CUT HALIMAH
PAHLAWAN PUTERI ACEH
HASSAN NUL ARIFIN
KOLOFON
CUT HALIMAH
PAHLAWAN PUTERI ACEH
karya
HASSAN NUL ARIFIN
Penerbit: LUKISAN SUASANA Gg. Tanah Tinggi VII/9 JAKARTA.
Percetakan Republiek Indonesia—Jakarta.
1946
© 2026 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: digitalcollections.universiteitleiden.nl
Ilustrasi sampul: Jael Killing Sisera 1516/1519, karya Lucas van Leyden
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam.com
PARA PELAKU
———O———
LETHENAN SUMBING .......... Opsir Belanda.
NYAK BURHAN .................. Pemuda Pahlawan Aceh.
TEUNGKU SAKTI ............... Ketua dan panglima Aceh.
CUT RAMLAH .................. Isteri Teungku Sakti.
CUT HALIMAH ................ Puteri Pahlawan Aceh (Anak Teungku Sakti)
KHADIJAH ..................... Perempuan Aceh (Teman Cut Halimah)
AGAM ........................................ Pengiring Teungku Sakti.
Pesuruh,—Pengawal,—Serdadu-serdadu kawal,—Pengintip.
KATA PEMBIMBING
Jauh kemasa yang silam, waktu saya masih belum terpikir akan hal karang mengarang dan penerbitan buku-buku,—waktu itu nama saudara HASSAN NUL ARIFIN, sudah saya kenal-yakni selagi sdr. itu menjabat pekerjaan Red. Surat Kabar Pewarta Deli.
Ketika itu sdr. Hasan Nul Arifin masih berkedudukan di Padang.
Setelah sdr. itu memangku Pewarta Deli bersama-sama dengan Tuan Mangaraja Ihutan—sampai ke Sinar Deli—buah tangannya selalpelah menarik perhatian saya.
Bukunya SITI JAUHARI (yang kemudian ditukar nama-nanya dengan Isteri Pembunuh) dan paling belakang Majallah yang dikemudikan sdr. itu DUNIA BARU nama-nya-pun menarik hati saya.
Tuan Hassan Nul Arifin sudah tua dalam dunia karang mengarang. Dan sebagai perkataan tuan Hamka dalam kata Pembimbingnyia di halaman buku Cerita PULAU DARAH (karangan sdr. itu juga) tidaklah banyak pengarang yang sejak mudanya sampai pertengahan umur pekerjaannya tetap pengarang.
Kami berharap buah tangannya yang lain -(yang sekarang sudah tersedia naskahnya) dapatlah juga kami terbitkan, sesudah selesai penerbitan yang pertama ini.
Merdeka!
Badan penerbit “LUKISAN SUASANA”.
BABAK I
DI PERKEMAHAN LETENAN SUMBING
- Letenan Sumbing
- Nyak Burhan
- Serdadu Pengintip
- Serdadu Kawal
- Serdadu Kawal
- Serdadu Pengintip
WAKTU: malam, hujan, angin, petir.
PENERANGAN: gelap—sekalian lampu listerik dipadamkan—di sudut tonil sebelah belakang, terpasang lampu botol. Lampu listerik dikelap ke-lipkan.
MUSIK: gegap gempita.
Dua Serdadu Kawal (mundar-mandir, sambil menyandang senapang masing-masing)Sumbing: (datang dari pintu tengah; mantelnya basah kuyup)Kedua Serdadu Kawal (memberi hormat)Sumbing: (seraya memberi hormat, membuka mantel-nya, pergi duduk menghadapi meja, langsung mengembang peta. Kemudian berisyarat kepada Serdadu Kawal minta minuman)Serd. Kawal I. (meninggalkan tonil dari pintu kiri; kemudian kembali lagi membawa sebotol bier, meletakkannya ke atas meja)Sumbing: (sambil memperhatikan peta, dengan laku kasar membuka sumbat bier itu, minum dari botol, kemudian melemparkan botol itu).Serd. Pengintip I (berpakaian pereman datang dari pintu tengah, basah kuyup, dengan rupa yang cemas dan napas sesak)
Serd. Kawal II (mengacukan senapang kepada Serdadu Pengintip; suara nyaring)“siapa kowe?”
Serd. Pengintip I: ”Saya!............ Saya minta bicara dengan tuan Letenan”.
Serd. Kawal II “siapa kowe?
Serd. Pengintip I: ”Saya!............ saya seorang Serdadu Pengintip. Saya minta bicara dengan tuan Letenan. Perlu sekali”.
Serd. Kawal II: “tunggu di sini sebentar” (menghampiri Sumbing dan menghormat)”seorang Serdadu Pengintip minta menghadap”.
Sumbing: (sambil memperhatikan peta): “siapa?”
Serd. Kawal II: ”seorang Serdadu Pengintip minta bicara”.
Sumbing: “suruh datang di sini”.
Serd. Kawal II: (berisyarat supaya Serdadu Pengintip menghadap Letenan)
Serd. Pengintip I: (menghampiri Letenan dan menghormat)
Sumbing: ”ya ada apa?.......... kenapa kowe punya baju basah? “Kenapa kowe punya pakaian kena lumpur? Apa pasal?”
Serd. Pengintip I: ”ada hujan tuan. Hujan lebat sekali”.
Sumbing: “O, ada hujan? En, kowe punya cetlana kena pa kena lumpur?”
Serd. Peng. I ”saya jatuh masuk parit tuan.”
Sumbing: “kowe cari apa dalam parit?”
Serd. Peng. I: ”Saya seorang Serdadu Pengintip, yang kemarin tuan perintah mengintip musuh.”
Sumbing: “O, ya......... ya, ya, sekarang saya ingat. Apa kowe ada jumpa dengan orang Aceh?”
Serd. Peng. I: ”ya, tuan, saya ada jumpa orang Aceh; banyak sekali.”
Sumbing: (terkejut. Kalang kabut mencari pedangnya)he, kawal! Kowe dekat di sini. Jangan jauh, jaga sama saya!
Serd. Kawal II: (kalang kabut berdiri di belakang Sumbing)
Sumbing: kowe satu orang jaga di sini, kowe satu orang jaga dipintu. Pasang mata en pasang kuping. Mengerti?
Serd. Kawal I: (jaga di belakang Sumbing)
Serd. Kawal II: (jaga dipintu)
Sumbing: “he!......... apa kowe punya senapang ada isi pelor?”
Serd. Kawal I: ”ada tuan! Ada. Tuan tidak usah takut.”
Sumbing: “apa takut! Saya takut? Nee, hoor? Apa kowe pikir orang belanda takut? Kowe jangan main gila.”
Serd. Peng. I: ”betul tuan! Saya ada jumpa dengan orang Aceh banyak sekali. Mereka itu pakai senjata.”
Sumbing: “ssssttt............ kowe jangan bicara begitu kuat. Di mana itu orang Aceh? Di mana dia orang kumpul? Apa dekat dari sini?......... He, Kawal! Kowe hati-hati. Kowe jaga kowe punya senapang.”
Serd. Peng. I: ”ya, betul tuan. Itu orang-orang Aceh banyak sekali berkumpul di kampungnya.”
Sumbing: “Perdiki! Kowe bodoh! Di mana dia orang punya kampung, sudah tentu banyak orang-orang Aceh kumpul. Saya apa perduli!”
Serd. Peng. I: ”betul, tuan! Dia orang kumpul bukan percuma. Dia orang sudah kumpul senjata. Banyak sekali.”
Sumbing: “apa kowe bilang? Dia orang banyak senjata!...... He, kawal! Awas kowe punya senapang.”
Serd. Peng. I: ”Kampung itu, yang dinamakan Kampung Seberang. Yang jadi Ketua di situ bernama Teungku Sakti.
Sumbing: siapa?”
Serd. Peng. I: “Teungku Sakti. Orang bilang dia tidak mempan senjata.”
Sumbing: tidak mempan senjata?—”(kalang kabut megang pedang)he Kawal! Kowe awas!”
