Baca PDF (OCR): Irian Barat, sekali lagi Irian Barat

21 halaman · 2 halaman diproses dengan OCR · 4.8 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Irian Barat, sekali lagi Irian Barat
  2. Publisher Note
  3. Digitizer Note
  4. Siapa Kesselbrenner?
  5. Kesselbrenner Dalam Basa Indonesia
  6. Sampai Jang Paling Up-to-date
  7. Kesselbrenner Versus Mr. Herman Sihombing

PRAMOEDYA ANANTA TOER

Irian Barat, sekali lagi Irian Barat

dari Harian Rakjat, 2 Februari 1962

Kacabenggala Editions

Publisher Note

This edition does not include a publisher’s note. For this digital restoration, this page is repurposed to acknowledge those whose efforts made its preservation possible.

Artikel ini dapat terbit berkat mas Willy Alfarius.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

“. . . Tinggi diatas sela gunung dan sungai deras nampak djembatangantung kaju. Limapuluh orang dipaksa berdiri di-tengah2 djembatan gujah ini, atas perintah me-lompat2 dan seakan dalam irama tertentu meng-gontjang2kannja dengan risiko: setiap saat menemui adjal. Jang dilakukan ialah pertjobaan luarbiasa untuk mengudji kekuatan djembatan tsb.”

“Ini bukan fantasi. Ini sungguh pernah terdjadi di Irian Barat. Apa guna pertjobaan biadab ini? Ternjata, para pendjadjah Belanda perlu menjeberangkan buldozer melintasi sungai Sermowai.”

Buat menjelamatkan buldozer ini orang2 Irian Barat dipergunakan sebagai binatang pertjobaan. Tidak tanggung2, 50 orang banjaknja, tanpa sesuatu djaminan, tidak pensiun pun tidak pertanggungandjiwa, tidak bintang pun tidak uang belasungkawa.

Pembukaan diatas tidak dari berita Robert Alden untuk korannja “New York Times”, atau lebih tepat bila dikatakan; pembukaan pada bagian pertama buku Gavriil Kesselbrenner IRIAN BARAT, WILAJAH JANG TAK TERPISAHKAN DARI INDONESIA.

Ini adalah salahsatu tjontoh sadja dari kebiadaban Belanda dalam memperlakukan pribumi Irian Barat untuk semurah mungkin dapat keuntungan dari bumi Irian Barat diatas tumpukan majat2 orang Pribumi. Apakah mungkin dengan kebiadaban demikian Belanda benar2 mau “kurniakan hak tentukan nasib sendiri” bagi Pribumi Irian Barat? Sedjarah telah mengadjarkan pada umat manusia, bahwa isi setiap pendjadjahan tidak lain daripada kebinatangan. Tidak mengherankan kalau Kesselbrenner menjatakan dalam bukunja itu djuga:

“Wartawan istimewa suratkabar “New York Times” Robert Alden, jang djadi saksi penghinaan martabat manusia setjara biadab ini, menuturkan dengan enak sadja seakan mengenai soal biasa pada halaman2 suratkabar AS tentang kedjadian tsb. jang sungguh chas bagi rezim kolonial dewasa ini di Irian Barat.”

Bagi mereka jang berprasangka, segera akan menuduh, bagaimana soal Irian Barat telah dipolitikkan sedemikian rupa guna memburukkan Amerika, terutama Belanda, dan dengan sendirinja buat keuntungan pihak lawan Amerika, setidak2nja bukan buat kepentingan Indonesia sendiri. Untuk konsumsi prasangka ini perlu djuga ada antjang2 perkenalan tentang Gavriil Kesselbrenner.

Siapa Kesselbrenner?

Dari namanja segera orang akan menebak , ia seorang Djerman. Mungkin sekali ia seorang keturunan Djerman. Tetapi tepatnja, ia seorang warganegara Uni Sovjet, dilahirkan dan dibesarkan disana, dan mengabdi disana pula buat negaranja.

