Baca EPUB: Budak Kapal

28 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. BUDAK KAPAL
  2. W. P. DE VRIES
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. DAFTAR GAMBAR-GAMBAR
  6. FASAL YANG PERTAMA
  7. FASAL YANG KEDUA
  8. FASAL YANG KETIGA
  9. FASAL YANG KEEMPAT
  10. FASAL YANG KELIMA
  11. FASAL YANG KEENAM
  12. FASAL YANG KETUJUH
  13. FASAL YANG KEDELAPAN
  14. FASAL YANG KESEMBILAN
  15. FASAL YANG KESEPULUH
  16. FASAL YANG KESEBELAS
  17. FASAL YANG KEDUABELAS
  18. FASAL YANG KETIGABELAS
  19. FASAL YANG KEEMPATBELAS
  20. FASAL YANG KELIMABELAS
  21. FASAL YANG KEENAMBELAS
  22. FASAL YANG KETUJUBELAS
  23. FASAL YANG KEDELAPANBELAS
  24. FASAL YANG KESEMBILANBELAS
  25. FASAL YANG KEDUAPULUH
  26. FASAL YANG KEDUAPULUH SATU
  27. FASAL YANG KEDUAPULUH DUA
  28. FASAL YANG KEDUAPULUH TIGA
  29. UNCOPYRIGHT

BUDAK KAPAL

W. P. DE VRIES


KOLOFON

BUDAK KAPAL

oleh

W. P. DE VRIES



TERSALIN KEPADA BAHASA MELAYU

oleh

F. B. SANDERS



TERHIAS DENGAN 8 HELAI GAMBAR



Gebruders Graauw's Uitgeversmaatskhappij en Bukhandel N. V.

Amsterdam—Surabaia

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: delpher.nl

Ilustrasi sampul: Old Brigantine (Alte Brigantine) 1919, karya Lyonel Feininger

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



DAFTAR GAMBAR-GAMBAR

  1. Madelon menyediakan tempat tidur untuk Pierre.
  2. Madelon hendak membicarakan hal ini.
  3. “Hai, sudah nyata, kami akan kalah!”
  4. Akan alamatnya didirikannya suatu tiang.
  5. “O, tidak!” kata orang Ispanyol.
  6. Datanglah “tabib” hendak memeriksai orang sakit.
  7. Penghulu berlutut di hadapan orang serupa hantu itu.
  8. Eland berteriak, katanya: “am eda!”

FASAL YANG PERTAMA

PERTEMUAN KAPITAN CARTIER TATKALA BESAR.

“Madelon!”

“Ada apa, kapitan?”

“Kita hendak kelua; ta‘ akan pulang sebelum liwat dua jam.”

“Nah, kapitan, baiklah! ..... Tetapi hendak ke mana? Agaknya...... kepelabuhan?” “Kalau kiranya sebenarnya kita hendak pergi kepela buhan, ...... apatah salahnya?” “Dalam hal itu, baiklah...... tempat wangmu diting- galkan di sini juga. Karena setiap-tiap kali kamu pergi kepelabuhan, tempat wangmu kosong sepulangnya dari situ. Di situ banyak orang buruk, yang dapat mener- bitkan kemurahan hatimu karena menceriterakan rupa- rupa kissahnya; orang membohong saja, tatkala meri- wayat untung malangnya, seperti: kena karam kapal atau jala-jala yang dihanyutkan arus laut.” “O, Madelon, jangan telanjur, bukan begitu halnya!” “Bukan begitu halnya? ...... Ingatlah kiranya! ..... Lalu tiga minggu wangmu sama sekali diberi kepada beberapa orang kelasi, yang asal dari Tanah Belanda; katanya kapal- nya terkaram......” “Hai, Madelon, orang itu berhajat uang; mereka kena karam kapal, barang kepunyaannya hilang semua, hanya jiwanya terpelihara. Pakaiaannya sobek-sobek saja.“

“Coba dengar, kapitan! Mustahil, kamu dapat menolong orang asing semua, yang kena karam kapal! ...... Tentu kamu ditipu orang, di antara orang laut yang mencoba menerbitkan kasihanmu itu, ada banyak yang jahat...... Ada kelasi, yang memboroskan wagnya karena meminum sopi, ...... atau orang pemukat, yang terlalu malas akan melakukan pencarian di laut, ...... merekalah berani menipu kamu akan mendapat uang......”

“Nah, Madelon, diam saja; maksud kita...... bukan menuju kepala buhan. Coba lihat...... (sedang berkata demikian dikeluarkannya tempat wagnya dari dalam kantung bajunya, lalu isinya dihamparkan ditelapak tangannya)...... inilah uang kita punya: uang emas sekeping dan lagi beberapa keping tali dan ketip. Sepu langnyra kemari mata uang ini kita perlihatkan kepadamu. Itu kita tanggung!”

“Kita berharap begitu juga,” kata Madelon bersunggut-sungut, “tetapi kita menaruh syak hati akan itu...... Kalau bukan kepelabuhan, hendak ke manakah?”

“Hendak ke kalangan, ...... melihat orang sedang melengkapkan kapal-kapal.”

Demi didengarnya perkataan kapitan ini, maka bermasam mukalah Madelon, katanya—sedang berkeluh-kesah—: “Aduhai, senantiasa kapal-kapal juga yang dibicarakan di sini.” Lalu ia mengeraskan suaranya, katanya:

“Lebih baik, jika kiranya Laksamana tiada pernah mendapat tahu, bahwa kapitan Cartier tinggal di sini, di negeri St. Malol!”

“Nah, Madelon, pikiranmu itu tiada sungguh, bukan? Coba, katakan terus-terang: sebenarnya kamu sombong, karena kitalah dipilih oleh Maharaja antara sekalian orang laut di Tanah Perancis, akan mendapat tanah-tanah baru untuk beliau.“

Rupa-rupanya perkataan orang laut ini makan dalam hati Madelon; muka perempuan tua ini berseri pula; orang laut yang tua itu dipandangi dengan cara yang menyatakan ajabnya. Katanya—sedang tertawa terse-nyum:

“Bahwa sesungguhnya pemilihan itu menjadi su- atu kehormatan luar biasa...... Lain dari itu ta‘ ada orang lain, yang dapat melakokekan suruhan itu dengan sepertinya. Jika kiranya Maharaja sendiri keluar akan mencari orang disekalian pelabuhan di negeri ini, tentu ta’ bersua dengan orang laut yang melampaui kepan-daianmu...... Sayanglah ibumu ta‘ hidup lagi; alangkah besar kesenangan hatinya pada mendapat tahu, bahwa kamulah akan disuruh berlayar di laut akan mencari tanah-tanah yang belum diketahui orang. Tetapi pada memikirkan, bahwa kamu berlayar di laut-laut yang asing, ibu tentu menjadi sakit, ...... sebagai kita juga!” Sedang berkata demikian, suaranya bergetar.

Jawab orang laut: “Madelon, di laut-laut, kita juga di bawah perlindungan Allah ta Allah, seperti di-daratan juga. Jangan bersusah hatil Nah, kita pergi ke kalangan kapal, lalu hendak besar jauh-jauh. Tabik, Madelon!”

“Tabik, budak!”

Lalu kapitan Cartier meninggalkan rumah, Madelon mengantarkan dia dengan matanya.

Yang disebut budak, ialah seorang laki-laki yang kuat badan, segar sekali rupanya, umurnya kira-kira empat-puluh tahun. Tetapi Madelon memandang dia sebagai anaknya. Tatkala hatinya gemar, ia disebutnya budak, tetapi tatkala marah sedikit kepadanya, ia disebutnya “Yacques”. Kata kapitan Cartier, bahwa Madelon berhak demikian...... Kapitan Cartier tiada pernah mengenal bapaknya; ia kena karam kapal, lalu mati. Celaka itu terjadi tatkala umur Yacques baru tengah dua tahun. Tatkala umurnya sepuluh tahun, ia kehilangan ibunya juga. Sesudahnya itu anak Yacques diserahkan kepada Madelon; ialah seorang perempuan yang berkemanakan dengan kaum keluarga Yacques. Harta warisan yang diperoleh Yacques karena kematiin ibunya, dipeliharakan oleh Madelon. Madelon sudah berjanji kepada ibu Yacques bahwa anaknya itu dipeliharakan seakan-akan menjadi anaknya sendiri. Perjanjian itu dibenarkan oleh Madelon dengan sepertinya juga. Anak piatu itu dikasihi amat sangat, sehingga Yacques hampir tiada merasa halnya tiada beribu-bapak lagi.

Cerita ini berlaku pada tahun 1534. Anak mude—Yacques—sudah besar; jawatannya orang laut, ba'dannya kuat. Madelon dikasihi juga sebagai ibunya. Madelon terlalu sombong akan hal mempunyai anak yang sekian baik: acapkali Yacques dipanggilnya dengan nama “anak”.

Madelon berdiri dijendela mengantar Yacques dengan matanya; setelah hilang daripada pemandangannya, ia berbalik, lalu mulai bekerja di rumah.

Ia berkata dalam diri: “Sekali-sekali patutlah ia ditegur; hatinya terlalu amat lemah-lembut; sehingga ia tiada dapat melihat kesusahan orang lain, Biarpun kesusahan itu didalihkan saja. Biasanya uang yang dibawanya, dihadiahkan juga habis belaka...... Nah, ta‘ usah hemat-hemat uang, anak! Madelon masih mempunyai banyak mata uang, banyaknya belum kamu ketahui. Baiklah kitalah bersifat hemat-hemat; jika kiranya tidak begitu, ...... tentu uang itu habis dalam sedikit waktu. Baik juga, bahwa ia tiada pergi kepelabuhan; biasanya kalau pergi ke sana, kosonglah tempat wagnya tatkala pulang kemari...... Kalangan, ...... hai, kalangan itu memberi banyak susah hati kepada kita. Jika kiranya ia tiada mau ke sana lagi, uang kita dihadiahkan kepada sebarang orang saja...... Sedang berkata demikian, keluarlalh air matanya.

Dalam pada itu pun Yacques meneruskan perjalanan-nya, ia amat gemar hati. Tatkala “perkara” itu menerbitkan air mata Madelon, tetapi hati Yacques Cartier digemarkan oleh “perkara” itu. Pada tahun yang baru lalu—ketika musim herfst—kapal perang, yang di bawah perintah Laksamana sendiri itu masuk di pelabuhan Saint-Malo; Cartier disilakan akan naik di kapal itu, supaya bermus- syawarat dengan Laksamana, Khabot de Brion namanya. Perbicaraan antara kedua orang itu lama-lama, pada penghabisan Laksamana bertanya kepada Cartier:

“Jadi, kamu suka membenarkan ikhtiar tersebut tadi?”

“Ia sungguh, Laksamana! Seumur hidup kita, adalah satu cita saja: berlayar dengan kapal kita punya sendiri di daerah ”Terre Neuve“,¹ supaya kesempatan akan ber- layar arah ke sebelah barat akan mendapat jalan ke negeri ”Cathay“.² Maksud kita mendapat tanah-tanah yang memang terletak di situ.

“Tetapi, ingatlah kiranya, kapitan! Kalau berlayar ke sana, kamu akan bersua dengan rupa-rupa bahaya. Adapun Maharaja Tanah Perancis berharap, bahwa pelayaranmu akan -berhasil juga, supaya kerajaan kami beroleh sebagian daripada tanah-tanah baru itu...... Orang bangsa Ispanyol dan orang bangsa Portugis mengambil pulau-pulau baru di-Tanah Barat dan di-Tanah Timur. Setiap-tiap kali ada kabar menyatakan bahwa orang itu mendapat tanah atau pulau baru, hatinya murung seraya berkata: ”Adakah Adam³ mengangkat Raja Ispanyol dan Raja Portugis menjadi warisinya? Di manakah orang, yang mengambil sebagian bumi ini, supaya dimasukkan jajahan kerajaan Perancis? ...... Jika pelayaranmu berhasil, tentu kamu beroleh harta besar serta kamu dihormati amat sangat. Tetapi jika kiranya pelayaranmu ta‘ berhasil, kamu kena murka Raja.“

Kapitan Cartier mendengarkan perkataan ini: hatinya tetap juga. Katanya: “Yang kita ingin...... bukan harta-bendal Kita ada sendiri-diri di bumi ini. Yang kita punyai itulah lebih dari cukup akan pemeliharan kita. Yang kita kejar, ......itulah kehormatan karena mendapat tanah-tanah baru untuk Raja dan untuk tanah air kita. Lain tidak! Murka Raja itu...... kita tiada indahkan, sebab...... dengan pertolongan Allah pelayaran kita mesti berhasil.”

Orang sedang melengkapkan kapal dua buah, sebetulnya hanya kecil rupanya terbanding dengan kapal besar, yang pada masa kini berlayar di lautan-lautan. Isinya masing-masing enampuluh ton,⁴ isi kapal hanya tigapuluh orang banyaknya. Dengan menumpang kedua kapal kecil inilah Cartier bermaksud menurut teladan Columbus, Caboto, Magelhaen-Magelhaen⁵ d.l.l., yaitu berlayar di lautan dalam daerah yang belum diketahui orang.

Perkunjungan di pelabuhan dapat menyenangkan hati Cartier; sebenarnya pekerjaan melengkapkan kapal itu maju betul: rupa-rupanya kapitan dapat memulaikan pelayarannya dalam enam minggu.

Seperti telah dimalumkannya kepada Madelon, ia ta‘ pulang ke rumah setelah mengunjungi pelabuhan; ia meninggalkan kota. Cartier tertenggelam dalam pikirannya: betapa peri membenarkan niatnya. Ia terus berjalan-jalan saja, menurut suatu jalan yang sunyi-senyap. Tiba-tiba teringatlah ia, bahwa harus pulang: matahari sudah rendah sekali, sudah senjakala...... kebetulan pada sa'at itu Cartier diali oleh suara orang, yang kasar bu-ninya, menyatakan ada orang yang mahar sekali. Asalnya dari rumah yang terletak di pinggir jalan, tempat pengu-sahaan tanah. Perkataan orang itu tiada dapat diartikan-nya; dilihatnya ada seorang budak yang sedang dikejar oleh orang laki-laki, yang terus berisyarat serta berteriak. Pada akhirnya budak sudah keluear dari halaman; orang yang empunya rumah itu mengamang budak sekali lagi dengan mengangkat genggamnyra arah kepada budak. Lalu orang laki-laki itu masuk kembali ke dalam rumahnya. Orang muda menuju ke jalan raya, langkahnya sebagai orang yang amat lelah. Setelah tiba di jalan raya, budak menuju arah ke negeri Saint-Malo; baru ia berjalan beberapa langkah jauhnya, maka terjatuhlah ia. Demi terlihat itu, kapitan bergopoh-gopoh mendekati budak: hai, orang muda rebah pingsan. Sudah nyata kepada Cartier bahwa orang muda itu rebah pingsan disebabkan laparnya. Ia menoleh, ta‘ ada rumah lain di daerah lagi, hanya ada rumah pengusahaan tanah, yang baru ditinggalkan oleh budak. Kapitan tiada bimbang hati: orang muda diangkatnya, lalu diantar kepada rumah. Mula-mula orang isi rumah tiada menjawab seruan-nya, tetapi Cartier terus mengetuki pintu rumah, pada akhirnya pintu dibuka orang.

Yang empunya rumah amat marah, ia bertanya: “Mau apa? Mengapa kami dikejutkan karena menabuh pintu begitu rupa saja, dengan tiada berke-putusan?” “Maksud kita, hendak meminta pertolonganmu untuk orang muda ini.” “Hai, kamu berani meminta pertolongan untuk...... seorang perisau? Mustahill! kita berwajib menolong sekalian orang perisau yang berkembara di daerah ini.” Se-sudah berkata demikian, ia berbuat rupa-rupanya henedak menutup pintu kembali. Akan tetapi kapitan Cartier tiada suka diperbuat demikian, berteriaklah ia katanya: “Hai, buka pintu, kalau tidak, pintu kita buka seendiri, Biarpun kita rusakkannya. Ta‘ terang kepada mu, bahwa budak ini bius karena lapar? Bawa kemari roti dan susu. Jika kiranya pada rasamu ta’ cukup bahwa derma itu dibalas oleh Allah karena kerahiman nya kepadamu, ......marilah, ......ambil ini saja.“

Sedang berkata begitu, Cartier melemparkan tempat wangnya kehadapan kaki orang kasar itu.

Orang tani bergopoh-gopoh akan memungut tempat uang; matanya berseri tatkala tempat wangnya dibuka serta mendapat mata uang emas yang tersimpan di dalam nya. Nyata juga orang tani itu tiada bersifat menaruh kasihan kepada orang sama manusia; ialah orang yang loba akan uang. Kapitan disilikannya akan masuk ke-rumah. Cartier meletakkan orang muda dilantai kamar, lalu ia berlutut disisinya; tanyalah ia kepada yang empunya:

“Adakah anggur sedikit?” “Ia, Tuan,” kata orang tani sedang gundah hati, “te tapi......”

“Tuan, pada tahun ini kebetulan harga anggur terlalu mahal...... lain dari itu...... ta‘ ada uang kecil akan menukar uang emasmu......”

“Siapakah gerangan meminta uang pecah...... Lekaslah, ambil roti, anggur dan air susu, lekaslah!”

Orang tua mengerising: hai, di dalam tempat uang ada mata uang emas; ......diperhatikannya bahwa ta‘ perlu menukar uang itu, ta’ usah memulangkan kelebihan. Alangkah besar untungnyia! Orang tani meninggalkan kamar, tiada antara lama kembalilah ia membawa roti sepotong, air anggur seteguk dan air susu secawan. Cartier mencapai cawan yang berisi anggur, lalu ditu angnya ke dalam mulut orang muda. Hai, itu bergu-na! Orang muda sedar pula, matanya dikejapnya, lalu tangannya dianjurnya arah kepada roti. Mula-mula ia ta‘ dapat bertutur, karena terlalu kecuh-kecah makan, daerahnya tiada diindahkannya. Tetapi setelah laparnya dipadamnya, ia memandangi orang laki-laki yang berdiri disisinya. Ia tercengang karena mengingat, bahwa orang tani tadi mengenggankan permintaannya serta mengusir dia dari halamannya. Tentu bukan ialah yang menderma dia! Sebab itu dipandangnya arah kepada kapitan, nisca-ya ialah yang menghadiahkan makanan ini kepadanya!

Kapitan bertanya: “Hai, sahabat kecil, bagaimana sekarang? Sudah segar sedikit?” “Ia sungguh, Tuan. Yang menyebabkan kita daytuh, ......itulah lapar perut; sementara dua hari lama-nya kita tiada beroleh makanan.” “Orang kasihan ini! ...... Hai, kamu tiada malu karena berlaku demikian tadi!” Itu dikatakan oleh kapitan kepada orang tani.

Orang tani itu terlalu suka hati karena memperoleh mata uang emas, kata kapitan itu tiada diindahkanya.

Kapitan bertanya pula: “Hai, budak, hendak ke mana?” “Ke negeri Saint-Malo, Tuan.” Kata-kata itu disebutnya cara tersangkut, tetapi kapitan tiada mengindahkan itu. “Hai, ke negeri Saint-Malo? Kalau begitu, kami berjalan bersama-sama, ...... asal badanmu sudah cukup kuat pula.” “Boleh, Tuan, sekarang kita segar pula.” Sedang berkata demikian, ia berlompat tegak. “Siapa namamu?” “Nama kita Pierre!”

Madelon menyediakan tempat tidur untuk Pierre.

“Nah, Pierre, turutlah juga!” Lalu kapitan bersama-sama Pierre meninggalkan kambar; sedang keluar orang tani tiada diperdulinya. Orang tani menyeringai saja sedang mengantar kapitan dengan matanya. Mata uang emas perolehannya dia-mat-amatinya, nyatalah ia amat senang hati, karena dengan mudah juga didapatnya.

¹ “Terre-Neuve”—bahasa Perancis, artinya “Tanah-Baru”. Itulah nama yang diberi pada pulau besar yang letaknya di Lautan Atlantica di pantai Amerika-Utara, yang kemudian dinamakan Newfoundland oleh orang Inggris.

² Pada masa cerita ini berlaku, orang belum pandai betul dalam ilmu bumi. Pada pengiranya ada dua kerajaan besar, yang letaknya di pihak Timur; Cathay (Cina) dan Zipangu (Je pun). Pada persangkaan orang di kedua kerajaan tersebut terdapatlah berjenis benda yang berharga. Harta-benda yang ada di situ lengkap adanya.

³ Adam; menurut Kitab Suci orang Nasarani, ialah Bapak sekalian kaum manusia, ialah mewariskan harta-benda bumi ini kepada anak-anaknya turun-temurun.

⁴ Ton—ukuran isi kapal—2.63 M.

⁵ Columbus, ialah yang mendapat mula-mula Tanah Amerika; ia berasal dari negeri Genua. Ia berlayar ke Bumi-Baru empat kali: dalam tahun-tahun 1492, 1493, 1498 dan 1502. Caboto berasal dari negeri Venetie (Kerajaan Italia). Ia berlayar ke pulau New-Found-Land dan ke pantai tanah Labrador dan tanah Canada. Anaknya—Sebastiaan—mendapat beberapa tanah-tanah untuk orang Inggris. Magelhaen, ialah orang bangsa Portugis. Selat di antara Tanah Amerika-Selatan dan Vuurland itu dinamai Selat Magelhaen. Ialah yang pertama kali berlayar berkeliling bumi. Sebenarnyalah bukan beliau berkeliling bumi, sebab mati tengah pelayaran, akan tetapi teman pelayarannya menyudahkan pelayaran itu.


FASAL YANG KEDUA

PIERRE MENCERITERAKAN KISSAH KEHIDUPANNYA; IA DITERIMA DALAM RUMAH KAPITAN CARTIER.

Kapitan beserta anak muda berjalan menuju kenergi Saint-Malo; cara berjalan berlambat-lambat saja, karena pada persangkaan kapitan, bahwa orang muda belum segar betul. Sedang berjalan, kapitan menanyai pemuda, di mana tempat tinggal orang tuannya di negeri Saint-Malo.

Jawab Pierre: “Ta’ ada lagi orang tua! Sudah lama matil…… Aduhai, kalau kiranya ibu masih hidup, ten-tu kita ta’ usah……”

Kalimat ini tiada disudahkannya; Pierre memandang kapitan, nyatalah ia malu.

“Coba, teruskan saja,” kata kapitan, “terangkan saja, ……kalau begitu, ta’ usah kamu……?”

“Ta’ usah…… lari, Tuan.”

Kapitan memandang Pierre, kejapnya menyatakan marahnya; itu menerbitkan dahsyat Pierre, yang menyambung lagi, katanya:

“Ah, Tuan, kamu berlaku amat manis tentang kital Jangan kamu pulangkan kita kepada Isidore, orang penyamun.”

“Isidore, orang penyamun? Hai, gelar bagus itu!” kata kapitan bersungut-sungut. “Siapakah itu? Iakah kamu punya kemanakan?“ ”Bukan, Tuan...... Ketika ibu mangkat, di negeri Plessis ta‘ ada orang yang hendak menerima kita dalam rumahnya. Hanya Isidore suka menerima kita.“ ”Bapakmu siapa?“ ”Bapak kita menjadi kelasi, Tuan......“ ”Bagaimana? Bapakmu menjadi kelasi?“ Suara kapitan menjadi manis kembali. ”Ia sungguh, Tuan, masa bapak lagi hidup, kami tinggal di negeri Cancale.¹ Menurut cerita ibu, maka bapak berlayar; lama-lama ia ta’ pulang. Pada akhirnya ibu menerima kabar menyatakan, bahwa kapalnya terkaram dengan segala awknya. Masa itu kita masih muda sekali, Tuan, kira kita belum sampai umur tiga tahun.“ ”Sayanglah! Biarlah hatimu tetap juga, kamu tiada dipulangkan kepada Isidore...... Tetapi...... apa sebab kamu pergi ke negeri Plessis?“ ”Itulah bekas tempat kediaman ibu, pada masa mu danya. Di situ tinggal nenek juga, tetapi tiada antara lama ia mangkat juga. Ibu berharap, bahwa ia boleh mendapat pekerjaan di situ; sah juga pengharapannya itu, akan tetapi ibu kena sakit, ta‘ cukup kuat akan bekerja. Tatkaia ibu mangkat, ta’ ada orang yang hendak memeliharakan kita, hanya Isidore hendak menerima kita di dalam rumahnya.“ ”...... Nyatalah...... ia orang yang kurang baik, yang tiada menyayangi kamu, bukan? Kamu menakuti dia?“ ”Benar begitu, Tuan. Sementara siang hari ia selalu duduk diwarung; sepulangnya di rumah mabuklah ia, lalu kita dimakinya, katanya kita malas. Acapkali kita dipukulnya. Sementara malam hari, kita terpaksa akan menerut dia ke hutan, hendak mengempul binatang perburuan, yang tertangkap dijerat-jerat, yang dipasangnya di situ. Pada akhirnya kita disuruhnya sendiri diri akan melakukan pekerjaan itu. Jika upamanya kita pulang ke rumah dengan tiada membawa binatang perburuan, maka kita ditegurnya serta dipukulnya. Tuan yang diam diistana mengerjakan seorang pemburu; orang pemburu itu mengamang kita beberapa kali, hendak dipenjarakan ke dalam kolong istana, jika kiranya berani lagi masuk ke hutan. Itulah sebabnya kita tiada berani pergi ke hutan, tatkala disuruh oleh Isidore ke sana akan mengempul isi jerat-jerat...... Lalu kita lari......“

“Kasihan!” kata Cartier seraya memegang Pierre pada tangannya. “Maksudmu pergi ke mana?”

“Ke-Saint-Malo, Tuan. Konon kabar di situ banyak orang laut. Kata ibu, bahwa orang laut itulah orang baik hatinya, bahwa mereka suka menolong orang yang kena sengsara.”

“Kata ibumu benar juga, Pierre!”

“Adakah kamu mengenal orang laut,” tanya Pierre. “Kalau-kalau kamu dapat mencari kapal, tempat kita bekerja sebagai ”budak kapal“?”

Cartier tertawa tersenyum, budak itu dipandangnya: sebenarnya umur budak ini sudah empatbelas tahun, tetapi rupa-rupanya badannya tiada kuat benar, kalau kalau disebabkan kepapaannya.

Jawab kapitan:

“Kuatirlah kita, kalau kamu punya badan tiada cu-kup kuat akan melakukan pekerjaan ”budak kapal“.

“Barangkali sekarang ini belum kuat!” Perkataan ini ditambah lagi oleh kapitan karena memperhatikan bahwa

Pierre keciwa adanya. “Kita sendiri... orang laut juga; kamu percaya akan kata ibumu; dan lagi ibumu percaya akan kebaikan orang laut. Kepercayaan itu kita ta’ beri malu. Kamu menurut kita juga; di sini sudah sampai di rumah kita punya.”

Baru “pemalu” pintu ditabuahkan oleh Cartier, baru juga Madelon bergopoh-gopoh menujui pintu, katanya: “Aduhai, lamalah kamu diluear, kelakuanmu demikian menyebabkan rawan hati kita, Yacques! ...... Sia- pakah orang yang menurut kamu itu?”

“Inilah orang melarat! Coba tolonglah dia: dalam dua hari ia tiada makan, ia bius karena lapar perutnya.”

“Marilah, turut kita juga,” kata Madelon. Lalu Pierre dipegangnya pada tangannya serta diantar kedapur; di situ ia tengah menyediakan makan malam.

Madelon mengamat-amati jamu baru itu dengan saksama. Kata Cartier: “Ialah seorang piatu, anak seorang kelasi, yang mati kena karam kapal.”

Katanya sedemikian itu disebutnya akan melembutkan hati Madelon!

Madelon tiada berhenti menyatakan iba hatinya, Pierre sekalai-sekali diboojuknyya, dalam pada itu pun dise-diakannya makanan yang enak dan berlimpah-limpahan.

Sedang Madelon bekerja demikian, Cartier memandang dia, seraya menceriterakan betapa peri anak itu didapatnya...... Madelon terlalu amat marah karena kekerasan hati orang tani yang mengusir Pierre. Orang kasar itu dimakinya serta disumpahinya...... jika kiranya orang tani itu dapat mendengar cara berkatanya ini, tentu ia ta’ dapat tidur lelap; seakan-akan tempat tidurnya dikelilingi hantu dan jin...... Tetapi Madelon tertawa akan Cartier, ...... karena ia pulang ke rumah dengan tempat uang yang kosong! Tempat wangenya pun ta’ dibawanyal

Habis makan, Madelon menyediakan tempat tidur untuk Pierre. Pilu hatinya, tatkala ia dipelook oleh orang muda, sebelum ia masuk tidur.

Madelon bertanya: “Kapitan, hendak apa...... dengan orang muda ini?” Jawabnya (cara bergurausenda): “Nah, ta’ ada upaya lain daripada mengantar anak muda kembali kepada bapak tirinya, yaitu kepada Isidore yang tinggal di negeri Plessis!” “Bagaimana, kapitan, kalau diantar kembali ke sana, ten-tu anak ini dipukulnya sehingga mati; ingatlah Isidore itulah seorang pemabuk, yang amat kasar.” “Bahwa sesungguhnya Pierre ta’ diterima oleh Isidore cara manis benar, karena ia lari dari rumah...... Jika kiranya Pierre ta’ dibunuhnya, niscaya kemudian ia disuruh masuk hutan kembali ketika malam akan merampas binatang perburuan...... Ta’ usah syak, ...... pada akhihrna hal Pierre menjadi buruk sekali! Tetapi......” “Coba dengar, Yacques! Orang muda ini percaya akan kata ibunya; menyatakan, bahwa ia tentu mendapat per-tolongan daripada pihak orang laut. Jadi, ...... maukah kamu monyos karena tiada menyahkan kata ibunya itu?” “Kalau tiada begitu, Madelon, ...... apakah anak muda itu diperbuat?” Cartier bertanya cara demikian, sebe-tulnya pura-pura saja, ia hampir tiada dapat menahan dirinya. “O,” kata Madelon, “itu perkara muda saja: biarlah...... ia tinggal di sini juga!” “Tahan dia di sini? Adakah kamu mengingat, bahwa itu menyebabkan banyak ongkos? ...... Tadi budak itu sudah mengeluarkan mata uang emas sekeping dari dalam kantung kita, ...... orang pelari itu! Dan lagi...... alangkah banyak gaduh yang harus kamu derita, kalau kiranya anak muda yang nakal itu ditahan di sini, ditumpangkan di rumah ini“

“O, ia bukan anak muda yang nakal, Yacques, itu sudah nyata pada air mukanya. Gaduhnya itu mudah terderita juga; lain dari itu anak itu dapat mengem-birakan hati kita, tatkala kamu berlayar di laut......”

Cartier menaruh kasihan kepada Madelon, akan tetapi hal itu tiada dinyatakannya. Ia berkata dalam dirinya: Kasihan, Madelon, susahmu bergandaganda, karena anak ini memang menurut kita, tatkala berlayar. Mustahil, anak muda ini menjadi orang laut yang kacak, kalau kiranya tiada naik kapal selekas-lekasnya?“

Kemudian Cartier berkata dengan nyaring kepada Madelon:

“Nah, kalau kamu berani...... biarlah Pierre diterima di sini saja.”

Pada sa'at itu ada orang mengetuki pintu: orang yang baru dikatai itu, masuk ke dalam kamar. Kapitan terlalu heran pada memandang budak sekarang! Masakan! Iakah anak muda yang buruk rupanya, yang dibawanya tadi malam ke rumahnya? Madelon senang hati benar, karena mengamat-amati keheranan Yacques. Setelah Pierre baru masuk tidur, ia mengempul sekalian pakaian dan serba putih yang dipakai dulu oleh Yacques masa mudanya. Pakaian itu dibawanya cara curi-curi ke-kamar tempat tidur Pierre, serta pakaian buruk yang terletak pada kursi itu diambilnya. Lain dari itu disediakan air bersih di dalam basi gunanya akan pembasuh muka...... Hai, sekarang Pierre berdiri di kamar, berpakaian pantas benar, sedang berjabat tangan dengan kapitan, yang terus memandang budak. Madelon tertawa saja, ia senang hati betul; sejak lama hatinya ta‘ sekian senang.

Pada akhirnya Cartier bertanya: “Bagaimana, Pierre, senang di sini?” “O, Tuan…….” “Coba dengar, Pierre, sekarang kamu sudah diterima di rumah kita, ta’ boleh lagi kita kamu panggil: ”Tuan“. Baiklah kita dipanggil ”kapitan“ saja! Sudah mengerti, Pierre?” Jawab Pierre: “Ia sungguh, kapitan, …… bolehkah kita tinggal di sini?” Mukanya berseri, tatkala dilihatnya kapitan berisyarat: “Ia sungguh, boleh!” Kata Pierre: “Terima kasih banyak, kapitan!” “O, jangan terima kasih kepada kita; yang harus di terima kasih, ialah, di situ!” Sedang berkata demikian kapitan menunjuk arah kepada Madelon. Pierre menemui dia, katanya: “Terima kasih banyak…” “Panggil kita…… bibi saja, Pierre!” kata Madelon; “bahwa kamu menaruh sifat tahu menerima kasih itu baiklah dinyatakan dengan kelakuanmu juga kelak. Berharaplah kita, supaya kamu menjadi orang kacak dan baik seperti ”budak“ kita juga pada masa mu danya!” Kata Cartier: “Sudah sampai; perjanjian sudah habis dibicarakan. Marilah kami makan, Madelon, perbicaraan kami tadi ini memberi lapar. Pierre, duduklah di situ saja: itu menjadi tempatmu yang tetap pada yang akan datang.” Pierre duduk di antara Cartier dan Madelon, yaitu mamaknya dan bibinya. Dalam hatinya ia berkata berulanga ulang: hai, ibu punya kata benar, tatkala menyatakan, bahwa orang laut… itulah orang yang berperangai baik.“

¹ Cancale, bandar kecil, yang letaknya di sebelah barat negeri Sint-Malo; jaulnya berjalan kaki tiga jam.


FASAL YANG KETIGA

MUSYAWARAT TENTANG HAL PIERRE PADA YANG AKAN DATANG. MADELON TIADA DAPAT MELAWAN, LALU IA MENYERAHKAN DIRINYA.

Pada penghabisan bulan Maart kelengkapan kapal sudah sedia: sekarang boleh menyewa kelasi akan menjadi isi kapal Cartier punya. Akan menjadi kapitan pada kapal nomor dua, diangkatnya seorang teman pelayarannya masa dulu. Ia juga sudah berlayar beberapa kali ke-Tanah “Terre-Neuve”.¹ Sudah nyata kepada Cartier, bahwa orang itu seorang orang laut yang pandai serta gagah berani. Lain dari itu orang itu—Denis namanya—bersahabat benar dengan kapitan Cartier, pikirannya senantiasa setuju juga. Dengan demikian ta’ usah kuatir akan kejadian perselisahan antara pembesar-pembesar kapal. Adakalanya maksud pelayaran serupa begini tiada berhasil disebabkan cemburuan dari seorang kepada seorang. Dengan suka hati Denis menerima ikhtiar kapitan Cartier akan menurut dia.

Pekerjaan mencari kelasi yang pandai dan kacak itulah sukar sekali. Pada masa itu kembanglah kabar angin menyatakan bahwa di-Tanah Mexico dan di-Tanah Peru didapat oleh orang bangsa Ispanyol emas, perak dan batu intan berlimpah-limpahan: boleh dipungut dari tanah saja. Itulah sebabnya banyak orang suka menurut pelayaran di kapal-kapal yang menuju ke negeri negeri itu. Kata orang, baru turun di darat di daerah itu, maka baru juga mulai menjadi kaya, dalam dua hari boleh berlayar ke negeri asalnya kembali, sebagai orang kaya betul. Orang laut segan menurut pelayaran kapal yang menuju ke negeri negeri yang namanya tiada diketahuinyia, tentu di situ ta’ ada barang berharga seperti di-Tanah Mexico dan di-Tanah Peru. Dengan demikian dengan susah payah yang ta’ terkata, kapitan Cartier—ditolong oleh Denis—dapat menyewa orang laut enampeluh orang banyaknya yang dapat dielonnya akan menurut pelayarannya ke-Terre-Neuve. Antara orang enampeluh itu ada beberapa orang yang sebenarnya tiada kepercayaan menurut tampa Cartier, akan tetapi apa boleh buat! Ta’ ada orang lain!

Nyatalah pekerjaaan melengkapkan kapal mengadakan banyak hurohara, sehingga kapitan Cartier selalu dilu-ar, hanya sekali-sekali ia pulang ke rumah.

Sebab itu Madelon senang hati juga pada memperhatikan, bahwa ia sudah beroleh seorang teman di rumah, yaitu Pierre. Berpikirlah ia, bahwa Pierre dapat menghiburkan hatinya tatkala kapitan Cartier sudah berlayar di laut, dengan demikian rumahnya tiada menjadi keluat. Tiada antara lama menjadi nyata, bahwa Pierre ialah seorang budak yang cerdik dan kacak serta tampan. Sesoodah beberapa minggu Pierre dikasihinya, seolah-olah anak itu dididiknya sejak kecinlnya juga.

Supaya jangan mendukakan hati Madelon, mula-mula Cartier belum memalumkan kepadanya niatnya yang teguh sekali, yaitu hendak menurutkan budak pada pelayarannya. Tetapi Pierre bersangka, bahwa hal itu (menurut pelayaran kapitan Cartier) tentu sudah malum kepada Madelon serta bahwa “bibi Madelon” setuju juga dengan niat itu. Dengan demikian Pierre tiada membicarakan pelayaran: niat kapitan Cartier dipandangnya suatu hal yang sudah nyata betul. Itulah sebab Madelon terus bersangka, bahwa seorang dari ke dua orang “budaknya” tentu tinggal di rumah menyer ta’ dia.

Pada suatu hari—ketika petang—Pierre pulang ke rumah, datangnya dari pelabuhan; ia terlalu suka hati. Tiba-tiba dikatakannya:

“Hai, Bi, kapalkapal kami sekarang sudah ada dipelab buhan; dalam tiga minggu—selama-lamanya—kami dapat berlayar melaut!”

Pierre tiada dapat mengira, bahwa teriaknya itu mendokakkan hati Bibi Madelon terlalu amat sangat. Madelon menjadi pucat karena iba hatinya, akan tetapi ia dapat juga mempertetapkan hatinya: ia bersungguh-sungguh akan menyembunyikan perasaannya di hadapan Pierre. Madelon memaksakan dirinya akan diam saja, baru ketika Yacques sudah pulang kemari, ia hendak meminta keterangan, hendak menanyakan kepadanya kalau ia berani mendokakkan Madelon cara demikian…… Masakan ta’ cukup, bahwa Madelon senantiasa berdahsyat karena dia, perlutah susahnya dijadikan lebih sangat lagi karena menjauhkan budak ini dari padanya? Adakah Yacques tiada teringat, bahwa kasihnyia kepada budak ini sama dengan kasihnyia kepada Yacques, tatkala umurnya sama dengan umur Pierre sekarang? Hai, itu terlalu payah!

Pada hari itu juga, tatkala Pierre sudah masuk tidur, Madelon hendak membicarakan hal ini. Dengan lebar-panjang diriwayatnya sekalian bahaya-bahaya yang boleh mendaatangi anak muda ini; mengapa pelayaran itu ta’ ditangguhkan dulu, sesudah liwat beberapa tahun, budak telah menjadi kuat benar, supaya dapat menahan kesiksaan dan kepapaan; kalau anak muda menurut pelayaran sekarang juga, tentulah ia tewas.

Kapitan Cartier membiarkan Madelon berkata demikian, ia tiada mengaru. Tatkala sudah selesai, ia bertanya saja: “Kamu kasih akan Pierre, bukan, Madelon? Hampir sama juga kasihmu akan dia seperti kasihmu akan kita, tatkala kita seumur dengan budak nakal ini masa sekarakang?”

“Jangan namakan dia ”budak nakal“! Betullah kita kasih akan dia: kalau-kalau begitu, ...... karena kita teri ngat akan tingkah lakumu, ketika kamu berumur seperti dia sekarang.”

“Nah, Madelon, ...... sukakah kamu menyanggah ba hagia orang yang menjadi kekasihmu. Ingatlah! Tatkala kita kelua akan berlayar di laut, kamu bergetar juga, akan tetapi kamu embuh akan pemergian itu sebab telah nyata kepadamu itulah bahagia kita; serta bahwa kita ta‘ boleh berbahagia kalau kiranya niat kita itu dite gahkan saja. Demikian juga hal Pierre: hatinya tertarik oleh laut, keinginannya ta’ tertahan. Kesukaan sebegitu tiada tertegah, sebetulnya asal dari dalam darah tubuh nya. Ta‘ dapat tiada budak ini akan merana, jika kiranya terpaksa tinggal di darat saja! Sebab itu, Madelon! biar lah ia kelua; jikalau citanya itu dibenarkan juga, ...... itulah tanda alamat yang menyatakan kasihmu akan dia...... Lain dari itu, ...... coba ingatlah bagaimana kesena ngan tatkala melihat dia kembali, pulang ke rumah se sudah berlayar.

Tentu kamu socka merasai kesenangan hati sedemikian rupa!“

Madelon berkeluh-kesah, katanya: “Melihat kembali? ...... Berapa kali...... ta‘ pulang sama sekali! Kamu punya bapak dan dia punya bapak ju-ga...... keduanya...... mati lemas di laut!“ ”Itulah takdir Allah, Madelon! Di bawah perlindungan Allah ta‘ alla kami selamat, baik di darat, baik di laut; apa lagi; kamu tentu teringat pelajaran ibunya, bahwa “orang laut itulah orang baik”. Nah, kita bersung-guh-sungguh, supaya Pierre menjadi “orang baik”. Tetapi patutlah kamu menyokongi kita pada penun-tutan ini, Madelon. Hai, Madelon, jangan menangis lagi...... Marilah! Besok kamu menyediakan pakaian nyia dan kelengkapannya. Percaya akan Allah; niscaya dengan pimpinan Allah ta’ alla kami berdua akan diantar kemari kembali di sini dirumahmul!“ Madelon tunduk saja, hatinya dihiburkan karena menganigat berkat Allah; berharaplah ia akan pertolongan Allah...... Tatkala menjait pakaian untuk Pierre—pe-kerjaan itu tiada diserahkannya kepada tukang menjait saja!—acapkali ia menangis, pakaian nyia itu dibasahi dengan air matanya. Akan tetapi selama Yacques dan Pierre hadir, ia menahan dukacitanya, mukanya se-lalu berseri. Tatkala Pierre menceriterakan hal ihwal pe-layaran serta pekerjaan melengkapkan kapal, Madelon ters-tawa tersenyum juga. Kata Pierre, bahwa kapal Yacques punya itulah kapal yang terlebih bagus antara sekalian kapal-kapal di pelabuhan Saint-Malo. Pada suatu hari Madelon dielon oleh Pierre akan menurut dia kepela-buhan, supaya dapat melihat dengan matanya sendiri kapal Marguerite (itulah nama kapal yang akan ditumpang-nya). Dalam pada itu pun Cartier menyelenggarakan perbeka-lan dan lain-lain barang keperluan, yang harus dimuat-kan ke dalam kapal. Sepanjang segenap hari ia ada di kapal akan menjagai pekerjaan isi kapal. Pada malam harinya Madelon memasang lilin-lilin, lalu Cartier menghamparkan peta-peta di atas meja. Pierre berdiri disisinya, ia mengan tar dengan matanya jari kapitan, tatkala menunjuk dipeta itu arah pelayaran. Dengan hirau Pierre mendengar kan keterangan, yang dinyatakan oleh kapitan tentang negeri negeri dan laut-laut.

“Coba lihat, Pierre, inilah arah pelayaran, yang diturut oleh Columbus² pada masa ia pertama kali pergi ke Bumi Baru. Inilah pulau Guanahari; dinamakannya San Salvador. Di situlah ia turun ke darat mula-mula. Itulah pulau-pulau besar, bernama Cuba dan Hispanolia³, yang didapatnya kemudian harinya: pada persangkaannya itolah Zipangu serta bahwa ia boleh menyampaikan Tanah Cathay dengan menurut pelayaran ini. Columbus tiada mengetahui bahwa tanah yang terlukis di sini, tercerai daripada tanah yang telah didapatnya, oleh sebuah La utan: inilah Lautan, yang membatasi Tanah Cathay dan Tanah Hindia. Dalam tahun 1513 ada seorang Insanyol, bernama Balbao yang berani meliwat tanah genting ini; ialah yang mula-mula melihat Lautan Besar. Inilah Tanah Mexico; tanah ini didapat oleh Cortez, lalu diserahkan kepada Maharaja Ispanyol. Inilah Tanah Peru, yang didapat oleh Pizarro. Di situlah didapatnya harta-harta yang ta‘ terkira nilaian ny.”

