Baca EPUB: Dari Hal Malu, Tidak Berani, Takut, Kusut, dan Jalan Menyembuhkannya

11 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. DARI HAL MALU, TIDAK BERANI, TAKUT, KUSUT,DAN JALAN MENYEMBUHKANNYA
  2. DR. G. H. BERNDT
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. IHAL MALU YANG DISEBABKAN SEMATA-MATA OLEH PERGAULAN HIDUP
  6. Menarik Napas Panjang
  7. Menahan Napas
  8. IIHAL MALU YANG DISEBABKAN OLEH KEBIASAAN MENERTAWAKAN DAN KEBIASAAN JELEK
  9. Menggigit Kuku
  10. Kebiasaan Aneh dan Kebiasaan Salah.
  11. Membuka Mulut dan Mengembus Napas
  12. Gerakan Muka (Tics), Gerakan Anggota
  13. Sikap Badan yang Salah
  14. IIIHAL MALU YANG DISEBABKAN OLEH ONANIE
  15. IVHAL MALU YANG DISEBABKAN OLEH INSAF AKAN KECELAAN BADAN
  16. Berkeringat Terlalu Banyak pada Setempat (Berkeringat pada Kaki, pada Ketiak, dan pada Tangan)
  17. Napas yang Berbau Busuk
  18. Kejelekan Muka
  19. Berkata Menggagap
  20. VHAL MALU YANG DISEBABKAN OLEH KECEMASAN HATI
  21. Penyakit Bermerah Muka atau Berubah Warna Muka
  22. Takut Berubah Warna Muka
  23. Penyakit Penakut Orang, Memalingkan Muka
  24. VIHAL MALU DAN KEKUATIRAN YANG DISEBABKAN OLEH PERASAAN DAN PIKIRAN YANG TERPAKSA
  25. VIIBEBERAPA MACAM HAL MALU YANG TERBURUK DAN JALAN MENYEMBUHKANNYA
  26. Tangan Menulis Menjadi Kaku dan Gemetar, Kalau Ada Orang Melihatnya
  27. Kekakuan Bermain Piano dan Bermain Biola
  28. Tabiat yang Terlalu Nyata Suka Menurut Kekurangan dalam Menulis, dalam Berkata, dan dalam Mendengar
  29. Hal Malu dan Keputusan Akal
  30. Hal Malu Berbuat di Muka-Muka, Penakut Examen, Penakut Berkata-Kata
  31. Penakut Berkata-Kata dan Penakut Lampu
  32. UNCOPYRIGHT

DARI HAL MALU, TIDAK BERANI, TAKUT, KUSUT,

DAN JALAN MENYEMBUHKANNYA

DR. G. H. BERNDT


KOLOFON

DARI HAL MALU, TIDAK BERANI, TAKUT, KUSUT,

DAN JALAN MENYEMBUHKANNYA


oleh

DR. G. H. BERNDT



Gebruders Graauw's Uitgeversmaatskhappij en Bukhandel N. V.

Amsterdam—Surabaia

1937

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: delpher.nl

Ilustrasi sampul: Self-Portrait from the Front 1923, karya Käthe Kollwitz

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam. com



I

HAL MALU YANG DISEBABKAN SEMATA-MATA OLEH PERGAULAN HIDUP

Hati yang bebas lagi sopan santun dalam segala perkara itulah hidup segala anugerah pekerti yang baik, napas berkata-kata, jiwa segala pekerjaan. Segala kesempurnaan sipat yang lain itu perhiasan tabi'at; tapi hati bebas menghiasi juga segala kesempurnaan sipat itu. Dengan tiada hati bebas segala perkara yang bagus itu mati, segala kemolekan tiada beruna.

Pertama-tama hati bebas itu pemberian tabi'at; selainnya, hasil pendidikan permulaan, yaitu pendidikan pada masa kanak-kanak. Dengan pendidikan yang kencang lagi kasar, maka hati yang bebas, hati yang tidak takut itu tidak bisa hidup dan bertambah besar, apa lagi dengan pendidikan yang mencari maksud dengan memakai ancaman. Kesalahan yang terbesar dan sangat berbahaya dalam pendidikan itu sayanglah belum juga hilang, sebab masih juga orang menakuti anak-anak dengan orang jahat, dengan ceritera-ceritera yang amat ngeri, dengan hantu dan binatang jahat. Sentiasa saja kata orang kepada anaknya: “awas, nanti saya panggil anjing”, “ada orang jahat datang”, dan lagi seratus macam jalan menakutkan, sehingga anak menangis dan hilang kegirangan, hideop dengan takut sentiasa kuatir dan merasa terancam, sehingga menjadi takut-takut sampai selamanya.

Pada masa orang masih kecil telah kelihatan juga macam-macam permulaan sipat kuatir dan lekas marah. Maka biasalah orang memakai dalam perkara ini kata “penakut”, yaitu: penakut sekolah, penakut examen, penakut main tangkis (skhermen), penakut main bola, penakut naik sepur. Orang yang bukan ahli itu pun mengatakan, bahwa dalam hal sebegitul telah jadi perubahan yang kelihatan dan menyerupai penyakit.

Perkara-perkara ini amat banyak jadi pada anak-anak, kalau mereka harus berdiri di muka kelas akan membaca, berkata-kata atau menghitung, atau mereka tahu bahwa guru mengawasi mereka, atau mereka ditanyai dsb. Maka anak-anak sebegitul gemetar seluruh tubuhnya, istimewa tangannya. Kebanyakannya amat sukar memegang pena, jangka atau mistar. Tulisan mereka berubah karena tangan gemetar. Pada warna mukanya tampak rupa-rupa tarikan urat dan dengan air mata tertempah serta suara menggagap diberikannya saja jawab yang salah. Hatinya berdebar-debar sa-ngat keras dan warna mukanya sebentar merah lalu pucat.

Dalam keadaan yang sebegini ‘akalnya amat terganggu, sehingga tidak dapat lagi mereka mengadakan barang pekerjaan yang teratur. Kalau mereka berkata, maka perkataannya cuma sebarang perbuatan perkakas bicara; mereka menghapal oleh mengulang-ulangi dengan tidak aturan kata-kata atau bilangan-bilangan yang kebetulan sudah tersesun, yaitu diaturnya dengan tiada terpikir. Sebab amat sukar sekali mengatakan barang hapalan, sya'ir, atau amsal dengan jelas dan tenang, maka gangguan yang diadakan kuatir itu niscaya terdapat sering kali dalam pelajaran menghapal. Anak-anak itu seakan-akan menjadi gelap semangatnya dan dengan mulut ternanga mereka memandang termangu-mangu. Maka sering kali cukuplah memisahkan mereka daripada tempat dekat gurunya, supaya lebih gampang mereka mengatakan barang hapalannya dengan aturan dan betul.

(Prof. L. Strumphell).

Hal tidak bebas itu lebih jelek dalam waktu kemudaan. Disisi sipat terlalu lekas marah, adalah amat kentara buat waktu ini hal kurang peduli sekali dan tidak tetap dalam semua perbuatan. Anak-anak gadis jatuh air matanya dengan tidak barang sebab atau maksud, kalau jadi panas hatinya, dan anak muda laki-laki berlaku sangat kurang peduli, sehingga kebanyakannya dikata-katai sebagai “bangsat”.

Suatu sipat penakut orang, yang aneh serta bercinta rupanya, ada banyak kelihatan pula; orang lebih suka memisahkan diri dan menangis dalam waktu kemudaan.

Mengalahkan hal tidak bebas dan hal ketakutan anak muda ialah kewajiban pendidikan. Dengan tenang dan tetap ruh anak itu harus dipimpin. Hati anak itu harus sekonyong-konyong digirangkan dengan barang tuntutan atau tanyaan yang sudah dipikir betul atau dengan pujian dan celaan yang baik, hatinya harus diberanikan, harus diperiksa barang apa menjadi perhatiannya, dan perhatian itu harus dipimpin dan dibesarkan buat meninggikan perasaan dan perpikiran anak itu; dengan pura-pura tidak dilihat, anak itu harus diberi tempo dan kesempatan akan menjadi sabar; perasaan sopan, kemauan maju dan keinginan harus digerakkan, supaya berani ia memberi jawab betul.

Pendidikan yang rapi bisa melihat tanda-tanda permulaan daripada sipat lekas marah, yang aneh dan kesasar pada kanak-kanak, dan wajiiblah segala gangguan yang lebih jahat itu disingkirkan dengan memakai dietetiek (pantangan) yang co-cok dan pantangan ruh.

(Strumphell).

Pada banyak orang hal yang disebutkan tidak bebas secara tabi'at itu tinggal lebih lama dari waktu kemudaan, dan kemudian menjadi tabi'at aneh yang mau-mau malu, sehingga dibuatnya banyak kebodohan dalam pergaulan, tidak berani berkata “bukan”, serta terlalu takut akan segala orang kepala dan orang di atasnya.

Alangkah banyak orang muda ternyata kurang berpikir, kalau mereka duduk dalam undangan orang yang belum dikenal. Barangkali mereka mengucap terimakasih buat pelawatannya sendiri, mengundang diri sendiri akan pulang dengan segera, menyebut tuan yang belum dikenal dengan gelaran isterinya dsb.

Alangkah banyak terjadi hal malu bergaul dengan bangsa yang berlainan. Perkara “main cinta” cuma terdapat pada beberapa orang, sedang perasaan malu ada pada amat banyak orang, yang kerap kali menjadi perasaan belisah, hati gentar, bilamana mengingat pergaulan yang ‘ajaib antara laki-laki dan perempuan, kesudahannya hilang segala kebebasan. Begitulah dalam pergaulan laki-laki dengan perempuan, perasa malu pada bangsa laki-laki itu sering kali menjadi kekurangan secara tabi'at. Meskipun rupanya tidak boleh dipercaya dalam wakte yang sangat kentara oleh kesukaan, yang dimanamana juga terdapat, adalah benar terjadi, bahwa seorang suami muda yang dari karena malu atau karena kuatir, yang disebabkan oleh kehormatan amat besar akan isterinya, menjadi kurang pantas (impotent).

Akan membuktikannya adalah tulisan tentang jiwa, karangan seorang pengarang Perancis yang paling terkenal, Marcel Prevost, yaitu seorang yang tidak bisa disangka akan memuji-muji budi pekerti orang. Pengarang ini menceriterakan hal seorang suami dalam buku “Suami isteri di kota Paris” begini: “Gampang saja saya meninggalkan kehidopean secara bujang, tapi tatkala itu adalah saya menaruh belisah yang tidak boleh terkatakan sebabnya, dan yang sama sekali tak dapat saya terangkan.

“Ah, tuan dokter, begitulah permulaan pengakuan saya dengan halusnya.

“Saya dapat menerangkan kepada tuan, bahwa tenaga saya sampai pada masa itu baik adanya; ada banyak antara sahabat saya yang dalam perkara ini menaruh nama besar, tapi saya tidak ma-suk bilangan orang, yang menyebabkan bangsa perempuan sedikit tersenyum dengan sayang. Barangkali sebabnya ada terdapat dalam hal yang sama sekali masih baru bagi saya, yaitu memperisteri seorang perempuan yang senonoh lagi suci. Barangkali kerinduan hebat akan memperoleh dia, (sebab pada ketika bertunangan makin cinta hati saya akan dia) dan kemustahilan akan menggenapi kerinduan itu sudah memukul urat sumsum saya sampai begitu; saya menaruh kebiasaan, dalam perkara ini lantas senang hati saya—saya sendiri tidak mengetahuinyia. Tidak dapat teringat lagi oleh saya, kalau pada malam hari perkawinan kami itu saya mendapat perasaan luarbiasa, tapi pada tatkala itu tidak saya hiraukan lagi duduk bersama-sama dengan isteri saya—jangan salah tampa, sama sekali bukan sebab tidak sempat menyampikannya, melainkan cuma sebab sangat ku-rang peduli—seakan-akan segala keinginan semangat sudah habis adanya, sehingga baik mata, baik peluk cinta yang sebenarnya, tiada dapat memnimbulkan lagi segala keinginan itu. Hal tidak berbuat apa-apa pada malam pertama itu, selanjutnya tiadalah mengadakan perkara yang mengganggu saya. Sama sekali tidak saya mencobanya, sehingga tidak juga saya berlaku ku-rang patut pada diri saya sendiri. Saya pun percaya, bahwa isteri saya, sebagai patut bagi seorang isteri muda, telah menanti ketika itu dengan ku-atir, dan bersuka hatinya akan kelakuan saya yang senonoh itu.“

Demikianlah hal banyak orang laki-laki, yang sebagai sudah disebutkan tadi sebelum kawin sudah hidup senonoh betul, dan sebagai orang baru pada malam hari perkawinan pertama, tiada berdaya adanya. Asal mulanya ialah malu dan ku-rang percaya diri.

Hal malu itu banyak kali juga terjadi oleh kelakuan bersolek, misalnya pada seorang gadis muda yang tahu betul siapa disukainya, dan dari sebab itu juga merasa malu, karena tidak bisa ia mengetahuinyia, apakah barang tingkah lakunya dapat berkenankan mata. Perkara ini ken-tara lebih terang, kalau ada laki-laki muda bersama-sama dengan mereka, maka gadis-gadis yang paling suka bersolek kerap kali sangat alpa, sehingga ganti menarik mata, cuma menyebabkan orang tak suka melihat, karena diusahakannya juga memperkenankan mata, tapi tak dapat meng-adakan pada tocbuh dan roman mukanya barang sedikit pun yang menggerakkan hati orang buat menyukainya serta mencintainya.

Hal malu sebegini banyak terdapat juga pada orang yang sangat dihormati, karena mereka sudah biasa dihormati dengan nyata-nyata, Biarpun mereka mesti melihat juga akan kecongkakan, yang ada bersama-sama dengan itu.

Sebab itu mereka tidak suka bergaul dengan orang penyindir. Orang yang lemah diantaranya berlaku banyak kali seperti orang rendah hati, hendak berdiri di belakang, tapi orang yang lebih kuat mendekati orang penyindir itu dengan muka manis, yang sudah dibiasakannya, karena mereka bisa me-rupakan diri, yang pada mata orang ber'akal sama sekali tidak berarti atau cuma sedikit.

Orang ‘alim pun nyata bukan lebih kurang lengah lakunya, sering kali sedikit pun tidak memperhatikan ’adat pergaulan yang bagus, dan dari sebab mereka insaf akan ketinggian ‘ilmu pengetahuannya, pada hematnya tidak perlu mereka memperhatikan rupa tubuh dan pakaiannnya, atau dari sebab mau menghormati orang lain, hendak dibuatnya terlalu banyak. Biasanya inilahi anggapan salah akan cara kehiduapan yang lebih halus dan akan kerendahan hati yang terlalu-lalu atau ter-buat-buat, yaitu terutama anggapan salah dari orang yang menyangka diri pandai, karena mereka menyangka, bahwa kesopanan dalam bercakap-cakap ialah sedapat-dapatnya berlaku rendah hati dan penurut kepada orang yang lebih tinggi, istimewa kepada orang yang disebut Maecenassen. (Macenas ialah pelindung ’ilmu seni dan pengetahuan, sahabat dan menteri kaisar Augustus). Ada orang pula semacam itu, yang oleh karena malu menjadi kaku dan pendiam dalam pergaulan, sehingga kelakuannya seperti orangan rupanya, Adalah mereka seakan-akan sudah menjadi kaku oleh malu, berseombunyi kalau ada bersama-sama dengan orang lebih tinggi, atau mereka merasa patut menyembunyikan separoh pakaian nyia atau badannya yang kurang bagus.

Lebih gampang kita mengerti akan hal kebelisahan hati, yang terjadi pada orang, bilamana diketahuinyia, bahwa orang banyak menaruh perhatian kepadanya, terutama pada perhimpunan tempat berpidato, bertangkis kata dan berkata-kata.

Dalam hal tersebut ternyata, bahwa gangguann yang disebabkan oleh hal malu pada ketetapan laku dan pekerjaan, yang selainnyia berlaku dengan gampang, dan perasaan bahwa segala pikiran hilang lenyap, seperti pernah terjadi pada tukang pidato yang tidak biasa, menyebabkan orang tak dapat melanjutkan lagi bicaranya.

‘Ajaib adanya kebelisahan yang disebabkan oleh sipat “penakut bicara” pada kita, besar sekali gangguannya pada kegerakan badan kita dan sukar sekali kita berkata-kata kepada orang banyak dengan tekanan suara, kelakuan dan pengaruh yang memang ada pada kita dalam pergaulan dengan kaum kerabat dan keluarga di rumah.

Ingatan habis, kegerakan badan jadi banyak, kerongkongan jadi kering dan suara bergentar! Sungguh “penakut mimbar” itu hukuman yang paling berat kepada “ibadat” akan “diri” (seperti pekerjaan di hadapan orang banyak, berpidato, bernyanyi, bermain itu disebut orang); dan akan meniadakan sipat penakut itu, amat sukarnya bagi banyak orang.

Siapakah belum pernah melihat orang pandai lagi ber'ilmu, yang berdiri tegar, mata tidak bergerak, serta tangannya bergantung, sebagai laku laskar muda, dengan muka malu memandang ke bawah dan berpidato dengan menggagap, sehingga pendengar merasa sayang akan dia. Ada orang, yang pada pergaulan dengan kaum kerabat, bisa berkata-kata baik serta bergeli-geli hati, tapi kalau ia kehabisan perkataan dalam perjamuan orang, maka ditundukkannya mukanya dengan malu, lalu disebutnya beberapa kata, yang diulanginya empat atau lima kali dengan suara yang kurang terang, kesudahannya tinggal berdiri dengan mulut ternganga, atau berpegang dengan belisah pada meja atau pada rantai arloji.

Seorang kenalan kami menceriterakan beberapa hal yang aneh tentang sipatnya sendiri yang sangat pengedut; antara lain-lain, bahwa harus ia berhenti daripada berdangsa, karena kalau perasaan hati tergerak sedikit saja maka kakinya tak menurut lagi. Semua hal menjadikan dia kusut dan sesat; misalnya kalau ia hendak memimpin seorang nyonya pergi duduk pada meja, atau kalau ia harus berjalan dalam tempat persidangan di tengah banyak orang. Oleh ingatan saja, bahwa orang melihat akan dia, jadilah ia gentar dan hendak jatuh, seakan-akan mabuk lakunya.

Siapakah tidak mengenal orang yang kurang tetap, yang oleh perasaan kegerakan hati sedikit sekali mesti berdiri di belakang, supaya tidak bisa kentara kebelisahannya dan jangan ditertawai orang. Ada orang yang berpegang pada meja atau kerosi, supaya jangan gemetar tubuhnya, kalau didengarnya pidato yang menempelak hati, atau ditontonnya permainan wayang.

Segala gangguan dan kesedihan, yang bisa terjadi dari malu dan kekusutan itu, yang bukan saja terdapat pada orang yang kurang pandai, melainkan terutamalah pada orang yang lebih pandai, telah menyebabkan dari dahulu kala orang bertanya, apakah jalan akan melawan segala gerakan perasaan itu.

Ahli tonil bangsa Perancis, Francois Delsarte, telah bermula-mula mendapat socatu methode akan memerintah tubuh dengan sepertinya, dan akan menambahkan kebagusan keadaan tabi'at pada segenap kelakuan dan rupa manusia. Methode ini dimasukkan oleh Steele-Makaiye ke Amerika dan banyak disebarakan di sana dan sentiasa telah mendapat hasil yang lebih baik.

Istimewa pula persekutuan “Zoim” telah mendapat banyak hasil dalam perkara yang baru lagi amat penting ini. Lain daripada itu methode ini, yang sama sekali tidak bergantung kepada orang tadi, sudah didapat juga oleh bangsa Jerman, kendati untuk maksud lain, dan dari sebab itu sebagai biasanya telah tinggal tersemunyi saja.

Methode ini niscaya mengherankan banyak orang, karena ialah tidak lain daripada ademgymnastiek (gymnastiek untuk menarik napas).

Pelajaran yang teratur akan menarik napas panjang dan menahan napas itu duа perkara, yang menaruh pengaruh sangat besar gunanya dalam kehidupan perkara ruh: perasaan kejut dan kuatir, malu, tidak bebas, marah, takut, bercinta, kekurangan percaya diri, semuanya bo-leh dilawan dengan ademgymnastiek yang teratur.

Ademgymnastiek itu menurut dua buah pelajaran yang di bawah ini.

Menarik Napas Panjang

Menurut gambar 1 di atas ini, maka kedoca belah tangan (tapak tangan menghadap ke dalam) yang ke bawah memegang sebatang tongkat. Tongkat itu diangkat dengan sangat kuat ke atas (gambar 2), sehingga dada terbuka panjang ke atas, dan setelah itu daripada sikap ini tongkat dibawa ketengkuk leher serta dengan menggerakkan siku dengan kuat (gambar 3).

Pada permulaannya pelajaran ini cuma bisa berhasil pada banyak orang dengan susah payah, muka berubah dan bekerja dengan seluruh ba-dan. Tapi ada orang yang segera melihat akan hasilnya, sesudahnya menarik napas panjang saja, lalu didapatnya perasaan, seakan-akan sudah terlepas daripada hantu mimpi adanya.

Kalau orang sudah lebih biasa dengan pelajaran itu, maka bolehlah lambat laun dengan tidak memakai tungkat, lalu belajar mengangkat leangan ke atas dan melipat tangan di belakang kepala (gambar 4).

Menahan Napas

Tekanlah tangan pada pinggang, lalu dengan berdiri tegak, perlahan-lahan dan sabar, sedang mulut tertetup, udara dikasi masuk sedapat-dapat, sampai tidak bisa lagi, dan lalu napas itu dilepaskan dengan segera.

Tapi kita wajib memberi tahu akan kesalahan menahan napas, yaitu menekan napas atau menolak udara dengan paksa oleh menutup lubang kepala kerongkongan. Menekan napas itu bisa menyebabkan orang pingsan.

Kedua macam pelajaran ini hendaklah dilakukan saban hari sebagai di bawah ini.

Mula-mula cuma pelajaran pertama, menarik napas panjang, dilakukan tiga kali sehari: sebelum makan pagi, sebelum makan tengah hari dan sebelum makan malam. Sebaiknyalah orang berdiri di muka jendela terbuka dan melakukan pelajaran ini dua puluh kali.

Sesudah beberapa lamanya orang melakukan pelajaran ini, maka hendaklah dilakukan bergantiganti, sekali menarik napas panjang, sekali menahan napas.

Menahan napas itu harus dilakukan mulamula 3—4 sekonde saja, lalu satu sekonde lebih lama dan berturut-turut begitu sampai orang bisa menahan napas 10—15 sekonde lamanya. Ju-ga menahan napas itu dilakukan bergantiganti dengan menarik napas panjang saban hari tiga kali sebelum makan, sekira-kira dua puluh kali berturut-turut.

Sekali-kali tidak boleh pada pelajaran bergantiganti itu paru-paru dipaksa.

Makin lebih cakap, makin gampang sekali orang terajak akan berbuat barang yang sesukar-sukarnya, sehingga banyak orang dapat mencapai menarik napas sampai 2—2 21​ menit lamanya.

Bagi orang yang tidak dapat menahan napas barang satu sekonde atau mau berbuat lebih daripada ademgymnastiek, kita berikan lagi pelajaran di bawah ini, menurut Klencke.

I. Mengangkat bahu. Kedua bahu itu diangkat bersama-sama dengan sekuat-kuatnya dan settinggi-tingginya. Menurunkan bahu itu mesti perlahan-lahan jadinya, karena setidaknya, maka oleh berulang-ulang jadinya kepala nanti terlalu bergerak.

Sebab pada pelajaran ini urat-urat daging bekerja, yang serta dengan mengangkat bahu juga mengangkat terus dan dengan tidak terus akan kedua rusuk yang di atas sekali, maka kegerakan ini baik buat memasukkan udara ke dalam be-hagian dada di atas.

Pelajaran ini dibuat berturut-turut 30, 40, 50 kali.

II. Mengangkat lengan ke sebelah samping. Ke-dua lengan diangkat dengan lurus ke sebelah samping, tiada dengan menggerakkan siku barang se-dikit pun, sampai setinggi-tingginya.

Kalau urat-urat daging dan sendi bahu itu baik adanya, maka haruslah lengan di bawah itu, bila sampai setinggi-tingginya, mengenai kepala, yaitu bisa jadi saja, setelah belajar beberapa lamanya. Segala urat yang bekerja, kalau meng-angkat lengan, dan urat pada kedua samping leher itu terutama bekerja. Kedua bahagian dalam dada dan ruangan, yang di bawah sekali di antara rusuk, menjadi amat besar sekali atas jalan yang demikian, sehingga kegerakan menarik napas itu jadi sempurna. Buatlah 10, 20, 30 kali.

III. Memutar lengan. Kedua lengan, yang di-regangkan betul, berputar dari muka ke belakang, dan sebanyak itu juga dari belakang ke muka, menjadikan suatu bulatan yang sebesar-besarnya dan setegak-tegaknya. Hendaklah diperhatikan di-sini, bahwa kedua lengan itu harus liwat dekat pada kepala; untuk itu perlu sendi bahu galir betul, yaitu buat banyak orang cuma didapat lambat laun sesudah membiasakannya.

Oleh pelajaran ini segala urat bahu dan urat sekeliling badan dada itu pun dapat digerakkan kesegala pihak dan dengan gampang. Pekerjaan yang sebetulnya, ialah menggalirkan sendi bahu dan menambahkan kekuatan menarik napas, serta pekerjaan dada yang bersama-sama dengan itu pun dilakukan juga. Pelajaran ini dilakukan 8, 12 sampai 20 kali.

IV. Menggerakkan siku ke belakang. Kedua lengan ditekankan pada pinggang, lalu dengan sikap demikian siku dibawa sedapat-dapatnya ke belakang sampai berdekatan keduanya. Perkara yang terutama pada kegerakan ini, ialah membawa siku ke belakang, dan haruslah setiap kalinya bersama-sama dengan menarik napas. Buatlah ini 8, 12, 16 kali.

V. Menguncikan tangan di belakang. Kedua belahi tangan diletakkan di belakang punggung yang tegak betul, serta dikoncikan (berpegangan), lalu lengan diregangkan ke bawah, sehingga siku menjadi lurus.

Kegerakan kedua, yaitu yang terpenting adanya, harus dilakukan bersama-sama dengan mengeluarkan napas. Dengan kedua kegerakan tersebut bahu menjadi kuat dan tegang ke belakang, dengan yang kedua juga bahu tunduk ke bawah, sehingga didapat sikap badan yang bagus lagi sehat dalam banyak hal, bagian muka dada menjadi lebar dan hal bernapas menjadi lebih baik.

VI. Mengelurkan lengan ke muka dan ke belakang. Lengan, yang direntangkan dengan rata, diulurkan seadanya ke muka dengan tiada mempertemukan kedua tangan, lalu dianjurkan kebe-lakang. Kegerakan yang kedua itu tentu tidak sebesar yang pertama. Pada kedua kegerakan itu urat dada muka dan urat bahu belakang bergantiganti pekerjaannya, dan dari sebab itu sebentar bagian muka, sebentar bagian di dalam dada itu menjadi luas. Buatlah ini 8, 12, 16 kali.

Pelajaran kegerakan bernapas ini, setelah dilakukan beberapa lamanya saja, dapatlah menambahkan kekocatan banyak pada tenaga parasaan, yaitu suatu hal perasaan segar sekali dan hal suka bekerja, yang istimewa tiada disangkakan oleh orang ‘alim yang duduk saja di kamar, dan oleh orang yang bekerja berpikir saja. Perasaan menaruh tenaga, yang disertai dengan hal cepat dan pantas, bertambah baik, hal percaya diri bertambah besar, hal girang, segar dan tenaga ruh bertambah besar. Tiada lagi kehabisan pikiran, tiada hati kusut, tiada hati murung, tiada hati susah dan benguk.

Pelajaran kegerakan bernapas ini pun bisa dilakukan di mana-mana dan pada segala waktu, teru-tamalah pula di muka waktu susah, dan lantas didapat hasilnya, Biarpun berlain-lainan.

Hasilnya mesti didapat dan tandanya, ialah ketennangan ruh yang ‘ajaib, atau sebetulnya ketennangan jiwa dan hati. Artinya, rahasia memerintah diri itu telah terdapat, sehingga segala kesukaran ruh, yang terjadi daripada keadaan hati itu, bisa dikalahkan.

Banyak pembaca barangkali akan menggeleng-kan kepalanya dan hendak melawan akan barang yang diterangkan di sini. Kami tidak bisa memberi nasihat lain daripada meminta, supaya mereka mencoba sendiri melakukan segala aturan tersebut. Mencoba itu lebih daripada belajar, dan hasilnya yang pasti mengubahkan segala Saulus menjadi Paulus.

Kami pun boleh menyebutkan nama beberapa banyak orang ‘alim Jerman yang terpandai, yang telah menyelidik dan memujikan gymnastiek bernapas menjadi obat akan memerintah diri. Tabib yang kesohor Dr. Klencke mengatakan, bahwa jalan ini memberi ketenangan dan tenaga besar kepada segala orang yang lemah otak, malu, takut-takut.

Dr. P. Braun menunjukkan jalan ini menjadi methode akan mendapat sipat memerintah diri. Karl Mann menyebutkan jalan ini obat yang terbaik untuk mengadakan ketenangan ruh, menyegarkan dan menggirangkan hati. Begitulah pula kata Dr. Niemeiyer, dan maarskhalk Von Bieberstein menyebutkan jalan ini paling perlu sekali buat menahankan marah dan napsu, sebagai perasaan kuatir, marah, takut, kejut, kurang tetap hati dsb.

Tapi menurut ‘ilmu pengetahuan pun methode kita ini benar sekali.

Di sini saya tidak semupakat dengan pendapatan orang, yang memandang pekerjaan bernapas itu kejadiannya dalam suatu stimulatie (gerakan) daripada solar plexus (buikvlies besar pada sympathiskhe zenuw); perkara demikian tidak boleh diaku oleh barang seorang tabib, karena tiada alasannya.

Pertama-tama ‘ilmu bernapas ini bukan saja mengadakan perasaan akan kelebihan tenaga, melainkan sungguh menambahkan tenaga itu. Badan dada bertambah besar, pergantian udara bekerja lebih ceapat oleh sebab paru-paru mengisap lebih baik, bekal bertambah baik; pelajaran bernapas panjang itu seperti kata Niemeiyer menjadikan pipi yang merah, urat sarap yang kuat, kepanasan di dalam.

Selainnya teryadilah lagi perkara yang sampai sekarang belum pernah diperhatikan orang.

Kita mengetahui sekarang oleh penyelidikan-penyelidikan yang saksama, bahwa hal takut, kuatir, perasaan ditekan, mengadakan perubahan-perubahan yang penting dalam pekerjaan badan.

Pertama-tama dalam bernapas! Oleh karena ketakutan, mula-mula orang menarik napas panjang, kebanyakan napas panjang sekali, lalu napas seakan-akan berhenti, ada kalanya beberapa sekonde lamanya, setelah itu lantas bernapas lebih banyak dan lebih ceapat. Sesudah menarik napas panjang, keluarah dari dalam dada udara yang telah berkumpul dalam paru-paru, lalu masuklah udara beberapa banyak kali dan lebih lajur daripada biasa.

Dan lagi tiap-tiap orang telah mengalami sendiri, bahwa takut, maiu, kuatir, menyebabkan urat nadi dan jantung kita bertepuk lebih ceapat; tiada barang seorang pun tak mengetahui, bahwa ketika melihat musuoh, ketika dituduh bersalah, hati kita pun tergerak dengan sangat hebatnya serta menjadi kusut; terlebih hebat hal ini pada bangsa perempuan dan pada kanak-kanak, tapi bangsa laki-laki juga mendapat tepukan hati cepat.

Lebih kentara lagi buat perasaan takut, ialah kejadian pada tempat kencing dan perut, yang diterangkan oleh Prof. Mosso yang kesohor seperti berikut:

Kalau perasaan hati tergerak dengan hebatnya, maka bergeraklah tempat kencing dengan tiada se-ngaja. Adalah tabib-tabib menyangka, bahwa perkara yang telah menjadi sebut-sebutan ini dise-babkan oleh urat penutup yang sudah menjadi lemah, tapi hal ini tidak betul. Penyelidikan yang sudah saya lakukan bersama-sama dengan Prof. Pallaeani menyatakan, bahwa baik pada manusia, baik pada binatang, adalah perkemutan kuat, yang berhubung dengan keadaan tabi'at. Kalau kita berpikir-pikir tentang barang suatu, atau pada ketika perasaan hati kita tergerak sedikit, maka be-rubahlah keadaan urat anggota tersebut. Saya merasa kesal, bahwa hal buku ini tidak mengi-zinkan saya akan menerangkan segala keluk yang ditarik dengan plethysmograaf, yaitu menerangkan, bahwa hal-hal keadaan jiwa dan tiap-tiap gerakan urat sarap perasa menyebabkan perkemut-an pada tempat kencing. Inilah sebabnya sehingga pada ketika persaan hati kita digerakkan, maka kita pun terkencing, Meskipun banyaknya air tidak dapat menerangkan gerakan tersebut. Ingatlah akan gangguan yang disebabkan oleh perkemutan anggota badan ini, kalau kita menghadiri barang perjamuan, kalau kita mesti berkata-kata diha-dapan orang banyak, atau kita mesti menempuh ujian, atau kita menunggu dengan kekuatiran. Akan perasaan terkemut atau tertekan yang kita dapat pada bagian badan di bawah, kalau kita berdiri di muka jurang, atau sebab kepicikan, mesti disebabkan juga oleh perkemutan yang tidak sengaja pada tempat kencing.

Kita telah menerangkan, bahwa asal mulanya perkemutan urat darah itu pun asal mulanya perkemutan urat tempat kencing.

Pada kegerakan perasaan, istimewa pada perasaan takut, yang amat hebat kerjanya pada urat sarap, perkemutan tempat kencing itu amat kuat, sehingga orang tiada kuasa lagi menahan air kencing yang tertekan di tempatnya itu. Nyatalah, bukan sebab lemah, melainkan perkemutan, yang terialu kuat pada tempat kencing, menyebabkan orang terkencing.

Tali perut itu pun tidak diam, seperti tempat kencing juga. Perkara ini bukan mengherankan, sebab tali perut itu pun terbungkus dengan urat licin dan menaruh urat sarap dan urat darah, yang sama asalnya dan sama pangkalnya. Selainnya kita tahu, bahwa pelepasan besar daripada paberrik besar dalam badan kita itu amat banyak kegerakannya, dan kita sekalian pun tahu akan bunyi gerutup, gerodok dan geruduk dalam perut yang banyak kali kedengaran, sedang tidak bisa kita meneduhkan segala convulsie (perkemutan) itu. Kalau kiranya kita bisa melihat terus ke dalam perut, maka pada ketika perut bergeruduk niscaya kita melihat suatu perkemutan atau sekurang-kurangnya suatu bagian daripada tali perut, yang bergerak-gerak dan berpindah perlahan-lahan ke lubang pelepasan. Kegerakan peristaltiskh (kegerakan menyerupai cacing pada perut dan tali perut) ini sentiasa bekerja, Biarpun tidak berbunyi, karena gunanya akan mengacaukan makanan dalam perut, memperbaiki pencernaan dan mengantarkan barang yang tidak berguna ke ujung usus. Kalau orang ketakutan, maka kegerakan ini bekerja amat kencang dan cepat, sehingga dengan lekas barang yang ada dalam perut itu dibawa ke ujung usus, serta tiada sempat lagi akan mengerjakan, mencernakan dan memerasi akan dia.

