API ‘26
ZUBIR A. A.
AGAM WISPI
S. ANANTAGUNA
SUGIARTI
T. ISKANDAR A. S.
KOLOFON
API ‘26
oleh
ZUBIR A. A.
AGAM WISPI
S. ANANTAGUNA
SUGIARTI
T. ISKANDAR A. S.
Yayasan “Pembaruan”
Jakarta—1961
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam. com
PENGANTAR PENYAMBUT
ADA MASANYA, ketika kesusasteraan proletar yang sedar sedang mau berkembang, orang berusaha mematikannya dengan bermacam-bermacam tuduhan: “kesusasteraan semboyan”, ”kesusasteraan propaganda”, pendeknya, bukan “kesusasteraan murni”.
Sasterawan-Sasterawan proletar sendiri tak gentar menghadapi reaksi itu, karena gentar bukanlah sifat proletar, juga tidak pada sasterawan-sasterawannya. Mereka bekerja sambil belajar, belajar sambil berlatih, mereka mengasah terus-menerus pisau kesasterawanannya yang menajam dan terus menajam bersama mematangnya ideologi mereka, karena mereka tak mau membiarkan berlangsung situasi “di mana kesusasteraan burjuasi sudah tak mampu lagi tetapi kesusasteraan proletar belum lagi mampu”. Gorki tidak menjadi zeni dalam sehari-semalam, juga Lu Sin tidak. Kita di Indonesia mungkin sudah punya raksasa kesusasteraan kita sekiranya Mas Marco tidak mati muda.
Sekarang, mana itu kritikus-kritikus claka yang menolak cerpen-cerpen Lekra “karena bertendens”, mana itu kritikus-kritikus yang patut dikasihani yang mengkwalifikasi sajak-sajak Lekra ”cengeng”? Jangan mereka seperti penulis-penulis turis yang main umum-umuman dan berkata “orang Indonesia indolen”, ”orang Jepang penipu” atau “orang Soviet kaku”. Silahkan datang dengan kritik-kritik kongkrit atas karya-karya kongkrit. Kalau mereka mau menunjukkan kekurangan-kekurangan dalam bentuk dan pengolahan, sasterawan-sasterawan revolusioner akan menarik manfaat daripadanya, Sekalipun mereka itu kritikus-kritikus burjuis. Tapi bisakah tuan-tuan tuduh sasterawan-sasterawan revolusioner menulis kesusasteraan picisan, tak bermoral dan rendah atau kesusasteraan reaksioner dan antiRakyat?
Kesusasteraan itu seperti hidup manusia—dia bisa iseng, bisa berpetualangan, tapi juga bisa berisi, berarti. Dengan catatatan, bahwa yang iseng pun berbahaya, karena tendens keisengannya! Kenapa di zaman sebelum Perang Dunia II orang tidak meributkan Sanusi Pane atau Asmara Hadi karena kesusasteraannya “mengandung politik”? Mayakovski benar sekali ketika mengatakan, bahwa sekiranya dia menulis sajak ”aku berjal an ditam bunga”, ini pun bertendens, bertendens “memikat gadis-gadis”. Kesusasteraan yang bahasanya indah dan komposisinya harmonis, tapi ”bebas dari segala politik”—adakah dia tidak bertendens? Siapa berani bilang bahwa kesusasteraan begitu bukan untuk menidurkan Rakyat, diyustru di waktu Rakyat harus bangkit, harus berlawan? Sungguh, kesusasteraan nina-bobok adalah kesusasteraan reaksioner.
Sekali peristiwa, Bung Aidit mengatakan berisi rangsangan: “kapan paceklik sastera revolusioner berachir?”. Kalimat ini menimbulkan banyak diskusi, tetapi sudah jelas, jika orang prihatin oleh paceklik, dia bukannya menghina sitani, melainkan memikirkan bagaimana panenan yang mendatang tidak gagal dan berhasil.
Sasterawan-Sasterawan revolusioner, yang umumnya berhim pun dalam Lekra, dengan berpedoman pada semboyan Kongresnya (Solo, 1959) “politik adalah panglima”, bekerja keras, karena tak mau lebih lama lagi ”berhutang kepada revolusi”; mereka bekerja dengan metode “turun ke bawah”.
Bertepatan dengan ulangtahun ke-35 pemberontakan 1926, pemberontakan nasional kita pertama melawan imperialisme Belanda, penerbit “Pembaruan” mengusahakan kumpulan cerpen ini, dengan menerima kontribusi dari pengarang-pengarang S. Anantaguna, Agam Wispi, Zubir A. A. , T. Iskandar A. S. dan Sugiarti.
Saya gembira sekali dengan usaha ini, bukan seperti pelayar melihat pantai tujuan, tetapi seperti pelayar, berlabuh di pelabuhan pertama.
Orang-Orang yang politiko-phobi mungkin akan berkeraskepala berkata: “apa ini bukan kesusasteraan perintah?”. Mana ada kesusasteraan yang bukan karena perintah hati, dan mana ada hati berkata yang bukan karena perintah keadaan, perintah perjuangan! Seperti Revolusi Agustus memaksa orang memihak: memihak Republik atau memihak Nica, begitulah perjuangan klas memaksa orang berpihak: berpihak progres atau reaksi, Rakyat atau imperialisme, kaum tani atau tuantanah, proletariat atau burjuasi. Memang kesusasteraan ini kesusasteraan perintah, kesusasteraan politik, kesusasteraan semboyan: perintah, politik dan semboyan Tanahair, Rakyat dan Revolusi!
Lewat sudah zaman “seni untuk Rakyat” dicemooh, lewat sudah zaman ”seni untuk seni” disanjung. “Seni untuk seni” tidak ada yang mengantar ke kubur ketika dia mati dan kenangan atasnya hanya ”dihidupkan” oleh batunisannya. Ini bukan per-tama-tama kemenangan Lekra—ini kemenangan suatu azas, kemenangan Rakyat dan Revolusi itu sendiri.
Nyoto
Jakarta, 3 November 1961.
SABOTASE
I
NASIB yang claka telah membawa aku kebengkel kecl seorang tukang besi, di-pinggir sebuah kotakecl, yang berbalingan dengan perkebunan para dan tembakau di Sumatera Timur. Aku masih berusia enam-belas tahun kala itu dan butahuruf. Aku sangat membutuhkan pekerjaaan. Aku ajukan diriku untuk menjadi pembantu pandai besi itu. Ia berperawakan sedang dan tidak ter-lalu kukuh dan tegap seperti umumnya tu-kang-kang besi yang pernah kukenal, mukanya berselubung jambang Meskipun ia masih muda.
Bolehjadi karena usiaku yang begitu muda dan terlalu mengharap, aku menga-jukan permintaan itu dengan berhiba-hiba dan memohon belaskasihannya yang sangat. Caraku itu membikin tukang besi itu tidak begitu senang.
—Kenapa kau begitu cengeng?—kata nya dengan gusar dan ditantang nyia aku dengan tajam—orang-orang muda seperti kau tidak semestinya begitu, harus tau harga diri dan tenagamu. Dengan merengek-rengek begitu orang akan menawar tenagamu dengan murah dan tidak menghargaimu sama sekali—katanya. Aku menjadi gugup dan menundukkan kepala.
—Kenapa kau tunduk?—katanya lagi—coba angkat kepalamu dan katakan apa yang bisa kau kerjakan dengan badanmu yang kurus mentah ini—Aku mendungakkan kepalaku pelan-pelan seperti maunya, lalu kata ku:—Saya belum pernah bekerja—
—Jadi apa yang akan kau kerjakan?—
—Bapaklah yang menentukan apa yang mungkin dapat kukerjakan. Apa saja, soal upah saya serahkan bagaimana pantasnya menurut bapak—jawabku.
—Kau salah lagi—balasnya, suaranya telah berubah ramah—bukan begitu caranya, mesti dirundingkan, layak dan disetujui. Begitu mestinya—
Kemudian disuruh nyia aku duduk, tak jauh dari tungku pembakaran, beberapa potong besi tapal kuda kelihatan merah menyala. Ia menyugukan secangkir teh dan sekerat ubi bakar. Dan dia sendiri duduk di atas sebuah bangku.
—Kenapa tak minta kerja diperkebunan saja?—tanyanya lagi.
—Tak bisa, pak——Kenapa?——Karena... karena ayah saya...—yawabku bimbang dan tak berani meneruskan, aku kuatir kalau-kalau tukang besi itu tidak mau menerima bila kuceritakan.—Jangan takut, katakanlah mengapa ayahmu?—desaknya.—Kalau saya katakan, bapak tidak akan menolak saya?—yawabku ragu.—Kalau kau berterus terang saya akan membantu sedapat bisa, tapi bila kau membohong mungkin pertimbangan saya akan lain—yawabnya. Aku tak segera menjawa. Ketika dilihatnya aku masih ragu³, ia mengajud dengan mengajudkan dugaannya:—Agaknya ayahmu pernah bekerja di sana dan membikin kesalahan besar, mencuri barangkali?—Tidak—yawabku cepat, aku merasa tersinggung—ayah saya tak pernah berbuat begitu. Tapi benar ayahku telah berbuat salah, tapi bukan karena maunya. Ayah terpaksa, ia telah membunuh tuan besarnya, karena dia dipukuli dan dimaki-maki——Itukah salah ayahmu?—tampak ia mulai tertarik.—Ya, kataku lebih berani—Hampir setiap hari ayahku disiksa begitu, tapi bukan hanya dia. Ayah menjadi gelap mata dan pada hari sial itu, ayah telah mencangkul kepala Belanda itu sampai belah. Sekarang ayah dihukum limabelas tahun penjara. Ibu-ku dipecat dan diusir dari perkampungan buruh.
Ia diam dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku menunduk dan mataku tertumbuk pada jari-jarinya yang meremas-remas.
—Baiklah—katanya setelah berdiam diri agak lama—aku percaya pada ceritamu. Sudah selayaknya ayahmu membalas demikian. Setidak-tidaknya ia telah menebus kehormatannya sendiri yang di-injak-injak. Akan datang waktunya semua orang akan berbuat hal yang sama dengan cara yang lebih baik.
Aku tak mengerti pada ucapannya yang terakhir itu. Tapi aku telah cukup senang ketika ia berkata lagi:
—Tinggallah di sini, Meskipun sebenarnya tak banyak pekerjaan hingga memerlukan seorang pembantu. Begitu pun tidaklah berarti bahwa kau tidak akan bekerja sama-sekali.—
—Ya, pak—yawabku gembira.
Ia berdiri dan membarut-barut jambangnya. Mengambil arloji dari sakunya. Berdiri ke pintu bengkel, melongokkan kepalanya ke hilir jalan, seperti ada seseorang yang ditunggunya. Kelihatan ia agak kesal, kembali duduk dan merokok.
—Pernah kau bersekolah?—tanyanya kemudian.
—Tidak—jawabku—di kebun tak ada sekolah. Ayah tak mampu menyekolahkan jauh-jauh——Tampaknya kau sayang sekali pada ayahmu—Aku mengangguk.—Ya tentu. Setiap orang mestilah sayang pada keluarganya. Dan tentunya kau benci pada orang-orang Belanda yang kurang ajar itu——Ya pak—jawabku. Ia bangkit dan kembali melongokkan kepalanya dari pintu.—Mau kau belajar membaca dan menulis?—tanyanya dengan tidak memalingkan mukanya padaku—ku-pikir benci saja tidak cukup. Belanda itu cukup pintar dan kalau kita membenci dan melawannya kita mestilah belajar sebanyak mungkin. Kau setuju?—Ia tak menunggu jawabanku, ia membalikkan badannya dan meneruskan—belajar termasuk salah satu dari kerjamu—katanya menegaskan. Ia menetapkan bahwa aku akan belajar menulis dan membaca sejam dalam sehari. Aku mulai ragu tentang tukang besi berjambang ini. Siapakah orang ini sebenarnya, pikirku. Sebuah pedati melintas di depan bengkel dan seorang lelaki bertubuh pendek dan bedegap melompat turun. Pedati itu tidak berhenti dan si pendek bedegap itu mendodoh masuk. Aku kenal orang ini, mandor di af- deling B tempat ayahku dulu bekerja.—Aku agak terlambat—katanya, melemparkan topi bambunya ke atas meja, rambutnya pendek dan halus seperti bulu kucing. Di-sambarnya ceret di atas meja, haus sekali tampaknya, hidung ceret itu langsung ke-mulutnya.
—Kupikir kau tak akan datang——Mana boleh—jawab mandor itu dan menoleh padaku—heh... anak si Paimo, mengapa di sini?——Dia akan membantuku—tukang besi itu menerangkan sebelum aku sempat menjawab.—Bagus sekali, bagus sekali—kata mandor itu, ditepuk-tepuknya pundakku. Kemudian ia memberiku nasehat.—Kalau kau baik-baik saja Simun akan menyadikan kau seorang manusia—katanya memberi harapan.—Nah, sekarang katakanlah, bagaimana urusanmu—ujar tukang besi itu, yang baru saja kudengar namanya disebut mandor itu.—Beres. Semua telah siap untuk musim “panen”. Semua menanti ketentuan terakhir dari kau——Sudah selesaikah semua ”semai” ditanam?——Kalau kukatakan beres, apalagi yang kau sanganikan?—jawab mandor itu, tangannya menggapai sepotong ubi yang masih bersisa. Tukang besi itu mengerutkan ke-ningnya, berpikir dan kemudian mengangguk samar. Aku mendengar saja, tapi tak mengerti apa yang mereka percakapkan itu.
—Ah, hampir aku lupa—kata tukang besi itu ketika ia menoleh padaku. Dirogonya sakunya, lalu mengulurkan sebuah ringgit perak padaku—kau pulang dulu. Berikan uang ini pada ibumu dan segeralah kembali—
Aku seperti terlompat dari tempat duduk-ku, begitu girang aku melihat uang itu. Tapi ia menarikkan tangannya kembali.—Tunggu dulu—katanya—tak bisa begitu saja kau menerima uang ini. Kau harus memilih apakah akan kuberikan begitu saja, atau sebagai uang panjar untuk upahmu yang akan datang—
Aku tak dapat menjawab dengan cepat, aku jadi malu dan ragu. Ia mengajudkan dengan pandangan tajam.—Aku tak mempermainkan kau. Tentukanlah, pilih salahsatu, dan uang ini boleh kau bawa—katanya.
—Berikanlah sebagai uang panjar—yawabku setelah berpikir seketika.
—Tepat pilihanmu—teriak mandor itu dan ketawa lebar. Mukaku terasa panas.
—Pergilah cepat, sebelum magrib kau sudah harus kembali—ujar tukang besi itu. Belum pernah aku memiliki uang sebanyak itu. Ketika aku kembali, kusampaikan terima kasih ibuku pada Simun. Ia ketawa saja.
Aku tak menemui lagi mandor bedegap itu dan sebagai gantinya seorang pemuda yang tak kukenal sebelumnya duduk melunjur di atas ranjang. Tampangnya agak menyeramkan, berkumis hitam dan panjang, rambutnya kusut dan menjurai. Ia memaka baju kaus berbelang-belang yang ketat memisit dadanya yang bidang. Sebelah luar ia mengenakan baju gunting cina hitam yang tak dikancingkannya. Selilit akar bahar bertatah sebuah batu akik yang besar, kelihatan seperti seekor ular kecil membelit pergelangan kirinya.
