PENCURI DICURI
A. MARJANI
GAHARDIO
KOLOFON
PENCURI DICURI
oleh
A. MARJANI
GAHARDIOA
Dimuat di majalah Kawanku
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Monet Odi
Ilustrasi sampul: Twin Devil 1961, karya Yasuhide Kobashi
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam. com
SALAH SANGKA
Panasnya sinar matahari jam tiga siang terasa sama membakarnya dengan bibirku. Rujak dengan cabai rawit merah itu memberikan sensasi pedas yang tak terkira. Sabtu siang itu, di bawah pohon asam, aku, Bido, dan Hadi sedang mengadu kekuatan—kekuatan melawan sengatan pedasnya rujak. Pertandingan ini memang sudah kami rencanakan sejak hari Senin yang lalu.
“Aku menyerah, ah! Enggak sanggup lagi!” kata Bido seraya bangkit berdiri. Hadi tertawa terpingkal-pingkal. Bisa juga dia tertawa di tengah rasa pedas seperti ini, pikirku.
“Jadi kau mengaku kalah, Bid? Enggak sanggup lagi?” tanya Hadi memastikan.
“Bukannya enggak sanggup melawan rujak itu. Tapi aku enggak sanggup melawan... ini, iihhh...” jawab Bido sambil menekan-nekan perutnya yang mulai bergejolak. “Aku ke belakang dulu, ya!” lanjutnya. Ia segera berlari sambil memegangi perut menuju sebuah gang, kemudian menghilang dari pandangan. Aku tahu pasti ke mana arahnya; Bido menuju WC umum untuk melegakan perutnya.
“Heh, kenapa bengong? Ayo, kalau kau masih sanggup!” Tiba-tiba Hadi menegurku. Aku menahan napas. Bibirku rasanya sudah hangus terbakar. Namun, rasa gengsi dan tidak mau kalah membuat tanganku tanpa sadar kembali mencomot sepotong mangga, mencocokkannya ke piring penuh sambal, lalu mengunyahnya.
Tetapi pada akhirnya, aku pun menyerah kalah. Sama halnya seperti Bido, perutku mulai melilit-lilit berontak. “Kau menang, Di. Aku sudah enggak sanggup lagi!” kataku seraya meraih cangkir minuman dengan cepat.
“Kau mengaku kalah?” tanya Hadi.
“Ya, kau menang dan pantas mendapat gelar ‘Si Bibir Tebal’.”
“Ah, sialan kau!” seru Hadi.
Dengan muka meringis menahan sakit, aku segera berlari meninggalkan Hadi. “Hei, mau ke mana kau?” tanya Hadi keheranan melihat tingkahku. “Sama seperti Bido. Aku juga mau ke belakang!” jawabku sambil terus berlari memasuki gang. Sayup-sayup, masih terdengar suara Hadi yang tertawa gelak-gelak di belakang sana.
Dengan langkah yang terhenti-henti karena sebentar-sebentar harus menekan perut, aku menelusuri gang sempit itu. Di ujung gang, aku membelok ke kanan, dan sampailah aku di kompleks WC umum. Fasilitas WC ini dibangun atas usaha swadaya warga mengikuti instruksi Pak RW. Kini, di lingkungan RW 03 kami, sudah tersedia sebelas pintu WC. Standarnya, setiap dua puluh rumah dibangunkan satu buah WC umum.
Begitu sampai, tanpa membuang waktu aku langsung menggedor pintunya. “Bido...! Bido...!” teriakku. Tapi tidak ada jawaban. Sialan! “Bido! Gantian, dong! Aku juga sudah mulas nih. Kamu ‘nyetor’ lama amat, sih? Cepat, nih... Aduh, aduh... Cepat sedikit, Bid...!”
Tetap tidak ada jawaban. Aku mulai merasa cemas. Jangan-jangan terjadi sesuatu? Kenapa Bido diam saja? Apa dia pingsan atau malah mati di dalam karena mulas yang kelewat hebat? “Bid, Bido! Aku sudah enggak tahan lagi, nih!” Panggilanku masih tak terjawab. Rasa jengkel kini bercampur dengan gelisah.
