Baca EPUB: Rencong Aceh: Roman Realistis

16 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. RENCONG ACEH
  2. ROMAN REALISTIS
  3. M. CHOSEN
  4. KOLOFON
  5. DAFTAR ISI
  6. PENDAHULUAN
  7. IPEMANDIAN DI PANTAI OLEE LHEUE
  8. IIALUNAN GELOMBANG ASMARA
  9. IIIHATI ORANG MUDA
  10. IVLAMARAN
  11. VHELENA
  12. VINIZAM
  13. VIIPEMBUNUHAN NGERI
  14. VIIISELAMAT TINGGAL
  15. IXMEMBAWA UNTUNG
  16. XTEBUSAN DOSA
  17. XISISA PENANGGUNGAN
  18. UNCOPYRIGHT

RENCONG ACEH

ROMAN REALISTIS

M. CHOSEN


KOLOFON

RENCONG ACEH

ROMAN REALISTIS

karya

M. CHOSEN



MUSTIKA ALHAMBRA

Boekhandel & Drukkerij Kohler & Co.

Paleisweg No. 28, Medan

1940

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: digitalcollections.universiteitleiden.nl

Ilustrasi sampul: Fishing Boats in the Morning, karya Okiie Hashimoto

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam.com



PENDAHULUAN

Lima kilo meter diyaraknya dari Kutaraja, terletaklah pelabuhan Ule Lheue. Beberapa tabung yang lampau, pelabuhan ini masuk salah satu pelabuhan yg terkenal juga di Indonesia, karena sekalian kapal-kapal yang datang dari Eropah ke Indonesia, Maupun yang dari Indonesia ke Eropah selalu singgah di sana, untuk memunggab barang-barang yang diangkut dari Eropah untuk kepentingan ra'yat Aceh dan akan memuatkan barang-barang basil bumi dari kekayaan negeri Aceh untuk Eropah. Tetapi kini pelabuhan itu telah sunyi, tidak disinggabi oleh kapal-kapal besar lagi, karena lautnya telah dangkal, sebagai gantinyia ialah Sabang.

Tetapi Meskipun begitu tempat ini masih tetap ramai, karena, nun...di sana, tiada berapa jaub dari pelabuhan itu, di tepi Pantai Cermin terletak sebuab tempat pemandian yg indah nyaman, yang jadi kebanggaan kota itu. Kutaraja mempunyai tiga buab tempat pemandian yang terkenal yaitu Ule Lheue, Lho‘ Nga dan Mata Ie. Ule Lheue dan Lho’ Nga terletak di tepi laut, sedang Mata Ie terletak di kaki gunung. Di antara ketiga tempat pemandian itu, Ule Lheuelah yang terindah, karena selain tempatnya diberi berpagar besi juga ada disediakan sebuab rumah peranginan tempat tamu bersenangsenang dan berdangsa-dangsa jika kebetulan diadakan musik. Tetapi dalam tabung 1937 tempat ini telah hancur lebur dimakan air laut. Sebagai gantinyia, Mata Ielab diperbagus. Cerita ini terjadi selagi tempat pemandian itu belum runtuh. Pemandian Ule Lheue tiada sama dengan pemandian yang ada di kota Medan, di sana pemandian itu tidak banya tersedia bagi pemuda pemudi Eropah, juga tersedia bagi pemuda pemudi Indonesia dan bangsa asing lainnya. Setiap hari Minggu atau hari Besar, selalu diadakan permainan musik yg dipimpin oleh Aceh Band atau Militair Band untuk menghiburkan tamu-tamu yg datang ke sana.

Penulis.


I

PEMANDIAN DI PANTAI OLEE LHEUE

Suatu hari!................. sekali ini bertepatan pula dengan tanggal 31 Augustus, yaitu hari besar bagi ke-rajaan Belanda. Pada pukul delapan pagi, pemandian itu telah ramai dikunjungi oleh sekalian pemandi-pemandi yang datang dari segenap daerah Aceh, terutama yang dari Kutaraja sahaja. Ramai dan riang di tepi pantai itu, berbagai-bagai kelakuan mereka yang banyak itu. Setengah mereka ada yang asyik mempermainkan bola dalam lamunan ombak yang tiada berapa deras itu, dan ada pula yang hanya melompat dan melungsurkan badan pada sebilah papan, serta tak kurang pula yang hanya memuaskan hatinya dengan berenang-renang ke hilir dan kehulu. Dalam pada itu suara musik Aceh Band senantiasa memerdengarkan hiburannya yang merayu sendu itu, sedang sebahagian mereka yang tidak turut mandi, masing-masing mencari pasangannya berdansa di dalam tempat peranginan itu dengan menurutkan lagu yang diperdengarkan oleh musik itu. Ya, alangkah riang dan ramainya tempat pemandian itu, seakan-akan dia telah dapat dinamai California van Indonesia adanya.....................

Di atas papan tempat melambungkan diri akan terjun ke dalam air, duduk Nizam yang sedang melepaskan lelahnya dari berenang-renang tadi itu. Dari atas springplank itu dia melayangkan pemandanganya kesekeliling tempat pemandian yang indah itu. Terkadang-kadang terlukis senyuman manis pada bibirnya yang tipis itu, entah apa agaknya yang membuat sampai demikian benar. Sekonyong-konyong bahuna dijamah orang dari belakang, dan tatkala dia berpaling, beradulah pandangnya dengan mata seorang anak muda yang sebaya dengan dia.

—“O, engkau Azman, sudah lamakah engkau mandi di sini?” tanyanya.

—“Belum berapa lama, hanya lebih kurang satu setengah jam saja baru”, sahut Azman dengan jenakanya.

—“Belumkah engkau merasai dingin?”

—“Akh, kalau baru satu setengah jam itu, sudah tentu belum ada artinya bagi badanku”, sahut Azman.

—“Patut, lihatlah badanmu demikian tegapnya”.

Setelah keluar ucapan Nizam yang terakhir itu, tiada lagi kedua anak muda itu terdengar berkata-kata. Mereka sama terdiam dan sama melepaskan pemandangan ke bawah. Untung benar mereka ketika itu, karena telah sekian la-ma mereka duduk, belum ada orang yang akan terjun dari papan itu. Ombak lautan Hindia itu tiada berhenti-hentinya bergelung dan memecah, memukul pantai, seakan-akan dia turut pula bersuka ria beserta pemuda dan pemedi yang banyak itu. Panas matalhari telah mulai terik, dan dengan berangsur-angsur dia telah menyiksa ubun-ubun. Semakin lama, tampaklah permukaan laut berpinar-pinar, dan ngauman ombak semakin sayu dan mengerikan. Sekalian pemandi-pemandi itu telah mulai lelah, dan dengan tergesa-gesa mereka mencari tempat perlindungan ke bawah pohon-pohon kayu. Demikian pula rumah peranginian telah penuh oleh pemuda-pemuda Eropa, tetapi ada pula yang mencukupi perlindungannya dengan pa-yung yg. disengajanya membawakan dari rumah.

—“Hei, Nizam hari telah panas, marilah kita berteduh pula ke bawah batang kayu itu!” ujar Azman seraya menunjukkan sebatang kayu yang belum ditunggu orang.

—“Tunggu dulu, engkau lihatlah di sana seorang anak gadis Eropa tengah belajar bere-nang dengan memakai sebilah papan. Bertambah lama semangkin jauh juga dia ke tengah, aku kuatir dia tidak akan dapat kembali ke pantai. Engkau lihatlah badannya pun telah mulai lemah benar”, sahut Nizam seraya menunjuk kepada seorang anak gadis yang jauh dari mereka, dan sedang terapung-apung di dalam gelombang.

Azman menurutkan arah telunjuk Nizam itu, jauh dan sayup tampaklah olehnya seorang nona yang tengah terumbang-ambing itu. Lama kedua bersahabat itu, melihat ke sana. Dalam pada itu, nona tahadi bertambah lama kian letih juga, sekali-sekali dihapusnya mukanya dari siraman air laut yang asin itu. Rambutnya yang hitam dan keriting itu, selalu pula rupanya menghambat pemandangannya. Entah karena yang terumbang-ambing itu, perempuan, entah pun disebabkan kasihan semata-mata yang timbul dalam hati Nizam. Dilihatnya juga ke mana tu-juan papan yang membawa nona itu, tetapi rupanya papan yang menyadi tompangannya bertambah mungkin kian larut juga ke tengah.

—“Hei Azman, ta‘ mungkin nona itu dibiar-kan sahaja, boleh jadi dia tidak akan melihat dunia ini lagi. Marilah kita tolong dengan segera!”

Selesai berkata itu, Nizam melemparkan pe- lampung karetnya ke dalam air, kemudian diturutinya pula. Gaya benar aksinya melompat itu, kedua belah kakinya lurus ke atas, sedangkan kedua belah tangannya lurus pula ke bawah. Setelah dia sampai di bawah, terjun pula Azman menuruti sahabatnya itu. Sekalian mata pemandi-pemandi yang banyak itu sama memandang kepada Nizam, mereka ikutkan ke mana Nizam dan Azman berenang dengan mata mereka......... akhiirnya mata mereka tertambat kepada nona yang tengah terapung-apung tahadi. Nizam berenang dengan pelampungnya itu, berbagai daya dicobanya, agar dia dapat mengejar nona itu.

Dengan sekuat tenaganya, Nizam mengayunkan badannya, terkadang-kadang ditelentangkan nya badannya. Apabila telah penat demikian, kembali pula dia sebagai sediakala. Dalam pada itu Azman yag. jauh tahadi, telah hampir pula kepada Nizam, kedua anak muda itu bagai berpacu-pacu layaknya. Melihat Azman telah hampir kepadanya, dengan sekuat tenaganya Nizam mengayunkan badannya, tetapi rupanya dia tiada dapat mendahului sahabatnya itu, karena ketika itu Azman telah seiiring dengan dia.

Mereka kian hampir juga kepada nona tahadi, sedang tenaga mereka tiada habis-habisnya, karena telah biasa berenang di laut.

—“Nona! Cobalah berhenti!” teriak Nizam dengan kuatnya.

Teriaknya itu tiada berjawab, rupanya nona itu telah letih benar. Tiba-tiba tangannya terlepas dari papan, dan di saat itu juga dia terapung-apung, sebagai sebuah kelapa. Nizam dan sahabatnya bertambah cemas juga, mereka paksa tenaga mereka, akhiirnya antara ketiga anak muda itu tiada jauh benar. Dan tiada lama kemudian, Nizam telah berdekatan dengan nona itu. Sekonyong-konyong nona tahadi tenggelam, diikutkan oleh Nizam. Tengah menyelam dalam air itu, diraba-rabanya, tetapi tiada juga bertemu. Ditimbulkannya kembali badannya kepermukaan air, baharulah ketika itu dilihatnya nona tahadi telah berada didekatnya. Nizam memberi isyarat kepada Azman agar memapah nona itu bersama-sama. Dengan sekuat tenaga mereka, nona itu mereka kayuhkan ke tepi. Pelampung karet Nizam tahadi dipergunakan mereka, sebagai pembawa badan nona itu.

Tiada berapa lama sampailah mereka ke tepi pantai...... Di tepi pantai itu orang telah banyak berkumpul-kumpul, dan sebaik Nizam sampai lalu mereka kerumunilah nona yang telah pangsan itu. Seorang nyonya tua mengeluarkan minyak kelonyor dari dalam tasnya, dan lalu diberikannya kepada Nizam. Minyak itu diciomkan Nizam kepada nona yang pangsan itu. Berangsur-angsur nona itu sedar dan membuka matanya. yang telah merah itu dipandangnyalah Nizam dengan pandang keheranan.

—“Waar......... ben ik? en wie...... ben ye?” tanyanya.

Nizam dan Azman tiada menyahut, hanya dengan tersenyum-senyum dipandanginyalalah orang yang mengerumuni itu. Tatkala matanya beradu dengan pandangan nyonya tua yang membe- rikan minyak kelonyor tahadi, diapunt bertanya dalam bahasa belanda pula.

—“Apakah yang akan kita perbuat?”—“O, ya! Dia telah letih benar, lebih baik tuan antarkan dia ke rumahnya!” sahut nyonya tua itu.

—“Rumahnya? O, di manakah rumah nona?” tanya Nizam kepada nona yang pangsan itu.

Sekonyong-konyong terbit gelak Nizam, karena mengingat kebodohannya menanyai orang yang pangsan itu. Dalam pada itu nona tahadi telah diberi berbaju jas mandi kepu- nyaan Nizam............... Selang lima belas menit kemudian, baharulah dia sedar akan dirinya.

—“Marilah saya antarkan nona pulang. Di manakah rumah nona?” tanya Nizam.

—“Terima kasih. Rumah saya di Situi!” sahut nona itu dengan parau.

Nizam dan Azman serta nyonya tua tahadi lalu membimbing nona yg. pangsan itu, dan tiada berapa lama kemudian Nizam dan Azman beserta nona itu telah berada dalam auto nyonya tahadi..........

Sesampai di muka sebuah rumah yang sederhana, nona itu menyouruh berhenti. Kemudian dia lalu dibimbing oleh Nizam turun ke bawah. Alangkah terperanjatnya ibu nona itu, tatkala dilihatnya anak gadisnya dibimbing pemuda yang tiada dikenalnya sedikit juga. Setelah nona itu turun, auto nyonya tua itu lalu menderu pula....................

Ibu nona itu lalu membimbing anaknya ke dalam kamar tidur, setelah diselenggarakannya, didapatinya pula Nizam dan Azman yang tengah menanti-nanti juga dalam kamar tamu.

—“Saya Nyi Sumiati!” ujarnya seraya mengulurkan tangannya kepada Azman dan Nizam.

Kedua orang anak muda itu memperkenalkan nama mereka pula, kemudian Nyi Sumiati pergi mengambilkan minuman ala kadarnya. Tengah makan dan minum itu, mereka ceritakanlah segala yang telah ditanggung nona tahadi.

Tatkala kedua anak muda itu akan pulang, mereka dibawa oleh Nyi Sumiati ke dalam kamar anaknya.

—“Telah hilangkah mabuk dan pening nona?” tanya Nizam.

—“Belum hilang benar, Tuan! Tetapi amat besar ucapan terima kasih saya atas pertolongan tuan tahadi, sudikah tuan selalu datang ber- ulang-ulang ke rumah ini?“ sahut nona itu dengan tersenyum.

—“Tiada keberatan nona, andainya saya ada mempunyai waktu!”—“Waktu? Sudah bekerjakah tuan?”—“Sudah, Nona! Pada Firma Yew & Co!”—“O, bolehkah saya mengetahui nama tuan?”—“Nama saya Nizam dan sahabat saya ini Azman!”—“Terima kasih, nama saya Helena!” sahut nona itu pula.—“Terima kasih! Tetapi sekarang biarkanlah kami pulang!”—“Ya, tetapi saya harap tuan jangan lupa datang berkunjung ke rumah yang sunyi ini!” sahut Helena pula.

Kemudian Nizam dan Azman lalu keluar, dan dengan sebuah taxi yang berbetulan lintas waktu itu, kedua anak muda itu lalu pulang. Tatkala taxi itu sampai di Kebun Belhover turun pula Nizam, sedangkan Azman meneruskan perjalanannya menuju Punge……

—O—

Kata filsafah:

............. lebih baik seorang miskin, yang mempunyai perjalanan hidup dengan sederhana, dari pada seorang kaya yang bodoh.