—Cukup kau bawa kartu ceki itu, Jamat?—tanya Simun dan menunjuk kupiah orang berakar bahar itu yang terlentang dekat pahanya.
—Kupikir cukup—jawabnya dan mengambil selembar kartu itu dari dalam kupiah itu.
—Penjudi juga rupanya—pikirku dalam hati. Tukang besi itu mengenakan pakaian serba hitam, juga destarnya. Ditambah dengan jambangnya yang lebat subur itu, kelihatan ia lebih seram. Ia menyisipkan sebilah rencong ke pinggangnya.
—Pastikah akan datang semua?—tanya Simun lagi.
—Kukira begitu. Mungkin Dipo yang tak bisa, isterinya melahirkan sejam tadi—
—Bagaimana tentang tempat, bisa kau jamin?—Bereslah itu. Kalau terjadi penggerebekan, jalan untuk menyingkir mudah. Semua sudah kuatur dengan Seman—Mereka bicara lagi tentang hal-hal yang tidak kumengerti. Tapi kenapa pu! a mereka mesti takut tentang penggerebekan, pikirku. Pastilah menurut pendapatku, mereka akan beryudi diperkampungan buruh. Diperkebunan tak ada larangan untuk beryudi dan tak pernah ada penangkapan untuk itu. Judi adalah permainan biasa dan tak siapa pun memperdulikannya.—Kau tidur saja. Kalau kau lapar ada nasi dalam gerobokan itu—kata Simun padaku. Aku mengangguk-dan mereka berangkat. Di luar senja telah bersilih dengan malam dan lenyaplah mereka dalam kelam. Aku tinggal sendiri dalam bengkel itu. Kubentangkan tikar dilantai tanah dan membaringkan diriku. Kembali timbul tanya dalam hatiku tentang orang-orang yang baru kukenal ini. Kuingat percakapan-percakapanku dengan Simun siang tadi dan semua yang kudengar dari pembicaraan mereka. Aku menjadi ragu, seolah-olah mereka diliputi berbagai rahasia. Apa sebenarnya yang tersimpan di-balik gelagat mereka yang aneh itu, belum dapat kupahamkan. Dalam bengkel itu sendiri tak ada yang istimewa. Biasa saja seperti umumnya bengkel-bengkel kecil yang pernah kulihat, besi-besi yang berbelintangan, tungku pembakaran, pompa angin, palu, landasan, sepitan-sepitan besi, ladam-ladam kuda yang bergantungan dan benda-benda lainnya yang lazim terdapat di semua bengkel tukang besi.
Jauh malam Simun dan orang berakar bahar itu pulang. Tapi mereka tak terus tidur. Tak tau aku apa saja yang mereka bicarakan, pelan dan hampir merupakan bisikan. Kemudian Simun menulis. Orang berakar bahar itu mengocok-ngocok kartu cekinya, canggung tampaknya, tidak seligat juara judi yang pernah kusaksikan diperkampungan buruh pada hari-hari gajian.
—Masih ada waktu untuk tidur, kau tidur dulu Mat—ujar Simun—besok kau terlalu lelah, jalanmu akan jauh. Biarkan kusiapkan memperbanyak surat-surat ini—
Orang berakar bahar itu tak menjawab, berdiri dan menggeliat. Diambilnya tikar yang tersandar didinding, membentangkan nya tak jauh dari aku. Ia merebahkan badannya dan memperbantal lengannya. Sebentar ia telah mendengkur.
Paginya ketika aku terbangun, orang berakar bahar itu telah pergi. Simun sedang menjerangkan seceret air.
—Bengkel kita tutup hari ini—katanya setelah aku kembali dari sumur.—Untuk hari ini tidak akan banyak kerjamu. Pergilah ke pasar dan beli batutulis. Kita tak boleh menangguhkan waktu untuk belajar. Me- nunggu sampai besok tidak baik, bukankah kau sudah siap?——Siap pak—jawabku.—Ya begitulah, makin cepat kau melek, akan lebih jelas bagimu siapa musuh-musuhmu—katanya. Ia tertidur ketika aku pulang. Kukerjak-an saja apa yang bisa kulakukan menanti ia bangun. Kubersihkan lantai dan membe-reskan perkakas-perkakas pertukangannya yang bertabur. Di atas meja melonggok masih kartu ceki orang berakar bahar semalam. Kuteliti kartu-kartu itu, masih baru dan bersih, tak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kartu itu telah digunakan dan dipegang oleh banyak tangan.—Mereka tak beryudi, tapi apa pula yang mereka kerjakan semalam suntuk begitu?—pikirku. Simun tidur nyenyak sekali. Aku kedapur menyediakan makanan siang. Dekat tengah hari Simun bangun. Dan hari itu untuk pertama kali aku telah bisa membaca dan menuliskan namaku sendiri: Pomo.
II
BEBERAPA bulan telah berlalu. Meskipun pada mulanya amat samar, akirnya me- ngertilah aku siapa Simun dan semua kawan-kawannya yang sering datang menjumpainya kebengkel. Kadang-Kadang datang kawan-kawannya dari jauh, dari berbagai kota secara diam-diam dan rahasia.
—Sudah waktunya kau turut membantu kami—katanya sekali padaku—bila kau diam dan tak mengatakan pada siapa pun apa yang kau lihat dan dengar di sini, berarti kau telah sangat membantu. Meskipun kau baru dan muda, kami bisa mempercayai kau. Bila kau ingin menjadi manusia yang baik, kau harus bisa memegang kepercayaan orang, Meskipun untuk itu mungkin kau akan mengalami kesusahan—Aku berjanji pada Simun. Belum pernah orang mempercayakan rahasianya padaku, tapi kenapa pula aku tak akan bisa menerima kepercayaan itu?
—Ingatlah, soal ini bukan soal kecil. Padamu turut tergantung keselamatanku dan keselamatan semua kawan-kawan. Lebih penting dari itu, keselamatan perjuangan—kata-nya lagi meyakinkanku.—Kau anak baik, cerdas dan mempunyai harapan-harapan besar di kemudian hari. Kehidupan dan hari-hari yang baik akan menjelang kau. Tujuan kita besar dan jauh, kemerdekaan bagi Tanahair, kemerdekaan bagi semua orang. Kebebasan bagi orang-orang seperti ayahmu, bagi kita semua—
Sejak hari itu kian sering ia mengajak aku bicara, menceritakan apa saja yang mungkin dapat dikatakannya. Menyuruh aku mengerjakan bermacam-macam pekerjaan, mengantar surat atau menyampaikan pesan pada kawan-kawannya.
Sewaktu-waktu muncul si bergelang akar baha. Aku menjadi suka padanya. Sesungguhnyalah ia tidak menyeramkan. Ia sebenarnya peramah dan baik hati. Dan kadang-kadang diajaknya aku mengobrol tentang apa saja. Bila jumlah mereka tidak terlalu besar, mereka mengadakan pertemuan dibengkel. Dengan masing-masing memegang daun ceki di tangannya mereka mengadakan pembicaraan-pembicaraan dan perdebatan-perdebatan. Aku diberi tugas sebagai pengintai dan memberi-tauukan apa saja yang kuanggap mencurigakan. Aku-pun telah mengenal beberapa orang cecunguk dan mata-mata yang ditunjukkan Simun—Itulah anjing-anjing Belanda itu, ati-atilah kalau-kalau ia mengajak kau omong-omong. Ya, mana tau lebih baik kau hindari kalau bertemu dengan mereka—ujar Simun.
Aku merasa bangga sekali mendapat kepercayaan demikian, seolah-olah aku telah menjadi lebih dewasa. Tentu saja tidak semua pembicaraan dan pekerjaan mereka kuketahui. Meskipun kadang-kadang aku gemar sekali menanyakan sesuatu.—Tidak, itu belum waktunya kau tau—jawab mereka, atau pada waktu yang lain mereka jawab saja:—nanti saja atau kelak kau akan tau sendiri—
—Apa maksudnya “panen” dan ”keranjang arang”?—tanyaku sekali.—Dari siapa kau dengar itu?—jawab Simun.—Bukankah kalian sering menyebutnya——Pendengaranmu terlalu tajam. Tidak baik semua pembicaraan kami kau dengar——Tapi aku tak pernah ngomong dengan siapa pun——Kalau kau ngomong, telah lama kucabut lidahmu—gertak si akar bahar menyeling. Aku menjadi lebih berhati-hati. Meskipun bukan bengkel itu menjadi pekerjaan utamanya, Simun dan aku tetap bekerja dan membikin barang-barang sederhana, pisau, parang, linggis dan memasang tapal-tapal kuda. Sekali aku pergi ke pasar mengantarkan selusin parang pada kedai langganan kami. Setelah menerima uang aku tak segera pulang. Sambil lalu kudengar orang-orang membicaraikan pembakaran bangsal-bangsal tembakau dan pembabatan rambung-rambung muda secara besar-besar-an. Tapi aku tak begitu tertarik.—Biar habis ludas, toh Belanda punya—kataku dalam hati. Aku melenggang dan bersiul-siul di kaki lima kedai-kedai sambil melihat barang-barang yang dipajangkan dan orang-orang yang sedang berbe-lanja. Seorang nyonya besar dari kebun keluar dari sebuah kedai Tionghoa. Hidungnya yang panjang menjungkat dengan pongah- nya. Orang-Orang menghindar memberinya jalan, menabiknya dengan membungkuk-bungkuk. Nyonya besar itu tak menghiraukan.
Aku teringat nasehat Simun, bahwa kita tak perlu takut dan membungkuk-bungkuk serupa itu, apalagi jongkok pada orang-orang Belanda. Dengan membusungkan dada—begitulah mestinya menurut Simun—aku terus saja ke depan pura-pura tak melihat nyonya besar itu. Tiba-Tiba sebuah tangan yang kasar merenggutkan tanganku dengan kuat, nyari's aku terbalik. Dengan jengkel kulihat orang itu, seorang opas kantor konteler.
—Tak kau lihat siapa di depanmu itu?—katanya hampir berteriak.
—Hidung berjalan—yawabku nekat.—Kurang ajar—balasnya lebih keras dan kemudian suaranya merendah ketika nyonya itu melintas—maafkan nyonya besar, anak ini terlalu kurang ajar—katanya. Tapi nyonya itu lewat saja, menoleh pun ia tidak. Opas itu merah mukanya.
—Kentut pun dia tidak—ejek sebuah suara. Opas itu memalingkan mukanya dengan marah, tapi tak diketahuin ya siapa yang punya mulut berandal itu. Kutariikkan tangan-ku hingga lepas dan setelah berantara agak jauh kuejek dia:—tabek opas budak, besok tuan besar kasi persen cerutu—kataku sambil berjalan mundur. Ia hendak memburu, tapi seorang penjaja kain tilam menarikkan tangannya—biarkan saja anak tolol itu—katanya.—Akan kuhajar ayahnya——Aku kenal ayahnya yang membunuh tuan besar afdeling B—Opas itu tertegun, ngeri agaknya, lalu pergi setelah meludah. Penjaja kain tilam itu melambaiku.—Orang begitu tak perlu terlampau kau ejek—katanya setelah aku mendekat.—Habis, menjilatnya keterlaluan—jawabku. Penjaja kain tilam itu tersenyum. Kutinggalkan penjaja itu dan bermaksud pulang kebengkel. Baru saja aku hendak melangkah, dari sebelah hilir jalan besar keluar kota, muncul serombongan serdadu dan polisi dengan senapan dan pedang telanjang menggiring seorang tangkapan. Di belakang mereka seorang administratur perkebunan dan bawahannya. Rombongan itu makin dekat. Aku tekejut, kukenal orang yang digiring itu dan hampir aku menjeritkan namanya, Jamat. Aku memburu ke arah serdadu-serdadu itu. Benar, si akar baharlah orang itu, tangan dan kakinya dirantai. Orang-Orang berkeluaran dari kedai-kedai dan berje-jal ke tepi jalan, seolah-olah yang lewat itu seorang pembesar.—Tukang bakar bangsal—ujar seorang centeng yang turut dalam rombongan itu pada seorang kenalan yang menonton di-tepi jalan. Jadi dialah yang membakarnya, kataku dalam hati. Seperti anak-anak lainnya aku berlari-lari mengikuti gerombolan serdadu-serdadu itu. Kulihat si akar bahar melangkah dengan tenang dengan kepala tegak. Rantai kakinya bertaut dengan borgol tangannya. Kumisnya yang tebal dan hitam itu mendungak dan tetap lengkung.
—Hei Kumis!—teriak seorang penon-ton, kukenal orangnya penagih cukai pasar yang selalu meminta bayaran lebih pada petani-petani yang membawa hasil buminya ke pasar—kenapa kau bakar bangsal itu!—sambunganya.
—Dia kehabisan rokok!—balas yang lain, orang-orang ketawa. Muka si akar bahar menjadi merah, ia menahan berangnya. Tapi orang itu mengulangi lagi ejekan itu. Si akar bahar tertegun dan menantang orang itu, ia membalas dengan suara yang nyaring:—supaya kamu merdeka dan tidak terus saja menjadi monyet!—katanya.
—Sunat aku tiga kali lagi kalau kamu bisa—balas seorang gendut berteluk belanga hijau tua.
—Betul tengku—sambut pengiringnya—patik potong leher patik kalau kontrak-kontrak itu menjadi raja—katanya mengatasi suara tuannya.
—Kemerdekaan memang bukan untuk orang-orang yang mau tetap menjadi budak seperti kalian—jawab si akar bahar sambil berdiri menghadapkan ucapan nyia itu pada si bangsawan dan pengiringnya yang menge- lompok terpisah di tepi jalan. Tapi sebelum ia sempat meneruskan perkataannya, ia telah didorong dengan tunjangan lutut seorang serdadu. Ia tersungkur, hidung dan mulut- nya berdarah. Kumisnya yang hitam dan ba- gus itu bergelumang darah dan abu. Tapi ia tegak kembali dengan cepat. Gerombolan tengku berbaju hijau itu ketawa riuh.—Hei kumismu terbakar!—teriak seorang di antara mereka.
—Bukan kumisku, tapi jantung tuanmu dan jantung Belanda yang terbakar, feodal budak!—balas si akar bahar.
—Diam bandit! Kalau omong lagi ku- hantam kepalamu dengan gagang senapan ini—hardik sersan yang menggiringnya. Si akar bahar membalik, berdiri menghadang- kan badannya, mengangkat kepalanya de- ngan mata membelaalak:—Hantamlah di- mana kau mau, supaya anjing itu mengerti—katanya sambil menunjuk dengan kedua tangannya yang diborgol ke arah gerombolan orang-orang bangsawan itu—bahwa orang-orang Ko- munis tidak perlu takut pada siapa pun, ju- ga tidak pada pukulanmu—
Sersan itu tersengak, mungkin tak didu- ganya si akar bahar seberani itu.—Sudah, jangan banyak omong, jalan!—hardiknya dan membentak pula orang-orang yang berdiri di- tepi jalan.—Orang ini‘ akan berpidato te- rus kalau kamu ganggu dan akan memaki- maki sri ratu—katanya. Si akar bahar menyapu darah dari mulutnya dengan menggirisarkan lengan bajunya. Aku berlari kedepannya. Ia telah melihatku dan menatap tenang. Tapi ketika diketahuinyia aku masih saja mengikutinya, ia membelalang, tampaknya ia marah. Tak tau aku apa maunya. Ketika akan membelok di sebuah persimpangan, ia membelalangi aku kembali dan menyergah gerombolan anak-anak yang bertambah ramai mengikuti.