Aku kenal padanja pada tahun 1958 setelah meninggalkan Konferensi Pengarang A.A. di Tasjkent. Demikianlah pada suatu hari di Moskwa aku menerima undangan dari “Institut Hubungan2 Internasional” untuk bitjara2 dengan paramahasiswa djurusan Indonesia. Undangan itu kuanggap sebagai kehormatan tinggi, pada suatu pagi datang kesana, dan tahu2 telah berada di-tengah2 paramahasiswa djurusan Indonesia. Pada waktu itu aku berkenalan dengannja, seorang berperawakan tinggi, gagah, tapi lebih tepat ramah, suka bitjara, dan nampaknja ditjintai atau lebih tepat disegani mahasiswa2nja. Ia bitjara dalam basa Indonesia dengan lantjarnja dan tanpa tjetjat sekalipun tekanan lidah-asingnja masih terasa. Dari pertjakapan dengannja itu aku berani menarik kesimpulan ia menguasai basa Indonesia, terutama mentjintai Indonsia, tapi selalu meminta maaf akan kekurangannja.

Aku dipersilahkan duduk pada medja dalam apitan Gavriil Kesselbrenner dan Prof. Intojo, jang djuga mendjadi mahaguru pada Institut tsb. Ia membuka bitjara2 itu, tapi karena aku tak tahu apa harus kuperbuat, djadi aku minta agar atjara merupakan tanja djawab sadja. Setelah selesai, ia tundjukkan kemadjuan2 paramahasiswa, sebuah koran dinding jang mengagumkan aktualita2, kemudian kami menjanji ber-sama2 lagu Indonesia. Tapi itu terdjadi pada tahun 1958. Dan samasekali aku tak menduga, bahwa ia telah mempersiapkan bahan2 keilmuan tentang Irian Barat, dan pada waktu ini merupakan satu2nja orang asing didunia ini jang telah lantjarkan kampanje besar didunia internasional setjara ilmiah untuk dimasukannja Irian Barat kedalam kekuasaan Republik (Sosialis) Indonesia.

Demikianlah pada tahun itu djuga (1958) ia telah terbitkan sebuah buku berdjudul ZAPADNI IRIAN GEOTIEMLEMAJA CHASTI INDONESII, jang diumumkan oleh penerbit “Politicheskoi Literaturi,” Moskwa. Memang tidak tebal buku itu, hanja 79 halaman, tapi sekaligus merupakan konsumsi internasional chusus tentang Irian Barat dibawah kebiadaban Belanda. Seperti didjawabkannja sendiri, buku tsb. disusun sehubungan dengan pertanjaan2 jang timbul bertalian dengan masalah Irian Barat, dan berusaha menundjukkan, bahwa prestasi2 kaum pendjadjah atas wilajah Indonesia jang sah itu samasekali tidak beralasan, serta pula mennurutkan perdjuangan pembebasan nasional jang dilakukan oleh Rakjat Indonesia, termasuk penduduk Irian Barat, melawan kaum pendjadjah guna keutuhan tanahairnja. Buku tentang Irian Barat dalam basa Rusia ini, menurut Kesselbrenner, diterbitkannja bagi Rakjat Sovjet, jang dengan penuh simpati mengikuti perdjuangan heroik Rakjat Indonesia melawan kolonialisme. Tapi ini –sekali lagi kuulangi– terjadi ditahun 1958.

Rupa2nja Rakjat Sovjet menghendaki informasi jang lebih luas lagi tentang Irian Barat. Dengan demikian kembali

Gavriil Kesselbrenner pada tahun 1960 menerbitkan IRIAN BARAT dalam sebuah monografi, jang diumumkan oleh Kantor Penerbit Institut Hubungan2 Internasional, djadi oleh Kantor Penerbitan Sekolahnja sendiri.

