Baca EPUB: Ikatan Arloji

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. IKATAN ARLOJI
  2. IDRUS
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. IKATAN ARLOJI
  6. CC BY-SA 4.0

IKATAN ARLOJI

IDRUS


KOLOFON

IKATAN ARLOJI

oleh

IDRUS



Dimuat di majalah MIMBAR INDONESIA

MAJALAH MERDEKA

26

26 JUNI 1948

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Penggiat Buku

Dibagikan oleh: Muhammad Reza Magistra

Gambar sampul: Mona 1968, karya Jacob Kainen

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



IKATAN ARLOJI

BANYAK HAL tiba-tiba tidak jadi perhatian lagi. Kendaraan yang meliwatinya ada dilihatnya, tapi seperti ia melihat perempuan jahat di Kali Got saja: harus diawasi dan dielakkan. Seorang temannya berseru: Yadi, ke mana? tidak didengarnya. Didayung-nya sepedanya ceptat-ceptat, melalui bengkolan-bengkolan jalan menuju rumah tunangannya, seperti melalui jalan ke kamar mandi di rumahnya.

Sebentar lagi dilihatnya arloji di tangan kirinyia. Dicobanya memenbus kataya arloji itu dengan matanya: Sicura, waterproof, Roskopf, made in Swiss. Dadi Yadi merasa gembira dalam hatinyia yang tak dapat diterakan.

Dua puluh cuduh tahun sebelumnya sekarang. Selama itu belum seram arloji melekat di tangannya, biasa arloji yang dipinjam sekula pun. Hanya beberapa tahun terakhir ini timbul keinginan mempunyai dalam hatinyia. Itu pun setelah Suhaish, tunangannya berkata kepadaYandaya: Yadi, aku senang melihat, kalau engkau pakai arloji-tangan.

Hari ini, tiga tahun setelah Suhaish berkata itu, ia dapat untung besar dalam perdagangannya. Segera ia beli satu arloji-tangan dan sekangar ia mendayung menuju rumah Suhaish.

Suhaish meloncat kegirangan, waktu Yadi memperhatikan arloji itu kepadanya. Kata Suhaish dengan muka berseri-seri: Sungguhun arloji itu engkau yang pakai, Yadi, yadi tpi kegiranngku barangkali lebih besar dari kegiranngunna. Memang apa yang ku-kehendaki sampai sekangar ini, diperlakukan Tuhan selalu.

Kedua mereka bergirang hati. Kedua mereka memuji-muji Tuhan yang maha pengasih.

Tapi Suhaish merasa kegiranngunna belum sampai kepucanknya. Ia ingin menambahnya sedikit lagi dan katanya kepada Yandaya: Yadi, hari ini aku beli mukena baru.

Perkataan ini mendapat sambutan yang berlainan sekali pada Yadi dari-pada yang diharapkan Suhaish. Yadi menekur saja kearoliji di atas telapak tangannya, ditimang-timangnya, sambil mukana bertambah lama bertambah merah. Bagi Yadi, masuk ke dalam per-cakapan tentang mukena itu berarti masuk ke dalam percakapan agama yang tak putus-putusnya. Dan berca-kap tentang agama pada waktu ia ber-girang hati ini, berarti melarang dia memeluk dan mencumi Suhaish, karena itu dilarang oleh agama.

Sebab itu muka Yadi jadi merah dan muka Suhaish jadi biru karena ma-rah. Mestikah dia saja boleh bercakap tentang hal-hal yang disukainya dan aku tak? Demikian pikir Suhaish dan waktu mampuun dia berpikir. Ke-punyakna, ditepuknya arloji dari ta-ngan Yadi. Arloji jatuh ke atas lantai. Gelasnya menjadi seratus pecahan dan ketiga jarumnya hilang entah ke mana.

Kedua mereka melihat berdiam diri kepecahan arloji itu. Lama mereka melihat dan berdiam diri. Muka Yadi bertambah merah, tangannya gemetar menahan nasu memukul. Muka Suhaish bertambah ‘biru’, tapi sekangar tidalg lagi karena marah, tapi lebih banyak karena takut dan menyesal.

Sepulang Yadi, dikumpulkan Suhaish pecahan-pecahan arloji itu sampai kepada pecahan gelas yang terkecil dan semua itu disimpannya baik-baik dalam kotak barang-barang perlisan-na.

