Baca PDF (OCR): Mekar Karena Memar

180 halaman · 180 halaman diproses dengan OCR· 190003 ms

Daftar isi
  1. PDF Reducer Dem
  2. MEKAR
  3. KARENA
  4. MEMAR
  5. Alex L. Tobing
  6. MEKA
  7. KARENA
  8. MEMAR
  9. Penerbit : P.N. Balai Pustakà
  10. Karya Tjotas Bandung
  11. Hak pengarang dilindungi oleh Undang-undang
  12. MEKAR KARENA MEMAR
  13. CON BRIO
  14. pula djalan jang terbentang dimukaku menanti untuk
  15. jang datang mengagumi mereka, kadang-kadang djuga
  16. pengundjung mentjiptakan tamsilan. Seolah-olah teng-
  17. ratus. İ-jé, bener. Nem ratus itu, tempo hari didjual sara
  18. timbunan tanah? Enam ratus untuk njanjian hidup jang
  19. jang menjadari. Dan sebenarnja, apakah enam ratus rupiah
  20. dengan bau, dari lahir sampai dengan matinja? Manusia
  21. setiap hari kembali berulang-ulang. Dan mengapa ? Karena
  22. CON SENTIMENTO
  23. Giginja menarik perhatianku. Tetapitak sentranjg
  24. sebuah dari gigi-geligi jang ketjil mugit tuDiralrg
  25. letaknja. Disebelah kiri baginja drebeiah känap bag
  26. melebih itu. Dan setiap kali ia mengudji dibangsal potong
  27. CON DOLORE
  28. sebagai penundjuk djalan sekali pandang, jakni : djari jang
  29. Bagiku tangan bukan itu sadja. Bagiku tangan sesuatu
  30. pagi itu. Lambat djalanku. Datangku beberapa saat
  31. an jang terbanjak orangnja! Kawan-kawannja. telah pura-
  32. setepatnja hampir semua! Hampir! Karena tinggal
  33. an. Waktu sedjak aku melihatnja makin memandjang-
  34. Derum mesin pendingin gemuruh mengisi seluruh
  35. Aku menggamit sidjaga untuk menutup pintu. Mesin
  36. CON SPIRITO
  37. jang telah mendahului kita itulah kuharapkan akan meresap sampai kehati nurani saudara.
  38. djadi ahli bedah, itu kupastikan muia-mula. Dan makin aku
  39. pendirianku, karena ilmu urai merupakan dasar ilmu
  40. perempuan, tetapi mustahil djadi gila anatomi. Kebalikan-
  41. sesuatu jang menekan perasaanku. Sesuatu itu sudah tentu
  42. pelaksanaannja. Tiada kudengar bisikan orang, tiada
  43. melainkan kebenaran dan kenjataan. Kesedjukan angin
  44. perlu disedihkan. Tetapi satu ini jang pasti kusesalkan:
  45. PUDAR MENDJELANG KILAU
  46. pula pentjiptanja ?
  47. Dia sendiri baru lepas udjian ketika itu. Tentu akan lebih
  48. anak itu dirumah sakit. Sekarang masih harus tinggal djuga
  49. kaki palsu kata sianak. Kalau bukan karena anak jang
  50. harus ikut bergembira dan berbahagia, biarpun semu-semu.
  51. Puas menonton jang ditonton dan jang menonton,
  52. Sebabnja; eh, eh, entahlah .... barangkali itu
  53. Pandangannja mendjauh tak berketentuan. Kemudian
  54. bang djadi tawa. Rela tawa itu, tak dibuat-buat. Tetapi
  55. gandjil bunjinja ditelinga Herman. Ia mentjelang. Bibirnja
  56. gembira dapat mentjemoohnja sekarang? Dengan tawa
  57. pada ditjela !
  58. Apa gunanja dipikirkan? Hanja karena sekarang ia tahu
  59. akan tjatjatnja, pergaulan mereka renggang djadinja ?
  60. Karena itukah tak mungkin mendjedjak hidup bersama?
  61. Dalam anggapan belum tjukup menjadarkan Gloria
  62. duduknja semula. Gloria belum lagi mempedulikan Mai-
  63. menjisir rambutnja dengan gerakan jang elok dan halus.
  64. mendjengkelkan hatinja. Tjinta karena iba kasihan". Telah lama ia mengharapkan terbenam sadja pikiran itu,
  65. kannja sama sekali, bagaimana djadinja ? Bukan boleh
  66. Diam kau! ibunja mendengking sekonjong-konjong,
  67. Tak ada jang hendak kau-korbankan bagi ibumu, bagi
  68. gaulanmu dengan Herman. Tjamkan itu dalam hatimu!
  69. dengan debung seolah-olah tanda seru jang mengachiri
  70. kita kelak, Ria, ketahuilah aku tetap .. tetap
  71. kan tangan, kemudian ia menjentuh bibirnja dengan udjung
  72. dari sedjam lamanja pikirannja bebas dari gangguan.
  73. pakainja djuga, sebagai salam dan djelma terachir dari
  74. s) pengobatan penjakit dalam arti kata seluas-luasnia.
  75. — Penjelidikan jang membuat djantung dapat dibedah,
  76. berharapan! Disaat obat tidak berdaja, harapanlah jang
  77. kelak, tentu ada pengiriman guna spesialisasi. Lagi pula jang perlu bukan spesialisasi, melainkan research. Research
  78. guna mentjari tjara operasi baru !
  79. buang waktu dengan bekerdja dibagian lain dahulu.
  80. — Tapi kau sungguh-sungguh INGIN sembuh Man ?
  81. XVIII
  82. segala-galanja gagal nanti ?
  83. — Djadi .... kedua mata ..... kedua mata sudah
  84. — Jang kanan sempurna, jang kiri belum begitu. Tapi
  85. Tentu, tentu! djawabnja, sambil menepuk bahu
  86. kan tangan kepada professor Wilsen dan berkata :
  87. ed your operation very well; do the same when you start
  88. Debung pintu jang menutup mengundang mereka dalam
  89. II. PUDAR MENDJELANG KILAU. 79

米 NE 券

PDF Reducer Dem

MEKAR

KARENA

MEMAR

Alex L. Tobing

P.N. BALAI PUSTAKA
m.a.

51g 茶 米

MEKA

KARENA

MEMAR

ALEX L. TOBING

Tjetakan ke-2

P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1965

Penerbit : P.N. Balai Pustakà

Pertjetakan :

Karya Tjotas Bandung

B. P. No. 2076

Hak pengarang dilindungi oleh Undang-undang

Tjetakan I: 1959 Tjetakan II: 1965

Gambar kulit dan dalam MOCHTAR APÍN

MEKAR KARENA MEMAR

PENDAHULUAN

setepatnja ahli bedah dalam persiapan karena aku masih membantu. Temanku adalah pengarang buku ini. Temanku sahabatku jang karib. Dialah jang mendjadi penggema dan pembawa pengalamanku. Aku tak pandai mentjurahkan isi hatiku dengan kata-kata jang ditulis. Ditulis kataku, karena aku pandai bertjakap-tjakap. Memang lain aku sekarang. Lain dengan dulu ketika baru masuk fakultas. Sekarang, setelah setahun tamat fakultas, aku hanja kenal pisau dan darah; dulu masih pandai aku menulis dengan huruf-huruf jang elok, -- dengan pena dan tinta. Memotong, mengudungkan dan membuat luka termasuk pekerdjaanku, itu telah kusisipkan. Mudjur takkan kusajat hatimu, pembatja, dengan mentjeriterakan tentang mata pentjarianku itu. Ahli bedah telah lama diangkut kedunia luar dari dalam ruang bedah. Dalam buku-buku dan gambar hidup, dia dan pekerdjaannjalah, jang selalu me- rupakan sadjian hangat bagi chalajak ramai. Jang kusadjikan sekarang memang bukan pekerdjaanku. Kisahku lain. Tidak untuk dibatjakan atau ditontonkan, melainkan hanja untuk satu ini : untuk ikut dirasakan dan diresapkan. Untuk diresapkan bahwa manusia itu mem- punjai harga dalam tubuh dan djiwanja. Djiwanja jang kini
mulai diabaikan itu .........

Djika kebanjakan buku tjeritera kedokteran mulai dengan dokter atau ahli bedah sebagai hasil pendidikan kedokteran, maka dalam hal itu, kisahku lain pula. Kisahku berachir disana. Sedjalan dengan itu pula tjeritera ini tiada menjuguhkan ahli bedah dalam hubungan segitiga, atau kelalaian pekerdjaannja karena perawat jang djelita. Djika itu jang diharapkan pembatja, sebaiknja ia berhenti disini. Sebaliknja, djika ingin dilandjutkan pembatjaan tjeriterà ini, ada baiknja dibajangkan dahulu tjoraknja. Bukan deret- an kedjadian melulu jang mendatangi pembatja, tetapi djuga tersisip dalamnja PERKENALAN DENGAN PE-KERDJAAN MAHASISWA KEDOKTERAN DAN LINGKUNGANNJA dari dekat. Karena itu pula permula- an tjeritera ini tak lantjar, semata-mata untuk menjempat- kan pembatja singgah sebentar ditempat-tempat jang djarang dikenal umum itu. Mungkin ada jang menganggap ini sebagai gangguan terhadap tjeritera jang sebenarnja, boleh djuga ada jang landjut membatjanja karena suka me- muaskan interesse-nja terhadap sudut-sudut ilmu kedokteran jang masih kabur baginja. Jang terachir inilah jang diharapkan sesangat-sangatnja. Telah lama kukandung tjeriteraku ini; tjeritera jang menerangkan bagaimana aku sampai djadi ahli bedah, Dan selama delapan tahun itu, kusimpan-simpan sadja dalam hati sebagai harta jang mudjarad. Baru ketika kudjumpai sahabat karibku jang sekarang ini, kugemakan bisikan hatiku jang redam-redam dahulu. Sebelumnja, kurenung- renungkan sadja, kutilik dari sudut jang lain, kutjarikan tafsiran untuk memperindah isinja. Makin lama makin njata bentuknja bagiku. Sebagai njanjian tjeritera ini tertangkap olehku. Sebagai njanjian! Njanjian jang tiada tetap alunan- nja, tiada sama temponja; kadang-kadang redam, tenang,

berperasaan, kadang-kadang deras, lantjar mengeras, tiada menghiraukan ketetapan irama. Dengan bajangan itu dihadapanku, kupisahkan tjeriteraku dalam bagian-bagian, masing-masing dengan tjoraknja sendiri. Tiap-tiap bagian kuberi nama. Namia itu kutanggap sebagai suasana jang melimpahi setiap bagian itu, bagaikan peringatan bagi penjanjinja akan membawanja dalam suasana jang kusari- kan itu. Dengan begitu aku sampai membaginja dalam : CON BRIO (dengan giat) CON SENTIMENTO (dengan perasaan) CON DOLORE (dengan dukatjita) CON SPIRITO (dengan semangat)

PERKENALAN DENGAN HARGA MANUSIA

CON BRIO

artinja? Pasti tidak! Atau saudara sendiri mahasiswa. Lulus tingkat satu adalah berita jang menggairahkan, berita jang harus didjelmakan dan dinjatakan keluar. Bukan untuk disiarkan melalui radio atau surat kabar; ah, itu tak perlu! Pendjelmaannja lain. Dalam langkah jang lebih teguh, dalam sepeda berkeringat jang diganti sepeda bermotor dan bagi mahasiswi dalam permanent wave jang impermanent. Tingkat telah berganti, lagak lagu perlu diganti pula. Kartu maħasiswa lebih dibanggakan, baret mahasiswa lebih berani dipakai, mulut lebih lantjang membentak pelontjo, tetapi lebih manis dan halus menjapa pelontji. Ah, siapa pula jang akan menjalahkan aku menjebut saat itu mertju ke- bahagiaan dalam kehidupan mahasiswa. Aku tahu, karena aku telah banjak menelan garam udjian. Tahun jang lalu lagi kualami untuk achir kalinja. Aku menanti keputusan tentang lulus tidaknja. Aku masuk ruang pengumuman. Aku masuk tiada membawa apa-apa. Aku keluar dengan lambang djas dokter, dengan idjazah, tetapi penuh särat dengan pikiran akan hari depan. Aku keluar tiada diapa- apakan, hanja didjabat tangan oleh segelintir mahasiswa jang setingkat dengan aku. Tetapi dahulu! Ketika lulus tingkat satu ! Memang aku djuga masuk dengan tiada apa-apa. Tetapi keluarnja! Djangan tanja! Aku keluar serasa tiada dengan idjazah, tetapi serasa habis disuntik multivita-

min R-S-G, singkatan riang, sukatjita dan gembira! Aku keluar, tidak berdjalan, tidak berdjabat tangan, tetapi ber- tumbuk-tumbukan bertarik-tarikan mendjumpai tangan berpuluh-puluh temanku jang hangat menanti diluar, siap untuk mentjeraikan rambutku, waspada untuk menjing- singkan kemedjaku dan achirnja siap pula untuk menjerang penebus djandji jang tersimpan dalam kantongku. Penebus djandji? Benar! Penebus djandji berupa bami; bukan satu porsi tetapi sebanjak dikandung badan! Aku lulus tingkat satu. Bagiku, itu sebagai rangsang untuk lebih berkandjang. Berkandjang, satu perintah utama dalam fakultas kedokteran. Kegiatan beladjar dan bekerdja, itu jang diharapkan dari setiap orang mahasiswa. Tetapi lulusku untuk tingkat satu melahirkannja dengan sendiri, tiada dengan dipaksa. Karena apa? Lulus untuk tingkat satu difakultas kedokteran berarti peletakan batu pertama dari gedung harapan, jang lama dan berangsur-angsur pendirian- nja itu. Baru batu pertama! Tetapi diluar sana berpuluh-puluh orang teman mengharapkan sudah sedjauh aku. Benar mereka telah menjampaikan selamat dengan djabat tangan, tetapi selamat tjampur iri hati. Aku tak membentji mereka, memang tak bentji, karena aku tahu mereka ber- perasaan. Perasaan jang lama kelamaan dalam lingkungan kedokteran akan ditundukkan oleh pikiran, keobjektifan, pendek kata oleh ratio jang serba tawar itu. Aku merasa senang masih demikian tabiat mereka, dan sekarang di- waktu aku telah tamat, akulah jang iri hati. Iri hati tak dapat kembali mendjedjak masa jang njaring digetarkan perasaan itu. Didampingi gelora kegiatan jang ada padaku aku me- ngarah haluan pada pulau karang jang menjembul dihadap- anku. Batu karang tak salah namanja. Karena sekeras itu

pula djalan jang terbentang dimukaku menanti untuk

ditempuh. Djalan jang menudju pengetahuan tentang tubuh manusia, djalan menudju ilmu urai! Lepas tingkat satu, bangsal potong segera mengulurkan tangannja untuk me- ngundang saudara akan mengundjunginja sebagai tamu agung. Sebagai tamu agung, kataku, karena selaras dengan pangkat itu pula, harus saudara adjukan permohonan dahulu kepada kepala rumah tangganja. Kepala rumah tangganja adalah gurubesar ilmu urai, sedangkan per- mohonannja berupa setjarik kertas pendjelma batu karang tadi. Tidak mudah permohonan itu didápat, tidak dengan koneksi atau korupsi, tetapi hanja dengan konsentrasi. Konsentrasi pikiran. Sekurang-kurangnja dua minggu lama- nja pikiran harus dipusatkan pada nama-nama tulang jang sekeras tulang sendiri. Setelah mengasingkan diri dalam pertapaan,pertulangan itu, gurubesar ilmu urai sudi mene- tapkan hari dan djam akan beramah-tamah dengan mahasiswa selama setengah djam. Ramah-tamah tanpa minuman dan makanan itulah jang disebut tentamen. Begitulah mahasiswa dan gurubesar digabungkan dalam pertemuan matiné, jang dibuka dengan senjum simpul, tiada diselingi istirahat dan kalau simahasiswa mudjur diachiri dengan senjum jang lebar diikuti pemberian setjarik kertas jang telah dibubuhi tandatangan gurubesar. Dengan itulah surat permohonan didapat dan batu karang pertama telah di- kesampingkan. Itu semua jang terangan olehku, ketika aku mengeluar- kan beberapa lembar uang seratus rupiah akan membajar buku Spalteholz. Buku itulah jang kuharapkan dapat mem- bimbing aku kedalam dunia majat-majat, kedalam bangsal potong. Spalteholz adalah pengarang buku itu, buku tentang ilmu urai dariì tulang, daging sampai keurat. Setiap

mahasiswa kedokteran, dari tingkat rendah sampaï atas — itu hampir sedjauh Sabang sampai Merauke — mengenal buku itu. Bukan karena gambar-gambarnja jang gilang- gemilang, bukan karena tebalnja .jang lebih dari seribu halaman atau gambar jang melukiskan daerah larangan pandangan antara leher dan pinggang — dari seorang gadis tentunja, kalau tidak bukan dilarang namanja tidak, bukan karena sekalian itu, tetapi hanja karena senjata dan seteguh pengetahuan ilmu urai itu tertjantum, semudah dan setjepat itu pula orang melupakannja. Pendek kata, Spalteholz adalah dasar ilmu kedokteran. Dapat disamakan dengan kamus untuk seorang mahasiswa sastera, dengan Krönig untuk mahasiswa tehnik dan dengan Engelbrecht untuk mahasiswa hukum. Sudah kukatakan buku Spalteholz adalah buku peladjar- an rangkap pelupakan. Hal itu belum kusadari ketika kukajuhkan sepeda kefakultas akan beladjar. Memang telah kudengar osteologi — begitulah nama pengetahuan tentang tulang-tulang — tidak dapat dipeladjari dengan terputus-putus, karena tjepat lepas akal. Harus dipompakan dengan terus menerus dengan tak boleh adanja vacuum. Sedapat-dapatnja siang dan malam berturut-turut selama dua minggu dan seboleh-bolehnja dengan tulang dirumah. Untuk mendapat tulang-tulang itulah aku kefakultas, disamping maksudku akan beladjar disana. Tempatnja, museum anatomi. Tempat itu adalah kumpulan tachta keradjaan nenek-mojang nenek-mojang kita. Tengkorak- tengkorak jang berasal dari bermatjam-matjam suku bangsa semesta Nusantara, tjermat terlindung dalam lemari pan- djang jang merapat pada dinding. Itulah tempat mereka bersemajam dan memandang mahasiswa dengan muka jang megah lagi tetap, seakan-akan mentjela kitą jang tertjeng-

kam dalam kisaran waktu. Tetapi bukan sadja mahasiswa

jang datang mengagumi mereka, kadang-kadang djuga

gurubesar luar negeri kalau mereka sudi meringankan lang- kah ketamasja tengkorak itu. Demikianlah tengkorak dan

pengundjung mentjiptakan tamsilan. Seolah-olah teng-

korak-tengkorak itu penonton jang menjaksikan pertan- dingan bola antara gurubesar dan mahasiswa, sedangkan bola jang harus menebus gawang penghargaan melambang- kan pengetahuan ilmu kedokteran. Bola harus dipompa supaja mengembang, begitu pula pengetahuan, jang harus dipompakan kedalam otak. Bukan sadja tengkorak jang mendjundjung tinggi nama kehormatan jang mengharumi ruang museum itu. Djuga bagian-bagian dari tubuh manusia lengkap dengan daging dan uratnja membawa penonton kedalam dunia perintjian jang serba sukar dipahami itu. Kepala dengan leher, ruang perut dan dada dengan isinja, alat-alat dalam jang telah dididis, tulang panggul dengan alat kelamin, semua itu telah diawetkan dalam kotak-kotak gelas. Ada jang telah ber- puluh-puluh tahun umurnja, ada jang baru mengalami tjelupan air keras, tetapi semuanja sama berseregang dalam membela kekekalan pameran seni potong itu. Andaikata telah kita takdjubi semua itu dan kita tinggal- kan museum, bukan lambaian tangan dari machluk dunia baka menjedihkan perpisahan kita. Bukan itu, tetapi ratap tangis. Ratap tangis jang tiada lagi terdengar dalam dunia fana ini : ratap tangis jang datang dari almari katja jang telah kita lampaui, dan lupa kita tiliki. Itulah ratap tangis anak kembar Siam ! Mereka berdiri disana; dalam kotak gelas jang tinggi; dalam air keras, dengan dada dan perut bersambat, dengan kepala jang menengadah, dengan mata jang menutup seakan-akan membajangkan kepedihan air

keras jang menggenangi sekudjur badan mereka. Beribu- ribu orang telah berhenti disana. Lama berhenti disana. Lebih lama daripada ditempat-tempat lain. Mereka menga- gumi semua. Kagum karena keanehan dan kegandjilan jang sanggup dilahirkan sesama manusia. Manusia! Ja, benarkah manusia ? Bukan alam? Alam keadjaiban? Orang tak mengetahuinja, dan semua mereka djuga tidak. Gurubesar ilmu uraipun tidak. Ia dapat mengurai, ia dapat menerangkan terdjadinja, menerangkan perkembangannja. Tetapi, mengapanja, tak terdjangkau olehnja. Mengapa. djustru ibu itu melahirkan anak kembar siam ? Mengapa bukan isteri sipolan ? Agaknja selalu ,,bagaimananja" tersurat, dalam alam pengetahuan, tetapi mengapanja" tersirat, tiada dalam buku-buku, tetapi dalam alam keadjaiban. Dan setiap kali anak kembar itu ramai dikundjungi mahasiswa, hanja segelintjir jang merasa bahwa mereka berdiri ditapal batas dua dunia, jang satu njata dan dapat ditjengkam, jang lain kabur hanja untuk digerapai. Lama kutambatkan pandangan pada anak kembar itu. Mereka dian disana, ditengah-tengah sediaan-sediaan lainnja jang seakan-akan hendak menandingi keadjaiban jang dipantjarkan oleh penunggalkan perhatian jang ulung itu. Achirnja aku menudju sebuah medja jang pan- djang terbentang, menangkap sorot lampu neon jang terang temarang. Disana kuletakkan buku Spalteholz jang dengan segala keberatannja, menindihkan otot-otot tanganku. Diudjung jang lain dari medja, beberapa orang temanku

  • telah asjik beladjar; masing-masing menunggalkan pikiran dengan gambar-gambar dibuku dan dengan kenjataannja : tulang-tulang dimedja. Gambar dan kenjataan' itu memang lain. Gambar itu kaku, rata tiada berbitjara. Tetapi kenjataan menondjol-nondjol, hidup dan berbisik kepada hati.

Bukan sadja untuk tulang hal itu benar. Djuga umumnja, dalam hidup kita. Orang atjap kali mengatakan gambar hanja kekurangan dimensi, dimensi ketiga. Tetapi bukan itu sadja jang menjebabkan kenjataan itu tak ada timpalan- aja. Tehnik dimasa sekarang telah sanggup menjempurna- kan dimensi, tetapi masih djuga terasa perbedaan antara kenjataan dan gambar. Ketika kulihat temanku mem- bandingkan gambar tulang dalam bukunja dengan tulang jang tergenggam dalam tangannja, aku sebentar mengamati gerak-geriknja. Ia mentjari lubang dalam tulang itu, lubang jang telah tertera namanja dalam buku. Lubang jang njata tergambar dalam bukunja, dengan terang dan djelas, dengan namanja ditjetak dengan huruf-huruf jang tepat ditempatkan pada lubang itu. Temanku mentjari-tjari lubang itu. Dipermukaan tulang. Dalam kenjataan. Tak ditemuinja. Ia bentji tak ada. Ingatanku kembali melajang pada anak kembar jang kinantan. Kubajangkan ibunja jang bentji tak dianugerahi anak jang biasa. Ja, mereka sama- sama bentji apa jang mereka hadapi menjimpang dari kebiasaan, tiada menuruti kehendak dan harapan mereka. Siapakah jang menjebabkannja? Siapa jang memunahkan harapan mereka? Tak ada orang jang dapat mendjawab. Tengkorakpun tidak, dan rangka orang utan dipinggir ruanganpun tidak. Tetapi hanja dewi alam jang membisik- kan dialah jang telah mentjiumi tulang dan anak kembar tadi, dengan tjium jang menjalurkan daja aslinja, menjim- pangkan setiap bentuk kemanusiaan dari djalan jang lazim. Kembali aku menoleh kepada almari katja berisikan tulang-tulang jang tampak dari luar. Mataku mendjumpai setjarik kertas dengan perintah : N.B. Tulang-tulang tidak boleh dibawa pulang". Dibawa pulang ! Masa ada jang mau membawa pulang, saudara akan bertanja. Memang

Mekar karena Memar 2

saudara, tak ada orang jang sudi memberatkan sepedanja dengan tulang-tulang bila tentamen telah lampau. Tetapi mendjelang fadjar hari tentamen menjingsing, tulang itu berharga. Hal itu baru kurasakan ketika kutjeburkan diri dalam alam pengetahuan tulang-tulang jang dibawakan oleh Spalteholz. Tanpa tulang-tulang aku tjoba beladjar. Bukan beladjar sebenarnja, tetapi menghafal. Menghafal nama-nama jang tiada merdu bunjinja, tetapi djanggal dan aneh, seperti irama boogie dalam telinga pentjipta lagu-lagu Bach. Lebih djanggal dan gandjil lagi adalah osteologi bila dibanding dengan ilmu kedokteran seluruhnja. Sudah selajaknja ilmu kedokteran mempersoalkan manusia. Manusia sebagai djasad jang hidup. Sepadan dengan itu ilmu kedokteranpun hidup. Tetapi osteologi! Itu satu- satunja pengetahuan jang mati-semati-matinja. Tulang itu mati; itu tak usah disangsikan. Tetapi bahasanja, bahasa jang dipakai untuk menjebut bagian-bagian tulang, itupun telah mati: bahasa Latin. Bukan Latin Amerika! Kalau itu bahasanja, bahasa rumba, tango dan mambo, pastilah tulang dibangkitkan dari matinja. Tetapi tidak. Bahasanja bahasa Latin; Latin Eropa. Dengan segala keasingan bunji kata-katanja aku men- tjoba menghafal djuga. Menghafal nama. Nama jang tidak sadja diberikan kepada setiap tulang dari kaki sampai ke- pala, dari ketjil sampai besar, tetapi pula pada setiap bagian tulang penjusun tubuh manusia itu. Tiap-tiap alur, tondjol- an, lubang, tjelah, garis dan tjeruk dalam tulang itu dianu- gerahi nama jang internasional. Diantaranja ada jang pendek namanja, hingga mudah lulus pada akal. Tetapi ada pula lubang-lubang dan alur-alur jang menuntut supaja keinternasionalan mereka didjelmakan dalam nama jang pandjang sekali. Lubang-lubang itu kebanjakan ber-

kerubung ditulang tengkorak; dan umumnja lubang itu dilalui sjaraf, karena itu penting. Bagaimana djuga sukarnja nama-nama itu untuk dilulus- kan pada akal, berkat kegiatan beladjar, aku sampai me- njudahi rentjanaku pada hari itu. Meskipun demikian, tudjuan mendapat tulang-tulang untuk beladjar, kandas. Tulang-tulang hanja boleh dipindjam, dan segera seteláh selesai dibahas, harus dikembalikan pula. Djumlah tulang-tulang jang dipindjam ditjatat pada setjarik kertas, jang selama waktu beladjar ditahan oleh assisten. Pada pengem- baliannja, tulang-tulang itu dihitung kembali dengan sidik midik, sehingga tak mungkin dibawakan kerumah. Tulang² umumnja ingin diselundupkan kedalam wilajah mahasiswa, atau setepatnja antara bantal dan kasur. Djustru disana, karena tempat tidur — dikesampingkan faedahnja jang lain — adalah satu-satunja tempat jang membawa mahasiswa dalam suasana beladjar. Berbaring ditempat tidur, sebatang rokok ditangan kanan, buku ditangan kiri dan kaki me- ngajun-ajun keatas, itulah posisi jang sangat serasi untuk mempererat dua sahabat karib, mahasiswa dan buku peladjarannja.. Beribu-ribu persoalan telah dipetjahkan ditempat tidur, sewaktu berbaring dengan njaman, bukan dimedja tulis, sewaktu duduk dengan kaku. Dengan begitu setiap orang mahasiswa melahirkan pribadinja, jang di- djelmakan dalam sikap beladjar jang ulung. Andaikan seorang djuru gambar mengundjungi asrama mahasiswa dimalam hari, waktu beladjar, maka kumpulan gambar- gambarnja pasti menundjangnja untuk mempertahankan thesis ,,Refleksi pribadi mahasiswa dalam sikap beladjar". Memang mahasiswa aneh. Dan akupun aneh. Djuga teman- temanku setingkat : mentjari tulang akan beladjar dirumah, dimalam hari. Bukan untuk menghiasi kamar. Hanja untuk

mendjaga ini : agar apa jang dipeladjari paginja, dapat diulangi lagi malam hari, tidak dengan gambar, tetapi dengan tulang. Dan bukan karena aku radjin ! Tetapi hanja karena osteologi, dan pengetahuan ilmu urai umumnja mudah dilupakan. Terlampau mudah. Semudah Don Juan melupa- kan tjium pertama dari gadisnja jang kelima ! Tjium ditjiptakan untuk diulangi, begitupun menghafal nama-nama tulang. Tetapi, bagaimana tjium dapat dilaksa- nakan tanpa gadis, bagaimana dapat menghafal tanpa tulang? Pertanjaan itulah jang menemani aku pulang. Aku ketjewa tak diperbolehkan memindjam tulang dari fakultas. Tetapi kepala tiada kutekurkan, malah tetap mentjongak mentjari djalan lain, digertak oleh kegiatan beladjar jang tak habis-habis itu. Ditempat aku beladjar, telah kudengar barang larangan itu mungkin didapat. Tidak semua tulang manusia itu sama pentingnja, bukan untuk pengetahuan tetapi untuk dibeli. Sudah selajaknja, apa jang melalui djalan gelap hanja barang-barang jang terbesar pasarannja. Dan diantara tulang-tulang manusia sebagai mata perdagangan, tengkoraklah jang patut digelarkan sembojan ,persediaan terbatas — permintaan melimpah-limpah". Memang begitulah; tengkorak jang menggerunkan dan menjeramkan itu, masih dapat meng- gembirakan manusia dibeberapa pelosok dikolong langit ini. Tengkorak itu besar peranannja dalam riwajat maha- siswa kedokteran. Selesai menghafal nama-nama tjelah, lubang dan tondjolan-tondjolannja, lebih dari setengah bagian osteologi telah terlampau. Tetapi kelak, ditingkat jang lebih tinggi, lubang-lubang dalam tengkorak jang tersohor itu, kembali merundung simahasiswa akan mem- peringati hari ulang namanja. Meskipun belum kutahu faedah tengkorak untuk kelak,

dapat kubajangkan kepentingannja, ketika aku kembali kefakultas keesokan harinja. Tudjuanku djelas, memperoleh tengkorak. Sumbernja samar-samar disekitar bangsal potong. Dalam rangkaian kedjadian-kedjadian jang me- njusun tjeriteraku ini, tak mudah dan tak akan kulupakan hari itu. Hari itu hari perkenalan bagiku. Perkenalan dengan harga manusia. Mengelilingi bangsal potong sebagai ruang-induk, ber- deret-deret anak-anak kandungnja dalam bentuk kamar gurubesar, ruang kuliah ilmu urai, kamar assisten, dan kamar tempat rangka-rangka disosok. Semuanja terletak disatu sisi dari induknja, sedangkan kedua kamar jang terachir hampir sedjadjar letaknja dengan bangsal potong. Diantaranja terimpit sebuah taman bunga dengan amat eloknja. Kusebut taman bunga itu karena kehadirannja gandjil rasanja. Gandjil seakan-akan bunga-bunganja jang elok permai menjanggah suasana tawar jang mendiami semua ruangan disekitarnja. Taman itu ketjil, tetapi susun- annja elok. Mengalimatang warna-warna bunga disitu, dari merah mengapi-api, melalui kuning keheningan dan di- tengah-tengahnja diselingi tengguli, semuanja menemui nilainja dalam bentuk jang beragam-ragam. Bunga-bunga itu rapih tersusun dalam baris-baris jang lurus menudju suatu lingkaran tempat sebatang pohon tjemara tertjagak. Aku berdiri menikmati keelokannja. Bunji mesin jang menderu sajup-sajup menebusi telingaku. Bunji, jang ketika itu, belum kuduga akan kubentji kelak. Tak seronok bunjinja, tak berkesudahan djalannja. Ketika kudengar untuk pertama kalinja aku sadar bunji itulah jang mentjiptakan suasana jang tawar itu. Tak djemu-djemu mesinnja ber- putar, tak putus-putus melahirkan bunjinja jang serba sama. Bunji mesin. Mesin pendingin. Mesin pendingin

majat, dikamar mati. Majat ! Kembali aku siuman dari renunganku. Kulihat njata bunga-bunga jang elok itu, kulihat mereka bergang- gang dalam sinar matahari, mempersembahkan keelokan warnanja, membawakan njanjiannja keangkasa raja, njanjiannja jang redam, karena bau bangkai dan majat disekelilingnja. Ja, njanjiannja jang njaring melagukan hidup! Memang gandjil tampaknja hidup itu disana! Gandjil tumbuhan-tumbuhan itu tumbuh dengan amat suburnja. Bagaikan kematian machluk jang satu mengem-
buskan nafas dalam machluk jang lain .....
Aku menoleh. Mataku mendjumpai sosok tubuh seorang pelajan dalam kamar rangka. Disamping kamar assisten letak kamar itu, kamar jang sengadja kulampaui. Bukan karena pintunja tertutup atau orang dilarang memasukinja, tetapi hanja karena isinja. Isinja assisten. Assisten ilmu urai. Dan pangkat itu — demikian telah sampai ketelingaku — mengandung pengertian, jang belum kukenal pada ketika itu.

Assisten ilmu urai adalah sematjam mahasiswa; mahasiswa rangkap assisten. Tetapi dalam pergaulan intrafakul- tas mereka assisten, bukan mahasiswa. Karena assisten dan mahasiswa itu banjak bedanja. Mahasiswa kurang beladjar dan kurang adjar; assisten tahu beladjar, hanja kurang dihadjar. Mereka adalah pendjaga pintu gapura jang mem- buka djalan ketachta keradjaan gurubesar. Mereka akan mengudji pengetahuan mahasiswa, sebelum día diperkenan- kan bersua dengan gurubesar. Karena itu persahabatan mereka berharga. Begitupun pandangan mereka. Senjum mereka. Dan jang termahal : tanda tangan mereka. Tetapi, belum kutjari senjum atau tanda tangan pada

waktu itu. Jang kutjari lebih kekal : tengkorak tanpa senjum.

  • Bapak kerdja sini ? tanjaku, mendekati pelajan jang
    lagi menjusun tulang-tulang. — I-jé, d'ape si ? djawabnja mentjongak. Orangnja gemuk, mukanja seakan-akan berkedok. Banjak kulihat muka sematjam itu, semuanja disekitar bangsal potong: kaku, tiada bermimik dan kalau tertawa, tertawa sumbing terbahak-bahak sambil memperlihatkan gigi, seolah-olah majat jang mengedjutkan teman hidupnja dengan kebang- kitannja. — Sudah lama, kerdja sini? tanjaku pula. — Lama si lama; mulai djaman normal ! — Banjak tengkorak disini, ja? — Tengkorak si banjak! —- Peti itu kok kajak peti mati, ja ? kataku, menjesuai- kan bahasaku dengan logatnja. — Memang peti mati! Isinjé rangka tuuu! Hahaha!

  • Rangka ? Bakal siapé ? — Bakal dikirim!

  • Dikirim ? Kemané ? — Matjem-matjem déh. Sekolah kék rumah sakit kék
    kementerian. — O, djadi dibeli ?

  • I-jéć. — Kalau tengkoraknja adje gimana ? -.- Nggak bisa dong, mesti kumplit ! -- Sama mahasiswa nggak didjual, ja ? -- Sari-sarinja si nggak! — Berapé si harganjé ? _- Brapé ja, tempo hari?! Kalo nggak salah nem

ratus. İ-jé, bener. Nem ratus itu, tempo hari didjual sara

pépéka! Aku diam; terkedjut. Alam pikiranku seakan-akan menjala kena tjetusan bunga api. Enam ratus rupiah! Itukah harga manusia sesudah hidupnja ? Enam ratus rupiah untuk kumpulan tulang-tulang jang dielakkan dari

timbunan tanah? Enam ratus untuk njanjian hidup jang

meredam dalam kekekalan. Enam ratus; kurang lebih sepuluh piring hitam, sepuluh kali lima menit. Sama dengan hiburan musik selama sedjam. Hanja sedjam dirajukan

lagu-lagu itulah harga manusia setelah tertjabut njawanja ? Terharu aku diam terpaku disana. Pergi pikiranku mem- bubung kealam kesadaran. Tubuh jang hidup dan mati memang lain harganja, semua orang telah maklum. Tetapi sekian turun terpelanting harganja, mungkin belum banjak

jang menjadari. Dan sebenarnja, apakah enam ratus rupiah

dibanding dengan manusia hidup ? Bukan laksana perban- dingan itu; bagaikan tokong pulau diketari benua semesta dunia. Rupanja demikian kedjamnja pentjinta dunia baka! Tak pilih bangsa atau pandang harta; deradjat atau djasa tak masuk dalam perhitungannja. Tidak, untuk semua itu buta mata dan lali rasa ia. Hanja satu kemahirannja. Pukul rata! Pukul rata sampai satu harga itu, harga tubuh manusia ! Hidup tiada berachir dengan kematian sadja. Hidup berachir dengan bau. Bau tubuh jang mendjadi majat. Dan disini aku bertanja, siapa sadar bahwa tubuhnja ditemani

dengan bau, dari lahir sampai dengan matinja? Manusia

lahir disambut bau air tuban-tuban. Ia mati dihembusi bau majat. Dan diantara dua titik kehidupan itu, tak luput ia dari baunja sendiri, bau nadjis tjurahan badannja sendiri,

setiap hari kembali berulang-ulang. Dan mengapa ? Karena

bau itu hina. sifatnja ? Mungkin ! Mungkin untuk mengi- ngatkan kita akan kerendahan harga kita lahir, sebagai tubuh jang bertulang dan berdaging, jang kita dapati sebagai kumpulan pindjaman dari dunia jang baka itu. Kembali aku mengamati rangka-rangka jang terbaris didepanku. Sama bisunja mereka pentjarkan kerendahan harga tubuh itu. Aku berkenalan hari itu dengan mereka. Dengan kamar tulang dan pelajannja. Dengan harga manusia. Manusia, bukan batin tetapi lahir, sebagai tulang diselubungi urat dan daging. Achirnja kembali tudjuanku semula melintasi pikiranku.

