PENDEKAR SELAT MALAKA
JILID I
MATU MONA
KOLOFON
PENDEKAR SELAT MALAKA
JILID I
karya
MATU MONA
Pustaka & Penerbit “ANALISA” c.v. Jakarta
1961
© 2026 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: digitalcollections.universiteitleiden.nl
Ilustrasi sampul: Cruising Sailing Ships, 2 (Kreuzende Segelschiffe, 2) 1919, karya Lyonel Feininger
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam.com
BAGIAN PERTAMA:
TERTANGKAP BASAH
SATU teriakan terdengar dari tengah sawah. Tapanuli Selatan seperti keadaan daerah lainnya di Sumatera, adalah penghidupan rakyat dari bertani untuk mendapatkan selfsupporting. Hubungan dengan daerah lain di tahun 1905 terlalu sukar. Tidak ada kenderaan bermesin, kenderaan yang dikenal ialah bendi yaitu kereta yang ditarik kuda, dan pedati, kenderaan yang ditarik oleh lembu atau kerbau. Penduduk Maga terkejut bukan kepalang. Orang-Orang yang berada dipekan tanpa berpikir panjang serentak menyerbu ke arah datangnya suara tadi. Teriakan masih terdengar. Sawah yang disiangi oleh seorang wanita tua dibantu oleh tiga anak dara, letaknya, satu kilometer dari selatan Maga, adalah sumbernya terikan-terikan tadi. Sutan Suaso memimpin penduduk yang menyerbu hendak memberikan pertolongan pada wanita-wanita yang mungkin dalam ancaman marabahaya. Ia seorang yang sudah berumur, lebih lima puluh tahun, seorang pendekar yang kebal, tidak mempan ditusuk oleh senjata tadiyam ia pun jadi guru silat di Maga, sambl merangkap jadi “dubalang” atau penguasa keamanan.—Kepung dari segenap penjuru, diperintahkan oleh Sutan Suaso, keroyok be-ramai-ramai dan gunakan bambu runting membinasakan jahanam itu. Penduduk berdiyumlah seratus orang melakukan pengepungan rapat. Padi di sawah sedang berperut, sebagian su- dah menguning, sebagian lagi masih menghijau. Usia padi baru lima bulan, sebulan dua lagi barulah panen.
Pengepungan tambah ketat, ketiga wanita yang berteriak selantang suara tadi sudah kelihatan berpegangan tangan, ditingan masing-masing memegang arit, menoleh kejurusan yang sama.
—Ada apa di sini? Mengapa kamu serentak ber-teriak? pertanyan itu dikeluarkan Sutan Suaso, mukanya merah padam.
—Ada pencuri mendatangi kami tadi, balas Rabiah, wanita tua yang jadi ibu dua dara, suaranya ter-engah?, dan begitu juga Tupin dan Ramondang, dua dara itu.
—Pencuri? Satu tamparsan dimutaku, kalau ada pen- curi yang berani melakukan kejahanat di Maga ini, di hari siang pulo! Suara Sutan Suaso serak karena gemas dan geram telah berkyecamuk didacaanya.
—Baga'mana rupa dan pengawakannya? ia bertanya sambil me-mintal-mintal kumisnya yang lebat dan melintang di atas bibirnya.
—Bertelanjang bulat, menerangkan Rubiah, bulu ro- manya begidik.
—Benar, menegaskan Tupin dan Rumondang, pencuri datang kehumu kami me-rangkak-rangkak daa se-akan-akan bertelan- jang bulat. Pencuri mengambil bungkusan nasi dengan lauk pauk kami. Bukan beg'tu saja, tetapi kain persa- linan kami turut dibawanya.........
Sutan Suaso tambah gusur, karena ia maklum bahwa pencuri nasi dan kain yang dipakai oleh wanita adalah susu pantangan besar di kalangan penduduk. Pasti pen- curi itu secara yang mengamalkan ilmu dun'ya, karena pakaiin anak dara dan wanita tua syarat mutlak untuk menyapai puncak ilmu ghair.
Pengepungan didiyalankan sampai lebih sejam. Hanya bekas telapak kaki orang yang kelihatan, bekas telapak kaki yang agak besar juga.
Rabiah dengan kedua anak perempuannya ditemani pulang ke kampung, sedang pada malam itu ketiga wanita tersebut hampir tidak bisa tertidur walau sepicing juga pun.
Urat saraf mereka terganggu. T.dur sebentar mengigau dan berteriak dengan suara negeri: Dubalang, ro me panang- ko-i, ulang ta dingkon hamu hami, ale baya! Hulubalang, pencuri itu datang lagi, jangan tinggalkan kami ini......
Sutan Suaso dengan penduduk Maga ber-jaga2lah malam itu.
Musuh yang memang sudah lama di'ntai, tapi, musuh itu amat licin dan cerdiik. Tidak muncul kalau sudah ada pengepungan, seolah ia tahu bahwa ada dipasang perangkap untuk menjebak dirinya.
—Tahun yang lampau, ujar dubalang sambil meminum kopi bercampur gula enau yang sedang hangat ber-uap-uap, pencuri ganas itu muncul. Tahun inyi barulah kali ini ia berani menampakkkan dirinya.
—Bagaimana menurut keterangan kak Rabiah tadi wa- jah dan pengawakan pencuri tadi siang? bertanya Ja Ulok, seorang yang sudah tua, sebaya dengan Sutan Suaso.
—Mukanya tak tampak melainkan tubuhnya saja. Ber- lugil, dan me-rangkak-rangkak di-celah-celah batang padi........... mene- rangkan Tlamat, salah seorang keluarga rapat Rabiah.
Sutan Suaso berdiam diri saja, matanya sebentar-sebentar meno- leh pada Ja Ulok, sedang keningnya berkerut. Pandangan- nyya tegang.
Ia merenung. Ja Ulok, Meskipun penduduk Maga juga tapi sering melakukan perjalanin ke Kota Nopan sampai ke Pakartan, karena ia kusir pedati.
—Ya, lupa seya berlanya, bila gerangan saudara kembali dari perjalanin? akhrinya pertanyan dimusayukan oleh Sr- tan Suaso, memandang agak tajam pada Ja Ulok.
—Sudah lima hari aku bereda di Maga ini, sabut Ja Ulok dengan suara acuh tak scuh.
—Dari mana?—Kah inu aku sampai ke Natal.—Natal? Amankah dijalanan?—Sampai tiga kali aku dirampok, semua isi; pedatiku seperti garam dan ikan-ikan asin hab's lindang dilarikan pe- rampok.
Perhatian hadirin beralih pada Ja Ulok. Mereka mende- sak supaya ia menguraikan pengalamannya ke Natal, yang letaknya di pinggir laut, suatu daerah yang jadi sumber garam dan ikan asin bagi penduduk Tapanuli Selatan.
Ja Ulok menguraikan pengalamannya, berangkat dari Maga menuyu Panyabungan, kemudian membawa barang dagangan yang akan dijual di Natal seperti beras, gula aren (enau). Diperyalanan ia diserang oleh kawanan perampok.
Dagangan yang penuh dalam pedatinya habis dirampok. Nyawanya syukur dapat diselamatkan berkat keahliannya bermain silat. Semua hadirin pertiya uraiann Ja Ulok itu, kecuali Sutan Suaso.
Matanya menoleh pada pembiyara, air mukanya muram, hatinya tak pertiya sedikit juga pun. Apa yang terpateri dalam kalbu Sutan Suaso terasa oleh Ja Ulok. Ia terus bercerita, bagaimana perkelahiannya lima lawan satu, berakhir kekalahan di pihak penyamun.
—Di mana engkau berlajar pencak dan silat? pertanyaan dikeluarkan oleh Sutan Suaso dengan nada menyindir.
—Belajar sendiri, balas Ja Ulok, acuh tak acuh juga.
Suasana agak tegang. Sutan Suaso merasa tersinggung perasaannya, ia sebagai dubalang, tak boleh mendengar ada pendekar yang lebih juara.
Sutan Suaso berdiri dan melangkah ke arah gelap di samping rumah. Ia memberi isyarat pada beberapa orang hadirin yang jadi muridnyya untuk mengikutkan dia.
Di balik serum pun pohon pisang, Sutan Suaso menyatakan pada muridnyya itu supaya sebelum bubaran mengikuti langkah Ja Ulok, untuk mengetahui ke mana ia pulang.
Tak ada orang yang tahu di mana rumahnya.
Baikna, ia tak pernah memikirkan mendirikan pondok, huma, Ataupun sekadar emperaan, hidupnya sebagai burung, di mana hingga d'istitu tidur, di-ranting-ranting rayu.
Selesai memberikan tugas, mereka duduk kembali di atas tikar dibalaman rumah, menggulung rokok nipah sebesar induk jari kaki. Asap mengepul, dan sembari mengepulkan asap, hidangan berupa ubi rebus dikunyah, kopi dicangkir dihirup. Air kopi telah dicampur dengan ramuan oleh Ja.
Ulok ketika mereka berunding tadi.
Setengah jam kemudian Sutan Suaso terteleng ke kiri ke kanan. Muridnyya termasuk Tiamat juga dipengaruhi oleh kantuk. Tidak dapat dilawan oleh mereka, semakin dicoba melawanya dengan meminum kopi, semakin terpejam ju ga mata masing-masing.
—Kamu rasai sekarang! seru Ja Ulok sambil meludah Sutan Suaso tepat dihindung dan bibinya, kamu anggap aku ini orang yang tak ada artinya, sampah masyarakat saja, he?
Ja Ulok melangkah memasuki kegelapan malam. Kemudian ia meloncat tinggi ke atas, dan dengan meloncat setinggi pohon pisang, dengan sepuluh kali lompatan saja, sampallah ia ke Danau.
Sumber dari satu marga yang banyak bertebaran di seluruh Tapanuli Selatan ialah kerayaan Danau. Tiga ratus tahun yang lampau, seorang datu atau panglima merantau ke Danau, melarikan diri dari Bangkahulu.
Datu Poltak membawa isteri dan anak2nya merantau ke Tapanuli Selatan, disertai oleh pengikut2nya lima puluh orang. Karena Datu Poltak seorang yang sekti, dan pernah menyadi “raja”, dipilih olehnya suatu tempat, yang diransanya aman dan makmur di Maga.
Kerayaan Danau dalam masa sepuluh tahun telah jadi satu kota yang ramai, be-ratus-ratus rumah berdiri, karena penduduk dari sana sini berdatanganlah untuk meminta perlindungan dan mohon mengecap kemakmuran yang bersemi di Danau.
Datu Poltak mempuniya sahabat harimau, astananya dikawal oleh sang harimau, ber-ganti'an siang dan malam oleh dua regu harimau. Selama Datu Poltak memerintah, harimau tak pernah mengganggu penduduk Danau, dan penduduk Danau itu pun menyugukan ayapan pada sang harimau.
Antara manusia dengan harimau teryadi persahabatan erat. Penduduk Danau akhirnya menyadikan nama suku (marga) mereka “babiat” (harimau) dan bersumpah tidak akan membunuh harimau. Pihak harimau juga bersumpah tidak akan menyadikan suku babiat menyadi mangsanya.
Sumpah dipegang erat oleh kedua belah pihak, dengan masng-masng memberi tahuukan kalau bertemu di rimba raya, menyerukun “code” yang telah disejudi.
Datu Poltak wafat, teryadilah peristiwa yang lazim di mana-di mana. Perebutan kekuasaan oleh putera2nya.................... sampai melanggar sumpah.
Ja Mombang putera yang tua tetapi dari isteri muda, menyatakan dirinya ahli waris yang berhak menggantikan ayahandanya memaliki tahta.
Sutan Mangkuto, anak yang pertengahen, dari isteri pertama menyangkal, karena Meskipun ia anak yang tengah, Silitonga, akibat kakandanya meninggal ketika masih kanak-kanak, hak mewarisi tahta adalah digenggamnya.
Ja Mombang memanggil semua pengikutnya, tapi, sebagian memilih pada Sutan Mangkuto. Pasukan harimau ju ga berpecah. Sebagian memilih Ja Mombang dan sebagian memilih Sutan Mangkuto.
Terjadilah peperangan. Rumah-Rumah rakyat turut hancur lebur, terbakar dan roboh karena pertempuran berlangsung ditahan, di rumah sampai di atas air. Di tengah-tengah kerayaan itu terdapat sebuah danau, luasnya seribu meter persegi, sumber kemakmuran kerayaan.
Pertempuran beryalan ber-minggu-minggu dan ber-bulan-bulan tanpa ada penyelasan, kedua pihak yang berselisih itu masing-masing memiliki kesaktian yang diturunkan oleh orangtua mereka.
Bidasar, permaisuri tua, ibu Sutan Mangkuto memanggil Ja Mombang untuk bermusyawarah, mentari jalan tengah, modus vivendi, agar terdapat perdamaian dan penyelesaan yang memuaskan kedua belai pihak.
Ja Mombang normat pada permaisuri.
Ia patuh putusan apa yang akan diberitakan kalau sudah nyata itulah jalan keluar untuk mengatasi kategangan yang ber-larut-larut dan memnta korban ratusan diywa rakyat.
Bidasar memanggil pula Sutan Mangkuto, putera kandunganya sendiri.
—Aku telah mendapat ilham memecahkan kesulitan yang sama kita alami ini, wahai puteraku yang kukasihi, memulai
Bidasar,—sudikah engkau mematuhi putusan yang lebih dulu telah disetuji saudaramu, Ja Mombang?
—Lebih dulu beta hendak mendengar bunyi putusan bunda itu, balas Sutan Mangkuto, kalau keputusan itu merugikan bagiku, entahlah.............
Bidasar membujuk rayu puteranya, agar supaya menyeraikan pimpinan kerayaan pada Ja Mombang, karena wasiat ayahanya berbunyi begitu.............
—Tidak, sekali kali beta tak mau terima syarat perdamalan seperti itu. Beta anak gahara, anak bunda yang berdarah ningrat, walau setengah hari selelli pun, beta tak mau mengizinkan Ja Mombang menaiki tahta.
Pujuk rayu ibunya terus menerus dilantarkan.
Ja Mombang hanya setahun memegang pemerintahan, sesudah itu kerayaan akan diserahkan pada Sutan Mangkuto. Karena wasiat ayahandanya, Sutan Mangkuto baru boleh memaiki tahta kerayaan bila telah beristeri. Dan isterinya itu haruslah seorang puteri yang gahara.
Sutan Mangkuto membantah. Bundanya memborikan nasehat-nasehat yang baik.
—Rupanya bunda memihak pada Ja Mombang biadab itu, suaranya gusar dan perangsangnya naik. Sutan Mangkuto berdiri, tarik rambut ibunya dan menyeretnya keluar astana.
Ja Mombang mendengar perbuatan saudarayya itu tak dapat menahan amarahnyia, segera datang menerkam. Bertubi-Bertubi tikaman dengan tombak dihumbalangkan ketubuh Mangkuto. Sambil ketawa Mangkuto mengapus luka dari tikaman itu, tidak setitik darahnya mengalir.
Ja Mombang dapat giliran untuk ditewaskan. Mangkuto lonyat keleher Ja Mombang, coba memulas leher lawannya supaya patah terkulai tapi dicegah oleh Bidasar.
—Lagi1 ibu yang menunjukkan minat memihak pada biadab itu, berseru Mangkuto.
Kemarahannya tak kenal am pun. Ibunya d'seret dan dibawa ke arah danau. Tangan dan kaki ibunya diklat........... dimatikkan ke atas rakit.
Ia kayuh rakit ke-tengah-tengah danau.—Kini, ibu akan kutenggclamkan kecasar danau ini. Ciatiku dapat rintangan, bukan dari orang lain, tetapi dari ibu yang melahirkan aku sendiri. Aku tak boleh dihalangi, tekadku sudah putus........ walau ibu kandungku sendiri akan kutewaskan kalau tidak memihak padaku.—Anak, ingatlah ayahmu, bukankah ayahmu melerang engkau berkata kasar kepada inang pengasuhmu? Bukankah ber-ulang-ulang telah diberinyai engkau nasehat, bahkan pernah dipukuli dan dimasukkan dalam penjara karena bersikap kurang ajar........—Diam. Aku tidak mau dengar sepatah kata pun memburukkan diriku. Sekarang ibu aku tenggelamkan, sampalkanlah pada ayah dinirwana bahwa puteranya ingin hidup mewah seribu tahun........—Mangkuto, ingatlah kedurhakaanmu tidak ada bandingnya........—Ibu, terimalah pencabut nyawa ini. Keris diacukhkan keleher Bidasari.—Sebelum keris kau tancapkan keleherku, berilah aku kesempatan memohon kepada Dewata yang mendengar dan mengadili.—Aku beri ibu tempo sejurus saja. Bermohonlah untuk terakhir.—Oh Dewata Mulya Raya, sudah nasib peruntunganku seperti ini. Anak yang kususui dari sejak lahir, anak yang kutimang dengan kemesraan, anak itu setelah besar, melakukan kedurhakaan. Hamba minta Yeadilan. Demi susu yang memercik dari dadaku ini, jadikanlah danau ini jadi kering tak berair, musnahlah kerajaan Danau yang begitu makmur, kini dijadikan perebutan dan akan jadi sarang kekediyian.—Terlalu, ibu melampau batas kesabaranku! Keris dihunjamkan keleher Bidasari. Darah memercik, permaisuri yang malang itu rebah. Maitnya dilemparkan ke dalam air. Seperti carbid dibuang ke air, mengepulziah asap dari danau.
Sutan Mangkuto melemparkan mait Bidasari ...
Kepulan asap itu tambah me-luapi sampai merupakan gunung berapi yang hendak meletus.
Sutan Mangkuto bergegas mengayuh rakit ke arah tepi. Air danau bergelojik. Api menyala-menyala dan air tawar se-akan-akan berubah menyadi minyak tanah, membakar danau itu. Rakit disambar oleh api, Sutan Mangkuto terbakar di atas rakit. Api menyala terus dan air danau itu kian lama kian susut.
Disaksikan oleh semua penduduk kerajaan dengan air mata bercucuryan, diiringi ratap sedu, air danau akhirnya kering. Di-tengah-tengah danau terlihat dua lobang berdekatan. Lobang pertama mengisap mait permalsuri Bidasari.
Lobang kedua mengisap tubuh Mangkuto, bersusah payah mait anak durhaka itu masuk ke dalam lobang. Mulaanya kepalanya lebih dulu hendak memasuki lobang, akan tetapi kemudian disemburkan ke atas kembali. Tubuhnya ber-putar-putar dilobang itu, ketika matahari telah tenggelam barulah kakinya diisap oleh air dan diseret ke dalam.
Kepalanya tetap tersembul.
—Tolong aku, tolong aku, rakyatku tolonglah aku! Namun tak seorang berani terjun ke dalam danau yang sudah kering, yadi rawa-rawa penuh lumpur.
Ja Ulok meloncat setinggi pohon pisang, akhirnya tiba dibekas kerajaan Danau itu.
Penduduk Maga masih ingat sebagai suatu dongeng yang dituturkan turun menurun, riwayat hebat kerajaan Danau itu. Namun, ingatan itu bercampur baur dengan rasa negeri, ketakhyulan yang tebal.
Tidak pernah seorang diyuga pun penduduk Maga berani menghampiri bekas kerajaan yang dianggap angker, penuh dengan jin dan jembalang.
Fajar kazib membayang. Ja Ulok t'ba dibekas danau yang kering, dan mulailah ia me-rangkak-rangkak menuyu lobang yang terdapat di-tengah-tengah bekas danau tadi.
—Debata, ia berseru, sepuluh jari disusun diletakkan di atas kepala, hamba telah dapat mencari pakaian wanita lengkap dengan katok dan kutangnya. Debata telah meni-tahkan mencuri pakaian itu untuk syarat mencapai ilmu tersahir. Terimalah debataku, perkenankanlah permohonan hamba yang daif ini!
Dari lobang yang terdapat dibekas danau itu tersembul kepala Sutan Mangkuto, sungguh mengerikan dan mendirikan buluroma Ja Ulok sendiri yang sering melihatnya.
—Kepatuhanmu sudah lama aku setuji, Ja Ulok, kemauamu nyata sungguh-sungguh untuk mencapai ilmu yang telah hilang dibawa ke dalam kurbur oleh ayahandaku, dan aku sendiri pun terpaksa meninggalkan dunia, tanpa sempat menurunkan ilmu itu! Pakaian-Pakaian yang engkau curi itu rendam dalam lumpur lima warna, yatu lumpur tanah da-nau ini, lumpur bercampur darah hewan, lumpur bercampur darah manusia, lumpur bercampur bangkai singala, lumpur bercampur bangkai ular.
Setelah yuduh hari direndam dalam lumpur, pakaian itu engkau rebus dengan air kencingmu dicampur dengan air kencing moyang kita!
Ja Ulok mendengarkan se-seksmanya petunjuk Sutan Mangkuto, yang hidup setelah ditelan lumpur karena d'sumpah ibunya, h'dup hanya di waktu malam sudah amat larut. Ja Ulok menyusun sembah, kemudian bermohon diri.
Tujuannya ke arah sebuah gua diutara Danau, sekitar gua itu ditumbubi oleh pipipig dan buluh cina. Gua itu menembus ke sebuah bukit atau tanah tinggi sekira tiga meter.
Di dalam gua gelap gemerlap, Ja Ulok menyurukkan ba-dannya ke dalam sambil mengeluarkan suara kecil meniru suara harimau. Terdengarlah suara balasan, suara seorang kanak-kanak yang baru berusia dua tahun.
Kanak-Kanak itu seorang laki-laki, merebahkan dirinya kehariban Ja Ulok.
—Ada bawa makanan, ayah?—Pisang bakar dan ubi rebus ada aku bawa. Makanan yang diambil oleh Ja Ulok dari perjamuan rumah Rabiah tadi, dikeluarkan dari gulungan kainnya. Kanak-kan itu menerima pisang dan ubi, dengan lahap dimakan sampai habis, kemudian tertidur kembali dipangkuan ayah-nya.
Kasih sayang Ja Ulok pada anaknya itu tidak beda dengan orangtua lain, tambahan pula, anaknya itu telah kehilangan ibunya. Ketika melahirkan, ibu anak itu menemui adayinya, dalam perjalanan kan kemari di atas kereta pedati. Pedati itulah rumah mereka, tempat kediaman yang tetap tidak ada, meninggal isterinya itu di atas pedati dan teryadi kemalangan itu di tengah perjalanan dilingkungan rimba lebat!
Bayi selamat, isterinya dikuburkan oleh Ja Ulok ditehngah rimba, tidak seorang juga pun memberi bantuan menggali Kubur. Bayi dilindungi Tuhan, besar dalam asuhan Ja Ulok yang memberinya minum susu lembu sampai berusia 6 bulan.
Bayi itu kemudian diserahkankannya pada seorang wanita tua di Pagur, satu desa pegunungan, karena wanita itu masih termasuk keluarganya.
—Kalau anakku ini sudah pandai berjalan serahkan kembali padaku, demikian perjanjian Ja Ulok dengan nenek itu. Sekembalinya dari perjalanan ke Natal, ia singgah di Pagur, berpuluhan kilometer dari Panyabungan, me-
Anak itu tersia-sia. Nenek itu sudah meninggal lima bulan yang lampau. Anak itu tersia-sia.
