Baca EPUB: Noraka Penghidupan

12 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. NORAKA PENGHIDUPAN
  2. MONSIEUR HSU
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. IDUWA KALI PATA
  6. IIDAPET HIBURAN
  7. IIITUWEL
  8. IVDALEM KASANGSIAN
  9. VAPA YANG TIDA TERDUGA
  10. VIMANIS, MANIS ASEM!
  11. VIINORAKA PENGHIDUPAN
  12. VIIIKASEP(PENUTUP)
  13. UNCOPYRIGHT

NORAKA PENGHIDUPAN

MONSIEUR HSU


KOLOFON

NORAKA PENGHIDUPAN

oleh

MONSIEUR HSU



Electrische Drukkerij “MINERVA” BANDUNG.

1930

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: digitalcollections.universiteitleiden.nl

Ilustrasi sampul: Two Human Beings. The Lonely Ones (To mennesker. De ensomme) 1899, karya Edvard Munch

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam.com



I

DUWA KALI PATA

Tegal sedeng tertawung oleh mendungnyia awan-awan item. Itu waktu baru saja jam anem sore, tapi lantaran udara mendung, yuwaca pun jadi lebih gelap dari biasanya. Kun Liong, satu pamuda, kaliatan justru lagi duduk melonjor di satu krosi males, yang terletak di sampingnyia satu jendela kebon. Angin sore yang sejuk saban-saban berselirw masuk dan menyup mukanya itu anak muda, yang romannya rada pucet dan gurem; tapi oleh kerna ia justru rasaken heibatinya iapunya pikiran yang teraduk-aduk tida brentinya, kaliatannya ia tida rasaken tiupannya itu angin, malah sabaliknyia itu hawa yang sejuk sabagi juga membantu iapunya pikiran jadi melayang-layang semingkin jau dan sawat. Suwaranya burung kuyica dan kuti lang yang gumbira, tapi bagi telinganya itu pamuda tida berbeda sebagi ratapan dan kelohannya itu orang-orang yang ia lagi pikirin.

Kun Liong ada puta satu-satunya dari entiek Peng Liang, satu penduduk Slawie yang berniaga dalem hasil bumi, tapi keadahannya tida terlalu cu-kup dan longgar. Slawie ada satu desa yang terpisa limablas K.M. dari kota Tegal. Itu anak muda masi ada mempunyai lagi satu sudara prampuan yang perna lebih tuwa, Keng Nio, sama siapa ia hidup dengen rukurn dan saling menyinta. Tapi mengapa itu waktu Kun Liong tinggal terpisa sama iapunya rumah-tangga dan berdiam di Tegal?

Itu anak muda biar pun umurnya masi belon sabrapa, tapi suda bebrapa kali dalem penghidupannya teryadi perkara-perkara yang membikin pata iapunya hati yang saderhana dan baek. Oleh kerna kadukahannya yang sanget, akhirnya ia jadi lengleng dan suka berlaku seperti saorang gila. Kaduwa orang tuwanya, begitu pun iapunya enci, lantaran meliat suda tida ada jalan buat menghibur hatinya itu anak muda, suda membikin iaorang jadi bingung dan tida tau musti berbuat bagimana.

Beruntung pada sabelonnya keadahan perkara ja-di terlebih hebat, encek Peng Hok, yang kabetulan dateng menenamu ka rumahnya iapunya engko di Slawie, meliat keadahannya iapunya kaponakan begitu rupa, hatinya yang baek merasa sanget kasian, maka ia kasi voorstel supaya itu anak muda tetirah s'ja ka Tegal, sekalian kalu suda baek boleh membantu juga iapunya toko provisien & dranken. Itu hal disetujuin oleh ibu dan ayahnya Kun Liong, dan begituloh anak muda kita sekarang berada di itu kota dan menumpang dalem rumahnya iapunya paman.

Ternyata di Tegal Kun Liong dengan perlalahan jadi sembuh pikirannya yang berduka. Oleh kerna ia ada satu anak baek dan bisa membawa diri, encek dan encim Peng Hok merasa sayang pada itu kaponakan sabagi juga putranya sendiri, terutama tersebut itu paman tida mempunyai anak lelaki.

Tatkala Kun Liong masih tinggal di Slawie, senantiasa suka bekerjia berat buat membantuin pakerjahannya iapunya ayah kerna ia tau baek ba-huwa sang ayah bukannya orang yang mampu. Di waktu musimnyia hasil bumi kaluear, Kun Liong tentu panggul dacin masuk kaluar kampung: kalu musim randu, ia pergi ka Lebaksiu atawa Danawari buat membeli itu macem hasil bumi, kadang-kadang sampe satu minggu lamanya baru ia balik pulang ka rumahnya; waktu musim tem-bako, samacem industrie yang banyak dikerjaken oleh penduduk pribumi dari Slawie, itu anak muda pun jadi sanget repot buat menaksir dan membeli hasil industrie tersebut. Kun Liong ada satu tukang taksir tembako yang pande dan paham, selamanya iapunya taksiran jarang meleset, lantaran itu juga suda membikin perusahan ayahnya jadi mendapat banyak kauntungan.

Samentara tentang itu anak muda punya pelajaran, tida bisa dikata terlalu berhasil, kerna baru saja ia bikin tamat pelajaran sekola rendah dari T.H H.K. Tegal, pelajarannya tida bisa dilanjutken, kerna sang ayah tida mempunyai kakuwatan cukup buwat ongkosin lebih jau. Cuma saja itu anak muda suka sekali meyakinken apa-apa dengen kamaunnya sendiri, yaitu dengen membeli banyak buku-buku dan cdskhrift tentang ilmu pengetahuan; salaennya itu, ibu dan ayahnya pun bisa mengasi pendidikan batin yang baek, hingga itu anak muda bisa menjadi socute pamuda yang sopan santun. Di waktunya yang senggang, ia suka membantu juga segala urusan yang membawa kafaedahan bagi kapentingan umum, hingga ia terkenal juga dalem kalangan kong-ek.

Kalo Kun Liong dalem penghiburan materiaal suda mempunyai banyak pengalaman, dalem dunia pertiytahana pun ia suda alamken banyak kagetiran. Tatkala ia masi duduk di bangku sekola Slawie, Amor suda mulai kutik-kutik iapunya hati yang masi saderhana. Di antara iapunya temen sekola ada terdapat Lian Nio, satu gadis miskin, tapi budi dan kalakuannya sanget menarik hatinya itu anak muda, oleh kerna itu juga Kun Liong senantiasa suka bergaul dan pasang omong sama itu gadis ketiyil. Boleh jadi juga lantaran keadahannya itu gadis yang tida berbeda banyak dengan ianya, suda menarik hatinya itu anak muda.

Sementara fihaknya itu gadis pun, merasa sanget suka dan bersokur pada itu anak muda yang tida angkuh, maka bukan jarang pada waktu mau masuk sekola, itu gadis ketiyil suka sengaja dateng menyamper pada itu anak muda, yang justru lagi mengatur barang dagangannya iapunya ayah, dan kalu kabetulan masi banyak yang belon selese, bukan jarang itu gadis ketiyil suka membantuin.

Itu waktu Kun Liong baru berusia limabelas taon, tapi maski pun umurnya boleh dibilang masi anak-anak, tokh pikirannya sebagai juga saorang tuwa yang suda kenyang makan asem garemna dunia. Pada suatu sore, itu sapasang sobat ketiyil jalan-jalan di suatu taman, dan itu anak muda diam-diam memuji kaeilokannya iapunya kawan itu.

Mendadak itu anak muda maju satu tindak lebih deket dan memegang kenceng pada tangannya itu gadis ketiyil, sembari berkata dengan suara erharu: “Lian, saya kuatir takdir aken membikin kita berduwa jadi terpisa satu dengen laen. Oh! bagimana aken terjadi atas saya punya diri, bila dengen sasunggunya nasib ada begitud kejam...”

“Jangan bicara perkara yang menakutin, ‘ko Kun Liong,” memotong itu gadis, yang biarken tangannya dipegangin oleh itu anak muda. “Thian tokh ada sampe murah, yang selamanya suka melindungin pada makhluknya yang lemah. Jangan begitud berkuatir, ’ko, Thian nanti payungin kita punya penghibupan di hari kamuedian.”

“Itulah yang saya harep, Lian. Oh, bagimana girangnya bila kita bisa hideop terus dengen berkumpel sama-sama. Eh, coba kau liat,” menambahken itu anak muda dengen suara kaget.

Tapi pada sabelonnya ia bisa melanjutken bicaranya, itu gadis pun lantas menyelak dengen suara terkejut: “He, ada apa sih, ‘ko?”

“Liat, Lian, itu rembulan justru dimakan oleh Buta Ijo (menurut kapertayahannya anak negri, grahana bulan katanya sang rembulan justru dimakan oleh Buta Ijo). Itulah menandaken takdir memang sanget kuwat; dewi rembulan pun tida bisa terlolos dari kahendakannya takdir. Maka saya kuatir, Lian.......”

Itu anak muda merandek, sebab tida sanggup melanjutken bicaranya sendiri, dan iapunya tubu jadi bergidik.

“Sudalah, ‘ko, buat apa sih takutin perkara yang bukan-bukan. Mari kita pulang saja, sebab sekarang suda menjadi malem,” kata Lian Nio.

Begitulah itu sapasang orang kaluar dari itu taman dengan bergandengan tangan.

Satengah bulan kamudian, kakuatirannya Kun Liong lantas berbukti. Lian Nio yang baek dan can- tik, meninggalken ini dunia yang fanah, kerna itu gadis ketiy yang tida beruntung telah diserang penyakit influenza, yang itu waktu justru mengamuk di dalem bilangan Slawie dan banyak laen tempat lagi di Indonesia.

Kita boleh tida usa bicaraken bebrapa besar ka-dukahan yang ditanggung oleh kulawarganya Lian Nio; tapi terlebih berduka lagi hatinya kita punya anak muda, yang sanget menyinta pada kawan sekolanyia itu. Di depan orang banyak, suda tentu saja ia tida brani menangis, tapi sabegitu lekas ia tinggal sendirian, tida tempo lagi iapunya aer mata mengalir dengen deres. Bukan jarang orang menampak itu anak-muda suka duduk terpekur di samping kuburannya itu gadis yang tida beruntung, sedeng di atas meja batu peranti sembayangnyia itu kuburan, orang aken menampak bebrapa macem kuwe-kuwe yang disuka oleh Lian Nio almarhum.

Encek Peng Liang suka comelin dan gusarin perbucatan anaknya itu; tapi Kun Liong tida membantah dan juga tida bikin berobah iapunya kelukuan itu. Malah bermula itu anak muda tida bernapsu buat masuk ka rumah sekola, tapi beruntung ada sang enci yang bisa membujuk dengan lemah-lemut, hingga kita punya anak muda jadi mendusin dan mau melanjutken pelajarannya, tapi pinda ka T.H.H.K. Tegal. Rupanya itu anak muda ingin menyingkir dari segala peringetan yang ia suda alamken sama Lian Nio.

Sapindahnyia ka Tegal, Kun Liong punya pikiran yang masih saderhana, dengen perlahan melupaken iapunya kadukahan. Encek Peng Hok, pamannya itu anak muda, kasiken kaponakannya itu tinggal dalem rumahnya, ‘sebab dengen begitu aken me- ringanken onkost transport. Cuma lantaran di dalem rumahnya itu paman, yang tida mempunyai putra, salaennya satu putri, suda membikin itu anak muda jadi kasepian, maka dengen tida merasa lagi iapunya pikiran jadi terkenang lagi sama Lian Nio, hingga ia jato sakit sampe bebrapa minggu lamanya. (Oleh kerna itu juga, encek Peng Liang ambil pu-tusan bahua putranya lebih baek brangkat pagi pulang sore saja, dengen ambil abonnement kreta-api.

Ternyata itu daya ada baek, sebab luka-hatinya itu anak muda dengen perlahan menyadi sembuh. Tiga taon kamudian, Kun Liong yang belajar dengen giat, akhirnya lulus dari Ko-ieng-siauw-hak dengen mendapat pujian bagus dan kadudukan tinggi. Itu waktu bebrapa murid yang lulus banyak yang mau brangkat ka Tiongkok buat melanjutken marika punya pelajaran yang lebih tinggi. Kun Liong pun ada mengandung itu macem niatan; tapi sunggu sayang sekali, keadahan ayahnya yang tida mampu, tida bisa bikin itu niatan jadi kasampean.

Itu waktu Kun Liong suda menyadi satu jejaka yang cakep, lantaran tida bisa melanjutken pelajarannya ka Tiongkok, lalu ia membantuin teros ayahnya punya perusahan, di laen fihak ia membeli rupa-rupa buku dan cdskhrift yang bersifat ilmu pengatahuan, maka dengen belajar sendiri, itu anak muda punya pengatahuan jadi bertamba.

Itu waktu, hatinya itu anak muda yang sakean lamanya suda mulai tidur dalem urusan percin-tahan, dengen perlahan suda mulai sedar lagi tertarik oleh sutau gadis yang baru pindah dan menyadi tetangganya. Apa orang tida aken bilang bahua itu anak muda lekas sekali pindahken kacintahannya dari Lian Nio pada gadis laen? Ya, itulah suker dibilang: sebab pengrasahan cinta umumnya tida bisa kekal buat selama-lamanya, apapula itu waktu Lian Nio suda tida ada lagi di dalem dunia. Lagian kalu du-luan Kun Liong terus kenangken iapunya kakasilh sampe menyadi lengleng dan jato sakiit, itul-h justru menandaken kacintahannya yang keras. Kalu sekarang kacin-tahan yang lama suda dikubur dalem ka-dukahan, sajamaknya saja jika pengrasahan yintanya yang terbenam sabegiiu lamanya—lantaran tida ada jalan buat dilampiasken—sekarang ditujuken pada suatu gadis laen, yang boleh diupamaken sabagi gantinya Lian Nio yang suda wafat.

Suatu hari Kun Liong punya pikiran diyadi tertarik, kutika meliat suatu rumah yang letaknya betul di sebrangnya iapunya rumah, dibresihken oleh dua kuli, kamudian ada beberapa kuli laen yang dateng mengangkutin perabotan. Saorang lelaki yang kira berumur ampatpuluh taon lebih menga-palai itu semua kuli-kuli buat melakuken marika punya pakerjahan. Kun Liong lantaran tersurung oleh pengrasahan yang ingin tau, lalu mengham-perin dan menanya pada itu orang yang mengapalai itu pakerjahan.

“Entiek, kau sewa ini rumah dan bakal tinggal di sini?” menanya ia.

Itu orang satengah tuwa cuma manggutken saja kapalanya, tapi saterusnya tida mengopenin lagi pada itu anak muda, hal itu suda tentu saja suda membikin Kun Liong yang adatnya tida suka dihinaken orang jadi kurang senang. Maka ia pun tida bernapsu buat menanyaken lebih jau, hanya buru-buru menyingkir dengan pengrasahan mendongkol.

Satu minggu kamudian itu rumah suda mem punyai penduduk, di antaranya yang paling menarik perhatiannya kita punya anak muda, adalah suatu gadis yang suda rumaja putri, umurnya kira-kira tujubias taon. Tubunya itu gadis sedikit tinggi, langsing dan potongan nyia ramping; iapunya paras muka tida bisa dikata terlalu caniki, tapi ada mempunyai sari manis, terutama iapunya sapasang mata yang bagus, bisa sekali mengirut orang punya hati.

Pada waktu Kun Liong meliat pada itu gadis, lantes saja hatinya jadi terkesiap. Sebab itu waktu gadis tersebut justru menyamping dan tampang mukanya pun cuma tertampak sabelah, dan...... itulah sanget mirip sama Lian Nio yang suda ada di lobang kubur. Kun Liong mengawasi pada itu gadis dengen mata tida berkesip dan terlongong-longong seperti satu tunggak. Rupanya itu gadis di sebrang pun mendapat tau bahua dirinya lagi dincer orang, buru-buru ia lari masuk ka dalem, hingga sasa'at itu juga, kita punya anak muda jadi mendusin dengen mendadak sabagi juga kena dipagut oleh uler yang berbisa.

Satu harian itu hatinya itu anak muda jadi tida aman, saban-saban ia jadi terkenang pada Lian Nio yang ketiyil molek, tapi saban-saban juga rupanya Lian Nio jadi buyar, kamudian digantiken oleh suatu gadis yang tinggi, langsing dan potongan mukanya kalu diliat dari samping justru sabagi juga gambarnya Lian Nio! Oleh kerna itu gadis disebrang ada mempunyai sifat yang ampir mirip sama Lian Nio, de-ngen tida merasa lagi hatinya kita punya anak muda jadi berdebaran, yang ia sendiri tida mengarti apa sebabnya.

Saban pagi masi gelap, kira jam lima, Kun Liong suda buru-buru membuka tokonya sembari me- sebab pengrasahan cinta umurnya tida bisa kekal buat sel-ma-lamanya, apipula itu waktu Lian Nio suda tida ada lagi di dalem dunia. Lagian kalu du-locan Kun Liong terus kenangken iapunya kakasih sampe menyadi lengleng dan jato sakit, itulah justru menandaken kacintahannya yang keras. Kalu sekarang kaiyintahann yang lama suda dikubur dalem ka-dukaham, sajamaknya saja jika pengrasahan iyintanya yang terbenam sabegiiu lamanya—lantaran tida ada jalan bocat dilampiasken—sekarang diujuken pada suatu gadis laen, yang boleh diupamaken sabagi gantinyia Lian Nio yang suda wafat.

Suatu hari Kun Liong punya pikiran diyadi tertarik, kutika meliat suatu rumah yang letaknya betul di sebrangnya iapunya rumah, dibresihken oleh dua kuli, kamudian ada beberapa kuli laen yang dateng mengangkotin perabotan. Saorang lelaki yang kira berumur ampatpuluh taon lebih mengapalai itu semua kuli-kuli buat melakucken marika punya pakerjhahan. Kun Liong lantaran tersurung oleh pengrasahan yang ingin tau, lalu menghamperin dan menanya pada itu orang yang mengapalai itu pakerjhahan.

“Entiek, kau sewa ini rumah dan bakal tinggal di sini?” menanya ia.

Itu orang satengah tuwa cuma manggutken saja kapalanya, tapi saferusnya tida mengopenin lagi pada itu anak muda, hal itu suda tentu saja suda membikin Kun Liong yang adatinya tida suka dihinaken orang jadi kurang senang. Maka ia pun tida bernaspu buat menanyaken lebih jau, hanya buru-buru menyingkir dengen pengrasahan mendongkol.

Satu minggu kamudian itu rumah suda mempunyai penduduk, di antaranya yang paling menarik perhatiannya kita punya anak muda, adalah suatu gadis yang suda rumaja putri, umurnya kira-kira tujublas taon. Tubunya itu gadis sedikit tinggi, langsing dan potonganya ramping; iapunya paras muka tida bisa dikata terlalu fyanitik, tapi ada mempunyai sari manis, terutama iapunya sapasang mata yang bagus, bisa sekali mengirut orang punya hati.

Pada waktu Kun Liong meliat pada itu gadis, lantes saja hatinya jadi terkesiap. Sebab itu waktu gadis tersebut justru menyamping dan tampang mukanya pun cuma tertampak sabclah, dan...... itulah sanget mirip sama Lian Nio yang suda ada di lobang kubur. Kun Liong mengawasi pada itu gadis dengen mata tida berkesip dan terlongong-longong seperti satu tunggak. Rupanya itu gadis di sebrang pun mendapat tau bahua dirinya lagi dincer orang, buru-buru ia lari masock ka dalem, hingga sasa'at itu juga, kita punya anak muda jadi mendusin dengen mendadak sabagi juga kena dipagut oleh uler yang berbisa.

Satu harian itu hatinya itu anak muda jadi tida aman, saban-saban ia jadi terkenang pada Lian Nio yang ketiyil molek, tapi saban-saban juga rupanya Lian Nio jadi buyar, kamudian digantiken oleh suatu gadis yang tinggi, langsing dan potongan mukanya kalu diliat dari samping justru sabagi juga gambarnya Lian Nio! Oleh kerna itu gadis disebrang ada mempunyai sifat yang ampir mirip sama Lian Nio, de-nyen tida merasa lagi hatinya kita punya anak muda jadi berdebaran, yang ia sendiri tida mengarti apa sebabnya.

Saban pagi masi gelap, kira jam lima, Kun Liong suda buru-buru membuka tokonya sembari me- ngatur barang dagangannya, kerna tida lama kamu-dian di sebrang pun mulai membuka warungniya, dan orang yang melakuken itu pakerjahan, bukan laen dari itu gadis yang suda bikin mencelos hatinya kita punya anak muda. Kun Liong duduk di satu korsi dalem warungniya memandang ka sebrang sedang itu gadis pun berduduk di sabelah blakang warungniya sembari mengadepin iapunya barang-barang dagangan.

Bermula itu gadis selamanya singkirken iapunya sorot mata dari pemandangannya Kun Liong, dan sabrapa bisa ia pura-pura tundukin kapalanya sabagi orang yang mengawasi barang dagangannya; tapi Kun Liong yang terus mengincar ka jurusanan-nya itu gadis, kadang-kadang bisa rasaken satu cahaya mengkredep dan lemut masuk ka dalem iapunya pemandangan, hingga suda membikin iapunya sa'antero tubu jadi menggetar dan hati dak-dik-duk tida brentinya

Lama-kalamahan itu gadis brani juga sambut tantangannya Kun Liong punya sorot mata; tapi sabagitu lekas beradu, buru-buru ia melengos, sedang di mulutnya sabagi juga tersemuni suatu senyuman manis. Apa itu memang dengan sabetulnya, atawa cuma ciptahannya itu anak muda sendiri saja, sasunggunya tida gampang diterangkan. Tapi bagi itu anak muda sendiri, ia mendapat kanyatahan bahua si manis tida unjuk muka asem dan merengot bila dipandang oleh ianya dengen sikap yang tersemssem.

Oleh kerna itu juga, Kun Liong jadi jinek sekali berdiam di rumah. Keng Nio yang bermata tajem, dengen ceyet suda bisa memperhatiken perobahan yang suda teryadi atas dirinya iapunya ade itu. Bukan diyarang ia pun suka mengintip buat menyaksiken itu sapasang orang muda yang lagi bikin perhubungan “radio”. Diam-diam itu enci merasa suka pada itu gadis yang manis dan sorot matanya begitu lembut dan mulia.

Bermula Keng Nio tida mau pecahken itu resia dengen lantes, kerna ia ingin sudaranya yang lebih dulo menyataken padanya. Tapi ternyata Kun Liong ada terlalu bisa menyimpen resia, selamanya ia tida mau menyataken satu apa tentang itu gadis, di hadepannya iapunya enci. Satu taon suda berselang sadari itu gadis dan kulawarganya pindah tinggal di depan rumahnya Kun Liong; tapi Kun Liong masih saja pegang keras iapunya resia, hal mana suda membikin bingung hatinya sang enci, yang tida bisa mengarti mengapa adenya bisa tinggal sabar dan simpen keras iapunya resia hati. Lalu ia ambil putusan buat membuka jalan, supaya bisa memancing hatinya Kun Liong.