II

ALUNAN GELOMBANG ASMARA

Hari senantiasa berlalu dan terus beralih dan beredar mengelilingi kehidupean manusia. Demikianlah adanya, sekarang telah banyaklah masa yang dilalui Nizam dalam hidupnya. Semenjak dia sudah berkenalan dengan nona Helena, selalulah dia datang berkunjung ke rumah anak gadis itu. Ada juga kedua anak muda itu pernah duduk bercakap-cakap, dan terkadang kadang mereka pergi pula ke tepi pantai Olee Lheue, mandi bersama-sama. Akan Helena, ru-panya dia tiada pula menolak atas ajakan Nizam itu, karena dia adalah seorang anak gadis yang peramah dan amat suka bergaul. Dia tidak suka memandang dengan kesombongan kepada siapa pun juga, istimewa kepada Nizam yang telah membantu dia itu. Nizam dipandangnya sebagai seorang sahabat baik, dan seorang pe-muda yg. patut menyadi kawan, itulah sebab-nya kedua anak muda itu kian hari bertambah rapat juga. Semua hal ihwal rumah tangga Nizam hampir diketahui oleh Helena, demikian pula hal rumah tangga Helena sendiri. Oleh karena itu, Nizam telah mengetahui bahwa ayah Helena itu seorang yang terkenal juga dahu-lunya. Tetapi karena dia beristerikan seorang perempuan Indonesia, maka pengharapan itu semakin hari bertambah berkurang, istimewa setelah dia mendapat pensiun seperti sekarang, di mana dia telah amat jarang bergaul dengan te-man sejawatnya. Orang tua itu terkenal sebagai seorang panglima yg. gagah dari tentera pemerintah, dia telah pernah ikut berperang ke Aceh da-hulo, bahkan telah ikut pula mena'luk-kannya sekali. Betapa penderitaan orang tua itu, ketika dia tengah terkepung pada satu pedataran tinggi. Di kiri kanannya tentera Aceh telah mengancam dan siap akan meniwaskan nyawanya.

Ketika itu bukanlah nyawa dan musuh yang menyadi buah pikirannya hanyalah deritaannya kepada kehausanlah yang memusingkan pikiran dan melemahkan badannya. Di situlah dia baharu mengethui betapa harga secangkir air, dia meraba-raba berkeliling pedataran yang kering itu. Air...... air...... itulah yang menjadi idamannya, tetapi ke mana sahaja dia bergerak, di sana terdengar suara musuh tengah berteriak-teriak dan siap akan meniwaskan nyawanya. Hausnya semangkin mendenting-denting............ akhirnya di atas sebuah boakit yang agak terjarak dari batas peperangan itu, didapatkanyalah sebuah kolam yang kecil dan mata airnya pun amat ke-ruh. Dengan tiada memikirkan akan akibat meminum air kotor itu, diminumnyalah air itu dengan sepuas dahaga.............

Setelah peperangan usai!

......... tentera Aceh telah dapat dita'lukkan, maka tentera pemerintah undur kembali ke tempat perkumpulan mereka. Di sana sekalian ten-tera itu diperiksa kesehatan badan mereka. Ru-panya ayah Helena telah ada menanggung bibit penyakit cpust, dan menurut kata dokor dia telah termakan barang kotor. Hati ayah Helena itu tiada merasa puas dengan pemeriksaan yang sebegitu sahaja, lalu dia meminta supaya diizin-kan berangkat ke Bandung. Hasil pemeriksaan dari sana, telah diketahuinyia bahwa dia telah termakan racun. Menurut dugaannya, racun yang telah memasuki badannya itu ialah ketika dia meminum air tebat di atas boakit, ketika ber-perang di Aceh dahulu itu. Semenjak itulah dia tiada dipakai lagi dalam dinis ketenteraan, sebagai pembalas jasanya, pemerintah memberi dia sokongan uang sebanyak f.50.—sebulan. Mula-mulanya, setelah dia mendapat pensiun itu, lalu dibawanya anak dan isterinya pindah ke Betawi. Kedua mereka mula kawin dahulu, ialah ketika tuan Tuindorp itu baharu datang ke Indonesia ini, dan berapa tahun kemudian pasangan itu telah mendapat seorang anak, ialah Helena itu.

Setelah berapa lama mereka tinggal di Betawi, dan Helena pun telah besar. Rupanya anak itu hidup dengan beroyal-royal pula, maka mereka pun pindah kembali ke Kutaraja......... hingga sampai kepada waktu perkenalan Helena dengan Nizam itu......... Di tanah yang terletak di ujung Sumatra itulah sebuah rumah tangga itu meneruskan hidup mereka dengan mempunyai bekalan yang f 50.—sebulan itu..........

Pada suatu hari ada ditanyakan Nizam apa sebab ayahnya selalu berulang ke rumah sakit, bukankah penyakitnya yang lama sudah sembuh. Helena tidak mau menerangkan kepada anak muda itu, karena itu adalah rahsia ayahnya saja. Nizam pun tidak menyesakkan pula, karena dia pun tahu membatas antara rahsia penting dengan yg. tidak patut menyadi rahsia.

Akan Helena pun tidak pula menanyakan peri kehidupan Nizam, sahabatnya yang baik hati itu. Menurut cerita Nizam kepada gadis itu, adalah dia dan orang tuanya tiadalah anak Aceh asli. Pada berapa tahun yang berlalu orang tuanya itu datang merantau dari tanah Jawa ke sana. Rupanya di masa itu Aceh sedang mengecap hawa yang baik, maka kehidupan orang tuanya turut pula kena limburan pasang hidup yg. baik itu, sebab itulah dia tetap tinggal di sana hingga sampai Nizam dewasa dan tammat dari sekolahnya di Betawi dan sampai pula mendapat pekerjaan di Firma Yew & Co itu.

Demikianlah. keadaan kedua rumah tangga famili itu.........

Suatu hari!

........... hari ahad, saat kaum buruh menda-pat tempo akan melepaskan lelahnya selama be-kerja dalam sepekan itu. Pagi benar baharu, cahaya matahari telah bersinar dengan permainya. Dari celah-celah bukit dan daun2an menyem-burlah sinar yg, kuning, dan apakala dia jatuh ke atas pohon yang masih rendah, tampaklah se-titik embun yang berkilat bagai mutiara. Dengan perlahan-lahan dan sambil menghirup hawa pagi, berjalananlah Nizam menuju Situi. Sekali ini dia sengaja berpakaian secara pemuda modern, celananya terbikin dari pada kain palmbeakh dan kemeja dari pada kain totaal. Jauh dia lagi akan sampai ke rumah Helena, telah tampak olehnya anak gadis itu tengah duduk diam-diam dalam taman bunga, di hadapan rumahnya.

Nizam tersenyum!

Kemudian diputarnya haluan jalannya ke-arah belakang rumah itu, dan tiada berapa lama dia telah sampai ke dekat Helena. Anak gadis itu tengah memetik sekuntum mawar yang tum-buh di dekat tempat duduknya itu. Tiba-tiba Helena berpaling, karena dirasainya bahuna di-jamah orang dari belakang.

—“Hei, dari manakah engkau masuk? Bukankah pintu pekarangan rumahku masih bertu-tup?” tanya Helena sambil tersenyum.

—“Wahai Lena, kalau aku suka memasuki sesuatunya, tiadalah yang ada menjadi halang-an sedikit jugea. Dari lobang jarum yang se-halus-halusnya aku dapat masuk, pendeknya masuk angin, maka dapat pulalah badanku lalu di situ. Percayakah engkau, Lena?”

—“Kalau begitu engkau pen.........curi?” ujar Helena pula.

—“Ya aku pencuri, tetapi sekarang aku pula yang telah kecurian!”

—“Engkau kecurian?” tanya Helena dengan terperanjat.

—“Ya, tetapi pencuri itu amat hampir sekarang kepadaku!” ujar Nizam seraya tersenyum pula.

—“Ha, ha, berjenaka pula engkau sepagi ini!” ujar Helena dengan tertawa.

Sekonyong-konyong tangan Nizam telah meraba daguk anak gadis itu. Tetapi cepat sebagai kilat tangannya diterpiskan Helena. Kemudian anak gadis iu menentang matanya dengan sengit, tiada lama pula yang demikian itu, karena sekonyong-konyong dia tersenyum dengan manisnya.

Helena bangun dari duduknya dan dipetiknya sekuntum mawar. Kemudian mawar itu disematkannya pada dada Nizam. Sekali lagi tangan Nizam terdorong! Dipegangnya tangan anak gadis yang bulat bagai lilin dituang itu.

Helena menarikkan tangannya dengan kasar, dan dengan pandangan yg mengandung kebencian ditatapnyalah wajah Nizam. Sedangkan langkahnya undur juga ke belakang.

—“Marahkah engkau, Lena?”

Helena tidak menjawab sepatah kata pun, dia undur juga ke belakang hingga sampai ke-anak tangga rumahnya yang pertama benar. Ke-dua belah tangannya diletakkannya pada pinggangnya dan matanya yang menyemburkan panah berapi itu tiada putus-putusnya memandang wajah Nizam yang tengah tegak dengan termangu-mangu itu.

—“Lena, engkau cabutlah kembali bunga ini!” ujar Nizam pula.

—“Tidak Nizam, bunga itu kusisipkan pada dadamu ialah dengan perasaan yang sukacita dan akan kucabut pula dia dengan ke-sukacitaanku!” sahut Helena dengan tiada tertawa sedikit juga.

—“Ya, tetapi tiada sanggup mata saya memandangnya!”—“Ya, saya percaya bahwa mata engkau tiada tahan memandang bunga itu karena memang bunga itu tiada bagus dan bukan bunga tanah airmu!”—“Apa Lena?........... tetapi adakah orang tua kita di rumah?”—“Tidak, dia pergi.........”

Nizam menganjur langkahnya ke muka akan mendekati anak gadis itu, dan entah apa gerangan sebabnya hati Helena telah lembut kembali. Anak muda itu dibawanya kedapur. Sementara Helena memanggang roti, Nizam duduk memperhatikan kecekatan tangan anak gadis itu bekerja. Seorang gadis Eropa sebagai Helena itu, tiada canggung bekerja didapur. Biasanya pekerjaan yang demikian itu diserahkan sahaja kepada babu atau koki. Benarlah kiranya, bahwa di dunia ini adalah uang sangat berpengaruh atas edaran hidup manusia. Tersebab karena uang sesorang itu dapat menyadi mulia dengan semulia mulianya, tetapi tidak kurang pula karena uang itu mereka terjatuh kelumpur hina dena, tiada berharga sedikit juga pun di mata khalayak.

Berbagai nodaan dan gelaran yang diberikan kepada seorang yg. hanya mementingkan hidupnya guna mencari uang. Dikatakan orang tiada pandai mengatur langkah hidup dan memperbedakan waktu, dia digelarkan seorang materialist.

Tetapi, andainya orang itu tiada turut berjuang, atau membuat kehidupannya sebagai sambilan sahaja, maka kepada orang itu diberikan gelaran pemalas dan orang yang tiada tahu mempergunakan pemberian Tuhan.

Sengsara......... ya, sengsaralah yang dirasainya sepanjang hayatnya, Air matanya mengalir mem- basahi tikar tamsil hidupnya, air matanya tercurah karena melihat temannya bersuka ria mendapat kebahagian hidup......... Payah...... ya payah benar hidup di dunia ini, dalam segalaganya manusia itu harus berlaku sederhana. Kesemuanya itu dapat dilakukan andainya mereka belum terpengaruh oleh nafsu dan hawa yang berapi-api.

Lama Nizam tercengang melihat kecepatan Helena mengikis kerak roti yang sudah selesai dibakarnya itu. Membayang warna darah pada tangannya yang putih bersih itu, dan tiap-tiap tangannya menekankan pisau tampaklah darah turun naik pula. Di situ Nizam insyaf bahwa memang kehidupan dengan uang yang f 50 sebulan belum mencukupi bagi satu rumah tangga bangsa Eropa. Berlarut larut Nizan, dalam kenangan dan neraca pertimbangannya, hingga tiada diketahuinyia roti yg. dikikis Helena tahadi, telah tersaji di hadapannya dengan secangkir kopi susu panas.

Bagi Nizam, minum dan makan di rumah Helena tiadalah menyadi kecuali lagi, sebab itu dengan tiada malu malu kopi dan roti yang sekerat tahadi telah habis dalam seketika sahaja. Kemudian kedua muda teruna itu duduk bercakap cakap, tetapi ta‘ sebuah juga cerita Helena yang diperhatikan Nizam, entah karena rasa keenakan roti tahadi belum lenyap dari mulutnyia, entahkan karena matanya senantiasa memandang kepada Helena sahaja. Dalam pada itu matahari telah mulai bersinar terik, sawah sawah yang tampak dari belakang rumah Helena itu, bagai petak-petak barisan serdadu pada garisan peperangan pada beberapa tahun yg berlalu. Cahaya matahari yg. masih lembut dan kuning, laksana bekejaran dalam alunan air sawah yg. beriaK perlahan lahan itu. Sementara itu, barisan padi yg. baharu sejengkal dari tanah ta‘ obahnya sebagai barisan unggas yang telah siap akan terbang..........

Sunyi senyap sahaja dalam kamar dapur itu, Nizam dan Helena tiada berkata agak sepatah juga..........

—“Alangkah bagusnyia mawar yang tersisip pada dadamu itu, Nizam!” ujar Helena tiba-tiba.—“Tidak, tidak, karena dia menyakitkan mata dan lagi dia pen...........!”—“Pen........... pen........... akh pencurikah maksudmu, Nizam?” Nizam tiada menjawab, hanya dengan hasrat gairatnya, ditentangnyalah wajah Helena yg. ke-merah merahan itu.—“Lena! kata Nizam tiba-tiba, bolehkah aku mengatakan kepadamu, bahwa aku cinta kepadamu?”—“Cinta? Apakah itu cinta? Ik ken hem nog niet, miyn beste Nizam!”—“Akh........... tentu sekali engkau baharo mulai berkenalan dengan dia, bukan?”—“Ya,”—“E-hem, amat boleh jadi begitu!” sahut Nizam.—“Sungguhnya Nizam, aku belum mengetahui apakah dianya cinta itu. Walaupun te-lah banyak negeri yang besar-besar yang telah ku ja-lani, seumpama Betawi, Bandung dan Sura-baia, tetapi rasanya tiada akan berdusta aku kiranya, kalau aku katakan bahwa aku belum mengenal akan cinta itu. Jadi baharo sekali inilah aku mendengar perkataan cinta itu, itu pun keluarnya dari mulut seorang pemuda bangsamue...........!”—“Hem, pemuda bangsaku!” sahut Nizam seraya memutar mutarkan gelas minumnya tahadi.—“Ya, pemuda bangsa engkaualah Nizam. Bukankah engkau pemuda bangsa............?”

—“Sudah Helena, yang aku tanyakan belum berjawab. Sekarang perkataanmu telah me:embet kepada soal bangsa dan pemuda......! Tiadakah engkau kasihan kepada hatiku yang merana ini?”

—“Apakah itu merana?”

—“Bersedih hati!”

—“Bersedih hati? Sedihkah engkau kalau kalau cintamu tiada berbalas? Bukankah banyak gadis bangsamu yang patut engkau cintai?”

—“Jadi sebenarnyakah engkau tiada mencintai aku?”

—“Entahlah Nizam. Hanya pada beberapa hari yang terkemudian ini, rupa engkau senantiasa terbayang bayang di ruang mataku. Kalau aku mengerjakan sesuatu selalu sahaja tiada langsung, karena memang pikiranku senantiasa melayang kepada.............!”

—“Jadi............?”

—“Akh.......... entahlah!‘

—“Sudah adakah pemuda bangsamu yang telah mencintai engkau?”

—“Pemuda bangsaku? Tidak, aku tidak ada mencintai seorang pemuda pun!”

—“Jadi tidakkah engkau cinta kepadaku?”

Helena tiada menjawab, dia begerak hendak bangun. tetapi seketika tangannya dipegang erat-erat oleh Nizam.

—“Raak me niet aan!”

—“Ben ye boos op miy, Helena?”

—“Akh, raak me niet aan!” ujar Helena seraya menarikkan tangannya dengan keras.

—“Ik heb ye lief, Lena!”

—“Onzins!” sahut Helena seraya pergi ke pintu dapur.