Tidak seorang juga pun penduduk sudi memelihara anak itu, kalau didatanginya rumah penduduk ia diusir ciara kasar, dan bila ada yang menaruh belas kasihan, nasi dibungkus dalam daun, dilemparkan ke tanah, dipungut anak yang telah kelaparan sampai menggeletar seluruh tubuhnya itu.
Ja Ulok menatap wajah anaknya, rasa hiba menggelabut dirongga hatinya. Wajah anak itu mirip dengan mendiang ibunya........ seorang wanita yang tampam wa-jahnya, sayang seribu kali sayang, dapat ciap “halak bagas na godang”.
Istilah itu dikenal seluruh Tapanuli Selatan. Sisa dari zaman feodal purbakala, apakala teryadi peperangan antara satu kampung dengan kampung yang lain, menanglah salah satu kampung, penduduk kampung yang dikalahkan itu dijadikan “hatoban”. Hatoban artinya budak, atau hamba. Biasaan manusia yang malang itu disuruh kerja paksa untuk keperluan kepala kampung atau kuria, bekerja di-sawah, menyadi gembala ternak, dan melaksanakan kerja yang kelowat berat. Ja Ulok menemui seorang dara melarikan diri dari desa, berpakaian compang camping. Ia tolong dan selamatkan dara itu, seorang budak “bagas na godang” yang hendak diperkosa oleh beberapa orang. Ja Ulok membawa lari dara, hidup sebagai suami-isteri, dan akhirnya lahirlah bayi yang amat malang nasibnya. Ke-nangannya melayang ke-tahun3 yang penuh bahagia, hidup ber-kasih2an dengan isterinya Meskipun hanya lamanya setahun setengah. Tak pernah ada orang tahu bahwa ia telah beristeri. Peristiwa itu dirahsiakannya, akibat takut kelak dijatuhi hukuman berat karena membawa lari dan membela dara yang masih jadi budak kuria. Dengan sembunyi-sembunyi anaknya dibawa ke Maga, diberi tem-pat dalam gula dan bersusah payah ia mencarikan makanan supaya anaknya lekas gemuk dan kuat. Citaya2nya setinggi angkasa. Ia ingin menyadi seorang dubalang, mengalahkan Sultan Suaso, atau jika mungkin menggantikan kedudukan du-balang Maga itu. Tampak olehnya jalan terbuka hanya mengamalkan il-mu harimau, dan gurunya yang sanggup memurnukan pa-danya ilmu yang hilang, ilmu kesaktian dan cca men-cca ialah Sultan Mangkuto. Dari orang-orang tua pernah didengarnya ketika ia masih ber-usia sepuluh tahun bahwa Sultan Mangkuto telah ditelan bumi tapi masih hidup dikala malam telah larut, lewat dinihar.
Rumahganan Ja Ulok berakhir dengan datangnya kantuk. Ayah dan anak sama-sama tertidur, kokok ayam ber-sambutan tidak terdengar olehnya lantaran kekurangan tidur sejak bebesapa malam yang lampau.
Sementara itu di kampung Maga teryadi kehebohan luar-basa.
Dubalang Sultan Suaso tersentak dari tidurnya yang dipaksakan. Ia tertidur, namun, pancaindranya masih sadar. Ia tadi dapat melihat Ja Ulok meloncat setinggi pohon pisang, ketika di coba olehnya hendak bangkit, kakti dan tubuhnya se-akan-akan ditekan oleh besi seberat lima ratus kilogram.
Ber-jam-jam lamanya ia berkelahi dengan ramuan yang memasaka dia tidur, tercampur dalam kopi, dimasukkan oleh Ja Ulok dengan sembunyi berahasia sekali.
Tupin turun dari rumah ketika ayam jago di kandang dilolong rumah riuh rendah berkokedok, membanguangkan semua orang yang tidur.
Amat heran hatinya melihat dubalang t'dur tersungkur. Tupin menyoba membangunkan dubalang dan lain-lain orang yang tertidur se-akan-akan bayi itu, di-panggil-panggil namanya, tidak seorang pun tersadar.
Lalu d'ambilnya air dingin disiramkan ke muka mereka, perbuatan itu dilaksanakannya, karena ia menaruh sakwa sangka mungkin mereka itu telah kena pukau atau sihir.
Dubalang meloncat, ia membuka silat.—Mana Ja Ulok bedebah itu!
Itulah perkataan yang mulaz diucapkannya. Tiamat ju-ga telah terbangun, semua mereka berjumlah sembilan orang mengapusi mata.
Dubalang akhirnya insaf bahwa Ja Ulok tidak berada lagi di-tengah-tengah mereka. Ia ingat keadaan dirinya antara sadar dengan tertidur dapat menyaksikan Ja Ulok meloncat setinggi pohon pisang, melarikan diri entah ke mana.—Ja Ulok musuh kita yang memberi kita minum daun barangan tadi malam sampai tertidur dengan paksa. Mulai hari ini kita harus perhatikan langkahnya, kata Sultan Suaso.
—Apakah kita harus menangkap dirinya? tanya Tiamat.—Biarkan dia bergaul dengan kita untuk sementara waktu. Tapi, kita harus terus menerus waspada. Semua gerak geriknya harus kita ikuti dengan kecur'gaan dan sedapat mungkin kita awasi seteliti2ya.
Ja Ulok tidak muncul selama tiga hari. Setiap hari bau jalang dan memburu ular. Ramuan seperti yang dite-kerja di tengah sawah. Turut hilang ayam dan padi yang sudah masak.
Ja Ulok sendiri beberapa hari ber-ulang-ulang berburu ke-dalam hutan.
Ia mencari srigala untuk diambil darahnya. Berburu ker-bau jalang dan memburu ular. Ramuan seperti yang dite-gaskan oleh mahaguru dengan patuh diusahakannya.
Tujuh hari berjalan.
Ramuan bermafiham dahar sudah dapat dikumpulkan. Hanya dahar manusia yang belum. Ja Ulok lama mundur maju untuk mendapat dahar manusia karena kalau seorang manusia, walau kanak-kanak sekali2 pun dibunuh, pasti akan ter-jadi kegemparan.
Tapi, walau apa pun yang akan teryadi, manusia harus dikorbankan. Ia ambil putusan terakhir. Tiamat saudara Rabiah dintai siang dan malam............
Rabiah mendapat frasat halus.
Frasat itu dikuatkan oleh mimpi, dalam mimpi ia lihat Tiamat saudara sepupuna diburu oleh harimau yang hendak mengoyak dadanya.
Mimpi itu diceritakan pada dubalang. Dubalang mendengar uralan Rubiah, kemudian, ia ambil air sembahyang. Ia salat sunnat dan pada malam yang larut ia tegak memuja Allah. Ketika t'dur datanglah ilham, ia diberi tahu bahwa Tiamat diancam bahaya akan dijadikan korban oleh Ja Ulok.
Pagi-Pagi benar ia kumpulkan penduduk Maga. Dubalang memerintahkan supaya dilaksanakan penja-gaan yang lebih erat.
Ja Ulok pasti akan melaksanakan maksud kejinya,
Tiamat yang jadi sasaran. Tiamat dijadikan “umpan”, disuruh pergi ke tengah sawah.
Kalau datang Ja Ulok, ia harus menyerahkan diri. Ke mana ia dibawa akan dilukti oleh teman-teman yang lain, dan akan dikepung.
Muslihat itu dilaksanakan dan teryadidilah apa yang mes tingin teryadi. Ketika asyik menyabat di tengah sawah, Ja Ulok me.rangkak-rangkak menerkam Tiamat dari belakang.
—Biarkan saja dulu, ujar dubalang yang turut menyaksikan penerkaman atas diri Tiamat, karena Tiamat sudah aku ajarkan doa-doa untuk menjaga diri dari kebi nasaan.
—Bagaimana kalau ia ditikam oleh Ja Ulok? tanya Upar.
—Tiamat sudah kujadikan kebal, balas dubalang.
Jejak Ja Ulok diikuti terus. Pengepungan rapat dilaksanakan.
Ja Ulok sendiri tidak menyangka dirinya terkurung, akibat terlalu gembira mendapat manusia yang akan diambil darahnya.
Tiamat diseret ke dekat gua. Kaki dan seluruh tubuhnya diikat dengan akar kayu, kemudian, Ja Ulok meng-aduk-aduk campuran darah dan lumpur damau.
Pakaian wanita-wanita yang dicurinya tengah sawah sudah beberapa hari direndam dalam campuran lumpur dan darah itu, syarat torakhir darah manusia barulah sekarang diperoleh.
Siang ber.angsur-angsur lenyap digantikan oleh petang dan akhirnya matalhari tenggelam sama sekali, malam menaiki kerajaannya. Bulan lekas memancar karena sudah tanggal dua belas. Malam bermandikan cahaya.
Tiamat digendong ke-tengah-tengah damau.
Dua puluh penduduk Maga diketuai oleh dubalang meng intai perbuatam Ja Ulok dengan waspada, Meskipun dari tempat yang agak jauh tapi mereka bersenjatakan tombak, pedang, kampak, belung dan juga panah dengan busur berbila.
Ja Ulok berbugil. Dibahunya disandang belanga besar berist campuran darah, Tiamat sendiri diseret dengan ta ngan kanan dan diletakkan di dekat lobang.
Sementara menunggu dinihari, Ja Ulok mengaduk terus menerus campuran darah sambil mulut komat kamit membacakan mantera.
Natsunya hendak mengecap darah itu semakin berkobar.
—Tiamat, sebelumnya darahmu aku cucurkan, engkau akan melihat diriku ber-angsur-angsur berobah jadi................
Ucapannya tak diikhiri, ia ambil ramuan yang di-aduk-aduk itu dengan telapak tangan disuapkan ke mulut. Lidahnya diju lurkan menjilat bibir yang dilengketi campuran darah dan lumpur.
Sutan Suaso maju setindak kesetindak. Perbuatannya itu diikuti oleh yang lain. Mereka sudah siap untuk menyerbu apabila telah ada komando.
Bulan tambah naik ke tengah langit. Sinarnya pun bertambah gemilang, warna perak menghias alam. Malam yang demikian indah pasti akan terharu pabila maksud Ja Ulok tercapai.
Ja Ulok mengulangi meminum ramuan tadi. Sutan Suaso yang berdiri sambil memegang keris jarak lima meter, membalaalakkan matanya demi mclihit teryadi perobahan atas diri Ja Ulok.
Mulai dari kakinya. Telapak kakinya menyadi bulat dan berbulu belang-belang. Kakinya merupakan kaki harimau..... dan ketika diamatinya punggung Ja Ulok, tegas tampak menyembul dari pantatnya ekor berbelang seperti harimau.
—Ha, ha, ha, sekangar tiba giliranmu..........
Ja Ulok mengayukan belung ke arah dada Tiamat, secepat kilat Sutan Suaso menerkam, tangan Ja Ulok yang memegang senjata itu, dipulaskan.
Rasa terkejut Ja Ulok berobah jadi kegusaran memuncak setelah mengetahui dirinya dintai dan dikepung. Ia keluarkan suara mengancam mereka yang merintangi perbuatannya itu. Terdengar keluar dari kerongkongannya suara menggerung seperti harimau.
Tiada kentara apa yang hendak dinyatakanya, aum, aum, aum.
Hanya begitu yang terdengar, dan sebagian dari muka- nyaya se-konyong-konyong telah berubah pula jadi wajah harimau. Ja Ulok menerkam dubalang, maksudaya mencekam kepala Sutan Suaso. Dubalang merebahkan dirinya, menyuruk di bawah perut harimau. Dubalang menangkap ekor harimau, ditarik sekuat tenaganya. Meraung kesaktian sang harimau berguling sambil ta- ngan kanannya menggapat tangan dubalang. Dubalang me- lonca‘ ke atas tengkuk Ja Ulok, leher dipliting sambil be- lakang harimau d'tunggang. Bergumpil. Pergelutan itu teryadi lima menit lamanya.... harimau menghempaskan dirinya, dubalang tidak melepas- kan cekikan memautkan pada Ja Ulok. Pengikut-Pengikut dubalang mengepung rapat. Tombak dan be- hing diacukan kemukanya, kakinya ditetak dengan ga- gang tombak Tenaganya berkurang, lehernya masih terce- klik, akhirnya harimau menjururkan badannya d'anah. Suaranya meraung dan perbuatannya menjururkan tubuh- nyia itu, diartika menyerah diri atau bertekuk lutut. Ja Ulok tertangkap basah, dalam keadaan bertelanjang bulat. Ia mer-raung-raung, suaranya mengandung penuh kesedihan. A't matanya berlinang. Ia coba menerangkan bahwa dalam gua itu ada scorang kanak-kanak, anak kandunganya sendiri tetapi........ tidak scorang- pun mengerti. Selama pertarungan itu, kanak-kanak itu menginta; dari lobang gua. Ia saksikan orangtuanya dikeroyok oleh orang banyaknya. Ia tak mengerti mengapa orangtuanya se-konyong-konyong berubah jadi macan. In salahkan pengeroyok itu menjadikan ayahnya berobah jen's.—Bawa Ja Ulok ke rumah kuria, perintah Sutan Suaso.
Ja Ulok tertaangkap basah, dan diarak menuju kampung Maga.
—Tapi............ ia dalam keadaan bertelanjang bulat, dubalang.—Hampir aku lupa. Carilah kain untuk menutup kemaluannya. Kain dicari tapi tidak seorang penduduk sudi memberikan, karena kebencian mereka pada Ja Ulok. Hanya sehela karung beras yang dapat diambil, karung beras itu dipakai kan pada Ja Ulok. Pertempuran didanau berjalan selama beberapa jam. Rini subuh telah menjelma. Ja Ulok yang berobah sebagai harimau, manusia yang berekor dan bermuka harimau diaraklah menuyu kampung Maga. Tiap-Tiap penduduk keluar rumah menyaksikan pemandangan luarbiasa itu. Sepanjang jalan harimau menangis, me-raung-raung dan mengeluarkan air mata. Ia ingin meminta agar anaknya yang bersembunyi digua itu diselamatkan, dipelihara sampai dewasa........ Tidak seorang pun mengerti. Harimau dibawa ke rumah kuria. Dibuat kurungan khusus untuknya, dijaga siang malam oleh beberapa pendekar. Bertahun-Bertahun lampau, harimau akhirnya matilah. Ia tidak ingin makan, tidak ingin tidur, melainkan meraung kesedihan. Anak yang sangat dikashihinya, anak satu2nya, itulah yang menyadi kenangan menyadikan rindunya tak terobati.
BAGIAN KEDUA:
MASA YANG SILAM
Air Bangis adalah perkampungan kaum nelayan, sesuai dengan namaanyai air laut amat “bengis” apabila tiba musim topan. Prahu-Prahu nelayan mengarugi lautan yang besar gelombangnya, menyabung jiwa melaw.n bahaya mengancam, oleh karena desakan ekonomi, atau dengan lain perkataan: mencari sesuap nasi untuk sekeluarga. Dari pekerjaan nelayan penduduk memberanikan diri menyeludupkan kopra dan cengkeh, hasil daerah itu, keluar negeri. Tidak jarang tongkang-tongkang besar dari Air Bangis berlalubh di pelabuhan Bangkok, dan pernah teryadi sampai juga ke Ilo-Ilo di Filipina dan Macao, jadahan Portugis di dekat Hongkong. Porkas mendayung tongkang bersama enam orang lagi pemuda-pemuda, sedang kemudi dipegang oleh Pawang Mamat. Sudah tuyuh hari tuyuh malam tongkang terombang ambing di tengah lautan, menempuh samudera luas, hampir tidak ada redanya topan berkecamuk selama siang hari. Hanya pada malam hari selama tiga empat jam teryadi ketenangan di tengah samudera luas, saat yang baik ituul mereka pergunkan untuk melepaskan lelah, tidur bergiliran. Porkas seorang pemuda berusia baru 19 tahun, tubuhnya lampai dan kulitnya agak kekuningan. Kegempalan tubuhnya, otot2nya yang ibarat kawat dan tulang besi, menimbulkan kekaguman di kalangan sesama pemuda di kampung halamannya. Pawang Mamat melirikkan matanya ke arah Porkas, tak pernah pemuda itu berhenti mendayung, tak pernah merasa lelah dan berhenti sejenak memperbaharu nafas.—Tiga jam lagi, ujar Pawang Mamat dengan suara lantang supaya terdengar pada semua awak tongkang, tiba-lah kita di Air Bangis. Walai angin utara berhembuslah mika, berhembuslah tuan, laduyukan tongkang kami ke arah tepi. Kur semangat, kur semangat, berkat Lailallahallah! Ucapan terakhir itu diulangi2nya dengan suara berlagu, sebagaimana kebiasaan tiap-tiap nakhoda tongkang, yang lebih banyak mengetahui arahnya angin menghembus daripada nakhoda kapal api atau steamship. Multunya terus komat kamit. Pawang Mamat membaca mantera ber-urang-urang, karena melihat hampasan ombak ke-pantai setinggi sampai lima meter memberi alamat bahwa di pelabuhan Air Bangis gelombang sedang menghebat se-dahsya2nya. Sebulan yang lalu Pawang Mamat mengemudikan tongkang dengan selamat menuyu Pulau Pinang membawa damar, rotan, cengkeh, pala, kopra dan telur ikan terubuk.
Sekarang, tongkang penuh ruah dengan bahan-bahan mahal hargasana, pakalan-pakalan sutera, benang-benang emas, ber-pet-pet susu dan sigaret.
Ia dikenal baik oleh pedagang-pedagang di Penang, karena selama batanya tiga bulan sekali pasti tongkangnya tiba mengangkut hasil hutan yang sangat dibutuhkan di Malaya untuk diekspor keluar negeri dengan harga membubung tinggi.
Usianya belum lebih daripada 43 tahun, namun pengalamannya se-akar ia sudah berumur enam puluh tahun, karena sejak usia 7 tahun ia telah turut mengarungi samudera luas dibawa oleh orangtuanya.
Segala ilmu perlayaran dengan tongkang dan perahu layar direhatuhnya dengan sempurna dan lengkap, perobahan iklim, mendung yang membawa huyan lebat atau sekadar ancaman sekilas saja, angin buritan dan barat. Ter-lebih Pawang Mamat hafal segala macam mantera, syarat mutlak diketahui oleh pelaut-pelaut yang mengarungi lautan hanya dengan tongkang seberat 16 ton. Ilmu bintang dan pedoman menentukan arah tak pernah mengelirukan, sebab itu arah tongkang tak pernah menyimpang kecual kalau dikelicik-kan oleh hembusan angin barat.
Pawang Mamat menaruhkan teropong kematanya. Ia mau mengetahui apakah di pantai ada menunggu Veldpolisi Be. landa yang kejam, karena b'asanya pantai didiyaga oleh Polisi Bersenjata yang didatangkan dari Kayu Laut (Tano Bato).
Tongkang tambah mara, tambah dekat ke tepi pantai Air Bangis.
Sebuah perahu kolek didayung oleh seorang nelayan terombang ambing dalam usahanya melawan arus besar yang bergelora di dekat pantai.
Sebentar lenyap sebentar timbul, keadaan perahu kolek itu persis seperti sabut dimainkan gelombang, dikuti oleh Pawang Mamat dengan teropongnya.
—Raup rupanya itu, berkata Mamat memberi tahukan pada anak buahnya sembari menunduk ke dekat pantai, pasti ada apa-apa yang kurang baik hendak disampaikan pada kita, Ayoh, berkayuh lebih laju!
Perahu kolek disongsong, jarak 25 meter, pelampung yang dikat dengan tali dilemparkan ke arah Raup. Setelah tali pelampung terpegang, la pun diseret ke atas tongkang.
—Pawang, menerangkan Raup setelah naik distas tongkang dengan nafas ter-engah-engah, di pantai telah menunggu lima orang Polsi Bersenjata.
—Seperti yang lebih dulu kuduga, balas Pawang suara-nya geram, apakah mereka sengaja menunggu kedatangan kami?
—Kelihatannya memang begitulah, balas Raup, dari pertanyan-pertanyan yang mereka majukan kepada kami, semuanya mengarah pada diri Pawang!
Pawang Mamat mengapus-mengapus matanya.
—Baik. Biarlah aku menaiki perahu kolekmu itu, kau sendiri bersama dengan awakku ditongkang ini. Tunggu sampai hari malam setelah ada isyarat dari aku baru kamu mendayung ke pantai!
Pawang Mamat terjun ke air. Dengan pelampung ia berenang ke arah perahu kolek yang terombang ambing dipermainkan gelombang. Di atas perahu kolek dimuatkan lima ekor ikan badukang besar, ikan-ikan itu dapat dikail mereka ketika mengarungi lautan.
Perahu kolek dikayuh menuyu pantai, Air Bangis tidak mempunyai pelabuhan dalam arti “tempat berlabuh kapal-kapal”, melainkan satu pantai yang mempunyai batu-batu karang tempat menambahkan perahu-perahu.
Begitu ya mengayuh kolek ke arah pantai, redalah ombak mengamuk.
Kedatangannya disambut oleh nelayan-nelayan yang ramai di pantai, sedang kelima Polsi Bersenjata tidak ketinggalan, karena tugas mereka hendak menyelidiki dary manakah Pawang Mamat yang tak kelihatan sudah sebulan lamanya.
—Apa hasil selama beberapa hari ini! tanya seorang nelayan.
—Tidak banyak haaya Ema ekor badukang, balas Pawang Mamat setelah naik ke darat.
