BAHWA INI HIKAYAT JAHIDIN
J. A. UILKENS
KOLOFON
BAHWA INI HIKAYAT JAHIDIN
Terkarang pada bahasa Belanda oleh
J. A. UILKENS
Dan dikarangkan pula pada behasa Melayu oleh
A. F. VON DEWALL
Cetakan yang kelima kali.
Tercetak di bandar Betawi
G. KOLFF & Co.
1906
© 2026 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: delpher.nl
Ilustrasi sampul: The Yard, karya Blanche Baxter
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
HIKAYAT JAHIDIN
Bahwa sesungguhnya maka berapa tahun lamanya alalah seorang orang bernama Jahidin, orang bercucuk tanam, duduk di dusun Pesauran, masuk bilangan keresidenan Bantan. Maka orang itu kaya daripada segala orang di-dusun itu; dan lagi rumahnya indah rupanya, daripada kayu beratap genting; maka tanah tempat rumah itu besar, maka puhun nyiurnya ada empat ratus batang lebih, dan kudanya lima ekor, dan kerbaunya sepuluh pasang, serta Jahidin menaruh senjata bagus-bagus juga dan emas intan. Adapun hartenya itu tiada diperuhnya dengan sama sekali, melainkan dengan pencahariannya yang rajin juga adanya. Maka ketika bapanya meninggalkan dunia, maka pusaka yang diperuhnya hanya rumah sebuah, seperti rumah dusun kebanyakan juga, yaitu daripada buluh beratap lalang, dan lagi kerbau sepasang, dan lagi ada apa-apa lain sedikit. Akan tetapi Jahidin ‘adatnya ceremat, apa yang lebih sedikit-sedikit disimpannya. Dan lagi Jahidin tiada seperti handai taulannya, malam suka pergi melihat ronggeng, melainkan duduk di rumah menyirat jala dan menganyam bakul buluh dan menjalin tikar rotan dan membuat sarung keris dan hulo keris dan membelah kayu api. Maka pada hari pasar Jahidin pun pergilah ke pasar, menjual segala benda yang telah diperbuatnya itu, atau menukarkan sekalian itu dengan makanan atau dengan pakaian, atau apa-apa lain yang berguna kepadanya. Dan lagi Jahidin itu tiadalah sekali-kali suka memburos atas peri perjamuan, maka pakaiaannya pun seupama patut sahajalah tiada suka ia bersolek. Maka dalam hal yang demikian itu dapatlah ia mengumpulkan uang. Maka apabila cukup wangenya akan membeli kerbau, maka dibelinyalah seekor; maka dipilihnyalah kerbau yang tegap dan muda, meski pun mahal sedidit tiada mengapa; karena pada pikirannya, kerbau yang-demikian itu terlebih berguna dan lama boleh dipakainya daripada kerbau yang sudah tua, kurang tahan bekerja, jadi umpan pisau sahaja. Dan lagi Jahidin tiada takut membelanjakan uang dari tentang membeli perkakas, seperti cangkul dan tenggala, semuanya baik-baik buatannya, disuruhnya perbuatkan kepada tukang besi; maka lamalah boleh dipakainya, tiada lekas rusak sebagai perkakas orang, barang kudian. Maka dengan perkakas yang demikian macamnya itu, maka pe-kerjaannya pun senantiasa sempurnalah; dan lagi ia memeliharakan sawah dan kebunnya dengan hemat juga, maka rumput dan tumbuh-tumbuhan pun tiadalah tumbuh dalam padi dan tanam-tanamannya. Dalam hal yang demikian itu maka sawah dan kebunnya itu pun hasilnya terlebih banyak daripada hasil sawah dan kebun orang lain. Maka mereka itu pun bertanyalah kepada Jahidin, apakah sebabnya maka sawahnya dan kebunnya sekalian itu sediaakala demikian banyak hasilnya adanya. Maka sahut Jahidin. “Itu mudah diperoleh, tiada usah dengan ‘azimat, suatu pun tiada, melainkan dengan tangan, dan dengan kerbau dan dengan perkakas juga. Tetapi menenggala tanah tiada boleh kurang dalam, dan lagi hendaklah dihancurkan benar-benar tanah itu, jangan bergumpal, dan lagi rumput dan tumbuh-tumbuhan pun jangan dibiarkan tumbuh di dalam padi, melainkan dicabut hingga habis sekali; dan lagi ikhtiarkan benar-benar juga jikalau hujan lebat, supaya padi itu jangan rusak dilanggar air. Itulah ’ilmuku. Jikalau engkau peliharakan sawahmu demikian juga, tiada dapat tiada maka hasilnya pun samalah dengan hasil sawah-ku itu juga.”
Syahdan maka kemudian Jahidin itu pun kerbaunya banyaklah, hingga tiada terpakai olehnya semuanya bagi mengerjakan sawahnya, maka disewakannyalah beberapa pasang daripada kerbaunya itu kepada orang yang mempunyai sawah, tetapi tiada menaruh kerbau. Maka pada waktu mengetam, maka oleh Jahidin diterimanyalah sewanya, yaitu sebahagian daripada hasil sawah mereka itu. Hatta pada waktu hendak mengetam, maka padi pun kuranglah, maka oleh Jahidin dijuanlyalah akan padinya kepada orang yang kekurangan padi itu dengan harga tinggi. Maka Jahidin pun banyaklah untungnyia, maka bolehlah ia membuat rumah yang baik, serta belum pernah ia kepotusan padi. Dalam hal berceremat yang demikian itu, tetapi Jahidin murah juga, maka tiap-tiap orang miskin yang tiada cakap bekerja lagi, jika datang kepadanya meminta beras, maka diberinyalah beras akan mereka itu dengan rela, meski pun mereka itu berulang-ulang datang kepadanya. Maka oleh karena kelakuan yang demikian itu, maka Jahidin pun berolehlah nama yang jasa, maka di dalam dusuninya ialah yang dipandang orang seupama suatu contoh bagi orang banyak adanya.
Kemudian daripada itu maka isteri Jahidin beranak seorang anak laki-laki, maka anak itu dinamainya Jahidin; maka dari ketika anak itu terlahir, maka bapanya itu pun disebut orang Pa Jahidinlah. Maka Jahidin pun subur amat serta tegap tubuhnya; maka Jahidin itu dikasihi benar-benar oleh ibu bapanya, karena tiada lagi anaknya, hanya seorang itulah; dan lagi budak itu kekasih orang dusun Pesauran sekaliannya juga, sebab pandai ia berkata-kata dan manja kepada orang, dan kuat pergi ke rumah-rumah orang sekampungnyia bermain-main. Hatta ketika ‘umurnya telah delapan tahun, maka cakap ia sudah menolong bapanya bekerja di sawah, dan mengembala kerbau, atau berjalanan di hadapan kerbau jika bapanya menenggala sawah; dan lagi jika ibunya pergi ke pasar, maka Jahidin pun bersama-sama, menolongi ibunya memikolelkan barang-barang yang dibelinya, dibawanya ke rumah.
Maka pada hari malam Jahidin pun belajar membaca surat dan belanjar menyurat, dan ‘ilmu lain-lain juga; maka terlalu deras ajarnya, tiada berapa lamanya maka ia pun pandailah membaca surat dan menyurat. Maka gurunya terlalu amat kasih akan dia. Maka kadang-kadang pada petang hari, jika Jahidin ada di rumah, tiada pergi mengaji, maka bapanya berceriteralah, menceriterakan segala ceritera yang indah-indah; maka Jahidin pun suka amat mendingarkan ceritera itu, apa lagi ceritera bapanya pergi ke pihak selatan keresidenan Bantan, ke tempat orang bedui di gunung Kendang. Adapun orang bedui itu ’adat isti'adatnya lain sekali daripada ‘adat isti'adat orang Pesauran itu. Maka mereka itu tiada boleh naik kuda, dan tiada boleh menanam apa-apa, hanyalah padi dan jagung juga, dan lagi tiada boleh menyurat, lagi tiada boleh memakai pakaian warna lain, melainkan warna putih dan biru atau hitam. Apabila didengar oleh Jahidin akan ceritera itu, maka timbullah hasrat di dalam hatinya, hendak pergi melihat-lihat negeri orang dan ’adat lembaga mereka itu sekaliannya.
Akan tetapi kehendak anak itu tiadalah berkenan akan ibunya, maka apabila anaknya berkata bendak pergi kelak apabila ia sudah besar, maka disengutinyalah akan dia, seraya ia berkata: “Mengapakah maka engkau hendak pergi dari Pesauran ini? Bukankah baik engkau di sini, tiada kekurangan barang suatu juga pun? Ma bapamu dan handai taulanmu sekaliannya ada di sini. Pergi ke negeri orang itu, takut kalau-kalau berjumpa dengan orang jahat, diperjahatinya dikau. Maka jika engkau berjalan menempuh hutan, takut kalau-kalau berjumpa dengan harimau, berjalan di tepi pantai, berjumpa dengan buaya. Maka oleh sebab itu, janganlah engkau pergi, anakku, melainkan tinggallah di sini dengan ibumu.” Maka bapanya pikirannya lain pula, katanya; “Budak ini lagi kecil, tiada tahu apa yang akan dikehendakinya jika sudah besar. Jika tetap di dalam kehendaknu yang dikatakannya itu, biarlah ia pergi melihat-lihat negeri orang. Karena ada faidahnya, mengetahui ‘adat lembaga bangsa-bangsa lain. Diam di rumah dengan ibu bapa sahaja jadi tumpul pikiran, jika hendak berbuat barang suatu kelak, tiadalah tahu mencahari jalannya sendiri.” Maka di dalam hati ibunya pula: “Tiada pergi anakku, tiada kuberi; anakku hanya seorang ini juga. Ditinggalkannya aku ini, siapakah memeliharakan aku pada hari tuaku? Kekasihku tiadalah lalu dari padaku, hingga aku mati.”
Adapun ibunya itu dalam berkata-kata demikian itu, tiadalah diketahuinyna, bahwa tiada jauh lagi waktee anaknya yang seorang itu akan pergi juga, akan ditangisinya berhari-harian.
Syahdan maka Jahidin pun ‘umurnya sampailah kepada dua belas tahun. Maka pada suatu hari Jahidin menggembala kerbau bapanya di sawah bekas diketam. Maka itulah pekerjaan Jahidin setiap hari. Maka adalah beberapa orang budak-budak Pesauran bersama-sama dengan Jahidin itu duduk di atas boakit, melihat-lihatkan kerbaunya berjalan-jalan mencahari rumput muda, yang tumbuh di dalam padi bekas diketam itu. Maka mereka itu pun bercakap-cakaplah akan hal harimau yang baharu ditangkap orang di dalam suatu lubang. Maka kata seorang budak, yang bernama Saaman: “Bukan buatan besarnya harimau itu, dari kepalanya hingga ke-ekornya tiga depa panjangnya.” Maka kata Jahidin: “Sepeluh orang yang memikul harimau itu, dibawanya ke ibu negeri.” Maka sahut Gadwa. “Sedangkan mati sebegitu banyaknya orang yang memikul dia; jika hideop alangkah benyaknya pula orang memikul dia dengan penjaranya; dua puluh orang tiada cukup agaknya.” Kata Sarijah anak kebayan: “Yang menetak harimau itu mula-mulanya bapaku, dengan kelewang.” Maka sahut Ja-hidin; “Bukan begitu, bapamu bertemu dengan harimau itu sudah mati, dibawa orang ke Pesauran, di tengah jalan ditikamnya dengan kerisnya.” Maka sahut Sarijah: “Bohong, bapaku juga yang menggasak kepalanya dengan kelewang, bukannya ditikamnya dengan keris.” Maka kata Jahidin pula: “Aku tahu benar, sebab aku mendengar bapaku sendiri bercerita sambil marah, karena kulit harimau itu cecat, bekas ditikam dengan keris itu, jadi kurang harganya.” Maka sahut Sarijah: “Apa bapamu! Sipenakut itu! harimau sudah di dalam lubang tiada boleh bergerak lagi, masih juga ditakutinya, tiada berani ia berdekat.”
Maka apabila Jahidin mendengar kata Sarijah itu, maka marahlah ia juga, dengan sangat amat geramnya; maka katanya: “Engkau dusta! Bapaku juga, bukan orang lain yang mula-mula turun ke dalam lubang memarap kepala harimau itu.” Serta demikian maka oleh Sarijah dikata-katainyalah pula akan bapa Jahidin itu, maka Jahidin pun bukan buatan jadi-jadi marah-nya. Maka katanya kepada anak kebayan itu: “Jangan engkau banyak mulut, kugasak nanti kepalamu dengan kayu ini, hingga engkau tiada kuasa berteriak lagi.” Maka sahut Sarijah: “Beranimu sama dengan bapamu juga, tiadalah membuang baka, pandai bersombong, tetapi tiada berani memukul.”
Serta itu maka oleh Jahidin diparapnyalah akan kepala Sarijah, maka terdiamlah ia, karena ia rebah seolah-olah mati.
Maka lukalah kepalanya dimakan kayu itu, parah lukanya, hingga ngeri rasanya melihatkan lukanya itu.
Maka pada pikiran budak-budak yang lain itu, tiadalah boleh hidup lagi Sarijah itu.
Syahdan maka Jahidin pun terlalulah takutinya, karena ia memukul Sarijah itu bukan dengan maksud hendak membunuh dia; akan tetapi sekarang Sarijah itu terlantart di tanah dengan tiada bergerak, serta matanya pejam, dan mukanya bersimbah dengan darah, seperti mati adanya. Dalam hal yang demikian itu, apa akal? Jikalau ia pulang ke kampungnya dan didengar kepala kampung bahwa ia memukul anak orang hingga mati, maka tiada dapat tiada disuruhnya tangkaplah akan Jahidin dan disuruhnya ikat seperti orang yang berdosa membunuh orang, dan dibawanya pula ke ibu negeri lalu diterungkunya, maka kemoodian pula dihukumlah ia dengan hukuman yang amat beratnya, barangkali jatuh dibuangan se'uur hidup, dengan memakai kalung besi, bekerja di negeri orang, jauh dari negerinya; barangkali didenda mati naik pegantungan juga, sebab ia berutang jiwa orang. Maka hukuman itulah yang ditakutinya amat. Maka apatah kata ibu bapanya, jika didengarnya bahwa anaknya berdosa yang demikian itu. Maka merataplah kiranya ibunya, jika anaknya seorang itu dibawa orang dari Pesauran, terikat seupama orang berdosa besar, dan tiada akan berjuempa lagi se'uur hidup. Maka demikianlah di dalam hati Jahidin, maka sangatlah takutinya, hingga ia lari sekuat-kuatnya, dipanggil kawannya tiada hendak mendengar. Maka lebih dipanggil lebih kuat ia berlari, tiada berhenti-henti, hingga sampai ke jalan raya. Maka setelah ia menoleh ke belakang dan dilihatnya tiada ada orang mengejar dia, maka Jahidin pun berhentilah, maka dipikirkannya pula apa yang telah diperbuatnya itu dan apakah akan diperbuatnya sekarang.
Maka kehendaknya tiada lain melainkan hendak pulang kePesauran juga, tetapi apa gunanya, ditangkap orang dan dibawanya pergi juga dari Pesauran, jauh daripada ibu bapanya. Dalam hal yang demikian itu maka pada kiranya, baik ia pergi dengan sukanya senderi, tiada diterungku, dan tiada dibuang beberapa tahun lamanya, entah ke mana, hingga tiada dapat pulang kembali ke-Pesauran kemoodian.
Hatta maka Jahidin pun tiadalah pulang ke rumah ibu bapanya, melainkan berjalan menuju jalan raya.
Berapa pal jauhnya berjalan itu, maka Jahidin pun merasalah perutnya lapar. Maka baik benar ia ada menaruh duit lima belas duit di dalam ikat pinggangnya; maka dibelikannya nasi dengan lauk-pauknya lima duit dikedai. Apabila matahari telah masuk, maka Jahidin pun sampailah kepada sebuah rumah pos, maka tiada ia berani berjalan lagi, maka bermalamlah ia di rumah pos itu, tidur di tanah. Maka pada keesokan harinya berjalanlah ia pula, menurut jalan raya juga. Maka badannya terlalu penat, tetapi tiada ia berani berhenti, takut kalau-kalau disusulnya oleh orang Pesauran dan ditangkapnuya akan dia. Dalam hal yang demikian itu maka hari pun petanglah, maka Jahidin pun berhentilah pula, tiada berani berjalan malam-malam. Maka bermalamlah ia pada sebuah kedai, maka dibayarnya sepuluh duit, maka oleh yang empunya kedai itu diberinyalah nasi sedikit akan Jahidin, upama tambahan.
Hatta pada keesokan harinya, pada waktu subuh, maka Jahidin pun berjalanlah pula, bersama-sama dengan seorang kuli, yang bermalam dikedai itu juga. Maka pada waktu tengah hari maka tampaklah dari jauh kepada mereka itu rumah, terlalu banyaknya. Maka Jahidin pun bertanyalah kepada kawannya berjalan itu, seraya menunjuk ke rumah-rumah itu, katanya; “Apakah itu?”
Maka sahut kawannya itu: “Dari manakah engkau datang ini, maka engkau tiada tahu negeri Betawi?” Maka Jahidin tiada hendak menyatakan kepada kuli itu bahwa ia datang dari Pesauran, maka kata Jahidin: “Aku ini dari Serang, belum pernah melihat negeri Betawi.” Maka bertanya pula kuli itu: “Apakah niatmu maka keBetawi ini?” Maka sahut Jahidin: “Hendak mencahari pekerjaan.” Maka kuli itu bertanya pula; “Tiadakah bagimu ibu bapa lagi maka engkau pergi sejauh ini dengan seorang dirimu sahaja, mencahari pekerjaan? keku-rangan beraskah diSerang?”
