KALUNG
S. RUKIAH
KOLOFON
KALUNG
oleh
S. RUKIAH
Dimuat di majalah API KARTINI
No. 1 · Tahun I · Juni 1959
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: langka.logosid.app
Gambar sampul: Tidak diketahui
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
KALUNG
SATU-SATUNYA kenangan pusaka yang masih tinggal diingatnya, ialah suatu ingatan bahwa pernah ia ber-cita-cita: ingin menjadi permaisuri kaisar Tiongkok!
Betapa keagungan yang dilamuninya, kadang-kadang ber-jam-jam menyita waktunya untuk me-reka-reka: sebuah istana yang besar perkasa, pakaian indah aneka macam, berlian besar-besar yang menyilaukan mata, lalu duduk seharian terbenam dikasur beledu halus dan pelan dikipasi kipas bulu! Tak ada yang dikerjakan setiap hari, kecual memuat diri, mengecat muka, alis dan bibir dikaca seperti topeng. Amboi, adakah ke-nikmatan yang lebih mahal bagi wanita, selain menjadi seorang permaisuri?
Pelan-Pelan di dekatkannya mukanya ke depan cermin, di-urut-urutnya pipi yang mulai cekung menulang:—Begini jeleknya rupaku sekarang.....—ia berbisik sedih.
Sebuah gambar tentang dirinyaka kini berdiri di depannya: seorang wanita yang susut tak berdaging, berambut tipis, bermata cekung diputari lingkaran hitam, se-akan-akan membayangkan seorang pejalan jahu siang-malam yg. sudah penat kelelahan. Lama ia menatap dirinyaka. Ia kepingin terus-terang berkata dan bertanya, tapi ia selalu terbentur pada sebuah percakapan yang bengis meng-uber-uber dirinyaka:
—Begini beratinya hidup mengikutidiyejak dia! Aku sudah penat ter-seret-seret......—Engkau terlalu lemah!—Lalu? Apa yang harus ku-buat?—Engkau kurang berani ma- suk kepergolakan hidup yang meluap-meluap. Engkau selalu bimbang dan mengutuk keadaan, tapi engkau tak dapat menemukan letak persoalanmu. Tempalah dirimu sekeras baja!
Jika sebuah percakapan ini sudah datang menjalari seluruh dirinyaka, lalu terasa bahwa ia hidup tidak untuk dirinyaka seorang saja. Tidak untuk sebuah lamunan tentang permaisuri kaisar Tiongkok, tidak juga untuk di-ayun dikipasi kipas bulu, tapi untuk seluruh kehidupan yang begi-ni sibuk me-luap-luap, untuk sebuah perjalanan jahu yg. tak henti-hentinya siang dan malam......
Ditatapnya dirinyaka dikaca sekali lagi. Malu dan sedih timbul karena melihat kejelekkan rupan-ya sekarang dicermin. Tapi bagaimana ia hendak mempercan-tik dirinyaka, jika seharian penuh di-uber-uber keraya dan kebutuhan untuk menyambung hidup keluar-ga dan rumah-tangganya? Bangun sepagi ia sudah menghadapi tiga ember besar yg. penuh cuci-an. Kulit telapak tangannya yang pernah terkenal sehalus sutera, kian hari kian menjadi keras dan tebal. Pindah dari cucian, ia gesit merawat anaknya yang masih alit keci12. Kemudian lari mengatur makanan mereka dan sehari penuh ia mondar-mandir didapur. Panas api, gagang sapu dan kain pel sudah menjadi langganan tangannya yang mulai keras, kasar dan kukuh seperti tangan seorang algojo! Tak dapatkah ia mencari pembantu? Pembantu harus dibayarkan dengan uang yang mahal, sedang ia tak ada sepicis-pun uang lebih untuk dibayarkan pembantu. Ia tak mampu hidup membayarkan pembantu.
