Baca EPUB: Matinya Seorang Petani

21 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. MATINYA SEORANG PETANI
  2. AGAM WISPIAMARSAN ISMAIL HAMIDBENNI CUNGCHALIK HAMIDF.L. RISSAKOTAHR. BANDAHAROKLARA AKUSTIARATINIRUMAMBISOBRON AIDITS. ANANTAGUNAT. ISKANDAR A.S.
  3. Kolofon
  4. Daftar Isi
  5. Matinya seorang petani
  6. Latini
  7. Percakapan
  8. Seorang petani kepada anaknya
  9. Pada sebidang tanah
  10. Hidup petani desa
  11. Mengapa repolusi
  12. Yang kami harapkan
  13. Dua kelahiran
  14. Kertosentono
  15. Berita dari Simbar
  16. Bagi selembar tanah
  17. Ini Wates
  18. Bajak untuk Petani
  19. Di tanah tak pernah menyerah
  20. Yang mempertahankan tanah
  21. Traktor maut
  22. CC BY-SA 4.0

MATINYA SEORANG PETANI

AGAM WISPI

AMARSAN ISMAIL HAMID

BENNI CUNG

CHALIK HAMID

F.L. RISSAKOTA

HR. BANDAHARO

KLARA AKUSTIA

RATINI

RUMAMBI

SOBRON AIDIT

S. ANANTAGUNA

T. ISKANDAR A.S.


Kolofon

MATINYA SEORANG PETANI

oleh

AGAM WISPI

AMARSAN ISMAIL HAMID

BENNI CUNG

CHALIK HAMID

F.L. RISSAKOTA

HR. BANDAHARO

KLARA AKUSTIA

RATINI

RUMAMBI

SOBRON AIDIT

S. ANANTAGUNA

T. ISKANDAR A.S.

bagian penerbitan lembaga kebudayaan rakyat

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Bebaskan Buku!

Ilustrasi sampul: Spring Plowing 1974, karya Richard Correll

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam. com



Agam Wispi

Matinya seorang petani

(buat L. Darman Tambunan)

1.
depan kantor tuan bupati tersungkur seorang petani karena tanah karena tanah dalam kantor barisan tani si lapar marah karena darah karena darah tanah dan darah memutar sejarah dari sini nyala api dari sini damai abadi
2.
dia jatuh rubuh satu peluru dalam kepala ingatannya melayang didakap siksa tapi siksa cuma dapat bangkainya
ingatannya ke jaman-muda dan anaknya yang jadi tentera —ah, siapa kasi makan mereka?— isteriku, siangi padi biar mengamuk pada tangkainya kasihi mereka kasihi mereka kawan-kawan kita suram padam dan hitam seperti malam
3.
mereka berkata yang berkuasa tapi membunuh rakyatnya mesti turun tahta
4.
padi bunting bertahan dalam angin suara loliok¹ disayup gubuk menghirup hidup padi bunting menari dengan angin
ala, wanita berani jalan telanjang di sicanggang, di sicanggang di mana cangkol dan padi dimusnahkan
mereka yang berumah penjara bayi di gendongan juga tahu arti siksa
mereka berkata yang berkuasa tapi merampas rakyatnya mesti turun tahta sebelum dipaksa jika
datang traktor bikin gubuk hancur tiap pintu kita gedor kita gedor.
keterangan: ¹ Loliok ialah suling dari batang padi dalam sebutan kanak-kanak.

Agam Wispi

Latini

latini, ah, latini gugur sebagai ibu anak kecil dalam gendongan
latini, ah, latini gugur diberondong peluru bayi mungil dalam kandungan
tanah dirampas suami dipenjara tengkulak mana akan beruntung?
desa ditumpas traktor meremuk palawija pembesar mana akan berkabung? gugur latini sedang masyumi berganti baju gugur pak tani dan dadanya diberondong peluru gugur jenderal, mulutnyia manis hatinya palsuberi aku air, aku haus dengan lapar tubuh lemas aku datang pada mereka aku pulang padamu sedang tanah kering dikulit kita makan sama-sama kudian suram latini, ah, latini tapi, ah, kaum tami kita yang berkabung akan membayarnya suatu hari.