—Anak-Anak monyet, pulanglah! Perlu apa kalian tontoni aku!—katanya. Aku jadi mengerti, akulah yang disuruhnya pulang. Tentulah maksudnya supaya aku segera memberi tau pada Simun. Aku tak mengikutinya lagi dan lari kebengkel.
Ketika aku sampai, bengkel telah ditutup. Kudorong pintu dan menyerbu masuk. Ku-dapati Simun dan tiga orang lainnya duduk melingkari meja. Selain Simun, yang tiga lagi hanya dua orang yang kukenal, mandor pendek bedegap itu dan guru sekolah desa. Yang seorang lagi mungkin orang dari jauh.
—Jamat...—kataku, tapi sebelum aku meneruskan Simun telah memotong—kami sudah tau—katanya tenang—pergilah keluar, lakukan tugasmu yang biasa—
Aku kembali keluar dan duduk di atas sebatang pohon sena yang rebah dan memperhatikan setiap orang yang lewat. Seperempat jam kemudian tamu-tamu Simun keluar dan per- gi menuju arah yang berbeda-beda. Simun melambaiku. Aneh, ia kelihatan tenang saja, seolah-olah tak ada kejadian dan ba-haya yang sedang mengancam. Ia menukar pakaiaannya. Kemudian mengambil kaca dan pisau cukur.—Tolong ambilkan sabun dan air—katanya.
—Kita terpaksa berpisah sekarang—ujarnya sambil menyapukan busa sabun pada jambangnyya yang lebat itu—kau mengerti bukan?—
—Ya pak—jawabku pelan. Ia meneruskan mencukur, sebelah pipinya berangsur gundul.
—Bagaimana tadi kau lihat Jamat?—
—Hebat pak, sedikit pun tak kelihatan ia gentar—jawabku, kuceritakan semua yang kulihat.
—Begitulah mestinya seorang pejuang. Jamat telah memberikan teladan yang baik—
—Jadi memang dia yang membakar bangsal-bangsal tembakau itu—
—Bukan hanya dia, tapi kita—
—Kita?—
—Ya, kita—jawab Simun menekankan—semua kawan-kawan kita, termasuk kau ju-ga—
—Aku juga?—
—Tentu, kau juga turut. Bukankah kau ikut membantu kami? Yang terpenting kau telah memegang teguh kepercaan kami. Ka- rena kau juga turut membantu, “keranjang-keranjang arang” itu berhasil kita musnahkan. Tapi itu belum apa-apa, masih banyak pekeryaan kita yang lebih besar dari itu—
—Ah, bangsal-bangsal itu rupanya yang kalian maksudkan dengan “keranjang arang” dan ”panen” dengan membabat rambung-rambung muda—kataku ketawa. Ia ikut juga ketawa.—
Nah, kau sudah mengerti sendiri jadinya—yawabnya. Ia selesai mencukur jam-bangnya, licin dan bersih, kelihatan ia lebih muda dan tampam.
—Nah, katanya kemudian dan berdiri—aku tak bisa lama-lama lagi. Kau pun tentu tak setuju kalau anjing-anjing itu datang dan menangkapku. Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi. Tapi siapa tau sekarang, begitu pun kita boleh mengharapkannya. Aku ingin sekali untuk tetap membantumu, sayang keadaan terburu menjadi genting—
—Apakah semua kawan-kawan berangkat bersama bapak?—tanyaku sambil membantu dia mengemasi pakaianiya ke dalam koper.
—Sebagian besar kawan-kawan telah dalam penjara. Bukan hanya di sini, juga dibberapa tempat lainnya. Rahasia kita telah bocor, kita kemasukan cecunguk dan mengkianati kita—
—Jadi tak ada yang tinggal di sini?—
—Sementara tidak. Tapi itu tak boleh kau katakan pada siapa pun. Tapi itu hanya untuk sementara, mungkin untuk masa yang panjang, tapi bukan tak mungkin pula bisa lebih cepat. Tapi kau ingatlah itu, hanya untuk sementara—diulanginya lebih keras, seolah-olah ia bicara tidak hanya padaku.—Kelak tentu akan ada yang datang kembali. Bila bukan dari tempat lain, tentu akan lahir dari tempat ini sendiri. Ya—katanya lagi—sekarang kita terpukul, itu bisa saja. Setiap kali musuh boleh memukul kita, tapi tidak untuk selamanya. Kita pun akan membalas memukul. Pukulan kita yang terakhir adalah pukulan paling keras, pukulan yang menentukan dan mematikan—Ia merenung seketika, meremas-remas tangannya, seperti biasa bila ada sesuatu yang menyakitkan hatinya.
—Kau harus mencari kawan-kawan itu di mana dan pabila saja kau dengar. Bergabunglah dengan mereka, berikan bantuan seperti kau membantuku. Kau akan menjadi lebih dewasa dan mereka pun akan membantu dengan lebih baik—
—Ya pak—jawabku terharu.—Sampaikan salamku pada ibumu—Aku mengangguk mengiyakan.—Yakinkah kau bahwa kami akan membebaskan ayahmu?——Kenapa tidak? Ayahku hanya satu di antara yang berjuta-juta. Ia akan bebas bersama yang lain. Mungkin tidak akan dialaminya sendiri, tapi apa pula bedanya dia dengan orang lain?—
—Bagus jawabanmu. Itulah yang membikin aku senang padamu. Ingatanmu tajam dan mudah memahamkan pelajaran yang kuberikan. Ya, begitulah akir perjuangan ini, dan tak akan termungkiri, kemenangan proletariat yang akan mengatasi segala kemenangan yang akan datang—
Ia mengeluarkan arloji dari sakunya. Sebentar motor kebun akan datang. Tau kau apa yang mesti kau perbuat bila anjing-anjing itu datang?—
—Membisu—jawabku.
Ia mengangguk dan tersenyum. Sejurus aku teringat kembali uang penjualan parang yang masih berada disakuku. Simuntentu memerlukan uang itu, pikirku. Tapi ditolaknya.—Ambillah buat kau—katanya.
—Bagaimana bengkel ini?—tanyaku.
—Mereka tentu akan merampasnya—
Di luar terdengar deru mobil. Mesinnya tak dimatikan. Supir menjulurkan kepalanya dan memberi isarat supaya cepat. Setelah memelukku, dijinjingnya kopernya dan lari kemobil itu. Kuantarkan dia sampai ia duduk di samping supir. Oto itu bergerak, meluncur kencang dan lenyap. Lama juga aku tercagak di tepi jalan itu. Anehnya airmataku menggenang setelah dia tak ada lagi, mungkin karena perpisahan yang tiba-tiba dan tak diduga itu. Kusapu airmata itu dan teringatlah aku pada ucapan ny ketika pertama kali aku meminta pekerjaaan padanya: Ke- napa kau begitu cengeng?—Kuulang kembali kalimat itu dan tersenyum sendiri...
III
SETELAH Simun pergi aku tak mencari pekerjaan lain. Aku membantu ibuku mengerjakan ladang yang kami sewa dari seorang tuantanah. Sekali-Sekali aku kekota dan keperkampungan buruh. Tak selenting kabar pun yang kudengar tentang datangnya “seorang kawan” dan kegiatan-kegiatan baru. Kuusahakan juga mencari supir yang membawa Simun hari itu, ternyata supir itu pun turut menyingkir dengan Simun. Surat dari Simun pun tak pernah datang. Timbul‘ dugaanku kalau-kalau dia tertangkap juga di tempat lain. Juga kawan-kawan lain tak terdengar beritanya. Tak tau aku entah di penjara mana si’ akar bahar dihukum, juga yang lain-lainnya, mandor bedegap dan guru sekolah itu seolah lenyap ditelan bumi. Benarlah kata Simun, tak seorang kawan pun lagi yang tinggal.
Tapi beberapa bulan kemudian kudengar kabar tentang pemberontakan di pulau Java. Mungkinkah mereka di sana semua dan bertempur? Aku menduga-duga sendiri.
Di kota dan di mana-mana, kabar tentang pemberontakan itu menjadi pembicaraan. Tapi tak ada yang berani terang-terangan menyata- kan persetujuan dan menyokong pemberontakan itu.
Kamar bola di kota adalah tempat yang paling sering kudatangi. Di tempat itu selalu berkumpul pegawai-pegawai pemerintah, Meskipun mereka mengutuk dan mengejek pemberontakan, tapi dari mereka itu banyak pula yang kuketahui tentang pemberontakan itu. Jaksa, si pencandu bolasodok adalah pembual yang paling besar mulut di antara semua. Ocehan-Ocehannya sangat menghina dan menyakitkan hati. Dia akan menelan bola-bola sodok itu bila pemberontak menang, katanya.
—Di sini tidak akan terjadi apa-apa—katanya—jangankan memberontak, melihat hidungku saja komunis-komunis matakayu itu akan gemetar minta am pun—
Ulyapan jaksa itu mendenging ditelingaku. Suaranya yang angkuh dan sombong itu menyisip ke dalam hatiku. Tapi itu bukan suaranya sendiri tentunya. Suara budak biasanya adalah juga suara tuannya, Meskipun budak-budak kadang-kadang suaranya lebih lengking dan kosong dari yang dipertuannya.
Dan ketika kabar terakhir sampai, pemberontakan telah patah dan dipukul, budak-budak di kamar bola menepuk-nepuk dadanya, seolah-seolah tangan mereka sendirilah yang berlumur darah memukul pemberontakan itu. Alangkah jijik dan memualkan lagi ketika jaksa itu dengan pongahnya mentraktir kawan-kawannya sesama budak sampai mabuk dan menyerukan berulang-ulang:—Panjanglah umur sri ratu!—
Tapi ketika tersiar lagi berita bahwa pemberontakan telah dilanjutkan di Sumatera Barat, budak-budak itu menjadi murung, semurung tuannya. Dan akulah yang menjadi berteriak girang dalam hati:—Hiduplah pemberontakan! Mampuslah sri ratu!
Kutinggalkan kamarbola itu dengan langkah yang ringan. Hatiku girang sekali dan diliputi harapan-harapan baru. Tapi apakah yang dapat kulakukan, pikirku. Bukan tak mungkin pemberontakan akan menjalar pula sampai ke Sumatera Timur. Mana tau persiapan sedang dilakukan dengan diam-diam. Apa yang bisa kulakukan? Aku teringat ucapan jaksa yang sombong itu pada beberapa hari yang lalu sebelum pemberontakan meletus di Sumatera Barat.—Di sini kita tak perlu kuatir, sejak lama mereka telah kita sapu bersih, tak seorang pun yang bersisa—kata-nya.
Ada benarnya ocehan jaksa itu, tapi bisakah selamanya demikian? Dan kawan-kawan belum ada tanda-tandanya akan datang.
—Mesti, mestilah ada yang kulakukan—aku merangsang diriku sendiri—bila pemberontakan sampai kemari kawan-kawan itu akan tau, bahwa di sini pun telah ada “kawan Komunis”.
Tapi siapakah yang mesti kuajak bicara.
Adakah yang bisa mempercayai omonganku?
Kuhitung-hitung umurku, ah, tidaklah terlalu kanak-kanak lagi dan tidak sebodoh dulu. Lalu teringatlah aku kembali pada apa yang pernah dikatakan Simun:—mereka akan datang dari tempat lain, atau lahir di tempat ini sendiri—
—Lahir di tempat ini sendiri, lahir sendiri—ulangku berkali-kali. Semalam suntuk kupikirkan itu.
Akirnya kuperoleh juga putusan dan penetapan sendiri. Musuh tidak boleh dibiar-kan aman. Mereka tak boleh yakin bahwa tak seorang Komunis pun lagi yang tinggal. Mereka mesti digoncang dan dihajar dan harus mengerti bahwa Komunis tidak akan terbasmi oleh kekuatan mana pun. Komunis akan tetap ada dan akan terus ada. Pemberontakannya bisa saja kalah, tapi bukan untuk seterusnya:
—Akulah yang lahir Simun, seperti yang kau ramalkan. Akulah Komunis itu Meskipun masih sebatang kara. Tapi, seperti kau aku pun akan mengatakan, hanya untuk sementara. Kelak bersama yang lain dari seluruh negeri kita, kita kan datang kembali bagai topan yang besar bergelombang—kataku seolah-olah Simun, guruku itu, berada didepanku.
Esok malamnya kubuktikan kerjaku yang pertama, kuulangi kembali apa yang pernah dilakukan oleh si akar bahar dan kawan-kawan lainnya, membakar bangsal tembakau. Dan tak jauh dari bangsal itu, pada sebatang pohon jati kupakukan sekeping papan dengan tulisan: Komunis.
Betapa gembira dan leganya aku, ketika besok siangnya, mereka menjadi gempar dan kacau. Beberapa truk polisi dan serdadu didatangkan dan entah berapa pula jumlahnya mata-mata yang disebarikan. Mereka lakukan penggeledahan besar-besaran ke-pondok-pondok kaum buruh dan ke-kampung-kampung.
—Tapi tangkaplah, siapa yang bisa kalian tangkap. Namun Komunis tidak akan musnah dan kalah—kataku sendiri……
Jakarta, 1961
RAPAT YANG PENGHABISAN
BELUM LAGI matahari sempat terbenam, deretan toko disalahsatu jalan yang ramai di Padang Panjang sudah ditutup dan lampu yang sudah terpasang waktu senja demikian menyinarkan cahaya yang sedih dan suram.
Ketika Udin sampai di depan sebuah pintu toko hari sudah malam. Ada beberapa saat dia meneliti sekitarnya dengan matanya yang tajam dan berpengalaman itu. Tak ada orang yang membuntutinya. Hanya di ujung jalan tampak seorang serdadu jaga sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. “Salmiah, kau telah melakukan tugasmu dengan baik”, katanya dalam hati ketika dia dengan ceapat menyeberangi jalan. Dari balik pintu terdengar jamdinding berdentang tujuh kali. Kemudian hati-hati dan pelan-pelan dia mengetuk pintu menurut isarat yang telah ditentukan. Didengarnya seret langkah yang telah sangat dikenalnya dan Upik Bisu, seorang perempuan setengah muda, membuka pintu cepat-cepat, tersenyum dengan matanya yang ramah dan menelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa pertemuan akan berlangsung dikamartengah. Dia menjulurkan tiga jari kanannya dan tahulah Udin bahwa tiga orang kawan telah menunggunya. Digenggamnya tangan Upik erat-erat-erat-erat sebagai orang yang telah lama tak berjumpa. Dan memang telah lama keduanya tak berjumpa, sejak situasi menjadi sangat panas dan dia sibuk dengan pekerjaannya. Barangkali rapat ini rapat yang terakhir dan siapa tahu inilah saat yang penghabisan dia bisa melihat Upik Bisu, seorang kurir istimewa yang telah berkali-kali menelan surat-surat rahasia tapi dengan berhasil menuliskan kembali pesan-pesan dan perintah-perintah yang dibawanya dalam surat itu. Apakah yang tidak mereka perbuat terhadap wanita sederhana ini, ketika kata-kata sudah tidak lagi dibutuhkan? Demang, Asisten Residen, PID dan Komisaris Belanda yang mencoba memeriksanya hanya berbuat sia-sia dan melepaskeannya kembali. Seorang cantik yang bisu, dua hal yang menguntungkan dia untuk melakukan tugas-tugasnya. Kecantikan yang menggoda dan kebisuan yang gelap hanyalah riak dipermukaan air bagi mereka yang tak menganalnya, pikir Udin. Tapi hatinya yang lebih dalam daripada laut, kesetiaannya kepada peryuangan, takkan terselami oleh musuh-musuh Rakyat.
