Ada indikasi, oknum Kopassus
Nterlibat penculikan para
aktivis. Bagaimana modus
operandi dan apa motif yang
melatarbelakanginya?
OKNUM ABRI terlibat penculikan dan peng- hilangan para aktivis. Dua bulan lalu, berita seperti ini akan menggegerkan publik. Tapi tidak di era reformasi ini. Karena sudah nyaris jadi pengetahuan -atau persisnya, desas desus
- umum bahwa rangkaian kasus penculikan, penembakan Trisakti dan bahkan kerusuhan 13-14 Mei, 'didalangi' oknum ABRI. Apalagi, pengakuan para korban penculikan yang didata tim Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras), hampir seluruhnya menunjuk pada kemungkinan keterlibatan oknum-oknum militer. Indikasi itu diperoleh dari modus operandi penculikan, informasi yang diminta, sampai ke cara-cara penyiksaan di luar batas kemanusia- an yang dipakai untuk mengorek keterangan. Namun pengakuan itu diucapkan sendiri oleh Menhankam/Pangab Jenderal Wiranto, Senin lalu (29/6). Tiga hari kemudian, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Hankam/- ABRI Mayjen Syamsul Maa'rif merincikan- nya. Ada sekitar 40 saksi yang sudah diperiksa Tim Pencari Fakta (TPF) ABRI- di antaranya ada sejumlah oknum perwira ABRI. Dengan demikian jelas sudah, ada ta- dari tiga kasus besar yang memicu kejatuhan Orde Baru itu. Sebab, kasus penembakan mahasiswa Trisakti saat ini tengah disidangkan, dengan sejumlah terdakwa yang seluruhnya berasal dari ABRI. Kini, publik menanti, ąkan- kah pengakuan' serupa muncul dalam kaitan kerusuhan 13-14 Mei yang meminta ratusan korban jiwa itu. Mei lalu, ketika menerima jajaran pimpinan ABRI, Presiden BJ Habibie sudah menginstruksikan agar Wiranto meng- usut adanya kelompok terorganisir yang di- duga menyulut aksi keji itu. Habibie juga meminta masyarakat bersabar, karena pengusut- an ketiga kasus itu terkait dengan proses kon- solidasi internal di ABRI. Hanya saja, baik Wiranto maupun ketua DEMO ANTI PENCULIKAN. Kemungkinan keterlibatan oknum-oknum militer akhirnya diakui sendiri oleh pimpinan ABRI.
TPF yang juga komandan Pusat Polisi Militer (Puspom) ABRI Mayjen Samsu Djalal, tak merincikan nama, pangkat dan asal kesatuan para oknum tersangka pelaku penculikan itu. Namun, spekulasi sudah kadung marak, yang mengaitkan mutasi sejumlah jenderal Ang- katan Darat (lihat : Lain Benny, Lain Prabowo), dengan asal kesatuan para tersangka pelaku itu. Dua jenderal yang pertama-tama di- ganti sehari setelah Soeharto lengser pada 21 Mei lalu adalah Letjen Prabowo Subianto dan Mayjen Muchdi PR. Prabowo adalah Pang- kostrad, sedang Muchdi adalah Danjen Kopassus. Tapi benarkah oknum Kopassus terlibat aksi penculikan itu? Keterangan sejumlah korban penculikan yang dihimpun Kontras, indikasi ke arah itu memang ada. Kesaksian Andi Arief, ketua umum SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia Untuk Demokrasi), mi- salnya. Anak muda lulusan Fakultas Filsafat UGM itu, diciduk saat menjaga ruko milik kakaknya di Bandarlampung, pada tanggal 28 Maret sekitar pukul 10.30. Sepanjang per- jalanan melintas laut dari Bakauheni sampai Merak, para penculiknya saling bercerita bahwa mereka baru saja kembali dari tugas di
PRABOWO DAN PASUKAN KOPASSUS. Sumber
intelijen AS melaporkan adanya keterlibatan satuan elite AD yang pernah dilatih di AS.
