Baca EPUB: Riwayat Mao Tse-Tung

12 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. RIWAYATMAO TSE-TUNG
  2. MAO TSE-TUNG
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. KATA PENGANTAR
  6. ISELAGI MASIH KANAK-KANAK
  7. IISELAMA BERADA DI CHANGSHA
  8. IIIRAWITAN REVOLUSI
  9. IVSAAT SELAKU NASIONALIS
  10. VPERGERAKAN SOVIET
  11. VIBERKEMBANGNYA TENTARA MERAH
  12. TAMBAHAN:PIDATO MAO TSE-TUNG DI HADAPAN SIDANG PEMBUKAAN PERMUSYAWARATAN PERDA-MAIAN POLITIK RAKYAT TIONGKOK KE-I
  13. UNCOPYRIGHT

RIWAYAT

MAO TSE-TUNG

MAO TSE-TUNG


KOLOFON

RIWAYAT MAO TSE-TUNG

dituturkan oleh

MAO TSE-TUNG



Diterjemahkan oleh:

OEY SENG OEN



Diterbitkan oleh:

PERUSAHAAN PENERBITAN “DUNIA”

Post Box Dak. 545

Jakarta - Kota.

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: cia.gov

Ilustrasi sampul: Ploughman and Flocks of Birds (Pfluger und Vogelschwarm), karya Gerhard Marcks

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam. com



KATA PENGANTAR

Orang hanya mengetahui saja Mao Tse-tung sebagai sala-seorang penyipta Partai Komunis Tiongkok, pemimpin Tentara Merah, Presiden Republik Rakyat Tiongkok, dan atau seorang yang terbesar, yang berpengaruh di seluruh Tiongkok begitu pun dikolong dunia. Akan teapi, orang telah lupakan bahwa sebelum bellau meninjak pada kedudukan yang sekarang itu, hanya seorang “biasa” saja, sederhana dan miskin, cuma, sanggup dengan tekadnya, madap kepada kepercayaannya, tegak mengikuti jejakinya dan tegas dalam pendiriannya.

Di sini disuguhkan sebuah riwayat yang penting sekali baik bagal manusia seumumnya Maupun bagal sejarah sechususnya.

Riwayat ini menuturkan dengan sejujur-jujurnya tentang Mao Tse-tung selagi masih kanak-kanak, waktu mudanya, dan bula melukiskan penghidupan bellau dalam rumah-tangganya, pengalaman belian waktu bersekolah, kejadian-kejadian yang mendesak bellau menjadi seorang liberal dan kemudian selaku orang Komunis, dan pun tentang pembentukan Tentara Merah Tiongkok yang kini menjadi Tentara Kemerdekaan Rakyat.

Dalam bagian ini, dipertundukkan juga suatu lukisan yang nyata tentang jalannya revolusi di Tiongkok pada awal permula. Kejadian-kejadian selama tahun 1933 hingga tahun 1935, memberi keterangan kepada segala peristiwa yang telah dikabarkan lama dengan tak ada penjelasan yang tegas, dan berharga untuk penulis sejarah akan kenyataannya saat yang terpenting itu.

Akhirnya, perlu sekali diterangkan bahwa riwayat ini ditulisnya dan diterjemahkannya dengan seadanya menurut pembilyaraan bellau dan tidak sekalii pun ditambahai atau dikurangi.

Yang menterjemahkan.

25 Juli, 1950


I

SELAGI MASIH KANAK-KANAK

PADA tahun 1893, saya dilahirkan di dusun Shao Shan, termasuk bilangan district Hsiang T'an dari Propinsi Hunan. Nama ayah saya Mao Yen-sheng, dan nama ibu saya, di waktu masih gadis, Wen Chi-mei.

Ayah sala seorang petani yang terlampau miskin. Ketika ia masih muda, oleh kerena tertindih dengan hutang-pindiam yang sangat berat, achiirnya terpaksaia ia menjadi anak buah angkatan darat. Setelah melakukan kewajiiban beberapa tahun lamanya, pulanglah ia kedusun tempat saya dilahirkan. Dengan uang yang didapat dari berdagang ketiy dan lain-lain usaha, yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, dapatlah ia membeli kembali ladangnya.

Sejak ayah saya menjadi petani pertengahan, ia mempuniai lima belas bahu ladang tanah, yang menghasilkan enam-puluh pikul padi setahunnya. Keluarga ayah saya yang terdiri dari lima orang hanya membutuhkan untuk hidupnya sejumlah tiga-puluh lima pikul sadla, diyadi kira-kira tuyuh bayu seorangnya, demikian, didapatlah sisa duapuluh lima pikul setahunnya. Dari sisa padl itu, ayah saya dapat mengumpulkan sedikit pokok untuk membeli pula tuyuh bahu sawah, sehingga keluarganya termasuk golongan petani yang “berkedudukan baik”. Demikianlah kami mempunya penghasilan bertiyocok tanam sejumlah delapanpuluh-empat pikul padi setahunnya.

Pada waktu saya berumur sepuluh tahun, keluarga ayah dari keluarganya terdiri dari ayah, ibu, kakik, adik dan saya sendiri. Setelah ayah mendapat tambahan ladang yang tuyuh bahu itu, kakik saya meninggal dunia, akan tetapi sebagai gantinya, ibu melahirkan pula seorang anak. Walaupun demikian, kami masih mempunyai sisa empat puluh sembilan puluh padi setahunnya, dan dengan yalanan itu lah ayah lambat laun menjadi makmur.

Sejak ayah menjadi petani pertengahan, mulailah ia berniaga, menyual belli hasil bumi, yang memberikan keuntungan. Sesudah la menjadi “mampu”, segera ia yuruhkan sebagian besar temponya untuk mengurus perdagangan itu. Lalu, ayah saya memperburukkan seorang buruh-lain untuk bekerya selamanya, dan yuga memperkeryakan anak-anaknya serta isterinya diladang. Begitulah saya mulai berkeja sebagai “petani ciik” pada waktu saa berumur enam tahun. Ayah saya tidak mempunyai kedai untuk perusahainnya. Ia hanya membeli saja hasil bumi dari petani-petani yang miskin, dan diangkutnya pembelian itu kepada saudagar-saudagar di dalam kota, yang berani membeli dengan harga lebih tinggi. Dalam musim dingin, waktunya padi digiling, ayah saya membutuhkan pula seorang buruh untuk diperkeryakan diladang, begitu. Yadi pada saat ini se-isl rumah kami ialah berjumlah tuduh mulut yang harus makan. Makanan untuk sehari-harinya dalam rumah saya serba hemat, tetapi selalu tidak kekurangan.

Tatkala saya berumur delapan tahun, mulailah saya bersekolah disuala Sekolah-Rendah dalam kampung saya, sehingga saya berumur tiga belas. Pagi dan petanghari saya berkeja diladang; sianghari saya membata Empat-Kitab dan Ujarujar dari Guru Besar Kung Fu-cu. Guru saya seorang pendidik yang keras, maka tidak heran kalau ia bertabeat airan dan kejam, kerap kali ia memukul anak nurldnya. Oleh sebat ini, saya pernah melarikan diri dari sekolah pada waktu saya berumur sepuluh tahun. Sakling takutnya akan menerima pukulan pula di rumah, saya tidak pulang, hanya terus berjalanan menuyu kekota yang pada paham saya pastilah di sana akan saya menampak suatu durang, dan begitulah saya bergelandangan lamanya tiga hari sehingga akhirnya dapat diketemukan oleh orang tua saya. Kenyataan hanya saya telah menzidari sepanjang yalanan itu tiyuma delapan pal saja jauhnya dari rumah saya.

Setelah saya pulang ke rumah, sangat di luar dugian saya. Kunampak keadaan rumah berubah sedikit baik. Ayah saya tidak lagi perlakukan saya sewenang-wenang, begitu pun guru saya kelihatan banyak lebih sabar terhadap saya. Akibat dar perbuatan saya yang secara memprotes itu, telah memberi saya kesan yang teramat dalam. Saya yakin bahwa itu hanya “pemogokan” yang bukan percuma.

Selekas saya mengenal beberapa huruf saja, ayah saya ingin saya mengurus buku catatan perongkosan rumah-tangga, pun suruh saya memperlayari hitungan dengan slphoa. Karena kehendakna itu, terpaksaIah saya mengerjakam catatan itu pada waktu malam. Di sini, perlu saya tuturkan bahwa ayah saya ialah seorang yang keras mengontrol segala pekeryaian: ia tidak senang bila menampak saya malas pun tidak puas bila melihat saya menganggur kerena tidak ada catatan yang perlu dicatatna ke dalam “buku”. Segeralah ia memerintah saya berkerja diladang. Seorang yang pugal adalah ayah saya itu, dan bukan jarang ia memukul kedua saya dan adik saya. Tidak Sekalipun ia memberinyai kami kedua uang, paling banyak hanya makanan yang buruk. Pada tiap-tiap tanggal 15 saban bulan, ia memberikan barang hadiaan kepada semua peburuhnya, diyuga memberinyai telur dan beras, akan tetapi, tidak Sekalipun daging diberinyai. Kepada saya tidak telur pun tidak daging diberinyai.

Berbeda dengan ayah saya, ibu saya seorang ibu yang berperangl alus, baik budi, belahah dan simpatik serta suka menolongnya kepada slapa pun. Ia menyayang simiskin dan kerap kali ia membaginya beras kepada mereka yang datang meminta terutama di waktu musim paceklik. Akan tetapi, ia tidak dapat berbuat demikian bilamana ayah saya berada di rumah, kerena ayah saya tidak sepakat dengan perbuatan menolong orang. Soal ini banyak menimbulkan percekcokan di dalam rumah saya.

Oleh sebab ini, terpecalah dua belah “partai” dalam rumah saya. Yang satu ialah ayah saya yang mewakili kaum Pemerintah sedang yang lain yalam kaum “Opposisi” yang terdiri dari saya, adik, ibu saya dan kadang-kadang pun peburuh. Diantaranya “front-sarkat” dari kaum opposisi ini, ada diyuga terselip perselisihan paham. Ibu saya berpendirian dengan siasat menyerang secara indrek. Ia mengkritik sesuatu per- cobaan pemberontakan terhadap kaum “pemerintah” secara berterang yang hanya terdorong oleh melainnya napsu, lebih jauh ia menyatakan bahwa itu bukan cara Ke-tionghoan.

Tetapi pada sesampainya saya berumur tiga belas, saya dapatkan satu gegaman yang mustajab kutipan dari kitab penapatan-pendapatan ayah saya. Kesalahan-kesalahan yang ditimpahkan atas diri saya oleh ayah saya itu, ialah katanya perbualan yang tidak membakti kepada orang tua, dan pula malas. Sebagai pembelahan, saya mengambil kutipan dari klassik yang mengatakan bahwa sesuatu orang tua diharuskan berlaku betlyk dan welas-asih kepada yang muda. Terhadap Klassik untuk mempertahankan pendapatan saya terhadap takwaninya yang mengatakan saya malas, menggunakanlah saya pledul bahwa sesuatu orang tua diharuskan berkerja lebih banyak daripada orang muda, ayah saya berusaha tiga kali lipat daripada saya, maka itulah, seharusnya berkerja lebih banyak. Demikian saya menerangkan bilamana jiatuh temponya saya umurnya setinggi ayah, pastilah saya akan berkerja lebih bernapsu dari padanya.

Ayah saya tidak habisnya menimbun “kekayaan” atau apa yang terpandang sebagai keuntungan besar dalam kan pung itu. Tidak lagi ia membelinya ladang akan sendirinya, tetapi banyak membelinya ladang yang digadekan kepadanya oleh petani yang melarai. Kini, modalinya telah berbungah sehingga dua atau tiga ribu dollar besarnya.

Perasaan tidak puas terhadap ayah saya makln iari bertambah helbat. Pergolakan akan Penjelasan Sebenarnya dalam rumah saya, tidak putusnya menjalar. Diantaranya lain kejadain, adalah satu yang saya tidak akan sekah-kali lupakan ya itu, pada suatu hari di waktu saya agak berumur tiga belas tahun. Ayah saya telah mengondang banyak tetamu dicumah, dan setelah semua tetamu datang berkundung, satu perselisihan telah terjadi antara saya dan ayah saya berhubung dengan maklan atas diri saya yang mengalakan saya malas dan tidak berguna di hadapan orang banyak. Ini telah membuat muratn saya. Sesudah mengutuk padanya, segere saya tinggalkan rumah. Ibu saya iari mengedarnya saya dan paksa saya kembali ke rumah, begitu pun ayah saya yang dibarengi dengan memaki. Saya layu pergi menghampiri tepi empang dan sengaja mena-kuinya mereka dengan antiyaman hendak terjun ke dalam empang itu bila saja ayah saya coba mendekati. Dr.am keadaan yang demiklan permintaan dengan tawar-menawar telah diusulkan akan perhetuan “peperangan dalam” ini. Ayah saya berkehendak bahwa saya harus mengaku salah dan bertekuk lutut sebagai tanda penyerahan. Saya bersetuyu buat memberi lutut bila saja ia akan beryanji tidak memukul lagi saya. Begitulah peperangan ini telah berakhir, dan dari situ saya yakin bahwa di waktu saya membela hak saya dengan memberontak secara berterang, ayah saya mengalah, tetapi bilamana saya mandah dan lemah, sebaliknya ia hanya memaki dan lebih pula memukulnya saya.

Menilik tentang ini, saya pikir bahwa kekerasan ayah saya tadi pada akhirnya dapat dikalahkan. Saya mencoba untuk membenyi ayah saya, dan telah mengadakan “Front Persarikan” untuk menentang ayah saya. Di samping itu, mungkin sekali sekiranya menguntungkan bagi saya, kerena dengan jalan demikian dapat saya menggunakan segenap tempo saya untuk mengerjakan pekeryaan saya dan juga dapat saya membaca buku lebih tertib agar supaya ayah saya tidak lagi beralasan akan mencelahnya saya.

Ayah saya telah bersekolah hanya dua tahun lamanya, dan cukup mengarti akan membaca dan membuat ciatatan dalam buku harian. Ibu saya sama sekali buta huruf. Kedua ayah saya dan ibu saya berasal dari rumah petani. Sayalah satu-satunya “pelajar” dalam se-isi rumah itu. Saya telah memperlayari kitab-kitab klassik, akan tetapi semua itu saya tidak suka. Yang saya sukaI hanya romances Tiongkok-kuno, dan terutama ceritera lelakot pemberontak. Saya pun membaca sekali sekiranya menguntungkan bagi saya, kerena dengan membaca buku lebih tertib agar supaya ayah saya tidak lagi Yo Fei Chuan, Shui Hu Chuan, Fan Tang, San Kuo dan Hsi Yo Chi selagi saya masih kecil, Meskipun membaca kitab-kitab tadi itu dilarangnya oleh guru, yang beranggapan bahwa kitab semua itu durhaka dan dinamakan jahat. Acap kalai saya baca kitab itu di sekolah dan dilindunginya dengan kitab klassik agar supaya tidak dapat diketahui oleh sang guru bila kebetulan menghampiri. Hampir semua kawan-kawan saya di sekolah berbuat demikian. Kami berlaydar banyak dari kitab-kitab itu sehingga dapat kami mengapalkannya luar kepala; dan kerap kali kami sekallan merundingkannya isinya kitab itu. Orang-orang tua dalam sekampung saya pun suka membacanya kitab itu, tetapi kami membaca lebih banyak daripada mereka hingga kerap kali kami bertukar ceritera dengan mereka. Mungkin sekali saya telah banyak dipengaruI oleh kitab-kitab semayam itu, kerena membaca masa umur sedang mudah menangkapnya.

akhirnya saya berhenti dari Sekolah-Rendah pada umur tigabelas tahun. Lalu membantunya ayah saya pekeryaan diladang bersama-sama dengan peburuh tani yang lain; mengeryakan pekeryaan orang dewasa di waktu siang, dan pada malamnya membuat tayatan menggantikan ayah saya. Meski demikian pun, saya dapat meneruskan perlajaran saya dengan menturuhkan segala ketika untuk membatai kilab sedapatnya kecual kitab klassik. Ini bertentangan dengan kehendak ayah saya yang ingin saya memperhatikan klassik, terutama sesudah dikalahkan di hadapan pengadilan oleh lawannya yang menggunakan ujar-ujar kutipan dari klassik. Sering kali saya menutup jendela kamar saya dengan kain di waktu malam, karena kewatir dilihatnya sinar lampu oleh ayah saya. Dengan tayat demikian saya dapat membatai satu buku yang berkalmat “Sheng Shih Wen-yen” atau “Kata Penyedar” yang saya sangat sukal. Penulis atau pudingonggo yang terkenal sebagai Reformist mengira bahwa kelemahan Tiongkok itu disebabkan atas alasan kekurangan mempergunakan alat “Kebaratan”, misalnya: jalan kereta-api, tilpon, tilgraf, kapal-api dll. dar hendak memperkenalkan semua itu dalam negeri kita. Ayah saya berpendapatan bahwa membatai buku-buku yang semuatiam itu hanya membuang tempo percuma, la ingin saya rembaca apa-apa yang praktis misalnya klassik, yang sedikitnya dapat membantu la menangkan perkara di hadapan hakim. Selanyutnya, saya tetap membatai romances kuno dan dongeng dari literatur Tiongkok.

Pada suatu hari dapatlah saya kenyataan bahwa satu hal yang adialah dalam adanla semus dongeng atau cerlera itu, ialah tidak satu yang menyebulkan urusan pa'tani yang mengeryakan ladangnya. Semua orang-orang dalam lelakon hanya panglima-perang, pangereh-praja atau kaum yelajar, tidak sekallna diurakan pendekar-petani. Dalam dua tahun saya rasakan kesangsian itu, dan saya selalu menyelidiki isinyia segala cerlera. Saya dapatkan bahwa cerlera itu semua mendungdungunya sadiya para prajurit, pemerintah atau pamong-praja yang tidak diharuskan mengeryai ladang dan tanah tapi mengurusnia sadiya dan ternyataali bahwa mereka itu dapat memperburuhkan serta memperhambahkan sipaman tanl untuk kebutuhan mengeryakan ladangnya.

Ayah saya sedari muda sehingga berusia setengah tua, tetap seorang yang sangat terhadap kepercayaan. Ibu saya gballknya sujut sekali mengabdil Buddha. Diberinyia semua anaknya pinutur tentang lgama, dan kami sekalian berkesal hati niellha: ayah tidak percaya itu. Selagi saya berumur sembilan tahun, seru sekali dirundingkan pasal tidak sesual ayah saya dengan ibu dalam soal memeluk igama. Banyak percobaan kami telah berbuat balik lambat Ataupun laun untuk merubuhkan pendirian ayah, akan tetapi semua itu tersia-sia saja. Ia hanya memaki kami sekalan, dan akhirnya kepaksalah kami urungkan percobaan dengan lain daya kerena merasa kewalahan. Ia persetan dengan segala Tuhan Allah.

Pembacan saya lambat laun mempengaruhi pikiran saya sehingga akhirnya, sayalah yang menjadi makin lama makin sangsi dan tidak percaya. Ibu saya yang memperhatikan perobahan itu segera menegor kerena melihat saya adem terhadap kepercayaan, tetapi ayah saya tidak menyatakan sepatah apa pun. Pada suatu hari setelah kejadian itu, ayah saya berpegian untuk menagih hutang. Di tengah jalan ia bertemu dengan se-ekor harimau. Pertemuan yang mendadak itu, sangat mengejutkan harimau itu hingga lari secepat-cepatinya. Lebih terkejutinya lagi ayah saya yang kemudian terasa olehnya sangat kagum, dan anggap bahwa terhindarnya ia dari bahaya maut, ada serupa dongeng yang mengherankan. Barulah ia bersangsi kalau ia tidak mempunya salah terhadap Tuhan. Pada selanyutinya, menghormatlah ia kepada Buddha dan kerap kali membakarnya dupa serta bersembahyang. Akan tetapi pada waktu kedapatan saya lebih menjauhkan diri dari kepercayaan, ayah saya itu tidak sedikit pun mencegabnya. Ia hanya bersembahyang kepada Tuhan selagi ia menampak kesukaran.

“Kata Penedar” menarik keinginan saya kembali akan buku saya. Pada waktu ini saya pun merasa segan untuk bekerja diladang, tentu saja ayah saya sangat tidak senang hati. Setelah timbul percektlokana yang hebat lalu saya meninggalkan rumah. Pergilah saya ke rumah seorang pelajar ilmu hukum yang menganggur dan di sana saya telah belayar, buat setengah tahun lamanya. Sesudah itu, saya mempelajar pula Kitab Klassik di bawah pimpinannya seorang “pudiongo” terkenal, yuga saya membatta tulisan-tulisan yang dimuat dalam kabar-harlan dan beberapa buku.

Pada waktu ini satu peristiwa yang mempengaruhi antero hidupku telah terjadi di Hunan. Di luar satu rumah sekolah ketil tempat saya bersekolah serombongan murid telah nampak banyak pedagang kacang yang larl pulang dari Changsha dengan tergesah-gesah. Mereka ditanya sebabnya dan lalu memberiniya keterangan bahwa kekacauan telah terjadi di kota.

Tahun itu baha yaka kelaparan menangani sangat hibatnya, dan di Changsha beribu orang tidak dapat makan. Delegasi telah dikirim oleh orang-orang yang kelaparan untuk menghadap kepada gubernur dengan maksud meminta tuntuan, tetapi tiuana didapat yawaban ketus yang seperti: “Mengapa kamu tak ada makanan? Banyak makanan di dalam kota, aku selalu dapat dengan tukup!“. Pasti saja yawaban gubernur itu membuat murka antero rakyat yang sedang kelaparan. Lalu mereka membikin rapat besar dan demonstrasi yang kesudahannya mereka serbu pendopo gubernur Pemerintah Manchu, rubuhkan tiang bendera, lambang kebesaraan pang-rah-praja, dan malah menghalau gubernur tadi. Kemudian Komisaris Kementerian Dalam Negeri yang bernama Chang, keluar dengan menunggang kuda. Ia menyatakan kepada rakyat yang sedang meluab itu, bahwa Pemerintah akan berdaya sebisanya untuk menolong mereka. Sebetulnya Chang itu bersungguh hati akan sanggupi janjinya, tetapi apamau Keizer tidak mempersetuyui itu dan malahan mempersalahkan Chang yang katanya telah bersekutu dengan komplotan rakyat. Kerena itu, Chang lalu dipindahkan ke lain tempat. Tidak lama ber-selang, gubernur baru datang. Dengan segera ia memerintahkan orangnya untuk menangkap semua pemimpin yang menyatubkan huru-hara itu. Banyak pemimpin telah dijatohkan hukum tabas batang lehernya, dan kepalanya digantung sebagai anlyaman kepada ”pemberontak“ yang bakal datang.

