JEUMPA ACEH
H. M. ZAINU’DDIN
KOLOFON
JEUMPA ACEH
karya
H. M. ZAINU’DDIN
CETAKAN KEDUA
BALAI PUSTAKA—1931—BATAVIA-CENTRUM
© 2026 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: digitalcollections.universiteitleiden.nl
Ilustrasi sampul: Cut Flowers, Unexpected 1989, karya David True
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam.com
SEPATAH KATA
Sudah lama sekali saya bermaksud hendak mengarang ceritera (roman) untuk menambah banyaknya pembacaan ‘umum, yang akan dapat menghiburkan hati dan jadi peringatan bagi pembacanya kelak. Dan sudah lama juga saya mencari-cari hikayat dalam bahasa Aceh, yang dikarangkan oleh orang dahelue, tetapi hikayat yang baik sukar didapati waktu ini. Sementara saya belum beroleh hikayat yang lama-lama, maka pertama-tama saya karangkanlah ceritera ini; saya berharap, moga-moga dapatlah ia menghiburkan hati barang siapa yang membacanya.
H. M. ZAINU‘DDIN.
I. PERTEMUAN YANG MULA-MULA
Pukul 1 kurang 10 menit siang penuh sesaklah station Sigli oleh orang yang turun naik kereta api. Ada yang hendak berangkat ke negeri lain dan ada pula yang hendak pergi kerja kebengkel Acehtram.
Ada tiga baris kereta berhenti di situ, masing-masing pada jalannya. Pada jalan yang pertama kereta cepat yang akan berangkat ke Kutaraja, pada jalan yang kedua kereta yang akan berangkat ke Lammeulo dan pada jalan yang ketiga kereta yang baru datang dari Padangtiji. Di muka wakhtkamer kelas II berdiri sekawan orang muda-muda bangsa Aceh, yang sedang bercakapcakap dengan ‘asyik dan sukanya. Rupanya mereka itu ada di situ akan mengucapkan selamat jalan kepada seorang temannya, yang hendak berangkat ke Kutaraja. Adapun orang muda itu berbaju putih buka dada, bercelana kain pelanel dan berkopiah beledu hitam. Pada tali lehernya tersemat sebuah peniti emas, gambar rencong Aceh. Ia pandai berkata-kata dalam bahasa Melayu tinggi, petah lidahnya. Kadang-kadang bahasanya itu dicam-purnya dengan bahasa Aceh dan Belanda, yaitu sekadar akan memaniskan percakapan saja. Dan ia selalu tersenyum dengan manis serta memandang kepada kawan-kawannya.
Dalam pada itu berbunyilah loceng 3 kali, ‘alamat sneltrein (kereta cepat) akan berangkat ke Kutaraja. Setelah mereka itu berjyabat tangan serta mengucapkan selamat jalan, maka orang muda itu pun masuk kekereta kelas dua, lalu menjulurkan kepalanya dari jendela.
“Adieu, selamat tinggal,” katanya serta melambai-lambaikan sapu tangannya, ketika kereta itu sudah berangkat.
“Selamat jalan,” jawab kawan-kawannya yang masih berdiri diserambi station itu, “au revoir, moga-moga kita bertemu pula!”
Sampai kereta itu tidak kelihatan lagi, sebab sudah jaqeh, mereka itu berlambai-lambaian sapu tangan. Akhirnya orang muda itu pun menarik kepalanya dari jendela, lalu duduk di atas bangku dalam kereta itu. Ketika itu barulah dilayangkannya matanya ke kiri dan ke kanan.
Ah, hampir ia terkejut, sebab di sudut sebelah kanannya ke-lihatan duduk seorang anak gadis yang berbaju kebaya pendek dari pada sutera merah jambu, berkain panjang berlereng dan berselop beledu tinggi tumit. Pada persangkaannya anak itu ta‘ dapat tiada gadis Priangan, sebab anak gadis atau perempuan Aceh jarang sekali berpakaian seperti itu. Dan bentuk badan-nya pun amat melaini bentuk perempuan Aceh. Sambil menarik napas panjang dan memandang dengan ekor matanya kepada gadis remaja itu, maka orang muda itu pun menggosok matanya dengan sapu tangannya serta menundukkan kepalanya. Semen-tara itu kereta berjalan jua, makin lama makin cepat, melalui kampung Keramat dan Peukanpidie. Setelah sampai ke Padang-tiji, berhentilah kereta itu sepeluh menit akan menukar loco-motief dengan yang besar, sebab dari situ ke Seulimeum mesti mendaki gunung dan melalui Krung Peuet Ploh Peuet (sungai 44). Penumpang kelas dua turun semuanya, kecuali orang muda dan anak gadis itu. Setelah kereta berangkat pula, orang muda itu pun membuka sebuah sitak, lalu dikeluare-kannya dari dalamnya sebuah kitab bacaan. Kitab itu di balik-baliknya dan diperhatikannya gambar yang ada di dalamnya, sedang kereta itu berjalan jua dengan cepat. Sesampainya di atas gunung, wissel waterskheiding, turunlah hujan yang amat lebat, sehingga jendela kereta itu mesti ditutup sekaliannya. Kalau tidak, niscaya air masuk ke dalam. Anak gadis itu sudah beberapa kali menarik-narik daun jendela yang dekat tempat duduknya, tapi tidak dapat, sebab ia tidak tahu menekan klep jendela itu. Hal itu diketahui oleh orang muda itu. Sudah beberapa kali diperhatikannya perbuatan gadis itu dengan sudut matanya, dan sudah sekian kali pula gadis itu memandang kepadanya seolah-olah hendak minta tolong, akan tetapi ia berdiam diri saja. Ia sebagai terpaku pada tempat duduknya,............ dan bukunya di balik-baliknya jua dengan ta’ keruan. Entah karena malu, entah karena takut, entah karena apa-apa......... hatinya berdebar-debar dan mulutnya terkunci. Akan tetapi kemudian, ketika dilihatnya gadis itu hendak pindah ke tempat lain, seakan-akan adalah sekerat besi berani menggerakkan lidahnya hendak berkata-kata. Maka ujarnya dengan manis: “Bolehkah saya menolong Sitti?” sambil bangkit berdiri dari bangkunya.
“Dengan............ segala suka hati, engku,” jawab gadis itu dengan perlahan-lahan serta memandang kepada orang muda itu dengan cepat. Maka beradulah mata keduanya. Akan tetapi gadis itu segera menundukkan kepalanya serta undur beberapa langkah ke belakang. Orang muda itu pun pergi ke jendela itu, lalu ditutupnya dengan mudah.
“Terima kasih banyak-banyak, engku,” kata anak gadis itu, seraya duduk kebangkunya pula. “Terima kasih kembali,” kata orang muda itu, lalu balik ke-tempat duduknya tadi itu.
Sementara itu timbullah berbagai-bagai pikiran dalam hati orang muda itoc. “Ah, siapakah nama gadis ini? Siapakah orang tuanya, di manakah tinggalnya? Di Kutarajakah? Jika di kota itu, niscaya kami akan bertemu jua kelak. Wahai, alangkah............”
Tiba-tiba orang muda itu menekankan dadanya dengan tangan kirinya, serta berkata pula kepada dirinya sendiri dengan suara yang amat lain dari pada tahadi itu: “Ah, hati setan! Apa guna-nya kuktahui nama orang? Lain tidak akan merusakkan pikiran-ku saja. Jika aku berkenalan dengan dia dan kemudian ba-rangkali jatuh cinta kepadanya, sedang agaknya aku bukan jodohnya atau ta‘ dapat berjodoh dengan dia, apakah jadinya aku ini?” Sambil berpikir demikian diambilnyalah sebatang rokok dari dalam sakunna, lalu dipasangnya. Kitabnya pun dibacanya pula, akan pelengh pikirannya yang terharu-biru itu.
Akan anak gadis itu, rupanya ia sedang berpikir-pikir pula: bagaimana jalannya ia akan mengetahui keadaan orang muda itu. “Rupanya orang ini betertib dan murah hati,” katanya de-ngan sendirinya; “siapakah ia, hendak ke manakah ia dan.........”
Perkataannya diputuskannya hingga itu, lalu diambilnyia dua buah gelas dan sebotol air limun dari dalam keranjangnya. Ke-dua gelas itu diisinya dengan air limun itu; sebuah diletakkan-nya di atas bangkunya dan sebuah dipegangnya dengan tangannya, seraya ia berkata dengan suara yang tetap dan manis kepada orang muda itu, ujarnya:
“Engku, sukakah kiranya engku minum air ini?” Demi didengar orang muda itu perkataan demikian, ia pun mengangkatkan kepalanya serta memandang kepada gadis, yang tengah mengunjukkan gelas kepadanya itu.
“Dengan segala suka hati,” yawabnya serta menerima gelas itu dengan hormat. “Baik betul hati Sitti, sudi memberi air orang yang haus.”
Dengan segera air limun itu diminumnya sampai habis, dan gelas itu pun dikembalikannya kepada anak gadis itu.
“Terima kasih,” katanya, sambil duduk dan membaca pula.
Akan tetapi hatinya sudah terharu-biru pula. Niatnya hendak berkenalan dengan gadis itu sudah timbul kembali. Lebih-lebih ketika dilihatnya gadis itu membaca sebuah buku, bertambah keraslah hasrat hatinya itu.
“Rupanya gadis ini terpelajar,” pikirnya. “Inilah cita-citaku setiap hari. Aku suka sekali kepada kemajuan, aku ingin melihat gadis-gadis bangsa Aceh jadi terpelajar belaka. Kemajuan bangsa itu ta‘ kan dapat dicapai, jika kaum laki-laki saja yang dididik, sedang kaum perempuan tinggal dalam gelap gulita. Tidak tahu di mata surat, tidak tahu tulis dan baca. Ah, jika gadis ini bangsaku sendiri, anak Aceh, alangkah baiknya. Niscaya ia dapat jadi temar.ku akan mencapai cita-citaku, ya'ni kemajuan itu. Bolehkah aku berkenalan dengan dia? Tentu saja boleh, sebab............... gadis yang terpelajar bukanlah seperti gadis kampung. Biasanya ia bersifat terus-terang, tidak malu-malu kucing. Lihatlah lakunya tadi itu, anak gadis biasa saja ta’ kan berani memberi aku minum seperti tadi itu, aku, seorang laki-laki yang tidak dikenalnya. Nah, jadi baiklah aku berkenalan dengan dia.”
Akan tetapi baharoie ia hendak membuka mulut dan memandang kepada anak gadis yang molek itu, hatinya pun berdebar-debar pula. Kerongkongannya terkunci, ia ta‘ dapat berkata-kata.
“Ah, ce.laka!” katanya dalam hatinya sambil menundukkan kepalanya. “Belcem berkenalan lagi,............ hatiku sudah berguncang! Ini ‘alamat tidak baik. Wahai, janganlah aku tergoda oleh ’cinta”, supaya pekerjaanku jangan terganggu dan kehormatanku jangan hilang.“ Akan menghilang-hilangkan pikiran nya demikian, lalu dipasangnya pula rokoknya sebatang lagi, diembuskannya asapnya ke muka serta menengadah ke atas.
Dengan tiba-tiba ia terkejut dan bangkit berdiri, sebab men- dengar bunyi barang jatuh dilantai. Maka dilayangkannya matanya ke tempat datang bunyi itu, lalu kelihatan olehnya botol air limun terguling dilantai. “Ah, botol Sitti jatuh,” katanya serta mengambil botol itu dari lantai kereta.
“Ya, terima kasih, engku,” kata gadis itu, “saya lupa memasukkannya ke dalam keranjang kembali. Ya, sudah dua kali engku berbucat baik kecada saya............”
Botol itu diambilnya dari tangan orang muda itu dan dimasukkannya ke dalam keranjang.
“Ah, tidak apa-apa,” yawab orang itu. “Manusia harus dan wajiib bertolong-tolongan. Dan”............—keberaniannya timbul sudah—“dan bolehkah saya bertanya kepada Sitti?”
“Boleh, engku, mengapa tidak? Apakah yang hendak engku tanyakan?” yawab gadis itu dengan lemah-lembut.
“Ma'af, Sitti, siapakah nama Sitti?” “Itulah,” yawab anak gadis itu dengan tersenyum. “Hai, itulah apa?” kata orang muda itu dengan agak malu. “Ya, itulah............ Sitti.” “O, ya, benarkah demikian?” “Benar, yaitu Sitti Saniah.” “Sitti Saniah! bagus betul nama itu. Dan di manakah Sitti tinggal?” “Di Meureuduat, dekat Buitenweg di Kutaraja.” “Ya, kalau begitu, Sitti hendak pulang ke Kutaraja?” “Ya.” “Sudah lamakah Sitti tinggal di situ?” “Semenjak kecil saya tinggal di situ.” “Semenjak kecil? Jadi kalau begitu............ jadi............ mengapa Sitti pergi ke Sigli?” “Mengunjungi saudara saya.” Demi didengar orang muda itu yawab demikian, agak bimbanglah hatinya. “Jika demikian,” pikirnya, “boleh jadi salah persangkaanku tadi itu. Boleh jadi gadis ini bukan gadis Priangan, melainkan anak Aceh............” Akan tetapi ia berasa malu akan bertanya lagi. Oleh karena itu ia pun berdiam diri.
Bermula gadis itu bermaksud hendak menanyakan nama orang muda itu. Akan tetapi maksudnya itu tidak disampaikannya. Ia takut berlaku “terlalu” bebas benar, takut, kalau-kalau timbul salah tampa kelak.
Sementara itu suit kereta pun kedengaran, ‘alamat kereta akan masuk kestation Seulimeum. Segala penumpang sudah bersiap akan turun. Ada yang turun ta’ kan naik lagi, sebab sudah sampai ke tempat yang ditujunya. Ada pula yang turun akan membeli makanan dan minuman, dan ada pula yang hendak melihat-lihat keadaan di situ sebentar serta melepaskan penat-penat anggotanya, sebab sudah lama duduk dalam kereta itu.
II. KARENA CINCIN
Loceng tiga berbunyi dan kereta berangkat pula dari Seulimeum. Mula-mula lambat, kemudian berangsur-angsur cepat dan akhirnya sampailah ke Lambaro. Sekalian penumpang berke-mas-kemas serta memeriksa barang-barangnyia, supaya jangan tinggal waktu turun distation Kutaraja kelak.
Kondektur kereta itu pun datang meminta karcis kembali. Ketika Sitti Saniah membuka dompet akan mengambil karcisinya dan setelah dikembalikannya kepada kondektur, ia pun terperanjat amat sangat, karena sebentuk cincinnya ta’ ada lagi.
“Hai, claka,” katanya. “Mengapa?” kata orang muda temannya itu. “Cincin saya hilang.” “Cincin apa?” tanya orang muda itu pula. “Cincin permata berlian.” “Ah, itu bukan olok-olok!” kata orang muda itu dengan terkejut serta bangun dari tempat duduknyia, menarik segala peti di bawah bangku akan mencari barang yang hilang itu dengan saksama; akan tetapi tidak dapat. “Betulkah dalam kereta ini hilangnyia, Sitti?” “Saya tidak tahu betul, engku, boleh jadi hilang di sini atau jatuh waktu saya mengambil uang pembayar harga makanan di Seulimeum tadi itu.” “Tidak mungkin di sini; kalau jatuh di sini, tentu bertemu kembali, sebab tidak ada orang lain masuk,............ hanya kita berdua saja,” kata anak muda itu. “Sangka saya pun begitu juga, engku; tetapi siapa tahu, kalau jatuh di sini boleh jadi sudah diambil orang, karena wak-tu kita turun tadi, ada tukang rem dan kuli masuk kemari akan mengangkat barang-barang.“
“Ya, itu pun boleh jadi juga! Ah, kasihan,” kata anak muda itu.
“Apa boleh buat, engku, sudahlah, nanti saya coba mengabarkan hal itu kepada khef station. Kalau bertemu cincin itu kelak, boleh dikembalikannya kepada saya.”
“Baik sekali,” kata anak muda tadi, “dan saya pun mau bersama-sama Sitti menghadap khef akan mengabarkan hal itu, kalau Sitti izinkan?”
“Dengan senang hati, engku!”
Kereta berhenti sudah. Dengan segera kedua anak muda itu mengaturkan baranganya masing-masing. Setelah itu pergilah mereka menghadap kepala station itu. Sepuluh menit kemudian mereka itu pun memberi hormat seorang kepada seorang, akan bercerai-cerai, seorang menuju ke Buitenweg dan seorang lagi ke Kampungbaru dekat sekolah Melayu.
Semalam-malaman itu Sitti Saniah ta‘ tidur sekejap jua, karena hatinya terlalu susah dan bimbang. Kadang-kadang mau ia memberi tahukan halnya kehilangan itu kepada ibu bapanya dan kadang-kadang tidak mau, sebab takut. Orang tuanya sangat pemarah. Kemcedian ditetapkannyalah pikirannya akan menanti khabar dahaelu dari kepala station itu, kalau-kalau pemeriksaannya ada berhasil.
Setelah berpikir demikian, dicobanyalah memejamkan matanya. Maka kira-kira pukul tengah 5 dinihari, barulah ia tidur dengan nyenyak, sehingga pukul tengah tujuh belum bangun lagi.
“Hai,” kata scorang perempuan tua serta berdiri di muka pintu kamar anak gadis itu, “hari sudah tinggi, tapi Saniah belum jaga jua. Saniah,” serunya, “bangunlah! Mengapa engkau tidur juga?”
Akan tetapi Sitti Saniah tidak menyahut.
Dalam pada itu kedengaranlah suara seorang laki-laki yang datang dari belakang, yaitu bapa anak gadis itu. Ujarnya: “Jangan dibangunkan dia, adinda; biarlah dia tidur, sebab kemarin ia penat dan letih. Apalagi ia sudah beberapa malam tinggal di
Sigli, barangkali tidak nyenyak tidurnya di situ, ma'lumlah di rumah orang.“
“Habis, bagaimana kita hendak pergi? Kereta api telah hampir berangkat ke Ulelheue. Kereta api yang lain tidak berhenti di Deahbaro, kalau tidak diminta oleh 6 orang sekurang-kurangnya,” kata perempuan itu pula, ya'ni ibu Sitti Saniah.
“Marilah kita berangkat dan tinggalkanlah uang belanjanya pada Alimah.”
“Alimah!” seru ibu itu. “Ini uang belanjamu kedua, dan jangan diusik adikmu tidur.”
Setelah uang itu diterima oleh Alimah kakak Saniah itu, kedua laki isteri itu pun turun pergi kestation.
Sekarang marilah kita layangkan pula pemandangan kita seben- tar kepada orang muda teman Saniah dalam kereta kemarin itu. Sesampainya di muka sekolah Melayu, dilihatnya anak muda bangsa Aceh banyak berkumpul dalam dua buah rumah yang besar disisi sekolah itu, ya'ni disimpang Inlandskhe Skhoolweg dengan Buitenweg.
Siapakah yang empunya rumah itu? Adapun rumah itu kepunyaan dua orang bangsawan Aceh. Kedua rumah itu selalu ramai, karena boleh dikatakan sekalian anak muda bangsa Aceh singgah di situ, baik yang datang dari sebelah timur atau barat tanah Aceh, baik pun yang duduk di Kutaraja. Hampir setiap hari mereka ada di situ bercengkerma dan bersuka-sukaan. Bila terang bulan, kadang-kadang mereka duduk di atas bangku dalam pekarangan sekolah Melayu, yang terdiri di hadapan kedua rumah itu. Tidak salah gerangan, jika kedua rumah orang bangsawan itu biasa disebut orang di Kutaraja Centraal Aceh, pusat negeri Aceh, sebab sesungguhnya rumah itu tempat perkumpulan “kaum muda” bangsa Aceh. Apalagi di muka pintu rumah yang sebelah kiri ada tergantung sebilah papan, yang berlukiskan huruf besar: Vereeniging Aceh.
Orang muda kita itu pun masuk ke dalam rumah itu. Ia disambut oleh orang yang empunya rumah dengan segala suka hati; serta katanya:
“Ya, Nya‘ Amat datang! Selamat............;” lalu diperkenal- kannya dengan sekalian orang muda yang hadir di situ. Setelah itu Nya‘ Amat, demikian nama orang muda kita itu, disilakannya duduk di kursi diserambi muka dan disuruhnya seorang bujang mengangkat barangnya ke dalam sebuah bilik, yang telah disediakan baginyna. Kemudian bangsawan itu pun dudcek kese-rambi muka pula, lalu bercakap-cakap dengan Nya’ Amat.
“Orang muda datang dari Pidie, bukan?” “Saya, teuku,” jawab Nya‘ Amat dengan hormat. “Dan saya dipindahkan kesini.” “Benar, saya sudah tahu, ya'ni menurut bunyi surat Nya’ Amat kepada saya beberapa hari yang lalu.” “Ya, jadi surat saya ada teuku terima? Syukur, dan saya berharap hendak tinggal menumpang di sini beberapa lamanya.” kata Nya‘ Amat dengan lemah lembut. “Baiklah,” jawab orang bangsawan itu. “Akan tetapi, sebagai orang muda lihat, rumah saya ini selalu ramai............” “Itulah yang saya sukai, teuku, sebab saya ini pun............” Nya’ Amat tidak dapat meneruskan perkataannya, karena ketika itu datanglah sebuah auto, yang berbendera merah di mukanya. Pada bendera ketiyil itu tertulis huruf V. A., yaitu akan jadi ‘alamat dan perhiasan. Yang duduk dalam auto itu ialah voorzitter hoofdbestuur “Vereeniging Aceh” itu. Ia datang ke situ hendak mengepalai congres V. A., yang akan diadakan hari Ahad di muka. Tiada berapa lama antaranya datang pulalah beberapa buah auto lain, berbendera merah yang berlukiskan huruf V. A. belaka, dan yang duduk didalamnyia ialah wakil-wakil cabang V. A. didaeerah Gubernemen Aceh. Wakil cabang Langsa, Lho’ Seumawe, Meulaboh dll. datang semuanya akan menghadiri congres itu, sehingga dalam minggu itu Kutaraja bertambah ramai adanya. Pada malam itu mereka hendak pergi bersuka-sukaan ketem-pat mandi di Uleelheue. Tentu saja Nya‘ Amat tidak serta pergi dengan mereka itu. sebab ia masih letih dan lesu. Apalagi ia belum berkenalan betul dengan mereka itu, Meskipun ia anggota cabang V. A. yang berjasa di negerinya. Jadi ketika orang muda-muda itu sudah berangkat semuanya, ia pun tinggal seorang diri saja. Dengan segera ia pergi ke kamarnya, lalu ditanggalkannya pakaian nyia dalam perjalanan tadi itu. Maka dibukanya petinya, diambilnya anak baju dan celana tidur yang bersih, handduk, sabun dan sikat gigi, laloc ia pergi ke kamar mandi.
Setelah sudah mandi, ia pun masuk pula ke dalam kamarnya. “Apakah yang hendak kukerjakan malam ini?” pikirnya. “Sesudah mandi badanku agak segar rasanya, perutku belum lapar lagi, karena aku makan dikereta tadi. Hendak tidur, belum mengantuk dan hendak bercakap-cakap, teman tidak ada. Orang pergi semuanya. Ah, lebih baik aku berjalanan-jalan ke pasar sebentar.” Dengan segera dikeluarkannya pakaian yang bersih dari dalam petinya dan sepasang sepatu dari dalam keranjang.
Baharo dimasukkannya kaki kanannya ke dalam sebuah sepatu itu, maka terasalah olehnya suatu benda yang keras. Dengaa segera dikeluarkannya benda itu dari dalam sepatu itu. Bukan buatan terperanjat hatinya, sebab benda itu tidak lain dari pada sebentuk cincin bermata berlian.
“He...............,” katanya seraya mengamat-amati cincin itu. “Rupanya inilah cincin anak gadis itu. Syukur, tidak hilang!”
Setelah sudah bersalin pakaian, ditulisnyalah sepucuk surat kepada Sitti Saniah. Surat dan cincin itu dimasukkannya ke dalam saku bajunya dan ia pun turun ke halaman akan meneruskan maksudnya tadi itu.
Pada keesokan harinya pergilah ia ke kantor akan berjumpa dengan “khef”nya dan menerima pekerjaaannya. Kemudian dipanggilnyalah seorang opas; maka katanya kepada opas itu:
“Opas, tolong antarkan surat dan kotak ini kepada Sitti Saniah di Meureuduati; berikan ketangannya sendiri dan katakan kepadanya, bahwa aku berharapkan kabar dari padanya, ya'ni tanda kiriman ini sudah diterimanya. Ini uang hadiah dari padaku bagimu, dan berjalananlah.”
Kira-kira pukul tengah sepuluh pagi orang suruhan itu sudah berdiri ditangga rumah Sitti Saniah. Kebetulan ketika itu Alimah kakak Saniah tidak ada di rumah, ia pergi ke pasar, dan anak gadis itu baharo dimasudah berpakaian dalam kamarnya. Demi didengarnya bunyi pintu diketuk orang dari luar, iapua berseru dari dalam: “Ya, siapa itu?” dan pintu itu pun dibukanya.
Serta dilihatnya opas itu, ia pun terkejut. Dengan agak takut dan kemalu-maluan datanglah ia ke tangga, serta berkata: “Ada apa?” “Ini ada sepucuk surat dan sebuah kotak untuk Sitti Saniah,” kata opas itu. “Nya‘(1)kah yang bernama Sitti Saniah?” “Benar,” kata anak gadis itu serta menerima kedua barang itu dengan tangan yang gemetar. “Dari pada siapa barang ini?” “Dari seorang-orang muda di kantor tuan Gubernur,” jawab opas itu.
Meskipun Sitti Saniah bertambah-tambah heran mendengar perkataan suruhan itu, sebab ia tidak berkenalan dengan orang muda di kantor itu, tapi barang itu dibawanya jua ke dalam. Akan tetapi ketika ia sampai dekat pintu, ia berpaling ke belakang serta berkata kepada opas itu: “Apa pesan orang itu?” “Ia minta kabar dari pada Nya‘, tanda sudah terima.” “Baiklah, tunggu sebentar,” kata anak gadis itu dan terus masock ke dalam kamarnya. Dengan hati yang berdebar-debar dan tangan yang gementar dibukanyalah surat itu, lalu dibacanya demikian:
“Saudara Sitti Saniah!
Ketika saya sudah mandi tadi malam di rumah tempat saya menumpang, dengan segera saya keluarkan sepatu saya dari dalam keranjang. Dan ketika saya kenakan sebuah sepatu itu, tiba-tiba terasalah di dalamnya sebuah benda yang keras. “Ah, apa ini,” kata saya, lalu saya periksa benda itu,.......... wah, bukan buatan terperanjat hati saya, berdebar-debar takut bercampur riang, sebab benda itu tidak lain dari paaa sebentuk cincin............“
“Sebentuk cincin?” teriak anak gadis itu dengan suka sekonnyong-konyong. “Cincin saya yang hilang itukah gerangan?” lalu ditcruskannya membaca surat itu.............
“sebentuk cincin berlian. Cincin saudara agaknya. Akan tetapi apakah sebabna cincin itu ada dalam sepatu saya? Rupanya cincin itu jatuh dari dalam dompet saudara, ketika saudara membuka dompet itu dalam kereta, lalu
(1) Nya‘, panggilan orang Aceh kepada orang muda dan bangsa ibu. masuk ke dalam sepatu saya, yang terletak dalam keranjang di bawah bangku saudara. Jadi cincin itu bersembunyi dalam sepatu, kita cari dilantai dan di peti dan dikeranjang, di mana akan bertemu?
Bersama surat ini saya kirim cincin itu kepada saudara dalam sebuah kotak ketil, yang telah saya bubuhi cap.
Saya harap, jika barang itu telah saudara terima, sudi apalah kiranya saudara memberi kabar kepada saya sedikit.
Wassalam saya, Orang Baru.“
Dengan segera dibukanya pula kotak itu, maka dilihatnya sungguh cincinnyalah yang terletak di dalamnya. Ia minta syukur kepada Tuhan dan minta terima kasih kepada orang yang menda-patnya itu. Akan tetapi siapakah nama orang itu? Orang baru? Ta‘ mungkin, itu bukan nama. Jadi bagaimanakah ia hendak membalas surat itu?
Lama sekali ia termenung-menung memikirkan hal itu. Ia tidak mengerti sekali-kali, apa sebabnya orang itu tidak menuliskan namanya sendiri? Malukah ia akan berkenalan dengan dia? “Ah,” kata Saniah “boleh jadi perasaannya sangat halus. Karena aku tidak bertanyakan namanya dalam kereta kemarin itu, ia tidak suka menerangkan saja. Jadi apa ‘akalku sekarang ini?”
Beberapa menit kemudian dari pada itu ia pun berkata pula dengan perlahan-lahan:
“Ah, apa gunanya kuketahui nama orang, lebih baik kubalas saja suratnya begini: ”Saudara yang terhormat.“
Maka diambilnya kertas, tangkai pena dan dawat, lalu dimu-lainya menulis kepala surat seperti pikirannya itu.
Akan tetapi sebentar itu jua kertas itu dirobeknya, sebab pikirnya, tidak patut ia memanggilkan saudara kepada orang yang lebih tua dari padanya. Perkataan “saudara” itu boleh dipakai bagi orang yang muda juga. Lagi pula ia berasa malu kepada orang muda yang lurus dan budiman itu. Bukan karena cincin itu saja, tapi banyak lagi sebab lain yang menjadiikan dia sangat hormat kepadanya. Tangannya ringan akan menolong. Dan selama mereka dalam kereta itu, berdua saja, tidak pernah didengarnya perkataan atau siasat orang muda itu yang kurang sopan. Sekalian tutur katanya lemah lembut, manis dan betertib. Jarang orang muda yang bertabi'at sedemikian. Oleh karena itu ditulisnyalah surat demikian:
Paduka kakanda!
Surat kakanda serta sebuah kotak yang berisi sebentuk cincin berlian sudah adinda terima dengan selamat dan sukacita. Sesungguhnya itulah cincin adinda yang hilang dalam kereta kemarin, kakanda. Ta‘ dapat adinda menggambarkan di sini, dalam surat ini, bagaimana besarnya dan riangnya hati adinda menerima kiriman kakanda itu dan ta’ terperikan pula besarnya terima kasih adinda kepada kakanda. Adinda bermohon kepada Allah subhanahu wata'ala, moga-moga kebajikan, kelurusan dan kemurahan hati kakanda itu akan memberi berkat pada diri kakanda, baik di dunia baik pun di akhirat kelak.
Wassalam adinda, Sitti Saniah.“
Setelah surat itu dibacanya dengan sabar, lalu dilipatnya dan dimasukkannya ke dalam sampulnya. Dengan segera ia pergi ke-luar, diberikannya surat itu kepada opas yang masih berdiri ditangga itu, serta berkata dengan lemah-lembut: “Tolong sampaikan surat ini kepada engku....................” “Baiklah, Nya‘,” jawab opas itu sambil menyambut surat itu. Maka ia pun bermohon diri hendak berangkat. “Tunggu dulu sebentar,” kata Sitti Saniah serta berlari-lari masuk ke dalam kamar pula. Sejurus antaranya ia balik kembali serta menggenggam sebuah mata uang. Maka uang itu pun diberikannya kepada orang suruhan itu, serta katanya: “Pembeli sirih sedikit, terimalah dengan senang hati.” “Terima kasih, Nya’,” kata opas itu dan berjalanan dengan riang. “Hai, hari baik bagiku sehari ini, dalam sejam saja aku sudah beroleh hadiah dua kali. Alangkah senang hidupku, jika aku selalu bertemu dengan makhluk yang dermawan se- bagai kedua orang muda itu. Akan tetapi siapakah mereka itu? Bersaudarakah keduanya, atau............?“
Dengan pikiran demikian itu sampailah ia di kantor pula. Ia masuk ke kamar Nya‘ Amat akan menyampaikan surat anak gadis itu.
Surat itu dibaca oleh Nya‘ Amat dengan tenang dan sabar. Kemudian dilipatnya dan dimasukkannya ke dalam saku baju-nya dengan perlahan-lahan.
“Sungguh, halus sekali budi anak gadis itu,” pikirnya sambil bekerja pula.
III. DALAM KERAMAIAN
Waktu musim panas. Pukul tengah lima (petang) sudah berbunyi. Meskipun demikian panas masih terik juga dan abu beterbangan di udara. Akan tetapi rupanya hal itu tidak menjadi alangan kepada orang, lebih-lebih kepada orang muda-muda, sebab beratus-ratus hamba Allah berjalan-jalan hilir mudik di jalan raya. Terutama di ujung Buitenweg, yaitu disimpang Inlandskhe Skhoolweg dan Van der Heydenweg, dekat Aceh-Internaat sekarang ini, amat ramailah orang berkendaraan auto, kahar, kereta angin dan berjalan kaki. Sekaliannya menu-ju arah ke Esplanade akan melihat permainan vutbal. Pada waktu itu akan bertanding v.c. Malang, suatu club yang kenamaan di Kutaraja, dengan elftal yang datang dari Medan.
Dan pukul enam senja jalan itu bertambah ramai dan sibuk pula, sebab orang sudah kembali dari tanah lapang. Cakap mereka itu tidak berkeputusan, amat riang rupanya, karena v.c. Malang itu menang. Jadi elftal yang datang itu membawa kekalahan pulang ke Medan. “Betul kuat dan tangkas v.c. Malang,” kata mereka itu dengan berebut-rebut. “Tidak cuma-cuma kita memuji-muji dan memanggakkannya.” Dengan demikian pulanglah mereka ke rumahnya masing-masing. Setengah-nya berputar-putar dahelulu sekelliling kota, sampai ke Neusu, sebab di sana lain dari pada pemandangan pada rumah opsir yang indah-indah, ada lagi permainan tennis. Dan setengahnya terus berjalan kekeraton melalui halaman istana tuan Gubernur, dan ke Peunayong.
Pukul 7 malam di muka panggung gambar hidu pun ramai pula. Rupanya gambar sudah bertukear, gambar baru telah datang. Orang muda-muda penuh sesak duduk di tempat perhentian, yang diperbuat oleh Gemeente di hadapan panggung itu. Akan tetapi bukannya sekalian mereka itu akan menonton, tidak, melainkan banyak pula yang sekadar hendak mengambil hawa sejuk dan melepaskan pemandangan saja.
Sebelum habis gambar bermain, berganti-ganti saja orang duduk di kursi yang terletak di tempat itu. Datangnya bukan sendiri-sendiri, melainkan berkawan-kawan. Setelah selesai per-tunjukan yang pertama, mereka itu pun naik auto berkeliling kota. Diantaranya ada yang sampai ke tempat mandi Ulelheue dan Mataie. Rupanya mereka itu sangat riang, sebab ta‘ putus-putus senda-guraunya. Nyanyi dan lagunya pun kedengaran, amat merdu bunyinya, dalam udara yang terang-benderang kena sinar bulan purnama raya itu. Maka duduklah mereka di situ dengan bersuka-sukaan. Ada yang bermain partut, ada yang duduk bercakap-cakap di pinggir laut, sambil mengambil hawa yang segar dan melayangkan pemandangan ke Lautan Hindia yang amat luas itu. Jaoh di tengah laut kelihatan dua buah titik hitam, yaitu pulau Weh (Sabang) dan pulau Beras. Sebagai kita ketahui, di situ ada terdiri mercu suar. Apinya terkelip-kelip rupanya, sebentar hilang dan sebentar timbul....................
Alangkah indahnya pemandangan dewasa itu. Alangkah ramainya tempat itu. Akan tetapi lebih ramai lagi tempat mandi Ulelheue itu pada hari Ahad pagi-pagi, sebab tuan-tuan dan nyonya-nyonya banyak datang ke situ akan mandi di laut. Di tempat mandi Mataie pun ramai pula. Orang muda amat banyak datang ke situ akan mandi, bersuka-sukaan dan bersenda-gurau. Pemandangan disitu pun tidak kurang indahnya. Mata air yang keluar dari dalam gua dan bukit yang terdiri sekeliling tempat itu, bukan buatan permainya. Apalagi tempat mandi itu sudah diaturkan dengan selengkapnya. Kamar pakaian, bangku tempat duduk dll. ada belaka. Sekaliannya menarik hati orang akan datang temasa ke situ. Lebih-Lebih gua yang gelap di atas bukit itu, ya. itulah pula yang ta‘ jarang dikun-jungi orang.
Pendeknya kedua tempat mandi itu boleh dikatakan jadi seri Kutaraja.
Barang siapa yang datang ke ibu negeri Gubernemen Aceh itu, niscaya ingin hendak pergi ke tempat mandi yang permai itu.
Pada suatu malam adalah keramaian di tempat mandi Ulee-lheue. Tempat itu sudah diaturkan dan dihiasi baik-baik. Lampu dan tanglung sudah dipasang, terang benderang cahayanya. Maka kelihatanlah orang duduk berkawan-kawan. Ada yang duduk dikoirsi mengelilingi sebuah meja, yang penuh dengan minuman dan penganan, ada yang duduk dipasir serta memandang ke laut. Masing-masing dengan kesukaannya.
Dalam pada itu bunyi-bunyian pun dibunyikan orang dengan amat merdunya.
“Nya’ Amat,” demikian kedengaran suatu suara dengan tiba-tiba, ”mari kemari sebentar..........” Seketika itu juga berdirilah seorang-orang muda, yang tengah duduk bercakap-cakap di pinggir laut dengan empat lima orang temannya, lalu pergi ke tempat datang suara itu.
“Apa, sahabat?” katanya kepada seorang orang muda yang se-dang main partut, ”apa kehendakmu?”
“Bery aku air limun segelas dan............... hai, Mat, coba memandang ke kursi dekat musik itu, siapakah yang duduk di antara orang tua laki isteri itu?”
Nya’ Amat memandang ke tempat yang ditunjukkan sahabat-nya itu. Dengan tiba-tiba tampak olehnya seorang anak gadis, yang memandang kepadanya dengan tenang. Akan tetapi sebentar itu juga ia membuang mata ke tempat lain, rupanya agak berdebar-debar hatinya. Dan Nya‘ Amat itu pun menundukkan mukanya ke tanah. “O, itu.............,” pikirnya dalam hatinya, ”dan apa kehendakmu tahadi?” tanyanya kuat-kuat kepada sahabatnya itu, “air limun?” Dengan segera ia berjalan cepat-cepat ke kamar minum-minuman.
