Baca EPUB: Beberapa Pemandangan tentang Kehakiman di Daerah Aceh

17 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. BEBERAPA PEMANDANGAN TENTANG:KEHAKIMAN DI DAERAH ACEH
  2. KOLOFON
  3. DAFTAR ISI
  4. KATA PENDAHULUAN
  5. KATA PEMBIMBING
  6. NASEHAT YANG MULIA PADUKA TUAN BESAR ACEH SYU TYOKAN DALAM RAPAT HAKIM-HAKIM PADA TANGGAL 3 OCTOBER SYOWA 19
  7. PIDATO SIHO BUTYO BUKIT TINGGI
  8. Rencana untuk menjalankan Kehakiman di Bawah Pemerintahan Agung.
  9. Untuk Menjalankan Kehakiman di Bawah Pemerintahan Agung.
  10. UCAPAN J. M. PADUKA TUAN MEDAN KOTO HOINTYO
  11. PIDATO PADUKA TUAN TIHO HOINTYODALAM RAPAT SINPANKAN-SINPANKAN DI KUTARAJA
  12. PIDATO P. TUAN ACEH SYU KENSATU KYOKUTYO
  13. PIDATO PADUKA TUAN KEIMUBUTYODI DALAM PERTEMUAN HAKIM-HAKIM ACEH SYU
  14. PIDATO SAMBUTAN TUANKU MAHMUD DALAM RAPAT SINPANKAN DI KUTARAJA
  15. PIDATO SAMBUTAN TUANKU MAHMUD DALAM RAPAT SINPANKAN DI KUTARAJA
  16. GUNSEIKANBU ACEH SYU SEITYOKUTARAJA
  17. UNDANG-UNDANG TENTANG ATURAN HAKIM DAN MAHKAMAH
  18. Pasal 1.
  19. Pasal 2.
  20. Pasal 3.
  21. Pasal 4.
  22. Pasal 5.
  23. Pasal 6.
  24. Pasal 7.
  25. Pasal 8.
  26. Pasal 9.
  27. Pasal 10.
  28. Pasal 11.
  29. Pasal 12.
  30. Pasal 13.
  31. Pasal 14.
  32. Pasal 15.
  33. Pasal 16.
  34. Pasal 17.
  35. Pasal 18.
  36. Pasal 19.
  37. Pasal 20.
  38. Pasal 21.
  39. Pasal 22.
  40. Pasal 23.
  41. Pasal 24.
  42. ATURAN TAMBAHAN.
  43. GUNSEIKANBU ACEH SYU SEITYOKUTARAJA
  44. ACEH SYU REI No. 10 — SYOWA 19 ITI-GATU 1.
  45. ACEH SYU TUTYO NO. 76. — SYOWA 19 ITI-GATU 1.
  46. ACEH SYU REI NO. 12 — SYOWA 19 NI-GATU 15 NITI.
  47. ACEH SYU KOKUZI NO. 35 — SYOWA 19 NI-GATU 15-NITI.
  48. ACEH SYU REI No. 4 — SYOWA 18 SIGATU 13
  49. ACEH SYU TUKOKU. — SYOWA 19 NI-GATU 10 NITI.
  50. ACEH SYU TUTYO NO. 181 — SYOWA 19 NI-GATU 10 NITI.
  51. UNCOPYRIGHT

BEBERAPA PEMANDANGAN TENTANG:

KEHAKIMAN DI DAERAH ACEH


KOLOFON

BEBERAPA PEMANDANGAN TENTANG:

KEHAKIMAN DI DAERAH ACEH




Buah dan pati dari permusyawaratan Hakim-Hakim

(Sinpankan dan Sinpankanho)

seluruh Aceh

(3-4-5 Bulan X - 2604)

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: digitalcollections.universiteitleiden.nl

Ilustrasi sampul: XVII, Balance 1932, karya M.C. Escher

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam.com



KATA PENDAHULUAN

(Kutaraja Tiho Hointyo Y. MIYAMOTO)

Peradaban negeri Barat terletak dalam kebendaan dan peradaban Asia Timur Raya terletak dalam hal semangat. Bangsa Barat senantiasa lebih menghargakan benda daripada manusia, hidup karena berbenda, memimpin manusia dengan benda dan juga memperdayakan manusia dengan benda. Meraka yang bodoh selalu menyokai beradaban yang serupa ini dan akhirnya terperdaya oleh bangsa Barat itu, laksana rakyat Asia Timur Raya yang telah terjebak ke dalam genggamannya.

Sebaliknya, bangsa Nippon memimpin Asia Timur Raya ini dengan senantisa lebih menghargakan semangat daripada benda. Semangat ini ialah terdiri dari semangat yang menganggap dunia ini sebagai suatu rumah untuk hidup bersama dan semangat Busido.

Perhatikanlah kebajikan yang hingga sekarang ini telah di-perbuat oleh bangsa Nippon terhadap Indonesia! Boleh jadi kebajikan ini tidaklah berapa besar dalam hal mengadakan barang-barang. Akan tetapi dalam hal memperbaiki semangat? Ini dapat terbukti dengan lepasna bangsa Indonesia, yang seolah-olah telah dimatikan semangatnya dan ditidurkan oleh bangsa Barat. dari genggaman bangsa ini, dengan usaha menginsafkannya akan kepentingan perguruan, memajukan keradinannya, mengobar-ngobarkan semangatnya, memajukan penabungan uangnya d s. b. Dengan ini berarti bangsa Nippon telah menolong memperkokoh tenaga bangsa Indonesia untuk tegak sendiri dengan tiada gamangnya menentang kesusahan yang walau bagaimana-pun besarnya.

Bangsa yang senantiasa berdekap tangan saja akhirnya niscaya ta‘ akan menyadi kuat melainkan hanyalah menyadi lemah belaka. Akan tetapi, apabila bangsa itu berosaha sendiri untuk mencapai kemajuarnya, tentulah negeriuya kelak akan menjadi makmur.

Semangat yang semurni ini telah diberikan oleh bangsa Nippon kepada bangsa-bangsa Mansyukuo, Birma dan Pilipina dan sedang diberikannya pula sekarang ini kepada bangsa Indonesia.

Untuk memakmurkan negeri dan membahagiakan rakyat perlu pula diberikan semangat yang berfaedah dalam hal Pengadilan, berhubung dengan mana telah diadakan Rapat dari sekalian Sinpankan dan Sinpankanho dari Syu ini pada tanggal 3, 4 dan 5 October Syowa 19.

Maka, bilamana segala nasehat-nasehat tentang caranya menjalankan Pengadilan yang telah diberikan oleh Pembesar-Pembesar Nippon di dalam Rapat itu dan dimuatkan ke dalam buku ini diperhatikan dengan seksama, niscaya dapatlah dipahamkan dengan sebaik-baiknya semangat Pengadilan Nippon, dan bilamana semagat ini senantiasa dipergunakan, niscaya sempurnalah kelak keadaannya kemerdekaan Indonesia dan terpeliharalah perjalanan Pengadilannya, yang mana semuanya berfaedah sangat bagi kebahagiaan rakyat dan kemakmuran negeri Indonesia.


KATA PEMBIMBING

Salah satu di antara sendi-sendi keamanan dan kemakmuran satu-satu negeri, yaitu sempurnanya soal Kehakiman.

Kehakiman ialah suatu badan dalam Pemerintahan, yang harus tegak senantlasa sebagai neraca. Itulah pula sebabnya, maka ahlt-ahlt siasat mengatakan, bahwa kesempurnaan soal Kehakiman menyadi ukuran tentang ketinggian kebudayaan sesuatu bangsa.

Karena inilah, maka semenjak balatentera Dai Nippon mendarat di sini serta didirikan Gunseibu, maka soal Kehakiman pun terus diselidiki dan diperhatikannya, hatta terbentuklah susuenan Kehakiman baiu di negeri ini. yang dengan beransur-ansur terus disempurnakannya.

Dalam pada itu, di mana-di mana yang masih belum sempurna, Pemerintah terus berusaha untuk menyempurnakannya.

Demikianlah, baru-baru ini, yaitu mulai tanggal 3. 4 dan 5 Bulan Sepeluh 2604, di Kutaraja telah diadakan berturuturut 3 hari lamanya permusyawaratan dari Hakim-Hakim (Sinpankan dan Sinpankanho) seluruh Aceh yang dihadiri oleh paduka yang mulia Aceh Syu Cokan, Aceh Syu Tiho-Hoinco dan lain-lain Pembesar Gunseibu Kutaraja. Dari luar Aceh Syu berhadir juga paduka yang mulia Wakil Sihobuco Bukit Tinggi dan Medan Koto Hoinco.

Oleh karena ucapan-ucapan dalam permusyawaratan itu sangat penting untuk diketahui oleh umum, teristimewa olel Hakim-Hakim dan calon2nya pada Ku Hoin di seluruh Aceh, maka kami terbitkanlah menyadi buku.

Dalam hal menerbitkan buku kecil ini, Aceh Syu—Seico Hodoka banyak memberi pertolongan, maka kepadanya kami mengaturkan banyak terima kasih

Demikianlah kata pembimbing dari kami, dan mudah-mudah-an buku kecil ini yang tertentu tentang hal-hal kehakiman, bergu-nalah hendaknya, Mudah-mudahan!

SINPANKAN dan SINPANKANHO-SINPANKANHO

KUTARAJA TIHO HOIN.

Kutaraja, Zyu-Gatu 2604 Syowa 19.


NASEHAT YANG MULIA PADUKA TUAN BESAR ACEH SYU TYOKAN DALAM RAPAT HAKIM-HAKIM PADA TANGGAL 3 OCTOBER SYOWA 19

Kita merasa gembira dapat bertemu dengan Tuan-Tuan dalam keadaan yang menyenangkan di tempat perhimpunan Sinpankan-Sinpankan Aceh Syu pada hari ini.

Dalam bulan Januari, tahun ini susunan dari Kehakiman sudah diatur dan diperbaiki. Selama ini Tuan-Tuan telah berrusaha di bawah pimpinan Hoinco supaya hal ini dapat berhasil selangkah demi selangkah. Akan tetapi berhubung dengan tempoh yang hanya sedikit sesudahnya teratur susunan ini, harus tuan-tuan lebih bergiat lagi di kemudian hari, karena kesempurnaannya itu terletak dibahu Tuan-Tuan.

Kesempatan yang baik ini Kita pergunakan untuk membentangkan fikiran Kita, supaya Tuan-Tuan akan lebih bergiat lagi memajukannya.

  1. Kehakiman harus diurus dengan ‘adil dan jujur, agar diperoleh kepercayaan dari masyarakat. Kehakiman ini adalah sa tu hal yang penting bagi masyarakat.

Sebagai Sinpankan janganlah Tuan-Tuan mempunyai hati yang mengandung nafsu yang berkehendak kepada harta benda, janganlah memfitnah ke sana kemari serta janganlah ada mempunyai fikiran yang mengandung rasa perbedaan sesuatu bangsa. Segala hal harus ditinbang dan diurus dengan jujur serta ‘adil dan hendaklah dipandang sebagai satu orang, supaya ketertiban dan kesentausaan manusia dapat tercapai dan kema'muran dapat maju.

Jika Tuan-Tuan pada masa peperangan ini kurang memahamkan kewajiban Tuan-Tuan sebagai Sinpankan dan kurang sempurna mengadakan kelengkapan dan lain-lain dalam soal yang besar ini, pasti masyarakat tidak akan menaruh kepercayaan terhadap kehakiman.

2 Harus menyadi perhatian bagi Tuan-Tuan bahwa sekarang Kita sedang melanjutkan peperangan Asia Timur Raya. Kehakiman adalah juga satu soal yang penting, yang harus diselaraskan dengan peperangan ini.

Peperangan Asia Timur Raya ialah satu peperangan suci untuk membina Asia Timur Raya. Jika dalam peperangan ini kemenangan akhir tidak Kita peroleh, tentu Asia Timur Raya tidak dapat dibina kembali.

Oleh karena itu masa ini ialah masa untuk berjuang bagi Bangsa-Bangsa Asia Timur Raya semuanya agar tercapai kemenangan akhir.

Jika seandainya ada juga orang yang tidak mengerti akan maksood yang penting ini, maka adalah ia seorang pengkhianat Asia Timur Raya, ialah orang yang melakukan sesuatu tindakan yang memberi faedah kepada musuh atau yang menyiar-nyiarkan kabar angin atau kabar bohong atau ialah orang yang tidak bekerja sama untuk mempertahankan tanah air atau yang tidak perusaha untuk menambah banyaknya hasil makanan yang penting pada masa peperangan, atau ialah orang yang menyembunyikan beras yang mesti dikeluarkannya, atau ialah orang yang tidak memberikan tenagaanya sebagai pekerja, dengan tidak ada sesuatu sebab, atau ialah orang yang mengacau jalannya per-ekonomian dalam masa peperangan.

Orang yang semacam ini harus dengan cepat diberi hu-kuman.

Hal ini patut dan perlu sekali diperhatikan, agar seluruh tenaga rakyat, lahir dan bathin, dapat dipusatkan kesatu arah, yaitu menyelesaikan peperangan suci ini.

  1. Sebagai Sinpankan tidak saja Tuan-Tuan harus melatih diri dan belajar sungguh-sungguh, tetapi harus juga memimpin pegawai-pegawai bawahan dengan sebaik-baiknya, istimewa pegawai-pegawai Ku Hoin.

Sinpankan-lah yang mengurus jabatan kehakiman untuk rakyat, oleh karena itu perlu sekali mempunyai pendidikan yang tinggi dan ‘ilmu yang dalam serta pengatahuan yang luas dari hal undang-undang, dan perlu pula mempunyai hati yang suci seperti sebuah kaca muka yang terang atau laksana air yang jer-nih.

Seperti Tuan-Tuan telah maklum, dalam Aceh Syu ini kurang cukup banyaknya orang-orang yang pandai.

Kita merasa kesal yang susunan kehakiman sudah diatur dan telah pula siap, tetapi orang-orang yang akan menjalankannya belum lagi teratur, istimewa pula pegawai-pegawai dari Ku Hoin Ataupun yang di bawahnya dapat dikatakan mempunyai ‘ilmu dan ke-pandaian yang cukup.

Oleh sebab itu Kita ingin agar Tuan-Tuan berusaha untuk mengamat amati dan memimpin pegawai-pegawai yang di bawah pengawasan Tuan-Tuan dengan sebaik-baiknya serta memajukan akhlak dan ‘ilmu mereka.

Orang yang mempunyai akhlak yang rendah atau orang yang memihak kepada salah satu pi:hak atau golongan atau yang tidak mempunyai ‘ilmu tentang undang-undang akan memberi pengaruh yang besar kepada Undang-Undang.

Oleh karena itu, Kita ingin pula bahwa Tuan-Tuan selalu akan mengusulkan pendirian Tuan-Tuan-jika dianggap perlu tentang pemecatan atau pemindahan dari Hoinco.

Baru-Baru ini kepada Hindia-Timur telah dijamin akan diberikan kemerdekaan di masa yang akan datang, hal mana didasarkan kepada semangat ksatria dan adil dari Kemaharajaan Dai Nippon.

Untuk menyambut kemerdekaan yang gilang gemilang ini, harus terlebih dahaelu dilaksanakan peperangan Asia Timur Raya ini, dan selain dari pada ini perlu diadakan usaha yang didasarkan atas kemerdekaan yaitu bukan saja memimpin rakyat supaya mereka lebih bergiat bekerja sama, tetapi juga harus diperkuatkan semangat mereka agar diperoleh sifat-sifat yang murni dan kepercayaan. Inilah hal-hal yang paling penting.

Teristimewa kepercayaan dari dalam dan dari luar terhadap Kehakiman perlu sekali diperoleh.

Tanggung-jawab Tuan-Tuan boleh dikatakan berat dan besar. Kita ingin bahwa Tuan-Tuan akan berusaha dan bekerja dengan lebih bergiat.

Sekianlah ucapan Kita.



Aceh Syu Tyokan

S. IINO.


PIDATO SIHO BUTYO BUKIT TINGGI

Kita merasa gembira dengan diadakannya rapat Anggota Kehakiman yang sungguh besar artinya, dalam Aceh Syu, berke-naan dengan masa Janinian Kemerdekaan yang cilang gemilang.

Kita mengucapkan banyak terima kasih terlebih dahulu kepada paduka Tuan Besar Cokan kemudian kepada Tuan-Tuan sidang Pengerus Kehakiman.

Menurut pendapatan Kita Kehakiman itu adalah jiwa dari urusan Tatanegara serta menunjukkan dasarnya kesigapan dan persiapan Tatanegara. Hal ini amat besar pengaruhnya ke pada Pemerintahan dan Pendidikan. Oleh karena itu Kita harap supaya hadirin yang mulia memahamkan maksud rapat Kehakiman ini serta memenuhi pengharapan Kita.

Kita berasa gembira mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Tuan-Tuan dalam keadaan yang sehat. Kesempatan inilah Kita pergunakan untuk menerangkan kewajiiban dan peker-diaan cara menjalankan Kehakiman, supaya memberi penjelasan kepada Tuan-Tuan.

Kehakiman gunanya ialah untuk memperbedakan antara jujur dengan curang dan antara baik dengan buruk serta menunjukkan akhlaq baik yang musti diturut oleh rakyat.

Seandainya pekerjaannya terbengkalai atau kurang ‘adil. hati rakyat pun akan bergoyang serta menerbitkan kekacauan sehingga merusakkan dasar keamanan Tatanegara.

Dalam masa aman dan damai Kehakiman kurang mendapat perhatian. Akan tetapi. jikalau keadaan Kehakiman kurang semporna, akan timbullah kecemasan dalam hati rakyat.

Oleh karena itu, ahli-ahli mengatakan, bahwa undang-undang atau Kehakiman itu tidak ubahnya sebagai tubuh manusia. Di-waktu sehat, manusia pun lupalah akan tubuhnya. Akan tetapi sedikit saja kesehatannia terganggu hatinya sudah merasa susah. Pepatah ini boleh dikatakan tepat dan benar.

