Baca EPUB: Yanie

15 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. YANIE
  2. RORO PALUPIE
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. SEDIKIT UCAPAN
  6. I
  7. II
  8. III
  9. IV
  10. V
  11. VI
  12. VII
  13. VIII
  14. IX
  15. X
  16. UNCOPYRIGHT

YANIE

RORO PALUPIE


KOLOFON

YANIE

oleh

RORO PALUPIE



DICITAK OLEH:

The Paragon Press

MALANG

1937

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: digitalcollections.universiteitleiden.nl

Ilustrasi sampul: Moonlit Interior 1936, karya Hobson Pittman

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam.com



SEDIKIT UCAPAN

PERASA'AN yang paling heibat menyerang pada sesuatu orang muda, adalah itu perasa'an Cinta yang pertama timbul. Perasa'an itu aken senaritiasa terukir dalem hati, biar berhasil atawa gagal.

Maka itu sasuatu anak muda bisa tilik geteran perasa'annya, agar tida gampang dipengarui oleh segala perasa'an yang tida berdasar.

Romano.


I

“LEKASLAH, Lem kau pergi ka pasar berbelanja dan kemedian masak yang ledzat, kerna sebentar siang Niek aken dateng.”

“Nanti tentu saya pangling pada ‘den-ajeng, sebab saben vacantie pulang ka rumah, tentu tambah besarnya dan cantiknya. Saya nanti aken masaken nasi gurih buat sebagai penyambutan slamet dateng.”

“Ya, masak yang enak. Tetapi jangan banyak omong, temponya nanti abis diboat mengobrol saja. Sekarang lekas ka pasar berbelanja.”

Yang bercakepan itu adalah R. A. Cakrawardaya, janda dari R. Cakrawardaya, bekas Wedana dari Sragen, dan sekarang tinggal di Jokya, bercakepan dengen bujang prempuannya, Ilem. Ilem sigra pergi blanja ka pasar buat membeli daging, sayuran dan laen-laennya kaperluan masak.

Sapeninggalnya sang bujang, R. A. Cakra lalu meliat gambar-gambar dan pot-pot kembang, prekssa apa semua telah teratur baek dan tida kotor, dan mana yang tida betul lalu dibetulken.

R. A. Cakrawardaya itu tida tinggal di rumah gedong yang indah atawa yang banyak perabotannya, hanya cuma bertinggal di satu rumah batu yang kecil dan cuma dengen sedikit perabotan, tapi tertampaknya rumah yang saderhana itu ada resik dan necis kerna dari baeknya perawatan dan mengaturnya.

Budak yang bekerja di situ pun cuma duaa orang saja, yalalh saorang budak prempuan, Ilem, dan saorang bujang lelaki, Kasimin, siapa telah bekerja pada itu familie sedari masih kecil, yang kerna dapet perlakuan baek, telah suka bekerja sampe begitu lama.

R. A. Cakra sudah lama suaminya telah meninggal dan hidup dengen saderhana dari pensiun yang didapet. Maski pun tua, ia masih kliatan seger dan cantik, kerna ia ada saorang ibu yang bisa merawat badan dan menjaga kesehatan. Dan sedari meninggalnya sang suami ia selalu tertampak suka berpakean baju kebaya dari kaen warna item.

Kapan Ilem telah kombali dari pasar, lalu memasak barang-barang belanja'annya dengen ibook, kerna tida lama lagi sang ‘den-ajeng yang ditunggu aken sampe.

Betuel saja, kira jam 12.40 tengah hari, ada sabuah kreta telah brenti di muka rumah dari R. A. Cakra. Kemudian dari dalem kandaran mana lalu kliatan turun saorang putri yang cantik, perawakannya (pengawakannya) langsing, kultnya kuning langsep, matanya bagus sebagai Bintang Timur, rambutnya gombiok dan item jengat. Ia memake kaen Parikesit dan baju kaen voille war-na ijo semringah, slof putih yang jinggrang, dan dengen tindakan “macan lapar” telah bertindak masuk ka dalem itu rumah.

R. A. Cakra kutika mendenger ada kreta brenti, sigra ia lantas berlari kluar, memburu dan lalu memeluk sang putri itu dengen aer-mata bercucuran kerna saking bangga atawa terharunya.

“Oh, Niek, putriku, kau sudah sebesar ibu...........” katanya R. A. Cakra dengen suara terge-ter. “Oh, kau kau punya ayah...........” Ibu yang baek itu tida bisa lanjutken ucapaninya.

“Sudahlah, ‘bu, jangan memikirken yang tidatida,” sautnya itu gadis sambil susut sang aer-mata kagirangan. “Sekarang ibu harus bersu-kur kepada Tuhan, kerna Niek sudah pulang dengen membawak hasil yang telah dicita-cita.”

“Adakah kau pulang dengen membawak kabar baek?”

