KELUARGA HARYANTO TASLAM DI LBH. Belum banyak cerita yang terungkap.
LIPUTAN UTAMA
Cerita Wewegombel
dan Orang-Orang Hilang
Sejumlah yang "hilang" mulai pulang. Hanya pengamen di Yogya yang mengadu ke LBH,
selebihnya enggan bercerita. Perlu menunggu resolusi Komisi Hak-Hak Asasi Manusia PBB?
DIAWA, DULU, KETI-yang terjadi. selama "hilang". ka pohon-pohon besar dan Kisah orang hülang di Tanah Air bela-Yang jelas, para orang tua kita tampak- tinggi masih banyak, ada kangan ini sepert kisah wewe itu. Yang h-nya tak ingin mengetahui secara persis siapa masanya orang tua bilang lang pun adaiah "anak-anak nakal" yang su- dan apa itu wewegombeimemang hanta kepada anak-anak: "Ja- ka "bikin onat". Juga, seperti kisaħ pencu- atau suatu ide untuk membuat anak-anak pa- ngan keluyuran di waktu likan oleh wewe yang kemudian si anak yang tah duduk di rumah di kala ragrib. Juga, di surup, kamu nanti digon- dicuik muncul lagi "di pohon tinggi", o- dol wewegombel." Surup. Indonesia sekarang sepertinya pihak kepo- rang-orang yang muncul lagi kini juga ber- itulah magnb; dan wewe adalah hantu be- lisian kurang proakuf. melainkan menonggu ada di luar Jakarta. padahal konon "hilang- laporan. Bahkan, Komisi Nasional Hak Asa- rambut panjang, bisa terbang, dan suka men- nya" di Jakarta. Konon, biasanya, anak yang culik anak-anak yang kemudian, konon. si Manusia terkesan pasif. Misainya, kenapa dibawa wewe ketika dtemukan mulutoya se- anak itu diterukan nongkrong di pohon ting- mereka tak menemui yang muncul lagi yang olah terkunci. Barangkali, ia terteror olch be- gi. Konon, anak yang digondoł wewe, setelah tak mau bercerita kepada wartawan sekali- mik dan perilako sang wewegombel. Siapa ditemukan, mulunya seperti terkunci. Bila pun itu (Pius Lustrilañang. Haryanto Taslam. taho, mereka yang muncui lagi dan tak man umpamanya)? kemudian ia sadar lagi, biasanya ia lupa apa bicara pun terteror oleh yang mereka alami Sejauh ini, yang mencoba menemui me- D&R, 25 April 1998
LIPUTAN UTAMA reka yang muncol lagi itu adalah Yayasan Setelah itu, mereka dikembalikan ke panti Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YL- sosial yang dijaga ketat olch aparat kepoli-BHI). Dan, memang, mereka yang ditemui sian. Hal ini berlangsung benulang-ulang, se-YLBHI itu, menurut Bambang Widjojanto, lama tiga hari, sampai mereka dilepas pada ketuanya, belum bersedia bercerita apa pun. Selasa siang, 7 April lalu. Selama itu tak se-Pokoknya: diam. cuil pun kabar sampai ke telinga keluarga Ada yang tertarik dan tampaknya bakal mereka. Bahkan, ketika orang tua Dono dan mencar tahu apa dan siapa di balik "hilang Wawan mencoba mencari anaknya ke ma- dan muncul kembalinya" sejumlah orang ini. polresta, mereka menerima jawaban begini: Itulah yang bemama Komisi Tinggi Hak-polisi tak tahu-menahu. Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Khusuş untuk Wawan tampaknya masa-Bangsa di Jenewa, Swiss. Komisi ini, Selasa. labmya belum selesai. Setelah dilepaskan. 21 April pekan ini, merencanakan merapat- kembali ia diculik dan dibawa ke sebuah kan perlö-tidaknya membuat resolusi anti-tempat yang ia tak tahu di mana itu. Di sana, Indonesia sehubungan dengan orang-orang Wawan lagi-lagi harus mengalarni interogasi hilang dan penegakan hak asasi manusia pa- dan penyiksaan, termasuk direndam di da umumnya. Menurut anggota Komisi Na- dalam air selama berjam-jam."Aparat kea- siónal Hak Asasi Manusia Marzuki Darus- manan telah memperlakukan mereka secara man, "Terbuka kemungkinan sidang akan tidak manusiawi." kata Híillarius N.G. Mero, menjatuhkan resolusi anti-Indonesia. juga pengacara LBH Yogya. Bila itu memang terjadi, citra Indonesia Menürut Bodi, penyiksaan itu dilakukan bakal buruk