Baca EPUB: Rasionalisme Anti-Tionghoa dan Usaha Menyikapinya

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. RASIONALISME ANTI-TIONGHOA DAN USAHA MENYIKAPINYA
  2. PRAMUDYA ANANTA TUR
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. RASIONALISME ANTI-TIONGHOA DAN USAHA MENYIKAPINYA
  6. CC BY-SA 4.0

RASIONALISME ANTI-TIONGHOA DAN USAHA MENYIKAPINYA

PRAMUDYA ANANTA TUR


KOLOFON

RASIONALISME ANTI-TIONGHOA DAN USAHA MENYIKAPINYA

oleh

PRAMUDYA ANANTA TUR



Dimuat di majalah MITRA

Jurnal Budaya & Filsafat

Edisi 04 Maret 2000

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Penggiat Buku

Dibagikan oleh: Muhammad Reza Magistra

Gambar sampul karya Iwan R. Ismael, 2000

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



RASIONALISME ANTI-TIONGHOA DAN USAHA MENYIKAPINYA

Rasialisme anti-Tionghoa terbesar yang pertama kali terjadi pada tahun 1740, yelas hasil permainan kekuasaan Kompeni alias VOC. Sumber-sumber otentik yang dipergunakan Yan Risconi dalam disertasinya “Sya'ir Kompeni Welanda Berperang Dengan Cina” (1935) cukup yelas. Sayang disertasi yang membahas syair berbahasa Melayu aksara Arab ini ditulis dalam bahasa Belanda sehingga untuk masa sekarang ini agak sulit menjadi sumber ruyukan. Kasus tahun 1740 adalah rasialisme antiTionghoa dari pihak kekuasaan orang Barat/Belanda.

Rasialisme antiTionghoa sepanyang yang tercatat oleh seyarah, terjadi pertama kali di Solo, pusat kapital, produksi dan perdagangan batik. Padahal ko-eksistensi damai antara Pribumi dan Tionghoa beryalan mulus sepanyang seyarah. Pada masa ini kekuasaan kolonial sedang mengembangkan politik etnisnya yang sesungguhnya dapat menerima teryadinya kebangkitan pribumi. Syaratnya memang: asal tidak bersifat politik. Yadi seyayar dengan politik masa mengambang Orba. Seperti halnya pada peristiwa 1740 juga di sini tangan kekuasaan bermain di belakang layar. Gerakan boikot oleh para pedagang Tionghoa terhadap perusahaan-perusahaan raksasa Barat di Surabaya adalah suatu kemenangan.. Lahirnya Syarikat Islam yang dalam waktu sangat pendek telah menjadi gerakan massa yang meraksa, juga merupakan kemenangan dari pihak pribumi. Unsur-unsur ini telah dipaparkan dalam karya Sang Pemula, (Hasta Mitra, Yakarta 1985). Dari sumber-sumber yang amat langka disebutkan adanya kegelisahan pada penduduk bangsa Barat dan keturunannya terhadap kebangkitan massa Pribumi yang agamanya lain daripada yang mereka anut. Walau penduduk penetap bangsa Barat ini merupakan minoritas yang sangat kecil, namun mereka bertulangpunggung kekuasaan, kekuasaan kolonial. Maka teryadilah kerusuhan rasial itu.

Kerusuhan rasial antiTionghoa terjadi 4 tahun kemudian di Kudus, pada tahun 1916. Walaupun keyadiannya yauh lebih besar, meliputi seluruh kota industri rokok ini dan juga disertai pembunuhan di berbagai tempat, namun sebagai peristiwa sebenarnya hanya merupakan edisi kedua dari yang pertama. Beruntunglah bahwa Tan Boen Kim telah membuka peristiwa ini dengan yudul Peresoehaan di Koedoes, 1918. Namun masih ada yang patut disayangkan. Karya yang berdasarkan pemberitaan pers ini tak sampai mengungkap latar belakang peristiwa. Tentang adatidaknya tangan kekuasaan yang bermain, ia hanya menyesalkan sikap para peyabat setempat, bukan peran mereka sebagai lembaga kekuasaan.

Kemudian terjadi peristiwa rasial antiTionghoa semasa Indonesia telah merdeka, diformalkan oleh negara, dalam bentuk PP 10-1939. Sungguh mengagetkan dan mengherankan, mengingat bangsa Indonesia yang merdeka ini telah merumuskan aspirasi peryuangan nasionalnya dalam Pancasila. Buku Hokiain di Indonesia pertama diterbitkan oleh Bintang Press, pada tahun 1960, tak lain merupakan reaksi atas PP 10 tersebut.