“Ya, ibu, Niek sudah tamat belajar dan dapat berkah dari ibu serta rama yang telah marhum. Niek dapat geslaagd nummer een, ‘bu.”

“Syukur Alkhamdullallah, Niek.”

Marika berdua itu lalu masuk ka dalem itu rumah dengen sambil tida putunsya saling bercakep.

Niek merandek dan merasa heran kutika ma-suk ka dalem kamarnya dapet meliat ada kupluk dan baju yas dari saorang lelaki menyantel di itu cantelan.

Ibu, ini kupluk dan baju siapa?“ tanyak itu gadis pada ibunya.

“Oh, itu ada kapunya'an dari kau punya neef Driyanta. Ia sekolah di A. M. S. dan baru sabulan tinggal di ini rumah”.

Niek lalu samperin Ilem dan kata: “Bi Lem, itu koffer-koffer belon diturunken. Kasian pada kusirinya, kerna dari sukanya hati, kita kalupa'an turunken barang-barang bawakan. Angkatin itu koffer-koffer dan briken ini uwang buat onkostnya.”

Ilem laooken itu prentah. Bawak masuk itu koffer-koffer dan brapa potong barang pakerja'an tangan.

“Den-ajeng amat banyak bawakannya,” katanya Ilem. “Dan buat apa ini barang-barang pakerja'an tangan? Den-ajeng tida malu membawak ini, sedeng gadis-gadis jaman sekarang katanya malu membawak itu.”

Saya membawak oleh-oleh buat saya punya ibu, kenapa malu?“

Ilem bersenyum dan kemudian kata pula: “Ini bungah apa, ‘jeng begini besar dan cantik?’ Sembari cium itu brapa tangkei kembang roos.

“Ini ada bungah roos yang saya dapat dari Ko-peng. Itu ada cangkokannya yang saya aken tanem di itu pot,” sautnya Niek. “Nah, sudalah bawak ka blakang, dan lantas sediaken limun iys, aku amat aos. Aku biasa di tanah dingin, sekarang tiba di ini tempat yang berhawa panas, hingga badan merasa saoleh-olah dipangang.”

Marika itu lalu pergi ka ruangan blakang. Di situ hawanya rada sejuk dan pemandengan ada sedikit menyenengken. Kamudian satelah abis minum dan makan, Niek lalu tidur, kerna merasa kecapean.

Kira jam 4 sore Niek telah bangun dan duduk beromong-omong bersama ibunya di beranda.

“Bu, tadi ibu mengataken tentang neef Driyanta; siapa ia itu?” kamudian Niek menanyak.

“Driyanta itulah ada putranya R. Cakrasapu-tra. Ayahnya Driyanta ini dulu bersekolah di Osvia, tapi satelah tamatken pelajarannya tida mau pegang pangkat, tida suka bekerja sebagai ambtenaar, hanya telah menjadi sudagar di Rembang,” sautnya sang ibu.“ Dan Driyanta itu ada anak yang tunggal, siapa sekarang telah masuk sekolah di A. M. S. di sini. Sudah lama ia tuntut plajaran di ini kota, tapi baru 2—3 bulan ini dengan cara kebetulan ibu telah mengatauin bahua ia masih pernah familie. Maka daripada ia tinggal menumpang pada laen orang, tokh ada lebih baek kalu bertinggal dengen familie sendiri.”

“Dan R. Cakrasaputra itu masih pernah apa pada rama, ‘bu?’”

“Oh, ia masih pernah adik misan dari ayahmu. Jadi kalu diambil dari itu urutan, adalah kau pernah tua dari ia.”

Selagi marika berdua bercakep-cakep dengen asik, satu andong (kreta) telah mendatengin dan brenti depan itu rumah.

“Oh, Yanta dateng,” katanya itu ibu.

Yanta masuk ka dalem dan memberi hormat pada marika berdua.

“Inilah ada kaeo punya ‘mbak-ayu yang kita telah tungguin kedatengannya,” begitulah R. A. Cakra telah berkata dan perkenalken sang putri kepada keponakannya itu.

Yanta lalu angsurken tangannya dan jabat tangannya itu gadis seraya kata: “Lieve nikht, sla-met dateng dan slamet berkenal. Maski kita bersudara, tapi baru sekarang ini kita saling kenal.”

“Ya, beste neef, sama-sama,” sautnya Niek dengen bersenyum simpul. “Dari mana saja kaeo gunaken ini tempo vacantie?”

“Aku barusan dateng dari Purwarja mene-ngokin Oom Dana di sana. Dari sana kamudian aku niat pulang ka Rembang, tapi dengen di luar kemauan aku mendadak kombali mampir pula di Jokya, boleh jadi ini disebabken aku dimustiken ketemuken dan sambut kaeo punya kedatengan, ‘bak-ayu.’”

Niek sambut itu pernyata'an dengen iapunya senyum simpul yang manis, kerna iapunya sujen-sujen yang eilok itu seperti menggenggemp riboan tetes sari madu.