Akan anak gadis itu, sesungguhnya hatinya terharu-biru se-bentar. Darahnya naik kemukanya. Ketika didengarnya orang berserukan nama Nya’ Amat tadi itu, kebetolan ia memandang ketujuan seru itu. Maka tampak olehnya orang yang bangkit berdiri itu............... tidak lain dari pada orang muda yang telah berbuat baik kepadanya. Lebih-lebih ketika pandangnya bertemu, nyata benar sudah kepadanya. “Ya,” katanya dalam hatinya. “Sekarang baru kuketahui namanya, ya'ni Nya‘ Amat,.......... Kalau begitu, ia bangsaku jua, orang Aceh tulen.”
Tiada berapa lama antaranya orang muda itu pun datang kembali ke dekat sahabatnya yang tengah main partut itu, serta membawa segelas air limun.
“Ini, sahabat, minumlah,” kata Nya‘ Amat, sambil meletakkan gelas itu di muka sahabatnya itu.
“Terima kasih,” jawab orang itu. Dan perkataannya disam-bungnya dengan berbisik-bisik. “Akan tetapi, Nya‘ Amat, mengapa tidak kaujawab pertanyaanku tadi? Mengapa ’kau lari saja? Ke-nalkah engkau kepadanya?”
“Tidak,” jawab Nya‘ Amat dengan cepat. “aku ta’ kenal ke-padanya.”
“Ah, masakan engkau ta‘ kenal. Kalau tidak, apa sebabnya engkau....................”
Nya‘ Amat ma'lum, kalau ia lama bercakap-cakap dengan sahabatnya itu, niscaya terjadi olok-olok yang ta’ kan menyenangkan hatinya. Oleh sebab itu ia pun segera berjalan, serta berkata dengan senyumnya:
“Ta‘ usah banyak cakap sekarang, sahabat; kerjaku banyak, aku harus melayani sekalian jamu. Main sajalalah engkau baik-baik, mudah-mudahan menang atau habis uangmu.”
“Baiklah, tapi jangan lupa melayani orang itu,” jawab sa-habatnya dengan tertawa.
Sesungguhnya Nya Amat jadi pelayan dalam keramaian itu. Kira-kira pukul delapan malam datanglah ia beserta dua orang bujang ke tempat duduk anak gadis dan orang tuanya itu. Maka disuruhnya bujang itu meletakkan tiga piring satai kam-bing di atas meja, serta katanya dengan manis:
“Silakan teuku makan apa yang ada ini.” Orang yang dipanggil-kannya teuku itu ialah bapa anak gadis itu. Kepada gadis itu, ya'ni Sitti Saniah, ia tidak memandang, sebab takut akan terjadi salah sangka kelak. Dan Sitti Saniah pun membuang mata ke tempat lain. Ia berbuat pura-pura tidak kenal akan Nya‘ Amat, temannya dalam kereta dulu itu.
“Marilah kita makan bersama-sama,” kata orang tua itu, serta menyorongkan sebuah kursi kepada Nya‘ Amat.
“Terima kasih, teuku,” yawab orang muda itu, “saya harus melayani jamu yang lain-lain.”
Akan tetapi akhirnya permintaan orang tua itu diperkenankan nya juga. Ia berjabat tangan dengan ketiga keluarga itu, lalu duduk.
Sambil menantikan piring satai dan gelas sebuah lagi, bercakap-cakaplah Nya‘ Amat dengan ketiga mereka itu. Dalam pada itu ia pun tidak lupa memperhatikan anak gadis itu dengan halus. Maka nyata kepadanya, Sitti Saniah kerap kali memandang kepadanya dengan ekor matanya. Amat tajam pandangnya itu, hingga dapat menembus hati anak muda itu. Kalau ia bukan seorang yang bijaksana, niscaya rahsia hatinya terbuka sudah.
Dan jikalau sekiranya ia tidak terkongkong oleh ‘adatnya, ’adat sopan santoon cara Timur, niscaya sebentar itu jua akan dikatakannya dengan terus-terang kepada gadis itu: “Aku mengerti pandangmu itu, adinda, hatikuupen telah tersangkut kepadamu.” Akan tetapi ia tidak boleh dan tidak berani berkata demikian di hadapan orang lain. Hanya ia bertonya saja dengan hormat kepada orang tua itu, ujarnya: “Anak teukukah ini?” Dan ia pun memandang kepada Sitti Saniah.
“Ia,” yawab orang tua itu.
“Syukur.”......... kata Nya‘ Amat pula. Dalam pada itu datanglah bujang menghidangkan satai kambing sepiring lagi, dan keempat mereka itu pun makanlah bersama-sama.
Setelah selesai dari pada makan itu, maka bunyi-bunyian pun dibunyikan orang pula.
Orang muda-muda mulai menari.
Meskipun bunyi musik itu amat merdu dan tari itu amat ellok, tetapi tidaklah menarik hati anak gadis itu. Sesungguhnya ingatannya sudah terikat kepada Nya‘ Amat. Barang ke mana orang muda itu pergi, diturutkannya dengan matanya.
Amat sedih hatinya, ketika orang tuanya mengajak dia pulang ke rumahnya, karena hari sudah lewat pukul sembilan malam.
IV. ARBA’A AKHIR
Tiap-tiap tahun ya’ni pada hari Arba’a yang akhir sekali dalam bulan Safar, biasanya orang Islam di seluruh tanah Aceh Besar, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, tidak lupa pergi mandi beramai-ramai. Bukan saja orang Aceh, tapi orang Jawa, Melayu, Keling, ‘Arab dan lain-lain pun turut juga pergi mandi kesalah suatu tempat, ada yang kepinggir laut dan ada pula yang ke Mataie.
Barang siapa yang sudah lama tinggal di Kutaraja, tentu tahu dan telah pernah melihat tamasya pada hari yang tersebut itu. Sejak dari pinggir laut Ulelheue sampai ke Pantaicermin dan Kuala Aceh, dekat kubur Syeh ‘Abdu’rrauf yang mengislamkan orang Aceh dahelu kala, segala tempat penuh sesak dengan orang yang sedang memasak dan mandi dalam laut.
Kerap kali terdengar kabar, ada orang yang hilang atau tenggelam dalam laut waktu “mandi Safar” itu.
Di tempat mandi Ulelheue amat banyak orang muda-muda. Maksud mereka itu datang ke situ bukan saja hendak mandi, tetapi hendak melihat-lihat tamasya juga. Kita ma’lum, tentu saja dalam keramaian yang seperti itu banyak pemandangan yang indah-indah, yang dapat menarik hati anak muda-muda.
Kira-kira pukul 10 siang berhentilah sebuah auto di muka tempat mandi Ulelheue itu. Maka turunlah dari dalamna empat orang muda, lalu berjalanan sepanjang pinggir laut. Di antara orang muda itu adalah Nya’ Amat, yang selalu memakai peniti rencong Aceh pada tali lehernya.
Tiada berapa lama antaranya mereka itu pun balik ke rumah tempat mandi kembali, lalu duduk diserambi muka akan melepaskan lelahnya. Akhirnya mereka naik auto pula dan berangkat ke Mataie.
Baharu sampai di situ, kedengaranlah suara orang berseru dari beranda sebuah rumah, ujarnya:
“Ha!! itu raja partut sudah datang. Hai Nya’ Amat, baru sebentar ini aku kirim sebuah auto akan menjemputmu …….”
Serta didengar orang muda itu perkataan demikian, ia pun memandang ke tempat datang suara itu dengan senyumnya, sam-bil keluar dari dalam auto.
“Hai, itu auto lain,” kata seorang muda yang lain pula, “tidakkah bertemu engkau dengan auto kami di jalan tadi, Nya‘ Amat?”
“Tidak,” yawab orang muda itu serta naik ke atas rumah itu. “Boleh jadi auto itu terus kerumahku.”
“Jadi engkau tidak datang dari rumah?”
“Tidak, kami datang dari Uleelheue, dan singgah sebentar di Peukanbanda, akan menjemput ‘Ali dan ’Abidin.‘”
“Mengapakah engkau pergi ke tempat mandi Uleelheue?” kata orang muda yang bertanya mula-mula tadi itu.
“Akan melihat-lihat tamasya di sana.”
“Melihat tamasya? Ramaikah di situ, Nya‘ Amat?” tanya temannya itu serta tersenyum.
“Tentu saja ramai, akan tetapi....................”
“Akan tetapi............” kata temannya itu dengan lekas, “tapi pada perasaanmu sunyi sekali, bukan?”
“Apa sebabnya?” tanya Nya‘ Amat dengan agak heran.
“Ah, engkau selalu berlaku pura-pura heran dan terce-ngang. Sebabnya ta‘ lain, karena yang kaucari tidak bertemu di sana. Ia ada di sini! ha, ha, ha!”
“Siapa?” tanya Nya‘ Amat dengan bertambah heran, sedang mukanya merah rupanya.
“Ia, yang makan satai kambing bersama-sama dengan dikau tempoh hari.”
“O,........ ah, engkau selalu mengganggu saya. Syak dan sangkamu sedemikian itu tidak patut sekali-kali terhadap kepada diriku. Aku ta‘ bersangkut-paut dengan orang itu.”
“Baik bersangkut, baik tidak,” kata orang muda yang lain pula, Cut Hasan namanya, yang sedang duduk mengacau kertas partut di atas meja. “Ayuh, Nya‘ Amat, marilah kita main partut.”
“Main partut?” kata Nya‘ Amat serta memandang kepada orang muda itu. “Tidak baik kita main sehari ini, sahabat. Hari ini kita harus pergi mandi atau berjalan-jalan.......... Dan ako-pum hendak pergi kelerengh boakit melihat orang memasak.”
“Hai, laparkah perutmu?”
“Tidak, aku hendak melihat-lihat saja, sebab hanya tahun dimuke pula kita dapat bersuka-sukaan sebagai hari ini. Itu pun jika kita masih hidup, atau masih tinggal di Kutaraja.“ ”Perkataanmu itu benar,“ kata Cut Hasan, ”pergilah.“ ”Betu, pergilah.“ kata temannya yang pertama tadi,.......... ”temphoh hari engkau sudah makan satai kambing bersama-sama dengan dia, dan sekarang hendak makan gulai kurma pula, bukan? Nah, selamat!“ Nya‘ Amat ta’ peduli akan olok-olok temannya itu. Setelah memberi salam kepada kedua mereka itu, ia pun berangkat dengan kelima kawannya tadi berkeliling daerah itu. Akhirnya mereka sampai kelerenng boakit, lalu duduk di atas sebuah batu besar serta memandang ke sawah yang luas di kaki boakit itu. Maka tampaklah olehnya orang duduk berkelompok-kelompok di sawah itu. Rupanya mereka itu sedang memasak, sebab asap api kelihatan mengepul naik keoodara. Maka tertariklah hati keenam orang muda itu hendak turun ke bawah, ke sawah itu. Ketika mereka lalu dekat sebatang beringin besar, tiba-tiba Nya‘ Amat berhenti sebentar, serta menengok ke belakang. ”Ada apa?“ kata kawannya, ”mengapa engkau berhenti, ayuh teruslah.“ ”Ah, tidak apa-apa,“ kata Nya’ Amat, sambil berjalan pula. ”Dengan tiba-tiba pikiranku sudah berubah,...... lebih baik kita pergi melihat gua gelap dahulu.“ ”Baiklah,“ jawab temannya. Kebetulan ketika itu ada seorang anak gadis duduk di bawah pohon beringin itu. Demi didengarnya suara orang bercakap-cakap itu, ia pun melihat ke muka lalu tampak olehnya Nya‘ Amat............... ”Astagal!“ katanya dalam hatinya sambil bersembunyi di balik daun-daunan. ”Rupanya barang ke mana aku pergi, aku bertemu jua dengan orang muda yang baik hati itu. Apakani gerangan sebabnya?“ Sejurus antaranya ia berdiri dari tempat duduknya, lalu menjenguk ke jalan yang dilaloi orang muda tadi. Mereka itu tidak kelihatan lagi, sudah jauh rupanya. Maka ia pun pergi mendapatkan ibu dan kakaknya, yang tengah memasak tidak jauh dari situ. Ketika dilihatnya pekerjaan mereka itu telah selesai, diajaknyalah keduzanya masuk gua gelap. Mereka itu pun: pergi ke- sana beserta beberapa perempuan lain. Masing-masing membawa sebuah suluh, lalu masuk ke dalam gua itu.
“Ingat-ingat, Saniah,” kata ibu itu kepada anaknya, “di situ ada jurang”.
“Baiklah, ibu,” kata anak gadis itu sambil berjalan dengan hati-hati dan menggerak-gerakkan suluhnyia. Akan tetapi seketika itu jua kakinya tergelincir dan suluhnyia jatuh masuk gua itu. Dan ia sendiri pun nyaris terguling masuk jurang, jika tangannya tidak lekas dipegang oleh seseorang.
“Hati-hati berjalan di sini, Nya‘,” kata orang itu serta meno-long gadis itu, supaya berdiri, dan memberikan suluh kepadanya.
Ketika gadis itu telah berdiri baik-baik dan ketika dilihatnya orang yang menolongnyia itu tidak lain dari pada Nya‘ Amat, ia-pun terperanjat kemalu-maluan. “O,” katanya serta menundookkan matanya ke tanah, “terima kasih....................”
Ibu dan kakak gadis itu pun tidak kurang ucapan terima kasihnyia kepada orang muda itu.
“Terima kasih kembali,” jawab Nya‘ Amat dengan senyumnya. Setelah itu ia pun keluear dari dalam gua itu dengan kawan-kawannya dan terus berjalan ke tempat mandi pula.
“Wahai,” kata Sitti Saniah dalam hatinya, sambil keluear pula dari dalam gua itu, “ada-ada saja jalan bagi orang muda itu akan menolongku dan............. akan mengikat hatiku. Sudah besar sungguh utangku kepadanya.............”
Baharu sampai ke tempat mandi itu maka Nya‘ Amat dan temannya itu pun segera mandi. Kemudian duduklah mereka ke dalam rumah tempat mandi itu, hendak makan. Kebetulan ketika mereka baru mulai menyuap, datanglah Sitti Saniah berserta ibu dan kakaknyia membawa tiga piring gulai kurma dan gulai kari.
“Silakan makan gulai ini, Nya‘,” kata gadis itu dengan lemah lembut serta meletakkan piring gulai itu di hadapan orang muda-muda itu, “ini pemberian kami dengan suci hati.”
“Terima kasih,” kata orang muda itu dengan ta'zim.
Setelah ketiga perempuan itu lalu dari situ, maka mereka itu pun makan dengan riang. Olok-olok, senda-gurau dan ke-lakar mereka itu tidak berkeputusan. Sekaliannya mempermain-mainkan Nya‘ Amat belaka.
“Sungguh beruntung engkau, Nya‘ Amat,” kata seorang temannya. “Apa kataku tadi? Sesudah makan satai kambing, mesti engkau makan gulai kurma dan kari......... Salahkah kataku itu? Ha, ha, ha!”
Nya‘ Amat berdiam diri saja.
“Ta‘ kami sangka sekali-kali engkau akan dapat berkenalan dengan gadis serta keluarganya itu,” kata yang lain pula. “Sebab sudah banyak orang muda hendak berkenalan dengan dia, tapi sekaliannya tidak dipedulikannya. Orang tuanya, lebih-lebih ibunya itu, sangat tinggi hati............ ta’ mau tahu akan orang sebagai kita ini. Akan tetapi engkau, Nya‘ Amat............ sungguh berbahagia sekali. Engkau dapat memikat burung yang terbang tinggi itu............”
Nya‘ Amat berdiam diri jua, serta makan dengan sedap.
“Sesungguhnya,” kata ‘Ali dengan yakin serta memandang kepada teman-temannya itu. “menurut pemandanganku Sitti Saniah dengan Nya’ Amat adalah sebagai bulan dengan matahari. Aku ingin sekali melihat mereka itu serumah tangga kelak. Tunggu dahulu, Nya‘ Amat,” katanya demi dilihatnya orang muda itu hendak membantah perkataannya. “Nantikan habis perkataanku dahulu........... Adapun gadis itu ialah seorang bangsa Aceh, bangsa kita, yang mula-mula duduk di bangku sekolah. Ialah, yang mula-mula menerima pelajaran atau didikan cara modern. Dan Nya’ Amat pun berpikiran modern pula, jadi pantas sekali ia memetik bunga jeumpa Aceh itu. Niscaya mereka laki isteri akan dapat jadi penganjur bangsa kita kelak............”
“Hai, ‘Ali,” kata Nya’ Amat dengan tiba-tiba, sebab ia ta‘ sabar lagi mendengarkan perkataan sahabatnya itu. “Sia-sia sekali engkau berkata demikian di muka teman sekalian ini. Apa sebabenya engkau berani berkata begitu? Sudahkah engkau dengar aku menunang gadis itu, atau gadis itu suka akan daku? Aku rasa belum pernah lagi aku menyebut-nyebut perkara itu, dan ta’ terangan-angan dalam hatiku, karena engkau ma'lum: Emas dan loyang, manakan boleh bercampur keduanya. Apalagi berbahaya sekali mempermain-mainkan anak gadis orang dalam majelis sebagai ini. Oleh sebab itu saya harap, supaya sahabat sudi mencabut perkataan yang telanjur itu.”
“Hural hural!” seru segala orang muda itu dengan riang. “Pandai betul sahabat kita ini bercakap-cakap. Patut sekali dia kita namakan redenaar. Nah, ‘Ali, coba tangkis olehmu perka-taannya itu.”
“Sahabatku, Nya‘ Amat,” kata ’Ali dengan sabar dan sesung-guh-sungguh hatinya, “jangan engkau salah terima akan perka-taanku tadi itu. Aku bukan berolok-olok, bukan mempermain-mainkan anak gadis orang, Nya‘ Amat, melainkan aku mengatakan pengharapanku. Engkau seorang penganjur bangsa, yang selalu memperhatikan kemajuan kaum perempuan. Itu nyata ke-padaku dari pidatomu dalam Congres V. A. baru-baru ini. Dan saya lihat, Sitti Saniah itu pun berhaluan sedemikian pula. Oleh karena itu terbitlah suatu keinginan dalam hatiku, alangkah baik-nya, jika Nya’ Amat beristerikan gadis Saniah yang molek itu.”
“Betul,” kata ‘Abidin dengan lekas. “Pikiranku pun demikian juga. Akan tetapi hal itu bergantung kepada nasib kedua muda remaja itu. Kalau ada jodohnya,” katanya pula sambil memandang kepada Nya’ Amat dengan senyumny, “tentu mereka bertemu kelak. Akan tetapi ta‘ usah kita rentang panjang perkara itu, hari sudah pukul empat petang, dan marilah kita pulang.”
“Benar,” kata yang lain-lain, “hari sudah petang dan perut kita sudah kenyang...............”
Maka mereka itu pun bersiap hendak berangkat pulang.
V. PERGAULAN BARU
Telah lima bulan lamanya Nya‘ Amat tinggal di Kutaraja. Dalam pada itu banyaklah sudah sahabat kenalannya. Ia telah menyadi lid Yuliana Club. Pergaulannya amat baik dengan anak muda-muda bangsa Aceh, demikian juga dengan bangsa lain. Sekalian orang suka kepadanya. Hampir setiap petang ia berja-lan-jalan sekellling kota, atau berkereta angin dengan kawan-kawannya! Dalam hal pergerakan ’umum ia menyadi lid bestuur dari N.I.P. Buah pikiranya sangat diindahkan dan dihargai orang.
Dan dalam perhimpunan kebangsaan (nationalist), ia menyadi lid bestuur dari V. A. Hatinya tetap dan yakin bekerja untuk keperluan bangsa, dan ia suka sekali bertukar-tukar pikiran dalam hal pelajaran dan perusahaan dll.
Sebagai seorang pemimpin bangsa maka tiap-tiap tahun baru, banyaklah ia menerima karcis selamat hari raya dari pada anggota kedua perhimpunan itu.
Sampai kepada waktu itu Nya‘ Amat masih tinggal menumpang di rumah bangsawan Aceh, tempat Vereeniging Aceh, dan membayar makan di Maskat Hotel.
Akan tetapi dalam bulan yang keenam ia terpaksa pindah dari situ, sebab orang bangsawan itu berangkat dari Kutaraja.
Maka ia pun menumpang di rumah orang Sumatera Barat di Buitenweg, yaitu di rumah engku Suleman.
Pada tiap-tiap petang rumah engku Suleman itu penufi anak-anak gadis, yang datang ke situ akan belajar menjahit dan merenda (handwerk) kepada isterinya, karena ia amat pandai dalam perkara itu, demikian jua dalam pekerjaan rumah tangga. Ia bekas murid sekolah Studiefonds Kota Gedang, serta bekas murid juga dari pada seorang nyonya Eropah yang pandai di Fort de Kock.
Di situ Nya‘ Amat hidup sebagai sediakala juga, tiap-tiap petang berjalan-jalan dengan engku Suleman. Kadang-kadang ramailah rumah engku Suleman dikunjungi oleh orang muda bangsa Aceh, yaitu temannya di sekolah Fort de Kock dahaelu.
Engku Suleman serta isterinya amat yakin dan tulus memimpin dan mengajar anak gadis-gadis Kutaraja.
Pada suatu malam kira-kira pukul 7 Nya‘ Amat datang ke sebuah kedai. Dengan ta’ disangka-sangka ia pun berjumpa dengan engku Suleman dan isterinya, serta beberapa orang anak gadis. Rupanya mereka datang ke situ akan membeli sutera dan benang. Antara gadis-gadis itu adalah Sitti Saniah.
“He, engku dan uni ada di sini,” kata Nya‘ Amat serta memberi salam kepada kedua laki isteri itu. Dan ketika ia menoleh ke kiri, kelihatan olehnya seorang anak gadis sedang mengerling dia dengan ekor matanya. Dengan segera ditegurnya gadis itu dengan lemah-lembut, ujarnya:
“Hai, ta‘ kusangka,............ engkau ada di sini pula, Saniah?” “Ada, engku,” jawab gadis itu dengan senyum.
Dengan segera Nya‘ Amat membeli sekotak cokelat, lalu dibagi-bagikannya kepada anak gadis-gadis itu.
Setelah itu mereka itu pun berjalan-jalan dalam kedai itu. sambil melihat ini dan itu. Dengan tidak disangka-sangka Sitti Saniah berjalan di kanan Nya‘ Amat serta bercakap-cakap dengan riang dan manis. Kemudian pulanglah sekaliannya ke rumah engku Suleman.
Semenjak dari dalam kedai yang diterangi oleh lampu gas itu sampai ke jalan raya yang diterangi oleh sinar bulan yang purnama raya, isteri engku Suleman selalu memperhatikan Nya‘ Amat dan Sitti Saniah itu.
Dalam hatinya: “Kedua anak muda itu sepadan sudah, sebagai bulan dengan matahari dan sebagai cincin dijari manis. Alangkah eloknya, kalau kedua anak muda itu jadi suami isteri! Baik tentang paras, baik tentang kepandaian dan tertib sopan, sesungguhnya kedua remaja itu sepadan sudah. Tidak menyesal aku telah mendidik gadis itu; kebalikannya, sangat sedihlah hatiku, bila gadis itu bersuamikan orang yang bukan jodohnya. Ah! aku mesti bekerja dengan sungguh akan memperhubengkan kedua muda remaja itu dengan suci, supaya jangan sia-sia segala usahaku bagi mereka itu. O, Saniah, kau mesti jadi isteri Nya‘ Amat, seorang anak muda yang baik budi dan mempunyai keyakinan hati akan kemajuan bangsa. Kau mesti jadi isterinya, akan membantu dan menyokong maksudnya yang suci dan mulia untuk bangsa dan tanah air. Kamu kedua mesti jadi contoh dan suluh kepada bangsamu. Aku ingin mendengar kemudian hari nama dan budimu itu jadi kenang-kenangan pada bangsamu.”
Sepanjang jalan isteri engku Suleman berpikir-pikir demikian itu. Ketika sampai ke rumah, didapatinya makanan sudah tersaji, lalu sekaliannya duduk makan. Nya‘ Amat, engku Suleman dan isterinya duduk sebaris pada suatu sisi meja, dan di hadapannya duduk Sitti Saniah dan gadis yang lain-lain. Sitti Saniah duduk setentang benar dengan Nya’ Amat.
Setelah sudah makan dan setelah piring mangkuk dikemasi oleh bujang, maka engku Suleman dan isterinya pun mulai memerbincangkan maksudnya akan mendirikan suatu perkumpulan anak gadis di Kutaraja. Nanti, perkumpulan itu sendiri dapat mendirikan sekolah, tempat anak-anak gadis belajar pel-bagai ‘ilmu kepandaian atau kerajinan. Jadi sekolah itu boleh dinamai Industrie-cursus. Betul pelajaran yang diadakan diru- mah beliau sekarang itu sama ujudnya dengan sekolah yang dikehendaki itu, akan tetapi belum memada'i lagi. Tambahan pula bukan kepunyaan orang Aceh sendiri, hanya suatu “gerakan” kedua laki isteri itu saja semata-mata. Kata beliau maksud itu boleh berhasil, bila ibu bapa gadis-gadis dan orang lain sudi menyokong. Bukan menyokong turut serta saja, tetapi terutama menyokong dengan uang juga, akan pembeli perkakas yang perlu untuk itu.
Demi didengar Nya‘ Amat maksud engku Suleman itu, ia pun segera berkata dengan gembira:
“Saya, engku dan uni, sekali engku sebut, seribu kali saya suka. Sebab cita-cita saya pun demikian juga, setuju sekali dengan engku dan uni. Sudah lama saya berikhtiar hendak mendirikan sekolah seperti itu, tapi belum dapat, sebab ta‘ ada orang yang sungguh suka menunjang niatku itu dengan hati dan perbuatannya. Sekarang baru kudapati orang yang sepikiran dengan saya, yaitu uni dan engku. Nah, tanda suka hati saya, sekarang ini juga saya bederma.” Dengan segera dibukanya dompet uangnyia, dikeluarkannya empat helai uang kertas f 25.—serta katanya pula:
“Ini derma saya, terimalah uang f 100.—ini akan pembeli perkakas yang perlu. Akan memadukean sekolah kerajinan dan perusahaan itu, saya akan berikhtiar dengan sedapat-dapatnya mencari gadis bangsa Aceh, akan jadi murid. Tambahan pula, nanti saya usahakan juga supaya V. A. sudi menyokong sekolah kita itu dengan uang dan tenaga.”
Pukul 9 datanglah ibu gadis-gadis itu menjemput anaknya masing-masing; setelah mereka itu pulang, maka ketiga orang itu pun bercakap-cakap jua beberapa lamanya.
VI. BERMUPAKAT
Pada keesokan harinya pecah kabar sudah, bahwa ta‘ lama lagi akan terdiri sebuah Industrie-cursus untuk gadis-gadis di Kutaraja. Buah pikiran itu terbit dari engku Suleman laki isteri, serta dibantu dan disokong oleh Nya’ Amat. Tentang derma Nya‘ Amat yang mula-mula f 100.—itu tidak lupa disiarkan orang, dengan pengharapan, siapa lagi yang sudi berbuat demikian untuk keperluan bangsanya?
Barang di mana orang berkumpul, lebih-lebih dalam kumpulan anak gadis-gadis, ta‘ lupa orang menyebut-nyebut dan memuji-muji nama Nya’ Amat yang dermawan itu.
Pendeknya Nya‘ Amat jadi buah tutur orang sudah.
Engku Suleman dan isterinya pun ta‘ habis memikirkan kebaikan orang muda itu. Akan tetapi dalam pada itu ada pula suatu hal yang sulit diperbincangkannya tentang diri Nya’ Amat.
“Engku,” kata isteri itu kepada lakinya pada suatu malam, “tahukah engku maksud Nya‘ Amat memberikan uang f 100.—itu?”
“Ya, bukantah kau telah mendengar keterangan dari dia sendiri?” yawab engku Suleman.
“Itu benar, tetapi dalam hatiku timbul pikiran lain tentang hal itu.”
“Bagaimana pikiranmu?”
“Ya, sebelum saya menyatakan pikiran saya itu, lebih dahaelu saya hendak mengetahui pikiran dan perasaan engku sendiri. Saya kuatir, kalau-kalau pemberian Nya‘ Amat itu tidak semata-mata ujudnya karena cinta dan suka akan kemajuan bangsa. Tidak boleh jadikah ada suatu sebab atau maksud lain, baik atau buruk terkandung dalam pemberian itu? Yaitu akan memikat hati seseorang umpamanya, untuk keperluan sendiri. Bagaimana pikiran engku tentang itu?”
“Coba ceriterakan terus pendapatmu dahulu!”
“Sangkaku, pertama ia hendak menunjukkan kekayaannya kepada kita dan kedua barangkali, siapa tahu, ada ia menaruh hati kepada salah seorang murid kita, Walaupun dengan suci atau...............”
“Pikiranmu sudah menyimpang, aku rasa tidak begitul! Adakah tampak olehmu tingkah lakunya yang salah atau janggal, selama ia tinggal di rumah kita ini?”
“Tidak, belum pernah kudapati kesalahannya, Walaupun sela-lu hari saya perhatikan. Tingkah lakunya amat sopan kepada kita seisi rumah. Yang tua dimuliakannya, yang kecil dikasihinya. Dan kita pun dipandangnya sebagai saudaranya sendiri.”
“Saya pun begitul juga, belum sekali jua saya mendapati tingkah lakunya yang kurang sopan, baik di luar atau di dalam rocmah ini. Sesungguhnya ia yakin bekerja untuk kemajuan bangsanya. Kerap kali ia bertukar-tukar pikiran dengan daku, dan dengan orang lain juga, tentang bermacam-macam hal yang berguna bagi bangsa.
Hatinya sangat mulia sekali. Baru-baru ini dalam congres V. A. pada hari yang pertama ia berpidato tentang pelajaran anak perempuan di tanah Aceh, dan pada hari yang kedua dikemuka-kannya cita-citanya akan memajukan kecerdasan bangsa Aceh.“
“Hendak memajukan kecerdasan bangsa Aceh?”
“Benar, sesungguhny mulia sekali maksud anak muda itu! Ya, itulah sebabnya aku ta‘ menaruh salah sangka akan uang yang didermakannya untuk sekolah kita itu.”
“Kayakah dia?”
“Kaya, tidak. Akan tetapi uang sekian tidak menjadi pikiran betul padanya, sebab ia amat boros.”
“O, begitu.................”
“Jadi sekarang sudahkah engkau mendapat pikiran yang bersih?”
“Sudah.”
“Nah, sekarang apa yang hendak kaupercakapkan lagi?”
“Sesungguhny percakapanku belum selesai lagi.”
“Teruskanlah! Sebentar lagi ia pulang, sebab waktu makan sudah dekat.”
“Saya harap, pendapat saya yang salah engku bantah dan yang benar dan berfaedah engku sokong!”
“Baiklah! Itu benar sekali, sebab kata orang pandai-pandai: Dengan bertukar-tukar pikiran itulah kita akan memperoleh kebenaran.”
“Sekarang begini maksud saya, engku, sudah lama sekali saya amat-amati tingkah laku Nya‘ Amat dengan Sitti Saniah, lebih-lebih semenjak kita bertemu dengan dia di toko Marzak, di jalan dan sampai di meja makan. Saya rasa, kedua orang muda itu sudah sebanding sebagai bulan dengan matahari. Baik tentang rupanya, baik pun tentang kepandaian nyya.
Matahari dan bulan jadi suluh bagi ‘alam, demikian juga Nya’ Amat dan Sitti Saniah akan jadi suluh bagi bangsanya.“
“O, ya, sekarang baru aku tahu maksudmu. Semenjak kemarin malam aku pun sudah memikir-mikirkan hal itu, tetapi belum aku beritahukan kepadamu lagi. Syukurlah, sekarang perkara itu sudah terbit dari padamu sendiri. Nah, sangkaku, sungguh patut sekali Nya‘ Amat jadi laki Sitti Saniah. Gadis itu sudah dididik dengan baik dan aku tahu, Nya’ Amat sangat suka memperhatikan kemajuan perempuan di Aceh; mudah-mudahan ia akan beroleh seorang isteri yang cakap............“
“............. Akan membantunya,” kata isterinya dengan cepat. “Betul, engku, itulah cita-cita saya. Kedua laki isteri itu hendaklah bertolong-tolongan dalam hal memajukan bangsanya. Sebab menurut pikiranku, ta‘ mungkin kemajuan suatu bangsa dapat tercapai dengan lekas, jika bangsa laki-laki dan perempuan—terutama laki dan isteri—tidak sama-sama berusaha dalam hal itu.”
“Jadi sekarang pikiran kita sesuai sudah?” “Sudah.” “Akan tetapi bagaimana ‘akal kita akan memperhubungkan kedua muda remaja itu?” “Ya, mula-mula kita harus bermupakat dengan Nya’ Amat sendiri,” kata isteri engku Suleman. “dan...............? Setelah itu baru boleh kita sampaikan maksud itu dengan sepatutnya.” “Baik! Bila kita berunding dengan Nya‘ Amat?” “Nanti waktu makan saya tanyakan kepada Nya’ Amat, bila kiranya ia dapat berunding dengan kita tentang hal itu.” “Jadi hendak kaukatakan sekali perkara itu kepadanya?” “Tidak, melainkan hendak kukatakan: ada perlu sedikit.” “Baiklah!” Kebetulan pukul 8 berbunyi dan waktu itu tampaklah lam-pu karbit kereta angin menuju ke rumah itu; sesa'at antaranya Nya‘ Amat pun telah ada di atas tangga serta memberi salam kepada laki isteri itu.
Sebentar lagi ketiga mereka itu pun duduk di meja makan. Sesudah habis makan, maka isteri engku Suleman bertanya: “Hendak ke manakah Nya‘ Amat malam besuk?” “Mengapa uni bertanya demikian?” tanya Nya’ Amat dengan tercengang. “Tidak apa-apa; hanya kami hendak berunding dengan Nya‘ Amat.” “Sekarang apa salahnya?” “Tidak dapat, sebab banyak yang hendak kami perbincangkan.”
“Besok malam tidak dapat, sebab saya sudah berjanji dengan orang lain.” “Bila sempat?” “Malam lusa saja.” “Baiklah, kami nanti!” Setelah itu maka orang muda itu pun bermohon diri hendak pergi ke kamarnya.
VII. MEMPERHUBUNGKAN SILATU’RRAHIM
“Nya’ Amat,” kata isteri engku Suleman kepada orang muda kita itu pada malam yang telah ditentuukan, sedang mereka du-duek diserambi muka, “sebelum saya mengeluarkan perasaan hati saya, lebih dahulu saya hendak mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati Nya’ Amat membantu Industrie-cursus, demikian juga atas pidato Nya’ Amat dalam kongres V. A. tentang pelajaran gadis Aceh. Menurut keterangan dari suami saya, pidato itu penting sekali artinya bagi kemajuan kaum perempuan, kaum saya di Aceh. Sayang sekali saya sendiri ta’ hadir dalam congres itu. Pidato itu saya junjung tinggi, oleh sebab itu atas nama kaum perempuan, saya mesti menyampaikan terima kasih kepada Nya’ Amat. Mudah-mudahan buah pikiran Nya’ Amat itu jadi benih kemajuan kelak. Akhirnya jadi suatu tanaman yang subur, boleh menghasilkan bocah yang lazat citarasanya.”
“Ah, uni! Ta’ usah uni memuji-muji saya sedemikian, dan ta’ perlu minta terima kasih, karena apa yang saya lakukan itu tidak lain dari pada suatu kewajiiban manusia. Laki-laki dan perempuan mesti bertolong-tolongan, baik di dalam atau di luar rumah tangga.”
“Ya …… itu betul, Nya’ Amat, tetapi bukantah manusia tiada boleh melupakan budi seseorang, seperti kata pepatah: Utang emas boleh dibayar, utang budi dibawa mati? Jadi apa yang Nya’ Amat perbuat itu, sungguh tidak boleh dilupakan dan harus jadi utang budi bagi kaum perempuan.”
“Tidak, uni! Itu tidak pada tempatnya.”
“Saya rasa sudah pada tempatnya, sebab nama dan budi yang baik harus dikenang jua.”
“Ya, Nya‘ Amat! Puji-pujian itu sudah pada tempatnya,” kata engku Suleman menyela perkataan isterinya itu.
Orang muda itu tersenyum dan tiada membantah kata isteri engku Suleman lagi.
“Sekarang teruskanlah perkataan adinda,” kata engku Suleman kepada isterinya.
Perempuan itu berpikir sebentar; kemudian ia berkata pula, ujarnya:
“Bagaimana maksud dan cita-cita Nya‘ Amat tentang pidato dalam congres V. A. itu?”
“Maksud saya hendak berusaha dengan sekuat-kuatnya, akan memajukan kaum perempuan di Aceh. Sebab saya rasa, kaum itu masih amat jauh tertinggal dari kaum perempuan di Sumatera Barat, tanah Jawa dan lain-lain di Indonesia ini. Saya yakin, cita-cita saya itu akan sampai, bila banyak mendapat ban-tuan dari kaum laki-laki yang terpelajar di Aceh ini. Mereka itu harus selalu memberi pemandangan kepada kaum ibu, dengan tidak jemu, sebab kemajuan itu—lebih-lebih perkara pelajaran—bergantung pada kaum ibu sendiri. Bukantah ibu yang mendidik anaknya dari ketiyil sampai besar? Bukantah ibu boleh menanam pelbagai macam bibit pada anak yang dididik-nya itu? Jadi ibu itu haruslah terpelajar............... Akan tetapi di tanah Aceh ini............... susah, uni.”
“Susah bagaimana?” tanya isteri engku Suleman.
“O, uni, kaum ibu di sini sebagai kata saya tadi, masih jauh tertinggal di belakang. Ta‘ salah saya katakan, masih ”kuno“ dan ta’ menaruh kasih dan sayang kepada anaknya.”
