SITI RUKIAH KERTAPATI
Sekumpulan Tjeritera Bunda
Kacabenggala Editions
Publisher Note (Kata Pengantar)
Dalam buku ini jang berisi duapuluh buah tjeritera, dapat dibatja bermatjam-matjam djenis tjeritera jang menarik untuk anak2 kita dari Sekolah Rakjat. Tiap2 tjeritera ada mengandung peladjaran untuk mereka. Digambarkan disitu apakah akibatnja djikalau anak tidak menurut perkataan orang tua jang memberi peringatan, djikalau orang berbuat dosa seperti mentjuri dan lain-lain.
Djuga dimuat pertjakapan2 dari binatang2 dan barang2 biasa jang mentjeriterakan pendapat mereka terhadap hidupnja masing2, seperti terdjadi antara manusia. Tidak dilupakan djuga tjeritera2 jang bermutu kepahlawan jang baik dibatja dan diinsjafi oleh anak2 kita. Perhatikanlah perkataan guru dalam salah satu dari tjeritera2 itu, jang mengutjapkan dihadapan murid2nja : „Anak2 jang sematjam engkaulah jang boleh disebut pahlawan, djarang benar orang jang berani berkorban membela ibunja”.
Buku ini adalah diuntukkan bagi anak2 kita dari Sekolah Rakjat baik sebagai buku batjaan dikelas maupun sebagai buku perpustakaan.
Mudah2an buku ini mendapat sambutan jang sehangat2nja dari chalajak terlebih dari anak2 kita sebagai kami idamkan semula.
Penerbit.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Air Pahit . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 Tjeritera Buah Mangga . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .9 Tidak Apa-apa Bu! . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16 Kalau merasa tidak puas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 23 Dusta jang baik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 30 Segumpal mega jang kesunjian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 37 Tudjuh belas ekor kuda adjaib . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 42 Si Tjonteng pergi pesiar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 47 Tjerita si Murah Hati . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 56 Pohon Katjang dengan djundjungannja . . . . . . . . . . . . . . . . 65
Dadang dengan botol2 obat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 69 Ia tak pertjaja lagi kepada ikan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 76 Tjeritera Puteri tidak mau . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 83 Malam hari . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 91 Dua sahabat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 96 Sebuah Pena jang bertjerita . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 104 Titik Air Hudjan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 115 Riwajat seorang tukang Sepatu . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 119 Si Ulat Hidjau . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 129 Dongeng Puteri Sekar Kumbang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 136
Air Pahit
„Bongkok! Nek Bongkok! Hai, apa kerdjamu nek Bongkok? Hi, hi, hi . . . . !" - demikian terdengar riuh suara anak2 mengedjek dan memper-olok2kan nek Bongkok. Mereka mengintip dari tjelah2 dinding sebuah rumah jang sudah tua sekali. Karena tuanja, kelihatan rumah itu sudah miring letaknja serfa genteng dan kaju2nja sudah banjak jang djatuh berlepasan.
Kemudian muntjullah dari pintu rumah itu seorang nenek2 jang berambut putih tipis hampir gundul. Rambut itu disanggulkan dikepalanja sebesar telur burung dara. Ia menengok kekiri dan kekanan mentijari dari mana datangnja suara anak2 itu. Mukanja tampak kusut berkerut2. Matanja tjekung mendjorok kedalam. Mulutnja ketjil dan terbenam diatas dagunja jang meruntjing. Bibirnja ketjut-kaku seperti beium pernah tersenjum seumur hidupnja. Nenek ini dipanggil nek Bongkok, karena punggungnja bungkuk.
„Kok! Bongkok! Hai, nek Bongkok, mau kemana? Hi, hi, hi . . . . . !" - demikian suara anak2 terdengar lagi sangat riuhnja. Mereka sudah biasa memper-olok2kan nenek jang buruk itu. Dengan lintjahnja mereka ter-tawa2, menari2 dan mendjerit2, diika si nenek tua itu kebetulan liwat ber-djalan2 kepasar. Mereka mengharap agar si nenek itu marah lalu mengedjar dan memukulnja. Tetapi sajang, selama itu belum pernah mereka dikedjarnja atau dipukulnja. Si nenek buruk itu tidak pernah marah. Djangankan marah, mengedjar dan memukul, menolehpun ia tidak. Ia berdjalan selalu melihat kebawah seperti ada sesuatu jang sedang dipikirkannja. Mukanja selalu mendung bersedih.
„Nek! Nek Bongkok, tjoba kedjar saja . . . . !" - teriak seorang anak.
„Kok! Nek Bongkok, tjoba pukul saja . . . . !" - dijerit anak2 lainnja.
hafal diluar kepala. Pada botol? jang berisi matjam? minuman ia sudah tahu semuanja. Tetapi . . . . diantara sekian banjak. nja botol? minuman, ada satu! Ja, ada satu botol jang selalu dirahasiakan oleh ibunja. Botol itu paling besar dan letaknja terpisah dari botol? lainnja. Isinja air bening jang berwarna biru-halus. Djika ibunja membuat obat untuk para pengun. djung, air jang ke-biru?an ini selalu ditjampurkan kepada obat? itu beberapa tetes, menurut bagaimana banjaknja obat jang dibuat. Ber-kali? si Elok menanjakan kepada ibunja, air apakah jang selalu dibuat tjampuran obat? itu? Akan tetapi ibunja selalu mendjawab: „Engkau masih ketjil. Belum waktunja mengetahui nama dan gunanja air itu. Apalagi mentijitjipinja. Nanti dijika adjalku sudah dekat, dan engkau sudah mendjadi gadis dewasa, tentu akan kutjeritakan semuanja, apa namanja dan bagaimana membuatnja."
O, alangkah ketjewanja gadis itu. Hatinja penasaran, mengapa tak diberi tahu sekarang diuga? Kadang2 dijika ibunja sedang asjik dikebun mengumpulkan akar2 dan rerumputan, diam2 ia masuk kedalam kamar dan menghampiri botol jang besar itu. Tetapi selalu datang rasa takut, lalu disabarkannja hatinja. „Ah, tak baik membantah nasihat ibu" - bisiknja.
Setelah ber-tahun2 mereka hidup sebagai pembikin dan pendjual obat2, maka tiba2 ibunja djatuh sakit. Si Elok mentjoba hendak mengobati ibunja, tapi selalu ditolaknja. Ja, ibunja tak mau diobati.
Pada suatu hari, datanglah seorang tamu, meminta obat kepada si Elok. Karena ibunja tak dapat bangun, maka di suruhnja si Elok mentjampur sendiri obat2 jang harus diberikan kepada tamunja itu.
„Air apakah namanja jang ke-biru2an itu, bu?" - demikian ia bertanja sekali lagi kepada ibunja.
Barangkali sudah waktunja aku mengatakan nama air itu"
- sahut ibunja. „Dengarkan: air ini namanja: air kepahitan hidup. Atau supaja mudah, kausebut sadja air pahit. Segala obat’an untuk manusia, tidak akan sempurna diika tidak ditjampur dengan air kepahitan hidup. Djadi semua manusia diharuskan mendapat dan mentjitjipi air pahit ini. Tetapi kau harus ingat, bahwa air ini tidak boleh terminum banjak2, atau tidak boleh terminum lebih dari semestinja. Aku tak ’kan mentjeritakan, bagaimana akibatnja diika kita kebanjakan minum air ini. Dan engkau sekarang sudah besar, tentu mengerti sendiri, apa arti semuanja. Ingatlah, djangan sekali2 kau mentjitjipinja . . . ."
Dengan perasaan jang aneh dan hati penasaran, si Elok mendengarkan tjerita ibunja. Ia belum puas. Dalam hatinja ia ingin sekali mentjitjipi, bagaimana rasanja air kepahitan hidup itu. Pahitkah ...?
„Untuk siapa obat jang diminta tamu itu?" - tanja ibunja kemudian.
„Untuk seorang kakek, bu!" - djawabnja.
„Nah, sekarang siapkanlah olehmu sendiri. Ambillah air pahit ini daneteskanlah kedalam ramuan obat jang sudah disediakan itul Ja, djangan terlalu banjak, karena seorang kakek2, sudah tjukup kenjang meminum air pahit selama hidupnja. Djika seorang kakek2, masih djuga minum air pahit banjak2, ini berarti akan mempertiepat hari matinja. Ja, sedikit sadja! Siapa tahu, ia sudah ber-botol2 minum air kepahitan hidup .... "
Setelah selesai obat itu diberikan kepada tamunja, maka tidurlah ibunja.
„Heee, ibuku telah tidur" - bisiknja.
Dengan diam2, ia masuk kedalam kamar obat2an. Diambilnja botol jang besar itu dan.... hati2 sekali ditjitjipinja air jang ada didalamnja itu setetes. „O, alangkah enaknjal" - bisiknja. „Aku tak mengerti, mengapa disebutnja air pahit?" - katanja sambil ditjitjipinja lagi setetes. Memang benar, sekarang ada terasa pahitnja. Tapi pahit ini bertjampur dengan rasa manis, asam, asin dan gurih! Ja, tak ubahnja dengan aneka ragam kehidupan manusia jang bertjampur-baur dengan rasa: senang, sedih, gembira, kasih, bentji dan sajang-menjajangi ....
Ooo, betapa enaknja!" - bisiknja pula sambil meneteskan lagi beberapa tetes dilidahnja. Sukar ia membandingkannja dengan rasa minuman jang pernah ia tjitjipi selama hidupnja.
Karena enaknja, maka ditambahnja lagi setetes. Lalu setetes lagil O, sekarang tidak pahit lagi, malah terasa asin dan asam. Ditambahnja pula setetes. Ah, sekarang berubah rasanja mendjadi manis dan gurih! Ja, ditambah dan ditambahnja pula terus-menerus, sehingga tak dapat lagi ia melepaskan botol itu sampai kering se-kering’nja. Ia telah lupa kepada ibunja. Dan.... makin lama mulutnja terasa makin panas seperti dibakar api.
Ketika ia berdiri dan berdjalan menudju ketempat ibunja, maka bangunlah ibunja tersentak seperti ada apa2 jang menggigitnja.
O, anakku! Anakku jang malang!" - demikian keluh ibunja setelah melihat anaknja. Air matanja tampak berlinang2. Engkau telah membantahi nasihat ibu, anakku! Dan sekarang tak ada lagi obat untuk mengembalikan engkau seperti sediakala. Adjalku hampir sampai, dan tinggallah engkau dalam keadaan seburuk ini. Engkau terlalu banjak minum air kepahitan hidup...."
Dengan perasaan aneh, si Elok berdjalan kekamar menudju tjermin.
„Djangan! O, djangan melihat tjermin, hai anakku!" - djerit ibunja sambil menjusupkan mukanja kebawah bantal. Tapi si Elok terus sadja berdjalan menudju tjermin. Dan . . . .
Ja, Tuhan! Didalam tjermin itu tampaklah sebuah bajangan jang mengerikan. Ia gemetar! „lnikah aku....?" - bisiknja.
Rambut gadis itu telah berubah warna mendjadi putih tipis dan rontok berdjatuhan. Pipinja jang tadinja elok bertjahaja, sekarang berubah mendjadi kusut dan penuh kerut’ hitam. Giginja satu2 djatuh berlepasan. Mulutnja jang merah seperti mawar itu, kini mendjadi ketjut-kaku. Lehernja kurus memandjang seperti galah, sedang punggungnja mendjadi bungkuk. O, ia telah mendjadi seorang nenek2 jang buruk sekali. Dari matanja jang tjekung mendjorok itu, bertjutjuran air mata. Ah, inilah akibat air kepahitan hidup . . . . !
Maka menangislah ia ter-sedu2 karena amat sedihnja. Hari demi hari, ia menangis meratapi nasibnja, sehingga rupanja makin lama makin buruk.
Demikianlah tjeritera si air pahit" - kata nek Bongkok kemudian menjudahi tjeriteranja. Dan hingga kini, gadis itu masih ada, sedang rupanja tetap buruk karena tak menurut nasihat ibunja. Ia kebanjakan minum air kepahitan hidup ...."
„Dimana gadis itu sekarang, nek?" - tanja anak2 itu serentak.
Gadis itu sekarang sedang bertjeritera dan ada dihadapan kamu sekalian. Akulah gadis jang dulu bernama si Elok. Dan akulah jang paling lama hidup dikampung ini dan paling banjak menderita kepahitan hidup" - demikianlah nek Bongkok menghabisi tjeriteranja.
Anak2 jang sedang berkumpul itu terdiam semua. Mereka memperhatikan muka si nenek *buruk itu. Mengapa nenek tua jang banjak menderita ini harus diper-olok2kan dan diedjek?
Maka timbullah rasa kasihan dan penjesalan dalam hati masing2. Untuk memperbaiki kesalahan jang telah mereka perbuat, sedjak hari itu selalu mereka mengerumuni rumah nek Bongkok. Kadang2 dibawanja oleh2 dan penganan. „Biarlah, aku sadja jang menjapu halamanmu, nek!" - kata si Umi.
Nenek tak usah menimba air, aku sadjalah jang mengambilkan!" - sambung si Djodi.
Tjeritera Buah Mangga
Adalah sebatang pohon mangga. Pada pohon mangga itu tergantung sebutir buah mangga jang sudah masak. Tak ada lagi buah pohon mangga itu jang lain. Buahnja hanja sebutir itu sadja.
Didekat pohon mangga itu terdapat 4 matjam binatang, jaitu:
Siput darat, ulat hidjau sebesar ibu djari, kumbang hitam jang sudah patah sajapnja dan seekor anak kura2.
Siput: „Alangkah laparnja aku. Dari pagi aku belum makan apa2. Ah, belum pernah aku selapar ini. Lihatlah, sampai gemetar rumah jang ada dipunggungku"
Ulat: „Kalau begitu, sama dengan aku. Akupun lapar benar, hingga tubuhku lemas rasanja. Tapi dari manakah kita akan mendapat makanan?"
Kumbang: „Ja, sama benar perasaanmu dengan perasaanku. Perutku seperti diaduk rasanja, karena lapar! Ah, djika sekiranja aku menemukan makanan ...."
Kura2: „Hai, lihatlah! Tjoba lihatlah, kawan2. Apakah jang kuning bergantung dipohon itu? Tidakkah itu makanan untuk kita bersama?"
Siput: „Adjaib! Adjaib sekali. Inilah anugerah Tuhanl"
Ulat: „Kita mendapat untung! Ja, untung jang tak disangka2l"
Kumbang: „Bukan main untungnja. Luar biasa!"
Siput: „Tahukah kalian, apa jang harus kita lakukan? Kita pandjat pohon ini ber-sama2 dan kita makan buah mangga itu."
Kura: „Keuntungan itu untuk kita bersama, kawan2. Aku djuga sangat lapar, tetapi aku tak dapat memandjat dan mengambil mangga itu. Bagaimana diika kalian djatuhkan sedikit kebawah untukku?"
Siput: „Apa?"
Ulat: „Tjis!"
Kumbang: „Begitukah pikiranmu?"
Kura2: „Ja, tentu sadja, kawan. Karena akupun menderita lapar. Dan bukankah aku jang mula2 melihat mangga itu? Djadi akupun berhak memakannja."
Siput: „Bagaimana?"
Ulat: „Ja, bagaimana?"
Kumbang: „Haruskah kita memberinja?"
Siput: „Djangan!"
Ulat: „Djangan!"
Kumbang: „Ja, djanganl Siapa jang ingin mendapat makanan, harus mengambilnja sendiri!"
Ulat: Ja, tentu sadja!"
Kumbang: „Aku akan merajap keatas."
Ulat: „Ja, aku ikut dengan kamu!"
Siput: „Tentul Tentul Mengambil sendiri!"
Siput: „Ja, aku diuga."
Kumbang: „Mari, kawan. Maaaaadju djaaaa .... lan!"
Sruk, sruk sruk....! Lihatlah kumbang berdjalan.
Hssj, hssj, hssj.... I Lihatlah ular merajap.
Tjek, tjek, tjek....! Dengarlah siput bersuara.
Semua berdjalan, se-akan2 ber-lumba2 menudju dahan mangga jang tertinggi.
Dan.... lihatlah anak kura2 jang menundjukkan buah mangga tadi. la termenung dibawah pohon seorang diri. Alangkah sedih hatinja!
Kumbang tjepat merajap.
Ulat segera menjusul.
Dan siput djauh tertinggal dibelakang.
Kumbang: „Hai, umat, tjoba dengarkan!"
Ulat: „Apa?"
Kumbang: „Mari kita tjepat2 berdjalan. Lebih tjepat dari ini. Nanti kita berdua jang lebih dahulu tiba kepada buah mangga itu. Dan kita makan bersama sampai habis. Lutju benar nanti. Bung Siput akan mendapati bidjinja sadja tergantung!"
Ulat: „Ja, lutiu! Lutju!"
Siput: „Hai, kawan2. Tunggulah. Aku tak dapat berdjalan setjepat kalian...."
Ulat: „Menunggu?"
Kumbang: „Ja, tentu sadja. Kita akan menunggu sambil berdjalan. Kita tak akan menghabiskan mangga itu. Daging jang termanis tentu kita sediakan untukmu!"
Ulat (berbisik): „Tijs, siput jang tak tahu diri. Dia mau menjamai kita jang dapat tjepat naik keatas!"
Kumbang (berbisik): „Hanja bidjinja jang akan dia dapati. Selainnja buat kita ...."
Ditjeritakan pula, bahwa terbanglah seekor lebah diantara dahan2 pohon itu. Lebah itu sangat bagus tampaknja. Bukan rupanja sadja jang bagus, tetapi hatinjapun sangat bagus. Artinja, lebah itu sangat baik hatinja.
Ketika ia terbang diantara dahan2 itu, didengarnja pertja kapan keempat binatang itu. Apakah sekarang jang dilakukannja? Ia terbang dengan tjepatnja keatas, keatas sekali!
Melalui mega putih dan menudju langit jang biru. Dibalik mega putih itu, tinggallah radja Angin.
Lebah: „Hai, Angin, maukah engkau mendengar perkataanku?"
Angin: „Tentu sadja, Lebah. Sebab, apa jang engkau katakan, selalu tentang kebaikan dan kebenaran."
Lebah: „Tahukah engkau, bahwa didalam hutan jang dibawah kita ini, ada sebatang pohon mangga?"
Angin: „Ja, saja tahu."
Lebah: „Tahukah engkau, bahwa pohon itu hanja berbuah sebutir sadja?"
Angin: „Ja, saja tahu."
Lebah: „Maukah engkau meng-gojang’kan dahan tempat buah mangga itu begantung?"
Angin: „Kalau untuk kebaikan, saja mau."
Lebah: „Usahakanlah, supaja buah itu djatuh kebawah. Kerdjakanlah tjepat!"
Angin: „Baiklah."
Angin bertiup dengan kentjangnja. Dahan mangga bergojang kekiri dan kekanan. Dan . . . . bum! Mangga itu djatuh tepat sekali didekat anak kura2.
Kumbang dan ulat melihat kedjadian jang tiba2 itu, gemetar tubuhnja menahan amarah dan sesal.
Ulat: „Heeeee...."
Kumbang: „Lihatlah ...."
Ulat: „Tu, tu .... si Kura2 bodoh itu memakan buah mangga milik kita. Tak tahu diri!"
Kumbang: „Kura2 bodoh! Tak tahu diril Biarlah, aku pergi dari sini...."
Ulat: „Aku djuga ikut. Tjis, kura2 bodoh! Kura’ busuk! Kura2 palsu ...." Dan siput? Ia tak tahu apa2. Dengan sabar ia terus merajap sampai kedahan.
Siput: „Hai, lihatlah. Mereka palsu dan pendusta! Dimakannja mangga itu sampai habis dengar kulit2nja. Sedikitpun tak ingat ia kepadaku. Ah memang tadi diuga sudah terdjadi hal jang tidak adil. Si Kura2 jang mula2 melihat mangga itu Kemudian mereka jang mengambilnja. Sebetulnja patut sekali si Kura2 mendapat bagian....’ Siput itu merajap kembali kebawah. Tetapi... apa jang terdjadi? Apakah jang terletak dibawah pohon itu?
Siput: „Hai, apakah itu? Bidji mangga! Bidji dengan dagingnja sedikit. Oh, rupanja inilah bagianku ...."
Siput memakan sisa buah mangga itu sampai habis. Kemudian merajaplah ia kedalam semak. Ia mengerutkan badannja.... klup, pintu rumahnja tertutup. Ia tidur dengan njenjak.
Dan ... tamatlah tjeritera buah mangga!
Tidak Apa-apa Bu!
„Mengapa sudah dua hari ini engkau tidak gembira seperti biasa, Kos?" - tanja ibu Engkos kepada anaknja. „Kemarin pagi2 engkau tak mau makan, dan sekarangpun hanja sedikit sadja engkau makan. Sakitkah engkau, Kos?"
„Ah, tidak apa2, bu" - djawab Engkos.
Sesudah makan petang, ketika Engkos dalam kamarnje sedang beladjar, ajahnja datang kepadanja. „Apa jang terdjadi atas dirimu, Kos?" - tanja ajahnja. „Sakitkah Engkau? Atau dapat hukuman disekolah? Tjoba tjeritakan kepada ajah. Apakah jang menjusahkanmu?"
„Ah, tidak apa2, ajah" - djawab Engkos.
Dengan muka jang rusuh pergilah ia ter-gesa2 dari kamarnja.
Marah? Mengapa ia marah? Kepada siapa ia marah? Kepada ibu? Kepada ajah?
Tentu tak ada jang tahu, apa sebabnja ia berbuat demikian. Akan tetapi, bila kalian ingin tahu, baiklah kutjeritakan:
Engkos bersahabat dengan Didi. Pada suatu hari Didi mendapat pulpen dari pamannja, karena Didi mendapat angka jang baik untuk berhitung. Sebelum diberi oleh pamannja, sudah ada djuga pulpen Didi, pemberian ajahnja. Djadi pulpen Didi waktu itu dua buah. Engkos ingin benar mendapat pulpen sematijam itu. Dengan diam2, diambilnja pulpen itu dari dalam tas Didi, lalu dimasukkannja kedalam tasnja.
Tapi apakah jang terdjadi sesudah itu? Senangkah hati Engkos? O, sekali-kali tidak. Sedjak Engkos mengambil pulpen sahabatnja itu, tak tenteram lagi hatinja. Dimana sadja ia berada, selalu ia di-kedjar2 oleh perasaan takut dan menjesal. Sudah dua hari ia tak ingin makan, tak ingin bermain2 dengan adik2nja dan tak ingin lagi bergembira bernjanji2.
Demikianlah, ketika ia ditanja ajahnja, dia tjepat2 pergi naik kereta anginnja. Dilarikannja kereta anginnja itu kentjang2. Apakah jang ditjarinja? Mau kemana ia? Ia mentjari tempat jang sunji. Sesudah sampai kepada sebuah kolam tempat banjak pohon2 jang rindang tumbuh, berhentilah.
„Alangkah sunjinja" - kata Engkos. „Disini aku dapat beristirahat dengan tenteram. Tak ’kan ada orang jang tahu akan kesalahanku. Disini aku seorang diri . . . ."
„Seorang diri . . . . ?" - demikian kata suara jang tiba2 berkata dalam hati Engkos. „Pentijuri . . . . Pentjuri . . . ." - teriak suara itu. „Engkau tidak akan merasa tenteram, sekalipun ditempat jang sunji. Engkau akan tetap takut seperti ditempat jang ramai. Engkau tetap seorang pentjuri . . . . !"
„Tutup multmul" - bentak Engkos. „Engkau sudah mulai lagi mengedjar-ngedjar aku? Aku kira, aku hanja seorang din ditempat jang sunji ini."
„Hahahaha . . . . Engkau tidak akan lepas dari akul Engkau tidak akan merasa tenteram, selama engkau mendjadi pentjuri. Dibibirmu engkau berkata tidak apa2. Akan tetapi, tjisl Engkau mengambil pulpen orang lain dengan diam2. Engkau mentjuril"
„Tetapi Didi dua buah pulpennja. Apa salahnja djika aku, djika aku ...."
„Mentjurinja? Katakan sadja terus terang, engkau mentjuri! Tentu Didi dan pak Guru tidak tahu, bahwa engkau jang mentijuri pulpen itu. Akan tetapi, engkau? Engkau sendiri tahu, bahwa engkau mentijuri. Itulah sebabnja, sudah dua hari ini engkau tak enak makan dan tak enak tidur. Disekolah engkau selalu gelisah dan takut. Ibu dan ajahmu sekarang sudah mulai tjuriga akan perbuatanmu."
„Apa? Apa katamu? Ibu tidak akan menjangka bahwa aku seorang pentjuri. Dan sudah aku katakan, bahwa Didi ada dua pulpennja...."
„Tjoba dengarkan, Engkos" - kata suara itu. „Sekarang diumpamakan engkau mempunjai dua pasang sepatu. Bagaimana pikiranmu, diika dengan tiba2 sepatumu itu diambil sepasang oleh orang lain? Senangkah hatimu? Segala apa jang engkau miliki, engkau ingin memilikinja, sekalipun engkau mempunjai ber-puluh2 pasang sepatu. Sebab itu, tak ’kan ada jang membenarkan akan perbuatanmu itu. Sekarang tjobalah engkau berterus-terang, Engkosl Kembalikanlah pulpen Didi!"