Sekonyong konyonyong terdengar suara kusir sado menyeruh kudanya berhenti. Sambil berlari ke muka, Helena berkata::

—“Ibu pulang!”

Tetapi tiada berapa langkah Helena berlari itu, dia telah kembali beserta ibunya. Nyi Sumiati.

Sementara Nyi Sumiati mengemasai barang-barang yang baharu dibelinya tahadi, Helena telah berlari ke dalam kamarnya.

Nizam terdiri juga dalam dapur itu, di-perhatikannya satu persatou barang pembelian itu Alangkah pandainya Nyi Sumiati berbelanja. Dengan uang yang sedikit, dia telah dapat membawa barang-barang yang sederhana.

—“Sudah lamakah engkau datang Nizam?” tanya Nyi Sumiati tiba-tiba.—“Sudah lama juga, Nyi!”—“Adakah si Helena memberi engkau minum?”—“Ada Nyi......... Tetapi, ke manakah tuan Thuindorp?” tanya Nizam lagi.—“O, sekarang dia telah dipaksa doktor tinggal di rumah sakit!”—“Belumkah sembuh penyakitnya?”—“Belum, lagi pula menurut kata doktor dia harus dioperatie. Dan kami harus memba-yar wagnya sebanyak ƒ 50—terlebih dahulu, dan kemudian ditambah pula dengan jumlah ƒ 100—“ ujar Nyi Sumiati seraya menyimpan kaleng mentega ke dalam almari makan.—”Jadi bilakah tuan itu dioperatie?“—”Akh, itulah yang menyadi pikiran kami. Bagi kami jumlah uang sekian banyak, bukan-lah jumlah yang dapat kami carikan dengan seketika sahaja...............!“

Sunyi senyap pula ketika itu! Tiba-Tiba Nyi Sumiati berpaling kepada Nizam.—“Susah pulakah engkau atas kedukaan kami itu, Nizam?” tanyanya tatkala didengarnya Nizam menarik napas panjang.—“O, tidak! Hanya pikiran saya melayang kepada peri kehidupan kita sekarang. Sebagai sa- ya sehajalah umpamanya, setiap bulan saya menerima upah jerih payah saya sebanyak f 75 sebulan. Sedianya bagi kehidupan seorang pe-muda jumlah itu telah dapat ditabungkan-nya agak f 15 dalam tiap-tiap bulan. Tetapi lain halnya atas diri saya. Hanya saya merasa syukur juga, karena hidup saya terlepas dari beleng-gu hutang:“ ujar Nizam seraya melayangkan pemandangannya keruangan dalam.

—Mujur jugalah itu!“ Sahut Nyi Sumiati.—”Tetapi, bukankah tuan Tuindorp itu se-orang yg. bekas pejabatan pemerintah?“ tanya Nizam lagi.—”Ya tetapi dia diperhentikan bukan kare-na jasa, hania karena ke'uzuran badannya telah amat sangat!“—”Jadi tiadakah pemerintah dapat meno-long?“—”Sudah tentu, apalagi kabarnya pemerin-tah tengah perlu kepada uang, karena dia ka-barnya akan meluaskan begrooting untuk per-tahanan negeri ini dan juga sebagai pencu-kupkan ketekoran uang masuk dalam pepe-ra-ngan dengan Aceh dahulu!“ Harapan Nizam akan bertemu dengan Helena kembali telah tipis, kemudian lalu dia minta di-ri sahaja akan pulang. Selang seketika kemudian, dia telah menaiki sado menuju Kebun Belhover............


III

HATI ORANG MUDA

Sesampai di rumah, Nizam terus menghempaskan badannya ke atas tempat tidurnya, kedua belah matanya senantiasa memandang keatap rumahnya. Sebentar sebentar terdengar dia menarik napas panjang. Tiada teringat sedikit juga olehnya akan mempergunakan waktu yang terluang itu dengan berjalan jalan akan mengecap kenyamanan hawa. Setelah lama dia membaringkan badan itu, baharulah teringat olehnya bahwa pakaian yang dipakainya waktu berjalan tahadi, belum ditukarnya dengan pakaian rumah. Setelah dia bertukar pakaian, dicobanya pula mengisi perutnya yang telah mulai lapar itu, tetapi sebanyak nasi yang dimasukannya ke dalam mulutnya, sekian banyak pula kenangan-nya melayang-layang. Akhirnya nasi yg. sepiring itu tiada dapat dihabiskannya. Setelah selesai mencu-ci tangan, dicoba cobanya pula merintang rintang hatinya dengan membaca buku buku, itu pun tiada lama. Hanya satu halaman lembaran buku itu dibacanya, telah diletakkannya ke atas meja. Dari sana dibaringkannya badannya kembali ke atas tempat tidurnya............

Agaknya karena penghunyi rumah itu sedang berpergian, maka kesunyian itu dapat juga menidurkan matanya.

Malam harinya!

............... tatkala dia telah terbangun kembali, alangkah ta'jubnya dia karena rumahnya telah disinari lampu. Kiranya hari telah malam pula. Jam dinding kamarnya telah menunjuk-kan pukul tujuh liwat seperempat. Dengan tergesa gesa dia bangun dan lalu mandi. Ke-mudian dicobanya pula duduk di hadapan meja tulinsya. Diambilnya sehelai koran yang terbit hari sabtu semalam, tetapi hanya baru bebe- rapa baris yang dibacanya, koran itu telah dilemparkannya pula ke atas lantai.

Sekonyong konyong terdengar suara ketukan pintu, sebelum adiknya sampai ke sana, Nizam telah membukakkan pintu itu.

—“Di sinikah rumah engku Nizam?” tanya seorang anak yang tegak di luar itu.

—“Ya”.

—“Nona Helena yang tinggal di dekat rumah tuan saya, menyuruh memberikan surat ini kepada tuan. Tetapi saya disuruhnya meminta upah jerih saya kepada tuan!” ujar anak itu.

—“Berapa sen?” tanya Nizam seraya meminta surat itu.

—“Lima sen!”

Jumlah itu diberikan Nizam, dengan perasaan yang cemas dan girang surat itu dibawanya ke dalam kamarnya. Sebelum enpelop surat itu dibokekanya, terlebih dahulu diciumnya ber-ulang-ulang, kemudian baharulah dibacanya:

Sahabatku Nizam!

Aku harap engkau suka memahamkan isi suratku ini. Aku katakan kepada engkau, bahwa janganlah engkau ulang ulangi lagi perkataan Cinta itu di dekat telingaku. Akh Nizam begitulah rupanya perasaan pemoda bangsamu. Amat lekas menyatakan cinta kepada seorang gadis, tetapi amat jarrang yang sungguh sungguh menepati. Semangat ini dinamai orang Barat sana dengan “vurig” atau sebagai cecing kepansan. Aku harap engkau jangan sebagai itu pula. Sekian!

Helena Tuindorp

—“Alangkah sombongnya gadis ini, seakan akan dia telah merasa bangga dengan cinta yang telah kutumpahkan kepadanya............!“ rutuk Nizam seraya meletakkan surat itu ke atas meja.

Dibaringkannya badannya kembali ke atas tempat tidurnya. Tiba-Tiba terdengar suara orang memanggil manggil namanya di halaman,

—“Engkaukah itu Azman?”—“Ya, tidakkah engkau keluear rumah semalam ini?” tanya Azman seraya naik ke atas rumah.

—“Akh............ sebenarnya pada malam ini memang aku tiada akan pergi ke mana mana pun.......... tetapi karena engkau telah datang menjeput aku, biarlah aku pergi juga!”

Sementara Nizam berpakaian, Azman duduk menghadapi meja tulis sahabatnya itu. Tiba-Tiba matanya terlihat kepada surat tahadi. Dengan tiada meminta izin kepada Nizam, surat itu dibacanya sahaja.

—“Akh, rupanya engkau hendak merasai penyakit cinta pula?” tanyanya kepada Nizam.—“Tidak!”—“Jangan berdusta, Nizam. Lebih baik aku katakan kepadamu, kalau engkau akan mencintai seorang gadis, lebih baik engkau ciari- lah yang tiada sebagai Helena itu!”—“Bagaimanakah dia itu?”—“Sombong! Lagi pula dia seorang gadis barat!”—“Apa salahnya!”—“Salahnya memang tidak ada, tetapi percayalah engkau Nizam, memang Barat dan Timur itu tiada akan dapat bersatu!”—“Sudahlah Azman. Marilah kita berjalan jalan!” ujar Nizam seraya keluear dari dalam kamarnya itu........

Keesokan harinya! Nizam!“ ujar Raden Sudarmo ayah Nizam.

Pada malam nanti hendaklah engkau jangan pergi ke mana mana!“—”Mengapa ayah?“ tanya Nizam seraya melekatkan dasinyia.—”Ada satu maksud yang akan kami katakan kepada engkau!“ sahut Raden Sudarmo seraya masuk kembali ke dalam kamarnya.—”Sudah pergi dia?“ tanya encik Khadijah ibu Nizam, dengan setengah berbisik. Raden Sudarmo menggelengkan kepalanya, dan lalu duduk pula di samping isterinyia. Seraya mengepulkan asap rokok kereteknya ke udara, dia memandang tenang tenang kepada sebuah potret yang terletak di atas sebuah meja bundar di hadapan tempat tidur.—”Pada pandanganku, tiada akan kalah rupa si Deliana ini dengan si Nizam!“ katanya tiba tiba.—”Ssst........ bukankah dia masih di rumah?“ cejar encik Khadijah seraya menunjuk ke arah luar. Kemudian Raden Sudarmo pura pura berjalan jalan keruangan muka, demi dilihatnya Nizam telah ta‘ ada lagi masuklah dia kembali ke dalam kamarnya.—”Bagaimanakah pikiranmu seandainya lamaran ini tiada diterima Nizam?“ tanya Raden Sudarmo seraya memperhatikan bentuk muka Deliana dalam potret itu.—”Pada pikiran adinda, kalau gambar ini telah dilihatnya nanti, tentu dia tidak akan memampik. Memang dalam daerah Kota Raja ini, belumlah ada tandingannya kecantikan anak gadis ini!“ Dahulu. kira-kira dua belas tahun berselang, Raden Sudarmo telah berkenalan bahkan bersahabat karib dengan ayah Deliana itu. Mereka sama-sama bekerja pada salah sebuah kantoor pe-jabatan pemerintah di Bandung. Ketika itu

Deliana telah berumur 5 tahun dan Nizam 10 tahun. Pada tahun 1930 hantu malaise mulai mengamuk, nenyakit overproductie kaum buruh menjadi jadi. Banyak firma dan kantor-kantor yang terpaksa mengurangkan personelnya, bahkan ta‘ kurang pula yang terus menutup perusahaannya. Hantu malaise mengamuk, bukan sahaja golongan partikulir yang merasai amukannya itu, bahkan pihak pemerintah tiada pula dapat menceraikan dirinya. Berapa banyaknya ambtenaar-ambtenaar B. B. yang diperhentikan. Dan saat itu rupanya sampai pula kepada penghi-dupan kedua bersahabat tahadi. Dengan ber-alasan hendak mengurangkan begroting, mereka dilepas dari jabatan masing-masing. Raden Sudirno, ayah Deliana memusing langkahnya ke arah pulau Sumatra ini. Semenjak dari Lampung di ujung Sumatra yang berhampiran dengan pulau Jawa, hingga sampai ke Aceh unjung Sumatra sebelah utara habis dijalani Raden Sudirno dengn anak dan isterinya.

Di Kutaraja dia telah mendapat pekerjaaan sebagai kerani pelabuhan Olee Lheue........... demikianlah kissah perjalanan kehidupan Raden Sudirno. Setelah dua tahun dia tinggal di Kutaraja itu, baharulah diketahuinyia bahwa sahabat karibnya, Raden Sudarmo berada di-dekat tempat tinggalnyia. Semenjak itu persaha-batan mereka yang telah renggang berapa lama itu, kembali mereka sambung dan perteguh.

Adapun Deliana, setelah ayahnya mempunyai pekerjaaan yang tetap, dimintanyalah supaya dia di sekolahkan ke Medan, guna menyambung peladiarannya.

Tiga tahun Deliana bersekolah di Medan, dapatlah dia menamatkan pelajarannya dari HIS.

Oleh karena dia telah remaja benar, ayahnya Raden Sudirno tiada suka meneruskan pelajaran akan gadis itu lagi.

Sewaktu kedua keluarga itu berdiam di Bandung, Deliana dan Nizam telah berkenalan juga. Anak gadis kecil itu tiada menarik perhatian Nizam, karena sipat dan percakapannya agak menggambarkan kesombongan dan keangkuhannya.

Sekarang!

......... setelah mereka sama remaja dan telah sama harus menginjak dunia rumah tangga, maka tergeraklah dalam hati kedua ibu bapa mereka mempertemukan kedua muda teruna itu.

Dan bagaimananakah dengan Nizam? Diterimankakah lamaran itu? Sampai hatikah dia melebur cintanya kepada Helena, gadis Indo itu? Segala pertanyaan itu akan di jawab pada malam nanti, dan keputusannya adalah bergantung kepada Nizam sendiri. Akan Raden Sudirno dan ibu Deliana telah setuju benar akan mengambil dia sebagai menantu atau menyadi suami bagi Deliana..........

Sekonyong-konyonk Raden Sudarmo berbangkit dari kedudukannya dan terus masuk ke dalam kamar tulis Nizam. Sedangkan isterinya lalu mengerjakan makanan malam kelak.

Pukul empat petang!

......... Nurliana adik Nizam yang baharuberumur 13 tahun, keluear dari dalam kamar mandi. Di tangannya terjinjing sebuah penyiram bunga dan pada tangan kirinya sebuah sapu lidi.

Setelah selesai menyiram bunga, sapu lidinya diberinya pula mempunyai kewajiban membuangkan sampah dari halaman rumahnya.

Nurliana, adalah seorang anak gadis yang hidupl dalam lingkungen pingitan ibu bapanya. Setelah dia dapat menamatkan pelajarannya pada sekolah Melayu, dia hanya menjadi menteri dapur sahaja.........

Tatkala dia melihat gambar Deliana, terbit sebuah keinginan dalam hatinya akan meniru kemoderenan gadis itu. Sementara dia menyapu itu dipuaskannyalah hatinya dengan angan-angan belaka, hingga tiada di ketahuinyia pekerjaannya telah selesai..................

—O—

Ucapan Filosoof:

“Segala kesenian yang dapat membangunkan kegirangan dan semangat bekerja, membawa manusia ke jalan keberuntungan. Hanya sanya yang kesenian itu, ialah kesenian yang menggirangkan hati, itulah kesenian yang sebenarnya...........

Skhiller.

“Tidak akan ada kebesaran kesenian itu, yang tidak ada mendapat kecintaan orang banyak.............”

Lionardo.


IV

LAMARAN

Malam harinya!

........... jam yang tergantung pada dinding kamar Nizam telah berdenting delapan kali, alamat hari telah pukul delapan malam. Dia masih bertekun dalam kamarnya, menanti nantikan ayahnya memanggil dia akan memperundingkan maksud yang telah dibayangkan siang hari taha-di. Dalam ruangan tengah tampak encik Khadi-jah duduk seorang diri, dan tangannya tengah asyik memperhalus sirih yang ada dalam tabung penepungnya itu. Dalam kamar lain terdengar suara Raden Sudarmo tengah membaca do’a dengan perlahan-lahan, sedangkan di kamar yang bertentangan dengan kamar Nizam, terdengar pula suara Nurliana tengah bernyanyi dengan perlahan-lahan. Di luar rumah, cuaca terang samar. Cakrawala yg luas itu tengah mengandung awan yg menyelimuti sinar bulan yg baha-ru sepuluh hari itu. Suara desauan daun ke-lapa yang melambai-lambai, bagai nyanyian sayu menyambut sinar bulan yang muram dan kusam itu.

Sunyi senyap sahaja dalam rumah itu, seakan akan penghunyinya tiada suka sedikit juga akan berkata kata.