Pierre keciwa sedikit sesudah mendengar keterangan kapitan, demikian bunyinya; katanya:

“Bagaimana, kapitan, tanah-tanah semua itu sudah didapat orang serta diambil sebagai milik oleh orang bangsa Ispanyol; tanah manakah masih sisa untuk kami?”

“Di sebelah selatan ta‘ ada tanah lagi! Coba lihat: tanah ini—Guyana namanya—didapat oleh Pinzon pada tahun 1504; ialah seorang teman pelayaran Columbus. Pantai pantai ini mula-mula didapat oleh seorang bangsa Portugis, bernama Cabral. Tanah itu dinamai Brazilie. Ada seorang bangsa Ispanyol—De Solis namanya—mendapat sungai besar inilah. Yang diperiksaiinya juga, itulah teluk Rio de Yaneiro. Tetapi tatkala ia turun di darat di situ, ia diserang oleh orang bangsa Indiaan, lalu dibunuhnya.......“

Aduhai! Cartier terlalu rajin mengajari Pierre, dengan demikian tiada mengingat, bahwa yang mendengar keterangan nyia itu bukan hanya Pierre! Tatkala Madelon mendengar riwayat tentang orang yang dibunuh oleh orang Indiaan di hadapan teluk Rio de la Plata, ia berte-riak karena terkejut. Kapitan terkapah-kapah, lalu ia memandang arah kepada Madelon. Akan tetapi Madelon tiada suka memperlihatkan mukanya kepada kapitan; Madelon menyondong juga, seakan-akan tertenggelam dalam pekerjaannya, supaya jangan nyata kepada Cartier, bahwa mukanya menjadi pucat sekali.

Akan mempertetapkan hati Madelon, kapitan menyambung lagi, katanya:

“Tetapi itulah salahnya sendiri. Barang siapa datang di negeri asing, patut berlaku atiati; kalau hendak bercampur dengan orang bumi putera patutlah bersenjata juga, selama belum diketahuiinya orang bumi putera itu kepercayaan atau tidak!”

Tatkala kapitan menyataken kepada Pierre arah pelayaran Magelhaes, yaitu tatkala berlayar menujui pulau-pulai Filippina, ia tiada menceriterakan, bahwa orang nakhoda itu dibunuh juga oleh orang bangsa Filippi-no. Kata Cartier:

“Orang Portugis ini mendapat juga arah pelayaran ke-Tanah Hindia, yaitu dengan menumpang kapal juga. Ada orang Portugis lain, yang sudah mendapat arah pelayaran juga ke-Tanah Hindia, akan tetapi orang itu—Vasco da Gama namanya—menyusur pantai Tanah Afrika, lalu nenanjung ujung selatan Tanah Afrika. Ujung tanah itu dinamai. “Tanjung Pengharapan.” Nama itu diberi oleh Raja Portugis—Yohan II namanya. Sebelumnyia tanjung itu dinamai Tanjung Angin Ri-but. Ingatlah, Pierre, pelayaran menurut arah ke selatan itu terlalu lama sekali serta berbahaya. Kami akan berlayar menurut arah ke sebelah utara, dengan demikian kami boleh mendapat tanah Zipangu, Cathay dan Tanah Hindia. Di situ masih ada tanah-tanah yang belum didastangi orang Eropa, tentu juga tanah itu subur serta mengandung barang galian yang berharga. Tanah itu kami ambil sebagai milik, lalu diserahkan kepada raja kami juga, sebagai Cortez dan Pizarro yang menyerahakan tanah yang didapatnya kepada Raja Ispanyol. Hai, sesudah itu Raja Perancis boleh mengatakan juga, bahwa dalam jajahana Tanah Perancis matahari tiada pernah terbenam.“⁴

“Tentu kami akan berbuat demikian, kapitan!” kata budak, sedang matanya berseri; “ketika kamu kembali dari situ, Madelon menjadi kacak akan kamu, lebih kacak lagi daripada sekarang ini, karena kamu akan diangkat menjadi Raja muda Tanah Perancis-Baru.”

Madelon hendak membicarakan hal ini.

Cartier menggiling kepala. Kalau-kalau ia teringat akan nasib Columbus dan Albuquerque; mula-mula Rajanya berjanji hendak menganugerahi dia rupa-rupa anu-gerah karena meluaskan jajaahan kerajaannya, akan te-tapi...... pada akhirnya mereka punya jasa kepada nege-rinya dibalas dengan...... kurang terima.

Jawab Cartier: “O, budak, anugerah sebegitu mulia tiada kita tun-tutkan; pangkat sekian tinggi tiada berpatutkan dengan orang yang hina dina saja, ingatlah: kita orang laut yang kasar saja! ...... Pierre, biarlah kami memperhentikan perbicaraan; baiklah kamu masuk tisur juga.”

Sementara tidur Pierre seakan-akan melihat Lautan Besar, yang dilayari oleh kapal kapitan Cartier punya, dan lagi dilihatnya tanah-tanah yang permai. Di situ kapitan menanam bendera kerajaan Perancis. Yang dilihatnya lagi sementara mimpi, ialah Bibi Madelon sedang me-nganjur tangannya kepada kapitan dan Pierre tatkala mereka pulang dari pelayarannya. Adapun Madelon tiada dapat tidur lelap lagi; ia terus menghitung berapa jam lamanya lagi sebelum kedua “budaknya” berangkatz. Hai, lekaslah liwat waktu itu! Tanggal yang ditetapkan akan kapal melaut, yaitu 20 hari bulan April. Sebab waktu air pasang esok betul, maka kedua tuan kapitan naik ke kapal pada malam yang mendahului tanggal itu. Ta‘ dapat tiada Pierre menurut juga.

Madelon dapat menahan iba hatinya, tatkala Cartier dan Pierre bermohon kepadanya. Ketika meninggalkan rumah, Cartier dan Pierre menoleh sekali lagi; hai, kelihatanlah Madelon menangis tersedu-sedu. “Selamat tinggal, Madelon!” kata kapitan berteriak. “Pada penghabisan tahun ini kami pulang kemari dengan berselamat.”

Madelon berkeluh-kesah, katanya: “Biarlah berkat Allah turun kepadamu, akan tetapi rupa-rupanya kita ber- Budak Kapal. mohon dengan kamu berdua akan abadi juga.“ Pierre melambai tangannya kepada Madelon; lalu Cartier dan Pierre masuk jalan lain: Madelon ada sendiri diri.

¹ “Terre-Neuve”, bahasa Perancis, artinya: Tanah Baru.

² Columbus, namanya masyhur sekali, karena ialah pendapat tanah Amerika, yaitu pada tahun 1492.

³ Pada masa kini bernama Haiti atau Sint-Domingo.

⁴ Perkataan ini asal dari Raja Ispanyol: Jajahan kerajaan Ispanyol pada masa itu amat luas. Tanah-tanah milik Ispanyol berbentang baik di sisi barat, baik di sisi timur bumi. Tatkala matahari baru terbenam pada sisi barat, maka terbit pula di sisi sebelah timur. Jadi sebetulnya: dalam kerajaan itu matahari tiada pernah terbenam.


FASAL YANG KEEMPAT

DI LAUT. ORANG ISI KAPAL KUATIR, KALAU-KALAU PELAYARANNYA TIADA DAPAT DITERUSKAN DISEBABKAN HAWA TERLALU DINGIN, SEHINGGA TERPAKSA MENANTIKAN MUSIM PANAS PADA SEBUAH PULAU. PIERRE BERSAHABAT DENGAN STIRMAN SATU, BERNAMA: “MATA SEBELAH.”

Seperti telah diperkatakan, orang isi kapal yang disewa oleh kapitan Cartier itu bukan orang halus. Kebanyakan orang yang menjadi kelasi di kapal-kapal ini, orang kasar betul; ada yang ta‘ diterima pada kapal lain; ada juga orang yang mempergunakan kesempatan ini akan menjauhi negeri karena bersalah, serta menakuti huku mannya.

Itu sebabnya kapitan kedua orang perlu berperintah keras benar tentang orang isi kapalnya, supaya siasat di peliharakan sementara pelayaran. Untunglah! Opsir-opsir kapal setia benar kepada kapitannya, mereka bersungguh-sungguh, supaya siasat di kapal ta‘ dilanggar orang isi kapal. Nyatalah bahwa Cartier ta’ membiarkan, bawah Pierre beramah-ramahan dengan kelasi; itu sebabnya Pierre dijadikannya “budak kapal”. Hal itu mempertetapkan hati Madelon; mula-mula ditakutinya bahwa Pierre di perbuat buruk oleh orang isi kapal. Pierre tiada berskolah dulu; itu sebab ia diajari oleh Cartier dalam pengetahuan orang laut. Syukurlah! Nyatalah Pierre anak pintar betul dan lagi ia amat rajin, inginlah ia akan menjadi orang laut yang pandai benar.

Sebab angin turut, pelayaran di Lautan Atlantica berselamat: pada tanggal 11 hari bulan Mei sampailah di Tanah “Terre-Neuve”.

Seperti ternyata pada peta bumi, itulah sebuah pulau besar, luasnya tiga kali luas Tanah Belanda, letaknya di antara baris lintang utara 47° dan 52°, yaitu di pantai timur Tanah Amerika-Utara; antara pulau tersebut dan Tanah Amerika-Utara terdapatlah Teluk Sint-Laurens dan Selat Belle-Isle.

Di pihak timur dan di pihak tenggara berbentanglah La-utan Atlantica, tiada jauh dari pantai pulau ini adalah sebuah gosong besar; tempat ini ramai didatangi tukang pemukat akan menangkap ikan “kabelyauw”¹ di situ. Pa-da masi kini gosong ini didatangi pemukat lebih dari 2000 orang setiap tiap tahun.

Pierre terlalu sukacita karena melihat pantai tanah itu, yang terjal serta berbatu.

Berteriaklah ia katanya: “Hai, kapitan, kami beruntung benar! Kami baru keluear dari rumah hanya tiga ming-gu liwat, maka sudah mendapat tanah!”

Tetapi Cartier tertawa tersenyum juga pada mendengar kata Pierre. “O, tidak, Pierre, jangan kira kami sudah beruntung demikian. Tanah ini sudah didapat dulu-dulu oleh Giovanni Caboto; ialah orang bangsa Venetie, yang berlayar kemari atas titah Raja Inggris. Sudah sepeluh tahun tanah ini didapatkan oleh Verazzani, ialah mangambil tanah ini sebagai milik untuk Raja kami. Inilah sebagian dari Tanah Perancis-Baru, yang kami cari itu. Baru sekarang ini mulailah pekerjaan kami, budakl!“

Pierre keciwa betul: jadi ia bukan “orang penda- pat!” Tentu Pierre tiada mengetahui itu: Cartier sen- diri pun juga tiada tahu, bahwa Caboto bukan na- khoda yang pertama kali mendapat tanah ini. Pada masa purbakala Tanah New-Foundland sudah didatangi orang bangsa Noorwegen. Pulau itu dinamakannya Heluland, artinya Tanah berbatu, karena didapatnya bahwa pantai berbatu adanya. Pierre menghiburkan hatinya, karena bersangka, bahwa tiada antara lama lagi Tanah Perancis-Baru akan terbit dari dalam ombak-ombak laut.

Kapitan-kapitan bermusyawarat, lalu memutus akan menujukan haluan ke sebelah utara. Menurut pikiran Cartier—Denis setuju dengan pikirannya—bahwa selat yang menujui Tanah Cathay ada di sebelah utara. Sampai kini cuaca terang, tetapi sekarang berubahlah cuaca. Sementara beberapa hari lamanya pelayaran di- usik karena kaboot lebat-lebat, sehingga kapitan kedua orang harus bersungguh-sungguh, supaya kapalnya ti- ada tercerai daripada kapal temannya. Pada akhirnya me- nyingsinglah kaboot, tetapi sekarang laut ditutup habis belaka dengan air beku. Tatkala sampai pada daerah yang letaknya lebih jauh di sebelah utara, maka kelihatana- lah gunung-gunung air beku. Orang isi kapal men- jadi kurang senang serta mulai merungut; rupa-ru- panya hendak durhaka, katanya: ta‘ suka tercepit dalam gunung-gunung air beku, serta segan mati kelaparan atau kedinginan. Menurut kata kapitan, bahwa tentu akan mendapat tanah yang subur serta mengandung ba- rang tambang yang berharga; masakan tanah sedemikian boleh didapat di sini, yaitu dalam daerah yang rupa-ru- panya ta’ pernah didatangi orang manusia! Baiklah— menurut tampa kelasi-kelasi—mengubah haluan juga, menuju kembali ke sebelah selatan.

Dengan demikian kapitan Cartier dan kapitan Denis terpaksa menurut kehendak orang isi kapal: haluan diubahkan, kapal ditujukan arah ke sebelah barat-daya. Tat-kala tiada kelihatan lagi gunung air beku, maka berubah juga perasaan hati kelasi, orang senang hati betul. Itulah suatu hal yang menyenangkan hati kapitan Cartier.

Pada permulaan bulan Yuni kapal-kapal telah sampai pada sebuah teluk yang lebar. Menurut perhitungan kapitan Cartier tanah “Terre Neuve” bertempat pada sisi timur teluk ini. Nyatalah tanah itu kebetulan sebuah pulau; sampai kini disangkakannya tanah ini berhubungan dengan daratan besar. Jadi pengiranya sama dengan pengira Columbus; ialah juga menyangkakan, bahwa tanah yang didapatnya itulah tanah yang berhubungan dengan daratan besar, ketika baru sampai pada sebuah pulau besar yang letknya diteluk Mexico.

Pelayaran ini dapat menyenangkan hati orang: di sinilah selat yang menuju ke-Tanah Cathay dan Tanah Hindia. Di sini langit selalu biru warnanya. Iklim juga terlalu amat baik; udara tercampur dengan bau kembang-kembang dan tumbuh-tumbuhan. Sepanjang segenap siang Pierre menenung arah ke laut, memandangi daerah, kalau-kalau kelihatan pantai tanah atau pulau. Demikian juga laku kelisa-kelasi. Sekali-sekali kedingaran suara orang kelasi yang berteriak, katanya: “tanah!”, yaitu akan menipu temannya cara bergurausenda. Tetapi sebenarnya yang kelihatan hanya langit dan air.

Pada akhirnya teriak itu setuju kebenarannya: keli hatanlah pantai tanah, seakan-akan terbit dari dalam laut (itulah pantai jazirah Brunswick-Baru). Tiada antara lama lagi kapal-kapal berlabuh dalam sebuah teluk. Se-bab hawa di daerah itu terlalu amat panas, maka teluk itu dinamakannya: Teluk Hawa Panas.

Tatkala turun di darat, nyatalah inilah daerah yang amat permai: sekeliling teluk terdirilah bukit-bukit yang di-tumbuhi habis belaka. Orang sudah mengerti, bahwa tanah ini bukan Tanah Cathay; pantai berbentang arah keebe'ah barat, jadi nyata ta‘ ada selat di situ, yang me-nuju kebarat. Orang isi kapal ingin meminta keterangan tentang keadaan tanah ini, akan tetapi diminta kepada si-apa; tanah ini rupa-rupanya ta’ dikediami orang, karena sesungguhnyia tiada kelihatan orang atau bekasnya, ta‘ ada bekas petentaraan atau kemah-kemah.

Kata kapitan Cartier: “Nyatalah kami berlayar terlalu jauh arah ke sebelah selatan; selat yang dimaksudkan itu letaknya arah ke sebelah utara.”

Kapitan Denis mengaru, katanya: “Tetapi...... bagai mana perasaan orang isi kapal? Embuhkah mereka akan menujukan haluan kembali arah ke sebelah utara? Ka-mu sudah tahu, bahwa kelasi-kelasi kuatir sangat akan daerah yang hawanya dingin itu serta akan laut yang ada gunung air bekul!”

“O, maksud kita bukan akan berlayar begitu jauh, ta‘ perlu berlayar ke laut yang berair beku itu, di situ tentu ta’ kedapatan tanah yang dicari. Sekarang orang isi kapal senang; jikalau kami menjandikan kepadanya, bahwa hanya melayari laut inilah, tentu mereka tiada memberatkan. Katakanlah kiranya kepada orang kebawa-hanmu atas nama‘ kita, bahwa orang yang pertama melihat ”tanah“, ialah memperoleh hadiah uang duapeluh ”kroon“; perjanjian itu kita malumkan juga pada kelasi-kelasi yang menumpang kapal kita.”

Pierre menyertai perbicaraan ini. Tatkala didengarnya perjanjian kapitan Cartier, ia menyatakan:

“Hadiah itu...... kitalah tuntutkan, kita harap memperoleh hadiah itu.” “......Pengharapan kita, ...... supaya bukan kamu yang memperoleh hadiah itu; karena sesungguhnya dalam hal itu kamu ta‘ bersahabat lagi dengan orang isi kapal,” kata Cartier.

“O, uang itu kita tiada perduli, yang kita tuntut, yaitu kesenangan hati, karena mula-mula melihat ”tanah“, supaya kita mendahului orang kelasi semua.”

Kelasi-kelasi sudah tetapi hati, karena mengetahui, bahwa kapal tiada menuju pula ke-Lautan Beku. Mereka menerima ikhtiar akan berlayar kembali arah ke sebelah utara. Niscaya ta‘ ada keberantan: kapal sudah melalui telook Sint-Laurens (hal itu tiada malum kepadanya!); laut pada daerah ini teduh saja. Ta’ ada ingin ribut, ta‘ bersua dengan batu karang, yang me maksakan orang isi kapal berlayar dengan ati-ati. Langit selalu terang, tiada berawan, baik sementara malam, baik sementara siang hari. Sebetulnya pelayaran itu suatu pelayaran kesukaan juga, niscaya ta’ ada keberatan akan melayari bagian laut ini sekali lagi.

Sebab peri keadaan hati kelasi-kelasi senang saja, Pierre beroleh idin dari Cartier akan beramah-ramahan dengan orang isi kapal. Pierre bersahabat benar dengan kebanyan kan orang isi kapal; berlaku manis kepada sekalian orang, ia selalu suka memberi pertolongan kalau diminta oleh orang kelasi. Ia menuruti dia pada pekerjaannya, sebab ia suka menjadi pandai juga dalam segala rupa ker ja, yang dilakukan di kapal. Pierre tiada menjadi marah, kalau ia ditegur oleh kelasi—Walaupun teguran itu dinyatakan dengan memakai kata-kata kasar—Pierre bersahabat keras dengan stirman satu. Ialah orang yang telah berumur; sudah banyak kali ia berlayar dari negeri Bre tagne dan Normandie ke tanah yang jauh. Sekali peristiwa stirman satu menurut perkelahian dengan perompak. Dalam perkelahian itu ia kehilangan mata sebelah. Ia seorang pendiam saja; hanya sekali-sekali dinyatakan beberapa patah kata. Cara berkatanya kasar benar. Meskipun demikian, ialah orang yang berperangai baik. Sebenarnyalah ialah orang yang hatinya lemah-lembut...... itulah sebab cara berkatanya kasar sekali. Kalau-kalau pembaca heran bahwa “Mata Sebelah”—itulah nama panggilannya—bersifat demikian. Ia malu akan menyatakan sifatnya, yaitu lemah-lembut hati, sebab itu perasaannya disembunyikan saja dengan...... memakai kata-kata yang kasar! Perbuatannya sedemikian, supaya orang bersangka, bahwa ialah orang kasar juga! Akan tetapi akalnya itu tiada sah juga: orang yang sudah lama beramah-ramahan dengan dia, sudah mengerti betul, baha wa keperusannya itu...... pura-pura saja! ...... Demikianlah Pierre juga malum tentang perangai Mata Sebelah.

Jadi Pierre tiada dijerakan karena cara berkata Mata Sebelah; lama-lama antara orang laut yang tua itu dan Pierre terjadilah suatu persahabatan yang teguh benar. Hampir setiap-tiap malam Pierre menyertai stirman satu tatkala bekerja dijembatan kapal. Pierre diajarinya nama nama bintang yang tampak pada langit, kata stirman: “Stirman yang pandai tiada percaya saja akan pedoman, perlulah ia dapat menentockan haluan kapal dengan mengamat-amati bintang-bintang, sebab itu haruslah ia meriksai tempatnya dan jaraknya, supaya senentiasa diketahuinyia tempatnya di langit.”

Adakalanya ia menceriterakan kepada Pierre untung malangnya pada pelayarannya seraya keadaan tanah dan negeri yang sudah dilihatnya. Dan lagi diriwayatnya dari hal angin ribut, yang menyimpangkan kapalnya dari tuju- nyya; dan lagi dari hal kematian angin, sehingga kapal terpaksa tinggal tetap pada tempatnya di laut. Ia menyertai karam kapal beberapa kali, nyaris ia mati. Ia terpaksa tu- run di sebuah pulau yang ta’ ada penduduknya. Disi- tu ia hampir mati kelaparan. Kapalnya acapkali diserang perompak, dengan susah payah penyerangan itu dapat dilawan. Tetapi semua hal tersebut itu kurang ber- bahaya jika terbanding dengan “durhaka” di kapal! Tat- kala kapal bersua dengan angin ribut atau didatangi perompak, orang isi kapal sekutu benar. Sesungguh- nya orang isi kapal tahu bahwa keselematan bergantung kepada persetujuannya, orang tolong-menolong, sebab diketahui hanya dengan demikian kehiduppanya dapat dipeliharakan. Akan tetapi hal berlainan sekali, jika ada durhaka di kapal. Orang yang masih bersahabat kelamarin, menjadi musuh, hendak membunuh temannya.“

“Adakah kamu sudah menyertai durhaka di kapal, stir- man?” tanya Pierre.

“Sekali juga, budak! Kita berdoa supaya bahaya se- demikian dijauhkan oleh Allah daripada pelayaran se- karang…… Pada masa itu kita menumpang kapal Portu- gis yang berlayar ke negeri Smyrna. Kebanyakan kelasi itu- lah orang bangsa Portugis. Sebetulnya orang baik ju- ga, akan tetapi…… sayanglah orang itu terlalu amat su- ka minum anggur…… Pada persangkaan kapitan kapal, kekuranganlah orang isi kapal, sebab itu kapal disuruh- nya singgah di pelabuhan Cadix. Di situ disewanya kelasi empat orang Itulah orang bangsa Ispanyol; hai, tabiatnya terlalu amat buruk! Pierre! tentu kamu belum tahu, bahwa hanya tiga, empat orang yang bepekerti buruk dapat memburukkan kelakuan’ orang isi kapal lain se- muanya.

Mulamula,—tatkala berlayar di Laut Tengah—tiada kurang apa-apa. Cuaca baik, angin baik juga, jadi pekerjaan orang isi kapal mudah juga. Beberapa kali kita sudah memperhatikan, bahwa seorang bangsa Ispanyol berkata cara berbisik-bisik dengan kelasi-kelasi bangsa Portugis: ketika kita mendekati orang itu, maka orang Ispanyol menjauhi tempatnya, jawabnya beginilah: “Ah, Stirman, jangan kuatir. Seperti pikiranmu, kita percaya juga, bahwa orang Ispanyol itulah bangsat benar, itu sudah nyata pada mukanya! Orang itu kita terima sebagai kelasi di kapal ini, karena kepandaian ny dan keradinannya. Akan tetapi orang itu tiada berkuasa akan kelasi lain. Seperti kamu ketahui juga, orang Ispanyol dan orang Portugis tiada bersahabat-sahabatan, cara bergaulnya sebagai anjing dengan kucing. Orang kedua jenis bangsa itu tiada suka mendurhaka cara bese kutu.”

Benar juga seperti kata stirman; sesungguhnya ke dua bangsa itu seolah-olah orang setangga, akan tetapi tiada berkasih-kasihan. Tentu orang bangsa Ispanyol keempat orang tiada dapat menyampaikan maksudnya akan membawa hati kelasi-kelasi lain; jika kiranya orang Portugis itu ta‘ berhawa-nafsu yang kurang baik, yaitu mereka terlalu suka minum anggur. Sayanglah! Kapal kami bermuat amat banyak anggur. Pada hari yang keempat sejak berangkat, yaitu sesudah melalui Selat Gibraltar—kapal bertempat di laut di antara pulau Malta dan pulau Candia—kejadianlah claka: keempat orang bangsat bangsa Ispanyol itu dapat mengasut orang Portugis beberapa orang, akan membuka pipa yang berisi anggur, lalu mereka minum anggur sesukanya. Ten tu kelakuannya itu ada hasilnya: orang kelasi embuh akan suatu niat yang jahat sekali; jika kiranya tiada mabuk, tentu kelasi mesti ngeri akan niat itu. Niatnya, yaitu merampas kapal beserta muatannya, lalu menjul barang mutan itu. Kemudian orang hendak berlayar berkeliling laut akan merompak. Ta’ dapat tiada kapitan beserta kita—yang memang hendak menegahkan niat itu—harus dibunuh dulu. Setelah bermusyawarat, orang jahat mengambil tuil dan pisau, lalu menempuh geladak kapal. Untunglah! Kebetulan pada sa’at itu kapitan ada di geladak. Itu sebab maksudnya—membunuh kapitan sedang bertempat di dalam kamarnya—tiada ada jadi. Kami—orang yang melawan orang durhaka itu—banyaknya berlebih seorang daripada orang durhaka. Kelasi tiga orang yang tiada menyertai orang Portu gis yang meminum anggur itu—ta’ suka menurut durhaka; demikian juga tukang kayu. Ialah orang yang amat kuat badan, dapat melawan dua orang lain. Kami mundur arah kesusuh hadapan kapal, kami bermaksud melawan seboleh-bolehnya. Kami sudah mengetahui bahwa maksud orang durhaka itu akan membunuh kapitan beserta semua orang yang menjadi sekutunya habis belaka. Itu memang perlu, supaya orang durhaka sendiri terpelihara adanya! Hai, sudah nyata bahwa kami akan kalah, karena orang durhaka mempunyai senjata seberapa berguna, sedang kami tiada bersenjata sama sekali, sebab tiba-tiba diserangnya. Ada dua orang pihak kami sudah kena luka, ta’ dapat melawan lagi. Tetapi kepala tumpuk durhaka dicampakkan oleh tukang kayu...... Tiba-tiba ada seorang pihak kami berteriak, katanaya: “Ada layar!” Sebenarnyalah ada kapal besar sedang mendekati kapal kami. Karena ramai berkelahi, ta’ ada orang yang melihat kapal itu lebih dulu. Kelasi kelasi yang menyerang kami itu bingung sedikit, rupa rupanya bimbang hati, ta’ berani meneruskan perkela-hian. Sa’at itu kami gunakan akan memberi semboyan itu; akan minta pertolongan. Sesungguhnya semboyan sedemikian boleh berbahaya juga: kalau kalau kapal yang mendekat itu...... kapal perompak, karena sesungguhnya di Laut Tengah banyaklah berkerumun kapal perompak pada masa itu. Orang durhaka mencoba menyerang kami sekali lagi; sudah menjadi nyata kepadanya, bahwa mereka dapat berlepas daripada hukumannya hanya, jika kapal kami dapat dirampas serta kapitan dan teman nya dibenuh dulu. Adapun kami semua bertambah gagah berani karena berharap akan pertolongan kapal yang mendekat. Sesa’at kemudian adalah dua sekuci ber labuh disisi kapal kami; ada kira-kira tigapuluh orang sedang memanjati rimban kapal, sampai kepada geladak. Dengan ringkas kapitan menyatakan kepada orang itu, apa yang kejadian di kapal. Tiada antara lama orang dur haka semua dicapai serta dikebat. Yang melawan lagi, ialah ketiga orang bangsa Ispanyol. Tetapi yang seorang berluka hebat-hebat, matilah ia!

Adapun kapal yang memberi pertolongan kepada kami itulah sebuah kapal perang bangsa Genua, yang disuruh oleh Gobernemen Genua akan melawan perompak.

Orang durhaka dipindahkan ke kapal Genua; kedua orang Ispanyol yang masih hidup itu dihukum mati digantung, lalu digantungkan pada andang=andang kapal. Dengan syafa’at kapitan kami, orang Portugis yang dur haka itu diampuni. Pengira kita orang Portugis itu kesempatan akan memikirkan kelakuannya yang buruk itu serta akan menyesalnya.

Kemudian kapal singgah di pelabuhan Syracuse hendak menyewa kelasi baru; tentulah kapitan tiada berburu buru akan menyewa kelasi ini kali! Orang yang disewa nya itu diperiksai dulu dengan saksama, sebelum di terima dikapalnya.

“Bagaimana, stirman! Betapa peri kapitan dapat menen-tukan, bahwa orang diterima sebagai kelasi itukah orang baik atau bangsatkah.”

“Tentu pemeriksaan itu sukar sekali, akan tetapi jialau kiranya diterima sekalian yang menyerahkan diri, ta‘ dapat tiada ada orang yang jahat beberapa orang diantaranya.”

“Adapun kapitan Cartier juga menerima sekalian orang yang suka menurut pelayaran ini, stirman; per-lulah juga ia berbuat demikian. Kalau kiranya ta‘ demikian lakunya, betapa peri mendapat kelasi sekian banyak? ...... Jadi...... barangkali antara kelasi-kelasi kapal kapal ini ada juga orang yang kurang kepercayaan!”

Pada mendengar kata Pierre sedemikian bunyinya Mata Sebelah tiada menyahut dulu; sesudah sejurus katanya: dalam dirinya: “Hai, anak ini berpikirkkan hal itu juga, mengapakah itu diperhatikannya!” Ia berjalan bolak-balik di geladak kapal beberapa detik lamanya se-dang berpikirkkan daya akan berlepas daripada hal bertong kol hatinya. Tiba-tiba berhentilah ia, lalu berdiri diha-dapan Pierre, tangannya diletakkannya pada bahu Pierre, katanya:

“Coba dengar, Pierre, nyatalah kamu budak yang cer-dik, kamaelah orang yang menjadi tempat berpetaruhkan barang yang penting! ...... Barangkali baik juga, bahwa kamu tahu akan kebenarannya: ...benarlah! antara orang isi kapal ada orang yang kurang kepercayaan, ada orang yang harus dipandang bangsat. Akan tetapi—seperti telah kita perkatakan tadi—adakalanya orang jahat beberapa orang juga boleh menurutkan orang isi kapal semua. Upamanya sudah ada...... di kapal ini, ...... tatkala kapal berlayar melalui laut yang bergeenung air beku! Kalau-kalau kamu belum memperhatikan itu, karena tinggal di dalam kamar saja. Sekarang pelayaran berselamat, ...... sebab ta‘ bersua dengan alangan lagi, tetapi pada persangaan kita, orang pengasut mengadakan gaduh kembali, tatkala bersua pula dengan alangan. Untung juga, kita mengenal orang pengasut itu, dengan demikian kita kesempatan membuang mata kepadanya...... Hai, budak, sekarang patutlah kamu masuk tidur, supaya boleh bangun esuk betul akan meninjau karang.“

“Bagaimana, stirman, bolehkah jadi, besok kami dapat melihat tanah?” tanya Pierre.

“Boleh jadi juga,” jawab orang laut; “jika kiranya kamu hendak menuntut untung melihat tanah pertama-pertama mendahului orang isi kapal lain semua, perlulah kamu meninjau dengan mata celek betul. Itu sebab baiklah kamu masuk tidur sekarang!”

Pierre membernarkan perintah stirman; tiada antara lama ia tidur lelap, seakan-akan diayunkan oleh gerakan kapal yang bergoyang sedikit diombak-ombak.

¹ Ikan yang menyerupai ikan “kakap” di-Tanah Hindia.


FASAL YANG KELIMA

“TANAH!” ORANG ISI KAPAL DITERIMA CARA MANIS OLEH ORANG BUMI PUTERA. SIAPA DIDAPAT DI SITU? “ACA NADA.”

Sebab kapitan menjanjikan hadiah duapuluh kroon, maka orang isi kapal semuanya merebut akan melihat tanah pertama-pertama. Pierre juga bersungguh-bung-guh akan melihat tanah mendahului orang lain, akan tetapi hadiah uang itu tiada diperdulinya. Yang dituntutnya, yaitu kehormatannya, bahwa ialah “pendapat tanah baru”: Tanah Perancis-Baru. Sebetulnya kehormatan itu yang dituntutnya, tiada diperolehnya. Pada tanggal 20 Yuni—ketika petang—kedengaranlah teriak yang asal dari kapal Hermine (itulah nama kapal yang di bawah perintah kapitan Denis), bunyinya: Tanah! Dengan sebentar juga kabar yang baik itu diberitahukan kepada orang isi kapal lain dengan semboyan. Tatkala orang mendengar kabar yang baik itu, semuanya melihat arah ke pihak barat, hatinya terlalu senang.

Kelasi-kelasi berteriak, katanya: “Tanah! Tanah!” Lalu tempatnya itu ditunjuk seorang kepada seorang; rupa-rupanya tanah terbit dari dalam laut. Pierre berdiri disisi sehabatnya, stirman satu, maka ia terlalu keciwa. Kata Pierre: “Hai, orang semua berteriak, katanya: ”Tanah! Tanah!“ serta menunjuk suatu tempat di laut, akan tetapi seberapa dicobanya, kitalah tiada dapat melihat tanah; yang terlihat itu hanya air dan langit.“

“Hai, sudah nyata, kami akan kalah!”

“Memang begitu, budak!” jawab Mata Sebelah seraya tertawa; “matamu belum boleh disebut mata orang laut, penglihatmu belum tajam sebagai penglihat orang laut, yang sudah lama berlayar di laut. Supaya matamu menjadi halus sedemikian, perlulah kamu berlayar da hulu sementara banyak tahun...... Coba lihat betul! Tinjau betul! Tiada kamu lihat suatu garis hitam di atas muka laut? ...... Jangan lihat arah ke sana, lihat lah arah kepada cucur kapal Hermine.”

Pierre berbuat begitu, ...... pada akhirnya dilihatnya juga garis yang menceraikan air dan tanah. Tiada antara lama ia dapat membedakan pantai tanah, mula-mula pada sepiahk juga, kemudian pada kedua pihak kapal: kapal kapal sedang masuk dalam sebuah teluk, yaitu Teluk Gaspe. Makin lama, makin kapal mendekati pantai, yang membatasi suatu daerah yang permai. Sementara seju rus lagi kapal maju, lalu kapitan-kapitan menyuruh membuang sauh, berlabuh pada sauatu tempat yang tiada jauh dari pantai.

Tatkala sampai diteluk “Hawa Panas”, ta‘ kelihatan orang negeri, tetapi di pantai ini kelihatan orang bumi putera banyak-banyak sedang menyatakan ajabnya pada melihat kapal besar mendatangi negerinya. Tentu banyak nya—baik orang laki-laki, baik orang perempuan serta anak-anak—lebih dari seratus orang. Apatah maksud orang itu? Kehendak hatinya baik atau berniatkah menyrang orang isi kapal?

Itulah pertanyaan yang terbit pada pikiran kapitan Cartier dan kapitan Denis. Kapitan Cartier memberi semboyan kepada kapitan Denis, bunyinya, supaya kapitan Hermine datang kemari di kapal Marguerite akan bermusyawarat Budak Kapal. bersama-sama dengan opsir-opsir kapal.

Kata kapitan Denis: “Pada pengira kita, boleh juga turun di darat; jika kiranya orang bumi putera berniat buruk, tentu mereka membawa senjata; tetapi ta’ ada orang yang bersenjata diantaranya.”

“Kalau-kalau senjatanya disembunyikannya.”

“Boleh jadi, tetapi agaknya tiada begitu; pakaianinya sedikit saja, ta’ boleh menyembunyikan senjata dibawhnya; kalau-kalau hanya ada pisau. Akan tetapi ada suatu hal menyatakan, bahwa orang bumi putera tiada berniat menyerang kami, yaitu mereka disertai orang perempuan dan anak-anak. Jika kiranya maksudnya menyerang kami, tentu anak-anak dan orang perempuan tiada diturutkan.”

“Kalau-kalau…… ada muslihat,” kata seorang opsir. “Ingatlah, itulah orang liar, tiada kepercayaan. Pada pi kirin kita baiklah orang itu dikejutkan saja, biarlah meriam-meriam kapal dipasang; dalam hal itu orang mengira, bahwa kami membawa guruh dan halilintar, tentu tiada berani melawan.”

Tentu opsir itu sudah mendengar cerita betapa hasil das meriam kepada orang biadab tatkala orang Ispanyol datang di Bumi-Baru pertama kali. Ketika orang negeri mendengar bunyi meriam, orang jatuh ke tanah, bukan karena kena peluru, melainkan karena kekejutan dan dahsyat.

Tetapi Cartier tiada setuju dengan niat itu, katanya:

“Tiada patut mengejutkan orang; selaininya kami hares berlaku, supaya orang percaya akan kami. Kalau-kalau mereka boleh berjasa kepada kami, mereka dapat memberi pertolongan, ketika kami mencari tanah haru. Kalau bukan orang itukah, siapakah boleh memberi keterangan tentang keadaan daerah ini? Jika orang itu kami kejutkan, nistaya ia lari keudik serta tiada suka bertemu lagi dengan kami; boleh jadi juga mereka pergi mengumpul orang negeri semua akan menyerang kami. Kita setuju dengan pikiran kapitan Denis: orang bumi putera ini berkehendak baik, biarlah kami mene mui dia seraya menyatakan kami berkehendak baik juga!“

Sekarang stirman memberi perintah akan menurunkan sekuci-sekuci, lalu dalam sekuci itu dimuatkan benda kecik-mengecik, yang hendak dihadiahkan kepada orang negeri. Daripada cerita orang bangsa Ispanyol ter- nyatalah, bahwa orang biadab birahi akan kaca cermin, manik-manik, kaca yang berwarna dan benda serupa itu. Ada seorang serdadu dapat menukarkan manik-manik perbuatan kaca dengan emas beberapa gumpal. Mes- ki pun demikian dimuatkan juga bedil beberapa bilah, itu supaya orang isi kapal dapat memeliharakan diri pada hal orang negeri berniat buruk.

Setelah kapitan menyatakan orang kelasi mana yang disuruh turun ke darat serta akan mendayung sekuci, Pierre menanya kepadanya, kalau dia boleh menurut juga.

Jawabnya memberi keciwa benar kepada Pierre. Cartier segan menyerahkan budak kepada bahaya, kalau ta‘ perlu sekali; sesungguhnya pada pikiran Cartier orang negeri berkehendak baik, tetapi...... barangkali halnya lain. Sudah banyak kali kejadian orang bangsa Eropa di- serang dengan sekongyong-konyong oleh orang liar; kalau kejadian sekarang ini, kalau-kalau Pierre juga akan mati, sebab ia masih terlalu muda akan melawan orang biadab itu. Kapitan memutus, bahwa Pierre harus tinggal di kapal; jika telah nyata, bahwa orang bumi putera kepercayaan, maka baru Pierre beroleh idin akan turun ke darat menurut kelasi.

Tetapi permintaan Pierre disokong oleh stirman. Kata Mata Sebelah:

“Kapitan, pada perasaan kita, baiklah budak ini menurut saja; begitu juga budak kapal dua orang dari kapal Hermine. Orang liar yang sekarang diam di pantai membawa juga budaknya; nyatalah orang berkehendak baik saja. Jika dilihatnya kamu menurutkan budak budak muda juga, tentu mereka percaya juga akan kami.”

Kapitan Cartier berpikir sejurus lamanya, lalu di berinya idin, Pierre boleh menurut juga.

Dari tiaptiap kapal diturunkan orang sekuci dua buah masing-masing. Dalam pada itu pun orang negeri yang berhim pun di pantai itu makin bertambah banyak.

Adapun banyaknya orang laki-laki yang balig barang-kali lebih dari seratus orang. Jika kiranya berkehendak buruk, dengan mudah juga orang liar dapat mengalang orang isi kapal akan turun ke darat. Nyata sekali mereka berkehendak baik. Lain daripada itu orang bersorak-sorak, tatkala orang kapal telah dekat pantai, seolah-olah menyatakan kesenangan karena kedatangan orang asing.

Yang menginjak tanah baru itu mula-mula, ialah kapitan Cartier. Ia sudah memberi perintah kepada orang-nya, supaya peti-peti yang berisi hadiah-hadiah ditaruh di pantai, akan tetapi bedil-bedil ditinggalkan dulu di-dalam sekuci, supaya orang negeri jangan menaruh syak. Lain dari itu dinasihatkannya kepada orang, supaya jangan menjauhi sekuci, selama belum tentu ba-gaimana kehendak orang negeri.

Cartier mengamat-amati tumpuk orang yang berhim pun di pantai, maksudnya hendak memeriksai, kalau orang itu disertai seorang penghulunya. Hai, keheranan tiada terkira! Yang dilihatnya...... orang laki-laki dua orang, yang berpakaian sebagai orang bumi putera, tetapi sebenarnya orang kulit putih. Cartier menemui kedua orang putih; mereka berlutut di hadapan kakinya, lalu tangannya dianjurkannya kepada kapitan Cartier, rupa rupanya hendak memohon kepada Cartier; katanya: “Aca nadal” Apa maksud orang itu dengan menyatakan kedua patah kata itu, yang artinya: Tiada ada apa-apa? Ada yang mengatakan, bahwa orang hendak menyatakan: Dalam tanah ini tiada terdapat barang berharga, ta’ ada emas atau logam lain yang berharga. Maksood sekalian orang yang berlayar didaeerah—diantaranya lebih-lebih orang bangsa Ispanyol—ini, akan mendapat emas dan perak. Jika didapatnya emas dan perak ta’ ada di situ, orang mengatakan: “Aca nada.”

Tetapi ada orang lain mengatakan, bahwa arti kedua patah kata itu lain sekali, yaitu bahwa artinya: “Tiada ada salah!” Kami tiada bersalah! Pada fasal yang berikut akan diceriterakan hikayat tentang orang putih dua orang ini; dalam ceriteranya menjadi nyata bahwa keterangan akhir tersebut itu ada beralasan benar. Ingatlah: orang putih itu punya isyarat sebagai orang yang minta ma’af!

Biarlah demikian! Kapitan Cartier tiada mengerti bahasa Ispanyol, arti kata itu diterangkannya cara sendiri: pada pikiraninya orang putih menyatakan kepada Cartier, bahwa tanah yang baru diinjaknya itulah Tanah Canada.¹ Demikianlah juga nama Tanah itu sejak didapat oleh Kapitan Cartier.

Seorang dari kedua orang putih mengerti bahasa Pe rancis sedikit, sebab itu ia diangkat sebagai juru bahasa antara orang bangsa Indiaan dan orang Perancis yang bekerja di kapal. Mula-mula Cartier meminta ke-terangan siapakah penghulu orang bangsa Indiaan ini. Ialah seorang laki-laki yang amat kuat badan, umurnya kira-kira empatpuluh tahun, gelarnya: “Burung Bangau Besar”: alamatnya, yaitu bulu burung bangau, yang dipakainya akan menghiasi rambutnya.

Selainnya ia tiada berbeda daripada orang pengiringnya, yang dikepalainya. Sebagai alamat persahabatan, maka ia menji'lat tangan kapitan Cartier; teladan itu diturut juga oleh kepala-kepala lain yang kurang tinggi pang-katnya. Cara memberi tanda persahabatan demikian itu ta‘ disukai oleh kapitan, akan tetapi ia berkata dalam hati: “biarlah di negeri asing kita menurut adat asing saja juga.”

Lain dari itu dipikirkannya: kalau kiranya cara ber-hormat itu ditolaknya, barangkali orang negeri dinistakan- nya; Cartier segan berbuat demikian. Kemudian Cartier menyuruh membagikan hadiah-hadiah; baik orang balig, baik orang muda menyatakan kesenangannya karena ber-oleh benda kecik-mengecik; lakunya sebagai anak ke-cil. Orang laki-laki menghiasi diri dengan manik-manik dan tembekar-tembekar, dipakaikannya pada rambutnya. Mula-mula orang perempuan terkejut pada melihat gambarnya di dalam kaca cermin, akan tetapi pada akhirnya senang juga karena mendapat hadiah sekian bagus!

Lalu “Burung Bangau Besar” menyilakan “Saudaranya dari negeri Asing” akan mengiring dia kedusunnya. Sampai kini orang Perancis ta‘ melihat rumah orang, bekasnya pun tiada dapat! Dusun orang bumi putera tersembunyi di belakang sebuah bukit yang ditumbuhi lebat-lebat dengan pohon kayu dan belukar. Ta’ ada ja'an yang menuju ke sana, hanya sana-sini ada lorong kecil, yang hampir tiada tampak. Orang bangsa Indiaan biasa—sejak mudanya—menjelanak dan menyelinap dibelukar-belukar, mereka tertawa saja karena melihat, bahwa orang putih hanya dengan susah payah dapat mengikut dia. Tatkala tiba di kampung, orang putih—kecoiali kedua orang Ispanyol—berluka dan lagi ba- junya koyak-koyak.