Amarsan Ismail Hamid

Percakapan

di tanah tanah mandul, inunung cangkul-cangkul tumpul diayunkan paman-paman tani
di pondok-pondok tiris, manis siang bolong malam gerimis bayi-bayi disusui
coba rasakan manis pepaya padi padat dibatangnyya puput oelio mengantar senja atau sigadis bermimpi di bulan baru tahulah kau, betapa kasih bersemi di setapak tanah
tapi pun di ruang-ruang pengadilan, nunung paman dan bibi-bibi tani dibungkamkan dari tuntutan setapak tanahdan di bulan baru padi memadat, manis mimpi si gadis disongsong tangis pada bagi hasil yang tak sebanding dengan cangkul-cangkul tumpul yang diayunkan
coba rasakan api di dada, nunung kau kan mengerti rangsang juangnya coba padamkan dendam yang nyala, manis bara siksa diasuh cita
dan di tanah tanah mandul ini, numung panen hidup diantar juang.

asahan, Oktober 1961.


Amarsan Ismail Hamid

Seorang petani kepada anaknya

Mutiara, kau akan dapat merasakannya bila di atas tanah yang telah kau pertahankan turun-temurun, traktor-traktor melanda harapan memanen esok, dan kau akan berlawan, pasti karena yang cinta hidup, tak pernah menyerah.
keringat dan air mata tapi juga darah, sudah menyiram bumi kesayangan ini, sejak lama. dari dasarnya tumbuh kecambah kesetiaan tak tergugah, kokoh bagai menancap dalam ke pusat bumi, lalu kau sendiri akan takjup pada kekuatan yang di kandungnya.
demikianlah Mutiara, pahlawan-pahlawan lahir dan berdiri di atas tanahnya sendiri, membajak—memerangi kelelahan bersiang malam, hanya bagi semusim panen tawa dan senda menyambut lumbung padat berisi.
tapi Mutiara, jangan menangis karena kau anak pahlawan. di sana mereka dibunuh rubuh, terbaring di sela rumput dan batang padi yang ditanamnya. mata-mata bening menatap ke langit tinggi keawan memutih bebas lepas di angkasa, sedang tangannya erat menggenggam tanah dan lumpur di mana air mata dan darah sudah tertumpah.
inilah cerita padamu sebelum tidur, kau yang dilahirkan dan akan mencintai gunung, laut, pantai dan nyiur dan segala milikmu ini, itulah tanah air yang melahirkan pahlawan, pejuang-pejuang yang berbaris dari pulau ke pulau, mempertahankan kebenaran. dan kau sendiri akan turut berlawan, pasti karena kau dihidupi di sini, di atas tanah.

Medan, November 1961.


Benni Cung

Pada sebidang tanah

Pada sebidang tanah. Basah oleh air mata, Mengepak cintaku. Ke langit tinggi. Matahari mengintai diranting-ranting bertenggernya murni menyongsong hari.
Pertemuan. Apalah arti pertemuan antara yang sudah dikenal? Tanah. Adalah darah diurat nadi. Kalau ia kering atau hilang. Itulah lonceng kematian. Buat petani. Terlalu duka. Jika kenangan turun kehati.
Detik ke detik. Antara jam-jam yang berdetak. Silang derita masa silam bersembunyi dan hadir. Di lorong. Di desa. Sampai jugatertempa diriku oleh dendampada setiap yang menghirup darahku dalam kelam.
Hai pendatang. Merampas padi dipanen datang. Jangan kembali! Sudah tumbang hati bimbang!

Chalik Hamid:

Hidup petani desa

bila warna senja tiada lagi cemerlang petani desa lincah melenggang atas pematang dikerut keningnya kepahitan membayang dalam menempa hidup tenaga dan cita adalah juang
andai lelah sudah dibenam senja anak desa berkecimpung di sungai silau tua sedang suami tercinta belum pulang dari kota beli baju tini untuk bekal hari raya
aih adakah kebahagian meresap kecelah dada bila sekaleng padi ditukar dengan sekilo gula
dua kali sudah tanah ini ditraktor belanda dua kali pula suami tercinta tersuruk dalam penjara tapi hati masih setia—masih setia
kalau malam telah turun menjamah desa anak tani pulas dibuai mimpi mesra untuk kerja besok, malam ini tempa tenaga.

