Baca EPUB: Marxisme Sebagai Ilmu: Kuliah Umum Nyoto

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. MARXISME SEBAGAI ILMU
  2. KULIAH UMUM NYOTO
  3. NYOTO
  4. KOLOFON
  5. DAFTAR ISI
  6. PENGANTAR PENERBIT
  7. UNCOPYRIGHT

MARXISME SEBAGAI ILMU

KULIAH UMUM NYOTO

NYOTO


KOLOFON

MARXISME SEBAGAI ILMU

KULIAH UMUM NYOTO


oleh

NYOTO



diterbitkan oleh yayasan “Universitas-Rakyat”

—Jakarta 1959—

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: Harri Gieb

Ilustrasi sampul: Path of Life I 1958, karya M.C. Escher

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



PENGANTAR PENERBIT

Kuliah umum Nyoto, wakil sekretaris jendral II C. C. Partai Komunis Indonesia, yang beryudul “Marxisme sebagai Ilmu” ini diucapkan di depan para siswa dan undangan Universitas-Rakyat “Jakarta” pada tanggal 19 Desember 1958 yang lalu.

Dengan gaya dan daya-urainya yang sudah terkenal itu, Nyoto memberikan gambaran yang sangat padatkaya tentang Marxisme.

Dan kalau sarjana dan pengarang terkenal Yulian Huxley dalam bukunya “Man in the modern world” menyebutkan Marx sebagai “.................... Nabi Yahya Pembaptis yang sebenarnya dari ilmu masyarakat.................... yang telah membangunkan suatu sistim yang langsung pula dapat dikenakan pada masyarakat. Ia, Marx, bukan hanya meramalkan akannya datang suatu Messiah; ia menunjukkan dan merumuskan Messiah itu....................” maka kuliah umum Nyoto ini membuktikan Marx sebagai seorang sarjana yang dengan ketekunan dan semangat ilmiah yang revolusioner telah menyusun teorinya yang menyeluruh: baik secara filsafat, ekonomi politik, sejarah Maupun ilmu masyarakat dan yang telah teruji oleh praktek langsung teori-teori itu dengan kenyataan sosialisme “.................... dari tepi sungai Elbe sampai ke tepi sungai Yalu,” dan melingkupi tidak kurang 1.000 juta penduduk dunia.

Diharap dengan penerbitan ini orang lebih mengenal Marxisme sebagai ilmu yang bukan merupakan teori se-mata-mata, melainkan teori untuk dipraktikkan dan terus dikembangkan oleh pengalaman-pengalaman praktek revolusioner.

Jadi, uraian petang ini bersifat hanya dan se-mata-mata sebagai introduksi, sebagai pengantar.

Baiklah saya mulai dengan suatu silahfaham.

Masih saja ada orang yang mengira bahwa Marxisme itu hanyalah suatu ajaran politik.

Kuranglebih 20 tahun yang lalu, jadi sebelum Perang Dunia II, sebuah majalah Katolik berbahasa Perancis, Arkhives de Philosophie¹, menulis tentang Marxisme sbb.:

“Suatu pandangan yang sempit akan memberikan suatu tin-jauan yang palsu dan sesat. Marxisme bukanlah suatu cara dan rancangan pemerintahan saja, juga bukan suatu pemecahan teknis untuk masaalahz perekonomian, bukan pula suatu pendirian yang bolakbalik atau suatu semboyan dalam suatu pidato yang mengharukan. Ia menyebutkan dirinya suatu tafsiran yang luas tentang manusia dan sejarah, tentang makhluk dan masyarakat, tentang alam dan Tuhan; suatu sintese umum, menurut teori dan praktek, pendek kata, suatu sistim yang menyeluruh.”

Demikianlah, pengakuan majalah Katolik tsb. bahwa Marxisme adalah “suatu sistim yang menyeluruh”, hakekatnya sama benar dengan yang dikatakan Lenin bahwa Marxisme itu “komplit dan harmonis”².

Mengapa Lenin mengatakan bahwa Marxisme itu “komplit dan harmonis”? Karena Marxisme “memberi jawaban pada masaalah-masaalah yang sudah diajudkan oleh ahliipikir-ahliipikir umatmanusia yang terkemuka”³.