“Tidak menaruh kasih dan sayang bagaimana?” tanya engku Suleman dengan tersenyum. “Saya lihat, kaum ibu di Aceh sangat sayang kepada anaknya, sehingga mereka ta‘ suka sekali-kali anaknya itu jauh dari matanya.”
“Itulah sebabnya maka saya katakan ”tiada menaruh sayang“, ” yawab Nya‘ Amat dengan agak gembira sedikit. “Menurut pikiran saya, sayang sedemikian itu berbahaya sekali bagi kemajuan bangsa.
Saya sendiri sudah merasainya. Waktu saya hendak berangkat dari rumah orang tua saya, akan melanjutkan pelajaran saya, terjadilah perbantahan yang hebat antara ayah dan ibu saya. Ayah suka, supaya saya melanjutkan pelajaran saya ke tempat lain, tetapi ibu menahan saya dengan keras. Betul akhirnya ibu kalah jua, ya'ni saya dapat berangkat meneruskan sekolah saya, tetapi bagaimana jadinya? Ibu saya selalu bersusah hati saja.
Waktu vacantie yang pertama saya pulang. Saya lihat badan beliau kurus sangat. Kabarnya konon, beliau selalu menangis saja, sepeninggal saya itu, dan kadang-kadang beliau selalu menyeut-nyeut nama saya dalam mimpinya. Setelah habis vacantie, saya balik ke sekolah saya kembali, maka ibu saya makin bertambah-tambah susah dan kurus. Ingatannya senantiasa kepada saya saja. Empat bulan kemudian saya mendapat surat kawat, bahwa beliau sudah meninggal, dan saya pun terpaksa pulang satu bulan lamanya. Baru saja saya sampai di rumah, sudah penuh kaum ibu (keluarga) saya datang menangis-nangis sekeliling saya. Saya dengar bermacam-macam tangis sindiran terhadap kepada saya, karena saya tidak menurut kata ibu saya, tidak mengindahkan larangannya akan pergi sekolah ke negeri lain itu.
Ah, uni, semenjak itu dan selama saya tinggal di kampung, bukan buatan banyaknya godaan atas diri saya. Pendeknya, kalau tidak keras iman saya serta yakin, niscaya saya akan meninggalkan sekolah. Ayah saya selalu mendapat cela dari segala saudara ibu saya yang perempuan. Untunglah ayah saya terlalu sabar dan yakin akan kemajuan sekarang.
Jadi sekarang uni barangkali sudah tahu sedikit, bagaimana pendirian kaum ibu di tanah Aceh tentang kemajuan.“
“Ya, saya ma'lum sudah. Kesayangan ibu yang demikian adalah terdapat pada tiap-tiap bangsa, Nya‘ Amat. Hal itu ta’ dapat kita hapuskan dengan bersegera, hanya dengan berangsur-angsur, ya'ni dengan didikan dan pelajaran sebagai cita-cita Nya‘ Amat itu. Tetapi adakah akan lekas berhasil cita-cita kita itu?”
“Ya, seharusnya lekas berhasil. Akan tetapi kalau ta‘ dapat demikian, dengan berangsur-angsur pun saya harapkan juga. Biar saya sendiri tidak merasai hasil perbuatan saya itu, asal bangsa saya berbahagia kelak.”
“Baiklah. Akan tetapi belum nampakkah suatu jalan oleh Nya‘ Amat, yang boleh lebih cepat memajukan maksud itu? Ingatlah, Nya’ Amat berkata tadi, kemajuan itu bergantung kepada ibu. Dan ”ibu“ itu ta‘ kan dapat hidup atau bergerak, jika ta‘ ada “bapa”. Jadi laki-laki dan perempuan mesti bekerja bersama-sama.“
“Ada, uni, tetapi jalan itu tidak saya terangkan di sini, karena masih tersembunyi dalam kenang-kenangan saya. Akan tetapi barangkali uni dan engku ada menaruh suatu pikiran atau pendapat tentang itu, cobalah terangkan, mudah-mudahan beruna juga kepada saya.”
“Ya, itulah maksud pembicaraan kita semalam ini,” kata engku Suleman.
“Sukurlah, cobalah engku terangkan maksud itu!” kata Nya‘ Amat.
“Begini, Nya‘ Amat,” kata isteri engku Suleman; “segala pekerjaan mesti dijalankan dengan tipu muslihat. Mencari uang dengan uang, menangkap balam dengan balam; dan lihatlah, orang memancing ikan pun mesti dengan umpannyia.”
Nya‘ Amat tersenyum dan berkata: “Sampai ke mana uni sudah?”
“Hampir sampai ke batas yang dimaksud,” kata isteri engku Suleman seraya tertawa dengan manis.
“Ah, dalam betul tujuan perkataan itu,” kata Nya‘ Amat pula.
“Ya, mesti begitu, tetapi dengarlah saya teruskan maksud itu,” kata isteri engku Suleman pula.
“Baiklah, uni!”
“Ya, Nya‘ Amat, barangkali Nya’ Amat sudah membaca riwayat nabi kita, nabi Muhammad s.a.w., bagaimana beliau memasukkan agama Islam kepada kaum perempuan, ya'ni dengan pengaruh segala isterinya dan sahabatnya.”
“Itu benar sekali, uni, dari itu besar pula harapan saya kepada kaum ibu yang pandai-pandai di sini akan menyokong maksud saya itu.”
“Itu boleh Nya‘ Amat harapkan, tetapi lebih baik lagi bila Nya’ Amat mempunyai seorang pembantu tetap, yang cakap serta sehaluan dengan Nya‘ Amat.”
“Baik sekali, uni!”
“Jadi Nya‘ Amat sesuai dengan maksud saya itu?” kata perempuan yang cerdik itu.
“Tentu saja.”
“Ha,............ sekarang kita sudah sampai dipintu, bukalah kuncinya!” kata engku Suleman sambil tertawa. “Dan barangkali Nya‘ Amat sudah mengerti tujuan percakapan kita ini.” “Belum terang,” kata Nya’ Amat. “Baiklah,” kata isteri engku Suleman, “sekarang lebih baik saya katakan dengan terus terang, hendaklah Nya‘ Amat kawin dengan lekas.” Demi didengar orang muda itu perkataan yang akhir itu, ia-pun gelak terbahak-bahak. “Apa kata uni,” katanya kemudian dengan heran, “kawin lekas?” “Ya, kawin lekas,” kata kedua laki isteri itu. “Kawin atau beristeri itu sudah kewajiban laki-laki,” kata Nya’ Amat dengan tenang, “tapi lekas lambatnya tidak dapat dipastikan. Sebab itu jangan salah terima kepada saya, kalau perkataan uni dan engku itu untuk sementara tidak dapat saya benarkan.” “Kami minta, supaya dibenarkan dan dikabulkan.” “Tidak, uni, kawin paksa saya tidak suka, saya mesti merdeka dalam perkara kawin dan saya sudah melawan maksud ayah saya dengan keras, ketika ia hendak memaksa saya kawin.” “O, Nya‘ Amat, kami tidak bermaksud sekali-kali hendak mela-kukan kawin paksa pada diri Nya’ Amat, dan pada diri orang lain pun tidak juga, hanya kami unjukkan pikiran kami, supaya Nya‘ Amat dapat menimbang baik-baik. Itulah sebabnya kami berunding dengan Nya’ Amat lebih dahulu.” “Saya mengucapkan terima kasih,” kata Nya‘ Amat, “tetapi tentang perkara kawin itu, saya tidak dapat mengabulkannya, bila belum dapat perempuan yang saya kehendaki; sebab uni mesti pikir sendiri, kalau saya sudah beristeri, boleh jadi haluan saya sekarang ini menyimpang atas dua jalan, pertama: boleh jadi hilang semata-mata dan kedua boleh jadi bertambah maju. Sekaliannya bergantung kepada keadaan isteri saya. Bila saya mendapat isteri yang sehati dengan saya, tentu tetap atau bertambah keraslah haluan saya ini, tetapi kalau kebalikannya, tentu saja jadi gelap gulita.” “Itu betul, Nya’ Amat, dari itu kami berikhtiar akan memajukan niat Nya‘ Amat itu, supaya bertambah tetap dan maju.” “Bagaimana ikhtiar uni dan engku sekarang?”
“Ya, hendak kami sokong maksud dan haluan Nya‘ Amat yang mulia itu.”
“Hingga mana sokongan itu?”
“Hingga sampai ke batas yang sempurna,” kata isteri engku Suleman pula. “Yaitu............ kami unjukkan ”kandidat“ isteri Nya‘ Amat dan kami minta, supaya Nya’ Amat terima dengan senang hati.”
“Unjukkan kandidat...............? Sungguh seperti pilihan lid Volksraad,” kata Nya‘ Amat seraya tersenyum, dan kedua laki isteri itu pun tertawa pula.
“Ah, Nya‘ Amat jangan salah terima akan hal kami tertawa demikian itu, seakan-akan kami bermain-main saja, tetapi sebenarnya kami berkata dengan yakin. Kami tunjukkan seorang gadis, yang kami harap boleh akan jadi isteri Nya’ Amat.”
“Akan jadi isteri saya...............? Hai, siapa gadis itu dan anak siapa dia?”
“Nya‘ Amat jangan tanya anak siapa dahulu, tetapi boleh lihat rupanya dan periksa pada kami segala keadaan dan tingkan lakunya dan kepandaianya.”
“Ya, siapa gadis itu?” tanya Nya‘ Amat pula.
“Sitti Saniah, yang makan kemarin malam semeja dengan Nya‘ Amat, dan telah pernah juga berjalan seiring dengan Nya’ Amat di dalam sinar bulan purnama raya, sejak dari toko Marzak sampai ke rumah ini...............”
“Ooo............. Sitti Saniah?” kata Nya‘ Amat dengan mata terbeliak.
“Ya,” kata engku Suleman dengan tersenyum.
“Ya, barangkali ada alangannya,” kata Nya‘ Amat pula.
“Apa alangannya?”
“Ya, sesungguhnyia saya ada menaruh hati kepada gadis itu, tetapi setelah saya dengar keterangan dari kawan-kawan saya, hilanglah pengharapan saya...............”
“Bagaimana keterangan dari kawan-kawan Nya‘ Amat?”
“Orang tuanya tinggi hati, telah beberapa orang datang meminta anaknya itu, selalu ditolaknya dengan perkataan dan kelakuan yang angkuh.”
“Bagaimana keangkuhannya itu?”
“Ya, bila orang datang meminang, maka dijawabnya, anaknya itu ta‘ kan dikawinkannya dengan sembarang orang saja. Ia berkehendak orang yang berpangkat tinggi, berbangsa dan kaya. Kalau tidak, apa gunanya anaknya itu diserahkannya ke sekolah.“
“Ya, barangkali orang yang meminang itu sesungguhnya ku-rang sopan dan kuno.”
“O, tidak, uni, saya tahu betul orang itu terpelajar dan tidak ada cacatnya: bersifat lurus, ikhlas dan sopan. Tambahan pula ia sangat cinta kepada Sitti Saniah. Saya kira, ia patut sekali akan suami anak gadis itoc.”
“O, Nya‘ Amat, Sungguhpun demikian janganlah kita pandang ”lahirnya“ saja. ”Batinnya“pun harus kita perhatikan pula. Siapa tahu, barangkali belum ada pertemuan Saniah dengan orang itu,—tidak jodohnya.”
“Entahlah, uni, akan perkara batin itu saya ta‘ tahu,............ tetapi saya hendak mengetahui keadaan Sitti Saniah sendiri dahulu, dan sudah itu perasaan orang tuanya.”
“O, perkara itu beleh kami terangkan kepada Nya‘ Amat,” kata isteri engku Suleman. “Menurut tilik kami, tingkah laku gadis itu tidak ada cacat-celanya. Ia rajin, pandai, keras hati dan berhaloane kemajuan care sekarang ini. Kami pikir, tentu ia akan bekerja sekuat-kuatnya akan membantu suaminya kelak.”
“Ah, ta‘ usah diperkatakan sampai ke situ dahulu,” kata Nya’ Amat seraya tertawa.
“Ya, Nya‘ Amat, sekarang waktu makan sudah datang, saya sudah lapar, dan saya hendak minta keputusan dari Nya’ Amat atas maksud kami itu,” kata perempuan itu.
“Ya, uni, saya ta‘ dapat menjawab sekarang, saya mesti berpikir dahulu. Lain dari pada itu saya hendak mengetahui lebih dahulu, sudahkah dipercakapkan hal ini dengan dia sendiri.”
“Belum, itu cuma baru angan-angan kami saja. Bila sudah habis perhitungan kita, baharulah kami sampaikan kepada orang tuanya.”
“Ya, uni, saya minta janji 7 hari. Dalam pada itu hendaklah Sitti Saniah diberi kesempatan akan memilih suaminya, tetapi jangan diketahui oleh orang tuanya dahulu. Bila dia sendiri tidak setuju, tentu saya pun enggan pula. Saya tidak suka sekalkali akan kawin paksa, sebab amat banyak kesusahannya kelak.”
“Ya, itu boleh, nanti saya sendiri berunding dengan Sitti Saniah. Tetapi bila kita putuskan perkara ini?” “Malam Jum'at yang akan datang!” “O, bagus sekali, baik, nanti kami tunggu; saya mengucap-kan terima kasih banyak-banyak.” “Sama-sama,” kata Nya‘ Amat. “Nah, sekarang marilah kita makan,” kata isteri engku Suleman, serta berangkat ke kamar makan.
VIII. BERTUNANGAN
Semenjak Nya‘ Amat bercakap-cakap dengan engku Suleman laki isteri, semenjak itu hati orang muda itu terharu-biru sudah. Sitti Saniah selalu dalam ingatannya. Dalam pada itu ia berasa takut dan kuatir pula. Kuatir, kalau-kalau Saniah tidak suka kepadanya; takut dan malu, jika permintaannya ditolak oleh orang tua gadis itu kelak, sebagaimana telah kerap kali ter-jadi atas beberapa diri kawan-kawannya.
Sesungguhnya Nya‘ Amat sudah lama menaruh cinta kepada Sitti Saniah. Semenjak mereka bertemu dalam kereta api, di tempat mandi Uleelheue dan Mataei, hati orang muda itu sudah tersangkut pada anak gadis yang molek dan sopan itu. Lebih-lebih lagi, sesudah mendengar perkataan engku Suleman laki isteri itu. Gadis itu sudah terbayang-bayang pada matanya, malam menyadi mimpi dan siang menjadi angan-angan. Kerap kali ia mengeluh............. wahai, adakah ’kan berhasil pekerjaaan engku Suleman laki isteri itu? Adakah ‘kan dapat burung yang liar itu ditangkapnya?
“Ya, Saniah,” katanya dalam hatinya, “tidak kcesangka sekali-kali aku akan menaruh cinta begini kepadamu. Hatimu bagaimanakah konon terhadap kepadaku?” Dalam pada itu kadang-kadang timbul pula dalam hatinya pikiran yang benar, akan membantah “daya setan” itu, lalu katanya: “Astaga! mengapa hatiku sampai teperdaya begini? Belum pernah aku berhal seperti ini! Apalagi cinta seorang semacam ini sia-sia saja. Aku harus mendapat kabar dari Saniah sendiri dahulu: entah ia suka kepadaku, entah tidak. Dan jika ia suka kepadaku, umpamanya, bagaimana pula orang tuanya?
Ya, lebih baik aku tunggu dahulu kabar dari pada uni, bini engku Suleman. Bukantah ia hendak berunding dengan Saniah dan orang tuanya?“
Akan tetapi rupanya peperangan hati orang muda itu tinggal peperangan juga. Si Nafsu dan si Sabar berbantah amat sangat. Akhirnya Sabar tewas jua oleh Nafsu. Nya‘ Amat ta’ sabar menanti lagi, lalu ditetapkannya hatinya hendak berkirim surat kepada Sitti Saniah.
Sementara itu isteri engku Suleman tidaklah berdiam diri saja. Janjinya adalah disampaikannya. Tiga hari sesudah percakapannya dengan orang muda itu, pada suatu petang hari dimintanyalah Saniah pulang kemudian sedikit dari pada kawan-kawannya. Ketika itu ia pun berunding dengan anak gadis itu.
Sitti Saniah, gadis yang cantik itu, mendengarkan perkataan isteri engku Suleman dengan senyum manis serta kemalu-maluan. Akhirnya perkataan itu dijawabnnya dengan air muka yang jernih, katanya, ia ta‘ berkeberatan, asal setuju dengan orang tuanya. Sebagai seorang anak gadis, ia masih dalam kuasa ibu bapanya............ Jadi ia sendiri suka akan bersuamikan Nya’ Amat.
Setelah habis percakapan itu, Sitti Saniah pun pulang ke rumahnya.
Sebagai suatu jarum yang digerakkan oleh besi berani, demikianiahat gerak hati gadis itu mendengar perkataan isteri engku Suleman itu. Kita ma'lum sudah, bahwa ia sudah lama menaruh cinta kepada Nya‘ Amat serta berharap-harap, mudah-mudahan cintanya itu jangan seperti air jatuh kepasir saja.
Seperti burung pungguk rindukan bulan dan seperti Zaleka rindukan Yusuf, begitu pula Sitti Saniah rindukan Nya‘ Amat. Tiap-tiap malam ia bermimpikan orang muda itu. Kalau ia du-duk seorang diri saja, selalu terbayang pada matanya wajah Nya’ Amat yang molek itu. Sekalian kebaikan Nya‘ Amat teringat belaka olehnya, dan sekaliannya menjadikan dia sangat cinta kepadanya. Tidak ada seorang jua laki-laki lain tertambat dalam hati nuraninya, melainkan Nya’ Amat semata-mata.
“Telah beberapa orang laki-laki meminangku,” pikirnya, “sekaliiannya ditolak oleh orang tuaku. Syukur!! Akan tetapi orang muda ini, tambatan larat hatiku ini, akan ditolaknya pulakah?
Ya, ibu dan ayahku yang tercinta, luluskan apalah kiranya permintaan orang muda itu.
O, Nya‘ Amat, dahelul aku telah mengaku berutang budi kepadamu, tetapi sekarang aku telah menaruh............ cinta; ya, cinta yang dapat menjadikan kedoca kita berbahagia kelak. Ya Allah, perhubengkanlah tali percintaan kami.“
Begitulah pengharapan Sitti Saniah, yang tengah dimabuk cinta itu.
Pada keesokan harinya datanglah seorang suruhan mengantarkan sepucuk surat kepadanya. Surat itu diterimanya dengan hati yang berdebar-debar. Setelah itu ia pun masuk ke dalam kamarnya hendak membaca surat itu.
“Adinda Sitti Saniah!
Sebelum adinda terus membaca surat ini, lebih dahelul kakanda minta ma'af kepada adinda atas kelancangan kakanda ini.
Adinda, dengan tiada disangka-sangka rupanya pertemuan kita semenjak dari kereta api Sigli—Kutaraja sampai kepada pertemuan di rumah engku Suleman, telah menyadi suatu perkara yang penting bagi diri kakanda. Sehingga engku Suleman laki isteri pun telah sudi mencampurkan diri dalam perkara itu.
Sebenarnya, adinda, semenjak kakanda melihat wajah adinda yang molek itu, hati kakanda sudah tersangkut pada adinda. Ma'af, adinda, jika kakanda berkata dengan terusterang: Kakanda sudah jatuh cinta kepada adinda. Lebih-lebih sesudah berunding dengan engku Suleman laki isteri, maka benih cinta itu telah bertambah subur tumbuhnya dalam kalbu kakanda.
Ta‘ dapat kakanda melukiskan di sini, bagaimana besarnya gelombang percintaan beralun dalam hati kakanda sekarang ini.
Ya adinda............, tidak lain kakanda pohonkan kepada adinda, melainken kemurahan hati adinda semata-mata. Camkanlah pantun yang di bawah ini:
Burung hantu terbang melayang, burung elang hinggap dipasir. Harapkan kasih serta sayang, akan kakanda orang yang fakir.
Tinggi gunung Selawah Jantan, telook Sabang bandar merdeka. Hilang jiwa terhantar badan, bila adinda tidak terima.
Berlayar kapal dari Belawan, singgah sebentar di kota Sigli. Selagi jiwa dikandung badan, cinta adinda kakanda nanti.
Wassalam kakanda, Nya‘ Amat.“
Alangkah besarnya hati gadis itu membaca surat yang demikian! Rupanya cintanya kepada orang muda itu tidak sia-sia saja, tidak bertepuk sebelah tangan............ Dengan hati yang penuh pengharapan dan cita-cita, dibalasanyaiah surat itu demikian:
“Kakanda Nya‘ Amat!
Bagaimana besarnya hati adinda menerima dan membaca surat kakanda itu, hanya Tuhan sajalalah yang akan tahu agaknya. Dan ta‘ khalilah adinda meminta syukur kepada Tuhan Ilahi, yang ta’ pernah lupa akan hambanya. Rupanya segala kelokh kesah, cita-cita dan angan-angan segala manusia adalah didengarkan oleh Yang Mahakuasa itu. Syukur, syukur!! Kakanda yang tercinta! Bila kakanda perhatikan perkataan adinda yang terlukis di atas ini, Meskipun pendek, niscaya kakanda mengerti sudah, bahwa bukan saja adinda telah mengabulkan permintaan kakanda dan menjunjung tinggi cinta kakanda itu, tetapi adinda berharap juga sudi apalah kiranya kakanda menyambut untung adinda yang da'if ini.
Berlayar kapal dari Palembang, singgah di Padang mengambil kuli. Bukan saja kasih dan sayang, badan dan jiwa kakanda miliki.
Semelur kota Sinabang, di pantai Aceh lautan Hindi. Hancur tubuh menjadi arang, bila adinda mungkirkan janji.
Kapal berlayar ke negeri Judah, bawa muatan beribu-ribu. Kita bermohon kepada Allah, jiwa yang dua menjadi satu.
Hingga ini dahulu, kakanda; sambutlah salam adinda, Sitti Saniah.“
Setelah sudah ditulisnya surat itu, lalu dimasukkannya ke-dalam sampulnya dan dikirimkannya kepada ‘alamatnya.
Sungguh besar hati Nya‘ Amat menerima surat itu. Serasa sudah sampai segala cita-citana! Ia tahu sudah, bahwa Saniah pun cinta pula kepadanya. Oleh karena itu ketika telah sampai janjinya dengan engku Suleman laki isteri, ia ta’ banyak bicara lagi, melainkan perkara itu diserahkannya kepada ke-bijaksanaan kedua laki isteri itu. Dan engku Suleman laki isteri pun berjanji akan menyampaikan niat itu kepada orang tua anak gadis itu.
Dua puluh hari lamanya engku Suleman laki isteri berusaha dengan sesungguh-sungguh hatinya, akan memperhubungkan silatu'rrahim kedua orang muda remaja itu. Dalam pada itu adalah tiga kali mereka berulang-ulang pergi ke rumah orang tua Saniah.
Bukan buatan besar perjuangan pikiran antara kedua laki isteri itu dengan ibu bapa anak gadis itu.
Akhirnya putus mupakat: Sitti Saniah bertunangan dengan Nya‘ Amat! Mupakat itu dikuatkan dengan perjanjian, yaitu ibu bapa Saniah telah menerima sebuah medaliun akan jadi “ranub kong haba” (1) dari orang muda itu.
(1) Bahasa Aceh, artinya sirih penguatkan janji bertunangan.
IX. SESUDAH BERTUNANGAN
Tiada berapa hari antaranya pecahlah kabar pertunangan antara kedua muda remaja itu di seluruh Kutaraja. Anak muda laki-laki ta‘ berhenti memperbincangkan hal itu; setengahnya berkata, bunga jeumpa (melur) di Meureuduati telah dipetik orang; setengahnya berkata pula, ya, mereka itu sama-sama ber-untung, ta’ ada cela keduanya, sebagai bulan dengan matahari.
Pihak ibu dan gadis-gadis kawan Sitti Saniah pun begitu joga bicaranya. Sekaliannya memuji-muji pertunangan kedua mereka itu. Istimewa pula guru-guru di Kutaraja, bekas guru Sitti Saniah, semuanya berbesar hati serta memberi selamat kepada ayah Sitti Saniah.
Pada suatu hari diadakanlah pesta oleh engku Suleman laki isteri di tempat mandi Mataie, akan merayakan pertunangan kedua anak kesayangannya itu.
Dalam pesta itu hadir segala keluarga dan gadis-gadis kawan Saniah, demikian juga guru-guru kawan engku Suleman.
Hanya kedua orang tua Saniah saja yang ta‘ hadir, sebab menurut ’adat Aceh mentua malu bertemu dengan menantunya.
Jadi Saniah dan kakknya saja pergi bersama-sama dengan engku Suleman laki isteri.
Bukan buatan ramai pesta itu. Sekalian orang muda teman Nya‘ Amat datang belaka. Mereka itu pun bersuka-sukaan dengan riuh rendah, tetapi sopan.
Sitti Saniah diperkenalkan oleh Nya‘ Amat dengan sekalian temannya itu, ya'ni menurut ’adat anak muda-muda zaman sekarang inil!
Semenjak Sitti Saniah bertunangan dengan Nya‘ Amat, pelajaran anak gadis itu sudah ditambah oleh isteri engku Suleman dengan pelajaran masak-memasak dsb. Memasak pelbagai macam sambal, kue dll. sekaliannya diajarkan oleh perempuan yang bijaksana itu kepada gadis itu, supaya ia jangan cang-gung kelak bila telah memelihara rumah tangga sendiri.
Tentang perkara memegang buku hari-hari pun diajarkannya juga, supaya Saniah tahu menjaga uang keluar masuk, jangan “besar pasak dari tiang”.
Pendeknya, sekalian keperluan hidup diajarkannya belaka ke- pada gadis itu, sebab ia percaya, bila Saniah sudah jadi isteri Nya‘ Amat, tentu ia akan jadi pemimpin bagi kaum perempuan Aceh, sehingga dapat menyokong maksud suaminya.
Semceea penduduk Kutaraja memuji usaha isteri engku Suleman, seorang kaum ibu yang murah hati itu.
Akan hal Nya‘ Amat dengan Saniah, dari sehari ke sehari tali percintaannya makin bertambah teguh jua. Rasakan ta’ dapat dipotuskan lagi. Seorang sudah tahu hati dan kehendak seorang. Sesungguhnya telah layak sekali mereka jadi laki isteri, karena keduanya sehaluan dan sepikiran. Kerap kali mereka itu bertukar-tukar pikiran, memperkatakan peri keadaan yang telah lalu dan yang akan datang, maka kesudahan percakapan itu selalu selesai dengan baik dan manis. Dan kerap kali pula mereka pancing-memancing ‘akal budi masing-masing, akan mengetahui, kalau-kalau dalam hati seseorang ada tersembunyi suatu muslihat yang lan-cung, akan tetapi suatu pun tidak didapati oleh keduanya yang akan dapat mengecewakan hati masing-masing kelak.
Jadi jika mereka kawin dewasa itu, tidak ada lagi alangan dan cacat-celanya.
Dan keduanya pun sudah berharap-harapkan perkawinan itu.
X. SEORANG MUDA BANGSAWAN
Kedah Singel yaitu jalan dimocka kantor assistent-resident Aceh Besar dan Yavaskhe Bank; di situ ada sebaris rumah sewaan, sebuah didiami seorang bangsawan muda Aceh.
Siapakah bangsawan muda itu?
Teuku Banta Raman, yang belum berapa lamanya tinggal di Kutaraja. Ia anak seorang raja (zelfbestuurder) di afdeeling Pantai Sebelah Utara Aceh, ibu negerinya Lho‘ Seumawe, baru sebulan bekerja di kantor Gubernur. Dia dikirim oleh assistent-resident kepada Gubernur Aceh, sebagai hukuman, sebab kelakuannya amat buas di negerinya. Orang negerinya tiada berse-nang hati akan kelakuannya itu dan ayahnya pun benci akan dia. Akan tetapi ibunya amat sayang kepadanya.
Uang mudah didapatnya dari pada ibunya itu, sebab itu maka hidupnya pun amat boros.
Selama ia tinggal di Kutaraja, ia amat manja, karena uang tiada kurang dikirim oleh ibunya dengan tidak diketahui oleh ayahnya, apalagi ia mendapat uang bantuan pula dari Negeri tiap-tiap bulan.
Setiap petang ia berjalan-jalan sekeliling kota dengan berpakaian yang indah-indah, kadang-kadang sampai ke Peunayong dan Vredespark di muka Yulianaclub, karena di situ senantiasa banyak anak-anak Eropah laki-laki dan perempuan bermain-main. Dan musik pun kerap kali dibunyikan di situ.
Adapun parik itu disebut orang Melayu “Kebun Raja” dan oleh orang Aceh ”Raja Umong” artinya “raja sawah”. Sebabnya disebut orang Aceh Raja Umong, karena pada zaman dahelul, selagi berdiri kerajaan Aceh, kalau waktu diperintahkau anak negeri turun ke sawah, maka umong itulah dahelul di-kerjakan.
Apabila T. B. Raman sudah puas memandang ini dan itu di sana, kadang-kadang ia terus pergi berkeliling tanah lapang tempat orang bermain vutbal. Pada sekeliling tanah lapang itu elok pula pemandangan, karena lepas dari Pecutweg bertemu sebuah simpang jalan di muka rumah Aceh, yaitu Aceh Museum; di muka rumah itu di pinggir jalan betul ada sebuah lonceng besar Cakra Dunia, yaitu lonceng pusaka kerajaan Aceh zaman dahelul. Adapun lonceng itu dahelul tergantung di atas pokok kayu besar di muka kantor Gubernur.
Tiada jauh dari situ ada pula sebuah simpang jalan lagi, dan bila ia mengelok ke kiri, niscaya ia sampai kepanggung gambar hidup’ dan Aceh Internaat; kemudian kesimpang kanan melalui halaman sekolah frobel, Mulo, Kerk, rumah assistent-resident, rumah directeur Acehskhe Handel Miy dan terus ke jalan besar Koctaraja—Uleelheue, kantor dan rumah notaris.
Di jalan besar itu T. B. Raman dan beberapa orang lain berhenti sebentar akan melihat orang yang tengah bermain vutbai, sebab letak jalan itu lebih tinggi dari tanah lapang tempat main itu, jadi lebih luas pemandangan ke seluruh pihaknya.
Kemudian T. B. Raman terus berjalan-jalan ke Neusu; di sana ada pula pemandangan yang sedap, ya’ni pada Krung Daroy yang amat jernih airnya, dan pada sisi Krung itu ada bukit kecil dari batu, buatan zaman dahelul. Bukit itu kepunyaan Sultan Aceh dahelul, tempat tuan puteri mandi. Pada bukit itu ada beberapa kamar kecil dan tempat langir dan tempat bersandar bagi tuan puteri, terbuat dari batu juga. Diluaer pada kaki boakit itu ada sebocah lesung batu yang besar; kabarnya konon lesung itu tempat menumbuk orang yang berdosa dalam zaman purbakala, waktu kerajaan Aceh masih kuat. Tiada berapa jauhnya dari bookit itu ada pula sebuah pintu dari batu jua, “Pinto Khob” namanya. Kata orang, itulah pintu tuan puteri hendak masuk ke dalam taman sekeliling bookit itu.
Pada hari Ahad banyak orang datang kebookit itu, lebih-lebih orang yang baru datang ke Kutaraja dan perempuan Aceh, akan melepaskan nazarnya.
Dari sana ia terus ke Neusu; di situ ada pula park, di dalamnya banyak nyonya-nyonya dan tuan-tuan serta opsir sedang bermain tennis; itulah tempat bermain tennis yang terbesar di Kutaraja.
Sekeliling park itu ada jalan raya dan di sebelah jalan itu penuh dengan rumah opsir. Yang terbesar di antara rumah itu ialah rumah tuan besar Acehtram dan rumah kolonel. Sesampainya di ujung Neusu, ia mengelok ke kiri lalu sampai ke jalan istana Gubernur. Disisi istana itulah terdiri kantor Gubernuz dan di mukanya banyaklah kelihatan makam keluarga Sultan Aceh. Sampai sekarang makam itu masih dijaga dan dipelihara oleh Negeri. Di tempat istana Gubernur sekarang ini, di situlah istana Sultan Aceh dahulu dan pekarangan itulah yang disebut orang dahulu “Kuta Dalam” atau keraton. Akhirnya T. B. Raman sampai ketangsi keraton, kantor pos, Acehclub dll. Jika diteruskannya juga perjalanannya, ia pun sampai kejambatan Pantaiperak di Krung Aceh, dan terus ke Kuta‘alam.
Kesukaan T. B. Raman itu ialah berjalan-jalan dan memuaskan hawa-nafsunya saja. Pekerjaannya di kantor tidak dipedulikannya; hendak menambah ‘ilmu kepandaiannya pun seperti anak-anak muda teman sejawatnya, sekali-kali tidak terpikir olehnya. Kebanyakan kawannya petang hari belajar bahasa Belanda dll., tetapi ia “pesiar” saja. Barangkali pikirnya: ”Apa gunanya aku bersusah payah menuntut ‘ilmu ini dan itu? Aku anak raja, aku kaya, dan Meskipun aku tidak ber‘ilmu kepandaian, nanti aku akan jadi raja juga! Lebih baik aku bersuka-ria setiap hari, malam menonton gambar hidup atau “bangsawan” dan............ senanglah hatiku!“
Rupanya ia tidak insaf, bahwa kehidupan di dunia ini sebagai roda pedati, berputar, sebentar di atas dan sebentar di bawah. Kekayaan, pangkat boleh hilang dengan sekejap mata, tetapi ‘ilmu kepandaian dibawa mati.
Sungguhpun demikian ada juga suatu sifat yang elok pandanya. Ia pandai bercakap-cakap, mulut manis dan “kucindan” murah, serta tahu sungguh mengambil hati orang.
Pada suatu petang Sabtu orang amat ramai di muka panggung gambar hidup; rupanya gambar baru ditockar. Orang be-rebut-rebut membeli karcis. Kemudian keluarlah seorang bujang dari dalam orang banyak di muka pintu tempat menjua! karcis itu, lalu berjalan menuju arah tiga orang yang tengah berdiri di bawah tonggak lentera, di hadapan panggung itu. Ketiganga yaitu seorang laki-laki dan dua orang perempuan.
“Ini, engku,” kata bujang itu sambil memberikan tiga helai karcis ke tangan laki-laki itu, “susah betul membeli karcis, sebab orang ramai betul.”
Setelah karcis itu diterima oleh orang itu, diajaknyalah kedua perempuan itu masuk ke dalam panggung.
Tiada berapa lama antaranya gambar pun mulai bermain.
Waktu berhenti sebentar (pauze) dan lampu sudah terang, kelihatanlah seorang anak muda melayangkan matanya ke mana-mana. Kebetulan tiada jauh dari padanya tampaklah olehnya seorang gadis remaja duduk di antara seorang laki-laki dan perempuan.
“Astaga!” kata orang muda itu ketika kelihatan olehnya wajah gadis itu, “alangkah cantiknya anak itu,............ siapakah dia? hm, itulah yang kucari-cari.”
Sesungguhnyia orang muda itu tidak lain dari T. B. Raman dan gadis itu Sitti Saniah, yang menonton bersama-sama dengan engku Suleman dan isterinya.
Semenjak itu T. B. Rahman sudah lekat hatinya kepada gadis itu. Memang, jangankan orang “mata keranjang” seperti anak muda itu, sedangkan orang lain pun lekas menaruh hati kepada gadis yang molek itu.
Dengan beberapa tipu daya akhirnya T. B. Raman dapat bertandang ke rumah Sitti Saniah dan berkenalan dengan ayahnya.
Kita tahu sudah, bahwa T. B. Raman pandai sekali mengambil hati orang, lebih-lebih orang tua kaum kuno. Ia selalu berkata merendahkan diri. Dengan ayah Sitti Saniah pun demikian jua, ta‘ lupa ia meninggikan darajiat orang tua yang tinggi hati dan sombong itu. Karena manisnya cakap T. B. Raman itu, ayah Sitti Saniah lekas percaya kepadanya dan ta’ segan ia lagi menanyakan asal-usul orang muda itu.
Sekalian pertanyaan itu dijawab oleh T. B. Raman dengan lemah lembut dan manis. Katanya, orang tuanya seorang ulee-balang (zelfbestuurder) pada suatu negeri di afdeeling Pantai Sebelah Utara dan dia datang ke Kutaraja karena dikirim oleh assistent-resident Lho‘ Seumawe akan belajar tentang perkara pemerintahan negeri, supaya ia jangan canggung menjalankan pekerjaannya kelak, bila ia sudah diangkat jadi zelfbestuurder menggantikan ayahnya yang telah tua.
Demi didengar ayah Sitti Saniah keterangan itu, ia pun bertambah hormat kepada T. B. Raman. Katanya, ia kenal akan ayah orang muda itu, ya'ni waktu ia sama-sama muda belum kawin. Dahuloie ia merantau ke Pasai beberapa tahun lamanya.
“Syukurlah,” kata ayah Sitti Saniah kemudian, “sudah berkenalan pula dengan T. B. Raman. Saya berharap, supaya T. B. Raman suka kerap kali datang kemari dan hendaklah teuku pandang rumah saya ini sebagai rumah ayah teuku sendiri. Tambahan pula, bila teuku berkirim surat kepada beliau, jangan lupa menumpangkan salam saya.”
Di dalam hati T. B. Raman: “Inilah suatu jalan yang baik bagiku akan menyampaikan maksudku!”
Sementara itu nasi dihidangkan oranglah di hadapan mereka itu. Maka keduanya pun makan dengan sedap sambil bercakapcakap jua ta‘ berkeputusan, sebagai dua orang yang sudah bersahabat karib layaknya.
XI. PENGARUH PEREMPUAN TUA
T. B. Raman sudah pulang dari rumah orang tua Sitti Saniah. Hatinya senang sekali rupanya dan pengharapannya sudah timbul akan dapat memetik bunga jeumpa Aceh itu. Maka ia pun berusaha mencahari seorang kenalan yang berdekatan rumah dengan Sitti Saniah.
