GoGon Gosip-Gosip Underground
babak 01
+
RUANG
SERBA
JAM
BISA pirate
ans.babak 01 RUANG RIANG
Tukang Tulis
Abraham Awed Eza Alhafidz Phoebe Rangga Aditya Semaoen Suara Rumput
Tukang Layout Sama Edit
MGKR
Tukang Potret
Wahyu Raihan Fikryawan
Tukang Gambar
Abraham Rizziq “Habib” Ramadhan Fitriani
SINDIKAT INTERNAL
▷ Abraham, Eza Alhafidz, Rangga Aditya, Awed, Semaoen
Daftar Isi
Suara Senyap Dari Sekumpulan Di Sekolah Seni 24/7 6
Citra Visual Infrastruktur 8
Teka-Teki Kata : Edisi Ruang Riang 12
Mengenang 8 Tahun Tidak Selesainya Proses Pembangunan Gedung Galeri Seni 212 14
Sidak Tongkrongan, Menemukan Seni 16
Di Kampus Gak Ngapain, Diluar Gak Ngapain, Terus Mau Ngapain? 20
Lamunan Mabuk Phoebe : Meracau 22
Bazin De Balegar (manifesto I) 24
Pirateans adalah sebuah sindikat lintas-disiplin yang bergerak dalam pengarsipan wacana, produk, maupun diskursus yang ada pada suatu ekosistem secara parsial dengan tujuan reproduksi pengetahuan. Identitas perompak menjadi suatu azas utama yang dipegang oleh para sindikat internal sebagai representasi ideologis dengan gagasan utama demokrasi radikal (liberté, égalité, fraternité).
Gejala kebudayaan pada suatu wilayah menjadi dermaga awal dalam mengeksplorasi kecenderungan dengan pendekatan etnografis. Proses eksplorasi dilakukan bertujuan untuk membaca ulang situasi dan keadaan pada ekosistem tertentu sebagai bentuk emansipasi terhadap kelompok atau individu secara partikular. Jurnalistik menjadi modus yang digunakan dalam mempresentasikan temuan-temuan penelitian yang dihimpun dalam media alternatif. Dengan formasi kelompok yang berbentuk sindikat ini memberi perangkat pada anggota untuk melakukan eksplorasi secara transparan, kritis, dan demokratis.
GoGon: Gosip-Gosip Underground merupakan cetakan terbatas yang menjadi media arsip mengenai budaya,aktivitas, dan karya-karya yang mengisi keseharian para mahasiswa seni pada suatu institusi kesenian. Temuan-temuan yang akan dipresentasikan berupaya membawa kecenderungan tertentu dengan tujuan menawarkan sudut pandang alternatif terhadap publik soal identitas akademisi seni itu sendiri yang berpijak pada sebuah institusi kesenian.
GoGon : Gosip-Gosip Underground Babak 01/RuangRiang
Suara Senyap Dari Sekumpulan Di Sekolah Seni 24/7
ari setiap era rentan waktu dan setiap tempat dimana terdapat perkumpulan maka haruslah ada kolektifitas atas dasar dari kesamaan yang melatar belakanginya, bukan hanya sekedar kesamaan bahasa mereka namun lebih mengikat seperti cara mereka melihat di sekelilingnya dan mempunyai satu keresahan yang sama pada satu tempat yang mereka tinggali. Budaya berkumpul dan berkolektif sangatlah lumrah yang kita lihat, dari perkumpulan pemuda di desa hingga perkumpulan lansia yang sibuk menggunakan opium untuk menghilangkan penat.
Banyaknya kolektif dari kalangan muda selalu dibarengi dengan banyaknya budaya pop yang berkembang pada daerah atau kawasan setempat. Tak heran jika budaya kolektif yang didasari dengan keresahan dan perspektif yang sama pula tumbuh subur di ruang lingkup kampus. Terlebih lagi budaya tersebut berawal dari tempat nongkrong dan lingkaran kecil, namun tak jarang mereka memiliki kegiatan dan visi besar untuk melakukan perubahan, rencana revolusioner datang dari lingkaran-lingkaran kecil yang menanggapi sekitarnya dengan pemikiran progresif.
