UTUY TATANG SONTANI
Dilangit Ada Bintang
drama satu babak
Kacabenggala Editions
Publisher Note
This edition does not include a publisher’s note.
Born in Cianjur, West Java, on May 31, 1920, Utuy Tatang
Sontani was one of Indonesia’s most important dramatists
and prose writers of the Angkatan ’45 generation. Writing
in Indonesian and Sundanese, he was known for his realist
portrayals of ordinary people and the moral disillusionment
of the post-independence period. His works—particularly
plays and short stories—consistently centered on the lives of
the poor, the displaced, and those crushed by social change.
Utuy was an active member of Lekra and served on its cen-
tral leadership between 1959 and 1965. After attending
the Asian–African Writers’ Conference in Tashkent in 1958,
his works gained international circulation, including trans-
lations into Russian and other languages. Following the
political upheavals of 1965, Utuy was unable to return to
Indonesia and eventually settled in the Soviet Union, where
he taught Indonesian language and literature at Moscow
State University. He lived and wrote in exile until his death
in Moscow on September 17, 1979.
This work was first published during a period when Indone-
sian literature was closely intertwined with political strug-
gle and cultural debate. Today, Utuy’s writings survive
largely through scattered archives and overseas collections,
as many of his works were banned, lost, or destroyed in
Indonesia after 1965.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text,
preserving the original layout, spelling, punctuation, and
front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers
and translators. Where copyright has expired or the mate-
rial falls under fair use for preservation, the text is repro-
duced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and under-
taken for study and admiration, shared purely for archival
and educational purposes, without commercial intent.
DISEBELAH KANAN, DITEMPAT JANG AGAK TINGGI
DAN AGAK djauh kebelakang ada rumah tembok. Rumah
tuan Hamdan. Rumah itu hanja kelihatan serambi-belakangnja,
dialati oleh perabotan-perabotan jang serba mewah. Dise-
belah kiri, ditempat jang agak rendah ada rumah bambu.
Rumah Marlina. Rumah inipun hanja kelihatan serambinja,
dialati oleh satu stel medja-kursi jang sederhana.
Diantara kedua rumah itu ada djembatan melintang, menu-
run dari kiri kekanan.
HARI sudah malam. Dari bawah djembatan muntjul Miun,
laki-laki berpakaian kumal. Setelah menggeliat-geliat ia
menjalakan rokok. Dan setelah menjalakan rokok ia senang
duduk diatas djembatan.
Tidak lama kemudian muntjul pula Marsih, perempuan muda
dengan muka penuh bedak dan gintju.
„Mana geretanmu ?" katanja.
„Nih !” djawab Miun. „Kau biasa, punja rokok tak punja
api."
„Itu siasat !" balasnja.
„Hh, siasat," kata Miun lagi. Dan ia terus tertawa.
„Betjusmu hanja tertawa," kata Marsih.
„Lantas? Memangnja mesti berengut? Tidak punja duit,
tinggal tidak punja -duit. Kalau ada jang mesti ditertawakan,
aku tertawa.”
„Apa jang kautertawakan ?"
„Kau ! Kau dengan mukamu jang penuh bedak dan gintju
!"
„Memangnja aku mesti kumal seperti kau ? Tjih !"
„Aku kumal bukan salahku."
„Memangnja salah siapa ?"
„Salahmu. Kau tidak mau mentjutji pakaianku."
„Memangnja aku binimu ?"
Miun maunja membalas lagi. Tapi dari kanan muntjul Mar-
lina membawa bungkusan.
„Pulang,Neng ?“ Miun bertanja.
„Ja," djawab Marlina sambil terus berdjalan menghilang
kekiri.
„Orang lewat ditanja," kata Marsih.
„Begitu mestinja orang hidup," djawab Miun. „Djangan
kita bertanja hanja karena mengharap apa-apa dari jang
ditanja."
„Memangnja kau kenal pada orang itu ?"
„Tentu sadja. Dia djanda. Patjarnja djuga aku tahu. Seo-
rang laki-laki berpangkat. Tu jang rumahnja gedung disana
!"
„Orang tjantik sih gampang sadja mempunjai patjar berpangkat."
„Tentu sadja. Tidak seperti kau. Kau, meskipun mukamu
dihias bedak dan gintju, tapi hasilnja apa ? Jang njata
badanmu kian lama kian rusak. Dua tahun lagi kau rejod.
Dan lima tahun lagi kau masuk lobang kubur. Kau tidak
sajang badan sendiri.”
„Hh, memberi nasihat?! Memberi nasihat memang gam-
pang. Pulisi jang kemarin menangkap aku djuga betjusnja
tjuma memberi nasihat."
„Aku bukan memberi nasihat. Aku mau bikin perbandin-
gan."
„Kau mau membandingkan aku dengan perempuan jang
tadi ?"
„Bukan. Aku membandingkan kau dengan aku. Kau, lan-
taran butek, dua tahun lagi kau rejod. Itu sudah pasti. Tapi
aku, lantaran aku ini Ardjuna, dua tahun lagi aku makmur.”
„Duilah Ardjuna! Orang sedjelekmu mengaku djadi Ard-
juna? Lihat dulu mukamu dikatja. Kau bukan Ardjuna,
kau Buta Tjakil, tu wajang jang ditaro paling udjung!”
„Kau tolol! Ardjuna itu bukan mesti dilihat rupanja, tahu?
Ardjuna itu tukang tapa.”
„Hh, memangnja kau tukang tapa ?"
„Tentu sadja. Dengan tidur dikolong djembatan, dengan
kurang makan, dengan berpakaian kumal, itu berarti aku
bertapa."
„Tjih, bertapa! Kau kira djaman sekarang ini djaman apa?
Memangnja kau mengharap Tuhan akan menurunkan duit
dari langit?"
„Engkau sih butek ! Kau kira dilangit itu tidak ada apa-apa
?"
„Lantas ? Memangnja dilangit ada pabrik duit ?"
„Dilangit ada bintang, tolol ! Dan semua bintang tidak
tetap. Tu lihat ! Tadi disana, sekarang disini, nanti dis-
itu. Nasib manusia djuga tidak tetap. Sekarang sadja aku
tidur, dikolong djembatan. Tapi nanti ..."
„Nanti kau mampus kelaparan!"
„Kau jang mampus. Sebab kau butek !"
„Sudah, bising ! Tu ada laki-laki kesini."
Miun terpaksa mengatupkan mulut. Dan setelah mengatup-
kan mulut terus mundur mendjauh.
Tidak lama kemudian muntjul Rodi, laki-laki putjat berpaka-
ian dril; datang dari kanan dengan langkah terhujung-hujung.
