Baca EPUB: Peranan Pers dalam Taraf Baru Ofensif Manipolis

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. PERANAN PERS DALAM TARAF BARU OFENSIF MANIPOLIS
  2. NYOTO
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. PERANAN PERS DALAM TARAF BARU OFENSIF MANIPOLIS
  6. UNCOPYRIGHT

PERANAN PERS DALAM TARAF BARU OFENSIF MANIPOLIS

NYOTO


KOLOFON

PERANAN PERS DALAM TARAF BARU OFENSIF MANIPOLIS

oleh

NYOTO



(Pidato ulangtahun ke-XIII HR)

HR

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: Harri Gieb

Ilustrasi sampul: Standard Bearer 1621, karya Edouard Eckman after Jacques Callot

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



PERANAN PERS DALAM TARAF BARU OFENSIF MANIPOLIS

“HARIAN RAKYAT” dilahirkan tepat 13 tahun y.l.—pada 31 Januari 1951. Ketika itu awan gelap menyelimuti tanahair kita—kabinet sepenuhnya ‘dikuasai oleh calon’ “PRRI”: Moh. Natsir, Asaat, Syafruddin, Sumitro; kekuasaan negara dengan demikian hanya punya satu aspek—aspek reaksioner; hak-hak demokrasi ditindas, kaum buruh dilarang mogok, sambil pemerintah bermainmata dengan “DI”. Semua itu kelanjutan yang logis belaka dari kompromi khianat yang diselenggarakan Moh. Hatta dengan pemerintah kolonial Belanda melalui “KMB” dan kelanjutan yang logis pula dari “pengambilalihan” perusahaan-perusahaan dari tangan revolusi oleh kontra-revolusi, dari tangan Republik oleh kaum imperialis Belanda. Ketika itulah klas buruh Indonesia menyusun kembali barisannya dan ketika itulah dalam Partai Komunis Indonesia terjadi peristiwa yang komudian terkenal sebagai “kelahiran kembali” PKI. Jadi, penindasan yang hebat disatu fihak dan perlawanan yang tak kalah hebatnya difihak lain. Itulah awal 1951 dan itulah situasi yang melahirkan “Harian Rakyat”—harian klas buruh, harian Rakyat pekerja Indonesia. Hanya tiga bulan kemudian perjuangan Rakyat berhasil menggulingkan pemerintah Natsir. Cukup kuat kekuatan Rakyat itu menumbangkan kekuasaan yang reaksioner, tapi belum cukup besar ia untuk mendorong terbentuknya pemerintah yang maju. Maka Natsir turun panggung, Sukiman naik pentas. Tetapi Rakyat bukan penonton, juga “Harian Rakyat” bukan, Rakyat bahkan bukan hanya sutradara—dalam sejarah Rakyat adalah penulis cerita. Sipembuat ceritera sejarah sudah memutuskan mengakhiri peranan pemerintah-pemerintah reaksioner, atau, Kalaupun ia sekali-sekali masih muncul juga dipen-tas, waktumainnya sudah ditetapkan pendek. Inilah sebab-nya pemerintah Sukiman tak bisa bernafas lebih dari setabun dan ketika kemudian tampil pula interupsi reaksioner oleh pemerintah Burhanuddin Harahap, peran ini pun hanya “bermain” beberapa bulan saja. Tetapi setahun RI disarang penyamun kabinet Sukiman sudah cukup untuk membikin ekonomi Indonesia menjadi baik untuk kaum imperialis dan tuantanah, dan moratmarit dan kocarkacir untuk Rakyat. Sesudah tahun 1926 belum pernah keuntungan modal imperialis Belanda sebesar di tahun Sukiman 1951 itu. Ternyata pemain sandiwara pun tokoh-tokoh Masyumi itu bukan—mereka hanya wayang-wayang di tangan dalang-dalang asing, yang berlagak “mengatur” ekonomi Indonesia. Sesudah Hatta dan Natsir merestorasi kedudukan imperialisme Belanda, Sukiman membuka pintu bagi imperialis AS. Demi “keberesan” ekonomi Indonesia Amerika “membantu” kita, “memberi” kita dollar melalui apa yang dinamakan “MSA”, dengan “tanpa” syarat kecuali bahwa RI harus menandatangani “persetujuan San Francisco” yang memulihkan kedudukan “imperialis Jepang, Walaupun sudah di bawah kontrol Amerika. Siapa orangnya yang tidak takjub, bahwa 12 tahun kemudian ”lelucon MSA“ itu diulangi lagi dalam edisi-kedua-yang-diperburuk, yaitu ”bantuan“ dollar dijanjikan kepada RI asal terlebih dulu RI mendevaluasi rupiahnya dan mengini-mengitukan ekonominya, yaitu peraturan ”26 Mei“! Marilah kita memimpikan agak sejenak impian imperialisme AS; kaum Komunis dan kaum progresif Indonesia lainnya dijebloskan ke dalam bui, pemerintah Indonesia bisa dikendalikan seperti kuda dikendalikan sais, kapital Amerika bisa ditanam bebas di bumi tersubur di dunia, dan tuan‘ Wallstreet—sambil minum minyak Indonesia dan makan timah dan karet Indonesia—bisa berak dollar sepas'nya. Tahu-Tahu! Sukiman ternyata bukan bangsa yang bisa dijagoi dari klas buruh dan Rakyat Indonesia ternyata bukan bangsa yang bisa ditundukkan! Pintu-Pintu penjara jebol dan juga rencana-rencana Amerika jebol. Sejak saat itu tak kita beri kesempatan imperialisme berinisiatif: mereka, sesuai dengan kedudukkannya yang established kita paksa menduduki tempat yang defensif dan harus dari hari ke hari menderita pukulan-pukulan Rakyat Indonesia yang ber-talu-talu. Semboyan-Semboyan yang ber-sama-sama segenap kekuatan patriotik diajudkan oleh “Harian Rakyat” satu persatu menemukan perwujudannya: satu persatu pula kemenangan-kemenangan politik direbut. “Bentuk kabinet yang membebaskan tahanan-tahanan Razzia Agustus!”, dan maka terbentuklah kabinet Wilopo, kabinet yang Sekalipun Masyumi masih ikut di dalamnya, tetapi “pimpinannya di tangan PNI. Kabinet ini terpaksa digulingkan, karena ”traktor matut“ Moh. Rum. ”Bentuk kabinet tanpa Masyumi!“, dan maka terbentuklah kabinet Ali Sastroamijoyo yang memang tanpa Masyumi. Demikianlah, perjalanan sejarah memang penuh kelok-kelok dan liku-liku, tetapi setapak demi setapak udara politik di Indonesia disehatkan: awan gelap sudah dihalau dan langit kian ceria. Kekuatan kanan setindak demi setindak tetapi pasti dipencilkan, dan kerjasama antara kekuatan tengah dan kekuatan kiri, kerjasama persatuan nasional, tergalang dengan menggembirakan sekali. Di tahun 1959 tersusunlah Program Bersama revolusi, Manipol, dan cita-cita Sukarno 1926, Nasakom; dihidupkan kembali dengan darah dan nafas baru. Kita sekarang menghadapi kekuasaan yang punya aspek kembar: aspek Rakyat, yang mulai kuat, yang diwakili oleh kaum Manipolis dalam pemerintah, dan aspek antiRakyat, yang masih agak kuat, yang diwakili oleh kaum Manipolis-munafik dalam pemerintah. Belum bisa diatasinya krisis ekonomi harus pertama-tama diterangkan dari kenyataan ini, kenyataan bahwa dalam kekuasaan negara masih terdapat kekuasaan kaum antiRakyat, kaum Manipolis-munafik, yang mensabot segala yang baik dan mengembangkan segala yang merugikan Rakyat. Kita sekarang sampai pada taraf baru ofensif Manipolis, taraf keharusan meluaskan pengakuan akan mutlaknya Manipol sampai pada pengakuan akan mutlaknya Nasakom. Pembentukan kabinet Nasakom, yang berarti diperkuatnya aspek Rakyat dan dipatahkannya aspek antiRakyat dalam pemerintah, bukan hanya akan memungkinkan persatuan bangsa bertambah kokoh, tetapi juga akan membuka kemungkinan diatasinya krisis ekonomi, krisis sandangpangan.

