Baca PDF (OCR): Ditepi Kawah

27 halaman · 2 halaman diproses dengan OCR · 4.6 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Ditepi Kawah
  2. Publisher Note
  3. Digitizer Note

BAKRI SIREGAR

Ditepi Kawah

dari kumpulan H.B. JASSIN

Kacabenggala Editions

Publisher Note

This edition does not include a publisher’s note. For this digital restoration, this page is repurposed to acknowledge those whose efforts made its preservation possible.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

bagian kesatu . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 bagian kedua . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4 bagian ketiga . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8 bagian keempat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11 bagian kelima . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 13 bagian keenam . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 15 bagian ketujuh . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 20 bagian kesatu

RUMAH ITU TELAH LAMA BENAR DIDIRIKAN, TELAH BERTAHUN-TAHUN dari mulai orang djaga jang pertama datang kesitu. Meskipun begitu masih kuat djuga. Belum tampak tanda, bahwa rumah itu tak lama lagi akan diganti dengan jang baru.

Mas Hadi senang benar tinggal dirumah itu. Bertahuntahun pula ia tinggal dirumah itu berdua dengan si Sumo, orang gadjiannja. Bertahun-tahun ia bersunji-sunji itu, menurutkan kehendak hatinja ditepi kawah.

Memang itulah kesukaan Mas Hadi. Berdjam-djam dapat ia duduk dimuka djendela rumahnja itu, memandang air danau jang gemerlapan kena sinar matahari, bergelora perlahan-lahan oleh angin, berkedjar-kedjaran siapa djua nan dahulu sampai ketepi. Senang rasa hatinja.

Tampak pula olehnja kemudian lubang jang berasap, memuntahkan belerang itu. Seketika lamanja bertiup angin, terbawa asap tebal itu, mengalangi pandangan keair danau itu, berkepul-kepul dahulu mendahului keluar dari kawah itu. Sesak napas seketika.

Bila tampak pula kembali dinding kawah itu diseberang danau nun, batu jang besar-besar itu, ditekankannja tangan kirinja kedadanja, seakan-akan hendak menahan hatinja jang penuh oleh perasaan kemegahan itu. Akan tetapi bila terdengar pula olehnja pukulan gelora air danau itu berketjipak, bila telah dilihatnja pula asap belerang itu meninggalkan kawah itu, sehingga nampak pula seluruh tepi itu, makan disusunnjalah djarinja, dipandangannja puntjak gunung Merapi itu dan antara kedengaran dengan tiada, bagai orang berbisik, Mas Hadipun mengutjap sjukur. Lega rasa dadanja.

Telah atjap kali benar si Sumo melihat mas Hadi seperti itu dan tiap-tiap kali pula digeleng-gelengkannja kepalanja, berasa kasihan ia melihat tuannja itu. Menegur tak berani ia, takut kalau-kalau Mas Hadi gusar. Dibiarkannja sadja Mas Hadi dalam kamarnja itu dan apabila didengarnja nanti bunji djendela ditutup, barulah berani ia memasuki kamar itu.

Dahulu pernah si Sumo memberanikan hatinja bertanja, apa benar jang dipandang Mas Hadi hingga berdjam-djam itu. Masih teringat djuga oleh si Sumo, Mas Hadi ketika itu memandangnja dengan marah. Akan tetapi kemudian marahnja itu bertukar dengan pandangan jang mengandung belas kasihan.

„Tak kusangka, Sumo”, kata Mas Hadi. „Selama ini kusangka kawah ini djuga jang menahanmu tinggal disini. Apa benar jang kupandang sampai berdja-mdjam dari tepi kawah itu ?

Susah menerangkannja.

Bajangan hidup, Sumo. Bila dapat kauartikan gelora air jang kilau-kilauan itu, asap jang bergumpal-gumpal jang seketika menghambat pandangan kedanau permai itu, bila

dapat pula kauartikan puntjak gunung Merapi jang melan2 git, ah Sumo, alangkah bahagia rasa hidup.

Tiap hari, tiap djam berganti-ganti, bertukar berlain-lain.

Kasihan, Sumo. Alangkah malangnja engkau !”

Si Sumo hanja berdiam diri sadja.

Mula-mula ia datang kekawah ini dahulu, memang takdjub djuga ia memandang sekaliannja itu. Sehari dua hari, sehingga dua minggu. Kemudian biasa pulalah segala-galanja itu baginja.