di mata intemasional. Dan, siapa tahu, itu bakal meng- hambat úpaya reformasi ekonomi karena para penanam modal asing takut wewegombel. Tapi, ada yang diberitakan hi-Beberapa jam, mereka lang kemudian muncul lagi dan mengadu ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogayakarta. Itu- bung dalam Serikat Pengamen Indonesia-Yogyakarta, Mereka Ulum, Ferdinandus Suhardono alias Dono, Tofik Kustoro, dan LBH bercerita yang terjadi selamakeluarġa mereka. mereka hilang. Mereka diciduk dari tempat mangkalnyą atau di- jemput petugas berpakaian preman dari nu-karena petugas mendapat informasi bahwa maħ masing-masing. Dan semua penangka- para pengamen adalah demonstran bayaran. pan itu sama: tampa surat tugas. "Mereka Mereka disangka tunut dalam aksi demo menculik klien kami tanpa surat tugas atau karena memperoleh imbalan berupa uang. surat perintah penangkapan," kata Budi Har-Tampaknya, para pençulik ingin tahe siapa tono dari LBH tersebut, kuasa hukum enam yang membayar mereka. Lantatan memang pengamen itu. tak pernab mieneríma imbalan, para pengamen itu pun menolak tuduhan tersebut. Demonstran Bayaran? "Dermi Tuhan, kami tidak dibayar siapa Menurut Dono, pada awalnya, mereka pun." ujar Done. Akibat penyiksaan jtu, se- dibawa ke panti sosial milik Departemen So- orang pengamen mengalami luka dalam se- sial di Bantul, di pinggir Yogya. Menjelang rius dan dua lainnya harus dijahit di sana- tengah malar, mereka diangkut ke Markas sioi. Polisi Resor Kota (Mapolresta) Yogyakarta. Cerita selanjutnya belum jelas. Kepala Apa salah para pengamen itu? Polresta Yogyakarta Letkol Boedhi Santoso Di mapolresta itulah mereka dinterogasi,
M. tetap menganggap para pengamen itu tak
ditanya soal keterlibatan mereka dalam de- temmasuk mereka yang hilang. Polisi juga monstrasi mahasiswa. Mereka tak cuma di- menampik tuduban telah menahan mereka. tanya, tapi bergantian digebuki dan diten- "Mereka hanya kami müntai keterangan." dang, dinjak. " Ada tenan kami yang mu- kata Boedhi. Sebaboya: info darí seorang lutnya dicokol pistol sambil diancam. Jika bocah tukang semir sepatu yang mengaku tidak mau mengaku, mereka akan mema- disuruh para pengamen untuk turut demo tahkan tulang-tulang kami." tutur Dono. dan mendapai upah Rp 5.000. Setelab itu, Beberapa jam, mereka "dinterogasi". polisi lantas meiyeraħkan mereka kepada D&R, 25 April 1998
Departemen Sosial, "Karena, mereka tak puñya identitas yang jelas." Belum Berani Boleh jadi, itu baru satu macam modus "hilangnya" pata aküvis, Mungkin, ada juga modus hilang ala Maqbul Halim. Mahasiswa Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan fimu Poħtik Universitas Hasanuddin, Ujungpandang yang dikenal vokal itu raib selama lima hari. Belakangan, setelah berita keraibannya muncul di koran daerah, me- murut Kepala Dinas Penerangan Kepolisian Daerah Sulawaesi Selatan Mayor H.R Bagus Santoso, Maqbul dikabarkan telah melapor ke Kepolisian Sektor Belawa di Kabupaten Wajo, sekitar 250 kilometer dan Ujungpandang. Kepuda polisi, ia mengaku pulang ke kampung halamannya di Wajo untuk menghadiri pernikahan seorang kerabatnya. Tapi, hingga pekan lalu belum seorang pun yang mengaku melihat langsung keadaan Maqbul. Kakak kan- dungnya, Mahyudin, mengaku hanya menerima telepon dar adik- nya itu. Di mana Maqbul sebenar- nya masih belum jelas. Yang past, Panglima Komanda Daerah Mili- ter Wirabuana Agum Gumelar te- wak mencari Maqbul. Menurut catatan YLBHíI. seti- (termasuk dua sopir) yang belum kembali ke rumahnya. Menurnt janto, pihaknya telah mengirim utusan untuk menjumpai langsung para aktivis yang telaħ pulang. Tapi, hingga kini sayangnya belum banyak cerita yang terungkap. Desmon I. Mabesa, Direkiur LBH