Kedua Serd. Kawal: (gugup)
SUARA: (guruh dan kilat)lampu botol mati.
PENERANGAN: (jadi gelap semuanya)
SUARA: (kacau balau)
Serd. Peng. II: (datang dari pintu tengah membawa sebuah lampu botol, menyeret Nyak Burhan yang diikat dengan tali; suara nyaring)“kalau kowe lari, saya bikin habis kowe punya jiwa”.
Sumbing: (laku ketakutan)“siapa?............ siapa kowe? kowe mau apa?.......... kowe ikat apa sama tali?”
Serd. Peng. II: Saya tuan. Saya Serdadu Pengintip, yang kemarin tuan perintah pigi mengintip orang Aceh.
Sumbing: o, kowe?......... ini ada binatang apa?
Nyak Burhan: (berontak)“saya kowe bilang binatang? He, babi putih! Coba lepaskan saya dari ikatan, boleh kita coba mengadu kekuatan.”
Sumbing: (undur; gugup)”he............ pegang kuat-kuat sama dia. Perdiki! Mana serdadu Kawal?”
Kedua Serd. Kawal: (datang dari pintu kiri dan pintu kanan, berjalan perlahan-perlahan sambil mengintip ketakutan)
Sumbing: “Perdiki! Kowe orang sembunyi di mana?”
Kedua Serd. Kawal (terkejut; berlari kalang kabut ke tempat jagaan masing-masing)
Sumbing (terhadap kedua Serd. Kawal)”he, pegang ini binatang, jangan sampai lolos, Awas! Nanti dia gigit kita orang!
Kedua Serd. Kawal (kalang kabut berlari memegangkan Nyak Burhan)
Nyak Burhan: (berontak hendak melepaskan diri)“kasi lepas saya, boleh saya minum darah kamu semua.
Sumbing: (terkejut dan undur)pegang kuat-kuat, boleh ini binatang tahu kekuatan orang belanda.”
Serdadu Peng. I: (datang dari pintu kiri; berseru)”bunuh saja sama dia”.
Sumbing: “Perdiki!........ kowe pigi di mana? Kenapa kowe pigi sembunyi? Kenapa kowe begitu pengecut?”
Serd. Peng. I: “Tidak tuan! Saya betul sembunyi, tapi sembunyi untuk mengintip musuh.“
Sumbing: bodoh!.......... ayo, kowe pasang itu lampu, boleh cukup terang. Nanti ini binatang lepas, en kowe mesti jaga dipintu.
Serd. Peng. I: (memasang lampu botol yang terletak di sudut tonil)
Nyak Burhan: “he, Letenan Sumbing! Saya kenal kamu.”
Sumbing: “apa? Kowe kenal sama saya?”
Burhan: “kenapa tidak! Saya sudah pernah berjuang dengan kamu di Aceh Barat. Tapi kowe pengecut. Kowe lari. Kowe takut memandang kilat rencong orang Aceh. Apa kowe lupa? Kowe punya bibir sumbing karena disambar oleh kelewang Aceh. Ayo! Sekarang kita berjuang lagi, siapa di antara kita yang paling merah darahnya.”
Sumbing: “apa? kowe berani?............ He, serdadu-serdadu, pegang kuat-kuat sama dia. Kalu nanti ini binatang masih berani melawan, kita bikin dia jadi sambal ulek. (sambil undur, karena takut-takut berani).
Burhan: pengecut!.......... dan kamu serdadu-serdadu, yang mempunyai warna kulit serupa dengan saya, tidak mempunyai malu, menerima upah untuk keuntungan ini belanda sumbing. Begitu murah, kamu jual kamu punya darah, semangat dan jiwa! (berontak sekuat-kuatnya, hingga terlepas dari pegangan serdadu-serdadu. Burhan menerjang ke kiri dan ke kanan, mengejar Sumbing. Sumbing undur ke pinggir tonil. Kedua Serdadu Pengintip lari kalang kabut bersembunyi ke sudut tonil. Kedua serdadu Pengawal menerkam Burhan. Terjadi perjuangan)
Sumbing: ayo!.......... pegang sama dia! Terkam sama dia! Gigit sama dia. He kamu yang dua orang lagi, kamu tinggal nonton? Ayo maju? Tangkap ini binatang, nanti dia gigit sama kita‘.
Kedua Serdadu Peng. (dengan laku takut-takut berani, maju menyerang, menangkap Burhan dari belakang)
Burhan: (jatuh telungkup, diterkam oleh keempat orang lawannya, lalu diikat kembali)
Sumbing: (maju menginjak Burhan dengan kakinya)
Burhan: (berontak sekuat-kuatnya)
Sumbing: (terpelanting)
Burhan: (berdiri dengan dipegangkan beramai-ramai)
Sumbing: “Perdiki! Kowe kuat sekali, he?“
Burhan: ”Letenan Sumbing! Kamu sekarang melihat buktinya, bahwa satu orang Aceh, tidak terlawan oleh seorang Letenan belanda dengan empat orang serdadunya. Kamu tahu? Sayalah Nyak Burhan!“
SUARA RAMAI: “NYAK BURHAN???...........“
Sumbing: ”Kamu Nyak Burhan?“
Burhan: Kamu tahu? Satu Nyak Burhan mati, seribu Nyak Burhan akan timbul. Orang Aceh menyediakan dirinya untuk berkorban guna tanah air. Saya dan sekalian bangsa saya, akan memupus jejak belanda dengan darah dari atas bumi kami. Satu jiwa orang Aceh melayang, mesti ditebus oleh seribu jiwa belanda. Kamu tahu? Saya seorang tertangkap, beribu-ribu orang Aceh akan datang menyerang!!! menuntut bela!
Sumbing: (bersikap menggertak hendak memukul Burhan)
Burhan: (berontak sekuat-kuatnya)
Serdadu-Serdadu: (kalang kabut mengungkung Burhan).
LAYAR TURUN.
BABAK II
DI RUMAH TEUNGKU SAKTI
PELAKU:
- Teungku Sakti
- Ramlah Isteri T. Sakti
- Cut Halimah
- Pengiring
- Peseruroh
- Pengintip
- Pengawal
- Khadijah.
WAKTU: pagi.
PENERANGAN: putih jernih,
MUSIK: sayu.
Teungku Sakti: (duduk di atas tempat yang tertinggi, sedang menelaah kitab dan memegang tasbih).
Pengawal: (berdiri dekat pintu tengah, dengan sikap awas dan sigap).
Pengiring: (datang dari pintu kiri membawa cerana, meletakkan ke atas meja kecil. Setelah menyembah, meninggalkan tonil dari pintu kiri).
Ramlah, Isteri: (datang dari pintu kanan, duduk di atas ambal menghadap T. Sakti).
Halimah, anak Sakti: (datang dari pintu kanan, mengiringkan Ramlah, menghampiri Sakti dan mencium tangannya; kemudian duduk ke atas ambal menghadap Sakti).
Sakti: (menutupkan buku Yan meletakkan ke atas meja; memandang kepada Ramlah dan Halimah)“Halimah!............ dekatlah kau kemari!”
Halimah: ”baik, ayah!” (mengingsut menghampiri Sakti).
Sakti: Halimah! Ayah pandang mukamu tidak seperti sari-sarinya. Ayah merasa, bahwa kedatanganmu ini mengandung socatu maksud. Apakah yang sudah terjadi?”
Halimah: “benar, ayah! Yang sudah terjadi itu, ayah tentu sudah maklum. Negeri kita sekarang dalam ancaman.“
Sakti: (mengapuer sirih; sambil berpikir)negeri kita dalam ancaman, katamu Halimah? Sudah lebih 10 tahun lamanya orang kulit putih berusaha hendak merampas bumi dan tanah air kita ini. Sampai putih tulang dikandung tanah, Aceh tidak akan menyerah......... (memakan sirih)
Mereka sudah menjejakkan kakinya ke atas bumi kita; tetapi jejak kakinya itu mesti kita pupus, sampai tanah Aceh bertindih mayat, hingga Selat Malaka dan Lautan Hindia merah oleh darah............ (meludahkan sirih ke tempat ludah)Halimah! Lautan Hindia dan Selat Malaka akan merah seperti air sirih!...... Perkara itukah yang menyebabkan engkau bermuram durja?“
Halmiah: “bukan demikian, ayah! Tetapi, adalah suatu bicara (memandang kepada Ramlah; kemudian tundock).