Dari sebab itu bukan lemah anggota, yang dalam hal-hal tersebut bisa mendatangkan malu kepada bangsa laki-laki yang paling berani; ialah aliran yang menembus serta memecahkan pematang, ialah tali perut yang terkemut dengan paksa, lalu mengeluarkan isinya dengan lekas dari dalam badan itu.

Adalah seorang sahabat saya, yang pada tahun ‘66 menjadi laskar merdeka, menceriterakan kepada saya kesengsaraan yang pernah dirasainya ketika bermula-mula ia berdiri di medan perang. “Percayalah,” katanya, “tiadalah suatu perkar pun dapat disamakan dengan kesangatan bunyi sang peluru, yang terbang melalui kami. Kami ada di dekat suatu tempat perkuboran; barangkali melihat segala kayu salib dan beberapa mayat yang terbaring di tepi jalan telah menambahkan kekejutan hati saya, tapi segala peluru yang menembus tembok dan pohon-pohon kayu, penga-duhan kawan yang luka, bunyi bedil yang hebat, bunyi meriam yang gemuruh, memecahkan isi perut saya. Adalah seakan-akan badan saya pecah belah, demikianlah hebatnya penyakit perut (diarrhee) saya. Saya duduk saja diparit, tak bisa lagi berdiri, lalu jatuh terjerumus. Saya merasa malu lalu memaksa diri, tapi badan saya tidak bisa menanggung perkara yang sehebat itu.“

Hendaklah kita perbandingkan pengaruh adem-gymnastiek, yang diterangkan di atas, dengan pengaruh ketakutan pada keadaan badan.

Ademgymnastiek menjadikan orang diam, tenang, bernapas lambat dan lebih panjang; tapi ketakutan mengadakan napas cepat dan pendek. Lain daripada itu, sedang ketakutan mencepatkan tepukan urat nadi dan jantung, maka oleh peljaran kita itu yang mengadakan napas lebih lambat tepukan nadi dan jantung menjadi teduh juga. Kecepatan bernapas dan tepukan nadi itu sama, setuju kedarnya. (Pukul rata adalah pada orang yang sehat 4 kali tepukan nadi dengan 1 kali bernapas; anak yang baru lahir bernapas 40 kali dalam semenit dan nadi bertepuk 160 kali; anak yang ber'uemur 5 tahun bernapas 26 kali dengan tepukan nadi 104 kali; anak yang ber'uemur 10 tahun bernapas 22 kali dengan tepukan nadi 88 kali; anak ber'uemur 15 tahun bernapas 20 kali dengan tepukan nadi 80 kali; orang yang ber'uemur 20 tahun bernapas 18 kali dengan tepukan nadi 42 kali; dan yang ber'uemur 30 tahun bernapas 16 kali dengan tepukan nadi 64 kali.) Semakin cepat bernapas, semakin cepat tepukan na-di; semakin lambat bernapas, semakin lambat juga tepukan nadi.

Dengan ademgymnastiek (yang diadakan oleh menambah dan mengurangkan udara dalam perut) tempat kencing dan tali perut menjadi besar, tapi ketakutan mengadakan perkemutan keduanya.

Keterangan lain: kerja ademgymnastiek itu bertentangan dengan kerja ketakutan (dan segala perkara semacamnya), serta meniadakan kejadian pada badan, yang disebabkan oleh ketakutan.

Tapi inilah perkara jiwa dan tubuh (psykhophysologiskh verskhiynsel) yang ‘umum, yaitu bukan saja kegerakan hati itu mengadakan perubahan pada tubuh, melainkan sebaliknya juga perubahan tubuh itu bisa menggerakkan hati. Kata W. Wundt, bahwa seperti isyarat (kegerakan badan) menjadi tanda kelihatan pada tubuh, yang memperlihatkan keadaan jiwa yang tersembunyi, demikianlah pada pihak lain, kegerakan badan itu menaruh sipat pula yang berpengarouh pada jiwa, sebab kegerakan itu memeliharakan dan menguatkan dia. Maka hal ini berlaku menurut undang-undang pertalian segala tanda hidup yang semacam, yaitu asalnya tanda isyarat juga. Seperti hal perasaan pada tubuh digerakkan oleh hati yang tersembunyi lalu bertumbuh bersama-sama, demikianlah kegerakan hati itu bertambah dan menjadi sekuat dengan pekerjaan pancaindera, yang menyertai segala tanda kegerakannya. Ada diketahui, bahwa orang boleh menjadi geram hati dan marah sangat oleh panas hati. Segala ibu yang ber'akal tahu juga, bahwa sering kali tidak sukar meniadakan paroxisme (kemarahann) seorang anak, kalau pada ketika kemarahannya hendak ter-buka, perhatiannya ditarik kepada perkara lain. Tapi aduh, kalau ketika itu tidak dipakai, dan kalau anak penangis itu tidak teringat lagi akan barang yang memarahahkan hatinya, melainkan sebe-tulnya cuma menangis lagi karena tangisannya sendiri!

Pada beberapa negeri di tanah Jerman adalah dahulu suatu macam pekerjaan, yang masih ada juga pada beberapa banyak bangsa, yaitu pe-kerjaan perempuan penangis yang diupah orang, akan menangisi orang mati dengan senyaring-nyaring suaranya. Niscaya tidak mungkin manusia beberapa jam lamanya, menunjukkan kegerakan hati yang memang tiada padanya, sekiraniya tidak benar, bahwa perbuatan itu sendiri menggerakkan hati. Barang yang bermula-mula bernama ‘ilmu (per-buatan), kemudian menjadi tab'i’at (natuur), dan lebih lekas jadinya kalau gerak badan pun bertambah adanya.

Orang-orang ‘alim dalam penyelidikan perkara jiwa tidak cukup memperhatikan pergantian pengaruh perasaan pada tubuh dengan pengaruh kegerakan hati yang tersembunyi. Tapi hal ini tidak terlupa oleh orang yang sangat pandai dalam ’il-mu tab'i‘at manusia, seperti Lensing. “Tukang tonil yang sederhana itu, kata ahli tersebut dalam buku pemimpin ”Hamburgskhe Dramaturgie“, telah mengumpulkan beberapa banyak syarat kecil, yang dipakainya akan menerbitkan suatu napsu hati, yang sebenarnya tidak ada padanya, tapi kalau ditirunya saja beberapa kegerakan yang tertun-tut, maka rasanya terdapat juga olehnya napsu hati itu; kalau seumpamanya dilihatnya saja, serta ditirunya dengan betul akan segala kelakuan geram yang paling penting pada seorang pemain perasaan yang sah—yaitu berjalan cepat, sebentar menjerit atau berteriak, lalu berkata dengan sangat marah, menggerakkan kening mata, menju-lingkan biji mata, menggetarkan bibir, mengere-takkan gigi dsb., maka kata saya, kalau ditirunya saja dengan betul akan segala perkara ini, yang bisa dilakukan sekehendak hati orang, niscaya ter-jadilah dalam jiwanya suatu perasaan marah betul, yang berpengaruh pula pada badan serta mengadakan juga perubahan, yang bukan cu-ma bergantung pada kehendak kita; warna mukanya menjadi merah padam, matanya membelalak, segala uratnya menjadi bengkak, pendeknya, ia nanti berupa marah Meskipun ia tidak marah serta tidak sekali-kali mengerti, apa sebab ia mesti marah.“

Barangkali lebih betul kalau Lensing mengatakan: “Ia bukan saja berupa marah, melainkan sungguh marah juga.”

Akan memakai undang-undang jiwa dan tu-buh yang ‘umum ini, bersahaja juga buat maksud kita; oleh ademgymnastiek maka segala barang kelihatan yang disebabkan oleh ketakutan itu hilang, dan bersama-sama dengan itu juga hilanglah segala hal takut, malu, tidak bebas, yang telah terjadi kemudian (indirect).

Tapi bagaimana juga keterangan cara melaku-kan pelajaran kita itu, apa perkara ini benar atau tidak, hasilnya memang tentu, maka inilah perkara yang terutama.

Sudah sampai terang juga bagi segala orang pemikir, bahwa hal memakai ademgymnastiek kita itu, Meskipun memang tentu dan bagus hasilnya, tidak kita mencuma-cumakan hal menurut segala nasihat ‘umum dan pengalaman, sebaliknya perkara ini amat perlu sekali, buat mendapat kehendak akan bekerja dengan cakap dan berani. Untuk haluan ini hendaklah ditentukan beberapa syarat, yang seboleh-bolehnya diturut selalu lebih baik.

Dalam segala perkara haruslah orang membiasakan berani menolak dan mengatakan tidak.

Orang pemalu dan yang tidak bebas gampang sekali mengiakan segala orang dan segala sesuatu, yang kemudian sering kali sangat disesalinya. Cobalah mulai dengan perkara-perkara yang kecil, misalnya menolak segala dorongan orang berjual dan orang dagang, jangan menerima barang pesanan yang kurang betul, dan biasakanlah diri akan berlaku sedikit pendek. Maka dengan segera orang akan menjadi berani mengatakan tidak dalam perkara-perkara yang besar juga.

Penting sekali dalam perkara ini, ialah caranya menolak; perkataan tidak oleh seorang lebih tinggi daripada oleh yang lain, karena perkataan tidak, yang daripada emas itu, lebih menyenangkan hati daripada perkataan ia, yang pendek lagi tiada berisi. Ada banyak orang, yang sentiasa berkata tidak, sehingga sekalian orang tiada menyukai lagi akan mereka.

Bagi mereka itu perkataan “tidak” selalu menjadi nomor satu, maka kalau kemudian segala sesuatu pun diiakannya, tiada lagi orang mengindahkannya, karena perkataannya sudah dibinasakan oleh yang pertama.

Janganlah dengan segera menolak, melainkan biarkanlah segala orang, yang bertanya dan meminta itu, perlahan-lahan mengenali akan tipunya sendiri. Jangan pula pernah menolak sama sekali, melainkan biarkanlah orang menaruh harap sedikit, buat penawar kepahitan tolakan itu. Kemudian penohilah barang yang kurang itu dengan kebaikan, dan berilah perkataan manis ganti perbuatan.

Perkataan ia dan tidak itu gampang dikatakan, tapi perlu panjang dipikirkan.

Jagalah selalu akan dirimu, berpikirlah betul kalau engkau berkata. Ada selalu sempat menambahkan barang suatu perkataan, tapi tiadalah pernah sempat menarik barang yang sudah dikatakan. Berkatalah seperti dalam wasiat: semakin kurang perkataan, semakin kurang perbantahan. Ma-ka dengan perkara yang kurang penting, orang membiasakan diri untuk perkara yang besar.

Sederhanakanlah pendapatmu akan orang yang lain, supaya jangan terlalu kautinggikan mereka itu, sehingga takutlah engkau akan mereka. Janganlah pernah hati itu dita’lukkan oleh persangkaan. Banyak orang kelihatan besar saja sampai pada ketika dikenal orang akan mereka itu, maka dari sebab itu hendaklah pergaulan dengan me-reka, mengurangkan persangkaan itu daripada menambahkan penghormatan. Jangan barang seorang meliwati batas pengurung kemanusiaan: semua orang menaruh kekurangan, baik dalam otak, baik dalam hati, Maupun dalam keduanya.

Kemudian perhatikanlah dengan sebaik-baiknya akan muka, akan pakaian dan akan kesopanan berkata-kata. Siapa dalam hal ini menjaga diri dengan sebaik-baiknya dan berkawan seboleh-bolehnya, dalam hal ini, dengan orang yang semaksud, niscaya segera juga ia akan membuangkan perasa malu, yang masih tinggal dalam hatinya.

Upaya yang paling penting akan melawan hal malu, kuatir dan takut, ialah insaf akan kewajiban yang baik, bekerja dengan rajin dan berlaku jujur. Hendaklah orang sedar dan percaya akan diri. Orang yang lemah itu terkadang-kadang saja berani, orang yang malas melakukan kewajiban itu hampir selalu takut, sebab ingat akan waktu yang terbuang percuma. Untung yang tiba-tiba datang itu, baik sekali akan menambahkan keberanian hidup. Kemalangan dan claka melemahkan segala tenaga yang baik, istimewa akan keberanian dan harap—yaitu dua buah penongkat besar akan kemajuan di dalam dunia.


II

HAL MALU YANG DISEBABKAN OLEH KEBIASAAN MENERTAWAKAN DAN KEBIASAAN JELEK

Keinsafan akan kebiasaan, yang menertawakan dan yang jelek pada amat banyak orang itu, merintangi kemajuan tabi'at bebas dan menjadikan mereka pemalu, tawar hati dan lemah.

Mereka mengetahui atau merasa betul-betul, bahwa mereka menjadi ketertawaan kepada orang lain, baik dari karena berasal jelek, baik dari karena mendapat pendidikan jelek, sehingga mereka kelihatan kurang penting rupanya. Segala kebiasaaninya itu sering kali menjadi rintangan akan maju. Segala perkara bodoh dan ketertawaan itu lantas saja kentara kepada orang yang terdidik halus, lalu berpengaruh kurang baik, dengan sengaja atau tidak dengan sengaja, pada pikiraninya, sehingga sering kali sia-sialah segala pengharapan, yang sebetulniya patut dibenarkan. Sebab itu mengalahkan dan meniadakan segala kebiasaan, yang sangat berpengaruh itu, menjadi suatu kewajiban yang paling besar.

Menggigit Kuku

Karena menggigit kuku, rusaklah segala jari muka, yang oleh sebab tiada lagi dikepit dan ditutuopi, menjadi amat pendek lagi lebar, sehingga tumpul rupanya seperti palu.

Jari yang bergigit itu kelihatan sangat buruk, sehingga orang, yang menaruh perasaan halus, takut melihatnya. Orang penggigit kuku sendiri itu pun claka, oleh karena sarap peraba itu kebetulan dirusakkan pada tempat yang paling utama, sehingga mereka tidak bisa lagi diterima akan melakukan pekerjaan, yang disebut precisiewerk (pekerjaan halus), yang memerlui ujung jari yang sangat berperasa halus, seperti perkara tersebut sudah nyata dalam sekolah-sekolah pekerjaan. Sipat lekas marah yang lama-kelamaan bertambah, karena menggigit-gigit jari, itulah juga sebabnya orang selalu hendak menurut akan kebiasaan yang buruk itu.

Ke dalam luka-luka kecil, yang terjadi oleh menggigit dan memamah, sering kali masuklah ludah atau kotoran jari atau kotoran dalam kuku, yang menyebabkan barah dan luka bernanah, yang ada kalanya harus diobati dengan lama dan menahan sakit. Kalau kotoran atau asal penyakit itu masuk ke dalam perut, maka pencernaan makanan itu bisa terganggu sedikit, dan kuku yang tertelan itu pun bisa menghinakan kulit kerongkongan dan perut. Sebab itu wajiblah menggigit kuku itu segera dilawan dengan sesungguhnya. Di negeri Inggris perkara ini diperiksa dalam se-kolah-sekololah, dan segala “nailbiters” (penggigit kuku) dihukum dengan kencang. Baik sekali saban hari, sesudah membasuh diri, segala ujung jari digosok dengan campuran obat dari apotheek:

Kwassiatinctuur.... 20.0
Alutinctuur...... 5.0
Barnsteenolie...... 1.0

Campuran yang sepahit itu mengadakan rasa muak sekali dalam mulut, sehingga cuma orang, yang sangat ketagihan menggigit kuku, bisa tahan akan obat ini.

Kebiasaan Aneh dan Kebiasaan Salah.

Pada macam ini masuk banyak kebiasaan aneh, yang dari sebab menertawakan sudah ‘umum terkenal, dan biasa disebutkan dengan nama “Tics” (kebiasaan ketertawaan). Begitulah misalnya kata-kata tambahan atau seruan, yang tak ada maksudnya “astaga”, “wah”, “awas” dalam segala percakapan, kebiasaan menggigit-gigit kuku atau memain-mainkan jari tangan, kebiasaan menggerakkan barang anggota atau urat pada badan, atau menyeruh garut tapak kaki. Banyak orang tidak berani makan hati bintang, ada yang tidak suka makan burung dan ti-dak suka makan ikan. Ada gadis-gadis, yang selain-nya memang bebas sekali, sebab merasa geli tak mau duduk pada kerosi, yang baru diduduki oleh seorang tuan. Amat terkenal kesukaan orang akan bau kulit yang baru disamak, lumut yang basah; banyak orang suka makan kamfer, ada orang yang terlalu suka sekali memuji-muji orang, yang dikatakannya cantik dan molek, Meskipun sebetulnya sama biasa saja rupanya.

Segala kebiasaan salah ini, baik karena pengajaran salah, Maupun sebab penyakit, rupanya tidak mengapa, dan memang begitulah hal kebayakannya, tapi sebagiannya berbahaya kalau kemu-dian berlaku pada perkara sexueel (hal laki-laki dengan perempuan) selainnya lagi orang yang menaruh kebiasaan salah itu, selalu menyatakan kekurangannya akan perasaan bagus dan akan pendidikan yang baik.

Amat ‘ajaib juga kebiasaan mengempul bulu badan dan guntingan kuku, tidak berani membuka surat yang baru datang, lagi sangat jelek sekali mesti disebutkan, kebiasaan makan dengan membunyikan lidah dan bibir, bernapas dengan hidung yang menghembus, mencungkil gigi dsb.

Segala kekurangan itu haruslah dengan kuat dilawan dan dikalahkan. Orang yang biasa akan sia-sat yang baik, tidak sukar melakukannya dengan sungguh hati. Segala pengajaran ini pun, untuk memerintahkan tubuh, memang menaruh paedah kesopanan. Atas jalan itu dikerjakannya juga perbaikan yang ‘umum. Kehendak memerintahkan tubuh dan daging pada suatu per-kara, memudahkan dan meluaskan kehendak itu pada perkara lain-lain.

Dari sebab itu beratlah melawan akan segala kebiasaan yang menertawakan, aneh, lagi kurang sopan itu, karena segala kebiasaan itu sudah disukai orang Biarpun dengan sembunyi.

Tapi hendaklah diingat, bahwa segala kebiasaan itu menjadi kecelaan kepada kesempurnaan sipat, dan seperti mereka menyukeinyia, begitu pun orang lain membencinya.

Maksud kita, ialah hendak mengalahkan diri sendiri dengan berani, supaya segala kebaikan yang masih tinggal dilepaskan daripada segala kehinaan tersebut. Sebab perkara itu mengganggu semua orang; dan kalau ada masih tinggal barang kebaikan yang bisa dipuji mereka, maka mereka akan tersentuh kepada barang yang mengadakan syak, lalu mengoloknyia, sehingga segala anugerah lain dicela, diumpat atau dibinasakannya.

Janganhah menaruh kebiasaan kurang sopan dan aneh, ialah syarat yang tentu akan berlaku dengan tetap dan dengan tenang. Ada sedikit orang saja, yang tidak menaruh kekurangan secara tubuh, secara ‘adat dan ruh, tapi orang terla-lu lekat kepada segala kekurangan itu, yang se-betulnya dengan gampang juga dibetulkan. Ser- ing kali dengan duka cita orang melihat, bagai-mana suatu kekurangan yang kecil terikat de-ngan kuat kepada beberapa kebaikan yang besar, dan setumpuk awan saja cukuplah menggelapi segenap matahari.

Membuka Mulut dan Mengembus Napas

Mulut yang selalu terbuka menjadikan muka orang kelihatan bebal dan malu, yaitu merusakan kelakuan orang. Kebiasaan aneh ini dan mengembus napas itu pun disebabkan oleh jalan napas, yang teralang dalam hidung dari karena selesma yang sudah lama, kelenjar leher yang bengkak, selaput lendir yang bengkak dsb.

Kejadian yang timbul dari perkara-perkara yang kurang baik ini, sering kali lebih jelek daripada sangka orang. Orang yang berpenyakit itu sebe-tulnya tidak bisa tidur dengan enak. Mereka banggun pada pagi dengan lenghah dan capek, dan sepanjang hari mukanya muram dan lemas. Bunyi suara menjadi kurang, segala huruf sengau tak bisa dibunyikan betul.

Sering kali jadilah kekurangan pendengar, sebab lubang tuba (lubang telinga) tertetutup.

Tenaga ruh kebanyakan menjadi amat lemah dan perangai berubah. Tenaga berpikir jadi ku-rang dan kelihatan kebodohan dan kelengahan. Anak-anak tidak bisa maju dalam sekolah dan tinggal dalam kelas lebih lama daripada aturan-nya. Orang-orang dewasa mengeluh, karena perasaan yang lain dari biasa pada kepala, perasaan yang tidak tentu oleh tekanan dan keberatan pada batu kepala di atas dan di bawah, yang bertambah sampai jadi sakit kepala keras. Banyak anak mendapat serangan penyakit migraine (sakit sarap kepala). Mereka keluar sekolah dengan muka pucat dan sakit kepala, mau baring saja, tapi sering kali keesokannya bisa pula ke sekolah. Ibu bapa dan dokter-dokter banyak kali menyangka migraine. Anak-anak lalu pergi berpakansi ke desa atau ke-tempat permandian, di sana mereka sering kali tidak bekerja, tapi kalau pulang ke rumah dibawanya juga penyakitnya yang lama. Maka biasanya kata orang: “Anak tidak bisa tahan udara sekolah.” Tapi sebenarnya haruslah diperiksa hidungnya, akan mengetahui tempat penyakit dan jalan yang betul akan menyembuhkannya. (Frankel).

Pengaruh yang kurang baik daripada kelenjar leher yang bengkak pada kekuatan berpikir, sering kali cuma nyata pada kekeliruan yang mengheran-kan. Orang yang berpenyakit itu (karena begitulah harus kita memandang akan dia), menurut kata Dr. Yonas yang benar sekali, tidak cakap beberapa lamanya mempersatukan pikiran nyya pada suatu perkara saja. Kalau sudah dimulainya suatu pekerjaan, lantas dibuatnya pekerjaan lain, dan sebelum sudah keduanya, lalu dibuatnya pe-kerjaan lain pula. Dan sebagai lakunya beker-ja, begitulah pula lakunya berkata-kata. Dimulainya suatu percakapan yang memang penting baginya. Kita pun bercakap bersama-sama dan hendak menyatakan pemandangan atau pikiran kita, tapi tatkala itu juga kita melihat, bahwa tidak lagi diperhatikannya perkataan kita. Baru saja sudah perkataan kita, atau sering kali belum juga sudah, lalu dimulainya pula suatu pasal baru, dan sementara mempercakapkan pasal baru ini, yang banyak kali tidak sekali-kali berhubeng dengan pasal yang lebih dahulu, maka ja-dilah sebagaimana permulaannya juga.

Sering kali nyata, bahwa orang yang berpenyakit hidung melupakan nama barang, nama orang, dan nama tempat. Tidak cakap menghapalkan nama itu amat kurang baik dalam percakapan dengan orang lain, sebab sering kali tak bisa disahutinya pertanyan yang biasa dikatakan orang: “Siapa pula namanya?” Kebanyakan tabi'at pelupa itu disertai dengan mengelipkan mata.

Bagi semua orang, yang merasa dalam kehi-dupan ruhnya, dalam kemajuan tenaganya, dia- langi oleh suatu tekanan, serta merasa napas hi-dungnya diganggu oleh perkara-perkara yang di-sebutkan tadi setiap hari dan setiap malam, Ataupun hanya pada malam bernapas dengan mulut terbuka, memang adalah jalan akan menyembuh-kannya.

Sungguh ‘ajaib, bagaimana besar dan menghe-rankan perubahan pemikir orang ber'akal, yang diobati hidungnya. Bukti dan kejadian terlalu banyak menyatakan, bahwa orang semacam itu tiba-tiba menjadi ber'akal sesudah diobati. Dan kalau orang mengingat, bahwa sesudah suatu penyelidikan nyatalah tidak kurang daripada 61 persen yang berpenyakit hidung, maka terbukalah suatu masa yang memenuhi hati segala orang dengan pengharapan yang sangat besar.

Sudah tentu, bahwa perlu sekali segala orang, yang bernapas dengan mulut, akan meminta di-periksa oleh seorang dokter specialist buat penyakit kerongkongan, hidung dan telinga, serta se-perlunya meminta diobati.

Buat kebanyakan penyakit hidung orang cuma bisa ditolong oleh dokter specialist.

Dr. Breigen mengatakan, buat penyakit hidung adalah bersama-sama dengan pengobatan anggota terutama sekali dipakai peraturan makanan (dengan anggapan seluas-lusnya), lagi ada kalanya perlu dipakai juga obat yang berpengaruh di dalam.

Akan hal peraturan bagaimana hidup, janganlah saja dijaga supaya badan bisa tahan akan segala perubahan hawa, melainkan haruslah di-jauhkan betul-betul segala barang, yang sudah nyata berpengaruh kurang baik pada selaput lendir yang sakit dalam hidung itu. Pemeliharaan yang tetap akan kulit dan badan itu harus diutamakan. Hal ini mudahlah diturut dalam segala macam kehidupan, karena tiadalah tertun-tut di sini perbuatan luarbiasa, Ataupun waktu yang panjang. Tidak boleh dituntut orang, supaya pemeliharaan kulit tubuh itu dilakukan betul-betul seperti dalam “tempat pendidikan”, hal ini pun memang tidak perlu, karena dengan membiasakan seterusnya serta atas jalan bersahaja juga, kulit itu bisa mendapat kekuatan tahan yang dikehendaki.

Kalau bangun pagi hari, dan seboleh-bolehnya juga sebelum pergi tidur, haruslah seluruh badan dibasuh sedikit dengan lekas. Pada musim dingin bolehlah mula-mula, dan buat orang yang berusah banyak panas, kamar dipanaskan; lagi ambillah selalu air yang sudah beberapa lamanya ada dalam kamar. Pada musim panas (dan di negeri panas) hal ini tidak perlu dan tidak baik. Orang menanggalkan semua pakaian dan kaki memakai pantoffel. Lalu kedua belah tangan dimasukkan (jangan memakai spons dsb.) beberapa kali dalam air, lalu segala bagian badan di atas sampai kepada paha dibasahi sedikit dan lekas dikeringkan dengan kain handuk biasa; setelah itu kedua kaki dibasuh begitu juga, kesudahannya bagian kaki di bawah satu-satunya dimasukkan ke dalam tempat air, dan dengan tangan sebelah lekas dibasuh lalu dikeringkan. Pekerjaan ini, yang di mana-mana gampang saja dilakukan, lamanya 4 menit dan pada permulaan lebih lama sedikit. Setelah sudah mengenakan pakaian dengan lekas, baiklah mela-kukan beberapa pelajaran gymnastiek, yang setuju dengan hal itu sendiri. Nyatalah, bahwa pekerjaan membasuh yang diperkatakan itu maksudnya cuma akan menguatkan kulit; dari sebab itu baik sekali seminggu sekurang-kurang-nya sekali (pada musim panas dua kali) mandi dengan tidak usah lama dalam air panas, lalu kulit badan dibasuh dengan air dingin. Sementara itu tentu wajib dijaga akan luka penyakit, yang tidak bisa kena air dingin.

Barang yang berguna sekali dan juga amat sedap pada perasaan, ialah pakaian dari wol (bulu domba) betul. Tentu saja pakaian ini tidak perlu dibuat menurut guntingan yang tentu. Cuma harus dijaga, supaya bagian badan di bawah, di atas atau di antara kain wol jangan terlalu besar ditutup dengan kain lain, yang bisa mengeluarkan udara; dari itu pergantian gas pada ku-lit dengan udara sekelilingnyia dialangi sedikit, sehingga kulit jadi hangat; kemeja yang basah di dalam kain wol atau di atas kutang wol itu, sentiasa menyebabkan orang berkeringat dan kedinginan. Pakaian yang terbaik akan menjauhkan hal itu, ialah kemeja dari kain flanel atau kain Yaeger, yang dadanya dan lehernya dari kain linnen, dipakai bersama-sama dengan pakaian wol, yang tebalnya dan warnanya bisa bermacam-macam, tapi selalu mesti berlapis wol juga. Akan hal warna pakaian, kami peringatkan lagi, bahwa buat orang yang lemah dan kanak-kanak warna muda itu lebih baik daripada warna tua, sebab dengan warna muda sinar matahari itu lebih sedap pada kulit dan pengaruhnya baik buat memeliharakan kulit badan. Tapi kemeja dan kutang dari wol itu cuma sedap pada badan, kalau masih baru atau belum sering dibasuh, sebab kalau sudah dibasuh banyak kali barang itu tidak bisa lagi mengeluarkan udara. Tapi barang-barang semacam itu mesti dibasuh banyak kali, yaitu mengadakan ongkos besar juga, sehingga kurang saja orang, yang bisa berpakai begitu. Tapi hal ini tidak begitu perlu, kalau pemeliharaan kulit dengan sebaiknya diperhatikan orang. Selamanya hares dijaga, supaya leher kita jangan tertetutop, dan seboleh-bolehnya sampai pada tulang belikat (lekuk didada) terbuka; aturan ini baik juga buat pakaian perempuan.

Kekuatan tenaga akan menolak bahaya hawa itu bertambah besar, sehingga tidak usah kita berjaga dengan kuatir selalu, akan menjauh-kan diri daripada bahaya itu. Haruslah kita se-lalu lebih banyak, tapi dengan hati-hati, menghadap bahaya itu, maka makin kuat kulit badan kita, makin kurang kita hendak menjauhkan udara yang bersih. Sebab itu hendaklah dijaga, supaya segala kamar dalam rumah dan kamar tidur (apa lagi pada musim dingin) sering mendapat udara bersih, dan kalau tidak ada tempat keluar angin, hendaklah juga pada tengah malam jendela dibuka dalam kamar tidur atau dalam kamar lainnya. Lain daripada itu harus dijaga, supaya badan itu jangan terlalu dipanaskan oleh tempat tidur yang panas, melainkan badan itu harus kuat mencegah kehilangan panas badan, dengan memakai hanya satu atau dua sehimut daripada wol.

Sampai di sini sudahlah kita memperkatakan segala peraturan, yang bisa memeliharakan badan daripada kedinginan, maka sekarang kita hendak memperkatakan segala aturan, yang menjauhkan segala pengaruh, yang berbahaya pada lubang hidung yang sakit, istimewa pada segala penyakit hidung yang bernama “catarrhale neusziekten”. Sepanjang pendapat kami adalah terlarang dengan keras mencium tembakau, minum rokok, minum bier (boleh diminum anggur dan apppelwiyn sedikit), duduk di tempat yang panas terlebih yang berasap rokok, mengisap napas uap yang panas. Semakin kencang orang menurut aturan ini, semakin bagus dan kekal hasil pengobatan anggota itu. Pengobatan ini sebaliknya, kalau beruntung sekali, cuma memberikan hasil sementara atau tidak lama, jikalau tidak dituntut menjauhkan dengan kencang dan buat selamanya segala barang berbahaya, yang sudah disebutkan.

Sekarang kita hendak memperkatakan hal mengobati penyakit hidung, dan kita harus menybutkan alasan yang pertama, bahwa tiap-tiap aturan dan upaya sendirinya itu telah jadi oleh karena penyelidikan yang sah sahaja, dan tiadalah akan dikerjakan lain, sebelum nyata hasil pekerjaan yang pertama. Segala pengobatan secara dukun-dukunan itu haruslah dijauhkan.

Sambil memegang alasan ini, maka kita harus mencela betul-betul akan pekerjaan, yang masih ‘umum dilakukan, yaitu mencuci atau memompa lubang hidung dengan pompa, perkakas perecik, atau memasukkan barang cair (neusbad).

Mencuci lubang hidung itu cuma diizin-kan dan perlue pada beberapa hal penyakit yang jarang sekali rupanya. Mencuci lubang hidung itu memang tidak pernah menyembuhkan; melainkan sebaliknya, orang berpenyakit itu bisa dicelakakannya, bukan saja pada ketika itu, tapi kemudian juga. Celaka yang pertama yaitu sela-put lendir dalam hidung itu menjadi lebih bengkak dan alat pencum menjadi rusak. Banyak kali, terutama pada kanak-kanak, oleh pengobatan yang kurang betul orang memasukkan barang cair ke dalam telinga, sehingga terjadi kesakitan yang sering kali menyebabkan pendengar jadi rusak. Celaka yang bisa jadi kemudian daripada mencuci hidung itu selamanya lebih besar.

Kalau mencuci hidung itu tiada mengadakan kesembuhan, maka teranglah kebanyakan kalinya orang tidak hendak memakai pengobatan yang baik, serta menyembuhkan penyakit hidung. Karena memang ma'lum, bahwa buat kebanyakan penyakit hidung itu cuma diberikan aturan mencuci hidung, sedang aturan pengobatan lain-lain tidak diberikan. Begitulah penyakit itu selalu bertambah, dan setelah beberapa lamanya menaruhkan segala pengharapan kepada pencucian hidung itu, maka orang yang berpenyakit itu akhirnya hendak mencari pertolongan pada tempat lain. Mencuci hidung itu sering kali juga diaturkan, buat mengobati selaput lendir dalam hidung. Kalau ada kejadian, bahwa lubang hidung berubah tempatnya sementara diobati, maka mencuci hidung itu sama sekali tidak beruna, karena bukan saja selaput di tengah itu gampang ce-laka, tapi lubang hidung itu pun tidak dapat dicuci, sebab jalannya tertetutop atau berpindah sedikit. Dalam kejadian-kejadian sebegitu pekerjaan mencuci itu pun tidak perlu, sebab penyakit yang barangkali bernanah itu tidak boleh diobati atas jalan yang baik, dengan memakai obat-obat lain, yang tidak berpengaruh pada hidung dan pada telinga.

Mencuci hidung itu bertahun-tahun lamanya telah menjadi rintangan besar untuk pengobatan penyakit hidung yang beruna, dan sekarang pun masih begitu juga dalam semua hal, sebab dikerjakan dengan tiada aturan dan tiada alasan yang sempurna.

(Dr. Breggen).