Niek itu ada sebutan pendek dari itu gadis punya nama. Iapunya nama yang lengkep adalah R. A. Wuryanie. Ia baru saja lulus dari Kweekskhool Salatiga dengen mendapat angka yang bagus, yalah nummer satu.

Tatkala ia masih berusia 10 taun, ayahnya telah meninggal dunia, hingga itu masa ibunya boleh dibilang masih muda, tapi tokh itu ibu tida suka menikah lagi kerna ibu itu beranggepan bahua orang menikah itu haruslah cuma buat satu kali saja, maka itu janda lebih suka hideop dengen pensiunnya yang kecil saja, hideop di ibu kota dari itu daerah Kasultanan dengen cara saderhana supaya bisa liwatken hari-hari dengen tida kakowerangan, kerna ibu itu ada keyakinan buat didik Wuryanie, anak satu-satunya, sampe mendapat didikan yang pantes, sebab ia beryakin, maski anakna itu ada prempuan, haruslah di kemudian hari bisa berdiri atawa mempunyain pokok guna menunjang kahidupannya sendiri. Dan sekarang ternyatalah harepannya itu ibu yang bijaksana telah terkabul, Niek telah lulus dari itu sekolah calon guru.

Sekarang rumah yang didiamin oleh R. A. Cakra itu tertampak hideop dan bersumanget kerna adanya itu keponakan dan sang putri.

Baru saja saling kenal, Yanta dan Yani tertampaknya sudah saling resep buat bergaul dan beromong-omong.

Yanta tunda niatannya buat pulang ka Rembang. Satu minggu ia berdiam di rumah tantenya itu, kemudian lantas bersama-sama Yani dan ibunya marika bikin perjalanan ka Rembang.

Orang-tuanya Yanta tentu saja merasa sanget bergirang menerima kedadengannya sang putra dan terutama pada R A. Cakra serta putrinya, sala-saorang familienya yang telah lama tida berjumpah dan pun lama tida saling berhubbung.

R. Cakrasaputra sanget terharu ketemuken sang cucu telah jadi gadis yang cantik.

Yanta tida sia-siaken ini tempo dengen menongkrong di rumah saja, hanya kapan sang bulan purnama telah unjuken parasnya yang permei, adalah ia lalu anterken Niek pergi jalan-jalan di pantei—itu pantei yang indah dari pesisir Rembang yang terkenal. Juga gunung Muria yang telah mendapat marika punya kunjungan.

Kemudian Yanta abiskan itu vacantie bersama sang tante dan nikht ka Surabaia dan kemudian pulang ka Jokya.

Inilah ada satu vacantie yang sanget mengumbiraken dan membeskaren sumanget yang Yanta belon pernah dapetken selama bertaun-taun ia bercokol di bangku sekolahan.


II

SATELAH abis vacantie, Niek atawa Yanie sudah tida masuk sekolah lagi, kerna sudah tamat, maka ia cuma tinggal menunggu besluit saja, kapankah ia nanti mendapat benuman menyadi onderwiyzeres.

Tapi Yanta masih musti masuk sekolah lagi, sebab ia harus melaluin satu taun pula buat bisa tamatken plajarannya di A. M. S.

Sembari menanti datengnya benuman, Yanie banyak bekerja di rumah, menulung masak, menyelam, menjait dan laen-laennya pakerja'an prempuan. Kapan telah sampe jam 1 liwat tengah hari, ia sudah selesihken semua pakerja'an da-pur dan kemodian sama-sama duduk dahar dengan sang ibu dan Yanta yang telah pulang dari rumah sekolahan.

Seringkali, kapan pulang dari sekolahan, Yanta dapetken bahua Yanie berada di pekarangan depan dan menyambut iapunya kedatengan.

Marika itu saling hormat dan saling menyayang salolah-olah marika itu bersudara putusan perrut.

Sadiek itu, Yanta jarang sekali kliatan ngelencer ka luar rumah, kabanyakan ia gunaken temponya buat belajar lebih giat dan kalu tida demikian ia pake iapunya tempo senggang buat beromong-omong pada Yanie, Kalu tokh Yanta kluar jalan-jalan, adalah kebanyakan ia selalu berka-wan dengan Yanie, dan kunjungan buat mencari hawa seger.

Satu waktu, kalu kebetulan malem minggu, Yanta, Yanie dan R. A. Cakra pergi ka Kaliurang, Parang Tritis atawa ka Sri Wedari.

Begitulah ampat bulan marika telah hidup da-iem kegumbira'an dan kecocokan pikiran. Tapi keada'an yang demikian itu tida selamanya aken te-tet begitu, kerna tatkala mana Yanie telah menerima besluit keangkatan menyadi guru pada H.I.S. di Wanasaba.

Yanta jabat tangan Yanie dan kata: “Mbak-ayu, aku kasi slamet buat itu keangkatan.”

