Baca EPUB: Revolusi Sosialis Oktober dan Pengaruhnya atas Gerakan Kemerdekaan Indonesia

7 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. REVOLUSI SOSIALIS OKTOBERDAN PENGARUHNYA ATAS GERAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA
  2. NYOTO
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. REVOLUSI SOSIALIS OKTOBER DAN PENGARUHNYA ATAS GERAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA
  6. REVOLUSI OKTOBERTITIK BALIK PERJALANAN SEJARAH
  7. REVOLUSI OKTOBERBATU PERTAMA PERDAMAIAN ABADI
  8. REVOLUSI OKTOBERPUCUK TOMBAK GERAKAN KEMERDEKAAN

REVOLUSI SOSIALIS OKTOBER

DAN PENGARUHNYA ATAS GERAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA

NYOTO


KOLOFON

REVOLUSI SOSIALIS OKTOBER

DAN PENGARUHNYA ATAS GERAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA


oleh

NYOTO

(pidato untuk memperingati ulangtahun Revolusi Oktober)



Yayasan “Pembaruan”

Jakarta, 1954

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: Harri Gieb

Ilustrasi sampul: Sunrise 1965, karya Ansei Uchima

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



REVOLUSI SOSIALIS OKTOBER DAN PENGARUHNYA ATAS GERAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA

Parahadirin,

kawan-kawan dan parasaudara,

Ketika Revolusi Februari 1917 pecah di Rusia, Wladimir Ilyitsy Lenin menulis: “Revolusi pertama, yang dilahirkan oleh perang dunia imperialis, sudah pecah. Revolusi pertama ini sudah pasti bukan revolusi terakhir”.

Pernyataan Lenin ini dibenarkan oleh peristiwa sejarah 8 bulan sesudah itu: revolusi yang kedua pecah, revolusi yang menggulingkan kekuasaan feudal dan kapital di Rusia, Revolusi Sosialis Oktober yang Besar.

Hari ini genap 37 tahun sejak meriam Oktober menggeletar di Rusia. Dari padangpasir Sampson yang panas di Australia sampai ke daerah dingin di Kutup Utara, tidak ada sejengkal pun tanah yang tidak turut bergetar oleh geletar Revolusi Oktober.

Revolusi Oktober adalah peristiwa sejarah yang terpenting di dalam abad kita ini. Klas buruh, dipimpin oleh Partai Bolsyewik, dengan bersekutu dengan kaum tani miskin dan dengan dibantu oleh kaum prajurit dan matros, menumbangkan kekuasaan burjuasi, mendirikan kekuasaan Sovyet, menciptakan negara tipe baru, negara Sovyet Sosialis, menghapuskan milik perseorangan kaum tuantanah atas tanah, memberikan tanah kepada kaum tani, menyita milik kapitalis, merebut perda-maian, dan dengan demikian menciptakan syarat-syarat untuk perkembangan pembangunan sosialis, Revolusi Oktober mengalahkan kapitalisme, merampas alat-alat produksi dari burjuasi, dan mengubah pabrik-pabrik, perusahaan-perusahaan, keretaapi dan bank, menjadi milik Rakyat, menjadi milik masyaraqat. Revolusi Oktober mendirikan diktatur proletariat dan menyerahkan pimpinan negara kepada kl's buruh. Revolusi Oktober mengangkat kaum proletar menjadi klas yang berkuasa. Demikianlah Revolusi Oktober membuka periode baru di dalam sejarah umat manusia—periode revolusi-revolusi proleter.

Semua ini tercapai berkat pimpinan yang bijak-sana dari Partai Komunis, berkat pimpinan yang zenial dari murid Marx dan Engels yang terbesar, zeni revolusi: Wladimir Ilyitsy Lenin, dan pembantu serta sahabatnya yang setia: Yusuf Wisarionowitsy Stalin (tepuktangan).

Sekarang, musuh-musuh keadilan yang mana yang tidak menyumpahi dan mengutuki Sovyet Uni, tetapi bersama-an dengan itu terpaksa menghargainya, atau se-tidak-tidaknya memperhitungkannya? Tetapi orang jujur yang mana yang tidak berterimakasih kepada Sovyet Uni, yang tidak melihat sinar harapan pada tiap-tiap kemajuan yang dicapai oleh Rakyat Sovyet?

Juga Rakyat Indonesia sangat berterimakasih kepada Revolusi Oktober, sangat berterimakasih kepada Sovyet Uni. Jika tidak ada Revolusi Oktober, tidak hanya Revolusi Tiongkok dan revolusi-revolusi di Eropa Timur tidak akan ada, tetapi juga Revolusi Agustus 1945 kita tidak akan ada (tepuktangan panjang).

Kita peringati ulangtahun ke-37 Revolusi Oktober sekarang ini, di saat Sovyet Uni bukan hanya sudah menjadi kekuatan klas satu, tetapi tambah hari tambah besar otoritet serta pengaruhnya. Kita peringati ulangtahun ke-37 Revolusi Oktober sekarang ini, di saat bangsa-bangsa terjajah dan setengah-terjajah, ber-sama-sama dengan Rak-yat pekerja sedunia, memperhebat perjuangannya untuk kemerdekaan nasional yang penuh, dengan persatuan dan kekuatan yang tiada taranya di sepanjang sejarah.


REVOLUSI OKTOBER

TITIK BALIK PERJALANAN SEJARAH

Parahadirin,

kawan-kawan dan parasaudara,

Tepat sekali apa yang dinyatakan di dalam “Tesis tentang 50 tahun PKSU” bahwa di dalam masa yang singkat selama revolusi itu Partai Komunis Sovyet Uni menunaikan tugas politik raksasa, yg “tentang kekayaan akan pengalaman, kedalaman pengolahan teori Marxis dan pelaksanaan kreatifinya di dalam perjalanan revolusi, tidak ada bandingannya di dalam sejarah dunia”.