Maka Jahidin pun diamlah sejurus, tiada tahu apakah yang hendak dikatakannya; hendak menceriterakan halnya dengan sebenar-benarnya, takut kalau-kalau diadukan halnya oleh kuli itu; hendak berbuat dusta, tiada dapat juga, karena ia tiada biasa, apa lagi di dalam hal kuli itu berjinak-jinakan dengan dia. Akan tetapi sudah telanjur, sekali berbuat dusta, “apa boleh buat,” di dalam hatinya, “kita teruskan sahajalah.” Maka kata Jahidin: “Tiada bagiku ibu bapa lagi; diBetawi ada seorang saudaraku.” Maka kata kuli itu: “Di mana tempatnya diam saudaramu itu?” Maka sahut Jahidin: “DiBetawi, bukan, kukatakan.”
Maka kata kuli itu pula: “Jikalau engkau tiada tahu di mana diBetawi itu tempat ia diam, tiada dapatlah kau-cahari saudaramu itu, karena Betawi negeri besar, seribu kali digandanya Serang; dan lagi jikalau engkau hendak mencahari dia pada setiap rumah, keluar masuk, setahun baharulah dapat agaknya.”
Syahdan di dalam hal tiada ada saudara diBetawi itu, maka tiada perdulilah ia akan kata kuli itu, melainkan beragak seupama susah hatinya. Maka katanya: “Manamana untung sahajalah mencahari saudaraku itu, sebab aku tiada tahu di mana rumahnya.” Maka pada hakikatnya pikir Jahidin demikian; “Baik benar negeri Betawi itu demikian besarnya; kalau-kalau datang orang Pesauran ke situ mencahari aku tiada mudahlah, bolehlah senang aku di situ. Kemudian boleh barangkali aku pulang juga kePesauran, apabila orang sudah lupa akan halku membunuh Sarijah itu.” Akan tetapi pikiran Jahidin itu tiada sempurna. Di mana boleh lupa orang akan perbuatan yang seperti diperbuat oleh Jahidin itu, tiada mudah; dan lagi orang berdosa, tiada sekarang, kelak dapat juga ia dihukum.
Syahdan pada hari yang ketika Jahidin lari itu, pada petangnya, maka adalah ibunya duduk di hadapan rumahnya, menyediakan makanan bagi suaminya, jika ia pulang dari menebang kayu di hutan akan papan, dan bagi anaknya juga, dikirakannya lekas akan pulang dari sawah membawa kerbaunya. Maka adalah pada jam pu-kul lima, ketika Pa Jahidin pulang dari hutan dengan empat orang kawannya, membawa kayu. Maka Pa Jahidin merasa badannya penat, maka duduklah ia dekat isterinya melepaskan lelah.
Maka katanya: “Jahidin belum pulang?” Maka sahut isterinya: “Belum, sebentar lagi kiranya datanglah ia, hampir magrib.” Maka belumlah lama selangnya Ma Jahidin berkata itu, tiba-tiba datanglah kerbaunya lalu berjalan masuk kekandangnya di belakang rumah itu. Hatta Pa Jahidin mendengar kerbaunya datang itu, maka disangkakannya Jahidin ada bersama-sama seperti biasanya, tetapi tiada didengarnya suaranya, maka katanya: “Lekas-lekas tutup kandang kerbau, lalu kemari engkau, duduk, sebentar kita makan.” Maka oleh karena tiada disahuti oleh anaknya, maka bangunlah Pa Jahidin, hendak pergi melihat kerbau itu, seraya berkata kepada isterinya: “Ke-manakah perginya budak itu? Biasanya tiada jauh ia dari kerbaunya, sekarang tiada kedengaran suaranya. Jika ia bermain-main dengan kawan-kawannya, lupa kerbaunya, nanti kumarahi dia benar-benar.”
Apabila sampailah Pa Jahidin ke kandang kerbau itu, maka dilihatnya kerbaunya tiada kurang seekor juga pun. Maka ditutupnyalah pintu kandang kerbau itu, lalu berserulah ia, menyerukan Jahidin. Tetapi tiada sahutnya, melainkan didengarnya dari jauh bunyi suara orang banyak. Dalam hal yang demikian itu, maka oleh Pa Jahidin disangkakannya ada apa-apa perlihatan yang dilihat oleh Jahidin bersama-sama orang banyak itu. Maka Pa Jahidin pun pergilah ke tempat orang banyak itu, maka adalah dilihatnya berapa orang memikul apa-apa. Apabila dekatlah, maka dilihatnya mereka itu mengusung seorang budak. Maka khawatirlah Pa Jahidin, takut barangkali anaknya kena barang suatu bahaya. Maka bertanyalah ia kepada orang banyak itu. “Hai, kamu sekalian! Siapa itu diusung?”
Maka sahut mereka itu. “Sarijah, anak kebayan.” Maka mengucaplah Pa Jahidin di dalam hatinya: “Alhamdulillah! bukannya anakku.” Maka katanya pula: “Apakah mulanya, maka demikian rupanya budak itu?” Maka sahut mereka itu pula: “Dipukul oleh Jahidin, anakmu itu, dengan kayu, hingga bernyaris mati ini.” Maka kata Pa Jahidin: “Siapa? Jahidin memukul dia? Mustahil, Jahidin tiada tahu mengusik orang!” Maka kata seorang dalam antara mereka itu, yang berjalan sama-sama: “Benar, tiada salah, ialah yang memukul Sarijah ini.” Maka dalam antara orang mengusung Sarijah itu adalah seorang orang bernama Pa Saaman. Maka dipanggilnyalah anaknya, disuruhnya menceriterakan kepada Pa Jahidin hal Jahidin memukul Sarijah itu. Maka berceriteralah Saaman, menceriterakan segala itu. Apabila didengar oleh Pa Jahidin akan ceritera itu, maka dalam hatinya. “Tiada dapat tiada, demikianlah juga halnya.” Maka katanya: “Jahidin, mana dia?”
Maka jawab mereka itu: “Tiada tahu kami ke mana perginya, ia lari menuju jalan raya, kemudian ke mana entah, tiada kelihatan lagi.” Serta itu maka pulanglah Pa Jahidin ke rumahnya dengan berdukacita. Maka pada ketika itu nyatalah padanya, apa sebabnya maka kerbaunya pulang dengan sendirinya masuk kekandangnya, tiada bersama-sama dengan gembalanya. Maka di dalam hati Pa Jahidin: “Ia takut dihukum dengan hukum yang berat, agakuya, itulah sebabnya maka ia lari. Nanti aku pergi mencahari dia dengan segera. Adapun budak itu masih muda, jika dihukum, tiada berapalah beratnya hukumnya, jika Sarijah itu tiada hideop sekali pun. Dan lagi terlalu amat Sarijah mengusik Jahidin, dan lagi tiada disahajanya memukul Sarijah hingga mati itu.”
Syahdan apabila sampailah Pa Jahidin ke rumahnya, maka oleh isterinya dilihatnyalah pada romannya, bahwa adalah barang suatu bahaya yang telah terjadi. Maka bertanyalah isterinya itu serta berdebar-debar hatinya: “Jahidin, mana dia?” Maka jawab suaminya: “Lari, sebab ia memukul Sarijah, anak kebayan itu, dengan kayu. Ini aku hendak pergi mencahari dia.”
Kemudian daripada itu maka oleh Pa Jahidin diajaknya dua orang sekampungnya, pergi mencahari Jahidin. Maka pergilah ketiga mereka itu berjalan dengan membawa suluh, menuju jalan raya, tempat Jahidin lari itu. Apabila sampailah mereka itu ke jalan raya, maka hari pun gelap, maka dipasangnyalah suluhnya. Maka bertanyalah seorang daripada mereka itu: “Ke mana sekarang?” Maka sahut seorang. “Entahlah, sebab tiada tahu ke mana jalannya budak itu, entahkan ke-Serang, entahkan ke-Caringin.”
Dalam hal yang demikian itu, maka berdirilah mereka itu bercakap-cakap akan hal jalan yang hendak ditu-rutinya itu.
Maka datanglah seorang orang membawa kahar, datang dari pihak selatan. Maka kata Pa Jahidin: “Hai, berhentilah sebentar, awak hendak bertanyakan apa-apa.” Maka orang yang membawa kahar itu pun terkejutlah, melihat suluh serta mendengar Pa Jahidin berseru itu, maka kata orang yang membawa kahar itu:
“Apakah yang hendak awak tanyakan?” Maka kata Pa Jahidin: “Adakah awak berjumpa dengan seorang budak laki-laki, tengah berangkat besar, berlari-lari?” Maka sahut orang yang membawa kahar itu: “Ada awak berjumpa, ada kira-kira sepso jauhnya dari sini.” Maka kata Pa Jahidin pula: “Pakaianinya bagaimana rupanya?” Maka jawab orang yang membawa kahar itu: “Ada pun itu tiada awak perhatikan.” Maka bertanya pula Pa Jahidin: “Saputangan kepalanya berjalur merah dan bajunya cita, bukan?” Maka orang itu rupa-rupanya tiada sempat, hendak berjalan dengan segera, maka ka-tanya: “Barangkali demikian juga pakaianinya.” Maka orang yang membawa kahar itu, pada hakikatnya, adalah ia melihat seorang budak juga, tetapi tiada tahu apa rupa pakaianinya, maka segala pertanyaan Pa Jahidin itu pun disahutinya dengan tiada tentu sahaja, supaya boleh terus berjalan dengan segera.
Adapun Pa Jahidin itu pada pikirannya, benarlah orang itu telah melihat anaknya di jalan. Maka kata Pa Jahidin kepada kawan-kawannya itu: “Marilah kita berjalan menuju Caringin, tentu berjumpalah kita dengan dia.” Maka berjalanlah mereka itu. Maka oleh karena cepatnya berjalan itu, maka tiada berapa lamanya sampailah mereka itu ke desa Tajun, empat pal jauhnya dari Pesauran. Serta sampailah maka Pa Jahidin pun segeralah pergi mendapatkan kepala desa itu, minta tu-lung, supaya dicaharikan orang anaknya pada desa itu. Maka kepala desa itu pun menuruhlah memukul titir pada lesung. Maka seketika lagi datanglah orang desa itu. Maka bertanyalah ia kepada mereka itu:
“Hai, kamu sekalian! adakah kamu melihat seorang budak laki-laki lalu di sini, atau memberi dia tempat akan bermalam?” Maka sahut mereka itu: “Kami tiada melihat orang luaran kemari seorang juga pun.” Maka kata kepala desa itu kepada seorang orang yang biniuya berkedai disisi jalan raya: “Pergilah engkau pulang kerumahmu, tanyakan kepada binimu, barangkali ada seorang budak laki-laki singgah kekedainya tadi.” Kemudian daripada itu maka orang itu pun pergilah mendapatkan bininya, bertanyakan khabar itu. Maka kata bininya: “Tiada ada budak-budak kemari seorang juga pun.” Maka oleh orang itu dikhabarkannyalalh khabar itu kepada kepala desa itu. Apabila Pa Jahidin mendengar khabar itu, maka katanya: “KeCaringin perginya budak itu agaknya. Marilah kita pergi ke sana.”
Hatta maka berjalanlah mereka itu, menurut jalan raya enam pal jauhnya, maka sampailah keCaringin.
Maka hari pun malamlah, maka Pa Jahidin tiada berani membangunkan kepala-kepala di dalam negeri itu. Dalam hal yang demikian itu maka Pa Jahidin dengan kawannya kedua itu pun tidurlah pada sebuah bangsal kosong, dekat pada pintu kota Caringin pada jalan raya, maka niatnya esok hendak mencahari anaknya pula.
Syahdan pada keesokan harinya, pagi-pagi, maka Pa Jahidin pun pergilah ke dalam regen, menghadap. Maka sabda regen itu: “Engkau ini dari mana, dan apa kehendakmu maka pagi-pagi sudah kemari ini?” Maka sembah Pa Jahidin: “Harap diam pun tuanku! patik memohonkan beribu-ribu am pun kabawah duli, bahwa patik datang menghadap tuanku pada waktu begini. Adapun patik ini kehilangan anak, pacal tuanku; maka patik telah keputusan ‘akal akan mencahari dia. Pada perasaan patik, adalah ia di sini. Maka nama pacal tuanku itu yaitu Jahidin namanya. Adapun patik ini datang dari desa Pesauran.” Maka sabda regen pula: “Apa mulanya maka hilang anakmu itu?” Serta itu maka oleh Pa Jahidin dipersembahkannyalah kepada regen segala hal yang tersebut itu, dan lagi apa sebabnya maka disangka-kannya anaknya itu ada diCaringin. Demi didengar oleh regen akan persembahan Pa Jahidin itu, maka regen pun menitahkan beberapa orang mencaharikan budak itu, serta Pa Jahidin dititahkannya bernanti di balai. Maka Pa Jahidin pun bernantilah di situ sepanjang hari itu, tetapi socatu pun tiada dilibat atau didengarnya tentang anaknya itu.
Syahdan pada keesokan harinya, maka datanglah titah regen. menitahkan Pa Jahidin masuk menghadap pula. Apabila sampailah Pa Jahidin kehadapan regen, maka ia pun menyembahlah. Maka titah regen: “Hai, Pa Jahidin! telah kita titabkanlah beberapa orang mencaharikan anakmu itu dalam negeri ini, tetapi tiada dapat; tiada adalah ia di sini.” Maka Pa Jahidin pun terlalulah dukacitanya, karena di dalam hatinya: “Jika regen menitahkan beberapa orang mencaharikan auakku tetapi tiada juga dapat itu, apa lagi aku mencahari dia. “Maka Pa Jahidin pun berjalang-jalan juga tiga hari lagi lamanya, masuk ke-luar negeri itu, akan tetapi tiada juga dapat khabar akan hal anaknya itu Setelah itu maka pulanglah ia ke desanya dengan berdukacita. Apabila sampailah ia ke-rumahnya, maka oleh isterinya ditanyainyalah akan suaminya: ”Mana dia Jahidin?“ Maka jawab suaminya: ”Belum lagi dapat.“ Dalam hal yang demikian itu, maka Ma Jahidin pun menaungislah dengan tangis yang amat pediluha, berhari-hari dengan tiada berkeputusan, duduk di hadapan rumahnya, memandang ke jalan raya, kadang-kadang berkata demikian: ”Hilanglah anakku! Hilanglah jantung hatiku!“
Syabdan ketika Pa Jahidin mencahari anaknya di Caringin itu, maka adalah Jahidin berjalang-jalan di Betawi, tercengang-cengang melihatkan beberapa perlihatan yang belum pernah dilihatnya. Maka tahulah sudah ia mendengar ceritera orang akan hal negeri Betawi itu, akan tetapi pada persangkaannya negeri itu sama juga dengan negeri Serang, yang kuat didatanginya itu. Maka tiadalah disangkakannya demikian besarnya negeri Betawi itu. Mula-mula maka dibilangnya segala rumah yang dilihatnya di situ, tetapi tiada seberapa lamanya maka ia pun ber-hentilah membilang itu, oleh sebab terlalu banyaknya rumah itu, bilangannya keliru sahaja. Dan lagi terlalu huruhara diBetawi itu, hingga pusing rasanya kepalanya. Maka kereta dan kahar pun ke sana-kemari dengan tiada berhentinya, serta cemeti bertali pun bunyinya hingga hendak tuli rasanya telinga. Maka orang yang dilihatnya di situ bagai-bagai bangsa. Maka Cina, dan Arab, dan Melayu, dan Jawa, dan Orang putih berjalan bercampur gaul, seupama masing masing bangsa datang dari negerinya hendak berkumpui diBetawi. Dan lagi kedai barang-barang pun terlampau banyak dan besar-besar; maka rumah yang indah-indah rupanya dan lagi anggun-anggun ba-ngunnya, terlalu banyak juga. Di dalam hal yang demikian itu, maka Jahidin pun tiada tahulah apa yang hendak dilihatnya dahelue, maka berjalanlah ia, tiada tentu ke mana tujunya. Maka oleh karena banyaknya perlihatan itu, maka lupalah ia akan desa Pesauran dan akan sekalian halnya itu, tiada dikenangkannya lagi.
Kemudian daripada itu, apabila Jahidin badannya merasa capik, sebab berjalan-jalan itu, dan lagi perutnya merasa lapar, karena lama sudah tiada makan-makan, maka baharulah dikenangkannya rumah ibu bapanya dan halnya yang memberi ia pergi dari situ. Sungguh pun ia ada di negeri besar, jadi tiada mudah orang mencahari akan dia, tetapi seekar juga halnya, orang baharu, tiada tahu di mana hendak diam. Adapun dengan halnya kelaparan itu, maka ingin amatlah Jahidin hendak membeli nasi, dijual orang sepanjang jalan, tetapi duitnya sudah habis, dan lagi ia tiada kenai akan seorang juga pun, tempat ia boleh meminta apa-apa.
Hatta apabila laparnya terlalu sangat amat, sehingga tiada tertahan lagi, maka pergilah ia mendapati seorang orang perempuan yang duduk dikedai. Serta sampai maka bertanyalah ia kepada orang perempuan itu, hendakkah ia membeli bajunya. Mula-mula maka oleh perempuan itu diawasinyalalah akan Jahidin itu, lalu bertanya perempuan itu, di manakah diperolehnya baju itu. Maka Jahidin pun berkatalah, ia hendak makan, tetapi tiada mempunyai duit lagi, maka oleh karena itulah maka ia hendak menjual bajunya itu.
Adapun Jahidin itu, dari tentang tutur bicaranya, maka diketahuilah oleh perempuan itu, bahwa ia bukannya anak diBetawi, maka pertayalah perempuan itu akan ceritera Jahidin itu, maka dibelinyalah bajunya itu dengan harga setali. Maka duit itu pun diterimalah oleh Jahidin lalu ia membeli nasi. Kemudian, serta sudah makan, maka berjalanlah ia pula, dengan tiada berbaju.