Sudah itu Suhaish mengambil air sembahyang dan ia sembahyang lama, lama sekali. Lalu diempaskannya diri-nya ke atas tempat tidur dan ia mengnis seperti anak keci.

Setelan reda timbul pikiran sehatanya dan katanya kepada dirinyia: Ini satu pelajaran bagiku. Aku tidak akan bikin begitu lagi dengan Yadi. Dari dengan keputusan ini, sebenarnya Suhaish telah mengambil keputusan ini pula yang tersimpan baik-baik dalam bawah-sadapnya. Aku akan mengayar diriku sepertiyadi Yadi, kepada Yadi. Segala sesuatu yang Yadi yang akan datang yang tak adil adil terhadapku, akan kuinggap sebagai balasan Tu-han terhadap perbuatanku hari ini.

Peralatan perkawinan Yadi dan Suhaish berlangsung dengan meriah sekali. Ruangan rumah ditambah dengan ruangan pelampang. Dipelampang ini bermain dua macam musik. Jika ya indung-ingdung sayang berhenti, disem-bung dengan lagu-lagu dari padang pasir.

Angkak angkat Suhaish dapat pujian dari kanan-kiri. Buat anak angkatnya ia mengeluarkan uang begitu banyak. Sayang benar ia kepada anak angkatnya. Sedang dalam pada itu ibu angkat Suhaish di kamar belakang meng-hitung uang pemberian tamu-tamu. Di-bibirnya tampak senyum kepuasan.

Suhaish sendiri didandani dengan pakaian putri raja. Di atas kepalanya mencolot sanggul emas. Dan sambl mukana dibedeki orang, ia menangis tersedru-sedru mengenangkan ayaah dan ibunya yang telah meninggal dunia. Se-orang perempuan tua berkuta: Ja-ngan menangis juga. Lihat, bedakmu rontok lagi. Lalu ia membadeki muka Suhaish sekali lagi.

Dikasur telah persandingan duduk Yadi menunggu kedatangan Suhaish dan penghulu. Di hadapannya, di tengah-tengah ruang, segala macam kuwe-kuwe enak. Di sebelah-menyebel kuwe itu duduk kira-kira dua puluh orang kaum perempuan, berpakalan bagus-bagus dan bersimpul kaki. Sunyi senyap dalam ruangan itu dan semata mata mengarah kepitu tempat Suhaish akan keluar.

Yadi menghirup lisongnyia. Kepalanya sedikit punng karena lisong itu dan pakaiannya yang serasa menyteklet le-gatnya. Lalu pula pikiraniya penuh oleh gati percanyaan besar: Bagaimana ke-hidupannya nanti dengan Suhaish?

Tiga tahun setengah ia bertunangan dengan Suhaish. Dalam waktu selama itu tidak ada satu hari merka tidak berkelahi. Semua orang memakamkan perkawinan itu pasti tidak akan ber-bahagia.

Dan Yadi lalu ingat pula kepada ke-jadian dengan arloji tiga bulan yang lalu dan ia mengeluh panjang.

Tak lama pintu dibuka orang dan Suhaish dituntun-kekasur persandi-ngan. Mata Suhaish ditutupkaninya dan pada pandangan Yadi Suhaish jelek sekali. Mukanya mutih pucat karena bedak dan pemilihanya pecah keringan-ta. Yadi menyotba menghilangkan pe-raasan ini dengan sekutu tenaga. Dan waktu Suhaish telah didudukkan di-sebelah kirinyia, dihirupnya lisongnyia sekali lagi dan ia merasa kepalanya bertambah pusing.

Pintu yang menghadap kejadian dibukakan orang dan penghulu musik. Ia duduk di hadapan mempelai dan anak dara itu. Ayah dan ibu angkat Suhaish dibingkai dengan pipinyai. En-dah itu dipegangnya tangan Yadi de-ngan tangan kirinyia dan tangan Suhaish dengan tangan kanannya. Lalu ia mengucapkan perkataa-perkataan yang harus diulangi Yadi dan Suhaish. Akhirnya ia tersenyum dan ia mengut-yapkan selamat bahagia kepada kedua orang yang baru dipersatukannya itu.

Musik keroncong memainkan lagu “Panjanglah Umnurnya” dan musik padang pasir memainkan lagu “Sum-ber Air”. Semua orang bergembira, penghulu keluar dan kuwe-kuwe mulai dimakani.