Bangga Udin berjalan di samping Upik Bisu di lorong antara deretan kamar. Tiba-Tiba perempuan itu menangis dengan suaranya yang menyayat dan menelungkupkan muka-nya ke dinding. Udin mengusap-usap kepala-nya seperti dia mengusap kepala anaknya yang kini berusia tigabelas tahun itu yang menangis karena dimarahi ibunya. Ah, sudah berapa lama dia tak melihat anaknya. Seperti tidak berhadapan dengan seorang yang bisu dia berkata:
“Pemberontakan kita gagal, Upik. Tapi jangan menangis, sebab kita takkan pernah dikalahkan”. Dan seolah-olah kalimat itu mengandung arus listrik, perempuan itu tiba-tiba memalingkan mukanya yang basah. Matanya penuh dendam kemarahan dan dia mengepal-kan tinjunya keras-keras. Upik menggerakkan jari telunjuknya dan membengkok-bengkokkannya.
“Tidak, Upik, kau jangan bawa senjata lagi. Siapa yang mau kau tembak sekarang. Lebih seribu serdadu Belanda kini berkumpul di Padang Panjang ini. Kawan-Kawan hampir habis tertangkap. Musuh terlalu banyak dan peluru cuma sedikit. Siapa yang akan kau tembak? Kau hanya akan bunuhdiri saja.”
Upik mencoba menahan diri dari rontaan-rontaan dalam hatinya.
“Berilah browningmu padaku. Ini perintah Partai”. Dari balik bajukurungnya Upik menge- luarkan sepucuk brownig kecil-mungil dan meletakkannya dengan berat ketelapak ta- ngan Udin. “Yang terpenting sekarang adalah menyelamakkan dirimu dulu sambil menunggu tu- gas baru”. Upik mendongakkan kepalanya dengan penuh harapan. “Kau sudah jumpa Amir?” Upik meng- geleng sedih. “Tidak benar dia tertangkap, Upik. Dia licin seperti belut dan dapat lolos. Berbahagialah kau. Kini dia selamat ber- sembunyi di Medan”. Gelisah Upik memain- kan ujung tocangnya. “Sementara ini kau tinggal di rumah ibuku dan tiga-empat hari lagi seorang kawan akan mengantarkanmu ke Medan. Kawan-Kawan di sana akan mengurus perjalanamu keluarnegeri”. Kerinduan dan kesedihan bergumul dalam diri Upik. Dia akan bertemu kembali dengan Amir yang dicintainya. Dia tidak mati, dia tidak mati, katanya dalam hati. Tapi sebagai gadis yatimpiatu dalam perjuangan yang disertainya ada kesedihan yang berat untuk meninggalkan Udin, seorang yang lebih daripada ayah dan saudara baginya. Ada yang kosong dalam hatinya sekarang, seakan-akan inilah saat yang terakhir antara mereka. Gerak yang bisu hanya memungkinkan dia meng- usap-usap lengan Udin dengan penuh kasih dan menunjuk-nunjuk dada Udin seperti berkata: “Jagalah dirimu, berjagajagalah”. “Upik, kau harus berangkat sekarang, jangan sampai terlalu larut di jalan”. Sekali lagi keduanya bersalaman erat-erat-erat-erat. Bergegas-Bergegas dia menuju ke pintu, keadaan tidak memungkinkan dia untuk menangis. Ketika dia sekali lagi berpaling untuk pandangan selamattinggal, Udin melambaikan tangan-nya: “Selamat jadi penganten baru...........”
MEREKA DUDUK berempat mengelilingi sebuah meja kecil diterangi lampu-gantung. Bahtiar mengeluarkan notes, kata-nya: “Kami kira kau takkan bisa datang, Din”. “Dengan bantuan Haji Leman aku tiba dari luarkota dan bersembunyi ditokonya dekat sini”. Di bawah bayangan lampu itu muka Udin nampak tambah kurus dan cekung. Bermalam-malam ia hampir tak tidur sama-sekali. Dia seperti tak kenal istirahat tapi juga tak kenal lelah. Dia mengurus pembelian senjata dari seorang insinyur Jer-man, dia membagi-baginya dengan hati-hati dan teliti, kemudian ketika pemberontakan ini hampir padam, dia sibuk mencari uang dan mengatur segala sesuatu agar kawan-kawannya sempat melarikan diri. Adakah sudah setengah bulan ini dia tak bertemu dengan isterinya? Tak dapat dia memastikannya. Barangkali ada lima kali dia sempat menciurn kedua anaknya selama dalam enam bulan ini.
“Aku harus mengambil jalan keliling untuk sampai kesini”, kata Salim mendengus dan menggulung rokok-nipahnya, “serdadu-serdadu jahanam itu baru saja meninggalkan penjagaannya di ujung toko sana dan mengejar-ngejar perempuan”. Bahtiar membalik-balik notesnya dan suasana tiba-tiba menjadi tegang ketika dia membacakan 97 nama mereka yang tertangkap selama minggu ini.
“Tadi pagi saja atas petunjuk orang-orang Serikat Hijau telah tertangkap Karim, Abidin, Ahmad, Dulah, Rasidin, si Patai.....”
“Si Patai!” Udin hampir berteriak mengulangi nama itu karena tak percaya.
“Ya, si Patai. Ditangkap dan ditembak ketika itu juga”.
“Kita kehilangan seorang jago pencak pemberani yang setia”, Udin berkata pelan, “lima pisau baginya belum apa-apa”.
“Ya, orang kampung selalu menyembunyi-kan si Patai. Tapi di luar keputusan kita dia masuk kota lagi untuk membalas dendam. Lima serdadu dan dua orang Belanda sudah ‘merantau’ dibuatnya, siapa tahu di mana kuburnya. Tentu dia sekarang puas”.
“Kita kehilangan dia”, Udin menghentam tangannya kemeja dengan geram dan kesal,
“dan kita akan kehilangan lebih banyak lagi kalau gerakan-gerakan dijalankan sebelum dirundingkan”.“
“Udin! Bagaimana kau ini!” Kasim yang sejak tadi diam saja berkata tajam, “siapa bisa tahan melihat Komunis Buyung dikat lehernya dan diseret sampai mati sepanjang jalan oleh serdadu-serdadu Belanda itu? Dagingnya masih lengket di jalan-jalan, Udin. Siapa yang masih bisa membiarkan kebiadapan seperti ini?” Dia berdiri gelisah dan berjalan mondar-mandir di kamar itu.
“Kawan-Kawan”, Udin mengetok meja dengan buku-jarinya, “marilah kita mulai rapat kita ini”. Kasim menghenyakkan dirinya dikorsi, Bahtiar dan Salim membetulkan duduknya. Suasana tegang mereda dan ajakan memulai rapat itu terasa seperti sehembus angin sejuk yang segar masuk dari jendela ke dalam kamar yang panas pengap. Udin meminta laporan atas tugas-tugas yang telah mereka jalankan, kemudian pendiskusian atas laporan keadaan yang terakhir.
Pemberontakan telah berjalan 21 hari dan pertempuran-pertempuran sengit terjadi berhari-hari. Serdadu-Serdadu Belanda melakukan penyembelihan besar-besaran di Silungkang, pahlawan pemberani si Manggubung yang disayangi Rakyat sudah mati digantung, ribuan Rakyat kini ditahan di dalam sekolah-sekolah yang dijadi-kan kamp tawanan dan di balik dinding-dinding se- kolah itu siksaan-siksaan yang paling buas sedang dijalankan sampai saat ini.
“Menurut pikiran saya kawan Udin harus segera melarikan diri keluarnegeri, jalan untuk itu sekarang sedang terbuka luas”, kata Salim.
“Benar”, Bahtiar terbatuk-batuk, sudah dua hari ini dia diserang demam, “dengan begitu dalam masa surut kita bisa mengumpulkan kekuatan baru”.
“Tidak, apa kalian tidak ingat desas-desus yang disebar-sebarkan Serikat Hijau?” Kasim membantah, “mereka dengan tidak tahu malu menyebarkan pitnah busuk. Huh, mengaku apa tidak kalian? Bodoh, ikut Komunis! Sekarang rasakan cambuk dan ganggang senapang dipunggungmu, sedang si Udin, pemimpin Komunis itu sudah kawin tiga dengan perempuan dari Moskow”.
“Bedebah! Adakah cara yang lebih kotor dari pembicaraan seperti ini? !”
“Ya, tapi desas-desus itu sudah dengan sengaja disebarakan dan menjadi kenyataan. Dia meracuni semangat orang-orang yang disiksa”.
“Memang, mengapa mereka segan menye-barkan desas-desus. Teror yang kejam dan begitu buas sudah mereka lakukan, tidak perduli anak-anak. Bukankah pajak yang menindas Rakyat kita itu sudah semacam teror? Pemberontakan tahun 1908 di Kamang dalam melawan pajak sudah menunjukkan bahwa Rakyat tidak akan tinggal diam. Rakyat di pihak kita, karena kita benar“. Di mata Udin terbayang wajah Effendi, seorang pelajar Islam dari Tawalib yang menjadi Komunis. Di Balairungsari Demang sedang mengadakan rapat. Effendi lewat di tempat itu dengan pakai jas, dalam kebanggaannya dia pakai dasi merah. Demang memerintahkan menangkapnya dan lima orang Serikat Hijau menggeretnya kesuatu tempat, memukul mukanya yang manis itu sampai hancur. Ketika itu juga Udin dalam sidang memutuskan agar pembalasan dijalankan. Hanya tiga hari. Kelima-lima orang teroris itu kemudian ”merantau“.
“Rakyat bersama kita, kawan-kawan”, kata Udin dengan tenang, “kalau tidak, sudah lama saya tertangkap. Merekalah yang melindungi saya sehingga terhindar dari penangkapan-penangkapan. Itu satu-satunya yang dapat mereka perbuat sekarang ini, dalam keadaan pemberontakan kita sudah gagal”. Kemudian seperti guruh disianghari dengan suara yang tetap Udin berkata:
“Kawan-Kawan, saya minta kebulatan kita semua dalam mengambil putusan atas usul-usul saya ini. Saya akan membantu kalian yang mau melarikan diri. Tapi harus ada yang tinggal. Dan saya akan tinggal di sini untuk menyelamatkan apa yang dapat diselamatkan”.
“Tidak”, kata Bahtiar, “saya tinggal”. “Saya tidak akan pergi”, kata Kasim.
Hanya Salim yang masih terdiam. Ketiga mereka seperti bergantung dibibirnya, menunggu sikapnya yang tegas, Meskipun mereka sudah menduga-duga. Dengan suara berat Salim berkata: “Saya keluar negeri”. “Baik, saya akan buatkan surat yang harus kaubawa kepada nakoda Ahmad di Pakan Baru. Kau juga harus membawa surat-surat lain untuk kawan-kawan yang dapat membantumu”, Udin berkata tegas, “kemudian kawan-kawan, putusan yang terpenting yang harus kita ambil dalam waktu singkat ini ialah bahwa kita harus membela yang sudah ditangkap. Sebar-kan di kalangan mereka supaya mengakui segala yang mereka lakukan itu atas perintah saya”. Bahtiar batuk-batuk lagi, dengan sukar dia memotong; “Apa maksudmu?” “Kawan-Kawan, Belanda setengahmati mencari-cari saya. Saya tak bisa tahan lagi melihat mereka disiksa. Bagaimanapun juga pitnah terhadap saya untuk merusak kecintaan Rakyat terhadap Partai kita, tidak boleh kita abaikan. Dari dua segi inilah saya hanya melihat jalan satu-satunya tidak lain bahwa saya tidak akan menyembunyikan diri lagi untuk mengelakkan penangkapan. Semoga Partai kita kekal di hati Rakyat, semoga para kader Partai kita, kawan-kawan Komunis dan patriot-patriot yang kini ditahan itu bebas dari siksaan-siksaan kejam. Bagaimana? Saya minta persetuju- an kawan-kawan, karena hanya inilah jalaninya...“ Tidak ada jawapan. ”Bagaimana? Berilah putusan“. Tidak ada jawapan. Hening yang tak terkatakan merasuk ke seluruh kamar. Di-bawah cahaya lampugantung itu Bahtiar, Kasim dan Salim tampaknya seperti patung batu yang sedang menundukkan kepala. ”Kawan-Kawan, katakanlah. Tidak ada jalan lain, tapi berilah putusan“. Lama tidak ada jawapan. Tiba-Tiba Bahtiar berdiri, matanya basah. Dia ingin mengucap-kan sesuatu tapi kerongkongannya tersekat. Melihat Bahtiar berdiri seperti ditarik magnet semua berdiri. Dengan susahpayah Bahtiar keluar dari korsinya, dirangkul dan dipeluk-nya Udin erat-erat-erat-erat. Salim mencium Udin tak lepas-lepas, sedang Kasim memeluknya pula dari belakang. ”Ah, rapat kita belum selesai, mengapa kita sudah mengambil perpisahan“, Udin berkata serak dan duduk kembali. ”Kalau kau ditangkap, kau akan dibuang“, kata Salim. ”Kawan-Kawan di Jawa sudah lebih dulu dibuang daripada saya“. Udin berkata tenang-tenang. ”Ingatlah Siberia. Di sana kaum Komunis banyak mati dimakan beruang, tapi Repolusi Oktober telah mengalahkan tsar untuk selama-lamanya“. ”Kau optimis akan bisa kembali, Udin?“ tanya Kasim.
“Kembali atau tidak, tapi kita takkan terkalahkan. Rakyat akan bangkit lagi suatu waktu. Adakah kita sudah berhenti sejak pemberontakan di Kamang itu dapat dipadamkan? Kekuatan kita seperti bara di dalam sekam. Kawan-Kawan, jangan beritahukan hal ini dulu kepada Upik Bisu, sebab dia bisa tidak menahan diri untuk mengambil suatu tindakan. Dia harus selamat sampai di Medan. Mari kita sama-sama merasakan berbahagia atas perkawinannya dengan Amir”.
“Ya, usaha menyelamatkannya sudah menjadi keputusan kita memang”, kata Bahtiar.
“Dalam beberapa hari ini saya masih akan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan lain dan saya akan menemui isteri dan anak-anak saya di rumah mer-tua saya. Pada hari ketujuh, jadi hari Rabu yang akan datang, saya akan pulang ke rumah saya menunggu apa yang terjadi. Sehari sebelumnya kawan-kawan harus membuat sepucuk suratkaleng kepada Sutan Sahar di kampung Kuto Lawas, bahwa saya sedang ada di rumah. Nah, tidak ada soal-soal lain? Berbahaya kalau kita lebih lama di sini. Ka-wan-wan, saya kira inilah rapat kita yang pengabisan yang bisa saya hadiri. Selamat berju-ang. Rapat saya tutup”.