„Sendirian sadja, kak ?" Marsih bertanja.
Rodi tidak menjahut.
Marsih mengganggu lagi:
„Singgah dulu, doooooong."
Kini Rodi mengepalkan tangan. Dan sambil terus menghi-
lang kekiri ia menjemprot :
„Memangnja aku tukang mentjari penjakit sipilis ?"
„Duilah marah!" kata Marsih. „Kalau tidak punja duit, bi-
lang sadja tidak punja duit."
„Kau djuga jang butek," kata Miun seraja tertawa. „Kau
kira mukamu jang penuh bedak dan gintju itu akan mem-
bikin semua laki-laki suka kepadamu ?"
„Diam kau !" Marsih membentak.
„Aku djadi geli," kata Miun lagi. Dan ia terus menundjuk
kekanan: „Tu lihat! Ada lagi laki-laki berpakaian hidjau.
Boleh kauganggu lagi."
„Kurangadjar! Pulisi!" kata Marsih. Dan dengan tidak me-
nunggu lagi ia terus lari kekiri.
Dan melihat Marsih lari, Miun tertawa lagi. Dan terus
tertawa. Dan ketika muntjul dua orang pulisi dari kanan,
ia masih tertawa-tawa.
„Hei !“ kata salah seorang pulisi. „Apa jang kautertawakan
?”
„Bukan apa-apa," djawabnja.
„Jang benar kau bilang ? Kau mentertawakan kami?“
„Bukan."
„Lantas? Apa jang kautertawakan?"
„Tidak ada apa-apa."
„Barangkali kau gila, ja?" kata pulisi jang seorang lagi. Dan
ia terus mengadjak kawannja pergi meninggalkan.
Setelah pulisi menghilang kekiri, Miunpun pergi kekanan
seraja katanja :
„Sompret! Memangnja orang tidak boleh tertawa?“
MARLINA jang tadi lewat diatas djembatan sekarang muntjul
kehalaman rumahnja. Dan setelah memasuki serambi ia me-
manggil:
„Tini! Tini!"
„Ja,” djawab Tini dari dalam. Dan sebentar kemudian listrik
diserambi menjala. Dan Tinipun tampil keluar.
„Nih ! Simpan kedalam lemari," kata Marlina, menjerahkan
bungkusan.
„Apa ini ?"
„Kueh untuk tuan Hamdan nanti."
„Tuan Hamdan akan datang ?“
„Ja. Aku tadi mendjumpai dia dikantornja."
„Djadi ... djadi sekarang saja mesti tidur lagi dirumah bibi
?“
„Dengan sendirinja.“
Tini mengeluh :
„Saja tjape dengan terus-terusan hidup begini ini. Kalau
tuan Hamdan datang, selalu saja mesti tidur dirumah bibi.”
„Lantas?" djawab Marlina. „Memangnja kita orang kaja,
tidak mau tjape? Tjape itu bagi kita sudah satu keharusan.
Sebab kalau tidak mau tjape, kita tidak akan makan?"
„Tapi apa sebab kalau tuan Hamdan datang, saja mesti
tidak ada?" kata Tini lagi.
„Apa sebab ?“ djawab Marlina. „Sebab kau masih kanak-
kanak.“
„Hm, kanak-kanak,” balas Tini lagi. „Saja tahu, saja disu-
ruh tidak ada disini, karena kau disini mau senang-senang
berdua dengan tuan Hamdan.”
„Tutup mulutmu!” Marlina membentak seraja muntjerengkan
mata. „Kau adikku. Kau djangan banjak omong. Kalau
kau tidak mau kelaparan, kau mesti turut perintahku. Kau
kira aku melakukan begini ini untuk kesenanganku? Kau
kira kalau aku tidak melakukan begini, kau bisa membajar
uangsekolahmu ?”
Tini terdiam.
„Aku tahu, Tini,” kata Marlina lagi, suaranja biasa, „aku
tahu bahwa kau keberatan melihat aku dan tuan Hamdan
tidak kawin. Tapi itu bukan salahku. Aku bukan tidak
mau kawin. Aku bahkan mau kawin. Tapi aku perempuan,
aku djadi pihak jang mesti dikawin. Mengerti kau ?”
Tini tidak mendjawab. Dan setelah dilihatnja Marlina ma-
suk, iapun masuk mengiringkan.
Tapi tidak läma kemudian ia muntjul lagi membawa selimut
dan bantal. Dan dengan selimut dan bantal itu ia terus
meninggalkan serambi, menghilang ketempat gelap.
LISTRIK diserambi rumah tuan Hamdan menjala.
Dan sebentar setelah listrik menjala, tuan Hamdan tampil
dengan memakai kamerjas.
Sedjurus lamanja ia berdiri merokok. Kemudian ia duduk
membatja madjalah. Tapi sebentar kemudian ia berdiri lagi.
Dan setelah berdiri ia merokok lagi.
„Tuan akan makan sekarang?" tanja budjang-perempuan
jang tiba-tiba tampil dari dalam.
„Tidak," djawabnja, „aku tidak ada nafsu makan."
„Akan minum kopi ?"
„Tidak," djawabnja lagi. Dan ia terus masuk seraja tam-
bahnja: „Kalau ada tamu atau tilpon, katakan aku tidak
ada." „Baik, tuan," kata budjang seraja masuk pula men-
giringkan.
RODI jang tadi lewat diatas djembatan sekarang muntjul
kehalaman rumah Marlina. Setelah memasuki serambi ia
mengintai dari lobang pintu. Dan setelah mengintai dari
lobang pintu ia memanggil: „Marlina!”
„Siapa ?“ balas Marlina dari dalam.
„Aku, Rodi."
Tidak lama kemudian Marlina tampil dengan memakai hoskut.
„Mau apa lagi ?" katanja.
„Djangan terburu marah, Marlina," djawab Rodi. „Duduk-
lah dulu."
„Aku tidak marah."
„Ja, bagimu kau tidak marah. Tapi bagiku perkataanmu itu
terasa sangat menusuk."
„Lantas? Apa jang mesti kukatakan? Kau bekas suamiku.
Aku tidak mempunjai kewadjiban apa-apa terhadap kau."
„Ja, aku memang bekas suamimu, dan kau bekas isteriku.
Antara kita tidak ada kewadjiban jang mengikat. Tapi tidak
dapatkah kau merasakan barang sedikit apa jang pernah
kita rasakan bersama diwaktu kita masih hidup bersama?”
„Apa jang sudah, tinggal sudah. Tidak perlu diulangkadji."