Nusaníara, misalnya, mengaku tak tahu siapa yang menangkapnya dan di mana ia disekap karena matanya tenus ditutup. Akan hainya Pius, menurut YLBHI. belum bisa ditemui. YLBHl berjanji akan terus berusaha agar mereka yang "hilang dan kembali” bersedia menceritakan pengala- mannya selama tak diketahui rimba belan- taranya itu. "Tapi mereka belum berani," kata Bambang. Jadi, apa yang terjadi? Sulit; dugaan bisa saja dikatakan, tapi itu belum tentu benar, dan juga belum tentu salah. Yang tampaknya masuk akal, meteka yang muncul punya ko- mitmen dengan penculiknya agar tak menceritakan yang terjadi Dan tentunya, bila mereka teipaksa bungkam, melanggar ko- mitmen berat risikonya. Dengan kata lain, ada ancaman yang membuat mpereka tak mau bercerita. Bisa jadi juga mereka memang tak tahu apa-apa karena matanya ditutup, misalnya. Yang jelas, bila tetap tak ada kisah sebe-
"diinterogasi". Setelah itu, mereka
dikembalīkan ke panti sosial yang lah memerintahkan jajarannya uo-
lah enam pengamen yang terga-
dijaga ketat oleh aparat kepolisian.
daknya masih ada 14 orang lagi
Hal ini berlangsung berulang-ulang,
(Wawan, Subroto, Miftachul
selama tiga hari.... Selama itu, tak
Ketua YLBHl Bambang Widjo-
secuil puñ kabar sampai ke telinga
Didik Setyarso Nugroho) kepada
LIPUTAN UTAMA
MARZUKI DARUSMAN. Terkesan pasi. nanya tentang hilangnya Haryanto Taslam, tahkan seluruh jajarannya untuk turut men-Pius, dan Desmond setidaknya, itu berarti cari para aktivis itu (lihat D&R edisi U1 para penculik-satu kełompok atau lebih tak Apri). ada bedanya-—-berhasil membuat diri mereka Menteri Dalam Negeri Hartono pun me- tetap misierius. Dan, karena itu, bukan tak ngeluarkan pemyataan senada. ABRI, me- mungkin aktivitas mereka terus berjalan. nurut Hartoño, wajib tunut mencan para ak-Lumrah bila kemudian ketakutan meling-tvis yang hilang itu. Cuma, soal berhasil- kupi siapa saja. udaknya; itu urisan lain. Artinya, ABRI tak Tak jelas ada kaitannya dengan mereka harus bertanggung jawab atas keselamatan yang hilang—dan kembali-atau tidak, ada mereka."La, wong ilang karepe dhewe (hi- sinyalemen aktivitas penculikan terus ber- lang maunya sendiri), kok, dibilang tang- langsung. Aktivis Suara lbu Peduli, Dt. gung jawab ABRI. Coba ngumpet seming-Karlina Leksono-Supelli, misalnya, menga-gu di rumah gubuk sana sambil ngopi kān ku sempat dua kali dikunnt orang-orang ke-menghilang." kata Hartono. kar. "Mulanya, saya pikir saya GR (gede ra- sa) saja," tuturnya, Tapi, setelah ada telepon cmentara itu. Mayjen Syamdu D.. dari seorang keñalannya, dosen Universitas
Komandan Puspom ABRI juga meng
Indonesia itu baru menyadari peristiwanya. barapkan agar masyarakat tidak cepat- (ihat Karlina Leksono "Nyaris" Hilang). cepat membawa masalah orang hilang ke lerbaga internasional karena akan menco-Cerita Dua Tahun Lalu reng kredibilitas bangsa. "Seyogianya, kita Orang memang lumrah kalau menduga selesaikan dengan aturan kita sendir.," kata baħwa penculikan ini berkmitan dengan apa-Syamsu. rat keamanan. Alasannya: menjalankan pen-Baiklah,tapi apa lalu tindakannya? Polisi cólikan dan tetap misterius perlu latihan. pun sejauh ini tak terdengar menghubungi Dan, lathan sepert ini agak sulit terpikirkan Pius atau Desmond untuk mendapatkan bisa terjadi di luar lingkungan aparat kea- cerita kedua orang yang hilang dan muncul mañan. lagi it. Pun Komisi Nasional Hak Asasi Ma-Tapi, pagi-pagi, Kepala Pusat Penerang-nusia ruestinya bisa lebih tanggap. Andai me- an ABRI Brigjen Abdul Wahab Moko- mang ada ancaman kepada yang muncul dongan membantahnya dengan jelas dan lagi, bukankah polisi bisa memberikan tegas. " ABRl tak ada hubtingannya dengan perlindungan? hilangnya sejunlah aktivis." kata Abdul Wa-Walhasil. tetap merisaukan bahwa tak hab. Pimpinan ABRI bahkan telah memerin-adayceritasapa yang telah terjadi itu. Ada