Dengan begitu nyatalah, bahwa Kehakiman itu tempat penting adanya. Negara-Negara seluruh dunia memandangnyia perlu sekali dan menganggapnya sebagai jiwa dari dasar Tatanegara serta dapat meninggikan derajat Pemerintahan dan memperteeguh hak Kehakiman.

Semenjak 2000 beberapa ratus tahun yang lelu, di Kera-jaan Dai Nippon pun sudah juga ada diadakan Peraturan Kehakiman.

Pada tahun 2550 sudah disusun peraturan Kehakiman yang moderen yang masih berlaku sampai masa sekarang ini serta makin lama makin mempertinggi derajiat Kehakiman.

Pada hari Ulang Tahun 50 dilakukan perobahan. Waktee itu Daulat Tenno Heika telah meringankan langkah mengun-jungi mahkamah Kehakiman di Tokyo dan telah bertitah yang amat menggembirakan yaitu:

“Kehakiman itu menjaga keamanan dan kemakmuran rakyat serta mempunyai pengaruh yang amac besar terhadap Pemerintahan dan pendidikan

Oleh karena itu orang yang mengerus Kehakiman harus lurus dan jujur. Bekerdea untuk umum, berusaha dengan rajin serta bersungguh-sungguh dan bergiat supaya derajiat Kehakiman tetap terjaga.“

Pegawai Kehakiman di Nippon merasa gembira menerima kehormatan tersebut dan berusaha memenuhi pengharapan dari Maharaja Tenno Heika dengan ‘adil dan tiada memikirkan diri sendiri.

Di Aceh Syu ini sudah dilakukan Peraturan susunan Kehakiman baru dalam Bulan I tahun ini.

Kita amat bergembira sebab dengan selangkah demi selangkah dilakukan persiapan tentang hal ini.

Pada fikiran Kita Tuan-Tuan lebih paham tentang hal kepentingan Kehakiman terhadap rakyat Aceh dari pada Kita, Kita harap agar Tuan-Tuan lebih insaf akan kepentingan Kehakiman dan lebih bergiat memenuhi kewajiiban.

Seperti telah diterangkan tadi, persiapan susunan itu adalah pendahuluan dari kelengkapan Kehakiman. Pegawai Kehakiman yang menjalankannya musti berlaku ‘adil dan tiada mementingkan diri sendiri serta melakukannya dengan hati yang jujur sebagai Tuhan.

Ada satu cerita di Nippon yang menerangkan, bahwa 300 tahun dahaelu salah seorang dari pegawai Kehakiman di Nippon menerima pendakwaan Jikalau mendengarkan pendakwaan dengan menanyai si pendakwa bermuka-muka, mungkin pegawai Kehakiman tersebut kena pengaruh. Oleh karena itu ia mendengarkan pendakwaan dari belakang pintu, supaya mendapat hati yang tenang

Pada masa itu jabatan pegawai Kehakiman tidak mendapat kekuasaan yang luar biasa.

Akan tetapi jika Ki'a menyelidiki undang-undang tiap-tiap negara pada masa sekarang, maka ternyata bahwa pegawai Kehakiman ada mendapat kehormatan dan hak yang luar biasa. Tetapi seba- liknya diberikan juga bermacam-bermacam hak yang terbatas Ibaratnya:

Kepada Pegawai Kehakiman Nippon dijanjikan uang jasa sampai mati menurut Undang-Undang Negara Bahagian 57.

Jika tidak mungkin dipenuhi sebagai tersebut di atas, maka Pegawai tersebut dipindahkan kepekerjaan atau ke tempat yang lain.

Akan tetapi sebaliknya pula dalam hal ini, pegawai tersebut tidak boleh lagi mencampuri urusan Pemerintahan atau memasuki salah satu kongsi (Maskapai) Ataupun menyadi salah satu Anggota sebagaimana termaktub dalam Peraturan tentang Susunan Mahkamah Kehakiman Bagian 72. Sebab jikalau Pegawai Kehakiman tersebut mencampuri urusan Pemerintahan atan menyadi Anggota sesuatu golongan (partiy) tentulah ia akan memihak kepada satu golongan Walaupun dengan tidak disengajanya.

Ada pula bahayanya mengurus perkara, jikalau salah seorang bertikai faham dengan dia, maka tidak boleh tidak ia akan berpihak kepada salah satu partiy. Ia harus memutuskan perkara itu se'adil‘-adilnya.

Walaupun peraturan sudah ada, akan tetapi ada juga yang tidak memperhatikannya. Seorang Pegawai Kehakiman menjaga supaya jangan memihak ke sana-sini dan harus menghukum dengan ’adil sebagai Kehakiman Nippon yang telah diterangkan tadi.

Bahaya seperti tersebut di atas tadi musti disingkirkan serta tetap berhati suti, menjaga kehormatan diri sendiri.

Dengan demikian dapatlah Tuan-Tuan mengerti, apakah pekeryaan Kehakiman itu dan betapa pula pentingnya untuk mendirikan Tatanegara, supaya dapat melaksanakan urusan Kehakiman serta meninggikan deradiat dan kekuseaan Tatanegara; bagaimana pentingnya menjalankan peraturan Kehakiman dengan bagus serta ‘adil dengan tiada memikirkan kepentingan diri sendiri.

Kita harap agar Tuan-Tuan mempelajari sungguh-sungguh tentang urus n Kehakiman, sebab ia adalah jiwa yang penting dari dasar susunan Tatanegara. Menjaga supaya ia jangan dikebelakangkan dan bersedia untuk menyusun Tatanegara yang baru tang akan dirasmikan di kemudian hari.

Sekrang akan Kita terangkan tentang rencana Pemerintah Agceng tentang cara mendialankan Kehakiman.

I. Menangkap dengan berani dan menghukum dengan keras terhadap kesalahan yang berdasarkan haluan berbau musuh. Kesalahan seperti ini dipandang sebagai musuh dalam Sumatera, jika dibandingkan dengan musuh yang di luar Sumatera.

Istimewa pula dalam masa peperangan, kesalahan sebagai itu harus dibasmi selekas mungkn hingga keakar-akarnya dengan saksama sekali, selagi ia masih kecil benar.

Tuan-Tuan dapat memperhatikan sendiri, bahwa dalam memimpin dan mengajar bawahannya, harus berusaha mengetahui kesalahan bawahannya sebelum kesalahan itu menyadi besar.

Kesalahan yang dimaksud dengan mempunyai haluan yang berbau musuh itu adalah sebagai berikut:

  1. Yang terutama ialah komplotan untuk memperoleh khabar dari musuh walau dengan tanda api dan lain-lain.
  2. Merusakkan ekonomi dalam mana juga termasuk pelanggaran penjagaan ekonomi sebagai yang terjadi semenjak permulaan tahun ini.

Seperti Tuan-Tuan telah maklum, peperangan ini bukanlah hanya peperangan senjata saja juga peperangan fikiran dan peperangan ekonomi yang berlangsung dengan hebatnya.

Khabar angin atau khabar bohong sebagai yang terjadi di Sumatera baru-baru ini ialah peperangan fikiran juga.

Sebahagian orang masuk dalam peperangan ekonomi untuk berfihak kepada musuh, ya’ni dengan jalan berdaya upaya memborong barang-barang dan menyembuntikannya atau tidak mau menjulany, agar harga barang-barang membubung tinggi.

Inilah yang mengacaukan keamanan Sumatera. Oleh karena itu mulai tanggal 15 bulan 3 tahun ini, dilakcekanlah peraturan tentang penjagaan menjul barang-barang dan lain-lain, yaitce dengan Tomi Si Rei. agar penjagaan di seluruh Sumatera tidak sia-sa saja.

Terjadinya pengacauan dalam hal ekonomi, ialah karena ada yang kurang atau tidak faham akan maksudnyia ekonomi yang sebenar-benarnya.

Yang tidak faham betul-betul akan maksudnyia ialah orang-orang yang berhubogen dengan musuh Amerika, inc geris, |belanda dan lain-lain, atau Walaupun tidak demikian berniat supaya menolong perlawan musuh dan berharap agar dapat mengacau keamanan Sumatera.

Orang yang tidak bertujuan sebagai di atas, tetapi di dasar-kan menurut haluannya yang hanya mimikirkan diri sendiri Ataupun mata duitan sebagai Eropah dan Amerika, ya’ni berusaha agar dapat keuntuncan atau laba untuk dirinya sendiri saja.

Orang yang termasuk dalam kedua macam haluan tersebut di atas, adalah sama merusakkan ekonomi dan keamanan seluruh rakyat Sumatera.

Selain dari pada itu, ada pula yang menghalang-halangi pendirian lingkungan kemakmuran bersama di Asia Timur Raya, atau merusakkan dasar kemerdekaan Sumatera. Kedua-duanya adalah bermaksud untuk menolong musuh.

Oleh karena itu orang yang bersalah iemacam ini, haruslah ditangkap dengan cepat dan dengan gagah perkasa serta menyelidiki sedalam-dalamnya, supaya dapat memberinya hukuman yang selaras dengan dosanya.

Akan tetapi di antara perkara-perkara pelanggaran peraturan ekonomi ada yang disebabkan oleh karena kesusahan penghiduapan atau lain-lainnya. Atau yang maksudnya untuk mencegah kesusahan dengan lekas atau melangoar peraturan dengan tidak sengaja dan sebagainya

Oleh karena itu apabila memeriksa perkara ekonomi haruslah berhati-hati sekali serta menyelidiki sebab sebabnya yang asli dengan saksama. Sebab kalau kesalahannya tidak berdasarkan tujuan untuk membantu musuh. haruslah diperlakukan dengan budi manis, supaya hukumannya jangan terlalu berat atau merusakkan ketenteraman rakyat

Rencana untuk menjalankan Kehakiman di Bawah Pemerintahan Agung.

II. Terhadap perkara umum harus didiyalankan pemeriksaannya sedapat mungkin dengan menghormati agama serta sopan santun dan menghormati adat istiadat yang berlaku, perkara-perkara mana haruslah diurus dengan teliti dan seksama.

Kita sangat menghormati agama, kesopanan dan adat istiadat rakyat, supaya dapat memberikan keamanan kepada rakyat umum agar rakyat dapat bekerja sama dengan hati yang senang dan agar jangan rakyat mempunyai kecemasan dan kekhawatiran hati untuk mencapai keamanan dalam pulau Sumatera; selandiutnya supaya dapat tercegah segala kekacauan dan kekhawatiran hati rakya: yang mungkin teryadi.

Oleh karena itu apabila mengurus perkara haruslah tu-an-an melakukannya dengan lurus, hati yang tulus ikhlas dan belas kasihan dan seterusnya janganlah ‘pemeriksaan itu dilakukan dengan keras. Perlu benar Tu-an-an perhatikan apabila seseorang yang bersangkutan dibebaskan dari tuduhan yang diberatkan atasnya, hendaklah dijaga dengan sedapat mungkin supaya ta jangan mendapat malu karena tuduhan yang tersebut itu.

Apabila ada undang-undang adat yang perlu diperbaiki atau akan mengadakan undang-undang adat, maka keterangan-keterangannya:ang luar biasa atau ibarat-ibarat yang teristimewa tentang perkara-perkara adat, haruslah diraporkan kepada Gunseikanbu dengan perantaraan Tiho Hoinco.

Selain dari pada itu apabila ada undang-undang adat, undang-undang Pemerintahan Agung atau peraturan-peraturan yang berlaku sampai sekarang ini yang kurang memuaskan Ataupun kurang cocok dengan keadaan—tetapi berguna—perlu diperbaiki, hendaklah diraporkan kepada Gunseikanbu dengan perantaraan Tiho Hoinco.

Berhubung dengan keadaan dalam perang maka peraturan yang berlaku sekarang ini dipakai hanyalah untuk sementara waktu saja, oleh sebab mana tentulah karenanya mungkin terjadi bermacam-macam kesusahan dan kesulitan.

Oleh karena itu apabila tuan-tuan melakukan peraturan tersebut tentulah tuan-tuan harus mempergunakan fikiran dan berdaya upaya yang luar biasa; terhadap susah payah tuan-tuan ini kita mangucapkan syukur dengan tidak hingganya.

Barangkali di antara tuan-tuan yang hadir ada yang sedang atau akan menyiaipkan sesuatu hal yang bersangkutan dengan atau merasa kurang puas terhadap sesuatu peraturan Ataupun perlu mengharapkan perbaikannya untuk mengurus sesuatu perkara, sebab itu Kita ingin sekali hendak mendengar buah fikiran dan pendirian yang jelas dari tuan-tuan sebagai penjabat yang mengurus perkara dengan rasmi.

Untuk Menjalankan Kehakiman di Bawah Pemerintahan Agung.

III. Urusan Kehakiman harus dijalankan dengan ceapat supaya sesudahnya pemeriksaan yang dijalankan berakhir dapatlah dibuktikan terhadap salah atau tidknya orang-orang yang dituduh.

Oleh sebab itu perlu benar diurus dengan seadil adilnya dan kalau sesuatu perkara tidak diurus dengan segera tentulah ta’ dapat maksud kita tercapai, apalagi dalam masa peperangan penangguhan pemeriksaan dari sesuatu perkara dapat menimbulkan kurang senang dan kesan yang ta‘ baik dari rakyat terhadap hak dan kewajiiban Kehakiman dan mungkin pula dapat mempengaruhi keamanan.

Mengingat hal tersebut telah menyadi kewajiiban tuan-tuan untuk mengeruus perkara-perkara dengan secepat-cepatnya. Sangat penting dan berguna benar apabila sesuatu perkara diurus dengan baik dan sepatut-patutnya, akan tetapi bila terjadi ber-macam-macam perkara haruslah diperbuat surat-suratnya ibaratnya tentang pengempulan bukti (formulier), menurut caracara biasa dan lain-lain.

Jikalau ada perkara yang akan dibandingkan maka untuk mencepatkan urusan itu hendaklah diserahkan perkara itu kepada Gunseikanbu dengan perantaraan Tiho Hoinco supaya urusan tersebut dapat diselesaikan dengan secepat-cepatnya.

Sebagai penutup pedato ini, Kita memberi hormat kepada tuan-tuan sebagai penjabat yang memegang urusan Kehakiman siang-malam.

Berhubung dengan pernyataan dan janjl tentang kemer-dekaan yang tuan-tuan telah tunggu sekian lamanya, tentulah tuan-tuan waji berusaha [dengan bersungguh-sungguh untuk bangsa tuan-tuan dan seterusnya bekerjalah dengan lebih giat serta memperteguh kepercayaan dan keimanan tuan-tuan, bahwa kemennangan yang akhir pasti diperoleh oleh tentera Dai Nippon.

Oleh sebab itu hendaklah tuan-tuan memikirkannya dengan baik dan seksama untuk kepentingan pembinaan dari lingkungan kema'muran bersama di dalam Asia Timur Raya.

Kita ingin benar supaya tuan-tuan tetap bersetia kepada kewajiiban tuan-tuan.


UCAPAN J. M. PADUKA TUAN MEDAN KOTO HOINTYO

Kita sangat merasa gembira oleh karena mendapat suatu kesempatan yang baik di hari ini untuk bertemu muka dengan tuan-tuan para sinpankan yang datang dari seluruh Aceh ke tempat permusyawaratan yang sedang dilangsungkan ini.

Kesempatan yang baik ini kita pergunakan untuk menyatakan kegembiraan hati berhubung dengan kegiatan tuan-tuan dalam menjalankan kewajiiban sebagai hakim-hakim yang bertanggung jawab terhadap keamanan Tanah Air.

Di dalam waktu meneruskan peperangan Asia Timur Raya ini, Badan Kehakiman juga hendaklah dipandang sebagai suatu usaha untuk mencapai kemenangan akhir, terutama dalam hal mengatur keamanan dan kesentosaan dalam negeri, yaitu dengan jalan menjalankan pengadilan yang seadil2nya, sehingga terdapat kepuasan dalam hati tiap-tiap rakyat yang berperkara.

Dalam hal keadilan yang tak dapat tidak mesti dijalankan oleh tiap-tiap hakim, tidak perlulah rasanya lagi kita bentangkan dengan lebih panjang dan lebar lagi, karena Paduka Tuan Besar Aceh Syu Cokan pun telah lebih dahulu memberikan pemandangan dan nasehat yang kita rasa sudah cukup dan semporna dalam hal itu.

Hanya sebagai peringatan dan nasehat, kita ingin memesankan kepada tuan-tuan, bahwa tuan-tuan hendaklah berhati-hati benar dalam memeriksa dan memutuskan perkara-perkara yang tuan-tuan jalankan. Adil dan jujur serta bersikap sama tengah dalam menjalankan kehakiman, itulah kewajiiban hakim yang sebesar-besarnya.

Dalam masa ini sebagaimana tuan-tuan maklum, bahwa Kemerajaan Dai Nippon telah menjandiykan kemerdekaan bagi penduduk-penduduk Indonesia di masa yang akan datang. Perjanjian Kemerdekaan Indonesia ini sungguh amat besar artinya bagi penduduk Indonesia yang telah bermasa-bermasa diperas oleh orang kulit putih, yang mana kemerdekaan itulah yang akan membangkitkan kembali sejarah bangsa Indonesia sehingga akan dapat hidup dalam lingkungan kemakmuran bersama di Asia Timur Raya ini.

Oleh karena itu, hendaklah tuan-tuan lebih bergiat dari sekarang untuk mempelajari segala usaha yang amat berguna di waktu kemerdekaan itu akan menjelma nanti.

Terutama sekali hendaklah tuan-tuan pelajari dan memperdalam betul-betul tentang hal kehakiman serta bersemapangat teguh, supaya cita-cita untuk membangunkan keamanan dan kesentosana akan tercapai dengan semporna.

Sebagai penutup kita anjurkan kepada tuan-tuan supaya memperhatikan betul akan segala kepentingan kehakiman dan seterusnya kalau ada apa-apa hal yang perlue ditanyakan kepada kita, kita harap supaya dengan segera dikirimkan surat-surat pertanyaan kepada kita di Medan.