Yanta membri slamet dengen hati girang, tapi kapan Yanie telah atur pemindahannya, hatinya Yanta telah tertindih oleh perasa'an yang sanget berat.

Ibunya Yanie aken turut bertinggal di Wanasaba.

Ibu itu menasehatken buat Yanta pindah tinggal di rumah pondokan agar pengrawatan atas dirinya tida terlantar. Tapi Yanta menolak dan menyataken bahua ia aken tinggal sendirian di ini rumah, kerna ia merasa telah mendapat kecocokan dengen ini rumah dan merasa berat buat tinggal-ken.

Dengen pertelungannya satu familie di Wanasaba, satu rumah telah didapetken buat tempat tinggalnya Yanie dan sang ibu.

Harian Yanie musti brangkat ka itu kota pagu-nungan telah sampe. Maleman pada hari pembrangkatan itu marika telah duduk di serambi muka dan saling bercakep dengen asik.

“Anakda Yanta,” katanya R. A. Cakra pada itu pamuda, “sepeninggalnya kita, harel kau suka belajar dengan sunggu hati dan kelakuan yang baek itulah jangan sampe dilopeaken. Pun harel kau tida lupaken kita, maski aken saling terpisah begitu jau. Sebetulnya bibi kaeo ini merasa sa-nget berat buat tinggalken kaeo saorang diri di sini. Tetapi, anakku, kaeo ada saorang laki-laki, tentulah kaeo lebih ringan menulung diri sendiri. Tida demikian dengen kaeo punya ‘mbak-ayu ini ia ada saorang gadis dan aku tida tegah tinggalken ia hidup saorang diri di negri orang, kerna sa-orang gadis di tempat asing itu banyak penggoda-nya.“

“Oh, ibu,” sautnya Yanta dengen hati terharu, “semua ucapan yang kaeo luapken, aken anakda simpen dalem hati. Biarpun kaeo-orang berada di tempat yang jau, anakda aken anggcep bahua itu seolah-olah tida berjauan dari dampingku. Tuju bulan lagi, kalu mendapat berkah ibunda, anakda aken sudah lulus dari A. M. S. Dan kalu nanti kebetulan ada hari vriy, anakda aken sam-bang ka sana, kalu ini tida mengganggu ‘mbak-ayu dan ibu.”

“Sudah tentu kita aken sambut kaeo punya kedatengan dengan segala seneng hati, ‘dek,’ sautnya Yanie. ”Kita aken senantiasa harep-harep kaeo punya kunjungan di sana.“

Marika telah lanjutken percakepannya dengan asik sahingga sampe jau malem.

Paginya jam 7 marika sudah berada di Alunalun dan mengadang bus yang aken bawak Yanie dan ibunya ka Parakan.

Yanie cuma bawak Ilem saja dan tinggalken Kasimin buat melayanin Yanta yang tida mau pindah ka laen rumah.

Kapan itu bus telah bawak linyap Yanie dan ibunya, Yanta rasaken bahua sumangetnya telah linyap.

Begitulah Yanta kemudian masuk sekolah de-ngen pikiran limbung.

Kapan jam 1 telah sampe dan Yanta pulang dari sekolahan, ia membayangken bahua Yanie biasa menyambut iapunya kedadangan di depan rumah. Tapi sekarang kapan ia sampe di itu rumah, bu-kan lagi Yanie yang cantik menyambut iapunya pulang itu, hanya....... Kasimin yang sambut dan lalu pegang itu fiets yang barusan ia tungga-ngin

Driyanta dengen tindakan lesu lalu masuk ka dalem rumah dan bantingken dirinya atas satu korsi, lamunken pikirannya dan membayangken itu ampat bulan tempo yang sanget menggumbiraken kepadanya.

Itu ampat bulan adalah tempo mas yang ia telah dapetken. Biasanya kalu ia pulang dari sekolahan, ia dapat sambutan yang manis dari Yanie dan ka-pan ia pulang dari sekolahan, rumah yang ia aken masukin itu tertampaknya mengluarken sinar mas, begitu hidup dan bersumanget. Tapi seka-rang........... rumah ini mendadak begini sunyi dan mati.

“Kenapa ini rumah dalem brapa jam saja bi-sa berbalik begini macem?” Yanta menggerendeng sendirian. “Brapa jam yang lalu, ini rumah ma-sih kliaitan hidup; tapi sekarang......... rumah ini berubah sebagai rumah mait!”

Yanta lalu masuk ka dalem kamarnya, zonder ganti pakean luar, ia baringken dirinya atas pem- baringan, layangken pikirannya pada itu kemani-san-kemanisan penghidupan yang telah linyap hingga pikirannya telah kalelep dalem lamunan yang muluk. Tapi yang ia bayangken dan lamunken, tida laen cuma Yanie, bayangken iapunya sujen-sujen yang menggenggeng madu, iapunya mata yang mengember aer kasuycan dan mengumandangken iapunya suara yang saolah-olah lagu dari sorga.