Dalam pada itu Kesselbrenner dengan rendahhatinja masih djuga merasa perlu menjatakan, bahwa “suatu karja penjelidikan masalah Irian Barat jang lengkap dan jang meliputi segala segi masalah itu masih belum ditulis. Menurut kejakinan saja jang mendalam, pertama2 parasardjana Indonesia sendirilah jang dapat dengan sempurna melaksanakan penjelidikan demikian itu.” Dengan nada lain utjapan sematjam itu pernah djuga dinjatakan oleh Prof. Dr. Wertheim dalam katapengantarnja pada buku Pluvier tentang sedjarah singkat gerakan nasional Indonesia.

Baik harapan Kesselbrenner maupun Wertheim, untuk sementara ini memang masih sulit untuk dapat dipenuhi berhubungan belum adanja Lembaga Dokumentasi Nasional, jang setiap detik dapat dikerahkan untuk penggalian. Di Indonesia memang banjak dokumentasi, tapi belum tersusun dan masih berupakan bahan gubal jang tersimpan dalam gudang tapa seorang stuwadore.

Kesselbrenner Dalam Basa Indonesia

Walau menguasai basa Indonesia dengan sempurna, tapi karena rendahhatinja, ia menghindari untuk menulis dalam basa Indonesia. Dan karena bukunja tsb. merupakan pustaka jang paling baik sampai dewasa ini tentang Irian Barat, mau-takmau Indonesia harus menterdjemahkannja. Demikianlah pada tahun 1961 terbit bukunja dalam basa Indonesia, jang terdjemahannja dikerdjakan oleh Kasjkarov M.J. dan Savtjenkov S.I., dibawah redaksi Intojo dan Karjono. Jang mengumumkan edisi Indonesia adalah Bagian Penerbitan Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra). Edisi Indonesia jang tidak kurang menariknja ini segera disambut oleh publik Indonesia, hanja patut disajangkan kurangnja publikasi tentang buku jang sangat penting ini.

Chusus tentang edisi Indonesia, Kesselbrenner menjatakan adanja bab baru jang ditambahkan, jaitu jang berdjudul “Kaum neo-kolonialisme melakukan gerakan2 siasat” dimana dilakukan pertjobaan untuk membongkar rentjana2 kolonialisme kolektif terhadap Irian barat dengan etikat baru jang bernama “internasionalisasi” daerah tsb.

Dimulai dengan “Belanda Minta Tanah” Buku edisi Indonesia ini dimulai dengan katapengantar, jang segera akan memikat pembatja:

“Menurut tutur Rakjat, salahseorang diantara orang2 Belanda jang paling dulu mendarat di Indonesia minta kepada radja jang berkuasa ditempat itu untuk menjerahkan kepadanja sebidang tanah “seluas kulit kerbat”. Tetapi permintaan ini adalah tipudaja sangat litjing: pada ketika orang asing jang datang tanpa dipinta samasekali itu mendapat idjin jang diinginkan, segera dihadapan radja jang terperandjat ia memotong kulit kerbau djadi djangat tipis dan halus, kemudian menjambung udjung2nja mendjadi satu tali pandjang sekali, jang kemudian dipakaiannja untuk mengukur sebidang tanah jang sangat luas. . . Sedjak waktu itu, untuk menjatakan kerakusan jang tak terbatas, orang Indonesia sering memakai pepatah “Seperti Belanda minta tanah.”

Ternjata bukan hanja pembuka buku ini menarik, tetapi djuga bagian2 jang semestinja kering membosankan pun tetap menarik dalam suatu kesatuan jang harmonik. Pada bagian kedua jang mendjelaskan kedudukan phisik Irian Barat, ia menggambarkannja seperti burung raksas jang sedang mengembangkan sajap, dengan paruh seakan tertekan pada kepulauan Maluku, sedang ekornja pada kepulauan Fidji. Maka diterangkannja kemudian, bahwa sebelum Perang Dunia II Kotabaru (Hollandia) berpenduduk hanja 300 orang, pada tahun 1960 16 ribu djiwa, dengan: tangsi2 esar. Jah, karena penduduk Belanda lebih banjak djumlahnja daripada Pribumi. Ditjeritakannja tentang kota2 di Irian Barat, dan kemudian muntjul persoalan pokok tentang Irian Barat: makna ekonomi jang stratezik bagi AS dan Belanda. Tentang 117 djuta dollar jang ditanamkan untuk minjak, tapi karena aksi2 buruh telah alami kemerosotan produksi.