Sekali lagi mereka berpelukan dan bersalaman, kemudian satu-satu meninggalkan ruangan. Ketika akan pergi Bahtiar mengeluarkan secarik kertas kecil dari sakunya.
“Dua hari yang lalu aku singgah menemui isterimu. Dia titipkan surat ini untukmu”: “Hati-hati, Tiar, jangan sampai kau tertangkap”. Sendiri Udin di kamar rapat itu untuk beberapa saat. Dibacanya surat isterinya. Tampaknya ditulis buru-buru:
Uda¹ tercinta,
Kedua anak-anak kita sangat betah tinggal di rumah neneknyia. Kami semua sehat-sehat dan sering teringat kepadamu. Gadiskecilmu Samsiah selalu menanyan kan bapaknya. Tapi kakeknya senantiasa menerangkan kepadanya, bahwa uda mengikuti jejak nenekmoyang melawan Belanda penjajah. Uda, jangan risaukan kami, tapi jaga dirimu supaya tetap sehat dan lakukanlah apa yang uda anggap baik dengan tetap hati. Cium anak-anak kepadamu dan tertompang salam kepada uda dari bunda kita.
Adinda: Aminah.
Dengan langkah berat dan rindu kepada anak-isteri yang berkecamuk dalam dadanya, Udin meninggalkan ruangan itu. Adakah kami saling kehilangan? Anak dan isteri kehilangan aku atau aku kehilangan mereka?
Kawan-Kawan kehilangan aku atau aku kehilangan kawan-kawan? Ah, pikirnya, siapakah sebenarnya yang kehilangan dalam samudra perjuangan ini? Seperti kilat membelah malam ingat-annya menyambar kalimat-kalimat Marx yang tak dapat dilupakannya: “Biarkanlah klas-klas yang berkuasa gemetar menghadapi repolusi Komunis. Kaum proletar tidak akan kehilangan suatu apa pun kecuali belenggu mereka. Mereka akan menguasai dunia”.
Kesegaran menjalari tubuhnya. Di luar malam penuh bintang-bintang gemerlapan. Segera dia bergegas-gegas menjauhkan diri dari jalanraya itu…..
ENAM BULAN kemudian, di sebuah rumahbesar di kampung Kuto Lawas Sutan Sahar mengadakan pesta meriah. Kepada para tamu dan ninikmamak yang dihormatinya dia membual tentang jasa-jasanya sebagai pemimpin Serikat Hijau dalam membasmi Komunis.
“Kepada tuan Asisten Residen sudah saya katakan, bahwa saya sanggup menangkap pemimpin Komunis Udin hidup-hidup. Dia teman saya sepermainan waktu kecil di kampung ini. Karena itu waktu saya tahu dia pulang, sesudah banyak perangkap saya pasang supaya dia pulang, segera saya kirim utusan kepa- danya supaya dia datang menyerah. Tapi kepada utusan saya dijawapnya bahwa dia tidak bersedia menerima utusan siapa pun. Saya telah memberitahukan tuan Asisten Residen sebelumnya supaya jangan dikirim serdadu-serdadu untuk menangkapnya, sebab kalau itu terjadi Rakyat akan mengamuk. Saya sanggup, mau apa lagi“.
“Jadi bagaimana angku Sutan menangkapnya?” tanya Mantri Belasting yang duduk di depannya sambil menghirup kopi.
“Ha, di situlah kekuatan saya”, kata Sutan Sahar sambil membuka kancing jas. Bermula Mantri Belasting di depannya itu mengira Sutan Sahar akan mengeluarkan senjata api atau keris keramat. Tapi rupanya Sutan Sahar hanya merasa perutnya kepanasan, katanya: “Bukan main udara sekarang ini, panas benar. Jadi saya hanya datang dengan dua orang polisi lalu membanwanya pergi kebalairungsari. Di situ........, amboi, di situ sudah menanti pula tuan Asisten Residen, Komisaris Polisi Belanda dan lebih limaratus serdadu”.
“Amboi, bukan main banyaknya orang menyambut”.
“Memang, angku Mantri, saya sendiri tak menyangka seramai itu. Sampai sekarang saya sering terpikir-pikir apakah sambutan itu ditujukan kepada si Udin atau kepada saya. Tapi kalau dipikir mengapa saya sampai mengadakan pesta sekarang ini, tentulah saya yang disambut itu........“
Para tamu yang sedang mengunyah dodol terangguk-angguk tanda paham dan kagum akan kehebatan Sutan Sahar. Lagi pun makanan-makanan yang dihidangkan sangatlah mewah-nya.
“Maafkan saya......... oh, saya harus melayani tamu-tamu terhormat amtenar BB² di sudut sana. Tak baik kalau dibiarkan mereka bersunyi-sunyi.........”
Sambil berbaso-basi dengan amtenar-amtenar BB itu Sutan Sahar tampak tersenyum-senyum, terangguk-angguk. Sebentar-Sebentar dia batuk-batuk kecil dan berdehem-dehem, katanya:
“Kepada tuan Asisten Residen sudah saya katakan, saya sanggup menangkap Komunis Udin hidup-hidup.........”
Pesta meriah yang diadakan Sutan Sahar itu memang untuk merayakan kehormatan yang didapatnya dari pemerintah Hindia Belanda. Seminggu yang lalu dia menerima bintang-tanjung dari Sribaginda Ratu Wilhelmina............
Jakarta, 18 Oktober 1961
SEL D
Jam empat pagi Ratmono mengetok pintu rumah seorang kawan. Pagi itu terasa sangat sunyi. Suara kokok ayam makin menambah luasnya kesepian. Per-lahan pintu dibuka, dan ia pun segera menyelinap masuk. Nyala pelita tak kuat menyinari dinding bambu, sehingga cahaya remang itu terasa menyempitkan pernafasan dan pandangan mata.
“Mengapa kau kemari?” tanya kawan itu. “Aku harus menyampaikan keputusan Partai yang dibawa oleh Pak Abdul Mutalib.” “Kau tadi tidak diikuti resersir?” tukas kawan itu. “Ya. Tetapi ditikungan aku melompati pagar dan terus melompati pagar sampai masuk pekarangan rumahmu dari belakang”, kata Ratmono sambil duduk di kursi dan menggeliatkan badannya. “Sudah pasti ia akan didenda Tuannya. Biar dia rasakan jadi begundal Belanda yang hanya bisa mencaci maki“ sambungnya sambil menghembuskan asap rokoknya seperti gulungan awan bertarung dengan asap pelita sebesar jerami yang me-liuk-liuk ke atas.
“Bagaimana keputusan Partai?”
“Yah. Meskipun semula kita belum menyetujui pemberontakan, tetapi keputusan Prambanan, kata Pak Abdul Mutalib, bahwa Rakyat sudah marah, karena pemerintah Belanda makin menggila. Penderitaan, tekanan, kekangan sudah tidak tertahankan lagi, sehingga meletus juga pemberontakan. Dalam keadaan seperti ini, jika Partai Komunis benar-benar mengabdi kepada Rakyat harus tampil ke depan. Partai kita adalah partainya kaum buruh dan kaum tani. Jika massa menghendaki merah, tetapi kita menginginkan kuning, akan berarti Partai kita mengchianati massa. Partai kita berdiri karena dikehendaki oleh massa, oleh kaum proletar dan kaum tani. Partai kita hidup dan matinya pun bergantung mereka. Apa pun kesulitannya, resikonya, yang berontak harus dipimpin. Kita harus ber-sama-sama mereka, mati atau hidup.”
“Jadi kita memimpin pemberontakan?” sela kawan itu dengan gelisah dan memandangi muka Ratmono penuh perhatian. Dahinya jadi berkerut, ‘ber-garis-garis seperti detran sungai kecil-kecil.
“Ya. Kita harus memimpin mereka. Orang-Orang
Komunis adalah barisan paling depan. Dalam keadaan begini kita tidak bisa menghindarkan diri dari tanggungyawab dan sumpah kita kepada Rakyat.“ ”Tetapi apa yang harus kulakukan?“ tanya kawan itu makin gelisah. ”Pemberontakan di Banten sudah meletus dan diikuti oleh daerah lain. Di Indramayu, Majalengka dan Kuningan pun keadaan sangat panas. Kita harus segera memimpin keadaan, kalau kita betul orang Komunis. Dan orang Komunis tidak boleh menjadi pengecut.“ ”Lalu bagaimana?“ ”Pemberontakan di Banten harus kita bantu. Kita letuskan pemberontakan di sini dengan segera. Keputusan Partai tanggal 18. Masih tiga hari lagi untuk persiapan. Besok jam 12.00 siang kau datang saja distasiun dan terus membeli karcis ke Tegal. Distasiun Tegal cari orang kurus, tidak begitu tinggi, di pinggir jalan depan stasiun. Tandanya ia memakai selampai biru disaku bajunya. Tandamu selampai putih disakumu dan juntaikan keluar. Kau tidak usah bertanya apa kepadaanya. Jika kaudekati ia dan melihatmu, ikuti saja ke mana ia pergi. Kau akan mendapatkan instruksi. Segera kembali. Sekarang aku segera pulang dan masuk kantor. Selamat.“ Ratmono ceapat keluar melewati ‘belakang lagi. Kawan itu memandanginya sambil duduk dan tengge- lam dalam angan-angannya sendiri. Ia masih harus menunggu sampai nanti siang jam 12.00. Ia sangat gelisah dan ingin segera menjalankan tugas-tugas Partai.
Pagi itu Ratmono pergi ke kantornya seperti biasa. Matanya agak luyu, karena cape, tetapi jalannya masih tetap tegap. Dia ketahui dua orang resersir mengikutinya. Ditikungan seorang dari mereka berbisik kepadanya: “Den, lain kali jangan menghilang lagi. Semalam saya dicaci maki Tuan De Ruiter. Bulan ini saya akan didenda lima rupiah, karena kehilangan jejak yang kedua kalinya. Dua bulan yang lalu saya didenda seringgit. Jika Den hilang sekali lagi tentu saya dipecat. Jika akan rapat, rapat sajalah Den, saya akan menunggu di luar, asal jangan menghilang.”
“Saya tidak menghilang. Mungkin saudara yang kehilangan mata saudara karena ketiduran waktu berjalan mengikuti saya”, yawab Ratmono sambil tersenyum dan makin mempercepat jalannya. Ketika memasuki halaman kantornya dan melihat tulisan “Drukkeriy De Boer” angan-angannya pergi kepem'berontakan tani, kemarahan di-mana-mana karena larangan, kekangan, tindasan dan cekikan jari-jari kolonialisme. Sampai ia du- duk di kursi kerjanya, angan-angannya terus memenuhi kepalanya. Ketika Direktur De Vries datang ia tidak melihatnya. Biasanya Ratmono mengucapkan selamat pagi kepadanya. Ia pun agak kaget, ketika De Vries yang lebih dahulu mengucapkan “selamat pagi” kepadanya, sambil menepuk pundaknya: ”Apa yang kaupikirkan? Ada kesulitan di rumah? Bagaimana keluargamu?” “Baik. Baik. Semua sehat. Terimakasih Tuan.”
De Vries tertawa sambil pergi memijit leher Ratmono. Angan-Angan Ratmono pun kembali menyerbu ke dalam kepalanya. Tetapi kini terbaur dengan pemberontakan, kebaikan hati Tuan De Vries sebagai manusia, kesayangannya kepadanya, sampai gajinya dinaikkan menjadi tujupuluhlima rupiah sebulan. Kemudian datang ber-bondong-bondong kebutuhan keuangan Partai selama ini. Demikian banyak, sehingga ia dan kawan-kawannya masih harus sering berusaha lain untuk menutup kekurangan-kekurangan kas Partai. Sekarang Komisaris Partai makin membutuhkan uang, karena harus berkeliiling menjelaskan sikap Partai terhadap keadaan.
“Ratmono,” tiba-tiba De Vries sudah berdiri di sampingnya, ”kau dicari Tuan De Ruiter, resersir kepala. Tetapi jangan takut, jika ada apa-apa, katakan saja kepadaku.” Ratmono menengokkan kepalanya sambil tersenyum dan melihat muka De Vries sangat gelisah.
“Tuan pun jangan takut,” kata Ratmono sambil bangkit berjalan ke kantor bagian depan.
“Selamat pagi. Kau ikut aku sebentar,” kata De Ruiter sambil tertawa.
“Baik Tuan,” sahut Ratmono sambil membalas tawanya. “Tetapi saya harus memberitahu Tuan De Vries dahulu,” sambungnya.
“Tidak usah, karena ia sudah kuberitahu.”
Ketika Ratmono menengok ia lihat De Vries berdiri dan memandanginya. Ia pun tersenyum tenang. “Ke mana kita pergi, Tuan Ruiter?” “Itu mobilnya,” sambil menunduk mobil sedan yang diparkir agak jauh dari “Drukkeriy De Boer”. “Kau agaknya kurang tidur, eh?”
“Ya,” yawab Ratmono singkat.
“Ke mana kau semalam?” tanya De Ruiter sambil tertawa.
“Ke rumah saudara. Melahirkan anak!” yawab Ratmono sambil tertawa lebar.
“Resersir kehilangan jejakmu semalam,” sambung Ruiter sambil melirikkan matanya.
“Malahan saya yang kehilangan resersir. Biasanya mengantar saya terus. Saya kira Tuan Ruiter melupakan saya, sehingga saya tidak diberi pengantar.”
“Kita nanti ke Hoofdbureau sebentar, kemudian ke Kabupaten,“ kata Ruiter merah mukanya.
Ratmono tidak menjawab. Ia kemudian diliputi pikiran tentang kemungkinan-kemungkinan pengchianatan, sehingga rencana Partai terbongkar. Tetapi hatinya tetap tenang saja sampai ia tahu-tahu dipersilahkan masuk mobil.
Di kantor Bupati Ratmono kaget, karena ternyata Sastrasuwirya, Sekretaris Sectie Comite dan Gendon Suleiman, anggota pimpinan Sectie Comite sudah ada di situ. Ratmono disuruh duduk. Ia lihatkan satu per satu muka-muka Bupati, Residen, Komisaris Polisi dan De Ruiter.
“Mengapa kau melihat aku seperti itu, hei, kau gladakker!” bentak Bupati.
Ratmono diam saja, hanya agak menahan tertawa geli, karena melihat kemarahan Bupati seperti melihat badut.
“Apakah betul, kau seorang Komunis?” tanya Residen.
“Saya kira Tuan sudah tahu,” jawab Ratmono dengan tenang, sambil berpikir apakah kedua kawan itu sudah berchianat atau mengaku dan membongkar seluruh persoalan Partai. “Saya kira Tuan sudah mendapat keterangan dari resersir-resersir apa pekerjaan saya,” sambungnya.
“Mengapa kau menjadi Komunis? Apakah gajimu sebanyak tujupuluhlima rupiah masih kurang cukup, sehingga masih perlu menjadi Komunis?” tanya Residen dengan tersenyum.
“Dia memang bandit, digaji berapa saja, akan terus berkomplot dengan garong-garong,” tukas Bupati.
“Biarkan ia menjawab dahulu, Tuan” kata Residen sambil melirikkan matanya kepada Bupati. “Bagaimana pendapatmu?” sambil memandangi Ratmono.
