HANTU-HANTU KONTRA SERSAN HARJA
W. S. RENDRA
KOLOFON
HANTU-HANTU KONTRA SERSAN HARJA
oleh
W.S. RENDRA
Dimuat di majalah Varia
107
4 MEI 1960
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Penggiat Buku
Dibagikan oleh: Muhammad Reza Magistra
Ilustrasi sampul: The Symphonic Concert of Skeletons 1943, karya Leopoldo Méndez
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
HANTU-HANTU KONTRA SERSAN HARJA
Perlahan Sersan bangkit, lalu menjawab: “Binatang macam apa kau?”
“Aku bukan binatang!” aum makhluk itu se-keras-kerasnya.
“Aku hantu yang mendiami kamar ini, tahu!”
“Nah makhluk biadab, engkauilah yang harus meninggalkan kamar ini. Mungkin ini memang kamarmu, tetapi aku tak peduli, sekarang kamar ini milikku. Sekarang pergilah dari kamar ini dan jangan lagi mendidihkan darahku!
”Hantu itu berpikir bahwa kata-kata itu adalah kata-kata yang paling sombong yang pernah didengarnya, lalu ia mengaung se-buas-buasnya. Tetapi kemudian ia sedikit panik, ketika dilihatnya kedua manusia itu tenang saja. Malah setiap kali ia membuka mulutnya yang lebar itu, selalu Sersan meng-amat-amatinya dengan awyik. Sersan berpendapat, bahwa mulut yang luar biasa lebarinya itu menarik sekali. Hantu itu mengaum lebih dah-sayat lagi, hingga akhirinya hal itu sangat menjengkelkan hati Sersan. Se-gera Sersan memungut obor menyala dari tangan pelayan dan menyorongkaninya ke muka makhluk itu. Tiba-Tiba makhluk itu lekas-lekas berpaling dan lari pontang-panting melalui jendela. Api obor itu sangat dahsayat baginiya. Ia merasa se-olah-olah neraka telah menyerbunya. Dan setiap hantu takut pada neraka setengah mati. Kemudian Sersan dan pelayan menu-tupi jendela-jendela kamar, lalu berbaring di tempat tidur. (Di kamar itu ada 2 buah tempat tidur kayu ber-ukir-ukir yang sudah tua). Karena lelah, lebih-lebih bagi Sersan, setelah perkelahian itu, mereka lekas-lekas tertidur.
TETAPI antara berapa lama kemudian pelayan terbangun. -Ia mendengar langkah-langkah sepatu yang berat di luar. Ia mengira ada orang bersepatu laras berjalan di luar kamar itu. Segera ia mengintip dari lubang kunci pintu, maka dilihainyalah seorang serdadu Kompeni Belanda kuno berjalan hilir mudik. Kemudian ia membuka pintu, keluar dan menegur: “Hallo!”
Serdadu itu tiba-tiba berpaling kearahnya, lalu menyerengai, giginya putih-putih dan hidungnya rusak. Tiba-Tiba serdadu Belanda itu lenyap. Hilang begitu saja. Pelayan mengangkat bahu lalu kembali ke tempat tidurnya, setelah mengunci pintu kembali, sambil menggerutu: “Bodoh benar, awak sudah mengantuk diajak main sulapan!”
Baru sebentar ia membaringkan dirinya, dilihatnya dilantai muncul anak bayi, yang anehnya sudah dapat berjalan dan ber-lari-lari.
Sulapan lagi, pikir pelayan. Bayi itu bermain ber-lari-larian, sambil ter-klikik-klikik tertawa. Pelayan suka menontonnya, tetapi lama-lama ia mengantuk, lalu tertidur. Malam itu Sersan terjaga sebentar, karena merasa tempat tidurnya di-goyang-goyang orang.
Tetapi ia sudah mengantuk, jadi ia segan melayani kekurangajaran itu, ia tak mempedulikan lagi hal-hal semacam itu. Dan kalau ia sudah tak mempedulikan sesuatu, benar-benar ia tak mempedulikan, Meskipun ada terasa sepasang tangan gaib yang memiji ti seluruh tubuhnya.