Tim-Tim dan bahwa sang komandan baru saja pulang dari Inggris. Keterangan serupa, juga datang dari Pius Lustrilanang, aktivis Aliansi Demokrasi Rak- yat (Aldera) dan Desmond J Mahesa, direktur Lembaga Bantuan Hukum Nusantara (LBHN) - yang diculik sebelumnya. Semasa di tahanan, mereka mendapat kesan bahwa para penculik itu terdidik' Ada di antaranya, yang juga bercerita baru kembali dari Inggris. Mengapa Inggris? Pada tahun 1996 silam, semasa masih menjadi Danjen Kopassus, Prabowo memprakarsai kerjasama antara satuan elite baret merah itu dengan University of Hull, di kawasan utara Inggris. Dalam proyek yang didanai bantuan militer Inggris itu, para perwira Kopassus mengikuti program pen- didikan setara S-2 di Pusat Kajian Indonesia di universitas yang meluluskan Amalia Yani ( puteri alm. Jend. Ahmad Yani) itu. Data di Ke- menterian Luar Negeri Inggris menunjukkan, dari 10 orang perwira yang dikirim pada tahun 1997 lalu, 7 orang di antaranya berasal
DAGTRI
ngan-tangan' militer di balik terjadinya dua
KOPASSUS TER
MORE
KIDNAPPING
RLIBAT PENCULIKAN?
dari Kopassus. rat Indonesia yang pernah dilatih di Amerika pai-sampai si petugas kapal mendatangkan Prabowo, memang diketahui punya hu-Serikat. Sejumlah perwira Kopassus-terma-aparat polisi militer setempat. Sumber-sum- bungan dekat dengan elite militer di negeri suk Prabowo – memang pernah mendapat ber lainnya, bahkan lebih spesifik lagi. Unit Ratu Elizabeth itu. Masih semasa ia mengo-latihan militer di satuan khusus green berets Kopassus yang terlibat adalah Grup 4 (Sandi, mandani Kopassus, kabarnya, suami Titik yang terkenal itu. Yudha) yang dikenal juga dengan sebutan Soeharto itu berniat membeli sejumlah tank Bahkan, kabarnya, pihak TPF sejatinya Grup Mawar. Dua orang perwira menengah tempur dari Inggris via Yordania (awal Mei juga sudah mengendus kemungkinan itu. dari grup ini, konon, termasuk mereka yang lalu ia diketahui berkunjung ke Yordania). Sumber Tajuk, misalnya, menceritakan se-kini diperiksa TPF itu. Kopassus yang di-Konon, rencana itu dilakukan tanpa sepenge-jumlah kecerobohan pelaku operasi itu, yang mekarkan semasa kepemimpinan Prabowo, tahuan Wiranto, yang ketika itu menjadi akhirnya menerbitkan kecurigaan aparat kea-memiliki 5 grup. Grup I, II dan II bermarkas KSAD, namun disetujui oleh Pangab (waktu manan lainnya. Misalnya, pada kasus pencu-masing-masing di Serang, Ja-Bar, Surakarta, itu) Feisal Tanjung. Tak jelas, apakah rencana likan Andi Arief. Anak muda itu dibawa de-Ja-Teng dan Batujajar, Ja-Bar. Sedang Grup IV itu diteruskan setelah Prabowo dipromosikan ngan mata tertutup, di sebuah mobil menuju dan V (dikenal sebagai Grup Anti Teror) ke Pangkostrad. terminal penyeberangan Bakauheni.bermarkas di Cijantung, Jakarta. Sinyalemen serupa, juga dilontarkan ber-Nah ketika sampai di feri, si komandan Meski begitu, tak tertutup kemungkinan bagai media di luar negeri. Harian The Wa- operasi, kabarnya, memaksa petugas kapal bahwa ada satuan-satuan lain yang turut serta shington Post yang mengutip sumber-sumber agar mobil itu diparkir paling depan agar se-dalam operasi itu. Kesaksian Nezar Patria, intelijen militer AS, misalnya, melaporkansampai di Pelabuhan Merak, bisa keluar pa-Mugiyanto dan Aan Rusdianto – ketiganya adanya keterlibatan satuan elite Angkatan Da-ling dahulu. Sempat terjadi adu mulut, sam- aktivis SMID – yang diculik di rumah susun