“Bido, kamu benar-benar tidak punya tenggang rasa. Kamu nyetor mengeluarkan batu, ya? Awas kau!” ancamku seraya mengempaskan tubuh di bangku panjang yang memang disediakan untuk mengantre. Kurang lebih satu menit aku duduk dalam penderitaan, tiba-tiba terdengar pintu WC berderit dibuka. Tapi... astaga! Bukannya Bido yang muncul dari balik pintu itu, melainkan Pak Wongso, tetanggaku.
“Maaf, Nak Budi. Bapak agak lama memang. Tapi Bapak tidak sedang nyetor mengeluarkan batu, lho,” ucap Pak Wongso dengan senyum yang sedikit menyindir. Aku hanya bisa terperangah. Benar-benar tak menduga kejadiannya akan seperti ini. Namun, desakan di perut membuatku segera tersadar dari rasa malu.
“Maafkan saya, Pak. Saya kira tadi teman saya, Bido...” ucapku kikuk. Pak Wongso berlalu dengan wajah yang tampak agak keruh. Mungkin beliau tersinggung, pikirku sekilas. Namun aku tak punya waktu untuk berpikir panjang. Keadaan perutku sudah berada di level kritis. Brak! Pintu WC segera kututup rapat dan aku pun “nongkrong” dengan perasaan lega yang luar biasa.
Belum selesai urusanku, tiba-tiba terdengar suara orang mengerang kesakitan di luar. Tak lama kemudian, pintu WC diketuk pelan. “Pak Wongso, sudah belum, Pak?“ tanya orang di luar itu. Aku terkejut. Bukankah itu suara Bido? Aku jadi bingung sendiri. Lho, kok begini kejadiannya? pikirku heran. Bukankah dia yang lebih dulu mulas dan lari ke sini? Kenapa malah Pak Wongso yang tadi ada di dalam?
Tadinya aku berniat ingin berlama-lama di dalam agar Bido merasakan penderitaan yang sama. Tapi nuraniku berkata lain; aku tidak tega. Begitu gejolak di perutku mereda, aku segera bangkit. Pelan-pelan, aku membuka pintu WC. “Silakan masuk, Nak! Bapak sudah selesai...” kataku dengan suara yang dibuat-buat menjadi berat menyerupai suara orang tua.
Bido nampak tersentak kaget. “Lho, kok malah kau, Bud? Bukannya tadi Pak Wongso?” katanya dengan wajah penuh keheranan. Aku pun tertawa geli melihat ekspresinya.
“Aku juga bingung, Bid. Tadi kukira kau yang di dalam, ternyata Pak Wongso!” jawabku. “Tapi bukankah kau tadi yang mulas duluan dan lari ke sini lebih dulu?“
“Betul. Tapi aku kalah cepat beberapa detik dari Pak Wongso yang ternyata punya niat yang sama. Karena tak tahan, aku sempat lari ke WC lain tapi semuanya penuh. Akhirnya aku balik lagi ke sini dengan perut yang makin melilit...” jelasnya sambil terburu-buru menghambur masuk ke dalam WC.
Aku tertawa terbahak-bahak melihat nasib kami. “Kita memang salah sangka, Bid! Aku menyangka kau yang di dalam, ternyata Pak Wongso. Kau menyangka Pak Wongso yang di dalam, ternyata malah aku. Persis seperti pertunjukan sulap, ya? Lucu sekali!” kataku sambil tersenyum lebar. Dari dalam, Bido tidak menjawab. Sepertinya dia sudah terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.
PENCURI DICURI
Usiaku dengan usia adikku cuma terpaut satu tahun. Perbedaan yang pendek itu membuat kami tidak seperti layaknya kakak beradik, tetapi lebih seperti saudara kembar yang lahir dalam waktu yang sama. Bahkan sekilas, nampak adikku lebih besar tubuhnya daripada tubuhku sendiri. Dengan keadaan ini, tentu saja banyak hal yang tidak kuingini selalu terjadi. Kami sering kali berkelahi memperebutkan hal-hal kecil.
Perselisihan remeh saja sudah cukup bagi kami untuk dijadikan alasan bertengkar. Misalnya, rebutan kursi ketika akan makan pagi, sore, dan malam hari. Rebutan piring, gelas, Ataupun apa saja yang kami rasa memiliki kepentingan yang sama.