memang beberapa catatan di YLBHl, tapi itu certa dua tahuo lalu. Misalnya, kisãh bekas Kema Umum Solidaritas Mahasiswa Indonesia unauk Demokrasi, Munif Laredo. Munif sempat hilang sekitar dua bulan. seusai peristwa kerusuhan pengambilalihan kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro, Jakarta, 27 Juli 1996. Kepada YLBHI, ia bercerita penderitaan yang dialaminya selamą ia hilang. Siapa membuatnya menderita? la tak bisa memas- üikan. Apakah ada hubungan antara hilangnya Munif dan otang-orang hilang belakang- an ini, pun tak jelas. Yang jelas, kecemasan tentang hilang itu mendasari berdininya Komisi Pencegahan Tindak Kekerasan dan Orang Hilang (Kontras), Kamis, 9 April, dua pekan lalu. Kontras didukung 10 lembaga swadaya masyarakat (antara lain YLBHI, Aliansi Jurnalis Independen, Komite Independen Pemantau Pe- milu, Lembaga Studi dan Advokasi Masya- takat, Pusat Informasi dan Pengkajian Hak Asasi Manusia, Pergerakan Mahasiswa Is- lam Indonesia, LA-Pasip, dan LP-HAM dan tokoh-tokoh senior, seperti cendekiawan Nurcholish Madjid, pengacara Harjono Tji- trosoebeno, dan Trimoelja D. Soerjadi. Me- nurut Munir, pelaksana hariannya, Kontras memusatkan perhatannya ke masyarakat yang, karena aktivitas politiknya dibilangkan atau menghilangkan dirì akibat tekanan, mengalami perlakuan hukum yang tidak adil serta mengalami teror dan ancaman. Barangkali, semakin banyak lembaga yang mengungkapkan soal orang hilang ma- kin tak mudah seorang warga negara di negeri merdeka ini tiba-tiba raib dan tiba-tiba muncul dengan mulut terkunci. Apa kita perlu menunggu resolusi Komisi Hak Asasí Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa dan datangnya special rapporteur? Bukan cuma Dana Moneter Intemasional (IMF) di bidang ekonomi dan moneter, juga untuk membuat warga oegara Indonesia merasa aman dan terlindungi di negara sendin pertu lembaga asing ikut "meronda"? Di Jawa, kisah wewegombel tak lagi dipercaya anak-anak. Pobon-pohon besar sudah bergant menjadi instalasi listrik. gedung-gedung, atau kawasan tempat pohon tumbuh sudah menjadi waduk. Modernisasi telab mengusir takhayul dan sejenisnya. Mungkin, diperlukan modernisasi dalam menyelenggarakan negara agar orang hilang tak perlu ada lagi. Modernisasi di situ bisa diterjemaħkan sebagai demokrasi, hadirnya oposisi, dan sebuah cívil society atao masyarakat madani: Kata civíil atan madani mengandung makna beradab, Penghilangan orang jelas bukan sesuatu yang beradab. Laparan Budi Mugroho, Sano Jako Suyano (Jakarta), LM Isayanle (Vagyakarta), Tomi Lebang ¿Ojungpandang), Owá Arjanto (Solo) D&R, 25 April 1998
LIPUTAN UTAMA
Karlina Leksono
"Nyaris" Hilang
AKTIVIS SUARAIBUPEDULI-KELOM- pok perempuan yang melakukan penjualan susu murah-Karlina Leksono Supelli belum lepas dari "cobaan". Jika Februari lalu ia ditangkap dan disidang lantaran melakukan aksi protes kenaikan harga sembilan bahan pokok di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. pada Rabu pekan lalu, 15 April, ia nyans masuk daftar orang hilang. Berikut penuturan Karlina kepada D&R seputar peng alamannya itu. "Hari Rabu memang waktu mengajar saya di Pascasarjana Universitas Indonesia (UI). Si- ang itu~sekitar pukul 13.00 jalanan begitu macet karena ads aksi mahasiswa. Akhimya. saya turun dari taksi di depan RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangun- kusumo) dan berjalan ke Jalan Salemba. Saya liñat banyak po- lisi, termasuk di antaranya Ka- poltes (Kepala Kepolisian Resor) Jakarta Pusat Letnan Kolonel Iman Haryatna yang dulu meme- rintahkan menangkap saya. Ke- tka mau masuk pintu gerbang ada