Sekianlah!


PIDATO PADUKA TUAN TIHO HOINTYO

DALAM RAPAT SINPANKAN-SINPANKAN DI KUTARAJA

Saya merasa stukur berhnebung dengan kehormatan yang dilimpahkan oleh Yangmulia Paduka Tuan Besar Cokan Kakka serta pembesar-pembesar dan tuan-tuan yang lain dengan jalan menghadiri Rapat Sinpankan di hari ini.

Kesempatan untuk berbicara sekarang ini saya pergunakan untuk memberikan peringatan-peringatan yang bergeona bagi tuan-tuan Sinpankan.

Hak pengadilan terdiri dari hak Badan Kehakiman dan hak Badan Penuntut, yang bersama-sama dapat memelihara keamanan negeri dan kesentosaan rakyat.

Pengadilan itu terbagi atas 2 bahagian, ya’ni bahagian Keizi dan bahagian Minzi.

Di antara kedua bahagian pengadilan yang sangat perlue bagi keamanan negeri dan kesentosaan rakyat ini adalah pengadilan Keizi yang terpenting.

Buat menjaga keamanan negeri dan kesentosaan rakyat ter-dapat dalam susunan Pemerintahan 3 jenis Badan, ya’ni Keisatu, Kensatu dan Hoin.

Kewajiiban Keisatu ialah menyahari dan menangkap orang-orang yang bersalah dan menyerahkannya kepada Kensatu untuk ditontut di muka Hoin yang akan menimbang dan mengadili kesalahan orang-orang itu.

Dengan ini ternyata, bahwa ketiga Badan ini, Walaupun masing-masing berdiri sendiri, adalah sebenarnya bepadu satu, dan bekerja secara jujur dengan tidak meliwati batas hknya masing-masing hingga tercapai pengadilan yang semporna.

Dengan mengenyampingkan tabi’at yang tidak jujur pasti kelak terbasmi sekalian penjahat dan terpelindung sekalian orang yang tidak bersalah serta terhindar masyarakat dari segala jenis kesusahan.

Teristimewa untuk menghindarkan bahaya bagi negeri di-masa peperangan perlce dilakukan terhadap orang-orang yang berbuat jahat, penjagaan yang berlipat ganda kersnya bila dibandingkan dengan penjagaan sewaktu aman, hingga pengadilan Keizi pun dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.

Terhadap pengadilan Minzi memang adalah sebaik-baiknya apabila sipendakwa dan siterdakwa dapat berdamai sendiri satu sama lain.

Akan tetapi oleh sebab dalam usaha yang serupa ini tidak selamanya kedua belah fihak bisa sepakat dan hasil dari perda-maian Itu, berhubung dengan pengaruhnya salah satu di antara kedua fihak itu, kerap kali pula kebalikannya dari keadilan yang diharapkan, hingga menimbulkan di antara mereka itu permusuhan dan perkelahian yang berarti juga mengganggu keamanan negeri, maka nyatalah bahwa pengadilan tentang Minzi pun sekali-kali tiada boleh dialpakan.

Untuk mencegah sesuatunya fihak menjalankan pengaruh dan kekerasannya dalam perkara Minzi, maka perlce di-dalam susunan Pemerintah diadakan Hoin yang berkewajiban memutuskan perkara itu dengan seadil-adilnya dan menasehati fihak yang hendak merampas haknya fihak yang lain, dengan kewajiban mana kelak akan tetap terjamin kesenangan rakyat sehari-hari.

Dengan penerangan ini nyatalah kepada kita, bahwa kedua bahagian dari pengadilan ini semata-mata diadakan untuk mengamankan negeri dan menyentosakan rakyat, dan untuk memperteguh kepercayaan rakyat terhadap Badan Pengadilan perlce haknya ini dijalankan dengan jujur.

Di negeri -negeri yang tingkat kebudayaannya masih rendah, masih digabungkan urusan Pengadilan dengan urusan Tatane-gara, akan tetapi dengan keadaan begitu penjawat yang menjalankan kedua jenis urusan itu acap kali memutuskan perkara dengan menurut nafsu yang serong saja, hingga ke-putusan2nya pun umumnyia menyusahkan bagi rakyat.

Akan tetapi, negeri yang sudah maju kebudayaannya selalu memisahkan kedua jenis urusan tadi, guna menghin-darkan pengadilan yang tiada sempuera.

Dengan pemisahan ini sudah terjamin, bahwa penjawat-penjawat dari Tata negara tiada lagi dapat mencampuri urusan Pengadilan, hingga tiap-tiap Hakim yang sebenarnya adil dapat menjalankan kewajibannya dengan tenang dan dengan tidak memandang akan agama, bangsa, pangkat atau keturunan orang yang ber-perkara.

Untuk kemakmuran Syu ini dan kesentosaan rakyatnya pun sudah pula dipisahkan di sini urusan Pengadilan dari urusan Tatanegara semenjak bulan I di tahun ini.

Akan tetapi oleh sebab Pemerintahan “Negeri sekarang ini masih di tangan Militer yang sedang sibook pula dengan lain-lain urusan yang perlu dilaksanakan juga, maka tentulah caranya pengadilan yang lama itu belum dapat diubah dengan sekali gus dan selengkapnya.

Oleh sebab itu, kewajiban yang perlu ditunaikan oleh masing-masing Hakim pun berarti pula untuk menutup keku-rangan ini.

Tambahan lagi tidaklah pula boleh dilupakan, bahwa seo-eatunya peraturan walau bagaimana Sekalipun baiknya, kelak tidak akan berhasil bagus, seandainya pegawai yang berwajib tidak menjalankannya dengan semustinya.

Selain dari bersifat adil dan memperdalam ilmu kehakiman, sangat perlu pula tiap-tiap Hakim bersemangat kehakiman.

Apabila sudah dapat Kita mengetahui artinya pengadilan, maka dapatlah saya terangkan dengan beberapa perkataan saja apa yang dimaksud dengan “bersemangat kehakiman”, ya'ni: tahu memperbedakan benar dengan salah.

Siapakah yang tahu memperbedakan benar dengan salah?

Sebenarnya bukanlah manusia, melainkan hanyalah Tuhan saja yang boleh menghukum manusia.

Tuhan-lah yang selurus-lurus dan seadil-adilnya dan Dialah yang tetap mengutuki orang yang bersalah dan menyelamat-kan orang yang benar.

Yang selalu tidak mau berbuat salah semasa hidupnya hanyalah orang yang mengenal dan sungguh-sungguh menakuti Tuhan, karena orang yang serupa inilah yang berkeyakinan, bahwa tiap-tiap orang yang bersalah tidak akan luput dari hukuman Tuhan di hari kemudian.

Sebaliknya, yang berbuat salah hanyalah orang yang tidak mengenal dan menakuti Tuhan, karena mereka ini tidak mempunyai keyakinan tentang hukuman Tuhan.

Maka untuk mencegah kekacauan yang ditimbulkan oleh perbuatan salah mereka inilah perlu diadakan Hakim di dunia sebagai penghukumnya.

Hukuman yang dijatuhkan oleh Hakim ini adalah sebagai dijatuhkan oleh wakil Tuhan.

Oleh sebab itu wadiytiblah pula Hakim tadi bersifat adil sebagai Tuhan di waktu menjatuhkan hukuman itu.

Menurut dasar pemerintahan Negeri Nippon dilakukan hak pengadilan di negeri itu atas nama TENNo HEIKA.

Segenap rakyat Nippon mengaggap TENNo HEIKA sebagai Tohean yang hidup.

Oleh sebab itu tiap-tiap Hakim di sana wajib bersifat adil sebagai hati TENNo HEIKA serta menghukum orang yang bersalah dan memperlindungi orang yang benar.

Di tiap-Di tiap godung pengadilan di negeri Nippon selalu tergan-tung suatu pelat-alamat Kerajaan Nippon yang berlukiskan bunga kiku, ya'ni sebangsa bunga Nippon di musim rontok, yang berwarna emas dan berkilap kilap seolah-olah menjaga keadilan.

Hakim-Hakim di Nippon selalu bersifat adil dan tidak memandang akan keadaan, derjayat, parc dan sebagainya dari orang yang berperkara.

Hakim yang menerima uang suap seperti di lain-lain negeri pun tidak pernah ada di negeri Nippon.

Mereka selalu memperdalam ilmul kehakimannya, supaya pandai memutuskan perkara dengan seadil-adilnya.

Sebagai contoh, saya ceriterakan sedikit perihalnya seorang Pembesar Sihobu yang sekarang masih bekerja dan dahulu menyadi Ketua dari Kizi Saiban di Nippon.

Menurut ceriteranya sendiri, sudah banyak sekali diputuskannya perkara-perkara Keizi selama ia menjabat pangkat Ketua Keizi Saiban di Nippon.

Akan tetapi berhubung dengan ilmunya yang dirasanya sendiri belum cukup dalam buat jabatannya itu, maka timbullah padanya, di tiap-di tiap sehabis memutuskan perkara, kekuatiran telah menjatuhkan kepotusan yang tidak adil dan tidak memuaskan bagi orang-orang yang berperkara.

Dengan selalu timbulnya kekuatiran tentang keadilannya ini datanglah pula perasaan takut berbuat durhaka terhadap TENNo HEIKA, hingga terpaksa dimajukannya permohonan kepada Pembesar yang bersangkutan untuk memindahkannya ke Minzi Saiban.

Sekianlah cerita Pembesar Sihobu itu.

Di antara Hakim-Hakim Nippon yang saya kenali ada pula yang selagi makan pun tetap memikirkan urusan jabatannya, hinc ga tidak disedariinya sumpitnya terlepas dari tangannya.

Kejadian-Kejadian yang serupa ini pun acap kali menimbulkan sangkaan pada pamilinya. bahwa ia sekonyong-konyong dihinggapi penyakit Ataupun kehilangan akal.

Saya sendiri pun sudah banyak pula memutuskan perkara Keizi.

Buat memutuskan perkara-perkara ini dengan seadil-adilnya memang sungguh susah.

Kadang-Kadang dalam tempo seminggu sebelum memutuskan sesuatu perkara pun belum juga puas rasanya saya dengan adilnya keputusan yang akan saya jatuhkan itu.

Dalam hal-hal yang sulit serupa ini selalu saya, di waktu subuh pada hari akan memutuskan perkara itu, pergi sembahyang kekuil, agar dapat kelak saya menjatuhkan hukuman yang seadil-adilnya.

Setibanya di Hoin saya putuskan perkara tadi, dan mudahmudahan baik Pembesar atasan saya Maupun orang-orang yang berperkara ternyata puas dengan pengadilan yang sudah saya lakukan.

Dengan semangat yang serupa inilah sewajiwnya dilakukan pengadilan.

Sembahyang serupa yang sudah saya ceritakan tadi boleh jadi dilakukan juga oleh hampir sekalian Hakim-Hakim di Nippon.

Di zaman dahulu pun sudah banyak juga Hakim yang masyhur di negeri Nippon.

Menurut riwayat, di zaman dahulu di antara Hakim-Hakim yang masyhur itu ada yang mempergunakan suatu batu gilingan beras atau gandum sewaktu melakukan pemeriksaan, untuk memperteguh keadilannya.

Batu gilingan ini terdiri dari dua buah batu bundar yang dipahat menjadi ceper dan rata.

Salah satu dari masing-masing mukanya kedua buah batu ini diberi berbandar-bandar yang jalannya siku keluang dari pusat-menuju kepinggirannya masing-masing batu itu,

Sebuah dari batu-batu ini ditembusi pada pusatnyya, dan dihimpitkan dengan mukanya yang berbandar-bandar tadi ke sebelah bawah, di atas batu yang sebuah lagi.

Pada pusat batu yang terhimpit ini, ya'ni dibahagian mukanya yang berbandar-bandar, sudah didirikan terlebih dahulu sebuah as yang melalui lobang batu penkhimpit tadi.

Selain dari ini, batu penghimpit itu sudah lebih dahulu pula ditembusi dari atas ke bawah di samping lobang pusatnyya tadi, hingga diperoleh suatu kotak yang mempunyai sebahagian dari batu di sebelah bawah tadi sebagai dasarnya.

Dekat pinggiran batu penghimpit ini diputar setelah dlisiskan beras atau gandum ke dalam kotaknyya yang diterangkan tadi, maka mengalirlah beras atau gandum itu sebagai tepung keluear kedua batu itu dengan melalui bandar-bandar yang siku-keluang tadi.

Semakin pelahan batu penghimpit tadi diputar, semakin halus pula tepung keluear.

Apabila cepatnya pemutaran itu tidak sama rata, maka keadaan tepung yang diperoleh pun tidak pula sama halusnya. Hakim yang hatinya, sewaktu melakukan pemeriksaan, tiada tetap tenang kerena terpengaruh oleh sifat tidak sama-tengah atau lain-lainnya. kelak akan mempercepat atau memperlambat putaran batu gilingan itu dengan tiada disedarinya. Kesadaran ini barulah datang padanya, apabila diperhatikannya sehabis pemeriksaan itu keadaan tepung yang sudah diperolehnya dengan penggilingan yang dilakukannya selama pemeriksaan tadi. Jadi batu gilingan ini adalah sebenarnya suatu pesawat bagi Hakim di zaman dahulu untuk memelihara sifat sama tengahnya sendiri.

Di masa itu ada pula yang kamar Hakim dan kamar orang yang berperkara dipisahkan satu sama lain dengan dinding yang diperbuat dari kertas. Apabila Hakim dan orang yang berperkara itu sudah berada dimasing-masing kamarnya, maka dilakukanlah pemeriksaan, dalam mana kedua belah pihak hanya dapat berbicara tetapi tidak dapat berpandang-pandangan satu sama lain. Maksudnya mempergunakan dinding ini ialah supaya Hakim itu dalam menjalankan kewajibannya jangan sampai terpengaruh oleh sifat dlahirnya orang yang berperkara.

Semenyak dulu hingga sekarang tetap Hakim-Hakim di negeri Nippon berdaya upaya supaya kepotusan selalu adil: Sema-ngat kehakiman yang serupa ini hanya terdapat di negeri Nippon. Pertimbangan yang adil serta kebenaran bukanlah hanya disukai olah Hakim-Hakim Nippon saja, melainkan ialah setiap orang Nippon.

Bangsa Nippon semenjak dahulu mempunyai semangat Busido. Yang dimaksud dengan semangat Busido ini ialah semangat memperlindungi kaum yang lemah dan membasi kaum yang kuat tetapi ta‘ jujur. Oleh sebab itu, pahlawan-pahlawan Nippon semenjak dahulu tiada mau menyakiti kaum perempuan dan anak-anak.

Walaupun Amerika dan Inggeris dahulu dikatakan orang paling kuat namun kerena keteguhan semangat Busido rakyat-nya ini sedikit pun tidak bimbang Nippon mengumumkan perperangan kepada kedua negeri itu, dengan tujuan untuk melepaskan rakyat Asia dari genggaman bangsa kulit putih dan membina dan memakmurkan lingkungan Asia Timur Raya dan memerdekakan masing-masing negeri dalam lingkungan ini.

Bangsa Amerika, Inggeris dan belanda bertabi’at iblis. Dengan berbagai bagai bujukan, diperbudak- dan dibiar kannya tinggal dalam kebodohan rakyat dari negeri-negeri yang sudah d’du-du-kinya, dihambatnya kemakmuran negeri ini dan diperguna- kannya rakyat tadi sebagai perisai dalam peperangan guna mem-perlindungi dirinya sendiri. Begitoleah busuknya hati bangsa Amerika, Inggeris dan belanda. Dengan perbandingan ini nyata- lah bagaimana jauh berbedanya tujuan Nippon dengan tu-juan Amerika, Inggeris dan belanda.

Cobalah hadirin fikirkan: Kebaikan apakah yang sudah di-buat oleh belanda terhadap daerah Aceh selama mereka me- merintah di sini? Apa cokupkah bangsa belanda menyenangkan rakyat di sini dengan cuma memberikan gaji yang besar? saja kepada mereka ini, hingga mereka ini berhutang budi kepada bangsa itu? Pemerintah belanda takut memberikan kepandaian kepada rakyat di sini. Dengan jalan mengadakan sekolah-sekolah tinggi hanya di Diawa dan di negeri belanda saja, dipertingginya ong- kos sekolah bagi rakyat yang sengaja sudah d permiskinnya di- sini dan dipatahkaannya kemauan mereka ini buat memperbanyak pengetahuannya.

Kebahagiaan rakyat dan kemakmuran negeri di sini sedikit pun tidak diperdulikannya dan umumnia rakyat di sini dibiar kannya tetap tinggal dalam kebodohan. Cuma kepada satu-satunya di- antara beberapa orang-orang yang sudah berpengetahuan diberikannya gaji yang menyenangkan penghiduapan, supaya merekaitu tu- rut menyetujui perbuatan belanda.

Mengingat akan kesenangan diri sendiri saja adalah berarti bertabi’at binatang. Barangsiapa hendak mengpalai barang sesu- atunya di dalam dunia, wajiib bertabi’at manusia, ya’ni meng- utamakan kebahagiaan masyarakat

Para hadirin: Segala yang saya terangkan harap difahamkan benar.

Buangkanlah cara pimpinan yang diperoleh di masa belanda, berkumpullah di bawah Bendera Hinomaru, turutilah perintah Tuhan dan korbankanlah diri centuk menghancur-leburkan Amerika dan Inggeris yang menyadi musuh kita, hingga terca- pai pimpinan yang berdasar pada peri kemanusiaan. Moga-Moga Tuhan akan membantu fihak kita!

Semangat Busido yang saya terangkan tadi pun perlu benar difahamkan dan dipergunaakan, karena ini adalah sumbernya se- mangat kehakiman yang mempertinggi peri keadilan, memakmur- kan negeri dan menyentosakan rakyat.