Dan tidak hanya itu!

Revolusi Oktober telah mengubah jalan sejarah. Dunia dan umatmanusia yang selama ber-abad-abad, tidak hanya ber-abad-abad tetapi ber-puluh-puluh abad, terjerembab di dalam rawa penindasan, diperas, dihisap, dinistakan dan disengsarakan oleh kaum penindasnya, sejak Revolusi Oktober menang—menemukan jalan pembebasannya, jalan pembaruanannya. Jika sejarah umatmanusia sebelum Oktober, gantiberganti mengalami tuan-tuan penindas, mulai pawang-pawang budak melalui kaum tuantahah feudal sampai keraja-raja uang kapitalis, maka Revolusi Oktober mengakhiri—untuk pertama kalinya dan untuk selama-lamanya—sejarah penindasan itu (lepuktangan). Untuk pertama kalinya di sepanjang sejarah, sesuatu revolusi bukannya melahiikan tuantuan penindas yang baru, melainkan mengangkat kaum yang tertindas, kaum yang lapar, menjadi tuan atas dirinya sendiri (tepuktangan).

Peristiwa ini tidak hanya mempunyai arti yang khus Rusia. Peristiwa ini mempunyai arti internasional. Ia tidak hanya merobohkan kapitalisme Rusia, ia juga menggoncangkan sendi-sendi kapitalisme internasional. Ia tidak hanya membebaskan proletariat Rusia, ia juga membukakan jalan untuk pembebasan proletariat internasional. Ia melahirkan ketakutan pada semua musuh Rakyat, tetapi ia melahirkan harapan, harapan baru, harapan yang pasti di hati be-ratus-ratus juta Rakyat pekerja.

Singkatanya, Revolusi Oktober telah menunaikan tugas sejarah sebagai juruselamat kebudayaan dunia. Dan sebagaimana kita tahu, pelaksana utama dari Revolusi Oktober itu ialah proletariat, klas buruh.

Di zaman kita sekarang ini memang tidak ada dan tidak mungkin ada juruselamat yang lain bagi umat manusia, kecuali klas buruh.

Sebagaiimana dinyatakan oleh Lenin, dekat sebelum Revolusi Oktober: “Perang telah mengakibatkan krisis yang demikian hebatnya, telah begitu menekan kekuatan materiil dan kekuatan moral Rakyat, telah begitu memukul seluruh susunan masyarakat modern, sehingga umat manusia dihadapkan pada suatu alternatif: atau dia hancur, atau dia mempercayakan nasibnya kepada klas yang paling revolusioner” (tepuktangan).

Rusia dan Rakyat Rusia tidak mengalami keruntuhan, karena Rakyat negeri itu mempercayakan nasibuya kepada klas yang paling revolusioner, yaitu klas buruh, dan karena klas buruh ini, melalui Revolusi Oktober, memenuhi kepercayaan serta harapan yang diletakkan ke atas pundaknya.

Sejak detik itu, terdapat dua arah di dalam perkembangan sejarah: arah yang pertama ialah kapitalisme, arah yang kedua ialah Sosialisme. Arah yang pertama penuh dengan krasis-krasis ekonomi, melahirkan barisan pe-ngangguran yang tambah lama bertambah banyak, kemandekan produksi, dan kemerosotan tingkathidup Rakyat. Arah yang kedua tidak lagi mengenal krisis, melenyapkan pengangguran, terus-menerus mempertinggi produksi, dan terus-menerus meningkatkan tarafhidup Rakyat pekerya. Arah yang pertama penuh dengan pertentangan politik dan moral. Arah yang kedua mengandung kesatuau politik dan kesatuan moral. Arah yang pertama berarti kehancuran, arah yang kedua pembaruan, arah yang pertama kematian, arah yang kedua kehidupan.

Kapitalisme berarti kematian, karena ia mematikan dayacipta masyarakat. Sosialisme berarti kehidupan, karena ia membebaskan dan mengembangkan dayacipta masyarakat.

Apa-Apa yang telah dicapai oleh Sosialisme, baik di lapangan ekonomi Maupun kebudayaan, mengagumkan seluruh dunia. Tak perlu banyak-banyak angka disebut, cukuplah jika dikatakan, bahwa pabrik-pabrik yang sepenuhnya otomatis dan sentrallistrik atom misalnya, yang di-negeri-negeri kapitalis masih suatu angan-angan, di Sovyet Uni sudah dipraktikkan secara besar-besaran (tepuktangan). Televisi berwarna, truk-truk 50 ton, dan mesinbubut yang berputar lebih 3000 kali semenit, dan banyak penemuan-penemuan lainnya, baru di Sovyet Uni ada, sedangkan di lapangan pertahanan misalnya, bom zatair di sanalah pertama-tama ditemukan, dan pesawat-pesawat yet Sovyet sampai pada detik ini tidak ada yang menandinginya (tepuktangan). Di lapangan kebudayaan, konkurs-konkurs internasional menjadi bukti. Film yang terbaik, pemusik-pemusik yang terbaik, balet dan tonil yang terbaik, semuanya datang dari negeri Sovyet. Di lapangan catur, maestro-maestro Sovyet hampir-hampir tak dapat dilawan, sedangkan dunia sport makin banyak saja mencatat rekord-rekord yang dipecahkan oleh pengolahraga-pengolahraga Sovyet. Hanya di Sovyet

Uni jugalah Rakyat tidak hanya semuanya bisa membatayatulis, tetapi sudah mendapat pendidikan sekolah sekurang-sekurangnya 7 tahun. Hanya di Sovyet Uni jugalah Rakyat tidak hanya mendapat perawatan dokter dengan cu-ma-ma, tetapi badannya skhat-skhat dan menjadi jaminan akan kesehatan generasi yang akan datang. Tentang perbaikan tarafhidup Rakyatnya, buktinya yang paling akhir, paling tak dapat disangkal tetapi juga paling menggiurkan dan menimbulkan iri-hati, ialah penurunan harga-harga barang kebutuhan hidup, yang selama 7 tahun ini saja sudah 7 kali dilakukan.