Sakti: Ramlah! Saya lihat Halimah memandang kepadamu. Tahukah kau apa maksudnya?
Ramlah: benar Teungku! Halimah mengadakan socatu permufakatan dengan Khadijah. Hasil permufakatan itulah yang akan dinerkatakannya.
Sakti: “Khadijah?............ Khadijah isteri Nyak Ibrahim?“
Ramlah: “benar. Teungku! Ta minta dibenarkan untuk menghadap. Khadijah sekaran menanti di luar.“
Sakti: “scuruhkanlah dia masuk.“
Ramlah: (meninggalkan tonil dari pintu tengah)
Pengiring: (datang dari pintu kiri, membawa semang-kuk kopi, meletakkan ke atas meja; kemudian meninggalkan tonil).
Ramlah/Khadijah: (datang dari pintu tengah)
Ramlah: (duduk ke tempatnya bermocla)
Khadijah: (setelah menyembah, mencum lutut Sakti; kemudian duduk di dekat Halimah)
Sakti: (setelah meneguk kopi)“Khadijah! Saya mendengar, ada konon yang hendak kau bicarakan. Adakah barangkali sesuatu bencana di dalam kampung?”
Khadijah: “benar Teungku, ada barang sesuatu yang hendak saya bicarakan, tetapi bukanlah karena ada barang sesuatu kerusakan di dalam kampung.”
Sakti: “ketengahkanlah! Barangkali ada yang patut kita timbang.”
Khadijah: “begini Teungku! Beberapa banyak kaum perempuan di daerah kita ini, sudah bermuafakat, memajukan permintaan, supaya kami diizinkan untuk turut di dalam pekerjaan peperangan. Adapun di dalam permufakatan ini, Cut Halimah dan Cut Ramlah turut juga beserta.”
Sakti: “kaum ibu hendak turut berperang.......... (berdiri, melangkah beberapa langkah; berbalik memandang kepada Khadijah)Khadijah! Adakah barangkali terasa olehmu, bahwa kami kaum laki-laki tak sanggup menghalau musuh?”
Khadijah: bukan demikian yang menyadi pertimbangan kami, Teungku. Bukanlah demikian pula yang menyadi maksud kami.“
Sakti: (duduk kembali)
Khadijah: kami sudah mempersaksikan, Teungku, bahwa musuh sudah semakin banyak. Mereka itu sudah mendesak dari segenap penjuru. Panglima-Panglima, Ulubalang-Ulubalang, Teungku-Teungku dan sekalian hamba raiyat yang sehata dan kuat, mempunyai tanggungan dan pikulan yang berat. Kami kaum perempuan pada masa ini, sudah merasa, bahwa kami patut benar akan membantu untuk berjuang, mana yang dapat kami perjucangkan. Sekurang-kurangnya untuk memelihara orang yang luka, akan dapat juga kami lakuakan.”
Sakti: “baiklah, Khadijah! Apabila nanti datang masanya, kaum perempuan nanti akan kami panggil. Akan tetapi janganlah kamu lupa, hendaklah kamu meminta izin dari socami, ibu dan bapa.“
Khadijah: “Kami mengucapkan banyak terima kasih, Teungku! Moga-moga, jejak orang putih, yang sudah mengotori bumi Aceh ini, akan segera juga dapat kita pupus.”
Pesuruh: (datang dari pintu tengah; bicara dengan berisyarat dengan Pengawal)
Pengawal: (menghampiri Teungku Sakti; demi menyembah)Teungku! “Seorang Pesuruh, minta dibenarkan akan menghadap. Ia akan menyampaikan suatu kabar.”
Sakti: “benarkanlah ia masuk!”
Pengawal: (bersyarat kepada Pesuruh supaya maju menghadap)
Pesuruh: (demi bersalam menciom tangan)“Teungku, saya akan menyampaikan suatu kabar yang mendukakan, akan tetapi, menyebabkan darah perjucangan kita akan semakin marak. Teungku Umar Johan Pahlawan sudah tiwas di dalam suatu perjucangan yang dahsyat.”
Sakti: (berdiri)“Innalillahi wainna ilaihi ro-ji‘un.”
Semuanya: (tunduk dan tafakkur beberapa lamanya)
Sakti: Teungku Umar Johan Pahlawan, sudah meninggal dunia!......... dia meninggalkan jasa yang maha besar, dan nama yang maha baik, bagi bangsa dan tanah airnya. Suri teladan bagi kita semua. Dia sudah membuat musuh menyadi haus dan lapar. (duduk kembali)
Pengintip: (datang dari pintu tengah; bicara dengan isyarat dengan Pengawal)
Pengawal: (menghampiri Teungku Sakti)“Teungku! Seorang Juru Pengintip minta dibenarkan masuk menghadap. Dia akan menyampaikan suatu berita.”
Sakti: “benarkanlah dia masuk!”
Pengawal: (berisyarat menyuruh Pengintip masuk)
Pengintip: (demi bersalam mencium tangan Sakti, lalu duduk menundukkan kepala)
Sakti: “kemarin saya suruhkan engkau bersama Nyak Burhan pergi mengintip musuh. Engkau pergi berdua, mengapa engkau pulang seorang? Apakah yang sudah terjadi?
Pengintip: “Semalam tadi, kami sudah kesasar kegaris lingkungan musuh Teungku. Kami bertemu dengan tiga orang Juru-Pengintip musuh. Segera juga pada waktu itu terjadi perjucangan. Ma‘af Teungku, Nyak Burhan sudah jatuh ke tangan musuh dan sudah menjadi tawanan.”
Sakti: “ya, Allah! Pahlawan muda kita jatuh ketangan musuh? ……… Tidak masanya lagi bagi kita akan berlalai-lalai. Segala yang ada mesti kita pergunakan untuk memusnahkan musuh. (berdiri; maju ke depan tonil),kemarilah! (berisyarat terhadap Pengintip)
Pengintip: (maju ke depan tonil menghampiri Sakti)
Sakti: “berapa jaoh letaknya perkemahan musuh dari kampung kita ini?”
Sakti: “kira-kira tiga batu, Teungku! Musuh berkampung di balik sebuah bukit kecil.”
Sakti: “tahukah kau, dari jurusan mana yang sebaik baiknya kita melakockan serangan?”
Pengintip: “Letak perkemahan musuh itu, Teungku, dan dari jurusan mana yang sebaik-baiknya kita menyerang, sudahlah saya lukiskan di atas secarik kertas”. (menyerahkan secarik kertas peta)
Sakti: (menyambut peta itu dan memperhatikan sungguh-sungguh)
Pengintip: “jalan yang sedekat-dekatnya menuju ketempat musuh itu, Teungku, ada juga saya lukiskan pada peta itu.”
Sakti: (berdiri sambil memegang hulae kerisnya; berseru)“bersiaplah semuanya! Hari ini juga kita berangkat dan menyerbu. Musuh akan kita musnahkan. Pahlawan muda kita. Nyak Buhan, mesti kita rampas dari tawanan musuoh!!”
SEMUANYA: (berdiri dan bersikap)
Halimah: ayah! Kami sekalian kaum ibu, sudah bersedia juga untuk menyerbu kebenteng musuoh.
Sakti: “Sabar, Halimah!.......... Sabar! Sekali ini, kaum ibu tidak usah dulu ikut. Tidak lama lagi masanya, akan ada suatu pertempuran besar yang maha dahsyat. Pada masa itu, hai kaum ibu, bersiaplah kamu!!”