Di masa sedang melanjutkan peperangan ini, yang mana sama artinya dengan masa mempertarohkan negeri, tentulah menurut fikiran saya belum dapat dipenuhi dengan selengkap-lengkapnya akan kebutuhan rakyat Syu ini terhadap barang-barang untuk keperluan hidupna sehari-hari. Keadaan ini sungguh kita sesali sekali. Akan tetapi sebaliknya, saya berkeyakinan bahwa apabila semangat-semangat yang saya terangkan tadi betul-betul dipahamkan dan dipergunakan, tentulah akan dapat rakyat mengambil perbandingan dan pertimbangan yang waras kelak terhadap keadaan yang saya maksudi tadi.

Selanjutna ingin pula saya memberikan satu peringatan lagi. Umum sudah diketahui, bahwa tidak berapa lama lagi akan diberikan sebagai suatu kehormatan yang maha besar kemerdekaan oleh Kemaharajaan Dai Nippon kepada penduduk Hindia-Timur. Sekarang kita perhatikan sejarahnya sesuatu negeri yang sudah memperoleh kemerdekaan. Di dalam sesuatu negeri negeri terdapat biasanya dua buah golongan rakyat yang besar. yang mana satu diantaranyi hendak memelihara kedu-dukannya yang lama dan yang lain hendak merebut keduduk-an golongan yang pertama tadi, hingga akhirnya selalu timbul perlawanan yang sangat besar di antara kedua golongan itu. Kebiasaaninya, dengan perobahan yang secara repolusi ini tidak akan tercapai kamerdekaan yang membahagiakan bagi rakyat. Untuk mencapai kemerdekaan yang membahagiakan bagi rakyat, perlu seseorangnyia ditempatkan pada pekerjaaan yang selaras dengan kepandaianinya. Dengan cara begini mudah-mudahan dapat diperoleh kemajuan selangkah demi selangkah. hingga di dalam tempoh beberapa tahun saja dapat kelak tercapai ke-makmuran yang sempurna di dalam negeri. Maksud saya bukanlah akan membicarakan perihal kemerdekaan, melainkan hanyalah sekadar memperingatkan apa kewajiiban Hakim, sekiran ya timbul di dalam Syu ini kekacauan serupa yang saya terangkan tadi.

Apabila timbul kekacauan yang serupa itu, hendaklah dinga: betul, bahwa sekali-sekali tiada boleh Hakim turut mencampurinya dan wajib ia selalu berdiri sama-tengah terhadap kekacauan itu. Apabila Hakim turut mencampuri kekacauan itu. maka berartilah ia sudah meliati bata; kehakimannya. Apa bila Hakim tidak berdiri sama-tengah, maka hilanglah kelak kepertiayan rakyat terhadap dirinya. Hakim wajib dengan bersifat berdiri sama tengah mengawasi kedua belah golongan itu. Barangsiapa di antara merekaitu melanggar undang-undang wajiblah dihukuem dengan tiada memandang-memandang siapa dianya. Hakim wa- jib bertindak sebagai dinding di antara kedua belah golongan itu.

Sebagai penutup pidato ini, saya anjurkan kepada hadirin untuk memahamkan dan mempergunakan di dalam pekeryaan segala peringatan-peringatan yang sudah saya berikan tadi, serta menyampaikan dan memperingatkannya pula kepada pegawai-pegawai bawahan, agar banyak dapat kelak akan terdidik Hakim-Hakim yang pandai.

Apabila nanti kemerdekaan Hindia Timur sudah menjelma, maka dapatlah di dalam Aceh Syu didirikan tempat-tempat yang penting Hoin yang besar, supaya jangan sampai menjadi malu Hindia-Timur kepada lain-lain negeri yang merdeka.

Nama dan perkerjaan dari Hoin haruslah sama sucinya, hingga dapat ia menjadi sumber keamanan dan kesentosaan.

Untuk mencapai cita-cita ini saya harapkan sangat bantuan yang sepenuh-penuhnyia dari hadirin.

Kutaraja, Syowa 19 Zyu-Gatu 3 Niti.



Aceh Syu Tiho Hointyo.

M. MIYAMOTO.


PIDATO P. TUAN ACEH SYU KENSATU KYOKUTYO

Kesempatan ini saya pergunakan, dengan perasaan yang gembira, untuk memaparkan buah fikiran saya yang berkenaan dengan Rapat Sinpankan ini.

Walaupun dengan Undang-Undang tentang Hakim dan Mahkamah sudah diperbaiki susunan Kensatu di dalam Syu ini, namun, menurut perasaan saya belumlah lagi memuaskan jalannya pekerjaan Kensatu ini.

Oleh sebab itu sedang dijalankan sekarang ini usaha di dalam Kensatu Kyoku untuk memilih beberapa penjawat-penjawat yang akan dipekerjakkan sebagai Kensatukan di masa yang akan datang. Buat sementara waktu diwakilkkan jabatan ini sekarang kepada Keisatusyoco yang ditempatkan di ibu kota masing-masing Bunsyu.

Kensatu ini, selaku suatu sayap dari Sihoh mempunyai pekerjaan yang sangat penting untuk memelihara keamanan negeri.

Oleh sebab itu, tiap-tiap penjawat yang menjalankan pekerjaan Kensatu wajiib berlaku hati-hati adil, jujur dan sama-tengah dan bekerja dengan cepat. Penangkapan kejahatan wajiib dilakukan dengan secepat-cepatnya, hingga menyenangkan bagi rakyat.

Perihal keadilan dan kejujuran tidaklah rasanya perlu saya ulangi lagi membicarakannya, oleh sebab tadi sudah diterangkan oleh Yangmulia Paduka Tuan Besar Cokan Kakka dan pembesar Sihobu dari Bukit Tinggi.

Hindia-Timur sekarang ini sedang menjelang masa yang gi-lang gemilang, berhubung dengan kemerdekaan di masa yang akan datang yang sudah dijaminkan oleh Kemaharajaan Dai Nippon kepadanya.

Oleh sebab itu perlu tuan-tuan bergiat mulai sekarang mem-pertinggi derajanya Sihobu, supaya dipero'eh suatu per-bekalan yang dapat dipakai kelak setibanya kemerdekaan itu.

Sebagai penutup saya anjurkan dengan sangat kepada tuan-tuan untuk memahamkan dengan sebaik-baiknya kepentingan Kensatu di samping memahamkan dengan sebaik-baiknya pula kepentingan Saiban.

Kensatu dan Saiban perlu sekali bersatu padu, supaya terjamin pengadilan yang maha sen purna di dalam Syu ir.i.

Sekianlah!



Kutaraja, Syowa 19 Zyu-Garu 3 Niti.

KENSATU KYOKUTYO.


PIDATO PADUKA TUAN KEIMUBUTYO

DI DALAM PERTEMUAN HAKIM-HAKIM ACEH SYU

1. Masyarakat di daerah Aceh ini masih berfikir dan berpendapat bahwa pegawai-pegawai Polisi (Keisatukan) itu merupakan golongan Pecawai Negeri dari lapisan bawah. dan fihak pegawai Keisatukan sendiripec memandang dirinya itu sebagai seorang pegawai Negeri yang rendah, dan tidak percaya pada diri sendiri.

Pendapatan semacam ini, baik dari fihak masyarakat, maopeun dari fihak Polisi, belum pernah saya dapati di lain negeri.

Inilah yang amat saya sesali. Mereka tidak insaf bahwa Polisi itu adalah pegawai Negeri yang memegang pekerjaan yang amat pening, hingga pekerjaan Polisi itu bukanlah pekerjaan yang rendah atau hina melainkan suatu pekerjaan yang harus cukup dihormati dan mendapat penghargaan yang penuh.

Oleh karena itu Kita berusaha untuk menghapuskan fikiran atau pendapatan yang merendahkan pekerjaannya dan derajaatna Polisi. Salah satunya jalan kemaksud ini ialah meninggikan dan memajukan pelajaran Polisi, membesarke se mangat mereka, dan memperhentikan pegawai yang tidak baik, yang berdiasa diberikan pujian dan bersalah dihukum.

Usaha yang baru-baru ini kita jalankan dengan memberi latihan pada pegawai-pegawai adalah telah memberi hasil yang dapat disebut baik.

Tetapi, sebagai tuan-tuan sudah maklum, memperbaiki sesuatunya itu adalah anat sukar, apalagi jika diketahui, bahwa selama pemerintah belanda, dengan sengaja pegawai Polisi itu direndahkan dan dikurangkan hak2nya, semata-mata dipakai untuk belanda sendiri, tidak untuk keperluan Rakyat. Maka keadaan semacam ini sudah menjadikan suatu kebiasaan yang tidak baik, hingga tidak dapat dihapuskan sekali gus. melainkan perbaikan itu dilangsungkan berangsur-angsur.

Sebenarnya kedudukan Polisi di dalam masyarakat itu adalah amat tinggi, jika diperhatikan akan pentingnya pekerjaan mereka. Baik dan buruknya pegawai Polisi itu amat mempenggaruhi keadaan negeri, terutama keamanan negeri dan penghi-dupan Rakyat.

Maka dari itu perlu sekali untuk memperbaiki pendirian dan semangatnya pegawai Polisi dengan selekas mungkin Pegawai Polisi yang jahat tidak dapat didiamkan saja. Biarpun hanya satu menit. Lebih baik. satu orang pegawai yang baik, dari pada 10 orang pegawai Polisi yang jahat.

Oleh karena itu, perhatian dan pertolongan dari Tuan-Tuan untuk memperbaiki keadaan ini, sangat diharapkan.

2. Dalam Pemerintahan Negeri sebagai di Aceh ini, ada terdapat berbagai-bagai Badan-Pemerintahan, umpamanya: Sombubu, Kehakiman (Hoin), Sangyobu-Kotubu dan Keimubu, yang mana badan-badan ini adalah dianggap seperti keadaan “Satu-Badan”, yang maksudnya ialah untuk membantu Seripaduka Tuan Besar Cokan-Kakka, yaitu buat menyelenggarakan segala pekerjaan yang mengenai urusan Negeri. agar supaya didapat hasil yang baik dan menyenangkan.

Adapun tiap-tiap badan ini hendaklah bekerja semata-mata untuk mengurus pekerjaannya masing-masing dan sekali-kali tidaklah boleh mencahari-mencahari kesalahan orang-orang lain Maka sebaliknya, apabila hal ini tidak diperhatikan, tentulah akan mendatangkan kekecewaan yang besar dan rintangan bagi Pemerintah buat menjalankan urusan Negeri yang sebaik2nya, yang mana demi-kian, tentulah akibatnya juga mendatangkan kesusahan bagi rakyat.

Oleh karena keamanan Negeri adalah salah suatu syarat yang terpenting bagi kemajuan Negeri, dan sedang keamanan itu adalah hasilnya dari perhubungan yang baik dan rapat antara Kehakiman dan Polisi, maka rasanya amatlah perlu sekali bahwa perhubungan ini harus didiyaga dan dipelihara dengan baik.

Maka mengingat bagaimana besarnya arti keamanan itu bagi sesuatu negeri, inilah sebabnya maka sala selalu berusaha dengan bersungguh-sungguh hati supaya perhubungan dan pertalian yang baik antara Kehakiman dan Polisi itu dapat tetap berjalan terus.


PIDATO SAMBUTAN TUANKU MAHMUD

DALAM RAPAT SINPANKAN DI KUTARAJA

Seri Paduka Yangmulia Tuan Besar Aceh Syu Tyokan Kakka,

Paduka Yangmulia Tuan-Tuan Besar

dan Paduka Tuan-Tuan yang hadir.

Atas nama sekalian Sinpankan dan Sinpankanho, saya mengucapkan diperbanyak terima kasih kehadapan Seri Paduka Tuan Besar, yang Paduka Tuan Besar telah bermurah hati menerima kami semuanya di-istana ini, serta sudah memberikan nasihat, pemandangan, anjuran-anjuran yang amat bersaedah sekali bagi kami semua, laksana kami telah mendapat hadiah yang tiada ternilai harganya, yaitu yang terutama berupa tambahan semangat.

Begitu juga kesempatan ini, akan kami pergunakan untuk menyampaikan epatah dua perkataan sebagai penyambutan atas pidato Paduka Tuan Besar Tyokan Kakka.

Selain dari itu, kami mengucapkan juga terima kasih kehadapan Paduka Tuan wakil Sihobuco, Tuan Besar Koto Hointyo , Paduka Tuan-Tuan Besar yang lain dan kepada Tuan wakil dari tetamu, yang mana Paduka Tuan-Tuan yang mulia sudah bermurah hati mengucapkan beberapa pemandangan dan nasihat-nasihat terhadap Badan Kehakiman di Aceh.

Jikalau saya berdiri di hadapan Paduka Tuan Besar ini, rasanya tak cukup jenisna kalimat-kalimat yang akan saya kemukakan, melainkan sepatah dua perkataan ini ialah sebagai tanda bukti dari penghargaan kami atas perkataan-perkataan yang Paduka Tuan Besar sampaikan pada kami semua.

Maka atas nasihat dan anjuran dari Paduka Tuan Besar tadi itu yang kami hargakan dan junjung tinggi dengan ucapan yang ikhlas serta lurus, kami terangkan, bahwa kami semua Sinpankan dan Sinpankanho akan menjalankan kewajiban dengan sesungguh-sungguhnya menurut kesanggcepan ma-sing-sing dengan tiada bersifat pandang-memandang, serta menjunjung tinggi sumpah yang telah kami ucapkan tempo hari di hadapan Paduka Tuan Besar. Pekerjaan yang telah dipikulkan ke atas pundak kami ini, akan kami pelihara dengan baik-baik. mudah-mudahan tidak akan menimbulkan kekecewaan bagi Pemerintah dan Rakyat.

Paduka Tuan Besar Tyokan Kakka!

Sudah bukan menjadi suatu rahasia lagi, melainkan oleh umum sudah diketahui, bahwa di dalam semua cabang Penjabatan Pemerintah di Aceh Syu ini terdapat banyak kekurangan pegawai. Hal ini tidak dapat mengherankan kita sekalian, karena kita sekarang sedang sibuk di dalam peperangan, berjuang keras menuju kemenangan.

Juga cabang Badan Kehakiman mengalami nasib yang tidak dapat ditolak, yaitu kekurangan pegawai. Sudah teranglah orang-orang akan berpendapatan, bahwa dengan kekurangan pegawai, tidak akan diperoleh hasil pekerjaan yang sangat memuaskan. Apalagi, jika orang mengetahui, bahwa lahirnya Badan Kehakiman ini belum dapat dikatakan lama, tambahan pula harus ia dibentuk dengan segera, hingga dipilihlah oleh Pemerintah orang-orang pegawai Kehakiman yang pada waktu itu rasanya di anggap sanggup untuk menjalankan pekerjaan yang diserah-kan kepadanya. Kalau diingat pula, bahwa Peraturan Kehakiman pada masa ini amat berbeda sekali dengan Peraturan Kehakiman di zaman belanda, baik pun dalam hal caranya menjalankan pemerkisaan Maupun dalam caranya menimbang perkara, maka teranglah bagi kita semua, hahwa masa 8 atau 9 bulan itu belumlah cukup untuk memberikan hasil-hasil yang memuaskan. Juga fihak kami Sinpankan dan Sinpankanho telah maklum dan mengerti benar bahwa orang tidak dapat dan belum dapat memetik dan merasakan manisna buah dari Peraturan Kehakiman yang baru ini. Maka dari itu, kami pun tidak heran, jika dari pihak masyarakat masih ada yang tidak bisa menyetujui susunan Badan Kehakiman pada masa sekarang ini. Di samping ini, kami pun yakin bahwa terhadap pendapatan ini Pemerintah Dai Nippon dapat mengambil pertimbangannya sendiri. Oleh karena itu, maka kepada Paduka Tuan Besar Aceh Syu Tyokan dan Paduka Tuan Tiho Hointyo , kami harapkan sangat supaya dengan pimpinan Paduka Tuan Tiho Hointyo yang sekarang ini, dapatlah hendaknya Badan Kehakiman selu-ruhnya mendapat pimpinan yang sempurna, hingga keadaan Kehakiman pada umumnyia semangkin lama semangkin memuaskan adanya. Dan dari pihak kami pun dapat kami janjikan bahwa kami tetap akan menjalankan kewajiban kami menurut kesanggupan kami masing2nya.

Paduka Tuan Besar yang mulia!

Tidak perlu rasanya kami terangkan di sini, bagaimana pen- tingnya soal kehakiman dan kedudukannya di dalam sesuatu negeri. Dengan singkat serta jelas dapat kami katakan, bahwa:

  1. kemajuan sesuatu negeri (di dalam pengertian yang se-luas-lusasnya) ialah terutama bergantung pada keamanan rakyat.
  2. Rakyat menjadi aman dan sentosa jika sesuatu tindakan dari Pemerintah itu berdasar atau menuju kepada keadilan.
  3. Badan Kehakiman yang terutama berkewajiban memberi atau membentuk keadilan.

Lebih pasti lagi dapat kami katakan: “adanya keadilan ialah membawa kemajuan, kemakmuran, kesentosaan dan keamanan. Di sini teranglah bagaimana pentingnya kedudukan Badan kehakiman di dalam sesuatu negeri. Paduka Tuan Besar yang mulia! Oleh karena kami besok akan berkumpul di bawah pimpi-nan Paduka Tuan Besar Tiho Hointyo , ialah terutama akan memperbincangkan hal Kehakiman di dalam Aceh Syu dengan maksud dan tujuan akan menyempurnakan hal Kehakiman maka Sungguhpun kami semua tadi sudah mendengar akan nasehat dan anjuran-anjuran yang amat berarti dari Paduka Tuan-Tuan yang mulia, idzinkanlah kami untuk mengemukkakan salah satu soal yang memberi pertolongan yang besar di dalam hal susunan negeri yang mana termasuk juga Badan Kehakiman di dalam Aceh Syu. Adapun yang kami maksud dengan soal yang amat penting ini, ialah soal sekolah. Dengan menambah banyaknya serta memperting-gikan derjadtnya persekolahan akan ternyata dengan terang bahwa di situlah tempatnya bibit-bibit yang kita perlukan sangat untuk membentuk atau menyusun sesuatu negeri dan di situlah nanti kita akan mendapat pegawai-pegawai negeri yang sangat dibetut- hi oleh Pemerintah. Dengan menjunjung tinggi akan sabda nya yang mulia Perdana Menteri KOISO, bahwa kemerdekaan Hindia Timur tidak lama lagi akan terkembang layarnya, maka makin nyatalah pada kita bagaimana perlunya soal persekolahan itu. Akan menjadi jelas bagi kami semua nanti bagaimana besar perbedaanya politik penjajahan dari belanda dahaelu yang sentiasa meninggalkan rakyat dalam kebodohannya yang gelap gulita, dengan politik Pimpinan dari Dai Nippon yang jujur. Paduka Tuan Besar yang mulia! Kami tahu dan yakin, bahwa maksud kami ini akan mendapat persetujuan dan perhatian serta sokongan dari Peme- rintah Dai Nippon, karena kemajuan persekolahan inilah yang membawa kita ke padang kemajuan, hingga kita sanggup berdiri sebagai rakyat yang merdeka.