—Cuma ikan badukang? dalam keheranan dan agak ku- rang percaya salah seorang Veldpolitie bertanya, di mana yang lain?—Aku tak mengerti siapa yang lain-lain kamu maksudkan? pura-pura bodoh Pawang Mamat menyahut.—Kami dapat keterangan dari penduduk, menegaskan Polisi, kamu berangkat bersama dengan enam orang pemuda dari Air Bangis ini. Di mana mereka sekarang?—Apakah ada tuduhan melakukan perbuatan melanggar undang-undang atas diriku?—Tidak, sebelumnya dapat dibuktikan,—Sekarang aku sudah berada di sini. Bukti apakah yang didapati bahwa aku melakukan sesuatu kecurangan Ataupun kejahanat? Polisi tak dapat menyawab. Seorang memandang pada yang lain, sedang Pawang Mamat berdiri di.tengah-tengah mereka berkacak pinggang. Sekejap antara sebentar keris yang tersisip di pinggang di-geser2nya. Polisi kenal baik Pawang Mamat, kenal keberanian dan kekebalannya. Di seluruh Natal sampai ke Mandailing Besar dan Kecil bahkan sampai ke Pariaman, namanya cukup dikenal sebagai seorang guru silat.—Jadi Pawang pergi mengail saja?—Itu urusanku sendiri. Kalau ada orang mau campur urusanku semua orang mengerti apa akan akibatinya di belakang harl............ Pawang Mamat mengucapkam perkataan itu dengan suara mengancam. Polisi Bersenjata tertegun. Mereka ber.bisik-bisik satu sama lain.—Kita sudah saksikan Pawang Mamat, berbisik seorang dari Polisi Bersenjata, bahwa ia pulang dari laut tanpa membawa apa-apa yang dicurigai. Lima ekor ikan badukang besar, lain tidak. Mari kita pulang ke Kayu Laut memberi laporan pada Kontrolir bahwa desas desus yang tersiar tentang Pawang Mamat tidak berdasarkan bukti-bukti nyata. Sejam setelah kelima Polisi berangkat dengan naik speda kembali ke Kayu Laut sambil melakukan tugas ronda me- nyelidiki keamanan di-tiap-tiap kampung dikecamatan-dikecamatan, Pawang Mamat memberi isyarat pada Porkas dan kawan2nya agar supaya segera berkayuh ke pantai pelabuhan. Tongkang rapat ke pantai. Muatan dibongkar dan dibawa dengan se-cepat2nya kedalaman, ke tempat penimbunan yang tersebunyi. Malam menggantikan siang. Penduduk Air Bangis sudah diberi tahu bahwa pada malam itu Pawang Mamat akan mengadakan sedikit “kerja” yakni selamatan. Jumlah penduduk Air Bangis tidak lebih dua ribu orang, terhitung lelaki, perempuan dan kanak-kanak, memerlukan menghadiri jamuan yang luar biasa itu. Di tepi pantai di atas kersik putih berkilat oleh karena disinari oleh cahya bulan sepotong, delapan hari bulan, berhimpunlah penduduk. Sejak petang hari wanita-wanita telah mulai masak nasi dan lauk pauk;na, tiga ekor kerbau disembelih, lima ekor kambing dan ber-puluh-puluh ekor ayam. Ikan-Ikan pari dan senangin dipanggang di atas api. Gulai kari kambing penuh dengan minyak karena dicampur dengan menterga, rempah2nya juga luar biasa, dibawa dari Seberang. Mulallah dipukul gung dan gendang. Sepasukan pancaragam memainkan lagu-lagu Sikambang yang digemari oleh penduduk, pemuda dan pemudi ber-balasan pantun. Tari2an diperlihatkan, Tari Payung, Tari Piring, dan tidak ketinggalan tortor Tapanuli. Sebelas pemuda dan sebelas pemudi ber-sama-sama menortor, seorang biduan menyanyikan: Onang Onang. Porkas yang jadi pusat perhatian bagi pemudi-pemudi Air Bangis. Ia seorang pemuda penggembira, tegap bertegap, kutinya ke-kuning2an, muda remaja dan tubuhnya lampai. Porkas turut menyanyi, suaranya merdu dan merayu sukma. Porkas turut menari, menortor dan bersikambang serta ber-onang-onang. Larut malam, pesta berlangsung semakin meriah. Kegembiraan memuncak setelah selesai dihidangkan makanan dan minuman yang dibawa dari luar negeri. Khampagne melimpah ruah, whisky dan branj dituang ke dalam gelas tidak berkeputusan, suara egung dan gendang semakin gemurun. dang bertingkah dengan rehah dan kecapi.
—Untuk penutup jamuan kita malam ini, mari kita sama-sama memperlihatkan permainan pencak, diserukan oleh Pawang Mamat.
Tepuk sorak gemuruh. Hadirlin semuanya gembira ketika Pawang Mamat tampil ke gelanggang membuka “bunga” silat. Pembukaan silat selamanya dengan “taryan” yang meniru langkah harimau, kalau silat itu silat harimau namanya.
Atau meniru terbang melayang sahibul menyambur burung elang kalau pencak itu namanya silat elang. Ber-ganti-ganti juara pencak tampil ke gelanggang untuk berhadapan dengan Pawang Mamat.
Kelincahannya mengelak, membaling dari menyuki, menepis dan mengunci pukulan-pukulan lawannya mengagumkan hadirlin. Tepuk sorak ber-tubi-tubi, karena Meskipun pencak itu hanya watuk “pameran” saja, tinju dan terjang dilepaskan dengan kekuatan se-habis-habisnya.
Sebagai puncak dari permainan pencak dipersilakan Porkas oleh Pawang Mamat tampil ke gelanggang, berhadapan dengan dua orang juara pencak yang sudah ternama.
Porkas menarikan tari elang, menari berkeliling gelanggang kemudian mengangkat sembah pada gurunya, Pawang Mamat sendiri, dan mengatur sembah pada juara-juara pencak golongan tua yang had'r.
Dua pemuda tampil pula ke gelanggang menarikan tari “kucing liar”, bergumpil dan berguling ditana, dan disudah dengan mengatur sembah seperti yang dilaksanakan oleh Porkas tadi.
Itulah syarat untuk memulai pertandingan persahabatan. Pencak dimulai, sekali ini dengan ber-sungguh-sungguh, karena Pawang Mamat memberi isyarat supaya Porkas diserbu dengan maksud menguji keahlian dan kelincahannya.
Porkas diper-tubi-tubikan oleh lawannya, yang seorang di kiri seorang d'kanan. Tinju yang dilayangkan kekepalanya ditepis kan secepat kilat. Dua musuh sekali menerkam, Porkas menjatuhtkan badannya ke tanah, mengait kak-kak lawannya sampai keduanya tunggang balik.
Tepuk sorak ber-dera-dera.
Kelincahann Porkas kentara pada had'rin, gadis-gadis melem-parkan bunga-bunga kepadanya, membuat hati musuh-musuhnya semakin gemas. Pertarungan diteruskan, lawannya menuduk yoya (lima jari ditikamkan) ke arah mata Porkas. Seandainya yoya dengan jari itu mengenal sasarannya, pasti biji mata akan terpentai keluar. nak-nak, hak mewarisi takhta adalah digenggammnya. satu dengan kaki kanan. Porkas berbalik membalas menyerang, melepaskan terolak yang dahsya-dahsyat.
Seorang lawan berdiri di'depan, seorang di belakang. Ia melangkah ke depan dua langkah, sebelum sempat lawannya mengelak, siku Porkas menyintuh pinggangnya. Lawan yang di belakang menerkam. Porkas telah berputar dan lawan seorang lagi dibidas juga dengan tengkul sedangkan kedua tangannya menangkap leher lawan.
Pertarungan berakhir, karena Pawang Mamat tampil ke gelanggang, setelah melihat sendiri bahwa Porkas telah menyadikan lawannya mendapat malu di-sorak-sorakkan oleh penonton terutama para dara.
Kehadiran Pawang di tengah gelanggang adalah isyarat kedua pemuda itu mengundurkan diri, Porkas kemudian menari menari perbuatan gurunya.
Mereka berdua menari ber-macam-macam tari pencak, d'ringi deru suara gendang dan egung gegap gempita.
Sepuluh menit tari menari, Porkas mengakhiri pertundukan itu dengan mengangkat sembah, menjabat tangan gurunya bersalaman, dan mencunnya sekali.
Kemudian dengan pedato ringkas Pawang Mamat menyampaikan ucapan terima kasih pada hadirlin semuanya, dan menyadijikan apabila kelak berhasil lagi bepergian keluar negeri, ia akan melangsungkan keramalan yang lebih meriah! Adat kebiasaan pedato begitu tidak cukup diulas oleh dua tiga orang. Malah, sampai tujuh orang br-telez membalsas ucapan Pawang Mamat tadi, seandainya mendung di langit tidak mengancam, beberapa orang lagi ingin berpedato tanpa menghiraukan bahwa malam telah larut benar hampir fajar kazib atau jam 3 pagi.
Dengan sigapnya Porkas menangkis serangan dari kanan dan kiri.
Sepi senyap di tepi pantai.
Porkas tidak menghiraukan sindiran-sindiran para dara yang berpantun meminta diantarikan pulang, ia duduk di atas batu karang memandang ke laut lepas. Selama dilaksanakan acara berpedato yang lebih dari pada sejam lamanya, sebagai patung Porkas duduk di atas batu karang bertupang dagu. Ia sudah remaja, berusia 19 tahun, sudah mempunyai ke-matangan berpikir. Sejak beberapa bulan lamanya timbul tenggelam dalam kalbunya pertanyaan: siapakah ayahku?
Ia sering merenungkan soal itu, pemecahan belum ada yang memuaskan. Meskipun selama ini ia menganggap Pawang Mamat sebagai orang tuanya, tapi, diselidikinya persamaan antara mereka, kemiripan dalam pengawakan, dalam tutur kata, dalam tingkah laku, tidak terdapat sama sekali. Bahkan, ia sering teringat scorang tua tinggi lampai tubuhnya, agak tegap dan berkumis, disatu masa yang sangat jaun. Terbayang padanya keadaan dalam gua............. gua yang gelap.
Sering ia terbangun di tengah malam, karena ter-ngiang-ngiang ditelinganya suara menghimbau, suara tersedui sedan memanggil-memanggil namanya.
Tidak disadarnya bahwa pedato-pedato sambutan telah selesai, awan bergumpal di langit, mendung memberi alamat akan turun hujan lebat dan topan dahsyat di laut. Pawang Mamat memegang bahunya, yang dari sejak tadi berdiri di belakang tanpa diketahui oleh Porkas.—Sudah hampir subuh membayang, mari kita pulang, ujar Pawang Mamat, apa juga yang engkau renungkan?
Porkas menghela nafas, Ia memandang muka Pawang, sedang air mukanya sendiri muram.—Silalah kita pulang! Malam sudah diancam hujan dan badai, meski apa Sekalipun yang mengharu biru pikiranmu, bukanlah di sini untuk memecahkan kesultian itu. Porkas mengiringkan Pawang Mamat. Rumah kediaman Pawang adalah satu2nya rumah yang terbuat daripada semen dan batubata di seluruh kota kecil itu. Rumah penduduk di Natal bahkan seluruh Sumatera yalah rumah bertiang
Dengan sigapnya Porkas menangkis serangan dari kanan dan kiri. tinggi, mempunyai kolong setinggi 2 meter. Tapi, rumah Pawang Mamat terbuat dari semen dan batubata, rumah rendah yang di kota disebut “gedong” namanya. Mempunyai lima kamar, lengkap dengan gudang-gudang atau pavilyon, letaknya disatu pulau atau gosong. Untuk pergi ke rumah itu mestilah bersampai lebih dulu............. setibanya di dalam rumah, pengawal-pengawal serta awak-awak tongkang sudah hadir menyambut kedatangan mereka.
—Kamu boleh tidur supaya besok lekas bangun, dan siapa yang ingin kembali ke rumah orang-tuanya atau menemui isterinya akan aku beri izin dan boleh membawa hadiah-hadiah seperti yang didanjikan. Mereka bubar. Porkas duduk di kursi malas, matanya masih belum mengantuk. Pawang Mamat membuka lemari. Dua botol khampagne dilikeluarkan, sebotol diulurkan pada Porkas, sebotol diminum sendiri.—Kau belum mengantuk, Porkas?—Betum ayah, entah mengapa hatiku se-akan-akan dipesona oleh suatu peristiwa yang tak mau lenyap2nya.—Peristiwa apa, coba engkau uraikan agar dapat aku menimbangnya.—Di ruang matalu tampak seorang orang tua, tinggi lampil........... orang tua itu memberi aku makan, memandikan aku dengan kasih mesra. Terbayang padaku sebuah pedati. Kemudian rumah kediaman kami disatu gua yang tersembunyi di-celah-celah rum pun buluh. S'apakah orang tua itu? Pawang Mamat meng-garuk-garuk kepalanya. Ia sudah tahu bahwa pertanyaan seperti itu pasti akan timbul dan dima-diyukan padanya. Porkas telah dewasa, tidak dapat dikicuh dengan mengatakan bahwa orangtuanya bukan lain dari Pawang Mamat sendiri.—Itukah soal yang mengacau balaukan pikiranmu, Porkas?—Tak dapat saya tidur malam, terus saja terbangun karena bermimpi; orang tua yang ganjil itu...........—Dan aku pun tidak dapat merahsiakan selaman2ya daripada pengetahuanmu, siapa orang tua itu. Ta'ntuah ayah kandungmu........... Porkas membuka matanya. Kesangsian yang bersarang dirongga kalbunya sekarang mulai lenyap, kenangannya pada masa kanak2nya bukanlah hanya suatu hal yang remeh. Kanak-Kanak yang telah berusia dua tahun lebih, apabila telah dewasa pasti akan digoda oleh kenang2an semasa bocah ciliknya itu, bawah tak sadarnya menggambarkan padanya peristiwa-peristiwa yang teryadi.—Jadi orang tua itulah ayah kandungku. Sudikah ayah membeberkan padaku riwayat orangtuaku yang tentunya nasibnya malang, itu? Pada Pawang selama bergaul ia tetap memanggil ayah, Pawang Mamat sendiri mengangkat Porkas yadi anak pungutinya, memelihara dengan kasih sayang Sekalipun diberikan pelajaran-pelajaran yang berat.—Ayah kandungmu namanya Ja Ulok, memulai Pawang sambil meneguk segelas khampagne. Teryadi suatu peristiwa yang asal mulanya aku sendiri terpesona, hampir-hampir aku tak pertiya penglihatan mataku. Seelor harimau sebesar kuda menggonggong seorang kanak-kanak berusia lebih dua tahun.....—Ayah, rasanya diri hamba yang digonggong harimau itu, menyela Porkas demi kenangannya seklias tersentuh ke-masa silam.—Dengarlah aku bercerita. Aku ketika itu, tujuh belas tahun lamau, sedang berlajar pada seorang diyura pencak di Muara Soma. Sebagai penutup pelajaran aku harus bertarung dengan harimau. Siang malam aku berjalan di hutan rimba. Tekad putus, bila bertemu dengan harimau aku akan serang terlebih dahulu sebelumnya diserang oleh harimau. Tekad yang sudah bulat itu menjadi lebih putus demi menyaksikan kanak-kanak yang digonggong sang harimau. Aku lempar harimau dengan batu sebesar tinju, kebetulan tepat di matanya. Gusar harimau dapatlah kau bayangkan. Kanak-Kanak dilepaskan dari mulut, sang harimau mengerung, memasang langkah untuk menerkam. Aku pun sudah siap-sedia! Terkaman harimau menuju kudukku, dapat kuelak. kan dengan lincah, karena langkah harimau telah kuperlajar dari guru. Kaki belakang harimau yang mempunyai daya lincah, aku menggulingkan diri dan kaki belakangnya itu aku pegang dengan kedua belah tangan. Harimau membungkuk, dengan kaki depan tanganku hendak di-koyak-koyak. Terpaksa kakinya aku lepasan, aku ber-gulung-gulung mengelakkan diri. Harimau berdiri tapi tegaknya sudah miring, nyata bagiku bahwa kaki belakangnya sudah payah akibat kukoyakkan tadi. Terkamannya sekali lal meleset, dan aku ulangi memegang kaki belakangnya, aku koyakkan lagi seperti tadi. Harimau mendengking kesakitan, dan sebelum ia sempat mencengkam tubuhku, ekornya aku sentakkan. Semua hewan termasuk ular kalau ekornya sudah dapat dipeng dan disentakkan tenaga kekuatannya serta tama jadi lemah..... Harimau meloncah tinggi ke arah semak-semak dan menghilang.
—Bagaimana dengan kanak-kanak yang digongong harimau tadi? Porkas bertanya setelah mengikuti uraian Pawang Mamat dengan penuh perhatian, sedang Pawang menghentikan uraiannya di tengah jalan se-akan-akan mengumpulkan ingatan.
—Peristiwa kedua yang tak kalah hebatinya teryadi. Kanak-Kanak itu Meskipun sudah terlepas dari bahaya dibinasakan oleh sang harimau, sebaliknya menundukkan sikap melawan. Aku hampiri, Kanak-Kanak itu melarikan diri dan mencoba melawan ketika aku hendak membawa dia pulang ke kampung. Susah payah aku memegang tangannya, ia mengelak berulang-berulang. Lincah lebih dari pada harimau lagi. Aku buru kanak-kanak itu kian kemari, setiap hendak kupegang sekian kali ia meloloskan dirinya seperti memegang belut licin.
Gusarku timbul. Terpaksa aku pergunkan keahlianku, dengan tekad menangkap dirinya supaya dapat dibawa ke kampung. Aku pergunkan silat elang, sehingga ia merasa lelah, Ia pun tertangkap. Aku pegang tubuhnya, tanganku digigit olehnya. Aduhai, giginya tajam seperti saing harimau. Mau tak mau terpaksa mulutnya aku kutupkan dengan mempergunakan dua telapak tanganku. Kemudian mulutnya itu aku ikat dengan destar supaya jangan terus mencoba menggigit. Ia berontak terus dalam gendonganku, Amat bersusah payah kanak-kanak itu dapat juga aku bawa ke kampung di Aek Na Ngali. Pada kepala kampung, dan pada kuria sendiri aku bertanya adakah di antara penduduk pernah kehilangan anak.
Tiga hari aku di Aek Na Ngali, sampai dipukul canang memberi tahukan penduduk entah ada yang kehilangan anak berusia dua tahun lebih. Tidak seorang mengaku kehilangan anak, tidak pula ada yang mengenal siapa kanak-kanak itu. Atas persetuyuan kepala ripe, sampai kuria dan seluruh penduduk, kanak-kanak itu diserahkan padaku. Dan begituial ringkasna riwayat dirimu wahai Porkas, tidak aku sembunyikan sedikit juga pun, peristiwa yang aku alami benar-benar teryadi.
—Kalau begitu siapa orangtueku masih dalam rahsia?—Benar, Porkas. Aku tak sempat membongkar rahsia siapa orangtumu karena untuk memulihkan keadaannu meminta waktu sampai t'ga tahun............—Apa maksud ayah dengan memulihkan keadaanku?—Engkau masih mempertihatkan tingkah laku seperti binatang buas. Rupanya ber-bulen-bulen engkau bergaul dengan harimau dan sejeninya di rimba raya, sedang engkau diangkat jadi anak pungut oleh sang harimau, terpelihara daripada marabahaya, memakan daging-daging mentah menjangan dan kantily Ataupun kambing dan kerbau yang dicuri sang harimau dari kandangnya atau di tengah padang penggembalaan. Akibatinya engkau menganggap manusia sebagai musuh yang hendak membinasakan dirimu, seperti anggapan binatang-binatang buas dalam rimba.
Porkas termangu, Kepala di-geleng2kan dan mata dipuyi karena se-akan-akan terbayang kembali di ruang matanya sang harimau yang menyadi “pelindungnya” sebelum direbut oleh Pawang Mamat.
—Tiga tahun, Porkas, tiga tahun lamanya aku mengawasi dirimu, memimpin engkau siang dan malam. Berkat ketekunan dan kesabaran, akhiinyia lenyap juga sifat-sifat rimbaraya yang engkau miliki............—Mungkinkah harimau beranakkan manusia, ayah? Porkas bertanya Meskipun pertanyaan itu kurang meyakinkan dirinya sendiri.
—Tidak, belum pernah ada harimau melahirkan anak manusia. Kemungkinannya engkau seorang anak yang di-tinggalkan orangtuanya karena keadaan memaksa atau karena di-buru-buru oleh musuh. Tapi, jangan kau salah terima, itu hanya satu kemungkinan saja.
—Kepalaku pening, ayah. Biarlah sampai sekian dulu kita membicarakan soal yang bersangkut paut dengan diriku dan ayah....... ibuku. Porkas mengucapkan kata “ibu” itu se-akan-akan hendak menangis. Dalam percakapan tadi hanya ayahnya yang disungkit sedang ibunya belum sepatah juga pun.
—Silalah kita tidur, ujar Pawang Mamat sambil berdiri karena ia pun merasa bahwa percakapan lebih lanjut pasti akan menimbulkan rasa masigul saja dikalbu Porkas yang masih muda mentah.
Tidak terdengar oleh Porkas bunyi bedug, konon pula kokok ayam ber-sahut2an Sekalipun pada kandang ayam di belakang rumah. Ia tidur pulas. Kepulasan tidur seorang anak yang merindukan orang tuanya, Ketika ia bangun matahari sudah tinggi, sekira jam 9 pagi.
Tubuhnya yang gempal diglatikkan, ia melonjak berdiri. Lari keiling lapangan di samping rumah, latihan yang dilangsungkan setiap pagi untuk memelihara nafas supaya utet.
Pawang Mamat yang tidur hanya dua jam sudah mandi dan sarapan. Dari jendela ia saksikan latihan yang dilaksanakan oleh Porkas. Setengah jam berlari keiling lapangan, Porkas pergila ke tepi pantai, Kepingan kayu balok yang panjangnya empat meter tebalnya 30 centimeter.
Enteng saja kayu itu diangkat sebelah tangan, kemudian dipatahkan dengan kekuatan tangan ditekankan kelutut. Se-puluh balok dipatahkan dengan cara begitu. Otot2nya keli-hatan menonjol, latihan yang berat itu menambah keingiranya untuk mengumpul tenaga sampai dapat mematakan besi setebal 7 CM kelak.
Pawang Mamat tersenyum saja menyaksikan latihan bersungguh-sungguh yang dilaksanakan oleh Porkas, selesai sarapan ia pun mendatangi.
Dengan sebelah tangan balok itu diangkat, dan dengan mudah dipatahkannya.
—Porkas, aku telah turunkan padamu ilmu pendekar. Kau telah mahir tipu dan terpa silat, tahu langkah dan sudah tertanam dihatimu rasa gerak. Bagi seorang pendekar, paling penting ialah “rasa gerak”, secepat kilat dapat menduga dari mana datangnya pukulan musuh.
—Ayah, Meskipun ayah katakan saya sudah mahir tapi saya masih merasa gamang. Maklum ilmu silat seperti ilmu lainnya masih ada yang harus dipelayadari.
—Benar, tetapi ilmu silat yang aku ketahui semua sudah kuturunkan, tak ada yang kusembunyikan. Masih banyak pendekar ternama di lain daerah, namun kau haruslah insaf bahwa silat seperti ilmu lainnya, hanya dipergunakan untuk membela diri. Kalau dipergunakan silat untuk menganiaga Ataupun membanggakan diri supaya dikenal dan disegani orang, pasti, akan tiba balabencana. Kesombongan dilarang bagi orang berilmu. Apabila ia sombong, datang rasa takabbur, pasti ia akan kalah dalam pertarungan melawan anak keci Sekalipun!
Porkas tunduk khidmat mendengarkan nasihat? Pawang Mamat.
Panjang lebar jberi nasehat oleh Pawang bagaimana seharusnya sikap seorang pendekar, sebagai seorang satrya, pembela pihak yang lemah, berani karena benar, dan sekali kali tidak usah menyomborgkan diri.
—Ayah, kalau saya tak perlu lagi menambah ilmu silat dan ayah sebagai seorang pendekar telah menyatakan yang sesungguhnya bahwa saya telah mahir dalam persilatan, masih ada suatu yang saya rasa kurang.
—Kekuranganmu memang masih ada, sehut Pawang Mamat tersenyum.
—Saya ingin diuji tentang kekebalan, tidak mempan ditikam dengan senjata tajam. Ujian terakhir belum saya terima dari ayah. Bila gerangan tercapai hasyrat saya yang terakhir ini?
Pawang Mamat tidak segera menyahut.
Ia melanyangkan pandangan ke laut lepas, keninngya berkerut, otaknya bekerja memecahkan satu persoalan rahsia. Lama bener Pawang Mamat berd'am diri, berjalan mondar mandr kian kemari d'tepli pantai............
Porkas me-nyepak balok yang di-patah2kan tadi. Apakah yang menyebabkan Pawang tidak ingin segera memberi keputusan atas desakannya itu?
Lama merenung. Pawang Mamat akhirnya datang ke dekat Porkas, ia pegang bahu pendekar muda itu.
