Ilustrasi sampul: Spring Plowing 1974, karya Richard Correll
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
depan kantor tuan bupatitersungkur seorang petanikarena tanahkarena tanah dalam kantor barisan tanisi lapar marahkarena darahkarena darah tanah dan darahmemutar sejarahdari sini nyala apidari sini damai abadi
2.
dia jatuhrubuhsatu pelurudalam kepala ingatannya melayangdidakap siksatapi siksa cumadapat bangkainya
ingatannya ke jaman-mudadan anaknya yang jadi tentera—ah, siapa kasi makan mereka?—isteriku, siangi padibiar mengamuk pada tangkainyakasihi merekakasihi merekakawan-kawan kitasurampadamdan hitamseperti malam
3.
mereka berkatayang berkuasatapi membunuh rakyatnyamesti turun tahta
ala, wanita berani jalan telanjangdi sicanggang, di sicanggangdi mana cangkol dan padi dimusnahkan
mereka yang berumah penjarabayi di gendonganjuga tahu arti siksa
mereka berkatayang berkuasatapi merampas rakyatnyamesti turun tahtasebelum dipaksa jika
datang traktorbikin gubuk hancurtiap pintu kita gedorkita gedor.
keterangan:¹ Loliok ialah suling dari batang padi dalam sebutan kanak-kanak.
Agam Wispi
Latini
latini, ah, latinigugur sebagai ibuanak kecil dalam gendongan
latini, ah, latinigugur diberondong pelurubayi mungil dalam kandungan
tanah dirampassuami dipenjaratengkulak mana akan beruntung?
desa ditumpastraktor meremuk palawijapembesar mana akan berkabung?gugur latini sedang masyumi berganti bajugugur pak tani dan dadanya diberondong pelurugugur jenderal, mulutnyia manis hatinya palsuberi aku air, aku hausdengan lapar tubuh lemasaku datang pada merekaaku pulang padamusedang tanah kering dikulitkita makan sama-samakudian suramlatini, ah, latinitapi, ah, kaum tamikita yang berkabung akan membayarnya suatu hari.
Amarsan Ismail Hamid
Percakapan
di tanah tanah mandul, inunungcangkul-cangkul tumpuldiayunkan paman-paman tani
di pondok-pondok tiris, manissiang bolong malam gerimisbayi-bayi disusui
coba rasakan manis pepayapadi padat dibatangnyyapuput oelio mengantar senjaatau sigadis bermimpi di bulan barutahulah kau, betapa kasihbersemi di setapak tanah
tapi pun di ruang-ruang pengadilan, nunungpaman dan bibi-bibi tanidibungkamkan dari tuntutansetapak tanahdan di bulan baru padi memadat, manismimpi si gadis disongsong tangispada bagi hasil yang tak sebandingdengan cangkul-cangkul tumpul yang diayunkan
coba rasakan api di dada, nunungkau kan mengerti rangsang juangnyacoba padamkan dendam yang nyala, manisbara siksa diasuh cita
dan di tanah tanah mandul ini, numungpanen hidup diantar juang.
asahan, Oktober 1961.
Amarsan Ismail Hamid
Seorang petani kepada anaknya
Mutiara, kau akan dapat merasakannyabila di atas tanah yang telahkau pertahankan turun-temurun,traktor-traktor melanda harapan memanen esok,dan kau akan berlawan, pastikarena yang cinta hidup, tak pernah menyerah.
keringat dan air matatapi juga darah, sudah menyirambumi kesayangan ini, sejak lama.dari dasarnya tumbuh kecambahkesetiaan tak tergugah,kokoh bagai menancap dalamke pusat bumi,lalu kau sendiri akan takjuppada kekuatan yang di kandungnya.
demikianlah Mutiara, pahlawan-pahlawanlahir dan berdiridi atas tanahnya sendiri,membajak—memerangikelelahan bersiang malam,hanya bagi semusim panentawa dan sendamenyambut lumbung padat berisi.
tapi Mutiara, jangan menangiskarena kau anak pahlawan.di sana mereka dibunuhrubuh, terbaring di sela rumputdan batang padi yang ditanamnya.mata-mata bening menatap ke langit tinggikeawan memutih bebas lepas di angkasa,sedang tangannya erat menggenggamtanah dan lumpurdi mana air mata dan darahsudah tertumpah.
inilah cerita padamu sebelum tidur,kau yang dilahirkan dan akan mencintaigunung, laut, pantai dan nyiurdan segala milikmu ini,itulah tanah air yang melahirkanpahlawan, pejuang-pejuang yang berbarisdari pulau ke pulau,mempertahankan kebenaran.dan kau sendiri akan turut berlawan, pastikarena kau dihidupi di sini,di atas tanah.