Jika malam datang dan anak-anaknya sudah rampung ditidur-kan, ia merayap pelan ‘kemeja tulis, lalu bekerjalah hingga larut dengan mata berat kantuk! Di tengah kelelahan yang melecut men-dera-dera itu, sering ia terhenti dan bertanya pada dirinyaka: me- ngapa hidup ini begini sibuk? Tak bolehkah aku mengaso barang sekejap? Tapi ada waktunya ia tak pduli pada segala pertanyanan ini. Ia berlari terus dengan hari-hari si-buknya. Sebab jika berhenti se-bentar saja, ini berarti lapar dan sakit bagi anak-anaknyia. Jika anak-anaknyia sakit, berarti ia tak bisa bekerjia malam, dan jika ia tak bisa bekerjia malam, berarti uang kebutuhan semakin susut. Ia harus bisa mencari uang tambahan dengan jalan menulis setiap malam, demi kepentingan cinta kepada anak-anaknyia.
HARI ini si Nus sakit demam. Panas badannya sungguh tinggi. Anak yang paling manis, anak kesayangananyia! Dua honorarium dari dua buah tulisannya sudah diminta, tapi jumlah itu belum cukup untuk menebus obat-obat dok-ter Siem yang begitu tinggi harganya. Apa yang harus ia perbu-at? Kaku tangannya membuka laci barang-barang simpanannya. Gi-uang bermata delima hadiah da-ri ibunyia, sudah dijual setahun yang lalu, ketika si Lies diduga kena bronkhitis. Dan enam bulan kemudian, hadiah dari abang-nya, cincin berbatu arab hiyau sudah hilang pula dijualinya. Dan semua, semua barang-barang ha-diah kepunyaannya, satu-satu pergi terjual, jika anak-anaknyia atau dia sendiri diserang penyakit. Ting-gallah satu-satunyia barang hadiah yang masih ada tersimpan dilaci itu: kalung bermata hitam! Kulung ini tak pernah ia pa-kai. Ini adalah hadiah dari Heru, seorang laki-laki yang pernah men-cintainya dan pernah menjan-jikannya bahwa ia benar-benar hen-dak menjadikannya ia: seorang permaisuri! Pada tahun-tahun empatpuluhan ia masih juga beranggapan, bahwa memang satu-satunyia kebahagiaan yang paling sempurna bagi wanita, hanyalah menjadi seorang permaisuri yang dipertuan. Alangkah nikmatnya! Waktu itu Heru menjadi se-orang C.A., kandidat amtenar! Suatu kedudukan yang sangat di-idam-idamkan para gadis di-tahun itu. Tidakkah dari seorang C.A., ia akan meningkat menjadi asisten, lalu wedana, kemungkin-an patih, dan jika ada nasib baik berjasa besar pada Belan-da, toh lama-lama ia pasti diberi pangkat bupati? Dan bupati adal-ah raja dari senantro pangkat. Bialrah ia tak mungkin menjadi permaisuri seorang kaisar Tiongkok, tapi toh ada kemungkinan menjadi permaisuri seorang bu-pati! Demikianlah di tahun itu ia asik bergaul dengan Heru, dipe-nuhi harapan dan gambaran: ka-bupaten, berlian besar-besar, tamu-tamu priayi, pesta tayuban dan bu-jang sahaya serta abdi-abdi yang jongkok me-nyembah-nyembah! Dan memang begitulah Heru melatih dia. Dimanjakannya ia seperti memanjakan sebuah bo-neka rapuh. Dilarangnya ia be-kerja keras agar tangan dan pi-pinya tetap bagus sehalus sutera. Dijaganya dan dikawalnya ke-mana ia pergi, diaturnya segala ucapan dan gerak-gerik, agar se-lalu terikat pada tali-tali peradaban seorang priayi tulen. Amboi, be-tapa tidak merdekanya hidup menjadi calon isteri amtenar! Mulailah ia membang me-mi-kir-kir. Segala tata-susila dan upa-cara kehormatan yang di-bikin-bikin itu membuat ia jemu dan sebal. Datanglah kritik dan perlawan-an.—Aku bukan barang mati seperti boneka, tapi aku suatu yg. hidup yg. harus menjalan kan praktek hidup yang wajar, se-jalan dengan gerakan dan kebi-asaan manusia umum—Tapi sementara itu berjalan-lah tahun-tahun dengan kencangnya, hingga datanglah revolusi yang berani menggilas seluruh tata-cara amtenar dan.calon amtenar dengan segala peradaban bikin-annya yang amat menyebalkan itu. Juga terhadap dirinyia. Ia terbentur pada keadaan yang amat asing dan ankh. Ia tergilas revolusi, maka ambruklah semua harapan tentang kesenangan dan kepentingan untuk dirinyia se-orang, diganti oleh segala peru-bahan yang seluruhnya meminta kebahagiaan untuk mereka yang ada di luar dirinyia. Ia berdiri di-tengah-tengah keasingan. Lalu datang-lah Maruto, seorang perajurit revolusi yang menyeret ia keluar berlari dari segala kungkungan dan tali-tali yang merantai antara dia dengan Heru, antara kepen-tingan untuk dirinyia seorang de-ngan kepentingan mereka di luar dirinyia.
