Baca EPUB: Realisme Sujoyono

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. REALISME SUJOYONO
  2. T. SUMARJO
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. REALISME SUJOYONO
  6. CC BY-SA 4.0

REALISME SUJOYONO

T. SUMARJO


KOLOFON

REALISME SUJOYONO

oleh

T. SUMARJO



Dimuat di majalah MIMBAR INDONESIA

INDEPENDENT NON-PARTY

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Penggiat Buku

Dibagikan oleh: Muhammad Reza Magistra

Gambar sampul karya Sujoyono

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



REALISME SUJOYONO

BANGSA Indonesia di-tahun-tahun belakangan ini sangat giat kehatiannya mengadakan kampanye-kampanye. Ditilik dari satu sudut, hal ini menandakan adanya pengaliran pikiran yang bersumber pada keinginan hendak memperbaiki atau memayukan sesuatu dengan tayra serempak, dan tentu boleh bergantung karena perubahan demikian adalah alamat hidupnya daya pikiran dan di waktu asal tidak merugikan masyarakat. Pemerintah boleh mengguntung duit rakyat yang berkeringat dan duat kapitalis yang bertumpuk, asal keuangan beut-beut diselhatkan. P. K. I. boleh mengadakan peristiwa, asal rakyat tidak kehilangan nyawa dan benda dengan sia-sia. Wanita boleh ber-new-look dan ber.lipstick, asal tahu bahwa gaun, cat-bibir dan benituk badan mesti seimbang, supaya benar-benar sedap dipandang dari suatu aesthetic, kulturli dan physical culture.

Semuanya itu menurut hukum sebab-akibat. Pemerintah, partai dan wanita itu menundukkan keberagiamnya dan barangkali juga keaslian pikirannya untuk menyalankan kampanyenya masing-masing dengan tuyuan tertentu. Namun ada baiknya kita bersikap hati-hati dan bertanya dalam batin: adakah udang di balik batu? Manusia-Manusia dari masyarakat kita masih terlalu sangat banyak sekali mempunyai naluri-gerombto'an (kudde-instinct) yg. sangat gampong dipengaruhi serta dibimbing ke arah tertentu oleh seorang atau sekawan orang yang hendak melantingkan senata cita (idee). Manusia-Manusia di masyarakat kita rata-rata masih belum dewasa akal dan rohanialya. Ta gampang menjadi penganut, dan tak yarang ta baru sanggup mem-beda-bedakan yang bukur dari yang baik, sesudah mendapat pengalaman-pengalaman pahit atau sesudah terlalndur menjadi korban.

Kalau sudah begini halnya dalam dunia konkrit, apa lagi dalam dun'a abstrak. Adalah menjadi sifat yang lebih tinggi pada diri manusia, apabila ia sanggup mengendangkan sesuatu menurut pelajaran dan keyakinan yang abstrak. Manusia yang bekerja serta berkembang menurut keyakinan keceraisan dan keim-an, Walaupun salah naik se tingkat, dia tinggi-tinggi edari sesama yang hanya mendengarkan huntu-an pruru atau kemewahan benda.

Seniman ialah salah satu manusia yang paling banyak bergaul dengan dunia abstrak, karenanya ia mesti paling tat pada kata-hati dan kata-jiwanya. Ia berwayib untuk lebih berhati-hati lagi kalau mengadakan sesuatu kampanye, karena otak, hati dan diywa adalah unsur-unsur insani yang paling halus dan mudah retak. Lagi pula, peimpin yang sungguh-sungguh tak akan mau menimbulkan sesuatu secara serempak, kalau belum ada kepastian pada dirinya, bahwa yang dipropagandakan itu sesuatu yang baik atau berharga benar-benar.

Sujoyono adalah seniman, dan karena ia sedikit-banyaknya telah menjadi tokoh bersejarah (historiskhe figuur) selaku bapak seni lukis Indoneesia. Baru, maka sedikit-banyaknya kita boleh menurut pertanggungan-jawab dari padanya, bilikna ia mengadakan kampanye, ayang lagi karna kita tahu bahwa ia adalah ketua dari suatu badan kesenian (S. I. M.) Dan kampanye yang dijalankannya ialah realisme.