Peraturan Pemerintah nomor 10 ini kemudian berbuntut panyang dengan teryadinya tindakan rasial di Yawa Barat pada tahun 1963, yang dilakukan oleh Militer Angkatan Darat. Kebetulan pada waktu itu saya “mengayar” di Fakultas Sastra Universitas Res Publika milik Baperki, yang sekarang diubah namanya menjadi Universitas Trisakti dan bukan lagi milik Baperki. Dari para mahasiswa yang sebagian terbesar WNI keturunan Tionghoa, saya menerima seyumlah informasi tentang perlakuan militer terhadap keluarga mereka yang tinggal di Yawa Barat. Ternyata rasialisme formal ini ditempatkan oleh beberapa orang dari kalangan elit Orla untuk meranyan hubungan antara RI dengan RRT, yang yelas, sadar atau tidak menjadi sempalan perang dingin yang menguntungkan pihak Barat.

Yang mengherankan tentang rasialisme antiTionghoa ialah: mengapa ini bisa terjadi dalam alam Indonesia Merdeka? Di samping Indonesia memiliki Pancasila, bukankah pihak etnik Tionghoa juga punya saham dalam gerakan kemerdekaan nasional sampai pencarian input untuk panitia persiapan kemerdekaan menyelang akhir pendudukan Yepang? Bukankah sumbangannya pada revolusi juga ada, dan tidak semua etnis Tionghoa bergabung dengan Po Ang Tui yang berpihak pada Belanda, sebagaimana halnya tidak semua Pribumi berpihak pada Nica? Juga dalam alam Indonesia merdeka?

Tentang ini, dengan mudah siapa saya dapat mengikuti tulisan Siauw Giok Khian Lima Yaman, Perwuyudan Integrasi Wayar, (Yayasan Teratai, Yakarta-Amsterdam, Mei 1981). Dalam paparan lebih luas hubungan Pribumi-Tionghoa, seyak zaman migrasi yang meliput penyeberangan budaya Dongson atau perunggu sampai kurun 70-an abad ini dalam konteks pembauran di seluruh Indonesia telah ditulis oleh Yoe-Sioe Liem dalam karyanya Die ethniskhe Minderheit der Uberseekhinesen im Entwicklungsprozess Indonesiens (Verlag Breitenbakh, Saarbrucken, Fort Lauderdale, 1980). Bukankah dalam momentum pembauran purba, budaya Dongson Yawa memiliki tangga nada selindra, karena datangnya melalui wilayah kedatukan Cailendra? Belakangan ini semakin banyak diterbitkan paparan tentang etnis Tionghoa di Indonesia, tetapi nampaknya kurang mendapat perhatian.

Kurun peryuangan nasional dan saham etnis Tionghoa di dalamnya telah ditulis oleh Siauw Giok Khian sebagai pelaku seyarah. Tokoh luar biasa di samping Siauw adalah

Liem Koen Hian, pendiri Partai Tionghoa-Indonesia pada September 1932. Ia menggalang keryasama dengan para tokoh puncak gerakan gerakan kemerdekaan nasional pada masanya. Malahan sebagai pribadi, biar pun bukan hartawan, ia selalu memberikan bantuan yang mereka perlukan. Ia seyak semula menjadi penganyur hapusnya diskriminasi rasial untuk mempermudah dipupuknya rasa senasib antara semua putera Indonesia, termasuk etnis Tionghoa. Partai ini menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa organisasi, dengan catatan bahwa yang dimaksud dengan bahasa Indonesia pada waktu itu sinonim dengan bahasa pers Melayu-Tionghoa, sekali pun di antara para anggotanya ada lulusan perguruan tinggi Belanda.

Nasib dua orang peyuang gerakan kemerdekaan ini, yang pada masa kegiatannya, dua yendral besar Indonesia yustru menjadi serdadu KNIL, nyaris sama. Seperti yutaan orang Indonesia yang yadi korban Orba, mereka pun menjadi tapol Orba. Bebas sebagai tapol pada 1 Mei 1979, Siauw Giok Khan meninggalkan Indonesia bermukim di Belanda dan wafat di sana. Liem Koen Hian sebagai tapol Orba mengalami kekecewaan berat, karena sebagai tapol sama sekali tidak mendapat perhatian, yangankan pertolongan, dari tokoh-tokoh puncak semasa gerakan kemerdekaan nasional yang pernah dibantunya. Bebas sebagai tapol Orba ia langsung menanggalkan kewarganegaraannya sebagai orang Indonesia, dan seyak itu tak pernah terdengar lagi kabar-beritanya.