Seperti kita semua tahu, ahliipikir-ahliipikir umatmanusia yang terke-muka itu sudah sejak be-ribu-ribu tahun yang lalu mengajudkan pertanyan-pertanyan yang bersifat fundamentil, bersifat pokok sekali. Misal-nya, salahsatu di antara pertanyan-pertanyan mereka itu ialah “apakah ke-adilan itu?” Marxisme menjawab pertanyan-pertanyan ini dengan meru-muskan bahwa keadilan ialah suatu keadaan di mana penghisapan atas manusia oleh manusia tiada lagi. Dan jawaban Marxisme tidak berhenti pada perumusan teori ini. Marxisme juga menundukkan jalan bagaimana mencapai keadilan itu. Yaitu: melalui revolusi sosialis. mendrinkan masyarakat yang tidak berklas. Marxisme juga tidak berhenti di sini. Marxisme, melalui revolusi Rusia tahun 1917, menyelenggarakan keadilan itu di dalam praktek yang senyataanya.

Pertanyaan-Pertanyaan fundamentil lainnya seperti misalnya “apakah kemerdekaan itu?”, “apakah kebenaran itu?”, “apakah tujuan hidup yang se-mulya-mulyanya?”, dsb, juga dijawab secara yang sama, yaitu: dibebarkan hakekatnya, ditunjuukkan jalan mencapainya, dan diselenggarakan di dalam praktek.

Hal ini, jika ditinjau dari lahirnya karya Marx dan Engels Manifes Partai Komunis⁴ sudah berlangsung 110 tahun, sedang jika ditinjau dari lahirnya negara Sosialis yang pertama, yaitu Republik Sovyet, sudah berlangsung 41 tahun.

“Ensiklopedia Indonesia” yang diterbitkan di bawah pimpinan redaksi Prof. Dr. Mr. T. S. G. Mulia sampai menerangkan begini:

“Di masa sekarang Marxisme adalah teori yang penting sekali art.nya: ± ¼ dari dunia kita sekarang merupakan masyarakat yang berdasarkan ideologi Marxisme............... selain dari itu sebagian besar dari gerakan-gerakan kaum buruh di Eropa dan Asia berupa partai-partai politik dan serikat sekerja yang berpegang pada ajaran-ajaran Marx”⁵.

Kita, yang sudah menjadi biasa oleh keadaan di mana sudah ada 33 juta orang Marxis di dunia dan di mana Sosialisme sudah tegak dari tepisungai Elbe di Jerman sampai ketepisungai Yalu di Korea, kita terkadang sudah tidak memikrkan lagi bagalmana semua itu bisa terjadi. Tetapi kalau orang memikrkan hal ini, bagaimana semua itu bisa terjadi, orang pun biasanya tidak bisa membebaskan diri dari rasaheran. Orang Komunis, yang tadinya hanya dua—yaitu Karl Marx dan Friedrich Engels—sekarang sudah menjadi 33 juta, dan Sosialisme yang tadinya tidak ada samasekali, sekarang sudah tegak dari Elbe sampai ke Yalu! Lagupula, Sosialisme itu sudah mencapai hasil yang demikian majunya, sehingga mendapatkan pengakuan di-mana-mana. Seperti diakui oleh Menteri Muh. Yam'n, balet yang terbaik di dunia adalah balet Sovyet. Dari Olimpiade di Melbourne, Sovyet keluar sebagai pemenang pertama. Juara ciatur sedunia, kali ini Smislov, kali lain Botwinnik, ke-dua-duanya orang Sovyet. Ketika baru-baru ini sebuah juri internas'ional memilih film yang terbaik sepanjang zaman, pilihan jatuh pada film “Pacomkin”, film karya sutradara Sovyet Eisenstein. Di lapangan pendidikan, seperti diakui oleh Allen Dulles, Sovyet menghasilkan setiap tahunnya 4 kali lebih banyak ins nyur daripada Amerika Serikat. Di lapangan militer, yang menemukan bom hidrogn pertama dan peluru balistik antarbenua pertama adalah Sovyet. Di lapangan ilmu, satelit buatan yang pertama kali berhasil adalah sputnik-sputnik Sovyet. Sekarang, produksi pertanian, terutama padi-padian yang tertinggi d seluruh dunia dilahirkan oleh sawah Tiongkok.

Kepada saya diminta untuk memberikan pada malam ini se-buah uraian beracara “Marxisme sebagai ilmu”. Mengingat, bahwa salahsatu matape'ajaran pokok di dalam “Universitas Rakyat” adalah Ekonomi Politik Marxis, maka sedarlah saya bahwa permintaan Direksi itu sesungguhnya suatu permintaan wajib.