yang teriak. "Tolong, bukain pintu buat ibu ini karena ibu ini mau ngajar." Yang teriak seper- tinya anak UL. Kemudian, saya masuk dan mengajar sampai pukul 15.00. Setelah selesai mengajar, su- asana masih ramai. jadi saya me nunggu dulu di halaman. Setelah lima belas menit, saya berjalan § ke arah pintu gerbang. Kärena cnggak ada kendaraan, saya imgin naik taksi. Tiba-tiba. ada? lang. "Thu perlu taksi?' Saya kira tukang parkn, tapi saya enggak kenal wajahnya. Saya sudah bertahun-tahun di UI dan umumnya saya kenal tukang parkir. Dalam keadaan ragu-ragu., orang tersebut sudab menyetop taksi dan membukakan pintu. "Silahkan, Bu,' katanya. Nah. pada saat piutu terbuka da saya mendekat Gba-tiba ada dua orang lagi datang dan melingkar di belakang saya. Badannya besar.. rambutmya, wajahnya... Saya kaget dan cepat berpikir, kalau saya masuk bisa-bisa orang niga imu juga ikut-ikut masuk. Jadi. saya bilang enggak jadi dan langsung berjalan secepat mungkin ke arab Cipto. Tiga orang tadi masih mengikuti saya dalam jarak dekat.
D&R. 25 April 1998
mungkin cuma setengah meter. Setiap kali saya menengok ke belakang. mereka langsung menatap saya. Wah, ada apa ini. Se mula, saya berjalan agak di pinggir trotoar Salemba. Waktu itu banyak mobil yang diparkir dan saya pikit, kalau ada yang narik saya, enggak akan ada yang libat. jadi saya pindah dan jalan di tengah Jalan Salemba. Ketiga otang iu masih terus mengikuti. Di dekat persimpangan lampu merah Rumah Sakit Carolus. saya lihat ada taksi kosong. Begitu taksinya lewat. tanpa me- nunggu berhenti. secepat kilat, saya langsung berjalan berbalik. memotong jalan kctigà orag itu. Saya buka pintu taksi dan lang sung masuk. Agak tegang saat itu, tapi saya masih mengira saya paranoid, GR (gede rasa) saja. Setengah jam kemudan, di dalam taksi, saya terima telepon dari keluarga. Lim, kamu dimana? Kamu aman-aman saja?"Lo. kenapa?" saya balik bertanya. Katanya, mereka terima telepon dari salah seorang kenalan yang mengatakan tolong dicck Karlina sampai di rumah dengan selamat apa tidak: saya lihat dia dukut tiga orang." Oh, kalau begitu, benar, saya enggak cuma GR. Kemudian, saya cnggak langsung pulang, mampir dulu ke Kafe Cemara, minum-mimum. Sctelah saya lihat aman, saya pulang. Sebenarnya, itu kejadian yang kedua. Yang pertama. mungkin tidak terlalu "serius", terjadi sekitar awal Maret se- sudah sidang kedua. Saya jamji dengan dua wartawan di Mal Pondok Indah (lakarta Selaten). Kemudian, saya bilang. 'Kalau mau ntgobrol, di mobil saja karena saya mau langsung pulang." Karena sopiu saya harus menjemput suami saya, akhuir nya kami bertiga (Karfina dan dua wartawan) mencegat taksi Taksi pertamia tidak mau, de- ngum alasan daerah yang kami tuju macet. Setop taksi kedua sama juga jawabannya. Saya pikir apa benar begitu atau karena wajah saya, orang takut. Kami bertiga berdiri di pinggir jalan. Tiba-tiba, out of na. muncul satu orang berbadan besar. bawa HT (handy talky). dan mendekat. 'Ibu, kok. enggak jadi naik taksinya." kata orang yang baru datang im, dua kadi. Meskipun heran, saya wakiu itu enggak mukir apa-apa. Kemudian, wartawan itu bilang. Tangan. jangan, orang tersehut sudah mengikuti kita sejak dari mal. Saya sudah mencentakan semua itu kepada pengacara saya. Pengacara dan keluarga saya sudah pemah bilang supaya ke mana- mana jangao pergi sendiri. Rumal saya juga pemah diawast. Tapi. kemudian, saya pikir rasanya enggak apa-apa. kok, sendiri. Tapt setelah kejadian Salemba kemarin, saya pikir ini sudah enggak main-main lagi. Jadi. saya usahakan. kalau pergi, enggak sendin." 8μ8 Nvgrobo
orang yang mendekati dan bi- the blue, enggak tabu darí ma-KARLINA LEKSONO. Saya pikir in sudah enggak main-main lagi.