Hal itu telah dirundingkan dalam sekolah kami untuk beberapa hari. Itu telah mengasih kesan yang sangat dalam kepada saya. Kebanyakan murid-murid itu menaro sympati kepada pemberontakan itu didasarkan dari sudut sebagai penindau saja. Mereka umumnya tidak mengarti bahwa itu ada hubungan yang semata-mata mengenakan atas jiwa dan hidupnya si-pemberontak tadi. Mereka hanya ketarik dengan tonotonan yang seru dan mendebarkan saja. Tetapi sebaliknya terasa oleh saya bahwa dlantara orang yang memberontak itu, adalah orang-orang blasa yang sederhana seperti juga pamili saya, oleh kerena itu, timbulah perasaan saya gusar dan membenci terhadap perlakuan yang ganji yang diberikan pada mereka itu.

Sejak itu, di Shao Shan pun kejadian perselisihan antara anggota Ke Lao Hul, satu perkumpulan gelap, dan tuan-tanah di situ. Tuan-tanah itu memajukan soal ini kepada pengadilan. Ta’usah heran oleh kerena tuan-tanah itu berpengaruh maka mudah sekali dibelinya putusan yang menguntungkan padanya. Begitulah anggota Ke Lao Hui tadi, setelah mendapat keputusan yang dikalahkan dengan curang, tidak mau bertunduk, lalu memberontak terhadap tuan-tanah dan Pemerintah. Pemberontakan itu terjadi begitu hebat sehingga akhirnya mereka lalu menarik mundur komplotannya ke gunung Liu Shan, dan di sana malahan mereka membangun benteng pertahanannya. Tentara segera dikirim untuk membasmil mereka; si tuan-tanah tadi lalu membesar-besarkan kejadian ini dengan menyarkan kabar-angin bahwa mereka telah menyembangyi bendera revolusinya dengan korban seorang bayyi. Pemimpin gemberontakan itu hanya seorang bernama P'ang, pembihin penggilingan batu. Pada akhirnya mereka telah dihancurkan dan P'ang terpaksa melarikan diri. Tidak lama kemudian, P'ang telah tertangkap dan dipotong kepalanya. Peristiwa ini, bagi pemandangan murid, P'ang ialah seorang pendekar, kerena mereka umumnya menaros sympati kepada pergerakan revolusi.

Pada lain tahunnya, justru padl baru belum dapat dipotong, sedang yang tertimbun pada sedari musim dingin telah termakan habs, maka dalam district itu menjadi kekurangan makanan. Si-miskin segera minta pertolonganya petani yang kaya dan mengadakan suatu pergerakan yang dinamai “Makan Nasi Percuma”. Sebagai satu saudagar beras ayah saya telah mengangkut banyak padi kekota dari lingkungan district kami, Walaupun keadaan orang di situ dalam kekurangan. Sebagian dari pengirimannya telah dirampas oleh orang kampung yang melarat, pasti saja ini membuat ayah saya menjadi kalap. Meski demikian, saya tidak menaro sympati kepada ayah, dan di samping itu, saya pun mempersalahkan caranya perbuatan orang kampung itu.

Jenis lain yang juga mempengaruhi atas diri saya, ialah kedatangannya sala-seorang guru yang “radical”. Ia mengajar di sekolah kampung kami. Ia terkenal sebagai “radical” kerena ia mementang lgama Buddha, dan tidak peryiala kepada Tuhan Allah apa pun. Ia mengusulkan kepada rakiat untuk mengubah rumah-rumah brahala supaya dipergunakan untuk keperluan sekolah. Oleh sebab ini, ia dibuat buah buturnya orang sekampung itu, dan saya sepakat dengan pendirian dan pendapatannya.

Berjenis-jenis kejadian ini, telah berkumpul dan melikat dalam angan-angan saya yang masih muda itu, beriyala-nyala berkobar semangat yang melawan. Pada saat ini pun, saya sudah mengandung angan-angan yang berpolitik, terutama setelah saya dapat membentla suatu pamflet yang menggambarkan terpeyat-belahnya negara Tiongkok. Saya masih ingat, meski sekarang pun, kata permula pamflet itu yang bunyinya: “Ah, Tiongkok bakal musnah dari muka bumi!”. Pamflet itu menceriterakan pendudukan Jepang di Korea dan Formosa; leburnya kedaulatan kita di Indo-China, Burma dan lainnya tempat. Setelah saya membata itu, saya merasa sangat terharu membayangkan nasibnya Tiongkok di kemudian hari, dan mulalah saya insaf bahwa itu menjadi kewajiiban rakyat seumumnya untuk menolong negerinya.

Ayah saya telah mengambil penetapan akan mengirim saya berlajar bernlaga di suatu toko beras di Hsiang Tan yang ayah saya ada banyak berhubungan. Pada mulanya, saya tidak menolak kerena saya pikir bahwa itu tentu menyenangkan, tetapi kira-kira pada waktu ini, saya mendapat kabar bahwa satu sekolah baru yang luar biasa telah didirikan. Saya segera mengambil ketetapan buat pergi ke sana, Meskipun ayah saya tidak menyetudul. Sekolah baru ini, Adanya di district Hsiang Hsiang tempat sanak pamili ibu saya bertinggal. Saudara-milsan saya seorang murid dari sekolah tersebut, dan la mengasil tahu saya tentang keadaan sekolah itu serta segala perubahan cari caranya “pendidikan baru” yang tidak mengutamakan pelayaran kitab klassik, hanya lebih memperhatikan pengetahuan ilmu “Kebaratan”, pun carra pendidikannya lebih “radical”.

Saya lalu pergi mendaftarkan ke sekolah itu bersama-sama saudara milsan saya. Karena menurut paham saya bahwa sekolah itu hanya terbuka untuk melulu anak prbumi cari Hsiang Hsiang, maka saya pun mengaku sebagai orang Hsiang Hsiang. Belakangan saya mendapat tahu bahwa itu tidak sebetulinya, nakai kembali saya menerangkan tempat asal yang sebenarnya yaltu dari Hsiang Tan, dan saya telah membayar 1,400 duit untuk pembayaran blaya makan, tempat tinggal can semua peralatan sekolah buat lima bulan. akhirnya ayah saya niufakat juga sesudah kawan-kawannya memberi nasehat can keterangan bahwa pendidikan yang lebih “atasan” berrli tambahna kekuatan akan pencaharian. Inllah untuk pertama kalinya saya berpergian dari rumah sebegitu jauh hingga limapuluh pal. Saya berumur enambelas tahun pada waktu itu.

Dalam sekolah baru itu, saya dapat memperlayari ilmu pengetahuan alam dan pula berbagai-bagai jenis perlayaran

Barat. Lain hal yang dapat kututurkan ialah di antara guru sekolah itu ada seorang yang pernah belajar di Yapan, dan ia memakai taocang palsuh. Itulah mudah sekali akan kita kata, bahwa taocang yang dipakainya itu ialah palsuh. Karena itu saban orang mengetawakan dan mengatakan “Setan Asing yang Palsuh”.

Sedari dahulu belum saya pernah mengalami menampak kanak-kanak berkumpul begitu banyak. Kebanyakan mereka itu putra tuan-tanah, yang berpakalan rebo. Sedikit sekali kaum petani sanggup mengirim anaknya bersekolah di situ. Saya berpakaian lebih saderhana daripada mereka sekalian; Baju jubah hanya dipakainya oleh guru-guru saja, dan melhinkan “Sisetan Asing Palsuh” yang memakainya baju diay celesna asing. Banyak anak murid dari kaum mampu meng-hinskam diri saya kerena pakalan saya cablk dan rombeng. Meskipun demikian, ada juga kawan saya yang baik, dan diantaranya dua yang menjadi kawan seperjoang, satu selarang menjadi penulis berada di Soviet Russia.

Bukan tersebab dari pakaian saja saya telah tidak disukai oeh mereka, tetapi juga kerena saya bukan orang Hsiang Islang. Baik sebagai pribumi Maupun cuma berasal dari mutu district dari lingkungan Hsiang Hsiang ialah sama ter-pentingnya. Hsiang Hsiang ada terbagi dalam tiga daerah ialah atas, tengah dan bawah. Antara orang-orang dari bagian atas dan bawah tidak putusnya bermusuhan yang melulu tersebab kerena perlanaan daerah, dan tiada satu yang suka mengalah dan mau damai. Dalam pertiyderaan itu saya hanya selalu tetap netral kerena saya bukan orang kampung di situ. Tetapi pada bunutinya, orang dari ketiga daerah itu sama membentuinya sala, yang tentu saja itu sangat menyebabkan pikiran saya kurang tenang.

Saya telah memperoleh kemayuan yang pesat sekali selama dalam sekolah ini, sehingga semua guru menyayangnya saya, terutama guru yang mengajar Klassik, sebab saya pandai mengarang tulisan yang secara klassik. Tetapl angan-anganku bukan dicurahikan untuk memperladiari Klassik. Saya membalca dua buah kitab pengasih saudara-milsan saya yang membalcarakan tentang pergerakan “Kebaharuun”, buah tulisan Kang Yu-weI, dan yang satunyia ialah Majalah Rakyat Baru (Yournal of the New People) yang pimpinan redaksinya terpegang oleh Liang Ch'i-ch'ao. Saya baca dan baca lagi kitab-kitab ini chingga hampir dapat dikata saya dapat mengapalkannya lengan luar kepala. Saya sangat menjungjung tinggi kedua Kang Yu-wel dan Liang Ch'1-ch'ao, juga sangat bersyukur; saya kepada saudara-misan saya itu yang saya anggap sebagai seorang yang amat progressive, akan tetapi pada hari belakangan, ia berbalik menjadi scorang yang antirevolusi pada masa Revolusi Besar di tahun 1925 - 27.

Banyak murid yang tidak menyukainya, “Setan Asing Palsuh” tu, kerena taolyangnya yang buatan, akan tetapi saya siya sekall mendengarnya pembitiarana la tentang Yapan. Ia mengajar kami seni-suara dan bahasa Inggris. Dari antara yanyian-nyanyian yang dibelajarkannya, terdapatlah satu nyanyian Yapan yang dinamakan “Peperangan di Samudera Kuning”, saya masih dapat mengingatinya bahasanya itu:

Bernyanyi siburung-Gereja, Berlari siburung-Bulbul, I adang yang hijau sangat permainya dimuslim senti. Merah warna bunga Delima. Pohon Yang-liu hijau daunnya. Disisitulah lukisan yang baharu.

Semenjak itu, terasa oleh saya keindahan Negeri Yapan, ian saya rasakan keangkuhan dan keazungannya dalam arti yanyian yang mengunduk kemenangannya perang terhadap Russia. Saya tidak sekall mengira bahwa di sana pun ada Yapan ung biadab........ Yapan yang kita dapat menyatakan pada nasa sekarang.

Inilah semua yang saya dapat mengetahui dari “Setan Asing Palsuh” itu.

Saya dapat mengingat juga bahwa pada waktu ini, untuk certama kali saya pernah mendengar watafnya kedua Baginda Keizer dan Tzu Hsi, Sri Maha Ratu Dowager, Walaupun Keizer baru, Hsuan Tung (sekarang terkenal sebagai Pu Yi) telah bertachlia liwat dari dua tahun. Saya belum menjadi seorang antimonarchist, dan sesungguhnya, saya anggap baik Keizer Maupun kebanyakan kaum Pangereh-Praja, sama jujur, saik dan pandai. Mereka hanya membutuhkan bantuanya serubahan dari Kang Yu-wel. Saya meresap memperliayari yatatan raja-raja yang terinasyhur pada jaman purbakala dari Tiongkok, misalnya: Yao, Shun, Ch'in Shih Huang-ti dan Han Wu-ti, dan pun lainnya kitab yang berkenaan dengan mereka sechususnya. Diuga saya membataya ilmu sejarah dan ilmu bumi dari berbagai-bagai negeri di dunia. Periama kali saya dapat mendengar tentang Amerika dalam sebuah tulisan yang membeberkan sejarah perjuangannya dalam revolusinya dengan diuga tertulis kata-kata seperti: “Setelah mengalami delapan tahun yang sukar dalam peperangan, Washington dapat kemenangan yang gilang-gemilang dan lalu dapat membangun-kan regaranya”. Di dalam satu kitab yang dinamakan “Great Heroes of the World” pun saya dapat membatayanya tentang Napoleon, Catherine dari Russia, Peter the Great, Wellington, Gladstone, Rousseau, Montesquieu dan Lincoln.


II

SELAMA BERADA DI CHANGSHA

SAYA mulallah terkenang akan pergi ke Changsha, kota terbesar itu, ibu kota dari propinsi yang letaknya 20 mil dari rumah saya. Orang katakan bahwa kota ini sangat besar, tertinggal beribu-ribu orang penduduk, tertampik beryenis-yenis rumah sekolah dan disana pun ada istana gubernur. Sungguh terlampau besarinya kota itu! Pada waktu ini saya sangat kepingin pergi ke situ dan bersekolah di sana! Sekolah Menengah buat namanya orang Hsiang Hsiang. Maka pada buntut tahun itu saya telah memadukan permintaan kepada salah-salu guru dari Sekolah Rendah tempat saya bersekolah untuk diperkenankan akan pergi ke sana. Setelah dapat permufakatannya, lalu saya berjalanan kaki ke Changsha, dengan luar biasa kagumnya saya menampak keadaan semua di situ, separo ketakutan kalau saya nanti tidak dapat diterima masuk sekolah, sehingga sedikit pun tidak berani mengharap yang saya bakal benar-benar menjadi seorang murid dalam sekolah yang terbesar itu. Alangkah terkejutnya saya setelah mendapat kenyataan bahwa saya telah diterimanya dengan tidak menampak kesukaran apa pun. Akan telapi, berhubung dengan keadaan politik yang bergolak-golak sangat deras; hanya hanyla berada distu tiuma setengah tahun.

Surat-kabar yang pertama saya dapat membaca di Changsha yaitu “Tenaga Rakyat” (Min Li Pao), pekabaran pekabaran revolusi nasionalis yang mewartakan tentang Pemberontakan di Canton terhadap Kerayaan Manchu. Yang membawa pengorbanan tewasnya Cuduh-puluh-dua Pendekar di bawah pimpinan seorang berasal dari Hunan bernama Huang Hsing. Saya sangat ketarik dan yakin bahwa “Tenaga Rakyat” itu, banyuk memuat tulisan dan warta yang betah itu dipimpin oleh Yu Yu- Yen yang di kemudian hari menjadi seorang pemimpin terkenal dalam partai Kuomintang. Saya pun dapat mengetahui tentang Sun Yat-sen pada waktu ini, dan juga syarya pekerjia T'ung Meng Hui. Negeri kita dalam saat pada punlyaknya Revolusi Pertama. Semangat saya telah bernyala-nyala begitu rupa sehingga saya menusil sebuah karangan yang lalu saya tempelkan disatu dinding sekolah. Tulisan buah pikiran saya yang pertama tentang anggapan politik, cuma saja tidak tepat. Saya masih belum dapat sama-sekali menolak perasaan kesengsasam terhadap K'ang Yu-wei dan Liang Chi‘-ch'a. Sebetulnya saya tidak paham benar tentang perbedahan mereka berdua. Maka itulah dalam tulisan yang saya telah tulisinya itu, saya berpendirian bahwa Sun Yat-sen harus dipanggil kembali dari Yapan untuk memangku jawatan Presiden Pemerintah Baru, sedang K'ang Yu-wei dijadikan Perdana Menteri, dan Liang Chi’-ch'a dijadikan Menteri Luar Negeri!

Pergerakan “AntiModal-Asing” yang berhubung dengan adanya pembangunan Jalan Kereta-el antara Szechuan—Hankow, dan Penuntutan Umum untuk Pembentukan Parlemen, telah berkobar-kobar dan bernyala-nyala seluas-luasnya. Sebagai yawaban dari ini, Keizer Manchu hanya cuma menjatuhkan firman buat dibentuk saja Badan Penasehat. Kerena itu semangat murid-murid dari sekolah saya pun bertambah bernyalanya. Mereka telah mengadakan demonstrasi untuk melampaskan perasaaninya antiManchu yang sentimental dengan aksi bersama-sama mengguntinginya taocang yang menempel di atas kepalanya masing-masing. Kawan saya dan saya sendiri pun tidak terketuyiual mengguntinginya butut taocang itu. Antaranya ada beberapa orang yang telah berjanyi akan berbuat demikian, tetapi belakangan tidak menjalani jan-jinya. Oleh sebab ini, kawan saya dan saya lalu diam-diam menyalanya perbuatan mereka dan paksa mereka memindahkan buntninya dari atas kepalanya. Sejumian lebih dari sepuluh orang yang telah datuh menjadi korban dari gunting saya sekalian. Begitulah dalam tempo yang singkat sekali, bukan saja saya tidak lagi mengetawai taocang limitasi dari si “Setan Asing Palsuh” itu, bahkan meluaskan permintaan umum akan membasm semua ekor yang ada dimasing-masing kepalanya. Betapa besarinya pendirian politik akan kemungkinan mengubah pendapatan orang!

Setelah terjadi Pemberontakan di Wuhan pada bulan October 1911 yang terlumpin oleh Li Yuan-hung, di Hunan telah diumumkan Ondang- dinmas Perang. Pergolakan politik berubah sangat tepatnya. Pada suatu hari, seorang pejuang revolusi telah muntul dalam Sekolah Menengah kami, dan cengah perkenannia kepala sekolah telah berpidato yang sangat mengobar-nobarkan di hadapan banyak murid. Tuduh a'au delapan murid telah berdiri dan bergiliran mengutarakan tunjangannia dengan diseritakan serangan-serangan hebat terhadap Pemerintah Manchu, dan lebih jaah telah menajukan usul agar supaya selekasnya dibentuk Pemerintahan Republik. Masing-masing yang mendengarnya penuh dengan perhatian sehingga tidak satu suara dapat terdengar kecuali sipenganjur revolusi itu, sala-satu orangnya Li Yuan-hung yang berbiliara di hadapan murid-murid yang sedang berkobir

Sejak mendengar pidato itu, antara empat atau lima hari saya telah mengambil ketetapan akan menjadi seorang berjuang dalam tentara revolusi yang dikepalai oleh Li Yuan-hung. Lalu saya pergi ke Hankow dengan beberapa kawan saya yang orgkosnya saya dapat mengumpulna dari kawanan saya sekelas. Mendengar bahwa sepanjang jalan di Hankow rusak dan betiek yang memperlukan dengan sepatu bujan, maka saya lalu memindiamna kepada kawan yang berada dalam tenla'a yang dipusalkan diuar kota. Saya telah tertahan oleh pasukan penjaga. Kota Changsha telah menjadi ramai sekali, se-cadu-serdadu bersenjata lengkap dan mereka semua berjejiil micalan.

Kaum pemberontak telah mendekati kota sepanjang jalan kereta-api Canton—Hankow, dan pertempuran telah dimulai dise'itar dinding benteng Changsha. Dalam kota pun be-ba'eng kejadiah kecatlanan yang hebat sehingga pintu-pin'u kota telah didobrak dan jatuh ke dalam tangan kaum buruh. Saya segera masuknya pula ke dalam kota, dan lalu naik berdiri di atas tempat yang tinggi dengan begitu mudah sekali saya meninjau pertempuran itu, hingga akhirnya saya nampak lambang kebangsaan Han berkibar di atas gedung pemerintah. Lambang itu berupa putih dan di atas mana tertulis dengan huruf “Han”. Dengan tergesah-gesah saya kembali ke sekolah, cuma terdapat sekolah itu telah diduduki oleh militer.

Pada hari esoknya, pemerintahan di bawah pimpinan Komissaris Besar (Tutuh) telah dibentuk. Dua anggota terkemuka dari Ke Lao Hui telah diangkat menjadi Kommissaris Besar ‘an Wakil-Komissaris Besar. Kedua-dua itu berkedudukan di gedung bekas Kantor Badan Penasehat Propinsi yang dikenalai oleh Tan Yen-kai. Tan telah dipecat berhubung Badan Penasehat itu dengan sendirinya telah dihapuskan. Antara surat-surat terpenting yang jatuh terampas ke dalam tangan kaum revolusi ada terdapat salinan-salinan surat penuntutan pembukaan Parlemen. Surat yang asel tertulis dengan darah oleh Hsu Teh-lin yang sekarang memangku yawatan Pendidikan di Pemerintah Soviet. Hsu telah memotong udung jerijinya sebagai tanda keteguhan hati, dan surat penuntutan itu tertulis dengan permula kata yang bunyinya: “Menuntut bahwa Parlemen akan segera dibentuk, aku dengan ini memberi selamat jalan (ditujukan kepada utusan propinsi ke Peking) dengan memotong jerijinya”.

Komissaris Besar berdua Wakil-Komissaris tidak berachik lama dalam jawatannya. Mereka bukannya orang jahat, tetapi sebaliknya orang yang mempunyai kehendak dan angan-anga ber-revolusi; cuma mereka kedua itu hanya orang miskin dan mewakili kepentingannya orang yang tertindas.

Kaum tuan-tanah dan kaum pedagang tidak menyukat mereka berdua. Tidak berselang beberapa hari kemudian, di waktu saya berkunjung kepada kawan saya telah menampak layon mereka berdua menggeletak di tengah jalan. Tan Yen-kai telah memimpin pemberontakan terhadap mereka, sebagai wakil dari kaum tuan-tanah dan kaum militer Hunan.

Banyak murid-murid telah terjunkan diri dalam tentara. Pasukan dari golongan murid telah dibentuk dan antara mercuka itu, terdapat juga Tang Sheng-chi. Saya tidak suka denzan adanya pasukan murid, kerena menurut keyakinan sayis pendirian murid-murid itu hanya berlainan dari satu dan yang lain. Maka itu saya bertetap akan masuk saja tentara blasa dan membantu perjuangan revolusi. Kelzer Manchu belum juga turun dari tachta kerayaannya dan pada saat itu negeri dalam keadaan kacau-balau.

