Baret Merah: Satuan Pendadakan
Satuan elite Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat ini
sejak awalnya dimaksudkan sebagai satuan penyergap dan
pelumpuh musuh dalam pertempuran. Kalau menculik aktivis?
BARET MERAH DI- lemparkan sebagian isya- tat keberadaan satuan Resimen Para Komando AngkatanDarat (RPKAD) di sana. Tak lama, para pemberontak yang menguasai lapa- ngan terbang Halim Per- danakusumab pun menyerah tanpa periu kontak senjata. Kejadian menyusui pembu- guhan para jenderal pahiawan revolusi it kembaß memperßhatkan bagaimana satuan elite AD inu begitu disegani dan ditakuti. Beberapa bolan berselang, Bung Karno, Bapak Revolusi, puo gugup keuka tahu bah- wa pasukan taapa identitas yang mondar- mandir di samping istana itu adalah RPKAD dan anak buah Kemal Idris dari Komando Cadangan Strategis AD atau Kostrad. Burí- buru, Proklamator ini meninggalkan sidang kabinet dan menyingkit ke Ístana Bogor. Jawa Barat. naik helikopter pada 11 Maret 1966. Di hari itu, ia kemudian menandatangani Surat Perintah 11 Matet. Adalah peristiwa
Gerakan 30 September dan pembersihan kekuatan Partai Komunis Indonesia sesudah- nya yang kian melambungkan nama RPKAD dan komandannya, Sarwo Edhie Wibowo. Perebutan gedung Radio Republik Indonesia dan Telkom yang hanya 20 menit, pembersihan anasir komunis di Jawa Tengah dan beberapa daerah lain, serta kooperasinya dengan. mahasiswa hanya menambah popularitasnya. Sebelumnya, pasukan komando ini telah me- noreh sukses di berbagai palagan, termasuk dalam penumpasan pemberontak Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRIy Perjuangan Rakyat Semesta di Somatra dan Suławesi, pendudukan di Merauke (Irian). dan konfrontasi di perbatasan Kalimantan Banat. Di Medan misalnya, para pemberontak PRRI segera menyingkir ke luar kota setelah mendengar dari radio batwa RPKAD akan segera diterjunkan. Dalam berbagai medan itu "baret merah" senantiasa berhäsil menjalankan mugas komando. yaitu pendadakan atau pelumpuhan secara tiba-üiba. Dan, merang itulah yang diharapkan penggagasnya. Slamet Ryadi (almarhur) dan Alex E. Kawilarang. Kedua
pemimpin pasukan Indonesia dalam perang
melawan kaum separatis Maluku ini terkesan melihat parotroop Belanda, Korps Speciale Troopen, yang membantu pasukan Republik Maluku Selatan (RMS). Itulah yang meng- ilhami mereka untuk membangun pasukan komando. "RMS mula-mula tidak tertalu kuat. Tapi, mereka juga tipe komando. Kita maju, mereka mundur. Tahu-tahu sudah ada di pohon-pohon. Sebetulnya, komandan pasukan kita, Slamet Riyadi, tewas di situ." ucap Alex dalam sebuah wawancara dengan D&R beberapa waktu lalu. Slamet Riyadi mati muda. Maka, Alex Kawilaranglah yang mewujudkan cita-cita membangun pasukan yang "tahunya bukan bergerilya saja, tak taħu bertempur, dan ku- rang berpengalaman dalam mempertahankan daerah yang sudah direbut." Setelah ditarik dari Indonesia Timur ke Siliwangi, Alex mulai merealisasinya. Tapi, seperti apa gerangan pasukan komando yang ía bayangkan? "Ya, mereka mendapat tugas istirnewa dan sering bukan seperti pasukän. Sering co- ma dua-tiga orang. Memang, bisa juga sato kompi. Bisa selama berminggu-minggo, mereka di hutan." kata Alex sembari mencon- tohkan The Seal's di Perang Vietnam. The Seal's adalah pasukan elite marimir Amenka Serikat. Pasukan komando, menurut Alex, tarus ada pin point-nya. Artinya, tabu di mana me- suh berada. Lalu, musuh mendadak digem- pur. Kalau bisa, jangan sampai lawan tahu lebih dulu. "Kalau cari-cari di hutan sebetulnya bukan tugas komando. Tetapi, sebagni tugas sampingan, itu istimewa juga." katanya.
PRABOWO DITENGAH ANAK BUAHNYA (1993).