—medam, enampuluhsatu—


F. L. Rissakota

Mengapa repolusi

buat “tuan tuan”

mengapa, mengapa ketika repolusi orang tiada bicara milik siapa tanah ini?
mengapa, mengapa ketika repolusi tiada seorang jendral pun yang menghadang badai peluru belanda di tanah ini?
kami yang mengusir belanda dari tanah ini harus mati dan menyiram darah di tanah ini, meski bukan repolusi lagi?
ah, repolusi wajahmu selalu remaja padamu setiap hati petani menantikan kasih karena kita sama mengucur darah di empatlima karena kita sama lahir untuk tanah.

1961


F. L. Rissakota

Yang kami harapkan

mengapa, yah, mengapa akhirnya parti pun menggeletaklah tidak. tidak! bukan itu yang kami harapkan, meski cahaya tiada dilihatnya lagi dan keagungan seorang pahlawan dibawanya serta.
jauh—dari jauh dia datang senyum pada anak diusungan tanda kasih pada masa depan ikut tersungkur di tanah kesayangan
tanah ini disiangi petani tanah ini dibela direpolusi ah, harapan seperti kelam malam tapi parti tak pernah menyerah meski peluru belanda melanda tanah ini tahun-tahun empatlima
akhirnya parti pun menggeletaklah meski cintanya masih menyala karena tanah tempat darah-keringat suaminya ketika repolusi dan ia dikini hari karena tanah yang dipertahankan dari belanda mula bukan, bukan kematian yang kami nantikan karena setelempap tempat berpijak yang kami rebut di empat lima bukan, bukan jasa dan bintang-bintang yang kami harapkan karena repolusi berarti tanah bagi petani untuk parti pun sekarang dan nanti—ia rela mati
yang kami harapkan ah, setelempap tanah tanda kasih bagi petani di mana-mana

8 Des 61


Hr. Bandaharo

Dua kelahiran

I
dia petualang yang kecarian tanpa kehilangan dan dia rindu.
bayangkan kerinduan tak ada yang dirindui dan dia duka.
bayangkan kedukaan rasa yang perih menyayat rasa denyut melarut.
inilah kemabukan derita yang mengaburkan batas antara kenyataan dan ketidaksnyataan dan dia mendendam.
bayangkan dendam yang terpendam dalam yang meruyak.
inilah kelahiran yang membawa luka di dada.
II
dia pejuang dan dia menemui kelahiran. inilah kelahiran oleh luka yang diderita dan oleh duka yang memikul kekalahan demi kekalahan.
Tapi kelahiran ini kemenangan dalam diri atas diri sendiri.
kebencian tiada mengesam kemarahan tak padam-padam kegairahan dan kegigihan yang senapas.
inilah kelahiran api dari cetusan baja hanya sepercik membakar dunia.
III
dia lahir bersama urinya bersama darah.
itulah kelahiran manusia kelahiran Imam Bonjol, Diponegoro, Hasanuddindan sebelumnya lagi; kelahiran Haji Misbakh, Monginsidi, Dermo dan Termo dan Kertosentono.
kemudian datanglah maut bersama mata pedang bersama mulut bedil atau kesunyian pembuangan.
dia lahir dari kematian ini mewarisi derita hati yang juga derita hatinya.
kematian jadi kelahiran baru kelahiran yang membedakan dan yang menentukan kemenangan hidup atas mati.

Medan

Desember 1957


Klara Akustia

Kertosentono

untuk petani-petani Binjai

Dan padi sedang menguning ranum mengandung harapan hasil kerja berbulan-bulan
Kami bajak ini tanah bunda Pertiwi kekasih hati kala bangsa bertekad bebas kami serahkan segala ada untuk padi tanaman suci
Sekali lagi kami bertekad menaruhkan segala ada kala traktor menggilas padi dan peluru berdesingan hancurkan padi taburkan mati
Dan sebagai padi runduk ke bumi kami tundukkan hormat setia pada kawan yang gugur layu dengan darah membela tanah dan padi bagi kami hasil api revolusi
Dan padi terus menguning kami berbaris penuh harapan sekali bumi Pertiwi bebas abadi