„Hm, kau kedjam. Kau tahu, kita bertjerai bukan karena
aku kehabisan tjinta. Tapi lantaran penghasilanku tidak
tjukup untuk hidup kita berdua.”
„Lantas? Kalau kau sudah tahu bahwa kita tidak bisa hidup
bersama disebabkan kekurangan, kau mau apa? Kita bukan
kupu-kupu. Kita manusia dengan segala kebutuhannja.”
„Ja, kebutuhanmu ialah duit banjak, hidup senang. Sekarang
djuga kau mengharap dikawin oleh tuan Hamdan, itu padukat-
uan jang banjak duitnja, bukan? Kau mengharap djadi
bininja jang kedua? Tapi tahu kau bahwa dengan begitu
kau melakukan satu keedanan jang meradjalela didjaman
sekarang?”
Marlina tidak mendjawab. Dan lantaran Marlina tidak med-
jawab, Rodi berkata lagi:
„Aku tahu, Marlina, aku tahu bahwa sekarang dikalangan
bapak-bapak padukatuan meradjalela penjakit serakah, in-
gin mempunjai banjak perempuan. Kaukira keinginan bapak-
bapak padukatuan itu bukan satu keedanan? Mau mem-
punjai banjak perempuan, sedang rakjat ketjil menderita
lantaran kekurangan?”
„Kau ini pedato ?" Marlina menukas.
„Aku ingin menasihati kau, supaja kau sadar!"
„Siapa jang tidak sadar? Kau jang tidak ada hak menasihati,
atau aku?“
Rodi terdiam. Dan melihat Rodi terdiam, Marlina bangkit
berdiri.
Tapi melihat Marlina berdiri, Rodipun buru-buru berdiri.
Dan ketika dilihatnja Marlina akan masuk, buru-buru ia
memegang tangannja.
„Kau mau apa?" tanja Marlina. Dan dengan tidak me-
nunggu didjawab lagi ia terus merenggutkan tangan Rodi.
Terus masuk. Dan terus menguntjikan pintu.
„Marlina!” kata Rodi seraja mengepal-ngepalkan tangan. „Se-
lama kau belum kawin dengan tuan Hamdan, kau belum
djadi njonja besar. Dan selama itu kau tidak ada hak un-
tuk besar kepala.”
Setelah berkata demikian ia terus pergi meninggaikan ser-
amoi, meninghilang ketempat gelap.
DISERAMBI rumah tuan Hamdan, budjang-perempuan tadi
tampil lagi dari dalam. Dan setelah tampil ia terus melihat-
lihat kearah djauh.
„Pus! Pus! Manis!" Katanja berulang-ulang.
Tidak lama kemudian muntjul pula njonja Hamdan dengan
berpakaian kain-kebaja.
„Dia tentu djauh lagi, Wijah," katanja.
„Rupanja kerumah sana, nja," balas si Wijah, „sebab disana
ada kutjing betina."
„Ja, djangankan kutjing," kata njonja Hamdan lagi, „manu-
sia ojuga, katau sudah kena pengaruh betina bisa lupa daratan."
Dan setelah berkata demikian njonja Hamdan terus duduk
akan memoatja.
Tapi tiba-tiba terdengar tilpon berbunji. Dan lantaran menden-
gar tilpon berbunji, ia bangkit lagi dan terus masuk.
„Ja, hallo," katanja, „disini njonja Hamdan. — O, tuan
Wedana. — Suami saja ada. — Tunggu sebentar."
Tidak lama kemudian ia tampil lagi keluar. Katanja kepada
si Wijah:
„Katakan pada tuan, ada tilpon dari tuan Wedana."
„Tapi.... tapi...." kata si Wijah.
„Tapi apa?"
„Tuan rupanja tidak mau diganggu. Tadi dia mengatakan,
kalau ada tahu atau tilpon mesti dibilang tidak ada."
„Bah, biasa! Kalau ada, ja ada sadja. Ajo katakan! Me-
mangnja aku jang mesti mengatakan?”
Mau tak mau si Wijahpun masuk. Tidak lama setelah ia
masuk, terdengar suara tilpon dibantingkan. Dan setelah
kedengaran suara tilpon dibantingkan, muntjul tuan Ham-
dan dengan memakai kamerjas seperti tadi.
„Aku tidak mengerti," katanja, „mengapa seorang budjang
mesti lebin dihargai daripada seorang isteri."
„Kau marah pada siapa ?" balas njonja Hamdan.
„Aku bukan marah. Aku mengatakan bahwa dirumah ini
seorang budjang mesti lebih dihargai daripada seorang is-
teri."
„Lantas? Kau mau apa? Kau ingin melihat isterimu berün-
dak sebagai budjang? Kau mengharap aku membuka lagi
tali sepatumu dan menunduki kau seperti itu perempuan-
perempuan kampung jang menunduki suaminja?"
„Aku tidak ingin kau tunduk. Aku ingin kau tidak masa-
bodoh."
„Hh, tidak masabodoh! Dimana kau menjimpan otakmu
jang waras, sampai kau berani meminta kepadaku supaja
aku tidak masabodoh? Dengan memelihara si Marlina, itu
perempuan kampung, kau sudah menghina aku, kau sudah
mengindjak-ngindjak kepalaku. Sekarang kau masih berani
pula meminta supaja aku tidak masabodoh. Hh, itulah laki-
laki!”
„Kampung! Kampung! Ja, kau memang intelek. Dan djus-
tru karena kau intelek, rumah kita ini tidak bedanja dengan
kandang kambing dan kuda. Tapi aku tidak sudi terus-
terusan djadi kambing jang berhadapan dengan kuda. Aku
mau djadi manusia jang berhadapan dengan manusia.”
Dan setelah berkata demikian tuan Hamdan terus masuk.
Njonja Hamdan jang ditinggalkan terus membatja. Tapi
sebenarnja ia bukan membatja. Sebab achirnja ia melem-
parkan batjaan. Dan setelah melemparkan batjaan iapun
terus masuk.
KEHALAMAN rumah Marlina muntjul seorang perempuan
tua berkudung. Setelah memasuki serambi ia memanggil:
„Marlina !"
„Siapa ?“ balas Marlina dari dalam.
„Aku,bibimu."
Tidak lama kemudian Marlina tampil keluar dengan paka-
ian baru disetrika.
„O, kau sudah dandan," kata perempuan tua. „Tuan Ham-
dan akan datang, ja?" „Ja."
„Begini, Marlina. Barusan Rodi datang kerumahku. Sekarang
djuga dia masih disana. Dia mengadu. Katanja kau sudah
berbuat kedjam kepadanja."