  • Djadi tengkorak, tak bisa dibeli ? tanjaku menanti
    kepastian. — Biasanjé, si enggak. — Dengar saja ada jang djual.. Ada si ada, tetapi itu urusan lain. — Urusan lain ? — I-jé, bukan disini pendeknja. — Abis dimana ? — Tahu jé, sono 'kali ! katanja setengah berbisik, sambil samar-samar menundjuk kearah jang mendjauhi tempat ia bekerdja. Aku melandjutkan perburuanku; perburuan tengkorak. Bunji mesin makin njata kudengar, seakan-akan menjam- but kedatanganku. Aku sampai disamping bangsal potong dekat udjungnja. Sengadja kuelakkan bangsal itu, belum mau kulihat dalamnja. Kusimpan saat itu sebagai anugerah jang harus menggandjari pertapaanku. Aku berhenti sebentar, dekat pintu belakangnja. Bunji mesin pendingin njata melagukan iramanja. Sajup-sajup terdengar suara- suara manusia dari kamar mati mentjampurkan diri. Mulai kutjium bau majat jang datang dari kamar seksi, Tumpas-

tumpas merah dilantai bekas tjutjuran majat jang dibawa- kan kekamar itu, melambangkan perpisahannja dari lantai jang fana. Aku ngeri ketika itu; ngeri diliputi suasana jang menjeramkan. Ngeri sebagai pemuda sembilanbelas tahun jang masih meluap-luap perasaannja, jang masih rela di- selapi kengerian. Aku mentjongak. Kubatja nama-nama jang terpaku diatas pintu tiap-tiap kamar. Bangsal potong". Kamar tulang" telah kubatja dahulu, tetapi nama jang tertjagak dihadapanku lebih menggerunkan bunjinja. Kamar majat ! Kamar suntik ! Kamar mati! Dan achirnja : Kamar masak ! Rapat berdekatan letak kamar-kamar itu, mendjelmakan tali persaudaraan jang erat dalam perdju- angan meruntuhkan dan membersihkan tubuh manusia. Disitukah harus kutjari tengkorak itu ? Disitu ? Kakiku berat melangkah madju. Mataku mengiri dan menganan tak berketentuan. Serasa tersompok dengan hantu rasaku ketika mendjumpai pandangan seorang pelajan jang telah lama mengamati diriku. — Tjari siapa tuan ? tanjanja dengan muka jang sama. Ah, tak siapa-siapa; lagi lihat-lihat sadja, djawabku, pura-pura melajangkan pandang. Matanja menembus pan- danganku. Kesepian antara kami mulai senak rasanja. Apa bapak tahu orang jang, .. jang, eh, .. jang bisa mendapatkan tulang ? kuluntjurkan sekonjong- konjong. — Tengkorak ? tanjanja bersenjum. — J-j-jah, begitulah ! Ada sekarang ? Ada si ada; tjuma persediaan belum ada, sulit si sekarang! — Sulit apanja ? — Ada-ada sadja si. Dulu satu bulan bisa kelar. Per- sediaannja tjukup. Permintaannja banjak lagi. Tapi

sekarang sulit. Ada jang nggak kumplit. -- Nggak kumplit apanja ? — Ada jang sudah ompong, sonder gigi. Tuan mau ? — Sonder gigi ? Enakan jang kumplit dong, ja ? _. Kalau mau, lebih baik tjatet nama dan alamat. Kapan-kapan kalau ada, disediakan. Banjak si jang pesen sekarang! Harganja berapa ? _ Ah, biasa sadja. — Biasa ? — I-ja.

  • Biasa berapa ? _ 'Gitulah 'pat puluh ! — Du illah kok mahal amat ! — Sulit sekarang si. — Kapan bisanja ? _ Tjoba 'adja, ampat tah lima hari lagi. Aku mentjatat namaku dengan rasa seorang pelontjo
    melihat kesalahannja dituliskan dalam daftar dosa. Ku- djauhi batas dua dunia itu. Aku diam tepekur sedjenak. Empat puluh rupiah, bukan harga! Itulah harga kepalaku bila telah sampai saatnja, rumah gadai keduniawian me- nuntut agar gadaian hidup jang kupertaruhkan dengan sajang-sajang itu, ditebus dengan tulang delapan kerat. Kepala saudara dan saja! Kepala jang selama hidup me- njempatkan kita melihat, mendengar dan mengetjap. Betapa banjak uang jang habis kita boroskan akan mem- pernikmatkan mata, telinga dan lidah itu! Betapa banjak kekajaan kita peroleh berkat pekerdjaan mata dan telinga itu! Dan nanti; nanti bila bunji djantung telah lenjap, hanja empatpuluh rupiahlah jang menggandjari tengkorak kita itu. Dan boleh kubanggakan djika masih sekian banjaknja

harga tengkorakku dihari nanti. Karena tak semua teng- korak laku; dan djika laku hanja dalam beberapa pelosok dikolong langit ini: antara mahasiswa-mahasiswa kedok- teran. Dan djika sampai demikian djadinja, aku telah berdjasa. Berdjasa menjumbangkan badan guna kepènting- an pengetahuan dan sesama manusia. Tetapi, saudara dan saja tak akan berdjasa! Kita tak akan berkorban atau menjumbang! Tanjakanlah padaku, hei pembatja, majat siapa jang mendiami bangsal potong? Bukan majat kita kelak! Bukan kita mahasiswa, pedagang, pegawai atau pekerdja! Tetapi mereka! Mereka sematjam manusia! Mereka jang mungkin orang-orang minta-minta ditepi djalan dekat tutup pintu kereta api, mungkin mereka jang setengah atau penuh gila, atau mereka jang kita singkurkan dengan sebutan djembel, mereka jang kita hindarkan dari pandangan kita, ja, mereka itu, mereka manusia, jang tiada berkaum keluarga lagi, jang dinantikan sanak saudara jang tak kundjung datang itu, merekalah jang menebus segala dosa dan kutuk didunia jang fana dengan tulang urat dan daging diambang pintu gapura dunia jang baka. Merekalah jang seakan-akan berkesempatan memperimbangkan neratja baik buruk dengan tubuh mereka sebagai batu timbang. Dan kita ? Tak usah kita pikirkan tubuh kita itu ada harganja. Andaikan ada, terlampau rendah nilainja, tak terbandingkan dengan mereka. Tak sampai serendah pinggang lutut atau tumit, tetapi djauh, djauh lebih rendah. Rendah dibawah permukaan bumi, makin rendah ditimbun tanah, rendah ditindih berat bumi untuk dilumatkan kembali mendjadi debu. Lima hari kemudian aku pergi mengambil pesananku. Dengan tas sepeda jang telah ikut melonggar dengan achlak abad keduapuluh, aku kembali mendjumpai pedagang

gelap. Aku boleh pilih katanja, antara tengkorak jang putih dan kuning. Jang putih sesuai dengan kebersihan kedokter- an; itu jang kutundjuk, belum kupegang. Tengkorak itu terpotong dengan belahan jang mendatar, hingga bila tem- purungnja dipisahkan, lubang-lubang jang ada pada dasarnja dapat dilihat dari atas. Tetapi jang lazim disa- djikan untuk dibahas ialah belahan tegak melalui perte- ngahannja, hingga merupakan pasangan kiri dan kanan. — Sebetulnja kurang bagus ini pak! kataku, memburuk- kan mata perdagangannja.. Kenapa tuan? — Lebih bagus kaiau dibelah lagi, mclalui tulang hidung begini! Ah, itu bukan soal! — Bukan soal? Bisa dikerdjakan ? — Bisa adja; tunggu adja, entar djuga dikerdjain. Dengaa kebadjikan seorang algodjo ia menggergadji, tepat seperti jang kuhendaki. Ia menggergadji tulang seperti barang kaju. Pedih dan tadjam bunji itu! Tetapi bunji gergadji jang dihasilkan oleh pergeseran besi dengan zat kemanusiaan tiada ngeri bagi telinganja lagi. Achirnja kudapat jang kuhendaki. Dengan tengkorak berbelah tiga dalam tas aku menudju pangkalan beladjarku, mendjauhi matjam manusia jang telah memperdalam ilmunja dalam tehnik pertukangan manusia. Tepat dibawah papan kamar masak" mataku mendjum- pai muka jang bersenjum besar. Telah kukenal muka itu. Muka ahli masak. Sebelumn lulus kerap kali kulalui kamar itu pergi mendjenguk teman dirumah sakit. Dan setiap kali bersenjum ia, lalu mengangguk, jang kubalas dengan senjum dan anggukan pula, seakan-akan kami telah ber- kenalan dihidup jang lampau. Tetapi kali itu senjumnja

Tuan kok gemuk-gemuk sadja sekarang, ja ? Dua minggu kemudian kegemukanku ditemani kegem- biraan. Aku lulus tentamen osteologi! Pintu bangsal potong terbuka bagiku ! Tetapi bukan kesana kakiku langsung melangkah. Aku menudju kamar assisten, kamar jang belum kukenal isinja pada waktu itu: kamar kumpulan penjebar-penjebar indjil ilmu urai. Aku menghadap pada salah seorang mereka; kuperlihatkan padanja surat tentamen dengan tanda tangan dewa keradjaan mereka.
Angkaku ditjatat dengan mentjibir ....... angka tudjuh
setengah. Aku telah boleh mempeladjari ilmu otot-otot-myologi namanja — dan dua minggu lagi, sudah boleh aku memotong, demikian assisten menguraikan. Nomor majatku" diberitahukan; majat lelaki. Aku mentjatat. Dia menjesuaikan namaku dipapan pengumuman dengan nomor majatku. Djanggal rasanja adanja nomor itu! Manusia, jang tiada beralamat dan bernama lagi, masih dianugerahi nomor pada perpisahannja dari dunia jang fana. Aku akan menemui dirinja nanti. Dan aku boleh memotong. Kaki kanannja sadja, sisanja belum. Saat jang lama kusimpan sebagai upatjara pembukaan, achirnja matang untuk dipetik. Aku pergi menindjau kebangsal potong. Berdiri dimuka pintunja aku bimbang apa bukan gedung purbakala jang kumasuki. Tjat pintu jang. hidjau telah tersungkap sedangkan kajunja mulai lapuk. Tetapi bangga djuga rasaku ketika itu. Bangga karena tak perlu lagi kuhiraukan larangan jang menghentikan langkah- ku dahulu: Mereka jang tidak berkepentingan dilarang keras masuk !! Sesaat kakiku melampaui ambang pintu tampak tiga pasang pintu dorong jang lebar, membatasi pandangku kebangsal potong jang sebenarnja. Aku terhenti. Bau majat belum kutjium, tetapi suasana jang tak ber-

kemanusiaan sudah memperkenalkan dirinja padaku dengan empat buah tempat tjutji tangan jang berderet-deret menempel pada sandaran kaju jang terletak diserambi muka bangsal potong itu. Disanalah tangan manusia jang berkenalan dengan bau majat, kembali dipisahkan dari djabat tangan dunia jang baka. Merapat pada dinding terdiri dua buah lemari jang lebar dan tinggi menutupi dinding; setiap lemari terbagi dalam kotak-kotak, masing- masing bertempelkan nomor. Tak berapa besarnja kotak-kotak itu, tetapi tjukup untuk menjimpan djas dokter dan perkakas potong. Setiap kotak terkuntji, melambangkan tabiat kemanusiaan. Dari sana pandangku melajang ke- sebuah tulisan jang tinggi tergantung pada dinding. Elok bingkainja, seakan-akan melingkari surat idjazah, lambang kebanggaan. Tetapi bukan idjazah jang dikitari bingkai seelok itu, melainkan peringatan! Peringatan bagi para mahasiswa jang. tudjuh pasalnja. Tak sama beratnja tiap- tiap pasal itu. Hanja dua. Tetapi dua jang tjukup mengge- tarkan. Untuk menempuh suatu tentamen diharuskan lebih dahulu memadjukan permintaan kepada assisten, demikian bunji pesona pasal lima. Assisten! Itu bukan pangkat pegawai negeri, saudara, tetapi suatu pengertian bagi mahasiswa jang masih akan menjongsong fadjar hari tentamen. Dan bila assisten memertjikkan pengetahuannja sewaktu mahasiswa memotong, barulah kekuasaannja terasa mendjerat. Dan setiap mahasiswa akan diam, hanja menjembunjikan getaran badannja bila langkah assisten terdengar mendekat, pelahan-lahan tetapi penuh kesung- guhan. Dalam keradjaan kedokteran, assisten mahasiswa djuga, hanja lebih tinggi tingkatnja. Namun penuh hormat mahasiswa — umumnja memandang mukanja, mengia- kan katanja, mengelolakan titahnja dan menjambut

Mekar karena Memar 3

undangannja akan mengulangi tentamen untuk mendapat- kan tanda tangannja. Dan semua itu karena simahasiswa tjemas akan bunji guntur jang dapat digemuruhkan oleh pasal tudjuh: djika hal-hal jang tersebut diatas tidak di- perhatikan, maka izin memasuki ruang potong tidak akan diberikan selama waktu jang tertentu. Ketika aku berdiri membatjanja belum meresap den- tuman peringatan itu padaku. Kuanggap sebagai penghias dinding sadja, belum sebagai mesiu. Karena itu landjut aku menindjau, masuk bangsal potong. Suasaņa jang lain mendatangi diriku, jang penuh keham- paan dan kclengangan. Ruang potong litjin litjau lantainja hingga berkilauan merah dan abu-abu. Bentuk jang persegi pandjang serta luasnja segera mengundang tanpa mem- persilakan —- pengundjung untuk mengubahnja mendjadi lantai dansa lengkap dengan bar, meskipun hanja dalam angan-angan. Dikiri-kanan berderet medja-medja potong dari kaju jang setinggi lutut. Bentuknja kemanusiaan, jakni persegi pandjang. Tiap-tiap medja dikitari kursi-kursi tanpa sandaran. Kursi dan medja semuanja hampir sama rendahnja. Diatas medja jang hitam alasnja itu tersedia tempat kotoran jang sama warnanja hitam muram, tempat serpih-serpih daging manusia dihimpun mendjadi sampah kotapradja. Djuga batu asahan jang terletak dimedja itu tak ketinggalan dalam usaha mempertadjam pengorbanan tubuh manusia. Bergantung pada dinding atas beberapa kipas angin jang bersajap menjebarkan kesedjukannja kearah medja-medja. Masing-masing bersambung dengan rantai jang mendjulur kebawah, sehingga đengan tarikan-tarikan padanja kipasnja dapat didjalankan atau dihentikan. Belum kuduga pada saat itu, kipas angin jang telah usang itu, kembali akan

merantaikan pikiranku kemudian. Dikiri-kanan ruangan tertjagak rangka-rangką manusia; rangka jang belum. pernah ditjiumi bumi. Sekonjong- konjong rasa ingin tahu akan asalnja membubung dalam diriku. Madju aku melangkah. Kian madju mendekati tirai putih jang menabiri satu sudut dari bangsal potong. Kusingkapkan. Tak adà majat jang kulihat, tetapi air keras njata kutjium. Sebuah tandu rotan bersandar pada dinding dan disampingnja tampak dua bak berubin putih metah dan mengkilap. Kakiku landjut melangkah. Aku ingin tahu isinja ! Ah, tak perlu ! Ukurannja sudah meramalkan isinja. Ukurannja! Ukuran tandu, bak putih dan medjapotong; persegi pandjang semuanja, ukuran manusia ! Tetapi kusingkap tutupnja djuga. Tak ketjewa aku. Jang kutjium, bau air keras jang merangsang dengan pedih; jang kulihat bukan manusia, tetapi tinggal sepersekiannja ! Kumpulan tangkai dan lengan jang terpisah-pisah, togok jang telah ditoreh perutnja, kepala jang hanja berdada, semua itu diam digenangi tjairan pengekal. Segera kutangkupkan lagi pintunja, Tergemap aku tidak, muntahpun aku tak sampai, hanja berkesan padaku kolleksi manusia jang bertindih- tindih itu. Masih terbajang mereka dihadapanku : dengan mata tertutup, dengan sampul otot jang kuning keputih- putihan sebagai pisang terkubak, semuanja kaku pada rabaan dan asing sekali bagi pandangan; asing seolah-olah bukan bekas manusia, karena tak tampaknja darah setetes djuapun. Sedjenak aku tinggal tepekur. Derum mesin pendingin merangsang telingaku. Lagi-lagi ia memanggil! Tak putus- putus ia melagukan iramanja. Pagi, siang, malam, setiap hari, dengan tiada berdjeda. Aku mengarah pada sumber bunji itu. Langkahku mengajun. Lambat mula-mula, tjepat

dan tegap kemudian, menudju kamar mati. Aku penuh diliputi rasa ingin tahu ketika itu. Melihat seorang pendjaga duduk dibalai-balai aku bertanja.

  • Ini mesin pendingin rupanja ?
  • Betul tuan! — Mengapa berbeda-beda begini bunjinja ? — Ada dua. Satu didalam, satu diluar. Jang didalam
    tjuma malam djalannja. Jang diluar siang. Kebetulan sekarang djalan. Majat jang dipótong disana dari sini asalnja ? — Dari sini. Biasanja jang tidak berkeluarga, tentu ?! —- Memang. Ditunggu dua hari dua malam. Kalau asalnja luar kota, tiga hari tiga malam. — Sudah itu diangkut kekamar suntik ? — Ada jang bakal dipotong, ada jang dikubur. — Dikubur ? — Jang dari kamar seksi. Jang meninggal karena pem- bunuhan atau ditemukan dalam kali atau djuga karena gantung diri, pendeknja jang diminta polisi untuk diperiksa. Masuk sini djuga itu. Tapi dalamnja sudah dibongkar tentu. Itu jang dikubur. Kalau keluarganja tak ada tapinja! — Dimana kuburnja ? Dikampung Bugis ! Tiada kudengar lagi ia berbitjara. Hanja mukanja jang kulihat. Muka jang hitam lagi kaku seakan-akan dibatu. Tulang pipinja tinggi, giginja banjak jang telah tanggal, suaranja garau terbelah-belah. Aku heran mengapa muka jang demikian banjak menghantu disekitar kamar mati. Seakan-akan majat dan bangkai jang datang mengedjudju setiap hari, mentjetak dendam bentjinja pada muka mereka.

CON SENTIMENTO

universitas jang sangat berbeda haluannja, fakultas kedokteran dan sasteralah jang lajak menempatinja. Mahasiswa sastera penuh perasaan; mahasiswa kedokteran harus menguapi sebagian dari perasaan itu dengan kehangatan api rationja. Bukan kukatakan mahasiswa kedokterau tak berperasaan sama sekali. Bukan! Sebenarnja hanja pendjel- maannja samar-samar. Tiada dengan pakaian atau gaun- gaun jang bertjorak-ragam warna rupanja, tiada pula dengan bahasa jang terpelihara dan intonasi jang tjukup bernada, tetapi hanja dengan sesuatu jang dapat dilihat. Jakni stetoskop dan djas dokter! Kedua itulah jang men- djelmakan kebanggaannja. Apalagi djas dokter ! Banjak ragam djas jang melekat pada tubuh lelaki, tetapi djarang jang semandjur djas dokter chasiatnja. Djas dokter putih warnanja, sama dengan djas resepsi. Tetapi ini bedanja. Djas resepsi didahului undangan. Djas dokter diikuti undangan. Undangan pandangan. Pandangan dari gadis fakultas lain. Ah, peņlu kugambarkan peranan djas kebang- gaan itu; baiklah pada suatu hari saudara sendiri datang melantjong disekitar fakultas kedokteran. Nanti tentu saudara akan -bertemu dengan dia ! Dia, jang bersepeda, kepala setengah tunduk, dengan muka jang pura-pura penuh kesungguhan, dengan sikap jang tak atjuh, dengan
tas penuh buku didepan, tetapi dengan djas dokter ......

sengadja diikat dibontjengan belakang. Itulah dia dan aku ketika masih mahasiswa,tingkat pertama. Hati penuh ke- inginan hendak menundjukkan bahwa haluan telah diarah- kan kepada tudjuan jang mulia itu: gelar dr", mesti pada saat itu pangkat tak lebih dari S" tambah dr". Begitu pulalah sifatku ketika aku menempuh bangsal potong untuk memotong pertama kali. Aku dilamun ke- banggaan. Saat itu menggairahkan daku. Kurasa diriku ahli bedah jang akan melakukan operasi. Pasienku seakan-akan sedang menunggu. Ahli bedah tentu punja pembantu. Begitu pula aku; assistenku, jakni assisten anatomi. Pasienku jaitu majatku; dalam chajalanku ia sedang dibius. Semua menanti kedatanganku. Dengan bajangan itu dalam angan- angan kubuka kotak tempat barang-barangku tersimpan. Kukenakan djas dokter dengan rapih dan gagah. Kemudian kubasuh tanganku tjermat-tjermat hingga bersih. Spalteholz telah terimpit antara badan dan lengan. Alat potong kuperiksa: kotak berisi pisau-pisau dan pinset. Telah kuasah pisaunja dirumah dengan radjin-radjin. Kuudji ketadjaman- nja pada rambut tanganku. Puas dengan hasilnja aku melangkah kebangsal potong. Melangkah dengan megah dan gagah sebagai ahli bedah. Seketika pintu dorong memegas kembali dibelakangku, keputihan djas dokter teman-temanku segera menjedapkan pandangku. Mereka berdiri ber- kelompok mengitari medja golongan-golongan mereka masing-masing. Jang seorang memegang sambil membatja- kan buku petundjuk, jang lain duduk membungkuk memotong dengan giat, jang lain lagi bertelekan mengamati pekerdjaan temannja. Indah dan sedap gambaran itu, bagaikan lukisan Peladjaran anatomi" dari Rembrandt jang diperlipatgandakan. Lama aku menanti temanku -jang akan memotong ber-

sama aku. Kemudian diberitakannja ia ikut pratikum ilmu faal. Aku terpaksa bekerdja sendiri, Redam-redam telah sampai pada telingaku tak boleh memotong seorang diri; dua orang sedikit-dikitnja. Hatiku menggorek-gorek akan mulai, tetapi aku tjemas; tjemas akan bentakan assisten jang banjak ditjeriterakan padaku, meskipun belum kualami. Aku duduk disamping majatku. Bau air bekas tjelupan sekudjur badannja merangsang hidung. Murni bau itu, seperti obat. Tetapi sebentar-sebentar bau lain jang men- tjoba menjisip dan mengeruhkan kemurniannja: bau lantung. Sebentar-sebentar hilang, sebentar-sebentar kem- bali lagi, tak lupa memperingati kehadirannja. Ia terbaring dimukaku diatas alas kaju serba keras. Badannja telah lama ditjeraikan dari segala selubung keduniawian. Kaku badannja, tegang tiada berkutik, tak banjak bedanja dari manusia jang terlelap tidur. Rambut kepalanja kotor, terlampau kotor kena debu dan kotoran dibak tempat ia ditjelupkan. Memang manusia biasa dia, terlampau biasa; mukanjapun biasa, sebiasa kita djumpai sehari-hari dipinggir djalan, dibawah djembatan, dekat pintu kereta api, meminta-minta, mengharapkan ada uang ketjil pada kita, sambil memper- lihatkan gigi jang kotor dan banjak telah tanggal. Sebiasa kita membuang muka, tak sudi memandangnja, tak sempat waktu memikirkan kesengsaraannja, sebiasa itu pula ia melabuhkan kelopak matanja, seakan-akan dengan demikian lega rasanja pandangnja ditabiri dari penonton- penonton dunia luar. Lama aku tinggal tepekur demikian. Panas rasanja dalam bangsal itu, lebih-lebih karena djas dokterku tebal. Aku berdiri memasang kipas angin. Kutarik rantainja, djalan ia. Kutarik lagi, melambat ia, hendak mati. Kutarik sekali lagi,

tjepat lagi djalannja. Kembali aku menatap majatku, tiada bernafas tiada berdarah. Sekali hidup tiada lagi kembali darah dan nafas membangkitkannja. Alangkah indah hidup itu, bila seperti kipas angin djalannja. Mati dan hidup ber- selang-selang, saling berganti. Dapat dideraskan dapat dikendalikan. Kipas angin ditjiptakan untuk menjerak- njerakkan hasil pekerdjaannja, kesedjukannja, kealam sekitar; dan bukan baginja sendiri ! Serupa itu pulakah tudjuan hidup ? Untuk dipantjarkan hasilnja kepada sesama manusia ? Aku memnbisu ketika itu. Tak mengetahui djawaban. Perkenalanku dengan harga manusia belum sampai masak- nja untuk menghampiri inti hidup. Belum kuduga ketika itu, perkenalanku akan mendalam djadinja; mendalam menudju djiwa manusia, dan semua itu karena bangsal potong djuga. Digelisahkan teman-temanku jang sedang memotong, aku mulai seorang diri. Selaras dengan petundjuk-petundjuk dalam buku penuntun, dengan pisau kutarik garis-garis dalam kulit perut untuk membatasi bagian jang akan di- tanggalkan kulitnja. Kemudian mulai aku menjajat. Pinset dalam tangan kiri, pisau tertekam dalam tangan kanan. Pinset mendjepit dan menarik kulit, pisau madju mem- bebaskan kulit ditempat perlekatannja pada tubuh. Lemak jang kuning tengguli serta djaringan penjambung jang langsung terlapis dibawah kulit tak ikut terpotong. Berkali-kali kutjoba mengħormati kerapihan tehnik potong itu; kuasah pisauku berulang-ulang, tetapi selalu ikut terpotong lemaknja. Namun aku giat memotong, — kulit tambah lemak tambah djaringan pengikat. Dan aku tahu akan bahajanja; bahaja tehnik potong jang salah itu. Membabat" namanja dengan istilah mahasiswa. Dan

membabat" adalah dosa dan noda jang berbuat dalam tata susila ilmu potong. Tetapi, aku tak merasa berbuat salah, bukankah aku ahli bedah jang tak boleh menghentikan operasi, sekalipun rumahnja terbakar? Tugas tinggal tugas, dan bagiku, membabat, itulah tugasku. Begitulah aku terus menjajat. Makin luas daerah jang tak berkulit tampak me- nelandjang. Achirnja aku sampai pada paha. Penuh kebanggaan kupandang pekerdjaanku: kulit dibagian perut sampai pertengahan paha telah habis kutanggalkan. Tak peduli aku, lemaknja ikut terkelupas atau tidak. Hanja dua jang menggertak aku memotong: kebanggaan dan rasa ingin tahu. Bunji kursi jang mendesak-desak mengesankan teman-temanku tak kurang sibuk bekerdja. Menjelangi bunji itu terdengar gemerentjing pisau dan pinset jang djatuh kelantai. Njaring dan chusus bunji itu; chas bagi bangsaì potong. Tengah aku meneliti sebuah otot tiba-tiba telingaku terangsang oleh suara gadis jang lemah lembut bertanja : Dimana partermu ? Aku tiada mentjongak, meskipun kutahu suara jang tinggi lagi halus itu dibawakan oleh gadis. Pikiranku ter- tambat pada pekerdjaanku; lainnja tak kuhiraukan. Asjik aku memotong terus. Lama kelamaan kehadirannja disam- pingku makin terasa menekan. Dengan suara jang tak atjuh aku mendjawab: — Barangkali melajang dia ! Utjapan tiada dibalas. Aku belum menoleh djuga. Kurasa ia mengamati pekerdjaanku, bukan menengok. Kemungkinan ia assisten melintasi pikiranku. Aku serasa bangkit. Segera kubetulkan :
— Eh, ..... bukan. Temanku lagi ikut praktikum ilmu faal.

Dia ganti golongan sekonjong-konjong; hari ini gilirannja. Sekarang aku terpaksa memotong sendiri. Ia membisu. Aku mentjongak. Matanja menatap peker- djaanku. Mataku menatap dirinja. Pendek ia. Pendek menurut ukuran Indonesia. Meskipun aku duduk dan dia berdiri terasa olehku kependekannja, Andaikan dalam ruang dansa aku hanja lajak mendansakan samba atau rumba dengan dia, saling memagut pinggang, bukan pung- gung atau pundak. Kulitnja elok, bukan kuning langsat, kuning Menado atau Palembang, tetapi sesuai dengan keturunannja : Kuning Tionghoa. Selajang pandang kulihat ketjantikan dalam dirinja, meskipun ketjantikan itu tiada mentjolok, melainkan tersembunji, sebagai djandji jang berharapan. Tetapi sikapnja tiada menjempatkan aku menjelisik ketjantikan itu. Katanja dengan suara jang membenarkan dugaanku akan kedudukannja: — Kalau potong djangan begitu! Kulitnja sadja, lemaknja djangan sampai ikut! Segera kurasa aku turun dari ahli bedah sampai ahli dapur. Lalu ia mendjelaskan pula: Dari dalam harus bersih kulitnja; harus ada bintik- bintiknja begini, baru tandanja kulitnja sadja jang terpotong !! Aku diam. Diam sebagai pembantu ahli dapur jang hanja boleh menjajat mentimun, bawang dan lombok. Tetapi aku terus djuga memotong. Perasaanku lagi membubung. Aku djarang ditegur oleh sesama mahasiswa. Kalau. lelaki apa salahnja ? Tetapi gadis ! — Tarik sadja kulitnja jang keras, supaja mudah potong- nja !, serunja seperti guru taman kanak-kanak. Aku menurut, seperti kanak-kanak. Tangan kiri menarik lebih keras, tangan kanan makin djitu memisahkan kulit dari

lemak. Makin bersih dan tipis kulitnja itu djadinja. Bersih hingga kulitiah jang kena sajatan. Melihat aku membungkukkan badan diatas majat dengan tjanggung, ia mengusul- kan pula : — Dari sini sadja memotong, lebih mudah nanti ! Aku pindah dari samping kanan kekiri. Baru hendak aku mulai ia -memperingatkan lagi : Baik sekarang beladjar memotong dengan teliti. Lebih sukar lagi nanti kalau sudah sampai topografi. Tak tahu aku apakah maksud jang terkandung dalam utjapan itu teguran atau nasehat. Bagiku dan kawan- kawanku topografi tinggal topografi; itu soal nanti. Apa guna memikirkan kesukaran-kesukaran dihari depan, kalau jang sekarang belum dilampaui, demikianiah bunji prokla- masi mahasiswa-mahasiswa kedokteran. — Bagaimana otot harus dipotong? tanjanja mengudji. — Bagaimana ?! djawabku tak mengerti. — Ja. Bagaimana tjaranja ? _ Tjaranja? Begini tentu! djawabku setengah tertawa sambil memberi teladan dengan kedua tanganku.. — Dan disini ? tanjanja sambil menundjuk kedaerah perut. Begitu ! djawabku memberi teladan lagi, sesuai dengan djalannja serabut-serabut otot. — Djadi ? — Djadi apa ?! — Sedjadjar dengan djurusan ototnja kan ? O-ija, djawabku penuh kejakinan meskipun penge- tahuan itu kuanggap sudah sewadjarnja dimiliki setiap orang dan tak perlu ditanjakan lagi. Kesepian menjisip antara dia dan aku. Dia masih berdiri dimukaku membungkukkan badannja akan melihat peker-

djaanku. Sikapnja mengundang mataku. Mengundang hingga kusisipkan lantang pandanganku kedalam tjelah antara gaun dan kulit dadanja. Sebentar mataku mengem- bara disana; sajang, tidak kudjumpai jang kuharap- harapkan. Mulai kualpakan kehadirannja lagi. Aku melandjutkan. Memotong. Memisahkan kulit. Ia mengamati pekerdjaanku. Dari samping muka. Lama kurasakan pandangnja menam- bat. Kemudian ia melangkah pergi mendjauhi tempatku akan menilik dimedja jang berikut. Tanganku berkurang giatnja. Mataku bertambah; melajang-lajang kearah dia. Baru itu aku sempat mengamati dirinja. Memang ada ketjantikan padanja, tetapi tak njata menampilkan diri, seperti lazimnja dengan gadis-gadis keturunan Tionghoa. Ibuku selalu mengandjurkan memperhatikan urat keting bila meneliti seorang gadis. Kalau pandjang, lampai lagi tirus bentuknja, itu jang elok dan biasanja djuga kegadisan watak orangnja. Jang pendek, tebal lagi lebar itu dilangkau sadja, tak patut mendjadi sasaran seni kaki. Dengan ukuran itu Lita memang gadis; manis, lampai dan gerenik urat itu mentjuar dan menegang setiap kali ia berdjindjit sewaktu berdjalan, seakan-akan kaki itu mengundang untuk diikuti djedjaknja. Air mukanja sedikit lebih dari menjenangkan. Matanja hampir tiada lagi mentjermninkan keturunannja dan hidung- njapun tjukup mantjung untuk mentjetak profil jang mentjuar. Dan bila profiì itu kena belaian sinar matahari dipagi hari makin elok kulit dan mukanja bertjahaja, hingga disaat-saat itu Lita lebih seri gunung daripada seri pantai. Aku seakan-akan diselapi adjaran anatomi ketika itu. Itu sebabnja aku memandangnja dengan mengurai pula.

Giginja menarik perhatianku. Tetapitak sentranjg

sebuah dari gigi-geligi jang ketjil mugit tuDiralrg

梁

letaknja. Disebelah kiri baginja drebeiah känap bag

P pemeriksa. Gigi taring taksirku. Gigi sra Supak agakdja karena keperak-perakan warnanja. Dan sefia taliMa bet- A

senjum dengan lebar dan itu djarang dilakukannja tak lupa gigi itu mendjenguk keluar disudut mulutnja. Biasanja senjun menjedapkan pandangan.‘Tetapi senjum Lita tiąda demikian dajanja, malah lebih tampak ketiong- hoaannja karena senjumnja. Otot bibirnja seakan-akan tidak dibentuk untuk melahirkan senjum jang sedap, hanja untuk tertawa, lagipula kaku tawa itu karena gigi jang terlalu tampil. Tetapi imbangan terhadap itu dibisikkan oleh suaranja jang seni lagi halus. Manis kegadisan suara itu lagi seronok untuk didengar. Kutinggalkan bangsal potong hari itu dengan perasaan ajam djantan kehilangan tadjinja sehabis disabung. Aku datang membanggakan diriku ahli bedah. Aku pulang serasa baru dituntun guru wanita kedalam taman kanak- kanak pada hari sekolahku jang pertama. Dan ini jang membuat aku bentji pada diriku sendiri: menghafal aku dapat, memotong orang biasapun dapat-aku tjang- gung. Dan semua itu perlu kusadari karena bimbingan seorang gadis. Pada hari-hari praktikum kemudian hidung dan tanganku makin menjesuaikan diri dengan suasana potong. Meskipun setiap kali masih kutjutji tanganku bersih-bersih, hidungku tiada peka lagi. Hanja sewaktu makan dirumah, bila tangan mendekati hidung, bau jang chusus itų kembali lagi me- njelusupi_keharuman makanan. Mula-mula masih kutjium bau itu sebagai bau daging manusia. Tetapi lama kelamaan lain kutanggap, seolah-olah tak ada bedanja dengan bau

daging sapi. Makin jakin aku akan paduan bau itu. Seakan- akan satu peringatan bahwa daging machluk — baik hewan atau manusia — tak ada bedanja bila telah dilarai- kan dari njawanja: sama busuknja, sama mendjelmakan kerendahannja. Dengan demikian makin mendalam per- kenalanku dengan harga manusia, hingga majat tak asing dan baru lagi bagiku. Lahir aku telah berkenalan dengan manusia, batin belum ketika itu. Tak terangan olehku Litalah jang akan membimbing aku ketaman perkenalan batin itu. Sebenarnja bukan dari dia kudengar Lita namanja, tetapi dari teman-temanku seting- kat. Semua mengenalnja dengan nama Lita, tak lebih tak kurang. Disaat-saat aku termenung kutjiptakan nama-nama jang lebih sepadan dengan dirinja : Amelita, Lolita dan Estralita. Sajang tak seindah harapanku namanja, melain- kan hemat bersuku tiga: May Kim Lian. Kesamaan nama Lita dengan May Kim Lian tersebar selemah rahasia pribadi. Karenanja iapun djarang dipanggil Lian atau Kim Lian, seperti dapat diharapkan sebagai perpendekan namanja. Lita adalah nama utjapan, May Kim Lian nama pengumuman dan dari pada pengumuman pulalah kutahu nama lengkapnja. Sudah kukatakan baik Lita maupun May Kim Lian kutangkap dari luar. Itu memang aneh. Tetapi lebih aneh lagi pertemuan kami jang pertama. Tempatnja ruang prak- tikum ilmu faal. Waktunja tak beberapa lama setelah aku lulus. Tjaranja, itulah jang aneh: bagi orang luar, bukan untuk mahasiswa. Disanalah aku pertama-tama berdjumpa — bukan berkenalan — dengan Lita, sebagai mahasiswa dengan mahasiswa. Dia tinggal menjelesaikan beberapa dari enampuluh per- tjobaan faal diruang itu; aku baru mulai, sedjak kenaikan

tingkat. Adapun machluk jang mendampingkan perhatian kami ialah seekor kodok! Benar-benar, kodok saudara ! Kodok jang ditoreh seluruh kakinja dan dibebaskan saraf- nja. Saraf itu harus diikat. Untuk mengikat diperlukan benang. Kumparan dimedja telah tanggal benangnja. Aku bekerdja dengan temanku disatu sudut dari medja. Lita dan partnernja diudjung lain. Temanku melakukan pembedah- an. Aku menjiapkan pisau, pinset, kapas dan benang. Benang kutjari, tak ada. Lita telah tersedia benangnja, disamping kodok jang sedang dikerdjakan olehnja. Benang itu kutjopet diam-diam. Lita tak melihat. Tak lama kemudian tahu djuga ia kemana larinja. Dimintanja kembali benang itu, dengan senjum jang genit, menertawakan penjerobotanku. Benang itu hilang dari tanganku. Senjum Lita tidak, tetap menetap dalam ingatan. Demikianlah pangkal pertemuan kami dilahirkan karena kematian seekor kodok dibawah naungan ruang faal. Sengadja kusebut pertemuan itu sebagai mahasiswa dengan mahasiswa. Bukan demikian halnja dibangsal potong. Disitu aku mahasiswa, tetapi Lita mahasiswa iambah assisten. Atau setepatnja : ko-assisten, karena assisten lain dengan ko-assisten. Perbedaan itu bukan sadja humaniter, tetapi djuga moneter : assisten digadji, ko-assisten tidak. Walaupun demikian, Lita setia pada alma maternja, chususnja kepada putera alma mater itu: bangsal potong. Setiap kali gilirannja berdjaga, hadir ia. Lengkap dengan djas dokter ia berkeliling; berhenti disalah satu medja, kadang-kadang lama kadang-kadang șebentar, me- ngudji, menanja, kemudian landjut kemedja lain, sampai tiap-tiap golongan habis disempatkan mendjumpai pan- dangnja dan dibelaikan telinganja oleh suaranja jang halus dan tinggi nadanja itu.

Lita sebagai assisten lebih disukai daripada ditakuti. Sebagai mahasiswa ia hampir melulu disukai. Tetapi hanja diluar bangsal potong daja penarik itu timbul. Didalamnja terasa perbedaan antara Lita jang memeriksa dan mengudji dan mahasiswa jang memotong dan mendjawab. Tak banjak perbedaan itu, hanja setingkat dalam gedung pengetahuan jang tinggi mentjakar langit impian itu. Tetapi tjukup mendjemukan pendaki tangga gedung itu. Lita seakan-akan memagari dirinja dengan pengetahuan, jang

melebih itu. Dan setiap kali ia mengudji dibangsal potong

orang merasa tersompok dengan pagar itu. Bagiku sekatan itu terombak rasanja. Lita sendiri jang membuatnja. Sedjak dituntunnja aku kedalam tehnik potong, tak pernah lagi ia menghampiri medja aku memotong. Mula-mula tak kurasakan. Kusangka akan datang djuga saatnja aku akan diudji olehnja. Kunanti. Bulan tukar bulan, triwulan ganti triwulan, sediaan kaki ganti lengan, daerah panggul dan dada telah habis kupotong, tetapi Lita belum djuga tega mengudji. Seakan-akan hendak disama- ratakan dirinja untuk menjempatkan tali perasaan disatu- padukan dalam simpul jang erat. Kami djarang berbitjara, kerap saling memandang. Dan waktu aku giat memotong, sedangkan Lita mengudji ditempat lain, samar-samar kurasa hembusan kipas angin bersilir-silir menguapkan peluh jang menjimbah didahi, lebih njata kudengar derum mesin pendingin tjampur gemerentjing pisau, tetapi tegas kurasa matanja mengarah medjaku mengharapkan pandangnja tiada dilalaikan. Andaikan diwaktu itu aku men- tjongak mentjari medja tempat ia mengudji, sudah pula pandangnja ditukikkan kebawah, benar-benar sesuai dengan perángai gadis. Demikianlah lahir antara kami sesuatu jang sukar untuk

dirumuskan hakikinja. Aku merasa sesuatu itu tjenderung kepada sesuatu jang lain, jang lazim saling dibangkitkan dalam pemuda dan pemudi. Tetapi ketika itu belum sederas. itu kurasakan. Namun kuduga, tanah tempat bibit untuk sesuatu jang lain itu ditumbuhkan, lajak dan subur sifatnja. Aku pasti akan itu, karena aku memandang Lita tidak karena sex atau diktat ! Tentu saudara tertawa membatja utjapan ini! Tetapi benar-benar tak dilebih-lebihkan bila. dikatakan bahwa dalam abad keduapuluh ini sex — baik bergabungkan appeal maupun conceal. banjak kali me- ngaburkan perasaan-perasaan jang murni, hingga perlu. ditapisi berkali-kali dari segala kekeruhan abad modern. Baru bila itu teriakukan akan dapat kita peroleh kembali habluran perasaan-perasaan kita jang mulia, jang berkilau- an kemurnian. Dan diktat! Itu hanja berarti dalam ling- kungan fakultas. Tetapi bila dalam dunia itu tak untuk dialpakan artinja. Scorang mahasiswa tidak selalu dan melulu menghampiri mahasiswa karena didorong perasaan. ingin bergaul atau tjenderung hati! Sekerap sex mendjadi perangsang, djuga ratio dapat mengikutinja. Ratio dalam bentuk mentjari diktat! Diktat itu perlu saudara! Lebih-lebih dimuka udjian, dikala itu lebih perlu daripada nasi. Djauh lebih perlu! Nasi dapat dibeli dan kalau hilang dari perut dapat diulangi permbeliannja. Tetapi diktat! Diktat jang baik, jang benar-benar sesuai dengan kuliah-kuliah. mahaguru, jang dihiasi gambar-gambar jang rapih, jang. dibubuhi tjetakan untuk udjian atau jang habis dipakai untuk udjian, itu tak mungkin dibeli dan mustahil diulangi pembuatannja ! Karena itulah diktat dan sex sebagai. sasaran, periu ditjurigai, karena kedua-duanja selalu semu- semu ditemani sesuatu hasrat jang tulus dan ichlas tampak- nja, seolah-olah benar-benar datang dari lubuk hati.