LIPUTAN UTAMA
Haryanto Taslam:
istri dan bapak, saya bilang saya kini berada di Jawa Timur dan dalam keadaan sehat walafiat. Pagi itu sebenarya keluarga saya 99 man datang ke numah Bambang (Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia), tapi saya cegah sebab saya baik-baik di Jawa Timur. Saya minta mereka ke Surabaya saja. Hal yang sama juga
. Saya Tidak
saya katakan kepada Ibu Megawati dan Pak Cip (Sucipto, Ketua PD1 Jawa Timur) bahwa saya ada di Jawa Timur. Siangnya, Bambang Widjojanto juga mengontak saya lewat telepon, Jadi, tidak betil (berita bahwa) saya mengontak Bambang lebih dainulu. Jadi, sejak 8 Maret itu, Anda hilang, menghilang, atau dihi- langkan? Sementara ini saya no comment. Saya juga minta tolong kepada Anda agar saya dan keluarga diberi ketenangan. Ini merang menga- getkan. Bapak saya yang sudah tua harus ke Jakarta, sementara anak saya di sini sendirian (satu anak Taslam ikut kakeknya di Mojokento).
S SA
Berubah"
Haryanto Taslam muncul dari raibnya, tapi
belum mau bercerita, Akan melapor kepada
Megawati dulu, katanya. SAMAMISTERIUSNYA: KETIKAHARYANTO Taslam, Wakil Sekjen PDI versi Musyawarah Na- sional (Munas) 1993, raib 8 Maret lalu dan ketika ia tiba-tiba diketahui berada di Hotel Satelit, Surabaya, pekan lalu. Yang pertama tak jelas proses’hilang -nya; yang kedua juga tak jelas bagaimana tiba-üba ia berada di hotel itu. la pun merahasiakan kapan persisnya ia masuk botel tersebut. Yang jelas, Haryanto, 44 tahun, mengaku pertama kali mengontak keluarganya di Jakarta pada Jumat pagi, 17 Apil. "Saya sekarang ada di Jawa Timur dan dalam keadaan sehat," begitu tutumya kepada D&R, tentang kata-katanya lewat telepon kepada istni dan ayahnya. Ayah dan ibunya, yang tinggal di Mojokerto, Jawa Timur, beberapa han setelah ramai kabar bilangnya Haryanto, ke Jakarta untuk mene- mani menantunya. Setelah mengontak keluarganya, Haryanto menelepon Megawati Soekamoputri yang Ketua DPP PDI dan Sucipto yang Ketia PDI Jawa Timurversi Munas 1993. Sabtu sore pekan lala, 18 April, Nyonya Ani Agustina, istri Haryanto, beserta keluarganya langsung ke Surabaya naik kereta Argo Bromo. Minggu pagi. setelah bentemu di hotel. Haryanto dan keluarganya meluncur ke Mojokento, tempat tinggal orang tuanya. "Sekarang saya sudah lega, Dula, saya gelisah sekali." ujar Taslam. 75 tahun, ayah Haryanto, kepada D&R. Sejak anaknya pulang, rumah Taslam di Kompleks Penumahan Wikarsa, Mojokerto, langsung dikunjungi banyak orang: tetangga, saudara, warga PDl, dan para wartawan. "Saya khawatir ia hilang disekap. Sekarang kan banyak aktivis yang hilang," ujar Ny, Ridwan, Bendahara PDł Kabupatee Mojokerto. "Saya menduga, hilangnya Haryanto karena soal politk. Ada pihak yang ingin menyingkirkan dia." kata Sugimin, Wakil Ketua DPC PDI Kotamadya Mojokento. Benar? Haryanto, bapak dan tiga anak, memilib diam, la tak menolak ditemui wartawan, tapi ia tidak bersedia menceritakan bila ditanya soal hilangoya. "Tentang soal itu, sementara ini saya no com. ment saja." kata afumni Jurusan Fakultas Imu Sosial dan Üme Politik Universitas Jayabaya, Jakarta, itu. ła tampak agak kurus, lebih bersih, dan tampak letih. Yang tak berubah, di seia-sela pembicaraannya, ia suka tertawa dan terus mengisap rokok. Berikut petikan wawancara Zed Abidin, wartawan D&R di Surabaya, yang dilakukan bersama sejumlah wartawan dengan Haryanto Taslam, Minggu sore, 19 April, di Mojokerto. Anda, kok, tambah kurus? Ya, susut sedikitlah. Tapi, berat tubub saya masih di atas 80 kilo- gram,. Tapi, saya sekarang merasa lebih fit. Kapan Anda kontak dengan keluarga? Saya kontak telepon dengan keluarga pada Jumat pagi. Kepada