Tetapi tiba-tiba, Nurliana keluar dari dalam kamarnya, setelah dia melihat kepada ibunya yang tengah me-entak entakkan penepung sirihnya, pergilah dia kedapur. Seraya bernyanyi dengan perlahan lahan, disenduknyalah nasi, dan dise-diakannya lauk pauknya sekali. Setelah selesai baharulah diberi tahukannya kepada ibu dan bapanya.

Seketika lamanya kemudian, keempat beranak itu telah menghadapi meja makan ……

Lima belas menit kemudian, Nizam telah ma-suk kembali ke dalam kamarnya, sedangkan Ra- den Sudarmo dengan isterinya duduk diruan- ngan tengah.

—“Nizam! kata Raden Sudarmo tiba-tiba.

Dengan tiada menyawab Nizam keluear dan lalu duduk berhadapan dengan ayah dan ibunya.

—“Tahukah engkau apa yang akan kita percakapkan pada malam ini?” tanya Raden Sudarmo tiba-tiba.

—“Belum lagi, yah!”

—“Oleh karena itu, biarlah aku katakan sahaja maksudnya dengan lekas. Yaitu sahabat ayah di Bandung dahaelu Raden Sudirno namanya, ada mempunyai seorang anak galis. Agak nya engkau masih ingat siapakah nama anaknya itu!”

—“Ingat, Deliana!” sahut Nizam.

—“Ya! Sekarang ayahnya Mas Raden Sudirno itu memajukan pinangan kepadamu, yaitu mengambil engkau menyadi suami Deliana itu. Maukah engkau memperkenankannya?”

—“Dengan Daliana? Wahai, dengan anak gadis yang angkuh itukah saya akan hidupr serumah tangga?” yawab Nizam seraya memandang kepada ibunya.

—“Yang aku tanyakan ialah kemaocean hatimu?” ujar Raden Sudarmo pula.

—“Ya, tetapi rasanya kalau akan kawin dengan anak gadis yang sombong itu, amat berat bagi saya!” sahut Nizam seraya menundukkan pandangannya.

—“Kalau begitu, kami pun ta‘ dapat memaksa engkau, Hanya kami harap engkau memikirkan hal ini dengan masak masak. Harapan ini ialah harapan dari hati ibu bapamu!” kata Raden Sudarmo seraya berpaling kepada isterinya.

—“Harapan ayah dan ibu itu anakanda junjung tinggi, tetapi di samping segala itu anakanda harus memikirkan kehidupean anak- anda di masa yang akan datang!“ berkata Nizam pula dengan tenang dan sabar.

—“Benar juga alasanmu itu! Lagi pula ayah pun tahu juga, bahwa memang kekuatan darah muda itu selalu membawa anak muda ke alam angan-angan, oleh karena itu selalu pula dimabuk angan angan. Dan akhirnya mereka kerap tertipu dengan fatamorgana, atau fajar kazib Ataupun bayangan dusta dalam kehidupanaya.

Kemudian Raden Sudarmo bangun dari du-duknya dan terus berlalu dari dalam ruangan itu. Sementara itu encik Khadijah masih termenung juga di dekat anaknya itu. Dicobanya pula membujuk hati anak muda itu, tetapi bujukannya itu hanya tinggal bujukan semata-semata. Setelah berapa lama kedua beranak itu berkata kata, baharu mereka sama masuk ke dalam kamar masing-masing. Selang lima belas menit kemudian, rumah itu telah sunyi senyap. Penghunyinya telah bertemasya ke alam lain dengan menompang biduk tidur nyenyak ……


V

HELENA

Padi sawah di kampung Situi sedang menem-puh masa muda remaja. Buahnya mulai ber-perut dan berisi, daunnya masih segar, menan-dakan buahnya belum semporna berisi. Tetapi tiang-tiang yg dipergunakan untuk penggantungkan berbagai bagi gambaran yang menakutkan unggas yang memakan padi itu, telah mulai di-pasang yang empunya sawah. Tiang tiang yang banyak itu, seakan akan sebagai tiang radio di-tengah tengah kota New York sana.

Dalam ruangan tengah dari rumah Tuindorp, tampaklah Helena sedang duduk menghadapi meja lebar. Di atas meja itu terletak beberapa buah buku dan majallah yang terbit di pulau Jawa. Tiada berapa jauh dari tempat anak gadis itu duduk, duduk pula Nyi Sumiati yang tengah ‘asyik mempermainkan jarum su-lamnya.

Ruangan itu tiada dihiasi benar, hanya yang berada di situ tiada lebih dari pada sepasang kursi dengan mejanya. Pada duа sudutnya terletak pula duа buah jambangan bunga yang diperbuat dari pada kuningan. Pada su-dut yang lain, tiada berapa jauh dari meja yang dihadapi Helena tahadi, tertegak pula se-buah almari yang penuh berisi dengan berbagai buku buku, tetapi pada bahagian bawahnya berisi dengan piring dan gelas gelas.

Buku buku yang bertaburan di atas meja itu, tiada sebuah juga pun menarik hati Helena. Sebentar-Sebentar terdengar dia menarik napas panjang. Terkadang kadang dia berjalan mundar mandir dan menghepaskan tangan ke kiri dan ke kanan.

Angin petang yang nyaman bertiup dengan se-garnya. suara desauan daun padi bagai bernanya riang dan gembira.

Helena bangun dari duduknya dan dengan pandangan yang sayu dia memandang kepada petak petakan sawah, dan kepada jalan yang berliku liku. Kemudian diangkatnya sebuah kursi ke dekat jendela itu, dengan tenang matanya terus juga memperhatikan keindahan alam. Ti-ba-tiba tengah dia termenung itu, Nyi Sumiati menghampirinya. Dengan tangannya yang lemah gemalai itu, dibelai belainyalalah rambut anaknya itu dengan perasaan kasih sayang.

—“Bagus benar alam Kutaraja ini. Lagi pula selaras dengan hawa tubuh saya” kata Helena tiba tiba kepada ibunya.

—“Ya, dengan hawa badan ibu pun selaras pula” sahut Nyi Sumiati.

—“Tetapi”, ujar Nyi Sumiati pula, “kenapakah Nizam tiada datang datang ke rumah kita ini lagi?”

—“Entah ibu, dalam tiga hari ini dia memang tiada datang datang kemari lagi!” sahut Helena pula.

Kemudian Helena bangun dan pergi ke dalam kamarnya. Di sana dibaringkannya badannya di atas sofa. Selang seketika kemudian ibunya datang pula, dan duduk di samping sofa Helena itu. Tangan Nyi Sumiati membelai-belai rambut Helena yang hitam dan keriting itu, sedangkan matanya senantiasa memperhatikan air muka Helena yang muram itu.

—“Ibu,” ujar Helena tiba-tiba, “di manakah kenyamanan hidup yang tiada ternilai?”

—“Hei Lena, bermimpikah engkau?” tanya Sumiati seraya menarikkan tangannya dari rambut anaknya.

—“Tidak ibu! Lena tidak bermimpi, tetapi itu telah menyadi soal anakanda. Bukankah anakanda sudah besar? Dan sudah patut memikirkan kehidupan ini?”

“Bagus juga pendapatanmu itu, tetapi kenapakah baharu sekarang engkau insyaf?” “Masih terlambatkah keinsyafan saya itu, ibu? Alangkah senang hati saya, andainya keinsyafan itu datang seketika kita hidup di Betawi dahulu. Tetapi akh ibu, kenapakah makanya hati saya jadi begini? Kusut masai tiada menentu, seakan akan anakanda sedang terbenam dalam lamunan ombak yang maha ganas. Kalau semasa kita diBetawi dahulu, anakanda terbenam dalam gelombang hidup boros dan royal, maka sekarang anakanda terbenam ke dalam gelombang yang belum pernah anakanda masuki Ataupun anakanda layari!” “Jauh benar kenanganmu, Lena! Seakan akan engkau bermimpi dan menyesali kehidupan kita!” ujar Nyi Sumiati seraya membelai-belai rambut Helena pula. “Ibu, di manakah kenyamanan hidup?” “Kenyamanan hidup? Bukankah hidup kita telah nyaman?” “Belum. bukankah ayah kita tiada di rumah. Dan kalau......... beliau......... akh......... terus menerus tiada di rumah. Dan pulang kealum barzakh........... bagaimanakah kehidupan kita?” “Itu belum patut menyadi buah piki-ranmu, Lena!” ujar Nyi Sumiati seraya menghapus air mata Helena yg mengalir pada pipinya yang licin itu. “Telah sepatutnya ibu. Bukankah telah anakanda katakan tahdi, anakanda telah besar?” Belum sempat Nyi Sumiati menjawab, telah keluar pula pertanyaan Helena. “Ibu, bagaimanakah pemandangan ibu kepada perkawinian campuran?” “Ta‘ dapat ibu menyatakan hal itu kepadamu Lena, karena engkau masih muda benar!”

Tahadi ibu mengatakan, bahwa anakanda belum besar.

Tetapi sekarang ibu katakan pula, anakanda masih muda! Manakah yang sebenarnya? Mengapakah ibu enggan mengatakan pandangan ibu terhadap perkawinan campuran itu?“

—“Ibu tiada enggan, hanya ibu kawatir soal itu akan mengganggu ketenteraman otakmu!”

—“Tidak ibu, cobalah ibu ceriterakan serba sedikit kepada anakanda!” ujar Helena pula seraya memindahkan kepalanya ke atas haribaan ibunya.

—“Kalau demikian keras hatimu akan mengetahui pendirian ibu kepada perkawinan campuran itu, baiklah ibu ceriterakan juga. Sebenarnya sebagimana yang telah kita alami, ibu sendiri telah menjalani perkawinan campuran itu, jadi kalau sekiranya pertimbangan ibu tiada adil atau tiada jitu, janganlah anakanda mengatakan ibu seorang yang mementingkan diri sendiri. Perkawinan campuran menurut pendapatan ibu, adalah satu soal yang telah lama dan agaknya seiring dengan kelamaan soal perkawinan asli itu. Jika perkawinan itu dipandang dari jurusan politek negeri sudah amat tentu, hal itu dipandangnya sebagai perusak keturunan bangsa. Tengoklah sekalian bangsa yang telah terlepas dari perlindungan bangsa lain, mereka itu bekerja keras, supaya jangan terjadi perkawinan campuran itu dalam negeri mereka. Tetapi kalau dipandang dari jurusan agama, soal itu hanya memandang hati orang yang akan menjalaninya, kalau dia mengawini seseorang bangsa asing tiada akan menarik kepada agama yang dianutnya atau tia- da akan tertarik olehnya isteri atau suaminya itu, lebih baiklah dia tidak usah menjalankan per- kawinan itu. Umpamanya saja, bagi igama Islam.

Tetapi tentu akan timbul pertanyaan dalam hatimu. Lena, kenapakah ibu tiada dapat menarik ayahmu ke dalam igamaku, padahal kami telah hidup serumah tangga. Sebagai jawabnya ibu kemukakanlah penghidupan yg telah ibu jalani. Agaknya ta‘ ada orang yang paling sengsara dari pada ibu, dan juga nenekmu mengawinkan aku dengan ayahmu yang sekarang, bukankah dia seorang yang mempunyai pengetahuan tentang perkawinan campuran, walau dari jurusan mana pun. Lagi pula memang kehidupan kami berdua beranak tiada berketentuan. Sebenarnya ibu, telah pernah menaruh cinta kepada seorang pemuda bangsa ibu sendiri, tetapi karena kekuatan uang dan kekuatan dorongan kemiskinan kami, terpaksa- lah ibu melepaskan cinta itu, dan menurutkan kemauan nenekmu. yaitu kawin dengan ayahmu yang sekarang ini. Berbulan bulan lamanya ibu menanggung perasaan yang tiada enak, ma'lumlah engkau, Lena, bagaimana kehidupan dengan seorang laki-laki yg berlainan adat istiadatnya dengan kita, tetapi hal itu ibu paksakan juga.

Dan akhirnya sampailah perkawinian kami menghasilkan engkau yang seorang ini, selaian dari pada engkau tiadalah ibu beranak lagi. Akan sekarang dirimu pula, engkau telah dewasa dan agaknya telah patut memikirkan kehidupanmu, dari itulah ibu telah suka mence- riterakannya serba sedikit tentang pengalaman ibu kepadamu. Kalau engkau akan meniru kehidupan ibu itu, tirulah mana yang baiknya dan buangkanlah mana yang buruknya..........

Sampai di situ Nyi Sumiati berhenti berkata kata, diangkatnya kepala Helena perlahan lahan, dan dipindahkannya ke atas sofa. Kemudian de- ngan perlahan lahan dia berjalan keluar kamar itu.

Sebenarnya Nyi Sumiati telah mafhum apa yg. sedang ditanggungkan Helena ketika itu...... yaitu perasaan cinta berahi. Tetapi kepada siapakah anaknya itu menaruh cinta, itulah yang menyadi penyelidikannya. Telah terukir dalam pikiran Nyi Sumiati, kalau anak gadis itu menaruh cinta kepada Nizam, maka dengan tiada memperdulikan akan larangan suaminya, dengan segera anaknya dikawinkannya sahaja. Tetapi akan mau sajakah ayah dan ibu Nizam menerima lamaran dan memandang perkawinan itu dengan sukacitanya? Berapa macamkah darah yang mengalir dalam tubuh Helena itu?

Dewasa itu hati Nyi Sumiati telah berangsur tua, sebagaimana kelanjutan umurnya pula. Dia telah berkehendak akan mencari kehiduppanya dengan bertetap-tetap dan bertempat atau berkampung, itulah seabnya anaknya Helena yang seorang itu akan dicarikan suami seorang laki-laki yang mempunyai familie yang berkembang biak, atau setidak tidaknya yang telah tertentu darah yang mengalir dalam tubuhnya.

Nyi Sumiati berjalanan juga dengan perlahan lahan, tatkala dia telah sampai ke dalam kamar tidurnya, tiba-tiba dirasainya bahuna dipegang orang. Tatkala dia berpaling, kiranya Helenanyalah yang datang itu.

—“Ibu, bagaimanakah pikiran ibu, kalau anakanda mencintai Nizam? Atau.........!”

—“Helena, telah berkali kali engkau mengeluarkan perkataan itu ketelingaku dan aku telah faham akan maksudnya. Dari tahadi lagi, aku telah mengerti bahwa engkau menaruh cinta kepada Nizam, tetapi engkau masih memperbuat ibu sebagai seorang yang dungu. Anakku Helena, engkau harus memikirkan sendiri apa yang akan engkau lakukan, atau engkau per- buatlah apa yang akan dapat membawa perobahan hidup kita...... dan ibu akan menyokong perbuatanmu itu!“

Mengegetar tangan dan badan Helena mendengar percakapan ibunya itu. Terbayang bayang di ruang matanya segala yang menyadi maksud percakapan itu. Tetapi tiada lama kemudian dia terus meninggalkan kamar ibunya.

—“Engkau perbuatlah apa yang dapat merobah kehidupan kita......... dan ibu menyokong perbuatanmu itu!” ujar Helena stelah dia berbaring di tempat tidurnya. Diulanginya beberapa kali perkataan ibunya yang menarik minat hatinya itu.

Sekonyong-konyong dia menelengkupkan mukanya ke atas bantal dan menangis tersedu-sedu. Dia teringat akan bunyi surat yang dikirimkanya kepada Nizam tempo hari.

Seakan-akan hendak dicencangnyalah tangannya yang telah berlaku lancang itu. Tetapi itu tiada berguna. Kalau Dewa Nendra telah menyocok matanya sampai buta, hanya karena hatinya tiada kunjung padam dari menaruh cinta kepada dewinya, maka Helena tiada sampai hati akan mencencang tangannya yang putih halus itu. Lagi pula dia masih menaruh keyakinan bahwa matanya yang bulat bagai kelereng kaca itu, akan dapat mena'lukkan Nizam yang telah diajarnya dengan suratnya tempo hari itu......