Medan, November 1961.
Benni Cung
Pada sebidang tanah
Pada sebidang tanah. Basah oleh air mata,Mengepak cintaku. Ke langit tinggi.Matahari mengintai diranting-ranting bertenggernya murni menyongsong hari.
Pertemuan. Apalah arti pertemuan antara yang sudah dikenal?Tanah. Adalah darah diurat nadi.Kalau ia kering atau hilang.Itulah lonceng kematian. Buat petani.Terlalu duka. Jika kenangan turun kehati.
Detik ke detik. Antara jam-jam yang berdetak.Silang derita masa silam bersembunyi dan hadir.Di lorong. Di desa. Sampai jugatertempa diriku oleh dendampada setiap yang menghirup darahku dalam kelam.
Hai pendatang. Merampas padi dipanen datang.Jangan kembali!Sudah tumbang hati bimbang!
Chalik Hamid:
Hidup petani desa
bila warna senja tiada lagi cemerlangpetani desa lincah melenggang atas pematangdikerut keningnya kepahitan membayangdalam menempa hidup tenaga dan cita adalah juang
andai lelah sudah dibenam senjaanak desa berkecimpung di sungai silau tuasedang suami tercinta belum pulang dari kotabeli baju tini untuk bekal hari raya
dua kali sudah tanah ini ditraktor belandadua kali pula suami tercinta tersuruk dalam penjaratapi hati masih setia—masih setia
kalau malam telah turun menjamah desaanak tani pulas dibuai mimpi mesrauntuk kerja besok, malam ini tempa tenaga.
—medam, enampuluhsatu—
F. L. Rissakota
Mengapa repolusi
buat “tuan tuan”
mengapa, mengapaketika repolusiorang tiada bicara milik siapa tanah ini?
mengapa, mengapaketika repolusitiada seorang jendral pun yang menghadang badai peluru belanda di tanah ini?
kami yang mengusir belanda dari tanah iniharus mati dan menyiram darah di tanah ini, meski bukan repolusi lagi?
ah, repolusiwajahmu selalu remajapadamu setiap hati petani menantikan kasihkarena kita sama mengucur darah di empatlimakarena kita sama lahir untuk tanah.
1961
F. L. Rissakota
Yang kami harapkan
mengapa, yah, mengapaakhirnya parti pun menggeletaklahtidak.tidak!bukan itu yang kami harapkan,meski cahaya tiada dilihatnya lagidan keagungan seorang pahlawan dibawanya serta.
jauh—dari jauh dia datangsenyum pada anak diusungantanda kasih pada masa depanikut tersungkur di tanah kesayangan
tanah ini disiangi petanitanah ini dibela direpolusiah, harapan seperti kelam malamtapi parti tak pernah menyerahmeski peluru belanda melanda tanahini tahun-tahun empatlima
akhirnya parti pun menggeletaklahmeski cintanya masih menyalakarena tanah tempat darah-keringat suaminya ketika repolusidan ia dikini harikarena tanahyang dipertahankan dari belanda mulabukan, bukan kematian yang kami nantikankarena setelempap tempat berpijak yang kami rebut di empat limabukan, bukan jasa dan bintang-bintang yang kami harapkankarena repolusi berarti tanah bagi petaniuntuk parti pun sekarang dan nanti—ia rela mati
yang kami harapkanah, setelempap tanah tanda kasihbagi petani di mana-mana
8 Des 61
Hr. Bandaharo
Dua kelahiran
I
dia petualangyang kecarian tanpa kehilangandan dia rindu.
bayangkan kerinduantak ada yang dirinduidan dia duka.
bayangkan kedukaanrasa yang perih menyayatrasa denyut melarut.
inilah kemabukan deritayang mengaburkan batasantara kenyataan dan ketidaksnyataandan dia mendendam.
bayangkan dendamyang terpendam dalamyang meruyak.
inilah kelahiranyang membawa lukadi dada.
II
dia pejuangdan dia menemui kelahiran.inilah kelahiran oleh lukayang dideritadan oleh dukayang memikul kekalahan demi kekalahan.
Tapi kelahiran inikemenangan dalam diriatas diri sendiri.
kebencian tiada mengesamkemarahan tak padam-padamkegairahan dan kegigihan yang senapas.
inilah kelahiran apidari cetusan bajahanya sepercikmembakar dunia.