Parahadirin,

kawan-kawan dan parasaudara,

Dari hari ke sehari Sovyet Uni mengalami perubahan rupa. Kita melihat ke Sovyet Uni seperti melihat film pada layarputih: sekejap saja mata kita berkedip, kita sudah dikagumkan olkh gambar yang baru. Sudah beratus-beratus warganegara Indonesia berkunjung ke sana. mulai wakil-wakil kaum buruhnya sampai pada anggota-anggota Parlemennya, mulai seniman-senimannya sampai pada perutusan wanitanya. Dan tiap-tiap kali sesuatu delegasi kembali, mereka membawa cerita baru: cerita kemajuan Sosialisme (tepuktangan).

Partai Komunis dan Pemerintah Sosialis Sovyet tidak me-nyimpan-nyimpan tenaga untuk melaksanakan hukum pokok Sosialisme sebagaimana diterangkan oleh Kawan Stalin: memeuuhi secara maximal kebutuhan-kebutuhan materiil dan kulturil masyarakat. Dan sebagaimana beberapa waktu yang lalu ditegaskan olkh Kawan Malenkov: di Sovyet Uni sekarang sudah tersedia semua syarat yang diperlukan untuk pembangunan Komunisme (tepuktangan panjang). Ini berarti, bahwa dalam waktu yang tidak jauh lagi, Rakyat Sovyet bukan lagi akan menerima dan mendapat menurut prestasi kerja mereka, melainkan menurut kebutuhan mereka. Inilah yang lebih dari se-abad yang lalu di-idam-idamkan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Inilah yang sudah lebih seabad lamanya di-impi-impikan oleh Rakyat pekerja sedunia. Dan hal ini sudah akan menjadi kenyataan di Sovyet Uni!

Sebelum perang dunia kedua, hanya di Sovyet Uni Sosialisme dibangunkan. Kemudian pecahlah perang yang terkutuk, perang yang mau dijadikan alat untuk mencekek Uni Republik-Republik Sovyet Sosialis. Tetapi Sosialisme tidak mati, malahan, seperti cendawan di musim huyan ia tumbuh menantang di-mana-mana: di Polandia, di Rumania, di Bulgaria, di Hongaria, di Cekoslowakia, bahkan di negeri yang terpencil seperti di Albania, dan juga di Jerman, dan di Timur di Mongolia, di Tiongkok Raya, sampai-sampai Korea dan Vietnam pun menemuh jalan menuju ke Sosialisme (tepuktangan). Sekarang, seribu juta manusia di benua yang membentang luas dari Berlin sampai ke Peking, membangun Sosialisme, mengikuti jalan yang sudah diretas Lenin dan Stalin (tepuktangan panjang).

Dari Afrika sampai ke Alaska, lebih dari seribu juta manusia, yang masih merana di bawah penindasan kapitalisme, menaruhkan kepercayaan kepada Sosialisme. Dan kepercayaan itu menjamin kepastian kemenangan Sosialisme! Tetapi tidak sedikit pula, orang-orang—yang hanya tubuhnya hidup di abad ke-XX sedangkan otaknya tertinggal di abad ke-XVIII—(tawa dan tepuktangan) siang dan malam, pagi dan sore memuntahkan kebenciannya kepada Sosialisme. Tetapi kebencian itu seperti rabuk yang menyuburkan Sosialisme! (tawa dan tepuktangan).

Demikianlah, umatmanusia sekarang—sebagaimana dikatakan Lenin—dihadapkan pada suatu alternatif. Umatmanusia sekarang berada dipersimpangan jalan: dia mesti pilih salah satu: jalan kapitalisme atau ja-lan Sosialisme. Tetapi jangan kita lupakan: jalan kapitalisme adalah jalan buntu! (tepuktangan).


REVOLUSI OKTOBER

BATU PERTAMA PERDAMAIAN ABADI

Parahadirin,

kawan-kawan dan parasaudara,

Revolusi Oktober tidak hanya melahirkan Sosialisme, Revolusi Oktober juga melahirkan batu pertama—yang nantinya tumbuh menjadi benteng—perdamaian dunia.

Ketika Lenin memilih hari, dan ketika Republik Sovyet baru saja lahir dari kandungan, di samping dekrit tentang tanah dan roti, Lenin juga mengeluarkan dekrit tentang perdamaian. Sejak detik itu Lenin berseru kepada kaum imperialis, bahwa Republik Sovyet tidak akan meng-usik-usik sejengkal tanah pun dari negeri-negeri imperialis, tetapi, sebaliknya, janganlah kaum imperialis mencoba-mencoba meng-usik-usik, Meskipun hanya sejengkal tanah Sovyet (tepuktangan).

Sikap ini adalah kelanjutan yang konsekwensi dari analisa Lenin di dalam bukunya “Imperialisme, tingkat kapitalisme yang tertinggi”, analisa yang brilyant tentang pertentangan-pertentangan dan hukum-hukum pokok imperialisme, analisa yang melahirkan kesimpulan bahwa imperialisme adalah tingkat tertinggi dan bersamaan dengan itu juga tingkat terakhir dari kapitalisme, bahwa imperialisme adalah subuh revolusi sosialis proletariat, dan bahwa front dunia imperialis bisa dipatahkan pada matarantainya yang terlemah, dan dengan demikian Sosialisme bisa didirikan di beberapa negeri terlebih dulu, babkan bisa disatu negeri saja.

Teori revolusi sosialis yang baru dan lengkap ini, adalah perkayaaan yang disumbangkan Lenin kepada Marxisme. Dan dari kebenaran ilmu, teori ini sudah berubah menjadi kenyataan ilmu. Sovyet Uni adalah buktinya yang segar-bugar.