Pemikiran progresif tak hanya masuk dalam perkumpulan atau organisasi politik saja namun dalam perkumpulan seni juga dirasuki oleh pemikiran progresif bahkan radikal. Fenomena ini sudah lama terjadi di belahan dunia terutama di eropa, seni ikut menjadi pemicu pertentangan kelas dan hukum absolut dari gereja.
Waktu dan Apa Selanjutnya?
Pemikiran dan diskusi terhadap sesuatu isu terjadi sangat masif dalam dunia pendidikan. Hal tersebut terjadi secara organik ketika satu individu bertemu dengan yang lain dalam satu tempat yang tepat, maka ketika ada waktu-waktu yang mempertemukan mereka dengan tempat yang akan ada diskusi dan ide muncul subur namun tidak bisa dipastikan dengan aksinya sebab banyak keterbatasan dan pembatasan yang mereka temui di tempat tersebut seperti peraturan tempat tersebut atau kampus, dalam hal ini menjadikan suatu halangan kecil atau bisa akan menjadi gulungan bola salju.
Jelas sekali tak sedikit suatu tempat memberlakukan jam untuk diaktivasi sebab banyak juga suatu tempat menerapkan hal tersebut dikarenakan tidak mau menimbulkan kerusuhan karena budaya berkumpul atau nongkrong bisa menimbulkan konflik horizontal saja, namun hal itu akan terjadi jika kita tidak bisa membatasi atau mengambil sikap bagaimana kita berkumpul di tempat tersebut karena semua kekacauan pasti memiliki penyebab. Nah, dengan sebaliknya banyak pula tempat atau wilayah yang memberlakukan jam karena takut jika para pemuda berkumpul dan membahas suatu ide akan memunculkan aksi perubahan yang dianggap “merugikan” bagi segelintir orang.
Jelas budaya kolektif dan budaya nongkrong tidak bisa dipisahkan dengan waktu harusnya ketika tidak ada hal yang mengahalangi hal tersebut seperti pemberlakuan jam di suatu tempat. Semakin banyak mereka nongkrong dengan pembahasan ide-ide semakin banyak pula aksi yang ingin diwujudkan sebab pasti ada peraturan yang tidak mereka setujui tapi mengikat mereka.
Jika ada tempat yang membebaskan para individu yang ber-kolektif tanpa pemberlakuan jam yang membatasi pertemuan mereka disinilah diskusi sangat menarik dan banyak isu yang dibahas, karena seharusnya mereka sadar juga ketika mereka berkumpul dan membahas satu isu tak akan selesai ketika mereka selasai menenggak sloki; butuh suatu gerak dan kesadaran bahwa sistem yang buruk dan bobrok membawa kepada seni yang bobrok juga. Jika kita atau kalian mendapatkan waktu sepanjang itu maka manfaatkan karena ketika kita dalam dunia seni-pun kita tak boleh untuk hanya bertopang dagu selama 24/7, seniman tak tuna rupa tapi tak bisa juga untuk tuna politik, kita harus bisa mengorganisir, sebab mengapa kalian mengambil sekolah seni dan ber-kolektifpun itu adalah putusan politis.
Semaoen.
Wahyu Raihan Fikryawan • Fotografi
CITAA
VISUAL
INFRASTRUKTUR
ERD BOY
EP!
Jangon Bergerak nona
Ahatimu akan kutembak" +SO
llowr009
RURA
ou
SENINAE 7 PISINI
Kalo di pikir pikin KEPIKIRAN 8 Kalo di pikin pikin goud gak pagn phinaun
ANGKATA
VDARA
PROIRGS GCGITIEN
Rangga Aditya • board games
B B TU UA H A K
| A | N | |
|---|---|---|
| R | G | |
| W | L | |
| R 1 | U | |
| T | N | |
| S A R J A N A | G | |
| N | K | |
| B | ||
| S UN A N AMB U | ||
| L |
G E E P R K Y A M A
K A o R
T
R 1
Teka-Teki Kata
Edisi Ruang Riang
Mendatar
- Nama Jalan Kampus Buah Batu
- Pondasi Dasar Perut Ayam Geprek
- Nama ISBI Tahun 1968 KORI
- Setelah lulus Sarjana
Salah Satu Gedung di ISBI Sunan Ambu
Menurun
Padalangan Karawitan
- Minuman Populer di ISBI Arak Bali
- Gerak Tubuh Tari
- Alat Musik Bambu Angklung
Suara Rumput, Antareja • esai
MENGENANG 8 TAHUN TIDAK SELESAINYA PROSES
PEMBANGUNAN GEDUNG GALERI SENI 212
embangunan Gedung Galeri Seni mulanya merupakan upaya dalam peningkatan fasilitas kampus untuk memenuhi hak serta kebutuhan mahasiswa dan dosen, sebagai ruang kegiatan seperti pameran, screening film dan kegiatan akademik lainnya. Gedung yang direncakan akan diproses hingga selesai pada tahun 2015 belum terealisasikan hingga hari ini, tahun 2023. Karena proses pembangunan yang penuh dengan kontroversi, mulai dari kesalahan infrastuktur, dugaan korupsi hingga para pemangku kebijakan yang saling lempar tunjuk.