Akan bajangan hidup, berganti-ganti, bertukar-tukar, berlain-lain itu, ah, dimana pula.........

Dari hari kehari, dari bulan kebulan, dari tahun ketahun, tak lain dari danau, asap dan gunung Merapi itu djuga jang kelihatan dari tepi kawah itu.

Bila telah sampai pula pertengahan bulan dan bila telah datang pula bulan baru, senanglah hati si Sumo. Ditinggalkannja, Mas Hadi seorang diri dalam rumah itu, dan berasa hidup pulalah ia, bila telah keluar dari hutan Idjen itu, djauh dari tepi kawah.

Mas Hadi tetap djuga memandang keluar djendela itu, dan dalam air jang bergelora itu, serasa tampak olehnja si Sumo. Setitik, sebahagian ketjil dari air danau jang banjak itu, terbawa-bawa ; si Sumo, sebahagian ketjil dari masjarakat jang besar itu.

Mas Hadi mengeluh.

bagian kedua

Malam itu terang benar bulan. Djika tak banjak kabut, akan tampak djua danau itu. Kini hanja ketjipaknja sadja jang kedengaran. Djendela masih terbuka djuga. Mas Hadi masih belum hendak tidur. Masih belum puas djuga hatinja. Ditunggunja, hingga kabut tebal itu hilang. Menderuderu angin dipuntjak pohon tjemara itu.

Telah berkali-kali si Sumo hendak menutup djendela.

„Angin buruk, Mas,” kata si Sumo.

Didjaganja benar Mas Hadi, takut ia, kalau-kalau mas Hadi djatuh sakit. Baru tadi si Sumo pulang dari kota. Senang hatinja dapat meninggalkan rumah ditepi kawah itu beberapa hari lamanja, akan tetapi bila telah kembali pula ia kedalam rumah itu, bila terkenang pula olehnja Mas Hadi tinggal seorang diri, timbul belas kasihannja. Seakan-akan menjesal pula ia meninggalkan Mas Hadi seorang diri beberapa hari lamanja. Sedapat-dapatnja disenangkannja hati tuannja itu.

„Biarlah djendela itu terbuka dahulu,” kata Mas Hadi.

„Tak kaudengar suara angin itu ?......... Dengar, lain dari biasa. Pergilah tidur !”

Si Sumopun menggeleng-gelengkan kepalanja. Meskipun berat hatinja, ditinggalkannja kamar itu.

Ketika tengah malam si Sumo terbangun, perlahan-lahan pergilah ia kekamar Mas Hadi. Mas Hadi masih duduk dimuka djendela djuaga. Kesal benar hati si Sumo. Apa djadinja, kalau Mas Hadi djatuh sakit ? Dibaringkannja dirinja, dan kemudian iapun tertidur pula.

Mas Hadi berdiri dari kursinja, bertekun ia dimuka djendela, dibungkukkannja badannja melihat keluar. Diperhatikannja benar, dipasangnja telinganja baik-baik. tak salah lagi, bunji orang berteriak, dengarlah.

Makin djauh djuga Mas Hadi membungkukkan badannja. Kabut telah mulai hilang, telah makin djauh djuga dapat mata memandang.

Ahoi......... Ahoi......... Ahoi.........

Suara itu mengatasi bunji angin jang menderu-deru itu.

Terperandjat Mas Hadi dari kursinja. Suara itu......... suara perempuan ! Ah, bagaikan tak pertjaja Mas Hadi. Dalam djauh malam ini, dalam hutan lebat, adakah mungkin ?

Ahoi.........

Gelisah benar Mas Hadi dalam kamar itu. Suara perempuan !

Ahoi.........

Suara perempuan, kian lemah djuga suara itu. Kemudian tak lain jang kedengaran dari deru angin jang tidak berhenti-hentinja itu.

Mas Hadi memperhatikan sekeliling rumah itu. Nah itu !......... . Perlahan-lahan, selangkah demi selangkah, benda itu makin dekat djuga menudju kerumah itu. Sebentar kekanan, sebentar kekiri, seakan-akan tersungkur, terhujung-hujung.

Kabut telah hilang, tjahaja bulan terang amat, sekeliling rumah itu terang-benderang. Dalam sinar bulan tampak oleh Mas Hadi tubuh manusia, bersusah pajah mendaki djalan itu.

Dalam sinar bulan itu tampak oleh Mas Hadi wadjah perempuan, rambutnja kusut masai. Tersirap darah Mas Hadi. Sebagai bermimpi ia rasanja. Perempuan itu.........