Tetapi uraian ini tidak mempunyai pamrih untuk membentangkan Marxisme dan sifat ilmiah Marxisme secara luas, apalagi secara lengkap. Hai ini juga tidak mungkin, karena untuk ini Marxisme itu terlalu luas, sedang waktu kita petang ini terlalu sempit; juga pengetahuan saya tentang Marxisme mash ter-batas.

Semua ini tentu membuat orang berpikir, Sekalipun seseorang itu tidak suka pada Marxisme. Mungkinkah semua ini terjadi seandainya Marxisme itu bukan suatu ilmu?

Di dalam kehidupan ilmiah, teori itu selalu menempati kedudukan yang sangat penting. Tetapi jika sesuatu teori tidak teruji oleh praktek, apalagi jika sesuatu teori itu bertentangan dengan praktek, apalah harga teori semacam itu. Tentang hal ini Prof. Can Cu-som mengatakan di dalam Kuliah Umumnya dua pekan yang lalu: “akal saja belum cukup untuk mewujukan Ilmu pengetahuan. Seharusnya akal itu bersandar kepada fakta-fakta, yakni kepada kenyataan-kenyataan yang ada di luar kita—baik yang bersifat kebendaan Maupun keyadian-keyadian—yang semuanya tidak bergantung dari cita-cita kita saja, dan yang kenyataannya dapat disaksikan dan di-buktikan juga oleh orang-orang lain. Fakta-Fakta inilah yang harus menentukan apakah cara kerja akal kita betul atau salah, yang harus membuktikan bahwa akal kita hanya bekerja dengan sembarangan saja“⁶.

Fakta-Fakta Sosialismelah yang sekarang memberikan pemberan- nya atas teori Marxisme.

Untuk memberikan pelukisan yang lebih jelas tentang sifat ilmiah Marxisme, saya ingin mengemukakan carakerja pencipta Marxisme, yaitu Karl Marx, yang tahun ini kebetulan kita peringati ulangtahun yang ke-140 dari harilahirnya dan ulangtahun yang ke-75 dari harawafatnya. Tidak mungkin Marx sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang ilmiah, sekiranya carakerjanya tidak ilmiah.

Friedrich Engels, sahabat Marx yang paling akrab dan pencipta-serta anjaran Marxism, pernah mengatakan begini: “Sebagaimana Darwin menemukan hukum perkembangan alam organik, demikian pula Marx menemukan hukum perkembangan sejarah manusia”⁷.

Pembandingan Marx dan Darwin ini kiranya tidak bisa kita fakukan begitu saja. Dan sesungguhnya, banyak hal-hal yang menarik dalam hubungan kedua orang zeni ini.

Marx dan Darwin hidup sezaman. Pada tahun 1848 Marx bersama-bersama Engels menyeleisaikan karya mereka yang termasyhur itu, “Manifes Partai Komunis”, dan sepuluh tahun kemudian Darwin menyeleisaikan karyanya yang besar “The Origin of Species”. Kemudian Marx menyeleisaikan bukunya “Kapital”. Buku-Buku ini sudah dibaca oleh ber-puluh-puluh juta orang dan be-ratus-ratus juta orang lagi masih akan membacanya, tanpa seorang pun yang sanggup dan yang perlu mengadakan perubahan, karena isi daripada buku-buku itu adalah kebenaran ilmiah.

Darwin dan Marx bekerja dengan syarat yang ber-beda-beda, Darwin berada, Marx melarat; Darwin dan Marx juga bekerja di lapangan yang ber-beda-beda, Darwin menyelidiki dunia tumbuh-tumbuhan dan dunia khewau, Marx menyelidiki dunia manusia, tetapi ke-dua-duanya sampai pada kesimpulan yang pada pokoknya sama mengenai perkembangan dan hukum perkembangan. Darwin menamakan buku Marx “Kapital” itu mengolah “soal yang dalam dan penting”⁸, sedang Marx—yang bukannya tidak mempunyai kritiknya terhadap Darwin—menganggap buku Darwin “sangat penting dan membantu saya sebagai dasar ilmualam bagi peryuangan klas di dalam sejarah”⁹.

Bagaimana Marx dan Darwin sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang begitu penting dan begitu tinggi mutu kebenarannya?

Mereka sama-sama menempuh carakerja yang ilmiah, yang seperti dikatakan Marx selalu mempunyai 5 tingkatan:

  1. penyelidikan,
  2. percobaan, atau experimen,
  3. pencatatatan,
  4. perenungan, dan
  5. penyimpulan, atau penggeneralisasian.