Mekar karena Menar 4

Agustus kan baru boleh madju bulan Mei untuk ten- tamen itu ? Sedangkan sekarang baru April, tanjaku mengetahui ia akan madju untuk udjian.

  • Lebih dulu boleh djuga, djawabnja dengan singkat. Sedjurus kami membisu. Kemudian kembali ia mem-
    bitjarakan lingkungan pekerdjaannja : bangsal potong. Dan diantara semua tutur kata jang lulus ingatanku diluntjur- kannja utjapan jang lama tinggal mendengung dalam telingaku : — Banjak djuga faedahnja membantu sebagai assisten. Banjak jang diperoleh sebagai peladjaran. Aku diam. Pemberitaannja tak mengundang djawaban. Jang kurasakan hanja tjepatnja ia mengajuhkan sepeda. Tanjaku : — Mengapa kau tjepat-tjepat ?
    .... aku harus beladjar 1
    — Beladjar ? Hari Minggu kau beladjar djuga ?
    Ja .... eh ... kadang-kadang, begitulah !
    — Ah, gadis seperti kau kan tak usah beladjar giat-giat! ! Mulutnja membisu. Hatinja menggontjang. Aku jakin akan itu. Karena diwaktu itu Lita memang gadis, seperti tasnja djuga kegadisan; bukan tas nona jang disandangkan tetapi tas gadis jang dilipat dua menutupi lengan bawah atau bontjengan sepeda. Dan semua itu hanja menambah dan memperelok sifat perangainja. Sengadja kukatakan diwaktu itu" Lita gadis, karena biasanja sifat itu hilang dengan madjunja tingkat.

  • Kalau kau lulus, kau tentu djadi assisten ?! tanjaku
    pula. Dugaanku tak dibenarkannja. Lalu aku mejakinkan: — Pertjajalah, pasti kau lulus nanti ! — Mudah-mudahan sadja, sambutnja.

Sesuatu jang terbit dalam Lita dan aku itu tak mungkin kugambarkan dengan satu perkataan. Letaknja antara dua pengertian. Antara sentimentalitet dan kollegialitet. Sentimentalitet jang membuat aku melupakan suara maba- guru dan hanja mengamati tengkuk Lita bila aku duduk -dibelakangnja diruang kuliah. Ramping tengkuk itu lagi kinantan karena bersih. Banjak tengkuk gadis jang ramping tetapi djarang jang sebersih Lita punja karena bagian itu tidak ditumbuhi rambut, hingga keelokan kulitnja makin tampak. Lebih-lebih kalau ia mengenakan gaun jang leher- nja lebar terpotong sampai kebahu, makin elok kulit teng- kuknja dengan warna antara putih dan kuning turun melandai kebahu. Dan bila gaun jang menjampuli tubuhnja jang ramping itu halus dan rose warnanja pastilah Lita berdaja membangkitkan Li Pai dari matinja untuk mengil- hamkannja mengarang sadjak. Pada suatu hari Minggu kulihat dia djauh dimukaku bersepeda, baru datang dari geredja. Akupun bersepeda dan baru menengok kawanku. Ketika kulihat dia seorang diri itu, kollegialitetlah jang mendorong aku menemani dia. Kususul dia lalu segera menjapa : — Kemana kau ? Ia terkedjut. Hendak pulang katanja. Aku lebih tahu; ia hendak mengundjungi salah seorang temannja, teman perempuan sefakultas, karena atjap kali kulihat dia me- nempuh djalan jang sama itu dihari Minggu. Aku tahu pula tak lama lagi ia akan menjimpang kekiri bila dugaanku benar. Tetapi tak lama kemudian ternjata terus djuga dia. Acħirnja kami tiba dipersimpangan djalan. Lita akan mem- belok kekanan; aku, seharusnja terus, bila hendak kerumah. Tanjanja setengah berharapan : — Kau tentu terus ?!

:50

Ah, tidak kebetulan aku djuga harus kekanan I dja- wabku segera. Lita diam memandang kemuka sadja. Makin giat aku mengajuhkan sepeda. Makin giat karena kedudukanku kuat : ia tak djadi pergi ketemannja, karena itulah dengan sendirinja ia menempuh djalan jang djauh lebih pandjang daripada bila ia langsung pulang kerumah dari geredja. — Mengapa kauambil djalan jang pandjang begitu ? tanjaku dengan berani. Lita, tentunja, tak mendjawab. Tetapi aku menekan djuga : — Mengapa ? Mengapa ?!!! djawabnja dengan muka seakan-akan tersirat dalamnja tak perlu dan tak boleh kutanjakan. Itu kupaham benar-benar, tetapi aku ingin tahu perangainja dan ketjakapannja menangkis. — Mengapa sii ?? aku mendjerat. — Begitu sadja ! Iseng-iseng! — Ooh, begitu sadja ? udjarku bersenjum simpuł. Aku tahu istilah ,,begitu sadja" tidak termuat dalam kamus Lita; ia bukan gadis jang berbuat sesuatu dengan begitu sadja. Karena itu pula aku jakin perasaannja jang berbitjara ketika itu. Dan itu diketahuinja pula. Tetapi tak mau mengaku tentu. Karena itu makin tjepat djalannja, sedangkan aku lambat, menahan waktu dan memperpan- djang pertjakapan jang kemudian mendjalinkan kami berdua. Matjam-matjam jang dituturkannja. Semua tidak mengenai dirinja, tetapi mengenai peladjaran dan fakultas. Aku rela mengikuti haluan pertjakapan sambil menjelang: — Kudengar kau sudah tempuh tentamen mikrobiołogi ? — Memang sudah 1 Mereka jang akan menempuh udjian dalam bulan 月

Agustus kan baru boleh madju bulan Mei untuk ten- tamen itu ? Sedangkan sekarang baru April, tanjaku mengetahui ia akan madju untuk udjian. — Lebih dulu boleh djuga, djawabnja dengan singkat. Sedjurus kami membisu. Kemudian kembali ia mem- bitjarakan lingkungan pekerdjaannja : bangsal potong. Dan diantara semua tutur kata jang lulus ingatanku diluntjur- kannja utjapan jang lama tinggal mendengung dalam telingaku : _ Banjak djuga faedahnja membantu sebagai assisten. Banjak jang diperoleh sebagai peladjaran. Aku diam. Pemberitaannja tak mengundang djawaban. Jang kurasakan hanja tjepatnja ia mengajubkan sepeda. Tanjaku : — Mengapa kau tjepat-tjepat ? aku harus beladjar ! Beladjar ? Hari Minggu kau beladjar djuga ?. — Ja .. eh .. kadang-kadang, begitulah ! — Ah, gadis seperti kau kan tak usah beladjar giat-giat! ! Mulutnja membisu. Hatinja menggontjang. Aku jakin. akan ito. Karena diwaktu itu Lita memang gadis, seperti tasnja djuga kegadisan; bukan tas nona jang disandangkan tetapi tas gadis jang dilipat dua menutupi lengan bawah atau bontjengan sepeda. Dan semua itu hanja menambah dan memperelok sifat perangainja. Sengadja kukatakan diwaktu itu" Lita gadis, karena biasanja sifat itu hilang dengan madjunja tingkat. Kalau kau lulus, kau tentu djadi assisten ?! tanjaku pula. Dugaanku tak dibenarkannja. Lalu aku mejakinkan: — Pertjajalah, pasti kau lulus nanti! — Mudah-mudahan sadja, sambutnja.

Dengan berachirnja tahun kuliah telah madju pula pengetahuanku dalam ilmu urai, meskipun belum selesai aku memotong. Berpuluh-puluh potongan melintang ter- gores dalam ingatanku. Potongan melintang dari tubuh manusia ditempat jang bermatjam-matjam: lengan, tungkai, Ieher, otak dan entah dimana lagi. Setiap dokter tahu men- tjeritakan djerih pajah jang telah ditjurahkannja akan menghafal potongan-potongan itu dan semua karena berlainan gambarannja. Lain disetiap pertinggian, lain dipergelangan tangan atau dua sentimeter dibawahnja. Satu-satunja pelipur lara ialah bahwa manusia itu umumnja sama susunan otot-ototnja, sama gambarannja bila dibuat potongan melintang dipertengahan dari lengan atas Danny Kaye atau Vera Ellen. Ja, mudjurlah masih sama; bagai- mana djadinja bila potongan jang seorang berbeda lagi dari jang lain ! Meskipun demikian ada satu potongan jang lain bentuk- nja. Bukan dari majat, tetapi dari Lita! Dan bukan potongan tubuhnja tetapi potongan umum dari keseluruhan djiwa raganja. Lita mudjur memiliki sifat gadis; itu telah kupantulkan. Dalam seluruh gerak geriknja itu terdjelma. Kalau sekonjong-konjong mendengar berita jang menggirangkan umpamanja, serentak ditangkupkan tangannja dimukanja. Untuk dapat menilaikan dan menafsirkan gerakan sema- tjam itu orang harus baik tiliknja. Karena tangkupan tangan itu sebagai pendjelma rasa girang membajangkan keaslian sifat kewanitaan jang ada padanja. Tetapi ini jang aneh pada Lita. Lahir ia kegadisan, batin tidak ! Seolah- olah badannja suatu sampul jang tak sesuai dengan isinja. Lita lebih beratio daripada berperasaan. Ia tak sudi dige- nangi ombak perasaan; perahu tumpangan pikirannja tak

mau dibelokkan haluannja. Mukanja seolab-olah hanja berseri-seri kegirangan pada dua saat : sehabis lulus udjian dan pada hari ulang tahunnja. Dimuka ulangan bersungguh- sungguh ia; mendjelang udjian berkandjang ia dengan kemauan jang tak terpadamkan njalanja. Sebagai mahasiswa itu boleh dipudji dan dibanggakan. Tetapi bagi Lita. sebagai gadis, itu hanja dapat disesalkan. Karena lahir Lita sebenarnja tjukup, malah lebih dari tjukup untuk disebut gadis dunia, bukan gadis universitas. Dua matjam gadis itù memang lain; jang satu harapan dunia tambah mahasiswa, jang lain melulu harapan sardjana. Dan itulah djanggalnja; lahir Lita gadis dunia, batin ia gadis fakultas. Sajang Lita tiada memperkembangkan diri sebagai gadis dunia. Ia djarang melampaui batas peladjaran. Ketika ia diminta mendjadi mannequin pada salah satu modeshow ditolaknja. permintaan itu; ajahnja akan marah nanti, begitulah katanja. Dan demikian Lita tetap melekapkan perhatiannja. pada peladjaran, tiada menjempatkan anugerah bawaan jang dimilikinja itu, mengembang hingga mekar dengau indah dihadapan mata dunia luar.

CON DOLORE

indera kita, jakni melihat, mendengar, mentjium, mengetjap dan meraba, telah lama didjadikan sasaran ilmu kedokteran. untuk dibukakan segala rahasia jang terkandung dalarnja. Ditingkat dua, mahasiswa kedokteran diperkenalkan dengan faal serta bentuk dari alat-alat pantjaindera itu. Tetapi sebenarnja, hanja empat dari alat-alat itu disadjikan padanja sebagai pengasah otak, jakni mata, telinga, hidung. dan lidah. Keempat alat itu ditindjau bentuknja dengan. mendalam dan merintji oleh suatu ilmu jang disebut ilmu djaringan tubuh. Tetapi ada satu alat jang tak dipaparkan. oleh ilmu itu; jakni tangan; tangan kita jang meraba. Faal meraba benar dibitjarakan, tetapi bentuknja sebagai satu alat tidak, karena djuga kulit ditempat-tempat lain dari tubuh dapat meraba. Namun manusia meraba dan merasa. sesuatu benda sehari-hari dengan tangan dan tidak dengan tapak kaki atau siku. Bagi banjak orang, tangan lebih daripada alat peraba. Tapak tangan berkelarkan garis-garis jang tiada terubahkan tjiri djalannja. Lahirlah suatu ilmu jang melihat djalan hidup dan masa depan dalam garis-garis itu ! Samar-samar ilmu itu. Tak patut digelarkan nama ilmu pengetahuan karena bertapakkan pengalaman dan perbandingan. Walau- pun begitu, tak untuk dimustahilkan semua ramalannja. Tangan berdjari. Djaripun tak serupa bentuknja. Demiki-

an kata ahli tangan; watak seorang terbatja dari djari- djarinja jang mungkin londjong, lantjip atau datar. Itu semua samar-samar; tak dapat didjadikan dasar sesuatu ilmu. Tetapi, sebenarnja, ilmu kedokteranpun diekori ilmu jang bukan ilmu karena kesamarannja, namun besar artinja

sebagai penundjuk djalan sekali pandang, jakni : djari jang

berkuku. Dan kuku itu berwarna : ada kalanja putjat, ada 'kalanja merah, membajangkan keadaan darahnja dan dengan demikian menjiratkan kesehatan orangnja.

Bagiku tangan bukan itu sadja. Bagiku tangan sesuatu

jang hidup, jang mendjadi perantara, mendjadi penjalur perasaan dengan djalan djabat tangan! Karena itu pula tanganku menanti dan menuntut akan berdjabat. Tanganku itulah, sebagai kesatuan jang tersendiri, mengharapkan dapat merasakan hangat dinginnja, kuat lemahnja tangan jang lain itu, — tangan Lita ! Dalam djabat tangan itulah kurasakan pembebasan dari rasa jang senak jang kian padat meliputi diriku setelah kukenal Lita sekian lamanja. Tangan jang akan mendjabat itu membahagiakan daku dan .membawa sematjam kenjataan dan keresmian dalam kabut perasaan jang menjelimuti kami berdua. Kesempatannja datang setelah Lita menempuh udjian. Tempatnja dimuka kamar ketua fakultas, kamar pengumuman hasil udjian diloteng atas. Aku datang bersepeda

pagi itu. Lambat djalanku. Datangku beberapa saat

sebelum pukul sepuluh: saat resmi. Dugaanku benar. Kebanjakan orang masih berkumpul dibawah alamat pengumuman belum dimulai. Lambat laun kelompok-kelompok peserta udjian jang mula-mula terpentjar, meleburkan diri dalam aliran jang menudju loteng atas. Akupun ikut. Riuh rendah suara manusia tjampur gerisik kaki jang berdjalan kian kemari,

mendatangi telingaku. Sesampai diatas, Lita segera ter- tangkap pandangku. Kami bertemu pandang sedjenak sadja. Lalu ia berpalis pula melandjutkan pertjakapan dengan teman-temannja senasib. Suasana makin tegang. Serambi dimuka kamar pengadilan" telah sarat dengan mahasiswa. Peluh mulai menjimbah. Peluh jang dua sebabnja : kepanasan dan kete- gangan. Aku berdiri ditepi tumpukan manusia itu, menjem- patkan diriku mengamati teman-temanku jang lagi menanti. Wadjah mereka seakan-akan berkedok, mulut mereka tertangkup membisu, mata mereka menatap pintu jang segera akan dibukakan pegawai jang akan memanggil kedalam. Ada jang berdiri dekat pintu, ada jang djauh, seolah-olah hendak mengelakkan tjengkaman iblis jang waspada mentjari mangsa untuk didjerumuskan kedalam kantja kemalangan. Pandai, sedang atau bodoh, semua mereka sama kuat dilamun rasa tjemas. Tjemas akan saat nama mereka disebut. Karena, tak sekaligus mereka di- panggil kedalam, tetapi golongan demi golongan. Mula- mula jang tidak lulus enam bulan, lalu tiga dan satu bulan dan achirnja mereka jang dinantikan kawan-kawan untuk diserang rambut dan kemedja dengan tulang dua kerat. Aneh pula sebenarnja. Berpuluh-puluh kali telah kulam- paui kamar pengumuman itu. Tak pernah kutindjau bentuk luarnja, apalagi menengok dalamnja. Baru kali itu kulihat angka diatas pintunja. Angka jang mungkin merupakan nomor ruangan. Mengapa pula djustru angka itu jang di- terakan diatas kamar pengumuman, angka jang terkenal chasiatnja itu, — angka tigabelas. Tachjul ? Ja, memang tachjul, tentu tachjul! Lita harus lulus! Pasti lulus! Ah, siapa sebenarnja jang menggenggam keputusan disaat-saat manusia tinggal berharap ? Benarkah sekelom-

pok ,,manusia" jang berharap disana ? Bukan ! Lebih dari itu! Mahasiswa! Mahasiswa jang telah begitu membubung ilmunja; manusia jang beratio! Ratio jang sanggup mem- buat ramalan, dapatkah sekarang itu dikerutkan mendjadi harapan? Dari masa muda kita mulai mempeladjari soal-soal jang benar, jang pasti, setentu dua tambah dua sama dengan empat. Kemudian meluas pengetahuan kita, ber- tumpukan pada apa jang telah diluluskan pada akal. Dengan begitu makin padat, makin kukuh pikiran kita djadinja, mulai dari sekolah rendah, melalui sekoląh me- nengah dan seterusnja. Dan bila kita sampai ditingkat terachir, diperguruan tinggi dan kita tindjau kembali gedung pengetahuan jang kita dirikan tingkat demi tingkat, jang satu didasarkan jang lain, maka banggalah kita akan ketinggian serta ketetapan jang telah sampai kita djengkau itu. Tetapi setinggi dan setabah pengetahuan kita me- njembul diatas permukaan lautan manusia, serendah dan segontjang itu pula pikiran kita bila menjongsong saat pengumuman hasil udjian, dan umumnja bila menghadap udjian dalam hidup. Dimanakah, wahai saudara-saudara, keteguhan pikiran kita disaat-saat itu? Telah punahkah semua kepastian dan ketentuan jang kita bawakan sebagai bekal dari masa sekolah ? Kita, tak dapat tiada, harus mengaku disaat-saat itu, bukanlah kita jang menggenggam kepastian, tetapi seorang, seorang jang menentukan haluan hidup kita. Dan bukan mereka, gurubesar-gurubesar jang sedang berunding didalam ! Mereka hanja menilaikan pekerdjaan kita ! Mereka perantara sadja dalam keradjaan jang dikemudíkan oleh machluk jang mahatahu dan maha- esa itu! Dialah jang sebenarnja menentukan kita mudjur atau malang dalam menghadapi soal-soal hidup umumnja dan udjian chususnja. Dan hanja dia jang tahu, benar tidak-

nja kegagalan kita disebabkan kemalangan jang menimpa berulang-ulang. Djelas padaku pemerintahan Tuhan itu sederhana pada hakekatnja. Tuhan memerintah djalan hidup kita, tetapi tidak seluruhnja, melainkan hanja bagian jang mentjuar-tjuar jang menjembul-njembul, jakni disaat kita tak berpedoman atau berkemudi. Tetapi saat itulah. jang kukuh dan terik terdjerat oleh tangannja, saat kita. tak dapat menduga landai atau tjuramkaħ djalan dibalik gunung udjian menurun atau menaik. Dan begitu pula banjak saat-saat jang serupa dalam kehidupan kita ter- genggam dalam tangannja. Saat-saat jang lain, tak perlu dikuasainja, itu mentjari penjelesaiannja sendiri seperti air gunung mentjari djalan sendiri kepantai. Diantara mereka jang gelisah menanti itu ada segelintir jang hendak menembusi tabir kesamaran itu. Ambillah si Samil! Ia menanti, bukan hasilnja, tetapi kebenaran kata- kata penasehatnja. Penasehatnja jang tiga orang itu, penasehat pribadi, - berdjabatan djuru tenung. Ketiga- tiganja telah diudjinja lebih dahulu; semua mengatakan dapat! Dan begitu Samil mentjeburkan diri dalam udjian. Kini ia menanti dengan wadjah jang tenang. Dan begitu pulalah lainnja jang tiada kukenal. Pasti djuga mereka berichtiar mendapatkan kepastian, entah dengan djalan langsung dengan menanjakan pada asissten mahaguru, entah dengan djalan jang adjaib. Demikianlah sama bim- bangnja mereka dan kita manusia umumnja tatkala kendali kereta tumpangan kita tiada lagi dalam penguasaan tangan. Seraja pikiranku melajang-lajang demikian, nama-nama golongan pertama telah disebut. Hanja setengahnja kudengar. Segera kutatapi mereka jang masuk. Mudjurlab. Lita tidak ikut! Sedjurus kemudian keluarlah mereka, dengan hukuman enam bulan. Diantaranja dua orang

mahasiswi, dengan pipi berladang air mata. Kemudian menjusul golongan tiga bulan. Lita masih diluar! Harapan- ku mendjadi-djadi. Tampak tanganku bersimbah peluh; kuamati tanganku itu, tangan jang akan berdjabat nanti! Nanti djuga! Dan bukan besok atau dihari-hari kemudian karena aku tahu dan telah merasa utjapan selamat makin tulus dan mesra datangnja bila disampaikan pada hari itu djuga, setelah pengumuman hasil udjian selesai. Makin djauh dari saat itu, makin renggang rasanja, tiada mengan- dung keichlasan, seakan-akan utjapan kehormatan, bukan kemahasiswaan. Lagi pula, hari itu djuga hendak kusam- paikan selamat, karena setelah berita lulus sampai pada telinga, mahasiswa pemudjur segera lenjap dari pandangan akan beristirahat diluar kota. Dan sesudah masa itu utjapan selamat tentu telah susut nilainja. Karena itulah kukedjar hari dan saat jang penting itu. Kesepian menggenangi para mahasiswa diluar, setiap kali sebuah nama diluntjurkan keudara. Achirnja Lita disebut namanja: May Kim Lian dan bukan Lita. Ia masuk golong-

an jang terbanjak orangnja! Kawan-kawannja. telah pura-

pura menjampaikan selamat dengan setengah tertawa. Pasti golongan itulah jang lulus! Seorang demi seorang masuk- lah lainnja, diiringi rasa gembira melihat mereka ikut tergabung dalam golongan jang kian bertambah djumlahnja itu. Achirnja semua telah masuk. Semua ? Ah, bukan,

setepatnja hampir semua! Hampir! Karena tinggal

seorang peserta diluar! Belum disebut namanja. Seorang sadja! Seorang sadjalah jang lulus? Dan golongan jang telah masuk itu gagal djuga? Orang mulai bimbang diluar. Kesepian disingkirkan oleh keriuhan. Mahasiswa jang seorang mengundjukkan tangan. Tampak ia bertanja-tanja kepada pegawai jang menjebut nama-nama. Daftar.'nama

peserta ditindjau kembali olehnja. Senjum menjimpul di- bibirnja. Kelupaan!, udjarnja. Dan begitu masuklah dia jang ketinggalan, ikut menggabungkan diri pada teman-temannja. Suasana diluar reda kembali. Keriuban menge- rut mendjadi bisikan. Tak berapa lama kemudian pintu terdorong dengan tiba-tiba. Hiruk pikuk meletus, kembali mengeruhkan udara. Tangan-tangan segera meluntjur menarik dan men- tjeraikan rambut mahasiswa lelaki. Kamar pengumuman makin kosong. Serambi muka makin sesak. Aku terdorong kebelakang, makin lama makin mundur dari pintu. Aku tjoba madju tetapi tak sampai pada tempatku semula. Aku berdjindjit mentjari Lita. Kulihat dia diudjung lain didja- batkan tangan oleh teman-temannja. Bergegas-gegas ia tampaknja disana, seolah-olah hendak menudju tangga akan pulang, lekas-lekas menjampaikan berita jang gembira itu pada orang tuanja. Dengan sekuat tenaga kutjoba menjeruak tumpukan mahasiswa jang makin padat itu. Lambat-lambat aku madju. Setiap kali aku tersompok dengan teman jang lulus; tjepat-tjepat kudjabat tangannja sambil mataku mentjari Lita jang telah lepas dari pandang-

an. Waktu sedjak aku melihatnja makin memandjang-

Achirnja siku djuga mulai kumainkan. Berhasil djuga. Sesaat aku bebas kusorotkan mataku mentjari Lita. Tak tampak ia lagi! Waktu makin mengulur. Sebentar aku. kembali menghampiri gundukan manusia jang mulai me- nipis dan memantjar. Kuharapkan Lita masih disana. Tak tampak djuga ia disana! Sambil menoleh keangka tigabelas. dengan mentjibir aku mendjelmakan keputusan dengan. langkah jang menudju tangga: Lita hendak kususul dengan sepeda! Terburu-buru aku turun melangkaui satu dua anak tangga. Sesaat dibawah kulajangkan pandang kedjalan raya.

jang djauh diluar. Sesajup-sajup mata memandang tampak gaun jang kukenal warnanja, — rose, warna gaun Lita. Kakiku makin tjepat membidik ketempat sepeda. Kutusuk- kan kuntjinja, tak mau menjingkap! Hatiku makin gelisah. Pikiran dikaburi kebentjian akan kuntji jang tak menarik diri. Kutjoba sekali lagi. Anak kuntji masuk, kuntji sendiri setengah tersorong. Kutekan dengan paksa. Dapat! Segera roda sempat berputar, telah melondjak aku keatas pelana. Sepeda mulai kukajuhkan, melalui djaga sepeda jang kutembak dengan nomor sepeda, aku sampai didjalan raya, Aku memandang djauh kedepan. Lita tinggal titik dalam lantang pandanganku. Kian tjepat aku mengajuhkan sepeda. Lambat laun Lita mulai tampak sebagai garis sejo- djana mata. Sosok tubuhnja mulai bergalur-galur didepanku. Paduan warna rose gaunnja dengan kulitnja jang putih itu bagaikan tantangan terhadap sinar matahari jang serba putih itu. Masih djauh ia daripadaku ketika itu. Tetapi ketjepatan sepedaku jang mendjadi-djadi mejakinkan aku akan berhasil menjusul Lita. Kejakinanku segera dipadamkan oleh kegelisahan, ketika djauh dihadapanku tampak pintu kereta menutup, — dibelakang Lita. Makin tjepat kukajuhkan sepeda kepintu itu, meskipun kutaksir akan sia-sia sadja. Tak lama kemudian aku sampai dipintu aral melintang itu. Mataku tak lepas-lepas memandang Lita jang makin ketjil kelihatan mendjauh. Aku mengerutkan bibir kebentjian, melihat kereta api belum djuga mendekat. Kiri kananku kendaraan- kendaraan bermotor makin lingkup datang. Derum motor Jawa berpaduan dengan teriakan Kreidler dibelakangku jang segera ditingkah irama B.M.W., semuanja menjatakan ketidak sabarannja dalam lagu bawaan tehnik. Bajangan Lita djauh didepanku makin kabur djadinja;

achirnja tatapanku kehilangan faedahnja. Dengan girang hati kuikuti lalunja kereta api jang tjepat datang mengge- muruh dari kiri; peluit induk kereta api lantam bunjinja serta ngilu sampai ketelinga. Tak murni bunji itu, tertjam- pur bunji lain, jang sama ngilunja, tetapi tak datang dari kereta api, melainkan djauh dihadapanku sumbernja, dari tempat jang litup bagiku karena kereta api jang lalu. Tanganku menggosok-gosok pegangan kemudi, tak sabar menanti saat berangkat. Tetapi pintu belum djuga mem- buka, karena menanti kereta api jang lain. Maklumlah, dikota besar, pertemuan dua kereta api jang bertentangan djurusan perlu disaksikan umum. Aku tjoba menaruh sabar seraja mengamati tanganku. Telah lengas tangan itu, tangan jang akan berdjabat nanti, menjalurkan perasaan dari hati nurani. Dan kupastikan : bagaimana, djuga, akan kudjabat tangan Lita nanti, didjalan djuga dan bukan di- rumahnja, karena rumah serta orang tuanja masih asing bagiku, belum kukenal dan belum pernah kusinggahi. Tengah aku dilamun bajangan jang bahagia itu, kereta api datang dari kanan. Gemuruhnja memekikkan telinga, tetapi tiada terasa para penanti karena semuanja menjong- song saat pintu kereta api terbuka. Sesaat aku sanggup menjuruk pintu, roda sepedaku mulai berputar. Bunji-bunji klakson ramai mentjampurkan diri, masing-masing mentjari pembebasan. Tetapi mataku terus melihat kemuka. Dengan giat aku mengajuh. Madju ! Landjut menempuh djalan jang menudju rumah Lita jang masih djauh itu. Lita belum djuga tampak. Kemudian pandanganku terarah. Aku mulai ragu-ragu. Rasa bimbang mendjadi gelisah. Kegelisahan makin menggelegak. Makin dekat aku. Dekat kesatu tempat itu, tempat orang banjak berkerumun dekat dua buah mobil. Lita? Benar Lita? Ah, mustahil! Telah djauh ia,

tentu ! Dan bunji jang ngilu tadi ? Aku turun dari sepeda. Sepeda kutuntun mendekati kelompok manusia. Kegelisah- an mendjelma mendjadi kekuatiran. Pandangku melekap pada mobil-mobil, mentjari orang jang tertimpa kemalang- an itu. Aku mendekat. Makin mendekat. Makin njata aku mengenjara suasana jang siap menanti untuk menjerapi diriku. Tiba-tiba mataku tertantjap. Darahku tersirap. Tak lagi kurasa sepedaku bersandar padaku. Mataku melingar, gelisah hendak mengelakkan bajangan jang satu itu : Lita diangkat kedalam mobil ambulans dengan darah jang limpah mentjutjur dari telinga ! Masih sebentar kulihat gaunnja jang rose, habis disalami debu djalan; kemudian pintu menangkup dan roda mobil berputar. Berselirat datangnja kedjadian-kedjadian itu kekepalaku. Seakan-akan otakku belum tjukup dewasa untuk mentjer- nakannja. Perasaanku timbul menderas hendak menumbuk- kan batu pikiranku. Lita hendak kususul djuga kerumah sakit. Sekarang djuga, hendak kuketahui keadaannja ! Aku memandang tanganku. Harus! Akan aku berdjabat! Tetapi pikiran menerkam diriku lagi. Orang tuanja! Harus kuberi- tahukan segera, meskipun belum kukenal mereka! Sebentar aku diam terdiri dengan satu kaki bertumpukan pedal. Antara dua itu aku dibuaikan : Lita, — atau orang tuanja, perasaan atau pikiran. Achirnja kuputuskan jang terachir : menjampaikan kedjadian itu pada mereka. Sengadja tak segera aku kembali kerumah sakit setelah kuberitakan kedjadian itu pada mereka. Mereka sangat kasih padanja, lebih-lebih ajahnja; itu kubatja pada wadjah mereka. Dugaanku, tentu lama mereka tinggal dirumah sakit. Itu sebabnja kutahan-tahan keinginanku mendjumpai dia. Begitu aku menanti dirumah sakit, dekat pintu muka; menanti saat orang tuanja keluar. Lama aku menanti

disana. Waktu memang kedjam disaat-saat itu. Achirnja kulihat mereka keluar. Segera mereka lenjap dari pandangan, kakiku mengajun menudju tempat ketje- lakaan lalu-lintas biasanja diperiksa. Kutanja : Lita ↑ Tak kenal! Aku membetulkan : May Kim Lian ! Benar, ada ! Tetapi dikamar bedah! Kamar bedah ? Ladju kakiku membawa badan kesana. Kutanja lagi. Memang, ada disana. Dan keadaannja? Perawat tidak mendjawab. Dokter-bantupun tidak. Dan pintu kamar bedah jang rapat menangkup membisu pula ! Perasaanku memuntjak, Hendak kulanggar pintu itu. Tetapi, aku rela menanti. Menanti lagi. Menanti kesudahan peperangan dua lawan abadi: hidup dan mati. Tak ingat aku lagi berapa lamanja aku duduk tertjenung dibangku dekat kamar bedah itu. Tadinja, hanja beberapa

Mekar karena Memar 5

djam sebelumnja masih kulihat dia : Lita denga matanja jang manis memutar-mutar kegirangan, dengan gaunnja jang rose sesuai dengan keelokan warna kulitnja, dengan suaranja jang tinggi lunak kegadisan. Dan semua keelokan. lahir itu makin bernilai djadinja, karena kekuatan jang bersirat dalam batin dan tersurat dalam idjazah jang baru diperolehnja. Kini tak lagi kulihat semua itu, tak lagi kudengar suaranja jang lunak itu, hanja satu jang tertanggap olehku: bau obat jang merangsang, menjerak-njerakkan. kemurniannja kesekitar kamar bedah. Tangis kanak membangunkan aku dari renunganku. Pernah kudengar tangis sematjam itu, diwaktu mengikuti. kuliah ilmu sinar diruang kuliah ilmu bedah. Dahulu redam-redam sampainja tangis itu ketelinga; dari kamar bedah asalnja, dari pisau, daging dan darah. Tak mempan lagi tangis itu dalam hati gurubesar. Kata-kata jang di- dentumkan oleh mulutnja memusnahkan teriakan anak ketjil itu. Tetapi tiada demikian chasiatnja bagi beberapa orang mahasiswa diruang kuliah. Mereka ikut merasakan tangis itu. Ikut mereka bajangkan dalam air muka mereka jang mengerut kepedihan. Aku tahu ketika itu, mereka gadis, dan aku hormati kewanitaan asli jang masih mereka miliki itu. Dahulu aku sendiri tak peka bagi tangis itu. Baru disaat itu pedih terasa olehku, pedih menjajat hati. Tengah aku terkenang akan masa jang lampau, perawat jang tadinja ikut masuk membantu operasi, menjembulkan diri diambang pintu. Tjepat-tjepat aku menemui dia. Tak boleh aku menengok Lita, katanja, biarpun aku mahasiswa. Dan keadaannja ? Tak mungkin ditetapkan atau diramal- kan! Aku tak puas, malah bentji. Kutinggalkan dia. Segera. aku menjusul dokter-bantu jang datang dari kamar bedah. bergegas-gegas keluar. Lebih lunak sambutannja. Sebaiknja.

aku djangan mengusik, hendak tjepat-tjepat mendjumpai Lita. Dan keadaannja ? Itu sulit dipastikan! Umumnja baik, malah sangat memuaskan untuk operasi jang seberat itu. Sebaiknja besok sadja aku kembali ! Besok sadja, udjarnja sekali lagi, tentu lebih baik keadaanñja. Lihat sadja ! Aku kembali esoknja. Kerumah sakit. Kembali aku melangkah diatas gang-gang jang litjin lantainja, jang makin menjilaukan mata karena pantulan sinar matahari. Pandjang-pandjang gang itu, menghubungkan gabungan kamar-kamar jang satu dengan jang lain. Kali itu aku merasa gang-gang itulah jang mentjiptakan suasana jang chas bagí rumah sakit; serasa dalam langkah jang njata membunji itu digemaskan suka-duka para· pengundjung. Pelahan-lahan langkahku. Tertahan-tahan. Kulampaui kamar bedah. Landjut aku ketempat Lita dirawat. Berhenti aku disana. Sebentar sadja, tjukup lama untuk mendengar- kan tutur kata perawat. Kemudian kakiku melangkah lagi. Kembali melangkah kearah sana. Kembali aku mengenjam suasana jang telah kukenal itu. Kembali aku mendengar bunji jang satu itu. Mula-mula redan, lambat laun makin njata. Aku mentjibir hendak mentjela bunji itu. Aku mentjibir lagi, mentjela bajangan jang melintasi ingatanku: angka tigabelas ! Aku menatap tudjuan dihadapanku. Kembali kudjumpai muka jang berkedąk itu. Kembali aku berbitjara dengan dia. Kembali dia mendahului aku kekotak-kotak jang berpintu berat itu. Kembali dibukanja satu diantara duabelas pintu itu. Dan achirnja kembali ia menarik lapik isinja keluar. Disanalah aku kembali bersua dengan dia! Dia! Lita, jang takkan kembali lagi, takkan berdjabat tangan lagi, njawanja berpisah dari tubuhnja
pada malam jang telah lampau .....

Derum mesin pendingin gemuruh mengisi seluruh

ruangan hingga tjakap orang sukar sampai ketelinga. Kupandang tanganku. Kutilik tangan Lita. Terbuka tangan- nja, terulur djarinja, seakan-akan ręla menanti djabat tangan jang belum dirasakan itu. Sekali lagi kupandang tangan itu; tangan jang tak akan berdjabat sesama tangan sedjak menjentuh idjazah kesudahan itu.

Aku menggamit sidjaga untuk menutup pintu. Mesin

pendingin tetap menggemuruh, bagaikan teriakan perpisah- an dari dunia baka. Kesepian antara sidjaga dan aku mulai senak terasa. Kemudian ia berseru dengan lantam : — Mahasiswa, ja tuan ? — Benar! kataku dengan pendek. — Kasihan benar. Dulu sering kelihatan disini, udjarnja pula. Tak kulandjutkan pertjakapan. Tak perlu rasaku. Tak ada hasrat padaku akan melaung untuk menguasai bunji mesin pendingin itu. Aku larat pikiran dan kedjadian jang mendadak sontak itu tjukup dajanja mendiamkan aku. Aku pulang menebusi bangsal potong jang tak berisikan orang ketika itu. Hampa rasanja disitu. Lengang suasana- nja. Tiada kudengar bunji jang chusus itu : gemerentjing pisau dan pinset jang djatuh. Tiada pula kulihat Lita dengan djas dokternja berdjalan kian kemari mengudji ditiap-tiap medja. Lebih hampa dan lebih lengang rasanja bagiku. Bunji mesin mulai sajup-sajup sampai ketelinga. Bunji jang sedjak saat itu kubentji.

CON SPIRITO

halaman terachir dari buku hidupnja. Sesudah itu tak ada halaman lagi untuk dibatja selain kertas sampul jang me- njudahinja. Begitupun dalam sesuatu kisah atau gambar hidup. Saat pelaku utama meninggal, berachir pulalah tjeriteranja. Dan perhentian itu tiada dianggap aneh, melainkan diterima oleh pembatja dan penonton sebagai sesuatu jang sudah sewadjarnja terdjadi. Bagiku tidak! Tjeriteraku tidak dilahirkan karena semua jang teiah kututurkan. Djika itu jang kumaksudkan dengan »perkenalan dengan harga manusia", maka hanja dua kemungkinan jang benar : kepala karanganku tak lengkap atau kisahku tak sempurna. Aku berkenalan dengan harga manusia, — jakni lahir maupun batin. Lahir telah kuadjak saudara, dalam perkenalan itu. Batin belum. Dan djustru dalam halaman-halaman_ jang menjusul ini, aku harap dapat membimbing saudara kepada penilaian harga batin itu. Semua jang tersirat dalam batin sukar untuk dikalam- kan. Itu hanja untuk dirasakan sendiri. Begitu pula tak akan kupandjang lebarkan kedjadian-kedjadian — kalau boleh disebut demikian — jang menjusul, sedjak Lita ber- pisah dari dunia kita. Hanja seruan pada batinku akan kutjoba mendjelaskannja dan seruan dari sesama manusia

jang telah mendahului kita itulah kuharapkan akan meresap sampai kehati nurani saudara.