„Aku tak beranil Tak berani!" - kata Engkos dengan kesal.
„Ajahmu sadja jang mengembalikannja."
Ah, djangan! Ajah tak boleh tahu tentang ini."
Pak Guru! Dan engkau harus berterus-terang kepada pak Guru.
„Pak Guru?"
„Ja, kepada pak Guru" - kata suara itu.
„Baiklah" - kata Engkos per-lahan2. „Tapi siapakah engkau? Mengapa setiap hari engkau mengedjar-ngedjar aku, sehingga aku merasa tak tenteram?"
„Aku adalah Kebenaran jang tinggal didada dalam hatimu. Kebenaran jang selalu ingin mengalahkan Kedjahatan. Sekarang aku berbahagia, karena Kedjahatan jang ada dalam dirimu masih dapat aku kalahkan. Ini suatu tanda, bahwa engkau belum mendjadi seorang anak jang djahat. Pergilah lekas2, dan kerdjakan, apa jang tadi engkau djandjikan."
Keesokan harinja, sesudah pukul satu, Engkos tidak tjepat2 pulang mengikuti kawan2nja. Ia tinggal seorang diri didalam kelasnja. Sudah mendjadi kebiasaan bagi murid2 disekolah Engkos, bahwa djika ada sesuatu hal jang hendak dikatakannja kepada pak Guru, ia tidak tjepat2 pulang. Pak Guru melihat kepada Engkos, lalu berdjalan mendekatinja.
„Ada apa Engkos?" - tanja pak Guru. „Apa jang hendak engkau katakan?"
„Saja seorang pentjuri, pak!" - djawab Engkos perlahanlahan. „Dua hari jang lalu, saja ambil pulpen Didi. Tetapi sekarang saja menjesal. Saja tak dapat beladjar dan bekerdja dengan tenteram. Hendak saja kembalikan lagi, saja tak berani, karena saja sangat malu, pak!" - demikian kata Engkos dengan suara gemetar.
Pak Guru tersenjum sambil mengusap-usap punggung Engkos. Lalu berkata: „Engkau bukan pentjuri, Kos. Kalau betul2 engkau pentjuri, tentu engkau tidak akan berterusterang demikian. Mana pulpen itu, Kos? Tjoba berikan ke pada bapak!"
Esoknja, waktu peladjaran budi-pekerti, pak Guru berkata kepada Didi: „Didi, kemarin Engkos dengan tidak setahu dia telah mendapat pulpenmu didalam tasnja. Sebenarnja ia mau segera mengembalikannja kepadamu, akan tetapi ia takut, kalau2 engkau marah dan menjangka Engkos mentjuri. Sebab itu pulpen ini dikembalikannja kepada bapak. Sekarang ambillah pulpen ini!"
„Ah, biarlah pak. Pulpen itu untuk Engkos. Pulpen saja ada dua buah. Buat apa pulpen sebanjak itu?" - djawab Didi.
„Alangkah baiknja, hatimu Didil Tapi tentu Engkos tidak akan pertjaja dan tidak berani menerima pulpen ini, djika tak ada persetudjuan dari orang tuamu."
„Biar saja beritahukan kepada ajah dan ibu. Nanti sore akan saja bawa Engkos kerumah saja."
Pak Guru tersenjum sambil melihat kepada Engkos. Seolah2 ia berkata: „Ketahuilah, bahwa kedjudjuran itu selalu mendapat kebaikan. Tenteramkah sekarang hatimu?"
Sekembali dari rumah Didi, Engkos berseru kepada ajah dan ibunja: „Lihatlah, apakah jang saja pegang ini, bu? Saja mendapat ini dari Didi dengan persetudjuan ajahibunja."
Muka Engkos ber-seri2. Dia makan lagi seperti biasa. Dia tidur lagi dengan njenjaknja. Dia ber-njanji2 dan bermain lagi dengan adik2nja. Tahukah kalian, tulisan apakah jang pertama-tama ditulisnja dengan pulpen itu? Engkos menulis dalam buku tjatatannja: Aku akan tetap djudjur dan berterusterang.
Tulisan ini dipegangnja teguh. Dan sedjak itu betullah ia berbuat djudjur dan terus-terang.
Kalau merasa tidak puas
Pak Bendul seorang petani. Ia memelihara lima ekor binatang. Binatang2 itu ialah: ajam, bebek, andjing, kutjing dan burung gagak jang sangat djinak.
Pada suatu hari tampaklah binatang2 itu duduk berdekatan dihalaman rumah pak Bendul. Entah apa jang sedang mereka rundingkan. Rupa2nja mereka sedang mendapat kesusahan. Mukanja kelihatan seperti sedih dan merasa kurang puas. Mari kita dekati dan mari kita dengarkan apa jang ditjeritakan mereka!
„Tuk, tuk, tuk!" - kata si ajam sambil menggeleng-gelengkan kepalanja. „Aku tidak puas dengan keadaan jang sekarang ini. Apakah keuntunganku mendjadi ajam? Tiap hari aku hanja mengais sadja, men-tjari2 makanan ditempat sampah, sedangkan semua telur jang kuletakkan disarangku, selalu diambil dan dihabiskan pak Bendul. Apakah itu suatu kebahagiaan? Ah, djika seandainja sadja aku mendjadi seekor bebek, alangkah berbahagianja aku. Aku dapat berenang dan aku dapat pergi kemana aku suka!"
Dia menggeleng-gelengkan kepalanja lagi dan tampak air matanja ber-linang2.
„Kwek, kwek, kwek!" - kata si bebek sambil menggojang’kan badannja jang pendek itu. „Alangkah sedihnja mendjadi bebek. Aku hanja dapat berenang sadja. Aku tak dapat berdjalan dengan gagah. Djika aku berdjalan, semua binatang mentertawakan aku. Ah, djika seandainja aku mendjadi andjing, alangkah berbahagianja aku. Aku dapat berdjalan dengan tubuhku jang tegap. Djika pak Bendul pergi kekota, tentu dibawanja aku. Kwek, kwek, kwek! Apakah keuntunganku mendjadi bebek?"
Sambil berkata demikian ia menjusupkan kepalanja kedalam sajapnja. Ia menarik napas dan mengeluh pandjang sehingga kedengaran ketempat jang djauh.
Gong, gong, gong!" - kata andjing sambil meng-garuk kupingnja. Tidak, aku tak senang hidup begini mendjadi andjing. Tiap hari aku harus pergi kekota mengiringkan pak Bendul. Atau disuruhnja aku melompat dan ber-lari2. Tak pernah aku mendapat kesempatan satu djam sadja untuk ber-baring2 dan ber-panas2 dibawah sinar matahari. Apakah ini suatu keuntungan bagiku? Ah, djika seandainja sadja aku mendjadi kutjing, alangkah berbahagianja aku. Tentu tiap hari aku akan diberi makanan jang sedap2 bekas makanan pak Bendul. Apakah keuntunganku mendjadi andjing?"
Sambil berkata demikian, ia me-mukul’kan ekornja ketanah. Dengan hati sedih ia memandang kelangit biru!
„Ngeong, ngeeooong, ngeoooong!" - kata si kutjing sambil menggaruk2kan kukunja ditanah. „Aku tak merasa bahagia dengan hidupku jang sekarang ini. Siang hari, bilamana jang lain terdjaga dan ramai ber-main2, aku tertidur seorang diri. Tapi malam hari, bilamana semuanja sedang tidur, aku harus bangun dan harus bekerdja menangkap tikus. Apakah ini suatu kebahagiaan? Ah, djika seandainja sadja aku mendjadi gagak, alangkah berbahagianja aku.
Tiap malam aku tak usah menangkap tikus lagi. Aku boleh tidur sesuka hatiku. Sekarang? Apakah keuntunganku mendjadi kutjing?" la mendjulurkan lidahnja keluar.
Kaak, kaak, kaaak!" - kata si gagak-djinak sambil mentjatuktjatukkan paruhnja. Apakah kalian sangka aku bahagia mendjadi gagak jang djinak? Tiap hari aku tak pernah mendapat apa2 dari pak Bendul. Kerdjaku hanja mentjatuk kesana, mentjatuk kesini, kemudian tidur! Ah, djika seandainja aku mendjadi ajam, alangkah berbahagianja aku. Tentu aku mendjadi binatang jang berguna untuk semua manusia. Dagingku enak dimakan. Telurku dapat dimakan dan dapat dibuat kue?!"
Dia melontjat keatas tonggak kaju. Dikembangkannja sajapnja. Kemudian dipandangnja matahari jang mau terbenam disebelah Barat. Matanja ber-kedip2 karena silau.
Tiba2 datanglah pak Bendul perlahan-lahan. Dia membawa tongkat kaju jang besar dan pandjang. Rupanja pak Bendul mengetahui apa jang dipertjakapkan meneka. Dengan air muka jang ramah ia menegur: „Selamat siang, sahabat2kul Apa kabar? Dan engkau ajam? Aku dengar, engkau ingin mendjadi bebek?"
„Ja, tuan" - djawab si ajam.
„Engkau, bebek? Aku dengar, engkau ingin mendjadi andjing?"
„Ja, tuan" - djawab si bebek.
Engkau, andjing? Engkau ingin mendjadi kutjing?"
„Ja, tuan" - djawab si andjing.
„Engkau, kutjing? Engkau ingin mendjadi gagak jang djinak?"
„Ja, tuan" - djawab si kutjing.
„Dan engkau, gagak? Engkau ingin mendjadi ajam?"
„Ja, tuan" - djawab si gagak.
Kemudian berpikirlah pak Bendul. Ia berpikir dan terus berpikir! Se-akan2 ada suatu soal jang berat untuk dipetjahkan dalam pikirannja. Tiba2 ia berkata: „Ja, aku tahu sekarang. Aku tahu bagaimana akalnja, supaja tjita2 kalian dapat tertjapai. Aku mempunjai tongkat adjaib. Dan tongkat adjaib ini, dapat mengganti rupa ajam mendjadi bebek, bebek mendjadi andjing, andjing mendjadi kutjing, kutjing mendjadi gagak dan gagak mendjadi ajam. Bagaimana? Setudju?"
„Setudjul Tentu setudju!" - teriak binatang2 itu. Mereka djadi gembira tampaknja.
Tunggulah" - kata pak Bendul. la mengambil sebuah ember besar dari dekat rumahnja. Ember itu dibalikkan menelungkup, dipakai menutup kelima binatang tadi. Sekarang mereka berdiam diri didalam kurungan ember jang gelap. Tubuhnja gemetar. Dadanja berdetik2. Pak
Bendul mengambil tongkatnja. Dikumpulkannja semua tenaga. Lalu dipukulkannja tongkat itu se-keras2nja dengan segenap kekuatannja: „Dong, dong, dong, dorongdongdong, dong!"
Kemudian ia berteriak dengan suara jang keras se-keras2nja:
„Ajam mendjadi bebek! Bebek mendjadi andjing! Andjing mendjadi kutjing! Kutjing mendjadi gagak! Gagak mendjadi ajam . . . . !" Dong, dong, dong, dorongdor Sementara itu ia terus memukul lagi embernja dengan segenap tenaga.
„Nah, selesailah sekarang! Tjoba aku lihat, apakah pekerdjaan tongkat adjaib itu memuaskan? Eeeee.... betullah terdjadi!
Memang sekarang aku lihat ada lima matjam binatang: ajam, bebek, andjing, kutjing dan gagak djinakl Apakah kalian lihat kedjadian ini?"
Tuk, tuk, tuk" - kata si ajam. Kwek, kwek, kwekl" - kata si bebek. Gong, gong, gongl" - kata si andjing.
Lalu mereka ber-pandeng’an. Dan berkatalah mereka sorentak:
„Ja, tuanl Kemi melihat semua kedjadian ini. Dan kami utjapkan terima kasih!"
Berdjalalah mereka ber-iring’an.
Pak Bendul pergi kebelakang. Disimpannja kembali ember itu. Kemudian?? O, ia tertawa, dan terus tertawa, sehingga perutnja jang gendut itu ber-guntjang2. Dan bilamana ia belum merasa kenjang tertawa pada hari itu, maka esoknja ia masih terus tertawa!
Dusta jang baik
Gandjil benar kedengarannja, bukan? Kita semua tahu bahwa dusta itu ialah suatu sifat jang buruk. Tetapi mengapa disini kita sebut: dusta jang baik?
Ja, memang kita tak boleh berdusta. Perbuatan ini sangat terlarang. Hanja.... ada kalanja kita terpaksa berdusta djika kita harus melindungi sesuatu jang kita hormati.
Misalnja seperti tjerifera ini:
Mukti seorang anak jang baik hati. Ia berumur 12 tahun. Ajahnja meninggal waktu ia masih berumur dua tahun. Djadi selama sepuluh tahun ini, ia hidup dengan ibunja sadja berdua. Mereka sangat ber-kasih2an. Perhatian ibunja ditjurahkan semua kepada Mukti. Begitu pula Mukti kepada ibunja. Sering ia berkata: „Kalau aku sudah besar, aku akan bekerdja untuk ibu. Kalau aku mendapat uang, tentu uang itu akan kubelikan kain, kebaja dan selop untuk ibu. Kalau ibu merasa lapar, tentu aku belikan makanan jang lezat. Dan kalau ibu sudah bosan tinggal dirumah, akan kubawa ibu ber-djalan2 keliling pulau Djawa dengan mobil atau dengan kapal terbang."
Ibunja tersenjum mendengar perkataan Mukti demikian.
Mereka tinggal dalam rumah jang ketjil dan sederhana sekali. Ibunja sendiri jang mengurus dan bekerdja dirumah sambil berdagang untuk biaja sekolah Mukti. Sekalipun sangat lelah bekerdja dan berdagang tiap hari, ibunja tak pernah mengeluh. Asal untuk Mukti, buah hatinja.
Dengan kasih-sajang ibunja ini, Mukti sedar, bahwa hanja ibunjalah satu’nja orang jang harus dia hormati. Ia berdjandji dalam hatinja, apapun jang terdjadi, ia rela membela ibunja.
Pada suatu hari, ketika ia pulang dari sekolah, ibunja tak ada didepan rumah seperti biasa. Ketika ditjari, terdapatlah ia dibelakang sedang berbaring dilantai. Menurut tjerita ibunja, sudah beberapa djam ia berbaring demikian karena djatuh tergelintijir dari tangga dapur jang agak tinggi. Ia sudah lelah bekerdja dan berdjalan naik-turun kian kemari. Tiba2 kakinja terpeleset ditangga lalu tergelintjir djatuh dilantai. Ia tak dapat berteriak minta tolong kepada tetangganja, karena rumah tetangganja itu berdjauhan letaknja.
„Kalau dapat, panggillah pak Jose, maniri rumah sakit tetangga kita itu" - ke: jiunja merintih.
Segera Mukti berlari keruman pak Josq. Berkat kebaikan pak Joso, ibunja dapat ditolong dan diobati dirumah sakit. Hanja . . . . tubuhnja mendjadi tjatjat, ialah pada punggungnja terdapat suatu tanda bendiul sebesar buah djeruk dan djalannja bungkuk.
Ibunja merasa sedih memikirkan tjatjatnja jang tiba2 dideritanja itu. Kadang2 ia merasa menjesal dan malu akan tjatjatnja itu. Sering ia tak mau berdjalan ber-sama2 dengan Mukti didepan gurunja atau didepan kawan2nja. Takut kalau2 Mukti merasa malu dengan bendjul dipunggung jang mendjadi tjatjatnja itu. Tetapi Mukti sebaliknja, sedikitpun ia tak merasa malu melihat ibunja tjatjat demikian.
Musim hudjan telah tiba. Kalau bepergian, semua orang sudah biasa bersedia pajung atau badju hudjan.
Pada suatu pagi, hari mendung mau hudjan. Mukti tidak melihat tjahaja matahari. Ia tidak tahu, sudah djam berapa waktu itu. Lalu pergilah ia ter-gesa2 karena takut kesiangan, sehingga lupa ia tak membawa badju hudjan.
Beberapa diam kemudian, turunlah hudjan sangat lebatnja. Sedang beladjar, Mukti berkata kepada Dadang: „Ibuku tentu datang membawakan aku pajung atau badju hudjan."
Tetapi Dadang tak pertjaja akan perkataan Mukti. „Ah, masa ibumu sesajang itu kepadamu. Dan masa ia berani berdjalan didalam hudjan jang selebat ini" - kata Dadang mengedjek.
Berani bertaruh?" - kata Mukti.
„Mengapa tak berani?" - sahut Dadang lebih mengedjek.
„Ajo, apa taruhanmu?" - sambung Mukti.
„Kalau engkau jang menang, tentu akan kuberi engkau perangko baru jang bergambar Bung Karno. Sebaliknja djika aku jang menang, tentu engkau jang harus memberikan gambar itu."
„Djadilah!" - sahut Mukti dengan gembira. Ia tahu dengan pasti, bahwa ibunja tentu datang membawakan dia pajung atau badju hudjan.
Mereka melandjutkan pekerdjaannja lagi, sedang hudjan terus turun dengan lebatnja. Asjik benar mereka bekerdja, sehingga terlupalah apa jang tadi mereka bitjarakan.
Sedjam kemudian, tiba2 terdengarlah pintu diketuk orang dari luar. Ketika pintu dibuka, tampaklah seorang perempuan bungkuk membawa pajung dan badju hudjan. Itulah ibu Mukti!
Karena girang, Mukti melompat dari bangku mendapatkan ibunja. Lupa ia merebut badju hudjannja didepan pak Guru dan teman2nja.
„Mengapa engkau segirang ini?" - tanja ibunja keheranan.
Lalu bertjeritalah Mukti kepada ibunja tentang taruhannja dengan Dadang tadi. Besok tentu aku beroleh gambar bung Karno itu, bu!" katanja.
Esok paginja, ketika djam peladjaran istirahat, Mukti menanjakan gambar taruhannja itu kepada Dadang. Tetapi Dadang berlari mendjauhinja. Esok harinja begitu pula. Dadang mengelakkan pertemuannja dengan Mukti. Hingga pada hari jang kelima bertanjalah Mukti agak keras: „Hai, Dang, mana perangko baru jang bergambar bung Karno itu? Mengapa berani bertaruh diika tak dapat memenuhi taruhan itu?"
Apa? Gambar bung Karno?" - tanja Dadang pura2. Aaaah, tempelkan sadja gambar bendjul ibumu jang seperti buah djeruk itu pada dahimu" - sambungnja pula mengedjek.
Ketika Mukti mendengar edjekan ini, lupalah ia kepada undang2 sekolah dan peraturan pak Guru. Darahnja mendidih dan mukanja merah. Maka . . . . buk!! Ditindi33 unja hidung Dadang sekuat tenaga sehingga keluar darahnja. Lalu berkelahilah kedua anak itu. Seorangpun temannja tak ada jang tahu, apa sebabnja mereka berkelahi. Dan kepada kawan2njapun, Mukti tak mau mengatakan tentang sebab2 perkelahian itu.
Pulang dari sekolah, ibunja terkedjut melihat mata Mukti biru dan badjunja sobek2. Ia bertanja, apa sebabnja terdjadi demikian.
Disinilah Mukti merasa, bahwa ada satu. pertentangan dalam hatinja. Terus terangkah atau berdusta sadja kepada ibunja? Dia bimbang. Dia tak mau berdusta, tetapi ia tak mau pula mengatakan kepada ibunja bahwa perkelahian itu berasal dari edjekan Dadang terhadap tjatjat ibunja. Bagaimana? Dikatakan sadja bahwa ibunja diedjek bendjul dan bungkuk seperti buah djeruk? Ah, djangan! Nanti ibunja sedih. Berdusta? Ah, ia bimbang. Dan achirnja berkatalah ia bahwa Dadang menuduh ia meniru hitungannja, sedang ia tak pernah mendjalankan perbuatan itu.
„Saja lupa, bul Lalu saja tindju hidungnja. Dan kami berkelahi" - demikian katanja pura2.
Ibunja tak pertjaja akan keterangan itu. Ia tahu, Mukti bukan anak pemarah. Masakan hanja karena dituduh begitu sadja, ia berani berkelahi. Tidak, ibunja tidak pertjaja. Tentu Mukti berdusta!
Itulah sebabnja maka esoknja ia datang kepada pak Guru menanjakan apa sebabnja Mukti pulang dengan mata biru dan badju sobek2.
Kepada pak Guru, Mukti berani berkata terus terang dengan perasaan takut2 tjemas. Tetapi pak Guru tidak mendjatuhkan hukuman kepadanja. Malah sebaliknja. Ditepuknja bahu Mukti sambil berkata: „Anak jang sematjam engkaulah jang boleh disebut pahlawan. Djarang benar orang jang berani berkurban karena membela kehormatan ibunja."
Segumpal mega jang kesunjian
Tjahaja matahari petang itu, merah ber-garis2 kuning warnanja. Tiba2 merangkaklah segumpal mega jang ketijl perlahan2 merajap sepandjang langit jang melengkung biru. Mega ini menjerupai sekeping perak jang ke-putih2an warnanja, dan kadang2 menjerupai setjangkir susu kaleng jang dikotjok putih2.
Dia terus diuga berdjalan dengan tenangnja sambil menoleh kekiri dan kekanan, kalau2 ada kawannja untuk teman bertjerita dipetang hari jang indah itu. Tapi kawannja jang diharapkannja itu, tidak diuga didjumpainja. Ia merasa amat sunji. Dan karena ia merasa kesunjian, tiba2 melontiatlah ia mendekati matahari. Dan setelah datang ditempatnja, ia merasa enak dan berbahagia sekali, karena matahari petang itu mempunjai hawa jang hangat. Kemudian ia berkata kepada matahari itu dengan lemah lembut: „Sedjak tadi aku merasa sunji, karena aku seorang diri. Sekarang disini aku dapat teman untuk bertjerita, dan perasaan mendjadi hangat. Bolehkah ak u tinggal disini?"
Tapi matahari itu menggelengkan kepalanja dan mendjawab dengan manisnja: „Engkau tak dapat tinggal disini, hai mega jang ketjill Engkau sudah dapat bagian kerdja untuk terus berkeliling melandjutkan perdjalananmu sepandjang langit."
„Tapi aku tak punja teman untuk ber-tjakap2. Dan siapa nanti jang menolong aku, djika aku mendapat kesukaran?" - kata segumpal mega itu sambil melihat kesekitarnja seakan2 ada jang ditjari dan ditunggunja.
Dan betullah, ketika matahari itu sudah lenjap berlalu, maka tampaklah gumpalan mega jang sangat besar, mendekati dan merangkak keatas. Gumpalan mega itu menjerupai seekor binatang jang menakutkan, putih kekelabu’an dan perutnja hitam gelap. Segumpal mega jang ketijil putih itu djadi kaget dan takut melihatnja. Ia berpikir: „Ah, tak perlu lagi aku tinggal disini, karena aku takut melihat si hitam itu." Maka pergilah ia diam2 dari tempatnja, mendjauhi gumpalan mega hitam jang gelap itu. Tapi semakin tjepat ia berdjalan, semakin tjepat pula si hitam itu mengedjarnja. Dan makin lama, makin dekatlah dia kepada si putih, sehingga ia merasa dirinja mendjadi hitam kegelapan.
Tapi untunglah, tidak lama sesudah itu, datanglah bulan jeng bulat menjerupai bola emas dengan tjahajanja jang kuning ke-merah2an, menjinari seluruh langit jang tadi petang melengkung biru. Tjahaja itu tidak sadja menjinari langit, tapi djuga terus djatuh keatas bumi. Pohon2, bunga2, sungai jang mengalir, ombak dilautan, dan segala jang ada dibumi, hingga rumput jang se-ketjil2nja pun, dapat djuga bagian didjatuhi tjahajanja. „Ah, indah benar keadaan dilangit dan dibumi ini seluruhnja" - pikir segumpal mega jang ketjil itu, sambil tersenjum seorang diri, melihat kepada air ketijil jang mengalir berbelokbelok didjatuhi tjahaja bulan sebagian2. la merangkak lagi per-lahan2 mendekati bulan jang seperti bola emas itu. Dan setelah dekat, ia berkata lemah lembut: „Aku merasa kesunjian, hai bulan! Izinkanlah aku tinggal disini dekatmu, supaja dapat ber-tjakap2 denganmu. Dan berilah aku tjahaja se-banjak2nja. Tidakkah kaulihat, betapa indahnja tubuhku kena tjahajamu jang kuning merah itu?"