Marx adalah benar-benar seorang sarjana. Seperti juga Darwin, Marx adalah seorang orang bibliotik, seorang orang laboratorium. Tetapi sedangkan Darwin boleh dikatakan hanya seorang orang bibliotik dan hanya seorang orang laboratorium, dari mana dia meyusun teorinya yang besar tentang evolusi, Marx adalah sekaligus seorang orang dari bibliotik dan laboratorium yang leb h luas lagi, dari bibliotik masyarakat, dari laboratorium masyarakat. Marx bukan hanya seorang sarjana, dia seorang pemimpin revolusioner, yang seperti dikatakannya sendiri, tidak puas dengan hanya menafsirkan dunia, tetapi menafsirkan dunia dan merombak dunia¹⁰.

Mengenai ilmu dan sarjana, Marx selalu mengatakan: “Ilmu tidak bo'eh menjadi kesukaan dirisendiri. Mereka yang beruntung nampu mencurahkan dirinya kepada pengudian ilmu harus yang pertama-tama menempatkan pengetahuan mereka untuk mengabdi umatmanusia. Bekerjalah untuk umatmanusia”¹¹.

Kata-Kata Marx ini kiranya tidak memerlukan penjelasan apa pun, Marx tentu mempunyai kebahagiaannya di dalam pekerjaan ilmiah-nya, bahkan, jika ia menemukan kesimpulan-kesimpulan dari hasil penyelidikannya, kegembiraannya seperti kegembiraan bocah. Tetapi kegembiraan ini, kebahagiaan ini, bukan karena dia mengudi ilmu, melainkan, karena dia mengudi ilmu untuk umatmanusia.

Untuk kepentingan pekerjaaan ilmiahnya, Marx mempelajiari sejumlaah cukup banyak bahasa, lebih daripada cukup barangkali, untuk seseorang pada umur dia ketika itu. Dia bisa mengarang dalam bahasa Jerman, bahasa Inggris dan bahasa Peranyis dengan sama bagusnya dan sama bersihnya dalam tatabahasa. Tentang bahasa-bahasa yang dia fahami: dia membaca Dante dalam bahasa Italia dan membaca Demokritos dalam bahasa Yunani, dia mengerti bahasa Belanda dan bahasa Hongaria, bahasa Denmark dan bahasa Spanyol. Dan ketika dia berusia 50 tahun, dia merasa masih cukup muda untuk mulai mempelajiari bahasa Rusia, dan 6 bulan kemudian dia sudah pandai menikmati syair-syair Pusykin dan novel-novel Gogol dalam bahasa aslinya.

“bahasa asing”, kata Marx, “adalah senjata dalam perduangan hidup”¹².

Selain bahasa, juga buku—sudah tentu—menjadi senjata Marx dalam pekerjaaan dan dalam perduangan h.dupnya. Tidak jarang dia kurang makan roti, tetapi tidak pernah dia kurang makan bacaan. Bukunya di rumah cukup banyak, buku-buku yang dia him pun dengan teliti selama beberapa puluh tahun. Tetapi ke mana saja dia datang, ke Berlin atau London, ke Amsterdam atau Paris, banyak sekali dia menggunakan waktu untuk “menjelayahi” isi bibliotik dari museum-museum di-kota-kota tsb. Ada sarjana-sarjana yang hampir-hampir menjadi budak daripada buku, Marx lain samasekali. Dia pernah mengatakan begini: Buku “adalah budakku, dan dia harus mengabdi aku sekehendakku”.¹³ Inilah sebabnya mengapa Marx tidak menyusun buku-buku di dalam lemaribukunya menurut ukuranbesarnya atau ukurantebalnya, juga tidak menurut serinya, melainkan menurut isinya, sesuai dengan kebutuhan pekerjaaannya.

Barangsiyapa membaca kumpulan karangan Marx, tahulah dia bahwa Marx bukan hanya besar perhatiannya pada soa-soa masyarakat, tetapi juga besar perhatiannya pada ilmualam pada umumnya, pada matematika, pada biologi. Tetapi sebagian sangat terbesar dari waktunya digunakannya untuk penyelidikannya di-lapangan ekonomi. Karyautamanya yang monumental itu, “Kapital”, adalah hasil pekerjaan selama 40 tahun.