„Hm, kedjam! Itulah menurut tangkapannja orang goblok.
Kalau saja tidak mau menerima kedatangan dia, itu bukan
kedjam, bi. Itu satu keharusan!”
„Ja, aku djuga mengerti, Marlina. Tapi kau mesti tahu,
bekas suamimu itu sedang ada didalam keadaan sukar. Dia
sekarang tidak bekerdja. Dalam keadaannja seperti sekarang,
dia akan gampang merasa sakit hati. Dan kalau sudah sakit
hati, bisa gampang gelap mata.”
„Itulah sifat orang kampung. Gampang merasa sakit hati;
segala apa diterima dengan sentimen, dengan kesempitan.
Dia sebenarnja mesti mengerti bahwa orang eseorang berhak
atas kemerdekaan dan berhak menuntut perbaikan nasib
menurut kehendaknja sendiri. Buat apa sebenarnja dia ada
keinginan mengalangi perbuatan saja dengan tuan Ham-
dan? Bahkan buat apa sebenarnja dia sering datang disini?
Toh saja sudah-djadi bekas isterinja. Dikalangan orang
gedung, dikalangan intelek, tidak mungkin terdjadi seorang
bekas suami semau-maunja datang bertamu dirumah bekas
isterinja.”
„Apa hendak dikata, Marlina? Kau masih hidup dikampung,
belum dibawa pindah kegedung oleh tuan Hamdan. Djadi
selama kau masih diam dikampung, mau tak mau sifat-sifat
orang kampung itu mesti kauhiraukan."
„Lantas? Karena saja diam dikampung, mesti saja biarkan
bekas suami saja itu sering datang disini? Mesti saja biarkan
dia disini berbuat semaumaunja?"
„Bukan begitu. Kau mesti hati-hati didalam mengeluarkan
perkataan. Djangan sampai dia gelap mata. Apa salahnja
kau ramahtamah kepadanja?"
„Serba salah. Dengan ramahtamah dia malah merasa dikasih
hati, malah kian berani. Dasar pembawaannja goblok, tetap
sadja goblok."
„Aku sudah tua, Marlina. Dan aku tahu, lantaran kau sudah
tidak beribu tidak berbapak, maka akulah jang djadi ganti
orangtuamu. Dan sebagai ganti orangtuamu aku tidak mau
melihat kau tjelaka lantaran salah djalan."
Marlina tidak membalas. Dan lantaran Marlina tidak mem-
balas, perempuan tua bangkit berdiri seraja katanja :
„Hati-hati, Marlina. Itulah permintaanku."
Dan setelah berkata demikian ia terus pergi. Dan melihat
perempuan tua pergi, Marlinapun kembali masuk.
KESERAMBI rumah tuan Hamdan muntjul seorang tamu
laki-laki membawa map. Ia mengetuk-ngetuk pintu. Dan
setelah si Wijah tampil ia bertanja :
„Tuan ada?"
„Tidak ada.“
„Jang benar kau bitjara. Barusan dari djendela aku melihat
dia ada.“
„Ja, dia ada, tapi tidak menerima tamu."
„Bilanglah tidak menerima tamu. Itu bisa kumengerti."
Dan setelah berkata demikian tamu terus melangkah akan
pergi.
Tapi sebelum ia djauh berdjalan, tuan Hamdan tampil den-
gan berpakaian tebal. Dan melihat tuar Hamdan tampil,
tamu buru-buru membalikkan langkah.
„Ah, achirnja bertemu djuga,“ katanja.
„Ada apa ?" balas tuan Hamdan. „Aku akan pergi."
„Sebentar sadja," kata tamu. „Saja sekarang ada rentjana
bagus."
„Semua rentjana memang bagus," tukas tuan Hamdan. „Tapi
apa gunanja rentjana bagus, kalau uang untuk menjeleng-
garakannja tidak ada ? Simpanlah rentjana itu sampai kas
negara kita ada isinja."
„Djadi... djadi tidak dapat tuan madjukan ?“
„Apa hendak dikata? Semua jang telah direntjanakan sam-
pai sekarang masih tetap merupakan rentjana. Karena itu,
selama kas negara kita kosong, daripada kita membikin ren-
tjana jang toh tidak akan diselenggarakan, kita lebih baik
mengoreksi kekosongan batin kita masing-masing.”
„Mengoreksi kekosongan batin ?"
„Ja. Untuk mengoreksi kekosongan batinmu kau mesti men-
jendiri. Dan untuk menjendiri, ada kalanja kau mesti meno-
lak kedatangan tamu!”.
Dan setelah berkata demikian tuan Hamdan terus pergi.
Tamu jang ditinggalkan tinggal tertjengang. Tapi setelah
menghela nafas iapun terus pergi.
T diatas djembatan, berdjalan dari kanan kekiri. Dan sete-
lah lewat diatas djembatan achirnja ia muntjul kehalaman
rumah Marlina.
„Marlina !" ia memanggil.
Marlina tampil keluar; katanja seraja mendapatkan :
„Sedjak tadi kau kunanti-nanti."
„Betul?"
„Oh, kau tidak pertjaja ?"
„Kepadamu aku mau pertjaja. Tapi hanja kepadamu sadja.
Kepada orang lain aku belum ada niat pertjaja.”
„Ah, aku tidak mengerti!"
„Mengapa?"
„Kau selalu mengatakan: kepada orang lain belum ada niat
pertjaja. Aku tidak mengerti mengapa orang lain seolah-
olah kautjurigai."
„Hm, ja, itulah aku. Tapi kau tak usah mengerti. Dan tak
usah pula berusaha ingin mengerti. Sebab apa faedahnja
mengerti, dijika toh memasabodohkan seperti isteriku ?”
Mendengar djawaban demikian, Marlina terdiam. Tapi sete-
lah dilhatnja sepatu tuan Hamdan kotor, ia buru-buru berlu-
tut. Dan setelah berlutut ia terus membuka tali sepatu.
„Sepatumu kotor," katanja. „Tapi biar nanti saja bersihkan."
„Hm,” kata tuan Hamdan sambil terus duduk dikursi, „den-
gan membuka tali separuku, kau menghidupkan kenangan
bahagia.”
„O,ja?"
„Tapi djuga menimbulkan kewaswasan terhadap orang lain.“
„Mengapa ?"
„Sebelum kawin isteriku djuga suka membuka tali separuku.
Persis seperti kau sekarang."
„Tapi saja bukan dia."
„Betul, kau bukan dia. Hidungmu tidak sama dengan hidungnja.