Ya, karena pengaruh uang, dengan segera ia sudah dapat berkenalan dengan bapa kecil Sitti Saniah, sehingga persahabatannya dengan bapa gadis itu bertambah karib jua. Kemudian dicari-nya jalan akan menunang Sitti Saniah, lalu dicobanya minta tolong kepada beberapa orang sahabatnya; tetapi mereka itu memberi nasihat kepadanya, supaya maksudnya itu jangan diteruskannya, karena gadis itu sudah bertunangan dengan Nya‘ Amat.
Akan tetapi nasihat itu tiada diindahkan oleh T. B. Raman. Ia berikhtiar jua mencari seorang utusan, seulangke, (1) kata orang Aceh. Akhirnya dapatlah ia berkenalan dengan seorang perempuan tua, Ma‘ Limah namanya, yang tinggal di kampung Keudah.
Adapun perempuan itu pandai dan telah biasa jadi seulangke, sehingga ia telah diberi orang nama “Nenek Kebayan”.
Pada suatu hari dia dipanggil oleh T. B. Raman datang ke-rumahnya. Mula-mula mereka itu bercakap-cakap tentang ini dan itu saja, yaitu akan berkenal-kenalan. Ma‘ Limah menanyan-kan asal-usul T. B. Raman, lalu diterangkannya sebagai kepada ayah Sitti Saniah juga, sehingga perempuan itu jadi bertambah hormat kepadanya..........., dipandangnya seperti seorang raja muda.
Akhirnya Ma‘ Limah bertanya kepada T. B. Raman, mengapa Cutnya’, (2) (isteri T. B. Raman) tiada dibawa bersama-sama ke Kutaraja.
Sejurus lamanya T. B. Raman berdiam diri. Kemudian ia tersenyum dan berkata dalam hatinya: “Ini suatu jalan pula akan menyampaikan maksudku.” Setelah itu maka katanya:
“Aku belum beristeri lagi.”
(1) Utusan kawin. (2) Panggilan orang Aceh kepada isteri orang bangsawan.
“Belum kawin?” tanya Ma’ Limah dengan heran. ”Ya, Ma’, saya belum kawin.” “Barangkali sudah bertunangan?” ”Belum juga, Ma’.” “Ah, mana boleh!” ”Betul, Ma’, dahulu ayah saya sudah berniat hendak mempertunangkan saya, tetapi saya tidak mau, sebab itu sampai sekarang ini saya belum bertunangan lagi.” “Mengapa Ampon (1) ta’ mau?” tanya Ma’ Limah pula. ”Sebab tidak setuju dengan maksud saya.” “Tidak setuju? Tetapi bukantah kemauan orang tua tidak boleh ditolak?” ”Ya, Ma’, mesti begitu, zaman sekarang tidak sama lagi dengan zaman dahulu; sebab itu bila ada suatu ‘adat lama yang saya rasa kurang baik, mesti saya ubah dan yang baik mesti saya pegang keras. ‘Adat kawin cara lama itu, saya tidak suka sekali-kali.” “Ya, demikianlah kehendak orang muda-muda sekarang ini. Kalau anak sudah diserahkan ke sekolah, ia sudah berani membantah segala aturan orang tuanya. Akan tetapi bagaimana yang setuju pada Ampon?” ”Dalam perkara kawin saya jangan dipaksa, mesti kawin dengan perempuan yang berkenan kepada orang tuaku saja; tidak, saya ta’ mau, supaya jangan mendatangkan cedera kemudian hari.” “Mana boleh, Ampon! Orang tua bukantah sudah cukup pikirinya dan pilihinya pada orang yang akan jadi menantunya; scbelum anak itu dipinangnyia, sudah disuruhnya lihat dahulu dalam kitab bintang laki-laki dan perempuan.” ”Hitungan itu tidak betul sekali-kali, bukan seperti hitungan 5+5=10, hanya suatu kepercayaan saja. Lihatlah, Ma’, berapa banyaknya anak muda yang baru beberapa bulan saja kawin, sudah bercerai, Meskipun sudah dilihat bintangnyia.” “Ya, Ampon, anak-anak muda sekarang lain sekali dengan kami orang dahulu; kami ta’ pernah melawan perintah orang tua. Anak muda sekarang suka kawin dengan perempuan yang berkenan pada hatinya saja, walau perempuan yang diperolehnya
(1) Panggilan orang Aceh kepada orang bangsawan. di tengah jalan Sekalipun, tidak pilih bangsa dan perangai, malah meneruret hawa-nafsu saja.“
“O, Ma‘, jangan berkata begitu, saya pun tidak setuju dengan alasan yang Ma’ unjukkan itu.”
“Habis bagaimana lagi?”
“Begini, kalau saya akan dikawinkan, hendaklah orang tua saya bertanya atau bermupakat dengan saya dahulu, sukakah saya kawin dengan gadis itu atau tidak. Bila saya tidak suka, jangan dipaksa, sebab kawin itu ialah tali yang memperhubungkan manusia, agar supaya hidup rukun dan damai dari dunia sampai keakhirat.”
“Ah, Ampon pandai benar menangkis perkataan orang; sesungguhnya anak muda zaman sekarang suka sekali berda'wa dengan orang tua.”
“Kalau begitu sudahlah, Ma‘, jangan lagi kita bercakap-cakap tentang perkara itu; biarlah kita bicarakan maksud lain dan minumlah dahulu kopi itu, supaya jangan dingin,” kata T. B. Raman dengan manis.
Jika didengar dan diperhatikan dengan sekejap saja percakapan T. B. Raman dengan Ma‘ Limah, seperti tersebut di atas ini, baik betul cita-cita orang muda itu, bukan? Seolah-olah ia sebenarnya bermaksud hendak menghilangkan ’adat kawin cara lama dan mengganti dengan ‘adat baru, yang setuju dengan keadaan zaman. Akan tetapi sesungguhnyakah demikian cita-citantanya? Bukantah perkataan yang mulia dan berharga itu dipakainya cuma akan jadi senjata saja, akan memuaskan hawa-nafsunya? Bukantah mulutnya berlain dengan hatinya, theorie berlain dengan praktiyk? Akan kita lihat kelak.
Bahwa sanya kata-katanya yang amat manis itu dipergunankan nya akan pemikat hati seseorang yang kurang pikir. Ingatlah, buah yang manis itu biasanya herulat.
Sementara Ma‘ Limah minum kopi, T. B. Raman bertanya kepadanya dengan lemah lembut: “Ma’, adakah pernah Ma‘ pergi ke Meureudocati?”
“Kerap kali saya pergi ke sana, tetapi mengapa Ampon bertanya demikian?” kata perempuan itu dengan agak tercengang.
“Bukan karena apa-apa, hanya saya hendak minta tolong ke- pada Ma‘,............ itu pun jika ta’ kan jadi keberatan kepada Ma‘.“
“Mengapa?” “Kenalkah Ma‘ akan Sitti Saniah dan orang tuanya?” “Ha, ha, ha.............”, tertawa Ma’ Limah serta bertanya: “Mengapa Ampon bertanyakan orang itu?” “Begini, Ma‘,” yawab T. B. Raman dengan agak muram mukanya sedikit, sebab mendengar tertawa perempuan itu; akan tetapi ia segera tersenyum dan berkata dengan terus terang, “sesungguhnya saya hendak minta tolong kepada Ma’.” “Itukah maksud Ampon memanggil saya?” “Ya, sebab rasanya tidak ada orang lain yang dapat menolong saya dalam hal ini; apalagi saya berasa malu, kalau hal ini diketahui orang lain.” “Cobalah Ampon ceriterakan hal itu!” “Dari pada segala perkataan saya tadi barangkali Ma‘ ma'lum sudah, bahwa saya bermaksud hendak kawin di sini. Sudah saya lihat beberapa anak gadis di Kutaraja, cuma seorang saja yang berkenan pada hati saya, yaitu Sitti Saniah.” “Sitti Saniah, gadis yang manis itu?” “Ya, Ma’, sesungguhnya dialah.” “Ah, pandai betul Ampon memilih; tetapi bagaimana Ampon hendak kawin dengan dia, nanti ayah dan bunda Ampon marah.” “Tidak, jangan kuatir, Ma‘, ayah dan bunda saya ta’ kan murka, asal saya jangan kawin dengan sembarang perempuan saja.” “Ya, Ampon, Meskipun saya memuji keelokkan dan tingkah laku gadis itu, tetapi...... maksud Ampon hendak kawin dengan dia sia-sia saja.” “Mengapa Ma‘ berkata begitu?” “Karena ada alangannya.” “Apa?” “Pertama sejak dahulu sudah banyak anak muda meminang dia, tetapi sekaliannya ditolak oleh orang tuanya, dan kedua dalam beberapa bulan yang akhir ini Sitti Saniah telah bertunangan dengan seorang-orang muda, Nya’ Amat namanya. Jadi Ampon terlambat sudah. Kalau dari dahulu Ampon meminang gadis itu, saya berani bertaruh, Ampon mesti mendapatnya, karena saya tahu betul hati orang tua Sitti Saniah,...... mereka suka sekali anaknya jadi isteri orang bangsawan.“
“Saya tahu sudah, Ma‘, dan perkara itu sudah saya periksa lebih lanjut.”
“Sudah diperiksa bagaimana, Ampon?”
“Pertunangan itu belum kuat betul lagi, hanya baru ranob kong haba saja, belum nikah, jadi ada jalan akan menolaknya dengan mudah.”
“Ya, tetapi itu ‘kan ta’ baik?”
“Mengapa tidak baik, bukantah banyak orang yang berbuat begitu?”
“Ada, tetapi dalam hal ini tidak baik, lagi pun amat susah, sebab Sitti Saniah sendiri suka sekali kawin dengan Nya‘ Amat, dan tidak lama lagi perkawinan mereka akan dilangsungkan.”
“Ya. Ma‘, Sitti Saniah tentu saja suka menerima segala kehendak ibu bapanya; dari itu orang tua itu harus kita gosok sedikit, supaya diputuskannya pertalian itu.”
“Ah, Ampon, kasihan; tambahan pula kalau tidak lulus permintaan Ampon, tentu Ampon jadi malu kelak.”
“Apa malu, bukantah biasa juga orang berbuat begitu?”
“Ya, ada, tetapi jangan merusakkan kesenangan orang lain; kalau Ampon suka, biarlah saya cari yang lain.”
“Yang lain saya tidak suka, saya cuma berkehendak gadis itu, sebab itu tolonglah saya, Ma‘. Saya rasa, niscaya permintaan saya diloluskan oleh orang tuanya, sebab mereka kenal kepada saya; apalagi dalam beberapa pekan ini saya sudah bersahabat karib dengan bapa ketil Saniah. Kita harus membujuk orang tuanya, terutama ibunya. Ma’ katakan kepada mereka itu, bahwa saya suka sekali kawin dengan Sitti Saniah, sebab ia terpelajar dan sudah pandai menyelenggarakan rumah tangga. Bila saya telah menyadi uleebalang kelak, tentu banyak nyonya-nyonya dan tuan-tuan datang ke rumah saya, sebab itu saya perlu mempunyai isteri yang pandai,............ pandai menerima jamu dll. Kalau tidak, tentu saya malu. Yang akan dapat menutup malu saya itu, saya lihat, hanya Sitti Saniah sendiri saja. Tambahan pula bila kami sudah mempunyai auto, niscaya kami tiap-tiap malam Ahad akan pergi mengunjungi rumah tuan-tuan dan nyonya-nyonya di Lho‘ Seumawe atau di tempat lain. Sekalian per- kara itu boleh Ma‘ terangkan kepada orang tua gadis itu, Ataupun kepadanya sendiri.“
“Ya Ampon, saya bukan memuji diri, dalam perkara seperti itu saya pandai sekali, tetapi permintaan Ampon sangat susah bagi saya.”
“Ma‘ jangan pikir panjang lagi, tolonglah saya! Coba Ma’ berikhtiar seperti saya terangkan tadi itu, baik buruknya kembali atas diri saya, asal gadis itu dapat saya kawini. Suruh saja orang tuanya mengembalikan ”ranub kong haba“ Nya‘ Amat, segala kerugian itu saya ganti kelak.”
“Begini, Ampon!”
“Bagaimana? Coba ceriterakan, Ma‘!”
“Baiklah kita cari seorang laki-laki yang pandai dalam hal itoc, akan membujuk ayah gadis itu, dan saya sendiri akan berusaha merayu-rayu hati ibunya.”
“O,.......... itu ‘akal yang baik juga, tetapi di mana kita cari orang itu?”
“Ampon jangan susah, di kampung Keudah dekat rumah saya ada seorang laki-laki yang pandai dan sudah biasa jadi seulangke bagi orang bertunangan atau kawin.”
“Siapa nama orang itu?” “Leube (1) Leman.” “Bagaimana saya boleh bertemu dengan dia?” “Boleh saya bawa dia kemari.” “O, bagus betul, bila Ma‘ bawa dia kemari?” “Malam nanti! Dan sekarang biarlah saya cari dia dahaelu.” “Baiklah, saya berharap sungguh, Ma’!”
Sebentar itu jua lonceng pun berbunyi empat kali, ‘alamat hari sudah pukul empat petang, lalu Ma’ Limah pulang dan T. B. Raman memberikan uang kertas f 10.—ketangannya, serta berkata: “Inilah, Ma‘, akan ongkos kahar sedikit.”
“Terima kasih banyak, Ampon, tetapi mengapa sebanyak ini benar ongkos kahar?” “Terima sajalalah, Ma‘, akan pembeli sirih juga.” Ma’ Limah mencium tangan T. B. Raman, lalu berjalan pulang. Sesampainya di Kampung Keudah, dengan segera dica-
(1) Lebai rinya Leube Leman dan setelah bertemu, dikatakannyalah segala maksud itu. Maka keduanya pun berjanji akan datang bersama-sama ke rumah T. B. Raman pukeol 7 malam kelak.
Kebetulan pada waktu yang tersebut Ma‘ Limah serta Leube Leman telan hadir duduk dekat meja di rumah T.B. Raman. Malam itu T.B. Raman tidak berjalan ke mana-mana, sebab ia menantikan kedua mereka itu.
Setelah ketiganya duduk, jongos pun datang membawa kopi dan kue-kue dalam belik. Selagi minum T.B. Raman menyatakan maksudnya kepada Leube Leman itu.
Beberapa jam lamanya mereka duduk berbicara di situ, masing-masing mengeluarkan pikirannya akan menolong T‘. B. Raman. Akhirnya orang itu berjanji, akan pergi keesokan harinya ke rumah ayah Sitti Saniah; sesudah itu, apa-apa kabar yang didengar dan diperolehnya akan disampaikannya kepada T. B. Raman.
Dan Ma‘ Limah pun bersusaha akan membujuk-bujuk ibu Sitti Saniah.
Pukeol 9 malam kedua orang itu bermohon pulang, dan masing-masing mendapat pula dari T. B. Raman uang f 10.—Tentu saja Ma‘ Limah amat besar hatinya, karena dalam sehari semalam saja sudah mendapat uang dua kali sebanyak itu.
Keesokan harinya Leube Leman datang ke rumah ayah Sitti Saniah, duduk diserambi muka dan bercakap berbisik-bisik dengan orang tua tu.
Dua jam lamanya Leube Leman berbicara dengan ayah Sitti Saniah, sekalian keadaan dan kehendak T. B. Raman diterangkan nya belaka, maka akhirnya orang tua itu pun minta tangguh 7 hari akan memjawab dan memberi keputusan, karena ia hendak berpikir dan bermupakat daheloce dengan isterinya. Permin-taan itu dikabulkan oleh Leube Leman, dan ia pun pulang ke rumah T. B. Raman akan mengabarkan segala hasil kerjanya itu.
Tiga hari: sesudah itu Ma‘ Limah datang pula ke rumah gadiis itu. Waktu itu Sitti Saniah sudah pergi ke rumah engku Suleman, sebab itu mudahlah Ma’ Limah bercakap-cakap dengan ibunya.
Mula-mula Ma‘ Limah berkata begini begitu saja, seolah-olah akan pembuka bicara, kemudian baru ditanyakannya bilakah akan dilangsungkan kawin Sitti Saniah dengan Nya’ Amat. Ujarnya pula: “Jangan ditunggu lebih lama lagi, karena Sitti Saniah sudah besar. Tidak baik memelihara anak gadis terlalu besar, karena malu kepada orang banyak. Menurut ‘adat, anak yang sebesar Sitti Saniah itu sudah bersuami.’ ”Ya, Ma’,“ kata ibu Sitti Saniah, ”kami juga telah bersiap akan melangsungkan perkawinan itu, tetapi tiba-tiba sekarang kami sudah ragu pula.“ ”Ragu bagaimana?“ tanya Ma‘ Limah dengan pura-pura heran. ”Bagaimana ta’ kan ragu,“ jawab ibu Saniah dengan menarik napas panjang. ”Coba Ma‘ pikir, sekarang sudah ada pula orang lain meminang anak kami itu,.......... akan tetapi ini masih rahsia, jangan Ma’ kabarkan dahulu kepada orang lain.“ ”Tentu tidak, tetapi siapa orang itu?“ ”Seorang anak uleebalang, T. B. Raman namanya.“ ”T. B. Raman, orang muda yang baik itu?“ ”Kenalkah Ma‘ kepadanya?“ ”Kenal nama dan rupa saja, sebab ia acap kali datang ke-rumah Nya’ Cut.“ ”Bagaimana rupanya?“ ”Rupanya cakap!“ ”Mana yang elok dengan Nya‘ Amat?“ ”Tentang perkara rupa ta’ dapat kita katakan, mana yang elok dan mana yang buruk, tetapi T. B. Raman anak uleebalang, jadi tentu saja ia kaya. Ah, ada saja orang muda yang meminang Sitti Saniah; sungguh, kalau ada bunga yang harum, niscaya banyak kumbang yang datang.“ Kedua orang itu tersenyum. ”Ya, Ma‘,“ kata ibu Saniah pula, ”sekarang amat susah kami memikirkan hal itu.“ ”Susah bagaimana pula? Ambil saja mana yang elok, buang yang buruk,............ habis perkara.“ ”Itulah yang sedang kami pikirkan sekarang ini.“ Demi didengar Ma’ Limah perkataan demikian itu, ia pun berpikir sejurus. ”Ha, langkah baik sekali ini. Rasakan mengena jeratku.“ Setelah itu ia berkata kuat-kuat, ujarnya: ”Bo-lehkah saya campur mulut dalam perkara ini? Kalau baik perkataan saya, boleh dipakai; kalau buruk, boleh dibuang saja.“
“Bagaimana bicara Ma‘? Cobalah katakan.” “Saya rasa, lebih baik diterima permintaan anak raja itu.” “Mengapa Ma’ berkata begitu?” “Ya, coba pikir, kita mesti mencari menantu di antara orang baik-baik yang kaya. Ya, lebih baik lagi, kalau mendapat orang bangsawan, sebagai T. B. Raman itu.” “Ya, Ma‘, Nya’ Amat pun orang baik-baik juga. Apalagi peranginyna baik benar dan ia makan gaji pada Kompeni (1), gajinya besar.” “Benar, akan tetapi ibu Saniah jangan lupa, T B. Raman anak uleebalang yang kaya dan gajinya pun lebih besar dari gaji Nya‘ Amat. Rumahnya besar, sawahnhya luas, sapi dan kerbaunya banyak. Bila ia sudah jadi uleebalang, barangkali dibelinyna auto; dan sekaliannya...... untung bagus bagi Sitti Saniah, bukan? Tambahan pula, ibu Saniah mesti ingat waktu yang akan datang. Kalau kita beroleh kesusahan, tentu dia dapat menolong kita. Dan kalau nasib Sitti Saniah baik, ia beranak laki-laki, maka anaknya itu niscaya kemudian akan diangkat jadi uleebalang. Tidak sukakah ibu Saniah melihat cucu jadi raja?” “Itu benar sekali, Ma’,” kata ibu Sitti Saniah. “Kalau begitu, biarlah saya bermupakat sekali lagi dengan ayahnya malam kelak. Akan tetapi bagaimana dengan Nya‘ Amat?” tanyanya pula dengan agak kuatir sedikit. “Itu perkara kecil, bukantah Nya’ Amat belum nikah lagi dengan Sitti Sanah?” “Belum, baru ”ranub kong haba“ saja.” “Nah, mudah sekali! Barangkali ibu Saniah masih ingat perkara anak Nya‘ Berahim dengan anak T. Daud. Bukantah tandanya sudah dikembalikan pula? Kembalikan saja tanda Nya’ Amat itu, biar rugi sedikit, jangan takut, asal anak kita akan dapat berbahagia kelak. Saya tidak berbuat fitnah sekali-kali dan tidak pula hendak membusukkan Nya‘ Amat. Sesungguhnya ke-lakuan orang muda itu amat baik, akan tetapi karena mengingat nasib Saniah kemudian hari, saya terpaksa berkata demikian.” “Baik betul nasihat Ma’ itu, nanti saya katakan sekaliannya kepada ayah Saniah.”
(1) Gubernemen.
“Baiklah,...... hari sudah hampir malam, saya hendak pulang.” “Tidak sukakah Ma‘ bermalam di sini?” “Tidak, nanti sajalah, sebab sekarang ta’ ada orang di rumah.” Setelah itu Ma‘ Limah pun keluear dari rumah Sitti Saniah, tetapi bukan terus pulang ke rumahnya, hanya ke rumah T. B. Raman.
Baru saja ia datang, T. B. Raman sudah bertanya kepadanya. Bukan buatan besar hati orang muda itu mendengar tipu muslihat “nenek kebayan” itu. Sebab, sekalin percakapannya dengan ibu Saniah itu diceriterakannya belaka kepada laki-laki yang ta‘ berbudi itu. Serasa “burung nuri” itu sudah ada dalam sangkarnya.
Pukul delapan malam setelah menerima uang sirih pula dari T. B. Raman, Ma‘ Limah pun pulanglah ke rumahnya.
XII. IBU DAN BAPA BERMUPAKAT
Segala perkataan Ma‘ Limah itu sangat termakan dalam hati ibu Saniah. Ia tidak suka lagi akan bermenantukan Nya’ Amat, sebab pikirannya sudah terhadap kepada T. B. Raman semata-mata. Jika Sitti Saniah telah kawin dengan anak raja itu, niscaya ia ta‘ kan dipanggilkan orang “sitti” lagi, melainkan “cut-nya’”‘, dan anakenya mesti jadi raja kelak. Sesungguhnya citayitanya sejak dahulu pun demikian juga, ya'ni akan mencari menantu seorang bangsawan yang kaya.
Sementara menanti kedatangan suaminya dari Uelelheue, pikir-annya sudah melayang kepada masa yang akan datang, masa Sitti Saniah berbahagia............ bersuamikan seorang oceleebalang.
Sungguh, ingatannya sudah terharu-biru oleh setan yang dibawa oleh Ma‘ Limah.
Kira-kira pukul sepeluloh malam bapa Saniah pulang. Dengan segera anak gadis itu menyediakan nasi untuknya. Akan tetapi bapanya ta‘ hendak makan, sebab, katanya, ia sudah makan di rumah saudaranya. Anak gadis itu disuruhnya tidur beserta dengan kakaknya, dan ia pun mulai bercakap-cakap dengan isterinya.
Bermula ibu Saniah bertanya kepada suaminya, bagaimana pikiran kaum keluarganya di Uleelheue tentang permintaan T.B. Raman itu.
“Sesungguhnya,” kata ayah Sitti Saniah dengan perlahan-lahan, “orang di sana berharap benar-benar, supaya pertalian anak kita dengan orang muda itu jangan diputuskan. Akan tetapi jika kita hendak memutuskan juga, mereka ta‘ dapat berkata apa-apa, ta’ kan berkecil hati. Hanya katanya, hendaklah kita periksa lebih daheloce asal-usul T. B. Raman itu. Ia merantau kemari, jadi jangan-jangan kita teperdaya kelak.”
“Ya, itu benar juga,” kata ibu Sitti Saniah, “tetapi kakanda bukantah kenal orang tua T.B. Raman?”
“Kalau betul keterangan orang muda itu,............ ya, kenal. Akan tetapi siapa tahu, barangkali ia berdusta atau menipu?”
“Saya rasa, keterangannya itu benar sekali,” jawab ibu Sitti Saniah.
“Bagaimana adinda tahu?”
“Saya sudah bertanya kepada Ma‘ Limah, dan ia kenal akan T.B. Raman, sebab orang muda itu kerap kali datang ke rumah Nya’ Cut.”
“Kalau benar demikian, baiklah. Akan tetapi kita harus ber-pikir dengan saksama tentang perkara yang sudah dilangsungkan dengan Nya‘ Amat.”
“Ah, itu mudah sekali, sebab Nya‘ Amat belum nikah dengan anak kita lagi. Jadi tandanya boleh kita tolak saja.”
“Ya, akan menolak tanda itu sesungguhnya tidak sukar, adinda, tapi adinda mesti ingat perkara yang akan timbul kemudian hari. Siapa tahu, barangkali Nya‘ Amat mengadukean kita kepada hakim, sebab kita memberi malu kepadanya. Ia amat pandai dan......... orang sayang kepadanya.”
“Masakan berani ia mengadukean kita! Dan jika diadukean-nya jua, ia ta‘ kan menang. Ingat sajalalah perkara anak Nya’ Berahim dengan anak T. Daud. Bukantah T. Daud kalah? Tambahan pula, kita tidak memberi malu kepada Nya‘ Amat, sebab hal yang demikian bukantah sudah biasa dilakukean orang? Dan kita sendiri pun ta’ kan pula beroleh malu karena itu. Sebab, sudah biasa jua orang membuang batu, jika akan mendapat intan. Saya rasa, ta‘ kan ada orang yang mencela kita, melainkan banyak yang akan memuji, karena anak kita akan kawin dengan anak raja.“
“Ya, adinda, janganlah kita memandang begitu saja. Kita harus ingat juga akan perhubungan kita dengan engku Suleman laki isteri, yang telah amat banyak berbuat kebajikan bagi anak kita. Lain dari pada itu wajiib kita ingat pula, betapa pertalian Saniah dengan Nya‘ Amat sekarang ini.”
“Saya tidak bermaksud hendak melupakan atau menghilangkan budi baik orang kepada kita, sekali-kali tidak. Akan tetapi orang lain ta‘ usah campur dalam perkara kita sendiri. Anak kita tanggungan kita sendiri, bukan tanggungan orang lain. Kita boleh minta timbangan kepada orang lain kalau baik timbangan-nya itu dan sesuai dengan pikiran kita sendiri, kita pakai; jika tidak, kita buang. Tentu saja engku Suleman suka kepada Nya’ Amat, sebab kawannya. Akan tetapi ia tidak peduli elok buruk nasib anak kita akhir kelaknya.
Akan hal Saniah dengan Nya‘ Amat sekarang ini, terang perka-ra itu ta’ usah kita kuatir. Saniah masih dalam kuasa kita, lagi pula niscaya ia lebih suka bersuamikan seorang raja, sebab ia sendiri akan beroleh kemuliaan kelak, ya'ni jadi permai-suri. Ta‘ usah kita lalai dan lengah lagi, kembalikan saja “ra-nuh kong haba” Nya’ Amat itu dan terima permintaan T. B. Raman, habis perkara. Saya ingin sekali melihat cucu saya jadi raja, pusaka ayahnya,“ kata ibu Sitti Saniah dengan gembira.
“Ha, ha, ha,” tertawa ayah Saniah dengan suram, “adinda harus berpikir baik-baik dahelue, supaya jangan menyesal kemu-dian. Saya rasa, Nya‘ Amat itu sebanding dengan anak kita. Baik tentang rupa, baik tentang kepandaian dll. Tilik anak, pandang menantu, kata orang. Jangan kita terlalu menengadah ke langit supaya mata kita jangan silau kelak. Tentang perkara cucu kita akan jadi raja itu,.......... sekaliannya menurut takdir Allah, adinda! Sebab itu saya katakan sekali lagi, pikirlah da-helue baik-baik, supaya kemudian jangan terjadi seperti per-bahasa ini: ”Harapkan guntur di langit, air ditempayan dicu rahkan.“
“Ah,” kata ibu Saniah dengan agak amarah, “apa pula yanq akan dipikirkian lagi! Apa yang akan diharapkan pada Nya‘ Amat itu, orang makan gaji. Meskipun gajinya besar, ta’ kan juga cukup; jangan kata, berlebih.........., jika tidak ada harta pusaka dari orang tuanya. Lihatlah, berapa banyaknya orang kita yang bergaji besar sekarang ini, tapi apa yang ada padanya? Lagaknya betul keras, pakai baju jas dan pantalon, berdasi atau tali leher, akan tetapi sakuna kosong. Habis bulan, habis gaji, dan kadang-kadang berutang pula di mana-mana. Utangnya sebelit pinggang, kata orang. Sesen pun ta‘ ada uang yang disimpannya. Kalau ia meninggal kelak, maka pusaka yang diterima anakenya tidak lain dari pada sepatu buruk dan tali leher yang telah tua. Harta sawah, kebun dll. tidak ada padanya, akhirnya anak cucunya melarat dan sengsara betul. Pendeknya kehiduapan kita yang ta’ makan gaji ini lebih senang dari pada kehiduapan mereka itu.“
Demi didengar ayah Saniah perkataan isterinya demikian, ia pun ta‘ suka membantah lagi. Bukan karena ia telah setuju dengan buah pikiran isterinya itu, tidak, melainkan karena terpikir olehnya: niat isterinya itu tidak dapat dibantah lagi. Makin dibantah, makin kuat. Oleh sebab itu ia pun bertanya demikian saja:
“Jadi sekarang bagaimana pikiran adinda? Akan kita tolakkah tanda Nya‘ Amat?”
“Lebih baik begitu. Sekarang mari kita panggil Leube Leman dan kita kabarkan kepadanya, bahwa permintaan T. B. Raman kita terima sudah.”
“Jangan terlampau tergesa-gesa, adinda, supaya kita jangan dapat malu kelak,” kata ayah gadis itu.
“Jadi bagaimana?” tanya isterinya.
“Lebih baik kita panggil orang tua-tua datang ke rumah kita dahulu, akan bertanya, bagaimana perkara itu harus dilaku-kan. Setelah itu, barulah kita beri kabar yang pasti kepada T.B. Raman.”
“Baiklah, malam besuk kita panggil orang tua-tua kemari dan kita kenduri sedikit.”
Pada keesokan malamnya, sesudah sembahyang magrib, datanglah sekalian orang yang dipanggil ke rumah orang tua Sitti Saniah. Mula-mula mereka itu duduk mendo'a, kemudian makan. Setelah selesai dari pada makan itu, ibu Sitti Saniah itu pun menceriterakan segala maksudnya dari permulaannya sampai kepada akhirnya; setelah itu dimintanyalah timbangan kepada mereka masing-masing.
Lama sekali mereka memikirkan dan mempertimbangkan perkara itu. Akhirnya sekalian yang hadir itu, baik orang lain, baik keluarganya sendiri, membantah maksud ibu Saniah belaka. Mereka itu lebih suka kepada Nya’ Amat dari pada T. B. Raman, yang belum dikenal itu.
Akan tetapi segala timbangan dan pikiran mereka itu tidak berpaedah kepada ibu Saniah. Rupanya hatinya sudah cenderung betul kepada T. B. Raman, anak raja itu, dan sudah “patah batu” terhadap kepada Nya’ Amat, orang makan gaji dan orang kebanyakan saja itu.
Akan ayah Saniah, ia ta’ dapat bertentangan dengan isterinya. Ia tahu, jika ia berkeras membantah jua, niscaya percampurannya dengan isterinya ta’ kan baik lagi. Oleh sebab itu ia pun terpaksa berdiam diri saja. Apalagi perkara mengawinkan anak, sekalianinya tergenggam dalam tangan perempuan; jadi ibu Saniah itulah yang berkuasa.
Tentu saja orang lain lebih-lebih ta’ dapat berkata apa’ lagi.
Jadi tetap sudah, ibu Saniah akan menerima T. B. Raman akan jadi menantunya.
Maka ibu Saniah bertanya pula, bagaimana menurut ‘adat atau hukum syari‘at mengembalikan tanda bertunangan (ranub kong haba) itu? Salahkah pekerjaan itu pada ‘adat dan hukum syari‘at?
Kata seorang yang tertua: “Pada hukum syari‘at tidak ada salahnya, sebab Nya’ Amat belum nikah dengan Sitti Saniah lagi.”
“Pada ‘adat?” tanya ibu Saniah dengan gembira.
“Adat yaitu masuk bilangan aturan yang diperbuat orang, akan mencari kesentosaan dan keamanan dalam negeri. Tanda atau ranub kong haba itu ‘adat yang lazim bagi kita bangsa Aceh, akan menguatkan perjanjian kawin.”
“Kalau begitu, ranub kong haba itu boleh ditolak?” tanya ibu Saniah, ”sebab ia hanya suatu aturan yang diperbuat saja,.......... bukan hukum.”
“Boleh,” jawab orang tua itu, ”akan tetapi ditolak dengan ‘adat pula.”
“Bagaimana ditolak dengan ‘adat?”
“Jika kita hendak menolak ranub kong haba seseorang, lebih dahelul harus kita taksir harga tanda itu; kemudian baru tanda itu dikembalikan kepada orang itu ditambah dengan uang sebanyak taksiran tadi. Umpamanya, jika barang itu berharga f 100.—, maka benda itu dikembalikan kepadanya beserta uang f 100.—lagi.”
“Apa sebabnya jadi demikian?” tanya seorang keluarga Sitti Saniah.
“Ya, sudah dijadikan ‘adat demikian,‘” jawab orang tua itu. ”Sabagai saya katakan tadi: ‘adat itu aturan dalam negeri. Kalau tidak ada ‘adat, tentu negeri tidak teratur, sebagai kapal yang ta’ bernakhoda.’“
“Benar, akan tetapi tanya tadi: apa sebabnya ditambah f 100.—lagi? Kalau pertunangan itu boleh diputuskan, ya, putuskan sajalalah. Ta‘ usah kita membayar denda lagi, bukan?”
“Kalau tidak di‘adatkan demikian itu, niscaya dapat orang membatalkan janji dengan mudah, dan akhirnya terjadilah perselisihan yang besar. Sungguh ‘adat itu sebagai denda, dan karena denda itu tentu ta‘ mudah orang berbuat kesalahan.’”
“Jadi dalam hal ini kita sudah berbuat kesalahan?”
“Tentu saja, sebab kita sudah mungkir akan janji. Tambahan pula, seolah-olah kita telah memberi malu kepada orang.”
“Mana yang kuat hukum dengan ‘adat?‘” tanya orang lain pula.
“Bagi kita hukum dengan ‘adat itu ta‘ bercerai, sebagai zat dengan sifat.”
“Jika demikian,” kata ibu Saniah, “lebih baik ditaksir dahelul harga tanda itu.” Ia pun bangkit berdiri dan pergi ke biliknya mengambil medaliun tanda ranub kong haba Nya‘ Amat. Setelah ia datang kembali, maka katanya:
“Coba teungku taksir harga barang ini, supaya boleh saya tambah nanti dengan uang.”
Barang itu pun diletakkan orang ke tengah-tengah kerapatan itu, lalu diperhatikan oleh tiap-tiap orang. Menurut taksiran mereka itu harganya f 75.—. Dengan segera ibu Saniah berdiri pula akan mengambil uang dari dalam lemarinya. Kemudian maka katanya:
“Nah, inilah uang f 75.—akan tambahnya dan pulangkanlah tanda itu.”
“Ah, jangan terburu nafsu, adinda,” kata ayah Sitti Saniah dengan agak marah. “Pekerjaan yang dilakukan dengan tergesa-gesa itu, biasanya tidak baik hasilnya. Lebih baik tanda itu besok atau lusa saja dikembalikan, sebab kita harus mendapat ke-terangan dahelulu dari pada T. B. Raman, bukan?”
“Benar,” kata orang tua-tua, “baiklah kita nanti beberapa hari lagi, dan kita perkuat janji dengan T. B. Raman.”
“Dan............ dalam hal ini............ tidak lebih baikkah kiranya, jika kita bertanya dahelulu kepada Sitti Saniah sendiri?” kata seorang perempuan tua dengan ketakutan. Rupanya ia berkata demikian, karena ia menaruh belas kasihan kepada anak gadis itu. Lagi pula ia tahu, bahwa Saniah suka kepada Nya‘ Amat.
“Tidak perlu,” kata orang yang tertua. “Anak gadis tidak boleh campur dalam perkara ini, hanya ia harus menurut perintah orang tua saja.”
Bukan buatan besar hati ibu Saniah mendengar perkataan yang demikian, sehingga ia ta‘ jadi marah kepada perempuan tua yang suka mencampuri perkara yang ta’ layak baginyia itu.
Setelah habis percakapan itu, maka sekalian orang itu pun bermohon diri hendak pulang ke rumahnya masing-masing.
Ayah dan ibu Saniah pergi ke kamarnya, demikian juga kakak Saniah. Ketika perempuan itu sampai di muka kamarnya, maka dilihatnya Sitti Saniah berdiri di balik pintu. “Hai, Saniah,” kata kakaknya itu “engkau belum tidur?”
“Belum,” jawab anak gadis itu dengan hati yang berdebar-debar.
“Ah, tidurlah,” kata ‘Alimah dengan senyumnya. “Sesung-guhnyia engkau berbahagia sekali, Saniah.”
“Berbahagia bagaimana, cupo (1)?” tanya anak gadis itu dengan kurang sabar.
“Tidur sajalalah, jangan bertanya-tanya lagi, nanti engkau akan tahu juga.”
Hati Saniah sebagai diiris-iris dengan sembilu rasanya, sangat
- Panggilan kepada kakak perempuan.
pedih dan sakit. Sebenarnya, semenjak orang duduk bermu-pakat itu ia tidak tidur, melainkan duduk mengintai dari balik dinding ruang tengah. Hatinya sudah berkata kepadanya, ta‘ dapat tiada mereka akan membicarakan hal dirinya. Akan tetapi segala percakapan itu tidak terang betul didengarnya.