Hari ini kita berhim pun untuk memperingati ulangtahun ke-XIII “Harian Rakyat”. Banyak ucapan selamat, banyak kata‘ baik telah dialamatkan kepada “Harian Rakyat”. Saya atasnama pimpinan “Harian Rakyat” mengucapkan terima kasih yang ikhlas atas segalanya yang mendorong dan menginspirasi itu.

Kerjasama Manipolis dibidang pers selama setahun ini telah bertambah baik, dan keruan saja hal ini mempunyai artipenting yang besar bagi gerakan demokratis ditanahair kita umumnya.

Kerjasama wartawan‘ antiimperialis telah ditempa pada taraf Asi-Afrika, ketika awal tahun y.l. KWAA ke-I dilangsungkan di Jakarta dengan mendapat sukses yang luar-biasa.

Tahun y.l. juga dilangsungkan Kongres PWI, kongresnya yang pertama sejak organisasi wartawan nasional itu di bawah pimpinan Jawoto berhasil dimanipolkan.

Oplah sejumlah suratkabar berhasil dinaikkan, karena jatah kertas dinaikkan, tetapi jika diingat bahwa oplah harian seindonesia sekarang diperkirakan 1,3 juta—sedangkan pesawat radio pun diperkirakan 2 juta banyaknya—dan tambahan jatah kertas untuk HR hanya 5.000 lembar, maka dengan tempo yang sekarang sudah bisa dipastikan bahwa Ketetapan MPRS tentang oplah suratkabar menurut Plan 8 tahun tidak akan terpenuhi.

Yang kita sesalkan adalah bahwa di bawah demokrasi terpimpin ini masih bisa terbit harian‘ baru yang kecil’ yang tak membawakan sesuatu aliran tertentu yang prinsipiil, yang bahkan pengertiannya tentang Manipol pun cetangperenang, menclamencle, yang makaitu lebih bersifat mengkiaruhkan daripada menjernihkan, lebih bersifat memecah daripada mempersatukan. Dalam hal harian-harian demikian yang jujur, penerbitannya hanya berarti pemborosan, sedang dalam hal harian-harian demikian yang Manipolis-munafik, usahanya itu pun pasti sia-sia karena tak mungkin arus Manipol, arus Pancasila, arus Nasakom dibendung dengan mutu politik yang rendah, apalagi ditambah dengan mutu jurnalistik yang berengsek.

Gejala plintatplintut yang sama kita jumpai pula di-dunia penerbitan di luar persuratkabaran: kalau di tahun 1962 penerbit “Sumur Bandung” masih sempat berbuat brutal dengan menerbitkan buku-buku Moh. Natsir, di tahun 1963 badan penerbit resmi seperti “Balai Pustaka” masih mener-bitkan buku tentang kewartawanan oleh Mokhtar Lubis. Saya tidak pernah penganjur “SOB” dan tak pernah terfikir oleh saya untuk membungkem Walaupun seorang Mokhtar Lubis, seorang Rosihan Anwar, seorang Hamka atau siapa saja-pun. Dan kalau ada penerbit-penerbit kapitalis swasta—tentunya yang antiManipol—mau menerbitkan mereka, silahkan. Tetapi bahwa “Balai Pustaka” menyuruh orang belajar kewartawanan dari Mokhtar Lubis—tidakkah pembesar-pembesar “Balai Pustaka” tahu bahwa Mokhtar Lubis membela agresi Amerika Serikat terhadap Korea? Apakah dimaksudkan oleh penerbitan itu supaya orang sekarang pun membela penyusupan Armada ke-VII AS ke Samodera Indonesia sambil menciderai kemerdekaan tanahair sendiri?

Tiap taraf baru perjuangan mengakibatkan kristalisasi baru, diferensiasi baru. Pengarang-Pengarang “humanisme universil” reaksioner bukan hanya rokhaniah memihak “Malaysia”, tetapi malahan jasmaniah hengkang ke Kualalumpur, seperti Idrus, Balfas, Takdir Alisyahbana, Aoh Kartahadimaja, di samping Saiful Bahri dan beberapa lagi. Yang mengagumkan sekali adalah bahwa di Jakarta masih ada yang mengagumi wartawan-wartawan yang dianggap teknis cakap, Sekalipun antiManipolis—Sungguhpun Bung Karno ber-pesan “Manipolis dulu, baru wartawan”—dan ada juga yang mengagumi misalnya produser-sutradara film yang di-anggap teknis cakap, Sekalipun kerjanya selama ini mem- bikin produksi-produksi-bersama dengan Kualalumpur, entahlah apa- kah juga suatu persiapan hengkang...... Manipol tanpa keahlian berarti setengahmatang, tetapi keahlian tanpa Ma- nipol adalah khianat!

Pencabutan “SOB” telah meniadakan udara pengap yang menghimpit kehidupan pers. Begitu menghimpitnya keadaan sebelum Mei tahun y.l., sehingga segala peraturan karet yang di zaman kolonial ditentang mati-matian oleh setiap patriot, ter- masuk Bung Karno, berhidupan kembali. Dalam kata-kata Men- teri Soedibio: “yang melakukan gangguan itu tidak tahu a-b-c-nya politik. Tahunya hanya cari nama, promosi dan ambisi”. Yang tidak diterangkan oleh Sekjen FN itu ialah: “cari nama” kepada siapa! Saya kira—cari nama tidak kepada Bung Karno, tetapi kepada kaum imperialis! Seperti dikatakan WPM I dr. Subandrio “suara pers Barat penuh racun yang menyesatkan dan memecahbelah itu berkuman- dang juga ditanahair kita, malahan menimbulkan gema pada sementara pers kita”. Saya tambahkan: ketika itu juga pada sementara pejabat kita.

Sekarang iklim sudah berubah. Sekarang sudah ditegas- kan kembali kebebasan mengeluarkan pendapat, sesuai de- ngan fasal 28 UUD ’45, asal tidak berlawanan dengan semangat dan tujuan Manipol dan tidak anarkhis, asal semuanya untuk revolusi dan penyelesaian revolusi. Teta- pi—dan sekarang sampai saya kepada selfkritik—pers sendiri yang belum sepenuhnya membebaskan diri dari iklim “SOB” yang menyesak, sehingga tidak jarang pers itu terlalu banyak menyadikan keterangan-keterangan pembesar ini atau pembesar itu, dan terlalu sedikit menyadikan fakta-fakta serta ulasan-ulasan sendiri. Harian “Suluh Indonesia” tg. 17 Januari y.l. mengemukakan jangan suratkabar “dijadikan alat untuk mengamankan kedudukan seseorang yang untuk menutupi kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalannya bersembunyi di balik keterangan-keterangannya yang bagus-bagus” jangan suratkabar sampai di- juluki “sumbat daripada kebusukan-kebusukan”.

Menjadilah tugas setiap koran Manipolis untuk dalam semangat kompetisi Manipolis ber-lomba-lomba meninggikan mutu jurnalistiknya, mutu jurnalistik Manipolisinya, sehingga suratkabar menjadi lebih memikat, lebih mesra dengan Rakyat dan perjuangannya, lebih besar andilnya kepada revolusi.

“Harian Rakyat”, dengan penerbitan-penerbitan-jajarannya—“Mingguan Sport”, “HR Minggu” dan “Zaman Baru”, serta dalam kompetisi Manipolis itu dengan sekuat dapat. Di luar negeri “Harian Rakyat” sudah mempunyai koresponden-korespondennya di Moskow, Peking dan Amsterdam, dan dalam tahun ini akan menambah jumlah koresponden itu baik untuk negeri-negeri Sosialis Maupun untuk negeri-negeri kapitalis.

Banyak pujian telah dialamatkan kepada “Harian Rakyat” atas isinya, permunculannya, bahasanya, pengedarannya. Banyak di antara pujian-pujian itu yang agak berkelebihan. Kita bayangkanlah ukuranluas tugas-tugas revolusioner kita—kebesaran klas buruh kita, kebesaran gerakan tani kita, kebesaran front nasional kita, kebesaran gerakan klas buruh sedunia, maka terasalah segera keserbakurangan: isinya kurang, pengedarannya kurang.