Kami katakan lagi, bahwa segala penyakit hideng itu perlu betul-betul diperiksa dan dibati oleh seorang dokter specialist. Akan hal keljar leher yang bengkak, yaitu hal terutama yang banyak kali jadi, janganlah orang percaya, bahwa penyakit itu bisa disembuhkan dengan memakai obat-obatan, air sumur, air mandi atau udara lain. Dalam hal ini harus dilakukan operatie. Operatie itu sama sekali tidak berbahaya dan tidak apa-apa. Mematikan perasaan atau narcose itu tidak perlu. Dalam semua hal hendaklah bernapas dengan mulut itu, apa saja yang menyebabkan-nya, dilawan oleh tiap-tiap orang menurut jalan membiasakan diri. Orang-orang yang ber'akal besar sudah mengalami dalam badannya sendiri, bahwa membiasakan jangan bernapas dengan mulut itu mengkuatkan ‘akal budi dan menghilangkan perasaan sakit dan kurang enak, serta mengadakan betul kesenangan baru dalam hidup. Maka tentu sekali sangat mengherankan hati kita, bahwa seorang ’alim besar bangsa Jerman, ahli filsafat I. Kant, telah mengajak orang akan bernapas dengan hidung, sambil ia pun telah melakukan sendiri dengan saksamanya, yaitu satu abad dahaelu dari ‘ilmu pengobatan memikirkan kebiasaan ini.

Gerakan Muka (Tics), Gerakan Anggota

Banyak orang selalu menaruh gerakan pada mulutnya, ada pula yang menaruh gerakan lebih banyak, karena dengan tidak sengaja diangkatnya tangannya atau digerakkannya kepalanya. Mereka memang tahu akan kebiasaannya yang ketertawaan itu, dan sering kali sakit hatinya karena segala keanehan itu. Maka sering kali diusahakannya sedapat-dapatnya akan meniadakan kebiasaan itu, tapi tidak dapat juga, sehingga kesusahan hatinya lebih besar. Pertolongan yang betul ada cuma satu, yaitu pengobatan dengan hypnose.

Akan meninggalkan segala kelakuan ketertawaan dan perbuatan kegelian, hendaklah diturut segala pertunjukan dan aturan orang ahli Ernst Skhulz.

Kita niscaya akan menyimpang terlalu jauh dan hampir tidak mungkin, kalau bagi satu-satu hal daripada segala tarikan dan gerakan ini kita berikan obat, yang secocok akan menyembuhkan nya. Sebab itu baiklah di sini dengan ‘umum kita berikan lagi suatu aturan besar akan memba-guskan, yaitu nasihat kepada tiap-tiap orang, supaya dengan mulut, yang dipakai terutama oleh perkataannya akan berdiri di tengah pergaulan hi-dup, diadakannya pemandangan yang baik.

Hendaklah mula-mula dijaga akan kebersihan mulut dengan sebaik-baiknya (tentu bersama-sama dengan lidah dan gigi), janganlah cuma membersihkan mulut dengan air pada pagi dan sesudah makan, melainkan bersihkanlah juga bibir. Boleh juga pada waktu lain bibir itu disapu dengan kain setangan, sebab bibir itu yang oleh berkatakata dan bernapas selalu menjadi basah, gampang sekali mendapat abu yang ada da-lam udara. Selalu membersihkan itu ada pula kebaikannya, yaitu bibir yang sedikit pucat mendapat warna lebih baik. Kemudian hendaklah diusahakan, supaya mulut yang diam mendapat rupa yang menyenangkan, tertutup dengan baik, bukan terkatup dengan kuat, bukan terbuka.

Rupa mulut yang baik boleh juga diketa-hui, kalau orang merasa senang dan bersuka hati, atau sesudah bercakap-cakap dengan sangat gi-rang lalu menutup mulut.

Janganlah sekali-kali berdiri di muka cermin, akan mempelajari rupa mulut yang baik. Ka-rena begitulah akan terjadi perkara yang dibuat-buat, seperti sudah kita sebutkan. Tapi kalau orang hendak memakai cermin juga akan melihat barang yang salah, maka bolehlah orang melihat cermin, kalau sudah tahu dengan tentu, bahwa rupa mulut yang diterangkan tadi sudah terjadi dengan tidak sengaja, tapi janganlah cermin itu sampai dipakai buat perkara yang dibuat-buat atau memperbagus diri. Akan perkara yang ketiga, yaitu kegerakan mulut, kita peringatkan, bahwa ketika berkata-kata, tertawa, makan dsb., janganlah kegerakan itu terlalu-lalu atau terlalu cepat atau terlalu kuat; hal ini istimewa jelek pada nyonya-nyonya, kalau ketika mereka tertawa keras diperdengarkannya sucara berteriak atau menjerit. Tapi kita hendak memperingatkan lagi akan kegerakan mulut yang terlalu sedikit atau terlalu kurang pada ketika tertawa, dan kita hendak mengajak, supaya pada ketika orang boleh tertawa dengan sebaik-baiknya hendak-lah mulut terbuka betul, gadis yang cantik boleh memperlihatkan giginya yang bagus juga.

Baiklah kita pergunakan cermin, tapi bukan akan berdiri di mukanya supaya kita mempelajari “membuat muka bagus”, melainkan akan melihat kecelaan muka kita, yang sudah terjadi oleh sebab dibiarkan atau karena kebiasaan yang salah. Memperbaiki rupa muka itu bukan berdasar lebih pada rupa baru lagi bagus, yang didapat dengan pelajaran, melainkan pada kehendak akan membuangkan dan meniadakan segala kejelekkan dan kecelaan, yang sudah dibiasakan oleh muka kita.

Beralas pada pemeriksaan saya yang lama sekali, saya hendak menyatakan, bahwa kebanyakkan muka yang menggelikan hati, yang kita lihat dalam kehidopan, cuma disebabkan oleh kurang uji ketika menetapkan rupa muka. ‘Umumnya adalah tiga macam sebab, yang menjadi alasan kejadian rupa muka yang jelek; pertama-tama, kekurangan tabi'at karena urat sarap yang tidak sempurna pada muka; kedua, kebiasaan membuat muka jelek dalam pergaulan atau dengan sengaja; ketiga, tanda-tanda yang tinggal pada muka manusia, karena penyakit atau kesalahan dan napsu yang tidak diketahui.

Dari sebab itu dapatlah kita mengerti sekarang juga, bahwa jika kekurangan yang kelihatan itu kita ketahui lebih dahulu akan asalnya, maka dengan membuangkan dia, kita pun telah maju dengan langkah besar akan mencapai maksud kita. Meniadakan, yaitu jalan yang bersahaja akan membuang segala perkara jelek dan kurang baik, supaya diganti dengan keadaan tabi'at yang betul, seperti pada ketika orang hendak meniadakan tingkah laku berjalan jelek atau sikap tubuh yang salah, bukan saja membuangkan barang yang salah, melainkan dengan tidak sengaja juga mengambil barang yang lebih baik akan gantinya.

Sikap Badan yang Salah

Maka dalam pergaulan kita, dalam kelakuan dan perbuatan kita yang kelihatan, dalam mempermainkan badan kita dengan segala kegerakannya, adalah amat banyak kegerakan yang kecil-kecil dan yang menertawakan, sehingga bisa kita sebutkan beberapa diantaranya saja. Pertama-tama adalah banyak orang, yang boleh dibilang tidak tahu, apakah akan dilakukannya dengan badannya yang hina itu. Mereka itu adalah seperti seorang pemain tonil, yang pertama-tama kalinya berdiri di muka, selalu merasa sangat malu akan keadaan segenap badannya sendiri, baik oleh karena tidak diketahuiniya segala aturan ‘adat kelihatan, Maupun oleh sebab dengan paksa segala kelakuan yang ku-rang betul diajarkan kepadanya, sehingga lantas nyata kepadanya perbedaan kelakuannya dengan sikap yang lebih baik. Hal malu dan kesakitan hati itu nyata, baik dalam kegerakan segenap badannya, baik dalam kegerakan anggotanya sendiri; sering kali nyata juga pada orang yang sudah pandai bermain dangsa, sebab kepandaian nyia sudah menjadi kurang, dan kalau tidak cukup ia membiasakannya, maka malu itu pun datanglah.

Hal malu itu, hal tidak tahu bagaimana kita harus berlaku dan bergerak, jadi kebanyakan kalinya, kalau kita merasa ada orang melihat dan memperhatikan kita. Pun orang yang ber'akal dan terpelajar merasa tidak bebas, karena keinginan (yang ada dalam hati kita sekalian) akan menyenangkan hati segala orang bertemu dengan perasaan, bahwa orang yang melihat akan dia itu penguji adanya, sehingga ia pun bergumul dengan segala kegerakan badannya, seperti kita lihat sering kali juga dalam perkumpulan orang, yang dari sebab malu tidak tahu bagaimana ia harus berpu-tar atau menoleh atau ke mana ia harus melihat, istimewa kalau ada orang yang tidak dikenalnya.

Badan yang terlalu banyak bergerak kalau kita berkata-kata itu pun suatu kesalahan, baik dalam berkata-kata, Maupun dalam kegerakan badan. Ada orang yang tidak bisa memerintah dirinya sendiri, serta menyangka tidak bisa berkata-kata, kalau segala alat kegerakan badannya itu tidak digerakkan. Pada kebanyakan orang hal itu kegerakan benar pada tabi'at, kecepatan Ataupun kepanasan kalbu hati. Segala pikiran dan perasaanniya selalu hendak keluear, dan dari sebab amat lekas timbul dalam hati, maka dengan selekas itu pun kegerakan badannya hendak menyatakan dia. Itulah sebabnya maka orang yang lekas marah (khole-riskh) dan lekas panas hati (kholeriskh-sanguiniskh) terlalu bergerak, sehingga banyak kali kita tidak tahan melihatnya, sedang orang yang lambat (phlegmatiskh) memperlihatkan kegerakan, perkataan dan pikiran, yang banyak kali menyakiti hati karena lambatnya.

Pada orang lain kegerakan ini cuma dibuat, ditiru dan ditontonkan. Pada sangkanya, bahwa dengan itu mereka menjadi penting dan menarik perhatian orang; tapi sebab kegerakan itu cuma dibuat-buat, maka gampang sekali menjadi kehinaan dan kegelian segenap keadaannya dan maksudnya. Kegerakan ini adalah terutama pada orang, yang harus memainkan perkara besar dian-tara segala pemain tonil, declamator dsb. Kebiasaan bermain tonil itu dibawanya ke dalam kehiduapan sehari-hari, dan dalam perkumpulan dengan sa-habatnya dilakukannya seperti dalam tempat main tonil. Hal ini pun kelihatan pada ahli-ahli tonil kita yang pandai sekali. Mereka merasa amat senang dengan kegerakan yang sedap itu; dan gampang saja dibuatnya kesalahan, kalau tabi'at yang bersahaja itu dihinakannya, dengan kegerakan yang kelihatan terpaksa dan dengan berlaku geli. Ada amat banyak orang, yang adalah bersama-sama dengan kegerakan menurut tabi'at Ataupun terpaksa, sudah menaruh juga bermacam-macam kebiasaan asing dan aneh, yang gampang mengganggu perasaan kita. Begitulah tatkala mereka itu berkata-kata, ditepuknya dengan sangat keras akan bahu orang lain; kalau mereka itu menghampiri kita, maka lalu dipegangnyia dan di-guncangnya dengan keras sekali akan tangan kita.

Ada orang yang berlaku dalam percakapan seperti seekor burung dalam kandang, terbang ke sana kemari dan tidak bisa berhenti. Saya kenal akan seorang prins yang baik, yang sementera du-duk santap, juga tidak putus-putus menggerakkan badannya ke muka dan ke belakang dengan cepat, dan lagi banyak orang, yang sambil bercakap mengelur-ulurkan tangannya dengan hebat.

Akan membiasakan membuat sikap yang baik dan kegerakan yang betul, baiklah diturut akan aturan di bawah ini, yang sudah diberikan oleh Oskar Guttmann.

Sikap badan itu janganlah sekali-kali kaku dan diboceat-buat, melainkan harus bebas sama sekali dan jangan terpaksa. Badan itu harus menjadian suatu baris lurus, dari batu kepala sampai ketapak kaki (kepala bangsa perempuan tunduk sedikit); dan pusat keberatan itu betul letaknya, sehingga baris yang ditarik dari situ kepada anggota duduk (baris keberatan)—orang harus berdiri dengan kaki bertemu atau berjauhan—seboleh-bolehnya mengenai pertengahannya. Kalau orang tidak menjaga akan hal ini, kalau seperti biasanya badan itu terlalu bertumpu pada kaki sebelah, yaitu memindahkan pusat keberatan, sehingga baris keberatan itu terlalu jatuh ja-uh mengenai anggota duduk pada sebelahnya saja, maka jadilah kesalahan dbawah ini: badan itu (lain dari baris keberatannya menjadi pen-dek) dipaksa oleh kelelahan yang lekas dirasa, akan memindahkan tumpuannya dari sebelah ke sebelah yang lain, sehingga tidak mungkin orang kelihatan tenang dan patut; pangkal paha tempat bertumpu itu akan timbul dan kehiatan jelek, apa lagi pada orang yang berbadan kurus. Dengan sikap yang demikian itu pun bagian badan di atas meninggalkan ketegakannya, dan kedua bahu serta gerakan lengan kehiatan miring.

Sikap yang biasa dilakuikan lagi paling bagus buat orang yang berdiri, ialah sikap dengan kedua kaki, yang berdiri satunya di muka yang lain; dan badan ditumpukan pada kaki, yang berdiri di belakang; kaki yang berdiri di muka itu selalu lebih dekat kepada orang tempat kita berkata; kebalikannya, yaitu menumpukan badan pada kaki, yang dekat kepada orang tempat kita berkata itu, dan memajukan kaki yang lain itu, menjadikan orang kehiatan canggung, sehingga sikap ini pun dipakai orang akan memperlihatkan orang canggung dalam tonil.

Kepala itu harus terletak dengan bebas dan bagus pada leher yang tegak, dengan tiada kehiatan hendak tunduk ke situ atau ke sana barang sedikit pun.

Dagu itu janganlah ditolak kemuoka atau ditarik ke belakang, jangan pula terangkat atau bergantung, melainkan harus tinggal seperti biasa. Mata itu jangan selalu menengok ke atas atau ke bawah. Mulut itu (sementara diam) harus selalu tertetutup, tapi jangan dikerepotkan, dan sebab itu harus bernapas dengan hidung.

Kedua bahu itu jangan ditinggikan dan jangan dimajukan, melainkan (sementara tegak) dibiarkan ke bawah sedikit.

Dada itu jangan kelihatan maju, supaya jangan serupa tegar, tapi jangan pula kempis rupanya. Kalau aturan ini diturut dengan se-pertinya, maka tidak mungkin lagi punggung ja-di bungkuk (kecelaan yang sering terjadi oleh sikap tenang).

Perut itu haruslah sedikit dikempiskan.

Kedua lengan itu jangan mengepit badan, melainkan harus bergantung dengan bebas dan seperti biasa, serta janganlah siku itu ditolak ke-belakang, yaitu kesalahan yang banyak terjadi pada bangsa perempocean.

Ujung siku itu haruslah kelihatan, tapi jangan tajam rupanya. Kedua tangan itu bergantung pada sisi paha di luar, dengan bebas dan seperti biasa, punggungnya kehadapan sehingga ibu jari mengenai paha kaki, tapi ibu jari itu harus kelihatan. Tangan bangsa perempocean itu harus lebih ke muka.... Tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri, lalu jari dipegangkan. Inilah sikap yang paling paling bagus.

Hal yang melawan kesopanan, bagi bangsa laki-laki dan perempocean, ialah menaruhikan tangan pada pinggang atau mempersilangkan keduanya pada perut. Amat jelek dan kurang sopan memasukkan tangan ke dalam saku, atau sementara berkata-kata dengan orang lebih besar menaruhkan tangan pada punggung. Kalau tangan itu tidak bekerja, haruslah keduanya bergantung pada sisi dengan senangnya. Pada zaman rococo dahaelu, dengan tidak berlaku kurang sopan, bolehlah orang memasukkan terkadang-kadang tangannya ke dalam vest (dada), tapi tiada pernah ke dalam saku apalagi ke dalam saku celana.

Segaia jari itu janganlah sekali-kali dipegangkan rapat atau terbuka; jangan pula sebuah jari dipisahkan daripada yang lain dan membuat sikap sendiri, seolah-olah lain halnya; tapi semua jari itu harus bebas, jari telunjuk yang terkurang, jari kelingking yang terlebih bebas, semuanya terbentuk, dan jaraknya yang biasa itu mesti kelihatan.

Kedua lutut itu janganlah terbuka atau tertotutup sikapnya; sikap yang pertama menyatakan kelengahan dan yang kedua menyatakan kecanggungan. Sikap yang betul ialah sedikit tertarik ke belakang.

Sementara duduk janganlah kedua kaki di bawah itu terlalu maju ke muka atau berjauhan tempatnya, jangan pula disusunkan. Sikap yang terbaik yaitu tempat kaki sebuah sedikit maju.


III

HAL MALU YANG DISEBABKAN OLEH ONANIE

Pada amat banyak orang perasaan malu dan penat itu cuma disebabkan oleh onanie (cemar tangan). Dosa yang sudah sangat merambat ini mengganggu pertama-tama akan keadaan sarap. Gerakan yang terlalu banyak itu, menyadikan segala sarap itu mudah sekali terganggu, dan mengurangkan kekuatan tenaganya. Hawa napsu itu mendalam dengan tiada diketahui; perasaan, yang banyak terdapat dan benar pada orang pembuat onanie itu, bahwa dibuatnya perkara yang tidak patut, yaitu pergumulan yang tidak pu-tus-putus antara hawa napsu yang hebat dan ke-wajiiban yang patut, sangat berpengaruh pula dan memenatkan. Begitu pun gerakan keinginan dalam hati, dan apa lagi kekuatiran akan hal yang bisa jadi kemudian, sebagai diceriterakan dengan sehitan-hitamnya dalam buku-buku yang terke-nal dari dahulu.

Segenap kehidupan jiwa itu terganggu oleh onanie; dan gangguan ini nyata dalam lial capek, tidak kuat, penat, kuatir, pengejut, tidak peduli, penakut orang, malu, congkak, cinta diri, lekas marah, tidak menurut, bercinta, murung dan merasa berat pada kepala. Segala orang pembuat onanie itu kelihatan sangat berubah tabi'atnya, seperti hati jadi dingin, tidak suka akan semua perkara yang melawan dosa itu, hati lekas marah, suka tinggal sendiri, suka memisahkan diri, mendapat gangguan napsu dan marah, tidak bisa menghapal dan berpikir. Mereka tinggal di tempat yang sembunyi, menjauhi segala permainan dan kesukaan pemuda yang tidak ada salahnya, tidak suka mempelajari ‘ilmu yang dalam dan tidak suka bekerja, selalu bodoh di sekolah dan tidak mudah meninggalkan tempat tidurnya. Mengaku salah tidak mudah, sebab orang pembuat onanie itu malu akan kekurangannya, merasa terlalu kuatir, serta hendak berdusta saja.

Perkara yang besar ialah, bahwa pembuat onanie itu kebanyakan merasa malu. Perasaan malu itu menyadikan mereka bimbang, dan ada kalanya takut dalam pergaulan dengan orang lain. Lain dari itu mudah sekali hatinya bertepuk keras, mudah berubah warna mukanya, mudah gementar dan mudah terkejut sekali dengan tiada barang sebab.

Ingatan itu pun sangat dipengaruhi. Celakalah adanya, karena kebetulan barang yang baru-baru dihapalkan itu lebih terlupa juga. Ada pula, seperti kata Dr. Kokh, kadang-kadang kelihatan kebingungan dan kehabisan ‘akal.

Sering kali kepenatan dan kekurangan tenaga pada orang pembuat onanie itu menyebabkan, waktunya bersekolah menjadi terlalu panjang dan terbuang-buang. Siapa bisa melihat ke dalam hati banyak orang, yang selalu saja mencoba ma-suk examen dan menarik diri dari examen, niscaya akan heran melihat di antara mereka itu banyak pembuat onanie. Sipat pembuat onanie itu nyata sebetulnya dalam kepenatan dan kekurangan tenaga dalam perkara kehidupan sehari-hari, dalam perkara buat pangkat dan kehidupannya kemuedian, tapi bukan sekali-kali nyata dalam ke-bebalan dan ketakutan akan bahaya dsb.

Begitulah ada banyak studen, yang biasa mela-kukan masturbatie (cemar), yang mendukakan hati ibu bapanya karena tidak bisa tammat seko-lahnya, berani menentang seterunya di tempat per-kelahian. Keadaan halnya itu pun tidak dapat men-cegah dia, akan berbuat niatan besar dan berma-cam-macam pekerjaan yang baru.

Sebab itu, sepanjang ‘ilmu jiwa teranglah sudah, bahwa tanda yang terutama sekali menjadi sipat perbuatan masturbatie yang terlalu-lalu, ialah semangat yang terlalu-lalu naik tinggi, sedang mengindahkan diri itu tidak berapa ting-ginya.

Seorang laki-laki atau perempuan, yang dicium oleh orang yang diingininya atau dicintaininya, mendapat perasaan yang mulia dan besar hati, yang tiada pernah dirasa oleh orang yang berbuat masturbatie. Hal ini niscaya betul adanya, karena selainnya keinsafan segala pembuat onanie akan hal kebaikan ‘umum yang bertentangan dengan perbuatannya dan ketakutannya supaya jangan ketahuan, maka perasaan tersebut bisa berhubung juga dengan coitus (perbuatan bersetubuh) yang baik, dengan tiada pekerjaan ruh membalasnya. Sebab itu pembuat onanie biasanya hendak mengindahkan diri atas jalan sendiri, dan sering kali hendak menjadi congkak secara ruh. Maka membenarkan diri dan kesalehan, ialah boleh dibilang menjadi tempat berlindung akan menyesal. Tentulah perlu sekali ruh itu diberi alasan yang sakit, akan membesarkan segala hal tabi'at tersebut. Segala orang tahu, bahwa laki-laki pembuat cemar itu sering kali malu dan hendak tinggal sendiri.

Segala manusia, yang bertabi'at demikian itu, istimewa sudah ditentukan akan berbuat segala kegelian dalam perkara-perkara sexueel yang salah, dan kejatuhannya menguatkan pula kehendak akan memisahkan diri dan takut berkawan, serta membesarkan perasaan cemburu akan orang lain.

Perempuan pembuat masturbatie itu sebaliknya sering kali berlaku lain sekali, dengan tidak menaruh malu secara perempuan.¹ Tapi dalam kedua hal tersebut, segala kegelian onanie semacam ini, yang berlaku pada orang ber'akal pada masa kemudaan—Meskipun kesehatannya tiada terlalu terganggu,—menyebabkan banyak kali suatu kebinasaan ruh, lalu menumbuhkan cita-cita yang palsu lagi sia-sia. (Ellis). “Sering kali juga orang bisa melihat,” kata Austie yang cerdik pada beberapa tahun yang sudah lalu, “bahwa hidup sendiri (yang gampang sekali tertarik kepada kebiasaan masturbatie) dalam pergaulan suka berhubung dengan pengaruh buruk daripada keinginan yang kurang sehat, yang menyebabkan pekerjaaan terlalu lekas jadi dan lekas binasa dalam ‘ilmu mengarang atau ’ilmu seni.”

Perkara yang amat menyusahkan pembuat onanie, ialah tenaga pekerjaaan ruhnyya, yang selalu berkurang-kurang, kurang tenaga buat memamahamkan dan memikirkan barang yang menarik matanya, gampang melupa dan kurang menaruh perhatian. Dengan sebenarnya tidak bisa lagi ia mengerti barang suatu yang baik, tidak bisa mengerti pidato yang berat, tidak bisa mempersuatukan perhatiannya akan suatu perkara. Hatinya kesasar, pikirannya dibawa ke sana kemari, bermimpi-mimpi dan bermunung-menung dan menimbang-nimbang dengan tidak sampai dalam, tidak berhaluan tentu, membaca suatu perkara beberapa kali dengan tidak mengerti; pendeknya, kekurangannya yang sangat besar akan mengatakan pendapatnya, dan keadaan segenap pikirannya yang jelek, niscaya nyata kepada semua orang yang melihat dia.

Dalam keadaan yang sedemikian tentu saja tiada terdapat laku yang tentu dan kuat di hadapan orang.

Jalan satu saja akan berlaku tentu dan kuat itu, ialah mencela serta meninggalkan kebiasaan onanie dan menyingkirkkan segala gangguan ruh yang disebabkannya.

Akan menyembuhkan penyakit onanie pada kanak-kanak, sebagai orang tahu, adalah banyak jalan. Demikianlah sudah dibuat orang perkakas-perkakas yang berguna akan mencegah tangan dan kaki dan penutup anggota kemaluan. Berguna sekali memakai penutup dari logam, seluar atau clana yang tidak berlubang, kemeja yang diikatkan atas bermacam-macam jalan dsb. Baik sekali dilakukan pemeriksaan yang kencang selalu; dan memang baik, kalau pembuat onanie itu sampai dikasi penjaga, yang tidak boleh meninggalkan dia, pun menurut dia kepada “suatu tempat” dan mengawasi segala perbuatannya. Teguran keras dan menyakiti badan pun pada kebanyakan anak yang tidak mau tobat itu perlu, tapi pada anak-anak yang lebih tua, maksud didapat lebih baik dengan membangkitkan perasaannya yang mulia.

Kami setujui sekali kata Dr. Skhuster, bahwa terlalu sukar melepaskan anak-anak muda daripada dosa onanie itu. Baik seorang tabib atau seorang guru menanggung pekerjaan ini, baik pun pembuat onanie sendiri hendak melawannya, maka perkara yang pertama-tama dan paling perlu ialah kepercayaan yang kuat, ketentuan dalam hati, bahwa dosa itu dan segala kejahatan yang timbul dari padanya bisa dilawan.

Sebab itu tiadalah barang, yang sangat merintangi jalan perbaikan itu, melainkan segala bu-ku karangan yang sudah terlalu-lalu, sama sekali tidak benar, tidak beralaskan pengetahuan, seperti panjagaan diri dari Retau.

Pembuat onanie itu janganlah sekali-kali tinggal sendiri dan tidak boleh bermimpi-mimpi. Haruslah dibuatnya aturan atau daftar pelajaran dan pekerjaan, dan segala waktu itu dipakainya akan bekerja. Segala pengganggu, yang merusakan pikiran seperti buku yang cemar, pergaulan yang kurang baik dsb., haruslah dijauhkan.

Peraturan hidup pembuat onanie itu, seperti kata Dr. Casper dengan betul, haruslah sebaik-baiknya, supaya badannya bertambah kuat, tapi jangan pula terlalu berpengaruh pada anggota kemaluannya. Dalam perkara ini hendaklah diperhatikan betul akan aturan (pantangan) makanan, pemeliharaan badan dengan mandi, tidur, pekerjaan anggota yang mencernakan makanan dan pelajaran kesehatan badan. Makanan itu harus berguna pada badan, tapi jangan pedas; sebab itu terutama janganlah dipakai rempah-rempah yang pedas rasanya dan jangan terlalu banyak minuman keras.

Akan hal minuman, bolehlah saban hari dipakai setengah botol anggur merah dan lagi sedikit cognac, tapi memakai terlalu banyak itu tentu tidak baik, karena dengan memakai anggur itu jadilah kegembiraan, di antara mabuk dan tidak, yang biasa membangkitkan keinginan orang. Lalu dilawannya akan larangan tadi, atau jadi lebih jahat pula, kalau jatuh lagi ia kepada dosanya.

Tapi pada pihak lain, sedikit anggur itu menjaya-dikan orang suka makan, sehingga bolehlah dimakannya makanan dengan secukupnya. Sebab itu pada waktu makan bolehlah dipakai sedikit anggur. Bier cuma boleh dipakai sedikit sekali. Dua jam sebelum pergi tidur orang harus di-larang minum bier. Sudah sering kali dapat diketahui, bahwa orang yang berpenyakit polluties (keluar benih) dan yang mencemarkan diri (masturbatie), diganggu oleh kedua hal tersebut, terutama oleh sebab minum bier sebelum tidur.

Akan hal makanan, haruslah mereka itu jangan makan banyak makanan berminyak, dan jangan pula makanan yang mengisi perut, tapi tidak berguna pada badan. Makanan yang terutama baginyia ialah daging, ikan, telur dan makanan dari tepung sedikit; tapi inilah pula aturan buat semuanya: jangan terlalu banyak dan jangan sebelum tidur. Makan terlalu banyak pada malam, menyebabkan orang tidak bisa tidur nyenyak dan mendapat pikiran tidak senonoh, yang mengadakan polluties, atau sangat mencobai hati orang yang biasa melakuken masturbatie.

Demikianlah juga alasan segala aturan buat tidur. Orang yang berpenyakit itu seminggu tidak boleh tidur di tempat tidur dengan kasur dan selimut yang terlalu panas. Tempat tidur dialasi dengan kasur bulu kuda. Harus dipakainya selimut daripada molton atau wol, kakinya boleh ditutup dengan bantal. Pengalaman menyatakan, bahwa kelembutan dan kepanasan tempat tidur yang daripada bulu (donzen bed) mengadakan polluties, dan mengajak pembuat onanie akan melakukan kehendaknya. Orang berpenyakit itu pun tidak boleh tidur telentang, melainkan harus membiasakan tidur dengan lambung di bawah, sebab tidur telentang itu menyebabkan benih orang keluear.

Selanjutnya haruslah orang mencari jalan akan menjaga, supaya orang berpenyakit itu jangan terlalu lama tinggal di tempat tidur dengan tempat kencing yang penuh. Tabi'at kemaluan bangsa laki-laki pada pagi harus dipandang menjadi hal, yang disebabkan oleh pengaruh tempat kencing yang penuh pada urat sarap. Kalau nyata, bahwa orang yang berpenyakit impotentia (tidak kuasa) dan mengelucarkan benih itu, diganggu oleh penyakitinya pada pagi-pagi sekali, maka haruslah diupayakan, misalinya dengan memakai lon-ceng (wekker), supaya selalu satu jam sebelum penyakit itu jadi, ia dibangunkan akan membuang kencing.

Akan waktunya tidur, kita tidak mau membe- rikan aturannya, sebab keperluan tiap-tiap orang dalam hal ini berlain-lainan adanya. Umumnya kita mengaku, bahwa tidur itu obat yang paling baik buat menguatkan badan.

Sehari tidur sekurang-kurangnya delapan jam itulah kita minta. Banyak orang, istimewa laki-laki yang dahaelu telah hidup tidak senonoh, bia- sanya sangat lat pergi tidur, maka bagi mereka adalah kewajiban yang terbesar, akan pergi tidur dengan lekas.

Constipatie itu pun berpengaruh tidak baik. Penolakan dalam urat-urat darah pada bagian badan di bawah, kalau kada hajat dengan sukar, menjadi gangguan pada anggota kemaluan, yang harus dibuangkan. Maka kalau belum juga bisa membuang air besar dengan tetapnya, janganlah alpa memakai obat yang seboleh-bolehniya barmacammacam rupanya, akan memudahkan kada hajat itu.

Dalam ‘ilmu kesehatan (hygiene) kita bilangkan juga pekerjaan, yang disuruh biasakan kepada beberapa bagian dan anggota badan. Dalam banyak hal memang tidak perlu lagi badan diberi pekerjaan lain, sebab sering kali jabatan orang juga mengadakannya, tapi ada kalanya pekerjaan tubuh itu sama sekali tidak ada, atau sedikit saja, atau pekerjaan orang sepikhak saja, sehingga curna beberapa anggota dibiasakan bekerja, sedang anggota yang lain tidak bekerja.

Untuk orang semacam itu berguna sekali segala pelajaran kegerakan badan biasa, gymnastiek, main tangkis, berenang, heilgymnastiek Zween dan ada kalanya juga massage (mengurut). Lain daripada pengaruh yang baik daripada segala perkara ini pada ruh manusia, maka pelajaran yang teratur serta tidak terlalu-lalu dan memakai segala kekuatan badan itu jalan yang terbaik, akan memperbaiki pergantian zat dalam tubuh. Maka hal meninggikan kehidupan, yang terjadi atas jalan demikian, niscaya mengadakan suatu pengaruh yang baik juga pada segala kekuatan sexueel. Kebalikan pengaruh yang baik itu terjadi, kalau pelajaran-pelajaran itu dilakukan terlalu-lalu sampai orang panas hati dan kehabisan kuat. Rasanya itulah sebabnya kaum athleet (pandai bergemul) ‘umumnya dipandang orang yang kurang mencintaii.

Perbuatan yang harus dilakukan oleh tiap-tiap orang itu, hendaklah disesuaikan dengan tabi'at dan keadaan tubuh masing-masing, maka baiklah ukurannya terlalu kurang daripada terlalu banyak. Pelajaran-Pelajaran kegerakan tubuh itu harus diatur supaya segala anggota itu sekira-kira sama pekerjaannya. Berjalan-jalan itu tidak cukup, melainkan dilakukan serta dengan berenang, gymnastiek, berdayung dsb. Jalan membiasakan yang terlebih baik akan mendapat maksud, ialah segala pelajaran di rumah pengobatan dengan perkakas (medico-mekhaniskhe instituten), sebab segala bagian tubuh diperhatikan dengan sehlus-halus-nya di tempat itu. Kalau ada hal, dari sebab apa saja, yang tidak baik atau tidak boleh memakai pelajaran kegerakan gymnastiek, maka massage menjadi pengganti yang amat baik akan memperbaiki pergantian zat.

Jalan yang amat baik dan tidak boleh ditinggalkan, ialah mengerjakan dengan air dingin. Baik sekali orang mulai membasuh seluruh badan dengan air dingin atau membungkusnya, yaitu pada malam sebelum tidur, dan kalau orang bisa menahan pekerjaan ini, lalu dikerjakan menurut methode dengan air dingin. Hasilnya amat mengherankan; sipat lekas timbul napsu yang ‘umum itu berkurang sangat. Banyak orang berpenyakit menda- pat pikiran sendiri, membasuh dan memandikan kemaluannya dengan air dingin, tapi sesudah pe-kerjaan ini kadang-kadang lebih lekas juga timbul napsu. Mandi di laut itu lebih kuat lagi daripada mengerjakan dengan air dingin, dan berguna sekali terutama bagi orang yang berbadan kuat. Tetapi haruslah orang hati-hati dengan orang yang berbadan lemah, yang sudah menjadi lemah atau dari masa jadinya berpikiran lemah. Mandi di laut itu kerjanya biasa terlalu kuat, dan bersama-sama dengan kelemahan ‘umum kegerakan napsu itu pun bisa bertambah naik.

(Dr. Casper).

Selanjutnya kebanyakan pembuat onanie, yang dengan sekuat-kuat kehendaknya memperbaiki kesenonohannya, lalu menurut aturan yang diterangkan di atas ini, barangkali akan mendapat kesukaran lagi atau jatuh pula kepada percobaan. Tapi Biarpun hal ini amat menyedihkan hati, janganlah putus asanya lalu menyangka, bahwa segenap kekuatan usahanya itu percuma saja. Sekali melakukan onanie itu memang tidak berapa jahatnya, sehingga sudah baik juga, kalau perbuatan jahat itu semakin lama semakin kurang. Maka percayalah, bahwa dosa itu akan hilang sama sekali.

