Baca EPUB: Widiyawati

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. WIDIYAWATI
  2. KUSALAH SUBAGYO TUR
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. WIDIYAWATI
  6. CC BY-SA 4.0

WIDIYAWATI

KUSALAH SUBAGYO TUR


KOLOFON

WIDIYAWATI

oleh

KUSALAH SUBAGYO TUR



Dimuat di majalah Puspa-Wanita

No. 10 - Tahun ke IV

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Penggiat Buku

Dibagikan oleh: Muhammad Reza Magistra

Ilustrasi sampul: The Royal Family 1952, karya Seong Moy

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



WIDIYAWATI

Roman karangan Arti Purbani,

dengan 70 orang peran yang disebut namanya.

BARANGSIAPA membaca buku roman yang dikarang oleh pengarang wanita ini, tidak akan menyangka bahwa tidak demikianlah keadaan buku ini sejak semula. Buku ini telah diterbitkan oleh Balai Pustaka untuk kedua kalinya tahun ini (1959). Penerbitan yang pertama terjadi dalam tahun 1949, tetapi sebelum itu telah diterbitkan dalam bahasa Belanda dengan nama: Het Yavaanse meisye Widiyawati, oleh penerbit Keizerskroon Amsterdam dalam tahun 1948. Penteryemahnya adalah juga seorang wanita, Ediati Surasno, seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang belakangan melanjutkan pelajaran di Amerika Serikat. Pemilihan penteryemah untuk buku ini harus dikatakan tepat, karena ia telah berhasil menuangkan kembali apa yang dikatakan oleh Arti Purbani dalam bahasa Belanda, dalam bahasa Indonesia yang cukup daya-lukisan. Banyak istilah-istilah yang khusus Jawa, oleh Ediati Surasno dapat diterangkan kepada pembaca secara meyakinkan, baik secara langsung dalam susunan cerita, Maupun dengan cara memberikan ctatan pada akhi buku.

Kalau keistimewaan nyang hendak kita perhatikan, maka yang mula-mula menarik pada buku ini adalah yumlah perannya yang sangat besar. Tidak kurang dari 70 orang peran oleh pengarang disebutkan namanya dalam buku ini. Dan para peran itu oleh pengarang dilukti pula perkembangannya sampai pada akhi cerita. Kecual sejumah peran yang semata-mata menjadi figuran.

Pada umumnya para pengarang ti-dak berani menggunakan peran yang terlampau banyak, karena praktek sematayam itu sangat berat risikonya. Kecual membingungkan penyelesai-an cerita, juga para peran itu harus dilukti perkembangannya secara wayyar, yaitu kalau para peran tersebut memang hendak dijadikan peran yang sewajaranya di dalam buku tersebut. Karena itu, tidak yarang kita dapat di dalam buku kesusastra-an, jumlah peran yang tidak melebihi empat atau lima orang, atau satu keluarga saja. Ketunyna jumlah peran dengan sendirinya memperdalam tilikan pengarang pada para peran tersebut, dan pada giliraninya menyebabkan penyelesaan cerita dapat lebih dipertanggungyawabkan.

Tetapi tidak demikianlah yang terjadi dengan Arti Purbani. Ia justru menghendaki latar-belakang yang sangat luas untuk ceritanya. Barulah ia menulis cerita yang sebenarnya. Karena latar-belakang yang luas itu, yang dalam cerita ini berupa masyarakat bangsawan Solo - Yogya, maka sejumah besar orang harus tersangkut didalamnyna, sesuai dengan hubungan kekeluargannya yang rnut itu. Demikianlah cara Arti Purbani mempersiapkan latar-belakang ceritanya: Pada pasal pertama ia menyoroti tokoh Sumirah ketika cerita ini terjadi, beserta sejumah singkat yang pernah dialaminya. Pasal kedua ia menyoroti tokoh Roosmiati dengan lingkungannya, yang samasekali tak ada (belum ada) hubungannya dengan tokoh Sumirah. Pasal pasal ketiga ia menyoroti tokoh Widiyawati, dengan cara yang sama seperti digunakan terhadap kedua tokoh yang muia-mulia. Juga tokoh ini belum mempunyai sesuatu hubungan dengan kedua tokoh yang lain. Pada pasal keempat disoroti tokoh Ruwinah, juga sebagai tokoh yang terpisah.

Dalam empat pasal yang mula-mula pengarang mengaduyukan empat orang tokoh yang sama kuatnya, yang akan tetap memegang peranan dalam cerita sampai akhi buku. Dalam pasal-pasal yang berikut pengarang memperkenalkan lagi tokoh-tokoh lain yang tidak kalah pentingnya. Sementara itu, keempat tokoh yang mula-mula itu dikelilingi pula oleh tokoh-tokoh yang lain. Mereka itu adalah para dayang dan pengasuh, bapak dan ibu, kemenakan dan saudara sepupu, kakak dan nenek, paman dan bibi, kawan-kawan bermain, daripada keempat tokoh tersebut, karena mereka itu berasal dari keluarga bangsawan yang erat-erat hubungan kekeluargannya.