Gajih saya hanya tuduh dollar sebulannya, yang sebenar- nya ada lebih besar jumlahnya darl pada sekarang yang saya dapat di dalam Tentara Merah. Dari jumlah itu saya memper gunikan untuk membeli makanan dua dollar. Saya pun harus membelinya air, kerena semua tentara diharuskan mengangkul air darl luar kota. Saya sebagai seorang murid beranggapapar bahwa memikul air itu hanya terlalu rendah, maka itu saya: membell saja darl tukang menjual air. Sisa dari upah saya, menguralkan tentang revolusi ialah “Hsiang Kiang Daily News” saya menjadi penggemar bacaan. Antara senua bacaan, yang menurelkan tentang revolusi ialah “Hsiang Kiang Daily News”. Socialisme pun dirundingkan dalam harlan itu. Untuk pertama kali saya dapat melihat perkataan “Socialisme” itu. Saya juga merindingkan tentang socialisme dengan murid lain dan sekawan dalam tentara, tetapi pada yang sebenarnya yang kami merundingnya itu hanya social-reformisme. Pamplet-pamlet yang tertulis oleh Klang K'ang-hu tentang socialisme serta prinsipinyya pun saya telah membataya. Saya banyak juga menulis kezada kawan-sekelas saya yang bersetuju. alam pasukan sa'a ada scorang bekas buruh-parit dan lagi scorang bekas tukang besi, keduanya saya sangat sukanya bergaul. Yang lainnya kebanyakkan orang yang berotak-udang dan satu anyaranya ialah bekas penjahat. Saya telah menge jak pula dua murid turut mengambil bagian dalam tentara. Dalam tempo yang pendek saya telah berkenal baik dengan Kepala Pasukan, dan juga dengan lainnya kawan seperdu- ngar. Kerena saya pandai menulis dan banyak membataya buku, maka mereka menghormatnya saya sebagai “Orang Terpelajar”. Saya dapat menolong mereka menulis surat dan lain-lainnya.

Kesudahan dari revolusi ini akan membawa akibat yang ogaimana belum dapat ditentukan. Kerajaan Manchu belum sean; eronya menyerah, tetapi dlanteranya partai Kuominlang sudah muncul suatu kesukaran yang berhubung dengan soal pucuk-pimpinan. Kabaran telah disampalkan bahwa di Hunan akan terjadi pula peperangan yang sukar dapat dibhindarkan. Beberapa pasukan tentara telah dibentuk guna memerangi laskar Manchu, dan diyuga guna merubuhkan kekwaasan Yuan Shih-kai. Di antara pasukan-pasukan ini terdapat diyuga Tentara Hunan. Akan tetapi pada baru saja tentara Hunan akan bertindak menyerang, Sun Yat-sen dengan Yuan Shih-kai telah mengadakan perdamaian. Peperangan yang tadinya dikira akan lantas meledak tidak lagi terjadi, antara Utara dan Selatan telah bersatu, Pemerintah Nanking telah dibuarkam. Mengira bahwa revolusi telah selesai, saya lalu undurkan diri dari tentara dan berketetapan untuk kembali pula kepada Itab saya. Saya mengambil bagian dalam tentara hingga cuhna tengah tahun saja.

Selanjutnya, mulailah saya memperhatikan bunyinya adpertensi yang dimuat dalam harian. Banyak rumah sekolah dibuka kembali, dan dengan perantaraan adpertensi itu mereka mencari murid baru. Saya tidak mempunyai ukuran akan nemilih sekolah yang mana balk, dan saya pun tidak mengarti bagaimana saya harus berbuat. Satu adpertensi dari sekolah kepolisian telah menarik perhatian saya. Segera saya pergi mendaftarkan untuk minta diberinya tempat. Akan tetapi sebelum diadakan ujian, saya dapat melihat lagi adpertensi dari suatu sekolah yang mengajar membikin sabun, dan sesatu murid yang masuk dalam sekolah itu, selainnya terbebas dari pembayaran sekolah, lagi pun dikasil makan dengan peryuma, serta didandiyikan upah. Adpertensi itu sungguh sangat menarik hati, karena dalam mana ada dilukiskan bagaimana faedahnya pembikin sabun bagi masyarakat, dan bagaimana itu akan menambahkan kekayuan sesatu orang dan negeri. Maka berubahlah pikiran saya yang hendak bersekolah kepolisian tadi, dan ambil penetapan akan menjadi pembikin sabun. Demikianlah saya lalu membayarnya pula uwang pendaftaran.

Tidak antara lama, seorang kawan yang bersekolah ilmu hukum telah menaschati saya, untak masuk sekolah hukum. Saya diyuga membayarnya adpertensi dari sekolah hukum tadi, yang mengatakan kesanggupannya akan mengajar murid dalam tempo tiga tahun saja cuukup membikin murid itu menjadi pembesar negeri. Kawan saya itu, tidak habisnya meminji kebalkan sekolah itu, dan akhirnya saya lalu menulls kepada orang tua saya mengulangi kesanggupan adpertensi tadi, dan minta dikiriminya uang untuk pembayaran sekolah. Saya bayangkan lukisan-lukisan yang muluk tentang keinginan saya menjadi satu achli hukum di kemudian hari, dan menunggu kabar dari orang tua saya. Tetapi “nasib” yang merupakan bentuk adpertenis dari sekolah dagang lagi menyobanya menarik hati saya. Lain-lain, a kawan berpendapatan bal wu negeri kita berada dalam peperangan ekonomi, maka yang sangat dibutuhkan pada masa ini, hanya achli ekonomi yang dapat menbangun ekonomi negara. Pendapatan itu mengurkar hati saya, dan segera saya membuang pula sedollar ongkos pendaftaran untuk persekolah di situ. Ini kali, benar-benar saya masuk sekolah itu dan telah diterimanya. Akan tetapi bersangkutan itu, saya pun tidak putusnya melihatnya lain adpertenis, dan pada suatu hari, saya dapat melihat pula sat: adpertenis yang melukiskan betapa balknia satu sekolah dagar meninggi yang dibuka oleh pemerintah dengan cara pengayaran yang luas ser'a guru-gurunya yang kebanyakan terdi, dari orang pandai. akhirnya saya ambil keputusan akan menjadi satu achli dagang, pun lalu membayarnya uwang pendaf-aran, dan menulis lagi kepada ayah saya memberi tahu keputusan saya. Ayah saya dengan segera menyetuji, dar membetulkan kegunaannya kepandaian Ilmu dagang, begitulah ia telah bergembira. Saya bersekolah di situ dan tinggal hanya cuha satu bulan.

Kesulttan yang saya mengalami dalam sekolah baru ini ialah kebanyakan pelajaran telah dipergunakan bahasa Inggris yang seumumnya balk murid yang lain Maupun saya sendiri tidak banyak mengarti lain daripada mengenal sedikit alphabetnya. Lainnya kesulttan ialah sekolah tidak mengadakan guru untuk mengajar Bahasa Inggris. Saking mencelos teryanyup putus harapan dengan keadaan yang sedemikian, kepakalah saya undurkan diri pada buntut bulan. tidak lain hanya terus membaca adpertenis

Pada hakekatnya pengalaman penghidupan saya bersekolah ialah dimulai pada saya bersekolah di Sekolah Menengah Ke-I yang didirikan oleh propinsi. Seclah membayarnya uwang pendaftaran sedollar, saya lalu ambil eksamen untuk pemasukan sekolah, dan telah lulus dengan angka paling bagus daripada lainnya liasion. Sekolah itu besar, dan mempunyai banyak murid. Yang telah lulus dengan mendapat ijazah dari sekolah itu pun bukan sedikit. Seorang guru yang mengajar bahasa Tionghoa dalam sekolah itu menolongnya saya banyak, la taruh banyak perhatian kepada saya sebab saya pandai mengarang. Guru ini meneasih pinjam saya kitab yang berkalamat “Yi Pi

Agak ketika ini, Pabrik Alat Senjata Pemerintah telah meledak di kota Changsha, sehingga teryadilah lautan api. Murid-murid bersenang hati melihatnya kedadian itu. Pelor dan peluru sama meledaknya, ketambahan obat-bedil yang bernyala-nyala begitu hebat, hingga terdengar lebih gemuruh daripada suara petasan. Sebulan sejak teryadinya ini, T'an Yen-k'ai telah terusir oleh Yuan Shih-khai yang pada waktu ini berpengaruh atas jalannya roda politik Republik Tiongkok. T'ang Hsiang-ming lalu diangkat sebagai gantinya T'an Yen-k'ai, untuk menyalankan titah perslapan berkenaan dengan bertachtanya Yuan menjadi Kelzer.

Saya tidak menyukai Sekolah Menengah Ke-I itu, bukan saja tersebab syarat perlajarannya yang sangat terbatas, pun peraturan sekolahnya sangat tidak memuaskan. Maka setelah saya membatta “Yi Pi” T'ung Chi'en Chi Lan“ itu, dapatkan kesimpulan akan saya berlajar sendiri. Saya berhenti bersekolah sesudah enam bulan lamanya. Sejak itu, mengaturlah sendiri acara untuk pendidikan diri sendiri yang hanya terdiri dari bacara sehari-harinya di Balai Pustaka Propinsi Hunan. Dengan bersungguh hati saya berlajar sehingga dalam tempo yang setengah tahun, saya pergunakan itu, lebih banyak berharga dan berfaedah. Tiap esok saya pergi ke Balai Pustaka itu; waktu lohor saya mengaso dengan cuina tempo cukup untuk saya membantu dan memakan bacang yang menjadi makanan saya yang sehari-harinya, dan lalu saya melandutkan pula pembattaan saya hingga petang hari waktunya Balai Pustaka itu ditutup.

Pada masa, saya berlajar dengan sendiri, banyak kitab saya telah membatta. Ilmu Bumi dan Sejarah dunia juga dapat saya mempelajary. Untuk pertama kalinya saya menampak dan memperladari ilmu-bumi dunia dengan penuh perhatian. Bukan melulu itu saja, malahan saya membatta The Wealth of Nations (Kemuliaan Berbagai-bagai Negeri) tulsan Adam Smith; Origin of Species (Wiwit Ginsl) oleh Darwin; kitab tentang Budi Pekerti oleh Yohn Stuart Mill; karangan Rousseau; ilmu Logica oleh Spencer dan kitab tentang Tata-Hukum oleh Montesquieu. Saya memperladari juga sa'ir dan romances, dan dongeng dari Greek pada jaman dahulu kala, memperhatikan benar-benar sejarah dan ilmu bumi dari Russia, Amerika, England, France dan lainya negeri.

Belakangan saya telah menumpang tinggal disatu gedung perkumpulan dari orang-orang Hsiang Hsiang. Banyak orang serdadu yang mengundurkan diri atau dibubarkan bersama-sama menumpangnya di situ. Mereka tidak mempuayai pekerjaan pun tidak mempunyai banyak duit. Antara serdadu-serdadu dan murid-murid yang sama bertinggal di situ seyung kall teryaji percektiokan sehingga pada suatu malam, permusuhan itu telah berkober sangat helbat dan akhirnya timbulah perkelahan yang seru. Serdadu-serdadu itu menyerang dan mencoba akan membunuh sekallan murid itu; saya segera meloloskan diri dan bersembunyi di suatu kamar kecil saair pui pertempuran habis.

Saya telah keputusan uang, dan orang tua saya mencak akan mengiriminya bila saya tidak bersekolah. Olch karena saya tidak dapat pula menumpangnya dalam gedung perkumpulan tadi, kepaksalah saya mencoba carl tempat lain untuk sekedar bernaugn. Sementara itu, saya memlikirkan untuk mentarl “pekerjaan”, dan akan selekas mungkin mengambil tindakan kalau sekiranya coytok menjadi guru sekolah. Saya membaca puia adpertensi. Begitulah satu pengumuman Sekolah Normal Hunan lalu menarikinya pulu perhatian saya kerena beberapa kelonggaran yang diberikan oleh sekolah tadi, misalnya: tidak usah membayar uang sekolah; bila akan tinggal dan makan dipungut sangat rendahnya. Dua kawan saya telah mengunjukan saya buat masuk sekolah tersebut. Mereka minta saya membantunya menyejakan membuat karangan pada waktu dibikin percobaan pemasukan sekolah. Saya lalu menulis su'at beritahukan kepada orang tua saya tentang maksud saya itu dan dapatkan persetuyuannya. Saya membuat dua buah karangan untuk kawan saya, dan satu lagi untuk saya sendiri, yang ketiganya itu semua telah terterima perbalk oleh sekolah, dladi tegasnya, saya telah lulus tiga kall dalam percobaan itu. Saya tidak sekall memikir bahwa perbuatan ang semayum itu hanya satu pelanggaran yang tidak seharusnya; saya berbual demikien hanya melulu terdorong kerena persahabatan.

Saya bersekolah buat lamanya lima tahun, dan tidak lagi biarkan diri saya dipermalukan oleh bunyinya adpertensi. sehingga akhirnya luluslah saya dari sekolah itu. Kejadian-kejadian selama dalam penghidupan saya selaku murid di Sekolah Normal Ke-I dari Propinsi Hunan itu, banyak sekali Distulah saatinya idam-idam saya tentang politik dapat berkembang; distulah juga saya mendapatkan pengalaman: pertama dalam pekerjaan sosial.

Banyuk peraturan-peraturan telah dietapkan dalam sekolah itu, akan tetapi hanya sedikit sekali yang saya setuju. Satu hal yang saya tidak mufakat yatu dimesilikannya memperladiyi ilmu Alam. Saya hanya ingim melulu memataangkan ilmu pengetahuan sosial. Sedikit pun saya tidak ketarik dengan ilmu alam itu, maka saya tidak kepingin memperladiyi. Oleh kerena itu, angka-angka yang saya dapatkan buat pelajaran itu jelek sekali. Antara pelajaran yang dijejalica dengan paksaan dari yang saya paling benci yaitu: ilmu lukis barang berdiam, yang saya anggap keliwat bodo. Kerap kali saya pikir mengambil saja barang apa sedapatnya yang mungkin saya lukiskan, dan secepatnya telah diselasaikan, segeralah saya berlalu dari ruangan kelas. Saya ingat yang pada suatu hari saya telah melukiskan “separo gunung-karang, mengintal sang matahari” (pelukan dari bunyinya sa’ir yang termasihyur oleh Li T’ez-po) yang saya wujutkan dengan satu garis lempang dan di atas mana saya menaronya setengah-lingkar untuk matalharai. Sekali lagi ialah pada waktu diadakan uyian menggambar. Saya merasa puas dengan menggambar satu wujut dhorong dan saya namakan itu “telur“. Saya tiuuna dapat angka 40 buat ilmu menggambar dan tidak cukup. Beruntung sekali angka yang saya dapat dari pengetahuan sosial lebih unggul dari lain-lainnya beberapa kelas hingga dipukul ratanya dapat menambahkan angka yang lemah itu.

Seorang guru pengajar Klassik Tionghoa di sekolah ini, yang murid-murid julukan dengan sebutan “Yuan, si-Jenggot Gede“ telah mengetawai tulisan saya, dan namakan tulisan itu buah pekerjaannya satu yournalist. Ia pandang rendah tulisan Liang Ch’i-ch’ao yang saya selalu ambil buat model dari tulisan saya, dan olenhya dianggap separo-masak. Dengan ridhal hati saya telah mengubah cara tulisan saya. Lalu saya memperladiyi tulisan-tulisan dari Han Yu dan saya memperdalamkan pengetahuan saya tentang ujarian Klassik Tionghoa kuno. Bila perlu sekarang pun saya masih dapat menulisnya tulisan secara Klassik yang lumayan juga, loulah ada pengasih dari Yuan si Jenggot Gede.

Guru lainnya yang mengasil saya kesan sedalam-dalamnya yalan Yang Chang-chi seorang Maha Siswa di England yang cara hidupnya pada kemudian hari telah memberi saya teladan yang baik. Ia mengajar pelajaran ethics. Ia seorang idealis yang tinggi prubudinya. Ia sangat percaya bahwa pengajaran yang ia memberinya kepada murid-muridnya akan mengisl mercika angan-angan akan menjadi seorang yang adil, buk-budi, bertata-krama serta berzina basal masyaraat. Atas pengaruh guru itu saya telah membata kitab ethics yang disalin oleh Ts'ai Yuan-pei, dan memberi saya andiran menulis sebuah tulisan berkalinat “Tenaga Rohani”. Demikianlah saya menjadi seorang idealis, dan tullsan saya tadi itu mendapat pujian dari profesor Yang Chang-ch'i. ditilik atas dasar penandargan-nya yang sebabai ideals. In mengasih aneka 100 buat tullsan itu.

Seorang guru yang bernama T'ang kerap kali mengasihinya sala lembaran warta harlan “Raklat”, yang saya telah membaca dengan penuh perhatian. Dari kabar harian itu saya telah yakin tentang pekerjaannya serta azas-azasnya T'ung Meng Hui. Pada suatu hari, saya membacanya sehela harlan “Raklat” itu, yang ada termuat kabaran dari berdua murid yang mengelllingi daerah Tiongkok dan telah tiba di Tatslenlu, tapel batas daerah Tibet. Hal ini memberanikan hati saya. Saya hendak menurutl teladaninna, akan tetapi saya tidak menpunyal uang; sala hanya dapat menyooa mengitari sudla propinsi Hunan.

Tibalah musim panas, segera saya mengembara melalui lima daerah kabupaten dengan dikawani oleh satu murid yang bernama Hsiao Yu. Perjalan kami itu, sama sekali tidak menggunakan uang barang-sepeser. Di berbagai-bagai tempat yang kami telah datangi itu, kami selalu mendapat perlakuan yang manis budi, serta makar dan unggai dari petani-petani yang kami hampiri ladi. Hsiao Yu ini yang berkellling sekawan dengan saya kemudian menjadi pembesar Kuomintang di Nanking di bawah penilikannya Yi Pei-chi bekas Kepala Sekolah “Hunan Normal College”. Yu Pei-chi ini setelah berpangkat tinggi di Nanking, lalu mengangkat Hsiao Yu sebagai pengurus Palace Museum di Peking. Hsiao kemudian menjual barang antik yang berharga simpenan museum itu, dan kabur dengan nienggondol duit pada tahun 1934.

Terasa buluh sanga: untuk mendapat kawan yang kekal yalu saya mutainya adpertensi diharian “Changsha” pada suatu hari yang mengundang sekallan pemuda yang gemar dengan pekerjaan memlong negeri supaya segera membikin perhubungan dengan saya. Di situ saya mengutamakan hanya pemuda yang bertegul-hati serta tetap-madap dan sanggup dengan tekadnya terhadap perjuangan untuk negeri saja yang saya butuhkan. Dari adpertensi ini saya telah mendapat diawaban hanya tiga dan “setengah”. Satu dari Liu Chang-lung yang kemudian masuk menjadi anggota Komunis dan belakangan berchlanat. Yang lainnya dua itu dari pemuda yang kemudian harinya menjadi kaum ultra-reactionalir. Sedang yang “setengah” itu ialah yawaban dari seorang pemuda yang tidak mengutarakan pendirilannya, bernama Li Li-san. Li mendengarnya segala pembitiarana saya dan layu pergi dengan tidak uncukan barang sedikit pendapatannya, dan persahabatan kami pun tidak beryalan kekal.

Dengan lambat laun saya telah membentuk satu golongan kecil dari murid-murid sekitar saya, dan pusat golongan itu ialah yang di kemudian hari menjadi suatu badan berjuang yang telah menyebarkan bilit akan menentukan nasibnya negeri. Golongan kecil itu terdiri dari pemuda-pemuda yang berpendirian teguh, dan mereka itu tiada bertempo akan merundingkan tentang perkara tektiek-bengek yang mengenakan diri sendiri, Sekalipun tidak bertempo akan melintu dan dicintai atau yang dikatakan “romance”. Mereka hanya berpendapatan bahwa sang tempo itu kellwat penting sekali untuk merundingkan segala pengetahuan yang sangat dibutuhkannya daripada merundingkan soal perempuan atau perkara perseorangan, maka itulah segala yang dibitiarakan hanya yang beralasan dan bertujuan. Saya sendiri pun tidak taro perhatian tentang perempuan. Orang tua saya telah mengawinkan saya pada seorang gadis yang berumur duaapulu, selagi saya baru umur empat belas tahun. Akan tetapi tidak sekali saya tinggal bersama dengan ia, dan pun tidak sekali bercampur. Saya tidak beranggapan bahwa ialah isteri saya, dan pada waktu itu, sejik pun tidak memilikikannya. Terasing daripada segala perundingan tentang kecantikan perempuan, yang blasanya mengambil kedudukan terpenting dalam penghidupan orang muda pada masa ini. Sekawan saya itu bahkan menolakna membicarakan soal penghidupan seharihna. Saya mengingatna pada suatu hari, telah kejadian di rumah sala-seorang pemuda, yang membicarakan kepada saya tentang membeli setemplik daging. Tatkala di hadapan saya itu layu dipanggilna seorang pelayian, dan setelah berkutet buat sekian waktu tentang membell daging itu, lantas diperhitiahna membelinya daging setemplik. Saya telah gusar karena ini, dan selanyutna tidak lagi bertemu padanya. Sekawan saya dan saya hanya suka saja membicarakan soal negeri, masaalah dunia dan alam seumumnya!

Approved For Release 2002/08/08: CIA-RDP82-00457R006500430014-5

Tidak begitu saja, malahan kami banyak memperhatikan soal latihan jasmani. Di waktu musim dingin, bilamana kami tidak bersekolah, kami berdiyalan-diyalan di tegalan, naik turun gunung, melalui dinding benteng kota, dan menyeberangi sungai dan kali yang dingin. Bilamana turun huyan, kami tidak berbaju dan mandi air huyan itu yang kami namakan “bermandi huyan”, dan bilamana matahari sedang apnasnya, kami membuka baju yang kami namakan “bermandi panas”. Pada musim semi di waktu angin menuyu sangat santarnya, kami bertreak-treak dan inilah yang kami namakan “bermandi angin”. Kami bertidur dilapang terbuka bilamana turun salyu, dan Meskipun di hari bulan Nopember kami kerap kali berenang di sungai yang beku. Semua itu berdiyalan begitu rupa, yang selanyutnya kami namakan “perlatihan jasmani”. Mungkin sekali itu dapat menolong kepada latihan tubuh yang saya sendiri telah membutuhkan sangat pada kala kemudian hari dalam perdiyalan saya mundar-mandir melalul Tlongkok Selatan, dan “Perdiyalan yang Mana Panjang” itu dari Kiangsi sehingga ke Barat-Laut dari daerah Tlongkok.