Menurut penuturannya sendiri, pikiran pertama untuk “gerakan” ini timbul padanya, sewaktu ia licut dengan gerilya, di mana ia terharu oleh keadaan yang dilihatnya serta dialamiannya sendiri, rakyat, penderitaan, perjoangan, siksaan dsb. Ia sendiri memegang pistol api, ayangnya sendiri terbunuh, lukisan-lukisannya sendiri hiling, satu patungnya dibikin sesaran pelihara oleh sento-du-serdadu Belanda secara mainmain. Dengan ilhas kita pun luk merasakan keharuaninya itu; kita mengerti betapa kejajan-kejajan ladi berkesan dan berpenangrung padanya. Kami pun mengerti bahwa besar keginginnan yahendah men-cemrikan realiteit-realiteit itu dalam buah-kerjanya dan kami yakin bahwa hwna begitu peryudalan diywa serta keseniannya bisa menurut jalan fitri dan wajar; kami yakin bahwa sampai sekarai keseniannya adah'ah bauh kojiyura dan kebenaran, sehingga men-yalina lukisan-lukisannya, “Selok” (pe-rintis-jalan)¹, ia porentu akan dgit lincak (sematayin bangku dari bambu), yang digambarkan secara “realisme”.

Kami ulangi sampai sekian. Dan kami peringatkan lagi pada pembaca bahwa menurut pengertian Sujoyono realiteit ialah apa yang disaksikannya dengan mata kpalanya sendiri. Pun kami kesimpulkan bahwa sampai sekarai Sujoyono memang berhak menamakan diri realis dan memanakan ludsan-lukisaninya liu realitas. Hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan apa yang kami kesimpulkan nanti. Dengan sendirinya timbulah pertanyaan: apakah yang dipertubuaca selanyutnya dan apakah realism itu?

Berdasarkan pokok-pikirannya tadi, Sujoyono menganjurkan: “Gambarlah sendok-seperd sendok, lincak seperti lincak”. Dengan kata-kata lain: se-adenan menurut tanggapan-pantaiyura, ia rangka mem digarap dari ke-lihatan benar urat-uratnya, keriput-keriputnya, hulu-bulunya; haju tak boleh ke-ttinggalan segala lipit-hiya, bunga-bungaannya, dst.

Sekaligus nampak pada kita beberapa kenyataan:

  1. Sujoyono melemparkan suatu teori yang telah diketemukan oleh manusia dalam menelaah sejarah manusia dalam ilmu filsafat, ialah relatifiteit. Tak mungkin kita mesti menghitung yumlah daun-daun dipohon; jika mungkin, tak mesi yumlah yang diketemukan si A sama dgn yang didapat si B. Tak mesti diyuga sabhawo warna daun yang memurui A itu hijau, mesti mungkin memurui B tidak hijau muda; pun ada pa ngaruh cahaya matahar. Tak mungkin ada tayat yang dibikin di-pabrik itu warnanya mesti sama benar-benar dengan warna di dalam alam.
  2. Realisme disama-ratakan saja de-ngan naturalisme. Mungkin menurut dia tak ada perbedaan antara kedua-duanya. Naturalisme adalah tanggapan opsi mengenai alam di sekeliling kita, dengan mengesampingkan tanggapan batin yang subyektif. Persamaan naturalisme dan realisme adalah memandang keadaan-keadaan (benda-benda, orang orang dsb.) sebagai barang-barang yang mengisi ruangan yang tertentu. Naturalisme terjadi misalnya, kalau pelukisnya menangis, tapi menggambar keadaan yang dilukisnya tidak sebab orang-orang yang menangis tapi sebab orang-orang—harang yg bisa bergerak dan menangis etc., yang tak ada hubungannya dengan obyeknya. Realisme terjadi misalnya, kalau pelukisnya menangis dan menggambar-kan keadaan disiketarnya (yang benar-benar terjadi: realiteit) sebagai orang yang menangis (ini diyuga realiteit). Dengan begitu ada hubungan antara obek dan subyek².
  1. Sujoyono hendak menyatikkan sikap-hidup yang realitis (misalnya melihat serta merasakan peryodangan, penderitaan rayak) dengan lukisan yang realitis. Tapi tentu yang yadi penduduk itu tahu yang caranya menggambar (sendok presis seperti sendok), dan bukan perasaan batin (misalnya: penjadahan itu diyahat, tanah-air su- bur, aku sedih, gerilia itu berani), padahal perasaan-perasaan ini pun realitis ada dalam hati peraduriyt, ada dalam kalbu pelukisnya sendiri). Cara yang demikian itu sebetulnya naturalisits; Meskipun memang realisme bisa memindhyum carana itu dari naturalisme, namun seorang realis tak usah mesti memakai carana itu. Rea lis boleh memakai carana-carana impressionisits, expressionisits, surrealists, idealists, lahir sebab alat; tapi jwia, cita, dan sikap-hidupnya dalam pada itu tetap realitis.