Dalam keributan bergembira itu, Suhaish membuka matanya. Tam-pak olehnya arloji di tangan Yadi. Berbisik-bisik ditanyakknya: Arloji itu dari mana, Yadi?

Yadi menghirup lisongnyia pula dan jawabnya: Kupinjam. Dan kedua mereka mengeluh panjang dan musik terus berbunyi, diikut gerakan mulut orang-orang yang mcngunyah kuwe.

Lonceng di pos polisi sudah berbunyi sebelas kali. Di beberapa rumah kedengaran orang menutupkan pintu dan jendela rumahnya. Hari gelap-gulita. Suhaish duduk mengantuk-nyantuk. Di atas pangkuannya anaknya, Irma yang sudah berumur empat tahun. Sekal-sekal anak ini berontak dan memanggil ayahinya. Karena tak tertahan kan lagi dilapaskanya anak itu dari pangkuannya dan Irma terdayuh ke atas lantai. Ia menangis keras-keras dan memanggil-manggil ayahinya. Suhaish mengangkat anak itu dan dengan gerakan kasar diempaskannya di atas tempat tidurnya: Tidur. Co-ba, kalau tidak tidur, katanya. Lalu ia kembali kekurisinya dan ngelamun pulya.

Mukanya biru sekangar karena marah. Tapi kemudian terpikir olehnya bahwa ia sing berlaku tidak adil ke-pada Irma. Manggara Irma yang harus dipukulnya, jika yadi setiap hari pu-lang malam? Jika Yadi setiap hari marah-marah kepadaYandaya? Atau jika Yadi memukul dia beberapa bulan yang lalu? Haruskah semua itu dibalaskannya kepada anak yang tidak bersalah ini?

Pelan-pelan ia beryalan menuyu tempat tidur Irma. Anak itu suduh tidur dan Suhaish memcuni pipinya.

Tiba dikursinyia ngelamun pulya. Lima tahun ia kawin dengan Yadi su-dah. Dalam waktu itu Yadi tak pernah menyenangkan hatinya. Beberapa kali Yadi melahap memukul dia. Begini beratkah hukuman Tuhan terhadap dosa-nya memetahkan arloyi Yadi dulu?

Tetangga-tetangganya sudah lama herbisik-bisik. Memalukan kaum perempuan saja, Suhaish! itu. Dibegitu-kan laki tak berani melawan, tak mau minta cerai. Yangan lain terserum me-ngejek. Mana kita tahu*orang tak-iisteri. Mungkin ada yang istimewa di atas tempat tidur.

Semua pertayakan itu sampai juga ke telinga Suhaish. Suhaish menggeng-lengkap kepalanya: Apa yang mereka ketahui? Apa yang mereka ketahui tentang hal-hal yang dirasanya dalam dadanya? Jika yang menruturkan kata hatinya, ia sudah lama minta cerai. Ia sudah lama melemperkan piring dan minyak kayu putih ke muka Yadi. Tapi bayaran arloyi pecah dulu masih me-ngejek; dia ke mana-mana. Dan segala perbuatan Yadi terhadapnyia, baginya adalah pembalasan Tuhan terhadap dosanya itu. Dan haruskah ia memban-tah kemauan Tuhan?

Hampir pukul dua belas Yadi pulang. Suhaish menyambutnya seperti biasa. Tidak ada ditanyakannya; diai mana mengapa terlalu malam pulang. Dise-diakannya makanan buat Yadi. Yadi makan dan seperti biasa, tanyanya: Engkau sudah makan, Suhaish? Dengan ramah-tamah dijawab Suhaish: Sudah—dan dituangkannya air segelas lagi buat Yadi.

Melihat keramah-tamahannya ini hati Yadi menjadi terbuka dan sambil me-nyendok ikam dari pirig lukub, kata-nya: Suhaish, lebih baik aku terus-te-rang saja. Aku sudah kawin.

Mendengar itu sebentar Suhaish ka-lap. Sudah dipenggangnya sebuah piring, tapi tak jadi dilemparkannya. Dikata-kannya saja, bahwa ia tak mau dima-du, lebih baik ia diceralkan saja.

Yadi yang merasa berkuasa besar ter-hadap Suhaish menjawab, sambil mengejek: Bagaimanapun Suhaish, aku tidak akan memteryalkan engkau. Engkau gila! Diciyunyia tanggannya dan ditepuknya Suhaish pada bahunya.