Orang yang ketinggalan di dusun—yaitu orang perempuan dan anak-anak beberapa orang—diberi juga beberapa benda kecik-mengecik. Lalu penghulu kaum memberi perintah, supaya menyediakan makanan untuk jamunya; maksuednya hendak memperjamukan orang putih. Mula-mula dipasang orang api besar, di atasnya digantungkan daging perburuan akan dipanggang. Orang isi kapal berkenan akan daging kerbo dan rusa. Usah- kan roti diberi sejenis kowe, yang disediakan oleh orang perempuan daripada tepung Belanda dan madu. Di- daerah mengalirlah sebuah sungai kecil, jadi ta’ ke- kurangan juga air minum. Orang Indiaan belum biasa minum minuman keras; baru kemudian hari—setelah sudah lama bercampur dengan orang bangsa kulit pu- tih—orang mengetahui rasa “air api”. Sayanglah banyak- lah orang bangsa Indiaan dibinasakan karena minum “air api”!

Setelah selesai perjamuan, orang laki-laki duduk di hadapan kemahnya (“wigwam” namanya); nyatalah per- cakapan itu tiada terlalu lancar! Dalam pada itu pun Pierre, disertai kedua budak dari kapal Hermine, pergi melihat keadaan kampung orang Indiaan. Rumah-rumah amat bersaja, ada hanya dua jalan yang lurus; di- tengah-tengah kampung terdapatlah tanah lapang, di situ- lah api masih berunggun.

Perbuatan rumah-rumah beginilah: Pancang beberapa tangkai ditanamkan ke dalam tanah sehingga membatasi suatu lengkung (kecil atau besar menurut kecil besar rumah). Pada ujung sebelah atas pancang itu dipertemukan semuanya, lalu diikat. Pada rangka itu dipakaikan kulit binatang; adakalanya sebelah dalam kulit itu diliputi merang dulu. Kulit itu digambari berjenisjenis gambaran, yang ajaib rupanya, warnanya merah atau hitam. Budak-budak memperhatikan, bahwa yang menggambar itulah bukan orang pandai dalam pe- kerjaan itu. Gambar-gambar itu mengiaskan binatang, sebagai rusa, banteng dan eland² rupunya. Pada se- buah kemah tergambarlah seekor burung, yang lehernya dan kakinya amat panjang, agaknya gambar itu mengias- kan burung bangau. Kemah itu tempat tinggal peng- hulu, yang bergelar “Burung Bangau Besar”. Hai, kepala kaum itu terlalu sombong akan gambarnya itu, lebih-lebih karena gambar itu dilockiskan pada kemahnya oleh orang yang mulia: yaitu oleh orang hobatan; ialah juga berjawatan “tabib” dalam kampung.

Budak-budak ingin masuk ke dalam kemah, hendak melihat betapa peri peraturan di sebelah dalam, akan tetapi mereka tiada berani masuk. Kalau kiranya dapat masuk, memang keciwa adanya, karena ta’ ada barang ajaib di- dalam “wigwam”: Tempat tidurnya daripada daun- daun kering, tertetup dengan kulit kering dan lagi perkakas dapur yang bersaja-saja. Yang menjadi per- hiasan terutuma untuk orang laki-laki, itulah sen- jatanya: busur dan panah dan pedang (kapak); adaka- lanya kemah sebelah dalam diviasi dengan kepala-kepala binatang yang dibenuh pada pemburuannya: banteng, eland, rusa dan beruang. Cakar-cakar beruang dicocok pada tali diperbuat kalung untuk orang laki-laki. Itulah alamat kemenangan. “Burung Bangau Besar” memakai kalung sedemikian rupa yang amat panjang, bergan-tunglah sampai kepada lututnya.

Budak-budak pulang kepada temannya; sementara menuju ke sana, mereka diikut oleh anjing-anjing yang menyalak; hanya dengan susah payah budak-budak dapat melawan anjing itu, supaya jangan digigitnya. Hai, orang pulang kebetulan pada waktu yang baik: Cartier sudah memutus akan kembali ke kapal. Orang putih bermohon kepada orang bangsa Indiaan, yang disilakan oleh Cartier akan melihat kapal-kapal keesuken harinya. Persilaan itu diterimanya juga. Orang bangsa Ispanyol dua orang itu juga disilakan akan menurut orang Indiaan. Perlu juga bahwa orang Ispanyol seorang menurut juga, sebab ialah mengerti bahasa orang Indiaan, jadi ia harus hadir supaya berlaku sebagai juru behasa. Kapitan Cartier berharap, supaya men- dapat keterangan tentang tanah baru ini dengan perantaaran orang Ispanyol. Dan lagi kalau-kalau orang Ispanyol itu boleh memberi keterangan tentang jalan yang menuju ke-Tanah Cathay. Cartier terus berharap akan me-nyampaikan Tanah Cathay yang—menurut pemandanganya—mengandung banyak harta benda.

¹ Ada orang yang faham dalam perkara ini, maka nama Canada itu bukan begitu kejadian, melainkan nama Canada asal daripada kata bahasa orang bumi putera di daerah itu. Pada bahasa itu kata itu artinya: “perkumpulan kemah-kemah”.

² Eland, itulah binatang yang masuk bilangan “binatang yang memamah biak. Rupanya sebagai sapi, bertanduk sebagai rusa. Sifatnya: dapat berlari cepat.


FASAL YANG KEENAM

CIRITERA OTANG ISPANYOL.

Perkunjungan orang Indiaan ke kapal kapal itu menyenangkan hati orang Indiaan dan juga menyenangkan orang isi kapal. Penghulupenghulo bangsa Indiaan terlalu heran karena melihat keadaan kapal. Akan tetapi mereka segan menyatakan ajabnya, itulah berlawanan dengan adatnya. Hanya sekali-sekali orang Indiaan tiada dapat menahan keheranannya, tetapi hanya dinyatakan dengan sepatah kata yang ta‘ berarti. Orang memalumkan kepada kapitan Cartier bahwa ada sebuah sungai besar; tentu amat-amat panjangnya, karena belum pernah dilihatnya hulunya. Sesungguhnya mereka sendiri belum pernah melihat sungai besar itu; hanya diperolehnya kabar tentang sungai itu daripada orang bangsa Indiaan lain, yang melayari sungai itu. Menurut kabar itu, maka sungai itu bermuara di dalam “Air Besar” (laut).

Hai! Inilah kabar yang menyenangkan hati kapitan Cartier amat sangat: suatu sungai, yang bermuara di laut, yang hulunya ta‘ tampak! Tentu itu tiada lain daripada...... jalan di laut yang diharapkannya? Tatkala orang Indiaan bersedia akan pulang, kapitan Cartier membagikan hadiah-hadiah kepadanya berlimpah-limpahan banyaknya. Orang Indiaan terlalu amat senang ketika pulang kepada kemahnya.

Adapun orang bangsa Ispanyol itu datang di kapal hampir setiap tiap hari sekali. Mereka belajar bahasa Perancis: tiada antara lama mereka pandai bertutur bahasa Perancis dengan kelasi-kelasi. Ta‘ dapat tiada kelasi-kelasi amat ingin tahu akan ceritera orang Ispanyol: betapa peri orang sampai ke tanah ini; keinginan orang isi kapal Hermine dan kapal Marguerite bertambah-tambah lagi karena sudah diperhatikannya, bahwa orang Ispanyol itulah barangkali berjawatan orang laut juega. Pada socatu hari stirman Mata Sebelah bertanya:

“Sahabat-sahabat! Coba terangkan kepada kami, bagai mana jadinya, bahwa kamu—orang bangsa kulit pu-tih—hidup didaearah ini beramah-ramahan dengan orang bangsa kulit merah! Rupa-rupanya kamu ”membuang sauh“ di sini, hendak ”berlabuh“ lama-lama di sini. Tingkah lakumu sebagai orang Indiaan; kalau kiranya ta‘ berkulit putih, ta’ dapat tiada orang mengira bahwa kamu lahir di sini sebagai orang Indiaan juga.”

Demi didengarnya kata Stirman Mata Sebelah, maka kedua orang Ispanyol berbisik-bisik seorang kepada se-orang, kalau-kalau bermusyawarat dengan memakai bahasa asal...... Kemudian orang Ispanyol, yang terlebih pandai memakai bahasa Perancis, mulai berkata, demikianlah katanya:

“Stirman! Sudah lama kami memantikan pertanyaan itu? Tadi kami sudah bermusyawarat, serta memutus, hendak menyatakan hal kami panjang-lebar kepadamu. Adapun kedatangan kami di sini ada disertai suatu cerita yang panjang; jika kamu sudah mendengar cerita kami itu, kamu kesempatan mengira, kalau kami punya kelakocan baik atau tidak.”

Lalu orang Ispanyol diam sejurus lamanya; stirman Mata Sebelah bersungut-sungut katanya dalam hatinya:

“Hai, permulaan cerita ini mengherankan kita. Kalau kalau permulaan cerita sedemikian rupa...... ada maksudnya! Barangkali akan menyembunyikan kelakuan yang kurang baik. Mengapa orang itu tiada mulai berceritera dengan memakai kata-kata yang terus-terang? ...... Biarlah! ...... Nanti barangkali menjadi nyata kalau yang akan diceriterakan itu...... benar atau tidak!”

Lalu orang Ispanyol mulai menceriterakan untung malangnyia:

Ada empat tahun lalu; kami berangkat dari pelabuhan Corunna dengan kapal layar “Infant”. Menurut keterangan kapitan kapal, bahwa kapal akan menuju ke Tanah Hispanolia (Pulau Cuba). Sebenarnyalah kami menuju arah ke sebelah barat juga sementara beberapa hari lamanya. Akan tetapi pada hari yang kedelapan—ketika pagi-pagi—kami memperhatikan, bahwa haluan kapal sudah diubahkan; haluan kapal ditujukan arah ke sebelah utara. Bila stirman kami tanyai apa sebabnya haluan kapal diubahkan, maka dijawabnya, bahwa kapal sudah menyimpang duloar arah ke sebelah selatan, karena terhanyut harus laut. Maksudnya akan menuju ke sebelah utara hanya sementara hari itu juga, kemu-dian hendak mengubah haluan pula arah ke sebelah barat. Seperti dikatakan diperbuat juga, akan tetapi pada malam yang berikut haluan diubahkan pula ke sebelah utara, sehingga kami memperhatikan bahwa kapal menuju kebarat pula. Permainan itu diteruskan saja oleh stirman, nyatalah kami menaruh syak. Itu sebabnya kami menanyakan keterangan kepada kapitan. Laku kapitan berlainan dengan laku stirman: dengan terus terang dimalumkannya, bahwa ialah memberi perintah akan mengubah haluan, yaitu arah ke sebelah utara. Mengapa demikian? Hai, kapitan kapal menyangkakan bahwa ialah

Colombus nomor dua! Yang dipikirkannya, yaitu hanya mendapat tanah baru! Katanya, bahwa bumi ini bulat rupanya, jadi kalau terus berlayar ke sebelah barat, tentu sampailah di-tanah-tanah yang letaknya di sebelah timur benua Eropa. Itulah tanah-tanah yang mengandung banyak barang yang berharga tinggi! Pada keterangan itu ditambahna lagi keterangan lain, bunyinya: Tetapi jalan ke sebelah barat itu ada beralangan, pada akhirnya sampai kepada suatu daratan besar, sehingga pelayaran arah kebarat tiada dapat diteruskan. Itulah sebab kapal terpaksa mengubah haluan arah keutara. Di situlah ada sebuah selat, tempatnya belum diketahui orang; ialah bermaksud mencari selat itu. Jika kiranya kami berhati serta tekun hati, tentulah akan mendapat selat itu. Ialah berniat mengantar kami kepada suatu tanah yang berharta: di situ ada emas dan batu intan, boleh dipungut begitu-begitu juga.

Harta benda yang didapat orang di-Tanah Ispanyol-Baru (Tanah Mexico) hanya sedikit saja kalau terbanding dengan harta benda yang akan didapat di tanah-tanah yang hendak dicarinya itu. Ta‘ dapat tiada orang isi kapal kami—budak-budak kapal tiada terkecuari—semu-anya akan pulang ke negerinya sebagai orang kaya benar serta dihormati amat sangat oleh pembesar negeri. Adapun kehormatan itu kami tiada perduli, tetapi yang kami in-dahkan lebih-lebih, yaitu harta benda yang diperkatakan oleh kapitan. Ringkasnya: hati kami terbawa, kami setu-ju akan menurut pelayaran ke sebelah utara. Hanya beberapa orang antara orang isi kapal menggeleng kepala pada mendengar percakapan kapitan, mereka mendawa, supaya kapitan membenarkan katanya mula-mula, yaitu hendak berlayar kebarat juga, menujui tanah Hispanolia. Akan tetapi kata-kata beberapa orang itu tiada diindahkan orang.

Mula mula pelayaran berselamat, tiada bersua dengan barang alangan. Barang dua, tiga kali kelihatanlah tanah, tetapi kapitan segan singgah pada tanah itu. Maksudnya menyampaikan selekas-lekasnya tanah yang letaknya dise- belah utara itu, di situlah hendak dicarinyia selat yang menuju ke-Tanah-Tanah berharta benda. Pada akhirnya sampai pada daerah yang hawanya dingin, makin hari, makin bertambah juga dinginnya. Hai, itu tiada disu- kai orang isi kapal, tetapi kapitan beserta stirman tiada berhenti menyatakan, bahwa hawa dingin itu sementara waktu saja, tiada antara lama kembali pula kepada daerah yang hawanya sederhana. Pelayaran diteruskan, tentu hati kami tiada tetap. Ketakutan orang isi kapal bertambah lagi, tatkala kapal didatangi angin ribut, yang bertiup dari pihak barat-daya, sehingga kapal berlayar dengan terlalu deras, lajunya sebagai peluru yang dilemparkan dari dalam meriam. Seperti telah diperkatakan, orang isi kapal tiada senang hati, berlainan dengan itu kapitan dan stirman senang sekali. Kedua orang itu setuju pikiran: makin kapal mendekati daerah utara, makin bertambah juga senang hatinya, karena sesung- guhnya mereka bersangka dengan demikian lekaslah sam- pai atau dekat pada tanah yang ditujocinyia...... Sayang- lah! Tentu mereka tiada mengetahui, bahwa usahkan mendekati Tanah bersejahtera, menyampaikan Tanah yang di bawah perintah Maut. Kalau kiranya itu diketahuinyia, tentu haluan kapal diubahkan pula. Dalam hal itu cetaka-cetaka banyak ditegahkannya.

Pada akhirnya angin teduh pula, kapal dapat dike- mudikan kembali. Kami berharap supaya jangan bersua pula dengan alangan serta bahwa penelahan kapitan sah juga, yaitu bahwa hawa akan berubah menjadi seder-hana pula.

Pada suatu malam orang isi kapal dikejutkan karena kapal kena banting. Orang semua bergopoh-gopoh menujui geladak kapal. Ada apa? Adakah kapal terse-randung kepada batu karang? Ataukah kapal menyampai paikan pantai terlalu dekat? Ataukah kapal terantuk kepada kapal lain yang berlayar juga didaeerah ini? Tetapi pertanyan-pertanyan itu tiada dapat dijawab juga disebabkan gelap gulita; kalau orang menganjurkan tangannya, maka tangan sendiri tiada tampak lagi! Tiada antara lama malumlah bahwa kapal tiada tersandung pada batu karang, kapal masih beranjak. Kapal masih kena banting beberapa kali berturut-turut, tetapi he-batnya tiada sebagai mula-mula; sekarang kedengaran juga bunyi menderum dan gemercik, asal daripada suatu benda yang mengenai rimban kapal. Lama-lama fajar terbit, terangnya masih lemah, tetapi pada terang yang sedikit itu kelihatanlah, bahwa kapal kami dikelilingi pada segala pihaknya dengan air beku. Jadi keping air beku itulah menyebabkan banting yang mengejutkan kami. Sekalian orang isi kapal bersumpah, sebagai angin ribut rupanya cara bersumpah itu!

Katanya: “Yang mengadakan celaka, ialah kapitan dan stirman, mengapakah menuju keutara?”

Ada beberapa orang kelasi bergopoh-gopoh menuju ke tempat kemudi, hendak mengubahkan haluan kapal, sia-sia saja! Ta‘ berguna juga, karena kapal dikelilingi air beku saja, sayup mata memandang.

Setelah kemarahan kelasi-kelasi sudah teduh sedikit, kapitan berkata kepada orang isi kapal. Tentu kami ditipunya, akan tetapi kami semua mengaku, bahwa kapitan, ialah orang gagah berani benar. Sungguhpun kapitan diamangi oleh orang isi kapal semua, akan tetapi hatinya tetap juga; dibiarkannyalah bahwa orang memaki dia dengan ta‘ melawan. Katanya: Niscaya kita dapat menelah kejadian ini, tetapi pada pemandangan kita claka ini tiada mengapa. Heranlah! kamu dicabarkan oleh air beku sedikit? Coba, percayalah kita: dalam dua atau tiga hari kapal sampai kembali pada laut lapang, serta...... tiada jauh lagi dari tempat yang kita tujukan. Janganlah cabar hatimu, jangan hentikan pekerjaaamu akan meneruskan pelayaran, ingatlah: dalam dua hari kapal mesti sampai kepada tempat dimaksudkan itu! Kalau kiranya cabar hati juga, sekalian usahamu yang dilakukan sampai kini, sia-sia juga. Jika terus berusaha, ta’ dapat tiada kamu beroleh harta benda, yang menantikan kamu di daerah itu! Coba, berlaku cara cerdik juga, tahanlah lagi sementara beberapa hari.“

Pada pengira kita, kapitan tiada syak tentang ikhtiar yang dinyatakannya tadi. Sampai juaga maksudnya: kami punya hati dibawanyal Kami semoce setuju hendak meneruskan pelayaran lagi, menujui arah yang ditu- jukannya. Tetapi pada petang hari kapal dikelilingi air beku serapat-rapatnya, sehingga ta‘ dapat keluar menu- ju ke laut lapang. Kapal diam saja, tiada beranjak lagi, sedikit pun tidak! Di sebelah kelihatanlah gunung air beku, rupanya sebagai gunung batu. Keping-keping air beku bersusun-susun serta bertimbun-timbunan dirimban kapal, yang mengadakan bunyi menderung dan gemercik. Kami kuatir, kalau=kalau kapal pecah=belah; sebab itu kami memutus akan meninggalkan kapal juga. Ada beberapa orang kelasi mengatakan, bahwa dilihatnya tanah disisi kanan kapal; sebab itu kami menuju arah ke situ, setelah orang mengambil bekal=bekal masing-masing. Sebenarnyalah sampai pada pantai yang rendah. Akan tetapi alangkah buruk rupa tanah itu! Tanah gundul juga: ta‘ ada pohon kayu, ta’ ada belukar, ta‘ ada rumput! Lain dari itu ta’ ada tempat yang berguna akan berlindung di situ akan menahan dingin hawa. Kami—orang kelasi-kelasi—berjalan berkeliling di situ sementara beberapa jam lamanya, lalu pulang ke kapal. Kapitan dan stirman masih ada di kapal, mereka tiada menurut kami ke pantai. Sesampainya di kapal kami tiada diterimanya cara manis, karena kami meninggalkan kapal tiada dengan meminta idinnya dulu. Kami ditegurnya serta disindirinya, itulah menyebabkan bahwa orang isi kapal—yang kebanyakannya memang sudah menaruh benci kepada opsir-opsir kapal—bertambah marah lagi. Sementara malam yang berikut kami—ke-lasi-kelasi—bermusyawarat lalu memutus beginilah: kapal harus pulang, mau-ta‘ mau kapitan dan stirman harus dipaksakan juga. Sementara seminggu lamanya kami punya hal ta’ berubah: kapal tetap terkepung di-dalam air beku. Kemudian turunlah angin ribut; pada persangkaan kami bahwa kapal akan dipecahkan habis belaka serta bahwa kami mampus dan terkubur dalam laut, jika kiranya kapal tiada dapat ditujukan kepada pantai. Tetapi yang kejadian itu berlainan sekali dengan persangkaan kami itu! Kapal mulai beranjak sedikit, keping-keping air beku cerai-berai, dihanyutkan oleh angin ribut; hail kami senang hati benar, karena melihat bahwa kapal sudah sampai pada laut lapang. Sekarang kapitan memberi perintah akan meneruskan pelayaran. Te-tapi orang isi kapal semua enggan membenarkan perintah itu, tiada suka menurut perintahnya lagi.

Orang isi kapal menda'wa akan pulang saja, cara berkatanya makin menjadi keras. Tiba-tiba kapitan ber-teriak, katanya:

“Pulang? ...... Kita lebih suka menujukan kapal Budak Kapal. kembali kepada gunung air beku, supaya kapal pecah belah, daripada pulang. Hai, kamu sekalian kita na makan: “penakut!”

Kemudian terjadilah gaduh besar. Kelasi-kelasi menyerang kapitan, rupa-rupanya hendak membunuh dia dan stirman satu. Tetapi ada orang kelasi berantara pada sa’at yang berguna, katanya:

“Biarlah kedua orang itu mencari selat yang menuju ke tanah baru sendiri diri juga!” Ikhtiar itu stuju dengan pemandangan orang isi kapal lain, kata nya: “Coba, suruhlah kapitan dan stirman menumpang sekuci sebuah!” Lalu seperempat jam, sekuci kecil mengundak diombak-ombak laut. Yang dibawanya hanya perbekalan seberapa berguna untuk beberapa hari. Pes merintahan di kapal sekarang diserahkan kepada serang, lalu kapal berlengkap akan berlayar kembali. Sampai pe tang hari—di daerah itu malam turun kira-kira pukul tiga pada musim itu—sekuci masih tampak; tat kala sudah gelap sedikit, ta’ kelihatan lagi.“

“Apa lagi?” tanya stirman Mata Sebelah kepada orang Ispanyol. Tetapi orang Ispanyol berisyarat “entah!”, lalu disambungnya lagi katanya:

“Tiada pernah kita peroleh kabar tentang sekuci serta dari kedua orang penumpangnyia; pada pengira kita, ter tenggelam adanya. Karena pada hari yang berikut turun pula angin ribut, yang makin lama, makin bertambah hebat. Kapal kami punya terserandung, sehingga bocor.

Sejak ketika itu terjadilah perselisihan di antara orang isi kapal, karena sesungguhnya mupakatmya tiada baik juga. Separuh orang mencerut perintahnya. Karena mem perhatikan, bahwa kapal bocor, diperintah oleh serang akan menurunkan sekuci-sekuci di laut. Orang, yang menga ku dia sebagai kapitan, membenarkan perintahnya, akan tetapi mereka terlalu lalai, sehingga sekuci yang terbesar, kemasukan air, lalu tertenggelam. Yang masih tinggal, yaitu sebuah sekuci yang dapat menumpangkan hanya duabelas orang; maka sekuci itu ditumpangi limabelas orang. Lain dari itu orang isi kapal membawa terlalu banyak perbekalan, sehingga sekuci hampir tertenggelam juga. Nyatalah sekuci tiada dapat dilayarkan pada laut lapang, ta’ dapat tiada mesti kena celaka. Yang tinggal lagi di kapal, yaitu sepeluh orang; kami kuatir pada memandang kapal kecil yang seakan-akan berkelahi dengan ombak besar. Tatkala jauhnya dari kapal kira-kira seratus elo, orang penumpang sekuci terpaksa membu ang perbekalannya, yaitu sebagian yang terbesar. Akal itu ta’ beruna: tiada antara lama sekuci ditempuh oleh ombak yang tinggi, sekuci tersejam, orangnya tercem plung ke dalam laut, tentu mati lemas.

Kami bersungguh-sugguh akan memeliharakan kapal, tempat kami tumpangi itu. Sementara dua hari dua malam lamanya, kami berkelahi dengan angin dan air laut; sesudah itu kami terlalu amat lelah, sehingga tiada dapat bekerja lagi. Kami tiada perduli lagi akan nasib yang agakna mendatangi kami. Kami juga tiada mengetahui tempat kapal pada ketika itu ada di mana, tetapi ada tanda-tanda yang menyatakan, bahwa tem pat kapal tiada jauh dari tanah. Persangkaan itu sah juga. Pada malam hari itu juga kapal terserandung kepada pantai yang berbatu-batu. Kapal pecah-belah sama sekali. Dengan susah payah yang ta’ terkira kita menyapai tiang kapal. Ada teman kita tiga orang yang berlaku demikian juga. Sayanglah dua orang daripada ketiganya itu pingsan lalu tertenggelam. Hanya sahabat kita—orang Ispanyol menunjuk temannya yang menyerat dia—masih cukup kuat akan mengebat badannya pada keranjang tiang.

Kita masih teringat, bahwa kami diguncangkan serta dimemar; rupa-rupanya masa itu kita rebah pingsan: tiada teringat lagi betapa peri kami dapat menyampaikan pantai. Tatkala sedar—keesukan harinya—kami terhambar pada kulit binatang, tempat kami dikelilingi orang bangsa Indiaan, kira-kira duapeluh orang banyaknya. Ialah orang Indiaan dari kaum ini, mereka baru pu lang dari perjalanan memburu kerbo hutan...... Kami beruntung benar; kebetulan orang Indiaan menuju kemari ke pantai sedang mengejar binatang perburocean itu. Ta’ dapat tiada tiang kapal terbuang ke pantai ka rena suatu ombak tinggi. Ketika air surut, tiang ka pal tinggal tetap pada tempatnya di pantai. Orang bumi putera menaruh kasihan kepada kami: kami diberinya makan dan minum, luka di badan kami diperiksainya serta dibebat. Demi dilihatnya, bahwa kami tiada dapat berjalan kaki, maka disediakannya sejenis usungan daripada kulit binatang, yang dikebatnya pada lembingnya. Kami diterima di dalam dusunnya, di situ kami dipeli harakannya sebaik-baiknya. Ketika sudah sembuh benar, kami diterima sebagai orang negeri di dalam kaumnya: kami menurut adatnya, serta berpakaian seperti dia. Cara kehidupan orang Indiaan kami turut juga. Demikian lah kejadian bahwa kamu melihat sekarang di hadapan mu: orang bangsa Indiaan yang kulitnya putih.“

Begitulah cerita orang Ispanyol; tentu didengarkan oleh orang semua dengan hirau benar. Kebanyakan kelasi mengaku, bahwa kelakuan orang isi kapal “Infant” itu baik, karena menyuruh kapitannya dan stirmannya menumpang sekuci, sehingga terserah kepada nasibnya. Pengakuannya itu dinyatakannya dengan senyaring-nyaring nya.

Kata stirman Mata Sebelah kepada Pierre: “Pierre, sekarang sudah menjadi nyata kepadamu, bagaimana nasib kami, jikalau kiranya kami bersua dengan malang!”…… Untunglalh! Dengan mendengar cerita ini, kami seakan-akan dinasihatkan!“


FASAL YANG KETUJUH

ORANG MENDAPAT SUNGAI HOKHELAGA. ORANG ISI KAPAL SEGAN TINGGAL DI DAERAH ITU SEMENTARA MUSIM DINGIN. KEMBALI KEPADA TELUK GASPE. APA SEBABNYA KAPITAN CARTIER BERLAYAR KEMBALI.

Kapal-kapal Marguerite dan Hermine berlabuh dite luk Gaspe lama-lama. Orang Eropa beramah-ramahan dengan orang kulit merah, ta‘ kejadian perselisihan. Orang isi kapal beroleh daging seberapa berguna daripada orang Indiaan. Di daerah ada tanah perburuan ba nyak: di situlah diburunya banteng, di dalam hutan rim ba diburunya rusa dan eland. Kapitan Cartier membayar barang itu dengan mata uang kecil. Orang liar tiada ta hu memakai uang; mata uang itu dipergunakannya akan menghiasi dirinya. Mata uang itu dilubangi, lalu dico cok pada benang, dijadikan kalung dan pergelangan tangan. Perhiasan itu dipergunakan baik oleh orang pe rempuan, baik oleh orang laki-laki.

Adapun orang bumi putera yang mengediami tepi sungai Sint-Laurens baik pada bagian Tanah Canada, baik pada bagian Tanah Amerika-Utara, masuk bilangan kaum Iroka; disebut juga oleh orang Iroka sendiri: Terbilang kaum Lima Bangsa. Kaum itu ditakuti oleh sekalian kaum lain di daerah itu. Yang terbilang juga Kaum Lima Bangsa ialah kaum Mohawk dan kaum

Cayugas. Maka mereka selalu berseteru dengan bangsa Huron.

Seperti orang bangsa lain semua, orang Iroka itu dapat dibedakan karena kekuatan badan; acapkali orang Perancis kesempatan menentukan bahwa bangsa ini bersifat kuat badan, cepat dan lentik. Mereka berani menyelang binatang yang besar dan kuat, yang kedapatan dija-lannya; di tanah datar orang Indiaan memburu banteng, di dalam hutan diserangnya eland dan beruang. Kecepatan berjalan kaki terlalu mengherani orang Perancis; mereka berani merebut dengan binatang liar, yang dike-jarnya. Orang Indiaan itu pandai sekali berenang, seperti ikan lajunya di dalam air, dan lagi pandai menyelam; beranilah menyelam di sungai sampai kepada dasarnya. Penglihat terlalu tajam, itulah nyata tatkala berburu, kegerakan binatang perburuan yang hidup di hutan rimba itu dapat ditentokannya. Demikian pula alat pendengarnya, terlalu tajam juga; sekalian bunyi yang di-dengarnya dapat dibedakan juga. Kepandaian-kepandai-an itu diperolehnya karena perusahaan sementara kehidupan di dalam hutan rimba. Mereka selamanya terpaksa berusaha tatkala berperang dengan kaum Indiaan lain atau tatkala berburu. Mereka tiada suka bekerja, itulah dipandangnya “hina-dina” juga; diserahkan saja kepada orang perempuan; ialah disuruhnya mengerjakan berjenisjenis pekerjaan yang amat berat. Orang laki-laki tiada menurut pekerjaan itu, melainkan kerja perempuan dijenangi saja.

Serdadu bangsa Indiaan menghiasi rambutnya—yang pandak serta kaku—dengan bulu burung. Warna mukanya sebagai tembaga, dahinya bermiring ke belakang, tulang pipi menaju dimceka, air mukanya sebagai orang yang selalu berduka-cica. Tingkah lakunya teratur be-tul, sebagai orang yang senantiasa tetap hati. Akan tetapi sementara berkanjar, hilanglah ketetapan hati; seramanya disertai tempik-sorak serta rupa-rupa isyarat cara galak betul, badannya dilingkarkannya cara ajaib benar. Demi didengar oleh orang bangsa kulit putih sorak-sorak itu, seakan-akan terkejut, seolah-olah darahnya diuratnya menjadi beku! Tatkala menari atau serama, maka nyatalah perangainya, sebagai binatang liar lakunya. Tatkala orang Indiaan sudah lama bercampur dengan orang bangsa Perancis, orang Indiaan suka minum minuman keras (“air api”). Setelah orang Indiaan sudah minum “air api”, galaknya bertambah hebat lagi. Ada beberapa bangsa Indiaan yang perangainya diburukkan sama sekali disebabkan kebiasaan baru, yaitu minum minuman ke-ras.

Tetapi hadiah itu (“air api”) tiada dibawa oleh orang Perancis yang menumpang kapal-kapal Hermine dan Mar-guerite. Itu berunga juga: orang Indiaan dan orang Perancis beramah-ramahan, ta‘ kejadian perselisihan.

Kedua orang Ispanyol berjasa sekali kepada orang isi kapal. Orang Indiaan belajar juga beberapa patan kata bahasa Perancis. Tetapi orang kulit putih tiada dapat belajar bahasa Indiaan, sukar sekali akan meniru bunyi-bunyi bahasa Indiaan. Mula-mula Cartier ber-harap, supaya beroleh rupa-rupa keterangan dari orang Indiaan, akan tetapi pengharapannya itu tiada sah! Mereka tiada tahu arah pelayaran, supaya sampai ke“-”Tanah tem-pat matahari terbit“; tiada pernah mereka mendengar kabar tentang tanah sedemikian! Pada hadis orang Indiaan ada cerita menyatakan, bahwa ada orang bangsa kulit putih, yang datang di negerinya—pada masa purbakala—: asal orang asing itu dari tanah yang tercerai dengan tanahnya sendiri oleh salju dan air beku. Orang Indiaan yang mengediami kampung “dekat” sudah meriwayat kepadanya, bahwa ada sungai besar, yang tiada berpenghabisan. Mula-mula kapitan Cartier mengira bahwa sungai yang dimaksudkan orang Indiaan itulah sebuah selat. Akan tetapi pada akhirnya kapitan Cartier mengerti bahwa itulah sebenarnya sebuah sungai, yang hulunya amat amat jauh ke sebelah udik. Orang Indiaan menamakan sungi itu Hokhelaga.

Yang diceriterakannya dari sungai itu, menerbitkan hirau kapitan Cartier: inginlah ia memeriksai sungai Hokhelaga serta tanah sekellilingi yang dialiri oleh sungai itu. Itu sebabnya kapitan menyeruh membongkar sauh, berputuslah ia menujukan haluan arah ke pihak utara, karena di situlah—menurut keterangan orang Indiaan—terdapatlah muara sungai besar itu. Orang Ispanyol disuruh oleh kapitan Cartier memberi tahu kepada penghulu kaum, bahwa maksudnya hendak pulang kemari diteluik ini serta meminta, supaya orang Indiaan mengempulkan daging dan jagung, yaitu perbekalan untuk kapal-kapalnya, tatkala pulang kemari. Sebelum berangkat, ia bermohon kepada penghulu serta mengambil tanahnya dengan melakukan upacara, untuk Raja Tanah Perancis sebagai milik kerajaan Perancis. Akan alamatnya didirikannya suatu tiang besar yang diberi kayu melintang. Pada kayu itu dipasanganya alamat kerajaan Perancis. Di bawahnya ditulisinya dengan cat huruf-huruf besar, beginilah: “Vive le roi de France” (Hiduplah Raja Tamah Perancis.) Kemu-dian layar dinaikkkan; kapal berlayar ke pihak utara.

Kata kapitan kepada Pierre: “Nah, Pierre, adakah kamu bersesal karena kapal meninggalkan teluk? Cara kehiduapan amat senang sementara berlabuh di situ, bukan?”

Sebenarnyalah, cara kehiduapan di antara orang Indiaan itulah boleh disebut “amat menyenangkan hatinya!” Ia bersama-sama dengan budak-budak dari kapal Hermine hampir selamanya tinggal di darat. Mereka bersahabat dengan anak-anak bangsa Indiaan. Anak itu mengajarakan kepadanya cara memakai busur dan panah; Pierre dan temannya menurut anak Indiaan ke hutan, di situ mereka memburu burung-burung; sekali-sekali juga rusa-rusa yang diburunya.

Di kapal Hermine ada seorang budak—bernama Marc.—Ia tiada berbaik dengan kelasi-kelasi dikapalnya. Kata kelasi-kelasi itu, bahwa Marc ialah orang pemalas; beberapa kali dinyatakan kehendaknya akan mengobati “penyakit pemalas” itu dengan memakai daya-upaya tiada manis. Marc terlalu senang beramah-ramahan dengan orang Indiaan, diikhtiarnya kepada temannya akan “ta’ pulang ke kapal serta menjadi orang Indiaan sejati jual!” Akan tetapi kedua orang lain tiada setuju dengan ikhtiar nyia itu, Walaupun mereka juga amat senang hati karena bercampur dengan orang Indiaan.

Jawab Pierre: “Ia sungguh, kapitan, cara kehidopean senang juga. Akan tetapi kita lebih suka berkembara di laut daripada berkembara di dalam hutan-rimba…… Tanah mana dicari sekarang?”

“Tiada tahu, budak: patutlah itu diserahkan kepada Allah juga…… Sebenarnyalalah, Pierre, kami belum mendapat tanah baru sampai kini!”

“Hai, belum mendapat tanah baru?” tanya Pierre yang terlalu heran…… “Bagaimana? Kami tiada mendapat Tanah Canada?”

“Kita kuatir…… tidak! Pada pengira kati, yang kami dapat itu…… pantai yang sudah didapat dulu oleh orang bangsa Venetie, bernama Cabot, yang sampai di sini pada tahun 1497.”

“Hai, ... Cabot! ... Selalu... Cabot! ... Mengapa orang itu tiada menyerahkan sebagian kepada kami?” “Jangan bersusah hati, Pierre! Bumi ini terlalu amat luas, masih ada banyak daerah yang belum didatangi orang; banyaklah tanah-tanah yang belum diketahui orang. Lain dari itu...... sesungguhnya Cabot sudah sampai pada pantai ini, akan tetapi tanahnya belum diperiksainya. Kamilah akan memeriksai daerah ini, lalu diambil sebagai milik untuk Raja kami. Jikalau kami berlaku demikian, tentu yang harus disebut ”pendapatnya“ kami lah, bukan? Tentu bukan orang Venetie tersebut tadi itu! Niscaya kami lebih berhak akan mengambil tanah baru itu.” Demi didengarnya perkataan kapitan sedemikian bu- nyinya, maka Pierre diam saja sejurus lamanya. Lalu Pierre bertanya pula, katanya: “Kapitan! Barang siapa hendak memeriksakan suata tanah baru, niscaya perlu ia masuk ke dalam tanah itu sejauh-jauhnya, tentu jauh dari pantai, bukan?” “Tentu juga, budak! Setelah kami mendapat sungai besar, yang dinamakan Hokhelaga oleh orang bumi putera itu, kapal hendak berlayar terus menujui hulunya.” “Dengan kapal besar?” “O, itu ta’ boleh; ingatlah: kami mempunyai seku-ci-sekuci. Dengan menumpang sekuci kecil itu kami dapat mengudik jauh-jauh.” “Pelayaran itu berapa lama?” Pada mendengar pertanyaan itu, kapitan Cartier me-mandang Pierre seraya tertawa. Sesudah sejurus Cartier berkata: “Bagaimana, Pierre, adakah kamu rindu akan...... Bibi Madelon? O, itu baik! ...... Tetapi orang laut jati—memang kamu hendak menjadi orang laut sejati, bu-kan?—Meskipun terkenan akan rumahnya, tiada minta akan pulang ke sana, selama pelayaran belum selesai. Jika kiranya ta’ bersua dengan alangan, lama pelayaran seku- rang-kurangnya setahun; sebelumnya kami tiada dapat melihat kembali Bibi Madelon! Ta’ dapat tiada masih lama betul, budak, tetapi makin juga senang akan bertemu kembali dengan Bibi Madelon.“

Pierre bergopoh-gopoh hendak menjawab, katanya: “Tidak, kapitan! Kita belum rindu akan Sint-Malo. Bukan itu sebabnya kita menanyai kamu tentang lama pelayaran ini. Kalau kiranya bermaksud hendak berlayar jauh keudik, …… kami terpaksa tinggal didaeerah ini sementara musim winter (musim dingin) menantikan musim panas…… itulah suatu hal yang ta’ disukai kelasi.”

“Demi terdengar keterangan Pierre itu, maka kapitan terkejut sedikit, ia bertanya: ”Bagaimana, Pierre, …… be- narkah orang isi kapal ta’ suka begitu? Betapa peri ka- mu mendapat tahu itu?“

“Tatkala orang Ispanyol menceritakan hal ihwlnya, maka terdengar juga kepada kita, apa yang dikatakan oleh orang isi kapal kami.”

“Yang dikatakannya, itu apakah gerangan?”

“Katanya, bahwa orang isi kapal ”Infant“ berlaku baik, tatkala menyuruh kapitannya dan stirmannya turun dari kapal, karena merekalah bersalah: salahnya kapal terke- pung dalam air beku! Orang itu menambahkan lagi: Jika kiranya kapitan kami berkehendak begitu juga, kami meninggalkan dia di sini sendiri diri, sedang kami merampas kapal-kapal, supaya dapat pulang ke-Tanah Perancis! Konon kabar orang Ispanyol itu, hawa di sini terlalu dingin sementara musim winter; tanah ditutupi habis belaka dengan salju, yang tingginya beberapa kaki,

Air sungai becu sama sekali, sampai di dasar, airnya menjadi becu.“

Kabar sedimikian tiada menyenangkan hati kapitan Cartier; Meskipun begitu maksudnyia tiada ditinggalkannya.

Sesudah lalu beberapa hari, sampailah di muara yang amat lebar; itulah muara sungai Hokhelaga (Sint-Laurens). Tiada jauh dari tepi sungai didapat sebuah kampung yang didiami oleh orang bangsa Indiaan. Akan tetapi orang isi kapal tiada diterima di situ secara dengan di kampung yang letaknya diteluk Gaspe. Yang mendiami kampung itu, hanya orang perempuan dan anak-anak, yang amat penakut, agaknya mereka takut karena ke datangan orang asing. Mereka menjauhi diri dari orang asing sedapat-dapatnya. Orang laki-laki semua keluar mengudik akan berburu di situ.

Itu sebabnya Cartier tiada kesempatan akan beroleh keterangan tentang keadaan tanah di daerah ini...... Sebenarnyalah...... Cartier tiada bersesal karena itu...... Dengan demikian ia berdalah akan tinggal di sini; menurut katanya hanya akan menantikan orang Indiaan pulang ke kampungnya. (Sebetulnya: akan tinggal di sini sementara segenap musim winter!)

Rupa tanah di sini sama saja dengan rupa tanah di Teluk Hawa Panas (Teluk Gaspe), banyaklah tumbuh-tumbuhan yang berkembang.

Kedua orang komandan kapal berharap supaya orang isi kapalnya akan berdamai karena melihat daerah sekian permai; kalau-kalau tiada melawan lagi kalau diikhtiarkan kepadanya akan tinggal di sini sementara musim dingin! Cartier bermusyawarat tentang maksudnyia dengan stir-mannya; tatkala bermusyawarat kapitan Cartier tiada menyembunyikan kabar yang didengarnya daripada Pierre.

“Ta‘ dapat tiada yang didengar oleh budak...... benar juga, kapitan!“ jawab stirman. ”Kata-kata sedemikian isinya telah kita dengar beberapa kali, tatkala orang isi kapal bercakap-cakapan. Jika kiranya mereka tiada mengetahui keadaan daerah ini, kalau kalau hendak menu-rut ikhtiar akan tinggal di sini sementara musim dingin. Tetapi mereka beroleh keterangan dari orang Ispanyol serta dari orang bangsa Indiaan, menyatakan bahwa hawa di sini terlalu amat dingin ketika musim winter. Lain dari itu kami sudah mengetahui, bahwa orang isi kapal menakuti gunung air beku. Pada pemandangan kita, orang isi kapal tiada suka tinggal di sini lama-lama; nanti kita menanyai dia tentang hal itu, lalu pendapatan kita nyatakan kepadamu.“

Demikian diperbuat juga oleh stirman: kelasi-kelasi ditanyainya seorang-seorang masing-masing. Jawabnya: ta‘ suka tinggal di sini lama-lama, karena tanah ini ditutupi salju dan air beku sementara beberapa bulan lamanya; lain dari itu; apa gunanya tinggal di sini, karena sesunga guhnya tanah ini tiada berharta. Di Tanah Canada tanah ta’ mengandung emas; jika kiranya orang boleh berharap ada emas di situ, agakna mereka suka tinggal di situ. Karena sesungguhnya “dahaga akan emas” menjadikan orang bersifat sabar serta memberanikan hatinya akan mena derita rupa-rupa siksa dan bahaya.

Kemudian Cartier bermusyawarat lagi dengan kapitan Denis serta dengan opsir-opsir lain yang berbaik dengan kapitan. Semuanya setuju: katanya, sudah nyata sekali kelasi-kelasi segan membenarkan ikhtiar kapitan, jadi: tiada baik memaksakan dia akan tinggal di sini sementara musim dingin. Itu sebab keputusannya, yaitu kembali keteluk Gaspe, lalu pulang ke tanah air saja.

Pada tahun yang akan datang pelayaran boleh diulangkan, asal ada kelasi-kelasi yang lebih kepercayaan. Sesam-painya diteluk Gaspe, orang isi kapal diterima oleh orang Indiaan cara manis sekali. Orang tersemuci, karena memperhatikan, bahwa tiang yang beralamat kerajaan Perancis itu, dihiasi dengan kembang dan buah-buhaan. Pada pikiran orang Indiaan dengan demikian mereka menghormati “Ruh Besar”; alamat yang dicat itu memang asal dari Ruh Besar! Ta‘ dapat tiada orang Ispanyol dua orang tiada suka melawan kepercayaan orang Indiaan, karena sesungguhnya selama orang bumi putera tetap dalam kepercayaannya, alamat itu tiada pernah dibinasakannya.