Telah dekat benar perempuan itu. Kedengaran oleh Mas Hadi napasnja terengah-engah. Mas Hadi melompat dari kursinja sedar ia dari mimpinja. Berlai ia kepintu. Ditarikkannja pintu jang tiada berkuntji itu. Dimukanja berdiri.........

„Marjam !” pekik Mas Hadi.

„Hadi.........” suara hampir-hampir tak kedengaran lagi. Tak berdaja lagi perempuan itu. Akan terantuk ia kepintu jang besar itu, djika tidak segera Mas Hadi menangkapnja. Perempuan itu tak ingatkan dirinja lagi.

„Sumo !” seru Mas Hadi. Seketika hilang akalnja, memagang tubuh perempuan itu, hendak dilepaskannja pula, tetapi Sumo telah melompat kemuka pintu.

Perlahan-lahan, berhati-hati, Mas Hadi dan Sumo mengangkat tubuh perempuan itu ketempat tidur. Sekudjur badan perempuan itu terasa dingin, rambutnja jang kusut menutupi setengah mukanja, putjat pasi.

Mas Hadi berdiri disisi tempat tidur itu, tidak bergerakgerak, tidak putus-putusnja memandang tubuh jang terlentang itu, ditatapnja wadjah jang sangat putjat itu. Marjam......... Pikirannja melajang, teringat kepada masa bertahun-tahun jang lalu. Bukankah pada masa itu.........?

Hadi dan Marjam. Nama itu pada beberapa tahun jang lalu mendjadi pasangan. Seakan-akan terdengar pula olehnja suara jang merdu itu : „Hadi.........”

„Marjam.........” Ah, waktu itu !

Akan tetapi Marjam tak hendak hidup dihutan.

Telah bertahun-tahun suara itu tidak didengarnja. Telah hampir lupa ia akan suara itu, karena ketjipak air setiap hari. Dengarlah pula.........

Mas Hadi melihat keluar djendela. Kabut jang menjelebungi kawah telah hilang. Danau berkilau-kilauan, bagus benar. Belum pernah Mas Hadi melihat danau itu sebagus malam itu. Bunji ketjipak air menggetarkan sukmanja. Dipandangnja Marjam.........

Ketika Sumo pada malam itu hendak menutup djendela, Mas Hadi berkata. „Biarkan sadjalah. Bukankah masih terdengar djuga angin itu menderu-deru ? Entah ada pula jang dipesankannja dalam djauh malam ini.........”

bagian ketiga

Dimuka rumah itu, dibawah pohon tjemara ada sebuah bangku. Bangku itu telah dari dahulu disitu, kuat, dari kaju djati, buatan si Sumo djuga.

Kalau tidak Mas Hadi duduk petang-petang disitu, tentulah si Sumo jang kelihatan dibangku itu. Ditjobanja bergojang-gojang hendak memeriksa, belumkah datang waktunja bangku itu akan dibaharui.

Bangku itu masih kuat.

Hadi dan Marjam telah lama benar duduk dibangku itu. Sedjak dari pagi-pagi tadi lagi, mereka menunggu matahari terbit. Mas Hadi hendak memperlihatkan kepada Marjam bagaimana matahari dari balik gunung Merapi itu menjinari puntjak gunung Raung, djauh nun.

Puntjaknja kelihatan terang, tak berhutan sedikit djuapun, gundul. Sebahagiannja tertutup oleh awan pagi, putih laksana saldju, tak dapat kiranja tjahaja matahari menembusnja.

Matahari kian lama kian tinggi, lereng gunung telah kena sinarnja hutan belantara gunung Raung telah kelihatan. Dan apabila kemudian tjahaja matahari telah sampai kekakinja, tampaklah gunung Raung itu dengan gagahnja djuga, seperti radja jang memerintah dipegunungan Idjen itu. Memang, ialah jang tertinggi, tak ada jang mengatasinja disitu.

„Bukankah gagah kaulihat, Di ?” tanja Marjam tersenjum.

„Gagah benar, tahu benar ia ditingginja,” sahut Mas Hadi. „Akan tetapi tjobalah pandang pula ketimur, Jam, kegunung Merapi itu.........”

„Ah,” kata Marjam ketawa, „gunung Raungku itu masih djuga lebih tinggi lagi, masih dapat diatasinja gunung Merapimu itu !”