“Yanie, miyn beste Yanie, miyn lieve nikht, sebener-nya aku tida punyaken laen maksud kacuali cuma ingin menjadi sudara,”, Yanta ucapken itu perkata'an-perkata'an dalem hatinya, tida terluap kluar dari mulutnya. “Tapi keada'an telah kasi-ken laen macem perasa'an...........”

Kapan Yanta lagi kalelep dalem lamunannya, mendadak terdenger suara pintu diketok.

“Ya,” Yanta menyaotet dan lalu turun dari pem-baringannya, dengan perasa'an kiraken bahua Yanie telah mengetok pintu. Tapi kapan itu pintu telah terbuka nyatalah buken Yanie, hanya Kasimin yang berdiri di depan pintu.

“Ada apa, Min?” Yanta menanyak dengen ku-rang seneng.

“Sekarang sudah liwat jam 2 dan sampean belon makan, ‘dara’,” sautnya Kasimin.

Dengan ogah-ogahan kepaksa Yanta samperin meja makan dan makan itu hidangan dengan zon-der perasa'an. Ia coba bayangken bahua ia lagi bersantap bersam-sama Yanie dan ibunya, ia bayangken bahua Yanie lagi duduk berhadapan pa-danya, sama-sama dahar dan sembari sedikit ber-janda. Tapi bayangan itu cuma buat sakeja- pan saja, cuma buat sesa'at dan sabentar lantas linyap.

“Sampean tertampak tida sebagi sari-sarinya, ‘ndara?” Kasmin kepaksa menanyak kutika meliat juragannya muda dalem itu keada'an.

“Ya, Min, sebab dalem tempo tuju jam saja ini rumah telah bisa berobah begini macem,” sautnya Yanta dengen suara pelan. “Tuju jam yang lalu, ini rumah ada sebagi satu astana mas yang bergumilang sinarken cahya mas. Tapi tu-ju jam kemudian rumah telah jadi kubu-ran.”

Begitulah Yanta yang tadinya ada satu pamu-da yang gumbira, satu sportman yang bersuma-nget, sekarang telah tertampak lesu dan ilang su-manget.

Kasmin mengerti tentu tuannya ada jato rin-du pada sang ‘den-ajeng.

Kapan Yanta dalem itu keada'an, adalah Yanie dan ibunya telah sampe di Wanasaba dengen tida kurang sutu apa. Yanie punya sala-satoo familie yang pernah paman (oom) telah menyambut mar-rika punya kedatengan dan lalu bawak ka itu rumah di kampung yang telah disediaken buat tempat tinggalnya Yanie dan ibunya.

Hawanya Wanasaba ada sanget sejuk dan dingin, hingga maski siang hari R. A. Cakra, yang biasa tinggal di tempat panas, merasa kedinginan.

Esuknya, satelah dateng menghadep di Kawedanan dan Kabupaten, Yanie kemudian di'ijinKen buat memolai pangku jabatannya.

Dalem pakerja'annya itu Yanie merasa gumbira kerna dihormat oleh temen-temen bekerjanya dan disukain oleh sekalian murid-muridnya.

Tempat yang didiamin oleh Yanie dan ibunya, yalah Wanasaba dari tanah pagunungen Dieng yang berhawa sejuk dan mempunyain banyak pe-mandengan natuur yang indah serta pun banyak terdapat candi-candi tetinggalan jaman kuno, sunggu ada menyocokin dengan perasa'annya Yanie yang alus dan romantiskh.

Yanie merasa krasan tinggal di kediamannya yang baru, maski saben-saben ia merasa kesian pada Yanta, yang baru brapa bulan saja bercampur kamudian telah saling berpisah.

Pada suatu sore, sang magerip aken menda-tengin dan Yanie lagi duduk di pekarangan de-pan buat tungkulin iapunya taneman kembang-kembang satu auto telah brenti di depan rumah-nya, dalem kandaran mana ada kliatan turun sa-orang yang kurus. Yanie awasin padanya dengan mata tida berkesip.

Itu lelaki satelah turun dari itu auto lalu masuk ka dalem itu pekarangan, siapa pun ter-tampak merasa heran kerna itu gadis cuma me-ngawasin saja dan tinggal bungkem.

“Mbak-yu Yanie.............!” berseruh itu lelaki dengen tida lampias.

“Oh, kau............... ‘dek Yanta!!” berseru Yanie. “Kau telah berobah banyak sekali! Aku kira kau ada saorang tua dari laen tempat yang kesasar ke-mari!”

Ibunya Yanie pun sigra tertampak kluar. Ini orang tua pun merasa sanget heran meliat Yant-a yang dulunya gagah sekarang tertampak layu dan pipinya kempot saolah-olah saorang tua.