Tapi bulan itu tertawa dan berkata dengan manisnja: „Sesungguhnja kau tak dapat tinggal didekatku, hai ketjill Aku tak punja waktu untuk ber-tjakap2 dengan siapapun djuga, karena aku punja kewdjiban untuk mengawasi seluruh alam. Aku mesti tahu, apakah semua air jang mengalir dapat bagian tjahajaku? Apakah semua rumput didjatuhi tjahajaku? Dan bila sinarku ini djatuh kerumah dan melalui lubang2 djendela, apakah semua anak2 jang sedang berbaring ditempat tidur dapat pula melihat tjahajaku? Dan ah, banjak lagi pekerdjaanku. Aku harus memberi perhatian kepada penumpang2 kapal dilautan, dan pula aku harus memberikan tjahajaku diuga kepada gubuk2 si petani miskin jang tak dapat memasang lampu, karena mereka tak punja uang untuk membeli minjak tanah. Dan tahukah pula, bahwa ada diantara manusia2 itu jang tak mempunjai rumah, sehingga ia mesti menggeletak tidur diatas rumput? Mereka sangat bentji kepada mega gelap jang menjerupai binatang hitam itu. Sebab dengan adanja mereka, lama2 dunia ini mendjadi gelap, dan turunlah hudjan keatas bumi. Ah, bila ini terdjadi, kemana mereka harus pergi?"
Si mega ketjil jang kesunjian itu mengerti akan semua perkataan bulan tadi. Per-lahan2 pergilah ia dengan sedihnja mendjauhi bulan jang sangat banjak pekerdjaannja itu, dan ia terus berdjalan dengan tenangnja.
Mega jang menjerupai binatang hitam itu, makin lama makin besar diuga tampaknja. Dan semakin besar, semakin dekat ia kepada bulan, sehingga lama2 bulan itu tertutup oleh hitamnja, dan gelaplah seluruh alam. Alangkah sedih nja si mega ketiil jang kesunjian itu. Karena sedihnja, maka menangislah ia.
Tapi kemudian barulah ia tahu, bahwa gumpalan mega hitam jang besar itu, asalnja seperti dia djuga, terdjadi dari gumpalan mega putih jang ketijl2. Dan sekarang ia tidak menangis seorang diri, tapi semua gumpalan hitam itu menangis mendjatuhkan air mata.
Begitulah, maka butiran2 air mata dari mega itu mendjadi butiran air hudjan djatuh menjiram bumi.
Tapi si mega ketijl itu masih ingat kepada tjerita bulan jang memikirkan nasib manusia2 jang tidur menggeletak dirumput2. Perkataan bulan itu masih terdengar: „kemana mereka mesti pergi?" la tidak tahu, bahwa airpun banjak gunanja bagi manusia.
Tudjuh belas ekor kuda adjaib
Seorang orang jang sudah tua, mempunjai tiga orang anak laki2. Ketika orang tua itu hampir meninggal, dipanggilnja ketiga orang anak itu dan berkatalah ia: „Penjakitku tak akan sembuh lagi. Sebelum aku meninggalkan kamu bertiga, aku ingin membagi-bagikan hartaku jang masih tinggal. Harta itu tidak banjak, hanjalah 17 ekor kuda. Kuda itu harus kamu bagi2 sendiri. Dan aku ingin, pembagian itu menurut bagaimana jang kunasihatkan. Bagilah kuda itu dengan tjara begini: si Sulung mendapat setengah dari djumlah kuda jang 17 ekor itu. Si Tengah mendapat sepertiga dari 17 ekor, dan si Bungsu baiklah diberi sepersembilan dari 17 ekor itu. Turutlah nasihatkul" - kata orang tua itu. Tidak lama sesudah itu, ia menutupkan matanja untuk selama-lamanja.
Setelah ajahnja dimakamkan, si Sulung berkata kepada adik2nja: „Kita mempunjai 17 ekor kuda. Mari kita bagi kuda itu menurut petundjuk mending ajah." Kedua adiknja mengangguk.
„Setengah dari 17 ekor, ialah . . . . 812 ekor." - demikian si Sulung memulai pembagian itu. „Tetapi bagikukah kuda jang setengah itu? Aku rasa, ajah telah keliru dalam mengurus pembagian itu. Seharusnja aku mendapat sembilan ekor kuda."
Tunggu dulu!" - kata si Tengah. Dan aku? Aku harus mendapat sepertiga dari 17 ekor kuda. Sepertiga dari 17 ekor kuda, ialah’. . . . . 52/3 ekor. Ah, kasihan kita pada kuda jang harus di-potong2 itu."
Bungsu menjambung: „Aku harus mendapat 1/, ekor kudal Ah, itu mustahill" - katenja sambil meng-geleng2kan kepala. „Kak Sulung, ergkau sudah banjak menerima pembagian itu, sudah lebih dari kami berdua. Alangkah baik nja djika engkau mengambil delapan ekor sadjal"
„Ah, tak mau aku"-sahut Sulung. „Djika demikian tentu menjalahi keinginan ajah. Bukankah kita sudah ber. djandji, bahwa kita akan menurutkan keinginan ajah jang penghabisan?"
Timbullah sekarang pertengkaran antara si Sulung dan si Bungsu. Tetapi si Tengah dapatlah memutuskan pertengkaran itu: „Marilah kita pergi kepada pak Ali Kalam. Tentu dia dapai memberi kita pertolongan, karena dia orang jang bidjak. sana dikampung kita. Bukankah sudah banjak orang jang tertolong karena kepandaiannja"?
Kedua saudaranja setudju akan usul si Tengah. Makz pergilah mereka mendapatkan pak Ali Kalam.
Dari djauh tampaklah pak Ali Kalam sedang duduk2 di bawah sebuah pohon jang rindang. Si Sulung mentjeritakan kepadanja apa jang sedang dialami mereka. Pak Kalam terdiam mendengarkan tjerita itu. Kemudian mendjawablah ia: „Akan berbahagialah ajahmu, djika kamu dapat menjampaikan keinginan dan pesanannja. Sebaliknja, ajahmu akan merasa sedih, dijika keinginannja itu akan mendjadi bahan pertengkaran jang melenjapkan persaudaraanmu bertiga. Sajapun turut bersedih akan kedjadian ini. Tetapi saja hanja seorang jang miskin. Kekajaan saja hanja seekor kuda hitam. Tetapi, karena saja ingin menolong kalian, ambillah kudaku jang seekor itu. Anggaplah, bahwa djumlah kudamu sekarang, adalah 18 ekor. Bagilah jang 18 ekor itu menurut keinginan ajahmu."
,.Hai, bukan itu jang kami maksud" - kata mereka serentak. „Kami datang kemari hanjalah untuk minta pertolongan.
Kami tak ingin diberi apa2."
Pak Ali Kalam tersenjum. „Ambilah kuda itu. Djika ada untung saja, tentu kuda itu dapat saja miliki lagi. Tetapi, djika tidak, saja tak keberatan kuda itu kalian miliki. Ambillah kuda itu."
Dengan penuh rasa terima kasih, pergilah mereka dari rumah pak Ali Kalam. Kuda jang baru diterimanja itu hitam warnanja.
Setelah sampai ketempat semula, segera dibagi-baginja kuda itu seperti tadi. Sekarang kita mempunjai 18 ekor kuda. Setengah dari 18 ekor adalah sembilan ekor. Aku ambil sembilan ekor!" - kata si Sulung sambil mengambil kuda peninggalan ajahnja sembilan ekor.
Sepertiga dari 18 ekor adalah enam ekor. Nah, kuambil enam ekor!" - sambung si Tengah sambil mengambil bagiannja.
Sekarang aku" kata si Bungsu. Sepersembilan dari 18 ekor adalah dua ekor. Nah, baiklah kuambil dua ekor kuda kepunjaan ajah. Marilah kita pergi."
Tetapi.... Heee, mengapa masih ada seekor lagi jang tinggal?" - demikian kata anak2 itu serentak, ketika mereka hendak menaiki kudanja masing2.
„Itulah kudanja pak Ali Kalam" - kata si Bungsu. „Tjobalah kita hitung lagi djumlah kuda kita bertiga. Barangkali ada jang kurang mengambil bagiannja."
Sembilan ekor dengan enam ekor, ditambah lagi dua .ekor adalah 17 ekor...."
Naah, perfjajakah kalian, bahwa pak Ali Kalam itu seorang jang pandai?" - kata si Tengah.
Keduanja terdiam. „Mari kita kembalikan kudanja itu!"
Pak Ali Kalam tersenjum, ketika menerima kuda hitamnja kembali.
Si Tjonteng pergi pesiar
Dalam sebuah lubang dibelukar dekat hutan, tinggailah keluarga kelintji jang banjaknja tudjuh ekor. Jang dua ekor adalah ibu dan bapaknja, sedang jang lima ekor lagi ialah anaknja.
Mereka sangat penakut. Mendengar suara apa sadja jang datang, tjepat sekali terkedjut. Lebih2 ibunja. Malah diadjarnja anak2nja supaja mendjadi binatang penakut dan tjuriga. Ia tahu, bahwa manusia senantiasa mengintainja dan menangkapnja. Ia melarang kepada anak2nja, djangan sekali2 mentjoba keluar sendiri dari dalam lubangnja. Kalau keluar, harus disertai oleh bapak atau ibunja.
„Djangan pergi djauh2 dari lubang, hai Tjonteng!" - demikian katanja kepada si Tjonteng, seekor anaknja jang paling nakal. „Semakin djauh kita mendjalani dunia, semakin banjak bahaja jang datang. Baiklah mendjaga diri!"
Tapi si Tjonteng keras kepala. Ia ingin tahu sadja akan segala apa jang dilarang bapaknja. Ia menganggap, bahwa semua larangan itu sangat mengikat kebebasannja. Dan semua jang disebut bahaja, adalah bohong semata. „Mengapa aku harus selalu tinggal dilubang jang gelap ini? Mengapa harus selalu melihat rumput2 jang hanja hidjau sadja warnanja? Mengapa pula harus melihat daun kering dan ranting2 jang hanja hitam sadja warnanja? Mengapa harus selalu djalan2 ditanah jang hanja tjoklat sadja warnanja? Dan mengapa pula harus melihat pohon dan bunga jang itu2 diuga? Ah, aku ingin melihat jang lebih bagus dari pandangan tiap hari disini. Aku ingin tahu, apa jang ditakutkan ibu didunia jang lebar itu? Ibu selalu takut, dan ibu amat penakut. Tapi aku suka pada segala jang aneh2. Dan disana, didunia jang lebar itu, tentu akan lebih menjenangkan keadaannja daripada dilubang rumah jang gelap begini" _ _ demikian is Tjonteng berpikir setiap hari. 1 Maka pada suatu malam, ketika semua isi lubang sedang . tidur dengan njenjaknja, pelan2 bangkitlah ia dari tempatnja, dan pergilah diam2 mendjauhi rumahnja. Makin djauh, : djauh ... dan djauh sekali. Barangkali ia tak dapat kembali lagi kelubang rumahnja. Tapi ia tak perduli, sebab ia : tak ingin pulang lagi kerumahnja. Ia ingin mengenal dunia : jang lebar itu. Dunia jang aneh, jang lain dari dunia lubangnja. Dan dunia jang sangat indah! Lalu berdjalanlah ia terus, : terus . . . . dan terus semakin diauh! 1
Ketika fadjar menjingsing, maka teranglah semua alam. Si Tjonteng seperti dalam impian. Matanja dibuka selebar2nja. Ia kaget. Dikelilingnja kini tak ada rumput hidjau jang tampak. Tak ada pohon2 jang rindang. Tak ada sungai jang mengalir. Ia tidak berdjalan diatas tanah jang tjoklat warnanja, tapi ia berdjalan diatas djalan jang keras dan abu2 warnanja. Ia berdjalan terus melalui djalan jang keras itu. Dan ... tiba2 melompatlah ia karena mendengar suara dibelakangnja: tut, tut, tuuuuut ....! Ah, di-mana2 tampak mobil dan gerobak jang besar2. Semua itu mendatangkan suara: tut, tut, tuuuut ,...! Dan suara itu mengatjaukan pikirannja. Sekarang ia mesti hati2. Ia harus berdjalan dipinggir djalan supaja tidak terlanggar mobil2 itu. Ia tidak tahu, bahwa diika warna lampu di-tengah2 djalan itu hidjau, artinja aman: boleh berdjalan! Djika lampu itu kuning, akan datang bahaja: hati2! Dan dijika lampu itu merah, artinja bahaja sudah datang: berhenti! la tak mengerti apa2. Ia hanja seekor kelintij jang bodoh sadja. Belum pernah seumur hidupnja ia mengalami keributan dan kekatjauan begini. Ia merasa pusing melalui djalan2 besar jang bersimpang-siur itu. Ia merasa tuli mendengar suara2 jang merupakan huru-hara disekitarnja. Djantungnja berdebar dan berbunji karena terkedjut. Ia tidak tahu, kemana harus menudju? Apakah kebelakang, kemuka, kekiri atau kekanan? Dan sesungguhnja, sedang ia tjemas kebingungan di-tengah2 djalan besar, tiba? rrrrrtttt ...! kakinja sebelah kiri putus terlanggar sebuah mobil. Alangkah sakitnja ia menderita semua ini.
Sambil menangis menahan sakit, pelan2 ia merangkak kesudut, mefniilih tempat jang sunji: „Aduh, kakikul Kakiku jang bagus! Kakiku jang kusajangi!. Mengapa kita harus berpisah disini?" - ia menangis ter-isak2. Tapi penderitaannja jang sudah berat ini, rupanja masih belum tjukup. Ditambah lagi dengan tiba2 turun hudjan amat lebatnja dan suara angin kedengaran sangat ribut. Ia medjadi basah kujup dan tak putus2nja terkedjut karena mendengar suara guntur. Djantungnja selalu berdetakdetik dengan tjepat. Kini ia teringat kerumahnja. Djika disana terdjadi hudjan jang lebat begini, dengan mudah ia melompat masuk kelubangnja. Dan dari dalam lubang itu, biasa ia mentertawakan hudjan dan angin bersama adik2nja. Tapi bagaimana sekarang? Apakah jang harus ia lakukan? Kemana ia harus pergi?
Lalu ia merangkak kebawah djembatan. Disini baru ia merasa aman, djauh dari segala bahaja didjalan besar jang katjau itu. Tapi tiba2 ia melihat beberapa ekor tikus besar datang mengerumuninja dan menghardik: „Hai pergilah engkau dari sini, monjet! Ini tempat kami, bangsa tikus2 besar. Kalau tak pergi dari tempat ini, nanti kami gigit kamu sampai mati!" Rupanja tikus2 besar itu tidak tahu, bahwa si Tjonteng seekor kelintji, bukan monjet.
Dengan gemetar ketakutan, ia keluar dari bawah djembatan itu dan berdjalan lagi melalui pinggir djalan. Ingatannja masih tetap pada kakinja jang putus. Tapi tiba2 terdengar suara anak laki2 ramai berteriak: „Kelintji! Tangkap! Ajo, kita tangkap!"
Anak2 itu mengedjarnja. Mereka mentjobanja mau menangkap si Tjonteng. Tapi si Tjonteng tak mau ditangkap. Ia lari se-kuaf2nja. Ia tak mau berhenti dan tak mau menoleh kebelakang. Ia lari, terus lari!
Tiba ditikungan djalan, ia membelok kesudut jang gelap dan bersembunjilah ia disana. Anak2 jang mengedjar, seorangpun tak ada jang tahu, bahwa ia sembunji disana.
Mereka lalu sadja dengan tak menoleh kekiri dan kekanan. „Aduh, lelah dan sakitnja bukan main!" - keluhnja.
Pintu dari sebuah rumah dekat tikungan itu, tiba2 terbuka. Seorang perempuan tua, mak Rumi, datang keberanda dan ber-tjakap2 dengan tukang sajuran. Si Tjonteng tak kelihatan olehnja. Maka dengan diam2 merangkaklah si Tjonteng kedalam rumah. „Haaaaaaaa . . . . !" - begitulah ia melompat dari persembunjiannja sambil menghela napas pandjang. Legalah rasanja ia masuk kerumah mak Rumi itu. „Disini aku merasa aman. Disini aku merasa damai dan hangat. Aku terhindar dari dinginnja air hudjan. Aku terhindar dari ributnja suara mobil. Aku terhindar dari gangguan tikus2 besar . . . . " - pikirnja.
Tapi . . . . sedang ia me-lompat2 kegirangan, tiba2 mengeonglah seekor kutjing jang hitam bulunja dan matanja kuning ke-merah2an. Dengan punggung jang dllengkungkan keatas dan dengan ekor jang bulunja meremang besar, ia menghardik: Apa kerdjamu disini, hai binatang tjelaka? Tentu kau hendak menjolong makanankul Awas, nanti kuadjar kau!"
Dengan sekali lompat sadja, ia menerkam si Tjonteng. Tapi untunglah si Tjonteng tjepat mengelakkan serangan itu, sehingga si Hitam terbentur kepalanja kepada dinding tembok jang keras. Dan ia mendapat sebuah bendiul sebesar telur dikepalanja!
Kini duduklah si Tjonteng disebuah gang jang terus kedapur. Ia sangat menjesal, mengapa ia berani pergi seorang diri dengan tidak setahu ibu bapaknja? Ia menangis, dan air matanja meleleh dipipinja. Lama2 ia tertidur karena lesu dan pajah di-kedjar2.
Pak Rumi datang dari belakang. Ia baru pulang melihat kebunnja. Hampir sadja si Tjonteng terindjak kakinja. „Hai, apakah ini? Kutjing putih? Ah, bukan!" - katanja seperti heran. „Apa, ja?" - sambil memperamat-amati si Tjonteng. Ooooooo . . . . kelintji putih!" - katanja pula sambil mendukung dan me-nimang2 si Tjonteng. Tapi si Tjonteng segera bangun dari tidurnja. Dan . . . . alangkah terkedjutnja, ketika terasa sepuluh djari pak Rumi jang kuat itu telah menggenggam tubuhnja dengan erat. Ia me-ronta2 ingin lepas. Tapi pak Rumi tertawa. Dipanggilnja anaknja, si Rumi: „Masukkanlah dulu kedalam peti dekat kandang ajam itu. Besok kita bikinkan kandangnja jang bagus" - demikian katanja kepada si Rumi.
„Aduh, bagusnja kelintji ini. Bulunja lembut seperti kain beledu kepunjaan ibu, ja?" - kata si Rumi sambil mengusap2 bulu si Tjonteng dengan muka bertjahaja. Sebentar2 digosokkannja bulu itu kepada pipinja. Dan si Tjonteng gemetar tubuhnja. „Barangkali aku mau dimakannja" - pikirnja.
Esoknja si Tjonteng dimasukkan kedalam kandang jang baru. Ia diberi makan dan minum oleh si Rumi. Dan menurut pikiran si Tjonteng, kawannja itu hanjalah si Rumi seorang.
Setelah beberapa hari, gemuklah badan si Tjonteng. Bulunja bersih meng-kilat2. Tapi ia merasa kesal, karena tak dapat me-lompat2 dirumput hidjau. Tak dapat melihat air sungai jang mengalir. Tak dapat melihat burung2 jang berkitjauan di-pohon2. Ia merasa rindu kepada semua itu, dan rindu kepada ibu dan ajahnja!
Pada suatu malam, ketika seisi rumah sedang makan, ber katalah pak Rumi: „Aku ingin benar mengetjap daging kelintji. Kata orang, daging kelintji itu enak dimakan. Besok, baiklah kita mentiobanja. Si Kelintji putih kita sembelih! Ia sudah tjukup gemuk sekarang."
Alangkah sedihnja hati si Rumi. Ia sajang benar kepada si Tjonteng. Ia tak dapat tidur njenjak malam itu. „Besok tentu engkau tak kan kuberi makan lagi, hai Kelintji putihku! Besok tentu engkau akan masuk diperut ajah dan ibu. Aduh, kasihan! Buruk benar, nasibmu!"
Maka esoknja pagi2 sekali, si Rumi sudah bangun. Dibukanja pintu kandang si Tjonteng dan dipangkunja ia. Bulunja di-usap2 dan dilekatkan kepipinja. Se-akan2 terdengar oleh si Rumi, bahwa si Tjonteng berkata dengan sedihnja: „Tak dapatkah engkau menolong aku, hai sahabat? Lepaskan aku dari kandang ini, supaja tak djadi leherku kena pisau ajahmu!"
Tiba2 si Rumi mendjadi berani. Dibawanja si Tjonteng berlari kebelakang dan diletakkannja ditanah sambil berkata: „Kembalilah engkau kepada ibumu! Djangan sekali-kali kaudekati manusia!"
Ingin si Tjonteng mengutjapkan terima kasihnja. Tapi si Rumi sudah lari kembali kerumahnja dengan tjepat. Maka melompatlah si Tjonteng dengan girangnja. Ia berlari melalui kebun dan djalan2 ketjil jang djauh dari tempat manusia. Ia tak berani lagi melalui djalan aspal jang keras abu2 itu. Dan dengan susah pajah, sampailah ia dilubang rumah jang dulu ia tinggalkan. Didepan rumahnja ia berkata kepada ibunja: „Aku tak akan lari lagi dari rumah ini mentijari dunia jang berlainan dengan duniaku. Ah, dunia manusia itu sangat buruk dan banjak kedjahatan. Tapi disini aku merasa aman dan berbahagia!"
Bagaimana djadinja dengan si Rumi?
Pagi itu, ajah telah datang kekandang membawa pisau. Tapi pintu kandang itu terbuka dan kosong. „Kandang itu sudah kosong...." - katanja sambil berdjalan kembali kedapur.
Mulanja si Rumi mau berdusta. Tapi ia tahu, bahwa dusta itu dilarang oleh ibu dan ajah.
„Apakah ada orang jang melepaskannja?" - tanja ajah.
„Ja, ajah. Rumi jang melepaskan si Putih" - djawabnja Dalam pikirannja ia berkata: „Ajah pasti marah. Sekaranglah waktunja aku dimarahi ajah ..." "
Tapi tahukah engkau, apa jang terdjadi?
Si Rumi ditarik oleh ajah, kemudian ditjumnjal
Tjerita si Murah Hati
Didekat sungai mengalir jang penuh dengan batu2, disitulah si Brohim mendirikan rumahnja dengan sederhana sekali. la biasa dipanggil orang banjak: si Murah Hati, karena memang demikianlah sifatnja. Hampir semua orang jang kenal padanja, sudah pernah ditolongnja. Karena itulah ia mempunjai banjak sahabat-kenalan di-mana2.
Makin lama namanja main terkenal keseluruh negeri, sampai2 terdengar kepada radja jang memerintah negeri itu. Radja sangat heran dan timbul rasa iri dihatinja. „Mengapa si Brohim jang begitu sederhana keadaannja, bisa mendapat djulukan si Murah Hati? Mengapa ia bisa terkenal dan lebih terkenal daripada aku? Apakah kelebihannja dari aku jang berpangkat radja? Tidakkah aku djuga sering memberi pertolongan kepada orang2 miskin? Tidakkah aku djuga sering memberi hadiah2 kepada rakjat jang kesusahan?" - demikianlah radja itu bertanja dalam hatinja setiap hari.
Maka pada suatu hari, timbullah keinginan untuk mentjobanja sendiri sampai dimana kemurahan hati si Brohim itu. Dan setelah lama ia ber-pikir2 mentjari akal, maka dipanggilnja seorang pegawai istana. „Engkau harus pergi kekampung mentjari si Brohim. Katakan kepadanja, bahwa aku ingin dikirim tudjuh ekor kuda jang berbulu sama, ialah berbulu belang putih dilehernja. Djika permintaan ini tidak bukti dalam minggu2 ini, pasti ia akan mendapat hukuman berat . . . . !"
Dengan hati jang tjemas, pegawai istana itu pergi kekam56 pung mentjari si Brohim. Ia sudah kenal dengan si Brohim. Salah seorang keluarganja sudah pernah ditolongnja dari kesusahan bahaja maut. Itulah sebabnja, maka ia sangat tjemas ketika mendengar perintah radja tedi. Tak mungkin si Brohim akan dapat meluluskan permintaan itu. Tak mungkin ia bisa mendapatkan tudjuh ekor kuda jang berbulu sama dilehernja. Dimana ada kuda jang berbulu belang putih dilehernja? Ah, kasihan benar si Brohim ....
Hari mendjelang malam, barulah suruhan radja itu sampai ditempat si Brohim. Dengan ramahnja si Brohim menjambut tamunja. Disuruhnja isterinja menjediakan makanan dan mendadak menjembelih ajam untuk menjuguh, sebagai tanda bahwa ia senang dikundjungi sahabatnja.
Selesai makan, baru tamu itu mentjeritakan maksudnja dan mengatakan semua permintaan radja. Dengan muka jang tenang, ia berkata kepada tamunja: „Sebenarnja aku tak punja kuda sebanjak itu. Apalagi kuda jang berbulu sama dilehernja. Akan tetapi, djanganlah tuan takutkan benar. Besok pagi aku akan pergi mentjarinja. Barangkali teman2 dan sahabat-kenalan jang ada diluar kota, mereka ada mempunjainja. Mudah2an sadja mereka dapat menolong. Tuan bolehlah menunggu disini, sampai aku kembali dari perdjalanan ...."