Tetapi apa artinya Sosialisme di beberapa atau disatu negeri saja?

Ini berarti bahwa Sosialisme bisa berdiri berdam-pingan dengan sistim sosial yang lama, yaitu kapitalisme. Apa yang sekarang ini populer dan disetujui oleh setiap orang yang jujur, yaitu ko-existensi secara damai di-antara berbagai sistim, cita ini adalah cita Lenin.

Dengan mengibarkan panji ko-existensi, Lenin me-letakkan dasar untuk perdamaian dunia.

Tetapi kaum imperialis menyambut panji-panji yang dikibarkan Lenin, dengan bom, meriam dan samurai. Kelahiran bayi Sovyet, yang oleh semua manusia yang berkeadilan disambut dengan senyum dan nyanyi, oleh kaum imperialis disambut dengan sergapan biadab. Kita masih ingat akan “perang salib 14 negara”, kita masih ingat akan serbuan kaum “Entente” dengan segala Kolcak dan Yudenitsynya, tetapi kita juga ingat akan perang patriotik yang dengan gigih dan tabah dilakukan oleh Rakyat Sovyet terhadap kaum penyerangnya (tepuktangan).

Kita juga ingat akan perang dunia kedua, ketika fasisme Hitler menumpahkan se-gala-galanya kefront Timur sesuai dengan “Pakt AntiKomintern”ny, dan ketika ne-gara-gara Barat sengaja memperberat tanggungan URSS dengan tidak mem-buka-buka front kedua di pantai Barat Eropa. Tetapi kita juga ingat akan perlawanan yang diberikan oleh Partai, Pemerintah dan Rakyat Sovyet, dan bukan hanya perlawanan, tetapi penghancuran (tepukta-ngan).

Sekarang, belum lagi darah dan airmata kering, belum lagi janda-janda pulih dari pedihnya, belum lagi korban-korban Hirosyinya sembuh dari malapetaka yang menimpanya, dan belum lagi kuburan heibo-heibo dan romusya-romusya kita temu-kan, kaum imperialis dikepalai oleh Amerika Serikat n.cng-ancam-ancam dunia dengan kehancuran baru. Dan mereka tidak berhenti pada meng-ancam-ancam. Mereka sudah mengotori tangan mereka dengan darah Republik Vietnam, darah Republik Indonesia, darah Republik Korea. Mereka mempersenjatai kembali kaum militeris Jer-man, algojo Eropa; dan mereka mempersenjatai kembali kaum fasis Jepang, penyembelih pemuda-pemuda kita! Belum lagi kita berbicara tentang pangkalan-pangkalan perang yang dengan demam dan dengan gila mereka dirikan di negeri-di negeri orang lain, tentang uang dan budi yang mereka obral untuk “memperlengkapi” “pahlawan-pahlawan” semacam Syngman Rhee dan Adenauer, Bao Dai dan Ciang Kai-syek (tawa dan tepuktangan).

Ibu yang membuat anaknya, dan pelajar yang berangkat ke sekolah menuntut ilmu, petani yang mengolah sawahnya, dan sarjana yang bekerja di dalam laboratoriumnya, be-tanya-tanya: untuk apa semua itu?

Mau menghancurkan komunisme? Baiklah saya katakan kepada mereka: sia-sia, tuan-tuan! (terdengar: “betul, betul!” ber-sama-sama tawa dan tepuktangan).

Seratus tahun yang lalu, Tsar dan Paus, Metternikh dan Guizot, tidak berhasil menghancurkan Komunisme. Ketika itu Komunisme baru seperti bibit, yang belum tumbuh menjadi tanaman! Lebih sepertiga abad yang lalu, tentara Khurkhill dan samurai Jepang, mau menghancurkan Komunisme, tetapi gagal. Ketika itu Republik Sovyet belum punya apa-apa, belum punya industri dan pertanian modern, juga belum punya Angkatan Perang modern! Belasan tahun yang lalu, Hitler, Mussolini dan Toyo juga men-coba-coba mau mengubur Komunisme. Tetapi bukan mereka yang mengubur Komunisme, melainkan Komunismelah yang mengubur mereka! (tepuktangan). Ketika itu belum ada Demokrasi Rakyat di Eropa Timur, dan belum ada RRT dengan Tentara Merah serta 600 juta Rakyatnya yang mereka takuti!

Masih inginkah kaum imperialis mengulangi petualangannya, mengulangi Don Kisotismenya? (tawa). Masih inginkah mereka mencoba sekali lagi adu kekuatan dengan Komunisme? (tawa).

Tigapuluhtujuh tahun yang lalu, melawan Komunisme sama dengan menumbukkan kepala kotoombok granit yang keras (tawa dan tepuktangan). Apalagi sekarang! (“betul!”. tepuktangan).

Tetapi terserah kepada kaum imperialis: apakah mereka mau menerima tawaran perdamaian sebagai partner terhormat, ataukah mereka mau diremukkan sebagai perampok yang tidak punya harga. (tepuktangan).


REVOLUSI OKTOBER

PUCUK TOMBAK GERAKAN KEMERDEKAAN

Parahadirin,

kawan-kawan dan parasaudara,

Bebberapa tahun yang lalu Kawan Mao Tse-tung menyatakan terimakasihnya kepada Marx dan Engels, dan juga kepada pemimpin-pemimpin Revolusi Oktober, Lenin dan Stalin, karena telah memberi senjata kepada Rakyat Tiongkok. “Senjata ini bukan metralyur, tetapi Marxism-Leninisme”, kata Kawan Mao Tse-tung.

Revolusi Oktober sesungguhnya tidak hanya meletakkan batu pertama bagi perdamaian yang kekal, ia juga meretas jalan bagi perkembangan gerakan kemerdekaan nasional: ia seperti pucuk tombak yang mempelopori gerakan kemerdekaan bangsa-bangsa.