Hatta pada hari malam maka Jahidin pun tidur di-bawah pohon kayu, maka pada hari siang berjalanan-jalanlah ia ke mana-mana, mencahari pekerjaan. Maka mula-mula tiadalah ia mendapat pekerjaan, sebab ia orang baharu diBetawi, tiada tahu ke mana ia hendak pergi mencahari pekerjaan itu. Maka duitnya setali itu pun hampir habis juga, meski pun bagaimana juga dihematkannya, makan tiada buh tiada. Dalam hal yang demikian itu, maka Jahidin pun khawatirnya bukan-bukan. Maka hendak menjual apa-apa lagi, tiada punya, melainkan saputangan kepalanya juga. Maka jika tiada bersaputangan, niscayalah disangkakan orang ia gila, lalu ditangkap orang barangkali. Maka dengan pikir yang demikian itu, maka berjalanan-jalanlah Jahidin di kampung Cina. Kemudian apabila badannya merasa penat, maka duduklah ia di atas sebuah batu besar, di hadapan rumah orang Cina kaya berkedai. Adapun orang berkedai itu berdiri dipintunya, maka bertanya ia kepada Jahidin, siapakah dia. Maka Jahidin pun berceriteralah, men-ceriterakan hal sebagai yang diceriterakannya kepada kuli itu juga. Setelah sudah berceritera itu, maka kata orang Cina itu: “Dapatkah sudah engkau pekerjaan?” Maka sahut Jahidin: “Belum.” Maka kata Cina itu pula: “Hendakkah engkau bekerja kepadaku?” Apabila didengar oleh Jahidin akan pertanyaan itu, maka bersu-kacitalah ia di dalam hatinya, karena diperolehnyalah tempat menumpang; maka jawabnya: “Baiklah.” Maka Cina itu pun bertanyalah pula: “Berapakah upah engkau minta sebulan?” Maka sahut Jahidin: “Adapun itu mana-mana kasihan babah sahajalah.” Maka kata Cina itu pula: “Baiklah, mula-mula kuberi engkau makan dengan pakaian, hendak kulihat dahulu kerja dan rajinmu. Jikalau kerjamu baik, kuberilah dikau upah bulanan kemudian. Hendakkah begitu?” Maka sahut Jahidin: “Baiklah, babah.” Setelah itu maka kata Cina itu: “Pergilah ke belakang, kedapur, katakan aku yang menyuruh dikau minta makan. Hari ini tiada usahlah engkaa bekerja, berlepaskan lelahmu dahelue, esok nanti kutunjukkan dikau apa kerjamu.“
Maka Jahidin pun bersukacitalah, bahwa ia beroleh pekerjaan, dan tiada usah merayap ke sana kemari lagi.
Maka Cina itu pun suka juga hatinya, beroleh budak yang tegap tubuhnya itu, lagi dengan tiada belanjanya.
Syahdan dengan halinya beroleh apa yang dikehendakinya itu, maka Jahidin pun senanglah hatinya. Mula-mula maka oleh Cina itu disuruhnyalah Jahidin mengerjakan pekerjaan kuli.
Maka pada setiap pagi, apabila kedainya sudah terbuka, maka oleh Cina itu pun disuruhnyalah beberapa orangnya, Cina juga, berjalan-jalan berjual barang-barang, se-panjang jalan keluar masuk rumah orang. Maka Jahidin itu memikul barang-baranglah, maka seorang orang Cina berjalan bersama-sama dengan dia, membu-nyikan kelontongnya.
Dalam hal yang demikian itu maka habislah negeri Betawi itu dijalani oleh Jahidin, maka tiada berapa lamanya, maka tahulah ia akan segala jalan di negeri itu juga. Dan lagi lekas juga Jahidin tahu bahasa Melayu, karena diBetawi hampir tiada ada orang yang tiada tahu bahasa Melayu. Adapun pekerjaan itu penuju benar kepada Jahidin, meski pun berat pikulannya, tetapi tiada usah jauh ia berjalan, melainkan sebentar-sebentar berhenti di rumah-rumah orang, menjual barang-barang itu, dan dilihat-lihat orang akan barang-barang itu.
Syahdan jika Cina itu memuji-muji barang daga-ngannya, dan berkata-kata dari hal harganya, maka diper-hatikannyalah oleh Jahidin benar-benar. Dengan hal yang demikian itu, tiada berapa lamanya, maka oleh Jahidin diketahuinyalah akan harga segala matabenda itu dan macam-macamnya juga.
Apabila diketahui oleh tuannya akan hal itu, dan lagi dilihatnya, bahwa Jahidin itu mengerjakan segala pe-kerjaannya dengan rajin juga, maka disuruhnyalah
Jahidin sendiri berjul barang-barang. Maka Jahidin tiada diberinya upah, melainkan jika barang-barang itu dapat dijualnya dengan lebih harga, maka selebihnya itulah bahagiannya. Maka diingatkannya benar-benar segala rumah tempat yang laris orang menjul barang-barang. Dan lagi pada waktu yang tentu maka datanglah ia berjul barang-barang ke rumah-rumah makan, kebanyakan kepada orang baharu. Maka kadang-kadang dapatlah ia serupiah sehari untungnyna. Maka suka amat orang membeli barangnya, karena baik tingkah lakunya dengan pandai berkata-kata juga ia.
Hatta dengan pencaharian yang demikian itu maka Jahidin menghematkan wagnnya itu, sebab masih juga ia ingat hendak pulang-kePesauran, hendak menebus dosanya itu. Adapun Jahihidin itu agaknya tiada tahu, bahwa barang siapa berbuat jahat, patut kena hukum, dan hukum itu tiada boleh dilalui dengan uang. Maka sudah tetap aturan, bagi siapa juga, kaya dan miskin, orang besar atau orang kecil, maka hukum itu tiada bedanya, maka barang siapa melalui dia, ditimpanyalah masing-masing kadar dosanya juga adanya.
Kemudian daripada itu maka sekali peristiwa pada suatu hari, waktu petang, Jahidin pulang daripada berjalan-jalan berjul barang-barang; serta hendak menyimpan barang-barang itu di dalam kedai tuannya, maka terlihat kepadanya seorang orang Cina duduk, tengah bercakap-cakap dengan tuannya itu. Maka mereka itu berbahasa Cina, maka tiada tahulah Jahidin apa dikatakan mereka itu. Tetapi itu tiada diindahkannya, melainkan hendak diketahuinyna, siapakah Cina yang lain itu, sebab belum pernah dilihatnya; maka Cina-cina yang biasa da. tang ke rumah tuannya, sekalianya dikenalnya. Maka Jahidin pun bertanyalah kepada seorang penjaga kedai, yang sudah lama di situ, siapakah yang duduk bercakap-cakap dengan tuannya itu? Maka sahut orang itu:
“Adapun ini saudara babah kita.”
Maka kata Jahidin pula: “Di mana ia diam?” Maka jawab orang itu: “Tiada di mana-manana.” Maka kata Jahidin: “Janganlah engkau bermain gila. Bukannya burung orang itu maka ia terbang ke sana kemari, hinggap di sana, hinggap di sini.” Maka kata orang itu “Benar bukannya burung, tetapi tiada tetap juga ia pada satu tempat, melainkan ber-edar-edar mengelilingi bumi. Maka kata Jahidin. ”Mengelilingi bumi itu, dengan berjalanan kakikah? Maka jawab orang itu: “Bukan begitu, tetapi ia beredar-edar dengan kapalnya.” Maka kata Jahidin: “Mengapakah tiada kaukatakan itu dengan pandak sahaja? Maka ia itu nakhodalah.” Maka kata orang itu pula: “Benar; maka kapalnya terlalu indah rupanya.” Setelah itu maka Cina itu pun diawasihah benar-benar oleh Jahidin, maka di dalam hati Jahidin: “Alangkah banyaknya negeri dan jenis-jenis manusia yang telah dilihat oleh nakhoda ini.” Kemudian daripada itu maka kata Cina yang baharu itu kepada saudaranya: “Budak apa ini?” Maka jawab saudaranya. “Adapun budak ini seupama kupungut di jalan. Pada suatu hari peristiwa kulihat ia duduk di hadapan pintuku, dengan tiada menaruh duit seduit juga pun, hampir telanjang bulat; kemu-dian kuambillah akan dia, masuk bekerja, dengan tiada makan upah. Maka kata saudara tuan Jahidin itu pula: ”Baikkah kerjanya?“ Maka sahutnya: ”Bukan buatan. Tiada ada orangku seorang juga pun yang sama dengan dia tentang rajinnya. Di dalam tiga bulan tahulah sudah ia sekalian pekerjaan, boleh kusuruh-suruh menjual barang-barang dengan sendirinya, lagi dengan laris, tiada ada kelontongku yang lain seorang juga pun yang boleh melawan dia. Menyurat dan ‘ilmu hitungan pun tahu juga ia sedikit-sedikit, belajar jika petang hari ia pulang daripada berjual barang-barang; tiada banyak budak yang demikian macamnya.“
Maka kata saudara tuan Jadidin: “Beri aku mengapa budak itu?”
Maka jawab tuan Jahidin: “Janganlah.”
Maka kata saudara tuan Jahidin: “Janganlah begitu. Engkau mudah memperoleh budak di sini, seberapa orang juga kaukehendaki. Aku ini lain halku, karena aku orang laut. Dan lagi aku memang mencahari orang yang pantas dan hemat akan pekerjaannya, boleh menyelang-garakan kapalku, jika aku naik ke darat. Berilah dia akan daku; aku ini saudaramu bukan?”
Kemudian daripada itu maka oleh kedua saudara itu pun dilanjutkannyalah percakapannya itu. Maka akhirnya. Jahidin itu pun diberikanlah juga oleh tuannya akan saudaranya itu, tetapi dengan suka hati Jahijin juga adanya. Maka pada suatu hari oleh nakhoda itu dibawanya Jahidin kekapalnya, supaya ia boleh melihat-lihat, bagaimana halnya di kapal itu. Apabila sudah melihat-lihat itu, maka mereka itu pun naiklah ke darat pula. Maka di jalan berkata-katalah nakhoda itu kepada Jahidin tentang pekerjaannya di kapal, maka belum sampai ke darat maka nyatalah sudah. bahwa Jahidin akan mengikut berlayar, menjadi kawan nakhoda itu, dapat sepeluh rupiah sebulan dengan pakaian dan makan.
Dalam hal yang demikian itu maka Jahidin pun berolehlah kehendaknya yang telah terbit di dalam hatinya ketika ia masih ada diPesaoran itu, yaitu hendak melihat-lihat negeri orang dan jenis-jenis bangsa manusia. Akan tetapi jika diketahuinya, bagaimana halnya kemudian di dalam perjalanan yang baharu itu, niscaya tiadalah ia turun ke kapal Cina itu.
Syahdan maka Jahidin pada awalnya di kapal itu, hatinya merasa senanglah. Maka kelasi pun membongkar sauhlah dengan menyanyi-nyanyi; kemudian maka serang pun me-niup serulingnyia, maka kelasi itu sekaliannya naiklah ke atas tiang menguraikan layar, maka segala layar itu pun terurailah, lalu berlayarlah Sibintang Barat dari pelabuhan Betawi menuju kelaoct.
Hatta maka selamanya daratan lagi tampak, maka Jahidin tiadalah kurang suatu apa. Maka berjalan-jalanlah ia maseok ke dalam kurung, dan keluar pula naik kegeladak, berjalan di sebelah kiri dan di sebelah kanan, dari haluan keburitan, dan dari buritan kehaluan, seperti orang laut yang sudah biasa amat, serta disangkakannya diam di laut itu tiadalah seberapa juga bedanya dengan diam di darat adanya.
Akan tetapi ketika kapal itu sudah jauh kelaoct, hingga daratan tiada tampak lagi dan gelombang pun makin lama makin besar bergeluleng-gulung, dan kapal itu memulai oleng serta sangat mengangguk, maka Jahidin pun berubahlah mukanya, bampir tiada boleh ia berdiri, maka berpeganglah ia kepada apa sahaja yang datat di-capainya. Maka kelasi sekaliannya pun tertawalah, menertawai Jahidin, maka kata mereka itu:
“Lihatlah orang darat ini ragamnya!”
Dan lagi Jahidin merasa huluhatinya mual, maka mukanya pucat dengan badannya bersimbah dengan peleoh sejuk, seperti orang mabeok tembakau. Demikianlah hal orang yang baharu menempuh lautan.
Apabila dilihat oleh nakhoda itu akan Jahidin dengan halnya yang demikian itu, maka disuruhnyalah turun, pergi ke tempat tidurnya. Akan tetapi halnya makin jadi-jadi. Adapun di bawah geladak itu pada perasaan Jahidin, kapal itu lebih kuat olengnyia, maka pada tempat tidurnya itu tiada tahan ia, karena sesak rasanya dadanya, maka hendak tidur pun tiada dapat. Maka oleh karena angguk dan oleng kapal itu, maka isi perutnya rasanya seperti terkacau, hendak keluar dari mulutnya.
Hatta maka adalah tiga hari tiga malam lamanya Jahidin di dalam hal yang demikian itu. Kemudian daripada itu maka tersembuhlah ia daripada penyakit itu, maka nafsunya hendak makan pun timbullah pula. Maka Jahidin pun di kapal itu seperti di darat sahajalah rasanya, berjalan-jalan seperti di rumah bapanya diPesaeran.
Syahdan maka pekerjaan Jahidin yang teristimewa, yaitu melayani nakhodanya. Maka pada pagi hari ia memberesih kurung dan memeliharakan tempat tidur nakhodanya, dan makan minumnya, dan barang-barangnya sekaliannya. Maka pekerjaannya itu dikerjakannya dengan rajin, maka nakhodanya pun senanglah hatinya dan kasihlah ia akan Jahidin juga adanya.
Adapun Jahidin itu, sebab belum biasa di kapal. maka tiada boleh tetap ia berdiri dan berjalan jika kapal itu oleng dan mengangguk, maka hal itu sahajalah yang masih menyockari akan dia bekerja. Maka kadang-kadang jika ia mengangkat makanan dari dapur kekurung, menuruni tangga, maka tumpahlah makanan itu. Maka sekali ada gelombang besar mengayunkan kapal itu, hingga singit kapal itu, maka gulai sepinggan, hendak diletakkannya di meja, maka tumpahlah, habis kena pakaian nakhodanya. Adapun tuannya itu, sungguh pun mukanya masam romannya, karena sayang amat gulai itu dimakan pakaiananya, tiada masuk keperutny, akan tetapi tiadalah dimarahinya akan Jahidin, sebab dipikirkannya pula, bahwa hal itu terjadi dengan bukan disahajanya, dan lagi bahwa Jahidin selamanya bekerja dengan sungguh hati dan rajin, tiada tahu lengah.
Hatta maka Jahidin pun amat sangatuya suka bekerja, bukannya melayani tuannya sahaja, melainkan segala pekerjaan kapal yang lain-lain disambutny juga. Maka apabila tuannya tidur, jikalau pekerjaannya sudah selesai, maka Jahidin pun naiklah kegeladak, melihat-lihat pekerjaan kelasi itu. Maka bertanyalah ia kepada mereka itu, bertanyakan nama segala layar dan talf-temali dan diperhatikannya pula, bagaimana ragamnya jurumudi menghaluankan kapal tetap dengan penunjukan pedoman; dan lagi diawasinya, bagaimana kelasi menjahit layar, dan membuat majun, dan menyapu ter; dan di-dengarkannya pula malim memerintahkan kelasi akan menegangkan tali atau mengelurkan tali, dan mengandakkan layar dan membentang layar, dan sebagainya.
Maka kadang-kadang Jahidin memegang kemudi juga, karena telah diperhatikannya benar-benar, bagaimana buattannya orang membelokkan dan menurutkan kapal. Maka segala pekerjaan jurumudi itu pun diperhatikannyalah dengan sungguh-sungguh, maka tiada lama samalah ia dengan jurumudi yang paham pada jalan pekerjaannya adanya.
Syahdan maka Jahidin pun kadang-kadang naik ia ke atas tiang dan duduk diandang-andang. Maka Jahidin itu didesanya bukan buatan pandainya memanjat puhun nyiur; dan teramat beraninya juga, dahan-dahan kayu yang berayun-ayun tiada dipandangnya, hingga ke ujung-nya dipanjatnya juga. Maka di kapal itu tiada dibuangnya ‘adatnya itu barang sedikit; kemudian apabila ia biasa di kapal, seupama tiada dirasainya lagi anggok dan oleng kapal itu, maka sebagaimana juga kencangnya angin dan besarnya gelombang, maka Jahidin pun naik juga ke atas tiang hingga keponcaknya dan ke ujung andang-andang, mengerjakan segala pekerjaan yang di-perintahkan malim.
Syahdan maka pada hari malam kuatlah Dlahidin duduk dengan anak kapal yang tiada tidur melainkan duduk di geladak melepas-lepaskan lelah, bercakap-cakap tentang segala apa-apa yang telah dilihatnya di dalam pelayarannya, seperti binatang-binatang yang ‘ajaib, dan negeri-negeri orang; dan lagi hal yang telah didapatinya, seperti dilanggar ribut dan sebagainya. Maka Jahidin mendengarkan mereka itu berceritera, maka suka benar-benar hatinya, maka dipintakannyalah, mudah-mudahan kapal itu lekas sampai ke negeri orang, hendak melihat-lihat dengan matanya sendiri segala apa-apa yang telah didengarnya ceriterenya itu.
Adapun kapal itu berlayar ke-Singapura. Maka setelah dua puluh satu hari berlayar dari Betawi itu, maka sampailah kepelabuhan negeri Singapura itu.