Mulanya gedung ini diproses oleh Kemendikbudristek dibawah kebijakan Presiden hingga diserahkan kepada PUPR. Seiring dengan berjalannya waktu proses pembangunan terhenti hingga kini karena ketidakjelasan status pembangunan serta siapa yangberwenang menyelesaikan proses tersebut. tetapi kebijakan terakhir dipegang oleh PUPR dengan realisasi penyelesaian pada tahun 2020, namun terdapat beberapa pertimbangan untuk menghentikan proses penyelesaisan gedung tersebut karena memiliki masalah struktur kontruksi, dengan wacana penghancuran gedung dan pembangunan kembali.
Delapan tahun lamanya, saat ini proses penyelesaian pembangunan gedung dipegang oleh kejaksaan RI karena terdapat dugaan korupsi, namun pihak kampus tidak memberikan penjelasan apapun tentang dugaan korupsi gedung yang pembangunannya telah menghabiskan anggaran 14 Miliar tersebut. Kasus dugaan Korupsi Gedung telah dilaporkan oleh LSM Baladhika Adhyaksa Nusantara (BAN) sejak tanggal 13 Mei 2022 ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat dengan nomor surat : 0036/DPP-BAN/LAPDU/V/2023.
Penyegelan gedung dilakukan oleh Kejaksaan RI sejak Januari 2023. Berbagai protes telah dilakukan oleh mahasiswa dan dosen sebagai upaya untuk meminta kejelasan dari pihak kampus atas dugaan korupsi tersebut, namun hingga kini kampus tetap tidak memberikan statement apapun mengenai proses kelanjutan nasib gedung tersebut. Bermasalahnya proses pembangunan gedung hingga bertahun-tahun adalah cerminan dari keburukan dan ke-tidak jujuran para pemangku kebijakan yang tidak memiliki rasa tanggung jawab dalam upaya penyelesaian gedung tersebut, lantas siapa yang terdampak dalam kebobrokan tersebut? yaitu para mahasiswa yang tidak mendapatkan Hak-nya untuk memiliki fasilitas yang baik. jika tidak ada kejelasan dari pihak yang berwenang, maka kampus ini akan selalu menjadi kampus yang terbelakang.
Mulanya gedung seni tersebut akan menjadi sebuah simbol dari identitas kemajuan pembangunan kampus ini sebagai lembaga pendidikan yang berbasis pada seni dan budaya serta menjadi sebuah ikon dari satu-satunya kampus seni di Jawa Barat. Namun bertahun-tahun lamanya, hal yang menyedihkan telah terjadi, proses pembangunan tidak kunjung selesai. dan gedung ini telah berevolusi menjadi sebuah identitas dari kebobrokan lembaga pendidikan itu sendiri.
Begitu menyedihkan ketika melihat realita tersebut, bahwa kejahatan ada didepan mata, bahwa keburukan ada ditempat dimana gagasan-gagasan dan pemikiran-pemikiran tentang sebuah nilai budaya, kehidupan berbangsa dan bernegara lahir. Kampus ini masih terpincang-pincang untuk menjadi sebuah tempat yang baik bagi kepentingan, kemajuan budaya, karena terlihat dari buruknya fasilitas, sarana dan prasana serta pembangunan lainnya dalam upaya memajukan kebudayaan bangsa.
SUARA RUMPUT
Eza Alhafidz • esai
pirate ans.
AIGD
Aktivasi
Ruang
SERBA BISA
Menggedor
Kreativitas MAHASISWA
HMM..