Kapitan Denis bertanya kepada kapitan Cartier: “Apakah bicaramu; bolehkah orang Ispanyol kedua orang itu kami antar kembali ke-Tanah Eropa. Dalam hal itu mereka dapat menyatakan kebenaran cerita pelayaran kami ini, dengan demikian kami beroleh kesaksian yang berguna tentang kebaikan dan kesuburan tanah; kesaksian itu jauh lebih berharga daripada kami pu nya riwayat. Pada pemandangan kita sukar sekali menyewa orang isi kapal, kalau mendapat tahu, bahwa di daerah ini ta‘ ada emas; tentu orang segan menurut pelayaran kapal kami sekali lagi.” “Benarlal katamul!” jawab Cartier. “Lain dari itu kami seakan-akan terpaksa akan mengan tar orang itu kembali ke tanah airnya, itulah boleh dis ebut: kasih akan sama manusia. Mereka boleh dipan dang seolah-olah orang buangan juga. Heranlah, bahwa orang itu belum minta sendiri akan dipulangkan ke negerinya!” “Kalau-kalau mereka kuatir, bahwa permintaannya se begitu tiada kami kabovelkan!” kata Denis. “Kalau-kalau mereka suka menjadi kelasi di kapal ka mi, dengan demikian ongkos tumpangan dijelasnya de ngan pekerjaannya. Tentu di kapal masih cukup pe- kerjaan untuk kelasi dua orang.“

Kapitan Cartier memanggil Pierre, yang sedang bermain dengan sahabat-sahabatnya: anak-anak Indiaan. Kemudian Pierre disuruhnya mencari orang Ispanyol serta menyilakan orang itu akan datang di kapal Marguerite. Ke- dua orang itu didapat oleh Pierre sedang duduk di- dalam “wigwam”nya sendiri; persilaan yang dinyatakan ke- padanya oleh Pierre diterima dengan sebentar juga. Ka- pitan mengunjuk kepadanya bahwa boleh menumpang kapal supaya pulang ke negeri Sint-Malo; tentu dari si- tu mereka beroleh tumpangan pada kapal lain, yang dapat mengantar dia ke tanah airnya. Pada pikiran kapitan Cartier orang Ispanyol menerima ikhtiar itu dengan suka hati, akan tetapi—heranalh ia karena mereka mengenggankan ikhtiar itu, katanya, bahwa mereka sudah lama beramah- ramahan dengan orang bangsa Indiaan ini, seakan-akan mereka sendiri menjadi orang bangsa Indiaan; cara ke- hidupan ini, di dalam hutan rimba, lebih disukainya daripada cara kehidupan di tanah airnya. Kapitan Cartier terla- lu keciwa karena jawabnya itu. Lalu diterangkannya ke- pada orang Ispanyol apa maksudnya: yaitu membawa saksi yang dapat menyatakan kepada orang Perancis betapa peri hal tanah didaeerah ini. Nasihat orang Ispanyol: mengantarkan orang bangsa Indiaan dua orang ke sana. Yang patut me- nurut pelayaran ke tanah air, ialah “Eland Muda” dan “Kaki Cepat”; yang pertama disebut, ialah anak “Bur- rung Bangau Besar”; yang kedua, ialah anak seorang penghulu juga, tetapi pangkatnya rendah. Kata orang Ispanyol lagi: dengan demikian kamu beroleh sendera dua orang; berguna juga, supaya orang Indiaan te- rus teguh kepada setianya.

Kata Cartier: “Penghulu-penghulu kaum tentu tiada setuju dengan niat itu.“

Akan alamatnya didirikannya suatu tiang.

“Biarlah hal itu diserahkan kepada kami juga,” kata orang Ispanyol. “Perkara ini diikhtiarkan atas namamu kepada penghulu-penghulu kaum Indiaan; kami berani berjanji, bahwa pemuda bangsa Indiaan dua orang itu naik kekapalmu dalam empat, lima hari.”

Setelah berjanji begitu, orang Ispanyol meninggalkan kapal...... mereka tiada pernah paelang ke kapal! Stirman Mata Sebelah mendengar dari Pierre perjanjian mana diikhtiar oleh kapitan kepada orang Ispanyol, serta bahwa mereka enggan menurut. Kata Stirman kepada sahabatnya yang muda:

“Itu nyata juga, tentu kejadian itu dapat kita tegung juga: Jika kiranya orang itu kembali di-Tanah Ispanyol serta dikenal, bahwa ialah bekas kelasi kapal ”Infant“, kalau-kalau dipaksakan akan menceriterakan sekali lagi ”Kebenaran yang sempurna“. Barangkali kesudahan-nya tiada dapat menyenangkan hatinya. Tentu mereka lebih suka tinggal di sini, beramah-ramahan dengan orang Indiaan dan hidup di dalam hutan rimba daripada...... dipenjarakan dalam rumah penjara yang gelap pada salah sebuah negeri di-Tanah Ispanyol!”

Barangkali benar kata Stirman, barangkali benar, bahwa orang Ispanyol lebih suka tinggal di sini, karena terkenan akan cara kehidupan orang Indiaan serta segan berlepas dari cara kehidupan itu, entahlah! Yang menjadi nyata sekali, ...... bahwa mereka berkuasa betul kepada orang Indiaan: itulah nyata dengan hal ini: “Burung Bangau Besar” disertai beberapa penghulu yang pangkatnya rendah datang di kapal Marguerite sesudah empat hari liwat perbicaraan Kapitan Cartier dengan orang Ispanyol. Ketika turun dari kapal, yang ditinggalkannya...... pemuda dua orang: “Eland Muda” dan “Kaki Cepat”, supaya ke Budak Kapal. dua orang pemuda itu menurut pelayaran ke negeri yang didiami oleh orang “bermuka putih”.

Kemudian kapal bersedia akan berangkat; kapitan hendak berangkat dalam dua, tiga hari. Kepada Pierre dan kedua orang budak kapal lain diberi idin akan turun di darat akan bermohon kepada sahabat-sahabatnya, budak-budak bangsa Indiaan. Memang dipesan depadanya akan pulang ke kapal ketika malam sudah turun. Akan tetapi...... tatkala matahari sudah terbenam, ...... budak-budak kapal belum kembali. Orang isi kapal terus meninjau arah ke pantai, kalau ada sekuci mendekati kapal. Sia-sia saja, ta‘ ada sekuci menuju kemari. Kapitan Cartier menjadi bingung; diberinya perintah kepada stirman, supaya turun ke darat diiring oleh kelasi empat orang. Mereka disuruhnya mencari budak-budak. Tiada antara lama orang pulang ke kapal, memberi tahu kepada kapitan, bahwa budak-budak keluear, pergi ke hutan akan berburu di situ bersama-sama dengan beberapa orang pemuda bangsa Indiaan. Menurut persangkaan penghulu, bahwa orang itu barangkali sesat dija'an, lalace kedatangan gelap gulita, sehingga tiada dapat pulang ke rumah. Katanya lagi, bahwa ta’ ada barang sebab kuatir; serdadu bangsa kami acapkali tinggal diluear sementara beberapa bulan lamanya akan berburu atau akan berperang. Budak-budak bangsa Indiaan biasa menurut teladan itu sejak mudanya. Hu tan rimba diketahui benar-benar, tentu pulang kemari dengan selamat, biarlah sesudah matahari terbit dan terbenam enam kali. Besok orang pemuda akan kembali pada “wigwam air” yang besar itu. Meskipun kata-kata nya itu disungguhkan oleh penghulu beberapa kali, tetapi...... budak-budak tiada datang kembali. Itu sebab kapitan Cartier turun ke darat, diiring oleh kelasi-kelasi yang bersenjata lalu menujui kampung orang Indiaan. Mula-mula dicarinya tempat orang Ispanyol... Orang itu...... tiada ada! Menurut keterangan orang Indiaan, mereka keluar akan mencari budak-budak yang hilang. Maksudnya hendak mengantar orang pemuda itu kembali di sini.

Keesukan hari halnya ta‘ berubah: banyaklah orang penduduk kampung keluar juga; menurut kata orang yang tinggal; akan mencari orang yang kehilangan di hutan rimba. Demikianlah terus sementara tiga, empat hari lamanya, pada akhirnya kelasi-kelasi mengabarkan kepada kapitan, bahwa orang kampung semua hilang, di daerahnya ta’ ada orang juga. Maka terbitlah rupa-rupa pikiran kepada Cartier dan temannya: Adakah budak-budak dilarikan oleh penduduk kampung sebagian? Dan adakah orang kampung lari juga, setelah disangkakannya bahwa orang tawanannya itu tiada boleh didapatkan oleh orang isi kapal? Ataukah orang kampung ditempuh oleh kaum yang berseteru dengan dia serta dibenuh. Boleh jadi juga, bahwa pada penyerangan itu budak-budak kapal dibenuh, sehingga orang kampung kuatir, kalau-kalau “orang yang bermu-ka putih” menaruh dendam kepadanya serta berniat membalas kelalaian orang penduduk kampung? Yang tersebut akhir itulah perasaan kedua orang pemuda bangsa Indiaan, yang menumpang kapal Maguerite, tatkala ditanyai tentang hal itu oleh kapitan. Orang isi kapal juga bersangka demikian. Sebab itu mereka merenggek-renggek, supaya kapal berangkat selekas-lekasnya; sementara seminggu lamanya kapal-kapal sudah berlengkap, angin baik, mengapa tiada melaut?

Cartier bertanya dalam diri begitu juga. Putus asa! Tentu budak-budak tiada boleh didapatkan lagi. Meski-pun dimikian, kapitan bimbang hati, tiada mau memberi perintah akan berlayar. Keesukan hari—tatkala fajar baru terbit—pergilah ia ke darat, hendak mencobakan sekali lagi akan mendapatkan budak-budak. Pada akhirnya orang isi kapal kurang senang benar, hendak men-durhaka rupanya. Ada kelasi beberapa orang bersungut-sungut: “baiklah menurut teladan orang Ispanyol, yaitu melayarkan kapal-kapal, tatkala kapitan ada di darat; biarlah ia mencari terus sendiri diri juga.” Kapitan Denis menasihatkan temannya, katanya: “Niscaya kejaran ta’ bo-leh berhasil, jadi ta’ beruna tinggal di sini lagi, makin lama, makin bertambah kemarahaan orang isi kapal.”

Jika upamanya budak-budak bersama-sama dengan sahabatnya pemuda bangsa Indiaan—diserang oleh musuh (agaknya itulah kejadian), nisca mereka tiada kem-bali; jika kiranya dilarikan oleh penduduk kampung sendiri, niscaya orang bumi putera tiada berani kem-bali kemari, selama kapal masih ada di pelabuhan! Baiklah pemeriksaan diulangkan kemudian hari, yaitu pada pelayaran kedua kalinya. Cartier mengaku, bahwa yang disangkakan oleh temannya, ada beralasan juga. Pada akhirnya diberinya perintah akan membongkar sauh, Biarpun dengan sakit hati benar...... Kapal-kapal Marguerite dan Hermine melaut, lalu menujukan haluan arah ke sebelah barat. Pelayaran berselamat, pada awal bulan September sampailah di pelabuhan Sint-Malo.


FASAL YANG KEDELAPAN

MAJELIS ORANG BANGSA INDIAAN. NASIHAT ORANG ISPANYOL. ORANG YANG BERGELAR “LEMBING” BERPIDATU. APA KESUDAHANNYA.

Ketika orang bangsa Ispanyol dua orang, kembali dari kapal Marguerite, mereka terus menujui kemah, tempat tinggal “Burung Bangau Besar”. Dimalumkannya, bahwa penghulu orang putih suka mengantarkan pe muda orang bangsa Indiaan dua orang ke negeri Eropa. Yang dipilihnnya, ialah “Eland Muda” dan “Kati Ce pat”.

Kata-kata orang Ispanyol itu didengarkannya dengan hirau; ia diam saja; pada mukanya tiada ternyata kalau kabar itu makan dalam hatinya. Setelah selesai perkataan orang Ispanyol yang membawa kabar itu, maka “Burung Bangau Besar” menjawab: “Tiada antara lama hari pun malamlah! Patutlah ”Elang“ dan ”Panah“ begopoh-gopoh akan menghimpunkan orang kampung akan bersidang: ketika terang matahari telah ditelan oleh gelap gulita, orang semua harus hadir di dalam hutan!”

“Elang” dan “Panah”—itulah gelar kedua orang bangsa Ispanyol—tunduk, ta‘ bertutur lagi, lalu pergi akan membenarkan perintah penghulu. Tatkala gelap gulita, berhimpunlah orang laki-laki, kira-kira empatpuluh orang banyaknya, pada tanah lapang di dalam hutan, yang biasa dipakai akan bersidang. Sama sekali ta‘ kedengaran suara orang yang berhim pun di situ. Jis ka kiranya ada orang meliwaat tempat bersidang pada jarak beberapa langkah saja, tentu tiada diperhatikannya bahwa ada banyak orang hadir di tempat itu! Orang se mua menantikan ketika penghulu akan berpidatu: ta’ ada orang yang menanyakan apa sebab orang dipanggil akan bersidang. “Burung Bangau Besar” menyatakan be berapa patah kata kepada orang Indiaan yang duduk dekat kepada tempatnya; maka dalam sa‘ at yang ber kut menyalalah api besar yang menerangi hutan. Kemu dian penghulu berdiri, serta mendekati tempat api, su paya orang semua dapat melihat mukanya, katanya (de ngan suara yang nyaring): “Elang sudah beroleh pesanan daripada penghulu orang putih, yang datang kemari dengan ”Wigwam air nya“ dari tanah-tanah yang jauh-jauh. Saudara-saudara, dengarkanlah kiranya kata-katanya.” Sesudah berkata demikian, ia mundur serta duduk kembali pada tempatnya di antara orang Indiaan lain. “Elang” berbangkit sekarang, lalu dimalumkannya isi kabar yang dinyatakannya tadi petang kepada penghulu. Setelah selesai perbicaraannya, pulanglah ia ke tempat nya: orang hadir semua tetap diam saja. Tiba-tiba “Burung Bangau Besar” bertanya: “Adakah ”Elang“ dan ”Lembing“ tahu juga apa se bab orang putih berniat mengantar pemuda dua orang bangsa kami ke tanah asing?”... Orang Ispanyol nomor dua menjawab, katanya: “Ia, sunggokh,” lalu ia mendekati api; “saudara-saudara, dengarkanlah kiranya dengan hirau, hal itu kita ter rangkan. Orang putih itu datang dari tanah besar; yang mengepalai tanah itu, ialah seorang penghulu yang ku-asanya amat besar, serdadu-serdadunya beribu-ribu orang banyaknya. Penghulu yang berkuasa itu menyu-ruh orangnya kemari akan mencari negeri-negeri asing; sepulangnya di tanah, orang itu ditanyai penghulunya, apa yang dilihatnya dan negeri manakah yang dikenjunginya. Lalu mereka menceriterakan hal ihwal tanah yang didiami oleh orang merah serta menunjukkan kepadanya “Eland Muda” dan “Kaki Cepat”, supaya kedua orang bangsa kami itu menyaksikan segala sesuatu yang diceritakannya, benarkah atau tidakkah. Teman-teman muda bangsa kami kesempatan melihat dengan mata sendiri, bahwa penghulu asing itu amat berkuasa, yang memerintahi orang putih. Ketika kapal mengantar orang muda itu kembali kemari—tatkala matahari pulang dari pihak selatan, maka mereka dapat menyatakan berapa banyak serdadu dapat diantar kemari oleh penghulu asing itu dan lagi bahwa bergunalah menerima persahabatan orang bangsa kulit putih. Itulah sebabnya maka kepala kapal itu berniat menurutkan “Eland Mu-da” dan “Kaki Cepat”.

“Bersejahterakah serdadu muda bangsa kami di tanah yang diperintah oleh penghulu mahakuasa? Kalau kalau serdadunya mengangkat jipangnya kepada orang pemu-da bangsa kami?” Itulah ditanyakan oleh “Burung Bangau Besar”.

“O, tidak!” kata orang Ispanyol; “mereka diperbuat sebagai saudara; tentu kembali kemari dengan anugerah-anuge rah-anuge rah banyak.”

Penghulu lalu tertenggelam dalam pikiran; tiada ada orang yang berani bertotutur, semua orang yang ha-dir diam saja. Sesudah sejurus “Burung Bangau Besar” berpaling kepada bapak “Kaki Cepat”, lalu di-tanyainya betapa perasaannya. Adapun “Lembing” ialah orang yang sudah kenamaan antara orang bangsa Indiaan karena cerdknya serta karena bersifat atizati. Ia dimulis akan amat sangat oleh serdadu bangsa Indiaan. Orang hadir semua mendengarkan riwayat “Lembing” dengan hirau benar.

Kata “Lembing”: “Pada pemandangan kita, maka benar seperti dicerita oleh ”Panah“. Saudara-saudara kami yang berkulit putih itu hendak mempertunjukkan kepada anak-anak kami, bahwa penghulunya terlalu amat besar kuasanya dan lagi berapa banyak serdadu yang dapat diantar kepada medan peperangan, …… supaya jangan kami mengangkat jipang kepadanya, tetapi supaya orangnya diterima di sini sebagai sahabatnya juga…… Tetapi…… bagaimana? …. ”Kelima bangsa“ berkuasa juga atau tidak? Siapakah pernah dapat membilang berapa banyak lembingnya? Biarlah orang putih yang mengediami negeri di seberang laut, mengetahui benar-benar, bahwa serdadu bangsa kami tiada terbilang banyaknya, sebagai bintang-bintang di langit itu banyaknya. Itulah beruna, supaya mereka tiada mengangkat jipangnya kepada kami. Maksudnya: mengambil anak-anak kami, menurutkan dia kepada ”Wigwam“nya; kamila suka menerima anaknya di dalam kaum kami; baru dilepaskan, tatkala ”Eland Muda“ dan ”Kaki Cepat“ sudah pulang kemari.”

Kata-kata yang disebutkan oleh “Panah” ini makan da-lam hati orang yang hadir. Sudah terang sekali kepada orang Indiaan, siapa yang dimaksudkan dengan kata: “anak-anak orang kulit putih”; itulah budak-budak kapal tiga orang…… Penghulu kaum berisyarat: “baik begitul!” Orang Indiaan lain menyatakan juga, bahwa setuju dengan ikhtiar “Panah”, yaitu dengan bersu-ngut-sungut mendengarkan suatu bunyi yang ta‘ berarti.

Hanya orang Ispanyollah diam saja; hal itu diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh “Burung Bangau Besar”. Ia bertanya: “Adakah kata-kata yang disebut oleh ”Lembing“ itu tiada senang akan pendengarmu?”

“Lembing” hendak menjawab pertanyanan itu; maka dinyatakannya, bahwa orang Perancis tiada jemah embuh akan meninggalkan budak-budak di sini. Ia mengerti betul, apa maksudnya “Lembing”. Sebenarnya budak-budak bangsa orang putih menjadi...... sandera. Ia memberi nasihat kepada orang Indiaan merampas anak anak itu cara curi-curi. Tentu ada kesempatannya, karena sesungguhnya budak-budak itu datang di kampung satiap-tiap hari. Baiklah anak itu dijauhkan dari tempat ini, lalu disembunyikan sampai ketika kapal-kapal sudah berangkat. Kehendak hati orang isi kapal telah diketahuinyia, ta‘ dapat tiada mereka merenggek-renggek, supaya kapal-kapal melaut.

Ikhtiar ini dibicarakan panjang-lebar. Pada pemanda ngan penghulu tiada patut menahan orang putih tiga orang akan sandera orang kulit merah dua orang. Akan tetapi orang Ispanyol melawan, katanya: ketiga orang budak itu senantiasa bermain bersama-sama. Jika kiranya seorang dari padanya dilepaskan juga, niscaya orang itu memalumkan kepada kapitan betapa peri kejadian dengan kedua orang temannya. Pada akhirnya majelis me-mutus, bahwa “Eland Muda” dan “Kaki Cepat” dibarkan saja menurut orang Eropa, akan tetapi budak-budak tiga orang ini tertahan di sini sebagai sandera. Ta‘ dapat tiada orang isi kapal tiada boleh mendapat ketahuan, bahwa budak-budak ada dalam genggaman pen-duduk kampung, supaya jangan diminta kembali.

Pierre beserta kedua temannya dari kapal Hermine tu-run ke darat, hendak bermain akhir kali dengan sahabat-nya, orang pemuda bangsa kulit merah. Dengan sengaja Pierre dan temannya dibujuk akan bermain di dalam hutan, dalihnya: hendak bermain “Berburu”. Pada akhir-nya sampai pada bagian hutan, yang letaknya amat jauh dari kampung. Di situ ada orang Indiaan setempuk, budak-budak itu dibawanya kepada tempat yang lebih jauh dari pantai lagi. Sampailah pada sebuah sungai kecil, lalu budak-budak disuruh menumpang kano¹ beberapa buah. Kemudian kano-kano dikayuhnya arah keilir. Dalam beberapa jam sampai pada dusun tempat kediaman bangsa Indiaan yang bersahabatan dengan orang Indiaan yang mlarikan budak kedua orang. Pada pikirannya, pada tempat ini orang muda tiada boleh di-dapat oleh orang isi kapal, karena sesungguhnya mereka tiada menyangkakan, bahwa di daerah ini ada kampung juga...... Seperti telah diterangkan di atas ini, maka sekalian percobaan akan mendapat kembali budak-budak itu sia-sia saja.

Supaya orang isi kapal terpaksa menghentikan percobaan akan mendapat kembali anak-anak, orang Indiaan meninggalkan kampungnyna, yaitu sementara waktu sa-ja. Akan tetapi sana-sini disuruhnya orang menghintai orang isi kapal. Bila orang penghintai memberi tahu bahwa kapal-kapal telah meninggalkan telock, mereka pu-lang kekampungnyna, ketiga orang bangsa putih ditur- rutkannya.

Pierre ditumpangkan dikemah “Burung Bangau Besar”, Antoine menumpang kemak “Lembing”, sedang Marc diterima dalam kemah “Bison”, ialah seorang serdadu yang kenamaan karena gagah beraninya. Budak-budak itu dipandang sebagai anak bangsa Indiaan sejati, mereka beroleh kebebasan seperti orang muda bangsa Indiaan yang seumur dengan dia. Adapun Marc, ialah lekas menyenangkan dirinya dengan halnya. Tetapi temannya dua orang iba hati betul, karena tercerai daripada orang putih. Mereka segan menyamakan dirinya dengan orang bangsa Indiaan, ta’ suka berdamai. Orang Ispanyol menyatakan kepada kedua orang itu, bahwa mereka dipulangkan kepada orang putih, ketika “Eland Muda” dan “Kaki Cepat” pulang ke tanah airnya. Keterangan itu menyangankan Pierre dan Antoine sedikit.

Mereka sudah mengerti betul, bahwa yang terlebih berguna, yaitu menyenangkan dirinya pada halnya saja. Untunglah budak-budak diperbuat baik oleh orang Indiaan. Dengan demikian susahnya diringankan.

¹ Perahu kecil, diperbuat daripada batang kayu yang dikorok.


FASAL YANG KESEMBILAN

BERAMAH-RAMAHAN DENGAN ORANG BANGSA INDIAAN. ORANG KELUAR AKAN MEMBURU BANTENG.

Sahabat-sahabat muda senantiasa menurut permainan dan perusahaan orang Indiaan. Tiada antara lama budak Eropa itu sama pandai memanah dan melempar lembing. Itulah senjata yang dipakai orang Indiaan tat-kala berburu. Pierre dan temannya berpakaian sebagai orang kulit merah, itulah menurut nasihat orang Ispanyol. Kata orang itu: perlu memakai pakaian cara bumi putera, istimewa pula ketika musim winter, karena hawa di daerah ini terlalu amat dingin pada musim dingin. Mula-mula mereka tertawa-tertawa saja seorang pada seorang, kalau memandang temannya, yang memakai mocassin¹ pada kakinya sedang memakai kulit binatang, yang dihiasi gambar, sebagai baju. Rambutnya terurai juga. Akan tetapi lama-lama mereka sudah biasa pada cara pakaian ini; nyata kepadanya, bahwa pakaian Indiaan jauh lebih berguna ketika mengejar binatang di hutan, daripada pakaian yang dipakainya di kapal……

Pekerjaan orang laki-laki, yaitu menangkap ikan dan berburu. Penuaian diserahkan kepada orang perempu-an. Merekalah yang menanamkan jagung dan gandum; tatkala sudah masak, maka dijemur lalu digiling pada batu-batu. Tepung: kehasilan gandum dan jagung itu dipakai akan membuat sejenis kue. Itulah semua pekerjaan orang perempuan. Kue itu digoreng dengan memakai madu, yang asal dari lebah hutan. Adapun lebah hutan itu banyak didaeerah ini, hampir pada tiap-tiap pohon yang batangnyia hampa, terdapatlah sarang lebah hutan. Madu itu disimpan oleh lebah itu akan perbekalan sementara musim winter. Tetapi orang bumi putera ingin juga mendapat sebagian dari perbeka lan itu; lain dari itu beruang-beruang terlalu suka makan madu juga. Kalau didapatnyia pohon kayu tempat sarang lebah, sarang madu itu diambilnyia sama sekali, tiada perduli tikaman madu, yang dimarahinya. Orang Indiaan malum bahwa beruang amat suka makan madu; keinginan beruang itu dipergunakannya akan menangkap binatang besar itu. Dalam suatu serling ditaruhnya madu akan memikat beruang; tatkala diambil madu itu. beruang terperosok dalam serling itu, lalu dipanah atau dilempari dengan lembing oleh pemburu bangsa Indiaan. Kulit beruang dipakainya akan membuat pakaian panas. Akan memperoleh kulit binatang itu, orang Indiaan menempuh beruang itu dalam gerong-gangnyia di tengah-tengah hutan. Orang yang mengejar beruang, harus bersifat gagah berani benar. Jika kiranya binatang itu tiada terbunuh dengan sebentar juga, pemburu diserang oleh binatang buas itu, lalu dikerkah. Barang siapa membunuh beruang seekor, ialah orang berani betul, ia dimuliakan oleh orang kampung. Cakarcakar beruang diperbuat kalung. Orang Indiaan yang memakai kalung perbuatan cakarcakar beruang, ialah sombong benar, sombognya ta‘ kurang dari sombong orang Eropa yang telah beroleh bintang karena jasanya diperang. “Burung Bangau Besar” memakai ka-lung begitu rupa. Banyaklah pula orang yang kena luka tatkala memburu beruang, bekas-bekas luka itu masih nyata pada dada beberapa orang. Pada kedua ming-gu yang mula-mula budak-budak memburu hanya rusa-rusa dan binatang yang kecil. Pada suatu hari Pierre bertanya kepada “Elang”: “Mengapa kami belum keluear akan memburu banteng?”

“Sebab…… belum ada banteng!” jawab orang Indiaan. “Tiada lama lagi cuaca didaeerah ini berubah, negeri ini kedatangan angin ribut ”musim pertengahan“ (herfst). Sesudah waktu angin ribut itu, datanglah musim ”zo-mer“ yang tiada lama; pada musim itu rumput dan tumbuh-tumbuhan lain bertumbuh pula di tanah da-tar.² Rumput yang segar itu sekan-akan memikat ban-teng; binatang itu menuju kemari berkawan-kawan, asalnya dari pihak utara dan dari pihak barat.

Sekarang juga ada beberapa ekor banteng berkem-bara di padang rumput, akan tetapi ta’ berguna mem-buru binatang itu karena sedikit juga. Taruh sabar saja sebulan lamanya lagi; hai, sesudah itu kamu boleh melihat tamasya memburu banteng sesukamu juga. Bukan hanya banteng yang akan diburu; bersama-sama dengan binatang itu datang kemari juga gurk, berkawan-kawan banyaknya. Binatang itulah diburu sa-ja akan memperoleh kultnya. Sementara musim winter—asal hawa tiada terlalu amat dingin—kami menujui hutan juga akan mencari beruang yang berseombunyi dalam geronggangnya……“

“Memburu beruang…… itu juga hanya akan memperolah kulitnya, bukan?“ tanya Pierre.

“Masakan...... akan kulitnya saja? Mustahill! Daging beruang itulah untuk orang bangsa Iroka sejenis ena- kan yang tiada terlampaui hidangan lain.”

Pada mendengar keterangan itulah, Pierre menjadi ge- li, tetapi “Elang” tertawa saja. Katanya: “Nanti dulu, sahabat kita dan kita sendiri mula-mula segan makan daging beruang, akan tetapi sekarang kami doyan sekali.”

O, ta‘ perlu kamu makan daging itu karena kekura- ngan daging lain jenis. Sementara musim winter kami kesempatan juga memburu banteng; lain dari itu: dida'am hutan rimba banyaklah eland; ada juga serigala dan kawelu.³ Perburuan di dalam hutan didaeerah ini berlimpah-limpahan banyaknya; kalau kiranya kami tiada terpaksa tinggal di dalam “wigwam” disebabkan angin ri- but yang disertai turun salju, niscaya hasil pembu- ruan terlalu amat besar.

Ketika turun angin ribu musim pertengahan (herfst) pekerjaaan berburu dihentikan sementara beberapa bu- lan. Seperti sudah diceritakan oleh orang Ispanyol, cu- aca berubah sesudah musim herfst, menjadi terang sebagai di musim zomer. Musim zomer itu tiada lama, te'api tanah datar menjadi hijau pula, karena ditum- buhi kembali dengan rumput yang segar rupanya. “Hai, sekarang patutlah kamu meninjau betul-betul,” kata orang Indiaan; “kalau-kalau tampaklah burung buas, gier dan arend.”⁴

“Tetapi burung itu terbang saja di bagian udara tinggi-tinggi. Ta‘ dapat ditembak!” kata Pierre.

Orang Indiaan tertawa di muka Pierre, demi terdengar katanya. Lalu orang bumi putera memberi keterangan kepada budak-budak Belanda. “Jangankan terlalu tinggi, terlalu jauh juga,” katanya. “Binatang itu tetap di atas tanah datar, rupanya terlihat dari tempat ini sebagai burung layang-layang hanya besarnya. Jika kiranya kamu melihat jauh-jauh di langit terbanglah burung-burung beratus-ratusan banyaknya, coba larilah ketika itu ke kampung, malumkanlah pendapatanmu, supaya orang yang duduk di hadapan wigwamnya disenangkan amat sangat. Jika demikian kami pergi ke tanah pemburuan.”

Inilah keterangan yang sangat menyenangkan hati budak-budak. Mereka menenung ke langit, kalau sudah ada titik hitam, yang bergerak. Tetapi ta‘ kelihatan apa-apa. Tiba-tiba ada orang Indiaan berteriak, katanya: “Hai, banteng sudah adal Lalu orang semua bergopoh-gopoh menuju kekemah di kampung. Penglihat budak Belanda itu kurang tajam, sebab itu ta’ melihat alamat di langit, sedang orang bumi putera dapat menentukan dia dengan mudah saja.

Dalam sekejap mata teryadilah gaduh besar di kampung. Sampai kini orang laki-laki duduk di hadapan kemah-kemah saja, rupa-rupanya sedang bermimpi; sekali-sekali mereka memandang arah kepada orang perempuan yang tengah bekerjia. Demi terdengar kabar tentang alamat banteng, mereka berbangkit, mukanya berseri; terus menyediakan alat pemburuan. Diambilnya busur dan panah serta pisau tajam; pisau itu gunanya akan mengulit binatang yang ditangkap serta akan memotong daging berpotong-potongan.

“O, tidak!” kata orang Ispanyol.

Lembingnya ditinggalkannya di rumah; ta‘ bermuna pada cara memburu banteng. Yang dibawanya juga, yaitu ...... kulit seekor gurk yang besar, sehelai masing-masing. Budak-budak bangsa putih terlalu heran pada melihat bahwa orang membawa kulit itu. Kata orang Ispanyol: “Nanti saja, sampai tiba di padang pemburuan. Ketika itu menjadi nyata apa guna kulit itu.”

Tetapi masih lama sebelum sampai di padang pemburuan. Setelah di luar kampung, orang menentukan du-lu arah angin dengan saksama. Pendapatannya, bahwa angin bertiup arah ke tempat banteng. Itu sebab orang terpaksa berjalanan keliling, menurut jalan simpangan, supaya sampai ke tempat banteng sisi bertentangan. Akan itu per-lu melalui hutan yang lebat; Meskipun orang Indiaan biasa menyelinap dibelukar yang lebat, tetapi orang maju dengan lambat-lambat saja. Tiba-tiba Pierre, Marc dan Antoine memandang ke atas karena bersangka hendak guruh rupanya; mereka heran, sebab diketahuinyia bahwa cuaca terang betul, ta‘ berawan. Orang Ispanyol, yang selalu berjalanan disisinya memberi keterangan; bunyi yang kedengaran itulah bunyi menguak banteng. Menurut pikiran “Elang” ada kawan banteng banyak.

Pada akhirnya orang pemburu sampai kepada suatu tempat yang bermuna; hutan ditinggalkannya, budak-budak tetap pada pinggir hutan. Wahai! Tamasya luar biasa! Di tanah datar berkerumunlah banteng-banteng, beratus-ratusan banyaknya; binatang banyak itu terbagi atas beberapa tumpuk, masing-masing ada penghulunya, yaitu seekor banteng jantan yang amat kuat badannya. Sekeliling kawan-kawan itu berkembaralah banyak bina-tang kecil, rupa-rupa jenis: terlihat dari jauh boleh disangka, bahwa itulah anjing-anjing yang menjagai kawan-kawan. Kata “Elang”: itulah gurk; binatang itu selalu berkembara sekeliling tumpuk banteng. Kalau kebetulan ada anak banteng atau banteng yang lemah Budak Kapal. atau yang sakit, maka dirampas oleh gurk-gurk itu. Gurk itu penakut, ta‘ berani menempuh banteng. Te- tapi banteng sama sekali tiada perduli gurk itu; binatang itu terus makan rumput saja. Jikalau ada seekor gurk yang berani mendekat, banteng jantan menggerak- kan kepalanya saja, lalu gurk lari.

Kata “Elang”: Coba lihat ke atas sekarang!“

Budak-budak memandang ke atas: hai, ada burung gier dan arend, serta beberapa jenis burung buas lain lagi yang kecil, terus melayang di atas kawan banteng. Orang Ispanyol menyambung lagi, katanya:

“Binatang itu memantikan kesempatan akan merampas mangsanya, yaitu sisa daging dan tulang yang diting- galkan oleh pemburu. Adakalanya burung itu berani juga menempuh seekor binatang yang kena luka atau yang sakit. Akan mengalang banteng itu berlari, maka matanya dipagut. Dengan suduna yang amat tajam kulit binatang dikoyaknya, lalu dagingnya dimakan habis, ketinggalan hanya tulang-tulang yang kasar.”

Dalam pada itu orang Indiaan sudah bersiap akan memburu; baru sekarang menjadi nyata apa sebab dibawanya kulit-kulit gurk itu. Kulit itu diselimut- kannya; dengan menyamar diri demikian, mereka menye- linap menujui tempat kawan-kawan banteng, sampai sedekat-dekatnya. Seperti telah diperkatakan, maka banteng tiada menakuti gurk, binatang itu tetap makan rum- put juga. Pemburu-pemburu mengamat-amati ban- teng dari dekat, lalu dipilihnya binatang yang terlebih baik rupanya, kemudian dipanahnya cara mudah juga. Niscaya budak-budak terlalu heran pada melihat per- buatan sedemikian; mereka tiada menurut memburu, terlalu ingin akan melihat perbuatan orang yang mela- kukan muslihat itu. Itulah yang dimaksudkan orang yang mengantar budak, ialah orang Ispanyol. Sesungguhnya banteng tiada suka menyerang manusia, selama tiada diusiknya, akan tetapi banteng yang kena luka itulah terlalu amat galak. Hai, kalau berluka, binatang itu terlalu marah, menempuh musuhnya sedapat-da-patnya, lalu disulakan dengan tanduknya atau diin-jakinya dengan kukuna. Akan orang yang belum pandai memburu banteng, pemburuan itu terlalu amat berbahaya, itu seabnya “Burung Bangau Besar” menitahkan, bahwa budak-budak bangsa kulit putih itu hanya boleh menjadi “saksi” saja. Tiba-tiba kawan menjadi gelisah, lalu berlari. Ada beberapa ekor meli-wati—kepalanya tertenduk—tempat pemburu; pada sa'at itu orang putih lima orang memanahi dia. Yang dua ekor diantaranya kena, matilah; ada seekor lain pula kena luka; Meskipun demikian binatang itu terus berlari menuruti temannya. Budak-budak menujui binatang yang terjatuh itu. Hai, alangkah besar binatang itu! Budak-budak terlalu heran: karena sesungguhnya tiada pernah dilihat bison bangsa Amerika; panjang badannya—terokur dari moncongnya hingga keekornya—tiga meter, beratnya boleh sampai seribu kilogram!

Tinggi badan banteng jantan itu—terhitung dari bahu—boleh sampai kira-kira dua meter. Kepalanya yang tambun benar, bertanduk dua yang pandak tetapi kuat betul. Dahi lebar sekali. Leher pandak, di belakang kepala terdapatlah bongkol, yang ditumbuhi rambut panjang. Rambut-rambut yang bertumbuh di bawah leher itu panjang juga, bergantung ke bawah; itu semua menyebabkan bahwa binatang ini bersikap yang mengejutkan orang. Segenap badan ditutupi rambut pandak, warnanya tiada tentu, berganti warna menurut musim, selalu kemerah-merahan warnanya. Adakalanya warnanya tiada dapat dibedakan benar-benar, karena badan ditutup dengan abu dari tanah rumput atau dengan lumpur dari kolam-kolam, yang diarunginya. Adakalanya binatang ini juga berani berenang akan menyeberangi sungai yang lebar.

Setelah binatang yang terbunuh itu dibilang banyaknya, nyatalah ada duapeluh delapan ekor, semuanya besar-besar. Dengan sebentar juga orang mulai mengu- lit binatang, lalu bagian daging yang terlebih enak itu dipotong. Daging beserta gemuk dibungkus dalam kulit kembali, kemudian dibawa ke kampung oleh setumpuk orang yang menurut pemburuan. Orang lain tinggal di padang pemburuan, maksudnya hendak menolak gurk dan burung buas; binatang itu tertarik oleh bau darah dan daging, lalu mendekati tempat pemburuan makin lama makin bertambah berani. Pada masa kemudian hari kulit binatang ini ditukarkan oleh orang bumi putera kepada orang bangsa Eropa dengan...... “air api”. Ketika itu bagian daging yang terbesar ditinggalkan saja dipa- dang, tiada diperduli, terserah kepada binatang buas. Maka acapkali kejadian perkelahian yang hebat antara binatang-binatang buas, yang merebut akan mendapat daging.

Akan tetapi pemburu ini tiada lalai begitu. Hampir semua bagian badan binatang itu dapat dipergunakannya: dagingnya—sebagiannya diperbuat deng-deng—menjadi perbekalan; gemuk dipergunakan akan menyamak kulit, sebagian gemuk dipakainya akan memasak daging. Rambut panjang diperbuat tali, urat-urat dipakainya akan membuat tali busur. Tulang-tulang diperbuat pisau, diasah sehingga tajam benar. Kehasilan pembu- ruan ini diantarkan ke kampung dengan tiga empat kali berjalan. Yang ditinggalkan saja, itulah usus-usus dan isi perut lain, terserah kepada gurk dan burung buas; hai, binatang itu ta‘ sabar akan menantikan ketika orang sudah pergi, terus merampas usus d.s.b. itu sedang orang Indiaan masih hadir.⁵

Hampir setiap-tiap hari orang keluear akan berburu, dalam tiap-tiap hari terkumpullah kulit-kulit dan da-ging, akan perbelakalan sementara musim winter. Perlu juga orang Indiaan berlaku demikian, karena telah ada tanda-tanda menyatakan, bahwa musim dingin akan datang tiada antara lama lagi. Rupa pergantian musim di daerah ini tiada seperti di benua Eropa: ini hari masih seder-hana hawa; keesukan hari turunlah salju, serta air menjadi beku, sehingga orang tiada kesempatan akan keluear. Kulit-kulit dipergunakan akan meliputi din-ding kemah, supaya berlindung daripada kedinginan hawa; lain dari itu perempuan bangsa Indiaan membuat baju panas daripada kulit. Hanya dengan pakaian panas sedemikian rupa, orang dapat menahan hawa dingin, yang tiada bukan-bukan di sini. Daging banteng yang dija-dikan deng-deng itu menjadi perbekalan sementara musim dingin. Hampir ta‘ ada makanan lain pada waktu itu.

¹ Sepatu.

² Di Tanah Canada musim itu dinamai “Indian-summer” (zomer Tanah Indiaan).

³ Kawelo itulah binatang sebangsa dan serupa “kelinci”. Kawelu sejati hanya terdapat di daerah Betawi.

⁴ Gier dan arend burung buas yang besar, disebut juga dengan kata Melayu: nasar.

⁵ Pada masa sekarang bison di Tanah Canada tertempas habis belaka. Orang bangsa Indiaan terlalu birahi akan “air api”, yang biasa diminum oleh orang bangsa Kulit Putih. Akan mendapat sopi, mereka membunuh bison itu beribu-ribu banyaknya, dagingnya diserahkan saja kepada binatang buas, hanya kulitnya diambilnya supaya ditukarkan dengan sopi putih. Lain dari itu bison yang masih sisa terusir, sejak orang Eropa mendirikan jalan kereta api yang melalui padang rumput, yaitu daerah tempat kediaman bison itu.


FASAL YANG KESEPULUH

BETAPA PERI MUSIM DINGIN DI-TANAH CANADA. PERGI BERBURU DI PADANG-PADANG YANG BERSALJU. BETAPA PERI ORANG PEMBURU DIKEJAR JUGA OLEH BINATANG LIAR.

Pada tahun ini daerah ini kedatangan dengan seko- nyong-konyong oleh musim winter; orang penduduk yang tertua di dalam kampung pun tersemui karena kedatangan sekian lekas. Pada hari yang mendahului hari itu terang cuaca; pada tempat-tempat yang terlindung daripada angin, maka hawa masih panas sementara mata- hari bersinar. Akan tetapi pada malam harinya turunlah angin, yang bertiup dari pihak barat-laut, pada esoknya tanah tertutup salju, sungai-sungai dan kolam-kolam berair beku. Itulah hal yang disenangi Pierre beserta kedua orang temannya; tiada antara lama mereka keluear, hendak bermain di dalam salju. Mereka diherani karena temannya bangsa bumi putera ta’ tampak, rupa-rupanya segan keluear dari kemahnya. Pada persangkaan Pierre dan temannya orang bangsa Indiaan sudah membiasakan diri pada hawa yang sekian dingin, sehingga dapat menahannya. Tetapi orang Indiaan sudah tahu betul, bahwa bukan suatu kesenangan berjalan-jalan di dalam salju, ka- rena sesungguhnyia salju itu diterbangkan oleh angin ribut yang bertiup dari pihak barat-laut, yang mengantar kemari udara dingin. Mereka tetap di dalam kemahnya. Tiada antara lama Pierre mendapat juga ketahuan, bahwa berjalan-jalan di dalam salju itu bukan suatu kesenangan. Cara turun salju di daerah ini bukan serupa dengan cara turun salju di negerinya di-Tanah Eropa, yaitu berkeping-keping ketiyil; selainnya: tatkala berja'an di luar, dirasainya ada keping-keping yang keras—sebetulnya keping-keping air beku adanya—mengenai mukanya, sehingga berluka serta mukanya berdarah. Bergopoh-gopolah mereka pulang kepada kemahnya, segan keluar lagi, sementara turun salju.

Jadi mereka terpaksa tinggal di dalam “wigwam”, tetapi itu tiada memberi bosan. Adapun “Burung Bangau Besar” mengasihi sangat Pierre, ia dipandang oleh penghulo bangsa Indiaan sebagai anak sendiri juga. Pierre diajarinya segala suatu yang patut diketahui oleh orang pemburu, ialah: kepandaian membuat panah-panah; kayu jenis manakah yang layak akan membuat panah serta kadaran-kadaran segala bagian busur dan panah. Diajarkannya juga akan memilih urat-urat yang terlebih berguna untuk tali busur d.s.b. Lain dari itu diceriterakannya hal ihwal kehidupan orang bangsa Indiaan serta cara kehidupan binatang-binatang yang mengediami hutan rimba. Cara berburu yang terlebih berguna diajarkannya juga kepada Pierre.

Sungguhpun penghulo harus termasuk bilangan “orang pendiam”, ta‘ suka memboroskan kata-kata; tetapi ia tiada merasa bosan sementara bercerita kepada Pierre tentang untung malangnyia pada pemergian berburu; cara tertawanya menyatakan, bahwa ia amat senang pada memperhatikan, bahwa Pierre mendengarkan ceritanya dengan hirau sekali, serta menyatakan suka hatinya.

Pierre disuruhnya juga menceriterakan hal ihwal bangsa orang kulit putih yang hidup di dalam “Tanah di seberang”. Heranlah “Burung Bangau Besar” demi didengarnya, bahwa orang kulit putih biasa mengediami—dengan beribu-ribu orang banyaknya—di dalam negeri sebuah saja! Pierre ditanyainya juga tentang “Penghulu yang mengepalai orang kulit putih”. Pierre menyatakan sesalnya, bahwa ia tiada tahu betapa peri cara kehidupan orang yang mulia itu. Hanya dimalumkannya kepada penghulu Indiaan, bahwa “Penghulu Besar” di-Tanah Perancis, ialah seorang pemburu yang amat pandai serta bahwa ia mempunyai tanah perburuan yang luas-luas; di dalamnya ta’ kekurangan gurk, rusa dan binatang lain jenis. Ta’ dapat tiada pada persangkaannya, bahwa “Eland muda” dan “Kaki Cepat” menurut Raja Perancis sedang menyelinap di dalam hutan akan menge- jar seekor rusa!

