PERISTIWA & ANALISA
Mereka Muncul Memba
Andi Arief, Ketua SMID, akhirnya muncul di Mabes Polri. Polisi belum mau menjelaskan siapa
yang menyerahkan Andi ke mabes itu. IKA SAJA INI PERMAINAN SUlap, tentulah penonton akan bersorak ketika orang yang dihilangkan tu- kang sulap dimunculkan lagi, segar- bugar tak kurang suatu apa. Tapi ini bukan sulap. Maka, ketika mereka yang dikabarkan hilang müncul lagi tak ada tepuk tangan. Yang ada adalah pertanya- an, ke mana dan apa yang terjadi selama mereka bilang; dan kenapa mereka tak mau bercerita tentang itu. Itulah yang muncul, baik ketika dikabärkan Pius Rustilanang (Sekre- taris Jenderal Aliansi Demokrasi Rakyat atau Aldera) ataupun Desmon J. Mahesa (Ketua Lembaga Bantuan Hukum Nusantara) sampai Haryanto Tastam (Wakil Sekjen PDI versi Munas 1993) dan yang terbaru Andi Arief (Ketua Solidaritas Mahasiswa Indonesia un- tak Demokrasi atau SMID) muncul kembah dari hilang. Semuanya muncul dan pulang kepada keluarga, kecuali Andi Arief yang muncul di tahanan Markas Besar (Mabes) Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Bila dalamn kasus tiga yang pertama yang bersangkutan tak bersedia bercerita, dalam hal Andi Arief bukan cuma dia yang bung- kam. pun polisi tak mau menjawab perta- oyaan wartawan sekitarini: kapao persisnya Andi sampai di Mabes Polri, dalarn keadaan bagaiamana, dan ia diserabkan ke polisi oleh síapa. Adalah pemberitahuan lewat telepon yang diterima Munir, Koordinator Pelaksana Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Ke- kerasan, pada 22 April, Rabu pagi pekan lalu. Telepon memberi tabu keberadaan Andi yang diculik pada 28 Maret dan tempat ting- gai kakaknya di Bandarlampung. Telepon itu sendiri berasal dari Letnan Kolonel Lubis, Wakil Direktur Serse Umum Markas Besar Polri. Untuk memastikan kabar tersebut, Munir bersama kakak kandung Andi, Edi Irawan juga ditelepon Labis-mendatangi Mabes Polgi. Benar saja, Munir dan Edi bertemu dengan Andi. "Saya sempat berbicang dengan dia dan ja sehat secära psikologis dan fisik," kata Munir. Kepada kakaknya dan Munir, Andi tak banyak cerita. Entah bila polisi mulai me- nyusun berita acara pemeriksaan, karena Andi disangka terlibat dalam kasus bom mele- dak di Tanahtuinggi. Jakarta Pusat. pertengab- an Januari lalu. Akankah ketika iti hilangnya
Andi menjadi jelas? gawati tertanggal Jumat, 24 April, bahwa hi-Yang juga berjanji, setidaknya begitulah łangnya Haryanto karena yang bersangkutan yang dikatakan kepada wartawan, akan men-sengaja menghindari berbagai hal yang tidak centakan kisah hilangnya adalah Haryanto dinginkan. Pernyataan yang ditandantanga-Taslam, yaitu setelahi ia melapor dan menda-ni Ketua Soetardjo Soerjogoeritno dan Sekre- pat izin Ketua Umum DPP PDI versi Munas taris Jenderal Alex Litaay in dikatakan dibuat 1993, Megawati Soekarnoputri. setelah mendengarkan keterangan Haryanto. Tapi, hingga pekan lalu, Haryanto belum memberikan keterangan. Yang ada adalah Skenario yang Sama pemyataan yang dikeluarkan DPP PDI Me-Kisah hilangnya orang-orang yang dianggap berseberangan dengan pemerintah tersebut tampaknya punya skenario