Sebuah percakapan dengan Maruto telah menyeberangkan dia ke dunia lain:
—Aku perhatikan nasibmu, Tika! Bila engkau tidak dipaksa-kan belajar menelan semua ke-tegasan dan kegetiran-kegetiran di alam nyata ini, engkau akan kesasar di sekitar jalanmu yang kelam-kabut itu. Engkau telah memben-ci kegetiran masyarakat, engkau telah mendendam keburukan-keburukan bangsamu. Tapi setelah engkau berpaling jauh dari mereka, kau bimbang pula untuk mele-paskannya. Hendak ke mana eng-kau? Engkau mesti diberi paksa-an dan kekejaman untuk pele-buran seluruh engkau dan pusat akumu yang selalu ingin berkua-sa itu. Engkau mesti mengalami kehancuran dan peleburan!—
—Tapi toh aku tidak berba-haya buat engkau. Aku punya tempat yang tersendiri. Aku tak ada maksud untuk mengganggu engkau, tapi engkau pun tak usah mengganggu keamanan pikiran-ku.—
—Tapi pikiran-pikiranmu itu adalah cetakan pikiran lama. Semua kelamaan ini mesti dihancurkan untuk memiliki kebaruan!——Mesti? Kemestian-Kemestian itu haya dibuat oleh mereka yang berjiwa mesin seperti pabrik. Dan aku bukan pabrik.——Perhatianmu cuma diuntukan untuk engkau sendiri, Tika! Engkau mesti memberikan dirimu untuk yang lain.——Apakah artinya itu, Maruto?——Artinya, sekali waktu nanti kubawa engkau ke-tempat-tempat perempuan lacur, ke-gubug-gubug kotor yang berderet yang dipunyai oleh orang-orang jelek sepanyang batu kerikil, atau ke-tempat-tempat mereka yang bekerya siang-malam untuk kebaikan hari esok. Kesemuanya minta engkau berpikir. Cari-lah isi dari semua itu!——Tapi berpikir tentang hal-hal seperti itu, sama artinya dengan memperkoska keindahan yang sudah lama aku miliki. Dan jika aku begitu, engkau mau menjajah aku!——Menjajah untuk menghilangkan penjajahanan dalam dirimu yang sudah merana hilang pegangan. Dan engkau harus tahu, bahwa semua ini untuk kebaruan hari esok.——Engkau terlalu percaya dan terlalu puas akan dirimu sendiri. Padahal belum tentu itu, bahwa hidup punyamu itu yang benar.——Aku tidak puas akan diriku sendiri, tapi aku punya keyakinan. Dan engkau, tak tahukah engkau, apa sebabnya engkau runtuh dan mesti diruntuhkan? Karena engkau tidak punya keyakinan.——Yakin? Untuk apa itu, Maruto?——Untuk hidup.——Dan jika keyakinanmu itu tidak benar, lalu kita tak bisa hidup, akan tetapkah kauseret aku ke dalam penghidupanmu?——Sudah aku katakan, bahwa aku punya dua penghidupan. Satunya yang benar, itu punyaku. Dan yang lain itu, engkauolah!—Maka berjalanlah ia dari hari ke hari di samping Maruto. Dikenalna orang-orang jelek dan miskin yang dulu didendaminya. Warung kopi yang rendah, gubuk yang rapuh dan sarang-sarang pelacur-an, ditambah pula dengan seengitnya perlawanyan gerilya, mempertajam latihan praktek hidup-nya.—Kau lelah, Tika?——Tidak. Aku kepingin tahu, sampai di mana ujung jalan yang kita hadapi ini.——Masih jauh! Kau ’nycsal? Mau kembali?——Tidak. Aku sudah melebur diriku, dan akan kutempa hatiku sekeras baja.—