Esok harinja, pagi2 sekali, si Brohim telah pergi mengendarai kudanja jang berbulu merah ke-hitam2an. Tamunja tinggal dirumah dengan hati jang tidak pertjaja. Ja, ia tak pertjaja, kalau si Brohim akan dapat kuda belang putih jang sebanjak itu.
Tapi... belum djuga matahari terbenam, tiba2 terdengar ramai suara telapak kaki kda serta ramai pula orang2 jang menungganginja bertjakap-tjakap.
„Inilah ketudjuh ekor kuda jang berbulu sama dilehernja itu. Katakan kepada radja, bahwa kuda jang sebanjak ini, bukan kepunjaanku, melainkan kawan2 serta sahabatkenalanku jang mempunjainja. Mereka hanja semata ingin menolong aku dari antjaman hukuman berat jang sudah ditimpakan oleh radia. Terimalah semuanja . . . . "
Dengan hati terharu dan ber-matiam2 pertanjaan dikepalanja, pulanglah pesuruh radja itu keistana. O, alangkah terkedjutnja radia itu ketika melihat tudjuh ekor kuda jang dimintanja kemarin. Ia tak mengira sedikitpun, bahwa permintaannja akan dibuktikan dalam sehari sadja. Pertolongan teman2nja itu tentu sebagai pembalas djasa atas kemurahan si Brohim dalam perbuatannja jang dulu2. „Muati kuda itu dengan barang2 dipunggungnja, dan kembalikan semuanja kepada si Brohim" - demikian kata radia itu setelah termenung sedjurus.
Dan keesokan harinja si Brohim telah menerima kembali ketudjuh ekor kuda jang belang2 putih itu lengkap dengan barang2nja sekali sebagai hadiah dari radja. Tetapi barang2 itu tak ada jang diambil si Brohim sedikitpun. Ia segera mengembalikannja semua kepada teman2nja jang mempunjai kuda itu masing2.
Beberapa minggu berselang, radia menjuruh lagi pegawainja jang lain untuk mentijari si Brohim. „Katakan kepadanja, bahwa aku minta kuda kepunjaannja. Djika kuda itu tidak bukti dalam minggu ini, aku akan memberinja hukuman berat."
Pegawai istana itu pergilah mentjari si Brohim. Sesudah hari berganti malam, barulah ia sampai dirumah si Brohim. Kebetulan malam itu turun hudjan dengan lebatnja. Orang itu basah kujup pakaiannja. Si Brohim segera menjediakan api buat berdiang memanasi tamunja. Pakaiannja diganti dengan pakaian kepunjaannja. Sangat menjesal ia, ketika menanjakan ajam kepada isterinja, ternjata ajam itu telah habis . Djuga telur2nja sudah habis terdjual dipakai pembeli pakaian anak2nja. Maka dengan diam2, pergilah ia menuntun kuda kepunjaannja kerumah tetangganja. Dan disini, kuda itu disembelih. la menjuguh dan menghormat tamunja agak luar biasa, karena ia tahu, bahwa tamu itu adalah pegawai istana suruhan radia. Disediakannja tempat tidur jang baik dan disambutnja dengan ramah-tamah sekali, sehingga tamunja merasa senang dan tertarik oleh sifat2nja tuan rumah.
Habis makan, maka bertjeritalah tamu itu dan disampaikannja maksud serta permintaan radianja. O, alangkah terkedjutnja si Brohim mendengar tjerita tamunja itu. „Sebenarnja kuda itu sudah aku sembelih, dan dagingnja, ja, itulah jang disuguhkan tadi. Tapi tuan tak usah takut. Barangkali besok dapat lagi kuda jang serupa dengan kudaku jang disembelih tadi. Biasanja teman2 sahabatku suka menolong bilamana aku dalam kesusahan seperti sekarang ini."
Maka esok harinja, pagi2 sekali, si Brohim sudah pergi men59 emui sahabat2nja. Dan sore harinja, ia telah kembali pula dengan seekor kuda jang serupa dengan kudanja jang disembelih tadi malam. „Katakan kepada radia, bahwa kuda ini bukan kuda kepunjaanku, melainkan kuda pemberian sahabatku jang dengan rela ia bermaksud menolong aku dari hukuman radia. Bawalah kuda ini, dan serahkanlah kepada radia ...."
Ketika radja itu mendengar laporan dari suruhannja jang bertjerita tentang kebaikan dan keichlasan si Brohim menerima dan menghormati tamunja, termenunglah beberapa lamanja. Dalam hatinja ia mengagumi dan memudji si Brohim. „Muati lagi punggung kuda itu dengan uang dan barang2, serta pulangkan kembali kepada si Brohim."
Tapi seperti biasa, setelah kuda itu kembali penuh dengan barang2, si Brohim tak berani membuka muatannja. Kuda itu dikirimkan kepada teman jang mempunjainja tadi.
Beberapa bulan kemudian, radja itu menjuruh lagi seorang pegawainja, untuk pergi kerumah si Brohim. Tapi sekali ini bukan untuk meminta kuda belang2 putih atau kuda jang berbulu merah kepunjaannja, melainkan radja itu meminta patinja si Brohim. Pati artinja njawa. Djadi sekali ini, si Brohim harus dibunuh!
Pegawai radia jang ketiga ini, belum kenal kepada si Brohim. Djuga ia belum tahu, bagaimana rupa si Brohim dan dimana rumahnja. Bagaimana aku harus mentjari dia?" - pikirnja.
Malam hari, barulah ia sampai kekampung si Brohim. Ke60 betulan sekali, ia masuk kerumah si Brohim, karena hanja rumah si Brohimlah jang letaknja paling dekat kepinggir kota. Maka seperti biasa, tamu itu didjamu si Brohim dengan semestinja, karena ia tahu, bahwa tamu ini adalah suruhan radja.
Selesai makan, bertjeritalah tamu itu, apa maksud kedatangannja dikampung ini. Ia harus mentijari orang jang bernama si Brohim, akan tetapi ia tidak tahu dan tidak kenal kepada orang jang ditjarinja itu. Ia minta tolong kepada si Brohim, supaja mau ia menudjukkan rumah dan orang jang dimaksudnja tadi.
Ah, alangkah sedihnja hati si Brohim. Djika si tamu ini diberi tahu, bahwa orang jang ditjarinja itu ada dihadapannja sekarang, tentu tak ’kan berani ia mendjalankan kewadjibannja sebagai perintah radia. Kasihan benar orang ini ...." - pikirnja.
Lama sekali si Brohim termenung mentjari akal. Kemudian berkatalah ia: „O, aku kenal betul dengan orang jang bernama si Brohim itu. Tapi kalau betul2 tuan mau membunuhnja sebagaimana perintah radia itu, maka djanganlah tuan pergi kerumahnja dimalam hari. Rumahnja selalu penuh dikerumuni teman2 dan sahabat-kenalannja. Djadi . . . . tuan harus mentiarinja’dilain tempat. Aku tahu betul, bahwa tiap2
pagi, ialah kira djam empat subuh, ia selalu sembahjang diafas batu datar dipinggir sungai rumah ini. Malah kadang’ ia tidur disana mulai tengah malam hingga subuh. Baik tuan datang sadja besok subuh dipinggir sungai ini, dan djangan segani, bunuhlah dia atas perintah radia ...."
Tamu itu senang hatinja. Maka tidurlah ia dengan njenjaknja.
Esok paginja, ia sudah bangun dan pergilah diam2 kepingair sungai jang ditundjukkan tuan rumah tadi malam. „Alangkah dinginnja . . . . !" - katanja sambil menjelubungkan kain selimutnja. „Apakah betul si Brohim itu sudah ada dipinggir sungai sepagi ini?" - demikian ia bertanja se orang diri.
Remang2 dalam tjahaja taram-temaram, tampaklah diatas batu datar, seorang laki2 jang tergolek tidur berselimutkan kain pelekat. Muka dan lehernja rapat ditutupi kain itu seluruhnja, sehingga tak tampak bagaimana bentuk dan rupa orang itu. „Biar aku lihat dulu, bagaimana rupa si Murah Hati jang terkenal diseluruh negeri ini" - katanja sambil membuka selubung kain itu pelan2.
Tapi . . . . o, alangkah terkedjutnja, ketika tutup muka dan leher itu dibuka, bukan orang lain jang ia tjita2kan sebagai si Brohim si Murah Hati, melainkan . . . . tuan rumah sendiril Maka terkulailah tangan jang sudah memegang alat pembunuh itu dengan lesu. Pelan2 dibangunkan dan ditanjanja sekali: „Siapakah tuan jang sebenarnja?"
„Akulah si Brohim jang harus kaubunuh menurut perintah radia....!" - djawabnja dengan tenang. „Atas perintah radia, bunuhlah akul" - sambungnja.
Pesuruh radia itu termenung. Dengan suara pasti ia mendjawab: „Tidak! Aku tak mau membunuh tuan, sekalipun radia atau siapapun jang memberi perintah. Aku tak mau tangan ini mendjadi kotor karena dosa membunuh orang
jang sebaik tuan. Biarlah aku kembali kepada radia dengan tangan kosong tak mengerdjakan apa2. Akan kutjeri63 takan kepadanja bahwa tuan tidak patut dapat hukuman dan penganiajaan sekedjam ini. Djika radia itu tetap tak mau menerima segala jang kutjeritakan, dan tetap tuan harus mendapat hukuman, maka sebelum dia membunuh tuan, akulah jang lebih dulu membunuh dia. Aku lebih suka mendjadi pembunuh radia jang kedjam, daripada mendjadi pembunuh tuan! Memang radia jang berbuat se-wenang2, harus dibunuh oleh rakjatnja sendiri ....!"
Sambil berkata demikian, ia lari se-tiepat’nja menudju istana kembali.
Radja itu terharu, demi mendengar semua laporan pesuruhnja. „Sesungguhnja, aku merasa kalah oleh kebaikan dan kemurahan hatinja ...." - katanja sambil menggelenggelengkan kepalanja, Tjerita ini tersebar keseluruh negeri. Dan si Brohim hidup dengan tenangnja meneruskan kehidupannja sebagai Brohim si Murah Hati.
Pohon Katjang dengan djundjungannja
Didalam sebidang’ kebun, tumbuhlah pohon katjang jang mendjalar dan membelit pada djundjungannja. Djundjungan ini berupa galah jang dibuat dari bambu. Makin lama pohon katjang itu makin tinggi, sehingga lama2 sampailah ia kepuntjak djundjungannja.
Dengan sombong ia melihat kekiri dan kekanan, se-akan2 dialeh jang tertinggi dan termulia diantara tanam2an jang ada didalam kebun itu. „Akulah jang terbesar dan tertinggi diseluruh kebun ini" - katanja sambil memandang dengan pandangan jang menghina kepada semua tanam2an jang ada disekeliilingnja. Tubuhnja bergojang kekiri dan kekanan. Seluruh tubuhnja itu penuh dengan daun2 jang hidjau segar dan buah katjang jang bergantungan. Kelihatan salur2nja kokoh melingkari djundjungannja jang berdiri lurus tidak bergerak. Djundjungan ini berdiri dengan sabarnja menurutkan perintah pak Tani jang menjuruh supaja dia berdiri ikut menegakkan pohon katjang itu. Ia berdiri lurus dengan sabarnja, sedang pohon katjang itu makin lama makin rindang. Bunganja makin lama makin banjak, dan buahnja timbul disana-sini’ dibagian tubuhnja. „Alangkah indahnja pandangan dikebun ini" - kata pohon katjang itu. „Dan semua keindahan ini disebabkan oleh daun2ku jang hidjau segar dan bynga2ku jang putih bertjahaja! Tjuma satu hal jang sangat mengganggu pandangan mata, ialah djundjungan jang warnanja kotor ke-hitam2an ini. Tjoba lihat, alangkah kotornja! Lebih2 ia sangat sombong pula. Ia tak mau membungkuk sedikitpun, sehingga teman2ku jang datang kemudian, teralang olehnja. Tjis, sombong benar dia . . . . . !"
„Tetapi aku tak dapat membungkuk, hai pohon katjang!" - djawab djundjungan itu. „Punggungku terasa kaku . . . . "
„Nah, itulah lagi tjatjatnja" - kata pohon katjang itu. „Aku
mudah sadja membungkuk. Lihatlah, hendak kemana tubuhku bergerak, dapat."
Tentu sadja" - djawab djundjungan itu dengan sedihnja. Engkau adalah pohon jang dapat membelit, sedang aku hanjalah galah bambu jang kaku sadja.""
„Alangkah baiknja kalau engkau dapat membungkuk. Terus-menerus berdiri tegak demikian, sungguh tak menjedapkan mata. Dan epakah sebenarnja pekerdjaanmu disini....?" - pohon kafjang itu bertanja dengan sombongnja. „Tiap hari engkau hanja diam sadja tidak bergerak, sedikitpun tak ada paedahmu. Kami? Tiap hari tubuh kami makin pandjang. Kami membawa daun2 jang hidjau rimbun dan kami membawa bunga2 jang bertjahja! Kemudian kami berbuah, dan buah2 ini dimakannja oleh manusia! Dan engkau? Bergerakpun, engkau tak dapat...."
„Aku tak tahu" - djawab djundjungan itu dengan muka bertambah sedih. „Jang memantjangkan aku disini, ialah pak Tani. Barangkali dialah jang lebih tahu, apakah maksud nja aku ditaruh disini. Dan aku sekarang hanja menurut sadja, diam berdiri disini dengan tiada bergerak."
„Tijis, sangat buruk perbuatanmu itu! Pemalas!" - demikian pohon katjang itu menggerutu. „Mengapa pak Tani menjimpan sesuatu jang tidak berguna disini? Mengapa barang jang tidak berguna ini tidak dibuangnja?"
Pertjakapan itu tiba2 terhenti, karena waktu itu datang angin keras meniup mereka. Daun2 dan bunga katjang itu tampak menggeletar dengan indahnja, menghiasi kebun.
„Tjobalah lihat, galah jang kaku itul" - katanja menggerutu. „Hai, membungkuklah sedikit, untuk menghormati sang angin!" - teriaknja pula.
Karena galah itu merasa malu, maka dengan sekuat tenaga, ia mentioba membungkukkan tubuhnja. Akan tetapi . . . . krak, krak . . . . " Rubuhlah ia! Dan semua sulur? jang tadinja membeliti djundjungan itu, djatuhlah ikut bersama? dengan galah itu.
Sekarang lihatlah!
Pohon katjang jang sombong itu melingkar ditanah, sedang tubuhnja hitam karena digelapi semua bajangan. Dengan sekuat tenaga, ia mentioba menguatkan dirinja untuk naik merajap keatas. Tetapi . . . . dapatkah ia berbuat demikian? Punggungnja terasa lemah. Dan djatuhlah ia kembali.
„Ah, dijika seandainja galah itu berdiri lagi, tentu aku dapat ikut naik keatasnja. Sajang . . . . !" - demikian ia mengeluh.
Tetapi galah itu tidak mau berdiri lagi seperti tadi. Ia terletak ditanah sambil mendengarkan keluhan pohon katjang.
Kemudian tertawalah ia seorang diri, sedang pohon katjang tampak bersedih hati memikirkan betapa besarnja paedah djundjungan itu.
Dadang dengan botol2 obat
Dadang sudah lama sakit panas dan batuk2. Dalam kamarnja jang sunji itu tiap hari ia berbaring. Tadi malam, panas badannja naik lagi. Ia tak mau minum obat dan tak mau menurutkan nasihat dokter. Kalau ia diberi obat oleh ibunja, ia menangis atau dengan diam2 dibuangnja obat itu ketempat kotoran atau keluar djendela.
Pada suatu petang, turun hudjan dengan lebatnja. Dadang tak dapat tidur. Tubuhnja terasa sakit dan lesu. Panas badannja makin naik meninggi. Ia berbaring. Si Kamil, pengasuhnja, duduk dibangku jang ada disudut ’kamar. Ia menunggu dengan sajangnja, kalau-kalau Dadang minta minum. Dadang dijuga tak mau ditinggalkan si Kamil, karena dialah kawannja ber-main’ dirumah.
Ketika ia membuka matanja kembali, tampak ibunja duduk disampingnja.
„Sebentar lagi dokter datang, ’nak" - kata ibu Dadang perlahan.
Dadang tidak menjahut. Dalam hatinja ia sangat bentji kepada dokter. „Apakah gunanja memanggil dokter tiap minggu?" - pikirnja. „Dokter itu tjuma menjakiti sadja pekerdjaannja. Mula2 ia memidjit pergelangan tangan, lalu mengenakan benda dingin jang memakai karet pandjang ditelinganja untuk mendengarkan napas. Kata ibu, benda
itu stetoskup namanja. Sesudah mendengarkan napas, ditusuknja udjung djariku dan diisapnja darahku. Kemu69 dian disuntiknja pula lenganku. Tiap hari ia menjuruh aku minum obat jang pahit2. Perbuatannja selalu kedjam dan tidak menarik hati. Ah, aku bentji kepada pak dokter. Aku bentji kepada semua botol2 obat jang ada diatas medja disampingku ini." Sambil berpikir demikian, ia memedjamkan matanja.
Ibunja mengusap-usap kepalanja. „lekaslah sembuh, nak. Nanti kalau sudah sembuh, kau boleh ber-main2 lagi diatas gunung2-an jang dibuat ajah ...."
„Masih adakah gunung’an itu, bu?" - tanja Dadang.
Tentu sadja masih ada. Lekaslah sembuh. Segala permainanmu masih ada menunggu engkau" - demikian kata ibunja sambil terus mengusap-usap kepala Dadang.
Tiba2 pintu terbuka pelan2. „Nah, dokter datang!" - kata ibu. Lalu Dadang diperiksa dengan teliti seperti biasa. „Obatnja diminum? - tanja dokter. Tapi Dadang diam sadja dan mukanja putjat. Ia takut, karena sudah dua hari ia tak mau minum obat. Obat itu dibuangnja keluar djendela.
Sesudah Dadang disuntik dan minum obat, barulah pak Dokter pergi. Dadang diitinggalkan oleh ibunja. „Dia harus tidur, djangan diganggu" - kata pak dokter kepada ibu.
Pintu ditutup, dan sunjilah didalam kamar. Dadang bersandar pada bantal. Tapi ia tak dapat tidur. „Mengapa tak ada teman2 jang datang mengadjak aku ber-main2 melihat gunung2an?" la memandang lagi kedjendela. Tampak diluar djendala, air hudjan me-rintik2. Ia merasa pusing.
Matanja ber-kunang2. Dan . . . . tiba2 nampak olehnja sebuah botol obat jang terbesar diatas medja berubah rupanja mendjadi seorang orang jang kurus tinggi, berbadju putih, bertopi dan berkatija mata. Seperti pak dokter tampaknja. Kemudian disusul pula oleh botol2 ketijil jang ada didekatnja. Begitu pula alat pengukur panas jang terletak disampingnja. Mereka merupakan orang2 ketijil sebesar botol dan ber-gerak2 seperti sebuah barisan jang sedang berdjalan. Orang2 ketijil ini makin lama makin banjak . Dengan dikepalai oleh orang jang serupa dengan pak dokter tadi, mereka ber-iring2 mendapatkan
Dadang. Ja, Dadang mendjadi bingung. „Apakah jang terdjadi?" - pikirnja.
Tiba2 terdengar bunji jang sangat ribut diluar. Dengan takut Dadang bertanja kepada botol jang mendjadi pemimpin barisan itu. „Mengapa sangat ribut? Apakah jang terdjadi diluar?"
Orang ketjil itu mendjawab: „Sudah lama benar rumah ini kedatangan segerombolan musuh. Sekarang mulai datang lagi musuh2 itu. Mereka sangat ketjilnja, sehingga dapatlah mereka masuk kedalam kamarmu dengan djalan melalui lubang kuntji pintu. Mula2 mereka berdiri diudjung tempat tidurmu, kemudian be-ramai2 mengerumuni tubuhmu. Ada jang singgah dikepalamu, ada jang masuk kerongkonganmu dan ada lagi jang hinggap dan bergantungan didjari-tanganmu. Musuh2 itu berkuasa atas dirimu, dan engkaupun sangat patuh akan perintahnja. Kalau mereka melarang makan, maka tak maulah engkau makan. Djika mereka melarang engkau tidur maka tak maulah engkau tidur. Dan tahukah engkau, siapa musuh mereka?" - tanja orang ketjil itu. Dadang menggelengkan kepalanja. „O, musuh mereka jang terbesar, ialah . . . . obat2 jang ada disampingmu itu! Kalau mereka melihat engkau hendak minum obat2 itu, maka gemetarlah tubuhnja dan dengan tjepat mereka memberi perintah supaja lekas engkau membuang obat2 itu ketempat kotoran atau keluar djendela. Dan obat2 itu ialah . . . . kamil Kami, kami inilah musuh mereka! Tapi karena engkau sangat patuh kepada perintah mereka, kami tak pernah masuk kedalam tubuhmu untuk melawan mereka. Achirnja mereka mendapat kemenangan atas dirimu. Tjobalah perhatikan, tubuhmu makin lama makin lemah dan kurus, sedang mereka makin berkuasa atas dirimu!"
Dengan mata terbelalak, maka berkatalah Dadang: „Tetapi engkau sangat pahit."
Ja, kepahitan kami itulah jang mendjadi alat untuk berperang dengan mereka. Djika kami dapat masuk kedalam tubuhmu, rasa pahit kami itu sanggup bertempur habishabisan dengan mereka, sehingga mereka terusir dari tubuhmu dan lari semua dari rumah ini."
Tolonglah akul Tolonglah aku, hai orang2 ketjil" - kata Dadang. Sekarang aku mau menurut kepadamu! ’Usirlah musuh2 itu!"
Pedjamkan matamul" - kata orang2 ketiil jang sebesar botol2 obat itu. Nah, sekarang kami akan mengerahkan tenaga pasukan kami untuk mengusir mereka. Dan pemimpin kami ialah pak dokter!"
Dengan hati berdebar, Dadang memedjamkan matanja. Kemudian terdengar suara orang2 jang berteriak mengusir musuh, sedang suara sepatu jang berbaris sangat gaduh kedengarannja.
Dadang menunggu pertempuran itu dengan tjemas, sedang keringatnja mengalir dikening dan diseluruh tubuhnja. Beberapa lama kemudian, Dadang mendengar suara orang2 jang dikedjar dan suara djendela dibuka orang. Dengan badan gemetar, pelan2 Dadang membuka matanja. Waktu itu tampaklah olehnja ber-puluh2 orang ketiil hitam jang berlarian melompati djendela, dikedjar oleh orang2 ketjil putih jang se-besar2 botol. Orang2 ketiil jang dikedjar itu tidak berbadju, kulitnja hitam, rambutnja merah, sedang orang2 ketiil jang mengedjarnja, semua berbadju putih, bertopi dan berkatja mata. „Itulah pasukan pak dokter . . . . !" - bisik Dadang.
„Tidurlah engkau! Mereka sudah kalah dan sudah kami usir semuanjal" - demikian kata pemimpin botol2 obat itu. „Sebelum engkau sembuh benar, tiap hari tentu kami menunggu engkau. Djangan takut, tidurlah engkau. Kami mendjagamu ....!"
Per-lahan2 diendela itu tertutup kembali. Dan dengan penuh rasa sukur, diulurkannja tangannja: „Terima kasihl" - katanja. Lalu tertidurlah ia.
Esoknja, ketika ibunja datang menengok Dadang, dengan girang berkatalah ia: „Engkau dapat tidur, nak? Sebentar lagi tentu engkau sembuh. Kepalamu tidak panas lagi dan keriringatmu keluar banjak. Tentu karena obat jang kauminum kemarin petang. Sekarang minum lagi ja?"
Dadang mengangguk. Air mukanja djernih. Ia tak menangis lagi. Ia tak membentji lagi obat2 dan ia tak bentji lagi kepada pak dokter.
Seminggu kemudian, si Kamil sudah memberi tahu kepada teman2 Dadang, bahwa Dadang sudah sembuh. Sekarang ia radiin benar minum obat.
Pak dokter mendapat pudjian dari ajah. Tetapi Dadang tetap berpendapat, bahwa pasukan botol obat2 itulah jang telah mengusir musuh2 hitam diwaktu malam. Botol2 obat itulah jang telah berdjasa kepadanja. Dan Dadang berterimakasih benar kepada botol2 obat itu.
Dadang tidak tahu, bahwa pendapatnja itu hanja terdapat dalam mimpinja selama tertidur.
Ia tak pertjaja lagi kepada ikan
Hari panas terik. Bu guru berdiri dimuka kelas menggambar seekor ikan. Anak2 memperhatikan gambar itu dengan teliti. Ketjuali si Abu. Ia duduk disudut bangku agak membungkuk. Matanja sudah laju. Sebentar2 ia menguap sambil menutup mulutnja dengan kitab tulis jang terletak diatas bangkunja. Rambutnja jang kering dan kusut itu menundjukkan, bahwa otaknjapun kering dan katjau. Ia sudah tak kuasa lagi berpikir. Hatinja bentji melihat gambar ikan jang dipapan tulis itu.
Lihatlah, betapa tjepatnja bu guru membuat gambar ikan mas jang besar itu.