Hal-hal mengenai saya, saya minta waktu dululah. Nanti, dalam waktu dekat. saya akan ke Jakarta untuk melaporkan kepada Ibo Megawati mengenai hal-ihwal saya. Yang jelas, saya gemibira bisa bertemu dengan keluarga dan teman-teman. Tapi. secara prinsipül. diri saya tidak benubah. Saya rileks saja dan tak ada suasana yang tegang. Mungkinkah kasus Anda ini dikaitkan dengan sejumlah aksi sebelum sidang umum? Pertanyaan Anda itu aneh. Pekerjaan saya sejak dulu dh belakang meja dan bukan di lapangan. Sebagai Wakil Sekjen PDI, pekerjaan saya adalah hal-hal yang berkaitan dengan administrasi organisasi Sekadar contoh saya bukan orang lapangan, waktu terjadi umjuk rasa PDI di Departemen Dalam Negeri sehubungan dengan kongres di Medan, saya satí-satunya pengurus DPP PDI yang udak turua ke jalan. Waktu ada rmimbar bebas di DPP PDI sebelum Perisuwa 27 Juli 1996. senua naik panggung, kecuali saya. Bukan saya tidak punya kemampuan naik panggung, tetapi secara fungsional int bukan wiläyah saya. é D&R, 25 April 1998
LIPUTAN UTAMA
SISA BENTROKAN MAHASISWA UGM DENGAN APARAT Indonesia dikrtik tajam. asasi. Tahun lalu, resolusi Komisi Hak Asa-
Rapor Merah
di Mata Dunia
KASUS "ORANG HI. lang" tampaknya cukup merepotkan pemerintab Indonesia. Apalagi, masalah itu dikabarkan ma- suk agenda persidangan Komuisi Hak Asasi Ma- musia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa. pekan im. Pada akhir sidang, Selasa, 21 April ini, komisi akamenge- luarkan resolusi mengecam Indonesia atas perlakuan tak manusiawi im. Bila resolusi anti-Indonesia muncul, Tm bisa membentuk citra negatif terhadap Indonesia." kata Menteri Kehakiman Mu- ladi. Dan, itulah pula kali kedua Iodonesia terbidik resolust di bidang pelanggaran hak si PBB menyangkut soal penyiksaan dan penangkapan di Timor Timur. Menurut anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Cle- mentino Dos Reis Amacal. kali ini pun peluang Indonesia untuk menghambat kcluarya resolusi kecaman itu sangat kecil. Pasad- nya. resolusi tahun lalu tak ditanggapi pemerintah lndonesta. Aki- batnya, "Pada sidang Komisi Hak Asasi PBB, Indonesia dikritik tajam." tutur Amaral. Selain itu, sambuug Amaral, isu pelanggaran hak asasi manusta di Indonesia di sidang komisi kali ini bobotnya lebih berat ketimbang tahun lalu. Rapor kondisi hak asasi di Iudonesia kini disejajarkan dengan negara-negara pelanggar berat, seperti Myan- mar. Somalia, Sudan, Guetemala, dan Korea Utara. Sidang Komust Hak Asasi PBB berlangsung setiap tahun. membahas perkembangan pelaksanaan hak sipil dan politik di negara-negara anggota PBB. Acuannya: Perjanjian Intemasional tentang Hak Sipil dan Politik (Inemanonal Covenant on Civil and Poltical Right). yang diberlakukan sejak tabun 