“Apa yang harus saya jawab Tuan?” sambil memicingkan matanya kesamping untuk melihat Sastrasuwirya dan Gendon. Ia pun berpikir: “Apakah Sastrasuwirya dan Gendon sudah menyerah dan menjadi saksi? Seorang Komunis harus setia kepada sumpahnya, janji kepada diri sendiri—apalagi seorang pemimpin Komunis. Apakah Sastrasuwirya dan Gendon hanya komunis-komunisan?”
“Jawab!” bentak Bupati, sambil meneriaki opas: “Opas, ‘bawa orang-orang ini kesel yang telah ditentukan!’”
Sampai kedua orang itu dibawa pergi Ratmono masih diliputi pikiran kemungkinan-kemungkinan mereka berchianat atau Bupati membikin siasat agar ia menyerah. “Seorang Komunis bisa kenal kalah, tetapi Komunis yang baik tak pernah menyerah,” pikirnya.
“Bagaimana jawabanmu?” tanya Residen lagi.
Ratmono menjadi makin teragitasi oleh keyakinannya sendiri: seorang Komunis tidak akan menyerah! dan ia pun dengan menatap muka Residen berkata: “Saya menjadi Komunis bukan karena gaji, Tuan! Harga seorang Komunis tidak begitu murah seperti begundal-begundal sawomatang yang menjilat pantat penjajah!” jawab Ratmono dengan memusatkan pandangannya pada mata Residen.
“Tetapi jika jadi Komunis bukan karena gaji kurang, mengapa kau dahulu memimpin pemogokan buruh percetakan,” kata Residen.
“Saya pimpin pemogokan justru karena saya Komunis, membela keadilan yang direbut dari tangan kaum yang lapar.”
Komisaris Polisi mengingsutkan badannya menarik kakinya sampai terantuk meja, sehingga menarik pandangan Ratmono kesepatu lares hitam.
“Jawablah baik-baik, jika kau tidak ingin merasakan tendangan sepatu ini!” kata Komisaris Polisi sambil tersenyum.
“Saya sudah pernah disiksa begundal-begundal kolonial, Tuan. Sebelum mengalami saya takut, tetapi sekali mengalami, tuanlah yang berubah menjadi takut.”
“Tutup mulutmu,” teriak Bupati.
“Saya disuruh menjawab pertanyaan,
Tuan. Jika Tuan tidak bertanya, tutup mulut juga, untuk apa saya menjawab?“ ”Ssst!“ desis Residen sambil melihatkan Bupati. Kemudian ia berpaling kepada Ratmono: ”Waktu itu kau mogok dan menganjurkan ke-mana-mana, bahwa orang-orang Belanda itu penghisap darah. Apakah aku menghisap darahmu?“ ”Orang-Orang Belanda menghisapi darah kami semua,“ yawab Ratmono pendek. ”Sudah berapa liter aku hutang darahmu?“ kata Residen sambil tertawa. ”Jawab! Lekas!“ bentak Bupati. Terdengar lagi sepatu lares Komisaris Polisi bergeser dilantai. ”Ssst,“ desis Residen lagi, ”Berapa liter darahmu sudah kuhisap?“ ”Saya tidak tahu betul berapa liter Tuan telah meminum darah saya. Tetapi secara gampang, jika setiap hari orang bumiputera dihisap darahnya setetes lewat pajak, meerwaarde, maka berapa kira-kira darah kaum proletar dan kaum tani yang telah menggemukan perut tuan-tuan?“ ”Godverdomme!“ Komisaris Polisi bangkit dari kursinya. ”Duduklah dahulu,“ kata Residen sambil tersenyum. ”Orang demikian harus dihajar, Tuan Residen, bajingan jangan diberi hati,“ gerutu Bupati sambil mengingsutkan pantatnya di kursi.
“Menapa kau begitu benci kepada orang-orang Belanda?” tanya Residen dengan tenang.
Sambil melirikkan matanya kepada De Ruiter yang diam saja Ratmono berkata: “Karena Belanda menindas kami!”
“Apa buktinya orang-orang Belanda menindas kau? Kau digaji De Vries tujupuluhlima rupiah sebulan,” sambung Residen.
“Banyak bukti, Tuan. Berapa keringat buruh yang mendatangkan keuntungan Tuan De Vries sebagai kapitalis? Apa salah saya, Tuan-Tuan, sehingga Tuan Ruiter menyeret saya kemari?” kata Ratmono sambil menatapkan mukanya ke arah De Ruiter. De Ruiter diam saja, hanya meng-gosok-gosokkan sepatunya di-ubin.
“Kau bajingan, bandit, pengacau, peng-hasut, tahu!” bentak Bupati keras-keras sambil memukulkan tangannya kemeja.
“Tuan Bupati, saya harapkan Tuan sopan sedikit saja.” tukas Ratmono.
“Godverdomme! Gladakker! Bagaimana orang Komunis mengajar kesopanan kepadaiku? Hei, kau penghasut—kau kira kau bajingan sopan?” teriak Bupati sambil bangkit.
“Tuan, apakah kedatangan saya kemari ini hanya untuk di-maki-maki? Pantas tuan-tuan, kalau hukum Belanda itu hanya berisi maki-maki-an saja.”
“Tutup mulutmu!” teriak Komisaris Po- lisi sambil berdiri.
“Tuan, hari ini menjadi lebih jelas bagi saya, bahwa kalau ada bandit-bandit di negeri ini, Tuan-Tuanlah yang bandit, bukan orang Komunis. Komunisme itu keadilan......”
Seperti kilat cepatnya, ‘bersamaan dengan suara geletak kursi dan antukan sepatu di-meja—seperti halilintar mendadak—Ratmono ditendangi Komisaris Polisi dan De Ruiter. Sambaran itu begitu tidak ter-duga, sehingga tendangan yang tepat me-ngenai kepala Ratmono, menyebabkan ia bersuara “uh”. Entah tendangan yang ke-berapa kali yang menyebabkan mulut Rat-mono kemudian mengeluarkan darah seme-rah ’bendera Partainya.
“Stop, stop!” teriak Residen kemudian. “Kauberesan dia Tuan Bupati”.
Ratmono bangkit dari lantai, sambil me-ngutuki dirinya sendiri, karena ia mengelu-kan suara “uh”. “Seorang Komunis tidak boleh mengeluh dalam derita dan siksaan,” katanya kepada diri sendiri. Sambil mengu-sap darah dimulutnya ia berkata: “Tuan-Tuan, inikah peradaban tuan-tuan, kesopanan tuan-tuan dan keadilan tuan-tuan?”
“Diam bangsat!” seru Bupati. “Seorang Komunis tidak mundur karena siksaan tuan-tuan. Tetapi menyiksa, kebiadaban rupanya sudah pekerjaan tuan-tuan.”
Ruiter sempat melompat meninju kepala Ratmono dari samping, sehingga terhoyong, tetapi ia pun terus bicara: “Seorang Komunis tahu bagaimana membela keadilan menghadapi tuan-tuan yang seperti brandal dan perampok ini!” Komisaris Polisi dan De Ruiter mengeroyok dengan pukulan dan tinjuan seperti hujan bulan Desember. Ratmono tak sempat mempertahankan diri, sampai ia terjatuh lemas. Tetapi ia pun berusaha duduk kembali dengan tegak.
“Apakah tuan-tuan sudah puas memukuli orang tanpa kesalahan?” kata Ratmono mengejek.
“Kau mengadakan rapat di Pangempon pada tanggal 5 yang lalu. Mengaku apa tidak!” bentak Bupati.
“Mengapa, jika Tuan tahu saya mengadakan rapat gelap tidak tuan bubarkan rapat itu dan menangkap saya waktu itu?” yawab Ratmono sambil mengusapi kembali darah yang bertetesan dari mulutnya. ”Saya tahu tuan-tuan menuduh saya, dengan kesopanan dan keadilan tinju tuan-tuan.”
“Godverdomme! bangsat! Kau komunis-komunis berontak dan diputuskan dibuang ke Tanah Merah!”—”Opas bawa bajingan ini kesel—D dan tanyakan Tuan Komisaris Polisi dan Tuan De Ruiter apa yang harus dilakukan,” seru Bupati sam'bil melihat Residen yang terus tenang saja.
Ketika Ratmono sedar kembali, ia hanya melihat pitam di sekitar. Dia baru ingat kembali, bahwa habis disiksa, sehingga tidak tahu lagi akan keadaan dirinya ketika ia dimasukkan ke dalam sel neraka itu. Dia rabai tikar yang dingin lembab, sambil mengatupkan gigi, menahan kejang-kejang dan pedih ditubuhnya. Dalam kegelapan itu, dengan me-raba-raba seperti orang buta, ia kenang kembali hari-hari pertama ia diterima menjadi anggota Partai. Ia tersenyum geli, ketika ia diuji disuruh menunggu, dan tidak boleh pergi-pergi di dalam kamar bersama dengan seorang wanita cantik yang belum ia kenal. Ia ingati kembali kata-kata Sastrasuwirya: “Lulus kau, tidak gampang diganggu perempuan cantik. Lemah dalam menghadapi wanita, bisa lemah dalam soal uang. Kau bisa menjadi tidak jujur kepada Partai. Achirnya kau bisa terjerumus gampang disuap dan menjual Partai. Oleh karena itu hati-hati, sebelum kau kawin. Ini soal watak Komunis.”
Selanjutnya datang ingatan ia diuji materialisme, disuruh duduk menunggu dikuburan yang terkenal angker semalam suntuk. Ia pun pernah dicoba berkelahi dengan resersir yang bersenjata pistol. Ia tersenyum sendiri ketika teringat diikuti oleh seorang resersir sesudah memimpin pemogokan. Resersir itu membawa sepeda, dan ia pun sengaja membelok melalui slokan-slokan, pematang-pematang, sehingga resersir itu terpaksa mengikutinya dengan memanggul sepedanya. Semua ke-nangan seperti gambar-hidup dalam pembayangan digelap-pitam sel. Senyum Tuan De Vries yang menyayanginya. Dan ia berkata kepada dirinya sendiri: “Hatinya baik, kepadaiku baik, tetapi ia kapitalis, menghisap darah proletar juga.”
Tiba-Tiba ia dengar lagu Mariana Proletar dise'belah. Ia pun bangkit me-raba-raba tembok dingin, warna hitam, tetapi degup jantung-nya bertambah cepat, hatinya bertambah hangat. Dan ia ikut menyanyi. Ia pun ingat kembali kata-kata bupati: “Masukkan ia ke dalam sel D”. Dan sekarang tahulah ia benar-benar apa yang pernah diceritakan oleh kawan-kawan-nya, bahwa sel D, berarti gelap gelita, dingin, sesak dan disiksa. Sekarang ia bisa bercerita lebih baik daripada kawan-kawannya, karena mengalami sendiri. Ia merasa sangat bangga sebagai orang Komunis. Tetapi sekonyong-sekonyong ia dengar pukulan-pukulan dan makian: Biar mampus. Bajingan. Hajar terus. Dan ia dengar gerenting pintu sel dise'belahnya. Ia pun mendengar lagu makin keras, makin keras—dinyanyikan oleh orang-orang sel:
Darah Rakyat masih berjalan
menderita sakit dan miskin...
Ia bangkit ikut menyanyi lagi, tetapi ia rasakan mulutnya pedih seperti dikorek be- lati. Tetapi ia terus menyanyi, menyanyi. Kemudian lagu itu pun makin melemah dan melemah sampai senyap kembali. Ia menjadi seperti disiksa, karena kepingin tahu siapa-siapa saja yang ada dalam tahanan. Diam saja rasanya lebih sakit daripada disiksa. Ia raba-kan tikar dari ujung satu sampai ujung yang lain tanpa tujuan yang jelas. Ia lebih didorong tidak mau berhenti, tidak mau sepi. Ia merasa harus tahu siapa yang ada disel lain. Dalam ter-gagap-gagap achirnya ia ke-tahui bahwa di bawah tikarnya ada lobangnya. Terdengar suara air di dalamnya. “Kakus!” katanya kepada diri sendiri. Ia nik-mati suara air, sehingga tidak merasa sen-diri. Kemudian timbul pikiran padanya: ”Slokan ini tentu ada hubungan ny dengan sel lainnya.” Ia pun berseru: “Kawan-Kawan bagai-mana kabar dan keadaan ‘kalian?’ Tidak terduga ia dengar jawaban ”Siapa kau?” “Ratmono? Kau siapa?” ”Gendon.” “Ah, aku mengira kau sudah berchianat. Kau juga disel?” ”Huss, ‘bagaimana aku berchianat. Peng-chianat itu bukan Komunis tentu. Aku Ko-munis duapuluh empat karat!’“ Mereka tertawa. ”Bagaimana Suryadi dan Radimin?” tanya Ratmono. “Suryadi bisa meloloskan diri. Bagus, ma-sih ada yang di luar.”
“Radimin juga tertangkap kabarnya.” “Aku diberi beslit Tanah Merah.” “Aku juga.” Keduanya tertawa lagi. “Bagaimana Sastrasuwirya?” “Ia ada di sini. Ia baru saja digebugi, karena memulai menyanyi Mariana Proletar. Kukira ia pingsan atau digantung, karena tidak terdengar suaranya lagi.” “Semua yang tertangkap setia Partai?” “Ya. Hanya satu menangis, ketika mendengar dijatuhi hukuman buang ke Digul, kata Sastrasuwirya. Itu sebabnya ia berpesan kepada semua kawan-kawan supaya tidak menangis. Jangan setetes airmata diserahkan kepada Belanda, katanya. Ia benar. Masakan seorang Komunis menangis? Memasuki Partai Komunis harus bersedia mati, dan bersedia untuk hidup ‘bahagia, katanya.’” Ratmono merasakan pedih kembali ditubuhnya, kejang-kejang seluruh badannya. Dan ia menjadi marah, menyanyikan keras-keras:
Kaum kapitalis sejagat
bikin rakyat melarat
Hai kau bangsat! bangsat!
Ia makin memperkeras suaranya ketika ia dengar seluruh sel-sel ikut bernyanyi. Dan ia pun mendengar suara pintu selnya dibuka, tiga orang masuk menyumpah-nyumpah: “Kau Komunis bangsat. Dalam penjara masih menghasut, mengacau!”
Ratmono dipukuli, ditendang, ditinju sampai pingsan lagi. Tetapi satu persatu sel-sel itu akan memelopori menyanyi. Menyanyikan perlawan untuk hidup!
(digubah dari cerita-cerita Pak Ratno)
SUKAESIH
Darah siapakah yang menggenang merah
membasahi bumi Priangan?
Ah, itulah darah Haji Asan,
dipotong, seanak bininya.
Konon, apakah Haji Asan seorang perampok?
Ah, Haji Asan mempertahankan se-jengkal tanah.
Bebberapa pikul padi dan bakul beras mempertahankan nyawa anak bininya.
Tetapi lehernya dipenggal,
sekeluarga menemui ajal,
dan darah menggenang merah,
dan si perampok berkulit putih,
mengamangkan goloknya,
di tengah perjalanan sejarah ia haus darah, haus darah....
Garut 1918.