Dengan menimbulkan luka-luka yang tak tersebuhkau pada tubuh kapitalisme, Revolusi Oktober menggoyabhkau dan melemahkan sendi-sendi imperialisme dunia, dan dengan demikian mempermudah perjuangan bangsa-bangsa untuk membebaskan dirinya dari penindasan kolonial.

Karena Revolusi Oktoberlah, bangsa-bangsa yang sudah ratusan tahun mencari jalan pembebasannya dengan sia-sia, menemukan jalan itu, jalan yang ditunjudukkan oleh Marx, Engels, Lenin dan Stalin. Proletariat di berbagai negeri, di Tiongkok dan di Italia, di India dan di Australia, juga di Indonesia, menyusun kekuatannya secara ilmu, dengan membentuk Partainya sendiri: Partai Komunis.

Demikianlah, PKI-pun lahir dalam pangkuan Revolusi Oktober.

Juga pemberontakan perwira di tahun 1926, pemberontakan bersenjata melawan kaum kolonialis Belanda, dilakukan oleh Rakyat dan Partai Komunis Indonesia dengan keyakinan, bahwa akhirnya, kemenangan seperti yang dicapai Revolusi Oktober toh akan kita capai juga. Pemberontakan itu karena beberapa sebab gagal, tetapi Lenin mengajar kita jangan berkecilhati, apalagi putusasa di-saat-saat mengalami kegagalan. Di tahun 36-an PKI di bawah pimpinan Kawan Musso almarhum, mengusahakan penggalangan front-anti fasis, dan ketika pendudukan Jepang tidak bisa kita hindarkan, di saat “pemimpin-pemimpin” Indonesia banyak yang tak teguh imannya, PKI mengatur perlawanan terhadap Jepang, dan dengan demikian menciptakan syarat-syarat untuk kelahiran Republik Indonesia (tepuktangan).

Tidak pernah kaum Komunis Indonesia tidak dijiwai dan disemangati oleh kemenangan Oktober. Dan pengaruh Revolusi Oktober tidak terbatas pada kaum Komunis saja. Sudah sejak tahun 30-an, baik pemimpin-pemimpin Nasionalis Maupun pemimpin-pemimpin Islam, turut menyebarkau Marxism di Indonesia (tepuktangan). Boleh dibilang tidak ada seorang pun memimpin Indonesia yang tidak terpengaruh oleh Marxisme, oleh kemenangan Revolusi Oktober. Juga di zaman pendudukan Jepang, hampir semua pejuang ilegal, Meskipun tidak banyak buku ketika itu, selalu membaca buku-buku Marxis sebagai pedomannya.

Pengaruh Marxisme yang hebat ini mempunyai ke-lanjutannya di masa Revolusi. Masukilah penerbit, percetakan atau toko buku ketika itu, penerbit, percetakan atau toko buku mana pun: hampir 90% dari perpustakaan Revolusi itu perpustakaan Marxis! Pelajarilah azas partai-partai politik ketika itu: tidak ada satu partai pun yang tidak mengatakan menuju ke Sosialisme, atau se-tidak-tidak-nya “keadilan sosial”!

Revolusi kita, sayang sekali, kalah. Dan dengan tak kenal malu kekalahan itu disusul oleh pengkhianatan-pengkhianatan nasional. Cerah udara Revolusi, untuk sementara diliputi kabut yang suram, tetapi kaum buruh kita, pemuda-pemuda kita, patriot-patriot dan demokrat-demokrat kita, terus bekerja dengan setia kepada tuntunan-tuntunan Marxisme. Bagi setiap orang Indonesia yang jujur, Marxisme adalah bintang kejora yang menerangi jalan hidup dan jalan perjuangannya (te-puktangan).

Karena kita tidak terlambat mengenal Marxisme, maka selama lebih sepertiga abad ini perjuangan bangsa Indonesia tidak pernah berhenti satu hari pun, dan—dengan tak kenal patahhati dan tak kenal putusasa.

Tigapuluhenam tahun yang lalu, Lenin pernah menulis bahwa “India, Tiongkok dan Rakyat revolusioner lainnya di Asia, akan melaksanakan 1789 dan 1793-nya”, jelasnya: akan melaksanakan revolusinya melawan kaum penjajahnya.

Keyakinan ini terhunjam erat-erat di dalam sanubari bangsa Indonesia, seperti halnya mereka yakin, bahwa ba-gaimana pun kita ber-putar-putar atau berjungkir-balik, besok matahari akan terbit dari Timur.

Inilah sebabnya, mengapa Revolusi Agustus 1945, yang bagi kaum kolaborator datang seperti halilintar di-kala cuaca terang, bagi pejuang-pejuang kemerdekaan kita datang sebagai sesuatu yang sudah wajar: sebagai kekasih yang sudah lama dirindukan!

Parahadirin,

kawan-kawan dan parasaudara,

Revolusi Rusia memang berlangsung cepat, tetapi jalan perjuangan bangsa Rusia berjalan lama sekali, penuh penderitaan dan pengorbanan. Kita kenal pemberontakan Pugacov, kita kenal peperangan melawan Napoleon, kita kenal kaum Dekabris, dan kita kenal Revolusi tahun ‘05. Jalan pergulatan bangsa Rusia adalah jalan yang jauh, jalan yang panjang. Makaitulah, bagi bangsa Rusia dan bagi bangsa-bangsa Sovyet umumnya, kemerdekaan itu begitu berharganya, begitu bernilainya, seperti halnya bijimata sangat berharga dan bernilai. Dan makaitulah, jika bangsa-bangsa lain bergulat untuk membebaskan dirinya, bagi Rakyat Sovyet yang sudah bebas, tidak ada ke-ragu-raguan lagi: mereka tentu dan mereka selalu membantu bangsa-bangsa dalam membebaskan diri. Revolusi Oktober adalah bantuan terbesar pertama, karena Revolusi Oktober memudahkan perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa, sesudah imperialisme diperlemah. Sekarang, tiap-tiap perkokohan sistim Sosialis, tiap-tiap kemajuan produksinya, tiap-tiap kemajuan tekniknya, ilmunya, ya, tiap-tiap kemajuan seni dan sasteranya, merupakan bantuan yang besar bagi perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa.