„Nah, gambar ini sudah selesai" - demikian kaa bu guru memulai tjakapnja sambil meletakkan kapur tulis diatas medja. „Tjoba perhatikan. Ikan ini, ikan mas namanja. Dan gambar jang satu lagi ialah ikan mas jang dibelah dua. Kalau kita perhatikan tubuhnja, dapat kita bandingkan, bahwa tubuh ikan ini hampir serupa dengan djantung pisang. Bentuk jang londjong begini, memudahkan untuk meluntjur didalam air. Ekornja lebar. Ekor ini berdaging kuat, gunanja ialah untuk alat pendorong badannja. Sirip2-nja tjukup keadaannja, agar ia dapat menentukan arah perdjalanannja didalam air ...." - Sampai disini, bu guru berhenti. Anak2 mendengarkan seraja melihat pada gambar. Bu guru mengalihkan pandangannja kepada anak2 itu ber-gantl2: dari Ali kepada Imam; dari Imam kepada Ati; dari Ati kepada Kusna dan .... dari Kusna kepada
Abul Kebetulan Abu sedang menguap pandjang. Mulutnja tidak ditutup. Mukanja dan rambutnja telah laju dan katiau benar tampaknja. „Tjoba perhatikan sekali lagi. Engkau djuga, Abu ....!" - demikian bu guru meneruskan tjeritanja, sehingga si Abu terperandjat dan terpaksa ia memperhatikan gambar ikan itu.
„Badannja tertutup oleh sisik. Kalau kita slidiki, sisik itu
berkulit tipis jang berlendir. Tetapi kulit itu bening, sehingga kelihatan sisik itu tak berkulit. Bentuk sisik itu bulat pandjang, terdjadi daripada zat tulang. Ia bertanam didalam kulit djangatnja. Warna sisik ini matjam2, ada jang merah, putih, hitam, kuning ...."
Ja, sampai disini Abu tak dapat lagi menahan kantuknja. Matanja sangat berat untuk dibukakan dan.... merah, putih, kuning .... ah, berputarlah semua perkataan bu guru dalam pikirannja. Pandangannja diuga mendjadi ber-warna2 karena kantuknja. Ja, merah, putih, kuning .... klup! Mata Abu tertutup dan .... tampaklah kini seekor ikan besar jang gandjil bentuknja, meluntjur dari papan tulis.
„Ha, mengapa engkau tinggal ber-malas2 disini?" - demikian ikan itu bertanja kepada si Abu.
Abu tidak mendjawab. Ia meng-amat2i bentuk ikan itu. „Gandjil benar rupamu. Engkau bukan ikan mas jang digambar ibu tadi. Siapakah namamu?" - tanja si Abu.
Aku bernama si Ikan terbang. Rupaku berlainan dengan ikan mas kepunjaan bu guru tadi. Lihatlah, badanku amat pandjang. Pada kiri-kanan dadaku ada sirip sepasang. Sirip ini dinamai sirip dada."
„Alangkah pandjang dan lebarnja sirip dadamu itu. Seperti sajap mesin terbang. Untuk apa sirip jang sepandjang itu?"
„Untuk terbang" - djawab ikan itu.
Bagaimana engkau dapat terbang?"
„Mudah sekali. Lihatlah, diudjung belakangku, terdapat sebuah sirip. Sirip ini sirip ekor namanja. Djika aku hendak terbang, sirip ekor ini mulai bekerdjal Sirip ini aku kibas2kan diatas permukaan air. Oleh kekuatan sirip ini, mula2 aku meluntjur diatas permukaan air. Kemudian aku tekankan sirip ekor ini, sehingga dadaku terdjungkit. Lalu aku pergunakan sajapku untuk me-lajang2. Djika angin sedang kentjang, terbangku sangat tinggi. Tetapi harus hati2, sebab kadang2 diatuh diatas kapal. Banjak teman2ku jang terus ditangkap oleh pegawai kapal. Dan kata mereka, dagingku enak dan tjukup untuk dimakan beberapa orang."
„Hai, dimana tempat tinggalmu? Djika ikan mas, kata ibu hidupnja hanja dikolam dan disungai-sungai sadja. Dikolam dan disungai tentu tak ada kapal."
O, ja. Engkau belum tahu, bahwa aku hidup dilaut. Laut itu sangat luas, sehingga aku bebas untuk melontjat dan terbang kian-kemari. Sudahkah engkau melihat laut?"
Abu menggelergkan kepala. Kemudian bertanjalah ia: „Mencice sngkau terbang? Apa maksudmu terbang?" hai ini rema sadjo dengan binatang lain. Djika ada binatang uraequa hendak menerkam, lalu ia lari atau terbang. Demilqa sua dengan diriku. Kalau aku dikedjar ikan buas, lalu sua atan terbang diudara. Alat ini sengadja diberi Tuhan isapada binatang untuk menjelamatkan dirinja dari. bahaiz.
(O, ja. Sepzrti trenggiling" - sahut si Abu. „Djika ia dalar: keadaan bahaja, digulungnja badannja itu erat2 sebagai perlindungannja."
„Ja, betullah demikian" - djawab ikan.
„Banjakkah musuhmu dilaut?"
„Kalau engkau ingin tahu, mari ikut sadja terbang bersama2 kelaut. Tinggalkan sadja sekolahmu ini."
Abu berdiam sebentar. „Tetapi aku tak dapat berenang Bagaimana nanti kalau engkau terdjun kelaut?"
Kalau begitu, biarlah aku tak akan terdjun. Kita melihat diatasnja sadja. Nanti engkau dapat melihat, bagaimana teman2ku hidup dilaut. Biasanja mereka terdjadi dari beberapa kelompok dan terdapat diseluruh lautan" - kata ikan itu. ,Duduklah dipunggungku. Nanti kita terbang ..."
Ketika si Abu siap hendak mengendarai ikan itu, tiba2 meluntjurlah dari papan-tulis seekor ikan mas jang tjantik.
„Hai, djangan pertjaja kepada ikan itu, Abu!" - demikian ikan mas itu berkata kepada si Abu. „Kalau engkau meninggalkan sekolah ini, tentu bu guru marah dan engkau tenggelam kedasar laut, lalu dimakan ikan jang buas!"
„Heeee, siapakah engkau?" - tanja si Abu. „Engkau ikan mas jang digambar bu guru dipapan tulis tadi."
Ikan itu mengangguk. „Aku disuruh bu guru memanggil engkau. Dan engkau djangan ikut dengan ikan terbang ini. Ikan ini pendusta!"
Tetapi sementara Abu mendengarkan tjerita ikan mas itu,
sirip ekor si ikan terbang sudah bekerdja. Seperti kaal terbang djuga, ia meluntjur dulu, kemudian terbaa.s.i mem80 bawa si Abu dipunggungnja. Hati si Abu berdebaqusnarkah tjerita ikan mas itu? Benarkah si ikan terbaa.k.tu pembohong . . . . ?"
,Nah, itulah laut. Indah, bukan? Mari kita „Hai, aku tak dapat berenang!" - kata si Abe ice netar.
„Ah, tjoba ’ sadja. Mari kita turun ...."
Dan .... bjurr! Si Abu djatuh dilaut dan kepaians basahkujup.
„Aaauuu, aaauuuul Aku tak dapat berenang. Aku tak mau pertjaja lagi kepada ikan. Ikan ini pendusta ....!" - teriak si Abu dalam keadaan basah-kujup. Dan .... eeeeh, dibukanja matanja dengan gugup. Antara ingat dan lupa, si Abu menjeka air jang membasahi kepalanja. Diusapnja air itu dengan lengan badjunja. Tampak bu guru berdiri didepannja sambil membawa botol berisi air. Anak2 terdengar tertawa dan ber-bisik2.
Enakkah tidurmu, Abu?" - tanja bu guru sambil tersenjum.
Abu masih belum terkumpul benar ingatannja. „Ah, saja tak pertiaja lagi kepada ikan terbang. Saja hanja pertiaja kepada ikan mas jang dipapan tulis itu" - kata si Abu perlahan2.
„Apa? Ikan terbang?" - tanja bu guru. „Engkau mimpi, Abu!"
Barulah si Abu sadar akan keadaannja. Ia terkedjut dan tunduk ke-malu2an. Seumur hidupnja, baru ia merasa malu sebesar itu. Tetapi dalam hatinja ia bentji kepada ikan terbang jang berdusta itu. Ia menjesal, mengapa ia telah meninggalkan sekolahnja dan ikan mas jang digambar dipapantulis itu?!
Tjeritera Puteri tidak mau
Djaman dahulu kala, adalah seorang puteri, putera radja. Puteri ini baru berumur kira2 12 tahun. Ja, puteri ini masih ketjill Setiap malam ia tidur ditempat tidur jang bertilamkan sutera2. Kamarnja hampir kelihatan kuning warnanja, karena barang2 dan perabotan jang didalamnja, serba emas berkilat2. Istananja terbuat dari batu pualam jang putih gemerlapan.
Tentu kamu mengira, bahwa puteri ini hidup dengan gembira dan bahagia, bukan? Ooo, salah sekali dugaanmu itu. Puteri ketjil ini, hidup dalam keadaan jang murung dan ketjut, karena selalu merasa tidak puas dengan keadaan dirinja, sekalipun ia hidup dalam kesenangan dan mewah semewah2nja.
Tiap hari ia hanja menggerutu sadja kerdjanja. Dan perkataan apakah jang selalu keluar dari mulutnja? O, perkataan jang keluar dari mulutnja, hanjalah satu perkataan sadja, ialah: „tidak mau!"
Pagi hari ia sudah bangun dari tidurnja. Disampingnja sudah tersedia lontjeng jang terbuat dari perak. Lontijeng ini gunanja untuk memanggil pelajan. Apabila lontijeng berbunji, maka datanglah pelajan kamar. Pelajan ini segera mengenakan pakaian puteri jang terbuat dari sutera biru muda. Lalu diambilnja sepasang sepatu beledu hitam dan dipasangnja sekali.
Selesai berpakaian, datanglah pula pelajan lain, pelajan san83 tapan namanja. Pelajan ini membawakan puteri air susu dan kuwe2 jang amat lezat. Tapi puteri itu segera berteriak: „tidak mau! Aku tidak mau air susu, aku ingin air kopi . . . . !"
Segeralah datang pelajan lain jang membawakan air kopi. Pelajan ini berpakaian warna merah dan tjelananja pendek ber-wiru2. Tapi puteri itu berteriak lagi: „tidak mauI Aku tidak mau air kopi, aku ingin air teh manis!"
Datanglah pula pelajan.lain jang berpakaian seperti pakaian Tionghoa lama. Badju dan tjelananja terbuat dari sutera merah djambu jang longgar ber-kilat2. Barulah puteri ini meminumnja.
Sesudah minum pagi dan makan kuwe jang lezat2, pergilah puteri itu ber-djalan2. Baru sadja ia sampai digerbang istana, maka berderetlah kusir2 istana dengan kereta emasnja jang berkuda putih enam ekor. Tapi puteri tiu segera berteriak: „Tidak mau! Aku tidak mau kuda putih, aku ingin kereta perak jang ditarik kuda hitam!"
Segera kereta emas itu ditarik kembali kebelakang dan kini datanglah kereta perak dengan enam ekor kuda hitam. Kusirnja berbadju biru tua, berompi merah dan berkaus kuning. Ia melontjat kedalam kereta sambil memegang tjambuk. Maka berangkatlah kereta itu dengan mewahnja, berdjalan berkeliling sekitar kota.
Siang hari, puteri itu kembali diistana.
Diatas medja jang berhiaskan bunga2 serta segala perabotan dari perak, terhidanglah santapan siang. Ah, puteri itu berteriak lagi: „Tidak mau! Aku tak mau disediakan nasi dan semur ajam! Aku ingin sajur daging sadja . . . . !"
Pelajan santapan itu segera lari kebelakang dan diambilnja
sajur daging. Sajur daging ini diketjapnja sedikit. Kemudian datanglah pelajan lain lagi jang membawa nasi kun85 ing dan panggang daging. Tapi puteri itu berteriak lagi minta diganti degan nasi putih dan goreng ikan. Setelah nasi putih dan goreng ikan datang, ia berteriak pula minta diganti dengan bistik sapi ....
Demikianlah kehidupan puteri itu dari hari kehari. Pelajan2 diistana selalu sibuk mengerdjakan perintah’nja jang tiada habis2nja itu. Dari pagi sampai djauh malam, mereka harus bekerdja keras untuk kesenangan puteri jang seorang itu sadja.
Djika hari telah malam, datanglah seorang pelajan jang mengenakan pakaian tidurnja. Tapi puteri itu tak mau memakai badju tidur. Ia ingin memakai pakaian sore sadja.
Ketika ia tidur diatas tempat tidur jang bertilamkan sutera2, ia berteriak: „Tidak mau! Aku tidak mau memakai tempat tidur sutera. Aku ingin memakai tempat tidur beledu hidjau!" Maka dibawanja ia keatas tempat tidur jang bertilamkan beledu hidjau. Dan barulah ia tidur ditempat tidur jang baru, sampai ajam mulai berkokok.
Tapi.... tjeritera ini belum selesail Dengarlah selandjutnja:
Pada suatu hari, ketika puteri itu bangun dipagi hari, terkedjutlah ia. Ooo, ia telah tergolek didalam rumah seorang petani miskin dipinggir hutan. Ia tergolek dilantai jang bertilamkan djerami dan berselimutkan kain2 rombengan!
Seketika itu djuga, ia berteriak: „Tidak mau! Aku tidak mau tidur ditempat tidur djeramil Aku mau tempat tidur beledu kuning . . . . !"
Tetapi....
Sepi sadja disekitar rumah itu. Tak ada seorangpun pelajan istana jang datang. Ia ingin sekali memanggil mereka dengan lontjeng peraknja. Tetapi lontjeng itu tak ada disampingnja. Kemudian ia mendjerit! Ada kira2 satu djam lamanja ia menangis terus-menerus, sehingga serak-parau suaranja. Setelah ia pajah menangis, tiba2 muntijul seorang petani tua. „Siapakah engkau? Aku tak mau tempat tidur dijerami! Aku ingin tempat tidur beledu kuning . . . . !" - teriak puteri itu kepada petani tua.
Ho, ho, ho! Untuk tempat tidur beledu kuning, engkau harus menunggu lama disini, sampai tempat tidur itu datang sendiri...." - djawab petani itu mengedjek. Lalu diberinja puteri itu pakaian dan badju jang amat buruk.
„Aku tidak mau pakaian burukl Aku mau badju sutera dan sepatu beledu hitam!"
„Ho, ho, hol Untuk pakaian sutera dan sepatu beledu djuga, engkau harus menunggu lama disini, sampai pakaian sutera dan sepatu beledu itu datang sendiri ...."
Ketika puteri itu selesai berpakaian dengan pakaian buruk, maka dibawakannja sepiring bubur beras merah tjampur djagung. Aku tak mau buburl Aku mau minum air kopi....!" - teriak puteri itu pula.
„Ho, ho, hol Tunggulah disini, sampai air kopi itu datang sendiri...." - djawab petani itu tambah mengedjek.
Selesai makan, puteri itu diharuskan bekerdja diladang. „Aku tidak mau bekerdja diladang jang panas itu! Aku mau djalan2 dikereta dengan kuda merah sepuluh ekor!"
„Ja, ja. Tunggulah disini. Untuk segala kemewahan itu, engkau harus merasakan dulu hidup dihutan bersama aku...." - Dan achirnja puteri itu mau diuga bekerdja diladang dengan pajahnja.
Siang hari ia merasa lapar. Akan tetapi ia hanja mendapat nasi merah sadja dengan sajur sedikit. „Aku tak mau sajurl Aku mau daging ajam dan ikanl" - teriaknja. Akan tetapi, petani tua itu selalu mendjawab seperti djawabnja jang sudah2. Dan setelah pajah ia bekerdja diladang, pada petang harinja ia hanja disediakan nasi dengan goreng ikan asin sadja sedikit. Ah, sungguh aneh! Puteri itu tidak berteriak lagi: „tidak maul" - Akan tetapi dimakannja nasi itu diam2 sampai habis.
Ja, demikianlah kehidupan Puteri itu sekarang ditempatnja jang baru. Hari Senin sudah berganti hari Selasa. Hari Selasa berpindah mendjadi hari Rabu, Kamis, Djumat . . . . dan selandjutnja hingga terus ber-minggu2.
Sekarang puteri ketiil itu sudah biasa hidup melarat den89 gan pak petani tua. Ia tak pernah lagi berteriak: „tidak maul" Akan tetapi, ia menerima sadja pada segala apa jang diberikan pak tani tua itu. Tingkah-lakunja amat sederhana. Ia mulai radjin bekerdja. Ia sudah tahu, bagaimana rasanja hidup melarat, dan bagaimana sakitnja diika perut lapar minta isi. Kemiskinan dan kelaparan ini mendidik dia mendjadi manusia baru jang bentij akan kemewahan jang berlebih2an!
Sampai kepada suatu ketika, ja, ketika ia bangun pagi2, badannja terasa berbaring lagi ditempat tidurnja jang bertilamkan sutera2, lengkap dengan pakaian tidurnja. Kemudian datanglah para pelajan. Pelajan2 itu sibuk mengenakan lagi pakaian siangnja dan sepatu beledunja. Lalu datanglah seorang lagi jang membawakan air kopi. Tapi sungguh mengherankan benar! Puteri itu tak sepatahpun beteriak: „Tidak maul" - „Tidak maul" Ia menjambut semua pelajanan itu dengan ramah dan penuh terima kasih . . . .
Semua perubahan tingkah-laku dan sifat’nja ini, sangat menggembirakan seluruh istana. Lebih2 ajah-bundanja. Mereka sekarang pertiaja, bahwa puterinja tidak bersifat buruk seburuk dulu lagi. Kekajaan orang tuanja tak dipakainja kesempatan untuk kemewahan dirinja jang ber-lebih2an.
Malam hari
Hari mulai sendi. Per-lahan2 matahari tenggelam dibalik gunung dan gelaplah hari. Alangkah sunjinja disekeliling hutan itu.
Beberapa djam jang lalu, masih banjak terdengar bermatiam2 suara binatang. Tetapi makin lama makin berkurang djuga jang terdengar. Tentu kamu mengira, bahwa tak ada satupun jang bersuara dihutan itu. Tak ada satupun jang berbitjara.
Tapi sungguhkah tak ada jang bersuara dihutan itu? Tjoba dengarkanl Suara apakah jang ber-bisik2 ditepi hutan itu?!
„Alangkah bagusnja malam ini" - demikian kata sekuntum bunga mawar memulai pertjakapannja. Ia bergojang kekiri dan kekanan amat lembutnja. Sekarang aku hendak tidur beristirahat. Besok akan kukembangkan lagi badjuku jang merah ini dan akan kusebarkan bau wangiku keseluruh hutan. Alangkah senangnja aku dijika banjak lebah jang datang mengerumuni badjuku. Mereka mengisap maduku dengan udjung pendjilatnja jang halus itu."
Sebenarnja bangsa manusia itu tidak tahu terima-kasih" bisik sekuntum mawar jang berwarna merah muda. Mereka tidak tahu, bahwa kita semua sangat senang diika didatangi lebah2 itu. Dan bukankah lebah2 itu amat berguna madunja buat mereka? Dan bukankah madu itu menjehatkan tubuh mereka?"
„Ja, ja. Sebagai tanda terima-kasih mereka kepada kita, maka diambilnja pisau. Kemudian dipotongnja kita dan dimasukkannja kedalam gelas jang berair" - sahut sekuntum mawar putih mengedjek.
„Hai, bukankah air itu baik diuga untuk kita? Dalam gelas jang berair itu kita dapat hidup dengan sederhana" - kata sekuntum bunga ketjil jang biru warnanja. „Siapakah jang mendjadi hiasan diruangan tamu? Kita! Siapakah jang mendjadi pusat perhatian? Kita! Dan siapakah jang sering ditjium dan dibelai oleh setiap jamu jang datang? Kita!"
„Ah, djangan terlalu sombong, kamul" - kata beberapa helai daun‘kering ditanah jang sudah gugur. „Kamu harus ingat, bahwa diika tidak ada kami jang gugur dan bertimbun ditanah, tentu kamu tidak akan tumbuh. Karena kami bertimbun begini, lema2 kami mendjadi pupuk. Dan pupuk inilah jang berdjasa. Akarmu mengisap makanan dari kami. Dan bukankah makanan itu dikirimkan oleh akar keseluruh tubuhmu? Kalau kami tidak ada, o, seluruh anggota tubuhmu tidak akan dapat makanan. Dan kamu tidak ada artinja bagi bangsa manusia. Sesungguhnja - kamu, lebah dan bangsa manusia, harus berterima kasih kepada kami si daun kering jang mendjadi pupuk."
Tentu sadja" - kata seekor tjatjing tanah jang gemuk. Aku djuga djangan dilupakan, sekalipun aku ketijil dan hinal Kalau aku tidak mengebor tanah ini terus-menerus tiap hari, tentu kamu tidak akan mendapat tembusan hawa kedalam. Kalau tidak ada hawa, tentu kalian mati lemas. Sesungguhnja - kamu, pupuk, air, lebah dan manusia, harus berterima kasih kepadaku. Tetapi apa jang terdjadi sebenarnja? Bangsa manusia menggali dan mengambil aku dari tanah. Kemudian ditusuknja dengan kail dan ditjemplungkannja kedalam air agar tubuhku habis di-robek2 ikan. Itukah tanda terima-kasih . . . . ?!"
O, aku lain lagi" kata sekuntum melati putih ikut bertjakap dari sudut.
„Hai, apa pendapatmu, ketiil?" - tanja bunga mawar jang merah sambil tertawa.
„Ah, djangan kau tertawakan aku!" - sahut melati itu kemalu2an.
„Aku hanja sekuntum melati jang ketjil sadja. Aku berpikir dan berbuat, selalu dengan perasaan kasih-sajang. Sesungguhnja, tak baik kita hanja memikirkan diri kita sendiri sadja. Kita semua tak dapat hidup seorang diri. Jang satu tentu membutuhkan jang lain, atau sebaliknja. Misalnja sang lebah, mereka , mempergunakan kaki bawah dan bulu2nja untuk s pengangkutan serbuk. Dengan penjerbukan itu, mereka menjebarkan tjatjah-djiwa kita, bangsa tumbuhzan. Mereka berbuat djasa untuk kita, tetapi kitapun berbuat djasa pula untuk mereka. Tidakkah gudang madu kita terbuka buat mereka untuk diisapnja tiap hari? Demikian pula bangsa manusia. Mereka seringkali memberi kita air, bilamana kita merasa kering kehausan. Sebaliknja, kita dapat memberikan warna dan harum wangi kita kepada mereka ....
„Betul itul" - sambung setangkai rumput jang sudah tua. „Aku diuga senang mendengarnja, diika kalian bertjakap seperti si putih ketijil itu ....
„Menurut pendapatku, tak usah kita minta2 terima kasih karena djasa kita . . . . " - sambung melati itu „Kewadjiban kita, hanjalah: berbuatlah baik, apa jang telah dianggap
baik. Kita semua butuh-membutuhkan dan harus bantu94 membantu."
„Ja, akupun setudju demikian" - kata bunga mawar jang merah. Tetapi sekarang sudah malam. Baiklah kita tidur! Besok, hari akan siang kembali dan kita bangun pagi2 dengan mengembangkan warna badju kita jang baru dan harum wangi kita untuk seluruh alam dan manusia ...."
Maka terdiamlah semua bunga dan daun2 diseluruh hutan itu. Mereka tak bertjakap-tjakap lagi. Tetapi kita sudah dapat menangkap apa jang mereka pertjakapkan tadi, ialah: bahwa didunia ini, segala bunga2 jang ber-warna2, segala daun2an jang hidjau, tjatjing tanah jang hina, lebah2 dan daun kering, semua saling membutuhkan dengan tiada memandang upah dan penghargaan!
Dua sahabat
Iljas dan Bandi, dua orang bersahabat. Mereka bekerdja mendjadi pegawai stasiun disebuah kota ketjil. Kedua orang ini, sudah lama bersahabat, sekalipun tabiatnja berlainan.
Iljas seorang jang sabar dan patuh kepada kewadjiban. Sebaliknja, Bandi seorang jang malas bekerdja dan penaik darah. Banjak benar kawan2 sepekerdjaannja jang sakit dan luka hatinja karena sifat dan tabiat kekasaran Bandi. Dengan Iljas djuga kadang2 Bandi berselisih. Tetapi perselisihan ini tidak lama, karena Iljas pandai benar memadamkan nafsu Bandi.
Pada suatu ketika, petang hari, mereka beristirahat. Karena rumahnja berdekatan, Iljas datang kerumah Bandi, maksudnja akan ber-tjakap2 tentang pekerdjaan dan keadaan se-hari2. Waktu Iljas masuk, terdapat Bandi sedang termenung bermuka masam.