Tidak bisa disangkal, bahwa atas jalan yang sedemikian, kesehatan dan kehidopean yang baik bisa kembali kepada orang pembuat onanie; tapi hal ini sering kali saja tidak bisa, seperti diaku oleh semua orang. Segala jalan akan melawan pencemaran diri itu nyata sering kali tidak berguna.

Dalam hal yang sedih-sedih itu sangat perlu se-kali diperingatkan kepada segala ibu bapa, yang sudah hilang ‘akalinya karena dosa anak-anaknya, akan meminta pertolongan seorang dokter ahli hypnose. Pengobatan dengan hypnose dalam hal ini sudah menyatakan benar kemujarrabannya, sehingga dalam hal yang tidak bisa mengadakan pengharapan lagi, diadakannya kesembuhan juga. Sering kali cukuplah beberapa pengobatan saja mengalahkan dosa dalam kesenonohan itu.

Lagi janganlah orang menyangka, bahwa cuma kanak-kanak dan orang muda-muda boleh disem-buhkan menurut jalan hypnose. Jalan ini baik juga bagi orang yang dewasa. Sebab itu dengan sangat pengobatan ini dipujikan kepada mereka itu. Pada waktu belakangan sudahlah ter-kabar banyak hasil yang baik sekali dengan pengo-batan ini. Sungguh ‘ajaib, bagaimana segenap ruh orang pembuat onanie itu berubah dengan saksamanya, dan bagaimana kekuatan ’akalinya menjadi baru pula.

Dan lagi beberapa peringatan untuk penutup.

Perkara yang terburuk dari hal onanie itu, bukanlah kecelaannya dalam hal kesenonohan atau hal-hal yang disebakannya dalam tubuh dan ruh manusia, melainkan ialah segala pikiran yang sa-lah sama sekali, yang disebarikan kepada segala orang berpenyakit tersebut oleh buku-buku yang jelek dan terlalu-lalu. Istimewa dalam bu-ku ini kita hendak menerangkan, bahwa onanie yang dahelul dilakukan, lalu kemudian diting-galkan, tiadalah menjadi alangan lagi buat kema-juan ‘akal budi yang terbesar Sekalipun; dan masturbatie yang paling keras pun sudah dilaku-kan oleh bangsa laki-laki dan perempuan, yang kemudian ternyata hasil pekerjaannya dalam ’ilmu mengarang dan ‘ilmu seni tidak boleh dibilang kurang masak atau salah. K. P. Moritz itu pada masa mudanya sangat ketagihan masturbatie, dan sampai ber'uemur 30 tahun tiada ia bergaul dengan bangsa perempuan. Rousseau menceriterakan dalam buku pengakuannya, bagaimana kehidup-annya yang sunyi, takut-takut dan berkhayal banyak itu terutama telah mendapat kepuasan hawa napsunya dalam masturbatie.²

Gogol, pengarang roman bangsa Rus yang besar, telah melakuken masturbatie dengan sangat keras, sehingga ada orang pula menyangkakan, bahwa tabi'at melankholie bermimpi-mimpi, yang disebabkan oleh perbuat-annya itu, sudah mendatangkan paedah dalam pekerjaannya menulis roman. Ada orang menyangka, bahwa Guthe itu pun seketika melakuken masturbatie. Saya kurang tahu, di manakah alas-an persangkaan ini, tapi barangkali dalam jilid pertama buku karangannya “Dikhtung und Wahrheit”, yang dalamnya diceriterakannya hal kehidup-annya menjadi studen di Leipzig dan halnya kehilangan Aennkhen dari sebab kealpaannya sendiri, dan bagaimana kealpaan itu dibalas dengan kerusakan tabi'atnya karena perbuatan buruk, yang beberapa lamanya telah mengganggu hidupnya.³ Pada masa ini pun mungkin terdapat kepandaian besar dalam ‘ilmu mengarang dan dalam ’ilmu seni, yang masih berhubhung dengan ketagihan masturbatie, yaitu perkara yang bisa saya beri keteranganya juga.

Akan ketakutan, yang banyak benar terasa dan sangat menguatirkan hati segala orang pembuat onanie, yaitu ketakutan bahwa dosanya akan diketahui oleh orang lain, itu pun sama sekali tiada alasannya.

Siapa membaca buku-buku yang sudah ‘u-mum tersebar tentang dosa kejahatan anak-anak muda, niscaya ia hendak percaya, bahwa gam-pang saja mengenal akan orang pembuat onanie itu, sebab katanya, orang-orang yang claka itu biasanya mempunyai mata yang kurang terang, kurang tetap dan takut-takut, biji matanya ke-dalam dan berpinggir merah, mukanya pucat dan kempung, tangannya lemah dan berkeringat, lu-tutnya kurang kuat serta gemetar dan sikapnya murung. Tapi tabib-tabib yang berpengalaman le-bih banyak, lain sekali pendapatnya; mereka itu yakin, bahwa tiadalah tanda-tanda ’alamat pada ba-dan, yang bisa menyatakan dengan tiada barang pengakuan pun kepada seorang dokter ketentuan perbuatan onanie itu. Perbuatan yang paling buroknya itu pun ada kalanya tiada kentara juga. Begitulah diceriterakan oleh Curskhmann akan hal seorang pengarang pada masa ini, yang sangat pandai, bahwa semenjak ia ber'emur 9 sampai ber'emur 20 tahun sudah ketagihan melaku-kan onanie, tapi baik badannya baik ruhnya tiada berkurang suatu apa jua pun, seperti dibooktikan oleh buku-buku karangannya.

Seorang professor yang belum tua mengaku begitu juga kepada Dr. Furbringer. Perbuatan-nya itu pun telah memeliharakan dia, dan kendati kejahatan itu kekuatan tubuhnya tiadalah menjadi kurang, dan baik pengajarannya baik penyelidikannya menyatakan tenaga yang luarbiasa.

Seorang saudagar yang ber'emur 30 tahun mengaku juga kepada Furbringer, bahwa beberapa tahun lamanya sudah dilakukannya onanie tiap-tiap hari, sering kali sampai tiga atau empat kali, dan Meskipun otaknya menjadi kurang terang sedikit dan ingatannya menjadi lemah, segenap sikap tubuhnya tiadalah sekali-kali menyatakan, bahwa kesehatannya telah berkurang sedikit Sekalipun.

Seorang murid sekolah, yang berusia empat belas tahun, saban hari melakukan onanie itu lebih daripada setahun lamanya, tapi ia hanya menda- pat beberapa tanda penyakit kecemasan hati yang kurang berat. Seorang murid sekolah gymnasium, yang berusia tujuh belas tahun, beberapa ta-hun lamanya tiap-tiap hari tidak bisa melawan hawa napsunya melakukan onanie, tapi kesudahannya ia hanya kadang-kadang mendapat perasaan segan berusaha dalam berpikir.

Saya pun telah mendapat beberapa pengalaman yang sedemikian. Perbuatan masturbatie yang paling berat, yang pernah saya dengar, adalah dilakukan oleh seorang muda, yang mukanya keli-hatan seperti muka seorang muda yang segar dan tiada berdosa.

Persangkaan yang sudah ‘umum tersebar, bahwa segala pembuat onanie itu boleh dikenali pada mukanya, banyak dikuatkan juga oleh tabib-tabib yang terpandai, tapi bukan dari sebab benar begitu keadaannya, melainkan karena maksudnya beralas pada ’ilmu pendidikan, yaitu persangkaan tersebut telah dijadikannya obat yang mujarrab akan melawan kejahatan itu.

Demikianlah hal itu juga: Maksud menyu-cikan segala jenis jalan.

¹ Hal ini tentu bukan ‘umum. Spitska mengatakan, bahwa perempuan, yang sebelcem dan sesudah kawin amat banyak melakukan masturbatie itu, biasanya tidak bisa mengadakan kepotusan, suka menyesal-nyesalkan diri dan ruhna tertekan.

² “Saya mempelajarl obat berbahaya itu, yang menipu tabi'at,” kata Rousseau: “kejahatan ini, yang baik sekali bagi orang pemalu, mengadakan pula bagi khayal yang gembira semacam keinginan, yang boleh dibilang mengizinkan barang seorang, akan berlaku sekehendaknya kepada sekalian bangsa yang molek, serta mempermainkan si molek yang diingini sesukanya dengan tiada meminta izin.”

³ “Sesungguhnya sudahlah saya kehilangan dia, dan kegliaan hati akan mem-balas kesalahan saya itu kepada diri sendiri yaitu menggagahi tabi'at tubuh saya dengan rupa-rupa perbuatan yang tidak pateet, sehingga tabi'at ruh saya didookactitakan, telah sangat menambahkan kesengsaaran tubuh, yang me-nyebabkan saya kehilangan beberapa waktee yang terbaik dalam kehidopean saya, dan saya niscaya sudah binasa sama sekali oleh karena kehilangan itu, jika-lau kiranya anugerah mengarang itu tiada membantu saya dengan segenap kekuatannya.”


IV

HAL MALU YANG DISEBABKAN OLEH INSAF AKAN KECELAAN BADAN

Berkeringat Terlalu Banyak pada Setempat (Berkeringat pada Kaki, pada Ketiak, dan pada Tangan)

Berkeringat terlalu banyak pada setempat itu masuk perkara-perkara terbesar, yang menghalangi orang akan berlaku baik pada pemandangan, yaitu dalam pergaulan se'emumnya, sehingga jalan akan menyembuhkannya itu salah satu dari perkara yang terpenting dalam buku ini. Kata Dr. Eikhhoff, bahwa kaki berkeringat itu terdapat pada banyak orang, pada laki-laki lebih daripada perempuan. Keringat itu keluear terlalu banyak pada setempat dan terjadi banyak sekali; pertama dari sebab cara membungkus kaki pada masa ini sangat rapi, sehingga kaki sekira-kira tertetutop sama sekali dan tidak bisa beruap lebih daripada perlunya; dan sebab yang lain, sayang juga banyak terjadi, bahwa kaki kurang dibersihkan se-perlunya dan kurang dijaga dengan baik. Hampir tidak bisa dipercaya, bagaimana sering kali dokter merasa sedikit keji melihat kaki yang tidak biasa dicuci, pun kaki tuan-tuan dan nyonyanyonya yang menurut ‘adatnya dan kebiasaaninya tidak bisa disangka berkaki sebegitu adanya; kaki memang tidak kelihatan, sehingga tidak perlu pula begitu bersih, rupanya menjadi anggapan yang sudah ’umum.

Jadinya cuma dari sebab lalai dan kurang menaruh kerajinan, maka kaki tidak sering dicuci seperti tangan dan muka; tapi barang siapa sudah biasa membersihkan kakinya setiap hari, merasa hal ini memang perlu, serta merasa tidak senang, kalau kebiasaaninya itu diganggu, seperti orang pun niscaya akan merasa tidak baik, kalau tidak dapat ia membasuh muka dan tangannya dengan sebaiknya. Lagi sama jeleknya dengan kebiasaan kurang membersihkan kaki itu, ialah memakai kaus kaki yang kotor terlalu lama sampai kaki berkeringat. Lain daripada hal yang tersebut, maka bersama-sama dengan hyperhydrose (keringat banyak) yang biasa itu, keringat lantas hancur dan dari luar masuk rupa-rupa bacterie (kuman) kotoran, yang biasa bertambah dan berbiak pada tempat yang panas lagi basah. Segala kuman ini mengadakan keringat kaki yang berbau busuk (bromhidrosis), yang banyak terjadi serta selalu menyusahikan orang yang berpenyakit itu.

Kaki yang berkeringat busuk itu memang suatu hal yang sangat mengganggu orang di dekat, sebab bau cengis dan tajam itu bisa keluar dari sepatu lalu membusukkan tempat sekelingnya. Maka mencuci kaki itu tidak berguna lagi, begitu pun mengganti kaus saban hari. Kalau beberapa jam saja kaki dimasukkan ke dalam sepatu, maka kaki itu pun akan berbau busuk pula. Perkara inilah menjadikan orang tidak bisa bersama-sama dalam perkumpulan dan dalam pergaulan. Tapi lain daripada itu keringat kaki, apa lagi yang berbau busuk, menjadi gangguan kepada orang yang berpenyakit itu.

Kulit kaki itu selalu dibinasakan dan dimakan oleh keringat tajam, dan campuran yang diadakan oleh bacterium futidum, dan barangkali juga oleh kuman bacterie dan kuman bacil sendiri, sehingga kalau berjalanan sedikit saja orang mendaapat bintul atau luka kecil, yang terlalu sukar dan sakit pula.

Sebab itu kita hendak memperkatakan hal mengobati penyakit ini. Saya hendak menentukan lebih dahelulu, sebelum saya memperkatakan pengobatan itu, bahwa tiadalah itu menjadikan apaapa, dan kaki berkerengat itu bisa disembuhkan dengan tiada mencelakakan kesehatan, dan tiadalah alasannya orang takut akan “penyakit masuk ke dalam” dsb. Kekeliruan ini ada pada banyak orang, dan sentiasa kalau ada kaki berkerengat hendak diobati, maka orang bertanya, apakah menyembuhkan kaki itu tidak berbahaya. Dengan tidak syak jawabni, tidak berbahaya.

Seperti biasanya pada perpikiran, kebiasaan dan pemandangan orang banyak ada sedikit saja barang yang benar, begitulah juga ketakutannya tentang menyembuhkan kaki yang berkerengat itu. Memang diketahui, bahwa pada permoulaan kebanyakan penyakit yang keras, demam atau sarap lemah, kaki yang selalu berkerengat tiba-tiba berhenti keringat-nya, yaitu dari karena perubahan yang diadakan oleh penyakit itu dalam perjalanen darah atau dalam inervatie. Orang banyak itu sering kali berpikir sebaliknya, sehingga disangkakannya bahwa keringat yang tidak keluar itu menjadi asal penyakit, kebalikannya penyakit pun tiada. Dari sebab ada banyak kaki yang berkerengat, maka gampang sekali orang mendapat persangkaan yang salah itu. Begitulah orang banyak yang tidak tahu itu menjadi takut. Penyakit yang terlebih ditakuti orang, sebagai diseababkan oleh keringat kaki yang berhenti, ialah yang disebut tering punggung, tabes. Sebenarnyalah pada penyakit, yang terdapat pada pangkal segala urat sarap itu, adalah salah satu dari segala hal yang menyebabkan berkerengat terlalu banyak itu tiba-tiba berhenti. (Dr. Eikhhoff).

Buat penyakit keringat kaki yang tidak berat, cukuplah dipakai kaus bersih, saban hari kaki dibasuh dengan air dingin, setelah itu dibasuh dalam brandewiyn Perancis atau dalam air masakan eikenbast (1—3 kilogram eikenbast dimasak betul, disaring lalu dicampurkan dalam air pembasuh). Pada kaus dibubuh barappzaad, dedak amandel, tepung atau puder ini:

Salicyl strooipuder. Salicylzuur......... 3% Talkum........... 97%

Akan membersihkan keringat yang lekat pada sepatu, hendaklah sepatu itu dituangi formaline (satu sendok makan dalam 1 liter air) dan biarkanlah beberapa jam lamanya—obat ini sama pentingnya dengan segenap pengobatan penyakit itu sendiri.

Buat penyakit yang berat haruslah diturut pengobatan yang ditunjukkan oleh Hebra. Kaki harus dicuci bersih, dikeringkan betul lalu dibungkus dengan kain linnen, yang digosok dengan zalf Hebra (diakhylon). Kaki yang dibungkus itu dimasukkan ke dalam kaus wol yang pendek atau panjang, lalu dipakai sepatu yang ringan. Tiap-tiap dua belas jam pembungkus itu ditanggalkan, dan kaki digosok dengan puder tersebut, tapi jangan dibasuh dan harus dibungkus dengan kain baru. Pekerjaan ini harus dilakukan 8—12 hari, menurut berat atau kurang berat penyakit, selama itu orang harus tinggal guling. Sesodah waktu itu maka kaki digosok dengan salah satu puder tadi dan diberi berpakai seperti biasa pula.

Kemudian 14—21 hari tertanggallah kulit kering yang berwarna merah kuning dan kelihatanklah epidermis (kulit luar) yang putih dan sehat; keringat kaki itu hilang sampai selamanya atau buat satu atau dua tahun. Kalau tidak, maka pengobatan sekali lagi itu niscaya akan mengadakan kesembuhan.

Brandau mendapat juga suatu obat yang mujarrab buat penyakit keringat kaki, yaitu liquor antihydrorrhoicus, khlooreter yang dihancurkan dalam zoutzuur. Obat ini kerjanya baik buat dipakai dengan bersahaja dan betul. Sesudah kaki dicuci dan dikeringkan dengan betul, haruslah tapak dan jari kaki dimasukkan 8—10 menit lamanya ke dalam pasu ceper, yang berisi 300 a 400 gram liquor. Sesudah itu kaki dimasukkan ke dalam pasu lain yang berisi air, lalu dikeringkan dengan hati-hati. Pekerjaan ini harus dilakukan pada malam sebelum pergi tidur, supaya kaki bisa diletakkan beberapa lama dengan rata. Tiap-tiap tiga atau empat hari dikerjakan begitu pula, dan sering kali kemudian tiga bulan kaki sudah sembuh betul. Obat liquor ini bisa dipakai selalu.

Hendaklah diperhatikan betul akan pakaian kaki. Pada musim dingin (winter) dipakai kaus yang dijirat jarang dan pada musim panas kaus tipis dan ringan.

Lagi buangkanlah sepatu yang bertali dan pakailah sepatu berkancing (bottines) yang tidak terlalu sempit.

Akan hal keringat pada ketiak kata Dr. Eikhhoff dengan betul sekali:

Pertama-tama saya harus memperingatkan, janggan memakai segala pelabur keringat atau suettes, yang banyak dibiasakan orang; kebanyakannya keratan gummi atau caoutkhouc seperti bulan sabit, kain berpalut lilin, yang dijahitkan dalam lengan pakaian nyonya-nyonya, supaya keringat yang terlalu banyak itu jangan masuk pada pakaian, mengubahkan warnanya serta merusakkannya. Rupanya baik, pakaian kering saja dan keringat tidak kelihatan lagi, tapi tidak menjadi kurang. Karena keringat kulit pada anggota itu tidak bisa beruap, kulit menjadi lebih panas, sehingga keringat bertambah saja, berbau lebih busuk serta lebih mengganggu kulit daripada biasanya. Sebab itu suettes cuma menambahkan penyakit ganti menyembuhkannya. Adalah lebih berguna kalau ganti caoutkhouc dipakai sedikit kapas salicyl, selalu diganti dengan yang baru, akan mengisap dan menahan keringat keluear, serta tidak berbau.

Perkara yang terutama akan mengobati penyakit keringat ini dan segala penyakit keringat lain yang tidak menyenangkan, ialah: kebersihan dan kesucian yang sangat perlu pada anggota yang berkeringat seperti pada seluruh badan.

Memandikan dan membasuh atau menggosok badan banyak kali itulah keperluan yang pertamata tama akan mengobati dengan sepatutnya; lain dari itu haruslah anggota yang sakit itu terutama dibasuh dan dicuci sering kali dengan sabun yang mematikan kuman penyakit. Setelah kulit itu dibersihkan daripada sabun dan dikeringkan, maka kulit itu digosok dengan barang yang berbau harum atau mengandung spiritus, paling baik campuran ini:

Zweetspiritus buat digosokkan.

Eau de Cologne 25%
Naphthol 1%
Wiyngeest 250%

Kalau kulit berluka dan merasa sakit ketika digosok dengan spiritus ini, maka bolehlah dicam-pur dengan sedikit air. Kalau obat itu sudah kerring dan habis menjadi uap, yaitu biasanya lekas sekali jadi, maka ketiak itu digosok dengan strooi-puder di bawah ini:

Strooiipuder buat kaki berkeringat.

Salicylzuur 1%
Wiynzuur 3%
Boorzuur 20%
Zinkoxyde 38%
Vioolvortelpuder 48%

Di atasnya dibubuh kapas salicyl sedikit tebal dan seperlunya dibarut dengan kain bebat, yang diikatkan pada ketiak sebelah, diberi bersilang pada bahu di atasnya, lalu diikatkan kepada ketiak yang lain. Pekerjaan ini harus dilakukan saban pagi dan petang, maka hasilnya niscaya baik.

Penyakit yang bukan kurang sukar daripada keringat ketiak, ialah keringat tangan yang terlalu banyak. Orang yang menaruh penyakit ini pun ke-banyakannya bangsa perempuan. Penyakit ini lebih banyak jadi pada masa muda daripada masa kemudian. Bangsa laki-laki pun bisa kena penyakit ini. Saya sudah mengobati banyak orang, yang sangat dicelakakan oleh penyakit ini. Orang hampir tidak cakap lagi melakukan barang pekerjaan, seperti menulis, menjahit, menjirat dsb. Karena seketika saja kertas, kain atau kaus menjadi kotor oleh keringat. Dapatlah kita mengerti, bahwa orang yang berpenyakit itu segan bergaul dengan orang lain, sebab kalau harus dijabatnya tangan orang lain, maka selalu dilihatnya pada mukanya perasaan cengang, selaininya perasaan geli, sesudah orang itu memegang tangan yang basah dan dingin oleh keringat yang beruap, lalu menarik tangannya dengan selekas-lekasnya. Sebab itu segala orang yang tidak terlalu selamat itu selalu dalam pergaulan memegang setangan, yang dipakainya akan menyapu tangannya sebelum memberi salam. Kalau mereka tidak menaruh setangan, maka dicarinya berbagai-bagai jalan akan mengeringkan tanganinya, menyapukan tangan pada pakaian, pada celana atau pada barang suatu lain, yang bisa saja dipegangnya; cukuplah terang, bahwa mereka sentiasa malu, sebab diketahuinyia, alangkah kurang baik hal penyakitinya bagi orang lain.

Kebanyakan asal mulanya adalah pada keadaan nerveus (penyakit sarap) terutama pada bagian nervus symphaticus, sehingga segala orang yang mudah terganggu sarapnya dan lemah pikirannya, serta berpenyakit keringat tangan, haruslah melawan penyakit sarap itu dengan aturan pengobatan yang berguna, kalau betul mereka itu hendak dilepas-kan daripada penyakit keringat tangan itu. Penyakit keringat itu biasanya hilang bersama-sama dengan penyakit sarap.

Untuk penyakit keringat tangan yang lain dipakai pengobatan di bawah ini (menurut Dr. Eikhhoff): Akan mengobati bagian dilocar, saya pujikan juga membasuh selalu dengan tetap, memakai Salol berminyak, sabun Thymol atau sabun Benzu, lalu digosok dengan:

Air keringat (Zweetwater).

Aziynzure thoonaarde... 7,5 Air............ 120 Aether........... 2

Bolehlah juga tangan pada malam hari digosok dengan puder, memakai sarung tangan daripada katun serta longgar, menurut kepanasan yang dapat ditahannya dalam kamar.

Pada waktu belakangan ini sering kali orang disuruh memakai obat keringat tangan, yang bernama Liquor antihidrorrhoicus, yang dipuji baik sekali dari berbagai-bagai pihak.

Buat tangan yang berkeringat baik pula tangan dicuci dengan obat teh harum (species aromatica) atau dengan tannine (5,0 buat saban kali mencuci) atau dengan eikenskhors (cortex quercus). Akan tetapi buat penyakit ini dan buat segala penyakit berkeringat banyak yang lain-lain, saya sangat melawan orang memakai obat-obat keras buat bagian di dalam, seperti strykhnine, atrophine, acocetine dsb. Obat-obat ini cuma-cuma saja, atau bekerja seketika saja, malah sering kali bisa bekerja tidak baik (menurut Dr. Eikhhoff).

Buat tangan yang sangat berkeringat kita pun hendak melarang orang memakai sarung tangan glace, yang sama sekali tidak bisa mengeluarkan keringat, serta mengalangi uap. Lebih baik dipakai sarung tangan daripada kulit yang kasar rupanya diluear, sarung tangan yang ditenun atau dijirat dengan sebaik-baikniya. Puder di bawah ini pun bisa memberi pertolongan yang baik:

Puder Pokitonoff buat tangan berkeringat.

Tannine 10
Puder Barlappzaad 10
Violenpuder 10
Talcum 10
Kanji daripada beras 10

Napas yang Berbau Busuk

Insaf akan napas yang berbau busuk itu besar sekali pengaruhnya pada kebebasan tabi'at dalam pergaulan. Orang yang berpenyakit itu sangat merasa, bahwa penyakitnya mengendurkan serta memalingkan orang lain dengan perasaan geli. Jan satu-satunya akan melawan penyakit ini, seperti sudah diketahui, membersihkan mulut dengan tetap, sekurang-kurangnya saban pagi dan saban malam.

Segala macam air gigi dan air mulut itu sebetulnya tidak lain daripada obat-obat akan memperbaiki perasa dalam mulut dan pencum. De-ngan tidak kecualinya hal ini terutama menjadi maksud segala air gigi dan air mulut yang dijutal orang, Meskipun segala pembuat reclame itu menyangkalnya. Dalam perdagangan ini memang banyak pekerjaan tipu, sehingga nasihat yang terlebih baik ialah, supaya orang membuat sendiri obat itu atau meminta apotheker membuatnya. Maka orang akan mendapat obat yang lebih baik dan lebih murah daripada air mulut yang dijutal di toko. Tambahan pula harga pembungkus, reclame dan aturannya lebih tinggi daripada harga isinya (Dr. Thienen).

Baiklah dipakai kali khloricum atau khloorzure kali, kalau mulut dan kerongkongan itu pun bersama-sama sakit, dan dipakai overmangaanzure kali, kalau bau busuk keluear dari mulut.

Air mulut (Mondwaters).

Kali khloricum 6
Air 200
Air pepermunt 50
Borax 6
Salietheeafgietsel 200
Waterstofsuperoxyde 5
Air 200
Pepermuntolie 2
Khloorkalk 6
Air 200

Setelah 12 jam disaring, lalu dicampurkan Pepermuntolie 3

Akan tiap-tiap hancuran dengan overmangaanzure kali dibuat seperti warnanya anggur merah. Akan menghilangkan warna merah pada selaput lendir dan pada gigi dipakai oxalium yang dicair-kan atau hancuran zoutzuur, dan lebih mudah dan lebih baik lagi dipakai buah jeruk nipis yang baru dipotong-potong.

Akan meniadakan bau busuk dipakai barang yang berbau sedap, yaitu pastilles mulut atau pastilles gigi (Cakhous).

Pastilles gigi atau Cakhous itu serupa pil, gunanya lebih kurang membersihkan daripada menjadikan bau napas sedap. Obat yang pertama itu dibiarkan menjadi cair dalam mulut, obat yang kedua dimamah lalu dimuntahkan.

Pastilles mulut.

Gula 25,0
Karmiyn 0,1
Gom 5,0
Muskus 0,01
Rozenerolie 0,05
Vetiverolie 0,01
Zivet 0,01
Wiynzuur 0,1

Daripada campuran ini dibuat pil.

(Dibungkus dengan kertas perak.)

90

Cakhous.

Gom...................... 2,0 Catkhu..................... 4.0 Zuthoutsap.................. 27,5 Cascarilla................... 1,0 Mastic..................... 1,0 Violenwortel.................. 1,0 Anyelierwertelolie............... 0,25 Pepermuntolie................. 0,75 Aber-essence.................. 0,25 Muskus-essence................. 0,25

Dibuat seperti di atas.

Kejelekan Muka

Tentangan perkara ini kita hendak menyebotkan saja jerawat yang tidak mudah hilang dan ulat janggut (baardworm).

Meskipun belum lama lalu orang hampir tiada tahu bagaimana jalan menyembuhkan macam penyakit ini yang berat-berat, sudahlah Prof. Winternitz mendapat jalan juga akan menyembuhkannya dengan lekas lagi murah. Winternitz sendiri menerangkannya seperti berikut ini.

Untuk penyakit kulit berbahaya (blaasyeseczeem), untuk Eczema rubrum, yang ditutup dengan kulit kering, tebal, sama berkurap, Meskipun penyakit itu sudah beberapa tahun lamanya, telah saya pakai pengobatan di bawah ini dengan hasil bagus sekali; bagian kulit yang sakit itu dibentangkan, ditutup dengan kain sutera yang merah sekali lalu dihadapkan kepada sinar matahari secukup-cukup lamanya.

Dalam semua penyakit yang diobati sampai sekarang nyatalah, bahwa segala penyakit itu menjadi kering, tidak basah lagi, hyperaemie (terlalu banyak darah) pada kulit, pun pada eczema rubrum, menjadi kurang lalu hilang, kulit yang sudah tebal menjadi tipis dan lembut, dan sesudah beberapa hari bisa dibasuh dan dibarut dengan kain basah, sehingga inilah pada pikiran saya suatu tanda, bahwa kulit itu seperti biasa pula rupanya.

Berkata Menggagap

Hal ini bukan berdasar pada kekurangan alat suara atau pada bagian badan lain yang tidak sempurna, seperti pada sangka orang dahelulu, melainkan amat kebanyakannya berdasar pada pikiran yang terpaksa (suggestie) tidak bisa berkata. Dalam sekolah-sekolah orang penggagap bertambah banyak. Anak-anak penakut dan keliru mudah sekali menjadi penggagap oleh perbuatan pendidik yang kurang hati-hati, dan anak penggagap itu pun bisa menularkan tabi'atnya. Bahaya menular itu terlalu besar pula, sehingga orang merasa patutlah anak-anak penggagap itu dipisahkan.

Pada ketika seorang penggagap hendak berkata, takutlah ia tidak bisa berkata, sehingga kesudahannya tentu menggagap juga ia. Dari sebab itulah penyakit itu bertambah besar, kalau banyak orang melihat kepada penggagap itu, tapi penyakit itu hilang, kalau ia tinggal sendiri. Benar kata Dr. Treitel, bahwa methode akan menyembuhkan penyakit menggagap itu sama banyaknya dengan orang yang melakukan pekerjaan itu, dan tiaptiap orang mengaku methodenya sendiri yang terbaik adanya; perbantahan beberapa orang di antara mereka itu tentang methode siapakah yang terlebih baik atau sah, sangat mengingatkan ceritera tiga buah cincin (dalam buku “Nathan der Weise” karangan Lessing).

Segala “methode” itu menuju maksud, melalinkan perkara yang terutama, bagaimana methode itu dilakukan, atau apakah orang berpenyakit percaya akan tabibnya atau gurunya, atau yakinkah ia akan sembuh olehnya.

Kalau orang penggagap itu yakin, bahwa penyakitnya tidak bisa lagi dilawan, maka tiadalah barang “methode” lagi dapat menolong akan dia, dan bukan sedikit orang penggagap sudah tua, yang sudah memakai banyak “methode”. Tiap-tiap dokter tahu, bahwa penyakit sarap itu dapat diobati dengan pengaruh ruh, dan dari sebab itu orang yang berpenyakit sarap cuma diberi barang aturan akan percaya, bahwa dengan aturan pengobatan itu, dan bukan dengan pengaruh orang, ia nanti menjadi sembuh. Maka sebab tiap-tiap orang akan mengaku, bahwa menggagap itu diadakan oleh urat sarap, Biarpun bukan semata-mata penyakit jiwa, patutlah pengobatannya setuju dengan keadaan sarap itu. Barangkali dapat juga orang menasihati sendiri penggagap itu, akan membuangkan kebiasaan sentuk pada beberapa bunyi, atau orang memakai jalan yang panjang akan menunjukkan kekurangannya. Tapi baik obat-obat, baik memakai listerik, baik operatie lidah yang ditunjukkan oleh Dieffenbakh, baik membuangkan kelenjar yang tidak berguna (adenoiide wukerigen), sekaliannya tidak dapat menyembuhkan. Berkata itu hanya dapat disembuhkan dengan berkata. Pelajaran bernapas dan menyebutkan bunyi, terutamalah yang kedua itu, iaalah jalan yang baik akan menyembuhkan. Sebab itulah pertama-tama kita hendak menunjukkan kepada segala orang penggagap akan pelajaran-pelajaran bernapas yang tersebut dalam permulaan buku ini. Dengan melakukan pelajaran itu dengan rajin, maka perasaan takut dan kuatir itu nanti ditekannya, ia nanti bernapas dengan sabar dan tetap, sehingga dapat pula ia berkata-kata dengan pasih dan lancar.

Ketika hendak berkata hendaklah ditariknya napas pendek dan dalam, lalu sementara berkata udara itu dikeluarkannya perlahan-lahan, serta hendaklah terutama bunyi pertama itu ditekannya. Ia pun baru mulai berkata-kata, kalau sudah diketahuinya betul barang yang akan dikatakaniya, lalu berkata perlahan-lahan, nyaring lagi te-rang, dan janganlah buru-buru.

Kalau kebiasaan menggagap itu tidak boleh hilang juga oleh pelajaran bernapas, maka baiklah orang menurut pengobatan dengan hypnose (suggestie) yang ‘ajaib hasilnya. Buat menjadi bukti saya hendak mengutip di sini akan hal, yang diceriterakan oleh Dr. Ringnier.

Y. A. , ber'emur 24 tahun, guru, pada masa kecil dua kali mendapat penyakit diarrhee dengan sawan, sehingga dua kali nyawanya terancam, kemudian didapatnya lagi penyakit krup (barangkali pseudokrup). Badannya dan ruhnya terjaga baik. Saudaranya tiga orang laki-laki dan seorang perempuan (keempatnya lebih tua) berkata menggagap sedikit pada masa kecil, menurut kata ibu; ketika ber'emur lima tahun dua anak laki-laki itu tidak menggagap lagi, yang lain menggagap lebih lama, sekarang semua berkata baik. Orang tua serta nenek moyang tidak menggagap. Ia menggagap sama keras sejak kecil; asal mulanya tidak diketahui. Menggagap itu tidak sama, Meskipun bedanya sedikit. Ia berkata menggagap, kalau sebetulnya ia tidak usah menggagap, umpananya dalam sekolah atau bersama-sama dengan orang lain. Kalau ia memberi salam dengan tidak ingat, maka berkatalah ia amat baik, tapi kalau ia mengingat, bahwa harus ia memberi salam, maka menggagaplah ia, begitulah hampir selalu halnya pada waktu membaca atau berkata-kata; ia menggagap, kalau ia teringat akan gagapnya atau tahu, bahwa ia harus membaca atau berkata; begitulah juga ketika ia menjadi laskar, selalu ta-kut ia kalau sampailah gilirannya akan menyebonet nomornya, sehingga tak dapat ia menyebonet nomor itu. Ia lebih menggagap pula, kalau ia hendak buru-buru atau panas hati. Kalau dua L dan dua M berterurutan, maka harus ia berpikir lama. Kalau diminumnya anggur atau bier, maka tidak lagi menggagap ia, dan di muka orang yang dike-nalnya tidak terlalu menggagap juga ia. Ketika ia disuruh coba membaca, maka adalah di antara 90 buah kata hanya 2 buah dibaca menggagap, yaitu 2,2%, tapi katanya, bahwa sering kali tidak bisa ia melanjutkan bacaannya; dalam sekolah sering kali ia berhenti membaca, sebab memang tidak cakap lagi. Ia harus menempuh ujian pada 20 Sept. dan sangat kuatir akan kebiasaannya, Meskipun ketika ujian tiga tahun yang sudah lalu tidak terlalu menggagap ia. Oleh pengobatan dengan suggestie kebiasaannya menggagap itu hilanglah dan pada 25 Sept. luluslah ia dalam examen dengan tidak lagi menggagap.


