Baca EPUB: Tugas Belajar dan Tugas Persahabatan

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. TUGAS BELAJAR DAN TUGAS PERSAHABATAN
  2. KUSALAH SUBAGYO TUR
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. TUGAS BELAJAR DAN TUGAS PERSAHABATAN
  6. Kami Nenek Moyang di Universitas Persahabatan Rakyat-Rakyat (U. P. R.)
  7. Semua Menjadi Seniman dan Seniwati
  8. Kami Membutuhkan Keahlian
  9. Kesenian sebagai Bagian dari Kehidupan
  10. CC BY-SA 4.0

TUGAS BELAJAR DAN TUGAS PERSAHABATAN

KUSALAH SUBAGYO TUR


KOLOFON

TUGAS BELAJAR DAN TUGAS PERSAHABATAN

oleh

KUSALAH SUBAGYO TUR



Dimuat di majalah NEGERI SOVYET

No.18

15 SEPTEMBER 1961

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Penggiat Buku

Dibagikan oleh: Muhammad Reza Magistra

Ilustrasi sampul: Small Worlds VI 1922, karya Wassily Kandinsky

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



TUGAS BELAJAR DAN TUGAS PERSAHABATAN

Selama tinggal di Moskwa menjadi Mahasiswa Universitas Persahabatan Patrice Lumumba, entah sudah berapa surat saya kirimkan ke Indonesia, di mana saya bercerita tentang acara-acara kesenian yang saya lakukan bersama teman-teman di Moskwa. Kalau melihaca surat-surat itu saja orang bisa menarik kesimpulan yang salah, seolah-olah saya datang ke - Moskwa ini hanya untuk menari dan menyanyi. Tentu lucu kedengaranyya, bahwa jauh-jauh datang ke negeri orang, di sana cuama meari dan menyanyi, dan bukannya belajar.

Tapi kenyataann-kenyataann tentu bukan demikian. Memang selama di Moskwa kami banyak menari dan menyanyi, membatay sajak, tetapi di samping itu kami pun banyak belajar. Harus saya katakan, bahwa tidak pernah kami merentunjukkan diri di depan umu-umu seba³ak seperti di Moskwa ini. Tapi juga tidak pernah kami mencurahkan jam-jam kami begitu banyaknya untuk belajar seperti di Moskwa.

Kami Nenek Moyang di Universitas Persahabatan Rakyat-Rakyat (U. P. R.)

Sudah sejak di Indonesia kami menyadari pentingnya mengikat diri agar dapat menyelesaikan sega¹, persoalan dengan tepat dan baik. Du-Du hal yang kami pikir-kan, yaitu: 1) kami akan menjadi angkatan pertama Mahasiswa Indonesia di UPR. , dan karena itu harus menunjukkan kemampuan belajar Mahasiswa Indonesia di luar negeri, dan memberikan contoh kepada para Mahasiswa yang bakal datang, 2) kami pasti menghadapi kenyataan, di mana kami harus bertindak bersama selama tinggal kami di Moskwa.

Demikianlah dari Jakarta kami membentuk susunan organisasi, dan di Moskwa organisasi ini disempurnakan. Dan pertemuan yang diadakan dalam bulan Desember tahun 1960 kami memutuskan, bahwa ada dua hal yg harus kami perhatikan selama menjadi Mahasiswa UPR, yaitu pelajaran dan persahabatan. Dan ini tidak disebabkan karena kami belajar di Universitas yang namanya persahabatan, melainkan karena kami menyadari pentingnya menjadi ahli-ahli yang bukan sa-ja berkepandaran dan berkecakapan, melainkan juga dapat bekerja dengan umum dan berguna untuk umum. Kami tak akan menjadi ahli-ahli yang bekerja di kantor, melainkan ahli-ahli yang mampu menggunakan keahliannya bersama umum.

Semua Menjadi Seniman dan Seniwati

Baru beberapa hari tinggal di Moskwa kami sudah merasakan benarnya persangan itu. Orang Moskwa menyambut kami dengan hangat. Maka mulailah berjalan kedua tugas itu, belajar dan bersahabat. Tentang belajar, kurang perlu diceritakan, karena itu sudah jelas. Yang menarik ialah bagaimana kami melaksanakan tugas persahabatan itu dengan saluran kesenian.