Hatta maka di situlah tempat segala perlihatan, puwaslah Jahidin melihat-lihat Adapun Jahidin di pelabuhan Betawi heran ia melihat kapal beberapa banyaknya berkumpul, apa lagi diSingapura, lebih banyak dan lebih rapat, hingga boleh dilihatnya dekat-dekat Maka kapal dari segenap negeri ada di situ, masing-masing boleh dikenal pada benderanya, bermain-main di puncak tiangnya ditiup angin; maka tentang bangunnya dan aturan tali-malinya masing-masing bangsa lain juga rupanya, dan lagi bersarnya demikian juga adanya. Maka adalah jong Cina berlabuh di sebelah kapal Inggris, dengan tiada sekali-kali yang boleh dikatakan ada bangunnya yang indah sedikit jong itu, seupama babi; kapal Inggris itu haluannya tajam, dan anggun bangunnya, sekaliannya berpadanan, maka terletak di atas air serupa naga yang hendah melancar; dan lagi ada perahu Mendura, maka ‘ajaiblah orang melihat dia, jika dipikirkannya perahu yang seupama terselit di buritan kapal Belanda tiang tiga, dan serupa sabut nyiur, maka sebagaimana pula perahu yang demikian itu boleh ia menempuh lautan harungan besar itu
Adapun kapal-kapal itu kebanyakan rapat ke darat hampir pada tangga pangkalan, hingga boleh melompat dari kapal ke tangga pangkalan itu. Maka dalam segala kapal itu manusia berhuruhara bukan buatan. Adapun sebuah kapal memunggah muatannya, dan sebuah pula bermuat, dan sebuah tengah dilapis, dan sebuah tengah dipakal, dan sebuah bertukar tiang, dan sebuah tengah berlayar masuk kepelabuhan lalu membuang sauh; maka ada juga yang membongkar sauh hendak berlayar, maka menyanyilah kelasi sekaliannya yang membongkar sauh itu. Dalam hal yang demikian itu, maka gaduhnya di pelabuhan itu tiada terhingga lagi, maka Jahidin pun tiada tahulah yang mana hendak dilihatnya dahulu.
Syahdan maka huruhara itu bertambah-tambah pula oleh karena bukan-bukan gaduhnya orang bekerja membaiki sekalian perkakas besi kapal api; dan lagi kapal api yang pergi datang pun mengacau lautan sehingga berbual-bual dan mendidih rupanya air laut itu. Maka kapal api yang datang dari Je pun, dan dari negeri Cina, dan dari Australia, dan dari Benggala dan dari Eropa, dan dari Amerika, sekaliannya berjumpa di pelabuhan Singapura itu. Maka kapal-kapal api itu pergi dari sebuah negeri kepada sebuah negeri leksnya tiada terkira; maka kadang-kadang peredarannya terlalu amat jauhnya, membawa orang dan surat dan barang-barang, sebab pelayaran kapal layar terlalu lama.
Maka kata Jahidin kepada serang kapalnya: “Singapura ini tanah besar agaknya maka banyak amat kapal datang kemari ini.”
Apabila didengar oleh serang akan kata Jahidin itu, maka tertawalah serang itu, maka katanya: “Bukannya tanah besar Singapura ini, hanyalah pulau juga yang amat kecilnya, belum ada seperatus bahagian tanah Jawa.
Maka kata Jahidin pula: “Jika demikian, apakah sebabnya maka negeri ini menjadi pangkalan kapal dari segenap negeri?”
Maka sahut serang itu. “Adapun itu sebabnya karena duduknya Singapura ini terlalu baiknya, mudah dising-gahi kapal-kapal yang pergi ke negeri Cina, dan keJe pun dan yang pergi datang keEropah, keJawa dan keAustralia, membawa surat. Dan lagi banyak juga perahu dagang kecil-kecil dari Siam, dan dari Pulau Kelemantan, dan dari Pulau Perca dan dari Selebesi, dan dari Bali, dan dari Jawa, dan dari pulau lain-lain juga kemari, membawa dagangan, dijulnya di sini; maka segala perahu itu pulang muat mata benda buatan Eropa. Dan lagi itulah sebabnya maka banyak juga kapal layar datang kemari memunggah muatannya, yaitu hendak mengambil muatan perahu kecil-kecil yang datang daripada segenap tempat di dalam Hindia ini. Cobalah kaupohonkan kepada malim kita, melihat peta, boleh kaulihat bahwa Singapura ini tempatnya atau duduknya baik amat akan perniagaan.
Maka ingin amat Jahidin hendak mengetahui hal yang lain-lain juga tentang pulau kecil itu, maka bertanyalah ia pula kepada serang itu: “Siapakah raja di pulau ini?”
Maka sahut serang itu: “Di sini tiada rajanya, melainkan pulau ini ada di bawah perintah Inggris. Khabar-khabarnya pada zaman daheloce Belanda yang kuasa atasnya.”
Kemudian maka oleh Jahidin didengarnya nakhodanya berseru di dalam kurung, menyerukan dia. Maka segeralalah masuk Jahidin ke dalam kurung. Maka nakhoda itu tengah berkemas-kemas, mengemaskan segala surat di dalam peti tulinsnya. Maka oleh nakhoda itu disuruhnya akan Jahikin mengambil bokca, akan diisinya pakaian. Serta sudah maka disuruhnya pula Jahidin berhias. Apabila selesailah maka Jadidin pun masuklah pula ke dalam kurung. Maka kata nakhoda itu: “Angkatlah peti tulis dengan bokca itu, kita naik ke darat. Aku hendak menumpang di rumah makan barang empat belas hari.”
Hatta maka Jahidin pun bersuka-suka hatilah karena ia boleh melihat-lihat negeri Singapura itu.
Maka kata nakhoda itu: “Di sini engkau berjalan, di belakang aku; pegang benar-benar peti tulis itu, jangan tengah, sebab di sini banyak orang jahat, serta pencuri pun bukan buatan pandainya.”
Maka sahut Jahidin: “Jangan khawatir, nakhoda!”
Maka dengan tiada menoleh ke kiri ke kanan maka diketutinyalah nakhoda itu. Tiada berapa lamanya maka sampallah mereka itu ke rumah makan, tempatnya tiada jauh dari pangkalan.
Syahdan maka tatkala Jahidin ada diBetawi, berjugal barang-barang tuannya yang berkedai itu, maka kuat ia datang ke rumah-rumah makan, tetapi dilihatnya orang yang menumpang tiada lain hanyalah orang putih belaka; tetapi diSingapura itu orang yang menumpang di rumah makan sekalian bangsa bercampur.
Hatta maka oleh nakhoda itu serta sudah makan dan hendak masuk tidur, maka diberinya Jahidin idzin pergi berjalan-jalan melihat-lihat negeri itu. Maba kata nakhoda itu: “Jaga baik-baik di sini, jangan barangmu dicuri orang, dan lagi jangan engkau ditangkap orang dijadikannya kelasi di kapal orang, sebab pandai amat orang di sini mendayakan orang luaran; apabila dapat sabaja di'akalkannya engkau membubuh tanda tanganmu, tiada boleh mungkir lagi, menjadi kelasilah engkau.”
Maka Jahidin pun berjanjilah, hendak berikhtiar baik-baik, supaya jangan ditangkap orang. Kemudian daripada itu. maka Jahidin pun pergilah bercakap-cakap dengan seorang kawan orang di rumah makan itu, orang tanah Jawa juga, seperti Jahidin, tetapi keresidenan lain, bukannya Bantan.
Maka kata Jahidin: “Banyak amat bangsa orang di sini. Kenalkah engkau akan satu-satu bangsanya?”
Maka sahut kawannya: “Tiada, tetapi kebanyakan dapat juga kukenal. Jikalau sudah seketika engkau di sini, dapatlah juga engkau mengenal segala bangsa itu.”
Maka kata Jahidin pula: “Cobalah kaulihat orang ini, bangsa mana ia?”
Maka sahut kawannya: “Ini orang benua Keling, banyak di sini, kebanyakan jadi tukang emas, dan tukang orloji, dan berkedai.”
Maka adalah seorang orang lalu, maka orang itu memakai serban, dan kain warna merah, dan kamis, tergantung dari bahunna hingga kekakinya, maka di luar kamis itu ia memakai sadariah pula, bertepikan emas, maka di luar sekalian itu ia memakai jubah.
Maka kata kawan Jahidin itu, seraya menunjukkan orang itu kepada Jahidin: “Ini agaknya tahulab engkau orang mana.” Maka sahut Jahidin: “Tahu juga, orang ‘Arab. Banyak diBetawi.” Maka lalu pula seorang orang yang berpakaikan seluar biru, lebar, hingga lututnya, dan baju biru, dan ketopong rotan, kuncup ke atas, dan lagi berkasut; maka kasut itu pada tumitnya ada pengenjaknya, tinggi pengenjak itu. Maka kata kawan Jahidin itu, seraya memandang kepada orang itu: “Ini orang mana?” Maka sahut Jahidin dengan tertawa: “Ini Cina benar-benar, bangsa nakhodaku, mudah aku mengenal dia, tida boleh salah. Tetapi orang itu, yang berjalan di seberang itu, tiada tahulah aku, dari mana asalnya. Itu seorang pula, berpakaikan kalung dawai dan kalung manik berkian-kian, dan gelang pada kaki tangannya.” Maka sahut kawan Jahidin: “Akan orang kedua itu, aku juga tiada tahu bangsa mana. Barangkali orang Timur, barangkali juga orang Nias. Ini seorang orang lagi berjalan di belakang mereka kedua itu, ialah orang Pua-pua, boleh dikenal karena rambutnya keriting, dan kultnya hitam, dan mulutnya muncung.” Maka kata Jahidin pula. “Tahukah engkau bahasa mereka itu? Maka sahut kawannya: ”Mereka itu kebanyakan berbahasa bahasa Melayu. Bahasa masing-masingnya di mana boleh kuktahui. Dan lagi mereka itu, jika diam di sini, maka dapatlah juga sedikit-sedikit bertutuer cara Inggris; sebab orang putih yang tiada tetap diam di sini, kebanyakan tiada tahu bahasa Melayu; dalam hal mereka itu berdagang dengan orang putih itu, maka patutlah diketahuinyna juga apa kata sebelah menyebelah.“ Maka Jahidin bertanya pula, katanya: ”Bangsa manakah yang banyak duduk di sini?“ Maka sahut kawannya: ”Cinalah yang banyak; jika dibahagi empat, tiga babagian negeri ini bilangan kam-pungnya, serta mereka itu bertambah-tambah, tiada ber-hentinya datang. Ta ada kapal yang datang dari Cina kemari melainkan membawa orang Cina baharu. Ada juga Cina yang pulang ke negerinya tetapi kebanyakan diam di sini, melainkan yang kaya sahaja pulang. Jikalau engkau berjalan-jalan di kota, baik-baik juga, banyak orang jahat, pandai amat mendayakan orang; maka pulisi pun terlalu sukar pekerjaannya, karena perbuatan mereka itu Kadang-kadang seperti orang berperang la-kunya di kampung Cina, sebab mereka itu berkelahi ramai-ramai dengan sama bangsanya, hingga ada yang mati.“
Maka kata Jahidin: “Jika demikian halnya, tida hendaklah aku berjalan-jalan.”
Maka sahut kawannya itu pula: “Mengapa? Orang berkelahi itu tiada setiap hari. Dan lagi jikalau engkau mendengar orang bergaduh, mudah engkau lari. Melainkan jika engkau dipanggil orang masuk ke kedai, ditanyainya hendak membeli apa-apa, itu jangan lengah.”
Maka kata Jahidin: “Berjalan-jalankah juga engkau kadang-kadang?”
Maka sahut kawannya itu: “Berjalan-jalan juga, jikalau sempat, kebanyakan kekota. Tetapi aku ini lama sudah di sini, ada delapan tahun, kuketahuilah sudah sedikit sekalian tipu daya orang di sini.”
Maka kata Jahidin: “Bila engkau sempat berjalan-jalan?”
Maka sahut kawannya itu: “Kami, kawan-kawan di sini, masing-masing ada gilirannya pergi berjalan-jalan, seorang sekali di dalam sejuma'at. Esok giliran aku. Pohonlah idzin kepada tuanmu, hendak berjalan-jalan, boleh kita bersama-sama, melihat-lihat sekalian apa-apa yang patut dilihat.
Maka sahut Jahidin: “Baiklah.”
Maka kata kawannya itu pula: “Sekarang aku tiada sempat bercakap-cakap lagi, ada kerjaku. Jika diberi tuanmu esok engkau berjalan-jalan, khabarkanlah kepadaku esok pagi-pagi.“
Maka kata yang empunya ceritera: Kemudian daripada itu maka kawan Jahidin itu pun masuklah ke dalam, maka tinggallah Jahidin duduk di luar melihat-lihat ke sana kemari. Apabila petanglah hari maka Jahidin pun memohonkan idzinlah kepada tuannya, hendak pergi berjalan-jalan pada esok hari, bersama-sama seorang kawan rumah makan itu. Maka permintaan Jahidin itu pun dibenarkanlah oleh nakhodanya, tetapi dengan perjanjian, yaitu jangan tiada, pada wakte petang pulang; karena nakhoda itu terlalu khawatir, tiada berani melepaskan Jahidin berjalan malam-malam dinegeriorang.
Hatta maka Jahidin pun berjanjilah, hendak berjalan-jalan sampai petang sahaja. Kemudian maka oleh Jahidin dikhabarkannyalalah hal itu kepada kawannya itu. Maka kata kawan itu: “Esok pagi bersedialah engkau, jam pukul delapan kita berangkat; ta boleh lebih pagi, karena ada kerjaku sedikit, menyediakan makanan.”
Arkian pada keesokan harinya pagi-pagi, maka Jahidin pun sedialah. Maka dipilihinya pakaian yang bagus-bagus, maka itulah dipakainya. Maka saputangan kepalanya tiada dipakainya lagi seperti pakaian orang Bantan, melainkan cara Melayu, meniru pakaian kelasi yang telah dilihatnya di kapal itu.
Adapun segala kelasi itu dahaelu menertawai akan Jahidin, sebab ia memakai saputangan cara Bantan itu seperti orang desa. Maka baju pun ditukarnyalah dengan kameja, serta ia memakai ikat pinggang kuning, dan pisau sebilah, tersisip pada pinggangnyia; maka seluarnya lebar, warna biru.
Kemudian daripada itu maka Jahidin pun berjalanlah dengan kawannya itu, berbekal uang lima belas rupiah.
Maka kata kawannya: “Ke mana kita pergi dahaelu?”
Maka sahut Jahidin: “Itu pun melainkan kehendakmu. Aku baharu di sini, sekali-kali tiada tahu jalan.”
Maka kata kawannya: “Adakah engkan berbekal uang?” Maka kata Jahidin: “Cukup bagi hari ini.” Maka kata kawannya pula: “Marilah kita pergi makan dahulu ke kampung Jawa.”
Kemudian daripada itu maka mereka itu pun berjalanlah, masuk keluar beberapa lorong. Maka sampailah kepada sebuah kampung, maka orang kampung itu tiada lain, hanyalah orang Jawa adanya. Maka Jahidin dengan kawannya itu pun singgahlah kepada sebuah kedai; maka kedai itu rupanya bersih, dan di dalamnya ada beberapa meja dengan tempat duduknya. Maka adalah perempuan seorang dua, yang menyadikan makan-makanan, diangkatnya dari belakang.
Maka kata kawan Jahidin: “Inilah kedai tempat segala kelasi Jawa makan, tetapi sekarang belum ada yang datang karena lagi pagi.”
Setelah itu maka oleh kawan Jahidin itu dipanggilnya akan seorang daripada kedua perempuan itu, disu-ruhnya mengangkat makanan. Maka seketika itu juga makanan pun tersajilah; maka Jahidin dan kawannya itu pun makanlah nasi serta dengan lauk-pauknya. Maka apabila kenyanglah, maka Jahidin pun bertanya, berapa harga makanan itu. Maka kata yang empunya kedai itu: “Seorang setangah rupiah.”
Maka kata Jahidin kepada kawannya: “Tiada salah itu?”
Maka sahut kawannya: “Tiada, itu memang harganya di sini.”
Maka kata Jahidin pula, seraya membayar: “Bukan buatan mahalnya? DiBetawi lima belas sen cukup akan membeli makanan yang enak-enak.”
Maka kata kawannya pula: “Itu benar, tetapi Betawi bukannya Singapura; dan lagi di sini sekalian apa-apa teramat mahalnya. Marilah kita pergi ke kampung Cina”.
Syahdan maka di kampung Cina itu ramainya bukan buatan, serta dengan gaduhnya. Maka orang pun ber-teriak-teriak, seorang lebih kuat daripada seorang, ada yang bertutur cara Melayu, cara Cina, dan cara Inggris, sekaliannya dengan tiada berketentuan aturan. Maka kereta pun dengan tiada berhentinya ke sana kemari; maka kereta itu tiada besar. Maka orang membawa kerete itu berlari-lari disisi kudanya, maka cabuknya dibunyikannya, suopama ‘alamat bagi orang banyak yang berjalang di tengah jalan, supaya menepi, jangan terlanggar oleh kereta itu.
Hatta maka rumah di situ hampir semuanya kedai barang-barang: ada kedai kain-kain, ada kedai pinggan mangkok, ada kedai segala perkakas kapal, ada kedai makan-makanan, ada kedai pakaian, ada kedai barang-barang beling Je pun. Maka orang pun banyak dan gaduhnya tiada terhingga.
Maka orang yang empunya kedai itu, jikalau tiada orang datang berbeli, maka masing-masing berdirilah dipintu kedainya, maka berseru-seru kepada orang yang berjalang, maka katanya: “Tuan-tuan! singgahlah; barang-barang sahaya sekaliannya macam baik serta dengan murah harganya; tida ada samanya di mana juga! Masuklah, tuan boleh melihat sendiri! Melihat tida mengapa; tida ada belanjanya!”
Maka demikianlah ‘akal mereka itu, meng'akalkan orang supaya singgah kekedainya.
Maka kebanyakan adalah juga apa-apa yang dijulna kepada orang yang seupama dipikatnya masuk ke kedai-nya itu.
Syahdan maka lamalah juga Jahidin dan kawannya itu berjalang pada lorong itu, karena lorong itu punjang, dan lagi mereka kedoca itu sejurus sejurus berhenti di hadapan kedai, melihat barang-barang yang indah-indah yang teratur di dalam kedai itu; maka kadang-kadang masuk juga mereka itu ke dalam kedai itu membeli apa-apa.