III
dia lahir bersama urinyabersama darah.
itulah kelahiran manusiakelahiran Imam Bonjol, Diponegoro, Hasanuddindan sebelumnya lagi;kelahiran Haji Misbakh, Monginsidi,Dermo dan Termodan Kertosentono.
kemudian datanglah mautbersama mata pedangbersama mulut bedilatau kesunyian pembuangan.
dia lahir dari kematian inimewarisi derita hatiyang juga derita hatinya.
kematian jadi kelahiran barukelahiran yang membedakandan yang menentukankemenangan hidup atas mati.
Medan
Desember 1957
Klara Akustia
Kertosentono
untuk petani-petani Binjai
Dan padi sedang menguningranum mengandung harapanhasil kerja berbulan-bulan
Kami bajak ini tanahbunda Pertiwi kekasih hatikala bangsa bertekad bebaskami serahkan segala adauntuk padi tanaman suci
Sekali lagi kami bertekadmenaruhkan segala adakala traktor menggilas padidan peluru berdesinganhancurkan padi taburkan mati
Dan sebagai padi runduk ke bumikami tundukkan hormat setiapada kawan yang gugur layudengan darah membela tanah dan padibagi kami hasil api revolusi
Dan padi terus menguningkami berbaris penuh harapansekali bumi Pertiwi bebas abadi
Ratini
Berita dari Simbar
(I)
Telah bangkit ia revolusiia sebarkan api harga dirikaum tani
telah bangkit ia kaum taniia sebarkan revolusi kaum tani
telah bangkit iamatahari pagidi kediri di watas di pranggang di kalasan di kunjangdi ploso di tempuredo di pandantoyo di simbar di mana-mana hayoo............
telah bangkit ia matahari pagi revolusi kaum tani di kediri
telah dibagi ia tanah senjata revolusi
telah di tangan ia senjata revolusi
telah tumbuh ia kaum tani revolusi di tanahnya di desa di simbar kukuh sekukuh gunung kelut takutkah tuan kepadanya.
sepuluh tahun yang lalu telah datang iahavea negaramembawa perintah pindah ke manapindahke bukit-bukit batu ketika ituagustus empatlima
tanah telah dibagi iatanah
hari-hari pahlawan lalutelah datang lagi ianegarabukanbukan negarabukankaum tani ikut punya
hari-hari pahlawan lalutelah datang lagi iapolisi dan tenterabukanbukan polisi dan tenteramereka anak kandung kamikaum tani
(II)
bagi kaum tani ............kaum tanimatahari pagiyang diperintahkanpindah
telah gelisah iakaum tanitelah menggelegak iarevolusi
negara apa ininegara siapa ini
(III)
telah gelisah iakaum tanitelah menggelegak iarevolusidarahnya
tanahrevolusidada petanisimbardi pagi cerahdi malam butahendak ditraktornya revolusi
benartelah ditembaknya kaum tanitelah berpuluh kaum tani matitelah tertuang darahtelah bangkit amarahkaum tanidesarevolusi
telah kami beri merekapangkatsenjata.perempuan desa yang terbaik
polisi dan tenteraanak lelaki kamibenartelah menghadang iatraktor-traktorbersenjatadihancurkannya tanaman kamijagungketelapadihatihendak dikoyak-koyaknyarumahdesa
telah berkata iaesa hilangdua terbilanghoi............enyahlah kaliantraktor-traktor mautmusuh revolusimusuh kaum tani.
di hari-hari pahlawan yang lalutelah berseru iakaum tanihai............kembalilah kalianpolisi dan tenteraprajuritprajuritnegarake desamuke simbarke kaum tanike revolusi.