Khadijah: “Ma‘af, Teungku!............ Kaum ibu, pada sa‘at ini, sudah bersiap lengkap semuanya untuk turut berkorban. Kemauan yang berkobarbar tidak dapat lagi akan ditahani. Kami semuanya sudah bersedia untuk maju menyerbu kebenteng musuoh!!”
Sakti: “Khadijah! Sabarliah! Sa‘at perjuangan yang sehebat-hebatnya. sudah dekat benar. Pada masa ini, kita tak boleh menumpahkan sekalian kekuatan kita. Simpanlah tenaga itu, sampai kepada masa datang perintah: bersiap lengkap sekalian hamba rayat, laki-laki dan perempuan.”
Pengawal: (menghampiri Sakti; setelah memberi hormat)Teungku! “Sekalian Panglima dan Barisan Penyerang sudah dikerahkan dan berkumpul di luar.”
Sakti: “terima kasih! Majulah! Pengorbanan Teungku Umar Johan Pahlawan tidak akan sia-sia. Aceh pasti akan bangkit. Tiwas satu, maju sepuluh. Tiwas sepuluh, seribu akan berbangkit. (berseru)Kita disisi Tuhan! (dengan langkah yang tegap menuju ke pintu tengah.)”
SEMUANYA: (bergerak mengiringkan Sakti).
LAYAR TURUN.
BABAK III
DI PERKEMAHAN LETENAN SUMBING
PELAKU:
- Sumbing.
- Serdadu Pengintip I.
- Serdadu Pengintip II.
- Serdadu Kawal I.
- Serdadu Kawal II.
- Sakti.
- Pengiring.
- Pesuruh.
- Pengintip.
- Pengawal.
- Nyak Burhan.
WAKTU: malam.
PENERANGAN: gelap (di sudut tonil sebelah muka terpasang sebuah lampu botol).
MUSIK: gegap gempita.
Dua Serd. Kawal: (berjaga di kiri kanan pintu tengah)
Serd. Pengintip I: (berjaga dipintu kiri)
Serd. Pengintip II: (berjaga dipintu kanan)
Sumbing: (mundar mandir dari ujung tonil ke ujung tonil, dengan rupa gugup; kemudian memanggil Serdadu Kawal I)“he........!“
Serd. Kawal I: (menghampiri Sumbing seraya menghormat)
Sumbing: ”he!............ “apa kowe punya senapang betul-betul ada pelor?“
SUARA: (menggegar di belakang tonil)
Sumbing: (terkejut dan terloncat, tersandar kemeja)
SEMUANYA: (terkejut dan gugup)
Sumbing: ”itu ada suara apa?“
Serd. Kawal II: (setelah meninjau dari pintu tengah, menghampiri Sumbing, dan menghormat)“ada kelapa yang jatuh, tuan Letenan!“ (kembali ke tempat jagaan)
Serd. Peng. I: Saya sangka suara meriam orang Aceh (sambil mengurut dada)
Sumbing: ”orang Aceh, tidak punya meriam“.
Serd. Peng. II: “siapa tahu tuan! Barangkali orang Aceh sudah bisa membikin meriam”.
Sumbing: (dengan rasa takut)”he?............ apa betul? Orang Aceh ada punya meriam?”
Serd. Kawal I: “siapa tahu tuan? Barangkali?”
Sumbing: (membelalak)”apa kowe punya senapang, betul-betul ada pelor?”
Serd. Kawal I: “ada tuan! Saya baru periksa!”
Sumbing: ”ayo, kowe kembali di tempat jagaan. Awas hoor!”
Serd. Kawal I: (setelah menghormat, kembali ke tempat jagaan dipintu tengah)
Serd. Peng. I: (maju menghampiri Sumbing)“Saya pikir begini, tuan: coba kita tanya itu orang tawanan: apa orang Aceh betul ada meriam?”
Sumbing: o, ya, itu betul. Coba kowe bawa itu orang tawanan di sini. Tapi, awas, hoor! Jangan itu binatang lepas lagi, nanti dia gigit kita semua.
Serd. Peng. I: ”baik tuan! Saya ambil sekarang (meninggalkan tonil dari pintu kiri; kembali lagi bersama Nyak Burhan, yang diikat erat dengan tali)
Nyak Burhan: (dengan sikap menantang, memandang kesekeliling tonil, menghampiri Sumbing dekat sekali)
Sumbing: (undur, lalu duduk kekerosi)“he...... jaga ini orang, jangan terlalu rapat sama saya”.
Serd. Peng. II: (datang menghampiri dan memegangkkan Burhan)
Sumbing: ”Zeg, Nyak Burhan, saya mau tanya sama kowe. Apa betul orang Aceh ada punya meriam?”
Burhan: (memandang Sumbing dengan pandangan menantang; kemudian bergerak hendak menghampiri Sumbing)
Sumbing: ayo!......... pegang kuat sama dia!
Serd. Peng. I dan II (memgang bahu Burhan dengan sekuat-kuatnya)
Sumbing: “serdadu jaga!, awas!............ pegang betul kowe punya senapang, jangan sampai silap”.
Burhan: (memandang kepada Serdadu Kawal)
Sumbing: “Nyak Burhan!.......... coba cerita, ada berapa besar orang Aceh punya meriam?”
Burhan: (menantang Sumbing)“meriam Aceh?....... kowe mau tahu?.......... kalau dipasang di Kotaraja, kamu di sini bisa hancur semua”.
Sumbing: (terkejut dan undur)“ha?.......... ada berapa besar dia punya mulut?”
Burhan: ”besar mulutnya?.......... kowe bisa masuk di dalamnya (sambil berontak)
Sumbing: Serdadu Kawal! Jaga kowe punya senapang. Zeg, Burhan! Coba kowe terangkan: itu Teungku Sakti di mana sembunyi?”
Burhan: “itu kowe tidak perlu tanya sama saya.”
Sumbing: ”itu Teungku Sakti, ada berapa banyak dia punya laskar?”
Burhan: “apa!.......... kowe mau tahu rahsia saya punya bangsa? Kowe jangan harap akan dapat rahsia dari saya.”
Sumbing: ”he.......... kowe jangan sombong. Nanti saya tidak kasi makan sama kowe, kowe bisa mampus.”
Burhan: “he.......... Letenan Sumbing! Kowe pikir orang Aceh takut mati? Kematian dalam peperangan, untuk mempertahankan tanah air, bagi orang Aceh adalah socatu kemuliaan; kowe mengerti?” (sambil berontak hendak melepaskan diri)
Serd. Kawal I: (maju menghampiri Burhan, mengancam dengan senapang)
Burhan: (menantang Serd. Kawal I)”kowe punya senapang bagi saya tidak menakutkan. Kowe mengerti? (sambil mendekatkan dada ke ujung senapang)tapi, awaslah! pada socatu masa, orang Aceh akan bangkit memusnahkan kamu semua. Masa itu mesti datang. Kalau bukan di zaman saya, tentu pada zaman anak saya.”
Sumbing: (tertawa terbahak-bahak dengan laku mengejekkan; tiba-tiba ia terdiam)
SUARA: (kedengaran gemuruh di belakang tonil)
MUSIK: (gegap gempita)
SEMUANYA: (tercengang dan bingung)
Sumbing: (undur beberapa langkah)
PENERANGAN: (gelap semuanya) lampu botol juga mati. Di belakang pintu tengah, nampak beberapa banyak lampu botol dan suluh, menuju ke tempat perkemahan Letenan Sumbing)
SUARA: (dari belakang tonil kedengaran suara orang banyak gemuruh)“HOOOOOOO!!!!!!! ”
Serd. Kawal I: (berteriak)“tuan Letenan! Musuh datang menyerang!”
Serd. Kawal II: (menghampiri Sumbing)”tuan Letenan! Musuh banyak sekali. Serdadu-serdadu Kawal diluear sudah tiwas!”
Sumbing: “apa kowe bilang? ……… kita bisa claka?”