“Anakku,” katanya R. A. Cakra, “kenapa kau berubah begini rupa? Adakah kau mendapat sa-kit dan sakit apa?”

“Anakda tida sakit, bibi,” sautnya Yanta dan ti-da lanjutken ucapannya.

Yanie dan ibunya tida banyak kata lagi kerna menampak bahu itu kutika romannya Yanta ter-tampak sanget sedih.

Satelah berduduk Yanta kemudian lalu kluar-ken itu telegram yang ia barusan trima dari Rem-bang dan trimaken kepada Yanie.

Yanie trima itu angsuran dan baca, kemudian ia kata: “Oh, kau punya ayah sakit keras. Sakit apakah itu? Tentunya kau lantas pulang ka Rembang, ‘dek?’”

“Ya, ‘mbak-yu, dan kalu kau bersama ibu su-ka, aku aken ajak bersama-sama ka sana.”

Yanie tundukin kepalanya dan memikir, kemu-dian kata: “Kalu ibu tida keberatan, aku pun kepingin bisa sambangin Oom.”

“Kalu Yanie mau, ibu sendiri pun tida kebera-tan buat ikut,” kamudian R. A. Cakra berkata. “Dan kapan aken brangkat, anakku?”

“Sekarang juga, ‘bu,” sautnya Yanta.

“Eh, kenapa begini kliwat kesusu. Kau tokh musti makan dulu?”

“Betul, ‘bu. Sedari tadi memang aku belon tengak satetes aer dan pun belon telen sabiji nasi.”

R. A. Cakra lalu suru Ilem sediaken makanan, samentara Yanie dan ibunya pergi ganti pakean.

Marika lalu sama-sama duduk dahar. Satelah mana Yanie lalu membuat sapucuk surat buat minta verlof brapa hari kepada ‘t Hoofd der Skhool.

Belon itu surat selesai ditulis, dengan kebetelan kepala dari itu sekolah mertamu ka situ. Maka sigralah Yanie menyataken iapunya kainginan minta verlof, kerna perlu menyambangin paman- nya yang lagi sakit keras. Kepala sekolahan itu lu-lusken perminta'annya Yanie.

Begitulah pada itu malem marika bertiga de- ngen menumpang itu auto telah lakuken itu perjalanan yang jau, menyelesep di dalem lim- putannya sang malem dan serangannya ujan yang menuang serta gledek yang menyamber kean-ke- mari. Yanie dan ibunya tinggal menjublek kerna sanget kwatirken itu keada'an. Yanta pun ting- gal bungkem, tapi bukan pikirin heibatnya itu ujan dan gledek, hanya pikirannya melayang-la- yang tida karuan.

Tiba-tiba sampe di Kledung itu auto telah mendapat kepecahan band, maka di bawah serangan- nya itu ujan lebat, Yanta yang sudah tida sabar- ran, bantu membetulken itu kerusakan.

Kemudian kapan sang malem jadi siang dan sang siang berbalik jadi malem pula, itu auto te- lah bisa sampe di Rembang dengen tida kurang suatu apa. Di rumah Yanta tertampak terang dan brapa orang ada kliatan berdudukan di situ.

Yanta sigra tulung Yanie dan ibunya turun dari itu kandaran, kemudian dengen terburu- buru ia menyamperin kamar ayahnya. Sampe di pintu, kebetulan telah berpapasan dengen dokter yang rupanya baru kluar memreksa si sakit.

“Kalem saja, Yanta,” katanya itu dokter, Dr. Swita, yang masih terkenak familie dengen ayah- nya Yanta.

“Bagimana sakinya ayahkoc, dokter?” Yanta me- nanyak.

“Yanta, jangan banyak kwatir, sabar dan tawa- kal kepada Tuhan, dan biarlah Tuhan nanti mem- berkahi iapunya penghidupan. Marilah tengok pa- danya”.

Marika lalu masuk ka dalem itu kamar. Yanta sanget terkejut kutika menampak tubuh ayah- nya begitu kurus, mukanya pucet dan cekong, terletak atas pembaringannya seolah-olah mait de- ngen matanya tertuut.

Sampe brapa sa'at Yanta tinggal diam kecucali awasin keada'annya sang ayah dengen penuh ke- kwatiran.

Tiba-tiba matanya si sakit yang tadinya tertu- tup sekarang telah terbuka dan mata itu agak- nya bersinar kutika meliat Yanta telah berada di depannya.

“Yanta, kaeo dateng...........” katanya itu ayah de- ngen suara serak dan pelan seraya melambaiken tangannya.

Yanta lalu mendeketin memeluk tubuh ayah- nya.

Yanie dan ibunya yang masuk dalem itu kamar, meliat itu pemandengan, hatinya pun merasa ant- cur terharu dan tahan suara tangisannya, tru- tama Yanie, sebab sa'at itu ia pun inget pada ayah- nya sendiri yang telah marhum.