“Liong, sekarang kaeo suda ampir berosia duapoluh taon,” mulai sang enci, “dan mama bilang ia mau cariken satu gadis buat menyadi kaeo punya istri, kerna kuatir kaeo aken nakal di luaran.”

Kun Liong ganda tertawa saja.

“Apa betul, ci?” menanya ia akhirnya. “Jika bener begitu, aku harus haturken trima kasi atas mama punya kabaekan.”

“Apa kaeo suka menurut, sudara?”

“Tentu saja suka, sebab orang hideop tokh jika sampe waktunya memang harus menikah. Cuma saja lantaran kaeo yang perna lebih tuwa, maka kaeo yang harus menikah dulocean, kamudian baru aku.”

“Tida, mama bilang kaeo mau dinikahken dulut, laginya aku tida ada niatan buat bersuami,” kata itu gadis yang paras mukanya berobah merah, “sebab aku mau kumpul terus sama-sama.“

“Hm, enak saja kaeo mengomong. Laen orang dimustiken menikah lekas-lekas, tapi sendiri mau dikacoaliken. Kalu kaeo boleh, saya pun tida mau dinikahken; kaeo kira orang menikah enak? Walah, sukernya, mendongkolinya, bukan buatan; mau kalear pintu satindak, musti teken pasport, mau ini, musti minta idzin, mau itu, musti dapet surat katerangan. Tapi apa boleh buat, kalu kaeo mau saya pun idem.“

“Anak bengal,” kata itu gadis dengen goyang kepala. “Baeklah, aku suka trima accoord kaeo punya kaberatan; tapi kaeo nanti pilih siapa buat istrimu?“

“Akh, sebab saya belon pikir itu sual, ‘ci, jadi saya belon perna liat-liat siapa yang pantes jadi kaeo punya ipar.“

“Jangan menjusta, anak bengal. Aku suda tau itu nona yang kaeo cintaken!“ kata pula itu ‘nci sambil pandang paras mukanya sang ade buat liat perobahannya, tapi itu maksud tida berhasil. Kun Liong ada sampe tegu buat tida usa kentaraken rasa kagetnya.

“Suda tau?” mengulangin Kun Liong dengen berlaga bodo. “Eh, apa kaeo jadi sobatnya Amor?“

“Suda, jangan malu-malu lagi, anak manis, aku nanti suka bantu niatanmu.“

“Trima kasi, ‘nci, nah, trima saya punya tangan,” kata Kun Liong sembari sodorken tangannya dan dijabat oleh itu sudara tua. “Tapi bersabarlah, ’nci saya nanti liat-liat dulu, kalu dapet, saya kasih tau buat kaeo voorstelken lagi sama mama.” Keng Nio jadi melongo, tadinya ia duga Kun

Liong mau akeohi terus terang perasa'an hatinya, tapi siapa tau itu sudara ada begitu bandel.

“Kaeo memang terlalu bengal, Kun Liong! Atiati, besok aku bales goda hatimu yang rindu,” kata Keng Nio dengen suara kaku dan berjalan masuk.

Kun Liong tida perhatiken lagi itu kejadi, tapi dengen bersut ia lantas berjalan kalear buat tengok itu nona disebrang. Tapi alangkah kagetnya, kutika dengen tida ketahuan lagi kupingnya suda dijiwir oleh Keng Nio yang suda berdiri diblakangnya.

“Hm, di depanku kaeo berlaga suti seperti Nabi, tapi di sini kaeo lagi liatin apa sampe begitu terlongong-longong?”

“Liat apa?” mengulangin Kun Liong yang berdaya buat bisa tetepken hatinya. “Eh, aneh, mata hidup ko tida boleh meliat. Dunia tokh mempunyai banyak benda buat diliat dan dikagumi. Sedeng kaeo sendiri? kenapa kaeo biarin itu mata bergerak-gerak seperti matanya alap-alap?” kata lagi Kun Liong dengen ketawa enteng dan bikin Keng Nio jadi bungkem.

“Tapi kenapa barusan kaeo awasin saja itu gaddis dengen tida berkesip?”

“Siapa bilang saya awasin ia tida bisa suda? Sunggu tida, ‘ci, saya cuma ketarik oleh itu sorot mata yang selalu suka langsir kemari.” Liatlah, kaeo bisa buktiken saya tida bicara justa,“ menambahken Kun Liong dengan laku jinaka dan saban-saban menengok ka jerusannya itu gadis yang lagi du-duck mengadepin warungnya, hingga jadi kabogehan dan lari masuk.

“Sudara, kaeo pandang orang jangan kaliwatan, itu bisa ‘diartiken perbuatan kurang ajar! Kaeo tokh sampe kenal pri-kasopanan Tionghoa. Kalu betul kau ada menyinta, bilang saja terus terang, dan aku nanti voorstelken pada mama.“ ”Cinta? Apa itu cinta? Bagimana bangun dan macemnya cinta? Tulung kau ceritaken, ‘ci.“ ”Tida bisa, Liong, kerna memang aku sendiri tida mengarti apa itu benda yang disebut cinta! Cuma saya sering denger orang bilang: Kalu ada perasa'an suka, itu tandanya menyinta!“ ”Siapa namanya itu nona, ’ci?‘ menanya Kun Liong yang sengaja menyimpang dari pembitiyarahan. “Kau musti mengaku dulu, yang kau betul ada menyinta.” Kun Liong berdiam dengen rupa berpikir. “Kalu saya tida mau mengaku, bagimana?” “Diyangan harep dapat aku punya katerangan!” “Kalu saya memaksa?” “Juga percuma!” “Kalu saya menangis?” “Kau tida malu, sudara? Buat dapat tau namanya satu gadis, musti jual tangisan.” “Baeklah, ini kali saya mengalah,” menyanggupin Kun Liong dengan garuk-garuk kepala. “Saya trima seperti apa kau bilang.” “Tida, kau musti sebut sendiri perkatahan menyinta,” menggoda itu ’nci. Kun Liong jadi mendongkol, tapl apa boleh buat. “Ya, saya cinta bibir.” “Apa itu cinta bibir?” “Sekarang ada giliran'mu buat penuken kau punya janji.” “la bernama Giok Nio.......” “Ho, begitu bagus, satimpal betul sama orang- rya,” kata Kun Liong dengen berjingkrak lantaran kagirangan. “Nanti dulu, anak bengal, kau musti artiken dulu maksudnyia cinta bibir.” “Kau belon mengarti, ‘ci? Cinta bibir, artinya: Cinta cuma di bibir, sebab bibir itu yang gampang lukisken apa saja, maski hatinya tida setuju.” “Ha, aku kena diakalin. Tapi tida apa, aku sendiri suda tau, betul kau ada menaro hati pada Giok Nio.” “Saya banta itu.” “Kau brani sumpah?” “Brani!” katanya dengan melembungin dada. “Co-ba kau dengerin biar baek: ’Kalu saya betul menyinta dan sengaja bilang tida, biarlalh nanti kapan saya suda menika, Tuhan nanti...... Ahem......, ganjar saya jadi.... Multi Millionaire, mempunyai gedong besar, auto bagus, dan saya nanti ajak kau pasiar. Bagimana accord?” “Anak gendeng, memang kau susa diurusnia, begitu pun aku tida mau mengopeni pula. Tapi ati-at kalu kau suda kena sakit Rindu.” “‘Ci, ’ci, nanti dulu,” memanggil Kun Liong sambil tarik tangannya Keng Nio yang mau berlalu. “Masa begitu saja lantas ngambek. Saya mau tanya, apa obatnya orang sakit Rindu. Sebab saya kuatir besok satu waktu betul-betul saya dapat itu penyakit.” Kepaksa Keng Nio jadi ketawa meliat laganya itu sudara yang dinaka. “Kau ingin tau obatnya sakit Rindu? Sakit Rindu obatnya, kawin! ”Kalu tida bisa kawin?“ ”Masuk kubur!“

“Kalu begitu, saya pilih yang blakangan, sebab kawin ada lebih susa dari masuk kubur. Di sana saya nanti ada Lian Nio yang temeni.” Keng Nio cuma bisa goyang kepala dan berlalu.

**

Kun Liong yang bertabeat tertip selalu tida mau berlaku cerobo, itu sebab juga kenapa ia lebih suka menanggung rindu daripada sembarangan mengaku yang bisa membawa kasoadahan jelek bagi dirinya. Ia tida mau lantes mengaku, periam, ia ada merasa kurang senang sama ayahnya Giok Nio, yang ia anggpeg ada terlalu angku, kadua, ia mau selidiki dulu pri-laku dan tabeatnya itu gadis yang sanget menarik perhatiannya. Begitulah, satengah taon kombali suda berlalu. Sekarang orang sampe pada hari raya taon baru! Pada malem Khia-gwe Ce-it kaliatan Kun Liong sedeng duduk repot menulisin kaarcis-kaarcis pembrian slamet. Dari saking asiknya, sampe ia tida tau kalu ada tetamu dan suda berdiri tida jau dari hadepannya. Ia baru angkat mukanya kutika itu tetamu menegor begini: “Cu, apa kaeo punya ibu ada di rumah?” Kun Liong jadi kaget dan cept bangun membri hormat dengan hati kebat-kebit, sebab diblakangnya itu ‘ncim ada sepasang mata yang mengincer padanya. Sekarang ada gilirannya itu orang yang berada diblakangnya itu ’ncim, yang bukan laen dari Giok Nio, membri hormat pada Kun Liong dengan paras mukanya dirasaken panas. Kutika itu tetamu mau pulang, kombali menurut peradatan Kun Liong musti berkiongkhiu.

Cuma ini kali iapunya cara membri hormat ada laen dari tadi. Sekarang marika berdua—Kun Liong dan Giok Nio—saling berkiongkhiu dengan muka terangkat, dan saling memandang dengan penuh arti-arti tersebmuni, yang cuma marika berdua yang mengarti! Keng Nio yang mengintip dari sabelah dalem, jadi berkakakan kutika itu tetamu suda berjalan pulang: “Liong, Liong, mari coba kasi aku raba hatimu.” Kun Liong cuma bisa mesem dan lanjutken pakerjahannya. Dengen terjadinin itu pertemuan yang di luar dugahannya, bikin hatinya itu orang muda jadi semingkin tida karuan, paras muka dan sorot matanya itu gadis, saban-saban suka dateng menggrecokin katentremaniya hatinya dan kasenangan tidurnya. Lebih lagi, kerna samar-samar ia seperti dapet denger orang tuwanya sedeng berdamai buat melamar Giok Nio. Tapi ia yang bandel, maski sabetulnya ada sanget kagirangan tokh tida mau nyataken apa-apa, ia mau orang tuwanya dateng tanyaken pikirannya dan baru ia aken ambil putusan tetep. Cuma sayang nasib rupanya tida mau idzinken Kun Liong lantas hiduper beruntung. Tiga hari Kun Liong tida dapet pandang paras mukanya itu gadis, yang biasanya saban jam ia bisa katemuken. Ia coba cari tau, tapi tida berhasil. Sampe pada keempat harinya, pagi-pagi sekali ia dibikin kaget sama brentinya auto Dr. H. L. Ong dari Tegal, di depan rumahnya Giok Nio; diundangnya itu thabib, tentu saja ada perlu buat menulung orang sakit dan ia lantas bikin duga-dugahan siapa sabetulnya yang sakit, apa Giok Nio? Kalce saja adat kabiasahan Tionghoa tida melarang, ia ingin kunjungin buat mendapat tace siapa sabetulnya yang sedeng sakit. Justru lantaran itu, bikin ia tida bisa berbuat laen daripada berdoa saja pada Allah, agar kalu betul Giok Nio yang sakit ia suka melindungi.

Terus seharian ia tida ada napsu buat duduk bicara atawa dahar. Ini perobahan pun tida ter-lupot dari Keng Nio punya perhatian tapi ia sendiri pun tida tau siapa yang lagi sakit.

Malemnya, dua Docter diconsult, dan pagi-pagi jam 5 kombali autonya Dr. Ong ada tertampak di-depan rumahnya Giok Nio.

Sampe pada jam 8 pagi, sakunung-kunyung dari sabelah dalemnya itu rumah ada kadengeran suara tangisan yang riuh, dan blakangan ternyata Giok Nio yang telah meninggal dunia lantaran sakit longonsteking.

Kun Liong baru tau hal itu, kutika babu tetenya Giok Nio dateng serahken satu surat padanya, atas ia itu punya permintahan kutika mau putaes, jiwa.

Dengen tida perduliken lagi pada pembawanan Kun Liong lantas robek envelopnya dan baca buniynya itu surat yang kaliatannya ditulis oleh tangan yang gumeteran:

“Nko Kun Liong yang tercinta.

“Kalu kaeo anggep saya berbuat lancang dengen menulis ini surat, ter-lebih dulo saya harep kaeo suka ma‘-afken.

“Nko, saya merasa ajalku suda ampir sampe, maka buat tida membawa rasa penasaran, idzinkenlah saya tutur-ken kandungan hati yang saya telah simpen buat sakean lamanya.

“Nko Kun Liong, kaeo tentu tida lupa buat kita punya saling liat yang pertama kali. Oh, itulah berarti saya punya hati suda tertarik sa'anteronya oleh sorot mata'mu yang mulia. Suda lama saya ingin bikin serupa pengakuan, tapi selalu tida berhasil; begitulah, saya selalu liwatken hari dengen hiburin diri yang satu waktu kita musti jadi suami istri. Tapi, helaas nasib rupanya tida idzinken kita hidup beruntung.

Apa boleh buat, ‘nko, kalu di ini dunia kita tida bisa hidup kumpul, biarlalh saya menanti pada laen jeman.

“Dari kaeo punya: Giok Nio.”

Sabelonnya seleseh membaca isinya itu surat, mendadak Kun Liong rasaken matanya jadi glap kamudian jato pangsan. Keng Nio yang kebetulan kaluar lantas memburu dan simpen itu surat.

Sedalem rumah jadi ribut buat sedarken Kun Liong dari pangannya. ‘ncek Peng Liang mau lantas telefooni docter, tapi Keng Nio yang tau itu hal tida perlu, lantas menyega, sambil unjuken itu surat.

Betul juga, tida lama kamudian Kun Liong jadi tersedar dari pangannya dan menangis saseng-gukan sembari pukulin dadanya.

Terus itu sehari dan semalem Kun Liong reba di atas pembaringan dengan tida brentinya kucurken aer matanya. Bujuken dan hiburan orang tuwa dan sudaranya, tida berkuasa buat kiserken itu tindihan.

Lama kelamahan, lantaran selalu berduka, kasehatannya, perlahan-perlahan pun jadi mundur, hingga badannya yang tadinya ada begitu tegep, jadi kurus dan mukanya pucet. Blakangan kewarasan otak-nya juga terganggu, hingga ia suka berlaku sebagai orang kurang beres ingetan; saban ada prampuan muda jalan liwat di depan rumahnya, tentu ia menangis dan menggrendeng: “Giok, tunggu sabentar, aku kasian kaeo, aku nanti menyusul....“ enz. Kadua orang tuwanya kaliatan suda putus pengharepan, buat perbaekin kewarasannya itu puta. Bebrapa kali ia tawarin itu anak buat dilamarken satu gadis, kerna kalu-kalu dengan ada temennya, nanti pelahan-pelahan itu luka bisa ditambel rapet. Tapi itu niatan tida bisa kejadian, sebab Kun Liong selalu menolak dengan alesan ia cuma mau menikah pada Giok Nio atawa Lian Nio.

Pada suatu hari, kutika keadahannya ada lebih mendingan, ia kata pada ‘ncinya:

“ci, aku suda tida napsu buat hidup cinta menyinta; dua kali aku tanem itu perasaan dan dua-dua kalinya jadi gagal. Dari itu, percuma mama selalu membujuk buat aku menikah. Laginya aku malu ketemuin Giok Nio yang masi menungguin kedatenganku.“

“Tapi kaeo harus sayang kaeo punya diri yang masi muda, sudara. Kalu kaeo tida sayang dirimu sendiri, ingetlah pada ayah ibu yang cuma ada kaeo satu yang jadi putranya.“

Kun Liong cuma bisa bertunduk dan di kadua matanya ada berlinang aer mata.

Begitulah semua orang suda putus daya, berentung kabetulan pada satu hari Oom Peng Hok dateng melancong di rumahnya itu sudara, dan ia jadi kasian kutika meliat tubunya itu neef yang jadi lesu dan kurus, akhirnya ia majuken voorstel buat Kun Liong tetira di Tegal, sekalian buat bantu urusin ia punya toko provincien & dranken jika itu kaponakan suda menyadi sembu.

Itu waktu Kun Liong baru berusia 18 taon, tapi rupa-rupa pengalaman ia suda alamin, dari yang paling manis sampe yang paling getir.


II

DAPET HIBURAN

Pada suatu sore Kun Liong pergi jalan-jalan ka ujung laut Teng-putihi, tapi apa mau di situ ia ada bertemu pada sepasang merpati yang sedeng rasaken sedapnya iaorang punya honymoon, hingga tida perduliken pada segala apa yang berada di saputernya.

Meliat itu kaberuntungan yang menuseok hatinya yang penuh sama luka-luka, dengen tida merasa lagi Kun Liong jadi terkenang sama iapunya katiyintahan yang patah; Giok Nio yang ciatik jadi terbayang, ia bayangken, begimana nanti jadi manis rasanya, kalu ia jalan pasiar dengen di sampingnyia ada itu orang yang dicinta dan menyinta. Tapi.... itu orang yang ia tiyintaken suda jadi orang alus.

Tida kuat menahan itu tusukan hati yang bikin seluru tubunya jadi bermuteran, Kun Liong lekas pulang dan banting dirinya di suatu korsi males, di mana ia menangis tersedu-sedu. la aken terus berada dalem itu keadahan, kalu tida Sian Nio, iapunya ade misan, dateng menyampi peri dan duduk di sampingnya.

“Nko Kun Liong, kau lagi pikirin apa sampe begitu sedih?”

“Aku tida pikirin apa, Sian; aku lagi sedihken badan sendiri.”

“Apa barangkali kaeo tida betah tinggal di sini?” “Tida Sian, aku senang tinggal di sini!”

“Sungguan, ‘ko? Akh, aku tau kaeo di sini jadi kasepian. Tapi tida apa, besok aku bisa bawa kaeo kenalken sama ’nci Goat.....”

“Siapa itu ‘nci Goat, Sian?” “Kau belon kenal ’nko? la ada anaknya Twa-thio Hok Leng.”

“la tinggal di mana Sian? Aku liat di sana cuma ada Tiong Bun.”

“‘Nci Goat tinggal sama Wa-ko di Surabaya buat terusken pelajarannya di H. B. S., kemaren ia suda pulang ka sini, kerna kabarnya ia suda lulus. Wah, ia ada satu gadis yang amat cantik dan manis, ’nko, besok kaeo bisa liat, kerna tersemssem sama iapunya paras yang eilok, malemnya kaeo bisa sampe impi-impiken.....”

“Hus, kaeo omong apa?” kata Kun Liong dengen bersenyum dan tekep mulutnya itu gadis kecil.

“Aku bilang dengen sabetulnya, ‘nko; aku brani bertaro potong kuping, yang kaeo tentu aken jadi tergila-gila sama kecantikannya yang luar biasa; denger ’ko, ia ada mempunyai sepasang mata yang jerni dan mulia, rambut yang item dan gompiok, idungnya bangir seperti diraut, pipinya montok dan alus; mulutnya kecil dan mungil, giginya laksana dua baris mutiara yang dipasang dengen rapih, badannya langsing, tindakannya eilok laksana gerakan-nya daon puhun liu, suaranya ada begitu merdu melebihi merdunya seprangkat muziek yang dimaken oleh artist-artist pande. Pendek, ia tida kalah sama bidadari yang baru turun dari kayangan. Sa-yang aku didiyelmaken jadi satu anak prampuan, kalu jadi sebaliknya, wah, biar kepala aku musti digade, tentu aku musti dapetken ia buat istri.“

“Suda, suda, Sian, aku nanti jiwir mulutmu yang lemes,” memotong Kun Liong sambil bersenyum, tapi diam-diam ia ingin saksiken rupanya itu gadis yang Sian Nio begitu alemin.

“Nanti dulu, ‘nko, aku cerita belon beres. Aku tau kaeo ada sampe caepe dan jadi satimpal be-tul buat pasangannya. Tapi.....” Sian Nio mengkeretken lehernya dan tida terusken perkatahannya. Ia niat menggoda Kun Liong, tapi ia sendiri kena kajiret perkatahannya yang ketlanjur.

“Ada apanya lagi, Sian?” menegesin Kun Liong dengen mesem urung.

“Akh tida baek aku sebutken.”

“Caramu bukan satu perbuatan yang boleh dipuji, Sian, sebab, bermulah kaeo sendiri yang cerita dan sekarang kaeo juga yang putusken.”

Sian Nio yang bertabeat pay-seng-ki jadi merasa tida enak, begitulah dengen rasa penasaran ia sam-bung lagi perkatahannya yang terputus.

“Sayangnya, kaeo cuma satu murid kaluwaran T. H. H. K. Sebab dulu ‘nci Goat perna aku tanya tentang suwal bersuami; ia bilang: Cuma mau bersuami pada satu lelaki yang sedikitnya ada kaluaran H. B. S., kalu tida, lebih baek ia hidup bujang; tapi bagimana sekarang ia ada pikir, itulah aku tida tau. Lebih lagi kerna Twa-thio orangnyia ada bertabeat saraka sama harta, ia nanti hormatken itu orang kapan ia ada satu hartawan, tapi, jika sebaliknya, tentu ia aken pandang rendah. Sedang kaeo cuma ada saorang yang tida berharta dan kaluvaran sekola T.H.H.K. cuma aku sangat-harep kaeo tida bilang, maski pada siapa juga, bahua kaeo denger itu warta dari aku; sebab mama nanti aken marahin aku.“

“Kaeo trausa kuatir, Sian, aku tokh bukan orang yang usil mulut.” Besok kaeo musti anteri aku tengokin ia di kraton, ‘nko, sekalian aku mau ajar kaeo berkenalan sama ianya.“ Kun Liong berdiam dengan rupa berpikir. ”Akh, aku tida ingin kaeo menolak ’nko, aku nanti menangis,“ kata Sian Nio dengen suara aleman. ”Ya, baek Sian, buat kaeo, aku suka berlaku apa saja.“ ”Nah, sekarang mari kita pergi dahar sore,“ kata itu gadis ketiyil sambil tarik tangannya itu ‘nko misan. Sorenya Kun Liong pergi anterin Sian Nio dateng tengokin Goat Nio di rumahnya. Di sana ia ketemu Goat Nio lagi jalan-jalan di satu taman sama Tiong Bun sembari petikin kembang-kembang yang pada mekar. ”Slamet sore, ’nci,“ kata Sian Nio sembari memburu dan pegang orang punya tangan. ”Kemaren sabetulnya aku mau turut mapak kaeo di Station, tapi kabetulan aku punya guru yang ajarin aku bikin kuwe dateng, hingga terpaksa aku urungken itu maksud; ma'afken saja ‘ci. Kaeo kaliatan tambah montok, kaeo dapat banyak plesir di kota besar, barangkali?“

“Akh, boleh juga. Kaeo sendiri pun jadi lebih besaran, dan tambah cantik. Eh, ya, kaeo dateng sama le?” “Tida, mama lagi repot. Aku dateng sama ‘nko Kun Liong, anaknya ’nthio Peng Liang; mari aku kenaiken ‘nci. Ia ada saorang baek dan berbudi.—’nko Kun Liong,” ia menoleh pada Kun Liong yang sedeng jongkok kagumi kembang seruni besar. “Mari sini, ini ‘nci Goat.” Kun Liong dateng menghamperi dengen tindakan perlahan. Kutika suda dateng deket, Kun Liong lantes memanggut yang dibales oleh Goat Nio dengen sepantesnya. “Nona, kaeo idzinken aku kenalken diriku yang miskin dan tida berharga,” kata itu anak muda sembari pandang orang punya paras muka dengen tetep. “Aku Tan Kun Liong, anaknya Tan Peng Liang dari Slawie, satu desa ketiyil yang sepi.” “Kaeo jangan terlalu merenda ’nko, aku malu. Aku Lim Goat Nio putrinya Lim Hok Leng, dan kalu kita mau rundingken fatsal familie, kita ada tersangkut sedikit dari ‘nthio Peng Hok. Harep kaeo tida sungkan.” “Trima kasi, nona, dan sebagi satu sobat, idzinkenlah aku haturken slamet buat kaeo punya berhasil dalem pelajaran.” “Trima kasi, dan harep kaeo selanjutnya tida sebutken lagi itu urusan, aku malu, ’nko, kerna aku punya kepandean yang saupil tida cukup buat trima kaeo punya pembrian slamet.” “Tida, kaeo musti dapeti itu, sebab memang ada terlalu langka buat gadis Tionghoa bisa du-duck di bangku sekolahin H.B.S, seperti kaeo; sedeng aku sendiri, satu lelaki, tokh tida bisa turut.” aku tida tau. Lebih lagi kerna Twa-thio orangnya ada bertabeat saraka sama hartia, ia nanti hortmatken itu orang kapan ia ada satu hartawan, tapi, jika sebaliknya, tentu ia aken pandang rendah. Sedang kau cuma ada saorang yang tida berharta dan ka-luwaran sekola T. H. H. K. cuma aku sangat harep kau tida bilang, maski pada siapa juga, bahua kau denger itu warta dari aku; sebab mama nanti aken marahin aku.“

“Kau traosesa kuatir, Sian, aku tokh bukan orang yang usil mulut.”