Dagumu tidak sama dengan dagunja. Dan riwajat-hidupmu,
meskipun belum banjak jang kuketahui, tapi pasti tidak
akan sama dengan riwajat-hidupnja jang sudah kuketahui.
Ja, kau bukan dia. Akan tetapi...”
„Tapi apa?"
„Kau djuga bukan aku."
„Lantas ?"
„Tidak ada lantas. Sebab meskipun pandjang lebar kuterangkan,
achirachirnja kau akan berkata lagi: „Aku tidak mengerti”.
Dan djika kau sudah berkata „tidak mengerti”, maka aku
akan berkata lagi bahwa ketidak-mengeranmu itu adalah
karena kau djuga bukan aku.”
„Kalau begitu... kalau begitu, sekarang aku djadi tidak
mengerti karena apa kau sering mendatangi aku?"
„Karena apa? Hm, ja, karena kau bukan isteriku. Dan
karena aku mau pertjaja, bahwa kau adalah manusia jang
meskipun tidak mengerti tapi akan selalu sanggup memberi.
Itulah jang kuharapkan.”
„Saja bersumpah..."
„Tak usah bersumpah."
„Tapi saja bersumpah, demi kehormatan saja sendiri, saja
akan memberikan segala jang ada pada saja."
„Tapi setelah sepatuku kaubuka, akan kaubiarkan kakiku
tidak beralas?"
Marlina tersenjum. Dan setelah tersenjum buru-buru menang-
galkan sandal jang dipakai, dan terus memakaikan sandal
itu kekaki tuan Hamdan.
„Hm,” kata tuan Hamdan, „dengan memberikan sandalmu
jang kaupakai, aku sekarang merasa djadi manusia jang
berhadapan dengan manusia. Inilah tragik dalam kehidu-
pan. Aku merasa djadi manusia dikala orang lain tunduk
kepadaku.”
Dan setelah berkata demikian ia terus memegang dagu Mar-
lina, dan terus menegakkan mukanja.
„Kaulah manusia-kekasihku !" katanja sambil terus akan
mentjium.
Tapi tiba-tiba terdengar suara batu dilemparkan.
„Hei," kata tuan Hamdan, „apa itu ?"
„Apa ?“ kata Marlina. „Tidak ada apa-apa.“
„Kudengar suara batu dilemparkan kesini."
„Oh, itu hajalanmu. Itu lantaran kau tjuriga. Tapi mari kita
masuk kedalam. Aku sudah menjediakan kueh untukmu.”
Tuan Hamdan tidak berkata lagi. Setelah dilihatnja Mar-
lina masuk, iapun masuk mengiringkan.
KESERAMBI rumah tuan Hamdan muntiul Amir, laki-laki
berpakaian perlente. Ia mengetuk-ngetuk pintu. Dan sete-
lah si Wijah tampil, ia bertanja:
„Tüdak ada." „Njonja ?" „Ada." „Katakan ada
Si Wijah masuk. Dan tidak lama kemudian njonja Hamdan
tampil dengan pakaian jang tadi.
„Hallo manisku !" kata Amir. „Hamdan kemana ?"
„Biasa sadja,“ djawab njonja Hamdan.
„Biasa bagaimana ?“
„Biasa, pergi ke si Marlina."
„Dan kau tinggal diam, ja ?"
„Lantas? Memangnja mesti disusul? Biar sadja dia berbuat
sesuka hatinja.“ „Bukan itu jang kumaksudkan. Kemasa-
bodohanmu terhadap suamimu aku sudah tahu. Tapi di-
dalam suamimu mentjari hiburan pada Marlina, mengapa
kau tidak mentijari hiburan pula pada orang lain ?”
„Bagiku orang lain itu tidak ada."
„Tapi ada orang lain jang ingin mentjari hiburan pada kau.
Ada orang lain jang mengagumi ketjantikanmu.”
„Hm, siapa?"
„Aku! Mari kita bersama-sama pergi. Biar malam ini djadi
malam kita berdua."
„Sajang !"
„Mengapa?"
„Sudah kukatakan bagiku orang lain itu tidak ada."
„Kau egoistis, ja ?"
„Begitulah mestinja. Sebab begitulah kenjataan hidup didunia.
Selama kau dimabuk romantik, kau tentu menganggap bahwa
orang lain jang djadi kekasihmu itu seorang dewa pudjaanmu.
Akupun mengalami masa itu. Dan ketika aku kawin, aku
pernah menganggap bahwa orang lain jang djadi suamiku
itu adalah kawan sehidup-semati. Tapi sekarang? Suamiku
adalah orang lain jang berlainan dengan aku. Berlainan se-
bagaimana jang dikatakan suamiku : seperti kambing dan
kuda. Inilah djalan buntu, kekosongan jang mungkin belum
kausadari, tapi aku dan suamiku sudah menjadarinja.
Dan djika kau sudah menjadari bahwa kau dan orang lain
itu seperti kambing dan kuda, tinggal apa lagi jang kau
harapkan dari orang lain ? Aku sudah tahu djawabnja :
orang lain itu mesti dianggap tidak ada !”
„Itu terlalu ! Sebagai suami aku djuga sering merasakan
kekosongan seperti jang kaumaksudkan. Tapi bagiku orang
lain itu masih ada. Kau bagiku masih kelihatan tjantik
menarik.”
„Sebab kau laki-laki. Bagimu, seperti djuga bagi suamiku,
kekosongan itu masih bisa diisi dengan adanja orang lain,
dengan adanja perempuan. Tapi bagiku ? Bagi perempuan
? Hadirmu sekarang dihadapanku bagiku tidak lebih berarti
dari pada sebuah benda perhiasan jang baru menampak
dimata.”
„Oh, pernjataanmu tadjam djuga! Tapi apa salahnja kali ini
kau suka berkurban, menjediakan diri djadi pengisi kekosonganku?
Marf kita kerestoran. Dari sana ketempat dansa."
„Hm, itulah laki-laki ! Mengapa aku, dan tidak perempuan
lain jang kaudjadikan sasaran keegoistisanmu ?”
„Sebab aku anggap: inilah suatu kesempatan jang baik.
Suamimu mentjari hiburan pada orang Jain. Akupun datang
mentjari hiburan padamu."
„Tapi kau salah datang !"
„Tidak. Badanmu jang menarik, jang berlainan dengan
badan isteriku masih akan bisa memanaskan darahku."
„Kau tolol! Bagaimana aku akan memanaskan darahmu,
kalau djiwaku sendiri sepi? Kalau kau mau memanaskan
darahmu, mari masuk kedalam. Disana ada wiski!"
Dan setelah berkata demikian, njonja Hamdan terus masuk.