V

HAL MALU YANG DISEBABKAN OLEH KECEMASAN HATI

Kekurangan dalam sipat memerintahkan diri, lekas marah-marah dan gusar, takut-takut dan kuatir, putus harap dan putus asa, ialah segala tanda kelihatan, yang dapat berlaku pada orang yang cemas hati (sakit sarap).

Orang yang cemas itu tidak dapat mempersutaukan ruhnya pada suatu perkara juga, misalnya menulis atau berpikir. Ruhnya melayang ke-segala pihak, dan oleh sebab ia berusaha sedapat-dapatnya juga, maka hilanglah ruh itu ke dalam permenungannya. Sering kali sesuatu usaha akan menerangi ruh itu, Biarpun cuma memaksa pikiran sedikit, menjadikan orang merasa penat dan berbagai-bagai sengsara. Orang yang berpenyakit demikian bisa membaca beberapa baris bacaan, mengulang-ulanginya dengan tidak mengerti, malahan tidak dapat juga mengatakan dengan ringkas isi bacaannya itu; jikalau seka-li pun bukunya itu diletakkannya, lalu diambilnya barang lain, niscaya segera juga jemu hatinya. Sering kali sebagai bermimpi lakunya, sehingga lupalah ia sama sekali akan barang yang hendak dibuatnya tadi itu.

Sipat lekas marah-marah dan gusar itu kebanyakan jadi ketika orang merasa penat, dan dari sebab itu barang yang terkecil Sekalipun dapat memarahkan orang dengan hebatnya, sedang hal ini tidak bisa jadi ketika orang merasa senang dan sentosa. Segala kepicikan dalam rumah, kekecewaan, bunyi, keributan anak-anak, sentiasa menjadi sebab kesakitan hati.

Tapi lebih daripada kesemuanya itu, kecemasan menjadikan orang tawar hati dan putus asa. Meskipun orang sekelilingnya mengolok-olok akan pengeluhannya dan kebelisahannya, tetap juga tiada berdaya lagi lakunya. Selalu saja ia merasa akan kekurangan tenaganya akan menyampaiakan pekerjaaan yang telah teruntuk kepadanya. Sudah putus harapnya, sebab tenaga urat saraniya telah lemah dan menjadi kurang, sehingga hidup itu seperti beban rupanya, yang terlalu berat akan dipikul.

Selainnya—sebagai tanda yang menyatakan kelemahan, kekurangan kuat, dan kekurangan tenaga—adalah ketakutan yang tetap dengan kebelisahan yang luarbiasa. Memang kebelisahan yang tiada tentu itu ‘umum, lama-kelamaan bersuatu pada suatu soal yang menguatirkan, apakah nanti diadakan oleh hidup itu, atau juga adalah ketakutan, yang ditimbulkan oleh kurang tahu, barangkali orang akan jatuh sakit payah, menjadi gila, Ataupun sekurang-kurangnya tidak bisa lagi menjadi segar, kuat berpikir, serta gembira hati serperti dahulu.

Tentang hal-hal yang disebabkan oleh takut dan kuatir—penakut alun-alun, penakut orang dsb., nanti saya bicarakan kemudian.

Demikianlah orang yang cemas itu hidup selalu dengan jemu dan susah hati. Kejemuan dan kesusahan itu tiada lagi hilang, maka diatasnyalah orang mengalaskan segala perasaan yang gelap, berat, sunyi serta bimbang, sehingga hidup itu menjadi beban, suatu barang yang tiada berguna, dan orang pun tinggal saja menghendaki suatu perkara, yaitu ketenangan; kerinduan yang tidak putus-putus akan ketenangan itu nyata kelihatan pada segala orang yang cemas hati.

Kalau perasaan demikian menjadi alasan, bagaimanakah kerjanya atas ruh dan kehendak? Orang yang cemas menyampaikan dengan susah payah saja berbagai-bagai pekerjaan ruh (pikiran), yang dahulu dilakukannya dengan mudah dan lekas. Ia insaf, bahwa ia bekerja serta mengeluh, ia harus mengerjakan pekerjaan, yang diketahuinyia dahulu tidak baik atau memang baik baginya. Dan kalau ia bekerja sekarang dengan suka hati, maka lebih lekas pula berhenti ia daripada dahulu.

Tapi bagaimana besar juga keseganan hati orang akan pekerjaan ruhani, kata Dr. Kokh dengan betul sekali, lebih sukar lagi kepada orang yang cemas itu akan menentukan hendak beker-ja. Ia memulai sesuatu pekerjaan, melainkan dengan segan juga. Dan bukan saja pekerjaan ruhani dan lain-lainnya, tapi akan menyu-kakan hatinya sukar jadi juga, kalau bukan keharuan hati dan kemaraham memaksa dia, akan mengingini dan mencari rupa-rupa kesukaan, juga kesukaan ruhani; tapi dengan segera pula ia jemu, seperti pekerjaan belajar itu lekas menjemukan dia. Perkara mengadakan putusan itu kebanyakannya amat sukar sekali. Hal ini nyata amat terang dalam putusan-putusan, yang sebetulnya tidak perlu diadakan, sedang ia sendiri tidak insaf akan perbuatanniya, serta tiada pula memikirkan putusanniya.

Istimewa bagi orang yang berpenyakit di antara penyakit setempat dan penyakit keadaan badan, bagi orang yang berkecelaan secara jiwa oleh kelahirannya, maka jawab pertanyaan-pertanyaan yang sebarang rupanya bisa menjadi pasal pertimbangan yang berat, serta menuntut putusan yang pasti, misalnya jalan ke kiri atau kekanankah harus diturut, supaya orang sampai kepada tempat yang ditujui, jas itu atau jas lainkah akan dipakai dsb. (Maka kalau orang sudah mengadakan putusan dan bilamana hatinya senang, hanyalah perkara-perkara yang setuju dengan putusan itu bisa berkenan kepada hatinya, tapi hatinya pun tidak senang lagi, kalau putusan itu tiba-tiba berubah oleh barang hal.) Bagi orang yang benar hatinya, kesockaran akan mengadakan putusan itu disebabkan oleh kekurangan kehendak akan bekerja, sehingga kesusahan dan kelemasan be-kerja itu sering kali amat mendukakan hati orang, sebab selalu hendak ditudukhnya juga akan kelengahannya sendiri. Hal ini niscaya kerap kali mengajak orang akan berusaha lebih daripada tenaganya, sehingga kesengsaraan itu pun bertambah besar. Kesusahan dan kelemasan dalam perkara perasaan itu amat nyata, karena segala hal yang berlaku pada manuzia itu tidak dapat menimbulkan lagi kesukaan yang benar dan kedu-kaan yang sesungguhnya, sehingga tak dapat tiada seketika lamanya hilanglah segala perasaan suka dan segan hati. Semua perkara yang daheloce amat penting kepadanya, tidak lagi menarik perhatian-nya; semuanya tidak lagi dipedulikannya, selalu dungu lakunya, ada kalanya tidak mau melihat juga dan pengharapannya tidak lagi sesegar da-huloce. Akan menerangkan bagaimana menyembuh-kan kecemasan hati itu, niscaya akan melalui batas buku ini, sedang akan meringkaskan keterangan itu, niscaya bahayanya itu lebih besar daripada gunanya.

Tapi orang yang cemas itu memperlihatkan lagi hal-hal yang sangat lain rupanya, yang sangat mengganggu akan ketentuan perbuatannya, sehingga perlulah segala hal itu dibicarakan panjang lebar di sini.

Penyakit Bermerah Muka atau Berubah Warna Muka

Suatu hal yang biasa benar jadi pada orang yang cemas, ialah warna muka banyak kali sangat berubah oleh barang sebab yang kecil saja, dan sering kali sampai segenap muka menjadi merah, telinga, leher dsb. Bertemu tiba-tiba dengan seorang yang belum atau sudah dikenal, bunyi yang sekonyong-konyong kedengaran, menelan makanan atau minuman ke dalam perut, apa lagi menelan terlalu lekas, membungkukkan diri, bersesaha sedikit dengan kuat tubuh atau pikiran, dapatlah mengadakan hal yang kurang menyenangkan serta menyebabkan malu itu. Pada beberapa orang hal ini jadi dengan tiada barang sebab yang dari luar datangnya; orang boleh duduk dengan teduh dan sendiri, sedang mukanya menjadi sangat merah oleh karena suatu pikiran, ingatan yang menguatirkan, atau merasa barang suatu tanggungan, sebagaimana halnya kalau tiba-tiba sekawan orang datang kepadanya.

Perubahan muka ini sering kali disertai dengan mengejapkan mata, merasa sakit pada kelopak mata, tarikan urat pada muka, kusut dan menggagap, yaitu segala hal yang sebagai bermerah muka, tidak boleh dikuasai dengan kehendak orang. Kanak-kanak yang belum setahun ‘umurnya tidak pernah berubah warna mukanya, sebab belum bisa dipikirkannya kata orang tentang anak itu, yaitu hal yang menyebabkan perubalian muka. Pada tabi'at ini adalah beberapa perkara yang ’ajaib. Seorang nyonya, yang diobati oleh Beard, badannya berperasa amat halus, menceriterakan, kalau mukanya jadi merah, maka terjadilah pada pipinya titik-titik merah sebagai campak, yang merambat sampai kepada leher, lalu tiba-tiba menjadi merah sama sekali. Sir Yames Paget menceriterakan, bahwa pada waktu ia memeriksa pung-gung seorang anak perempuan, maka jadilah panau merah yang besar pada pipinya, dituruti oleh yang lain, sehingga penuhlah segenap muka dan lehernya. Ketika ditanyakan kepada ibunya, yang ada di situ, maka kata ibu itu, bahwa keadaan ini sudah didapat oleh anaknya dari mula jadinya, dan sementara ia berkata itu, jadilah ia merah seperti anaknya.

Bermerah muka itu suatu tabi'at tubuh, tapi bisa menjadi terlalu sangat, lagi bisa menyebabkan penyakit atau disebabkan oleh penyakit. Kalau menjadi terlalu sangat seperti ceritera di atas ini, haruslah itu dipandang suatu tabi'at yang ku-rang sehat. Perkara ini jadi banyak kali sebagai ‘alamat sarap yang sakit (neurasthenie), dan sering kali lebih jahat daripada ’umumnya pada sangka orang. Saya mengenal banyak orang laki-laki yang kuat badannya berpenyakit neurasthenie dan jadi merah muka seperti anak gadis. Ada pemuda laki-laki yang oleh penyakit itu selalu jadi merah padam mukanya, kalau bertemu dengan gadis-gadis Ataupun duduk di tengah tuantuan, sehingga dijauhkannya akan mereka itu.

Tabi'at ini bukan saja ada pada orang pemalu, suka berdiri di belakang dan rendah hati, melainkan ada juga pada orang yang tetap hati lagi berani. Konon Thomas Brown, pengarang Religio medica (pengobatan dengan agama) menaruh juga tabi'at yang kurang sehat itu. Sedang saya menulis ini datanglah seorang teman muda, yang berpenyakit neurasthenie, mengeluh karena segala penyakitnya yang lain itu tidak terlalu mengganggu dia seperti penyakit bermerah muka.

(Beard).

Tabi'at muka yang banyak kali hendak menjadi merah itu bisa bertambah sangat, sehingga dapat diadakannya suatu penyakit baru dalam ruh, yang tersebut berikut ini.

Takut Berubah Warna Muka

Adalah suatu kejadian yang amat ‘ajaib diceriterakan oleh Prof. Bekhtereu di Petersburg, yang oleh karena pentingnya kita kutip di sini.

Orang yang berpenyakit menulis: “Sudah sekira-kira sembilan tahun (‘umur saya sekarang 20 tahun) saya menaruh suatu penyakit yang semata-mata pada sarap tempatnya. Kalau saya bersama-sama dengan beberapa orang Ataupun dengan seorang manusia saja (barangkali kecuarli pamili yang dekat sekali), kerap kali saya jadi sangat merah. Ada kalanya darah naik terlalu kuat, sehingga muka saya jadi hangat. Hal ini niscaya bukan disebabkan oleh malu yang biasa rupanya, sebab hal ini tidak jadi, kalau saya tidak mengingatnya. Tapi kalau saya mengingatnya dalam perkumpulan, maka ti-dak dapat lagi saya menahaninya. Asalnya tak dapat tiada ada pada urat sarap juga, seperti nyata berikut ini. Kalau dalam kamar perkumpulan sedikit gelap, sehingga sukar orang melihat muka yang merah, maka muka saya pun tidak berubah. Saya pun berlaku bebas sama sekali, karena saya tahu, bahwa muka saya tidak akan berubah lagi. Ada kalanya pula (tapi jarrang sekali) saya terlupa akan penyakit saya dalam perkumpulan, lalu saya mulai berkata-kata sambil berbuat, sehingga semua orang memperhatikan saya, tapi muka saya tidak berubah lagi. Melainkan seteringat saya akan penyakit itu, maka jadilah pula, dan akan melawan penyakit itu dalam 100 kali adalah 99 kali percuma saja. Kalau pikiran saya ditujukan kepada percakapan dan dijauhkan daripada diri saya, atau jadi barang suatu perkara yang menarik segala perhatian saya, maka tiadalah penyakit itu berlaku pada saya. Penyakit itu amat sangat, sehingga perasaan saya pada siang hari di jalan tidak tentu betul adanya.

Keganjilan ini memperlihatkan saya kepada sekalian orang dalam terang yang kurang benar, memaksa saya menjauhkan mereka itu, serta sangat mendukacitakan hati saya. Kadang-kadang karena merasa putus asa, timbullah dalam pikiran saya akan melenyapkan segala perkara itu sekali. Percayalah, bahwa perkataan saya ini dengan sungguh hati. Saya berani melakukan sampai kepada perkara yang terbesar pun. Pada pikiran saya, bahwa bagi penyakit saya boleh dipakai pengobatan dengan hypnose.“

Barang yang tersebut di atas ini boleh saya terangkan dengan yang berikut ini, dengan pertanyaan yang saya sampaikan kepada orang itu dan dengan ketikanya yang saya dapat. Perubahan warna itu cuma ada pada muka dan telinga, sampai semerah-merahnya dan disertai dengan perasaan darah naik ke kepala, menjadi panas sekali dan hendak pecah rasanya. Orang itu berubah mukanya kalau ia masuk perkumpulan, ada kalanya dalam perkumpulan dengan pamilinya. Pada malam gelap, atau bilamana orang itu sendiri, mukanya tidak berubah. Biasanya ia mula-mula menjadi takut, bahwa mukanya akan berubah. Ketakutan itu tinggal sampai mukanya menjadi merah. Se-sudahnya itu hatinya menjadi senang sedikit, tapi keinsafan akan mukanya yang berubah dan dilihat oleh semua orang, membangkitkan pula ketakutan baru, sehingga mukanya menjadi merah lagi. Bermerah muka itu demikianlah jadinya berselang-selang pendek, sehingga orang itu tidak suka lagi masuk perkumpulan.

Hatinya istimewa kurang senang duduk makan dengan orang banyak, kalau tidak bisa ia menyem-bunyikan dirinya. Biasanya setengah jam lamanya mukanya merah, lalu hilang sampai mukanya berubah pula, melainkan telinganya tinggal merah.

Orang itu selaininya sama sekali tidak malu dan dalam kamar perkumpulan yang kurang di-terangi, dapatlah ia bercakap-cakap dengan segala orang dengan bebasinya. Betapa keadaan peker-jaan jiwa orang itu, nyatalah bilamana perha-tiannya tertarik oleh barang suatu perkara serta dilupanya akan penyakitnya, maka mukanya tidak berubah, tapi kalau ia teringat pula, maka penyakit itu pun jadilah. Dengan inilah dapat diterangkan, bahwa ketika orang itu ada pada saya tidak pernah mukanya menjadi merah, sebab menurut keterangannya sendiri ia pun sudah tahu lebih da-hulu, bahwa saya tahu akan penyakitnya. Ketika menunggu dalam kamar dengan beberapa orang sakit lain, mukanya pun beberapa kali menjadi merah.

Kita pun harus mengetahui, bahwa kepanasan yang tinggi dalam udara diluear gampang menjadican mukanya merah, tapi hawa yang dingin mengurangkan tabi'atnya itu. Padanya tiadalah terdapat barang yang meng'alamatkan keadaan dalam jiwa; dari luar pun tiada keterangan yang boleh di-tentukan. Perasaan badan tiada berubah; peker-jaan urat sarap (zenuwreflexen) lebih kuat, gerakan luarbiasa pada vasomotoren tiada dapat di-tentukan dan pekerjaaan jantung berubah. Orang itu tidak bisa menceriterakan tentang asal penyakitnya. Baik ibu bapanya, baik keluarganya yang dekat tiada berpenyakit sarap atau berpenyakit jiwa. Penyakitnya seperti tersebut di atas sudah sembilan tahun. Bermula-mula kurang saja ia bermerah muka, kemudian bertambah kerap jadinya. Penyakitnya entah mulai pada ketika mukanya menjadi merah oleh sebab yang kecil, tatkala orang hendak menerangkan sesuatu hal kepadanya.

Semenjak itu penyakitnya bertambah-tambah kerap jadinya dengan tiada sebab barang sedikit-pun. Sayanglah waktu hypnose dilakukan kepadanya, ia tidur amat kurang nyenyak dari sebab terlalu besar percayanya akan pengobatan ini, sehingga suggestie itu tidak cukup kerjanya; sesudah pengobatan yang pertama hanya 24 jam lamanya ia merasa dengan tentunya, bahwa mukanya tidak berubah lagi, dan betul jadi begitu; tapi kemudian daripada itu pada ketika bimbanglah hatinya akan kerja suggestie itu, maka penyakit itu pun kembalilah sehebat yang dahulu. Segala pengobatan dengan hypnose yang kemudian daripada itu lebih kurang hasilinya, sebab tidak bisa ia tidur. Dari karena itu saya tunjukkan kepadanya pengobatan lain (sedatieve behandeling), sambil mengajar kan dia akan membiasakan diri tertidur, serta melakukan suggestie sendiri untuk kesembuhan penyakitinya dengan lekas, dan setelah itu pergilah ia.

Akan hal bermerah muka biasa, yang meng'alamatkan saja malu dan kusut, hanya bisa hilang seperti kedua perkara yang tersebut ini atas ja- lan sama—ya'ni menurut pelajaran bernapas yang sudah diterangkan—tapi akan hal penyakit bermerah muka itu lain adanya, Biarpun untuk penyakit ini juga ademgymnastiek itu jangan dikecilkan gunanya.

Sebab penyakit berubah warna dan ketakutan akan penyakit itu berdasar pada kecemasan yang ‘umum, pada kelemahan sarap, haruslah dasar penyakit itu diperbaiki dahulu. Kalau penyakit itu tidak bisa menjadi baik, maka hendaklah dilakukan pengobatan dengan hypnose (geneeskundig magnetiskhe behandeling) sedapat-dapatnya. Kebanyakan hasilnya baik. Kalau tidak, maka tak dapat saya berikan jalan yang lebih baik dan saksama daripada—membiarkan janggut bertumbuh panjang kepada tuan-tuan, berbedak muka kepa-da nyonya-nyonya. Obat ini lucu rupanya, tapi mujarrab juga.

Akan membenarkan perkataan ini saya hendak memperingatkan pendapat Ernst Skhulz. Katanya: “Kerap kali ada orang, yang sudah bertahun-tahun lamanya berjanggut panjang, lalu tiba-tiba mencukurnya sama sekali, mengatakan kepada saya, bahwa mereka menaruoh suatu perasaan malu, seakan-akan ada anggotanya yang se-lalu berpakaian tiba-tiba menjadi telanjang ke-lihatan.” Hal ini bukan tidak beralasan. Segala orang yang berjanggut panjang mengetahui atau merasa dengan sendirinya, bahwa dengan jang-gutnya mudahlah disembunyikannya segala pikiran rahasia, yang bisa nyata pada gerenyet tepi mulut orang yang tidak berjanggut; itulah asal perasaan telanjang, kalau perlindungan janggut itu hilang dan perasaan itu bertambah dengan perasaan sejuk yang lain dari biasanya. Saya hendak menceriterakan lagi suatu hal, yang sering kali saya lihat dalam pemeriksaan saya; bukan saja gerenyet yang halus hilang ditutup oleh janggut yang tebal, melainkan seri muka yang halus itu pun, istimewa pada bagian muka di bawah, hampir hilang sama sekali, dan hal ini pun bisa diterangkan, kalau kita mengingat akan barang yang telah beberapa kali kita sebutkan di atas, bahwa perubahan muka atau gerenyet itu bertumpu pada kegerakan dan perlawanan, dan rupa muka kita—sebagai kita lihat pada segala percakapan—menjadi pula balasan (reflector) muka orang yang berkata-kata dengan kita. Samalah halnya dengan barang yang diterangkan pada tempat lain tentang muka, yang tiada berseri pada bangsa perempuan Turki yang biasa berselubbung.

Sebab itu baiklah segala ahli negeri dan sekalian orang, yang sering kali harus menyembunyikan pikirannya, berjanggut tebal.

Penyakit Penakut Orang, Memalingkan Muka

Sejenis penyakit takut, yang belum lama telah saya terangkan serta dalam banyak perkara saya lihat, kata Beard, ialah authropophobie, ya'ni tidak menyukai perkumpulan, takut melihat orang. Adalah bermacam-macam rupanya. Dalam macamnya yang amat banyak ketakutan itu terlalu besar, sehingga orang yang menaruh penyakit itu mesti memperhentikan pekerjaannya. Bukan sedikit orang yang berpenyakit demikian saya kenal, yang Biarpun bertangan dan bertubuh kuat sekali, oleh penyakit itu terpaksa meninggalkan jabatannya; tidak boleh mereka bertemu atau bergaul dengan orang lain, sentiasa mereka takut bertemu dengan barang seorang. Dalam macam ini, istimewa macam yang berat, adalah sering kali tabi'at menundukkan kepala dan memalingkan muka.

Biasanya hal memalingkan muka itu artinya merasa malu dan kesipuan malu, merasa tidak tentu dan lemah di hadapan orang, yang berdiri di muka kita—yaitu pengakuan yang timbul dan jadi dengan sendirinya, bahwa sejurus tenaga kita itu lebih lemah daripada tenaga orang lain. Dalam neurasthenie hal memalingkan muka itu suatu tanda penyakit—yaitu tanda kelemahan, ber'akal kurang sempurna, kurang percaya diri. Membalikkan dan memalingkan muka itu suatu ‘alamat yang terang sekali pada orang yang berpenyakit sarap, sehingga sering kali dengan melihat saja, sebelum dikatakannya suatu perka- taan Ataupun sebelum ia duduk, dapatlah saya tentukan penyakitinya. Saya teringat seorang laki-laki muda yang terlalu penakut orang, sehingga tak mungkin ia menengok kepada saya lebih daripada sesa'at lamanya, Meskipun saya memegang dan mengangkat kepalanya. Seorang sahabat saya yang amat pandai dan terpelajar menaruh juga hal yang se'ajaib itu; sering kali inilah menjadi pasal percakapan kami dan menjadi barometer yang baik sekali untuk memeriksa keadaan badan, bertambah atau berkurang baik. Beberapa kalinya saya melihat penyakit yang amat ’ajaib ini jadi dengan sekonyong-konyong atau sesudahnya beberapa tanda permulaan yang kecil, Meskipun tandatanda kecemasan yang lain ada juga.

Suatu hal yang paling ‘ajaib tentang kemustahilan melihat orang pada matanya, adalah dice-riterakan oleh Dr. Cordes.

Tuan L. , 32 tahun, guru sekolah tehnik tinggi, berbadan ramping, tapi berdaging kuat, sehat sekali anggotanya dan gerakannya, melainkan perutnya tak sehat, sudah beberapa tahun diganggu perasaan kuatir yang terlalu sangat. Gangguan yang amat ‘ajaib itu, ialah tak dapat ia melihat kepada mata orang dengan tiada merasa sangat kuatir. Lalu timbullah pikiran yang sangat menakutkan hatinya, misalnya sebentar akan jadi perkara yang sangat hebat atasnya, kecelakaan besar, penyakit tangkap, serangan orang yang ditakutinyaya, atau semacamninya, lagi sering kali ada dalam pikirannya, bahwa orang itu akan menyangkakan dia seorang jahat dsb. Ketakutannya itu amat hebat, sehingga binasalah hidupnya, rindulah ia akan kesudahannya (Meskipun tidak dicobanya akan membunuh diri), pangkatnya itu pun hendak ditinggalkannya; perubahan badan itu kelihatan pada mukanya, yang pada ketika malu, takut dan dahsyat berubah-ubah rupanya, ada kalanya pucat dan ada kalanya berkeringat sangat. Karena takutnya orang itu menjadi penakut, malu, suka akan tempat sunyi, hutan yang lebat, tak mau makan dengan orang banyak dan istimewa tidak mau melihat pada mata orang, sehingga ketakutannya lebih kentara kepada orang yang diluear. Meskipun ia tahu, bahwa ia menjadi kuatir kalau melihat kepada mata orang lain, dan takut menjadi kuatir itu memang dirasanya sementara bersama-sama dengan orang lain, selalu juga terajak hatinya akan melihat kepada mata orang yang berkata kepadanya; kekuasaan yang tersembunyi memaksai dia dan mustahillah sementara berkata-kata akan memalingkan mukanya. Kalau menjadi panas hatinya, maka halnya lebih baik dan minuman keras pun baik kerjanya. Kekuatirannya menjadi kurang, kalau ia melihat orang yang bermata satu, atau kedua mata orang yang dilihatnya itu berdekatan, lagi lebih baik kepadanya melihat hanya sebuah mata. Orang yang di bawahnya atau orang yang lebih rendah darajatnya kurang mengadakan kuatir daripada orang yang di atasnya.

Tuan ini, yang kecuali nerveuse jspepsie (pen-cernaan kurang baik) memang amat sehat dan amat pandai—sehingga ia pun sangat terganggu oleh penyakitnya yang aneh dan tiada terlawan—tiadalah menaruh penyakit turunan barang sedikit pun dalam seluruh anggotanya. Ia memakai waterkuur yang diberikan kepadanya dengan amat buruknya, dan tidak berapa lamanya saja kelu-arlah ia dari rumah sakit dengan kesembuhan sedikit juega. Sayang sekali tidak lagi saya mendengar apa-apa daripada perkara yang penting kepada saya ini.

Akan kedua perkara ini—penakut orang dan terpaksa membalikkan dan memalingkan muka—ialah tanda-tanda kelemahan sarap dan pikiran yang terpaks. Sebab itu penyakit ini pun cuma bisa disembuhkan dengan melawan penyakit sarap dan pikiran yang terpaks. (Bacalah barang yang sudah disebutkan dahulu dalam buku ini.)


VI

HAL MALU DAN KEKUATIRAN YANG DISEBABKAN OLEH PERASAAN DAN PIKIRAN YANG TERPAKSA

Perasaan dan pikiran yang terpaksa itu tidak banyak terjadi, tapi kalau ada terjadi, maka keduanya masuk sejenis kekuatiran yang terlampau sangatnya, serta merusakkan kelakuan dalam pergaulan dengan orang lain, sehingga menertawakan orang atau sebagai gila rupanya.

Perkara yang dimaksudkan ialah segala persangkaan dan pikiran, yang tidak bergantung kepada kehendak dan ‘adat orang yang berbuat, tapi terlalu lekat pada keinsafannya, sehingga Biarpun ia tahu betul akan kesia-siaannya dan akan keganjilannya, tak dapat ia membuangkannya, melainkan ia dikuasainya juga. Adalah bermacam-macam persangkaan dan perasaan yang terpaksa. Beberapa macam yang terutama diterangkan oleh Krapelin seperti berikut ini.

Hal yang terkenal sekali ialah penakut alun-alun (agoraphobie). Artinya orang tidak sampai tenaganya akan berjalan sendiri di tengah alun-alun yang besar dan tidak berorang, atau di jalan yang panjang dan lebar; tiap-tiap kali dicobanya, orang itu kedatangan kuatir juga yang tiada terkira-kira, sehingga tak mungkin lagi ia berjalan. Pimpinan seorang anak, berjalan di belakang orang lain atau kereta, berpegang pada tembok, sering kali cukuplah akan mengalahkan kekuatiran yang melemahkan itu. Kalau penyakit itu lebih berat, maka sama sekali tidak mungkin orang pergi ke jalan, meninggalkan kamar, ada kalanya juga hampir tidak berani atau dengan sukar sekali orang meninggalkan tempat tidurnya. Saya kenal seorang tuan, yang sudah lemah sekali karena pencernaannya sudah lama terganggu, yang berbulan-bulan lamanya siang dan malam mesti dikawani orang lain. Kemudian sedang badannya bertambah baik, hal itu pun hilanglah, tapi masih ia takut akan alun-alun, meski takutnya itu berkurang-kurang. Akhirnya ketakutannya itu dapat dialahkannya, sebab kalau ia keluar selalu disediakannya Priessnitzomslag dan sebotol Vale-riaantinctuur. Meskipun tiada pernah dipakainya akan obat itu dan insaf ia akan kebodohan perbuatannya, dapatlah juga hal ini mencegah ketakutan yang memang hendak mengganggu dia.

Penyakit yang hampir sama dengan penakut alun-alun itu ialah penakut tempat tinggi, yang ada juga pada orang yang sehat serta berlain-lainan darajatnya, yaitu perasaan dahsyat kalau berdiri di atas menara yang tinggi, di tepi jurang, meniti jambatan, Ataupun di tempat yang tiada baha yadi sedikit pun akan jatuh. Orang bisa merasa takut pula dalam tempat yang besar lagi luas, dalam gereja dan gedung yang besar, dalam perkerumunan orang banyak, duduk sendiri di tempat yang gelap (nyktophobie), dalam kamar yang tertetutop atau terbuka pintunya (claustrophobie dan claustrophilie), naik kereta api atau berlayar. Dari sebab itu kebanyakan orang tidak bisa keluar rumah, baik karena mereka tidak mungkin memakai perkakas kendaraan, baik karena mereka selalu takut mendapat claka jauh dari rumah. Sekembali mereka ke dalam rumah pula, barulah hilang segala kekuatirannya.

Begitu juga asalnya penakut pakaian yang sudah pernah disebutkan. Seperti orang yang sehat kadang-kadang pada permulaannya tidak merasa sedap akan pakaian baru, begitulah pada ketika pertama-tama orang mengenakan suatu pakaian terjadi perasaan kurang senang sekali, yang bisa berhubong dengan keadaan yang benar pada badan. Mereka melihat dengan terang, bahwa lengan baju terlalu sempit, baju kurang lurus, sepatu terlalu pendek, tapi Meskipun banyak benar diubah pakaianinya itu tinggal begitu saja, sehingga kesudahanniya tak dapat lagi mereka memakai pakaian baru, dan merasa senang pula, kalau dikenakannya pakaianinya yang lama. Ada terkadang-kadang pula kejadian, kalau pakaianinya sudah buruk sekali, maka orang dengan sungguh-sungguh hati mau tinggal saja di tempat tidurnya, yaitu upaya yang akhir akan menolong dirinya, Sungguhpun ia tahu benar akan keaneh-an upaya itu.

Sebagai segala hal ini menjadi penyakit keterlaluan pada gerakan perasaan yang halus dan berguna, yang ada pada orang yang sehat, begitulah juga pada perkara ketakutan yang diadakan oleh takhyul kita melihat keadaan³ buruk, yang disebabkan oleh kepercayaan manusia. Setuju dengan ketakutan ‘umum akan bilangan 13, pertemuan dengan perempuan tua pembawa kabar jahat dsb., adalah penyakit takut akan beberapa benda, perkataan, warna, istimewa akan bilangan, yaitu pikiran akan kententuan suatu bahaya oleh sesocatu perbuatan atau kejadian. Sebab itulah orang mencari rupa-rupa jalan akan berjaga dan tetap hati. Kesudahannya orang mendapat kebiasaan-kebiasaan yang sangat aneh, yang menaruh arti dalam serta memberi ketenangan kepada orang yang berpenyakit, Sungguhpun tahu betul ia akan kegandilannya. Pada macam penyakit ini adalah kebiasaan menjauhkan sedapat-dapatnya atau mencari serta menyebutkan bilangan atau perkataan, melakukan sesuatu kegerakan yang sebetulnya tidak berguna, terpaksa memperhatikan tanda-tanda yang diajarkan atau didapat sendiri.

Perkara yang lebih menyakiti pula daripada ketakutan, yang terkadang-kadang jadi itu, ialah kekuatiran yang tidak tentu pada perasaan orang sepanjang hari. Hal inilah terutama mengadakan ketakutan yang murung (hypokhondriskhe vrees). Orang menaruh perasaan tidak bisa lagi berbuat barang suatu yang baik, merasa tidak cakap akan mengetahui sesuatu perkara, akan mengerti, akan berpikir dengan terang dan akan berkata-kata dengan ‘akal yang baik. Kekuatiran akan menjadi gila itu sangat menyusahi hatinya, sehingga sering kali pergilah ia kepada dokter. Meskipun biasa ia hendak menyembuniyikan keadaan penyakitnya, ia merasa amat perlu juga akan mengeluarkan perasaannya kepada orang lain, sehingga sejurus perasaannya menjadi senang pula.

Sebab orang takut melupa barang suatu perkara, pergilah ia kepada dokter dengan sehelai surat, tempat dituliskannya hal penyakitnya, karena bimbanglah ia, apakah dengan mulut ia dapat menceriterakan semua perkara dengan betul dan bersambungan.

Sesudahnya tiap-tiap percakapan, istimewa tentang perkara-perkara yang besar, orang yang berpenyakit itu berpikir, barangkali tidak cukup terangnya ia berkata, barangkali orang tidak mengerti akan dia. Lalu duduklah ia serta menulis pula beberapa keterangan, tapi baru saja dikirimkannya surat itu, maka bimbanglah ia, apakah segala keliruan itu sudah habis. Selaininya terjadilah ke'adilan yang pedih, yang memaksa dia mengatakan kebenaran pada segala ketika, serta tidak mau lagi bermain-main bohong. Tiap-tiap perkataan itu dipikirkan dan ditimbang dengan sangat lama, sehingga tidak boleh lagi mengadakan keterangan yang salah dan seorang pun tidak bisa menuduh dia kurang terang. Kemudian didapatnya juga selalu barang perkataan, yang dapat dikatakan orang kurang terang.