Besok kau musti anteri aku tengokin ia di kraiton, ‘nko, sekalian aku mace ajar kaeo berkenalan sama ianya.“

Kun Liong berdiam dengen rupa berpikir.

“Akh, aku tida ingin kau menolak ‘nko, aku nanti menangis,” kata Sian Nio dengan suara aleman.

“Ya, baek Sian, buat kaeo, aku suka berlaku apa saja.”

“Nah, sekarang mari kita pergi dahar sore,” kata itu gadis ketiyl sambii tarik tangannya itu ‘nko misan.

Sorenya Kun Liong pergi anterin Sian Nio dateng tengokin Goat Nio di rumahnya.

Di sana ia ketemu Goat Nio lagi jalan-jalan di satu taman sama Tiong Bun sembari petikin kembang-kembang yang pada mekar.

“Slamet sore, ‘nci,” kata Sian Nio sembari mem-buru dan pegang orang punya tangan. “Kemaren sabetulnya aku mau turut mapak kau di Station, tapi kabetulan aku punya guru yang ajarin aku bikin kuwe dateng, hingga terpaksa aku urungken itu maksud; ma'atken saja ’ci. Kau kaliatan tambah montok, kau dapat banyak plesir di kota besar, barangkali?”

“Akh, boleh juga. Kau sendiri pun diyadi lebih besaran, dan tambah cantik. Eh, ya, kau dateng sama le?”

“Tida, mama lagi repot. Aku dateng sama ‘nko Kun Liong, anakinya ’nthio Peng Liang; mari aku kenalken ‘nci. Ia ada saorang baek dan berbudi.—’nko Kun Liong,” ia menoleh pada Kun Liong yang sedeng jongkok kagumi kembang seruni besar. “Mari sini, ini ‘nci Goat.”

Kun Liong dateng menghamperi dengen tindakan perlahan. Kutika suda dateng deket, Kun Liong lantes memanggut yang dibales oleh Goat Nio dengen sepantesnya.

“Nona, kau idzinken aku kenalken diriku yang miskin dan tida berharga,” kata itu anak muda sembari pandang orang punya paras muka dengen tetep. “Aku Tan Kun Liong, anakinya Tan Peng Liang dari Slawie, satu desa ketiyl yang sep'i.”

“Kau jangan terlalu merenda ‘nko, aku malu. Aku Lim Goat Nio putrinya Lim Hok Leng, dan kalu kita mau rundingken fatsal familie, kita ada tersangkut sedikit dari ’nthio Peng Hok. Harep kau tida sungkan.”

“Trima kasi, nona, dan sebagi satu sobat, idzinkenlah aku haturken slamet buat kaeo punya berhasil dalem pelajaran.”

“Trima kasi, dan harep kau selanjutnya tida sebutken lagi itu urusan, aku malu, ‘nko, kerna aku punya kepandean yang saupil tida cukup buat trima kau punya pembrian slamet.”

“Tida, kau musti dapeti itu, sebab memang ada terlalu langka bocat gadis Tionghoa bisa du-duck di bangku sekolahane H.B.S, seperti kau; sedeng aku sendiri, satu lelaki, tokh tida bisa turut.”

Goat Nio bungkem, lama sekali ia tida dapt perkatahan buat membanta perkatahannya Kun Liong. Ia merasa heran, kenapa ini kali ia kena dijatohken dalem pembicarahan, sedeng biasanya jarang sekali orang yang mampu kalahken ia dalem perkara su-wal jawab.

“Nci,” menyelak Sian Nio yang bisa meliat gela-gat. “Nanti kaeo ikut ka sana, ya?”

“Aku masi cape, Sian, besok saja, aku dateng ka sana; harel kaeo tida buat kecil hati. Kau sekarang sekola di mana?”

“Di Gemeente Skhool.” “Suda klas brapa?” “Klas ampat.”

“Tiong Bun, kaeo terlalu bodo! Liat, Sian Nio suda naek klas ampat. Kau bisanya cuma adu ayam saja.”

Tiong Bun berdiam, tapi pandang Sian Nio dengan sikep bermusuh.

“Kau punya mulut memang lemes, Sian. Meester pun sering bilang; kaeo disayang, lantaran pande bicara; nanti kalu besar kaeo tentu jadi prampuan bawel, dan aku tida sudi, kalu nanti mempunyai istri semacem kaeo.

“Aku pun tida kepingin punya suami satu lelaki goblok seperti kaeo, tida punya malu!” bales menjengeki Sian Nio dengen sengit.

“Aku goblok? Hm, itulah terlalu dilebi-lebihken, temen-temenku sering puji aku pande seperti Thio Liang, yang bisa kalahken Co Pa Ong yang kuat. Liat, kalu kamudian aku tida jadi satu jagoan yang di'indahken, aku tida mau jadi lelaki lagi. Tapi kaeo? Kau tida luput cuma aken jadi saja budaknya dapur, mandoornya kwali dan ciamsi.“

“Itulah suda tentu, nanti aku musti jadi nyonya dapur, kerna memang itu ada salah satu kewaji-bannya orang prampuan, sebaliknya, kalu prampuan tida mau masuk dapur, apa nanti orang lelaki bisa tangsel perutnya?”

“Apa? Itulah omong kosong! Kita tokh bisa pergi di restaurant! Tapi orang prampuan kalu tida dipiara oleh lelaki apa bisa dapt makan?”

“Oh, Allah, kaeo kira cuma kaum lelaki saja yang bisa cari uwang? Itulah pikirannya satu otak yang suda perlu dikirim ka Cikeumeuh buat distel Skhrufnya. Kau tida liat, brapa banyak jumblanya orang prampuan yang cari sasuap nasinya dengen juar kuwe atawa menjait, malah banyak juga yang jadi sudagar batik atawa pun hasil bumi? Salaennya itu, kita bisa juar tenaga dengan jalan bekerja di kantoor-kantoor.”

“Ya, buat bikin demonstratie kecantikan, agar lebih lekas laku.”

“Suda, suda, Tiong Bun,” menyega Kun Liong, yang meliat itu dua anak suda berobah sengit, sambil seret tangannya; sedeng Goat Nio pun tarik tangannya Sian Nio. “Buat apa kita musti ributin pepesan kosong? Paling baek kaeo-orang masing-masing ceritaken hal yang menggirangken daripada tarik urat panjang-panjangan.—Ini sigarenbanje yang itu hari kaeo minta dan aku janji,” kata lagi Kun Liong sembari rogo sakunna dan kluarken bebrapa biji cincin cerutu, yang disambut dengen girang oleh itu anak nakal.

“Di rumah apa masi ada lagi?”

“Tiong Bun, anak bengal, aku nanti jiwir ku- pingmu,“ menyega Goat Nio dengen delikin matanya.

“Tida apa, nona. Besok kaeo boleh melancong ka sana, Tiong Bun, aku nanti kumpulken buat kaeo.”

Tida lama kamudian ‘ncek Hok Leng kluar dan marika punya pembiyitra'an jadi terputus; Goat Nio dengen di'ikut oleh Sian Nio dan Tiong Bun yang sedeng kagirangan sama sigarenbanjenya jalan masuk; sedeng Kun Liong sendiri musti meladenin itu orang tuwa yang sombong dan angku, kalu ia tida indahken Goat Nio, tentu lebih siang ia suda permisi pulang.

Besok paginya, sebab justru ada hari raya tokotoko semua pada tutup dan Kun Liong pun diam di rumah ditemeni oleh Sian Nio.

“Kaeo pande debat, Sian, kemaren kaeo bisa desek Tiong Bun sampe begitu rupa; nah trimalah aku punya utiyapan slamet.”

“Akh, Tiong Bun memang anak kepala obi, aku benci sama kesombonganinya; saban bicara ia mau di fihak menang saja.”

“‘Ncinya bagimana?”

“Wah, bedanya seperti langit dan bumi.”

“Itu boleh jadi sebab Goat Nio suda kenyang terdidik dan lehbi terplajar.”

“Itu sebagian ada benernya, ‘nko, tapi mama sering cerita, memang sedari kecil ’nci Goat ada punya itu tabeat sabar, suka mengalah. Laeri dari itu, bukantah ia ada amat cantik dan manis, seperti aku perna bilang?”

“Aku tida bisa bilang, Sian, sebab aku jarang liat prampuan cantik.”

“Tapi kaeo tokh tida bilang ia jelek?”

“............”

“Hallo, ‘nko Kun Liong” menegor Tiong Bun dari sabelah luar dan lari masuk. “Aku kira kaeo tida ada di rumah.”

“Kaeo sendirian saja, Bun?” menanya Kun Liong dengen hati berdebar, kerna ia kuatir itu bidadari tida turut dateng.

“Aku dateng sama ‘nci, ’tu ‘pa, ia lagi mendatengin.”

Sama Sian Nio, ia lantes berdiri buat menyambut kedatengannya itu gadis. Buat sasa'at, Kun Liong jadi kesima sama kaeilokannya itu gadis yang ia liat ada lebih cantik dan seger dari kemareninya, lebih lagi sekarang dalem tangannya justru ada memegangin beberapa macem bungah yang baru mekar.

“Slamet pagi, ‘nko dan Sian,” katanya sembari memanggut. “le, suda bangun, Sian?”

“Belon; mama masi tidur.”

“Mari anter aku taro ini bungah, Sian.”

Sian Nio lantes ikut itu ‘nci misan jalan masuk menyamperi meja sembayang buat tempatken itu bungah di satu vaas kosong, di meja pertengahan Goat Nio pun tancepken bebrapa tangke bungahnya, kamudian ia lantes kunjungin kamar tidurnya Sian Nio, di situ ia ampir tancepken semua bungahnya, buat meriasin toiletnya itu ade misan. Sekarang dalem tangannya cuma masi katinggalan anem tangke kembang seruni puti yang ia lantes taro di satu vaas yang pernahnyia di tengahnya satu meja buku.

Kun Liong yang saban-saban langsirken matanya ka jurusan dalem, dapet tau apa yang itu gadis suda berbuat, hingga bikin badannya jadi gemeteran lantaran kagirangan. Kalu ia tida malu sama itu gadis, tentu ia suda menghamperi dan ciumi itu bungah yang barusan terpegang oleh itu jeriji-jeriji tangan yang putih dan lancip.

Goat Nio mau lantes berlalu, kutika saku-nyung-kunyung ia jadi ketarik sama sajilid buku yang terletak di samping, ia lantes jumput buat diliat, dan nyata ada buku cerita Tarzan dalem bahasa Inggris.

“lni siapa punya buku, Sian?” “Siapa punya, kalu bukan ‘nko Kun Liong!” Dapet itu penyaeotan, dengen pelahan paras mukanya itu gadis jadi berobah merah. la mengarti dan menyesel, kenapa barusan dengen lancang taro itu bungah di mejanya satu anak muda. Oh, bagimana nanti orang anggep tentang dirinya, sekali pun bukan disengaja.

“Kau suka membaca buku cerita, ‘nci? ’Nko Kun Liong ada punya banyak macem, tapi sayang sebagian besar ada terdiri dari bahasa Tionghoa, kerna memang ia ada kalearan T. H. H. K.”

“Aku suka membaca buat liwatken tempo. Tapi aku lebih senang sama buku cerita romance daripada laennya yang kurang menarik,” kata Goat Nio dengen pikiran melayang, hingga ia ampir tida merasa apa yang ia barusan ucapken.

“Akh,” kata Sian Nio dengen rupa menyesel, “kalu ‘nko Kun Liong dapet tau itu, ia nanti cela keras kasuekahamu. Kerna memang ia ada sanget tida setuju, kalu orang prampuan sanget getolin buku cerita romance, ia cela itu, dengen alesan, hati prampuan ada terlalu lemah, maski ada sampe terplajar, tapi tetep hatinya prampuan ada merupaken satu hati yang lemah-lembut, gampang mempercaya, lebih lagi bagi marika yang kurang pikir, biasanya suka lantes gunaken itu baca'an buat conto peng- hidupannya, bukantah itu ada perbuatan edan yang sanget berbahaya?

Engko Kun Liong satuju jika orang prampuan suka membaca buku-buku yang berfaedah dan bersifat ilmu pengetahuan yang sanget bergu-na buat kita. Buku-buku hikayat yang bisa bikin kita kenal sama penghidupannya jaman purba-kala dan sabaginya.

Kau boleh pikir dengen teliti ‘nci, bukantah itu ada satu pikiran sehat yang kita kaum prempuan harus ambil perhatian!“

Goat Nio tinggal berdiam sembari balik-balik lembarannya itu buku. Lama sekali baru kadengeran ia berkata begini:

“la melarang kaum prampuan membaca buku cerita yang bersifat romantic; tapi apa bedanya orang prampuan dengen orang lelaki? kita tokh sama-sama ada satu manusia yang bisa merasa dan menimbang; bagimana ia menghinaken kita begitu katerlaluan? sedeng tokh jumbahnya orang lelaki yang berklakuan kurang baek ada banyak.”

“Buat orang lelaki, ‘nko Kun Liong bilang bisa dikacoaliken, sebab, bukan saja lelaki hatinya ada lebih tegu, pun ia sering bergelandangan di luaran buat liat dan coiyoken itu theorie dengen practiykna, di situ, ia nanti dapet tau itu kajustkhan besar yang sanget merusak pikirannya orang-orang muda, dan akhirny, marika bisa bikin persedia'an buat menangkis datengny bahaya. Sedeng kita kaum prampuan, tokh tida bisa bergaul dengen luas, apalagi kita punya pergaulan ada sanget berwates, kita cuma bergaul saja pada orang-orang yang berderaja-t sopan dan pantes dibuat sobat, hingga marika punya keadahan tida terpaoot jau dari kita yang masi sanget ijo sama kapalsuannya dunia dan tabeatnya lelaki rendah, itu sebab juga, kenapa banyak prampuan yang gampang terjebak oleh mulut manis yang bermadu, dan itulah juga sebabnya orang-orang prampuan yang pikirannya masi terlalu saderhana tida baek membaca buku-buku cerita romance yang muluk.“

Kombali Goat Nio jadi bungkem, pelahan-pelahan ia mau akuhi kabenerannya itu perundingan yang jujur; dua kali ini, ia kena dikalahken oleh Kun Liong, sedeng biasanya ia tida gampang mau menyerah kalah.

Sian Nio yang cerdik dan bisa mengimbangin orang punya perasa’an lantas ajak itu ’nci bicaraken laen-laennya urusan. Tapi saban-saban Goat Nio jadi bertunduk dengen roman bingung, ia tida mengarti kenapa sinar matanya saban-saban jadi kabentrok sama Kun Liong. Ia berdaya buat tindes itu kebiasahan, yang buat anggepannya sendiri ada sanget tida enak, tapi anehnya, semingkin ia kerasin hati buat menindes, jadi seperti ada banyak berklebat apa-apa yang sanget menarik buat ia menengok. Sedeng Kun Liong punya keadahan pun tida terpaut jau dari keadahannya itu gadis.

Tiong Bun yang sanget suka sama Kun Liong tida mau menyingkir jau, dan saban-saban menegor kenapa Kun Liong ada sanget beda dari biasanya. Ini pertanyahan bikin Kun Liong jadi sanget tida enak, tapi sabisanya ia umpetken perasa’an hatinya.

Pada suatu sore atas ajakannya Tiong Bun, Kun Liong dateng di rumahnya ’nciek Hok Leng, siapa, kabetulan sedeng pergi ka Semarang buat satu urusan dagang.

Tiong Bun yang sering trima kabaekannya Kun Liong yang suka membri apa-apa, jadi ada punya kainginan membales sedikit itu budi kabaekan, begitulah, dengen di luar taunya Kun Liong yang sedeng duduk membaca surat-kabar, ia suda cemplak spedanya pergi beli satu blik susu dan cacao, pulangnya, ia mampir di Broodbakkeriy Selecta beli bebrapa macem kuwe. Itu semua uwang yang ia gunaken buat belanja, ia dapet curi uwangnuya Goat Nio yang mau dibuat beli stroop dan roti.

Sesampenya di rumah, ia baru menyesel dan bingung, sebab itu hari justru ada hari raya taon baru Jawa, semua koki dan babu pada pulang. Ada juga satu, tapi lagi pergi ka pasar belon pulang. Buat ia kerjaken sendiri masak aer dan sedu susu, itulah ia rasanya tida sanggup lakuken, tapi sebaliknya, buat urungken saja maksuednya, ia tida mau. Lama juga ia berdiri bingung, dan akhirnya dapat inget pada ’ncinya, tapi ia takut nanti digegerin tentang mencuri uwang.

Brapa minuut suda diliwatken dengen ia masi saja dalem kabingungan, sampe di situ, ia jadi inget perbantahannya sama Sian Nio, dan ia jadi uring-uringan:

“Akh, kalu begitu memang juga orang lelaki tida ada gunanya, selaeen dari mengisi perut,” menggrendeng ia sembari jalan menuju ka dapur. “Aku musti bisa masak aer, baru aku ada itu muka katemuin sama Sian Nio yang bawel.“

Di dapur ia kedekak-kedekuk sendirian, isi teko dan pasang api, tapi dasar ia tida pernah lakuken itu kerjahan, maka buat brapa kali lagi-lagi apinya jadi padem dan bikin ia jadi sanget mendongkol pada itu dapur yang tida berdosa, begitulah dengan sengit ia sembat satu kayu bakar buat gebukin dapur.

Kutika ia sedeng enaknya lampiasken amarahnyia, mendadak dari sabelah blakang kupingnyia kena di-jiwir hingga ampir saja bikin ia jadi terjengkang.

“Kurang ajar!” treak ia sembari balikin badanya dan mau memukul.

“Pencuri kecil, coba memukul!”

Dapet tau siapa yang menjiwir, Tiong Bun jadi mengkeret.

“Kau jangan ugal-ugalan Tiong Bun, masa uang f 2.50 dicuri semua! Kau masih anak-anak tida baek lakuken itu kerjahan jahat. Aku nanti kasi tau sama papa, biar kau dihajar!”

‘ci, ma'afken padaku, kerna itu uwang aku tida buat apa-apa.“

“Habis kaeo curi buat apa?”

“Begini ‘ci tadi ’nko Kun Liong dateng di sini, dan aku pikir mau beli apa-apa buat suguhin ia yang baek tapi aku tida punya duit, buat minta sama mama yang pelit, tentu aken jadi percuma! Kau pun merasa malu bukan? Ada tetamu tida disuguhi apa-apa.”

“Nah, kalu ‘gitu ya suda, tapi sekarang kaeo lagi bikin apa hantemin dapur?”

“Minten memang kurang ajar, masa pergi ka pasar ampir satu jam belon juga pulang; lebih kurang ajar lagi ini dapur, ia sengaja goda aku bikin api lagi-lagi mati, hingga siapatah yang bisa tahan sabar tida menggaplok?”

“Kau tida punya guna, tida malu itu hari berbantah sama Sian Nio bilang maski tida ada orang prampuan kau bisa isi perut, dan sekarang kaeo baru tau rasa ya?”

“Suda-suda, ‘ci, tulung kaeo jangan ungkat ini urusan sama Sian Nio, aku nanti jadi jengkel dan salah-salah aku rianti toyor mulutnya Sian Nio yang suka mol-mol tida kareoan. Sekarang, lantaran suda telanjur tulung kaeo masaken aer.”

Dengen tida berkata satu apa lagi Goat Nio lantes jongkok masak aer dan sekalian sedu itu susu cacao. Kamudian dengen satu nenampan kecil, Tiong Bun sendiri yang bawa kaluaer.

“Kau bikin apa Bun? Aku tida senang kalu kaeo berbuat begitu. Laginya ini hari tentu tida ada koki.”

“Betul, tapi ‘nci ada begitu baek buat talangin aku tulung kerjaken.”

Kun Liong tida membanta lagi, ia rasaken dirinya ada begitu beruntung bisa rasaken sedepnya itu cacao susu yang disedu oleh tangannya satu gadis eilok. Tida teu bagimana Kun Liong aken rasaken dirinya lebih beruntung, kalu selanjutnya ia bisa dapat itu semacem perlakuan.

Pada itu waktu Kun Liong sedeng kaenakan sama sedepnya itu susu cacao, adalah Goat Nio sedeng rebahken dirinya di suatu korsi males, sembari layangken pikirannya.

Ia inget-inget penghidupannya di Surabaya yang penuh kasenangan, kerna itu Wa-ko yang memang ada saorang mampu, dan sanget menyinta pada kepornakannya, suda beliken ia satu auto buat kaperluan bulak-balik ka sekola. Saban hari minggu atawa hari vriy, tentu bersama bebrapa temennya Goat Nio bikin picnic ka sana-sini aken senangken hatinya. Tosari dan Nongkojajar, ada itu dua tempat yang Goat Nio sanget suka, sebab di sana orang aken dapat penuh kagumbirahan dari kaindahannya Natuur.