Akhirnya datanglah pagi hari. Hantu-Hantu sudah kehilangan kekuatannya, lalu kembaliilah mereka meniduri sarang labah, pojok-pojok suram, ceyah-ceyah tembok dsb. Sersan dan pelayannya menyuci muka (mereka jarang mandi), lalu pergi kekota, akan menghadap walikota.
Di sepanjang jaian mereka di-elu-elukan orang banyak, yang sangat kagum menguva mereka masih hidup. Tetapi Sersan berdua tak mempedulikan orang banyak, selain gadis-gadis. Setiba kedua orang itu di Balai Kota, perkataan Sersan yang keluar mula-mula dari mulutnya, salah: “Selamat pagi, tuan”!—Dari rumah kami belum makan pagi.“
Maka Walikota menjamunya makan pagi. Dan dalam mereka makan itu, Walikota berkata: “Kami sangat mengagumi tuan, Kami tahu, bahwa tuan betul telah tinggal di dalam Loji Kelibu semalam suntuk. Detektif kami telah menyakelikan dari yauh, maksud saya, mereka telah mengamat1 sedemikian rupa hingga apa bila tuan menyalahi janji, mereka akan mengetahuiinya.“
“Terima kasih,” kata Sersan. “Lebih” untuk makan pagi yang lezat inf!“ Lalu ia terus makan dengan lahap. Caranya makan sangat rakus dan memalukan sekali.
“Nah,” kata Walikota. “Tuan boleh memiliki Loji Kelabu dan menerima hadiah uang. Tinggal soalanya apakah tuan akan dapat terus mendiami rumah itu.”
“Mengapa tidak!” kata Sersan sambil tertawa keras“ dan membuka mulutnya lebar”, hingga pelayannya merasa dibikin malu.
SEHABIS makan, kedua orang itu menyeritkan pengalamannya di depan orang banyak di Balai Kota. Sesudah itu mereka membeli lauk pauk kaleng banyak-banyak, kemudian kembali ke Loji Kelabu.
Ketika hari menjelang malam, berhimpunlah segala hantu, mambang, peri dan jin gandarwa dan buta Loji Kelabu, bermusyawarah di dekat sumur tua dipelarangan belakang, di bawah pimpinan rajanya, yattu jeimaan arwah seorang Arab. Tubuhnya berkulit hijau, dahinya berlubang, matanya seperti mata kucing, kulit mukanya ber-kerut-kerut dan senantiasa mengeluarkan keringat hitam, yang kenial sebagai getah. Hantu-hantu dan jin-jin yang berhimpun itu ber-macam-macam rupanya, tetapi tak ada yang tidak mendirikan rambut-rambut kepala.
Mereka yang telah mengalami “gangguan” kedua manusia itu, ber-ganti-ganti mengadukan halnya kepada sang raja. Hantu arwah orang Belanda mengatakan, bahwa ia tak bisa makan angin lagi dibe-randa muka Loji Kelabu, sebab ia selalu akan kuatir pada kedua orang itu, karena ia yakin bahwa mereka pasti diutus raja Aceh, yang ditugaskan mengejar-ngejar orang Belanda dengan siasat gerilia. Hantu-Hantu yang lain rata mengatakan, bahwa adanya kedua orang itu di Loji Kelabu sangatlah menyengsarkan hantu-hantu. Manusia selamanya menjadikan udara bertambah panas dan mata mereka sangat menyilaukan.
Hantu-Hantu berbulu yang seperti gorilla, memberi penegasan, bahwa kata teman-temannya itu betul belaka, dan ia menyeritakan tentang obor neraka kemarin. Raja Jin Hijau itu insayaf, bahwa keadaan sangat genting sekali, sebab itu ia berkata dgn. agak ber-api, hingga bersemburan ludah dari mulutnya: “Rakyatku, kedua orang itu harus kita takut-takuti se-jadi-jadinya.”