Dengan jalan demikian moga-moga usaha ini akan membawa kemajuan serta kemakmuran bagi Aceh Syu‘ khususnya dan Indonesia umumnya.

Sebagai penutup pun kami tidak lupa mengharapkan kepa-da segenap cabang Badan Pemerintahan untuk memberikan bantuan kepada dan mengadakan kerja sama dengan badan Kehakiman, agar lebih lekas kelak tercapainya cita-cita kita, yaitu kesempurnaannya pengadilan untuk kemakmuran rakyat dan negeri.


PIDATO SAMBUTAN TUANKU MAHMUD

DALAM RAPAT SINPANKAN DI KUTARAJA

Berhubung dengan maksud menyiarkan ucapan-ucapan dan pemandangan-pemandangan dari beberapa orang yang terkemuka dalam “Permusyawaratan Kehakiman” yang sudah dilangsungkan pada tanggal 3, 4 dan 5 Bulan X baru-baru ini, dengan kesempatan ini kami akan menguraikan sedikit pemandangan tentang hal keadaan Kehakiman di dalam Aceh Syu, mudah2an sedikit pemandangan ini akan mendapat perhatian hendaknya dari segala lapisan rakyat.

Kita sekalian sudah maklum bahwa kedatangannya Pemerintah Dai Nippon di Indonesia ini telah mengadakan perobahan besar di dalam hal Kehakiman terutama di dalam daerah Aceh Syu, sehingga perobahan itu adalah terang kelihatannya dan amat terasa sekali pula.

Pertama, ialah perobahan selama adanya Sihobu semenjak bulan April Syowa 18; kedua ialah semenjak lahirnya Tiho Hoin dan Ku Hoin pada tanggal 1 Januari Syowa 19 sampai waktu ini.

Jikalau kami menyatakan. bahwa Kehakiman itu adalah urusan yang amat penting di antara urusan-urusan negeri yang lain, terutama di dalam daerah Aceh ini, maka hal itu tentu tidak perlu kami terangkan dengan bukti-bukti atau uraian yang lebih lanjut lagi, karena kita semua tentu sudah lebih maklum sendiri.

Pentingnya dari permusyawaratan itu akan ternyata lagi, jikalau kita ingat, bahwa lahirnya badan Kehakiman kita ini ialah di dalam zaman-perobahan, zaman-pancaroba serta di dalam keadaan yang serba kurang di dalam hal semua2nya, Biarpun kekurangan alat2nya, Maupun kurang tentang pegawai2nya. Dapat atau tak dapat, terpaksalah kami menjalankan kewajiban dengan alat-alat dan kesanggupan yang ada pada kita masing2nya.

Teranglah juga bahwa di dalam keadaan yang seperti kami gambarkan itu, belum dapat tercapai hasil yang memuaskan, bahkan makin hari makin lebih terang pada kita semuanya, betapakah banyaknya kekurangan dan kesukaran yang harus kita alami bersama-bersama.

Selain dari itu, mengingat bagaimana pentingnya hal Kehakiman ini, maka “Permusyawaratan Kehakiman” itu harus kita hargakan benar-benar, sebab dari padanya akan dapat memberikan hasil yang baik, yang mana semuanya itu ialah menuju kepada kesempcernaannya pekerjaan kita semua.

Itulah juga sebabnya, maka amat perlulah rasanya jikalau kita menoleh sebentar ke belakang. Kita tinjau sebentar sejarah penghidupan susunan Kehakiman ini semenjak lahirnya hingga sampai pada waktu sekarang ini.

Jikalau kita mengadakan tinjauan ke belakang ini, maka maksudnya talah tidak lain melainkan hendak menyelidiki atau memberi jawaban atas beberapa pertanyaan, seperti:

  1. Apakah hasilnya pekerjaan kita selama ini?
  2. Apakah kekurangannya yang telah kita alami?
  3. Apakah macamnya kesukaran-kesukaran yang telah kita dapati?
  4. Bagaimanakah caranya dan apakah usaha yang dapat kita jalankan untuk menambah yang kurang, untuk mehindarkan kesukaran, untuk memperbaiki kesalahan, atau dengan ringkasnya ialah untuk menyempurnakan pekerjaan kita?
  5. Dapatkah usaha kita ini, kita teruskan?

Lebih kurang demikianlah rupanya pertanyaan-pertanyaan yang terbayang di muka kita, yang senantiasa mengganggu pikiran dan perasaan kita, dan yang sampai sekarang ini menunggu jawa-bannya. Dan sungguhpceen amat susah sekali bagi kami akan memberikan jawaban. tetapi haruslah kita berani juga menjawab atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Adapun susunan Kehakiman kita ini, adalah masih muda umurnya, baru 8 atau 9 bulan. Inilah sebabnya mengapa rasanya sukar sekali untuk memberi jawaban atas pertanyaan: “apakah hasilnya?” Oleh karena itu, cukuplah kiranya, jikalau kami hanya menyebutkan beberapa hal saja yang niata kelihatan pada kita semua.

Terlebih dahaelu perlu kami terangkan di sini, bahwa se-sungguhnya Meskipun ada juga beberapa perobahan selama masa ini, akan tetapi segala perobahan-perobahan yang dilaksanakan dengan selangkah demi selangkah itu, rasanya belumlah dapat kami katakan bahasa semuanya itu sudah sempurna cukup untuk bekerja yang dapat dianggap sebagai kesempurnaannya atas pekerjaan yang bersifat memperbaiki atau menjunjung tinggi sifat kehakiman ini.

Adapun hal-hal yang nyata kelihatan pada kita ialah:

  1. Dibandingkan dengan keadaan di masa yang lampau, ternyatalah bahwa banyaknya perkara itu senantiasa makin bertambah, yaitu:
    1. Perkara Minzi; ialah terutama perkara tuntutan yang mengenai hak tanah, sawah atau kebun, terutama perkara gadai-menggadai. Perkara semacam ini adalah amat banyak sekali, hingga rasanya hampir-hampir kami berani mengatakan bahwa orang-orang pada waktu ini sungguh-sungguh suka benar berperkara. Berhubun dengan hal ini, lahirlah dengan sendirinya, misalnya suatu soal yang patut mendapat perhatian dari Pemerintah, ialah soal peraturan Veryaring, dan soal “menolak pengaduan” seperti yang dimaksud oleh fasal 34 ayat 2 dari ”Aturan Pengadilan Asli” (Stbl. 1932 No. 80).
    2. Perkara Keizi, ialah terutama perkara pencurian dan pelanggaran ekonomi. Apakah sebab2nya yang pada waktu ini terdapat banyak pencurian dan pelanggaran ekonomi; jawabnya tidak perlu kami terangkan, rasanya sudah cukup terang bagi umum sendiri. Hal ini dengan sendirinya menerbitkan soal “pengadilan biy verstek (di balik belakang)” tidak dengan panggilan lebih dahulu.
  2. Oleh karena dalam selama masa ini, bahwa peraturan-peraturan tentang beberapa soal di atas, belum ada ternyata cara-cara yang tertentu, dan ditambah lagi dengan bagaimana banyaknya perkara, maka tidak mengherankan, jika hasil dari pekerjaan yang kami telah kerjakan selama ini, adalah rasanya kurang memuaskan.

  1. Kekurangan pegawai-pegawai Kehakiman, adalah senantiasa tetap mengganggu pekerjaan kita semua. Tentang kekurangan pegawai-pegawai pada badan Kehakiman ini, adalah sesungguhnya salah satu rintangan yang sangat besar terhadap perjalanan urusan pekerjaan Kehakiman; hal mana sebab2nya ialah oleh karena di Aceh adalah terlalu miskin keadaannya tentang mengadakan bahan-bahan untuk mendirikan badan Kehakiman yang rapi, sehingga sebagai terpaksa Pemerintah musti bersenang hati atas susunan Kehakiman yang ada sekarang ini, Meskipun terdapat di dalamnya beberapa kekurangan. Selain dari itu, kekurangan alat tulis-menulis dan lain-lain pun masih senantiasa tetap mengganggu dan menghalang-halangi pekerjaan kami. Maka tentang hal ini adalah semata-mata akibatnya dari keadaan susasana pada masa ini.
  1. Sukarnya perhubungan dari satu tempat kelain tempat, merupakan rintangan yang besar juga, terutama berhubung dengan lahirna berpuluh-puluh Son Ku Hoin, yang harus senantiasa bekerja di dalam pimpinan dan penilikannya Tiho-Hoin atau Tiho Hoin Sibu. Maka timbullah pertanyaan: “Adakah pekerjaan dari Son Ku Hoin itu pada umumnya serta pada garis besarnya sudah memuaskan?”
  2. Oleh karena badan Kehakiman harus didirikan dalam tempoh yang singkat oleh Pemerintah, maka dicaharilah orang-orang yang di waktu itu rasanya sudah sanggup dan cakap dapat memenuhi kewajiiban mereka atas pekerjaan yang diserahkan kepada mereka pada Kehakiman tadi, dari itu Sungguhpun sudah berjalan selama masa ini Tiho Hoin memberikan pimpinan dan penilikan pada Son Ku Hoin-2, akan tetapi masa yang sembilan bulan itu, belumlah dapat dikatakan lama.

    Oleh karena itu, Adapun pekerjaan-pekerjaan yang dikerjakan mereka pada umumnya belum dapat dikatakan begitu memuaskan kita. Artinya, bahwa Son Ku Hoin-2, setidak2nya buat sementara waktu lagi perlu sekali mendapat pimpinan dari Tiho Hoin.

  1. Susunan Kehakiman pada waktu ini adalah amat membe ratkan pekerjaan pada pegawai-pegawai, tersebab berkumpulnya bermacam-bermacam perkara.
  2. Jikalau dahulu ada districgerekht, landskhapsgerekht, magistraatsgerekht, musapat, residentiegerekht dan landraad, maka sekarang ini hanya ada terdapat Tiho Hoin dan Ku Hoin sahaja.

    Maka dengan sendirinya datanglah pertanyaan pada diri kita: “Adakah perlu diadakan perobahan di dalam organisinya dan kompetensinya badan Kehakiman?”

  1. Terutama buat Tiho Hoin Kutaraja sendiri. amat ternyata sekali berkumpulnya bermacam-bermacam pekerjaan itu, jikalau diingat bahwa:
    1. Semua perlanggaran ekonomi harus dikirim ke Kutaraja.
    2. Semua perkara banding dari Ku Hoin harus dikirim juga ke Kutaraja,
    3. Urusan Weeskamer masuk urusan Kutaraja Tiho Hoin.
    4. Urusan lain-lain-nya yang masuk Raad van Yustitie, sekarang pun masuk Kutaraja Tiho Hoin.
    5. Urusan Kehakiman [administratie] di seluruh Aceh Syu di kemudian dari Kutaraja.
    Tentang penjawaban atas pertanyaan-pertanyaan pada No. 4 dan No. 5 yang mana kesimpulannya ialah:
    1. Banyaklah hal-hal yang masih perlu mendapat perbaikan.
    2. Banyaklah hal-hal yang masih perlu mendapat penjelasan atau pun tambahan.
    3. Banyaklah hal-hal yang masih perlu mendapat peraturan yang lebih lanjut;
    rasanya ta‘ dapatlah penjawaban itu satu persatunya kami terangkan di sini, oleh karena segala soal-soal tersebut sudah mendapat penjelasan dari paduka tuan Besar Kutaraja Tiho Hoinco dalam permusyawaratan baru-baru ini; yang mana segala sesuaru yang dianggap terlalu penting dan perlu tentu akan mendapat perobahan dengan segera pula, menurut bagaimana besar kecilnya faedah peraturan-peraturan itu bagi kepentingan badan Kehakiman ini, supaya dengan demikian Kehakiman di Aceh Syu ini akan mendapat kemajuan yang pesat.

Sekianlah yang dapat kami terangkan, berkenaan dengan kesempatan ini. Sungguhpun demikian; Walaupun kita tahu dan mengerti bagaimana keadaannya Kehakiman di Aceh pada waktu ini, yang terdapat banyak hal-hal yang musti akan mendapat perobahan dan perbaikan. perlulah rasanya kami peringatkan kepada kawan-kawan sejwat. baik yang bekerja pada Tiho Hoin Sibu-2 dan Son Ku Hoin-2, bahasa hal-hal tersebut haruslah hendaknyya ayangan menyadikan alasan untuk melemahkan semangat kita; bahkan kita harus tetap berpengharapan, bahwa kita tidak boleh berputus asa, malah kita harus tetap bekerja dengan semangat yang berkobar-berkobar, dengan hati dan muka yang jernih, serta riang dan gembira, dan tetap mengerahui serta insaf pula akan kewajiab kita yaitu bekerja dengan rajin dan bersungguh-sungguh menurut kesanggupan kita masing-masing.

Selain dari itu kita tak dapat melupakan, bahwa kita tetap bekerja itu adalah untuk NUSA dan BANGSA. Oleh karena itu kita harus berani serta bersabar dan berani pula menghadapi berbagai-bagai kesukaran.

MARILAH kita bekerja terus ya'ni bekerja sambil memperbaiki dan menyempurnakan pekerjaan kita!

Kami,

SINPANKAN dan SINPANKANHO-SINPANKANHO Kutaraja Tiho Hoin.

Kutaraja, Zyu-Gatu 2604 Syowa 19.


GUNSEIKANBU ACEH SYU SEITYO

KUTARAJA

Aceh Syu Tatu No. 7 — Syowa 19 Zyu-Gatu 2-Niti.

Peraturan tentang Kewajiban Pegawai Hoin

Hak kehakiman itu adalah sumber tenaga untuk mencapai keamanan, dan menghormati hak dan kewajiban yang memberikan ketenteraman kepada hati rakyat serta pula memajukan kemakmuran rakyat Syu ini.

Kemakmuran rakyat itu adalah bergantung pada baik buruknya cara menjalankan kehakiman.

Oleh sebab itu, pegawai kehakiman yang mengurus dan menjalankan kehakiman ini haruslah memahamkan benar kewajiannya yang berat dan penting ini dan wajiblah memenuhi akan syarat-syarat yang berikut di bawah ini:

  1. Jabatan hakim ini adalah amat suci, berhubung dengan mana mereka yang ditempatkan pada Hoin itu haruslah mengingat akan kehormatan yang tiada terhingga tingginya ini, mengurus pekerjaannya dengan saksama dengan tiada mementingkan dirinya sendiri, tiada terpengaruh oleh nafsu kelobaan dan ketama'an, bersabar menderita kemiskinan dan menjaga baik akan nama diri sendiri hingga menjaji telandan bagi rakyat.
  2. Jabatan hakim membutuhi ‘ilmu yang luas dan dalam tentang undang-undang serta pengetahuan umum yang banyak, berhubung dengan mana perlu untuk itu selalu dipelajari undang-undang serta pula diusahakan untuk memperbanyak didikan pengetahuan umcem.
  3. Batasnya hak pejabatan Hoin haruslah diselidiki sendiri dan sedikit pun tiada boleh dilakukan perbuatan yang meliwi batas hak itu, baik di dalam Maupun diluaerusan jabatan
  4. Pegawai atasan harus mencintai dan memimpin pegawai bawahannya dan pegawai bawahan harus menghormati pegawai atasannya, kedua golongan ini tiada boleh tidak mustl menuruti perintah dari atas, menjalankan penjagaan dengan saksama dan menjaga supaya perasaan persaudaraan tetap ada di antara mereka bersama.
  1. Di waktu menjalankan urusan jabatan hendaklah satu-satu nya perkara diputuskan dengan adil dan dengan tidak memihak ke sana sini, serta dengan tidak memandang perbedaan bangsa, dan dengan berbudi, kakas dan adil.
  2. Pegawai kehakiman tiada boleh memeriksa perkara yang bersangkutan dengan kaum-keluarganya. Begitu pun harus dihindarkan pemeriksaan dari fibak pegawai kehakiman, apabila ia ini bersahabat karib dengan orang yang berhubungan dengan perkara itu atau apabila disangka bahwa pemeriksaan yang adil tidak akan dapat diharapkan. Akan tetapi, seandainya—berhubung dengan ketetapan ayat di atas ini—tiada dapat dilakukan pemeriksaan untuk Ku Hoin, maka boleh dikesampingkan ketetapan itu, asal saja diperhatikan hingga pemeriksaan ini dilakukan dengan adil.
  3. Terlarang memasuki perkumpulan yang berhaluan politik atau badan yang dikhawatiri akan menghalangi diri untuk melaksanakan pekerjaaan sendiri dengan lurus atau yang dikhawatiri kejujurannya.
  4. Terlarang menerima hadiah untuk pekerjaaan sendiri (kehakiman), baik dengan langsung Maupun tidak dengan langsung, dari orang-orang lain, walau diujudkan sebagai apa pun seperti penghiburkan hati, tanda bersyukur atau lain2nya, terkecuali setelah memperoleh keidzinan untuk itu dari Tiho Hoinco.
  5. Terlarang membukakan rahsia diabatan, yang diketahui karena kepangkatan sendiri atau dari pegawai-pegawai yang lain, kepada orang-orang lain dengan tiada sebab yang patut.
  6. Dengan tidak seidzinnya Tiho Hoinco terlarang memperlihatkan atau memberi tahukan kepada orang-orang lain isinya surat-surat atau catatatan-catatatan tentang pendakwaan dalam sesuatu perkara atau lain2nya yang sudah dikirimkan atau diterima. Akan tetapi peraturan tentang memperlihatkan catatatan pendakwaan kepada orang yang bersangkutan dengan perkara itu tetap menurut kebiasaan yang dahaelu.
  7. Terkecuali apabila telah diidzinkan oleh Aceh Syu Cokan, terlarang menjabat pekerjaan umum yang lain atau mengurus pekerjaan orang lain dengan memperoleh pembayaran Ataupun menjalankan lain-lain perusaahan, baik atas nama sendiri Maupun atas nama orang lain. Akan tetapi, dalam hal ini dikecualikan mereka yang telah menjalankan perusahaannya sendiri sebelumnya ia menjabat pangkat pada Hoin. Buat sementara waktu tiada berlaku Bahagian ini terhadap pegawai-pegawai Ku Hoin.
  1. Terlarang dengan sesuka hati sendiri meninggalkan pekerjaan atau tempat kediaman sendiri untuk mengurus sesuaru pekerjaan, melainkan haruslah selalu terlebih dahulu diperoleh keidzinan dari pegawai atasan yang bersangkutan. Keidzinan yang dimaksud di atas diberikan kepada pegawai di bawah Saibanco oleh Saibanconya, kepada Saibanco Ku Hoin dari Gun tempat kedudukan Tiho Hoin oleh Tiho Hoinco dan kepada Saibanco Ku Hoin di lain-lain tempat oleh Sinpankan atau Sinpankanho yang di atasnya dari Cabang atau Ranting Tiho Hoin yang bersangkutan. Keidzinan ini diberikan kepada sekalian pegawai-pegawai pada Tiho Hoin oleh Tiho Hoinco, kepada pegawai-pegawai yang di bawah Sinpankan dan Sinpankanho pada masing-masing Cabang atau Ranting Tiho Hoin oleh Sinpankan atau Sinpankanho yang bersangkutan dan kepada Sinpankan atau Sinpankanho dari masing-masing Cabang atau Ranting Tiho Hoin oleh Rumisyuco yang bersangkutan, terkecuali apabila pada Cabang atau Ranting Tiho Hoin itu ditempatkan Sinpankan bangsa Nippon dalam hal mana keidzinan tadi diberikan oleh Sinpankan ini. Akan tetapi, apabila perjalanana itu perlu dengan segera dilakukan hingga tiada dapat dinantikan keidzinan terlebih dahulu, maka haruslah ia, dengan selekas mungkin sehabis melakukannya, diraporkan kepada pegawai yang seharunsya memberikan keidzinan tersebut.