Serd. Kawal II: ”musuh banyak sekali, tuan Letenan!”
Sumbing: (pergi meninjau ke pintu tengah; kemudian kembali lagi ke depan tonil; berseru)“tembak saja! tembak saja!”
Burhan: (berontak dengan sekuat-kuat tenaga)
Serd. Peng. I dan II: (jatuh terpelanting, terhempas ke meja, hingga meja dan kerosi terbalik)
Burhan: (menerkam serdadu Kawal I, dan merampas senapangnya)
Serd. Kawal I: (jatuh terpelanting)
Serd. Kawal II: (mengejar Burhan)
Sakti dan Pengikutnya (sampai ke pintu tengah; langsung masuk menyerbu ke dalam)
PERTEMPURAN: (terjadi kacau balau)
Sumbing: (lari meninggalkan tonil dari pintu kiri)
Serd. Peng. I: (lari meninggalkan tonil dari pintu kiri)
Serd. Kawal I dan II: (lari meninggalkan tonil dari pintu kanan)
Serd. Peng. II: (tergelimpang di depan tonil dengan tidak berdaya)
Burhan: (memandang Serd. Peng. II dan dikelilingi oleh yang lain-lain)
Serd. Peng. II: (berseru)“Nyak Burhan!......... tulunglah saya......... tulunglah saya!............ tulunglah air!......... air!......... air!”
Burhan: ”sekarang kowe bisa minta tulung! Kenapa kowe tidak minta air kepada Letenan Sumbing? Kenapa kowe tidak minta tulung kepada orang belanda?”
Serd. Peng. II: “tulunglah!......... tulunglah!”
Burhan: (berisyarat kepada Pengiring, supaya menghindarkan Serd. Peng. II)
Pengiring: (dibantu oleh dua orang, mengangkat Serd. Peng. II meninggalkan tonil dari pintu tengah)
Sakti: (menghampiri Burhan, mengelurkan tangan bersalam)“Nyak Burhan. Syukur! kita masih dapat bertemu. Saya gembira, kau masih hidup, Tanah Aceh sangat perlu akan tenagamu dan semangatmu berjuang.”
Burhan: (sambil mencium tangan Sakti): “terima kasih Teungku! Terima kasih bagi sekalian perajurit kita. Tuan-tuan sudah melepaskan saya dari tawanan musuh. Saya harap kita akan maju terus. Terus maju. Musuh masih menginjak-injak bumi Aceh yang kita cintai ini.”
Sakti: ”sama-sama terima kasih Burhan! Marilah musuh itu kita kejar terus! Meskipun Johan Pahlawan kita, Teungku Umar yang sangat kita cintai, sudah tiwas di dalam pertempuran, perjuangan kita jalankan terus. Kita akan terus berjuang, sampai musuh musnah!”
SEMUANYA: (sambil mengacungkan tangan ke atas)“MUSNAHKAN MUSUH!”
LAYAR TURUN.
BABAK IV
DI RUMAH TEUNGKU SAKTI
PELAKU:
- Teungku Sakti.
- Pengawal.
- Pengiring.
- Nyak Burhan.
- Sumbing.
- Serdadu Kaval I.
- Serdadu Kaval II.
- Ramlah.
- Khadijah.
- Halimah.
WAKTU: senja.
PENERANGAN: agak muram.
MUSIK: merawankan.
Pengawal: (berdiri di samping pintu tengah)
Sakti: (duduk di tempat yang tertinggi, menela'ah buku, tangan kanannya memegang tasbih)
Pengiring: (datang dari pintu kiri membawa perasapan, meletakkan perasapan itu di dekat Sakti; kemudian meninggalkan tonil dari pintu kiri)
Sakti: (membakar kemenyan)
Pengiring: (datang kembali dari pintu kiri membawa cerana, meletakkan cerana itu ke atas meja kecil; kemudian hendak meninggalkan tonil dari pintu kiri)
Sakti: (memandang Pengiring; berseru)“Agam!”;
Pengiring: (berbalik)”saya Teungku!” (duduk bersimpuh menghadap Sakti)
Sakti:—saya lihat kau gugup. Mukamu pucat. Seperti ada barang sesoceatu yang kau takuti. Apa yang ada dalam ingatanmu?”
Pengiring: “tidak ada apa-apa Teungku! Badan saya barangkali kurang sehat.”
Sakti: ”Saya pandang mukamu, terbayang cahaya hatimu. Hatimu sekarang kacau. Boleh jadi kau takut, karena musuh berkeliaran disekelliling negeri kita. Agam! Ketakutan itu, bukanlah pakaian orang Aceh. Lupakah kau, bahasa pakaian orang Aceh itu, ialah rencong? Senjata yang tersisip di pinggang itu, ialah lambang keberanian menghadapi musuh!“
Pengiring: (mencium tangan Sakti)“Teungku! Malam ini, ialah malam Jum'at. Saya hidupkan api perasapan pada malam ini, adalah untuk mengusir segala iblis yang menggoda hati manusia, supaya syetan menjauhkan diri dari tanah Aceh.”
Sakti: “Syukur! Mudah-mudahan syetan dan iblis itu akan hapus juga dari dalam hatimu.”
Pengiring: terima kasih, Teungku! (meninggalkan tonil dari pintu tengah).
Burhan: (datang dari pintu tengah; berbicara dengan berisyarat dengan Pengawal)
Pengawal: (menghampiri Sakti)Teungku Nyak Burhan minta dibenarkan untuk menghadap.
Sakti:—benarkanlah ia masuk! (menutupkan buku, memandang ke arah Burhan)
Pengawal: (menghampiri Burhan sambil berisyarat)
Burhan: (menghampiri Sakti dan mencium tangannya, duduk di atas ambal menghadap Sakti)
Sakti: “ah, Burhan, kau datang pada waktunya benar. Dari tadi saya kesunyian, sebab hanya kami bertiga di dalam rumah ini.”
Burhan: “Sesungguhnya Teungku, saya merasa rumah ini sunyi. Biasanya banyak tamu dan banyak pengiring yang berjaga.”
Sakti: “ya, Burhan, saudara-saudara kita rupanya sehari ini melepaskan lelah, karena letih kemarin berkelahi dengan musuh. Anak-anak muda pergi menemui orang tuanya sedang yang lain pergi ke rumah isteri masing-masing.”
Burhan: “mungkin benar, Teungku! Tetapi, ahli rumah ini pun saya lihat tidak lengkap.”
Sakti: o, ya, isteri saya dan anak saya Halimah, sesudah waktu 'asyar tadi, pergi melihat orang sakit.“
Burhan: “siapa yang sakit Teungku?”
Sakti: saudara sepupu saya, sudah tiga hari rebah di tempat tidur. Sebentar lagi isteri dan anak saya tentu pulang. Akan tetapi, ada suatu hal, yang menarik hati saya benar sehari ini.“
Burhan: ”apakah itu agaknya Teungku? Bolehkah saya mendengarnya?“
Sakti: ”Nyak Burhan! Saya takjub sekali. Tiap-tiap orang yang datang menemui saya sehari ini, saya pandang wajahnya muram dan duka-cita. Tiap-tiap gerak yang saya lihat sehari ini, taklah ada gerak gembira. Kau juga, Burhan!, wajahmu muram, membayangkan hatimu yang duka. Apakah yang sudah terjadi di tanah Aceh sehari ini?“
Burhan: ”Benar Teungku! Pandangan Teungku itu, adalah sebenarnya. Hamba rayat pada masa ini sangat berdukacita. Taklah ada yang berjernih air muka. Kampung kita muram. Seakan-akan, tiap-tiap daging orang Aceh mengandung duri,“
Sakti: apakah yang telah menyebabkan kampung kita menjadi muram? Adakah agaknya barang sesuatu 'aib yang telah terjadi?
Burhan: sebenarnya Teungku! Ma'af, saya menerangkan hal yang sebenarnya terjadi. Yang telah terjadi, ialah 'aib bagi seluruh tanah Aceh.”