„Ja......... Akan tetapi, dari gunungku itu gunungmu mendapat tjahajanja ; karena gunungku itu gunungmu bertambah deradjatnja.”

Marjam terdiam, kini Hadi tertawa.

Keduanja pandang-memandang, kemudian keduanja tertawa.

„Kusangka pondok ginung Raung, kiranja pondok ditepi kawah, didekat puntjak gunung Merapi.........” keluh Marjam.

„Tempat matahari mulai bersinar,” kata Mas Hadi pula, tertawa. Diam pula sedjurus lamanja.

„Tak kusangka sekali-kali akan sampai djuga engkau kerumah ditepi kawah ini.”

„Panggilan djiwa, Di .... Kukatakan dahulu engkau pergi kegunung akan mengawani kera dan akan mendjadi orang hutan. Ah.........”

„Segala itu telah kautebus pada malam itu, Jam. Bukan kepadaku, akan tetapi kepada gunungku dan gunungmu itu engkau berdosa dahulu. Gunungku dan gunungmu, kini mendjadi gunung bersama dan......... kawah itu. Tengoklah !”

Air putih, kuning, kehidjau-hidjauan tak bergelora sedikit djuga, tenang.

„Kaulihatkah biduk dipinggir danau itu, Jam ? Ketjil benar.”

„Ketjil benar, akan tetapi tjukup djuga untuk kita berdua. Bila kita akan mengajuh, Di ?”

„Kelak......... karena biduk itu bukan untuk kita berdua sadja.........”

Matahari makin tinggi djuga. Panas makin mendjadi.

Hadi dan Marjam berdiri dan masuk kedalam rumah.

bagian keempat

Telah tiga tahun Marjam ditepi kawah itu.

Selama Marjam datang, keadaan dalam rumah ditepi kawah itu berubah. Terasa benar oleh si Sumo.

Mas Hadi tak pernah lagi bermenung-menung seorang diri. Djika ia duduk dimuka djendela dalam kamarnja, melajangkan pandangnja kedanau itu, Marjampun serta mengawaninja. Tidak berdjam-djam lagi Mas Hadi berdiam diri.

Apabila si Sumo melihat Mas Hadi dan Marjam duduk dimuka djendela, maka teringatlah ia akan perkataan Mas Hadi tempoh hari : bajangan hidup......... dan kian lama, kian jakin pula ia akan perkataan itu.

Keadaan dalam rumah itu sungguh berubah. Lebih-lebih selama telah bertambah orang dalam rumah itu. Sunarjo, hampir dua tahun umurnja, kesajangan, seisi rumah. Selalu benar Hadi dan Marjam berbantah hendak memperbut Narjo, siapa dahulu akan mendukungnja ! Dan apabila Narjo mengeluarkan kedua tangannja kepada ibunja, seakan-akan tjemburulah Hadi, dan dipandangnja sadjalah bagaimana Marjam mendekap anak itu kedadanja. Tjemburu Hadi, akan tetapi diichlaskannja, memang itulah hak ibu.

„Hidungnja seperti hidungku,” kata Hadi.

„Ja, akan tetapi mulutnja seperti mulutku,” djawab Marjam.

„Dan tengok pula matanja, ai, tjobalah lihat, Di, bukanlah mataku djuga itu ?”

Terdiam pulalah Mas Hadi, kalah pula ia. Akan tetapi diichlaskannja.

Ketika anak ketjil itu mulai pandai merangkak, dibuatkan Sumo kandangnja bermain. Kandang jang kuat, karena Narjopun harus mendjadi orang kuat djuga, kata Sumo.

Berbahagia seisi rumah ditepi kawah itu. Alangkah besarnja pengaruh perempuan itu.

bagian kelima

Perlahan-lahan, ketiga anak-beranak itu menuruni tangga kawah itu, berpuluh-puluh anaknja, Mas Hadi dahulu, memegang tangan Marjam, Narjo dalam dukungan Hadi.

Hadi dan Marjam telah sama-sama pajah, hanja Narjo jang tak berhenti-henti berteriak kegirangan. Makin dekat kedanau, makin keras teriaknja.

Dipinggir danau itu tertambat sebuah biduk, sedang besarnja.

„Dapatkah biduk ini memuat kita bertiga ?” tanja Marjam agak bimbang.

„Takutkah engkau, Jam ?”

„Bukan karena takut, akan tetapi.........”