Suhaish membentakan meja. Sudah itu Yadi memanggil dia dari kamar tidur. Dari suara Yadi, Suhaish tahu sudah, apa yang dikehendaki Yadi dari-padanya. Mula-mula ia berontak. Ia tidak suka dipengang Yadi lagi, tangan yang telah dikotori perempuan lain. Tapi segera pula terbayang olehnya pecahar arloyi dulu dan bertentangan dengan kemauannya Suhaish berjalan juga menuju kamar tidur itu, di mana algojonya sudah siap menunggu.

Yadi tertawa seperti anak keci dan sambil merangkup badan Suhaish, ka-tanya: Pahamu lebih kuning dari paha dia, Suhaish.—Lalu lampu kamar di-matikannya dan Suhaish merasa seperti dalam neraka.

Dapur Suhaish sangat sederhana, tapi kebersihanyanya terja ga sekali. Ke bersihan dapur ini diperdapat Suhaish, waktu ia masih bertunangan dengan Yadi. Waktu itu Yadi sering masuk da-pur, melihat dia memasak. Dan pada pendapat Suhaish, di mana Yadi adu, di-sang harus ada kebersihan. Sebab itu ia dari sejuk itu rajin membersihkan dapur di rumah orang tuya angkatnya. Dan sekaranyang memersihkan segala-galanya sudah diai kebersihan.

Irma bebas-main-main dengan kayu ba- kar. Kadang-kadang ia menusil entah apa dilantai dapur dengan kayu itu.

Kadang-kadang ditusuknya periuk dan panci.

Suhaish melihatkan saja Irma ber-main itu dengan mengkal hati. Tapi ia tak sampai memarahi Irma. Dalam beberapa bulan ini Irmaial satu-satu-nya teman hidupnya. Tetangga-tangga-nya tidak suka bergaul dengan dia lagi, karena ia merendahkan derayat pe-rempuan. Dan Yadi hampir-hampir tidak pernah ada di rumah. Jika tiba giliran isteri mudanya, ia tidak datang.* datang sama sekali. Dan pada giliran-nya, Yadi pulang malam-malam.

Lambat-lambat sekali Suhaish me-nyayat-nyayat bangaw dan kontang. Ini sebenarnya tidak kebiasaan Suhaish. Ia terkenal sebagai orang yang segala cetap. Tapi pada hari ini hatinya ma-las. Buat apa memasak cetap-cetap, jika orang yang dimasaknya akan ma-kan baru pukul dua belas malam?

Karena bekerja lambat-lambat itu, pikirannya dapat melanyut ke mana-mana. Betulkah kehenenya Tuhan me-nimpakan segala kesan sorani itu atas bahunya? Dan buat apa Tuhan selalu di-jarikan pengasih dan penyaga? Dan insaksukal dalam akal ia suka mem-permal-malakan seorang makhluknya? Dan jika ia betul-betul hendak meng-hukum dia, karenna ia memetahkan arloyi Yadi itu, maka hukuman itu sungguh sangat berat, sangat lama dan durat. Atul Betulkah hukuman itu da-tangnya dari Tuhan dan tidakkah dari dia sendiri?

Suhaish memasukkan bangaw dan kontang itu ke dalam sebuah wajan. Ditambahkannya cebe yang telah di-iris-iris dan garam halus. Sudah itu di-besarkannya api. Bahan-bahan itu men-desis-desis dalam wajan dan Suhaish meneruskan pikirnya.

Terpikir olehnya, bahwa ia seanna ini terlalu lamah berhadapan dengan Yadi. Dan Yadi memperkoska kelemahan ini. Sedangkan maksudnya sendiri hanya untuk mengelakkan perkelahan seperti dulu dengan arloyi itu. Dia mau mem-berikan segala apa kepada Yadi, asal jiangan berkelahi. Tapi Yadi tak tahu batas. Ia seperti kuda lepas pingitan. Diinjak-injakna Suhaish boleh dik-a-takan. Dan sekarang waktunya bagi Suhaish sudah terlanyut untuk mem-perdengarkan suaranya dan memperl-hatkan kekuasaan pula.

Sambil mengeluhi diangkatnya wajan dari tungku. Dimasukkannya ke tangg antu goreng itu ke dalam botol. Dibersihkan nya tangan Irma, lalu diberinga Irma makan.