Sampe kamudian, usia dewasa bikin ia naek sa-tu tingkat lebih tinggi dalem tangga penghidupan. Dengan mendatenginnya itu kutika, godahan pun mulai pada menggrumutin buat coba kateguhan hatinya. Itulah tida terlalu heran, pembaca, kerna siapatah yang tida ingin mempunyai satu istri yang eilok, terplajar dan hartawan seperti ia? Demikianlah, saban sa’at ada merubung banyak anak lelaki temen sekolanya buat coba pikat hatinya, marika masing-masing pada bersaing dalem hal mengasih perjanjian muluk, yang satu lebih menarik dari laennya. Tapi itu semua tida berhasil, kerna ia yang berpikiran luas, tida mau buru-buru kasi dirinya teriket, ia pikir, buat cari temen hidupnya, ia musti bisa memilih dengan sabar dan tertip, agar tida jadi menyesel di kamudian hari.

Semua pemuda yang unjuk perasa’an cinta pada itu gadis, pun tida bisa berbuat laen daripada bersabar, kerna buat dapetken satu barang yang sanget berharga orang tokh perlu gunaken banyak tempo!

Satu waktu, Goat Nio sendiri pun suka jadi merasa heran pada kemauan hatinya, kenapa diang-suri kaberuntungan, ia sengaja tolak? Apatah itu bukan satu perbuatan goblok? Laginya, orang yang macem bagimana yang ia mautungguin? Tapi ia tida mau pikirin itu urusan lebih jau, hanya hiburken hatinya dengan jalan membatah buku. Sampe lama kelama’an itu semua penggoda yang tida bisa petik hasilinya, jadi bosen sendiri dan tida dateng menggrecok lagi pada itu gadis.

Sekarang Goat Nio punya pikiran sampe pada penghidupannya di Tegal, dan oh, kenapa di sini ia ketemu sama Kun Liong yang bertabeat angku, tapi ada mempunyai paras muka yang sympatiek dan kelakuan sopan, hingga gambarnya selalu tida bisa berlalu dari pikirannya. Apatah itu disebabken hatinya mulai kena dikalahken oleh itu orang muda?

Itulah tida boleh jadi! Tapi, kalu tida? Kenapa ia suka simpen romannya dalem iapunya pikiran? Sedeng dulu di Surabaya tokh tida kurang jumbahnya anak-anak muda yang hartawan dan berparas cakep, malahan sampe orang pada tawarken dirinya, tapi sabaliknya ia tida mau ambil perduli.

Lama sekali Goat Nio rebah dalem itu keadahan, tapi sampe begitu lama pun ia tida bisa dapetken satu conclusie yang beralesan.

Sekarang kita tilik sama keadahannya Kun Liong. Bagimana, apa ia pun ada kandung itu macem perasa’an?

Betul, pembaca ia punya keadahan tida berbeda jau dari keadahannya itu gadis. Cuma bedanya, ia yang suda ulung dalem dunia percintahan bisa berlaku lebih sabar dan aken menerima saja apa yang nanti nasib aken briken. Kalu ini kali kombali ia dapetken kegagalan, ia pikir mau bawa dirinya ka suatu tempat sunyi, supaya tida ketemuken pula penggoda-penggoda. Dan ini pikiran yang belakangan, rupanya Kun Liong ada lebih perhatiken, ia sendiri tida mengarti, kenapa ia musti kecilken penghare-pannya sendiri, tapi pirasat rupanya telah kisikin ia. Dan baek kita liat saja.


III

TUWEL

“Mama, besok ada hari minggu, aku pikir mau ajak mama plesir di Tuwel yang aku denger ada mempunyai pemandangan. Natuur yang permei dan hawa yang sejuk. Justru itu, mama, bikin aku jadi terkenang sama Tosari dan Nongkojajar, maka aku jadi sanget kepingin buat dateng liat-liat ka sana.

“Kalu kaeo mau pergi, aku pun suka anter, tapi Goat, coba kaeo bilang sama papa, brangkali ia suka anter kita.”

“Kau tau papa ada sanget repot, ma, dan ia tentu tida suka buat ilangken tempo dengen percuoma. Aku pikir baek kita pergi sendiri saja, kalu merasa keseplian, kita boleh ajak ade Sian dan le.”

“Kalu kaeo pikir begitu, baeklah anak, tapi Kapsin kabetulan lagi sakit; bagimana kita bisa pake auto? Dan apa tida lebih baek kita pergi pada laen minggu saja.”

Goat Nio berdiam sembari tunduk dan buat maen ujung bajunya. Ia tida niatan memaksa, sebab ia suda kenal tabeatnya itu mama yang pelit tentu sungkan kaluarken uang buat sewa auto sewahan. Dan jadi kabetulan sekali itu waktu ada mengunjungin Sian Nio berdua mamanya.

“Kau lagi rempukin apa ‘nci?’ menegor nyonya Peng Hok sembari taro barang bawa'annya.

“Tida rempukin apa-apa, cuma ini si ‘Goat lagi ajak aku pergi ka Tuwel, dan sayang kabetulan Kapsin tida masuk lantaran sakit.”

“Kau terusa ibukin Twa-ie, aku kira ‘nko Kun Liong bisa tulung stuurin.”

“Kau suka ikut Lin?” tanya nyonya Hok Leng pada nyonya Peng Hok.

“Aku suda perna pergi, tapi buat merameken perjalananmu, aku suka ikut.”

“‘Nci, kaeo punya kodak,” menyelak Sian Nio sambil pegang tangannya itu ’nci misan. “Jangan lupa dibawa, supaya besok kita boleh ambil potret di Tuwel.”

“Sayang filmnya tida ada.”

“Tida apa, aku nanti minta ‘nko Kun Liong tu-lung beliken sama fotograf Yong Lin di Gili-tugel. Cuma inget, ’nci, besok kaeo musti sedia makanan lebih banyak, sebab di tempat dingin kita punya napsu makan jadi bertambah.”

“Kau sih memangnya tukang makan. Dalem segala apa makanan tida bisa kalupahan,” menyelak ibunya dan bikin semua orang jadi ketawa.

Sapulangnya dari situ, Sian Nio lantes saja samperi Kun Liong yang lagi asik membaca Weekblad “Sin Po”.

“‘Nko, lebih dulu aku harep kaeo tida buat ke-cil hati! besok kita mau benumd kaeo jadi kita punya khauffeur, buat anter kita plesir ka Tuwel, sebab Kapsin kabetulan lagi sakit.”

“Buat kaeo punya kaperluan, Sian, aku suka berbuat apa saja yang bisa menyenangkan hatimu.”

“Laen dari itu, aku minta tulung kaeo pergi beliken filmnya ini kodak, buat besok kita ambil pemandangan-pemandangan di pegeunungan Tuwel. Juga kaeo musti sekalian bawa kaeo punya mandoline buat merameken kita punya perjalanan.”

Kun Liong cuma manggut sebagai yawaban, terus tunduk preksa itu camera.

** Besoknya kutika matahari baru saja mengintip di sabelah wetan, saote auto Buick kaliatan dilariken ka jurosan kidu!, dari Kraton.

Kalu diliat dari larinya itu kandaran yang pesat dan saban-saban dengan sebat egosin semua kandaran yang menghalangin perjalanannya, bisa didu-ga pengadarnya ada sanget pande.

Kutika sedeng pesatnya auto dilariken sampe di desa Procot, 14 K.M., dari Tegal, mendadak dari sampling jalan ada kaluear satu kambing yang lantes menyebangin itu jalanan, rem lantes dikasi kerjia, tapi suda tida keburu, itu kambing kena diseruduk di bagian blakangnyia hingga dapat luka hebat.

Auto lantes dibrentiken, kerna Kun Liong merasa kasian sama itu binatang yang bertilaka. Itu waktu dari jurusan tengah sawa lantes berkrumun bebrapa banyak anak angon dengen di'ikuin oleh satu kambing ketiyil, yang rupanya ada anaknya itu kambing yang kena diseruduk. Itu kambing ketiyil lantes saja tubruk ibuna dan bertreak-treak dengen rupa sanget sedih, dan kamudian berdiri memandang pada Kun Liong dengan sorot mata minta dikasianin. Kun Liong yang berperasa'an alus lantes bisa liat itu kadukahan yang tertanggung oleh itu anak kambing, maka dengen rupa sedi ia lantes samperi itu kambing yang barusan ia kena seruduk.

“Oh, kambing yang baek,” kata ia dengen suara terharu dan usap-usap kepalanya itu binatang. “Sunggu aku ada sanget berdosa, tapi itu kacilakahan tida bisa dicegah, dari itu, aku cuma bisa menyesel, dan aku berjanji, nanti bicaraken pada eigenaarome buat rawatin kau sampe baek.”

Goat Nio yang berhati mulia pun lantes menghamperi dan preksa lukanya, ia jadi bergidik dan tutupi mukanya buat tida meliat itu darah yang masi saja mengalir.

“Anak desa yang baek,” kata Goat Nio sembari gapein salah satu yang lebih besaran, “tulung kaeo pergi panggilken majikkannya ini binatang.”

Tida lama kamudian, itu anak angon suda kombali dengen di'ikuti oleh satu pa tani.

“‘Pa, kambingmu telah kena diseruduk oleh kita punya auto, ini kedajan sabetulnya kaeo sendiri pun ada bersalah, sebab, suda biarken ia ber-glandangan, tapi aku kasian sama ia yang rupanya ada sanget kesakitlan, maka aku harel kau nanti suka tulung rawatin sampe baek, buat semua onkostnya, nanti aku yang tanggung.’”

Sasudanya berkata begitu, Goat Nio lantes kalurken dari dompetnya dua lembar uang kertas dari saringgit yang ditrima dengen penuh rasa trima kasih oleh itu ‘pa tani. Pada itu anak yang barusan di-suruh kabarken itu kacilakahan, ia persen sepuluh cents. Meliat kamuia'annya itu gadis yang eilok, dari kanan-kiri ada kadengeran grendengannya orang-orang yang memuji, tapi ia tida perduliken itu, dan lantes kombali naek ka autonya. Sekarang auto tida di-jalanken terlalu keras lagi, sebab Goat Nio takuft nanti kena seruduk orang.

Di Slawi marika mampir di rumahnya Kun Liong, di luar rumah ada sepri cuma ada Keng Nio yang sedeng duduk menungguin warung.

“Keng, ‘ncim ada di rumah?” menanya ’ncim Peng Hok.

“Mama ada di dalem, ‘cim,” jawab itu gadis sembari membri hormat. “Encim baru sampe? Ma-suk saja ka dalem.”

Kun Liong tida ikut masuk, sebab Keng Nio membri tanda ia mau bicara.

“Sudara, aku girang kaeo berada dalem kase-hatan, brapa kali aku ajak mama dateng tengokin

Kalu diliat dari larinya itu kandaran yang pesat dan saban-saban dengan sebat egosin semua kandaran yang menghalangin perjalanannya, bisa diduga pengadarnya ada sanget pande.

Kutika sedeng pesatnya auto dilariken sampe di desa Procot, 14 K.M., dari Tegal, mendadak dari sampling jalan ada kaluear satu kambing yang lantes menyebrangin itu jalanen, rem lantes dikasi kerja, tapi suda tida keburu, itu kambing kena diseruduk di bagian blakangnya hingga dapet luka heibat.

Auto lantes dibrentiken, kerna Kun Liong merasa kasian sama itu binatang yang bertiyilaka. Itu waktu dari jurusan tengah sawa lantes berkrumun bebrapa banyak anak angon dengan di'ikuitin oleh satu kambing ketiyil, yang rupanya ada anaknya itu kambing yang kena diseruduk. Itu kambing ketiyil lantes saja tubruk ibunya dan bertreak-treak dengan rupa sanget sedih, dan kamudian berdiri memandang pada Kun Liong dengan sorot mata minta dikasianin. Kun Liong yang berperasa'an alus lantes bisa liat itu kadukahan yang tertanggung oleh itu anak kambing, maka dengan rupa sedi ia lantes samperi itu kambing yang barusan ia kena seruduk.

“Oh, kambing yang baek,” kata ia dengan suara terharu dan usap-usap kepalanya itu binatang. “Sunggu aku ada sanget berdosa, tapi itu katiyilakahanaan tida bisa dicegah, dari itu, aku cooma bisa menyesel, dan aku berjanji, nanti bicaraken pada eigenaarru buat rawatin kaeo sampe baek.”

Goat Nio yang berhati mulia pun lantes menghamperi dan preksa lukanya, ia jadi bergidik dan tutupi mukanya buat tida meliat itu darah yang masi saja mengalir.

“Anak desa yang baek,” kata Goat Nio sembari gapein salah satu yang lebih besaran, “tulung kaeo pergi panggilken majikannya ini binatang.”

Tida lama kamudian, itu anak angon suda kombali dengen di'ikoieta oleh satu pa tani.

“‘Pa, kambimgmu telah kena diseruduk oleh kita punya auto, ini kejadian sabetelnya kaeo sendiri pun ada bersalah, sebab, suda biarken ia bergrandangan, tapi aku kasian sama ia yang rupanya ada sanget kesakitain, maka aku harep kaeo nanti suka tulung rawatin sampe baek, buat semua onkostnya, nanti aku yang tanggung.”

Sasudanya berkata begitu, Goat Nio lantes ka-luarekn dari dompetnya dua lembar uang kertas dari saringgit yang ditrima dengan penokh rasa trima kasih oleh itu ‘pa tani. Pada itu anak yang barusan disuruh kabarken itu katiyilakahana, ia persen seruluh cents. Meliat kamulia'annya itu gadis yang elok, dari kanan-kiri ada kadengeran grendengannya orang-orang yang memuji, tapi ia tida perduliken itu, dan lantes kombali naek ka autonya. Sekarang auto tida di-jalanken terlalu keras lagi, sebab Goat Nio takui nanti kena seruduk orang.

Di Slawi marika mampir di rumahnya Kun Liong, di luar rumah ada sepy cuma ada Keng Nio yang sedeng duduk menungguin warung.

“Keng, ‘ncim ada di rumah?” menanya ’ncim Peng Hok.

“Mama ada di dalem, ‘iyim,” jawab itu gadis sembari membri hormat. “Encim baru sampe? Ma-suek saja ka dalem.”

Kun Liong tida ikut masuk, sebab Keng Nio membri tanda ia mau bicara.

“Sudara, aku girang kaeo berada dalem kase-hatan, brapa kali aku ajak mama dateng tengokin kau, tapi ia selalu menolak lantaran repot. Dan sekarang, kau, rupanya ada lebih seger dan beruntung, tentu lantaran selalu berdampingan pada itu gadis cantik. Tapi sabetulnya ia siapa?“ “Kau tida kenalin ’nci? Ia ada Goat Nio, putrinya ’ncek Hok Leng.“ ”Oh, ya, dulu aku perna katemu, tapi itu waktu aku masi ketiyil, dan kau rupanya ada penuju; harel saja ini kali kau aken beruntung!“ “Aku tida ada harepan, ’nci,“ jawabnya dengen goyang kepala. ”Ia ada terlalu angku terhadep orang miskin, tadi, coba tida ’ncim yang suru kita mampir, aku tentu tida bawa ia ka sini.....“ Marika tida bisa terusken pembicarahannya, sebab itu waktu orang-orang yang lagi dibicaraken suda pada kaluear buat lantes terusken perjalanannya. Lima minuut kamudian auto suda dilariken lagi menuju ka jurusan Lebaksiu dan saterusnya sampe di Tuwel. Goat Nio berdua Sian Nio jadi sanget gumbira sama keadahannya itu tanah pegunungan yang indah, lantes saja ajakin ibunya pergi liat-liat keadahannya itu tempat. Tapi itu dua orang tuwa yang masi merasaken capenya berduduk tida suka turut. Dan silahken saja itu dua gadis pergi sama Kun Liong. Kun Liong rupanya ada kurang berumbira, saban-saban ia suka terkenang pada itu kacilakahan yang barusan ia terbitkin. “Kau masih cape ’nko rupamu ada lesu; kalu betul begitu, baek kita duduk ngaso sembari maenin bebrapa lagu.“ Goat Nio pun setuju sama itu pikiran, hingga Kun Liong pun tida membanta lagi. ”Buat pertama, kau musti maen dulu, ’nko, baru kita nanti bergantian,“ kata Sian Nio sambil sodorken itu instrument. ”Aku tida napsu, Sian, maka baek kau saja yang maen,“ menampik Kun Liong dengen rupa menyesel. ”Tida boleh, ’nko, kita aken maen bergiliran, dan sekarang aku harep kau jangan membantah lagi.“ Kun Liong yang tida enak buat terus menolak, lantes sambutin itu mandoline buat diakurin. Sabentar pula suara merdu suda kadengeran muluk di itu tanah pegunungan. Tapi lantaran Kun Liong sedeng berduka, maka cara memeukelnya itu tetabuan pun ada kena dipengaruhin sama geteran hatinya. Memang muziek ada satu permaenan alus yang bisa menggambar hatinya si pemoukul; kita nanti kalearken lagu-lagu berumbira, kapan kita sedeng dalem kaberuntungan, sebaliknya, niscaya aken merupaken satu lagu yang memiluken, kapan kita sedeng dalem kadukahana. Kun Liong pun niatan bernaen lagu girang, tapi telah gagal, hingga bikin Goat Nio yang berperasa’an alus lantes menyega: ”’Nko, aku harep kaeo tukar saja laen lagu yang menggumbiraken,“ katanya dengen aer mata mengembeng. ”Betul ’nko, kaeo boleh maenken saja lagu “I’m sitting on the top—of the world,” atawa laen-nya yang kaeo suka,“ menyelak Sian Nio. ”Menyesel aku tida bisa maenken itu lagu, sebab aku tida ada begitu beruntung, laginya memang aku tida ada napsu buat maen lebih jau, maka baek kaeo idzinken aku mendengerin saja.“ ”Kau kenapa sih, ’nko? Kau rupanya berduka saja,“ menanya lagi Sian Nio.

“Aku ada sampe bergeombira, Sian, cuma helaas, saban-saban aku jadi terkenang pada itu kambing tilaka, di sana ia tentu sedeng merintih lantaran kesakitan, tapi aku yang jadi lantarannya sedeng maen muziek dan bergirang. Oh, Allah, bagimana kejem zanya hati manusia.” Sahabisnya berkata Kun Liong tida putunsnya menarik napas panjang pendek dengen paras muka yang bersedih.

Kau tida haruse disalahken ‘nko, kerna itu ada dari maunya takdir, hingga jangan pula buat satu kambing, biar pun kita manusia, musti menyera pada maunya takdir,“ menghibur Sian Nio sembari ambil itu mandoline dari tangannya Kun Liong.

Tida lama kamudian, kombali ada terdenger merdunya suara tetabuan yang dipentil dengen gapa. Sian Nio pilih lagu “I Want To Be Happy” hingga tida heran kalu mengasi satu pendengeran yang sa'nget menyenangken. Sasudanya maenken lagi bebrapa lagu laennya ia lantes serahken itu tetabuan pada Goat Nio.

“Sekarang suda sampe pada giliranmu ‘nci,” kata ia.

“Aku tida bisa maen muziek, Sian, kerna memang aku ada terlalu kasar buat bisa bermaen muziek; minta saja ‘nko Kun Liong maen lagi.”

Kun Liong lantes pandang mukanya itu gadis dengen pengrasahan yang ingin tau.

“Kau begito muris sama kaeo punya kepandean, nona. Aku tau, kau pande tapi sengaja kaeo bilang sabaliknya.”

“Sunggu aku tida bisa ‘nko,” Goat Nio me-rampik lagi, lantaran merasa likat, ia sendiri tida mengarti, kenapa di hadepannya itu orang muda ia sungkan buat unjuk kepandeanriya.

“Kau terus mungkir, nona, tapi siapatah yang pada maleman terang bulan maenin lagu ”I Love The Moon“ di kebon blakang?”

Goat Nio tunduk dengen paras muka beroba merah. Ia tida kira Kun Liong perna curi dengerin ia maen muziek. Maka dengen rupa terpaksa ia ulangin itu lagu yang barusan disebut. Dan nyata Goat Nio ada sampe pande. Kun Liong sendiri yang terkenal jempol dalem maen muziek, maeo akokhi-kepandean, dan katetepannya itu gadis punya tangan.

“Sekarang matahari suda mulai unjuken sinariya, dan ada satu waktu baek buat kita mulai ambil foto,” memperingetin Sian Nio yang suda bosen berduduk. “Mari, kita pergi cari landskhap yang indah buat diambil fotonya.”

Kun Liong berdua Goat Nio yang merasa setuju sama voorsteinya Sian Nio dengen tida banyak rewel lagi lantes mengikutin itu gadis ketiyil ber-jalan puter-puteran, sampe akhrinya marika sampe di sutau tanjakan dan Goat Nio pasang cameranya.

“Sian, aku minta kaeo berdiri di sana buat bantu merameken keadahannya itu tempat,” kata ia.

Sian Nio lantes saja berlari-lari menghamperi itu gundukan kembang yang sedeng pada mekar, di situ ia berjongkok menyiumi kembang dengan roman girang.

Sasudanya seleseh mengambil foto kombali marika berjalan aken cari laen pemandangan yang indah, Goat Nio jadi sanget ketarik sama keadahannya satu jurang yang ada mengalirken aer bening.

“Akh, sayagn tida ada yang berdiri di itu batu cadas,” berkata Goat Nio dengen pikiran melayang.

“Ini kali ada giliranmu, ‘nko Kun Liong,” kata Sian Nio sembari seret tangannya itu ’nko misan.

Kun Liong tida membanta, ia menurut saja apa yang itu ade misan mau, terutama lantaran kena pengaru sama beradanya Goat Nio di itu tempat.

“Kau pun musti turut merameken peman-dangannya Tuwel, ‘nci,” kata Sian Nio kutika ber-jalan sampe pada sakumpulan bungah matahari. “Jangan coba membanta! Aku nanti buka tu-tupnya ini camera biar semuanya tida jadi.”

Goat Nio tinggal ketawa, dan lantes menghamperi itu kumpulan bungah, Sian Nio jadi sanget girang, dan serahken itu kodak pada Kun Liong buat ambil foto. Kun Liong lantes jalanken apa yang di'ingin, sedeng Goat Nio pun tida bisa mem-banta.

“Sekarang kita suda mau pulang dan ini film masi katinggalan satu, baek kita gunaken buat ambil fotonya kita berame,” kata lagi Sian Nio.

“Habis siapa yang ambilinya, Sian? menanya Goat Nio. Kau saja berdua ‘nko Kun Liong.”

“Tida, aku suda ada dua, kaeo berdua masing-masing cuma ada satu, maka baek kau berdua yang berdiri di sana dan aku yang ambilinya.”

Goat Nio tida bisa menyaut, dengen pelahan para-s mukanya berobah merah, dan dengen tida ber-kata apa-apa ia lantes tinggalken marika menghamperi ibunya yang sedeng tujing-tujing gunung Ce-lirit. Kun Liong berdua Sian Nio jadi mesem meliat tingka-lakunna itu gadis.

“Kau dari mana Goat? Dan mana Sian Nio sama Kun Liong?” menanya nyonya Hok Leng.

Goat Nio tida perlu kasi jawabannya, sebab Sian Nio berdua Kun Liong suda dateng di situ.