—Keinginanmu akan aku perkenankan. Meskipun........., Pawang Mamat tak saagggup nampaknya meneruskan ucapannya sampai kesatu titik.
—Ayah, kalau ada keberatan ayah menguji kekebalan saya, ujian terakhir, biarlah saya tarik kembali permintaan tadi.
Pawang termangu sekali lagi.
—Sudah putus tekadmu. Ilmu yang turun temurun aku terima dari neeak sampai orangtua, dan terakhir pada diriku, akan kuturunkan padamu. Aku tak mempunyai anak......
—Bukankah saya sudah mengaku anak pada ayah? suara memujuk mel/pur Porkas menyapa Pawang Mamat.
—Ya, engkauolah yang kuanggap dan kuangkat jadi anakku. Dan engkau yang berhak menerima pusaka dari aku. Sebelum dilangsungkan ujian kekebalan terakhir, lebih dulu engkau harus dipangiri. Untuk meramu ramuan pangimmu itu meminta tempo selama tuyuh hari. Engkau harus dipangiri lamanya tiga pagi, bangun sebelum matahari terbit, dan upscara memangir itu akan d'hadiri oleh.....
—Olsi siapa, ayah?—Guruku. Bellau tidak ada di sini, bertapa digumung Sorik Merapi.
Porkas membelaalakkkan matanya. Keheranan ny melebih ketakjabun yang pernah d'alaminya di masa lampau, karena inilah baru pertama kali didengar olehnyia ada lagi guru Pawang Mamat.
BAGIAN KETIGA:
MERANTAU KE SUMATERA TIMUR
Selama beberapa hari lamanya Pawang Mamat tak keli- haatan di Air Bangis. Porkas berlatih memperkuat otot2nya, berenang sampai ke tengah laut, mengarungi ombak yang menghempas ke pantai.
Sang ia ajak pemuda-pemuda di Air Bangis memencak. Kesigapan dan kelincahnannya diakui oleh pemuda-pemuda yang menco- ba keahliannya, Sekalipun lawannya tempo-tempo terdiri dua tiga pemuda, namun, mereka juga yang bengkak dan pincang dilibas oleh baling dan terolak dilepaskan oleh Porkas.
Apabila menghadapi tiga lawan Porkas mempergunakan langkah kilatnya. Ia berputar seperti gasing, pukulan lawan- nya ber-tub-tub tak pernah hingga ditubuhnya, sebaliknya, terpa dan toyanya membuat lawan2nya terjajar tanpa dapat menepiskan.
Cuma ilmu kebal yang belum diperolehnya, kepergian Pa- uang Mamat sudah lima hari menimbulkan rasa gelisah, Sekalipun ia tahu bahwa Pawang itu menunaikan janjinya.
Hari ketuyuh Pawang Mamat muncul di Air Bangis bersa- sama seorang tua, Porkas menatap wayah orang tua yang usianya sudah lebih tujuh puluh lima tahun, agak kurus, mata cengkung tetapi berjalan masih kokoh.
—Inilah guruku yang amat kukhidmati, Pawang Mamat memperkenalkan orang tua itu pada Porkas, bertapa dan suluk di kaki Sorik Merapi.
Porkas mentium tangan Kali Badoar, guru ayah angkatnya itu, sambil mengucapkam kemegahan hatinya dapat bertemu dengan sang guru, dan mengharap agar supaya hasyrat yang terpateri di dadanya dikabulkan apalah kiranya.
—Malam ini, menerangkan Kali Badoar, engkau akan dipandiri. Sesudah itu selama tujuh pagi kau terus menerus dipangir sampai engkau sendiri mendapat satu alamat baik.
Porkas menurut dengan kepatuhan apa-apa yang diperintahkan padanya, dan untuk menyesuakan diri, ia meng-urut-urut sang guru di waktu hendak tidur. Mengabdiikan diri dengan segala kerendahan adalah syarat mutlak supaya sang guru merasa belas kasihan. Porkas sendiri yang menimbakan air untuk pemandian sang guru. Ia juga yang bertanak nasi dan mengguluk serta dihidangkan sendiri pada Kali Badoar.
Kali Badoar sendiri karena usianya sudah lanjut, dikala malam jarang t'dur lelap sampai berjam lamanya. Tidurnya mulai jam sebelas sampai jam satu. Kemudian ia bangun, ambil air sembahyang, tegak salat wajiq dan sun- nat, tahadjudi.
Tujuh pagi Porkas berpangir.
Latihan diteruskan juga selesai berpangir, berlari, bere- nang dan herpencak, sedang godaan terutama dari kalangan dara-dara molek dilawannya sehabs dayaupaya.
Malam kedelapan sesudah tujuh hari berpangir, alamat baik diterima oleh Porkas. Seekor harimau masuk ke dalam kamarnya dari jendela. Porkas bangkit, harimau yang mer- nerkam ditepiskan kedingding.
Gemuruh hiruk pikuk dalam kamar tidurnya larut malam, pertempuran berjalan amat seru. Harimau mencakar dan mencoba merekah kepala Porkas. Tiap kali kepalanya hendak digempur, Porkas menggasirgkan dirinya,lepas dari ba- haya, sebaEknya dapat menendang dengan baling, perut sang belang kuning hitam.
Cakaran harimau dengan kuku ibarat keris tajamnya tidak memberi bekas, tidak setitik darah menyucur dari tubuh Porkas.
Leher harimau diccek, kedua tangannya mengepit leher sang harimau dengan jepitan ibarat kakak-tua. Harimau mencakar tubuh Porkas namun dibiarakan saja. Kekebalan badannya sudah berbukti.
—Lepaskan leherku, jangan bunuh aku, merayu sang harimau.
—Kenapa kau datang mengganggu kesenanganku?—Tugas. Bukan kenauanku sendiri.—Kalau aku lepaskan dirimu apa akan kau berikan se- bagai tanda engkau kalah berduyang?—Lihat ini, harimau memuntahkan dari mulutnya rantai waja.
Porkas memungut rantai waja itu, di-timang-timang di tangan.—Be-ribu-ribu penduduk mencari rantai waja ini, dan be-ribu-ribu pula jenisku harimau mencarinya. Rantai waja ini hanya ada dihidung babi hutan yang sudah bertapa berpuluh tahun. Ambilah karena sudah milikmu, karena terbukti padaku bahwa kau.........—Aku.........? Apa? Bagaimana? keheranan memenuhi dada Porkas.—Karena engkau tanpa setahunmu adalah mempunyai marga harimau.—Marga babiat?—Benar, dan dengan mengetahui margamu itu pasti lain-lain rahsia yang terpendam selama ini dari pengetahuan akan segera terbongkar. Porkas masih tercengang, harimau se-konyong-konyong meloncat keluar dari jendela. Ia masih berdiri takjab menyaksikan rantai waja yang digenggam ditelapak tangan ketika Pawang Mamat dengan Kali Badoar masuk ke dalam kamar.—Tak usah kau ceritakan apa-apa pengalamannmu, d'tegur oleh Kali Badoar, kami sudah tahu. Nasibmu mujur. Harimau itu telah membisikkan ketelingamu siapa cikal bakal-mu. Siapa nenekmoyang dan dari keturunan mana engkau.......... Pagi hari mereka bertiga berjalan kesatu gelanggang yang sudah disediakan untuk menguji kekebalan Porkas, ud'yan terakhir. Gelanggang itu ditaburi dengan unak dur, Pawang Mamat tampil ke gelanggang menarik pencak tarinya yang belum pernah d'saksikan oleh Porkas sekian lama ia berguru pada ayan angkatnya itu. Tari pencak “gajah tunggal”. Kaki belakang berjejak d'tanah, kaki depan diangkatkan ke atas, meloncat ke depan mundur ke belakang dan ber-putar-putar. Kali Badoar mengisyaratkan supaya Porkas tampil mela-wan Pawang. Tari pencak harimau dibuka oleh Porkas, seslesai menari dan memberi hormat pada Kali Badoar, murid dengan guru mulay bertarung. Untuk kali pertama Porkas menyaksikan gurunya itu melepaskan terjang balig mulanya dengan kakii kanan tetapi kakii kirii yang hinggap diperutnya. Kegusaranya tak dapat dikekang. Mata merah, mata gelap. Pertarungan jadi sengit. Toya gurunya ditepiskan, terolaknya melengket dilambung Pawang Mamat. Setengah jam mereka bersilat, kalau dihitung secara yury, lebih banyak toya dan terpa Porkas hinggap ditubuh Pawang Mamat. Kali Badoar menyaksikan mula-mula dengan tenang, lambat laun ia pun jadi gel'sah. Pawang Mamat tersungkur ke tanah dibaling oleh terjang Porkas, ketika hendak diterkamnya dengan sigap Kali Badoar mengalt kaki Porkas. Pemuda yang sudah kalap itu ter-guling-guling........... terlepas dari pergelangan tangannya besi waja yang dihadahkan sang harimau padanya. Pawang Mamat bangkit. Kini, ia pun telah kalap. Ia lepas-kan toya mengenai nuka Porkas, balig kakii kanan nyia hinggap didada. Porkas tak mengelak dan tak membelas.—Latihan selesai, bertepuk sambil berteriak Kali Badoar. Porkas merangkak sambil sujud di kaki Pawang Mamat.—Ampunkan ketelanjuran hamba, ayah, ujarnya dengan merendah, tangan Pawang ditiyium ar matanya mene-tes. Pawang Mamat terpesona. Latihan pencak menyadi dah-syat dan neboh di luar dugaannya sama sokali, tidak dapat ia mengerti mengapa Porkas sampai lupa daratan. Lupa ia berhadapan dengan guru dan ayahnya.—Jangan heran, menegaskan Kali Badoar yang tahu apa yang terpendam di hati Pawang, Porkas tak bisa d'sa-lahkan. Aku lupa menyuruh tanggalkan rantai waja yang dihadiahkan oleh sang harimau padanya, rupanya d'ililitkan d'pergelangan tangannya. Akibatnya, ia menyeruduk seperti babi hutan yang sedang marah, “sebelum rantai waja itu tanggal dari tangannya behuliah ia mau undur dari gelang-gang, seperti orang kesurupan. Selesai ber-maaf'an, ujian kekebalan dilangsungkan. Porkas disuruh duduk di depan Kali Badoar, disuruh buka mulutnya. Mantera disertai doa dibacakan oleh Kali Badoar, mulut Porkas serta seluruh mukanya diludahi.
—Jadilah engkau seorang anak manusia yang tak gentar menghadapi musuh asal dalam kebenaran, diucapkan oleh Kali Badoar.
—Pawang Mamat ambil kampak yang tajam ayunkan ketubuh Porkas, Pawang Mamat sudah menyediakan kam. pak yang berkilat, diasih ber-hari-hari lamanya, begitu tajam sampai rambut dapat diputuskan asal digesekkan sedikit saja kematanya.
Pawang Mamat mengayum kampak, sedang Porkas berdiri berkacak pinggang. Kampak meleset tak mengenai tubuh Porkas karena ia mengelak secepat mungkin.
—Engkau masih dihinggai rasa takut dan cemas, ujar Kali Badoar agak gusar, coba sekali lagi. Jangan bergerak............
Kedua kalinya kampak diayunkan, kedua kalinya Porkas mengelak.
—Penakut, anak yang tak guna dikasahi, menyumpah Pawang Mamat.
—Aku mengerti sekarang, menerangkan Kali Badoar sesudah berpikir sejurus, mengapa Porkas masih takut dikampak Meskipun ia sudah kebal.
Nah pakallah ranta; waja ini, sisipkan ditali pinggang-mu.
Latihan kebebalan diulangi untuk ketiga kalinya, Porkas berdiri dengan sikap menantang. Kampak diletakkan ke dadanya ber-ulang-ulang diayunkan sehabis tenaga oleh Pawang Mamat. Bunyi kampak berdebab mengenai tubuh Porkas, sampai mata kampak simbing dan bunga api bertaburan.
Porkas tidak memejamkan matanya sekedip juga pun, malah, airmukanya tidak berobah, se-akan-akan kampak itu terbuat daripada papan belaka.
—Memadallah, ujar Kali Badoar, kekebalan dirimu sudah aku saksikan dan aku merasa puas.
Porkas menyapu-menyapu dada dan perutnya, tidak ada bekas atau tias, gigitan nyamuk lebih terasa daripada hampasan kampak tajam tadi. Pawang Mamat mengepit tangan Porkas, bordua mereka tunduk menyembah dan mentium tangan Kali Badoar bergiliran.
Kampak diletakkannya ke dadanya berulang-ulang diayunkan sehabis tenaga oleh Pawang Mamat.
—Kini apa yang terasa dalam hatiku, memulai Pawang Mamat sesudah upacara menghidmat selesai dan sempurna, terpaksa aku paparkan. Porkas adalah muridku yang kusayangi, anak yang kukasihi. Sejak ia berusia 2 tahun lima bulan telah kusuh, sampai sekarang ia berusia sembilan belas tahun lebih. Selesa yang mempelajiari ilmu silat dan kekebalan ini, mau tak mau, terpaksa aku menyuruh ia berangkat meninggalkan Air Bang's atau tegasnya Natal dan Tapanuli ini.
—Ucapan ayahmu itu, menyambung Kali Badoar dengan suara parau, bukanlah karena merasa benci padamu, Sudah sejak beberapa hari ini hal itu disampaikannya padaku, dan kami sudah berjanji akan menyampakkannya padamu demi ilmu terakhir menyadi kebal selesai, Kau harus berangkat keluar Tapanuli karena pantangan ilmu kebal ini ialah tidak boleh lagi bertemu muka dengan ayahmu. Kalau kamu masih berhadapan dan bertemu muka saban hari, maas besar akan datang menimpamu. Rasa cemburu, rasa benci, rasa gelisah dan ingin kalah mengalahkan pasti akan berkecamuk dikalbu masing-masing.
Airmuka Porkas muram sebagai mendung di langit, ucapan yang didengarnya itu sebagai bunyi geledek, petir sabung menyabung di telinga.
—Tidakkah ada jalan lain dapat saya tempuh agar supaya saya tetap dapat bergaul dengan ayah yang memandangkan diriku sejak kecil? Bagiku lebih baik membuangkan semua ilmu silat dan kebal ini dibanding dengan bercerai dengan ayah yang kupuja...........
—Jalan lain tidak ada. Engkau sudah dipangiri. Engkau sudah menyadi seorang pendekar yang harus memainkan peranan dipersada tanah air. Dalam rimba larangan hanya ada seekor gajah tunggal. Bila di rimba larangan itu berdiam dua ekor gajah tunggal pasti akan teryadi pertaruangan untuk menentukan siapa yang akan memakai gelar itu seterusnya. Begitu yuga hal kamu berdua, menegaskan Kali Badoar.
Porkas tunduk, air matanya berlinang. Ia tidak dapat menatap muka Pawang Mamat, yang juga tidak sanggup bertentangan mata dengan anak punugutna itu. Dalam hati mereka masing-masing tersembul rasa hiba, keadaan memaksa mereka harus bercerai, bukan atas kemauan sendiri.
—Keberangkatannu harus se-lekas-lekasnya, diteruskan oleh Kali Badoar, karena memperiambat kepergian akan berarti timbul perselisihan yang pasti tidak dapat dielakkan.
—Bolehkah ditangguhkun dua tiga hari? tanya Porkas.
—Besok pagi sebelum matahari terbit engkau sudah harus berangkat, berangkatlah ke daerah yang jauh. Merantau mengadu untung, jangan kuatir mengarungi gelombang hidup. Engkau sudah dibekali secukupaya, ilmu yang engkau miliki adalah modal yang tidak ada taranya, tidak ternilai.
Kali Badoar meneruskan bicaranya dengan memberikan petunyuk-petunyuk dan nasehat-nasehat berharga, Porkas yang dalam hiba dukawan, hening mendengarkan, semua nasehat-nasehat itu dipakukan di dalam sanubari.
Pawang Mamat berjalan menjauhkan diri. Ia pergi ke rumah. Pada murid-muridnya ia memerintahkan supaya membuat perbekalan untuk dibawa oleh Porkas......... tanpa memberi tahuhan ke mana atau sebabnya, hanya Porkas hendak berangkat kelain daerah melangsungkan perantauan.
Tiga ekor ayam disembelih. Ikan-Ikan jurong yang besar dipanggang sampai tujuh ekor. Nasi ditanak. Tidak dilupakan membuat sambal.
Ketika saat untuk berangkat tiba, Porkas bangun dari tidurnya jam 4 pagi; perbekalan didapatinya sudah terletak di sampingnya ketika ia tidur. Tidak seorang kelihatan. Tidak ada pengantar. Keberangkatannya dirahsiakan. Porkas memuju mata, membubatkan tekad.
Langkah ditujukan ke pantai. Perahu kolek tertambat dipangkalanan.
—Perahu kolek ini sudah jadi milikku, ia berkata dalam hati, karena kolek inilah yang pertama kunaiki mempelajiari berjayung di air yang bengis. Perahu kolek ini akan kupergunakan jadi kenderaan menuyu tanah perantauan.
Porkas naik ke atas kolek. Perbekalan yang dibawanya ckup untuk seminggu, sedang air minum tidak dilupakan, dimuat dalam perahu satu kaleng minyak tanah. Halnya seperti orang buangan. Tidak diterima di kampung halamannya sendiri. Terusir tanpa ada sebab nyata.
Nasib menimpai dirinya itu menyebabkan air matanya tergenang ketika melayangkan pemandangan ke arah kampungnya, ketumpukan rumah-rumah tinggi yang hening sepi, penghuni masih lelap tidur.
Namun ada beberapa pemuda yang mengintai dari celah-celah pintu, dua tiga orang dara dari celah-celah jendela memberi selamat jalan.
Kolek dikayuh, Porkas membaca alfatihah dan menyerahkan dirinya kepada Ilahi.
—Adat lelaki sekali melangkah berpantang mundur, ia membujuk dirinya sendiri, tanah perantuan menghibau. Nasib sabut timbul dan nasib batu tenggelam.
Perahu lancar melaju di atas air, layar terkembang dipuput bayu.
Porkas memegang kemudi, tidak menghiraukan sedikit pun jugu arah tujuan, asal perahu berlayar laju, habis perkara. Tidak ada angin ribut sepagi itu, setibanya di laut di-tengah-tengah segara, daratan tak tampak lagi, sebatang kara tak berteman dan tak berhaluan.
—Ada perbahasa berbunyi sekali mengayuh perahu, dua tiga pulau lampau, berkata pada diri sendiri Porkas, mak. sudnya sudah terang. Tapi arti perbahasa itu bukankah boleh pula dipergunakan untuk maksud lain. Sekali mendayung perahu dua tiga tongkang dapat disusul?
Porkas ketawa ter-bahak-bahak, gili hatinya mendengar tafsi-ran sendiri itu. Kolek dilayarkan ke arah baratdaya. Ia tidak ingin pergi ke Semenanjung Sekalipun dari pengalaman-pengalaman, nya yang lampau, Semenanjung sebenarnya daerah yang makmur dan kayaraya. Rezeki ber-tumpuk-tumpuk di sana untuk dikant oleh siapa saja yang mempunyai kemauan dan keuletan.
Lewat tengah hari koleknya telah mulai dipermainkan ombak, sebentar lenyap sebentar mumbul. Porkas girang gembira ketika berada di-tengah-tengah ombak besar, darah pe-laut yang dimilikinya meluap. Ia bersenandong terus mene-rus, menarik lagu Sikambang dengan suara merdu.
Menjelang waktu magrib angin ribut reda, angin siliran berhembus.
Layar dikembang kembali, laju perahu seperti elang laut terbang menusur. Rasa kantuk mempengaruhi dirinya. Tidak dapat dilawan, dan ia tertidur di atas perahu sambil memegang kemudi. Antara bangun dengan tidur perahu dikemudikan sekadar jangan sampai koleknya ber-putar-putar di situ dan di situ saja, tak bergerak ke depan. Nasib mujur lautan tenang saja, tidurnya tak terganggu dan perahu terombang ambing berlayar ke depan............ sedikit pun ia tak menyadi.
Menjelang subuh kembali angin ribut bergelora. Air laut menghempas keperahunya, pakaiannya basah kuyup. Porkas terbangun dari tidur pulas. Ia berdiri melayangkan pandangan: tampak olehnya sebuah pulau.
Pulau keciil atau gosong itu ia kenal baik. Pulau Ber-hala, karena sering ia berlayar di masa lampau, pulau Ber-hala itu harus dilewati dan sebagai satu mercusuar bagi pelaut-pelaut untuk menentukan arah. Beberapa pulau keciil ber-dampingan dengan pulau Berhala, yang terdekat padanya pastilah Pulau Hantu.
—Balik aku singgah di pulau ini, kata Porkas pada dirinya sendiri, untuk mandi dan makan se-kenyang2nya sebelumnya meneruskan perlayaran.
Perahu ditambatkan, ia naik kedaratam. Perbekalan dibuka. Nasi dengan lauk pauknya dihidangkan di depannya, duduk bersila, Porkas makan sangat lahap. Ia harus mem-biasakan makan hanya sekali dalam sehari, karena di laut dengan menaiki perahu kolek saja, tempo untuk mengisi perut hampir tidak ada sama sekali. Kenyang makan dan puas minum, perbekalan dibungkus rapi kembali, Porkas berdiri sambil berjalan kian kemari untuk meluruskan kaki dan menyenam tubuh.
Seakan-Seakan suara tindakan kaki terdengar olehnya. Porkas slap sedia. Kewaspadaan terhadap musuh yang tak kelihatan harus tetap ada. Porkas mengerling ke kiri dan ke kanan. Kini, curiga hatinya telah tambah kuat bahwa memang ada musuh di sekitar pulau itu. Bau ikan asin dibakar terciun kelobang hidungaya, satu alamat bahwa di pulau itu ada orang-orang yang menyembunyikan diri.
Ta tunduk dan berjalan sambil merangkak. Tujuannya ke arah datangnya bau ikan asin dibakar tadi. Dari cielah-cielah lalang teyal, dapat disaksikannya sejarak sepuluh meter, dua orang sedang bertanak nasi dan memanggang ikan.
Tak jauh tampak sebuah tongkang, yang diseret ke darat. Tongkang itu ditutupi dengan daun2an, camouflagenya begitu rapi sehingga tidak mudah dilihat dari laut.
Asyik memandangi perbuatan dua orang tadi, ia lalai menjaga diri.
Dari arah belakangnyya datang merangkak dua laki-laki yang memegang pedang terhunus.—Apa kerjamu di sini? bentak seorang dari mereka, pedang d'hunus ke arah Porkas,—maksudmu hendak merompak?—Bukan. Aku seorang pelaut yang terdampar tak sengaya kemari.—Alasan yang diciari saja. Aku tahu kau seorang mata-mata Belanda, anjing Belanda yang hendak merampas harta kami. Porkas tak sempat menyahut untuk kedua kalinya. Pedang ditetakkan. Ia menyuruk mengelakkan diri, lepaskan toya mengena1 diyadat orang itu.—Kawan-Kawan, tolong, mari kita mampuskan musuh yang garang ini!