VI

NIZAM

Kutaraja pertengahan December!

............. Firma Yew & co sedang ramai dikun-jungi pembeli, baik dari golongan kaum saudagar kecil, Maupun dari golongan pembeli biasa. Ketika itu baharu pukul sepuluh pagi, Ta‘ ada seorang juga di antara personel toko itu yang ta’ mempunyai urusan. Di kamar direkturnya tiada berhenti-hentinya telepon berdering. Terkadang-kadang tampak kesebalan tuan Yew tua itu akan menyahuti telepon yang datang kepadanya. Demikian pula di meja kerani, bertimbun-timbun pekerjaan yang musti diselesaikan. Dalam pada itu lonceng yang ada di meja kasir sebentar-sebentar terdengar berdering dering, akan memanggil bujang toko itu akan memberikan bon pembelian kepada sipembeli. Pekerjaan itu dikerjakan oleh Nizam sendiri, karena dia seoranglah yang menyadi kasir dalam toko itu, Tiga tahun lebih dia bekerja dalam toko tuan Yew itu, dan setiap tahun pula dia menerima pujian dari majikannya karena setiap accountant memeriksa kas wagnya, tiada sekali juga yang berselisih. Sebenarnya Nizam masuk bekerja menyadi kasir itu tiada dengan memakai uang jaminan. Hanya sebagai gantinya, tuan Yew telah memandang cukup dengan pandangannya yang tajam itu. Dia yakin bahwa anak muda itu akan berlaku jujur, tetapi dia tahu juga, yang Nizam itu seorang yang lemah hati. Tetapi mujurlah bagi tuan Yew tua itu, bahwa selama tiga tahun yang telah berlalu, belumlah ada terjadi sesuatu kesilapan yang disebabkan kelemahan hati anak muda itu.

Sekarang pertengahan December telah sampai pula, dan selang sepuluh hari lagi sampai pullalah masanya accountant memeriksa kas uang

Nizam. Dalam tahun yang keempat itu, belum-lah dapat dipastikan, apakah dia akan mendapat pujian sebagai tahun yang dahulu juga, ataukah akan merasai berapa cerca dan makian.

Di kamar direktur, tampak tuan Yew tua itu tengah melihat-lihat sebuoh buku reklame yang baharu diterimanya dari Europa. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang.

—“Masuk!”

Pintu terbuka, seorang yang berpakaian serba perlente berdiri diambang pintu. Demi matanya memandang kepada tuan Yew, segera dia membungkuk memberi hormat.

—“Akh, dalam dunia dagang ta‘ perlu tuan berlaku demikian hormat. Dan silakan duduk tuan!” ujar tuan Yew menyilakan laki-laki itu.

—“Saya colporter dari Aceh's Nieuwsblad. Meminta kepada tuan supaya sudi memasang adpertensi. Apalagi tanggal 25 December telah hampir. Barangkali tuan ada menyediakan barang-barang untuk keperluan Kerstmist!”

—“O, ya memang dan telah saya maksud juga!”

Kemudian mereka mengadakan permupakatan tentang harga adpertensi. Tiada lama permu-pakatan itu telah putus. Colporter itu keluear di dalam tasnya telah terbawa copy adpertensi yang akan dimuatnya kelak.

Pukul setengah dua belas tengah hari, pintu kamar itu terbuka pula. Dengan tergesa-gesa bujang toko itu masuk ke dalam. Dipangkuannya ada sekumpulan barang-barang dan beberapa banyak surat-surat. Setelah sekalian barang-barang itu diletakkannya di atas sebuoh meja yang telah tersengaja untuk itu. diberikannya sehelai surat kepada tuan Yew. Tuan tua itu mene-ken surat itu dan diberikannya kembali kepada bujangnya. Surat itu lalu diantarkan kembali bujang itu kepada opaspost yang tengah menanti diluear.

Sepeninggal bujang itu, tuan Yew bangun dari kursinya dan dengan hati-hati diperiksanya sekalian barang-barang dn surat-surat yang baharu datang itu.

—“Parno! teriaknya tiba-tiba. Bujang tahadi masuk kembali.—”Nou, kasikan ini surat kepada Nizam!“ ujarnya seraya memberikan sebuah enpelop kepada Parno.

Dengan setengah berlari-lari Parno membawa surat itu kepada Nizam, Setelah hampir, dia tertawa dan berkata.—“E-hem, rupanya engku kasier ini telah ada punyanya!“—”Dari mana itu Parno?“—“Dari Situi, engku!“

Baharu sahaja surat itu sampai ke tangan Nizam, dengan cepat dikoyakkannya enpelopnya dan dibacanya sekali.

Bunyinya:

Kutaraja 15/12-19............

Mijn beste Nizam!

Dengan ini surat, aku datang menyu-sul bunyi surat yang telah terdahuloie itu. Dan juga dengan ini surat aku meminta ma’af kepadamu, tetapi, kalau sebenarnya engkau ada mencintai Helenamu ini, datanglah engkau ke rumah aku yang buruk itu, malam ini juga!

Dari aku,

HELENA.

Bertepatan dengan surat itu habis dibacanya. terdengarlah bunyi lonceng toko itu yang menandakan sekalian personelnya telah boleh pulang untuk beristirahat.........

Malam harinya!

......—“Selamat malam, Lena!” ujar Nizam tatkala dia sudah masuk keruangan tengah rumah Helena.

—“Selamat malam! Apa kabar Nizam!” Sakitkah engkau selama ini atau bermimpikah engkau siang tahadi?“ bertanya Helean dengan tersenyum manis.

Seiring dengan itu terdengar pula suara ucapan selamat malam dari Nyi Sumiati.

—“Hei, ibu rupanya! Bagaimanakah halnya tuan Tuindorp?”

—“Belum sembuh juga!”

—“Tetapi, Helena mengatakan sudah baik juga sedikit. Dan tidak perlu tinggal di sana lagi!” sahut Nizam seraya duduk di atas sebuah kursi dekat Helena:

—“Hei Nizam! Bilakah aku mengatakan itu kepadamu. Di manakah tempatnya aku berkata itu?”

—“Akh engkau Helena, janganlah tergesa-gesa marah! Kalau Nizam tidak datang, engkau katakan dia sombong, tetapi kalau dia telah datang engkau lawan bersitegang urat leher!” ujar Nyi Sumiati memasuki pembicaraan kedua anak muda itu.

—“Ya Ibu!” kata Nizam pula.

—“Ambooi, menanglah engkau sudah......! jawab Helena dengan manjanya.

Kemudian Helena bangun dari duduknia dan lalu pergi ke belakang. Sementara itu Nyi Sumiati pergi pula dari ruangan itu. Ternganga-nganga mulut Nizam melihat kejadian itu. Akhirnya dengan menarik napas panjang, du-duklah dia di atas kursinya kembali.

Tiada berapa lama kemudian Helena telah keluar pula. Pakaianinya telah bertukar, dan alangkah cantiknya gadis itu. Dengan kedua belah tangannya yang bagai lilin dituang itu. dibawakannyalah secangkir kopi susu dengan beberapa potong roti.

—“Maukah engkau meminum kopiku ini?” tanya Helena pula.

—“Selamanya aku tidak menampik, Lena!”

—“Dan...... maukah engkau mengobat hatiku?” ujar Helena sambil duduk dekat Nizam.

—“Aku tidak doktor potong yang bisa mengobat hati seseorang!”

—“Engkau bukan doktor, tetapi.........!”

—“Tetapi pemuda bangsa.........!”

—“Bukan begitu! Tetapi, benarkah engkau mencintaiku Nizam?”

—“Akh, kita tidak setara!”

Helena menundukkan matanya, jarinya yang putih dan halus itu senantiasa dipergelut-gelutkannya. Tiba-Tiba diangkatnya kepalanya dan ditatapnya mata Nizam.

—“Masih belum engkau ma’afkankah aku, Nizam?”

—“Sudah!”

—“Jadi...........?”

—“Ya, tetapi aku sebagai cecing kepanasan!”

—“Sudahlah! berengut Helena dan lalu pergi dari sana. Nizam berpaling ke belakang, tatkala dilihatnya Nyi Sumiati belum masuk ke dalam ruangan itu, diturutinyalah Helena ke beranda samping.

Di sana dilihatnya Helena duduk dengan diam-diam. Cahaya bulan purnama yang memancar dari celah-celah daun-daun diatuh ke atas rambutnya yang hitam itu. Dicakrawala luas tampak beribu-ribu bintang yang tengah bersinar dengan gemerlap, seakan-akan mereka menyinari anak gadis itu. Angin malam bertiup dengan nyaman. Sunyi senyap berkeliling tempat Helena duduk itu.

Dengan perlahan-lahan Nizam datang meng- hampiri Helena yang tiada mengetahui kedatangannya itu. Setelah hampir benar kepada anak gadis itu, dengan perasaan kasih sayang yang tiada berhingga dibelai-belainyalah rambut Helena yang keriting itu.

Helena masih berdiam diri juga. Berangsur-angsur sinar bulan bertambah terang yang seketika dilindungi oleh awan dan bertambah ter-tumpah ruah menyinari kedua muda teruna itu.

—“Helena!”—“Apa Nizam?!”—“Apakah kerjamu di sini Lena?”—“Melihat keindahan alam!”—“Apkah gunanya?”—“Untuk pengobat hatiku yang lara!”—“Akh Helena! Ma'afkan kata-kataku yang terdorong tahadi!”—“Engkau tidak bersalah sedikit juga! Tetapi akulah yang telah berlaku kasar kepada engkau. Sudahkah engkau ma'afkan?”—“Sudah! Dan bukankah sudah kukatakan tahadi?!”—“Tetapi engkau ulangi juga perkataan yang tersurat dan suratku yang terdahulu!”—“Jadi marahkah engkau, Lena?”—“Tidak! Tetapi hatiku sedih!”—“Sedih?”

Nizam tiada menjawab lagi, dengan hati-hati didukinyalalah tangan kursi Helena itu. Sedangkan tangannya berpegang pada sandaran kursi, dan yang kanan memegang bahu Helena. Sunyi senyap sejurus diserambi itu. Suara musik Hyang Asmara senatiasa bernyanyi dengan merdunya. Kedua anak muda itu sama mende-ngarkannya dengan hati yang tenang dan jasad yang diam tenang.

—“Bagaimanakah Lena? Dapatkah aku menciintai engkau?”

—“Aku lancang mulut!”—“Sudahlah Lena! Habiskanlah yang sudah sudah itu!—”Jadi engkau ma’afkan sudah?“ tanya Helena seraya menengadah menentang pandangan Nizam. Nizam menganggukkan kepalanya.—”Bagus Nizam! Tetapi adakah engkau mentiintaiku sebagaimana aku mencinta; engkau?“—”Bahkan boleh jadi berlebih-lebihan cintaku kepadamu Lena. Tetapi.........!“—”Tetapi......... apa maksudmu?“—”Tetapi dapatkah CINTA itu mempersatukan kita kelak. dan membawa kita ke alam bahagia kemudian hari?—Aku belum yakin, sebab di antara kita ada batas yang lain. Bukankah Barat dan Timur tiada dapat bersatu?“—”Nizam!—Engkau jangan lekas benar terpengaruh oleh kata-kata yang selalu dinyanyi-kan oleh Pujangga Barat itu. Langit dan bumi ada batasnya, tetapi CINTA tak ada bebatas. Karena itu adalah kurnia Tuhan kepada ham-banya. Jika dia telah tiba. tidak ada suatu pun yang dapat menghalangi. Barat—Timur, Utara—Selatan tidak menyadi soal“.—”Ya, benar katamu Lena.—Tetapi tidakkah bangsamu memandang hina kelak bila engkau berjalan disisiku?“—”Nizam!“—Soal CINTA bukanlah soal umum, sebab itu janganlah kita bawa-bawa dia ke sana. Soal CINTA adalah soal kita berdua. Jika kita telah sama setuju, Barat—Timur, Utara—Selatan bukanlah soal”.—“Terima kasih Lena, atas ucapanmu yang meneguhkan pendirianku itu, mudah-mudahan kita diberi rahmat dan ni’mat oleh Tuhan atas percintaan kita yang suci ini!”, ujar Nizam kemudian seraya menentang wajah anak gadis itu dengan tenang dan diam seakan-akan ia hendak mengetahui sampai ke mana kebenaran ucapan gadis itu.

Helena tiada menjawab, melainkan dia balas memandang kepada Nizam dengan tenang pula seolah-olah ia memperlihatkan kejujuran hatinya. Dalam sinar bulan yang bertambah terang benderang, kedua muda teruna itu meneruskan pertemuannya dengan berbeka-beka dan bersendagurau, pujuk rayu dan kasih sayang............

—“L......E......N......A!”

—“N......I......Z......A......M......!”

Keduanya sama memandang dengan pandangan berahi......... dan akhirnya satu ciuman telah melekat kebibir Helena yang bak delema merekah itu.

Sejurus kemudian mereka masuk kembali ke dalam ruangan, di sana mereka lihat Nyi Sumiati tengah mempermainkan jarum sulaman-nya.

—“Hei Lena!—Nah, ini ada sepucuk surat dari doktor!” ujar Nyi Sumiati seraya memberikan sebuah envelop kuning kepada Helena.

Dengan cepat surat itu dibukanya, dan dibacanya sekali: Setelah habis dibacanya surat itu diletakkannya di atas meja, dan dengan matanya yang bulat bagai kelereng itu dia memandang kepada ibunya.

Sunyi senyap sahaja dalam kamar itu, Nyi Sumiati memandang keheran-heranan kepada anaknya. Selang seketika kemudian baharulah terbuka mulutnya akan brtanya.

—“Bagaimanakah bunyi surat itu?”—“Tolong bacakan Nizam!” ujar Helena sambil duduk di hadapan anak muda itu.

Surat itu dibacakan Nizam dengan keras-keras, bunyinya:

Kutaraja 15/12 19............

Kita yang bertanda tangan di bawah ini, memberi tahukan kepada isteri serta anak tuan Tuindorp, bahwa kita menganggap perlu akan menjalankan operasi atas penyakit tuan itu. Maka sebagai pembayaran pertama kita minta ƒ 50 dan kemudinnya ƒ 100. Uang perlu diberi dalam tiga hari ini!

Sekian.

Dari Doktor Militair

Kota Raja.

Nizam telah ma'lum akan apa yang menyadi buah pikiran orang rumah itu, oleh karena itu dia tiada bertanya-tanya lagi. Kemudian dia meminta diri akan pulang.—“Tetapi aku harap pada hari minggu ini engkau suka pergi ke pemandian Olee Lheue!” ujar Helena.—“Baik!”

Tiada berapa lama Nizam telah gaib dari rumah itu. Sepeninggalnya kedua beranak itu tiada berbincang-bincang lagi. Dan pada jam sepuluh malam, baharulah mereka pergi tidur. Keesokan harinya!

......... Helena tengah menghadapi secangkir kopi dan sepotong roti. Nyi Sumiati masih belum keluar dari tempat tidurnya. Mata anak gadis itu tampak agak nanap, agaknya semalam-malam-an tahadi, dia ta‘ dapat menidurkan matanya.

Setelah minuman dan makanan itu habis, dia bangkit dari kursinya dan pergi ke dalam kamar ibunya. Didapatinya Nyi Sumiati tengah bermunung menghadap ke arah puncak gunung Selawah Jantan.—“Ibu!” ujar Helena tiba-tiba. Nyi Sumiati berpaling kepada anaknya dengan pandangan kasih sayang ditatapnyalah wajah Helena.

—“Ta’ tidurkah engkau semalam ini?” tanyanya kemudian.—“Tidur juga, tetapi tiada lama!”—“Tetapi ibu”, ujar Helena menyambung pembicaraannya, “apakah ada baiknya kalau kita meminjam uang kepada Nizam?”

