ia terima dari sekolah itu. Oleh karena begitu keyakinannya, kawan muda tersebut sejak mulanya keluar dari sekolah sudah mempunyai budi yang begitu mulia. Kawan muda ini selamanya belum pernah mengalami bekerjia pada ka-pitalisten. Padahal diyaka kiranya kawan tersebut suka me-rendahkan dirinya lalu membudak dan menyodorkan ta-ngannya merintih-rinthil pada kapitalisten tak urung Kawan Aliarcham akan naik auto dan makan enak berumah baik. Tetapi dasar Kawan Ali berbudi tinggi dan berhaluan sa-tria teguh memegang kemanusiaannya Kawan Ali tidak sudah berkawan dengan manusia-manusia yang bersifat binatang. Meskipun ia hidup sengsara dan dimususi dari sana-sini, Kawan Ali tetap dalam pendiriannya, lebih baik hantiur ber-sama-sama dengan Rakyat tertimbang menjadi manusia TOGOG yang hanya mengikutti tihak yang menang saja. Tertimbang ia: mati karena pergerakan Rakyat ia lebih baik mati bersama Rakyat. Kawan Ali Meskipun belum puluhan tahun dalam pergerakan Rakyat, tetapi diyasanya besar sekali. Ia seorang muda pandai (terpelajar) yang pertama kali diyadi penganjur dalam pergerakan merah. Kawan Ali mempunyai rasa kewajiiban memimpin Rakyat proletar terutama bangsanya.
“Ya tahu bahwa Rakyat (wong tiyilik) itu tidak dipimpin oleh kaum terpelajar itu, tak adalah orang lain yang akan menyelamatkan mereka. Oleh karena itu ia bergerak memimpin kaum proletar dan hidupnya pun sebagai kaum proletar biasa.
“Kawan Ali dibuang dengan meninggalkan seorang anaknya yang masih kecil dan istrinya. Bagaimanakah be-ratnya orang jadi pembela Rakyat, berpisahan dengan ketiyantannya, tertutup dalam bui enz. tidak perlu dibicarakan lagi di sini. Yang perlu dilukiskan di sini, yaitu rindu dandamnya Rakyat yang dipimpinnya. Mereka kehilangan pemimpinnya yang masih muda dan tertiunta itu. Mereka ditutup yalannya untuk mengejar perbaikan nasibnya. Mereka kehilangan satu pahlawan yang setia, tinggi budi-nya, suci hatinya, tidak takut jerih lelah, fakir dan miskin, sampai menjadi korban. Kawan Ali lebih mementingkan keperluan negeri dan Rakyat daripada keperluan sendiri. Rakyat susah akan dapat pemimpin yang serupa terjang-nya dengan saudara muda ini. Kecerdasannya sangat terpuji. Ia tidak gila hormat lantaran kepadainyannya. Dalam kalangan pergerakan ia tidak ingin dapat kehormatan tinggi. pendek kata kawan muda ini sunyilah daripada caalan-caalan yang boleh disebut dari fikah proletar. Hilangnya kawan muda yang berharga ini. Rakyat Indonesia sebagai kehilangan sebutir koinbur (intun yang terbesar di seluruh dunia). Maka dari itu Rakyat tidak usah menunggu-nunggu datangnya scorang pemimpin yang berbudi sebagai Kawan Ali tersebut, tetapi bergeraklah lipat-ganda menuntut nasib yang makin hari bertambah jelek.
“Kaum terpelajar di Indonesia setelah mendengar atas pembuanganya pahlawan Rakyat yang muda itu, terjun atau tidak dalam pergerakan Rakyat, itulah ada satu kehormatan mereka sendiri.
“Kaum intelektuelen lihatlah ini: ”Siapa lawan siapa kawan?“
Artikel ini linea-receta bertentangan sepenuhnya dengan Batavias Nieuwsblad tersebut di atas tadi. Perbedaan ini wajar karena adanya perbedaan pandangan klas dari 2 kepentingan klas yang tidak dapat didamaikan.
Masa Aliarcham terjun langsung dalam gerakan revolusioner ini sejak ia diusir dari sekolahnya ditempuhnya sangat singkat, banya kira-kira tigasetengah tahun, tetapi masa singkat ini sangat kaya dengan praktiek revolucioner bahkan ia berhasil membikin pemerintah kolonial ketakutan kepadanya dan menganggap lawan utama yang perlu di-singkirkan segera. Secara paksa ia dapat diasingkan te-tapi perjuangan diteruskan oleh kawan-kawannya yang lain.