„Engkau takut akan berenang dalam air panas ini,” kata Hadi, memotong tjakap Marjam. „Tidak, Jam, biduk kita ini tak ’kan karam.”

Muka Marjam merah, bertambah merah.

„Nah, masuklah,” kata Hadi. Masih bimbang djuga Marjam mengangkatkan kakinja kedalam biduk itu.

Erat-erat Hadi memegang biduk itu.

„Terus keudjung sana !” katanja, ketika Marjam telah duduk dalam biduk itu.

„Asal sadja djangan kautolakkan biduk itu ketengah.........”

„Tak ’kan kubiarkan engkau sendiri berlajar ketengah.”

Marjam tersenjum.

Ketika Marjam telah duduk, biduk itu ditolak Hadi ketengah sedikit dan iapun naik pula. Dibaikkannja duduknja, dipegangnja dajung.

Perlahan-lahan biduk itu makin ketengah djuga.

Makin kuat dajung Hadi, makin besar pula gelora air, makin tjepat djalan biduk itu. Tjepat, bertambah tjepat, biduk itu meluntjur didanau.

Mereka berlajar.

Ketepi nun, kesitulah biduk itu dikajuhkan. Dekat benar nampaknja. Akan tetapi belum sampai-sampai djuga.

Matahari terik amat, akan tetapi ketiga anak-beranak itu tak berhentinja tertawa, bergirang hati, didalam beduk ditengah danau itu.

Hadi mendajung, belum djuga sampai ketepi. Akan tetapi mereka berlajar, kian lama kian dekat. Bila ditetapkan hati mendajung, bila diberanikan hati berlajar mengarungi danau, nistjaja terjapai djuga tepi.

Kian lama kian tjepat, kian keras kendengaran ketjipak air.

Mereka berlajar.

bagian keenam

Senantiasa bahagia djuga jang menjelubungi rumah ditepi kawah itu.

Djika Marjam bekerdja didapur dan Hadi duduk dikamarnja bekerdja, tak berhenti-hentinja Narjo berlari-lari dalam rumah itu.

Sebentar ia kedapur. Ditengoknja pekerdjaan ibunja, kemudian diambilnja gajung. Narjopun keluar. Tak lama antaranja masuk pula ia kedapur. Gajung jang telah berisi diletakkanja dekat ibunja.

„Ail, mak,” katanja, dan dipandangnja ibunja dengan matanja jang berkilat-kilat itu. Marjam tersenjum, dihentikannja sebentar pekerdjaannja, ditjiumnja kening tangkai kalbunja itu.

Berlari pula Narjo kekamar bapanja. Dipilihnja beberapa buku dari atas peti, kemudian diletakkannja dimedja Hadi.

„Ini pak, buku.........”, kata Narjo

Hadipun berhenti pulalah menulis, dipegangnja dan diangkatnja anaknja itu diusap-usapnja kepalanja.

„Anak bapa radjin”, kata Hadi.

Narjopun larilah pula kedapur.

Biasanja, bila hari Minggu, ketiga anak beranak itu turun

kedanau akan bersampan-sampan. Pagi-pagi telah kedengaran suara Narjo ribut, seakan-akan tak sabar lagi me15 nunggu ibunja bersiap. Dan apabila Hadi telah membuka pintu, seakan-akan menghambur Narjo keluar.

Hari itu telah tinggi hari, belum djuga ada kelihatan orang ditepi danau itu. Pintu rumah belum terbuka-buka djuga dari tadi.

Narjo telah lama berteriak meminta bukakan pintu, akan tetapi Hadi masih dikamarnja djuga. Hari itu tak dapat mereka turun. Sedjak kemarin si Sumo tak ada, telah pulang kekota beberapa hari lamanja.

„Hari ini baik Narjo mengawani bapa !” kata Hadi. „Duduklah dikursi itu !”

Kesal benar hati Narjo.

Hadi mengangkat Narjo dan didudukkannja dikursi dekat djendela. Narjo melihat keluar. Kemudian dipandangnja bapanja. Narjo heran. Bukankah danau jang dilihatnja djauh itu ?

Narjo berdiri. Ai, sebelah kiri tampak kepadanja biduk mereka itu, ketjil. Lama benar Narjo melihat keluar......... Narjo hendak bersampan-sampan !

„Pak, tulun !” katanja tiba-tiba

Hadi mengeluh.

Lasak benar anak itu sekali ini. Meskipun begitu diturunkannja Narjo. Narjo lari keluar pergi kedapur.

