Baca EPUB: Bicara tentang Semangat Belia (Jeugd)

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. BICARA TENTANG SEMANGAT BELIA (JEUGD)
  2. PRAMUDYA ANANTA TUR
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. BICARA TENTANG SEMANGAT BELIA (JEUGD)
  6. CC BY-SA 4.0

BICARA TENTANG SEMANGAT BELIA (JEUGD)

PRAMUDYA ANANTA TUR


KOLOFON

BICARA TENTANG SEMANGAT BELIA (JEUGD)

oleh

PRAMUDYA ANANTA TUR



Dimuat di majalah GAJAH MADA

No. 7 - Th. IV

Oktober 1953

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Penggiat Buku

Dibagikan oleh: Muhammad Reza Magistra

Ilustrasi sampul: Beginning Motion 1944, karya Werner Drewes

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



BICARA TENTANG SEMANGAT BELIA (JEUGD)

BELANDA MEMANG BUKAN EROPA ATAU SEBALIKNYA. Tapi Belanda adalah sebagian dari Eropa dgn kebudayaannya. Ju-ga dari negeri sekecil ini orang dapat meraba Eropa. Dari titiklon catan ini pikiran ini bermula.

Jarak antara Jakarta-Banyuwangi adalah jarak antara Amsterdam-Roma. Antara Banyuwangi-Jakarta hanya meluas satu daratan kecil dari Indonesia dgn penduduk dari satu bangsa, bangsa Indonesia. Sedangkan antara Amsterdam - Roma berderet perbatasan negara dan bangsa: Belanda, Belgia, Perancys, Swis dan Italia. Diri menjadi yakin akan kebesaran tanah air dalam pengertian geografis. Dan Belanda yg sebegini kecil ini, dengan kegiatan warga negaranya telah dapat menduduki tanah air yang begitu luas. Tapi sesuai dengan kata-kata Khiang Kai Shek memanglah tidak ada bangsa di dunia ini bisa dijajah sonder pertolongan bangsa itu sendiri.

Kini kebesarran Eropa dlm lus-asnya daerah penjajahan politik telah ambruk bersama dengan runtuhnya nazi dan fascisme yang melambangkan semangat penjajah-an yang extreem. Eropa telah banyak mengalami kegoncangsan, perlombaan kecerdasan untuk ikut dalam perebutan kemenangan mut lak. Kini daerah yang gilang-gemi lang dalam sejarah dunia ini terhantar tiada bertenaga: lemah, ca pai, kacau jiya, kekurangan darah—tinggal seorang nenek bersendeku kedinginan, dengan banyak petuah dalam hatinya, dan dengan existentialisme dalam kepalanya (filsafat cadpyiiki menurut Nadir di majalah Mimbar Indone-sia).

Demokrasi yang diteriakkan setiap waktu melalui berbagai alat, kini menjadi momok yang mau menerkam diri sendiri. Semboyan revolusi Perancys Kemerdekaan, Persamaan dan Persaudaraan yang mengilhami berbagai bangsa dlm membentuk negara dan mendasarkan politiknyya, kini menciek batang leher Perancys sendiri.

Pahlawan-Pahlawan dalam sejarah dunia ini terpaksa membuka genggaman taugarnya dan di seberang lautan sana bangun bangsa-bangsa baru, muda, penuh kegiatan Sekalipun tidak jarang ditunggangi oleh kebodoh an yang bersarang dalam kepalanya, penuh kemauan dan menyimpan banyak tenaga di dalam dirinya.

Perkembangan sejarah telah membuat Eropa kena kutuk citayitanya sendiri. Daratan telah sesak, manusia dan mesin berebutan tempat, dan badan-badan sosial hanya menandakan kelumpuhan orang untuk bisa memperoleh jalan keluar. Tiap tahun puluhan ribu jiya terpaksa melarikan diri men cari tanah air baru, mencari hari depan baru, keberuntungan baru dan kemungkinan baru bagi anak cucu kelak. Segala-galanya di Eropa telah ada yawabannya, segala-galanya telah tersedia kotak di mana pemilihan yang meminta tenaga pikiran tidak diperlukan lagi. Semua telah terjerat dalam sistim dan isme, dan yang tiada suka terpaksa hidup bergelandangan dgn cita-cita besar yang kerdi isinya: kebebasan seratus prosen (biasanya sambil mengemis untuk tinggal hi dup) dan melemparkan kutukan pada kaum borjuis, dan biasanya pula mereka ini menanamkan diri-Tambah la-nya kaum existentialis. ma Eropa tambah tua terus mene-rus dikurung bahaya karena isme-isme yang dibuatnya sendiri, hampir-hampir di lupakan orang. Kebesaran dan kejayannya pindah kebenua-kebenua lain. Tapi Eropa dengan ke-nenek-annya masih terus bergayutan pada kenang-kenangannya: kebesaran di masa lalu. Mereka tetap berbangga hati dalam ketuaannya, pada sepotong sejarah yang kini hanya tersimpan dibuku sejarah anak seko lah di ruangan-di ruangan museum.

