Baca PDF (OCR): Razzia Agustus dan Cerita-Cerita Lainnya

64 halaman · 2 halaman diproses dengan OCR · 6.2 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Razzia Agustus dan Cerita-Cerita Lainnya
  2. Publisher Note
  3. Digitizer Note
  4. Jumpa Lawan I
  5. Jumpa Lawan II
  6. Cabin Boy
  7. Razzia Agustus
  8. Kepala Gedung
  9. Papa... déjà sortie !

SOBRON AIDIT

Razzia Agustus dan Cerita-Cerita Lainnya

Kacabenggala Editions

Publisher Note

This edition does not include a publisher’s note. For this digital restoration, this page is repurposed to acknowledge those whose efforts made its preservation possible.

The entirety of this book was taken from the site of Sébastien Lallement.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

untuk: keluargaku, sahabat, teman dan kenalan serta kampung halaman.

Jumpa Lawan I . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .1 Jumpa Lawan II . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7 Cabin Boy . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12 Razzia Agustus . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 25 Kepala Gedung . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 35 Papa... déjà sortie! . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 47

Jumpa Lawan I

Abubakar orangnya gemuk. Banyak omong, suka berkelakar. Ramah dan karenanya banyak kawan. Orang kampung kami menggelarinya, Akai. Penduduk kampung kami lazim memberi ragam gelar kepada orang; nama Ismail misalnya pasti dipanggil: Meng. Yang namanya Harpan atau Arpan, akan selalu digelari Lepuk, ikan buntal yang sisiknya tajam, beracun. Begitulah pula kaum wanita, yang nama ujungnya ah akan berubah meniadi ot, misalnya saja Halimah jadi Halimot; Nerisah menjadi Nerisot, dan Isah jadi Isot.

Nah, kembali pada si Akai alias Abubakar tadi. Dia ini sering singgah ke rumah kami di Gondangdia, bersama istrinya. Teman hidupnya itu cantik rupawan, keturunan Cina; kata orang banyak, si Elly itu asal Singapura. Kabarnya dulu Akai pernah merantau ke Singapura, lalu didapatnya Elly, Cina cantik itu. Kalau sudah berkisah tentang masa-masa tersebut, bukan keoalang bersemangatnya Akai.

Dengan lancar Akai bertutur tentang kejadian antara tahun 1946 hingga awal 1948, masa ia menjadi anggota gerilya dan turut mencari senjata ke Singapura dan Hongkong. Tak lupa diselipkannya juga, bahwa yang memimpin penyelundupan ke Singapura dan Hongkong tersebut adalah Dr. A.K. Gani. Siapa pula yang tak kenal Adnan Kapau Gani, orang Palembang-Bengkulu itu, pernah menteri lagi, bahkan pernah main dalam filem. Jadi Akai adalah anggota penyelundupan tadi, kabarnya ia membawa gula, rempah-rempah dan lainnya, untuk kemudian ditukar dengan senjata. Bila Akai tengah bercerita begini, lantas ada di antara kami yang bertanya ini-itu; bukan main senangnya hati Akai. Pasti pertanyaan itu berjawab.

"Katanya ada penyelundup lain lagi yang bahkan punya kapal sendiri, juga untuk mencari senjata buat republik...", tukas seorang dari kami. "O ya, itu kan untuk bagian timur. Alaahh... si Anu, siapa tu, aaa... si John Lie, dari Sulawesi. Mayor pangkatnya. Eeh, tahu juga kau rupanya", ujar Akai sambil memuji sedikit pada yang bertanya itu. "John Lie juga hebat rupanya, ia temanku. Terkadang kami sama-sama juga, tapi group kami tetap bersama pak Gani. Tahu kan Pak Gani, yang digelari "the greatest smuggler in Southeast Asia", penyelundup terbesar di Asia Tenggara", tambah Akai, sekaligus memperagakan bahasa Inggrisnya.

Kami remaja tanggung usia limabelasan tersebut, senang juga mendengar cerita Akai, walau pun sedikit-sedikit kami paham juga bahwa Akai gemar membual, acap membohong. Bahkan ada yang menamakan nya "si mulut besar", suka omong gedé. Apalagi kalau bercerita tentang revolusi, tentang pertempuran, wah.... bukan main semangat, menggebu. Seolah-olah dialah yang paling berani.

Anehnya, tak sekalipun kami tampak ia berseragam militer, atau bekerja di suatu kantor. Tak jelas apa pekerjaan sebenarnya. Yang pasti, Akai sering menginap di hotel, khususnya di Hotel Centraal di Jalan Citadel. Pernah juga di Hotel Des Indes, lalu Hotel Transaera, pokoknya masuk hotel, keluar hotel. Ada lagi kabar mengatakan,ia acap diusir kalau sudah terlalu lama tidak membayar ongkos menginap di hotelnya. Malah pernah diadukan ke pengadilan. Namun karena orangnya pandai bicara dan menggertak, cekatan jual obat, kata orang; misalnya menyebut menteri anu, komisaris polan adalah paman atau sahabatnya, maka Akai selalu los dari penangkapan. Janganlah coba mengusik, mencari tahu, apalagi menyelidiki kebenaran cerita dari Akai, sebab kalau sudah tahu latar belakang ceritanya tersebut, tak ada lagi yang menarik dari omongannya itu. Justru karena ketidaktahuan kamilah, maka kami senang mendengar cerita-cerita Akai.

Suatu kali Akai berkisah, ia naik kapai milik maskapai Belanda KPM, Jansens, namanya. Entah bagaimana awalnya, mendadak lampu kamar mandi Akai padam. Ia lantas mengamuk, lampu-lamu dan peralatan lain di kapal di pecahkannya. Kapten kapal tentu saja marah, dan menahan Akai dalam perjalanan dari Jakarta ke Tanjungpandan. Tapi di ruangan kapal khusus untuk anak-buah kapal tersebut, Akai malah menggugat sang Kapten. Akai mendakwa, katanya: "Tuan tahu, dalam tahun ini juga semua kapal KPM akan saya beli, akan kami ambil-alih. Ini saya rundingkan Pada Jenderal Karmono di Istana saat kami menghadap Bung Karno. Kalau Tuan mengakui kesalahan Tuan, dan berjanji memperbaiki pekerjaan Tuan demi kelancaran kerja kami di republik ini, niscaya Tuan akan saya pakai. Tuan boleh kerja seterusnya di kapal saya ini, nantinya. Ingat itu. Catat nama saya, dan Tuan boleh pikir baik-baik. Pulang ke Holland atau kerja dengan kami." Mendengar ucapan Akai, sang kapten gementar dan segera melepaskan Akai sembari mohon maaf.

Akai sungguh punya bakat menggertak, ada tampang pula, gemuk gagah, dan fasih berdebat. Pandai menggunakan saat semisal pengambil-alihan kapal KPM menjadi milik maskapai republik, PELNI. Sehingga tanpa ragu orang lekas percaya, konon dikaitkan pula dengan nama jenderal, dan kunjungannya ke Istana segala.

Apabila Akai ke rumah dan kebetulan naik becak saja, ia sering memojokkan ayahku dengan berkata: "Bang, tolong bayarkan becakku, tak ada uang kecil." Dan ayah segera menyuruhku membayarkan becak itu.

Akai segera mengobrol dengan ayah, sambil mmbunuh waktu menunggu makan siang. Terkadang istrinya Elly ikut serta mengobrol ke rumah kami. Obrolannya kebanyakan itu ke itu juga, perihal revolusi, pertempuran di Jawa-Tengah Jawa-Barat,lalu penyelundupan bersama A.K. Gani tadi. Ayah mendengarkan saja, sesekali bertanya ini-itu.

Padahal kami tak tahu apa kerja Akai, tinggalnya di hotel namun sering tak punya uang. Ada yang menyebutkan, pendapatannya kini adalah tabungan hasil menyelundup ke Singapura. Bahkan terbetik berita, istrinya ditawartawarkannya, karena dulu pun memang kerja begituan, dan sesungguhnya Elly asli Cina Hongkong. Macam-macam saja.

Tapi satu hal yang jelas, Elly cantik dan di samping itu baik budi, jauh berbeda dengan watak suaminya. Sang istri pun acap tak percaya akan obrolan suaminya, Akai. Ayah juga tidak percaya pada cerita Akai, namun tak pernah mengatakan bahwa Akai bohong atau omong-besar. Ayah tak pernah pula mencela apalagi memaki Akai. Beliau tetap menerima baik kedatangan Akai dan istrinya. Ibuku pun ramah pada mereka. Hanya aku dan para kawanku meragukan cerita Akai.

Cobalah pikir. Bila Akai berdatang ke rumah kami, selalu saja waktunya serba tanggung, misalnya pukul 11.00 dekat jam makan siang, atau pukul 18.00 menjelang makan malam. Akibatnya kami makan bersama kedua suamiistri itu. Walau ayah belum pulang dari sidang - sidang parlemen DPRS, Akai akan menunggunya dengan sabar Dan aku akan mendengarkan kembali obrolan Akai, yang kuladeni juga sembari asyik melirik Elly yang rasanya makin hari semakin cantik dalam pandanganku. Maklum usiaku baru berangkat tujuh-belas, mudah bergetar bila berdekatan dengan wanita cantik harum.

Demikianlah, suatu kali Akai berkisah yang agak seram. Jaman revolusi. Pertempuran di sekitar Krawang. Seorang prajurit gerilya, kena tembakan Belanda. Namanya Sadri, kawan Akai sendiri. Lehernya luka parah, menganga karena peluru telah menembus bagian depan. Darah mengalir terus, dan Sadri jadi persoalan. Akan dibawa, digotong, atau ditinggal saja? Pasukan republik yang menurut Akai dipimpinnya, harus segera lari. Aku harus cepat dan tegas mengambil keputusan, tambah Akai. Bagaimana cara "menyelamatkan" Sadri? Dengan mata penuh belas-kasihan dan mohon maaf, Akai sebagai komandan, mendekati Sadri yang bersimbah darah.

Akai melanjutkan, saat itulah Sadri dengan suara terputusputus dan perlahan berkata: "Pak Abubakar, lakukanlah apa yang baik. Segeralah akhiri penderitaan saya ini..." Dengan penuh sesal Akai meletakkan ujung revolver-nya di tentang jantung Sadri. Bunyi "dor" menyelesaikan penderitaan Sadri. Akai beserta pasukannya segera lari dari kejaran pasukan Belanda.

Mendengarkan kisah tersebut, ibuku terlihat ngeri, tetapi Elly, istri Akai, nampak biasa mja. Ayah juga terlihat santai, sedikit senyum menganggukkan kepalanya. Aku yang sejak sekolah rakyat gemar membaca novel, segera ingat kisah begini Pernah kubaca. Seakan memecah keheningan, Elly berkata pada ayahku: "Alaah ... bang, tak usahlah percaya sama Bang Akai ini." "Ah, kau mana tahu. Ketika aku berjuang,bertempur dulu, kau kan masih kecil..," bela Akai pada kata-kata istrinya. "Dia bohong, bang," ujar Elly pada ayah. "Bang Akai suka berdusta, jangan percaya dia." Mendadak ayah menjawab : "Bukan hanya Akai yang suka bohong, sayapun mungkin lebih suka bohong dibanding Akai." "Mengapa begitu,bang? Rasaku tidak mungkin", saut Elly. "Ya...", kata ayah. "Selama ini saya sering membohongi Akai, sehingga Akai yakin betul bahwa saya percaya semua cerita Akai, padahal itu tidak benar. Kan saya lebih suka bohong daripada Akai," tambah ayah mengakhiri keheranan si cantik Elly.

Paris, Juni 1991

Jumpa Lawan II

Kami cukup sering ke kampung Mempiyuk, 16 kilometer jaraknya dari Tanjungpandan, ibu kota kabupaten kami, Belitung. Di kampung itu kami membeli pisang, ubi kayu, dan penganan lain; di samping untuk kami makan, juga untuk dijual kembali ke kota. Kata orang Medan, mocokmocoklah. Mengapa itu kami lakukan? Pasalnya saat itu ayah tak bekerja, Belanda baru masuk kembali sekitar tahun 1945-1946. Ayah masuk orang republiken, istilah masa itu; bukan orang ko – maksudnya kooperatif, sudi bekerja sama dengan penjajah Belanda.