Dari kiri kekanan : Kesselbrenner, Intojo, Pramoedya Ananta Toer

Dengan tetap manis dan menarik Kesselbrenner kemukakan makna stratezik pulau ini sebagaimana dibuktikan dalam Perang Dunia jl., dengan pelabuhan2 alamnja jang banjak djumlahnja, jang dengan mudah dapat menjembunjikan beratus2 kapalperang. (Teluk Humbeldt, misalnja, sekaligus dapat menampung 50 buah kapal type “Liberty”.)

Segi2 Historik Jang Tak Kurang Menarik

Segi2 historik jang dikemukakannja dalam buku ini memberikan kesan, se-akan2 buku ini ditulis oleh orang Indonesia, di Indonesia, untuk Indonesia dan terutama sekali dalam masa memuntjaknja semangat gerakan membebaskan Irian dewasa ini.

Dan segi2 historik ini dimulainja dengan antjang2 beberapa waktu sebelum Proklamasi dengan mengemukakan pengakuan Mac Arthur, jang ditulis oleh djendralmajor CH. Willoughby, bekas kepala bagian intelligence markas besar Mac Arthur:

“Saja merentjanakan untuk dengan segera madju menjerbu kepulau Djawa bersama dengan kesatuan2 tentara Australia untuk menegakkan kembali administrasi Belanda dibawah pengawasan van Mook, hal mana kiranja dengan tjepat dapat memulihkan kekuasaan hukum dan ketertiban disana, sebagaimana telah terlaksana di Nieuw-Guinea. Berhubung dengan sebab2 jang tidak dapat dimengerti, serangan jang direntjanakan itu telah ditolak mentah2 oleh Washington dengan mengabaikan kejakinan saja akan hasil jang sempurna dengan kerugian2 jang tidak berarti. Ini merupakan salahsatu kesalahan paling besar dalam perang, jang achirnja mendatangkan keadaan katjau jang timbul kemudian diabgian Indonesia ini.”

Dari segi2 historik ini tulisannja berkembang sampai pada dewasa ini, dengan dokumentasi jang kuat baik dari AS, Nederland, negeri2 Asia dan Indonesia sendiri. Dan dengan demikian benang sedjarah itu ditariknja sampai pada tahun2 terachir ini dengan datangnja rombongan opsi AS memeriksa pembangunan pangkalan perang laut jang besar di Sorong guna keperluan Seato (1957), dan tentang rentjana Seato untuk memasukkan Irian Barat kedalam sistim pertahanannja (tentu untuk menghadapi Indonesia). Sampai usaha2 kaum imperialis untuk mem-bawa2 Nato ikut tjampur mempertahankan kekuasaan administratif Belanda di Irian Barat, sebagai ulangan dari rentjana Mac Arthur.

Pembuktian Irian Barat Sebagai Wilajah Indonesia Jang Sah Kesselbrenner membuktikan hak Indonesia atas Irian Barat dengan mengemukakan bukti2 sedjarah sedjak dari karja2 parasardjana Hindu jang menjebut kepulauan Maluku dan Irian dengan istilah “Samudranta”, jang berarti “achir laut”, melalui bukti2 sedjarah djaman Sriwidjaja, jang menamakan Irian “Djanggi”, dan bahwa perutusan Sriwidjaja ke Tiongkok pada tahun 702, 710, diantaranja membawa pelbagai matjam buruh tjenderawasih dari Djanggi, jakni Irian Barat. Kemudian iapun mengutarakan bekerdjanja pengaruh Indonesia atas kebudajaan di Irian Barat dengan pembuktian2 tentu, dan jang djuga diakui dalam Kongres Ilmiah ke IX negeri Samudera Teduh di Muang Thai (18 November—9 Desember 1957).