Angin ribut terus bertiup dengan tiada berkepu-tusan; pada akhirnya teduh juga, akan tetapi berganti dengan turun salju berkeping-keping yang lunak, sebagai biasa di-Tanah Eropa; tetapi orang belum suka keluar; karena sesungguhnya orang Indiaan tiada boleh mendapat jalan-jalan yang patut dijalani, sehingga tentu sesat di jalan.

Tetapi budak-budak kesempatan meninggalkan kemah-nya sekali-sekali, itulah hal yang menyenangkan hatinya, karena di dalam kemah hawa berbau yang amat buruk, disebabkan kulit-kulit yang dipakai akan meliput din ding “wigwam”.

Kata “Elang”: “Hai, budak-budak, sekaranglah per-mulaan musim winter, perhatikanlah! Sesudah habis salju turun, maka mulailah hawa menjadi amat dingin; dingginnya terlalu hebat, seakan-akan terasa sama-pai pada tulang-tulangmu!”

Penelahan itu sah juga; sesudah liwat beberapa hari, maka teranglah langit; hawa menjadi terlalu dingin, dinginnya melampaui dingin di benua Eropa, Biarpun di pihak Eropa sebelah utara sekali. Ta’ dapat tiada muka salju yang terhampar pada tanah menjadi beku juga, kalau berjalan di atasnya, tiada terperosok lagi! Hai, tingkah laku orang Indiaan berubah sekali: mereka kelocer dari dalam kemahnya, lalu pada kakinya ditebatnya papan dua helai, yang kurang lebar serta panjang sedikit. Dengan memakai papan-papan itu mereka bergelincir di muka salju, lakunya terlalu amat laju, dapat me-nujui arah yang disukainya juga. Marc bersangka, bahwa ia juga dapat maju cara begitu, katanya:

“O, itu mudah saja, mungkin juga!” Disambung-nya lagi, katanya pada Pierre: “Marilah kami pergi men-cari papan serupa begitu sepasang seseorang.”

Papannya didapat juga, tetapi setelah tertebat pada kakinya serta dicobakannya akan maju, …… akan te-tapi, …… ta’ dapat maju…… Ada squaw¹ sedang me-nonton perbuatan budak dua orang itu, mereka ters-tawa gelak-gelak, karena melihat tingkah laku Marc dan Pierre sekian kaku dan kekok adanya. Sesudah seju-rus budak-budak terjatuh jerembap di dalam sal-ju. Tiada mungkin berbangkit pula sendiri, harus ditolong akan berdiri oleh orang Ispanyol. Kedua orang budak juga kena luka karena jatuhnya di atas muka salju yang keras. Semua budak menyatakan: ta’ suka memakai lagi “benda-benda yang ajaib” itu.

“Elang” menghiburkan hatinya, katanya: “nanti saja; haruslah kamu berusaha dulu akan belajar cara ber-jalan rupa begitu.” Tetapi Marc mengatakan dengan sungguh-sungguh: “Ta‘ mau belajar itu!”

Jawab orang Ispanyol: “Kalau kirinya sebenarnya se- gan belajar cara berjalan itu, baiklah kamu tinggal sepanjang segenap musim dingin di dalam kemah saja, karena sesungguhnyaka kalau tiada dapat berjalan dengan makai sepatu salju, ta‘ boleh juga keluear akan ber- buru ketika musim dingin.

Beberapa hari kemudian orang bumi putera keluear menuju ke tanah datar; konon kabar ada bison (banteng bangsa Indiaan); maksud orang Indiaan, hendak mem- bunuh beberapa ekor. Budak-budak amat ingin men- jadi saksi pada pemergian berburu itu, Walaupun me- reka tiada beridin akan menurut pekerjaan memburu. Penghulu tiada suka memberi idin, hanya dikabulkan- nya permintaan budak-budak akan melihat tamasya se- dang bertempat di pinggir hutan; dan lagi dipesannya kepada “Elang” dan “Panah” akan menjagai anak-anak itu.

Sesampainya di pinggir hutan, pemburuan sudah mu- lai. Pada masa sekarang orang Indiaan membawa lembing- nya. Akalnya, yaitu mengusir binatang arah kepada su- atu tempat di padang, yang saljunya tiada keras, sehingga terperosok di dalamnya, tatkala berjalan di atas muka sal- ju itu karena berat badannya. Itulah suatu akal yang tiada mudah dilakukan, karena binatang seakan-akan mem- punyai juga akal-budi, mereka menjauhi tempat-tem- pat yang ditotuopi salju yang kurang keras. Adakala- nya sudah mendekat tempat sebegitu, akan tetapi baru diperhatikannya, bahwa tanah di situ terlalu lemah, maka berbaliklah ia. Sedang berbalik, binatang menujui orang Indiaan yang mengejar dia. Budak-budak terkejut se- kali pada melihat binatang berbalik, menujui orang pemburu, sangkanya, kalau-kalau menempuh orang itu.

Kata orang Ispanyol: “Jangon kuatir, orang Indiaan itu pandai sekali menepi binatang. Coba lihat saja! Sesu dahnya mereka mengusir binatang pula arah kepada tem pat celakanya.”

Pada akhirnya ada beberapa ekor banteng—karena bi ngungnya—mencoba melalui sebagian padang yang sal junya lemah saja. Sebentar juga ia terperosok di dalam salju, sampai diperutnya, ta‘ dapat berlepas lagi. Orang Indiaan bergopoh-gopoh menujui tempat, lalu bina tang itu dibunuhnya dengan lembing. Pada hari itu didapatnya banteng delapan ekor.

Pierre bertanya: “Apa sebab binatang-binatang itu datang kemari di padang salju?”

“Sekiranya hendak berbalik, …… arah ke manakah, ka rena sesungguhnya segenap daeraha ditutupi salju ha bis belaka. Tatkala sungai besar juga beku, maka bina tang itu menujui pihak selatan. Diketahuinyia, bahwa air beku di sungai-sungai pada masa sekarang belum cukup tebal akan memikul dia tatkala menyeberang.

Sekali-sekali dicobanya menyeberang, tatkala air beku belum kuat, diadukannya untungnya, maka binatang beratus-ratusan ekor banyaknya binasa, karena pecahlah air beku, matilah lemas:

Yang berani menginjak mula-mula hanya beberapa ekor, kalau-kalau beruntung, akan tetapi setumpuk yang kecil itu diiring oleh teman yang berdesak-desak, sehingga kejadianlah suatu tumpuk besar dan berat; tiada tertahan oleh muka air beku di sungai. Maju ta‘ boleh, mundur pun ta’ mungkin pula!

“Marilah, budak-budak, baiklah kami berangkat; kalau hendak sampai di kampung bersama-sama dengan orang pemburu, kami harus bergopoh-gopoh, ingatlah kami belum pandai berjalanan memakai sepatu salju sebagai mereka!“

Lalu orang kulit putih lima orang kembalilah, hendak melalui hutan. Tiba-tiba Pierre berteriak, katanya: “Co-ba lihat! Ada banteng di dalam hutan!”

“Di manakah, budak?” tanya “Elang”; orang Ispanyol berhenti, lalu Pierre menujukan dia arah kepada su-atu hutan belukar, yang berlindung di bawah pohon kayu tinggi-tinggi. “Tadi ada di situ!” kata Pierre.

Orang Ispanyol berperintah: “Hai, budak-budak, jangan maju lagi, kalau-kalau itulah binatang yang berluka; sekiranya kami bersua dengan dia, alangkah baha-yanya! Banteng yang kena luka harus dipandang bina-tang yang amat berbahaya!”

Baru ia berkata demikian, maka baru juga binatang-binatang keluar dari dalam belukar, lalu menujui orang yang tetap pada tempatnya.

Antoine berteriak: “Itu...... bukan banteng,” lihat sa-ja, kakinya jauh lebih tinggi, lain dari itu tanduknya lebih besar juga. Rupa-rupanya...... itulah...... rusa yang amat besar sikapnya.“

Jawab orang Ispanyol: “O, itulah...... eland; tetapi hal kami tiada baik juga. Jika kiranya hanya seekor, tiada mengapa: tentu boleh diusir sehingga berlari; akan tetapi ada tiga ekor, o, tidak, ada empat ekor, ...... ada seekor lagi yang mendekat. Tentu sekawan itu tiada ku-atir akan kami, tiada mau menyimpang dijalannya.”

Kata Marc: “Jadi, inilah kesempatan akan memburu dia.” Akan mendengar kata Marc, orang boleh bersangka beranilah ia, akan tetapi pada memandang mukanya, nyatalah ia takut juga!

Sebenarnyalah, orang yang melihat mula-mula eland, tentu ditakutkan. Panjangnyia sebagai banteng, kebia-saan pandak sedikit (2,6 meter). Tingginya sama, tetapi ta‘ tambun sebagai banteng, jadi ta’ sekian berat juga. Tetapi kakinya lebih tinggi. Ialah juga berdada yang lebar serta berbongkol satu dileher. Kepalanya besar serta lebih panjang daripada kepala banteng. Sebagai rendier dan rusa, ia juga berangga, cabang tanduknya lebar, runcing empat atau lima tangkai. Pada binatang jantan (binatang betina tiada berangga!) yang terbesar, adakalanya berat angganya itu sampai dupauluh kilogram. Badan ditutup dengan rambut panjang yang kaku, warnanya kemerah-merahan, tumbuhnya lebat-lebat. Pada bahu dan pada leher, rambut lebih panjang dari di bagian tubuh lain, jadi rupanya bersurai juga sebagai banteng dan kuda. Tempat kediamannya di hutan rimba yang sunyi-senyap betul, tanah yang disukainya, ialah tanah berpaya-paya. Ia tiada terusik karena tanah yang becak; Walaupun terperosok di dalam tanah sehingga ta‘ tampak lagi kakinya, ta’ mengapa. Dan lagi ia amat pandai berenang. Pada memandang cara berjalan, nyatalah kurang halus, akan tetapi pandailah ia juga berlari cepat-cepat. Adapun eland itu tiada suka menempuh manusia, asal jangan diusiknya; jika sekiranya diganggu, maka beranilah ia menyerang manusia. Ia tiada takut akan beruang; dalam perkelahian eland den beruang, tiada tentu bahwa beruang menang.

Ikhtiar Marc akan memburu eland itu, tentu tiada dibenarkan oleh “Elang”, katanya:

“Jika kiranya kami mempunyai busur dan panah, ta‘ dapat tiada kami boleh bersembunyi di belakang pohon kayu, lalu mencoba memanahi binatang itu. Percobaan menyerang dia dengan lembing itulah berbahaya. Jika tiada kena, ...... aduhai, kamila terjatuh, nasib kami sudah sampai. Baiklah kami memanjati pohon kayu supaya menantikan bila binatang telah menjauhi tempat ini. Apa bicaramu, Manuel?“ katanya kepada sahabatnya! (Jika orang Indiaan ta‘ hadir, maka nama-nama dan gelar Indiaan itu ditanggalkan juga).

“Benar juga katamu, Felipo,” jawabnya; “baiklah kami bersegera, karena binatang sudah menjadi belisah.”

Berlawanan dengan adat orang pemburu, mereka me-manjati pohon kayu. Tiada antara lama eland-eland itu dekat kepada tempat orang. Binatang yang janggal ru-panya, menganjurkan kepalanya arah ke atas, seraya kakinya dintakkkan ke tanah. Sayanglah: Marc hampir menyebabkan cielaka karena dakarnya: Pada sangkanya, bahwa ia mung-kin membunuh binatang seekor, sebab ia duduk pada suatu tempat yang berlindung. Lembingnya dituju-kan kepada eland. “Panah” memperhatikan maksud Marc; hendak menasihatkan dia jangan berbuat demikian, tetapi telatan. Marc telah melemparkan lembing, tetapi tangannya belum tetap, ia belum pandai melempar lembing, pe-lemparnya melocot saja. Binatang yang kena, menjadi galak, menempuhi pohon kayu tempat bersembunyi Marc, tanduknya terbentur arah ke bawah; kulit pohon kena, sehingga selumbar-selumbar kulit seakan-akan terbang sekeling batang pohon. Marc kena dahsyat, dengan ta-ngannya dahan, tempat duduknya, dicapainya sekuatku-nya.

Ketiga ekor eland lain menghampiri temannya, seolah-olah hendak menolong dia; kaki belakangnya diangkatnya sebagai kuda yang menjadi galak, lalu berjalan berkeliling pohon, rupa-rupanya mencari bagian yang terlebih mudah diserangnya. Berteriaklah “Elang”, katanya:

“Jeramahlah sekuatkuatnya, budak-budak, berse-ruserulah senyaring-nyaringnya, kalau-kalau orang Indi-aan dapat mendengar suaramu, lalu menduyuinyna.”

“Elang” mulai berteriak juga, disebutnya rupa-rupa kata bahasa Indiaan.

Dalam pada itu pun ada seekor binatang tegak pada kaki belakangnyia, kaki hadapannya disandarkannya kepada batang pohon, tempat sembunyi “Panah”. Dengan genggamnya berpautlah ia tangkai lembing, lalu mata lembing ditikamkannya pada dada binatang dengan sekuat-kuatnya. Binatang terjatuh lengkak, kemudian berguling-guling lagi beberapa kali pada muka salju, lalu matil! Akan tetapi teman binatang itu belum suka lari, melainkan ga-laknya seakan-akan bertambah lagi. Orang Ispanyol kuatir, kalau budak-budak kurang kuat akan jeramah pada batang pohon; sekiranya lepaslah tangannya, karena sudah lelah, serta jatuh ke tanah, niscaya budak dipijak oleh eland. Untunglal datanglah pertolongan. Seruan “Elang” dan budak-budak sudah didengar oleh orang Indiaan, bergopoh-gopohlal mereka akan menolong sahabatnya. Demi terlihat, ada musuh sekian banyak, eland-eland berlari. Tetapi binatang dikejar oleh pemburu merentas jalannya, lalu ditempuhnya dari sebelah-menyebelah; tiada antara lama hasil perburuan ditambahi…… eland tiga ekor.

Di antara orang Indiaan adalah yang menyatakan kata-kata sindiran tentang kelakuan orang putih, karena mereka berlindung di dalam pohon kayu. Tetapi “Burung Bangau Besar” melarang perbuatannya; dipujinya kelakuan “Elang” dan “Panah”, disebutnya atizati betul: jika kiranya berkelahi dengan eland, niscaya barang dua, tiga orang mati. Lain dari itu dilarangnya, bahwa budak-budak menurut pemburuan, Biarpun menurut saja akan memandang tamasya orang lain sedang memburu binatang, dari jauh-jauh; itu juga dilarangnya, selama budak-budak belum pandai berjalan dengan se-patu salju.

Mauta‘ mau maka budak kulit putih terpaksa bes lajar kepandaian baru: berjalan dengan memakai se patu salju. Tentu pengajaran ini disertai banyak siksa, karena sesungguh banyak kali terjatuh karena kelirunya. Untunglah: sebab berusaha dan lagi karena pengajaran kedua orang Ispanyol waktu pelajaran diringkaskan juga.

¹ Orang perempuan.


FASAL YANG KESEBELAS

KEDATANGAN MUSIM DINGIN.

Sekarang habislah waktu pemburuan. Hawa terlalu amat dingin, berbahayalah menyerahkan diri kepada hawa yang sekian dingin, istimewa pula karena kedinginan pada masa ini terlalu amat hebat, menurut ingatan orang bumi putera yang tertua tiada pernah bersua dengan kedinginan sebagai sekarang.

Gurk dan serigala, terpaksa karena kelaparan, keliha- tan siang dan malam dekat-dekat kepada kampung orang; pada malam hari budak-budak acapkali dikejutkan karena bunyi melulung binatang buas itu. Orang bu- mi putera kurang mengindahkan perbuatan binatang buas; jika binatang menjadi terlalu galak serta men- dengus pada kemah-kemah maka diambilnya busur dan panah, lalu ditikaminya. Adapun bangsa gurk dida- erah ini, sikapnya kecil dari binatang sebangsa di benua Eropa, tingginya berkurang sepertiganya. Gurk bangsa Eropa sudah diketahui budak-budak bangsa kulit putih, karena sesungguhnya pada masa cerita ini ber- laku, di benua Eropa masih ada banyak gurk juga. Seperti telah dinyatakan di atas ini, maka gurk-gurk ber- kembara berkawan-kawan, mengelilingi kawan-kawan ban- teng, niatnya merampas banteng yang sakit atau kena Budak Kapal. luka. Gurk dibunuh juga oleh orang Indiaan—sebagai serigala juga—, yaitu akan memperoleh kulitinya. Pada masa orang putih mengediami daerah-daerah yang letak di sebelah utara dan di sebelah selatan sungai Sint-Laurens, maka yang terlebih-lebih diingininya, yaitu kulit serigala, menjadi barang dagangan yang amat payu. Adapun bangsa serigala itu berjenis-jenis. Karena diburu banyak=banyak, maka beberapa jenis serigala ditumpas habis belaka. Kulit yang terlebih payu, ialah kulit yang hitam belaka, diingini saudagar-saudagar bangsa Eropa. Tetapi pada masa kini belum datang orang putih, yang berniat berdagang dengan orang bumi putera. Sebab itu jaranglah diburunya serigala dan gurk, karena daging binatang tersebut tiada dimakannya.

Karena demikian halnya, budak=budak terpaksa tinggal di dalam “wigwam”. Itulah suatu hal yang merugikan kesehatannya. Hawa di dalam kemah=kemah kurang bersih; orang Indiaan tiada perduli menggantikan udara di dalam kemahnya. Hawa yang dikeluarkan orang sedang bernapas tercampur dengan asap api dan hawa buruk yang asal daripada kulit=kulit, yang seakan-akan tersalai dikenai api kayu. Lain dari itu di dalam kemah yang sempit itu orang tiada boleh bergerak, terpaksalah du-duk sekeliling api. Bukan saja hanya orang putih merugikan kesehatannya, melainkan orang bumi putara pun tiada menahan hawa yang sekian buruk. Orang pemuda bangsa Eropa menjadi sakit. Mula=mula Pierre yang ditimpa sakit. Ia gulana, pengaduhannya bahwa ia merasai badan lelah sekali, lebih=lebih dirasainyia kakinya lemah, Walaupun sepanjang segenap hari tiada ia bekerja. Hilanglah seleranya, enakan yang disediakan untuk-nya oleh squaw pun, memberi rasa mual saja. Penghulu besar belisah sekali, tatkala memperhatikan bahwa muka Pierre makin bertambah pucat, matanya kurang berseri. Diputuskannya, bahwa orang “hobatan” harus dipanggil.

Maka disuruh seorang memanggil “orang yang penting mulia” itu. Datanglah “tabib”, hendak memeriksai orang sakit. Aduhai! ...... Jika upamanya Pierre tiada sekian gulana, tentu ia tertawa di muka “tabib” ini: mukanya dan pakaianinya dicat cara ajaib benar. Sedang tabib memeriksai orang sakit, maka orang isi rumah yang ha dir hendak melihat perbuatan orang hobatan. Mula mula disuruhnyya Pierre menjulurkan lidahnya (sebagai dibuat juga oleh tabib bangsa Eropa). Lalu diamat-amatinya mulut orang sakit sebelah dalam dengan saksama. Pada akhirnya tabib menyatakan bahwa badan Pierre dirasuki jin buruk, maksudnya hendak menghincit dia.

Keesukan harinya tabib kembali dikemah tempat tinggal Pierre. Mula-mula Pierre kuatir sekali sebab disangkanya pekerjaan “menghincit ”jin“ itulah disertai siksa. Usahkan membawa alat-alat akan menyiasat orang, yang dibawanya hanya kantung kecil yang berisi daun=daun obat...... Squaw=squaw disuruhnyya memasak air, lalu daun=daun itu dicemplongenkan ke dalam air panas seraya bersungut=sungut; kata yang dinyatakan itu tiada terartikan. Kemudian disuruhnyya orang sakit minum air teh itu sebanyak=banyaknya. Kemudian hari tabib datang kembali, membawa pula rempah=rempah; nyatalah rempah=rempahnya baru dipetik, karena masih tertutup dengan salju. Rempah=rempah yang baru dibawanya itu harus dikunyah oleh Pierre; kata tabib: ”campuran rempah=rempah segar dengan rempah=rempah kering itulah memaksakan jin buruk akan keluear dari dalam badan Pierre.“

Nasihat tabib diturut oleh Pierre dengan sepertinya, Walaupun obat itu tiada enak rasanya.

Menurut kata dokter, Pierre (dan Marc beserta Antoine) diimpa oleh penyakit seriawan. Penyakit itu banyak banyak menimpa orang tang tinggal di daerah dingin, te rutamalah kalau orang terpaksa hidup dalam rumah atau tempat kediaman lain yang sempit.

Orang hobatan bangsa Indiaan inilah yang tahu mengobati penyakit seriawan dengan memakai jenis-jenis rempah-rempah. Itu sebabnya “jin buruk” yang merasuki badan budak-budak Belanda itu dapat dihincitnya. Akan tetapi lama-lamalah baru orang sembuh; baru ketika hawa berubah menjadi panas sedikit, maka baru juga ga kesehatannya bertambah-tambah. Yang berguna juga dalam hal ini, yaitu bahwa makanan orang diperbaiki: selama seakan-akan terpenjara di dalam kemah, budak-budak terpaksa makan daging kering. Bila dingin hawa berkurang, orang Indiaan keluar akan berburu, bila air beku menjadi cair pula, keluarlalh mereka akan menangkap ikan. Seperti sudah malum, maka di-Tanah Canada banyaklah ikan. Akan menangkap ikan, orang Indiaan memakai‘ jala, yang diperbuat daripada rambut banteng.

Pada awal bulan April cuaca berubah sama sekali: sebetulnya masih dingin, akan tetapi pohon-pohon kayu mulai bertunas.

Pada suatu hari orang pemuda Indiaan beserta Pierre, Marc dan Antoine mengadakan perlumbaan menembak. Lembing setangkai dimasukkan ke dalam batang pohon kayu. Orang berlumba melempar lembingnyia kepada lembing yang matanya tersepit ke dalam batang pohon. Ada beberapa orang Indiaan tua mengamat-amati perlumbaan anak muda itu; sekali-sekali ada orang tua yang dapat melemparkan lembing, sehingga matanya tersepit ke dalam tangkai lembing, yang dilemparinya.

.............

Tiba-tiba kedengaranlah bunyi yang ajaib; boleh di banding dengan bunyi yang diadakan oleh hujan yang masih jauh, sedang mendekat. Kelihatanlah barang se- bagai awan hitam terus mendekat.

“Hai, burung merpati! Burung merpati!” kata orang berteriak, lalu bergopoh-gopoh menuju ke kampung akan memalumkan kabar yang dapat menyenangkan orang.

Kalau upamanya kabar begini bunyinya dimalumkan musim zomer, maka tentu tiada diterima dengan senang hati, melainkan mengejutkan orang kampung. Apa se- babnya? Itu akan diceriterakan kelak. Sekarang orang semua keluear, meninggalkan “wigwam”nya, semua orang yang dapat memikul pedang atau lembing, menurut ju- ga. Kebanyakan orang membawa tangkai saja.

Dalam pada itu pun burung merpati itu makin de- kat. yang di hadapan sekali sudah terbang di atas kemah kampung. Burung itu seakan-akan peninjau suatu balatentera, yang amat amat banyak serdadunya. Ta’ ter- kira banyaknya! Ada beribu-ribu ekor banyaknya, semua terbang menuju searah saja; karena terbang tinggi di udara terang matahari diempangnya, sehingga daerah kampung seolah-olah menyerupai negeri yang kena ger- hana matahari. Bunyi yang diadakan burung terbang makin bertambah keras, menjadi gaduh besar. Orang tiada dapat mendengar kata yang disebutkan sendiri; ka- lau hendak berkata kepada temannya, terpaksalah orang berteriak. Orang Indiaan melemparkan panahnya kepada tumpuk-tumpuk burung dengan tiada berkeputus- san. Adakalanya burung menyimpang turun ke bawah, seolah-olah menurut suatu perintah penghulunya. Di-buat demikian sebab burung merpati itu dikejar oleh burung buas yang terbang di atasnya. Pada sa’at itu orang Indiaan melambaikan tangkai kayu arah kepada tumpuk-tumpuk burung merpati, maka terjatuh-lah binatang-binatang berpuluh-puluhan banyaknya, ada yang mati, ada yang berluka. Pemburuan sedemikian rupa lamanya lebih dari sejam, hasilnya: susunssusen tinggi diadakan merpati mati. Hai, lengan orang kampung lelah karena terus melambaikannya arah kepada burung merpati.

“Dari mana asal burung merpati sekian banyak itu?” tanya Pierre kepada “Elang”. Hai, Pierre sudah tersesak napas karena berusaha akan membunuh burung merpati.

“Itu tiada kita ketahui, pengira kita ta’ ada orang yang dapat menjawab pertanyaanmu. Sekali-sekali da- tangnya dari pihak itu, lain kali datang dari pihak lain pula. Pada pertama kali—ketika musim zomer—hal itu kita sertai, maka burung merpati turun di dalam hutan, hinggap didahan-dahan pohon kayu. Hai, terlalu amat banyak: adakalanya pada dahan setangkai hinggaplah seratus ekor, sehingga patahlah dahan tempat hinggapnya.

Setelah burung berangkat. kembali, pohon kayu gun-dul juga, tanah di bawah pohon tertotuop dengan ranting-ranting dan dahan-dahan yang terpatah. Tetapi ada suatu hal jauh lebih buruk: burung berhenti di sini hanya sehari lamanya. Tetapi dalam waktu sehari itu penuaian dibinasakannya sama sekali; jagung dan gandum yang sudah hampir matang, dimakannya habis, ta’ sisa sebutir pun tidak!

Jenis merpati ini amat besar: sampai empat decimeter panjangnya. Matanya dan kakinya berwarna meraah. Sa-yapnya tajam, pandai kekali terbang. Menurut hitungan orang: pelayaran dari Tanah Amerika ke-Tanah Eropa ditempuh dalam 3 hari, sekiranya dicobakannya.

Rupa-rupanya burung merpati menjadi pembawa cuaca yang baik. Dingin hawa makin berkurang, asal angin bertiup bukan dari pihak barat-laut. Sekarang angin mulai bertiup dari sebelah laut. Pohon-pohon di hutan berdaun pula, ada juga beberapa tangkai bunga di dalam hutan, rumput di padang mulai ber-tumbuh kembali. Budak-budak bertambah sehat karena menapaskan udara yang baik, kesehatannya telah nyata pada mukanya yang menjadi merah seperti sediakala.

Hati budak-budak bangsa kulit putih senang juga karena pengharapannya: kapal-kapal—bekas tumpangan-nya—akan kembali dari Tanah Perancis!

Mereka terlalu rindu akan melihat kembali teman se-negeri dan sahabat-sahabatnya. Marc begitu juga kerin-duannya, Walaupun mula-mula dinyatakannya, bahwa ia bermaksud menjadi orang bangsa Indiaan sejati. Sebetulnya Marc sudah puas daripada percampuran dengan orang bumi putera. Hatinya berdebar-debar de-ngan deras, kalau teringat akan pertemuan dengan orang isi kapal kelak. Keburukan cara kehidupan di kapal... telah terhapus daripada ingatannya. Budak-budak bangsa kulit putih setiap-tiap hari pergi ke pantai, me-ninjau, kalau sudah ada layar yang ternyata di laut. Sementara duduk di pantai, orang membicarakan kese-nangan menumpang di kapal.


FASAL YANG KEDUABELAS

CARTIER BERANGKAT KEDUA KALINYA AKAN MENCARI TANAH BARU DI DAERAH CANADA. YANG DIDAPATNYA, MENYENANGKAN HATINYA.

Kapitan Cartier tinggal di Tanah Perancis sementara musim winter. Kediaman di rumahnya tiada dapat menyenangkan hatinya. Ia kasih amat sangat kepada Pierre, kasihnya sebagai kasih orang kepada saudara bungsunya. Cartier teringat akan tahun yang baru lalu, pada waktu itu ia bercakap-cakap dengan Pierre hampir setiap-tiap malam. Ketiadaan Pierre menyebabkan dukacitanya...... Mula-mula Madelon tiada dapat dihibur; sesungguh-nya lama-kelamaan iba hatinya karena ketiadaan Pierre berkurang sedikit, akan tetapi ia tiada mungkin bersuka-cita sebagai dulu. Cartier mencoba menghiburkan hatinya dengan menyatakan, bahwa ia bermaksud hendak berlayar kembali ke sana, pada permulaan tahun 1535 akan mengambil kembali budak-budak; katanya: tentu halnya baik, ta‘ kurang apa-apa. Madelon bersangka, bahwa Pierre terbunuh oleh orang bumi putera...... sebenarnya kapitan Cartier bersangka demikian juga...... jadi kata-kata kapitan tiada makan dalam hati Madelon.

Setelah kapitan Cartier pulang di Tanah Perancis, di terimanya persilaan Raja Perancis, Frans I, supaya mengunjungi Raja diistananya; maksud Raja, hendak menanyai Cartier tentang pendapatannya.

Cartier mengunjungi Raja di negeri Rambouillet¹. Cartier disertai sahabatnya dan teman pelayarannya, kapitan Denis, dan pemuda bangsa Indiaan dua orang, yang bernama “Eland Muda” dan “Kaki Cepat”.

Kedua orang pemuda bangsa Indiaan senang hati karena tinggal didaeerah baru ini. Mereka dipermanjakan sekalian orang di daerahnya; berlimpah-limpahan hadiah-hadiah yang diberikan kepadanya. Orang Indiaan terlalu heran pada melihat sekian banyak kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan Sint-Malo. Ajabnya juga tiada terkira karena melihat serdadu-serdadu; ada yang berbedil, ada yang membawa meriam besar. Menurut kepercayaan orang Indiaan bahwa orang yang membawa bedil dan meriam itulah seakan-akan membawa guruh dan halilintar di tangannya saja!

Cartier menceriterakan kepada kedua orang pemuda bangsa Indiaan, bahwa di-Tanah Perancis ada banyak negeri serupa Sint-Malo rupanya, serta bahwa serdadu-serdadu yang telah dilihatnya itu hanya sebagian kecil daripada balatentera kerajaan Perancis, maka orang bumi putera itu malu betul akan kebesaran dan kemuliaan Raja Perancis...... Mereka diterima cara manis betul oleh Maharaja, kedua orang Indiaan itu dianugerahi rupa-rupa anugerah yang amat bagus. Tetapi tiada diadakan pemburuan oleh Raja, sebagai disangkakan oleh “Burung Bangsau Besar”.

Raja Frans I terlalu senang hati karena mendengar kabar tentang pelayaran kapitan Cartier, Walaupun orang laut ini berbuat seolah-olah pendapatannya tiada seberapa berguna, katanya: “hanya itulah yang kami dapat.” Sebagai alamat jasanya, Cartier dinagurahi gelar: “Kapitan dan Stirman Kerajaan.” Lain daripada itu Raja berjanji bahwa Raja hendak menyerahkan kapal tiga buah kepada Cartier, supaya boleh berlayar sekali lagi. Perjanjian itu lebih disukai oleh Cartier daripada anocgerah tersebut tadi itu.

Perkara menyewa kelasi-kelasi tentu sukar sekali; pendapatan kapitan Cartier tentang hal itu sementara berlayar pertama kali tentu tiada baik. Itu sebab dengan usaha sekali dicarinya kelasi-kelasi yang pandai serta baik kehendaknya. Pada masa ini banyaklah orang yang socka menurut pelayarannya, ada orang bangsawan yang ingin menurut, karena sudah nyata kepadanya, bahwa peleryarn sedemikian dipooji oleh Raja, kalaukalau mereka juga memperoleh tanda-tanda kehormatan sepulangnya dari pelayaran. Karena orang itu mulia sekali, kapitan Cartier tiada berani mengenggankan permintaannya, Walaupun yang diingini lebih-lebih, yaitu orang laut yang pandai dalam pekerjaan melayarkan kapal.

Pada awal bulan Mei berlengkaplah kapal tiga buah, berlabuh di pelabuhan Sint-Malo. Kapal yang terbesar—namanya Grande Hermine—ada di bawah perintah kapitan Cartier sendiri. Kapal yang kedua tentang besarnya—bernama Petite Hermine—ada di bawah perintah kapitan Denis. Kapal yang terkecil diserahkan kepada orang laut, yang sudah menurut peleryarnpelayaran orang Ispanyol ke-Tanah Florida². Di kapal Grande Hermine stirman Mata Sebelah menyertai kapitan Cartier.

Sebelum kapal-kapal melaut, adalah kebaktian besar digereja besar di negeri Sint-Malo, yaitu akan meminta berkat Allah akan pelayaran ini. “Eland Muda” dan “Kaki Cepat” menurut kebaktian itu juga. Hai, kedua orang Indiaan terlalu semul kebaktian itu makan dalam hatinya. Katanya: Ruh Besar yang memeliharakan orang kulit putih mesti memberi pertolongan, supaya pelayaran ini berselamat.

Pada tanggal 19 Mei tahun 1535 kapal tiga buah keluar dari pelabuhan; tatkala berangkat, orang isi kapal disoraki oleh orang negeri; dipasanglah meriam akan alamat “selamat berlayar”. Alamat itu dijawab cara demikian juga dengan meriam di kapal-kapal.

Mula-mula anginnya dan cuacanya baik. Pada malam hari tanggal 24 Mei turunlah angin ribut. Orang isi kapal berusaha akan menetapkan haluan kapal-kapal, supaya jangan bercerai, sia-sia saja. Karena kekutan angin dan ombak, kapal menyimpang daripada haluan nya.

Keesukan harinya—tatkala fajar baru terbit—orang isi kapal Grande Hermine meninjau arah kepada kapal-kapal dua buah lain; ta’ kelihatan lagi, kuatirlah kapitan Cartier, kalau kedua kapal itu terkaram. Cartier terpaksa menujukan haluan arah ke selatan, ta’ dapat tiada dengan begitu pelayaran diperlambatkan. Ketika angin ribut sudah teduh, haluan diubahkan pula ke sebelah utara, akan tetapi karena angin salah kapal maju dengan perlahan-lahan juga. Tatkala sudah sampai didaeerah Terre-Neuve, bersua dengan kaboot yang lebat-lebat; hanya dengan ati-ati Sekalipun orang dapat meneruskan pelayaran. Baru pada tanggal 15 h.b.

Yuli sampailah diselat Belle-Isle. Alangkah senang hati Cartier dan teman-temannya, karena melihat...... kapal dua buah, yang sedang berlabuh di situ, itulah...... kapal Petite Hermine dan l'Emerillon. Orang bersalam-salaman, bertempik-sorak akan menyatakan kesenangannya. Tiada antara lama bertolaklah beberapa sekuci dari ke-dua kapal akan mengantar kapitan-kapitan kepada kapal besar, yang di bawah perintah kapitan Cartier, akan mem-beri tahu kabar tentang pelayarannya. Kapal dua buah yang kecil juga bersua dengan angin ribut, pelayaran diusik karena angin salah, akan tetapi untunglah kedua kapal ini tiada tercerai satu daripada yang lain. Sesung-guhnya kapal tersimpang juga jauh daripada hluannya. Kapitan Cartier bersangka bahwa kapal kecil dua buah itu terkaram, demikian juga persangkaan kedua kapitan temannya: mereka bersangka, bahwa kapal Grande Hermine terkaram karena angin ribut yang ter-lalu hebat.

Sesungguhnya ta‘ sukar menyampaikan muara sungai Hokhelage, akan tetapi Cartier suka singgah dulu dite-luk Gaspe dan kampung orang Indiaan—tentu su-dah nyata kepada pembaca apa sebabnya!

Setelah baru tampak pantai telook Gaspe, maka bingunglah Cartier; terbitlah pertanyaannya: kalau dapat bertemu kembali dengan Pierre dan kedua budak lain? Ah, tidak! ...... karena sesungguhnya orang muda itu sejak lama terkubuer! Hai, terkubuer dalam tanah yang letaknya jauh dari tanah airnya! ...... Tetapi boleh jadi juga, bahwa orang muda itu tertahan saja oleh orang bumi putera, kalau-kalau...... masih hidup! Cartier menanyai sekali lagi “Eland Muda” dan “Kaki Cepat”, yang sedang bersandar dipagar kapal akan meninjau pan-tai tanahnya! Matanya berseri. Sayanglah! Kedua orang pemuda itu mengulangkan sekali lagi persangkaannya, bunyinya, bahwa budak-budak itu dibenuh bersama-sama temannya bangsa Indiaan, oleh kaum bangsa Indiaan lain yang berseteru dengan orang bangsa Iroka. Kapitan Cartier belum putus asa! Yang dipikirkannya; kalau kalau budak tiga orang itu tertawan saja. Akan tetapi kedua orang pemuda bangsa Indiaan menggelek kepala lannya saja dengan ta‘ berkata lagi. Memang sudah diketahuinyna, bahwa adat orang bangsa Indiaan tentang orang tawanannya...... akan membunuh dia saja.

Dengan demikian Cartier punya pikiran berayun di antara pengharapan baik dan kekuatiran. Dalam pada itu pun kapal sudah dekat kepada pantai, tampaklah orang yang berkerumun di situ, sedang meninjau kapal.

Tiba-tiba berteriaklah “Eland Muda” dan “Kaki Ce-pat” akan menyatakan suka hatinya: mereka sudah melihat bapaknya dan kemanakan yang lain. Teriaknya dijawab juga oleh orang yang bertempat di darat. Stirman Mata Sebelah sudah teringat, bahwa penglihat orang bangsa Indiaan jauh lebih tajam daripada penglihat orang Eropa, maka ditanyakannya: “Adakah kamu dapat melihat juga saudara-saudara kami—orang kulit putih—bercampur dengan orang sebangsamu?” Lalu “Eland Muda” mengamat-amati orang yang bertempat di pantai, kemudian berpaling kepada Stirman, katanya: “Yang kami lihat, ...... hanya orang sebangsa kami; ”Elang“ dan ”Pae nah“ ta‘ ada juga hadir.”

Tetapi barulah orang Indiaan berkata demikian, maka baru juga terdengar gaduh besar di pantai. “Kejadian apa itu?” tanya Stirman.

Jawab pemuda bangsa Indiaan: “Di situ ada budak-budak bangsa Eropa!” Pada sa'at itu juga kedengaran ketiga orang pemuda berteriak, akan alamat memberi selamat datang kepada orang isi kapal.

Stirman Mata Sebelah menyatakan serunya; lalu dirasanya ada titik air mata kena pada pipinya; akan menyembunyikan hiru-hirunya, maka mulailah ia bersumpah dan memaki kelasi-kelasi, yang sedang berdiri berdekatan pagar kapal akan meninjau ke tanah!

Suka-citita kapitan Cartier tiada terkata, tatkala dilihatnya Pierre beserta budak kapal dua orang lain sedang berlambai-lambai.

Setelah sauh dibuang, kapitan Cartier turun ke dalam sekuci, menujui darat, di situ ia berpeluok-pelukan dengan Pierre. Dalam pada itu pun penghulu besar dan “Lembing” bersalamsalaman kepada anaknya yang baru pulang. Sesungguhnya—menurut adat orang Indiaan—mereka tiada suka menyatakan suka-citanya, tetapi tentu juga, bahwa mereka senang hati betul ketika bertemu dengan kemanakannya, rasanya tentu sama saja dengan rasa orang kulit putih dalam hal sedemikian. “Burung Bangau Besar” menujui kapitan Cartier, lalu kedua orang itu bersalamsalaman cara manis betul. Penghulu menyatakan terima kasihnyia karena “Eland Muda” dan “Kaki Cepat” diantarnya kembali dengan selamat. Ditambahnyia lagi, katanya: “Sekarang orang pemuda bangsa kulit putih—yang kami kasihi amat sangat—boleh pulang ke tanah airnya.”

Demi didengar kata-kata penghulu sedemikian buninya, maka terbitlah pikiran pada kapitan Cartier. Nyatalah budak-budak kapal itu tertahan oleh orang Indiaan sebagai sandera, selama orang pemuda bangsa Indiaan ada dalam genggaman orang bangsa Perancis. Ia bertanya kepada penghulu: “Jadi anak-anak itu tiada diserang oleh seteru-seteru, lalu dilarikan?“ Demi terdengar pertanyaan itu, maka ”Lembing“ tertawa tersenyum. ”Burung Bangau Besar“ menjawab pertanyaan cara tenang betul: ”Penghulu Besar yang tinggal di seberang laut itu mempunyai banyak serdadu, banyaknya tiada terbilang, seperti saudara bangsa kulit putih telah menyatakan dulu. Adapun Kelima Bangsa itu juga mempunyai banyak serdadu, tetapi jika kiranya Sachem³ orang putih menahan anak bangsa Indiaan dikerajaannya, tentu budak-budakmu menurut kami akan menyerang serdadu Raja Perancis.“

Cartier ngeri pada memikirkan malang yang diturunkan kepada Pierre dan kedua orang temannya; ia berputus dalam hatinya supaya orang Indiaan tiada kesempatan lagi akan merampas pemuda itu, cara curi-curi.

“Eland Muda” dan “Kaki Cepat” mengherankan squaw-squaw dan anak-anak, karena menunjukkan kepadanya hadiah-hadiah yang didapatnya dari orang putih. Dalam sekalian “wigwam” kedua orang pemuda harus menyeriterakan dari barang ajaib, yang sudah dilihatnya. Yang dipujinya lebih-lebih, yaitu cara beramah-ramah han orang putih; yang dipuji juga, yaitu kuasanya; terutama inilah yang menjadi maksud kapitan Cartier: dengan demikian perasaan hati orang Indiaan dipelihara kan serta diteguhkan tentang orang asing dari seberang laut.

Kapal-kapal tiada tinggal lama-lama di pelabuhan teluk Gaspe. Kepala angkatan rindu sekali akan melayari sungai Hokhelaga arah kehulunya dan lagi akan mengambil tanah sepanjang tepi sungai itu bagai milik Raja Perancis. Orang isi kapal juga berharap akan mendapat Tanah Dorado⁴, sebab itu mereka juga ingin akan berangkat ke sana. “Burung Bangau Besar” menyenangkan hati kapitan Cartier amat sangat karena berjanji akan mengantarkan kapal-kapal kemuara sungai; sampai di situ diturutkannya juga serdadu bangsa Indiaan beberapa orang. Lain dari itu “Eland Muda” dan “Kaki Cepat” diberi idin akan menurut pelayaran sama sekali.

Mereka boleh melakukan jawatan juru bahasa untuk orang Perancis. “Itu bagus!” kata Pierre. “Karena sesungguhnya kami sudah mengerti bahasa Indiaan, akan tetapi bertutur cara Indiaan itu sukar sekali.” Kata Marc dan Antoine: “Hai, tentu terlalu sukar, tiada jemah kami dapat bertutur bahasa Indiaan. Kalau mendengar percakapan antara orang Indiaan pun, kami ditimpa sakit leher!”

Sesudah beberapa hari layar kapal dinaikkan, haluan ditujukan arah kemuara sungai Hokhelaga. Pelayaran ke sana berselamat, sesampainya di situ sauh dibongkar.

“Datanglah “tabib” hendak memeriksai orang sakit.

¹ Rambouillet itulah sebuah kota kecil, letaknya kira-kira sembilan jam berjalan kaki di sebelah barat-daya negeri Pariys. Maharaja Frans suka sekali tinggal di sana.

² Tanah Florida mula-mula dikunjungi oleh orang bangsa Ispanyol di bawah perintah Yuan de Leon, yaitu dalam tahun 1512. Orang bumi putera melawan dengan sekuat-kuatnya kehendak orang putih akan mendiami daerah itu. Baru pada tahun 1539 Tanah Florida dikalahkan oleh kerajaan Ispanyol.

³ Kepala.

⁴ Dorado, artinya Tanah Emas. Sementara orang Eropa sedang mendapat tanah-tanah baru di daerah Amerika, maka orang bersangka, bahwa ada Tanah-Eldorado namanya—yang menurut persangkaannya—terletak di antara sungai Orinoco dan sungai Amazone. Di situlah ada logam-logam rupa-rupa, banyaknya tiada terkira.


FASAL YANG KETIGABELAS

ORANG BERSUA DENGAN BANGSA INDIAAN DIDAERAH HOKHELAGA. ADA PENGHULU, YANG RUPA-RUPANYA BERKEHENDAK BAIK TENTANG ORANG PUTIH, SEBETULNYA TIADA SUKA BERAMAH-RAMAHAN DENGAN DIA.