Sebab itu segala keteranganinya itu menjadi saja pangkal segala kesengsaraan dirinya yang amat pedih. Istimewa pertemuan dengan justisi itu amat menambahkan kekuatirannya, Saya kenal seorang, yang dari karena dipanggil menjadi saksi, lama benar terpekur hatinya; katanya kepada saya, bahwa lebih baik ia ditahan dalam penjara daripada akan menanggung lagi sengsara yang demikian. Ada seorang hakim, yang sentiasa diganggu oleh ketakutan, bahwa suatu titah yang dari karena keliru sudah diberi akan memenjarakan orang itu tidak boleh ditarik. Sentiasa juga hatinya hendak mendapat keyakinan, bahwa orang yang terpenjara itu sungguh sudah dilepaskan.

Bilamana orang memegang akan barang kepu-nyaan orang lain, maka biasanya timbul pula keadaan hati yang sedemikian. Dibubohnya pada pa-yung, topi, jas luarnya, barang tanda yang tampak senyata-nyatanya, supaya jangan salah ia mengambil barang orang lain, sambil kuatir pula, bahwa orang lain pun nanti memakai tanda semacam itu.

Kalau membayar, maka segala keping uang itu diselidikinya betul-betul, apa uang itu palsu atau kurang baik, kemudian bimbang pula ia, apa penjuarl itu barangkali memulangkan uang terlalu banyak sehingga rugi. Sentiasa ia diganggu oleh pikiran, bahwa orang lain barangkali mendapat terlalu banyak atau ada perbuatan tipu, sedang ia sendiri menanggung rugi dengan sabar, Ataupun mencari kerugian dengan sengaja un-tuk meniadakan pengeduhan hatinya tentang kesalahan itu.

Daripada ketakutan akan kehilangan, akan kejangkitan, timbullah ketakutan akan menjamah, “delire du toukher”. Dengan membelakangkan segala perkara yang lain orang menjadi terlalu sangat jaga akan kebersihan, yang pada permulaannya tinggal dalam lingkungan hygiene juga, tapi kebanyakannya kemudian menjadi sangat besar, sehingga terlalu menyusahi akan hidupnya sendiri, apa lagi akan orang yang serumah dengan dia. Dengan secermat-cermatnya ia hendak menjauhi segala jamahan orang, misalnya membuka kepala pintu dengan siku, memakai banyak sekali sarung tangan. Tapi kalau terpegang juga oleh-nya akan barang suatu, maka pergilah ia membasuh sedapat-dapatnya menurut timbangannya dengan saksama, yaitu bukan saja membasuh tangan, melainkan sampai segenap badan, lagi pun segala perkakas rumah dan pakaian juga.

Ada kalanya cuma menjamah barang suatu yang tentu, menyebabkan segala perbuatan itu, tapi menjamah barang yang lain-lain itu tidak dipedulikannya. Tentulah karena membasuh banyak kali dan terlalu-lalu itu, segala waktu orang itu lama-kelamaan habis dipakainya, sehingga akhiirnya tak cakap lagi melakockan kewajibannya. Meskipun tidak mungkin ia meninggal-kannya, selalu tahulah juga ia akan keganjilan segala perbuatannya itu.

Sipat yang ‘umum pada segala jenis ketakutan (phobicien) itu adalah pada kepanasannya (crisis).

Bilamana orang penakut itu dipaksa akan melaku-kan barang yang ditakutinya, atau dilarang akan berbuat penjagaan, maka jadilah hatinya panas, gentar, sering kali juga marah, serta melawan dengan tidak peduli akan segala paksaan orang kepadanya. Sering kali kita heran melihat orang, yang selalu sudah mencari kelepasan daripada penya-kitnya, tiba-tiba berubah lakunya seakan-akan tidak suka sembuh lagi, lalu melawan dengan sekuat-kuatnya akan orang, yang hendak mencoba melepaskan dia daripada penyakit jiwanya.

Tapi kalau kehendaknya dapat dikalahkan dan ia-pun dapat dipaksa akan melawan penyakitnya, maka sering kali jadilah ia sangat berdukacita selalu, merasa tekanan, yang nanti disingkirkan oleh perasaan senang dan girang, kalau dapat orang itu menyenangkan hatinya menurut jalan nyia sendiri. Tapi biasanya sebagian besar daripada kekuatan ruhnya dan badannya itu pun hilanglah dalam pergumulan yang tidak putus-putus dengan penyakitnya.

‘Umumnya dapat selalu orang menunjuk-kan, bahwa segala hal takut yang sangat lain keadaannya itu, berhubung rapat sekali dengan hal hidup orang, atau bertalian dengan sesuatu penyakit yang sangat mengganggu badannya.

Demikianlah seorang pandita ketakutan, kalau ia hendak mengajar. Lagi ada beberapa macamnya pula; yang seorang baru ketakutan, kalau sudah ia turun dari mimbar, seorang takut berpidato dikubur, seorang pandita lain pula takut berkhotbah kepada orang kawin dsb.

Patut disebutkan lagi hal-hal takut, yang ditimbulkan oleh sesuatu penyakit badan. Kebanyakannya ialah segala citaan dan perasaan yang ganjil, sudah mendalam, sering timbul dan ten-tu saja tempatnya, Ataupun gangguan dalam perjalanan darah, yang terlalu menarik perhatian orang dan telah menaruh suatu pengaruh atas pikiran orang yang berpenyakit itu.

Misalnya, ada seorang perempuan yang diganggu oleh perasaan ganjil, yang biasa timbul pada anggota sekelliling urat jalan dan tempat air kencing, atau oleh penyakit perasaan selalu hendak membuang air kencing. Kalau gangguan ini timbul, maka pertama-tama tidak bisa ia tinggal du-duk lama sedikit, karena perasaan yang mengganggu itu bertambah; selainnya ia terpaksa sering kali meninggalkan kamar. Orang berpenyakit demikian gampang mendapat tabi'at suka tinggal sendiri dan penakut orang; tidak mau ia mengunjungi atau menerima orang, sebab kalau bersama-sama dengan orang lain lantas saja menjadi takut ia akan diganggu oleh penyakitnya, serta perbuatannya pun ditertawakan atau mengganggu orang.

Ketakutan terpaksa, perasaan terpaksa, pikiran terpaksa dan kehendak terpaksa itu kebanyakannya diadakan oleh kelemahan sarap atau hysteria, yai-tu pekerjaan urat sarap yang sudah kehabisan kuat, dan sebab itu sudah terang jalan akan menyembuhkannya.

Pertama-tama janganlah sekali-kali orang takut akan keadaan yang tidak biasa pada pikiran terpak-sa. Bagaimana juga rupanya, tiadalah di sini barang tanda yang mendahului atau telah membuktikan penyakit gila. Untuk perkara ini adalah dua kesaksian orang ‘alim yang terutama.

Psykhiater (tabib penyakit jiwa) Dr. Romer mengatakan: “Berpikir terpaksa itu, juga segala macamnya yang lain, berlainan dengan ”pikiran sia-sia“ pada orang gila, karena pe-ngetahuan akan barang yang didorongkan dan barang yang ganjil itu tinggal, atau sekurang-kurangnya bisa dibangkitkan, dan pikiran” yang ganjil itu, Meskipun memaksa dan mengucil-kan, tidak dapat mengubahkan kehidupan manu-sia sendiri. Akan kebenaran anggapan yang baik itu nyata juga dalam hal yang didapat dengan pengalaman, bahwa berpikir terpaksa itu menjadi berpikir sia-sia hanyalah dalam perkara yang dike-cuarikan; pun bisa dikatakan, bahwa timbulnya pikiran terpaksa itu menjauhkan orang juga daripada penyakit gila.“

Dan Dr. Beard, yang pertama-tama telah menerangkan, bahwa neurasthenie itu penyakit, mengatakan: “Untuk segala macam penyakit takut, yang ada antaranya juga sudah terkenal dan di-terangkan, adalah pendirian ‘umum ini: Segala rupa penyakit takut ini tanda-tanda penyakit yang berhubung dengan kehidupan (functioneel), tapi tiada pernah atau jarang tanda penyakit pada anggota. Kalau ada satu daripada tanda-tanda ini, maka dengan mengira-ngirakan saja cukup-lah akan menyebut nama penyakit itu atau mengatakan putusan yang tentu.”

Banyak macam yang sukar pada pikiran terpaksa itu, lekas dan gampang hilang dengan memakai segelas anggur atau bier atau memakai obat bu-ang air besar (laxeermiddel). Ada orang yang merasa sangat disenangkan, kalau mereka bisa membuka perasaanninya kepada orang yang dikenalnya, dan disangkakannya suka akan mendengar pikiraninya dengan tiada segera mencelanya sebagai pikiran orang gila.

Sebab banyak sekali macamnya pikiran terpaksa itu, maka tidak mungkin akan memberi kepada masing-masing aturan mengobatinya. Tiap-tiap orang haruslah membuat aturannya sendiri. Untuk menjadi contoh yang baik saya minta perhatikanlah pelajaran memperbaiki kehendak, yang menurut Dr. Lowenfeld sudah nyata berguna sekali akan menyembuhkan penyakit takut yang amat terkenal dan sudah banyak, ya'ni takut terpaksa, takut alun-alun.

Kebanyakannya orang berpenyakit itu hendak menurut bujukan orang, akan berjalan pada tempat yang menakuti dia, tanah lapang, jalan besar dsb., tapi hal ini cuma bisa berlaku dengan amat sukarnya dan dengan kemauan yang paling besar. Usaha ini lama memenatkan tubuhnya, dan sebagai sudah banyak saya lihat, tiadalah gunaniya; sebab tiap-tiap kali orang hendak mencobanya, ketakutan itu pun timbul pula dengan sama kuat, sehingga sudah lama saya tiada mau lagi mengajak orang akan menurut jalan ini.

Kalau orang berpenyakit itu, sesudah mende- ngar keterangan tentang penyakitnya serta dengan nasihat yang kuat, tidak mau juga melalui tanah lapang dan jalan besar, atau melakukannya dengan amat sukar, maka baiklah dilakukannya suatu gymnastiek jiwa, supaya perkara yang mula-mula mustahil atau terlalu susah rupanya, lama-kelamaan dapat dilakukannya dengan tia-da segan. Hendaklah kita mulai dengan tuntutan yang kecil lagi mudah daripada permulaannya. Orang itu harus disuruh berjalan di jalan, yang kurang memberi ketakutan kepadanya, dan di tepi tanah lapang menurut pagar atau tembok rumah. Kalau sudah beberapa lamanya ia membiasakannya, serta sudah tahu pula mengalahkan kedatangan takut itu dengan kehendak sendiri, lalu ia disuruh coba juga berjalan di jalan yang lebih besar, dan kalau pekerjaan ini berlaku dengan tidak berapa sukarnya lagi, barulah ia disuruh melalui tanah lapang.

Kalau orang berpenyakit itu hendak berjalan dengan seorang pemimpin, maka hendaklah pemimpinnya mula-mula berjalan dekat dengan dia di-jalan, lama-kelamaan menjauhkan diri dari padanya, lalu membiarkan dia berjalan dahulu dengan sendirinya, atau memimpin dia kepada jalan yang lebih sukar, akhirnya jangan dipimpin lagi.

Pengobatan psykho-therapeutiskh yang betul sekali adalah diterangkan oleh Dr. Rozenbaum dalam ceritera seorang patient yang berikut ini:

Orang yang berpenyakit itu pada masa kecilnya sedikit takut-takut, sering kali memimpikan baha yang mengancam dia, orang yang menyerangi dia serta hendak membunuh akan dia; kamar ge-lap dan gang gelap selalu dijauhinya karena perasaannya yang seakan-akan takut. Kemudian pula ia mendapat perasaan, seakan-akan ada suatu perkara yang kurang baik atau bahaya, yang akan berlaku atasnya. Perasaan takut yang kurang penting ini timbul dengan tiada barang kejadian lain bersama-sama, sehingga tiada juga dipedulikan-nya. Kemudian ia bekerja banyak dalam perkara politik. Tatkala itu sudah sering kali ia duduk berdebat dalam perhimpunan-perhimpunan politik, tapi selalu sebelum berpidato, disediakannya beberapa gelas bier akan diminum. Karena pada suatu hari se-mentara ia berpidato, Meskipun ia tahu benar akan pasal pembicaraannya, jadilah ia takut de-ngan ‘ajaib sekali; supaya jangan lagi kejad-ian perkara yang demikian, lalu diminumnya bier, dan dari sebab sentiasa kerja bier itu baik adanya, maka tidak dipedulikannya perkara yang sudah jadi serta dipandangnya juga seperti tabi'at “penakut lampu”. Sementara menjadi serdadu ia merasa amat nyaman, melainkan di medan perang sering kali ia merasa takut akan bahaya yang tidak tentu; perasaan itu datang hanyalah kalau dili-hatnya suatu perkara yang kurang baik dihadap-annya, sedang tidak tahu ia bagaimana akan me-lepaskan diri. Kemudian tatkala hari panas ia ber-jalan dari “Unter den Linden” ke Friedrikhstrasse, hendak melalui tanah lapang yang kosong, maka kira-kira di tengah tanah lapang itu didapatnyalah suatu perasaan yang ganjil; tiba-tiba datanglah dalam pikirannya: “Kalau kiraniya sesuatu hal jadi atas saya, di manakah saya akan berpegang, kepada siapakah saya pergi?“ Oleh karena pengaroh pikiran ini, tiba-tiba datanglah kepadanya pula ketakutan, yang sudah dikenal dan sering kali berlaku atasnya. Karena takut akan sesuatu hal yang boleh berlaku kepadanya di tanah lapang yang kosong itu, tempat ia berdiri seorang dirinya, maka jadilah panas perasaannya, seluruh badannya mulai gementar, kakinya merasa kesemutan, rasanya seakan-akan hendak jatuh, Meskipun sebenarnya tidak pusing kepalanya, merasa berat pada kepala dan darah naik, keringat keluear, istimewa pada kaki dan tangan. Ia teringat, bahwa badannya tidak merasa nyaman itu pada hari Selasa dan halnya bertambah kurang baik oleh kehangatan pada hari itu, dan pada sangkanya inilah yang menyebabkan kejadian itu. Setelah lalu kejadian itu, maka seluruh tubuhnya pun menjadi sangat lemah, sehingga kemudian beberapa hari barulah ia merasa nyaman pula.

Semenjak itu tidak mau lagi ia berjalan pada segala tanah lapang, karena takut akan kejadian begitu lagi. Jalan kekantorniya melalui tanah lapang opera; sentiasa ia merasa: “Kalau engkau mendapat penyakit tangkap atau jatuh, siapakah akan menolong engkau? dsb.” Sebab itu tanah lapang itu tidak dilintasinya, melainkan ia berjalan disisi segala rumah supaya dapat berpegang. Tatkala musim dingin yang baru lalu tanah lapang itu ditutupi salju yang tebal, maka ia merasa lebih senang, sebab pada pikirannya tidak apa-apa jatuh di tempat yang lembut, tapi waktu salju itu hilang, datanglah pula penyakitnya yang lama itu. Kalau tiada jalan lain padanya, melainkan harus ia melintasi tanah lapang juga, maka berlarilah ia; kalau sudah tiga perempat bagian dilintasinya, maka berkuranglah ketakutannya, “seakan-akan ada barang suatu jatuh dari padanya”; kalau sampai ia ke sebelah, maka segala ketakutan itu pun hilanglah.

Maka tinggal lagi hanya suatu keletihan, yang lebih besar adanya kalau kedatangan takut itu pun lebih kuat. Tapi perkara ini bukan saja berlaku di tanah lapang, melainkan dalam gedung concert dan gedung tonil juga. Pada permulaannya dicarinya sentiasa tempat pada segala penjuru supaya kalau perlu mudahlah ia keluar dengan segeranya; begitulah juga dalam perkumpulan dengan banyak orang yang tidak dikenal (bukan dalam perkumpulan kecil dengan orang serumah atau pamili); pada waktee belakangan tidak lagi ia menurut segala perkumpulan itu, sebab kesukaan yang diterimanya dalam segala perkumpulan itu tidak setimbang dengan kesengitan perkara “takut akan perasaan takut”. Meminum alcohol atau pimpinan orang menjauhkan perasaan kuatir itu; dengan pimpinan seorang anak pun dapat juga ia melintasi tanah lapang; ia tahu benar sekali, bahwa anak itu tak dapat menolong dia, kalau ada celaka, tapi anak itu cuma dipergunakannya akan menjauhkan pikirannya daripada ketakutan, dan sebab itu ia berkata-kata banyak dengan anak itu sampai keduanya sudah melintasi tanah lapang itu.

Itulah juga sebabniya, kalau melintasi tanah la-pang opera itu, sentiasa ia menengok kepada patung peringatan Frederik yang Besar dan kedua patung Humbolt; kalau ia memalingkan mukanya hendak mengetahui, berapa jauhnya lagi ia harus berjalan di tanah lapang itu, maka datanglah pula ketakutan itu.

Ada kalanya juga menengok itu tidak cukup akan menjauhkan atau melawan kedatangan takut itu, lalu ia membuang jejak seperti serdadu, menghitung jejaknya, berkata-kata keras dengan sendirinya, semuanya akan menjauhkan pikiranniya daripada bahaya.

Hal yang beruna sekali akan metawan takut tanah lapang ialah naik sepeda. Dahulu meliwati jalan yang ramai itu mengadakan kuatir, takut, dan gentar, tapi sekarang gampang saja orang melalui tanah lapang besar dengan memakai sepeda. Tapi kalau segenap urat sarap tidak berkekuatan lagi, baiklah mula-mula orang memakai sepeda yang beroda tiga, sebab mengemudikan sepeda yang beroda dua itu mudah mengadakan takut dan memanaskan hati. Lain daripada itu biasanya orang hendak bersepeda saja terlalu laju, tapi tiada pernah bisa bersepeda terlalu lambat. Lagi tidak dapat orang memastikan keselamatanniya, kalau orang yang naik sepeda itu merusakkan sarapnya dengan minuman keras. Waktee yang paling baik pada musim panas yaitu waktee pagi; bersepeda pada malam hari itu mudah menyebabkan orang yang cemas tidak bisa tidur dengan senang. Hendaklah orang pergi tidur dengan lekas dan bangun pula dengan lekas, su-paya sesudah pelajaran yang setengah jam sampai satu jam lamanya pada permulaan itu, dapat orang bersenang setengah jam lamanya di atas kerosi panjang.

Sekali lagi saya menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa takut akan tanah lapang itu dan juga segala pikiran dan perasaan terpaksa yang lain itu tak dapat tiada ‘alamatnya dan bu-ahnya sarap yang sudah kehabisan ku-at, dan tiadalalah jalan lain bisa menolong, kalau kecemasan yang menjadi asal mulanya itu tidak dilawan lebih dulu dengan suatu aturan bersenang. Kebanyakan nyapikiran terpaksa itu hilang bersama-sama dengan penyakit sarap. Akan melawan segala pikiran terpaksa yang lain itu sama jalannya dengan melawan takut tanah lapang.

Hubaya-hubaya dan pertama-tama hendaklah orang yang berpenyakit itu yakin benar dalam hatinya, bahwa segala pikiran dan perasaan terpaksa itu bukannya tanda-tanda penyakit gila atau ke-matian, melainkan semata-mata ganggguan ruh dan jiwa, perasaan yang kurat sehat. Hendaklah ia dalam segala perkara mempergunakan pikiran yang bertentangan dengan pikirannya, contraire auto-suggestie. Seperti keinginan yang tidak patut akan seorang perempuan itu boleh ditiadakan sama sekali dengan pikiran membenci, demikianlah orang penakut itu harus memakai pikiran pelawan.

Misalnya barang siapa berpenyakit takut akan bermerah muka atau terpaksa menjadi takut, ka-

Yau ia tahu orang memperhatikan dia, maka hareslah dengan sekuat-kuatnya ia menjauhkan perhatiannya daripada orang banyak. Janganlah ia memandang muka orang yang terlalu ingin melihat dia, jangan pula memperhatikan mata orang yang mengamat-amati dia, dan akan mencapai maksud ini, yaitu pada permulaannya, hendaklah ia mencari barang benda atau muka seorang sahabat, yang harus menjadi tampat matanya melihat sampai ia mendapat perasaan yang baik dan tetap pula.

Saya mengenal amat banyak orang berpenyakit sarap penakut, yang selalu memegang sebuah cermin dalam tangannya, yang dipakainya akan melalui bahaya yang mengancam mereka itu. Kalau mereka merasa takut atau hendak menjadi malu, maka lalu diingatnya akan cerminnya, dan selama perasaannya diberati dan diganggu oleh barang pikiran yang datang kepadanya, diperhatikannya akan cermin itu.

Obat yang terbaik daripada segala obat akan melawan kedadangan takut itulah garam broom, tapi cuma berguna, kalau obat itu diberi pada waktunya sebelum takut itu datang. Oleh sebab yang memang sudah terang, kita wajib melarang orang memakai suntikan madat (morphine-inyectie) yang lebih baik dan lebih lekas kerjanya. Sering kali baik pula kerjanya obat valeriaan atau kamferdruppels, dan ada kalanya kerja obat ci-um atau menthol pada selaput hidung itu baik sekali sementara orang kedatangan takut. Obat yang memang paling baik kerjanya dalam keba-nyakan hal yaitu segala minuman keras, terutama grog panas. Inilah pengalaman yang kerap kali di-dapat oleh orang-orang yang berpenyakit, sehingga sayanglah dijadikannya kebanyakan mereka itu pemabuk. Di antara segala peminum biasa yang memang tidak banyak bilangannya, yang dalam sepu-luh tahun penghabisan ini diobati oleh Dr. Hecker dalam rumah pengobatannya, adalah sekira-kira seperduanya menjadi pemabuk oleh penyakit takut itu. Perkara ini niscaya amat penting.

Akan mengobati dengan ‘umumnya segala penyakit sarap penakut itu, saya pun hendak memperingatkan dengan pendeknya, bahwa baik sekali memakai makanan yang tercampur, seboleh-bolehnya jangan pedas (baiklah makan lebih banyak sayuran dan makanan dari tepung dan sedikit daging), serta menjauhkan segala tusukan keras pada kulit dan dalam perut. Sepanjang pengalaman saya, wajibsaya melarang dengan sangat orang yang terlalu banyak memakai air dingin dan memijit kulit dengan keras.

Kebiasaan yang sebetulnya amat disukai orang, yaitu menggosok badan dengan air dingin, tidak usah dilakukan lagi, sedang membasuh sebagian badan itu sering kali amat mujarrab adanya. Dari sebab itu saya telah menjadi takut akan memakai segala obat yang bekerja keras, istimewa saliniskhe purgeermiddelen, yang sudah lama biasa dipakai untuk orang yang berpenyakit itu.

Akan membuktikan kemujarraban pengobatan tawar dengan air bagi orang yang berpenyakit takut, kita kutip di bawah ini barang yang dicerite-rakan oleh Dr. Cordes.

“Tuan B. , guru sekolah tani, 32 tahun, seorang laki-laki yang kuat lagi elok badannya, mukanya amat pintar, asalnya orang kecil, dengan ke-rajinan besar dan banyak susah dapatlah dicapainiya pangkatnya sekarang. Pengetahuannya ter-lebih banyak barang yang sudah didapatnya daripada akan menambahkan. Istimewa sepuluh ta-hun yang belakangan ini telah ia bekerja terlampau banyak, sehingga barangkali inilah sebabnya ia mendapat maagcatarrh (penyakit perut) selama itu, bergantiganti dengan constipatie dan diarrhee, yang pada sangkanya telah mengadakan kesengsara-annya, yaitu terutama kelemahan yang paling sangat dan gampang terganggu. Kelemahan ini bukan telah jadi dengan tiba-tiba; mula-mula tidak dapat lagi ia berpikir seperti dahulu, perkara ‘ilmu pengetahuan harus dibacanya dua tiga kali baru paham ia, yaitu bukan biasanya dahulu. Setelah itu dirasanya sukar memberi pengajar-an, dan akhirnya ia mendapat perasaan yang melemahkan tubuhnya, tatkala ia duduk mengajar, serta kedatangan takut sekali. Dahinya berkeringat, seluruh badannya gemetar, segala baris tulisan bersuatu rupanya (karena insaf akan kelemahan-nya sudahlah beberapa lamanya ia biasa membaca pengajarannya, yang dahulu dikatakannya dengan mudah), kesudahannya lidahnya pun tidak dapat berkata lagi. Dari sebab itu dimintanya perlop setahun lamanya. Kini sudah ditinggalkannya semua pekerjaannya sepanjang musim dingin, tapi Biarpun begitu penyakitnya selalu bertambah sa-ja. Bukan saja keadaan perutnya, yang pada sangkanya menyebabkan segala penyakitinya, bertambah lemah, tapi perasaan lemah dan takut itu pun timbul banyak kali juga, dan datang kepadanya di mana-mana saja, istimewa kalau ia sendiri. Sebab itu sudah beberapa bulan lamanya tidak pernah lagi ia tinggal sendiri; isterinya tidak boleh meninggalkan dia, pada malam harus ada lampunya dsb. Kini ia pun kedatangan takut sangat, karena cuma mengingat, apatah jadinya kalau keluarganya, yang telah membawa dia kemari itu, sudah pergi, sehingga sudah beberapa kali ia min-ta pergi pulang bersama-sama dengan dia. Keku-atiran itu datang sekonyong-konyong, tidak dikeh-tahuinyaka akan waktunya dan sebabnya, tapi bersama-sama dengan itu selalu datang perasaan ti-dak bergaya, yaitu takut akan bahaya yang bisa ber laku kepadanya, kalau tidak ada orang serta dengan dia. Lalu ia mulai gemetar, berkeringat, tidak bisa berdiri lagi dan merasa mual, tapi perasaan ini tidak sentiasa datang kepadanya. Perasaan kuatir itu terasa olehnya dalam negeri tem-pat diamnya, kalau ia jauh daripada manusia, dan kalau hal ini teringat olehnya. Kekuatiran itu datang kepadanya baik ketika berjalan-jalan, baik ketika duduk di kantornya. Kalau berjalan-jalan tidak mungkin ia pergi jauh-jauh, serta amat sukar pula kepadanya hendak kembali ke rumah. Untunglah kepadanya kalau ia bertemu dengan seorang kenalan yang dapat menolong dia. Ia pun berpendapat, bahwa minum anggur atau bier itu baik kepadanya, tapi tidak bisa ia minum banyak, dan kalau ia minum terlalu banyak, maka penyakitnya pun bertambah. Kekuatan tubuhnya itu rasanya sedikit saja terganggu. Ada kalanya dapat ia berjalan-jalan dengan orang lain beberapa jam lamanya dengan tiada merasa capek sedikit pun, ada kalanya sesudah berjalan beberapa menit lalu ia duduk, katanya, hal ini bergantung kepada keadaan perutnya. Orang itu bertambah lebih baik dengan memakai pengobatan dengan air, dan pada musim dingin ini sudah dimulainya memberi pengajaran pula, serta baik juga selanjutnya.“

Segala orang yang berpenyakit cemas hati, urat nadi bengkak, pernah pingsan dan merasa bius, sebagai penyakit ketangkapan, baiklah memakai kolatablet.

Tapi paling baik sekali, kalau orang yang berpenyakit itu selalu membawa obat tersebut, apalagi kalau obat itu telah menolong dia. Maka obat itu niscaya akan memberikan ketetapan hati kepadanya, selaininya tidak dan kerjanya seperti jimat.

Prof. Binswanger menceriterakan hal seorang opsir yang berpenyakit pingsan dan pada segala pelajaran baris yang besar selalu diganggu oleh perasaan takut, bahwa ia akan kedatangan penyakit itu. Setelah dialahkannya kedatangan penyakit itu dengan memakai beberapa kolatablet, maka cukuplah pada ketika berbaris dan bermain perang yang besar, dibawanya saja obat itu dalam saku. Hanya sekali saja penyakit itu datang kepadanya, tatkala dilopeanya membawa obat itu serta diingatnya.

Kalau segala jalan yang sudah disebutkan itu tidak berguna, maka haruslah dipakai pengobatan dengan hypnose. Kebanyakan hasil obat ini ‘ajaib. Di bawah ini suatu contoh, yang diberitahukan oleh Dr. Moll.

Tuan H. , 36 tahun. Ibunya berpenyakit migraine (sakit sarap kepala), begitu juga beberapa saudaranya laki-laki dan perempuan. Ketika ber'emur 21 tahun sampai sekarang menaruh perasaan kurang enak kalau ia hendak melalui tanah lapang besar. Penyakit ini bertambah-tambah, sehingga kesudahannya tak dapat lagi ia meliwati alun-alun besar. Kalau ia berjalan beberapa langkah saja di tanah lapang, maka gemetarlah ia sambil merasa pusing, gelaplah penglihatannya, kerringat keluear dan harus ia kembali. Seperti biasanya orang yang berpenyakit sedemikian, dapat juga ia melalui tanah lapang itu dengan pimpinan orang lain, pun dengan pimpinan orang yang belum dewasa, sehingga dengan jalan yang panjang, misalnya menyisi rumah, dapat juga ia sampai ke sebelah. Penyakit itu hampir tinggal begitu saja. Banyak jalan pengobatan, berbagai-bagai pengobatan dengan air dingin dan semacamnya tidak berhasil. Pengobatan dengan hypnose dapatlah mengadakan perbaikan yang kentara, sesu-dah dilakukan tiga kali. Tatkala itu dapatlah ia meliwati tanah lapang kecil, dan dengan pengobatan yang beberapa kali dilakukan bertambah lebih sembuh ia, sehingga akhirnya dapatlah dilaluninya tanah lapang besar dengan tiada pimpinan.

Sudah sembilan bulan ia bertambah-tambah sembuh.“

Dr. van Skhrenck-Notzing ‘menceriterakan yang di bawah ini.

“Patient G. , 26 tahun. Kelihatan paling kuat dan beratnya 200 pond. Menurut ceriteranya sendiri, pada masa kecil juga hatinya lekas panas dan lekas marah serta lakunya ganjil (excentriek). Dari ‘umur 12 sampai 14 tahun dibuatnya onanie. Semenjak itu kelihatan kelemahan ingatannya dan tenaganya pun berkurang-kurang. Pada masa kecil juga penakut dan suka tinggal di belakang, makin lama makin mengasingkan dirinya dan hal maluniya sering kali menjadi sindiran teman-temannya. Buku ”Mempertahankan diri“ memberi keterangan kepadaanya, lalu ditinggalkannya kejahatan itu. G. kelihatan seorang yang tidak peduli, lemah kehendak, tidak beruna lagi. Dengan kurang gembira ia mempelajari ’ilmu tabib; meski sudah 14 semester (7 tahun) belajar masih juga ia terbilang kepada murid college yang banyak. Baru 2 21​ tahun yang lalu, yaitu sesudah 9 semester, dibuatnya ujian ‘ilmu ’alam atau propaedeutiskh examen. Sentiasa ia merasa kurang senang karena ketinggalan dan seboleh-bolehnya dijauhinya akan segala temannya, yang sudah melakukan pekerjaan tabib. Diasingkannya dirinya daripada sahabatnya yang karib pun. Lebih suka ia pergi berjalan-jalan sendiri ja-uh-jauh, beberapa jam, serta hidup saja seadanya dengan tiada memikirkan lagi nasibnya. Badannya merasa, kalau ada barang kejadian sedikit saja, hati hendak bertepuk dan keringat keluaer. Dalam sekolah juga ia menjadi takut dan mukanya berubah, kalau namanya dipanggil. Kedatangan takut yang sebagai terpaksa itu dirasa mula-mula. Kalau ia dipanggil oleh seorang daripada segala professor akan mengobati orang sakit, maka datanglah penyakitnya dengan hebat, sehingga ia pun menjadi lemah dan sama sekali tidak cakap akan menjawab atau berdiri daripada tempatnya. Dari sebab itulah belum bisa juga ia mendapat suatu surat keterangan, yang tertentut kepada orang yang hendak melakukan staatsexamen. Pada tiap-tiap semester hal ini ditangguhkannya saja. Sekarang, pada akhir bulan Yuni, ia pun harus memilih di antara dua perkara yang muskil, ma- ukah ia tunggu setahun lagi, atau maukah ia mencari barang yang dialpakaniniya pada bulan Yuli yang datang. Sesudah pengobatan pendek de ngan suggestie dapatlah ia mengalahkan penyakit paksa itu, serta cakaplah ia melakukan peker jaan tabib. Tanggal 1 Augustus G. mengabarkan, bahwa ia sudah menaruh segala surat keterangan yang perlu akan melakukan staatsexamen, menurut delapan jenis penyakit yang sudah dio batinya.


VII

BEBERAPA MACAM HAL MALU YANG TERBURUK DAN JALAN MENYEMBUHKANNYA

Tangan Menulis Menjadi Kaku dan Gemetar, Kalau Ada Orang Melihatnya

Akan perkara-perkara aneh, yang mengganggu tangan menulis itu, hampir tidak pernah dengan sekonyong-konyong dan dengan segera jadinya. Bi-asanya kita melihat keadaan yang bertambah-tambah, dengan alasan yang kecil, kebanyakan kurang tun-tutannya. Barang siapa berpenyakit demikian, bia-sanya sesudah menulis lama dan tidak berhenti-henti, baru merasa sesuatu hal yang tidak tentu, tangan atau segenap lengan merasa capek, sering kali bersama-sama dengan perasaan hati tidak tetap dan sedikit pedih, sedang dapat juga tangan me-lakukan segala kegerakan yang lain. Sesudah wak-tu yang setuju dengan kurang beratnya, ber-bulan-bulan dan bertahun-tahun lamanya, sedang penyakit itu bertambah perlahan-lahan dan tangan hanya terganggu sedikit saja, sehingga dapat juga ia menulis beberapa jam dengan beberapa kali berhenti sedikit, maka halnya pun bertambah buruk. Orang yang berpenyakit itu mencari mula-mula akan kelelahannya yang lain dari biasa dan akan kesukarannya menulis itu dalam kemarahannya yang naik dan sering kali nyata pada segala garisan penanya yang tidak berguna. Tapi biasanya dengan itu, perkara tidak tentu dan kesukaran bertambah besar saja; dan kalau teringat ia akan penyakitnya, melihat tulisannya yang berubah oleh garisan penanya, seraya kutair dan takut itu pun datang, karena ia terancam dalam pekerjaaannya, maka sudah tentu penyakitnya itu bertambah. Segala perkara yang mengganggu itu makin menjadi kentara. Dan kalau ruhnya amat tenang, sehingga dapat juga ia menulis sedikit, maka dengan tiap-tiap gerakan hati pada waktu memperhatikan sungguh-sungguh atau dengan barang sebab lain dari luar (misalnya kalau khef ada, kalau orang lain melihat dia menulis), penyakitnya bertambah amat berat, sehingga akhirnya tak mungkin lagi ia memegang penanya.