Sekalipun dahulunja-pada hari pertemuanku dengan Lita — aku membanggakan diri ahli bedah, sekali-kali tak kukandung niat akan mengchususkan pengetahuanku kearah ilmu bedah. Bunji ahli bedah" hanja pahlawan dalam pikiranku, pahlawan dari buku-buku tjeritera kedokteran dan lajar putih. Tetapi dalam kenjataan dan kebenaran, ilmu bedah sebagai pengetahuan jang penuh perintjian itu tidak segairah kegagahan jang terpantjar oieħ pelakunja. Aku benar-benar tak akan dan tak mungkin

djadi ahli bedah, itu kupastikan muia-mula. Dan makin aku

madju dalam ilmu urai makin jakin aku akan keteguhan

pendirianku, karena ilmu urai merupakan dasar ilmu

bedah. Alas itu keras kekenjalannja, terlampau keras untuk tjepat-tjepat diluluskan pada akal. Orang ada jang gila

perempuan, tetapi mustahil djadi gila anatomi. Kebalikan-

nja adalah biasa : orang digilakan anatomi. Djika seseorang telah meninggal, ia akan kembali dalam bentuk djiwanja jang melajang-lajang diatas permukaan bumi, demikianlah anggapan sebagian orang. Dan kita dapat berhubungan dengan njawanja -melalui seorang jang peka lagi lajak untuk menjalurkan kata-katanja. Orang sematjam itu disebut medium dan ichtiar untuk menjempat- kan djiwa itu turun, seance. Aku tak kenal medium dan tak melakukan seance. Tetapi semendjak Lita meninggal, kurasakan adanja

sesuatu jang menekan perasaanku. Sesuatu itu sudah tentu

bukan benda atau manusia. Tak mudah dikatakan hakekat- nja, hanja satu jang kurasakan : sesuatu itu menekan tak suang-suang, menuntut agar ditjarikan pembebasan dan

pelaksanaannja. Tiada kudengar bisikan orang, tiada

kulihat bajangan Lita jang chajal, tetapi hanja satu itu jang kurasakan ! Terlampau njata ! Dan sebenarnja baru sekarang aku sanggup menguraikan sesuatu itu. Aku tahu sekarang, pikiranku jang terubah diwaktu itu, hingga terarah. Terarah pada satu itu: hasrat jang hangat, terbitan lubuk hatiku akan berdjabat tangan dengan Lita telah diluiuhkan oleh aral melintang. Tetapi inilah jang kurasakan sebagai pembebasan'tekanan djiwa itu. Lita menjedía- kan gantinja! Pengganti djabat tangan didunia jang baka ini! Jakni : mengikuti djedjak djalan jang ditempuhnja dalam mendjundjung tinggi nama ilmu jang diselaminja. Itu jang deras kurasakan sebagai tuntutan dan harapannja! Deras mengarahkan dan meladjukan segala keraguan jang terkatung-katung. Pengelolaannja lapang terbentang dihadapanku. Bagian ilmu urai nembutuhkan ko-assisten beberapa orang; jang diterima ialah mahasiswa jang telah selesai dengan sepertiga bagian, sedangkan aku telah menjudahi lebih dari setengahnja. Antara desakan dan dorongan letakku diwaktu itu. Seruan dan desakan bati nurani ditandingi dan undangan mendjedjak djalan Lita. Lama kupikirkan matang-matang. Achirnja kuputuskan, kutjeburkan diri dalam ilmu urai. Begitulah mulai aku menjelesaikan pemotongan sisa badan diwaktu libur besar bersama-sama teman-temanku. Mula-mula tak hangat aku bekerdja. Namun berkandjang djuga berkat dorongan batin jang kuat itu. Aku kagum ketika itu, betapa kuat dan kekalnja seruan manusia jang telah meninggal dapat mengarahkan tudjuan hingga ku- tempuh djaian jang mulanja sama sekali tak terangan olehku. Dan itulah, terik-sorak suatu djiwa dari dunia jang baka kepada machluk didunia fana, kutakdjubi setiap kali

Lita terkenang olehku. Mulai meresap dalam hatiku, baru disaat itu aku berkenalan dengan harga manusia sepenuh- nja; dengan harga sesuatu jang djauh melebihi harga Iahir, jakni harga batin. Banjak manusia meninggal tiada dengan mewariskan sesuatu benda djuapun, tetapi mereka sekali- kali tiada untuk dialpakan. Lahir, mereka dan kita sampah; tetapi batin, siapa tahu mereka kaja!! Kekajaan batin tak dapat ditimang, ditaksir atau ditimbang dengan njata. Dan siapa tahu diantara mereka jang telah mendahului kita ada sumber harta batin jang telah atau akan berchasiat sebagai pertjikan ilham, semangat atau gertak pendorong bagi sesama manusia jang masih hidup? Batin! Benarkah masih ada harganja sesudah hidup? Aku tahu sekarang; aku sadar harga manusia itu terletak dalam batinnja. Batinnja jang tiada tersurat tetapi tersirat. Batinnja jang tak dapat diuraikan dengan pisau dan pinset, melainkan padat menggumpal sebagai kekajaan kekal jang hanja untuk di- tambah dan tiada untuk disusutkan seperti tubuh kita jang makin terhisap kekuatannja itu. Dengan begitu sesaat manusia meninggal ia terlibat dalam dua rahasia. Rahasia jang satu terbuka, jakni rahasia dirinja sebagai tubuh. Kematian sesama manusia adalah saat untuk menjadarkan bahwa rahasia jang kita sangkut pautkan pada harga kita sebagai tubuh, kepada ketjantikan, kemontokan ataupun ketegangan dan ketjakapan, bahwa semua itu semu-semu dan palsu belaka. Rahasia jang lain tiada terbuka, melainkan tertutup. Rahasia itu adalah rahasia batin jang tiada mungkin diketahui harganja, tak dapat dipastikan nilainja oleh para pengurai tubuh, tetapi hanja diketahui oleh dia sendiri, dia jang meninggal. Malah, mungkin lebih rapat rahasia itu menangkup hingga dia sendiri tak mengetahui dan baru sesudah matinja disadari

oleh segelintir kawan hidupnja jang memperkaja dirinja dengan sumber kebatinan teman almarhum itu, Sebulan setelah aku selesai memotong tahun peladjaran baru mulai. Aku mulai melakukan pekerdjaan Lita dahulu: keliling bangsal potong, mengudji sana sini, menjuruh menggambarkan potongan melintang jang mendjemu- djemukan; dan semua itu harus kutokok dengan pengetahu- an berkat kursus hafal rangkap potong jang kuselesaikan dalam dua bulan libur besar itu. Sikapku masih atjuh tak atjuh. Belum lagi aku tertarik pada majat-majat jang mendjumpai pandangku setiap hari. Majat bangsal potong tak asli lagi bentuk warnanja: tak lagi tampak denjut djantung atau pembuluh darah, darah bukan merah mentjair melainkan hitam menggumpal, otot telah tengguli tjampur hitam, kulit lebih tua warnanja, sedangkan lemak telah hilang kekuningannja. Semua itu seolah-olah hilang kemanusiaannja, serasa manusia buatan jang disusun dari serat-serat kaju dan gading. Satu tahun lamanja kulihat manusia sebagai hasil buatan itu. Dan seluruh satu tahun itu satu saat bagiku. Satu saat dalam deretan pameran manusia dibadapanku. Dalam masa per- mulaan jang mematangkan aku untuk mendjadi ahli bedah, tiga saatlah jang mendjelang kesudahan itu. Dan saat jang telah kututurkan itulah saat jang pertama bagiku, saat kulihat manusia dalam bangsal potong, manusia dalam dua warna itu : tengguli dan kuning keruh. Kemudian datanglah saat kedua. Pada suatu hari kami, para ko-assisten, dikerahkan untuk menjuntik majat dengan air keras. Bukan majat biasa, tetapi majat segar jang baru mati duabelas djam. Seakan-akan masih hidup majat itu, demikian indah warna tubuhnja 1 Jakni majat orang Inggris dari salah satu bank besar. la telah bunuh diri

dikamar mandi dengan sajatan pisau tjukur jang lebar membuka setengah lingkaran lehernja. Majat itu hendak dikirim kembali ketanah airnja, karena itu diminta supaja diawetkan badannja. Dari kami hanja seorang jang menjuntik. Lainnja, ter- masuk aku, memperhatikan sadja. Mahaguru memberì petundjuk. Jang ditjari: pembuluh darah didalam paha dekat daerah kemnaluan jang telah bersih digunting. Aku berdiri mengamati majat itu. Mengamati kegairahan t Darah jang telah beku mengaburi luka jang lebar itu. Aku kagum, bukan karena selebar itu lukanja, tetapi kareną wamanja. Darah merah warnanja, setiap orang telah maklum, tetapi kemerahan jang dipantjarkan diatas dasar kulit kuning Inggris itu merah keapi-apian. Hidup warna itu, seakan-akan berbitjara. Njata kulihat lcmak disaat itu sebagai lemak kuning! Alangkah indahnja paduan warna tubuh manusia itu: kuning, tengguli muda dan merah tjemerlang ! Kemudian otot terpotong dengan warnanja jang asli merah kekuning-kuningan, Landjut dan makin dalam temanku menoreh. Itu dia !, seru seorang teman. Dan benarlah; dileınbah kuning jang dibentuk oleh tumpukan otot-otot, samar-samar sebuah garis jang merah kekuning-kuningan menaınpakkan diri dengan anat malunja, bagai- kan gadis tjantik jang pura-pura membuang muka hanja untuk memaksakan para pentjari agar berdaja upaja akan mendapatkannja. Terlena aku mengagumi keindaban warna-warna itu. Setelah djarum suntik menemui pembuiuh darah, kembali kulajangkan pandang kebagian atas tubuhnja. Halus tengguli merah rambutnja seperti rambut anak ketjil; dan semua warna itu mengalimantang lagi karena matanja jang

biru tjampur kelabu. Aku merasa saat itu membawa ke- baruan bagiku. Mulai kuresapkan keindahan tubuh manusia dalan tata-warna. Aku pulang hari itu dengan satu kepastian akan bertekun aku dalam ichtiarku mem- perdalan pengetahuanku tentang ilmu urai. Sebenarnja, baru mulai saat itų aku bekerdja dengan semangat. Dengan senangat kataku dan bukan dengan giat. Kedua itu memang lain. Orang dapat bekerdja dengan giat digertak oleh sesuatu jang terletak diluar dirinja. Mudah orang giat bekerdja sehabis beristirahat dengan kenjang atau karena bajangan gadji jang akan meninggi atau pula karena didorong perasaan tak mau ketinggalan dengan sesama rekan. Tetapi semua kegiatan itu tak lama njalanja karena ada sebabnja dan sebab itu terletak diluar djiwa. Bekerdja dengan semangat adalah lain. Itu tak dapat ditemukan sebabnja diluar, tak dapat diuraikan mengapa- nja, karena semangat adalah satu padu dengan djiwa raga, padat menggumpal dalam hati sanubari, tak untuk dipisah- kan dari kita manusia sebagai kesatuan, melainkan hangat menggelora dengan njala jang tak kundjung padam, tak kenal padaman air. Saat jang terachir, jang ketiga, sebenarnja datang setelah keputusanku mendjadi ahli bedah, tertjapai. Setahun setelah lulusku untuk udjian tingkat tiga, aku mendjadi sematjam pelajan dibagian pembedahan. Pelajan katąku, dan bukan assisten. Aku mulai dengan melakukan peker- djaan sebagai pelajan terhormat dirumah sakit, jakni membersihkan alat-alat potong, kemudian meningkat mendjadi perawat hingga boleh kusampaikan instrumen pada ahli bedah diwaktu operasi, dan achirnja, sedjadjar dengan kemadjuan pengetahuanku tentang ilmu bedah aku diperbolehkan mengamati operasi dengan teliti, tanpa

membantu. Dengan itu aku telah puas; aku lihat pembuluh darah sebagai bumbung jang dapat mendenjut, saraf sebagai kalung emas jang tinggi nilainja, kudengar nafas pasien menjesak dan gairah kuikuti djarum pengukur tekanan darah menurun dan menaik. Pendek kata kulihat manusia itu hidup, hidup dengan segala keindahan warna- warnanja dan sedap menambat mata. Sedari saat jang ketiga itu, perahu tumpangan niatku mudah ladju kepulau harapan: mendjadi ahli bedah ! Tiga saat jang berturut-turut itulah mematangkan aku untuk mendjadi ahli bedah. Dan sebenarnja tiga saat itu dapat saudara bajangkan sendiri dengan tamsilan seni gambar, meskipun saudara bukan mahasiswa kedokteran. Pernahkah saudara melihat foto jang indah dari pantai laut diwaktu matahari terbenam? Indah bukan? Njata terlihat pohon njiur meliuk, melambai-lambaikan daunnja kena hembusan angin laut jang bersilir-silir, ditandingi keindahan air laut jang meriak-riak, dan semua itu dinaungi tedja jang membabarkan kemerahannja dilangit biru. Tetapi, sekarang aku bertanja, bagaimana saudara melihatnja pada foto itu? Diatas dasar hitam putih? Djika demikian, itulab sama dengan saat jang pertama bagiku saat kulihat manusia dalam dua warna. Benar, gambar itu indah, tetapi tidak asli, melainkan buatan. Kemudian saudara berichtiar memperindah foto itu. Saudara melihatnja dengan warna. Makin mendekati kebe- naran tampaknja, makin asli, makin gairah. Laut tampak biru, matahari merah tjampur kuning, langit biru tjampur merah dan daun pohon hidjau kekelaman. Bajangan itulab setaraf dengan saat kedua bagiku. Achirnja saudara meningkat kepada saat jang ketiga. Belum puas djuga, saudara pergi melihat dengan mata.

sendiri keindahan alam ditepi laut diwaktu matahari ber- pisah dari muka bumi. Bukan lagi gambar jang terlihat,

melainkan kebenaran dan kenjataan. Kesedjukan angin

saudara rasa! Air laut saudara lihat bergerak! Angin ber- silir-silir saudara dengar! Dan semua keindahan itu akan saudara rasakan tak untuk dipandang sadja tetapi lebih dari itu: untuk diresapkan kedalam hati nurani! Tahu aku sekarang, andaikan Lita tiada memotong garis hidupku, tak sampai aku djadi ahli bedah. Dan itu tak

perlu disedihkan. Tetapi satu ini jang pasti kusesalkan:

djika tiada karena Lita, aku tak lengkap berkenalan de- ngan harga manusia, lahir dan lebih-lebih batin.

PUDAR MENDJELANG KILAU

Djangan lepaskan aku ! Dimana aku ?? Masih di Djakarta ! lipur Herman. — Lekas tolong, ah! teriak Gloria makin keras. Ditolongnja tjepat; dilepaskannja tak segera. Perlu di- anggapnja tangannja mendjerat pinggang jang langsing itu dengan lama, sebelum mendudukkannja ditepi kolam. Terhentilah peladjaran pertama dalam gaja dada. Rekor tak ada jang dipetjahkan. Hanja tertjatat telinga Gloria sebu kemasukan air. Amat asjiknja ia berganti-ganti me- nepuk menelengkan pelipisnja. Herman tak lepas-lepas memandangnja. — Mengapa kau lihat-liha-a-a-at aku sadja! udjar Gloria.

I

bajangkan dua pasang kaki berdekatan. Jang sepasang tegap lagi lebat berambut kasap. Jang lain, halus lentuk, menipis dari montok sampai ramping. — Mari kutjekak pinggangmu! usulnja. — Moh! dia menolak. Ajolah, tak kuapa-apakan! tjobanja pula. Emmoh ! dia menekan pula. — Malu² kutjing atau djinak-djinak merpati ? Gloria tidak mendjawab. Pandangannja jang tertukik kebawab, tjukup membajangkan rasa malunja. Masih enggan dia sebentar. Kemudian didekatinja Herman dengan sikap tak atjuh; lalu mengizinkan. Apa gunanja takut? Kaki kan masih kena dasar disini ! lipurnja. Mulailah dia memimpin: Sebar .. tutup .. satu. dua .. djangan
.... takut ... satu ... dua. Djangan miringkan badan;
tak ladju nanti! Sebar .... tutup .... ja, begitu. Tahan
lima puluh kali. Aku mulai hitung. Satu ..... dua ....
tiga em-pat li-ma li-ma li-ma.
e-nam .....
Penuh dengan tekun Gloria mentaati. Sebaliknja, Herman selalu bergirang hati dapat menakut-nakutinja. Kali itu ichtiarnja segera berhasil teriakan :

Mekar karena Memar 6

— Kau memang tjantik ! selang Herman. — Bosan dengar itu! djawabnja pura-pura membuang muka, lalu lebih asjik menjugar rambutnja. Herman menatapnja kegairahan. Tak terperikan bahagia rasanja dengan gadisnja itu. Lebih-lebih djika disegarkan oleh pandangannja jang selalu hidup penuh njala. Kelunak- an kulitnja jang kuning langsat menambah ketjantikan mukanja jang sedap berhidung mantjung. Digambar potret barulah ternilai ketjakapannja mengambil sikap jang keletah menambatkan mata. Dalam badju renang lebih djelas tampak, dadanja djauh dari datar. Malah sebaliknja manis menegang lagi menguntjup dengan amat segarnja. Membuat gaun jang sesuai lagi sederhana bahannjapun membenarkan sifat keaslian kelaminnja. Malah, pernah tjiptaannja dari gadis delapan belas tahun dipamer- kan dalam suatu modeshow dengan sambutan pudjian dan tiruan. Tak ditambahkannja gaun itu disadurnja dari kutipan National Bellas Hess". Dibanding dengan gadis jang demikian kaja gaja, Herman belum boleh memudji dirinja sebagai pemuda jang tak bertimpalan. Dagunja jang terlampau kukuh dan giginja jang besar² tegap. Tjambang dan kumis piaraan, lengkap dengan suara jang garau tjukup gagah mewakilkan umurnja jang duapuluh enam tahun itu. Sisa mukanja djuga tjukup menarik. Ditambah dengan sepasang bahu jang lebar, pantaslah dia dibajangkan sebagai dokter jang matang harapan, meskipun, kalau mudjur, tinggal setahun lagi ia beladjar. Tubuhnja jang tegap tinggi benar-benar sesuai dengan kendaraan kebanggaannja. Selalu hemat dipakainja dan lengkap diutjapkannja: B.M.W. limaratus cc; dengan segitiga tanda dokter disepatbor muka. Mengatakan ia pendiam agak berkelebihan; kalau

periang ia tak selalu. Sifatnja memang tjampuran dari kedua itu, sekalipun lebih tjondong kekesungguhan. Kadang-kadang tampak ia berdanguk tertjenung memi- kirkan sesuatu, kadang-kadang pula bangkit bergurau ia. Begitu pula ketika mereka menudju pintu keluar sehabis berpakaian. — Kita pulang dengan ... eh, dengan bis sadja? Gloria bertanja. — Dengan Volkswagen sadjalah! djawabnja. Segera Gloria tersenjum gumam melihat Herman memang- gil betjak. Senjumnja luntur ketika merasakan lengan Herman dibelakangnja waktu duduk. Sikap rintisan itu ditjoba dilupakannja sambil menjindir : — Sebelum kukenal kau, atjap kali kudengar gadis-gadis menjebutmu dengan djulukan Kisman. Kata mereka djuga, kau gila gadis dulu ! — Gila gadis? Mana mungkin! Aku hanja gila Gloria! djawabnja, belum pikir elakan jang tepat. Gloria berpalis, pura-pura mentjibirkan bibir. Herman menjambung : — Mana pernah aku gila gadis ! Gadis hawa bagiku ! — Oh, begitu; hanja hawa ? senjum Gloria.
— Betul! Hawa! Tapi ..... akupun tak sanggup hidup
tanpa hawa ! Senjum pindah kepihak lain. Segera Gloria menekan : — Tetapi djulukanmu djustru Kis-man ? Mengapa ? — Jah, mengapa ! keluhnja tanpa beri djawaban. Muka Gloria luntur keriangannja. Pandangan Herman berubah. Matanja mentjari-tjari djauh. Mukanja menjuram. Per- hatiannja terpaku pada satu perkataan itu: Mengapa ? Selalu dirantaikannja kata itu dengan kesedihannja jang satu itu. Gloria diam tidak berkutik. Berkali-kali sudah

dilihatnja Herman begitu, dengan muka jang sama. Setiap kali ia membisu sadja, tak berani bertanja. Masih sebentar mereka terpaku diam, kemudian kembali tutur bergelut dengan tawa tjampur gurau. Djalan jang buruk berbatu-batu pandjang, tinggal dipudji sebagai pembawa buaian jang sedap merapatkan. Tak lama kemudian sampailah mereka. Djadi sampai besok ? — Sampai besok! Gloria mendjandjikan. — Dimikroskop B 31 ? — Dimikroskop B 31 ! angguk Gloria seraja senjum pengertian menjimpul dibibirnja. Sampai dirumahnja, djauh didaerah Kota, Herman ter- tawa dalam renungan. Lima bulan sudah ia dalam pergaul- an dengan Gloria. Dalam waktu singkat pengertian tumbuh tjepat. Terlalu tjepat sebenarnja djika dikenangkan dia jang mendahuluinja: Trisno. Trisno jang dilihatnja mengadjak Gloria dengan mobil, sedangkan dia sendiri sengadja datang bersepeda ketika baru berkenalan dengan Gloria itu. Memang, apa sulitnja mengadjak gadis dengan mobil, djika ajah sendiri mempunjai perusahaan mobil. Dan siapa pula tertjengang kalau sianak terkenal karena bermuda- muda sadja ! Trisno, tukang minum, djago dansa, djuara bitjara. Gadis mana tak takluk padanja. Dia dengan gajanja dan hatinja jang murah itu. Saat itu Herman masih rendah hati, meskipun tiap pagi gagah sudah stetoskop tergantung dileher, djas dokter bersih lekat dibadan dan pasien penuh hormat memandang kepada dokter muda ini. Nah, itulah gandjaran tudjuh tahun berkandjang! Mahasiswa rendahan memandang dia tinggi; mahaguru memandang baji; pera- wat memandangnja sebagai djongos terhormat dirumah sakit. Namun diluar sana orang memastikan dokter tak

kenal susah, tak mungkin derita, tak pernah rugi. Dokter dan ilmu mendjadi arti kiasan dari jang sebenarnja: rumah, mobil, uang, dan jang terpenting pekerdjaan jang beraturan, tak sepi dari penghasilan. Damai atau perang, Barat atau Timur, siapa tak perlu dokter? Badan-badan asuransipun tjinta dokter! Dan siapa heran? Bukankah umum meman- dang dokter sendiri sudah djaminan? Ja, djaminan! Itulah sinonim dari dokter. Dan selalu manusia berichtiar dalam hidupnja untuk tinggal dekat djaminan. Tetapi dia, Herman? Djaminan? Alangkah indahnja djika itu dapat dibenarkannja. Tidak ! Baginja bukan djaminan lagi, sedjak hati sanubarinja tertembus jang satu itu. Jang satu itu; jang membuat setiap langkahnja, hidupnja terasa berat; rahasianja jang tak membawa kebahagiaan; rahasia jang
mengenai dirinja sebagai manusia .....
Tadi tersinggung lagi tambatan laratnja. Mengapa? tanja Gloria. Selalu dihubungkannja perkataan itu dengan dirinja sendiri. Mengapa ia pilih djadi dokter? Untuk semua jang dibanggakan umum ? Ah, itu rela mau ditinggalkannja. sekarang! Apa perlunja, djika tak dapat mengobati diri sendiri ! Mengapa ia tidak pilih djalan jang lebih seder- hana, tak usah tinggi-tinggi. Kalau tidak, tentu sudah sama ia, senilai ia dengan siapa sadja, dengan manusia biasa, ja, djuga dengan Trisno! Dan sekarang ? Benar senilai ia, malah djauh lebih banjak. Tetapi itu dalam pandangan
Gloria, hanja karena ia belum tahu .....
Namun dia tak boleh sedih. Besok ia sudah akan ber- djumpa dengan Gloria lagi. Dan sebagai assisten ilmu tumbuh-tumbuhan. Gloria sebagai gadis segar lulusan.

S.M.A. Dan diantara mereka: mikroskop B 31. Mikroskop, tempat lahir sedjarah perkenalan mereka, dengan djasanja jang besar itu: mempersuakan dua manusia. Dan dengan

daja apa? Tanpa lensa-lensa pembesar; hanja dengan pandangan mata. Seperti biasa pada praktikum, disitulah Gloria dapat dikaguminja. Dengan rambutnja jang halus elok tergerai sampai kebahu; dengan djari-djarinja jang halus lotjos menggambarkan sekumpulan sel. Dan dia akan berdiri dibelakangnja. Pura-pura membetulkan gambarnja, padahal mentjari alasan untuk tinggal bertjakap-tjakap. Dan selesai menggambar semua mahasiswa akan menanti-nanti dide- pannja atau assisten lainnja. Sabar-sabar menanti tanda-tangan, jang begitu perlu untuk boleh pulang. Dapat di- tahannja mereka sekehendak hatinja; sebentar atau lama, pura-pura udji ilmu. 'Kepada Gloria tentu akan diberikannja tanda tangannja dengan begitu sadja: tanpa udji-udji dan sebaliknja dialah jang harus menunggu.

II

— Djadi kau tak mau ikut? tanja menjergah, sambil mengamati Gloria asjik meneropongi mikroskop keesokan harinja. Sudah kudjandjikan aku ikut pada malam Dies, bukan malam ini ! — Itu baru lima hari lagi! Herman menjelang. — Tak peduli aku kapan; apa jang kudjandjikan kutepati ! Pandangan Herman jang melingkar-lingkar kebentjian tertantjap pada gelang tangan Gloria, pemberian Trisno setahun jang lalu. — Rupanja masih sadja ada jang menghalangi!! dimun-

tahkannja dengan garangnja. — Kau lebih tahu akan itu. Sedjak perpelontjoan kita selalu dilihat orang bersama-sama. Kau dengan aku, Herman dengan Gloria! Pernahkah lain ?!! Sesaat Herman merasa terlipur. Lebih tenang ia berkata pelahan-lahan : Dies Natalis! Hari lahir fakultas! Aku ingin semulia itu pula hari itu bagiku. Kau tentu tahu Gloria? Paginja ...
pengumuman hasil udjianku. Káu ..... eh, kau tentu
datang djuga ? — Itupun tak perlu kautanjakan. Dulu sudah kaubajang- kan. Senjampang terdjadi jang tidak diharapkan, hendak kautelan sendiri, katamu. Tak perlu dilipur! Itulah ke- hendakmu sendiri. — Djadi itu rupanja jang kauharapkan ?! Gloria mentjongak tertjengang. Sebentar ia tersenak kata, lalu mendjawab : — Kendalikanlah perasaanmu sedikit ! Tak tenang-tenang rupanja pikiranmu ! — Rasaku masih tjukup tenangnja untuk tidak memberi tanda tangan padamu! djawabnja sambil mentjubit lengan- nja kedjengkelan. Pergilah ia dengan hati marah tjampur malan.

I

Dengan berpakaian rapih untuk pergi Herman terduduk dikursi. Lengah-lengah ia memandang kamarnja. Matanja tertantjap pada djas dokternja dengan potongan jang kinan- tan itu. Makin sangat disukainja djas gonta-ganti-luar- dalam itu. Sakunja manis membusur, sedang pandjangnja

seperti djas biasa. Besok malam baru dapat dikenakannja. Bangga ia akan dapat menıpertundjukkannja pada atjara pasangan dokter-perawat jang berhadiah itu. Tetapi, siapa

pula pentjiptanja ?

Memang, sekarang ia menjesali sekali sikapnja pada praktikum jang lampau. Gloria, jang selalu manis lagi ramah itu. Bagaimana pula ia dapat mengerti.

Dia sendiri baru lepas udjian ketika itu. Tentu akan lebih

tenang pikirannja djika dapat dilupakannja segala jang telah lampau, pasiennja, ja, pasiennja jang satu itu. Anak ketjil, djatuh dari kereta api di Kalimantan, diangkut ke Djakarta, dibius malam itu djuga, untuk bangun paginja dengan kaki satu tambah setengah. Lebih dua bulan sudah

anak itu dirumah sakit. Sekarang masih harus tinggal djuga

dia. Untuk rehabilitasi, kata ahli masjarakat; untuk beri kaki buatan, kata ahli bedah; untuk beladjar djalan dengan

kaki palsu kata sianak. Kalau bukan karena anak jang

dibebani tjatjat itu, sudahlah reda ombak pikirannja. Djustru bandingan dengan dirinja sendiri membuat pikiran-
nja sedat. Dirinja, orang jang berketimpangan djuga .....
Bangkitlah hasrat dalam hatinja akan mengatakannja pada Gloria. Hendak diadjaknja malam itu djuga, ke- tempat jang sunji, penuh ketenangan, dimana dapat ditju- rahkannja hatinja jang sebu tak tertahan-tahan. Asal bebas ia dari tolak bara jang. makin memberatkannja itu. Kini masih harus ditjarinja kesempatan jang lajak. Dan besok sudahlah hąsil udjiannja menanti. Alangkah malan rasanja menjongsong hari itu. Gagal atau lulus tak ada beda baginja, sama menekankan perasaarnja. Malah kalau lulus

harus ikut bergembira dan berbahagia, biarpun semu-semu.

Makin rianglah Gloria djadinja! Makin dekat pada barapañnja agar Herman menghendaki pertalian jang dekat

pada kehidupan bersama! Dan~itu tegas harus dilawannja dengan niatnja: membuka rahasianja sebelum hal itu ter- singgung. Mendjadilah pertanjaan baginja dimana dan bilamana ? Sudah terangan olehnja suasana jang tenang lagi damai. Tempat hati manusia djadi takdir, dapat menerima apapun djuga. Tak boleh kata-katanja mengedjutkan Gloria. Mudah hati orang djadi diam dalam kesepian. Ja, kesepian, itu suasana jang lajak. Apa lagi? Kesedjukan tentu!
Ituiah, kesepian, hawa gunung ...... pohon rindang,
alam indah dengan kolam air, kaja tumbuh-tumbuhan jang beraneka rupa. Semua itu tepatlah ! Tjibodas! Kesanalah baik diadjaknja Gloria, sekalian singgah di Telaga Warna. Benar-benar di Tjibodas hendak ditjurahkannja hatinja.
Tetapi ....... itu semua, kalau ia lulus.
Gembira mentjapai tudjuan, sudah pula kakinja menga- jun keluar. Hasrat mendjumpai Gloria dan mengadjaknja segera hendak didjelmakannja.

IV

Achir malam modeshow.

Puas menonton jang ditonton dan jang menonton,

gumpalan manusia dimuka ruangan mulai menipis. Herman dan Gloria masih padat dikerumuni teman-teman. Habis menjeruak tumpukan jang padat itu, berkatalah seorang: — Mana dia Mr. Doctor! Ndak mau kenal lagi? Udjian
menang, perlombaan menang, djuga menang eh ..... eh,
pendek kata sekali merengkuh dajung .. — Tiga pulau terlampau! seru lainnja serentak, sambil menoleh kepada Gloria.

Masing-masing giat menundjukkan kehormatan dan ke- inginan. Beri salam selamat pada Herman; tukar pandang rangkap senjum dengan Gloria. Dan semua menerbitkan perasaan jang sama: menjesali Gloria tak ikut perlombaan; mengingini dia terima gelar Miss Nurse tahun depan. Malam buta enggan menelandjangkan bulannja kali itu. Ketika duduk dibetjak hanja kesedjukannja jang sudi me- njelimuti mereka berdua. Sedjurus lamanja mereka terasjik dalam tjakap angin. Lambat laun ladju betjak dan siul karet bawaan angin, mengundang mereka ketaman pikirannja masing-masing. Bagi Herman hari itu tjerah bertjahaja kegembiraan. Namun belum reda perasaannja, mendjelang fadjar esoknja. Tudjuannja dan niatnja njata tergores dimukanja. Bertubi- tubi pikirannja terpaut pada sembojan itu: Djelaskan pada Gloria ! Katakan padanja! Tetapi, masih timbul djuga dalam dirinja rasa tak terikat pada sembojan itu; seolah- olah ia bebas untuk menurutinja. Dekat Gloria terkuatlah rasa itu menggenangi pikirannja. Seakan-akan ia batjul, lemah, tak berteguh niat djika keramahan dan ketjantikan Gloria memeluknja. Sekali-kali obor pikirannja terang berarah, lain kaii padam tak bertudjuan. Membuailah perasaannja malam itu dari bangga ke-riang, tiap kali pulang balik melalui garis kegojahan. Gloria, sebaliknja, sarat kegirangan. Hanja satu pikirannja. Apa jang dikenakannja besok? Sudah tentu tjelana tiga perempat jang tjoklat dengan sweater jang merah. Ja, pasti hebat nanti ! Sweater, radjutan ibu, jang tertembus pan- dangan. Itu rapat pada badan, tanpa apa-apa diantaranja. Apa salahnja berani-berani sekali-sekali, bukankah gadis jang sebaja dengan dia lebih lagak lagi? Lagi pula jacketnja jang hidjau masih menutupi! Dan katja mata; tentu perlu;

dari siapa dipindjam? Sajang ia anak tunggal! Tapi barangkali Ray-Ban ajah tjotjok. Lipsticknja tentu Max Factor tiga, rambutnja tak boleh lain dari Chanel lima. Sempurnalah daja pikat djadinja ! Ah, ja, tudung lagi ! Banjak angin tentu, kalau naik sepeda motor, biarpun jang limaratus silinder. Serobot dari siapa ? Biarlah, Jetty tentu punja. Dan badju renang! Jang kuning baru itu; jang pakai tjelah disisi, tak boleh ketinggalan tentu. Sekali-sekali ber- pakaian tjolok mata kan boleh djuga ? Tjoba lihat model sekarang ! Lebih-lebih digunung; banjak sekali pemuda; semua berpesiar ! Andaikan Hernan sanggup menangkap lontjatan-lontjatan pikirannja tentu akan tersenjum dia. Sengadja dipilihnja hari jang bukan Minggu, semata-mata untuk mengedjar kesepian digunung.

V

Telaga Warna. Pepuhunan dan belukar disekitarnja. Hawa sedjuk segar menjedap didada. Kitjau burung dan kersik kadal lintjah lemah menjanggah kesepian. Riak air bersambut-sambutan mendjelmakan gelenjar alam. Diam-diam menelan kedamai- an telaga itu bersembunji, dibawah naungan kerindangan. Sudah dua kali aku kesini, beium dapat kuresap keindahannja kata Herman. — Tak kau perhatikan warnanja ? — Mengapa ? Hidjau ! — Mari ikut kesana! adjak Gloria, manis mengulurkan tangannja. Tetap hidjau ! Herman mempertahankan.

— I-ja, tapi tjorak-tjoraknja kan lain! Sini lebih tua, sana muda hidjaunja, situ lain lagi !
Bagiku sedikit sadja bedanja. Mungkin karena .....
Mulutnja beku ternganga. Hampir sadja terkatakan olehnja. — Karena apa Man? tanja Gloria dengan muka jang tegang. Tak apa-apa ! sâmbutnja segera, meskipun mukanja menjuram memikirkan apa jang hampir terlompat dari mulutnja.

Tjibodas. Habis santap roti. Bersandar pada sebatang pohon, setengah terbaring mereka melepaskan lelah. Dimuka, kolam air hening djadi saksi; dari belakang angin siliran sedjuk membela. Padang rumput jang hidjau habis dipang- kas, segar muda terbambang sampai djauh, bersih sepi dari indjakan kaki. Teduh pohon rela menudungi dua terdakwa. Gloria memandang lurus kemuka. Herman mendjeling sambil bertanja : Kau kenal nama Hibiscus Rosa Sinensis ? — Kembang sepatu dipraktikum tempoh hari kan ? Mengapa ?
— Kupikir-pikir .... bunga jang tak seberapa eloknja,
nama Latinnja indah begitu. Kau tahu artinja Floridus ? — Bahasa Latin ? — Mengembang artinja. — Habis mengapa ? — Ada bunga jang pakai kata itu. Satu-satunja jang indah dua-duanja: bunganja sendiri maupun namanja. — Bunga apa ? Bunga harapan. Floridus Gloria Indonesiensis namanja.

Gloria melengos tersenjum laut madu. Herman makin merapatinja. Terlena ia memandangnja: manis seperti anak, mulut Gloria terkemut-kemut menghabiskan permen Quick — Extra Strong jang baru diberikannja. Sesaat kembali Herman terkenang akan niatnja jang berkobar- kobar mulanja. Hasrat mempertahankannja masih menjala. Tetapi segera keharuman rambut Gloria menariknja dalam kantjah kelemahan. — Mana ada gadis dengan rambut seelok dan sehalus kaupunja! Apa kaupakai ? Milot ? Djawab Gloria terdjelma dalam nafas jang pandjang tertahan-tahan. Lambat merapat, Herman mendjawabnja dengan rangkuman tangan. Diam berdebar-debar Gloria merasa dahi dan pipinja terbelai. Kerap sudah dirasakannja belaian sematjam itu dahulu, oleh tangan ibunja. Kini bibir Herman menggantikannja. Kemudian kata-kata manis-madu tanpa arti, mempelopori idaman. Datanglah saat mereka saling memandang penuh kobar dan njala. Tanpa adjaran guru Gloria memisahkan bibirnja. Gigi bersih putih tampil terbingkai oleh bibir merah keapi-apian. Hawa permen sedjuk tertjium hidung. Achirnja dua bibir rapat tertangkap, njenjak menutupi alam kesadaran, membiarkan dua pasang mata terpedjam kenikmatan. Kembali berlabuh dipantai kebenaran, Herman segera memusatkan ingatannja. Mukanja djadi sungguh-sungguh. Terputus-putus ia menjatakan :
— Sebenarnja, Gloor .... djika baru sekarang kukatakan
aku tjinta padamu .... itu hanja ulangan. Ulangan suatu
lagu jang lama telah direkamkan, berkali-kali sudah kupu- tarkan bagiku sendiri, tetapi baru kali ini kuperdengarkan padamu. Sambil mentjabut-tjabut rumput dan memainkannja pada

mulut ia menjambung : Aku selalu memudji ketjantikanmu. Kau selalu balas dengan bosan dengar itu. Bagiku tidak. Populernja djangan tertawa kau bukan tophit. Bukan tophit jang mula-mula disambut dengan meriah dan hangat, dimainkan disegala pelosok, tapi nanti, kalau liwat batas kepuasan, lenjap tak disukai lagi. Bagiku kau seperti lagu jang sekali- sekali didengar, tetapi selalu menarik hati untuk waktu jang tidak berbatas. Selalu njaring merdu bunjinja; kata- kanlah sematjam wals dari Strauss. Tak bosan dengar alunan langgam lagu itu, lagu jang termeterai sjairnja dalam hatiku, sedjak kita bertemu pandang dimikroskop B 31 ... Gloria menengok terharu. Bagi dia, jang lebih kenal ke- riangan daripada kesungguhan, senak rasanja terlingkung dalam suasana jang tidak bertjura itu. Hendak meloloskan diri daripadanja, ia mentjoba : — Djadi tjintamu seperti piring hitam jang kauputar- putarkan ? — Kurang lebih begitulah! djawab Herman kurang duga tudjuan Gloria.
Kalau begitu ... jang kauperbuat tadi ....
sematjam usaha untuk merekamkannja padaku ? Memang begitu, senjum Herman.
. Djadi .. dengan istilah tehnik .... aku tape-
recorder jang baru selesai merekam ? — Jaa! tawa Herman memudji tamsilannja. Lalu mentjoba melebihi :
Sebenarnja. tjium itu hanja ....
— Hanja apa ?
— Begini. Dulu pernah kubatja ...... tjium hanja
awalan asmara. Kises are only preludes to love. — O, begitu ? Djadi ada hanja-nja ?