Barulah pada pasal yang kelima, pengarang memperlihatkan hubungan antara berbagai tokoh yang telah diperkenalkannya. Hubungan itu teryipta karena soal-soal keluarga, percintaan, perkawanan dan hal-hal yang berkenaan dengan yabatan dalam keraton dan pemerintahan negeri.

Dengan cara itulah maka pengarang mengikuti para tokohnya sejak dari bangku sekolah rendah, sampai menginjak hidup berumah tangga, kepegawaian dan pendidikan yang lebih tinggi. Di antara semua hubungan itu yang paling menarik adalah hubungan percintaan dan perkawinan. Ini disebabkan karena perkawinan di dalam lingkungan bangsawan tersebut boleh dikata suatu peristiwa yang sangat unik. Dalam lingkungan itu, seorang bupati atau seorang menantu raja dapat mempunyai sejumlah selir (istri tambahan), di samping istrinya yang resmi. Akibatnya yalan bahwa hubungan kekeluargaan dalam lingkungan itu tidak bisa menjadi murni. Karena kebebasan memiliki istri lebih dari satu, maka tidak jarang seorang lelaki menghantarkan martabat keluarganya dengan mengawini seorang kampung yang sangat cu-las, semata-mata karena perempuan itu seorang yang ciakt dan bentrok. Dengan sendirinya, lelaki yang demikian itu lebih banyak menyuruhkan perhatiannya kepada keinginan dan omelan para istrinya daripada mengurus negerinya sendiri. Bahkan tidak jarang ia harus berkepala pu-sing mencari penyelesaan untuk pertengkaran yang terjadi antara para istril, yang tidak jarang pula bertekad membunuh dengan cara yang tidak sportif. Dengan cara semacam itu banyak para istril yang patah-hati atau merana, hingga anak yang dilahirkananya hanya bisa hidup selama empat atau lima hari diuduna. Seorang wanita yang tidak suka dima-du tinggal mempunyai dua pilhan saja: apakah ia merana, ataukah hidup secara masa-bodoh.

Karena adat yang keras, di mana seorang wanita tidak boleh bergaul secara bebas dengan lelaki, dan seorang anak tidak boleh membantah kemauan orangtuanya, maka timbul pula akibat-akibat buruk. Yang je-las saja, seorang pemuda lebih suka membantah orangtuanya untuk mengawini seorang wanita yang tidak disukainya. Tapi tidak jarang pula pemuda yang kena oleh paksan itu, semata-mata karena sebagai manusia ia tidak bisa berbuat lain. Yang je-las lagi, hubungan yang terlalu kaku dan dikemang antara pemuda dan pemudi, justru lebih merangsang kedua yenis nekhluk tersebut untuk “bergerilia”. Pengarang tidak pula meninggalkan persoalan ini. Demikianlah terjadi, bahwa karena kekangan tersebut, pergaulan justru menjadi bebas sebebas-bebasna. Mereka bertemu di pinggir kali, di dalam kamarn pihak pemuda, atau lari secara licik. Tidak mengherankan bahwa tokoh Murinah melarikan diri dite-ngah malam ke rumah kekasihnya dan terpaksa kawin. Tokoh Ruwinah bahkan diselundupi oleh pamannya sendiri, hingga tokoh Sudiro, seorang tukang-main dan pembok yang u-murnya lebih muda dari Ruwinah sendiri, harus mengawininya, di mana li-ma bulan sesudah perkawinan Ruwi-nah melahirkan anaknya.

Di antara semua tokoh itu, Widiyawa-ti muncul sebagai tokoh revolusi-ner yang samasekali tidak mau berkompromi dengan seketinginyga. Ia sendiri dari kalangan bangsawan, anak seorang hoofd-jaka, pangkat yang tiukup tingginya. Tetapi karena sediak semula ia tidak mengetahui secara jelas asal-usulnya, analagi ia hidup di bawah tekanan ibu-istrinya yang sangat bentil kepadanya, maka ia sangat tidak setuyu dengan ol-agorane disekelehinyna. Ia bentil kepa-da berbagai adat yang menjadikan hidupnya ditenzah lingkungan itu merana. Ia bentil kepada para lelaki, ketiual ayahnia, karena ia tidak mempertiaiai mereka. Ia bentil ke-pada takhyul yang selalu menjadi pertimbangan para orang tua. Demikianlah katanya:

“Haruskah dipercayai takhyul itu atau tidak?” (hal. 162).