Perjuangan kita memenangkan Manipolisme atas antiManipolisme dan Manipolisme-munafik kini memasuki taraf baru. Perjuangan antiimperialis sekarang tidak lagi tertutama tertuju kepada imperialisme Belanda, tetapi kepada imperialisme AS. Di samping itu perjuangan antifeodalisme menanjak—UUPA dan UUPBH tak lagi dibiarkan kaum tani untuk tinggal tidak dilaksanakan, dan segala kekuatan maju di desa sekarang ditujukan untuk melaksanakan dalam praktek landreform dan bagihasil secara konsekwen dan menguntungkan kaum tani.

Ketika awal tahun y.l. Sidang Pleno ke-I CC PKI dan bersamanya “Harian Rakyat” berdasarkan alasan-alasan yang obyektif menetapkan imperialisme AS sebagai musuh nomor satu Rakyat Indonesia, banyak orang yang tak segera memahami nya. Malahan ada yang bengong, sama bengongnya seperti ketika 14 th. y.l. Bung Aidit mengatakan dalam wawancara-nya kepada “le Tribune de Nations” bahwa “DI” dan Masyumi ke-dua'nya harus diganyang karena “DI adalah Masyumi di hutan dan Masyumi adalah DI di kota”. Sampai sebulan-dua y.l. masih ada yang menyangsikan, kadang-kadang mengejek, perumusan imperialisme AS sebagai musuh nomor satu. Tetapi rupanya pemerintah AS sendiri dengan segala jendral, marskal dan laksamananya membaca keputusan Sidang Pleno ke-I CC PKI, dan setelah Brundagenya memet-cat Indonesia dari “IOC” dan Mikhelmorenya mendirikan “Malaysia”, maka sepuluh bulan setelah Pleno ke-I CC itu diputuskannya untuk “meluaskan daerah operasi” Armada ke-VII-nya sampai ke Samodera Indonesia—semuanya untuk membantu PKI dan Rakyat Indonesia untuk mendapatkan bukti yang tak terbantah bahwa memang AS itu musuh nomor satunya.

Tiap-Tiap kali imperialisme AS bertindak kurangajar terhadap kita—tatkala pembomana-pembomana Pope cs, tatkala percobaan pendaratan Armada ke-VII ke Pakanbaru, tatkala SEATO mengadakan apa yang dinamakan “latihan perang-perangan” di Laut Jawa—tiap-tiap kali pula bergelora aksi-aksi antiAmerika di negeri kita: protes-protes, demonstrasi-demonstrasi, dll. Tetapi belum pernah aksi antiAS sedahsyat akhir-akhir ini: akhir¹ ini aksi itu benar-benar hebat. Rakyat Indonesia terbukti untuk kesekian kalinya keberaniannya yan-yan perwira, laksana banteng. Saya teringat akan lukisan abadi Raden Saleh—harimau yang garang itu diterjang sibanteng dengan gagahnya dan dilemparkannya binatang buas itu ke udara, dilemparkannya untuk tidak kembali hidup.

Negeri kita terdiri dari lebih 12.000 pulau, laut kita begini luas, pantai kita begini panjang, Rakyat kita 103 juta lebih dan persatuannya ketat, kesedaran politiknya tinggi—orang gila mana yang mengimpikkan akan menundukan Rakyat banteng ini hanya dengan satu armada? Benar Bung Karno yang berkata: jangankan 1 Armada ke-VII, 2, 3, 4, 5 Armada ke-VII akan kita ganyang!

Apa pantangan kita dalam perjuangan besar mengusir imperialisme AS dari Indonesia dan dari Asia Tenggara ini?

Pantangan kita adalah: pertama, memuji Amerika; kedua, berilusi terhadap Amerika; ketiga, takut Amerika.

Sekarang atas inisiatif Lembaga Film Indonesia, Sarbufis, OPS-Bioskop (mula-mula Jakarta, kemudian seindonesia), FPI dan OISRAA telah diboikot pemutaran semua film-berita Amerika, disertai ancaman, bahwa apabila tak dibatalkan penyusupan Armada ke-VII ke Samodera Indonesia, maka semua film Amerika Serikat, termasuk film-film cerita, akan diboikot total. Apa reaksi kaum yang kanan atau yang ke kanan-kekananan? Kata mereka: “kalau semua film AS diboikot, apa gantinya?”. Lima organisasi yang menyerukan aksi itu sudah mendesak Dewan Film supaya diperbanyak import film-film non-AS, toh orang-orang kanan itu bertanya “apa gantinya?”. Dalam pertemuan saya selaku ketua team DPA dengan sasterawan-sasterawan dan seniman-seniman Jakarta Raya baru-baru ini penyair Sitor Situmorang mengatakan: “yang bertanya ‘apa gantinya?’ itu sebenarnya kehinggapan amerikanisme!”. Ini benar sekali: kaum amerikanis itu mengira bahwa RI tak bisa hidup, bahwa kita semua tak bisa hidup, bahwa dunia ini tidak ada jika tak ada film-film AS! Ketika kita di-tengah-tengah gelagak revolusi, 1945-48, adakah kita makan dan minum film-film AS? Baru-Baru ini ada sebuah berita kecil: rombongan ketoprak mahasiswa menjadi anggota ke-801 dari Bakoksi. Apa artinya ini? Ketoprak saja sudah cukup untuk menggantikan film-film AS, kena di seluruh Indonesia hanya ada 800 gedung bioskop. Film-Film AS belum diboikot total pun bioskop-bioskop di Pasar Senen sudah diaplos oleh wayangorang. Ya, belum lagi rombongan-rombongan wayangorang, belum lagi ludruk, belum lagi reog, belum lagi lenong, belum lagi sandiwara modern, belum lagi konsert-konsert, belum lagi malam-malam puisi dengan deklamasi-deklamasi sajak, ya, boikot total film-film AS bukan hanya akan menghidupkan perfilman nasional kita, tetapi lebih hebat lagi—ia akan menghidupkan seluruh kebudayaan kita! Bukankah ini “blessing in disguise”?

Saya telah memberikan con tob yang tipikal tentang amerikanisme, tentang sikap kagum Amerika, mengkhayal-kan Amerika dan takut Amerika. Tetapi bentuk1 dan pernyataan1 amerikanisme itu beragam sekali. Dan kerapkali, yang paling kerap, amerikanisme itu tak terasa, halus ia menyelinap seperti candu menyusupi sipemadat. Dimulai dengan memuja bintangfilm1 Hollywood, melalui memuja Khevrolet Impala sampai memuja tentara NATO dan SEATO—tidakkah ini penyakit? Seorang orang pembesar Republik, saya ulangi: seorang orang pembesar Republik sampai hati mengatakan: “kalau mau lihat sosialisme, AS itulah sosialisme”. Mesti kita pengapakan pembesar begini ini? Yang terang orang-orang begini bukan untuk diindoktrinasi dan rituling adalah terlalu halus buat mereka!