— Bukan. Itu jang kubatja ! — Dan apakah tjinta itu bagimu sebenarnja. Ada hanja- nja djuga ? Sekali lagi pertanjaannja tak terdjawab. Muka Herman menjuram. Kembali sembojannja menggelompar dalam ingatannja. Sekarang djuga harus dikatakannja ? Dalam suasana jang serba sedap ini? Menggentarkan perasaan Gloria ditengah pertjintaan ? Bukankah itu tak djudjur ? Atau, barangkali sebaliknja. Lebih mudah Gloria akan menerimanja djustru dalam suasana ini ? Ah, mustahil itu ! Rasa lain dari ramalan. Baik tak dipikirkannja lagi. Kelak tentu ada kesempatan pula. Tergegap-gegap ia mendjawab: — Apa tjinta, kautanja. Bagiku, penıuda dan tjinta, itu seperti mahasiswa hukum dan ilmunja. Tauja padanja habis dipelontjo, apa hukum itu, dia tak tahu. Dua tahun kemudi- an tanja lagi. Sedang tahu, djawabnja, beri definisi belum dapat. Tamat fakultas, tanja lagi kepadanja. Djawabnja, sudah tahu, beri definisi setengah .dapat. Serupa itulah tjinta. Semua merasa tahu, beri definisi tak ada jang sang- gup. Sesuailah utjapan seorang ahli hukum : Masih sadja ahli hukum — ganti ahli asmara — mentjari definisi untuk pengertian mereka tentang hukum, — gantilah asmara. — Dan kau? Masih ikut mentjari djuga? pantjing Gloria. Mentjari ja definisi !

  • Djadi, djuga termasuk ahli asmara ? Belum sempat kutundjukkan! katanja, menatap
    Gloria, jang menerobosi pandangannja penuh pengertian. Lalu ia menjambung : Tetapi djika kauingini ·definisi ada kupunja. Bajang- kanlah dua sedjoli, harum、elok berdandan saling menjata- kan tjinta. Malam telah larut, bulan — seklasiknja tentu purnama; bukan seperti kita ini, tiada berbulan

sesabitpun, berbintang tjemerlangpun djauh belum. Dalam suasana itulah lahir definisiku. Rupanja dengan tjorak kedokteran ? _ Setengahnja, ja, — karena dua bagiannja : konkrit dan abstrak. Tjinta jaitu keharuman minjak wangi jang dapat ditjium; bisikan kata-kata jang dapat didengar; wadjah berseri-seri jang dapat dilihat; denjut nadi meninggi jang dapat diraba serta paduan bibir jang terketjap. Itulah setengahnja. Tamsilkan tjinta itu sebagai kain sutera. Dimana kita tjari bagian kedua ? Itu tak tertangkap pan- tjaindera kita! Tak tertjeraikan daripada sutera tadi, karena terdjalin sebagai benang emas kegaiban. Gaja gaib itulah membuat orang tjinta, tanpa tahu mengapa. —Kaupun tidak ? tanja Gloria mendjeling tersenjum. — Apa perlunja tahu? Tjukup bila ditundjukkan! bisik Herman sambil bibirnja kembali merapat dilandasan bahagia. Sekali mendam tjinta menggelintjirkannja dari tudjuan semula tak lagi Herman berkuasa merebut keteguhannja. Perasaannja sadja jang dibebaskannja selela-lelanja. Turun dari Tjibodas akan mengetjap sate ajam direstoran Merdeka, sepilah hatinja dari perkelahian batin. Ia takdir, itu dimenangkan perasaannja. Dan ketika habis mereka selami air segar Sanggabuana disebelah restoran itu, rasanja berbalik haluan. Ia gembira dalam kemenangan itu. Pulang kembali, tedja jang tertebar indah dikaki gunung, penuh menenggelamkan niatnja jang semula teguh tegak menjambut fadjar sidik. Bebas sudah rasanja dari seruan sembojannja. Namun ... hanja untuk hari itu.

Mekar karena Memar 7

VI

Ruang praktikum sunji sepi terdjundjung diloteng pertama. Derum mobil tjampur teriak klakson sajup-sajup sampai kesana. Herman duduk termenung, tak sudi me- ngutik mikroskop didepannja. Lontjeng berdetak-detak melengkapkan bilangan enampuluh. Madjulah djarum setitik akan mematangkan waktu. Memang, waktu telah matang! Matang untuk mengatakan tjatjatnja. Telah dipesannja melalui teman-assistennja, Gloria sudah dapat mengambil buku praktikumnja lengkap dengan tanda tangan mabaguru. Dan dia akan menanti untuk bertjakap- tjakap lalu mengantarnja dengan B.M.W.nja. Terpaksa pula dipesannja; tak mungkin dikatakannja sendiri. Seminggu lamanja sengadja ia mengelakkan pertemuan dengan Gloria. Tak dapat dilihatnja Gloria sewaktu itu. Tak dapat! Dalam kehadirannja selalu melemah niatnja, melumat kekerasan hatinja. Mudjur sekarang kembali didapatinja ketabahan hati. Bertekad, berkandjang dalam tudjuannja bukan angan-angan lagi baginja sekarang. Perahu keteguh- annja harus memberi suar dahulu, sebelum tertumbuk dalam samudera kekatjauan sekitarnja. Bunji langkah jang lembut menandakan Gloria men- dekati pintu. _ Ah, tak lupa datang! sambut Herman. — Sendirian ? tanja Gloria. — Lagi tengok-tengok sediaan. Marilah; disana buku gambarmu. Mereka duduk diatas kursi kuda-kuda. Amat bundar dataran duduknja, kaku untuk diduduki. Memang sengadja Herman memilih tempat praktikum itu. Suasananja jang lengangpun mudah menjabarkan hati.

Gloria bermuka riang. Duduknjapun lengah: kedua kaki terkadang keleleran. Mengapa pula Herman minta ia datang ketempat sunji itu, kalau bukan untuk bertjeng- kerama. Dalam pergaulan dengan dia, lambat laun telah disetalakannja perasaannja dengan Herman. Bagaikan kawat-kawat biola perasaannja, jang berpadu nada dengan petikan gitar, mainan tekanan perasaan Herman. Sudah takdirnja, satu kawat gitar itu putus tak berharapan ter- gantikan. Bunji djanggal sekarang memetjahkan paduan bunji itu ! Tetapi, masih biola itu tergesek terus, riang menghisap nada-nada dengan iringan tarian djari-djari ber- lontjat-lontjatan posisi, tak putus-putus melandjutkan gelora njanjiannja. — Sebenarnja, Ria, aku minta kau datang kesini, tidak sadja untuk mengambil buku gambarmu. Ada jang mem- beratkan hatiku. Kukehendaki itu kau ketahui dulu. Habis lulus, habis menang perlombaan, masih belum puas djuga ? Bukan. Soalnja mengenai diriku sendiri ... badanku! — Badanmu ? — Kira-kira begitulah. Masih kauingat, ketika di Telaga Warna? Sebenarnja kaulah jang pertama-tama menundjuk- kan tjorak-tjorak warnanja, kata Herman mulai menjung- guhi suaranja. — Habis mengapa ? tanja Gloria dengan suara tak peduli. Herman segera menjelang: — Masih kauingat waktu kita bertjumbu-tjumbuan disini, dikolam renang dan diruang museum dahulu ? — Tentu sadja. Tetapi apa hubungannja ? — Dan ketika di Tjibodas, dibawah pohon-pohon tjemara dan dekat kolam indah, masih kauingat itu ? Apa

tak kauperhatikan, waktu itu, saat aku disampingmu ada keanehan padaku ? Keanehan ? — Ja, keanehan ! Keanehan aku selalu mendampingi sisimu jang sebelah kiri !! Suara Herman penuh kesung- guhan, hampir-hampir membentak. Dipaksakannjalah Gloria berpikir dengan bertanja : — Tak sanggup kauduga sebabnja ?

Sebabnja; eh, eh, entahlah .... barangkali itu

kesukaanmu, memandang orang dari sebelah kirinja ! — Memang benar katamu, aku memandang orang dari sebelah kiri, tetapi itu bukan kesukaanku ! Keharusan,
bagiku ! Keharusan, Gloor karena ........ aku setengah
buta !! Mata kiriku tak bekerdja lagi !! Gloria bangun dari kelalaiannja mendengarkan kata-kata Herman. Kesepian meliputi mereka. Tak bekerdja lagi ! Tak bekerdja lagi! Seakan-akan itulah terdengar oleh Gloria bertalun talun mengisi ruangan. Lemah lembut katanja :
Djadi .... kau setengah buta ?

Pandangannja mendjauh tak berketentuan. Kemudian

senjum kulum terguris dibibirnja. Senjum jang mengem-

bang djadi tawa. Rela tawa itu, tak dibuat-buat. Tetapi

gandjil bunjinja ditelinga Herman. Ia mentjelang. Bibirnja

terketam kemarahan. Begitulah sambutan Gloria? Dengan

gembira dapat mentjemoohnja sekarang? Dengan tawa

edjekan? Baık sadja tak dikatakannja. Bohong sadja, dari-

pada ditjela !

Tak dapat diduganja Gloria dalam kesan jang sebaliknja.

Apa gunanja dipikirkan? Hanja karena sekarang ia tahu

akan tjatjatnja, pergaulan mereka renggang djadinja ?

Karena itukah tak mungkin mendjedjak hidup bersama?

Tidak! Tak boleh! Tak boleh ketimpangan jang ketjil itu mendjadi alasan! Karena itulah ia bersenjum, tertawa, dengan rela, untuk mengalpakannja !!

Dalam anggapan belum tjukup menjadarkan Gloria

Herman memegang kedua lengannja, sambil berseru dengan lantam : — Kau' tak pertjaja ?! Lihatlah mataku! Bandingkan kiri dengan kanan ! Gloria meneguk kekedjutan. Memang. lain .. mata kiri seperti mati njalanja. Tetapi, apa pentingnja, Man? Andaikan tak kau- katakan padaku, tak sampai pula kuperhatikan; apalagi menduga telah hilang gunanja. Perlukah itu mengusik ke- bahagiaan kita? Lagi pula, kau segera djadi dokter. Siapa tahu, kelak kau sendiri dapat menjembuhkannja ! — Ja. Kuidam-idamkan dapat! Dokter, sembuhkanlah badanmu sendiri, bunji utjapan Junani. Makin berat ke- sedihanku terasa karenanja. — Tetapi, apa kata dokter-dokter, spesialis dan guru- besar? Ada harapan untuk sembuh kan ? -- Sebabnja modern : gangguan saraf. Harapan tidak ada. Artinja disini. — Disini ? — Ja, ditempat kita ini. Memang ada tjara pengobatan jang baru. Sjaratnja: aku harus ke Amerika. Hasilnja belum tentu. Banjak pula jang gagal ! — Djadi, di Amerika. — Mungkin, di Amerika! Andaikan aku kesana, sudah tentu harus kupikul sendiri beajanja. Tambah lagi, senjam- pang gagal, hilanglah faedah ongkos sebanjak itu. Begitu- lah aku diandjurkan tinggal disini. Apa salahnja ? Aku kan masih dapat melihat, sekalipun terbatas.

  • Sudah lama ..... kau ..... eh, keadaanmu begitu ? Sedjak lulus tingkat pertama. Datangnja lambat
    laun. Mula-mula tak kuduga penglihatanku djadi kurang. Kemudian makin mengabur. Achirnja sampai setelempap tangan. Sedjauh itu mata kiri dapat lihat, tetapi keruh lagi kabur. — Mula-mula menghambat pekerdjaanmu, tentu ? Pekerdjaan tak begitu. Batinpun belum derita. Tak kukatakan kepada seorangpun. Kutelan sendiri. Hanja ...
    ....... sekali itu! Diruang faal. Tak mudah kulupakan.
    — Apa ? Pertjobaan 50. Aku lakukan dengan Jasrul. Kenal Jasrul ? — Jang melontjo aku? Jang selalu ramai, selalu teriak- teriak itu ? -- Itu dia. Selalu riang sadja. Suka mempertjakapkan gadis. Lebih suka mentjeriterakan penggeli hati, — chusus untuk telinga lelaki. Dengan mistar dia tundjuk huruf- huruf, dari besar sampai ketjil. Aku batja; mata kiri ter- tekap, akan mengudji mata kanan. Dapat sampai baris ketiga: mata kanan masih beres penglihatannja. Lalu Jasrul perintah : Sekarang mata kiri! Aku diam, tjari djalan supaja terhindar. Kuusulkan mata kiri dilangkau sadja. Tapi ia menuntut djuga. Lalu kukatakan padanja: kiri tak bekerdja. Dia malah tertawa, riang, terbahak- bahak. Disangkanja aku bergurau, lekas-lekas mau selesai- kan praktikum, supaja lekas dapat pulang, seperti lazim dilakukan mahasiswa. Melihat aku tak ikut tertawa, malah gusar, ia tanja-tanja. Sungguh, kataku. Lalu diam dia. Tetapi sedjak itu bergema tawanja dalam telingaku, setiap kali aku praktikum. Mudjurlah tak disebarkannja kepada siapapun djuga.

— Djadi sekarangpun masih dapat kau melihat dengan mata kiri biar kabur-kabur ? — Tetap sampai setelempap tangan. Tetapi, ternjata tak selalu. Kian tahun aku madju, kian tjemas aku akan sesuatu. Gentar aku, memikirkan, kalau-kalau jang kanan kena djuga. Alasan untuk itu ada. Dua tahun jang lalu mata kiriku kena conjunctivitis". — Con-jung … — Namanja sadja jang hebat. Artinja mata merah dan bengkak sedikit. Aku serasa kena luka tikam ketika itu. Makin aku sadar hidupku tergantung dari satu mata sadja. Rasa tjemas makin berkobar. Lazimnja conjunctivitis mudah diobati. Begitupun aku waktu itu. Sedihnja, setahun kemudian kambuh lagi. Mudjurlah sembuh lagi. — Dan sekarang, bagaimana? Masih tjemas djuga ? — Tjemas tetap. Hanja kurang kupikir-pikirkan. Kadang-kadang aku bertanja pada diriku sendiri: mengapa aku djadi dokter? Serasa aku rugi, pilih djalan itu. Andai- kan tak kutempuhnja barangkali hidupku lebih berbahagia, tak perlu simpan-simpan rahasia. Kau tahu, pekerdjaan dokter itu pekerdjaan mata, tak lain dari mata. Dan tanpa itu menguaplah keringat tudjuh tahun tekun. Tetapi kadang-kadang aku merasa kegembiraan mesra memeluk diriku. Makin njata bagiku banjak penjakit jang satu dengan badan, tetapi mungkin lebih banjak dengan djiwa. Bagaimanapun, sekarang kau dapat lebih mengerti akan diriku. Pada praktikum tempo hari tak berketentuan rasaku. Aku baru lepas udjian. Pikiranku tertambat pada seorang pasien. Lalu aku lihat gelangmu. Lalu matamu jang lengkap pepah itu: dapat gambar sambil lihat mikroskop. Kubandingkan dengan diriku: ganti-ganti harus gambar dan teropong mikroskop. Lalu pikiranku mengom-

bak, katjau. Lalu aku djengkel tak beralasan. Atjap kali kurasa tak mau ketinggalan dalam hidup. Hendak kukedjar hidup itu! Hendak kutjari kebahagiaan agar tak sesal kelak, bila mungkin tak sempat lagi disusul! Herman mematikan api puntung rokoknja. Hatinja lega, habis tertjurahkan. Ia memandang Gloria. Bagaimana akan ditanggapnja kata-katanja itu? Benarkah ia meng- -alpakannja? Dapatkah semudah itu? Alangkah manisnja ia duduk; kaki rapih sudah terlekuk seakan-akan ikut merasakan kesungguhan. Ah, bagaimana sampai ia menge- djutkan gadis jang setjantik itu ! Segera ia mengalihkan pertjakapan, memberinja haluan jang lebih riang. Tetapi Gloria belum rela ikut bertjakap. Begitu pula ketika ia mengantarkannja pulang dengan

B.M.W.nja. Panas terik tak mendorong mereka bertjakap- tjakap. Masing-masing sarat dengan pikirannja sendiri. Gloria hendak tahu satu sadja. Ia tjinta dengan tjinta ke- gadisannja. Itu tjukup baginja; itulah seluruh perasaannja! Andaikan tak rela Herman mengatakan tjatjatnja itu, bagaimana djadinja? Tak patutkah kerelaan itu dinilai ? Sekarang sudah ditundjukkannja kedjudjurannja. Tak djadikah tjinta mereka dipadatkan? Harus djuga ditjairkan oleh kenjataan? Oleh bajangan jang mungkin tak usah di- tjemaskan sama sekali? Tidak ! Ia tjinta kepada Herman ! Itu akan dipertahankannja! Akan ditegakkannja melawan kekuatan manapun jang hendak merobohkannja! Belum terangan olehnja, lawan pikiran dan perasaannja itu, tak
djauh daripadanja, tak djauh .....

VII

Sore harinja. Gloria asjik berdandan dimuka lemari katja, menjiapkan diri untuk Herman, jang mengadjaknja kesebuah pesta. Pesta seorang rekannja, jang lulus bersama dengan dia. Pesta mahasiswa, djadi djuga disemarakkan dengan dansa. Ibu Gloria duduk dikursi, meradjut jumper jang baru bagi Gloria. Katjamatanja telah meleset kebawah batang hidungnja, mentjium udjungnja. Tak lepas-lepas ia me- mandang gerak-gerik Gloria. Memandangnja dengan mata jang empat puluh dua tahun telah tersimpan dalam lekuk matanja. Mata, jang melihat Gloria, anaknja jang tunggal, dilahirkan, diadjar berdjalan, disekolahkan, meriah dan ditjeburkan dalam pergaulan. Dan selama sembilanbelas tahun itu, matanja .tak sadja mengasuh anaknja jang tunggal itu, tapi pula mengawasinja. Mengawasinja dengan kekerasan jang kadang-kadang diperlukan bagi gadis-gadis abad keduapuluh. Mengawasinja dengan kekerasan jang terbit dalam hatinja karena kesajangannja akan Gloria. Gloria adalah harapan ibunja, harapan orang tuanja. Gloria harus didjaga pergaulannja! Gloria tak boleh pulang malam-malam !! Gloria harus makan pagi, siang dan malam dirumah, dengan orang tuanja, menghormati orang tuanja jang dengan susah pajah mentjarikan nafkaħ! Gloria harus sopan duduknja, sopan djalannja, sopan ber- bitjara bila ada tamu. Gloria harus mendjundjung pendidikan ibu-bapanja jang akan mendjadi harta pusakanja diseparidjang djalan hidupnja. Ja, Gloria harus mentaati beribu-ribu pasal dari kitab undang-undang pendidikan gadis modern, jang tegas pengukuhannja dalam daerah djadjahan ibu-bapanja.

Alangkah lainnja ibunja berpikir sekarang. Dahulu selalu diidam-idamkannja dianugerahi seorang puteri. Anugerah itu didapatinja. Malah, anugerah jang dikehen- daki beratus-ratus tjalon ibu. Anugerah seperti Gloria! Tapi sekarang, lebih tahu ia. Dan pengetahuan jang ber- lebihan itu, selalu dilimpahkannja pada tjalon-tjalon ibu jang dikenalnja. Katanja : lebih baik sepuluh orang anak lelaki, daripada anak perempuan! Namun bangga ia sekarang. Bangga akan Gloria, jang lagi berhias dimukanja itu. Sengadja ia mandi sore-sore, agar segar sesegar-segarnja. Dan kesegaran jang memantjar dari mata, bibir dan rambutnja itulah menjedapkan pandangan ibunja. Housecoat jang baru ditanggalkannja segera digantinja dengan mengenakan petticoatnja. Tak lepas-lepas ibunja memandangnja. Sekilas mata sadja di- libatnja Gloria tiada dilapisi sehelai kain djuapun. Tetapi saat jang pendek itu tjukup untuk mentjetak kebanggaan dalam hatinja. Ibunja bangga, karena pada hematnja, ketjantikan itu hanja dapat diwarisi dari ibu, bukan dari bapa. Lagi pula, apa sebenarnja jang diwarisi dari ajahnja? Hanja kegemukan dalam pipinja, giginja jang kukuh lengkap dan barangkali matanja jang besar itu, tetapi sebenarnja tak banjak. Tidak, Gloria adalah sebagian dari ibunja; pem- bawa ketjantikan, jang hanja didapati dengan turun temurun dari pihak ibu, bukan bapa! Penuh kejakinan akan kebenaran pendirian itu ia memandang anaknja sekarang. Petticoatnja telah sampai menjelimuti pinggang- nja; sisa badannja belum lagi tersampul. Ia menutup kantjing kirinja sambil dadanja jang sesisi menjembul kemuka, memandikan buah dadanja dalam sinar lampu jang kuning kekuningan. Ketika hendak ditutupnja kantjing kanannja, Gloria sekonjong-konjong berkata dengan suara jang

kelengah-lengahan : — Bu, bu. Ibu tahu kelutjuan Herman ? — Kelutjuan apa lagi? djawab ibunja seakan-akan telah bosan mendengarkan Gloria bertjerita tentang Herman. — Ia selalu mendekati aku dari samping kiri! — Abis mengapa ? Dipraktikum dari kiri, dikolam berenang dari kiri, dan di Tjibodas .. Itu djuga dari kiri ! — Abis, apa salahnja ?
— Bukan ! Maksudku ...... itu disengadjakannja !
Ibu Gloria menjelang : Memang, lelaki selalu menjengadjakan perbuat- annja! Gloria mentjari saat jang baik akan melepaskan tem- bakannja. Tetapi saatnja belum kundjung tiba. Ibunja belum menduga apa jang hendak ditudjuinja. Gloria diam sebentar, sambil memutar-mutarkan badannja dimuka katja akan mengagumi petticoatnja jang baru. Petticoat tjiptaan mode Italia, jang lebar longgar bertepikan renda menjampuli badannja. Puas dengan bajangannja, ia berkata: — Ibu, ibu! Tolong ambilkan Maidenformku! Dengan gerakan jang membajangkan usianja, ibunja men- dirikan badannja, sambil meletakkan radjutannja dimedja. Sedang ibunja mentjari Maidenformnja dalam lemari pakaian, Gloria menjambung dengan suara jang riang tak mempedulikan kesungguhan isinja : — O, ja. Tadi kan kukatakan Herman selalu mendekati aku dari kiri. Ibu tahu mengapa? fa hanja melihat dengan mata kanan ... hi, hi .. lutju benar, selalu dari kiri ! Ia mengatakannja dengan suara seolah-olah hendak me- njamarkan hakekat isi kalimatnja. Ibunja jang mendekati-

nja membawa Maidenformnja, tak menangkap semua jang dikatakannja, tetapi Ia hanja melihat dengan mata kanannja", masih masuk ingatannja. Ia mentjongak, ke- mudian bertanja terperandjat : — Apa katamu ? — Ah, djangan jang itu, bu! Gloria menangkis sambil menundjuk pada Maidenformnja jang dikenalnja berukuran 34 B. — Apa tadi katanu ? Ibu Gloria mengulangi dengan suara jang keras. — Kataku djangan jang itu. Maidenformku jang baru sadja, jang 36 A iiituuu ! — Médan-forem, médan-forem, lagi !! Jang kumaksud- kan, apa jang kaukatakan sebelum mengutjapkan médan-forem tadi !! Ibunja mendengking. Gloria berpalis membuang muka. Kembali ia mentjer- minkan dirinja sambil mengapus-apus petticoatnja. Lalu katanja perlahan-lahan : — Herman hanja dapat melihat dengan mata kanan, ... ah, sebetulnja djuga tidak, mata kirinja djuga
masih dapat, hanja tak begitu djauh .....
— Apa maksudmu tak begitu djauh ?! ibunja bertanja sambil mendekati anaknja hendak menolongnja mengena- kan Médan-forem"nja. — Begini, ja bu. Sebenarnja ia hanja dapat melihat dengan mata kanan sadja. Mata kirinja tak bekerdja lagi. Hanja benda-benda jang djaraknja setelempap tangan dari
padanja masih tertangkap mata kirinja. Djadi ......
.. sebenarnja ... ia setengah buta! — Mengapa baru sekarang kau tjeriterakan semua itu! ibunja mendengking. Lalu dilandjutkan pula : — Kau ini bagaimana? Sekarang, kalau kamu hampir

djadi, baru kau sisipkan! Apa ketimpangan itu kau anggap kutil sadja? Mengapa tak kau katakan lebih dulu! Apa tak dapat berpikir! Tak dapat kau pakai otakmu? Dimana ketjerdasan kemahasiswaanmu? Tjobalah, bajangkan diri- mu dikawini dokter jang setengah buta!! Ibunja memuntahkan kata-kata itu dengan tiada ber- djeda, tak menjempatkan Gloria menjelang. Tetapi kata-kata itu mempan pada batin Gloria. Mempan menggon- tjangkan samudera perasaannja, jang didjelmakannja da- lam sedusedan, sambil berkata tergegap-gegap : Akupun .. baru sadja baru sadja
mengetahuinja, bu. Ibu ....... ibu tak ada timbang
rasa tak ada timbang rasa. aku aku kan tjin itu kan sudah kukatakan pada ibu. Gloria mengutjapkannja sambil menitikkan air mata. Air mata, jang meskipun beberapa tetes mempunjai arti. Gloria djarang bersedu-sedu. Ibunja tahu. Terharu ia melihat anaknja demikian. Karena itu dipautnja kedua bahunja dari belakang sambil mengadjaknja duduk dihadapan katja. Ia tak mengeluarkan sepatah kata djuapun. Ia tahu apa jang dirasakan Gloria. Gloria anak kesajangannja. Tetapi karena itu pula, didjalankan pikirannja jang selalu me- ngawasi dan mendjaga Gloria. Berkat pikirannja itulah Gloria telah dididiknja mendjadi gadis jang tinggi budi bahasanja, jang tiada bernoda atau ditjemarkan namanja. Tetapi Gloria tak mau mengetahui akan keulungannja itu. Ia menukikkan pandangnja seakan-akan belum tjukup mengelakkan pandangan ibunja dengan punggungnja. Sambil merangkum lingkaran dadanja dari belakang, hendak menempatkan Maidenformnja, ibu berkata per- lahan-lahan :

-- Kau djangan marah, Gloor! Ibu tadi terkedjut. Tenanglah! Tjeriterakanlah! Bila dikatakannja padamu? Gloria mentjeriterakan. Mentjeriterakan dengan tafsirannja sendiri. Dengan segala perasaannja jang tak mau melepas- lepaskan Herman. Ia menguraikan. Tentang pengobatan- nja. Tentang ketjemasan Herman. Tentang perasaannja sendiri. Ja, perasaannja. Itulah jang terutama diselingi olehnja dalam tjeriteranja. Tak habis-habis ia me- ngemukakan alasan-alasannja, tak lepas-lepas ia menckan kerelaan Herman akan membuka rahasianja itu. Mem- bukanja dengan ketulusan jang harus dihargai. Harus dihargai ! Tetapi ibu Gioria, tiada gandjak dari keibuannja. Keibuannja jang hendak melibat puterinja jang tjantik dan tunggal itu, memasuki gapura pernikahan dengan tenteram dan berharapan. Berharapan akan memetik bunga jang harum semerbak membarisi djalan hidupnja. Tidak! Gloria barus diserahkannja dengan perasaan jang tenteram, jang mendjarin kebahagiaanlah akan melimpahi puteri kesajangannja itu! Kebahagiaan! Itu sudah dapat dibajangkan- nja mendatangi Gloria, bila ia gandjak dari hak-haknja sebagai ibu. Dan menantinja saat itulah tinggal mengisi hidupnja. Hanja saat itu jang tinggal mendjadi tudjuan hidupnja. Dan ia sebagai ibu akan mendjaga! Mendjaga agar saat itu tiada dirampas oleh manusia jang membawa kemalangan bagi anak kesajangannja, sekalipun itu ter- sembunji! Tidak, Gloria harus terdjamin hari depannja ! Hanja itu jang diharapkan ibunja sebagai penebus djerih- pajah jang telah diperasnja dari lahir batinnja akan membesarkan Gloria sampai saat itu ! Kesunjian mengisi kamar Gloria; kesunjian jang senak rasanja. Maidenformnja telah lengkap dikantjing ibunja,

tetapi Gloria belum mempedulikan tepat tidak duduknja. Semua jang dikatakan Herman telah disalurkannja kepada ibunja. Dengan suara jang manis ibunja mengadjak:

  • Ajolah, berdandan; sebentar lagi datang dia, nanti
    belum siap lagi kau ...... 1Ibunja kembali ketempat

duduknja semula. Gloria belum lagi mempedulikan Mai-

denformnja. Seakan-akan hendak dielakkannja semua. perbuatan jang dikerdjakan ibunja. Ia merasa Maidenform- nja masih miring, tetapi ia tak menghiraukan; tak mau dan

tak sudi mengutik apa jang telah disentuh ibunja. Ia mulai

menjisir rambutnja dengan gerakan jang elok dan halus.

Kemudian ibunja menasehatkan : — Aku tahu perasaanmu, Gloor! Tadi kau katakan tak. ada timbang rasa padaku. Djanganlah demikian kausangka. Ibu tahu timbang rasa, ibu sendiri pernah djuga merasa seperti kau sekarang ini. Ibu sendiri tahu djuga perasaan gadis. Tetapi kau harus ingat! Aku harus ingat akan hari. depanmu! Nanti, bila apa jang ditjemaskan olehnja men- djadi kebenaran, apa djadinja akan dirimu? Apa djadinja,. tjoba ? — Apa perlunja kita pikirkan ketjemasan itu?!! Gloria menjelang dengan sekonjong-konjong. — Oh, djadi kau tjenderung hati padanja karena kau iba kasihan padanja ?! Gloria merasa darahnja sebagai ditampi. Kalau darahnja tadinja mentjapai titik didihnja karena perselisihan faham. dan perasaan dengan ibunja, darah kegadisannja itu tinggal menguap sadja. Hanja satu utjapan itulah dibentjinja dan.

mendjengkelkan hatinja. Tjinta karena iba kasihan". Telah lama ia mengharapkan terbenam sadja pikiran itu,

tetapi sekarang terbit djuga ......... dalam hati ibunja.
Itu tak dapat menahan, karena tutur kata ibunja melawan

perasaannja. Melawan akan membelok haluannja jang murni kegadisan itu. Karena itu ditembaknja dengan sekonjong-konjong : — Aku tidak menaruh kasih padanja, hanja karena aku iba!! Tadi sudah kusisipkan, sebelum ia menjebut-njebut ketimpangannja itu, aku telah tjinta padanja. Dan tak ber- ubah perasaanku, karena sekarang aku ketahui tjatjatnja! Ibu, memang tak ada timbang rasa; andaikan tak dikata-

kannja sama sekali, bagaimana djadinja ? Bukan boleh

dipudji kerelaan dan keichlasannja itu ?

Diam kau! ibunja mendengking sekonjong-konjong,

sambil meningkah. — Tak tahu timbang rasa, tak tahu timbang rasa! Kau jang tak tahu timbang rasa ! Pikirkanlah dirimu sendiri!

Tak ada jang hendak kau-korbankan bagi ibumu, bagi

ajahmu, jang susah pajah mendidik anaknja sampai mahasiswa?! Hmh, mahasiswa lagi! Memang kau bukan mahasiswa kalau tak dapat kau pakai otakmu sedikit! Djangan lagi kausebut itu : tak tahu timbang rasa! Orang tuamu lebih tahu daripadamu akan hal itu! Kau masih gadis ! Dan biarpun kau sampai menuntut ilmu diperguruan tinggi djangan kau kira tak ada lagi jang dapat kaupeladjari dari

orang tuamu! Hanja ini jang hendak kutekan padamu! Mulai sekarang djangan kauharapkan aku menjokong per-

gaulanmu dengan Herman. Tjamkan itu dalam hatimu!

Dan pasti bapamu setudju dengan pendirianku ! Pasti ! Ibunja berdiri meninggalkan kamar. Pintu tertangkup

dengan debung seolah-olah tanda seru jang mengachiri

uraian ibunja. Gloria mengetamkan bibirnja kemarahan. Kemarahan jang dianggapnja perlu diperkuat oleh gerakan tangannja, jang dengan kasar dan kaku menjisir rambutnja. Kantjah perasaannja telah digojahkan. Perahu tumpangan

keteguhannja serasa didjumpai angin sakal rangkap angin pujuh, sekalian direnggut pusaran air akan membenam- kannja. Dengan perasaan jang tiada berketentuan itu ia ber- pakaian. Berhias ia, tetapi tidak dengan kerapihannja jang biasa. Lipsticknja tak tepat memenuhi kuntjupan bibirnja, tetapi melampaui batasnja. Tak lagi ia mentjoba hendak menjembulkan diri seelok-eloknja. Tak lagi ia mengudji rupa mukanja dengan menanjakan pada ibunja, setiap kali sebelum pergi : — Ibu, ibu! Tolong ibu lihat ! Keputihan atau keme- rahan mukaku ? Semua itu tak ditanjakannja lagi. Dan djawabannja tak pula didengarnja. Seakan-akan tanja djawab itu dirasanja sebagai kekurangan. Kekurangan jang biarpun hanja terdiri dari beberapa kalimat sadja, dalam maknanja. Daiam, karena sepatah dua kalimat itu bagaikan lambang kasih ibu. Sekarang tak lagi didengarnja suara jang terkenal itu, serasa- lepas sudah asuhan ibunja. Demikian pula ketika Herman datang. Mereka berpisah dari orang tuanja, tiada disudahi peringatan : — Djangan· malam-malam ja, Gloor ! Tetapi Gloria tak mau kalah. Tak mau menekurkan kepala hanja untuk kalimat-kalimāt kelaziman jang sekarang dirasanja sebagai kekurangan itu. Keriangan jang mulanja terbatja pada mukanja terhapus sudah. Hanja satu kehendaknja. Dapat mentjurahkan isi hatinja kepada sese- orang jang sehati dengan dirinja, jang dapat menanggap dan mengerti pusaran perasaan jang dialaminja. Dan orang itulah hanja Herman. Asal sadja dapat ditjurahkannja kepada Herman, bagaimana djuga bertentangan penerima-

Mekar karena Memar 8

annja. Harus dapat disalurkannja bendungan perasaannja, harus, harus ! 1

VII

Tangan Herman telah merangkum Gloria. Mereka ber- dansa. Dansa jang kedua bagi Herman. Suasana telah ramai. Malam baru mulai pukul sembilan. Setiap orang riang. Bersenjum, ketjil atau besar. Tertawa, terbahak- bahak atau terkikih-kikih. Tetapi Gloria, tiada bersenjum tiada tertawa. Herman telah mengadjaknja bukan untuk menghadapi muka itu. Ia mengadjaknja mengharapkan dalam keriangan malam itu Gloria menemukan pengabur. dan penjamar dari apa jang dikatakan paginja. Tetapi Gloria tak memantjarkan sinarnja jang kuat daja tembusnja itu. Mengapa ? Herman tak tahu. Tetapi ingin tahu. — Ada jang kau pikirkan, Gioor ? Mengapa kau diam sadja ? Gloria bangun dari lamunnja. Mereka bertemu pandang. Tetapi Gloria menghendaki perasaan merekalah jang bertemu. Djawabnja : — Ada, memang! Sedjurus mereka diam. Kesepian antara mereka tak kuat menandingi keramaian musik dan geseran kaki pada lantai dansa. Lalu Gloria menjambung : — Mari kita berdjalan-djalan sadja dipekarangan ! — Kau tak mau dansa lagi ? Bukan ada ada jang hendak kukatakan. Kaki jang tadinja berhadap-hadapan sekarang sisi-menjisi menudju tempat jang sunji. Sesampai disebuah kursi, henti-

lah kaki itu mendjalankan tugasnja. Gloria duduk tetapi tiada tindih riba dengan Herman. Seakan-akan sela jang memisahkan mereka menafsirkan djurang pemisah pendirian dan perasaan mereka. Kemudian Gloria membuka : — Herman, kau djangan salah sangka. Perasaanku ter- hadapmu tak ubahnja dengan dahulu. Tapi aku serasa digojahkan tadi. Baru sadja, sebelum kau mendjemput aku. Mengapa? Kaukatakan pada orang tuamu ? — Ja! Gloria mendjawab, menantjapkan pandangannja pada Herman keheranan. Bagaimana dapat kauduga ?

  • Kalau bukan karena itu, apa pula jang dapat me-
    njedihkan kau ? — Memang begitu, Man. Aku dan ibuku djarang berse- lisih pendirian. Tapi tadi itu, tegas. Aku mengatakan dia tak ada timbang rasa. Ibu marah. Mendengking. Sampai
    katanja ....
    Gloria tidak mengachiri kalimatnja. Ia merasa hendak bersedu lagi. Tetapi ditahannja, karena Herman ada. Herman merasa Gloria senak kata. Tangannja diambilnja dan digenggamnja antara kedua tapak tangannja, seakan-akan lindungan tangan Gloria itu melambangkan harapan- nja akan menaruh kepertjajaan akan dirinja. Dengan suara melipur-lipur, ia bertanja : — Katakanlah, apa jang sampai dikatakannja ? Kata ibu kata ibu ia tak menghendaki aku bergaul dengan kau lagi! Gloria tak dapat menahan sedu-sedannja lagi. Malu ia tak dapat mentjegah air matanja menitik. Segera dihapusnja dengan saputangannja jang gerenik tergenggam dalam tangan. Ia membuang muka; ia malu tersipu-sipu. Belum pernah ditundjukkannja perasaannja pada Herman dengan

njata begitu. Herman segera menolong: — Masakan itu jang dikatakannja, tentu kau lebih²kan! — Tidak, tidak kulebih-lebihkan! Memang lain dikatakannja, tapi itulah maksudnja. Itu memang maksudnja ! — Ah, barangkali itu katanja sadja. Tapi bukan sekasar itu maksudnja. Kau harus mengerti djuga, Ria! Ibumu menaruh sajang padamu, kau anak tunggal! — Aku tahu! Aku tahu, aku anak kesajangannja, seka- lipun bukan itu jang kuminta! Tapi hanja karena aku anak kesajangan itulah, aku tak boleh berperasaan sendiri ? Memang aku tak salah! Ibu tak mempedulikan apa jang kurasakan ! — Djangan! Djanganlah ibumu jang kausalahkan ! Ia tahu benar apa jang kaurasakan. Hanja kau tak mau mengerti akan kemauannja itu ! Kesepian meliputi mereka lagi. Gloria tak mendjawab; seolah-olah ketjewa ia Herman tak membelanja. Herman merasa dan tahu pula akan kesulitan kedudukannja. Hatinja menghendaki membenarkan Gloria, tapi pikirannja mela- wannja. Semuanja untuk kebaikan Gloria dan dirinja sendiri. Herman tahu, ia bukan orang jang berupa djaminan kebahagiaan untuk Gloria, bila ketimpangannja itu ikut di- perhitungkan. Dan ia pula tak sampai hati membawa kemalangan pada gadis seperti Gloria. Gloria jang masih gadis. Gloria jang belum mau mengerti akan kesulitan² jang selalu didjalinkan dalam pergaulan. Karena itulah ia mendjelaskan : — Bila aku masih semuda kau, Gloor, aku pasti membenarkan perasaan dan pikiranmu itu. Tapi kau tahu
.......... kita berselisih enam tahun. Dan enam taliun
itu tidak sadja merupakan selisih dalam usia, tapi membawa pula perbedaan dalam anggapan. Kau tahu; makin ber-

tambah usia, makin dalam kita kadji alam sekitar kita. Tak tjepat-tjepat kita terima apa jang disodorkan pada kita. Kita tjari akan hakekatnja, kita telengkup telentangkan, kita selisik, dan matjam² lagi jang kita lakukan uatuk me- ngetahui kebenarannja. Djadi, tambah usia, tambah kritis pandangan kita. Tambah terdorong perasaan kita sekalipun itu mengalami perkembangannja sendiri. Karena itulah orang tuamu akan segan melihat kau dan aku memasuki
....... memasuki peralatan jang dapat disarikan setelah
perkenalan kita jang lama itu. — Maksudmu bagaimana ? Djangan kau samar²kan ! Sekali lagi kukatakan .. sebenarnja aku, ja, bukan aku sebagai keseluruhan djiwa-ragaku, tetapi
hatiku, itu menghendaki kita ....... kita hidup bersama,
tetapi aku tak sampai hati. Tak sampai hatiku membiarkan kau dan orang tuamu mengembara dalam hutan ketjemasan. Ketjemasaņ ... jang kauketahui itu. — Dan bagaimana dengan pergaulan kita ?!! Gloria me- njelang dengan tiba-tiba. — Mengapa kautanjakan itu ? sambut Herman tertje- ngang.