Berkenaan dengan pelanggaran dari salah satu Bahagian yang tersebut di atas akan dijatuhkan hukuman (terhadap pelanggar-pelanggar yang tunduk pada Undang-Undang lain, hukuman menurut Undang-Undang itu), potong gaji atau bergantung pada besarnya kesalahannya itu—pecatan dengan segera dari jabatan.

Kutaraja Syowa 19, 10 Gatu 2 Niti.



Gunseikanbu Aceh Syu Tyokan

S. IINO.


UNDANG-UNDANG TENTANG ATURAN HAKIM DAN MAHKAMAH

Pasal 1.

Undang-Undang ini hanya bermaksud akan mengatur dan menyusun kembali pengadilan Gubernenen dari pemerintah yang silam supaya teguh dan sederhana. Pengadilan asli yang berada di dalam daerah-daerah yang berpemerintahan sendiri (kerajaan-kerajaan yang diperrintahi oleh Sultan-Sultan), pengadilan asli dan agama buat sementara waktu tetap berlaku seperti biasa dengan tidak ada perobahan apa-apa. Tetapi aturan dari tiga pengadilan ini boleh diobah oleh aturan “kanrei“ [undang-undang dari Gunseikan] atau ”Syurei“ (undang-undang daerah (syu) dengan semufakat Gunseikan.

Pasal 2.

Di dalam daerah-daerah pegangan “Gunseikan-bu“ telah dibentuk ”hoin“ (pengadilan), “Kensatukyoku“ (kantor openbare Ministerie) dan Keimusho (rumah penjara). Hoin memeriksa dan memutus perkara-perkara silang sengketa (sipil) dan kejahatan (criminil) sambil mengurus perkara-perkara lain yang menurut undang-undang masuk kekuasaannya.

Kensatukyoku menyelidiki perbuatan-perbuatan yang boleh dihukum, memeriksa keterangan-keterangan dan penyelidikan perbuatan-perbuatan yang boleh dihukum dan menuntut perbuatan-perbuatan itu sambil mengurus perkara-perkara “kensatu“ yang lain (perkara-perkara yang berhubeng dengan adanya kejahatan dengan penuntutan, menjalankan kepooto(san) atau yang menurut undang-undang. masuk dalam kekuasaannya.

Keimusho mengurus perkara-perkara yang sudah diputuskan hukumannya.

Pasal 3.

Gunseikan mengamat2i segala hoin dan kensatukyoku.

Pasal 4.

Dalam hoin akan diangkat pegawai-pegawai seperti berikut: Hoinco [ketua pengadilan], Shimpankan [hakim], Shimpankan ho (pembantu hakim), Kirokukan (Gripir), Syoki [jurutulis], Tsuyaku [jurubahasa] dan lain-lain pegawai yang perlu. Dalam Kensatukyoku akan diangkat pegawai-pegawai seperti berikut:

Kensatukyoku-co (Ketua Openbare Ministerie), Kensatukan [opsir Yustitie], Kensatukan-ho [(pembantu opsi Yustitie), Kirokukan (gripir), Syoki [Ijurutulis], Tsuyaku [jurubahasa] dan lain-lain pegawai-pegawai yang perlu.

Dalam Keimusho akan diangkat pegawai-pegawai seperti berikut: Tengoku (kepala sipir). Tengoku-ho [pembantu sipir] Kanshuco [kepala opas penjara], Kanshu (opas penjara) dan lain-lain pegawai yang perlu.

Pasal 5.

Di antara hoin itu ada pula: Kotohoin (raad van yustitie), Tihohoin (landraad), Kuhoiin (magistraats atau landgerekht) Syohoin (districtsraad atau gerekht). Semua kotohoyin bertakluk langsung kepada Gunseikan. Semua hoin, selain dari Kotohoin, takluk langsung kepada Syu Cokan yang diuntukkan buat mengamat2i segala perkara tata usaha [administratie] dari hoin itu.

Pasal 6.

Syohoin adalah pengadilan “districtsraaden“, ”districtsgerekhten“ atau “landgerekhten“ yang dahulu. yang dibuka kembali dar diatur. Tentang susunan pengadilan ini, tempat kedu-dukannya dan jajahian hukumnya, umumnya aturan lama masih berlaku dengan perobahan-perobahan yang perlu.

Pasal 7.

Kuhoiin adalah pengadilan “magistraatsgerekhten“ atau ”landgerekhten“ yang dahulu, yang dibuka kembali dan diatur. Tentang susunan pengadilan ini, tempat kedu-dukannya dan jajahian hukumnya, umumnya aturan lama masih berlaku dengan perobahan-perobahan yang perlu.

Pasal 8.

Kuhoiin “(magistraats- atau landsgerekht) menghukum perkara-perkara yang berikut: (terkecuali kalau perkara-perkara itu masuk dalam kekusaannia pengadilan Syohoin (districtsgerekht atau raad): I. dalam perkara silang sengketa (sipil): sebagai pengadilan yang pertama, apabila pokok perselisihan tidak lebih jum-lahnya dari 200 [dua ratus] rupiah, dengan tidak memandang bangsa dan kedu-dukan mereka yang berperkara. II. Dalam perkara kejahatan (criminil):

  1. sebagai pengadilan pertama dan juga sebagai pengadilan yang tertinggi: perkara-perkara kejahatan yang menu-rut aturan yang lama masuk dalam kekuasaan “Magistraatsgerekhten”, tetapi dengan tidak membeda2kan bangsa atau kedudukan orang yang dituduoh.
  1. Kuhoin yang jajahan hukumnya meliputi Belitung Bunsyu adalah pengadilan yang tertinggi: dalam perkara ulang bicara atau bandingan [apel] melawan keputusan Syohoin di mana keputusannya ditentuukan hukuman kurungan atau denda yang lebih besar dari f 3.—[tiiga rupiah].

Pasal 9.

Cihuhoin adalah pengadilan “landraden” yang dahulu, yang sekarang dibuka kembali dan diatur. Tentang tempat-tempat kedu-dukannya dan jajahan hukumnya, umumnya aturan lama masih berlaku dengan perubahan-perubahan yang perlu.

Pasal 10.

Cihuhoin menghukum perkara-perkara yang berikut:

I. Perkara silang sangketa.

  1. sebagai pengadilan yang pertama, perkara-perkara yang pokok perselisihannya lebih jumlahnya dari 200 [dua ratus] rupiah.
  2. sebagai pengadilan yang kedua dan juga sebagai pengadilan yang tertinggi, II perkara-perkara ulang bicara atau bandingan [apel] melawan keputusan Kuhoin, yang jumlah pokok perselisihan lebih dari pada f 100.—[seratus rupiah], ke 2] perkara-perkara ulang bicara [apel] melawan keputusan Syohoin [districtsgerekht] yang jumlah pokok perselisihan lebih dari pada f 50.—[lima puluh) rupiah.

II. (criminil):

  1. sebagai pengadilan yang pertama: segala perbuatan yang tidak masuk dalam kekuasaannya satu2nya hoin yang lain, dengan tidak membedakan bangsa atau ke-dudukan orang yang dituduoh.
  2. sebagai pengadilan yang kedua dan juga yang tertinggi; perkara-perkara ulang bicara [apel] melawan keputusan Syohoin [districtsgerekht] yang dalam keputusannya ditentuukan hukuman kurungan atau denda yang lebih besar dari pada 3 [tiga] rupiah sebanyak2nya. Terkecuali kalau ulang bicara [apel] itu, harus di tetapkan oleh Kuhoin [= magistraatsgerekht].

Pasal 11.

Dalam Cihuhoin [landraad] pemeriksaan dan keputusan hanya dilakukan oleh seorang hakim. Tetapi susunan “sanshin” (susunan turut campur dalam pemeriksaan oleh anggauta-anggauta “landraad”) tetap menurut seperti susunan di bawah pemerintah yang silam.

Pasal 12.

Kotohoin adalah pengadilan “Raden van Yustitie” yang du-lu dibuka kembali dan diatur. Pengadilan ini berkedudcekan: satu di Medan, Padang, dan Palembang.

Yang masuk jajahan hukum Kotohoin di Medan ialah: Sumatera-Tokaigan-Syu, Aceh-Syu dan Tapanuli-Syu; Yang masuk jajahan hukum Kotohoin di Padang ialah: Sumatera Seikaigan-Syu dan Riauw Syu; Yang masuk jajahan hukum Kotohoin di Palembang ialah: Palembang-Syu, Jambi-Syu, Bengkulen-Syu, Lampong-Syu dan Bangka-Belitung Syu.

Pasal 13.

Kotohoin (raad van yustitie) memutuskan sebagai pengadilan yang tertinggi: perkara-perkara ulang bicara (apel) baik dalam perkara silang sengketa [sipil] maeo pun dalam perkara kejaha-tan [criminil] melawan segala keputusan yang dijatuhkan oleh Cihuhoin [landraad] sebagai pengadilan yang pertama.

Pasal 14.

Dalam Kotohoin pemeriksaan dan keputusan hanya dilakukan oleh seorang hakim atau oleh satu dewan [raad] yang terdiri dari dua atau lebih Shimpankan. Tentang susunan “sanshin” [susunan anggota-anggota dewan] tetap menurut seperti yang lama.

Pasal 15.

Kekuasaan-Kekuasaan yang menurut aturan-aturan teristimewa, kekuasaan tentang perkara-perkara yang tidak menyadi perbantahan dan lain-lain kekuasaan tambahan, yang menurut aturan lama dalam kekuasaan “raad van yustitie”, semuanya itu diserahkan kepenyadilan Cihohoin [landraad] yang berkedudukan di ibu kota dari satu-satu daerah [Syu]. Berhubung dengan perkara-perkara yang tersebut dialinea pertama, maka jajaahan hukum Cihohoin tersebut bersamaan dengan daerah (Syu).|

Pasal 16.

Jika sesuatu keputusan, baik dalam perkara silang sengketa (sipil) Maupun dalam perkara kejahatan (criminil), yang sudah tak dapat ditarik kembali kenyataan tidak adil, menurut macam yang tersebut di bawah ini, maka perkara itu bisa dipereksa kembali Di dalam pemeriksaan kembali (“saisin”) itu, hakim-hakim [Ishimpankan] yang turut campur dalam keputusan pertama, tidak boleh lagi turut campur.

Macamnya keputusan itu adalah sebagai berikut:

  1. jika perkara-perkara itu mengenai keputusan yang sudah tak dapat ditarik kembali yang telah diputuskan oleh Kotohoin (raad van yustitie), maka pemeriksaan kembali dilakukan oleh Kotohoin (raad van yustitie) sendiri.
  2. jika perkara-perkara itu mengenai keputusan yang sudah tak dapat ditarik kembali yang telah diputuskan oleh Cihohoin (landraad), maka pemeriksaan kembali dilakukan oleh Kotohoin (raad van yustitie), di dalam lingkungan mana Cihohoin (landraad) itu berkedudukan.
  3. jika perkara-perkara itu mengenai keputusan dari Syohoin (districtgerekht) atau Kuhoin (magistraats- atau landgerekht) yang sudah tak dapat ditarik kembali, maka pemeriksaan kembali dilakukan oleh Cihohoin [landraad] yang berkedudukan diibu kota dari syu di mana Syohoin [districtgerekht] atau Kuhoin [landgerekht] itu berkedudukan.

Pemeriksaan kembali seperti dimaksud di atas boleh dilakukan karena jabatan [ex officio] terhadap perkara-perkara silang sengketa [sipil], terhadap perkara-perkara kejahatan (criminil) atas permin-taan Kensatsukan (opsir Yustitie).

Pasal 17.

Jika dalam pemeriksaan kembali atau dalam perkara ulang bicara (apel) sesudah memeriksa proces-verbaal dan surat-surat ke-terangan yang lain, pengadilan berpendapatan perkara itu telah cukup terang, maka pengadilan boleh memutuskan perkara itu dengan tidak bermusyawarat lagi.

Pasal 18.

Jika ketua (hoin-co) Cihuhoin (landraad) yang berkedudukan diibu kota daerah (Syu) menganggap perlu, maka ia dengan tidak mengurangi aturan tentang jajahein hukum dan kekuasaan, boleh mengoporkan perkara-perkara yang masuk kekuasaan sesuatu pengadilan di dalam daerah [Syu], kepada pengadilan Cihuhoin [landraad] yang berkedudukan diibu kota daerah.

Pasal 19.

Dalam hal aturan hakim dan mahkamah, kekuasaan dan tuntutan hukum selain dari yang telah ditekapkan di undang-undang, masih berlaku aturan lama, selama aturan itu tidak merintanggi pemerintahan tata-usaha (administratie) Militer. Tetapi ten tang aturan tuntutan hukum, ketua dari Kotohoin [raad van yustitie] boleh menunjukkan perobahan yang dianggapnya perlu, baik pun yang umum Ataupun yang teristimewa untuk Kotohoin (raad van yustitie) yang diketuainya dan lain-lain hoin di dalam jajahein hukum Kotohoin (raad van yustitie) itu.

Pasal 20.

Jika perkara-perkara itu diperiksa oleh Shimpankan bangsa Nippon, maka dalam perkara silang sengketa (sipil) hendaklah diturut peraturan-peraturan pengadilan dari Senzi-Minzi-Tokubetu ho Iaturan sepesial buat pengadilan dalam perkara silang sengketa (sipil) di waktu perang), dari Mizi-Soshoho [undang-undang peraturan pengadilan dalam perkara silang sengketa (sipil) dan aturan yang berkenaan dengan undang-undang ini; dalam perkara kejahatan (criminil), aturan-aturan dari Kokubo hoan ho [undang-undang pertahanan negeri], Cianizi ho [undang-undang memelihara kesentosaan negeri] atau Senzi-Keizi-Tokubetsu ho (aturan sepesial buat pengadilan dalam perkara kejahatan (criminil) di waktu perang).

Pasal 21.

Ketua Cihuhoin (landraad) yang berkedudukan diibu ko- ta daerah [Syu] mengulang pemeriksaan keputusan-keputusan dari pengadilan asli atau pengadilan agama. Cara bagaimana melaku-kan “ulang periksa” itu, menurut aturan lama.

Pasal 22.

Di antara kantor-kantor Kensatsukyoku-Kensatsukyoku (kantor Openbare Ministerie) itu adalah Koto-Kensatsukyoku dan Syu-kensatsukyoku. Koto-kensatsukyoku bertali dengan Kotohooin [raad van yustitie] dan bertakluk langsung kepada Gunseikan. (Koto-kensatsukyoku) = Openbare Ministeri yang tertinggi).

Syu-kensatsukyoku bertali dengan Cihoohoin (landraad) yang berkedudukan diibu kota daerah [Syu] dan bertakluk langsung kepada Syu-Cokan yang diuntukkan buat mengamati segala perkara tata-usaha [administerasi] dari Syu-kensatsukyoku itu. Jajahan hukum Koto-kensatsukyoku bersamaan dengan jajahan hukum Kotohooin [raad van yustitie] dan Koto-kensatsukyoku mengurus perkara-perkara yang masuk kekuasaannya Kotohooin [raad van yustitie].

Jajahan hukum Syu-kensatsukyoku bersamaan dengan daerahnya Syu, dan Syu-kensatsukyoku mengurus perkara-perkara yang masuk kekuasaan Cihoohoin [landraad], Kuhooin [magistraad atau landgerekht] dan Syohooin (districtsgerekht) yang berkedudukan di dalam syunya.