yang sama: dijemput sejumilah orang, lalu tak di- ketahui rimbanya, sampai kemudian tiba-tiba mumcul lagi dan tak bersedia memberita- kan keterangan terperinci soal hilangnya. Se perti yang dituturkan Andi Arief kepada Mo- nir, ia diculik di Bandariampung oleh orang dengan ciri-ciri tertentu, yang langsung membawanya dalam keadaan mata tertutup. Namun, Andi bisa tahu bahwa ia dibawa menyeberang ke tanah Jawa lewat Pelabuh- an Bakabeuni karena tutup matanya dibuka. Tapi, ia tetap tidak tahu siapa penculiknya. Sesampainya di sebuah bangunan-ke- mungkinan di Jakarta—ia dimasukan ke dalam sebuah ruangan tertutup dan gelap. Mulai hari iu juga, siang-malam, Andi dünte- rogasi. Hiburan satu-satunya adalah mendengarkan siaran stasiun radio swasta yang di- setel oleh penculiknya selama 24 jam. Selain ANDI ARIEF. Bukan sulap. lagu-lagu, dari siaran itu pula Andi mende- ngar berita tentang penculikannya. Hanya itulah cerita Andi. "Karena suasa-OCC nanya belum memungkinkan kami berbicara lebih jauh," kata Munir menceritakan penu-
Tentunya, bukan sekadar turan Andi. Menurut Munir, ia yakin bahwa
aktivis seperti Herman Hendrawan, Raharjo
menemukan, tapi juga
Waluyo Djati, dan Feisol Riza—ketiganya polisi diharapkan dari Komite Nasional Pemuda untuk Demokrasi. yang dianggap oleh aparat keamanan mengungkapkan apa dan sebagai jelmaan Partai Rakyat Demokra-
siapā di balik hilang dan tk—tampaknya bakal "mmncul" juga di
Mabes Polri.
muncul kembalinya paraMenurut Munir, Andi berada di Mabes
Poln banu pada 17 April. Dengan demikian
aktivis itu... agar
ada masa 24 hari yang belum jelas, siapa masyarakat mēnjadi takyang menyekap Andi Arief. Munir, selaku pengurus Yayasan Lembaga Bannuan Hu- waswas... dunia kum Indonesia, pemah datang ke Kepolisian internasional Daerah Metro Jaya, mencari kejelasan hilangnya Andi. Ketika itu tanggal 6 April, mendapatkan informasi beberąpa hari setelah Andi diculik. la men-
yang transparan....dapat informasi bahwa pihak kepolisian dae-
PERISTIWA & ANALISA
wa Tanda Tanyakembalinya para aktivis itu. Manfaatnya je-
tah sudah bemiat menangkap Andi. Namun,
surat perintab penahanan batal dikirim ka- rena buruannyà keburu diculik. Terhadap kemungkinan adanyą pihak-pihak di luar kepolisian yang melakukan penculikan, Kepala Pusat Penerangan ABRI Brigadir Jenderal Mokodongan keberatan ji- ka tuduhan itı langsung di arahkan ke ABRI. "Kalau memang terbukti, kami punya kewenangan untuk renangkap dan meng- hukum, bahkan memecatnya," kata Moko-
dongan. Agar simpang-siur tentang siapa pihak-pihak yang melakukan aksi penculikan dan dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat, tampaknya apa yang dikatakan Kepala Sosial-Politik ABRI Letman Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono perlu dilaku- kan."Panglima ABRI sudah memerntahkan kepada polisi untuk mencari orang-orang yang dilaporkan hilang." kata Bambang Yudhoyono, Sabtu lalu. "kami telah memberi