Karena menganggur inilah, kami terpaksa mencari uang dengan berjual-beli hasil bumi, yang kami peroleh dari Mempiyuk tadi. Berkebetulan ada kenalan yang masih terbilang sanak, sehingga kami mendapat harga agak murah. Kami segera saja menjual kembali di kota kabupaten, biar tak mahal asal lekas habis. Dengan dua sepeda yang masing-masing bagasinya kami gantungi karung yang disebut keranjang pempang, artinya keranjang yang mengangkangi bagasi sepeda tersebut. Keranjang-pempang itu kuat sekali, sanggup memikul berpuluh kilogram barang bawaan. Di dalamnya kami isi dengan pisang dua-tiga tandan, lalu ubi kayu, cabe segar, serai, tebu, dan lain-lain, dan kami siap menuju Tanjung Pandan.

Jalan dari kampung mempiyuk ke Tanjungpandan, sebagian besar jalan merah tak beraspal. Selalu saja ada tanjakan tinggi, sehingga harus turun dari sepeda dan menun7 tunnya, apalagi membawa beban berat. Saat menuntun sepeda itu, biasanya saat-saat menyenangkan walaupun capai juga. Sebab cukup banyak orang berhal sama dengan kami, dan pa da masa itu sesama orangkampung umumnya saling kenal, saling menyapa, saling memberi perhatian, saling bantu. Jadi sembari mendorong sepeda, kita bisa berkelakar berbincang ke barat ke timur. Mungkin dengan cara begitu, akan terlupa rasa lelah, tahu-tahu saja sudah sampai ke tujuan.

Begitulah, suatu hari ayah dan aku terpaksa turun dari sepeda karena bawaan kami yang amat banyak. Kami mulai menanjak. Tak lama, ada lagi beberapa orang. Salah seorangnya, kami kenal namanya Bujok. Dulu ia seorang supir, awalnya supir mobil pribadinya, artinya ia punya mobil yang ditaksikannya sendiri. Tak lama kemudian ia menjadi supir truk. Sesudah itu kami tak lagi melihatnya menyupiri mobil apa pun. Entah mengapa. Ada yang bilang, ia bangkrut; ada lagi yang mengatakan, ia sudah pernah masuk penjara karena menubruk orang hingga mati. Bujok tergolong serupa Akai, Abubakar yang kuceritakan tadi. Banyak bicara, banyak obrolan. Kita baru satu-dua kalimat, dia sudah satu cerita utuh. Kita satu-dua patah kata, dia sudah beberapa kalimat. Dan kalau orang terlalu banyak bicara, umumnya sulit terkendali. Tak sanggup menguasai diri, lalu cmnganpun banyak tak berfilter, bersaring; bocor saja keluar.

Sambil menuntun sepeda, Bujok berkisah pada kami bagaimana ia sudah membunuh tiga orang. "Abang tahu,

macam apa cara saya menghabisinya?" ucap Bujok seo8 lah minta jawaban. Dan belum ayah berkata, ia sudah mendahului. "Abang kan paham, saya ini supir truk. Ya, gampang, lindas sajalah, lalu katakan hal itu sebagai kecelakaan. Paling-paling denda, atau dicabut rebewes. Tak sukar, nanti cari lagi. Dan abang tahu, siapa-siapa yang mati itu? Semuanya musuh pribadi saya. Cuma tak seorang pun tahu soal ini, dikira hanya kecelakaan biasa. Begitu caranya selama ini, Bang. Karena itu sekarang saya hampir tak punya musuh pribadi. Semua telah saya kirim ke akhirat. . . ", demikian kisah Bujok dengan suara gagah dan mantap. Ayah mengangguk-angguk saja dengan wajah datar, serupa saat ia mendengar cerita Akai dulu itu. "Hebat juga kau ini, ya Jok", ujar ayah. Bujok nampak benar senang hati mendapat pujian ayahku. "Begitulah Bang dalam hidup kita. Terkadang ganas, kadang memelas, sesekali jadi malaikat, tapi bisa pula jadi iblis", sahut Bujok lagi seakan berfilsafat. "Tapi bagaimana dengan abang sendiri", tambah Bujok ingin mengetahui pengalaman hidup ayahku. "Pengalaman kita ada yang sama, tapi juga ada yang berbeda. Macam-macamlah. . . . " kata ayah. "Apa itu, Bang . . . ceritalah. " "Pasal membunuh orang itu beragam. Misalnya saya, tak serupa dengan kau. Saya pakai pistol saja, bisa pura-pura kecelakaan", urai ayah seperti menirukan gaya Akai. Boleh jadi ayah benar, sebab dulu ayah seorang pegawai kehutanan, boschwezen, yang harus selalu punya pistol. Ini kutahu benar, karena dengan mencuri-curi aku sering memegang bahkan membawanya. Sekali waktu ketahuan ayah, akibatnya aku dipukuli dengan pemukul kasur dari rotan. Bujok juga mengerti bahwa ayah adalah mantri kehutanan yang memiliki senjata api

Browning. "Pernah abang harus menghadap pengadilan, atau ditangkap polisi?" tanya Bujok bersemangat. "Tak pernah. Harus pintar-pintarlah. Seperti kau tengok sendiri, mana pernah saya masuk penjara", ujar ayah.

Ada orang bercerita hanya sebagai obrolan iseng. Ada pula orang berkisah untuk mengagungkan dirinya, untuk menakuti orang lain, bahkan diam-diam ada nada mengancam. Yang diceritakan Bujok, masuk katagori ini. Namun yang diceritakan ayah, boleh jadi campuran semuanya. Bujok belum merasa puas. Mungkin ia merasa disaingi, ceritanya jadi kurang seram. Karena itu ia bertanya lagi: "Barangkali ada sekali dua abang melakukan itu?" "Apa katamu, sekali-dua? Yang kuingat saja ada tiga-empat kali, Jok!" Kali ini Bujok terhenyak. Lama ia tak berkata sepatah pun. "Kita ini samalah, Jok, barangkali sama juga berdosanya. Masuk neraka sudahlah pasti, sebab semua perbuatan jahat akan mendapat timpalannya juga. . . " tambah ayah.

Aku yang sedari tadi mendengarkan, merasa ragu dan kecewa. Andaikan benar cerita ayah, malang nian nasibku, punya bapak pembunuh! Betapa hina hidup ini. Tapi aku masih sulit untuk percaya cerita tadi. Selagi Bujok membisu, ayah melanjutkan: "Kita serupa, Jok. Karena ada musuh pribadi saja, kita sanggup mengerjakan hal-hal terlarang dan diharamkan agama. Tapi kita akan menanggung bebannya, sangat berat! Siksaan batin, tidak tenteram karena rasa berdosa, karena sudah berbuat jahat, karena berbohong, karena sirik, dan tamak". Bujok makin diam,

adakah ia merenungkan dosanya atau kata-katanya itu ter10 lanjur saja? Entahlah.

Namun hampir tiba di Tanjungpandan, Bujok tak juga hendak berpisah dari kami. Padahal kami tahu tujuannya ke kampung lain. Dan menjelang simpang tiga belokan dekat kampung Air Saga, Bujok tiba-tiba menghentikan sepedanya dan meminta kami berhenti pula. Wajahnya penuh tanda tanya dan rasa penasaran. "Bang, benarkah abang melakukan itu semua?" "Lalu mengapa, Jok?" "Saya ingin tahu, apakah abang melaku kan itu semua? Tolonglah saya Bang, lepaskan dari siksaan ini. Benar abang lakukan itu?" tanya Bujok. Ayah tersenyum seakan menyindir Bujok. "Jok, jangan kau mengira cuma kau seorang yang mau dan bisa berbohong. Aku pun bisa. Walaupun hanya pada orang-orang pembohong saja. Agar kau tahu saja...!" Tenang ayah menatap raut muka Bujok. Ternyata ayahku adalah pembohong besar terhadap pembohong kecil. Kadar bohongnya lebih besar, lebih tinggi dari pembohong biasa.

Paris, Juni 1991

Cabin Boy

Tak banyak yang harus kukemasi untuk persiapan keberangkatan esok. Sebuah koper kecil, isinya pakaian, kamus, buku-buku sekedarnya, dan alat tulis-menulis. Jalan menuju ke sana, ke haven drie, pelabuhan tiga Tanjung Priok, sudah kutahu. Setelah itu naik kapal bernama TAHU LANDANG, menjelajah banyak negeri dan Amerika Serikat. Betapa hebatnya, begitulah pikirku ketika itu. Dan setiba di Amerika Serikat, aku akan berusaha meneruskan pelajaran. Bukan nain, sekolahku lepasan Amerika; dan kalau kembali ke Indonesia tentulah aku mudah menjadi orang yang berpangkat, punya jabatan, terpandang pula di masyarakat. Semoga abangku yang berdiam di Bogor jangan tahu rencana keberangkatan ini. Tapi seandainyapun dia tahu, aku bertekad tetap akan berangkat. Kesempatan yang mahal ini jangan sampai lepas. Sudah pula tertera di kertas-kertas surat keterangan yang besok mesti aku bawa dan kutunjukkan, pangkatku sementara: cabin boy. Indah nian kata itu terdengar di telingaku, apalagi bahasa Inggris pula!

Hari menjelang magrib, sudah mulai gelap. Terasa lama sekali waktu berlalu. Menunggu malam berjalan hingga pagi, rasanya terlalu panjang. Hati telah tak sabar, esok aku akan naik kereta-api dari stasiun Gondangdia. Hanya jalan kaki tiga menit dari pondokanku. Kereta itu menuju stasiun akhir Tanjung Priok, dan dari sana, kalaupun tak ada kenderaan lain; aku akan jalan kaki saja, arah pelabuhan tiga tersebut. Lalu akan kucari kapal TAHU

LANDANG itu. Dan aku pun sudah bersama awak kapal lainnya bekerja di kapal. Asyik aku merencanakan, dan mereka-reka perjalanan itu, manakala teman sekamarku, Gandi, memintaku agar menemui seseorang di depan pondokan kami. Katanya orang itu dari Belitung kampung halamanku. Lelaki itu datang bersama perahunya yang berlabuh di Pasar Ikan. Akh... menjelang malam begini, malas betul menemuinya! Tapi Gandi mendesakku agar mendatangi saja, mana tahu ada pesan-pesan atau titipan dari Belitung. Ada juga benarnya pendapat Gandi.

Sudah makin rembang, mungkin pukul 19.00 lewat, aku menuju ke depan rumah pondokan kami. Kulihat seorang lelaki dalam remang-remang. Ia menuntun sepeda dan menolak masuk ke rumahku. Orangnya berpeci, tak jelas raut mukanya, dan memakai sepeda fongers. Tapi terasa ia ramah dan menyenangkan, dia menanyakan kabar keluargaku. Ia berkata, baru dari Belitung dengan perahu yang saat itu tengah sandar-pelabuhan di Pasar Ikan. Ia lantas meminta agar aku ikut ke tempatnya barang agak sebentar. Kujawjab tak bisa, karena esok aku sudah harus menuju Tanjung Priok untuk berlayar jauh dan bekerja di sebuah kapal. Orang itu kemudian berjanji, malam itu juga aku akan diantarkannya kembali, sesudah mengambil titipan ti tempatnya menginap. Ia tidak menginap di perahu, tapi di rumah seorang kawannya di Kemayoran.

Setelah aku yakin benar dia dapat menjaminku bisa pulang malam itu juga, artinya mengantarkanku sebelum pukul 23.00, aku setuju mengikutinya. Dia berpesan juga, agar semua barangku yang penting dibawa saja bersamaku, terutama surat-surat penting. Siapa tahu aku harus berangkat dari Kemayoran kalau sungguh terpaksa. Aku ingat benar, di Kemayoran ada stasiun kereta-api menuju Tanjung Priok; lin ini dari Mesteer Cornelies (Jatinegara) menuju Tanjung Priok, lewat Kramat, Senen dan Kemayoran. Seluruh barangku yang tak seberapa itu, lantas kuangkut membonceng bersamanya naik sepeda.