Rumambi
Bagi selembar tanah
Hijau-hijau selembar tanahhijaunya kesayanganDarinya tuah bumi mencium dan menafasitiap kelahiran
Bening, bening mataair di lembahbeningnya bayangan hatiyang tak kenal hari-istirahatBakaran terik mencukur punggung berkilatdinginnya malam tanpa sellmutTak terasa lagiAntara terbit dan terbenamnya mataharitiada batasan lagi
Pada yang akan tumbuhtumbuh harapanuntuk kini dan akanSeminar ia, seminar laguan hidupSeminar ia, seminar di atas kerja
Atas namanyadilalui musim-musim paceklikDitahanikan sejemput jagung rebusbersama ketela bakarAtas namanyategak tiang kepercayaanYang lahir, takboleh lahir untuk dijumlahkandengan yang sudah matiHijau-hijau selembar tanahhijaunya pepadian dan palawijaKesayangan tak berputuspada hidup dan kerja
Semua memamer mengisi ruangDengus-dengus tarikan nafas si bayekdi kesuburan susu ibunyaCanda gadis-gadis disisi belikpercakapkan jejaka pilihannyaAlun suling anak gembalamengelus-ngelus punggung kerbaunya
Oi, hidup tersayangmenggelar, menggelarlah di selembar tanahBagimu akan ditembangkan uyon-uyondari galengan ke galenganBagimu akan dilentikkan jari-jarimeliuk-liuk ujung sampur
Hidup tersayang, o, datanglahPara wiyogo telah siap menabuhgamelem galaganjurSemiman paes dan pacaktelah siap menghias kemanten
Meskipun hidup hanya sekalidan hilangnya tak tergantiTak ada sesal membayangiwajah-wajah yang telah hilangatas nama kemerdekaan
mencucur pun keringat diganggang mataharimengayun cangkulCucurannya bukan lagi pertandaletihnya badanKarena yang terasa melonjak-lonjak di dadaadalah raksasa menggempur gunung
Tapi bila hidup di atas selembar tanahdimusnahkanTraktor-Traktor, belenggu, pelor melandasegala sayangKemerdekaan, betapa pun kata memaniskannyatinggal ngenesnya terasa di hati
Dan patah pun tulang dan rubuh pun badanyang menandur tak sanggup melihatpatah-patahnya tangkai-tangkai cangkul dan rubuhnya pohon-pohon padiDan berserakan pun anak-bini ke delapan penjuruyang mencucurkan keringat tak sanggup melihatiterserak-seraknya benih dan segala tatandur
Bila hidup di atas selembar tanahdimusnahkanJika hendak meletus, meletuslah bedilSekalipun bidangdada jadi tadahannyaKarena betapa kata telah diguratkan dalam-dalam ke hatibersama segala bibit yang disemai dan ditandur:Tanah tersayang, atasmu kami hidupdan mati!
Menangis, menangislah kalianyang telah membelulang bagi kemerdekaanMenjerit, menjeritlah kalianyang masih akan dilahirkan dari kandungan bundaYang kini tegakkan kaki di atas selembar tanahpantang menangis!
Bagi selembar tanahkemerdekaan telah direbutBagi selembar tanahnyawa pun tak tersayangDarinya tuan bumi mencium dan menafasitiap kelahiran
Desa Yang Pantang Menyerah, 8 Des. 1961.
Rumambi
Ini Wates
Bagi segala solidaritet.
Kepada calon-calon pengikut
jejak bekas Gubernur Hakim.
Tanah ini milik kamiyang telah kami rebut dengan taruhan jiwadari tangan penjajah, penindas tani berabad-abad,yang telah kami bela dengan darah dan air matadari kebengisan agresor nica,yang telah berikan kami kekuatan tak terbatasuntuk bela revolusi dengan segala pengorbanan,yang telah robah diri kami, dari manusia celakajadi manusia yang tahu harga diridan berbakti pada Tanah Air yang jaya.Tanah ini milik kami!
Tiap jengkal telah kami basahi dengan keringatsupaya subur, dan di atasnya kami bangun kehidupan.Kami punya tenaga, tulang-tulang dan otot-otottelah kalahkan rumput-rumput dan hama perusak.Kami manusia yang telah digembleng alamsaban hari melawan derita dan nista.Siapa yang tidak mau melihat kenyataan inidan hanya mau teruskan nafsunyamerampas tamah yang menghidupi dan menjiwai kami,atau coba menakut-nakuti dengan kekerasan traktor dan penjaraketahuilah, tulang-tulang dan otot-otot kami masih keras juga hati kami,lebih keras dari besi-besi traktor dan kunci-kunci penjara.Lihat ini tenaga manusia, tenaga penciptakenapa mau disia-sia?Lihat ini mulut berjuta-juta yang juga ingin makankenapa mau dibikin kelaparan?Ini yang sedang tumbuh dalam kemegahan jernihpadi, ketela, kedele dan jagung,mewakili kami jabat semua tanganyang tak mau kenyang dengan derita orang lain;dengan mereka kami tegakkan pohon kehidupandan buahnya kami makan bersama-samasupaya mereka dan kami nikmati sinar matahari.di sini kami bekerjadi sini kami hidup,di sini kami bertahan!
21-4-54
Sobron Aidit
Bajak untuk Petani
Apakah yang lebih indah di dunia iniSelain mempertahankan tanah kepunyaan sendiri?
Kalian berjuang untuk makanDi kampung halamanKampung yang terasing oleh tangan-tangan laknatTapi betapa di hati melekat erat.
Kalian gemetar dan laparDi bumi yang subur, di tengah yang makmurBetapa tinggi perbedaan kehidupanDi tanah air tercinta yang diagungkan.
Bintang-bintang di pundak semakin meninggiDi tengah banjir air mata dan darahAntara dua pahlawan:Satu pahlawan pengkhianatSatu pahlawan rakyat.