MASA PEMBUANGAN DIGUL
Tanah pembuangan Digul yang pertama diinjak oleh Aliarcham adalah Merauke, di tempat mana beberapa bulan sebelumnya telah pula dibuang Haji Misbach tokoh Komunis terkemuka di Solo. Di tempat ini Haji Misbach tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Ia diasingkan dari penduduk. Di tempat ini ia peringati sendiri bersama keluarganyna hari kemenangan Revolusi Sosialis Oktober Rusia 1917 dan hari 1 Mei 1926. Di rumah tinggalnya dikibarkanya bendera PKI, merah dengan paluarit. Aliarcham tidak dibolehkan bertemu dengan Haji Misbach, Walaupun dengan keluarganya. Akibat serangan malaria hitam pada tahun 1927 Haji Misbach dan istrinya meninggal di sini dan tinggallah anak-anaknya.
Di Merauke Aliarcham tinggal kira-kira 1 minggu dan ia dipindahkan ke Okaba. Dipembuangan Okaba Aliarcham berada selama kira-kira 1/2 tahun. Ia kemudian dipindahkan lagi ke Tanah Merah, bergabung bersama para buangan lainnya yang dibuang akibat kegagalan pemberontakan November 1926. Tetapi di Tanah Merah ia berada juga tidak lama, kira-kira 3 bulan, karena kemudian dipindahkan lagi ke Gudang Arang; dintegah rawa sebelah bawah Tanah Merah. Setelah tempat yang tak patut didiami manusia ini dibeberkan dalam pers dan kuatnya protes kaum progresif di Volksraad dan Tweede Kamert Belanda serta proletariat Belanda, maka pada bulan Januari 1928, tempat pembuangan dipindahkan ke Tanah Tinggi, diyauh masuk Kepadalaman hutan belantara Digul, di atas Tanah Merah, kira-kira 6 jam perjalanan dengan kapal sungai. Para buangan Tanah Tinggi ini dianggap oleh pemerintah kolonial paling berbahaya dan merupakan biangkeladi pemberontakan. Aliarcham sendiri Walaupun tidak turut serta karena ketidakhadirannya dalam pemberontakan, namun ia digolongkan juga kepada pemberontak-pemberontak tadi, karena ia dianggap sebagai tokoh penting pemberontakan. Ia adalah “gara-gara” pemberontakan.
Nyonya Sukimah beserta anaknya laki-laki bernama Aneksimander pada tahun 1926 mengikut suaminya ke Okaba dan kemudian turut pulu pindah ke Tanah Merah dan Tanah Tinggi. Di sini terdapat kira-kira 170 orang buangan, dengan keluarganya mengalami penderitaan hidup yang berat diderah yang sangat terbelakang dan di mana tempat banyak penyakt malaria tertuna, quartana, dan tropica. Pemerintah kolonial menamakin mereka yang di Tanah Tinggi ini sebagai kaum “onverzoonliyken” yang menolak bekerya diera menerima upah dari pemerintah. Mereka hanya diberi ciatu beras, gabah, ikan asin, garam, minyak kelapa serba sedikit. Untuk menyukupi kebutuhan hidupnya terpaksa harus membuka perladangan, menyari ikan, dsb. Perumahan harus dibikin sendiri dan pemerintah hanya menyadikan sekedar paku dan seng. Para buangan harus memotong pohon-pohon besar, mengarungi rawa, memotongnya menjadi tiang-tiang dan dingding-dingding rumah. Di sinilah terjadi pergulatan untuk hidup dari manusia melawan alam yang jauh melcbih kekuatan manusia. Banyak di antara mereka yang kalah dan tunduk oleh kekuatan rawa dan hutan belantara. Jasmani mereka punah di sini dalam perkelahiannya dengan alam. Dan bila malam telah datang menjelma, mereka berduyang memecahkan kontradiksi di dalam dirinya, antara keputus-asaan dan keteguhan dari pergolakan emosi, perasaan dan fikiran manusia yang tadi- nya telah biasa dengan kehidupan modern dan, yang kini harus disesuaikan dengan kehidupan yang sangat terbelakang. Tanah Tinggi berpagarkan pohon-pohon rakasa dengan hutaninya. Ia adalah penjara alam. Di malam buta yang hitam pekat, ia mehtirhkan kesepian, kekesalan, kenaharan, keharuan dan dendam yang tak kundung padam. Mereka yang berusaha lari dari penjara alam ini, mati ditelan rawa atau yang bersisa dan dapat mencapai perbatasan Irian Timur, ditangkap oleh pemerintah Australia dan dikembalikan lagi kepada pemerintah Belanda untuk menjadi penghuni tanah buangan kembali. Pen-jara alam ini bertujuhan untuk membinasakan para buangan jasmaniah dan rohaniah. Kebanyakan teguh kekuatan rohaniahnya sebagai orang revolusioner, tapi gu- gur karena serangan penyakt tropis yang meradayalela. Pada akhir pembuangan tahun 1947 tinggal kira-kira 25 orang, sedangkan Aliarcham, Marco, Nayoan dsb tewas karena diserang penyakt. Kawan-Kawan Aliarcham lainnya yang masih hidup pada waktu itu, a.l. Mangkudun Sati, Haji Muchlas, Ngadiman Harjosubroto, Rrawiro Mutting, dsb. (keterrangan Kawan Ngadiman Harjosubroto).