Kemudian daripada itu maka oleh mereka itee dide-ngarnya akan bunyi bereng-bereng, ya-itu Cina bermain wayang. Maka mereka kedua itu pun pergilah ke tempat orang bermain wayang itu hendak melihat-lihat, dan lagi hendak berhenti juga sejurus, melepaskan lelah. Adapun wayang itu wayang orang, maka yang bermain sekali-annya orang Cina. Maka belumlah lama mereka kedua itu duduk, maka didengarnya ada orang bergaduh di dalam bangsal tempat wayang itu, ada beberapa orang Cina berkelahi. Maka sekalian orang yang melihat wayang itu pun masing-masing hendak mendahulu keluear, maka berasak-asaklah orang pada pintu. Maka Jahidin pun dengan halnya terimpit itu, apabila keluear, maka kawan-nya itu tiadalah tampak lagi kepadanya, maka ia pun terikutlah dengan orang banyak. Lama-lama maka sampailah ia kepada sebuah lorong yang sempit, maka sesatlah ia.
Di dalam hal yang demikian itu, maka Jahidin melihat ke sana kemari, akan tetapi tiada tahu ke mana ia hendak berjalan. Maka datanglah seorang orang Cina kepadanya. Maka kata Cina itu: “Ini hendak ke mana?”
Maka sahut Jahidin: “Hendak ke rumah makan, tetapi sahaya tiada tahu jalannya; dan lagi kawan sahaya yang tahu jalan tiada sahaya ketabui ke mana perginya.”
Maka kata Cina itu pula: “Aku ini hendak kesi-tu juga. Mariyah singgah kerumahku dahaelu, tida jauh dari sini, nanti kuhantar angkau ke rumah makan.”
Adapun Jahidin tiada sekali-kali khawatir, karena tiada disangkanya orang Cina itu hendak berbuwat jahat. Maka oleh Jahidin diikutinyalah akan orang Cina itu, masuk keluear beberapa lorong simpangan, hingga sampai ke rumah orang Cina itu.
Maka kata orang Cina itu: “Duduklah dahaelu, aku hendak menulis surat sepucuk, apabila selesailah, kita pergi.”
Kemudian maka menulislah Cina itu, cara Cina. Serta sudah maka bertanyalah ia kepada Jihidin, seraya menunjukkan surat itu, yaitu tahukah Jahidin membaca surat itu. Maka Jahidin pun tertawalah, seraya berkata: “Tida tahu sahaya membaca surat Cina; siapa tahu akan coreng-moreng itu!”
Maka kata Cina itu pula: “Tahukah engkau menyurat?”
Maka sahut Jahidin: “Tahu juga dengan huruf Belanda, barang boleh sahajalah.”
Maka kata Cina itu: “Heran aku, melihat kelasi pandai menurat, yang kebanyakan tiada pandai. Coba teelislah namamu, aku hendak melihat, bagaimanakah rupanya bekas tanganmu. Ini kertas dengan kalam.”
Maka oleh Jahidin ditulisnyalah namanya pada kertas itu. Apabila sudah maka bekas tangannya itu pun dilihatlah oleh Cina itu, maka kata Cina itu seraya ia menyimpan kertas itu: “Bagus benar bekas tanganmu. Ini aku hendak membawa surat ke kantor pos dahulu, sudah itu baharulah kita pergi ke rumah makan. Ini ada rokok, minumlah, tembakaunya baik. Aku hendak ke belakang sebentar.”
Syahadan maka Jahidin pun minum rokoklah. Belum berapa lamanya minum rokok itu, maka Jahidin merasa matanya mengantuk. Maka karena Cina itu belum kombali dari belakang, maka Jahidin pun merebahkan kepalanya pada meja, lalu tertidurlah ia. Maka tiada diketahuinya berapa lamanya ia tidur itu melainkan tahu-tahu dibangunkan orang dengan tinju dan digoyang-goyangnya dan di balik-balikkannya, maka kata orang itu pada bahasa Melayu: “Hai, bangun, turun ke kapal, hendak berlayar sekarang ini juga?”
Hatta maka Jahidin pun tersadarlah, lalu menyapu mukanya, tetapi tiada diketahuinya di mana ia ada. Ke-mudian maka bangunlah ia daripada tempat duduknya itu, seraya memandang kepada beberapa orang yang tiada dikenalnya, mengelilingi dia. Maka dalam antara mereka itu ada dua orang orang putih, dan seorang mata-mata.
Maka kata mata-mata itu: “Mari ke kapal, sampailah sudah lamanya engkau tidur.” Maka kata Jahidin: “Tuan sahaya mana? Sudahkah turun ia ke kapal?” Maka kata seorang daripada orang putih itu. “Acu inilah tuanmu; ikut aku, jika eugkau tida hendak mengikut, kusuruh bawa engkau ke kapal.” Maka kata Jahidin: “Tuan bukannya tuan sahaya. Tuan sahaya orang Cina, menumpang di rumah makan.” Maka kata orang putih nakhoda kapal itu pula: “Jangan banyak ragam! Engkau sudah membuat sutau tanda pengakuan, bahwa engkau jadi kelasi dikapalku.” Maka kata Jahidin: “Itu dusta.” Maka oleh nakhoda itu pun ditunjukkannyalah tapak tangan Jahidin itu kepadanya, serta katanya: “Ini bukankah tapak tanganmu? Bukankah engkau yang membubuh dia?” Maka kata Jahidin: “Benar ini tapak tangan sahaya, sahaya juga yang membubuh dia, tetapi tiada dengan maksud lain, hanyalah hendak menunjukkan, bahwa sahaya tahu menyurat.” Maka kata mata-mata itu: “Agak engkau kami percaya akan sekalian perkataanmu itu? Mari! jika engkau melawan, kusuruh ikat!” Maka kata Jahidin; “Bawa sahaya ke rumah makan dahelue, sahaya hendak menunjukkan tuan sahaya itu.” Maka kata nakhoda itu: “Acu ta sempat. Kapalku sudah siap, hendak berlayar, tiada boleh bernanti lagi.” Maka oleh nakhoda itu pun disurubnya ikatlah akan Jahidin. Apabila didengar oleh Jahidin akan perintah nakhoda itu, maka katanya: “Ta usahlah diikat. Jika terpaksa, apa boleh buat, aku hendak mengikut, ta usah memakai tali.” Syahdan maka Jahidin pun bangunlah dari tempat duduknya, maka heranlah ia, melihat kain-bajunya yang baharu itu sekalianoya hilang, maka pakaian yang dipa-kainya hanya pakaian kelasi, terlalu buruk dan kotornya. Maka duitnya dicaharinya, maka hilang juga duit itu serta dengan barang-barang yang telah dibelinya dikedai. Maka katanya; “Aku ini kecurian, dengan diperdayakan orang juga. Cina itu bangsat benar dan ia jugalah yang memperdayakan aku ini.”
Maka kata mata-mata itu: “Jangan gaduh, salahmu sendiri, sebab pada kertas ini ada tersebut bahwa engkau telah menerima uang empat puluh rupiah, gaji beberapa bulan. Sekarang uang itu habis, siapakah empunya salah, agakmu Cira itukah? Dan lagi engkau ini rupamu tida bodoh, boleh didayakan Cina.”
Maka kata nakhoda itu: “Sudalah, sampai sudah kita berpanjang-lebar cakap. Aku hendak pergi.”
Kata yang empunya ceritera: Adapun Jahidin itu dibawa oranglah, maka ia pun mengikutlah, sudah pu-tus ‘akal, serta berdukacita, maka kepalanya terlalu amat pening. Maka jalannya pun tiada tetap seperti mengikut lenggang kapal, maka rasanya seperti ia merasa mabuk laut. Kemudian maka Jahidin pun turunlah ke kapal, maka kapal itu besar dan bagus, hendak belayar keJe pun, hendak mengambil muatan tembaga dan barang-barang lain juga. Maka Jahidin tempat tidurnya becampur dengan tempat kelasi yang lain-lain juga, maka pekerjaaannya yaitu pekerjaaan kelasi jugalah. Maka baik benar dahelu ia tahu mengerjakan pekerjaaan itu, serta nama segala layar dan tali-temali pun semuanya sudah diketahuinyia, maka mana yang kurang lekaslah diketahuinyia juga.
Hatta apabila sampailah nakhoda ke kapal, maka berta-nyalah ia kepada malim, adakah anak buah semuanya sudah turun ke kapal. Maka kata malim itu: “Sudah, nakhoda, ada semuanya.” Maka kata nakhoda itu: “Suruhlah bongkar sauh.” Maka anak kapal pun membongkar sauhlah, dan berapa lamanya kapal itu pun berlepaslah dari pelabuhan Singapura. Maka Jahidin hatinya terlalu sedihnya, melihat kapal bekas tempatnya, yang bernama Bintang-barat itu, tengah bermuat tiada jauh dari kapalnya yang baharu itu.
Kemudian daripada itu, pada petang hari, apabila segala kelasi te ah makan, maka duduklah mereka itu di geladak.
Maka Jahidin dengan berdukacita duduklah terce-nung, memikirkan hal ahwal yang telah terjadi tentang dirinya itu, maka dengan sehabis-habis fikiran tiada dapat juga diketahuinya, apakah sebabnya maka ia seupama terbuang ke kapal itu. Maka dalam antara kelasi itu ada seorang berkata kepada Jahidin, katanya: “Hai, kawan! engkau ini turun ke kapal waktu sudah hendak berlayar.”
Maka sahut Jadidin: “Ia, dan lagi dengan halku tiada kuktahui bagaimana aku datang kemari ini.”
Maka kata kelasi itu seraya tertawa: “Takan bagaimana, melainkan berjalan dengan kakimu juga. Masakan engkau jatuh dari langit.”
Maka kata Jahidin: “Itu benar, akan tetapi jika kuceriterakan halku dengan seorang orang Cina di darat heranlah engkau mendengarkan ceritera itu.”
Maka kata sekalian kelasi itu: “Ceriterakanlah, kami dengar.”
Maka Jahidin pun berceriteralah, menceriterakan sekalian halna itu. Setelah sudah berceritera itu, maka kata seorang daripada mereka itu: “Engkau ini agaknya belum berapa kali keSingapura, dan belum lama juga menjadi orang laut.
Maka kata Jahidin: “Mengapa maka engkau berkata demikian?”
Maka sahut kelasi itu. “Adapun jika sudah lama engkau menjadi orang laut dan kuat keSingapura, niscaya dapatlah engkau mengetahui, orang Cina itu menyouroh engkau menulis namamu itu, dengan maksud hendak membubuh perjanjian, bahwa engkau hendak menjadi kelasi di kapal ini.”
Maka kata Jahidin: “Itu benar, tetapi pakaianku dan wangku sekaliannya ke mana perginya?”
Maka kata kelasi itu: “Tadi kata engkau, engkau minum rokok, lalu engkau tertidur, bukan? Adapun Cina itu tukang mencahrakan kelasi akan kapal-kapal yang datang kemari. Yang engkau ini, dengan halmu masih baharu diSingapura, tiada tabu akan tipo daya orang, maka dapatlah engkau ibarat dijebaknya, dipikatnya dengan rokok, dibubuhnya candu di dalamnya. Karena candu itu maka mabuklah engkau lalu tertidur, kemudian pakaianmu ditanggalkannyalah dari badanmu, dipakaikannya yang lain. Adapun perbuatan yang demikian itu, perbuatan sehari-hari; banyaklah kelasi yang didayakan orang demikian.”
Syahdan apabila didengarnya oleh Jahidin akan kata kelasi itu, maka baharulah sah akan dia halnya itu. Maka terkenanglah ia akan nakhodanya, orang Cina itu, dan akan kawan rumah makan itu, yang memberi ingatan kepadanya, yang tiada didengarkannya itu, karena terlalu amat ia percaya akan orang Cina pendaya itu. Makadidalam hati Jahidin: “Inilah rupanya orang yang tiada mendengarkan kata orang yang semporna; berat benar dendanya. Tetapi apa boleh buat, melainkan kita deritalah juga seboleh-boleh.” Setelah berdiam sejurus, maka kata Jahidin pula: “Ini hendak berlayar ke mana?”
Maka kata seorang daripada kelasi itu: “KeJe pun.
Apabila Jahidin mendengar kata itce, maka sukalah hatinya, karena ia belum tahu melihat apa-apa asal dari negeri itu, hanyalah barang-barang pinggan mangkuk dan payung dikedai tuannya dahelul diBetawi itu. Akan tetapi ada juga ia mendengar khabar, ada beberapa orang Je pun tukang sulap, pandai amat bermain rupa-rupa permainan yang terlalu amat ‘ajaib. Maka dalam hati Jahidin: “Negeri yang didiami orang yang demikian itu agaknya lainlah daripada negeri yang lain-lain”. Maka Jahidin itu memang ’adatnya terlalu amat suka melihat lihat barang apa yang belum pernah dilihatnya. Maka kata Jahidin pula: “Berapa lamanya berlayar ini maka sampai keJe pun?
Maka kata seorang kelasi: “Sekali aku berlayar ke situ, dua bulan di jalan. tetapi sekarang ta lambatlah di jalan karena angin ini angin musim, utara barat laut.”
Syahdan maka angin itu, seupama ia mendengar perkataan kelasi itu, maka jadi-jadilah kencengnyna, sehingga kapal itu lajunya seperti melancar di atas air, maka gelombang pun memeca-mecah dihaluan, berbuih-buih. Maka sesungguhnya tiada lambatlah di jalan. Berapa hari lamanya maka msuklah keselat Balabak, kemudian melalui beberapa pulau, masuk bilangan Manila lalu terus keJe pun.
Hatta maka Jahidin di kapal itu halnya baik. Maka pandai ia bekerja, sama dengan kelasi yang tua-tua. Kemudian apabila telah sebulan lamanya berlayar itu, maka kapal itu pun sampailah keJe pun. Maka pada ketika itu telah lupalah Jahidin akan kapalnya yang bernama Bintang-barat itu, dan akan tuannya orang Cina itu juga adanya.
Arkian maka kapal yang keJe pun itu pun masuklah keteluk Jedo lalu berlabuh di pelabuhan Jokohama. Adapun teluk Jedo itu rupanya terlalu amat indahnya. Maka negeri Jokohama itu, pada ketika itu negeri bahru, tempatnya seberang-menyeberaug dengan Kanagawa. Ketika masuk keteluk itu, maka Jahidin pun tercenganglah oleh karena bauyak apa-apa yang indah-indah diteluk itu. Maka penglihatan di situ rupanya serupa suatu peta yang terlalu indah-indah adanya. Maka rantaunya teluk itu berteluk pula, dan ada beberapa anak sungai di situ, maka pada anak-anak sungai itu adalah beberapa desa. Maka oleh karena itu penglihatan pun bergantigantilah rupanya, sebentar begini sebentar begitu. Dan lagi ada juga tampak dari kapal beberapa kebun, bahru dibakalkan, indah-indah buatannya, dan nyata dilihat dari kapal itu, meski pun tempatnya kebun-kebun itu tingginya lebih dua ratus kaki. Maka pada antara kebun-kebun itu adalah tanjung kecil kecil, tanahnya bercampur batu, dan berhutan. Maka teluk itu bertebing, tetapi ada juga tempat yang rendah-rendah. Maka tampak dari jauh adalah gunung sebuah, yaitu gunung Fuzi namanya, dan rupanya seperti kukusan. Maka Jahidin pun tiada sempat melihat-lihat sekalian apa-apa yang indah-indah itu, karena setelah berlabuh kapal itu di pelabuhan Jokohama itu, maka sekalian kelasi pun terlalu banyak pekerjaannya.
Hatta pada keesokan harinya, yaitu hari Ahad, maka anak kapal pun tiada bekerja, maka naiklah mereka itu ke darat. Adapun naik ke darat di situ mudah amat karena ada pangkalan dua buah dari batu, menganjur jauh ke laut, ada tangganya, maka mudahlah orang naik turun.
Kemudian maka berjalananlah Jahidin ke darat, maka sampailah ia kepada sebuah rumah, yaitu perbandaran tempat pemerintah berhim pun. Maka pada sebelah kanan perbandaran itu adalah sebuah jalan, maka lebar dan lurus jalan itu, pada sama tengah negeri Jokohama itu. Pada sebelah kanan jalan itu kampung orang Je pun, dan pada sebelah kirinya kampung orang luaran. Maka kampung Je pun itu sukar dimasuki, karena lorongnya semuanya dipasangkannya pelalau. Maka pada sebelah kiri perbandaran itu ada sebuah tanah lapang dengan kebunnya. Maka di situ juga tiada boleh masuk jika tiada dengan idzin pemerintah. Maka pada sebelah sananya tanah lapang itu adalah rumah-rumah orang berdagang.
Kemudian daripada itu maka berjalananlah Jahidin pada jalan raya itu. Maka seberang-menyeberang jalan itu kedai belaka, tetapi ada juga rumah sebuah dua buah yang didiami orang. Maka isinya kedai itu berjenis-jenis mata benda yang indah-indah rupanya. Maka pada antara kedai barang-barang itu, adalah juga kedai sake. Adapun sake itu, yaitu suatu macam minuman, kesukaan orang Je pun. Jika diminum lebih daripada anggaran, memabukkan orang. Maka ada juga dilihat oleh Jahidin beberapa buah rumah, warnanya hitam, yaitu gudang. Maka ada juga beberapa buah rumah berhala, molek-molek rupanya; dan lagi ada rumah besar-besar tempat orang bermain macam-macam permainan, seperti wayang, dan sulap, dan orang bergelut. Maka segala rumah itu diperbuat daripada kayu, hanya gudangnya diperbuat daripada batu beratap genting.
Hatta maka Jahidin terlalu heran melihat burung teramat banyaknya, ke mana juga ia pergi maka adalah burung itu. Adapun burung itu bulunya putih, ada juga yang kelabu, dan lagi jinak burung itu, sebab tiada tahu diusik orang, jika didekati orang sekali pun tiadalah terbang. Maka burung itu rupanya serupa burung bangau.