Sakti: “‘aib besar bagi seluruh Aceh?”
Burhan: “benar Teungku! Akan tetapi bukan sekalian orang Aceh yang melakukannya; melainkan, hanyalah kita segolongan.”
Sakti: “Nyak Burhan! Kau berberita, seperti bertekateki.”
Burhan: “ma'af, Teungku! Saya terangkan. Kita telah dapat memasuki benteng musuh dan perkemahan musuh, yaitu tempat Letenan Sumbing. Tetapi Teungku, kita tak dapat menangkap musuh itu. Meskipun kita berusaha mengejarnya, taklah dapat si Sumbing itu kita tangkap. Ia sekarang berusaha dan berdaya upaya mengempulkan kekuatan untuk mengalahkan kita.”
Sakti: “jadi, itulah yang menjadi sebab, tiap-tiap muka yang saya pandang bercahaya muram? Itukah sebabnya hamba rayat berduka-cita?”
Burhan: “Ma'af Teungku, sebenarnya demikian!”
Sakti: (berdiri; memegang hulu kerisnya)“sebenarnya.......... sebenarnya.......... Kerisku inilah kelak yang akan menghapus malu. Nyak Burhan!”
Burhan: (berdiri menghampiri Sakti)
Sakti: Nyak Burhan! Siapkanlah sekalian perbekalan. Kerahkan sekalian pengiring kita. Perjuangan sekali ini, perjuangan yang tidak akan kembali pulang, jika tidak dapat meniwaskan musuh.
Burhan: (memegang hulu kerisnya)Teungku! Saya mengharamkan akan meningkat tangga rumah orang tua saya, sebelum si Sumbing dapat kita tiwaskan (mencium tangan Sakti; dengan langkah yang tetap meninggalkan tonil dari pintu tengah)
Sakti: (duduk kembali, dan membakar kemenyan)
Pengiring: (datang dari pintu kiri membawa semangkuk kopi; meletakkan kopi itu ke atas meja kemudian meninggalkan tonil).
Sakti: (meminum kopi; kemudian mengapur sirih)
Serdadu Kawal I: (datang dari pintu tengah; dengan cepat sekali menangkap Pengawal)
Sakti: (terperanjat, lalu berdiri)
Serd. Kawal II: (datang dari pintu kiri, sambil menujukan senapang kepada Sakti)
Sumbing: (dengan laku sombong datang dari pintu kanan)
Sakti: (suara nyaring)”kamu berani masuk ke dalam rumah saya? Kamu berani masuk ke dalam kampung, ke tengah-tengah orang Aceh yang haus akan darah musuh?”
Sumbing: “kenapa saya tidak berani? Kowe punya orang jaga sudah banyak saya tangkap dan sudah banyak saya tembak. Kowe tahu? Kowe punya kampung sudah dikepung oleh kompeni?”
Sakti: “kowe mau main gertak?” (berlari mengejar Sumbing)
Serd. Kawal II: (menangkap Sakti dari belakang)
Sakti: (jatuh. Kerisnya terpelanting)
Serd. Kawal II: (bergemul dengan Sakti)
Sumbing: (datang menolong)
Sakti: (tak dapat melawan sebab dikungkung oleh Sumbing dan Serd. Kawal II dan diikat dengan tali sekuat-kuatnya)
Sumbing: “he.......... apa kowe sudah periksa, apa di sini tidak ada meriam?”
Serd. Kawal II: “tidak ada tuan!”
Sumbing: “ayo maar! kita jalan terus.”
SEMUANYA: (meninggalkan tonil dari pintu tengah)
MUSIK: (merawankan)
PENERANGAN: (digelapkan sedikit)
Pengiring: (datang merangkak dari pintu tengah dengan pakaian yang berlumuran darah)
Halimah/Ramlah/Khadijah: (datang dari pintu tengah, tercengang dan terkejut memandang kesekeliling tonil, lalu menghampiri Pengiring)
Pengiring: “saya.......... saya.......... sudah tiwas.......... saya luka!”
Halimah: “Agam!.......... Agam! apakah yang sudah terjadi di sini?”
Khadijah: “Agam!.......... saya melihat di sini bekas perjuangan, senjata siapa yang sudah melukai kau?”
Pengiring: “saya sudah luka.......... saya sudah luka oleh senjata musuh. Pengawal dan Teungku Sakti sudah ditawan oleh serdadu belanda.......... Letenan Sumbing!.......... (terhenyak. Lemas sekujur badan, melepas jiwa yang penghabis)
Ramlah: “suami saya.......... suami saya ditawan musuh? Pahlawan kita jatuh ke tangan belanda?”
Khadijah: Sabar, Cut! Sabar!
Halimah: Ayah saya ditawan oleh musuh?.......... Sebelum saya dapat menuntut balas, saya tidak akan pulang ke rumah sendiri. Meski saya seorang Perempuan!
Burhan: (datang dan berdiri dengan sikap hebat di tengah-tengah pintu tengah; berseru)“Halimah! apakah yang sudah terjadi?”
SEKALIANYA: (memandang kepada Burhan)
Burhan: (datang menghampiri, memandang kepada Pengiring)musuh rupanya sudah menyerbu ke rumah ini. Mana Teungku?
Khadijah: “Teungku sudah ditawan oleh musuh bersama seorang Pengawal.”
Burhan: “Teungku Sakti, Pahlawan kita, ditawan oleh musuh? Saya sudah syak, musuh tentu sampai kemari. Di sepanjang jalan, dalam kampung kita ini, sudah terjadi perjuangan yang hebat dengan musuh, satu lawan satu. Akan tetapi musuh itu pengecut. Setelah mereka itu membakar beberapa buah rumah, mereka itu telah melarikan diri.”
Halimah: “saya mesti pergi menghancurkan musuh itu. Saya percuma hidup, jika tangan saya ini tak dapat menumpahkan darah serdadu-serdadu kompeni itu.”
Burhan: “sabar, Halimah! Kau seorang perempuan. Sayalah yang mempunyai kewajiban untuk berkelahi. Saya sudah dilepaskan oleh Teungku dari tawanan. Sekaranglah masanya saya mesti membela Teungku Sakti, dan memperlindungi tanah air!”
Halimah: “Nyak Burhan!......... karena saya bertubuh lemah, jadi tuan sangka, saya tidak akan sanggup berjuang?”
Burhan: “bukan begitu, pandangan saya, Halimah! Tempat perempuan di medan peperangan, bukanlah mesti turut berkelahi.”
Halimah: “Nyak Burhan! Saya akan berkelahi, menurut sifat-sifat yang ada pada saya. Tuan lihatlah nanti. Insya Allah, Tuhan akan menolong saya.”
Burhan: “Halimah! Aceh mengucapkan terima kasih kepadamu. Tinggallah, saya akan pergi mengatur barisan. Sa'at ini juga kami akan berangkat mengejar musuh. Letenan Sumbing mesti dapat kita tiwaskan. Di mana musuh ada, kita akan ada di situ. Aceh, setapak tidak akan undur! (berlari menuju pintu tengah)
LAYAR TURUN.
BABAK V
DIPERKEMAHAN LETNAN SUMBING YANG BARU
PELAKU:
- Serdadu Kawal I.
- Serdadu Kawal II.
- Serdadu Pengintip I.
- Teungku Sakti.
- Burhan
- Pesuroh.
- Pengintip.
- Pengawal.
- Cut Halimah.
WAKTU: petang.
PENERANGAN: agak muram.
MUSIK: gembira.
Dua Serdadu Kawal (mundar-mandir; masing-masing menyandang senapang)
Sumbing: (datang bergegas-gegas dari pintu tengah)
Dua Serdadu Kawal (memberi hormat)
Sumbing: (langsung duduk menghadapi meja, membuka surat-surat dan memperhatikan peta)
Serd. Pengintip I: (datang dari pintu kiri, membawa sebotol bier dan sebuah gelas, meletakkan gelas itu ke atas meja, dan hendak menuangkan bier)
Sumbing: (merampas botol bier itu, lalu minum dari botol kemudian melemparkan botol)
Serd. Peng. I: (terkejut; kalang kabut memungut botol, hendak meninggalkan tonil dari pintu kiri)
Sumbing: (sambil memperhatikan peta)“hai!”