Lelaki itu mengaku bernama Sadri, dan ia kenal dengan keluargaku di Belitung. Sambil bersepeda berboncengan, Pak Sadri yang terkadang kupanggil Bang Sadri itu, terus mengobrol dan banyak menanyakan tentang kehidupanku, juga perihal keluargaku. Semua kujawab apa adanya. Sebab aku paham, orang perahu, nelayan di kampung kami umumnya baik budi, ramah dan mudah membantu orang. Bang sadri pun banyak mengerti soal-soal yang aku belum tahu, ia kelihatannya ramah dan hangat. Sesekali aku terlupa, bahwa kami ini sedang berboncengan di tengah jalan ramai. "Jadi ayahmu di mana sekarang ?" tanya Bang Sadri. "Di Yogya, bang, bergabung dengan para pejuang," ujarku bangga. "Abangmu yang tertua itu... ?" "Katanya juga di Yogya, bersama ayah. Ada yang bilang mereka itu selalu berada antara Yogya dan solo." "Tak ada kabar pasti atau surat dari mereka ?" "Tak ada. Mana bisa bersurat-suratan. Mereka ada di daerah republik, kami di daerah pendudukan Belanda. Hubungan putus sama-sekali. Namun ada saja orang-orang dari daerah republik masuk ke Jakarta dan membawa kabar tentang ayah dan abangku". "Sudah berapa lama kau tak jumpa mereka?" "Dengan ayah ada tiga tahun. Dengan abang malah sudah sembilan tahun." "Waah... lama betul, ya. Barangkali kalau jumpa pun sudah agak lupa", ucap Bang Sadri. "Lha iya, abang saya itu dulu yang memasukkan saya ketika sekolah HIS di Tanjungpandan. Sejak tahun 1940 hingga kini, belum lagi kami pernah bersua." "Oh..., kamu masih ingat saja, ya," ujar Bang Sadri dengan tertawa kecil.

Dan kami terus berboncengan menyusur arah Kemayoran, melewati Senen dan Gunung Sahari yang bukan main banyaknya orang. Bang Sadri bisa-bisa saja mencari bahan pembicaraan, diselang-seling bertanya hal keluargaku. Rupanya ia tertarik dengan kehidupan keluargaku. Memang ayah adalah salah seorang penggerak revolusi bersenjata di Belitung. Saat pemuda ontak melawan Belanda, ayah adalah salah seorang pimpinannya. Sejak waktu itulah ayah dicari-cari Belanda untuk ditahan. Akibatnya ayah jarang-jarang pulang ke rumah, lalu menghilang. Kami tahu, ia telah berlayar ke tanah Jawa dengan perahu Bugis menuju Ceribon dan terus ke Yogya dan bergabung dengan kekuatan Republik Indonesia.

Di Yogya, ayah bertemu dengan anaknya, yaitu abangsulungku, yang usianya 11 tahun lebih tua dariku. Sejak tahun 1947 kami tak kumpul dengan ayah, sampai sekarang, tahun 1949. Beberapa kali rumah kami digeledah, diperiksa dengan teliti dan diawasi oleh mata-mata yang diantaranya justru kami kenal, masih keluarga sendiri. Tapi mereka tak akan menemukan ayah di Belitung, ia sudah berlayar menuju daerah republik.

Dengan abangku yang biasa kami panggil Bang Amat, su15 dah sembilan tahun pula aku tak jumpa. Sulit kubayangkan bagaimana rupanya sekarang, mungkin dia pun tak kenal aku lagi. Sebab aku sudah besar. Buktinya walau umurku baru menjelang lima belas, aku berhasil mengibuli Belanda di perusahaan perkapalan KPM dan SMN, saat melamar kerja sebagai cabin boy. Kukatakan usiaku hampir 18 tahun. Akhirnya aku diterima bukan di KPM, tapi di SMN - Stoomvaart Matschappij Nederland, untuk lin internasional. Dan ini memang menjadi cita-citaku agar bisa ke luar negeri, ke Amerika Serikat.

Kami mulai mémasuki kawasan Kemayoran. Mendekati pelabuhan udara, lalu terus lagi menuju jalan sempit, tak beraspal. Lewat Kali Sunter, lantas memotongnya... wah, jauhnya mak! Jalan itu kini benar-benar gelap, kami hanya mengandalkan lampu sepeda berko fongers itu saja. "Di mana kita ini...?" kataku sedikit mendongkol. "Menuju tempat saya menginap. Tak jauh lagi, sebentar juga sampai," ujar Bang Sadri ramah.

Ada cahaya dari rumah-rumah penduduk, tapi bukan listrik. Lampu-lampu rumah itu, pelita yang menyeruakkan sinar buram, ke luar. Ini sungguh di kampung, kampung tulen sekitar Jakarta sini, ucap batinku. Jalannya banyak berlobang. Sepeda kami turun naik. Terkadang terjeblos. Kami tak banyak lagi mengobrol. Kudengar dengusan Bang Sadri, rupanya cukup capek dia. Aku sengaja tak banyak tanya lagi, masing-masing kini dengan pikiran sendiri. Aku sibuk merancang, bagaimanapun juga malam itu aku harus pulang untuk persiapan keberangkatan esok

paginya. Sebelun pukul 11.00 aku harus sudah di ka16 pal TAHU LANDANG. Semoga Bang Sadri tidak ingkar dengan janjinya. Sepertinya ia bisa dipercaya, begitulah hatiku berkata. Namun aku pun bisa pulang sendiri, dari Kemayoran Gempol berjalan kaki dahulu menuju Gunung Sahari. Lalu dengan trem menuju Tanah Abang lewat Gondangdia. Yang penting jangan terlalu malam, sebab trem habis dinas pukul setengah satu malam. Pokoknya aku harus merebut waktu. Persetan diantar Bang Sadri atau tidak. Ini soal masa depan, bukan sepele. Ini hidup mati idealisme, demikian tekadku.

Dalam senja yang pekat itu, akhirnya kami sampai ke rumah yang dituju. Tak dapat aku membayangkan secara persis, yang kuingat lantainya setengah-ubin-setengahtanah yang keras dan licin mengkilat. Berdinding kayu, ada lampu teplok, lampu duduk dengan minyak tanah. Tuan rumahnya jangkung, agak kurus, namanya Iskandar. Giginya agak merongos ke depan. Ia ramah dan baik, segera menyilakan kami masuk dan menuju ke kamar Bang Sadri.

Di rumah itu ada empat orang saja, Pak Is, istri dan dua anaknya yang masih kecil, serta seorang wanita agak tua, mungkin masih terbilang keluarganya yang merangkap membantu mereka. Rumah Pak Is agak besar, namun sederhana ; tak ada lemari besar, atau kursi yang bagus. Semuanya bersahaja.

Bang sadri menyilakan aku masuk ke kamarnya. Lampu teplok yang temaram itu, belum cukup terang untuk menyimak Bang Sadri. Mukanya agak bulat, perawakannya tegap, dan matanya amat bersinar. Kalau tertawa renyah, dan suaranya sedap terdengar karena kata-katanya jelas dan tegas, satu-satu.

"Duduklah. Letakkan barang-barangmu di atas balaibalai," kata Bang Sadri. Balai-balai itu besar, dari kayu juga amat sederhana. Lelaki itu nampak lelah, ia menghela napas panjang, entah apa yang dipikirkannya. "Naah... sekarang kita bebas omong-omong", tambahnya. Aku agak melongo. Pikirku: apa tadi itu tak bebas omongomong? Bang Sadri tertawa kembali, lalu memandangiku dalam-dalam dengan penuh rasa. Aku lantas jadi kikuk. Apa sih maunya orang ini, bisik hatiku. Katanya dari Belitung, membawa titipan dari keluargaku. Lalu, mana dong titipan itu? Bang sadri lantas mengambil duduk lebih dekat di hadapanku, katanya: "Coba perhatikan saya baikbaik. Apakah kamu tidak mengenali aku lagi?" Terkejut, kubalas pandangnya. "Sembilan tahun, memang bukan sedikit. Cobalah ingat-ingat bagaimana paras abangmu itu," katanya lagi. Lama aku mengingat, kukenang lagi, hingga ingatanku tiba pada seseorang. Mungkinkah ia? Lidahku mendadak rasa kelu, padahal aku amat ingin bertanya. Kurasai mataku mulai basah, dadaku disesaki rindu tak keruan. Mata lelaki yang menatapku itu, makin bersinar. Sinar rindu pula. Tak sadar kami segera berpelukan, ia mendekapku kuat-kuat. Kata-kata sudah tak perlu lagi. Aku menangis bebas, tak tertahankan. Lepas dalam senggugukan dan isakan. Bang Sadri inilah Bang Amat-ku yang sudah sembilan tahun menghilang.

Kemana saja ia pergi? Sungguh tahan ia menyembunyikan perasaan kangen padaku, hingga tiba saat ini. Bukan mustahil lama sudah ia merencanakan hendak "menculikku", berkomplot dengan Gandi, kawanku sekamar, yang juga adalah ipar abangku sendiri.

Segera saja kami saling bercerita tentang hal-hal masa lalu. Tentang kampung halaman, tentang keluarga kami. Ia juga berkisah padaku tentang ayah, dan usaha ayah untuk kembali ke Belitung sesudah selesainya perundingan IndonesiaBelanda melalui KMB - Konperensi Meja Bundar itu.

Dari kejadian semuanya, aku mengerti bahwa Bang Amat masuk Jakarta dengan menyelundup. Di kemudian hari kutahu bahwa ia punya kegiatan ilegal rahasia, bawah-tanah, dan sangat berbahaya. Pertemuan ini sangat mengesankan, kerinduan antara abang dan adik yang terpisah karena keadaan. Lama sesudah itu aku sadar, sesungguhnya abangku itu mengasihiku, manaruh harapan besar padaku, walau sikapnya nampak selalu keras. Tuntutannya tinggi padaku, padahal aku belum sanggup memikulnya. Pada perbincangan selanjutnya, di pertemuan ini, kutahu sifat kerasnya itu. Yaitu saat ia mulai menanyai rencanaku berangkat esok pagi, berlayar. "Jadi, kudengar tadi bahwa kau akan berangkat besok ke Amerika". "Ya, karenanya aku mesti cepat pulang, untuk bersiap pagi sebelum berangkat". "Apa rencanamu dengan pangkat cabin boy itu?" suaranya terdengar menahan sesuatu. Belum lagi kujawab, ia sudah melanjutkan: "Bagaimana sekolahmu nanti? Apa kau yakin bisa menjadi orang berguna kalau pergi ke Amerika?" "Yah, tentu aku berusaha keras untuk itu," ujarku kurang senang. "Sudah lengkap segala suratmu

; jangan ada yang tertinggal. Sini, coba kulihat, lengkap tidaknya," tambahnya lagi.

Aku membuka tas lusuhku, mengambil berkas surat. Abangku memeriksa satu-per-satu, alisnya nampak terangkat dan keningnya berkerut. Nyata benar ia tak gembira. Tentu surat itu ada kurangnya, begitu pikirku. Akan kulengkapi sebelum besok pagi. "Jadi... dengan surat-surat ini kau akan jadi cabin boy, bekerja di kapal Belanda. Ke Amerika dengan pengetahuan kelas satu es-em-pe?" Kini suaranya tidak lagi ramah. Aku diam merunduk, apalagi ketika kulirik sebentar raut-mukanya menahan marah dan jengkel. Hatiku mulai kuatir dan takut, alamat buruk ini. "Kau tahu, aku sangat sayang padamu. Namun kau harus menjadi manusia berguna. Kau mesti sekolah. Harus punya aturan hidup. Ada rencana nyata dalam setiap langkahmu ke depan. Ini maumu jadi cabin boy, gelandangan kapal Belanda, ke Amerika pula. Padahal keluarga kita semua dengan teguh melawan Belanda, berperang melawan penjajahan. Tapi kau bekerja pula sebagai pelayan, jongos di kapal musuh. Betapa ironisnya antara kita. Aku tahu, kau akan marah padaku, tapi kukatakan ini semua demi sayangku padamu, demi hari depanmu yang harus kau genggam erat!"