„Mengapa kau semurung ini, Di?" - tanja Iljas. Tetapi Bandi tak mendjawab. Ia tetap bermuka masam dan keruh. Setelah Iljas duduk, barulah ia berkata: „Huh, bagaimana tidak akan susah dan murung? Tjoba sadja pikirkan: anakku tiga orang. Semuanja harus bersekolah dan makan ongkos banjak. Tetapi apakah jang kupakai untuk ongkos2 mereka itu? Wang gadjiku amat sedikit, tak ’kan tjukup untuk ongkos2 mereka. Tuan kepala kita jang dulu, telah berdjandji, bahwa ia akan menaikkan gadjiku. Ketijuali itu,
ia sering diuga memberi sumbangan untuk ongkos2 keluar96 gaku. Tapi sajang, ia lekas dipindahkan dan diganti oleh kepala jang sekerang. Huh, tuan kepala jang baru ini, sangat kikir. Tak pernah ia menanjakan tentang keadaanku serta keluargaku sehari-hari. Ia tak tahu, kalau hidupku sangat berat. Ja, tak pernah ia memberi sumbangan apa2 untuk keluargaku. Djika ditanja soal gadji, malah ia marah dan membentak-bentak ketakutan: pemalas, pemboros, ah, banjak lagi kata’nja jang pahit. Memang dia sombong! Aku bentji! Kadang2 aku lupa, hampir sadja aku pukul dia, diika ia sedang maki2 begitu . . . . " - kata Bandi ber-sungut2.
Iljas tersenjum mendengarkan kawannja ber-sungut2. Buat Iljas tak aneh lagi. Bandi sudah biasa ber-sungut2 dan marah demikian rupa.
„Ja, kita harus bersabar. Barangkali tuan kepala jang sekarang ini, belum kenal kepada kita. Djika sudah kenal diuga. tentu ia baik dan meluluskan keinginan kita!"
„Sabar? Huh, sabar? Belum kenal? Bohong . . . . ! Aku sudah tjukup bersabar. Dan dia sudah tjukup mengenal kita. Memang bukan sekali ini sdja aku berganti madjikan. Sudah sering, bahkan ber-kali2. Tapi belum pernah ada madjikan seperti orang ini kedjamnja. Tadi pagi dia mem-bentak2 aku lagi didepan orang banjak. Ah, malu aku! Selama hidupku belum pernah aku dimaki orang didepan umum. Sampai mati rasanja, tak ’kan lupa sakit hatiku tadi. Tunggu sadja, sekali waktu, akan kubalas dendamku ini. Biar bagaimanapun diuga, ia harus kubalas . . . . !"
„Apa, Di?" - tanja Iljas. „Membalas dendam? Ah, tak baik itu! Kita harus bersabar sedikit. Lambat laun diuga berhasil maksud kita!"
„Tidak! Memang kau termasuk golongan kolot! Nasihatmu hanja sabar, sabar, sabar! Huuuuuh . . . . besan aku. Memangnja aku mau djadi malaikat? Tunggu sadja, nanti, sekali waktu, akan kubalas dendamku . . . . !"
Iljas pulang kerumahnja dengan perasaan menjesal. Mengapa Bandi semarah itu? Apakah jang telah diutjapkan oleh tuan Murko? Dan pembalasan apa jang hendak ia lakukan?
Malam itu Iljas tak dapat tidur njenjak. Se-malam’an ia teringat akan sahabatnja. „Membalas dendam?" - Ah, alangkah takutnja ia. Bagaimana kalau sesungguhnja Bandi memukul tuan Murko? Bandi tubuhnja tinggi-besar, karena ia seorang pekerdja jang banjak mengeluarkan tenaga, sedang tuan Murko badannja ketjil-pendek, karena ia seorang pegawai jang hanja duduk sadja kerdjanja. Perbandingan kedua kekuatan ini, sangat mengerikan Iljas.
Esok harinja, seperti biasa kedua sahabat itu bekerdja. Tuan Murko jang diantjam Bandi itu, kebetulan sedang beristirahat. Ia pulang ke Bandung melihat keluarganja jang sakit.
Iljas girang, ketika mendengar kabar ini. Djika tuan Murko sudah masuk bekerdja lagi, tentu amarah Bandi sudah reda. Dan ia lupa akan niatnja membalas dendam.
Tetapi ramalan lijas ini meleset.
Petang hari, Iljas ber-djalan‘ melihat sawah. Sawah itu terletak disepandjang djalan kereta api. Ketika ia sedang asjik memperhatikan pematang" jang hampir gugur, tampaklah dari djauh seorang laki2 jang tinggi besar badannja, sedang mem-bungkuk2 diatas rel kereta api. Sebentar2 ia menoleh kedepan, dimana tempat kereta api jang penghabisan datang menudju stasiun.
Iljas terus berdjalan mendekati orang itu. „Heee, siepakah orang itu? Bandikah ia?" - tanja Iljas seorang diri.
O, betullah. Orang itu adalah Bandi, sahabatnja. Ia sedang mengungkit-ungkit rel kereta api itu. „Hai, Bandi? Mengapa kau begitu?" - tanja Iljas sesudah dekat kepadanja. Bandi terkedjut sekali. Tetapi setelah ia tahu, bahwa jang datang itu sahabatnja, ia melandjutkan pekerdjaannja lagi.
„Akan kubalas dendamku! Biar ia mati terguling dari kereta api....!" - katanja sambil melepaskan sekerup rel jang dikerdjakannja sediak tadi.
„Siapa?" - tanja Iljas. „Siapa jang harus terguling ....?"
„Siapa lagi kalau bukan dia si sombong dan si kikir itu? Mesti, dia mesti tjelaka!" - katanja pula marah2.
„la sedang beristirahat, Bandi. Dia tidak ada disini" - sahut Iljas gemetar.
„Ja, tetapi sore ini dia akan pulang dengan kereta peng100 habisan. Djadi tentu dia ada dikereta nanti . . . . "
„Ah, Bandi. Engkau harus ingat. Djika engkau berbuat sedjahat itu, tentu bukan dia sadja jang tjelaka, tetapi akan banjak lagi penumpang2 didalamnja jang menderita karena kekedjamanmu ini. Kita harus dapat menahan napsu amarah kita, Bandi. Mari kita betulkan lagi rel kereta api ini, supaja ketjelakaan itu djangan terdjadi . . . . !"
„Apa? Aku betulkan lagi rel ini? Terima kasih, Iljas. Semua hinaan dan tjatija-maki jang telah dia hadiahkan kepadaku, kini akan kubalas dengan perbuatan ini. Ajo, kita saksikan apa jang terdjadi sesudah ini . . . . " - demikianlah katanja sambil menarik tangan Iljas.
Tetapi Iljas tertegun. „Tidak!" - djawabnja sambilmenggeleng2kan kepalanja. „Kereta ini harus tertolong . . . . "
Bandi menjentakkan tangan Iljas. „Apa kehendakmu? Aku bentji kepada si sombong djahanam itu!" Sambil berkata demikian, pergilah Bandi ter-gesa2 kepinggir sawah meninggalkan Iljas. Ia ingin tahu, apakah pekerdjaannja berhasil atau tidak. Ia hendak menjaksikan keadaan itu dari djavh, dipinggir sawah.
Iljas gemetar tubuhnja karena tjemas memikirkan ketjelakaan jang akan datang. Ditjarinja akal, bagaimana djika kereta itu datang? Ia berpikir. Kemudian teringatlah ia kepada kain putih jang dibelitkan dilehernja. Kain putih! Djika kain itu dilambaikan, akan tahukah orang? itu, bahwa disini ada bahaja? Ah, kain putih itu bukan tanda bahaja. Djadi? Kain apa? Kain merah . . . . ? !
O, ia harus mentjari warna merah. Kemana ia harus mentjari, sedang kereta itu sebentar lagi akan datang dan langsung menudju tempatnja berdiri. Apakah jang harus ia perbuat? Kemana ia harus mentjari warna merah?
Ah, dengan tak berpikir pandjang lagi, ia mengambil pisaulipatnja dari dalam saku tjelana, dan . . . . tjress! Dilukainjalah pergelangan tangan kirinja. Kamu tahu, bahwa djika pergelangan tangan dilukai mengenai urat nadi, tentu akan keluar darah se-banjak2nja. Dan darah ini merah warnanja.
Maka mengalirlah kini darah dari pergelangan tangan Iljas jang kemudian disapunja oleh kain putih tadi. Lama2 kain putih iu berganti rupa. Kain itu mendjadi merah! Nah . . . . dengarlah kereta api telah datang. Suaranja terdengar gemuruh.
Tetapi sementara itu, darah lljas masih mengalir terus. Iljas berlari kedjurusan tempat kereta api itu datang sambil melambai-lambaikan kain merah jang dipegangnja. Makin dekat kereta api itu, makin tjepatlah ia me-lambai2kan kain merahnja. Ja, makin dekat, makin dekat dan . . . . tiba2 pingsanlah lljas tak tahu lagi apa jang telah terdjadi atas dirinja, sedangkan darah dari tangan kirinja terus mengalir basah! Ia pingsan, karena terlalu banjak mengeluarkan darah.
Pengemudi kereta api itu mengerti akan tanda bahaja jang di-lambai2kan Iljas. Per-lahan2 berhentilah kereta itu ditempat jang agak djauh kepada rel jang berbahaja itu. Semua penumpang belum mengerti, apakah sebabnja terdjadi peristiwa jang mengherankan itu. Dengan hati ber-debar2, mereka turun dan mendekati Iljas jang sedang berbaring pingsan. Tangan kanannja memegang kain merah, sedang tangan kirinja penuh berlumuran darah!
Tapi sementara kereta api itu berdjalan per-lahan2, tampaklah seorang laki2 jang berlari menjusul Iljas dari belakang. Orang itu ialah . . . . Bandi. Ja, waktu Iljas mengerdjakan perbuatannja jang mengerikan tadi, Bandi menjaksikannja denga hati berdebar dan penuh rasa dosa dan kesalahan. Seketika itu djuga, hilanglah nafsu amarah Bandi kepada tuan Murko jang tadinja sangat bergolak itu: Hanja satu jang ia pikirkan, ialah: Iljas dalam bahaja! Djika lligas dibiarkan, tentu matjam2 tuduhan dan hukuman akan menimpa kepadanja. Padahal Iljas telah berkurban demikian besarnja untuk keselamatan orang lain.
Itulah sebabnja, maka Bandi menjusul Iljas. Ia lupa kepada urusannja sendiri. Dan ketika sampai ditempat orang2 jang sedang berkerumun itu, dengan nafas ter-engah2 ia berdiri disamping Iljas dan berkata: „Tangkaplah saja! Sajalah jang sudah berbuat salah dan menjebabkan ketjelakaan ini . . . ."
Sebuah Pena jang bertjerita
Memang pekerdjaan tukang rombengan itu hanja berkeliling sadja ketiap rumah mentjari barang2 jang sudah tidak terpakai, atau barang2 bekas jang didjual oleh orang2 jang sedang butuh uang.
Sekali ini, ia berhenti melepaskan lelahnja dibawah pohon jang disekitarnja banjak tumbuh rumput2 hidjau muda. Dan marilah kita dekati tempat barang2 rombengan berkumpul itu. Ah, aneh benar. Kita dengar suara ramai jang asjik bertjakap2 :
„Engkau pengikut baru . . . . " - demikian kata sebuah buku jang sudah robek pinggirnja kepada sebuah penatinta jang menggeletak disampingnja. „Aku lihat tadi, kau dibawa oleh seorang anak laki2 dan didjualnja dengan murah kepada tuan kami. Apakah kau sudah rusak benar, maka didjual semurah itu?"
„Ah, anak itu bodoh" - djawab pena-tinta itu. „Dia pemalas. Dan dia tidak tahu akan harga dan paedahku. Sambil marah2, dimintanja aku dari seorang jang amat radiin beladjar dan menulis. Tapi baru sadja seminggu aku berada ditangannja sudah didjualnja kepada tukang rombengan jang membawa2 kalian. Dan uangnja dipakainja djadjan. Dasar anak bodoh . . . . " - katanja menggerutu. „la tidak tahu, bahwa karena kekuatanku dan kesetiaanku bekerdja, aku dapat djuga menghasilkan uang be-ribu2 rupiah.
Dan dengan uang itu, dapat pula aku menjumbang beberapa rumah piatu, menolong anak2 miskin, mendirikan ban104 gun2an sekolah desa atau memberi sokongan kepada badan2 perdjuangan."
„Apa katamu?" - djawab barang? rombengan itu heran. „Kami tidak mengerti. Tjoba tjeritakan, apa arti perkataanmu itu dan apa paedahmu bagi manusia?"
„Dengarkan! Begini tjeritanja:
Aku datang ketempat ini, dengan menumpang kapal laut jang besar sekali, melalui lautan jang warnanja selalu biru. Setelah ber-minggu2 didjalan, baru aku tiba ditempat perhentian kapal atau ditempat kapal berlabuh. Namanja pelabuhan.
Dua hari kemudian, sampailah aku disebuah toko. Aku diletakkan berderet dengan kawan2ku lainnja dalam sebuah lemari katja. Dari dalam lemari itu, aku bisa melihat keadaan toko disekitarnja, dan bisa melihat keluar toko. Senang benar aku melihat orang2 jang berbelandja dan berpakaian bagus2. Tapi kasihan pula bilamana kita melihat keluar toko, banjak orang2 jang miskin hina-dina. Tukang2 betja mendajungkan kakinja menarik kawan2 bangsanja lagi jang pelesir bersenang2. Tukang2 betja itu, pakaiannja robek2 penuh keringat dan kerdjanja seperti kuda. Air mukanja keruh penuh penderitaan.
Pada suatu hari, datanglah seorang laki2 kedalam toko. Laki2 itu.berbadju bagus dan berdasi belang2 seperti bianglala. Sepatunja bagus meng-kilat2.
Tiba2 ia bertanja: „Apakah disini ada pulpen Parker?" - seraja me-lihat2 kedalam katja lemari. Segera tuan toko mendekati tempat kami. Dibukanja lemari kami dan ditundjukkannja deretan kami. Barulah aku tahu, bahwa disini, aku disebut orang: pulpen Parker. Lalu dipilihnja deretan kami, satu demi satu. Tapi penghabisannja, ia memegang aku dan berkata: „ini sadjalah, jang ber-garis2 hidjau . . . . "
Waktu kotak tempatku diambil, ramailah kawan2ku mem106 beri utjapan selamat djalan. Dan dengan hati jang sedih, aku membalas utjapan selamat tinggal, karena kami tidak tahu, kapan ditakdirkan berdjumpa lagi.
Esok harinja, aku sudah di-bawa2 oleh tuan si pembeli itu. Tempatku disaku badjunja bagian sebelah atas, diselitkan berderet dengan pensil emas dan sapu tangan jang selalu harum ber-minjak wangi.
Tapi aneh benar. Tuan ini kerdjanja hanjalah pelesir sadja setiap hari. Rupa2nja ia tidak punja tempat pekerdjaan jang tentu. Barangkali kamu tahu, bahwa didalam tubuhku ada sebuah pembuluh karet tempat tinta. Djika sebuah alat diluar tubuhku ini diangkat keatas, dan penanja ditijelupkan kedalam botol tinta, dan kemudian ditekannja kembali alat itu, maka masuklah tinta kedalam pembuluhku. Alangkah segarnja, bila tinta itu sudah mengisi pembuluhku. Se-akan2 tinta itu darah baru jang dapat menjehatkan tubuhku. Maka mulailah aku bekerdja sebagaimana kehendak si penulis jang menjuruh aku setiap waktu.
Tapi pada tuan ini, kerdjaku tak berat. Apabila pembuluhku sudah berisi tinta penuh, maka kerdjaku hanjalah menuliskan makanan dan minum2an jang dipesannja dirumah makan sadja. Djika hari telah malam, dibawanja aku menonton ke-gedung2 bioskop sampai larut. Aku hanja didjadikannja hiasan sakunja sadja, untuk memperlihatkan kekajaan si pemilik.
Ah, sesungguhnja! Tak betah aku tinggal ber-sama2 dengan tuan ini. Aku mendjadi kurang sehat karena kurang bekerdja.
Untunglah, pada suatu hari, aku dibawa djalan2 kepasar Glodog. Ketika ia berdesak2 dipasar, tiba2 ditjabutnja aku oleh seorang laki2 jang tidak kukenal. Dibawanja lari sekuat tenaga, hingga djauh terpisah dari tuan madjikanku. Rupa2nja aku dibawa oleh seorang pentippet jang ulung. Tak mungkin aku bisa kembali ketempat asalku. Dari pasar Glodog, aku dibawanja naik trem, dan sampai ditempat tukang rombengan. Ia melompat dari atas trem, dan ter-gesa2, didjualnja aku kepada salah seorang diantara tukang2 rombengan itu.
Untuk pertama kalinja tinggal dipikulan tukang rombengan ini, memang merasa sedih.-Aku tinggal menggeletak ber-desak2an dengan bekas lampu jang sudah tua, sepatu tinggi jang sudah robek kulitnja, dan banjak lagi barang2 tua jang baunja sangat berlainan dengan bau2an ketika tinggal dilemari katja dan disaku tuan si pembeli jang pertama. Tetapi ja, ada djuga baiknja. Disini aku bisa lebih dekat dengan tukang2 betija, tukang petjel, pengemis2 dan banjak lagi orang2 kampung jang pertjakapannja kadang2 amat lutju dan menggembirakan. Dan lama2 aku mendjadi biasa bergaul dengan teman2 dan tetangga jang tadinja dipandang hina itu. Bahkan, kini aku lebih senang bergaul dan mendengarkan tjerita2 mereka, daripada berdiam dilemari katja atau pelesiran keluar masuk rumah makan.
Pada suatu hari, datanglah dua orang kakak beradik ketempatku. Dua saudara ini amat serupa rautan mukanja. Jang seorang, laki2. Badannja tinggi-besar. Jang seorang lagi, wanita. Kurus pandjang tapi manis. Kedengaran mereka bertjakap2: Aku sudah lelah mentjari dipasar, tapi pulpen Parker jang kavingini itu tidak djuga didjumpainja" - demikian kata abangnja. Kita beli sadja pulpen jang biasa."
„Ah, aku kepingin jang hidjau jang ber-garis2 . . . . " - kata adiknja. „Dan aku ingin jang seperti kepunjaan mas Nonol"
„Tapi bagaimana? Kita ’kan sudah lelah men-tjari2, dan mukamu sudah merah begitu kepanasan . . . . " - djawab abangnja.
Wah, hatiku berdebar. Aku ingin melompat sadja kepada mereka dan berkata: „inilah aku, si pulpen hidjau! Ambillah aku, hai orang2 manis . . . . !"
Mungkin, karena sudah nasibku untuk hidup ber-sama2 dengan mereka. Maka sesudah lama mereka ber-putar2 memeriksa tukang2 rombengan, maka bertemulah mereka dengan aku. Dan mulai hari itu djuga„ aku dibawa kedalam sebuah toko, lalu diberinja tubuhku dengan huruf2 ketjil: „Aliati Trisna". Nama Aliati adalah nama adiknja, sedang Trisna ialah nama abangnja. Aku diberikan kepada adiknja, adalah sebagai hadiah ulang tahunnja.
Sedjak ini, lain benar rasanja penghidupan dan keadaan ketika ditempat tuan pembeli jang pertama dengan ditempat jang sekarang ini. Dahulu, aku tak pernah bekerdja, dan tinta jang ada dipembuluhku, djarang benar diganti. Karena itu aku djadi merasa kurang sehat.
Tapi disini sekarang sebaliknja. Tiap hari aku dipakainja menulis, dan sebentar2 digantina tinta jang dipembuluhku itu. Lama2 aku tahu, bahwa nona Aliati ini adalah seorang penulis buku2. Dan ketika membeli aku djuga, ia sedang menjelesaikan sebuah bukunja jang sudah ber-puluh2 halaman ditulisnja. Siang malam ia bekerdja dengan radiinnja. Dengan sendirinja, aku merasa tjinta kepada nona Aliati ini, dan sedapat mungkin aku mendjaga diriku supaja tetap kuat tak gampang rusak dalam membantu menjelesaikan pekerdjaannja.
Sesudah be-ratus2 halaman ia menulis, pada suatu hari pergilah ia kesebuah gedung jang dinamai penerbit. Penerbit, ialah suatu badan jang semata menerima karangan2 untuk diterbitkan mendjadi buku. Karangan2 itu dinamai naskah. Dan naskah2 jang datang itu diperiksa oleh mereka jang bekerdja dibagian penerbit bagian pemeriksaan naskah2 tersebut., Mereka disebut: pegawai bagian redaksi. Naskah2 itu setelah diperiksa bahasa, tjerita dan isi tjeritanja, kemudian dipertimbangkan, baik tidaknja diterbitkan. Begitu pula dengan naskah nona Aliati. Dan rupa7nja naskahnja diterima baik oleh penerbitnja, sebab tak lama kemudian, aku tahu sendiri, bukunja diterbitkan dengan sambutan jang baik pula.
Sedjak ini, banjak lagi buku’nja jang ditulis dan diterbitkan. Hampir semua adalah hasil bentuanku. Ia banjak mendapat uang dari buku’nja. Tapi uang itu dipergunakannja untuk menjokong badan2 perdjuangan, sekolah2 desa dan barisan2 tentara jang ketika itu banjak dikirim kemedan pertempuran. Dan ketika peperangan masuk kekota, serta musuh2 merusakkan segala rumah2 dan gedung2 dikota, maka pergilah Trisna bersama dengan ber-puluh2 kawannja kegunung sambil membawa sendiata. Adiknja, nona Aliati tidak ikut. Ia dapat bagian dikota, dan mendjadi penghubung mereka jang pergi kegunung-gunung. Dan aku? O, kini aku pindah ketangan Trisna, dan diharuskan ikut bersama dia kegunung!
Ber-minggu2 aku di-bawa2 digunung, masuk kampung keluar kampung. Kadang2 tiba dihutan sepi jang tak ada penghuninja. Trisna djarang sekali makan dan tidur. Djika malam2 ia berkumpul dengan kawan2nja sambil mengelilingi lampu minjak, biasa aku dikeluarkan dari dalam sakunja. Dipakainja aku menggambar kampung2 atau tempat2 jang harus diserang. Djadi kerdjaku sekarang, tidak sadja menulis, tapi djuga menggambar tempat2 musuh jang harus diserang.
Pada suatu hari, terdengarlah suara tembakan di-mana2. Ketika Trisna keluar hendak mengatur pasukannja, tiba2 datanglah sebuah peluru musuh, tepat mengenai dadanja dan tembus dipunggungnja. Seketika itu diuga, Trisna rebah ditanah dengan berlumuran darahl Aduh, aku tak tahan melihatnja. Tubuhku penuh dilumuri darahnja jang merah panas itu. Aku tak tahu lagi, apa jang terdjadi sesudah itu, sebab tubuhku mendjadi kaku dan tertutup oleh darah kering jang mendjadi hitam. Suara tembakan makin lama makin reda, kemudian sepi tak terdengar apa2 lagi.
Trisna dibawanja ketempat jang sunji. Lukanja ditjutji bersih, dan aku dijuga ikut tertjutji. „Trisna meninggal kena tembak . . . . !" - demikian kata kawan?nja jang berkumpul. Terdjadilah hudjan air mata, karena Trisna terkenal sebagai pemimpin pasukan jang berani dan sajang kepada anakbuahnja.
Per-lahan2 aku diambilnja dari saku badjunja. Dibatjanja tubuhku: „Aliati Trisna".
„Biarlah, aku sampaikan nanti kepada adiknja" - kata seo112 rang kawannja sambil memasukkan aku kedalam sakunja.
Tapi ber-bulan2 lamanja, Aliati tak djuga datang ketempat kami. Dan lama2 kami dengar, bahwa ia masuk pendjara dikota! Ah, ngeri benar aku mendengarnja. Untunglah, kita hanja mendjadi benda2 sadja jang tak mungkin kena tembak atau masuk pendjara. Manusia selalu diantiam oleh keganasan manusia lagi . . . .
Peperangan digunung sudah berachir! Aku dibawanja kembali kekota. Tapi entah karena letih dan lapar, entah karena pusing melihat kendaraan demikian ramainja, orang jang membawa aku ini, terlanggar oleh sebuah mobil jang sedang tjepat melantijar didjalan besar. Aku terpelanting kepinggir djalan. Dan segera dipungutnja oleh se-orang tua jang kebetulan sedang berdiri dipinggir djalan itu. Orang itu tjepat berdjalan dari tempat ketjelakaani itu, sehingga aku tak tahu lagi, apa jang terdjadi atas orang jang terlanggar mobil tadi. Setiba dirumah, aku diberikan kepada anaknja jang laki2. Anak ini tampak girang me-lontjat2. Dan sedjak ini, bergantilah penghidupanku. Tiap hari aku ikut kesekolah, dan disini aku bekerdja menurut kemauan anak ini: menuliskan peladjaran, menggambar atau menjalin hitungan2 dipapan tulis. Anak ini amat radiin. Tiap2 ia menghadapi ulangan dan udjian, selalu ia mendjadi anak jang terpandai.