Saya telah mengadakan perhubungan tulis menulls surat antara murid-murid dari kawan-kawan yang tersebar diber-bagai-bagai kota dan tempat besar. Lambat laun mulallah saya yakin dan insyaf kebutuhannya suatu organisasi yang dapat mengikat perhubungan kami sekalau se-erat-erat-eratinya. Pada tahun 1917 dengan kawan-kawan lain saya telah bantu membentuk Hsin Min Hoeh Hui (Badan Peryakinan Rakyat Baru), yang anggautanya kira-kira cuduh delapan puluh, dan yang jantaranya banyak orang termashyur dalam kalangan Komunis Tlongkok dan sejarah Revolusi Tlongkok. Antara orang Komunis yang ternama tu Ialah: Lo Man, kini menjawat sebagai Penulis Partai Panitia Organisasi; Hsia Hsi, kini berada di Garis Ke-II dari Angkatan Tentara Merah; Ho Hsien-hon yang menjadi Hakim Besar dalam Pengadilan Tertinggi dari daerah Soviet Pusat, dan belakangan telah dibunuh mati oleh Chiang Kal-shek; Kuo Liang, pemimpin buruh yang terkenal, belakangan terbunuh oleh Jendral Ho Chien pada tahun 1930; Hsiao Chu-chang, seorang achil pengarang berada di Soviet Russia; Tsai Ho-sheng, anggauta Panitia Pusat Partai Komunis di Tlongkok, terbunuh pada tahun 1927 oleh Chiang Kal-shek; Yeh Li-yun, yang menjadi anggauta Panitia Pusat dan belakangan berchlanat kepada Kuomintang dan menjadi pendiri Perserikatan-Pedagang Kapitalis; dan Hsiao Chen, sala-seorang pemimpin Partai yang terkenal, satu dari antara enam yang telah membubuh tanda-tangan atas persetuyuan Ang- garan Partai, dan tidak berselang lama telah menutup mata kerena sakit. Kebanalakan anggota Hsin Min Hsueh Hui itu, telah terbunuh pada peristiwa Kontra-Revolusi tahun 1927.

Badan perkumpulan lain yang didirikan pada dewasa ini dan yang asasnya hampir bersamaan dengan Hsin Min Hsueh Hui, ialah Perhimpunan Kesejahteraan Sosial di Hupeh. Banyak dari anggautanya pun kemudian menjadi kaum Komunis. Antara mereka itu Wen Teh-ying, pemimpin perhimpunan tersebut yang telah terbunuh pada jaman kontra-revolusi oleh Chiang Kai-shek. Lin Piao, kini menjabat Kepala Akademi Kemiliteran Tentara Merah. Begitu yuga Chang Hao yang sekarang bertanggung yawab tentang pekerjaan antara pasukan Putih. Ada lagi perkumpulan yang memakai nama Fu Hsien di Peking, sebagian besar anggautanya pun kemudian menjadi Kaum Merah. Di berbagai-bagai tempat di Tiongkok terutama di Shanghai, Hangchow, Hankow dan Tientsin, perkumpulan-perkumpulan yang bersifat radical telah didirikan oleh pemuda-pemuda yang penuh semangat beryuang, dan telah mementangkan pengaruhnya dalam perkembangan politik di Tiongkok.

Sebagian besar perkumpulan-perkumpulan ini, telah tercipta kerena andiyuran “Pemuda Baru”, majalah yang terkenal sebagai pendorong aliran pergerakan kebudayaan baru, terpimpin oleh Ch'en Tu-hsiu. Saya mulai membataya majalah ini tatkala saya berskolah di Sekolah Perguruan Atas, dan merasa kagum dengan buah tulisannya Hu Shih dan Ch'en Tu-hsiu. Tulisan mereka kedua itu menjadi conto tulisan saya untuk sementara waktu sebagai gantinya Liang Chi-ch'ao dan K'ang Yu-weI seperti saya telah tuturkan di atas.

Angan-angan saya pada dewasa ini merupakan satu adukan dari liberalisme, demokratik-reformisme dan Utopian Socialisme. Saya mempunyai pendirian yang agak beragu-ragu tentang “demokrasi-abad-kesembilanbelas”, Utopianisme dan Liberalisme “model-kolot”, akan tetapi yang dapat saya menyatakan seterangnya ialah bahwa saya hanya seorang antimiliteris dan antiImperialis.

Saya bersekolah di Sekolah Perguruan Atas pada tahun 1912, dan telah lulus pada tahun 1918.


III

RAWITAN REVOLUSI

Selama lima tahun saya berada dalam Sekolah Perguruan di Changsha, telah memakai uang banyarnya sejumlah 160 dollar, termasuk rupa-rupa perongkosan pendaftaran! Dari yumlah tersebut saya harus mempergunakan sepertiganya untuk berlangganan surat kabar yang membubuhkan sedollar sebulaninya, dan lain-lain mayalah atau bahan yang saya kerap kali membelinya di dasar-buku. Aiah suya sering memaki karena penghamburan uang ini la namakan itu hanya penghamburan duit yang dipakainya membeli kertas sesamah. Akan tetapi, itu menjadi kebiasaan saya membatai surat kabar sedari tahun 1911 hingga tahun 1927, dan pada masa saya berada di gunung Chingkanshan, pun belum pernah bernentilna membatai kabar harian dari Peking, Changhai dan Hunan.

Pada akhirnya tahun selagi saya masih berada di sekolah, ion saya telah menutup mata, itu menyebabkan saya semlingkin tidak kepilgin pulang ke rumah. Saya telah mengambil keputusan pada musim panas tahun itu, untuk berpergi ke Peking. Banyak antaranya murid dari Hunan yang merencanakan akan menyebang ke Frankriyk untuk meneruskan pelajarannya dengan cara “berkerja sembari berlajar” seperti blasanya Frankriyk telah memperkerjakam pemuda Tionghoa selama dalam Peperangan Dunia. Sebelum berangkat dari Tiongkok nurid-murid itu berniat memperlayari terlebih dahulu bahasa France di Peking. Saya telah membantu mereka untuk menyapaikan maksud itu. Mereka yang akan berpergian keluar negeri tadi, kebanyakan murid keluaran Sekolah Perguruan di Hunan yang pada kemudian harlinya, sebagian besar menjadi kaum radical. Hau Teh-li pun telah ketarik dengan pegerakan ini pada ia berusia 40, dan lalu ia letakan diyabatannya selaku professor di Hunan Normal College dan pergi ke Frankriyk. Ia tidak menjadi anggota Komunis hingga tahun 1927.

Saya mengawani beberapa murid dari Hunan bersama-sama pergi ke Peking. Walaupun saya telah membantu mengatur pergerakan itu dan mungkin saya dapat bantuan dari Hsin Min Hauch Hui, tetapi saya tidak berkehendak untuk pergi ke Europa. Saya rasakan diri saya sendiri belum cuukup mengetahui keadaan negeri sendiri, dan tempo saya akan lebih berharga dan berfaedah bila saya tinggal di Tiongkok. Mereka yang telah ambil ketetapan untuk pergi ke Frankriyk itu memperlayari bahasa France dari seorang guru bernama Li Shih-tsun yang kini memegang yawatan Kepala dari Chung-fa (Sino-French) Universic. Tetapi saya sendiri ada sebaliknya, kerena saya mempunyai idam-idam lain.

Perongkosan di Peking terasa oleh saya sangat berat, kerena kedatangan saya di Ibu-kota ini, hanya atas pertolongan kawan, maka itulah setiap mungkin saya harus menyalinya pekeryaan. Bekas guru saya di sekolah perguruan, Yang Chang-shi, waktu itu menjadi professor di Peking National Universic, maka dengan segera saya menghadap kepada dia untuk didapat pertolongan menjadi pekeryaan. Ia telah perkenankan saya kepada pengurus balai-pustaka di Sekolah Tinggi itu, ya'ni Li Ta-chao yang kemudian hari menjadi sala-satu penyipta Partai Komunis di Tiongkok, dan pada belakangan telah dianyaka oleh Chang Tso-lin. Li Ta-chao telah memberi saya pekeryaan sebagai pembantu pengurus balai-pustaka, dan buat pekeryaan itu saya telah mendapat bayaran delapan dollar sebulannya.

Kedudukan saya di situ begitu rendah hingga orang selalu tidak memperdulikan. Maka pekeryaan saya ialah hanya membuat daftar nama orang yang datang membuat surat-kabar, tetapi umumnya oleh mereka itu saya terpandang sebagai bukan manusia. Antara orang-orang yang datang itu, saya dapat mengenali beberapa nama pemimpin pergerakan pembangunan kebudayaan baru, seperti: Fu Ssi-nien, Lo Chia-lung dan lain-lainnya yang saya banyak taro perhatian. Saya telah coba mengadakan pembicaraan dengan mereka soal yang mengenakan politik dan kebudayaan, akan tetapi, mereka itu orang-orang yang sangat sibuknya, pasti sadia tidak sempat untuk meladenin pembicaraannya seorang pegawai pembantu yang apalagi menggunakan bahasa dialek Selatan.

Saya tidak berkeci hati. Saya masuk menjadi anggota dari Sociec of Philosophy dan juga Yournalism Sociec, dengan maksud supaya dapat diperkenankan untuk mendengar pengajaran-pengajaran di Sekolah Tinggi. Dalam suatu pertemuan Yournalism Sociec saya telah menampak orang-orang mahasiswa, misalnya Chen Kung-po, yang pada waktu sekang berkedudukan tinggi di Nanking; Tan Ping-shan, yang kemudian menjadi anggota Komunis dan belakangan menjadi anggota dari yang disebut “Partai Ketiga”; dan Shao Piaoping yang terutama banyak membantu saya. Ia ada scorang “pembyitara” dalam perhimpunan itu, scorang kaum liberal, dan scorang ideals yang muluk serta bertabeat halus. Ia telah terbunuh pada tahun 1926 oleh Chang Tso-lin.

Sementara saya berkerja dalam balai-pustaka itu, saya pun bertemu dengan Chang Kuo-tao, yang sekarang menjadi ketua-muda dari Pemerintah Soviet; Kang Pei-chen, yang kemudian menjadi anggota Ku Klux Klan di California lan Tuan Hsi-p'en, kini menjwet Menteri muda Jawatan Pendidikan di Nanking. Di sini juga saya bertemu dengan Yang Kal-hul, yang padanya saya telah diyatu cihta. Ia scorang puteri dari guru saya. Yang Chang-chi, yang telah memberi saya kesan yang meresap sedalam-dalamnya pada penghidupan saya selagi masih muda, dan yang kemudian inenjadi sahabat saya yang kekal selama saya berada di Peking.

Keyakinan saya terhadap politik semingkin hari bertambah luas dan angan-angan saya pun semingkin hari berubah radikal. Saya telah menceriterakan apa yang menjadi sebab-sebabula, tetapi meski demikian, hingga pada sekarang ini saya masih dalam keadaan sangsi dan saya perlu menyari suatu ja'an seperti yang kita katakan. Saya telah membaca suatu pamplet yang membyitarkan tentang anarchy dan saya pun telah ketarlk juga. Serig kall saya merundingkan tentang kemungkinan anarchisme di Tiongkok dengan kawan saya yang bernama Chu Hsun-pel yang kerap kall berkunjung kepada saya. Pada waktu itu saya banyak menyetuju pendapatannya. Penghidupan saya di Peking sukar sekali, akan tetapi bilar pun demikian, ke-elokan dan kelindahannya pemandangan ibu-kota Inl, merupakan satu hiburan bagai saya yang sukar itu. Sala bertinggal disatu tempat yang disebut San Yeng-chling (Sumur bermala tiga) dalam satu bilik yang termuat yuduh orang lain lagi daripada saya. Sewaktu kami bertujuh sekallan berjubei tidur di atas satu Kang (serupa tempat tidur yang di bawahnya tertarapi untuk menahan hawa dingin diper- gunakan oleh orang-orang miskin di bagian utara. - S. O.) hampir saja tidak terdapat kelonggaran untuk bernapas. Kerap kali saya telah memulai terkedud orang-orang yang bertidur kedua belah saya di waktu saya membalkan badan. Sungguhpun demikian, akan tetapi dari pemandangan-pemandangan taman besar sekitar tanah keraton itu, saya dapat menampak hijau- nyia pohon-pohon yang tumbuh di daerah Utara pada musim bersemi; saya dapat mengalami bunga Pal-mei berkembang sangat tayantikna pada waktu Lautan-Utara sedang terbeku; saya melihat pohon Yang-liu di sekitar Pei-Hai yang diniasi dengan sunggingan air iys yang beku, bergantung-gantung berkilau-kilau laksana kristal, begituhal saya dapat membayang- kan lukisan pemandangan dari satu penyair masyhur, Chen Chang, pada jamin kerayaan “Tang yang menulis tentang Tung-chu di sekitar Pei-Hai yang katanya terlihat ”seolah-olah beribu-ribu pohon T'ao sama berkembang“. Beryenis-yenis pohon di sekitar Peking itu mengbangkitkan perasaan saya sehingga sangat tergug dan kesengsang.

Pada permulaan tahun 1919, saya pergi ke Shanghai bersama-sama dengan murid-murid yang hendak mengembara ke Frankriyk. Saya banya membelinya kartis sampai ke Tientsin, dan saya dapat memikirkirn cara bagaimana akan saya dapat melangsungkan lebih lanjut. Akan tetapi, seperti apa yang telah tersebut dalam pepatah Tionghoa yang mengatakan bahwa “Tuhan tidak membentukan perjalanannya suatu orang pelancong”, akhirnya dapatlah saya uang pinjaman sebesar 50 dollar dari kawan murid yang telah mendapat uang sokongan dari Compte-School di Peking, hingga mungkin saya membeli kartis lanjut ke P'u-kou. Dalam perjalanana saya ke Nanking itu, saya telah mamplir di Ch'u-Fou dan berkunjung ke Makam K'ung Fu-tse. Saya menampak kali kecil itu tempat penganut-penganut Guru Besar menculinya kakil; dusun kecil itu tempat Guru Besar bertinggal selagi masih kanak-kanak. Saya pun menampakknya pohon tua itu yang tumbuh jipnggir kleteng-peringatan yang katanya bahwa pohon itu ada tamanan Guru Besar sendiri. Saya pun hingga di sungai itu di mana Yen Hui, sala-seorang iman Guru Besar yang ternama pernah tinggal. Juga saya pernah bersambang tempat ke- lahiran Mencius (Meng Tse). Dalam perjalanana ini, saya juga menaiki T'ai Shan, gunung suci (kramat) di Shantung, di mana Jendral Feng Yu-shlang mengaso dan menulis tlatatan pengalamaninya yang patriotik.

Akan tetapi pada kala saya tiba di P'u-kou, kedapatan nang saya telah terpakai habis, dan pun tidak mempunyai kartis kereta-api, dan tidak seorang yang dapat saya meminjani uang, dan lagi saya tidak mengetahui cara bagaimana saya akan dapat keluar kekota. Ketambahah hal yang slal dan menyelihkan hati saya, yaitu sepasang-sepasangnya sepatu yarg saya pakai telah tercuri orang! Al-ya! Apakah yang saya harus berbuat? Tetapinya, lagi sekali, ‘Tuhan tidak membuntukan seorang pelancon’, saya telah kembali mendapat rejeki. Saya bertemu dengan seorang kawan lama dari Hunan cimuka perhentian-spoor ialah, ‘hintang-penolong’ saya. Ia mamberl saya uang pinjaman untuk membell sepasang sepatu, serta cukup untuk harganya kartis menuyu ke Shanghai. Begitulah, dengan selamat saya dapat menyelaskan perjalanan sr.ya itu, dan lebih banyak taro perhatian kepada sepatu saya yang baru. Di Shanghai telah dikumpul uang sokongan sediumlah besar untuk murid-murid yang hendek berangkat ke Frankriyk, dan diberikanya sebagian tunyangan kepada saya, supaya dapat kembali ke Hunan. Setelah saya menyaksikan mereka berlyar dengan kapal-api lalu saya kembali ke Changsha.

Dalam perjalanan saya pertama ke Utara yang berharga akan saya tuturkan di sini dan yang saya dapat mengingatinya ialah:

Saya pernah bikin perjalanan di atas air beku dari Teluk Pel-Hai; saya telah mengitari Telaga T'ung T'ing, dan saya telah mengidar melingkungi dinding kota Paotingfu. Saya berjalan mengitari dinding benteng Hsouchou yang terkenal pada jaman Tiga Negeri (San Kuo), dan juga dinding kota Nanking yang pun terkenal dalam sejarah. akhirinya saya telah naik di gunung T'al Shan dan mengundungi Makam Guru Besar. Semua itu teranggap oleh saya sebagai ichtiar yang berharga untuk menambahkan pengalaman saya yang sudah altu pengembaraan mengitari propinsi Hunan.

Setelah saya dapat kembali ke Changsha, saya berkeja lebhl terlib dalam kalangan politik. Sesudah teryadinya Pergerakan 4 Mei, saya mencurahkan antero tempo saya melulu terhadap pergerakan politik dari golongan murid-murid. Saya lalu menjawaat pimpinan “Hsiang Chiang Review”, bacan untuk murid di Hunan, yang berpengaruh dalam pergerakan murid di seluruh daerah Tiongkok Selatan. Di Changsha saya telah membantu pembentukan “Perhimpunan Kebudayaan” suatu perkumpulan peyakinan Kebudayaan dan politik. Perkum- sekeras-kerasnya pemerintah Chang Ching-yao yang belakangan menjawat Gubernur di Hunan, seorang yang terkenal jahat dan kediam. Kami memimpin pemogokan umum dari murid-murid menuntut supeya Chang dipindahkan, dan mengirim waki ke Peking juga ke Selatan-barat tempat Sun Yat-sen pada belakangan memegang pula pimpinan revolusi, dan dengan jalan demikian kami mengobar-ngobarkan seruhan kami menyatuhkan Chang. Sebagai pembalasan dari akibat perlawanan murid itu, Chang Ching-yao telah menindas keras “Hsiang Chiang Review”.

Kemudian, saya telah mewakili Hsin Min Hsueh Hui untuk pergi ke Peking, dan di sana saya membentuk satu pergerakan antimiliters. Hsin Min Hsueh Hui membesarankan perjuanganyanya merubuhkan Chang Ching-yao menjadi suatu seruhan umum antimiliters yang luas, sedangkan saya menjadi direktur dari Perwakilan Warta-Berita yang bertanggungan akan mengemudikan pekeryaan ini. Di Hunan pergerakan tadi itu, telah memperoleh sukses. Achrinya Chang Ching-yao telah dirubuhkan oleh T'an Yen-Kai, dan pemerintahan baru telah dibentuk di Changsha. Kira-kira pada waktu ini, Hsin Min Hsueh Hui telah terpecah belah menjadi dua golongan, ialah sayap Kanan dan Kliri. Sayap Kliri berhaltuan menyalankan program yang memperluaskan “perubahan” sosial, ekonomi dan politik.

Pada tahun 1919, saya pergi ke Shanghai untuk kedua kalinya. Di sana saya beriemu pula dengan Ch'en Tu-hsiu. Yang pertama kalinya saya bertemu dengan ia di Peking pada waktu saya berada di Peking National Universic. Ia telah mengpengaruhi diri saya mungkin lebih dalam daripada yang lain. Saya pun bertemu juga dengan Hu Shih, yang pada waktu itu maksud saya ialah hanya ingin mendapat bantuannya dalam soal pergolakan murid-murid di Hunan. Saya telah berunding dengan Ch'en Tu-hsiu tentang nyatan kami untuk mendirikan Persatuan Pembangunan Hunan. Setelah semua itu selesai, lalu saya kembali ke Changsha, dan mulai dengan pergerakan persatuan itu. Saya telah mendapat pekeryaan sebagai guru sekolah. Semenyara itu saya tetap berjuang dalam Hsin Min Hsueh Hui. Kami telah merencanakan untuk “Kemerdekaan” Hunan, dalam artian yang sebenarnya ialah “Hunan yang Berkedaulatan Sendiri”, kerena kami merasa putus asa dengan Pemerintah Utara dan percaya bahwa Hunan kemerdekaan seluas-luasnya dan besar dari Pemerintah Peking, maka Itulah kami telah menggemborkan sekutu-kuatnya pemerintahan itu. Demikianlah saya lalu berpendirian sepakat dengan Monroe Doctrine dan Plagam “Open Door” dari Amerika.

Tan Yen-k'ai pada waktu ini pun telah dirubuhkan oleh seorang kaum militeris bernama Chao Heng-ti yang telah mempergunakan pergerakan “Hunan Merdeka” sebagai alat untuk kepentingan diri sendiri. Ia berpura-pura menunjungnya pergerakan itu, dan berpendirian sepakat dengan didirikannya Negara Tiongkok Sarikat (United Autonomous States of China), akan tetapi selekasnya ia mendapat kekwasaan, segera ia berbalik menindas pergerakan demokratik. Golongan kam telah memadukan permintaan Hak Sama Rata antara kaum lelaki dan kaum wanita, Pemerintahan Perwakilan Rakyat, yang pada umumnya ialah pemerintahan atas dasar “bourgeois democracy”. Kami telah berterang menyatakan pendirian kami dalam surat kabar “Hunan Baru”. Kami menyerang parlemen propinsi yang anggotaunya kebanyakan terdiri dari kaum tuan-tana‘ dan orang-orang dari lapisan “tinggi” yang keangkatananya hanya ditunduk saja oleh kaum militeris. Pergolakan dari golongan kami ini, telah menjadi mendidih yang berachit dengan kemurkahan sehingga saking meluapnya lalu merubahkan dar menyobek-nyobek lambang-lambang yang penuh tulisan perkataan bohong dan kosong.