Walaupun setjara singkat, sesuai dengan kurangnja ruangan, ia menjebutkan sardjana dengan penjelidikannja tentang adanja pengaruh kebudajaan ini baik dilapangan basa, arsitektur, dongengan, ibadat, ornamentasi. Kemudian Kesselbrenner djuga mengemukakan pembuktian2 dari ahli2 sedjarah Tionghoa Tjou Ju-kua (abad ke XIII) jang menamakan Irian Barat Tung-ki (bandingkan dengan Djanggi). Dan apabila ia kemukakan sardjana, sudah pastilah tanpa tangguh2 lagi ia deretkan seluruh sardjana Belanda dari Kern sampai Krom, dari Rouffaer sampai Vlekke. Dari Nagarakrtagama sampai Mikluho-Maklai sardjana dan pelawat bangsa Rusia jang pada pertengahan abad lalu tinggal di Irian Barat.

Sampai pada Mikluho-Maklai ini Kasselbrenner mulai mengetamkan materi jang samasekali baru tentang Irian

Barat ini jang telah digalinja dari chazanah keilmuan Uni Sovjet, dan jang sampai sekian djauh belum dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan Indonesia.

Sumber2 baru jang berasal dari Mikluho-Maklai ternjata djuga menguatkan pembuktian2 jang sudah ada tentang kesatuan Irian Barat dengan Indonesia seluruhnja.

Sampai Jang Paling Up-to-date

Buku edisi Indonesia ini tersusun sampai bahan2 jang upto-date pada tahun terbitnja (1961, permulaan), mulai dari KMB, kusakkusuk di PBB, tentang aktualita di Irian Barat sendiri melalui lektur jang tjukup mejakinkan luasnja, konferensi2 Uni Indonesia-Belanda, rapat2 raksasa Irian Barat di-kota2 di Indonesia dan gerakan2 pemboikotan perusahaan2 Belanda oleh serikat buruh, salto-mortale bekas menteri Subardjo dengan persetudjuan perdjandjian dengan AS mengenai “bantuan” kepada Indonesia jang mana salahsatu fasal dalam perdjandjian itu menjebabkan melu AS pada tahun 1952 itu, Acheson, berani2an menjatakan pada pers, bahwa:

“Dengan persetudjuan ini sekarang kita dapat memandang Nieuw-Guinea Barat sebagai wilajah jang masuk dalam sistim pangkalan2 militer pada garis DjepangTaiwan-Filipina-Australia.” Bahwa Irian Barat wilajah sjah Indonesia, ini dibuktikan dengan terdjungkalnja mr. Subardjo dari singgasana menteri sedjak 1952 sampai 1962 ini. Kabinet Sukimanpun terpaksa ambruk.

Kesselbrenner dengan setjara maraton djuga mengisahkan pergolakan dan aksi tjopet melalui saluran juridik jang dilakukan oleh pemerintah Belanda, dan ditutup dengan tekat bangsa Indonesia merebut Irian Barat, dalam bentuk pembubaran Uni Indonesia Belanda oleh tangan kabinet Ali (1954).

Dalam bagian selandjutnja penulis mengemukakan satu

rangkaian fakta tentang permainan busuk kaum imperi13 alis untuk tetap mendjadjah Irian Barat, jang hanja bisa dikemukakan, sekalipun setjara maraton, oleh seorang jang telah menghimpunkan banjak bahan jang dipergunakan, tetapi jang sudah pasti dilakukannja karena rasa setiakawan jang mendalam pada Rakjat Indonesia dengan perdjuangan pembebasan Irian Barat.