AH
Sidak IWE Tongkrongan Malah Temukan
Seni
Hari Rabu, 26 September 2023, kami (pirateans) menginisiasi satu konferensi terbuka yang mengundang beberapa mahasiswa seni rupa (Seni Rupa Murni dan Kriya Seni) untuk melakukan kajian strategis mengenai satu ruangan terbengkalai yang ada di Gedung FSRD ISBI Bandung. Ruangan yang kerap disebut “Studio Cinta” ini telah lama tak terjamah setelah digunakannya sebagai ruang tugas akhir pada tahun 2022. Ruangan tersebut secara administrasi dikelola sebagai studio yang digunakan oleh mahasiswa seni murni dengan peminatan pengkajian. Tetapi, birokrasi dan tata kelola fasilitas yang buruk membuat ruangan tersebut tidak aktif hingga saat ini. Kini ruangan berubah fungsi menjadi gudang yang diisi oleh tumpukan lukisan dan barang-barang bekas yang telah diselimuti oleh debu.
Di sisi yang lain, mahasiswa butuh wadah kreatif sebagai laboratorium untuk menunjang studi yang mereka jalani. Melihat malfungsi ruang seperti ini menjadi impuls awal kami dalam mengelola gejala-gejala kreatif yang bisa dituangkan pada ruang tersebut. Konferensi dilakukan berupaya untuk mengaktivasi dan merumuskan kemungkinan-kemungkinan apa saja yang bisa dilakukan juga dihasilkan dari ruang tersebut oleh mahasiswa aktif yang ada. Konferensi perdana dihadiri oleh dua puluh orang (Adiza Tri Utama, Angelica Lestari, Hisyam, Eza Alhafidz, Rasyadz, Fahmi Gunawan, Jamal, Gilbi, Bisma, Satrio, Dewi, Vio, Iku, Jamen, Iduy, Ardha, Dewa, Rizziq, Firman) yang membahas mengenai peruntukan ruang yang akan dijadikan landasan fundamental dalam mendefinisikan ulang ruang secara abstrak. Dari konferensi tersebut kami mendapatkan empat landasan awal yang digunakan sebagai fondasi yang akan dikembangkan pada rumusan;
EMPAT TONGGAK UTAMA RUANG SERBABISA
1. Ruang domestik yang dijadikan inkubator dengan tujuan menunjang minat, bakat, dan studi mahasiswa seni rupa secara akademis maupun non-akademis
2. Hasil inkubasi berfungsi sebagai peningkatan sinergitas visi dan misi yang ada pada hierarki institusi sebagai representasi dasar akademisi institusi kesenian.
3. Wadah domestik yang menyejahterakan dan menjaga kerukunan antar mahasiswa dan civitas yang ada pada institusi dan fakultas.
4. Platform aktivasi kegiatan produktif dan reproduktif mahasiswa dengan orientasi edukasi, wirausaha, atau hiburan sekalipun yang befungsi sebagai terminal yang menghimpun cakrawala relasi bagi mahasiwa aktif yang terlibat. Domestikasi menjadi poin utama yang menandakan adanya keberjenjangan aktivitas yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap kegiatan yang dilakukan. Adanya domestikasi juga menjadi strategi awal dalam menunjang inkubasi yang diadakan agar prosedur aktivitas tidak terinterupsi oleh hal-hal formal yang bersifat kaku. Kekakuan menjadi hal yang dihindari pada ruang ini agar tercipta satu sistem non-birokratis yang egaliter. Kondusifitas kegiatan bisa lebih stabil ketika kuasa terbesar dipegang oleh mahasiswa itu sendiri sebagai penggerak utama poros kreatif yang akan diolah. Empat azas diatas menjadi keberangkatan awal mahasiswa dalam mengaktivasi “gudang” yang dialih fungsikan menjadi ruang inkubasi kreatif yang bisa digunakan oleh mahasiswa seni rupa secara inklusif kedepannya. Ruang SerbaBisa menjadi proposisi yang digagas oleh mahasiswa seni rupa bahwa longgarnya regulasi dan terbatasnya fasilitas tak selalu bermuara pada aktivitas-aktivitas kontra-produktif. Aktivasi Ruang SerbaBisa menjadi gejala awal mahasiswa-mahasiswa yang sudah mulai enek dengan kesemuan ekosistem kesenian yang ada di institusi. Perhelatan dangkal yang itu-itu saja; debat kusir kesenian yang tak berujung; kekakuan yang menutup potensi-potensi artistik yang berserakan pada institusi kesenian.