Penyerangan terhadap parlemen itu, telah dianggap sebagai satu insiden yang sangat besar di Hunan, dan telah memblik panik golongan pangereh-praja. Cuma saja pada waktunya Chao Heng-ti memegang kekwasaan, ia telah berchianat pada semua pisang dan langkah yang tadinya le menunjang dan telah menggunakan segala kekerasan untuk meminas se-zala untutan demokrasi. Karena itu, perkumpulan kami be-bliuk mengerahkan pergolakannya terhadap padanya. Sa'a meningat satu kejadlan yang di luar dugaan saya pada tahun 1920, ialah pada kala Hsin Min Hsueh Hu memadakan demonstrasi intuk menyelenggarakan peringatan October Revolusi. Ulang Tahun Ke-3 di Russia Demonstrasi itu telah dilindas oleh bagian ollsi. Dalam rapat umum itu, beberapa orang yang turut ambil bagian telah menyoba akan mengibarkan Bendera Merah, tetapi ini telah terlarang, walayun mereka telah memprotes bahwa menurut bunyinya Artikel 12 dari Anggaran Dasar yang pada waktu itu. Rakyat mempunyai hak untuk Lemitusyawara. him pun dan berbicara. Tetapinya pihak polisi tidak sekali menggubris, mereka menyawabnya bahwa mereka tidak berada di situ untuk mendengar pelajaran tentang bunyinya Anggaran Dasar, hanya menjalankan titah Gubernur Chao Heng-ti. Maka mulal saat ini, saya hanya dapat kenyataan bahwa cuma tenaga politik dari massa, yang diperoleh dari aksi massa, dapat menjamln tercapainya “pengubahan-kilat” atau “jnamic reforms”.

Pada buntut tahun 1920, saya mengorganisasi kaum buruh berpolitik, untuk pertama kali, dan mulai memimpin mereka dalam durusan ke arah Marxist theorie serta pengetahuan sediyarah Revolusi Russia. Taikala kunjungan saya ke Peking untuk kedua kalinya, saya dapat membayla kejadian-kejadian di Russia, dan gemar mengumpulkan tullsan-tullsan tentang Komunisme yang mungkin didapat dalam bahasa Tionghoa. Tiga buah kitab yang telah mengukir sanubari saya sedalam-dalamnya, yang telah membangun pundian Marxisme atas diri saya; dan yang saya anggap suatu pembeberan sediyarah yang tepat, dan yang selanyutnya saya tidak sekali berubah, yaitu: Maklumat Komunis yang telah disalin dalam bahasa Tionghoa oleh Uang-tao, kilah Marxist pertama yang telah diterbitkan dalam bahasa Tionghoa; Pergolakan Golongan, oleh Kautsky; dan Sediyarah Socialisme, oleh Kirkupp. Pada hakekatnya, dalam pertengahan tahun 1920, saya telah menjadi seorang Marxist balk dalam theorie Maupun dalam aksi, dan mulai saat ini, selanyutnya, saya anggapi diri saya ialah seorang Marxist. Pada tahun ini juga saya telah menikah dengan nona Yang K'ai-hui.


IV

SAAT SELAKU NASIONALIS

DALAM bulan Mei, tahun 1921, saya pergi pula ke Shanghai untuk mengundungi rapat besar tentang berdirinya Partai Komunis. Pucuk pimpinan terpontung dari organisasi itu dikemudikan oleh Ch'en Tu-hsiu dan Li Ta-chao. Kedua-nya ialah pemimpin para pelayar yang terkenal di Tiongkok. Saya sendiri, sewaktu menjawat sebagai pembantu pengurus balai pustaka di Peking National Universic, dikawah peniliknya Li Ta-chao telah memperoleh kemadian yang sangat besar dalam soal peyakinan Marxisme. Ch'en Tu-hsiu pun telah membantu saya dalam yurusan itu. Kerap kali saya berunding dengan Ch'en tentang buku Marxist yang saya dapat membataya pada waktu kunjungan saya ke Shanghai yang kedua kalinya. Pengurian Ch'en tentang kepercayaanba itu, memberi saya kesan yang sangat dalam pada masa ini, masa yang barangkali sering disebut masa perubahan dalam yeng-hidupan saya.

Selain daripada saya, ada lagi seorang Hunan yang telah berkunjung dalam rapat pertama yang bersejarah itu di Shanghai. Laninya hadirin yaitu: Chang Kuo-tao, Pao Hul-sheng dan Chou Fu-hal, yang sama sekali berdiumlah duabelas orang. Pada bulan October tahun itu juga, Ranting Partai Komunis yang perlama telah dibentuk di Hunan dan saya ialah sala-salu anggautanya. Kemudian lain-lain organisasi pun telah dibentuk di berbagai-bagai propinsi dan kota-kota besar. Panliya Pusat di Shanghai terdiri dari Ch'en Tu-hsiu, Chang Kuo-tao (kinl berserta dengan Front ke-IV Tentara Merah), Chen Kung-po (kinl pembesar Kuomintang), Shih Tseng-tung (kinl pembesar di Nanking), Sun Yuan-lu, Li Han-tsen (terbunuh di Wuhan pada tahun 1927) Li Ta (belakangan terbunuh) dan Li Sun. Anggauta di Hupeh termasuk Teng Pi-wu (kini ketua Sekolah Partai Komunis di Pao An), Hsu Pei-hao dan Ssu-Yang. Anggauta di Shansi ialah Kao Chung-yu dan beberapa pemimpin murid-murid. Di Peking terdiri dari Li Ta-chao (belakangan terbunuh), Teng Sung-hsia, Chang Kuo-tao (kini ketua-muda Dewan Millier Tentara Merah), Lo Chang-lun, Lu Yen-ching (kini menjadi Trotskyst) dan lain-lainnya. Di Canton terdiri dari Lin Pai-chu (kini Komisaris Keuangan dalam Pemerintah Soviet) dan Peng Pai (terbunuh pada tahun 1927), Uang Chln-mei dan Teng En-ming ialah antaranya pendiri-pendiri Ranting Partai Komunis di Shantung.

Sementara itu pun di Frankriyk Partai Komunis Tionghoa telah diorganisasi oleh sebagian besar pegawai-murid yang berada di sana, dan diberdirkannya hampir bersamaan pada mulanya pembentukan partai di Tiongkok. Antara pendiri-pendiri di sana ialah Chou En-lai, Li Li-san, dan Shang Chen-yu, isteri dari Tsai Ho-sheng, ialah hanya wanita satu-satunya antara orang pendiri. Lo Man dan Tsai Ho-sheng pun diyuga antaranya pendiri Ranting di Frankriyk. Di Jermain Partai Komunis Tionghoa telah dibentuk juga, cuma, ini terjadi sedikit terlambat, dan antara anggautanya ialah: Kao Yu-han, Chue Teh (kini Kommando-Tertinggi Tentara Merah) dan Chang Sheng-fu (kini Professor di Tsinghua Universic di Peking). Antara pendiri Ranting di Moscow adalah Ch'u Ch'iu-pai dan lainnya lagi, sementara di Yapan pendirinya adalah Chou Fu-hai dan lainnya.

Di bulan Mei, 1922, Partai Komunis di Hunan, yang pada waktu ini saya memegang yawatan sebagai penulis, telah mempunyai kurang lebih dua puluh hadan anggauta-perkumpulan buruh: antara buruh partit; pegawai jalan kreta-api; pegawai-pegawai kantor pemerintah; buruh percetakan; dan pegawai-pegawai Fabrik Pembikinan Uang. Satu pergerakan kaum buruh yang luas telah dimulai pada buntut tahun ini. Pekeryaan Partai Komunis pada waktu ini telah dicurahkan hanya sebagian besar kepada murid-murid dan peburuh, sedikit sekali kepada petani. Sebagian besar dari buruh-buruh partit telah dipersatukan dan pada hakekatnya ialah semua murid-murid. Banyat pergolakan telah kejadian di bagian murid, baik pun di bagian peburuh. Pada buntut tahun 1922, Gubernur Hunan, Chao Heng-li, telah menjatuhkan tugas untuk dibunuhnya dua pegawai orang Hunan: Huang Ai dan Pang Yuan- ch'ing, yang akibatnya pergolakan menentang padanyu telah menjar sangat luasnya. Antaraanya kedua pegawai yang dibunuh tadi, Huang Al ialah satu pemimpin Saya, Kanan dari pergerakan kaum buruh yang menaro basisnya di antara murid-murid Sekolah Perindustrian, dan bertentangan dengan pendirian kami, akan tetapi Meskipun demikian, karai pun menunjang sepenuhnya dalam hal ini, serta lain-lainnya perjungan. Kaum Anarchist pun diyuga berpengaruh d'antara anggauta-perkumpulan yang kemudian telah membentuk persatuan buruh “Syndikat Buruh Seluruh Hunan”. Kita telah mengadakah kompromi dengan jalan perdamaian, agar supaya dapat kita menyegun keyadilan-kejadilan yang tidak bertanggung jawab serta perbuatan-perbuatan yang tersa-sia.

Saya telah diutus pergi ke Shanghai untuk meribantu menyelenggarakan pergerakan menentang Chao Heng-ti. Kongres ke-II dari Partai Komunis dibikin di Shanghai pada buntut tahun ini (1922), saya berkehendak akan mengunjungi-nya, cuma saja saya tidak dapat mengingatinya tempat (mana dibikinnya dan pun tidak dapat bertemu dengan kawan seperjungan hingga akhirnya kepaksu tidak dapat berhadir. Segera saya kembali ke Hunan dan memperhebatkan pekeryaan partai antara persatukan buruh. Pada permulaan lain tahuninya pemogokan-pemogokan banyak terjadi berhubung dengan permintaan akan dapatkan perbaikan upah dan perbaikan perlakuan serta perakuhan sah atas diadakannya marikal buruh. Sebagian besar telah memperoleh sukses. Pada harian 1 Mei, telah dilakukan pemogokan umum di Hunan, dan ini telah mengunjuk bukti tenaga raksasa dari pergerakan kaum buruh yang dulu belum pernah dingalami di Tiongkok.

Kongres Ke-III dari Partai Komunis telah dibikin di Canton pada tahun 1923, di sini telah diambil keputusan yang bersejarah untuk menggabungkan diri dengan Kuomintang, berkerja bersama-sama membentuk Front Gatungan Serhdapan dengan kaum militeris di Tiongkok-utara. Perginya pula saya ke Shanghai hanya untuk mengerdiyakan pimpinan Panitia Pusat dari Partai. Pada permulaan tahun 1924, saya telah pergi ke Canton dan berkunjing Kongres Nasional Ke-I dari Partai Kuomintang. Pada bulan Maart, kembali saya ke Shanghai dan telah gabungkan pekerjaan saya dalam Panitia Pekerja dari Partai Komunis dengan anggauta Panitia Pekerja dari bagian Kuomintang di Shanghai. Anggauta-anggauta liininya dari panitnya itu, terdapat Uang Ching-wel (kemudian menjadi

Perdana Menteri di Nanking) dan Hu Han-min, yang dengan ia saya telah berkerya bersama-sama dalam segala tindakan antara Partai Komunis dan Partai Kuomintang. Pada musim panas tahun itu juga, Akademi Kemiliteran di Wangpoa telah dibentuk. Jendral Galen segera menjadi Penasehat dari Akademi tersebut, dan lain-lain para Penasehat Soviet telah datang dari Russia, dan di situ berkerya bersama antara Partai Kuomintang dan Partai Komunis telah memperoleh buah yang setimpal dari pergerakan revolusi yang diperluaskan di seluruh negara. Pada buntut tahun, saya telah kembali ke Hunan untuk mengaso. Saya mendapat sakit di Shanghai, akan tetapi pada ketika saya berada di Hunan saya telah membentuk pusat pergerakan kaum petani yang terluas dalam propinsi itu.

Pada waktu-waktu yang lampau, saya tidak dapat keyakinan yang nyata sampai tingkatan mana adanya pergolakan lapisan kaum petani, akan tetapi, setelah kejadlan insiden pada Mei 30, 1925, dan pada masa pergolakan politik yang berombak-ombak menyusulnya, kaum petani di Hunan itu telah insyaf dan penuh semangat beryuang. Saya telah berlalu dari rumah di mana saya telah mengaso untuk sementara waktu, dan segeralah mulai mengaturnya pergerakan kaum petani. Dalam berapa bulan saya, kami telah mendirikan lebih dari jumlah duapuluh badan Rukun-Tani, dan kerena itu, telah menjangkitkan amarahnya pihak kaum tuan-tanah dan minta supaya saya ditangkap. Chao Heng-ti telah mengirim serdadu mengejarnya saya, maka segera saya menyingkir ke Canton. Saya tiba di sana pada waktu murid didikan Wangpoa telah mengalahkan Yang Hsi-ming, kaum militeris di Yunan, dan Lu Tsung-wai, kaum militeris di Kwangsi, diyustru dalam suasana yang optimistis meliputi antero kota serta pihak Kuomintang. Chiang Kai-shek telah dijadikan Komandant dari Angkatan Darat ke-I dan Uang Ching-wei menjawat Ketua dari Pemerintahan, setelah wafatnya Sun Yat-sen di Peking.

Saya menjabat pimpinan Mingguan Politik, penerbitan bagian politik dari Partai Kuomintang, yang pada kemudian hari telah menjadi gegaman akan menyerang dan meruntukan Sayap-Kanan dari Partai Kuomintang yang terpimpin oleh Tai Chi-Tao. Saya pun memegang jawatan tanggungan sebagai pelatih organisators untuk memimpin pergerakan kaum petani, dan mengadakan pengajaran untuk maksud dan keperluan ini, yang telah dibanjiri oleh wakil-wakil dari duapuluh-satu propinsi dan termasuk juga murld-murld dari Mongolia

Dalam. Tidak antara lama sedari kedatangan saya di Canton, saya telah menjabat Kepala Bagian Propaganda Partai Kuomintang, dan telah dijudkan sebagai “yalan menegang” yawatan Komite Pusat. Lin Pai-Chu lalu menggantikan kedudukan saya memegang yawatan Kepala Bagian Petani dari Kuomintang, sementara Tan Pin-shan, anggota Komunis lain, menjadi Kepala Bagian Peburuh.

Saya lebih banyak tulls menulis pada waktu ini, dan lebih banyak memperhatikan pekerjaan petani dalam Partai Komunis. Atas dasar keyakinan dan pengalaman yang saya dapat dalam pimpinan kaum petani di Hunan, saya menullsnya dua buah pamflet, satu ialah “Analysis dari Berbaga-bagal Golongan Masarakat Tionghoa” dan yang lain ialah “Alasan Golongan Chao Heng-li dan Pekerjaan Kita Sekarang”. Ch'en Tu-hsiu tidak bersetuju dengan pendapat saya yang tertulls dalam pamflet pertama, yang berpendirian pembagian tanah petani secara radical serta mengemukakan organisasi pertanian dengan besar-besaran di bawah penilikkan Partai Komunis. Ia telah menolak akan penerbitan itu dalam organ pusat Komunis. Belakangan, itu telah dimuat dalam Bulanan Petani di Canton, dan juga dalam Chung Kuo Ch'ing Nien (Pemuda Tionghoa), sedang uralan yang kedua telah diterbitkan dalam pamflet kecil di Hunan. Mulai dari situ, saya tidak bersetuju dengan caranya Ch'en Tu-hsiu sebagai opportuns yang mendoyong ke “Kanan”, dan lambat lahun perhubungan antara kami berdua jadi semangkin renggang, Meskipun percilisihan itu tidak sampai naik di puncaknya hingga th. 1927.

Saya terus berkeja dalam Kuomintang di Canton sehingga sampai temponya percobaan “pembersihan” pertama coup d'etat yang dilakukan oleh Chiang Kai-shek pada bulan Maart, tahun 1926. Sesudah didapat bersetujuan antara Sayap Kiri dan Kanan dari Kuomintang, dan diperkokohkan pula kesatuan antara Partai Kuomintang dan Partai Komunis, lalu saya berangkat ke Shanghai pada musim semi tahun 1926. Kongres Ke-II dari Kuomintang telah diselenggarakan pada bulan Mei, tahun itu, di bawah pimpinan Chiang Kai-shek. Di Shanghai saya memimpin bagian petani dari Partai Komunis, dan dari sana saya telah diulus untuk pergi ke Hunan sebagai penilik pekerjaan pergerakan petani. Sementara itu, di bawah penilikannya Front Gabungan antara Kuomintang dan Partai Komunis, Expedite Utara yang bersejarah itu telah dimulai pada musim ketiga, tahun 1926.

Di Hunan saya memiliki organisasi petani dan keadaan politik dalam lima keresidenan yaitu: Changsha, Li Ling, Hsiang Tan, Hung Shan dan Hsiang Hsiang, dan dalam laporan saya kepada Komite Pusat, saya telah majukan usul untuk mengambil langkah baru dalam pergerakan petani. Pada lain tahunnya dipermulaan musim semi, waktu saya tiba di Wuhan, satu rapat besar kaum petani dari berbagai-bagai propinsi telah diselenggarakan, dan saya, turut berhadir serta berunding tentang pendirian saya yang telah diusulkan dengan perkenan untuk diperluaskan tentang perubahan pembagian tanah petani. Dalam rapat ini, telah hadir Peng Pai, Fang Chih-min dan dua orang Komunis Russia, ialah York dan Volen, di antara lainnya. Putusan telah dibikin dengan mufakat mengambil usul saya, yang lalu dlangsungkan kepada Konperensi Ke-V dari Partai Komunis, akan tetapi, Panitia Pusat telah menolaknya.

Diyawat Konperensi Ke-V dibikin pada bulan Mei, 1927 yang bertempat di Wuhan, sementara itu, Partai Komunis masih di bawah pengaruhnya Ch'en Tu-hsiu. Meskipun Chiang Kai-shek telah mulai dengan pimpinan kontra-revolusi dan menyerang Partai Komunis di Shanghai dan Nanking, Ch'en masih saja bersikap mengalah terhadap Kuomintang di Wuhan. Dengan tidak memperduulkan segala rintangan, ia terus menyalani plagam kaum kapitalis kecil sebagai opportunist Kanan. Saya sangat tidak puas dengan tindakan yang diambilnya oleh Partai, terutama terhadap pergerakan kaum petani. Kini saya berpendapat bila saja pergerakan petani telah diorganisasi dengan betul, dan dipersenjatakan untuk perjuangan golongan terhadap kaum tuan-tanah pasti sekali pemerintah Soviet akan memperoleh kemajuan lebih lagi dan banyak lebih berpengaruh di seluruh negeri.

Akan tetapi Ch'en Tu-hsiu tidak mufakat dengan keras. Ia tidak mengerti betapa pentingnya kaum petani dalam pergerakan revolusi, dan sangat memandang rendah segala kemungkinannya, pada waktu itu. Maka dalam Konperensi Ke-V yang telah dibikin pada malaman hari dari krisis besar dalam Revolusi Raksaika, ia telah menolak usul ayara pembagian tanah yang tepat itu. Opini saya yang minta diperkuatkannya kaum petani dalam perjuangan, sama sekali tidak dirundingkan, dan karena Panitia Pusat, pun berada di bawah pengaruhnya Ch'en Tu-hsiu, juga telah menolak untuk dipertimbangkan lebih januh. Konperensi itu, telah membatalkan soal tanah-petani dengan mengadakan satu anggaran bahwa seorang tuan-tanah ialah “seorang petani yang mempunyai ladang lebih dari yumlah 500 bahu”—satu anggaran yang sama sekali tidak tepat dan tidak beralas, dan yang menyebabkan semingkin luasnya pergolakan golongan serta satu anggaran yang tidak memikirkan kodratnya tanah ekonomi di Tiongkok. Menyusul dibikinnya Konperensi itu, lalu terbentuklah Sarikat Petani Seluruh Tiongkok, yang dengan saya duduk sebagai Ketua pertama.

Pada permulaan tahun 1927, pergerakan petani di Hupeh, Kianzsi, Fukien, dan terutama di Hunan telah dapat perlengkapan senjata yang sentosa, Meskipun sikap Partai Komunis terhadap hal ini adem sekali, dan pihak Kuomintang mengantum sangat hebatinya. Permintaan akan menindas ini telah dimaduyukan oleh orang-orang berpangkat dan para komandant militer. Mereka mengatakan bahwa Sarikat Petani itu ialah “komplotan-bandit” dan segala pergerakan dan permintaannya teranggap meluati bates. Ch'en Tu-hsiu telah menarik saya dari Hunan, dan mengharuskan saya bertanggung yawab buat sebagian kejadian di sana dan menentang keras pendapat saya.

Bulan April, kontra-revolusi telah dimulai di Nanking dan Shanhhai, dan penyembehan umum telah dilakukan oleh Chiang Kai-shek terhadap kaum buruh. Tindakan yang secara manya pun telah dilakukan di Canton. Pada bulan Mei 21, pergolakan Hsu Ko-shiang telah terjadi di Hunan. Berpluh-puluh kaum buruh dan kaum tani telah dibunuh oleh pihak reaksionair. Tidak lama kemudian, Sayap Kiri Kuomintang di Wuhan telah membataalkan perdamaian dengan Komunis dan memeyat semua orang-orang Komunis dari peranggautaan Kuomintang Maupun dari pemerintahan yang tidak lama pun kubra.

Sebagian besar pemimpin Komunis telah diperintahkan oleh Partai supaya menyingkir pergi ke Russia, ke Shanghai atau tempat mana saja yang dirasa aman. Saya telah capat perintah buat pergi ke Szechuan, tetapi saya paksa Ch'en Tu-hsiu akan merubah tilah itu dan kirim saya ke Hunan sebagai secretaris Panitia Propinsi. Akan tetapi, setelah berdalan buat lamanya sepuluh hari, ia perintahkan saya segera kembali, dan mempersalahkan saya tentang mengadakan pergolakan terhadap T'ang Sheng-chih, yang pada belakangan menjadi komandan di Wuhan. Pekeryaan Partai, kini dalam keadaan yang kelwat kacau. Hampir sesuatu anggauta menentang pimpinan Chen-Tu-hsiu serta tujuannya. Pemelayaran bekerja bersama di Wuhan tidak lama puia telah menyebabkan rabuhnyya.


V

PERGERAKAN SOVIET

PADA bulan Augustus tanggal 1, tahun 1927, Angkatan Darat ke-20 yang dikepalai oleh Ho Lung dan Yeh T'ing, berkerja bersama dengan Chu Teh, telah memimpin Pemberontakan di Nanchang yang bersejarah dan yang menjadi bibit pertama dari dibentuknya Tentera Merah. Setelah seminggu liwat kejadain ini, ialah pada tanggal 7 Augustus, satu rapat istimewa telah dibikin oleh Panitia Pusat dari Partai Komunis untuk membicarakan pemecatan Ch'en Tu-hsiu sebagai Sekretaris Umum. Saya telah menjadi anggota bagian politik dari Partai sedari dibikinnya Konperensi Ke - III bertempat di Canton pada tahun 1924, dan telah menundang sepenuhnya tentang keputusan memecat Ch'en tu. Antara sepuluh anggota lain yang hadir ialah: Ts'ai Ho-sheng, Peng Kunz-ta, dan Ch'u Ch'u-pai. Acara berkerja baru te an diambil oleh Partai, sementara pengharapan-pengharapan akan tetap berkerja bersama dengan Kuomintang telah putus pada waktu ini, kerena kenyataan bahwa Kuomintang hanya dipermainkan sebagai golekkan dari kaum Imperialis dan tidak lagi mungkin mendialankan tanggungan revolusi demokrasi. Kini, peryuangan kami akan bergulat untuk mendapatkan kekwasaan pemerintah yang sukar telah dimula!