Ratini

Berita dari Simbar

(I)
Telah bangkit ia revolusi ia sebarkan api harga diri kaum tani
telah bangkit ia kaum tani ia sebarkan revolusi kaum tani
telah bangkit iamatahari pagi di kediri di watas di pranggang di kalasan di kunjangdi ploso di tempuredo di pandantoyo di simbar di mana-mana hayoo............
telah bangkit ia matahari pagi revolusi kaum tani di kediri
telah dibagi ia tanah senjata revolusi
telah di tangan ia senjata revolusi
telah tumbuh ia kaum tani revolusi di tanahnya di desa di simbar kukuh sekukuh gunung kelut takutkah tuan kepadanya.
sepuluh tahun yang lalu telah datang iahavea negaramembawa perintah pindah ke manapindahke bukit-bukit batu ketika ituagustus empatlima
tanah telah dibagi iatanah
hari-hari pahlawan lalutelah datang lagi ianegarabukanbukan negarabukankaum tani ikut punya
hari-hari pahlawan lalutelah datang lagi iapolisi dan tenterabukanbukan polisi dan tenteramereka anak kandung kamikaum tani
(II)
bagi kaum tani ............kaum tanimatahari pagiyang diperintahkanpindah
telah gelisah iakaum tanitelah menggelegak iarevolusi
negara apa ininegara siapa ini
(III)
telah gelisah iakaum tanitelah menggelegak iarevolusidarahnya
tanahrevolusidada petanisimbardi pagi cerahdi malam butahendak ditraktornya revolusi
tetapi di tanahnya di desanya kaum tani menanti beratus beribu berjuta bersenjata obor api revolusi di tangannya
benar telah ditembaknya kaum tani telah berpuluh kaum tani mati telah tertuang darah telah bangkit amarah kaum tani desa revolusi
telah kami beri mereka pangkat senjata. perempuan desa yang terbaik
polisi dan tentera anak lelaki kami benar telah menghadang ia traktor-traktorbersenjata dihancurkannya tanaman kami jagung ketela padi hati hendak dikoyak-koyaknya rumah desa
telah berkata ia esa hilang dua terbilang hoi............ enyahlah kalian traktor-traktor maut musuh revolusi musuh kaum tani.
di hari-hari pahlawan yang lalu telah berseru ia kaum tani hai............ kembalilah kalian polisi dan tentera prajurit prajurit negara ke desamu ke simbar ke kaum tani ke revolusi.

Rumambi

Bagi selembar tanah

Hijau-hijau selembar tanah hijaunya kesayangan Darinya tuah bumi mencium dan menafasi tiap kelahiran
Bening, bening mataair di lembah beningnya bayangan hati yang tak kenal hari-istirahat Bakaran terik mencukur punggung berkilat dinginnya malam tanpa sellmut Tak terasa lagi Antara terbit dan terbenamnya matahari tiada batasan lagi
Pada yang akan tumbuh tumbuh harapan untuk kini dan akan Seminar ia, seminar laguan hidup Seminar ia, seminar di atas kerja
Atas namanya dilalui musim-musim paceklik Ditahanikan sejemput jagung rebus bersama ketela bakar Atas namanyategak tiang kepercayaan Yang lahir, takboleh lahir untuk dijumlahkan dengan yang sudah mati Hijau-hijau selembar tanah hijaunya pepadian dan palawija Kesayangan tak berputus pada hidup dan kerja
Semua memamer mengisi ruang Dengus-dengus tarikan nafas si bayek di kesuburan susu ibunya Canda gadis-gadis disisi belik percakapkan jejaka pilihannya Alun suling anak gembala mengelus-ngelus punggung kerbaunya
Oi, hidup tersayang menggelar, menggelarlah di selembar tanah Bagimu akan ditembangkan uyon-uyon dari galengan ke galengan Bagimu akan dilentikkan jari-jari meliuk-liuk ujung sampur
Hidup tersayang, o, datanglah Para wiyogo telah siap menabuh gamelem galaganjur Semiman paes dan pacak telah siap menghias kemanten
Di selembar tanah menghijau kesayangan Kepuasan hati takpernah berakhir meneguk kemerdekaan Di selembar tanah menghijau kesayangan itulah kemerdekaan
Meskipun hidup hanya sekali dan hilangnya tak terganti Tak ada sesal membayangi wajah-wajah yang telah hilang atas nama kemerdekaan
mencucur pun keringat diganggang matahari mengayun cangkul Cucurannya bukan lagi pertanda letihnya badan Karena yang terasa melonjak-lonjak di dada adalah raksasa menggempur gunung
Tapi bila hidup di atas selembar tanah dimusnahkan Traktor-Traktor, belenggu, pelor melanda segala sayang Kemerdekaan, betapa pun kata memaniskannya tinggal ngenesnya terasa di hati
Dan patah pun tulang dan rubuh pun badan yang menandur tak sanggup melihat patah-patahnya tangkai-tangkai cangkul dan rubuhnya pohon-pohon padi Dan berserakan pun anak-bini ke delapan penjuru yang mencucurkan keringat tak sanggup melihati terserak-seraknya benih dan segala tatandur
Bila hidup di atas selembar tanah dimusnahkan Jika hendak meletus, meletuslah bedil Sekalipun bidangdada jadi tadahannya Karena betapa kata telah diguratkan dalam-dalam ke hati bersama segala bibit yang disemai dan ditandur: Tanah tersayang, atasmu kami hidup dan mati!
Menangis, menangislah kalian yang telah membelulang bagi kemerdekaan Menjerit, menjeritlah kalian yang masih akan dilahirkan dari kandungan bunda Yang kini tegakkan kaki di atas selembar tanah pantang menangis!
Bagi selembar tanah kemerdekaan telah direbut Bagi selembar tanah nyawa pun tak tersayang Darinya tuan bumi mencium dan menafasi tiap kelahiran