Tapi pada suatu hari, aku dimintanja. Anak jang mengambilku ini, anak jang pemalas dan bodoh! Seminggu kemudian, aku didjualnja kepada tukang rombengan ini dengan harga jang murah sekali . . . . "
Sampai disini, berhentilah pulpen itu bertjerita. Dan .... ketika mereka masing2 memikirkan tjeritera itu, tiba2 terdengarlah suara sepatu mengindjak rumput per-lahan2. Seorang wanita muda, datang mendekati pikulan tukang rombengan itu. Dibuka-bukanja buku jang sudah tua dan robek2 itu. Tapi tiba2 terlihat olehnja pulpen jang tergolek disampingnja. Dipungutnja, dibukanja, dan dibatjanja huruf2 jang tertulis dibatangnja. Dengan mata terbelalak, dan kemudian tampak air matanja menggenangi kelopaknja, ia berkata per-lahan: „bang Trisna telah meninggal . . . . "
Kemudian dibelinja pena itu kepada tukang rombengan tadi, dan diselitkannja dibadjunja bagian atas, dengan maksud tak akan di-lepas2nja kembali.
Titik Air Hudjan
Sehari-harian udara tjerah djernih dan langit terbontang lebar seperti pajung biru jang besar mengembang diatas bumi.
Tetapi pada petang harinja, berkumpullah dilangit itu, awan jang gelap mendung, dimana tak lama kemudian, djatohlah hudjan amat lebatnja. Dan dari salah sebuah gumpalan zwen jang mendung itu, terlepaslah dua titik air. Tjepat sekali mereka meluntiur kebawah berdampingan dan tiba pada sebush katja diendela rumah jang besar.
Titik air jang satu, djatuh tergelintjir kepinggir djendela, sehingga ia menjerupai sebuah titik air mata jang besar! Tepi jang satu lagi hanja bergojang sadja diatas katja dengan tenangnja. Tubuhnja ketjil-ramping, dan ia menjerupai sebuah mutiara jang gandjil berkilau.
Si Ramping melihat kepada kawannja. Ia ingin terus berdampingan dengan kawannja ini, sebagaimana ketika mereka ber-sama2 terlepas djatuh dari gumpalan awan mendung. „Hai, djauh benar engkau meluntjur dari tempatku" serunja. „Marilah kembali, dan marilah kita sama2 tinggal sebagaimana kita djatuh dari gumpalan awan tadi . . . ."
Tak dapat, kawan! Katja ini menggalang diarak jang djauh diantara kita. Aku tak bisa melontjati katja ini. Dan . . . . mungkin kita tak dapat bertemu lagi!"
Si Ramping mulai menitikkan air mata dan menangis per115 lahan2. Ia merasa terpentjil diatas katja jang leL r itu dan djauh terlepas dari kawannja.
Tapi lihatlah" - kata si Ramping pula. Lama2 kita akan tiba ditepi dijendela itu. Dan pada pinggir dijendela itu, tentu kita tak dapat turun lagi. Dan disinilah nanti kita harus mendekati masing2."
Belum dijuga selesai si Ramping bertjakap, tiba2 datanglah angin berhembus diatas katja itu. Kedua titik air itu tertiup ladju melalui djalan jang ber-belok2, lalu menggelundung kebawah, hingga achirnja bertemu dan berdekatanlah mereka. „Huree . . . . mereka berteriak sambil merajap ketepi djendela jang bertjat hidjau.
Awan dilangit tidak mengirimkan lagi titik 2 air jang baru kebumi, sehingga si Ramping bersama kawannja itu tinggal
berdua sunji dipodjok djendela. Disini mereka asjik mere117 nungkan kenangan perdjalanannja dari tempat jang begitu tingginja dilangit. Mereka saling bertanja, berapa djauhnja sudah djalan jang mereka lalui, dan tempat manakah jang baik, digumpalan awan ataukah diatas katja djendela?!
Tapi sedikit demi sedikit, udara mendjadi tjerah. Matahari tersembul keluar dengan warnanja jang merah emas. Sungguh bagus kelihatannja, merona awan jang tinggal. Ia menjinari katja djendela, sehingga kedua butiran air itu mendjadi merah dan padam warnanja seperti batu permata!
„Mari kita berdjemur diri ...." - teriak si Ramping.
Kawannja tersenjum mengangguk. Dan mereka asjik berpanaskan diri disinar matahari. Tapi kemudian dirasanja, bahwa tubuh mereka, makin lama makin ketjil, hingga achirnja hilanglah mereka terangkat kedalam lingkungan tjahaja dan panas.
Ooooo, matahari memanggil kita kembali kelangit!" - teriak titik air jang besar. Memang tempat kita bukan dipodjok djendela jang gelap, melainkan disana, diatas bumi . . . ."
Sesungguhnja, belum diuga matahari itu menjembulkan seluruh wadjahnja, kedua titik air itu sudah hilang! Kemana mereka itu pergi, tak seorangpun jang mengetahui. Bahkan, titik2 air itu sendiripun, tak mengetahui benar, kemana mereka pergi?!
Riwajat seorang tukang Sepatu
Pernah ditjeritakan, bahwa dahulu ada seorang tukang sepatu. Tiap hari ia sibuk bekerdja, karena sangat banjak menerima pesanan dari kawan2nja.
Karena repotnja bekerdja, tak putus’nja ia ber-sungut’ tiap hari: „Bekerdja! Bekerdja . . . . selalu bekerdja! Alangkah malangnja nasibku. Se-hari’an harus bekerdja untuk mentijari uang dan mentjari makan. Ah, diika sekiranja aku banjak uang, tentu aku tak usah bekerdja lagi. Aku akan berbaring se-hari’an ditempat tidur jang lunak dan indah. Alangkah nikmatnja mendjadi orang kaja. Tidur, makan, ber-djalan’, kemudian tidur lagi sepandjang hari!"
Demikianlah ia menggerutu tiap hari, djika ia menghadapi pekerdjaannja. Hingga lama kelamaan ia mendapat panggilan dari kawan2nja: „bung Penggerutu!"
Sudah lama ia mempunjai seorang pembantu. Pembantu itu Sabur namanja. Ia sangat setia kepada tukang sepatu itu. Tiap hari ia membantunja dengan radjin.
Pada suatu hari mereka bekerdja, menjelesaikan separu2 pesanan. Seperti biasa, tukang sepatu itu ber-sungut2: „Bekerdja, bekerdja. Ah, alangkah senangnja aku, diika aku banjak uang. Aku tak usah bekerdja‘. . . . !"
Sabur menoleh dan memandang dengan herannja. „Djadi tuan bekerdja hanja untuk uang sadja?" - tanjanja.
„Betapa tidak?" - sahuttukang sepatu itu. „Orang bekerdja, hanjalah untuk uang, uang!"
„Saja tidak" - sambung Sabur. „Saja bekerdja untuk menolong mereka jang ingin memakai sepatu. Dan dijika saja tidak bekerdja, terasa badan saja pegal2 dan kaku!"
Engkau bodoh!" - kata tukang sepatu itu membentak. Aku tak mau bekerdja!"
Sedang mereka ber-tjakap2 demikian, tibia’ datanglah seorang kakek jang berdjanggut pandjang sudah putih. Orang tua itu berhenti didepan mereka dan berkata: „Selamat pagi!"
Tukang sepatu itu menoleh dengan marahnja. Ia marah, sebab ia menjangka, bahwa orang jang datang itu ialah pemesan sepatu baru.
Tetapi orang tua itu tidak memesan sepatu baru. Ia berdiri sadja sambil bertelekun kepada tongkatnja. Kemudian bertanjalah ia: „Aku dengar, engkau tidak berbahagia dengan keadaanmu jang sekarang ini?"
Tukang sepatu itu makin marah dan menjahut: „Bagaimana akan berbahagia diika se-hari2an harus bekerdja seperti ini?"
„Aku kira, engkau senang menerima pesanan banjak. Tidakkah bekerdja itu satu kebahagiaan?"
„Ah, engkau seperti si Sabur pula. Dia sudah merasa berbahagia dengan bekerdja setiap hari."
„Tjoba tjeritakan, apakah keinginanmu?"
„Aku ingin banjak uang! Aku ingin kaja! Djika aku sudah kaja, aku tak usah bekerdja lagi. Hanja makan, tidur, berdjalan2, kemudian berbaring se-hari2-an . . . . "
Orang tua itu tersenjum.
„Kalau hanja itu sadja keinginanmu, baiklah engkau ikut dengan aku . . . . "
Tukang sepatu itu dibawanja kedalam hutan. Dalam hutan itu ada sebuah gua. „Inilah gua pusaka nenek mojangku" - kata kakek itu. Ia berdeham tiga kali. Per-lahan2 pintu gua itu terbuka. „Masuklah" - kata orang itu. la berdjalan didepan. Tukang sepatu itu mengikuti dari belakang. Alangkah terkedjutnja ia ketika melihat keadaan didalam gua itu. Beratus-ratus permata terserak disitu. Emas dan perak berhamburan disana-sini. Orang tua itu tidak memperhatikan keheranan bung Penggerutu. Ia terus berdjalan menudju sebuah kamar. Pintu kamar itu dibukanja . . . .
„Aduhl Apakah ini? Mimpikah aku?" - teriak tokang se. patu itu. Bernpuluh’ karung jang berisikan ema bertumpuk didalamnja, sehingga kamar itu terang besinar tampaknja.
„Ambulah seberapa kaudapat" - kata orang tua ito. „Dan dengan emas permata ini, mudah’an tertjapailah tjita’mu.
Sokarang aku tak usah bekerdja lagi. Aku akan tidur seharl’an, makan, djalan’ dan pests’ . . . . "
„Apa?" - tanja isterinja. „Tak usah bekerdja lagi? Bagaimana terdjedinja nanti dengan para pemesan sopatu?"
..Apa? Sepatu? Mengerdjakan sepatu? Engkau tololl Tak tahukah engksu, bahwa kita sekarang telah mendjadi orang kaja? Apakah artinjs sepatu’ untak orang jeng uangnja berdjota’?" laterinja tak mendjewab, Dengan diam’ ia menjuruh meneruskan pekerdjaannis kepada si Sabur. Dan dengan patuh, Sabur terus melajani para peresan.
„Besok, kita membeli gedong jang bagus dengan perkakasnja selali, lalu membeli mobil untuk berdjalan’, Kemudian kita adakan pesta setiap bulen untuk memperlihatkas kkjaen kita kepada teman’ semuanja" - demiklanlah katanja pads suatu harl kepada isterinja.
Dan betullah, esok paginia, hari Senin is sudah pergi dengas pakaiannja jang serba baru. Kawan’nja heran melihat bung Penggerutu pagi loi. Mengapa ia tak bekerdja? Alangkah bagussia pakainnial Bung Penggerutu berd|alan sambil me-mutar’kan tongkanj. Kadang‘ dipillenja kumianja jang ketjil djarang ita dan tersenjum seorang diri. „Uangl Uangl Tak usah bekardjal" - bogitvlah is berkata dalam hatinja sambil berdjalan enodj romah tuan Benggala.
„Tuan, tundjtkanlah gedung jang terindah dikts ini jang hendak didjol katanja kepade tuan Benggela.
„Gedung jang terindah? isakah kaubeli dengan vang tonai?"
„Ja, lentul" - sahut bang Fenggeruts.
Dengan tak tewar-menawar lagi, dibajerniz gedang jang terbagus kepunjsan tuan Bengsala. Dan tcan Bengode tecbelalek matanja melihat vang jang dikelvarkan bong Fenggerutu. Ia terbelalak dan temganga . . . .
Harl itu diuga mereka pindah kegedung barv dan mulennja dilangsungkan pesta besar. Pesta ini akan diacakan tep bolan, saudara’l" - kata bung Penggerute dengan bangge.
Hureeeee ...." kwan’nja jng diendang itu bersorat karena gembira.
Kini mulal hidup baru.
Kamu menjangka, bahwa bung Penggenna mendjad orang jang sangat berbahagia didania ini, bukan? Tidalukah demiklan..
Ja, tentu kamo menjangka derrikian. Sehupi salehiah dugaanum itu, Sebab ....
Sekarang tak peroah ia tidr jenjk lagi. Djilta rnalem hari. tiap’ 10 menit, ia bangun dengan terkedjot. Mengapa? Tidur njs diganagu oleh mimp!’ jang mengedjutkan. Nimpl tentang pentjori jang burok’ jang akan merampaa hartaibendan, Ia selalu merasa dikedjar’ oleh perampok. Sekarang is membuat lubang dibawah tempat tidurnja.
Daeenborjikannja karung jang berisi wang mas itu didalemnja. Fagi’ sdcall ia sudah bangon. Diperiksanja emas itu, masih adakah atao hebis ditjori orang?
Demikianlah selalu ia diganggu oleh pikiran jang borok’.
Karena tiap hari ia hanja berbaring sadje ditempat tidur, keinginannja untuk tidur mendjadi berkurang. Makanan jang lezat’ selalu ditjarl dan disediakan baginja. Tetapi karena terlalu banjak makan makanan jang lezat’, Ndahnje tak dapat membedakan lagi, mana jang lezat dan mana jang tidak lezat.
Makin lama ia makin gemuk. Perutnja buntjit seperti sebuah tambur. Karena ia lelah mem-bawa2 perutnja itu, keinginannja untuk ber-djalan2 mendjadi berkurang. Pipinjapun gembung seperti biola. Djarinja sebesar pisang, sehingga sering sekali ia membuat tjintjin jang baru. Djuga sepatunja sering benar diganti, karena tiap hari kakinja bertambah besarl Naaaaah, sekarang ia kembali mendjadi: bung Penggerutu, karena tiap hari ia ber-sungut2, malahan lebih dari dulu.
Isterinja pusing memikirkan. Kursi2 jang dahulu dibelinja, sekarang tak tjukup lagi untuk duduk2 suaminja. Terpaksa ia memesan kursi malas jang besar!
Ja, isterinja djuga sekarang mendjadi penggerutu seperti suaminja. Kadang2 mereka bertengkar dengan hebat.
Setahun kemudian!
Pada suatu hari, bung Penggerutu hendak melihat emasnja dibawah tempat tidur. Tetapi badannja tak dapat masuk lagi kedalamnja. Ia menggerutu dan maki2. Sedang ia memaki2 demikian, tiba2 terdengar olehnja: „Selamat pagi!" la menoleh. Tampaklah seorang kakek jang berdjanggut pandjang mendekatinja. „Gemuk benar, engkau! Bagaimana? Berbahagiakah engkau sekarang?"
Sambil merengut tukang sepatu itu menjahut: „Bahagia? Ja, aku berbahagia, karena aku masih bisa bernafas dengan badanku jang besar ini."
„ltu adalah kemauanmu, bukan?"
„Apa? Aku tak pernah meminta badanku sebesar ini. Aku hanja meminta uang sadja."
Tetapi engkau harus tahu, bahwa orang jang tidak bekerdja, akan gemuk badannja seperti engkau sekarang. Bagaimana? Akan kautambah lagi emas itu?"
„Djangan! Djangan!" - teriak tukang sepatu itu. „Pergil! Pergilah!" - teriaknja pula dengan nafas ter-engah2. „Aku tak ingin lagi diberi emas. Ambillah emas jang masih ada padaku! Aku hanja ingin, tubuhku mendjadi biasa. Djika tubuhku seperti dulu, biarlah aku mendjadi tukang sepatu kembali."
„Naaaaah . . . . sekarang engkau tahu, bahwa orang jang bekerdja itu lebih berbahagia daripada orang jang berbaring2 sadja ditempat tidur."
Tukang sepatu itu mengangguk. Ia mengerti!
Dua minggu kemudian, didjualnja harta bendanja dan dibagikan kepada siapa jang membutuhkan. Dan .... duduklah ia kembali ditempat pekerdjaannja jang dulu.
Betullah, sehari demi sehari, badannja mendjadi susut. Sesudah badannja susut kembali seperti biasa, tak pernah ia menggerutu lagi. la merasa berbahagia!!
Si Ulat Hidjau
Pada setangkai daun djambu, tampaklah seekor umat ketjil jang hidjau muda warnanja. Apakah kerdja si umat itu? Ia makan, lalu makan, dan terus makan!
„Alangkah indahnja hidup ini" - pikir si ular itu. „Hidup ini berbahagia. Ja, alangkah bahagianja kita hidup . . . ."
Demikianlah ia berpikir sambil makan. Dan ia makan tiap hari sekuatnja. Hari pertama ia makan selembar daun! Hari kedua ia makan dua lembar daun. Dan hari ketiga ia makan tiga lembar daun! Ja, demikianlah ber-turut2. Sehingga ia tidak merupakan umat ketiil lagi, akan tetapi, sekarang ia merupakan seekor umat hidjau jang besar dan gemuk.
Tapi lama2 ia merasa tak lapar lagi. „Huh, kenjang benar perutku" - keluhnja. „Sedjak hari ini, aku hendak tidur sadja. Aku sudah tak ingin makan lagi. Memang hidup ini indah. Dan alangkah bahagianja kita hidup" - demikianlah ia berkata seorang diri. Kemudian ditjarinja setangkai dahan jang sunji dan aman. Dahan itu terlindung oleh beberapa dahan jang kuat. Setelah merasa senang ia ditempat jang baru itu, maka tidurlah ia dengan njenjak.
Lama2 terdjadilah suatu hal jang adjaib atas diri si umat itu. Kulit jang dibelakang kepalanja itu mendjadi tersobek dan petjah. Kemudian di-banting2kannja badannja. Disentakkannja kulit asal jang tadi melekat pada badannja itu.
Dia terbangun sebentar. Kemudian ia tahu, bahwa ia bukan ulat hidjau jang tadi lagi. „Aku kehilangan asal tubuhku jang dulu" - pikirnja. „Tapi biarlah, semua ini suatu keharusan dalam hidup. Dan hidup ini memang indah" - demikian ia berkata sambil meng-amat2i badannja. „Ah, aku bukan ular lagi. „Aku sudah mendjadi kepompong!"
Kemudian ia mendjatuhkan badannja lagi. Dan dengan malasnja, tertidur kembali.
Burung’ gembira bernjanji, Si Kepompong tak mendengarnja! Angin meniup setiap pagi, Si Kepompong tak merasainjal Dan siapa melihat dia, Tentu mereka akan berkata: „Si Kepompong sudah matil"
Tapi tak demikian sebenarnja. Si kepompong’masih hidup. Ja, sesungguhnja, dia masih hidupl Dan pada’suatu hari, pada pertengahan musim panas, terbangunlah ia kembali. „Apakah ini? Apakah jang terdjadi?" - demikian ia berpikir seorang diri. „Mengapa perasaanku gandjil benar? Aku ingin pergi! Aku ingin keluar! Aku ingin merajap. Aku tak ingin lagi tidur. Aku ingin pergi sadja keluar! Dan tahukah kalian, apa jang hendak aku perbuat? Aku hendak merombak semua kulit jang menutupi tubuhku. Aku ingin lepas dari kurungan. Alangkah indahnja hidup ini!"
Maka dirombaknja tutup kulit dari tubuh kepompong tadi. Tutup kulit jang hitam itu sobek terbuka. Dan tampaklah sebuah kepala jang hitam ketijl mendjenguk dari lubang kulit itu. Kepala itu mempunjai tubuh jang bulat pandjang. Tubuh itu berkaki, berkumis dan bersajap empat helai.
Kemudian petiahlah semua kulit penutup kepompong jang tadi. Dan tak lama sesudah itu, merajaplah pada tangkai2 dahan pohon djambu itu, seekor kupu2 jang masih lemah.
„Inilah aku, binatang baru . . . . !" - demikian teriak kupu2 itu dengan gembira. Ia melihat kesekitar keadaan disekelilingnja. „Aku bukan umat lagi. Aku bukan kepompong lagi. Aku sekarang telah mendjadi kupu2 baru!" - Sambil berkata demikian, ia me-rajap2 kian kemari, mentjari dahan2 jang kena sinar matahari. Sajapnja jang tadi ketiil2 dan lembab, lama2 mendjadi segar lebar dan kering. Sajapnja jang tadi lemah dan suram, kini mendjadi bagus bertjahaja dengan warna jang matjam2: kuning, biru, hidjau dan ungu.
„Sekarang aku sudah tjukup dewasa" - kata kupu2 itu. Dia mengembangkan sajapnja, kemudian terbanglah meninggi, merasakan hawa dan matahari jang hangat.
Tapi sebenarnja, bukan hanja si umat itu sadja jang mend132 jadi kupu2 baru itu. Banjak lagi jang lain2. Sepuluh, duapuluh, ah barangkali beratus2. Mereka ber-sama2 berterbangan dibawah tjahaja matahari jang bersinar. Mereka bersama2 mengisap madu diatas bunga. „Alangkah indahnja hidup ini. Dan alangkah nikmatnja kita hidup" - demikian kata mereka ber-sama2.
Tapi lama2, musim bunga pergi berlalu!
Mereka hinggap diatas daun2 jang mereka pilih sendiri. Dan diatas daun2 itu mereka meletakkan sekumpulan telur2nja. Sepuluh, duapuluh, ah barangkali be-ratus2 pula. Dan mereka mendjadi letih. Ja, terlalu letih. Karena letihnja, mereka terbang ber-pusing2 dari atas pohon itu. Makin lama makin rendah, makin rendah, sehingga hinggaplah ia diatas bumi jang sedjuk dan teduh. Dan disini mereka terus berbaring:
„Aku sudah menjimpan telur diatas daun! Aku penuhi kewadjiban dengan sempurna! Aku puas bermain-main disinar surja! Aku kenjang mengisap madu bunga-bunga!
Alangkah indah hidup ini, alangkah bahagia kita disini.
Demikianlah kupu2 itu ber-njanji. Tapi kemudian terdiam lah ia. Tak ada satu perkataanpun jang keluar. Dengan mengumpulkan semua tenaga, tiba2 ditariknja kepalanja jang ketjil hitam itu kedepan. Disentakkannja semua kakinja sehingga terlepas dari tubuhnja. Dikatupkannja sajap jang berwarna-warna itu. Kemudian? Matilah ia!
Angin datang meniup dengan sedjuknja. Per-lahan2 ditiupnja si kupu2 jang sudah mati itu melalui daun2, pohon2, kemudian masuk kedalam hutan jang gelap. Disanalah si kupu2 itu tergolek antara akar2 dari sebatang pohon jang sudah tua. Makin hari makin ketjil, makin ketjil, dan hantjurlah ia mendjadi debu bersatu dengan tanah. Ketika musim hudjan datang, si kupu2 itu telah hilang tak tampak lagi.
Akan tetapi....
Apakah jang tampak diatas daun2 bekas semua kupu2 jang sudah mati itu?
Lihatlah, diatas daun2 itu hidup pula ber-puluh2, be-ratus2, malah be-ribu2 umat jang ketijl2. Serta ular2 itu tiap hari makan, terus makan, dan terus makan! Kemudian? Dapatkah kalian melandjutkannja?!
Dongeng Puteri Sekar Kumbang
Dongeng ini dimulai dengan mentjeritakan sebuah negara jang bernama Pandan Emas. Pemerintahan negara ini, dikemudikan oleh Radja, Patih sebagai wakil Radja dan beberapa pembesar istana jang pandai2 dan bidjaksana. Dinegeri ini, tidak ada budak belian jang boleh disiksa se-wenang2. Dinegeri ini, tidak ada undang2 jang mengharuskan rakjat-banjak menjerahkan kekajaan dan hasil-buminja kepada Radja atau kepada para pembesar setiap tahun. Maka tertiiptalah sebuah negara jang adi, makmur, kuat dan djauh dari gangguan2 perampok atau gangguan rakjat jang berontak karena lapar!
Patihnja, mempunjai seorang puteri jang sangat tjantik parasnja dan manis perangainja. Puteri ini bernama Sekar Kumbang. Ketika puteri ini meningkat dewasa, meninggallah ajahnja dalam usia jang sudah landjut.
Sepeninggal ajahnja, Sekar Kumbang sering berkeliling kekampung2 mengundjungi petani2 atau pedagang2 ketjil jang sedang kesusahan. Sedapat mungkin ditolongnja mereka dari berbagai kesulitan jang menimpa dirinja. Dan diika ia tidak pergi kekampung2 ia membuat kain tenunan jang tempatnja ditaman bunga. Taman ini penuh dengan bunga2an aneka warna serta buah2an jang kuning merah. Tenunannja dengan benang jang ber-warna atau benang emas jang djarang terdapat dilain negeri.
Pada suatu hari, datanglah seorang sateria kedalam taman tempat Sekar Kumbang menenun kain. Sateria ini bernama
Kumbang Lelana. Ia telah ber-tahun2 berkelana mentjari ilmu keluhuran budi dari beberapa pendeta jang ada diberbagai pertapaan di-gunung2 atau dihutan. Ia telah ber-tahun2 pula beladjar ilmu kesaktian perang.
Setelah dipertemukan dengan Sekar Kumbang, tak lama kemudian kawinlah kedua remadja ini dengan disaksikan oleh Radja dan semua kaum kerabat Patih bersama ibunja Sekar Kumbang sendiri. Demikianlah, mereka hidup dengan tenteram disamping turut mengemudikan pemerintahan negara Pandan Emas.