“Mustahil!” kata hantu berbulu. “Orang itu tak punya jantung, saya kira, jadi in tak kenal takut. Kita bisa menakuti orang sehat, tetapi kita tak bisa apa-apa terhadap orang gila. Orang itu sedemikian bodohnya, hingga tak tahu apakah takut itu. Orang yang pandai tak akan berani menyerang hantu. Tidak, lebih baik kita pindah saja kekutub utara.”
“Kita tak akan meninggalkan loji Kelabu!” teriak raja jin hijau. “Kita harus me-nakuti-nakuti, bukannya membuat marah seperti yang telah kau lakukan. Kita jangan menyakitinya, sebab ia nanti akan marah, dan kalau sudah marah, ia tak kenal takut lagi. Kita harus membuatnya negeri, jijik, seram, takut!”
“Jijik! Ngeri!” dengus hantu-hantu da-pur. “La makan daging ular dengan rakus. Ia menggigit sitangan panjang dengan enak saja, padahal tangan lu sudah terkenal yang paling menggerak di antara kita!”
“Tetapi kita tak bisa meninggalkan Loji Kelabu begitu saja!” teriak ra-ja jin. “Kami akan mengusir mereka!” lengking satu peri, yaitu hantu perempuan. Mendengar ini, hantu lelaki berbarang tertawa. Peri berbarang me-lengking karena malu. Tetapi segera dengan suara seperti guruh, ra-ja jin berteriak: “Tenang! Lalu sekutu kita itu juga persidangan itu sunyi senyar. Kemudian ra-ja jin menerangkan, bahwa akan bijaksana sekali bilu peri diblarkan menyelayah kan hal itu. Sejarah telah membuktikan, bahwa peri itu dapat habis-habisan memperdayakan manusia. Dan kemungkinan untuk menjadikan manusia itu muta gelap hampir tidak ada. Baik untuk kalin ini peri diblarkan bertindak, baru kemudian kalau tidak berhasil, jin dan hantu lelaki akan menolongnya. Akhnirya segala raka-ca setuyu juga. Betapi peri meminta, supaya mereka diperbolehkan bekerya sendiri. Segala hantu lelaki supaya meninggalkan rumah itu dan menunggu dipohon beringin halaman belakang rumah, dilukat sumur. Sekal- li lagi, dengan tada keberatan, hantu lelaki menyadiini usul itu.
Peri-peri yang mendapat giliran berusaha menakut-nakuti Sersan Harja, kini mencoba memikat dengan usaha-usaha lunak.
HARI telah malam. Hantu lelaki pada meninggalkan rumah itu dan berpindah ke atas pohon beringin tua yang rimbus di belakang rumah. Peri bersama-masuk rumah itu dengan menembang. Suaranya melengking ber-getar sangat gaib. Mula Sersan dan pelayan merasa aneh dan asing mendengar tembang mereka. Lebih setelah lagu itu me-rayay memenuhi segenap ruang di rumah itu. Lama Sersan yadi terhera (tidak takut) dan mengira itu lagu pertilan dari penduduk Polinesia. Ia sangat mengagumi. Begitu pulu pelayan. Waktu itu ke-duaan tengah makan malam. Tiba Sersan bangkit dan merasa dari baua-ya wanitanya bergolak mendengar lagu itu.
“Malam ini nikmat untuk bercintas,” katanya, “aku akan keluar makan angin. - Hmm, amor!” Sementara itu orang-orang di pinggir kota dan detektif walikota yang meng-amati! Sersan, pada gemetar mendengar tembang “ke-matian” yang gaib itu. Darah mereka berderisan keras sekall. Betapi mereka cukup jauh dari loji Kelabu dan kemenyan yang mereka baws cukup banyak.
Tiba mereka yadi keheranan sekall ketika didengarnya suara Sersan tarta-va keras kemudian menyany lagu “Putri Solo” keras pulu.