Mula-mula sangkanya, mereka itu memperkatakan perkara meukeureuja (2), bila alat itu akan dilangsungkan. Akan tetapi ketika didengarnya perkataan ibunya: kembalikan saja tanda Nya‘ Amat, sirrr............ bunyi darah di dadanya, sebab ia mengerti sudah, bahwa maksud permupakatan itu tidak lain hanya hendak memutuskan pertunangannya dengan kekasihnya. Darahnya naik kemukanya, hatinya berdebar-debar dengan keras, napasnya sesak dan kerongkongannya terkunci. Ia terlalu marah, sehingga ia berbangkit hendak melompat ke tengah-tengah kerapatan itu, akan membantah kehendak mereka itu. Akan tetapi karena malu dan takut, ditahannyalah hatinya.
Maka ia pun duduk termangu-mangu sebagai orang kehilangan ‘akal, sedang badannya bersimbah pelu dingin.
Ketika orang tua-tua itu turun tangga, ia bangkit berdiri, dan ketika ‘Alimah hendak pergi tidur, dengan segera ia berdiri kebalik pintu kamarnya.
Semalam-malaman itu Sitti Saniah tidak tidur barang sekejap mata jua pun. Ia selalu memikirkan untung nasibnyia pada wakteo yang akan datang, ya'ni bila diputuskan pertaliannya dengan Nya‘ Amat, jantung hati dan biji matanya itu. Ia menangis dengan sedih dan perlahan-lahan. Air matanya sudah membasahi bantalnya, rambutnya kusut-masai dan hatinya hancur-luluh. Pikirannya, jika ia ta’ jadi kawin dengan kekasihnya itu, lebih baik ia mati berkalang tanah. Apa gunanya hidup, jika akan becermin bangkai............
Pada keesokan harinya ibunya pun bangun dari pada tidurnya; maka dilihatnya Sitti Saniah duduk ditangga, mukanya pucat sebagai hilang semangat dan matanya balut bekas menangis. Kepalanya ditundukkannya, sedang pipinya ditahannya dengan kedua belah tangannya.
“Hai, Saniah,” kata ibu itu kepada anaknya, “mengapa engkau
- Peralatan kawin.
duduk jua, belum masak air panas lagi? Ayahmu hendak pergi dengan segera.“
Demi didengar gadis itu perkataan ibunya demikian, ia pun mengangkatkan kepalanya, lalu berangkat kedapur dengan ta‘ berkata sepatah kata jua.
Tiada berapa lama antaranya makanan dan minuman siap sudah. Dengan segera ayah dan ibu Saniah duduk makan; kemedian ayah Saniah pergi bekerja, dan ibunya berangkat keruman Ma‘ Limah di Kampung Keudah, akan mengabarkan permupakatan pada malam itu.
“Sekarang, Ma‘ Limah,” kata ibu Saniah sesudah bercakapcakap dengan lanjut, “Ma’ Limah mengerti sudah, bahwa kami telah semupakat hendak memutuskan pertunangan anak kami dengan Nya‘ Amat, karena hendak menerima permintaan T. B. Raman. Akan tetapi sebelum pertunangan itu kami pu-tuskan, lebih dahelum kami hendak mendapat keterangan yang sah dari pada T. B. Raman sendiri. Oleh sebab itu hendaklah Ma’ Limah pergi beserta Leube Leman ke rumah anak raja itu dan mintalah tanda ranub kong haba kepadanya. Jika tanda itu sudah Ma‘ terima, nanti pukul empat petang hendaklah Ma’ antarkan ke rumah saya.”
“O, tentang perkara itu jangan ibu Saniah susah,” jawab perempuan tua itu dengan sukacita, sebab kerjanya telah berhasil, sehingga mukanya berseri-seri rupanya, “sebentar ini juga saya pergi ke rumah Leube Leman, akan menyampaikan kabar baik itu. Dan pukul dua kelak kami pergi ke rumah T. B. Raman. Wah, berhasil juga kiranya niat ibu Saniah,.......... ya, niscaya Sitti Saniah akan berbahagia bersuamikan seorang bangsawan, anak raja.”
“Mudah-mudahan,” jawab ibu Saniah dan karena percakapannya telah selesai, ia pun bermohon diri hendak kembali pulang ke rumahnya.
Betapa besarnya hati T. B. Raman mendengar kabar dari Ma‘ Limah dan Leube Leman, bahwa permintaannya sudah diterima oleh orang tua anak gadis itu, ta’ guna kita ceriterakan di sini lagi. Sebab, tentu saja pembaca akan dapat mengira-ngirakan-nya sendiri. Ia melompat-lompat dan bertepuk-tepuk tangan, seperti anak kecil yang baru mendapat permainan yang indah-indah dari pada orang tuanya. Sebentar itu juga diberikannya seben-tuk cicin permata berlian kepada kedua seulangke itu, supaya diantarkan dengan segera kepada orang tua Saniah, akan jadi ranub kong haba.
Tentu saja uang sirih kedua mereka itu tidak dilopekakannya!
Kebetulan kira-kira pukul empat petang hari itu jua kedua mereka itu pun telah hadir di rumah orang tua gadis kita itu. Baharu mulai bercakap-cakap, dikeluarkannyalah cincin permata berlian ranub kong haba T. B. Raman dan diberikannyalah ke tangan orang tua Saniah. Cincin itu diterima oleh ibu Saniah dengan sukacica, serta katanya:
“Tanda ini kami terima sudah, jadi Sitti Saniah telah sah bertunangan dengan T. B. Raman.”
“Syukur!” kata kedua seulangke itu.
“Akan tetapi,” kata ibu Saniah pula, “hal ini hendaklah dirahsiakan saja dahelul. T. B. Raman harus sabar menanti keputusan dari pada Nya‘ Amat. Dalam pada itu jangan ku-atir,............ Sitti Saniah mesti jadi isteri T. B. Raman kelak. Kami berharap, supaya kabar itu disampaikan kepada orang bang-sawan itu.”
“Baiklah,” jawab kedua seulangke itu.
Setelah selesai permupakatan itu, kedua mereka itu pun bermohon diri hendak kembali ke rumah anak raja itu.
XIII. PUTUS TUNANGAN LAMA
Ranub kong haba T. B. Raman sudah dua hari lamanya dalam tangan ibu Saniah. Pada hari yang ketiga dipanggilnyalah orang tua-tua datang ke rumahnya. Setelah datang, lalu diserahkannya tanda Nya‘ Amat beserta dengan uang f 75.—kepada mereka itu, akan dikembalikan kepada orang muda itu di rumah engku Suleman. Meskipun kebanyakan orang tua itu bersedih hati, tetapi mereka terpaksa menurut kehendak ibu Saniah juga.
Ketika mereka sampai di rumah engku Suleman, kebetulan Nya‘ Amat tidak ada di situ. Ia pergi menghadiri vergadering N. I. P. Maka tanda itu pun diserahkan oleh mereka kepada engku Suleman laki isteri saja. Lagi pula sepatutnya juga mereka menerima tanda itu kembali, sebab mereka jadi seulangke dalam pertunangan Nya’ Amat dengan Sitti Saniah.
“Hai, apa ini?” tanya engku Suleman laki isteri dengan terkejut dan heran. “Mengapa dikembalikan tanda ini? Apa sebabnya? Apa yang telah teryadi...............?”
“Begimi, engku,” kata seorang yang tertua di antara mereka itu, “sesungguhnya kami tidak tahu sedikit jua akan hal ini. Hanya kami jadi utusan saja datang kemari, akan mengembalikan ranub kong haba itu. Walaupun kami sangat belas kasihan kepada Nya‘ Amat, lebih-lebih kepada Saniah, akan tetapi apa boleh buat.......... kami ta’ dapat berkata apa-apa tentang hal ini. Ini kuasa ibu bapanya semata-mata, engku! Jadi kami ini, sebagai utusan atau lebih baik kami katakan sebagai orang suruhan.......... tentu kalau disuruh, kami pergi; kalau ditegah, kami berhenti. Sekarang kami tersuruh mengembalikan tanda ini, ma'af engku dan uni............ terimalah medaliun dan uang ini dan sampaikanlah ke tangan orang muda itu.”
Demi didengar engku Suleman laki isteri perkataan orang itu, ia pun tiada terkata-kata lagi. Hatinya amat sedih, hampir keluear air matanya. Tambahan pula mereka berasa sangat malu, seolah-olah dihinakan orang. Tersebab oleh karenanya maka Nya‘ Amat dan Sitti Saniah bertunangan, dan tiba-tiba tanda itu dikembalikan orang kepadanya pula....................
Wahai, sampai hati orang tua Saniah berbuat sedemikian! Setelah berapa lamanya termangu-mangu, berkatalah engku Suleman dengan perlahan-lahan:
“Apa sebabnya maka teryadi begini?”
“Kami tidak tahu, engku. Melainkan kami disuruh oleh orang tua Saniah menyampaikan kepada engku laki isteri, bahwa pertunangan Nya‘ Amat dengan Sitti Saniah telah dipetuskan, dibatalkan. Kami harap, supaya kabar ini engku sampaikan kepada Nya’ Amat sendiri.”
Oleh karena orang muda itu tidak ada di rumah, maka engku Suleman tidak berani menerima tanda itu kembali. Ia minta tangguh tujuh hari, jadi orang tua-tua itu boleh balik pulang saja, karena katanya perkara itu hendak dibilicarakannya dengan Nya‘ Amat dahaelu. Siapa tahu, barangkali orang muda itu tidak suka menerima keputusan begitu saja, melainkan hendak mengadukan perkara itu kepada hakim.
Orang tua-tua itu bermohon diri, lalu berangkat ke rumah ibu bapa Sitti Saniah. Sekalian perkataan engku Suleman itu dikabarkannya kepada ibu gadis itu.
Demi didengar ibu Saniah kabar itu, hatinya pun sangat panas: maka katanya dengan marah: “Biar ke mana jua ia mengadu, saya tidak takut. Biar habis segala hartaku, aku lawan juga.”
“Ya, adinda,” kata ayah Saniah dengan tenang, “sabarlah sedikit, jangan berbuat ingar-bingar demikian itu! Apa jua yang akan teryadi kemudian hari, ta‘ usah kita berbuat gaduh, supaya jangan memberi malu kepada kita sendiri dan kepada pihak Nya’ Amat juga.”
Sejak hari itu Sitti Saniah tidak berani lagi datang ke rumah engku Suleman, karena malu akan perbuatan orang tuanya ta‘ patut itu. Sesungguhnya ibu bapanya ta’ ingat akan kehor-matan dirinya, sebab mungkir akan janjinya. Tidak ingatkah ibu bapanya akan budi engku Suleman laki isteri, yang telah berus-saha mengajarnya dengan susah payah itu? Tiba-Tiba jerih payah orang itu dibalasnya dengan cara demikian, seolah-olah air susu dibalasnya dengan air tuba. Beberapa hari lamanya anak gadis itu memikirkan apatah kesalahan Nya‘ Amat, dan kesalahannya sendiri juga, maka orang tuanya sampai hati memutuskan tali silatu'rahi mereka itu? Sudah beberapa kali ia minta tolong kepada kakaknya akan menyampaikan segala perasaan hatinya kepada orang tuanya, akan tetapi............... sia-sia saja, sebab ’Alimah menuruh dia menutup mulut saja. Tidak baik, kata-nya, anak melawan atau membantah kehendak orang tua.
Sitti Saniah amat sakit hatinya. Kadang-kadang terbit beraninya hendak bercakap-cakap dengan orang tuanya sendiri, menceriterakan “cintanya” kepada Nya‘ Amat, akan tetapi baharoie ia berhadapan dengan ibu bapanya, ia pun terdiri seperti patung. Mu-lutnya ta’ dapat dibukanya dan lidahnya kelu akan berkata-kata, sehingga ia terpaksa berdiam diri saja,—makan hati berulani jantung.
Isteri engku Suleman sepeninggal utusan yang disuruh mengembalikan tanda itu, ta‘ terperikan kacau-bilau pikirannya, sedih bercampur malu. Ia ta’ dapat menahan air matanya lagi, lalu ia menangis sedan-sedan. Dalam pada itu datanglah Nya‘ Amat dengan riangnya. “Ah, engku,” katanya kepada engku Suleman, yang tengah duduk termenung-menung di beranda muka, “rugi betul engku tidak hadir pada vergadering tadi,.......... ramai sekali!”
Engku Suleman mengangkatkan kepalanya dan berkata dengan manis, supaya jangan kelihatan susah hatinya:
“Ramai, Nya‘ Amat? Siapa yang lezing? Dan apa motie yang dibuat?”
“Ya, yang berpidato banyak, dan motie............. Akan tetapi manatah uni? Saya belum melihat rupanya............ Hai,” katanya dengan tiba-tiba dan terkejut, sambil memutuskan perkataannya dan memandang keruang tengah tempat isteri engku Suleman menangis itu. “Mengapa uni menangis? Apakah yang terjadi sepeninggalku tadi?”
“Ah, ta‘ apa-apa, Nya’ Amat,” jawab engku Suleman. “Akan tetapi pergilah Nya‘ Amat ke kamar dan gantilah pakaian Nya’ Amat dahelul; nanti saya ceriterakan sekaliannya.”
Dengan ta‘ berkata-kata serta dengan hati beruncang orang muda itu pun masuk ke kamarnya. Kemudian ia keluar pula, lalu duduk disisi isteri engku Suleman, yang telah datang ke-dekat suaminya.
Dengan sabar dan tenang dimulailah oleh engku Suleman menerangkan segala kejadian, yang ta‘ disangka-sangka itu. Sekaliannya didengarkan oleh Nya’ Amat dengan diam-diam. Air mukanya kelihatan kadang-kadang pucat, kadang-kadang suram dan kadang-kadang merah padam. Meskipun ceritera engku Suleman telah selesai, tapi ia berdiam diri juga. Ia memandang ke muka tenang-tenang, sedang matanya bersinar-sinar seperti api. Dadanya turun naik dengan cepat. Kemudian ia menarik napas panjang, bersandar kekursinya dan berkata dengan perlahan-lahan:
“O,...... jadi itulah sebabnya maka uni menangis! Akan tetapi mengapa uni sampai mengeluarkan air mata demikian itu... ta‘ ada gunanya. Itu perkara kecil saja!”
“Ya, Nya‘ Amat,” jawab perempuan itu serta menggosok air matanya dengan sapu tangannya, “jangan Nya’ Amat katakan perkara kecil saja, hancur luluh rasanya hati memikirkan hal itu. Sitti Saniah sudah kami didik sejak dari kecil, dan dengan susah payah telah kami carikan pula tunangannya. Sekarang, tiba-tiba usaha kami itu dibinasakan orang dengan tidak ada sebab karenanya.“
“Mengapa uni katakan tidak ada sebab karenanya?” tanya Nya‘ Amat dengan senyumnya. “Jika tidak bersebab, mustahil akan terjadi demikian. Tentu saja orang tuanya sudah insaf sekarang, bahwa saya ta’ patut akan jadi jodoh anaknya.”
“Ya, Nya‘ Amat, karena itulah maka saya sangat menyesal dan iba hati. Dan bukan buatan malu saya kepada Nya’ Amat, karena......”
“Ah, uni, ta‘ usah kita pikirkan lagi perkara itu. Yang sudah itu, sudahlah. Dan ta’ usah uni menangis lagi, lebih baik sabar saja. Saya ta‘ dapat berkata dan berbuat apa-apa sekarang, melainkan mesti sabar menantikan timbul pikiranku yang baik dan sempurna. Jika saya turut kehendak iblis, yang menggoda hatiku sekarang ini, suka nian saya menyerang orang tua itu. Akan tetapi apa gunanya kita berbuat demikian, lain tidak akan memperbesar malu kita jua.”
“Ayuh, mari kita pergi kepada engku Manan,” kata perempuan itu.
“Mengapa?” tanya Nya‘ Amat.
“Minta tolong kepada beliau, akan membujuk-bujuk orang tua Sitti Saniah.”
“Jangan, uni!” kata Nya‘ Amat, “jangan terburu-buru. Lebih baik kita berpikir dahelul dengan sabar.”
“Ya, turyet sajalalah kata Nya‘ Amat itu,” kata engku Suleman, “biarlah kita sabar dalam beberapa hari ini, barangkali besok lusa kita beroleh ’akal yang semporna jua. Bukantah saya sudah minta tangguh tujuh hari?”
“Baiklah,” kata isteri engku Suleman. Setelah itu mereka itep pun pergi ke kamar belakang, hendak makan. Akan tetapi tidak seorang jua yang makan seperti biasa, karena hatinya terlalu susah.
Semalam-malaman itu Nya‘ Amat tidak tidur, melainkan miring ke kiri dan ke kanan saja. Kepalanya pusing rasakan pecah, hatinya pedih sebagai diiris-iris dengan sembilu dan pikirannya berkacau-bilau. Apakah hendak dibuatriya? Jika keputusan itu dari pada Saniah sendiri datangnya, tentu ia ta‘ dapat berbuat apa-apa............ Akan tetapi jika kehendak ibu bapanya saja demikian, apa pula ’akalnya? Dapatkah ia menang, kalau perkara itu diadukannya kepada hakim atau kepada rapat agama?
Pada keesokan harinya pagi-pagi Nya‘ Amat menerima sepucuk surat dari pada Saniah, lalu dibacanya dengan hati yang ber-debar-debar.
“Kakanda Nya‘ Amat yang kucinta!
Dengan hati yang amat masygul serta air mata yang bercucuran adinda menulis surat ini.
Agaknya kakanda telah tahu perbuatan orang tua adinda atas diri kita kedua. Ya, kakanda, karena aturan kuno dan karena kurang pengetahuan dan pemandangan, mereka itu telah lupa akan kewajibannya, ta‘ tahu memegang jangyinya.
Supaya kakanda tidak salah sangka, maka adinda tulislah surat ini.
Kakanda yang kucinta! Akan segala perbuatan orang tua adinda hendak memutuskan pertunangan kita ini, adinda tidak setuju sekali-kali. Tidak sebuah jua pertanyaan kepada diri adinda, sekaliannya terjadi dengan tidak adinda ketahui. Sekali-kali adinda tidak berpaling haluan dari pada kakanda, walau bercerai nyawa dengan tubuh Sekalipun. Tidak ada orang lain di dunia ini tempat hati adinda, melainkan kakanda sendiri saja. Haramlah tubuh adinda bersentuh dengan laki-laki lain. Sebab itu janganlah kakanda terima tanda itu kembali. Serahkan, kakanda, perkara itu kepada rapat agama.
Jangan takut, kakanda, karena adinda ada beserta kakanda lahir dan batin.
Adinda berharap dengan sangat, supaya kakanda sudi mengabulkan permintaan adinda itu, demikian juga akan menyampaikan salam adinda kepada engku Suleman laki isteri, karena adinda, lain dari pada rohani adinda, ta‘ dapat lagi datang kepadanya.
Wassalam adinda, Saniah.“
Surat itu diberikan Nya‘ Amat kepada engku Suleman laki isteri, lalu ia duduk dengan tidak berkata-kata.
“Ya, Saniah, gadis yang malang,” kata isteri engku Suleman dengan tangisnya setelah membaca surat itu, “rupanya engkau dipaksa oleh orang tuamu akan memutuskan pertalianmu dengan Nya‘ Amat. Wahai, sampai hati mereka berbuot demikian! Sekarang barulah aku ingat perkataan Nya’ Amat dahulu, bahwa orang tuamu tinggi hati, angkuh, ta‘ indahkan perasaan orang lain. O, Saniah, pilu hatiku rasanya memikirkan nasibmu yang malang itu.”
Engku Suleman termenung saja serta memandang tenang-tenang kepada isterinya, yang menangis dengan sedih itu.
“Sudahlah, uni, ta‘ usah menangis lagi,” kata Nya’ Amat sambil bangkit berdiri dari kursinya, “bila uni menangis jua tentu saya ta‘ dapat berpikir; lebih baik sabar saja dahelue.”
“Sudahlah, jangan kau menangis lagi!” kata engku Suleman pula. “Dan bagaimana niat Nya‘ Amat sekarang?”
“Entahlah, engku, saya belum mendapat ‘akal lagi. Hanya ter-pikir olehku, lebih baik engku dan uni bertemu dengan orang tua Saniah, akan menanyakan keterangan yang sah.”
“Baiklah,” kata kedua laki isteri yang budiman itu, “nanti kami pergi ke sana. Tambahan pula kami bermaksud hendak min-ta pertimbangan orang pandai-pandai di sini.”
“Bagus sekali.”
Tiada berapa lama antaranya engku Suleman laki isteri sudah hadir di rumah orang tua Sitti Saniah. Engku Suleman duduk bercakap-cakap dengan ayah gadis itu, dan isterinya dengan ibu Saniah. Lama sekali mereka itu bertukar-tukar pikiran, mem-perkatakan elok buruk, melarat dan manfa'at tentang langsung tidaknya pertunangan Nya‘ Amat dengan Sitti Saniah itu. Akhir-nya hati ayah gadis itu pun lembut sedikit, sehingga ia suka sekali membetuli kesalahannya itu.
“Akan tetapi,” katanya dengan sedih, “apa daya saya bertentangan dengan isteri saya? Ibu Saniah amat keras dalam hal itu; kalau tidak saya turut kehendaknya, tentu akan timbul perse-lisihan besar di antara kami kedua kelak. Coba engku pikir sendiri, kalau saya terima jua Nya‘ Amat jadi menantu saya, se-dang isteri saya tidak suka, siapa yang akan mengaturkan kerja itu? Kehendaknya sudah saya bantah dengan sekuat-kuatnya, tetapi bantahan saya itu tidak didengarnya sekali-kali. Oleh sebab itu, Meskipun betapa jua kasih sayang saya kepada Nya‘ Amat dan Meskipun saya sangat segan dan malu kepada engku laki isteri, tetapi saya ta’ dapat berkata apa-apa. Dalam hal itu isteri sayalah yang berkusasa. Jadi kalau engku dapat memalingkan hati ibu Saniah, saya mau menarik penolakan itu kembali.“
Akan isteri engku Suleman pun sudah puas bercakap-cakap dengan ibu Sitti Saniah, bermacam-macam pikiran dan bujukan diunjukkannya, tetapi sekaliannya sia-sia saja. Akhirnya keempat-empatnya duduk berbicara bersama-sama, karena engku Suleman hendak memberi nasihat kepada ibu Saniah. Akan tetapi segala nasihat beliau ta‘ berpaedah, sebab hati ibu Saniah keras seperti batu.
Maka engku Suleman laki isteri itu pun minta pulang dengan hampa tangannya.
Ketika mereka datang ke situ, keduanya dielu-elukan oleh Sitti Saniah ke pintu gerbang. Sesudah duduk, ia pun masuk ke kamarnya akan mengintaikan serta mendengarkan segala percakapan mereka itu. Kakaknya pergi kedapur memasak air panas. Waktu engku Suleman pulang beserta isterinya, anak gadis itu pun merebahkan dirinya ke atas tempat tidurnya, karena pengharapannya putus sudah, lalu menangis tersedu-sedu.
Ya, gadis yang malang, demikian nasibmu, karena keangkuhan orang tuamu!
Sekalian percakapan itu diceriterakan oleh engku Suleman kepada Nya‘ Amat, dan didengarkan oleh orang muda itu dengan tenang dan sabar. Kemudian maka katanya: “Kalau begitu ta’ usah kita hiraukan lagi perkara itu. Sudahlah, nasibku malang. Biar kita terima saja keputusan itu.”
“Jangan diterima tanda itu, pergi mengadu!” kata isteri engku Suleman.
“Ya,” kata engku Suleman, “lebih baik kita minta dahelub bicara orang lain seperti mupakat tadi, kalau-kalau kita dapat mengadukan hal itu kepada hakim.”
“Ah, engku, saya rasa ta‘ guna, sebab kita ta’ kan menang. malah bertambah malu. Sunggokh pun begitu, ta‘ ada salahnya kita minta tolong kepada orang lain.”
“Baiklah,” kata engku Suleman. “Waktu masih ada beberapa hari lagi.”
Setelah sudah bermupakat, mereka itu pun pergi keluear. Engku Suleman laki isteri pergi ke rumah engku Manan akan mengabarkan hal itu dan bermohon, supaya engku Manan sudi memberi nasihat kepada orang tua Saniah.
Engku Manan berjanji akan menyelesaikan perkara itu.
Nya‘ Amat pergi ke Lambho akan mencari jalan, bolehkah perkara itu diadukan kepada rapat agama atau tidak.
Pukul delapan malam mereka itu pun pulang. Setelah sudah makan, lalu mereka bertanyakan pendapatnya masing-masing.
“Apa kata orang di Lambho?” tanya engku Suleman, “dapatkah mereka itu menolong kita?”
“Ah, sedikit sekali pengharapan kita,” yawab Nya‘ Amat dengan sedih.
“Viana boleh,” kata isteri engku Suleman. “Ya, betul, uni,” kata Nya‘ Amat pula. “Apa sebab jadi begitu?” tanya engku Suleman. “Ya, kata orang tua-tua di sana, sebab saya belum nikah, hanya baru berjanji saja. Janji itu masuk bilangan hukum ’adat dan mudah ditolak orang dengan ‘adat pula.” “Bagaimana menurut ’adat?” “Yaitu, dikembalikan ranub kong haba serta dengan uang sebanyak harga tanda itu. Sebagai telah dilakukan mereka itu.” “Kalau begitu, kita ta‘ boleh mengadu kepada hakim?” “Boleh mengadu kepada hakim musapat atau rapat agama, tapi keputusannya akan seperti itu juge. Kata orang tua-tua di sana, tidak guna kita mengadu, sebab ta’ kan menang, hanya makin bertambah malu.” “Jadi putuslah pengharapan kita!” kata isteri engku Suleman.
“Benar, uni, apa hendak dikata lagi!” “Ah, kasihan,............ mengapa tidak dilangsungkan nikah dahulu,” kata isteri engku Suleman pula. “Siapa tahu jadi begini,” kata engku Suleman. “Hanya sebuah saja pengharapan kita lagi, yaitu pertolongan engku Manan.”
“Saya rasa ta‘ kan berhasil jua!” kata Nya’ Amat.
“Sungguhpun demikian, baik juga kita tunggu, mudah-mudahan berhasil,............ berkat ”masin garam“ seseorang.”
Akan tetapi, bahwa sanya pengharapan mereka sia-sia jua. Keesokan harinya datang kabar dari pada engku Manan, bahwa hati ibu Saniah sungguh tidak dapat dipalingkan lagi. Ranub kong haba Nya‘ Amat mesti ditolaknya, tidak boleh tidak.
“Ya, Nya‘ Amat,” kata isteri engku Suleman dengan sedih dan iba hati, “apa boleh buat! Rupanya segala ikhtiar kita tidak berpaedah. Inilah pembalasan jasa kami dari pada orang tua Saniah. Betung ditanam, aur yang tumbuh.”
“Ya, apa boleh buat,” kata engku Suleman. “Nasib kita ma-lang............” Akan tetapi ia ta‘ dapat meneruskan perkataan-nya, karena hatinya sangat sedih melihat keadaan Nya’ Amat, yang bangkit berdiri dan pergi ke kamarnya. Sungguhpun ia berlaku dengan sabar dan tenang, tapi nyata jua pada air mukanya, bahwa ia sangat menahan hati dan memerangi kehendak hawa-nafsunya, supaya ia jangan sesat kelak.
Setelah sampai janji itu, maka orang tua-tua utusan ibu bapa Saniah pun datang pula ke rumah engku Suleman. Mereka itu disambut oleh Nya‘ Amat dan engku Suleman dengan muka yang jernih. Setelah duduk, lalu disilikannya minum rokok.
Belum berapa lamanya duduk bercakap-cakap dan minum rokok, maka seorang di antara mereka itu mengeluarkan sebuah bungkusan, lalu dibukanya di muka Nya‘ Amat dan engku Suleman, serta berkata dengan hormatnya:
“Ma'af, teuku, kami sebagai utusan dari ayah Sitti Saniah akan menyampaikan dan mempersembahkan perkara ini kepada teuku,” lalu diterangkannya segala maksudnya datang itu.
Dengan muka manis Nya‘ Amat mengangkat tangan kekepalanya, lalu berkata: “Insya Allah, teungku (1), segala kabar itu telah saya dengar dan terima, serta sudah saya junjung di atas kepala saya. Akan tetapi, teungku, saya minta ma'af hendak berbicara sedikit.”
“Alhamduli'llah, teuku, silakanlah!”
“Akan maksud orang tua Sitti Saniah, ya'ni sebagai orang
(1) Panggilan kepada ketua atau orang ‘alim. tua saya sendiri juga, hendak memutuskan pertunangan anak-nya dengan saya,............ saya terima dengan hati yang suci. Apa boleh buat. barangkali sudah takdir Allah akan kemalangan diri saya itu. Saya berjanji di hadapan teungku sekalian, mulai dari sekarang ini saya pandang Sitti Saniah sebagai saudara saya sendiri. Dan medaliun serta uang itu ta‘ dapat saya terima, karena sejak dahulu benda itu sudah saya niatkan untuk Sitti Saniah, yaitu pemberian yang halal dari saya kepadanya. Oleh karena itu janganlah orang tua Saniah menaruh waswas atau curiga, dan bawalah barang itu kembali.“
Sekalian orang itu heran memikirkan kebaikan budi, kelakuan dan perkataan orang muda yang manis itu.
Kemudian maka katanya: “Terimalah barang dan uang itu, karena demikianlah ‘adatnya.’
“Ma'af, teungku,” jawab Nya‘ Amat dengan lemah-lembut. “Apa yang saya katakan tadi itu. tetap sudah. Saya ta’ kan merimanya melainkan bawalah kembali. Dalam pada itu jangan teungku salah sangka, saya akan membuat perkara kelak.......... sekali-kali tidak. Saya ta‘ berniat demikian.”
“Jika begitu, baiklah,” kata orang tua-tua itu serta bermohon diri hendak pulang.
Di tengah jalan orang tua-tua itu memuji-muji budi pekerti Nya‘ Amat, serta mencela tingkah laku orang tua Sitti Saniah yang buruk itu. Ada yang berkata, jahat sekali orang tua Saniah menolak Nya’ Amat, seorang anak muda yang cakap dan manis budi itu.
Serta sampai mereka ke rumah orang tua gadis itu, lalu dikabarkannya segala perkataan Nya‘ Amat dan diserahkannya benda dan uang itu kembali.
Wah, bukan main amarah ibu Sitti Saniah mendengar kabar dan melihat benda dan uang itu kembali. Katanya: “Jangan peduli, biar tidak diterimanya, putuskan saja. Apa sukanya, boleh dibuatnya, walau ia akan pergi mengadu kepada Tuan Beusa (1) Sekalipun.”
“Ah, kau berbuat honar saja, tidak tahu maksud dan ujud perkataan orang,” kata ayah Sitti Saniah dengan belang.
- Gubernur.
Ketika itu Sitti Saniah ada dalam biliknya. Percakapan mereka itu terdengar olehnya, tapi tidak terang. Sangkanya, ibunya berteriak dan marah itu, sebab Nya‘ Amat ta’ suka menerima tanda itu kembali; ta‘ suka putus bertunangan. Oleh karena itu besarlah hatinya.
“Bagus! bagus!” katanya dalam kamarnya. “Rupanya bunyi suratku ada diturutnya. Aku nanti bersedia di muka hakim, sekarang biarlah aku ta‘ membantah-bantah.” Malam itu dapatlah gadis itu tidur dengan nyenyak.
Keesokan harinya ayah Sitti Saniah beserta orang tua-tua itu pergi menghadap kepala negeri (uleebalang) akan menyerahkan perkara itu, serta minta tolong, supaya benda itu disampaikan kepada Nya‘ Amat kembali.
Dua hari kemudian dari pada itu dipanggillah Nya‘ Amat oleh uleebalang. Setelah ia menghadap, maka barang dan uang itu-puno diserahkan kepadanya oleh kepala negeri itu.
Nya‘ Amat terlalu sedih hatinya, sebab ketika itu baru dikeh-tahuinya benar-benar, betapa angkuhnyia ibu bapa Saniah itu. Ia ta’ suka menerima medaliun dan uang itu, bukan karena hendak beperkara, melainkan karena suci hatinya kepada gadis itu.
Maka katanya kepada uleebalang itu: “Ampon, saya ta‘ suka menerima benda dan uang itu.”
“Apa sebabnya?” “Sebab barang itu telah saya berikan kepada Sitti Saniah, akan jadi tanda mata.” “Akan tetapi bagaimana pertunangan Nya‘ Amat dengan gadis itu?” “Perkara itu terserah kepada orang tuanya.”
Setelah didengar orang yang hadir perkataan Nya‘ Amat demikian itu, maka pertunangannya dengan gadis itu pun diputuskan di situ jua.
XIV. PINGSAN
Meskipun pertunangan Sitti Saniah dengan Nya‘ Amat sudah putus, dan sudah diikat dengan T. B. Raman, tetapi gadis itu sendiri belum tahu lagi. Ia berharap-harap jua, bila kiranya ia akan menghadap musapat atau rapat agama.
Sementara itu datanglah sepucuk surat dari pada Nya‘ Amat kepadanya. Bunyinya demikian:
“Adinda Sitti Saniah!
Surat adinda sudah selamat kakanda terima dan kanda ma'lum segala isinya!
Sekian lama kakanda dan engku Suleman laki isteri ber-usaha keras dalam perkara kita, begitu jua orang lain, akan tetapi semua usaha itu jadi sia-sia belaka, adinda, karena kehendak orang tua adinda ta‘ dapat,dicegah lagi. Kakanda sendiri pun kuat sekali hendak membawa perkara itu ke muka musapat dan rapat agama, tetapi menurut nasihat dan alasan orang yang faham dalam hal itu, ta’ guna kakanda berbuot demikian; sebab ta‘ mungkin kakanda akan menang, karena kakanda belum nikah dengan adinda lagi. Ranub kong haba itu semata-mata masuk bilangan ’adat sebab itu mudah sekali ditolak orang.
Apa boleh buat, adinda! Barangkali sudah begitu nasib kakanda yang malang ini.
Sekali-kali kakanda tidak menaruh sangka, bahwa adinda mungkir akan janji. Kakanda tahu, bahwa orang tua adindalah yang berkehendak begitu, bukan adinda. Kemarin dahulu kakanda dipanggil oleh uleebalang. Setelah kakanda menghadap, disuruhnya kakanda menerima meoalun (tanda) kembali serta memutuskan tali pertunangan kita. Tanda itu tidak kakanda terima, sebab sudah dari dahulu kakanda berikan kepada adinda; hanya pertunangan kita...... diputuskan di situ juga.
Hari itu, ya'ni suatu hari yang sial bagi kakanda!
Ta‘ usah adinda berpikir panjang dan menaruh susah lagi, melainkan sabar dan turut sajalah kehendak orang tua adinda. Meskipun dengan susah dan sukar,............. putuskanlah tali cinta kita, dan ingat sajalah bahwa kita kedua mulai sekarang ini jadi bersanak-saudara dunia akhirat. Mudah-mudahan kemudian dapatlah kita bekerja bersama-sama untuk kemajuan bangsa kita.
Jangan adinda menaruh susah sekali-kali, sebab kesusahan itu boleh mendatangkan bencana kepada adinda sendiri kelak.
Kakenda berharap, moga-moga Allah akan memberi selamat dan berkat kepada adinda. Lupakanlah kakanda ini!
Wassalam, Nya‘ Amat.“
Ketika itu baru terang kepada Sitti Saniah, bahwa pertunang-annya dengan Nya‘ Amat sudah putus. Sekonyong-konyong seluruh badannya gemetar, surat itu terlepas dari tangannya dan ia terus rebah di tempat tidurnya dengan ta’ sadarkan dirinya. Setelah ia siuman pula, lalu ia menangis sedan-sedan dengan sedih.
“Wahai, aku akan melupakan dia? Tidak boleh jadi, aku mesti tetap cinta kepadanya; dia tidak salah sekali-kali, hanya salah orang tuaku sendiri. Wahai...... kekasihku......! jantung hatiku,...... tidak dapat aku melupakan engkau dan memputuskan cintaku.”
Sitti Saniah menangis pula. Ketika itu datanglah ‘Alimah dari pasar dan masuk ke dalam kamar. Maka katanya denyan heran: “Hai, mengapa kau menangis, Saniah?”
Anak gadis itu tiada menjawab, hanya terus menangis tersedu-sedu. ‘Alimah bertanya cua tiga kali, tapi Saniah sedan-sedan jua, lalu ia kelu.ar memanggil ibunya. Ibunya itu masuk, lalu bertanya dengan terkejut: “Mengapa kau menangis, Saniah?”
Maka gadis yang malang itu pun bangun, lalu menyembah kaki ibunya. Ia bermaksud hendak menjawab pertanyaan itu, tetapi mulutnya terkunci, seperti orang yang kena pukau. Hanya tanginsya jua yang bertambah deras dan sayu. Ibunya bertanya dengan ta‘ berkeputusan: “Mengapa kau menangis,.......... mengapa menangis.........., gilakah engkau? Ayuh, jawab!”
“Ya............. ibu, saya..........” Tetapi hingga itu saja..........., mulutnya terkunci pula, ta’ dapat berkata-kata, karena terlalu malu dan segan akan mengeluarkan segala isi hatinya............ Ia jatuh pingsan pula. Demi dilihat ibu dan kakaknya halnya sedemikian, keduanya pun menangis dan berlari keluear memanggil orang setangganya. Sebentar itu juga penuhlah orang di rumah itu. Sitti Saniah diangkat orang ke atas tempat tidurnya. Sekaliannya kehilangan ‘akal, ta’ tentu yang akan dibuatnya. Dalam pada itu datanglah seorang dukun, yang dipanggil oleh ayah Sitti Saniah. Dengan segera dukun itu menyiram muka anak gadis itu dengan air mawar, serta membaca mantera dan membakar kemenyan. Beberapa orang lain duduk membaca Yasin dekat kepalanya.
Mereka itu bersedih hati belaka. Setengahnya berkata, Sitti Saniah sudah kena guna-guna Nya’ Amat. Perkataan yang semacam itu mudah sekali dipercayai oleh sekalian orang itu, sebab mereka masih percaya akan tahyul. Pukul 10 malam barulah orang itu pulang ke rumahnya masing-masing, yaitu se-sudah Sitti Saniah sadarkan dirinya pula. Ketika dibukanya matanya, maka dilihatnya orang penuh sekellilingnya. Bukan buatan malunya............, tapi ia berdiam diri saja.