Tapi beberapa bulan kemudian, sateria Kumbang Lelana minta izin kepada isterinja untuk melihat orang tuanja jang sudah ber-tahun2 ditinggalkannja. Negara tempat orang tuanja itu, adalah sebuah keradjaan jang terletak djauh dari negeri Pandan Emas. Bila ingin berdjalan kesana, haruslah melalui hutan2 jang lebat mengerikan. Karena susahnja perdjalanan, Sekar Kumbang tak dibolehkan ikut serta. Hanja di tinggalkannja sebentuk tjintjin emas bermata merah jang sangat indah. Sinarnja ber-kilat2 memberi tjhaja kepada djari puteri Sekar Kumbang jang kuning emas!
Didekat negeri Pandan Emas, terdapatlah pula seorang Radja jang bernama radia Dursila. Radja ini amat buruk segala2nja. Banjak sekali tempat2 jang direbut dan dirampas untuk kesenangannja sendiri. Rakjatnja disuruhnja menjerahkan segala kekajaannja jang telah mereka miliki. Djika hasil tanahnja itu tak memenuhi keharusan jang diminta, maka didjadikannja orang2 itu budak belian jang diperintah dan disiksanja se-wenang2. Budak belian ini selain dari memenuhi istana, diuga memenuhi rumah2 para pembesar istana. Mereka disuruhnja bekerdja sekuat tenaga. Djika ada diantara mereka jang berbuat salah, maka disiksanja semua budak2 belian itu dengan tjambuk atau dengan pekerdjaan jang amat berat. Padahal pembesar2 ini tak ada lagi penghasilannja, selain dari merampas dan memeras kekajaan rakjat jang kemudian didjadikan budak2 belian itu. Pembesar2 itu tak ada jang dikerdjakan, selain berdjudi, pesta2 dan mabuk minuman keras!
Karena djalan pemerintahan negara sangat katiau dan penuh kekedjaman, maka banjaklah diantara penduduk jang melawan kepada pembesar2 itu. Tapi perlawanan ini tjepat diketahui oleh radia. Akibatnja, be-ribu2 penduduk jang melawan itu ditangkapi dan dimasukkan kedalam pendjara. Tiap hari mereka digiring kesebuah lapangan, kemudian didera dengan tjambuk dibawah terik matahari, hingga kulit badan mereka merah berpetjahan! Bilamana mereka ini mati karena siksaan jang amat berat, maka diperebutkannja semua harta dan kekajaannja, sedang anak isterinja didjadikan budak belian!
Pada suatu malam, bermimpilah radia Dursila itu. Dalam mimpinja, ia bertemu dengan seorang puteri jang tjantik parasnja dan pandai menenun kain dengan benang2 emas.
Esok paginja, radja itu mentjeritakan mimpinja itu kepada salah seorang pembesar istana. Dikatakannnja, bahwa ia ingin benar menemui puteri itu. Dinegerinja tak ada puteri jang tjantik dan pandai seperti puteri jang ada dalam mimpinja.
Kemudian tersiarlah kabar, bahwa puteri jang dimaksudkan radia Dursila itu ialah puteri Sekar Kumbang jang ada dinegara Pandan Emas. Tapi puteri ini sudah bersuami, sedang suaminja adalah seorang sateria jang amat gagah dan sakti dalam ilmu peperangan.
Radja Dursila sangat girang mendengar berita ini. Ia tak perduli, apakah puteri ini sudah bersuami atau belum, dan apakah suaminja orang gagah atau tidak. Ia hanja satu tudjuannnja: merebut puteri itu dari negara Pandan Emas. Djika menolak, akan dirampasnja dengan kekerasan atau gerang!
Maka pada suatu hari, datanglah radia Dursila itu mengundjungi puteri Sekar Kumbang jang sedang ditinggal suaminja. Dengan kasar, radia itu memaksa puteri Sekar Kumbang supaja ikut kenegerinja. Tentu sadja radia Dursila ditolak dan diusirnja! Tapi apakah jang terdjadi? O, dengan mempergunakan kesaktian ilmunja, puteri itu ditariknja dan dibawanja terbang melalui mega putih, mega hitam dan angin jang amat kentjangnja. Ia men-djerit2 diangkasa, suaranja menjajat hati siapa jang mendengarnja.
Ibunja melompat keluar, maksudnja hendak menolong. Tetapi ketika dilihatnja puteri itu telah djauh me-lajang2 dilangit, maka menangislah ia dan terus lari mengikuti bajang2 anaknja ditanah. Sebentar2 ia menengadah keatas sambil berteriak dan me-lambai2 tangannja dengan rasa hati jang remuk.
Tapi lama2 hilanglah bajangan ditanah itu, dan lenjaplah djerit anaknja diangkasa, sedang ia sendiri telah masuk kedalam hutan belantara dan berdjalan ter-lunta2, tak tahu kemana hendak ditudju. Makin lama makin djauh djuga ia berdjalan, dan ketika ia hendak menjeberangi sebuah sungai besar, ia tergelintjir dari atas batu jang litjin, dan hanjutlah tak sadarkan diri lagi.
Untunglah, seketika itu diuga datang seekor kura2 putih jang sangat besar mendekatinja, dan didorongnja ibu Sekar Kumbang pelan2 ketepi kali. Waktu tiba ditepi sungai itu, ia masih pingsan. Dan dalam pingsannja, ia mimpi berdjumpa dengan suaminja jang telah meninggal. Suaminja memberi petundjuk, agar ia terus berdjalan sepandjang sungai jang besar ini.
Setelah sedar kembali, maka berdjalanlah ia mengikuti sungai besar itu sebagaimana petundjuk suaminja dalam mimpinja tadi.
Setibanja diistana radia Dursila, mula2 puteri Sekar Kumbang diperlakukan dengan baik. Akan tetapi, karena ia amat melawan kepada radia dan kepada pembesar2 istana jang membudjuknja, maka ditutupnja ia dalam pendjara. Sekali2 datanglah seorang pendjaga jang membawa tjambuk. Lalu ditiambuknja puteri Sekar Kumbang dengan bengisnja. Karena sakitnja ia menahan segala siksaan radia Dursila, maka pada suatu hari ia menangis amat sedihnja sambil meminta pertolongan Dewata dan me-manggil2 nama suaminja. O, adjaib sekali! Ketika
ia menggosokkan diarinja jang bertjintijn merah itu di140 matanja, tiba2: berdirilah seorang raksasa jang amat besarnja! Raksasa ini berpakaian serba merah, berambut merah, berkumis merah, berdjanggut merah dan bermata merah jang menjala seperti api. „Ja, radjakul Hambalah raksasa dari batu merah. Apakah jang tuan inginkan maka tuan memanggil hamba . . . . ?!" - demikian raksasa itu bertanja dengan hormatnja.
Demi melihat raksasa jang sebesar itu, pingsanlah puteri karena terkedjut. Tapi setelah siuman kembali, mengertilah ia, bahwa raksasa ini adalah hikmat batu tjintjin jang diberikan suaminja. Dengan tenang mendjawablah puteri: Lepaskanlah aku dari siksaan jang seberat ini, raksasal Dan berilah djalan, agar lekas bertemu dengan suamiku, Kumbang Lelana."
„Tuan puteri harus pura2 menurut, diika radja Dursila datang. Bilamana dia sudah dekat dengan tuan Puteri, djangan ragu2, tindjulah mukanja dengan batu tjintijn merah ini. Hamba bersembunji didalamnja. Apabila dia sudah pingsan, larilah tuan Puteri dari pendjara ini, menudju kebarat laut. Nanti tuan Puteri akan bertemu dengan djalan kebahagiaan. Terimalah keris ini untuk berperang dihari kemudian!" - demikian ia berkata, lalu menghilang kembali.
Esok harinja, datanglah radja Dursila ketempat puteri Sekar Kumbang. Dengan tenang puteri menjambut kedatangan radia. „Lekaslah kemari, hai Puteril" - demikian radja itu membudjuknja. Pelan2 mendekatlah puteri Sekar Kumbang, dan . . . . tiba2 ditindjunja seluruh muka radja itu ber-tubi2 dengan tangannja jang berbatu tjintjin, sehingga kaburlah pemandangan radja. Matanja ber-kunang2, hidungnja serta mukanja penuh berlumuran darah dan . . . . pingsanlah!
Seperti ada kekuatan gaib jang menariknja, maka melompatlah puteri Sekar Kumbang melalui pintu pendjara, kemudian larilah menudju kebarat laut.
Setelah ber-hari2 ia berdjalan melalui hutan2 dan lereng2 gunung, maka sampailah ia kesebuah‘taman bunga jang serupa indahnja dengan taman bunga dinegeri Pandan Emas. Pelan2 masuklah ia kedalam taman itu. Tampak di-tengah2 taman itu berdiri sebuah tjandi tempat pendeta2 bersamadi. Pintu tjandi ifu terbuka. Dan ketika ia masuk, tampaklah seorang pendeta jang serupa dengan ajahnja, sedang bersamadi. Pakaiannja serba putih, dan semua rambutnja jang tumbuh‘sudah putih seperti kapas. Melihat pendeta ini, maka menangislah puteri Sekar Kumbang seraja bertanja: „Ajahkah ini, ataukah mata hamba jang salah lihat?"
Pendeta ini mendjawab dengan penuh kasih-sajang: „Ja, anakku. Betullah, ini adalah ajahmu! Sebenarnja, aku tidak mati, tapi aku menjelam kedasar bumi, kemudian disuruhnja tinggal dihutan ini. Jang dahulu dibakar dan dikubur, itu bukanlah aku, melainkan kulit dan tulang jang membungkus aku!"
„Oh, mengapa kami tidak dibawanja serta?"
„Belum waktunja, hai anakku. Nanti apabila sudah wak142 tunja, tentu kita tinggal disini djuga ber-sama2. Tapi apakah maksudmu sekarang, maka engkau datang disini?"
„Hamba ingin membalas kebengisan dan kekedjaman radja Dursila, kemudian ingin lekas bertemu dengan suami hamba, Kumbang Lelanal" - diawab puteri.
„Baiklah" - kata ajahnja. „Tapi engkau harus berani berdjuang dulu, anakku! Sekarang akan kuberi engkau sebuah adjimat jang dapat meng-ubah? rupamu. Menjamarlah kini mendjadi laki2. Dan diika engkau membutuhkan bantuan, panggillah sadja raksasa dibatu merah itu, tentu ia akan datang menolongmu. Nah, sekarang kembalilah engkau kenegeri radja Dursila. Sebenarnja rakjat disana sudah lama menaruh dendam kepada radjanja itu. Mereka telah ber-puluh2 tahun berada dalam tjengkeraman radja Dursila jang kedjam itu. Sekarang engkaulah jang harus menolong dan membebaskan mereka dari bentjana sehebat itu. Pergilah!"
Maka seketika itu diuga gantilah rupa puteri Sekar Kumbang. Ia mendjadi seorang sateria jang amat gagah dan tampan. Dengan adjimat pemberian ajahnja, ia kembali menudju istana radia Dursila. Tapi ketika ia menoleh kebelakang, teman bunga dan tjandi ajahnja jang indah itu sudah lenjap tak kelihatan lagi. Ia mengutjap sjukur, karena ia telah dapat pertolongan dari bentjana sebesar itu.
Ditengah-tengah perdjalanan, sedang ia menudju ketempat radia Dursila, tiba2 terdengarlah suara orang ramai bertjakap2, kemudian tampaklah be-ratus2 peradjurit lengkap dengan sendjatanja masing2. Setelah mereka bertemu muka, bertanjalah kepala pasukan itu: „Hai, sateria, tidakkah tuan melihat seorang puteri jang lari ditempat ini? Ia lari dari pendjara radia Dursila dan ia telah melawan kepadanja, sehingga radia itu pingsan berlumuran darah . . . . !"
Pura2 heran dan tidak mengerti, bertanjalah kembali sateria itu: „Puteri? Seorang puteri melawan kepada radia? Gagah benar dial Tapi apakah sebabnja maka ia melawan kepada radja? Tentu ia tidak akan berbuat sehebat itu, diika radia sendiri tidak berbuat djahat kepadanja . . . . "
Mula2 kepala pasukan itu tak mau berterus-terang tentang kedjahatan2 radja Dursila, karena ia takut akan mendapat siksaan nanti, diika pertiakapannja ini disampaikan oleh mereka jang mendjadi mata2 radia. Akan tetapi, setelah banjak diantara mereka jang memulai mentjeritakan keadaan radia Dursila serta para pembesarnja, maka berkatalah kepala pasukan itu dengan terus-terang, bagaimana kelakuan dan kedjahatan radia Dursila itu selama ia memegang pemerintahan.
Dengan tenang berkatalah pula sateria itu: „Kalau begitu keadaan jang sebenarnja, mengapa kalian mentijari dan megepung puteri jang lemah dan tidak bersalah?"
Para peradjurit itu terdiam semua.
„Mengapa tidak kalian lawan radia jang djahanam itu? Mengapa kalian tidak mengadakan pemberontakan? Tidakkah kalian mempunjai sendiata . . . . ?" - tanja satria itu.
„Kami tidak kuat, dan kami takut menghadapi siksaan2nja jang sangat kedjam. Pengikut kami jang memberontak radja, hanjalah orang2 miskin belaka!" - djawab kepala pasukan itu.
„Tapi kalau aku berani melawan radja itu, maukah kalian ikut serta? Sanggupkah kalian memberi bantuan?"
Sanggup! Kami berani!" - teriak para peradjurit itu serentak. Tapi siapakah tuan jang sebenarnja?" - tanja mereka.
„Aku suaminja puteri Sekar Kumbang!"
Maka ramailah sekarang peradjurit itu bersorak dan berteriak2. Kemudian dengan pimpinan sateria baru, menjerbulah mereka kedalam istana, menghantjurkan segala jang ada dan menjerang semua pembesar pengikut radja.
Puteri Sekar Kumbang jang telah mendjadi satria, kini berhadapan dengan radia Dursila, lalu berperanglah mereka satu lawan satu dilapangan perang dimuka istana. Dengan mempergunakan segala ilmu kesaktiannja, radia Dursila melawan kepada musuhnja. Tapi makin lama makin repot kelihatannja, karena sateria Sekar Kumbang sangat gagahnja, seperti ada sesuatu tenaga besar jang membantu dibelakangnja. Maka dengan diam2, terbanglah radia Dursila itu keangkasa dan bersembunji dibalik mega jang ber-gumpal2. Tapi sateria Sekar Kumbang segera minta kepada raksasa merah: „Hai, raksasa merah, djadikanlah aku angin ribut!" - Dan tiba2 dapatlah ia terbang membawa angin keatas mega, dan hantiur berpetjahanlah mega itu diserang angin ribut. Tapi segera pula radia Dursila turun, dan tiba2 djadilah ia api jang berkobar se-besar2nja, seperti api jang ditimbulkan dari kebakaran berpuluh2 rumah. Tapi satria Sekar Kumbang tak kehabisan akal. Segera ia meminta lagi kepada raksasa merah: „Hai, raksasa datanglah hudjan jang amat lebat, hingga padamlah api karenanja.
Setelah ber-kali2 radja Dursila itu mendapat kekalahan,
maka tobatlah ia kepada satria Sekar Kumbang. Ia minta ampun sambil berlutut dikaki musuhnja. Tapi tiba2 ada suara berbisik ditelinga Sekar Kumbang: „Djangan dihidupi ia, hai Radjaku! Bunuhlah radja durhaka ini dengan keris pemberian hamba!"
Mula2 puteri akan mengampuninja. Tapi setelah be-kali2 mandengar bisikan raksasa merahnja, maka berkatalah ia: „Aku tak akan mengampuni engkau, hai radia durhakal Kamu terlalu djahat dan terlalu melanggar perikemanusiaan! Kini kubunuh engkau, dan kulenjapkan dari permukaan bumi jang menghendaki keadilan!"
Lalu ditusuknja dada dan djantung radja Dursila itu dengan keris pemberian raksasa, dan matilah seketika itu diuga.
Melihat radjanja jang kedjam itu mati, maka bersoraklah rakjat beserta para peradjurit jang telah lama menderita karena siksaannja itu, ketjuali para pembesar istana jang masih hidup ketakutan minta ampun. Tapi merekapun dilarang oleh raksasa merah itu untuk tinggal dihidupi. „Bunuhlah mereka djuga! Merekalah jang paling djahat kepada budak2 belian!" - maka dibersihkannja pula mereka ini dari permukaan bumi. Dibunuhnja satu2! Kemudian pergilah ia ke-pendjara2, dan beribu2 budak belian jang dipendjarakan karena memberontak, dibebaskan semuanja dari hukuman. Djuga anak-isteri mereka jang dikurung dalam istana, dibebaskan semuanja. Hingga bersihlah tampaknja istana dan negara ini dari bentjana jang didatangkan radia Dursila beserta para pembesar diwaktu lampau. Dan kini dipegangnja pemerintahan negara radia
Dursila itu oleh sateria Sekar Kumbang dengan adilnja.
Tapi baru sadja beberapa bulan ia menggantikan radja Dursila, pada suatu hari datanglah pendjaga istana jang dengan heran melaporkan, bahwa ada seorang sateria jang mau menghadap radja. Sateria ini mengaku, bahwa ia adalah suaminja puteri Sekar Kumbang.
„Suruhlah dia masuk dan menghadap kedalam istana" - demikian perintahnja kepada pendiaga itu.
Tak lama kemudian, datanglah sateria Kumbang Lelana. Dengan gusar, Kumbang Lelana menanjakan isterinja dan dimintanja sekali. Tapi Sekar Kumbang bersikap pura2. Ia mengatakan, bahwa isterinja tak akan diserahkan, bilamana tidak diambil dengan djalan peperangan. „Kalau begitu, kau mau merampas hak orang lain. Marilah kita berperang!" - demikian Kumbang Lelana memutuskan pertjakapannja dengan puteri Sekar Kumbang.
Sambil tertawa didalam hati, berangkatlah puteri Sekar Kumbang kemedan tempat berperang dimuka istana, sedang Kumbang Lelana menunggu dengan geramnja. Maka berperanglah Sekar Kumbang dibantu oleh raksasa merah dibatu tjintjin, dengan tak diketahui oleh Kumbang Lelana.
Seperti djuga dengan radja Dursila dahulu, Sekar Kumbang selalu dapat mengalahkan lawannja, karena ia berperang bukannja sendiri, melainkan dibantu oleh kekuatan raksasa jang amat gagahnja. Demikianlah, lama2 Kumbang Lelana tak tahan lagi melawan serangan2 musuhnja. Setelah pajah ia dikedjar2 diapi, digunung, dan dimega jang ber-gumpal2, maka turunlah kembali kebumi. Ia mengaku terus-terang, bahwa ia sudah kalah. „Bunuhlah aku!" - teriaknja dengan geram. „Tapi sebelum kaubunuh aku, bawalah dulu Sekar Kumbang ketempat ini. Aku ingin berdjumpa dahulu . . . . "
Sebentar kubunuh engkau dengan keris pusaka ini" - djawabnja. Tapi marilah ikut, dan tinggallah diberanda depan. Akan kupanggil Sekar Kumbang kemari, menjaksikan pembunuhan ini!"
Tapi sesungguhnja ia masuk kedalam kamarnja, dan dipakainja adjimat pemberian ajahnja dahulu itu. Dan . . . . seketika itu diuga mendjelmalah kembali Sekar Kumbang sateria, mendjadi Sekar Kumbang jang asli, puteri negara Pandan Emas jang amat tjantik!
Kembali diberanda istana, sudjudlah ia dan berkatalah kepada suaminja: Kakanda, akulah sebenarnja jang tadi berperang dengan kakanda. Dan tjintjin jang berbatu merah inilah jang menolong aku dari berbagi bentjana kedjahatan!"
Sekarang kembalilah kita mentjeritakan ibunja, ibu puteri Sekar Kumbang.
Sepandjang hari ia berdjalan mengikuti sungai besar jang mengalir masuk pelan2 kenegara Sekar Kumbang sekarang. Pakaiannja sudah habis, rambutnja sudah kusut dan mukanja sudah putjat karena kurang makan kurang tidur.
Untunglah, pada suatu hari, liwatlah dipinggir sungai itu seorang djaksa jang baik hati dari istana Sekar Kumbang. Ia berdjalan diiringkan oleh seorang pesuruhnja. Ketika mereka hendak menjeberang, terdengarlah isakan dan tangis seorang perempuan. Djaksa itu menengok. „Hai, siapakah engkau? Mengapa nangis seorang diri ditempat jang sesepi ini?" - tanja djaksa itu.
Ibu Sekar Kumbang berkata, bahwa ia sedang mentijari anaknja. Tetapi tidak dikatakannja, bahwa anaknja itu seorang puteri jang bernama Sekar Kumbang dan bersuamikan seorang sateria putera radia jang bernama Kumbang Lelana.
Setelah bersepakat, maka ikutlah ibu Sekar Kumbang kerumah djaksa itu.
Setibanja dirumah, maka disuruhnja mandi dan diberinja pakaian jang bersih. Setelah ibu Sekar Kumbang mandi dan bertukar pakaian, barulah tampak bertjahja, sehingga keluarga djaksa itu menjangka, bahwa perempuan jang dibawanja dari pinggir sungai itu bukannja perempuan dari keturunan orang kampung, melainkan keturunan radja2. Hanja sajang sekali, djaksa itu tidak tahu, bahwa radjanja sudah lama sibuk mengirimkan para pesuruhnja ketiap peloksok, untuk mentjari seorang perempuan tua, ibu dari permaisurinja.
Setelah ber-bulan2 ibu Sekar Kumbang tinggal dirumah djaksa, pada suatu hari datanglah kabar dari istana, bahwa radja puteri akan berpesta, pesta merajakan puteranja jang baru lahir. Baji itu akan dibawa kemuka istana dan akan dipestakan dihadapan rakjat banjak. Maka seluruh isi negara diharuskan datang kemuka istana. Demikian pula keluarga djaksa bersama ibu Sekar Kumbangpun tak ketinggalan, ikut hadir menjaksikan pesta baji itu.
Tapi alangkah terkedjutnja ia, ketika melihat siapa jang mendukung putera baji keradjaan itu. „Oh, Sekar Kumbang, buah hatikul" - demikian ia berbisik dan dalam hatinja mengutjap sjukur kepada Dewata.
Karena tak tahan menahan kegirangan jang bertjampur kesedihan, maka pulanglah ia ketempat tinggalnja. Ia mentjari akal, bagaimana djalannja agar dapat bertemu dengan puterinja.
Untunglah, pada suatu hari ia mendengar kabar pula, bahwa puteri Sekar Kumbang menderita sakit keras. Ia masih ingat, bagaimana kebiasaannja diwaktu lampau, diika puteranja sedang sakit. Biasanja ia membuatkan obat berupa makanan. Obat ini dibuatnja dari tepung dan gula jang sangat halus dan ditambahnja dengan bumbu2 jang orang lain tidak mengetahui rahasianja. Obat ini dinamakan: kuwe Pandan Emas. Hanja dialah sendiri jang dapat membuatkan kuwe
Pandan Emas itu. Dan bilamana puteri telah makan kuwe ini, maka sembuhlah dan kembali sehat seperti biasa.
Kabar tentang sakitnja puteri Sekar Kumbang, segera tersiar keseluruh negeri. Semua dukun dan ahli obat2an sudah dikumpulkan diistana untuk diminta pertolongannja.
Ibu Sekar Kumbangpun sibuk membuat kuwe Pandan
Emas. Maka dengan perantaraan isteri djaksa, disampaikannja kuwe ini kepada radia puteri. Adjaib sekali, ketika puteri melihat makanan ini, berdebarlah hatinja dan timbullah rindu kepada ibunja. Lebih2 setelah kuwe itu dimakannja. O, terkedjutlah ia dan bertanja: „Siapakah jang telah membuat kuwe jang seenak ini?"
„lbu hamba, ja tuan Puteril" - djawab isiteri djaksa itu dengan herannja.
„Panggillah ia segeral Katakan, aku ingin berdjumpa sekarang djuga. Lekaslah, aku menunggu disini!"
Setelah ibunja mendapat panggilan, maka pergilah keistana dengan memakai kudung putih dikepalanja agar tuan Puteri tak segera mengenalnja.
Tidak lama kemudian, sampailah ia kehadapan puteri Sekar Kumbang. Tapi puteri sudah tak sabar lagi, ditariknja kudung ibunja dan di-amat2inja mukanja. „Oh, ibuku!" - demikian Puteri mendjerit dan bersudjud dipangkuan ibunja.
Sesudah djelas diperiksa dan diketahui, bahwa sesungguhnja tamu djaksa itu adalah ibu Sekar Kumbang, maka radja Kumbang Lelanapun bersudjud pula dikaki ibunja, tanda bakti dan suka-tjita!
Demikianlah, mereka hidup berkumpul dinegara baru dengan pemerintahan jang adil, makmur dan damai-santausa.