Tida lama kamuedian dengan dibantu oleh Sian Nio, Goat Nio lantes atur barang makanan di bawah-nya satu puhun. Kun Liong berdua Goat Nio kaliatan makan sedikit sekali. Itulah ada dari ba-nguninya perasahan aneh yang tersembuni dalem masing-masing sanubarinya.

Sasudanya selegeh mengisi perut marika lantes brangkat pulang dengen penuh kagumbirahan. Cu-ma Kun Liong sendiri yang tida bergumbira, saban-saban ia masih terkenang pada itu katiylakahan, lebih lagi pada kutika auto meliwatin itu tempat di ma-na tadi pagi terjadinya itu katiylakahan, paras mukanya jadi berobah pucet dan badannya bergumeteran sedikit, sedeng suara elahan napas pun ada kade-ngeran berulang-ulang. Goat Nio yang banyak per-hatiken keadahannya itu jejaka, diam-diam turut bersedih dan memuji hatinyia itu orang muda yang mulia dan bisa imbangin sesama makhluk punya keadahan dengen tida memandang derajiat.


IV

DALEM KASANGSIAN

Suda lebih dari satu minggu itu bungah Seruni yang Goat Nio tancepin dalem vaasnya Kun Liong tida diganti. Jongos-jongos pun dilarang buat ganti itu bungah yang suda mulai jadi kerring. Kun Liong sayang itu bungah melebihi dari segala apa yang ia ada punyaken.

Saban pagi atawa sore kalu ia terkenang pada itu gadis cantik, tentu ia samperi itu vaas dan kasiken brapa cuman sembari kadengeran menggrendeng begini:

“Oh, bungah, bagimana girang kalu aku dapet cum majikanmu, seperti sekarang aku sedeng cumin kaeo. Tapi, ya, aku tokh musti jadi itu orang yang beruntung petik kaeo, Goat.....“

Kalu suda menggrendeng begitu, biasanya ia meremim matanya dan bayangin itu paras eilok yang selalu tida mau berlalu dari pikirannya.

Begitu dengen begitu, bebrapa bulan suda berlalu dengen tida ada perobahan atawa kemajuan apa-apa buat Kun Liong; ia rasanya suda tida tahan buat terus sembuniken itu perasa'an yang saban minuut jadi bertamba besar. Tapi ia jadi rubu, hatinya selalu bergeter kapan ia berhadepan pada itu gadis yang menurut iapunya anggepan sendiri ada terlalu angku, ia takut kalu ia coba menyataken perasahannya nanti bikin semua keadahan jadi rusak. Tapi sebaliknya buat lantes lupaken saja itu gadis, tokh rasanya ia tida nanti bisa. Rasa cintanya yang suda memakan dalem sekali, tida idzinken ia ambil itu tindakan.

Pada satu sore dengen rupa uring-uringan ia marahi diri sendiri yang jadi begitu lemah buat berurusan pada dewi Cinta. la ambil putusan pasti, buat lantes kunjungin itu gadis pada itu sore juga dan nyataken cintanya, maski itu nanti aken berupa kegagalan. Tapi sesampenya di hadepannya itu gadis, kombali itu katetepan jadi buyar. Brapa kali dengen gigit bibir ia suda bersedia buat menutur; tapi saban-saban itu sorot mata yang tajem dan itu kelakuan angku dari itu gadis, menyega ia berlaku begitu terburu-buru.

Akhirnya dengan pikiran kusut ia ngeloyer pulang dan terus masock dalem kamar tidurnya di mana ia berebah di atas pembaringannya.

“Oh, Goat, Goat, lantaran kau sumanget dan pikiran aku jadi begini kalut,” Kun Liong ber- kata-kata sembari pandang dan cumin portretnya itu gadis. Goat Nio telah kasi itu portret yang marika bikin di Tuwel, sabagi tanda peringatan. “Aku ingin lekas lupaken kaeo yang kaliatannya ada begitu angku dan dingin terhadep aku, tapi menyesel, aku punya hati tida cukup tegu. Dan kaeo, apatah kaeo juga ada mengandung ini semacem perasa'an terhadep aku? Oh, itulah satu pikiran gila! la tokh ada sampe cantik dan hartawan, buat bisa menarik perhatianinya laen lelaki yang hartawan, dan tentu saja ia tida begitu bodo buai menikah padaku yang rudin.”

Berkata sampe di situ Kun Liong jadi sanget berduka dan selesepken kepalanya begitu rupra di bawahnya bantal. Lama juga baru kadengeran pula ia berkata dengen suara sember: “Oh, suda, suda, aku musti tau diri aken seberapa bisa lupaken ia, kaleo tida mau dunia anggpeg aku ada terlalu lemah dau tida berguna; aku tokh musti punya keangkuhan buat tida terguling lantaran satu gadis.”

Sasudahnyia berkata begitu dengen rupra jengkel Kun Liong berlompat bangun dan pergi tukar pakean buat bersedia pergi jalan-jalan, ia harep dengen itu cara menghiburi, pelahan-pelahan ia bisa lupaken suara dan sorot mata dari itu gadis yang suda tertanem dalem sanubarinya.

Apa mau di tengah perjalanian ia ada berpapasan sama Tiong Bun yang baru pulang mancing dari Teng-merah.

“Hallo, ‘nko Kun Liong, kaeo mau ka mana? Mari mampir di rumahku, sebab aku dapet mancing ikan kakap dan kita boleh sama rasaken sedepniya daging ikan yang masih seger,” kata itu anak bengal.

Kun Liong coba menolak, tapi Tiong Bun sangat memaksa hingga ia menurut dengan terpaksa.

“Kau boleh duduk di sini dulu, ‘nko,” kata Tiong Bun sembari silahkan Kun Liong duduk dalem kamar buku. “Aku mau kasi ini ikan pada kokki.”

Kun Liong berjalanan masuk ka itu kamar buku dan liat-liat brapa macem buku dan surat-kabar, sampe akhirinya di bawahnyia satu buku baca'an yang ia kenalin ada bukunya Goat Nio, ia dapat liat itu brapa biji portret yang dibikin di Tuwel. Dengan tida sengaja ia angkat buat diliat, tapi di situ cuma terdapat brapa biji yang melu-kisken pemandangan Natuur dan gambarnya Sian Nio, sedeng iapunya sendiri begitu pun itu bagian yang Goat Nio, ada turut, tida bisa dikatemucken di situ. Ini bikin ia diyadi bengong sembari pikirken itu keadahan, tapi ia tida bisa ambil putesan mana yang betul, bahua portretnya sengaja disimpen oleh itu gadis atawa dibuang lantaran ia merasa jemu? Pikiran yang blakangan ia rasa lebih jitu, kerna itu gadis hartawan tentu merasa tida suka simpen portretnya saorang miskin. Ia terus berduduk dalem kesangsian memikirken itu sual.

Kun Liong tentu aken berjingkrak-jingkrak kalu saja ia taoc bagimana Goat Nio telah perlakucken portretnya. Goat Nio suda sengaja simpen itu portret di bawah bantal buat saban-saban dipandang dan tida berjauhan sama ianya. Malah kadang-kadang ditiyu-min dan ditempelken di atas dadanya. Hei, tida salah kapan orang bilang: “Cinta itu ada satu perasa'an aneh yang bisa adaken sendiri satu jalan resia, buat bikin contact masing-masing perasa'an dari itu orang-orang yang sedeng saling menyinta.”

Kutika Kun Liong suda taro betul itu portret di tempatnya, pintu kamar kaliatan disurung dengen pelahan dan Goat Nio kaliatan muncul. Goat Nio kaliatan jadi kaget sekali, sebab ia tida kira dalem itu kamar buku ada tetamunya. Ia mau lantes mundur kaleuar, tapi Kun Liong lantes maju menghampiri.

“Kau mau ambil apa-apa, nona?” menanya ia. “Aku mau ambil piso lepit yang katinggalan di sini. Tapi apa kau suda lama di sini?” Ini pertanyahan yang saderhana dan dingin bikin Kun Liong jadi salah mengarti dan merasa sangat tida enak. Ia anggpeg itu gadis ada cemburuin tentang iapunya berdiam dalem itu kamar yang cuma sendirian.

“Barusan aku dateng sama Tiong Bun dan ia pergi ka blakang,” saut ia dengen serat. Goat Nio tida berkata lebih jau, ia lantes ambil pisonya dan berlalu dari itu kamar buku. Kun Liong jadi melongo, ia seperti dapet kepastian, bahua dirinya, betul-betul ada sanget rendah dalem pemandangannya itu gadis hartawan yang angkuh. Dengan begitoie, ia jadi sanget menyesel, Tuhan sengaja lahirken ia dalem keadahan miskin. Oh, coba ia ada satu hartawan! Kun Liong jadi lebih bingung kutika kombali pintu kamar tersurung dan ‘ncek Hok Leng suda berdiri di hadepannya. “Kau sama siapa dateng di sini, dan berbuat apa?” menegor itu orang tuwa dengen kasar. “Aku dateng sama Tiong Bun, tapi ia baru ka blakang,” saut itu anak muda. Tida berkata lebih jau Hok Leng lantes tinggal-ken itu anak muda sendirian dan lapat-lapat kade- ngeran ia kaokin Tiong Bun dan gegerin kealpahannya itu anak.

Kun Liong satu anak miskin yang penuh pengalaman sama keadahannya dunia, lantes mengarti apa yang itu orang hartawan buat tida senang. Ternyata dirinya orang pandang sanget renda dan hina, dan apatah masi berharga buat ia taro kaki dalem kalangannya itu familie? Kerna jangan lagi meng-format, menaro kapertiyaa'an sama kajujurannya pun tida.

Justru ia lagi merasa perih sama dirinya yang dihinaken begitu rupa, mendadak kaliatan Tiong Bun masuk dengen paras muka kusut.

“Bun, aku permisi pulang, kerna aku masi ada banyak urusan yang musti diberesken,” kata ia pada adenya Goat Nio.

“Akh, kenapa begitu lekas, ‘nko? Laginya itu kan belon mateng,” kata Tiong Bun.

“Trima kasi, Bun, biarlah laen kali saja aku dateng lagi, sekalian tulung sampeken aku punya permisi pulang pada ayahmu.”

Sasudanya Kun Liong berlalu Tiong Bun lantes samperi Goat Nio yang sedeng duduk potongin bungah buat bouquet.

“Ci, papa memang adatna aneh, ia suka pandang rendah laen orang punya kamiskinan, aku benci itu tabeat. Kau tida tau barusan aku pulang mancing dan di tengah jalan aku berpapasan sama ‘nko Kun Liong yang lagi jalan-jalan, dan aku ajak ia mampir di sini, sebab aku pikiran mau ajak ia sama-sama makan ikan yang aku dapet pancing. Bermula pun ia menolak aku punya undangan, tapi lantaran aku memaksa ia jadi menurut. Sesampenya di rumah, aku lantes suruh ia tunggu di kamar buku, sebab aku mau suruh Mient buat masak itu ikan. Tida taunya papa pulang dari toko dan dapatken ’nko Kun Liong duduk sendirian di itu kamar, lantes bercuriga kalu ‘nko Kun Liong curi apa-apa. Aku di belakang di kaokin dan digegerin dengen suara keras, sampe rupanya ’nko Kun Liong dapat denger dan jadi kurang senang, sebab waktu aku kaleuar, ia lantes permisi pulang dengen tida bisa dicega lagi. Coba kaeo pikir, ‘ci, tidakah papa kaliwatan? Samiskin-miskinnya, masa ’nko Kun Liong mau mencuri? Papa rupanya mau anggep semua orang miskin ada berderajat rendah, dengen tida perna pikir bahua kita orang hartawan pun tentu berasal dari orang miskin juga.......”

Tiong Bun ucapken itu semua perkatahan dengan rupa sanget menyesel, sedeng Goat Nio pun tida kurang menyeselnya.

“La tentu tida suka dateng di sini lagi. Dan aku jadi kailangan satu sobat yang baek dan suka menasehati aku dalem kakliruan,” kata lagi Tiong Bun.

“Boleh jadi, tapi kaeo tokh bisa dateng ka rumahinya Sian Nio, kalu betul ia tida sudi lagi indiek kita punya rumah,” mengingetin Goat Nio yang kuatir itu perhubungan nanti betul-betul jadi terputus.

Sedeng ia sendiri tida mengarti, kenapa, ia taku perhubungannya sama itu jejaka jadi terputus.

“Ya memang bisa juga, tapi aku sungkan dateng ka sana, sebab kalu aku dateng ka sana ‘nko Kun Liong jadi rugi beliken aku ini itu, dan ini bikin aku jadi menanggung budi, sebab kalu aku menolak tentu ia jadi kurang senang. Sebab itu juga, ’nci, kenapa saban-saban aku kepingin ajak ia makan di sini, buat membales sedikit kabaeannya; tapi papa adatnya aneh.......“Hus, diam, denger di dalem papa lagi marahin mama,” kata Goat Nio.

Betul saja di dalem ‘ncek Hok Leng sedeng katain istrinya yang dikataken alpa tida bisa urus rumah-tangga, biarin sembarang orang masuk-kaluar dengen zonder ditilik.

“Kun Liong tokh ada anaknya ‘nko Peng Liang,” kadengeran ’ncim Hok Leng membanta. “Masa kita tida boleh menaro pertiyaya? Laginya iapunya dateng sama Tiong Bun, kalu itu musti disalahken, kau musti salahken pada Tiong Bun, jangan sembarang menudu orang punya diri.”

“Tida perduli anak siapa, kalu keadahannya tida menyukeopi tentu suka mata gelap!”

Goat Nio yang mendengerin jadi melinangken aer mata. Ia sanget sedih sama pemandangan dan pikirannya itu orang tuwa yang suka pandang rendah orang punya kamiskinan. Cuma kakayahan saja yang berharga bagi pemandangannya. Lebih lagi, ia jadi penasaran kalu itu orang yang ia sanget hor-matken dan puji tinggi pri-budinya ditimpaken itu tuduan jelek.

Kun Liong terus saja pulang ka rumah, rasa penasaran, mendongkol, amarah dan maloo mengaduk jadi satu dalem pikirannya. Saumur hidupnya baru ini kali orang brani menista dirinya dengen berdepan. Dan apa ia musti manda saja kahormatan dirinya di'iles-iles lantaran buat satu gadis yang ia cintaken?

Oh, itulah terlalu!

Tapi salekasnya, kasedarannya dateng menulung; ia inget baek, yang dirinya memang ada sanget tida berharga buat pemandangannya orang yang matanya berminyak.

Cuma belon tau bagimana Goat Nio punya pikiran? Apa ia juga menduga jelek atas dirinya? Kalu betul, nyata di dunia tida ada keadilan? Dan perlu apa ia musti hiburi diri dengan segala pengharepan kosong! Kalu ditilik dari prilakunya itu gadis yang dingin terhadep pada dirinya, nyata ia pun ada membenci lantaran kamiskinannya. Lebih lagi kutika ia inget perkatahannya Sian Nio yang membilang, bahua itu gadis cuma aken menikah pada satu pemuda keluaran H. B. S. Oh, nyata sekarang kagagalana ada menjadi bagiannya, tida nanti ada satu tenaga bisa memperbaekin

Bagimana ancur rasanya itu hati, yang merasa dirinya tida dipertiyaya oleh itu sukma yang dipuja siang malem; itulah tentu pembaca yang perna mengalamin bisa bayangken sendiri. Kun Liong punya keadahan pada itu waktu sunggu sanget tida enak. Ia musti bisa kumpulken keangkuhannya buat jangan kasiken dirinya dinista oleh siapa juga.

Buat keadahan sekarang ia pikir paling baek ia tida unjuk lagi dirinya ka itu rumah yang menyakiki hati, tapi ia sangsi, apatah nanti kasedarannya selalu ada di fihak kuat buat bisa control kahilapannya? Kerna memang di sana ada tempatnya itu sukma yang telah mengiket keras hatinya!

Berpikir sampe di situ Kun Liong jadi bingung dan tunduken kepalanya di atas meja sembari ditutupi oleh kadua tangannya.

“Akh, kalu begitu, aku musti lekas angkat kaki dari Tegal, kerna laen jalan aku kuatir tida begitu samporna, laginya di sini tokh aku tida punya tanggungan apa-apa,” menggrendeng ia dengan suara kurang terang. “Buat menyingkir saja ka Slawie, ituloh bukannya satu kacerdikan, kerna berapa jau letaknya Tegal antara Slawie? Apa lagi dari perhubungannya familie, bukan terlalu mustail nanti satu waktu aku bisa katemuken pula itu nona, yang cuma aken membikin ancur saja aku punya hati.”

Kun Liong ambil putusan pasti buat jauken dirinya sebrapa bisa dari Tegal, dengen berpisahannya tempat yang begitu jau, ia harep nanti pelahan-pelahan bisa lupaken itu kejadian. Cuma saja sekali pun itu perkara suda bikin putus pengharepanny, tokh ia masih tida bisa usir kaleuar itu suara yang merdu, itu paras yang menarik, dan yang telah tersimpem dalem dasarnya iapunya hati.

Ia baru angkat kepalanya, kutika Sian Nio dateng menyamperi.

“Kau tida enak badan ‘nko?” “Tida, aku ada waras, trima kasi.” “Tapi kenapa muka mu kaliatannya pucet?” “Masa?” “Itulah tida bisa dibantah lagi.” Kun Liong jadi bertunduk dengen sembari berpikir, ia merasa begimana baek itu sudara misan selalu perlakuken dirinya. “’nko, kenapa kaeo berdiam saja?” “Aku lagi bingung, Sian. Aku pikir besok mau kabur dari Tegal.” “He” memotong Sian Nio dengen kaget. “Apa kaeo tida memaan ‘nko? Tapi kenapa? Apa kaeo tida betah tinggal di sini?” “Aku sampe senang, sudara.” “Habis apa yang bikin kaeo jadi sungkan tinggal di Tegal?” “Menyesel buat sekarang aku belon bisa tuturken itu sebab, harep kaeo tida mendesek dalem ini hal.” “Kau mau pulang ka Slawie?” “Tida, aku mau mengumbara.” Sian Nio tida menanya lebih jau, ia terus ka samping dan tuturken apa yang ia telah denger pada kadua orang tuwanya, yang jadi kaget dan dateng menanyaken sebabnya itu keponakan mau berlaiu. Tapi Kun Liong mengasi keterangan yang tida me- bilang, bahua tiu gadis cuma aken menikah pada satu pemuda kelcearan H.B.S. Oh, nyata sekarang kagagalanan ada menyadi bagiannya, tida nanti ada satu tenaga bisa memperbaekin

Bagimana ancur rasanya itu hati, yang merasa dirinya tida dipertayaa oleh itu sukma; yang dipuja siang malem; itulah tentoie pembaca yang perna mengalamin bisa bayangken sendiri. Kun Liong punya keadahan pada itu waktus sunggus sanget tida enak. Ia musti bisa kumpulken keangkuhannya buat jangan kasiken dirinya dinista oleh siapa jocega.

Buat keadahan sekarang ia pikir paling baek ia tida unjuk lag dirinya ka itu rumah yang menyakiki hati, tapi ia sangsi, apatah nanti kasedarannya selalu ada di fihak kua buat bisa control kahila-pannya? Kerna memang di sana ada tempatnya itu sukma yang telah mengiket keras hatinya!

Berpikir sampe di situ Kun Liong jadi bingung dan tunduken kepalanya di atas meja sembari ditutupi oleh kadua tangannya.

“Akh, kalu begitu, aku musti lekas angkat kaki dari Tegal, kerna laen jalan aku kocatir tida begitu samporna, lagiiny di sini tokh aku tida punya tanggungan apa-apa,” menggrendeng ia dengan suara kurang terang. “Buat menyingkir saja ka Slawie, itulah bukannya satu kayerdikan, kerna berapa jau letakinya Tegal antara Slawie? Apa lagi dari perhubongannya familie, bukan terlalu mustail nanti satu waktu aku bisa katemuken pula itu nona, yang cuma aken membikin ancur saja aku punya hati.”

Kun Liong ambil putusan pasti buat jaucken dirinya sebrapa bisa dari Tegal, dengen berpisahannya tempat yang begitu jau, ia harep nanti pelahan-pelahan bisa lupaken itu kejadian. Cuma saja sekali pun itu perkara suda bikin putus pengharepannya, tokh ia masih tida bisa cesis kalua itu suara yang merdu, itu paras yang menarik, dan yang telah tersimpem dalem dasarnya iapuniya hati.

Ia baru angkat kepalanya, kutika Sian Nio dateng menyamperi.

“Kau tida enak badan ‘nko?” “Tida, aku ada waras, trima kasi.” “Tapi kenapa muka mu kaliaitannya pucet?” “Masa?” “Itulah tida bisa dibantah lagi.”

Kun Liong jadi bertunduk dengen sembari berpikir, ia merasa begimana baek itu sudara misan selalu perlakuken dirinya.

“‘nko, kenapa kaeo berdiam saja?” “Aku lagi bingung, Sian. Aku pikir besok mau kabober dari Tegal.”

“He” memotong Sian Nio dengen kaget. “Apa kaeo tida memaan ‘nko? Tapi kenapa? Apa kaeo tida betah tinggal di sini?” “Aku sampe senang, sudara.” “Habis apa yang bikin kaeo jadi sungkan tinggal di Tegal?” “Menyesel buat sekarang aku belon bisa tuturken itu sebab, harep kaeo tida mendesek dalem ini hal.”

“Kaeo mau pulang ka Slawie?” “Tida, aku mau mengumbara.”

Sian Nio tida menanya lebih jau, ia terus ka samping dan tuturken apa yang ia telah denger pada kadua orang tuwanya, yang jadi kaget dan dateng menanyaken sebabnya itu keponakan mau berlalu. Tapi Kun Liong mengasi keterangan yang tida me- muasken, ia cuma bilang saja lantaran kepingin mengumbara.

“Kalu kaeo tetep sama putusanmu, aku pun tida bisa menyega, anak, tapi pikirlah dulu biar betul, di itu tempat yang belon dikenal kaeo tida punya sobat dan familie, maka buat pikiranku, kalu betul kaeo suda tida betah tinggal di Tegal, baek kaeo pulang saja ka Slawie,” membujuk iapunya paman.

“Encek, aku pun menyesel sekali musti tinggal-ken Tegal yang jau dari sobat dan familie, tapi apa boleb buat....” ia tida terusken perkatahannya dan bertunduk.


V

APA YANG TIDA TERDUGA

Brapa hari suda berlalu sedari apa yang diceritaken di bagian atas, dalem itu brapa hari Kun Liong tida mengunjungin lagi rumahnya Goat Nio seperti biasanya ia suka berbuat.

Tiong Bun yang boleh dibilang ampir tida bisa terpisa dari Kun Liong, beberapa kali suda dateng mencari, tapi saban kali ia tida beruntung bisa bertemu, sebab Kun Liong selalu pergi puter-puteran dengan tida karuan apa yang dicari. Dari Sian Nio ia dapet tau yang Kun Liong mau pergi mengumbara. Sebab apa, Sian Nio tida bisa terang-ken.