Dan melihat njonja Hamdan masuk, Amir menggaruk-garuk
kepala seraja katanja:
„Djadi aku jang kalah !"
Tapi setelah berkata demikian iapun terus masuk.
KEHALAMAN rumah Marlina muntjul Rodi dengan tangan
dikepal-kepalkan. Setelah memasuki serambi ia mengintai
dari lobang pintu. Dan setelah mengintai dari lobang pintu
ia pergi lagi kehalaman.
Dari sana ia mengambil batu. Kemudian ia melemparkan
batu itu kearah pintu. Dan setelah melemparkan batu ia
terus menghilang ketempat gelap.
Marlina dan tuan Hamdan tampil keluar.
„Tidak," kata Marlina, „tidak ada orang."
„Lantas?" kata tuan Hamdan. „Apa jang menggoprak baru-
san? Mustahil ada bunji tidak ada orang."
„Barangkali kalong," kata Marlina lagi.
„Nah, ini apa ?" kata tuan Hamdan seraja memungut batu
dari kolong kursi. „Batu ini tidak akan ada disini, kalau
tidak dilemparkan orang."
„Ah, itu tentu perbuatan anak-anak nakal."
„Hm, anak nakal! Kau tak usah menjimpan rahasia."
„Rahasia apa ? Saja tidak menjimpan rahasia."
„Kau ada mempunjai laki-laki lain jang sering datang disini."
„Oh, kau tjemburu ?"
„Lantas ? Aku tidak dapat memahamkan kalau jang melem-
parkan batu ini bukan laki-laki jang sering datang disini."
„Djadi kau belum pertjaja djuga kepadaku? Mesti aku
bersumpah sekarang bahwa hanja kau seorang laki-laki jang
selalu kuterima datang disini?”
„Tidak, tidak perlu. Tjuma bagiku sendiri aku merasa bahwa
sekarang aku mesti pergi. Sudah dua kali orang itu melem-
parkan batu kesini. Siapa tahu jang ketiga kalinja·ia melem-
parkan granat.”
Dan setelah berkata demikian tuan Hamdan terus melangkah.
„Nanti dulu !” kata Marlina. „Aku tanggung tidak akan
terdjadi apa2Dan djika ada terdjadi apa-apa, sebelum kau
jang binasa, lebih dulu aku jang akan binasa.”
„Marlina, kepadamu aku mau pertjaja. Tapi kepada orang
lain aku belum ada niat pertjaja. Dan pendirianku itu
tetap.”
Sekali lagi Marlina mentjoba menahan. Tapi tuan Hamdan
memaksa pergi.
„Besok aku menunggu kau dikantor," katanja.
Marlina memandang tuan Hamdan sampai menghilang. Dan
setelah tuan Hamdan menghilang, ia terus masuk terhujung-
hujung.
Tidak lama setelah Marlina masuk, muntjul Rodi dari tem-
pat gelap. Ia hanja memandang kearah pintu Dan setelah
memandang kearah pintu, iapun terus menghilang kearah
jang ditudju tuan Hamdan.
DIATAS djembatan muntjul Miun dari kanan. Dan ia muntjul
sambil bernjanji-njanji. Dan sambil terus bernjanji-njanji
ia lontjat menghilang kebawah djembatan.
Tidak lama kemudian muntjul pula dua orang pulisi dari
kiri. Mereka tertawa-tawa. Dan sambil tertawa-tawa mereka
terus berdjalan menghilang kekanan.
Achirnja — setelah lontjeng dikedjauhan terdengar berbunji
sembilan kalı — muntjul tuan Hamdan dari kiri. Ia men-
jalakan rokok. Dan setelah menjalakan rokok ia terus mere-
nung.
Dikala ia merenung terdengar suara njonja Hamdan:
„Lantas? Kau mau apa? Kau ingin melihat isterimu bertin-
dak sebagai budjang? Kau mengharap aku membuka lagi
tali separumu dan menunduki kau seperti itu perempuan-
perempuan kampung jang menunduki suaminja?"
Kemudian terdengar pula suara Marlina :
„Aku tanggung tidak akan terdjadi apa-apa. Dan djika ada
terdjadi apa-apa, sebelum kau binasa, lebih dulu aku jang ˙
akan binasa.”
Tuan Hamdan menghela nafas. Dan setelah menghela nafas
ia terus memandang kebawah.
„Pak," kata Rodi jang tiba-tiba muntjul dari kiri, „bapak
seorang pembesar, ja ?"
Tuan Hamdan keheranan.
„Bapak tahu,” kata Rodi lagi, „bahwa rakjat ketjil banjak
jang menderita lantaran kekurangan ?”
Tuan Hamdan jang keheranan djadi tjuriga.
„Tapi bapak senang-senang dengan perempuan, ja?"
„Kau siapa?" tuan Hamdan bertanja sambil mundur.
„Saja bekas suami Marlina."
„Lantas ?"
„Tapi djuga saja salahseorang dari rakjat ketijl jang menderita
kekurangan."
„Lantas? Sekarang mau apa? Untuk mengadukan kekuran-
gan, kau bukan mesti datang kepadaku. Dan untuk mem-
bitjarakan Marlina bukan tempatnja disini.”
Dan setelah berkata demikian tuan Hamdan terus melangkah.
„Nanti dulu !" kata Rodi.
„Tidak !" balas tuan Hamdan.
„Nanti dulu !"
„Rampok !" tuan Hamdan berteriak.
Mendengar tuan Hamdan berteriak, Rodi terus mengamangkan
pemukul. Dan melihat Rodi akan memukul, tuan Hamdan
berteriak lagi lebih keras:
„Rampok !"
Sekali kena pukul, tuan Hamdan masih bisa berteriak lagi.
Tapi setelah dua kali dipukul ia terus djatuh tersungkur
tidak bersuara.
Rodi jang memukul akan terus memukul. Tapi dari bawah
djembatan muntjul Miun seraja katanja.:
„Hei ! Apa-apaan ini ?"
Rodi buru-buru lari kekiri. Dan melihat Rodi lari, Miun
buru-buru mendapatkan tuan Hamdan.
„Aduh, kepalanja berdarah !" katanja. Dan ia terus me-
mangku tuan Hamdan Dan terus membawanja kekanan.
Tidak lama kemudian muntjul dari kanan dua orang pulisi
jang tadi. Sekali ini mereka tidak tertawa-tawa. Dan den-
gan langkah jang tegas mereka tergesa-gesa menghilang kekiri.
DISERAMBI rumah tuan Hamdan, kedatangan tuan Ham-
dan jang dipangku menjebabkan njonja Hamdan si Wijah
dan Amir pada tampil keluar.