Kebanyakannya, Biarpun penyakit itu sudah lama, orang menerangkan, bahwa perkara-perkara yang mengganggu terlebih berat pada waktu mulai menulis, lama-kelamaan menjadi kurang, sehingga dapat juga mereka menulis beberapa jam lamanya dengan tiada terganggu. Tapi penyakit itu pun berlaku juga pada waktu orang baru menulis, pun ketika hendak mulai menulis, ada kalanya ketika baru saja memegang pena atau ketika jari baru terangkat hendak menulis. Dalam keadaan ini, pada tiap-tiap kali orang hendak menulis atau baru berpikir hendak menulis, timbullah perasaan cemas yang ‘umum, tidak bebas, tepukan hati, kekuatiran praecordiaal (pada bagian perut) dan perasaan badan hangat. Tentu saja oleh kerja penyakit itu tulisan makin menjadi jekek dan tidak tetap, seperti kata Diefenbakh, menjadi kaku dan canggung sebagai ditulis dalam pedati yang terpontang panting di jalan yang buruk, kesudahannya sama sekali tidak bisa terbaca rupanya. Tapi kalau orang itu melepaskan penanya, Meskipun penyakitnya sudah berat sekali, maka segala pengaruh penyakit itu hilang belaka, tangan dan jari menjadi seperti biasa dan tidak kaku lagi, segala kegerakan bisa dilakukan dengan gampang, dan kalau ada juga kadang-kadang pada urat daging atau pada seluruh lengan kelihatan sedikit kelemahan—tangan itu pun bisa dipakai dengan sepertinya untuk banyak pekerjaan yang lain, yaitu untuk kegerakan sebagai pekerjaan menulis juga, yang menuntut persambungan dan kecermatan yang halus.

(Eulenburg's real-encyclopaedie).

Menyembuhkan kekakuan tangan menulis itu lama dipandang orang perkara mustahil. Akhirnya seorang guru pengajaran menulis, Y. Wolff di Frankfort, mendapat suatu jalan mengobatinya, yang telah dipakai dalam banyak hal dengan hasil yang amat baik. Jalan itu bukan saja diaku oleh ahli-ahli besar bangsa Jerman, melainkan oleh ahli-ahli dari negeri luaran juga, istimewa oleh Kharcot dan Vigouroux.

Y. Wolff, yang menaruh anugerah banyak ‘akal dan anugerah penyelidik, sudah memeriksa sementara lama menjalankan pekerjaannya, akan kekakuan tangan menulis, bermain piano dan bermain biola, sambil sudah melawan dengan sedapat-dapatnya akan kekakuan itu, separuhnya dengan memakai tangan sendiri, separuhnya pula dengan gymnastiek yang mempergunakan tali karet dan dengan memijit, sehingga jasanya pun diindahkan oleh sekolah tabib tinggi. Tapi—Meskipun Wolff itu tidak menyembunyikan methodenya, sambil sudah diterangkannya methode itu kepada segala tabib yang hendak mengetahuinyia, tiadalah seorang pun dapat melakukannya dengan hasil yang sama baik. Sebenarnyalah bisa dibilang, bahwa segala hasilnya yang baik itu berdasar pada pekerjaan dan kepahamannya sendiri. Segala urat daging yang perlu ditambah kuat dengan gymnastiek, dapatlah diketahuinyia lebih baik daripada segala tabib yang terpandai memakai listerik. Betul sekali tu-lisan hofraad Slein, bahwa segala kumpoclan luarbiasa dan pelajaran tangan menurut methode Wolff itu tidak dapat ditulis atau dilookiskan, dan hasilnya pun belum dapat diterangkan dengan theorie.

Benar kata Prof. Nussbaum, bahwa sekalian orang yang berpenyakit kekakuan itu di seluruh bumi tidak bisa pergi kepada Wolff, ia pun tidak bisa hidup sampai selama-lamanya dan sekalian penulis yang miskin tidak dapat menoceret pengobatan yang semahal itu. Akan tetapi sebenarnya claka itu sangat besar bagi segala penulis itu, dan obat yang sering kali diberi pertama-tama kepada mereka itu, yaitu jangan menulis, sebenarnya obat yang pedih adanya, karena hidupnya sendiri dan hidup isi rumah tangganya bergantung kepada pekerjaannya itu. Perkara ini sama beratnya dengan melarang tukang jahit akan menjahit, melarang orang yang disuruh akan berjalan, melarang orang ‘alim akan berpikir, dan niscaya inilah juga sebabnya, maka kekakuan menulis itu banyak disangka orang tidak bisa disembuhkan. Sebab tu-kang jahit itu tidak bisa hidup dengan tiada menjahit, dan penulis pun tidak bisa hidup dengan tiada menulis, maka tiada bekerja itu, yang menjadi jalan supaya sembuh, sentiasa pendek saja lamanya, sehingga tiada didapatnya kesembuhan atau barang perbaikan.

Kesukaran ini sudahlah dihabiskan oleh Prof. Nussbaum baru-baru dengan jalan pengobatan-nya yang bersahaja dan tentu. Ia sendiri mengatakan tentang pendapatannya sebagai berikut:

“Dengan penyelidikan yang lebih sempurna nyatalah selalu kepada saya, bahwa apa juga asalnya penyakit itu perlawanan urat (spier-antagonisme) itu telah berubah oleh penyakit, dan selalu adalah perkemutan keras pada urat pembentuk dan pada urat penganjur bersama-sama dengan kelemahan pada urat perentang dan urat pembuka. Pada pikiran saya, kalau kiranya orang membuat tangkai pena yang bisa dipimpin dengan urat perentang dan urat pembuka, gantinya urat pembentuk dan urat penganjur, maka tidak mungkin lagi terjadi kekakuan dan pekerjaan menulis itu sendiri menjadi obat yang terbaik untuk menulis.

Bagi maksud itu saya telah membuat sebuah gelang yang sedikit jorong rupanya daripada getah Perca (gelang itu 3 cm lebarnya, 2—3 mm besarnya dan kuat rupanya). Panjang gelang itu 9 cm dan kelima buah jari itu dapat dimasukkan bersama-sama ke dalam lubangnya. Tapi saya memasockkan saja empat buah jari yang pertama, sedang ibu jari cuma termasuk sedikit dan jari yang keempat sekira-kira sampai kepada tulang pangkal tangan, dan kelingking itu tinggal diluear. Gelang itu cuma bisa saya tahan dengan merentangkan sedapat-dapatnya keempat jari itu, yaite memakai segala urat perentang (extensoren) pada keempat jari tersebut dan urat pembuka pada ibu jari. Kalau urat-urat pembentuk bergerak, maka gelang itu pun jatuhlah. Tangkai pena itu harus diikatkan pada gelang tersebut, sehingga kalau saya meletakkan tangan di atas meja, pena itu pun hampir mengenai kertas.

Makin lebih baik saya merentangkan segala urat perentang itu, makin lebih kuat saya memegang gelang dan pena itu dan saya pun menulis lebih baik. Setelah membiasakan sedikit dengan perkakas ini orang menulis lancar dan baik, sebab kegerakan tangan itu mengatur gelang dan pena.

Ketika saya telah dapat menulis dengan perkakas itu dengan baiknya, lalu saya menyuruh membuat gelang-gelang semacam itu daripada karet yang keras, bermacam-macam besarnya untuck berbagai-bagai tangan. Gelang yang terkecil panjangnya 9 dan lebarnya 3 cm; gelang yang terbesar panjangnya 11 dan lebarnya 5 cm. Sekalian gelang ini bukan bulat betul, melainkan dilendut sedikit seturut jari, supaya jangan menjadi capek.

Kalau orang menulis dengan gelang itu, maka urat yang tidak biasa dipakai dan sudah menjadi lemah oleh penyakit kekakuan itu, terpaksa dipakai dengan sungguh-sungguh, tapi segala urat lawan (antagonisten), yang banyak sekali dipakai ketika menulis dan terkemut dengan keras sekali oleh penyakit kekakuan, sama sekali tidak dipakai, kalau mempergunakan gelang buatan saya. Sebab itu segala urat lawan itu pun tidak lagi menjadi keras, karena sebagai diketahui kekakuan itu cuma jadi, kalau urat-urat itu bekerja.

Sebab itu saya percaya, bahwa bukan saja orang yang berpenyakit kekakuan itu mendapat jalan akan menulis, tapi dengan gelang tersebut penyakit itu pun dapat disembuhkan dengan se-pertinya, dan segala orang berpenyakit itu bisa pula menulis seperti biasa, kalau antagonisme (perlawan an urat) itu sudah bekerja baik pula. Senanglah rasanya, kalau atas jalan begini kita tidak lagi akan mengatakan kepada orang yang disusahkan oleh penyakitnya: “Jangan menulis beberapa lamanya!” Melainkan bolehlah kita mengatakan kepadanya: “Pergilah menulis banyak se-kali dengan gelang ini, karena makin banyak engkau menulis, makin lekas engkau menjadi sembuh, sehingga dapat menulis pula seperti biasa.“

Dari sebab itu kekakuan menulis itu tidak usah lagi menjadikan orang merasa claka dan kehilangan pencarian.

Sebagai sudah dikatakan, kerja gelang Nussbaum itu dibantu lagi dengan memijit atau dengan gymnastiek tangan. Gymnastiek tangan itu sama dengan barang yang dilakukan akan mengobati kekakuan main piano dan main biola.

Kekakuan Bermain Piano dan Bermain Biola

Kekakuan tangan orang yang bermain piano itu banyak cuma ada pada orang yang pekerjaannya tukang piano saja dan istimewa pada orang yang masih muda. Reuter mema'lumkan kabar seorang pengarang musik yang berusia 30 tahun dan amat pandai, yang sudah sepuluh tahun sela-lu ketika bermain piano jari tengah pada tangan kanan itu tidak bisa bergerak karena terangkat dengan sangat kaku. Kebanyakan rupanya sebagai penyakit lemah, tangan menjadi lekas lelah serta merasa keras dan kaku pada segenap lengan sampai kepada bahu. Seorang nona guru musik yang berusia 19 tahun merasa, sesudah beberapa menit saja mulai bermain, bersama-sama dengan perasaan lemah dan berat pada lengan lagi perasaan sangat sakit juga pada sebelah atas lengan di bawah, sehingga segenap urat lengan di bawah itu, istimewa nervus medianus dan ulnaris, tiada ter-jamah rasanya.

Seorang perempuan ahli piano yang ternama ketika membunyikan beberapa socara, merasa bersama-sama dengan perasaan capek pada tangan kanan lagi perasaan kaku pada kelingking, dan ada kalanya seakan-akan “tiada lagi berkelingking” rasanya. Kejadian-Kejadian yang sedemikian ada juga pada tukang-tukang bermain orgel. Banyak tandatanda penyakit yang kecil pun biasa terjadi, sehingga sering kali itulalh sebabnya banyak ahli musik tida bisa maju, Meskipun mereka menaruh anugerah yang baik dan rajin. Kesalahan yang sekecil-kecilinya Sekalipun bisa kentara juga, dari karena tuntutan ‘ilmu bermain musik itu sangat tinggi, sehingga Rubinstein itu pun mengatakan: “Kalau saya tidak belajar cuma satu hari, maka kawan saya dapat mengetahuinyia, dan kalau tiga hari saya tidak berbuat itu, maka orang banyak mengetahuinyia.” Kekakuan pemain biola pada tangan kanan atau tangan kiri, yang memegang penggesek itu, biasanya seperti perasaan sakit karena capek, terkadang-kadang karena kaku. Berger pernah mengobati seorang ahli, yang sementara bermain merasa, bersama-sama dengan kesakitana yang menuseok pada bagian belakang bahu kiri, lagi kekakuan yang kentara pada jari dan pada tangan. Penyakit yang sudah setahun lamanya itu, niscaya telah terjadi oleh sikap yang lain dari biasa pada waktu bermain. Berger dapat mengeta-hui, bahwa bagian tulang belakang yang keempat dan kelima bertentangan dengan dada itu tidak dapat ditekan. Banyak kali terasa kesakitan pada pergelangan tangan kanan ketika belajar dengan pergelangan itu; ketika menggesek staccato (berapa bunyi suara yang disentuk dengan pendek) dan ketika menggesek martellato (gesekan pendek lagi amat kuat dengan ujung penggesek).

Ada kalanya kesakitan itu terasa juga pada pergelangan pertama pada tulang pangkal jari sebelah kanan, sering kali pula pada pangkal ibu jari sebelah kiri. Tambahan lagi ruas ibu jari yang penghabisan itu bisa bengkak pada bagian kiri dilocar; bagian yang bengkak itu lama-kelamaan mengandung lendir, sehingga mengadakan kesakitlan karena selalu ditekan. Penyakit ini sebetul-betelnya bukan penyakit kekakuan bermain biola, dan memang jadi saja, kalau pemain biola itu biasa menekankan ibu jarinya sebelah kiri pada leher biola itu, yaitu suatu kebiasaan salah yang patut ditinggalkan.

Segala macam penyakit pemain biola yang sudah disebutkan itu bisa disembuhkan dengan se-pertinya menurut pengobatan yang baik. Prof. Zabudowsky yang terkenal di Berlin memujikan baik dipijit dan bersenang. Pijitan itu meniadakan segala zat capek dan kesakitan yang telah terkumpul oleh perjalanan darah yang lebih ce-pat. Saban kali sesudah memijit, hendaklah anggota yang sakit itu dibebat kencang dengan kain kasa dan kain pembebat sepuluh hari lamanya. Kalau pembebat itu ditanggalkan dan orang tiada merasa sakit lagi, maka bolehlah orang bermain biola pula, tapi hendaklah saban kali bermain 10 menit orang berhenti 5 menit lamanya. Waktu berhenti itu lama-kelamaan dikurangkan. Hendaklah pada permulaannya pun segala musik yang sukar (studies dan bravourstukken) jangan terlalu banyak dimainkan berturutan, melainkan diselang-selangi dengan musik yang lebih gampang.

Penyakit yang lebih berat dan lebih sukar disembuhkan ialah segala penyakit kekakuan betul, yang biasa terjadi pada pemain-pemain biola, yaitu bilamana jari telunjuk kiri terlepas pada toonladder dan tusukan berturut-turut dengan cepat pada pergelangan siku kanan; dan lagi kesakitan menusuk tiba-tiba pada ujung-ujung jari tangan kanan dan pada lengan kiri di atas. Tusukan semacam itu kerap kali dia-dakan oleh pelajaran-pelajaran octaaf dan glissando. Cara mengobatinya seperti cara di atas. Tapi sering kali jadi kebalikannya. Sebab itu seorang kapelmeester di Crefeld menurut keberaniannya sudah mengadakan suatu ‘ilmu yang baru. Segala tali biola itu dibalikkannya, sehingga tali yang berbunyi rendah ditempatkannya pada sebelah kanan dan yang berbunyi tinggi pada sebelah kiri, lalu digeseknya dengan tangan kiri.

Begitulah juga, Meskipun amat kadang jadinya, tukang-tukang gambar mendapat penyakit kekakuan tangan, sehingga dengan sukar atau tidak mungkin lagi mereka memegang perkakas gambarnya.

Onimus menulis pula tentang kekakuan orang pengetuk kawat (telegrafistenkramp), yang kita sebutkan karena sama halnya. Pengetuk kawat itu ada kalanya tidak dapat lagi mengetuk beberapa huruf dengan terangnya, sebab tangannya menjadi kaku dan keras. Kekakuan itu terjadi perlahan-lahan pada segala jari dan pada pergelangan tangan, sambil tangan dan lengan itu gemetar, kalau hendak dipakainya. Sepanjang Beard penyakit itu kerap kali jadi dan ditunjukkannya janlan akan menolak (prophylaxis), baiklah di atas perkakas penekan itu dibubuh getah Perca. Tapi prophylaxis yang terbaik dan juga menjadi obat yang terbaik akan menambahkan kecakapan dan kekuatan tangan, ialah gymnastiek tangan yang teratur. Kita telah menerangkan, bahwa kekakuan menulis itu asalnya pada keadaan keras pada perkumpulan beberapa urat dan pada kelemahan urat-urat pelawanniya (antagonisten).

Begitulah kejadiannya penyakit kecemasan tu-kang-tukang musik. Sudah terang, bahwa perbaikan yang bertambah-tambah dengan aturan dan bagus pada segala urat daging itu niscaya akan mencegah serta menolak penyakit-penyakit, yang biasa jadi pada orang dalam beberapa macam pekerjaaan.

Kita hendak memperlihatkan kepada pembaca socatu contoh daripada gymnastiek tangan yang teratur oleh Ernst.

Pelajaran yang bebas ialah badan gymnastiek, yang sudah didapat oleh Ernst. Segala pelajaran itu harus dilakukan dengan kedua lengan, yang bebas betul dan tiada memakai tumpuan, yaitu dengan menganjurkan lengan ke muka dan ke-belakang. Pada kedua kegerakan itu bolehlah tangan mengadakan empat macam sikap.

Ialah: 1. rugpositie atau sikap dengan punggung tangan (kuku atau punggung tangan dihadapkan ke atas); 2. palmpositie atau sikap dengan tapak tangan (kelingking ke dalam, tapak tangan ke atas); 3. positie dengan ibu jari (tempat ibu jari dihadapkan ke atas); 4. positie dengan kelingking (sikap ini jadi, kalau tangan yang membuat rugpositie diputarkan, sehingga kelingking menghadap ke atas). Pada sikap permulaan (uitgangspositie) haruslah tangan direntangkan sama sekali, jari terkunci dan ibu jari tertekan sedikit pada jari telunjuk. Semua pelajaran itu haruslah mulai dengan sikap permulaan lalu keempat positie tersebut dilakukan. Adalah pelajaran buat pergelangan tangan, buat bagian tangan di tengah dan buat segala jari.

  1. Membentukkan pergelangan tangan ke atas dan ke bawah.
    1. Membentukkan ke bawah. Dengan jari yang terbuka sama sekali dan terkunci tangan dibentukkan sedapat-dapatnya ke bawah, sehingga sekira-kira dijadikannya bersama-sama dengan lengan sebuah penjuru sikusiku.
    2. Membentukkan ke atas, sedapat-dapatnya juga.
    3. Melambai tangan dengan lambat, yaitu membentukkan ke atas dan ke bawah dengan perlahan-lahan.
    4. Melambai tangan dengan lekas.
  1. Membentukkan pergelangan tangan kesisi. Dengan membuat sikap permulaan kedua tangan yang direntangkan itu mula-mula dibentukkan keluear. Setelah itu dilambai dengan lambat dan dengan lekas kesisi.
  2. Memutar pergelangan tangan. Tangan itu boleh diputar ke dalam dan keluear. Perjalanen ujung jari yang terkunci itu mengadakan suatu bulatan, kalau lengan didiamkan.

Sebagai sudah dikatakan, perlulah juga segala pelajaran ini dilakukan menurut rugpositie, palmpositie dan positie dengan kelingking, dan lagi dengan merentangkan lengan kesisi sebelah menyebelah. Pelajaran dengan bagian tangan di tengah buat kekakuan yang biasa, cuma dilakukan dengan melekukkan tangan. Supaya pelajaran ini berlaku sentiasa dengan sempurnanya, haruslah ibu jari dan kelingking itu pun dipertemukan dengan segala jari yang lain.

Semua pelajaran jari ini terutamalah menjadi maksud gymnastiek, dan banyak sekali bagianinya, karena hendak dibiasakannya 14 buah pergelangan tulang. Pelajaran itu terbagi-bagi menjadi pelajaran-pelajaran merentangkan, pelajaran-pelajaran dengan beberapa ruas jari, sebuah atau lebih banyak jari, pelajaran-pelajaran dengan banyak ruas jari bersama-sama, pelajaran-pelajaran yang terhubung.

  1. Pelajaran merentangkan.
    1. Merentangkan dan menguncikan ibu jari. Ibu jari itu direntangkan sedapat-dapatnya keluar, lalu dipertemukan pula dengan semua jari yang lain.
    2. Merentangkan dan menguncikan jari telunjuk. Ibu jari jangan ditekankan kepadanya, melainkan tinggal direntangkan.
    3. Merentangkan dan menguncikan jari mati, sedang jari telunjuk direntangkan.
    4. Merentangkan dan menguncikan jari manis, sedang telunjuk dan jari mati direntangkan.
    5. Merentangkan dan menguncikan jari kelingking, sedang segala jari yang lain itu tinggal direntangkan.
    6. Merentangkan dan menguncikan semua jari.
    7. Merentangkan ibu jari dan kelingking, lalu telunjuk dan jari manis; setelah itu menguncikan telunjuk dan jari manis, lalu ibu jari dan kelingking.
    8. Merentangkan kedua jari yang terkunci telunjuk dan jari mati, sedang semua jari yang lain tinggal terkunci.
    9. Merentangkan kedua jari yang terkunci kelingking dan jari manis.

Pelajaran merentangkan itu gampang, tapi melakukannya itu baru boleh dikatakan sudah betul, kalau segala jari yang harus direntangkan itu, dapat dipisahkan dengan secepat-cepat dan sebaik-baiknya daripada segala jari yang didekatnya, dan segala jari ini pun tiada lagi hendak menurut kegerakan tersebut.

  1. Pelajaran dengan beberapa pergelangan jari atau dengan ruas jari. Pelajaran ini yaitu membentukkan dan memutarkan jari.
    1. Membentukkan jari yang terkunci dan direntangkan ke dalam bagian tangan di tengah.
    2. Membentukkan ibu jari yang direntangkan.
    3. Membentukkan telunjuk yang direntangkan, sedang segala jari yang lain tinggal terkunci dan direntangkan.
    4. Membentukkan jari mati, jari manis dan kelingking atas jalan tersebut juga.
    5. Membentukkan ibu jari dan kelingking yang direntangkan.
    6. Membentukkan telunjuk dan jari manis yang direntangkan.
    7. Membentukkan jari mati dan kelingking.
    8. Membentukkan telunjuk dan kelingking dan seterusnya.

Pelajaran ini boleh pula dilanjutkan dengan banyak pelajaran yang lebih berat; kalau orang sudah pandai dengan pelajaran di atas, maka hendaklah dilakukan beberapa hal yang terhubung, umpamanya memutar dua buah jari pada sebuah tangan, memutar sebuah jari sementara jari yang lain itu dibentukkan dan direntangkan.

Pelajaran demikian juga harus dilakukan dengan ruas jari yang kedua. Sementara itu hareslah ruas jari yang ketiga (ujungnyia) sama sekali direntangkan. Kalau tidak jadi, hendaklah ruas ketiga itu dengan pertolongan tangan yang lain disamaratakan dengan ruas kedua, dan sikapnya pun harus tinggal lemah. Kemudian niscaya jadi juga membentukkan dan merentangkan ruas jari ketiga dengan kekuatan sedikit.

  1. Pelajaran dengan rupa-rupa ruas jari bersama-sama.
    1. Membentukkan kedua ruas ibu jari sehingga ibu jari itu terkemut sekali rupanya.
    2. Membentukkan ketiga ruas jari telunjuk, sedang segala jari lain yang direntangkan itu harus dipegang dengan tangan yang lain, supaya jangan bergerak bersama-sama.
    3. Membentukkan ketiga ruas jari mati, lalu jari manis dan jari kelingking.
    4. Membentukkan semua ruas jari bersama-sama. Di sini harus mulai dengan merentangkan segala jari serta dengan kedua ruas yang pertama pada ibu jari.
    5. Membentukkan semua ruas jari kelingking dan ibu jari, lalu jari mati dan jari manis, dan seterusnya berpasang-pasang.
    6. Membentukkan ruas kedua pada ibu jari, ruas ketiga dan kedua pada telunjuk dan seterusnya.
    7. Membentukkan ruas kedua dan ketiga pada segala jari yang beruas tiga buah bersama-sama; lalu merentangkan segala ruas yang ketiga.

Barang siapa mempelajarinya, niscaya akan mendapat dan melakukan lagi bermacam-macam pelajaran yang lain.

  1. Pelajaran terhubung, yaitu pelajaran merentangkan, membentukkan dan memutar yang terhubung atas rupa-rupa jalan, baik dengan sebuah jari, baik dengan beberapa jari bersama-sama.

Umpamanya, merentangkan dan menguncikan telunjuk serta pula membentukkan dan merentangkan ruasnya yang kedua dan yang ketiga.

Merentangkan dan menguncikan telunjuk serta dengan membentukkan dan merentangkan ketiga ruas jari mati.

Memutarkan sebuah jari bersama-sama dengan membentukkan hanya ruas yang ketiga pada jari lain. Membentukkan ruas ketiga pada sebuah jari, lalu jari direntangkan, dan setelah di-kuncikan lalu ruas ketiga itu pun direntangkan. Pelajaran ini tentulah harus banyak macamnya. Bersama-sama dengan pelajaran yang bebas baik pula, kata Ernst, menurut pelajaran dengan memakai meja. Orang yang melakukannya berdiri dekat meja meletakkan kedua tangannya di atasnya, sehingga tapak tangan dari pangkal tangan sampai ke ujung jari lekat pada meja, dan punggung tangannya dengan lengannya menjadi-kan sebuah penjuru siku-siku.

Dengan sikap begitu hendaklah tiap-tiap jari atau semua jari bersama-sama direntangkan dan diangkat. Lalu kedua tangan itu diletakkan dengan punggungnya lekat pada meja, dan dengan sikap ini jari itu pun diangkat. Meletakkan jari itu dilakukan bersama-sama dengan duduk. Ibu jari diletakkan dengan terentang pada tepi meja, sedang segala jari yang lain dikoonencikan betul di bawah tepi itu, lalu telunjuk diletakkan di atas serta ibu jari ditarik, dan lalu jari mati diletakkan serta jari telunjuk ditarik dan seterusnya. Meletakkan jari yang berikut itu harus diperhatikan lebih baik. Akhirnya pelajaran bergantiganti ini harus dilakukan banyak kali dan makin cepat: meletakkan ibu jari dan jari mati, lalu telunjuk dan jari manis, lalu jari mati dan kelingking dsb.

Dan lagi baik sekali dilakukan pelajaran dengan tongkat.

Perlu buat maksud ini sebatang tongkat, yang sama panjang dengan tongkat orang, ditengahnya besar, sehingga mudah dipegang dengan tangan.

Tongkat itu hendaklah sebelahnya lebih berat daripada sebelah yang lain, daripada kayu yang keras dan licin sekali.

Pelajarannya yaitu memusingkan tongkat itu dengan pergelangan tangan dan dengan jari. Keberatan tongkat itu diletakkan di antara telunjuk dan jari mati lalu dipusingkan, sehingga berpindah-pindah tempatnya, di antara telunjuk dan jari manis, di antara jari manis dan kelingking, lalu di antara telunjuk dan jari mati pula dsb.; tongkat selalu dipegang dengan dua jari sambil memakai bermacam-macam ruas jari; memainkan tongkat sementara berdiyalan, berdiri dan duduk; mengibaskan tongkat, yaitu tongkat dipegang dengan sebuah tangan pada keberatannya, lalu tongkat meluncur kepunggung tangan, sambil tangan diputarkan, sehingga tongkat dapat dipegang pula. Kegerakan ini hendaklah dipelajari lama dan semakin cepat, sehingga tongkat itu dapat mengadakan sebuah bulatan yang tidak putus-putus.

Siapa sudah pandai akan pelajaran ini, hendaklah ia maju, membuangkan tongkat ke atas pada ketika hendak dikibaskan, sehingga tongkat itu berputar di atas lalu ditangkap pula dengan tangan. Tong‘... itu pun lama-kelamaan dibuangkan lebih tinggi, sehingga berputar dua, tiga, empat atau lebih banyak kali di atas. Akhirnya pelajaran dapat ditambah bagusnya dengan mempergantikan tangan kanan dan tangan kiri, membuangkan dan menangkap tongkat itu.

Siapa cukup kerajinannya dan kesabarannya akan melakukan pelajaran ini menurut aturanya, siapa saban hari melakukan gymnastiek tangan dan jari ini Sekalipun cuma seperempat jam lamanya, niscaya akan mempunyai sampai tua usianya suatu tangan yang tetap dan tentu, tidak perlu lagi memakai barang obat buatan untuk melawan penyakit gemetar, dan lebih daripada semua perkara, ia pun tiada lagi akan menjadi se-nasib dengan banyak orang, yang harus meletakan pekerjaannya dengan pendek atau lama wak-tunya, karena kegerakan tangannya berpenyakit.

Tabiat yang Terlalu Nyata Suka Menurut Kekurangan dalam Menulis, dalam Berkata, dan dalam Mendengar

Sering kali dalam hal ‘umum seorang menusia terjadi perubahan-perubahan seketika dan hal-hal yang ku-rang baik, lamanya hanya beberapa jam, sehari atau lebih lama, ada kalanya juga cuma beberapa sa'at, dan lain sekali rupanya daripada kehi-dupan yang biasa pada orang itu. Ada orang yang sehat lagi gembira hati sekonyong-koriyong menjadi murung dan bersusah hati. Ada orang yang tiba-tiba dengan tiada barang sebab menjadi gembira dan bersuka ria sebagai kanak-kanak. Dan ada pula yang terpaksa menjadi takut dan ku-atir.

Tapi hal yang terlebih penting ialah hal-hal kurang baik yang seketika saja dan berhubung dengan kekurangan tenaga ruh, serta dengan gangguan sedikit dalam perpikiran dan anggapan ruh, dengan perasaan lesu dan tawar hati. Hal-hal ini gampang sekali berubah menjadi kebingungan yang tentu dan kehabisan ingatan. Biasanya bersama-sama dengan itu orang menjadi lekas sekali marah, belisah dan panas hati, karena sangat tergerak hati, atau menjadi dungu sama sekali dan kurang peduli. Sering kali orang melihat pula akan kehendak hati yang tiada tertahan setelah habis berpikir-pikir, sehingga perkataan terdorong, tulisan telanjur, orang berkata menggagap dsb.

Tabi'at yang terlalu nyata suka menurut kekurangan dalam menulis, dalam berkata dan dalam mendengar itu sentiasa ‘alamat kepenatan ruh dan kalau tabi'at itu tetap juga, maka biasanya ialah ’alamat kecemasan. Orang sudah mengetahui, bahwa kekurangan berkata-kata itu jarang terdapat pada orang tani. Orang tani itu berpikir lebih bersahaja, bukan semuskil orang yang selalu bekerjia dengan otak. Segala pikiran itu tidak gampang mengejutkan orang tani, tambahan lagi ia berkata sedikit lambat. Kecemasan berkata-kata itu kebanyakan mencampurkan bagian-bagian percakapan yang hampir sama maksudnya dan tiada dapat dipisahkan. Horsslin menyebutkan suatu contoh seperti ini: “mencari tindakan yang perlu”, gantinya mengatakan: “melakukan tindakan yang perlu serta mencari daya upaya.” Dan lagi bisa jadi orang membuat perkataan yang baru sama sekali dan menghubungkan kata-kata yang sebetulnya tidak boleh berhubung. Ada orang cemas yang sangat kurang ingat dan kurang peduli, sehingga mereka berkata-kata sebagai orang gila rupanya. Lagi segala kesalahan tulisan, yang memindahkan dan melupakan huruf dan suku kata, tulisan yang kurang terang, co-reng moreng dan berbagai-bagai besar hurufinya, dan kalimat-kalimat yang tiada sempurna, menyatakan bahwa kerja otak mulai menjadi lemah.

Kalau penyakit cemas itu disembuhkan, maka tabi'at menurut kekurangan dan kesalahan dalam berkata, dalam menulis dan dalam mendengar itu pun hilang. Baiklah akan melawan kekurangan berkata itu tiap-tiap hari belajar declamatie, mengatakan sya'ir yang sudah dihapalkan. Perlahan-lahan, terang, bunyi huruf sempurna dan te-rutamalah berkata nyaring dan betul itulah obat yang paling berguna. Segala gangguan kecil itu adalah dalam banyak macam pekerjaan, misalnya bagi tukang-tukang pidato, besar sekali pengaruhnya.

Bukan sedikit tukang-tukang pidato, yang pertama-tama kalinya mendapat hal-hal yang kurang baik itu dalam dirinya, menjadi takut akan mendapat kelemahan otak. Dan alangkah kerap kali hal-hal itu diterangkan salah. Dr. Romer mence-riterakan hal seorang pemimpin agama, yang sudah bekerja terlalu banyak, sehingga di atas mimbar sembahyang “Bapa kami” itu selalu disebutnya dengan salah, lalu ia pun dituduh biasa minocm sampai mabuk, Meskipun namanya memang baik juga. Tuduhan ini teranglah dialaskan orang pada pengarokh minuman keras, yang sama rupanya dan amat terkenal, sehingga dengan sedikit cemburu hal samanya manusia itu pun diterangkan nya “begitu juga”, Sungguhpun asal segala kekurangan yang tersebut itu gangguan kecil adanya: bekerja terlampau banyak, baik dengan ruh baik dengan badan; dan lagi dukacita, kemarahan, kesukaan tiada tersangka, ketakutan, kekuatiran, malu, kepicikan, kepenatan sarap, kesakitan, kesusahan, terkejut, kehilangan darah, kerja kepanasan pada otak, kurang tidur dari biasanya, keterlaluan hawa nafsu dan minuman.

Dengan mengatakan semua asal kekurangan itu sudahlah disebutkan juga, apakah akan dilakukan untuk melawan segala gangguan kecil tersebut. Kebanyakannya dengan tiada bekerja lama atau tidak lama, dengan bersenangkan diri seketika, dapatlah pekerjaan anggota badan itu dibetulkan pula.

Suatu contoh yang ‘ajaib adalah disebutkan oleh Dr. Romer. Diceriterakannya hal seorang, yang dikenalinya; tuan itu sebetulnya tidak boleh dibilang berpenyakit cemas biasa; oleh pengalaman nya sendiri dan oleh perkataan orang lain dapatlah diketahuinyya, bahwa gangguan kesehatannya mulai kelihatan pada kekusutan ruhnya.

Terkejut ia melihat, bahwa sudah dibuatnya beberapa salah pada tulisannya, ada kalanya diluapanya beberapa huruf, lalu dilampauinyya sebuah kata, dan lagi ganti kata yang dimaksudinyya di-tulisnya kata yang lain, tapi kesalahan itu baru dilihatnya ketika tulisannya dibacanya pula. Pekerjaan menulis kedua kalinya itu pun disertai dengan banyak hal yang kurang baik. Kemudian diketahuinyya, bahwa ketika membaca kedua kalinya, juga sya'ir karangan orang yang dikenali nya betul, sehingga mudah ia mengertinya, adalah dirasanya kesukaran yang ganjil, karena dengan sukar saja dapat dipahamkannya maksud pengarang, serta beberapa perkataan hanya dengan pu-tus-putus dapat disebutkannya, dan lagi persambungan segala baris kata itu tidak bisa di-turutnya, Ataupun takut ia nanti salah menurutnya.—Perkara ini lebih buruk lagi ketika bersya'ir (improviseeren) atau berkata-kata dengan bebas, karena segala pikirannya tiba-tiba tidak bisa lagi dipakainya dengan bebas seperti dahulu, atau hanya dengan sukar benar bisa didapatnya kata-kata yang sebaiknya, Ataupun ia mulai menggagap dsb. Segala gangguan yang sedemikian menyatikan kepadanya, bahwa kesehatannya telah berkurang, dan sungguh dilihatnya berulang-ulang juga, bahwa adalah berhubung dengan itu penyakit cemas lain, yang dahulu tidak kelihatan sebagai tanda-tanda penyakit. Dari karena pengalam-an yang sedih itu, maka dengan selekas-leksnya hendak dilawanniya akan pengganggu kesehatannya itu. Kehendaknya jadilah juga, oleh karena tetap ia pergi tidur dengan lekas, kurang bekerja atau pergi berjalan-jalan dengan senang.

