CAKAP ANGIN DENGAN WARNA HIJAU MUDA
S. RUKIAH
KOLOFON
CAKAP ANGIN DENGAN WARNA HIJAU MUDA
oleh
S. RUKIAH
Dimuat di majalah MIMBAR INDONESIA
INDEPENDENT NON-PARTY
29-30
26 JULI 1950
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Penggiat Buku
Dibagikan oleh: Muhammad Reza Magistra
Ilustrasi sampul karya Nashar
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
CAKAP ANGIN DENGAN WARNA HIJAU MUDA
BIASANYA cuma 3 hari saja aku ingat agak mendalam kepadanya. Paling lama 2 × 3 hari, atau 6 hari. Ingat dalam 6 hari ini, telah kalau dia sekali-kali ada menyurut, dan suratnya sedikit panjang.
Selama 3 tahun ini berkenalan, suratnya dapat kuhtung ada 7 lembar. Surat-surat itu kemana pun aku pergi, aku bawa dalam tasku yang sudah sedikit lecet imi, disatukan dengan kartis hijau buat mengambil uang di pos, dan dengan surat permintaan foto dari 3 orang penyair yang agak dikenal namanya.
Pula hafal benar aku akan pokok-pokok apa yang ditulisikan dalam surat-suratnya itu.
Surat pertama dikirim dengan kartu pos, isinya menceritakan bahwa kakak-nya seorang pengarang juga, tapi ia gemar mengarang cerita sandiwara. Kemudian ditambah, bahwa buku-buku-nya yang ada didiyalan Garuda akan dikirim katanya semua kealamat tempat tinggalku.
Surat yang kedua dan ketiga, hampir sama melemah, ialah menceritakan citaat Konghucu tentang kejatuhuan hidup manusia dalam perjuangan negara, dan menyeritakan lagi seorang mahuk aneh pengalaman di kaki gunung Cikura.
Surat keempat dan kelima di atas secarik kertas sudah kotor, mengatakan bahwa suratku tak bisa dia balas, dan ia minta izin buat pergi.
Sampai di sini kami putus hubungan. Hanya tiap-tiap aku mau menulis depan jendela kamarku, aku lihat nenekku sedang menyiram kebun sayurana yang hijau muda warnanya. Aku ingat ia gamar akan warna hijau muda dan akan daun dipohon-pohon. Sebab itu aku ingat kepadanya. Dan tiap-tiap begini, tuliskanku biasa terpengaruhi oleh cerita-ceritanya yang sudah kuhafalkan.
Lama-lama aku pindahkan meja tulisku ini bekelakang, biar jauh dari jendela, supaya warna hijau dari kebun sayurana itu tak kelihatan. Lalu aku menulis tiap hari, dengan tidak diserat lagi ingatan kepada warna hijau di daunan. Dan dengan jalan begini, aku bisa lupa agak lama.
Tetapi tiba-tiba la datang lagi de ngan suratnya yang keenan; la tanyakan pendapatku tentang RIS. Kartai mana katanya yang mestii dipilih RIS dalam politik iuwar negerinya. Ataukah tak memilih partai, jendela merupakan partai ketiga dengan “balance of power”? Tapi pertanyaan ini memang pertanyaan sekilai-nari, katanya, ialah pertanyaan kepada orang-orang kuat yang kecil-kecil Lucunya lagi, dapat di terka dari semula, bakai jawaban mereka. Diterik dulu napas panjang-panjang, dikernikyan alis seperti lar kunya orang-orang penting. Tapi biasa nya mereka itu agen-agen Westerling yang dengan politik netrayinya dengan tidak langsung sudah menjual kita pada kapital.