Di halaman depan Loji Kelabu, Sersan ber-jalan makna angin. Ka-re-na gelap, ia membawa lampu batere. Dari mulutnya terpancar lagu “Putri Solo”, lalu disusul oleh lagu “Amor”. Darah buayana bergolak dan tiba is sangat rindu akan wanita. Peri pun juga masih menembang dengan lagu-ya yang gaib. Adapun peri itu ada yang muda benar, ada yang tua benar. Yang muda ckincak benar, melebihi manusia. Yang tua jiek benar, mele-bih manusia. telandang bulat, rambut putih tergerai, kulit kerut merut, susunya kering terkulai dan perutnya busung. Peri yang muda, Meskipun ckincak lahar biasa, dapat juga berubah jaui menggerak. Semua peri-peri berkelarian di-kamar-kamar mengatur rencana-rencana yang jahat. Bersan Harja ter-menung’ di halaman gelap itu. Mendadak didengarnya suara perempuan ter-klikk‘.
Ia berpaling, lalu dilihatnya seorang perempuan yang sangat cantik keluar dari beranda muka rumah. Ia merasa heran, mengapa tahu‘ perempuan itu sudah ada di rumah. Kehadiran perempuan itu sama sekali tak disangkanya.
Perempuan itu menyapu: “Apa kabar?” terdengar suaranya kenes. Sebelum menjawab Sersan bersuit dulu. “Baik sekali” katanya dengan sikap seorang buaya. Siapa namamu?“
“Essy!”
Kemudian keduanya beraksi. Sedikit demi sedikit omongan mereka semakin hangat. Mereka omong tantang minyak wangi, sabun, kutang, kancing baju, sisir, rimono dll. Sersan senang sekali, sampai pada suatu saat Sersan menanyakan sesuatu pertanyuan.
“Kau datang dari dalam rumah, padahal aku tak pernah melihatmu di sini!” “Aku berumah di sini.” “Di mana kau diam?” “Disumur!”
“Disumur! Bah!” Tiba-Tiba Sersan ingat, bahwa mungkin gadis itu seorang khianat yang mencoba merebut rumah itu.
“Sungguh, karena aku.....”
“Tutup mulut! Dengar, rumah ini rumahku. Jadi semua orang yang mendiami rumah ini harus minta izin padaku, biar disumur, didapur, apa di kakus......” Belum sampai habis bibir perempuan itu tiba-tiba melekat di mulutnya, kemudian lurutlah maklum di dadanya.
Dalam hati perempuan (yang sebenarnya peri) itu menggerutu, bahwa Sersan memang tidak berdayantang dan perlu diberi sebuah dayantang dengan sebuah ciuman. Sesudah itu keduanya bersikap se-olah-olah sudah lama jahc ciunta. Kedua orang itu lalu ber-jalan-jalan di sekitar rumah.
MEREKA melalui aisi rumah, pergi ke halaman belakang. Rumput-rumput yang sudah tinggi me-nyapu-nyapu kaki mereka. Peri itu sedikit jengkel, karena Sersan terlampau kerap mencumi. Akhirnya sampaih mereka kesumur tua. Tiba-Tiba muka peri itu berubah ja di putih seperti kapur, mulutnya merings jelek.
Sersan terkejut, tetapi segera ia tertawa.
“Hahaha, rupanya engkas termasuk salah satu di antara tu kang? sulap yang mau memperdayakan sayu! Tetapi tak apa, karena aku tahu kau cantik dan aku suka itu!”
Peri itu insyaf, bahwa rencana telah gagal.
“Dengarkan, gadis! ”kata Sersan lagi. “Kita tak usah ber-lingkar” lagi.
Nah, dengarkan—“ Lalu ta memotiskan maksudnya yang kotor kepada peri itu. Mendengar itu, muka peri jadi merah padam. Matanya merah, rambutnya merah bergetaran seperti api, mulutnya merah meringis, hingga tampak giginya yang juga merah seperti besi terbakar.
“Aku bukan perempuan jalang!” jerit peri itu. Tetapi Sersan tertawa keras.“ Lalu bertindak hendak mendekap peri itu. Peri itu me-lengking-lengking. Kemudian tubuhnya jadi sebuah rangka dalam pekukan Sersan.