Dan kulihat. Kulihat Bang Amat merobek-robek semua surat keteranganku itu. Habis lumat. Aku memandangi dengan amat terkejut dan mata terbelalak. Oh, inikah kelanjutan perjumpaan kami itu? Awalnya keramahan, kemudiannya kemarahan! Dan aku kembali menangis, kini dengan rasa marah, benci dan kesal. Tapi malah tasku dibongkar Bang Amat. Ya, Allah, akan ketahuanlah isinya, yang seharusnya tak boleh dilihat, karena itu rahsiaku. Kurasa tubuhku panas dingin, malu betul. Lantas ia menatap ku, suaranya keras bertanya: "Apa yang dalam botol ini? Dan apa pula ini, segala kemenyan dupa? Apaapaan ini?" Aku diam tak berkutik, barangkali mukaku merah padam atau pucat, tak tahulah. Tapi terasa wajahku tebal seperti bergayut, berat karena beban malu. Berulang kali ja mendesak, barang apa itu, obatkah atau apa. Aku terpaksa menyahut juga: "... Guna-guna. " "Apa? Guna-guna? Haah, kau pakai guna-guna? Untuk memikat wanita? Pélét, kata orang Jakarta, kan..." Suaranya menghardik. "Ya. Tapi bukan cuma itu faedahnya. Banyak lagi. Dengan jampi dan doa, ia jadi serba-guna. Termasuk aku dapat kerja sebagai cabin boy ini, ya karena guna-guna itu...", kilahku membeberkan, rahasiaku yang pribadi. "Juga bisa dipakai untuk ujian sekolah, "tambahku. "Yah... pokoknya kau masih percaya pada mistik !" tukas Bang Amat dengan cepat.

Dan itu memang benar. Waktu itu aku memang yakin, walau belum sepenuhnya. Pernah satu kali dalam trem kota, aku melihat gadis cantik sekali. Segera kudekati, lalu dengan jampi sedikit yang kubacakan dekat telinga gadis itu, kuhembuskan rokok menyan ke arahnya. Tapi aku malah dimakinya: "Sialan anak kecil ini, masih ngerangkak udé nakal, ngerokok segala, menyan lagi; kayak ada setannya!" Aku terkejut malu, lantas menjauhinya. Tadinya masih kukira ia akan mengikuti bak kerbau dicocok hidung.

Sedapnya diikuti wanita cantik, puas betul hati ini, be21 nakku berkata. Nyatanya...

"Mulai sekarang kau harus mengubah duniamu, dunia mistik dan gelandangan," abangku tiba-tiba membuyarkan lamunanku. "Aku ingin kau bisa jadi orang. Sekolah yang baik. Hidup menetap tidak gelandangan." Ia kemudian mengajakku keluar kamar, semua botol keperluan gunaguna tadi dibawanya. Menyan, dupa, rokok, tembakau, dan bacaan jampi-jampi berupa pantun dan syair. Kuingat betapa sukarnya dulu memperoleh perlengkapan mistik itu. Berempat dengan kawanku, kami mendatangi kesultanan Ceribon, jauh di luar kota. Kami duduk lama menunggu antrian untuk menghadap seorang tua di Gunungjati. Beliaulah yang memberi guna-guna itu semua, juga sebilah keris yang karatan. Kami harus membayar mahal untuk itu. Kunjunganku ke Ceribon tersebut, adalah bagian dari pengembaraanku di awal 1949-an di Jawa Barat, mulai dari Bogor, Cimelati, Sukabumi, dan banyak lagi. Aku belum cerita pada Bang Amat, namun kukira ia sudah diberitahu oleh Gandi, adik iparnya; yang sekolah di Taman Madya, Taman Siswa.

Maka tamatlah riwayat bakal pengembaraanku. Semua botol tadi dilemparkan abangku’mengarah ke hutan tali-air Kali Sunter, di Kemayoran Gempol. Tanganku dipegangnya erat saat membuang botol-botol tersebut. Dalam malam gulita itu hanya terdengar suara berdesau, botol-botol mengenai daun bambu, lalu menerbitkan suara "plung, plung" jatuh ke anak sungai Kali Sunter bebrapa Kali. Suara botol-botol kemenyanku, sang guna-guna, alat pélét dari Ceribon, makin jauh menghilang.

Perasaanku masih bercampur antara marah, kesal, dan sakit hati. Keesokan harinya, Bang Amat sudah menjanjikan agar melalui Pak Iskandar, aku disekolahkan di Taman siswa Kemayoran, sebab beliau juga adalah kepala sekolah setempat. Sementara aku, pinadahan dari SMP Pasar Anyar, Bogor.

Sejak hari itu, aku menjadi murid di Taman Siswa, bermula dari Taman Dewasa hingga tamat Taman Madya. Betapa berubah segala kehidupan yang nyaris menjadi gelandangan dulu itu.

Aku sama-sekali tak mengira bahwa cabin boy berarti jongos, hanya karena kekagumanku pada istilah Inggrisnya saja, terutama kekaguman pada Amerika.

Bila kukenang bagaimana jadinya andaikan aku tidak "diculik", tidak "disandera" abangku malam sebelum berlayar ke Amerika. Tentu aku telah berangkat dengan jiwa mudaku, mengembara kemana-mana tak bersekolah. Tak tahu aku, apakah aku jadi manusia, apakah akan jadi orang berguna? Kini, setelah 40 tahun berlalu, terasa nian di hati ini kerinduan akan masa silam bersamanya. Rindu pada perhatian, pada nasihat-nasihatnya yang bernas. Kangen pada caracaranya yang unik membimbing aku adiknya. Di manakah kini kau, abangku? Di mana kuburmu, Bang Amat? Tak seorang pun tahu. Ia telah gugur, ditembak, dihukum anak sebangsanya tanpa pengadilan. Entah di mana nisanmu. Ingin benar kuletakkan serangkum bunga tanda kasihku padamu. Tanda ingatku atas seluruh kenangan manis kita dulu.

Walau aku jauh di seberang laut, semangat dan kerja kerasmu untuk orang lain, untukku, telah senantiasa menguatkan hatiku menapak hidup ini.

Hidupku.

Razzia Agustus

Kamarku kecil sekali. Entah berapa meter persegi. Di dalamnya ada sebuah meja pingpong, di atasnya buku-buku, dan merangkap untuk menempatkan pakaian serta segala rupa keperluan sekolahku. Nah, untuk tahu berapa luas kamarku, andaikan ada satu lagi meja pingpong, maka pastilah tak muat di ruangan itu. Kalau tak ada orang menginap, aku tidur di atas meja pingpong itu. Di bawah meja itu ada tikar,bantal. Ada lagi sebuah kursi butut, sehingga penuhlah kamar itu kalau ditambah satu meja kecil sekali pun. Karena itu meja pingpong dirangkap saja untuk ternpatku menulis.

Kamar itu letaknya di Jl. Matraman Raya nomor 25, Jakarta. Sore hari aku bersekolah di Jalan Garuda, juga bernomor 25, di Taman Siswa. Sama sekali tak ada hubungan kedua nomor yang sama itu, kebetulan saja. Di sebelah kamarku ada lagi kamar yang kira-kira sama besarnya, tapi pastilah lebih bersih, apik dan rapi. Begitulah kiranya, sebab penghuninya wanita Indo yang bekerja sebagai pramugari, dan pramugari biasanya kan cantik, paling tidak bolehlah ! Bertahun-tahun kemudian kudengar semua perumahan itu sudah.menjadi kantor perusahaan bus negara DAMRI, dan kini aku tak tahu menjadi apa lagi. Kenanganku selama berdiam di kawasan Matraman itu sungguh mengesankan. Sebuah sajak berjudul "Jauh malam di Matraman Raya" yang dimuat oleh majalah Zenith sekitar 1950-an, berkisah kenangan selama di Matraman itu. Namun ada lagi kenangan yang lebih indah dari itu semua.

Malam hari setiap pulang dari sekolah, aku melintasi daerah Senen, Kramat, lantas Matraman Raya ; terkadang aku jumpa orang itu. Perjumpaan itu sungguh tak sengaja. Awalnya kulihat seorang agak tua berkaca mata, bertongkat, dengan peci di kepalanya, membawa bungkusan entah apa isinya. Rasanya kukenal lelaki itu. Wajah dan bentuk badannya terasa bukan asli orangnya, juga terasa padaku orang ini harus kutandai. Entah daya tarik apa yang mendorongku ingin benar mengenalnya. Rasa penasaran... Ketika suatu malam aku bertemu lagi dengan lelaki itu, ia kuhampiri. Semakin aku mendekat, tahu-tahu saja ia agak menghardikku :

"Pergi menjauh, apa pula keperluanmu... sana !" suaranya agak rendah dengan mata membelalak. Yah, benar, rasanya aku tahu orang ini,tapi masih belum persis, siapa dia.

Sepulangnya ke kamar pondokanku, aku melamun. Pikiran melayang, kenangan mengembara, meluncuri malammalam yang pekat. Kala itu usiaku baru tujuh belas. Terkadang pukul 02.00 atau lewat, ada ketokan pintu di kamarku. Aku biasanya segera terjaga, dan mendengarkan dengan cermat. Mulanya ketika ia mengetok, aku agak heran tetapi lama-lama tidak lagi. Yang penting, perlu kusimak baik-baik, bagaimana irama ketokan itu ; yaitu tidak keras, agak pelan.

Dan karena itu aku harus memperhatikan betul dengan daya pendengaran yang tajam. Ketokannya berirama dua-dua satu. Kalau sekiranya aku masih terlalu mengantuk,maka ketokan itu akan berulang kembali, dua-dua satu

: tok-tok... tok-tok... tok ! Dialah itu.

Semua ini, ia yang mengajarkan, dan kami lalu saling mengikat janji. Sebab perkara tersebut sungguh penting. Aku sadar benar, salah-salah nyawa melayang. Karena itu kepercayaannya padaku sungguh mengharukan. Seandainya aku tertangkap, atau kena tekanan, ancaman, bahkan gebukan ; dapatkah dipastikan bahwasanya aku tidak akan bicara macam-macam, yang merugikannya, merugikan kami semua ? Padahal di mana rumahnya, aku tahu, dan bagaimana rumah-tangganya pun aku paham. Aku tahu, istri dan kedua anaknya ketika itu berada. Di mana pula bila hendak bertemu dengan mereka, aku juga mengerti. Orang lain tidak boleh tahu, bahwa aku tahu, dan aku tak boleh mengatakan, bahwa aku tahu itu semua. Aku wajib merahsiakannya.

Si pengetok pintu kamarku.itu, kupanggil Bang Amat. Kini aku ingat kembali, orang yang acap kutemui di jalan itu adalah dia, lelaki pengetok pintu. Kalau dia datang, ada saja bawaannya, berupa makanan. Di malam-malam dingin begitu, kami nyamikan menghilangkan lapar. Dan bila kemudian aku terbangun, terkadang tak kulihat lagi dia. Sudah pergi. Kalau kukatakan aku akan pergi agak terlambat, maka ia selalu berpesan : "Bangunkan aku pada pukul sekian. . . "

Tidurnya sangat baik. Begitu meletakkan kepala di bantalku yang rada bau itu, dia segera pulas, mengorok. Tentu ia penat. Yang diurusnya puluhan ribu orang, mungkin ketika itu malah sudah ratusan ribu orang.