Karena Sovyet Unilah, kebudayaan dunia terbebas dari penghancuran oleh fasisme. Karena Sovyet Unilah, dunia sekarang diselamatkan dari malapetaka perang.

Juga perjuangan kita, perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, mendapat bantuan-bantuan yang langsung dari Sovyet Uni. Ini adalah kenyataan sejarah, dan karena ia kenyataan sejarah, maka scorang seperti Mohamad Hatta pun terpaksa mengakui pada tanggal 16 September 1948: “Benar juga bahwa Sovyet Rusia membela kemerdekaan negeri-negeri yang terjajah, berdasarkan kepada ideologinya sendiri”.

Mungkin beliau ini sekarang menyesal pernah mengucapkan kalimat tsb. (tawa), tetapi pengakuan-pengakuan atas kenyataan toh lebih tahan uji daripada fitnahan dan kebohongan! (tepuktangan).

Waktu berjalan cepat, dan waktu yang cepat itu dipergunakan se-efektif-efektifnya oleh kaum reaksi sekarang, untuk membelokkan perhatian Rakyat Indonesia dari kenyataan-kenyataan yang sesungguhnya. Mereka berusaha mati-matian supaya Rakyat Indonesia “melupakan” saja bantuan Sovyet Uni kepada Republik kita. Dan bersamaan dengan itu mereka menumpahkan segala sesuatu untuk menjerumuskan Indonesia ke dalam dua jebakan: SEATO - Amerika, dan kudeta-kolonial Belanda. Saya katakan kudeta, karena apa yang kita saksikan sekarang, yaitu percobaan-percobaan untuk menggulingkan Pemerintah Republik, adalah suatu komplotan besar-besaran, komplotan yang tak kenal malu, untuk mencekek Republik kita dan untuk mengembalikan kekuasaan kapital monopoli asing sepenuhnya atas kehidupan ekonomi dan politik negeri kita. Mereka yang menyatukan dirinya dengan komplotan antiRepublik ini, adalah orang-orang yang tinggal kulitnyya saja Indonesia, tetapi jiwanya antiIndonesia (“betul, betul!”, tawa, tepuktangan).

Karena komplotan inilah keadaan kita sekarang agak suram, dan krisis ekonomi mencengkam negeri kita. Sudah galib, di-saat-saat yang sukar, kita teringat kepada sahabat. Dan dalam keadaan begini, kita lebih-lebih teringat ke-pada negara-negara sahabat kita, lebih-lebih kepada Sovyet Uni. Saudara-Saudara Jawoto, Priyana, Sumanang, dll, menyaksikan sendiri baru-baru ini betapa ikhlasnya bantuan yang diberikan Sovyet Uni kepada RRT.

Dan jika bangsa-bangsa terlibat di dalam kesukaran, di sanalah Sovyet Uni muncul sebagai sahabat yang ikhlas (tepuktangan). Ketika Perancis dicekek lehernya oleh Hitler, Sovyet Unilah—sebagaimana baru-baru ini ditegas-kan sekali lagi oleh Eduard Herriot—yang mengulurkan tangan persahabatan (tepuktangan). Ketika Republik Korea dibakar oleh Foster Dulles, juga Sovyet Uni yang ber-sama-sama RRT dan negara-negara demokratis lainnya membela kedaulatan Korea.

Tetapi mengapa kita memancangkan mata keluar negeri? Kita sendiri, di-saat-saat yang se-sukar-sukarnya, mendapat uluran tangan persahabatan dari Sovyet Uni.

Mungkin hal-hal ini akan tidak mengenakkan kaum reaksi—ingatan itu tidak selalu nyaman!—, tetapi ketika Belanda menyerbu Republik kita, siapa yang membela kita di dalam PBB? Toh bukan tuan Truman? (tawa).

Wakil Republik Sovyet Sosialis Ukraina, Manuilski, ketika itu menyatakan dengan terang: “Tidak memerlukan penjelasan, bahwa sikap delegasi Sovyet terhadap Indonesia tidak ada dan tidak mungkin ada persamaannya dengan sikap peinerintah-peinerintah, yang mempunyai rencana-rencana expansionis terhadap Republik Indonesia”.

“Republik-Republik Sovyet”, kata Manuilski lebih lanjut, “yang berdasarkan azas-azas persamaan dan persahabatan Stalinis di antara bangsa-bangsa, di waktu yang lampau Maupun sekarang tidak dapat bersikap masabodoh terhadap keinginan yang adil dari Rakyat Indonesia. Keinginan-Keinginan ini sesuai dengan prinsip-prinsip, yang bisa dijadikan sendi perdamai'an dan keamanan di antara bangsa-bangsa, ia sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menghormati azas persamaan hak di antara bangsa-bangsa besar atau kecil, dengan tak pandang bangsa atau warna, azas hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa, yang memberi hak kepada setiap bangsa untuk menentukan susunan negara dan susunan sosial, yang dianggap paling sesuai bagi diri mereka sendiri“.

Kemudian, sesudah mengutuk perbuatan yang memburukkan kedudukan Republik Indonesia, Manuilski membela supaya “kedaulatan wilayah” Republik Indonesia “tidak dilanggar”.

Juga wakil URSS, Andrei Wisyinski, membela Republik kita dengan menegaskan bahwa tindakan-tindakan Belanda “tidak mungkin dinamakan lain kecuali sebagai tindakan agresi terhadap Rakyat Indonesia, dilakukan oleh suatu negara, yang menjadi anggota PBB” (tepukta-ngan).