Darah Sersan tersirap sebentar, tetapi kemudian ia tertawa sambil menyorok muka rangka itu dengan lampu baterenya dengan berkata: “Ayo, jangan main”, aku tahu kau cantik! Ha-haha!“
“Setan”, jin, mamang, hantu dan peri tidak ada yang begitu tahan lama akan api atau sinar lampu batere, de-mikan juga peri itu.
Pelan“ berubah tengkorak yang disorot Sersan itu, dan akhirnya kembali jadi peri yang cantik. Darah Sersan menggeledek oleh napsu.
Peri itu panik sekali. Ini adalah teryaji untuk pertama kalinya dalam sejarah hantu bahwa seorang peri akan diperkosak oleh seorang manusia.
Maka ia menjerit, me-rgiang-rgiang se-perti anying di hutan.
A DAPUN peri tung lain waktu itu sedang diyelayah loji menganggu pelayan. Pelayan sudah setutu leh-ki yang pulih benci pada perempuan. Ia sangat jijik pada perempuan dan seandainya didiyinkan, maka dengan senang hati ia akan meniksa perem-puan se-kejam-kejamnya. Sebab itu waktu peri yang cantik mulai menganggu-nya, ia jijik sekali dan berpikir, baha-tu tukang sulap yang khianat dan iri hati itu, sekarsang telah mendalankan akal yang laknat sekali: Hal ini meli-bat das dan ia harus membikin per-hitungan. Demikianlah ketika seorang peri menggoda dengan menyumii pi-pinya, ia jadi mata gelap. Lekas-lekas ia ambil obor dan ia bukar rambut peri itu.
Segala peri tus‘ pun datangiah me-nyerba. Susu mereka yang kering ter-kulai itu sangat mendijikkan pelayan. Segera ia membakari mereka, hingga teryajiad semayam neraka di ruang-itu dan pekik mereka sangat menyat-a-nyanat: Lalu peri itu dengan tubuh yang meleleh, yat keutar be-ramil’. Pe-layan mengejar mereka dengan obor-nya.
Peri-peri itu lari ke halaman belakang, menuju pohon beringin tua. Pelayan terus mengejar mereka. Tetapi tiba-tiba ia terhenti. Dilihatnya disurum tua Sersan sedang bergulat dengan seorang peri. Lalu tepat’ ia menuju tempat itu dan berteriak: “Tuan Sersan apa yang sedang tuan kerjak'an?”
Mendengar itu Sersan terkejut lalu melapaskan pelukannya. Peri itu mem-pergunakn kesempatan ini untuk me-larikan diri menuju ke pohon beringin. Sersan jadi marah sekali.
“Koki!” teriaknya. “Jangan dua kali berbuat begitu lagi!”
Pelayan menundukkan kepalanya. Segera Sersan bergerak menuju ke pohon beringin tua, hendak mencar peri itu. Pelayan mengtingginya dengan tak berkatu sepatah katupan. Karena kemarahan, keluasan Sersan sudah tidak berbeda lagi dengan orang gila.
Adapun peri-peri yang lari ke pohon itu, memberi laporan kepada raja jin, bahwa kedua manusia itu betul-betul tak bisa dihadapinya, mereka gila belaka. Mendengar ini segera raja jin memerintahkan segempat rukayian supsa merakuti kedua manusia itu dengan memperlihatkan diri mereka yang menakutkan itu. Kedua manusia itu harus di-takut-takuti se-bisa-bisa mereka supsa mati ketakutan.
Rakyat menyetujui perintah itu. Lalu mulai memperlihatkan diri mereka (tadinya mereka gaib). Tampaklah ru- pa-rupa mereka yang mengeriikan. Ada yang kepala kerbau, harimau, kambing atau kuda dan perut mereka menggembung dengan pusar yang putih. Ada pula yang bertubuh pendek tegap, berkulit hitam, bermata bijau dan berrambut berduri seperti landak.
Hantu-hantu bayyi putih dengan muka merah dan gigi putih-putih, hantu tinggi panjang, hantu-hantu gundul, gemuk dan ber-kucir, hantu-hantu tus yang pendek dengan rambut-rambut panjang dan sebagainya, se-muanya berkumpul dipimpin raja jin hijau dipohon beringin tus itu. Suara mereka me-rang-rang seperti galau anjing hutan. Mereka memaki senjata tu-lang-tulang orang mati, tengkorak dan pupu* atau tangan mayist yang telah busuk.