Tiong Bun yang masih berpikiran anak-anak, cuma bisa mengira yang Kun Liong mau menyingkir lantaran merasa terhina, tapi beda sama Goat Nio yang kutika dikasi tau oleh sudaranya, paras mukanya jadi berobah pucet dan bersedih. la rasanya dapet tau yang Kun Liong punya menyingkir dari Tegal bukan cuma dari itu sebab. Sebab memang kalu Kun Liong cuma merasa sakit hati sama ayahnya, ia tokh bisa menyingkiri ayahnya dengan jalan tida usa mengunjungin rumahnya.

Sorenya kutika ia sedeng duduk merenda, kaliaitan Tiong Bun dateng menyamperi.

“Ci, kaeo tida pikir pergi tengokin ‘nko Kun Liong yang mau pergi pada hari esok? Aku pikir kaeo harus berbuat begitu, sebab memangnyia kaeo suda kenal baek.”

“Apa ia jadi pergi Bun?” tanya Goat Nio dengan rupa kaget. “Kau dapat kabar dari mana tentang itu kepastian?”

“Sian Nio tadi pagi ceritaken itu, aku percaya, lantaran Sian Nio ada banyak tau keadahannya ‘nko Kun Liong. Dan kaeo nanti pergi ka sana ya?”

“Kau sendiri apa mau pergi atawa tida? Kalu kaeo mau pergi, aku pun suka ikut.”

“Ya, sekarang juga aku mau pergi.”

Goat Nio lantes bangun dan masuk tukar pa-kean.

Tida lama kamudian itu dua sudara suda ada dalem perjalanannya. Di sana iaorang cuma katemuken Sian Nio yang sedeng duduk membati buku pelajarannya.

“Wel, Sian, kaeo ada begitu rajin,” menegor Goat Nio.

“Nko Kun Liong ada di mana Sian?” menanya Tiong Bun yang tida sabaran.

“Tadi ia pergi kaleor, kaeo boleh cari sendiri saja padanya,” saut Sian Nio.

Tiong Bun lantes lari kaleor buat cari Kun Liong, tapi di meja bacanya Maupun di kamar tidur- iya, ia tida bisa katemuken itu orang yang dicari. Kutika ia kaluar buat liat barangkali ada di sabelah tetangganya, ia katemu sama temen sekolanya dan diajak memaen, hingga melupaken perkara mencari Kun Liong.

Goat Nio yang liat Tiong Bun tida kombali jadi tida sabaran.

“Sian, ‘nko Kun Liong ada di mana sih? Kena- pa Tiong Bun pergi begitu lama tida kombali?”

“‘Nko Kun Liong biasanya tida suka terpisah dari meja bukunya, tapi dari kemaren sore, aku liat ia suka duduk bengong di blakang, di kebon. Mari kita liat dulu di luar, barangkali ia ada di me- ja bukunya.”

Goat Nio ikut kaluar, tapi seperti Tiong Bun, iaorang pun tida bisa katemuken Kun Liong di situ. Kutika mau berlalu, Goat Nio jadi sanget ketarik sama itu bungah Seruni yang ia tancep dan sekarang suda kering.

“Sian, kenapa itu bungah tida diganti? Apa memang ‘nko Kun Liong tida suka sama bungah?”

“‘Nko Kun Liong sendiri yang larang jongos tukarin itu sama kembang yang seger,” menerang- ken Sian Nio.

Goat Nio tida menanyaken lebih jau, hanya lan- tes mengikuti itu gadis ketiyil jalan ka blakang dengen pikiran melayang, pikiri perbuatannya Kun Liong terhadep pada itu bungah yang ia tancepin di itu vaas yang terletak di meja bukunya itu anak muda. Dengan tida merasa lagi paras mukanya jadi berobah merah dengan pelahan.

Di pertengahan blakang marika dapetken ‘ntiyim Peng Hok yang sedeng mara-mara cari piso.

“Sian, itu piso buah ada di mana? Aku suda sering bilang, kalu suda pake musti kombaliken lagi, tapi kaeo membandel, sekarang pada waktunya mau dipake, tida ada.”

Sian Nio tida menyaut tapi lantes bantu cari'in. Sedeng Goat Nio yang suda telanjur sampe di situ terusken perjalananya ka kebon yang letaknya di belakang. Di sabelah bawahnya bayangan daon-daon puhun mangga ia dapat liat Kun Liong yang se- deng senderken kepalanya sembari memandang mega- mega di atas langit dengen pikiran melayang.

“Kaeo lagi liatin apa, ‘nko?” menegor itu gadis sembari menghamperi.

Dalem ngelamunnya Kun Liong jadi kaget kutika mendenger itu pertanyahan yang mendadak, lebih kaget lagi kutika ia dapat tau siapa yang menanya. Bermuela ia ampir tida pertiya sama kewarasan mata- nya yang ia kira suda mulai jadi kabuer, tapi kutika ia mendapat kepastian bahua ia bukannya lagi mengimpi, lantas saja ia jadi sanget girang.

“Aku tida liat apa-apa, nona,” diyawabnya seraya silahkan itu gadis duduk; tapi itu gadis me- tampik.

“Aku denger kaeo mau pergi mengumbara; apa itu ada bener?” menanya itu gadis dengen pikiran limbung, boleh dibilang, itu sa'at ia tida berkuasa lagi atas dirinya.

“Ya,” jawab Kun Liong dengen pendek dan ber- tunduk.

“Kenapa kaeo lantes mau tinggalken Tegal? Dan sebagi sobatmu, apa aku boleh tanya itu sebab?”

“Sebabnya? Akh, tida perlu aku ceritaken. Lagi- nyia aku pergi tokh tida ada sangkutan sama kaeo.”

Paras mukanya itu gadis lantes berobah pucet. Ia mau marah, tapi hatinya tida mengidzinken.

“Aku dateng menanya atas namanya kita punya persobatan, kenapa kaeo begitu angku?”

“Kerna aku merasa, yang aku tida perlu terangkan itu sebab; tida, itu tida berguna sama sekali, malah sebaliknya cuma membikin jadi buwa tertawahan orang saja. Kau tentu mengarti, keadahannya satu orang miskin tida berharga buat didenger oleh kaum hartawan,” kata Kun Liong dengan dingin, yang sasuatu pata perkatahannya sanget melukaken hatinya itu gadis.

“Tapi padaku kaeo musti kacoaeliken!”

Kun Liong masih bertunduk dengan sikep adem dan tinggal bungkem.

“Kau merasa penasaran sama lakunya ayah? Kau betul, dengen ini jalan aku haturken ma'af dan harel kaeo tida buat kecil hati,” kata lagi Goat Nio.

“Aku tida simpen penasaran pada siapa juga; kerna memang sedari kecil ibuku tida perna didik aku simpen sakit hati.”

“Tapi kenapa kaeo lantes mau tinggalken Tegal? Dan apa kaeo tida bisa robah itu putusan? Aku....” Itu gadis tida bisa terusken perkatahannya, sedeng warna merah jambu ada menghiasi antero mukanya. Ia suda kalantesan mengomong, tapi kutika mendusin ia jadi bingung dan tida tau musti lanjutken bicaranya ka jurusan mana.

Kun Liong masih bertunduk, tapi sekarang de-ngen rupa bingung.

“Jadi kaeo tetep mau tinggalken Tegal? Dan kapan kaeo mau brangkat?” menanya itu gadis lebih jau sembari pandang orang punya muka yang ditunduken.

Kun Liong masih tinggal bungkem dan kutika ia angkat mukanya, ia jadi kaget, liat di antara matanya itu gadis seperti ada berlinang-linang aer mata.

“Kau tida idzinken aku angkat kaki dari Tegal, nona?”

“Kalu aku boleh meminta begitu... sebab Tiong Bun nanti jadi kesepian?” Itu gadis buru-buru membetulken omongannya sendiri dengan muka berobah merah.

“Nona, kaeo tau kenapa aku niat tinggalken Tegal?” menanya Kun Liong dengan suara gumeter dan pandang mukanya itu gadis dengen penuh kacintahan. “Aku kepaksa tinggalken ini tempat, lantaran aku tau itu harepan aken jadi gagal; dengen begitu, bukantah memang ada lebih baek aku tinggalken ini kota cilaka?”

“Pengharepan? Tapi apa yang kaeo harepin?”

“Kau ingin tau, nona? Tapi apa kaeo tida aken jadi kaget atawa anggep aku terlalu lancang, kalu aku ceritaken?” menegesin Kun Liong sambil pandang mukanya itu gadis dengen penuh kacin-tahan.

Oh, kalu kasopanan tida melarang, bagimana ia kepingin lantes peluk dan cum itu taman dari kecantikan.

“Baeklah, kalu kaeo memaksu. Sebabnya... sebab... a... ku... aku... cinta... kaeo, cintaken kaeo, nona, dengen satulunsya hati dan nyawa. Tapi, akh, bagimana lucu adanya itu pengharepan!”

“Aku tau, nona, kaeo ada terlalu tinggi buat aku yang miskin,” kata lagi Kun Liong, “justru itu, kenapa aku pikir, baek aku jauken diri sabrapa bisa dari Tegal yang penuh sama pengharepan kosong.“

Goat Nio tida bisa menyaut, ia bertunduk dengan roman malu. la tida marah, kutika dengan gumeter itu jejaka pegang tangannya dan ciumin itu jari-jari yang puthi dan lantiyip.

“Nona, kenapa kaeo diam saja? Tapi, oh, aku harep saja kaeo ada sampe mulia buat bikin penghiduppanya itu orang yang nasibnya berada dalem kaeo punya tangan, jadi beruntung dengan membilang: Aku trima itu.”

Itu gadis tinggal bungkem sembari bertunduk.

“Kaeo tida bisa percaya sama pengakuanku, nona? Tengoklah sorot mataku, dan di situ kaeo bisa pahamken apa yang terkandung dalem hatiku, seperti itu pepata ada bilang: Mata ada jadi jendelanya hati manusia!” kata lagi Kun Liong.

Goat Nio masih saja bertunduk dengan rupa sanget malu, hingga ia tida mempunyai kabranian buat tengok mukanya itu anak muda. Sabetulnya ia pun sanget girang kutika mendenger pernyata-hannya itu anak muda yang menyocokin hatinya; tapi lantaran besar adanya itu kagirangan, sabaliknya membikin ia jadi tida mampu berkata-kata. Kun Liong yang tida dapat jawaban, jadi salah artiken sikepnya itu gadis, lalu tarik pulang tangannya dengan putus harepan.

“Ya, memang ada aku sendiri yang katerlaluan, masa satu anak miskin brani mengharep dirinya satu Prinses,” kata ia dengan suara sedih. “Harep saja kaeo suka ma'afken aku punya kalantiyangan.”

Sahabisnya berkata begitu Kun Liong lantes mau berlalu, tapi Goat Nio cept menyega dengan tarik tangannya.

“Kaeo mau pergi ka mana, ‘nko?” menanya ia dengan suara sedih juga.

“Aku mau lantes pergi mengumbara! Ka mana aku aken pergi, aku sendiri belon tau,” saut Kun Liong.

“Kenapa kaeo begitu angku, ‘nko?” kata Goat Nio sembari rapetken dirinya pada itu anak muda.

“Aku tida perna marah, Goat,” kata Kun Liong yang berbalik jadi sabar dan mendapat pengharepan baru. “Tapi buat orang miskin seperti aku, harus kenal harga dirinya, tapi sudalah buat apa kita recokin hal yang tida perlu. Aku perlu dapat kepastian, apa pengharepanku tida aken sia-sia?”

“Kaeo belon pus sama ini semua bukti, dan apa kaeo ingin aku bersumpah?” berbalik menanya itu gadis.

“Tida perlu, Goat; aku percaya pada kaeo sebagi rahayat yang mempercaya pada ratunya. Tapi apatah ayahmu tida aken merasa terhina, kalu musti mempunyai satu mantu anak miskin, satu pencuri......”

“Nko,” memotong itu gadis dengen jengkel, “aku harep kaeo tida ucapken lagi itu perkatahan menyindir, yang cuma aken membikin perih saja aku punya hati.”

Mendapat itu jawaban yang memastiken nasib dirinya, dengan tida terasa lagi Kun Liong ja-di sanget girang, dan dengan tida tau apa yang ia berbuat, ia suda peluck dan briken bebrapa ciuman dengan bernaspu pada itu gadis, yang tinggal manda.

“Tapi aku ada terlalu miskin, Goat,” kata pula Kun Liong sasuda lama kalelep di dasarnya itu rasa beruntung besar.

“Miskin, oh, kaeo pandang aku terlalu hina, sabrapa bisa dari Tegal yang penuh sama pengharepan kosong.“

Goat Nio tida bisa menyaut, ia bertunduk dengan roman malu. la tida marah, kutika dengen goometer itu jejaka pegang tangannya dan cumin itu jari-jari yang putih dan lantiyip.

“Nona, kenapa kaeo diam saja? Tapi, oh, aku harel saja kaeo ada sampe mulia buat bikin penghidupannya itu orang yang nasibinya berada dalem kaeo punya tangan, jadi beruntung dengan membilang: A ku trima itu.”

Itu gadis tinggal bungkem sembari bertunduk.

“Kaeo tidla bisa pertiyaya sama pengakuanku, nona? Tengoklah sorot mataku, dan di situ kaeo bisa pahamken apa yang terkandung dalem hatiku, seperti itu pepata ada bilang: Mata ada jadi jen-delanya hati manusia!” kata lagi Kun Liong.

Goat Nio masih saja bertunduk dengan rupa sanget malu, hingga ia tida mempunyai kabranian buat tengok mukanya itu anak muda. Sabetuluya ia pun sanget girang kutika mendenger pernyata-harniya itu anak muda yang menyocokin hatinya; tapi lantaran besar adanya itu kagirangan, sabaliknya membikin ia jadi tida mampu berkata-kata. Kun Liong yang tida dapat yawaban, jadi salah artiken sikepni ya itu gadis, lalu tarik pulang tangannya dengan putus harepan.

“Ya, memang ada aku sendiri yang katerlaluan, masa satu anak miskin brani mengharep dirinyia satu Prinses,” kata ia dengan suara sedih. “Harep saja kaeo suka ma'afken aku punya kalantiyangan.”

Sahabisnya berkata begito Kun Liong lantes maeo berlalu, tapi Goat Nio ceyet menyega dengan tarik tangannya.

“Kaeo maeo pergi ka mana, ‘nko?” menanya ia dengen suara sedih juga.

“Aku maeo lantes pergi mengumbara! Ka mana aku aken pergi, aku sendiri belon tau,” saut Kun Liong.

“Kenapa kaeo begitu angku, ‘nko?” kata Goat Nio sembari rapetken dirinyia pada itu anak muda.

“Aku tida perna marah, Goat,” kata Kun Liong yang berbalik jadi sabar dan mendapat pengharepan baru. “Tapi buat orang miskin seperti aku, harus kenal harga dirinyia, tapi sudalah buat apa kita reytokin hal yang tida perlu. Aku perlu dapat kepas-tian, apa pengharepanku tida aken sia-sia?”

“Kaeo belon puas sama ini semua bukti, dan apa kaeo ingin aku bersumpah?” berbalik menanya itu gadis.

“Tida perlu, Goat; aku pertiyaya pada kaeo se-bagi rahayat yang mempertiyaya pada ratunya. Tapi apatah ayahmu tida aken merasa terhina, kalu musti mempunyai satu mantu anak miskin, satu pencuri......”

“‘Nko,” memotong itu gadis dengen jengkel, “aku harel kaeo tida ucapken lagi itu perkatahan menyindir, yang cuma aken membikin perih saja aku punya hati.”

Mendapat itu yawaban yang memastiken nasib dirinyia, dengen tida terasa lagi Kun Liong jadi sanget girang, dan dengen tida tau apa yang ia berbuat, ia suda pelock dan briken beberapa cuman dengan bernapsu pada itu gadis, yang tinggal manda.

“Tapi aku ada terlalu miskin, Goat,” kata pula Kun Liong sasuda lama kalelep di dasarnya itu rasa, beruntung besar.

“Miskin, oh, kaeo pandang aku terlalu hina, dengen begitu kau mau anggcep aku menyinta cuma meliat harta? Sunggu aku merasa kurang senang sekali sama kau,“ kata itu gadis sembari mengambul dan menulak pada Kun Liong.

“Goat, kaeo jangon keburu napsu, rupanya kaeo telah salah artiken maksud perkatahanku. Aku punya berkuatir bukannya lantaran tida bisa percaya ketelusannya kaeo punya hati, nona, tapi aku kuatir itu rintangan aken mendatengin dari fihaknya kaeo punya ayah, yang rupanya sanget mem-benci padaku.”

Buat samentara Goat Nio jadi bungkem sembari berpikir.

“Itu kita boleh liat saja pada jalannya perkara, kalu nyata ia ada begitu tega buat merusaken kaberuntungan anakniya, kita tokh kepaksa aken am-bil jalan sendiri yang dirasa baek.”

Itu gadis mau sambung lagi pembicara'annya tapi ia urungin kutika liat Sian Nio mendatengin.

“Begitu lama, Sian?” menegor ia pada itu gadis yang baru dateng.

“Wah aku cari piso sampe setengah mati, tida taunya ada sama Tiwen. Dan apa kaeo suda bicara lama di sini? Dan, ‘nko, aku liat kaeo ada lebih seger dari kemaren.”

“Kau punya bicara tida benar, Sian,” kata Goat Nio, yang simpangken pembicarahan ka laen jurusan, “‘nko Kun Liong ia bilang tida mau mengumbara.”

“Eh, apa betul begitu, ‘nko? Tapi kenapa kemaren kaeo kata dengen segala kapastian mau pergi mengumbara?” menanya Sian Nio pada Kun Liong.

“Kenapa?” bales menanya Kun Liong dengan bersenyum dan memandang mukanya Goat Nio, siapa lantes kedipin matanya, “sebab aku merasa sungkan berpisah sama kaeo yang begitu baek.”

“He, apa itu sungguan, ‘nko? dan apa tida aken berobah lagi.”

“Tida, aku tokh tida perna menjusta, kaeo terusa kuatir.”

Itu waktu Tiong Bun mendatengin.

“Hallo, ‘nko Kun Liong, apa betul besok kaeo mau lantes lari dari Tegal? Tapi aku harel saja jangon. Kaeo merasa tida enak sama papa barang-kali? Aku berjanji nanti bujuk papa buat robah tabeatnya,” kata ia.

“Siapa yang bilang itu pada kaeo, Bun? aku tida mau pergi ke mana-mana,” saut Kun Liong.

“He, kurang-ajar, ini anak aleman kemaren justain aku,” kata Tiong Bun, “sebab ia bilang kaeo mau pergi mengumbara. Memang kalu anak mulut lemes selalu tida kakurangan sebab buat dibicaraken, kaeo sedeng kaputusan omongan lant-tes karang segala cerita justa,” menyomel Tiong Bun dengen rupa mendongkol. “Semalem aku tida bisa tidur, sebab buat pikiran saja ini u-rusan, tapi tida taunya cuma karangan belaka. Ati-at, nanti satu waktu kaeo musti bayar kaeo punya perbuatan gendeng itu.”

“Apa?” memutus Sian Nio dengen tida kurang gusarnya. “Kau bilang aku penjusta? Tapi kalu ‘nko Kun Liong sendiri yang meroba niatannya ada sangkutan apa sama aku? Kaeo menggertak; baek! Tapi kaeo bisa bikin apa sama aku.”

“Bun, memang Sian Nio tida menjusta,” kata Kun Liong dengen mesem urung. “Kemaren memang aku ada kandung itu niatan mengumbara, tapi setau kenapa mendadak itu niatan jadi linyap sendiri. Aku sendiri pun tida mengarti apa sebabnya, kalu kau mau lebih terang, tanya saja sama kau punya ‘niyi.’ Tiong Bun mau menanya, tapi Goat Nio kaliatan merengut.


VI

MANIS, MANIS ASEM!

Bebrapa bulan suda berlalu sedari apa yang kita lukiskien di bagian atas, dengen keadahan prilai perhubungannya Kun Liong berdua Goat Nio jadi semingkin rapet dan akur. Pada itu masa, ia cuma rasaken bahua dunia ada penuh kaberuntungan. Tapi pada sabegitu lama, belon perna Kun Liong mengunjungin rumahnya Goat Nio, ia selalu kuatir nanti dapat pula ‘ncek Hok Leng punya hina'an, dan salah-salah nanti ia bisa berbuat yang di luar kemaeoannya. Buat lanjutken perhubungannya, sekarang Goat Nio yang saban-saban bikin kunjungan. Cuma saja berhubung dengen Goat Nio punya perbuatan yang sering mengunjungin rumahnya ’ncek Peng Hok, suda membikin hatinya ‘ncek Hok Leng jadi bercuriga. Ia sanget kuatir nanti Goat Nio kena kepelet oleh Kun Liong yang dalem pemandanganya ada sanget hina. Pada suatu sore, kutika ia duduk minum thee sama istininya, dan Goat Nio masi belon pulang dari rumahnya Sian Nio, kadengeran ’ncek Hok Leng berkata begini: “Soan, Goat Nio pergi ka mana? Kenapa sampe begini waktu belon juga pulang.”

“Tadi ia bilang mau pergi melancong ka rumahniya Sian Ni,” saut sang istri. “Goat Nio rupanya sanget betah tinggal di sana. Ini aku rasa kau tida boleh antepin saja. Kau tau, di sana ada Kun Liong. itu anak miskin yang tida tau diri.” “Habis kita musti berbuat bagimana?” menegesin sang istri dengen rupa kurang mengarti. “Kau begitu bodo, Soan,” kata pula ‘ncek Hok Leng dengen goyang kepala. “Kau musti sering tilik perbuatannya si Goat, yang aku liat paling blakang ini jadi binal, tida suka berdiam di rumah. Lapunya pergi memang tida ka mana, selaen dari kunjungin rumahnya le Lin, tapi ini kita musti taro perhatian, sebab di sana ada berdiam itu orang yang kabarnya ada satu pengereet prampuan.” “Jadi kaeo curigahin marika punya persobatan?” menanya lagi sang istri dengen rupa tida mufaket, memang ia tida terlalu coyok sama tabeatnya itu suami yang suka jadi budaknya harta. “Kenapa kita tida musti taro kuatir? Kau sendiri tau, gadis yang masi muda sering berpikiran dan berpemandangan cupet, siapa tau nanti si Goat kena dilaguin oleh itu buaya? Dari sebab itu, aku ingin kaeo sering tilik keadahaunya, dan naskhati, agar tida gampang terjebak. Terutama kaeo jangan kasi kutika ia sering bertemu pada itu anak rudin.” “Tapi, masa si Goat mau berlaku begitu rendah?” “Kau terlalu pertiyia pada anggepan sendiri. Itu tida baek, kalu kaeo terus kukuh begitu, kaeo nanti menyesel di blakangkali, tapi suda kasep. Dengen begitu, juga bukannya kaeo maksudken si Goat suda berbuat yang tida senuno. Aku cuma ingin kaeo bikin penjagahan, dan apa jahatnya kalu sa- tu ibu menjaga anaknya agar slamet? Laen dari itu, kaeo tau sendiri, banyak sekali jumbahnya anak-anak yang terjerumus dalem kasesatan dan kahina'an, yang disebabken lantaran kurang ditilik atau disebabken orang tuwanya tida mengasi pendiikan yang baek.“

Pelahan dengen pelahan, maski hatinya terus merasa kurang setuju, tokh akhirnya ‘ntiyim Hok Leng merasa perkatahan suaminya ia musti perhatiken buat kebaekannya iapunya putri yang tercinta.