“Ayunda,” katanya si sakit kutika meliat R. A. Cakra masuk ka dalem situ, “adinda merasa sen- neng sekali, maski pun dinda musti tinggalken....... Yanta....... yang aken hideop sebatang karang.” R. Cakrasaputra brentiken ucapannya buat lam- piasken tarikannya iapunya napas yang sesek. “Te- tapi dinda percaya,“ begitulah ia lanjutken dengan suara serak, ”ayunda....... aken lindungin dan anggep Yanta........... sebagai anak sendiri...........“

“Dinda, janganlah banyak-banyak kau pikir,” menghibur R. A. Cakra. “Allah nanti memberkahin kaeo buat lantas sembuh.”

Tapi R. Cakrasaputra sudah tida inget dirinya lagi. Thabib sigra membri pertulungan dengen kasiken inyectie dan marika yang berada di situ pada menangis jejeritan.

Akhirnya brapa sa'at lagi si sakit itu kliatan melekin matanya lagi, tapi sinar matanya bertambah gurem. Dengen matanya yang cowong ia awasin Yanta dan kemudian pandeng Yanie.

“Malaekat telah dateng, Yanta, dan....... ibumu............ telah menyambut, rama kaeo tida lama........ Hiduplah yang rukut kepada....... Yanie. Slamet tinggal....... semua........” katanya R. Cakrasaputra dengan suara terputus-putus dan tida lampias dan ucapan-ucapan ini adalah iapunya suara yang pengabisan, kerna brapa sa'at lagi ia lalu tarik napasnya yang pengabisan atawa tutup matanya buat selamanya.

Suara tetangisan yang riuh lalu terdenger berkumandang di itu ruangan, hingga sekalian te-tangga lantas pada dateng menengok dan pada menjagong buat menunggu datengnyia siang.

Esuk harinya, mait itu satelah dimandi'in dan di slametin, lalu dibawak ka kubur dengen upacara sebagi orang berpangkat. Banyak sekali orang dari banyak golongan telah menganterken itu jinasat ka kuburan.

Kapan itu mait telah diletaken di lobang kubur dan telah didoanin, Yanta lalu berpridato mengucapken iapunya banyak trima kasih atas kecinta'an sekalian penganter-penganter yang telah anterken dan memikul layon ayahnya sahingga di lobang kubur dengen tida kurang sasuatu apa, pun ia memudiyken biarlah rokh dari yang telah meninggal ini dunia yang fana nanti memberkahin pada marika sekalian.

Wedana yang ikut manganter sampe di itu kuburan lalu membales itu pridato. Dengen panjang lebar itu ambtenaar menbentang jasa-jasanya R. Cakrasaputra terhadep kota Rembang, kerna, kerna ia banyak menunjang perkumpulan-perkumpulan amal dan banyak campur urusan sociaal dari kediamannya.

Pridato itu kemudian lalu disambut oleh brapa ketua dari brapa perkumpulan-perkumpulan amal di itu kota yang merasa banyak berutang budi pada yang telah meninggal.

Begitulah suara-suara pujian yang mengha-ruken dan pernyata'an ikut berduka dari sekalian yang manganter telah terdenger berkumandang di itu tanah pekoaburan.

Satelah itu upacara selesai, marika lalu pada bubaran.

Buat apa hidup?


III

ANEM bulan telah berselang. Dalem sepanjang itu tempo telah banyak perobahan atas penghidupannya Yanta dan Yanie.

Sedari ayahnya meninggal dan satelah anterken Yanie serta ibunya pulang, Yanta telah jato sakit, tida bisa masuk sekolah dan musti tinggal di Rembang.

Oleh kerna sampe sakit sampe sebegitu lama dan belon sembuh, Yanie lalu mengasi usul supaya Yanta tetirah di Wanasaba yang nyaman hawanya.

Yanta yang sudah tida betah tinggal di Rembang trima baek itu usul.

Begitulah Yanta lalu pasrahken urusan perusahan dari ayahnya pada sala-satu familienya, Sudarga, saorang pamuda kluaran dari Handelskhool. Kemudian brangkatlah Yanta ka itu tanah pagunungan.

Mendapat isep hawa yang sejuk dari itu tanah pagunungan dan mendapat rawatan dan perhatian yang baek dari Yanie serta ibunya, sabulan saja berdiam di itu tempat, Yanta telah mendapat kasembuhan.