„Mengapa ? Apa jang terdjadi?" tanja njonja Hamdan.
„Dia dipukul orang, nja," djawab Miun. „Ontung saja meli-
hat.
„Dimana ?"
„Disana, didjembatan.“
„Terus sadja bawa kedalam. Wijah, tundjukkan kamar tuan!"
Miun terus masuk memangku tuan Hamdan. Dan si Wijah-
pun masuk mengiringkan.
„Sekarang bagaimana?" tanja Amir kepada njonja Hamdan.
„Iidak sedikit djuga kau terharu, ja?"
Njonja Hamdan hanja menghela natas. Setelah mengnela
natas la memanggil si Wijah. Dan setelah si Wijah tampil
ia memerintah :
„Kau mesti segera pergi kerumah Marlina. Katakan padanja
bahwa dia mesti segera datang disini."
„Sekarang, nja ?" tanja si Wijah.
„Ja, sekarang. Kau takut ?"
Sebelum si Wijah membalas lagi, Miun tampil keluar.
„Sudah, nja," katanja, „saja permissi."
„Nanti dulu," kata njonja Hamdan. „Nih uang untukmu."
„Uang apa ?“
„Upahmu."
„Tidak, nja, tidak usah. Tapi, ja, kalau njonja mau men-
gasih, saja terima djuga."
„Kau sekarang mau kemana ?"
„Pulang."
„Pulang kemana."
„Kesana, ke- ... djembatan.“
„Nah, kebetulan. Dia djuga mesti kearah sana, tapi takut
berdjalan sendirian.”
„Baik. Mari kita pergi."
Si Wijah mau tak mau turun. Dan setelah si Wijah turun,
Miunpun turun, terus berdjalan mengiringkan.
„Kau sampai hati, tidak akan menengok ?" tanja Amir lagi
kepada njonja Hamdan.
Njonja Hamdan tidak mendjawab. Dan melihat njonja Ham-
dan tidak mendjawab, Amir tidak berkata lagi terus masuk.
Tidak lama kemudian ia keluar lagi; katanja :
„Dia masih pingsan."
„Biar sadja,” kata njonja Hamdan sambil masuk. „Bukan
aku jang mesti urus, tapi si Marlina.”
„Kau terlalu!" kata Amir sambil masuk pula mengingkan.
KEHALAMAN rumah Marlina muntjul perempuan tua berkudung.
Dan setelah memasuki serambi ia memanggil:
„Marlina ! Marlina !"
„Ada apa, bi?" djawab Marlina seraja tampil.
„Tidak kau dengar orang pada ribut ?“
„Ribut apa?"
„Pulisi mentjari-tjari Rodi."
„Mengapa ? Ada apa terdjadi ?“
„Katanja Rodi menganiaja tuan Hamdan."
Marlina menahan nafas. Dan setelah menahan nafas terus
terhujung.
„Aku djadi gemetar, Marlina." kata perempuan tua. „Aku
tidak menduga dia akan segelap itu. Sepulang dari sini
tadi, aku menasihati dia, malah aku menjuguhi dia makan.
Sehabis makan, kusuruh dia supaja terus pulang. Tapi ru-
panja dia tidak terus pulang. Dia terus kesini lagi. Padahal
disini dia akan melihat sesuatu jang akan menjakitkan hati.”
Dan setelah berkata demikian ia terus menjapu-njapu mata.
„Menangisi siapa ?" tanja Marlina.
„Sedjelek-djeleknja djuga Rodi itu bekas suamimu, Marlina.
Dan djika dia tertangkap, djika dia masuk bui, bukankah
itu salahmu ?”
„Salah saja? Mengapa saja jang salah? Tidak! Saja tidak
salah."
Perempuan tua menjapu-njapu lagi mata. Dan sambil terus
menjapu-njapu mata ia berkata:
„Aku tidak mengerti, sungguh aku tidak mengerti apa jang
dimaui anakanak sekarang. Sebab ketika aku masih muda,
aku berpantang menjakiti hati orang lain, sekalipun orang
lain itu seorang bekas suami."
„Saja jang tidak mengerti," balas Marlina, „mengapa orang
lain terus-terusan mendera saja."
Dan setelah berkata demikian ia terus melangkah akan ma-
suk.
Tapi tiba-tiba muntjul seorang pulisi.
„Njonja jang bernama Marlina ?" katanja.
„ Betul," djawab Marlina.
„Saja mesti melihat-lihat apakah bekas suami njonja ada
disini."
„Saja dan dia sudah bertjerai," kata Marlina. „Karena itu
dia tidak ada disini !"
„Saja mesti memeriksa kedalam."
Marlina tidak mendjawab. Melihat pulisi memasuki rumah,
ia terdiam. Dan melihat pulisi itu keluar lagi, ia tetap ter-
diam.
Tapi setelah pulisi meninggalkan, ia berkata kepada perem-
puan tua:
„Saja harap dia lekas tertangkap !"
Dan setelah berkata demikian ia terus masuk.
Dan melihat Marlina masuk, perempuan tuapun tidak berkata
lagi, terus pergi seraja menjapu-njapu mata.
DIATAS djembatan muntjul Miun dan si Wijah dari kanan.
„Saja mengantarkan sampai sini sadja," kata Miun.
„Rumahmu sih dimana ?" tanja si Wijah.
„Disini."
„Dimana?"
„Disini, dibawah."
„O,... dikolong djembatan ?"
„Ja."
Dan Miun terus lontjat menghilang kebawah djembatan.
Dan melihat Miun menghilang, si Wijah mempertjepat langkah
menghilang kekiri.
TIDAK lama kemudian si Wijah muntjul kehalaman rumah
Marlina. Dan setelah memasuki serambi ia memanggil:
„Neng !"
„O, engkau, Wijah !" kata Marlina seraja tampil. „Ada apa
?"
„Saja disuruh njonja supaja Eneng sekarang datang kerumah."
„Mengapa ?"
„Tuan tjelaka."
„Dan aku diminta datang ?"
„Ja."
„Mengapa? Untuk apa aku diminta datang ?“
„Entahlah. Tjuma njonja bilang, Eneng sekarang mesti ke-
sana."
Sedjurus lamanja Marlina berpikir.
„Baiklah," katanja, „aku akan kesana. Tapi tunggu sebentar.
Aku berpakaian dulu."
Dan ia terus masuk. Tapi sebentar kemudian sudah keluar
lagi dengan badan dibungkus mantel.
„Mari," katanja kepada Si Wijah sambil terus berdjalan.