Tidak kelihatan oleh Irma, Suhaish memangis. Sekarang ia harus kuat. Ia harus memiliki Yadi kembali. Ia tidak mau menruturkan kata tetangganya minta cerai dari Yadi. Irma satu jiya yang dipertaruhkan Tuhan kopadannya. Dan jwa ini hanya bisa sempurna di-benek Yadi. Yadi itu badud. Yadi perlu untuk membentuk Irma.

Setelah Irma makan, Suhaish pergi kekamarinya. Diamilahis kotak barang perhisianyanya dari dalam lemari. Dilke-luarkannya segala pecahar arloyi dari *kotak itu. Ini yang mengikut aka selu-ma ini, katanya dalam hatinya, lalu di-lemparkannya pecahar-pecahar itu dari jendelanya.

Dengan perasaan legah ia kerifiali kedapur, ke tempat Irma duduk. Anak itu tertawa manis kekengangan kepada-nya. Diciyunyia kedua belah pipi anak itu, lalu katanya: Mari, nak, tukar pa-kaiann. Kita pergi.

Ke mana, mak, tanya Irma.

Kedukun, jawab Suhaish.

Dan waktu mengenakan pakaiann, Suhaish hampir-hampir tak dapat me-nahan kegembiraan hatinya. Mau rasa-na ia beranyani kera-keras dan mela-gukan lagu: Kedukun, kedukun, ke-duukun! , seperti dalam lagu Beker-ja, ‘bekerja, bekeceerja!’ Tapi karena malu didangar tetangga, ia tersenyum saja dan memikirkan hal-hal yan-yan akan dilakukannya.

Tuhan pernah bersabda: Bagi manusia keyayayibannya ialah berusaha. Dan ia selama ini berpangku tangan saja. Membiarkann dirinyia diinjak-injak Yadi. Dar itu dinamakannya hukuman Tuhan, karena ia memetahkan arloyi Yadi!

Tidak, sekarang ia akan berusaha. Ia akan pergi kedukun. Ia akan minta, supaya Yadi meninggalkan isteri muda-nya dan kembali kepadanya untuk ke-banggaan Irma.

Memetahkan arloyi Yadi itu jadi satu ikatan baginya. Ia mengitak diri-nya sendiri. Ia membiarkann dirinyia di-pukuli Yadi, karena sangkanya dengan menderita hukuman itu. Ikatan itu akan hilang dengan sendirinya. Dan in dinamakannya pembalasan Tuhan?

Sekarang ia akan berusaha sudeh diempar-kannya dari cendela. Ia akan beryudung sekarang memilikid Yadi tambali dengan jalan yang pada pendapatnya yang ter-cepat. Ia akan pergi kedukun. Ia akan berusaha seperti yang diyandurkan Tu-han. Dan ia yakin, ia pasti akan ber-hasil.

Di muka sebuah rumah tuya beca Suhaish berhenti. Irma tidak mau turun dari beca. Suhaish mau buru-buru masuk kekam rumah itu karena ia takut kekal-kale. Yadi kebetulan iwiut pula diyalan itu. Sebab itu diang-katnya Irma dengan renggutan keras, didukungnya. Irma menangis keras-keras dan pintu rumah itu dibukakan seorang perempuan yang sudah lanju juga umurnna.

Perempuan itu menyilakan kedua orang itu masuk dan ia memperkenal kan dirinyia sebagai Mak Upik. Dan Suhaish tahu segera, bahwa perem-puan itu dukun yang mau diketumelinya.

Setelah Suhaish menercikann mak-sud perkunjunganya, Mak Upik me-ngambil perasapan dari dapur, dibari-nya dan dituangkannya bubuk setanggi kedalamnya. Segera ruangan tengah itu penas asap dan baunya sangat sedap. Suhaish mau tak mau teringat kepada suasana waktu ia menjaga mayat ibu-nya malam-malam, sebelum dikubur-kan: bau setanggi dan kesunyian yang memeyaskan napas.

Irma mempermain-mainkan asap se-tanggi itu dengan tangannya. Suhaish melarang Irma dan tiada sempat te-perhatikan olehnya. Mak Upik sudah memerahkan dirinyia di atas lantai dekat perasapan, sambil melenguh beberapa kali seperti kerbau.

Suhaish sebentar kehllangan akal. Ia masih ada sebenarnya yang hendak di-kataknannya kepada Mak Upik. Tapi sekarang Mak Upik melenguh seperti kerbau dan perkataan-perkataan yang diucapkannya satu pun tidak diketahui-nya.