Semangat nenenk Eropa kadang kala ada juga bertemu dengan semangat belia dari Indonesia. Dan Indonesia yang selalu membuka tangan dan hatinyya pada tiap tamu yang datang tidak jarang menerima sinenek untuk menjadi beban di dalam keluarganya. Akhinrya terjadi kekacaunan, dan orang kehilangan tempat berpijak darima na ia harus memulai berpikir kem bali dan ke mana ia harus kembali pulang. Tapi ini cuma sesuatu go longan tertentu dari kelompok yg terjadi untuk segera hilang atau sudah hilang, karena masalah Indo nesia dewasa ini bukanlah masalah dunia Eropa. Masalah Indonesia adalah masalah kini dan haridepan sedangkan masalah Eropa adalah masalah yang lalu, sudah kejadian an, sudah menjadi sebagian dari sejarah.

Tetapi kebeliaan Indonesia ma sih memberi kemungkinan dan da erah luas dan banyak. Semangatnya menggelora mengisi udara seluruh kepulauan Indonesia. Dengan ini pula berbagai tokoh dan golongan mempergunakannya dlm berbagai kreasi, baik gagal Maupun tidak. Dan tidak jarang sinenek dari Eropa ditempatkan di pojok cuma untuk menjadi bahan pengetahuan belaka, atau untuk menjadi bahan perbandingan buat jalanen hidup yang kini sedang ditempuh.

Akhinr-Akhinrnya tiap bangsa yang baru dilahirkan dirahmati semangat belianya sendiri, sebagaimana juga Eropa dan lain-lainna dahulu. Apakah bangsa baru ini mendirikan sesuatu untuk kemudian merubuhi dirinya sendiri sekarang bukan ma salah untuk dijawab. Apakah semangat belia ini akan terus diham burkan sebgaimana halnya dengan sekarang dengan tiada penghemat an barang sedikit, dengan hasil kreasi yang tidak begitu banyak, adalah merupakan misteri dari tiap sejarah dalam pembentukan. Bukanlah tidak mengherankan apa bila penyair Rivai Apin menyebut nyya dengan pembuatan mythe baru. Dipandang dari sini krisis-krisisan yang tergelincir di bibir tidak lain daripada tingkah kanak-kanak dalam mela tin ototnyya belaka. Misteri ini selalu ada di depan hari ini, satu de pa di depan langkah, terus maju selama orang berjalanan. Dan my he apakah yang akan dibuat dgn semangat dan tenaga belia ini ti dak pula mengherankan, Sekalipun dengan cara lain, apabila kelak prinsip-prinsip dari perjuangan itu a khirnya akan berduyang sendiran melawan yang membuatnya.

Apabila tenaga tidak lagi memenuhi kebutuhan lagi untuk diper gunakan mencapai cita yg paling dekat, apabila ingatan hanya teri kat pada kegemilangan masa lalu, maka semangat belia ini dengan tiada terasa telah melalui kedewasaannya yang tidak produktif, men jadi tua, dan padam. Dan bicara tentang tua, adalah bicara ten tang adanya kalahiran baru ditem pat lain—kelahiran yang membawa misteri baru dengan pembu atan mythe baru pula. Bukankah ketuaan berarti keadaan di masa produsen kekuasaan telah runtuh, dan runtuhnya kekuasaan itu me nimbulkan kekuasaan-kekuasaan baru dlm tubuh-tubuh lain?