Setelah kapitan turun di darat, keluar dari sekuci, ia berkata kepada penghulu besar: “Heranlah, ta’ ada manusia, ta’ ada makhluk sama sekali. Mustahil, tanah permai ini ditinggalkan oleh penduduknya?”

Jawab “Burung Bangau Besar”: “Orang bersembunyi diri!”

Cartier berharap dulu, bahwa orang bumi putera—yang sifatnya penakut—suka menerima orang asing, karena mereka sekarang disertai orang sebangsa, yaitu orang bangsa Indiaan juga.

“Mereka bersembunyi, hendak menentukan dulu, kalau orang asing yang datang di negerinya berniat baik atau kah membawa jipangnya. Baiklah, bahwa saudara-saudara kulit putih tinggal di sini dulu bersama-sama dengan serdadu-serdadu pengiring kita. ”Lembing“ beserta kita hendak masuk ke hutan akan mencari bekas orang yang menyembunikan diri.”

Lalu ditanggalkannya senjata-senjatanya, demikian juga laku “Lembing”, supaya nyata kepada orang bumi putera—tatkala bertemu pertama kali—bahwa mereka Budak Kapal. berkehendak baik. Kemudian ia berkata kepada orang pengiringnya; setelah itu penghulu bersama-sama dengan “Lembing” berangkat akan mencari orang Indiaan yang bersemunyi di hutan. Niscaya perjalanan itu boleh berbahaya!

Cartier berserta orang Perancis yang menyerta dia menantikan kedatangan kembali penghulu dengan rawan. Setelah liwat sejam, orang belisah serta keciwa. Orang bangsa Indiaan tenang juga: mereka duduk bercang kung di tanah. Serdadu yang tertua—pengganti penghulu—duduk bersandar pada batang pohon kayu, seakan-akan bermimpi saja, memandang arah kehadapan.

Cartier berisyarat kepada “Eland Muda”, supaya datang menghadap dia, lalu ia berkata kepadanya: “Tanyakan kepada penghulumu, kalau waktu sudah sampai akan meresap di hutan. Ingatlah bapakmu dan temannya tiada bersenjata; jika kiranya kejadian perkelahian, mereka tiada dapat melawan……”

“Eland Muda” tertawa cara bercela, katanya: “Jika kiranya terjadi perkelahian, niscaya ”Burung Bangau Besar“ dapat membunuh orang yang menyerang dia, wa lau pun ia tiada bersenjata, serta nulang kemari berselamal. ”Lembing“, ialah serdadu yang gagah beraninya ta‘ kurang juga! Jikalau kiranya kami menurut bekasnya sekarang, tentu kami dipandangnya squaw saja. Tanyakan kiranya kepada ”Mata Api“ (ialah wakil penghulu) apa pesanan bapak kepadanya.”

Kemudian kapitan berpaling kepada serdadu tua itu, memang dengan perantaraan “Eland Muda”. Adapun pesanan penghulu kepada serdadu tua, demikianlah buyinya: , Baru boleh mengikut “Burung Bangau Besar” jika dia atau “Lembing” atau keduanya belum pulang kemari tatkala matahari terbenam…… Memandang tinggi matahari di langit, maka sekarang baru pukul tiga petang, jadi orang Perancis harus menaruh sabar lagi...

Telah liwat sejam pula! Cartier menjadi belisah, ia berlangkah bolak-balik. Ada seorang bangsa kulit putih yang bangsawan mengikhtiarkan kepada kapitan Cartier akan meresap di hutan juga dengan tiada menurutkan orang bangsa Indiaan, karena sesungguhnyia orang itu tiada berani melawan perintah penghulunya. Lain dari itu orang Indiaan sudah mengetahui dengan sungguh-sungguh, bahwa pekerjaan mencari orang bumi puta yang berlari itulah sukar sekali; biasa pekerjaan itu dilakukan dengan usaha dan sabar, harus berlambat lambat. Itulah sebab orang Indiaan tiada setuju dengan kehendak orang putih, yang sudah menjadi belisah serta kurang menaruh sabar.

Tiba-tiba kedengaran bunyi burung elang, asal dari jauhjauh. “Mata Api” berbangkit serta mendengarkan dengarkan bunyi itu dengan hirau. Lagi dua kali kedengaran bunyi burung bagus itu, serdadu tua berkata kepada “Eland Muda”: “Malumkanlah kepada Sakhem orang kulit putih, bahwa mereka datang.”

Orang Perancis tiada mengindahkan bunyi teriak burung elang itu, mereka tersemui benar demi didengarna kabar yang dinyatakan oleh “Mata Api”, mereka menoleh saja, rupa-rupanya tiada percaya akan kata serdadu tua. Tetapi “Mata Api” berisyarat kepada Cartier seraya berkata: “Orang sudah datang kemari!” Sesudah seperempat jam, maka kedengaran gaduh di dalam hutan. Pada mendengar gaduh itu, nyatalah ada orang lebih dari dua banyaknya. Tiada antara lama kelihatlanlah stumpuk orang menemui orang yang menantikan penghulo di pantai. Di hadapan sekali berjalanlah “Burung Bangau Besar” dan “Lembing”; disisinya berjalanlah se-orang bangsa Indiaan yang sikapnya luar biasa tingginya. Mereka diiring oleh orang yang bersenjata, kira-kira empatpuluh orang banyaknya.

Sudah nyata kepada Cartier bahwa orang yang berjaian di hadapan, disisi penghulu dan “Lembing”, ialah penghulu orang Indiaan yang mengediami daerah ini. Cartier menemui dia, lalu bersalam-salaman dengan dia. Cara bersalam-salaman itu serupa cara bersalam-salam yang lazim antara sahabat-sahabat. Memang kapitan tiada mengerti kata-kata yang dikatakan oleh penghulu semetara bersalam-salaman itu, akan tetapi maksud baik su dah ternyata dengan lagu kata-katanya. Yang menyatakan lagi, bahwa kehendaknya baik juga, yaitu lakunya, yang menyertai kata-katanya. Dicapainya kapitan Cartier pada lengannya, lalu diciumnya; sebagai diboceat oleh “Burung Bangau Besar”, tatkala bersalam-salaman pertama kali.

Kejap mata kapitan Cartier menyatakan dahsyatnya, karena dipikirkannya kalau-kalau keempatpuluh orang pengiring hendak berbuat demikian juga. Untunglalh! Hanya penghulu berhak menyatakan “selamat datang” cara demikian.

Dengan perantaraan juru bahasa “Burung Bangau Besar” memalumkan, bahwa “Donacauna”¹ senang hati akan menerima orang asing di dalam kampung-kampung-nya, tempat kediaman kaumnya. Menurut katanya bahwa kampung-kampung amat luas serta didiami banyak orang. Donacauna1) ialah boleh disebut seorang Sakhem yang terlebih berani dan gagah di daerah ini.

Cartier menyuruh menyatakan terima kasihnya karena kebaikan Donacauna, lalu penghulu beserta pengiringnya akan mengunjungi dia di kapal-kapalnya.

Maksud kapitan Cartier ada dua rupa: pertama, niatnya hendak memberi hadiah-hadiah kepada orang Indiaan, supaya mereka terus berkehendak baik tentang orang isi kapal; kedua, niatnya, hendak menunjukkan kepada penghulu baru ini—yang kuasanya jauh lebih besar daripada kuasa “Burung Bangau Besar”—bahwa orang bangsa kulit putih itu berkuasa juga, supaya mereka memalui bangsa kulit putih.

Tatkala dibagikan hadiah-hadiah kepada bangsa Indiaan baru itu, orang segan menyatakan sukacitanya—itelah adatnya!—, tetapi kebanyakan orang berpikirkan bahwa berguna sekali terus bersahabat dengan orang asing. Kalau kalau akan beroleh hadiah lain lagi! Tenang hati orang Indiaan seakan-akan dipercobakan: kapitan Cartier berperintah, bahwa meriam-meriam dipasang sebelum orang Indiaan turun dari kapal. Pada ketika itu kelasi kelasi disuruhnya memasang bedilnya masing-masing. Hai, hilanglah tenang hati orang bumi putera, karena kelihatanlah awan-awan asap diterangi dengan api-api be-dil dan meriam. Kebanyakan orang jamu terjatuh di geladak, yang lain melompat ke dalam laut, lalu berenang ke darat. Hanya Donacauna tetap pada tempatnya, akan tetapi pada mukanya—yang amat amat pucat—ternyatalah bahwa ia kena dahsyat juga. Tamasya ini tenu makan dalam hatinya!

Kata Pierre: “Hai, penghulu hendak memberanikan dirinya, tetapi...... tiada jadi. Coba lihat, orang Indiaan merangkak di geladak, hai, patut diolok-olok! Stirman, tentu mereka tiada akan lupa kejadian ini!”

Tetapi Stirman Mata Sebelah tiada tertawa, ia menggelek-gelek kepala, lalu ia menjawab: “Kita kuatit......, orang tiada lupa akan kejadian ini!”

Jawab ini mengherankan Pierre.

Stirman menyambung lagi, katanya: “Kapitan punya maksud menyatakan kepada orang bumi putera, berapa besar kuasanya, tentu maksudnya itu sah juga. Mereka belum melihat hasil das meriam dan das bedil, Meskipun demikian mereka kuatir juga. Ingatlah, Pierre, orang bumi putera niscaya orang yang masih biadab, tetapi ta’ boleh disebut kurang pintar. Niscaya mereka bertanya dalam diri, beginilah: ”Mengapa orang asing datang kemari seraya membawa senjata=senjata sebegitu hebat, Walaupun—me=nurut katanya sendiri—berkehendak baik, hendak berdamai saja!“ Yang terlebih buruk, bahwa kami menjadi saksi tentang dahsyat Donacauna dan pengiringnyia, dan lagi…… kelasi=kelasi kapal tertawa orang itu dimu=kanya. Tentu orang dinistakan, ……itu tiada dilopekan=anya!”

Pierre berpikirkan kata=kata Stirman, pada pemandanganya katanya benar juga. Sementara bercampur dengan orang Indiaan, Pierre sudah memperhatikan, bahwa orang Indiaan itu bersifat kacak; yang dipandangnya amat amat hina, bahwa orang lain bersangka, bahwa ia bersifat penakut. Jika orang Indiaan disiksa oleh musuhnyia, mereka tenang hati juga; dahsyatnya tiada ternyata pada mukanya, sedang disiksa amat sangat, mereka berani menistakan musuhnyia lagi. Salah kapitan beginilah: Ialah menyebabkan, bahwa dahsyat serdadu=serdadu bangsa Indiaan itu ternyata kepada orang isi kapal semua!

Apa boleh buat! Tentu kapitan Cartier berniat munistakan orang Indiaan. Karena sesungguhnyia ia belum tahu adat=istiadat orang bumim putera! Tiada antara lama tetap hati pula orang Indiaan, mereka meninggalkan kapal, hadiah=hadiah dibawanya pulang kekampungnyia.

Tatkala bermohon, maka Sakhem orang putih mema-lumkan kepadanya, bahwa ia berniat mengunjungi penghulu dikemahnyya.

Kampung, tempat tinggal Donacauna letak di tepi su-ngai arah kehulu sedikit. Kapitan Cartier memutus akan berlayar ke tempat ini dengan kapal-kapalnya, seboleh-bolehnya jauh.

Kapal-kapal sampai pada sebuah pulau kecil; maka dekat pulau itu sungai Hokhelaga berkurang lebar. Sampai kini sungai itu menyerupai sebuah teluk. Di pulau kecil itu didapat oleh Cartier pokok-pokok kis-mis amat banyak; itu sebabnya pulau itu dinamakan-nya: Pulau Bacchus². Kemudian hari pulau itu di-sebut orang Orleans; demikianlah nama pulau itu pa-da masa kini.

Pelayaran kapal berlambat-lambat saja; sementara ber-layar menjadi nyata bahwa pelayaran keudik tiada boleh diteruskan dengan menumpang kapal besar. Pada pe-tang hari kelihatanlah setumpuk orang bertempat di-tepi. Itulah tempat kampung yang didiami oleh Dona-cauna. Orang isi kapal diterima cara manis oleh peng-hulu. Kedua belah pihak masing-masing bertukar-tu-karan hadiah. Orang Perancis suka hati sekali karena beroleh kulit kering asal dari binatang buas beberapa helai yang halus. “Saudara-saudara asing” diperjamui: mereka disilakan menurut makan; hidangannya, yaitu daging perburuan, yang didoyani amat sangat oleh orang isi kapal. Ada suatu hal yang tiada menyenangkan hati kapitan Cartier: jikalau Donacauna ditanyai tentang ke-adaan tanah serta tentang keadaan sungai—dapatkah dilayari kapal atau tidakkah—, maka senantiasa jawabnya keroh adanya. Kapitan Cartier meminta juga pertolongan kepada penghulu akan menyerahkan kepadanya penun juk jalan dan pandu; jawabnya keroh juga, katanya: perlulah bermuscawarat duludengan serda dunya.

Malam sudah turun, orang putih pulang kekapalnya. “Burung Bangau Besar” beserta orang pengiringnya tinggal di darat, niatnya hendak pulang ke kampungnya dengan menurut jalan di darat, karena sesungguhnya kapalkapal tetap di sungai Hokhelaga. Untuk orang Eropa perjalanan keteluk Gaspe menurut jalan darat itu tentu amat sukar, tetapi untuk orang bangsa Indiaan perjalanan sedemikian menjadi kesukaan juga. Tatkala berjalan, mereka kesempatan akan mencari tanah perburuan dan kolamkolam yang berikan barubaru. Penghulu bermohon kepada kapitan Cartier dan temannya; “Eland Muda” dan “Kaki Cepat” boleh tinggal, supaya menurut orang isi kapal sebagai juru ba hasa.

Mula mula orang Iroka berniat hendak pulang pada malam hari itu juga. Tetapi mereka disilakan oleh Donacauna akan bermalam di dalam wigwamnya di kampungnya. Ada sebabnya: penghulu berniat bermuscawarat dengan pembesarpembesar kaumnya tentang suatu hal yang penting. Patutlah orang Iroka hadir juga pada persidangan majelisnya. Tatkala bersidang penghulu menyatakan kepada orang yang hadir suatu permintaan sakhem orang putih, bunyinya hendak melayari sungai Hokhelaga arah keudik; maksudnya memeriksai keadaan tanah di daerah itu. Penghulu minta bitiyara kepada serdaduserdadu, bagaimana: dikabulkankah atau ditolakkah?

Nasihat-nasihat orang yang hadir itu berbeda-berbeda; kebanyakan orang suka mengabulkan permintaan orang putih, asal ada pandu-pandu yang menyertai orang pu-tih pada pelayaran itu. Pada akhirnya ada seorang serdadu tua menghampiri “Api Musyawarat”, bertanyalah ia bagaimana pikiran Donacauna sendiri.

Kata penghulu: “Kehendak kita akan mendengarkan dulu bicara serdadunya; niat kita...... menurut saja nasihat serdadu-serdadu. Tetapi...... ada saudara bertanya... jadi baiklah kita memberi keterangan... Mengapaakah orang putih datang kemari, serta dalam tangannya ada... guruh dan halilintar? ... Itu... akan mengusir kami dari tanah perburuan, yang menjadi warisan nek-moyang? ...... Kalau-kalau maksud=maksudnya....... mengambil tanah ini sebagai miliknya; keinginan itu akan bertambah keras lagi, jika kiranya didapatnya ketahuan tentang kesuburan dan permai daeerah ini! Itulah se-babnya perlu sekali kami menegahkan seboleh=bolehnya pelayaran yang dimaksudnya itu...... Tetapi...... adakah kami cukup kuat akan merintang pelayaran kapal-kapal menuju ke tanah=tanah diudik? Saudara=saudara kita, ”Burung Bangau Besar“, yang namanya sudah masyhour karena gagah beraninya membiarkan bahwa anaknya menurut pelayaran orang putih ke tanah seberang! Jadi ialah sudah malum, betapa kuasa orang asing! Patut-lah ia menyatakan bicaranya di hadapan ”Api Musyawarat“, mudah=mudahan ialah menyatakan kata=katanya yang bijaksana!”

“Burung Bangau Besar” hendak membenarkan persilaan Donacauna. Diceriterakannya, bahwa penghulu besar yang berkuasa atas orang kulit putih itu mempunyai serdadu beribu=ribu orang banyaknya, semua bersenjata, memakai “Senjata guruh dan halilintar”. Lain dari itu dinyatakannya, bahwa berlengkapalah kapal-kapal yang tiada terbilang banyaknya; kapal-kapal itu diperguc- nakannya akan mengantar serdadu-serdadu dari seberang kemari. Orang asing tiada berniat akan merampas tanah-tanah perburuan, milik orang bangsa Indiaan. Maksud- nya hanya: akan membeli barang yang diperoleh orang Indiaan di negerinya. Orang itu boleh dipandang sebagai sahabat-sahabat; mereka membawa kemari rupa-rupa haidiah yang berharga, bukan? Mengapa merintang pelayarannya? Ta‘ dapat tiada sakhem orang putih tiada boleh ditegahkan. Jika kiranya Donacauna tiada membenarkan permintaan orang putih, tentu yang akan dilambaikan, ... itulah jipang! Sesungguhnya serdadu Donacauna bo- leh menawan orang asing ini, karena hanya sedikit saja! Tetapi dalam hal itu penghulu besar mengirim serda- dunya kemari dari seberang; tanah-tanah kami seakan-akan diliputi oleh serdadu banyak, sebagai banteng-banteng meliputi tanah-tanah perburuan! Niscaya serdadu “Bangsa Lima Kaum” itu gagah betul dalam perang, tetapi apatah guna keberaniannya tatkala melawan ser- dadu sekian banyak orang?“

Beginilah rupa perbicaraan “Burung Bangau Besar”, kata-katanya makan dalam hati orang yang hadir. Keputusan majelis beginilah: jangan merintangkan, bahwa orang putih meresap di hutan yang letaknya sepanjang sungai Hokhelaga, dan lagi akan disuruhnya pandu be- berapa orang menuruti pelayarannya. Dengan demikian sampailah maksud dua jenis: tetaplah persahabatan de- ngan orang putih dan...... orang Indiaan beroleh ketah hutan tentang perbuatan orang putih.

Donacauna setuju dengan kepotusan majelis; te- lah nyata kepadanya, bahwa perlawanyan yang dimaksud- kannya itu boleh berkesudahan yang buruk. Tetapi da-lam hatinya...... tetaplah niatnya akan menegahkan perbuatan orang Perancis seboleh-bolehnya. Daya-upaya manakah dilakukannya akan membenarkan maksud rahasia itu...... akan dinyatakan dalam fasal yang berikut.

¹ Gelar itu artinya: Yang gagah berani diperang.

² Bacchus, ialah—menurut hadis bangsa Griekenland—Dewa Besar, berkucasa akan minuman anggur-anggur.


FASAL YANG KEEMPATBELAS

MUSYAWARAT KEDUA KALINYA: “BURUNG BANGAU BESAR” MENANG KEPADA DONACAUNA. DONACAUNA MEMINTA PERTOLONGAN KEPADA SEKUTUNYA. MUSLIHATNYA TIADA JADI. IA MENYENANGKAN DIRINYA PADA HALNYA.

Keesukan harinya “Burung Bangau Besar” beserta orang pengiringnyia berangkat hendak pulang ke kampungnya diteluk Gaspe; sebetulnya Donacauna ta’ menyesal karena orang Iroka berangkat; penghulu bangsa Iroka tiada sempat lagi akan mendahsyatkan serdadu-serdadu Donacauna dengan memuji kuasa sakhem orang kulit putih.

Setelah tumpuk orang Iroka berangkat, Donacauna menyouruh memanggil “orang hobatan”, yaitu orang hobatan yang termasyhur namanya dalam kaumnya. Bininya dan anaknya disuruhnya keluear dari dalam “wigwam”. Setelah orang hobatan datang berdahap, penghulu masuk kembali ke dalam kemahnya diiring oleh kedua orang hobatan itu. Di situlah orang berbicara lama-lama cara bersbisik-bisik; mengingat isyarat-isyarat yang menyertai perbicaraannya, maka nyatalah perkara yang dabicarakan itu penting sekali.

Pada hari itu orang isi kapal turun ke darat, diantaranya ada kapitan Cartier; ialah terus menuju kekes mah Donacauna, hendak mendengar keputusan musyarat penghulu dengan serdadunya. Tatkala musyawa rat itu dibilicarakannya, maka penghulu keroh saja akan menjawab pertanyaan kapitan. Hati penghulu tetap saja, keputusan itu tiada dimalumkannya, seberapa dicobakan oleh Cartier, maka tiada juga berhasil: jawabnya keroh saja. Kalau kalau berlaku demikian, supaya perkara itu diperlambatkan saja!

Tiba-tiba kedengaran gaduh besar di daerah kemah; di-perhatikan oleh Cartier, bahwa muka Donacauna berseri—sebetulnya sementara sekejap mata saja!—Gaduh itu makin nyata kedengaran; lalu dapat dibedakan su-ara orang bumi putera tercampur dengan suara orang Perancis. Kapitan kuatir, kalau kalau terjadi perselisihan antara orang isi kapal dan orang Indiaan; berbangkitlah ia; tetapi Donacauna tetap hati saja, tiada berdiri, rupa-rupanya ta‘ didengarnya apa-apa juga pun. Tiba-tiba kulit penutup atap kemah diceraikan orang, lalu kelihatanlah..... sikap dua orang yang disamar cara ajaib sekali, sehingga kapitan bersangka itulah bukan orang manusia. Pada pinggangnya orang itu memakai kulit serigala yang putih warnanya, hanya itulah menjadi pakaian nyya. Pada rambutnya disisipkannya rupa-rupa bulu burung; seorang dari keduanya menudungi kepalanya dengan kepala elang, yang lain menudungi kepalanya dengan kepala burung nasar. Pada leher bergantunglah kalung perbuatan cakar beruang, sampai pada pinggangnya. Lain dari itu badannya dicat, sekelliling matanya diberi bercat putih; mukanya sebagai hantu rupanya! Mereka mendekati Donacauna dengan tiada mengindahkan orang asing yang hadir itu. Donacauna berbangkit, lalu tunduk kepala di hadapan orang ajaib itu. Lalu orang menyatakan beberapa patah kata, peng-hulu berlutut di hadapan orang serupa hantu itu; tangannya dipegang oleh Donacauna, lalu dipaut pada dahinya. Lalu ia berdiri pula, serta berpaling kepada “Eland Muda”, yang menyertai kapitan sebagai juru bahasa.

“Saudara muda telah mendengar perbicaraan; surulah dia memalumkan kepada sakhem orang putih, apa yang dikatakan oleh orang yang asal dari tanah perburuan abadi.”

“Eland Muda” bergopoh-gopoh akan membenarkan permintaan penghulu, karena diperhatikaannya, bahwa kapitan Cartier terlalu ingin akan mendapat tahu hasil perbicaraan. Katanya: (dengan bahasa Perancis) “Orang ini datang dari tanah perburuan abadi, surokhan dari Cadouagay, yaitu Ruh Besar. Suruhannya akan menyatakan kepada Donacauna—penghulu yang gagah berani—kehendak Cadouagay pada hadirat serdaduser dadunya serta sakhem-sakhem orang asing yang datang dari seberang laut.”

Cartier berisyarat mengia. Sudah nyata kepadanya apa kesudahan “permainan ini.” Donacauna beserta orang ajaiib—suruhan Ruh Besar—meninggalkan kemah, diiring oleh kepit dan “Eland Muda”. Serdaduser dadu semua telah berhim pun di hadapan kemah penghulu, demikian juga orang putih, yang tadi menyertai orang ajaiib itu.

Lalu orang semua berarak dengan upacara besar menujui tanah lapang. Di situlah tempat perhimpunan orang Indiaan kalau hendak bersidang. Orang bumi putera diam saja, orang hobatan itu dimaluinya; orang Perancis bertutur nyaring-nyaring; sekali-sekali bergu-rausenda karena memandang orang tersamar itu. Pierre beserta kedua temannya menurut juga perarakan itu, mereka berjalan di hadapan sekali; dicobanya akan menghampiri Cartier; pada akhirnya ia berhadap pada kapitan, katanya:

“Kapitan! Kitalah mengetahui orang itu jawatan apa...... Italah ”orang hobatan“. Tatkala kita sakit pada musim dingin yang baru lalu, ada juga orang sebegitu rupa datang melihat kita; akan tetapi cara menyamar ta‘ sekian buruk! ...... Adakah Donacauna sakit? Ataukah Donacauna berniat keluear akan berburu; ba rangkali orang hobatan dipanggilnya kemari akan memikat banteng?”

“Pada persangkaan kita, ...... bukan begitu maksudnya, Pierre. Nanti sebentar dulu akan menjadi nyata maksud suruhannya. Sekarang kami bertempat di padang persidangan.”

Dengan menjalankan upacara yang lazim antara orang bangsa Indiaan, orang bumi putera duduk pada tempatnya; orang Perancis berdiri sekelilingnya. Donacauna minta kepada suruhan Cadouagay supaya memalumkan pesanannya kepada sekalian orang yang hadir.

Orang yang bertudungkan kepala burung-nasar itu mulai berkata; cara berkatanya lambat benar; ringkasnya beginilah maksudnya:

“Ruh Besar sudah melihat ada orang asing datang kemari, kemudian diberinya idin akan turun di darat serta akan bersahabat dengan anaknya: orang bangsa Iroka. Tetapi sekarang mereka pulang kemari, niatnya membunuh orang yang diam di padang-padang perburuan, yaitu dengan memakai senjatanya yang mengandung guruh dan halilintar.

Ta‘ dapat tiada anaknya akan mati kelaparan; orang Indiaan tiada dapat pulang lagi ke padang-padang perburuan itu. Itu sebabnya, maka dititahkannya dengan perantaraan suruhannya, supaya orang asing pulang saja ke negerinya, jangan meresap lagi di tanah milik bangsa Iroka.

Jika kiranya titah Ruh Besar sedemikian bunyinya tiada dibenarkan oleh orang putih itu, maka diturunkannya angin ribut, yang mesti membinasakan kano¹ besar, kepunyaan orang asing; dan lagi akan dibangkitkannya penyakit dan kelaparan, sehingga orang putih akan mati; tiada boleh pulang lagi ke tanah airnya.“

Sementara juru bahasa menyatakan pesanan itu kepada Cartier, Donacauna bersungguh-sungguh akan menghintai arah kepada kapitan, hendak menentukan kalau kata-kata pesanan itu makan dalam hatinya. Pada persangkaan Donacauna, mestilah orang putih dahsyat demi didengarnya pesanan orang hobatan, tetapi persangkaannya itu tiada sah; ia keciwa benar pada memperhatikan bahwa orang asing segan membenarkan perintah Cadouagay itu.

Dengan perantaraan juru bahasa kapitan Cartier menjawab, bahwa ia sudah meminta doa kepada Allah, supaya pelayaran berselamat serta berhasil. Doa itu dibenarkan juga oleh Allah!

“Eland Muda” dan “Kaki Cepat” yang masih teringat akan kebaktian digereja besar di negeri Sint-Malo, melanjutkan perkataannya tentang kuasa Ruh Besar yang dihormati oleh orang putih. Yang dikakatakannya itu makan dalam hati orang Indiaan. Nyatalah orang putih berlayar kemari dengan melalui Lautan; dengan berselamat! Ta‘ dapat tiada Ruh Besar orang putih melindungkan dia; berlawanan dengan itu Cadouagay tiada menegahkan kedatangannya di-Tanah orang Iroka. Yang mana terlebih berkuasa? ...... Jadi; muslihat Dona-cauna tiada jadi. Usaha orang hobatan...... sia-sia juga! Pada akhirnya tetaplah keputusan baru, yaitu: orang putih boleh mengudik melayari sungai Hokhelaga, di-antar oleh pandu-pandu.

Pinghulu berlutut di hadapan orang serupa hantu itu.

Meskipun demikian, penghulu beruntung sedikit juga! Ta’ dapat tiada antara orang bumi putera ada yang cerdik juga, sehingga sudah mengerti bahwa yang disebut “suruhan Ruh Besar” sebenarnya: orang ho-batan.

Jika upamanya orang putih kena sengsara, Dona-cauna kesempatan akan menyatakan kepada orang pengi-ringnyra, bahwa penelahan suruhan itu sah juga. Se-karang ini ia terpaksa tunduk saja serta menurut kehendak serdadunya...... Setelah selesai persidangan, Do-naacauna menyertai kapitan; atkala duduk dikemahnnya, ia berlaku cara manis sekali: diikhtiarkannya akan mengi-ring kapitan pada perjalanannya keudik. Ia berbuat demikian pura-pura saja, akan memberi pertolongan kepada saudaranya orang putih; sebetulnya! !! ! akan menghintai orang asing serta akan menegahkan niatnya...... Cartier berbuat pura-pura juga, seolah-olah amat se-nang hati karena pertolongan yang dipersembahkannya.

Kata Stirman Mata Sebelah: “Hai, Donacauna, ...ialah orang yang terlalu cerdik; nasihat kita, supaya kamu membuang mata kepadanya.”

“Tentu kita bermaksud begitu,” jawab kapitan Cartier, “mudah juga kita menghintai kelakuannya, ka-rene sesungguhnya ia menurut kami sebagai penun-juk jalan. Jika kiranya ia orang cerdik betul, tentu ia ta’ menyerahkan dirinya akan pekerjaan itu.”

Stirman menggeleng-geleng kepala. Ia berpikir di hatinya, bahwa Donacauna memang ada sebabnya karena menurut Budak Kapal. perjalan; tentu ia tiada berlaku begitu akan berjasa kepada orang bangsa Perancis! Pada kesudahannya telah menjadi nyata bahwa Stirman menduga pikiran penghulu lebih baik daripada kapitan.

¹ Kano = perahu kecil.


FASAL YANG KELIMABELAS

PERANTARAAN PIERRE. PERJALANANA YANG AMAT PENTING. DONACAUNA MENDAPAT TAHU BETUL BETAPA KEKUATAN “GURUH DAN HALILINTAR” YANG DIKUASAI OLEH ORANG PUTIH.

Kapitan Cartier berlayar di sungai Sint-Laurens dengan kapalnya ketiga buah, sejauh-jauhnya. Setelah sampai pada suatu simpangan sungai, yang dinamakannya sungai Sint-Croix (pada masa ini bernama sungai Sint-Kharles), pelayaran tiada dapat diteruskan karena air terlalu tohor. Bagian sungai di sebelah udik dapat dilayari saja dengan kapal yang terkecil, yaitu kapal Emerillon. Jadi bagian terbesar daripada orang isi kapal harus tinggal ke belakang; bukan hanya sebab kapal kecil itu kurang luas, melainkan juga akan menjagai kapal Grande Hermine dan kapal Petite Hermine. Sesungguh-nya orang putih bermupakat baik dengan orang bumi putera sampai sekarang, tetapi perlulah kapitan tiada bol'eh mengalpakian kewajibannya, yaitu melindung orang isi kapal beserta kapal-kapalnya.

“Hai, Pierre! Adakah kamu tahu, kalau kami boleh menurut pe'ayaran di sungai?” tanya Marc dan Antoine kepada temannya. “Niscaya kamulah yang boleh menurut!”

“Ia sungguh,” jawab Pierre, sedang matanya berseri;

“kita menurut. Tetapi kamu tiada boleh memalumkan hal itu kepada barang siapa juga pun. Kapitan Cartier sendiri belum berjanji begitu kepada kita; kita ma-lum sebab mendengar percakapan kapitan kepada Stir-man.”

Sebenarnyalah Stirman sudah menanyakan kepada kapitan, kalau Pierre boleh menurut pelayaran; Mata Se-belah amat suka, bahwa Pierre menurut. Jawab kapitan: “Ia, Stirman; Pierre ta‘ jemah lepas dari kita.

Untunglah kami mendapat dia kembali; sekarang kita bersungguh-sungguh, supaya jangan tercerai pula dari kami. O, kita segan menderita sekali lagi dahsyat yang kita derita disebabkan oleh kehilangan kala dulu!“

Percakapan itu terdengar sembunyi-sembunyi kepada Pierre, kata-kata kapitan menyenangkan hatinya, istimewa pula karena ia ingin sekali menurut pelayaran; serta ternyata dengan demikian, bahwa kapitan Cartier kasih akan dia. Pierre memutus dalam hati akan berlaku cara berpatutan, supaya kekasihan itu jangan berkoreng.

“Baiklah kamu mencobakan membawa hati kapitan Cartier, supaya kami berdua jangan ditinggalkan di sini. Sudah lama benar kami memperhentikan kelelahan di-kampung ”Burung Bangau Besar“,” kata Marc dan Antoine.

Pierre berjanji begitu; tentu kesukaannya sendiri bertambah juga, jika kiranya orang bertiga terbilang: “pendapat tanah baru.”

Ketika Cartier memberitahu kepada Pierre, bahwa te-lah diputuskannya Pierre boleh menurut pelayaran, maka diminta oleh Pierre karunia, supaya Marc dan Antoine beroleh idin juga akan menurut. Katanya: mereka sudah belajar banyak hal tentang adat-istiadat orang bangsa Indiaan, kalau kalau pengetahuannya sedemikian boleh berfaedah kepada kami. Lain dari itu ada lagi socata hal yang penting. Seperti kamu ketahui, kita tiada percayaya akan Donacauna, perlulah kami membuang mata pada kelakuannya. Tetapi orang itu cerdik sekali; tiada antara lama diperhatikannya bahwa ia dihintai oleh orang isi kapal. Pekerjaan menghintai ke lakuan Donacauna patut diserahkan kepada budak-budak; merekalah mungkin menyelidiki segala perbuatan nya, dengan tiada menerbitkan syaknya.“

Setelah ditimbangnya nasihat-nasihat Pierre, maka di putuskan oleh Cartier, bahwa budak tiga orang dijak dikan orang isi kapal Emerillon.

Adapun orang isi kapal itu empatpuluh orang banyaknya, semua orang pilihan: kelasi-kelasi yang telebih kepercayaan dan orang bangsawan, menurut pelayaran. Niscaya orang mulia itu tiada boleh ditinggalkan, karena sesungguhnya sekaranglah baru mulai bagian penting dari pelayaran, yaitu mencari tanah baru. Yang menjadi kepala tumpuk, ialah memang Cartier. Stirmaniya, iala Mata Sebelah. Donacauna beserta beberapa orang pengiringnya menjadi pandu-pandu. “Kaki Cepat” ditinggalkan di kapal dua buah yang tiada menurut pelayaran keudik, perintah kedua kapal itu diserahkan kepada kapitan Denis. Orang pemuda Indiaan tersebut menjadi juru bahasa untuk kapitan Denis. “Eland Muda” disuruh menumpang kapal Emerillon.

Ajab orang Perancis tiada terkata, karena memandang daerah yang sekian permai, yang berbentang pada kedua tepi sungai besar. Di tepi selatan kelihatanlah gunung-gunung yang tinggi, ialah pemanjang pegunungan Alleghany, sedang pun di tepi utara tampaklah gunung-gunung yang tiada begitu tinggi, puncak-puncakinya gundul juga. Di antara kedua jejer gunung ter- dapatlah lembah yang dialiri oleh sungai Sint-Laurens; rupa-rupanya lembah ini terlalu amat subur. Tanah semua ditumbuhi rupa-rupa tumbuh-tumbuhan, karena musim lente sudah datang. Bukit-bukit yang letaknya di kaki gunung-gunung itu berhutan bangsa Eropa. Dari bukit-bukit itu berbentanglah tanah datar, yang bermiring arah ke sungai; itulah tanah rumput semua, sana-sini ada juga tanah persusahaan, yaitu didaeerah kampung-kampung orang Indiaan. Di situ ber-tumbuhlah jagung dan gandum. Pada beberapa tem- pat gunung-gunung sampai di air sungai, air sungai membasahi kaki gunung itu atau memalu batu-batu besar. Ada juga sungai simpangan; ada yang terjun, ada yang mengalir cara diam saja di antara tanah-tanah rumput berkembang. Sungai-sungai simpangan itu menambahkan air sungai Sint-Laurens.¹

Sungai Sint-Laurens amat lebar; makin kemuaranya, makin bertambah lebarnya. Dekat tanjung Rosier jarak antara kedua tepinya 80 mil! Kata Cartier: sungai ini melampaui sekalian sungai di-Tanah Perancis tentang besarnya; bagusnya sama juga.

Orang pendapat tanah mengatakan bahwa tanah ini ada juga suatu sifat yang kurang baik: ta’ ada logam yang besar harganya. Mereka tiada mendapat juga per- hiasan perbuatan perak atau emas terpakai oleh orang bumi putera. Orang isi kapal berharap akan bertemu dengan bangsa Indiaan yang memakai perhiasan emas dan perak, seetelah sudah sampai di tanah-tanah sebelah udik. Pengharapannya sedemikian itu ta‘ sah juga sampai kini. Menurut tampa orang Eropa, bahwa di-Bumi Baru mesti ada emas dan perak di mana-mana juga. Istimewa pula ada banyak orang Eropa bersangka, bahwa emas dan perak terlalu banyak di daerah, boleh dipongut saja dari tanah! Serupa orang boleh memungut batu-batu di tanah gunduI di dalam negerinya sendiri. Mengapatah orang Perancis ta’ berselamat tentang hal itu, sedang orang Ispanyol sudah mendapat emas dan perak banyak di sini? Kalau-kalau di sini belum ada, barangkali ada pada tanah yang letaknya lebih jauh keudik.

Pikiran orang isi kapal sedemikian menyenangkan hati kapitan Cartier. Setelah kapal Emerillon menyeberrangi da- nau Saint-Pierre, maka air sungai menjadi tohor, pela- yaran dengan kapal besar tiada mungkin diteruskan, yaitu sahaja menurut kata Donacauna. Ta‘ ada orang yang ada keberatan akan meneruskan pelayaran dengan sekuci. Akan tetapi cara pelayaran demikian...... menghe- rani penghulo, itu tiada disangkakan dulu. Sebetulnya parasaan hati berubah, tetapi perubahan itu tiada di- nyatakannya. Budak-budak memperhatikan, bahwa Dona- cauna—cara curi-curi—berbicara dengan orang pengiringnya. Setiap-tiap kali sesudah perbicaraan, muka orang Indiaan bertambah suram, mereka menoleh ke- kiri dan ke kanan arah kepada “saudara kulit putih”.

Pendapatan itu diberitakan kepada Kapitan oleh Pierre, akan tetapi Cartier tiada mengindahkan kabar itu. Ka- tanya: “Kalau-kalau mereka suram, karena ta‘ kesempatan akan keluar berburu bersama-sama dengan temannya. Lain dari itu...... mereka selalu masam muka. Jika orang itu diberi hadiah, upamanya cermin kecil atau pita secarik, ......mereka tentu tertawa pula.”

Tetapi Donacauna beserta serdadunya tetap bersuram muka; rupa-rupanya orang menaruh syak kepada orang putih.

Kapal sekuci berlayar menuju keudik, pelayaran-nya berlambat-lambat saja; sampailah pada sebagian sungai, yang tepinya curam serta berbatu. Ada orang penempang sekuci melihat burung nasar seekor hinggap pada dahan pohon kayu. Burung itu juga dilihat oleh Donacauna, lalu terus diambilnya busur dan panah. Rupa-rupanya ia berniat menyatakan kepada orang asing, bahwa ia pandai memanah. Akan tetapi jarak sekuci dengan tempat burung itu masih terlalu besar, jadi Donacauna menantikan sa'at yang berguna dulu.

Tiba-tiba orang putih membedek bedilnya...... keli hatanlah...... sinar terang, kedengaran bunyi...... das! burung nasar tercemplong ke dalam air, matilah ia! Sesudah itu orang Perancis memandang pengghulu bangsa Indiaan cara sombong. Donacauna tiada tertawa, masam mukanya bertambah sangatnya: inilah pertama kali dilihatnya betapa hasil senjata yang dipakai oleh orang putih! Tentu sekarang menjadi nyata kepada Donacauna, bahwa ia tiada dapat melawan orang yang mempunyai senjata begitu rupa, Walaupun serdadunya sendiri terlalu gagah beranil Sakit hati Donacauna sekarang sudah nyata betul pada mukanya: ternyata juga pada cara memandang orang putih yang tadi menembak burung!

Kata orang Perancis itu: “Wahai! Kita tiada dapat bersangka, bahwa penghulu marah demikian, karena kita mendahului dia pada menembak burung...... Nah, lain kali, kita biarkan, bahwa ia mendahului kita.”

Teman-teman memuji orang Perancis karena pandai menembak; ialah tiada teringat lagi akan kemurkaan orang

Indiaan itu. Sebetulnya Donacauna bersungguh-sungguh, supaya kemurkaannya jangan ternyata lagi pada mukanya. Duduklah ia secara orang bermimpi, seolah-olah ta‘ teringat lagi akan peristiwa yang baru kejadian itu.

Beberapa hari kemudian daripada peristiwa ini, “Eland Muda” berisyarat kepada temannya, pemuda bangsa ku-lit putih tiga orang: “Kemarilah!” Lalu ia berkata ke-pada budak-budak ketiga orang itu: “Baiklah kita co-bakan penglihatmu! Lama-lama kamu tinggal di kampung orang bangsa kita, inilah daya-upaya akan memeriksa ka-lau penglihatmu setajam dengan penglihat bangsa Iroka.” Sedang berkata demikian, ditunjuknya arah kepada bu-kit-bukit yang terdiri di tepi utara sungai, jaraknya masih jauh.

Pada lereng-lereng bukit-bukit kelihatanlah sebagai titik hitam yang senantiasa bergerak; akan tetapi akan mementukan kegerakan itu, perlulah orang berpenglihat yang tajam benar. Tiba-tiba berteriaklah Marc, katanya: “Bison! Ada bison! Bettullah, itu...... bison!” Pierre dan Antoine mengaku juga: “Itulah bison!” Donacauna beserta teman pengiringnyia sudah memperhatikan, bahwa ada bison beberapa kawan, tempatnya masih jauh. Demi dilihatnya itu, maka terbitlah niat pada pikiran penghulul.

.....Mungkinkah orang putih—dengan memakai guruhnya—membunuh bison itu pada jarak yang sekian jauh? Itulah yang diingini tahu...... jika kiranya...... mungkin...... tentu orang putih herus meninggalkan negeri ini, ... Biarpun serdadu “Kelima Bangsa” semuanya disuruh menyerang orang putih ini. Jika kiranya orang putih berkuasa begitu, maka sahlah penelahan suruhan (pura-pural) Cadouagay, menyatakan, bahwa padang perburuan milik orang bangsa Indiaan tiada berhasil lagi, karena sesungguhnya binatang perburuan dibu-nuhnya habis belaka serta orang negeri mati kelaparan.

Penghulu mengatakan beberapa patah kata kepada pandu-pandu, lalu berpaling kepada Cartier, katanya:

“Saudara-saudara bangsa putih, ialah pemburu yang pandai; burung-burung didayatuhkannya dari pohon kayu, hanya dengan menunjuk arah kepada burung-burung itu dari jauh-jauh. Di sana...... di lereng bukit-bukit ada banteng sedang makan rumput; sukakah saudara-saudara menginjak tanah perburuan bersama-sama kami?”

Ikhtiar ini amat menyenangkan orang bangsawan; Cartier memberi idin kepadanya akan menurut pemburu bangsa Indiaan. Kemudian ditentukan, bahwa pandu-pandu, “Eland Muda” dan budak-budak kapal tiga orang keluear akan menyelinap arah ke tempat banteng, supaya diusirnya arah kemari; anginnya baik. Orang ku-lit putih akan menyinggahi sebagian tepi yang tinggi sedikit, supaya orang itu ta‘ tampak kepada banteng-banteng. Donacauna tetap di sini; jika kiranya penghulu menurut orang Indiaan akan mengusir banteng, niscaya Cartier menahan budak-budak diseekuci juga.

Terpandang dari tempat orang putih, kawan banteng-banteng menyerupai sekawan domba saja, banyaknya kira-kira dua ratus ekor. Lama-lama binatang terus makan rumput, rupanya tenang saja; itulah alamat binatang belum memperhatikan kedatangan orang pemburu. Tiba-tiba penghulu banteng sekawan, mengangkat kepala serta mengentakkan kakinya pada tanah, nyatalah binatang itu menjadi marah. Banteng jantan lain menjadi belisah juga; kawan sama sekali berhenti daripada makan rumput, kepalanya ditujukan arah ke-tempat asal angin. Binatang berkerumun, ta‘ tentu arah berjalannya; dengan sekonyong-konyong binatang berbalik, lalu menempuhi tepi sungai. Kata seorang orang bangsawan kepada Donacauna: “Marilah, kami memasang bedil bersama-sama pada seketika juga. Banteng yang berambut panjang kita tembaki, sedang kamulah membedeki banteng yang berjalan disisinyal!” Penghulu menahan diri; tatkala kedengaran bunyi das asal dari bedil orang bangsawan, maka Donacauna sebenarnya melem-parkan panahnya juga. Tetapi panah itu...... kena tanah, kira-kira pada pertengahan jarak antara tempat pemburu dan kawan banteng! Banteng jantan yang ditembaki orang putih itu kena peluru, ia berlompat sekali lagi, lalu seakan-akan tercampak di tanah.