Daiam pembuangan yang terasing ini, Aliarcham senantiasa menundukkan kekuatan jiwa dan wataknya. Ia tetap memberikan pimpinan kepada kawan-kawannya. Ia selalu memberikan yontoh sebagai pemimpin yang mempunyai rasa setia-kawan yang tinggi, istimewa dalam saat-saat mempnuh kesulitan hidup. Mengenai derita buangan sebagai akibat kegagalan pemberontakan, Aliarcham mengatakan: “Suatu pemberontak yang mengalami kekalahan adalah tetap dan benar. Kita terima kekalahan ini karena musuh lebih kuat. Kita terima pembuangan ini sebagai satu risiko perjuangan yang kalah. Tidak ada di antara kita yang salah, karena kita beryuang melawan penjayahan. Pemerintah kolonial yang bersalah. Kita harus melawannya, juga di tanah pembuangan ini. Dan persatuan harus terus kita pelihara. Kita harus terus menggunakan waktu pembuangan ini untuk belajar pengetahuan Marxisme dan pengetahuan umum”. (Keterangan Kawan Mangkudun Sati).
Aliarcham sendiri membuktikan segala perkataan-perkataannya ini. Ia terus belajar, juga pengetahuan bahasa. Ia mempunyai semboyan: “Tanpa belajar, tidak mungkin berduyang!”. Dari koran-koran yang sudah sangat terlambat datangnya ia terus mengikut perkembangan politik ditanahair. Perkembangan pesat dari PNI, pembelaan Sukarno di-pengadilan Bandung dan polemik Sukarno dengan Hatta-Syahrih sekitar tahun 1930, diikutinya dengan seksama. Kepada kawan-kawannya, ia pernah berkata: “Sukarno nantiniya akan menjadi seorang pemimpin utama Rakya Indonesia dan Hatta tidak mungkin, karena ia mempunyai kesombongan. Syahrir seorang terpelajar yang lebih Barat daripada Barat“. (Keterangan Kawan Mangkudun Sati).
ALIARCHAM (II) BERSAMA-SAMA KAWAN-KAWAN SEPERJUANGAN DI PEMBUANGAN DIGUL
Dalam kehidupan sehari-sehari, Aliarcham selalu menundukkan setia-kawannya yang tinggi. Ia dapat mengatur kehidupan bersama yang serba kurang itu. Bilamana ia memperoleh sesuatu kiriman dari Jawa berupa buku, makanan, obat'an, pakaian, dsb. selalu dibuka di depan kawan'nya dan dibagikannya kepada yang membutuhkan-nya. Kawan'nya yang sakit selalu dibantunya dan mendapat perhatiannya yang penuh.
Aliarcham juga memikirkan tentang pendidikan dan haridepan anaknya. Istrinya disuruhnya kembali ke Jawa supaya dapat melahirkan anaknya yang kedua, wanita, bernama Muyani. Bulan Yuli 1929, dengan hati yang pilu, bertentangan dengan perasaannya dan atas desakan yang kuat dari suaminya, akhirnya Sukimah terpaksa berangkat dan meninggalkan suaminya dipembuangan.