Dengan pandangan yang membayangkan keterperanjatan, Nyi Sumiati menentang mata anak gadisnya itu. Dan bibirnya tampak bergerak-gerak.—“Apa?”—“Meminjam uang yang f 150 itu kepada Nizam!” sahut Helena seraya duduk ke dekat ibunya. “Engkau perbuatlah apa yang dapat membawa perobahan hidup kita......... dan ibu sedia menyokong perbuatanmu itu!”

Terperanjat pula Helena mendengarkan perkataan ibunya itu. Kemudian dengan tiada berkata sepatah jua pun dia keluar dari dalam kamar itu...........

Pantai pemandian Ulee Lheue!

............. amat merdu derum ombak pantai itu pada pagi ini, suaranya bagai bernyanyi-bernyanyi kecil. Cahaya matahari pun tiada terik. Pukul delapan pagi, manusia telah banyak datang berkumpul ke sana.

Suara musik Aceh Band senantiasa mendayu dayu. Mulanya perlahaan-lahan, kemudian berangsur-angsur keras, dan kemudian perlahaan pula kembali. Demikianlah adanya hiburan musik yang di tepi pantai itu.

“Nizam!—bagaimanakah pertanyaanku tahadi?” “Yang mana Lena?” “Bantuan untuk ayah...........ku!”

Nizam bermenenung seketika lamanya. Matanya yang hitam itu memandang dengan tenang kepada alun gelombang yang tengah mempermain-mainkan sekalian pemandi-pemandi itu.

Mereka berdua mengaso di bawah sepohon eru yang masih rendah, dengan berpakaian mandi.

“Alangkah indahnya pantai ini sepagi ini!“ ujar Helena kemudian.

“Tetapi Helena, tentang permintaan tadi tak dapat tidak akan aku ikhtiarkan!“ sahut Nizam seraya meremas-remas tangan anak gadis itu.

Helena tiada menjawab, hanya dengan pandangnya yang menyemburkan anak panah berahi, ditatapnyalah wajah Nizam.

Sementara itu cahaya matahari bertambah terik juga, permukaan laut telah mulai berpinar-pinar dan alun gelombang telah membisingkan anak telinga. Suara musik tiada sanggup menghiburkan sekalian pemandi-pemandi itu lagi. Mereka telah banyak yang pergi berlindung ke bawah batang kayu dan ke atas rumah peranginan……

“Marilah kita tinggalkan tempat ini Lena!“ ujar Nizam seraya bangun.

Tiada berapa lama mereka telah berada dalam sebuoh taxi yang membawa mereka ke Situi, ke-rumah Helena………….


VII

PEMBUNUHAN NGERI

Sepuluh hari kemudian!

……… Sengaja firma Yew & co tiada ditutup pada tanggal 25 December, karena pada hari itu kerja Nizam sangat banyak. Di atas meja bertimbun-timbun buku yang akan diselesai-kannya. Tengah dia asyik bekerja itu tiba-tiba tuan Yew masuk ke dalam kamarnya.

“Sudah selesaikah pemeriksaan buku-bukumu?” “Sudah! Pada pukul berapakah accountant itu datang memeriksa?” “Pukul dua nanti!” “Baik!” Tuan Yew meninggalkan kamar itu dan lalu masuk ke dalam kamar kerjanya. Seraya menarik napas panjang, didudukkannyalah badan-nya ke atas kursi putarnya. Tiba-tiba pintu kamar itu diketok orang, dan setelah pintu terbuka Parno masuk, dipangkuannya terbawa sejumlah barang-barang yang baru diterimanya. Setelah surat post itu diteken oleh tuan Yew, segera dia kembali keluear. Selang tiga menit kemudian, masuk pula Nizam. “Tuan!—saya harap sudilah tuan memberi saya pinjam uang sejumlah ƒ 150.—!“ ujarnya. ”Ya, tetapi nanti, kalau accountant telah memeriksa buku dan kas kita!“ sahut tuan Yew seraya memandang dengan keheran-heranan kepada Nizam. ”Terima kasih tuan!“ ujar Nizam pula dan terus berlalu dari sana............ ”Tetapi ini hari engkau perlu pulang sampai malam!“ ujar tuan Yew tatkala Nizam sampai diambang pintu. ”Baik tuan!“ Baru sepuluh menit dia duduk bekerja, Parno telah datang pula, kemudian dipanggilnya Parno. Tiada berapa lama bujang itce telah hadir didekatnya. ”Tolong antarkan surat ini ke Situi!“ ujar Nizam sambil memberikan sepucuk surat kepada Parno. ”Nomor berapa rumahnya engku kasier?“ ”Nomor lima puluh lima.........“ Bujang itu menyambut surat Nizam tahadi, dan terus berlalu dari sana. Tiada berapa lama kemudian dia telah menaiki kereta anginnya melakukan perintah Nizam................

............................................................... Di tengah jalan akan pulang, Nizam bertemu dengan engku Idris yang bekerja sebagai kerani gudang firma Yew juga.

“Engku Nizam!—sukakah engku membeli Rencong saya?” ujar engku Idris tiba-tiba.

“Kalau itu yang engku tanyakan, saya sendiri pun hendak menjual sebuah Rencong Aceh. Sebenarnya Rencong itu pusaka yang diterima ayah saya dari salah seorang mendiang sahabatnya, Nya‘ Amat namanya!”

“Cobalah engku bawa kemari nanti!—Bagi saya membeli dan menjual itu memang kerja yang telah tertentu!”

Sementara itu mereka telah bertambah hampir juga ke rumah masing-masing. Tetapi rumah engku Idris tiada berdekatan benar dengan rumah Nizam, maka pada sebuah persimpangan dia membelok dan Nizam meneruskan perjalanannya kekebon Belhuver.....................

Malam harinya!

......... Nizam tengah asyik bekerja menyele-saikan buku-buku yang telah diperiksa oleh accountant siang hari tadi. Sebenarnya hatinya amat sebal bekerja sampai malam itu.

“Apa khabar Nizam?—sudahkah engkau mendengar kepotusan accountant siang tadi?” tanya tuan Yew seraya bersandar kedaun pintu.

“Belum tuan!”

“Nah, inilah suratnya!” ujar tuan Yew seraya melempar sepotuyuk surat ke atas meja Nizam dia sendiri terus berlalu dari sana.

Bunyi surat itu:

Kutaraja 25/12-19...............

Kita accountant dari firma tuan memberi tahukan pada tuan, bahwa kas firma tu- an telah mengalami ketekoran senbanyak f 1500,-. Hal ini teryadi semenjak bulan November saja.

Hormat kita

Accountant.

Sejurus kemudian tuan Yew masuk ke dalam kamar Nizam bekerja. Dilihatnya anak muda itu tengah menimang-nimang surat yang baru habis dibacanya itu.

“Hem,—apa boleat buat Nizam!—sekarang hal itu lebih baik kita uruskan dengan secara damai saja, yaitu engkau diperhentikan Ataupun engkau ganti kerugian uang sebanyak itu!” ujar tuan Yew seraya berdiri dan memasukkan kedua belah tangannya ke dalam saku celananya.

“Yang mana pun akan saya turut, tetapi tuan harus tahu, bahwa untuk mengganti uang sebanyak itu sudah tentu saya tiada sanggup. Lagi pula saya harap tuan tiada berkeberatan memberikan pinjaman yang f 150.—tadi!”

“Ha—ha,—sudah engkau tandaskan uang kas firma ini, hendak engkau pinjam pula!—Tidakkah engkau mempunyai perasaan?”

“Apa?—mulut tuan jangan terlalu lancang!—Kalau tuan tiada suka memberi pinjam, tuan musti tutup mulut saja!”

“Ha—ha,—aku tahu, tentu uang sekian banyak untuk ongkos kawin dengan si...... He..........le...........na!”

“Tuan jangan bawa hal itu kemari!”

“Baik,—tetapi engkau harus mengerti, bahwa ketekoran teryadi karena Helena itu. Engkau lihatlah kembali buku-buku yang engkau kerjakan selama ini. Di mana ketika ada uang masuk, tiada engkau paraaf dan ketika tidak ada, engkau boobuhi tanda tanganmu di situ, lagi pula perhitunganmu hampir semua salah Dan juga nama HELENA ada pula tertian- tum dalam buku kas firma saya, padahal sa-ya tiada berkenalan dengan orangnya!“

Selesai berkata itu tuan Yew lalu masuk ke dalam kantornya sendiri. Tiada diketahuinya langkahnya diikuti oleh Nizam. Pada pinggang anak muda itu tersisip sebilah rencong yang akan diperlihatkan kepada engku Idris siang hari tadi.

“Dapatkah tuan memberi saya pinjaman itu?” tanyanya tatkala tuan Yew telah duduk di atas kursinya.

“Dapat, tetapi engkau boleh minta pada sipir tutupan!”

“Apa?—Tuan kadukan hal ini kepada polisi?”

“Sudah barang tentu!—Bukankah uang f 1500.—itu tidak sedikit?”

“Jadi tidakkah tuan suka memberi saya pin-jaman yang sebanyak itu?”

“Boleh!—dan mintalah beresok pada sipir tutupan dan dari celah-celah jeriji pintu tutupan engkau berikanlah uang itu pada Helena, terlebih baik engkau serta dengan sepocuk surat yang mengatakan bahwa hari perkawinan itu diundurkan buat sementara!”

“Lagi sekali saya peringatkan kepada tuan, bahwa tuan jangan membawa-bawa hal yang lain kemari!”

“Ya, kalau engkau tidak suka, engkau boleh nyah dari hadapanku!”

“Apa?” ujar Nizam seraya mencabut ren-congnya yang tersisip pada pinggangnya itu.

Tuan Yew terkejut dan bangun dari kursinya, pada tangannya telah terpegang sebuah senjata api yang kecil.

“Buangkan rencongmu!”

“Sebelum dia mengambil nyawa tuan, ren-cong ini tidak suka dibuangkan!”

Nizam maju ke muka, dan tuan Yew un- dur ke belakang dan akhirnya dia bersandar pada brandkasnya. Mulut senjata apinya senantiasa teracu kepada Nizam.

Trrrrrrraaaaaaaaakkk!!!!!!

......................... bunyi suara meja yang dijungkirkan Nizam, kap lampu listrik yang di atas meja itu pecah belah. Dalam kegelapan itu, berdentum-dentum terdengar suara senjata api tuan Yew. Tiada berapa lama suara senjata api itu tiada berbunyi lagi. Sebagai gantinya terdengar suara banting membanting dan hempas menghempaskan. Dengus kesakitan tiada putusnya menyela-nyela perkelahian itu. membuka kunci brandkas firma itu.

Aduuuuuuohhh!!!

......................... bunyi surara rintihan, sayup benar terdengarnya, setelah itu sunyi senyap pula dalam kamar itu Sekonyong-konyong sebuah tangan menggoreskan api-api dan tatkala terang samar dalam kamar itu, tampaklah bangkai tuan Yew terbaring dengan berlumur darah.

Kemudian Nizam memeriksa badan mait itu, dan tiada berapa lama tangannya telah bekerja membuka kunci brndkas firma itu.

Berdering dering bunyi uang masuk saku Nizam, tetapi tiba-tiba dia terkejut dan memasang telinganya dengan hati-hati. Beberapa langkah orang bersepatu terdengar berjalan dimu-ka toko itu, kemudian terdengar pula suara pintu diketok orang. Dengan hati-hati Nizam merangkak dalam gelap gulita itu dan tatkala dia sampai kebahagian belakang toko itu, diapum memanjat pada sebuah tiang. Akhirnya dengan tiba-tiba saja terdengar pula suara orang lintas di hadapannya. Dijenguknya keluar, kiranya seorang polisi tengah memperhatikan jendela tempat Nizam mengintip itu. Dengan cepat Nizam menyuruk, dan setelah polisi itu agak jauh dari padanya, barulah dia turun kembali. Se- lang tiada berapa lama sampailah dia di jalan raya............

Dari jauh dilihatnya firma Yew telah terang berderang, agaknya polisi telah dapat masuk ke dalam................


VIII

SELAMAT TINGGAL

Malam hari!

“Neng, neng,.........!”kedengaran ayam din ding Helena berbunyi sembilan kali, menandakan hari telah pukul sembilan malam. Helena, gadis jelita itu masih juga duduk diserambi muka rumahnya seorang diri membaca-baca buku, sedang ibunya telah pergi tidur. Tetapi buku itu rupanya tidak menarik minatnya benar, karena sebentar-sebentar diletakkannya buku itu ke atas meja di depannya, sedang matanya selalu memandang kejurusan pintu rumahnya yang masih saja terbuka. Hari telah mulai larut malam, kekasihnya Nizam yang di-tunggu-tunggunya sekian lama, belum juga tampak bayangannya. Hatinya mulai cemas. Kemudian dia bangkit dari tempat duduknya dan menjenguk keluear. Tetapi apa pun tiada tampak selain udara yang gelap gulita. Hawa malam semakin sejuk juga. Sekonyong-konyong terdengar satu suara ngauman yang amat dahsyat.

Angin ribut telah tiba. Helena segera menguncikan jendela-jendela dan pintu rumahnya. Guruh dan petir sangat ributnya diluear, seakan-akan dunia sedang berperang layaknya. Sebentar kemudian hujan pun turunlah dengan amat lebatnya sebagai dicurahkan dari langit, seakan-akan dunia yang telah koto- ini hendak dicucinya habis2an. Helena yang tidak mempunyai harapan lagi akan berjumpa dengan kekasihnya di malam itu, segera masuk ke kamar tidur, disalinnya pakaian nyia dengan Kimono Sutera Shantung pembelian Nizam, lalu naik ke atas tempat pembaringannya. Tetapi matanya tak hendak tidur, semakin dipejamkannya semakin jelas terlukis wajah pemuda yg. menjadi idamannya itu di ruangan matanya. Pikirannya senantiasa melayang-layang ke angkasa luas. Akhninya dia bangun kembali dan pergi duduk ke dekat meja tulinsnya, membaca-baca buku pula. Ketika itu guruh dan petir tidak kedingaran lagi, hanya suara hujan lebat saja yang masih mendesir-desir didaun-daun kayu dan di atas bubungan atap rumahnya.

“Tok, tok....................!” kedengaran pintu rumahnya ditokok orang dari luar. Seketika Helena memandang ke pintu di mana terdengar suara itu.

Mulanya enggan dia membukakan pintu kuatir kalau-kalau bukan Nizam yang datang itu. Kemudian didengarnya suara orang memanggil namanya: “Lena, Lena, bukakan pintu!” Dengan tiada sangsi-sangsi lagi Helena lalu membukakan pintu itu, karena ditandainya benar suara yang memanggil itu, suara kekasihnyia Nizam, sedang pada tangan kirinya terpegang sebuah lampu lilin yang tiada begitu terang cahayanya.

“Hai datang jugakah engkau?—sungguh engkau menepati janji, Nizam!” ujar gadis itu dengan tersenyum riang seraya mempersilakan Nizam masuk.

“Ya, sudah semestinya, janji harus ditepati, meski akan menempuh maut Sekalipun.” jawab Nizam dengan riang yang dibuat-buat sambil membuka mantelnya, dan hendak duduk ke atas divan yang terletak di sudut ruangan itu.

“Jangan duduk di situ!!” ujar Helena sambil mengerling dengan ekor matanya kepada Nizam. “Marilah turut kekamarku, di situ gelap, lampunya sudah ta‘ ada minyaknya lagi!!”

Nizam tiada membantah, melainkan diturut-nya saja kemauan gadis itu. Tetapi tampaknya dia gelisah saja, sebentar-sebentar dia memandang ke pintu, seakan akan orang yang ketaku-tan. Tetapi gadis itu tiada begitu memperhatikan kelakuan Nizam, hanya tiba-tiba dia berkata:

“Hai, mengapakah rupamu pucat benar, Nizam?” Adakah engkau sakit agaknya?“

Tidak! Tetapi barusan aku terkejut, ketika aku melalui kerkhof¹, tampak olehku satu bayangan putih, pikirku hantu kubur, kiranya patung officier yang mati di medan perang Aceh dahelulu.“ jawab Nizam berdusta.