Dan surat yang ketujuh, dia tulis kabar baru, ialah kenalannya gadis ke ciil yang sejak dulu dianggapan se perti adik kandungnya sendiri, se karang ia sudah besar katanya, sudah jadi guru malah. Aku sering menyurut kepadanya, katanya lagi. Aku tanyakan sekolahnya, kepanduannya, dan apa larinya sekarang sudah secepat tram kota supaya jangan bayar abonemen tram lagi? (dia jauha lari ketika seko lahnya). Dan jika ia membalias surat ku, ia menceritakan keadaan ibumya di rumah, cara bagaimana dia mengatur kamar di dalam, dan diceritakan pula, bahwa disudud rumahnya sekarang, ada lemari baru dengan tutup kain merah garis hijau……
Surat-surat ini semua kustimpan. Tapi sering pula surat-surat ini hendak kubakar, tapi tiap-tiap hendak kubakar, selalu tidak jadi. Aku sayang akan surat-suratnya, dan kubawa ke mana pengi. Serta tiap malam tiap-tiap hendak tidur setelah kubaca ajian ayat 15 (tm pesan ibuku sejak aku masih keci), bahwa tiap-tiap hendak tidur mestii kubaca ajian ayat 15. Aku ingat kepadanya. Apa ingatan ini tidak lamai negeri kupalingkan mukaku dari baju kalau yang hijau tergantung didinding, dan aku pikirkan suterusnya kupasan-kupasan bacan tentang Seni dari malahan bulanan Kroniek van Kunst en Kultur. Dan bila aku tidur larut malam begini karena banyak pikiran, dadaku biasa sakit lagi, batukku agak banyak. Apa lagi jika tadi siang nyia aku tidak minum obat, puher dari dokter Supandi dan minyak lkan 3 sen dok buat sehari.
CERITA ini cuma merupakan ca kap angin saja. Tapi ada lebin nyia selain dari menceritakan surat suratnya, ialah cerita pertemuan aku dan dia dalam sebentar—
Ketika kereta Jakarta—Bandung hamper berangkat, tiba-tiba ia datang ketemputu duduk dengan muka yang tidak aneh dan tidak kaget.
—Ke mana?—katanya,—Pulang, kataku. Tidak akan duduk di sini?—
—Tidak. Di sana banyak kawan kawan Kasih salam saja ke rumah—Aku tidak apa-apa, kembali duduk. Aku ingin bercerita lebih panjang lagi dengan dia tentang perjuangan sekarang ini, tapi dia pergi lagi. Bil arlah, kataku. Lalu kubaca buku keci yang bernama “Zielen”. Buku ini ter bawa dari rumah zus Anwar tadi. Ku baca halaman 40, yang berbunyi: haar bloemen. Disampingku ada serdadu Indo mau tidur, dan aku juga ja ni ngantuk.
Tapi ketika hampir sampai kerea ini ketemputu, ia datang lagi, duuck didepanku.
—Membaca sendirian pingir jend elia. Romantis benar, katanya. Buku apa?—
—Ah, kataku. Baru datang sekarang? Sombong benar. Engkau sudah kawin?—tanyaku.
—Belum. Baru bertunangan dalam dua bulan ini.
—Bagus—kataku.
Kemudian diayi hening. Rumput hiyau kena angin kehilangan dari jen-dela, keci-keci menggeletat.
—Lihat, kataku. Dia pandai menari hati seorang semula memikipu la keyitil. Di sana ada keindahan, dan ada kesegaran hidup yang hijau.
—Lihat, kata diayi hiyau, katanya.
—Ah, tidak adakah percakapan pikiran buah mengganti percakapan perasaan macam ini?—tanyaku.
—Ada, katanya.
—Coba ceritakan, kataku.
—Engkau pandai merobek hati. Apa masih punya cinta?
—Itu masih percakapan perasaan. Aku tidak suka
—Percakapan yang tidak mengenai perasaan, tidak hidup. Sama saja dengan seorang gadis remaya yang tidak mau menyungguh cinta macam engkau—atau sama saja dengan alam yang tidak diwarnai kehijauan.
—Aku tidak senang pada orang yang mementingkan perasaan.
—Yang tidak mementingkan perasaan, itu bukan orang. Itu benda. Sama mungkin dengan engkau, kepandainamu merobek hati, seperti benda yang run-cing.
—Memang aku sekangar tidak pu-nya cinta. Cintaku seperti angin, hilang pergi dan ada tiada. Sekangar ia tak dapat ditangkap, tak berbentuk! Ketika datuh dalam pertama kalinya, ia hampir saja dapat hinggap dan berbentuk. Tapi sayang, orang yang di-hinggapinyap pembohong gede. Sekangar ia kabur-kabur, begituial seperti angin hilang persi!