Serd. Peng. I: (kembali)
Sumbing: (berteriak)”bawa itu binatang kemari.”
Serd. Peng. I: “tuan……!!” (meninggalkan tonil dari pintu kanan; kembali lagi dengan membawa Sakti yang diikat dengan tali)
Sumbing: “ah, zoo, zoo! apa kowe ada enak tidur dan enak makan dalam saya punya rumah? (berdiri menghampiri Sakti)“mana kamu punya meriam? Sembunyikan di mana?”
Sakti: (menyembur)“babi putih!”
Sumbing: (terkejut, undur, terlanggar meja)“he! jangan itu macam! Nanti saya bikin sup kowe punya kepala!”
Sakti: ”Letenan Sumbing! Orang belanda memasyhorkan maksudnya akan merampas Aceh, berlain sekali dengan kamu punya tabiat dan kelakuan.”
Sumbing: “heee ……… apa kowe bilang? Kowe mau cerita apa?”
Sakti: “orang belanda memasyhorkan, bahwa mereka itu merampas Aceh, akan membawa kesopanan. Tetapi, saya lihat, kamu bukan membawa kesopanan, melainkan membawa kekurangan ajaran. Melihat kamu punya kelakuan, menyebabkan saya jadi semakin yakin akan tujuan perang kami. Saya sekarang semakin yakin, manakala belanda dapat menaklukkan Aceh, adat resam Aceh yang baik itu akan kamu rusakkan.”
Sumbing: ”kowe bilang saya kurang ajar, he? Kamu tahu, saya ada seorang Letenan.”
Sakti: Saya tahu kamu ada seorang Letenan. Kamu tahu, saya siapa? Saya adalah seorang Pahlawan! Kamu tahu apa arti Pahlawan? Saya ada seorang Jenderal. Di dalam pangkat ketenteraan, pangkat saya jauh lebih tinggi dari kamu. Kowe mengerti?”
Sumbing: “jadi, kowe mau apa?”
Sakti: ”Saya punya mau? Bukan bangsa saya yang mesti belajar adat sopan dari kamu, melainkan bangsamu yang mesti belajar adat sopan dari saya. Kamu boleh belajar dari saya punya perajurit-perajurit. Mereka itu ada mempunyai agama, percaya akan adanya Tuhan, yang mengajarkan, berlaku lemah lembut kepada musuh yang ditawan. Bukan semacam kamu, yang bertabiat begini kasar, dengan mulut yang kotor!“
Sumbing: “akh!......... nonsens!..........
Halimah: (tiba-tiba muncul di pintu tengah; demi menghormat terhadap serdadu, memandang terhadap Sakti)
Serd. Kawal I: (mengacukan senapang terhadap Halimah)
Sakti: (memandang dengan mata tajam kepada Halimah)
Sumbing: siapa itu?
Halimah: (berisyarat kepada Serd. Kawal I, bahwa ia hendak berbicara dengan Sumbing, sambil tersenyum-senyum)
Serd. Kawal II (menghampiri Sumbing)“seorang perempuan tuan! Di luar ada seorang perempuan.”
Sumbing: “perempuan? Ada perempuan? Datang di sini? Kowe hati-hati ya?......... di sini ada banyak buaya!”
Serd. Kawal II: “ya, perempuan, betul-betul perempuan, tuan, bukan buaya, saya sudah periksa betul.“
Sumbing: “Perdiki! Saya bilang hati-hati. Itu perempuan mau apa?”
Serd. Kawal II: “itu perempuan mau jumpa dengan tuan. Dia mau bicara.“
Sumbing: “itu perempuan cari saya? Dia mau bicara sama saya? (senyum gembira)perempuan cari saya? Itu perempuan apa?”
Serd. Kawal II: “saya tidak tahu itu perempuan apa (berbisik ke telinga Sumbing)”
Sumbing: (tertawa terbahak-bahak)“perempuan muda, he? Cantik, he?”
Sakti: (berontak)
Sumbing/Serd. Kawal II: (terkejut dan kuatir).
Sumbing terhadap Serd. Peng.: “Perdiki! Ini orang mau main gula. He......... kowe pigi simpan dia di dalam peti. Ayo lekas!”
Serd. Peng.: ”dikasih masuk ke dalam peti yang mana tuan?”
Sumbing: “Perdiki! Kowe kasih masuk dia dalam tempat tahanan. Dia mau ganggu saya punya kesenangan.”
Serd. Peng.: (dengan susah payah mendorong Sakti meninggalkan tonil dari pintu kanan)
Sumbing: ”zeg, itu perempuan boleh kasih masuk!”
Serd. Kawal II: (berisyarat kepada Halimah bahwa boleh masuk)
Halimah: (dengan senyum yang dibuat-buat menghampiri Sumbing)“Selamat sore, tuan Letenan.”
Sumbing: ”Selamat sore! Kowe siapa? Kowe dari mana? Mau jumpa sama saya? Ada perlu apa?”
Halimah: “tuan sudah lupa? Tuan tidak kenal saya lagi?”
Sumbing: (berpikir)“kowe?......... ya, ya, di mana saya pernah jumpa sama kowe?”
Halimah: “betul-betul tuan suka pelupa.”
Sumbing: ”ya, ya, saya lupa zeg!...... Perempuan muda begini cantik, ada jarang jumpa di tanah Aceh.”
Halimah: “ah, tuan bohong! Tuan banyak jumpa perempuan cantik, tentu tuan lupa sama saya. Apa barangkali tuan pura-pura lupa?”
Sumbing: ”Perdiki!......... saya punya otak tidak kuat lagi. Coba kowe cerita, di mana kita pernah jumpa!”
Halimah: “tuan pernah datang di saya punya rumah. Tuan minum kelapa muda bersama saya dan tuan pernah berjanji dengan saya.”
Sumbing: ”saya ada janji?”
Halimah: “ya, tuan berjanji dengan saya.”
Sumbing: ”saya ada janji apa?”
Halimah: “ah, saya malu bilang, di sini ada orang banyak.”
Sumbing terhadap Serd. Kawal I: “coba kowe pigi jaga itu tikus yang barusan dikasih masuk dalam kandang.“
Serd. Kawal I: “saya tuan! (meninggalkan tonil dari pintu kanan)”
Sumbing terhadap Serd. Kawal II: “coba kowe ambil minuman bersama satu kerosi. Lekasssss!“
Serd. Kawal II: “saya tuan! (meninggalkan tonil dari pintu kiri)”
Sumbing: “saya ada janji he? (sambil berpikir)satu perempuan muda ada janji sama saya!”
Halimah: “tuan ingat yang betul (senyum manja)”
Serd. Kawal II: (datang dari pintu kiri, membawa kerosi, sebotol bier dan dua gelas; kemudian pergi berdiri ke pintu tengah)
Sumbing terhadap Serd. Kawal II: “he.......... kowe juga pigi jaga itu tikus dalam kandangnya”.
Serd. Kawal II: “saya tuan! (meninggalkan tonil dari pintu kanan)”
Sumbing: (sambil menuangkan minuman)“duduklah! saya senang sekali pasang omong sama kowe. Saya sudah lama tidak jumpa sama perempuan.“
Halimah: (duduk ke kerosi)“ah, tuan, bohong, masa sudah lama tuan tidak jumpa dengan perempuan.”
Sumbing: “saya ya saya ada banyak jumpa sama perempuan, tapi perempuan jelek, perempuan busuk, yang suka bunuh sama orang belanda. Saya benci, he?”