Tahun demi tahun berjalan terus dipembuangan dan manusianya makin lama makin terbiasa. Hari 1 Mei dan 7 November senantiasa diperingati dengan khidmat. Aliarcham mulai mendapat batuk-batuk dan pada suatu ketika badannya terbaring mengidapkan sakit paru-paru. Makin lama makin parah. Mukanya pucat, badannya semakin kurus dan mata semakin cekung. Melihat keadaannya ini, kawan'nya menjadi cemas dan ber-sama“ mereka menganjurkan dan mendesak supaya dia berobat ke Tanah Merah. Aliarcham menolak karena ia berkeyakinan bahwa pemerintah kolonial tidak akan mengobatinya, tepat akan membunuhnyia karena sangat membentiyinya. Tepat akhirnya dia pergi juga sesudah desakan yang berkali-berkali dari kawan'nya. Tidak lama dia berobat di Tanah Merah dan segera kembali lagi ke Tanah Tinggi. Menjawab pertanyaan kawan'nya tentang kenapa dia tidak terus berobat sampai sembuh, Aliarcham berkata: ”Saya sangat merindukan kawan“. Kalau saya mati biarlah kematian saya di hadapan kawan di sini yang sangat dibenci oleh Belanda ini”. Mendengar jawaban ini, kawan'nya terharu dan menjadi semakin khawatir, mengingat penyakt paru-paru, apalagi berada di Tanah Tinggi tanpa pengobatan, berarti kematian.
Sementara itu, Dr. Schoonhejt yang mengobati Aliarcham di Tanah Merah, memberitahuhan dengan sepuluh surat kepada nyonya Sukimah di Jawa tentang sakit suaminya yang semakin lama semakin parah dan mangan-jurkan agar sang istri kembali ke Digul. “Saya melihat sesuatu yang luarbiasa kuatinya pada diri suami nyonya, yang pendirian politikinya yang tak pernah kendor melawan pemerintah. Dan sebagai manusia, saya sangat menghor-mati akan keteguhan harinya ini”. demikian dokter Schoon-hejt menyatakan kepada nyonya Sukimah.
Nyonya Sukimah segera mengirim surat kepada suami-nya, mengabarkan tentang keginannya hendak kembali ke Tanah Tinggi, membantu merawatnya dalam keadaan sakit yang demikian. Aliarcham menjawab: “Sakit saya hanya sedikit dan kalau kau datang penyakit ini tak-kan sembuh. Dan kau tinggal saja terus di Jawa men-didik anak-anak. Dan saya pasti sembuh”.
Sang istri bertambah gelisah dan sebelum ia sempat mengabarkan tentang kepastian keberangkatannya, ia pun telah menerima kawat tentang kepergian suaminya buat selama-lamanya.
Suat akhir-akhir dari kehidupannya, Aliarcham diantar oleh beberapa kawannya untuk melanjutkan pengobatannya ke Tanah Merah. Ia dipapah oleh kawan-kawannyya menaiki kapal sungai. Kapal berlayur kembali menuyu Tanah Merah, mengilir mengikut arus sungai Digul. Sebentar-Sebentar kapal ter-tegun oleh gangguan pohon-pohon besar yang hanyut dari hulu. Kapal berbelok ke kiri dan ke kanan, mengikut arus sungai yang tak pernah berhenti selama beribu tahun. Di tengah-tengah deru motor yang memecah kesunyan hutan belan-tara Digul ini, Aliarcham menarik nafasnya yang terakhir. Kepergiannya ini disaksikan oleh beberapa kawan-kawannyya yang setia. Scorang patriot besar pergi untuk selama-lamanya. Dalam usia yang sangat muda 32 tahun, ia terpaksa meninggalkan kawan-kawannyya, Rakyatinya, istrinyya dan anak-anak-nya, yang semuannya memerlukan kepribadian pemimpin sebagaimana yang dimilikinya. Ia adalah karang di tengah lautan yang pantang tunduk kepada tofan yang bagai-mana pun bersarnya. Ia mempertahankan keteguhan pendirianyanya sampai nafas yang terakhir. Dan peristiwa ini terjadi pada tanggal 1 Juli 1933.
Aliarcham dikebumikan di Tanah Merah dengan upacara yang sangat sederhana. Di tanah peristirahatannya yang terakhir ini tercantum sebuah sajak dalam bahasa Belanda yang terjemahan beberapa barisnya sbb.: “Obor yang dinyalakan di malam gelap-gulita ini, kami serahkan kepada angkatan kemudian”.
ALIARCHAM PAHLAWAN NASIONAL
Sebagai seorang intelektuil yang mendapatkan pendidikan guru tingkat atas, Aliarcham telah mengintegrasikan dirinya sepenuhnya dengan peryuangan Rakyat melawan kolonialisme. Pada saat kekuasaan kolonial sedang sekokohnyya, ia menundukkan hanya satu jalan untuk ke-merdekaan Indonesia, yaitu pemberontakan bersenjata menggulingkan pemerintah kolonial. Ia mencantang politik berkompromi dan berkooperasi dengan pemerintah ja-jahan.