Desa Yang Pantang Menyerah, 8 Des. 1961.


Rumambi

Ini Wates

Bagi segala solidaritet.

Kepada calon-calon pengikut

jejak bekas Gubernur Hakim.

Tanah ini milik kami yang telah kami rebut dengan taruhan jiwa dari tangan penjajah, penindas tani berabad-abad, yang telah kami bela dengan darah dan air mata dari kebengisan agresor nica, yang telah berikan kami kekuatan tak terbatas untuk bela revolusi dengan segala pengorbanan, yang telah robah diri kami, dari manusia celaka jadi manusia yang tahu harga diri dan berbakti pada Tanah Air yang jaya. Tanah ini milik kami!
Tiap jengkal telah kami basahi dengan keringat supaya subur, dan di atasnya kami bangun kehidupan. Kami punya tenaga, tulang-tulang dan otot-otot telah kalahkan rumput-rumput dan hama perusak. Kami manusia yang telah digembleng alam saban hari melawan derita dan nista. Siapa yang tidak mau melihat kenyataan ini dan hanya mau teruskan nafsunya merampas tamah yang menghidupi dan menjiwai kami, atau coba menakut-nakuti dengan kekerasan traktor dan penjaraketahuilah, tulang-tulang dan otot-otot kami masih keras juga hati kami, lebih keras dari besi-besi traktor dan kunci-kunci penjara. Lihat ini tenaga manusia, tenaga pencipta kenapa mau disia-sia? Lihat ini mulut berjuta-juta yang juga ingin makan kenapa mau dibikin kelaparan? Ini yang sedang tumbuh dalam kemegahan jernih padi, ketela, kedele dan jagung, mewakili kami jabat semua tangan yang tak mau kenyang dengan derita orang lain; dengan mereka kami tegakkan pohon kehidupan dan buahnya kami makan bersama-sama supaya mereka dan kami nikmati sinar matahari. di sini kami bekerja di sini kami hidup, di sini kami bertahan!

21-4-54


Sobron Aidit

Bajak untuk Petani

Apakah yang lebih indah di dunia ini Selain mempertahankan tanah kepunyaan sendiri?
Kalian berjuang untuk makan Di kampung halaman Kampung yang terasing oleh tangan-tangan laknat Tapi betapa di hati melekat erat.
Kalian gemetar dan lapar Di bumi yang subur, di tengah yang makmur Betapa tinggi perbedaan kehidupan Di tanah air tercinta yang diagungkan.
Bintang-bintang di pundak semakin meninggi Di tengah banjir air mata dan darah Antara dua pahlawan: Satu pahlawan pengkhianat Satu pahlawan rakyat.
Dan kami barisan penyair Tegak siap pada yang benar Di barisan yang terhina dan lapar.