Dltulah yang dibayangkan Alex waktt itu. Namuo, masalahnya tak ada pelatih untuk itu. Dia pun teringat akan Bernard Roger Visser. bekas kapten Belanda yang sudah menjadi warga negara Indonesia dan menjadi penjual bunga di Lembang, Bandung. Visser alias Mohamad Idjon Djambi pemah mengikut latihan parakomando Inggris se- belum bergabung dengan Koninklijk Leger waktu Perang Dunia II. Terakhit, ia menjadi Komandan Sekolah Terjun Payung Koninklijk Nederlandsch Indische Leger di Cimahi, Jawa Barat. Idjon Djambi kemudian melatih tujuh- delapan instruktur yang diambil dari sekolah depot. Sesudahnya dibentuk satu kompi inti yang diberi nama Kesatuan Komando Tentara Teritorial II (Kesko II). Setahun ber- selang, Panglima Divisi Siliwangi Alex E. Kawilarang mendapat perntah dari Markas Besar (Mabes) AD. Isinya, pasukan khusus ini jangan di bawah pimpinan satu teritorial, tapi di bawah pusat. Namun, tempat berla- tiħnya tetap di Batujajar, Jawa Barat. Setelah dilepas Siñwangi, Kesko III berganti nama menjadi Kesatuan Komando (KK) AD. Di bawah Mabes AD, KKAD tak hanya orang Siliwangi lagi. Tahun 1954 bergabung lima lulusan Sekolah Pelatih Infanteri Cimahi. yakni Benny Moerdani, Dading Kalbuadi, Soeweno, Soekoso, dan Soetaryo. KKAD dipimpin langsung Idjon Djambi. Pada 27 April 1956, KKAD ditingkatkan menjadi Resimen Penggempur Angkatan Darat (RPKAD). Mayor Djaelani kemudian menggantikan Idjon Djambi sebagai komandan RPKAD. Menurut Alex E. Kawilarang. Djaelani-lah yang menanamkan pada pasukan komando bahwa din mereka tetap tentara dan tak boleh menganggap diri pasukan istimewa. Tapi, Djaelani kemnudian hanus pen siun dini karena terhibat dalam Peristiwa Kran- ji yang merupakan bagian dari gerakan Zul- kifi Lubis untuk menentang A.H. Nasution. Dua penerus Djaelani sebagai komandan RPKAD kemudian akan menjadi tokoh lagendaris. Mereka adalah Moeng Parhadi- moeljo (1958-1965) dan penggantinya, Sarwo Edhie yang telah disebut tadi. Dari segi kepribadian, Moeng lebih unik dibanding yuniomya, Sarwo Edhie. Di mata anak buahnya, Moeng merupakan sosok tentara tulen yang dicirikan oleh disiplin keras. kelurusan hati, dan kebersahajaan. Seorang mantan prajuritnya menyebut mantan Ins- pektur Jenderal Departemen Pertanian ter. sebut tak sekadar memberi instruksi ketika pasukan berlatih. Komandan ini turut ber- peluh-peluh sewaktu memberi contoh. Kese- derhañaannya disebut luar biasa. la selalu mengembalikan sisa uang jalannya, sebesar apa pun. Alasannya, itu milik rakyat. Seba- lâknya. ia akan meminta kekurangannya. Ja-
thberasnya pun ia gunakan seperunya. Ka-
D&R, 25 Juli 1998
lau berlebib, ia akan kembalikan. (Kopassus) Tentara Nasional Indonesia Ketegasan itulah yang kemudian mere-(TND)-AD. Nama itulah yang terus dipakai sahkan sebagian perwira RPKAD. Keluhansampai sekarang. Perubaban penting baru mereka sampaikan ke Panglima AD saat itu. berlangsung sepuluh tahun kemodian Achmad Yami, lewat Mayor Benny Moer-(1996), ketika Kopassus di bawah Koman- dani. Ketika Yani menanya siapa calonnya dan Brigadir Jenderal Prabowo Subianto di- kalau Moeng harus diganti, Benny menga-mekarkan, dari semula tiga grup menjadi takan secara pribadi lebih suka Letan Ko-lima grup. lonel Widjojo Soejono dibanding Letnan Kolonel Sarwo Edhie. Dalam biografi Benny ALAM strukuir Kopassus saat ini. yang ditulis Julius Pout (1993) disebut Yani setiap grup dipimpin perwira me nengah berpangkat kolonel. Grup 1. menuduh Benny yang sebenarmya ia sayangi