Tiap pagi aku membeli koran, kadang Bang Amat yang membawa koran terbitan sore. Mengikuti keadaan. Pada sebagian koran pernah aku baca bahwa Bang Amat telah melarikan diri ke luar negeri, ke negeri tetangga di Asia Tenggara. Ketika itu tak disebutkan nama negerinya. Hati kecilku berkata, kami sungguh main kucing-kucingan. Diberitakan Bang Amat sudah lari ke luar negeri. Padahal menginapnya, tidurnya, sering di pondokku. Sesekali aku jumpa secara tak sengaja dengannya di jalanan atau di dekat persimpangan. Mungkin aku lebih mudah mengenalinya, karena hafal betul cara jàlannya, bangun tubuhnya,.wai.ahnya, apalagi kalau dia berdehem... sangat khas si Bang Amat, abangku sendiri. Dan semakin berat bahaya untukku, tapi inilah kepercayaan. Membanggakan sekaligus mengharukanku. Aku wajib waspada dalam mengemban kepercayaan ini.

Larut malam jika ia muncul di kamarku, kami selalu berbincang-bincang. Ia banyak mengajarkan soal-soal kehidupan, bagaimana harusnya hidup itu, mengisi kehidupan. Ia melihat dan membaca sajak-sajak dan cerita pendek karanganku di majalah-majalah Zenith dan Sunday Courier. Bang Amat juga memberi pendapat, kadang sungguh tak mengenakkan telinga, namun begitu agak lama dipikir, sungguh menyamankan hati. Dia menuntun, membimbingku. Padahal hidupnya sendiri dipertaruhkannya untuk perjuangan orang banyak, juga untukku. Untuk dirinya cuma tersisa sedikit. Dalam kesusastraan, perhatiannya besar, dan banyak pula bacaannya. Ia sungguh banyak tahu. Pikirku ketika itu, tentu saja ia harus banyak tahu, itulah kalau memilih menjadi orang politik.

Masa itu, keadaan tanah-air makin meningkat suhunya, situasi bergolak. Kabinet nampaknya akan jatuh, akibatnya kaum reaksi makin kalap. Pengejaran dan penangkapan oleh apa yang dinamakan Razzia Agustus terus ditingkatkan. Dalam situasi segawat begini, Bang Amat menjadi sangat jarang mengetok pintu kamarku. Tak ada pula kabarnya. Namun aku selalu merasa, bahwa ia selamat-selamat saja. Suatu malam terdengar kembali ketokan dua-dua satu itu. Aku terkejut seketika, lantas kusimak baik-baik. Ketokan dialah itu. Pintu kubuka. Namun kembali tersirap darahku, jantungku berdegup keras sekali. Yang muncul bukan dia, seorang yang tak pernah kukenal. Lelaki itu mencoba memperlihatkan keramahannya, sambil menyerahkan sepotong surat, katanya : "Dari dia ini". Hanya itu ucapannya, lalu masih dengan wajah bersahabat, ia bergegas pergi. Di kegelapan malam, kulihat ada seorang kawannya menunggu. Orang itu tadi tak sendirian. Lantas surat itu kubaca..Dan benarlah, itu tulisan tangan Bang Amt.

"Kaum reaksi semakin kalap. Pengejaran ditingkatkan. Kau harus hati-hati, waspada dan teguh !" Itulah isi pokok surat tersebut. Jadi yang mengetok pintu kamarku dengan sandi kami tadi adalah seorang suruhan Bang Amat. Hati berkata, sekiranya kaum raeaksi tahu hubungan kami, dan sekiranya mereka menekan dan menyiksaku, amboi... bagaimanalah nasibku ? Astaga, belum apa-apa sudah memikirkan keselamatan diri sendiri. Sangat bertentangan dengan apa yang selama ini diajarkan Bang Amat padaku.

Segera terasa malu terhadap kekuatiran tersebut, dan cepat kuhapus wajah coreng-moreng yang ada padaku, walaupun hanya dalam hati. Kutekankan pada diri sendiri, harus teguh. Namun malam itu hingga pagi, aku sulit tidur,ada gangguan. Berat nian berjuang di bawah-tanah, keluh hatiku.

Benarlah, beberapa hari sesudah itu, di tengah malam,- kembali kamarku diketok orang. Tetapi kali ini iramanya bukan dua-dua satu lagi. Beruntun menimbulkan suara keras sekali nyaris memecahkan pintu. Anehnya, ketakutanku yang dulu pernah kubayangkan, justru tak muncul; malah yang ada kemarahan. Kurang-ajar benar menggedor kamar orang larut malam. Pintu kubuka. Dan menyerbulah bebe rapa orang bertubuh tegap, ada yang berkurnis dengan tampang seram.

"Dengan siapa kamu tinggal di kamar ini ?" seorang bertanya dengan kasar dan angkuh.

"Sendiri saja," jawabku kesal.

"Apa tidak ada orang lain ?"

"Seperti bapak lihat sendiri, cuma saya seorang."

"Tidak pernah orang lain menginap di sini ?"

"Pernah. . . ", belum lagi lengkap aku mengatakannya, si kumis seram lalu menukas :

"Siapa ?"

"Adik saya...",

"Di mana ia sekarang ?

Bersama ayah, di Gondangdia.

Seorang temannya berbisik sambil memperlihatkan catatan kecil, entah apa isinya. Yang lain asyik membongkari segala macam barang yang ada, termasuk membalik-balik kumpulan pakaian dalamku di atas meja pingpong. Tak satupun yang dicari mereka, ditemukan.

"Kamu jangan bohong, ya. Kami sudah tahu kamar ini. Kamu tidak bisa lagi melarikan diri, kamu tahu... !"

"Lho saya tidak mengerti, bapak-bapak ini mencari apa dan siapa ? Tahu-tahu saja kamar saya dibeginikan ?"

"Kamu punya saudara yang lain ?"

"Punya..."

"Di mana ?" suaranya masih saja kasar.

"Yang satu di rumah-sakit Cisarua, sakit TBC sejak tiga tahun ini. Yang satu lagi di Bogor, di Panaragan Gunung Batu."

"Yang lainnya. . . ?" cepat sekali si kumis seram memotong.

"Kamu pasti tahu...", ujar si seram sambil menarik kerah bajuku, hingga aku sedikit terangkat.

"Ya, saya tahu dari koran. Dikatakan,ia sudah ke luar negeri. Saya tak pernah bertemu."

"Di mana rumahnya... ?"

"Saya, tak tahu. Dulu kalau kami jumpa selalu di Gondangdia, di rumah ayah."

"Hee... kamu bohong. Awas kamu,masuk penjara, ya..."

Aku diam saja, dan mereka makin penasaran. Tak satu pun mereka dapati dari penggeledahan tersebut. Bang Amat ternyata selalu waspada,dan cermat, tak pernah meninggalkan catatan atau barang sekecil apa pun. Ia juga paham, bahwa aku,adiknya, mau tak mau bisa terlibat dengan kegiatan-kegiatan politiknya. Namun kami bak sebuah kesatuan. Satu tak hati-hati, akan membahayakan yang lainnya. Satu tak teguh, yang lain akan terjerumus.

Keesokan harinya kudengar rumah ayah kami di Gondangdia digeledah pada hari yang sama bahkan jam yang sama denganku. Bahkan mereka kemudian membawa ayah ke markas Angkatan Darat, ketika itu MBAD namanya. Ibu dan kakakku yang lain tentu kuatir, walaupun mereka marah pula karena petugas telah membongkari isi lemari rumah tanpa membenahi kembali. Ayah sempat bersoal jawab dengan petugas-petugas tersebut, bahwa mereka sebetulnya bukan mencari ayah. Mereka mencari Bang Amat, anak sulung ayah. Kendatipun bukan ayah yang dicari, alhasil dua hari pula ayah mendekam di tahanan MBAD. Dan baru lepas, setelah ayah berhungan langsung dengan Parlemen karena ayah anggotanya. Sementara itu, yang dicari tetap hilang.

Para petugas militer nampaknya kurang percaya isi koran yang menyebutkan Bang Amat lari ke luar negeri. Hingga

kabinet Sukiman bubar, Bang Amat tetap menghilang. Be32 berapa hari setelah kabinet bubar, ada lagi berita di koran yang mengatakan bahwa Bang Amat sudah tiba kembali di Tanjung Priok dari Tiongkok dan Vietnam. Begitu kabinet resmi dibubarkan, Bang Amat muncul. Sejak saat itu, tak lagi kujumpa lelaki setengah tua berpeci, berkaca-mata, dengan tongkat, berjalan. Tak lagi kamarku diketok dengan irama perlahan dua-dua satu. Dan orang-orang bertampang seram itu dulu, lalu pergi dengan sebuah jip militer, kini tak lagi menguntitku.

Sejarah menjadi lain. Belasan tahun sesudah itu Bang Amat dikabarkan gugur, di dekat Boyolali, dalam perjalanan penahanannya ke ibukota. Orang-orang bilang waktu itu "disembur logam panas". Jangankan jasad, nisannya pun tak berjejak. Bang Amat yang hidupnya terutama untuk orang banyak, untuk rakyat, telah tiada. Ia benar-benar telah pergi, bukan menyamar, bukan lari ke luar negeri.

Sementara itu, banyak orang ingin mengaku bahwa diri merekalah yang menghabisi nyawa Bang Amat. Seorang jenderal misalnya, mengatakan di depan umum bahwa dialah yang menamatkan hidup Bang Amat. Tapi ada lagi serdadu lain yang mengatakan, bukan sang jenderal, namun justru sang serdadulah yang menembak abangku itu. Aku tahu betul, ia tak pernah jauh dari rakyat. Dan bersamanya pergi adalah ratusan ribu jiwa lainnya, dalam suatu huruhara pembalasan dendam politik di tanah-airku.

Abangku tersayang, tak kan kusua kembali. Kapan pun...

Namun aku memahaminya, keprihatinannya yang men33 dalam atas nasib wong cilik, pasti telah diwariskannya kepada siapa saja. Juga padaku. Jauh hari sebelum peristiwa berdarah di tahun 1965 itu. Ketika pintu kamar pondokanku berirama ketokan : duadua satu.

Tok-tok.... tok-tok.... tok !

Kepala Gedung

Menjadi kepala gedung? Pertama,aku tak mau; kedua, aku tak sanggup. Tapi mereka tetap saja menunjukku, dengan sangat, minta agar aku bersedia menerima pengangkatan itu. Mula-mula guru bahasaku mengatakan mungkin direktur asrama akan bertemu denganku. Benar saja. Suatu sore aku dipanggil Madame Barret, direktris asrama kami, lalu oleh Monsieur Sylvain, dan kemudian guru bahasa Prancisku, Madame Marie-Paule.

Ketiganya menang menangani asrama di kawasan itu yang terdiri dari beberapa bangunan. Yaitu gedung migran, mereka yang berasal dari berbagai penjuru semisal Afrika, Asia, Arab dan sebagainya. Semuanya telah pergi dari negerinya masing-masing karena kesulitan ekonomi negeri, masalah politik, dan keamanan hidup sehari-hari yang tak terjamin.

Gedung migran terbagi dua, yang pertama untuk para penghuni asal Asia-Afrika, bangunan lainnya untuk penghuni asal Asia Tenggara, lebih khusus mereka asal Indo-China. Aku, dan dua anakku, termasuk dalam kategori Indo-China tadi, walaupun kami orang Indonesia. Lalu ada lagi gedung lain yang para penghuninya pekerja muda belia asal Perancis sendiri, dengan begitu bangunannya disebut "Foyer des jeunes travailleurs", asrama para pekerja muda. Kompleks bangunan asrama itu cukup luas, ada lapangan bola, tempat bermain voli, dan sebuah lapangan hijau tak terpakai. Sesekali kawanan domba dan sapi diangon dengan rumput hijau yang segar. Kemudian ada pula sebuah kantin yang lebar. Kalau siang menjelang makan, lapangan hijau tadi dipenuhi mobil, sebab banyak pekerja datang ke kantin milik Madame Barret itu untuk makan siang. Ini kuketahui sewaktu kami mengadakan pesta memperkenalkan masakan daerah kami masing-masing, tahun 1983 itu. Saat aku memasak rendang, kusadari betapa luasnya dapur kantin tersebut; bayangkan saja untuk memasak segoni kerupuk cuma diperlukan waktu 10 menit, padahal di kemudian hari ketika aku bekerja di restoran di Paris, aku memerlukan waktu sedikitnya 30 menit untuk memasak sejumlah yang sama.