Jadinya das yang belum pernah terdengar, baik oleh binatang, baik oleh orang Indiaan itu amat amat hebat. Banteng-banteng bingung, tetap pada tempatnya; demi- kianlah mudah dibedeki oleh orang pemburu bangsa putih. Pada seketika dipasang orang bedil duapuluh bilah, setelah asap menyingsing, maka tampaklah ada binatang banyak terbunuh atau kena luka besar. Banteng lain berlari-lari menuju kesegala pihak. Karena bingungnya ada beberapa ekor mencemplungkan diri nya ke dalam air sungai, yang berwarna merah sebab ter- campur dengan darah binatang yang berluka itu. Ada setumpuk binatang lain menempuhi bukit-bukit, karena sesungguhnya tiada teringat bahaya mana yang hares dijauhinya. Di situ binatang kena panah-panah yang dipanahkannya kepadanya oleh orang yang pekerjaannya mengusir banteng arah ke sungai. Hai, kedengaran sekarang bunyi tempik-sorak yang dinyatakan oleh pemburu-pemburu karena memperoleh hasil perburuan se- kian banyak! Hanya...... Donacauna tiada menurut tem-pik-sorak itu. Panah yang dilemparnya dicabutnya dari dalam tanah, lalu disimpan dalam ikat pinggangnyia serta pulang kesekuci sendiri diri. Kepada orang pengiringnya diberinya perintah, supaya menolong orang kulit putih dalam pekerjaan mengulit banteng dan menyimpan dagingnya.

Sukacita pemburu-pemburu tiada terkata; tatkala sudah sampai kembali diseckuci, maka pelayaran diterus kannya. Sungai makin menjadi sempit, harus makin bertambah deras; itu sebabnya sekuci tiada boleh maju sebagai dulu. Adakalanya orang bersua dengan riam-riam, perlu orang menaruh ati-ati, supaya sekucinya jangan pecah. Menjadi nyata sekarang bahwa nasihat Donacauna berguna juga: sungai ini tentu tiada dapat dilayari dengan kapal Emerillon. Sekali-sekali orang terpaksa menurunkan muatan kapal serta memikul pera-hu sepanjang jalan di darat, umpamanya akan meliwat tempat air terjun. Pada akhirnya sampai kepada sebuah kampung orang Indiaan. Kampung ini besar sekali, melampaui kampung-kampung yang telah dilihat oleh orang putih. Nama kampung itu sama juga dengan nama sungai: “Hokhelaga”. Letaknya di lereng bukit, di antara gunung dan tepi sungai. Orang isi kampung menemui orang asing akan bersalam-salaman cara manis.

Nyatalah bahwa Donacauna beserta orang pengiringnya sudah berkenal-kenalan dengan orang kampung ini. Pierre dan budak-budak bangsa kulit putih lain memperhatikan bahwa Donacauna beramah-ramahan dengan Sakhem cara manis betul, hal itu menerbitkan syak hati Pierre. Cartier membagi hadiah seperti biasa, jadinya juga seperti biasa: orang kaum Hokhelaga rupa-rupanya amat senang hati karena beroleh hadiah itu. Se-sudah sekejap mata orang bercakap-cakap sedikit, lalu Cartier menyatakan kehendaknya, yaitu bahwa ia berniat mendaki gunung. Perjalanen ke gunung itu dipanduikan oleh Donacauna beserta pengiringnya dan penghulo baru. Perjalanen itu terlalu amat sukar; tes-tapi kesusahan yang diderita orang sedang mendaki gunung itu seolah-olah dibalas dengan pemandangan yang teralu amat permai. Maka di hadapan orang berbentanglah suatu tanah yang amat elok: tanah itu dialiri oleh sungai Sint-Laurens, yang—terpandang daripada gunung tinggi—menyerupai pita perak. Cartier menganjurkan tangannya, seakan-akan ia berdoa kepada Allah, katanya: Atas nama Allah subhana wa'ta‘ alla, yang me-nurunkan berkatnya kepada kami, tanah begus ini—yang kita namakan Perancis-Baru—kita ambil sebagai milik Maharaja Perancis.“²

Setelah selesai perkataan Cartier, orang putih semua tempik-sorak, hendak menyatakan kesenangannya, seru orang dengan senyaring-nyaringnya: “Hiduplah Maharaja Frans I, Raja Tanah ”Perancis-Baru!“

Cartier mencapai Donacauna pada tangannya, lalu di-guncangnya cara bersahabatan benar. Katanya: “Penghulu Besar, kamu yang berjsa kepada kami ini; kita berharap, supaya kamu suka berjsa juga pada yang akan datang. Atas nama Maharaja Perancis kita ber-janji kepadamu suatu anugerah yang terlalu amat halus. Besok pelayaran ini akan diteruskan, sampai pada kesudahan sungai ini yang sekian permai.”

Keesukan harinya Cartier bangun dari tidurnya maka hatinya terlalu senang; akan tetapi keciwa benar ia, seakan-akan kena guruh dan halilintar, tatkala diperhatikan, bahwa Donacauna beserta orang pengiringnya sudah hilang!

¹ Sungai Sint-Laurens mengalirikan air danau lima buah yang amat besar: D. Huron, D. Mikhigan, D. Erie, D. Ontario dan D. Di atas. Di antara Danau Erie dan Danau Ontario kedapatan air terjun yang masyhur: “Niagara”.

² Cartier menamakan gunung ini: Mont Royal (Gunung Raja). Kemedian hari pada tempat ini didirikan orang Perancis sebuah kota yang diberi bernama begitu juga: Montreal = Montroyal. Pada masa kini negeri ini amat locas, penduduknya 250.000 jiwa banyaknya. Menjadi bandar yang teramai di-Tanah Canada.


FASAL YANG KEENAMBELAS

NASIHAT STIRMAN MATA SEBELAH. NASIHAT ITU DITURUT JUGA OLEH CARTIER. DONACAUNA BERKEHENDAK BURUK, TETAPI KEHENDAKNYA ITU TIADA DAPAT DIBENARKANNYA.

Kelasi-kelasi berkayuh sekuat-kuatnya. Tempat-tempat yang berbahaya itu sudah terliwat, ta’ ada riam dan air terjun lagi. Sekuci-sekuci seolah-olah berlengser di atas muka air, terhanyut oleh harus air. Pada peman- dangan kapitan Cartier…… belum cukup deras pela- yaran sekuci, katanya: “Bagaimana, belum sampai di- danau? …… ”……Hai, Pierre, tinjau betul-betul; bila kelihatan apa-apa, beritahulah kepada kita dengan seben- tar jugal“

Sekarang ta’ ada pandu lagi, itu sebabnya, orang per- jalan an bermusyawarat hendak berbuat apa: menerus- kan pelayaran arah keudik atau pulang saja ke tempat asal. Orang yang panas hati menasihatkan yang tersebut pertama, akan tetapi orang yang bijak menasihatkan: ikhtiar yang tersebut kedua; Stirman Mata Sebelah menya- takan, bahwa pelayaran arah keudik tentu berbahaya, karena dalam hal itu ada pengamangan buruk, yaitu ada orang yang berseteru di belakang. Karena sesung- guhnya Donacauna akan mengasut orang bumi putera, supaya melawan orang putih; kalau-kalau orang Indiaan hendak menyerang kapal-kapal! Perlulah orang berhim pun pula dengan orang yang ketinggalan di kapal besar. Jikalau bersegera, kalau-kalau orang boleh mendahulu penghulu Donacauna dan orang pengiringnyya. Kapitan Cartier setuju dengan tampa Stirman Mata Sebelah, lalu diputuskan: pulang ke tempat asal. Sebetulnya ta‘ ada ikhtiar yang lain, yang boleh dibenarkan. Tatkala “Eland Muda” menanyakan kepada penghulu, kalau pandu-pandu yang hilang itu tiada boleh diganti oleh orang yang asal dari kampungnyya sendiri, maka orang itu menjawab cara keroh serta berdalih-dalih.

Donacauna sudah mengasut orang kampung baru, supaya jangan bekerja lagi untuk orang bangsa kulit putih.

Kapitan Cartier belisah karena teringat akan hal kapal Emerillon, yang berlabuh didanau Sint-Pierre. Orang isi kapal hanya enam orang; mudahlah orang Indiaan yang diasut oleh Donacauna boleh menyerang orang itu, kalau-kalau orang isi kapal dibunuh oleh orang pengiring Donacauna.

Kapitan Cartier tiada kuatir, kalau kedua kapal lain, yang besar itu diserang; Cartier percaya betul akan kepandaian dan penjagaan kapitan Denis; ta‘ dapat tiada ia menyediakan segala sesuatu yang perlu akan melindungkan kapal-kapal daripada bahaya diserang oleh Indiaan.

Kelasi-kelasi terus berdayuh, mereka diam saja. “Eland Muda” beserta Pierre meninjau dengan tiada berkeputusan. Tiba-tiba berteriaklah Pierre, katanya: “Kapal! Kapal Emerillon.” Sementara sekejap mata lamanya orang berhenti daripada mengayuh serta memandang arah kepada tempat yang ditunjuk oleh Pierre, kemuadian pekerjaan mengayuh diteruskan oleh kelasi-kelasi.

Nyatalah kapal Emerillon masih ada, tetapi masih dalam kuasa orang Perancis? Kalau-kalau telah dirampas oleh orang Indiaan; dalam hal ini boleh jadi orang yang merampas kapal itu bermuslihat kepada orang isi sekuci! Cartier bermusyawarat dengan Stirman Mata Sebelah, yang duduk di sebelah dalam sekucinya dan joga dengan opsi yang duduk dalam sekuci lain. Setelah selesai musyawarat itu, maka dinaikkanya bendera. Tiada antara lama kelihatan orang isi kapal Emerillon menaikan bendera putih yang dihiasi dengan bunga seroja emas serta kedengaran bunyi tempik-sorak orang isi kapal. Ta’ dapat tiada bunyi tempik-sorak itu dijawab oleh orang isi sekuci dengan sukacita di hatinya. Tatkala orang isi sekuci memanjati geladak kapal Emerillon, mereka ditemui oleh temannya cara amat senang, berjabat ta’ ngan seorang dengan seorang.

Menurut kata orang isi kapal Emerillon, mereka tiada diganggu oleh orang Indiaan. Sementara beberapa hari ta’ kelihatan orang bumi putera, seorang pun tidak! Penduduk kampung segenapna meninggalkan kam-pung, akan memburu bison pada padang perburuan di tepi utara danau. Hal itu mengherankan kapitan Cartier amat sangat; mustahil! mereka tiada mencoba akan menyerang kapal serta akan membinasakannya. Pierre dan “Eland Muda” sudah mengerti apa sebab penghulu besar tiada suka menyerang kapal.

Pertama: karena serdadunya terlalu sedikit orangnya; hanya ada tiga orang pengiringnyia!

Keduanya: menurut pikiran “Eland Muda” bahwa orang Indiaan meninggalkan daerah ini atas perintah Do-nacauna, kalau-kalau pergi ke sebelah utara, supaya ber-tempat berdekatan kapal besar dua buah itu. Nyatalah penghulu tiada suka menyerang dulu kapal Emeril Budak Kapal. lon; yang diinginnya, yaitu membinasakan kapal-kapal yang besar serta membunuh orang isi kapalnya! Itu sebabnya orang kampung Indiaan diasutnya berpindah keoctara! Persangkaan ini boleh kepercaan. Jadi orang ta’ boleh berlambat-lambat; kapitan Cartier menyuruh melengkapkan kapal Emerillon selekas-lekasnya. Bagaimana? Sahkah persangkaan “Eland Muda”? …………… Donacauna meninggalkan kampung Hokhelaga ketika tengah malam, diiring oleh serdadunya tiga orang. Sebelum berangkat disuruhnya penghulu kampung berjanji supaya jangan memberi pandu-pandu kepada orang asing. Tentu orang asing terpaksalah akan menghentikan perjalanannya. Setelah Donacauna beserta serdadunya sudah jauh dari kampung, sehingga ta’ usah menakuti lagi penge-jaran orang putih, maka mereka berhenti, hendak bermusyawarat. Ada seorang serdadu mengikhtiarkan akan membakar “kano besar” (niatnya: kapal Emerillon), setelah dibonuh orang isi kapalnya. Akan tetapi Donacauna tiada setuju dengan niat itu. Akan membunuh orang Perancis enam orang, perlulah…… mereka ditawan du-lu! Katanya: “Kami orang gagah berani, akan tetapi orang putih itu melebihi kami tentang banyaknya, lain dari itu mereka mempunyai senjata yang berguruh dan berhalilintar. Dengan memakai senjatanya itu mereka dapat membunuh kami dari jauh-jauh! Supaya jangan dimurkai oleh sakhemnya, orang isi kapal menjagai kapal sebaik-baiknya sementara malam hari. Ta’ dapat tiada kapal itu ta’ boleh diserang tiada terkira-kira. Nyatalah pekerjaan menyerang kapal yang berlabuh didanau itu tentu akan memperlambatkan saja penyerangan di kapal-kapal lain. Yang lebih baik, yaitu me-nuju ke tempat kapal-kapal besar supaya merampas nya.“

Ada seorang serdadu menyatakan timbangannya, demikianlah katanya: “Ada banyak serdadu bangsa putih, juh lebih banyak daripada serdadu yang dapat diantar oleh Donacauna. Dan lagi ada ”senjata guruh“. Dengan senjata itu kami ditiupkan sebagai ditiupkan oleh pusaran angin.”

“Benar juga kata saudara” jawab penghulu; “tepapi lidahnya lebih panjang daripada pikirannya.” Dia manakah sekarang orang laki-laki dari kaum besar Iroka, yang mengediami tepi sungai antara Hokhelaga dan kam pung tempat pelabuhan kano besar orang asing punya? Seperti saudara sudah ketahui, bahwa jipang kami be lum digali dari dalam tanah. Orang kulit putih tentu akan menerima kami cara manis, mereka tiada berniat akan membunuh kami dengan “senjatanya yang ber halilintar.” Marilah kami menempuh kano-kano akan mangambil tengkoraknya. Bila sakhem pulang dengan orang pengiringnyna, sungai Hokhelaga akan meminum juga darahnya. Hutan-hutan sepanjang sungai besar akan diberi berwarna dengan nyala-nyala asal dari kano kano yang akan dibakar. Senjata “berguruh” kepunyan annya akan tenggelam di dalam sungai Hokhelaga. Sesu dah itu tiada jemah ada orang asing yang berani mengin jak tanah perburocean kami punya. Serdadu-serdadu “Lima Kaum” tetap bebas serta tetap juga memerintahkan tanah ini, yang letaknya sepanjang sungai besar.“

Sedang berkata demikian, mata Donacauna berseri, ber bangkitlah ia, lalu perjalanan diteruskannya.

Niatnya, hendak menyampaikan tempat pertemuan sungai dengan danau Sint-Pierre sebelum kedatangan ka-pitan Cartier. Dalam hal itu mudahlah membenarkan maksudnyia akan menyemui orang isi kapal dua buah yang besar itu: Karena sesungguhnya mereka belum mengetahui peristiwa yang kejadian di kampung Hokhe laga. Jika orang isi kapal “Grande Hermine” dan “Petite Hermine” telah terbunuh, maka mudahlah tumpuk kecil yang mengiring kapitan Cartier, digagahi. Itu sebab nya Donacauna dan temannya bergopoh-gopoh, terus me nujui tempat kapal-kapal berlabuh. Tatkala bersua dengan sungai, maka sungai itu diseberanginya dengan berenang juga. Hutan-hutan yang lebat-lebat bukan keberatan. Sesudah berjalan beberapa hari lamanya, mere ka mendekati sungai Sint-Croix, yaitu pada tempat per temuan sungai ini dengan sungai Sint-Laurens. Lalu orang menyelinap di hutan, yang letak di antara tempatnya dan sungai; setibanya di pinggir hutan, Donacauna men ceraikan dahan-dahan, hendak memandang kepelabuhan kapal-kapal...... Aduhai, alangkah besar keciwanya! ...... Kapal Emerillon sudah berlabuh di sebelah kedua bu ah kapal lain!


FASAL YANG KETUJUBELAS

KEDUA ORANG PEMUDA BANGSA INDIAAN BERJASA KEPADA SAHABAT-SAHABAT, ORANG BANGSA KULIT PUTIH. NYARIS TERLEPAS DARIPADA PERTAWANAN DONACAUNA DAN PENGIRINGNYA.

Baik orang isi kapal Emerillon, baik orang Indiaan tiga orang yang dikepalai oleh Donacauna berniat menyampai kan selekas-lekasnya muara sungai Sint-Croix.

Rupa-rupanya kedua pihak itu mengadakan suatu perlumbaan. Orang Indiaan—yang berjalan kaki—mungkin berjalan terus-menerus saja, tetapi kapal itu terpaksa menuruti segala belikau sungai. Kepal ada ber-untung sedikit, karena menurut harus sungai, lain dari itu kapal dapat berlayar juga sementara malam hari. Dengan demikian kapitan Cartier mungkin menda-hului Donacauna; Cartier sampai di pelabuhan kapal besar lebih dulu sehari semalam. Cartier senang juga pada memperhatikan, bahwa kapal-kapal sudah bersiap sama sekali: lubang penembakan meriam sudah terbu-ka, ada kelasi-kelasi bersenjata berkawal di atas geladak. Betapa peri orang mendapat ketahuan tentang kelarian Donacauna! ?...... Ataukah......! Mustahil!“ Demikian cara berkata-kata dalam dirinya. ”Jika upamanya ia sudah sampai di sini, tentu... ia harus pandai terbang!“... ”Hai, Pierre, kemarilah bersama-sama “Eland Muda.”

“Setelah pemuda dua orang itu menghadap kapitan, maka ditanyainya: ”Mungkinkah bahwa pandu-pandu yang lari itu dapat menyampaikan tempat ini mendahului kami?“

Sebagai jawab pertanyaan ini, maka “Eland Muda” mulai membilang dengan memakai jari-jarinya. “Itu apa?” tanya kapitan, yang sudah menjadi kurang sabar; “coba jawab terus-terang saja!”

“Maksud kita demikian juga, kapitan; yang perlu dulu, yaitu mengetahui beberapa kalikah matahari terbit dan terbenam sejak waktu berangkat dari Hokhelaga!”

Lalu orang pemuda mulai kembali perhitungannya, yang diusik dulu oleh perantaraan Cartier. Setelah sele-sai, ia menjawab: “Kaki Donacauna amat cepat, dan lagi ia tiada mudah jadi lelah; orang itu patut dita-kuti bila ia bersedia akan berperang. Kami beruntung karena dapat menurut harus sungai Hokhelaga; mestia lah Donacauna ke belakang. Matahari akan terbit lagi dua kali, sebelum penghulu boleh sampai kemari.”

Jawab itu mempertetapkan hati kapitan; menurut tampanya kata-kata “Eland Muda” kepercayaan.

Akan tetapi...... mengapakah kapal-kapal sudah bersiap? Mengapakah ada kelasi-kelasi bersenjata, lagi ber-kawal di geladak? Itulah dua pertanyaan yang dinyatakan oleh kapitan Cartier tatkala bersalam-salaman dengan kapitan Denis. Keteranganya demikian:

Setelah kapal Emerillon berangkat, maka mupakat antara orang isi kapal dan orang bumi putera itu tiada baik. Ada sebabnya: orang Indiaan suka mencuri. U-sahkan menantikan ketika beroleh hadiah dari orang isi kapal, mereka merampas sekalian barang yang diingininya. Itu sebab kapitan Denis terpaksa melarangkan bahwa orang Indiaan masuk ke kapal-kapal. Tetapi yang bersalah juga, ……ialah kelasi-kelasi! Mereka berbuat rupa-rupa sendirian dan permainan. Kesukaan kelasi-kelasi, yaitu…… menembakkan pistol atau bedil dengan seko-nyong-konyong, sehingga orang bumi putera terkejut. Makin hari, makin bertambah juga banyak orang bumi putera yang datang melihat kapal-kapal. Mula-mula di-minta harga yang tinggi akan pembayaran daging dan ikan yang dijualnya kepada orang isi kapal; pada akhirnya mereka tiada mau datang lagi, engganlah menyerahkan perbekalannya, Walaupun ditawarkan harga yang tingginya sepuluh ganda daripada harga yang biasa. Kapitan me-larang kepada kelasi-kelasi akan turun ke darat. Ada hanya seorang, yang beroleh idin akan turun ke darat, ialah “Kaki Cepat”. Ialah menyelinap—ketika malam hari—di daerah akan mendapat ketahuan tentang tingkah laku orang Indiaan. Adakalanya “Kaki Cepat” menjadi saksi—yang ta’ tampak pada orang Indiaan!—semena-tara orang berhim pun. Dengan perantaraan “Kaki Cepat”, Denis mendapat tahu, bahwa orang bumi putera me-nantikan kedatangan Donacauna, yaitu akan “menggali jipang”. Itu sebabnya kapitan Denis berperintah akan mengisi meriam-meriam serta akan berkawal di kapal.

Cartier memuji kerajinan temannya. Yang menjadi suatu perkara yang amat penting, yaitu kabar tentang Donacauna: adakah orang itu sudah sampai di daerah? “Kaki Cepat” dan “Eland Muda” menyerahkan dirinya akan memeriksakan itu. Pierre minta, supaya boleh me-nurut kedua orang Indiaan bersama-sama dengan Marc dan Antoine, sia-sia saja! Cartier segan mengabulkan permintaan itu. Kedua orang Indiaan tersebut tiada setuju, bahwa pemuda orang bangsa putih itu me-nuruti dia. Budak-budak hanya beroleh idin akan me-numpang sekuci yang akan mengantar orang penghintai ke tempat persidangan orang Indiaan. Setibanya di situ sekuci tinggal di tepi sungai saja, menantikan penghintai. Jika kiranya orang penghintai itu didapat serta diamang oleh orang bumi putera, mereka boleh meminta pertolongan kepada orang isi sekuci, yang semuanya bersenjata. “Eland Muda” mendapat suatu suling—perbuatan perak—dari kapitan, yang akan dipergunakan untuk memberi semboyan kepada orang isi sekuci.

Sekuci sampai pada tempat yang dimaksudkan, dengan berselamat. Lalu “Eland Muda” dan “Kaki Cepat” berlompat dari dalam sekuci ke darat, kemudian lenyap dalam belukar-belukar. Sekarang perlu sekali berlaku atiati betul; mereka menghampiri tempat persidangan, yang letaknya sekeliling “Api musyawarat”, sedekat-dekat nya, supaya dapat menghintai perbuatan orang yang berhim pun itu. Mereka merangkak sebagai ular yang me lata di tanah. Kalau-kalau tiada kesempatan akan mendengar sekalian perbicaraan, tetapi orang penghintai itu cerdik benar, dalam kebanyakan hal cukuplah isyarat yang menyertai percakapan.

Yang dilihatnya mula-mula, ialah Donacauna. Penghulu itu amat gembira, berdirilah ia di hadapan Api, suaranya nyaring betul, perkataannya disertainya dengan isyarat-isyarat. Orang penghintai melihat, bahwa Donacau na mengambil panah dari dalam ikat pinggangnya, lalu diunjukkannya kepada seorang yang duduk dileng kung. Ia bertanya: “Hai, Pembunuh Nasar! baikkah panah ini?” Ada seorang serdadu tua yang memegang panah diunjukkan kepadanya, lalu diperiksainya. Kemudian Donacauna mengunjuk busur kepada serdadu tua, seraya berkata: “Adakah saudara sudah men capai busur yang lebih baik dari ini?” “Pembunuh

Nasar“ mengamat-amati busur: kayu busur dirabara dengan tangannya, tali busur dirabanya dengan jarinya, kemudian panah diletakkannya pada busur. Se-sudah itu busur dan panahnya dipulangkan kepada Donacauna seraya berkata: ”Inilah senjata kepunyaan penghulu besar!“

“Nah!” kata Donacauna, “panah inilah kita lemparkan arah kepada seekor bison, sedang sakhem orang putih membedek ”senjata guruh“ pada seekor bison lain. Baru ”halilintar“ terlepas daripada tangannya, maka baru juga terjatuh ke tanah, matilah! Tetapi panah kita punya kena tanah, sebelum sampai pada pertengahan jarak antara bison dan tempat kita. Coba, katakanlah, ”Pembunuh Nasar“! Adakah di antara orang Kelima Kaum seorang serdadu yang mempunyai busur se- kian baik?”

“Pembunuh Nasar” berisyarat: tidak! Donacauna mem- buang busur dan panah ke dalam api, sehingga nyalanya bertambah sedikit sementara sekejap mata. Senjata ke- punyaan Penghulu Besar...... telah berubah...... men- jadi...... abu saja!“

Demi terlihat itu, orang yang hadir bersungut- sungut, berlawanan dengan adatnya, orang berbicara seorang pada seorang, itulah disebabkan kata-kata Dona- cauna dan lakunya. Tatkala penghulu mengangkat tangannya, orang diam pula.

“Adapun nyala itu menghilangkan senjata sama se- kali, ...... perbuatan sedemikian boleh berharap pada orang asing tentang Kaum Lima, asal...... kami berlaku seba- gai penakut, asal kami membiarkan dia berlaku demikian. Siapatah...... menyerahkan tanah kepadanya? ...... Siapatah memanggil dia kemari, supaya menginjak tanah perbu- ruan kami? ...... Kami sudah beroleh nasihat dari Ca-douagay! ...... Mengapakah kami tiada mengindahkan su aranya? ...... Baikkah kami berlaku terus begitu, me murkakan dia karena tiada mendengarkan nasihatnya?“

“Tentu dalam hal itu mukanya dipalingkannya dari kami serta kami diserahkannya kepada orang putih; pada akhirnya kami terbunuh semua dengan senjatanya yang ”berhalilintar“ itu. Squaw dan anak-anak akan mati ke laparan dalam wigwam, karena di situ tiada ada perbe kalan lagi.”

Demi terdengar pidatu demikian bunyinya, maka ter jadilah gembira. Semua orang yang hadir berbangkit.

Ada orang yang berteriak, katanya: Baiklah dipanggil orang hobatan, supaya Cadouagay berdamai pula dengan anaknyal Kami hendak melemparkan api ke dalam wig wam besar, orang putih punya, yang mengantar dia ke mari dari seberang laut. Tentu Cadouagay akan tertawa cara manis-manis demi dilihatnya bahwa tubuh-tubuh musuoh itu menutupi tanah kepunyaan anaknyal!“

“Hai, yang malum sekarang kepada kami, itulah cukup, ”Kaki Cepat,“ kata ”Eland Muda“ (cara berbisik-bisik) kepada temannya.......Tatkala ia berbalik, ka kinya mengenai ranting kayu kering, patahlah! Ia menoleh. Katanya: ”Bangunlah, Kaki Cepat, bunyi gemercik ini telah didengar orang, perlulah kami berlari secepat-ce patnya, supaya kami terpelihara!“

Nyata juga, bahwa orang yang berhim pun telah men dengar bunyi gemercik asal dari dahan yang patah itu; pada sa'at itu juga ada beberapa orang yang berlom pat menujui arah asal bunyi itu. Donacauna men cpai kayu yang bernyala, dengan demikian dapat dibeda kannya dahan-dahan kayu yang terpatah. Sejurus la manya, berdirilah ia, terus mendengar-dengarkan: tentu didengarnya bunyi yang diadakan oleh “Kaki Cepat” dan

“Eland Muda”, tatkala berlari di dalam belukar. Donacauna berteriak, katanya kepada orang pengiringnya: “Penghintai! Penghintai! ; Capailah, marilah kami mengoberban kan dia, supaya kemurkaan Cadouagay diteduahkan.”

Sekarang mulailah suatu pengejaran akan menangkap kedua orang penghintai. Selama orang penghintai bertempat di dalam hutan, mereka beruntung. Karena se-sungguhnya mereka tiada tampak kepada orang yang mengejar dia, itu sebab orang pengejar terpaksa akan berhenti sekali-sekali, supaya dapat mendengarkan gaduh yang diadakan oleh orang yang sedang berlari. Sayanglah! Dengan sekonyong-konyong penghintai tiba pada suata padang, sehingga tampak kepada musuhnya. Tiada antara lama kedengaran tempik-sorak orang pengejar, lalu orang penghintai dipanahnya.......Tetapi “Eland Muda” membunyikan sulingnya, ......semboyan itu terjawab joga...... kedengaranlah bunyi das, nyatalah orang isi se-kuci sudah mendengar semboyan “Eland Muda”. Ke-dua orang penghintai mempercepatkan langkahnya; keli-hatan kepadanya...... titik api, serupa bintang kecil, seakan-akan merangkak di tanah. Itulah...... murang-murang, yang dipasang oleh kelasi-kelasi yang sedang mene-mui dia. Dari jauh kedengaran juga suara Pierre, yang berteriak, katanya:

“Kemarilah! ”Eland Mudal“ ”Kaki Cepat!“ Orang yang mengejar kamu itu akan diusir kembali!”

Akan tetapi Donacauna dan orang pengiringnya tiada berani meneruskan pengejaran, setelah didengar bunyi das. Mereka melempar lagi beberapa panah kepada orang yang lari itu, lalu mundur ke dalam hutan, niscaya orang itu takut dikenai peluru yang dilemparkan ke-lasi-kelasi.

Setibanya di kapal, orang pemuda bangsa Indiaan mem-beritakan kepada Cartier tentang suruhannya. Demi terdengar itu, Cartier berputus dalam hati hendak mela kukan suatu akal, supaya boleh tinggal di Tanah Canada selama musim winter. Ia berbuat seolah-olah menakuti penyerangan orang bumi putera; sebab itu ia bermaksood hendak berangkat dalam beberapa hari.

Kapitan Cartier menyatakan niatnya itu dulu kepada temannya kapitan Denis, ditambahnya lagi katanya, bahwa sebenarnya niat itu pura-pura saja!

Kapitan Denis menyatakan di hadapan kelasi-kelasi, bahwa ia segan menurut “niat” Cartier; demi terdengar kata kapitan Cartier, maka sekalian orang isi kapal—tiada ada keculian—setuju dengan perlawanan kapitan Denis. Mereka berang hati, katanya:

“Patutlah, kami mundur, seakan-akan menyatakan ke takutan karena diamang oleh seetumpuk orang liar? Jikalau berlaku demikian, seolah-olah Kerajaan Perancis, yang masyhuer namanya di dunia, kena tahi buruk!”

Cartier melawan, tetapi cara pura-pura saja, katanya: “Coba ingat betul! Sekarang masih kesempatan akan berangkat, tetapi tiada antara lama musim berubah, sehingga kami terpaksa akan tinggal di sini, karena air sungai beku habis belaka! Dalam hal itu perlulah kami menantikan musim panas!”

Jawab orang: “Baik juga! biarlah kami tinggal di daerah ini sementara musim winter! Biarlah pelayaran ditangguhkan sampai musim panas yang akan datang. Biarlah Donacauna menghimpunkan sekalian serdadunya bilangan Kelima Kaum itu.”

Baru sekarang kapitan Cartier memberi muka; kedua pihak merasa dirinya senang betul. Orang isi kapal ber-sukacita, karena mereka dapat memaksakan kapitannya akan menurut kehendak kelasi-kelasi! Cartier merasa diri senang juga, karena sahlah muslihatnyal


FASAL YANG KEDELAPANBELAS

ADA BENTENG TEGU, TETAPI...... KEKURANGAN PERBEKALAN. DONACAUNA MEMINTA SEKALI PULA PERANTARAAN CADOUAGAY. IA SEGAN BERDAMAI.

“Baik begitu, Pierre! kamu orang tampam! Begitu juga kamu, Marc. Tetapi kamulah, Antoine, patutlah menaruh ati-ati tatkala membakar murang! Gulunglah murang ini, antarkanlah kembali ke kapal, sudah sampai akan ini hari. Besok kami mengulangkan percobaan ini sekali lagi; jika kamu terus menaruh usaha seperti ini hari, tentu kamu menjadi pandai memasang meriam dengan sepertinya dalam empatbelas hari.” Jawab Antoine: “O, mudah saja, kalau memakai murang yang terpadam!” “Hai, Stirman, bolehkah kami memasang meriam benar-benar; dalam hal itu kamu dapat menentookan, betulkah kami telah pandai mengerjakan meriam atau tiadakah. Boleh kami membedek meriam kepada pohon kayu itu?” “O, tidak!” jawab Stirman Mata Sebelah. “Kapitan sudah melarang dengan kekerasan akan memasang meriam, kalau tiada perlu sekali. Baik sekali juga perintahnya! Antara orang kelasi ada yang panas hati betul. Jika kiranya orang itu dibiarkannya saja, niscaya kami tiada mempunyai peluru dan obat bedil lagi, sebutir pun tidak! Apa guna melemparkan peluru sekarang ini? Tentu banyak musuh dikurangkan sedikit, akan tetapi musuh yang tinggal itu tentu diberi dendam hati. Kewajiiban kami bukan akan menyerang; kami harus bersedia akan melawan orang Indiaan, jika orang itu berani menyerang kami...... Bagaimana tempamu, sudahkah kami bersedia akan melawan orang Indiaan?“ ”Tentu sudah sedia, Stirman!“ jawab Pierre. ”Kalau perlu kami dapat melawan musuh seribu orang ba- nyaknya.“ Perkataan itu tiada boleh disebut ”terlampau“. Setelah ditetapkan, bahwa kapal-kapal tinggal didaeerah ini akan menantikan musim panas, maka Cartier bersung-guh-sungguh, supaya kapal-kapal dilengkapkan sebaik-baiknya akan menahan penyerangan orang Indiaan. Akan menghubungkan sungai Sint-Laurens dengan danau Sint-Pierre, digali suatu parit yang sederhana lebarnya. Dengan demikian kapal-kapal berlindung di belakang se-buah pulau kecil. Pulau itu dijadikan suatu benteng yang teguh. Tanah yang tergali itu disusunkan, mangadakan suatu tambak, tempat mendirikan meriam. Di situlah orang pemuda sedang belajar mengerjak-an meriam; yang mengajarkan, ialah Stirman Mata Se-belah. Kedua tepi parit galian itu diperhubungkan dengan jembatan, yang dapat diturun-naikkan. Diahadapan jembatan itu didirikan orang sebuah pintu; ada meriam yang laras ditujukan arah kepada pintu. Di kapal-kapal bersedia juga beberapa bilah meriam; larasnya ditujukan kepada tepi sungai, sehingga orang bumi putera juga tiada dapat menyerang ka-kapal dari pihak sungai. Lain dari itu ada pengawal, yang bergantiganti berkawal siang dan malam. Sudah nyata kepada orang Indiaan, bahwa ta‘ mungkin merampas kapal-kapal. Percobaan sedemikian mesti berbahaya akan dia, ta‘ boleh berhasil juga! Beberapa kali orang Indiaan menghampiri kapal dengan berenang, yaitu ketika malam hari; akan tetapi niatnya, hendak menyemui orang putih, tiada dapat dibenarkan karena penjagaan orang pengawal. Ada seorang di antara orang penyerang itu, yang terlalu berani; orang itu bersungguh-sungguh akan menghampiri kapal sedekat-dekatnya, akan tetapi keberaniannya...... harus dibayarnya dengan...... mauet. Orang bumi putera tiada mencobakan lagi menyerang kapal, nyatalah kepadanya, bahwa percobaan nyia-sia saja! Cartier melarang kepada orang isi kapal akan memulaikan perkelahian dengan orang Indiaan; meriam dan bedil dapat dipasang hanya jika perlu akan melawan orang yang berani menyerang kapal.

Orang Indiaan tiada berdagang lagi dengan orang isi kapal; perbekalan makin berkurang. Perlulah orang isi kapal mengempulkan perbekalan untuk musim dingin sendiri diri. Akan itu kapitan Cartier menyuruh kelas kelasi memburu bison dan binatang perburuan lain. Akan menjauhkan orang bumi putera, maka orang isi kapal yang keluear akan memburu itu, dibagi atas dua tumpuk. Yang setumpuk pekerjaaannya memburu, setumpuk berwaji melindungkan orang itu daripada bahaya diserang oleh orang Indiaan. Akan tetapi cara berburu demikian rupa bertiyedera, karena sesungguh-nya binatang perburuan itu terkejut dari orang sekian banyak. Lain dari itu pemburu putih selalu dikeli-lingi orang bumi putera—Walaupun pada jarak yang jauh—, maksudnyia mengejutkan bison dan rusa, sebelum ditembak oleh orang putih.

Eland berteriak, katanya: “am eda!”

Meskipun demikian, hasil perburuan cukup joga! Pada suatu hari orang putih keluear akan memburu bison. Tiba-tiba dilihatnya sekawan besar, belum pernah dilihatnya binatang sekian banyak. Angin dan cuca baik, sehingga orang dapat menghampiri kawan bison itu. Tiba-tiba gelebarlah ia, rupa-rupanya diceraikan oleh pusaran angin. Sebenarnya binatang dike-jutkan oleh orang bumi putera yang berjalan mendahului orang putih. Karena marah benar, orang putih memasang bedilnya arah kepada binatang yang lari itu; antara binatang yang lari itu ada juga orang Indiaan beberapa orang. Seorang diantaranya kena peluru, sehingga mati. Tatkala orang putih berdiri sekeliling mayat orang Indiaan, maka kedengaran das meriam, satu kali...... sekali lagi...... Orang Eropa bersangka, bahwa kapalnya diserang oleh orang Indiaan, itu sebab mereka bergopoh-gopoh berjalan balik. Sesampainya di sungai, orang tersemui...... Bison-bison yang terkejut itu menempuh sungai, lalu mencemplongkan diri ke dalam air. Orang isi kapal mendengar pengentakan kakinya; setelah dilihatnya ada kawan bison mendatangi kapal, maka meriam-meriam dibedeknya arah kepada binatang itu. Banyaklah bison mati, setengahnya karena kena peluru, setengahnya mati lemas. Orang putih mengelocarkan binatang enampuluh empat ekor dari dalam sungai. Sekarang cukup perbekalan untuk segenap musim dingin yang akan datang.

Setelah nyata kepada Donacauna, bahwa kapal-kapal tiada dapat dirampasnya, maka dilakukannya suatu daya-u-paya yang serupa muslihat yang dilakukannya dulu: yaitu dengan mengamang orang putih, supaya pulang kenegirinya.

Pada suatu hari datanglah ia di hadapan jembatan, ia tiada bersenjata; sedang berdiri di situ dimintanya pada orang yang berkawal akan bertemu dengan sakhem orang Budak Kapal. putih. Permintaannya itu dikabulkan: Cartier tiada bersenjata juga; ia—disertai oleh “Eland Muda”—pergi menemui penghulu.

Kata Donacauna, bahwa ia—sedang tidur—didatangi oleh Cadouagay; bertitahlah ia supaya ia, Donacauna, menghadap orang putih. “Ruh Besar” ta‘ membiarkan bahwa orang asing memburu di padang perburuan, yang sebetulnya menjadi milik “anaknya”—orang bangsa kulit merah; serta tiada memberi idin lagi bahwa mereka berlayar dengan wigwamnya di sungai. Jika kiranya orang asing segan pulang ke negerinya—di seberang laut—orang semua akan dibinasakan oleh “Ruh Besar”: Air akan dijadikanya air beku; sampailah air beku kepada dasar sungai, sehingga kapal-kapal tertindih, pecah-belah. Dan lagi akan diutus oleh “Ruh Besar” kemari “jins-jin buruk” yang hendak merasuki tubuh orang putih serta menyiksakan dia, sampai mati!

Akan tetapi nasihat Donacauna tiada berhasil: Cartier tiada mengindahkan perbicaraan itu. Jawabnya: “Sudah nyata betul, bahwa Cadouagay suka melindungkan orang kulit putih; mengapakah orang putih ini dikiriminya bison sekian banyak ekor?”

Lain dari itu Cartier menyalahi Donacauna karena ta‘ teguh pada janjinya. Mula-mula ia berbuat seolah-olah hendak bersahabat dengan orang putih; hadiahnya diterimanya...... Mengapakah orang negeri hendak melambaikan jipangnya? Pikirlah betul-betul dulu! Dengan memakai ini—seraya berkata, Cartier menunjuk meriam-meriam—orang putih dapat membunuh serdadu bangsa Indiaan semua, serta dapat membinasakan kemahnya di kampung-kampungnya; boleh dibakar juga, kalau kena peluru. Jika umpamanya sebenarnya kapitan berlaku begitu, niscaya yang bersalah, hanya

Donacaunalah. Ialah menyebabkan claka=claka...... Tapi sengsara itu masih dapat ditegahkan, demikianlah: jika Donacauna menitahkan kepada serdadunya akan pulang, masing-masing kekemahnnya. Patutlah penghulu berjanji akan menyerahkan kepada orang putih, pandu-pandu yang kepercayaan, supaya menandukan pe- layaran orang putih kelak. Dalam hal itu sakhem orang kulit putih handak mengampuni kesalahannya serta suka berjabat tangan pula dengan dia sebagai alamat persahabatan dengan sakhem orang bangsa kulit merah. Lalu Cartier menganjurkan tangannya, tetapi Donacauna menolak tangan kapitan seraya berteriak, katanya: “Kamu suka begitu! Biarlah daging tubuhmu dimakan oleh gurk-gurk. Biarlah tulang-tulangmu diputihkan karena terhambur di padang perburuan, terserah pada panas matahari. Padang perburuan itu dianugerahkan oleh Cadouagay kepada anaknya, yaitu bangsa kami!”

Kemudian penghulu pulang ke tempat perhimpunan serdadunya, benci dalam hatinya. Cartier merasa benar-benar, bahwa yang pergi, ......itulah seorang musuhnyia, yang tiada dapat diperdamaikan lagi.


FASAL YANG KESEMBILANBELAS

DONACAUNA MENCOBAKAN PENYERANGAN PADA SUATU MALAM, DIDAPATNYA BAHWA MUSUHNYA JAGA-JAGA BENAR. ORANG INDIAAN MERAMPAS JEMBATAN SERTA MENEMPUH PINTU BESAR.

“Alangkah gelap pada malam ini! Daptakah kamu membedakan tepi parit di seberang, budak?” “Tidak! Stirman, seekarlah membedakan tebing parit di seberang; barang-barang yang letaknya lebih jauh ta‘ tampak sama sekali! Semuanya hitam belaka!” Stirman bersungut-sungut, katanya: “Ta’ ada bintang di langit!” Mata Sebelah bersama-sama dengan Pierre giliran mengawal berdekatan jembatan, yaitu pada suatu malam dalam bulan November. Stirman menyambung lagi; katanya: “Alangkah hebat dingin hawa!” “Jangan adukan halmu karena kena dingin,” kata Pierre sedang tertawa. “Tiada antara lama dingin hawa agaknya akan bertambah hebat. Nanti kami kedatangan angin ribut yang disertai salju turun.” “Kalau-kalau bangsat itu mempergunakan kesempatan ini akan menyouruh serdadu menyerangi kami. Heranlah! Mengapa kami belum diserang oleh Donacauna? Itu ta‘ terang kepada kita, budak!” “Kalau-kalau...... itulah juga suatu muslihatnya.

Rupa-rupanya kelalaian itu pura-pura saja. Mestilah nyata kepadanya, bahwa kapitan bertambah ati-ati, sejak ia meninggalkan kapitan sesudah perbicaraan akhir kali itu......... Usahkan menyerang kami, sebagian balaten-teranya disuruhnya pulang; orang yang tinggal itu beramah-ramahan cara manis...... Mengapa begitu? ...... Bukan karena ia tiada menaruh benci tentang kami! Yang diharapkan oleh Donacauna, ......bahwa orang isi kapal menjadi lalai saja. Jika kiranya diperhatikannya, bahwa sahlah persangkaannya demikian, niscaya ia akan mencoba menyerang kami.“

“Kalau pengharapannya demikian, ...... wahai, perlulah ia bersifat sabar betull!” kata Stirman Mata Sebelah.

Cartier sudah mendapat ketahuan tentang tingkah la-ku orang bangsa Indiaan; yang memberi keterangan, ialah budak kapal tiga orang. Lain dari itu “Eland Muda” dan “Kaki Cepat” menasihatkan kapitan Cartier, suapaya jangan percaya akan kata-kata Donacauna. Menurut orang muda itu, perluluh orang isi kapal bertambah lagi saksamananya tentang pekerjaaan berkawal; katanya “langit mengandung guruh!” Sebab itu orang ber-kawal siang dan malam, bukan hanya di kapal-kapal, tetapi pada tambak dan berdekatan jembatan juga.