Pasal 23.

Cara melakukan “kensatsu“ umumnya menurut aturan lama. Jika penuntutan itu dilakukan oleh Kensatsukan bangsa Nippon, haruslah diturut aturan-aturan dari Kokubo-Hoan ho, Cianizi-ho atau Senzi-keizi Tokubetsu-ho

Pasal 24.

Rumah-Rumah penjara [Keimusho] dipimpin oleh Syu-Cokan. Umumnya soal-soal Keimusho diurus menurut aturan lama.

ATURAN TAMBAHAN.

Undang-Undang ini mulai berlaku pada peckul 1 bulan satu tahun 19 Showa.

Perkara-Perkara yang telah masuk dipengadilan-dipengadilan hoin sebelumnya undang-undang ini berlaku Walaupun menurut undang-undang ini tidak masuk kekuasaannya hoin tersebut, akan diperiksa menurut aturan-aturan lama yang mengatur perkara-perkara itu dihoin tersebut. Penunjukkan perubahan cara melakukan pemeriksaan yang dilakukan oleh Kotohoin Co sebelum undang-undang ini dilaku-kan menurut difasal 10 alinea duа dari “Cianizi-rei” [termasuk juga perkara-perkara di mana undang-undang itu berlaku bagi perkara kejahatan [criminil] seperti umumnya termaktub difasal 13 dari “rei” tersebut].

Di dalam syu [daerah], di mana Kensatsukan bangsa Nippon, masih belum diangkat di waktu undang-undang ini mulai berlaku, maka Keimubu-co dari daerah itu melakukan kekuasaan kensatsukyoku-co sampai Kensatsukan bangsa Nippon diangkat.

[Keimubu-co—kepala polisi].


GUNSEIKANBU ACEH SYU SEITYO

KUTARAJA

ACEH SYU REI No. 10 — SYOWA 19 ITI-GATU 1.

Undang-undang tentang susunan Hakim dan Mahkamah di daerah Aceh.

Pasal 1. Menurut pasal 1, ayat penghabisan dari bahagian penambahan Tomi Sei Rei Otu No. 40, yaitu dari Undang-Undang tentang aturan Hakim dan Mahkamah seterusnya akan disebutkan: Undang-Undang tentang Hakim dan Mahkamah, maka diadakan Undang-Undang tentang susunan Hakim dan Mahkamah di daerah Aceh.

Undang-Undang ini ditetapkan untuk mengatur, selain dari susunan pengadilan Gubernemen di Aceh, peraturan Hakim dan Mahkamah.

Di daerah Aceh diadakan Hoin (Mahkamah) seperti tersebut di bawah ini dan tentang mengadakan Syu Kyo Hoin (Mahkamah Agama) akan ditetapkan dengan aturan yang lain (tersendiri):

  1. Ku - Hoin.
  2. Tiho - Hoin.

Pasal 2. Di tiap-tiap Gun dan Son diadakan Ku-Hoin.

Pasal 3. Perkara-Perkara yang disebutkan di bawah ini, diperiksa dan diputuskan oleh Ku-Hoin.

  1. Perkara Minzi: Persengketaan yar g pokok perselisihannya tiada lebih jumlahnya dari f 200.—(dua ratus rupiah).
  2. Perkara Keizi: Persengketaan yang hukumannya di bawah 3 bulan penjara atau denda setinggi2nya f 100.—(seratus rupiah).
  3. Dan perkara lain-lain yang masuk dalam kekuasaannya yang ditentukan oleh Undang-Undang.

Pasal 4. Ku-Hoin terdiri dari lebih 3 orang Sinpan-In [yanggotal] dan musti dihadiri oleh seorang Ulama sebagai Penasihat dan seorang Syoki. Tetapi kalau orang yang berperkara bu- kan umat Islam, maka perkara itu tidak perlu dihadiri oleh Ulama.

Salah seorang dari Sinpan-In diangkat menjadi Saiban Co [Ketua Mahkamah]. Jika Sinpankan [Hakim] dari Tiho Hoin merasa perlu, maka ia boleh menyadi Saiban-Co dari Ku-Hoin.

Ku-Hoin memutuskan perkara dengan semufakat Sinpan-In. Di Ku-Hoin dari tiap-tiap Son, Sonco menyadi pengawas supaya perkara-perkara jangan terlambat diputuskan dari semustinya, dan urusan pengadilan dapat berjalan dengan baik.

Pasal 5. Perkara yang diputuskan oleh Ku Hoin, boleh dibandingkan (apel) kepada Tiho Hoin.

Pasal 6. Tiho-Hoin diadakan di Kutaraja dan cabanngnya didirikan di tiap-di tiap Bunsyu terkecuali di Dai Aceh Bunsyu.

Pasal 7. Tiho-Hoin memeriksa dan memutuskan perkara-perkara yang termasuk dalam golongan yang tersebut di bawah ini.

  1. Perkara Minzi dan Keizi:
    1. Sebagai pengadilan yang pertama [perkara yang tiada masuk dalam kekuasaan Ku-Hoin].
    2. Perkara-Perkara bandingan yang melawan keputusan Ku-Hoin.
  2. Dan lain-lain perkara yang ditentukan kekuasaannya oleh Undang-Undang.

Pasal 8. Tiho-Hoin terdiri dari:

Sinpankan, satu orang.

Kosei-In (anggota), lebih dari dua orang dan perlu dihadiri oleh Ulama sebagai penasihat dan satu orang Syoki.

Walaupun demikian, jikalau orang berperkara itu bukan Umat Islam, maka tiada perlu dihadiri oleh Ulama.

Sinpankan menjadi Saiban-co.

Tiho-Hoin mengadili perkara dengan semufakat Sinpankan dan Kosei-In.

Pasal 9. Perkara-Perkara yang diputuskan oleh Tiho Hoin sebagai pengadilan yang pertama, boleh dibandingkan kepada Koto-Hoin yang diatur oleh Undang-Undang tentang aturan Hakim dan Mahkamah.

Pasal 10. Sinpankan, Kosei-In dan Ulama dari Tiho-Hoin dan Sinpan-In dan Ulama “dari Ku-Hoin, diangkat dan diperhentikan oleh Tuan Besar Cokan.

Pasal 11. Jika sesuatu keputusan dari Hoin yang dimaksud dalam Undang-Undang ini, baik dalam perkara Minzi Maupun dalam perkara Keizi, yang tidak dapat ditarik kembali dan ternyata bahwa keputusan itu tidak adil, maka Tiho-Hoin Kutaraja berhak memeriksanya kembali. Pemeriksaan kembali seperti yang dimaksud di atas boleh dilakukan karena jabatan [ex-officio] terhadap perkara-perkara Minzi, dan terhadap perkara-perkara Keizi dilakukan pemeriksaan kembali atas permintaan Kensatu Kan [Opsir Yustisi].

Pasal 12. “Kensatu” dilakukan menurut Undang-Undang tentang aturan Hakim dan Mahkamah.

Pasal 13. Dalam hal aturan Hakim dan Mahkamah, kekuasaan dan tuntutan hukum dari peraturan ini, dilakukan menurut peraturan “Musapat” yang lama. Tetapi tentang aturan tuntutan hukum, Tiho Hoin-co [Ketoa dari Tiho Hoin] Kutaraja boleh menunjukkan perubahan jika dianggapnya perlu, baik yang umum Ataupun yang teristimewa untuk Tiho-Hoin yang diketuainya dan Hoin-Hoin yang lain di dalam jajahannya.

Aturan tambahan.

Undang-Undang ini berlaku mulai tanggal 1 bulan Satu, Syowa 19. Aceh Syu Rei No. 1 dan No. 2 tidak berlaku lagi. Pengadilan yang menurut Aceh Syu Rei No. 4 dilakukan oleh Gunco dan Sonco, akan dilakukan oleh Ku Hoin.

Kutaraja, Syowa 19 Iti Gatu 1.



Gunseikanbu Aceh Syu Cokan.

S. IINO.

ACEH SYU TUTYO NO. 76. — SYOWA 19 ITI-GATU 1.

Penerangan-penerangan yang berkenaan dengan undang-undang tentang susunan Hakim dan Mahkamah di daerah Aceh.

Tentang pengangkatan, pemberhentian pegawai kehakiman dan pengamat-amati Hoin.

No. 1. a. Sinpan Kan, anggota [Kosei-In] dan Ulama dari Tiho-Hoin, termasuk juga cabang Tiho-Hoin, Sinpan-In dan Ulama dari Ku Hoin, diangkat dan diperhentikan oleh Tuan Besar Cokan. Akan tetapi tentang pengangkatan Ulama untuk semetara waktu, Saibanco dari tiap-tiap Hoin akan memilih dan mengangkatnya. b. Saibanco dari Ku Hoin dipilih oleh Sinpan-In menurut suara; bila ada wakil dari Sinpan-In, maka ianya berhak juga buat memilih. Dalam pemilihan, jika terdapat suara yang sama banyaknya, maka orang yang tertualah yang menyadi Saibanco. Sinpan-In dari Ku-Hoin menetapkan Saibanco dengan segera dan surat penetapannya hendaklah ditanda-tangani oleh sekalian anggota, serta meraporkannya kepada Tiho-Hoinco di Kutaraja dengan diberikutkan keterangan-keterangan yang berhu-bung dengan penetapan Saibanco tersebut. Jika ada perobahan-perobahan yang berkenaan dengan Saibanco, maka harus juga diraporkan serta mengirimnya kepada Tiho Hoinco di Kutaraja. c. Syoki dari tiap-tiap Hoin diangkat dan diperhentikan oleh Saibanco. d. Sinpankan atau Sinpankan-ho dari Tiho-Hoin mempunyai hak disetiap waktu untuk memimpin, menyelidiki dan mengawas awasi Ku-Hoin di dalam Bunsyunya.

Tempat dan kekuasaan dari tiap-tiap Hoin: A. Ku-Hoin. No. 2. a. Ku-Hoin didirikan di tiap-di tiap Gun dan tiap-tiap Son. Sungguhpun demikian, Ku-Hoin itu boleh didirikan dari gabung-an beberapa Son dengan menilik [mengingat] kedudukan Son-Son itu. b. Ku-Hoin mempunyai kekuasaan dari seluruh Sonnya masing-masing. c. Bila seandainya orang-orang yang berperkara bukan orang Aceh [Bumiputera asli] maka perkara2nya itu akan diadili oleh Ku-Hoin dari Gun yang bersangkutan.

B. Tiho - Hoin a. Cabang-Cabang dari Tiho-Hoin didirikan di tiap-di tiap tempat kedudukan Bunsyuco di daerah Aceh ini, tekecuali di Da'i Aceh, dan mempunyai kekuasaan dari seluruh Bunsyunya masing-masing. b. Perkara-Perkara yang melanggar peraturan keamanan umum dan kesentosaan negeri [Tian IzI Rei] begitu pula perkara-perkara yang melanggar peraturan ekonomi, termasuk dalam [menjadi] kekuasaan Tiho Hoin Kutaraja. c. Segala permintaan bandingan [apel] dari keputusan-keputusan Ku-Hoin akan diperiksa dan diputuskan oleh Tiho-Hoin Kutaraja. Bila Tiho-Hoin Kutaraja menganggap perlu, maka perkara apel itu boleh dikirimkannya kepada cabang Tiho-Hoin yang bersangkutan dan menuruh memeriksa dan memutuskannya. d. Perkara-Perkara Minzi dan Keizi dari pegawai-pegawai negeri dan lain-lain orang yang berpangkat akan di ‘adili oleh Tiho-Hoin Kutaraja atau cabang Tiho-Hoin yang ditunjukkannya.

Tempat membuka pengadilan [sidang]. No. 3. a. Tiap-Tiap Hoin diharuskan membuka pengadilan di suatu tempat yang pantas kedudukannya, dalam daerah kekuasaannya. b. Tuan-Tuan Bunsyuco haruslah memberikan perintah kepada Gunco-Gunco dan Sonco-Sonco supaya mereka itu meminjamkan kantornya yang akan dipergunakan untuk membuka pengadilan: Gunco dan Sonco ini diwajibkan memberikan pertolongan2nya dan sebagainya bila diminta oleh Hakim yang bersangkutan. Pun harus pula mereka itu memberi pertolongan dengan sepenuh2nya tentang pembukaan pengadilan.

Ongkos-ongkos. No. 4. a. Gaji dan lain-lain ongkos keperluan dari pegawai Tiho-Hoin ditanggung oleh Aceh Syu Seico dan dibayar dengan perantaraan masing-masing Bunsyuco. b. Yang sebenarnya segala keperluan dan lain-lain ongkos dari pegawai Ku Hoin akan diambil dari uang meja yang di peroleh, akan tetapi ianya bila ternyata perlu, maka dibantu oleh Aceh Syu Seico.

Undang-undang yang dipergunakan dan cara-caranya pengadilan dan lain-lain. No 5. a. Undang-Undang yang dipergunakan dan cara2nya pengadilan harus diturut segala kebiasaan yang lama, selain dari yang ditentukan di dalam Kan Rei atau Syu Rei dan lain2nya. b. Saibanco diwajibkan menerima pengaduan dan mengutip ongkos pengaduan dan mengutip ongkos pengadilan (uang meja dan lain2nya). c. Pengiriman surat-surat, membuatnya, begitu pula mengadakan penyitaan, menyadi kewajiban Syoki atas perintahnya Saibanco yang bersangkutan. d. Keputusan-Keputusan Ku Hoin hendaklah dikirimkan bersama surat-surat yang bersangkutan kepada cabang Tiho Hoin dalam Bunsyunya, kecuari Ku Hoin di Dai Aceh, maka dikirim lansung kepada Tiho-Hoin di Kutaraja. Dan keputusan-keputusan cabang Tiho Hoin hendaklah dikirimkan bersama surat-surat yang bersangkutan kepada Tiho Hoin di Kutaraja. Keputusan-Keputusan tersebut dikirim pada tiap-tiap penghabisan bulan. e. Buat sementara waktu, persidangan itu tidak usah dihadiri oleh Jaksa. f. Seandainya dalam keputusan sesuatce Hoin ada apel maka apelnya di dalam tempo 14 hari sesudah diputuskan atau diberikan kepuatusannya, dimajukan dengan perantaraan Hoin yang memutuskan perkara itu.

Mengurus (mengadili) perkara-perkara lama yang belum diputuskan.

No. 6.

Perkara-Perkara lama yang belum diputuskan oleh Gunco dan Sonco, hendaklah dengan selekas mungkin diserahkan oleh merekaitu kepada Hoin yang bersangkutan, dan Hoin ini dikuasakan mengurusnya.

Minta keampunan [Gratie].

No. 7.

Permintaan am pun (gratie) hendaklah dimajukan dengan perantaraan Hoin yang mengadili perkara itu dalam tempo 14 hari sesudah perkara itu diputuskan.

Hoin itu haruslah mengirimkan permintaan am pun itu bersama dengan sekalian surat-surat perkara yang bersangkutan [ponis] serta pula adpis ke Tiho-Hoin Kutaraja.

Meniadakan Sihobu.

No. 8.

Mulai pada tanggal 1 Bulan Satu Syowa 19 Sihobu Ku taraja ditiadakan dan perkerjaan-perkerjaan yang diurusnya selama ini menjadi kewajiiban (urusan) Tiho-Hoin Kutaraja.

Syu Kyo Hoin (Mahkamah Agama).

No. 9.

Untuk mengurus sekalian perkara-perkara yang berkenaan dengan Nikah, fasakh, peraidl, harta-harta Agama dan lain-lain yang berhubung dengannya akan diadakan Syu Kyo Hoin di daerah Aceh.

Buat sementara waktu, sebelum Syu Kyo Hoin itu didirikan, maka hal-hal yang tersebut di atas akan diurus sebagaimana dahaelunya; akan tetapi bila teryadi persengketaan, maka perkara2nya itu akan diurus oleh Tiho-Hoin atau Ku Hoin sendiri.

Hal lain-lain.

No. 10. a. Jika seandainya ada pertanyaan-pertanyaan yang dimajukan tentang urusan-urusan susunan Hakim dan Mahkamah maka ianya akan dijawab oleh Tiho Hoinco di Kutaraja. b. Orang-Orang yang menghalang-halangi Ataupun menghasud dan sebagainya tentang urusan pengadilan akan dikenakan hu-kuman yang berat, karena dianggap mengganggu urusanya (pekerjaannya) Pemerintah.

Kutaraja, Syowa 19 Iti Gatu 1.



Gunseikanbu Aceh Syu Cokan.

S. IINO.

ACEH SYU REI NO. 12 — SYOWA 19 NI-GATU 15 NITI.

Aceh Syu Rei (undang-undang Aceh). Tentang susunan Syukyo Hoin (Mahkamah Agama) di dalam Aceh Syu.

Fasal 1. Untuk menghormati dan menghargai Agama Islam dan untuk menjalankan Syara‘ Agama Islam yang patut dan sesuai di dalam Aceh Syu. diadakan Syukyo Hoin di Kutaraja. Dan sebagai badan di bawahnya dari Syukyo Hoin akan dia-dakan seorang “Kepala Kadli” dan beberapa orang anggota majelisnya di tiap-di tiap Bunsyu, dan seorang “Kadli Son” di tiap-di tiap Son.

Fasal 2. Syukyo Hoin mengerus pekerjaan yang tersebut di-bawah ini:

  1. Bermufakat dan menetapkan tentang melakukan urusan ntkah dan segala perkara yang bersangkutan dengan dia dan urusan faraidl, menurut ketentuan syara‘.
  2. Memutuskan pekerjaan [keberatan] tentang hukum yang dilakukan oleh Kepala Kadli dan Kadli Son; mengubah dan memperbaiki hukum itu menurut ke-kuasaan jabatan.
  3. Menjaga, menyelidiki dan memimpin Kepala Kadli dan Kadli Son.
  4. Dan lain-lain yang diperintah oleh Aceh Syu Cokan, yang menganai urusan Agama Islam.