Jadi yang dipropagandakan, oleh Sujoyono sebagai realisme lahas: mengambil motif-motif dari apa yang ada memururi pantayaindera serta melukis-kamnya secara naturalisits.

Dia lupa bahwa orang bisa menjadi realis dengan melukiskan apa yang te-rasa oleh batin dan dengan carana apa saja, asal isinya tetap realitis. Dia-pun tak sadar bahwa dengan begitu dia menjadi penganjur supaya orang dadi budak realiteit, budak sendok, bud- daki lincak, dengan membantu-tuli meng-copy saja apa yang disiketarn oleh carana dan keadaan, se-olah manusia tak bermahaman, tak berperasaan, dan tak mampu mempengaruhi alam serta keadaan. Dia tak sadar, bahwa ini pun bertentangan dengan pertumbuhan diywa orang Indonesia dewasa ini. Dia tak sadar bahwa, kalau Picasso menggambar harlekin atau aduan-banteng, secara expressionisits atau surrealists, maka di belakang bentuk-bentuk yg sama sekali tidak naturalisits itu ber dirilah realiteit nyeri yang menekan hati (skhrinende realiteit) yang tadinya menggerakkkan perasaan pelukis itu.

Coha perhatikan lukisan-lukisan dan pelu- kis-pelukis. Perkiraan yang mem be-ryelas-ryelas, secara impressionisits itu. Bukankah isinya banyak mengandung realiteit? Sebaliknya: coha perhatikan pelukis-pelukis Eropa dari Zaman Pertengahan yang naturalisits caranya; bukankah Botticelli banyak berisi hal hal yang irreal (Lahirinya Venus, Mu sim Bunga dl)? Mari kita dengarkan ucapan Miguel de Unamuno: “Realiteit dalam kehidupan Don Quikhotte bukanlah kincir-angin itu, melainkan raksasa-raksasanya.” Bukankah perasaan Don Quikhotte yang menyangka bahwa kincir-angin adalah raksasa yg, harus dibrangtasinyu itu the grim realic? Pun di sini dunia pantayaindera menjadi se kurder!

Jalan fikiran Sujoyono membawa kita pada konklusi: dia menyangka naturalisme itu realisme, dan dia me nyadarkann yang bayar antari realisme pe nyusunnya fikiran itu menyasakann dia dan mungkin juga beberapa orang lain-lain, disiketarnya yg mau tak mau dibawanya kesatu haluan: infal reali teit yang tak direalisirkan—oleh manusia Sujoyono yang real, sehingga realismenya bukan lagi realisme sebe nemanya, tapi hanya bayuangan (khayilan, maya) yang cuma ada dalam sangkaan manusia Sujoyono!

Demikianlah uralan di atas mengenai Sujoyono sebagai pelukis. Apakah konsekwensinya sebagai pembawa-cita serta pemimpin badan kesenian?