Kemudian, ketika Saniah sudah tinggal beserta orang tuanya dan kakaknya dan dukun saja lagi, lalu dikabarkannya sebab-sebab penyakitnya tadi itu. Katanya, hatinya terlalu kesal dan seain, karena pengharapannya diputuskan. Ia sangat menyesal kepada orang tuanya, yang telah memutuskan pertaliannya dengan Nya’ Amat, dengan tidak bertanya-tanya lebih dahulu kepadanya sendiri.
Maka jawab ibunya: “Hai, Saniah, jangan kau lawan kehendak orang tuamu. Kami sudah cukup memikirkan apa yang berguna bagimu kemudian hari. Kau belum tahu menilik buruk dan baik; asal sudah ada tanduk, sekaliannya kaukirakan sapi atau kerbau, tidak tahu bahwa rusa pun bertanduk juga. Kau tidak ingat, kami membuang batu, karena mendapat intan; membuang bala (orang kebanyakan), karena mendapat raja. Penedknya kami telah habis pikir, maka kami tolak Nya’ Amat itu. Ta’ usah kau susah tentang perkara itu, Saniah, karena kami lebih tahu akan kewajiban dan perbuatan kami. Aku sendiri-pun ingin melihat engkau senang dan berbahagia dengan suami- mu kelak, dan lebih-lebih ingin hendak melihat, cucuku jadi raja, menggantikan ayahnya. Apa yang kau pandang pada Nya‘ Amat, rupanya pun tiada mengalahkan rupa T. B. Raman. Perkara gajinya besar, jangan kau harapkan. Saya sudah melihat benar-benar peri keadaan anak muda yang makan gaji sekarang. Habis bulan, habis gaji; kadang-kadang berutang kian kemari. Cuma lagak saja. Geleng sebagai sirih jatuh, ta’ tahu ditam-puk layu.“
Tentu saja Saniah ta‘ cakap membantah perkataan ibunya. Ia berdiam diri saja menahan hati, sedang air matanya meleleh di-pipinya. Demi dilihat dukun peri hal Saniah demikian, ia pun memberi isyarat kepada ibu Saniah akan bercakap-cakap diserambi muka sebentar.
Setelah mereka tinggal berdua saja, maka kata dukun itu dengan berbisik-bisik:
“Sekarang saya sudah tahu penyakit anak ibu.” “Apa?” tanya ibu Saniah dengan terkejut.
“Sesungguhnya, betul sekali persangkaan orang banyak tadi itu, ya'ni Saniah sudah kena guna-guna Nya‘ Amat. Sebab itu jangan disebut-sebut jua perkara putus pertunangan itu, supaya Nya’ Amat boleh dilopepakkannya. Kalau nama orang muda itu terdengar jua olehnya disebut orang, kasihnya kepada Nya‘ Amat pun bertambah keras jua.”
Nasihat dukun itu termakan betul di hati ibu Saniah, hendak diingatnya selama-lamanya. Mereka itu balik ke tempat Sitti Saniah kembali, dilihatnya gadis itu masih duduk menangis. Akan teta-pi kemudian, karena bujuk-bujukan dukun itu, Sitti Saniah pun sabar jua. Ia ta‘ menangis lagi, lalu tidur.
Keesokan harinya ibunya pun datang kepadanya dengan muka manis. Perkataannya lemah-lembut belaka, ta‘ ada yang kasar lagi. Kemudian datang pula sanak-saudaranya dari Uleelheue memberi berbagai-bagai nasihat kepadanya. Dengan demikian lama-ke-lamaan hatinya dingin jua, Meskipun ingatannya kepada Nya’ Amat dan engku Suleman laki isteri yang baik budi itu, ta‘ dapat dipalingkannya.
Kira-kira pukul 1 siang banyaklah anak gadis kawannya datang kepadanya, karena mereka mendengar kabar dia sakit dengan sekonyong-konyong itu.
Hal itu pun dapat menyabarkan hati Sitti Saniah jua, sehingga ia dapat makan bersama-sama.
Kabar keputusan pertunangan Nya‘ Amat dengan Sitti Saniah itu pecah sudah di Kutaraja. Barang di mana orang muda-muda berkumpul, perkara itu telah menyadi buah tutur mereka itu. Lebih-lebih tentang hal Saniah pingsan itu. Sekalian mereka itu menyalahkan perbuatan orang tua gadis itu. Katanya, perbuatan yang demikian sangat mengalangi kemajuan bangsa.
Jadi mereka itu pun sangat bersedih hati dalam hal itu.
Akan Nya‘ Amat, Meskipun hatinya sangat duka dan masygul, tapi ia dapat juga menampakkan muka yang jernih kepada kawan-kawannya. Ia cakap melawan segala daya iblis dan setan.
XV. RAHSIA TERBUKA
Selama Sitti Saniah menaruh duka ta‘ pernah ia keluear dari rumahnya. Tentu saja luka hatinya bertambah besar, kena ratoyen percintaan itu. Setiap hari Nya’ Amat saja yang diingatnya. Siang malam ia berpikir, bagaimana jalannya akan bertemu dengan Nya‘ Amat, jantung hatinya itu, supaya ia dapat menguraikan segala duka nestapanya.
Cita-cita yang semacam itu tentu ta‘ mudah sampai, karena seorang gadis bangsa kita sukar sekali akan dapat bertemu dengan seorang laki-laki muda, dengan berdua saja. Jangangkan berte-mu berdua saja, bertemu di jalan raya pun susah, karena pe-kerjaan yang demikian terlarang keras pada ’adat dan agama kita.
Sitti Saniah pun tahu segala larangan itu, tetapi karena terlalu kesal, sudah terbit bermacam-macam pikiran yang ta‘ senonoh dalam hatinya, walau maksudnya itu ta’ kan sampai.
Bila kita pikirkan dan perhatikan dengan saksama, sebenarnya banyak di antara kaum ibu bangsa kita yang melanggar ‘adat sopan, gelap pikirannya, sebab ta’ dapat menderita tindih atau paksa orang tuanya, sebagai hal yang telah teryadi atas Sitti Saniah dan Nya‘ Amat itu. Anak gadis itu sudah bermaksud hendak mengirim sepucuk surat kepada Nya’ Amat, tetapi ketika teringat olehnya suatu kalimat dalam surat orang muda itu: lupakanlah kakanda ini, maka maksudnya itu ta‘ dapat disampaikannya. Ia takut dan segan, kalau-kalau Nya‘ Amat ta’ indahkan dia lagi. Akan ibu dan keluarganya sudah menuduh dia kena gunaguna Nya‘ Amat, pada hal mereka ta’ tahu bagaimana hebatnya penyakit cinta yang dideritanya. Oleh sebab itu sangatlah sedih hatinya.
Untung juga neneknya yang perempuan datang ke situ. Orang tua itu sangat sayang kepadanya, demikian juga Sitti Saniah kepada neneknya itu.
Selalu hari hatinya dihiburkan oleh orang tua itu, sehingga bagaimana juga pun hati gadis itu dapat jua jadi dingin sedikit, sebab neneknya itu sehaluan dengan dia. Kalau tidak karena nasihat dan sayangnya kepada neneknya itu, boleh jadi ia sudah menggantung diri atau melenyapkan diri dari mata orang tuanya, biar hilang kehormatan segala kaum keluarganya. Segala perasaan hatinya dikabarkannya kepada neneknya itu dan orang tua itu pun berunding pula dengan ibu Saniah, tetapi sia-sia saja. Buah pikiran orang tua itu tidak diterima oleh ibu Saniah, yang gila kemuliaan itu. Maka nenek itu pun bersedih hati pula. Jika dilihatnya cucunya menangis, lalu dibujuknya dengan perkataan yang lemah lembut, katanya:
“Jangan engkau menangis dan menaruh susah lagi. Barangkali sudah takdir Allah engkau jadi begini. Turut sajalalah kehendak orang tuamu dengan sabar, boleh jadi sudah ditimbang dan diperiksanya, bahwa tunanganmu sekarang ini seorang yang akan berbahagia kelak. Ta‘ usah kauingat lagi Nya’ Amat, lupakanlah dia. Boleh jadi sekarang engkau amat cinta kepadanya, tetapi bila engkau sudah kawin dengan T. B. Raman, engkau telah jadi senang, niscaya orang muda itu lama-kelamaan hilang dari dalam kalbumu. Apa ubahnya dengan perempuan yang kematian suami, yang sangat dicintai dan disayanginya. Mulamula ia tiada mau kawin dengan laki-laki lain, bertahun-tahun lamanya, akan tetapi setelah dicobanya kawin pula, lakinya yang daheloce itu pun dapat jua dilopepakkannya. Tentu engkau demikian juga. Sebab itu sabar sajalalah cucuku, terimalah nasihat nenek inil!”
“O, nenek! keadaan itu berlainan sekali dengan hal diriku sekarang ini. Boleh jadi perempuan itu lama-kelamaan dapat melopekan almarhum suaminya itu, sebab perceraian mereka itu karena mati, yang ta‘ dapat ditolak lagi. Sudah kehendak Allah demikian! Akan tetapi perceraian saya dengan tunangan saya, bukan karena kehendak Allah, melainkan karena perbuatan orang tuaku yang kurang pikir. O, nenek! lebih baik saya mati dari pada menanggung duka begini, ta’ guna hidup, bila hatiku ta‘ diberi merdeka. Nenek jangan mengambil contoh akan keadaan zaman dahulu, sebab pada zaman sekarang semua orang mencari kemerdekaan pikiran dan kehidupan dengan jalan yang layak.“
“Ah, cucuku, Saniah, jangan kau berkata begitu, biar nenek meninggal lebih dahulu dari pada cucuku, supaya engkau dapat meraba kepalaku tatkala dimandikan. Demikianlah harapan-ku padamu, Saniah! Dari ketiyil sampai besar aku sangat sayang kepadamu, Saniah!” Sampai di situ kedua orang itu pun menangis. Kemudian teringat oleh Sitti Saniah, apabila ia terus berdukacica jua, niscaya neneknya akan kena suatu penyakit kelak, sebab sedih. Jadi bukan dia sendiri saja yang kena bahaya itu. Oleh sebab itu, pikirnya, baiklah ia sabar saja.
“Jangan nenek menangis lagi!” katanya.
“Ah, Saniah, sekarang rasakan poctus pula rangkai hati nenek, bila nenek pikirkan keadaannmu. Kalau begini saja halmu, ta‘ terderitakan olehku, sebab itu baiklah nenek lebih dahulu mati dari padamu, ta’ guna aku hidup lagi, sudah cukup lamanya nenek hidup di dunia ini.”
“Sudahlah, nenek, ta‘ usah kita perkatakan jua perkara itu. Aku hendak berlaku sabar sedapat-dapatnya.” Keduanya menyeka air matanya, lalu diam.
“Sekarang begini, Saniah,” kata nenek itu pula kemudian, “hendaklah kau sabar saja, biarlah nenek cari ‘akal atau ’ilmu akan melembutkan hati orang tuamu, supaya mereka benci kepada T. B. Raman itu.”
Demi didengar Sitti Saniah perkataan neneknya itu, serasa hilanglah sudah segala dukacicanya, Meskipun dari dahulu ia ta‘ percaya akan ’ilmu itu. Akan tetapi ketika itu karena sudah gelap pikiran, ia pun percaya juga.
“Baik, nenek, kalau begitul!”
“Sekarang begini, Saniah, kau sabar saja, jangan susah-susah dahulu, biar nenek pulang satu atau dua hari ke Meurasa.
Nanti nenek cari seorang yang dapat menolong kita di sana, tetapi perkara itu wajiib kita rahsiakan benar-benar.“
“Dengan segala senang hati, nenek. Saya berani bersumpah ta‘ kan seorang juga mengetahui hal itu.”
Sejak hari itu Sitti Saniah sudah agak senang sedikit. Keesokan harinya pergilah neneknya ke Meurasa. Uang yang disimpan Saniah sedikit-sedikit, diberikannya belaka kepada neneknya itu akan ongkos apa-apa yang perlu. Orang tua itu pun memberi ingat kepada Sitti Saniah, supaya ia jangan memikirkan apa-apa dahelul, sebelum ia balik dari Meurasa kembali. Dengan bujukan demikian dan karena kasih sayang gadis itu kepada neneknya, hatinya yang luka itu pun hampir sembuh.
Sementara itu datanglah gadis-gadis kawan Saniah mendapatkan dia. Mereka itu amat bersukacita, demi dilihatnya muka Saniah ada bercahaya sedikit dari pada beberapa hari yang telah lalu.
Maksud mereka datang itu bukan saja hendak mengunjungi Sitti Saniah sakit, tapi hendak memberi tahu juga, bahwa mereka akan membuat ujian masuk ke Meisyes-Normaal-skhool di Padangpanjang. Kabar itu pun menambah girang hati Sitti Saniah juga, karena ia amat suka akan kemajuan. Kata-nya, sayang sekali ia ta‘ dapat menempuh ujian itu karena sakit, tapi ia berjangji besok pukul 5 petang hendak datang ke rumah kawannya di Gang Air Wangi, akan mendengar nasib kawan-kawannya, kalah atau menang dalam ujian itu.
Sesudah gadis itu makan bersama-sama dengan Sitti Saniah, sekaliannya pun keluar menuju rumah engku Suleman.
Keesokan harinya pukul 5 petang kelihatanlah sebuah kahar melalui Inl. Skhoolweg masuk ke Gang Air Wangi dan berhenti di hadapan sebuah rumah dekat langgar.
Siapakah yang turun dari kahar itu? Sitti Saniah, yang telah dua bulan lamanya tidak keluar-luar rumah.
Sekalian anak muda, yang melihat wajah Sitti Saniali waktu itu, tercengang belaka karena keelokannya, Meskipun tubuhnya sudah jauh lebih kurus dari dahelul.
Baru kahar itu berhenti di muka rumah itu, sekalian kawannya pun keluar menjemput dia, lalu dibawanya masuk ke dalam. Anak gadis itu diperkenalkannya dengan 3 orang gadis lain, yang datang dari Lho‘ Seumawe. Mereka datang ke situ, karena hendak menempuh ujian masuk Sekolah Normaal Padangpanjang juga.
Oleh karena mereka belum ada yang tertolak dari ujian (examen) itu, hatinya pun masih girang, sekaliannya mempercakapkan peri keadaan dalam examen itu. Sitti Saniah berbesar hati juga, seakan-akan ia sudah sembuh seperti sedekala.
Sesudah minum teh dan makan kue-kue, maka mereka itu pun bercakap-cakap dengan ketiga kawannya, yang datang dari Lho‘ Seumawe itu. Akhiirnya bertanyalah Sitti Saniah kepada mereka itu, ujarnya:
“Di mana saudara menumpang?”
Jawab ketiga gadis itu: “Kami menumpang di rumah raja, pasanggerahan Aceh (1)”.
“Adakah senang saudara tinggal di situ?” “Ah, sungguh susah kami tinggal di situ.” “Mengapa?” kata Sitti Saniah dengan heran. “Ah, rumah itu penuh laki-laki, jadi kami sangat malu keluar masuk. Apalagi tempat tidur di situ hanya 4 helai tikar saja. Kalau kami sudah masuk ke dalam, kami kunci saja pintu, keluar ta‘ berani, sebab segala kursi diduduki oleh orang laki-laki.” “Ah, kasihan! Akan tetapi sukakah saudara menumpang di rumah saya?” tanya Sitti Saniah. “O,............... dengan segala senang hati, kalau Sitti sudi menerima kami ini!” “Tentu saja sudi, datanglah ke rumah saya; di sana ada lapang tempat dan hati saya pun lapang pula menerima saudara sekalian.” “Baiklah, bila saja saudara bawa kami menurut!” “Malam ini jua berangkat bersama-sama dengan saya sendiri.” “Kami minta terima kasih akan kebaikan hati saudara di sini,” kata ketiga gadis itu.
Sesudah bercakap-cakap itu, Sitti Saniah minta izin pulang beserta dengan ketiga gadis itu.
(1) Rumah tempat tinggal Sultan Mahmud Daud dahelue, sekarang dijadikan pasanggerahan bagi kepala-kepala negeri Aceh.
Seketika itu jua mereka itu pun berangkat kepasanggerahan, akan mengambil barang-barangnya dan memberitahuekan kepada orang yang mengantar dan menjaga (pelayan) mereka itu.
Setelah sampai ke sana, mereka masuk ke dalam kamarnya, lalu bersiap hendak berangkat. Kemudian seorang dari gadis-gadis itu pergi ke belakang, sedang Sitti Saniah berdiri di balik pintu dalam kamar itu. Sebentar antaranya gadis itu pun balik kembali. Dengan sekonyong-konyong pintu dibukakan oleh seorang muda laki-laki, yang berdiri di muka pintu itu, serta katanya: “Hendak ke mana engkau sekalian, mau menonton?”
Akan tetapi tidak seorang jua yang menjawab pertanyanyaan itu, melainkan sekaliannya membuang muka ke tempat lain. Anak muda itu melangkah masuk kamar akan mengganggu anak gadis itu, tetapi ketika ia memalingkan mukanya ke sebelah kanan, tiba-tiba ia terkejut, mukanya pucat, seakan-akan ta‘ berdarah lagi, sebab dilihatnya Sitti Saniah ada berdiri di situ.
Siapakah anak muda itu?
Tidak lain dari pada T. B. Raman, yang datang ke situ akan mengganggu gadis-gadis itu.
Oleh karena ia amat pandai memainkan komidinya, dengan segera diputarnya saja bicaranya kepada keadaan lain, bertanya, bagaimana ujian mereka itu. Pertanyanya itu dijawab oleh gadis-gadis itu dengan pendek dan masam; katanya, ujiannya belum tentu lagi, sebab mereka harus diuji dua hari lagi.
“Nah, selamat, jangan kurang apa-apa! Saya harap, jangan pulang dengan tangan kosong ke Lho‘ Seumawe,” kata T. B. Raman, lalu keluear dengan merasa amat malu.
Karena bencinya ketiga gadis itu tidak menjawab lagi, melainkan bersungut-sungut saja. Ada yang berkata: “Kurang ajar, sudah dibuang kemari, ta‘ berubah jua kelakuannya yang amat buruk itu.”
Serta didengar oleh Saniah yang cerdik itu segala perkataan itu, ia pun berbuat pura-pura ta‘ kenal saja kepada T. B. Raman. “Sudahlah,” katanya, “marilah kita keluear, bawahal barang-barang itu ke dalam kahar.”
“Tunggu sebentar, biar hantu itu pergi dahulu.” Setelah dilihatnya T. B. Raman ta‘ ada di situ lagi, barulah mereka keluear akan memasockkan barang-barangnya ke dalam kahar yang menanti di halaman. Sebenarnya T. B. Raman sudah keluear dari rumah itu, karena ia amat malu akan kelakuannya yang telan-jur itu.
Kemudian mereka itu pun berangkat ke rumah Sitti Saniah. Di tengah jalan mereka bertemu pula dengan T. B. Raman, yang berkereta angin, tetapi segala gadis itu membuang muka belaka. Setelah jauh, maka kata seorang gadis itu: “Ah, berjumpa pula kita dengan manusia yang ta‘ sopan itu.”
“Mengapa marah saja kepada orang?” kata Sitti Saniah.
“Bagaimana kami ta‘ kan marah, ia berani saja masuk ke dalam bilik kami dengan tidak bertanya dan minta izin dahaelu.”
“Ya, barangkali saudara bersahabat dengan dia, apa salah!” kata Sitti Saniah memancing keterangan yang perlu baginya.
“Mana boleh gadis bersahabat dengan laki-laki!”
“Oo, barangkali karena sekampung, kan baik juga ia bertanya sedikit,” kata Sitti Saniah pula dengan senyumnya.
“Biarpun sekampung, kan ta‘ patut sekali ia berbuat begitu! Perbuatannya itu ’aib betul. Apalagi kami merasa malu kepada saudara, seakan-akan kami berkenalan dengan laki-laki yang ta‘ menaruh tertib sopan.”
“Sudahlah, nanti di rumah kita sambung percakapkan kita. Sekarang kita sudah sampai,” kata Sitti Saniah.
Mereka itu turun dari atas kahar, lalu berjalan kaki masuk rumah Sitti Saniah, sedang barang-barangnya disuruhnya angkat oleh kuli. Ketiga gadis itu diperkenalkan oleh Saniah dengan orang tua dan kakaknya, yang menerima mereka dengan air muka yang manis.
Dengan segera ketiga gadis serta barang-barangnya itu dibawa oleh Saniah ke dalam sebuah kamar besar, yang biasa disediakan-nya untuk jamu. Mereka itu disilakannya bersalin pakaian dan mandi. Kemudian mereka itu pun duduk bercakap-cakap di-serambi muka, dengan riang dan suka, menanti-nantikan waktu makan malam.
Pukul delapan mereka itu makan bersama-sama dengan orang tua Sitti Saniah.
Setelah selesai dari pada makan itu, ketiga gadis itu pun dibawa oleh Sitti Saniah duduk ke dalam kebun di halaman rumahnya, yang disinari oleh cahaya bulan yang terang benderang.
Di situ mereka bercakap-cakap pula. Adapun Sitti Saniah sejak dari tadi berniat hendak mengetahui segala rahsia T. B. Raman, akan tetapi belum sempat lagi. Sekarang, ketika mereka tinggal berempat saja, dimulainyalah bertanya demikian:
“Siapa laki-laki yang tadi itu? Sebetulnya saya pun merasa ku-rang senang akan kelakuannya yang ta‘ senonoh itu.”
“Ah, ceriteranya terlalu panjang,” kata seorang di antara ketiga gadis itu.
“Ceriterakanlah, panas betul hati saya tadi. Pendeknya, kalau saya dibuatnya begitu, barangkali saya cuci maki dia,” kata Sitti Saniah memasukkan api ke dalam hati gadis itu.
“Sebetulnya dia orang kampung kami, T. B. Raman namanya, anak uleebalang di situ.”
“Anak uleebalang?” kata Sitti Saniah.
“Ya,” kata gadis itu.
“Mengapa dia kemari?”
“Ia dihukum oleh assistent-resident, karena ia mengacau kampung saja di situ. Ia berbini seperti ayam, sebentar-sebentar berganti, dan anaknya sudah segerobak banyaknya.”
“Sebentar-sebentar berganti bagaimana?”
“Ya, mana yang disukainya, dikawininya saja; kalau ia sudah jemu, diceraikannya. Ada beberapa kawan saya yang dimintanya akan jadi isterinya, tetapi orang tua mereka itu tidak sudi me-nerima dia jadi menantunya.”
“Mana boleh orang ta‘ mau, karena ia anak uleebalang; nanti kalau ia sudah jadi uleebalang...........” kata Sitti Saniah.
“Mana boleh ia jadi uleebalang!”
“Mengapa?” tanya Sitti Saniah dengan heran.
“Saudaranya yang baik-baik ada tiga orang lagi!”
“Ya, kalau saudaranya nanti meninggal?”
“Masakan sekali mati ketiga-tiganya; kalau mati pun, orang negeri ta‘ suka kepadanya. Itulah sebabnya dia dibuang kemari. Orang banyak mengadukan dia.”
Baharu hingga itu bicara mereka itu, kakak Sitti Saniah tu-run dari atas rumah hendak datang ke situ.
“Jangan kita bicarakan juga perkara itu, saudara ‘Alimah sudah datang kemari!” kata salah seorang gadis itu kepada Saniah. “Sudahlah, biarlah kita saja mengetahui hal itu. Tam- bahan pula ta‘ baik kita gadis-gadis membicarakan hal orang laki-laki yang semacam itu.“
Sesungguhnya ‘Alimah datang, lalu duduk di situ dan bertanya ini itu kepada jamunya itu. Tidak lama antaranya datang pulalah ibu anak gadis itu.
Sampai pukul 9 malam mereka itu duduk bercakap-cakap di situ, tetapi Sitti Saniah tidak girang benar lagi sesudah mendengar ceritera ketiga gadis itu, karena hatinya sebagai hancur rasanya memikirkan rahasia T. B. Raman yang jahat itu; orang, yang diuntukkan oleh ibu bapanya akan jadi suaminya, jadi junjungannya............
Kemudian sekalian perempuan itu pun naik ke rumah hendak tidur. Sitti Saniah sampai pukul 3 malam tidak juga tidur, pikirannya berkacau-bilau, ta‘ tetap sekali-kali, sebab teringat akan nasibnyia yang malang.
XVI. SITTI SANIAH SAKIT
Semenjak anak gadis itu mengetahui segala rahsia dan kelakuan T. B. Raman yang ta‘ senonoh itu, bencinya kepada orang muda itu ta’ terperikan lagi, sehingga setiap hari makannya ta‘ kenyang dan tidurnya ta’ nyenyak. Bagaimana nasibnyia kelak, jika ia telah jadi isteri T. B. Raman, yang ta‘ menaruh belas kasihan kepada bangsa perempuan itu?
Akan tetapi selama jamunya masih ada di rumahnya, masygul hatinya itu tidak ditampakkannya sekali-kali, melainkan ia selalu berlaku dengan sabar, manis dan riang.
Dalam pada itu ia selalu berharap, supaya neneknyia lekas pulang dari Meurasa. Ia bermaksud hendak menunjukkan kepada orang tua itu sekalian keterangan gadis-gadis itu tentang diri T. B. Raman. Akan tetapi neneknyia tidak datang jua, sebab orang yang dicarinya belum berjumpa lagi.
Empat malam gadis-gadis itu tinggal di rumah Sitti Saniah, hampir setiap malam mereka duduk bercakap-cakap dengan riang di dalam terang bulan di kebun pekarangan rumah itu. Kebanyakan buah tutur mereka itu tentang perkara ujian, tentang kemajuan dan pengajaran kaum perempuan di tanah Aceh dan tentang maksud dan cita-cita mereka kemudian hari.
Rupanya Sitti Saniah suka dan gemar sekali memperkatakan kemajuan kaum perempuan itu, tapi kerap kali perka-taannya putus-putus dan tertahan-tahan, sebagai bersedin hati, sehingga kawan-kawannya terpaksa bertanya apatah konon sebal-nya ia berhal sedemikian itu. Pertanyaan itu dijawab oleh Saniah dengan pendek, bahwa hatinya sangat sedih dan iba, karena ta‘ dapat menempuh ujian itu. Akan tetapi sesungguhnya ia teringat akan percakapannya dengan Nya’ Amat di meja makan engku Suleman, dan di tempat lain juga. Jika mereka itu bertukar-tukar pikiran berdua saja, bukantah kerap kali mereka memperkatakan nasib kaum perempuan di tanah Aceh, lebih-lebih nasib anak gadis-gadis, bagaimana mereka harus memerangi ‘adat-’adat kuno, supaya dapat hidup dengan sempurna di dalam zaman sekarang ini? Akan tetapi sekarang, jangankan sampai cita-citanya itu, dirinya sendiri pun sudah kena malapetaka ‘adat kuno yang mengalang-alangi kemajuan itu. Ia mesti kawin dengan seorang laki-laki yang tidak disukainya sekali-kali, ia dipaksa kawin dengan T. B. Raman, yang akan menghilangkan segala cita-citanya. Pendenkyia ia dipaksa oleh orang tuanya, mesti hidup makan hati berulam jantung di atas dunia ini. Atau dipaksa, supaya mati lekas................
Itulah yang sangat menyayukan pikirannya.
Adapun ketiga gadis itu baik untungnyia, mereka itu lulus dalam ocjian. Akan menyatakan kegirangan hatinya, diajaknyalah Sitti Saniah berkendaraan sekeling kota, ke tempat mandi di Mataie, Uleelheue dan ke tepi laut Lho‘ Nga.
Meskipun Sitti Saniah dalam dukacita, tapi karena sendagurau kawan-kawannya itu, hatinya riang jua rupanya. Cahaya mukanya timbul kembali, berseri-seri, sebagai paras ketiga kawannya itu, sehingga keempat gadis itu ta‘ ubah sebagai “bunga empat setangkai” atau “bunga kembang setaman”; ragu hati anak muda laki-laki yang bertemu dengan mereka akan menentukan, mana yang elok di antara keempatnya. Sehari-harian itu mereka jadi buah tutur kepada orang muda-muda di Kutaraja. Bukan saja tentang perkara kecantikannya, tapi tentang pu-tusnya pertunangan Sitti Saniah dengan Nya’ Amat juga.
Keempat gadis itu singgah ke rumah kawan-kawannya akan memberi selamat tinggal, sebab keesokan harinya ketiga gadis itu akan berangkat pulang ke Lho‘ Seumawe.
Ketika Saniah sampai di rumahnya pula, dilihatnya neneknya sudah datang dari Meurasa. Tentu saja orang tua itu sangat bersenang hati melihat cucunya sudah sehat pula rupanya. Sesudah mereka mandi dan makan, siang telah berganti dengan malam, keempat gadis itu pun pergi pula duduk ke dalam kebun di halaman rumah, sedang hawa amat sedap rasanya dan bulan terang benderang cahayanya. Oleh Saniah diajakniolah neneknya duduk bersama-sama dengan gadis-gadis itu, maksudnya, supaya didengarnya keterangan mereka itu tentang kelakuan T. B. Raman. Akan tetapi belum lagi Sitti Saniah membuka bicara tentang perkara itu, ibu dan kakaknya telah datang ke situ............
Bukan buatan panas hati Saniah, terbakar rasanya, sebab maksudnya ta‘ sampai, yaitu akan menyuruh kawan-kawannya menceriterakan kepada neneknya segala kebusukan T. B. Raman itu.
Keesokan harinya ketiga gadis itu berangkat kestation diantarkan oleh Sitti Saniah dan ‘Alimah.
Setelah kereta berangkat ke Lho‘ Seumawe, kedua saudara itu pun balik ke rumahnya kembali dengan sedih hatinya, sebab bercerai dengan sahabatnya yang ramah itu.
Sitti Saniah segera masuk ke kamarnya, lalu bertemu dengan neneknya.
“Apa kabar, nenek?” tanyanya dengan tiba-tiba setelah dikun-cinya pintu, “adakah dapat yang nenek cari?”
“Dapat; akan tetapi susah sekali mencarinya, sehingga saya terlambat pulang kemari.”
“Syukur, nenek, akan tetapi saya sangat menyesal nenek terlambat pulang.”
“Mengapa?”
“Saya ingin sekali, supaya nenek mendengar segala keterangan dari mulut anak gadis yang baru berangkat itu sendiri.”
“Keterangan apa?”
“Segala keterangan tentang keadaan T. B. Raman!”
“Jadi kau sudah mendapat keterangan, bahwa ia seorang yang baik?”
“Seorang yang baik? O, nenek jangan salah duga, kebalikannya yang saya peroleh. Sesungguhnya ia seorang bangsawan, akan tetapi bangsawannya itu sudah tertutup oleh selapis noda.“ ”Bagaimana maksudmu?“ ”Karena kelakuannya amat buruk, ta‘ dipandang orang bangsawannya lagi. Ia datang kemari bukan seperti katanya sendiri akan belajar, melainkan akan menjalankan hukuman, sebab ia selalu mengacau kampung............“
“Ya, orang muda sudah biasa jua berlaku demikian, akan tetapi belum boleh dikatakan kelakuannya itu......... Kebanyakan anak raja yang muda-muda begitu perangainya, tapi jika ia sudah beristeri, perangainya yang buruk itu berubah jua kepada yang baik.” “Apa kata nenek? Dia sudah beristeri delapan orang, dua yang dikawinkan orang tuanya dan enam yang dicarinya sendiri.” “Dari mana kau dapat keterangan?” Dengan segera Sitti Saniah mengabarkan segala keterangan yang didapatnya dari pada ketiga gadis jamunya itu. Serta didengar neneknya segala keterangan itu, ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebentar itu juga berlinang-linanglah air mata keduanya. “O, nenek, bahwa sanya saya sudah jatuh ke dalam tangan seorang laki-laki yang ganas.......... dan saya tidak cinta sekali-kali kepadanya. Akan tetapi ayah dan ibu memaksa saya kawin dengan makhluk yang lalim itu.” “Wahai, Saniah, jangan kau bersedih hati demikian itu, sa-barlah dahaelu, barangkali obat yang saya bawa ini akan dapat memberi pertolongan.” “Obat apa nenek bawa?” “Ini ada dua macam, yang semacam disuruh taruh dalam makanan ayah dan ibumu dan yang semacam lagi harus ditanamkan dalam tanah di bawah tempat tidur mereka itu.” “Dari mana nenek dapat obat ini?” “Dari teungku Dulah!” “Ah, nenek, pengharapanku amat tipis akan obat itu.” “Mengapa kau berkata begitu? Sekalian orang sudah kenal teungku Doclah. Ia sudah banyak menolong orang yang seperti engkau ini; sebab itu sabar sajalah, kita tunggu 3 kali Rabu, hingga orang tuamu berpaling haluan kelak. Tambahan pula nenek hendak mengabarkan kepadanya segala rahsia T. B. Raman yang kaudapat itu. Ah, sayang sekali, mengapa kau ta‘ mau merangankan segala keterangan itu kepada ibumu sendiri?“
“Ya, nenek, saya suka mengabarkan sekalian hal itu kepadanya, tetapi dilarang oleh gadis-gadis itu, karena mereka sangat malu. Tidak baik anak-anak gadis memperbincangkan hal ihwal orang laki-laki, bukan? Tambahan pula mereka kuatir, kalau-kalau percakapan itu diketahui oleh T. B. Raman kelak dan barangkali berbahaya bagi diri mereka itu.”
“Ah, Saniah, baiklah kita sabar saja dahaelu. Kita lihat, bagaimana makannya obat itu.”
“Baiklah, nenek. Akan tetapi jika nenek hendak mengetahui hati saya sekarang ini, rasanya saya suka menggantung diri dari pada kawin dengan laki-laki yang lalim itu. Aku tidak suka jadi bini yang kesembilan dari laki-laki, yang telah beranak segerobak buruk itu.”
“Itu betul, Saniah, tetapi sabarlah, jangan lekas gelap pikiran.”
Sedang kedua orang itu bertangis-tangisan, ibu Sitti Saniah masuk; maka katanya dengan berang: “Kalau ibu sudah ada di sini, Saniah sudah menangis-nangis saja. Pada hal sepeninggal ibu dia sangat riang. Rupanya ibulah yang memanjakan Saniah, sehingga ia berani membantah kemaocean kami yang baik. Itulah, kalau orang sudah tua, perangainya sudah sebagai perangai kanak-kanak yang baru lahir ke dunia, ta‘ tahu menimbang baik dan buruk sesuatu perkara.”
“Jangan kau marah kepada saya; kalau kau ta‘ senang, biarlah saya pulang ke Meurasa. Kau sendiri yang ta’ tahu menimbang buruk dan baik nasib anakmu kemudian hari,” kata nenek Sitti Saniah dengan berang pula.
“Ya, ibu lebih tahu, karena ibu banyak berkenalan dengan orang baik-baik di sini, kami ini mata kayu sekaliannya!”
“Ya, sebenarnya kamu mata kayu sekaliannya, tidak tahu, yang akan jadi menantumu itu orang jahat.”
“Di mana ibu tahu anak orang jahat?”
“Dengarlah saya ceriterakanl!”
“Cobalah!”
Sekalian keterangan gadis itu diterangkan oleh orang tua itu, ya’ni sebagaimana didengarnya dari pada Saniah sendiri.
“Ah, mana boleh begitu,” kata ibu Saniah dengan ejenya, demi didengarnya keterangan nenek itu. ”Saya sendiri kerap kali bercakap-cakap dengan gadis-gadis itu, ta’ pernah mereka me-nyebut-nyebut perkara itu. Sekalian itu tidak lain hanya karangan Saniah yang sudah kena santau Nya’ Amat saja.”
“Sudahlah, kalau saya ta’ dapat berkata apa-apa, perbuatlah sebagaimana suka hatimu saja,” kata orang tua itu serta menangis dengan sedih. Setelah ibu Sitti Saniah keluear, ia pun bangkit berdiri hendak berangkat pulang ke Meurasa, tetapi kakinya dipegang dan dipeluk oleh Sitti Saniah, serta bermohon, supaya nenenkya tinggal di situ juga. ”Kalau nenek pulang.” katanya, “nanti saya menggantung diri.” Karena perkataan cut-cunya demikian itu, hatinya jadi lembut pula, lalu ia tinggal juga di situ dengan dukacita. Tengah malam Sitti Saniah dan nenenkya turun ke bawah, akan menanam ramuan yang dibawaya dari Meurasa itu.
Demikian berturut-turut, segala syarat yang ditunjukkan T. Dulah itu, dilakukannya dengan sempurna.
Sementara itu ibu Saniah selalu mencomel dan bersungut-sungut saja. Karena itu kedua mereka itu pun makin bertambah-tambah makan hati juga. Yang lebih menyedihkan hatinya, ibunya sudah mengadukan sekalian hal mereka itu kepada ayah Saniah. Katanya: “Saniah sudah diberi hati oleh ibu, sehingga ia berani membantah segala kehendak kita itu. Pada hal kalau ibu ta’ ada di sini, Saniah senang-senang saja. Ingatlah wakte ibu pulang ke Meurasa, ia pergi ke mana-mana dengan kawan-kawannya. Sekarang selama ibu pulang, tiap-tiap hari ia tinggal dalam bilik dan menangis saja.”
Bukannya hal itu dikatakan oleh ibu Saniah di rumah saja, tapi kepada barang siapa yang berjumpa dengan dia pun, diceriterakannya belaka. Oleh sebab itu cucu dan nenek itu adalah seperti tinggal dalam naraka rasanya. Beberapa kali nenek itu hendak lari, tapi ditahan oleh Sitti Saniah dengan keras. Karena ia sangat sayang kepada cucunya, tinggal jugalah ia di situ dengan kesal dan sedih. Tiap-tiap hari makan ta’ sedap, tidur ta’ senang, sehingga orang tua itu jatuh sakit.