Berilusi terhadap AS adalah juga suatu penyakit. Administrasi Kennej, yang politiknya kini diteruskan administrasi Yohnson, paling gemar akan merk: “korps perdamaian”, “persekutuan untuk kemajuan”, sampai-sampai beras dan susububuk yang melalui politik “buy American” dipaksakan dijual ke-manap-manap diberinya bermerk “makanan untuk perdamaian”. Bisa muak “perdamaian” kita dibikinnya! Bagi kaum yang patriotik, yang sehat dan waras, propaganda murah begitu itu sia-sia saja. Tetapi dia tidak 100% sia-sia: ada juga orang-orang yang mempercayainya, yang tergugah ilusinya terhadap AS. Mereka ini mengatakan: “apa salahnya kita terima beras Amerika?”. Salahnya tentu tak ada, kalau beras “SAC” itu tak ada syarat-syaratnya. Mereka katakan pula: “korps perdamaian itu tak berpolitik, kenapa kita menolak-nya?”. Kalau dia tak berpolitik pun kita akan menolaknya, karena setiap yang menyebut dirinya “tak berpolitik” harus kita curigai; apalagi ia berpolitikkan politik neo-kolonial. Mereka katakan: “mengapa ribut-ribut melarang twist, yang lebih penting cari gantinya”. Ini bulat1 amerikanisme: yang nasional cuma dianggap sebagai “pengganti”, sedang yang dijadikan titiktolak adalah yang asing, twist. Mengembangkan tari8an nasional, tradisionil dan modern, adalah sangat penting, tetapi melarang sesuatu yang antiestetis dan antikultural adalah juga sangat penting. Kalau disedari bahwa twist itu cuma jingkrak'an yang saru, yang memalukan, sebenarnya setiap orang yang sopan harus melarangnya bagi diri sendiri, sehingga tidak melakukan twist atau hulla-hoop sama sederhananya seperti tidak kencing beriari. Puncak daripada amerikanisme adalah apa yang belakangan ini dilakukan orang: membela Armada ke-VII dengan mengatakan bahwa “bukan Amerika, melainkan ‘Malaysia’ musuh kita bukar. Armada ke-VII, melainkan armada Inggris yang berbahaya”. Kalau pembelaan begini dilakukan oleh scorang sivil, soalnya sudah sangat jelek, lebih‘ jika ia dilakukan oleh scorang militer, karena ini hanya membuktikan bahwa similiter itu bukan militer patriot. Saya tak hendak mengatakan bahwa ini hoogverraad, tapi massa Rakyat bisa menilainya sendiri.

Dalam berkonfrontasi terhadap neo-kolonialisme AS, punya peranan penting konfrontasi dibidang kebudayaan, karena bukan saja terhadap negeri-negeri Sosialis, juga terhadap negara-negara nasional yang baru merdeka penyusupan neo-kolonialisme AS pertama-tama melalui saluran-saluran “kebudayaan”. Dalam Kongres ke-VI PKI, 1959, Kawan Aidit sudah mengatakan bahwa kaum reaksioner sukar memukul politik Partai yang satu dengan Rakyat dan sukar juga memukul Program Partai, makaitu mereka “lebih banyak mencurahkan kegiatanya dalam gelanggang ideologi”. Dalam hubungan antara kaum imperialis dan bangsa Indonesia, hal yang sama pun berlaku: kaum imperialis makin sukar menyerang RI dari sudut politik, malahan serangan-serangan terhadap Bung Karno pribadi pun mulai mereka hentikan atau kurangi, dan titikberat penetrasi mereka letakkan pada soal-soal ideologi, “kebudayaan”. Textbooks universitas-universitas yang tadinya warisan Belanda, sekarang sudah digantikan kebanyakannya oleh yang dari AS; mayoritet film-film yang diputar di Indonesia, seperti juga di banyak negeri lainnya, adalah film-film AS; mayoritet piringhitam setali tigauang; pocketbooks, yang tak kalah seramnya dari film-film Hollywood, bisa dibeli di-mana-mana; dan Sekalipun majalalah-majalalah “Time” dan “Life” sudah dilarang, majalalah-majalalah rongsokan lainnya masih banyak dijual; juga pelarangan terhadap “Rotary Club”, “Freemason” dll. tak berarti berakhirnya kegiatan-kegiatan subversif mereka; belum lagi kita sebut majalalah-majalalah dan siaran-siaran USIS yang penuh ocehan antiSovyet, antiTiongkok, antiSosialisme.

Seperti wabah amerikanisme itu menjalar, kecuali jika diadakan gerakan memberantasnya. Ia sekarang malahan berbahasa Indonesia, secara dibayar Maupun sukarela. Kita tengoklah kerja badan-badan penerbit yang dibeayai oleh yayasan “Franklin” dan sebangsanya, kita tengoklah badan-badan penerbit yang mentah-mentah kuomintang seperti “Inmayoric”, dan kita tengoklah badan-badan penerbit “nasional” yang menampung pengkhianat-pengkhianat mulai Kravcenko sampai Howard Fast. Amerika tak perlu mengirimkan band-bandnya kemari—band-band Indonesia tak kurang yang memainkan ngak-ngik-ngek a la Amerika dan masih mendapat waktu dan kesempatan di RRI dan TVRI serta pabrik-pabrik piringhitam. Dibidang senirupa AS memusatkan agresinya ke Bandung dan Yogyakarta, dan keruan saja didua kota itulah lahirnya “senirupa” coreng-moreng atasnama isme ini atau isme itu. Dan kita lihatlah pocketbooks Indonesia: mulai Conan Doyle sampai Zola dijadikannya picisan. Masihkah perlu saya tambahkan show-business yang setapak lagi sudah cabul di “Nirvana” Hotel Indonesia?

Apa batasan Manipolis-munafik? Manipolis-munafik adalah juga yang berfilsafat begini “Aku Manipolis, tapi aku suka amerikanisme”. Seperti halnya filsafat “kepala Republik, perut Nica” hanya bahan tertawaan, begitu jugalah filsafat “politik Manipol, kebudayaan Amerika” harus kita cierca sebagai sesuatu yang mungkin lebih pantas dijajar-kan dengan penghuni Taman Raden Saleh.

Karena menghormati hak kebebasan setiap warganegara, saya sepenuhnya menghormati hak orang-orang tertentu untuk takut kepada Amerika. Cuma saja, kalau takut, tinggallah dalam kamar tenang menyelamatkan diri, dan jangan bergembargembor kedelapan mataangin mengajak orang seluruh dunia supaya ikut takut Amerika. Lain Ciputat lain Krekot, bung, lain pengkhianat lain patriot! Pengkhianat pengecut itu biasanya mengatakan: “jangan berani” terhadap Amerika, kita bisa diserbunya“. Bisa? Kita sudah diserbunya, ingatlah Pakanbaru, cuma serbuan itu kita gagalkan tanpa am pun. Juga seandainya balatentara AS menduduki seluruh Indonesia, dus menjajah Indonesia, kita takkan gentar, perlawanan akan kita susun seperti kita menyusun resistans di zaman fasis Jepang dari imperialis Belanda, dan akhirnya pasti kita yang menang dan kaum penjajah, Walaupun Amerika, yang kalah. Tanpa tekad ini kita akan menjadi pejuang‘ kemerdekaan yang tanggung, magol, setengah matang setengah mentah.

Yang takut sebenarnya adalah kaum imperialis AS terhadap kita—kenapa pula kita harus takut terhadap mereka? Ambillah keterangan Robert Kennej yang terakhir: dia katakan kalau “cease fire” di perbatasan Kalimantan Utara tidak efektif, maka akan pecah perang yang akan menyangkut negara‘ lain. Tampaknya dia me-nakuti kita, tapi yang lebih benar adalah bahwa ia ketakutan, ketakutan kalau’ AS juga secara militer harus terang'an memihak “Malaysia” memusuhi RI, ketakutan kalau‘ kekuatannya terpecah antara Vietnam Selatan, Laos dan Kalimantan Utara sehingga kans satu'nya baginya tinggallah kans kalah ketakutan kalau’ mereka kehilangan se-gala'nya di Asia Tenggara ini.

Sedap juga rasanya mengamati ketololan demi ketololan yang dipertunjukkan kaum imperialis Amerika. Menurut mereka Turki dan Yunani itu di Atlantik, makaitu dimasukkan NATO, sedang Amerika dan Inggris itu berada di Asia Tenggara, makaitu masuk SEATO—ilmubumi pun mereka belum tahu. Menurut mereka kuomintang itu lebih besar daripada RRT dan Nederland itu lebih besar daripada Indonesia—ilmuukur mereka belum tahu. Menurut mereka

Nehru itu baik daripada Sukarno dan Tito itu baik daripada Ben Bella—memakai kepala saja mereka tak tahu!