Ada baiknya kalau saya mencatat di sini sumbangan Indonesia pada kelahiran “Kapital”. Kalau karyautama Darwin “Origin of Species” mendapatkan di antara bahan-bahannya yang penting laporan mengenai fauna dan flora Maluku, “Kapital” Marx mendapatkan bahan-bahannya pula dari penghisapan VOC di Maluku dan dari susunan pedesaan di Jawa dan Bali.

Demikianlah beberapa gambaran dari kehidupan ilmiah dan dari carakerja ilmiah Karl Marx. Banyak yang sudah dikatakan tentang Marx dan masih banyak yang bisa dkatakan tentang Marx. Satu hal tidak ingin saya melangkauninya: bahwa Marx itu seorang zeni, kiranya tak ada yang menyangsikannya; yang perlu dicatat ialah bahwa zenialitelnya itu bukan “bisikan wahyu”, me-lainkan hasil dari pekerjaan yang luarbiasa, keuletan, ketekunan, ketelitian dan ketajamam otak.

Untuk mengakhiri penggambaran tentang carakerja ilmiah Marx, baiklah saya kutip apa yang dikatakan oleh Paul Lafargue tentang dia: “Tidak hanya dia tidak akan mendasarkan diri pada fakta yang belum sepenuhnya diyakininya, dia tidak akan mem-perkenankan dir.nya berbicara tentang sesuatu sebelum dia mem-pelajarinya dalam-dalam. Dia tidak pernah menerbitkan satu pun karya dengan tidak ber-ulang-ulang meninjaunya kembali sampai dia mene-mukan bentuknya yang se-tepat-tepatnya. Dia t.dak pernah muncul di-depan umum tanpa persiapan secukunpyna”¹⁴.

Kembali saya sekarang kepada salahfaham yang saya sebutkan pada awal uraian saya. Mengapa Marxisme itu tidak tepat jika dianggap sebagai ajaran politik saja? Mengapa Marxisme itu dikatakan suatu sistim yang menyeluruh, yang lengkap dan harmonis?

Marxisme mempunyai 3 bagian nyaya yang tidak ter-pisah-pisahkan satusamala, n. Yaitu ajaran-ajaran tentang: ekonomi politik, filsafat dan -sejarah.

Ekonomi politik Marxis, seperti umum tahu, bersumber pada ajaran-ajaran ekonomi politik klasik Inggris, terutama dasar-dasar teori nilai kerja yang diletakkan oleh Adam Smith dan David Ricardo. Berpegangan pada dan melanjutkan secara konsekwensi teori ini, sambil menyelidiki “hukum gerak ekonomi masyarakat modern”¹⁵, Marx sampai pada kesimpulannya yang menjadi “batupertama teori ekonomi Marx”¹⁶ yaitu teori nilailebih. Dari batupertama inilah Marx membangunkan teorinya bahwa krisis umum kapitalisme itu tak terhindarkan, bahwa kapitalisme itu di dalam dirinya sendiri “mengandung dan menyimpan satu hukuman mati”¹⁷, dan bahwa mau tak mau sistim kapitalisme harus menyingkir dari panggung sejarah untuk memberikan tempat pada sistim yang baru yaitu Sosialisme.

Revolusi-Revolusi sosialis, mula-mula di Rusia, kemudian di Eropa Timur, dan yang terakhir di Tiongkok, adalah pembenaran yang se-adil-adilnya dari teori Marxis. Ketika “Kapital” baru saja terbit, penerbitnya membayar honorarium yang begitu kecilnya kepada Marx, sehingga kata Marx sendiri honorarium itu tidak cukup buat membeli rokok yang disapnya selama dia menyelesaikan “Kapital”. Sekarang, “Kapital” sudah “dibayar” secara se-adil-adilnya, karena tidak kurang dari sejarah sendiri yang membayar honorarium berupa Sosialisme yang meliputi 1.000 juta penduduk dunia.