Sampai baris2 terachir buku ini tetap mengikat. Kata penutupnja berbunji:

“Kaum pendjadjah Belanda dipantai Barat pulau Irian, di Teluk Triton, menempatkan sebuah tugu –piramida terpantjang, terbut dari beton bertulang, pada mana dipasang papan tembaga. Teks jang diukirkan dipapan itu memberitahukan, bahwa djustru disini kaum perampas Belanda dalam tahun 1828 untuk pertama kali mengindjakkan kakinja dibumi Irian Barat dan mendirikan benteng militer.

“Tidak lama lagi pendjadjahan jang terachir tentu sadja akan terpaksa mangkat dari Irian Barat. Dan pada saat itu, mungkin ditempat piramida jang suram itu akan didirikan oleh penduduk Irian Barat, tugu untuk memperingati pembebasan seluruh bumi Indonesia dari kolonialisme.”

Kesselbrenner Versus Mr. Herman Sihombing

Kesselbrenner menulis bukunja setjara maraton, djelas sekali tidak mentjoba memperlihatkan hendak menerbitkan buku keilmuan karena buku itu, terutama di Uni Sovjet merupakan konsumsi bagi setiap pembatja jang menghendakinja. Bagi pembatja Indonesia pun pasti tidak ada kesan “ke-pura2-an ilmu.” Karena kemaratonannja ini buku tsb. tidak sempat menggarap bahan2 jang sesungguhnja sangat menarik untuk diperdjelas dan diberi sedikit rekonstruksi atas peristiwa2 sedjarah jang penting. Tapi, jah, seperti telah dikatakan penulisnja sendiri, sesungguhnja orang Indonesialah jang semestinja menjusunnja.

Entah suatu kebetulan atau tidak, pada suatu kali djatuh ketanganku sebuah naskah skripsi Herman Sihombing tentang Irian Barat, jang distensilnja tahun kemudian setelah terbitnja buku pertama edisi Rusia Kesselbrenner (1959). Skripsi itu dibuat dan diadjukan keuniversitasnja: Universitas Sumatera Utara, untuk mengambil gelar Mr. Entah skripsi itu pernah diadjukan atau tidak, aku tak tahu, setidak2nja setelah itu ia pergunakan gelar Mr., beberapa bulan kemudian diangkat mendjadi dosen pada Universitas Andalas, Sumatera Barat.

Aku terpaksa djadi ragu2 sudah pernah diadjukan atau tidak skripsi itu, karena isinja djustru apa jang dikehendaki pihak musuh Rakjat Indonesia: Belanda. Diantaranja disebutkan, bahwa kita maish membutuhkan ketjakapan dan keahlian orang Belanda, karena itu kita harus kembali mengikat diri dalam hubungan Uni Indonesia-Belanda.

Bahwa bangsa2 di Irian Barat bukanlah termasuk ras kita. Bahwa sejogjanja Irian barat ditaruh dibawah pengawasan internasional, atau dilakukan penginternasionalisasian.

Skripsi itu mentjoba untuk mengetengahkan otak-juridik Mr. Herman Sihombing tanpa dasar historik jang dapat dipertanggungdjawabkan. Tapi jang patut sangat disesalkan adalah tiadanja wawasan politik dan sedjarah dan dari skripsi tsb. nampak Mr. Herman Sihombing tidak punja guntingan koran jang agak sistimatis susunannja. Dua matjam terbitan, satu dari negeri sahabat, satu dari negeri sendiri, jang satu sama lain serba kebalikannja. Bagaimana pendjelasan Unviersitas Sumatera Utara dan Andalas tentu penting untuk mendjadi pertanggungdjawaban keilmuan Indonesia jang sedang tumbuh, sekalipun mungkin Irian barat dianggap sebagai persoalan akademik jang abstrak.

Djakarta, 28 Djanuari 1962.