"Tidak. Saya tak setuju, saya tak mampu. . . ", tampikku pada usul Madame Barret yang menunjukku sebagai kepala gedung.

"Kami sudah perkirakan Tuan tak setuju.Tapi dari pihak kami tak ada nama lain dan calon lain. Keputusan ini pun tidak kami ambil secara tergesa-gesa, namun dengan banyak pertimbangan."

"Tapi mengapa tidak ditunjuk secara demokratis, maksud saya dipilih secara adil, semua orang semua penghuni turut memilih."

"Pikiran Tuan baik, demokratis itu baik.Tapi ini bukan pemilihan umum buat anggota DPR, atau anggota badan politik. Bukan pengangkatan suatu karier, tapi sematamata lebih banyak kewajibannya. Dan lagi kami tidak dengan sangat memaksa, walaupun adalah benar bahwa kami sangat mengharapkan. Kami mempercayakan," kata Madame Barret lagi.

Ialu Monsieur Sylvain yang kalem dan lebih banyak senyum itu, ikut bicara. Juga guru bahasa Prancisku. Semuanya bersifat membujuk. Bertubi-tubi. Pada akhirnya aku menganggukan kepala juga. Harus kusadari benar, begitu menganggukkan kepala, artinya beban berat harus dipikul di punggung. Sekali menerima tugas, harus erat-erat ditangani secara serius, bertanggung-jawab. Hanya tetap saja ada pertanyaan dalam kepalaku, mengapa mereka menunjukku, apa dasarnya. Lama aku memikirkan hal itu. Boleh jadi, tetapi ini benar-benar hanya dugaan saja.

Suatu kali timbul perselisihan antara penghuni kami, di gedung Indo-China, dengan penghuni gedung sebelahnya, Asia-Afrika. Soalnya cuma sepele. Waktu itu perebutan piala dunia sepak-bola 1982 di Spanyol. Ketika salah satu kesebelasan memasukkan gol ke gawang lawannya, para penonton televisi di gedung Asia-Afrika itu serempak bergendang dan memukuli apa saja, kesenangan. Mulai dari meja kursi, dinding, bahkan perkakas dapur, habis dipukuli mereka nyaris setengah histeris gembira. Suasana gaduh itu menimbulkan kegusaran besar para penonton lain yang ada di gedung kami, Indo-China. Kami yang umunmya tertib, cuma bertepuk tangan saja, lantas merasa tersinggung dengan lagak-lagu penghuni sebelah. Penghuni Indo-China semisal Muangthai, Kamboja, dan Vietnam itu lalu mengomel, boleh jadi pula memaki penghuni sebelah itu, aku tak jelas karena diucapkan dalam bahasa mereka. Tak puas bertengkar mulut, mendadak penonton bubar dan kembali ke kamar masing-masing.

Dan apa yang mereka ambil? Golok, pentung, pisau bahkan kapak. Masing-masing dengan senjata tajamnya menuju gedung Asia-Afrika berniat memberi balasan atas keributan luar biasa yang ditimbulkan penghuninya. Hatiku kala itu, sungguh dag-dig-dug. Bila saja terjadi pertumpahan darah, betapa jadinya asrama yang begini tenteram mulanya. Darah tercurah karena soal sepele, soal bola. Kulihat yang paling depan, Sung, seorang Laos peranakan Muangthai. Ia tinggi, gagah, tampan dan pemberani tampaknya. Kira-kira dialah yang memimpin. Sung kukenal karena pernah istrinya berobat tusuk jarum padaku, sebab sempat tidak haid dua bulan lebih. Aku segera menyusul Sung dan rombongannya yang terdiri dari para pemuda sigap bersenjatakan alat-alat tajam dan pentungan. Setibaku di gedung Asia-Afrika, para pemuda di sana pun telah siaga, diantaranya Goffur yang kukenal pula siap meladeni. Kerusuhan akan segera berlangsung, dan bila ini terjadi betapa buruk nama kedua rombongan yang marah itu.

Beberapa meter lagi bentrokan akan terjadi. Aku segera saja menghampiri Sung dan menangkap lenganya, menghalangi. Ia mengibaskan diri, dan aku terlempar ke sisi. Namun aku berusaha terus menghalangi Sung dan kawankawannya. Aku menganggap rombongan Sung adalah yang menyerang, sebab datang "ke wilayah gedung Asia-Afrika". Mereka yang mendatangi, sedangkan penghuni Asia-Afrika adalah pihak yang bertahan dan berlawan. Perang ini harus dicegah.

"Tuan Sung, lihat saya. Lihatlah saya. Ingat anak-anak Tuan, istri Tuan. Lihatlah saya, Tuan Sung. Saya papamu, saya papa!"

Sekelibatan Sung menatapku, entah dia sadar. Sung dan keluarganya, serta pun semua orang di gedung kami, memanggilku papa. Soalnya kedua anakku memanggilku: papa. Tak ada kekuatanku yang lain, aku tak mahir berkelahi apalagi membunuh.Aku tahu benar, tidak sedikit dari mereka itu yang telah pernah menghabisi nyawa orang lain. Pada pokoknya mereka sangat anti-komunis dan banyak membunuh orang komunis. Namun aku tak peduli, kini makin jelas padaku Sung berdiri dengan dada turun-naik menahan marah. Tapi ia benar-benar memandangiku, dan aku balas menatapnya dengan airmuka yang sungguh mengharapkannya mengurungkan niat berkelahi. Batinku berseru: tak boleh berkelahi, tak boleh memukul orang. Beberapa kali kukatakan, lihatlah aku, papamu, Sung! Mari kenbali ke tempat kita segera...

Rombongan Sung kini berhenti. Di hadapannya rombongan Asia-Afrika menanti, siap dengan pedang parang dan pentungan besi. Orang makin ramai berdatangan, menonton. Juga muncul kepala asrama Monsieur Sylvain dan guru bahasa Prancisku, Madame Marie-Paule.

Akhirnya bentrokan dapat dicegah, suhu kemarahan dan semangat perang turun. Rombongan Sung kembali, sementara pimpinan asrama sibuk dengan berbagai upaya pencegahan. Dan beberapa minggu setelah peristiwa itu, aku diminta menjabat sebagai kepala gedung. Apakah ada hubungannya? Boleh jadi aku dituakan di antara mereka, dianggap tua, papa.

Dan setiap pagi aku berolah-raga Taichi-quan, itupun mereka tahu.Tapi ini semua tak ada sangkut-pautnya dengan kejawaraan, kependekaran.Walau pada suatu waktu pernah datang padaku beberapa pemuda Indo-China memohon belajar silat, bela diri. Kukatakan aku tak mengerti bela-diri, tidak paham teknis berkelahi. Semakin kukatakan begitu, mereka makin getol membujukku agar bersedia menurunkan ilmuku kepada mereka. Ini sungguh lucu. Memang dulu pernah kubaca tentang seorang guru silat yang tersohor; karena sukarnya ia memperoleh ilmu itu, ia menjadi sangat rendah hati, dan sangat tak gampang mengajari orang lain. Barangkali dengan dasar inilah, para pemuda tersebut datang padaku. Padahal Taichi-quan sama sekali hanya untuk kesehatan, untuk peredaran darah. Ada ratusan jurus banyaknya, mungkin ribuan, namun Taichi-quan yang kukuasai hanyalah 22 - 44 dan 88 gerakan saja,itu ke itu saja. Dan mungkin pula, para pengurus asrama kami terpengaruh akan hal-hal begini, ditambah dengan upayaku mencegah bentrokan tersebut.

Begitulah semuanya, aku menjadi kepala gedung. Pekerjaan yang justru kubenci dan kutakuti.

Madame Barret dan Monsieur Sylvain memperkenalkan aku kepada semua penghuni setiap gedung di asrama itu. Madame Barret juga mengajariku bagaimana memecahkan kotak kaca berisi tanda alarm, kalau kebakaran terjadi.

Dia akan membangunkan seluruh penghuni.

Bila terjadi perkelahian, aku wajib melapor segera kepada Monsieur Sylvain yang tinggal di seberang gedung kami. Atau menelepon polisi. Hal sama harus kulakukan, bila terjadi perampokan. Namun bangunan lain di seberang, tempat tinggal para pekerja muda Prancis tersebut, bukan menjadi tanggung-jawabku. Mereka punya administrasi dan bagian keamanan sendiri.

Dari hari ke hari, jantungku berdebar saja. Berharap selalu, agar janganlah ada perkelahian. Atau bentuk kekerasan apapun. Heeh.... kepala gedung! Cuma punya kewajiban semata, lainnya zero besar. Tak ada tambahan material, tapi punya segudang kerja dan tanggung-jawab moril. Belum lagi beberapa penuda dari berbagai kota lainnya di Perancis ini, yang bukannya aku tak tahu, menaksir kedua putriku. Bila ada yang bertamu lebih dari pukul 24.00, segera kuminta ia kembali ke kamarnya. Walau ia cuma duduk mengobrol di rungan umum bersama putriku. Kutahu pula, tak seorang dua yang kesal padaku. Namun aku tak peduli, apa yang tak pantas, tak baik, harus kucegah sebelum terlanjur. Orang pun dapat berkelahi karena soal cewek...

Akibat jabatan baru ini, tak ada lagi ketentraman di hatiku. Senantiasa dihantui kecemasan. Takut kalau-kalau ada orang berkelahi, kuatir bila ada pertengkaran antar kelompok. Bila ada orang berbicara dengan suara sedikit keras saja, atau melengking, aku sudah bergegas melihat

apa yang terjadi. Aku siap apa yang harus kulakukan se41 baiknya, termasuk bila ada orang-tua ikut campur karena anak-anak mereka bertengkar. Karena itu mendengar anak kecil menjerit saja, aku sudah berdebar, ada apa lagi. Hidupku sesehari kini menjadi tak nyaman, selalu was-was. Ibarat syaraf awak dibuatnya. Terkadang aku mengumpat dalam hati: Sialan Madame Barret dan Monsieur Sylvain itu! Ini juga karena pengaruh guru bahasa Prancisku, Madame Marie-Paule.

Suatu senja musim panas. Hari masih terang kendati jam telah berdentang 9 kali. Aku duduk di kamarku, melamun bagaimana masa depanku nanti. Hendak ke mana dan akan bekerja apa? Daftar isian mencari kerja sudah lengkap kuisi, juga pertanyaan hendak bekerja di manakah, bila tak ada lowongan di Prancis. Ada pula lampiran riwayat hidup yang mesti kusertakan. Riwayat hidup pulak...! Untuk apa gerangan? Sekarang dan pada detik inipun aku sedang menjalani riwayat hidup. Sebagai kepala gedung! Yang acap senewen, gelisah, resah. Aku tengah asyik, manakala mendadak terdengar jertan keras dan hebat. Sangat menyakitkan, terasa. Suara wanita. Bergegas aku melompat, menerobos pintu kamarku, di lantai dua. Orang-orang mulai menongolkan kepalanya mencari arah suara jeritan itu, tapi tak satupun beringsut keluar kamarnya. Jeritan itu makin memilukan, ditingkahi pula dengan tangis an anakanak. Nah, itulah dia. Kamar Tuan Lin, asal Laos, teman sekelasku. Kuketuk pintu, namun tak dibuka. Kugedor keras, juga tak bersambut. Dikunci dari dalam.

Kukerahkan semua tenagaku. Kuundurkan badan, lalu dengan sekuatnya aku menerpa dan menubruk daun pintu.