Robert Kennej pergi ke Tokio tentu bukan untuk melihat kabuki dan mengunjungi London tentu bukan untuk menyaksikan halimun di sana: dia menjalankan misi politik dan tentulah misi politik imperialisme. Di London, setelah perundingannya dengan pemerintah Inggris, ada statement bahwa Inggris Maupun AS menjamin “kemerdekaan serta keutuhan Malaysia”. Presiden Sukarno segera memanggil Howard Yones, dan diplomat pesenyum ini menjawab, se-akan-akan jawaban kemenangan: “Itu ’kan versi Inggris”. Dia tak menerangkan apa versi Amerika. Celakanya—barangkali belum lagi mister Yones sampai di Taman Suropati, mister Hillsman di Washington mengatakan memang Amerika mengakui “kemerdekaan dan keutuhan Malaysia”.

Ada kisah lain tentang dutabesar Howard Yones ini, kisah yang juga historis. Pada suatu senja dia memberi ceramah di depan anggota-anggota Parlemen RI komisi luarnegeri, dan alangkah mahirnya dia mengejek pemuda-pemuda Indonesia. Katanya: ketika pemuda-pemuda berdemonstrasi kekedutaanbesar AS menuntut bubarnya SEATO, saya tanya kepada mereka apakah mereka tahu siapa-siapa anggota SEATO, dan pemuda-pemuda itu menjawab—Taiwan. Di sini siapa yang mengibuli siapa? Tentu pemuda’ Indonesia itu tahu benar bahwa dari 7 anggota SEATO hanya 3 yang negeri Asia, 4 lainnya negeri Barat, dan yang 3 itu Muangthai, Filipina, Pakistan. Tapi jawaban yang diberikan pemuda-pemuda itu, “Taiwan”, bagi saya adalah expresi diplomatis yang lihai sekali. Lihatlah—sidiplomat profesionil di-diplomasi-diplomasi diplomat-diplomat partikelir!

Kita semua tahu bahwa disianghari aspal panas, tetapi ketika baru-baru ini Robert Kennej datang kemari aspal-aspal belum pernah sepanas itu—aspal-aspal Jakarta kecampuran “Go home, Robert!”. Hawa tak kalah panasnya ketika “IOC” memecat Indonesia, ketika AS menyokong “Malaysia”, ketika Armada ke-VII menganskhluss Samodera Indonesia, ke-tika Amerika mengagresi Panama. Sekarang di Asia Tenggara AS mengerahkan tenaga untuk mempertahankan bentengnya yang terakhir seperti siraja yang sudah kehilangan wilayah, kehilangan keraton, tinggal mengeloni singgasana dan mahkotanya. Perjuangan di Jepang, di Korea Selatan, di Vietnam Selatan, di Laos, di Kamboja, di Kalimantan Utara, di Indonesia melawan Amerika yang kehadirannya dalam kata-kata WPM Khairul Saleh “kehadiran yang tak diundang”, hanyalah prelude untuk suatu prahara besar, prahara mengenyahkan Amerika dari seluruh Asia, prahara yang pasti akan datang. Seperti dinyanyikan Maxim Gorki: “Prahara akan segera pecah! Elanglaut yang berani itu terus melambung gagah di-tengah-tengah halilintar di atas laut yang mengaum murka, dan terdengarlah seruan nyya bersorak, seperti ramalan kepastian kemenangan—Biar ia pecah dalam kemarahannya!”

Dekadensi burjuasi AS dilapang “kebudayaan” mencakup juga dekadensinya dilapang jurnalistik: pertanda klas yang hampir mampus. Kita ambillah dua berita yang tampaknya kecil baru-baru ini. Pertama, berita bahwa Presiden Tanganyika Nyerere meninggal, padahal beliau segarbugar. Tidakkah jelas rencananya? Kedua, berita bahwa Fidel Castro “atau” adiknya meninggal. Berita kok pakai “atau”! Atau wartawannya sangat bebalnya, atau komplotannya sangat ngawurnya dan sangat gagalnya.

Penasehat-Penasehat politik AS membuat banyak studi dan menerbitkan buku: “Politics in South East Asia”, “Diplomacy in South East Asia”, “Communism in South East Asia”, “South East Asia in perspective”, “South East Asia today and tomorrow” dan entah apa-apa lagi, malahan ciri administrasi Kennej-Yohnson adalah pengerahan tenaga-tenaga sarjana ke-pos-pos yang penting, mulai Reiskhauer sampai Rostow. Mereka maju dalam penulisan buku, cuma mundur di-pertempuran-pertempuran......... Ya, malahan buku-buku itu daripada membantu AS untuk memahami Asia Tenggara lebih banyak mem-bantu kita pejaung-pejaung Asia Tenggara untuk memahami segala strategi dan taktik AS.

Dalam 18 tahun sesudah Perang Dunia II ini AS punya 4 presiden—ke-empat-empatnya wakil-wakil yang tepercaya dari kapitalisme monopolii, dari imperialisme. Truman menyerang Korea, Eisenhower menyerbu Lebanon, Laos dan Vietnam; Kennej begitu diangkat begitu mengagresi Kuba, dan Yohnson begitu disumpah begitu menyerbu Panama. Apa yang tak jelas dari sejarah? Tak mungkin kita meng-elok-elokkan pemimpin-pemimpin imperialis, apalagi dengan teori-teorian yang di-buat-buat. Adalah absurd untuk mengatakan Eisenhower “cintadamai, karena dia militer”, lalu Kennej “cintadamai, karena dia sivil”. Lalu bagaimana Yohnson, bagaimana presiden AS yang akan datang? Kalau cari orang cintadamai, semua pendeta cintadamai, cuma kenyataan toh membuktikan bahwa ada pendeta-pendeta yang patriotik, tapi ada juga pendeta-pendeta yang kolonal, seperti a.l. pengalaman kita di Irian Barat membuktin-membuktin. Tetapi perdamaian dunia tak bisa dibela dengan pasif-pasifc. Perdamaian dunia hanya bisa diselamatkan jika—erti dikatakan Bung Lukman—semua sasaran diarah-diarahl kebiangkeladi agresi, yaitu imperialisme, terutama AS.

Tak ada orang yang tak tahu bagaimana jalan kemati-kematin Ngo Dinh Diem dan bagaimana jalan kematian Yohn Kennej. Sudah ada evolusi di Amerika: kalau mereka tadinya giat menyebarkan American “way of life”, carahidup Amerika, sekarang giat mereka menyebarkan American “way of death”, caramati Amerika. Evolusi akan berjalan terus, tentang ini orang tak usah kuatir, dan Rakyat-Rakyat sedunia begitu kreatifnyia sehingga pasti, tak boleh tidak, Rakyat-Rakyat akan menambah khazanan kebudayaan dunia dengan cara yang paling modern: caramati sistim imperialisme AS!

Di Indonesia juga ada tokoh-tokoh yang “daripada Komunisme lebih memilih AS” dan memang menjual diri kepada AS. Karena marionet-marionet itu pasti takkan berhasil, tinggal kita menunggu kapan mereka itu “dingodhindiemkan” majikannya.........

Mister Graham mengatakan kepada kita 15 tahun y.l. “you are what you are”. Yes, mister Graham, we are what we are: Rakyat Indonesia tetap Rakyat Indonesia 1945, Rakyat Indonesia yang bertekad sekali-merdeka-tetap-merdeka, Rakyat Indonesia semangat banteng, yang tidak akan tunduk kepada AS, sekarang tidak, kapan pun tidak! Dosa tuan-tuan bukan sekedar dosa seorang Dulles atau Rusk—Menlu-Menlu tuan-tuan boleh terus di-tukar-tukar: Byrnes, Marshall, Akheson. Dulles, Herter, Rusk dan angkatlah yang baru lagi, yang menanti tuan-tuan hanyalah kegagalan-kegagalan juga, kegagalan-kegagalan yang lebih memalukan dan yang lebih mendekatkan tuan-tuan kepada kiamat tuan-tuan sendiri. Takusahlah tuan-tuan sembunyikan kenegarian tuan-tuan atas revolusi Kuba yang besar itu, atas Venezuela, atas Panama! Lebih-Lebih seluruh Amerika Latin kini—dalam kata-kata pengarang burjuis-liberal Salvador de Madariaga—berada dalam taraf “pra-Castro”!