Kebesaran yang terpungut dlm hidup seseorang nenek besok atau lusa telah menjadi barang umum bagi anak sekolah atau penduduk di gunung-di gunung dengan tiada perlu me ngurbankan seluruh umur untuk memperolehnya. Berapakah banyak perjuangan sia-sia terlancarkan da ri semangat belia. Bahkan tidak jarang semangat ini demikian dinamis mencekik batang lehernya sendiri, seperti seekor ular yang menelan buntutnya sendiri. Cakil dalam cerita wayang bukantah lambang dari semangat belia yang lumpuh krena berlaga dgn kekuatannya belaka sonder memperoleh kreasi apa-apa. Tiap kali jatuh dan mati, timbul kembali dalam tenaga yang sekutu itu juga dalam penyerbuan pada sesuatu maksud yg kadang-kadang tidak berguna untuk siapa pun juga. Tapi inilah semangat belia, semangat bergerak, semangat meraba dan merasai.

Kemudian apabila umur telah terceceran di sepanjang jalan, tiada lagi yang bisa diperbaiki dan dilaksanakan selain duduk berma-las di kursi goyang, berhadap-berhadap-an dengan masa lampau dan masa datang yang dekat, yaitu kematiannya sendiri, sadarlah orang: demikian banyak sudah yang disia-siakan tapi kesedaran itu hanya baik bagi yg mendengarkan, sedang yang sadar ini besok sudah diantarkan keliang kubur.

Apakah harus dimaafkan kegiatan semangat belia yang kini kadang-kadang merupakan pengerusakan dan peneyalan lahap dari kekayian yang seharusnya dipergunakan sebagai-baiknya, merupakan misteri pula. Akhir-Akhirnya manusia sendiri adalah misteri—juga bagi dirinya sendiri. Dan kebutaan orang akan akibat di hari depan kelak, adalah romantik hidup—demikian penuh rampai, demikian mengayukan, demikian menggairahkan dan menggiurkan. Dan bicara tentang semangat belia hampir selamanya dapat dikatakan bicara tentang apa yang hendak dicapai dan bukanlah apa yang akan diperbuat. Sedangkan yang terakhir inilah sesungguhnya bakal memerlukan creativiteit, ketegasan sikap, dan bukan silang siur dari angan-angan abstrak dan penuh kebesaran hampa.

Bangsa-Bangsa Eropa kini merupakan sejajaran ikan sardentiyis dengan benuanya sebagai kalengnyya, dan Sekalipun dibumbui secara kimiah yang paling bersih dan awet Sekalipun tidaklah bisa menjadi telandan dalam segala hal bagi bangsa Indonesia dalam kebeliaannya kini yang tiada beda dengan ikan yang hidup dalam kolam berlumpur. Indonesia masih punya kesempatan untuk banyak tingkah. Memang enak kedengarannya dengan sikap besar menganjurkan membuat pekerjaan raksasa. Tetapi bukankah sangat menguntungkan apabila ada pengetahuan untuk apa pekerjaan raksasa? Yangan apa yang sesungguhnya bisa dan dapat diperbuat. Ah, pengetahuan adalah tanda-tanda ke dewasaan. Sonder melalui ini bayi yang baru dilahirkan ini tiba-tiba akan menjadi nenek pula.

Pada suatu kali orang bisa ter-tegun pada adanya kemungkinan adakah orang bisa mabok dalam ke riannya dengan semangat belia dan bergirang dengan tenaganya yg penuh, yang mana telah menyebakan sebagian besar dari bangsa-bangsa di atas bumi ini kini hanya dapat kelap-kelip memandang dunianya dari pojoknya yang gelap! Inilah masalah Indonesia dalam kebeliaannya dewasa ini. Dan jawaban yang ditunggu hanya akan datang pada golongan bangsa itu yang kini berhak menamai dirinya pemuda. Tapi, sesungguhnya, bukan saja macan mungkin mendapat nama karena belangnyya, juga mungkin sekali dia terbunuh karena be langnyya sendiri, dan gadiyah karena gadingnyna. Dan pemuda karena semangat belia dan tenaganya yang penuh. Kadang-Kadang begitu enak mempergunakan perbandingan yg tepat asal saja tiada terlupakan bahwa setepat-tepatnya perbandingan hanya mengenai sesuatu maksud tertentu.

Akhir-Akhirnya kejatuhan dan kenaikan adalah dibuat oleh diri sendiri. Baik di Eropa Maupun di Indonesia kelak Dan antara kedua-nya tidak pernah ada tawar mena-war, Sekalipun dalam kebimbanganya tidak jarang sesuatu bangsa sesungguhnya telah jatuh sebagai korban pertama dan terakhir.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.