Kedua teman mereka yang sedang bertanak, meloncat karena terperanjat, berlari ke arah perahu mengambil pedang. Empat orang mengeroyok Porkas, keempatnya bertekad menewaskan dirinya. Porkas dalam anggapan mereka adalah musuh nomor wahid, musuh yang tak boleh d'beri am pun. Seorang mata-mata atau spion Belanda. Mereka sudah sering berhadapan dengan mata-mata Belanda dan banyaklah nyawa melayang dikubur di tengah laut kalau berani mengganggu perbuatan mereka melakukan penyelundipan.
Dirinya dikepung. Empat orang yang mahir memalankan senjata tajam mengelingi dirinya, keempatnya serentak menyerang. Porkas seballknya dari merasa negeri dan kecut, gelak ter-bahak?, karena baru saja ia lepas ujian terakhir, kini ia berhadapan dengan seteru yang bertekad mampuskan. Ia membungkuk sebagai harimau, kaki kanan ditekan ke tanah, kaki kiri dijingkatkan, tangan kanan dan kiri diluruskan. Sepaknya dengan kaki kanan hingga diperut seorang lawannya, terolak dengan siku hingga dileher lawan di pihak kanannya, tangan kirinya menepiskan tetakan pedang seorang musuh lagi. Pawang kaum penyelundup dari tadi berdiri menyaksikan saja, demi melihat ketiga lawannya payah menghadapi Porkas, berlari untuk memberi bantuan.
Tiga orang itu mencoba menetak leher Porkas, tiga orang sekali menetak dengan tiga pedang, dari tiga jurusan Porkas menyelyingkilil, menjulur di tanah dan tetakan ketiga orang itu tertanyap d'tanah. Porkas terus tertia, geli hatinya menyaksikan keherenan bercampur kemarahen ketiga lawannya, demi mengetahui bahwa pedang mereka tak mengenal sasarannya.—Hai anak muda, berseru Pawang Penyeludup, siapakah engkau? Kenalkah engkau siapa pula aku?—Saya seorang petualang, sahut Porkas yang tak bersedia memperkenalkan namanya, sedang siapa bapa, saya pun tak perlu mengetahuinya.—Bicaramu sungguh sombong sekali, balas Pawang, tak layak ucapan begitu keluar dari mulut seorang pemuda. Kalau kau tak pernah kenal namaku, sekarang aku perkenalkan........... Tangan diayunkan untuk menampar pipi Porkas. Gerak kilat Porkas tak diduga oleh kepala penyeludup sekian ciapatnya tiba-tiba sudah berdiri dibelakangnyya. Tengkuluk yang dipakai pawang itu dicalusukan dari kepalanya, Porkas memegang tengkuluk itu sambil ketawa berkakakan.
—Adat di gelanggang pencak, bapa, ujar Porkas mencemohkan, kalau tengkuluk di kepala sudah dapat dicaluskan oleh lawan, terpaksalah diakui diri awak kalah.......
Empat orang yang mahir memainkan senjata tajam mengelilinginya, keempat serentak menyerang.
—Seumur hidupku belum pernah aku mengalami penghinaan sehebat ini, pawang menyahat gusar bercampur sedih, apa gerangan kutukan atas diriku? Tentu ada perbuatan kami yang terlianjur sampai kena kualat.—Guruku mengajar aku supaya berpendirian: berani karena benar, ujar Porkas sambil ketawa juga, aku ternyata dalam kebenaran. Kamu menuduh aku se-mena-mena sebagai mata-mata Belanda. Belum bersoal jawab........... sebelum aku sempat memberi keterangan tegas, diriku sudah dikeroyok. Bukankah itu satu perbuatan lancang, suatu pelanggaran yang sudah semestinya kena kualat atau ketulahan? Ucapan Porkas tak dapat dijawab oleh pawang penyeludup. Ia hanya mengamati muka Porkas, perasaan benci dan gusar yang tadi merajalela di hatinya, berobah jadi kekaguman. Anak muda itu bukan saja ahli pencak, bahan seorang pemuda yang pintar berbicara dan menempe lak.—Untuk pertama kali seumur hidupku, ujar pawang, barulah kali ini aku mendapat tempelakan yang begitu rupa sampai aku tidak panday lagi mengatakan sesuatu untuk membela diri kami. Anak muda, sudiyah engkau melupakan peristiwa yang sudah teryadi, menghapuskan kesilapan kami tadi?—Sifat manusia senantiasa silap, tuan-tuan silap saya pun silap, balas Porkas, sebab itu sekali tuan-tuan meminta dilupakan, lipat gandakali saya mengulurkan tangan! Ber-salam2an sesudah berkelahi dalam satu pertarungan yang hebat, sekali pun bagi manusia-manusia yang dianggap kejam dan bengis, malah peristiwa begitu b'asa saja. Pawang menganjurkan pada Porkas supaya sudi menggabungkan diri dengan rombongan mereka. Tawaran yang mendesak dan me-rayu-rayu d'majudan oleh pawang dan kawan2nya dengan halus ditolak oleh Porkas.—Saya masih ingin meneruskan petualangan saya, ujar Porkas tersenyun, sebelum saya mencapai idaman saya, tidak dapat saya mengabuikan permintaan tuan-tuan itu. Saya ucapkan terima kasih tak putus2nya atas kemurahan dan budi baik tuan-tuan itu.—Bolehkah kami mengetahui siapa nama engkau? pawang bertanya dan diulangi oleh kawan2nya.—Nama saya........ Halilintar, akh'nya dinyatakan oleh Porkas.—Nama yang menggemetarkan lutut orang yang berhapan dengan engkau, balas pawang, dan nama saya sendiri ialah Pawang Kalamuddin, disingkat Pawang Kalam saja. Ini saudara Tambi, ini saudara Malik, ini.................. seorang demi seorang diperkenalkan oleh Pawang Kalam kawan2nya itu.—Mari kita makan bersama, diajak oleh Pawang Kalam, ajakannya ditolak oleh Porkas, karena ia baru saja santap. Tambahna pula ia hendak meneruskan perjalananya menuyu Sumatera Timur sebelum petang mendelma. Penyeludup-Penyeludup itu memberi selamat jalun pada Porkas, sambil memuatkan ke atas perahunya bahan-bahan makanan dalam kaleng seperti biskuit, limon dan susu.—Selamat berlayur Halilintar, Allah memelihara dirimu! Porkas mengayuh perahu, memasang layar. Perahu ladiu menuyu tengah laut. Ia ketawa ter-bahak-bahak sendirian di atas perahu.—Mengapa tadi aku perkenalkan diriku pada mereka dengan nama Hallilintar? Tak salah, karena Porkas artaya hallilintar. Baik aku pakai nama Hallilintar selama dalam perantuan............. ha, ha, ha, sama yang menyeramkan juga! Sambil mengelamun memegang kemudi, ia tersenyum sim. pul. Perfaranya pertama telah menimbulkan keyakinan yang amat tebal bahwa dirinya sanggup melawana musuh yang tak dikenal, musuh yang biasa bertarung, tidak usah kuatir akan dibinasakan apalagi ditewaskan! Angin meniu sayup-sayup dan sepot-sepot saja setelah hampir ke daerah Sumatera Timur. Hallilintar, aku Hallilintar, itulah yang diapalnya, dalam persiapan diri mendarat d'perantuan yang masyhur untuk penduduk Tapanuli dan Sumatera Barat itu.
Tahun 1930 perekonomian baru mulai pulih, malaise yang hebat dapat diatasi di seluruh dunia. Deli, suatu panggilan bagi Sumatera Timur umumnya, menampung penda-tang-tang dari seluruh Indonesia. Ber-puluh-puluh perkebunan dibuka diseantero Sumatera Timur, tanah-tanah berpuluh ribu hektare, yang tadlnya jadi hutan belantara, tempat bersarang b'natang liar dan buas, berobah jadi kebon pertanian tembakau, teh, karet, nenas, kelapa sawit, kelapa nyur, sampai rakyat terdesak tak mempunyal tanah lagi untuk d'jadi-kan perladaangan bercocok tanam padi yang sangat dibutuhkan. Porkas mendarat di Tanjung Balai. Kota pelabuhan itu jadi tempat mendaratnya, karena ketika berada di Karimun, beberapa orang nelayan memberi ia nasihat agar jangan mendarat begitu saja. Penjagaan pabean amat teliti. Orang-Orang yang tidak mempunyal surat keterangan dari lurah (penghulu) tempat asalnya, akan ditangkap dan dimasukkan ke dalam terungku. Porkas tahu juga soal surat izin atau surat keterangan itu, karena ia sudah biasa berlayur keluar negeri di mana lazimnya pengawasan pada orang-orang baru sangat ketat. Tapi, sepanda-sepanda yang mengawasi lebih lcin lagi yang diawasi. Porkas terpaksa menjual perahu koleknya pada ketua nelayan, ia menaiki tongkang mereka yang penuh sarat dengan ikan-ikan gembung dan tamban, menuyu ke Sungai Ser'ndan. Asahan, mempunyal banyak paluh-paluh atau sungai-sungai keciil, dan tiap-tiap kampung di Tanjung Balai memakai nama sungai itu jadi nama kampung. Ia berangkat menuyu Medan menompang kereta api dari Tanjung Balai sesudah berlindung di rumah ketua nelayan selama lima hari. Ia telah mendengar nama Medan, dollarland, dengan uang lima perak hasil penjualan perahunya, ia ingin mengalami suasana ibukota Sumatera Timur. Di atas kereta api ia mulia pertama mengenal regu pemain kartu-tiga. Tanpa takut-takut pemain-pemain kartu tiga melangsungkan tipu muslihat memindahkan isi kantong penompang-penompang kekantong mereka. Pencopet-Pencopet ulung turun naik kapal satu setasion kelain se- taslon, membuntuti penompang-penompang yang akan dijadikan korban.
Porkas menyaksikan semua perbuatan gerombolan liar mempunyai hati kejam memakan harta korbannya yang menangis tersedui setelah sadar bahwa ia tertipu atau teryopet.
Kereta api Deli Spoorweg Maatskhappiy (D.S.M.) melanycar menuyu setasion besar Medan, setelah lewat Tebing Tinggi (Deli) penompang-penompang bertambah jumlahnya. Perja-lanan Tanjung Balai ke Medan makan tempo antara lima sampai enam jam, tiba di Medan jam 2 siang.
Porkas tidak tahu ke mana akan dituju. Di antara penompang kereta api ia berkenalan dengan seorang yang kelihatannya gagah dan sering mengadak dia berbicara.
Diperron setasion Medan, Porkas alias Halilintar berdiri agak kebingungan.
Di pinggir setasion di seberang jalan beratur taxi-taxi, amko dan sado dan masih ada empat lima buah kenderaan angkong (becak yang ditarik oleh manusia).
—Ke mana tuyuan saudara? tanya Mandor Rusman, temannya diketeta api tadi karena menyaksikan Halil (intar) agak bingung.
—Saya tak tahu entah akan ke mana. Belum pernah saya menginjak kota Medan ini.
Di kota ini banyak benar buaya-buaya darat, pencopet dan mata-mata, supaya saudara jangan tertipu baiklah turutkan ke mana saya, pergi.
Halil mengamati-mengamati wayah mandor Rusman, seorang yang berusia belum lebih 40 tahun, tangannya memakai gelang kayu akar-bahar, kumisnya melenting dan matanya merah. Air muka mandor Rusman meski/pun sekali lintas kelihatan bengis tapi matanya memancarkan perasaan kasih sayang yang terpendam dan kejudurian dan kecilhasan.
Dengan menaliki Amko mereka berangkat menuyu ke Boolweg, satu kompleks yang dikusasi oleh perkebonan Deli My tempat berkumpulnya kuli-kuli yang di werf dari Jawa dengan tipu muslihat oleh kakitangan kapitalis Belanda.
Mandor Rusman bekerjia sebagai mandor pada Deli Planters Vereeniging (D.P.V.) dan mereka menginap diru-mah seorang pegawai DPV yang letaknya dikomplex gedong maatskhappiy (kongsi perkebunan) itu di Gelugur Seberang.
BAGIAN KEEMPAT:
SISTEM KAPITALISME
Kekuasaan yang dimiliki oleh Sultan tidak terbatas. Tanah-Tanah seluruhnya diakui hak milik mereka, dan kekuasaan yang tidak ada batasnya itu, diperkuat oleh kaum kapitals asing.
Sumatera Timur digelar juga “cultuur gebied”, daerah kaya makmur dengan bahan-bahan penting untuk kekayaaan Nederland dan lain-lain negara kapitalis di Eropa dan Amerika. Tidak mau ketinggalan kapitals Jepang menanam modal-nya di Indonesia, untuk membawa harta kekayaaan dari titik keringat buruh-buruh Indonesia yang dikerdra paksa dengan gaji 20 sen sehari, bekerjia dua belas jam sehari.
Halil dengan Mandur Rusman tiba di Onderneming Senembah My di Nagaraja. Kebon baru dibuka. Di sana sini masih terdapat hutan rimba dengan pohon-pohon yang berusia ratus tahun menjulang ke angkasa. Buruh-Buruh yang baru tiba turunlah disetasion kemudian dengan jalan kaki digiring kebangsal, rumah panjang, di-tengah-tengah perkebonan kediaman kuli-kuli yang malang nasibnya.
Halil hanya mengikutkan Mandur Rusman, yang menjanjikan padanya pekerjaaan d'perkebonan Nagaraja sebagai magang atau calon kerani. Pekerjaaan amat sukar, diperkebonan pemuda-pemuda yang lepasan sekolah Rakyat lebih disukai daripada lepasan sekolah H.I.S. Ataupun Mulo (lanjutan).
Halil menahan hatinya. Meskipun sejak berangkat dari Medan ia telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana hinanya buruh-buruh itu diperlakukan, semua peristiwa menikam kalbu itu dilewatkan saja karena ia ingin mengetahui se-dalam2nya bagaimana perlakuan ditimpakan pada buruh-buruh d'kerajaan kapitalis itu.
Sebagai magang ia bekerja di kantor, menulis alamat-alamat disampul surat dengan tulis tangan saja. Kemudian, ia diajar mengisi daftar nama luruh, dan saban pagi ia harus mencatat nama buruh-buruh yang mangkir.
Tiga bulan jadi magang, administrateur kebon mengangkat dia jadi kerani. Gadi ditetapikan tiga puluh lima perak sebulan. Bagi Hallintar gaji dan kedudukan itu sudah memberi jamianan baik bagi kehidupannia di kemudian hari kelak, tambahan pula ia dapat belajar bahasa Inggeris dan Belanda sesudah selesai kerja kantor jam 5 sore.
Peristiwa-Peristiwa yang menghibakan ber-tubi-tubi teryadi. Dan peristiwa yang menumbulkan kehebohan tak dapat diatasi dengan kesabaran saja, teryadi pada suatu pagi.
Serombongan buruh-buruh wanita datang lagi. Salah seorang adalah masih dara. Ia menang's tersedui sedan demi mengetahui bahwa dirinya tertipu mentah-mentah dibawa ke Deli.
Dipujuk dengan jangdi akan diberi upah besar, Deli negeri Emas, Dollarand, di dalam tanahnya tersimpan emas yang hanya menunggu penggali-penggali yang ulet dan bernasib mu-jur saja. Ia rupanya dibawa ke tengah perkebunan. Diyauh dari kota. Diyauh dari masyarakat kampung. Terbuang, hanya dilingkungi oleh masyarakat yang senas'b dengan dia. Tiap-Tiap ada wanita-wanita yang cantik dibawa kekebon itu, mandor-mandor yang jadi tukang jilat memilih yang berparas lumayan untuk diperkenalkan pada assisten kebon. Sering diperhatikan oleh Halil, peristiwa-peristiwa itu lenyap begitu saja karena apa akibatnya ia sendiri tak pernah tahu. Hanya, pada suatu pagi sedang ia lewat di rumah ass'sten kebon, sayup-sayup terdengar olehnya pelik meminta tolong, minta am pun, dan jangan tuan, jangan tuan, saya bukan pelacur, saya punya anak dan laki.
Debar jangtung Halil ditambahi dengan simburan darah mendengar pekik teriak wanita tak berdaya itu, membulken kesatriaanya. Hari itu kebetulan hari Minggu, hari prei bekerja, dan ia sendiri hanya berpakaian sarong dengan baju telok belanga.
—Kalau aku tidak bela perempuan yang minta bantuan itu pasti seumur hidupku teriakan wanita itu mengiang-mengiang ditinggalku. Jadi hukuman yang tak dapat dipupus, jiwaku sendiri akan menunduh aku: hai pengecut, engkau bukan jantan sejati-
Hallil menerobos ke dalam rumah. Tukang jaga kebon dan pekarangan menyoba menyegah, dalam keadaan gemas, Hallil menendang tukang kebon itu teryajar lintang pu-kang. Teriakan datang dari sebuah kamar, masih sayup-sayup terdengar suara wanita menangis ter-isak-isak. Suaranya keluar: jangan tuan, saya seorang ibu, punyai laki dan anak.........
—God verdorrie........ kalau kowe tidak mau turut saya punya kemauan, ini jam juga kowe masuk penjara, me-ngerti?
Hallil menendang pintu. Rupanya tidak dikunci hanya dilengketkan saja. Assisten yang sedang memaksa wanita muda tadi, berbalik menantang Hallil.
—Kurang ajar apa kowe bikin di sini? Siapa kasih permisi masuk dalam rumah, he?
—Tolong, tolong saya.........
—Ayo pergi keluar, ass'sten van Hoek menyergah sambil mengayunkan kakinya menendang perut Hallil. Tendangan disambut dengan toya, van Hoek teryajar dan akhirnya ter-banting kejedela.
—Kowe orang Belanda terlalusombong di tanah kami, menyumpah Hallil kemarahannya memuncak sampai tak da-pat melihat pistol yang terselit di pinggang van Hoek. Belan-da kebon yang dulu pernah jadi sersan tentara Belanda, K.L., meraba pinggang. Pistol di tangan, ia terkam Hallil. Hallil memasang kuda2nya, siap sedia menangkis. van Hoek menyang'ka Hallil akan berlutut minta am pun, sebaliknya ia merasa heran bercampur gusar melihat Hallil mengancam dengan sikap menantang. Letusan tiga kali dilapaskan. Hallil mengelak ke kiri, ke kanan dan menyeruduk. Wanita yang nyaris diperkoga memekik sekuat suaranya. Ia menyangka Hallil tewas kena pelor. Namun, Hallil berdiri dan tanpa merasa bimbang, lepaskan tinju berisi ber-ulang-ulang mengenai muka van Hoek. Tinju berisi artinya sebelum kepalan dilayangkan lebih dulu diludahi. Ludah dibacakan mantel tinju melengker dijidat, didagu dan dikuping van Hoek. Tiap-Tiap tinju Halil yang menimpa bagian mukanya terus menyadi kurap. van Hoek kegatalan, mukanya se-akan-akan dibeset dengan jelatang latengan!
Dengan pistol di tangan, Van Hoek menerkam Halil.
—Ampun, saya minta am pun, mau tak mau van Hoek menyerukan dengan suara parau. Halil membimbing Kustiah keluar dari kamar dan mereka segera melarikan diri ke rumah Mandor Rusman.
Peristiwa yang teryadi diuraikan oleh Halil pada Rusman, Mandor mendengarkan dengan ketenangan, Sekalipun dalam hatinya merasa puas. Ia seorang pergerakan yang menyambar sebagai mandor.
Seorang buruan politik, yang namanya masuk les hitam PID untuk dasingkana ke Boven Digul. Rusman ber-ulang-ulang memasukkan pemuda-pemuda yang dalam anggapannya mempunyai darah panas, lekas ambil sikap membela buruh-buruh yang lemah. Penikaman-Penikaman pada assisten-assisten kebon ber-ulang-ulang teryadi berkat usaha Mandor Rusman.
—Sudah ber-puluh-puluh wanita suci yadi korban van Hoek, menerangkan Mandor Rusman, wanita-wanita yang tak berdaya dan tak seorang pun yang mendengar teriakan minta tolong berani membela. Syukur engkau tabah mengajar van Hoek. Belanda sifatnya sombong. Tapi, bila diajar dengan kekerasan, b'asanya orang Belanda itu baru merasa ngeri.
—Apakah van Hoek tidak akan mengambil balas? tanya Halil.
—Ia tidak berani menuntut engkau, Halil. Saksimu ada bahwa engkau membela seorang wanita yang hendak diperkosa. Tapi, ia bisa ambil tindakan. Engkau akan dipindahkan kelain perkebunan. Diberi pekeryaan berat yadi kerani gudang. Biasanya kalau disuruh bekerya digudang atau dipabrik membuat getah sheet, kerani atau mandor sering dikeroyok. Tukang-Tukang pukul assisten kebon dikerjakan dipabrik dan gudang. Tempat itu adalah semacam penjara bagi pegawai-pegawai kebon yang dibenci oleh assisten-assisten........
—Balk saya melarikan diri saja?