Halimah: (tertawa)“tuan pintar betul main kelucuan dan pintar betul buat ambil orang punya hati.“
Sumbing: (tertawa)”nou, boleh minum (sambil mengangkat gelasnya)“—
Halimah: ”jangan marah tuan. Saya tidak biasa minum ini macam.“
Sumbing: ”nou, tidak apa! sedikit saja. Bikin panas badan, dan juga bikin senang hati.“
Halimah: ”terima kasih, tuan. Terima kasih.”
Sumbing: (mengangkat gelas menyerahkan kepada Halimah)“ayo, minum. Jangan malu.”
Halimah: (menyambut gelas itu, dan melagakan gelasnya kepada gelas Sumbing, kemudian mengecahkan gelas itu ke bibirnya)
Sumbing: (minum sepuas-puasnya, hingga gelasnya kosong)“ya, ini minuman bikin senang hati dan bikin otak sedikit main komidi, he?”
Halimah: (sambil menuang minuman ke gelas Sumbing)“tapi, saya tidak biasa minum yang begini tuan (mengangkat gelasnya mengajak Sumbing minum)”
Sumbing: (minum lagi sepuas-puasnya)“nou, sekarang kowe boleh cerita. Lain orang tidak ada di sini. Saya ada janji apa sama kowe?“
Halimah: (menuangkan lagi minuman ke gelas Sumbing)“tuan betul-betul rupanya sudah lupa. Tuan ada janji sama saya, yang tuan akan datang kembali untuk berjumpa dengan saya.”
Sumbing: “he?.......... saya ada janji begitu macam?”
Halimah: “ya, itu waktu pukul 11 siang. Tuan mampir di rumah saya buat minta minum. Tuan bicara manis sama saya. Tuan ketawa. Tuan kasih lihat yang tuan punya hati baik. Kemudian, tuan janji, yang tuan mau kembali pada malamnya buat bertemu dengan saya. Tuan tahu? Itu waktu ada terang bulan. Saya tunggu tuan di bawah pohon kelapa. Saya tunggu, sampai pukul 8, pukul 9, pukul 10, pukul 11.............Tapi, tuan tidak datang.”
Sumbing: (menggeser kerosinya ke dekat Halimah)“begitu macam?...... kowe tunggu sama saya? (meraba kepala Halimah)”
Halimah: (mengelak dan mengendurkan kerosinya)“ya, tuan Letenan, tuan bikin saya punya hati jadi susah.”
Sumbing: “kowe tinggal berapa jauh dari sini?”
Halimah: “di sini, dekat saja, tidak jauh dari kampung Seberang.”
Sumbing: (sambil menggeser kerosinya ke dekat Halimah)“o, di kampung dekat sini. Ya, ya, saya selalu pergi ronda keliling kampung buat cari orang Aceh yang suka makan orang belanda“ (seraya memegangkan tangan Halimah)
Halimah: (mengelak berdiri dari kerosinya dan undur)
Sumbing: “kowe takut? Kenapa takut? (berdiri dari kerosinya menghampiri Halimah)kowe takut? Saya tidak gila hoor?“
Halimah: (undur lagi)“saya tidak takut tuan Letenan! Saya malu, tuan punya serdadu banyak di sini.”
Sumbing: “perlu apa malu. Kalu kowe malu, kenapa kowe datang ke saya punya tempat?“
Halimah: “Saya datang di sini, dari sebab tuan mungkir janji. Tuan janji, tuan akan datang kembali ke rumah saya, tetapi tuan tidak datang. Oleh sebab tuan tidak datang di rumah saya, saya sekarang datang di tempat tuan. Saya mau lihat, barangkali tuan sakit.”
Sumbing: “begitu? Kowe pintar bicara manis, bikin rusak saya punya hati. Dan sekarang kowe datang dekat saya. Kalu saya datang dekat sama kowe, kowe lantas lari.”
Halimah: “kenapa tuan tidak datang ke saya punya rumah?”
Sumbing: “baik, saya datang. Nanti saya datang (menghampiri meja, mengambil gelas)nou, sekarang boleh minum. He? kenapa kowe tidak minum kowe punya bier?”
Halimah: “saya tidak biasa minum bier tuan.”
Sumbing: “ayo dong minum! (mengambil gelas Halimah, menyerahkan kepada Halimah)”
Halimah: (Halimah menyambut gelas itu)
Sumbing: (mendesak Halimah, dan menangkap tangan Halimah, menarik Halimah; gelas-gelas terjatuh)
Halimah: (mencabut rencong yang tersisip di pinggangnya dan menikamkan rencong itu kepada Sumbing)
PENERANGAN: (gelap semua, sesaat lamanya; kemudian diterangkan kembali)
Sumbing: (tergelimpang dengan berlumuran darah)
Halimah: (memegang rencong di tangan, tegak membungkuk memandang Sumbing, kemudian memperhatikan rencongnya dan mengacukan rencong itu ke atas)
Sumbing: (mengumpulkan kekuatannya, mencoba hendak berdiri menerkam Halimah, kemudian jatuh kembali; berteriak dengan suara gemuruh)“serdadu!............ tolong sama saya! Toloooooong”............!!
Halimah: (undur ke tepi dinding tonil, mencoba hendak memasuki pintu kanan)
Serd. Kawal I: (datang dari pintu kanan dengan mengacukan senapangnya)
Halimah: (undur, mencoba hendak memasuki pintu kiri)
Serd. Kawal II: (datang dari pintu kiri dengan mengacukan senapangnya)
Halimah: (mencoba hendak menuju ke pintu tengah)
Serd. Peng.: (dengan sikap yang kejam, tiba-tiba muncul di pintu tengah, hendak menerkam kepada Halimah; suara nyaring)“ke mana kowe mau pergi. Di sini ada kuat sekali penjagaan kowe tahu. Ini ada benteng belanda”?
Halimah: (undur ke tengah-tengah tonil)
Serd. Peng.: (maju mendesak perlahan-lahan dengan sikap hendak menerkam; suara nyaring)“hai perempuan......... hutang jiwa, mesti dibayar dengan jiwa!”
Halimah: (bingung, memandang ke muka, ke kiri dan ke kanan)
Serd. Peng./Serd. Kawal I dan II: (maju perlahan-lahan mengepung Halimah)
Burhan: (tiba-tiba muncul di pintu tengah dengan sikap yang hebat dan suara gemuruh)“inilah Aceh, lawanmu yang sebenarnya! (lalu menerkam Serd. Peng. dari belakang, hingga keduanya bergumul)”
Sakti: (tiba-tiba muncul di pintu kanan, dengan sikap yang hebat dan suara gemuruh)“terimalah serangan Aceh (menerkam Serd. Kawal I dari belakang, hingga keduanya bergumul)”
Pesuruh/Pengintip/Pengawal: (tiba-tiba muncul di pintu tengah, masuk menyerbu dan menangkap Serd. Kawal II)
Halimah: (undur ke tepi tonil)
PENERANGAN: (digelapkan semuanya)
SUARA: (bertempur dan suara di belakang tonil gemuruh)
MUSIK: (gegap gempita)
PENERANGAN: (diterangkan kembali)
Serd. Peng./Serd. Kawal I/Serd. Kawal II: (mati bergelimpangan)
Sakti: (maju menghampiri Halimah, membimbingnya ke depan tonil, menghampiri Burhan dan mengelurkan tangan bersalam)“Nyak Burhan! Saya sudah pernah melepaskan tuan dari tahanan belanda. Sekarang tuan lepaskan pula saya dari tahanan musuh itu. Hutang budi, dibayar dengan budi. Jiwa anak saya sudah tuan lindungi pula. Sekarang Nyak Burhan!............ saya serahkan Halimah untuk menjadi isteri tuan.”
Burhan: “terima kasih, bapak! Terima kasih. Marilah kita teruskan perjuangan untuk memupus jejak musuh. Walau berapa lamanya sekali pun. Tidak di zaman kita, di zaman anak cucu kita, musuh mesti tiwas! Tidak Aceh hilang di dunia!”
LAYAR TURUN.
TAMAT.
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.