  • Bukan, ...... dulu pernah kukatakan kau tak
    mau ketinggalan hidup! ..... setiap saat jang mem-
    bawa kegembiraan hendak kauburu, agar tak menjesal ke-
    lak ....... apa itu kauperhubungkan dengan pergaulan
    kita. dengan aku ? Gioria tidak menjangka pertanjaannja membangkitkan tantangan jang hangat dan seru. Herman seolah-olah mem- bingkas dari duduknja; sambil matanja menjembul besar besar kegusaran, tangannja terulur memegang lengan Gloria sambil menariknja akan menatap matanja dari dekat, Lalu katanja :

— Sekali-kali djangan kaukatakan itu! Aku bukan dja- dikan kau permainan belaka! Kau mendjadi bidikan seluruh perasaanku! Aku tak suka menggembor-gemborkan ketu- lusan dan kesungguhan tjintaku. Tetapi, djika kau singgung apa jang kausangka tadi, djanganlah kausangka aku diam; aku akan melawannja dan menentangnja! Barangkali se- lama pergaulan kita, belum kaurasakan! Tetapi karena tjatjatku itulah perasaanku mendjadi lebih dalam, lebih
mesra, djuga mudah terusik. Dan sebenarnja ..........
apa jang kausangka-sangka tadi, mengetjewakan aku
...... sekali-kali tak kuduga akan timbul dalam
pikiran. Djanganlah menjinggungnja .. itu hanja melemahkan kepertjajaanku akan dirimu. Djanganlah! Lama mereka diam, tak mengeluarkan sepatah kata djua- pun. Begitu pula ketika mereka kembali berdansa. Kegem- biraan jang memenuhi pesta itu tak sampai menggenangi mereka berdua. Malam itu telah terusik bagi mereka oleh mereka sendiri. Larut malam tak sampai menjelimuti mereka. Herman mengantarkannja pulang. Kesepian kembali menjelupi mereka. Tetapi sepandjang djalan tak henti²nja pikiran dan perasaan mereka mentjampurkan diri. Setiba dirumah, tampak lampu-lampu telah dipadamkan. Hanja lampu ketjil menjinari serambi muka. Orang tua Gloria telah tidur. Gloria memandang keaçah pintu muka, jang kuntjinja digenggamnja dalam tangannja, kuntji tja- dangan. Tak ada ibunja jang akan menjambutnja. Nanti sendiri ia akan membuka pintu itu. Berdjindjit masuk. Membuka pintu kamarnja dan masuk seorang. diri. Tak akan ada suara jang bertanja dengan penuh kasih: — Bagaimana tadi pestanja, Gloor ? Gloria menarik nafas dalam. Kelengangan meliputi dirinja. Kekurangan. Seakan-akan kekurangan sambutan itu dira-

sanja sebagai kekurangan udara. Kemudian ia memandang Herman. Sekilas mata mereka bertemu pandang, kemudian Herman menekurkan kepala, seakan-akan sepatunja men- djadi perhatiannja. Tetapi Gloria terus menatapnja. Mereka berdiri ber-hadap²an, tidak berkata-kata. Sambil Gloria masih sadja menatapnja, ia bertanja dengan manis dan ichlas : — Katakanlah, Man ! Kau hampir dokter! Kau harus dapat berpikir objektip! Kau harus dapat berpikir objektip dalam menetapkan sesuatu keadaan. Katakanlah! Apakah kita masih saling mentjintai ? Herman menengadah. Dalam kekelaman itu ia melihat Gloria; Gloria dengan wadjahnja jang berseri-seri mele- paskan pertanjaan jang tulus dan ichlas diterbitkan oleh hatinja. Ia tak dapat menahan. Didekapnja Gloria hingga pipi mereka damping-berdampingan. Lalu dibisikkannja :

  • Jah, masih ! Masih tetap ! ...... — Djadi tadi kaulawan perasaanmu ? — Ja, benar! — Dan tadi kaumenangkan pikiranmu! Memang,. Apa djuga jang memisahkan

    kita kelak, Ria, ketahuilah aku tetap .. tetap

tjinta padamu ! Mereka perpisah. Perpisahan diiringi bunji motor Herman. Bunji jang telah dikenal indera pendengaran mereka, seakan-akan sahabat karib jang lama. Herman melambai-

kan tangan, kemudian ia menjentuh bibirnja dengan udjung

tapak tangannja, lalu mengulurkannja kepada Gloria, me- lambangkan tjium jang hendak disalurkan padanja. Djawab Gloria terdjelma dalam senjum jang menghiasi mulutnja, sambil matanja menatap Herman. Mata jang lengas ber- kilau-kilauan dalam tjahaja lampu jang suram itu.

IX

Sedjak saát itu djarang mereka bertemu lagi: artinja dirumah Gloria. Difakultas tak demikian. Setiap kali waktu- nja senggang, lantjar sudah Herman mengajunkan kaki ketempat mahasiswa tingkat pertama berkerumun. Disaat- saat itu matjam-matjam jang mereka tjakapkan dan saling menghiburkan. Mula-mula penuh gurau sifatnja, untuk melupakan kesungguhan beladjar jang serba tawar itu. Achirnja terasa bukan itu sadjalah jang dapat mendjadi buah tutur setiap kali mereka berdjumpa. Seolah-olah ada batu penarung jang menghalangi pergaulan mereka seperti dulu karibnja. Samar-samar Herman mulai merasakannja ketika mendjenguk Gloria dihari-hari setelah malam pesta temannja terlampau. Kemudian makin njata padanja ke- dudukannja sendiri. Tak lagi ia disambut orang tua Gloria kalau datang, atau bila sedang bertjakap-tjakap dengan Gloria. Kedatangannja, selalu bertepatan dengan kepergian ibu Gloria kedapur. Dan sekali-sekali Gloria dipanggil pula untuk membantu ibunja, biarpun sebentar sadja. Tetapi Herman radjin memupuk kesabaran. Semua itu dapat dipahaminja, rela diterimanja. Tak peduli ia, mukanja sudi dilihat atau tidak. Jang menjedihkannja hanja Gioria. Mukanja selalu tampak berseri-seri bila Herman datang. Djiwanja tetap dipenuhi perkelahian batin dan ia girang dapat melupakannja, meski untuk sesaat sadja. Dirumah tak ada lagi pembelanja, tak ada teman akan menggemakan bisikan hatinja. Selalu harus terbenam perasaannja. Harus dia mentjernakan teguran, nasehat dan peringatan, jang tak henti-henti disuapi oleh orang tuanja padanja. Mula-mula masih dapat ditelannja kesepian dirumah.

Difakultas masih ada orang jang sehati dengan dia. Baru ketika kuliah-kuliah berachir dirasanja betapa tersendiri ia dalam lautan kebimbangan sekitarnja. Lalu Libur Besar mengulurkan tangannja. Baginja bukan lagi hiburan, me- lainkan kesepian. Djarang sudah pertemuan-pertemuan jang asjik dikedjarnja daħulu. Herman sibuk terlibat dalam kerdja-bantu jang harus diselesaikannja untuk udjian dokter. Berhari-hari Gloria tak dapat tidur sepitjing djuapun. Waktu malam makin sangat pikirannja tergaduh. Seakan- akan ia diperolokkan iblis, jang mentjela harapannja jang hampa. Tak ada dirasanja tenaga dalam dirinja akan me- lawan kekuatan itu, selain dalam utjapan jang selalu tinggal bergema baginja: Aku tetap tjinta padamu! Aku tetap tjinta padamu ! Selama liburan dia lebih dirumah daripada diluar. Kalau tak tertjenung dalam pikiran sendiri, tersibuk sudah dia dengan membantu ibunja. Selalu ibunja men- tjari djalan agar tinggal dekat pada puteri kesajangannja itu. Dengan begitu lebih mudah ia dapat berbitjara dengan anaknja jang tegar hati itu. Lambat laun Gloria insaf, Herman tidak diperuntukkan baginja. Bukan manusia jang bertjela! Mengapa djustru dengan Herman perlu ditjarinja pergaulan? Bukankah masih banjak pemuda jang tak kalah dengan dia? Dan Gloria boleh bergaul, bepesiar dengan mereka semua, ketempat mana sadja, dengan siapa sadja, — ja, tentu djuga dengan Trisno — asal tidak dengan Herman. Dan apa pula salahnja; bukankah Trisno berpendidikan djuga? Benar, tak lengkap tamat SMA, tetapi hidupnja njata terdjamin! Beberapa tahun lagi dan dia sudah menggantikan ajahnja. Lagi pula dia sesuku dengan Gloria; itu lebih beradat namanja. Tidak !

pikir ibunja, Herman harus dipisahkan dan disingkirkan dari anak kesajangannja itu. Gloria hendak diserahkannja dengan baik dengan rasa tenteram dan aman; djangan dengan rasa tjemas dan bimbang akan depannja. Karena- nja pula Gloria perlu mengikuti kursus ! Kursus, itu jang dialami olehnja dirumah; kursus penjedar gadis-gadis sen- timentil, kursus kilat sistem sepuluh djari! Sepuluh djari ibunja, jang meramas hatinja sampai mentjapai kekenjalan jang dikehendakinja. Haluan jang searah dengan ibunja. Pikiran dan perasaan jang disetalakan dengan penala ibunja! Sepandjang liburan jang dua bulan lamanja itu, tak sepi-sepi nada penala itu didengungkan disekelilingnja. Ketika tirai-tirai djendela ruang kuliah, tersingkap kembali, sadarlah Gloria, bahwa tali penghubung dirinja dengan ibunja, mengalami perketatan. Seakan-akan tak kuat dan tak dapat lagi ia meloloskan diri dari simpai jang diterikkan itu. Ia mentaati ibunja, sebagai anak jang tunduk menghormati asuhan ibu-bapanja. Penghormatan itulah membuat ia menguburkan perasaannja. Lenjap semu-semu, padahal tersimpan dan tersembunji pada ha- kekatnja. Begitulah hatinja bagai mesin jang tak kurang bahan bakarnja, hanja terpadam apinja. Dalam keredaan perasaan jang menekurkan kepalanja, mesin batinja mulai dihidupkan dengan tiba-tiba. Paman- nja hendak merajakan lulusnja puteranja, jang mendjadi mahasiswa difakultas hukum ! Perajaan jang akan disema- rakkan dengan pertundjukan pilem dirumah, disudahi dengan makan dan dansa! Perajaan bukan bagi Gloria sadja, tetapi djuga, ja, djuga bagi Herman, jang dibolehkan oleh orang tua Gloria diadjak dan diundang dengan resmi. Tak terperikan girangnja Gloria. Hatinja bagaikan mesin jang kena bunga api, hingga tertjutjuh bahan bakarnja.

Sudah dibajangkannja mereka bertentangan pandang; sudah dirasanja dekapan Herman waktu dansa; sudah pula di- dengarnja bisikan kata-kata menjelangi irama Waltz. Lupa sudah ia akan kesajuan jang merangkumi hatinjadahulu. Herman sudah boleh didapatnja kembali, itu sadja jang hendak diketahuinja! Lainnja tak sempat memenuhi
pikirannja dan tak perlu rasanja dipertimbangkan .....
Bagi Herman, adjakan Gloria dikuti undangan resmi dari pamannja, hanja menambah mengatjaukan hatinja. Terhadap Gloria tak diterbitkannja perasaan itu. Otaknja .. bekas putaran dan pusingan mahaguru tak segera mentjengkam umpan jang terulurkan padanja itu. Mengapa ia tiba-tiba diundang? Mengapa Gloria boleh lagi mengak- rabkan persahabatannja? Sudah berubah pandangan orang tuanja ? Setjepat itu ? Mendjelang perajaan, tak henti-hentinja pikirannja dirundung tanda tanja. Alangkah tenangnja ia dapat pergi nanti, andai kata tak ada lagi teka-teki jang selalu men- dampinginja. Seperginja dari rumah ia akan menjinggahi Gloria, belum sampai diduganja orang tua Gloria hadir pula pada perajaan itu. Ibunja membantu masak, ajahnja mengutjap- kan kata sambutan, begitu diberikan padanja, ketika ia menemui Gloria sendiri dirumah. Keheranannja berkem- bang djadi ketjengangan sesampai dirumah Suhirman. Muka jang riang dan sikap jang ramah menjambut dia, sewaktu bersalaman dengan orang tua Gloria. Seakan-akan mereka telah uapkan tantangan-tantangan jang dahulu merintangi pergaulannja dengan Gloria. Makin sedatlah pikirannja dalam menemui djawaban atas tanda tanja jang masih terpantjang didepannja. Habis bersalaman dengan Suhirman dan ajahnja, dapat

Iagi mereka duduk dengan lega. Gloria gelisah mengamati gaun-gaun tetamu jang datang mengedjudju. Herman tenang tampaknja. Padahał masih ditjobanja mengiraikan tabir kegandjilan jang menudungi tiliknja jang baik itu. Teman-temannja asjik ramai bergurau, sedangkan dia diam merenungkan kesan-kesan jang baru diperolehnja. Tak sempat lama ia tepekur. Pilem mulai diputarkan. Lebih

dari sedjam lamanja pikirannja bebas dari gangguan.

Setelah itu kembali kelompok mereka tersusun dalam lingkaran, jang tadinja terpentjar menghadapi lajar. Disindir dan diadjak teman-temannja Herman mulai ikut dalam pertjakapan. Gurau, tawa, dan tjumbu saling di- adukan. Kelompok tempat mereka tergabung makin padat djadinja; djuga makin bebas: minuman disuguhkan me- nurut apa jang dipesan masing-masing, bukan dipilih sewenang-wenang .. Ramailah lontaran kata jang seorang dibalas dengan sindiran oleh jang lain; sandjungan jang satu diiringi ke- tjenderungan jang lain. Banjak jang ikut sadja, sedikit jang terlibat dalam kehangatan bitjara. Gloria, Herman,
Suhirman, dan ....... Trisno ! Achirnja makin sedikit
jang terdjerat dalam aduan : Herman dan Trisno. Trisno djadi perintis. Hendak menundjukkan ia tahu foja-foja. Tahu minum ! Dan Herman tak dapat ketinggalan. Tak mau kalah! Jang satu melebihi jang lain; jang satu dalam banjaknja, jang lain dalam anehnja minuman : bir diselingi anggur, Martini tambah jenever, gin ganti dengan soda, dan seterusnja. Asap rokok tak kurang mengepul. Makin banjak jang menundjukkan keunggulannja dalam alam jang serba tjair lagi terbang itu. Semua bergiat, melupakan deritanja: tak dapat dansa. Lainnja terus memuaskan ke- gatalan kakinja. Lantai dansa bersilih ganti dengan gelas

minum. Sementara itu pelajan datang-pergi, tanja bawa jang hendak diminum. Herman tak mau ketinggalan! Dokter-muda tak patut ditjela sontolojo. Lalu landjut ia minum. Terus ia menggelogok ! Menggelogok jang dibawa dan disadjikan didepannja. Menggelogok ... jang terhidang dimukanja. Pada suatu saat mulai kelam penglihatannja. Terhujung- hujung sudah djalannja. Kakinja tak kuat lagi meluruskan langkah dilantai dansa. Semua jang masih tertangkap matanja serasa digojangkan dan dipusingkan. Lantai ting- gal samar-samar dilihat, seperti melihat djalan dari dalam mobil jang telah kabur katjanja karena hudjan lebat. Kawan-kawannja menertawakannja. Herman sampai ma-
buk. Mabuk ! Sungguh-sungguh mabuk ! .....
Ah, benarkah, hanja mabuk dia? Mabuk untuk semalam? Herman kehilangan pikiran. Oleh teman-temannja ia diantar pulang. Pulang, diantar lagi! Herman, jang tegap tangkas, tjukup besar untuk mengendarai B.M.W. 500 cc. sekarang perlu diantar, karena tak ada kekuatannja sendiri, begitulah mereka mengedjek, meskipun hanja sebagai
senda gurau. Hanja senda gurau .....
Tak terbajangkan betapa bentjinja Gloria. Berkali-kali Herman telah menemaninja, belum pernah ia ditinggalkan begitu. Lagi-lagi perasaannja menggelora. Mengapa djustru pada saat jang sebaik itu, saat mereka bertemu kembali, tak dapat Herman membawa diri sedjamaknja ? Belum pernah dilihatnja Herman begitu: mula-mula sadar dan riang lintjah, lalu diselapi keruntuhan sikap. Hilang lagi keriangan Gloria jang mulai meliputinja malam itu. Terpaksa ia pulang; maunja dengan orang tuanja; basilnja dengan Trisno dan kawan-kawannja. Sepandjang djalan ia mentjebil sadja, tak puas-puas mendjelmakan rasa bentji.

X

Keesokan harinja. Kamar Herman sunji senjap. Mata- hari sudah menjelusup kedalam kamarnja, memperkenal- kan panasnja pada medja tulis. Sajup-sajup terdengar paduan bunji datang dari djam dan bak tjutjimuka, Ber- saing-saing bunji itu. Detik djam tjepat dan njaring menjelangi tjelepuk air jang menetes djatuh perlahan-lahan. Tiba-tiba Herman bangun. Rasa sakit diperut membuat- nja. Ia mentjekup dan menahan perut dengan tangan. Isi perutnja serasa membubung sampai ketenggorokan. Matanja terpedjam kepedihan. Terhujung-hujung ia me- nudju bak tjutjimuka, menggerapai almari, medja tulis sampai pada tudjuannja. Hanja air tjerat jang menetes djadi pedoman. Sesaat dirasanja tepi tjutjimuka, dimuntahkannja seisi perutnja. Dua, lalu tiga sampai empat kali. Badannja masih membungkuk, tangannja bertelekan ketepi bak tjutjimuka. Sambil menghapus-hapuskan mulutnja dengan air, ia menegakkan badan. Matanja masih dipedjamkannja. Dipedjamkan ? Atau terpedjam ??? Ia menggosok-gosok
matanja, mengedipkannja. Tetapi ....... pandangannja
masih kabur djuga ! Hatinja berdebar-debar! Mata kanannja! Mata kanannja! Mengapa begitu kabur? Ia melihat dalam katja. Masih samar-samar sadja bajangannja. Ah, mustahil! Barangkali karena baru bangun ! Segera tangannja terulur mentjari-tjari botol berisikan obat mata protargol. Dengan harapan hangat diteteskannja perlahan-lahan. Dikedip-kedipkannja matanja akan meratakan tjairan. Ia menanti. Tak mau ia melihat segera kedalam katja. Harus segera baik lagi! Harus! Sekilas mata dibuang mukanja kedalam katja. Matanja menantjap bajangannja. Mudjur, ja, mudjur bajangannja sendiri masih dapat

dilihatnja. Hanja ... mengapa tak mau terang djuga ? Putjat masai mukanja. Kembali ia ketempat tidur mengem- paskan badan; memikirkan sebabnja. Karena minuman kemarin? Karena minuman sebanjak itu ? Atau karena minuman tertentu? Ah, bagaimana mungkin! Barangkali bengkak sadja, hanja conjunctivitis lagi! Kembali ia mem- bajangkan mukanja kedalam katja. Masih sama! Mata kanan tetap kabur-kabur, tetapi masih dapat melihat. Kembali lagi ia ketempat tidur, berpikir, menjelisik, men- tjari-tjari sebabnja .. Begitulah berkali-kali ia berdjalan dari tempat tidur ketjutjimuka dan kembali lagi, setiap kali mengudji peng- lihatannja. Ia melihat dan berpikir dengan objektip, setjara kedokteran, setjara apa jang dipeladjarinja difakultas. Dan berkat pikiran jang objektip itu dapat dipastikannja lantang pandangannja tak kurang luas dan djaraknja, hanja lebih kabur, lebih samar. Tetapi perasaannjalah jang me- ngatakan ketjemasan jang selalu menjiksa dirinja mulai mendjadi kebenaran. Perasaannja pula jang meramalkan mata kanannja akan mengalami perubahan seperti mata kirinja itu. Perlahan-lahan, mula² teralpakan, kemudian bila sudah landjut, baru menjeramkan. Hanja, sekarang lebih peka ia untuk perubahan itu, karena pandangannja jang sudah terbatas itu. Dan hatinja pula membisikkan sebab semua itu tersirat dalam segala kedjadian dan kesan
dihari dan malam jang telah lampau .........
Ketjemasannja tak lama kemudian menemui pengesjah- annja. Sedjak hari itu tak lagi ia menampilkan diri difakultas, maupun pada Gloria. Dua tiga kali Gloria telah datang mendjenguknja, tetapi setiap kali terdulang padanja Herman telah kefakultas sibuk melakukan kerdja-bantu dan kadang-kadang baru kembali sore hari. Tetapi sebenar-

nja Herman menguntji dirinja, dalam rumah dengan ajahnja, dalam kamar seorang diri. Seminggu kemudian, penglihatannja makin mengabur. Kian kelam matanja di- tabiri dari alam hidup disekitarnja, kian terang pelita kesadaran menjala dalam batinnja. Kesadaran makin punah harapannja akan dapat mendjedjak djalan hidup disamping Gloria kelak. Pedih rasanja pisau kemalangan itu menoreh hatinja, serasa dihabisi darah tjintanja jang murni tiada tergantikan itu. Namun kekelaman jang me- liputi dirinja tak memadamkan tjintanja, melainkan me- njatakannja lebih-lebih, meski telah meresap padanja tak mungkin njala itu disuar dan ditanggap dalam dunia jang serba terang dan telah lain baginja itu. Tahulah ia sekarang, tak boleh disempatkannja Gloria memenuhi tjinta-rasanja. Satu sadja djalan jang terbentang dimukanja, mentjari dan mendapatkan pengobatannja. Diminggu-minggu jang menjusul tak suang-suang ia menji- bukkan diri dalam pelaksanaannja. Mula-mula atjap kali ia dikundjungi mahaguru penjakit mata, kemudian oleh ketua fakultas. Atas andjuran mereka itulah ajahnja berhubungan sendiri dengan kementerian. Ajahnja telah landjut usianja, ibunja telah meninggal, sedangkan dua orang adiknja jang lak-laki masih disekolah rendah. Bagaimana berat djuga baginja, tak djemu-djemu ajahnja mengingsutkan badan keluar rumab — jang tak lazim dilakukannja — untuk menghadap pada orang-orang jang telah ditundjuk Herman dan penasehat-penasehatnja. Setiap kali kelengangan mulai memenuhi dirinja, bila ia seorang diri dirumah, mulai ia merasa akan adanja tali perhubungan jang erat antara dirinja dan ajahnja. Mengapa baru sekarang mulai dira- sanja? Karena sekarang ia harus dibimbing? Dahulu tak dihiraukannja kehadiran ajahnja bila ia pergi, pulang atau

makan. Hanja sepatah dua kata jang mereka pertukarkan. Tetapi sekarang, barulah dirasakannja. Setiap kali ajahnja pulang ia menjambutnja dengan riang dan dükutinja langkah demi langkah kemadjuan jang diperolehnja untuk satu tudjuan: mengirimkan Herman ke Amerika setjepat-tjepat- nja. Dan ajahnja selalu mentjeriterakan dengan pandjang lebar dan penuh semangat tentang keberaniannja men- bentak pegawai-pegawai jang tak mau sadar akan keadaan puteranja, puteranja jang hampir dokter itu, putera harap- an bangsa. Tak djemu-djemu pula ajahnja menekankan akan ditjarinja djalan akan mengongkosi perdjalanan itu, meskipun telah maklum padanja tak mungkin datangnja dari hartanja sendiri.

XI

Empat minggu telah lampau. Gloria imakin kerap datang akan mendjengukaja. Tetapi Herman belum djuga hentinja menjuguhkan dalih² reelalui ajahnja bahwa ia tak dapat menerimanja. Gloria tidak terima. Tak diam ia menanjakan pada pelajan atau ajah Herman mengapa kedatangannja seakan-akan bertepatan dengan ketiadaan Herman. Achir- nja ia terus terang. Katanja sudah diketahuinja keadaan Herman, kalau itu jang ditakuti akan mengedjutkannja. Memang telah diketahuinja, salah seorang teman Herman mengatakan padanja. Karena itulah hendak didjenguknja! Mengapa sampai hati ia menolaknja ? Dengan tenang Herman mendengarkan ajahnja mentjeriterakan tutur kata Gloria. Terpaksa ia mengizinkan.

Mekar karena Memar 9

Apa pula jang tinggal dikatakan pada Gloria, bila telah maklum semua itu padanja? Hampir sebulan ia membe- lenggukan dirinja dirumah, bukan sadja karena ia harus dibimbing bila keluar, tetapi terutama untuk mengelakkan dunia luar, meluputkan diri dari pertanjaan jang tak sepi- sepi mengusiknja. — Mengapa kau sampai begini, Man ? Bagaimana djadinja ? Bila timbulnja ? Sekarang Gloria telah tahu pula; tak banjak kawan- kawannja jang tahu tetapi tentu sahabat karibnja Lukman jang menuturkannja. Nanti harus lagi didjawabnja pertanjaan jang telah bosan nadanja itu. Tetapi Gloria harus tahu! Harus tahu tempatnja! Harus tahu dia, Herman, tak diperuntukkan baginja. Lebih-lebih sekarang, sebagai
manusia jang tidak sempurna lagi .......
Pada suatu sore, kira-kira seminggu setelah kundjungan Gloria jang terachir, datanglah saatnja. Gloria dipersilakan masuk oleh ajah Herman. Herman menanti didalam kamar. Kamarnja, seakan-akan kawan lama jang telah memperketat persahabatan dengan dirinja. Selama ia dirumah tak ditinggalkannja kamar itu; dari tempat tidur kekursi medja tulis, kembali ketempat tidur, duduk lagi akan memasang radio atau sedjauh-djauhnja kemedja makan. Bunji-bunji jang dahulunja redam didengarnja mulai diperhatikannja' dan lebih njaring gemanja, seolah- olah karena kehilangan indera jang satu, indera jang lain dipertadjam. Begitu pula ketika didengarnja langkah Gloria jang lembut dan perlahan-lahan mendekatinja. Ia berdiri dari duduknja ditepi tempat tidur. — Hei, Gloor! Kau itu? Marilah duduk! ia mempersila- kan dengan tangannja menundjuk pada kursi medja tulis,

sambil senjum jang kaku dan suara jang riang mentjoba melitjinkan suasana jang serba sendat itu. Gloria duduk perlahan-lahan, matanja masih tertantjap pada wadjah Herman. Baik suara jang riang maupun senjum kulum hilang daja baginja. Ia meneguk. Terharu ia melihat Herman, terharu melihatnja duduk ditepi tempat tidur dengan kedua tangannja tertangkup, jang bergeser-geseran mendjelmakan rasanja jang senak itu. — Bagaimana, Man? tanjanja dengan manis tjampur sedih. Gloria pilu hatinja. Sedu-sedan jang tertahan-tahan menjebukan kerongkongannja. Tetapi ia bertahan. Untuk Herman. Kedatangannja tak mau diiringinja dengan ke- sedihan lagi. Tak boleh!

  • Ah, sudahlah ... kau telah tahu ... aku tak dapat
    melihat lagi .....
    — Sama sekali tidak ?
    .... kanan sudah serupa dengan kiri ... hanja
    sampai setelempap tangan ! Gloria diam. Tetapi kantjah perasaannja menggelegak. Mendidih karena hanja satu jang hendak diketahuinja : Mengapa ? Mengapa sekonjong-konjong demikian ! Pertanjaan itulah jang merangsangnja setiap hari akan me- nanjakannja pada Herman. Dan selalu ia mengharapkan pendapat Herman sama dengan prasangkanja. Sangkamu ada sebabnja jang tertentu ? Sedjurus Herman diam. Pertanjaan itu telah pula di- bahasnja. Tetapi ia selalu objektip. Tak boleh menepatkan sesuatu djika tak ada tanda-tandanja, itulah selalu men- djadi pedomannja pada pemeriksaan. Sekarang tjara berpikir itu pula jang harus ditempuhnja. Ja, harus ditempuhnja, bukan mau ditempuhnja. — Mentjari sebab itu sukar, Ria! Ketika mataku jang

kiri kena, tak kuketahui bila terdjadinja apalagi menga- takan sebabnja!
Djadi .... begitu sadja djadinja ? tanja Gloria
sambil mengerutkan dahi. — Hmh! Begitu sadja! djawab Herman sekonjong- konjong mentjibir. Lalu disambungnja : _ Tentu tidak begitu sadja! Prasangkaku: sebabnja ada dan penjebabnja ada pula, apakah jang menjebabkan- nja itu makanan, minuman atau ketekunan beladjar, aku tak peduli .. — Minuman ? Gloria menjelang tiba-tiba. —- Ja, mengapa tak mungkin? Aku kan minum banjak-
banjak pada malam itu ..... Ah, tetapi semua itu tak kupe-
dulikan, kualpakan sadja, aku tak mentjari sebabnja, tjukup bagiku djika aku dapat sembuħ kembali, djika dapat

— Kau akan ke Amerika ? — Itu masih angan-angan!

  • Kudengar sudah kauusahakan ? — Memang! Mudah-mudahan sadja! Ajahku lagi sibuk
    mengurusnja. — Andaikan djadi, bila kau berangkat ?. Ah, masih lama, barangkali sebulan lagi. Karena bagiku lebih sulit. Ada jang harus diurus dan diberitakan lebih dahulu. Harus ada jang menolong dan membimbing aku di Bangkok, di Amsterdam dan entah dimana lagi, pokoknja setiap kali aku perlu meninggalkan kapal terbang. — Ajahmu tidak ikut ? Herman tersenjum, lalu berkata:
    — Mana mungkin ..... sedangkan aku sendiri pergi
    dengan uang negara.

— Dengan uang kementerian ? — Ja, kalau dapat ... Andai kata dapat, tentu ada
ikatan lagi ....
— Ikatan dinas ? Ikatan pekerdjaan jang tertentu, tapi itu soal lain, sudahlah, djangan kita bitjarakan dalam-dalam ! Sedjurus mereka diam, masing-masing dipenuhi pikiran- nja sendiri. Bagi Gloria Herman serasa berubah. Lebih kasar ia, seakan-akan mentjela dan mentjemoohkan segala sesuatu jang melingkari dirinja. Kedjadian-kedjadian jang menimpa dirinja mengolahnja sampai demikian. Gloria mentjari djalan akan melipurnja, tetapi djalan itu tiada tersedia baginja, lebih-lebih karena djarak antara mereka seakan-akan menjepikan dan mentjeriterakan pertjakapan mereka dari senda gurau jang mungkin dapat meriangkan hati. Meskipun demikian, Gloria mentjoba-tjoba djuga dengan suara jang manis : — Bila sudah pasti, kau tentu beritahukan kepergianmu padaku ? Dan aku boleh ikut mengantar ?! — Tidak !! djawab Herman dengan garangnja. — Tidak ? tanja Gloria keheranan. — Se-kali² tidak ! Kalau ada maksudmu hendak berbuat sesuatu jang baik bagiku, djanganlah kauantar aku kela-
pangan terbang. Itu sadja jang kuminta ..... itu sadja ...
Gloria terkedjut. Harapannja jang hangat akan dapat me- njatakan ia ikut rasa, sia-sia djadinja. Hermanpun merasa djawabannja merawankan hati Gloria; Gloria jang masih kegadisan itu. Sambil mengulurkan tangannja katanja : — Marilah kesini, Ria, dekat aku, bawakan kursimu dekat sini. Gloria menarik kursinja sampai dekat tempat Herman duduk. Herman masih mengulurkan tangannja. Ia meraba

kepalanja, rambutnja jang halus tergerai sampai kepundak- nja. Gloria tiada berkutik. Ia menatap mata Herman jang teiah hilang njalanja itu dan sekarang diganti kerdjanja oleh rabaan tangan jang dirasanja mengelus rambutnja dikiri kanan sampai kepipi. Herman meneguk. Terharu, lalu katanja :
— Kau tetap tjantik ..... kau djangan marah, Gloor,
aku kasar tadi ..... kau harus mengerti, kita ..... kau
dan aku harus beladjar berpisah ..... harus beladjar
melupakan masa jang telah silam, masa jang penuh kebahagiaan itu ... — Melupakannja dengan begitu sadja ? Bukan itu maksudku .. kau djangan mengharap-
harapkan jang telah kita angan-angankan bersama .... aku
buta sekarang ..... buta, artinja lain daripadamu, lain
daripada orang lain, lain kebebasanku, lain kemungkinan-
kemungkinan jang ada bagiku .... Kau ada hidupmu
sendiri .... akupun harus menempuh djalanku sendiri
.... Gloria mengerutkan dahi dan bibir; mukanja tegang
seakan-akan tanda tanja tertera padanja. Lalu ia bertanja: — Mengapa kau sedihkan begitu, Man ? Kau kan ke
Amerika, kau kan sembuh ... kau akan sembuh .....
kau harus, harus sembuh! ..... Tak dapat ia bertahan
lagi. Ia mengesak, lalu meniarap ditepi tempat tidur sambil berlutut disamping kaki Herman. Segera Herman menggerapai akan memagut bahunja hendak melipurnja. Lalu katanja lemah lembut :
— Mengapa lagi kau menangis ..... Marilah hapuskan
air matamu itu ..... Aku tahu jang kaurasakan Ria,
tetapi bagi keselamatan dan kebaikan dirimu dan aku, sebaiknja tak menghiraukan aku ada atau tidak, sembuh
atau tidak ....

Herman terharu mendengar sedu-sedan jang terputus- putus itu. Gioria djarang tersedu dimukanja. Tetapi kali itu, tak dapat ia menahan tekanan jang menjumbat hatinja dan perasaan jang tertekan itu perlu ditjurahkannja. Telah ditjobanja dengan kata-kata, tetapi tertangkis djuga. Sekarang air matanjalah mendjadi pendjelmanja. Herman menanti. Kesunjian dalam kamar mulai mengalahkan sedu-sedan jang bertambah kurang, hingga achirnja sajup- sajup terdengar. Ketika itu Herman berkata dengan senjum terguris dimulutnja :
Masih kauingat, Ria, ketika di Tjibodas .....
barangkali waktu itu kau menertawakan aku, aku sebut-
kan depinisiku ..... depinisi tentang tjinta ..... masih
ingat ? Tjobalah, kaulah sekarang jang mengulangi ....
tjoba ...... Gila bukan ?
Gioria mentjongak; tjongak jang tiada dilihat Herman
.... Herman mendengar Gloria mengampaikan badannja
pada sandaran kursi. Ia menanti tetapi Gloria masih diam, menekurkan kepala dan mengamati saputangan jang lengas dipermain-mainkan antara kedua tangkup tangannja. Ia berdaham sebentar, lalu katanja tergegap-gegap :
Tjinta adalah ..... adalah keharuman minjak wangi
jang dapat ditjium .. bisikan .... bisikan ...
— Bisikan kata-kata jang dapat didengar, Herman menolong.. Bisikan kata-kata jang dapat didengar, Gloria mengulangi.
— Ja, lalu ..... Herman menarik.
Wadjah jang .... jang berseri-seri .... jang .....
jang dapat. di di Gloria tak sampai mengutjapkannja. Apa jang ditudjui Herman terasa olehnja sekarang. Ia tersenak kata, tetapi

Herman mendorong djuga akan menjebut kata jang satu itu. — Katakanlah! Katakanlah !
— ..... jang dapat dilihat ! Gloria meluntjurkan tjepat-
tjepat.
— Itulah ..... wadjah jang berseri-seri jang dapat di-
lihat ..... itu tak lagi kebenaran bagiku ..... tak mungkin !
Karenanja pula tjinta jang bahagia ditengah-tengah sesama manusia tak genap dan tak mungkin !

  • Mengapa tidak ? — Mungkin, benar mungkin, tetapi pendjelmaannja,
    pembawaannja kedunia luar, kedunia manusia jang me- lingkari kita, itulah jang tiada mungkin. Tjinta itu dua tjerminnja, jang konkrit, jang dapat ditanggap pantjaindera kita, dan jang lain jang tiada tertanggap, tetapi tersembunji dalam-dalam namun lebih kekal dan tulus, tak mudah
    berkarat. Tetapi kaurasa, bukan ..... dunia manusia
    hanja kenal jang konkrit, hanja jang dapat ditanggap. Karena itu kelengkapan pantjaindera adalah tuntutan
    ganas untuk dapat menempuh hidup bersama .....
    dengan bahagia dan ditengah-tengah dunia manusia kita ini. Andaikan orang-orang telah tahu semua akan keadaan- ku ini, dan mereka lihat kau dan aku, menudju peralatan, apa pula jang akan mereka katakan, apa pula akan men-
    djadi tutur kata mereka .....
    — Itu tak kupedulikaņ!! Gloria mendjawab dengan sekonjong-konjong. Haha, mudah bitjara, kau! Sadarilah akan diriku, Ria! Itulah, hanja itu jang kuminta! Karena itu pula tak kuhendaki kau mengantarkan aku nanti. Dan sebenarnja
    lebih dari itu ..... pertemuan kita sekarang ini, kita
    djadikan jang terachir !

— Jang terachir ?? tanja Gloria dengan muka tegang kekakuan. — Ja, itulah jang sebaiknja bagimu dan bagiku ! Djangan sangka aku kedjam, aku kasar, sekali-kali djangan. Aku berperasaan djuga, dan karena kuketahui dalamnja perasaanku itu, aku bertindak agar tak mengusik tudjuan dan kedudukanku.
— Djadi ..... ini pertjakapan kita jang terachir ?
Gloria bertanja dengan lemah.
— Begitulah, untuk sementara ....., djawab Herman,
lalu melipur pula.

  • Tetapi djangan kausedihkan, masa jang akan datang
    membawa kelainan dan kebaruannja sendiri bagimu! — Bagi kita bersama! Gloria membetulkan.

  • Mudah-mudahan djuga bagiku, djawab Herman
    sambil bibirnja membusur antara senjum dan sedih. Matjam-matjam sadja jang mereka tuturkan kemudian. Tetapi sekalipun hendak dipandjang-pandjangkan tjakap- nja, Gloria merasa Herman kebal untuk segala senda gurau. Seakan-akan dia sendiri jang berbitjara, tiada di- selingi suara Herman jang gurau itu. Mereka duduk berhadap-hadapan, tetapi tiada bertemu pandang, dan itulah jang dirasakan Gloria sebagai hantu jang menjelapi mereka berdua dengan tidak ada penàngkalnja. Achirnja datanglah saatnja jang ditunda-tunda Gloria Herman menggapaikan tangannja. Gloria membimbingnja sampai kepintu. —- Sampai disini sadja aku ! kata Herman. Tangan mereka bersengkarut dengan erat dan hangat. Djabat tangan jang terachir itu lama mereka biarkan seakan-akan menghirup daripadanja kekuatan dan keta- bahan hati dalam djalan jang mereka tempuh sendiri-

sendiri. Djalan jang terpisah lahir tetapi terikat batin .....
— Biarpun tak mungkin sedjadjar djalan kita, djangan- lah kaulupakan, Ria, apa jang pernah kukatakan dahulu! kata Herman dengan sungguh-sungguh sambil memagut bahu Gloria kanan kiri. Apa maksudmu ? tanja Gloria dengan manis, me- nanti pendjelasan. — Djangan kaulupakan apa jang kukatakan pada
malam perajaan itu ..... ketika kita berpisah dirumah-
mu ....
— Aku berdjandji tak akan melupakannja tetapi apa pula jang kaukatakan waktu itu? tanja Gloria amat manisnja dengan suara anak ketjil jang pura-pura lupa hafalannja. Tahu benar ia akan maksud Herman, tetapi hendak didengarnja Herman sendiri mengutjapkan.