Maka anak kapal berjalan-jalan itu diawasi oleh orang negeri itu, akan tetapi tiada diusiknya. Maka orang perempuan dan anak perempuannya kebanyakan duduk dipintu bertikar, maka mereka itu rupa-rupanya tiada sekali-kali takut akan orang luaran yang datang ke situ. Apabila sudah berjalan-jalan ke mana-mana tempat yang sekadar boleh didatangi orang luaran, maka turunlah Jahidin dengan kawannya sekaliannya ke kapal. Maka di kapal adalah banyak orang berjucal segala apa-apa, seperti buah-buahan, berjenis-jenis, dan sebagainya. Adapun buah-buahan itu bangsa buah-buahan Eropa, maka belum pernah Jahidin melihat, apa lagi merasai buah-buahan yang demikian. Maka dibelinyalah beberapa butir, akan tetapi kata kelasi Belanda, buah-buahan itu tiada nyaman rasanya, melainkan dipengat ada juga rasanya; dan lagi buah-buahan itu belum masak.
Maka nakhoda kapal itu mengirim hayam dan itik ke kapal akan makanan anak kapal. Maka bulunya hayam dan itik itu terlalu bagus. Maka Jahidin pun membeli burung dua ekor dengan sangkarnya, maka warna bulunya hijau muda, bagus rupanya burung itu. Maka sangkar burung itu digantungnya dekat tempat tidurnya.
Hatta maka Jahidin hendak bercakap dengan orang Je pun tiada dapat, karena bahasanya bunyinya seupama bahasa Cina. Maka jika Jahidin hendak mengatakan apa-apa kepada mereka itu, maka berisyarat sahajalah.
Maka dalam antara mereka itu adalah seorang dua yang dapat bercakap dengan kelasi Belanda cara Belanda. Maka apabila didengar oleh Jahidin orang Je pun berbahasa cara Belanda itu, maka bertonyalah ia, di manakah mereka itu belajar bahasa itu? Maka kata seorang: “Dahulu, ada dua ratus tahun antaranya, tiada orang luaran boleh diam diJe pun, hanya orang Belanda; maka kapal bangsa lain daripada bangsa Belanda itu tiadalah masuk juga kesini, larangan. Karena itulah maka orang Je pun itu tahu bahasa Belanda sedikit-sedikit. Maka ada juga perkataan Belanda dipakainya pada bahasanya. Adapun larangan itu pada zaman ini sudah terhapus, maka kapal segala bangsa pun masuklah ke-Je pun juga adanya.”
Arkian maka kapal tempat Jahidin itu pun memunggah muatanlah dan bermuat muatan baharu, ada sebulan lamanya, hendak dibawanya keAmerika. Apabila didengar oleh Jahidin berapa jauhnya benua itu, maka terkenanglah ia akan Pesauran; maka dalam hatinya: “Se'u-mur hidupku ta pulanglah aku ini!” Adapun mula-mula ia pergi keBetawi, dari situ keSingapura; kemu-dian dari Singapura keliye pun, maka sekarang hendak keAmerika; alangkah jauhnya dari desanya, tempat tumpah darahnya dan tempat ia menggembala kerbau itu. Maka dikenangkannyalah juga ibu bapanya.
Maka dalam hatinya: “Bagaimanakah halnya ibu bapaku sepeninggalku ini? Meninggalkah sudah ibuku karena berdukacica sebab aku pergi ini dan sebab malu, disangkakannya aku ini berhutang nyawa? Bapaku, bagaimanakah halnya dengan pekerjaaanya? bolehkah dikerjakannya dengan seorang dirinya? Dijulanyakah kerbaunya, sebab ta ada orang yang menggembalakan? Barangkali sawahnya disewakannya dan ladangnya pun tiada ditanaminya, rengkiang dan rumanya dijulanya, lalu berjalana hendak mencahari aku ini, makin lama makin jauh, dengan tiada didapatnya juga!“ Demikianlah pikiran Jahidin hampir setiap petang jika ia sudah bekerja lagi belum hendak tidur. Maka berdirilah Jahidin di tepi kapal, melihat air yang menyembur-nyembur dihaluan kapal. Maka pada waktee gelap, air itu pun berpendar-pendarlah serupa kunang-kunang beribu-ribu. Maka tampaklah unut kapal itu bertali-tali dan berkilat-kilat, dari haluan keburitan, lalu menjadi satu seupama api, menunjukkan jalan yang bekas dijalani kapal itu. Apabila dilihat oleh Jahidin akan sekalian itu, maka merasalah ia, bahwa makin lama makin jauh ia dari tanah airnya. Maka rindulah hatinya, hendak pulang ke desanya; maka dengan halnya bercinta itu maka kebanyakan duduklah ia berjam-jam, hingga lupa akan waktunya tidur. Maka pada siang hari kuranglah pikirannya yang demikian itu, karena banyak pekerjaaan; dan lagi melihat kawan-kawannya bersuka-suka hati, maka sukalah juga hatinya.
Syahdan maka dalam hal yang demikian itu, pada mulamula hari berlayarlah dengan angin baik mengambil haluan keAmerika.
Maka nakhoda pun senanglah hatinya oleh karena pelayaran itu tiada ‘aralnya, maka kadang-kadang diberinyalah apa-apa akan anak kapal itu, seperti makanan dan minu-man.
Maka serang pun berkatalah kepada Jahidin, bahwa beberapa kali sudah ia berlayar dari Je pun keAmerika, tetapi belum pernah bagi sekali ini lekasnya. Akan tetapi tiada kuasa manusia tentang angin itu.
Hatta pada suatu-hari, waktu pagi hari, maka angin pun mati, tiada sekali-kali terasa; maka kapal itu pun terkatung-katunglah di tengah lautan, tiada dapat membawa haluan, seperti tiada berkemudi adanya. Maka layar pun kendurlah tergantung pada andang-andang, menampar-nampar tiang karena angguk kapal itu. Maka malim dan kelasi pun bersiullah memanggil angin, akan tetapi berhari-hari tiada juga hendak turun angin itu. Adapun hal itu terlalu sukarnya, maka orang di kapal itu pun masing-masing masamlah juga mukanya. Maka kapal itu pun hanyutlah dibawa arus keceetara barat laut, sebab kemudi tiada makan lagi; maka pada haki-kanya kapal itu hendak ditujukan orang ke pihak timur.
Syahdan maka adalah empat belas bari lamanya di dalam hal kematian angin itu. Kemudian daripada itu maka turunlah angin yang terlalu amat kencangnya, makin lama makin jadi, hingga menjadi ribut yang bukan-bukan kerasnya. Maka layar pun digelulung oranglah, melainkan adalah sebidang dua bidang yang tinggal terbentang, akan tetapi kapal itu larinya seperti burung terbang juga adanya. Maka layar itu pun digelulung jugalalah, karena kedengaran bunyinya sebagai hendak koyak. Maka gelombang pun segenunung-gunung tingginya, maka kapal sebesar itu dihempas-hempaskannya seperti tempurung. Maka angin itu masih juga bertambah-tambah kerasnya. Maka tiang pun melentur serta berbunyi hendak patah; dan air laut pun masuk dari kiri dari kanan, disapunna geladak, maka habislah tepi kapal dibawanya dengan segala barang-barang yang ada di geladak itu, seperti tempat air dan sangkar hayam dan sebagainya. Maka kemudi itu dipegang oleh dua orang. Maka adalah kapak beberapa bilah tersedia, akan menetak tali tiang atau tali andang-andang yang kalau-kalau patah dan jatuh ke dalam laut, karena tiang dan andang-andang itu, jika tergantung disisi kapal dengan halnya dihayun-hayunkan gelombang, maka boleh ia membina-sakan tubuh kapal. Maka nakhoda pun berteriak-teriaklah memberi perintah dengan memakai teropong. Jikalau tiada memakai benda itu tiada kedengaranlah suaranya oleh karena angin itu berderu-deru bunyinya. Maka langit warnanya hitam, maka gelaplah seperti malam, suatu pun tiada nyata adanya.
Kemudian daripada itu, maka magun kapal itu punah dibantam gelombang yang serumah tingginya, maka kemudi pun tercabutlah lalu hanyut; maka jatuhlah juga dua orang jurumudi ke dalam laut dibawa oleh gelombang itu, maka berteriaklah orang di kapal itu, katanya: “Ada orang jatuh ke dalam laut!” Akan tetapi seorang pun tiada dapat menelulung mereka itu. Maka tampaklah orang yang jatuh itu sejurus hanyut, dimain-mainkan gelombang, kemudian maka tenggelamlah ia, tiada timbul-timbul lagi adanya.
Syahdan orang kapal itu pun halnya terlampau amat sukarnya; hendak di'akalkannya memasang kemudi, yang boleh dipakai tahan-tahan larat tiada dapat, karena gelombang terlalu kuat memukul, hingga anak kapal bernyaris-nyaris jatuh ke dalam laut disapunna, tambahan pula kapal itu bocor. Dalam hal yang demikian maka khawatirlah mereka itu, memikirkan berapakah lamanya lagi kapal itu boleh tahan tiada tenggelam.
Hatta maka oleh nakhoda disuruhnya seorang tukang kayu turun ke dalam petak mencahari tempat yang bocor itu, supaya dibenuhnya jika dapat; akan tetapi tiada dapat dicaharinya tempat itu, barangkali ada di bawah muatan. Setelah itu kata nakhoda: “Siapkanlah sekoci-sekoci.” Akan tetapi itu juga tiada mudah, oleh karena sekoci yang besar ada tergalang di atas geladak dan berisi barang-barang, maka barang-barang itu pun dipunggahlah dahulu. Akan sekoci yang kecil-kecil, yang tergantung disisi kapal, maka sekalianinya telah rusak dihantam gelombang, maka bocorlah barangkali. Maka adalah beberapa orang yang mengerjakan pompa, akan tetapi tiada gu-nanya, karena air di dalam kapal itu bertambah-tambah juga adanya.
Syahdan berapa lamanya maka sedialah sekoci besar itu, maka oleh nakhoda disuruhnyalah turunkan sekoci itu, karena kapal itu sudah hendak tenggelam. Akan tetapi menurunkan sekoci itu tiada kepalang sukarnya; maka dengan ‘akal dapatlah juga diturunkan sekoci itu, rupa-rupanya dengan tiada kurang suatu apa, karena tiada bocor. Akan tetapi sekoci yang kecil-kecil itu bocor belaka, maka tenggelamlah serta sampai ke air. Maka nakhoda dan malim-malim dan anak kapal sekalian ny pun turunlah kesekoci sebuah itu, masing-saming dengan permintaannya, mudah-mudahan ditulung Allah kiranya di dalam hal kesukaran itu. Maka adalah mereka itu membawa bekal-bekalan, seperti makan-makanan dan air tawar cukup akan beberapa hari; dan lagi adalah juga dibawanya pedoman, dan beberapa peta, dan senapang dengan obat dan peluru dan penaburnya; lain daripada itu suatu pun tiada. Akan pakaian dan sebagainya suatu pun tiada dibawanya, karena sekoci itu sudah terlampau saratnya muat orang, adalah hanya setelempap sekoci itu di atas air, sebentar-sebentar hendak karam
Kemudian daripada itu maka kata nakhoda itu: “Marilah kita ‘akal-’akalkan, supaya dapat kita tujukan ke sebelah utara Nieuw Guinea. Pada perasaanku kita ini tiada jauh lagi dari situ, sebab beberapa hari ini banyak terbuang ke pihak barat dibawa angin dengan arus.”
Maka sahut seorang malim yang memegang kemudi: “Baiklah, sahaya tujukanlah ke situ juga. Apabila agaknya tiada dapat Nieuw Guinea itu, tiada kemanalah melalinkan jatuhlah kita ke pulau-pulau Maluka juga.”
Syahdan angin itu pun redalah sedikit, akan tetapi tu- runlah hujan, maka matahari pun masuk, maka gelap gulitalah adanya. Dalam hal yang demikian ditujukanlah haluan ketunggara menurut pedoman sahaja.
Maka orang di dalam sekoci itu pun sekaliannya basahlah, bergigilan oleh karena sejuknya, tiada tidur barang sekutika juga pun. Pada lalu-lalu tengah malam, maka sekoci itu pun terdamparlah ke atas karang lalu karam.
Maka anak buahnya pun bercelemunganlah, masing-masing dengan halnya; mana yang pandai berenang bernanglah, yang tiada pandai berenang tenggelamlah. Maka Jahidin pun berenang sekutika ke sana kemari, kemudian maka tersentuh ia kepada dayung sebatang, maka dicapainyalah dayung itu lalu beranyut-anyutlah ia dengan dayung itu dimain-mainkan gelombang.
Maka seorang pun tiada tampak kepada Jahidin oleh karena gelapnya, melainkan kadang-kadang didengarnya dari jauh bunyi suara orang berteriak minta tolong, tetapi kemudian tiada kedengaran lagi. Berapa lamanya dalam hal yang demikian itu, maka badan Jahidin lemahlah, hampir tiada merasa apa-apa lagi. Maka khawatirlah ia serta dalam hatinya: “Jika hendak mati, matilah, apa boleh buat, asal sudah sehabis-habisnya ku'akalkan juga hendak melanjutkan ‘umurku.” Tengah berpikir demikian maka diurainyalah ikat pinggangnuya, dipakainya mengikat dayung itu kepada badannya, supaya dayung itu boleh menahan-nahan badannya jika hendak tenggelam, seupama pelampung. Adapun mengerjakan itu terlalu amat sukarnya, karena tiada bergaya lagi badannya; maka apabila sudah maka ia pun merasalah kepalanya pusing lalu tiada ingatkan dirinya lagi.
Hatta maka kutika Jahidin tersadar matahari pun tinggi sudah, maka ia pun adalah pada tepi laut, te lentang di atas pasir, agaknya dibawa gelombang ke situ kutika air pasang.
Maka dayung itu masih terikat pada badannya. Kemudian maka ditanggalkannyalah dayung itu lalu ia memandang ke sana kemari, di dalam hatinya: “Di manakah aku ini?” Maka dilihatnya, di hadapannya adalah lautan, tetapi kapal atau sekoci itu, atau bekas-bekasnya suatu juga pun tiada tampak yang boleh menunjukkan bahwa di situ adalah beberapa hamba Allah telah dilanggar mara bahaya. Kemudian maka menolehlah Jahidin ke darat, maka dilihatnya pantai itu curam, dan berpokok kayu hingga ke tepi laut, maka pokok kayu itu tinggi-tinggi, ada banyak yang akarnya tampak bekas dipokul gelombang. Adapun tempat itu agaknya tiada didiami manusia karena tiada tampak bekas-bekasnya suatu juga pun, melainkan bekas binatang belaka. Adapun Jahidin, ketika ia di-Pesauran selalu ia pergi ke tepi laut diselat Sunda, mencahari telur penyu, maka tahulah ia juga bagaimana buatannya mencahari telur itu; maka apabila dilihatnya pada pasir itu ada tapak penyu, maka dicaharinyaalah telurnya, maka pada seketika itu diperolehnyalah dua puluh butir. Karena Jahidin perutnya terialu amat laparnya, maka telur itu pun dimakannyalah mentah-mentah beberapa butir; maka selebihnya hendak direbusnya, tetapi apa ‘akal dalam hal tiada menaruh belanga atau periuk itu. Api mudah diperolehnya, dibuatnya dengan ranting dua kerat, digasakkannya satu dengan satu; dan air tiada kurang di laut.
Kemudian daripada itu maka Jahidin pun berjalananlah menyusur pantai, maka dilihatnya adalah kulit penyu, maka dalam hati Jahidin: “Ini, agaknya, boleh ku-pakai akan merebus telur itu.” Setelah itu maka pergilah ia mencahari kayu lempung yang kering, dipakainya membuat api itu. Maka api itu pun jadilah, lalu dibubuhnya kayu kering pula, maka menyalalah api itu.
Kemudian maka ia mencahari cabang kayu yang bengkok, tiga kerat, lalu dicacakkannya di tanah, pada keliling api itu, dipakainya seperti tungku. Maka kulit penyu itu pun diletakkannyalah pada tungku itu, lalu dibubuhnya air dan telur penyu. Demikianlah di'akal-‘akalkannya. Adapun macam itu merebus telurt tiada mudah, karena kulit penyu itu bunyinya mendedas bagaikan hendak meletup, dimakan api, maka oleh Jahidin sejurus-sejurus diangkitnyalah kulit penyu itu, takut te-lur itu jatuh ke dalam abu. Tetapi lama-lama masak juga telur itu, lalu dimakannya dengan garam. Adapun garam itu diperolehnya pada lubang batu; asalnya garam itu air masin juga, masuk ke dalam lubang batu itu, lalu kering kena panas matahari.
Syahdan setelah sudah makan maka berjalan-jalanlah Jahidin, dalam hatinya: “Barangkali ada juga manusia diam di sini.” Akan tetapi ia tiada masuk ke darat, karena takut sesat, jika sesat maka matilah ia dalam hutan itu tiada dapat ditempuh manusia melainkan jika hendak menyusup-nyusup menuruti bekas jalan binatang. Dalam hal yang demikian itu maka berjalanlah Jahidin menyusur pantai sahaja, kadang-kadang mengarungi anak sungai yang mengalir dari dalam hutan turun ke laut. Maka segala anak sungai itu airnya tawar serta jernih, maka Jahidin pun tiadalah khawatir mati keku-rangan air; demikian juga tentang makanannya, telur penyu itulah pengharapannya. Dalam pada itu hanya binatang yang buasiah yang ditakutninya; jika selamat tiada diusiknya, maka bolehlah juga hidup ia di situ beberapa lamanya.
Hatta maka Jahidin tiada tahu tanah itu tanah mana, dan lagi tiada tahu juga ia tanah itu didiami manusiakah atau tiadakah. Maka berflkirlah Jahidin di dalam hatinya: “Jika ada manusia di sini, niscaya adalah juga di tepi laut tempat kediannya, kebanyakan demikian ‘adat; maka oleh karena itu baiklah aku menyusur pantai, hendak mengetahui adakah atau tiadakah manusia di sini.”