Sersan mendengar suara galau itu hatinya makin panas. Ia ber-lari-lari de-ngan obor di tangannya, lalu bertolak pinggang di bawah pohon beringin itu.
Se-konyonq-konyong bertiuplah angin besar yang mematikan obor Sersan. Lalu dalam sekejap Sersan telah diterjuni dan dikeroyok oleh hantu-hantu yang mengerikan. Sersan melawan sekuat te-naganya dengan lampu batere yang menyala di tangan yang diayukan ke sana kemari. Sinar lampu batere itu seperti kilat karena ter-ayun-ayun, dan sangat menggetarkan hati hantu-hantu. Pelayian segera menghampiri tuannya, obornya masih menyala. Obor itu dilemparkan kepada satu hantu yang besar. Hantu itu berteriak dan obornya jatuh di atas rumput kering, lalu terbakariah rum-put itu, apinya menjalar membakari semak-semak. Hantu pada buyar semua. Ke-takutan oleh “neraka” ini.
HANTU-HANTU itu amat sakti, yang ditakuti cuma api dan orang gila. Mereka tak berhasil membunuh Sersan, sebab Sersan melawan untuk dibunuh. Manusia akan gampang mati oleh takdir, tetapi tak gampang mati oleh pembunuh macam makhukil apa pun, asal ia berani melawaninya.
Demitikianlah Sersan dan pelayannya melawan hantu itu dengan kenekekatan orang gila. Mereka telah berhasil mendapat obor mereka kembali. Dan dengan obor menyala itu mereka menghajar hantu itu, yang menrut persangkalan mereka tak lebih daripada tukang sulap yang jahanam.
Di tengah “medan perang” itu, Sersan berteriak: “Mampusulah ‘kau, pelayat’ dan tukang sulap yang khianat!”
Adapun kebakaran dihalsam belakang itu, apiin terlihat oleh orang dingirring kota. Darah mereka beku melihat “neraka telah bedah di Loji Kelabu.”
Akhinyra dalam perkelahian itu, hantu-hantu menderita kekalahan yang besar. Tubuh mereka leleh karena api. Sebab itu segera raja yin hijau memerintahkan raya yinna melenyakkan diri dari lari kekutub utara. Perkelahian selesai.
KESOKAN harinya Sersan memarahi pelayannya, karena kelakuan-nya kemarin malam. Pelayan minta maaf dengan ber-hiba-hiba. Tetapi Sersan menerangkan, bahwa ia akan memaafkan pelayan, asal pelayan mau bersumpah tak akan mengulangi lagi kesalah- anyang kemarin dua kali. Sesudah dua puluh tuduh kali pelayan mengulangi sumpahnya, barulah Sersan memberi ampuin. Lalu keduaanyra pergi kekota.
Alangkah ramainyra orang kota menyambut mereka. Presiden sendiri akan iri hati, kalau melihatnya. Me- reka menanyakkan pengalaman mereka semalam. Sersan mencoritakan secara biasa, yaitu dengan suara sombong dan mata orang tolo. Tetapi da- lam cerita itu tak sepatah pun ia me- nyebut hantu, yang ber-ulang-ulang disebut iah tukang sulap.
Tetapi orang tahu, bahwa itu sebenarnya hantu.
Sejak itu Sersan dan pelayan jadi termasyur. Sampai sekarang la masih memiliki Loji Kelabu. Hantu itu tak ada lagi yang mendiami Loji Kelabu dan mengganggu Sersan. Mereka te- lah lari kekutub Utara, sebagian ke- punyukt Himalaya. Mereka mengang- gap Sersan orang gila dan orang gila yang tak bisa dilawan sama sekali oleh hantu.
Mungkin cerita ini tidak sengeri ce- rita “Dracula” tetapi setiap penduduk kotaku mempertayak sejarah ini. Bu- kankah cerita hantu tidak selamanya harus mengerikan?
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.