Ampir jam 7 malem, baru kaliataan Goat Nio berjalan pulang dengen paras berseri-seri.

“Mama, kaeo nanti suka idzinken, ya, kalu besok aku pergi ikut le plesir ka Moga? Oh, mama, aku kepingin kaeo tida merintangin, atawa lebih baek lagi kalu kaeo suka turut dalem kita punya perjalanan,” kata itu gadis dengen suara gumbira.

“Kau di sana bikin apa saja, Goat, hingga sampe begini waktu baru inget pulang? Laen kali aku harep kaeo tida begitu alpa, laginya kaeo tokh suda bukan anak-anak lagi, kenapa mau suka wara-wiri saja?”

“Mama, aku tida mengarti kaeo mau maksudken bagimana sama kaeo punya omongan itu,” kata Goat Nio dengen menyesel.

“Aku ingin kaeo tida kalayapan saja. Kau ada satu anak prampuan, aku pikir buat anak prampuan lebih baek diam di rumah buat pelajari urusan dapur dan menjait, daripada pasiar yang cuma bikin kita cape dan buang duwit.”

“Jadi kaeo melarang aku pergi ka Moga, mama? Tapi apa kaeo tida bisa robah itu putusan? Tadi aku suda janji sama ade Sian,” kata Goat Nio dengen putus harepan.

Itu ibu cuma goyangken sedikit kepalanya selaku yawaban dan lantes tida mengopeni pula. Itu waktu ‘ntiyim Hok Leng suda mau lantes sekalian melarang putrinya bergaul terlalu rapet sama Kun Liong, tpi kacintahannya yang besar, bikin ia tida tega berlaku begitu keras, laginya memang ia tida terlalu percaya, kalu Goat Nio bisa berlaku yang meliwatin wates. Akhirnya, ia pikir, baek perhatiken dan pancing dulu hatinya itu putri, kamuedian kalu nyata ada seperti apa yang suaminya telah bilang, baru ia mau melarang.

Goat Nio yang denger kata pun tida brani memaksa lebih jau.


Hari Saptu sore, sebagimana biasanya Sian Nio dateng mengunjungin itu ‘nci misan, dan kamuedian ajak ia dateng ka rumahnya buat maen muziek, dan Goat Nio selamanya tida perna menampik, kerna di sana ia jadi bisa berdamping sama itu orang yang teriyinta.

Maka itu waktu pun Goat Nio suda berdandan dan mau lantes brangkat, tiba-tiba dengen mendadak ayahnya yang baru pulang dateng menanya:

“Kau mau pergi ka mana, Goat?”

“Sian Nio ajak aku melancong ka sana,” saut Goat Nio.

“Tida perlu! Kau boleh berdiam saja di rumah. Laginya kaeo pergi di sana mau apa? Sian Nio tokh sekarang suda dateng ka sini.”

“Aku mau pergi maen muziek di sana, papa.”

“Di rumah sendiri apa kaeo tida bisa maen, hingga musti ngendon di rumah orang?”

Goat Nio tida bisa menyaut dan lantes jalan ma- suk ka dalem kamar tidurnya. Ia buwang dirinya ka atas ranjang, di mana ia tengkurup sembari pikirin perkatahan ayahnya. Tapi ia yang masi begitu asing sama keadaan donenia, tida bisa mengarti bahua orang sedeng curigahin dirinya.

Tida lama kamudian, pintu kamar tersurung dengan pelahan dan sang ibu suda dateng menyamperi.

“Kau lagi pikirin apa, Goat?“ menanya sang ibu.

“Aku tida pikirin apa-apa, mama; curma aku sedeng merasa bingung sama caranya papa pada ini sore. Sabetulnya ia bermaksud bagimana sih?“

“Ayahmu tida senang, kalu kau pergi kalayapan saja, kau pun suda perna bilang, tapi kau tida mau perduliken.“

“Jadi papa larang aku berpergian, maski aku punya pergi buat ka rumahnya le? Ini, tentu ada sebabnya, mama,“ kata itu gadis sembari berpikir.

Sang ibu kaliatannya mundur maju, tapi tida lama kamudian kadengeran ia menerangken:

“Begini, Goat, ayahmu suda melarang kau terlalu sering dateng melancong ka rumahnya le, sebab, di sana ada berdiam Kun Liong, dan ayahmu merasa kaberatan kalu kau terus bergaul sama itu anak muda yang ia benci. Aku sendiri tida mengarti, Goat,“ melandutken ia sambil pandang paras mukanya iapunya putri dengen terlitii. ”Kenapa, ayahmu rupeanya begitu membenci pada Kun Liong, apa ia perna berbuat salah?“

“Tida, mama, ’nko Kun Liong belon perna berbuat apa saja yang bisa bikin orang merasa ku-rang senang. Kalu ayah membenci padanya, itulah kerna disebabken papa punya cara bergaulan, sela- lu memandang orang punya harta kekayahan, dari ini, dengen sajujurnya aku mau nyataken, mama, bahua aku ada sanget tida setuju sama tabeatnya, papa; ma’af kalu dengen begitu aku bicara terlalu terus terang. Kenapa aku bilang begitu, mama?

“Sebab manusia tida bisa diukur dari iapunya harta kakayahan. Bukan jarang satu buwaya yang sanget kejam dan jahat bisa mempunyai banyak harta, tapi sebaliknya orang yang berbudi dan suka, menulung pada sesama manusia tinggal miskin, menuntut penghidupan yang serba kurang, atawa pun melarat. Orang punya kaya atawa miskin, itulah bergantung sama orang punya peruntungan, te-rutama dari sebab orang-orang yang terhormat tida sudi mengejar harta dengen jalan bengkok dan tida halal; berbeda dengen manusia yang moraalnya bejat, tida perduli dengen jalan bagimana juga, ia aken berdaya sabrapa bisa, asal saja bisa dapetken uwang.

“Salaennya itu, tida harus dilupa bahua roda peruntungan senantiasa terputer: yang hartawan dengen mendadak bisa jato miskin, sabaliknya yang miskin pun bisa berobah menyadi hartawan. Liat saja Wa-ko, itulah ada suatu conto yang sanget nyata. Pada lima taon berselang ia itu tida lebih dari istrinya satu klerr, tapi mengapa sekarang ia suda menyadi satu istrinya hartawan besar di Surabaya?

“Ma’af, mama, kalu aku bicara yang tida disatujuin oleh kau. Prihal ’nko Kun Liong, biar pun betul putranya saorang yang tida mampu, tapi ia ada sampe sopan dan terplajar, hingga ada harganya buat menyadi aku punya sobat. Aku menyesel sekali, kalu aku punya cara memilih sobat, bukan-nya diukur dari itu orang punya harta kakayahan, suk ka dalem kamar tidurnya. la buwang dirinyaka atas ranjang, di mana ia tengkurup sembari pikirin perkatahan ayahnya. Tapi ia yang masi begito asing sama keadaan docnia, tida bisa mengarti bahua orang sedeng curigahin dirinya.

Tida lama kamudian, pintu kamar terserung dengan pelahan dan sang ibu suda dateng menyamperi.

“Kau lagi pikirin apa, Goat?“ menanya sang ibu.

“Aku tida pikirin apa-apa, mama; cuma aku sendeng merasa binung sama caranya papa pada ini sore. Sabetulinya ia bermaksud bagimana sih?“

“Ayahmu tida senang, kalu kau pergi kalayapan saja, aku pun suda perna bilang, tapi kau tida maeo perduliken.“

“Jadi papa larang kau berpergian, maski aku punya pergi buat ka rumahnyia le? Ini, tentu ada sebabnya, mama,“ kata itu gadis sembari berpikir.

Sang ibu kaliaitannya mundur maju, tapi tida lama kamudian kadengeran ia menerangkan:

“Begini, Goat, ayahmu suda melarang kau terlalu sering dateng melancong ka rumahnyia le, sebab, di sana ada berdiam Kun Liong, dan ayahmu merasa kaberatan kalu kau terus bergaul sama itu anak muda yang ia benci. Aku sendiri tida mengarti, Goat,“ melanjutken ia sambil pandang paras mukanya iapunya putri dengen terliti. ”Kenapa, ayahmu rupeanya begito membeniyi pada Kun Liong, apa ia perna berbuat salah?“

“Tida, mama, ‘nko Kun Liong belon perna berbuat apa saja yang bisa bikin orang merasa kocrang senang. Kalu ayah membeniyi padanya, itulah kerna disebabken papa punya cara bergaulan, sela- lu memandang orang punya harta kekayahan, dari ini, dengen sajujurnya aku maeo nyataken, mama, bahua aku ada sanget tida setuju sama tabetnya, papa; ma’af kalu dengen begitu aku bicara terlalu terus terang. Kenapa aku bilang begitu, mama?

“Sebab manusia tida bisa diukur dari iapunya harta kakayahan. Bukan jarang satu buwaya yang sanget kejam dan jahat bisa mempunyai banyak harta, tapi sebaliknya orang yang berbudi dan suka, menulung pada sesama manusia tinggal miskin, menuntut penghidupan yang serba kurang, atawa pun melarat. Orang punya kaya atawa miskin, itulah bergantung sama orang punya peruntungan, te-rutama dari sebab orang-orang yang terhormat tida sudi mengejar harta dengen jalan bengkok dan tida halal; berbeda dengen manusia yang moraalnya bediyat, tida perduli dengen jalan bagimana juga, ia aken berdayaa sabrapa bisa, asal saja bisa dapetken uwang.

“Salaennya itu, tida harus dilupra bahua roda peruntungan senantiasa terputer: yang hartawan dengen mendadak bisa jato miskin, sabaliknya yang miskin pun bisa berubah menyadi hartawan. Liat. saja Wa-ko, itulah ada suatu conto yang sanget nyata. Pada lima taon berselang ia itu tida lebih dari istrinya satu klerk, tapi mengapa sekarang ia suda menyadi satu istrinya hartawan besar di Surabaya?

“Ma’af, mama, kalu aku bicara yang tida disatujuin oleh kau. Prihal ‘nko Kun Liong, biar pun betul putranya saorang yang tida mamru, tapi ia ada sampe sopan dan terplajar, hingga ada harganya buat menyadi aku punya sobat. Aku menyesel sekali, kalu aku punya cara memilih sobat, bukanya diukur dari itu orang punya harta kakayahan, tapi dari itu orang punya derajiat kasopanan. Sebab dari sobat yang sopan dan baek, kita senantiasa akan mendapat advies atawa pun conto yang beruna, tapi satu sobat yang cuma mempunyai harta dan tida mempunyai kabediyikan, tida laen dari karugian yang kita bakal dapet. Kakayahannya tokh ia yang punya, masatah ia suka kasiken pada kita?“

Sang ibu tida bisa menjawab, ia cuma bisa mengelah napas. Lama juga baru kadengeran ia bisa buka lagi suara:

“Goat, semua penuturanmu ada bener; tapi kalu papa paksa mau begitu, harep kaeo tida bentahan. Itu nanti bisa menerbitken kaonaran.“


VII

NORAKA PENGHIDUPAN

Itulah ada suatu sore sejuk dan menggumbiraken, langit kaliatan ada sanget bersi, sedeng angin sore yang dingin pun saban-saban dateng meniup dengen pelahan.

Kun Liong kaliatan sedeng duduk terpekur sam-bil tunjang janggutnya.

Ia lagi asik pikirin, kenapa pada brapa hari ini, mendadak Goat Nio jadi berobah, tida suka dateng mengendungin lagi. Apa pikirannya itu gadis mendadak berobah lagi. Ini ia tida bisa dapetken jab-wabannya yang memuasken. Maka buat bikin berakhir kesangsiannya, ia lantes berjalan menuju ka Kraton-straat.

Di rumahnya ’ncek Hok Leng, ia liat ada sanget sunyi, tapi kutika ia lagi mundur maju apa baek masuk atawa jangan, mendadak di suatu pojokan ia dapat pandang pada Goat Nio yang sedeng duduk di atas rumput sembari remes-remes itu tetum-buhan.

“Goat, oh, darling, kaeo rupanya lagi memikirin apa-apa,“ mulai ia sembari menyamperi dan duduk di sampingnya itu gadis.

“Aku tida pikirin apa-apa, ’nko, kaeo dari mana?“ kata itu gadis.

“Aku sengaja dateng cari kaeo nona. Kaeo heran, kalu itu siraru terbang puter-puteran mencari penerangan? Aku bisa diupamaken sebagi itu siraru yang justru kagelapan dan dateng ka sini mencari sinar terang.“

Goat Nio lantes memandang mukanya itu jejaka dengen senyum manis, sebab hatinya merasa enak mendenger omongannya itu jejaka yang meresepterus ka dalem sanubarinya.

“Kaeo tau, Goat, di mana letaknya itu penerangan?“

Kombali Goat Nio bersenyum.

“Letaknya, ’nko?“ saut ia. ”Oh, tida suker buat dicari, tapi herannya itu makhluk rupanya suda keder, hingga dateng menanya pada tempat yang kli-ru. Buat ia, cuma bisa kasi voorstel, supaya ia tanyaken itu pada Hiyang Kamajaya.“

“Tapi kaeo tentu tida tega meliat ia kabingung-nan dalem kagelapan?“

Kombali itu gadis tinggal memandang orang punya muka dengan bersenyum, hingga keadahannya itu kebonan yang memangnya sepi jadi bertamba sunyi.

Dan pada sabelonnya marika sambung pula perkatahannya, dari jurusan pintu luar ada mendengin ’ncek Hok Leng dengan roman bengis dan dengen sorot mata beringas ia berkata dengen suara kasar: “Siapa telah idzinken kaeo dateng masuk di sini? Aku tida idzinken kaeo sembarang masuk di sini, mengarti?” Kun Liong tinggal melongo, sedeng Goat Nio pun jadi kamekmek. “Apa kaeo tuli dan tida denger apa yang aku kata?” mengulangin itu orang tuwa dengan lebih sengit. “Kau ingin aku usir kaeo seperti satu an-jing buduk?” Kun Liong masih tinggal kasima, tapi kutika ‘kasedarannya dateng kombali, ia jadi sanget mendongkol sama caranya itu orang tuwa yang katerlaluan. la suda bersedia buat lantes semprot padanya, tapi sorot matanya itu gadis yang memandang dengan rupa bermuhun, bikin ia tida ada tenaga buat lanjutken niatannya. “Bangsat, kaeo masi punya muka buat berdiam di sini, hayo, lekas pergi!” treak itu orang tuwa sembari mengunjuok pintu. “Menurut patut, sabetulnya aku musti bikin peritungan atas perbuatanmu yang katerlalocan, ’ncek,” kata itu anak muda dengan menahan ka-gusarannya, “tapi biarlah aku tida rewelin pula itu hal, sebab aku mau memandang pada putrimu.” Sasudanya berkata begitu, dengen tida menengok lagi dan tindakan lemah Kun Liong lantes berjalan pergi dengen kepala tunduk. ‘Ncek Hok Leng awasin itu kejadian dengen bersenyum puas, sedeng Goat Nio lantes lari masuk dan jatoken kepalanya di atas pangkuan ibunna seraya menangis tersedu-sedu, hingga bikin itu ibu jadi merasa heran. “Kau mengapa, Goat?” menanya sang ibu.

Goat Nio tida menyaut, selaan iapunya socara sasenggukan jadi samingkin santer kadengerannya. Tida lama kamodian, ‘ncek Hok Leng suda menyusul ka situ. “Ibu yang tida berguna,” begitulah ’ncek Hok Leng mulai buka suaranya dengen rupa gusar. “Suda brapa kali aku suru kaeo perhatiken gerakannya ini anak ciilaka, tapi kaeo tida mau open, sampe sekaranyang ia dapet kalaluasa'an mengobrol pada itu buaya.” “Papa, kaeo boleh nista atawa persakitin aku, itu aku nanti trima dengen senang; tapi aku minta kaeo tida hinaken ia yang tida berdosa.” “Apa, kau mau bawa cara sendiri? Kau mau aku persakitin dirimu?” menanya encek Hok Leng yang jadi semingkin sengit. “Itu ada kaeo punya suka, papa, dan aku merasa lebih baek kaeo siksa badanku, daripada persakitin hati dan angen-angenku,” jawab itu gadis dengen perasa'an ancur. Saking marahnnya ‘ncek Hok Leng tida bisa lagi buka suaranya, tapi dengen rupa beringas ia tubruk putrinya dan hendak dicekek lehernya, tapi sukur juga ada sang ibu yang melindungin. “Suda, suamiku, masa kaeo musti persakitin anak sendiri sampe begitu rupa? Kalu orang berbuat salah sedikit, itu tokh sejamknya, dan masa kaeo tida bisa ma'afken?” “Tida ada ma'af, buat satu anak durhaka. Laen perkara, kalu ia suka berjanji buat robah keloceannya yang jelek, dan kaeo musti jadi tang-gungan, aken ia tida ulangin lagi itu perbuatan.” “Baeklah, aku nanti jaga ia,” menyanggupin nyonya Hok Leng.

“Goat,” kata sang ibu dengen lemah-lembut, kutika ‘ncek Hok Leng suda berjalan kaluar. “Kenapa kau ada begitu kepala batu, apa kau tida kasian pada ibumu?”

Goat Nio cuma bisa jawab dengen linangken aer mata.

“Oh, Goat, anakku,” kata lagi nyonya Hok Leng, “kau harus menurut sebagimana kainginannya kaeo punya ayah, kalu saja kau tida mau bikin aku jadi susa hati. Kau sampe tau, anak, biji mata, dalem ini dunia aku cuma mempunyai kaeo satu yang menyadi aku punya penghibur dan pengharepan, maka aku harep saja kaeo suka mengalati, buat samentara waktu turutin kahendakannya kaeo punya ayah yang justru gusar. Sebab aku pun tau bahoca kaeo punya ayah katerlaluan, kerna Kun Liong sabetulnya ada berharga buat mendapat perhatiannya satu gadis. Tapi, sekali pun begitu, kaeo musti berdaya dengan sabar, barangkali saja kaeo punya ayah dengan perlahan bisa merobah iapunya anggepan, hingga kaeo punya maksud bisa kasampean dengan tida usa menerbitken kaonaran dalem rumah tangga. Pikirlah baek-baek, anak; manusia hidup dalem dunia, cuma kasabaran yang paling terutama.”

“Oh, mama, aku punya hati ancur, aku punya pikiran kalut,” kata Goat Nio, “hingga aku tida tau musti berpikir dan bersabar bagimana.”

“Apa dengen sasunggunya kaeo ada begitu cintia pada Kun Liong, hingga kaeo tida bisa coba melupaken padanya?” menanya sang ibu dengen lemah lembut.

“Mama, mama yang tercinta, aku sendiri tida tau yang aku cintaken ‘nko Kun Liong sampe di wates mana,” saut itu gadis dengen sasenggukan, “aku cuma tau saja bahoca aku punya seantero hati sanget tertarik oleh iapunya tingkalaku yang manis dan sopan, pengatahunnya yang luwas dan tinggi, samingkin ayah benci dan nista padanya, samingkin besar juga aku punya sympathie pada ianya. Mengapa aku dilahirken di dalem satu rumah tangga yang berharta, dan mengapa ia dilahirken di dalem satu rumah-tangga yang tida mampu? Oh, mama, sakit betul aku punya hati, hingga rasa-nya aku ingin mati saja.”

Nyonya Hok Leng yang suda beruban dan pe-ranginya halus, tau bahoca ia tida boleh mendesak lebih jau, kalu saja ia tida ingin terbit perkara onar. Maka ia hiburken saja putrinya dengan ber-bagi-bagi omongan manis serta lemah lembut.

Satu minggu suda berlalu sedari terjadinya itu kejadian yang terlukis di bagian atas.

Berhubung sama apa yang suda terjadi, Kun Liong jadi sanget berduka dan bingung. Ruparupa pikiran dateng mengaduk-adook hatinya; di waktu siang ia duduk bengong seperti orang gila, dan di waktu malem ia mengglisahan di atas pembaringan dengen tida bisa pules; kalu pules, pun cuma buat sabentaran saja, kerna saban-saban ia dibikin kaget dan mendusin oleh berbagi-bagi impi-an yang serem.

Sian Nio yang banyak perhatiken keadahannya itu ‘nko misan, pun dapet tau bahoca keadahannya itu ’nko tida seperti biasanya; tapi ia tida bisa mengatahui keadahan yang sabetulnya, kerna kalu ia menanyaken, tentu itu anak muda cuma goyang kepala dan mengelah napas.

‘Ncek dan ’ncim Peng Hok pun jadi menaro perhatian, kutika mendapat kenyatahan itu orang muda punya kewarasan jadi mundur banyak, dan suka duduk bengang-bengong; tapi seperti Sian Nio, iaorang pun tida bisa membade apa yang itu kaponakan pikirken.

Demikianlah, kombali beberapa hari suda berlalu dengen keadahannya Kun Liong jadi semingkin layu, dahar pun kalu tida dipaksa, ampir ia tida mau.

‘Ncek Peng Liang yang dikabarin prihal anaknya itu, bersama istri dan putrinya lantes dateng menengokin; tapi iaorang pun cuma bisa goyang kepala dan mengelah napas, kerna suda sampe kenal wateknya itu anak yang keras hati, lehibh suka tersiksa daripada uwarken resia hatinyya. Cuma Keng Nio saja yang pernah liat paras mukanya itu sudara yang sanget berumbira kutika dateng mampir di Slawie, lantes menduga hal ini suda teryadi lantaran Kun Liong dayan pesiar bersama-sama Goat Nio yang cantik. Apa sekarang kombali telah teryadi apa-apa dalem itu sudara punya percintahian? Maka ia sengaja minta ijin pada ibu dan ayahnya buat bicara berduahan saja sama sang ade.

“Liong, kenapa kaeo ada begitu bodo? Kaeo tokh ada satu lelaki, dan musti merasa malu pada diri sendiri, kalu bikin diri jadi binasa cuma lantaran satu prampuan. Dari itu, Liong, aku pikir baek kaeo tida simpen terlalu dalem apa yang sabetulnya tida berugna, juga kaeo harus mengarti yang dunia bukannya sedaan kelor, masi ada banyak jumblahnya gadis-gadis yang pantes buat menjadi kaeo punya istri.”

“Cukup, ‘nci,” memutus Kun Liong sambil pegangin dadanya; “aku minta kaeo tida ulangin itu perkatahan, kaeo tau, itu nanti bikin aku lekas mati......”

“Liong, kaeo kaliatannya masi suka bawa itu tabeat yang pada waktu kaeo masi anak-anak, inil, sunggu bikin aku tida mengarti, bagimana kaeo yang suda bisa pikirin tentang rumah-tangga, masi mempunyai itu pikiran cupet. Apa kaeo lupa bahua kaeo masi ada mempunyai ibu dan ayah yang suda tuwa dan senantiasa mengharep-harep supaya kaeo bisa beruntung dan tumpangken marika punya hari tuwa?”