TANGANNYA yang kaku itu gemetar memegang kalung yang bermata hitam tadi. Lalu melintas dipikirannya, sebuah percakanan rutning yang menghabisi pertemuannya dengan Heru, si pemberi kalung itu.—Kau tahu, siapa Maruto?——Tahu.——Turunannya? Asal-usul-nya?——Aku tak butuh asal-usul-nya.——Dia orang desa, tidak berdarah priyai, bukan raden tulen dan tidak terpelajar. Hanya kebetulan saja perang, dia bisa membonceng kedudukan, yang buat kami, kedudukan itu sesungguhnya menyijikkian. Jadi serdadu!——Serdadu revolusi lebih tinggi kedudukannya dari scorang ca-lon amtenar yang pengecut.——Kau sedang mabuk, tak sedar akan keadaanmu sendiri.——Aku tidak mabuk. Aku sedar, bahwa scorang calon amtenar yang pengecut, hanyalah alat yang turut memperpanjang umur penindasan, sedang scorang serdadu revolusi dari desa adalah manusia baru yang turut membongkar dunia lama untuk dijadikannya dunia-baru.——Omongkosong! Hidupmu akan rusak ter-lunta-lunta. Tak punya gaji yang tetap, tak punya titel dan tak punya segala-gala. Kau tak akan dijadikannya scorang permaisuri, tapi scorang hambasa-haya yang penuh dengan segala kewajiiban.——Hamba-sahaya yang merdeka dan penuh dengan segala kewajiiban, lebih tinggi daripada scorang permaisuri! yang haya dimonopoli oleh scorang majikan laki-laki.——Kau tak ’kan kuat mengikut dia!——Aku akan belajar, sekali-pun aku jauh tertinggal oleh-nya. Selamat berpisah, Heru!—Ketika ia hendak mengembalikan kalung hadiahnya, Heru sudah tak ada lagi di tempatnya. Ia sudah pergi berdagang menjadi tukang catut. Untuk men-cari-cari di mana dia berada, ia tak cenpat lagi karena kesibukan yang me-ngejar-ngejar setiap harinya. Lalu terbawah kalung itu hingga sekarang, Sekalipun tak pernah ia mengenakannya. Kalung itu dilihatnya dengan teliti. Di-timang-timangnya. Apa yang hendak dibuatnya dengan kalung ini? Timbul tanya-jawab: yang ber-tarik-tarikan antara kkhormatan scorang wanita yang tinggi hati dengan kehutuhan scorang ibu yang putus-asa.—Aku jual saja kalung ini. Toh tak ada gunanyya lagi. Buat apa di-simpan-simpan?——Tapi sekali waktu, kalung itu harus kaukembalikan. Cari-lah yang lain!——Aku tak punya apa-apa lagi. Apa yang harus kucari? Baju-Baju lama? Sepatu butut? Kertas-Kertas? Oi, tak mungkin cukup buat nebus obat dan rekening dokter. Dan memang aku sudah tak punya apa-apa lagi. Kami terlalu miskin untuk merawat anak-anak kami dengan sempurna. Aku tak peduli, apakah ini melanggar kehormatan harga diri ataukah menipu? Aku harus belajar berpikir dengan praktis. Malam ini si Nus harus dapat obat dari dokter. Panasnya terlalu tinggi. Aku butuh uang!—
Ia berkemas. Dengan kaki tersaruk-tersaruk keletihan, ia menuju sebuah toko langgananyna yang bisa terima barang-barang perhiasannya.