Advokasi dilakukan sebagai bentuk emansipasi kreatif yang digagas oleh mahasiswa untuk menunjang produktifitas sebagai peningkatan kualitas studi yang ada. Ruang yang aktif berfungsi sebagai wadah alternatif mahasiswa dalam membiakkan ego kreatif yang dimilikinya secara kelompok maupun individu. Gagasan-gagasan yang dibiakkan jikalau sudah dimasa tunas yang tepat akan membuat daya tarik baru bagi publik yang bisa merakit ulang identitas mahasiswa seni rupa secara progresif untuk insitusi itu sendiri.
PENERBANGAN RUANG
SERBA BISAV 32M
U pirate àns.
UGD D
pirate UGD D àns.
Awed • esai
DI KAMPUS GAK NGAPA²IN,
ebuah fenomena yang sering terjadi di kalangan mahasiswa dan mahasiswi sampai tercipta banyak singkatan yang lucu untuk seperti mahasiwa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang ), mahasiswa kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat ) dan banyak lainnya. Masih banyak mahasiswa ketika di kampus tidak aktif pun di luar juga.
Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian terhadap masyarakat sangat tidak terlihat jika mahasiswa tidak aktif di dalam atau di luar kampus. Bayangkan jika hal ini menyebar lalu seluruh mahasiswa memiliki sikap yang sama. Apa yang akan terjadi untuk kedepannya?
Entah apa yang ada di pikiran mereka―apakah mereka pernah berfikir untuk membuat sesuatu? Jika dipikirkan dengan sederhana, kampus atau universitas adalah media belajar yang kita akan terapkan dikehidupan nyata di luar institusi nanti.
Sedangkan jika mengandalkan pembelajaran di kelas yang dibatasi oleh waktu dan pembelajaran di kelaspun menjadi sebuah pencarian masalah yang harus diselesaikan di luar kelas. Semisal kita di kelas mendapatkan tugas, mahasiswa bisa menyelesaikannya dengan cara sederhana.
Untuk menyelesaikannya adalah dengan berdiskusi dengan mahasiswa lainnya—mencari tau kepada kating yang pernah melewati matkul itu. Jika kita tidak mendapatkannya mau tidak mau kita harus keluar untuk mencari jawaban untuk penyelesaian tugas tersebut; entah ke kampus lain atau bahkan terjun langsung ke masyarakat untuk melakukan riset pribadi untuk mencari tau jawabannya.
Bayangkan jika ada mahasiswa yang tidak aktif, bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah-masalah tersebut? Oleh karena itu, hal ini harus tertulis sebagai bentuk
Mengingat tridarma mahasiswa;
DI KAMPUS GAK NGAPA²IN,
solidaritas antar mahasiswa aktif yang ada. Kita harus saling mengingatkan terhadap sesama dan mengingat juga tulisan ini berlatar belakang pada salah satu ekosistem kampus seni yang mengharuskan kita bergerak di luar atau di dalam kampus karena kita berada di ekosistem kreatif.
Keterbatasan ruang dan fasilitas kampus yang mengharuskan mahasiswa harus lebih berani melakukan eksplorasi untuk mengakali keadaan tersebut agar setiap nafas dari mahasiswa tetap bermuara pada suatu karya. Tuntukan eksistensi untuk memperkenalkan diri kepada khalayak luar agar dapat menginspirasi orang banyak salah satu yang harus dilakukan untuk membangun jenjang karir kedepannya dengan bersosialisasi untuk membangun relasi dan inovasi sebagai bentuk kolaborasi dan menciptakan produk atau hal kreatif yang bisa kita semua lakukan.
Jadi bagaimana, mau ngapain sekarang?
Phoebe, Fitriani • cerpen
DI KAMPUS GAK NGAPA²IN,
Episode I : Pilot/Meracau
ercikan air hujan semakin deras terdengar dari luar ruangan merayuku untuk berenang pada khayalan yang tak berujung. Asap rokok yang mengisi ruang kecil ini membuat nafas terasa lebih segar. Ruangan yang bising oleh ejekan antar kru seolah menjadi alunan irama yang harmonis. Ditambah dengan sajian alkohol fermentasi nira kelapa yang kita beli dari blok depan—runutan orkestrasi semu yang mengisi dinginnya malam. Sambil menuang minuman, aku bertanya dalam khalayan, apakah para kru merasakan kesemuan yang sama?