Dan kami barisan penyairTegak siap pada yang benarDi barisan yang terhina dan lapar.
23 Nopember 1961.
S. Anantaguna
Di tanah tak pernah menyerah
I
Tak usah kusebutkan namanya, diksemua sama wanita tani dan laki-laki di tengah sawah membela tanah.
Di tanah padi-padi semi jagung menari ketela menghijau bumi dan sejak pagi sampai senja pergi semi adalah hatinya tanah adalah hatinya.
Tak usah kusebutkan namanya, dik semua sama wanita dan laki-laki semua petani demi tanah—mereka mati demi tanah—revolusi.
Di tanah mereka lahir di lumpur mereka besar jika darah mengalir jangan tanya dik mana yang benar jika mentari dari timuritulah petanijika ombak di lautitulah petanitak usah kusebutkan namanya, diksemua cinta merdekasemua petanimembela revolusikarena tanah di hatikarena tanah demokrasi.
II
Jika malam ada kecapigendang mengganggang memecah sepilagu kinantiatau pangkur palaranperlahan-lahanmemijiti cape di badanah dik, hanya itu mereka punyahanya itu dari merdekapeluh yang laparsehelai kain yang pudarsepotong clana kerja di lumpurdan untuk tidurtak usah kusebutkan namanya, diksemua samamereka petanidemi tanah ditembaki di hatinya revolusitanpa resepsitanpa korupsidikhianati.jika di kota buruh tumbuhdi desa mereka teguhmenanam zamannyadi tanah dibelatak usah kusebutkan namanya, dikdimana-mana samawanita dan laki-lakisemua petaniditempa apimelawan matiditempa cinta bumidicambuk pengkhianatan revolusidan mereka akan bilangmengucap dengan tenang:matahari adalah mataharirevolusi adalah revolusidemokrasi adalah demokrasidan tanah untuk petani.
III
Tak usah kusebutkan tempatnya, diksemua samakarena tanah tercintahidup tercintarevolusi ini akan mati tanpa nasi merdeka ini akan mampus tanpa petanidan mereka tak mau kematian kemerdekaantidak membolehkan revolusi matitidak diserahkansetetes darah demokrasikarena demokrasi itu hati sendirikarena kemerdekaan dibayar darah petani.
IV
Tak usah kusebutkan maknanya, diktanahmarahdarahrebahpetani ditembakirevolusi dikorupsiprovokasi biar mimpi.
Revolusi inimembesarkan kaum tani, dikbukan kanak-kanak lagiuntuk melihatdengan darah rakyatmenikmati tanda pangkat.
Tak usah kusebutkan maknanya, diktraktorpelorberhadapan dengan oborhati tak pernah kendor.
Revolusi inimembesarkan kaum tani, dikmeski disumbat mulutnyakulihat dengan matayika ditutup matadan telingahatiku tetap mendengarkarena denyut sama laparsama cintadiberi berita oleh senja.
V
Tak usah kusebutkan namanya, dikmereka semua samabicara dengan hatirevolusi tak boleh matimerdeka tak boleh matibiar tuan-tuan menggantung diri!
Dan di dalam panasmenjilat peluhmeraba hati kerasdi dada yang penuhah dik, seperti seorang ibu—mereka bilang padaku:yang dilahirkan revolusiakan melahirkan revolusi!
Surabaya 1961.
S. Anantaguna
Yang mempertahankan tanah
Di tempat keringat tertumpahkaum tani membela tanahStop! padi ini api nyawakujagung ini darah jantungkudi ini negeri merdeka diucapkandi ini bumi demokrasi dipertahankansiapa kau!kenallah aku, lebih teguh dari traktorkenallah aku, lebih baja dari pelor.
Di tempat keringat tertumpahdarah petani menyiram tanahStop! siapa bilang merdeka menembakAku yang mati hati tegak!
T. Iskandar A, S.
Traktor maut
I.
Traktor itu datang lagiatas suruhan tangan durjanamelindasi ladang petani
Obor dan obor menjilat langitmembasuh malamstop!Sto-op!Hanya petani empunya tanah!
Dan senapan itu berbunyiatas suruhan tangan durjanaPuluhan rebah berdarahatas tanaman hijau belia
Tapi mereka majuMajudan rebah lagiMerah membasuh malam
II.
Ini keberapa kalinyaBinjaiTanjong MorawaTapi setiap rebah bangkit lagi:keyakinan di dalam tanganSekali genggam tak dilepas
Setiap rebah bangkit lagiMerah kan membasuh pagi.
27-11-1961.
CC BY-SA 4.0
Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.