Ada sekarang orang mengatakan, bahwa ekonomi politik Marxis itu memang sesuai untuk “kapitalisme klasik” tetapi tidak coycok lagi untuk “kapitalisme zaman sekarakang. Tentu, kapitalisme itu tidak mandek saja. Sekarang ada ”kapitalisme kerakyatan“, ”kapitalisme terorganisasi“, ”kapitalisme berencana“ dan entah kapitalisme-kapitalisme apa lagi. Tetapi satu hal sebetu'nya tidak berubah, yaitu: dia tetap kapitalisme. Kita cukup membaca suratkabar-suratkabar harian, maka kita bacalah hampir saban hari: Amerika terkena resesi, pengangguran meningkat, harga-harga naik, upah riil merosot—tidakkah semua ini membuktikan bahwa Marxisme tetap benar? Sejarah bukan meralat, tetapi memperkuat Marxisme. Lawan-Lawan Marxisme mencoba menggambarkan bahwa Marxisme ”dulu ilmiah, sekarang tidak lagi ilmiah“. Tetapi jalannya sejarah membuktikan bahwa bukan Marxisme yang sudah tidak ilmiah lagi, melainkan bantahan-bantahan mereka. Ada lagi yang mengatakan bahwa Marxisme itu “hanya coycok buat Eropa, tidak buat negeri-negeri lain.” Baiklah saya singkat saja: apakah Vietnam, Korea, Mongolia dan Tiongkok itu Eropa?

Satu lagi ingin saya singgung dalam saya membyarakan ekonomi politik Marxis ini, yaitu apa yang selalu disebut oleh pen-ceramah-ceramah bukan-Marxis. Mereka itu selalu mengatakan bahwa salahsatu bagian yang penting dari “teori Marxisme” ialah apa yang mereka sebut “teori Verelendung”, “teori pemelaratan”. Dengan ini mereka mencoba menggambarkan bahwa kaum Marxis iu “gandrung kemelaratan”, karena dari “kemelaratan”lah akan lahir kemenangannya. Bahwa haridepan itu miliknya “kaum me-larat” dan bukan miliknya “kaum kaya”, “kaum kapitalis”, ini tak perlu dipersengketakan. Tetapi kaum Marxis “gandrung ke-melaratan”? Kita cukup mengingat bahwa yang membela ke-naikan-naikan upah, yang membela perbaikan nasib pada umumnya, baik bagi kaum buruh, kaum tani Maupun kaum pekerja lainnya, adal-ah tidak lain daripada kaum Marxis, dan bahwa lawan-lawan Marxisme biasanya menentang perbaikan-perbaikan nasib itu, sehingga apa yang di-sebut “teori Verelendung” itu lebih mengenai mereka daripada mengenai kaum Marxis.

Mengenai filsafat Marxisme, seperti diketahui, bersumber pada filsafat klasik Jerman yang mencapai puncaknya pada dua nama: Hegel dan Feuerbakh. Sumbangan Hegel yang terpenting adalah sistim dialektikanya, yang karena berdiri di atas landasan yang idealis, telah dirombak oleh Marx dan ditegakkan di atas landasan yang sebaliknya, yaitu materialisme. Sedang sumbangan Feuerbakh yang terpenting adalah kritiknya terhadap idealisme Hegel. Tetapi Feuerbakh sendiri, yang materialis dalam pendekatannya pada gejalal-gejalal alam, masih seorang idealis dalam kon-sepsinya mengenai gejalal-gejalal sosial, gejalal-gejalal masyarakat. Sesudah hal ini pun dirombak oleh Marx, maka seperti dikatakan oleh Friedrich Engels “idealisme diusir dari tempat pengungsian nyang terakhir, yaitu filsafat sejarah”¹⁸.

Filsafat Marxis adalah universil, karena ia berlaku baik bagi pendekatan pada gejalal-gejalal alam, pada masyarakat, dan pada alam pikiran.

Ada yang menyangsikan apakah filsafat Marxisme itu memang meliputi juga filsafat alam.

Dutabesar Indonesia di Moskow, mr. Alexander Maramis mengatakan kepada saya setengah tahun yang lalu, bahwa ilmu di Uni Sovyet itu maju, lebih maju dari di dunia Barat. Pembuktian untuk hal ini tidak diperlukan, karena ketika kami ber-cakap-cakap, Sputnik III baru saja dluncurkan. Orang pun tentu berpikir: mengapa ilmu, ilmulalam Maupun ilmusosial di Uni Sovyet lebih maju daripada di Barat? Kalau saya diminta menjawab pertanyan ini, saya akan menjawab: karena sarjana-sarjana di Uni Sovyet berpikir dengan metode materialisme dialektik dan histori, dengan filsafat Marxis.

Sekarang mengenai ajaran Marxisme tentang sejarah. Seperti diketahui, ia bersumber pada sosialisme khayaliah seperti yang diwakili dalam tulisan-tulisan Simon, Fourier dan Owen.