Orang melantingkan sesuatu cita para biasanya dibiming oleh buah-buah anasir-anasir dari kesenian-kesenian di Indonesia di-zaman-zaman yang lampau? Kami rasa, tidak. Relief-Relief dari Borobudur adalah irreal, wayang expressionisits, wayang beber primitif, senilukis, dan seni patung Bali, pun seni keramik Sumba tidak pula naturalisits. Adakah diambilnya sesuatu dari negeri-negeri tetangga, atau sebandang pengetahuan kami di Mestr India, Tiongkok, Jepang dll, tak ada hasil-hasil naturalisits yang begitu kuatinya, sampai dapat “mengilhamkan” suatu percobaan “evolusi-revolutionise” Sujoyono ini. Adakah dipinjamnya dari Eropa? Kalau betul dimiliki, maka ia hendak mengrenaissance-kan Renaisance atau Klasisisme, hingga dengan begitu mau tak-mau Indonesia hendak diseretinya beberapa abad kembali dalam seyarah.

Kami rasa bukanlah tradisi itu se munya yg, menjadi pikiran pembina nya, melainkan ia hendak membentuk tradisi baru; diharapkannya tradisi ba ru ini akan berlangsung bertahun-tahun di hari kemudian serta dianc oleh orang banyak. Baha keadaan tanah air di zaman sekarang dijadikan sum ber “ilham”-nya, itu kami anggap baik, sudah selanyutnya dan fitri (natuurliyk). Tapi interpretasinya yang salah tentang realisme-naturalisme, serta keyakinan- nya bahwa “realisme”-nya ituulah cerok definitif senilukis Indonesia Baru, ini tidak meyakinkan kami.

Mungkin ia mau mengingatkan kita bahwa orang Indonesia sekarang harus hidup dan berfikir secara real serta harus meninggalkan dunya mystik, idealisme kolot, dsb. Ini kami secuji, inilah justru isi yang real menurut se-mangat zaman. Tapi persangkakaanya bahwa hal itu dalam senulikis harus dicapai dengan cara yang dianjurkan-nya itu, tak mungkin kami setuju1.

Dan lagi, caranya mendesakkan ca-ra melukis iu kepada orang lain tak dapat kita namakan demokratis. An-dalkata la pemimpin yang sungguh-sungguh membawa cia pembaharuan orisinil lagi besar, maka orang lain akan me-ngamati tiada doalan anjuray seyaya-ra demagogis, sebabnya terminta dari ucapanya kepada seorang pelukis lainnya: “Jangan kaukika bawha ke. Indonesiaan tercapai dengan primiti-visme seperti yang ada dalam lukisanmu yang ini. Teruskanlah lukisanmu yang lain itu!” (yang secara “realis-tis”1). Alangkah bedanya dengan Pi-casso yang beranggapan: “Kalau me-reka meniru saya, dan karenanya men-dapat akibat yang tak dinginkan, tu salah mereka sendiri.”

Entah apa maksud Sujoyono selain dari mau menyintakan lingkungan-pengaruh itu; kami rasa ada udangnya di balik batu. Apabila ia yakin, bahwa jalan yang dipilihnya itu menuju pada cintanya, itu ipso facto kami hor-mati sebagai buah-fikiran manusia yg-mencari, asal tidak disertai sifat ingin-kusana (overheersing) yang pada hake-katinya egolitis-fascis1. is.

Kecuall itu, dari sudut perkembanga-ngan kesenian Sujoyono sendiri, mulai dulu sampai kini, ternyata yang paling kuat dalam dirinya talah bukannya mer-ynerah pada dunia panyambera, melah-nkan mempertahankan, bahkan me-ngedepankan, sambil memerkakas sekali dunia kalbu dan jivana. Karena nyana leh lebih condong pada sur-realisme, expressionisme dan realisme yang benar-benar, bukan realisme yang—sanggada atau tidak—berkamu-flase naturalisme. Karena itu perum-sannya seperti: “gambarlah lincak seperti lincak” itu pun kami rasa bukan sikap-hidupnya yang terutama, dan ka-rema itu pulu alliran yang dipropaganda-kannya sekarang ini tak akan bisa hi-dup lama, sehingga dia sendiri juga akan berobah lagi. Ternyata bahwa Sujoyono tak hanya kurang penga-nuhan terhadap naturalisme (expression-ism), tapi ia pun dalam hal ini tak me-ngentu awaknya sendiri. Pada suatu waktu dia akan sadarkan ini, dan dia akan mengalami bahwa cintanya itu tidak berarti untuk kebudayaan Indo-nesia.