“Saniah!“ katanya pada suatu hari, ketika badannya telah berasa amat lemah, ”tetap jugakah engkau menampik kehendak orang tuamu? Apa salahnya kau turut kehendak mereka itu, supaya kita jangan bersusah hati seperti ini? Lupakanlah Nya’ Amat itu!“
“Ma’af, nenek! Saya katakan dengan sungguh kepada nenek, saya tidak dapat sekali-kali melupakan Nya’ Amat,.................”
“Ya, Saniah, bukan engkau yang mungkir akan janji itu, melainkan orang tuamu, sebab itu Nya’ Amat ta’ kan menyalah-kan engkau.”
“Sungguhpun begitu saya ta’ cakap akan berbuat demikian. Apalagi saya akan dipaksa kawin dengan laki-laki yang rendah budinya dari pada Nya’ Amat. Tidak, nenek, sekali-kali saya ta’ suka menurut kehendak ayah dan ibu. Lebih baik saya mati, dari pada hidup jadi permainan seorang laki-laki yang buas. Kalau saya tidak ingat akan nenek, sudah lama saya menggant-tung diri. Dari pada hidup becermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah; demikian kemauanku.”
“Ah, Saniah, sudah nasib kita akan menangung susah begini. Se’umur nenek, belum pernah nenek merasa susah semacam ini.” Kedua orang itu pun menangis pula. Makin lama nenek itu makin bertambah sakitnya dan Sitti Saniah pun sudah kurus sangat. Ta’ ubah seperti kata pepatah: “Angan-angan mengikat tubuh,” ya’ni karena ia selalu makan hati berulam jantung, tubuhnya telah jadi rusak benar-benar. Istimewa pula parasnya yang elok dan manis dahelu itu seakan-akan sudah menghindar dari badannya, bertukar sebagai siang dengan malam atau sebagai bunga ditimpa panas.
Pada suatu hari ‘Alimah menyapu di bawah rumah. Maka terdapatlah olehnya benda (ramuan) yang ditanam Sitti Saniah dan neneknya, berserak-serak kian kemari, rupanya karena digali anjing dan dikais ayam. Semua benda itu diperlihatkannya kepada ibu dan ayahnya.
Ramuan itu pun mendatangkan sangka yang bukan-bukan pula kepada ibu Saniah. Katanya, perbuatan itu ialah perbu-atan Nya’ Amat semata-mata. Dengan segera ibu dan ayah Saniah pergi ke rumah Udo Syam (dukun) akan melihat hal itu dalam tenungnya.
Kata dukun, sungguh ramuan itu perbuatan Nya‘ Amat! Oleh karena itu hati ibu Saniah bertambah benci jua kepada orang muda yang malang dan ta’ bersalah itu. Serta kabar itu didengar Saniah, hatinya pun bertambah-tambah sakit dan sedih, sehingga putuslah harapnya. Istimewa pula, sudah dua puluh lima hari lamanya ramuan itu ditanam, tapi jangangkan mujarraab, malah menambah sengsara badan, hati dan jantungnyia jua. Akhiirnya ia pun sakit.
Tentu saja hal Saniah demikian itu menjadikan penyakit neneknya bertambah keras jua, sehingga sebutir nasi pun ta‘ lalu dikerongkongannya lagi. Tujuh hari lamanya ia berhal sedemikian dan pada hari yang kedelapan, kira-kira pukul tiga malam Jum'at orang tua yang baik hati pun mengembuskan nyawanya yang penghabisan. Ia berpulang kerahmatu'llah dengan senang.
Sitti Saniah bagaimana halnya? Demi dilihatnya neneknya meninggal itu, ia pun jatuh pingsan, karena sangat sedih hatinya. Akan tetapi kemudian ia siuman pula, lalu teringat olehnya pesan neneknya yang dikasihinya itu, ya'ni jika ia mati, hendaklah dirabanya kepalanya ketika dimandikan. Dengan sekuasa-kuasanya disampaikannyalah pesan orang tua itu, Meskipun badannya amat letih dan lesu, sebab ia sakit pula.
Setelah itu,.......... heran..........! maka badannya pun adalah berasa segar sedikit rasanya.
XVII. KEPANDAIAN DUKUN
Sesudah sembahyang Jum'at, maka mayat orang tua itu pun diangkat dan dibawa orang ke Deahbaro, akan dikubuerkan di situ.
Ketika jenazah itu dibawa turun dari atas rumah, sekalian keluarga Saniah menangis dan meratap belaka. Anak gadis itu pun menangis jua, tetapi tidak kedengaran suaranya. Hanya air matanya saja yang jatuh berderai-derai, sebagai manik putus talinya. Pikirnya dalam hatinya:
“Berjalanlah nenek dahelulu, nanti kuturuti di belakang. Aku pun ta‘ guna hidup lagi, karena ta’ ada lagi orang yang kasih akan diriku.”
Dengan demikian ingatannya pun jadi gelap pula, sebagai ta‘ ada lagi dunia ini baginya. Ia rebah di atas tempat tidurnya, beberapa jam lamanya tiada bangun-bangun.
Kemudian dapat julah dikuatkannya tubuhnya, dilawannya penyakit dan kesedihannya, sehingga akhirnya dapatlah ia berlaku sebagai orang ta‘ kurang suatu apa jupunun.
Orang tuanya senanglah hatinya. Akan tetapi ia berbuat demikian, hanya akan menipu kaum ke-luarganya saja. Niat hatinya tetap sudah: hendak membunuh diri.
Pada suatu pagi hari ia turun ke halaman, lalu masuk ke-dalam kebun. Maka kelihatan olehnya sebatang pokok kayu, yang dililit oleh gagang sirih. Di situ ada tersandar sebuah tangga.
“Tempat itu bagus sekali akan jadi tonggak gantunganku,” pikirnya dalam hatinya. “Nanti malam aku cari seutas tali, ku-ikatkan sebuah ujungny di situ, sedang ujung yang lain kujeratkan kebatang leherku. Setelah itu aku melompat ke-bawah............ Wahai, nenekku, aku pun mesti masuk ku-bur pula, sebab ta‘ guna aku hidup, jika hanya akan jadi permainan seorang laki-laki yang ta’ kucintai sekali-kali. Lebih baik aku gantung diriku di sini kelak, habis perkara.........”
Tengah berpikir-pikir demikian, dinaikinyalalah tangga yang tersandar pada pokok sirih itu. Sementara itu datanglah bibi'nya dari belakang, dan berkata kepadanya:
“Hai, Saniah, mengapa engkau panjat sirih itu?” “Saya lihat daunnya sudah kuning belaka, bibi‘,” jawab anak gadis itu dengan cerdk, “kalau saya tidak sakit, biasanya daun sirih itu sudah kupetik jua.” “Ta’ usah, Saniah, biarlah ayahmu saja memetik sirih itu kelak. Turunlah engkau, dan marilah naik ke rumah. Bukantah badanmu masih lemah?”
Dengan sayu Saniah turun dari pohon itu, lalu naik ke atas rumah pula beserta dengan bibi'nya.
Sesudah sembahyang magrib datanglah orang kampung ke rumah ibu Saniah akan mengaji, untuk keselamatan arwah nenek yang berpulang itu dalam kubur. Biasanya mengaji itu dilakukan orang tujuh hari berturut-turut: pagi, petang dan malam.
Sementara orang perempocan memasak didapuer, Sitti Saniah turun dari atas rumahnya, ke bawah rumah, lalu dicarinya seutas tali sabut dan dibawanya ke dalam kebun. Sebuah ujung tali itu diikatkannya erat-erat didahan pohon sirih itu, dan ujung lain dijadikannya jerat yang tergantung ke bawah. Setelah jerat itu disentaknya beberapa kali akan mengetahui kuat tidaknya, lalu dicobakannyalah pada batang lehernya.
Sebelum ia melompat ke bawah, tiba-tiba terpikir olehnya, sudah patutkah ia mati begitu saja?
“Belum patut,” kata hatinya dengan segera dan tetap, “ada suatu perkara yang penting harus kauselesaikan dahulu, sebelum nyawamu bercerai dengan badanmu............”
“Ya,” katanya dengan perlahan-lahan, sambil membuka jerat itu dari lehernya, “benar, aku harus menulis surat riwayat, yang boleh jadi peringatan bagi bangsaku kelak. Tambahan pula aku harus minta ma'af dan am pun kepada jantung hatiku Nya‘ Amat.” Dengan pikiran demikian ia pun segera turun tangga itu, lalu masuk ke dalam kamarnya dengan sembunyi-sembunyi.
Maka dimulainyalah membuat surat, sebagaimana cita-citanya tahadi itu.
Akan tetapi baharu menulis sepatah dua patah perkataan, tiba-tiba masuklah bibi'nya ke dalam bilik itu, serta berkata dengan lemah lembut:
“Ya, anakku Saniah, mengapa engkau duduk seorang diri saja? Marilah kita membaca selawat di tempat ibu meninggal.”
Demi didengar anak gadis itu perkataan bibi'nya demikian, ia pun menoleh ke belakang. Maka katanya dengan senyumnya, sambil menyembunyikan kertas yang sudah ditulisnya tadi itu di bawah kertas lain: “Ya, bibi‘, badanku kurang senang rasanya, kepalaku pusing.”
“Ta‘ usah kau berbuat apa-apa di situ, melainkan duduk atau tidur akan meramaikan kami saja. Orang laki-laki teng:h ’asyik mengaji, kita perempuan harus membaca selawat lan mendo'a untuk ibu. Apa lagi kerja kita sekarang, memasak pun sudah selesai; jadi kita wajib berbuat kebajikan kepada ibu, nenekmu. Itulah gunanya ibu menyuruh kita mengaji, supaya boleh mendo'akan dia dalam waktu begini; mudah-mu- dahan berkat selawat kita, Allah memberi rahmat kepadanya di-dalam kubur.“
Anak gadis itu berpikir sejurus. “Betul juga perkataan bibi‘ ini, baiklah aku pergi membaca selawat dahelul. Sekarang orang sedang sibuk mengaji, sehingga pikiranku terganggu akan menuliskan sekalian cita-citaku. Nanti, jika orang sudah pulang dan keluargaku telah tidur nyenyak belaka, barulah ku-mulai menulis pula dan sudah itu............ ketonggak gantungan.”
Setelah itu ia pun berbangkit dari kursinya, lalu berjalan menurutkan bibi'nya ke tempat perempuan tua dan muda, yang telah berkumpul dan siap akan membaca selawat, dikepalai dan diaturkan oleh seorang haji perempuan jua.
Mula-mula dibaca orang hikayat keturunan nabi Moham-mad s.a.w. sampai kepada mi'radnya ke langit, kemudian dibaca pula selawat tentang hari kiamat. Banyak orang yang insaf akan dirinya mendengar selawat itu dan banyak pula yang menangis karena takut dan sedih.
Sitti Saniah yang bijaksana itu pun insaf pula akan dirinya, karena banyak benar yang jadi kias dan ‘ibarat kepadanya.
Ketika sampai pembacaan itu kepada hikayat naraka jahanam, tempat segala kapir, badannya pun gemetar, sebab merasa tubuh-nya seolah-olah sudah ada di tempat itu. Sedang sekalian orang ‘asyik mendengarkan selawat itu, terpikirlah olehnya nasib dirinya sendiri. Akan diteruskannya jugakah maksud hatinya naik tiang gantungan yang telah disediakannya itu atau perlu jugakah ia tinggal hidup? Air matanya jatuh berlinang-linang, bukan saja karena takut akan hari kiamat, tetapi karena sedih ju-ga akan hidupnyia yang sial itu. Kerap kali ia mendengar petua gurunya, waktu mengaji kitab, barang siapa yang membunuh diri sendiri, mati kapir, ta’ kan beroleh syafa'at pada hari kiamat dan tidak pula akan mendapat tempat dalam surga. Selagi orang Islam hidup di dunia, wajib ia ta'at supaya mendapat surga di akhirat kelak. Berkat selawat itu, akhirnya gadis itu pun te-nang pula. Ia mulai takut akan Allah kembali. “Ah,” pikirnya, “kalau begitu ta‘ usah aku mati sesat, mati kapir, melainkan biar-lah aku mati karena percintaan.” Jadi ia telah merasa, kalau ia masih menanggung percintaan, mesti mati juga; tidak lekas, la- ma, tetapi ia berharap, supaya mati sebelum tubuhnya jadi kurban T. B. Raman.
“O, kakanda! kekasikhu! jantung hatiku Nya‘ Amat, bagaimana aku akan dapat memutuskan cintaku kepadamu!! Ya, nenekku! kuharap Allah akan mencabut nyawaku juga kelak, supaya kita bersama-sama meninggalkan dunia yang penuh kekejaman inil!”
Demikian pikiran Sitti Saniah dalam tempat yang ramai itu. Kemudian ditetapkannyalah hatinya hendak hidup beberapa lama lagi, ta‘ usah menggantung diri. Ketika orang sudah berhenti membaca selawat dan hari sudah jauh malam, ia pun turun dan pergi kekebun sirih akan mengambil tali gantungan itu, supaya perbuatannya jangan diketahui oleh orang tuanya.
Pada malam yang ketojuh orang kenduri besar, seuneujoh kata orang Aceh. Setelah itu, baharulah lengang rumah Sitti Saniah. Setiap hari cuma satu orang saja lagi yang datang mengaji, sampai 44 hari lamanya. Keluarga Sitti Saniah yang jauh-jauh sudah pulang, dan mereka akan datang pula nanti ketika ada kenduri lagi, yaitu pada hari 10, 20, 30, 40 dan 44 nenek Saniah meninggal itu.
Meskipun badannya sangat lemah, Sitti Saniah bekerja juga untuk keperluan kenduri itu.
Akan tetapi tubuhnya makin lama makin lemah jua. Banyak orang yang menuruh orang tuanya membawa dia kepada du-kun, karena sangka orang dia sudah kena guna-guna Nya‘ Amat, dan ada pula yang menuruh bawa kepada dokter, kalau-kalau ia termakan sesuatu ramuan racun. Persangkaan orang banyak itu sangat dipercayai oleh ibu Sitti Saniah. Pada suatu hari diajaknyalah Saniah ke rumah dokter, tetapi ia tidak mau, biar dia mati katanya. Oleh sebab itu dipanggillah dokter datang ke rumahnya.
Bermula tubuh gadis itu diperiksa oleh dokter dengan sak-sama; didengarkannya bunyi napasnya dan diketuk-ketukny dada-nya, sambil bertanya apa-apa yang perlu dan berpaedah bagi pemeriksaan itu. Akan tetapi penyakit Saniah tidak didapati oleh dokter itu. Sebab itu Sitti Saniah disuruhnya bawa ke rumah sakit, katanya, di situ ada perkakas yang cukup untuk memeriksa segala penyakit. Dengan paksa gadis itu pun dibawa dengan auto ke rumah sakit di muka station, beserta dengan ayah dan kakaknya. Setelah diperiksa darah dan kotorannya, Sitti Saniah disuruh ke-luar dan ayahnya dipanggil masuk ke dalam oleh dokter.
Adapun dokter itu kurang faham bahasa Melayu; maka katanya kepada ayah Sitti Saniah: “Kita sudah periksa badan dan darah teuku punya anak, badannya tidak kurang apa-apa, tetapi kita rasa, dia ada sakit lain. Apa anak teuku sudah kasih kawin?”
“Sudah dua kali bertunangan, tuan, tetapi belum kawin. Tunangannya yang pertama saya tolak, sebab saya tidak suka ke-padanya.”
“Ya, barangkali itu seabnya dia sakit, sama kita tidak dapat pertolongan, tetapi teuku sendiri bisa tolong, asal kasih apa yang dia suka atau senang, kemauannya mesti turut.”
Perkataan dokter itu tidak terang kepada ayah Sitti Saniah. Ia tidak mengerti maksud perkataan dia ada sakit lain dan asal kasih apa yang dia suka atau senang, itu. Sangkanya “sakit lain” itu penyakit “teukeunong”, kena ‘ilmu orang, jadi dokter ta’ dapat menolong, kecuali dukun. Dan perkataan “asal kasih apa yang dia suka atau senang” itu, sangkanya “apa yang disu-kainya akan dimakan atau dipakai, hendaklah diberikan supaya senang hatinya.”
Pada hal maksud dokter itu lain sekali. Ia sudah mendapat keterangan yang jelas dari pada Saniah, bahwa gadis itu tidak sakit sekali-kali, melainkan dengan penyakit lain itu maksudnya “penyakit cinta”, dan ia bermohon sangat, supaya kehendaknya diperlakukan,—dikawinkan dengan kekasihnya agar supaya senang hatinya,......... dan sembuh.
Sesudah habis pembicaraan dengan dokter itu, mereka itu berangkat pulang dan di rumah diceriterakan oleh ayah Saniah kepada isterinya, bahwa Saniah sudah kena perbugatan, orang: memegang dahi gadis itu. Sitti Saniah menolakkan tangan du-kun itu, serta berkata:
“Ta‘ usah saya diobati, biar saya mati, sedangkan dokter yang sudah tinggi sekolahnya tidak dapat mengobati saya; jangan sa-ya diperdayakan. Ayuh, keluear, kalau tidak, saya keluear dari ru-mah ini..”
Sebentar itu juga Udo Syam keluear diiringkan oleh ayah Saniah. Sesampainya diluear kamar Sitti Saniah, maka kata du-kun itu: “Kita mesti duduk bicara di tempat lain, jangan di-dengar oleh Sitti Saniah.”
“Baik kita duduk diserambi muka,” kata ayah Sitti Saniah.
“Tidak dapat,” kata Udo Syam, “di situ terdengar juga oleh-nya percakapan kita kelak. Sitti Saniah sudah kena, sudah seper-ti orang gila; kalau kita bicara dan menyebut-nyebut nama orang itu, nanti bertambah keras sakitnya, sebab ia sudah termakan betul-betul.”
“Kalau begitu, baiklah saya panggil ibunya sebentar dan kita bermupakat di mana yang baik.”
Sebentar itu juga ibu Saniah keluear dan turun ke bawah. Maka Udo Syam itu pun berkata pula kepadanya, seperti kepada ayah Saniah tadi itu.
“Kalau begitu, baik kita duduk di rumah si Ubit.” kata ibu Sitti Saniah. Yang dikatakannya si Ubit itu ialah adiknya yang bungsu.
“Baiklah di sana kita bermupakat!” kata Udo Syam, lalu mereka pergi ke situ. Setelah duduk, Udo Syam meminta sebuah mangkuk putih yang berisi air jernih dan membakar kemenyan serta mengeluarkan 3 buah limau dari dalam sakunnya.
Setelah mangkuk itu diletakkan orang di hadapannya, lalu di-belahnya ketiga limau itu berturut-turut dan dimasukkan-nya ke dalam mangkuk itu, sambil membaca mantera. Belahan li-mau itu diperhatikannya baik-baik, dikacau-kacaunya dengan pisau. Kemudian maka katanya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya: “Ya, sekarang sudah susah sedikit, sebab penyakit Sitti Saniah sudah mendalam, karena sudah lama orang bekerja. Tambahan pula orang yang melakukan pekerjaan itu pandai betul. Sitti Saniah sudah dua macam kena.”
“Bagaimana dua macam?” tanya ibu Sitti Saniah dengan terkejut.
“Pertama-tama orang sudah memberi pekasih (1) kepada Sitti Saniah, sebelum putus bertunangan, dan kedua sesudah putus. Karena tidak lekas mujarrab pekasih itu, lalu diberikan nya ”kulat Lamteuba (2)”. Ramuan yang didapat tempoh hari yaitu ramuan yang pertama, sedang ramuan yang lain, kulat Lamteuba, ada yang sudah termakan oleh Sitti Saniah dan ada pula yang belum. Dari itu sekarang ia sebagai orang gila dan tubuhnya makin lama makin bertambah lemah dan kurus. Pikiran yang betul ta’ ada lagi padanya.”
“Jadi sekarang bagaimana? Dapat jugakah ia ditolong?” tanya ibunya kepada dukun.
“Insya Allah, saya coba mengikhtiarkan; biasanya dapat jua saya tolong, tetapi terlalu susah, sebab sudah terlambat sedikit. Akan tetapi dalam pada itu saya mesti bekerja 7 malam lamanya. Malam saya bekerja dan siang tidur, sebab itu tentu saja saya ta’ dapat pergi ke mana-mana, sedang semua bekal mesti sedia.”
“Tolonglah, Udo! tolonglah anak saya yang sudah dianiaya oleh manusia yang ta’ sampai maksudnya itu.”
“Ya, boleh! saya mesti tolong. Dokter, mana dia tahu dalam hal ini, dia cuma tahu memberi obat luka saja; obat macam ini di mana pula dia tahu, sebab ia orang kapir,” kata Udo Syam.
“Sekarang saya katakan sedikit kepada ayah dan ibu Saniah,” katanya pula sesudah berdiam diri sejurus. ”orang yang melakukan hal itu atas diri Sitti Saniah, amat pandai dan tajam se-kali ‘ilmunya; kalau bukan jin dan peri yang melawan, tidak da-pat. Sebab itu dalam 7 hari saya mesti minta tolong kepada jin dan peri, saya suruh dia mencari dan membawa ramuan itu kepada saya kemari. Tetapi saya beritahukan sedikit: dalam perkara itu saya perlu menyediakan bekal, bukan saja untuk saya sendiri, melainkan untuk syarat-syarat yang biasa saya lakuan pemanggil jin dan peri juga. Pertama saya mesti kenduri sedikit serta menyembelih seekor ayam putih; tempat kenduri itu mesti dihiasi
(1) Guna-guna. (2) Tiendawan Lamteuba, nama satu kampung yang sudah masyhur perkara ‘ilmu di Aceh Besar, perkara guna-guna dan racun. dengan kain putih dan diatari (1), dan kemenyan pun dibakar. Tidak boleh sekali-kali orang lain melihat tempat itu, melainkan saya sendiri.“
“Berapa belanjanya?” tanya orang tua Sitti Saniah.
“Tujuh kali tujuh hasta kain putih, tujuh kali tujuh bilah jarum dan limau tujuh serangkai. Akan tetapi limau itu tidak boleh dipetik oleh orang lain, melainkan mesti kupetik sendiri, karena ada syaratnya.”
“Jadi berapa perlu uang?” tanya orang tua Sitti Saniah lagi.
“Ya, kira sajalah: kain putih f 0,25 sehasta, jadi 49 kali f 0,25 dan minyak atar f 3.—cukup. Limau nanti saya cari sendiri, lain dari itu akan belanja saya, tetapi............ itu seberapa ikhlas hati bersedekah saja. Ma'lumlah, orang hidup harus makan. Dengan ikhtiar bagaimana jupaun orang mesti men-cukupi napekah dirinya. Kerja saya ta‘ lain, hanya macam inilah. Dari itu napekah anak bini saya hanya datang dari kemurahan hati hamba Allah, yang minta tolong kepada saya. Saya menolong orang, dan orang menolong saya pula. Biasanya kalau saya dipanggil orang ke Pidie atau ke Mukimtujuh, Padangtiji, dan lain-lain, ada kalanya saya diberi orang sedekah sampai f 150.—. Akan tetapi sama-sama kita di sini, berilah saya seberapa patut dan ikhlas hati saja.”
“Baiklah, kalau Sitti Saniah dapat baik, saya bersedekah dengan ikhlas hati f 50.—dan kalau dia sembuh benar, saya bersedekah f 100.—,” kata orang tua Sitti Saniah.
“Syukur, saya terima dengan senang hati. Perkara sembuh tidaknya itu bergantung kepada kehendak Allah, saya cuma berikhtiar saja.”
“Baiklah, Udo, bila mulai kerja?” tanya orang tua Sitti Saniah pula.
“Kalau saya mulai, selamanya hari Rabu.” “Kalau begitu, malam besok sudah boleh mulai?” “Tentu boleh, asal sudah siap barang yang perlu!” “Baiklah, besok pagi-pagi Udo datang kesini akan menerima uang f 25.—, dan dalam 3 hari Udo datang pula akan menerima uang f 25.—lagi.” “Saya tidak dapat datang kemari, karena tidak boleh keluear dari
(1) diberi minyak ‘atar. garis rumah saya, sebab itu antarkanlah uang itu ke rumah saya; dan lusa nanti saya berikan obat sedikit untuk dimakan Sitti Saniah.“
“Baiklah, nanti kami turut segala suruhan Udo!” kata orang tua Sitti Saniah.
Sesudah habis percakapan itu, mereka itu pun pulang ke-rumahnya masing-masing.
Obat itu sudah lima hari diminum oleh Sitti Saniah, dicam-purkan dalam air minumnya dengan tidak setahunya. Kebetulan pada hari yang keenam ketiga gadis Lho‘ Seumawe tempoh hari datang dan menumpang pula di rumah Sitti Saniah sementara menanti kapal yang akan berangkat ke Padang, karena mereka hendak pergi ke Meisyes-Normaalskhool Padangpanjang. Maka Sitti Saniah pun jadi segar sedikit, sebab girang bertemu dengan kawan-kawannya itu. Karena banyak perkara yang mesti diselesaikan gadis-gadis itu di Kantor Besar dan karena kapal terlambat 2 hari, mereka itu tinggal di rumah gadis kita yang malang itu 5 hari lamanya. Orang setangga heran melihat Sitti Saniah sudah sembuh dengan sekonyong-konyong dan dapat berjalan-jalan dengan kawan-kawannya itu.Orang tuanya pun berbesar hati, sangkanya “obat Udo Syam sangat mujarraab..........” Pada hal obat yang menyegarkan anaknya itu tidak lain, melainkan gadis-gadis jamunya itu. Sesungguhnya Sitti Saniah yang cantik dan sopan itu, tidak suka sekali-kali memperlihatkan masygul hatinya kepada jamunya. Apalagi hatinya sangat besar melihat bangsanya sudah ada yang berani pergi mengunjungi sekolah dilu-ar negerinya, jauh tercerai dari pada orang tua dan kaum kera-batnya. Seolah-olah cita-citanya dengan Nya’ Amat, yang selalu diikhtiarkannya tempoh hari dengan sesungguh-sungguh hatinya itu,............. sudah mulai berhasil.
Itulah sebabnya maka ia dapat berlaku sebagai telah sembuh, sekali-kali bukanlah karena obat dukun itu.
Siapa dapat mengobat penyakit cinta, lain dari pada kekasih sendiri!!
XVIII. PERTEMUAN YANG AKHIR
Sementara ketiga gadis itu tinggal di Kutaraja jua, kebetulan komidi kuda (circus) Harmston datang dari Sigli, akan bermain di situ.
“Saniah, sahabat kami,” kata gadis-gadis itu petang hari kepada sahabatnya yang malang itu, “besuk pagi kami akan berlayar ke Padang. Jadi kita akan bercerai pula. Kami berharap, supaya malam ini kita pergi menonton bersama-sama. Akan jadi kenang-kenangan bagi kami kelak. Sukakah saudara?”
Meskipun Sitti Saniah tidak bernafsu akan ke'ajaiban dunia lagi, tetapi kehendak sahabatnya itu diperkenankannya juga.
Pukul delapan malam kelihatanlah keempat gadis remaja itu duduk di kelas I dalam kemah komidi kuda. Disisinya duduk kakak Saniah.
Tiada berapa lama antaranya masuklah empat orang muda laki-laki, lalu di muka gadis-gadis itu dan pergi duduk kebahagian “loge” yang enam kursinya. Kemudian masuk pula engku Suleman laki isteri, lalu masing-masing duduk di atas kedua kursi yang masih kosong dekat keempat orang muda tadi itu.
Seorang dari paca mereka itu ialah Nya‘ Amat, kekas'h Saniah.............
Sementara itu ‘alamat kedengaran, tanda permainan akan dimulai. Sekalian orang memandang ke tengah-tengah arena, tempat pertunjukan itu, dengan gairat akan melihat apakah gerangan yang akan kelooar mula-mula. Hanya seorang makhluk saja yang menghadapkan matanya ke tempat lain, yaitu............ Sitti Saniah. Ia memandang tenang-tenang kepada Nya’ Amat dengan sedih dan sayu. Darahnya tersirap, dadanya turun naik dengan keras. Pikirnya, jika ia masih bertunangan atau sudah kawin dengan orang muda yang ta‘ dapat dilopepakannya itu, tentu saja ia duduk disisi Nya’ Amat dan isteri engku Suleman. Akan tetapi sekarang? Mereka itu berlaku sebagai ta‘ kenal kepada nya....................
Yang sangat melukai hati jantungnyia ialah perkataan isteri engku Suleman, ketika lalu diladapannya. Katanya: “Hai, engkau ada di sini, Saniah?” dan ia pun terus duduk dekat Nya‘ Amat. Wahai, Meskipun perkataan itu sepatah dua patah saja, tetapi sudah cukup rasanya akan mengguncangkan dan mengingatkan kenang-kenangan anak gadis itu kepada masa yang lalu. Sehingga air matanya jatuh ke dadanya, tiada diketahuinya. Tambahan pula ia berasa amat malu dipandangi orang banyak, yang tahu kissahnya dengan orang muda itu. Oleh karena itu tiada terpandangilah olehnya muka orang, lebih kuat hatinya hendak balik pulang dari pada menonton.
Kebetulan ketika permainan berhenti 15 menit, Sitti Saniah berkata kepada ‘Alimah, bahwa badannya kurang senang. Rasanya ia seakan-akan hendak demam, kepalanya panas dan pusing, sebab itu ia hendak pulang dahelue. Demi didengar kawan-kawannya perkataannya demikian itu, mereka itu pun terkejut, lalu berkata:
“Apa, saudara kurang sehat? Kalau begitu, baiklah kita pulang dengan segera.”
“Ah, ta‘ usah,” kata gadis itu dengan rawan, “ta’ usah saudara pulang pula, biarlah saya pergi berdua dengan kakakku saja.”
“Tidak,” kata mereka itu dengan sekali gus, “marilah kita pulang bersama-sama.”
Dengan segera mereka itu pergi keluear, naik ke atas sebuah kahar dan berangkat pulang.
Setelah sampai di rumah, Saniah masuk ke kamarnya. Dengan segera ia bersalin pakaian, berbaring di tempat tidur dan diselemuti oleh kawan-kawannya dengan selimut tebal.
“Nah, tidurlah baik-baik,” kata mereka itu. “Kalau saudara sudah berpeluoh, tentu sakit kepala itu hilang, sebab saudara masuk angin agaknya.”
“Boleh jadi,” kata Saniah. Dan ketika dilihatnya ketiga sahabatnya itu hendak pergi ke kamarnya menukar pakaian, maka ia-pun bermohon dengan sangat, katanya:
“Ah, saudara, jangan saudara bersalin pakaian sekali, melainkan baliklah menonton pula. Tinggalkanlah saya, sebab penyakit saya tidak hebat benar.”
“Tidak,” kata mereka itu. “apa gunanya kami menonton pula.” Akan tetapi akhirnya karena keras permintaan Saniah, mereka balik kekemah komidi pula, lalu duduk di kursinya tadi kembali.
Ketika itu pertunjukan sudah mulai pula. Dan ketika Nya‘
Amat menoleh ke tempat duduk gadis-gadis itu, dilihatnya Sitti Saniah tidak ada lagi. Dengan segera hal itu dibisikkannya kepada engku Suleman laki isteri.
“Ya, boleh jadi ia sudah pulang,” kata isteri engku Suleman, sambil memandang sebentar ke tempat gadis-gadis itu, “sebab sia-pa tahu, barangkali ia malu kepada kita.”
“Kasihan,” kata engku Suleman.
Nya‘ Amat tidak terkata-kata lagi. Hatinya amat pilu memikirkan nasib gadis itu, dan nasibnya sendiri juga............ sehingga ia menundukkan kepalanya ke tanah, sebab takut dan malu, kalau-kalau tampak oleh orang lain air matanya berlinang-linang di pipinya.
Akan Sitti Saniah, baharu saja kawan-kawannya berangkat, dengan segera ia berbangkit dari tempat tidurnya dan duduk menghadapi meja tulis.
“Wahai, maukah dia melarikan daku dari rumah orang tuaku ini?” katanya dengan sendirinya, sambil mengeringkan air matanya dan menahan hatinya. “Meskipun ia berbuat pura-pura tidak kenal kepadaku, tapi aku percaya dan yakin, ia belum ‘kan lupa kepadaku lagi. Sekurang-kurangnyia ia mesti ada menaruh belas kasihan............, sebab itu baiklah kucoba berkirim surat kepadanya. Aku hendak bertemu dengan dia berdua saja dan............ apa boleh buat! Dari pada aku makan hati seperti ini, lebih baik aku lari dari sini, dengan dia,............. kekasikhu, supaya senang hati orang tuaku.”
Sambil berkata-kata demikian, dimulainyalah menulis. Akan tetapi terlalu lambat dan tertegun-tegun, sebab tangannya gemetar, sedang air matanya jatuh bertitik-titik membasahi kertas itu. Aikhrnya surat itu sudah jua, lalu dimasukkannya ke dalam sampulnya. Setelah sudah ditulisnya ‘alamatnya, kakak dan kawan-kawannya pun kedengaran berjalan masuk pekarangan. Dengan segera disembunyikannya surat itu dan ia pun berbaring ke tempat tidur serta berselimut seperti tadi pula. Matanya dipejamkannya, sebagai laku orang yang tidur nyenyak.
Baharu naik kcatas rumah, mereka itu pun masuk dengan perlahan-lahan ke kamar anak gadis itu. Maka dilihatnya Sitti Saniah tidur nyenyak rupanya. “Syukur,” kata mereka itu dengan perlahan-lahan. “Biarkan sajalah dia tidur, jangan diganggu- ganggu. Mudah-mudahan besok ia sembuh pula.“ Dan mereka itu keluear dari situ, lalu masuk ke kamarnya. Setelah bersalin pakaian, dengan segera mereka tidur karena hari sudah larut tengah malam.
Keesokan harinya pagi-pagi mereka bangun dan bersiap hendak barangkat ke Uleeheue, sebab kapal akan berlayar pukul sembilan betul. Sitti Saniah pergi mengantarkan ketiga gadis itu, sebab, katanya, badannya sudah segar kembali. Dari rumah mereka itu berangkat dengan auto melalui pasar Aceh. Di muka sebuah kedai Cina auto itu disuruh berhenti sebentar oleh Saniah, sebab, katanya, ia hendak membeli apa-apa. Dengan segera ia tu-run dan masuk ke kedai itu, lalu dibelinya sebuah kepala raja dan direktatkannya di sudut surat yang ditulinsya pada malam itu. Setelah surat itu dimasukkannya ke dalam brieveenbus yang dekat dari situ, ia pun balik keauto pula, lalu terces berangkat ke tempat yang ditujunya.
Di Uleeheue kapal berlabuh jauh di tengah laut. Akan naik kapal, pencempang harus naik perahu dahulu. Ketiga gadis itu pun demikian juga; setelah bersalam-salaman dengan Saniah, mereka itu pun naik keperahu, lalu berlayar ke kapal serta melambai-lambaikan sapu tangannya dengan ta‘ berkeputusan kepada sahabatnya, yang berdiri dengan sedih dan sayu didaratana.
Ketika gadis itu sudah naik ke kapal, baharulah Saniah masuk auto dan balik ke Kutaraja kembali.
Kira-kira pukul tengah tiga hari itu juga, ya'ni ketika Nya‘ Amat pulang dari kantor, dilihatnya sepucuk surat terletak di atas mejanya. Scerat itu ter'alamat kepadanya, lalu dibacanya demikian:
“Kakanda yang tercinta!
Walau kakanda sesungguhnyta ta‘ ingat lagi kepada adinda yang sial dan malang ini, tapi sebab adinda sendiri ta’ dapat melupakan kakanda barang sedikit pun, adinda bernikan julah diri adinda mengirim surat ini kepada kakanda dan untuk kakanda.
Kakandal Sebelum adinda sampai ke pintu kubur, adinda ingin sekali hendak bertemu dengan kakanda berdua saja, supaya kakanda dapat mendengarkan sekalian penderitaan hati adinda keluear dari mulut adinda sendiri.
Oleh sebab itu adinda berharap moga-moga kakanda sudi bertemu dengan adinda pukul 10 malam kelak di belakang bangsal B. O. W.
Sebaik-baiknya kakanda datang dengan auto. Adinda menanti di situ!
Hingga ini dahulu, Saniah.“
Sejurus lamanya Nya‘ Amat termenung saja, ta’ tentu yang akan diperbuatnya. Ia terperanyak duduk di kursi, sedang badannya sudah kaku rasanya. Kemudian ia tegak berdiri perlahan-lahan, lalu pergi ke kamarnya. “Wahai,” keluhnya seraya merebahkan dirinya ke tempat tidurnya, “semenjak malam tadi sudah kusangka juga engkau akan salah terima kepadaku, Saniah, adikku, buah hatiku............ Akan tetapi ketahuilah olehmu, aku berbuat pura-pura lengah itu, bukan karena aku tidak ingat kepadamu lagi............, melainkan karena aku harus menjaga daraduat kemanusiaan kita kedua. Aku ta‘ suka menjadi ejek-ejekkan orang, aku ta’ suka namamu jadi cela karena pekertiku, Saniah, Meskipun ajalku akan sampai karena menahan kkhendak dan hatiku sendiri.
Akan tetapi mengapa adinda akan sampai ke pintu kubur?“ katanya pula serta bangun berdiri. ”Tidak, adinda, aku ta‘ suka engkau mcninggalkan dunia karena perkara itu............. Nanti aku datang kepadamu.“ Surat tadi dimasukkannya ke dalam saku bajunya, ditukarnya pakaian dengan piyama, lalu ia pergi kemeja makan.............
Setelah sudah makan, ia pun tidur.
Pukul lima petang ia pergi ke tanah lapang, sedang berpikir-pikir mencari ‘akal akan memberi nasihat dan melunakkan hati gadis itu, supaya ia jangan sampai teperdaya oleh iblis.