Hari-Hari ini bergema ke-mana-mana semboyan “biar masalah-masalah Asia diselesaikan oleh Asia sendiri”. Apa artinya ini? Ini berarti peringatan kealamat AS dan kaum imperialis umumnya: Hands off Asia! Robert Kennej mengatakan “setuju” dengan azas ini. Di Amerika rupanya hipokrisi bernama “kejujuran”! Kalau setuju “masalah-masalah Asia diselesaikan oleh Asia sendiri”; Armada ke-VII bukan hanya tak patut masuk ke Samodera Indonesia, tapi juga tak patut tinggal di Laut Tiongkok. Dan kalau setuju “hands off Asia”—buat apa ngendon di Vietnam Selatan, buat apa menduduki Okinawa-Ogasawara, buat apa memupuk SEATO dan ANZUS? Robert Kennej berkata “kalau cease fire tidak efektif lalu pecah perang, negara-negara lain akan terlibat”. Negara-Negara mana? Muangthai? Jepang? Ataukah Amerika Serikat? Nah, sang udang keluar sekarang dari balik batu: kalau yang dimaksudkan AS, jadi tuan-tuan memang tak setuju “masalah-masalah Asia diselesaikan oleh Asia sendiri”. Jangangkan politik duamuka, politik dasarnuka pun mudah terbongkar wataknya yang sesungguhnya.

Ada yang kecilhati dan gelapharap berhubung kegiatan diplomasi belakangan ini: Manila, Tokio dan beberapa hari lagi Bangkok. Tetapi bukankah kita sudah punya Manipol? Tentu Bung Karno sebagai bukan saja penyuju dan penganjur, tetapi inisiator Manipol tidak akan meninggalkan Manipol dan bahkan teguh berpegang kepadanya. Presiden Sukarno sendiri mengatakan bahwa “taktik bisa berubah‘, tetapi strategi tetap”, bahwa “taktik baru” tidak berarti dilepaskannya konfrontasi dan pengganyangan “Malaysia” yang bagi kita “a matter of principle” itu. Presiden Sukarno mengatakan tentang KMB dalam Manipol: “Saya tidak mencela KMB sebagai taktik perjuangan. Saya sendiri dulu mengguratkan apa yang saya namakan ’tracee baru‘ untuk memperoleh pengakuan kedaulatan. Tetapi saya tidak menyetujui orang yang tidak menyadari adanya yabahaya’ penghalang Revolusi yang timbul sebagai akibat daripada kompromis KMB itu. Apalagi orang yang tidak menjadi bahwaKMB adalah satu kompromi! Orang‘ yang demikian itu adalah orang’ yang pernah saya namakan orang‘ possibilis, orang’ yang pada hake'atnya tidak dinamis-revolutioner, bahkan mungkin kontra-revolutioner. Orang‘ yang demikian itu sedikitnya adalah orang’ yang beku, orang‘ yang tidak mengarti maknanya ’taktik‘, orang’ yang mencampurbawurkan taktik dan tujuan, orang‘ yang jiwanya ’mandek‘. Orang’ yang demikian itulah, di samping sebab‘ lain, meracuni jiwa bangsa sejak 1950 dengan racunnya reformisme”. Lalu kata Manipol pula: “Tepat pada waktunya, kita menjalankan think and re-think, dan kita melihat penyelewengan itu, dan kita bongkar penyelewengan itu, dan kita banting stir kembali ke jalan yang benar. Tepat pada waktunya, Rakyat jelata memukul canang. Tepat pada waktunya, si Marhaen dan si Sarinah, si Dadap dan si Waru, berteriak: ’Hai pemimpin! Engkau nyeleweng! Engkau nyeleweng!‘

Dalam rangka konfrontasi terhadap “Malaysia”, kaum buruh kita telah menggunakan senjata perjuangan yang efektif dan menguntungkan Republik, yaitu mengambililah semua perusahaan modal Inggris. Aksi ini mendapat dukungan yang luarbiasa luasnya: di samping dari PKI, juga dari PNI, NU dan praktis semua partai lainnya; suratkabar-pun hampir semuanya mendukung aksi yang adil itu. Tetapi ada sementara orang yang rupanya lebih bersedih daripada Inggerisnya sendiri, tidak menyokong aksi Republiken itu, malahan merintanginya. Ada pula fikiran untuk menindak kaum buruh, dan disanasini penangkapan bahkan sudah terjadi. Seandainya kecenderungan ke kanan ini tak bisa dicegah, dan seandainya kontradiksi berailih, dari kontradiksi nasion Indonesia dengan imperialisme menjadi kontradiksi intra-nasion, siapa yang bergembira selain kaum imperialis dan kaum reaksioner lainnya?

Nasionalisasi adalah hak setiap bangsa yang suverein, dan lebih dalam situasi ekonomi seperti sekarang nasionalisasi modal monopoli asing hanya menguntungkan perekonomian nasional: ia bisa menjadi sumber pendapatan negara yang penting. Lagipula, tidakkah Ketetapan MPRS mengharuskan kita memperkuat senantiasa ekonomi sektor negara? Saya tahu bahwa akan ada orang yang mengatakan “lihat, perusahaan” ambilalih dari Belanda saja tak sanggup kita mengurusinya sampai merugi“. Itu benar, tuan‘, tetapi siapa yang diserahi mengurusinya? Kaum buruh? Bukan! Kaum kapitalis nasional? Bukan! Yang salahurus di sana, karena salahduduk di sana, adalah kaum yang ketika itu sudah atau yang kemudian menjadi ”kapbir“—kaum kapitalis birokrat! ”Ya, tetapi kenapa tidak dilakukan pengawasan massa?“, kata yang lain. Inilah soalnya, tuan’: pengawasan massa tak bisa dijalankan, karena dewan‘ perusahaan sangat lambat atau samasekali tidak dibentuk, sedang pers ketika itu tak punya kebebasan bersuara, malahan kalau pers membongkar kecurangan ini atau kecurangan itu, persnya yang diusut, bukan kecurangannya.

Diawal tahun 1958, dalam Sidang Pleno ke-VI CC

Kongres ke-V PKI, terhadap perusahaan-perusahaan ambilalih dituntut supaya perusahaan-perusahaan itu dikuasai oleh pemerintah, supaya dibentuk dewan-dewan perusahaan dengan ikutsertanya wakil‘ kaum buruh, dan supaya ada demokratisasi perusahaan, semuanya sebagai jaminan naiknya produksi. Sampai sekarang masih ada di antara syarat-syarat yang masukakal ini yang belum dipenuhi, sehingga tak mengherankanlah jika produksi tidak baik melainkan merosot, perusahaan tidak mengiur kepada negara tetapi diur oleh negara. Bagi perusahaan’ bekas milik Inggris yang sekarang sudah diambilalih kaum buruh dan sudah diserahkan kepada pemerintah, kegagalan‘ di waktu yang lampau harus kita jadikan ibu sukses di waktu sekarang. Pemerintah jangan ragu-ragu menguasai perusahaan’ ambilalih itu, dan mengingat pengalaman yang lampau betapa kaum kapitalis birokrat—Sekalipun ada dewan perusahaan—bisa menyikat atau mencoleng kekayaaan negara secara tak tanggung-tanggung, maka sekarang kaum buruh harus diikutsertakan dalam dewan direksi perusahaan-perusahaan, sehingga kaum buruh ikut langsung bertanggungjawab atas beresnya perusahaan dan perusahaan terjamin akan menguntungkan.

Berbicara tentang ekonomi, baru-baru ini sejumlah team DPA dan DPR-GR mengadakan penelitian di berbagai provinsi, a.l. tentang akibat-akibat peraturan “26 Mei”. Hasil penelitian itu dielas—peraturan “26 Mei” memang “adil”: tidak PN-PDN-nya, tidak swastanya, tidak pemerintah daerahnya, tidak pemerintah pusatnya, tidak kaum buruhnia, terkena oleh “26 Mei”, semuanya menderita, dan semuanya tidak kaum taninya, tidak Ketetapan MPRS-nya—semuanya hampir bangkrut. sampai dikatakan orang bahwa ekonomi sekarang ini “ekonomi kedodoran”.