—Istilah ini istilah lama. Padahal engkau sendiri yang memulai tak punya bentuk, dan bilang pembohong gede—
—Orang pikiran tidak akan jadi pembohong. Orang perasaan mungkin yang bisa jadi pakai istilah ini. Se-perti 2 × 2 adalah 4. Tak bisa kita putarkan menurut perasaan kita me-lilit-lilit macam kata-kata orang pe-rasaan tentang cinta berabad-abad—
—Pikiran itu jauh letaknya dari peri kemanusiaan.
—Ah, kata peri kemanusiaan ini cuma teori.
Coba kita sedikit melonjak. Jang-an bilang-bilang soal itu. Dan Meskipun kita bilang cinta peri kemanusi-aan, tokh tidak akan terlaksana cin-ta kita itu? Dunia sekangar tidak menghendaki soal-soal yang menggan-gung diwang-awang. Pikiran, yang bisa menundukkan dunia.
—Baik. Aku belokkan.
Tapi selama ngobrol ini, aku hitung engkau sampai 10 kali batuk-batuk, dan badamumu kurus. Sakit lagi?
—Aku baru sebulan pulang dari Sin-danglaya, kataku.
—Engkau nakal tentu, tak disiplin minum obat.
—Ah, minyak ikan itu tak sedap baunya. Aku buang saja ciap hari di-jendela.
—Itu kemestian yang mesti dibuat olehmu sendiri.
Tapi ya, aku ingat, engkau tak me-nyukai kata-kata yang begini ini: disiplin, mesti, organisasi. Memang kede-ngarnamu seperti dalam jawaat sa-ja. Dalam istilah seniman, tidak ada bukan?
—Tapi aku sekangar cinta tentang cerita revolusi, kataku.
Ah, revolusi kita sekangar sudah macet. Cerita kesedihan melulu. Tak ada pecahan pecahan bekas, yang bisa dipertahani. Yang sekangar rak-yat kita bodoh-bodoh setengah gila, kocar-kocar tingkatkan kemayuanya.
Kata-kata wafatun sama dengan kata-kata seorang guruuk dalam Kesusaaste-raan. La punye kesempulan, bahwa rak-yat kita sekangar, lebih kocar-kocar dari kita ketika th. 41. Mereka sekangar memang tahu kemerdekaan. Tapi merdeka itu cuma sampai kepada ber-teriai mengepalkan cinyunja dan me-nghibarkan bendera besar-besarr. Ten-tang arti kemerdekaan yang sebenar-nya, kemerdekaan batin, kemerdekaan pikiran, kemerdekaan didikan, masih belum mengetahuinya.
—Itu satu kenyataan, katanya.
—Ia sendiri banyak cita-citanya. Cita-cita yang mengenai kemerdekaan juga. Ia mau bikin film katanya, tapi mempertundukkan keadaan yang se-benar-benarinya. Lebih sedap kita lihat sesuatu yang wajar.
Ada lagi cita-citanya yang dicudu-kan pada sekolah. Ia mau mendirikan sekolah yang istimewa katanya, yang modern segala-galanya. Kita tanam di-dikan kemerdekaan batin. Sebab yang penting sekangar ini, bukan kemerde-kaan berteriak yang ribut meluap-luap, tapi kemerdekaan batin yang membersit dari semangat kepribadian.
—Apa ia jadi Menteri sekangar ini?
—Tidak. Rupanya ya tidak ikut-ikut menguruskan tentang politik. Mungkin ia netral.
—Ah, omong kosong. Slapa di dalam abad ini ibu mengatakan, bahwa diri-nya netral bebas dari pengaruh per-duyangan tenaga-tenaga masyarakat. Pada waktu dia mengatakan dirinya netral, pada waktu itu juga dia sudah dicaplok oleh kenetrallanya itu. Dan dia mungkin akan menjidi sepak bola atau penipu rakyat.
—Ya, memang kita mesti hati-hati pada orang-orang yang bertayak pent-ing, berlagak pembiela rakyat.
—Dan engkau sekangar jadi apa?
—Di luar formasi. Tak bisa aku me-laraskan jiwuku dengan keadaan se-kanang ini. Mendatangkan kenangan-pahit pada pengurbanan rakyat yang liwat. Anak orang yang bersusah-susah, dia-dia itu juga yang bersingsgasana di atas makam pahlawan kita.
—Menggerutu di belakang, tak baik,—kataku.
Jadi cintamu terhadap perjuangan sekangar ini, sudah hilang-hilang se-perti angin yang tak berbentuk?