Siang sudah bertukar dengan malam, dan pada pukul sepu-luh kelihata-nilah sebuah auto berdiyalan dengan perlahan-lahan dan ingat-ingat di jalan Lampaseh. Serta kelihatan oleh oreng muda yang duduk dalam auto itu sebuah bayang-bayang ber- jalan menuju kepadanya, ia pun memberi isyarat kepada sopir supaya berhenti. Ia turun dari kendaraan itu, lalu ditcerutnya bayang-bayang itu. Oleh karena hari sangat gelap, ia tidak lekas kenal akan bayang-bayang itu. Akan tetapi ia sudah tahu be-tul, bahwa bayang-bayang itu tidak lain dari pada seorang perempuan yang berbaju kimono.
Dengan tiba-tiba perempuan itu memegang tangan orang muda itu, serta berkata dengan berbisik-sisik:
“Ini adinda, kakanda.”
“O,...... kau, Niah?” jawab orang muda itu, ya'ni Nya‘ Amat, dengan terkejut bercampur girang.
“Benar,” jawab perempuan itu. “Jangan gaduh, mari kita berangkat dengan lekas, supaya kita jangan didapati orang di sini kelak.”
Nya‘ Amat tidak terkata-kata lagi, melainkan dipimpinnya saja “kekasihnya” itu naik auto.
“Ke mana?” kata sopir seraya memegang kemudi.
“Ke mana......?” kata Nya‘ Amat pula dengan tercengang.
“Ke Mataie,” bisik Sitti Saniah ke telinga orang muda itu.
“O, ya,” kata Nya‘ Amat sambil menarik napas panjang. “Ke Mataie,” katanya pula kepada sopir kuat-kuat. Maka auto itu pun berlari dengan kencang ke tempat yang ditunjukkan itu. Dua puluh menit lamanya auto berlari sedemikian, selama itu pula kedua ’asyik dan ma'syuk itu tidak berkata-kata sepatah kata jua. Nya‘ Amat berpikir......... dan menyabarkan hatinya, sedang perempuan itu menangkup pada pangkuan orang muda itu dengan air matanya.
Auto itu berhenti di halaman rumah tempat mandi itu. Kedua mereka itu keluar dari dalam kendaraan itu, lalu masuk ke-dalam sebuah kamar. Setelah duduk di atas sebuah bangku panjang, Sitti Saniah pun berkata dengan sedih:
“Wahai, kakanda, sampai hati kakanda membiarkan nasib adinda sedemikian.........” Ia menangis sedan-sedan dan rebah ke-pangkuan orang muda itu.
“Wahai,” kata Nya‘ Amat, serta menahan hatinya sedapat-dapat-nya. “Wahai, adinda, jangan adinda mengeluh dan beriba hati demikian itu, lebih baik kita berunding dengan sabar dan tenang.
Duduklah baik-baik,“ lalu diangkatnya gadis itu pada kedua bahunya dan disuruhnya duduk disisinya.
“Ya, kakanda,” kata Saniah pula, “rupanya ta‘ guna adinda hidup lagi! Akan tetapi sebelum adinda mengembuskan nyawa yang penghabisan, adinda ingin sekali hendak berjumpa dan ber-tutur dengan kakanda............”
“Saniah,” kata Nya‘ Amat dengan sabar, tetapi sedih. “Ta’ usah kaulukai jua hatiku yang sudah hancur luloh ini. Kalau kakanda tidak memikirkan nasib bangsa kita, barangkali ketika ranub kong habaku dikembalikan ibu bapamu, ketika itu ju-ga kakanda perlihatkanlah ”jantan hatiku“. Ta‘ ada malu yang sebesar itu bagi kami laki-laki, adinda, yaitu............ tunangan direbut orang. Apa salahnya jika adinda......... ma'af......... jika kakanda larikan adinda ketika itu, karena kakanda sudah tahu dengan sesungguh-sungguhnya, bahwa kehendak akan putus itu bukan terbit dari hati adinda sendiri. Bahkan kakanda tahu—lebih-lebih setelah surat adinda kanda baca—bahwa kita diceraikan orang dengan sengaja dan paksa, dengan tidak setahu adinda. Akan tetapi..........” Air mata Nya’ Amat meleleh di pipinya dan ia ta‘ dapat meneruskan perkataannya.
“Akan tetapi............,” kata anak gadis itu dengan pandang yang tenang.
“Akan tetapi............ apa maksud adinda membawa kakanda kemari?”
“Kakanda, Nya‘ Amat,............ adinda tahu, bahwa kakanda diberi malu oleh orang tuaku. Adinda tahu, bahwa hati kakanda luka dan hancur luluh, akan tetapi rupanya kakanda tidak tahu dan ta’ ingat akan perasaan dan penderitaan adinda sendiri.”
“Wahai, adinda............”
“Tunggu dahelulu! Jika kakanda ingat dan tahu akan perasaanku ini, barangkali kakanda ta‘ kan bertanya lagi: apa maksudku hendak bertemu dengan kakanda ini.”
Demi didengar orang muda itu perkataan demikian, hatinya-pun berdebar-debar, sebab ia mengerti ujud dan maksud perkataan itu. Iblis datang menggoda sukmanya dengan hebat! Akhirnya ia berkata dengan lemah-lembut, ujarnya:
“Jika kakanda katakan, hati kakanda telah hancur luluh, maksud kakanda tentu hati adinda demikian juga, sebab kakanda tahu kita ini seperasaan dan sependeritaan sudah. Bukantah telah beberapa kali kakanda katakan dahaelu, bahwa Meskipun badan kita masih dua, tapi hati kita sudah jadi satu? Akan tetapi, adinda, oleh karena ta‘ ada tampak oleh kakanda suatu jalan yang baik, yang boleh kita lalui akan melepaskan diri kita dari pada bahaya ini, kakanda pun tawakkal sudah!! Hu-kum dan ’adat negeri kita terlalu keras, adinda,.......... ta‘ ada menaruh belas kasihan kepada makhluk yang lemah seperti kita ini. Kakanda dan engku Suleman laki isteri sudah berikhtiar sedapat-dapatnya akan mengalang-alangi maksud ayah bunda adinda yang bengis itu; kakanda sudah pergi kepada anggota rapat agama, akan tetapi............ sia-sia saja. Seorang pun ta’ dapat menolong kita dalam hal ini, adinda! Sebab itu kakanda ta‘ dapat berbuat apa-apa lagi, melainkan harus menyerahkan diri kepada Allah serta menantikan takdirnya dengan sabar.“
“Dan adinda pun,” kata Saniah dengan tetap, “datang menyerahkan diri dan nyawa adinda kepada kakanda. Ambillah adinda ini dan bawalah barang ke mana kehendak kakanda. Aku ta‘ mau jadi kurban............ laki-laki itu.”
“Adinda, Saniah,” kata Nya‘ Amat dengan sabar, “kakanda minta syukur kepada Allah subhanahu wata'ala akan kesetiaan dan ketulusan hati adinda kepada kakanda yang da'if ini. Sekali adinda hendak menyerahkan diri kepada kakanda, seribu kali kanda suka menyambeet adinda. Adinda boleh kakanda bawa dan larikan............ ke negeri lain umpamanya............, akan tetapi, adinda, dengan demikian adakah akan tercapai cita-cita kita selama ini? Adakah akan senang dan sentosa kehidopean kita kelak? Akan dapatkah perbuatan kita itu jadi suri teladan yang baik bagi bangsa kita, yang berkehendak kemajuan dan kesopanan ini?
Tidak adakah adind menaruh sayang dan belas kasihan kepada ibu bapa adinda?“
“Jika mereka tidak sayang kepadaku, tentu aku ta‘.........”
“Adinda,” kata Nya‘ Amat dengan lekas memutuskan perka-taan anak gadis yang telah sesat itu, “adinda harus ingat akan Tuhan semesta sekalian ’alam, adinda wajib tawakkal kepadanya! Pikir baik-baik, adinda, supaya kita jangan meninggalkan nama
‘aib bagi kaum keluarga dan anak coccu kita kelak. Tambahan pula jika kita berlaku menurut kehendak hati kita saja, bagaimanakah jadinya perbocatan kita yang sudah-sudah? Kita sudah berusaha dengan sesungguh-sungguh hati akan memajukan kaum perempuan di tanah Aceh, kita telah mendirikan Industrie-cursus dan perserikatan bagi gadis-gadis. Sekalian itu adalah baik jalannya. Sekarang ibu bapa sudah mulai percaya akan pergerakan kita, sudah mau menyerahkan anak gadisnya ke sekolah.......... Jadi ingat baik-baik, adinda, jika kita berlaku salah dalam hal ini, tentu kemajuan bangsa yang kita ingin itu ta’ kan tercapai.......... selama-lamanya. Niscaya orang negeri ta‘ kan percaya lagi kepada orang muda-muda, yang berniat hendak meneruskan usaha kita kelak. Niscaya mereka akan mudah saja berkata: Ah, apa pula gunanya didengarkan “dongeng” anak muda-muda itu. Lain tidak maksudnyaka akan merusakkan ’adat dan agama, tertib dan sopan dan menyadikan ‘aib kaum keluarganya. Lihatlah peri laku Nya’ Amat dan Saniah dahaelu............!“
“Apa gunanya kita memikirkan hal orang lain, jika diri kita sendiri jadi kurban?”
“Wahai, adinda! Rupanya adinda belum mengerti maksud kakanda lagi. Kakanda berusaha bagi orang banyak, bagi bangsa kita, maksudnyaka bagi keselamatan dan kesentosaan diri kita sendiri juga. Barang di mana kakanda uraikan buah pikiran kakanda, kakanda perlhatikan keburukan dan kebusukan kawin paksa kepada orang banyak dan ibu bapa, supaya ‘adat yang keji itu hilang lenyap kelak. Jika buah pikiran kakanda itu diterima orang, kita pun beruntung juga, bukan?”
“Akan tetapi bukantah adinda telah kena racun kawin paksa itu?”
“Mudah-mudahan anak cucu kita jangan berhal seperti kita ini kemudian hari.”
“Anak cucu............... sedang kita, ah, lebih baik adinda katakan, sedang adinda telah dalam kubur. Sekarang begini, kakanda. Rupanya kakanda enggan menyambut untung malang adinda ini, sebab itu lemparkanlah adinda masuk laut,............. ta‘ guna adinda hidup lagi.” Ia pun menangis dengan sangat sedih, sehingga hati Nya’ Amat jadi terharu-biru pula. “Wahai, nasib!” pikirnya dalam hatinya, sambil membelai-belai rambut anak gadis yang malang itu. “Bagaimanakah kesudahan nasibku ini kelak? Ya, Allah, ya Rasul, berilah aku kekuatan akan pelawan godaan dunia yang besar dan claka ini.” Kemudian ia pun berkata dengan lemah-lembut akan menghiburkan hati perempuan itu, ujarnya:
“Adindaku, Saniah, sabarlah adinda, jangan diturut kehendak iblis. Diamlah, nasib kita masih dapat diperbaiki.”
“Bagaimana?” tanya gadis itu seraya mengangkatkan kepalanya.
“Meskipun adinda telah kawin dengan............. laki-laki itu umpamanya, tapi adinda mesti ingat juga: tiap-tiap percam-puran mesti ada perceraian.”
“Habis?”
“Kakanda berjanji akan menyambut untung adinda kelak,............ Dan kalau tidak di dunia ini, diakhirat pun kita bertemu juga. Itulah janji kakanda kepada adinda. Sebab itu sabarlah adinda. Orang yang sabar kasihan Allah! Dan tawakkallah! Sekarang marilah kita pulang ke rumah, sebab hari sudah jauh malam.”
Dengan ta‘ peduli akan ratap tangis gadis itu lagi, orang muda itu pun membawa Saniah ke atas auto, lalu berangkat pulang ke Kutaraja pula.
Kira-kira seratus langkah lagi akan sampai ke muka rumah gadis itu mereka itu turun dari auto dan berjalan kaki lambat-lambat menuju pekarangan. Di halaman Saniah mengelurkan tangannya kepada Nya‘ Amat, serta berkata dengan suara yang putus-putus: “Nah, kakanda, selamat tinggal.......... barangkali inilah pertemuan kita yang akhir sekali.” Dengan segera dihelakan-nya pula tangannya dari genggaman orang muda itu, lalu membalik belakang dan berjalan cepat-cepat naik tangga rumahnya.
“Tunggu sebentar, adinda,” kata Nya‘ Amat. Akan tetapi Saniah ta’ menyahut lagi.
Sejurus lamanya Nya‘ Amat tegak berdiri dengan tercengang, sebagai orang kehilangan ’akal. Kemudian ia pun berjalan perlahan-lahan arah ke rumahnya, sambil memikirkan arti dan maksud perkataan Saniah yang akhir itu.
Semalam-malaman itu Nya‘ Amat ta’ dapat tidur, kadang-kadang ia menyesal tidak memperkenankan permintaan gadis kekasih-nya itu; kadang-kadang ia berasa ngeri dan takut, kalau-kalau benar kiranya niat Saniah hendak membunuh diri. Kalau benar ia berniat sedemikian, tentu ta‘ patut dibiarkannya, harus dicegah-nya. Akan tetapi bagaimana? Tidak ada jalan lain, melainkan gadis itu mesti dilarikannya!! Akan tetapi hasilnya kelak? Tentu buruk dan ’aib juga! Wahai, serba salah!
Akhirnya timbullah pikiran yang tenang dalam hatinya, katanya: “Ah, ta‘ mungkin ia membunuh diri, karena pekerjaaan sedemikian jarang teryadi pada bangsaku. Belum ada kudengar seorang gadis bangsaku membunuh diri, karena percintaan. Jadi perkataan Saniah tadi itu hanya akan penarik hatiku saja, supaya kuperkenankan permintaannya. Lain tidak!!” Dengan pikiran demikian akhirnya ia pun tidur dengan nyenyak.
Akan anak gadis itu, baharo sampai dalam kamarnya, ia pun melemparkan dirinya ke tempat tidur dan menangis tersedu-sedu. “Wahai, nasib!” katanya. “Putus sudah harapanku............”
Dalam pada itu ibunya pun bangun dari pada tidurnya dan berlari-lari ke kamar anaknya. “Saniah, Saniah,” katanya dengan cemas, “mengapa engkau, anakku. Sakitkah engkau?”
Mula-mula pertanyaan itu tidak dijawab oleh gadis yang malang itu. Kemedian maka katanya dengan berdusta:
“Astaga! Aku bermimpi, ibu,............”
“Bermimpi?” kata ibunya sambil meraba kepala anaknya itu. Dan ia pergi keluear akan mengambil air dingin semangkuk. Maka air itu pun diminumkannya kepada anaknya itu, serta bernashihat, supaya Saniah tidur dengan senang.
Akan tetapi semalam-malaman itu Saniah tidak tidur, sebab hatinya sangat sedih dan pilu. Ia putus asa sudah.
XIX. MENINGGAL
Pada keesokan harinya tubuh gadis itu ta‘ bergaya lagi, sehingga ia ta’ dapat bangun dari tempat tidurnya. Kepalanya pusing dan panas seperti api. Dukun Udo Syam pun dipanggil pula oleh orang tuanya, akan mengobati Sitti Saniah.
Akan tetapi janganakan senang, melainkan bertambah keras sakit anak gadis itu.
Sunggokh pun demikian orang tua Saniah tidak kuatir, sebab kata Udo Syam kepadanya, penyakit Saniah itu tidak berbahaya; hanya karena kekuatan guna-guna Nya’ Amat saja. Dan jika obatnya (obat Udo Syam) selalu diminumkan kepadanya, niscaya ia akan lekas sembuh pula. Apalagi jika ia sudah kawin dengan T. B. Raman, niscaya lama-kelamaan ia akan lupa jua kepada Nya’ Amat.
Sekalian keluarga Saniah begitu juga pikirannya. Oleh sebab itu ditetapkannyalah hendak mengawinkan Saniah dengan segera. Pada suatu hari diputuskan, Saniah akan dikawinkan dengan T. B. Raman pada 12 hari bulan Zu’lhijjah, yaitu kira-kira dua puluh hari lagi. Mulai dari waktu itu disiapkanlah segala keperluan untuk perkawinan itu. T. B. Raman bukan buatan besar hatinya, sebab tiada berapa lamanya lagi ia akan dapat memetik bunga jeumpa Aceh, yang semerbak baunya itu. Maksudnya, jika ia sudah kawin, Saniah akan dibawanya pergi dari Kutaraja ke Lho’ Seumawe dahaelu, supaya terjauh dari pada Nya’ Amat............ “Ah,” kata bibi’ Saniah pada suatu petang hari kepada gadis itu, ketika dilihatnya Saniah tengah dceduk menyisir rambutnya dalam kamarnya, ”rupanya engkau ada sehat sedikit hari ini.“ ”Ada, bibi’,“ jawab gadis itu, ”sakit kepalaku ada kurang sedikit.“ ”Mudah-mudahan, dan hingga ini ke atas tentu engkau ta’ kan sakit lagi. Senangkanlah pikiranmu, ha, ha, ha!“ ”Mengapa, bibi’?“ tanya anak gadis itu dengan pucat mukanya. ”Pada 12 hari bulan di muka ini Linto Barc (1) akan pulang. Sekarang kami sudah bersiap akan menantinya.“ ”Siapa Linto Baro itu?“ tanya Saniah pula. ”Ah, sudah gaharu cendana pula! Engkau sudah tahu,............ T. B. Raman, bukan?“ ”Hantu itu!“ kata Sitti Saniah dengan suram. ”Ah.......... ha, ha, ha! Nanti kalau............ tidak hantu lagi, sekejap pun ta’ dapat bercerai jauh.“ ”Wahai, bibi’...........“ ”Ah, mu-mu ureueng geupeukawen, khem-khem ureueng
(1) Mempelai laki-laki. Dara Baro = mempelai perempuan. geupoh (1),“ kata bibi'nya pula bersenda-gurau dengan gadis itu.
“Tidak, bibi‘. Sesungguhnyya saya tidak suka kepada hantu itu. Saya bermohon kepada bibi’, tolong apalah kiranya menyampaikan pesanku kepada ibu bapaku. Dari pada saya kawin dengan dia, lebih baik saya mati: Haram tubuhku disentuhnya.”
“Jangan berkata begitu, Saniah. Perangai sedemikian buruk sekali. Kami sekalian sudah beranak dan bercucu, belum pernah menampik pemberian orang tua. Senangkan sajalah pikiranmu dan bersiaplah dalam 15 hari ini.”
“Lima belas hari? Mengapa tidak 15 tahun?”
“Ah, kau berbuat pura-pura jua. Maksudmu 15 jam lagi, bukan?” kata bibi'nya pula dengan tertawa.
“Tidak, bibi‘, sebenarnya tidak.”
“Saya pun berkata sebenarnya juga. Nah, sekarang saya pulang dahaelu, nanti kembali lagi.”
“Sungguh, bibi‘, saya bermohon kepada bibi’............ saya sembah bibi‘ sejak dari ujung rambut sampai ketapak kaki bibi’,” kata gadis itu dengan tangisinya seraya meniarap di kaki bibi'nya, “saya tidak berolok-olok; melainkan bibi‘ tolonglah menyampaikan pesanku kepada ibu dan bapaku, ya'ni pesan saya tahadi itu.”
“Tidak, anakku,” kata perempuan itu sambil menyuruh Saniah berdiri. “Saya ta‘ cakap membantah kehendak orang tuamu, dan ta’ boleh pula berbuat demikian. Engkau harus menurut kehendaknya, itulah perkataan dan nasihatku. Nah, tinggallah engkau.”
Ketika perempuan itu sudah keluar, Sitti Saniah merebahkan dirinya ke tempat tidur. Hatinya sebagai terbakar rasanya. Kemu-dian ia bangkit berdiri, lalu pergi membuka lemari pakaianinya. Dengan segera dikeluarkannya segala barang buatan tangannya sendiri, ya'itu alat kawin seperti seperai, sarung bantal dll., lalu digunting-guntingnyya; setelah itu, lalu barang-barang itu disimpannyya ke dalam lemari kembali.
Sehari-harian itu ia ta‘ keluar dari dalam kamarnya, dan makanun tidak pula. Maka ibunya pun marah, lalu katanya:
(1) Menangis-nangis orang yang dikawinkan, gelak-gelak orang yang akan dibenuh.
“Engkau jangan banyak olah, Saniah. Jangan kau tambah susah hatiku lagi. Ayuh, makanlah.” Akan tetapi Saniah tidak menjawab dan tidak mau makan. Malam hari sesudah sembahyang ‘isya, ibu dan kakaknya ma-suk ke dalam kamar akan minta anak kunci lemari. Setelah anak kunci itu diterimanya dari tangan Saniah, lalu dibokekanya lemari itu dan dilihatnya............ sekalian barang itu sudah hancur bekas kena gunting. Dengan segera ibu itu bertanya kepada Saniah dengan amarah: “Mengapa barang ini sudah hancur sekaliannya?” “Entahlah, barangkali hancur sendiri saja,” kata Saniah dengan pendek. “Mana boleh hancur sendiri,” kata ibunya dengan bertambah marah. “Sedangkan hati orang boleh hancur, apalagi kain,” jawab Saniah pula. “Kurang ajar, anak setan. Macam-macam saja tingkah la-kumu, akan menyusahkan hatiku!” teriak ibunya serta merentakkan kakinya ke lantai. “Mengapa kaugointing-gunting barang-barang ini, hai anak setan? Rupanya engkau ta’ suka bersuamikan orang pilihan orang tuamu sendiri, hanya suka kawin dengan orang laki-laki yang kautangkap di tengah jalan............ anak sundal! Kalau kuinjak-injak badanmu sampai hancur seperti kain ini, apa rasamu, hai anak babi! anak celaka!” “Lebih baik begitu,” kata gadis itu dengan berani. “bunuhlah aku, sesungguhnya aku ta‘ guna hidup lagi. Bukantah sudah kukatakan kepada ibu, bahwa aku ta’ suka sekali-kali kawin dengan orang itu?” “Apa katamu? Engkau ta‘ suka kawin dengan orang itu? Engkau hendak kawin dengan buaya di tengah jalan, anak haram? Dan kalau engkau tidak suka menurut kehendakku, pergilah dari sini, bangsat!” teriak ibu itu serta maju ke muka hendak membantingkan Sitti Saniah ke lantai. Akan tetapi sebentar itu juga tangannya dipegang oleh bibi’ Saniah, yang baru datang tergopoh-gopoh ke situ, demi didengarnya gaduh dan ingar-bingar itu. “Sudahlah, cuda (1), kelocarlah daheloce. Ada orang menanti (1) Panggilan adik kepada kakaknya yang perempuan. di bawah,“ kata perempuan itu seraya mengajak kakaknyia ke-luar.
“Jangan pegang, biar kubanting anak setan ini, sampai hancur seperti barang-barang itu.”
“Ayuh, keluare dahulu. Jangan gaduh.” Sambil berkata demikian ditariknyia tangan ibu Saniah dan dibawanya keluare. Setelah sampai di ruang tengah, maka katanya: “Apa gunanya cuda marah-marah kepada Saniah. Ia tidak tahu diri lagi, pikirannya ta‘ betul lagi, karena ia sungguh sudah termakan; bukantah sudah cuda dengar perkataan dukun kemarin dahulu?”
Ibu Saniah menangis, karena ia sudah ingatkan dirinya. Ia menyesal marah-marah kepada anaknyia yang tengah sakit kena ‘ilmu orang itu.
Dalam pada itu adiknyia pergi ke bilik Saniah pula, akan menghiburkan hati anak gadis itu; maka didapatinya Saniah menangkup ke bantal serta menangis tersedu-sedu. Ia berseru beberapa kali: “Saniah, Saniah..........,” akan tetapi anak gadis itu tidak menyahut, melainkan memberi isyarat dengan tangannya, jangan ia diganggu dahulu.
Bibi'nya undur ke belakang. Akan tetapi lima menit kemudian dilihatnya Saniah............... pingsan sudah. Dengan segera ia berlari keluare akan memberitahukan hal itu kepada ibu dan bapa Saniah.
Dalam rumah itu kacau-bilau pula. Setengahnya pergi mencari air mawar akan penyiram muka dan kepala Saniah, setengahnya menangis dan meratap, dan ada pula yang pergi menjemput dukun Udo Syam.
Orang setangga sudah datang ke rumah itu. Mana yang pandai membaca mantera, sudah membaca mantera; mana yang pandai mendo'a, sudah mendo'a. Masing-masing dengan laku dan ragamnyia. Dan kemenyan pun sudah dibakar orang.
Akhirnya anak gadis itu sadarkan dirinya pula, akan tetapi belum dapat berkata lagi. Melainkan ia mengeluh, serta mengurut-urut dadanya.
Sementara itu dukun yang dipanggil itu pun datang. Dengan segera dimintanya air dalam mangkuk putih, dimanterakannya dan kemudian disuruhnyia gosokkan pada seluruh tubuh anak gadis itu. Kira-kira setengah jam sesudah itu ia pun bermohon diri hendak pulang; akan tetapi lebih dahulu ia hendak bercakap dengan ibu Saniah di luar sebentar.
Keduanya pergi keserambi muka.
“Ruapanya,” kata dukun itu dengan perlahan-lahan, “ramuan sudah ditambah orang pula bagi Saniah.”
“Ditambah orang pula!” kata ibu Saniah dengan geram hatinya. “Benar, akan tetapi ta‘ mengapa, sebab saya ada lekas datang kemari. Dan sekarang saya hendak segera balik pulang pula, supaya dapat menolong dari sana dengan saksama. Akan tetapi bagaimana, ibu Saniah, sekarang saya dalam keputusan uang, sedang saya perlu sekali membeli obat dan ramuan lain-lain.” “Ya, perkara itu mudah sekali; tunggu sebentar,” kata ibu Saniah, sambil berlari ke kamarnya akan mengambil uang f 10.—. Sejurus antaranya ia balik kembali, lalu diserahkannya uang itu kepada Udo Syam.
“Baiklah,” kata dukun itu serta menerima uang itu. “Nanti esok hari saya antarkan obat kemari, akan tetapi air yang sudah saya manterakan tadi itu mesti selalu disiramkan pada badannya.” Ia pun turun tangga dan berjalan pulang dengan senang hatinya.
Sekalian orang yang hadir di rumah orang tua Saniah dewasa itu sudah bernazar, kalau anak gadis itu sembuh, akan menyembelih kambing dikubur Teungku Siah Kuala (1).
Semalam-malaman itu orang tidak tidur, karena menjaga Sitti Saniah. Sebentar-sebentar ibu dan bibi'nya bertanya kepadanya, apa yang sakit, hendak makankah ia dll., akan tetapi anak gadis itu menggelengkan kepalanya saja, tidak berkata-kata, sedang air matanya meleleh jua di pipinya. Sekalian orang amat susah dan sedih hatinya.
Pada keesokan harinya dukun datang pula membawa obat ke situ. Obat itu dimasukkan orang ke mulut Saniah dengan sendok, tetapi tidak ditelannya. Ia berkata dengan perlahan-lahan, ujarnya:
“Ta‘ usah aku diobat lagi, ta’ ada paedahnya.” “Mengapa begitu, Saniah?” tanya bibi'nya dengan lemah-lembut. “Tiap-tiap orang sakit harus berobat.”
(1) Syekh ‘Abdu'rrauf, yang memasukkan agama Islam ke tanah Aceh.
“Ya, akan tetapi obat itu bukanlah obat penyakitku, bibi‘............ Tolong sediakan air panas, aku hendak mandi. Badanku bergetah karena peluh dan............ amat letih.”
Demi didengar orang yang hadir perkataan Saniah demikian itu, hati mereka itu pun berasa senang sedikit. Dengan segera ‘Alimah pergi kedapur akan memasak air mandian adiknya yang malang itu.
Setelah air itu masak dan didinginkan, hingga suam-suam kuku, Sitti Saniah pun pergi mandi ke belakang.
Kemudian ia makan sedikit dan duduk dalam kamarnya. Kaum keluarganya mulai senang hatinya, sebab sangkanya Saniah sudah baik kembali.
Serta diperhatikan orang keadaan Saniah sakit demikian itu, sebentar sakit dan sebentar baik pula, yakin dan percaya benar mereka sudah, bahwa Saniah kena ramocan orang,—guna-guna Nya‘ Amat.
Akan tetapi sebenarnya tidak demikian. Anak gadis itu bukan kena ramuan orang, melainkan kena penyakit cinta semata-mata dan............ sudah putus asa. Pada waktu itu ia telah me-rasa ta‘ kan lama hideop lagi, ajalnya hampir sampai. Kepalanya sangat pusing, sehingga pemandangannya kuning berkunang-kunang dan hatinya sebagai hancur rasanya. Sekalian itu dita-hannya benar-benar, supaya senang hati keluarganya, karena ada suatu maksudnyia.
Karena Saniah tidak sakit lagi rupanya, ia pun dibiarkan orang tinggal seorang diri di dalam kamarnya.
“Nah, inilah paksa yang baik bagiku akan menyampaikan citatcitaku,” pikirnya dalam hatinya serta duduk ke kursi menghadapi meja tulisnya. “Aku rasa, ajalku hampir sampai. Syukur! Akan tetapi aku............. mesti membuat sepucuk surat dahaelu, akan jadi peringatan bagi orang tuaku kemudian hari.”
Maka dimulainyalah menulis. Setelah sudah surat itu, lalu dilipatnya dan dimasukkannya ke dalam lipatan pakaian nyia.
Ia pergi ke tempat tidurnya, berbaring, karena kepalanya sangat sakit dan hatinya pedih sebagai diiris-iris dengan sembilu.
Petang hari isteri engku Suleman datang ke rumah orang tua
Saniah, akan menengok gadis yang sakit itu, serta membawa bu-ah-buahan dalam blik.
Ia disambut oleh orang tua dan keluarga Saniah dengan ku-rang senang hati, sebab mereka menaruh syak dan sangka kepadanya. Buah-buahan yang dibawanya itu pun diasingkan orang ke tempat lain, karena mereka kuatir kalau-kalau di dalamnya ada ramuan yang akan menambah kerasnya penyakit Saniah pula.
Kelakuan dan perbuatan mereka itu nyata benar kelihatan oleh Saniah, sehingga hatinya bertambah-tambah sakit............ dan air matanya berlinang-linang di pipinya. Ketika isteri engku Suleman duduk dekat kepalanya, maka kepala perempuan itu pun diraihnya kemukanya, diciumnyia pipinya, serta ia berkata dengan berbisik-bisik:
“Uni! Ma'afkan dosa saya lahir dan batin, dunia dan akhirat; dan uni sampaikanlah salam dan ma'af saya kepada engku. Barangkali saya ta‘ kan lama hidup lagi, uni!”
“Ah, Saniah, jangan disebut yang bukan-bukan. Saya berharap siang dan malam, mudah-mudahan ‘umurmu panjang, lekas sembuh,” yawab perempuan itu, sedang air matanya telah jatuh kepipi gadis itu dengan tidak diketahuinyia.
“Tidak, uni, ajalku hampir sampai rasanya, ta‘ lama lagi. Sebab itu saya minta ma'af kepada uni dan engku dan kepa-da............ Nya’ Amat. (Perkataan yang akhir itu hampir-hampir ta‘ kedengaran). Budi baik uni akan saya bawa mati............” Ia ta’ dapat meneruskan perkataannya, karena dadanya sesak rasanya.
“Ah, Saniah, sabarlah engkau, sabarlah. Jangan berpikir demikian, ta‘ baik bagi dirinu sendiri. Engkau ta’ berdosa, Saniah, engkau seorang gadis yang suci............ Sabarlah, tawakkallah kepada Allah, moga-moga engkau lekas sembuh.”
Anak gadis itu menangis dan isteri engku Suleman duduk baik-baik serta mengeringkan air matanya. Sebentar antaranya kakak dan ibu Saniah datang membawa hidangan, akan penjamu isteri engku Suleman itu. Sesudah makan isi hidangan itu, perempuan itu pun bermohon diri hendak pulang dan berjabat tangan dengan gadis yang sakit itu.
Baharu isteri engku Suleman berangkat, ibu Saniah pun berkata kepada anaknya:
“Jangan engkau selalu menangis saja, Saniah, turut perintah orang tuamu. Ya, kalau perempuan itu sudah datang kemari, engkau telah menangis pula............”
“Ibu,”...... kata Saniah dengan sedih.
“Apa? tadi engkau tidak apa-apa lagi. Perempuan la'nat itu telah menjadikan engkau celaka. Siapa tahu, agaknya ia datang akan memberi apa-apa pula kepadamu. Sesungguhnya perempuan itu sudah mengajar engkau berlaku kurang senonoh, ta‘ menurut perintah orang tua. Sungguh, kalau perempuan sudah bersekolah, tidak mengaji, mudah saja menurut ’adat dan cara kafir.”
Saniah berdiam diri saja, sedang air matanya telah membasahi bantalnya. Ia membalik belakang dan menangis, akan tetapi suaranya tidak kedengaran. Akhirnya ia pun pingsan pula............
Meskipun dukun Udo Syam sudah dipanggil pula dan Meskipun orang telah sibook membakar kemenyan dan membaca yasin, tapi anak gadis itu tidak sadarkan dirinya juga.
“Apa ‘akal? Dokter dipanggil pula. Setelah datang, maka ia-pun bekerja memeriksa orang sakit itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata kepada ayah Saniah, yang berdiri disisinya:
“Duloie kita sudah bilang sama teuku, mesti turut kemauani ini anak, sebab dia ada cinta satu orang. Sekarang ini anak sudah payah. Otaknya telah rusak dan barangkali dia ada makan racun sendiri. Sedikit sekali harapan. Akan tetapi coba-coba,” lalu orang sakit itu disuntiknya.
Beberapa menit kemudian Sitti Saniah pun sadarkan dirinya pula. Ia menangis kesakitan, akan tetapi suaranya tidak kedengaran jua.
“Bagus,” kata dokter itu sambil menulis sehelai recept. Surat obat itu diberikannya kepada ayah Saniah, dan disuruhnya minta obat keapotheek. Setelah diterangkannya bagaimana mempergunakan obat itu, dokter itu pun berangkat pulang, sedang ayah Saniah pergi ke rumah obat.
Tiada berapa lama antaranya bapa Saniah pulang kembali. Dengan segera obat yang dibawanyia itu diminumkannya kepada anaknya; akan tetapi ta‘ lalu lagi,—baru sampai dikerongkong-annya, Saniah muntah............
Malam itu jua yaitu malam Jum'at, anak gadis yang ma- lang itu pun berpulang kerahmatullah, meninggalkan negeri yang fana dan kembali ke negeri yang baka.
Bukan buatan sibuknya tangis dan ratap dalam rumah orang kematian itu. Orang setangga datang ke situ belaka, laki-laki dan perempuan.
Mayat gadis itu diangkat orang dari tempat tidurnya, dibaring- kan di ruang tengah serta diselimuti dengan kain yang mahal-ma- hal harganya.
Pada keesokan harinya pagi-pagi orang sudah penuh dalam rumah itu. Ada yang hanya akan melawat saja, dan ada pula yang akan menolong menyiapkan ini dan itu. Orang perempuan mengangkat air akan pemandikan mayat, orang laki-laki membuat keranda dan menyediakan papan akan penutup liang lahat.
Sesudah sembahyang Jum'at, jenazah itu pun diangkat dan dibawa orang ke Deahbaro, akan dikuburkan di situ, serta di- iringkan oleh orang banyak. Beberapa orang tua-tua, pegawai kantor, guru-guru dll. pergi belaka mengantarkan jenazah anak ga- dis itu. Engku Suleman pergi juga, akan tetapi Nya‘ Amat............. tidak. Ia menangis di tempat tidurnya dengan sangat sedih.
Ketika jenazah telah jauh dan ketika orang perempuan tidak menangis lagi di rumah orang tua Saniah, ketika itu datanglah ‘Alimah kepada ibunya menyerahkan sepucuk surat.
“Surat apa ini?” tanya orang tua itu, sambil menoleh kepada anaknya.
“Entahlah,” kata perempuan itu, ”surat itu saya dapati di- dalam lipatan kain dalam lemari pakaian Saniah.”
Surat itu dibuka oleh ibunya itu dan disuruhnya baca oleh anaknya di muka segala kaum keluarganya. Demikian bunyinya:
“Ayah dan bunda! Ampuni dan ma’afkanlah segala dosa anakanda, jika anakanda meninggalkan dunia yang fana ini, karena penyakit anakanda sangat keras rasanya. Penyakit anakanda ini, ayah dan bunda, bukannya penyakit teukeunong sebagai dugaan ayah, bunda dan seisi kampung ini, melainkan suatu penyakit yang sangat jahat dan berbahaya...... penyakit “cinta” namanya.
Barang siapa yang kena penyakit “cinta” itu, niscaya sukmanya, badannya dll. akan rusak-binasa, kalau ta’ lekas dapat obatnya.
Ya, ayah dan bunda...... ta’ dapat anakanda menderitakan penyakit itu.
Agaknya ayah dan bunda serta kaum keluarga yang lain-lain sudah mendengar atau melihat orang muda-muda laki-laki atau perempuan yang meninggalkan dunia “dengan paksa”—menggantung, membunuh diri atau mati merana umpamanya—, akan tetapi ayah dan bunda ta’ indahkan sebab-sebabenya. Melainkan dengan segera bersangka: ia sakit teukeunong, karena perbuatan (khianat) orang lain, seperti hal anakanda ini. Pada hal persangkaan itu salah semata-mata, telah diperdayakan oleh dukun palsu yang mencari uang akan napekah dirinya.
Akan mencegah perbuatan yang jahat itu, maka anakanda tulislah surat peringatan ini, moga-moga berpaedah bagi ayah dan bunda dan bangsaku kelak, supaya jangan tertipu jua oleh dukun-dukun yang lancung. Dan lebih utama lagi, supaya ibce bapa atau orang tua ta’ suka lagi kelak melakukan “kawin paksa” pada anaknya.
Ayah dan bunda dan bangsaku, janganlah dipaksa anakmu laki-laki atau perempuan kawin dengan seseorang yang ta’ disukainya, supaya badan dan sukma anakmu jangan rusak-binasa seperti anakanda yang malang ini.
Tambahan pula “janji yang telah diperbuat” dan ”kata yang telah dipadu” hendaklah dipegang teguh-teguh, supaya jangan menjadi sesal akhir kelaknya.
Sembah sujud anakanda, S.”
TAMMAT.
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.