Suatu hal yang lebih berat adalah dbawah ini, menurut ceritera Prof. Binnswanger kepada kita.

Seorang dokter yang berpenyakit turunan, ber'akal budi, tapi semenjak waktunya bersekolah tinggi ada kalanya merasa kepenatan ‘akal bersama-sama dengan rupa-rupa perasaan badan yang ku-rang enack, dari sebab pekerjaan tabib yang amat berat dan dari sebab kesengalan yang sedikit keras pada pergelangan, maka didapatnya suatu penyakit yang baru. Hal-hal yang paling berat ialah: 1. ingatan berkurang-kurang, melupa perkara-perkara biasa, kebanyakannya perkara kecil; 2. tidur terganggu; 3. gangguan pada perasaan; 4. gangguan dalam berkata-kata. Saya beri per-hatian pada hal yang keempat serta memberikan keteranganinya sendiri: meninggalkan huruf serta mempergantikan huruf dan suku kata, misal-nya, seniri sebetulnya sendiri, ali sebetulnya ahli, tanga sebetulnya tangga, pekejaan sebetulnya pe-kerjaan, pemadangan sebetulnya pemandangan. Seri ng kali huruf yang nanti datang kemudian, tapi sudah ada dalam ingatan, dibubuh pada tempat yang salah atau sebelum waktunya, misal-nya daka terbuka sebetulnya dada terbuka, per-nakas penolong sebetulnya perkakas penolong. Baru saja suku yang pertama disebutkannya, la-lu kata itu diputuskannya, sebab diketahuinya akan salahnya. Gangguan sedemikian hanya jarrang jadinya. Orang itu sangat terosik hatinya, karena pada pikirannya otaknya mulai menjadi lemah. ’Ajaib sekali keteranganinya, bahwa ruhnya barangkali sudah kejangkitan gagapan seorang yang berpenyakit pitam (paraliticus), yang saban hari dilawatinya. Pelawatannya itu sudah diputuskan-nya, hendak menjauhkan pikiran yang menakuti hatinya, bahwa ia pun nanti mendapat penyakit gagap itu. Setelah keadaan badannya diperiksa dengan saksama dan menjadi nyata terang kepada nya, bahwa pikiran yang mendukacitakan hatinya itu tiada beralasan, dan setelah ia disuruh me-Yakukan perjalanan untuk bersenangkan diri, maka ketakutan yang mendukakan hati itu hilainglah serta dengan kekurangan dalam berkata-kata.

Hal Malu dan Keputusan Akal

Dalam hal malu adalah hal-hal, yang beruban menjadi pengaruh besar juga atas pemahaman dan dalam mempergunakan segala perhatian manusia. Selanjutnya adalah bayang-bayang pikiran yang kurang terang, keputusan ‘akal dan kege-lapan pemandangan ruh; tambahan ada sering kali pula sesuatu hal yang menyembunyikan manusia di hadapan dunia luaran, dan sesuatu belenggu ruh dan tiada cakap, sehingga orang tiada mengetahui betul lagi akan persambungan segala perkara, sentiasa memutuskan tali persambungannya dan tidak bisa maju. Tapi ada pula hal-hal yang terjadi oleh kedatangan takut dan putus asa, yang kerap kali terlepas keluar batin manusia.

(Dr. Kokh).

Hal malu dan segala hal gangguan ruh yang bersama-sama dengan itu, sepanjang nasihat yang lama, boleh ditolak dan dikalahkan dengan sepertinya, yaitu dengan menggembirakan dan menyedarkan dengan ‘akal akan perasaan kekuatan, perasaan mengindahkan diri sendiri, perasaan kekuasaan atas segala hal ihwal, perasaan bahwa keinsafan orang makin lebih baik, kalau kekuatan, kepahaman dan tenaga sendiri itu diasah. Perasaan menguasai segala hal ihwal itu mengurangkan hal yang selalu mengganggu, karena kekuatan itu terdapat, kalau pada segala ketika barang yang perlu itu dapat diadakan. Hendaklah sefalu diingat orang, bahwa dengan tidak usah minta pertolongan kepada orang lain, melainkan kalau diwajiibkan hidup dengan belanja orang lain, dapatlah juga orang mengadakan harta dan rupa-rupa kesukaan, kesehatan, kekayaan, kuasa, hormat, dsb. Dari karena menggembirakan perasaan tersebut, tiadalah orang takut lagi akan pengaruh besar daripada segala hal ihwal yang kelihatan.

Tapi lain daripada itu oleh karena perasaan keindahan diri, maka kekuasaan baru atas gangguan hati itu mengadakan juga suatu usaha, yang membantu orang, supaya ia insaf pula akan tenaganya sendiri.

Perasaan menyukakkan hati yang berhubung dengan itu amat baik pula akan melemahkan barang yang kurang berguna dalam mengindahkan, sehingga sedemikianlah hal kusut atau malu itu dilawan.

Akan kebaikan nasihat itu bagi orang, yang telah beroleh paedah dari padanya, sekali-kali tiadalah hendak kita kecilkan, melainkan sebaliknyalah. Ta-pi bagi orang yang tidak seuntung itu kita nasi-hati, supaya seboleh-bolehnya dilakukannya adem-gymnastiek. Sampai sekarang ialah satu-satunya obat tubuh akan menghilangkan hal takut, tidak bebas dan malu. Bernapas panjang banyak kali dan menahan napas pada ketika atau sebelumnya malu itu hendak datang, niscaya menjadikan orang suka hati dan tenang.

Keputusan ‘akal itu banyak terjadi pada orang yang berpenyakit sarap. Hampir selalu kelemahan sarap itu menyebabkan kekurangan tenaga akan mempersuatukan perhatian pada suatu perkara, misalnya ketika menulis atau berpikir. Ruh itu melayang-layang pada segala pihak dan lalu hilang dengan segera ke dalam mimpiian, kalau orang ber-usaha juga mengumpulkan segala pikirannya.

Hal ini nyatalah, bahwa dari karena bayang-bayang pikiran yang tersemunyi itu sangat menggerakkan perhatian, maka tidak putus-putus perhatian itu pun tertarik oleh segala perasaan yang baru. Sebab itu tidak mungkin orang menghubengkan beberapa buah pikiran pada suatu pasal, yang ditimbulkan oleh suatu perasaan, serta mengeluarkan segala pikiran itu.

Atau pula berbagai-bagai perasaan datang bersama-sama, yang berhubung dengan pasal itu, dan dari sebab keduanya mempengaruhi satu dengan yang lain, maka tiap-tiap usaha akan memperhubungkan segala pikiran itu tidak mungkin adanya. “Segala sesuatu bertiup dalam aku, yaitu barang yang terjadi keliling aku dan di dalam aku.” “Segala sesuatu berpusing di dalam kepalaku, sebab terlalu banyak perkara yang hares kupikirkan sekali.” Bersama-sama dengan keadaan jiwa yang gampang sekali digerakkan, maka gangguan tersebut terutamalah menyebabkan, sehingga segala orang yang berpenyakit itu dengan sendirinya merasa takut akan bersama-sama dalam perkumpulan besar, tinggal di tempat yang ramai atau diam dalam kamar, yang ada di dalamnya rupa-rupa barang yang mengusutkan perhatian. Kalau urat sarap terlampau lemah, maka ‘akal itu pun bisa kehabisan kuat betul. Hal ini nyata dalam kelemahan ingatan, istimewa akan barang yang baru terjadi, dalam hal lambat dan berat memahamkan, dalam lambat berpikir dan ketumpulan khayal dan pendapat. Banyak murid sekolah, yang dalam keadaan ini dipandang bodoh, kemudian nyata amat baik ’akalnya. Ada kalanya tiap-tiap usaha akan menguasai ‘akal atau akan mempersuatukan perhatian, Meskipun usaha itu kecil, mengadakan kesakitan pada anggota badan yang lain.

Hal tidak cakap menguasai ‘akal itu nyata atas rupa-rupa jalan; orang yang berpenyakit demikian bisa membaca berulang-ulang beberapa baris bacaan, sedang tidak mengerti akan isinya, Ataupun tiada dapat mengatakan dengan ringkasnya barang yang sudah dibacanya. Kalau diletakkannya bukunya, sebab hendak dibacanya buku yang lain, maka segera pula berhenti ia membaca; ruhnya meninggalkan pasal bacaannya lalu menguasai akan dia, sedang sebetulnya ialah harus menguasai ruh itu. Orang itu sentiasa sebagai hal orang yang bermimpi-mimpi saja, sehingga dilopepanya sama sekali barang yang hendak dibuatnya tadi.

Seorang pemimpin agama, yang kelemahan otak, menceriterakan bahwa sampai cakap ia membicarakan pasal-pasal yang sulit dan membaca karrangan yang dalam-dalam, tapi saban kali ia hendak mengimla'kan atau hendak mengatakan suatu khotbah, maka lantas saja sesat ia dan kehilangan kekuasaan atas segala pikirannya. Hal yang amat dekat kepada kekurangan menguasai ‘akal itu, dan yang sebetulnya sebagian daripada itu, ialah yang disebutktan “heterophenie”, yaitu orang mengatakan lain daripada yang dipikirnya, Ataupun lawan barang yang hendak dikatakannya dan yang sebetulnya tiada hendak dikatakannya, tapi perkataan itu keluar juga daripada mulutnya dahulu daripada barang yang hendak dikatakannya. Perkara ini terjadi juga pada orang yang sehat, tapi pada orang yang berpenyakit otak hal itu buruk adanya. Seorang perempuan yang otaknya dan sumsumnyia sudah sangat lemah, kerap kali terpaksa mengatakan berbagai-bagai perkataan sampai didapatnya perkataan yang hendak dikatakannya. Sebelum ia mendapat panyakit cemas itu, tiadalah pernah diketahuinyia akan kelemahan itu, tapi semenjak ia cemas itu selalu adalah padanya kelemahan itu.

(Beard).

Keputusan ‘akal itu hanyalah bisa disembuhkan, kalau kecemasan yang menjadi dasarnya itu dikalahkan. Untuk itu berguna sekali dipakai aturan menyenangkan pikiran, seperti yang diterangkan dengan jelasnya dalam buku karangan Gebhardt: “Bagaimana saya menjadi sehat, kuat dan giat?”

Hal Malu Berbuat di Muka-Muka, Penakut Examen, Penakut Berkata-Kata

Alangkah kerap kali seorang muda melihat ben-teng pengharapannya itu runtuh pada ketika ujian yang malang! Sering kali orang yang paling malu, ialah orang yang menaruh sebab amat sedikit saja akan takut. Begitulah sebaliknya, orang yang kurang pengetahuannya itu sering kali ber-untung, lebih dahulu sampai kepada maksudnya daripada orang pandai, yang dari sebab malunya seakan-akan hendak disembunyikannya pengetahuannya di hadapan penguji yang kurang baik. Tapi amat banyak kali terjadi, murid yang sebetulnya terpandai itu memberikan jawab yang salah dalam examen.

‘Umumlah diketahui orang, bahwa ruh yang telah bekerja banyak pada waktu bersedia itu, menyadikan orang gampang sekali terganggu dan bisa naik menjadi marah dan gusar; tambahan ada sering kali hal-hal yang mendukacitakan, perasaan penat, kuatir dan gangguan-gangguan yang sema-camnya; lagi sering kali kehendak itu sudah lemah betul. Akan hal yang kurang menyenangkan dan berlawanan itu, hal menggusari dan kurang peduli itu, biasanya disabarkan saja oleh orang yang diam serumah, dan orang yang akan diuji itu pun biasanya tiada digusari orang. Tapi lebih celaka lagi, hal ini pun sayanglah bukan jarrang jadinya, kalau pada dasarnya hal gampang marah itu bertumbuh hal-hal pikiran terpaksa, perbuatan terpaksa dan ketakutan terpaksa. Inilah segala keadaan pikiran, kekurangan dan perbuatan, yang memaksa dengan tiada terlawan, sehingga tidak mungkin orang menjauhkanniya, Meskipun ia tahu betul akan barang paksaan, keganjilan dan juga kurang patut itu.

Bahwa oleh persediaan untuk examen itu terjadi pikiran-pikiran yang terpaksa, adalah diperlihatkan oleh Dr. Skhols dengan ceritera yang berikut:

Seorang laki-laki muda dari pamili yang baik, keadaan hatinya terpuji baik dan kehiduppanya dalam rumah orang tuanya amat selamat, pada ketika baru-baru dilakukannya ujian sekolah tinggi, ditimpa kedokaan, karena ibunya yang dikasihinya amat sangat, meninggal dunia. Sepanjang ‘adat negeri kediaman orang tuanya, maka mayat itu diusung orang ke tempat kuburan, dan pada ketika terlihat oleh orang muda itu akan segala pengusung itu berjalan dengan sama lenggangnyia, maka hal itu pun tiba-tiba terlalu sangat menertawakan dia, sehingga sukar sekali ia hendak menahan akan tertawanya itu, dan pada segenap hari duka itu hatinya pun selalu me-naruh perasaan yang malang atau sebetulnya ku-rang patut lagi sengsai.

Saya pun mempunyai seorang sahabat, yang pada waktu sudah dekat sekali kepada ujian akhir sentiasa melihat ke bawah bangku, serta dengan tiada sengaja tertawa melihat rupa segala kaki, dan pikiran yang terpaksa ini hampir menjatuh-kan dia dalam ujian.

Dr. Romer telah mengamat-amati seorang anak laki-laki beberapa tahun lamanya, yang saban kali di muka waktu ujian sekolah hampir tiada lagi dapat dididik; ia bukan saja berbuat kelakuan yang tiada tertahan, melainkan diambilnya juga dengan tiada barang sebab rupa-rupa barang, yang dipakai oleh ibunya, misalnya cincin jahit (bidal); benda itu disembunyikannya dan kalau di-tanyakan kepadanya, maka disangkalnya juga; ta-pi sesudah bersenang lama, maka anak itu pun menjadi penurut pula seperti dahaelu.

Dalam segala perkara itu hal takut bukan memberati kepala, bukan menyadikan tidak cakap bekerja, bukan mengadakan pikiran terpaksa, se-hingga tidak perlu pula orang mencari jalan yang lain.

Ketakutan itu hilang dengan sendirinya dalam ujian, serta pula sering kali diganti dengan ke-tetapan hati yang lebih besar.

Selalu adalah barang yang bisa menolong se-dikit, seperti bau yang keras, wangi atau tidak wangi, sesuka orang yang hendak masuk uji-an. Begitu pun baiklah mencari makanan sedikit atau udara sejuk, tapi udara panas itu ker-janya sebaliknya. Perasaan hendak membuang air kencing itu baiklah diturut selalu. Orang yang bisa memakai minuman keras sedikit setiap jam, serta tiada merasa gangguan sedikit pun pada kepalanya, dan orang yang biasa dengan minuman keras itu, bolehlah minum sedikit sebelum du-duk diujian. Minuman keras itu menetapkan hati orang dan pikiran terpaksa itu pun tidak terlalu nyata kerjanya. Tapi orang yang tidak biasa dan tidak bisa minum minuman keras, janganlah memakainya.

Orang yang diuji itu pun harus diberi tempo bersenang. Guru-guru yang kurang paham, barangkali dengan tiada sekehendak hatinya juga, menyebabkan pekerjaan yang pertama itu kurang menyenangkan. Beberapa tahun yang lalu, begitu-lah kata rector gymnasium Altenburg, adalah dibawa dari tempat yang jauh kepada saya seorang anak laki-laki, yang menurut penglihatan saya sama sekali tidak cakap. Gurunya yang kurang pikir dan suka sekali bersombong dengan hasil pekerjaannya, selama duduk dikereta api itu telah menuruh menyebutkan segala bilangan tahun dalam hikayat, sehingga pekerjaan ujian itu amat buruk, tapi cuma sebab kusut. Seorang anak lain datang kepada saya, sesudahnya pada hari itu ia bangun ketika pajar merekah, makan pagi terburu-buru sehingga hampir tia-da suatu pun dimakannya, lalu berangkat; tambahan sudah ia mempelajari dengan rajin akan ‘ilmu hitung yang memang amat berat baginya. Karena segala hal itu maka examen harus di-perhentikan dahulu, supaya diminta seorang tabib akan memeriksa kesehatan budak itu. Pengalaman yang sedemikian kerap kali didapat orang.

Sebagai diketahui, adalah suatu cara yang sangat berbahaya akan belajar, yaitu “memompa-kan ‘ilmu” untuk ujian. Dengan sangat kita peringatkan hal itu kepada sekalian pembaca. Muka segala orang pemompa ‘ilmu itulah yang sesedih-sedihnya. Cara belajar begitu tiada memberi pengharapan akan selamat. Sekolah tiada menghendaki cara belajar yang demikian, tidak mungkin menyetujuinyia.

Guru yang pandai wajiblah menguatiri hal murid yang demikian, kalau ujian sudah dekat. Murid itu tidak dapat memperhatikan barang yang ada di hadapannya, sebab ingatannya penuh dengan segala pengajaran, yang sudah ditimbunkan dan pada sangkanya perlu untuk ujian. Tak dapat ia diajak akan berpikir dengan sempurnanya, barang yang amat bersahaja dan dekat sekali tak dapat dilihatnya dengan mata biasa, sekelilingnya ditiyumnyia barang yang berat-berat saja, dan tersentuh ia kepada barang yang sangat bersahaja. Kalau guru beberapa kali mengiakan perkataannya, karena hendak menolong dia, maka ingatannya itu pun menjadi kurang terang, seakan-akan tiada pernah timbul padanya. Sudah beribu kalinya pengalaman menyatakan, bahwa barang yang kebetulan masih diingat oleh murid dalam examen itu, harus ditarik keluear dengan paksa, sehingga mudah orang mengerti akan kekesalan hati banyak guru.

Untuk penyakit penakut examen yang lebih berat, adalah hanya suatu obat, tapi kuat kerjanya, yaitu suggestie. Pengobatan dengan suggestie ialah satu-satu perkakas penolong segala orang yang hendak diuji, yang sudah kehilangan percaya diri, kejelasan berpikir, kesempurnaan ingatan dan ketetapan hati akan berbuat, oleh sebab ketakut-an. Suggestie itu pun istimewa cuma mengalahkan pikiran-pikiran yang terpaksa, mengubahkan kepicikan menjadi pengharapan dengan suka hati, ketakutan menjadi kesentosaan, kebelisahan menjadi ketenangan, keberatan menjadi kejelasan kepala. Tidak usah lagi orang jatuh diujian oleh sebab takut; suggestie itu sentiasa bisa menolong dengan selamat.

Dan akhirnya akan membenarkan dengan sah antara barang yang sudah disebutkan, kita beri keeterangan Krapelin, seorang tabib bangsa Jerman yang sangat masyhur untuk orang gila, serta menjadi guru sekolah tinggi di Heidelberg. Pikiran-Pikiran terpaksa itu diterangkan oleh professor itu demikian: “Segala orang yang berpenyakit begitu sentiasa merasa keberatan-keberatan yang paling besar, kalau mereka hendak melakukan ujian. Meskipun sudah lama mereka mengetahui akan ‘ilmunya dengan sebaik-baiknya, mereka itu pun terpaksa oleh takut akan examen, siang dan malam sampai pada sa‘at penghabisan belajar juga dengan sepenat-penatnya, tapi bilamana ketika itu sesungguhnya tibalah, maka ketakutanya jadi amat sangat, sehingga dilopeanya akan segala ‘ilmunya itu, lalu tiba-tiba mengundur-kan diri dan ada kalanya berangkat pergi dengan diam-diam. Begitulah banyak laki-laki muda yang pandai karam kapalnya pada jalan yang rupanya kurang terang, pada batu penyakit penakut examen. Berberapa kali dapatlah saya, dengan perilongan pengaruh hypnose yang bersahaja, membawa orang-orang yang berpenyakit demikian, melalui segala keberatan ujian yang harus ditempuh sampai pada jalan yang tenang untuk melakukan pekerjaan yang tetap.

Penakut Berkata-Kata dan Penakut Lampu

Suatu jalan yang salah untuk belajar di kepala, menghapalkan suatu pidato, sering kali menyebabkan “penakut berkata”, kebatalan berkatakata di hadapan orang banyak.

Hal orang yang baru belajar berkata-kata itulah yang paling buruk, kalau ia hendak mengatakan suatu pidato atau sya'ir, yang telah dikarangkan oleh orang lain, kepada orang banyak. Maka isinya itu selalu juga sedikit asing kepadanya. Segala pikiran yang di dalamnya itu tidak sampai gembira pada perasaannya, tidak makan dalam darah dagingnya, pun sering kali sebagai barang tampalan dan terbuat rupanya dengan tiada bertalian, sedang ia sendiri barangkali menghendaki susunan atau pembahagian yang lain. Terlebih baik ada-nya, kalau orang yang hendak berkata-kata itu mengarang dan menulis sendiri pidatonya. Pengalamann ‘umum menyatakan, bahwa barang yang dipikirkan dan dikarangkan sendiri itu lebih gam-pang dihapalkan. Maka pidato yang demikian se-akan-akan menjadi bagian daging kita juga.

Pertama-tama hendaklah orang memikirkan pasal yang hendak diperkatakanniya, membuat pembagian-nya menurut pikiran sendiri, bukan menurut pikiran orang lain. Perkara-perkara yang ketiyil itu-purn hendaklah diketahui benar-benar, dan janganlah menyenangkan diri dengan pikiran, bahwa semuanya akan jadi dengan baik juga. Kalau orang berpikir dengan sukar juga, baiklah pe-kerjaan itu diperhentikan daripada menyusun-nyusun bagiannya dengan kurang betul, lalu kemudian dilanjutkan, dan biasanya pikiran itu berlaku dengan baik pula.

Kalau semuanya sudah dipikirkan dengan betul, maka barulah orang menulis karanganinya. Segala pikiran dan ranting yang baru hendaklah ditambahkan. Jalan bahasa itu hendaklah baik rupanya, tapi janganlah dibuat-buat. Karangan itu harus ditulis dengan rapi sekali. Pekerjaan menghapalkan yang sebenarnya itu haruslah selesai sen-tiasa dua hari dahelulu daripada waktu mengatakannya di hadapan orang banyak. Sesungguhnya tidak benar persangkaan orang, bahwa karanganinya itu diketahuinyia betul sekali, kalau diulangi-nya menyebotekan di muka waktu yang dikuatiri itu. Isi pikiran yang baru diterima itu tinggal juga dalam ingatan, tapi orang tidak bisa lagi berpikir dengan merdeka, tidak bisa lagi mencari kata yang tiada tertu lis. Mengeluarkan kata-kata itu menjadi sukar atau hilang sama sekali, sehingga orang terdiam banyak kali beberapa menit lamanya serta dengan merasa sangat kurang senang.

Beberapa jam dahulu daripada berkata-kata itu janganlah dipakai akan menghapalkan pidato. Dua hari dahulu daripada itu haruslah disudahkan mempelajarinyia. Barang siapa pada malam hari penghabisan membaca sekali lagi dengan sabar akan tulisannya, dapatlah menantikan hari berikutnya dengan tenang.

Waktu yang terbaik akan mengulangi menghapalkan yaitu tentulah pada pagi hari; tapi kebiasaan dan kehendak yang sudah dibiasakan dari masa bersekolah itu besar pengaruhnya. Biarlah tiap-tiap orang merdeka, juga dalam perkara-perkara kecil, seperti berjalan-jalan ke sana kemari sementara mengulangi, minum rokok dsb. Melainkan belajar menghapal pada waktu sudah ja uh malam itu hendaklah ditinggalkan. Siapa pada waktu penghabisan sekali sangat menyusahi ingat-annya, menyadikan tanggungannya dua kali lebih berat. Isi pikirannya cuma melayang-layang, sebab dirasanya sangat mengantuk, sedang keesokannya wajib dilakukannya pekerjaan itu pula, yang hanya tinggal beberapa kerat saja di dalam ingat-annya.

Kesalahan besar yang kerap kali dilakukan orang, ialah menghapal dengan terlalu kuatir, sehingga tiap-tiap kata dan bagian kalimat diperhatikannya benar-benar. Siapa membiasakan hal ini, percayalah, bahwa tiada akan hilang ketakutannya berkata-kata itu. Menghapal terlalu menurut kata itu tentulah mengadakan suatu ketakutan dan menggilakan ingatan benar-benar. Sebab itu tidak mungkin juga mengadakan pidato yang bebas dan berlaku seperti biasa. Orang cuma memperhatikan pertalian kata-kata, sentiasa menengok kepada tulisan dan dengan mata yang tersemunyi dibacanya akan karangan itu. Ketakutan akan tersangkut perkataannya, sentiasa dirasanya dan dirasa juga oleh sekalian pendengarnya, sehingga sering kali kesudahannya menyedihkan hati.

Adalah hal yang ‘ajaib, bahwa tukang-tukang pidato yang menyediakan pidatonya dengan jaga akan dirinya, tiada menengok selalu kepada tulisannya dengan kuatir, sementara berkata-kata se-lalu didapatniya juga kalimat dan kata-kata yang baru, sehingga tidak mudah ia kehabisan bicaranya. Tukang pidato yang demikian, bukan saja menggantikan beberapa kata, melainkan banyak kalimat juga, sehingga ia pun menjadi makin gembira dan elok perkataannya. Dapatlah ia berbuat itu, sebab tiada ia bergerak pada tempat yang sudah diambil dengan tiada berpikir, melainkan sebab segala perkara, sampai pada barang yang sekecil-kecilnya pun, sudah dipikirkannya. Tiada ia menghapalkan kata-kata, melainkan sudah didapatniya pikiran-pikiran, dengan memandang sekali saja, dilihatnya segenap bangunannya dan segala pikiran itu pun keluarah bertali-talian.

Dari sebab ketika belajar menghapal dengan betul itu terutama membangkitkan pikiran, maka salah sekali orang menghapal dengan nyaring su-ara. Suara itu terlalu dipaksa dan telinga itu pun tentu menjadi biasa akan susunan beberapa bunyi, yang memang kurang saja gunanya dan banyak kali cuma menjadikan orang terlalu lekat kepada tulisan, sehingga tidak mungkin lagi berpikir dengan merdeka.

Pidato yang sudah disediakan dengan baikuya, terutama dengan memikirkannya lebih dahulu, Ialu dituliskan dan dihapalkan, baik sekali, seperti kata Allihn, dilakukan kedua kalinya di atas catheder atau mimbar. Maka tiada lagi orang terlalu lekat dengan kuatir pada tulisan, tiada belisah lagi menuruti pertalian kata-kata, tiada mengu-sutkan kalimat-kalimat. Tukang pidato itu bukan lagi seperti tukang komidi tali, yang niscaya jatuh kalau salah melangkah, melainkan ia berdiri di atas suatu dasar yang luas dengan segala bagiannya yang sudah dipikirkan, sambil bertumpu pada segenap isi pikirannya. Gantinya perasaan takut, yang mengganggu segala orang yang belajar berpidato, adalah tenaga besar yang mengu-asai isi pidatonya, sehingga dirasanya senang saja dan tetap hati. Tiada akan jadi kekusutan lagi, kalau hilang sebuah kata atau pertalian pikiran itu pun putus. Oleh karena segala usaha itu orang menjadi amat paham, sehingga tiada usah takut lagi ia akan kehilangan “kepasihan lidah”. Kata yang hilang itu diganti dengan kata yang lain saja, yang artinya barangkali lebih ‘umum, atau pikiran yang akhir itu diulangi dengan perkataan yang lain. Dengan tiada kentara pikirannya itu dijalankan selanjutnya, sehingga tidak usah orang batuk karena malu, tak usah berhenti, tak usah menyapu hidungnyia, tak usah menarik lengan bajunya atau mengangkat tulisannya.

Mengatakan dengan sengaja lain daripada barang yang tertelois itu, bukan saja bisa jadi, melainkan ada kalanya bermuna pula.

Pada ketika sudah dekat sekali akan berkata-kata, maka kecemasan dan penyakit “penakut” pada orang yang belajar berpidato itu naik se-tinggi-tingginya. Tatkala itu orang sering kali mendapat betul perasaan kuatir, kerja nadi lebih cepat, debar hati lebih keras, mulut dan gergantang menjadi kering, kaki tangan bergerak tidak tetap, kadang-kadang menguap dan keringat pun keluarliah. Tapi dengan itu pun gangguan penyakit cemas belum habis. Sentiasa, terutama kalau orang jadi takut ujian dan takut lampu, adalah perasaan keras selalu hendak kencing, yaitu perasaan yang mesti selalu diturut dan janganlah pernah ditahan.

Roman muka itu memperlihatkan pergumulan yang aneh dan tetap, urat daging terkemut, lidah terdiam, kegerakan badan dan menyebutkan kata-kata menjadi sukar.

Biasanya tukang pidato itu lantas merasa bebas, kalau didengarnya suaranya sendiri dan perasaan malu itu pun lenyaplah karena kegembiraan perkataannya sendiri, seperti salju lenyap karena kepanasan matahari.

Tapi kalau orang tiada mempunyai anugerah berkata-kata, maka perlulah juga orang menaruh banyak pengalaman, banyak membiasakan diri, serta mengetahui betul akan isi pidatonya dan pendengarnya.

Akan melawan seboleh-bolehnya hal takut berkata itu, baik sekali orang yang belajar berpidato itu minum segelas anggur dahulu daripada berkata, tapi cuma boleh, kalau orang bisa dan biasa minum minuman keras. Kalau tidak bisa dan tidak biasa, maka anggur itu cuma merusakkan.

Kalau sudah berdiri di muka meja baca atau sudah naik mimbar, maka baik sekali orang yang belajar berpidato itu jangan melihat kepada orang banyak, seakan-akan sekalian pendengarnya itu tidak hadir. Benar kata Dr. Stohr, bahwa tidak boleh dilihatnya akan segala kelakuan ingin mendengar, akan segala mata yang ditujukan kepadanya, tidak boleh juga didengarnya akan segala bunyi bisikan, yang kedengaran pada tiap-tiap pauze seperti angin sepoi-sepoi meniupkan daundaunan. Haruslah ia tuli mendengar segala bunyi yang tidak patut diadakan oleh orang banyak, seperti deham, batuk dan mengosokkan kaki. Memang banyak orang itu, Meskipun mereka terbiling kepada orang yang beradab, tidak boleh tinggal seketika bersama-sama, dengan tiada menunjukkan diri dengan memperdengarkan berbagai-bagai bunyi, yang terlalu mengganggu serta menakuti orang yang belajar berkata-kata. Bunyi batuk keras daripada seorang nyonya tua bisa membinasakan segenap pengharapan tukang pi-dato, yang sudah menyediakan dan membiasakan diri dengan sebaik-baiknya, dan pidato yang dikatakan dengan amat bagusnya, bisa disia-siakan sangat oleh sebuah kitab yang jatuh.

Perasaan ketentuan pada tukang pidato itu pun bertambah amat baik, kalau diketahuinyaa, bahwa suaranya sementara berpidato itu tidak bisa menjadi parau bunyinya. Memang adalah obat-obat akan menjaga, supaya suara itu tetap terang dan baik bunyinya sampai habis berpidato. Pada banyak tempat terkenal obat biasa, yang bernama hoppel-hoppel (semacam minuman daripada rum, kuning telur, gula dan teh atau air panas), kerjanya menghancurkan. Sebuah atau dua buah kuning telur dipukul bersama-sama dengan gula sampai berbuih. Dengan menambahkan sedikit rum yang baik, rasanya menjadi keras.

Obat yang bekerja baik juga, ialah gelatine pastilles Inggris. Obat ini menjadi cair perlahan-lahan, membasahkan kulit dalam kerongkongan dan memperbaiki pekerjaan kelenjar ludah. Dari sebab itu obat itu sangat menyedukkan, serta pula menjadikan suara terang dan baik, dan menjadikan tukang pidato itu juga lebih gam-pang menahan barang perkara yang lain dari biasa.

Selainnya orang boleh mencoba membuat sendiri pastilles ini. Diambil gelatine putih lagi baik, dimasak dengan air sesedikit-sedikitnya, dijaga supaya jangan angus dan baiklah dimasak dalam air dipanaskan. Sementara itu dibubuh sedikit gula dan beberapa tiris minyak jeruk nipis supaya sedap rasanya. Kalau ditambahkan sedikit glycerine bersih, maka pastilles yang sudah kering itu selalu lembut rupanya. Sesudah beberapa kali membuatnya, niscaya didapat ukoorannya yang betul. Obat yang masih panas itu dituangkan ke-dalam piring porcelein, yang sudah digosok dengan minyak zait sedikit. Kalau sudah keras rupanya, lalu obat itu dipotong-potong dengan gunting, sehingga besarnya seperti perangko. Kemudian obat itu dikeringkan, lalu disimpan dalam sebuah kotak kaleng.

Obat yang bekerja sebaik itu juga ialah obat yang bernama moltinos, buatan Gebr. Stollwerk di Keulen, yang terdapat dalam segala apotheek. Obat ini campuran althea bersama-sama dengan glycerine, gom dan gula.

Buat penutup pasal ini kita menasihati dengan sangat, supaya pada waktu bermula-mula orang berpidato, hendaklah orang berjaga betul-betul serta mengusahakan, supaya jangan kesudahan pidatonya itu menjadi malang. Siapa tersangkut pada pidatonya yang pertama-tama, sering kali lama benar hatinya terganggu. Ketakutannya dan penyakit berkata-kata itu bertambah pula pada pidato yang kedua dan yang ketiga, dan sipat malu itu pun bertambah dengan ingatan yang pedih akan kemalangan yang pertama, serta dengan hal-hal yang berhubung dengan itu.

Sebab itu buat pidato yang pertama-tama, baik-lah orang terutama menurut segala aturan yang tersebut di atas ini, dan sekiranya dapat, hendaklah orang berpidato mula-mula dalam perkumpulan kecil daripada orang yang dikenal dan baik hatinya.

Dan lagi perkara yang selainnya tidak terlalu baik, yaitu perbantahan pikiran dan perdebatan dalam perkumpulan, persidangan dan segala perhimpunan itu, boleh berguna banyak juga.


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.