Di samping ini adalah kartu anggota Partai Tionghoa Indonesia atas nama Kho Sien Hoo, cabang Magelang, dengan tandatangannya sendiri dan tandatangan Liem Koen Hian, tertanggal 5 Yanuari 1933. Bukan suatu kebetulan kartu anggota Kho Sien Hoo direproduksi di sini, karena seyak berdirinya Partai Tionghoa Indonesia ia mulai bergabung dengan gerakan kemerdekaan nasional. Yadi ia hanya sekedar contoh di antara begitu banyak yang kurang diketahui. Semasa revolusi ia menjadi komandan tertinggi Laskar Rakyat Magelang dan Kedu, bersama kesatuan BKR merampas senyata Nakamura Butai dan melawan Inggris-Gurkha dan Nica di Ambarawa pada awal revolusi.

Ia mengubah namanya menjadi Suryo Budihandoko tanpa melalui pengadilan. Dilahirkan pada 1905 ia wafat di Yakarta pada November 1969. Bintang-bintang pada dadanya adalah pengakuan resmi tentang yasa-yasanya pada tanah air dan bangsa.

Bahwa yang dipampangkan di sini hanya Suryo Budihandoko bukan berarti hanya beliau yang beryasa pada tanah air dan bangsa Indonesia. Cukup banyak yang diakui atau tidak yasa-yasanya.

Makanya mengherankan bila terjadi kerusuhan rasial antiTionghoa. Celakanya yustru yang terjadi pada penutup era Orba, Mei 1998. Padahal yustru semasa Orba Pancasila diayarkan seyak dari SD sampai Perguruan tinggi. Atau memang sudah diprogram yadi ayaran “Pancasila Bibir”? Mungkinkah Siauw Giok Khan dan Liem Koen Hian juga kecewa berat terhadap Pancasila “Bibir” ini sehingga yang pertama meninggalkan Indonesia dan yang kedua menanggalkan kewarganegaraannya?

Stop! Rasialisme anti minoritas apa pun harus tak terjadi lagi di Indonesia. Sungguh suatu aib yang memalukan dalam lebih setengah abad dan ber-Pancasila bisa terjadi kebiadaban ini kalau bukan karena hipokrisi pada kekuasaan.

Pada awal 1946, waktu saya naik kereta api dari Yakarta menuyu ke basis militer di Cikampek, di samping saya duduk seorang pemuda yang meminyamkan kepada saya buku karya S. Soejoyono, pelukis nasional itu. Saya sudah lupa yudulnya. Yang teringat dari bacaan itu hanya satu bagian kecil: tentang Mongools Vlek, tembong biru pada pantat atau bagian bawah lain dari bayi yang baru dilahirkan, satu isyarat bahwa si bayi punya darah Mongoloid atau darah Cina. Padahal bayi-bayi Indonesia berkulit sedikit lebih cerah dari coklat bertembong biru. Saya tidak tahu jawaban para antropolog atau pul dokter tentang kebenarannya. Beberapa tahun kemudian sesorang mengatakan: sekiranya Hitler dalam upayanya memurnikan darah Aria pada bangsa Yerman, tahu tentang adanya Mongools Vlok alias tembong biru ini mungkin beberapa yuta orang lagi akan dilikuidasi Nazi. Ke Singasari, ke Timur sampai ke Yepang, juga ke Barat sampai ke Eropa Tengah.

Setelah Kublai Khan mendirikan pusat kerayaannya di Beiying, bayak laut Cina mendirikan diaspora di Palembang. Beiying mengirimkan ekspedisi ke Palembang dan menangkap gembong bayak laut tersebut dan menghukumnya mati di Beiying. Namun diaspora ini yustru berkembang, bahkan menghasilkan seorang Yin Bun, yang kemudian menjadi raya Islam pertama di Demak. Percampuran darah dari koloni ini dengan penduduk lokal membubahkan generasi dengan tubuh lebih tinggi dan kulit lebih cerah, menyebar sampai ke wilayah Lampung.

Kalau benar rembong biru pada bayi pertanda ada darah Cina mengalir dalam tubuhnya, apakah kerusuhan rasial 1998 masih tetap dapat dikatakan rasial? Ya atau tidak sama sekali tidak penting. Setidak-tidaknya kerusuhan tersebut merupakan suatu keyahatan dan kebiadaban terhadap kemanusiaan, siapa pun yang melakukannya dan siapa pun korbaninya.

Akhirnya yang timbul hanya pertanyaan bagaimana mengakhiri keyahatan dan kebiadaban terhadap manusia ini? Saya hanya bisa menyarankan penggiatan penyebaran informasi yang menumbuhkan saling pengertian antara dua belah pihak. Diantaranya menyebarluaskan karya Siauw Giok Khan dan lain-lain.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.