  • Kau ini memang ...., Herman mendjawab, lalu
    bersenjum simpul. Gloria gembira melihat senjum jang hilang kekakuannja itu menghiasi wadjahnja. Selama mereka bertjakap-tjakap baru sekali itu dilihatnja.
    — Baiklah, kukatakan ...... djangan kaulupakan aku
    tetap tjinta padamu, bagaimana djuga keadaanku tak sempat dan tak mungkin mendjelmakannja! Herman menjungguh-njungguhi suaranja. Serasa terangsang ia oleh pertjikan keriangan jang sekedjap itu. Karena itu katanja pula dengan girang hati : — Tadi kau marah-marah, kau bentak-bentak ,kau akan sembuh, kau harus, harus sembuh". Dalam hati aku tertawa. Tetapi sebenarnja itu pula bentakan perasaanku. Mudah-mudahan sadja aku kembali dengan hasil, dan
    .... senjampang sampai demikian djadinja ..
    kau tentu mendjemput aku, ja Gloor ? — Tentu! kata Gloria dengan penuh keichlasan.

— Dan kaukenakan gaunmu jang hidjau ? Gaun jang kusukai itu? Jang pakai tangan tiga perempat, pakai kelim hitam ? — Akan kukenakan! djawabnja sambil meneguk terhara. Herman tiada mendekapnja. Tak perlu dan tjanggung rasanja baginja untuk dilakukan. Djabat tangan lebih me- resap, lebih berkesan dan berperasaan. Lalu ia melambai- kan tangan; lambaian jang tak dapat dilihat djawabannja. Hanja bunji langkah jang makin meredam menandakan. Gloria telah djauh daripadanja.

XII

Amerika! Firdausi duniawi! Negara hiburan dan kenikmatan! Disanalah keindahan alam dapat ditandingi ketjantikan wanita, seluruhnja dikuahi kegampangan hasil tehnik. Amerika bukan tempat pembunuhan djadi persoal- an, bukan tempat sopan santun merenggang, bukan tempat masalah-masalah dunia dibahas. Bukan, Amerika melawan bintang tjakrawala dengan bintang pilem, melebihi dewi pelangi dengan warna mobil mentereng dan gaun jang mengalimantang. Negara, jang hanja kenal hasil; tak kenal
kegagalan ! Itulah Amerika .... bagi Gloria.
Begitulah selalu ia menerawang langit dikala rindu akan Herman. Lama sudah ia bertahan-tahan, tak kundjung datang surat jang tertudju padanja. Kabar ada jang sampai,

tetapi scialu singkat dan selalu harus didengarnja melalui ajah Herman. Terasing dari kebenaran mengajunlah langkahnja ketaman chajalan. Disana hendak dipuaskannja dahaga harapannja. Disana pula dapat dilupakannja tantangan Waktu, jang kedjam membiarkannja menanti. Satu saat tinggal mengisi harapannja; saat dapat dilihatnja Herman kembali dilapangan terbang. Mendjelang itu sabar ia mengembara dalam tamannja, radjin-radjin memupuk harapan. Tetapi Waktu tak tega berpisah dengan lama. Enam bulan tjukup membuatnja rindu akan pengembara kesa- jangannja itu. Reia ia mengundangnja kembali kealam kebenaran, lengkap dengan surat undangan. Biru-muda warnanja. Bentuknja : surat rangkap sampul, hemat sesuai dengan asainja : Dunia Baru. Isinja beberapa kalimat sadja: dalam keadaan sehat — mudah-mudahan lekas sembuh masih dalam pengobatan. Tulisannja njata membuktikannja: tulisan seorang perawat — dalam bahasa Inggeris. Lama Gloria memegang surat itu dalam tangannja. Sedih ia begitu bunji isinja, — seperti nada radiogram sesudah warta berita. Berulang-ulang dibukanja surat itu kembali. Matanja tak mau melihat kata-kata jang asing tulisannja itu; hanja sudi menghentikan diri disatu tempat itu: huruf H jang indah berliku-liku; jang dikenalnja; jang djadi lambang kemesraan perkenalan mereka. Achirnja disimpannja surat itu baik-baik. Sesuai dengan kesukaan pengirimnja: dalam almari, dibawah gaunnja jang hidjau. Setiap kali ia rindu kemudian, diambilnja surat itu dan dibatjanja berulang-ulang: Herman Kusu- mabrata — Institute for the Blind, New-York. Kembali

terbajang dimukanja Herman memagut bahunja, meng- harapkan dengan tulus : Dan kau kenakan gaunmu jang
hidjau ? Jang pakai kelim hitam itu ? .........
Suasana tersendiri dirumah makin menjesakkannja. Orang tuanja tak ubah dari sikap mereka semula. Malah ketimpangan Herman jang makin sangat itu mendatangkan tjedera antara dia dan ibunja. Mula-mula tak terutjapkan hangatnja. Berat bagi Gloria menjangkal kata-kata ibunja. Bajangan jang ditjemaskan dahulu sudah mendjadi kebe- naran. Tetapi, hánja karena itukah harus dilepaskanoja tjintanja ? Tak boleh ia mempertahankan perasaannja sendiri ? Tak dihiraukannja mula-mula. Trisno atjap kali datang lagi. Selalu ramah diterima oleh orang tuanja. Dia sendiri selalu punja dalih untuk menolak adjakannja. Orang tuanja masih membiarkan. Lama dimainkannja begitu. Lalu Trisno tjari akal. Mengadjak orang tuanja ketempat- tempat tamasja hari Minggu. Gloria boleh tinggal, boleh sendiri djadi selera. Namun Gloria tetap bertahan. Ibu djadi bentji. Lalu sore itu. Trisno datang. Dia harus me- njuguhkan teh, — kepada Trisno. Kali itu tak mau. Ibu męndengking. Lalu tengkar hangat, ibu dengan anak, dimuka Trisno. Anak tinggi hati" kata si-ibu. ,Ibu lali rasa" kata si-anak. Lalu ibu tambah marah. Pikiran hilang disiplin. Djangan sangka djadi dokter" tahu ibu. Udjian, djatuh tiga bulan" tahu pula anak. Sajang, ibu tak tahu sindirannja pedas, hingga anak panas hati, makan darah. Lambat laun perselisihan mengerut mendjadi kebisuan. Kemudian kembali mereka bertjakap-tjakap lagi. Lahir, sikap telah baik kembali; batin, perasaan belum bersatu. Gloria masih mendengar teguran ibunja. Baik sadja beladjar mengurus rumah tangga! Otak gadis terlampau

tjair untuk ilmu! Sesak rasanja dipenuhi kata-kata itu. Hasratnja mentjari djalan untuk meringankan perasaaunja dari beban itu makin bertambah. Ia sadar ia bukan gadis jang dapat menunggalkan perhatiannja pada buku atau diktat sepandjang hari. Namun tak boleh kemalasannja meliar dengan terus. Harus bertekad dan bertekun ia. Kini lebih mudah dapat dilakukannja. Herman djauh sudah daripadanja dan djustru itu mendjadi sumber limpah dari kekuatan hidupnja: tjintanja jang tak padam-padam. Tjintanja pula jang membuat kepalanja mentjongak mentjari kekerasan.' Tiga bulan lamanja segala tenaga pikiran dan rochani jang ada padanja ditjurahkannja guna udjian. Tak boleh ditundanja lagi udjiannja! Tak boleh ia djatuh lagi! Baginja lulusnja akan mendjadi bukti dari pada pikiran dan perasaannja sendiri: dapat menelan ilmu selain mengurus rumah tangga! Makin rapatlah pergaulannja dengan teman-teman di- fakultas. Rendah maupun tinggi tingkatnja, semua kenal Gloria. Rela mereka memberi bantuan. Mudah senjum dan pandangannja melepaskan diktat. Dengan begitu ketekunannja tak luput dari gandjaran. Dengan bangga ia lulus: sebagai seorang diantara tiga mahasiswi jang lulus sesaat dengan dia. Lalu kembali ia terdjerat dalam kelengangan. Dirumah lulusnja disambut dengan gembira tjampur siasat. Lulusnja harus dirajakan, tentu ! Boleh beramai-ramai dengan dansa, djuga dengan pilem seperti dirumah Suhirman itu; siapa sadja boleh diundangnja, djuga teman-temannja dahulu. Tetapi dia tak mau. Biar dirajakannja sendiri, dalam hati, dalam kesepian. Tak perlu diumpankan ke- sempatan dimana Trisno lagi dapat menundjukkan kemurahan hatinja. Keriangannja tak perlu ditontonkan;

itu resap sudah dalam hatinja. Gembira sudah dia sekarang, berdaja menggembirakan orang lain; seorang tertentu; dengan lulusnja, dengan ketjantikannja jang bosan didengarnja dipudji dahulu. Mula-mula hatinja masih sanggup .mendjundjuhg keja- kinannja. Tetapi, lambat laun perasaannja melajang antara sedih dan riang. Tak patutkah kesabarannja menanti di- gandjari? Mengapa tak boleh diterimanja surat lagi? Berita jang sampai pada ajah Herman memang tak sedih, tetapi mengapa selalu singkat begitu ? Mudjur tiba saat ia dapat menunggalkan perhatiannja lagi. Kuliah tingkat dua dimulai. Senang rasanja men- djelang perubahan itu. Tempat-tempat semua lain : ruang kuliah, ruang praktikum, dan perubahan kebanggaan: papan pengumuman madju setingkat. Tak perlu lagi tahu hewan atau tumbuh-tumbuhan. Namun masih djuga kakinja melangkah keruang. praktikum jang satu itu; dihari Djumat, diwaktu siang, bila loteng atas sudah sepi. Disana dibangunkannja harapannja. Dekat medja pan- djang, dekat tumpukan buku, dekat tanda tangan, jang begitu mudah didapatinja dahulu. Disitu ia merasa dirinja bahagia; gembira dalam harapan dapat menempuh saat jang mulia baginja itu: mengenakan gaun hidjau jang masih hemat tersimpan dalam almari.
Tetapi ......... dengan tiada nampak gabak dihulu
awan hitam tiba-tiba memburukkan langit harapannja. Surat jang lama dinantikan hampir-hampir teronjok dalam tangannja kegelisahan. Pandangannja makin hidup, makin bergedjolak! Herman segera akan kembali! Kembali ! Segera! Tak dapat ia menahan kegirangannja. Mentjongak ia sebentar, memedjamkan mata kebahagiaan. Lalu terus ia membatja. Muka jang merah lambat laun luntur keri-

angannja; lalu djadi biasa; lalu putjat masai. Dari riang, melalui tenang, beritanja djadi samar-samar, untuk me- nudju kekalimat-kalimat itu: Djika kau masih tjinta padaku, kabulkanlah dengan djudjur permintaanku jang satu ini. Djangan djemput aku dari lapangan terbang! Sekali-kali djangan! Tak ada gunanja sama sekali. Kau akan ketjewa! Gloria tak memikirkan lagi. Tak mau dan tak boleh. Serasa ia tertjempung dalam sumur kesedihan jang telah timpas airnja, hingga bergema sadja suara jang djahanam itu: Kau akan ketjewa! Kau akan ketjewa! Pikirannja tinggal sedat. Mengapa tak boleh sembuh ? Mengapa djustru dia? Mengapa? Kini dialah jang merasakan ke- djamnja kata itu. Dia pula jang harus menganguskan taman harapan jang telah radjin dipupuknja. Pada hari Herman sampai, Gloria tinggal dirumah. Tak dapat ia meringankan langkah kekuliah. Pikirannja satu dengan Herman. Djam jang betah berdetak-detik dengan tenang menggelisahkannja. Dua empatpuluh lima: masih dikapal terbang! Tiga lima belas ja, sekarang mendarat! Tiga empat puluh lima: kembali sudah dia diantara ajah dan adik-adiknja. Empat tepat: dan dia sendiri bagaimana? Tak akan dilihatnja Herman lagi? Putuskah semua jang dahulu itu dengan begitu sadja ? Keesokan harinja belum djuga ia kefakultas. Hanja satu keinginan jang berkobar: mendjumpai Herman setjepat mungkin. Dirumah hasratnja selalu hangat menggelora. Namun dekat rumah Herman langkahnja selalu berat terasa. Dia tentu sudah berubah! Barangkali lebih keras hati, lebih kedjam! Beberapa hari kemudian kebimbangannja barulah men- djadi kesedihan jang memuntjak-muntjak. AdikHerman

datang dengan seputjuk surat. Tulisannja, tulisan ajahnja. Gloria ingin didjumpainja disetasiun keesokan harinja. Adiknja akan mendjemputnja dengan mobil. Dia sendiri dan ajahnja akan menanti disetasiun. Dengan sabar ia akan menanti, katanja. Menanti untuk bersua kembali dengan gadisnja! Dengan tenang dan sabar, karena sekalian ia akan berpisah daripadanja! Berpisah, sebelum kereta api tjepat membawanja bersama-sama ajahnja ke Bandung. Denga ajahnja ... ke Bandung, kota didikan sematjam
manusia .....
Dengan muka sedih Gloria menjembulkan diri disetasiun keesokan paginja. Gaunnja jang hidjau dipakainja djuga. Iba tjampur pilu hatinja, maknanja telah hilang; tak mungkin menggembirakan pentjintanja lagi. Namun di-

pakainja djuga, sebagai salam dan djelma terachir dari

tjintanja jang tak kundjung padam njalanja itu. Siapa tahu, ajah Herman akan menjampaikannja. Diserambi setasiun ajah Herman segera menjambutnja. Kemudian diantarnja Gloria ketempat Herman duduk, dikereta kelas dua. Dipersambungan kereta dia ditinggalkan dengan petundjuk : — Tepat dibalik pintu, disebelah kanan duduknja! Gloria berhenti sebentar, mentjari kekuatan dalam nafas jang dalam. Lalu melangkah ia pelahan-lahan. Pintu sorong didorongnja. Tampak kereta terang disinari lampu; selain ditengah-tengah sisanja masih kosong. Lalu menga- lih ia, menemui pandangan Herman. Ia memandang lurus kemuka, tak dapat menduga siapa jang lewat. Matanja ditabiri katja mata hitam. Sikapnja kaku. Bibirnja seakan- akan membajangkan tjemooh abadi. Ma-an ... aku disini. Gloria! sambutnja dengan manis. Herman segera ber-

Mekar karena Memar 10

gerak dari duduknja, memalingkan mukanja kearah suara jang begitu lama tak didengarnja. Lalu Gloria duduk di- hadapannja hingga mereka bertentangan muka. — Ah, datang djuga ? Bagaimana sekarang? tanja Herman. Biasa sadja. — Bagaimana biasa? Aku masih ingat. Dekat saat aku pergi kau hendak tempuh udjian. Bukan bulan Agustus rentjananja ? — Oh, kalau itu maksudmu! Memang kutempuh djuga. — Lalu ?

  • Aku djatuh tiga bulan! Ah, kalau tiga bulan tak mengapalah. Sebenarnja
    sama dengan satu bulan. Dan sekarang? — Sudah lulus aku! djawab Gloria dengan lunak. — Sudah lulus, lagi? Selamatlah, kalau begitu. Mengapa tak segera kaukatakan? tanjanja sambil memberi selamat. Lalu disambungnja pula : Jang tiga bulan itu, tak mengapa! Pokoknja kan lulus! Djadi sekarang menudju sardjani muda ? tanjanja dengan senjum besar. Gloria tak ikut bersenjum. Gandjil rasanja. Kesepian diantara mereka segera disanggah oleh teriakan-teriakan pendjual makanan diluar. Langkah kaki jang mengentak bertimpa-timpa menandakan tempat- tempat jang ditempah segera akan terisi. Digesa-gesakan oleh kesibukan disekelilingnja, tjepat-tjepat Gloria menudju pertanjaan jang telah lama berkobar dalam hatinja.
    — Dan kau ..... kau sendiri ..... bagaimana ?
    tanjanja dengan suara anak ketjil. Sebentar Herman diam tertjenung. Bibirnja terketam, mentjoba menahan kata-kata jang berat dituturkan itu. — Rasamu, kau sanggup mendengarkannja, Gloor ?

— Mengapa tidak? Bukan kau minta aku datang djustru untuk itu ?
..... achirnja, memang tak dapat kusembunji-
kan. Aku rasa kau boleh tahu sekarang. — Katakanlah! Apa perlunja kausimpan-simpan dalam hati. _ Sebenarnja setahun lamanja aku berkorban untuk dapat menempuh saat ini. Kau lihat kereta api ini akan membawa aku ke Bandung. Aku sebagai manusia jang berguna lagi, sekarang. — Mengapa? Kau sembuh djuga ? tanja Gloria ter- tahan-tahan. Dibanding dengan dulu aku memang madju! ben- taknja penuh tjemooh.

  • Apa maksudmu, Man? Apa berhasil pengobatanmu? _ Berhasil !? Dapat djalan dengan tuntunan andjing,
    dapat batja braille, malah dapat mengetik, itukah hendak kausebut pengobatan ?! Suara Herman kedjam dan keras bergema. Muka Gloria mengerut terharu, lalu tanjanja kehasratan : — Tetapi bagaimana di Amerika? Bagaimana jang satu tahun itu? Masih dalam pengobatan kau tulis selalu. — Baik kauterima dengan tenang. Aku tak djudjur dalam surat-suratku. Katakan aku berdosa; namun itu semata-mata kulakukan guna kebaikanmu. Semua jang kukatakan dulu tentang pengobatanku di Amerika tidak benar! — Tak benar ?? — Memang begitu. Dokter-dokter dan spesialis disini- pun bukan anak ketjil. Ketika mata kanan mulai terkena, diagnosa 1) sudah pasti : parut-parut dalam djala mata.

1) penentuan matjamnja penjakit.

Prognosa ²): aku djadi dan tinggal buta. Terapi ): rehabi- litasi sosial. Guna itulah aku ke Amerika: mendjadi manu- sia jang masih berguna bagi masjarakat. Sekarang beginilah aku: dapat mengadjar dan mendidik sesama orang buta. Aku tak tahan dulu melihat diriku didepanmu sebagai orang jang tak dapat berbuat apa-apa, selain memamah biak derita sendiri. Itu sebabnja tak kukatakan padamu sebelum aku pergi. Gloria meneguk kesajuan. Hatinja sesak tertahan-tahan. Pikirannja katjau tak mau mengerti. Terdentumlah dari mulutnja : — Tetapi apa; apa hakekat penjakitmu itu?? Apa guna sekian banjak ilmu, djika kau tak dapat sembuh? Dan dokter-dokter, para spesialis, tak adakah seorangpun, tak ada tjara satupun jang dapat membuat kau sembuh lagi?? — Sudah kukatakan, aku ke Amerika langsung untuk pendidikan kebutaan, bukan tjari dokter wasiat! Dan tentang dokter-dokter disini, segala bantuan telah mereka berikan, segala pemeriksaan lengkap sudah dilakukan. Dapat aku mengharap lebih dari itu ? Gloria diam mentjari djawaban jang gemilang. Tak boleh dibenarkannja kata-kata Herman. Ia punja perasaannja sendiri. Hanja satu jang dirasanja dengan kuat: tjintanja. Tjintanja jang tetap akan didjadikannja obor bawaannja. Itu pula jang membuat pikirannja membubung tinggi.
— Ja .... penjelidikan ! Apa anehnja mengharap itu ?
Mengapa tak dilakukan ? Mengapa tak diselidiki menda- lam ? — Penjelidikan bukan pekerdjaan satu dua bulan, Ria! Apa kau jang hendak beri peralatannja, kau jang hendak

2) ramalan tentang perdjalanan dan kesudahan penjakit.

s) pengobatan penjakit dalam arti kata seluas-luasnia.

tjari uangnja dan ahli-ahlinja? — Aku tak mau pusing pikir itu. Bagiku tjukup orang tega melihat kau begini. Kau sebagai bakal dokter ! — Djadi kauanggap mereka semua tidak punja perasa- an, karena tega membiarkan aku begini, dan kau sadja jang menaruh iba, kau sadja jang dapat berbuat lebih dari mereka ?!! — Sekarang memang aku hanja dapat tunduk. Tetapi
kelak ..... ja, kelak, ... apa anehnja ... penjelidikan
..... dan aku sebagai dokter .....
— Ah, sudah, sudahlah; itu masih djauh. Kau sekarang baru lulus tingkat pertama. Enam tahun tekun kalau kau mudjur-masih harus kau telan, baru kau djadi dokter. Atau, boleh tawar, lima tahun dengan sistem baru. Dan sudah itu hendak djadi apa ? Penjelidik ternama ? Pemenang hadiah Nobel ? Atau terbentur sadja pada ke- insjafan penjakitku memang tak ada penjembuhannja! _ Siapa berani memastikan djalan kearah penjembuhan sudah buntu. Siapa tahu salah diagnosa! Siapa tahu masih ada tanda jang belum diperhitungkan! Djaman sekarang segala kelebihan dan kekurangan mungkin! — Baik kau sabar sadja. Kelak lebih mengerti. Lebih jakin akan kebenarannja. — Aku ogah jakin! Kau tak mengerti Man? Aku akan rela mengorbankan tenaga asal aku dapat melihat kau sembuh kembali. Mengapa tak boleh kukedjar tjita-tjita
jang indah itu? Kau tahu .... kau tahu ..... aku
tjinta padamu. — Baik kita sekarang bertegas, Ria! Tak perlu kugerek- kan dalam telingamu lagi. Kau punja hidupmu sendiri, begitupun aku. Sudah takdirnja djalan kita berpisah. Pilih- lah djalanmu sendiri. Djangan belokkan hanja karena aku.

— Aku hanja mau djadi dokter! Tak dapat kausebut itu belokan ! — Kau lebih tahu akan tenagamu sendiri. Kau begitu tjantik, kiri kanan orang pantjing pandanganmu. Kau bukan gadis jang pagi-sore-malam terpaut pada diktat. Duniamu tak tahan kesungguhan, sukar mendjundjung ketekunan. Namun kau telah lulus. Tetapi, djudjurlah sebentar, dan akui bukan sifatmu sendiri jang membuat kau lulus! — Memang bukan sifatku! Melainkan tjintaku! Tjintaku, jang sekarang enggan kausinggung, hanja karena kaukira harus ikut padam dengan penglihatanmu! — Aku tak pernah berkata begitu! djawab Herman terdjerat. Djadi masih ternilai djuga olehmu tjintaku ?
— ..... tentu, tentu. Hanja aku hendak menekan-
kan padamu. Pilihlah hidup jang sesuai dengan dirimu, dengan ketjantikan dan gajamu. Djangan kaupikirkan aku lagi. Lepaskan aku. Akan kutjarikan penjelesaianku sendiri, sesuai dengan kemampuanku sendiri djuga. Gloria tak bertanja lebih djauh. Gloria terasa: lokomotip kembali menjambung diri dengan rangkaian anak buah- nja. Mata Gloria bergerak-gerak kegelisahan melihat ajah Herman menanti dibalik pintu. Sebak rasanja dalam suasana jang menudju saat tundaan itu. -- Aku rasa sudah waktunja kita berpisah -sekarang, Gloor? tanja Herman mengulurkan kedua belah tangannja. Gloria menjerahkan tangannja. Hangat dan rapat dirasanja tertekan antara tapak tangan tangan Herman. Dengan suara jang hampir menjerupai tangis ia bertanja dengan tulus :
— Masih ..... masih .... kau masih tjinta padaku
Man ? Lupakanlah semua sebentar dan djawablah itu

dengan hatimu; dengan hatimu sadja! Herman meneguk terharu. Lama diusap-usapnja tangan Gloria dengan halus. Setengah berbisik katanja dengan sukar :
... kalau sekarang boleh kulupakan ... boleh
kulupakan lainnja ....
... aku memang lebih tjinta padamu dari dulu ....
Serambi setasiun hampir sepi. Kepala setasiun sudah mendjindjing isjarat. Bergegas-gegas Gloria turun. Sesam- painja dibalik katja tempat Herman duduk ia melambaikan saputangan. Lalu segera ia sadar. Diketuknja katja keras- keras. Herman terkedjut, menggerapai katja lalu ikut melambaikan tangan. Peluit berbunji, isjarat terdjundjung, lalu roda mulai berputar. Masih sebentar Gloria melihat tangan melambai, untuk menghilang meninggalkan kenangan.

XIII

Malam mentah sudi sudah membagikan kantuk kepada seisi rumah. Hanja kepada Gloria, jang berbaring terme- nung dalam kamarnja jang sunji menelan kesepian, belum rela diberikannja. Baru sadja lagu kebangsaan masih me- ngalun diudara. Kini padam sudah lampu radio, membiar- kan djarum penundjuk bersandar pada kota kenangan : Bandung. Saputangan gerenik jang lengas, malu tergumpal disamping bantal. Air mata tjutjuran derita, diam-diam melambangkan tamsilan tambatan tanja: Mengapa dua pemantjar harus pilih gelombang sendiri-sendiri? Jang satu sempurna membubung dipasar pemantjar, jang lain redam

lemah merana dipodjok djauh, tak terdjangkau djarum penundjuk. Masing-masing mentjari waktu sendiri, mengisi atjara sendiri, sesuai dengan tudjuan sendiri. Mengapa tak boleh dua pemantjar itu membawa lagu jang sama ? ... Sajup-sajup masih bergema dalam telinganja suara Ratna melagukan Rindu". Kini dirasanja lagu itu dirang- kaikan suara jang lain, jang melipur memberi keteguhan bagi masa depan. Lemah ramah bunjinja, datang dari djauh membawa seruan dan berita jang berat dipertjaja. Sabar ! Tekun! Dan bergiat ! Terbajang didepannja obor tjintanja jang tetap menjala, penuh kobar seperti pikirannja. Kini djalan jang berliku-liku didepannja masih sabur limbur menjembunjikan arahnja. Namun mata pikirannja sebagai djuru-djalan harus dapat ditempuhnja. Selama kakinja masih kuat membawanja melawan tandjakan kemalangan, terus ia akan berdjalan kearah pengertian jang dalam tentang penjakit Herman. Rela akan diterima- nja takdirnja nanti, bila ternjata djalannja putus meliar dihutan belantara. Dan ia jakin, mendjelang saat itu masih ada kekuatan jang berdaja mengajunkan langkahnja: tjintanja! Tjintanja jang telah menjalakan sumbu kekerasan hatinja hingga dapat dia lulus. Sekarang itu pulalah jang mendjadi pegangan tunggal baginja. Dulu ia djarang bertjita-tjita. Tak perlu baginja. Tjita-tjita dekat pada kebenaran berkat kemurahan hati orang tuanja. Sekarang pedih dirasanja apa jang tersangat di- idamkannja tinggal tjita-tjita belaka. Tak lagi ada orang jang dapat mendermakannja dengan begitu sadja. Harus ditjarinja sendiri sekarang dengan tenaga dan kemauan sendiri djuga. Menudju pengertian, mendjadi tjahaja harapan baginja. Ia harus djadi dokter dulu. Setibanja dipersimpangan itu

banjak djalan lain terbuka baginja. Ia dapat memperdalam ilmu penjakit mata, dapat mengahlikan diri, dapat mentjoba, ja, sedikit-dikitnja mentjoba membuka kuntji kearah penjelidikan. Dibalik itu akan dan harus ditemuinja Herman sebagai manusia jang bersih dari segala tjela. Alangkah indahnja djika dia sendiri sanggup melaksana-
kannja. Bangga ia djadinja nanti ! Tetapi .... apa
perlunja ? Tjintanja lebih kuat daripada rasa bangganja. Hanja satu bajangan jang lajak dipatungkan': Herman jang dapat melihat kembali. Sedjenak dinilaikannja kekuatannja sendiri. Djanggalkah baginja bertjita-tjita dalam masa ini ? Dia, sebagai gadis, sebagai wanita! Banjak teman-temannja perempuan telah madju menudju gelar dokter. Tetapi tinggal berapa jang tahan menandjak sampai keanak tangga tertinggi ? Berapa pula djumlah mereka ? Segumpalan jang terhitung banjak- nja. Tambah lagi, mereka bukan tjetakan dari Gloria. Mereka radjin, giat beladjar, tabah hati sesuai dengan djiwa raga mereka. Mudah orang bertekun djika ketjantik- an tak mendjadi lawan berat, Sekarang harus djuga dia mengarah haluan ketjita-tjita itu; dengan tjintanja sebagai penjala semangat, dengan ketjantikannja dan gajanja şebagai angin pemadam. Namun tak patut ia menekurkan kepala sebagai gadis. Tak usah ia mentjari djauh-djauh. Difakultasnja sendiri, dilingkungannja sendiri dapat sudah ditemuinja dua perintis. Sri dan Tari memperoleh gelar doctor sebelum tamat peladjaran; mereka wanita djuga, malah temannja jang karib, jang dikenalnja begitu baik, mereka pulalah jang memelopori angkatan muda kemedan penjelidikan. Sampai mereka dipulau tudjuan berkat ketjerdasan mereka. Sesalnja, ketjerdasan bukan derma bagi setiap orang. Dan dia sendiri, adakah dimilikinja ketjerdas-

an? Ah, apa guna dipikirkan! Itu dapat dipupuknja kelak. Kelak, seperti mereka djuga, djika lekas djadi assisten. Ja, kelak harus djuga ia djadi assisten dibagian mata. Kelak! Kełak ! Bilakah kelak itu? Bila ? Dengan pikiran jang sedat ia terlelap tidur. Chajalannja sepi dari mimpi jang diharapkannja timbul memberi djawaban. Mudjurlah sinar matahari jang membangunkan- nja esoknja melahirkan keteguhan dalam hatinja. Bagai- mana djuga, akan dan harus ditempuhnja djalan jang berat lagi lama itu. Harus ia mengubah kehidupannja, menjesu- aikannja dengan iklim kesungguhan. Biar djuga ia gagal dalam penjelidikan nanti, setidak-tidaknja ia sudah djadi dokter; dapat mengerti, dapat takdir, dan siapa tahu, masih dapat mendjedjak hidup disisi Herman dalam lingkungan tali pengertian batin jang hanja dirasakan mereka berdua. Ruang museum enggan lagi mengundang matahari kedalam. Hanja suasana chidmat nikmat ditelannja. Disana- sini disudut sepi lukisan kegemarannja terduduk hidup: buku terbuka, tegang ditatap sepasang mata. Dipodjok masjhur jang sabur limbur terdiam satu medja antara dua kursi. Kerap sudah mereka djadi saksi paduan dua pikiran, kerap pula dari dua hati ... Kini hanja sebuah kursi jang mengandung hati gembira. Jang lain tiga tahun sudah tak lagi diduduki jang dinanti- nanti. Namun segera djuga akan terisi kursi itu, oleh seorang jang sepikiran, bukan sehati. Menanti datangnja Hamid, kembali Gloria terkenang akan tjurahan tenaga dua tahun. Sudah tentu ia gembira dengan lulusnja. Rasanja lebih tjepat didapatuja daripada disangkanja dahulu. Dalam ketekunan jang terus menerus waktu memang tak terasa lagi. Tak dapat disadarinja setengah djangka beladjar telah terlampau olehnja.

Beberapa bulan lagi, sudah pula buku-bukunja mendjadi hidup, lahirlah penjakit didepannja dalam kenjataan, bukan lagi terkubur dihalaman sekian dari buku sipolan. Makin dekat dirasanja dirinja pada tiang tudjuan jang selalu terpantjang dalam ingatannja. Setahun lagi! Hanja setahun, sudah dapat ia mendjadi assisten dibagian mata. Sampai kini perahu keteguhannja masih ladju berlajar kepulau tudjuan. Namun mulai dirasanja, makin dekat kepantai harapan, makin keras ombak datang mengedjudju menumbuk pada haluannja, seakan-akan tak boleh me- nuruti bintang pedomannja. Tak sepi-sepi ia dari belokan haluan itu. Selalu dirasanja kembali, dirumah dalam kata-kata ibunja, difakultas, kebaikan Hamid jang mentjoba- tjoba. Mengapa tak boleh ia bertjita-tjita sebagai wanita ? Kehendak ibunja mudah dikabulkannja bila tjita-tjitanja tertjapai sudah. Dan Hamid! Lebih dari setahun dikenalnja, selalu sebagai orang jang peramah, baik hati dan sudi membantu. Selalu pula dihargainja itu setinggi-tingginja. Mendjelang udjian tingkat tiga orang tak mudah tega me- nolak bantuan seorang assisten ilmu penjakit. Namun sampai disana pula hendak dibatasinja. Seraja pikirannja mengalun begitu, terdengar langkah berat melalui ruangan menudju podjok tempat ia duduk. — Lama kautunggu? tanja Hamid membawa dua piring gado-gado. — Banjak jang beli dikantin, rupanja ? — Jang lulus ramai-ramai berkerumun disana ! Terasjik dalam ketjapan masing-masing menghabisi piring- nja hampir tiada dengan selingan kata-kata. Senang rasamu sekarang ? Tak lagi pegang tikus putih, tak usah bolak-balik ke Pegangsaan, malah mungkin djarang lagi ada praktikum kelak !

_ Kalau itu dianggap sebagai keberatan, tentu dapat merasa senang ! — Djadi kau ada keberatan lain ? — Bagiku hanja satu Mid. Kebaikanmu ! Ah, djangan kaulebih-lebihkan ! — Memang tak kulebih-lebihkan. Kau selalu sudi mem- bantu aku, sudi memindjamkan diktat, malah djuga sedia- añ dan mikroskop; tak segan kau menanjakan pada teman djika kau tak tahu. Bagaimana aku dapat membalasnja ? Apa perlunja kaupikirkan itu ? Bagiku kau sendiri
sudah .....
— ..... itulah! Sukar bagiku menjatakannja ....
tetapi aku ingin kau mengerti tak dapat kuberikan padamu jang mungkin kauharapkan. Betul kita sudah saling me- ngenal begitu lama, tetapi kau tahu, aku punja tudjuanku sendiri. Anggaplah aku sebagai teman karib, lebih djangan. Guna apa kita tjakapkan lagi, kau sendiri kenal Herman !
_ Tetapi kau harus mengerti, Ria .....
— Mengerti apa ? Kau sendiri tahu tabiatnja. Pura-pura sadja dapat tahan, kau gagal dalam udjian mau telan sendiri, pura-pura dapat telan kepahitan, padahal hatinja memekik untuk tundjangan atau lipuran. Dan sekarang bagaimana ? Mendidik pekerdjanja, mendidik sesama orang buta, mengadjar membatja, dia dengan pengetahuan- nja jang tinggi itu. Kau dan teman-temanmu, tegakah kalian melihat dia terasing begitu ? — Aku tahu! Kami semua tahu dan dapat merasa. Tetapi sekedar bagi kepentinganmu sendiri! Djangan kaumudah-mudahkan. Bertjita-tjita sangat indah dan mulia, tetapi nanti bila· terbentur pada kegagalan baru terasa betapa pahitnja menelan air liur sendiri! — Tjita-tjitaku tidak tinggi ! Aku hanja berharap dapat

djadi dokter, untuk dapat mengerti, hingga dapat aku ikut takdir. — Apa perlunja kau membohongi aku, Katakan terus: terang; harapanmu lebih tinggi. Masih sadja kau berharap dapat menjembuhkannja.
..... apa saiahnja berharap ? Setiap manusia lahir
dengan barapan ! — Dalam hal Herman itu mustahil! Penjakitnja sudah dibitjarakan dengan mendalam, pemeriksaan manapun telah dilakukan ! _ Memang pemeriksaan! Tetapi bukan penjelidikan ! Mana dapat kauharap itu sekarang! Lagi pula, penjelidikan belum berarti penemuan !

— Penjelidikan jang membuat djantung dapat dibedah,

penjelidikan jang membuat hutan belantara djadi tambang emas ! — Aku pudji ketinggian tjita-tjitamu. Laksanakanlah sekehendak hatimu. Hanja aku harap kau djangan ketjewa djika ternjata emas tambangmu sepuhan belaka !

— Mengapa membatja-batja sadja sepandjang hari ? tanja ibu Gloria sorenja, melihat anaknja duduk lengah bersila dikursi. — Habis, apa kerdjaku ? — Masa baru lulus beladjar lagi; tak dapat pergi nonton atau keteman-teman ? — Membatja madjalah bukan beladjar ! I-ja, tapi madjalahnja selalu jang bukan bergambar begitu! — Kata-kata lebih berisi daripada gambar! Lagipula apa salahnja. Aku tjuma batja iseng-iseng. Mana aku penuh mengerti soal penjakit mata.

— Tak bosan-bosan itu sadja ! — Sudahlah bu! Soal jang panas-panas begitu baik djangan disinggung lagi ! — Baik djuga datang saatnja kau lebih matang berpikir, Ria! Tak dapat kau terus hidup dalam mimpi sadja. — Aku bukan hidup dalam mimpi. Mendjadi dokter sudah kubuktikan: tinggal setengah mimpi! — Benar! Djadi dokter. Dokter wanita! djangan lupakan. Lalu sudah itu, apa ? — Waktu akan memberi djawaban! — Beri djawaban ! Tapi kaulupa djawaban itu diberinja pada kau sebagai gadis. Duapuluh satu tahun umurmu sekarang. Tahun depan duapuluh dua. Tiga tahun lagi duapuluh empat. Empat tahun lagi empat puluh ! Kau tak selalu tinggal muda dan tjantik, Gloor!

  • Itu tak kupedulikan ! Asal pikiran dan hatiku tetap
    segar dan muda. — Itu sangkamu. Selama hatimu terkubur di Bandung djangan lagi kauharap bunga dapat mekar ditanah kuburan hatimu itu ! Hatiku tidak terkubur! Hatiku milik jang kubawa sendiri. Hanja aku hendak menjerahkannja kedalam tangan jang kurasa patut menerimanja. Tak peduli aku tangan itu masih dikemudikan sepasang mata atau tidak. Bagiku tjukup tangan itu dapat meraba dan merasa haluan hati. — Ada baiknja bahasamu djangan begitu sentimentil, Ria! Lihat dirimu dalam katja: rambut seperti laki-laki, muka tidak terpelihara, djalan lengah seperti baru bangun. — Ah, ibu djangan tjari alasan jang ketjil-ketjil: Satu nama tjukup membuktikan aku sungguh tak kehilangan ketjantikanku; asal sadja aku berhias sedikit.

Ibunja diam pura-pura mentjari bahan batjaan. Selalu tak puas rasanja, kalau bukan dia jang mengachiri pertjakapan dengan anaknja. Karena itu katanja pula: — Biar bagaimana anehnja pikiranmu, Ria, ingatlah mendjadi dokter sebagai wanita itu ada sambungannja. Tidak berhenti disana. Lain soalnja kalau lelaki. Dan kehendak ibu dan ajahu kautjari sambungan itu ditaman jang berharapan. Kau tak dapat hidup tersendiri, Lepaskan Herman dan pikir akan hari depanmu sendiri. Bangunkan kebahagiaanmu sendiri. Ajah dan ibumu tinggal hidup untuk satu saat bahagia itu. Tak mungkin kau tunda terus menerus, Apa tak mau kau lihat kami berpisah dengan hati jang tenang dan puas ? Gloria mendjawab dengan kebisuan. Pertengkaran dengan ibunja lazim berachir seperti permainan tjatur. Setiap kali kesudahannja sama. Tertjampak kesatu sudut dengan antjaman: bajangan rasa sesal djika ajah bunda tak ada lagi. Namun bendera tjita-tjitanja tetap dilihatnja berkibar diatas tiang tudjuannja. Selalu itu memberi ke- teguhan kembali padanja dikala arus kegiatannja melambat dibelokan-belokan jang tak dapat tidak, harus dilaluinja.