23 Nopember 1961.


S. Anantaguna

Di tanah tak pernah menyerah

I
Tak usah kusebutkan namanya, diksemua sama wanita tani dan laki-laki di tengah sawah membela tanah.
Di tanah padi-padi semi jagung menari ketela menghijau bumi dan sejak pagi sampai senja pergi semi adalah hatinya tanah adalah hatinya.
Tak usah kusebutkan namanya, dik semua sama wanita dan laki-laki semua petani demi tanah—mereka mati demi tanah—revolusi.
Di tanah mereka lahir di lumpur mereka besar jika darah mengalir jangan tanya dik mana yang benar jika mentari dari timur itulah petani jika ombak di laut itulah petani tak usah kusebutkan namanya, dik semua cinta merdeka semua petani membela revolusi karena tanah di hati karena tanah demokrasi.
II
Jika malam ada kecapi gendang mengganggang memecah sepi lagu kinanti atau pangkur palaran perlahan-lahan memijiti cape di badan ah dik, hanya itu mereka punya hanya itu dari merdeka peluh yang lapar sehelai kain yang pudar sepotong clana kerja di lumpur dan untuk tidur tak usah kusebutkan namanya, dik semua sama mereka petani demi tanah ditembaki di hatinya revolusi tanpa resepsi tanpa korupsi dikhianati. jika di kota buruh tumbuh di desa mereka teguh menanam zamannya di tanah dibela tak usah kusebutkan namanya, dik dimana-mana sama wanita dan laki-laki semua petani ditempa api melawan mati ditempa cinta bumi dicambuk pengkhianatan revolusi dan mereka akan bilang mengucap dengan tenang: matahari adalah matahari revolusi adalah revolusi demokrasi adalah demokrasi dan tanah untuk petani.
III
Tak usah kusebutkan tempatnya, dik semua sama karena tanah tercinta hidup tercinta revolusi ini akan mati tanpa nasi merdeka ini akan mampus tanpa petani dan mereka tak mau kematian kemerdekaan tidak membolehkan revolusi mati tidak diserahkan setetes darah demokrasi karena demokrasi itu hati sendiri karena kemerdekaan dibayar darah petani.
IV
Tak usah kusebutkan maknanya, dik tanah marah darah rebah petani ditembaki revolusi dikorupsi provokasi biar mimpi.
Revolusi ini membesarkan kaum tani, dik bukan kanak-kanak lagi untuk melihat dengan darah rakyat menikmati tanda pangkat.
Tak usah kusebutkan maknanya, dik traktor pelor berhadapan dengan obor hati tak pernah kendor.
Revolusi ini membesarkan kaum tani, dik meski disumbat mulutnya kulihat dengan mata yika ditutup mata dan telinga hatiku tetap mendengar karena denyut sama lapar sama cinta diberi berita oleh senja.
V
Tak usah kusebutkan namanya, dik mereka semua sama bicara dengan hati revolusi tak boleh mati merdeka tak boleh mati biar tuan-tuan menggantung diri!
Dan di dalam panas menjilat peluh meraba hati keras di dada yang penuh ah dik, seperti seorang ibu—mereka bilang padaku: yang dilahirkan revolusi akan melahirkan revolusi!

Surabaya 1961.


S. Anantaguna

Yang mempertahankan tanah

Di tempat keringat tertumpah kaum tani membela tanah Stop! padi ini api nyawaku jagung ini darah jantungku di ini negeri merdeka diucapkan di ini bumi demokrasi dipertahankan siapa kau! kenallah aku, lebih teguh dari traktor kenallah aku, lebih baja dari pelor.
Di tempat keringat tertumpah darah petani menyiram tanah Stop! siapa bilang merdeka menembak Aku yang mati hati tegak!

T. Iskandar A, S.

Traktor maut

I.
Traktor itu datang lagi atas suruhan tangan durjana melindasi ladang petani
Obor dan obor menjilat langit membasuh malam stop! Sto-op! Hanya petani empunya tanah!
Dan senapan itu berbunyi atas suruhan tangan durjana Puluhan rebah berdarah atas tanaman hijau belia
Tapi mereka maju Maju dan rebah lagi Merah membasuh malam
II.
Ini keberapa kalinya Binjai Tanjong Morawa Tapi setiap rebah bangkit lagi: keyakinan di dalam tangan Sekali genggam tak dilepas
Setiap rebah bangkit lagi Merah kan membasuh pagi.

27-11-1961.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.