—Untuk menjaga keselamatan dirimu, itulah jalan satunya.—Tapi, bagaimana dengan Kustiah? Wanita muda itu ter-sedut ketika pembicaraan mengenai pribadinya.—Kustiah tidak akan selamat kalau berada dikebon ini seterusnya, Rusman memandang pada wanita muda itu dengan sayu, dia juga harus segera meninggalkan perkebunan ini.—Bagaimana dengan anak dan suami saya? tanya Kustiah.—Ana'kmu boleh kau bawa, biarlah suamimu tinggal.—Tidak akan bertemu lagi untuk se-lama-nya?—Zaman penjadah ini kita bangsa Indonesia mengalami nasib seperti zaman Uncle Tom's Cabin di Amerika Serikat. Buruh? diperkebonan tidak lebih daripada budak belian dalam anggapan van Hoek. Suamimu tentu bertanya ke mana engkau pergi. Akhirnya ia akan tahu perbuatan van Hoek, karena banyak buruh-buruh yang mendengar ‘pekik teriakna tadi selainnya Halil, bukan?—Benar, balas Halil, buruh-buruh lain mendengar juga hanya mereka menundukkan kepala, menutup telinga kanan dan kir dengan hati teriris-teriris.—Bila Ujang suamimu mendengar perlakuan van Hoek atas dirimu yang begitu biadab, pasti ia akan menyabut goloknya memenggal kepala van Hoek..........—Dan suamiku akan dihukum gantung, mandor?—Benar. Janganlah hiraukan apa yang akan teryadi dirinyaa. Pembalasan yang kita atur harus setimpal dengan kekejaman Belanda yang lebih ganas daripada manusia biadab. Kustiah menangis, dipuduk oleh Rusman. Keputusan mutafak, Halil dan Kustiah di saat itu juga dipandu oleh Rusman melarikan diri......... Belum sejam berialu terdengar tontong dan bedug dibunyikan. Satu alamat bahwa diperkebonan itu teryadi kerusuhan atau pengamukan. Semua mandor hadir di kantor. Juga Rusman tidak ketinggalan, van Hoek dengan muka seperti orang mabuk, merah sebagai bunga raya, menge- luarkan perintah supaya kerani yang bernama Halil ditangkap. van Hoek menuduh Halil memasuki rumahnya dengan paksa untuk merampas senjata api, repolpernya, satu perbuatan yang bisa dihukum seumur hidup.—Halil mestii ditangkap. Ikat badannya sama tali belati. Bawa kesini tapi lebih dulu kasih ajaran keras, mengerti? Perintah diterima, semua mandor menyatakan patuh me-laksanakan. Ujang dari tadi mencari ke mana Kustiah, isterinya pergi. Ia berdiri di-tengah-tengah mandor-mandor dan kuli-kuli yang be-ratus-ratus mendengarkan perintah van Hoek. Dari beberapa buruh wanita ia dengar bahwa isterinya berada tadi pagi di rumah van Hoek. Mereka dengar teriakan-teriakan yang merayukan, tak pelak lagi suara Kustiah.......... Mereka juga melihat Halil memasuki rumah dengan paksa. Kemudian letuslan tembakan......... Halil dan Kustiah melarikan diri dari rumah van Hoek, nyata Kustiah diamiaya. Darah mencucur dimunka, membaisai bajunya. Uralan dengan berbisik itu didengarkan bleh Ujang. Ia seperti juga lain-lain buruh diperkebonan itu tertipu meninggalkan kediamannya di Cibulan, Bogor. Ia dipikat dengan janji-janji muluk, dengan pinjaman masing-masing sebesar seratus perak. Mereka sangka akan dipekerjakkan di kantor, disatu kota. Tak tahuha mereka dihubalangkan ke tengah hutan. Kerja menebas kayu-kayu yang besar, berkelahi dengan ular dan lain-lain binatang buas.......... Ujang menyaksikan sendiri nasib wanita-wanita yang muda. Diperkosa. Matanya terbelalak. Ia lihat muka van Hoek. Kebenciana-nya timbul.—Aku sudah bersumpah akan hidup dan mati bersama Kustiah, berkata Ujang dalam hatinya, sekangar isteriku sudah diperkosa. Tidak perlu aku hidup di dunia ini lagi. Ia tampil ke depan. Minta bertemu dengan van Hoek. Asisten itu sudah mastuk ke dalam rumah. Ketika diberi tahu bahwa ada seorang buruh hendak menghadap van Hoek tidak berpikir panjang. Ia sangka buruh itu tahu di mana Halil bersembunyi. van Hoek keluar ke halaman untuk me- nerima kedatangan Ujang. Golok di tangan kanan, Ujang mendekati van Hoek, lebih dulu angkat tabik dengan tangan kiri.—Ya, ada apa? Ujang mengayun golok. Leher van Hoek ditebas. Ketika itu juga ia rebah sambil melolong minta tolong.—Jangan dekat, mengancam Ujang, golok di-ayun2kan karena ia sudah kalap, gelap mata. Untuk kedua kalinya tontong dan bedug berbunyi bertahu-bertahu dionderneming Nagaraja, yang letaknya dekat Pematang Siantar, 15 K.M. dari Tebing Tinggi.
BAGIAN KELIMA:
SELAT MALACCA
Sumatera Timur mempunyai beberapa kerajaan yang diprintah oleh para Sultan. Pertama, kerajaan Deli, kedua kerajaan Serdang, ketiga kerajaan Langkat, keempat kerajaan Asahan. Empat kerajaan itulah yang terbesar dan tertua, Sekalipun masih ada kerajaan-kerajaan lain seperti Bila dan Panet, namun empat kerajaan itulah yang memegang peranan penting. Datuk Danialsyah, mempunyai pengaruh besar dan kekuasaan yang bukan kecil untuk menentukan nasib para keluarga ningrat di Sumatera Timur. Seorang yang sudah berumur juga, 43 tahun, berpendidikan HBS dan karena kemahirannya bahasa Jerma dan Perancis, selainnya bahasa Inggeris dan Arab, sering dibawa berunding dalam rapat-rapat rahsia oleh para Sultan dan para Residen dan Gubernur Belanda. Jabatannya sebagai pengawas kesultanan setaraf dengan kedudukan seorang Residen, satu pangkat yang tinggi di zaman kolonial, Ia kelihatan berada di kantor Residen di Medan, Suka Mulia, berbicara dengan Residen yang kekuasaannya besar dan menghadapi tanggung jawab langsung setiap hari.
—Datuk, seya sering terima laporan bahwa smokkel menyadalela sekali dipanta; Sumatera Timur. Perahu-Perahu penyeludup leluasa saja membawa hasil bumi ke Melaya, apakah Datuk tidak punya usul untuk mencegah teryadinya penyeludupan dan membasminya sekali? Residen Baron mengeluarkan pertanyaan itu, dengan kata-kata tajam se-akan-akan satu tekanan supaya Datuk Danialsyah turut bertanggung jawab.—Kalau saya diberi kekuasaan lebih besar dari sekarang, balas Danialsyah, perkara penyeludupan bukan saja dapat dibasmi malahan saya akan bertindak lebih jauh lagi. Pelabuhan Belawan akan bersih daripada pegawai-pegawai yang korup...! Residen Baron Makhtze membelalakkan mata.—Datuk sudah diberi kekuasaan ckup besar. Bila perlu boleh meminta Polisi Bersenjata untuk menangkap gerombolan smokkelaar. Kekuasaan apa lagi yang datuk inginkan?—Polisi sendiri. Bagaimana saya dapat menangkap kalau saya tidak punya Polisi Bersenjata sendiri. Saya hanya boleh melaporkan, sedang penyeludup sudah siap berangkat saya baru angkat tilpon memberi laporan. Penyeludupan dipaitai baru secara kecil2an, penyeludupan besar2an teryadi dari pelabuhan-pelabuhan yang mempunyai pegawai. Residen menggaru-menggaru kepalanya, Ia seorang pegawai tinggi pemerintah kolonial yang diberi tugas mengamankan cultuurgebied, dari penikaman-penikaman diperkebumian sampai kepada bidang smokkel (menyeludup), dan utama sekali mengajuik hati para Sultan dan Datuk-Datuk. Sultan mudah dipermainkan, para Datuk lebih licin. Sultan biasanya orang mendatang, Datuk terdiri dari ketua rakyat asli sendiri, karena itu di Sumatera Timur kekuasaan Datuk tidak boleh dianggap enteng.—Datuk tahu terlalu banyak, rupanya.—Itu tugas saya. Pelabuhan Belawan terbuka untuk tukang smokkel. Saya sudah berulang-berulang memberi laporan pada tuan, tapi, tidak ada tndakan tepat telah diambil. Bagaimana saya bisa bekeryda membasmi penyeludupan di pantai kalau di pelabuhan terus menerus berlangsung?—Usul Datuk saya akan sampalkan kerapat tertinggi di
Batavia bulan depan. Apa lagi usul Datuk yang harus dibin-cangkan?—Tanah rakyat sudah banyak yang dirampas perkebonan begitu saja. Rakyat sekarang tidak punya tanah perladangan. Tanah-Tanah yang belum dikonsei tidak boleh lagi diambil oleh perkebo-nan, kalau tidak saya tidak jamin keselamatan perkebonan.—Apa? Kebon terancam?—Tuan sudah dengan perkara pembunuhan asisten?, dan belakangan ini pembakaran bangsal-bangsal?, bukan?—Saya sendiri sudah menyuruh orang-orang saya melakukan penyelidikan dan menurut laporan yang saya terima perbuatan itu bukan dilakukan oleh kuli-kuli melainkan orang-orang di luar per-kebonan.—Nah, itu laporan yang Datuk terima hampir serupa de-ngan yang saya terima juga. Cuma apa Datuk tahu siapa orang-orang luar itu?—Saya terima juga laporan bahwa orang-orang asing pemilik lembu-lembu yang susunya diperah, sering lembu-lembu itu memasuki ke-bon-bon merusak tanaman lantas lembu-lembu itu dibunuh oleh kuli-kuli dan dagingnya dibantai. Pemilik lembu-lembu itu melakukan pem-balasan sakit hati dengan membakar bangsal-bangsal terutama bangsal-bangsal yang penuh dengan tembakau-tembakau yang muda siap un-tuk diekport ke Europa.—Laporan Datuk belum lengkap. Di antara orang-orang itu ada juga kuli-kuli yang melarikan diri, sampai sekarang masih ber-semunyi, terlalu licin untuk dibekuk oleh Polisi dan Reserse. Jadi peristiwa pembakaran bangsal-bangsal ini ada berhubungan dengan politik............—Politik? Datuk Danialsyah mengerutkan keningnya, po-litik, tuan Residen? Apa kuli-kuli juga pintar main api politik? Air muka Residen tambah merah, se-akan-akan baru minum branj dua seloki karena nota yang diterimanya dari Bogor, langsung dari Gubernur General ialah: Cultuurgebied Suma-tera Timur tidak boleh ditular aliran politik, terutama harus dit Yegah masuknya kaum politik keperkebonan. Nyata seka-rang orang-orang politik yang pintar mendalangi perbuatan me-nyerang dan membinasakan orang-orang kulit putih yang jadi assisten perkebonan sampai ada yang tewas dan banyak yang luka-luka dan takut menjalankan kevajihamna bila tidak di-kawal oleh Veldpolitie. Bila penyerangan dan pembunuhan-pembunuhan masih terus berlaku tanpa ada suatu usaha tegas untuk membasmi perbuatan-perbuatan nekat itu, terpaksa di daerah perke-bo-nan di Sumatera Timur akan dinyatakan berlaku peraturan darurat. Kita akan mengangkat Gubernur yang berpangkat militer, juga Residen sampai Kontrolir akan diangkat per-wira-wira militer, seandainya dalam sebulan lagi belum ada per-obahan-obahan tegas, tegasnya tertangkap dan musnahnya kaum terror. Residen memandang tajam pada Datuk. Ia masih belum mau menaruh kepertayaman penuh bulat pada Datuk karena desas desus mengenal diri Datuk itu sampai ketelinganya bersimpang siur. Dengan lain perkataan ada seorang yang licin, mungkin seorang yang suka “lempar batu sembunyi tangga”.—Ya, buat sementara soal kekacauan diperkebonan harus kita taroh perhatian se-besar2nya, dan saya tugaskan Datuk untuk menyelidiki lebih saksama, kemudian selekas mungkin memberi laporan konkrikt.—Tapi, tentang usul saya tadi, tuan besar, bagaimana?—Datuk minta supaya diberi kekuasaan mempunyai Polisi sendiri? Iu belum dapat diputuskan, karena masuk kom-petensi Gubernur General. Saya akan majukan usul itu, buat sementara, baik Datuk lebih pergiat jaring-jaring untuk menyerkap biang keladi keru-suhar-suhar itu. Pertemuan diakhiri dengan bersalaman. Datuk Danialsyah berangkat meninggalkan kantor Residen di Sukamulia, me-naiki mobil Khevrolet menuyu Kesawan. Residen membuka laci mejanya. Ia keluarkan satu berkas surat-surat rahsia, laporan-laporan yang masuk dari seluruh daerah ke-kuasaannya. Penyeludapan besar2an semakin menghebat di-pantai Sumatera Timur dan Acen. Diperkebonan kerusuhan-kerusuhan terus memuncak didalangi oleh orang-orang politik yang mahir dan mempunyai sel-sel sampai tidak dapat diketahui siapa yang menyadi auctor inteletualisna.
Pergerakan nasionalis extrim kiri sudah dicatat dalam les hitam, orang2nya sudah d'tandai dan langkah-langkah mereka dikuti dengan saksama oleh kakitangan Politieke Inlikhtingen Dienst, atau Dinas Rahsia Bagian Politik, ke mana juga mereka pergi.
Rapat-Rapat rakyat secara openbaar, rapat terbuka di-gedung-gedung bioskop, rapat-rapat agama dimadrasah-dimadrasah atau di mesjid-di mesjid juga dihadiri oleh PID.
Sementara Residen menelaah surat-surat laporan rahsia, Datuk Danialsyah berhenti di Kesawan, di depan kantor Mitsubishi Busan Kaisha.
Ia disambut oleh direktur M.B.K., dibawa masuk ke dalam kamar istimewa di loteng. Kantor M.B.K., perusahaan Nippon yang terbesar mempunyai cabang-cabang seluruh Indonesia, berpusat di Tokyo, Cabang-Cabang M.B.K. terdapat juga di seluruh Asia, seantero Europa dan Amerika. Perusahaan perkapalan, export import hasil bumi dan hasil perkebonan, mempunyai ahli-ahli dalam segala bidang.
—Apa kabar, Datuk? Onodi memujukan pertanyan, seraya menyugukan cerutu Alicante.
—Kelihatan Datuk hari ini agak merasa kurang nyaman, bukankah begitu? kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Onoda menggunakan logat Malaya. Sekalipun ia seorang Nippon tulen tapi sepuluh tahun lebih ia berdiam mulai Penang, Ipoh, Kuala Lumpur, Seremban, Malacca, Yohore dan Singapure, ber-ulas-ulas bertugas membuat peta Semenanjung Utara dan Barat untuk kepentingan Dinas Rahsia Yapan. Ia masih muda, berusia tiga puluh lima tahun, sering tersenyum dan matanya bersih jernil.
—Ada sesuatu yang mengesalkan hati saya, dengan terus terang Danialsyah mengakui, tadi............
—Dari mana Datuk tadi? tanya Onoda lembut tapi mendesak.
—Tadi saya dipanggil oleh Residen.
—Ha, ada kabar penting?
—Penting dan rahsia sekali.
—Bolehkah kami mengetahuinya?
—Entahlah............
—Datuk mau menarah harga tinggi atas berita rahsia itu?
—Saya......... saya dalam kesulitan, mengaku Danialsyah.
—Uang?
—Ya, dan alat senjata.
—Ha, ha, ha. Datuk sudah berpikir sampai sekian jauh, rupanya?
—Tahun depan rencana saya sudah harus terlaksana.
—Untuk merebut kekuasaan dari paduka Sultan?
—Sultan terlalu lemah. Rakyat sudah sangat terjepit, sukar untuk bernafas. Saya minta bantuan tuan..........
—Bantuan uang dan senjata?
—Ya, dan di masa terdesak benar, untuk melindungi saya.
—Itu sudah saya janjikan lebih dulu. Berapa uang Datuk ingini?
—Lima puluh ribu dollar.
—Dollar, kenapa dollar?
—Gajyi kakitangan saya yang berdiam di Malaya.
—Itu akan saya sediyaken. Lain lagi?
—Senjata-Senjata seperti pistol dan senapang karaben. Kalau mungkin mitrailleur............
—Mitrailleur sulit. Pistol dan karaben dapat saya usaha-kan. Bila diperlukan? Onoda tersenyum terus melayani Danialsyah.
—Tahun depan. Saya menunggu momentnya yang tepat. Onoda mempersilakan Danialsyah duduk di'satu meja, di atas meja sudah sedia taperecorder, yang di tahun itu Meskipun belum tersia; haur diluaran izpi taperecorder dimiliki oleh perusahaan-perusahaan besar yang bersifat Internasional.
Danialsyah menguralkan segala sesuatu percakapan dengan Residen tadi di kantor Sukamulia, diuraikan dalam bahasa Inggeris. Kata-katanya diucapkan sepatah demi sepatah agar jelas tidak ada yang kabur dipendengaran. Ti'ga perempat jam kemudian selesai ya mencurahkan rahsia-rahsia percakapannya dengan pembesar Belanda tadi, Onoda berdiri dan menyerahkan ketangannya sehelia kheque seharga $ 50.000.
Ketika ia turun dari tangga dan berdiyalan ke halaman kantor M.B.K., tiga orang pencopet ulung mencoba mengakali dirinya. Seorang pura-pura tersandung kakinya ke kaki orang yang jadi konconya, ia terjierembab dan ber.guling-guling hendak menggait kaki Danialsyah. Muslimah pencopet-pencopet itu lebih dulu sudah dmaklumi oleh Danialsyah, ia meloncat masuk ke dalam kantor kembali. Opas kantor disuruh mengusir pencopet-pencopet yang mencoba mendiyalankan guatingan saku orang dengan pura-pura berkelahi, Danialsyah dengan dikawal dua orang pegawai Nippon naik ke atas mobil.
—Danialsyah, hati-hati dengan diri Datuk jangan sampai terkicuh, memberi nasehat Ogano, salah scorang pegawai yang sebenarnya spion ulung.
—Terima kasih.
Khevrolet dikendarakan ke arah kota Binjai. Di atas mobil Danialsyah menyelitkan kheque sebesar 50.000 straits dollar kelepitan kopiah yang dipakai di kepalanya. Ia duduk di belakang, supirnya scorang koluarga dekatnya, adalah scorang anak muda yang berusia belum lebih 25 tahun.
—Pencopet tadi, diucapkan oleh Nirwansyah supir, nam-pakna seperti orang-orang yang sering berada di kantor polisi......
—Mereka adalah polisi menyamar sebagai pencopet, menegaskan Danialsyah, dan muka mereka aku sudah kenali. Apa dapat kau mengingat muka mereka kalau bertemu lain kali, Wan?
—Secepat kilat aku telah memotret mereka tadi di kaki lima M.B.K., balas Nirwansyah, fotonya bisa kita perbesar dan gambar mereka itu kita masukkan dalam album atau “seteru” kita.
Hampir Sunggal, kiri kanan jalan raya tumbuh pohon jati, itu kayu yang berharga untuk dijadikan perabotan. Penduduk yang ingin mencari kayu untuk dijadikan pemasak api bertanak nasi, bila kedapatan mengambil ranting-ranting pohon jati yang terbuang-terbuang citanah, tidak alpa diserkap, dimajudkan ke pengadilan dihukum penjara lima hari.
Dengan keberanian luar biasa scorang laki-laki yang berpa-kaian compong camping dan mukanya coreng moreng, menyetop mobil yang dikenderai oleh Danialsyah.
Seandainya bukan siang bolong, mungkin Danialsyah akan menyuruh supir menekan gas, mlarikan mobil dengan kece-patan seratus KM per jam. Supir menekan rem kaki, Khe-volet merengek, berhenti se.konyonq-konyonq.
—Datuk Danialsyah? bertanya laki-laki itu sedikit bimbang.—Benar, saya sendiri. Apa kehendakmu padaku?—Saya ingin bertemu dengan Pawang Kalamuddin.......... Mendengar nama pawangnya itu Danialsyah agak terperan-jat.—Engkau siapa?—Nama saya ialah Halilintar...........—Nama yang luar biasa, apa maksudmu mencari Kalamuddin?—Kami telah angkat saudara. Pawang Kalamuddin pernah menyatakan kalau saya dalam bahaya dan ingin menda-pat perlindungan dari musuh, carilah dia.—Sekarang dirimu dalam bahaya?—Benar, Datuk, dan bukan saya sendiri.—Bukan pula scorang diri?—Ada scorang perempuan muda yang saya bela dar!.....—Naiklah. Mana perempuan itu? Tidak ada tempo untuk berbicara panjang di tengah jalan raya ini, setiap jam ada Polisi Bersenjata ronda.
Halli bersuit. Kustiah dengan anaknya digendong keluar dari balik pohon jati, secepat mungkin naik ke atas mobil. Mereka berdua ditutupi oleh Danialsyah dengan kain terpal, mobil dilarikan sekencang2nya menuyu Binjai. Di dekat tanah lapang, Danialsyah turun, ia mempunyay rumah isteri muda di situ. Pada supir diperintahkan meneruskan perjalan ke Tanyung Pura. Halli dan Kustiah harus disembu-nyikan di Bagan.
Jarak yang harus ditempuh adalah sejauh 45 K.M. lagi. Halli dan Kustiah mandi keringat karena diselubungi dengan terpal, anak yang digendong Kustiah men-jerit-jerit.—Mari anak itu letakkan di depan, dekat saya, berkata supir.
Oleh karena hembusan angin, anak keciil berusia setahun setengah itu tertidur, berhenti menjerit.
Kemegahan karena Astana yang baru dibina, dan Mesyid yang Meskipun kecil namun mempunyai potongan menarik.
Kota itu kecil, tapi makmur. Kedai berleret, pembeli berdesak-berdesak membeli pakaian dari sutera, kain-kain palekat Madras, kain songket Malaya, kain tenunan Bugis, kain Silungkang, yang digemari penduduk.
Toko-Toko emas dan intan berlian tidak pernah sepi.
Di depan mobil dikibarkan bendera “kuning”, satu tanda bagi Polisi Lalu Lintas bahwa mobil itu bebas dari pemeriksaan. Supir memasuki kota untuk menghilangkan kecuri-gaan, kemudian berbelok menyari yalan diulur jalan raya, memasuki jalan-jalan kampung yang b'asanya dilalui oleh sado dan pedati saja.
Dari jurusan menusur sungai, mobil dilarikan menuyu ke Bagan. Disatu perkampungan nelayan, mobil dihentikan, supir turun lalu memasuki sebuah teratak. Pintu ditolak. Di dalam berada seorang perempuan tua.
—Emak, Pawang Kalamuddin sudah pulang?—Sudah, nak.—Di mana ia kini?—Dipekan.—Begini emak. Kalau pawang pulang kemari sampaikan perintah Datuk. Katakan bahwa anak muda dan perempuan beranak kecil ini harus dilindungi.—Siapa mereka ini?—Mereka kenal pawang, biarlah pawang sendiri yang bertanyakan hal ihwal mereka. Perintah Datuk jangan lupakan, ya emak!
Supir melarikan mobilnya kembali kekota. Selesai tugasan-nya, ia merasa lega. Baginya urusan Datuk amat berbelat belit sekali, ber-ulang-ulang ia turut terbelit terlibat, namun, kesetiannya pada datuk bukan kepalang tanggung.
Di tengah jalan ia berselisih dengan Pawang Kalamuddin yang menompang bis. Dengan tangan kiri diisyaratkannya, sambil menundukkan tiga jari, mulai dari kelingking sampai telunyuk, disambut oleh Kalamuddin dengan mengangguk2kan kepalanya.
—Apa kabar saudara yang tercinta? Kalamuddin mene-gur Halil demi mereka berhadapan di dalam teratak nelayan di dekat Bagan.
—Kini tiba masanya saya minta perlindungan. Mujur tadi saya melihat mobil Datuk lewat dekat Sunggal. Sudah seminggu kami bersembunyi di-semak-semak, tidur beratapkan langit, karena di-buru-buru oleh Polisi dan Reserse. Dari beberapa orang nelayan di Tebing Tinggi saya dapat tahu bahwa pawang bekeryda pada Datuk Danialsyah. Firasat saya menyatakan bahwa mobil Datuk yang lewat di jalan raya............. lalu saya hentikan. Berkat kebaikan hati Datuk kami dibawa kemari............
—Dan malam ini juga kamu harus berangkat dari sini. Meskipun tempat ini agak aman, saya merasa kuatir reserse yang menyusul jejak kamu telah mengetahuinya.........
—Ke mana kita pergi?—Ke Pulau Berhala.—Dan Kustiah dengan anaknya, bagaimana?—Apakah Kustiah juga turut dicari oleh Polisi?—Ya dan tidak.—Astuga, bagaimana maksudmu?—Sebetulnya saya yang dicari untuk ditangkap karena membela Kustiah yang hendak diperkosa asisten kebon...... sedang suami Kustiah sempat membalias dendam membunuh van Huk, assisten itu.—Suaminya yang membunuh, mengapa ia takut?—Begini pawang. Kalau Kustiah diketahui di mana bersembunyi, ia akan ditahan dan ditanyai mengenai jejak saya. Pasti rahsia tak dapat dipendam.—Ada akal. Kustiah bisa saya masukkan ke dalam lingkungan astana untuk jadi dayangdayang. Bila sekali masuk astana tidak ada yang berani mengganggu gugat. Nama Kustiah harus diganti dengan Rohani.