Adapun menyusur pantai itu sukar juga, kadang-kadang datang Jahidin kepada sungai yang lebar serta dalam, sebab air pasang; maka berhentilah ia beberapa jam lamanya, menantikan air surut, karena hendak berenang takut akan buaya, banyak bekasnya pada pasir dilihatnya. Maka adalah juga batu tinggi dan terjial, melanjut ke laut, jadi seperti alangan, terpampang pada tengah ja- lan. Maka teramatlah sukar halnya Jahidin memanjat batu yang demikian itu, terangkak-rankak. Apabila sampai ia ke atas batu itu, maka berhentilah ia berapa lamanya hendak melepaskan lelahnya. Dalam hal yang demikian itu maka Jahidin pun tiadalah dapat berjalan dengan bersegera. Dan lagi tiada boleh lengah diperjalan itu, sebab takut akan binatang yang buas itu. Maka senjata tiada ada baginya, hanyalah pisau sebilah; baik benar pisau itu tiada hilang, melainkan ada tersisip di pinggang Jahidin ketika sekoci itu karam. Maka pisau itu pun teramatlah berguna akan Jahidin.
Syahdan maka oleh Jahidin dilihatnya adalah tapak barang suatu binatang pada pasir, maka disangkakannya tapak harimau; maka dicaharinyalal dengan bersegera anak kayu yang berbatangkan kayu yang keras, diperbuatnyaya suatu gada serta ujungnyaya ditajamkannya dan dibakarnya supaya menjadi keras dan boleh dipakainya seupama tombak. Maka Jahidin pun senantiasa tiadalah bercerai dengan gada itu sekejap juga pun, karena itulah sahaja yang boleh dipakainya seperti sara kalau-kalau ada binatang hendak menerkam akan dia.
Hatta maka pada malam hari terlalulah amat sukar halnya, maka pada jam pukul tiga, lepas lohor, berhen- tilah ia berjalan, lalu mencahari pohon kayu akan tem- pat ia bermalam. Maka diperbuatnyalah suatu tempat duduk serta tempat tidur di atas pohon kayu itu daripada dahan-dahan yang liat, dilingkar-lingkarnya, supaya tengah tidur jangan gugur. Adapun mengerjakan pekerjaan itu kadang-kadang datang kepada waktu mag- rib baharulah selesai. Apabila selesailah pekerjaan itu maka pergilah ia mencahari daun kering dan ranting akan kayu api, hendak merebus telur penyu. Kemu- dian daripada itu apabila sudah makan sejurus, maka dipanjatnyalah pula pohon itu lalu tidurlah ia pada tempat yang telah diperbuatnyaya itu. Adapun tidur pada tempat yang demikian itu tiadalah sama dengan tidur bertikar bantal dengan sepertinya. Hatta maka malam-malam selalu terjaga Jahidin daripada tidurnya karena bunyi binatang yang buas. Maka pada pagi hari tiadalah istirahat ia melainkan letih juga tubunnya serta segala sendinya pun kakulah dengan sakitnya, hampir-hampir tiada cakap bergerak ia. Kemudian apabila Jahidin sudah biasa tidur dengan hal yang demikian itu, maka kuranglah juga sukariiya; akan tetapi adalah pula barang suatu yang manyusahi akan dia, yaitu setiap hari makanannya tiada lain, hanyalan telur penyu direbus juga; maka teramatlah jemu ia akan makanan itu. Maka dicaharinyalalah akar tumbuh-tumbuhan dan daun-daunan hendak dimakannya, akan tetapi suatu pun tiada diperolehnya yang boleh dimakan manusia. Kemudian maka diperolehnya beberapa anak burung di dalam sarangnya, maka disembelehnyalah anak burung itu lalu dicabutnya bulunya dan dipanggangnya, dibubuhnya garam. Maka nyamannya burung itu dimakannya seupama makanan yang cukup rempahnya juga adanya.
Syahdan maka adalah empat belas hari sudah lamanya Jahidin berjalan. pada sangkanya ke pihak utara timur laut, akan tetapi tiada berjumpa dengan manusia seorang juga pun, atau melihat ‘alamat yang menunjuk-kan dia barang suatu tempat kediaman manusia. Hatta apabila datanglah kepada kelima belas harinya maka dilihatnya bahwa hutan di tepi laut itu pun hutan belukar serta ada pohon nyiur, maka terlalu banyaknya pohon nyiur itu. Maka Jahidin pun sukacitalah hatinya, maka berkatalah ia dengan sendirinya: “Ini agaknya bekas desa maka ada pohon nyiur ini. Tetapi barangkali juga pada awalnya adalah benihnya hanyut kemari lalu tumbuh menjadi banyak, karena tua-tua belaka nyiur ini, ada yang kira-kira lima puluh tahun sudah ’umurnya. Dalam pada itu nyata juga, bahwa lamalah sudah manusia tiada melintas di sini. Kuwakapkan sahajalah nyiur ini.”
Maka kata yang empunya ceritera: Adapun akan memanjat pohon nyiur memang Jahidin itu tukanguya. Maka dipanjatnyalah sebatang, maka sekoctika lagi sampailah ia ke atas, meski pun nyiur itu batangnyia tiada bertakuek seperti pohon nyiur yang dipeliharakan itu. Hetta maka dipetiknyalah buahnya beberapa butir, lalu dikupas dan ditebuknyia, diminumnyia airnya dan dimakannya isinya. Maka bermalamlah Jahidin dua malam di situ, hendak melepas-lepaskan lelah. Kemudian maka berjalanlah pula, membawa beberapa butir nyiur muda.
Syahdan maka adalah kurang sedikit dua bulan lamanya Jahidin di tanah itu, yaitu tanah Nieuw Guinea, demikianlah namanya, tanah itu pada bahasa Belanda, maka belum juga berjumpa dengan seorang manusia juga pun.
Adapun Jahidin dengan halnya demikian maka tawarah hatinya tiada dapat diharapkannya akan terlepas daripada kesukaran itu. Dan lagi badannya kurang kuatnya karena tiada makan dengan sepertinya, lagi dengan halnya hujan kehujanan, panas kepanasan.
Pada akhirnya Jahidin pun tiadalah cakap berjalan jauh-jauh lagi. Maka lambatlah di jalan, tambahan pula pantai itu terlalu banyak teluknya, jadi berjalan itu seupama mengidar-idar tiada tetap tujunya melainkan matahari itulah yang menunjukkan jalan kepada nya seupama pedoman. Apabila petanglah hari maka Jahidin pun memanjat pokok kayulah, maka duduklah ia di atas pohon kayu itu tercenung, memikirkan halnya seraya berkeluh, maka di dalam hatinya: “Siksaku ini bilakah datang kepada akhirnya?”
Maka kata yang empunya ceritera: Tiada berapa lamanya, dengan takdir Allah subhanahu wata'ala maka datanglah ia kepada akhir siksanya itu juga. Sekali peristiwa pada suatu hari, waktu pagi telah Jahidin berjalan, ada kira-kira dua pal jauhnya, maka dilihatnya di seberang suatu telook adalah asap, maka sungguh pun tubuhnya terlalu letihnyia itu, maka berlari-larilah ia juga, hendak bersegera pergi ke tempat asap itu. Berapa lamanya berlari-lari itu, maka tampaklah adalah beberapa orang duduk menghadap api menyala. Maka Jahidin pun sangat sukacita hatinya, tiada terhingga lagi.
Hatta maka o'eh Jahidin didapatinyalah akan mereka itu, tiada ia berfikir lagi, kalau-kalau dipenggalnya kepalanya oleh mereka itu dan dimakannya akan dia. Maka mereka itu pun sekaliannya terperanjatlah melihat seorang orang luaran, tahu-tahu berdiri di hadapannya itu. Adapun mereka itu warna kultnya hitam serta berkilat, istimewa pula laki-lakinya. Maka mereka itu laki-laki perempuan rambutnya keriting, seperti rambut biri-biri hitam; dan lagi rambutnya itu dibubuhnya batu merah yang telah ditumbuknya hingga halus, seperti abuk, dan lagi dipersuntingkannya bunga serta bulo burung. Maka rupanya mereka itu teramatlah jenaka. Dalam antara mereka itu ada juga seorang dua orang yang memakai kulit burung kesuari dililitkannya pada rambutnya. Dan lagi mereka itu cuping hidungnya berlubang dicucuknya, dibubuhnya buluh atau kayu dan taring babi; demikian juga cuping telinganya, dibubuhnya cincin kulit penyu. Maka perempuannya demikian juga perhiasannya, tetapi lebih banyak, dan pada cuping hidungnya dibubuhnya tali warna hitam, digantunginya kulit kepah dan manik-manik akan tali itu. Mereka itu pakaianya hanya cawat kulit kayu; maka laki-lakinya berpakai gelang pada lengannya dianyamnya daripada rotan, maka pada gelang itu adalah diselitkannya daun-daun dan suatu macam rumput, akan perhiasan juga; dan lagi, pada batang lehernya adalah kalung kulit kepah; maka ada pula dipakainya suatu macam pe-nutup dada, diperbuatnya daripada gigi binatang bercampur biji kacang, hitam warnanya, biji itu.
Hatta maka mereka itu rupanya lain daripada orang hitam yang dilihat Jahidin diSingapura itu. Maka ka-rena itulah maka khawatir amat Jahidin itu kutika ia melihat mereka itu berbangkit, masing-masing mencapai senjatanya. Adapun Jahidin itu menyembahlah, seperti ia menyembah kepala desanya diPesauran itu. Kemudian apabila dilihat oleh mereka itu bahwa Jahidin hanya seorang dirinya, dengan halnya tiada membawa senjata dan tiada bergaya, maka duduklah mereka itu pula. Maka di dalam antara mereka itu adalah seorang hendak bercakap dengan Jahidin, akan tetapi Jahidin itu tiada tahu akan bahasanya, maka berdiamkan dirilah ia, melainkan diberinya tahukan dengan isyarat, bahwa ia hendak makan, dan lagi diartikannya dengan isyarat juga sekalian halnya itu. Syahdan maka rupa-rupanya mengartilah mereka itu juga isyaratnya itu, maka adallah seorang perempuan mengambil sagu, dimasakkannya sagu akan Jahidin, serta dibakarkannya ikan juga. Serta masaklah sagu dengan ikan dibakar itu, maka makanlah Jahidin dengan nikmat yang tiada terkira juga adanya. Apapila kenyang sudah, maka kataJahidin seraya menyapu mulutnyia: “Enak.”
Syahdan apabila didengarnya oleh seorang dalam antara mereka itu akan perkataan Jahidin itu, maka berkatakatalah orang itu dengan Jahidin berbahasa Melayu, akan tetapi hanya duа tiga patah. Adapun akan orang Pua-pua yang lain-lain itu seorang pun tiada tahu akan bahasa itu sepatah juga pun. Maka Jahidin sukaci-talah hatinya. Adapun orang yang tahu bahasa Melayu itu tahu pergi ke pulau Tidori, maka di situlah ia belajar bahasa Melayu.
Hatta maka berceriteralah Jahidin, menceriterakan halnya itu sekaliannya, maka ceritera itu pun diceriterakan pula oleh orang yang tahu bahasa Melayu itu kepada penghulu mereka itu, serta dikatakannya juga, bahwa Jahidin itu memohonkan kasihannya, supaya ia boleh menumpang pada mereka itu, hendak menantikan kalau-kalan ada perahu tempat menumpang pergi barang ke mana juga pun. Apabila didengar oleh mereka itu akan permintaan Jahidin itu, maka bermasyawaratlah mereka itu seketika. Apabila sudah bermasyawarat itu, maka dikhabarkannyalah oleh jurubahasa itu kepada Jahidin, bahwa permintaannya itu dikabulkan juga adanya.
Arkian maka seketika lagi berjalanan mereka itu pu- lang ke kampungnya maka diajaknyalah akan Jahidin juga, seraya dikatakannya hendak diberinya tempat dikam-pungnya itu. Maka Jahidin pun sukacitalah hatinya, istimewa pula jika dikenangkannya halnya ketika ia be-lum bertemu dengan mereka itu; melaikan menyebut-lah ia beberapa syukur kepada Allah subhanahu wata-‘ala yang memeliharakan hambanya dengan kodratnya juga adanya.
Syahdan berapa lamanya berjalanan itu, maka tampaklah kampung itu, maka kata mereka itu kepada Jahidin: “Itulah kampung kami.” Maka Jahidin pun memandanglah ke sana kemari, mencahari tempat kampung itu, akan tetapi sebuah rumah pun tiada tampak, hanyalah kebun dan pohon nyiur dan pohon pisang dan sebagainya. Apabila dilihat oleh jurubahasa itu akan Jahidin men-cahari tempat kampung itu, maka katanya: “Apa engkau cahari di darat? bukannya di situ kampung kami; pandanglah ke laut.” Setelah itu maka Jahidin pua meno-lehlah ke laut, maka dilihatnya adalah beberapa buah rumah, di atas air bertiangkan kayu besar-besar; maka dari sebuah rumah ke sebuah rumah dipasangkannya suatu titi buluh, maka oleh karena itu segala rumah itu pun sekaliannya seupama berakit-rakitlah sebuah dengan sebuah. Maka naik turun ke darat itu melain-kan dengan sampanlah, karena tiada ada titi ke darat itu. Apabila datanglah mereka itu kepada tentangan kampung di laut itu, maka turunlah kesampan serta Jahidin, lalu berkayuh menyeberang ke kampung itu.
Adapun rumah itu dilihat oleh Jahidin rupanya ada-lah baik juga, kukuh buatannya, maka atapnya kuncupt ke atas; maka rumah itu adalah juga yang berpenjuru delapan, dan tingginya lima puloh kaki keorang sedikit, rumah atap belaka seperti diJawa juga.
Maka tiap-tiap rumah itu biliknya ada dua buah, dan pintunya dua buah, maka pintu itu kecil-kecil, boleh jadi seperti tingkap juga. Maka serbanya rumah itu tiadalah yang indah-indah, melainkan adalah dilihat Jahidin beberapa butir periuk belanga, teratur di atas para-para, dan lagi ada juga tengkorak dan gigi binatang pada dinding rumah itu. Itulah sabaja, lain suatu pun tiada. Maka dapurnya diperbuatnya daripada kayu, seperti kotak, dibubuhnya pasir di dalamnya, maka di atas pasir itulah dipasangnya tungku. Maka mereka itu tiada menaruh pisau atau kapak suatu juga pun, melainkan adalah perkakasnya diperbuatnya daripada batu tajam, diasahnya juga agaknya seperti mengasah kapak dan sebagainya itu. Adapun mereka itu, jika hendak membuat rumah atau membuat perahu, melainkan dengan perkakas itulah juga diperbuatnya. Adapun hal itu suatu ‘ajaib, tiada dapat difikirkannya oleh Jahidin.
Syahdan maka oleh mereka itu diberinyalah sebuah bilik kepada Jahidin akan tempat diamnya. Maka diamlah ia di situ dengan senangnya juga, makan minum tiada kurang, dan tidur dengan patut juga, yang mendatangkan istirahat kepada tubuhnya. Demikianlah hal Jahidin itu.
Adapun orang Pua-pua itu makanannya yaitu burung, dan penyu, dan ikan, dan sagu, dan ubi. Maka makanan itu tiadalah sama dengan makanan Jahidin yang biasa dimakanuna didesanya dan di kapal itu, akan tetapi nyaman juga dimakannya, nyaman daripada yang dimakannya pada perjalanannya itu, melainkan adalah tawar sekalian makanan itu oleh tiada dibubuhnya garam. Maka Jahidin pun membuatlah garam, diambilnya air masin dikeringkannya dipanas matahari. Adapun garam yang diperolehnya itu rasanya pahit-pahit dengan hitam warnanya, akan tetapi bolehlah juga dimakannya.
Kemudian daripada itu, apabila badannya telah ku-rang letihnya, maka Jahidin pun pergi memburu bersama-sama dengan orang kampung itu. Maka mereka itu senjatanya yaitu panah, terlalu pandainya mereka itu memanah, burung terbang pun kena dipanahnya, tiada salah-salahnya. Maka babi pun mati dipanahnya, seupama ditembaknya dengan peluru juga. Maka menangkap ikan itu dengan jala dan pukat, dan dengan tempuing; ada juga yang dipanahnya.
Hatta maka di situ tiada kurang tempat akan membuat sawah dan ladang; air pun tiada kurang juga; akan tetapi mereka itu asalnya bukannya orang bercucuk tanam, melainkan memburu dan menangkap ikan itu sahajalah jalan kehidopannya. Maka berfikirilah Jahidin di dalam hatinya: “Alangkah hasilnya jika hidup agaknya tanah ini; akan tetapi apa ‘akal di dalam hal tiada menaruh kerbau, dan tiada menaruh tenggala, dan tiada menaruh benih ini.” Adapun yang kebanyakan ditanamnya oleh mereka itu yaitu sagu, dan ada juga ditanamnya pisang; buah-buhaan yang lain-lain suatu pun tiada ditanamnya. Maka mereka itu adalah suatu ’adatnya, yaitu barang siapa memagari tanah maka tanah itu pun diakunya miliknya.
Syahdan maka mereka itu adalah juga rumah berhalanya, maka segala kayunya berukir dengan gambar bina-tang. Maka di dalamnya, rumah berhala itu adalah tergan-tung serba benda, seperti suatu macam bangsi, dan tengkorak binatang, dan panah, dan lagi suatu macam tabuhan, diperbuatnya daripada kayu, ditebuknya dalannya, seperti tongtong. Maka kadang-kadang, jika mereka itu bekerja, maka dipalunyalah tongtong itu dan lain-lain tabuhan juga, dan ditiupnyalah bangsi itu, maka gegak gumpitalah bunyinya. Maka menarilah mereka itu, laki-laki perempuan bercampur, hingga rebah terengah-engah.
Hatta maka mereka itu perahunya jalur, tiada besar, bercat hitam; dan lagi perahu itu bercoreng-coreng rupa-rupa jenis, bekas dibakarnyr. Maka perahu itu berambau supaya tahan layar, maka layarnya pun sangat besarnya, maka teramatlah juga lajunya. Maka Jahidin pun belajarlah melayarkan perahu yang demikian itu. Maka berapa lamanya maka samalah juga pandainya dengan orang di situ yang sangat pandainya tentang pelayaran itu. Maka Jahidin belajar juga bahasa mereka itu, dan kepada mereka itu diajarkeannya pula segala apa-apa yang diketahuinyna yang ada faidahnya akan mereka itu; maka oleh banyak pengetahuannya, Jahidin itu, maka sangatlah ternama ia pada mereka itu juga adanya.