Suara bisikan menjadi keras, menggema mengerikan melampaui bukit dan lembah-lembah indah Priangan Timur. Residen memerin- tahkan, supaya Haji Asan seanak bininya, pemberontak di Cimereme dibunuh. Yah, darah merah mengalir di Cimereme, darah Haji Asan yang menolak menyerahkan beras padinya kepada perampok Belanda. Seluruh keluarganya menemui ajal, dan mayatnya yang berlumur darah diangkut dalam sebuah wagon kereta-api menuju Garut. Seluruh Rakyat Garut harus tahu, apakah upah seorang pemberontak. Ialah kematian. Orang-Orang berkerumun di setasiun Garut, suara-suaranya menggumam, mendengung berku-mandang, dan ketika wagon yang tergenang darah itu tiba, gumam itu menjadi pekik yang dahsyat.
Mereka tidak hanya melihat darah Haji Asan, mereka seperti melihat darah mereka sendiri, yang merah. Darah Rakyat yang tertindas, dan darah yang masih mengalir dalam tubuh-tubuh mereka menggelegak. Dalam kerumunan orang-orang di setasiun, berdiri pula seorang wanita muda. Wajahnyia jernih, kulitnya kuning; matanya yang besar bercahaya itu mengapi, melihat darah menetes keluar dari sela-sela wagon. Lama ia tegak terpaku, kemudian ia membalikkan badannya; juga darahnya sendiri menggelegak.
“Mengapa aku bukannya menjadi takut? Mengapa aku sebaliknya menjadi marah? Menjadi begini berani? Se-akan-akan Belanda yang berdiri itu terlihat seperti seekor lalat saja? Mengapa? Mengapa seperti tungku di dalam jantungku menyala hebat dan membakar darahku? Aku mesti berlawan. Yah kita semua mesti berlawan. Kalau aku harus mati seperti Haji Asan, maka aku telah mati berdiri“.
Sukaesih pulang menuju rumahnya. Sendirian ia di situ, baru saja ia minta cerai dari suaminya, seorang Pangreh Praja yang dari pucuk jari kakinya sampai pucuk rambutnya berdarah Pangreh Praja. Enggan ia hidup demikian. Lebih baik ia berdiri sendiri.
Setiap malam, apabila matanya hampir terpejam, terbayanglah darah Haji Asan seanak bininya, dan hatinya yang semula kecut menjadi menggelegak.
“Aku mesti melawan. Mesti melawan.”
Sukaesih menjadi anggota Sarekat Fatimah, dan ia rajin mengikuti rapat-rapatnya, rajin mendengarkan pidato-pidato dan chotbah-chotbah, tetapi hari achir-achir ini ia tidak puas lagi dengan segala pembicaraan di Sarekat Fatimah. Ia menunggu, kapankah rapat, pidato-pidato, chotbah-chotbah itu menyinggung darah merah Haji Asan sekeluarga yang mengalir membela sejengkal tanah dan sejumput nyawa anak bininya. Sarekat Fatimah terlalu banyak membicarakan acherat dan sorga, tetapi hidup di bumi yang keras dan pergulatan yang makin dahsyat dijantung tanahairnya, tidak dibilicarakan. Sukaesih kecewa.
Dan dia pun keluarlah, dengan tekad yang terucap.
“Aku akan masuk dan menyerahkan segenap jiwa ragaku kepada pergerakan yang membela Rakyat. Yang menuntut darah Rakyat yang mengalir karena kekejaman penindasan.”
Tidak lama, cita-cita Sukaesih itu terwujud. Ia pindah ke Jakarta. Dengan perantaraan kenalan-kenalannya, buruh kereta-api, Sukaesih menjadi anggota Sarekat Rakyat Merah. Ia mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya, Sarekat Rakyat Merah menjawab segala kepelikan yang bertarung di dalam hatiny, memuaskan dahaga hatinya akan kerja mengabdi kepada Rakyat dengan seluruh jiwa raganya. Karena ketekunan yang luar biasa, ia lalu diterima menjadi anggota Partai Komunis Indonesia. Hati Sukaesih melebihi besarnya gunung Galunggung. Sumpah Partai yang dia ucapkan menggetarkan jiwanya yang penuh kesetiaan, dan sejak saat itu, terhunjam di dalam hidupnya, panji-panji proletariat, panji-panji Palu Arit yang hanya bisa dicabut apabila nyawanya dicabut.
Sukaesih mencurahkan kegiatan ny da- lam Sarekat Rakyat Isteri. Dadanya penuh kebahagiaan tiap kali dia merenungkan sikap sirevolusioner: pada yang masih hidup, berdegup Internasionale didada, dan terhunjam panji-panji Palu Arit; yang sudah ma- ti, membawa panjinya setia sampai nafas terakhir.
Tahun-Tahun perlawanan makin menghebat. Matahari perjuangan semakin tinggi di kaki langit Indonesia, dan panji proletariat makin kokoh tertanam. Taufan dahsyat sudah menjenguk di balik gunung-gunung, taufan yang akan menyapu imperialisme dari Indonesia. Pemerintah kolonial menjadi gelap mata. Dikeluarkannya segala peraturan yang aneh-aneh yang tidak masuk akal. Larangan berapart, pemberangsusan suratkabar-suratkabar, pengubran dan penangkapan tanpa periksa, perampukan di rumah, di sawah dan diladang, penggeledahan kantor-kantor partai dan organisasi gerakan Rakyat, penangkapan karena delik pers dan lain-lain. Juga pemberontakan tani meletus di mana-mana, di seluruh penjuru tanahair. Di Palembang, Priangan, Jawa Tengah, Jawa Timur...... Rakyat tani yang telanjang dan hampir mati kelaparan mengangkat goloknyia, dan menyerukan pekik perlawanan.
Tiap-Tiap hari Sukaesih mendengar laporan dari daerah-daerah, tentang meletusnya perlawanan, tentang banyaknya orang-orang Komunis yang ditangkapi.
Malam itu, malam menjelang tahun 1926 yang bersejarah.
Beberapa pemimpin Komunis berkumpul, dan mereka membicarakan permintaan Rakyat, agar PKI memerintahkan pembe- rontakan di seluruh Indonesia. Orang-Orang Komunis adalah orang-orang yang berkepala dingin, berotak waras, penuh dengan kemanusiaan, kecintaan yang dalam. Pemberontakan sekarang? Sekarang? Apabila sekali telah mulai, tidak akan berhenti di tengah sebelum tercapai. Dan baru dimulai, apabila pasti menang. Hindarkan korban, usahakan korban sekecil-kecilnya. Sekarang belum matang saatnya buat angkat senjata. Tetapi, apabila massa sudah mulai, Partai harus berdiri dibaris paling depan memimpin massa dalam perlawanan. Partai tidak akan membiarkan Rakyat maju tanpa pimpinan, karena dukacita Rakyat adalah dukacita Partai. Itulah pendapat pimpinan Partai, juga pendapat Sukaesih. Kalau harus kita berlawan, maka kita berdiri di pos yang ter-depan.
Ya, berontak tak bisa disuruh dan tak bisa ditahan. Kalau sudah mulai, Partai harus berada di barisan terdepan, memimpin perlawanan.
Malam menjelang 12 November, keadaan telah begitu panasnya. Sukaesih meninggalkan rumahnya. Ia ditugaskan diressort di sebuah gedung kosong milik seorang Arab. Tanggal 12 November 1926 akan dimulai pemogokan umum buruh kereta-api, dan pada saatnya yang tepat be-ratus-ratus Rakyat, be-ribu-ribu bahkan akan menyerbu penjara Glodok.
Tetapi tengah malam pemogokan itu teryum rupanya oleh dinas reserse Belanda.
Semenjak pagi-pagi buta, di seluruh Jakarta diadakan penangkapan umum. Sukaesih hanya memikirkan keselamatan Partai. Ia berhasil lolos dari jaring penangkapan, dan ia bersembunyi di rumah seorang pegawai pemerintah Belanda, yang juga anggota Partai. Dari seorang penghubung Sukaesih ditugaskan untuk terus memimpin perlawanan, terutama ia mesti menyelenggarakan hubungan dengan kawan-kawan yang masih di luar.
Berita-Berita dari rumah diterimanya. Bahwa anak-anaknya ditangkap, ketika polisi menggeledah rumahnya.
Bebberapa waktu telah lampau. Sukaesih, yang menyamar sebagai Halimah, telah biasa keluar-masuk tangsi Batalyon X dan XX di Senen. Tetapi pada suatu hari, datanglah seorang bekas anggota di dalam ressortnya, Sakib, menemuinya dipenginapan. Ia menyerahkan kepada Sukaesih sebuah sampul berisi uang, yang katanya adalah sumbangan kawan-kawan untuk ongkos hidup Sukaesih. Tanpa curiga Sukaesih menandatangani surat tandaterima, tetapi selang beberapa jam, dua orang polisi diikuti 20 orang reserse menangkap Sukaesih. Dengan tenang Sukaesih menerima nasibnya.
“Baik, tuan-tuan. Sekarang tuan-tuan menangkapku. Karena mungkin aku tidak dapat hidup lagi, aku ingin mandi, ganti baju dan makan dahulu.“
“Nyonya jangan terlalu pesimistis. Tidak ada kami katakan, bahwa nyonya ditangkap untuk mati.”
“Ah, bagi kami, itu sudah pasti. Apabila kami tertangkap, kami sudah bersedia untuk mati.”
Sukaesih mandi, berganti baju. Dikamarmandi ia menghancurkan dulu surat-surat penting, lalu menyimpan pistolnya cepat-cepat di dalam jahitan kasur dan membuang pelurunya dilubang besi tempattidur. Sesudah ia rapi berdandan, ia duduk dan makan dengan seenaknya.
“Tuan-Tuan mesti tahu, beginilah sikap seorang Komunis menghadapi tangkapan dan kematian,” katanya dengan tenang. Terbayang lagi darah Haji Asan. “Aku sudah mati berdiri,” kata hatinya.
Satu bulan Sukaesih ditahan di dalam Hopbiro. Selama itu ia dibiarkan tidur di-lantai tanpa tikar. Tetapi baru beberapa hari, beberapa orang agen polisi yang melihat tawanannya tidak pernah sekali juga menundukkan kepala, mengantarinya koran-koran tua. Agak berkurlanglah dingin lantai itu. Setiap pagi, dari jam 7.00 sampai kantor bubar, Sukaesih diwajiibkan duduk di bawah meja komandan, sampai komandan itu pergi. Tetamu yang datang dihopbiro, melihat seorang wanita duduk di bawah meja komandan, dan sikomandan memperkenalkan: “Tuan-Tuan, inilah wanita Komunis yang baru-baru ini saya tangkap. Saya sediakan uang hadiah F 500,—untuknya, dan si Sakib berhasil.”
Tetamu-Tetamu itu keheranan, dan memandangi Sukaesih. Itulah rupanya seorang Komunis, lebih-lebih lagi Komunis perempuan. Mereka meng-geleng-gelengkan kepala. Nyonya-Nyonya polisi biasa masuk dan menjenguk di bawah meja: “Apakah nyonya Komunismu itu masih ada?” Dan mereka tertawa-tawa.
Sukaesih tidak membiarkan penghinaan itu. Ketika kepala komandan datang, ia mengajudikan protes.
“Komandan, ‘bawahan tuan memperlakukan saya tidak sopan. Dibiarkannya saya duduk di bawah mejanya, dan dijadikannya aku tontonan. Kalian kira aku malu dijuluki nyonya Komunis? Aku bangga! Tuan-Tuan tak malu memperlakukan aku seorang tawan politik seperti ini?”
Sukaesih dipindahkan ke tempat yang lebih baik.
Bebberapa lamanya vonnis pun jatuhlah. Sukaesih dipindahkan ke penjara Glodok. Satu setengah tahun Sukaesih makan hati berulam jantung di sana: “Aku mesti berlawan, mesti berlawan.” Hatinya menggelegak, tetapi badannya semakin habis.
Di dalam penjara Sukaesih mendengar bahwa Sairan dan Usin, anakbuahnya dari ressort Tanah Abang, dijatuhi hukuman mati, digantung. Sukaesih semakin menggelegak. “Buang sajalah aku ke Digul, jangan aku disiksa di sini.”
Satu setengah tahun di Glodok, Sukaesih dibuang ke Digul. Dia membayar tunai perkaranya sendiri, pejuang ini, Srikandi ini. Di Digul banyak wanita dijumpainya mengikuti suaminya yang dibuang. Untuk itu Sukaesih menundukkan kepala menghormat atas kesetiaan mereka.
Sukaesih lebih matang, jiwanya lebih masak, tidak diletakkannya panggilan yang terpikul dipundaknya. Ia melanjutkan persiapan-persiapan mematangkan kemerdekaan Indonesia, menyiapkan pembebasan Indonesia, ber-sama-sama be-ribu-ribu pejuang di Digul dan beratus-ratus-ribu di wilayah Indonesia lainnya.
Ia dan banyak lagi Sukaesih-Sukaesih tidak hanya mempunyai hari kemarinnya yang gilang-gemilang, ia mempunyai hari sekarangnyaya yang tidak bercacad, dan ia menjanjikan hari-hari esoknya. Sukaesih-Sukaesih ini dapat bangga kepada seluruh hidupnya, kemarin, sekarang dan esok, dan seluruh Rakyat Indonesia wajib bangga kepada wanita-wanita begini.
Sejarah tidak akan melupakan perintis-perintis kemerdekaan ini dan kemerdekaan berterima kasih kepada mereka.
Darah Haji Asan belum tertebus.
juga darah Sairun dan Usin,
yang menetes dari tiang gantungan.
Matahari memancar tinggi dikakilangit,
seluruh dunia telah bangkit.
Maju! Maju!
DARI DAERAH PEMBUANGAN
WAKTU itu tahun 1947. Kapal yang akan membawa mereka ke Priok telah meninggalkan pelabuhan Merauke di belakang. Gindo berdiri diterali memandang air yang membuih disisi kapal. Sesekali ia memandang ke depan, sesekali ke daratan Irian yang ditinggalkannya. Kemerdekaan! Kebebasan! Gindo menggumamnya di bibir dan mencoba meneliti kedua perkataan itu se-cermat-cermatnya, apa yang tersebunyi di depan dan di belakangnya. Di depan berarti kegembiraan, bahwa cita-cita sebagian sudah tercapai, karena kemerdekaan adalah jembatan, landasan, untuk mencapai masarakat yang bebas dari penindasan dan penghisapan. Di belakangnya bisa macam-macam. Kepahitan perjuangan, siksaan, pengorbanan, kesetiaan dan sekaligus pengkianatan. Semua jelas tergambar di depan matanya, adegan per adegan seperti dalam sebuah film.
Dimulai tahun 1927. Pemberontakan kaum Komunis di Sumatera Barat.
Setelah pemberontakan gagal, banyak kader Partai dan Rakyat biasa yang ditangkapi dan disiksa. Yang sempat meloloskan diri ke Malaya, tidak begitu banyak dibandingkan yang tinggal. Tapi isteri yang suaminya sempat meloloskan diri disiksa agar menunjukkan di mana suaminya berada. Beberapa orang perempuan dikumpulkan dan rambut mereka disimpul-ikatkan menjadi satu, kemudian di-hela keberbagai jurusan. Gindo sendiri menyaksikan perbuatan biadab itu dan mendengar jerit-raung mereka.