Kustiah mendengarkan pembitiarana antara dua orang lak-lak itu sambil termangu. Kenangannya melayang keperke-bonan Nagaraja. Teringat suami yang dicintai, entah hidup entah mati, akibat membela kehormatannya.
—Bagaimana pendapatmu, Kus? pertanyaan sewajaryna dimajudkan oleh Halil, sukaakah engkau berlindung diastana jadi dayangdayang?—Saya belum tahu apa kerja dayangdayang diastana?—Dengan lain perkataan, menegaskan Pawang Kalamuddin, menyadi pelayan puteri-puteri.—Bukan diyadi selir?—Bukan. Keradaian ini teguh memegang agama Islam. Tidak ada penyelewengan, karena memelihara selir sama dengan perzinahan............ Kustah akhiiraya menurut apa saja yang baik menurut pertimbangan Halli.—Besok engkau berangkat ke Tanjung Pura dibawa oleh emak. Sementara itu kau harus memakai pakaian baju panjang dan bersanggul dua. Dan ingat benar nama barumu ialah Rohani. Tengah malam Pawang Kalamuddin membawa Halli menaiki sampan. Mereka berkayuh perlahan-perlahan mengilir menuyu ke laut. Eagan yang jadi pelabuhan bagi perahu-perahu tongkang-tongkang para nelayan, sibuk dengan pelaut-pelaut yang baru berlabuh dan yang hendak ke laut. Polisi pabean tetap melaksanakan tugasnya. Sampan ditahan oleh Polisi dan dikerahaan supaya memperlihatkan surat keterangan.—Hai, awak tak kenal siapa aku? menggertak Kalamuddin.—Pawang kami kenal, sahut Polisi yang berada di atas motorboat, tapi kawan pawang itu, siapa?—Kemenakan saya, menerangkan Kalamuddin.—Nama?—Namanya......... namanya.......... Kalamuddin bingung.—Nama saya Lintar, menyambung Halil.—Lintah? mengejek Polisi.—Lintar, Lintar, bukan Lintah.—Maaf, agaknya kemenakan pawang baru kali ini turut ke laut?—Kesini baru kali ini. Tapi, ia seorang pelaut asli dari Pantai Cermin.
—Maaf, sekali lagi maaf, kami ditugaskan mencari seorang pelarian yang melawan assisten kebon, seorang muda namanya Halli, menerangkan Polisi sambil mengamati-mengamati perobahan air muka Kalamuddin dan Lintar.—Halli? Jauh beda nama orang itu dengan kemenakan saya, Lintar, sahut Kalamuddin.—Usia orang yang dicari itu dua puluh lima tahun. Lintar berapa usia engkau?—Lebih kurang dua puluh tahun.—Beisekolah di mana?—Eh, pertanyaan kamu se-akan-akan kamu tak percaye padaku? membentak Kalamuddin.—Jungan campur bicara, balas menghardik Polisi, pertanyaanku harus dijawab oleh Lintar sendiri. Pawang Kalamuddin naik perangsangnya. Porkas sendiri merasa bahwa akibat perbuattannya orang lain kena getah-nya, sebab itu ia minta supaya pawang meneruskan bersampan ketongkang yang menunggu, ia sendiri akan menyelaskian urusan dan sangkutpautnya dengan anggota Polisi Pabeen. Porkas naik ke atas motorboat. Pawang Kalamuddin berkayuh meneruskan perjalanan ketongkang yang sudah sedia hendak berlayar. Semua surat izin telah rapi dicap dan ditanda tangani oleh Syahbandar. Demi Pawang Kalamuddin naik di atas tongkang, anak buahnya berkayuh dan tongkang berlayar menuyu tengah laut. Di atas motorboat Porkas berdiri di antara dua orang Polisi yang menyandang senapang dan pedang tersisip di-pinggang.—Kalau kamu tak percaye bahwa nama saya Lintar dan saya kemenakan Pawang Kalamuddin tangkaplah saya, asal cukup bukti.—Engkau menantang pegawai polisi yang melakukan tugas, Engkau harus dibawa ke Medan untuk diselidiki oleh Reserse Kriminil.—Ada perintah untuk menangkap saya?—Kami berhak menahan setiap orang yang dicurigai gerak geriknya.
—Adakah kecuriagaan atas diri saya?—Pernah kami menyaksikan foto Halil di kantor Polisi. Agak mirip dengan engkau.......... Untuk pertama kal; Porkas ketawa. Kedua Polisi menebal kecuriagaan di hati mereka.—Engkau berani mencemohkan kami. Sekarang engkau kami tangkap..........—Silakan, ketawa terus Porkas, sambil menyiapkan diri. Klewang dicabut oleh salah seorang, sedang Polisi lainnya mengokang senapang. Porkas melepaskan toya tepat kena pelpis mata lawannya. Begitu pemetik senapang ditarik, Porkas meniarap, pelor melayang ke arah kosong. Dengan kaki kanan ia melepaskan balang, sepak yang diayun sambil membaliikkan tubuh. Polisi yang memegang senapang teryajar ke dinding motorboat. Senapang lepas dari tangannya. Masinis dengan pembantuannya mengetahui teryadi perkelahian datang memberi bantuan. Perkelahian empat lawan satu, lawannya menggunakan potongan besi dan klewang serta senapang, berjalun seru. Porkas mengelak ketika pedang dibebaskan kebatang leher-nya, ia pergunkan gerak harimau yang lincah gesit. Satu persatu musuh dilemparkan ke air, sekaran ia sendiri berada di atas motorboat. Perkelahian yang hebat itu disaksikan pegawai pabean yang berada di Bagan, tilpon dibunyikan minta bantuan dari Tanjung Pura. Insaf dirinya dalam cengkeraman bahaya yang lebih besar, Porkas memungut masinis dengan pembantuannya dari air, kebetulan mereka cemas terbenam karena kena pukulan Porkas tadi, dan memaksa masinis menjalan-kan motorboat ke arah laut lepas.—Sekarang aku kembali jadi palarian, sekaran aku jadi lanun yang mempunyai kekuasaan tak terbatas di Selat Malacca! Porkas berteriak suaranya lantang, tinju diacungkan ke arah Malaya.—Kalau kamu menurut apa yang kuperintahkan, ujar Lintar kepada Ulong dan Ngah, masinis dan pembantuannya yang rupanya berkakak beradik, nyawa kamu selamat. Sebaliknya kalau kamu membuat sesuatu tindakan nyeleweng, ada maksud hendak menyahannamkan diriku, kamu akan rasai bekas tanganku, kamu akan merasa menyesal hidup di dunia dan mengharap tidak pernah lahir ke dunia ini. Mengerti?
Porkas memerintahkan pada masinis menjalankan motorboat ke laut lepas.
Ulong dan Ngah mengangguk, air muka pucat dan lutut gemetar. Mereka insaf bagaimana hebat Porkas dalam perkelahan, mereka pun insaf bahwa pemuda itu kalau marah tak kenal am pun, seballiknya kalau dipatuhi akan memperlihatkan budi balkinya yang penuh rasa prikemanusiaan.
Selat Malacca ainnya tenang, gelombang yang menggunung jarang teryadi, dan selat itu dari zaman purbakala tempat lalu yintas perahu-perahu dan tongkang-tongkang penduduk Nusantara yang berlayar kian kemari. Ketika kapal-kapal Portugis, Belanda, dan kemudian Inggris mengarungi Selat Malacca, kaum lanun yang bersarang di pantai Aceh, dan di Pantai Kelang menyari mangsanya di antara kapal-kapal dagang Barat itu.
Banyak harta benda dapat dirompak. Banyak jiwa mela-yang dalam pertempuran di tengah selat itu, sekiranya, riwayat kuno diulangi lagi ditehun 1932 oleh Hallintar, pemuda yang jadi buruan di darat Sumatera Timur.
Bevada di tengah-di tengah laut diselat itu Porkas melihat sayup-sayup seekor ikan, yang dinamakan oleh nelayan-nelayan Melayu “tudung saji” hanyut terapung dipermainkan oleh ombak. Ikan itu bentuknya seperti buntal, menggembung ke atas seperti tudung saji. apabila dapat disaksikan oleh para nelayan memberi alamat bahwa nas'bnya dicucuri rakhmat oleh Allah Swt.
BAGIAN KEENAM:
SINGAPORE
Kapal-Kapal api atau steamship simpang siur di Selat Malacca, sedang tongkang-tongkang dan perahu Bugis tak putus2nya terombang ambing se-akan-akan mengisut lakhsana siput. Di antara Su-matera dengan Malaya terdapat ber-puluh-puluh gosong, pulau-pulau keci yang menyadi tempat berlindung kaum nelayan apabila topan dan badai berkecamak.
Pulau-Pulau itu ber-macam-macam namanya, seperti Pulau Rusa, Pulau Ayam, Pulau Babi, Pulau Salah Nama dan lain-lain lagi, daa nelayan-nelayan yang mendiami pulau-pulau itu semua bergantung hi-dupnya dari hasil penyeludapan.
Hallintar alias Porkas hidup sebagai orang buruan, nyawanya terancam dibentak mati oleh patroli-patroli laut, kalau ia tertangkap diperairan yang masuk wilayah jajan Belanda, ia tidak diberi am pun lagi.
Hampir setahun telah berjalan. Motorboat dengan ciat merah tua mondar mandir di Selat Malacca memandu penyeludup-penyeludup dari Riau, mengintai kapal-kapal patroli Polisi Laut Belanda yang berpangkalan di pulau Sambu. Motorboat ditompangi oleh Hallintar sebagai pelindung kaum penyeludup sudah di-kenal oleh Polisi Laut, sengaja menyadikan umpan untuk membelokkan arah kapal-kapal Pol'si Ronda supaya terkicuh.
Motorboat Hallintar diburu sampai ke-pulau-pulau keci, berkejar2an sampai ber-jam-jam lamanya, sementara itu tongkang-tongkang penyeludup berlayar ber-gegas-gegas menduy ke Singapura dan Malacca membawa damar, rotan, cengkeh dan kopra. Karena tindakannya membela kaum penyeludup, serta disebabkan keberamannya menantang marabahaya apabila dapat dicekal oleh Polisi Laut, Hallintar digelar oleh para nelayan dan penyeludup “Pendekar Selat Malacca”!
Di antara bajak-bajak laut itu memang ada satu sukubangsaa yang hidupnya dan berumah tangga se-mata-mata di atas air. Sukubangsaa itu namanya Bajao, atau Orang Laut, terdapat di Yohore sampai ke kerajaan Sulu di Filipina, hidup dari pe-nyeludapan dan di masa paceklik atau musim topan mereka terpaksa melaksanakan perompakan. Tongkang-Tongkang yang lewat membawa bahan-bahan untuk diseludupkan jadi mangsa suku Bajao tersebut.
Di Singapura berlangsung keramaian merayakan Ulang Tahun King George V, satu hari yang amat dimeriahkan seluruh Semenanyung, siang sampai malam arak2an dengan barongsai, persebahan penduduk Tionghoa, tabut oleh penduduk India, hadrah oleh penduduk Melayu, dll. Malam hari dilangsungkan lagi arak2an dengan tar2an di atas kereta yang dihlasi serba mewah, dinaliki oleh dara-dara muda belia menari dan bernyanyi diiringi oleh orkes tiup.
Pusat keramaian dan pelesiran, Happy World, New World dan Great World tidak pula lupa menyadikan acara-acara keramaian istimewa............. tak dapat dilawan oleh penduduk Yohore dan Malacca yang ber-duyun-duyun datang dua tiga hari sebelum keramaian dilangsungkan.
Halli memakai pakaian East End scle yang baru ditempa dengan harga seratus limapuluh dollar, lekatkan kumis palsu dan tambah rambut dipipin sampai wayahnya berubah. Selama mengelana dan bertualang di Selat Malacca, Hallin tar mempergunakan juga waktuunya yang senggang mempelaji bahasa-bahasa asing. Ia mahir bahasa Urdu, Mandarin dan Tagalog. Bahasa Inggeris sudah jadi keharusan dipahami, sedang bahasa Portugis atau bahasa Nasrani seperti dinamakan oleh penduduk Singapura dan Malacca termasuk salah satu dialek yang harus dikenal oleh pelaut-pelaut dan pemrompak-pemrompak.
Ber-puluhan ribu penduduk sekitar Malaya bertemperasan memasuki Singapura, Hallintar seorang diantaranya. Kaki tangannya bertebaran di kota permai dan bersifat Internasional itu, dengan penyamanan yang sempurna, tidak ada kekuatiran dirinya akan dikenal.
Perayaan Ulang Tahun berlangsung semeriah2aya. Tiap-Tiap street dan lorong penuh sesak, penduduk ber-himpit-himpit menyaksikan arak2an yang serba mengagumkan. Arak2an panjangnya lebih 5 K.M., memakan tempo empat jam baru selesai ditonton oleh penduduk yang berjubelan. Loteng-Loteng rumah dan gedung-gedung yang bertelingkat empat sampai enam disewakan untuk penonton-penonton dengan bayaran dari 2 sampai 10 dollar seorang, jadi rebutan.
Porkas berada di loteng sebuah gedung yang letaknya di Orkhard Road.
Arak2an lewat dijalanan ramai yang ibarat Braga Bandung atau Kesawan Medan Hayam Wuruk- Gajah Mada di Jakarta, disaksikan dengan asik oleh Hallintar dan kawan-kawan. Millionairs Singapore menguat kekayaan luarbiasa bersarnya dari hasil penyelundupan dan tidak jarang dari perampukan di laut.
—Itu penari muda, sambil menundukyuk kepada dara di atas kereta berbentuk naga, Khong Hian membisikkan pada Ha. III, tubuhnya lemah semampai.
Encik tak ada selera hendak mempersuntingnya?
—Amboi, awak bercakap seperti saya sudah kenal siapa dara itu, balas Halli sambil menoleh pada Khong Hian.
—Saya berani bercakap begitu karena saya kenal dara itu, namanya Mei Hwa, dari keci yasa pungut jadi calon isi harem saya, diterangkan oleh Khong Hian sambil tergelak membanggakan diri.
Melihat Halli berdiam diri saja, Khong Hian menegaskan lagi bahwa Singapura terkenal sebagai Shanghai kedua, pusatnya perbudakan wanita-wanita muda. Jual beli anak sudah lazim dilaksanakan, dan anak-anak berusia setahun sampai tiga tahun d'pelihara dan dididik sampai ia jadi dewasa.
Kebanyakan gadis-gadis itu sesudah besar diserahkan pada millionairs yang sedia membelynya dengan harga mahal. Atau nasib dara-dara itu ditentukan di meja judi. Kalau dalam permainan poker ada yang kalai tak jarang dara-dara yang dipungutnya dari keci dijadikan alat pertarohan.
Halli mendengarkan, Sekalipun kelhatan ia tersenyum manis, namun dalam hatinya berbekas tikaman kehinaan. Ia tahu bahwa Singapura pusat perdagangan wanita-wanita muda, pernah beberapa kali ia sempat menyelamatkan dara-dara itu yang diselundupkan dari Hongkong penuh dua tongkang, dilepaskan diperairan Riau untuk dijadikan isteri oleh penduduk suku Melayu, sedang pembesar-pembesar Singapura pura-pura tak tahu adanya perdagangan budak itu.
Sehabis arak2an yang disaksikan oleh Halli selama empat jam tanpa merasa jemu, tuan rumah mengundang dia santap ber-sama-sama. Gedung bertelingkat itu ditempati oleh beberapa perusahaan besar sebagai office, tapi sebagian lagi disewa oleh millionairs untuk tempat pelipur lara.
Di ruang yang luas, delapan kali enam meter, sepuluh orang tamu-tamu Khong Hian duduk di meja makan. Meja makan itu berbentuk bundar, Dua orang menghadapi satu meja. Semuanya menghadap kepentas yang agak tinggi letaknya. Sambil menyuapi makanan yang serba lezat, musik berbunyi, layar dipentas pelahan dibukakan.
Tiga lapis layar terurai. Suara biduan bukan lain dari Mef Hwa menyanyi dalam bahasa Nippon.
Makan terus berlangsung. Minuman anggur Serravallo, anggur Madeira dan dessert berupa buah2an yang dipiluh masak ranum. Penari-Penari berbaris dipentas, biduan terus menyanyi me-rayu-rayu, tarian menggihahrahikan.
Segala corak tari Timur diperlihatkan. Babak pertama selesai dengan selesainya para tamu santap. Halil sendiri merasa pusing, minuman yang diteguknya mempengaruhi. Tamu-Tamu yang lain sama saja halinya. Dara-Dara sepasukan lagi tampil. Menari beramai-beramai, mulai tanggo sampai rhumba............. dan berakhir dengan striptease show.
Khong Hian memberi aha-aha. Maka teryadialah apa yang seharusnya teryadi.............
Malamnyia keramaian berlangsung lagi. Arak2an dengan bentuk lain.
Pelbagai bentuk kenderaan air, seperti kolek, perahu, tongkang, kano dihiasi dengan tanglong pelita warna warni. Halli menyaksikan dari tempat tadi di loteng gedung milik Khong Hian.
—Saya sudah jemput kawar-kawar saya yang sebentar lagi akan datang. Malam ini kita mengadakan permainan roulette, apa encik sedia tarut?—Berapa besar modal supaya boleh ikut? Halli ingin tahu.—Sepuluh ribu dollar, menegaskan Khong Hian, paling sedikit.—Mana saya punya duit sebanyak itu, Halli menyahut dengan maksud menarik diri.—Tak apa encik. Boleh saya pinjamkan, asal encik taroh signature di atas secarik kertas: I.O.U. $ 10.000.—Baba percaya saja pada saya tanpa ada jaminan?—Siapa tak kenal encik? Asal encik suyi malam ini juga encik boleh pinjam lagi seratus ribu ringgit.
Arak2an berdiyalan, sorak sorai penonton gemuruh. Di atas gedung penonton-penonton yuga turut bertepuk tangan. Tontonan yang disajiikan penuh dengan penari-penari luar biasa, kenderaan-kenderaan yang dihias dan bergemerlapan dengan kandil dan tanglong dapat pujian karena bercorak kesenian.
Permainan roulette adalah cuceng. Tidak ada tipu. Bola digelundungan dan berhenti di lobang yang diberi bernomor-bernomor. Permainan berdiyalan ber-jam-jam lamanya. Halli bernasib se-dang saja, tiga kali meleeset terkaannya, keempat kalinya ia mujur. Dengan begitu uangnya tetap ada di tangan, sekali-pun tidak sampai seratus ribu dollar lagi.
Menjelang permainan akan dihentikan, karena sudah dite-tapkan jam 2 malam distop, Halli memejamkan matanya. Untuk pertama kali selama mengadu nasib di meja roulette itu ia mengheningkan cilpta. Ia sebut nama gunrunya Pawang Mamai, ia himbau nama mahagurunya Kali Badoar.
Mata dipejamkan. Terbayangiah angka 0 sebesar2nya. Ia tikamkan uangnya sama sekali ke single zero. Tepat, Bandar berkeringat ketika membayar pada Halli sebanyak $ 75.000.——Tikam untuk penghabisan, berseru bandar, cuma tinggal satu kali tikam lagi. Tikam, tarohkan semua tuan-tuan punya uang dinomo; yang diunggup akan keluar.
Halli sekali lagi memejamkan matanya. Dua angka 0 besar berbayang di ruang mata, Halli menarohkan uangnya yang amat banyak itu di double zero. Bola memasuki double zero (dua 0 besar), semua penjudi berteriak keheranan dan kagum atas keberanian Halli menikar dinomor yang tak di-duga-duga itu.
Bandar bermandikan keringat dingin. Halli ketawa saja.—Apa encik mau terima bayaran dengan kheque atau gi-ro? tanya Ah Beng kepala bandar roulette.—Saya ingin menanyakan lebih dulu pada sahabat saya mana yang baik, balas Halli seraya menoleh pada Khong Hian, Baba, cobalab beri saya sedikit advice.—Saya kenal Ah Beng, dan saya jamin uang tujuh ratus ribu ringgit kalau disimpan dibank lebih selamat daripada saudara simpan sendiri. Maklum in Singapura. Kaum bandit dan gangster kelewet nekat, tidak pikir dua kali mengambil nyawa orang kalau orang itu membawa uang banyak.—Saya turut nasehat baba Khong Hian, balas Halli. Pa-danya di saat itu juga diberikan seheiai kheque Shanghai
Corporation Bank sejumlah $700.000, sedang sejumlah $100.000.—lagi diberikan oleh Halil pada Khong Hian dan pemain-pemain yang kalah untuk pengobat hati yang sedih.
—Tapi uang itu bukan atas nama saya, taroh atas nama Datuk Danialsyah.
Pemain-Pemain diyudi di media roulette itu beryumlah dua puluh lima orang bukan semua terdiri dari bangsa Tionghoa. Diantaranya lima orang Europa, dua orang Serani (Indo-Europa) dan tiga orang Melayu. Dari sejak Halil menang terus, mata ketiga orang Melayu itu melirik terus pada anak muda itu dan mereka ber-bisik-bisik. Nama Danialsyah bukan asing bagi mereka, dan ketika Halil menyatah uang itu harus atas nama Datuk Danialsyah, suara keheranan memuncak.
—Apa hubungan Halil dengan Danialsyah, tanya Ungku Ghulam pada rekannya. Dan rekannya itu mendekati dua orang Serani tadi, berbisik menyampalkan pertanyaan Ungku Ghulam tadi. Kheque diganti dengan yang lain atas nama Datuk Danialsyah, memenuhi keinginan Halil.
Halil dikenal mereka dengan namanya Lintar. Dua orang Serani berbisik pula dengan tiga orang kulitputih yang turut main dan musnah uangnya sama sekali. Porkas merasa suasana agak tegang, kewaspadaan menjelma, ia bersikap menanti segala kemungkinan. Apakala ketiga orang Melayu, dua Serani dan lima orang Europa ber-turut-turut keluar dari ruangan itu.
—Cepat ikutkan saya, berbisik Khong Hian pada Hallil. Mereka keluar dari ruangan itu dari pintu lain, dan Khong Hian yang merasa cemas memimpin Hallil memasuki beberapa kamar-kamar yang kelihatan terkunci tapi mempunyai knop rahsia yang bila ditekan terbuka dengan sendirinya (otomatis). Sesampainya di bawah dengan jalan turun dari tangga rahsia, bukan dengan lift atau tangga yang digeret dengan mesin, dalam kamar yang jadi kantor satu perusahaan Khong Hian menyampalkan pada Hallil pesan supaya bersembunyi dulu di situ.
—Tidurlah di sini sampai saya kembali memberi tahu apakah keadaan sudah aman untuk melarikan diri kembali ke laut.
Nasihat Khong Hian ditaati oleh Halil. Ia saksikan ruangan kantor itu penuh dengan meja-meja tulis, tilpon, mesin tip dan mesin hitung, dan ada jendelanya. Khong Hian menekan knop salah satu meja tulis panjang yang seketika itu juga berubah jadi tempat tidur lengkap dengan kasur, bantal dan selimut. Juga sepasang pyyama terlilit di bawah banta!.
—Tidurlah dan jangan pikirkan peristiwa tadi. Good-night.