Syahdan maka adalah tiga tahun sudah lamanya Jahidin diam di situ, belum juga ia mendapat jalan akan pulang katanah Jawa. Maka kadang-kadang ada juga perahu dari pulau-pulau ke situ akan tetapi di mana tempatnya pulau-pulau itu, tiadalah diketahui oieh Jahidin, sedangkan namanya baharulah di situ didengarnya. Oleh karena itu maka ia pun tiadalah hendak pergi ke pulau-pulau itu. jika diajaknya oleh orang perahu itu sekali pun. Di dalam itu pun Jahidin itu sangat senangnya di situ seopama raja ia di kampung itu.
Kemudian daripada itu maka sekali peristiwa pada suwatu hari dilihat oleh Jahidin adalah beberapa perahu orang kampung itu berkayuh dari laut ke darat, berburu-buru. Setelah sampailah ke darat maka datanglah mereka itu serta kawannya sekaliannya kepada Jahidin, mengatakan ada dilihatnya di laut kapal sebuah datang dari pihak barat, besar kapal itu dan lagi berasap dengan tiada berputusan asapnya itu. Adapun kapal itu tiada tampak dilihat oleh Jahidin daripada tempatnya itu, akan tetapi tahulah ia bahwa kapal itu kapal api. Maka berkatalah Jahidin kepada mereka itu, katanya: “Hai kawan-kawan, janganlah engkau sekalian takut, jika orang kapal itu naik ke darat sekali pun, tiada mengapa, ‘tiadalah dibinasakannya kita ini.’
Kemudian daripada itu maka Jahidin pun pergilah melihat kapal api itu, maka tampaklah dekat sudah kapal api itu, menuju ke darat. Seketika lagi maka kapal api itu pun berlabuh, lalu turun orangnya kesekoci, berkayuh ke darat menuju kampung mereka itu. Maka tampaklah dari jauh dilihat oleh Jahidin adalah beberapa orang Eelanda di dalam sekoci itu. Maka bernantilah Jahidin, menantikan mereka itu datang ke darat. Apabila dekat sudah sekoci itu, maka berserulah Jahidin, memberi selamat kedatargan kepada mereka itu, berbahasa Melayu. Apabila didengarnya oleh tuan-tuan yang disekoci itu akan perkataan Jahidin itu, maka bertanyalah kepada Jahidin, katanya: “Orang di sini sekalianinya tabukah bahasa Melayu?”
Maka sahut Jahidin: “Tida tuan, melainkan sahaya sahaja. Adapun sahaya ini asal sahaya bukannya orang di sini, melainkan orang luaran, tetapi lama sudah sahaya duduk di sini.”
Kemudian daripada itu maka oleh tuan itu disuruhnya turun Jahidin kesekoci itu, diajaknya bercakapcakap.
Maka Jahidin pun turunlah kesekoci itu, lalu bercakap-cakap dengan tuan-tuan itu. Maka diceriterakannyalah sekalian hal ahwalnya dari mulanya hingga datang kepada penghabisannya. Maka adalah tiga tahun sudah lamanya Jahidin itu diam di tanah Pua-pua itu. Dan lagi dikatakannya juga kepada tuan-tuan itu ji-kalau kiranya tuan-tuan itu hendak mendapat khabar tentang tempat kediemannya itu, maka hendak ia memberi jalannya. Setelah itu maka adalah dalam antara tuan-tuan itu seorang yang berkata kepada Jahidin, bahwa ia datang ke situ itu dengan maksud hendak mencahari tumbuh-tumbuhan dan rupa-rupa jenis burung yang tiada ada di tanah Jawa, hendak dibawanya ke situ. Maka oleh sebab itu maka tuan itu hendak menumpang di kampung itu, jika boleh. Dan lagi dikatakan juga oleh tuan itu, bahwa ia ada membawa rupa-rupa jenis benda, seperti serba pisau, dan kapak, dan kain, hendak di-tukarkannya dengan apa-apa yang dikehendakinya itu; disuruhnyalah Jahidin bermufakat dengan orang kampung itu tentang sekalian itu; dan lagi jikalau Jahidin hendak mengikut pergi merantau maka tuan itu hendak memberi gaji kepada Jahidin lima puluh rupiah sebulan, dan kemudian hendak dibawanya pulang Jahidin ke tanah Jawa. Maka Jahidin pun sukacitalah hatinya, maka katanya kepada tuan itu: “Baiklah tuan. Jikalau tuan-tuan sekalian ini suka menumpang di rumah sabaya, silakanlah.”
Hatta maka adalah banya seorang daripada tuan-tuan itu yang hendak menumpang di darat, yaitu tuan yang hendak memberi gaji kepada Jahidin itu. Maka tuan-tuan yang lain itu pun kembalilah ke kapal. Kemudian maka dikirimkannyalah dari kapal itu tempat tidur dan kursi, dan lagi makan-makanan dan sebagainya. Maka segala itu sekaliannya dimoceatkan orang ke dalam rumah tempat Jahidin diam itu. Maka Jahidin pun berpindahlah menumpang di rumah seorang orang sekampungnya. Syahdan maka Jahidin pun berceriteralah kepada orang kampung itu, apa maksudnya maka tuan itu datang ke situ.
Maka pada keesokan harinya pergilah mereka itu menangkap rupa-rupa jenis binatang ke hutan; maka tuan itu pun pergilah serta Jahidin mencahari tumbuh-tumbuhan. Berapa hari kamudian daripada itu, maka banyaklah sudah yang diperolehnya. Maka rumah Jahidin itu pun pencehlah, ada beberapa peti berisi tumbuh-tumbuhan itu, berasak-asak. Maka binatang pun banyak juga, rupa-rupa jenis, seperti burung cenderawasih, burung bayan, ular dan sebagainya.
Maka burung itu dibuang isisnya, tinggal kulit de-ngan bulunya sahaja. Maka ular itu dimuatkan ke dalam balang dibubuh air keras, dan binatang yang lain-lain rupa itu, seperti kupu-kupu, dan belalang dan sebagainya itu dibubuh kapur barus, supaya jangan menjadi buruk. Kemudian daripada itu apabila tiada datang lagi orang membawa binatang daripada jenis yang belum diperoleh tuan itu, maka tuan itu pun turunlah ke kapal pula serta Jahidin, hendak berlayar.
Apabila didengar oleh orang kampung itu bahwa Jahidin hendak berlayar kembali ke negerinya, maka datanglah mereka itu sekaliannya kepada Jahidin, dibuujuknya Jahidin itu, dan hendak dipertuakannya, supaya ia jangan pulang. Akan tetapi Jahidin itu terlalu amat inginnya hendak kembali ke tanah Jawa, karena bertahun-tahun sudah ditinggalkannya negerinya itu. Maka permintaan mereka itu pun tiadalah dikabulkannya juga. Maka Jahidin pun kebunnya dan rumahnya dengan serbanya sekaliannya diberikannya kepada orang kampung itu, dibahagi-bahagikannya.
Hatta maka ketika Jahidin turun ke kapal itu, maka mereka itu pun, laki-laki, perempuan, tua, muda, saka-liannya mengikut, masing-masing di dalam sampannya. Maka mereka itu pun dukacitalah hatinya melihat Jahidin pergi itu. Maka Jahidin pun demikian juga, karena tiada akan berjumpa lagi ia dengan mereka itu, dan lagi terkenang ia akan mereka itu banyak kasihnyia dan baik budinya kepadanya.
Syahdan maka berlayarlah kapal itu, akan tetapi belum lalu keJawa, melainkan singgah kepada beberapa tempat pada sebelah selatan dan sebelah barat tanah Pua-pua itu, mencahari tumbuh-tumbuhan dan rupa-rupa jenis binatang. Maka Jahidin pun menjadi juru baha-salah; akan tetapi itu bukannya pekerjaaan yang mudah, karena orang di situ masing-masing bangsa ada bahasanya sendiri. Maka Jahidin pun tiadalah dapat berkata dengan mereka itu, melainkan mana-mana kehendaknya dinyata-kannyalah dengan isyarat juga. Adapun mereka itu terlalu amat takut melihat orang kapal itu, maka yang kebanyakan pun larilah ke dalam hutan rimba berseruok; apabila kapal itu telah pergi maka baharulah mereka itu kelua.
Hatta maka orang mencahari tumbuh-tumbuhan dan binatang itu pun teramatlah sukarnya, hendak masuk ke dalam hutan takut akan orang yang berseruok di situ, karena termasyhur mereka itu pandainya memanah.
Syahdan maka adalah empat bulan lamanya kapal itu merantau, singgah kepada beberapa tempat. Kemudian daripada itu maka kembalilah kapal itu keJawa. Maka sangatlah sukacita hatinya, Jahidin itu, makin dekat ke-tempat tumpah darahnya itu makin sangat; jikalau upamanya ia menjadi burung, terbanglah ia hendak bersegera ke situ. Maka dalam antara kelasi di kapal itu adalah beberapa orang orang Jawa, akan tetapi bukannya asal Bantan. Maka mereka itu ditanyai oleh Jahidin, maka tiada tahulah mereka itu tentang hal ahwal sanak saudara Jahidin diPesauran itu. Maka di kapal itu ada juga seorang orang Sunda, anak tanah Priangan pihak selatan, maka bahasanya orang itu sama dengan bahasa negeri Jahidin, akan tetapi orang itu belum pernah pergi kePesauran, maka tiada kenallah ia juga akan sanak saudara Jahidin itu.
Syahdan maka berapa lamanya berlayar itu maka sampailah kapal itu dengan selamatnya juga kepelabuhan Betawi. Maka oleh tuan itu diberikannyalah kepada Jahidin gajinya lima bulan, jumlah dua ratus lima puluh rupiah. Setelah berlabuh kapal itu maka Jahidin pun naiklah ke darat dengan tambangan, maka seketika lagi berjalan-jalanlah Jahidin di dalam negeri Betawi, yang telah bertahun-tahun ditinggalkannya itu. Maka terkenanglah ia akan sekalian hal ahwlnya yang telah terjadi di dalam pelayarannya itu. Kemudian maka pergilah ia ke rumah orang Cina bekas tuannya itu, hendak mengetahui masih kenalkah orang di situ akan dia atau tiadakah; akan tetapi dilihatnya tiada ada orang Cina itu.
Maka Jahidin pun bertanyalah kepada seorang kawan di rumah itce tentang orang Cina itu. Maka sahut kawan itu: “Sudah meninggalkan dunia, ada duatahun lebih sudah lamanya.”
Maka kawan-kawannya yang dahulu bekerja di situ bersama-sama dengan dia seorang juga pun tiada dilihatnya. Maka tiada dapatlah Jahidin hendak mengetahui kenalkah orang akan dia atau tiadakah. Kemudian maka berfikirlah Jahidin di dalam hatinya, apakah hendak dibuatnya. Hendak pulang ke Pesauran melihat ibu bapanya itu, takut kalau-kalau dikenal dan ditangkap orang sebab membunuh orang itu. Hendak berlayar pula, sudah puas berlayar dan melihat-lihat negeri orang, dan lagi terlalulah amat inginnya hendak berjumpa dengan ibu bapanya itu. Kemudian telab berfikir demikian itu maka tetaplah pada hatinya hendak pulahg kePesauran juga.
Arkian maka Jahidin pun menyewalah sebuah kahar tempat pergi kePesauran, dibayarnya duaa puluh rupiah. Maka pergilah ia dengan kahar itu kePesauran, delapan puluh tiga pal jauhnya dari Betawi, perjalanan tiga hari. Maka makin dekat ke desanya itu makin berdebar-debar hati Jahidin, dan apabila dekatlah sudah, kira-kira duaa tiga pal lagi jauhnya maka Jahidin pun tiada melihat-lihat lagi keluar, melainkan duduk tercenung di dalam kahar itu. Adapun Jahidin pakaianinya yang cara kelasi itu tiada dipakainya melainkan dipakainya pakaian cara orang desa juga, supaya ia jangan menjadi suatu perlihatan orang banyak. Apabila hampirlah kahar itu kePesauran, maka diseruhnya berhenti oleh Jahidin, karena ia hendak berjalan kaki masuk ke desanya itu. Apabila dilihatnya tempat tumpah darahnya itu maka sangatlah berdebar-debar hatinya. Maka tahulah ia masih akan segala lorong dan masing-masing rumah di dalam desa itu, maka dapatlah ia berjalan sendiri ke rumahnya, jika berpejam mata juga sekali pun. Berapa lamanya berjalan itu maka tampaklah akan dia rumah kebayan itu. Maka teringatlah ia juga akan anak kebayan yang dibunuhnya itu, maka di dalam hatinya: “Apakah juga untungku ini kelak di dalam hal berdosa membunuh orang ini?” Maka seramlah bulu badannya.
Kemudian maka sampailah ia ke rumah tempat kedi-aman ibu bapanya dan tempat ia diperanakkan juga adanya. Maka berhentilah ia seketika di jalan berlambat-lambat. Maka di dalam hatinya: “Adakah ibu bapaku di rumah? Hidupkah atau meninggalkah sudah? Jika dilihatnya akan daku, kenalkah atau tiadakah agaknya?” Setelah berfikir demikian itu maka berjalanlah pula ia sampai kehadapan rumahnya itu. Maka dilihatuya tiada orang, seorang juga pun, maka berserulah ia dengan menyebonet nama bapanya. Maka sahut orang di dalam rumah itu: “Pa Jahidin pergi ke sawah, petang pulang.” Adapun suara itu suara ibunya, nyata benar-benar akan Jahidin. Maka tahulah Jahidin juga bahwa ibu bapanya lagi hidup Maka kata Jahidin kepada ibunya: “Adapun sahaya ini datang jauh-jauh singgah kesini hendak berjumpa dengan Pa Jahidin, sebab kenalan lama.” Maka sahut ibunya: “Baiklah, silakanlah masuk duduk, menantikan Pa Jahidin kembali. Sekarang sahaya keluar membawakan diri air kahwa.”
Hatta maka duduklah Jahidin menantikan ibunya itu keluar. Apabila keluarlah ibunya itu maka dilihatnya oleh Jahidin sangatlah tua rupa ibunya itu, sudah uban, lagi dengan kerisut kulitnya, akan tetapi roman mukanya tiada berubah. Adapun Ma Jahidin itu rupa-rupanya tiada kenal ia akan anaknya itu. Maka kata Jahidin: “Anak Ma ke mana, kesawahkah juga serta bapanya?” Apabila didengarnya oleh Ma Jahidin akan pertanyaan itu maka terkejutlah ia, seraya ia berkata: “Sahaya ini tiada beranak.” Maka kata Jahidin pula: “Dahulu sahaya berjumpa dengan Pa Jahidin, adalah anam tahun sudah lamanya, jikalau sahaya tiada salah katanya ada anaknya seorang laki-laki.“ Maka kata Ma Jahidin: ”Ada juga anak kami seorang, tetapi sudah hilang.“ Maka kata Jahidin: ”Kembali kerakhmatu'l-lah?“ Maka kata Ma Jahidin: ”Tida, melainkan lari, entah kamana perginya. Adapun lari itu sebabnya, karena ia memukuI anak orang, disangkanya mati budak yang dipukulnya itu.“ Maka kata Jahidin: ”Tidakah mati budak itu?“ Maka kata Ma Jahidin: ”Tida, melainkan tida ingatkan dirinya sahaja, adalah ia masih hidup.“
Hatta maka apabila didengar oleh Jahidin akan perkataan itu, maka mengeluhlah ia seraya mengucap, katanya: Alhamdulillah!“ Akan tetapi ucapnya itu tiada kedengaran kepada ibunya itu. Adapun ibunya itu menangislah terkenang akan anaknya itu. Maka Jahidin pun bertanya pula: ”Setelah lari itu, tidakah dicahari anak Ma itu?“ Maka sahut Ma Jahidin dengan tangisnya: ”Dicahari juga. Bapanya mencahari hingga ke-Betawi; datang ke situ didengarnya, pergi berlayar sudah, mengikut kapal, baharu sehari. Kemudian hingga masa ini tiada ada khabar-khabarnya lagi.“ Maka Jahidin pun berdiam seketika. Kemudian katanya: ”Sahaya ini datang dari Betawi; ada juga khabar yang baik sahaya dengan di situ tentang anak Ma itu.“ Apabila didengarnya akan perkataan itu, maka bertanyalah Ma Jahidin, katanya: ”Apa khabarnya itu?“ Maka Ma Jahidin pun menghampiri anaknya itu hendak mendengarkan dengan nyata anaknya berkhabar itu, maka terlihatlah Ma Jahidin akan muka anaknya itu, maka dipeluknyalah dan diciunnya, seraya katanya: ”Ya anakku, cahaya mataku!“
Kemudian daripada itu maka oleh Ma Jahidin disuruhnya panggil akan Pa Jahidin. Maka datanglah Pa Jahidin dengan bersegera. Maka suka cita hatinya, Pa Jahidin itu, tiada terhingga juga adanya. Maka kedingaranlah khabar Jahidin telah kembali itu kepada isi desa itu, maka datanglah mereka itu sekaliannya keru-mah Pa Jahidin, hendak mendengar hikayat Jahidin itu. Maka berhikayatlah Jahidin beberapa malam juga adanya.
Syahdan maka Jahidin itu telah puaslah pergi melihat-lihat negeri orang, maka diamlah ia di Pesauran, tiada hendak ke mana-mana lagi. Maka adalah jalan kehidu-pannya itu berjual padi. Kemudian maka diperbuat-nyalah rumah sebuah, tempat kediemannya, berhampiran dengan rumah bapanya, lalu kawin ia dengan anak kuwu Pesauran. Kemudian daripada itu, apabila mentuanya itu kembali kerakhmatu'llah, maka Jahidin pun dijadikanlah kuwu oleh isi desa itu juga adanya.
Wa'llahua'lam.
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.