Tetapi apakah situasi ekonomi tak bisa ditolong lagi? Kaum revolusioner tidak berpendapat demikian. Situasi ekonomi bisa ditolong, asal kita benar-benar kembali ke Dekon. Artinya, asal dipenuhi beberapa syarat. Syarat politiknya ada-lah kegotongroyongan nasional berporoskan Nasakom, sedang syarat ekonominya ialah penggerowotan lebih lanjut dan lebih konsekwensi sisa‘ ekonomi imperialis dan tuantanah. Syarat’ ini mutlak, karena seperti tegas‘ dinyatakan dalam Dekon: revolusi kita sekarang ada pada taraf nasional antiimperialis dan demokratis antifeodal.

Kalau dikatakan peraturan “26 Mei” itu “penyelewengan” dari Dekon, expresi ini sebenarnya terlalu sopan: “26 Mei” adalah pencideraan, pendurhakaan terhadap Dekon. “26 Mei” adalah yang ke-3 kalinya, yang sangat menyolokmata, rencana kaum imperialis AS dijalankan mentah‘ di Indonesia. Yang pertama adalah “Red Drive” tahun 1948 melalui tangan Hatta, yang memakan korban jiwa pemimpin’ revolusioner dan tidak sedikit jumlahnya. Yang kedua adalah “MSA”, yang melalui “Razzia Agustus” Sukiman menangkapi lebih 3.000 pemimpin gerakan revolusioner. Yang ke-3 adalah “26 Mei”. Sudah tentu penangkapan‘ tak mungkin lagi dijalankan—di tahun 1951 bui’ cukup untuk “menampung” anggota PKI yang baru 10.000 jumlahnya. tetapi sekarang: bagaimana mau menangkap lebih 2½ juta Komunis! Amerika pun tahu bahwa situasi di Indonesia sudah sangat berubah, bahwa persatuan Rakyatnya kokoh, bahwa Presiden Sukarno tak bisa mereka tunggangi, makaitu mereka pun tidak lagi mendesakkan soal “razzia” atau “red drive” sebagai syaratnya. Tetapi mereka mengaduyukan syarat yang tak kalah kejam dan bengisnya: seluruh perekonomian Indonesia diminta dikorbankan untuk dollar, dan karena ada orang‘ Indonesia, yang duduk dikekuasaan pula, yang ketika itu mau menjalankan syarat’ Amerika, maka makin parahlah ekonomi kita. Di depan DPR-GR Pemerintah sudah mengakui sangkutpaut antara “26 Mei” itu dengan iming'an dollar, cuma saja, rusknya ekonomi sudah, dolianya tak kunjung datang. Siapa yang masih ragu bahwa merusak ekonomi itu mudah dan bahwa yang sukar adalah membangun ekonomi?

Pengambilalihan perusahaan‘ modal Inggris adalah salahsatu langkah penting dalam pelaksanaan Dekon, yaitu penggerowotan sisa’ ekonomi imperialis. Bagaimana dengan penggerowotan ekonomi tuantanah? Satu'nya jalan adalah landreform, landreform yang sudah dimaklumkan bagianmutlak revolusi itu.

Landreform sekarang sudah ada undang'nya: UUPA. Ini belum landreform yang radikal dan konsekwenn, toh penjegal'nya sudah cukup banyak. Yang hebatnya: suratkabar‘ yang aktif mempropagandakan landreform kadang’ digangu, sedang pensabot‘ landreform itu sendiri amantenteram. Inilah sebabnya mengapa akhir’ ini santar tuntutan pembentukan Pengadilan‘ Landreform dan santar pula aksi’ sefihak kaum tani, yang menyetorkan sebagian hasil panen atas tanah‘-kelebihan tidak kepada tuantanah melainkan kepada Panitia’ Landreform. Panitia‘ Landreformnya sendiri yang melemempem dituntut diritul, sebab cukup banyak Panitia’ Landreform yang bukan berporoskan Nasakom melainkan berporoskan pejabat..........

Sidang DPA baru‘ ini membicarakan pengganyangan “Malaysia” dan penanggulangan kesulitan’ sandangpangan, terutama pangan. Saya tak berhak mengumumkan keputusan'nya, karena hak itu ada pada Ketua DPA sendiri—Presiden Sukarno. Tetapi bisa saya beritahukan bahwa keputusan‘ itu mendekati fikiran dan perasaan massa Rakyat, baik yang mengenai pengganyangan “Malaysia”, termasuk soal ambilalih, Maupun yang mengenai penanggulangan kesulitan pangan, termasuk soal landreform dan bagihasil.

Dalam bukunya yang baru terbit, “Persoalan‘ ekonomi sosialis Indonesia”, Moh. Hatta untuk pertama kalinya menyatakan pendapatnya mengenai UUPA. Bisa diduga bahwa Moh. Hatta tidak langsung dan tidak terang'an menentang landreform, tetapi bukunya itu cukup mewakili kepentingan kaum tuantanah. Pertama-tama dikatakannya “rata-rata milik perseorangan (atas tanah) itu milik kecil-kecil. Milik besar atas tanah, yang sampai be-ratus-ratus hektare hampir tak ada”. Sebelum saya hadapkan per nyataan Hatta ini kepada kenyataan, baiklah saya membandingkannya terlebih dulu dengan pernyataan scorang tokoh lain yang saya kira setiap orang mengenalnya: H. Y. Van Mook. Tulis tokoh kolonial Belanda ini dalam bukunya “Indonesie, Nederland en de wereld”: Indonesia “is een land......met weinig grootgrondbezit”. Jadi, Moh. Hatta mengatakan milik besar atas tanah “hampir tak ada”, Van Mook mengatakan bahwa hal itu hanya “sedikit”. Yang satu bahasa Indonesia, yang lain bahasa Belanda, totapi ke-dua-duanya bahasa tuantanah! Saya yang berasal dari Besuki bisa mempersilahkan tuan Hatta datang ke sana, ke Banyuwangi, atau tak usah jauh-jauh: datanglah ke Jawa Barat, dan di sana milik besar atas tanah adalah kenyataan, milik besar atas tanah yang setelah ada UUPA buru-buru disunglap oleh tuantanah'nya menjadi “milik” sobat ini atau famili itu, dengan a.l. memborongi plak-segel tua untuk antidatering. Lagipula, soalnya tak perlu milik yang ratusan hektar—Sekalipun milik puluhan atau belasan hektar, selama pemilikan itu berdasarkan monopolii atas tanah dan pengerjaannya berdasarkan penghisapan kejam atas kaum tani melalui sistim-sewatantah, pemilikan itu namanya sistim tuantanah dan menurut UUPA harus berkena landreform. Tetapi apa kata tuan Hatta dalam bukunya? Kata beliau UUPA itu “menimbulkan kerusakan sosial”, saya ulangi secara harfiah—“menimbulkan kerusakan sosial”. Keteranganya? Menurut ahliekonomi yang jempolan itu UUPA akan “menambah kemiskinan di kota tempat orang pensiunan”. Tetapi orang pensiunan yang macam apa yang dirisaukan Moh. Hatta ini? Bukan orang pensiunan yang kecil-kecil, melainkan pensiunan yang tuantanah!

Tentang dalih lain bahwa landreform “tak perlu, karena di luar Jawa banyak hutan”, Bung Aidit sudah memberikan blejetannya yang tandas, sehingga tak perlu saya mengulanganinya.

Mungkin kaum Manipolis-munafik yang kemunafikannya terutama dalam hal landreform, mengira bahwa kongkalikong mereka menyelamatkan pemilikan tanah mereka takkan diketahui mata kaum tani. Ini mudah difahami, karena di mata kaum tuantanah itu tentulah kaum tani itu “bodoh”, dan barangkali “biadab”. Sayangnya kehidupan membuktikan bahwa tingkatkebudayaan kaum tuantanah biasanya hanya selebar uangkertas limaribuan, sedang ketajaman kaum tani, terutama mereka yang telah berorganisasi dalam organisasi“ tani revolusioner, pasti lebih tajam daripada matabajak Ataupun bayonet. Tidak, kaum tuantanah dan pembela‘ tuantanah—kongkalikong kalian tak mungkin tersembunyi terus, suatu waktu pasti ia terbongkar dan hakim, hakim pengadilan Maupun hakim Rakyat, akan mengadilinyna.