Selain berkelahi, aku dan adikku juga selalu berlomba dan bersaing dalam hal apa pun. Ia tak pernah mau kalah, dan sebagai kakaknya, tentu saja aku pun tak mau menyerah. Apa pun akan kupertaruhkan demi sebuah kemenangan.
Pada suatu hari, aku mempunyai gagasan untuk membuat kotak tabungan guna menyimpan uang-uangku.
“Aku juga mau bikin,” kata adikku tandas. “Bahkan ini sudah kurencanakan. Mungkin rencana itu lebih dulu ada di kepalaku,” dia mendengus kesal.
Namun, aku membiarkannya saja. Pada akhirnya, kami kembali berkelahi lantaran berebutan alat-alat pembuat kotak tabungan tersebut.
“Aku dulu!” katanya sambil merebut parang dari tanganku.
Kuserahkan parang itu, lalu kuambil gergaji. Namun, belum dua potong kayu kugergaji, adikku sudah kembali dan merebut gergaji tersebut.
Karena kesal, ia kutempeleng. Kami bergumul tidak lama. Ketika Ayah datang melerai, sedikitnya tiga pukulanku telah berhasil bersarang di pipi, punggung, dan perut adikku. Tentu saja dia menangis.
Aku sangat kesal. Tak tahu kenapa aku merasa begitu dirugikan, hingga kemudian timbul rasa dendam di dadaku. Aku mempunyai suatu rencana jahat. Kupikir, aku harus menghargai otakku yang mempunyai gagasan gemilang ini.
Tahukah kau apa rencanaku? Ya, aku akan selalu mengorek uang adikku dari kotak tabungannya!
Aku bersorak riang. Rasakan, umpatku dalam hati. Uangmu akan ludes, sementara uangku akan bertambah terus lantaran aku rajin menabung. Menabunglah kau terus, dan aku akan mengoreknya juga terus.
Aku tidak tahu berapa lama hal ini berlangsung. Selama ini adikku terus terlihat tenang, seolah- olah tidak ada malapetaka apa pun yang menimpanya.
Hari itu hari Minggu. Dengan langkah seorang komandan yang memenangi perang, kubawa kotak tabunganku ke serambi depan. Ayah dan Ibu sedang tidak ada. Di sana hanya ada adikku yang sedang membaca.
Melihat aku akan membuka tabunganku, adikku pun melompat dari kursinya dan berlari ke dalam. Ia kembali dengan membawa kotak tabungannya pula. Ada rona kebanggaan yang membersit di wajahnya. Aku tahu, mungkin ia bangga dengan uang-uangnya yang ia pikir sudah melampaui jumlah uangku.
Tiba-tiba, aku terperangah manakala kotak tabunganku berhasil kupecahkan dan uangnya kukeluarkan seluruhnya. Semula, kutaksir uangku akan mencapai jumlah ribuan. Tetapi nyatanya? Cuma ada lima ratus rupiah!
Aku terbengong dengan keringat dingin yang membasahi kepingku. Kupandangi adikku. Ia juga sedang terperangah dengan rona muka yang lesu dan lemah.
“Kakak curang!” tiba-tiba ia membentak.
“Kau yang curang!” aku balik membentak tidak kalah kerasnya.
“Kau! Kau tentu telah mencuri uangku! Seharusnya uangku ada dua ribu lima ratus sesuai dengan catatanku. Tetapi nyatanya sekarang cuma ada empat ratus rupiah!”
“Tidak!” aku berteriak. “Kau tentu yang mencuri seluruh uangku! Seharusnya uangku ada tiga ribu, tetapi sekarang cuma ada lima ratus rupiah saja!”
Kami sama-sama terdiam. Saling pandang tanpa mengerti persoalan yang sebenarnya. Sejenak kami merenung, lalu aku tertawa. Dan adikku pun tertawa terbahak-bahak.
“Kau korek uangku, ya?” adikku menuding.
“Kau juga, ya!” aku tersipu. Kami pun tertawa lagi.
Rupanya pikiran kami memang sama-sama licik, curang, dan ingin menang sendiri. Kau tahu, adikku pun kiranya melakukan pekerjaan yang sama seperti yang kulakukan. Kusadari akhirnya bahwa hal ini tidak terpuji. Namun, sekarang apa mau dikata? Uang kami berdua sekarang hanya tinggal sembilan ratus rupiah.
Ya, cuma segitu saja!
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.