Pengalaman Revolusi Agustus 1945 sepenuhnya mem-benarkan pendirian Aliarcham.
Ketika ia harus menerima risiko kekalahannya dengan pembuangan dibuntut belantara Digul dan harus menerima pula derita hidup yang sangat berat, ia tetap teguh mem-bela keyakinan politikinya dan pendirianinya yang semula. Ia rela menerima kematianinya daripada harus mengalah kepada musuh. Ia tewas sebagai pahlawan yang gugur da-lam peryuangan dengan senantiasa mempertahankan ke-teguhan pendirianinya yang tak retak walau sebesar rambut dibelah tuduh.
Aliarcham dibuang ke Digul dan tewas di sana, karena ia melawan pemerintah jajihan. Ini berarti ia tewas untuk peryuangan nasional.
Ia adalah seorang Komunis dan sekaligus seorang patriot sejati yang mencintai Rakyat dan tanahairnya, dan ia juga seorang internasionalis yang menganggap perjuangan Rakyat Indonesia tak terpisahkan dari perjuangan Rakyat sedunia untuk pembebasan dari “perbudakan kapital”.
Di sini terjalinlah internasionalisme-proletar dengan patriotismeyna. Ia tidak mungkin menjadi seorang Komunis yang baik, bilamana selainnya internasionalis yang baik, tidak menjadi seorang patriot yang baik.
Sejarah hidupnya telah membuktikan, bahwa ia adalah seorang patriot yang mengabdi sepenuhnya kepada Rakyat dan tanahairnya. Ia adalah seorang pemimpin yang berkepribadian besar. Ia adalah seorang pemimpin yang berwatak kuat. Dan dia adalah seorang Komunis sampai akhir hidupnya.
Tentang “yiiri” unggul kaum Komunis Indonesia ketika itu, yaitu pada masa kanak-kanak PKI, Ketua CC PKI, D. N. Aidit mencenkan sbb.:
“Walaupun Partai pada masa itu rendah taraf teorinya, tetapi Partai telah memiliki tradisi revolusioner dari klas buruh dan Rakyat pekerja kita. Para Kader dan anggota Partai umumnya gagahberani dan memiliki semangat dan watak revolusioner yang sangat tinggi dan kuat. Semangat dan watak kader-kader dan anggota-anggota PKI ketika itu antara lain dinyatakan sbb.:
- Mclawan imperialisme dengan konsekwenn, sehingga dengan demikian telah memperlihatkan patriotisme yang tinggi.
- Menyokong perjuangan Rakyat-Rakyat tertindas tanpa ragu-ragu sehingga dengan demikian telah memperlihatkan internasionalisme proletar yang tinggi.
- Setia membela kepentingan Rakyat pekerja, sehingga dengan demikian berhubungan erat-erat dengan massa Rakyat.
- Pantang mundur dan tidak kenal menyerah dalam menghadapi musuh, rela berkorban, sehingga dengan demikian telah memperlihatkan keberanian dan heroisme revolusioner yang tinggi.
- Tak kenal putus-asap dalam mengalami situasi be-tapa sulit pun, sehingga dengan demikian telah memper-lihatkan keuletan yang luarbiasa.
- Sederhana dan selalu siap membantu Kawan yang kesusahan, sehingga dengan demikian telah memperlihat-kan kesetia-kawanan yang besar“. (DN. Aidit: Jadilah Komunis yang baik dan lebih baik lagi!—Pidato ulang-tahun ke-44 PKI di Surabaya, 23 Mei 1964).
ROMBONGAN DPR-GR YANG DIPIMPIN OLEH NY. LESTARI SUTRASNO, DJOKOSUDJONO DAN SLAMET GINTING BESERTA ANGGOTANYA KETIKA KE IRIAN BARAT MENGUNJUNGI MAKAM ALIARCHAM DAN KAWAN-KAWANNYA DI TANAH MERAH. IKUT SERTA DALAM KUNJUNGAN INI ANGGOTA DPRD-GR TINGKAT I IRIAN BARAT DAN PEMBESAR MILITER SETEMPAT
Aliarcham adalah tokoh tipikal yang mewakili angkat-an Komunis ketika itu.
Ia adalah karang indah yang kini tetap berdiri megah dibatinyi proletariat, Rakyat dan nasion Indonesia. Aliarcham adalah Komunis teladan dan Pahlawan Nasional yang teruji!
PENGHARGAAN TERAKHIR DARI KAWAN-KAWAN SEPERJUANGANNYA
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.