Sejak perbicaraan kapitan dengan Donacauna telah liwat empat minggu. Sesoodah perbicaraan itu orang isi kapal bersangka, bahwa penghulu terus berlenga kap akan menyerang kapal-kapal. Berlawan dengan sangka itu, ......tiada kejadian apa-apa, ......sebenarnya orang Indiaan bertambah manis beramah-ramahan dengan ke-lasi-kelasi. Tatkala orang Perancis keluear akan memburu eland atau akan menangkap ikan di sungai Sint-Laurens dan didanau Sint-Croix, mereka tiada diganggu oleh orang bumi putera.

“Pierre, baiklah kamu pergi saja, masuk tidur; yang kita lihat sendiri diri sama banyak dengan yang ternyata kepada kami berdua, boleh dikatakan juga: sama sedikitinya juga.”

Pierre memberanikan dirinya sebab itu ia segan masuk tidur. Tetapi, berpikirlah ia: hai, ‘berdiri di sini’ dalam daerah gelap serta menderita kedinginan yang hebat itu, ......terbanding dengan...... masuk tidur, menggulung-kan dirinya dalam selimut yang panas-panas...... hai, bagaimana, ......sesudah sejurus Pierre mengatakan kepada Mata Sebelah:

“Nah, Stirman, jika pada tampamu kita ta‘ perlu tinggal di sini lagi......”

“Pierre, pergi saja, serahkan pekerjaan pengawal kepada kita sendiri: lain dari itu, ......ta‘ ada bahaya akan datang, seperti kebiasaan pada malam-malam yang lalu.”

Gelap gulita! Dengan susah payah Pierre boleh menyampaikan kapal “Grande Hermine”. Kebetulan sesampainya di geladak kapal, kedengaran bunyi serupa mence-puk-cepuk! ...... Dengan berlangkah ati-ati betul, kembalilah ia kepada tempat berkawal. Katanya kepada kelasi-kelasi: “St!” Kemudian berbisik-bisiklah ia: “Kitalah di sini, Pierre. Kamu ta‘ mendengar bunyi mencepuk itu?”......

Kebetulan pada sa'at itu kedengaran pula bunyi itu. Nyatalah yang mengadakan bunyi itu apal! Itulah me-mang dayung-dayung yang dicebur ke dalam air. Kata Pierre: “Kita pergi, hendak memanggil kapitan!” Ber-gopoh-gopohlah ia menujui kamar kapitan. Baru sampai dipintu kamar, maka didengarnya bunyi burung hantu. Bunyi itu dengan sebentar juga dijawab oleh suara yang bertempat di seberang parit. Pierre bersungut-sungut, katanya: “Itulah semboyan orang Indiaan se-orang kepada seorang; maksudnya hendak menyerang kami dari dua pihak.“

Kapitan Cartier dipanggilnya, lalu dinyatakannya dengan ringkas apa yang didengarnya. Pada sa'at itu juga kapitan lari ke atas, kegeladak, dengan membunyikan su lingnya, kelasi-kelasi semua dipanggil akan berhim pun. Itulah alamat kepada orang Indiaan, bahwa mereka su dah tersemui, sudah didapat oleh orang isi kapal. Sebab itu mereka tiada merasa perlu lagi akan berdiam saja. Kedengaranlah tempik-soraknya, asalnya dari belakang dan dari sebelah hadapan tempat orang isi kapal. Pada sa'at itu juga terbanglah panah-panah meliwat geladak kapal. Karena terlalu gelap, maka orang tiada dapat membedekkan panahnya, ta‘ ada orang yang kena.

Sesungguhnya sahabat kita tiada tampak, akan tetapi gaduh yang diadakannya kedengaran dengan nyata sekali, kata Cartier kepada kelasinya, yang berdiri pada meriam, “kalau-kalau kamu dapat melemparkan peluru sebutir ke dalam kanonya, dengan mengingat arah asal bunyinya itu.”

“Boleh coba saja, kapitan,” jawab kelasi. Hai, letuplah meriam, teryadilah gaduh besar, orang Indiaan berteriak senyaring-nyaringnya, nyatalah das meriam itu kena juga. Lalu meriam-meriam di kapal lain ditembak-kan juga, meriam yang bertempat di darat demikian juga, memang rambang saja, karena sesungguhnya musuh tiada tampak. Orang Indiaan terkejut sekali; sekali lagi dilemparnya panahnya arah kepada kapal; hanya beberapa orang di kapal kena luka. Kemudian orang bumi putera menjauhi kapal-kapal. Pada malam itu orang tiada berani datang lagi akan menyerang kapal kembali.

Ta‘ dapat tiada sejak kejadian ini, orang isi kapal terus bersenjata serta disuruh berkawal dan menin-jau dengan saksamana.

Pierre bertanya kepada temannya, orang pemuda bangsa Indiaan:

“Hai, ”Eland Muda“! Bagaimana sangkamu: serdadu du Donacauna berniat hendak datang kembali kemari sekali lagi? ...... Ataukah sudah jemu?”

“Donacauna ialah penghulu yang berkuasa, serdadunya sudah makan jantung burung nasar,”¹ kata “Eland”. “Yang ditakutinya amat sengat, yaitu ”halilintar“ kepunyaan orang putih, karena barang ajuib itu dapat mematikan orang, Walaupun sementara malam hari!”

Kata “Eland Muda”, bahwa orang tiada suka menyerrangi kapal lagi, itu tiada sah. Tentu orang Indiaan segan menyerang kapal ketika malam, tetapi sesudah liwat beberapa hari, mereka mencoba suatu penyerangan sementara siang hari.

Orang bumi putera membuat para-para besar, lalu diliputi dengan kulit binatang. Para-para itu dipakainya sebagai perisai. Dengan melindung dirinya di belakang para-para itu, orang menghampiri tambak. Dari sisi sungai orang menumpang kano, hendak menyerang rupanya dari situ. Akan tetapi telah nyata kepada orang Perancis bahwa itu hanya pura-pura, itulah muslihat saja akan me-nipu musuh. Penyerangan besar ada di bawah perintah Donacauna sendiri, yang bertempat di seberang parit.

Stirman Mata Sebelah bertanya kepada Pierre dan kedua orang pemuda bangsa Indiaan: “Hai, budak-budak, apakah gerangan maksud musu? Jika kiranya orang dapat meyampaikan parit dengan memakai para-para itu, ... apatah gunanya?”

“Kalau sudah sampai diparit, orang berlompat ke dalam air, menyeberangi parit dengan berenang, lalu mendaki tebing tambak. Serdadu Donacauna itulah orang berani benar,” kata pemuda bangsa Indiaan, sedang menyatakan sombongnya.

“Boleh juga orang itu mencoba menaiki tambak, tetapi tentu tiada sampai di atas, kita bersesal karena orang itu bodok betul. Yang dicobakannya, itu ta‘ boleh jadi; keberaniannya itu ta’ bermuna,” kata Stirman.

Dalam pada itu pun menjadi nyata bahwa daya Donacauna akan menyeruh serdadunya memakai para-para itu, ada juga gunanya. Peluru-peluru bedil yang menge-nai kulit kering, ta‘ dapat menerusi para-para. Yang ter-jadilah, yaitu para-para berbentur saja; itulah menye-babkan orang yang menyorong perisai, terjatuh ke tanah. Dengan perlahan-lahan orang menghampiri parit. Hal itu dipergunnakan oleh orang Perancis: mereka dapat mema-kai bedilnya, beberapa orang bibenuhnya. Tiba-tiba orang penyerang bimbang hati, rupa-rupanya hendak kembali, mundur saja.

Serdadu-serdadu Donacauna bersengaja demikian. Pa-da akhirinya malumlah orang Perancis, bahwa itulah su-atu muslihat penghulo.

Orang Perancis memperhatikan mula-mula hanya kano-kano yang pura-pura berniat menyerang dia; sementara itu ada juga setumpuk musuh menumpang pera-hu dua buah, yang berhanyut di sungai Sint-Croix.

Tumpuk itu baru dilihat oleh orang Perancis, ketika telah turun di darat, yaitu disisi sebelah dalam parit. Orang itu terus menempuhi jembatan, sedang bertempikisorak. Jembatan itu diturunkannya dalam sekejap mata, lalu serdadu Donacauna—yang sudah meninggalkan perisainya—menuju ke sana menempuhi pintu yang masih mengalang tempat masuk pulau. Gemertak-gemertiklah bunyi tatkala jembatan dipecahkan musuh...... jalan ke kapal ta‘ beralangan lagi! ...... Pada sa'at itu juga letuplah meriam, berbunyilah das meriam dua kali berturut-turut, terjadilah...... awan asap, sehingga pintu ta’ tampak lagi!

Setelah awan asap menyingsing, maka kelihatanlah ada setumpuk musuh seakan-akan terbantai. Tempat masuk teralang karena banyak mayat yang bersusun-susen di hadapannya. Orang yang tiada kena luka, terkejut; berlari-larian melalui jembatan atau nelompat ke dalam parit serta ke dalam sungai. Ada tiga orang yang mencapai rantai jembatan akan menaikkannya: penyerangan musuh sudah tertolak!

Yang menyebabkan kelarian musuh, ialah Stirman Mata Sebelah beserta Pierre dan Marc dan lagi kelasi beberapa orang. Tatkala dilihatnya ada orang Indiaan di hadapan pintu, bergopoh-gopohlal mereka ke tempat meriam dua bilah, yang ditujukan arah kepada pintu, lalu meriam itu dipasangnyia. Kemudian orang Perancis itu menuju kejembatan serta menaikkannya, akan mengalang penyerangan kedua kalinya.

Tatkala pulang, mereka disoraki oleh temannya; dan lagi dipuji oleh kapitan Cartier karena kelakuannya yang menyatakan kecerdikannya dan keberaniannya. Hai, itulah menyenangkan hati Pierre! Ia memandang kapitan, matanya berseri, mukanya bebera, berteriaklah ia, katanya:

“Biarlah musuh datang sekali lagi; tentu diusir kem bali, bukan, Stirman?” “Jika kiranya...... datang kemari, tentu kami akan berbuat begitu pula!”......Tetapi kita berharap, supa ya...... mereka tiada datang lagi, senang hati kita hanya akan melihat dia dari jauh!“ Nah, orang Indiaan tetap tinggal pada tempatnya, jauh-jauh dari kapal; mereka seakan-akan dirasuki dahsyat disebabkan ”guruh“ kepunyaan orang putih. Berapa dicobakannya, tetapi orang Indiaan tiada dapat diasut lagi oleh Donacauna akan menyerang orang isi kapal. Donacauna hendak menantikan sekutunya, yang dipercayainya sungguh-sungguh, ialah...... musim di Tanah Canda.

¹ Menurut kepercayaan berjenis-jenis bangsa orang yang masih biadab, maka orang boleh menambahkan sifatinya gagah berani serta sifat kuat badan, karena makan daging atau jantung binatang yang kenamaan karena sifat beraninya dan kuat badannya. Di-Tanah Afrika ada orang liar yang suka makan jantung singa, orang bangsa Indiaan yang mengediami pegunungan Andes itu, makan jantung burung Condor. Orang pengiring Donacauna; bersangka akan beroleh kekeutan dan keberanian burung nasar dengan makan jantung burung itu.


FASAL YANG KEDUAPULUH

KEKARIMAN CARTIER, YANG MENGHERANKAN ORANG BANGSA INDIAAN, TETAPI...... MEMBERI DENDAM HATI PADA BEBERAPA ORANG BANGSA KULIT PUTIH. MAC DILARIKAN, BEGITU JUGA KELASI DUA ORANG.

Setelah orang Indiaan lari, orang isi kapal memerik- sakan keadaan berdekatan pintu. Heranlah! Didapatnya mayat orang yang tiada kena luka, sedikit pun tidak! Itulah orang Indiaan yang asal dari udik, yang belum mendengar bunyi meriam. Tentu mereka digagahi ka- rena ketakutannya, sehingga terjatuh seolah-olah men- jadi capik, ta‘ dapat menggerakkan kakinya lagi, sehingga tiada dapat menurut kelarian. Sama sekali ada orang mati delapan orang, yang kena luka juah lebih banyak, akan tetapi terlebih banyaklah orang ta’ berluka sama sekali! Orang mati dikuburkan, orang yang berluka itu dio- bati, serta dijagai dengan sepertinya; itulah mengherakan “Eland Muda” dan “Kaki Cepat”. Kata pemuda bangsa Indiaan kepada Pierre: “Mengapakah sakhem orang putih tiada membunuh orang yang ditawannya itu?” “Orang Perancis segan berbuat demikian. Selama ber-perang, orang Perancis melawan musuhnyia sedapat das patnya, akan tetapi pada perasaannya membunuh orang yang tertawan dalam perang itulah kelakuan orang penakut.“

“Diperbuat apa oleh sakhem tentang orang pengiring Donacauna?” tanya orang muda bangsa Indiaan.

“Entah......”, jawab Pierre. “Pada persangkaan kita orang itu disuruhnyia pulang kekampungnyia, setelah orang yang berluka itu sembuh kembali.”

Orang Indiaan itu amat heran karena mendengar jawab sedemikian bunyinya.

“Apa dibuat oleh Donacauna dalam hal serupa ini?” tanya Pierre. “Upamanya kalau ditawannya beberapa orang penumpang kapal kami ini?”

“Apa lain daripada.... membunuh dial!” jawab orang Indiaan. Nyatalah pada jawab itu, bahwa kelaokuan Donacauna sedemikian menjadi adat orang bangsa kulit merah.

“Orang tawanan dikebatnya pada batang pohon, dijakikannya sasaran untuk serdadunya yang akan berlumbalumba, siapakah pandai memanah. Dengan demikian dirayakan suatu festa besar, lamanya delapan hari dengan tiada berkeputusan,” jawab “Kaki Cepat”. Pada cara berkatanya sudah nyata juga, bahwa dengan senang hati sekali ia suka menuruti festa sedemikian...... Tabiat bangsa Indiaan terbit pula dalam hatinya, tatkala mengingat perkelahian dan pembalasan yang dilakukan pada musuh yang ditawannya.

Setelah orang yang berluka itu sembuh benar, maka mereka dilepaskan oleh kapitan Cartier, diberinya idin akan pulang kekampungnyia. Jadi sah juga perkataan Cartier yang dinyatakan dulu kepada Pierre. Orang tawanan itu heran benar, demikian juga hal “Eland Mu-da“ dan ”Kaki Cepat“. Kekariman tentang musuh sedemikian rupa disebutnya ”mustahil“. Antara opsir opsir kapal ada juga yang ta‘ setuju dengan kekariman itu.

Ada seorang orang bangsawan menyalahi Cartier karena “kebodohannya”. Katanya: lebih baik bangsat=bangsat itu digantungkan juga pada pohon kayu yang terdiri dise berang parit; itulah tentu akan menjadi alamat untuk orang bangsa Indiaan lain; kalau=kalau dengan demikian tetaplah dahsyatnya, yang sudah dideritanya. Ta‘ dapat tiada orang itu akan kembali kemari pada suatu malam dengan temannya, kalau=kalau kami dipenggalnya atau orang memecahkan kepala kami dengan tomahawknya.“

“Boleh jadi,” jawab kapitan; “mereka harus dise but: orang biadab yang buta, yang menyerahkan dirinya kepada hawa nafsunya serta pada kesukaannya membalias dendam. Tetapi kamila...... orang Nasarani; jika ki ranya orang tawanan itu kami bunuh, insaf kami dice markan. Ingatlah: inilah orang yang tiada dapat berlawan lagi. Tiada jemah kita hendak membiarkan, bahwa nama Maharaja Perancis selekeh karena kelakuan sedemikian buruk. Di daerah ini kami menjadi wakil Raja.”

Hanya Pierre dan Stirman Mata Sebelah setuju benar dengan tampa kapitan Cartier. Kata Mata Sebelah: “Me nurut pendapatan kita, bahwa lalat=lalat mudah ditangkap dengan madu, tetapi sukarlah menangkap lalat=lalat dengan memakai cuka. Ingatlah kiranya: tentu orang Indiaan ini kurang beradab; tetapi mereka ada juga perasaan hati. Tentu perbuatan baik makan juga da lam hatinya. Kami belum sampai pada pelabuhan yang berlindung daripada angin ribut, kalau=kalau kami di datangi lagi ombak besar yang meliputi geladak kapal. Barangkali pada yang akan datang menjadi nyata, bahwa kelakuan kapitan Cartier beruna juga kepada kami sekalian.“

Sesungguhnya kapitan Cartier menyatakan kekariman-nya kepada orang tawanan, akan tetapi ia berusaha benar akan menjaga, supaya orang Indiaan diluear ta‘ dapat menyerangi bentengnya kembali. Pada penyerangan yang baru lalu itu menjadi nyata bahwa ceracak-ceracak dijembatan ta’ cukup tingginya serta terlalu jarang. Orang Indiaan dapat memanjatinya serta dapat meliwat jarak-jarak diantaranya. Jadi perlulah benteng diteguhkan. Akan itu orang berhajat pohon kayu, tetapi di pulau ini ta‘ terdapat pohon-pohon kayu. Pada tepi sebelah-menyebelah sungai Sint-Laurens serta di tepi sungai Sint-Croix ada banyak. Tetapi tempat itu dihintai oleh musuh. Meskipun demikian perlulah diambil pohon-pohon, bukan hanya akan diperbuat ceracak, akan tetapi orang berhajat juga kayu api. Sisa kayu api masa kini hanya sedikit.

Pekerjaan mengempul kayu api itu tiada boleh diperlambat: makin hari makin bertambah dingin hawa di daerah ini. Kalau kiranya kedua buah sungai itu menjadi beku, tentu pekerjaan mengantarkan batang kayu dari hutan kejembatan menjadi amat sukar. Selama air sungai masih mengalir, batang-batang dilempar saja ke dalam sungai, lalu dihanyutkan ke tempatnya oleh harus.

Ada setumpuk orang disuruh menebang pohon; orang itu dikelilingi setumpuk lain yang bersenjata. Orang pemuda bangsa Indiaan berjasa juga; mereka menjadi penunjuk jalan di dalam hutan.

Selama cuaca baik, maka kedengaranlah bunyi kapak-kapak dipalukan pada batang pohon. Banyaklah batang-batang dihanyutkan oleh air sungai Sint-Laurens, lalu disusunkan di pulau kecil. Sementara orang bekerja di hutan menebang pohon, mereka tiada diganggu oleh musuh, pekerjaan itu ta‘ disertai barang celaka. Hanya pada hari akhir pekerjaan diusik karena angin ribut yang disertai salju turun. Hebatnya tiada terkata: Wa lau pun orang berlindung di dalam hutan lebat, ta’ ber guna juga!

Sepanjang nasihat “Eland Muda” dan “Kaki Cepat” orang mengadakan suatu jejer, rapat-rapat seorang kepada seorang yang di hadapannya; lalu maju ber jalan arah kepada sungai, supaya boleh menyusur tepinya.

Tentu dengan demikian orang menurut jalan simpangan, tetapi ta‘ boleh sesat di jalan. Adakalanya orang bumi putera sesat di hutan, tatkala kedatangan angin ribut yang disertai salju.

Sesampainya di tepi sungai, maka didapat orang, bahwa ketinggalanlah tiga orang: kelasi dua orang dan budak kapal Marc. Orang isi kapal berteriak, menyebutkan nama orang yang hilang itu, sia-sia juga! Bedil dipasang, ta‘ berhasil! Gaduh yang diadakan oleh angin ribut ta’ terlampaui, Biarpun dengan memakai meriam! Angin ma-kin bertambah keras lagi, teriaknya ta‘ beruna, orang pulang saja ke kapal.

Alangkah besar dahsyat orang! Apa kejadian dengan orang yang ketinggalan itu? ...... Adakah mereka dida- tangi orang Indiaan? ...... Agak kebanyakan orang: musta- hil! Masakan orang itu kedatangan orang Indiaan, karena sesungguhnya ta‘ kelihatan musuh!

“Eland Muda” dan “Kaki Cepat” mendengar perca- kapan ini; mereka berisyarat seorang kepada seorang, seraya tersenyum cara bersindiran. Seakan-akan menyatakan: “Alangkah pintar orang putih itu!”

Tentu orang Indiaan yang berniat menyerang mu suhnya, bersungguh-sungguh supaya jangan kedapatan bekasnya.

Pada sangka orang putih, mereka sesat di jalan, tatkala sedang bekerja menebang pohon, boleh jadi juga kehilangan tatkala berjalan kembali, karena lepas daripada jejer orang. Ada orang putih yang berharap bahwa orang dapat pulang setelah angin ribut teduh kembali. Kapitan Cartier memberi perintah supaya dipasang api besar serta diletupkan bedil sekali-sekali. Sekalian perbuatan itu sia-sia saja. Keesukan harinya orang belum pulang; angin ribut belum berkurang hebat; sebab itu orang bersangka bahwa mereka kena claka, lalu mati.

Hanya orang pemuda bangsa Indiaan ada persangkaan lain, akan tetapi yang disangkakannya itu tiada dima-lumkannya.

Setelah teduh benar angin ribut kedua orang pemuda menghadap kapitan Cartier akan meminta idin. Mereka bermaksud kelocar akan mencari orang yang hilang itu.

“Ikhtiamu baik, sahabat muda,” kata Cartier; “baiklah kamu disertai kelasi empat, lima orang.” “Tetapi ”Eland Muda“ dan ”Kaki Cepat“ tiada suka ditoreti kelasi itu, katanya, orang putih ta’ mungkin melakukan pekerjaan, yang kami maksudkan itu, tentu pekerjaan kami akan diusiknya.”

Kemudian dinyatakannya kepada kapitan Cartier betapa persangkaannya: Marc beserta kedua kelasi itu tiada sesat di jalan, melainkan dilarikan oleh musuh semen-tara sedang menebang pohon. Sesungguhnya orang putih tiada melihat bekas-bekas orang jahat itu, akan tetapi mereka menghintai budak serta kelasi-kelasi itu. Dona Budak Kapal. cauna cerdiik benar; masakan ia lalai menghintai sekalian perbuatan orang putih! Maksud kami hendak mencari bekasnya; jika kiranya orang putih, sahabat kami, tertawan, serahkanlah pertolongan dan pekerjaan melepaskan dia kepada kami juga!“

Demi terdengar keterangan itu, kapitan Cartier bimbang hati. Yang dimaksudkan oleh kedua orang muda itu berbahaya benar. Jika kiranya anak dua orang ini kehilangan juga, hai, keciwa benar “Burung Bangau Besar!” Cartier tiada berani menghadap dia kembali dalam hal itu.

Tetapi bimbang hati kapitan ditidakkkan oleh Pierre, katanya:

“Kapitan, biarlah orang muda itu pergi saja. Pekerjaan sedemikian tentu boleh diserahkan kepada ”Eland Muda“ dan ”Kaki Cepat“; ta‘ dapat tiada mereka biasa menaruh ati-ati tatkala melakukan suatu pekerjaan yang berbahaya.”

Sebetulnya Pierre suka menurut sahabatnya pada pemergian ini, tetapi Pierre sendiri sudah tahu, bahwa mereka ta‘ suka disertai oleh orang putih. Lain dari itu sudah ternyata kepadanya, bahwa kapitan tiada mau memberi idin.

Kedua orang pemuda bangsa Indiaan berangkat; yang dibawanya hanya sebilah pisau yang tajam, lain senjata tiada dibawanya. Kapitan iba hati demi melihat orang berangkat, tetapi Pierre tiada demikian, karena ia percaya betul akan ketetapan hati “Eland Muda” dan “Kaki Cepat”. Kepercayaan Pierre itu sah juga. Sesudah dua hari dua malam, kembalilah kedua orang Indiaan; mereka disertai kedua orang kelasi dan Marc. Betapa peri orang dapat melepaskan ketiga orang itu?


FASAL YANG KEDUAPULUH SATU

PENYERANGAN ORANG INDIAAN. ORANG TAWANAN TERPELIHARA, KARENA DONACAUNA TA‘ HADIR. LEPASLAH DARI PEN-JARAAN DI KAMPUNG ORANG BUMI PUTERA.

Sementara kelasi-kelasi, orang Perancis melakukan pe-kerjaannya: menebang pohon kayu di hutan, Marc mem-perhatikan ada sebatang pohon kayu yang besarnya luar biasa. Katanya kepada kelasi dua orang: “Hai, inilah sebatang pohon, yang kita ingini, kalau-kalau inilah pohon yang terlebih tebal disegenap hutan ini. Marilah, pohon itu kami tebang!”

Orang bertiga menuju ke tempat pohon besar, tiada antara lama mulailah mereka mengapaknya...... Baru orang bekerja sejurus, maka tiba-tiba ditempuh oleh orang Indiaan. Kakinya dan lengan dikebatnya, serta mu-lutnya disumbat, supaya tiada dapat berteriak. Lalu orang diangkat, serta dipikul sebagai karung yang berisi tepung oleh orang bangsa Indiaan tiga orang. Orang Perancis yang bekerja didaeerah, tiada memperhatikan perbuatan ini, karena orang Indiaan melakukan penyerangan ini dengan diam-diam serta dalam sekejap mata juga.

Tumpuk orang yang menawan kelasi-kelasi beserta budak kapal itu, banyaknya sepuluh orang; tatkala melarikan orang putih, orang kedatangan angin ribut.

Orang Perancis diturunkan, serta kulit kebatannya dilepaskan; sumbat yang disumbatkannya pada mulutnya dikeluarkan. Orang Indiaan bersiyarat, bahwa orang tawanan harus berjalan kaki. Tumpuk orang menojui sebuah bukit, di situlah orang berlindung daripada angin ribut. Orang tawanan diperbuat baik saja; ada seorang Indiaan memberi baju panas kepada Marc; karena budak ini mengeluarkan bajunya sedang bekerja di hutan. Pada malam harinya sampailah orang pada sebuah kampung kecil, orang Perancis di penjara dalam sebuah kemah sendiri. Ada seorang squaw yang membawa makanan kepada orang tawanan. Tetapi mereka terlalu lelah, ta‘ suka makan, tiada antara lama tertiedurlah. Keesukan harinya orang tawanan dikunjungi oleh orang Indiaan, yang memandangi dia saja dengan ta’ berkata; pada mengingat muka orang itu, orang penjaraan bersangka, bahwa tentu halnya bertambah berbahaya lagi. Ada beberapa orang Indiaan bercakap-cakap seorang kepada seorang. Sungguhpun bahasa orang ini berbeda sedikit dengan bahasa orang yang mengediami kampung-kampung diteluk Gaspe, tetapi Marc dapat mengerti juga beberapa patah kata. Ada sepiahk orang yang berniat membunuh orang tawanan; pihak itu dikepalai oleh penghulu. Dengan demikian Marc bersangka, bahwa orang pihak itu dapat membenarkan maksudnyia yang buruk itu. Ada setumpuk lain—orangnya sedikit juga—mengingat kekariman sakhem orang putih, mereka segan membenarkan maksud buruk itu. Pada malam hari orang dipanggil akan berhim pun berkeliling “api musyawarat”; nasib orang tawanan akan ditentukan pada persidangan itu.

Keesukan hari tabir kemah diceraikan, masuklah orang penduduk kampung beberapa orang; orang tawanan bersangka, bahwa ajalnya akan datang. Akan tetapi...... halnya lain...... orang kampung itu berlaku manis se- kali. Konon percakapan orang itu nyatalah pada Marc, bahwa antara kedua pihak, tadi tersebut itu, ta‘ ada sepiahk yang menang dalam persidangan tadi malam. Ke- putusannya: hendak menantikan ketika Donacauna pu- lang ke kampung; keputusan tentang nasib orang ta- wanan itu diserahkan kepada penghulu besar itu. Belum tentu bilamana sakhem besar pulang kemari; itu sebab diputuskan lagi, bahwa orang putih patut diperbuat baik saja.

Sepanjang pemandangan Marc itulah untung. Se- betulnya ia tiada percaya pada kekariman Donacauna, tetapi barangkali ia memberi muka juga kepada orang yang segan membunuh orang penjara.

Marc masuk tidur pula, lamalah ia tidur lelap, entah berapa lamanya...... Tiba-tiba ia tersedar, karena ada ba- rang yang dingin sekali mengenai mukanya. Pada sa'at itu juga didengarnya ada orang menyebutkan nama- nya cara berbisik-bisik. Tegaklah ia, yaitu seboleh-boleh- nya, karena berdiri betul ta‘ boleh karena tangannya dan lengannya dikebat pula.......Hai, didengarnya pula suara orang yang menyebutkan namanya; suara itu dikenalnya. Itulah “Eland Muda”, yang berbisik-bisik, katanya: “Hai, Marc, adakah kamu mendengar kita? ......” “Ia,” kata Marc. Lalu didengarnya pula; kata orang: “Kaki Ce- pat” beserta kita ada di sini, hendak melepaskan kamu! ’Adakah kamu terkebat?“

“Ia sungguh, terkebat pada kaki dan lengan, ta‘ bo- leh bergerak.”

“O, itu tiada mengapa! ...... Dekatkan tanganmu dan kakimu kepada dinding sedekat-dekatnya.”

Budak kapal berbuat demikian. Dirasainya ada orang yang meraba tangannya, lalu...... kulit kebatan terpotong dengan pisau. Kemudian Eland memberi pisau kepada Marc, supaya kulit kebatan kakinya dan kulit kebatan orang tawanan kelasi-kelasi boleh dipotong juga.

Kelasi-kelasi hampir tiada dapat percaya, bahwa sesungguhnya...... mereka akan berlepas dari penjaraannya. Tiba-tiba mukanya kena angin yang dinginnya sebagai air beku: pemuda bangsa Indiaan telah membelah sebagian kulit penutup kemah; dengan demikian orang tawanan boleh keluar dari dalam wigwam tempat penjaraannya. “Eland Muda” menjadi penghulu kelarian ini; orang menjauhi kampung diam-diam benar...... tiada diperhatikan oleh orang Indiaan, karena ta’ ada pengawal sekeling kampung, karena sesungguhnya orang kulit merah bersangka mustahil orang Perancis kesempatan lari.

Selama orang masih bertempat didaeraha kampung, kelarian ny berlambat-lambat, perlu sekali orang pelari mena-ruh ati-ati. Setelah jarak dengan kampung sudah besar, langkahnya dipercepatkan. Keesukan hari—tatkala matahari setinggi-tingginya di langit—sampailah tumpuk lima orang di kapal. Niscaya diterima di situ oleh temannya dengan tempik-soraknyya.


FASAL YANG KEDUAPULUH DUA

ORANG HARUS MENANTIKAN MUSIM PANAS. DONACAUNA MEMUJI KUASA DEWANYA CADOUAGAY. DONACAUNA MENELAH BENAH-BENAH YANG LEBIH HEBAT LAGI. ORANG TERPELIHARA DARIPADA SENGSARA BESAR.

Adapun Donacauna berharap akan pertolongan seku-tunyu tiga rupa: kedinginan, kelaparan dan penyakit.......Angin ribut bersalju ialah bakat musim buruk. Hawa terlalu dingin, air sungai Sint-Laurens dan sungai Sint-Croix sudah beku, sampai didasarnya. Salju tu-run selamanya berturut-turut sementara beberapa hari lamanya. Lebat-lebat benar, sehingga menyerupai kelam-bu putih menyembunyikan orang yang berjalan diluear. Salju memasuki celah-celah dirimban kapal. Dingin hawa hampir tiada terderita orang. Celah-celah di kapal ditutup sedapat-dapatnya dengan tali terurai. Sesung-guhnya bekal kayu api amat banyak, tetapi yang tersimpan di dalam kapal itu sudah habis terpakai akan me-manasi kamar-kamar. Sebab itu harus diambil kayu api dari susun-susun yang tersimpan di pulau; perlulah orang menggali kayu itu dari dalam salju yang sudah menjadi keras.

Pada suatu hari kapitan memperhatikan, bahwa perbekalan tepung hampir habis. Sisanya hanya dicadang untuk orang sakit. Orang lain hanya beroleh daging asin dan ikan asin. Dengan demikian banyak orang isi kapal ditimpa penyakit seriawan. Pada tanggal 25 dan 26 hari bulan December (Hari raya orang Nasarani: Kerstmis) matilah delapan orang.

Pada bulan Februari sakit itu berkembanglah, hanya sisa sepuluh orang yang belum ditimpa penyakit tersebut. Keadaan demikian perlu disembunyikan, supaya jangan malum kepada Donacauna dan serdadunya. Rupa-rupanya orang Indiaan telah mengagak keadaan dikapalkapal. Sejak lama tiada kelihatan orang Indiaan menghampiri kapal. Baru sekarang mereka datang kembali di daerah kapal, serta mendekatinya, dengan melalui muka sungai yang berbeku.

Dengan cara sindiran ditanyakannya, kalau orang isi kapal belum puas menderita kesiksaan yang diturunkan kepadanya oleh dewa Cadouagay. Donacauna menyilakan kapitan Cartier akan turun ke darat, karena ia bermaksud membicarakan suatu hal penting.

Tatkala kapitan menghadap, penghulu berteriak, katanya:

“Dengarkanlah kiranya, Sakhem orang bangsa putih! Tadi malam Cadouagay menyatakan maksudnya kepada kita, sementara tidur. Ia hendak menyuruh turun ”jinjin buruk“ supaya merasuki tubuh-tubuh orang kebawahanmu. Orang itu akan disiksanya dan disiasatnya; ta‘ ada orang hobatan yang berkucasa menghincit dia. Demikianlah Cadouagay akan membinasakan kamu beserta orang kebawahanmu! Demikianlah perbuatannya, jikalau kiranya kamu segan berjanji akan pulang. Perlulah kamu meninggalkan tanah perburuan milik orang bangsa Indiaan.”

Jawab Cartier: “Dengarkanlah kiranya, Penghulu Besar yang meme-rintahkan orang kulit merah! Maksud kami datang ke- mari hendak beramah-ramahan dengan orang bangsamu. Bukan berkehendak akan berperang. Kami tiada berniat mengusir kamu daripada padang perburuanmu. Orang putih sudah berdamai dengan orang Hokhelaga. Pikiran Donacauna sudah sesat disebabkan pemimpian buruk. Ada beberapa orang isi kapal ditimpa penyakit, hal itu kita tiada sangkal. Tetapi mereka tentu ta‘ dirasuki jin buruk, yang diutus kemari oleh Cadouagay. Allah, yang memanduukan pelayaran kami, terus melindungkan kami sampai kini; tentu kami tiada dilepaskan dari penjaga- annya, nanti kemudian hari sembuh pula orang yang sakit itu.

Mengapa saudara menaruh dendam kepada kami? Bu- kankah kamilah yang mengobati orang bangsa kulit merah yang kena luka, serta memulangkan serdadu-serdadu yang tertawan itu? Biarlah penghulu menghincit dari dalam hatinya bencinya. Tiada dapat tidak, dalam hal itu Cadouagay menyuruh kamu bermimpikan hal-hal yang menyenangkan hatinya, serta menyatakan kepada sau- dara-saudara bangsa putih hanya kata-kata yang menyat- takan persahabatan dan perdamaian.“

Donacauna tetap murka juga. Tatkala berangkat, ber- teriaklah ia, katanya: “Di manakah orang kebawahaan sa- khem? ...... Tentulah orang itu dicampakkan ke tempat tidurnya oleh jin buruk. Ta‘ dapat tiada orang sakit akan mati juga. Apakah guna sekarang guruh dan halilintar yang dipancarkan dari dalam senjata? Keku- atan badan akan memakai senjata itu...... telah ditidaka- kan, ......dirampas oleh Cadouagay. Kamu sekalian akan dibinasakannya; squaw-squawmu yang tinggal di negeri- mu rapuh hati, lalu mati...... Itulah penelahan Cadoua- gay kepada kita.”

Rupa-rupanya pengamangan Donacauna akan sah joga. Makin hari makin bertambah banyak orang kena sakit seriawan. Di kapal Grande Hermine hanya Cartier, Pierre, “Eland Muda” dan Stirman Mata Sebelah tiada ditimpa sakit seriawan, orang lain semuanya sakit.

Supaya keadaan di kapal tersemunyi kepada orang Indiaan, kapitan terpaksa menguburkan mayat-mayat se-mentara malam hari.

Pierre iba hati karena memandang bedebah di kapal. Hai, sayanglah! Ta’ ada ada rempah-rempah yang dipakai oleh orang hobatan di kampung “Burung Bangau Besar!” Siang dan malam hal itu dipikirkannya. Iba hatinya ternyata kepada mukanya.

Pada socatu malam “Eland Muda” bertanya: “Hai, Pierre, apa kamu pikirkan? Adakah jin buruk memberatkan lidahmu, sehingga ta’ mungkin bicara lagi?”

“O, tidak! Eland. Kita punya tubuh tentu tiada dirasuki jin, tetapi kita berduka cita benar, karena sengsara yang menimpa saudara-saudara! Aduhai, ...jika kiranya kita mempunyai rempah-rempah yang digunakan oleh orang hobatan dikampungmu pada mengobati pe-nyakit kita dulu.”

Demi didengarnya itu, orang pemuda bangsa Indiaan tertenggelam dalam pikirannya. Sesudah sejurus Eland berkata: “Eland Muda” mengenal rempah-rempah itu. Akan tetapi sekarang disembunyikan oleh Cadouagay di bawah salju; sekarang sukar sekali akan mencari daun-daun itu. Tetapi ada daun-daun yang boleh menjadi peng-gantinya. Di dalam hutan, tempat perburuan pemburu-pemburu “Burung Bangau Besar”, bertumbuhlah sejenis pohon kayu—ameda namanya—pohon itu berkuasa atas jin buruk. Kalau kalau pohon jenis itu bertumbuh juga di hutan di daerah Hokhelaga. Biarlah kami keluear akan mencari pohon kayu bangsa itu, supaya kultnya diambil akan obat untuk orang sakit.

Pierre berjabat tangan dengan Eland. Mereka berjan-ji akan meninggalkan kapal sementara malam hari. Sebab mengira, bahwa kapitan Cartier segan memberi idin akan turun di kapal, dijanjikan lagi, bahwa hendak meninggalkan kapal cara curiscuri saja. Kata Eland, perlu dibawa kapak, gunanya akan memotong kulit pohon daripada batangnya. Yang dibawanya lagi kantung beberapa helai, akan menyimpan kulit; dan kain panas akan melindungi diri pada hawa yang terlalu dingin. Lain dari itu dibawanya pisau dan perbekalan. Sebelum berangkat, Pierre menulis surat kecil, alamatnya kepada Cartier, isi surat pada menyatakan apa sebab kedua orang pemuda turun ke darat serta memohon am pun karena berlaku demikian. Surat itu ditaruh dalam kamar kapitan yang sedang tidur.

Kedua orang berkembara di hutan sementara dua hari dua malam lamanya. Pada akhirnya Eland berteriak, katanya: “ameda!” Lalu bergopoh-gopohlah ia menujui sebatang pohon. Pohon kayu itu dikapaknya. Kantung-kantung diisi penuh-penuh dengan kulit pohon dan ranting-rantingnya. Sesoodah itu pulanglah orang me-nuju ke kapal.

Pada malam hari sampailah kembali di kapal “Grande Hermine”. Demi didengar oleh kapitan bahwa daun-daun dan kulit-kulit bakal obat sudah didapatnya, su-kacitanya tiada berhingga...... Sayanglah orang sakit segan menimum obat yang disediakan oleh Pierre, katanya kalau kalau racun adanya. Akan menyatakan, bahwa persang-kaannya itu salah, maka Pierre minum rebusan kulit ameda secawan di hadapan kelasi-kelasi...... Lalu orang sakit minum juga obat itu, ada berhasil juga! Makin hari makin orang sakit merasa dirinya lebih baik, pada akhirnya sembuh semua.

Setelah musim dingin sudah hampir habis—yaitu di bulan Maart—adalah pekerjaan yang harus dilakukan oleh orang isi kapal, yang menerbitkan iba hatinya! Ada kira-kira tigapuluh orang yang mati karena penyakit se-riawan; mayat-mayatnya harus dikuburkan......

Akan orang itulah sahlah penalahan Donacauna: mereka tiada pulang ke negerinya serta squaw-squawnya menangisi mautnya.


FASAL YANG KEDUAPULUH TIGA

MUSIM LENTE DATANG. AIR BECU MELEBUR PULA. PADANG-PADANG DITUMBUHI PULA DENGAN RUMPUT. SINAR-SINAR MATAHARI MEMANASI DAERAH, SERTA DIKEMBALIKAN PADA MUKA AIR SUNGAI SINT-LAURENS DAN SUNGAI SINT-CROIX.

Di geladak kapal Grande Hermine berhimpulah orang isi kapal semua, hendak bermusyawarat. Cartier menanyakan kepada opsir=opsirnya, mungkinkah orang melantas ke tanah sebelah udik. Hampir sekalian orang setuju, bahwa percobaan sedemikian tiada mungkin, karena sesungguhnya tiada cukup kelasi=kelasi. Dan lagi kebanyakan orang baru sembuh daripada penyakitnya, belum cukup kuat badannya.

Itu sebab orang mupakat akan pulang ke negeri saja. Keputusan itu dimalumkan kepada orang Indiaan. Sejak waktu itu orang Indiaan tiada segan lagi menjual jagung dan gendum kepada orang isi kapal. Ramailah orang berkayuh di sungai di dalam kano=kanonya, berke-rumunlah sekeliling kapal=kapal. Sebetulnya tiada cukup orang kelasi akan melayarkan kapal ketiga buah itu semua. Sebab itu barang=barang dan perkakas=perkakas kapal Emerillon diturunkan serta dimuat ke dalam kapal dua buah lain.

Pada tempat pertemuan kedua sungai didirikan orang sengkilang besar, tingginya tigapeluh enam kaki. Pada sengkilang itu dilookiskan kata-kata, inilah:

“Franciscus primus, dei gratia Francorum rex regnat”.

Artinya:

“Frans pertama dengan karunia Allah menjadi raja Tanah Perancis”.

Orang Indiaan terlalu heran demi dilihatnya “pohon besar” itu. Tentu mereka tiada mengerti bahwa itulah alamat pada menyatakan, bahwa daerah ini diambil sebagai milik untuk kerajaan Perancis.

Keheranan berubah, menjadi...... dahsyat, takkala dilihatnya, bahwa Donacauna beserta tiga orang penghulu lain, dicapai oleh kelasi-kelasi, lalu diseret kegeladak kapal. Cartier berlaku demikian, supaya mengalang bahwa orang itu terus mengasut orang bumi putera melawan orang bangsa Perancis. Orang itu dijadikan sandera.

Ada orang yang berniat melepaskan penghulunya, akan tetapi telatan! Meriam dan bedil ditujukan arah ke- pada orang itu, sehingga tiada berani membenarkan ni- atnya itu.

Donacauna tiada pernah melihat kembali tanah airnya. Matilah ia di-Tanah Perancis, kalau-kalau matinya dise- babkan karena rindu akan negerinya serta akan padang perburuan di daerah Hokhelaga; kalau-kalau terus ter- ingat akan bison-bison dan eland-eland yang dikejarnya di situ.

Pada tanggal 6 hari bulan Mei sauh dibongkar, kapal menujui mula-mula keteluk Gaspe. “Eland Mu-da” dan “Kaki Cepat” diterima di situ oleh orang se-kaumnya dengan tempik-sorak. Diasanya dibalas oleh Cartier dengan rupa-rupa hadiah yang berharga. Hadiah-hadiah itu menjadi perhiasan dikemah. Orang kam-pung suka mendengar cerita yang berhubung-hubu-ngan dengan alamat-alamat itu.

Sesudah berangkat dari teluk Gaspe, kapal singgah lagi di-Terre-Neuve. Pada tanggal 16 hari bulan Yuli kapal-kapal “Grande Hermine” dan “Petite Hermine” sampai di pelabuhan negeri Sint-Malo. Di situ orang isi kapal diterima dengan tempik-sorak oleh orang negeri.

Yang terlebih suka hati ialah Madelon, ia berpeluok-pelukan dengan kedua orang “budaknya.”

………………

Nasib Cartier tiada lain daripada nasib kebanyakan orang yang mendapat tanah baru. Orang Perancis tiada mengindahkan pendapatannya, sesudah ternyata padanya, bahwa di daerah yang didapatnya itu ta’ ada emas. Bagaimana tentang…… Maharaja? Sesudah lalu empat ta-hun, raja Frans I melengkapkan pula beberapa kapal ke-Tanah Canada, kepala angkatan itu ialah Gouverneur ……pada pengiramu kapitan Cartier? …… Bukan; yang menjadi Gouverneur, ialah seorang orang bangsawan, yang tiada pernah menuruti pelayaran akan mencari tanah baru itu. Namanya: Francois De La Roque, Pembesar negeri Oberval.

Cartier menurut pelayaran itu, dikapalnya ada juga orang yang berpangkat “stirman satu”, namanya Pierre, bekas budak kapal di kapal “Grande Hermine”. Tatkala tinggal di darat, Pierre belajar segala sesuatu tentang melayarkan kapal. Setelah pulang dari Tanah Canada,

Pierre tetap dalam jawatannya, ia terus naik pangkat, pada akhirnya menjadi kapitan kapal perang. Namanya masyhur di-Tanah Perancis sebab berjasa kepada tanah airnya.

TAMMAT.


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.