Saya yalu dilutus pergi ke Changsha untuk membentuk pergerakan yang kemudian orang sebutkan sebagai Autumn Crop Uprising ya'lu pergolakan masa panen di muslim kecil. Acara perkerjaan saya di situ ialah dikeraikan untuk tercapainya lima pasal: (1) memutuskan segala perhubungan Partai Komunis Propinsi dengan Kuomintang, (2) membentuk tentara revolusi terdiri dari buruh-tani, (3) menjabel segala milik dari kaum tuan-tanah kecil, pertengahan Maupun juga anc besar, (4) memendam perasaan antiKuomintang, dan (5) mengorganisasi bebas dari pemerintahan Kuomintang, dan (5) mengorganisasi Soviet. Pasal ke-5 tersebut, pada masa itu tidak disetujui oleh Comintern, hingga pada hari kemudian itu telah dikerjakan dan digembor-gemborkan sebagai semboyan.

Pada bulan September, kami telah berhasil membentuk rombongan-rombongan pergolakan yang luas terdiri dari kaum sarikat tani di Hunan, dan dengan jalan demikian pasukan buruh-petani yang pertama telah tertiypta. Anak-buah pasukan itu telah diambil dari tiga sumber,—kaum petani, buruh-parit dari Hanyang, dan bekas laskar Kuomintang yang berontak. Angkatan militer revolusi yang percauma ini, telah dijadikan “Divisi Ke-I dari Angkatan Tentera Petani dan Buruh Ke-I”. Regiment ke-I telah dibentuk dan terdiri dari buruh-parit di Hanyang, dan yang ke-II telah didirikan antara barisan penjaga petani di Ping Kiang, Liu Yang, Li Ling dan dua kabupaten lagi di Hunan, dan yang ke-III terdiri dari tentara garrisun Wuhan yang telah berontak menentang Uang Ching-weil. Angkatan ini telah terbentuk dengan perkenanya Panica Propinsi Hunan. Akan tetapi, segala acara pekerya dari Panica Propinsi Hunan, Maupun yuga pembentukan tentara tadi, telah dirintang oleh Panica Pusat yang rupanya mengambil siasat “wait-and see”.

Ketika saya sedang mengatur pembentukan tentara dan berkellling antara peburuh-parit di Hanyang dan barisan penjaga petani, saya telah dapat ditangkap oleh beberapa laskar-rakyat yang berkerja untuk Kuomintang. Pada masa ini perbuatan kaum terroris dari Kuomintang sedang nalk di pun-caknya dan beratus-ratus dari orang yang tersangka “Merah” telah ditembak mati. Setelah saya tertangkap lalu dibawanya ke Pusat laskar rakyat itu, yang pasti saya bakal ditembak mati. Dengan uang berpuluh dollar yang saya dapat pinjam dari kawan seperyuang, saya mencoba menyual laskar pengawal akan supaya melepaskan saya. Blasanya serdadu-serdadu ialah dari orang-orang yang diperburuhkan dengan tidak mempunyai kepentingan apa-apa menghilat saya dibunuh, maka itu, mereka tidak keberatan akan melepaskan diri saya. Akan tetapi ajudan yang berwajih monolok permintaan itu. Oleh sebab itu, saya ambil ketetapan untuk menyoba melarikan diri, Biarpun demikian, tidak didapat ketika, sehingga tibalah saya disatu tempat yang kira-kira duaratus meter antaranya ke Pusat itu. Pada detik itu, segera saya membedal dan lalu berlarinyia ke tegalan. tinggalan saya ke tempat tinggi di atas suatu empang, yang sekilarnya ada tertumbuh pepohonan dan rumput yang lebat, di situ saya bersembunyi hingga petang. Laskar-laskar tadi menzedarnya saya, dan berbereng pun memaksanya petari akan membantu ny mencari saya. Kerap kall mereka menghamplri saya, dan berkali-kali mendekati tempat sembuni saya hingga hampir saja saya dapat menyenggolnya mereka, akan tetapi beruntunglah saya tidak dapat diketemukan Meskipun lagi-lagi saya berputus harapan, rasa tertentunya akan tertangkap pula. akhirnya, ketika hari sudah menjadi pelang, mereka telah tinggalkan buronannya. Sgera saya bertlolak melalui gunung, berjalan sejurus seantero malam. Saya tidak memakalna sepatu hingga kaki saya telah melepuh. Dltengah jalan bertemulah saya dengan seorang petani yang bersahabat dengan saya, memberinya saya tempat bernauing dan kemudian mengantarnya saya ke desa yang berdekatan. Saya mempunyai uang tujuh dollar, lalu dipakainya membeli sepatu sepasang, payung sebuah dan makanan. Sehingga akhirnya saya sampai pada barisan petani dengan selamat, terdapat hanya dua cent saja dalam sakuy saya.

Dengan dibentuknya divisi baru itu, saya lalu menjadi ketua dari Panliya Partai Garis Depan, dan Yu Sha-t'ou yang tadinya memegang komando dari pasukan garrisun di Wuhan, menjadi Komandan Angkatan Tentera Ke-I. Yu itu, pada sebenarnya, kurang lebih boria tiura lemaksa memegang diawatan itu, kerena te-deron: olah si, orang sebawahannya; tidak entara lama kemudian, penyata ia telah melarikan diri dan bergibung dengen Komandang. Ki iia pekerya untuk Chiang Kai-shek di Nankin.

Angkatan yang terkecili tadi itu, sesudah memimpin pergo- lakan pelan, akhirnya ke arah selatan melalui propinsi Hunan-Sepan, dan dari itu kami menerobos meliwati baribu-bibu tentara Kuomintang dan kerap kall kami mendapat kekalahan atau runakun tingkat benar. Discipline tentara sangat lemah, kathen spik saizat rendah, ketambahan pula terbantuk demam, antu unyga-unyga di antara orang-orang itu setia n ohr-oparti, semah itulah bukan sedikit yang telah melukai dirinya. Yu Sha-t'ou pun telah lari. Setelah itu kami dibuang siniya pada angkatan tentera itu, pada waktu kami tiba di Nanchang Chein Hiao telah diangkatnya menjadi Komandan sepasang anna untuk mengepalai sisanya pasukan itu, yang pada waktu ini tertinggal kha-kira satu regiment; ia pun belakangan telah berchlanat. Meskipun demikian sukarinya, banyak dari antaryanya pasukan pertama terdapat orang-orang yang tetap bersetia hingga diakhirnya, kini juga mereka masih berada dalam Tentera Merah—orang-orang itu misalnya: Lo Yun-hui, Kommissaris Bagian Politik dari Corps Angkatan Tentara Ke-I, dan Yang Lo-sou, kini menjadi angkatan komandan. Tatkala pasukan kami ini telah hinggap di gunung Chingkanshan, mereka berjumlah hanya sama sekali tertinggal kira-kira seribu orang.

Seperti yang saya telah tuturkan bahwa program Pemberontakan Masa Panen di Musim ketiga tidak dapat perkenan dari Panica Pusat, dan oleh kerena Angkatan Tentera ke-I telah menderita kerusakan hebat, dan pun juga oleh kerena bila ditilik dari sudut bagian kota bahwa gerakan itu terlihat bertakdir menampak kegagalan, maka Panica Pusat sekarang mengasingkannya saya. Saya telah dipecat dari Jawatan Politburo, dan juga dari Keanggautaan Panica Pusat Garis Depan. Tidak saja demikian, Panica Propinsi Hunan pun menyerangnya saya dengan hebat, dan malahan mengtakkan kami “Pergerakan Perampok”. Akan tetapi blar Bagaimanapun, kami tetap bersatu padu bersama-sama angkatan kami tinggal di Chingkanshan, kerena yakin bahwa kami menurutl jejak yang benar dan tepat, biarlah kejadian-kejadian yang sebetulnya akan nanti membuktikan kebenaran kami. Tidak ber selang lama, anak buah baru lalu bertambahna banyak, dan divisi dapat pula diperlengkapkan kekuatannya, dan saya lalu menjadi komandannya.

Sedari permula musim dingin tahun 1927 hingga musim ketiga tahun 1928, Divisi ke-I itu berpusat di Chingkanshan. Dalam bulan Nopember, 1927, Soviet pertama telah tertiypta di Tsalin, ya'tu batas Propinsi Hunan, dan Pemerintahan Soviet yang perlama telah dibentuk. Ketua dari pemerintah itu ialah Tou Tsung-ping. Di dalam Soviet itu, selanyutnya kami menyalankan program yang berdemokratik, dengan tiara yang “sedang” berdasar atas blar pun perlahan tetapi memperoleh kemayuan yang tetap. Dengan tiara ini, Chingkanshan dihujain kesultanan oleh sebagian orang yang membuta dalam Partai, yang meminta menyalankan “tiara terroris” dengan merampas, membakar dan membunuh kaum tuan-tanah, agar supaya dapat menakuti dan menghancurkan semangat mereka. Panica Partai Garis Depan dari Angkatan Tentara ke-I menolaknya dilakukannya taktik itu, dan sebab ini lalu disetempel dengan tiap “reformis” oleh “sikepala-banas” cad. Senggetirnya saya telah diserang oleh mereka itu, kerena tidak menjalankan tiara yang lebih “radical”.

Bekas pemimpin kawanah bandit di dekat Chingkanshan bernama Uang Tso dan Yuan Wen-tsal, keduanya telah menggabungkan diri kepada Tentara Merah pada buntut tahun 1927. Pergabungan mana menjadi tertambahlah kekuatan kami sehingga kira-kira tiga regiment. Uang berdua Yuan memimpinya komando regiment sedang saya memegangnyia komando angkatan. Kedua orang ini, Meskipun bekas bandit telah menggabungkan kekuatan pasukannya dalam peryuangan revolusi nasional dan kini siap-sedia untuk memerangi segala pengaruh reaksi. Selama saya berada di Chingkanshan, mereka itu Komunis yang berseta dan ridlah menjalankannya segala sepak-terjang dari Partai, akan tetapi pada kemudian hari mereka ditlingsalkannya sendiri di Chingkanshan, mereka hanya kembali pada kodrat-tabeat banditinya, sehingga achihrya mereka telah terbunuh oleh kaum petani dan sisa pasukannya diorganisasinya pula, serta dibentukna Soviet hingga dapatlah kembali kekuatan untuk mempertahankan.

Pada bulan Mei, 1928, tibalah Chu Teh di Chingkanshan, lalu digabungkannya ialah kekuatan pasukan kami. Berdua dengan Chu Teh itu, kami mengaturinya kasad akan dibentukna Daerah Soviet seluas enam-keresidenan, serta memperkokohkan kedudukan pemerintah Komunis di bagian batas Hunan - Kiangsi - Kwangtung, dan dengan itu menjadi basis akan diharap dapat memperluaskan daerah yang lebih besar. Strategy ini telah berlentang dengan sepak-terjanginya Partai yang berkehendak melakukan perluasan dengan secara kilat. Dalam lingkungan Tentara sendiri, Chu Teh dan saya harus berhadapan dengan dua aliran: yang satu berkehendak akan segera menyerbu ke Changsha yang kami anggap belum seratus-persen ketentuaniya; yang lain yalan berkehendak ingin menarik mundur tentara kami kejurusan selatan dari batas propinsi Kwangtung yang kami anggap bahwa itu ialah “Kemunduran”. Perkerjaan kami yang terpenting pada masa sekarang ini yang kami dapat melihatnya ialah dua pasal: membagi tanah-ladang dan membentuk Pemerintah Soviet. Kami hendak mempersenjatakan rakyat dilata agar supaya dapat kami mempercepatkan pergolakan itu. Lalu kami mengadakan kelonggaran berdagang, perlakuan yang baik terhadap tentara tawanan, dan pada umumnia ialah jejak demokratik yang tepat.

Kami telah mengadakan Rapat perwakilan pada musim ketiga tahun 1928 di Chingkanshan dan dalam rapat itu telah berkundung delegasi dari daerah Soviet sebelah utara Chingkanshan. Perselisihan pikiran masih berada di antara orang-orang Partai dalam daerah Soviet tentang pasal tersebut tadi, dan dalam rapat itu perbedaan terlihat sangat nyatanya. Sebagian kecil menyatakan bahwa dengan cuma mempertahankan basis yang kecil itu, hanya sempit sekali akan kemudian di hari kemudian, akan tetapi sebagian besar bersetia dengan tekadnya dan pada kala putusan akan diamhili, mereka menyatakan bahwa pergerakan soviet akan memperoleh kemenangan pada akhirnya. Cuma, pergerakan ini belum mendapat perkenan dari Panitiya Pusat Partai. Perkenan itu belum dapat kami menerima sehingga buntut tahun 1928, pada waktu laporan putusan sidang Kongres ke-6 dari Partai Komunis yang dibikin di Moscow telah mendahului tiba di Chingkanshan.

Dengan garis pekerja baru yang telah diputuskan dalam Kongres itu, Chu Teh dan saya dapat berkerja bersama dalam kesanggupan Maupun ketekadan. Sejak itu, perbedaan pikiran antara pemimpin dari Partai dan pemimpin dari pemerintah Soviet dalam daerah agraris telah musna, dan keragaman Partai telah hidup kembali.

Keputusan pada Kongres ke-6 telah menyaring pengalaman-pengalaman yang didapat selama perjalanan dalam tahun 1925 hingga tahun 1927: Nanchang, Canton dan Pemberontakan Panen di Musim ketiga, dan termasuk juga permufakatan tentang perhatian pembagian tanah. Pada waktu ini Tentara Merah telah bertumbuh di mana-mana seluruh Tiongkok. Pemberontakan telah kejadian juga pada buntut tahun 1927 di bagian barat dan timur dari propinsi Hupeh, dan ini menjadi suatu pangkalan untuk daerah Soviet baru. Ho Lung pun membentukya barisan buruh-petani di bagian barat dan Hsu Hai-tung di bagian timur. Perjungan Hsu dalam daerah ini, kemudian menjadi pusat daerah Soviet Oyuwan (Huep, Honan, Anhui) dan pada belakangan telah datang Hsu Hsiang-ch'ien dan Chang Kuo-t'ao. Fang Chi-min dengan Hsiao Shih-pling mulal juga dengan pergerakannya di seluruh garis timur-utara batas propinsi Kiangsi dan Fukien pada buntut tahun 1927, dan dari situ, terdapatlah satu pangkalan yang teguh di hari kemudian. Setelah mengalami kegagalan dalam pemberontakan di Canton, Peng Pai memsaawa sisa pasukannya yang tetap bersetia, menuju ke Halifeng, di sana ia telah membentukya

Soviet, tetapi oleh kerana caranya yang tidak sehat itu tidak antara lama telah dinancurkan. Sebagian dari tentaranya lalu meloloskan diri di bawah pimpinan Ku Ta-chen dan mem-bikin perhubungan dengan Chu Teh dan saya sendiri, bela-kangan pasukan ini menjadi pusat dibentuknya Angkatan Tentara Merah yang ke-XI.

Pada permulaan tahun 1928, orang-orang “partisan” (yang berhaluan sentimen) menjadi aktif di bagian Hsingku dan Tungku di Klangsi, di bawah pimpinan Li Wen-lung dan Li Sao-shu. Pergerakan ini berpangkal di sekitar Kian; yang kemudian dididikkan Pusat Pemerintah Soviet, sementara orang-orang tersebut di atas tadi, menjadi pusat dari Angkatan Tentara Merah ke-III. Di bagian Fukien Barat, pemerintahan Soviet telah dibentuk juga oleh Chang Ting-chen, Teng Tzu-hui (belakangan terbunuh) dan Hu Pei-teh, yang pada bela-kangan menjadi seorang Social Demokrat.

Pada masanya pertentangan untuk merubuhkan orang-orang yang berhaluan “menyeruduk” di Chingkanshan, Angkatan Tentara Merah ke-I telah berhasil memukul mundur dua kali pertiyobaannya Tentara Putih untuk merampas kembali gunung Chingkanshan. Di sini kami mendapat keyakinan bahwa Chingkanshan merupakan suatu benteng pertahanan yang tanggu untuk angkatan tentara mobile seperti yang kami membentuknya. Bukan begitu saja, malahan mempunyai ladang yang cudup memberi makanan untuk angkatan yang ber-jumah keciil itu. Besarnya gunung itu 500 pal mengitar dan kira - kira 800 pal garls - tengah. Pada pribumi di situ, hanya terkenal sebagai! Ta Hsiao Wu Chin (Chingkanshan yang sejatinya ialah satu gunung berdekatan di situ yang lama tidak diliwati orang hingga menjadi hutan belukar) nama yang didapat kerena adanya lima sumur dipinggirannya. Sumur itu yalan: ta, hsiao, shang, hia dan chung atau, besar, keciil, atas, bawah dan tengah. Lima dusun yang letaknya di atas gunung itu pun juga dinamakan menurut nama sumur tadi.

Setelah kekuatan angkatan tentara kami telah digabungkan lalu diadakannya reorganisasi dan Angkatan Tentara Merah ke-IV yang termashur itu telah ditiyiptakan, dengan Chu Teh sebagai Komandan, sedang saya memegangnya Kommisaris bagian Politik. Banyuk tentara-tentara dari berbagai-bagai tempat sesudahnya membikin pemberontakan-pemberontakan telah tiba di Chingkanshan, dan juga sesudah teryadinya pemberontakan dalam tentara Ho Chien, pada buntut tahun 1928, antara ini pun, pelarian dari Tentara Merah ke-V yang dikepalai oleh P'eng Teh-huai, juga Teng-P'ing (terbunuh di Tsun-yi, Kweichow, di waktu Long March. Huang Kuo-nu (terbunuh di Kwangsi tahun 1931) dan T'ien Teh-yuan.

Dengan bertambahnya banyak pasukan tentara, kini keadaan di gunung menjadi buruk. Pasukan-pasukan itu, tidak mempunyai uniform, makanan pun menjadi kekurangan. Untuk berbulan-bulan kami hidup dengan memakai ubi. Maka itu, serdadu-serdadu lalu mengadakan semboyan: “Rubuhkan kaum kapitalis dan makan ubin/ya”! kerena bagai mereka yang diartikan kapitalis itu hanya kaum tuan-tanah serta ubin/ya. akhirnya, pada bulan Yanuari, tahun 1929, kami serahkan Chingkanshan kepada pimpinan P'eng Teh-huai; Chu Teh dengan tentaranya, telah berhasil menobros garisan blockade yang didakam oleh Tentara Putih, dan sejak itu tempat perlindung kami pertama yang didapat dengan penumpahan darah di gunung itu telah berakhir.

Angkatan Tentara ke-IV segera membuka jalan dengan pergulatan yang seru melalui bagian selatan Kiangsi, dan memperoleh kemayuan pesat sekali. Kami membentukna pula Soviet di Tungku, dan di situ kami bertemu dan bergabung dengan Tentara Merah yang tadinya berada di situ. Lalu dibaginna kekuatan tentara dan lanjutkan pergulatan kami terus ke Yunting, Shangcheng dan Lungyeh. Di saban tempat yang kami telah duduki itu, kami mendirikannya Sovlet. Harus diakui bahwa pergerakan mempersenjatakan rakyat jelata digaris belakang terlebih dahulu sebelum kedatangan tentara Merah, memberi banyak bantuan akan kemenangan kami, dan pun memudahkan pendirian pemerintahan Soviet, serta dapat dikerekohkan dengan stabli. Kini pengaruh Tentara Merah memencar luas sekali, antara daerah yang dijalankan cara pembagian-tanah, orang-orang “partisan” dan pun lainnya beberapa keresidenan. Akan tetapi Biarpun demikian, Partai Komunis belum dapat memegangnya kekwasaan pemerintahan hingga kemudian.

Kini keadaan dalam Tentara Merah telah memperoleh banyak kemayuan, balk dari keperluan material Maupun soal politik. Tetapi antara mana masih juga terdapat beberapa aliran yang jelek, misalnya “Partisanisme” ialah kelemahan yang terbukti dari kekurangannya discipline; dan lain-lainnya seperti haluan demokrasi yang diliehth-lebihin, organisasi yang ural. Ada lagi diyuga aliran yang harus dibasmi ya'tu “sifat ta‘ tenang”, yang tidak ingin bertentram hadapkan pekerjaaan pemerintahan, dan yang kesukaannya hanya bergerak, bertukar pengalaman baru dan insiden. Ada diyuga sisanya kaum militeris dengan pemimpinnya yang sering kali memperlakukan anak-buahnya dengan kekejaman serta pukulan-pukulan yang bengis dan mengadakan perbedaan antara orang yang disukai dengan orang-orang yang dibenci.

Banyak kekurangan dan kelemahan ini, telah diperbalki sesudah diadakan Konperensi Partai ke-9 dari Angkatan Tentara Merah ke-IV yang bertempat di Fukien Barat pada bulan Desember, tahun 1929. Dalam konperensi mana usul-usul untuk memperoleh kemayuan telah dipertimbangkan dan dirundingkan, banyak perselisihan yang tersebab salah paham telah dapat dimusnankan, dan kasad baru telah ditetapkannya yang mana telah menanam pokok dasar idam-idam yang tertinggi dalam pimpinan Tentara Merah. Sebelum ini, aliran-aliran yang saya tuturkan di atas tadi telah mendiyalar sangat helbatnya, dan malahan telah digunakan oleh kaum Trotskyist sempalan dari Partai dan kalangan pemimpin militer untuk memperlemahkan tenaga dari pergerakan kami. Maka itu pemberontakan yang seru telah terjadi akan merubuhkan mereka itu, dan kesudahannya beberapa orang telah diperluti yati kekwasaannya dari militer Maupun kedudukannya dari Partai. Antaranya mereka itu ialah Liu En-kung, seorang pemimpin militer, yang telah kedapatan bahwa ia berkehendak akan menghancurkan Tentara Merah dengan yalnan menyesatkan tentara itu dalam kedudukan yang sukar dalam pertempuran dengan musuh. Setelah beberapa kali percobaan itu telah menampak kegagalan, tipu daya mereka itu lalu dapat kenyataan. Mereka telah menyerang dan mementang program pekerja kami dan segala pendirian kami. Pengalaman telah memberitahunya kami kesalahan-kesalahan, dan perbuatan-perbuatan yang terlantarkan pekerjaan dalam kewajiannya, maka setelah diadakan Konperensi di Fukien segera dihapuskan segala pengaruhnya.