Papan daun pintu terdengar patah. Lalu terbuka. Dan apa yang kulihat? Tuan Lin tengah mencekik istrinya persis di bawah urat nadi besarnya. Seperti kilat aku cepat menangkap tangan Tuan Lin, lalu mengibaskannya sekuat-kuatnya. Mungkin lebih dahsyat dibanding ketika Tuan Sung mengibaskanku dulu. Sebab kulihat Tuan Lin terlempar ke dekat lemari pakaiannya. Kuhela istrinya ke tempat tidur, sementara kedua anaknya Tia berumur sembilan, dan Keong yang masih enam tahun itu, terus saja menangis melihati ibunya.

"Apa yang Anda lakukan ini, Tuan Lin?" sergahku marah. Dia diam saja.

"Ingat, Anda kan sudah hidup di negeri lain bukan seperti dulu lagi. Ingatlah anak-anak Tuan. Dia kan juga istri Tuan...", kataku sambil menunjuk ke tempat tidur mereka. "Sekali-kali tak boleh menyakiti orang, istri sendiri lagi! Tinggalkan cara hidup lama itu! Lihat saya! Ini papamu, Tuan Lin!"

Lelaki itu memandang padaku. Kesempatan itu kugunakan sambil menatap tajam di tentang kedua matanya, di atas alur hidungnya. Kubagi fokus kedua mata itu, agar is melihat satu fokus mataku. Agar ia paham, aku marah besar atas polahnya. Tak ada rasa takutku sekarang. Yang ada cuma rasa tanggung-jawab. Cekikan Tuan Lin bukan biasa, itu bisa membunuh. Betapa pilunya kedua bocah anaknya harus menyaksikan penganiayaan sang bapak terhadap ibu mereka. Tersiksanya jiwa anak-anak itu.

Kuingat ketika Tuan Lin berkisah padaku tentang ketaku43 tannya waktu dikejar keluarga orang-orang komunis yang telah dibunuhnya.

"Kalau mereka mencari hingga Prancis, apa harus kubuat?" begitu keluh Tuan Lin dalam bahasa Prancis kami yang masih seperti tusukan sate.

Malam itu juga,Tuan Lin kubawa ke ruman Monsieur Sylvain dan ia menginap sementara di sana. Namun menjelang pukul 5.00 pagi, Tia anaknya yang sulung mengetuk pintu kamarku; ia menangis mengatakan ibunya sakit keras. Aku cepat datang.

Ya, Allah, Istri Tuan Lin muntah darah. Ia pucat pasi. Sigap kuhubungi ambulans, dan Nyonya Lin dirawat di rumah sakit. Sekarang aku kembali ketakutan. Sekiranya Nyonya Lin... seandainya... mati, lantas bagaimana? Betapa tragisnya. Dua anak mereka? Oh nasibku, ketika menjabat kepala gedung, ada istri mati dicekik suaminya. Buruknya riwayat hidupku! Ah, persetanlah dengan semua perasaan tersebut. Aku ingin dan berdoa sesungguh hati agar wanita malang itu segera sembuh, dan dapat berkumpul sejahtera bersama suami dan anak-anaknya. Tiap siang dan petang aku datang menjenguk nyonya Lin, kedua anaknya kubawa serta. Juga beberapa kawan mereka sekampung yang ada di gedung Indo-China, ikut menilik nyonya Lin. Tapi Tuan Lin sendiri masih belum tampak juga. Ia sudah menjadi urusan direktris dan Badan Sosial, termasuk bagian keagamaan. Pihak kepolisian pun sudah diberi tahu.

Lure, tempat kami tinggal ini, adalah kota kecil. Kendaraan umum tak ada, sehingga hampir semua penduduk kota tersebut meniliki kendaraan pribadi. Bagi kami para pelarian politik atau pelarian ekonomi tersebut, tak ada pilihan lain kecuali jalan kaki ke mana pun dalam kota itu, termasuk ke numah sakit tentunya. Namun aku rasa senang, karena ada olahraga sembari menikmati pemandangan hijau dan bunga-bunga mekar indah.

Nyonya Lin mulai pulih, dan aku tidak sekuatir seperti dulu lagi. Wanita itu sudah bisa duduk, dan sedikit berjalanjalan di dalam sal. Setelah sepuluh hari, ia diperkenankan pulang, dan meneruskan rawatannya dengan berobat jalan. Sebab disamping kerusakan syaraf dan nadi-besarnya, Nyonya Lin masih merasa mentalnya tertekan akibat peristiwa tersebut.

Saat Nyonya Lin pulang, para keluarga di ge dung IndoChina menyambutnya hangat, ada dari Muangthai, Laos, Vietnam dan Indonesia. Tuan Lin juga ada, namun ia menjauh saja dari istrinya. Sesekali ia kuhampiri, kuajak bicara agar is tak merasa kami musuhi, yang tak suka tatacara hidupnya yang lama.

Malam lalu menjelang, aku kembali merenung di kamarku. Berapa lama lagikah hidupku secara begini? Ingin benar aku bebas dari semua beban tak keruan tadi, rasa was-was, tegang dan siaga terus-menerus.

Aku tak mau tersiksa begini.. Tetapi wahai nasib, esok harinya sebuah telegram sampai untukku. Dari Paris, dari kawanku Markam. Ia memintaku segera ke Paris, karena sebuah tugas penting telah menantiku. Sebuah restoran

Indonesia yang kami rancang sejak lama, akan segera jadi kenyataan. Duh, suka-citanya aku!

Dengan telegram berbahasa Prancis itu, aku menghadap direktris Madame Barret, hendak memohon diri. Ia nyata berat melepaskanku, tapi iapun tak dapat memberi kerja padaku. Sebelum kutinggalkan kota Lure, kusempatkan pamit pada keluarga Lin. Lelaki itu sudah berkumpul kembali dengan istri dan kedua anaknya, dan ini melegakan hatiku benar.

Syukurlah, semoga sejahtera mereka, dan Tuan Lin bertobat, begitu nasihat agama. Beserta kedua putriku, aku menuju ke Paris.

Paris Juni 1982

Papa... déjà sortie !

Sekali ini aku belum menceritakan bagaimana riwayatnya maka aku menjadi tukang tusuk-jarum. Lebih singkat dan enak didengar, sebagai akupungturis. Dari ratusan mungkin ribuan kasus, ada dua kasus yang hendak kuceritakan.

Awal tahun 80-an kami tinggal di sebuah kota kecil di Prancis bagian Timur, Lure namanya. Kota ini sangat indah, kota bunga. Bila musim semi tiba bermekaranlah segala rupa bunga aneka puspita, terlebih-lebih bunga mawar. Terkadang..bunga mawar menyelimuti gedung indah, rumah-rumah yang bagaikan bungalow. Hanya jendelanya saja tersembul mengintip, lainnya diselimuti bunga. Kalau kita berjalan di dekat atau sekitar situ, akan tercium bau hunga yang semerbak harum. Umur tua dengan semangat remaja, terkadang bertanya pada diri sendiri. Apakah di tengah jendela itu benar-benar wajah seorang gadis? Atau tipuan saja, karena bunga bunga itu membentuk seperti orang? Bunga hidup atau bunga benar-benar bunga? Atau putuskan saja, bunga hidup yang dihiasi bunga tetumbuhan, begitu cantiknya gadis-gadis Lure!

Kami dipusatkan di gedung yang terbagi dua. Penghuni yang berasal dari Asia dan Afrika, dan yang lainnya berasal dari Indocina, termasuk Indonesia. Pekerjaanku seharihari, pagi belajar bahasa Prancis, sesudah makan siang, praktek tusukjarum, pijat, pokoknya kesehatan. Pasienku cukup banyak. Puluhan orang dengan berbagai penyakit. Karena kami itu di tengah orang-orang miskin, dari "orang perahu/boat people" dan kaum pengungsi lainnya, maka rasanya tak manusiawi kalau aku meminta bayaran sesudah mengobati orang. Bukankah semua penghuni asrama itu juga seperti aku, sama-sama penganggur? Sama-lama senasib.

Nah, dari mulut ke mulut pasien yang sembuh atau yang merasa ada kemajuan karena tusuk-jarum dan pijat itu, lalu menyebarlah kabar ini.

Yah, semua penghuni asrama itu memanggilku "papa". Baik anak kecil maupun orang dewasa, bahkan nenek-nenek yang sudah tua-renta juga memanggilku "papa". Jadi bila ada orang menanyakan papa dimana, karena ada orang perlu berobat, maka pastilah semua orang tahu, aku dicari pasien.

Sebenarnya dalam hati ini ada suatu harapan. Benar, kalau penghuni asrama di sekitar itu saja,

sama-sama penganggur, sama-sama miskin, oke-lah gratis, tak usah bayar. Tetapi bila hari Sabtu dan Minggu banyak sekali pasien berdatangan dari kota kota lain. Seperti dari Vesoul, Mulhouse, Saint-Louis dekat perbatasan Swiss itu. Mereka kebanyakan orang-orang dari Asia yang sudah menetap, yang sudah mapan, bahkan sudah menjadi warganegara Perancis. Sudah kaya, sudah mewah hidupnya, tapi juga tidak membayar. Ini gara-gara sebaran dari mulut ke mulut, "Papa itu orangnya baik, gratis berobat kepadanya".

Dalam hati ini, ya memang gratis sih gratis, tapi kalau bukan dari golongan kami yang sama-sama pengangguran dan kaum pengungsi ini, yah, kalau bayar sih memang lebih simpatik. Tapi harapan itu hanya dalam hati kecil saja. Kalau ditelusuri, ternyata aku ini, si akupungturis ini tidak sebersih seperti bayangan mereka! Masih juga mengharapkan uang. Maklumlah hidup kaum penganggur, butuh barang tapi tak ada uang.

Ketika kejadian itu, aku sudah berpraktek lebih dari sepuluh tahun. Karena aku mulai praktek tusuk-jarum itu ketika awal tahun 1970.

Malam-malam datang si Savath, kawan sekelas ku. Dia ini anak muda, keluarga muda. Anaknya, seorang putri baru berumur satu tahun. Istrinya buta-huruf, tapi juga sekelas dengan kami, walaupun sangat jarang masuk. Savath berasal dari Laos, tapi lama di Muangthai. Dulu kerjanya sopir truk. Banyak mengelana di Indocina, dan maklumlah sopir truk antara negara. Banyak persinggahan, banyak pelabuhan, bagaikan kelasi. Di mana kapal berlabuh, di sanalah membenamkan diri dengan segala kenikmatan lahir batin. Sama juga, di mana truk berhenti di situlah Savath jadi kelasi yang haus daratan. Maka kedatangannya dapat kupahami.

Dia datang berdua dengan temannya, juga teman sekelas kami. Kami sama-sama baru mulai belajar bahasa Perancis. Jadi kami lebih mengerti bahasa yang sama-sama

kami ucapkan, daripada orang Prancis sendiri. Orang Prancis mungkin ketika itu tak ’kan mengerti kalau menden49 gar kami berbahasa Prancis. Tapi antara kami lancar saja berbahasa Prancis, walaupun orang Prancis saja mungkin tak mengerti.

"Papa, tolonglah saya. Obatilah saya.Betul-betul saya harapkan papa mau mengobati saya."

Ketika kukatakan padanya, bagaimana kalau aku memanggil Yophine, gadis Laos yang bisa berbahasa Inggris itu. Agar Yophine menterjemahkan agak detail agar aku tahu benar riwayat penyakitnya. Tawaranku ini segera saja ditolaknya mentah-mentah dan keras sekali. Akhirnya barulah kutahu, tentu saja dia menolak keras, setelah dia membukakan penyakit yang sebenarnya.

Ketika aku meminta dia memperlihatkan penyakitnya itu, maka dia segera membuka celananya, dan celana dalamnya. Kepala kemaluannya itu dikelilingi bintik-bintik merah. Dan ada sedikit tanda kebasahan. Ini menandakan tahap loncatan, dari tahap satu ke tahap dua, atau selanjutnya. Ini sangat berbahaya bagi dirinya dan juga bagi orang lain, bagi keluarganya.

Lalu aku teringat anaknya yang baru berumur satu tahun itu. Kutanyakan kapan dia mendapat penyakit itu. Katanya sesudah dia punya anak itu. Kalau begitu penyakit ini baru saja, belum setahun ini.