“Agresi militer yang tidak beralasan dari Belanda terhadap Republik Indonesia itu”, kata Wisyinski lebih lanjut, “menimbulkan kegelisahan yang adil pada semua orang yang jujur di dunia. Ya, apakah PBB memberikan perlindungan yang menjadi kewaji-bannya itu kepada Rakyat Indonesia? Kita semua tahu bahwa hal ini tidak terjadi. Selama pembicaraan masaalah Indonesia di dalam Dewan Keamanan, berbagai negara tidak lupa untuk memperkecil pentingnya kejadian-kejadian di Indonesia dan dalam hal ini memaksakan kepada Dewan Keamanan suatu keputusan, yang dalam segala seginya tidak bisa dianggap mencukupi untuk melindungi kepentingan-kepentingan Republik Indonesia, sebagai korban suatu agresi bersen-jata”.

Kita lihatiah betapa ikhlas dan jujurnya pembela-an wakil-wakil Sovyet ini atas kepentingan Republik kita.

Dan siapa yang bisa melupakan, bahwa di saat kita dikepung oleh kaum kolonialis Belanda itu, Pemerintah

Sovyet, melalui persetujuan yang ditandatangani dengan dutabesar Suripno di Praha, mengakui Republik Indonesia, dan dengan demikian memperkuat kedudukan kita dalam menghadapi Belanda?

Sampai detik ini bantuan Sovyet ini tidak berubah seujung rambut pun. Masaalah Irian Barat kini sedang dibicarakan oleh Majelis Umum PBB. Kita semua menyaksikan siapa yang membantu tuntutan nasional. kita ini: toh bukan Amerika atau Australia? Untuk keseyian kalinya terbukti, bahwa negara-negara imperialis bukan sahabat kita dan tidak mungkin menjadi sahabat kita, dan bahwa sebaliknya, kita hanya menemukan sahabat pada negara-negara yang se-cita-cita dengan kita, yang menentang penjunjahan, yang menjunjung tinggi panji-panji kemerdekaan, dan yang berdiri di depan sekali dalam jajaran negara-negara ini ialah: Sovyet Uni (tepuktangan).

Ekonomi negeri kita sekarang terlibat di dalam krisis. Kitalah, dan bukan orang lain—sudah tentu—yang bisa dan harus mengatasi krisis ini. Tetapi kita sekarang hidup dalam suatu zaman, di mana bangsa-bangsa Maupun negara-negara tidak mungkin hidup memencil sendiri-sendiri, di mana bangsa-bangsa Maupun negara-negara mau tak mau harus bantu-membantu. Tidak benar bahwa hanya Sovyet Unilah yang mau membantu kita, tetapi Sovyet Uni toh bersedia membantu kita. Sudah tentu bukan untuk menjadi single buyer karet kita atau untuk membanjiri pasar kita dengan permen karet dan Coca Cola (tawa), tetapi perdagangan bebas yang mereka tawarkan, yang nota bene boleh kita lakukan dengan rupiah dan dengan angsuran, bisa membantu, dan tidak sedikit membantu usaha kita mengatasi krisis ekonomi sekarang. Pavilyun URSS di dalam Pekan Raya Ekonomi Internasional baru-baru ini menunjukkan betapa besarinya potensi industri Maupun pertanian Sovyet, dan betap-betap stabilnya susunan ekonomi Sosialis. Belum lagi kita ficarakan tentang kesediaan Sovyet Uni untuk mengadakan tukar-menukar kebudayaan, yang tidak hanya penting bagi kita untuk mengenal kebudayaan mereka, tetapi juga untuk memperkenalkan kebudayaan kita. Dalam hal ini tidak ada seorang seniman pun yang tidak setuju, sayang, bahwa halangan pelaksanaannya masih saja datang dari beberapa penjabat Pemerintah.

Semua ini mungkin. Dan yang berbicara di sini yalab kenyataan, yang berbicara di sini ialah sejarah!

Parahadirin,

kawan-kawan dan parasaudara,

Yean-Paul Sartre berpendapat, bahwa nasib Perancis tergantung dari bersahabat-tidknya negeri itu dengan Sovyet Uni. Hal ini kiranya juga berlaku bagi Indonesia. Tigapuluhutjuduh tahun sesudah Revolusi Oktober, persahabatan Sovyet-Indonesia tidak lagi hanya dilakukan oleh Rakyat-Rakyatnya, tetapi juga oleh Pemerintah-Pemerintahnya. Hal ini penting, karena persahabatan ini tidak hanya ditakuti oleh musuh kita nomor satu, kolonialisme Belanda,—persahabatan ini juga memperlemah kedudukan Belanda terhadap kita! (tepuktangan).

Parahadirin,

kawan-kawan dan parasaudara,

Adakah dewasa ini sesuatu gerakan yang lebih dibenci daripada Komunisme? Tetapi adakah dewasa ini sesuatu gerakan yang lebih dicinta daripada Komunisme? Se-banyak-banyak orang yang membenci Komunisme di dunia ini, ratusan kali lebih banyak orang yang menaruh simpati terhadapnya (tepuktangan).

Macam-Macam dongeng di-sebar-sebarkan tentang kaum Komunis. Ada diceritakan, bahwa kaum Komunis itu ja-hat, bandit, kejam, kadang-kadang dikatakan juga bahwa kaum Komunis itu “tukang minum darah” (tawa). Tetapi baiklah kita ingat, yang mengatakan ini bukan hanya kaum konservatif dan kaum sosialis kanan: juga Van der Plas dan Sarekat Hijonya (tepuktangan), juga Jepang dan Kenpeitainya suka mendongeng begitu! (tepuktangan). Juga suka didongengkan, bahwa Pemerintah Sovyet itu memasang “tirai besi”. Tetapi semenjak warganegara-warganegara Indonesia sendiri sering mendapat kesulitan bukan di Moskow tetapi di Kemayoran atau Tanjungpriok, (tawa) dan semenjak umat Islam Sovyet yang menunaikan rukun haji mendapat rintangan bukan dari Pemerintah Uzbek melainkan dari kedutaan-kedutaan Inggris, maka mulai lenyaplah dongeng tentang “tirai besi” itu seperti embun di telan matahari (teputangan).