Konperensi itu telah rampung dengan persiapan untuk pembentukan kekwasaan Soviet di Kiangsi. Pada lain tahunnnya, telah memperoleh sukses yang gilang-gemilang. Hampir seba- gian besar dari propinsi Klangsi Selatan diatuh dalam tangan Tentera Merah, dan pangkalan dari daerah Pusat Soviet telah dapat terbentuk.

Pada bulan Februari, tanggal 7 tahun 1930, Konperensi Partai untuk daerah telah diselenggarakan di Klangsi Selatan, merundingkan program Soviet akan hari yang bakal datang. Konperensi itu telah dikunyungi oleh berbagai-bagai wakil tempat dari bagian Partai, bagian Tentera dan bagian Pemerintahan. Dlsini soal pembagian tanah-petani telah diper- timbangkan dengan luas, dan perselisihan paham dari kaum “opportunis” yang menentang dijalankannya perubahan peraturan pembagian tanah-petani dapat dikalahkan. Konperensi mengambil keputusan akan diselenggarakannya peraturan tanah itu agar supaya dapat mempercepatkan pasangan pemerintah Soviet. Pada waktu itu, Tentera Merah hania cuha dapat membentuk Soviet dalam daerah lokal saja, maka dalam Konperensi itu telah ditetapkan akan mendirikan Pemerintah Soviet untuk Propinsi Klangsi. Program pekerya baru itu, telah disambut dengan hangat oleh semua golongan petani serta slap sedia memberikan bantuannya pada beberapa bulan yang lanyut untuk menghancur-leburkan pengepungan tentara Kuomintang.


VI

BERKEMBANGNYA TENTARA MERAH

LAMBAT LAUN peryuangan Tentara Merah bersama-sama dengan rakyat telah memperoleh banyak kemanjuan; discipline telah dapat diperkuatkan, dan soal tehnik dalam organisasi telah dapat diperbarukan. Kaum petani diperbagai-bagai tempat dengan maunya sendiri masing-masing membantu yga pergerakan revolusi. Sedari dulu di Chingkanshan Angkatan Tentara Merah sudah mengadakan peraturan tiga pasal yang sederhana berhubungan dengan soal discipline kepada sesuatu pejuang ya'ni: miurut perintah; dilarang merampas apa-apa yang menjadi miliknya petani; selekasnya menyerahkan kepada pemerintah barang-barang yang dirampasnya dari kaum tuan-tanah untuk diurusnya. Setelah Konperensi 1928, peraturan tambahan telah dibikin yang maksudnya ialah menganjuri kaum petani akan bergiat menyokongnya. Peraturan itu ialah bunyinya:

  1. Semua pintu harus ditutup bila mana kamu meninggalkan rumah;
  2. Semua tikar yang bekas kamu tiduri harus digulung dan dikembalikan kepada tempat asalnya;
  3. Berlaku sopan santun dan mengindahi rakyat serta menolongnya mereka sedapatnya;
  4. Membetulkan barang-barang yang rusak;
  5. Berlaku jujur dalam segala jual-beli dengan petani;
  6. Membayar semua barang-barang yang dibelinya;
  7. Memperhatikan keresikan dan terutama membuat jamban di tempat jauh dari rumah orang.

Dua pasal yang disebut belakangan itu ialah ditambahkan oleh Lin Piao. Delapan pasal dari bunyinya peraturan itu telah dijalankan dengan memperoleh buah yang baik, dan hingga pada hari ini peraturan itu masih tetap menjadi peraturan Tentara Merah, yang harus diapalkan dan kerap kali dibacakaninya oleh Lin Piao. Selain daripada itu ada lagi tiga kewajiyan yang dipelajarikan kepada Angkatan Tentara Merah sebagai pelajaran perlama: kesatu, berduyang melawan musuh hingga akhirnya; kedua, mempersenjatakan rakyat umum; ketiga, mengumpul uang untuk menyokong perduyuangan.

Pada permula tahun 1929 beberapa pasukan dari kaum “partisan” di bawah pimpinan Li Wen-ling dan Li Su-chu telah digabung menjadi Angkatan Tentara Merah ke-III di bawah Komando Uang Kung-lu, dan dengan Chu Yi sebagai Komissar bagian Politik. Pada masa ini juga, sebagian laskar rakyat dari Chu Pei-ten telah berontak dan masuk Tentara Merah. Mereka telah iba di kamp Komunis dengan dipimpin oleh seorang komandan Kuomintang, bernama Lo Ping-Hui, yang telah putus harapan terhadap Kuomintang dan masuk dalam tentara merah. Kini ia menjadi komandan dari Angkatan ke-32 dari Barisan Front ke-II. Sementara Angkatan Tentara Merah ke-12 yang dikepalai oleh Wu Chung-hao, dengan T'ai Tsung-ling sebagai Komissar Politik, telah dibentuk dari pasukan preman yang berada di Fukien dengan pasukan tentara merah aseli dijadikan tenaga pusat. Wu telah terbunuh dalam pertempuran dan telah digantikan oleh Lo Ping-hui.

Itulah pada waktu ini, bahwa Angkatan Tentara Ke-I telah dibentuk dengan Chu Teh sebagai Komandan tertinggi dan saya menjadi Komissar Politik. Angkatan itu terdiri dari Tentara ke-3 dan Tentara ke-4 yang dikepalai oleh Lin Piao, dan Tentara ke-12, dikepalai oleh Lo Ping-hui, sedang pimpinan Partai diserahkan kepada Panica Garis Depan yang mana saya memegangnya pimpinan ketua. Ketika ini, Angkatan tersebut telah mempunyai kekuatan sejumlah kira-kira 10,000 anak buah yang dibagi dalam sepuluh diplsi. Selain daripada kekuatan itu, tertambah juga regimen-regimen istimewa, serta pasukan penjaga dan pasukan preman.

Slasat perang Tentara Merah, terkecuall dari dasar politik pergerakan, merupakan bagian yang terpenting dari yalannya kemajuan militer. Di Chingkanshan telah ditetapkannya empat semboyan sebagai penunyuk yalannya peperangan gurilla yang menjadi dasar taktik Tentara Merah. Semboyan itu ialah:

  1. Musuh maju kami mundur!
  2. Musuh berhenti kami menggaduh!
  3. Musuh menyingkir kami menyerang!
  4. Musuh mundur kami mengejar!

Semboyan itu pada permulaan tidak disetujui oleh kailangan kaum militer yang berpengalaman, berhubung mereka tidak setuju juga dengan adanya taktik peperangan tadi akan tetapi pengalaman telah mengunjuk bukti bahwa taktik tadi itu ialah benar. Maka kerap kali bila mana Tentara Merah tidak mempergunakan taktik itu, nistaya mendapat kekalahan dalam peperangannnya. Jumlah tentara musuh sepuluh atau dua puluh kali lebih besar dari tentara kami dan sumber peralatan perang kami pun kellwat terbatas, maka hanya cuma dengan mempergunakan musilhat taktik perang gurila saja dapatlah kami mengalahkan penyerangan tentara Kuominbang yang jauh lebih luas dan lengkap persencayataannya, serta lebih unggul kedudukannya.

Taktik satu-satunya dari Tentara Merah yang terpenting ini, telah dan tetap membuktikan kemungkinannya untuk mengorahkan segala kekuatannya di waktu menyerang, dan kemudian dengan gesit segera memencarnya. Ini berarti bahwa peperangan secara menduduki garisan yang tetetap tidak dipergunakan, dan sesuatu penyerangan dilakukan hanya untuk menghancurkan kekuatan musuh yang sedang berdiyalan. Dengan menggunakan taktik pokok inl, gerakan militer dan “penyeruan mendadak” yang gesit dan dasat dari Tentara Merah itu, dapatlah langkah yang pesat.

Akan memperluaskan daerah Soviet, umumnyie, programma yang diamblinya oleh Tentara Merah itu hanya bertindak dengan “yara lajunya ombak, tidak cara ‘meloncat-loncat’” yang tidak memikirkan terlebih dahulu memperkokohkan daerah-daerah yang telah didapat. Tiara demikian, seperti juga taktik peperangan yang saya tuturkan, tepat dan praktis, telah didapa dari pengalaman dalam soal militer dan politik selama beberapa tahun. Kendatipun demikian, taktik itu telah menampak kritik yang sangat hebat dari Li Li-san yang berpendapat bahwa semua peralatan senjata harus dikeraikan dalam tangan Tentara Merah, dan barisan preman harus dilebur menjadi tentara-opisil. Lebih jauh ia menyatakan kehendaknya menyerang terus dengan tidak terlebih dahulu memperkokohkan garisn belakang; menyerbu kepada kota-kota besar dengan cara menggemparkan dan dibarengi dengan kegaduhan-kegaduhan dan perbuatan-perbuatan extrem di belakang garis musuh. Tujuan Li Li-san ini telah mempengaruhi orang-orang dalam Partai di luar daerah Soviet, hingga akhirnya telah mendesak supaya ditrimanya maksud tujuan itu dibebberapa bagian dalam Tentara Merah, yang sebetulnya bertentangan dengan kehendak pucuk pimpinan lapangan perang. Satu dari antaranya akibat itu, ialah penyerbuan kepada kota Changsha, dan yang lainnya ditujukan atas kota Nanchang. Akan tetapi, Tentara Merah telah menolak buat tidak mempermobilisasi pasukan preman, dan biarkan saja garis belakang terbuka untuk kemungkinan penyerangan musuh waktu dilakukannya penyerangan-penyerangan ini.

Pada musim ketiga tahun 1929, Tentara Merah lalu bergerak ke arah Kiangsi Utara, menyerang dan menduduki banyak kota-kota dan menghantuturkan beberapa perlawananya tentara Kuomintang. Tetapi di waktu kami, Angkatan Tentara Merah ke-I, mendekati kota Nanchang, mendadak kami membliuk ke arah barat dan menyerang Changsha. Dalam serentak ini kami bertemu dan bergabung dengan pasukan tentara yang dikepalai oleh Peng Teh-nuai yang telah mendahului menduduki kota Changsha dan kemudian ditarik mundur kerena menyegah terjebaknya dalam kepungan tentara musuh yang lebih lengkap dan sempurna. P'eng telah menurut perintah untuk tinggalkan Chingkanshan pada bulan April, 1929 dan melakukan penyerangan di bagian Kiangsi Selatan yang menyebabkan bertambah besar pasukannya. Ia menggabungkanya pula dengan Chu Teh serta kekuatan pusat dari Angkatan Tentara Merah pada nanti bulan April, 1930 di Yuichin, dan setelah didadakan konperensi, diputuskan bahwa Tentara ke-3 dari P'eng diperintahkan menyerang batas propinsi Kiangsi-Hunan, sedang Chu Teh dan saya bergerak di bagian Fukien. Itulah kejadilan pada bulan Yuni, tahun 1930 bahwa Tentara ke-3 dan Angkatan Tentara Merah ke-I dapat mengadakan pula perhubungan langsung, dan untuk kedua kalinya menyerang kota Changsha. Angkatan Tentara Merah ke-I dan ke-III telah digabung menjadi Angkatan Tentara Front ke-I,

Pada waktu ini, Panitia Pergerakan Revolusi Peburuh dan Petani Tlonghoa telah achiirnya tertiypta, dan saya telah diangkat sebagai Ketua Panitia itu. Pengaruh Tentara Merah di Hunan telah mendialar begitu luas seperti yuga di Kiangsi. Nama saya menjadi terkenal dlanata petani-petani di Hunan, dan barang siapa yang dapat menangkap saya Maupun Chau Teh atau lain-lain pemimpin Merah hidup atau mati, akan diberinya kepandana upah yang besar. Tanah saya di Hsiang T'an telah dijabat oleh Kuomintang. Isteri dan adik-perempuan saya, juga Isteri kedua adik saya, Mao Tse-hung dan Mao Tse-tan, serta anak saya semua ditawar oleh Ho Ch'ien. Isteri saya dan adik-perempuan saya dibunuh, sedang yang lainnya, kemudian dibebaskan. Keormatan Tentara Merah dihagai begitu tinggi hingga terdengarlah ke kampung saya, Hsiang T'an. Menurut ceriteranya orang di dusun itu mereka percala bahwa saya tidak lama lagi bakal kembali ke kampung sendiri. Pada suatu hari, sebuah pesawat terbang telah melayang ciatas dusun saya, mereka mengira bahwa di dalam pesawat itu ialah saya. Mereka mengancam orang yang pada belakangan mengeryakkan ladang saya, bilangnya bahwa saya telah kembali ke kampung, untuk memeriksa ladang saya, dan bila ada pepohonan yang dirusakkan pastilah saya akan minta ganti kerugian kepada Chiang Kai-shek.

Akan tetapi penyerangan yang kedua kalinya atas kota Changsha telah gagal. Banyak bala bantuan dikirim untuk mempertahankan penjagaan kota itu; selain dari itu pun beberapa jurusan tentara Kuomintang membanjiri propinsi Hunan pada bulan September dan menyerang Tentara Merah. Dalam pengepungan itu hanya sekali saja pertempuran yang sangat hebat telah kejadian, dan Tentara Merah telah menghancurkan dua brigade laskar musuh. Setelah ternyata kota Changsha tidak mungkin diduduki, terpaksaIah kami mundur ke Kiangsi sesudah bertempur beberapa minggu lamanya.

Kekalahan itu menambahkan bukti akan membatalkan pendapatan Li Lt-san, dan menolong beribu jiwa Tentara Merah dari pertempuran hebat yang mungkin dilakukan di waktu menyerang Wuhan menurut permintaan Li. Jejak Tentara Merah pada waktu ini hanya memperlengkapan pasukan-pasukan dengan kekuatan baru, membentuk pemerintah Soviet di daerah petani, dan yang paling utama ialah memperkokohkan dan mempersediahterakan daerah-daerah yang telah berada dalam tangan Tentara Merah di bawah pemerintahan Soviet. Untuk menyapaiakan jejak pekerya yang semacam itu penyerangan terhadap kota Changsha tidak perlu dan hanya periyobaan yang tidak pasti. Umpamanya penyerbuan itu dilakukan hanya sebagai periyobaan saja untuk sementara waktu, dan tidak memikirkan akan menduduki kota itu serta mendirikan pemerintahan Soviet di situ, akibatinya mungkin sekali ada baik, kerena reaksi yang timbul dari sebab itu besar artinya bagi pegerakan revolusi nasional. Kesalahan-nya hanya mengenakan soal strategi dan taktik, yang coba menduduki Changsha sedang tata usaha Soviet digaris belakang masih belum diperkuatkan.

Akan tetapi, taksiran Li Li-san telah meleset tentang tenaga milliter Tentara Merah sewaktu itu, dan faktor-faktor revolusi dalam perkembangan politik nasional. Ia pertiya bahwa revolusi telah mendekati sukses dan dalam tempo yang pendek akan dapat merebut kekwasaan memerintah antero negeri. Kepercayaan ini telah terdorong kerena teryadinya peperangan yang sehingga sama lehainya antara Feng Yu-hsiang dan Chiang Kai-shek, yang membikin pemandangan orang rupanya sangat ketarik dengan pendapatn Li Li-san. Akan tetapi opini Tentara Merah, musuh sedang mempersiapkan penyerangan yang besar-besaran terhadap Soviet, selekas mungkin peperangan spil itu dapat diselesaikan, dan pun bukan waktunya akan bertindak sembarangan yang hanya mencari kekalahan. Pendapatn ini ialah tepat benar.

Dengan teryadinya peristiwa di Hunan, kembaliinya pulu Tentara Merah ke Kiangsi. Setelah Klan diduduki, “pendapatn Li Li-san” itu telah digugurkan dalam kalangan tentara; Li Li-san sendiri pun merasakan kekecewaannya, maka itulah ia tidak berpengaruh lagi di dalam Partai. Sebelum pengaruh Li Li-san dijatuhkan sama sekali ketika itu sukar sekali keadean dalam tentara. Sebagian dari Tentara ke-3 mengikut jejak Li Li-san dan menuntut pemelayaran Tentara ke-3 dari angkatan tentara yang lain. Peng Teh-huai bergulat keras merubuhkan aliran pemelayaran ini dan dapat memperkuatkan kesatuun tenaga tentara itu di bawah pimpinannya, dan tetap berseti kepada pimpinan tertinggi. Akan tetapi, Tentara ke-20 yang dalam pimpinan Liu Ti-sao, telah memberontak secara berterang, menawan ketua pemerintah Soviet Kiangsi dan lain-lain opsr dan para pangereh-praja, pun mengendang pendirian politik kami berdasar atas pendapatan Li Li-san. Ini telah kejadlan di Fu Tien, Itulah sebabnya terkenal sebagai “Fu Tien Incident”. Fu Tien itu kerena letaknya berdekatan dengan Kian, dan belakangan menjadi pusatnya daerah Soviet, yadi peristiwa tadi itu telah menggemparkan, dan kepada umum teranggap bahwa nasib revolusi akan semata-mate ditakdirkan atas dibereskannya kegaduhan itu. Demikianlah pemberontakan itu dapat ditindas dengan serentak, oleh kerena setianya Tentara ke-3, keteguhannya Partai dan Angkatan Ten-tara Merah dan tunjangan yang kokoh dari kaum petani. akhiranya Liu Ti-sao telah tertawan dan kaum pemberontak ang lain-lainnya dapat diperlulutkan senjatanya dan dikubrakan. Jejak bekerja kami ditetapkan pula; “penda-tapan Li Li-san” cian berkandas hingga dasarnya, dan akhiranya pergerakan Soviet telah memperoleh kemenangan yang gilang-gemilang.

Akan tetapi pada waktu ini pihak Nanking telah.akin sepenuh-penuhnya tentang pengaruh revolusi yang terserbuin dari Soviet Kiangsi, dan pada buntut tahun 1930, dimulailah Peperangan Pembasmi yang ke-1 terhadap Tentara Merah. Kekuatan musuh beryumlah lebih dari 100,000 orang tentara, mulay mengurung daerah Merah dan menyerang dari bugian lma jurusun di bawah pimpinan Lu Ti-p'ing. Untuk lawan penyerangan ini Tentara Merah dapat mengadakan mobilisasi yang beryumlah 40,000 orang. Dengan menggunakan rasat perang yang secara ceridik dapat kami memukul mundur penyerangan tentara musuh. Sesuai dengan taktik “cepat berkumpul cepat memencar”, kami menyerangnya pasukan tentara musuh satu persatu dengan tenaga sebulatnyia. Untuk sementara waktu kami memblarkan musuh masuk lebih jauh ke dalam daerah Soviet, kemudian dengan kekuatan tentara yang jauh lebih banyak jumlahna, kami mendadak menyerang dan memotong musuh agar terputus-putus perhubungan-nya dari satu antara yang lain. Demikianlah Tentara Merah ialu mendapat kedudukan yang memudahkan gerakan tentara dan sebaliknya kami dapat mengurung mereka. Begitulah kami menghancurkan siasat perang Ten-tara Kuomintang yang mengandekkan banyakna jumlah dan lengkapna peralatan.

Pada bulan Januari, 1931, Peperangan Pembasmi yang ke-1 dari Kuomintang, dapat seanteronya dikalahkan. Saya pertayal bahwa ini tidak akan mungkin didapat kecuall dengan tiga kondisi terlebih dahulu dapat dipersiapkan oleh Tentara Merah sebelum perlawanan dimulai. Kesatu, diper-satukanya Angkatan Tentara ke-I dan ke-III dengan pimpinan yang dipusatkan; kedua, penghapusan jejak Li Li-san; dan ketiga, ialah kemenangan didapat oleh Partai terhadap antiBolshevik (Li Ti-tsao) dan lain-lain kontra-revolutionaris dalam kalangan Tentara Merah dan daerah Soviet.

Setelah mengaso untuk empat bulan lamanya, Nanking membandir! pula dengan Peperangan Pembasmi ke-2, di bawah pimpinan Ho Ying-chin, kini Menteri Peperangan. Kekuatan tentara mereka beryumlah lebih dari 200,000 orang tentara, yang menyerang daerah Merah dari tuduh jurusan. Kedudukan Tentara Merah pada waktu itu terkira sangat mengawatirkian. Daerah pemerintah Soviet hanya sempit sekali; sumber-sumber terbatas; perlengkapan serba kurang, dan sebaliknya, persenjataan Maupun kekuatan tentara musuh jaun lebih besar dan sempurna daripada Tentara Merah dalam segala hal. Untuk melawan offensif itu, Tentara Merah hanya tetap mempergunakan taktil yang lalu, yang telah mem-perolehkan kemenangan. Seperti yang sudah, memblokarkan tentara musuh masuk lebih dalam kederaah Merah, kemudian segenap tentara-tentara kami segera mengerahkan antero kekuatannya menyerang musuh yang datang dari jurusan kedua, mengalahkan beberapa regimen dan hancurkan ke-kuatannya offensif. Setelah itu dengan lantas kami menyerang dan mengutungi jurusan ketiga, ke-enam dan ketuyuh bergilir satu dan yang lain. Jurusan ke-empat musuh ditarik mundur dengan tidak bertempur, dan kelima hanya sebagian saja dihancurkan. Dalam tempo empatbelas hari, Tentara Merah telah bertempur hingga enam kali peperangan, dan berjalan kaki lamanya delapan hari dan berakhir dengan kemenangan yang menentukan.. Dengan hancurnya atau mundurnya tentara jurusan ke-6, tentara musuh dari jurusan ke-1 yang dikepalai oleh Chiang Kuang-nai dan T'sai T'ing-k'al, telah mundur dengan tidak bertempur.