"Savath, kau tahu, tusuk-jarum hanya untuk mengobati yang bersifat syaraf. Penyakit kurang-tidur, lumpuh, sakit kepala, takut-takut, tidak-tenang dan lain-lain. Tidak bisa untuk mengobati yang asalnya karena bakteri. Kau tahu penyakitmu itu penyakit apa?"

"Saya tahu papa. Tapi saya tak berani ke rumah-sakit."

"Saya akan membantumu, Savath,saya pasti menemanimu. Sampai ke rumah-sakit pun kau akan saya temani, percayalah."

Dia menolak untuk ke rumah-sakit. Tetapi ketika itu aku merasa punya keberanian yang berlipat ganda. Demi untuk keselamatan dirinya dan keluarganya, dan juga demi untuk keselamatan orang lain, aku harus segera melaporkan keadaan ini kepada Kepala Barisan Asrama kami. Ini "Vietnamrose” bukan main-main, sipilis yang sangat berbahaya.

Dua hari sesudah itu Savath diopname di kota kecil kami, Lure. Mula-mula dia marah sekali padaku, dan juga ada beberapa kenalannya yang marah padaku, mengapa membuka rahasia mereka. Padahal tadinya pejabat dan petugas kesehatan pun mereka kibuli demi bisa masuk Prancis. Kini tiba-tiba ketahuan oleh si "Papa", tukang tusuk-jarum itu. Tetapi di balik suara kontra selalu ada suara pro. Lebih banyak yang bersukur, borok sudah tampak. Pembersihan semula akan dimulai, ini tanda baik. Petugas kesehatan pertama kebobolan, kini semua borok akan dibongkar garagara si papa.

Tapi dua tahun sesudah itu, aku bertemu kembali dengan Savath. Dia memelukku erat-erat. Dengan gembira dia mengatakan istrinya hamil lagi. Aku terhenyak, tapi dia tahu rupanya.

"Papa jangan kuatir. Dokter bilang, saya betul-betul sudah sembuh. Saya masih bisa punya keturunan lagi."

Sukurlah ketika itu segera dapat kuketahui apa penyakitnya. Kalau tidak, entah apa kejadiannya untuk keluarganya dan untuk orang lain.

Pada waktu bersamaan minggu-minggu ketika Savath datang itu, ada lagi pasien baru. Dia ini seorang wanita muda, juga sudah berkeluarga. Anaknya dua. Satu laki-laki umur 4 tahun, dan adiknya wanita umur 2 tahun, namanya Rani. Kenapa Rani amat kami kenal? Karena Rani ini cantik sekali, dan selalu tertawa. Matanya hitam, bulu matanya tebal. Badannya gempal, lucu sekali. Setiap kami melihatnya selalu saja memancing kami untuk menangkap dan memeluknya, menggendongnya. Dia suka datang ke kamar anak-anakku. Anak-anakku suka sekali pada Rani. Karena anak-anakku ini memanggilku Papa, maka semua orang memanggil papa, termasuk nenek Tuk yang sudah berumur 68 tahun itu, dan kakek Lin yang lumpuh yang sudah berumur 70 tahun.

Ibu Rani datang ditemani anakku. Rupanya dia melalui anakku dulu, barulah datang kepadaku. Aku maklum. Seorang wanita tentulah akan dapat mencurahkan perasaannya kepada wanita lain daripada kepada seorang pria yang belum dikenalnya. Lebih mudah bagiku, karena anakku sendiri membantu menceritakan penyakitnya. Mengapa dia datang ke anakku? Ketika aku berpraktek dan ketika pasien ramai maka anakku membantu mengukur darah, tensi, menghitung denyut jantung dan mencatat sesuatu. Kami punya buku tentang si sakit, penyakit apa, kapan mulai ditusuk, kapan harus berhenti,dan lengkap dengan data penyakitnya. Karena ibu Rani tahu pekerjaan kami, dan pekerjaan anakku, maka dia menceritakan semua penyakit itu kepada Wani, anakku itu.

"Jadi sudah berapa lama tidak mens?"

"Dengan bulan ini sudah bulan ke empat."

"Apa dokter sudah memberi obat?"

"Sudah papa, tapi sampai sekarang tetap saja belum mens, padahal sudah diperiksa betul-betul dan bukannya karena hamil. Agak sakit sebelah kiri."

"Baiklah, tapi hari ini belum saya obati. Dua tiga hari inilah."

Rumah ibu Rani di tingkat empat, kami di tingkat dua. Jadi satu gedung saja, gampang kalau perlu seketika. Hari pertama ibu Rani datang ini, menjadikan aku lama berpikir. Sungguh banyak penyakit yang aku tak tahu, tak paham, tetapi semua orang itu mengharapkan aku mengobatinya. Ini kepercayaan. Kepercayaan itu sungguh mulia dan mahal. Kalau orang sudah percaya kepada kita, maka kita harus dengan sungguh-sungguh membantunya. Tetapi setelah belasan tahun aku berpraktek tusuk-jarum, belum ada kasus seperti ini. Benar, dulu pasien yang aku obati, pada pokoknya lebih 80% sembuh. Tetapi penyakitnya juga tidak banyak yang aneh-aneh. Penyakit yang umum, sulit tidur, migrain, sakit-kepala, beser sering kencing malam, batuk menahun, ayanan (epilepsia), impoten, lumpuh dan lain-lain. Tapi ini berhubungan dengan penyakit wanita.

Lalu aku teringat almarhum istriku. Dia dulu ginekolog. Kalau dia masih hidup tentulah dia bisa banyak membantu. Penyakit yang kuhadapi ini adalah urusannya sehari-hari ketika dia masih hidup. Kini aku harus mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada ibu Rani ini. Sungguh-sungguh dia percaya padaku bisa mengobatinya. Belum pernah menemui kasus ini sebelumnya. Tapi itulah tantangan.

Sebenarnya yang kukatakan kepada ibu Rani, tunggu duatiga hari ini, hanyalah mencari dan mencuri waktu. Aku harus melihat buku-buku tentang penyakit itu. Mengobatinya secara tusuk-jarum, pijat. Dan mencari bahan dari buku-buku peninggalan istriku. Semua bahan itu memang aku bawa kemana-mana. Tapi harus kubongkar dulu dari koper. Harus kupelajari dulu.

Dua hari itu aku memang banyak menghabiskan waktu untuk mencari bahan-bahan itu. Mencari titik-temu anatomis. Peranakan, kandung telur, vagina yang bergeser akibat banyak gerak tiba-tiba , loncatan dan jatuh yang shock secara mendadak. Semua yang mungkin akibat itu.

Hari yang kujanjikan tiba. Aku minta ditemani anakku dan suaminya. Pengalaman belasan tahun.tusuk-jarum ini, aku sudah biasa menusuk pasien wanita. Tetapi titik-tusuk itu selalu di tangan, kaki, dan paling-paling hingga paha, seperti istri seorang kepala polisi di Saint-Loup itu dulu. Tetapi ini titik-tusuk itu menyangkut yang paling terlarang dan vital. Aku belum punya pengalaman ketika itu.

Dalam hati aku benar-benar berdoa kepada Tuhan. Tolonglah aku, dan lebih-lebih tolonglah ibu Rani itu. Hatiku bersih membantunya. Akan kupejam mataku, akan kututup telingaku, akan kupasung perasaanku dari kobaran vulgaire. Ini tugas kemanusiaan. Seandainya pun perasaan itu kembali lagi, karma aku ini manusia biasa, yang sama sekali tidak suci, maka penjara mata, penjara hati, penjara telinga, hanyalah saat-saat mengabdi kemanusiaan itu. Kukira aku bisa, mengapa tidak.

Ketika aku sama-sekali tidak menyandang tugas tusukjarum, dapatkah kau nemenjarakan telinga, mata dan hatimu? Yang padahal ibu Rani itu wanita muda, wanita Thailand lagi! Anaknya Rani begitu cantik, dari mana asalnya? Dari ibunya! Suaminya ganteng.

Sekali dua kali, tiga kali aku minta ditemani suaminya terus. Tapi suaminya ini lama-lama bosan juga, lalu bilang padaku:

"Sudahlah papa. Papa sendirilah. Tokh papa itu dokter."

Titik itu namanya Guan Yuan, ini titik fokus untuk penyakit itu. Titik ini kukenal baik. Tapi pasienku pria semua ketika itu. Titik ini untuk mengobati tidak teratur haidh, impoten, beser sering kencing, atau justru karena tidak bisa kencing. Lalu Guan Yuan ini kupadukan dengan titik lainnya yang merangsang agar darah kotor keluar. Ketika ada suaminya, kukatakan pada ibu Rani, dapatkah selama pengobatan itu tak usah dulu berhubungan badan. Ibu Rani tertawa menghadap suaminya.

"Ya, tentu saja dapat, papa", sambil memandang suaminya.

Masa pertama, atau tahap pertama pengobatan tusuk55 jarum, antara lima sampai tujuh hari. Sudah itu berhenti, istirahat dua atau lima hari. Lalu mulai lagi. Tahap pertama selesai. Kutanyakan pada ibu Rani, apakah ada perubahan. Katanya ada perubahan, dulu sakit sebelah kiri, kini tidak lagi. Dulu kencing tidak lancar, kini agak lancar.

Aku menanyakan, apakah dia masih bersedia ditusuk dan tambahan pijat. Dia mengatakan sangat gembira, hanya mau berobat kepada papa saja, sudah malas ke dokter.

Kau yang membaca cerita ini tentu ketawa, atau mungkin mentertawakan daku. Tapi kukatakan dengan jujur, aku benar-benar mengharapkan agar Tuhan membantu dan membantu ibu Rani. Aku dibebani kepercayaan yang begitu berat. Beban dan tugas itu harus kupikul. Tanggungjawab kemanusiaan.

Tahap kedua. Suami ibu Rani tak lagi bersedia menemani dan anakku pun kulepas sendiri untuk mengerjakan pekerjaan lain bagi pasien kami yang setiap Sabtu dan Minggu puluhan orang menanti giliran berobat.

Titik-temu Guan Yuan masih tetap kugunakan, dengan perpaduan titik lainnya. Titik-pijat ini tiga jari dari tulangkemaluan sebelah atas. Kemudian titik-pijat perut peranakan dan kandung-telur kiri dan kanan. Tahap kedua ini menjadikan ibu Rani kelihatan sehat. Mukanya selalu merah dan airmukanya selalu berseri-seri. Banyak senyum seperti anaknya Rani kecil yang lucu itu. Sebenarnya yang paling gembira adalah aku, si papa tua ini. Dan kegembiraan itu melonjak tinggi ketika tahap kedua habis.

Dari tingkat empat kedengaran sandal ibu Rani turun ke bawah, ke tingkat dua kami, bergegas dan memanggilku keras sekali:

"Papa! ...Papa!....Papa!... déjà sortie...!"

Aku mendengar jelas suara itu. Hatiku dag-dig-dug keras sekali. Perkataan sortie hanya diketahui oleh kami saja. Sortie artinya keluar, déjà artinya sudah. Jadi "sudah keluarlah" yang ditunggu-tunggu itu.

Bukan main gembiranya ibu Rani. Aku tak tahu, siapa yang paling gembira, ibu Rani atau aku. Tapi dalam kegembiraanku ada rem yang menahan, agar jangan sombong, agar rendah hati. Siapa tahu bukan karena tusuk-jarumku, bukan karena pijatku. Siapa tahu memang sudah waktunya untuk keluar. Dan kalaupun karena tusuk-jarumku, pijatku, itu berkat doaku yang tulus, berkat permintaanku bagi orang lain. Kata orang, doa untuk orang lain selalu lebih baik daripada untuk diri sendiri. Tetapi baiklah, jeritan kegembiraan ibu Rani sangat berkesan di hati ini. Betapa akan bahagianya aku apa bila dapat lagi menggembirakan dan menyenangkan orang lain, semogalah hendaknya.

Paris, 15 Januari 1990