Musuh-Musuh Sosialisme tidak malu-malu dan terang-terangan memusuhi Sosialisme. Tetapi patut dicatat: hanya dalam memusuhi Sosialisme mereka ber-terang-terangan, sebab dengan licik dan pengecut mereka membela apa yang mereka bela. Saya sendiri belum pernah menjumpai sesuatu perkumpulan yang misalnya bernama “Majulah kapitalisme” atau misalnya “Perhimpunan membela imperialisme”......... (tawa).

Meskipun demikian, kita harus mengangkat topi kepada musuh-musuh Sovyet, musuh-musuh Sosialisme dan musuh-musuh Komunis itu. Sekarang ini, tidak pernah satu pun suratkabar terbit, tidak pernah satu pun brosur atau buku ditulis, tidak pernah satu pun pidato diucapkan, di mana tidak terdapat se-kurang-kurangnya satu kata “Komunis” (tawa). Kadang, di dalam kebingunan mereka, dari menit kemenit, mereka memenuhi pidato mereka dengan kata “Komunis, Komunis” (tawa), dan mereka memenuhi halaman suratkabar atau majalah mereka dengan kata-kata seperti “Sovyet, Sosialisme, Bolsyewik, Komunis” dll. Semua ini sangat membantu kesuburan pertumbuhan Komunisme! (tepuktangan).

Sekarang; tepat pada ulangtahun ke-37 Revolusi Sosialis Oktober, seluruh dunia memperingati haribesar Rakyat pekerja ini. Sebagian dengan kegembiraan, sebagian lagi dengan kebencian (tawa). Tetapi betapa pun besarnya kebencian mereka: di dalam hati kecil mereka mereka toh iri juga melihat kemajuan-kemajuan Sosialisme (tawa).

Paling-Paling mereka akan mengatakan: “Sosialisme itu memang mendatangkan kemajuan, tetapi ia dicapai dengan pertumpahan darah, ia dicapai dengan pemberontakan!”

Tetapi benarkah mereka itu begitu prinsipiil menolak pertumpahan darah atau pemberontakan?

Di Guatemala, “Westerling” Armas (tawa) melakukan pemberontakan dan menimbulkan pertumpahan darah. Tetapi tuan Foster Dulles cepat-cepat menyatakan kegembiraannya, dan me-muji-muji “Westerling” Armas setinggi langit (tawa dan tepuktangan). Juga kaum reaksi di Indonesia, dengan agak sembunyi-sembunyi me-muji-muji Armas (tawa). Tidak, parahadirin, mereka tidak menolak pemberontakan! Mereka menolak pemberontakan jika pemberontakan itu ditujukan terhadap imperialisme, tetapi mereka me-nyanjung-nyanjung pemberontakan dan me-nyanjung-nyanjung pertumpahan darah, asalkan pemberontakan dan pertumpahan darah itu ditujukan terhadap kemerdekaan dan kemajuan. Demikianlah halnya! (tepuktangan).

Bahwa di Rusia dulu terjadi pertumpahan darah? Ini sama saja dengan yang terjadi di Indonesia. Seperti halnya Belanda di sini, tsar di sana bukan ber-puluh-puluh, tetapi beratus-ratus tahun lamanya menindas Rakyat banyak dengan mengalirkan darah Rakyat yang tidak berdosa. Apa artinya darah yang terpaksa tumpah di dalam Revolusi Oktober Rusia atau di dalam Revolusi Agustus Indonesia, dibandingkan dengan darah dan airmata yang di-banjirkan akibat tsarisme Rusia dan kolonialisme “Hindia Belanda”?

Ada hal-hal yang tidak kita sukai di dalam hidup kita, tetapi kadang-kadang kita terpaksa melakukannya, sekali lagi: terpaksa.

Parahadirin,

kawan-kawan dan parasaudara,

Kita menghadapi haridepan kita dengan belajar se-banyak-banyaknya dari Revolusi Oktober. Tetapi apakah ini berarti bahwa kita mesti menjiplak segala sesuatu dari Sovyet Uni?

Kawan Aidit menegaskan sbb: “Rakyat Indonesia harus berorientasi ke Sovyet Uni..... Ini tidak berarti, bahwa bentuk negara Sovyet Uni, yaitu sistim Sovyet, mesti diikuti oleh semua negeri, termasuk Indonesia. Sama sekali tidak demikian. Sebaliknya, tiap-tiap bangsa akan melalui jalannya sendiri menuyu ke Sosialisme, berdasarkan perkembangan keadaan nasionalnya, keadaan politik, ekonomi dan kebudayaannya”.

Dan akhirnya, sebagaimana ditegaskan di dalam Program Partai Komunis Indonesia: “Tidak meragukan lagi bahwa tujuan ini akan terlaksana, sebab bintang kejora yang menerangi jalan perjuangan Rakyat Indonesia yaiah ajaran-ajaran Marx, Engels, Lenin dan Stalin yang mahajaya, sebab pengalaman dua Rakyat yang besar—Sovyet Uni dan Tiongkok—merupakan teladan yang memberi inspirasi kepada Rakyat Indonesia” (tepuk-tangan).

Parahadirin,

kawan-kawan dan parasaudara,

Tigapuluhtujuh tahun yang lalu proletariat Rusia berhasil menyadikan dirinya klas yang berkuasa. Akan datang masanya juga proletariat Indonesia berkuasa atas nasibnya sendiri! (tepuktangan panjang).