Mak Upik bukan Mak Upik lagi. Suara yang keluar dari mulutnya seperti suara lahak dari dari beberapa per-katana dapat difiksirnya. Suhaish bawah bahwa yang dipakai omong lak-li yang turun ke dalam badan Mak Upik ialah bahasa Sunda halus.

Karena ia tidak mengerti bahasa Sunda, Suhaish berdiam diri saja kehilangan akal. Tapi tangan Mak Upik menariknya dan putus asa katanya:

Aku tidak mengerti bahasa Sunda Mak Upik.

Suara laki-laki kedengaranya marah dan keras-keras katanya:

Aku bukan Mak Upik. Aku kakek Mak Upik. Apa maksud kesini?

Suahaisih girang juga, waktu mendengar suara itu berbahasa Indonesia. Dan ia lalu menceritakan riwayatnya dan meminta pertolongan kakak itu. Mak Upik menggelengkan kepalanya dan kakaknya berkata:

O. Yadi itu. Aku kenal.

Lalu diceritakannya dengan panjang lebar dan terputus-putus tentang pergaulan Yadi dengan isteri-muda itu. Tapi yang mengejutkan hati Suahaisih benar, ialah, waktu ia mendengar, bahwa isteri-muda Yadi itu yalan seorang perempuan jaht dan bahwa Yadi pada waktu ini sedang dapat sakit.

Segera Suahaisih ingat kepada botol yang selalu dibawa-bawa Yadi pada waktu terakhir ini. Mula-mula sering juga ditanyakkan Suahaisih kepada Yadi, apa isi botol itu, tapi Yadi selalu menge- lakkan menjawab pertanyaan itu. Sekarang tahu ia, dari kakek ini, apa isi botol itu: obat Yadi, obat penyakit yang diperdapatinya dari isteri-mudanya.

Mula-mula hati Suahaisih girang mendengar Yadi sakit itu, tapi waktu tampak olehnya Irma yang masih saja mempermain-mainkan asap setanggi, rurut kembali hatinya. Apa akan jadi Irma, jika Yadi terus sakit dan akhir-nya mati?

Kemudian kakek itu bicara lagi:

Jangan takut anakku. Yadi akan kembali kepadamu. Asal engkau bisa menjaga diri. Jangan tanyakkan apapa, kalau Yadi pulang, biar pukul be-rapa pun. Lakukan keajiibanmu seba-gai isteri. Hanya sesu kewayiban pada waktu ini jangan dulu, karena ia se-dang sakit. Tapi jangan kau tanya-tanyakan tentang penyakit itu. Ia akan menceritakan isteri mudarya.

Mak Upik melenguh pula, matanya yang dari tadi ditutupkannya, sekarang dibukakannya, wajah mukanya biasa kembali dan katanya:

Kepalaku pusing. Aku mau tidur se-bentar.

Suahaisih meletakkan beberapa helai uang kertas serupiah dekat kepala Mak Upik. Direnggutkannya tangan Irma dari perasapan dan pelan-pelan ia me-ninggalkan perempuan yang tertidur itu. Dengan suara lepas dipanggilnya beca dan dalam hatinya ia telah me-maafkan Yadi karena dapat penyakit itu.

Yadi pulang makan tengah hari ke-rumah Suahaisih. Kejajan mi sangat luar biasa. Sudah bergerak-gerak bibir Suahaisih untuk mengucapkana: Kok, tumben! Tapi ia ingat akan pesan kak-kek Mak Upik dan ditutupkannya bibir-nya itu.

Sudah selesai makan, Yadi tidak ber-diri dari kursinya. Mukanya bekernyut. Lama dipandangnya Suahaisih dan Irma. Lalu katanya:

Aku gila, Suahaisih. Masakan Irma ku sia-siakan selama ini.

Ini satu-satuinya ucapan yang terde-ngar sesudah makan pada hari itu. Yadi pergi lagi ke tokonya. Setiap hari Yadi pulang makan sekarang tengah hari. Setiap hari ia tidur di rumah Suahaisih. Suahaisih sedikit pun tak bertanyakan mengapa Yadi sudah berubah betul.

Hanya satu yang akan dipegang-nya teguh sekangar: kendali rumah tangga. Ia akan berusaha, agar ia da-ngan mengikatkan dirinya lagi kepada hal-hal yang kecili, seperti ariloji itu dan setiap sudah sembahyang ya akan mendoa:

Tuhan, beri aku kekuatan untuk menjaga keselamatan anak dan sua-mi...


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.