—Ah, aku cape jika percakapan ini terus dikusasi pikiran yang kejam itu.
Apa sebab cintamu juga tidak ber-bentuk?
—Hampir berbentuk, waktu tiga tahun yang lalu. Dia jatuh dalam dua tahyaha yang jernih. Ketika itu dalam gedung Sandiwarya yang sudah lapuk waktu ada pertundukan tary gamulai dan ada sekali pertundukan cerita revolusi Bambu Runcung antara pendan-dan dan kemenangan, seperti juga kata-kata yang kita hafalkan dari itu citaat Konghucu. Sayang, la kemudian yair kembali, tinggal satu kekosongan yang kini la beruthan kepada pikiran.
Ia tidak takut disebut setengah gila atau disebut tunggang merobek. Poduli apa? Dan an, aku cape jika percakapan ini terus dikuasai perasaan yang rapuh-rapuh seperti dirobek ini.
—Ada kenanganyana. Memang engkau tukang merobek. Tapi ada yang tidak bisa dilupa, talah bajumu hijau! Dan ada lagi: ketika engkau sakit aku datang dikamarumu. Aku lihat kain tutup mejanu semua hijau garis merah, dan kain hiasan yang tergantung didindingmu hijau berdaun-daun.
—Bukuumu masih ada kusimpan.
—Buku Multatuli itu? O, ya, ia berjilid tebal hijau!
—Yang kumaksudkan bukan buku itu. Tapi yang berjilid putih, kalaun tak salah, karangan Dante. Buku Multatuli itu hilang, ada yang nyolong.
—Kasihan. Aku cinta sekali pada buku itu. Aku penggunaan kata-kata Multatuli itu setiap aku berhadapan dengan pengadilan Belanda yang mau merobek kebebasan kita.
—Kalau begitu, berbahagia yang nyolongna.
—Engkau sekarang jadi apa?—Sebentar lagi jadi orang penting, kataku.
—Ah, dulu pernah aku bilang padamu: tunggu! sampai jadi Menteri.
—O, ya, ketika itu aku ketawa sampai batuk agak lama. Rupanya engkau pandai juga menghibur orang sakit.
—Tapi kita pernah juga melamun jadi orang penting-penting.—Ah, bagiku semua ovang penting-penting.
—Lukisanmu masih ada?
Aku masih ingat. Engkau berbaju hijau!
Selamat berpisah.
—Selamat, kataku. Engkau akan lekas kawin?
Ia senyum kabur-kabur. Angin dingin liwat di telinga menyebar segala bauhau yang ada.
KETIKA aku turun, aku agak pu sing juga. Aku nuik sadu, tapi dalam tasuku yang kujinjing, ada malahan baru yang kertasnya hijau muda. Aku susupkan ke dalam Blarian, jangan ada, jangan ada, warna hiyau itu di depan mataku.
Pagi-pagi kubuka jendela. Angin pagi dan matahari pagi berberangen indah berputar-putar depan jendela. Ah, dalam kebon sayaran itu coba li hat, ada ditanam pohon tomstaya. Tommat itu belum merah lagi‘, ia baru sebesar buah kemiri. Warnanya hiyau masih, disela warna keputih-pu'than bergaris-garis lengkung bercahaya muda! Kelopaknya hiyau itu digantungi embun sebutir-sebutir.
Ya, bagaimana aku man melepasank warna hiyau? Alam ini penuh dengan kehidupan warna. Dan tiap-tiap warna hiyau, adalah segar. Segar itu hidup. Dan apakah hidup itu cinta yang juga dikusami perasaan? Jika benar ada, bisakah ia selamata pergi berialu, bila kita kuasai dengan kekuasaan pikiran gila-gilaan?
Aku lihat tutup mejaku di kamar. Hijau bergaris-garis merah. Hiasan dinding juga, memang hijau berdaun-daun. Adu lukisanu sepotong sampai didada, berbaju hijau!
Jika menurut istilah dia, tentu aku sedang diserang penyayik hijau. Tapi ada juga kata peninggalanyana yang kugemari, talah dalam mengatakan bahwa memang tidakkana k ta ulangi cerita sedah 1870, dan beteryin pada revolusi kita yang sudah macet ini.
Peristiwa ini sampai sini kuputuskan depan jendela.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.