SETELAH lewat diatas djembatan, Marlina dan si
Wijah muntjul keserambi rumah tuan Hamdan.
Si Wijah terus masuk sendirian. Dan sebentar setelah ia
masuk, muntjul njonja Hamdan diiringkan Amir.
„Suami saja tjelaka,” kata njonja Hamdan kepada Marlina.
„Dia ada jang memukul. Sekarang djuga dia masih pingsan.
Tapi sedjak tadi djuga belum saja usik-usik. Sebab sesung-
guhnja dia tidak mesti dibawa kesini; dia mesti dibawa
kerumah njonja. Saja tahu, baginja njonja lebih dihar-
gai daripada saja. Sekarang silakan njonja masuk mend-
jumpai dia dikamarnja. Dan nanti njonja boleh membawa
dia kerumah njonja.”
Dengan tidak membalas lagi Marlinapun terus masuk
Dan melihat Marlina masuk, Amir berkata:
„Hm, patut Hamdan tertarik, Dia memang tjantik."
Tapi ketika dilihatnja njonja Hamdan terdiam, Amirpun
terus terdiam.
Tidak lama kemudian Marlina tampil lagi keluar.
„Bagaimana?" tanja njonja Hamdan. „Kapan dia akan dibawa
kerumah njonja?"
„Saja tidak melihat kefaedahannja membawa dia kerumah
saja," djawab Marlina, „sebab dia samasekali tidak menge-
nal saja."
Dan ia terus melangkah meninggalkan.
Tapi sebelum menghilang ia berkata lagi:
„Dia memanggil saja „Supraba“. Tapi saja tahu, saja bukan
wajang!“
„Apa? „Supraba"?" tanja Amir.
Njonja Hamdan menjapu-njapu mata.
„He," kata Amir, „sekarang kau menangis?"
„Achir-achirnja perempuan itu memang lemah," djawab njonja
Hamdan. „Aku terpaksa mesti menangis, mesti menjerah
„kepada kenjataan bahwa sebagai perempuan aku mesti men-
tjintai suamiku. Tahu kau apa artinja panggilan „Supraba?"
Itulah panggilan Hamdan kepadaku dikala kami masih bertu-
nangan."
Dan setelah berkata demikian njonja Hamdan terus masuk.
Amir jang ditinggalkan tinggal tertjengang. la melihat kedalam,
kemudian melihat kearah jang ditudju Marlina. Achirnja ia
pergi tergesa-gesa meninggalkan rumah.
DIATAS djembatan muntiul Marlina dari kanan.
Dan dibelakangnja muntjul pula Amir.
„Sudah!" kata Marlina. „Sampai sini sadja tuan mengan-
tarkan.
„Tidak," kata Amir, „biar saja terus mengantarkan sampai
rumah. Saja tidak akan membiarkan perempuan berdjalan
sendirian."
„Tidak perlu. Dari tadi saja sudah bilang bahwa saja bisa
berdjalan sendiri."
„Djangan begitu, doooong."
„Tuan sebetulnja mau apa? Kalau saja mengatakan bisa
berdjalan sendiri, itu berarti saja tidak membutuhkan ban-
tuan dan perhatian dari siapapun djuga."
„Oh, kau keras djuga, ja?"
„Ja, saja keras, sebab saja manusia, bukan bajang-bajang
seperti tuan Hamdan atau tuan!”
Dan setelah berkata demikian Marlina terus melangkah.
Sebelum ia djauh berdjalan, muntjul Rodi dari kiri dengan
diiringkan pulisi.
Tapi melihat kedatangan Rodi, Marlina tidak atjuh. Ia
terus melangkah. Dan terus melangkah. Dan ketika di-
dengarnja Rodi memanggil, ia tidak menoleh lagi, terus
menghilang kekiri.
Setelah Rodi bersama pulisi menghilang kekanan, Amirpun
terus melangkah akan kembali kekanan. Tapi tiba-tiba Mar-
sih muntjul dari kiri. Dan setelah muntjul terus mendehem.
„Hm," kata Amir seraja menghampiri.
„Boleh saja minta api, pak?" tanja Marsih.
Amir menjalakan korek-api.
„Hm, boleh djuga," katanja. „Dimana rumahmu?"
„Disana," djawab Marsih.
„Dimana?"
„Disini, pak," djawab Miun jang tiba-tiba muntjul dari bawah
djembatan. „Disini, dikolong djembatan."
„Hah? Dikolong djembatan?" kata Amir. Dan dengan tidak
menunggu didjawab lagi ia terus pergi meninggalkan. Dan
terus menghilang kekanan.
„Kurangadjar kau!" kata Marsih kepada Miun. „Berani kau
mengalangi maksud orang?"
„Kau djangan terus-terusan butek," djawab Miun. „Kau
kira kau ini sebanding dengan itu laki-laki jang perlente?"
„Dia sudah mau kepadaku. Tapi kau menghalangi."
„Mau apa? Jang njata, baru dengar „kolong djembatan“
sadja dia sudah lari.”
„Itu sebab kau ikut-tjampur. Kau memang kurangadjar!
Kau djahat!"
Dan Marsih terus memukul-mukul Miun. Tapi setelah memukul-
mukul ia terus menangis.
„He, kau menangis?" kata Miun.
„Aku lapar, tahu? Dari pagi aku belum makan. Dan sekarang,
ada orang jang mau kasih duit, kau mengalangi."
„Bilanglah dari tadi bahwa kau lapar!"
„Apa gunanja? Kau tidak akan menolong!"
„Itu lantaran kau butek. Kau kira lantaran aku kumal
aku tidak punja duit ? Nih, lihat sepuluh rupiah! Aku
dapat bukan karena mentjoreng-tjoreng muka seperti kau,
tahu? Tapi lantaran menolong memangku orang jang tje-
laka. Kalau betul kau lapar, mari kita makan sate. Tapi
nanti dulu! Aku mau pergi bersama kau, tapi mukamu
mesti bersih dulu.”
Tidak membantah lagi Marsih terus menjusuti muka.
„Nah, sekarang aku mau pergi," kata Miun. „Tapi nanti
dulu! Sekarang aku jang malu, karena pakaianku kumal."
„Besok aku tjutji," kata Marsih.
„ Betul?"
„Memangnja aku tukang bohong?“
Miun menatap Marsih. Dan melihat Miun menatap, Marsih
buru-buru berdjalan kekanan seraja katanja:
„Kau tidak pertjaja?"
„Bukan" djawab Miun. „Aku suka melihat mukamu jang
tidak di-tjoreng2!" Dan ia terus tertawa. Dan sambil terus
tertawa ia terus berdjalan mengiringkan.