PKI sebagai partai yang selalu bersama Rakyat dalam suka dan duka secara tak langsung dituntut Rakyat untuk memberikan pertanggungjawabannya. Comite Partai segera bersidang dan memutuskan Gindo harus melaporkan diri kepada Belanda dan mengoper seluruh tanggungjawab pemberontakan di tangannya.
Dan Gindo bersama ratusan kawan lainnya dibuang ke Tanah Merah, kemudian dipindahkan ke Tanah Tinggi, tempat yang sesuai dengan namanya memang lebih tinggi “tingkat”nya.
Merauke semakin menyayup dari pandangan. Gindo mengempaskan napasnya seperti ombak yang mengempaskan dirinya ke dinding kapal. Kawan lain juga sama. Semua memandang kesatu titik yang kabur, dengan pikiran mengawang dalam berbagai peristiwa sedih dan gembira.
Gindo teringat pada kawan-kawannya yang di-tinggalkan atau duluan pergi. Yang mati dimakan malaria atau tbc, yang dipenggal dan digantung, mati atau hilang ketika melarikan diri. Yang berkianat, lalu bunuhdiri atau melacurkan diri kepada Ratu dan kerajaan Belanda untuk mengharapkan pengampunan. Semua terbayang di mata Gindo dan hanya kepada yang setialah ia menyampaikan salam setiakawan dan cintanya yang membakar.
Kawan Aliarcham, kawan dan sahabatku yang kucinta, bisik Gindo sambil memandang elanglaut yang menepis pucuk ombak. Pada-mulah kusampaikan salamku yang akrab, rasa setiakawanku dan rasa cintaku yang membakar atas kesetiaanmu kepada Partai dan Rakyat. Aku dan kawan-kawan berjanji akan terus merambah jalan yang telah kau rintis. Dipandangnya elanglaut yang memantai, se-akan hendak menitipkan salam itu melalui-nya.
Ada dua hal yang paling mengesankan Gindo tentang Aliarcham. Pertama kesetia-annya kepada Partai dan kedua cintanya ke-pada kawan. Barangkali bisa ditambah, ya-itu tentang kecerdasan otaknya.
Suara “dumdum” mesin kapal berirama datar, tapi sesekali seperti sesak napas. Laut yang tidak begitu tenang, meng-goyang-goyangkan kapal lebih dari biasa. Gindo mengambil balsem, menggosokkannya dikenin dan di-lehernya; setelah digosok kelobang hidung sedikit, kemudian di-hirup-hirupnya.
Di matanya berdiri sekarang Kidam, si-pengkianat itu. Sejak mula kawan-kawan sudah mencurigainya, walau belum menemukan bukti. Suatu hari mereka mengadakan suatu pertemuan untuk memasak rencana melari-kan diri secara bergelombang. Belum apa- sudah digerebek polisi Belanda dan ketahu- huanlah bahwa ini perbuatan Kidam. Sejak ia “berjasas” itu penghidupan Kidam mulai berubah. Di pondoknya sekarang sudah ada beras putih, susu dan mentega. Dan ia su- dah mengajukan permohonan am pun kepa- da Ratu Wilhelmina, berjanji akan ber- kelakuan “baik”, sekarang Maupun setelah diampuni. Benar juga lima tahun kemudian ia dipulangkan ke kampung halamannya kem- bali.
Hampir sama dengan Kidam, seorang ka- wan lainnya, Katik, diangkat jadi polisi se- bagai hasil penjilatannya kepada Belanda. Gindo ingat jika polisi Katik ini berjumpa dengannya atau kawan lain selalu ia menun- duk.
Gindo memandang suatu titik yang jauh sekali di laut yang tanpa batas itu. Horizon jauh di depannya itu sekali naik sekali tu- run, kadang-kadang miring ke kiri atau ke kanan. Titik itu makin lama makin besar, kemudian menyata: sebuah kapal.
Jika Gindo ingat Basir, ia bisa tertawa ter-bahak-bahak. Dia seorang yang periang, banyak humornya dalam masa yang paling pahit pun. Sudah ber-kali-kali ia melarikan diri, tapi selalu gagal, tertangkap atau pulang kembali setelah tersesat. Suatu kali ia lari lagi dan dapat ditangkap, kemudian disekap. Kepada Gindo dan kawan-kawan ia berkata:
—Lepas dari ini aku akan lari lagi. Dan ternyata benar. Ia lari lagi bersama seorang kawan. Tapi beberapa hari kemudian, seorang kepulasuku di rimba Irian membawa dua pasang telinga kepada pembesar Belanda setempat: kedua kawan itu sudah dibunuh mati. Kepulasuku itu cuma dihadiahi empat bilah belati. Pembunuhan cara demikian memang diorganisasi Belanda.
Biadab, desis Gindo tak dapat menahan kemarahan hatinya kepada cara-cara busuk Belanda itu. Keterbelakangan penduduk, terutama nafsu kepulasuku digunakannya untuk mengadudomba sesama bangsa. Pada hal penduduk itu sendiri baik-baik. Ia ingat pengalamannya di Tanah Tinggi.
Sudah lama terpikir Belanda, bagaimana caranya supaya orang-orang buangan di Tanah Tinggi dan tempat-tempat lainnya dapat “diinsafkan”. Dengan janji-janji yang muluk, tidak banyak berhasil, apalagi dengan membujuk-bujuk. Tidak ada jalan lain kecuali dengan jalan paksaan halus atau kasar dan licik. Jalan satu-satunya yang dianggap Belan- da paling efisien, ialah dengan jalan teror dengan memakai tangan kedua. Dalam hal ini Belanda memakai kepulasuku setempat, membujuknya dengan berbagai janji manis supaya suka mengadakan penyerangan-penyerangan terhadap perkampungan-perkampungan orang buangan. Dengan jalan demikian Belanda mengharap agar orang buangan karena tak tahan meminta am pun yang sekaligus berarti berbuat “baik” atau melarikan diri yang berarti juga mati.
Demikianlah ada seorang kepulasuku Mapia, dapat dibujuk Belanda untuk menyerang Tanah Tinggi. Tentu saja dengan segala macam janji. Nama kepulasuku itu Manop. Pada suatu hari Manop dan puluhan anakbuahnya mengadakan pengepungan. Tiga orang anakbuahnya masuk ke kampung mengadakan penyelidikan. Gindo yang sudah lama memikirkan cara untuk dapat berbaik dengan mereka, memanggil ke-tiga-tiga-nya dan mengajak mereka bicara, memperlihatkan matapancing dan tembakau. Kemudian Gindo menghadiahi mereka kedua jenis barang itu.
Betul juga seperti perkiraan Gindo, Manop kepulasuku itu datang besoknya menemui Gindo bersama puluhan anakbuahnya. Gindo sudah menyediakan setumpuk matapancing dan setumpuk besar tembakau yang keras. Manop dipersilakan masuk ke rumah yang melihat kedua jenis barang itu dengan mata yang bersinar.
—Manop dan Bapak sesaudara, kata Manop dengan matanya yang ber-kaca-kaca karena linangan airmata. Dia kemudian memegangi jari-jari Gindo, dilipatkannya, dikepitkannya kejarinya sendiri, kemudian disentakkannya: bersalaman menurut suku Mapia, salam persaudaraan.
Lalu saling memberi cuman delapan kali dipipi kiri dan delapan kali di sebelah kanan. Inilah persaudaraan yang paling akrab yang bisa berarti sesaudara kandung, tidak ada yang bisa memisahkannya.
—Benar Manop, kita sesaudara, kita satu bangsa yang dijajah bangsa asing. Kita harus bersatu untuk mengusir mereka.—Gindo menjabat tangan Manop erat-erat dan sekali lagi mereka berpelukan.
Sejak itu mereka bersahabat, sering Manop mendatangi Gindo dengan tak lupa membawa oleh-oleh seperti pisang, ayam dan lain-lain. Dan sejak itu pula, sering patroli-patroli Belanda mendapat serangan.
Warna merah berenang dipermukaan laut, ketika matahari yang telanjang mencelupkan kakinya ke laut sebelah barat. Segera se-sudah ia menyelam ke dasar laut, hitam pekat yang tinggal dipermukaan. Gindo menaikkan kerah bajunya, ketika angin dingin meraba tengkuknya. Seorang kawan mengajak Gindo makan, tapi ditolaknya.
Ketika Jepang memulai aksi agresipuya
Irian tidak luput dari sasaran. Tapi yang disasar Jepang bukan perkampungan orang buangan seperti yang diharap Belanda, sebaliknya kompleks perumahan Belanda dan pegawai-pegawainya. Hal ini menimbulkan anggapan bagi Belanda, bahwa maksud Jepang hendak mempergunakan orang buangan sebagai pembantu-pembantu mereka dalam melawan Belanda kelak. Oleh karena itu, cepat-cepat mereka menyingkirkkan orang buangan ke Australia dengan berbagai cara. Dengan kapallaut, bahkan juga dengan kapalterbang.
Tetapi berbeda dengan yang lain, kaum buangan Tanah Tinggi diangkut dengan kapalkecil ukuran limapuluh ton. Maksud mereka, jika kapal itu ditenggelamkan Jepang,—dan ini yang diharap Belanda—, Belanda tidak akan begitu besar dirugikan.
Penghuni kapal itu beryumlah delapan-puluhlima orang dengan perincian, empat-puluh orang buangan, tigapuluh pengawal dan limabelas orang awakkapal. Semuanya orang Indonesia, kecuali seorang Belanda-Indo. Jadi jelas betul maksud Belanda.
Semua penghuni pada ketakutan, terutama sekali pengawal dan awakkapal. Mendengar nama “Jepang” saja sudah cukup membuat mereka mati. Karena memang jarang kapal yang bisa selamat dari pesawatudara Jepang. Tapi kaum buangan, yang sebagian besar orang-orang Komunis itu bisa mengendalikan diri dan percaya pada diri sendiri, per- caya pada perhitungan akal yang sehat.
Baru saja berangkat sudah diserang badai dan kapal terombang-ambing; tenggelam, se-akan-akan betul-betul tenggelam, kemudian timbul lagi di puncak gelombang. Hari kedua pesawat Jepang muncul dan mengadakan bombardemen, sedang penangkis udara tak berbuat apa-apa, karena penembaknya ciut ketakutan. Dalam keadaan yang kalut itu, tak ada jalan lain, selain Gindo mengambilalih pimpinan dengan persetujuan kawan-kawan dan ternyata seluruh penghuni kapal menyetujui-nya.
Per-tama-tama Gindo meminta kepada semua penghuni kapal yang sudah disatukan oleh persamaan nasib itu, agar demi keselamatan bersama harus percaya dan patuh pada pimpinan, dan ber-sama-sama melawan serangan Jepang sedaya mungkin.
Untuk menghindari serangan-serangan selanjutnya, kapal hanya berlayar malam hari, itu pun tidak boleh terlalu kencang, agar ai dihaluan tidak tersibak supaya jangan nampak sibakan air yang putih itu dari udara. Siang-nya sembunyi di-pulau-pulau kasang. Penembak penangkis udara pun dimutasi dan diganti dengan orang buangan yang berani setelah mempelajari sebentar cara memperguna-kannya.
Begitulah mereka berlayar dari pulau-ke pulau, siang istirahat, malam kerja keras. Di suatu pulau mereka menemui mayat-mayat yang ter-apung-apung dan tersangkut di-karang-karang. Rupanya akibat pemboman Jepang atau sebaliknya, karena mayat-mayatnya itu jelas terdiri dari berbagai bangsa; Indonesia, kulitputih, Jepang, India dan lain-lain.
Tetapi, enam hari berlayar, mereka mendapat serangan lagi dari pesawat-pesawat Jepang. Semua penghuni dikerahkan, diberi senjata sepucuk seorang, disuruh tidur terlentang di geladak dan menghadapkan senjatanya masing-masing ke udara. Penangkis udara juga sudah siap sedia. Tinggal tunggu komando saja. Ketika pesawat Jepang itu menyambar, segala macam senjata api dari berbagai jenis menyembur menuju kepesawat. Ternyata bolong-bolong juga badan pesawat itu, walau tidak diketahui di mana jatuhnya.
Setelah berlayar tujuh hari tujuh malam—biasanya cuma tiga hari tiga malam—tibalah mereka di pelabuhan Queensland dengan selamat. Di luar dugaan, awakkapal yang disokong pula oleh pengawal mengadakan pesta yang meriah. Mereka berterima kasih kepada pimpinan orang-orang buangan dan mengatakan kalau tidak mereka tak yakin akan selamat. Letnan Indo itu, komandan pasukan pengawal, dengan terharu memeluk Gindo, kemudian mengatakan bahwa walau-pun ia tak setuju pada orang Komunis, tapi ia menghargai dan mengagumi pimpinan orang Komunis. Satu hal yang pasti, katanya, ia betul-betul sakit hati kepada pimpinannya yang mempunyai niat yang begitu busuk, tapi ternyata yang benar selalu menang.
—Satu kali Indonesia yang jaya seperti yang saudara cita-citakan akan tercapai—Ia berkata sungguh-sungguh. Bagaimanapun saya juga anak Indonesia,—ia menambahkan terbata-terbata seakan ia segan mengemukakannya.
Segera sesudah itu, mereka ditimbang-terimakan kepada tentara Australia. Sikap tentara Australia sungguh menggeramkan. Mereka siap dengan senjata yang siap untuk ditembakkan dengan sangkur yang terhunus, se-akan-akan Gindo dan kawan-kawan dapat bersilat dengan peluru. Tiap gerik orang-orang buangan diperhatikan dengan curiga.
—Kalian datang dari mana, tanya seorang perwira.—Tanah Tinggi, Irian.—Orang buas ya. Suка membunuh dan memenggal.—Ya, kami memang buas, suka membunuh. Tapi terhadap perampas-perampas tanahair kami.—Maksud kamu?—Tuan pernah dengar pemberontakan 1926/27 di Indonesia? Wajah perwira itu berubah dan memandang Gindo seakan tidak percaya.—Pemberontakan Komunis, maksud tuan? Ketika Gindo membenarkan, setelah melihat sekeliling dia cepat-cepat menyalami dan meminta maaf karena mereka mendapat keeterangan sebelumnya bahwa yang akan da- tang dari Irian adalah orang-orang buas, penjachat, pembunuh dan maling-maling besar. Segera pula sikap hampir seluruh serdadu berubah.—Akan kami laporkan kepada Comite, bahwa kawan-kawan dari Indonesia berada di sini. Besoknya utusan dari Comite datang yang menyampaikan pernyataan menyesal atas keydadian kemarin dan sekaligus menyampai-kan kiriman-kiriman setiakawan dari Kawan-Kawan Australia dan orang-orang progresif lainnya. Sejak waktu itu banyak datang kiriman-kiriman, juga dokter dikirim mereka …… Gindo masih berdiri diterali. Langit yang gelap hanya diterangi oleh bintang-bintang. Kapal terus bergerak dengan suara “dum dum” nya, yang menyatu dengan kecipak air dihaluan. Gindo memandang jauh ke depan di mana terbentang laut tak berbatas seperti menantang padanya.—Tugas masih banyak, bisiknya kepada dirinya sendiri. Kampunghalaman pun berlabuh di hati ……
(Bahan dari Mangkudun Sati & Soero)
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.