“Nah, minumlah anggur ini dahelulu!” ujar Helena sambil memberikan segelas anggur ke tangan Nizam, “agar darahmu dapat ten-teram kembali.”

“Terima kasih Lena!”

Lalu diteguknya anggur itu oleh Nizam sampai habis.

“Lagi?”

“Terima kasih! Sungguh baik benar hatimu Lena!” memuji Nizam,“ sebagai juga rupamu yang cantik. Belum pernah kujumpai ga-dis bangsaku yang seperti engkau ini baik budi bahasanya.”

Helena yang dipuji demikian, lalu terse-nyum manis dan memandang kepada Nizam dengan manjanya.

“Lena!” Selamat tinggal!“ ujar Nizam pula tiba-tiba.

“Hendak ke manakah engkau Nizam?” tanya Helena kemuedian dengan terperanjat. “Hendak engkau tinggalkankah aku seorang diri? Tidakkah engkau cinta kepadaku?”

Dengan tiada disedarnya air matanya telah mengalir membasahi kedua pipinya yang putih itu, mukanya berobah kemerah-merahan, yang membuat parasnya bertambah cantik.

“Lantaran aku cinta, maka aku harces meninggalkan engkau, bukan buat selamanya, tetapi buat sementara waktu karena aku ada urusan yang penting, guna kebahagian kita di kemudian hari,” jawab Nizam.

“Bilakah engkau hendak berangkat Nizam?” tanya Helena pula.

“Besok, diwaktce subuh, Lena!”

Helena tiada menjawab lagi, hanya dipandangny saja muka Nizam dengan kasih mesra kemudian dia berbangkit dan terus naik ke atas pembaringannya, ditelungkupkannya mukanya ke atas bantal kedua belah tangannya menutupi mukanya. Dia menangis............

Sementara itu Nizam masih tetap tegak termanggu-manggu, hingga tiada disedarnya bahwa segenap pengisi rumah itu telah tidur ke dalam bilik masing masing. Kemudian Nizam sendiri pun lalu merebahkan diri pada sebuah divan yang berada dalam ruangan itu............

Di waktu fajarnya!

............... suara kokok ayam telah ramai demikian pula kicauan unggas pada dahan ka-yu yang berada di keliling rumah Helena itu...

Sebagai seorang yang terkejut, Nizam terja-ga dari tidurnya. Diregangnya badannya, kemu-dian mengeliat ke kiri dan ke kanan. Setelah itu dia berdiri, dan lalu memakai mantel hujan-nya yang tersangkut pada sangkutan yang ada dalam ruangan itu. Dengan amat perlahan la-han, dia melangkah ke dekat pintu kamar Hele-na, dan diketuknya daun pintu dengan amat hati hati. Tiada lama kemudian daun pintu te-lah terbuka, dan Helena terdiri diambang pintu. Kedua belah tangannya tiada berhenti hentinya menggosok gosok kedua belah matanya, dan terkadang kadang dipandanginya wajah Nizam................

—“Nah Helena, inilah sa’at pertemuan kita yang penghabisan, pada pagi ini juga aku harus meninggalkan Kutaraja ini.........!”

—“Ke mana engkau Nizam?” tanya Helena kemudian.

“Ta’ usahlah engkau ketahui, sekarang tinggallah dengan selamat............!

Kemudian Nizam menundukkan mukanya, dan diciumnyalah tangan Helena. Setelah itu dia pun berjalan kelcear dan lenyap dalam udara pagi yang sejuk dan nyaman itu.......... Kemudian Helena masuk kembali ke dalam kamarnya.......... dengan perasaan sedih dan lesu..........

Keesokan paginya!

......... Helena dan ibunya tengah menghadapi minuman pagi dalam ruangan belakang. Kedua beranak itu ta’ ada yang berkata-kata seorang jua pun, seakan-akan mereka sama bisu. Sebentar-Sebentar terdengar Helena menarik napas panjang, cangkir kopi yang terletak di hadapannya belum pernah disinggung singgungnya semenjak tahadi. Tiba-Tiba kesunyian itu dipecahkan oleh suara deruman mesin motorfiet polisi yg. berhenti di muka rumah itu. Helena terkejut dan memandang kepada ibunya, sedangkan air mukanya berobah menyadi pucat dan bibirnya bergemetar. Kemudian Helena masuk ke dalam kamarnya.

“Ibu!—Nizam............ dia membunuh!” ujar Helena dengan suara yang gemetar, ketika dia telah berada dekat ibunya kembali.

“Lihatlah ini rencongnya masih berdarah!”

“Apa?—Nizam membunuh?” tanya Nyi Sumiati seraya memandang kepada anaknya dengan mulut ternganga.

“Temuilah polisi itu kelak!” ujar Helena pula dan terus lari ke dalam kamarnya. Dari sa- na dibawanya sebuah bungkusan yang berisi uang kertas beserta sehelai surat kecil. Kedua benda itu disurukkannya ke dalam keranjang kain-kain kotor. sedang rencong tadi dimasukkan- nya ke dalam abu dapur. Kemudian dibukan- nya laci meja tulisnya, dari sana dikeluarkannya gambar Nizam dari albumnya, dan terus disimpannya ke dalam kutangnya. Sesudah itu barulah dilihatnya peristiwa yang tengah terjadi dalam ruangan belakang, dari celah-celah lobang dinding kamarnya.

“Ya, tetapi kami tahu, anak muda itu selalu berulang-ulang ke rumah ini!” ujar seorang polisi rahasia.

“Kalau tuan masih menaruh curiga juga, saya persilakan tuan memeriksa rumah ini!” ujar Nyi Sumiati pula.

Polisi yang berkata tadi memandang kepada kawan2nya dan mengerenyitkan alis matanya sebelah kanan. Kemudian dia berpaling kepada Nyi Sumiati dan berkata:

“Kami tidak akan memeriksa rumah nyonya ini, hanya kami akan bertanya, benarkah anak muda itu selalu berulang-ulang kemari?”

Ya, sebenarnya, karena dia bersahabat baik dengan anak saya!“

“Anak nyonya?”

“Ya, Helena namanya!”

“E-hem, sekarang kami akan menanyai anak nyonya itu pula!”

Nyi Sumiati memanggil Helena, dan tiada berapa lama anak gadis itu telah terdiri dimukan- nya.

“Benarkah nona bersahabat dengan Nizam?”

“Benar”.

“Tahukah nona ke mana dia tahadi malam?”

“Tidak, saya tidak tahu!”

Kemudian polisi itu memandang kepada kawannya, dan dengan isarat dia mengajak temannya itu pergi.

“Terima kasih nyonya! dan selamat tinggal nona!” ujarnya dan terus berlalu.

Helena berlari ke dalam kamar dan dengan tiada disedarnya air matanya telah tercurah membasahi pipinyga yg. putih montok itu. Dikeluarkannya poteret Nizam dari kutangnyia tahadi dan dgn. sepuas2nya diciumnyia benda itu. Berapa lamanya anak gadis itu berurailan air mata, hingga gambar yang dipegangnyia itu telah tu-rut basah pula............

“Helena, menangiskah engkau?—cobalah engkau terangkan kepada saya apa yang telah terjadi!” ujar Nyi Sumiati sambil membelai-belai rambut anaknya.

Helena tiada menjawab, diangkatnya kepalanya dan didakapkannya kepada badan ibunya. Air matanya terus juga mengalir membasahi hari-baan ibunya.

“Katakan Lena!—tidak puas aku mende-ngar tangismu ini!” bujuk Nyi Sumiati.

“Ibu............!—alangkah malangnyia nasib Nizam......... kekasihku........... yang kucintai. Dia.......... wahai Nizam.......... aku cinta ke-padamu!” Habis perkataan itu, Helena terbaring kembali ke atas tilam dan matanya terpejam. Segenap tubuhnya bergemetar hebat. Nyi Sumiati kebingungan, tiada menentu apa yg akan lamanya anak gadis itu beruraikan air mata, mar suaminya, dan dari almari obat dikeluarkan nya cognac.

Setelah dicurahkannya minyak itu ke atas sapu tangan, segera dia berlari kembali ke dalam kamarnya dan diciumkannya kehidung Helena dn yang lain diminumkannya pula. Berangsur-Berangsur gemetar badan Helena menjadi hilang, dan akhirnya dia tenang tiada bergerak-gerak lagi. Nyi Su- miati membelai-belai rambut anak gadis itu dan dengan hasrat gairatnya diciumnyalah seluruh muka anak gadisnya itu. Tiada berapa lama ke-mudian Helena membukakan matanya dan memandang dengan tenang-tenang kepada ibunya, Perlahan-lahan air matanya mengalir pula dan lalu bertambah lama semakin deras.

“Ibu, Nizam dia telah lari! Aku cinta kepanga...... wahai ibu...... dia menyadi orang buruan!” Sampai di situ Helena tiada sanggup berkata-kata lagi. Air. matanya bertambah deras, tangisnya menyayukan hati ibunya. Bajunya telah habis basah untuk menghapus air mata anaknya. Dicari2nya sapu tangan akan penghapus air mata yang masih bercucuran itu juga. Sekonyong-Sekonyong tangannya terpegang kepada keranjang kain kotor. Ditarikkannya sehelai kain kotor itu, alangkah terperanjatnya perempuan itu tatkala matanya terpandang pada sebuah bungkusan dan sehelai surat. Setelah kain itu diberikannya kepada Helena lalu dibacanya surat Nizam yang kecil itu:

Helena yang manis!

Aku telah berdosa kepada Tuhan dan aku telah melenyapkan nyawa seorang makhluknya yang tiada bersalah sedikit juga.

Tetapi hati mudaku menyadi sesak, tatkala aku meminjam uang yang engkau pinta padaku itu, dia telah membawa-bawa namamu, Helena dan menghina diriku. Dengan ini surat ada kutinggalkan uang untukmu dan untuk ibuku telah ada pula. Entah suka mereka menerima en-tah tidak, tiadalah kuketahui. Dan sekarang aku ucapkan “Selamat tinggal”. Biarkanlah aku menyadi orang buruan yang menanggung dosa.

Kekasihmu!

Nyi Sumiati ma'lum sudah apa yang terjadi, dia berpaling kepada Helena. Anak gadis itu telah tertidur, dengan perasaan yang sedih, di-selimutinya akan anak gadis itu dan setelah di-ciumnya berulang-ulang, dia pun berjalan perlahan-lahan meninggalkan kamar itu..........

¹ Tempat perkuboran Militair.


IX

MEMBAWA UNTUNG

Kapal S. S. Australie, adalah sebuah kapal tambang Inggeris yang tengah berlabuh ditan-jung Pagar, pelabuhan Singapore. Sekalian penompang yang akan meneruskan perlayarannya ke Betawi, haruslah bertukar kapal di sana dengan kapal tambang Belanda. Oleh karena kapal tambang Belanda belum akan berlayar, maka sekali-an penompang yang akan dibawanya itu terpaksa menginap di Singapore untuk semalam lamanya..........

Dalam pada itu, dalam sebuah kamar dari hotel Des Indes di Singapore, tampaklah Nizam tengah duduk dengan Azman. Mereka itu akan meneruskan perlayarannya ke Betawi. Perkunjungan Azman ke sana, ialah akan menemui pak ciknya yang bekerja sebagai kerani pada salah sebuah firma di Tanah Abang.

Tatkala dia akan berang'kat dari pelabuhan Sabang, dgn tiba-tiba saja Nizam ditemuinyya tengah makan dalam sebuah warung nasi. Sahabatnya itu diajaknya jalan bersama dengan dia. Dengan kapal S. S. Australie tadi berlayarlah mereka dari Sabang.

Demikianlah hingga sampai ke Singapore itu “Akan tinggal tetapkah engkau di sana Azman?” tanya Nizam.

“Belum tahu, andainya aku mendapat ker-ja sudah barang tentu akan tetap tinggal di-sana. Apalagi dari Tanah Abang itu tiada berapa jauh lagi ke Bandung. Bukankah Bandung itu terkenal sebagai Pariys van Indonesia?” ujar Azman dengan riang.

Nizam menundukkan mukanya beberapa la-manya,sedikit pun tak ada terlihat senyuman pa-da bibirnya.

“Dan engkau Nizam, ta‘ sukakah engkau ting-gal beserta aceu'2 tanah Prianger itu?—O, ya............ hampir aku lupa kepada Helena-mu yang mendapat gelaran Roos van Kutaraja itu. Dapatkah engkau..........?“ ”Akh, entahlah Azman!“ ”Kenapa?—aku lihat engkau muram sahaja,—sakitkah engkau atau sudah kawinkah si H.................. a?“ ”Tidak!“ ”Jadi?“ ”Biarlah di Betawi saja kuterangkan kepadamu!“ ujar Nizam dan lalu berdiri ke jendela kamar itu. Sekonyong-konyong dia terjerit dan terus terjatuh ke lantai, air liurnya berbuih-buih. Badannya bergemetar hebat, dan matanya terpejam saja. Azman mengangkat sahabatnya itu ke atas tempat tidurnya dan kemudian diselenggarakannya dengan sepatutnya. Dari dalam kopornya dikeluarkannya sebotol minyak klonyor, lalu minyak itu diteteskannya kesaputangannya, dan diciumkannya kehidung sahabatnya. Berangsur-angsur. Nizam membukakan matanya dan memandang berkeliling kamar itu. Tatkala matanya beradu dengan mata Azman, nanaplah seketika lamanya pemandangannya. Bertambah lama semakin bengis pandangan matanya itu dan merah pula. ”Azman!—manakah Helena?“ Terperanjat Azman mendengar pertanyaan itu, digoncang2nya badan Nizam, dan dengan kecemasan ditanyainyalah sahabatnya itu. ”Helena, kemari............!—di mana engkau sembunyikan dia?“ rutuk Nizam lagi. Kemudian Nizam bangun dan berlari-lari berkeliling kamar itu, tangannya dikepal-kepalkannya, seakan-akan dia hendak meninju siapa saja yang hampir kepadanya. ”Apa?—Tuan jangan membawa hal percintaan saya!—Kalau tuan tidak suka mem- beri saya pinjaman uang f 150.—itu tuan boleh tutup mulut............ Akh.......... inilah makananmu dan siaplah nyawamu oleh Rencong pusakaku ini..........!“ ujar Nizam seorang diri. Dan dia terus juga berlari-lari berkeliling kamar itu. Sekalian pakaianinya habis dikoyak-koyakkannya, demikian pula gelas minuman yang terletak di atas meja habis pecah-belah jatuh ke atas lantai.

Azman tegak dengan ketakutan dan kebingungan. Apa yang telah menggoda urat saraf sahabatnya itu tiada dima'luminya sedikit juga.

“Aku tengah memeluk ibu dan ayahku, kedua mereka dimasukkan orang ke dalam tutopan. Aku yg. membunuah, ayah dan ibuku yang menanggung dosanya!—Azman............!

—“Nyahlah engkau dari pandanganku......! Nah.......... itu dia Helenaku......... tengah tidur terbaring, dia sakit merindukan daku... Akh,.......... alangkah butanya engkau, Azman..........!—lihatlah ibu bapaku tengah menangis tersedu-sedu, nun.......... di balik jeriji besi dan adikku Nurliana......... yah, dia tengah meminta-minta......!—Tidak, tidak,...... bawalah aku kembali ke Kutaraja.........!”

Setelah Nizam mengeluarkan perkataannya yg. akhir itu dia pun jatuh tersungkur, hidungnya terlandas pada pecahan kaca yang bertabu- ran di atas lantai. Demikian pula badan dan kakinya, habis mengeluarkan darah karena luka-luka yang disebabkan oleh pecahan kaca itu.