“Kaeo kira aku mau pergi mati, ‘nci? Oh, itulah tida, pertayalah, aku nanti aken hidup terus buat gunanya itu dua orang yang aku telah menanggung budinya berat sekali. Memang,” menambahken Kun Liong dengen suara sember dan paras muka berobah lebih pucet, “kalu tida ada tentu aku suda kubur saja ini badan yang suda tida berugna. Dari itu, ’nci tulung kaeo bilangin sama papa dan mama, ia trusa berkuatit buat aku punya diri, kerna biar bagimana berat aku menanggung seksa'annya dunia, tokh tetep aku berkeras buat tinggal hidup.”

Dalem sajurusan lamanya Keng Nio tinggal berdiam dengen rupa sanget terharu, ia sanget kasian sama nasibnya itu sudara yang tida beruntung. Tapi apatah ia bisa berbuat, kalu nasib mau begitu.

“Sudara, itulah ada satu perbuatan dan pengorbanan berat bagi kaeo, dan aku harus bukaken topi. Tapi berikut itu kegagahan, kaeo harus punya kasedaran dan kateguhan aken usir pergi itu segala pengharepan kosong, kerna ini, ada jadi pokonya

‘Ncek dan ’ncim Peng Hok pun jadi menaro‘ perhatian, kutika mendapat kenyatahan itu orang muda punya kewarasan jadi mundur banyak, dan suka duduk bengang-bengong; tapi seperti Sian Nio, iaorang pun tida bisa membade apa yang itu kaponakan pikirken.

Demikianlah, kombali bebrapa hari suda berlalu dengen keadahannya Kun Liong jadi semingkin layu, dahar pun kalu tida dipaksa, ampir ia tida mau.

‘Ncek Peng Liang yang dikabarin prihal anakniya itu, bersama istri dan putrinya lantes dateng menengokin; tapi iaorang pun cuma bisa goyang kepala dan mengelah napas, kerna suda sampe kenal wateknya itu anak yang keras hati, lebih suka tersiksa daripada uwarken resia hatinya. Cuma Keng Nio saja yang pernah liat paras mukanya itu sudara yang sanget bergumbira kutika dateng mampir di Slawie, lantes menduga hal ini suda teryadi lantaran Kun Liong jalan pesiar bersama-sama Goat Nio yang cantik. Apa sekangkombali telah teryadi apa-apa dalem itu sudara punya pertiyantah? Maka ia sengaja minta ijin pada ibu dan ayahnya buat bicara berduahan saja sama sang ade.

“Liong, kenapa kaeo ada begitu bodo? Kaeo tokh ada satu lelaki, dan musti merasa malu pada diri sendiri, kalu bikin diri jadi binasa cuma lantaran satu prampunan. Dari itu, Liong, aku pikir baek kaeo tida simpen terlalu dalem apa yang sabetulnya tida berguna, juga kaeo harus mengarti yang dunya bukannya sedaon kelor, masi ada banyak jumblahnya gadis-gadis yang pantes buat menjadi kau punya istri.”

“Cukup, ‘nci,” memutus Kun Liong sambil pegangin dadanya; “aku minta kaeo tida ulangin itu perkatahan, kaeo tau, itu nanti bikin aku lekas mati.......”

“Liong, kaeo kaliatannya masi suka bawa itu tabeat yang pada waktru kaeo masi anak-anak, ini, sunggu bikin aku tida mengarti, bagimana kaeo yang suda bisa pikirin tentang rumah-tangga, ma-si mempunyai itu pikiran cupet. Apa kaeo lupa bahua kaeo masi ada mempunyai ibu dan ayah yang suda tuwa dan senantiasa mengharep-harep supaya kaeo bisa beruntung dan tumpangken marika punya hari tuwa?”

“Kaeo kira kaeo mau pergi mati, ‘nci’? Oh, itu-lah tida, pertiyalah, aku nanti aken hidup tereos buat gunanya itu dua orang yang aku telah menanggung budinya berat sekali. Memang,” menambahken Kun Liong dengan suara sember dan paras muka berubah lebih pucet, “kalu tida ada tentu aku suda kubur saja ini badan yang suda tida berguna. Dari itu, ‘nci’ tulung kaeo bilangin sama papa dan mama, ia trusa berkuatit buat aku punya diri, kerna biar bagimana berat aku menanggung seksa'annya dunya, tokh tetep aku berkeras buat tinggal hidup.”

Dalem sajurusan lamanya Keng Nio tinggal berdiam dengen rupa sanget terharu, ia sanget kasian sama nasibnya itu sudara yang tida beruntung. Tapi apatah ia bisa berbuat, kalu nasib mau begitu.

“Sudara, itulah ada satu perbuatan dan pengorbanan berat bagi kaoc, dan aku harus bukaken topi. Tapi berikutitu kegagahan, kaeo harus punya kasedaran dan kateguhan aken usir pergi itu segala pengharepan kosong, kerna ini, ada jadi pokonya dari kau punya berhasil dalem niatanmu. Kalu kau tida percaya, coba kau ambil kaca dan pandang paras mukamu dan liatlah dalem brapa hari saja, kadukahan suda merobah banyak sekali kau punya kawarasan.

“Aku aken berdaya buat hiburken hati sebrapa yang aku bisa, ‘nci,” kata itu anak muda. Pada itu hari juga, atas paksahan kadua orang tuwanya, Kun Liong diajak pulang ka Slawie, dan itu anak muda cuma bisa menurut.


VIII

KASEP

(PENUTUP)

Berlalunya Kun Liong dari Tegal, Goat Nio dapat kabar dari Sian Nio yang dengan aer mata mengembeng tuturken keadahannya itu ‘nko misan dalem waktu blakangan ini. Dan penuturan sepata-patanya ada saupama mengerik hatinya itu gadis. Ia merasa sanget kasian pada Kun Liong yang menyinta padanya begito keras, hingga seperti orang ’gila.

Sekarang Goat Nio liwatih hari dengan perasa'an kosong, hari-hari ia tuntu penghidupannya dengan tida ada artinya, orang tida bisa liat lagi iapunya senyuman manis yang biasa terlukis pada itu bibir yang merah. Kawarasan badannya pelahan-pelahan pun jadi kurus dan mukanya jadi pucet. Jika lagi berduduk, ia bengong terlongong-longong dengan menunjang janggut, dan kalu berjalan dengan tindakan limbung dan pikiran melayang.

Tiong Bun yang mau menghibur suka sengaja menggodain pada sang ‘nci yang termenung-menung, tapi sang ’nci bukannya katawa dan girang, sabaliknyia jadi uring-uringan dan jiwir kupingnyia itu ade yang bengal.

‘Ncek Hok Leng pun ada mengatahui putrinya sedeng tersiksa, tapi ia tida perduli. la pikir, lebih baek itu putri jadi mati daripada musti dikasi menikah pada satu pamuda rudin, yang menurut iapunya anggepan cuma aken merosotken nama derajatnyia. Cuma ’ncim Hok Leng sendiri saja yang diam-diam dukahin keadahannya itu putri. Lapat-lapat ia seperti dapet fisasat, bahua dari kakejemana suaminya, nanti aken meminta pembayaran yang sanget mahal, tapi ia takut pada suaminya, dan ia tida bisa berdaya apa-apa, selaennya pasrahken saja pada maunya takdir.

Demikianlah penghidupannya itu familie, satu fihak berkukuh sama anggepannyia sendiri, sedeng laen fihak musti menerima kadukahan dengen tida berdaya. Goat Nio yang berbakti, ambil putusan buat menurut saja apa yang jadi kemauan orang tuwanya. Pada suatu hari, kombali dalem rumah itu familie terbit kakusutan yang disebabken oleh kepala batunya ‘ncek Hok Leng. Pada itu lohor, lantaran saking duka dan pepetinya hati, memikiri itu orang yang tertiyinta dan sekarang suda berada di tempat yang jau dari Tegal, Goat Nio rebahan di korsi males sambil buat maen portretinya Kun Liong. Ini perbuatan biasanya ada jadi penghiburannya itu gadis, sajek ia tida bisa berkumpul dan beromongomong pula pada Kun Liong, kerna ia pikir, kalu pada orangnya ia tida beruntung buat bisa berdeketan, biarlah pada portretnya saja ia layangken pikirannya buat ilangin iapunya perasahan kangen. Dari saking asiknya ia rebahan sembari layangken pikirannya, tida lama kamedian ia jadi kapulesan di itu korsi, dengen portretnya itu jejaka berada di atas dadanya.

‘Ncek Hok Leng yang mau pergi ka tokonya, menghamperi dengen pelahan, dan ia dapat liat itu portret yang berada di atas dadanya itu gadis. Dengen sengit ia sentak tangannya Goat Nio buat dikasi bangun.

“Sundel kecil, apa kaeo sedeng berbuat? Hm! nyata kaeo tida bisa robah tabeatmu, dan bagimana kaeo masi ada muka buat berdiam di ini rumah?” freak ia seperti saorang kalap.

Goat Nio mendusin dengen terkejut dan binggung.

“Kau masi terus bikin perhubungan pada itu buaya? Back aku pun tida mau pusingin pula; aku tida sudi kaleo rumahku ditempatin oleh prampuan hina semacem kaeo. Sekarang juga pergih kau dari ini rumah!”

Goat Nio masi bengong; tapi ia suda dipaksa berlalu oleh ayahnya yang seret ia kalua, dan justru pada waktu Goat Nio mundur maju aken laku-ken titah ayahnya, Tiong Bun dan ‘ncim Hok Leng kaliatan memburu kalua dan pelu itu gadis.

“Tida, tida, Goat, aku tida idzinken kaeo tinggalken kita,” kata sang ibu.

“Tapi papa rupanya sanget membenci padaku, nama, dan biarlah aku berlalu saja, agar tida saban-saban menerbitken kakusotannya dalem ini rumah.

Aku menyesel, mama, kalu saban-saban bikin papa jadi marah.“

“Tida; kalu kaeo mau pergi, aku pun nanti turut, biar ia tinggal sendirian.”

“Suda, suda, kaeo orang boleh lantes pergi, aku pun tida kaberaatan ditinggal oleh kaeo,” kata ‘ncek Hok Leng dengen sanget gusar.

“Papa,” menyelak Tiong Bun dengen maju meng-hampiri dan berlutut, aer matanya bercuturan, “kaeo tida menyesel sama itu tindakan yang kaburu napsu? Aku tau, papa, tindakanmu ini ada buat kabaekannya kita punya rumah-tangga, tapi bagimana nanti jadinya, kalu betul mama dan ‘nci kejadian tinggalken ini rumah? Dari itu, aku harep kaeo suka sedikit bersabar dan pikir yang lebih panjang.”

Merasa betul sama penoturannya itu puta, tapi malu buat lantes mengalah, ‘ncek Hok Leng lantes ngeloyor kalua.

“Goat, apa lagi yang suda teryadi hingga kombali itu tuwa bangka unjuken tingkanya yang gila-gila?” menanya sang ibu dengen suara sabar.

“Aku tida berbuat apa, mama, cuma dalem kaisengan aku liat portretnya ‘nko Kun Liong, dan waktu aku kapulesan papa dapat liat, hingga ia jadi sanget marah. Dan sekarang, mama, buat tida bikin onar lagi, baek aku buang saja ini portret.”

Seabisnya berkata begitu, Goat Nio lantes robek itu gambar. Tapi berbareng dengen pekhnhya itu portret, hatinya itu gadis pun jadi ancur seperti dibeset-beset.

Bebrapa hari kombali suda liwat, dengen keada- hannya itu rumah-tangga tinggal tentrem. Sekarang Goat Nio tida sesambat atawa linangken lagi aer mata, ia selalu duduk terpekur dengen paras muka kusut. Tapi maski ia tinggal bungkem tida sesambat, ratapannya itu batin yang tersiksa aken terdenger teges sampe ka langit.

Demikianlah hari liwat hari itu gadis selalu berduka saja, tapi dengen bungkem, tida meratap dan tida sesambat, satengah bulan kamudian ia terpaksa musti tinggal rebah di atas pembaringan dengen muka perok dan sorot mata mendelong. Dokter dan sinshe-sinshe yang terkenal pande suda diundang buat membri pertulungan, tapi itu semua tida menulung. Marika semua punya pendapetan ada sarupa, bahua buat perbaeki kawarasannya itu nona tida laen dari musti bisa senangkan hatinya dan pelahan-pelahan itu penyakit yang telah dijangkitken oleh rasa penasaran dan kadukaham besar, bisa entengan dan akhrinyia linyap sendiri. Sebab yang sakit bukan badannya, hanya pikirannya.

Sampe pada kutika yang paling berbahaya baru ‘ncek Hok Leng jadi mendusin dan merasa menyesel sama perbuatannya yang suda, tapi itu semua suda kasep. Itu hati dan sukma yang layu dengen sasunggunya suda merusakin tubunya itu gadis, biar bagimana ia berdaya, tokh percuma saja.

Sebagi ganjarannya itu orang tuwa yang kejem, sekarang ia dapat makian dan kutukannya ‘ncim Hok Leng, yang selalu kataken ia sebagai pembunuh putrinya. Itu ayah yang berkepala batu, sekarang tida bisa berbuat laen daripada mengelah napas dan kutukin diri sendiri.

20 April ada itu hari yang paling sial bagi itu rumah-tangga, pada itu malem demamnya Goat Nio, jadi semingkin hebat dan mengaco keras. Dr. Ong, yang dipanggil suda tida bisa berbuat apa-apa aken menulung penyakitnya itu patiente, yang suda tida ada harepan apa-apa lagi.

Bagimana ancur dan meres ada hatinya ‘ncim Hok Leng yang sanget menyinta pada putrinya, itu-lah gampang dimengarti. Begitulah kutika Goat Nio jatoh pangsan, ia lantes terjang ’ncek Hok Leng yang berdiri kasima di samping pembaringan sembari dicakarin.

Di itu kamar jadi ribut sama tangisan dan pergulietannya itu dua suami-istri. Kunyung-ku-nyung, Goat Nio meleki matanya dengen sorot yang sanget lemah dan tida bertena.

“Mama,...... mama, kaeo berbuat apa?” memananya ia dengen suara yang tiba saja bisa kadengeran.

‘Ncim Hok Leng lantes lepaskem suaminya dan samperi Goat Nio.

“Goat, anaku, senanginlah hatimu agar penyakit-mu bisa lekas sembuh. Perkara itu pernikahan, aku sanggupi anak, dan sabegitu lekas kaeo sembuh, aku nanti pergi kasi tau pada kadua orang tuwanya Kun Liong.”

Goat Nio kaliatan bersenyum getir dan memandang pada ayahnya yang berdiri seperti orang kasima, tida jau dari itu pembaringan.

“Kaeo... Ka... u nanti... idzinken... papa?... Tapi...... akh itu suda kasep...” kata ia.

“Kaeo masi punya cukup tempo, anak, dan bikinlah aku dapat itu kutika perbaeki kakliru-an'ku,” kata encek Hok Leng dengen serat.

“Trima kasi, papa..... Tapi aku rasa ajalku suda ampir sampe, dari itu aku suda merasa be- runtung, kalu kaeo suka idzinken ‘nko Kun Liong dateng tengokin aku buat pengabisan kalinya.“ ”Baek, Goat, dengen sigra aku telefooni Kun Liong,“ kata ’nciek Hok Leng. Sasudanya ia berkata begitu, lantes berlari-lari menghamperi telefoon. Satengah jam kamudian, di pekarangan luar kadengeran berumuruhnyia suara makhine auto, dan tida lama kamudian kadengeran suara tindakan kaki yang mendatengin dengan berlari-lari. Kun Liong dengen di'ikuti oleh ibu dan sudara prampuannya berdiri di hadapan pembaringannya Goat Nio. ”Goat, Goat, kaeo kenapa?“ kata Kun Liong dengan suara sedih. Dengen pelahan Goat Nio melekin matanya dan paras mukanya jadi bercahya lantaran girang, tapi tida lama kamudian kombali itu paras jadi pu-cet, meremken lagi matanya, sebagi lakenya orang yang lagi mengumpul seantero tenaganya yang masi katinggalan. Semua orang yang berdiam di situ lantes pada kaluar buat kasi kalaluasa'an itu ‘dua orang berkata-kata. ”Kau kenapa, Goat? Kau tida kasian aku,“ Kun Liong berkata lagi sembari pegang diydatinya Goat Nio yang dirasaken panasnya seperti barah. ”’Nko, inilah ada kita punya pertemuan yang paling pengabisan“ kata Goat Nio dengen suara sember. ”Tida, kau punya penyakit dengen pelahan aken jadi sembuh; apapula sekarang ayahmu suda berbalik pikir. Oh, Goat bagimana beruntung kita punya hari-hari yang blakang,“ menghibur Kun Liong sabisanya. ”Itu memang ada sabetulnya, ‘nko. Tapi, akh, itu semua percuma suda kasep......harep kaeo tida buat gegetun, kerna memang kaeo di ini dunia kita tida bisa hidup berkumpul, biarlah di laen jaman kita lanjutken ini pengharepan.“ ”Tida, Goat,“ memotong Kun Liong dengen cepet. ”Aku tida ingin kau lekas tinggalken padaku, oh, aku pun aken turut mati.“ Goat Nio tida berkata pula dan lonjorken kakinya dengen lempang. Ia jatoh pangsan. Kun Liong lantes menjerit dan peluk itu tubu yang kaku. Marika yang ada di luar pun pada memburu ma-suk. Tida lama kamudian, Goat Nio suda tersedar dari pangsannia, dan menengok pada ibunya yang berdii di suatu pinggir sembari susootin aer matanya yang tida brentinya mengucur. ”Ibu, aku minta kaeo jangan terlalu berduka,“ kata itu gadis, ”sebab ini semua ada maunya tak-dir; harep kaeo tida buat duka. Cuma menyesel, aku tida bisa penuhken kewaji banku sebagai satu anak yang perna menanggung banyak budi, harep ma'afken saja.“ ”Tiong Bun,“ kata lagi ia sembari gapein itu ade yang sedeng berdiri kesima di samping pintu. ”Sekarang mama suda tida punya anak lagi, salaen dari kaeo, maka kaeo harus berbakti dan denger kata, terutama kaeo jangan turut tuladan ’ncimu yang bawa mau sendiri dan bikin orang tuwa jadi berduka,“ berkata sampe di situ kombali ia jato pangsan. ”Goat, Goat, akh, kenapa kau tega tinggalken aku. Oh, anak, aku kepingin turut saja kau pergi ka akherat,“ meratap itu ibu dengen menangis tersedu-sedu.

Lima minuut kamudian Goat Nio baru tersedar dari pangsan nyia, dan ini kali kaliatannya ia ada lebih bersumanget, hingga bikin semua orang jadi sanget girang.

“Nko Kun Liong, tida salah lagi ini sa'at ada jadi kita punya tempo berkumpuI yang paling pengabisan, maka sebagi suatu peringetan dan biar aku merasa puas, aku ingin dapet hadia apa-apa dari kaeo,” kata itu gadis sembari pegang pundaknya itu anak muda.

Kun Liong yang mengarti sama maksudnya itu gerakan lantes menjura dan menyium itu gadis dengan bernapsu. Pada itu sa'at, buat sabentaran, kaliatan Goat Nio punya paras jadi berseri-seri, tapi tida lama lagi lehernya lantes teklok dan menarik napas yang pengabisan.

Semua orang jadi ribut, dan di antaranya ada Kun Liong sendiri yang paling berduka, hingga pada itu kutika juga ia suda jato pangsan di sam-ping maitnya Goat Nio.

Sampe beberapa hari Kun Liong terus tungguin peti matinya itu gadis, dan sasuda dikubur, saban pagi dan sore pun ia suka kunjungin kuburannya itu gadis, di mana ia duduk bengong seperti saorang gila, brapa lamanya juga baru ada ingetan buat pulang. Kalu terang bulan, kadang-kadang ia terus berdiam di situ sampe terang tanah.

Satu sore, kutika ‘ncek Hok Leng dateng tengokin kuburan putrinya, ia jadi teriyenggang, kutika ia katemuken Kun Liong, yang rupanya dari saking sedihnnya sampe jato pangsan di depan kuburannya Goat Nio. Bebrapa lamanya ia suda pangsan, tida ada yang tau. Sampe pada itu kutika ’ncek Hok Leng baru menyesel sama tabeatnya yang suka memandang kekayahan dunya lebih tinggi dari segala apa. Tapi itu semua suda kasep, hingga biar bagimana ia mau bertobat dan bersedih, tokh tetep itu orang yang suda brangkat mati tida bisa kombali.

Satu bulan suda berlalu, dengen keadahannya Kun Liong jadi semingkin rongsok, ia sekarang kombali menumpang di rumahnya ‘ncek Peng Hok, supaya bisa sering dateng tengokin kuburannya Goat Nio. Ayah, ibu dan sudaranya pun tida berdaya buat menghalangin.

Satu sore, kutika ia sedeng duduk termenung, dengen kaget dari blakang ia rasaken pundaknya ada yang pegang, dan nyata ada ‘ncek Hok Leng yang berdiri di blakangnyia dengen paras muka pucet.

“Liong aku minta ma'af buat semua kakejemanku yang aku perna berbuat. Aku nanti tida bisa hidup lebih lama, Liong, kalu dari kau aku tida dapat ma'af.”

“Kau tida berdosa ‘ncek.”

Cuma sabegitu saja yang ia dapet yawaban dari itu orang muda, yang kombali layangken pikiran-nya ka laen jurusan.

‘Ncek Hok Leng yang tida dapet keadilan dari itu orang muda lantes berjalan pulang dengen pengrasahan sanget menyesel. Tapi di rumah, kombali ia disambut sama makian dari istrinya yang selalu bilang minta kombali putrinya.

“Oh, Allah, aku musti bayar begini mahal bagi aku punya perbuatan kliru. Oh, lebih baek aku mati saja,” menggrendeng ‘ncek Hok Leng sen- dirinya, yang lantes berdiam sakutika lamanya. Kunyung-kunyung sorot matanya jadi terbalik dan tertawa bergelak-gelak.

“Oh oh, Goat, kau suda jadi bidadari, ya, ya, kau nanti tengokin kau. Oh, kau musti beritungan pada Kun Liong, oh, ia yang kau suda persakiti.... Hi! Hi! Hi!”

‘Ncek Hok Leng telah jadi gila lantaran selalu diganggu oleh macem-macem tindihan hati, akhirnya, ia dibawa ka Ciikeumeuh buat diobatin penyakit gilanya.

Dan bagimana Kun Liong?

Kutika ia suda merasa tida tahan menanggung kasengsaraham hatinya di Tegal, kabetulan ada banyak pamuda Hoa Kiao pada pulang ka Tiongkok buat masuk jadi soldadu aken membantu pamerentah Nanking geraken expeditie ka utara.

Demikianlah, dengen tida ada yang bisa menyega Kun Liong suda berada dalem kapal yang dikirim oleh Yi Yung Thoan dari Batavia.

Kamudian kabarnya Kun Liong jadi salah satu officier yang paling terkenal gaga brani dalem seantero paperangan, hingga bukan jarang Generaal-nya jadi merasa suka dan kagum sama kepandean dan kebraniannya itu orang muda yang luar biasa.

‘Ncek dan ’ncim Hok Leng berikut Keng Nio‘, Sian Nio dan Tiong Bun cuma bisa bantu doaken, agar itu orang muda diberkahi kaslametan, dan kamudian tida melupaken pada familienya yang di-tinggalken.

TAMAT.


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.