Kesulitan pangan, terutama kesulitan beras, sudah dicoba diatasi dengan ber-macam-macam cara: mulai pembelian padi dari kaum tani sampai ke import beras. Pembelian padi dari kaum tani prakteknya hanya menambah penghisapan atas kaum tani, dan walau uang negara sudah keluar entah berapa banyak, bukannya padi masuk kepemerintah, tetapi rezeki masuk ke-pembesar3 Padi Centra dan badan-badan sejenisnya. Sudah waktunya mengakhiri pembelian padi wajib dari kaum tani, sudah waktunya menghentikan paksaan-paksaan atas kaum tani, dan kalau import beras pemerintah belum mencukupi untuk didistribusikan kepada mereka yang berhak, lebih baik pemerintah membeli beras dipasaran sebagai persediaan tambahan. Pendeknya, baik pembelian padi wajib Maupun import beras tidak memecahkan persoalan pangan. Sedangkan masalah pangan kini akut benar—di samping kekurangan makan yang umum, disanasini bahkan sudah timbul penyakit busunglapar. Kalau orang sungguh-sungguh mau menanggulangi masalah pangan, jalannya ada, yaitu landreform. Tentu landreform tidak akan mendatangkan tambahan produksi beras dalam waktu 21​ tahun, tetapi setelah beberapa waktu pasti produksi pertanian naik, dayabeli kaum tani naik, dan ini berarti perangsang bagi industrialisasi negeri. Singkatanya, landreform adalah prasyarat yang utama—di samping penggerowotan sisa-sisa kapital imperialis—untuk menyehatkan kehidupan perekonomian, untuk realisasi Dekon.

Tak lengkap rasanya kalau saya tidak berbicara juga soal GKI. Sikap kaum Komunis Indonesia mengenai soal¹ yang timbul dalam GKI sudah diketahui umum. Hanya pemfitnah-pemfitnah saja yang masih berfikiran bahwa PKI “bergantung kemari, bergantung ke sana”, bahwa PKI “tidak bebas”. Kami menghargai otak kami sendiri dan kami takkan mempensiunkannya selama hayat dikandung badan. Adapun titiktolak kami—titiktolak kami kepentingan klas buruh dan Rakyat Indonesia, klas buruh dan Rakyat sedunia.

Ada yang mengatakan bahwa dengan sikap PKI sekarang ini PKI menerbitkan perpecahan dalam GKI. Suara begini juga hanya suara pemfitnah. PKI dalam kalangannya sendiri dan dalam kalangan bangsa Indonesia bekerja untuk persatuan, dan rahasia kemajuannya justru dalam hal persatuan ini—masukkah di akal bahwa secara internasional PKI bekerja untuk perpecahan? Karena mementingkan persatuan maka sejak semula PKI menyetujui perumusan “the new emerging forces”, dan karena mementingkan persatuan jugalalah maka PKI tak pernah me-nyimpan tenaga dan waktu untuk ikut menggembeleng persatuan GKI atas dasar Marxisme-Leninisme. Tentu persatuan yang didasarkan atas bukan Marxisme-Leninisme, kami tak setuju; persatuan demikian ini juga tak mungkin.

Ada yang merisaukan karena di berbagai, barangkali di banyak Partai Komunis di dunia dewasa ini berlangsung perjuangan intern. Yang terang sebab perjuangan intern Partai³ Komunis diluarnegeri itu tak bisa dicari pada PKI. Lagipula, apakah pada umumnya perjuangan intern Partai itu jelek, apakah pada umumnya perjuangan intern Partai itu bisa dibindarkan? Pasti tidak kebetulan bahwa pada Katapengantar karyanya “Apa yang harus dikerjakan?”, Lenin mengutip sebuah kalimat dari salahsebuah surat Marx, yang berbunyi: “Perjuangan Partai justru memberikan kekuatan dan kehidupan kepada Partai, bukti terbesar dari kelemahan sesuatu partai adalah dikaburkannia garis-garis dan ditumpulkannya batas-batas; sesuatu Partai menjadi kuat dengan membersihkan dirinya sendiri.........”

Salahsatu komentar pertama atas Sidang Pleno ke-II CC PKI bulan yang lalu ditulis oleh majalalah India “Link”. Majalah ini menyimpulkan dari Sidang Pleno CC PKI itu bahwa PKI melakukan “pemujaan kaum tani atas ongkos klas buruh kota”. Apa yang akan saya katakan atas obrolan ini? Yang ingin saya katakan hanyalah ini: biar anjing menggonggong, kafilah klas buruh Indonesia berlalu, kafilah SOBSI berlalu, kian hari kian perkasa. Dan di samping kafilah klas buruh itu majujalan pula kafilah kaum tani yang ber-juta-juta anggotanya di bawah panji-panji BTI, jadi, kafilah persekutuan kaum buruh dan kaum tani, di bawah pimpinan Partai proletar.

Paratamu, parahadirin, parasaudara,

Besar perjuangan kita, nasional dan internasional. Besar tugas’ sejarah kita, besar tanggungjawab sejarah kita. Dan dalam perjuangan besar ini peranan pers amatlah besarnya. Terutama dalam taraf baru ofensif Manipolis sekarang ini, yang ujungtombaknya sudah dihadapkan keimperialisme AS dan kesistim tuantanah, pers Manipolis bisa dan harus memberikan sumbangannya yang maximal.

Pers sesuatu zaman adalah yermin perjuangan klas di zamannya, perjuangan klas secara nasional Maupun internasional. Pers, jika kolot dan reaksioner, menjadi racu bagi Rakyat; sebaliknya, jika maju dan revolusioner, menjadi semacam “tonicum” bagi perjuangan Rakyat.

Pers reaksioner, bersama partai-partai reaksioner, umumnya sudah dilarang. Tetapi di Bandung, di Surabaya, dan di Medan misalnya, masih ada suratkabar-suratkabar yang dari terang’an memihak reaksi dalam waktu hanya sehari-semalam menjadi “memihak Manipol”. Di samping itu, di antara suratkabar-suratkabar yang baru terang ada yang hakikinya kanan. Adalah tugas ofensif Manipolis dibidang pers untuk mengembangkan yang kiri, memperkuat keryasama antara yang kiri dengan yang tengah, dan menggasak yang kanan. Kita tahu bahwa selama kaum imperialis, kaum tuantanah, kaum kapitalis komprador dan kapitalis birokrat masih ada, selama itu dasar sosial untuk adanya koran-koran kanan juga masih ada. Tetapi bukankah Manipol itu sudah dimaklumkan “progresif kiri”? Dan jika demikian, bukankah tugas pejabat-pejabat Manipolis untuk “mebereskan” pers antiManipolis atau Manipolis-munafik itu?

Berkat bantuan sekalian pembaca, sekalian pecinta, “Harian Rakyat”—Sekalipun sekarang masih dicetak dipercetakan “Persatuan”—sekarang sudah mempunyai percetakannya sendiri. Sebagian terbesar modalnya diperdapat dari penjualan obligasi yang sudah ber-tahun-tahun lamanya dilakukan. Direncanakan bahwa tengahtahun 1964 ini mesincetak suratkabar “Harian Rakyat” yang baru itu sudah akan berputar, sehingga wajah “Harian Rakyat” diharapkan akan lebih cantik daripada yang sekarang. Atas segala bantuan yang telah memungkinkan pembelian mesincetak rotasi itu perkenankanlah saya atasnama pimpinan “Harian Rakyat” mengucapkan terimakasih dari lubukhati.

Di tahun semangat banteng ini menjadilah kewajiban semua suratkabar progresif dan semua wartawan progresif untuk memperbesar iurannya dalam memperjuangkan terlaksananya tugas-tugas tahun ini, seperti yang dirumuskan dalam Pesan Tahunbaru Politbiro CC PKI:

Mari kita jadikan 1964 tahun “Bandung ke-II”!

Mari kita jadikan 1964 tahun pengusiran Armada ke-VII AS dan tahun pengganyangan “Malaysia”!

Mari kita jadikan 1964 tahun landreform!


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.