Nizam terhantar di atas lantai. Dengan cepat Asman mengeluarkan sehelai handuk dari dalam kopornya, kemudian dibasahinya dengan air yang ada di dalam kamar itu dan diletakkannya di atas dada Nizam.

Perlahan-lahan mata Nizam terpejam......... dan tertidur dengan nyenyaknya. Azman mencu- ci sekalian luka-luka sahabatnya, dan setelah itu diberinya obat lalu dibalutnyia pula.

Setelah selesai, Nizam diangkatnya ke atas tempat tidur, dan dia sendiri mengemasi sekalian benda-benda yang bertaburan di atas lantai itu..........

Pukul tujuh malam, Nizam tersedar dari tidurnya. Dipandangnya lagi berkeliling, kemedian ditatapnya mukanya sendiri di dalam cermin di tempat cuci muka itu. Tiba-Tiba dia bangun dan terus meninju cermin itu.

“Nah, tuan Yew telah mati.—Aku akan lari.—”Tiada seorang juga yang mengetahui langkahku tetapi ibu bapaku!“

Kemudian dia tertidur pula kembali..........

Malam itu juga Azman menelepon seorang doktor, tiada lama kemudian doktor yang dipanggil itu telah datang. Tengah Nizam tertidur itu dilakukanlah pemeriksaan atas tubuhnya.

Bebberapa lama kemudian doktor itu telah sellesai melakukan pemeriksaannya. Kepada Azman disuruhnya, supaya membawa Nizam kembali ke Kutaraja, di sana kelak dia akan diobat di rumah sakit gila di Sabang. Urat saraf anak muda itu telah bergoncang dengan hebatnya, karena suatu kejadian yang menakutkan hatinya.

...............................................................

Bebberapa lama Nizam dirawat dalam rumah sakit di Singapore. Tetapi ternyata penyakitnya tiada berkurang, akhirnya dia dikirim ke Sabang untuk dirawat di sana.

Dia diasingkan dalam sebceah tempat, karena perbuatannya amat berbahaya untuk orang gila yang lain. Sehari sesudah dia sampai di sana, lalu diberi tahuukan kepada polisi. Mereka lalu berkunjung ke sana dan benarlah kiranya yang mereka dapati itu ialah Nizam, tetapi...... Nizam sekarang bukan Nizam yang dahulu lagi...... Nizam sekarang adalah seorang muda yang te- lah berobah otaknya...... Dia telah gila. Setiap hari kerjanya hanya menggambar-gambar rupa perempuan saja dengan najiisnya pada dinding dan lantai kamar tutupannya dan terkadang kadang dia tersenyum dan tertawa keras seorang diri. Ji'ka tampak olehnya perempuan lalu di hadapannya, lalu dipanggilnya: “Helena, Helena!”

Penyakit gilanya semakin mendalam............. Pada suatu hari dengan tiba-tiba saja, kabar tentang Nizam itu diterima oleh Helena. Pada hari itu juga dia beserta ayah dan ibunya pergi mengunjungi Nizam ke Sabang itu. Tetapi baru saja dia melihat muka kekasihnya itu, ketika itu juga air matanya bercucuran membasahi pipinya. Oleh karena itu dia dibawa saja oleh ibu bapanya kembali.


X

TEBUSAN DOSA

Beberapa bulan telah berlalu!........... dalam sebuah ranjang di rumah sakit Militer Kutaraja, terbaringlah Helena. Dengan hari itu telah cukuplah sepekan lamanya Helena masuk ke dalam rumah sakit itu. Wajahnya telah pucat benar, badannya yang lampai dahelulu, telah kurus kering. Sebentar-sebentar terdengar dia mengeluh dan menyebut-nyebut nama Nizam.

Di samping ranjang itu berdiri ibu dan ayahnya, sedangkan di sebelah kirinya berdiri pula Nurliana adik Nizam.

Agak jauh dari mereka berdiri dua orang suster yang tengah menjaga sekalian orang sakit itu.

Mata Helena masih juga terpejam, tetapi mulutnya tiada berhenti-hentinya menyebut-nyebut nama Nizam.

“Helena!—bukalah matamu!” ujar Nyi Sumiati seraya memegang tangan Helena yang telah kecil itu.

Sisakit merintih dan memutar badannya ke kiri dan ke kanan. Tiada berapa lama kemudian tampaklah beberapa butir air mata mengalir pada pipinya.

“Helena............! Ini ibumu!”

Dengan berangsur-angsur Helena membukakan matanya, dan dengan pandangan guram ditatapnyalah wajah ibunya. Sesudah itu pandangannya bertukar kepada ayahnya Tuindorp dan Nurliana. Lama benar gadis itu dipandangnya, tetapi makin lama sinar matanya bertambah pudar dan kesudahanya tiada menampak lagi.

“Nizam......!—wahai miyn lieve Nizam...!” keloh Helena dengan perlahan-lahan.

Setelah itu tampak dadanya turun naik dengan cepat, seiring dengan itu tampak air mata- nya mengalir dengan lebatnya. Nyi Sumiati menghapus air mata itu, tetapi sebanyak dihapusnya, sebanyak itu pula tercurah dari mata anak gadisnya.

“Nizam......, Nizam......!—engkau membu-ndeh karena aku......, wahai karena permintaanku, kekasihmu yang engkau cintai...... Sekarang ayahku telah sembuh...... tetapi wahai...... Nizam......... bagaimanakah engkau......!”

Setelah itu Helena terdiam pula, Nyi Sumiati mencoiem anaknya berulang-ulang, tetapi Helena tiada tahu akan hal itu. Dia telah memejamkan matanya, air mata kasih dan cintanya terus juga mengalir membasahi pipinya, seakan-akan butiran air matanya itu menjadi beberapa butiran batu pualam yang dapat dipergunakan akan membentuk beberapa huruf yang menceritakan gelora hatinya. Tetapi ketiga makhluk yang berdiri di samping ranjang itu, tidak akan dapat berbuat sebagai itu, dan selama-lamanya tiada akan dapat..........

“Helena........., bukalah matamu kembali!—Katakanlah apa yang akan kami perbuat untukmu, untuk ketenteraman jiwamu!” ujar Nyi Sumiati sambil mencecahkan hidungnya pada kening Helena.

Antara ada dengan tiada tampaklah Helena menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ibu dan bapaku, Nizam, dia kekasikhu......, dia telah berkorbam untuk cintanya, dan aku akan turut berkorbam...... untuk cintaku...! Oh, ibu bapaku yang tercinta, kekasikhu telah menjadi seorang gila, seorang yang tiada dapat memasuki pergaulan ramai lagi, tetapi cintanya suci, dan lebih suci dari segala apa yang disebut suci di atas dunia.........!”

“Ya, tetapi engkau katakanlah apa yang akan kami perbuat untuk menjaga kesehatan tu-buhmu dan jiwamu!”

“Tak berguna lagi, anakanda akan mendialani pengorbanan untuk cinta kami, dan ibu beserta ayahku hendaklah berada dalam sejahtera saja adanya.........!”

“Wahai Helena......, engkau tidak boleh berlalu dari samping kami, engkau anak kami......, wahai Helena, engkau katakanlah apa yang akan kami perbuat guna kesehatanmu!”

“Tidak usah ibu......!—ibu tidak bersalah dan Helena sendiri dengan kekasihku itu pun tidak bersalah, tetapi agaknya telah menyadi suratan hidup kita akan menjalani hikayat yang sebagai ini......... Ibu...... kalau saya tidak ada lagi, tolonglah ibu katakan kepada polisi, supaya membebaskan ibu bapa Nizam yang kucin-tai........... dan ibu ambillah Nurliana seyagai anak ibu......... keganti diriku!”

“Tidak Helena......... engkau tidak boleh berlalu dari samping kami...... engkau semarak hidup kami...... wahai anakku Helena...... katakanlah apa yang akan kami perbuat guna kesehatanmu!”

Helena tiada menyawab lagi...... matanya terpejam dan sebentar-sebentar terbuka pula. Ombak dadanya bertambah cepat turun dan naik, ingatannya tahadi telah tak ada lagi. Helena diam dan tenang. Sejenak kemudian dia membuka matanya kembali dan memandang kepada ibu bapanya, setelah itu pandangnya berkisar kepada Nurliana. Tenang dan tetap matanya yang guram itu memandang wajah Nurliana yang tengah menahan gelora air matanya. Bertambah lama semakin redup juga pandangan Helena...... dan...... kesudahannya mata itu telah terpejam......, tetapi kemudian terbuka kembali......... dan terlukis senyuman manis pada bibir Helena yang telah pucat pasi itu...... senyum yang penghabisan.

Selang lima menit kemudian Helena telah tenang dan diam... diam untuk selama-lamanya... Helena telah meninggalkan dunia fana........ agaknya sebagai tebusan dosa kekasihnya dan guna pembeli sambungan usia ayah kandengnya............

Sebuah sado tengah berlari-lari menuju ketotuopan di Kedahsingel dengan kencangnya. Dibahagian muka tampak duduk tuan Tuindorp dan dibahagian belakang Nyi Sumiati dan Nurliana.

Anak gadis itu dibawa oleh Nyi Sumiati tinggal di rumahnya dan diangkatnya sebagai anak kandungnya pula. Sehari itu mereka akan pergi mengunjungi tutupan tempat Raden Sudar-mo dengan isterinya ditahan.

Tiada berapa lama kemudian, sado itu telah berhenti dan sekalian penompangnya turun pula. Sementara tuan Tuindorp masuk ke dalam kamar jaksa, Nurliana dengan ibu angkatnya menanti di luar. Sejenak kemudian, tampak tuan Tuindorp keluar dengan diiringkan doca orang polisi. Dari sana mereka lalu pergi ketu tupan.

Bergemerincing bunyi kunci jeriji tutup-an dan dengan menarik napas, Raden Sudar-mo berdiri dari duduknya.

“Siapakah tuan?” tanyanya kepada tuan Tuindorp.

“Biarlah di sini tak usah saya ceritakan kepada tuan. Dan sekarang marilah kita jeput pula isteri tuan itu!” yawab tuan Tuindorp.

Setelah kedua orang itu dikeluarkan, mereka kembali kekantoor jaksa. Sambil meneken tanda angan, juga mereka itu menerima sebilah Rencong Aceh yang katanya telah diper-gunakan Nizam untuk pencabut jiwa tuan Yew tempo hari itu. Tetapi sebenarnya Rencong yang ini kepunyaan Raden Sudarmo sendiri yg. senantiasa diletakkannya didinding kamarnya sebagai perhiasan.

Kemudian dengan sebuah sado yang lain mereka meneruskan perjalanan mereka menuju keperkuburan Helena di dekat kebon Belhovver.

Di samping sebuah kuburan yang masih merah tanahnya, bertekunlah kelima orang tahadi. Nyi Sumiati mencium batu misan nama anaknya berkali-kali, sedang tuan Tuindorp menyerak-nyerakkan bunga di atas dasar kuburan itu. Akan Raden Sudarmo dengan isterinya tiada mengerti apa yang tengah dikerjakan orang itu, karena dia sendiri menganggap hal itu sebagai satu hal yang terjadi di dalam alam mumpi semata-mata. Dicoba-cobanya pula mencabutcabut rumput kuburan itu, tetapi rumput itu telah selesai oleh Nurliana.

Akhirnya kedua laki isteri itu hanya memperbuat pura-pura bertekun pula, dan menggambarkan kesedian mereka. Selang seperempat jam kemudian, mereka pun kembali ke Situi..........

Petang harinyia!

............. “Saya amat merasa heran atas kejadiah tahadi. Kenapakah tuan dapat melepaskan saya dari tahanan, padahal anak saya yang durhaka itu, belum dapat ditangkap oleh polisi?” ujar Raden Sudarmo tatkala mereka duduk mengelilingi meja minum.

“Mas Raden Sudarmo, janganlah mas terlalu cepat mengatakan anak tuan itu sebagai anak yang durhaka, tetapi biarlah saya ceritakan serba sedikit apa yang telah terjadi”, ujar tuan Tuindorp dengan sedihnya.

Kemudian lalu dikissahkannyalah segala apa yang telah terjadi, hingga sampai kemasa Helena menghembuskan napas yang akhir, demikian pula pesan Helena yang duа itu.........

“Sekarang pesan Helena telah kami lakukan, tetapi kami menganggap kerja kami belum selesai, kalau mas Raden belum mengakui bahwa si Nurliana sebagai anak kami juga”.

Raden Sudarmo dengan isterinya termenung sejurus, kemudian mereka sama memandang kepada anaknya yang duduk di samping Nyi Sumiati. Anak itu menundukkan pandangannya dengan kemalu-maluan.

“Liana, engkau dengarkah percakapan tuan ini tahadi?” ujar encik Khadijah.

“Ada ibu!”

“Jadi............?”

“Ya, ibu anaknda ingin juga hendak mela-kukan pesanan kakak anakanda, yaitu Helena yang telah meninggal itu!”

“Bagus...............!” ujar keempat mereka itu dengan serempak, seakan-akan mereka merasa terlepas dari satu agenda yang sangat penting.

“Jadi anak saya yang laki-laki?!” ujar Raden Sudarmo tiba-tiba.

“Biarlah kita beresok pergi melihat dia ke Sabang, agaknya telah ada berkurang penyakit dia itu!” jawab tuan Tuindorp pula..........

Selang seketika kemudian tiada terdengar lagi percakapan dalam majelis minum-minum itu.


XI

SISA PENANGGUNGAN

Sebuah kapal kecil yaitu S. S. Sabangbaai tengah berlayar dari Ulee Lheue ke Sabang, di atasnya menompang ibu dan ayah serta adik Nizam. Demikian pula Nyi Sumiati dengan suaminya. Bertambah lama kapal itu semakin hampir juga, apalagi gelombang ta‘ berapa besar. Dan kira-kira tiga jam kemudian sampailah rombongan itu kepelabuhan Sabang. Dari sana mereka meneruskan perjalanan itu dengan sebuah taxi. Pukul satu tengah hari mereka telah menghadap kepada Directeur rumah sakit gila itu.

“O? tuan-tuan dari famili Nizam?” ujar doktor itu kepada tuan Tuindorp dalam bahasa Belanda.

“Ya, kami akan melihat peri kesehatan badan dan penyakit gilanya itu!” selang Raden Sudarmo yang mengerti akan pertanyaan dokter tadi.

“Sayang, yah sayang benar... karena beberapa hari yang berlalu anak itu telah lenyap dari kamar tahanannya. Dan sampai sekarang belum ada bertemu, ada diterima kabar dia telah sampai di Medan, yaitu Sumatra Timur sana!”

Alangkah terperantjatnya sekalian mereka itu, dan dengan tiada disedar sedikit juga mengalirlah air mata mereka mengingatkan nasib yg. memimpa kehidupan anak muda itu............ Akhirnya mereka pulang saja kembali dgn tangan hampa..........

Seorang laki-laki yang berpakaian compang camping tengah berjalan sepanjang jalan Cantonstraat di Medan. Dari mulutnya tiada berhenti-henti keluar ucapan “Helena, Helena”.

Orang itu ialah Nizam, dialah anak muda yg. telah dapat melarikan dirinya dari tahanan rumah sakit gila di Sabang tempo hari Otak dan jiwanya yang masih muda itu rupanya tiada sanggup menahan segala penderitaan yang hebat 2, dan ngerih, tetapi desakan darah remaja, dorongan darah muda yang selalu mengecewakan seseorang pemuda yang tiada teguh imanya, perbuatan yg. ke'ji itu telah dilakukannya, dan akibatnya telah dirasainya. Akh, demikianlah adanya kehidopean yang beraneka warna ini...... Oh, Dunia............ Kejam............!“

SELESAI.

—O—

Ucapan ahli fikir:

De wereld is een speeltoneel,

ieder krijgt zijn rol.



Dunia adalah permainan komidi,

masing-masing telah ada mempunyai rol.


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.