Tentu tak bisa dikatakan bahwa kami adalah seniman-seniman. Sebagian kami bersuara sumbang dan tak dapat menyanyi. Tapi tugas persahabatan itu memaksakami mengubah diri menjadi seniman dan seniwiati. Semua kata-kata: “mulai menyiyi. Im-Imr², ”e-el²tan kesenian “ai-ais tak memotuhkan modal. Kami menyanyikan lagu-lagu Indonesia yang paling populer dan kami kenal semua. Dengan suara dan lagu populer itulah kami memenuhi undangan-undangan yang kami terima dari anak-anak sekolah, dari buruh-buruh pabrik atau dari para Mahasiswa. Orang S-S ”yet sangat menghargai kesenian, dan m-m “ca sangat kenal dengan Indonesia serta keseniannya, karena itu kami tak pernah pulang dengan kecewa. Kami mendapat sambutan yang meriah. Dan karena kami tidak cukup banyak punya waktu-waktu untuk mempelajary ke-se-nian itu, Laka biasar-biasar ka-kai berlatih secara prakteks saja: uikau-uikauar mandi bersama-sama, atau didalal bus waktu sedang mengadakan perjalan yang ke-tempat-tempat pent-pent di Moskwa.

Pada suatu kali kami diundang datang ke sekolah internat. Dalam sekolah itu belajar sebagian besar anak yang masih berumur di bawah 10 tahun. Apa boleh buat, kami harus berbuat sebisa-bisanya. Dibus dalam perjalan ke sekolah itu kami latihan lagu anak-anak. Dan hari itu juga, dengan mendapat sambutan yang meriah kami menyanyikan lagu anak-anak Indonesia: “menanam diyagung”, “naik kereta api”, “kring-kring”, “lagu gembira” dan “naik delman”.

Kami Membutuhkan Keahlian

Tapi lama-lama modal suara dan lagu-lagu populer itu tak bisa lagi dipertahankan. Kami mulai memikirkan soal, bagaimana mewakili Indonesia melalui kesenian ini. Kami lalu memutuskan untuk mencamuntkan acara kesenian sebagai pogram. Semua tenaga, Walaupun sedikit saja mengandung unsur seni, kami kerahkan.

Demikianlah, secara elementer sekali kami memberikan tugas untuk mempelajar berbagai alat kesenian dan cabang kesenian. Seorang belajar piano, yang lain belajar gitar, akordeon, mandolin, biola. Kemudian yang lain lagi belajar berdeklamasi, pencak, menari, berdansa dan menyanyi.

Semua ini tak dapat dicapai dengan ceapat. Tapi kemajuan selalu ada. Kalau dulu kami cuma menyanyi koor bersama-sama, sekarang dapat menyusun acara untuk satu malam kesenian sendiri. Lagu-lagu Indonesia diperbanyak. Tarian-tarian ditambah. Dan pengarang dan penyajak Indonesia diperkenalkan melalui sajak-sajak dan karangan-karangannya.

Kesenian sebagai Bagian dari Kehidupan

Di Sovyet ini kesenian sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu orang mempunyai pengertian yang dalam tentangnya. Bukan saja kami menjadi dari pentingnya kegiatan kesenian itu, melainkan juga guru-guru kami. Mereka mempunyai anggapan, bahwa muncul di atas panggung adalah satu kehormatan, karena ia mempertunjukkan rasa seni kita, dan kita berbuat untuk kepentingan orang banyak.

Tapi dengan ini saya tidak hendak mengatakan, bahwa kesenian adalah persahabatan. Kesenian sebagai bagian dari kehidupan di Sovyet adalah saluran persahabatan, saluran untuk belajar dan bekerja di tengah masyarakat.

Kesenian di Uni Sovyet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Jiva dari orang Sovyet yang sudah berbudaya, menghendaki hidangan kesenian yang memperkayah khazanah seni mereka. Orang Sovyet banyak bekerja. Sesudah bekerja, mereka harus istirahat, dan sesudah istirahat mereka harus kerja lagi. Jadi masing-masing dari kedua hal itu harus merupakan unsur yang aktif: karena itu di Moskwa ini ada istilah “Kulturni otdikh” alias istirahat yang berbudaya. Ini mencerminkan arti, bahwa di dalam istirahatnya, toh orang Sovyet menyimpan satu nilai.

Harapan kami ialah menjadi ahli yang cakap dan berguna.

Pada umumnya kami tak membedakan kedua hal itu. Kami melakukan kedua-duaanya, kami mementingkan kedua-duaanya. Pelajaran mendidik kami menjadi orang ahli, sedang persahabatan mendidik kami menjadi pekerja masyarakat. Belajar melulu menjadikan ahli buku yang tak bisa terjun kemasyarakat, sedang bersahabat saja tanpa belajar membikin orang tetap bodoh. Karena itu dua-duaanya perlu. Karena itu harapan kami ialah menjadi ahli yang cakap dan berguna untuk masyarakat. Ahli macam itulah yang sekarang sangat dibutuhkan oleh Indonesia.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.