XV.

Kereta api ke Bandung dekat sudah pada tudjuan. Gemeletuk roda jang berirama halus membelai telinga Gloria. Mudah ia termenung karenanja. Bentji rasanja dalam kereta api. Selalu terkenang kembali saat Herman berpisah daripadanja. Kini lebih dari tiga tahun mereka tak berdjumpa. Surat kerap djuga saling dikirimkan. Hanja sajang tak mudah bagi Herman melakukannja setiap kali.

Selalu sama bunji isi surat-surat itu. Jang satu riang mem- beritakan kemadjuan kearah harapan. Jang lain tetap menasehatkan supaja memberi isi kepada hidup sendiri, djangan hidup untuk orang lain. Tibalah sekarang saat dia sendiri dapat mentjurahkan keinginannja, dengan buktinja: idjazah tingkat empat. Tak boleh ia berputus asa. Harapan masih ada. Suaranja sendiri dapat didjadikannja genta tjita-tjitanja sekarang bukan lagi kata-kata jang begitu mempan dihati Herman sedjak dahulu ! Seturunnja di Bandung segera ditjarikannja betjak. Hatinja berdebar-debar mendekati rumah Herman. Tangannja jang lengas kegelisahan hampir tak sanggup memegang lambang sendi tudjuannja: surat idjazah dan dua madja- lah ilmu kedokteran matz. Tandjakan jang lambat di- djalani tjukup memberi waktu padanja akan mene- nangkan hatinja. Seorang jang setengah tua mendjawab ketukannja dipintu. — Mudjur dia ada; biasanja dirumah buta sepandjang hari, djawabnja dengan gembira. Sambil mempersilakan Gloria duduk, ia masuk. Menanti Herman, Gloria mela- jangkan pandangnja kesekitarnja. Tanam-tanaman dipe- karangan kering tak terpelihara. Diserambi muka tak ada hiasan barang sebuahpun jang memperindah rumahnja. Medja diantara empat kursi bersih dari kain alas. Tiba-tiba pintu terbuka. Muka jang tertahan-tahan kegirangan menemani dua tangan jang terulur. Gloria segera mendekatinja. Dekapan mesra lama mereka biarkan. — Tambah gemuk sekarang ?. senjum Herman sambil membebaskan Gloria dari rangkumannja. -- Udjian, terus-terusan dirumah. Mana ada waktu

untuk olah raga. Tapi kau sendiri, tambah gagah begitu! — Gagah ? Kalau tabah lebih benar. Ketabahan hati memang sangat perlu bagi pekerdjaanku. — Sudah kerasan disini ? — Sekarang memang sudah. Mudjur temanku jang serumah tidak buta. Namun djarang aku dirumah. Hubunganku dengan mereka dirumah buta seperti bapak dengan anak. Kami meraşa diri kami anggota satu ke- luarga. Tak dapat tidak rasa kasih sajang harus tumbuh dengan subur dalam lingkungan seperti itu. Kerdja harian djadi kerdja bakti. — Djadi begitu hidupmu. Setiap hari, setiap tahun terus menerus ?

  • Ja, mengapa ? Aku senang begitu ! — Kau jang telah beladjar begitu banjak, senang Man?
    Tak kauangan-angankan hidup jang lain; kemungkinan lain, apa sadja asal lain dengan jang sekarang! — Bagiku angan-angan dan impian sudah djadi asap empat tahun jang lalu, Ria ! Tetapi kau jang hampir dokter! Tak ada harapan jang timbul dari hatimu sendiri? Apa salahnja manusia

berharapan! Disaat obat tidak berdaja, harapanlah jang

menggantikan obat itu ? — Aku tak mengerti kau, Ria! Dulu kusangka pikir- anmu akan djadi lebih matang! Sekarang ternjata makin mentah! — Mentah? Djustru untuk menjangkal itu aku datang. Tak kaurasakan aku bekerdja untuk melihat kau seperti dulu kembali. Mulanja tak mau kubanggakan, tetapi sekarang terpaksa kukatakan: aku baru lulus! — Selamat! djawab Herman dengan pendek. Tak mengerti kau betapa besarnja artinja bagiku ?

Mekar karena Memar 11

Liburan ini sudah dapat aku djadi assisten dibagian mata! Herman tidak mendjawab. Matanja memandang djauh mentjari-tjari pegangan. Senjum tjemooh terguris dibibir- nja, lalu katanja: Gloria sekarang tak ubahnja dengan dulu. Hati tegar, kepala keras. Apa guna kita berkirim surat begitu lama? Perlu lagi kuulangi: beri bentuk dan isi pada hidupmu sendiri. Sekali-kali djangan perhitungkan aku dalamnja. Sekarang kau sendiri datang. Perlukah kita beradu kata untuk soal jang lama sudah kita perteng- karkan ? — Aku tak peduli! Tjita-tjita jang lama kutudjui tak mungkin kupadamkan dengan begitu sadja. Baiklah. Kuakui pikiranmu sehat; pandai beri alasan, tjakap mempertahankan pendirian. Aku bertanja sekarang : untuk apa kau djadi assisten dibagian mata ? — Untuk mendapat pengertian jang lebih dalam tentang penjakitmu, djawabnja dengan suara anak ketjil. — Djadi melulu untuk penjakit-KU!

  • Apa salahnja ? Tenaga tidak terbuang! Malah
    tundjangan besar untuk djadi spesialis mata.

  • Tak kaurasakan betapa berbelok tudjuanmu ?
    Dokter sadja kau belum djadi. Mana dapat kaupastikan keahlian mana jang kausukai. Sesuaikanlah tudjuanmu dengan keinginanmu dan kepandaianmu sendiri. Bentuklah hidup dan hari depanmu sendiri!
    — Tetapi tudjuanku kan mengobati ....
    Ja, apa ?

  • Mengobati kau Man! — Itulah! Mentjoba menjembuhkan aku! Aku sadja!
    Aku diantara djutaan manusia jang perlu pengobatan, jang djauh lebih berbahaja keadaannja daripadaku ! Tidak

kaurasa betapa djanggalnja tantanganmu ?

  • Tetapi kau matang untuk djadi dokter Man ! Kau
    bukan sama dengan mereka. Kau berdaja mengobati se- kian manusia jang menanti pertolongan. Masjarakat lebih sentosa djadinja dengan kau sebagai penjembuh sesama manusia daripada pendidik orang buta ? Herman putus asa memberi djawaban. Karena itu di- tjarinja kekuatan dalam segi lain. Katanja : — Baiklah, djika kau sendiri mau tjari penjelesaiannja. Apa kauanggap dirimu lebih pandai, lebih tjendekia dari mereka jang berpengalaman' berpuluh-puluh tahun itu ? Tak pernah kukatakan begitu! Aku hormati pengalaman mereka! Tak dapat mereka disalahkan apa- pun. Bagiku penjelidikan mendjadi pokok. Penjakitmu masih berharapan Man! Aku sudah batja, sudah bitjara dengan gurubesarmu, semua sama djawabannja : harapan masih ada! Aku ogah isapan djempol, Ria! — Bukan isapan djempol. Apa perlunja kausembunji- kan jang kautahu. Kau sendiri telah maklum, bagaimana duduknja penjakitmu. Soalnja soal keberanian ! — Bagus! Batja sudah, bitjara sudah dan kauanggap telah tahu semua. Tahu bahwa dalam mataku ada tempat- tempat perdarahan; lalu timbul resorpsi : darah diserap pelahan-lahan, lalu retraksi: timbul parut-parut, lalu selaput djala djadi renggang, alhasil: aku buta. Tidak sadar, kau Ria, parut-parut itu harus hilang semua djika aku hendak sembuh! — Memang aku tahu! — Dan kau tahu djuga parut-parut itu tak dapat dihilangkan! — BE-LUM dapat!

TI-DAK dapat! Atau hendak kaulihat aku dibedah sekalian mati dimedja operasi ? — Soalnja hanja mentjari tjara operasi jang baru! Hanja tjara! Keberanian dan risiko, itu batu tim- bangannja, Ria! Biar disini atau diluar negeri, semua ahli tahu risiko terlalu besar. Kalau timbul perdarahan sewaktu dibedah, aku mati. Dan aku kira, aku punja hak penuh untuk ingin hidup! Gloria meneguk. Ditjarinja keterangan dalam kebisuan sedjenak. Matanja tertantjap pada dua madjalah dipang- kuannja : American Journal of Ophthalmology" dan ,,AMA-Archives of Ophthalmology". Berkali-kali telah dibatjanja nomor jang terbaru itu. Katanja : Rasaku, tak perlu kita bitjara panas-panas lagi. Harapanku hanja tersimpul dalam bukti jang kubawa ini : dua madjalah ilmu kedokteran mata. — Harapan baru lagi? Bawa kabar tentang obat wasiat ? — Ada dua buah karangan jang menjinggung penjakitmu. — Penjakitku punja segi banjak! Pengarang madjalah suka tjari nama, suka menjinggung soal-soal jang belum banjak dibitjarakan. _ Bukan itu sudah tjukup ? Kelak mungkin dilandjut- kan, mungkin penjelidikan diadakan ! — Kelak kapan, Ria ?
Kelak .... kelaklah! Bukan boleh kita berharap
sudah ? Pengarangnja dari California, Prof. Wilson ! Lalu apa ? Kau mau terbang ke California, bawa dia kesini, suruh periksa aku, sudah itu kita tiga-tiga makan djeruk California begitu ? _ Fakultas kita kan djustru punja hubungan dengan

University of California"! Banjak sudah jang dikirim kesana, mana si Willy, si-Don, si-Yudi dan begitu banjak

lagi! — Ja, dikirim, tapi bukan untuk spesialisasi, Ria ! — Itu kan soal ketjil ! — Masalah besar ! Kalau tenaga pendidikan kedokteran sudah lengkap

kelak, tentu ada pengiriman guna spesialisasi. Lagi pula jang perlu bukan spesialisasi, melainkan research. Research

guna mentjari tjara operasi baru !

— Sebaiknja djangan kaubangunkan angan-angan, sebelum dasarnja ada, Ria! Dan dasar itu: mendjadi dokter! Maksudku dokter penuh dan lengkap. Djangan

buang waktu dengan bekerdja dibagian lain dahulu.

Sekarang ternjata kau sudah sanggup menempuh setengah- nja. Sempurnakan itu dahulu. Aku lebih bangga melihat kau lulus sebagai salah seorang dokter wanita jang belum banjak djumlahnja itu. Dan untuk lainnja, tjarilah kebaha- giaan dalam kehidupanmu sendiri. — Tetapi aku tak takut lagi sekarang, Man ! — Tak takut apa ? — Aku tak takut tjita-tjitaku gagal. Asal aku telah ber- usaha, telah berdaja, tidak membiarkan penjakitmu terkubur sebagai status praesens 1) nomor sekian dengan prognosa tanpa terapi. Baik. Penjelidikan. Untuk siapa ? Untuk aku sadja ? — Untuk semua jang akan menderita penjakit sematjam itu kelak ! — Djumlahnja dapat dihitung!

1) daftar tentang hasil pemeriksaan pertama pada pasien.

Itu alasan jang terlalu lemah, Man! Sebentar kesepian· menutupi kedua mulut. Lalu Gioria dengan suara jang halus berkata: — Lama sudah kita benturkan pikiran kita Man ! Aku kesini terutama hendak menjatakan, aku tak sampai meningkat setinggi ini, djika bukan tjintaku jang mendjadi pendorong. Djanganlah kaulupakan itu.
..... aku tahu. Tak dapat kumungkiri pula, aku
tetap tjinta padamu. Hanja ..... alangkah lebih indah
bunjinja, asal ..... Herman mengetamkan bibir, seolah-
olah bentji akan jang harus dikatakannja. — Asal apa Man? Katakanlah: asal sembuh! Tentu asal sembuh! Siapa tak ingin sembuh? bentaknja keras-keras. -- Itu tjukup Man! Untuk itu aku kesini. Kau harus ingin sembuh! — Bagiku itu omongan firdausi! bentaknja dengan tjemooh. — Buat apa aku menjangkal djeritan hatimu sendiri! Kau sendiri belum puas ! Kau jang sering sudah periksa pasien tahu benar akan chasiat keinginan sembuh. Keinginan sembuh sudah setengah pengobatan! — Itu benar dahulu; dulu ketika aku dokter. Sekarang aku pasien. — Pasien-KU Man! Maukah kau djadi itu! tanjanja dengan manis tjamipur sungguh. Herman bersenjum. Di- genggamnja tangan Ria antara kedua tapak tangannja. Sambil menepuknja dengan lemah katanja dengan ichlas : — Bagimu aku hendak djadi apa sadja. Bitjaramu manis begitu : seperti anak jang tak mau-mau mengerti.

— Tapi kau sungguh-sungguh INGIN sembuh Man ?

— Tentu tentu aku ingin, .. — Itu sadja kuminta sebagai pembajaran tunai dari pasienku! senjumnja, sambil menepuk bahunja. Lalu dibisikkannja dalam telinganja :
— Djangan lupakan jang begitu perlu .... keinginan
...... keinginan, Man !

XVI

Lapangaņ udara ibu kota. Burung raksasa dilandasan sabar bertangas diterik matahari. Suasana direstoran me- njanjikan ketegangan waktu. Kursi-kursi jang sibuk te- kersik, makin habis terseret dalam golongan. Suara penjiar wanita mentjoba melunakkan derum mesin tangki dilandasan. Lantai ramai tergahar kaki pengantar dan penumpang jang pergi datang dalam gabungan. Disatu sudut Herman dan Gloria duduk berdampingan. Disekeliling mereka dalan lingkaran bundar, sanak-saudara dan teman duduk menanti. Ada jang bermuka riang, ada jang mentjemooh menjajangi muka tjantik di- dampingi mata jang padam njala. Namun Gloria bertahan- tahan. Itu lama sudah dilakukannja. Mula-mula sekali terhadap orang tuanja, lalu terhadap teman-teman, achirnja terhadap sanak-saudara. Mereka telah tahu semua akan djalan jang dipilihnja. Tak lama lagi penjiar akan memanggilnja: penumpang-penumpang untuk pesawat ter:
bang ke Manila ....... Ja, Manila, Wake, Hawai, dan
achirnja San Francisco tempat tjita-tjitanja tak djauh lagí dari kebenaran. Dua tahun lamanja ia berdaja upaja mentjari hubungan

dengan profesor Wilson di California. Kirim surat, balas surat, bitjarakan kesukaran jang satu, mohonkan kelelua- saan jang lain. Semua itu ditengah sindiran dan tjelaan sesama rekan, jang menjebutkan gila tjinta, pikir diri sendiri, tak tahu batas dan entah apa lagi. Berkat ketabah- an hati jang tetap dinjalakannja, baik dirumah, maupun difakultas, mengerutlah kesukaran-kesukaran jang sangat dikuatirkannja mulanja. Sikap orang tuanja beralih haluan: membiarkan memilih nasibnja sendiri. Namun lebih dalam harapan dia menemui kegagalan daripada hasil. Dengan begitu rasanja melajang antara bimbang dan teguh. Tak ada tiang penundjang hasratnja, selain tjintanja jang hangat itu. Pun dalam diri Herman tak dirasanja suaranja terdjawab. Benar ia melakukan dan menuruti apa jang dikehendakinja, tetapi belumlah dengan kejakinan jang terbit dari tata-perasaannja sendiri. Biarpun begitu, dia tak putus asa, belum putus harapan, sedjak didengarnja genta ketjintaannja masih mau membunjikan keinginan akan sembuh. Baginja itu sudah memadai. Achirnja saat tundaan mentjapai kematangan. Dengan langkah jang tertahan-tahan semuanja mengiringi Gloria. Dipintu pabean salam dan tjium saling dipertukarkan. Lalu datang saatnja ia berhadapan dengan Herman. Semua mata terarah pada mereka berdua. Herman dengan muka jang tegang kesatu arah, berdiri tak berkutik didepannja. Rasa senak memenuhi Gloria: dia jang harus mulai. Terharu ia meneguk. Lalu didekapnja Herman dengan mesra. Rela Herman membalasnja dengan tjiuman dan belaian rambut- nja. Dengan suara jang redam mintanja : — Djangan kaupotong, ja! Biar panas, biarkanlah elok pandjang begini. Lama dibiarkannja mukanja bersandar pada dada Her-

man. Hampir-hampir air mata tertetes dipipinja. Sedu jang tertahan-tahan mengachiri pelukannja. Sambil memagut bahu Herman, katanja :
— Dan kau Man, djandjikan aku ..... kau tetap
berhasrat djadi sembuh ...
..... aku berdjandji, djawabnja dengan sukar.
Tangan mereka telah lepas. Sudah Gloria melangkah pergi, ketika Herman mentjoba menahan: — Glo-o-or ! Langkahnja terhenti serentak, lalu ia menoleh. — Mengapa ? — Djaga dirimu baik-baik! Pemuda Amerika elok-elok tampannja ! senjum Herman mengolok. Senjum balasan segera disertai peringatan : — Aku bukan pelontji lagi ! Ketika pulang dengan mobil bersama ajahnja, Herman merasa hatinja lega kembali. Diantara orang-orang jang tak seperti dia perasaan kurang lebih pedih dikenjamnja; kembali ia sadar akan kebutaannja. Dalam lingkungan teman-teman dan murid-muridnja teruaplah perasaan itu. Bahagia dan damai dirasanja dirinja disana. Mengapa pula ia sampai datang ke Djakarta untuk mengantar Gloria ? Bukan disangkanja dirinja telah berubah ? Ia jakin akan hal itu. Langkahnja lebih teguh, bitjaranja tenang dan lebih dipikirkan, suaranja mendapat nada kehormatan. Pikirannja tak lagi berselirat. Hidup guna sesama orang buta, itulah bentuk dan isi jang diperuntuk- kan baginja. Dalam kasih sajang terhadap sesama manusia sudah dapat dikenjamnja kesenangan bekerdja. Namun ia telah mengantar Gloria djuga. Ia telah men- djandjikan sesuatu padanja. Mengapa ? Tjintanja kepada Gloria belum padam. Itu pasti baginja,

dahulu, kemarin, dan sekarang. Hanja, dulu dianggapnja tjinta dapat tersimpan dalam hati, tak usah disalurkan, tak
perlu ditundjukkan. Dan tadi ..... dalam dekapan
jang lama sudah tak dirasanja, kembali hatinja berbitjara dengan lega. Hatinja jang disangkanja tak lagi kenal hasrat, tak lagi kenal keinginan dan djolakan. Bolehkah hati itu berharap-harap sekarang ? Sajang, tak ada gudang jang dapat disinggahi harapan untuk menanjakan apa masih ada persediaannja. Nanti- akan kembali lagi dia diantara mereka. Kembali dalam kerdja bakti sehari-hari, mengadjar, mendidik, dan me- nolong sesama manusia. Disana tak boleh dipikirkannja harapan dan keinginan sendiri. Satu lagu pudjian sadja jang didengungkan disana : menunaikan kewadjiban dan melupakan lainnja. Ja, lainnja! Alangkah sedikit itu; hanja dua kata: dapat melihat! Mengapa Gloria minta itu sebagai djandji: ingin sembuh! Setiap mereka mengingini- nja. Tetapi bagaimana ingin djika tak tampak apa jang diingini ? Karena itu ia merasa senang kembali diantara mereka. Mereka telah tahan hidup tanpa keinginan, tanpa hari depan jang indah, melainkan hanja dengan dua tangan pengganti mata, jang sibuk setiap saat. Dan begitu djuga baginja, biarpun ia lain daripada mereka; biarpun ia orang jang berilmu ..

XVII

Baru beberapa bulan Gloria di Amerika, Herman sudah dibandjíri surat-surat. Mula-mula isinja hampir tak ber- beda-beda. Dalam lingkungan jang baru dan gemilang,

pikiran ikut membubung tinggi. Dikagumi oleh gabungan segala matjam tjabang ilmu kedokteran disatu tempat, Gloria, tak dapat tidak, sudah melihat Herman kearah penjembuhan. Makin banjak kenjataan jang digambar- kannja sebagai bukti kebesaran tempat ia beladjar. Radiological Laboratory Building, dengan synchrotron- nja jang tudjuhpuluh djuta volt, chusus guna penjelidikan kanker; gedung-gedung untuk research, rumah-sakit dengan sepuluh kamar operasi dan tenaga tempat lima ratus tempat tidur; fakultas kedokteran gigi, fakultas pharmasi, didikan perawat, semua itu ikut digabungkan djadi satu. Tak lupa dibanggakannja dia sendiri bekerdja di Medical Research Building, jang chusus menjelidiki soal-soal baru dalam ilmu bedah dan penjakit. Sebagai imbuhan digam- barkannja gedung Student Union, diseberang Parnassus Avenue, lengkap dengan ,,swimming pool", ,student lounge", game-room" dan djuga ,,cafetaria", sekalipun dia sendiri lebih suka singgah di ,coffee-shop" loteng dua dari Moffitt Hospital jang tinggi bertingkat limabelas itu. Betapapun berharapan surat-surat itu tak semuanja didjawab Herman. Ia mentjari kesibukannja sendiri. Baru sadja ia didjadikan kepala dari satu bagian chusus untuk menjelidiki madjunja ketadjaman pendengaran orang buta. Pekerdjaan jang sangat mengikatnja itu tak sudi dikorban- kannja untuk tinggal termenung dalam harapan. Namun Gloria terus menerus memberitahukan kema- djuannja. Sangat dipudjikan kebaikan gurubesarnja. Tak segan ia menuturkan semua dengan terus terang kepadanja: hasratnja menjelidik, kemauannja mengorbankan tenaga, tjita-tjitanja dapat melihat sedianja sembuh kembali. Dan gurubesarnja menjambut : tak segan membantu, akan memberi djalan, karena ia mengerti, sebagai orang

Amerika jang lazim dan lekas mengerti kekuatan tjinta itu. Kegiatan jang hangat berkobar pada mulanja tak lama kemudian disertai kesadaran akan sukarnja tjara operasi baru, lebih-lebih untuk mata. Tjara mudah ditjiptakan oleh pikiran, hanja bagaimana menentukan kebaikannja pada manusia? Perdarahan seperti jang diderita Herman lebih sering timbul pada masa muda, pada anak-anak: manusia jang tak boleh dikenakan pisau adjal. Dengan begitu tjara jang telah ditemui tinggal tertulis diatas kertas. Namun Gloria tidak berketjil hati. Kegiatan- nja sendiri mendjadi rangsang bagi gurubesarnja akan menjelidiki soalnja dari sudut lain. Mudjurlah bagian research untuk ilmu penjakit ikut tergabung dalam gedung tempat mereka bekerdja. Hakekat parut dalam djala mata diselidiki dengan mendalam. Soal ditindjau djuga pada suatu post-graduate-course" guna para ahli jang kembali menjegarkan pengetahuannja.. Pengalaman jang satu di- tambah pada jang lain. Gambaran lebih djelas terdapat. Tak lama kemudian timbul publikasi pertama dalam soal itu dengan usul untuk mentjobakan tjara operasi jang baru. Sambutan pihak ahli meriah, hanja semua menekan: si- penemu tjara operasi sendirilah jang mentjobanja. Dengan begitu sampailah surat pada Herman. Gloria mengharap ia sudah mentjari djalan untuk dapat ke Amerika. Tjara operasi jang baru pasti akan mendekat- kannja pada penglihatan. Tinggal beberapa segi lagi jang harus disempurnakan untuk membuat risiko seketjil- ketjilnja. Herman ganas mendjawab dengan penolakan: selama pengobatannja berupa operasi tak ada gunanja. Tambah lagi, tak dapat ditinggalkannja pekerdjaannja; itu memerlukan perhatiannja jang penuh. Tak ada orang jang dapat menggantikannja, karena djustru dia satu-satu-

nja orang jang buta jang berpendidikan kedokteran. Djawaban Herman membuat Gloria marah tjampur ma- lan. Ia jakin operasi akan berhasil. Tiap segi dari penemuan baru diikutinja dari dekat, langkah demi langkah; telah di- rasanja bertumbuh sedjadjar dengan kemekaran harapannja. Tak boleh Herman menangkisnja dengan beberapa kalimat sadja. Ia harus pertjaja, pisau bedah bukan pembunuh nafas melulu, melainkan perintis kealam terang baginja. Karena itu tak henti-hentinja ia mejakinkannja akan kebahagiaan jang terpetik olehnja. Belum djuga Herman merasa kebahagiaan itu, ketika diterimanja surat dari gurubesar Gloria sendiri. Dia tak gandjak dari pendiriannja semula. Kembali dikemukakan- nja alasan jang sama dan dipertahankannja bajangan jang dikuatirkannja: sekali di Amerika tak dapat lagi ia me- nolak untuk dioperasi. Karena ia tahu pula, selama pem- bedahan, segala kelainan dan kedjanggalan dapat terdjadi. Tjara bedah mungkin sermpurna, ahli bedah mungkin masjhur, ahli bius mungkin ulung, namun djantung jang
dibedah .......... siapa jang menentukan denjutnja ?
Setelah menerima surat Herman, lama Gloria tak ber- kirim surat. Surat tak berarti lagi baginja. Hatinja pilu memikirkannja. Berhari-harian ia tak pergi-pergi. Achirnja bosan ia merenungkannja. Mudjurlah surat undangan untuk malam Hari Raya dikedutaan Indonesia memberinja ke- sempatan melupakan segala tekunnja dahulu. Tetapi, se- ketika itu bajangan melintasi pikirannja! Hari Raya! Hari mulia, hari saling memaafkan lahir-batin, hari setiap orang hendak berada dirumah, dekat ajah-bunda dan sanak saudara! Hari, semua kembali bersatu padu, kembali men- dengarkan suara-suara jang dahulu dikenal baik begitu. Suara! Ja, suaranja jang berkesan pada Herman itu; itu

dapat ditjobanja. Segera ia menilpon minta keterangan. Dengan hati jang berdebar-debar kegirangan diletakkannja tilpon kembali. Lebih mudah daripada diharapkannja: ada hubungan radio- telefoni langsung ke Bandung, tak usah liwat Djakarta ! Sehari sebelum Idul Fitri tiba saat Gloria dapat memuas- kan hatinja. Hari masih pagi di Bandung. Lama sudah Herman duduk menanti dikantor tilpon. Baru ia membing- kas dari duduknja: bunji iontjeng disangkanja bunji tilpon. Pikirannja katjau. Terpaksa ia datang kekantor tilpon. Panggilan tak dapat dielakkan. Tetapi, apa harus dikata- kannja, bagaimana akan berbunji djawabannja ? Masih dapat ia menolak ? Segera bangun ia dari renungannja, ketika nona tilpon mengganit untuk masuk. Masih sebentar tak terdengar apa-apa. Kemudian dua suara mesra dihubungkan. Salam hari Raya, utjapan sehat, dan kegirangan hati saling dipertukarkan. Sebentar kesepi- an membatasi mereka. Lalu Gloria berkata tergesa-gesa : — Maafkan Man, tetapi waktu sangat mahal, kau tahu mengapa aku tilpon! Berilah djawabanmu segera ! — Aku tak dapat, Gloor ! — Mengapa tidak ? Ingat akan djandjimu dulu. Kau ingin sembuh! — Benar SEMBUH, Ria ? — Harus kautjoba! Tjara baru tak dapat gagal. — Aku bukan binatang pertjobaan! — Djanganlah kedjam begitu kata-katamu. Ikut per- hitungkan aku dalam memberi djawabanmu. Tak kauingat akan tjinta kita, akan djalan jang tahan kutempuh itu ? Djustru disaat terachir kau tak boleh menolak! — Tak pernah kupaksa kau pilih djalan itu! Itu tang- gunganmu sendiri. Kerap sudah kukatakan dulu!

— Baiklab, baik. Katakan apa sadja jang kauhendaki, madjukan alasan apapun, namun djangan kaulupakan, diatas semua itu aku jang berbitjara padamu sekarang Man! Aku, kekasihmu! Herman meneguk tanpa mendjawab. Perasaannja mau menjerah, pikirannja belum. Penuh kesajuan Gloria me- njambung lagi : — Waktu sungguh tak banjak lagi Man ! Tiap menit sesudah menit ketiga tambah banjak bajarannja. Bajang- kanlah djika aku kembali kelingkunganku dahulu. Aku kembali tanpa hasil, ditertawakan teman-temanku. Aku jang mendapat bantuan, kemurahan hati, keleluasaan dari setiap orang, baik ditanah air, maupun disini, harus aku mengetjewakan mereka semua ? Aku minta padamu tundjukkanlah keinginan untuk sembuh. Djalan untuk pergi kesini tak perlu lagi kautjarikan. Segera djawabanmu jang resmi sampai, semua terurus dengan sendiri melalui fakultas kita. Bagaimana ? — Sukar sekali, Ria. Bagaimana kalau kudjelaskan dengan surat sadja ? Aku minta ketegasan SEKARANG Man! Surat boleh kaukirim sebagai peresmian dari apa jang kaunjata- kan sekarang!, Lama Gloria tak mendengar apa-apa. Namun ia diam sadja, tjemas Herman akan terganggu pikirannja. Lalu terdengar :
... baik, baiklah. Akan kutjoba, Ria ....
Begitulah ........ tjobalah memikirkannja. Aku
tak ingin kau segera jakin. Sudah gembira aku, kau ingin mentjoba mengerti. Batjalah surat-suratku dulu nanti kau akan akui kebenarannja. Temanmu serumah masih ada kan ?

福

— Masih, masih. Begitu sadjalah. Aku sabar menunggu suratmu.
Djadi ..... sampai djumpa lagi ?
— Mudah-mudahan begitu ! — Di San Francisco ?
— Akan kutjoba, Ria. Akan kutjoba ....

XVIII

H.C. Moffitt Teaching Hospital, San Francisco. Diluar malam muda asjik menghidupkan kota dalam
njala lampu. Didalam, salah satu kamar operasi tetap dalam kekelaman. Dekat medja operasi lampu jang hidup njala berganti-ganti, ikut menambah ketegangan. Sebentar- sebentar tjermin mata giat beraksi memantulkan tjahaja kedalam mata tudjuan pisau. Disudut ruangan seorang pembantu waspada menanti perintah ahli bedah untuk me- mutarkan skakelar setiap waktu diperlukan penerangan jang lebih luas. Kain putih penutup sekudjur badan bersih sutji melambangkan kebersihan. Sedjam sudah operasi mata kiri berdjalan. Peluh mewah menjimbah didahi pembedah. Tangan Gloria ikut meng- getarkan ketegangan. Muka ahli bius tegang menjuram. Perawat siap melaksanakan pertolongan darurat. Djantung
enggan berdenjut. Semua menanti ..... menanti .....
Mudjur tiada terdjadi jang tak diharapkan. Namun mata Gloria tak tetap membajangkan kegelisahan. Waktu kian madju. Sedjam limabelas menit, sedjam setengah, sedjam limapuluh : djantung Gloria mulai berdenjut dengan reda. Kain pembalut mulai sudah menutupi mata.

Mekar karena Memar 12

Ketika kembali membasuh tangan sesudah pembedahan, Gioria terasing dalam renungan. Baru sadja ditanjakannja pandangan gurubesarnja tentang operasi. Djawabannja djauh kurang daripada jang diharapkannja. Pembedahan berlangsung lebih dari satu setengah djam; boleh dikatakan tak mungkin gagal? Perasaan Gloria makin ragu-ragu djadinja. Gurubesarnja tak akan memberi djawaban pendek begitu djika memang tak menguatirkan. Segera sesudab operasi ia menjingkirkan diri, takut Gloria akan mengadjaknja berbitjara lagi. Sekarang harus lagi ia menanti. Sehari demi sehari, menanti madjunja waktu se- djadjar dengan kegelisahannja. Empat belas hari lagi baru kain pembalut dapat dibuka, barulah pula kemudjuran dan kegagalan menghentikan perkelahiannja. Dalam penantian itu pikirannja tak henti-henti bekerdja. Saat ia harus memberi kabar pada ajah Herman mendjadi tambahan larat. Tentu ia harus mengirimkan surat nanti. Tak patut ditunda-tundanja. Tetapi, bila ternjata gagal, harus djuga diberikannja? Ia jakin masih ada kemung- kinan lain. Operasi dapat diulangi, atau dimulai lagi pada mata kanan. Pengalaman operasi bukan soal baru. Bila semua itu telah ditjoba pemberitaan lebih dekat pada kenjataan. Kekuatirannja menemui pengesahannja pada hari kain pembalut dibuka. Semua tegang menanti saat lapis terachir dari kain pembalut akan hilang menabiri mata. Lama kesepian memenuhi seluruh ruangan. Namun takdir tak membolehkan keheningan itu dimenangkan muka jang riang. Herman sama seperti dulu tetap buta. Gloria segera meninggalkan kamar. Ditempat tidur ia merebahkan badannja dalam tangisan. Pedih dan pilu hatinja tak boleh mendjangkau tangkai pohon kebahagiaan. Makin njata

alam pikirannja dikundjungi bajangan dia akan pulang dengan Herman, tiada beroleh hasil. Sekuat tenaga rohani- nja menundjangnja, ditjobanja mengenjahkan bajangan itu, namun timbul djuga berkali-kali dalam ingatannja. Tambah lama tambah sangat gaduhan itu, hingga membuatnja gelisah memikirkan pertanjaan : diakah jang bersalah bila

segala-galanja gagal nanti ?

Achirnja tak dapat tahan dia lagi. Dibitjarakannja dengan gurubesarnja. Djalan memang belum putus, katanja. Operasi pada mata kanan lebih berharapan. Dan begitu dengan mengerahkan tenaga dan perhatian jang segar pembedahan dilakukan. Dengan perasaan jang lebih tenang, Gloria mendjelang saat kain pembalut dibuka. Sedikit-dikitnja boleh ia memupuk harapan baru. Gloria berkali-kali meneguk mendjelang saat kain pembalut dipisahkan. Semua pembantu lengkap hadir. Kete- gangan memenuhi ruangan. Lapis demi lapis ditanggalkan dengan pelahan. Kemudian bebas sudah dua mata dari tabiran. Herman belum menjerukan apa-apa. Lama ia tinggal diam begitu. Keinginan bertanja tersumbat dihati setiap orang. Rasa sesak membuat Gloria bertanja :

  • Bagaimana Man ?
    Belum lagi terluntjur djawaban. Bibirnja terketam dengan tjemooh. Dengan lengah ia mengulurkan tangan mentjoba menangkap bajangan. Segera Gloria menolongnja : — Mari, biar diam duduk, lihat tanganku sadja. Dari sini, dapat ? — Tidak. — Lebih dekat begini ?

  • Belum. — Sekarang ?
    ..... sedikit, sedikit sekali, lagi kabur !

Gloria menoleh kearah perawat, pembantu, lalu tertantjap matanja pada gurubesarnja menanti djawaban. Hanja gelengan kepala jang diterimanja, disertai tekanan dari kenjataan : djarak setengah meter belum dapat dianggap sebagai perbaikan. Dalam keheningan jang. makin me- njesak itu, masing-masing lambat laun meninggalkan ruangan. Hanja perawat Herman jang selalu ramah itu, segera melipurnja memberi keteguhan. Lalu Gloria berkata: Sabarlah Man! Lambat laun penglihatan akan ber- tambah! Aku dekat padamu. Segera setelah Herman dibawa kembali kekamarnja. Gloria terlenting dalam aduan bitjara dengan gurubesarnja. Tak mudah baginja menentang alasan gurubesarnja, Pen- điriannja tetap: hasil operasi tak ada. Meskipun tjara bedah mungkin baik, keadaan Herman tidak begitu. Parut-parut jang telah banjak dan lama dimata kiri dan memungkinkan harapan besar. Dan mata kanan, kurang lama dalam pembalutan. Umumnja barangkali lebih baik djika tak tjepat-tjepat ia dibedah. Satu atau dua tahun menunggu membesarnja kemungkinan parut-parut teresap dengan sendirinja. Namun Gloria tak mau mendengarkan. Baginja operasi telah berhasil; selesai belum. Tak ada gunanja Herman dibalut lebih lama lagi djika mata kiri tak diulangi pembedahannja. Namun gurubesarnja tak mempan untuk usul itu. Tiga kali operasi pada mata meminta kekuatan jang sangat dari diri pasien. Selama dalam perawatan keadaan Herman tak dapat disebut tetap. Sebaliknja Gloria tetap mendorongkan kemauannja; baginja semua tergantung dari operasi jang terachir. Sesudah itu ia akan menjerah pada kata-kata gurubesarnja. Achirnja tertjapailah kehendaknja sendiri dengan beban jang ditimpakannja sendiri djuga: semua tanggung djawab

atas hasil operasi djatuh kepundaknja. Dalam suasana jang penuh kesadaran akan kegentingan- nja, operasi dilakukan. Lebih dari dahulu ketelitian dan ketjermatan bekerdja sangat diperhatikan. Ketika Herman kembali dalam pembalutan Gloria merasa hatinja lega kembali. Begitu pula gurubesarnja jang sangat mengharap- kan tak lagi Herman perlu dibedah. Rela Gioria menanti dua minggu lagi; kehendaknja telah dikabulkan. Perasa- annja tenang, tak sudi diusik pikiran akan kemungkinan kegagalan. Pada hari kain pembalut akan dibuka, baru dirasanja hatinja berdebar lebih dari biasa. Pagi itu semua lengkap hadir mengelilingi kursi tempat Herman duduk. Selain gurubesar, ahli bius, perawat-bedah dan seorang pembantu, djuga Miss Kaye tak ketinggalan. Lama sudah Herman mengenalnja, sebagai perawat jang baik hati, dan ramah, suka bertjakap-tjakap tentang dunia jang serba gelap baginja. Tibalah saatnja lapis terachir dari pembalut tersingkap. Muka Herman segera berubah. Matanja bergerak seperti tertjengang. Tangannja memaut sandaran kursi kegelisahan. — Bagaimana Man ?? Sudah dapat ? Apa jang kau- lihat? Katakanlah! Muka Herman tiada berubah. Masih sebentar ia terduduk seperti patung. Lalu senjum menjimpul dibibirnja. — Mengapa tak kaukatakan lebih dulu, Ria ? — Mengatakan apa ??
..... bahwa kau pakai gaun hidjau dengan kelim
hitam ! Gloria mengangakan mulut tergemap. Terputus-putus terlompat dari mulutnja :

— Djadi .... kedua mata ..... kedua mata sudah

baik lagi Man ?

— Jang kanan sempurna, jang kiri belum begitu. Tapi

itu kan berubah, Ria ?

Tentu, tentu! djawabnja, sambil menepuk bahu

Herman, karena tak dapat menahan kegirangannja. Lalu ia menoleh keprofessor Wilsen. Dia mengedipkan mata dan bersenjum simpul. Dengan pandangan jang berharapan, Herman mengulur-

kan tangan kepada professor Wilsen dan berkata :

I .... I really don't know how to thank you,
professor, for everything .....
— Thank ME ?? ia memotong. Sambil menoleh kepada Gloria, disambungnja : — Don't be wrong. 1) The method is certainly mine, but the knife was HERS!! Herman mengangakan mulut kekedjutan. Pandangannja gelisah beralih dari professor Wilsen ke Gloria, jang manis berdiri disampingnja. Mengerti akan kelebihannja, professor Wilsen melangkah keluar. Diambang pintu ia pura-pura memperingati : — Take good care of your patient, Glory. ²) You finish-

ed your operation very well; do the same when you start

your after-care in a minute!

Debung pintu jang menutup mengundang mereka dalam

pelukan.

1) Tjaranja memang saja punja, tetapi pisau ... itu pega- ngan dia!
2)Operasi kauachiri baik sekali, mulailah begitu djuga dengan pengobatan-susulan sebentar' lagi.

ISI

Hal

I. PERKENALAN DENGAN HARGA MANUSIA 9

II. PUDAR MENDJELANG KILAU. 79

p.n. karya tjotas bandung