Soal lainnya yang menggerakkannya untuk kampanye ini lahah keginannya hendak mengadakan “sancering”; dgn “realisme” (baca: naturalisme) itu la berharap bisa memisahkan kaum pe-ngadu-unting (avonturier) di lapangan seni-lukis dari kaum “pelukis sejati”, karena orang yang tak bisa menggam-bar “lincak persis lincak” (dengan kata-kata lain: tidak menguasai tehnik) itu menurut anggapannya pasti bukan pelukis dan tidak panlas disebut begi-tu. Dengan syarat simpilisits ini diten-tukan olehnya “diploma” pelukis. Kami mau melupakan bahwa ini bertenta-ngan dengan apa yang dilansirkanyna dahulu, kami ingat bahwa pendirian manusia, “pemula” rei (berobah). Kami mau melupakan bahwa Sujoyo-no dulu antiakademisme. Tapi kami tak dapat, tak mau dan tak boleh me-lupakan, bahwa nilai seniman tak mungkin ditentukan oleh “diploma” tersebut tadi. Kami tak boleh membi-arikan saja orang yang bermain-main dengan konsekwensi secara sembrono. Dan bagaimana dan di mana rasa tang-gung-jawab Sujoyono terhadap ca-lon-lon pelukis dulu yang dididiknya secara antiakademis.is?

Panait Istriati menulis roman-romannya Yg-glang-gemilang dalam bahasa Peran-cis (dia sendiri bukan orang Peran-cis), dengan memakai kamus Peran-cis, sedangkan tehniknya pun tak menghiraukan tehnik-tehnik orang lain. Dan lagi, Sujoyono mes.inya, apalagi seba-gai pemimpin dan pendidik(7), tidak memitik-beratkan pada sempurnaan tehnik—Meskipun tehnik pun kami pandang perlu—tetapi pada soal ada-kank anta tidak potensii (kesesuaian, kapabilitas) pada pelukisnya yang usaha menjadi pelukis. Kalau bakat, inteligensi dan kemauan ada, maka so-al mengejar tehnik sampai sempurna hayalyah soal waktu. Sebab tehnik de-ngan tiada disertai potensi adalah dangkal dan hampa seni. Semuanya inilah meminta pertanggungan-jawab pada Sujoyono, dan kami sayangkan sangat, kalau ia bersikeras menerus-kan hal-hal yang tidak semestinya.

Karangan ini hendak memperingat-kan padanya, dan kami jaga supaya tidak mengenai ayara sakhsi (persoon-liyk), karena soal-soal yang tak disadarkan-nya iu telah ada yang merugikan per-joangan kebudayaan, sedangkan dia sendiri maksudnya berusaha menyehat-kaninya.

Sampai sekarang kami dapat angkat topi terhadap Sujoyono mengenai se-ni-lukisya. Tapi selebihnya dari itu, mengenai cita, besatinya, dsb. kami lebih baik menempatkan topi itu di atas kepala, lalu pergi kekeran Tionghoa dengan tang2an-n dalam sakuy telaana, sambil bersul-sul menyanyikan lagu ciptaan baru:

“Oh boy, he's yuist a poor, poor fellow!”

Yogya, 26 April 1950

¹ Sekarang namanya diganti menjadi: “Prambanan”.

² Ini ada persamaannya dengan expressionisits, dan memang sewajar nya begitu. Tapi pada expressionisits tak usah dipertahankan keadaan yang sebenarnya (yang nyata memururi pantayaindera) sedangkan perasaan batin ditilik-beratikan. Expressionisits bisa meninggalkan obyek realisme tidak.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.