—Kujual saja?—pikirnya—Bagaimana jika bertemu Heru? Amboi, betapa puasnya ia nanti, jika tahu bahwa aku menjual kalung hadiah kepuyaannya. Alangkah hinaan Ma-ruto di mata dia. Dianggapnya ia tak mampu memberi nafkah pada kami anak-isterinya. Padahal…… padahal jika mau, Maruto juga bisa mencari uang seperti dia. Mungkin lebih. Tapi relakah aku, jika Maruto menjadi seorang tukang catat? Mondar-mandir kiri-kanan menjadi budaknya cina-cina yang bakal memberi untung? Alangkah rendahnya! Tidak. Ia tak boleh menjadi budaknya uang. Modal satu-satunya milik Maruto hanyalah nama baik dan cita-cita. Akan diruntuhkannya modal dan keyakinan yang demikian tingginya itu di dunia?—
Lama ia berdiri tertegun di depan toko. Ia bimbang. Tapi satu keadaian telah datang dengan tiba-tiba. Ketika ia hendak melangkah masuk ke dalam, dua orang suami-isteri datang dengan muka gembira tapi kosong, se-akan-akan tak pernah ada suatu hal yang ‘pelik’ yang pernah mereka pikirkan. Suaminya gagah tapi hambar dan tinggi-hati, sedang isterinya genit tapi kurang menarik.
Terkejut ia menoleh kepada mereka.—Itulah si Heru…….—ia berbisik pelan.—Apakah yang hendak kubuat? Aku urungkan saja penjualan ini dan kukem-balikan sekarany juga? Tapi bagaimana si Nus? Obat apa yang harus ia minum malam ini? Ah, anakku malang!
Pelahan ia berpindah ke lain toko agak menyauh dari mereka. Tapi suara nyonya Heru yang cempreng itu jelas terdengar:—Sudah siap pesanan kami? Mana gelangnya? Kalungnya? Ti-dak ketukar berliannya? Awas, punyaku giwangnya bermata empat belas……
Amboi; jijiknya ia mende-ngar suara cempreng begitu.—Mas, sekalian aku belikan brosnnya yang besar, ya? Aku perlu sekali buat pergi ke-pesta-pesta!—Belilah!—Heru menjawa ringan dan somboing. Sebal ia mendengar suara Heru.—Suami yang tak bisa mendidik isteri!—bisiknya kecewa.—Sudah, mas? Ayo, bayarlah! Nanti kita terlambat pergi keca-tas……—terdengar lagi suara cempreng berbunyi. Dan sepermat jam kemudian, lenyaplah mereka dari pandangan, mening-galkan derum dan debu mobil yang amat kotornya.
—Barang ini harus kujual—putusannya.—Toh mereka tak mungkin membutuhkannya dan aku jijik menyimpannya. Se-sungguhnya, Heru betul-betul menjadi orang gagal dan tak mungkin menjadi orang!—
Sebungkusan obat-obat telah dibawanya pulang dengan lega. Selin-tas ia bandingkan antara Heru dan Maruto. Yang satu, begitu tampan, bersih, terurus dan serba mahal, tapi gelap tak ada apinyna. Sedang satunya, begitu sederha-na, rendah dan serba murah, ta-pi ia punya api yang panas meyala. Dari api itu tampak memancar seluruh keyakinannya yang dibentuk dari bangun-bangun yang didirikan atas perhitungan mate-matis. Dan sesungguhnya, api ini se-akan-akan merupakan sebuah tantangan perang bagi keamanan hidupnya dahulu sewaktu ia bercita-bercita menjadi permaisuri yang dipertuan. Dan bangun-bangun ini seperti penuh dengan ketegasan dan kegiatan hidup, di mana kegetiran ini menjadikan dia jumpa dengan kesadarannya yang ter-tinggi, yang teguh seperti baja.
Semalam, ketika ia sclesai mengompres dahi anaknya, lelaplah ke dalam kantuk. Dan dalam le-lapnya, terlihat ada cahaya fayyar menyingkap. Kabut yang mengge-lapi lautan pelan-pelan menghilang. Tampaklah awan putih kelabu menyelubungi langit biru. Dan sebentar tampaklah hilang teng-gelam, sebuah kapal yang besar berlayar!
Pelahan ia membalik kepada suaminya dan berkata:
—Aku pernah ber-cita-cita menjadi permaisuri kaisar Tiongkok.—
Dan tertawalah suaminya:
—Di Tiongkok sekarang tak ada kaisar!—
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.