Kalau sosialisme khayaliah mendambakan sosialisme dengan jalan dan cara yang tidak menjamin datangnya sosialisme, misalnya dengan jalan mendirikan “koloni-koloni”, dengan mengumpulkan “dana-dana” dari kaum kapitalis, dsb, sosialisme Marxis menunjukkan hukum perkembangan kapitalisme dengan menunjukkan bahwa perjuangan klasiah motor atau lokomotif daripada sejarah, dan oleh sebab itu gerakan revolusioner klas buruh adalah satu-satunya jalan menuyu kesosialisme.

Baiklah saya ambil satu contoh bagaimana orang bisa memandang jauh ke muka, jika filsafat dan konsepsi sejarahnya filsafat dan konsepsi sejarah Marxis. Di tahun 1913, ketika pemuda-pemuda kita tidak sedikit yang berorientasi ke Barat dan belajar ke Barat, Lenin mengatakan: “Eropa yang terbelakang dan Asia yang maju”¹⁹. Kata-Kata Lenin ini tentu saja, ketika itu, terasa seperti orang yang berenang melawan arus di sungai yang deras. Sudah 45 tahun berlalu sejak kata-kata Lenin itu, dan apa kenyataan dunia kita sekarang? Eropa yang maju dan Asia yang terbelakang ataukah Eropa yang terbelakang dan Asia yang maju? Sejarah memang berjalan menurut hukum dialektik: Eropa yang tadinya maju, sudah berbalik menjadi terbelakang, dan Asia yang terbelakang, sudah berbalik menjadi maju. Dulu, imperialisme mengobrakabrik negeri-negeri Asia, sekarang kebangkitan Asia yang mengobrakabrik imperialisme! Inilah yang dikatakan oleh Mau Ce-tung: “Angin Timur mengalahkan angin Barat”.²⁰ Dan ini sudah diramalkan oleh Lenin 45 tahun yang lalu. Tetapi tidak ada ramalan bisa terwuyud, jika ramalan itu bukan ramalan ilmiah.

Demikianlah, dengan singkat dan bersahaja saya telah men- coba menguraikan beberapa pokok teori dan praktek Marxisme sebagai ilmu.

Untuk menyimpulkan uraian yang seperti saya katakan di muka tadi tidak punya pamrih untuk merupakan lebih daripada suatu introduksi belaka, saya akan memberikan definisi atau batasannya apa Marxisme itu, atau seperti yang sekarang dikenal di mana-di mana, apa Marxisme-Leninisme itu.

Marxisme-Leninisme adalah “ilmu tentang hukum perkembangan alam dan masyarakat, tentang revolusi massa tertindas, tentang kemenangan Sosialisme, tentang pembangunan masyarakat Komunis.”²¹

Makin hari makin banyak sarjana-sarjana, sarjana-sarjana burjuis sekali-pun, yang memahami sifat ilmiah Marxisme, Sekalipun tidak semua mereka menerima dan menyetujuinyia.

Walaupun demikian, di Indonesia dewasa ini kita melihat kenyataan, bahwa Marxisme sebagai ilmu bukan saja tidak diajar- kan di-sekolah-sekolah tinggi; kita masih melihat kenyataan, bahwa ada gurubesar-gurubesar yang menyebut nama Marx pun segan. Kita menjumpai buku-buku pelajaran filsafat, tanpa menyebut nama Marx sedikit pun, atau kita menjumpai buku-buku ekonomi, yang Kalaupun menyebut Marx menyebutnya dalam 5 atau 10 baris saja. Barangkali yang dirugikan oleh hal ini pertama-tama bukan Marxisme, melainkan ke-majuan ilmu keseluruhannya. Untuk menembus keadaan ini pulalah kiranya mengapa didirikan “Universitas Rakyat” dan mengapa salahsatu matapelajarannya yang pokok adalah Ekonomi Politik Marxis.

Mereka-Mereka yang tidak mengakui Marxisme itu suatu ilmu biasa-nya mencoba memerosotkan Masxisme dengan menyebutnya “suatu dogma”.

Terhadap sebutan ini saya tak usah mengajudkan bantahan Marxis, dan bantahannya yang non-Marxis akan saya pinjam dari Yawaharlal Nehru di dalam “Otografi”nya, sbb: “seluruh nilai Marxisme dalam pendapat saya terletak dalam ketiadaannya akan dogmatisme, dalam tekanannya pada pandangan dan cara pendekatan tertentu, dan dalam sikapnya untuk beraksi”²².