„Narjo hendak menolong mak ?” tanja Marjam. Narjo menggelengkan kepalanja.

Marjam memberikan gajung kepada Narjo serta katanja : „Ambilkan mak air !”

Narjo keluar.

Asjik benar Marjam bekerdja, tjepat benar tangannja bekerdja itu, tak berhenti-hentinja. Mukanja merah padam, keringatnja membasahi lehernja, akan tetapi tak dirasanja. Panas api itu tak dipedulikannja.

Tiba-tiba Marjam terhenti dari kerdjanja. Mengapa lama benar Narjo diluar ?

„Narjo !” seru Marjam.

Narjo tak mendjawab.

„Narjo !”

Tak djuga Narjo mendjawab. Kemana Narjo ? Marjam pergi keluar ketempat air. Narjo tak ada, gajung terletak ditepi bak air.

„Dimana engkau, Narjo ?”

Marjam heran.

„Narjo !” serunja pula. Diam. Marjam terkedjut.

„Hadi !” serunja, masuk kembali ia kedapur, terus kekamar Hadi.

„Dimana Narjo ?”

„Narjo ?” dijawab Hadi. „Bukankah didapur ?”

„Tidak, Narjo tak ada didapur.”

„Diluar barangkali ?”

„Tidak, Hadi,” kata Marjam menangis. „Setengah djam jang lalu Narjo kusuruh mengambil air keluar .........”

„Keluar ?” tanja Hadi. Mukanja putjat tiba-tiba.

Hadi berdiri dari kursinja, ditariknja tangan Marjam keluar rumah. „Narjo !” teriak Hadi. Bergema suaranja beberapa kali.

„Narjo !”

Narjo tak kelihatan, Narjo tak mendjawab. Hadi dan Marjam berpandang-pandangan, kemudian memandang berkeliling rumah itu.

Didekat pohon tjemara, pada tanah jang basah karena hudjan semalam, tampak oleh Hadi djedjak ketil-ketjil, bekas tapak kaki.

„Ja Allah !” seru Hadi.

Diperhatikannja djedjak itu. Bekas tapak Narjo, tak boleh tidak. Diturutkannja djedjak itu. Wahai, kemana pergi Narjo ?

„Narjo !” tangis Marjam.

„Narjo !” teriak Hadi. „Narjo ! Narjo !” seluruh kawah itu bergema tak berhenti-hentinja. Djedjak itu masih belum putus djuga, menudju djalan turun kedanau !

Tiba-tiba djedjak itu memenggok kekiri, ketempat jang ketinggian. Dibawah kelihatan danau itu, djelas tampak biduk ketjil ditepi.

Djedjak jang ketjil-ketjil itu sampai ketepi kawah dan putus disitu......

Hadi tertegun. Tahu ia apa jang telah terdjadi. Ia menoleh kebelakang: Marjam telah tak ada lagi.

Dipandangnja pula sekali lagi danau itu, kemudian ditutupnja mukanja dengan kedua belah tangannja. Hadi menangis.

bagian ketujuh

Rumah ditepi kawah itu masih berdiri, masih kuat, masih seperti dahulu djuga. Perkakasnjapun masih seperti sediakala, tempatnjapun tak berubah.

Hanja kandang si Sumo tak pada tempatnja dahulu lagi. Hadi telah mengangkatnja kekamarnja, disebelah medja tulisnja dekat djendela.

Rumah itu masih seperti dahulu.

Tapi kawah djuga jang telah berubah. Seluruh kawah itu kini telah berpagar, pekerdjaan si Sumo. Berpagar kuat dan rapi.

Bila Hadi dan Marjam berdua berdjalan ditepi kawah, ditempat ketinggian, tak djauh dari pohon tjemara jang tinggi sebatang itu, berhentilah keduanja, sama-sama memandang kebawah. Dan apabila keduanja berpandangpandangan pula, titiklah air mata Marjam.

Titik air mata, bukan karena menjesali untung, akan tetapi karena sedar akan untung mengajuh biduk, djika hendak berlajar mengarungi danau.........

Air danau bergelora, berkilau-kilauan disinari matahari. Bila datang kabut menjelubungi kawah itu, tertutuplah semuanja dalam kelam kabut itu. Akan tetapi kelak akan hilanglah pula kabut itu, dan akan kelihatanlah pula kilau air itu. Akan lega pulalah dada.

Kelak.........

Itulah bajangan hidup ditepi kawah.