Kegemarannya menunjukkan bahwa ia seorang yang mau bertanggung jawab kepada masarakatnya. Mula-mula ia menjadi guru, kemudian menjadi jururawat. Ia menaruh perhatian yang besar kepada keseng-saraan yang dialami para orang tani dan kaum wanita bangsanya yang hidup sebagai orang kampung. Demikian jalan pikirannya:

“Banyak sungguh pekerjaaan yang dapat kulukukan, kasihan Waginah dan saudara-saudara kaum perempuan yang lain. Barangkali lebih baik kalau aku mengurbankan diri, bergaul dan bekerya untuk orang-orang desa yang teguh memegang kebiasaan kuno itu”. (hal. 186).

Di samping itu, terdapat juga seorang tokoh pemuda revolusioner, Rawinto, yang tidak suka kawin sebelum ia menjadi seorang bertitel, Sekalipun gadis baginyah tinggal memilih, dua atau tiga. Ia berci-ci-ca memayukan bangsanya, dan dialah yang akhirnya menjadi orang bertitel yang pertama dediaharnya. Perseuaian sifat ini memungkinkan per-ciatnaanya dengan Widiyawa-ti. Teta-pi apakah yang terjadi? Rawinto tidak kuasa bertempur sendiri mela-wan adat. Ia mendapat “perintah” dari raja untuk mengawini anaknya, padahal sesudah seumur, anak raja itu makin menjadi-jadi lemah-ba-dannya, dan akhirnya mati waktu me-lahirkan.

Kematian itu tetul datangnya, karenya pada waktu itu Widiyawa-ti telah ambil keputusan untuk melawat ke Barat, dan sudah dalam peryalanan ke Colombo. Tetapi bahwa Rawinto seorang yang sama tekadnya dengan Widiyawa-ti, tidak bisa disangkal. Pernah ia dengan marahnya mema-ki adat yang dimiliki para orangtua-nya:

“Celaka, adat-kebiasaan yang mengungkung itu, bila ia akan lenyap?” (hal. 190).

Kalau dalam hal ini kita lihat ne-raca untung-rugi perjuangan para muda relawan kungkungan adat, ternyata bahwa kaum muda beranta-kan barisanya. Widiyawa-ti dan Ra-winto yang mewakili kaum revolusi-ner, kandas peryuangannya. Yang pertama melarikan diri ke Barat dan bertekad akan mencari pengehidupan yang tidak terikat serenti dalam ling-kungan lane ditinggalkannya. Se-danekan Rawinto terpaksa menyerah kepada paksan yang ditekankan ke-padanya.

Penyelesaan yang diberikan Arti Purbani terhadap bukunya ini tentu mengetiawakan kaum revolusioner. Tetapi pasti, bahwa Arti Purbani memunyai alasan yang tiukup kuat untuk berhati demikian. Menurut ke-nyataan, masarakat feudal seperti yang ditetikakan dalam buku ini, sampai sekarang masih tiukup kuat-nya untuk dianggap enteng. Kokohnya adat ini oleh Arti Purbani diteritaka-kan dalam bukunya secara sangat meyakinkan. Yaitu dengan jalan menguraikan pelaksanaan berbagai upacara yang samasekali berdasar kepada takhyul dan kepertayakan, adat dan kebiasaan. Demikianlah secara lengkap ia menguraikan disela-sela ceritanya, hampir seluruh upacara yang dipraktikkan dalam kehidupan orang Jawa lama, sejak ia hampir lahir, sampai ia bersunat, berkelutar-ga dan mati.

Banyak sekall yang diketahui pengarang tentang upacara ini, karena ia menceritakannya dengan lengkap dan terang. Sampai-sampai ia bercarita tentang dongeng-dongeng yg. biasa didongengkan orang tua-tua, permainan yang bisa dimainkan anak anak, dan upacara kerajaan yang penting-penting. Dan sekalianinya itu dikerjakan pengarang dengan wayar saja, di tengah jalinan cerita yang dibentuknya. Haruslah kita ambil kesimpulan, bahwa pengarang bermaksud menggambarkan wilayah kebangsawanan Solo-Yogya secara lengkap, dalam bentuk roman yang cukup pula nilainya. Dan kita harus menarik kesimpulan pula, bahwa usahanya itu telah berhasil dengan sebaik-baiknya. Gambar dan vignet yang ada di dalamnya, cukup pula menambah jelasnya uraian pengarang.

Tidak mengherankan, bahwa buku ini dikerjakan oleh pengarang selama tidak kurang dari sepuluh tahun, dengan tidak memperlihatkan tandanda bahwa bagian-bagianya dikerjakan pada saat yang berlain-lainan.

Jakarta, 27 Agustus 1959.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.