in tidak etis karena menyampaikan penilaian I, dan Ilì bermarkas masing-atas kebijakan komandannya, Moeng. masing di Serang (Jawa Barat). Surakarta Benny juga dituduh menghimpun massa, (Jawa Tengah), dan Batujajar. Grup I, I, dan mencampuri instruksi atasan, dan mendong-Ill berkualifikasi parakomando atau semua kel Komandan RPKAD. la kemodian disu-anggota memenubi syarat minimal meng- nih melapor ke Soeharto, Panglima Kostrad.ikuti latiban terjuo payung dasar/tempur. Sejak itui Benny tidak di baret merah lagi. Grup Il juga merupäkan Pusat Pendidkan Sarwo Edhielah yang akhirnya mengganti-Kopassus. Akan halnya grup IV dan V kan Moeng Parhadirnoeljo. Dan, posisi Ben-(dikenal sebagai grup antiteror) bermarkas di Cijantung, Jakarta Timur. Grup IV disebut Sandhy Yudha, terdiri atas prajurit pilihan C6.0 dari tiga grup pertama yang dilatih kembali untuk berkualifikasi intehjen tempur. Biasa
Kesederhanaannya beroperasi dalam unit-unit kecif (lima or-
ang), di dalam masa damai umumnya mere-disebut luar biasa. la ka mendapat tugas intelijen teritoríal. selalu mengembalikan Pengetahuan umum, bahkan ABRI sen- diri, tentang grup V umumnya terbilang mi-
sisa uang jalannya,
nim. Grup yang juga dikenal dengan nama sebesar apa pun. Detasemen 81—karena keberhasilan Korps Baret Merah dalam menangani peristiwa
Alasannya, itu milik
pembajakan Garuda Woyla tersebut—terdiri atas orang-orang pilihan dari grup IV dan
rakyat. Šebaliknya, ia
merupakan yang terbaik yang dimiliki Ko- akan meminta passus. Mereka memiliki kesatriaan tersen- diri yang terisolasi di Cijantung. kekurangannya Di masa kepemimpinan Prabowo, Kopassus mencatat prestasi penting pada per- ny sebagai Komandan Batalyon RPKAD di-tengahan 1996, ikit menyelesaikan kasus pe- gantikan rekannya, C.I. Santosa. nyanderaan di Mapenduma, Irianjaya. Pe- nyanderaan yang berlangsung sekitar empat Kopassus bulan itu dilakukan oleh apa yang pemerin-RPKAD mengalami perubahan organi-tah Orde Baru katakan sebagai gerakan pe- sasi maupun namia pada 17 Februari 1971. ngacau keamanan Organisasi Papua Merde- ka yang dipimpin Kelly Kwalik. Prestasi Pasukan yang kini bernama Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopasandha) itu terjunlainnya adalah keberhasilan prajurit Kopassus dari Tim Daki Serbu yang tergabung da- dalam Operasi Seroja di Timor Timur pada 1975-1976. Pengembangan kualifikasi tek. lam Persatuan Pendaki Gunung TNI-AD nik khusus di lingkangan Kopasandha terus menaklukkan Himalaya. Sayang, dalam masa keperimpinannya berianjut. Pada 31 Maret 1981, Unit Penyerbu De-itu pula mencuat kasus penculikan sejumíah aktivis, yang kemudian diduga melibatkan tasemen 81 Kopasandha yang dipimpin sejumlah prajurit baret merah. Unit Kopas-Letnan Kolonel Sintong Panjaitan mengukir sukses besar melalui Operasi Woyla. Mereka sus yang diduga terlibat adalah grup IV berhasil menewaskan lima orang pembajak (Sandi Yudha). yang dikenal juga dengan se- butan grup mawar. Pasukan ini berkualifikasi berkebangsaan Indonesia dan membebaskan para penumpang pesawat Garuda Woyla intelijen teritorial dengan tugas menghan- yang telah disandera sejak 28 Maret 1981. curkan lawan di garis belakang pertahanan- nya. Istlahnya: penyusupan. Tak jelas apa-Kejadian berlangsung di Bandar Udara Don Müang, Bangkok. kah penculikan para aktivis termasuk wila- yah kewenangan mereka. Kopasandha pada 23 Mei 1985 berubah nama menjadi Komando Pasukan Khusus 2. Hasudungan Sirait/Laporan Bachmat H. Cahyano