Sebulan berselang, Chiang Kai-shek lalu mengepalai satu angkatan tentara yang terdiri dari 300,000 orang untuk mem-basmi “Bandit-merah”. Ia telah terbantu oleh penglima-perangnya yang terpandal: Ch'en Ming-shu, Ho Ying-chin, dan Chu Shao-liang, yang masing-masing diwajiikan akan menyie-rangnya dari berbagai-bagai jurusan. Chiang berkehendak akan menduduki daerah Merah dengan cara kilat, ialah “penyapuan”, “Bandit-merah” yang pesat. Ia mulai dengan menggerakkan tentaranya ke pusat daerah Soviet 80 pal sehari. Ini telah mengasih kondisi-kondisi yang dengan mana Tentara Merah dapat berperang lebih sempurna, dan ini tidak antara iama telah memuktikan kekeluarnanya taktik Chiang Kai-shek yang besar itu. Dengan kekuatan hingga 30,000 orang, dan dengan runtunan gerakan tentara yang unggul, Tentara Merah telah menyerang berbagai-bagai yurusan dalam lima hari. Dalam babakan pertama kami telah menawan banyak tenara musuh dan sejumlah besar alat senjata, meriam dan lain-lain peralatan. Pada bulan September, Peperangan ke-3 itu telah merupakan kegagalan bagi pihak Nanking dan Chiang Kai-shek telah tarik mundur tentaranya pada bulan October.

Pada masa ini, Tentara Merah melwati saat yang sedikit aman dan mulallah bertumbuh, memencar sangat pesatnya. Kongres Soviet yang Pertama lalu diselegengarkan pada bulan December 11, 1931, dan lalu dibentuknya Pusat Pemerintah Soviet dengan saya sebagai Ketua. Chu Teh diangkat menjadi Komandan Tertinggi Angkatan Tentara Merah. Pada bulan itu yuga, “Peristiwa Ningtu” telah meledak. Lebih dari yumlah dua puluh-ribu tentara Angkatan ke-28 dari Kuomintang telah berontak dan masuk Tentara Merah. Mereka terimpin oleh Teng Ch'ing-tan dan Tsao Pu-shen. Tsao akhirnya terbunuh dalam peperangan di Kiangsi, akan tetapi Teng hingga sekarang masih memegang pilihan Angkatan Tentara Merah ke-5 yang berdiri dari pasukan pemberontak di Ningtu tadi.

Sekarang tibalah waktunya akan Tentara Merah mengambil tandakan offensif. Pada tahun 1932, Tentara Merah telah bertempur di Changchow, Fukien, dan dapat menduduki kota itu. Di bagian Selatan, Tentara Merah telah menyerang Ch'en Chi-t'ang di Nan Hsiang dan pun telah menyerbu garisan Tentara Chiang Kai-shek dan menyapu Lo An, Li Chuan, Chien Ning dan Tan Ning. Kami menyerang dluge Kanchow tetapi tidak menduduki. Dari bulan October, 1932 dan selanyutnya tingga pada dimulainya Peryalanan Terpanjang (Long March) ke arah Barat-laut, saya menyuruhkan hampir seantero tempo saya kepada pekeryaan Pemerintahan Soviet, sedang pimpinan militer diserahkanya kepada Chu Teh dan lain-lainya.

Pada bulan April, 1933, dilakukan pula Peperangan Pemdasmian untuk ke-empat kalinya, dan, bagi Nanking mungkin sekali, itu adalah peperangan yang menderita kekalahan sangat helbat. Dalam babakan pertama dari peperangan itu, dua dipisal tentaranya telah diperluiyutkan senjatanya dan dua komandanya tertawan. Setagian dari Divisi ke-59 dihanturkan, sedang Divisi ke-52 telah lebur sama sekali. Dalam pertempuran ini tigabelas-ribu orang tentara telah tertawan di bagian Ta Lung Ping dan Chiao Hul, bilangan district Lo An. Divisi ke-11, yang paling baik dari tentara Chiang Kai-shek, setagian besar hancur dan hampir semua dapat diperluiyuti senjatanya serta komandannya luka berat. Pertempuran ini menentukan detik-perubahan yang berakhir dengan kekalahannya Peperangan Pembasmiann ke-4. Pada waktu ini, Chiang Kai-shek menulis kepada Ch'en Ch'eng, komandan lapang-perang, bahwa ia anggap kekalahan itu untuk pertama kali ia mengalami seumur hidupnya dan ia merasa sangat malu. Ch'en Ch'eng tidak bersungguh hati berperang. Ia kemudian bicara kepada orang bahwa memerangi Kaum Merah, menurut pendapatannya, hanya “pekerjaan seumur-hidup” dan pun “hukuman se-unur hidup”. Warta ini telah sampai dikuping Chiang Kai-shek yang lalu petiat Ch'en Ch'eng dari diawatannya sebagai komandan tertinggi.

Untuk penyerangannya yang kellma, ialah yang paling akhir, Chiang Kai-shek telah mobilisasi hingga hampir sejuta orang tentaranya; dan disertakan dengan strategi dan taktik baru. Sudah pada waktu penyerangannya ke-4 diblikin, Chiang Kai-shek menuruti usul yang diajudkan oleh Penasehat Jerman, telah menggunakan systeem jerat dengan susunan benteng meriam. Dalam pertempuran pembasmiann yang dilakukan kelima kalinya la banyak mengandelkan atas keteguhan itu.

Pada saat ini, kami telah membuat dua kekeliruan yang terpenting. Kesatu, ialah kegagalan menggunakan ketika yang baik untuk berseriak dengan Ts'ai Ting-k'ai pada tahun 1933 waktu terjadinya Pemberontakan Fukien; kedua, ialah kekeliruan menggunakan taktik perlawanann yang tunggal, ialah membuang taktik perang kami yang lama. Itulah kekeliruan yang sangat besar dengan cara pertempuran yang demikian terhadap Tentara Nanking yang unggul dalam segalanya di medan perang, yang sebelumnya, Tentara Merah tidak sama sekali paham balk dalam tehnik Maupun dalam semangat.

Sebagai akibat dari kekeliruan kami itu, dari taktik dan strategi Peperangan Tiongkok yang baru, tertambah dengan yumlah dan perlengkapan Tentara Kuomintang, yang diauh lebih sempurna, Tentara Merah telah terpaksa menyari perubahan akan hidupnya di Kiangsi yang semingkin lama bertambah sukar. Begitu juga, berhubung dengan keadaan politik negeri, kami mengambil ketetapan akan mengungsi ke arah Barat - laut. Menyusul penjajaian Jepang di Manchuria dan Shanghai, Pemerintah Soviet telah menyatuhkan perang pada bulan Februari, 1932 dengan opsil. Pengumuman yang tidak berlaku itu berhubung dengan blockade dan pengepungan tentara Kuomintang terhadap Soviet Tiongkok, telah disusul dengan pengumuman yang menyeruhkan akan keragaman semua kekuatan orang-orang yang bersenjata dalam antero Tiongkok, membentuk Garis Persatuan melawan penjajaian imperialis Jepang. Pada permulaan tahun 1933, pemerintah Soviet menyalakan bahwa berkerje bersama-sama dengan tentara Putih akan dapat tercapai bila saja didasarkan atas perhentihan perang saudara dan penerangan terhadap Soviet Tiongkok dan Tentara Merah; kemerdekaan rakyat dan hak rakyat dapat didiyamin; dan mempersenjatakan semua lapisan rakyat yang berlawan Jepang.

Peperangan Pembasmi Merah yang ke-5 dilakukan pula pada bulan October, 1933. Pada bulan Januari, 1934, Kongres Soviet daerah Soviet Seluruh Tiongkok ke-II telah diseleggarakan di Yulchin, ibu-kota pemerintah Soviet, dan dalam kongres mana, saringan-saringan dari pekeryaan revolusi seumumnya telah diadakan. Dishil saya memajukan laporan yang lengkap, dan pun diadakan pengangkatan Pemerintah Pusat Soviet terdiri dari orang pembesar yang sekarang masih ada. Tidak berselang lama, persediaan untuk Perjalan Terpanjang (Long March) disiapkan. Itu telah dimulai pada bulan October, 1934, setahun setelah Chiang Kai-shek membanjiri dengan penyerangan yang penghabisan; setahun setelah hampir selalu dalam peperangan, pertempuran yang kedua belah pihak menderita kerugian.

Pada bulan Januari, 1935, pasukan Tentara Merah telah tiba di Tsun-yi, propinsi Kweichow. Selanjutnya dalam empat bulan lamanya, tentara kami selalu dalam perjuangan, pertempuran yang maha dahsat. Meliwati segala kesukaran; melintasi sungai-sungai Tiongkok yang terlampau panyang, dalam dan berbahaya; menandaki jurang-jurang dan tepi-tepi gunung yang tertinggi dan mengerikan; menghingeapi dusun llar yang bladab; melalui padang-padang yang sunyi dan suwung; kedinginan, kepanasan, keanginan dan kehujanan; dikejar, diburun oleh seyapar adanya kekuatan tentara Putih seantero Tiongkok, tetapi kami tetap dengan tekadnya, melintasi semua rintangan alam, beryuang dengan penuh kesanggupan sepanjang peryalananya melawan musuhnya yang menghalangi di berbagai-bagai propinsi Kwangtung, Hunan, Kwangsi, Kweichow, Yunnan, Sikong, Szechuan, Kansu dan Shensi. ‘akhirnya, Tentara Merah kami tibalah di Shensi utara pada bulan October, tahun 1935, dan dapatlah memperluaskan sekarang ini di bagian Barat-laut dari Tiongkok.

Peryalanan Tentara Merah yang gilang-gemilang itu, dan tersampailah di daerah Kansu dan Shensi yang kami dapat membanggakan setinginya tetap berserta dengan antero anak buahnya, tidak menderita banyak kerusakan, itulah tersebab hanya‘ oleh: kesatu, ialah pimpinan Yang tepat dari Partai Komunis, dan kedua, ialah kecerdikan, keberanian, kesanggu-pan dan keteguhan yang hampir bukan tenaga manusia dapat memperhahankan, dan pun semangat revolusi yang berkobar-kobar dari masing-masing pekerya terdapat dalam rakyat daerah Soviet kami. Partai Komunis Tiongkok, pada yang lampau, sekarang, dan selanyutnya, tetap bersedia kepada plagam Marxist-Leninisme, dan beryuang terus untuk merubahkan segala aliran opportunis. Di dalam kesanggupan itu, terletaklah artiannya kepastian dan tercapainya kemenangan yang paling akhir.


TAMBAHAN:

PIDATO MAO TSE-TUNG DI HADAPAN SIDANG PEMBUKAAN PERMUSYAWARATAN PERDA-MAIAN POLITIK RAKYAT TIONGKOK KE-I

Tuan-tuan Para Wakil sekalian,

Sidang Permusyawaratan Perdamalan Politik Rakyat yang telah iama dl-ldam-ldamkan oleh segenap rakyat Tiongkok, kini dapat kita menyelenggarakan dengan resmi.

Permusyawaratan kita ini, dihadiri lebih 600 orang para-wakil, yang mewakili berbagai-bagai partai demokrat, berbagai-bagai badan perkumpulan rakyat, berbagai-bagai Angkatan Tentara Merdeka, berbagai-bagai daerah, berbagai-bagai golongan rakyat dan saudara-saudara kita yang menzembara di berbagai-bagai luar negeri. Ini menandakan bahwa Permusyawara'an kita ini ialah suatu bukti dari keragaman rakyat di seluruh negeri.

Kerazaman segenap rakyat Tiongkok yang kokoh-erat-erat ini, telah memperoleh kemenangan yang gilant-gemilang, itu disebaikan kita telah merubuhkan Pemerintah Kuomintang yang buruk yang ditunjang oleh Imperialis Amerika. Dalam tempo tiga tahun lebiih saja, Angkatan Tentara Rakyat Merdeka yang gagah-perkasa, yang sukar didapat bandingann'a dianteronia kolony langit, telah mengalahkan berjuta-juta Tentara Kuomin'ang dalam penyerangannya yang dibantu oleh Imperialis Amerika, dan setaliknya, tentara kita dapat membikin penyerangan offensif bahkan penyerubuan. Kini, sejum'ah berjuta-juta Tentara Rakyat Merdeka dalam berbagai-bagai angkatan telah mendesak digaris berdekatan T'aiwan, Kwang- tung, Kwangsi, Kweichou, Szechuan dan Sinkiang, (Kini selain Taiwan, semua telah dimerdekakan - S. O.) sebagian besar rakyat Tiongkok telah mendapat kemerdekaan. Dalam tempo tiga tahun lebih saja, segenap rakyat diantero negeri telah berkohok, menunjang sepenuhnya kepada Tentara Rakyat Merdeka, melawan musuhnya sendiri, dan telah memperoleh kemenangan dasar. Dengan alas-dasar tadi, kita menyelenggaraikan Permusyawaratan Politik Rakyat pada hari ini.

Permusyawaratan kita ini, makanya disebut Permusyawaratan Perdamalan Politik Rakyat, ialah oleh kerena pada tiga tahun yang lampau, kami telah mengadakan perdamalan tentang politik dengan Chiang Kai-shek serta Kuomintang. Keputusan-keputusan yang telah didapat dalam perdamalan itu, ialah telah dirusakkan oleh Kuomintang Chiang Kai-shek dan segala kakl-tangannya, akan tetapi Biarpun demikian, itu telah memberi impressi sedalam-dalamnya bagai rakyat seumumnya. Perdamalan yang dibikin pada waktu itu telah mengunduk bukti bahwa berunding dengan Komplotan Kuomintang Chiang Kai-shek, budaknya Imperialists, tidak dapat memutuskan soal yang menguntungkan bagai rakyat sekalian. Walaupun diandalkan terpaksa dapat diadakan keputusan, juga ternyata itu hanya tersia-sia belaka, oleh kerena pada waktu datang tempohnya yang dianggap olehnya tepat, pastilah segala keputusan tadi akan disobek-sobek dan di llas-llas, dan pula mereka tidak sungkan akan mempergunakan “peperangan” yang kediam itu untuk menentang kemauan rakyat. Barang satu-satunya yang kita telah mendapat dalam permusyawaratan itu, ialah “pengajaran” yang meresap sedalam-dalamnya bagai rakyat, yang membuka mata rakyat akan mengarti; bahwa dengan gundal Imperialists Kuomintang Chiang Kai-shek serta komplotannya, tidak mungkin akan didapat perdamalan, satu jalan saja hanya kita dapat memilih, ya'tu, kita merubuhkan musuh kita itu, atau, kita sebaliknya dicinyang, dibunuh dan dl-llas-llas! Segenap rakyat Tionghoa di bawah pimpinan Partai Komunis Tiongkok, dalam tempoh tiga tahun lehth, telah mendusin, telah sendrinya beragam, meruapkan bentuk yang kokoh di seluruh negeri untuk melawan Imperialistsme, Feudalisme, Burokratik-Kapitalisme dan wakilinya ialah garis-kesatuan Pemerintah Kuomintang yang buruk, membantu perjuangan kemerdekaan rakyat, merubuhkan Pemerintahan Kuomintang yang ber-reaksionalr, membongkar pembudakan Imperialists di Tiongkok dan membangunkan pula Permusyawaratan Perdamalan Politik.

Permusuawaranan Perdamalan Politik Rakiat yang sekarang kita hadapi, ialah diselenggarakan atas dasar baru, yang mempunyai sifat mewakili segenap rakiat di seluruh negeri, yang dipertayaka dan ditunjang oleh segenap rakiat di seluruh negeri! Kerena itu, Sidang Permusuawaranan Perdamalan Politik Rakiat Tiongkok, memaklumkan menyalankan kekuasaan Dewan Perwakilan Rakiat Seluruh Negara. Sidang Permusuawaranan Perdamalan Politik Rakiat Tiongkok, dalam acaranya, akan menetapkan Anggaran-Organisasi. Sidang Permusuawaranan Perdamalan Politik Rakiat Tiongkok, akan menetapkan Anggaran-Organisasi Pemerintah Rakiat Pusat Republik Rakiat Tiongkok akan menetapkan Plagam-gesama dari Sidang Permusuawaranan Perdamalan Politik Rakiat Tiongkok, akan menyusun Parliya Seluruh Negara dari Sidang Permusuawaranan Perdamalan Politik Rakiat Tiongkok, akan menyusun Panitia Pusat Pemerintah Rakiat Republik Rakiat Tiongkok, akan menetapkan Lambang dan Lencana Negara Republik Rakiat Tiongkok, akan menentukan tempat kedudukan ibu-kota negara Republik Rakiat Tiongkok, dan menetapkan tarich Masehi yang umumnya dipergunakan oleh antero dunia.

Para-Wakil sekalian: Kita mempunyai pendapatan yang bersama, ialah, bahwa pekerjaan kita ini, akan tertiyat dalam sejarah manusia, akan mengunduk kepada dunla, br.hwa rakiat Tiongkok yang berjumlah segerempat daripada jumlah banyaknya manusia dikolong langit mulal sekarang telah mendusin, telah bangun! Bangsa Tionghoa sebetulnya adalah bangsa yang maha agung, yang gagah-perkasa, dan yang rajin berusaha, cuma, pada sekarang ini ialah telah terbelakang. Kemunduran ini ialah tidak lain hanya akibat pemerasan dan tindasan pemerintahan yang reaksionalir dan kaum Imperialis luar negeri. Sejak seratus tahun yang lalu, kakik-molang kita telah berduyang dengan tekadnya yang tepat itu melawan segala tindasan dari luar Maupun dari dalam negeri, mereka tidak berhenti yang terus-menerus melawan, hingga diantaranya termasuk diyuga meledaknya revolusi 10 October, 1911 yang maha azung itu, yang dipimpin oleh Dr. Sun Yat-sen. Leluhur kita itu telah memberi penunduk bagi kita, akan kita sekalian meneruskan dan mentiapakan warisan mereka itu. Kini, kita telah berbuat demikian. Kita telah bersalu, dengan peryuangan kemerdekaan rakiat dan revolusi rakiat kita telah merubahkan semua penindas dari luar Maupun dari dalam negeri, kita telah menyatakan didirkannya Negara Republik Rakiat Tiongkok. Bangsa kita, mulai dari sekarang termasuk dalam golongan keluarga bangsa-bangsa sedunia yang mengutamakan damai dan merdeka. Bangsa kita tidak akan lagi menjadi suatu bangsa yang dapat dihinakan, kita telah BANGUN! Revolusi kita telah mendapat sambutan yang hangat dari rakyat sedunia yang terbanyak, kawan kita tersebar diantero kolong dunia!

Pekeryaan revolusi kita belum selesai, perjuangan kemerdekaan rakyat dan revolusi rakyat sedang berjalanan terus, kita harus tetap berjiang. Kaum Imperialis dan kaum Reaksionair dalam negeri kita, pasti tidak akan mandah ridiah dalam kekalahanyna, mereka bakal mencoba pergulatannya yang paling akhir. Walaupun sesudah keadaan di seluruh negeri menjadi tenang, mereka juga akan menggunakan segala usahanya untuk mengrusak dan mengacau, mereka akan se-waktu-waktu mencoba untuk hidup kembali di tanah Tiongkok. Inilah dapat kita memastikan, maka itu, kita seharusnya tidak boleh ayal dan alpa akan kemungkinan itu.

Tata-negara kita yang berdiktaktur demokratik rakyat ialah menjamin akan buahnya kemenangan revolusi rakyat dan ialah suatu gegaman yang sentosa akan melawan daya upaya hidupnya kembali musuh kita di dalam Maupun di luar. Gegaman ini, kita harus se-erat-erat-eratnya memegangnya! Di kalangan internasional, kita harus bersatu-padu dengan negeri-negeri dan bangsa-bangsa yang sesamaan mengutamakan damai dan merdeka, kita harus terlebih dahulu bersatu-padu dengan Soviet Russia dan negeri-negeri yang berdemokratik baru, agar supaya kita dapat menjamin buah kemenangan revolusi rakyat kita, dan, peperangan untuk melawan daya upaya hidupnya kembali musuh kita di dalam dan di luar, tidak sampai mencil sendiri, asal saja kita dapat memperkokohkan kediktakturan demokratik rakyat dan bersatu dengan kawan seperyuang kita di kalangan internasional, pastilah kita akan selalu tetap dalam kemenangan.

Kediktakturan demokratik rakyat dan bersatu dengan sekawan internasional, akan mempercepatkan hasil pekeryaan pembangunan kita. Pekeryaan pembangunan ekonomi yang direncanaan untuk seluruh negara telah disuguhkan di hadapan kita, kondisi yang balk bagai kita itu yolah: kita mempunya ciaca-jiwa yang jumlahna 475,000,000 dan negara yang tanahnya sebesar 0,997,000 kilometer-pesegi. Kesultah kita yang sekarang ini pasti bukan tidak ada, malahan banyak sekali, akan tetapi, kita pertayaka bahwa segala kesukaran akan dapat dikalahkan oleh perjuangannya segenap rakyat yang gagah-perkasa itu. Rakyat Tiongkok telah mendapat pengalaman akan mengalahkan segala kesukaran. Yika leluhur kita dan kita sendiri telah melihat hari tahun yang panjang dan penuh dengan kesukaran, telah dapat merubahkan kaum reaksionair yang terbesar di dalam negeri Maupun di luar negeri, menzarakah tidak dapat kita membangun satu negara yang makmur sesudah kita memperoleh kemenangan? Asal saja kita bertetap den yan cara berkerya kita yang mantap, asal saja kita tetap bersatu-padu, asal saja kita dapat memperkokohkan kediktakturan demokratiik rakyat dan bersalu dengan sekawan internasional, pastilah kita akan secepat mungkin memperoleh kem nangan dalam peperangan ekonomi.

Pertahanan negara kita akan dapat diperkokohkan, k. a tidak akan lagi memblarkan Imperialis slata pun yang akan menyadiah tanah-air kita. Atas dasar Tentara Kemerdekaan Rakyat yang gagah-berani dan telah melihat segala kesukaran, tenaga persenjataan rakyat kita harus tetap dihidupkar dan dibesarkan. Kita bukan saja akan mempunyai Angkatan Yarat yang dahsat, pun akan mempunyai Angkatan Udara dan Angkatan Laut yang kuat!

Blarkan semua kaum reaksionair akan meratap di hadapan kita, blarkan mereka membilicarakan dan menjelukkan kita tidak betius mengurus ini dan itu. Keulatan perjuangan segenap rakyat Tiongkok pastilah akan bertindak dengan langsung kepada tujuannya sendiri.

Moga-moga sekallan pendekar rakyat yang telah korban dan lewas diywanya dalam peperangan kemerdekaan rakyat dan revolusi rakyat akan selamanya tetap hidup!

Hiduplah keinenangan peperangan kemerdekaan rakyat dan revolusi rakyat!

Hiduplah Republik Rakyat Tiongkok! Hiduplah Sidang Permusyawaratan Perdamaian Politik Rakyat Tiongkok!

Pada tahun 1949, tanggal 1 bulan October, Republik Rakyat Tiongkok telah tercipta.


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.