Khong Hian menghilang dari pintu rahsia memasuki kamar lain. Halil berbaring, badan digeliatkan, dan lima menit kemudian sudah pulas.
Singapura tak kenal malam. Terus menerus ramai, apa-pula malam itu ada perayaan, semakin larut malam, dinhari, keramaian kian memuncak. Ungku Ghulam, salah seorang keluarga negeri asli Malaya mempunyai pengaruh amat besar, sekeluarnya dari gedung roulette di Orkhard Road langsung naik ke atas Rolls-Royce, diperintahkan supir melarikan kenderaan super-luxe itu ke arah Tanjong Katong. Ia diringi oleh dua orang pengawalnya, Malik, yang merangkap jadi supir pribadi, dan Wahab, berpangkat letnan dalam Barisan Pengawal Kerayaan.
Sekitar Tanjong Katong Park di tepi pantai terdapat villa dan bungalow milik hartawan-hartawan, salah satu di antara villa itu yang terbesar dan terindah, dikenal penduduk dengan Villa Mahrani adalah milik Ungku Ghulam. Villa penuh dengan perhiasan serba mahal, perabot-perabot seperti kursi meja dan lemari berupa barang-barang antik. Ungku Ghulam ber-ulang-ulang pesiar keiling dunia, London dan Paris sampai Berlin dan Vienna tempatnya berlibur kalau mengaut laba ber-juta-juta. Malam ini hari sial yang tak di-duga-duga dan akibatnya bisa menggagalkan semua usahanya. Ia kalah setengah juta ringgit di media roulette tadi. Jumlah yang bukan keci Sekalipun bagi Ungku Ghulam yang terkenal millionair Melayu.
Ia berjalan mondar mandir di ruang villa yang menghadap pantai.
—Apa kita mesti buat? ber-ulang-ulang ucapan itu dikeluarkannya.
—Siapa anak muda tadi, masih jadi rahsia yang belum dapat kita pecahkan, kembali dikeluarkannya kata-kata yang mengandung geram, Lintar, ia mengaku itulah namanya. Bukan nama orang kita, bukan nama Melayu.
Siapa anak muda itu?—Hanya Khong Hian yang kenal balk padanya, balas Malik seolah-seolah membukaan tabir rahsia.—Benar. Khong Hian yang membawa dia ke tempat permainan tadi. Belum pernah roman anak muda itu saya kenal di mana-mana, balk Singapura, Muar, Malacca, Kuala Lumpur Maupun Penang.......... Seketika itu juga tilpon berdering. Ter-gesa-gesa Ungku Ghulam mengangkat pesawat tilpon ke telinga. Ia menjawab dalam bahasa Inggeris dicumpur kemudian dengan bahasa Serani atau Portugis Malacca.—Good. Don't let him make his escape possible, Arrest him, and if there is no other place, bring him direct here...... Ungku Ghulam berbalik gembira.—Anak muda itu tak boleh lari dari tangan kita. Pereira, salah seorang dari Eurasian (Indo) memimpin sepasukan gangster mengepung gedung di Orkhard Road itu, mereka tak meninggalkan gedung itu sampai pagi membayang. Khong Hian tak menduga bahwa sekitar tempat itu telah terkurung rapat, ia datangi kantor di mana Halil berbaring tidur, kemudian ketok-ketok jendela. Halil bangun. Ia bukakan jendela segera melompat keluar, Khong Hian memandu Halil menuyu kemobil yang menunggu disatu lorong kecil. Sebanyak enam orang dari beberapa jurusun datang menyerbu.
Mereka mengeroyok Halil serentak memukul dengan poto- ngan besi dan mengancam dengan pisau belati. Bagi Halil musuh yang sekian saja tak yadi halangan. Perkelahian seru teryadi, pukulan musulinya dengan besi dilakukan dan ditepiskan. Di antara orang-orang yang mengeroyok dia itu dikenal dua orang boxer yang terkenal di Singapura........ dan untuk pertama kali ia mengaku berhadapan dengan musuh yang tak muda dikekokkan. Fighting Leo dan Lighting Santos melepaskan swing serentak, dielakkan oleh Halil sembari menyengkilit. Toya balasan dari Halil ditangkis oleh Santos dengan hook mengenai siku Halil. Seketika terasa olehnya tangannya kebas, kesempatan baik itu tak dilewatkan oleh Fighting Leo. Satu pukulan se-akan-akan martil yang dilayangkan hingga didagu Halil........... ia teryajar beberapa meter ke belakang. Ia merasa sempoyongan. Belum sempat ia berdiri ter-noyong-noyong Santos menghujani jotosan ketubuhnya, jot- san yang sungguh hebat.
Halil tersungkur. Ia betul-betul memasa knocked-out. Untuk pertama kali ia merasa lelah, tenaganya habis. Ia diangkut mereka ke atas sebuah truck yang menanti disim- pang jalan. Halil tak melawan........ nafasnya ter-engah-engah. Di atas truck ia disepak terjang sampai puas. Halil berdiam diri. Sungguhpun musulinya memperlakukan dia dengan kediaman luarbiasa, Halil masih diam saja. Ia menyesali dirinya, mengapa tadi malam ia terperdaya oleh jamuaninya Khong Hian? Tenaganya telah dihambur2kan........ akibatinya sekarang ia menerima anyainya berat. Kedua matanya ditu- tupi dengan selampai supaya jangan dapat mengetahui ke- arah mana ia dibawa. Sepuluh menit kemudian ia diturun- kan, dibimbing kepekarangan dan naik tangga kesatu gedung. Setibanya dalam kamar, tutup matanya dibuka. Halil berhadapan dengan Ungku Ghulam. Sekarang ia dapat meg- amat2i wayah orang besar Malaya itu dari dekat. Tubuhnya gemuk, usianya lebih kurang tiga puluh tiga tahun, mata- nya besar dan kalau memandang se-akan-akan mencemohokan orang. Mulutinya memperlihatkan dia seorang yang pandai berdebat, ahli bersilat lidah dan tentunya pandai mencumbu wanita.—Engkau kenal aku siapa? pertanyan Ghulam memben- tak.—Kita sudah berkenalan tadi malam, balas Halil tenang.—Engkau mengaku namamu Lintar, orang manakah engkau?—Asal dari Sumatera.—Sumatera amat luas. Daerah mana?—Maaf, ungku, apakah saya ditanyai ini atas perintah sultan ataukah gubernur? Halil membalas menempelak ha- lus.
—Biadab, kau berani menyindir aku, he? Santos, ajar dia sampai minta am pun............... Hallil dibawa kelain kamar untuk diberi ajaran. Ia menurut saja.
Jari tangannya me-raba ke bawah pusatnya. Di situ digantungkan dengan lilitan benang tujuh warna rantai waja yang diterimanya dari sang harimau ketika malam penghabisan mendapat uyian kekebalan di Air Bangis beberapa tahun yang lampau. Rupanya rantai wasiat itu bergeser letaknya. Ia betulkan sampai rantai waja itu menutupi pusarnya, dan seketika itu timbulah keberanian dan pulih tenaganya.
Hantaman kedua boxer itu ditepiskan, toyanya dilepaskan mengenai sasarannya......... Santos dan Leo terbanting dalam tempo lima menit saja keduanya knocked out.
Kedua boxer itu terkapar dilantai tak menyadar diri. Hallil membuka pakaian Europanya, ganti dengan pakaian Melayu, baju telok belanga sepasang dan kain sesamping.
Ia melarikan diri dari villa menuju ke pantai. Ungku Ghulam mengetahui peristiwa yang teryadi, rebahnya kedua boxer pilihan, memanggil pengawalnya. Lima orang memburu dia, masing-masing memakai pedang dan parang (golok).
Orang pertama datang menerkam disambut oleh Hallil. Senjata orang itu ditepiskan sampai terlepas dari tanganya, sambil membalikkan badannya orang itu dikepit kepala di bawah ketiak. Dengan mudah orang yang telah tak berdaya itu diangkat ke atas. Hallil melemparkan orang itu ke tengah lawannya yang serentak menyerbu dengan pedang dan parang tajam terhunus di tangan masing-masing.
Tetakan pedang mengenai tubuh orang itu, ia berteriak kesakitan dan ter-guling-guling di pantai.—Siapa rapat akan terima bekas tanganku, berseru Hallil, tidak kamu kenal aku ini Pendekar Selat Malacca? Nama yang menimbulkan kengerian di hati pelaut-pelaut yang sering menyelweng, melanu orang-orang yang membawa dagangan dengan tongkang, membuat mereka gemetar.—Mundur dari sini, membentak Hallil, aku telah menciium darah. Kalau kamu maju dan tidak mengindahkan nasehatku, jangan harap akan bertemu dengan isteri dan keluarga kamu yang tinggal di rumah!
Halil melemparkan orang itu ke tengah-tengah lawannya.
Lawan2nya terpaku di tempat masing-masing. Halil memukau mereka. Suara motorboat terdengar mendatangi, dan di atas motorboat itu kelihatan Khong Hian sendiri selainya Ulong dan Ngah. Halil terjun ke air, ia berenang sepuluh meter, dinalkkan ke atas motorboat oleh Khong Hian yang tadi setelah Halil dikeroyok, meloloskan diri lalu mencari tempat persembunyian Ulong dan Ngah.
—Encik tak cedera, bukan? Khong Hian bertanya dengan penuh keyakinan bahwa sahabat balknya itu tak kurang suatu apa.—Mudah2an, tidak! Tapi mengapa awak ada di sini?—Bertanyakan kheque sebesar tujuh ratus ribu ringgit taji malam?—Astaga, hampir aku lupa. Kheque itu aku selipkan di bawah bantal. Sampai sekurang kalau tak ada yang menemuinya, tentunya masih di situ. Khong Hian termenung. Kantor itu pagi-pagi sudah didatangi buruh-buruh halus, Meskipun ia kenal semua buruh-buruh itu, ada juga kemungkinan orang yang menemukan kheque itu akan tergoda.—Kelhatan baba seperti orang bingung..........—Kheque itu kalau hilang akan mengakibatkan siasia rencana Danialsyah.—Benar dan siasia pengorbanan saya. Untuk balas budi Datuk itu menyelamatkan saya dari......... ya, dari musuh-musuh, sengaja uang sekian jumlahna saya hadiahkan seluruhnya pada Danialsyah, ujar Halil agak bangga.—Engku Lintar, se-konyonyg-konyonyg menyela, salah seorang kaki-tangan Datuk kabarnya telah ditangkap oleh segerombolan perompak laut.—Siapa maksudmu?—Pawang Kalamuddin..........—Lanun golongan mana dan ke mana ia dibawa?—Golongan Hailam, yang bersarang di Pulau Seribu.—Saya kenal baik golongan lanun Hailam itu, menyala Khong Hian, saya sendiri pernah diculik mereka dibawa kesarangnyna di Pulau Seribu, mengalami siksaan di luar kesanggupan manusia.—Tujukan haluan ke sana. Singapura pelabuhan internasional, kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan be-ratus-ratus setiap hari, dan setiap hari pula teryadi peristiwa-peristiwa yang dahsyat baik di laut apalagi di darat. Nyawa manusia amat murah harganya. Kumpulan-Kumpulan rahsia beratus, masing-masing dengan lambang dan code rahsia.—Balknya baba jangan ikut, menasehatkan Hallil, kembaliilah kekota untuk memeriksa apakah kheque yang saya tinggalkan di bawah bantal masih selamat di tempatnya. Khong Hian merasa langkah itu yang se-terpat2nyya. Ia turun ke atas salah satu tongkang yang berselisih jalan ditegangh laut. Halil melepaskan dirinya sambl makan dan minum kopi susu sebelumnya berhadapan dengan perompak bengis yang telah menawan Pawang Kalamuddin.
BAGIAN KETUJUH:
KANCAH POLITIK INTERNASIONAL
Merasa amat bingung Datuk Danialsyah mondari mandir diruangang Hotel de Bur, Medan, kedua tangan dimasukkan kekocek pantalon. Airmukanya muram, matanya ckung tanda kurang tidur. Hotel de Bur salah satu hotel Europa terbesar di Medan, diseberangnyna adalah Kantor Pos dan disampingnyna berdiri gedung Yavase Bank, seterusnya gedung Gemeente (Kotapraja) dengan jam besar nyna yang dapat dilihat dari jauh, hanya menerima tamu-tamu berbangsa kulit-putih atau yang sederayat dengan bangsa Europa. Sekalipun Danialsyah bukan seorang yang tergolong “geliyksteld” atau mempunya derjit sama dengan orang Europa dengan pengakuan pemerintah“, jawaatnya sebagai ”orang kuat Sumatera Timur“ di samping ”kepala anti-smokkelars“ leluasalah ia menginap dan berkunjung ke hotel-hotel Europa kelas satu di kota Medan yang terkenal sebagai ”PARIS OF
SUMATRA“. Nama yang terkenal itu bukan disebabkan kota Medan bersih dan indah sekali pun kecil, melainkan akibat banyaknya nona-nona manis berkelarian yang sengaja datang dari Singapura, Bangkok, Hongkong sampai dari Manila dan Hawaii. Nonay-Nonay kulit putih dan Eurasian itu menyamar sebagai pelancong-pelancong ditemani oleh nyonya-nyonya tua Ataupun tuan-tuan yang berumur, yang sebenarnya adalah ”majikan“ mereka. Nonay-Nonay itu tertebur ke dunia perubdakan karena terpikat oleh janji-janji muluk, Ataupun karena berputus asa di negerinya.
Medan jadi pusat keramalan dan pelesiran. Dollarsland itu sesuai dengan gelar timanggana: uang-uang ringgit berlungguki-berlungguki di kota itu dan siapa yang pintar nienggaet tuan-tuan kebon yang mengaut ringgit berpuluh ribu dalam sebulan di-hambur2kan di Medan, pasti akan pulang ketemapat asal-nya menyadi seorang princess atau puteri yang seluruh tubuhnya dibalut dengan emas dan pgrmata intan berlian. Harga karet membubung, harga kopi dan teh melambung, kelapa sawit dan kopra memuncak. Di kalangan orang-orang Europa ke-naikan harga-harga hasil bumi itu membuat mereka lupa daratan karena mudahnya memperoleh uang. Tidak semua pengusaha onderneming-onderneming itu orang-orang yang jujur, sekali pun mendapat tantiem atau hadiah gaji enam bulan untuk keuntungan setahun dari hasil keringat kuliy-kuliy, tapi, dengan jalan kong-kalikong hasil-hasil bumi; dikeluarkan dan ditampung oleh peda gang-gang Tionghoa dan Asing. Mereka itu menyeludupkan hasil-hasil bumi itu ke Malaya dengan mendapat laba scratus persen.
** Datuk Danialsyah tidak sadar kedatangan direktur Onoda, ditemani seorang wanita muda, berusia baru tujuh belas tahun. Onoda duduk di sudut ruangan bersama nona Keiko, berdiam diri saja. Seketika lamanya Danialsyah mengangkat mukanya, kebetulan pandangan nyia tepat menoleh nona Keiko. Ia terperanyat..... nafasnya ter-engah-engah akibat amat terharu bercampur takjub.
—Apa kabar tuan Onoda? ia bertonya, matanya memandang terus ke nona Keiko.
—Baik saja, ini nona Keiko yang baru tiba kemarin dari Bangkok.—Ini Keiko? Keiko, benar2kah ini Keiko? Danialsyah memegang bahu nona yang muda rupawan itu.—Benar, Puteri Datuk sendiri yang berpuluh tahun Datuk tak pernah lihat wadahnyia, hanya menerima surat-surat dari dia, menerangkan Onoda tersenyum dan me-manggut-manggut. Keiko herdiri menyusun sembah pada ayah kandungnya. Ia mahir bahasa Melayu karena dibesarkan di kota Bangkok, diasuh oleh wanita tua berasal dari Petani, daerah Melayu yang jadi jadahan Thailand.—Kenapa tidak segera saya diberi tahukan? tanya Danialsyah mundur ke belakang beberapa langkah karena ia insaf mata orang-orang yang berada di ruangan tamu itu ada yang menoleh pada mereka.—Kedatangan nona Kelko mendadak sekali, Onoda memberi penjelasan sambil berbisik, ada hal-hal yang hendak disampaikan pada Datuk tak boleh didengar orang lain.—Mari ke dalam kamar saya..........—Biarlah Datuk dengan nona Kelko saja berbicara antara empat telinga, saya harus berada di kantor. Banyak pe-kerjaan........., demikian ucapan Onoda melangkah, naik ke atas mobil dan berangkat menuyu Kesawan.—Ibumu baik saja, Keiko? tanya ayahnya setelah mereka berdua saja dalam kamar.—Kurang baik kesehatannya, seminggu yang lewat ibu telah berlayar ke Tokyo terus ke Nara untuk memulihkan kesehatannya. Ayah, saya diutus kemari oleh Dana Tanaka............—Astaga, kau turut pula dalam Dana yang besar pengaruhnya itu?—Karena ayah pun turut. Salah seorang petugas Dana Tanaka mendatangi saya, ayah, dan memerlihatkan les nama-nama anggota rahsia. Nama ayah tertanyam di dalam les itu. Karena itu mau tak mau saya pun turut pula jadi anggota atau lebih tepat calon anggota. Danialsyah menghela nafas. Perbuatannya semasa muda belia, ter-gila-gila pada seorang puteri Nippon yang jadi penari di Singapura, berakibat ia nikah dengan seniwati itu setelah merayunya ber-bulan-bulan dan disahkan oleh konsulat Nippon di Bangkok.
Sejak lahirnya Keiko, setelah hidup berdampingan lama-nya dua tahun Danialsyah terpaksa kembali ke Sumatera Timur memenuhi panggilan. Ia diberi yabatan penting sesuai dengan didikannya dan selaras dengan haknya turun temurun sebagai pemangku kerayaan. Lima belas tahun Keiko tak pernah dilihatnya, pernikahan itu dirahsiakan, hanya surat-surat isterinya, dan kemudian surat-surat Keiko yang sudah remaja, yang tetap diterimanya duakal sebulan.
—Apa tugas yang diberikan padamu, anakku?—Untuk menyampaikan terima kasih pada ayah dari ketua umum Dana Tanaka mengenai sumbangan ayah masa yang lampau dan sumbangan yang ayah sediakan lagi........—Keiko, aku dengar dari kakitanganku di Singapura bahwa Pawang Kalamuddin tertangkap dan disiksa oleh kawanan perompak Malaya. Aku serahkan pada Pawang Kalamuddin uang sebesar limapulu ribu dollars untuk diteruskan padamu. Uang itu tentunya lenyap dirompak, sedang nasib Kalamuddin entah bagaimana aku sendiri sangat meng-khuatirkannya.—Kabar menyedihkan hatiku benar-benar, ayah?—Dengan demikian ayahmu sekarang telah jatuh ban-gkrut. Uang itu aku hutang dari tuan Onoda, dan Kalamuddin sendiri membawa getah dan damar, kemenyan dan ceng-keh lima tongkang, mungkin sudah jatuh di tangan bajak laut.—Janganlah ayah terlalu berduka cita, memujuk Keiko demi melihat roman ayahnya kembali muram seperti tadi sebelum ia tiba, ada kabar gembira yang bisa melupakan ayah pada kemalangan itu.—Kabar gembira? Kau, kau......... bertunangan agaknya, Keiko?—Masih jauh panggang dari api, ayah. Sepuluh hari yang lewat telah tiba di Bangkok, menemui saya, ayah, seorang kenalan ayah dari Singapura.—Kenalanku dari Singapura? Siapa namanya?
—Seorang baba, peranakan Malaya, namanya Khong Hian.—Khong Hian.......... hai, belum pernah aku dapat kesempatan berkenalan dengan baba itu Sekalipun nama itu pernah kudengar di.sebut-sebut orang.—Menurut keteranganannya ia bersahabat dengan Lintar, seorang pelaut yang terkenal dengan gelarnya Pendekar Selat Malacca. Untuk pertama kali Danialsyah tersenyum, Keiko pun tersenyum. Gelar Pendekar Selat Malacca itu dikenal oleh pelaut-pelaut di Asia Tenggara.—Apa maksud Khong Hian mendatangi dirimu?—Memberi tahuanku bahwa ada sehelai kheque Bank of Shanghai sebesar tujuhratus ribu dollars disimpannya atas nama ayah.—Uang dari mana?—Uang sumbangan Lintar sendiri.—Apa lagi pesan Khong Hian?—Ia menyampaikan salam Lintar, dan pesan Pendekar itu bahwa uang itu disumbangkan pada ayah sebagai tanda terima kasihnya. Airmata kegirangan menggenangi pelupuk mata Danialsyah.—Budi apakah yang dimaksudkan Lintar itu, ayah? Danialsyah menguraikan kisah yang lampau, Lintar diburu-diburu oleh Reserse Kriminil Belanda dan diselamatkannya bersama seorang wanita muda beranak keciil..........—Isterinya, ayah?—Bukan.......... isteri seorang sahabat yang dibelanya dengan keselamatan dirinya.—Jadi, ia berkorban..........—Lintar seorang pemuda yang berdarah satrya. Aku ada ingatan hendak memasukkan dia dalam gerakan yang se-dang aku rencankan.—Keiko, berdiamlah di hotel ini, dan ganti pakaianmu. Obah sanggulmu dan pakai kain songket dengan baju panjang. Namamu yang sejati ialah Mussalmah, dengan nama itu aku hendak perkenalkan engkau pada sahabat2ku. Danialsyah keluar. Seorang pelayen hotel buru-buru mengham- piri. Padanya diulurkan di atas baki sehela kartu nama. Terrekam dikartu itu nama Tengku (Ungku) Ghulammuddin, Yohore Baru.
—Mana engku itu? Pelayan menunduk dengan jari jempolnya kesudut kiri. Duduk di kursi sambil menghadapi Orange Crush ningrat yang terkenal di Singapura dan seantero Semenanyung seperti scorang playboy.—Apa khabar ungku?—Baik saja, Datuk. Bersalaman. Masih-Masih mengamat2i yang lain, perasaan di- dalam bergelonjak. Danialsyah mempunyai flrasat bahwa kedatangan Ghulam pasti membawa hal-hal yang merugikan dirinya.—Ungku baru tiba?—Ya, dengan plane KLM. Sengaja hendak bertemu dengan Datuk.—Astaga, saya lupa bahwa ungku pernah berkirim surat menyatakan hendak melawat ke Medan ini. Maaf, ungku, maklum saya sudah tua nyanyuk. Mereka berbicara ke hilir kehulu tak tentu unjur buang atau juntrungan, sekadar untuk melaksikan waktu. Mus-salmah keluar dari kamar telah berganti pakaian cara gadis Melayu. Dari jaun dipandangi oleh Ungku Ghulam dengan tolehan tepat se-akan-akan tak puas-puas mata memandang.—Puteri Datuk?—Ini Ungku Ghulam, ini Mussalmah! Keiko memandang dengan ekor matanya pada Ghulam tapi mereka tidak berjabat salam karena bukan kelaziman bagi dara Melayu. Keiko meminta izin ayahnya hendak pergi ke rumah sahabatnya, diiringkan oleh Danialsyah sampai ke atas Khevrolet.—Apa yang teryadi di Singapura, Ungku? tanya Danialsyah setelah mereka berdua saja duduk di ruang tamu hotel.
(Bersambung ke Jilid II).
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.