Fasal 3. Syukyo Hoin terdiri dari “Zyoninlin“ (anggota-anggota harian) dan ”Iin“ (anggota-anggota biasa). Salah seorang dari Zyonin lin akan diangkat “Iinco“ (Ketua). Aceh Syu Cokan mengangkat dan memperhentikan Zyo-nin I in, menurut unjukan dari Tiho Hoinco

Kutaraja, dari Ulama-Ulama yang cerdik pandai, jujur dan berpengaruh di dalam Aceh Syu.

Linco akan diunjukkan oleh Aceh Syu Cokan.

Fasal 4.

  1. Kepala Kadli, anggauta-anggauta majelisnya dan Kadli Son mengu-rus pekerjaaan dalam jajahannya masing-masing menurut ke-tentuan yang akan ditetapkan.
  2. Kepala Kadli dan anggauta-anggauta majelisnya diangkat dan di perhentikan oleh Aceh Syu Cokan, menurut unjukan Tiho Hoinco Kutaraja.
  3. Kadli Son diangkat dan diperhentikan oleh Sonco atas persetujuan Syukyo Hoin.

Fasal 5. Tiho-Hoinco Kutaraja menjagai dan menyelidiki Syukyo Hoin dan badan di bawahnya menurut perintah dari Aceh Syu Cokan.

Tambahan:

Undang-Undang ini berlaku mulai pada tanggal Syowa 19 San-Gatu 1 Niti. Peraturan-Peraturan yang perlu untuk melakukan undang-undang ini akan ditetapkan dengan Kokuzi (Maklumat Pemerintah).

Kutaraja, Syowa 19, Ni-Gatu 15 Niti.



Gunseikanbu Aceh Syu Cokan

S. IINO

ACEH SYU KOKUZI NO. 35 — SYOWA 19 NI-GATU 15-NITI.

Aceh Syu Kokuzi (Maklumat Pemerintah). Perihal peraturan yang berkenaan dengan Undang-Undang tentang susunan Syukyo Hoin di dalam Aceh Syu

Fasal 1. Syukyo Hoin.

  1. Syukyo Hoin mengurus—selain dari pekerjaan yang tersebut dalam ayat 1, 2 dan 3 dari fasal 2 dari undang-undang tentang susunan Syukyo Hoin di dalam Aceh Syu (seterus nya disebutkan “undang-undang tentang susunan”)—pekerjaan seperti tersebut di bawah ini, menurut ayat 4, fasal 2 dari undang-undang itu: a. Zakat, Zakat fitrah dan Wakaf; b. Harta-Harta anak yatim, harta-harta orang gila dan harta-harta orang mati yang tidak ada walinya, sebelum diadakan peraturan yang tertentu.

  2. Permusyawaratan dan ketetapan hal-hal yang disebut diayat 1 fasal 2 dari undang-undang tentang susunan dan hal-hal yang disebut di atas ini wayib dilakokean dengan suara banyaknya 2/3 dari jumlah anggauta semua (Zyonin Iin dan lin). Permusyawaratan itu dibuka setelah mendapat idzin dari Tiho-Hoinco Kutaraja dengan permintaan Iinco. Ketetapan dari permusyawaratan itu berlaku sesudah mendapat persetujuan dari Aceh Syu Cokan jikalau ternyata, bahwa ketetapan itu tidak bertentangan dengan Tatanegara.

  3. Pekerjaan tentang ayat 2 dan 3 dari fasal 2 dari undang-undang tentang susunan ditetapkan oleh permusyawaratan Zyonin Iin. Tetapi kalau perkara-perkara yang akan diperbincangkan teristimewa penting atau Iinco merasa perlu, boleh memanggil semua lin, dan menetapkan menurut cara yang disebut diayat 2 di atas.

  4. Iinco wayib mengadakan permusyawaratan semua anggauta sekurang-kurangnyia sekali setahun.

  1. Terhadap anggauta-anggauta Syukyo Hoin, Kepala Kadli, anggauta-anggauta majelisnya dan Kadli Son yang tidak menurut ketetapan atau hukum yang telah diputuskan oleh Syukyo Hoin, Syukyo Hoin boleh meminta kepada Aceh Syu Cokan supaya dia diperhentikan dari jabatannya. Tetapi terhadap anggauta Syukyo Hoin Kepala Kadli dan anggauta-anggauta majelisnya, caranya ketetapan memperhentikan itu dilakukan sebagai permusyawaratan waktu menetapkan hal-hal yang disebut diayat 1 dari fasal 2 dari undang-undang tentang susunan (yaitu cara yang disebut dalam aiat 2 dari Kokuzi ini); terhadap Kadli Son caranya menurut permusyawaratan Zyonin In dan meminta kepada Aceh Syu Cokan. Kalau mereka yang diperhentikan dari jabatannya menurut peraturan yang disebut di atas ini, dan kesalahannya itu patut dihukum cara Keizi [Crimeineel], maka diadili oleh Tiho Hoin Kutaraja, atau cabang Tiho Hoin menurut cara biasa.
  2. Urusan-Urusan yang diurus oleh Syukyo Hoin wajib diraporkan kepada Tiho Hoinco Kutaraja tiap-tiap bulan.

Fasal II.

KEPALA KADLI.

  1. Kepala Kadli, dengan mendapat bantuan dari anggauta-anggauta majelisnya, mengurus pekerjaan yang disebut di bawah ini: a. menerangkan dan menganjur kepada Kadli-Kadli di bawahnya di Bunsyu itu tentang ketetapan permusyawaratan Syukyo Hoin dan lain-lain yang bersangkutan dengan pekerjaannya. b. Memimpin, menjaga dan menyelidiki pekerjaan Kadli-Kadli di bawahnya. c. Mengurus dan membagi bahagian: Muallaf, Ibnusabil, Kharim dan Sabilillah dari Zakat dan fitrah yang dikempulkan oleh Kadli-Kadli di bawahnya dan lain-lain pegawai Agama. d. Mengurus harta Wakaf dan harta-harta orang mati yang tidak ada walinya. e. Memperselesaikan perkara-perkara yang bersangkutan dengan Agama yang tidak sanggup diselesaikan oleh Kadli-Kadli di bawahnya. f. Mengurus harta anak yatim dan harta orang gila di Bunsyu-nya.
  2. Mengirimkan berita-berita tentang urusan Agama dalam Bunsyunya tiap-tiap bulan kepada Syukyo Hoin Kutaraja.

Fasal III. KADLI SON.

Kadli Son menjalankan pekerjaan yang tersebut di bawah ini: a. Menjadi “wali-nikah” dari perempuan yang tiada “walinya” atau walinya ghaib atau Wali-nikahnya “enggan” (adillal). b. Mengurus nikah, thalak, ruju‘, fasakh, khulu’, tafriq dan li'an dan memberi surat keterangan yang perlu kepada orang-orang yang bersangkutan menurut persetujuan dari Syukyo Hoin. c. Mengurus perkata “faraidl” dengan cara damai, kalau ada permohonan dari yang berkepentingan. d. Mengurus zakat hewan di dalam Son-nya. e. Mengurus zakat perniagaan, zakat emas dan perak dalam Son-nya, kalau diserahkan oleh yang mengeluar-kan zakat padanya. f. Memimpin, menjaca dan menyelidiki pekerjaan Imam Mesjid, Khatib, Bilal dan Teungku Meunasah di dalam Son-nya.

  1. Mengirimkan berita tentang urusan Agama di dalam Son-nya tiap-tiap bulan sekali kepada Kepala Kadli,

Fasal IV. Tambahan.

  1. Imam Mesjid, Khatib, Bilal dan Teungku Meunasah menjalankan pekerjaan, selain dari pekerjaannya yang tertentu, di bawah pimpinan dan penjagaan dari Kadli Son-nya, urusan-urusan yang ditentukan oleh ketetapan permusyawaratan Syukyo Hoin.

  2. a. Jikalau perselisihan tentang tuntutan berdasarkan Agama yang diterapkan dengan peraturan ini, yang tidak dapat diselesaikan oleh Syukyo Hoin, maka Tiho Hoin atau Ku Hoin mengadilinya sesudah mendapat pengaduan dari yang mendakwa, menurut cara biasa. b. Barangsiapa melanggar kepotusan yang telah diterapkan oleh Syukyo Hoin dengan tiada beralasan, sehingga menyadi pelanggaran, maka Syukyo Hoin berhak menyerahkan perkara itu kepada Tiho Hoin atau Ku Hoin.

Kutaraja, Syowa 19 Ni-Gatu 15 Niti.



Gunseikanbu Aceh Syu Cokan,

S. IINO.

ACEH SYU REI No. 4 — SYOWA 18 SIGATU 13

ACEH SYU REI UNDANG-UNDANG ACEH.



Penetapan tentang kekuasaan Gunco dan Sonco untuk menjatuhkan hukuman.



Bahagian ke 1.

Terhadap soal pelanggaran peraturan belasting (Aceh Syu Rei No. 3) bahagian 19, maka ditetapkan, bahwa hukuman tentang pelanggaran peraturan belasting-belasting yang tersebut di bawah ini dijatuhkan oleh Gunco dari sesuatu Gun tempat kediaman sipelanggar peraturan tersebut; a. belasting tontonan yang dibawa berkeliling; b. cukai memasukkan sawah dan kebun dalam daftar; c. cukai kerikil; d. cukai menggali pasir; e. cukai pasar; f. lain-lain belasting yang harus dikutip oleh Gunco.

Bahagian ke 2.

Hukuman yang serupa dimaksud pada bahagian ke 1 di atas ini dijatuhkan oleh seseorang Sonco terhadap belasting-belasting yang tersebut di bawah ini, terkecuali di kampung Jawa, kampung Pelanggahan, kampung Baru dan Keudah serta Pasar Ulee-Lheue dari Kutaraja Gun, di tempat-di tempat mana hukuman itu dijatuhkan oleh Gunconya, dan tiap-tiap Gunco memutuskan juga perkara-perkara orang Tionghoa yang berhubogen dengan uang pajak yang dikutip oleh Kakyo Kumico di luar kota atawa di tempat-di tempat yang tidak mempunyai Kakyo Co. a. belasting kecil; b. pajak jalan; c. belasting kereta angin; d. belasting memotong hewan; e. lain-lain belasting yang harus dikutip oleh Sonco.

Bahagian ke 3.

Hukuman yang dimaksud pada bahagian ke 1 dan ke 2 di atas ini dijatuhkan menurut aturan yang sudah ada.

Bahagian ke 4.

Tempo pembayaran belasting yang dimaksud pada bahagian ke 1 dan ke 2, sesudah keluar surat paksaan, setinggi2nya ialah 30 hari.

Bahagian ke 5.

Sitaan harta untuk pelunaskan belasting-belasting iang tersebut dibahagian ke 1 dan ke 2 di atas ini dijalankan oleh Kantor yang harus mengutip belasting-belasting itu. Sitaan ini dapat juga dijalankan oleh Gunco atawa Sonco, setelah mendapat perintah untuk penyitaan itu dari Syu Cokan.

Bahagian ke 6.

Hukuman yang berhubungan dengan soal nikah dan fasakh dijatuhkan, seperti dahulu juga, menurut hukum agama yang adil oleh Sonco yang bersangkutan.

Bahagian ke 7.

Kepada seseorang yang berbuat salah satunya dari kesalahan-kesalahan yang tersebut di bawah ini dijatuhkan denda oleh Sonco yang berkuasa setinggi2nya f 10.—[sepuluh rupiah], atau sepuluh hari hukuman badan.

  1. Kesalahan, karena tiada membantu mengerjakan pekerjaan umum atawa pekerjaan untuk keperluan Negeri. bila sudah diperintahkan oleh yang berwadzib untuk mengerjakannya;
  2. kesalahan, karena, dengan tiada mempunyai sesuatu halangan jua pun, tiada menurut akan perintah Sonco nya atawa Kuyyo-nya untuk mengusahakan tanahnya, Ataupun tanah yang sudah ditunjukkan untuk diusahakannya atau dimawahnya;
  3. kesalahan, karena, sesudah berkal.-kali diperingatkan, dengan tiada suatu halangan yang teristimewa, tetap tiada hendak bekerja Ataupun karena dipandang sebagai pelancongan;
  4. kesalahan. karena melepaskan kerbau, sapi, kambing dan lain-lain hewannya dengan tiada berpenjagaan, hingga merusakkan atau menghalangi bagi umum, Ataupun mendatang-

kan kerusakan atau kerugian bagi orang lain, dan kalau sampai mendatangkan kerugian, maka yang bersalah wajib pula membayar kerugian itu; 5. kesalahan, karena melanggar aturan zakat atawa fitrah yang sudah tertentu menurut hukum agama, Ataupun karena mengurus sendiri hal zakat fitrah, jikalau sudah diadakan suatu badan yang tertentu untuk mengurus hal itu oleh yang berwajib; 6. kesalahan, karena dengan tiada suatu sebab jua pun, tidak menurut adat yang berhubungan dengan agama; 7. kesalahan, karena melanggar adat sopan santun dan mela-kukan lain-lain perbuatan yang sumbang menurut adat dan agama.

Bahagian ke 8. Kepada orang-orang yang bersatu berbuat kesalahan yang dimaksud pada No. 1 atawa 2 dibahagian ke 7 di atas ini dijatuhkan denda oleh Gunco yang bersangkutan setinggi-tingginya f 30 (tiga puluh rupiah) masing-masing atawa 30 hari hukuman badan masing-masing. Bila kedapatan orang-orang yang mengganggu keamanan negeri maka kesalahannya itu harus dirapporkan sebagai keizi (crimineel) untuk dihukum.

Bahagian ke 9. Bila terhadap kesalahan-kesalahan yang dimaksud pada bahagian ke 7 dan ke 8 di atas ini, sudah dijatuhkan denda atawa hu-kuman oleh yang berwajib. maka hal itu harus dirapporkan oleh yang berwajib tadi kepada pembesar yang lebih tinggi dari padanya (umpamanya: oleh Sonco kepada Gunco, atawa oleh Gunco kepada Bunsyu Co) untuk memperoleh persetujuan pembesar tersebut. Denda atawa hukuman itu belum boleh dijalankan, se-sebelum diperoleh persetujuan dari pembesar yang berhak memberikannya.

Bahagian ke 10. Barang siapa yang menaruh keberatan atas hukuman yang menurut undang-undang ini telah dijatuhkan atas dirinya oleh se-seorang Gunco atawa Sonco, maka boleh dipohonkannya pertimbangan yang lebih tinggi, dengan memenuhi akan syarat2nya, kepada Bunsyu Co atawa Syu Cokan.

Bahagian ke 11. Surat-Surat permohonan untuk memperoleh pertimbangan yang lebih tinggi, seperti dimaksud pada bahagian ke 10 di atas ini, harus diserahkan, di dalam tempo 5 hari sesudah hukuman itu dijatuhkan, kepada alamatnya, dengan perantaraan Gunco atau Sonco yang telah menjatuhkan hukuman itu.

Tambahan

Bahagian ke 12. Bila seseorang Sonco telah menjatuhkan sesuatu hukuman atawa denda menurut undang-undang ini, maka harus dengan segera dirapporkannya dengan sejelas2nya hal kesalahan yang telah diadilinya dan hukuman atawa denda yang telah di-jatuhkannya itu kepada Gunco-nya.

Bahagian ke 13. Undang-Undang ini akan mulai berlaku pada tanggal 1-5-Syowa 18.

Bahagian ke 14. Bila terhadap undang-undang ini timbul pertikaian faham, maka harus diturut tujuan dari undang-undang tersebut yang diperbuat dalam bahasa Nippon.

Kutaraja, Syowa 18, Si-Gatu 13 Niti



Gunseikanbu Aceh Syu Tyokan,

S. IINO.

ACEH SYU TUKOKU. — SYOWA 19 NI-GATU 10 NITI.

Tentang memajukan perkara-perkara Keizi.

Walaupun umumnya adalah kewajiiban Keisatusyoco untuk memajukan perkara-perkara Keizi kepada Hoin, dibolehkan juga bozat sementara waktu Gunco, Sonco dan lain-lain orang yang menangkap kesalahan-kesalahan Keizi seperti yang di maksud dalam Aceh Syu Rei tanggal Syowa 18, Si-Gatu 13 Niti No. 4 untuk memajukan kesalahan-kesalahan itu kepada Ku-Hoin [termasuk juga Ku-Hoin Shibu].

Kutaraja, Syowa 19 Ni-Gatu 10 Niti.



Gunseikanbu Aceh Syu Cokan,

S. IINO.

[Disalin dari Aceh Sinbun, No. 12-III. Rabu, 9 Febr. 2604].

ACEH SYU TUTYO NO. 181 — SYOWA 19 NI-GATU 10 NITI.

Perihal: Mengurus perkara-perkara yang di tentukan di dalam Aceh Syu Rei No. 4 bahagian ke 7 ayat 1.

Jika terjadi penangkapan terhadap seseorang yang ternyata telah melanggar peraturan yang tersebut dalam ayat 1 bahagian ke 7 dari Aceh Syu Rei No. 4, bertanggal 13 bulan 4 Syowa 18, perbuatan mana dianggap sebagai kesalahan tentang tidak membantu mengerjakan pekerjaan umum atau pekerjaan keperluan Negeri. yaitu:

“Tidak mau membantu pekerjaan untuk keperluan Tentera Ataupun tidak mau menjuar bahan-bahan makanan kepada Pemerintah, sedangkan pekerjaan dan bahan-bahan makanan itu perlu sekali untuk tujuan melaksana-kan pekerjaan Tentera dan Pemerintah Agung”, maka perkara-perkara semacam itu mesti dengan segera diserahkan kepada badan pengadilan Hoin yang bersangkutan, dan Hoin tersebut mesti memeriksa perkara itu dengan segera serta ha- rus didahulukan dari pada perkara-perkara yang lain.

Kutaraja, Syowa 19 Zyu-Gatu 2 Niti.



Gunseikanbu Aceh Syu Cokan.

S. IINO.


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.