1976. Pada perjanjian internasional itu, yang difindungi antará lain hak hidup. hak kebebasan dan keamanan dini, hak kesamaan di peradilan, hak kebebasan berpikir dan beragama, hak mempunyai pendapat tanpa gangguan. hak kebebasan berkumpul secara damai, dan huak berserikat Sampai Februari 1993 sudah 115 negara~temasuk Filipi na-meraúfikasi perjanjian tersebut. Konsekuensinya. negara-negara itu terikat untuk melaksanakan isi perjanjian sekaligus mengukuhkan pada hukum nasionalnya. Citra Internasional Akan halnya Indonesia hingga kim belum meratifikast perjanjian intemasional tersebut. Jadi, secara fommal, Indonesia tak terikat dengan perjanjian itu, demikian pula dengan resolusa Ko misi Hak Asasi PBB. Namum. soalnya. sebuah resolusi nan mengccam tentu bisa digunjingkan pada pergaulan intemasional, Misalnya, Indonesia lantas dianggap sebagai nogara pelanggar hak asasi. Mungkin. karena itu pula, berbagai kiat diploniasi terus diupayakan Índo- nesta menjelang sidang komsi hak asasi itu.
D&R, 25 April 1998
Contohnya, Menteri Luar Negeni Ali Alatas kini di Jenewa. berunding dengan perwakilan Inggris di Uni-Enopa-yang meng- ajukan resolusi mengecam Indonesia. Maksudnya: untuk meng- hindari konftrontasi fangsung. "Jalan keluar yang diupayakan Päk Alatas adalah memumculkan chairmaan statemert," kata Drektur Jenderal Politik Luar Negeri, Nugroho Wisnumurti. Menurut Nugroho, resolust yang diajukan Uni-Eropatak ber- kaitan dengan Perjanjian Intemnasional tentang Hak Sipil dan Politik, apalagi soal orang hilang. "Masalah orang hilang kan be. lum past itu kesalahan pemerintah. Penyidikannya beluru selesat Jadi, tak ada alasan mengagukan tesolusi." kata Nugrobo. Resolusi yang kimi dihadapi Indonesia, sambungnya, lebib menyangkut masalah pelanggaran hak asasi di Timor Timur. Pe- mrakarsanya tak lain Portugak-yang tergabung dalam Uni-Eropa. Toh, "Apa pun hasilnya nanu. kita akan menolak. Karena, kita tahu itu hanya manuver politik Portugal," ujar Nugroho, tegas. Sebagai negara yang belum meratifikasi Perjanjian lntema- sional Hak Sipił dan Politik, Indonesia berhak menolak resolust. Hanya, tapor lndonesia akan bertambah merah. Salah satu upaya mengoreksi mpor adalah mengundang special rapporteur, sema- cam tim khusus penelaah fakta, dari Komisi Hak Asasi PBB. Had itu pemab dua kali dilakukan pemerumtah Indonesia, yakni kedatangan special rapporteur on tortune pada talun 1991 dan special rupportéur on disappearances pada tahun 1994. Tahun um. KomistHak Asasi PBB bemmaksud mengirimapecial rappor teur ke Indonesia. Akankah Indonesia menolaknya, seperti tahun lalu? "Pada prinsipnya, kita enggak takut Cuma, waktunya masih dipertim- bangkan." ujar Memten Ali Alatas. Tapi. soalnya bukanlah takut atau berani, namun lebih pada komimien unk menegakkan hak asasi manusta. Sebab itui, tak mengherankan bila mantan guna besar ilmu politik di Universitas Indonesta Prof. Miriam Budiardjo menyatakan bahwa sudah saatnya Indonesia meratifikasi Perjanjian Interasional Hak Sipil dan Politik. "Kita perla meratifikasi covenant yang sudah merjadi salah satu dokumen internasional yang penting itu." kata Miriam.
134.7 Laporan 8achma H. Cahyona don Ondy A. Sahcur2