Kesemuan ini berawal saat aku mendapatkan sebuah bisikan ilahiah bahwa ada sebuah parasit mematikan tumbuh dalam tubuhku yang mengikis umurku secara perlahan. Indraku seolah bertambah karena adanya turbulensi tersebut. Aku mampu membongkar makna-makna yang berserakan di kawasanku yang kumuh ini. Derita berubah menjadi riang; penyiksaan berubah menjadi perhelatan; sebuah emansipasi cinta yang difatwakan oleh keniscayaan takdir!
Tumpukan botol dipelataran teras terlihat lebih indah. Tubuh-tubuh kru yang tergeletak tepar menandakan pencapaian moksa mereka tiap malamnya. Sampah sisa kayu bakar menjadi kerak-kerak harapan yang menandakan adanya endapan kehidupan di kawasan ini. Panorama kesemuan menjadi pemandangan sehari-hariku selama tiga tahun terakhir bertempat di kawasan blok belakang.
Kalau mereka merasakan apa yang kurasakan, bisikan apa yang mereka dengar?
Abraham • esai
anyak dari kita mempertanyakan apa yang terjadi dengan kehidupan setelah kita menyelesaikan studi pada perguruan tinggi. Disaat kita tahu mereka yang duduk di meja-meja kantornya tidak menjamin apapun seperti apa nasib kita di masa depan. Adalah kejanggalan yang harus dipertanyakan―kami mengetahui sistem yang terjadi di institusi ini sangatlah buruk atau mungkin cacat. Pada akhirnya, semua ini seperti berjudi mempertaruhkan sesuatu; barangkali takdirpun.
Kami menyatakan bahwa hal tersebut bukanlah akhir dari perjalanan kita sebagai manusia dengan segala tuntutannya. Mari kita tengok bagaimana bentuk seni bagi kami yang mengambil nada orgiastic dalam menyambut masa depan yang sepertinya lumayan ada sepercik cahaya. Cahaya yang gelap tidak masalah. Dari hal tersebut akan terbentuk motif-motif baru seperti pembentukan kolektif dan berjejaring secara individu satu ke individu lainnya.
Ini semua akan menjadi hentakan bagi mereka yang sedang termenung di meja kantornya. Tak dipungkiri mereka akan mengambil tindakan dengan birokrasi yang alangkah baiknya kita lenyapkan saja. Tidak ada perhitungan yang lebih rasional dari pernyataan ini sebab tak ingin pula kami terbenam dalam sensasi sesaat. Motif seperti ini harus terjaga untuk mewujudkan pergerakan gorong-gorong yang lebih massif, sebagai upaya mendorong diri dan membentuk takdir kami semua. Cita-cita terbaik adalah yang memiliki unsur pergolakan yang besar dan tidak terbatasi apapun, untuk membuka kemungkinan-kemungkinan lain.
Kami semua bersepakat bahwa dalam masalah seperti ini akan tercipta ruang kolektif yang indah. Indah yang tidak dipicu dari rasa bersalah, menyesal, kecewa namun indah karena banyak dari kami mulai memberontak menghasilkan sesuatu yang sepatutnya ada dan terus terbangun!
see the world as it is
Topik perdana yang diangkat pada Babak 01 adalah bagaimana keadaan ruang dan sekuritas institusi kesenian berdampak pada aktivitas mahasiswa yang membentuk suatu pola sosial yang tersublim dengan kegiatan sehari-hari mahasiswa. Infrastruktur institusi coba dipetakan pada Babak 01 ini sebagai selayang pandang untuk melihat citra visual institusi sebagai modal awal membaca gejala kebudayaan pada institusi.
Celah kreatif yang direspon oleh para mahasiswa menjadi pengantar awal infrastruktur institusi seni dengan perspektif akademis yang masih aktif berkuliah. Respon artistik dan beberapa gagasan coba dihimpun dan direkap pada Babak 01 sebagai pilot GoGon : Gosip-Gosip Underground.