Di dalam bukunya yang lain, “The Discovery of India”, Nehru menuls: “Suatu studi tentang Marx dan Lenin melahirkan pengaruh yang megah pada pikiran saya dan membantu saya untuk memandang sejarah dan masaalah-masaalah dewasa ini dalam sorotan baru”²³.

Yang lain lagi yang tidak mengakui Marxisme sebagai ilmu menuduh Marxisme itu tidak obyektif, tidak bertolak dari obyektivitet, dan mulai dengan “dalil-dalil yang a priori”, kemudian “mencocok-mencocokkan” keadaan obyektif pada “dalil-dalil yang a priori” itu.

Perkenankanlah saya sekarang meminjam ucapan-ucapan Pres’den Sukarno, yang pada 5 Juni tahun ini menyatakan: “Marxisme yang se-benar-benarnya, berdiri di atas analisa-analisa yang obyektif”.²⁴

Dengan mengingat kata-kata Bung Aidit bahwa “Berkat ajaran-ajaran Marx, generasi kita sekarang makin dekat pada kebebasan seluruh umat manusia”²⁵, izinkanlah saya mengunci uraian saya yang tidak seberapa ini dengan membandingkan nasib ajaran Marx dengan nasib ajaran Giordano Bruno, filosof Renaisans yang hidup di abad ke-XVI itu. Seperti parasaudara tentunya maklum, karena Giordano Bruno tampil dengan teorinya bahwa bumilah yang mengelilingi matahari, sedangkan teori resmi gereja pada waktu itu menyatakan sebaiknya, matahari yang mengelilingi bumi, dia dibakar hidup-hidup oleh gereja. Bruno mati, tapi teorinya hidup terus, semasa hidupnya Marx dicerca, diejek, difitnah, dihina oleh seluruh dunia burjuis. Sekarang, 75 tahun sejak wafatnya Karl Marx, teorinya bukan saja hidup terus, tetapi yang paling hidup di antara sekalian teori yang hidup.

¹ “Archives de Philosophie”, penerbitan istimewa, penerbitan no. XVIII.

² Lenin: “Tiga sumber dan tiga bagian Marxisme”, termuat di dalam “Lenin tentang ajaran-ajaran Karl Marx”, Yayasan “Pembu-ruan” 1955, hal. 5.

³ Sama, hal. 6.

⁴ Baca “Manifes Partai Komunis”, penerbitan Yayasan Pembuatan, Jakarta.

⁵ “Ensiklopedia Indonesia”, N. V. Penerbitan W. Van Huve, Bandung–’s-Gravenhage, jilid II, halaman 901.

⁶ Prof. Dr. Can Cu-som, Kuliah Umum Ilmiah di depan Universitas Rakyat “Jakarta” beracara “Tugas Ilmu pengetahuan”, Jakarta 5 Desember 1958. Brosur yayasan Universitas Rakyat, 1959 halaman 6.

⁷ Friedrich Engels, pidato di depan makam Karl Marx.

⁸ Surat Darwin kepada Marx.

⁹ Surat Marx kepada F. Lassale.

¹⁰ Karl Marx, Dua Belas Tesis tentang Feuerbach.

¹¹ Dikutip oleh Paul Lafargue, di dalam “Reminiscences of Marx”.

¹² Sama.

¹³ Sama.

¹⁴ Paul Lafargue, “Reminiscences of Marx”.

¹⁵ Karl Marx, Kata pengantar “Kapital” jilid I.

¹⁶ Lenin, “Karl Marx”.

¹⁷ Henri Lefebvre, “Marxisme”, Pustaka Rakyat, Jakarta 1956, halaman 12.

¹⁸ Friedrich Engels, “Anti-Dühring”, halaman 32.

¹⁹ Lenin, “Kumpulan Karangan”.

²⁰ Mao Tse-tung, tulisan di dalam “Hongqi” no. 1, 1958.

²¹ “Politiceskii Slowar”, di bawah pimpinan redaksi Prof. B. N. Ponomaryov, Cetakan II, Moskow 1958, halaman 337.

²² Nehru, “Autobiography”, halaman 592.

²³ Nehru, “The Discovery of India”, 1946, halaman 13.

²⁴ Sukarno, Kursus tentang Pancasila di Istana Negara, 5 Juni 1958, brosur Kementerian Penerangan no. 29, halaman 6.

²⁵ D. N. Aidit, “Perjuangan dan ajaran-ajaran Karl Marx”, halaman 5.


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.