mandat kepada pihak kepolisian untuk me- nanganinya." Tentnya, bukan sekadar menemukan, tapi juga polisi diharapkan mengungkapkan apa dan siapa di balik hilang dan muncul las, agat masyarakat menjadi tak waswas. Juga, dunia iniernasional mendapatkan infor- masi yang transparan, sehingga tak perlu ada pandangan miring-apalagi sanksi--buat Indonesia Dengan demikian, Amien Rais bisa menjawab gamblang andai ada perta- nyaan tentang orang hilang di Indonesia be- lakangan im (lihat Dari Jenewa sampai Washinghton: Citra Kita). Rustam F. Mandsyun/Laporan Bu Nugroha dan Bacma Siboro
Mereka Menyalakan Pelita
EPRIHATINAN TERUS BERGULIR, KEKECEWAAN menumpuk, yang hilang meski beberapa sudah muncul lagi tak menjelaskan ihwal hilangnyamereka itu~mereka bungkam. Dalam suasana semacam ini muncul inisiatif dari sejunulah aktivis lembaga swadaya masyarakat yang prihatin terhadap kehu- dupan bermiasyarakat. Jumiat, 24 April pckan lalu, mereka memprokdamasikanberndirinya Tim Relawan untuk Kemanusiaan. Mereka yang terlibat adalah orang-orang yang sclama ini dikenal aküif membenkaradvokasi terhadap kurban- korban perlakuan di luar norma hukum. Misalnya, mereka yang aktif itu adalah Karlina Leksono Supeßli, astronom dan penggagas kegiatan Suara Ibu Peduli: Ita Fatia Nadia dari Kalyanamtra; Ab- dul Hakim Ganda Nusantara dari El- sam, dan; MasdarF Mas'udi dan Pusut Pengembangan Pesanuen dan Masyarakat. Masa Depan Kelabu Mereka membacakan pemyataan berjudul "Teror Hat Nurani di Schuah Negara Hukum" di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Mamusia Kegiatan ini merupakan cemin dari "hati nurant kami yang demikian tergetar menyak. sikan ketidakadilan dan kekerasan po- ltik yang menimpa kaum muda di pen- juru Tanah Air", demikan antara lain 家 isi pemyataan itu. waktu dan renaga umtuk mengumpul- kan semua infommast yang menyangkut kekerasan. penculikan. dan ketidakadilan yang dialami orang-orang muda terschut. "Bag kami, Tim Relawan untuk Kemariusiaan, perlakuan terhadap kaum muda yang menggunakan-kekerasan melawan hukum dan hak asasi manusia. mencerminkan masa depun bangsa yang kelabu." begitu bunyì pembacaan peryataan itu. Masib dalam bingkai gerakan moral yang sama, sebuah D&R, 2 Mei 1998
keprihatinan juga disampaikan oleh sejumlah tokoh dan rohaniwan, 17 April lalu. Sebuah permyataan yang diberi judul "Hati Nurani yang Prihatin" antara lain ditandatangani Romo San- dyawan, pendeta yang Ketua Gereja Kristen Jawa Timur Prof. Dr. Wismoady Wahono, dan dokter sekaligus rohaniwan Paul Tahalele. Dalam pernyataan tersebut dicantumkan tuntutan kepada pemerintah dan Komisi Nasional Hak Asast Manusia. Antara lain isi muntutan ita: memastikan keberadan mereka yang ditangkap. menjammn kesclamatan jiwanya, peradilan yang obyckuf. jujur dan adil, tindakan hukum terhadap pibak/instansi/lembaga yang
melakukan penangkapan dan petahanan di luar prosedur hukum. dan memohon Komisi Nasional Hak Asasi Manusia proaktif terhadap akibat duri perlakuan yang sewenang-wenang ito. Tindakan par mkawan maupun cobaniwan di atas paling 0dak merefleksikan sebuah kata-kata bijak yang perlu drenungkan: "Jangan menggerutu kepada kegclapan. Nyalakanlah lfin."
8.284.7.8ρ019m 8a0bma131. Caby000.
Untuk itu mereka menycdiakan PENGADUAN ORANG HLANG DI KOMNAS HAM Mereka bungkam.