Akhirnya kerna merasa badan sudah kuat, Yanta nyataken aken kombali ka Jokya buat tempuh lagi plajarannya yang telah ditelantarken sakean lama. Dan sebelonnya ia tinggalken Wanasaba, Yanie dan Yanta telah ambil tempo di digunaken buat jalan-jalan di Kalianget, buat mendapat hawa yang lebih sejuk dan buat hiburken hatinyga dengan memandeng pemandangan alam yang indah. Menampak itu pemandangan alam yang can- tik, Yanta duduk termenung, pikirannya dibawak melayang oleh perasa'annya yang muluk, yang romantiskh. Tapi akhirnya ia tida sanggup membiarkan hatinya terbawak anyut oleh perasa'annya itu, maka aer-mata lalu kliatan mengembeng di kadua matanya. Apalagi kutika ia menyaksiken itu gunung Sindoro dan Sumbering yang setau sudah brapa laksa taun telah senantiasa berjejer sebagai sepasang merpati yang lagi liwat hari-harinya yang romantiskh. Yanie yang lagi memandeng dengen tida bosennya pada itu sepasang gunung, tida mengatauin bahua kawan di sampingnyia lagi menepas aer-mata. Dengen tida menoleh pada Yanta, Yanie jawil pundaknya sang kawan dan kata: “Yanta, liatlah, itu gunung ada sebagi satu pasangan yang tida pernah berpisah. Marika itu sunggu merupaken satu pemandangan yang indah. Cuma sayang gunung Sindoro tertampak lagi bersedih, kerna di brapa bagian dialingin mega.”

Mendenger itu occapan, Yanta seperti tertusuk hatinya. Sigra ia lalu menjawab: “Ya, Sindoro ikut bersedih kerna aku dalem kesedihan.”

Kerna kluarnya Yanta punya suara ada tergeeter, Yanie lalu menengok. Ia rada terkejut kutika menampak bahua sepasang matanya Yanta telah melelehenk aer-mata.

“Yanta, adekku,” katanya Yanie dengen suara terharu, “kenapa kaeo selalu tertampak berduka cita? Kalu senantiasa demikian, tentu kaeo tida bisa melanjutken kaeo punya plajaran. Betul sekali, seorang anak ditinggal mati oleh orang tua harus bersedih. Tapi tidalah kasedihan itu dilandut-lanjutken. Kaeo masih mudah, masih sedengnya harus menempuh kemajuan........”

“Kau punya semua ucapan ada betul, miyn nikht,” sautnya Yanta dengen suara tergeter. “Ka-ilangan ayah-bonda, memang tida harus senantiasa diseselken, sebab itu ada satu kemustian, kalu tida sekarang adalah besuk. Aken tetapi kau tida tau, Yanie............”

Yanie awasken Yanta dengen mata yang sorotken sinar pertanyakan, kemudian berkata: “Apa yang kau mau artiken, Yanta, miyn neef?”

“Isi hatinya Yanta cuma Tuhan yang tau lebih jelas. Yanie, Yanta tida kluarken isinya itu hati dengen berupa perkata'an kerna apa yang dikandung dalem hati itu, ada satu pikiran yang nyasar. Kau ada sanget suci dan kau punya perhatian padaku melebihin satu sudara tua, maski kau punya usia lebih muda, kerna menurut tingkatan familie kau berada di susunan sebagai sudara tua. Tapi........” Yanta tida dapat lanjutken ucappennya dan lalu tunduken kepalanya. Sesa'at kemudian baru ia bisa lanjutken ucapan-nya: “Tetapi aku kepingin memangil kau............... adinda, andindaku yang tercinta............‘

Yanie tercenggang mendenger itu perkata'an. Sampe brapa sa'at itu gadis tida bisa ucapken itu perkata'an.

Meliat Yanie tinggal diam, Yanta lalu pegang tangannya Yanie, itu tangan yang dingin dan berkri- nget.

“Kenapa kau diam? Bilanglah, Yanie adakah hati kau masih merdika atawakah telah terisi oleh laen hati?” kemudian Yanta menanyak.

“Yanta........” kemudian Yanie berkata dengen suara gumeter. “Aku tida nyana aken menerima kau punya pernyata'an yang begini macem, aku tida sangka...........”

“Ma'afkenlah, Yanie. Perasa'an itu aku sudah tida dapet menahan lagi buat simpen lebih lama lama lagi. Adakah kau tida seneng dan menolak itu pernyata'an? Oh, Yanie, bagimanakah artinya ku punya hidup nanti!”

“Kau tida perlu bersedih hati, Yanta. Berjang-jilah bahua kau aken blajar dengen sunggu-sunggu dan aken perbaekin kau punya kesehatan...........”

“Apa perlunya aku blajar lebih giat. Yanie, kau aku menampak bahua aku tida mempunyain bayangan suatu apa buat kahidupanku hari nanti?”

“Yanie awasin Yanta dengen terharu dan penuh perasa'an kesian.

“Kau tida usah berkwatir, Yanta, Tuhan nanti kurniain kau........”

“Kurniain aku dengen kau punya........ cinta, Yanie?” katanya Yanta dengen hati berdebaran dan sambil remes-remes dengen pelahan jari-jari tangannya Yanie yang mungil. “Bilanglah, Yanie, aku aken buat selamanya buang itu sebutan ‘mbak-ayu pada kau, hanya aku aken bahasaken kau ’dindaku yang tercinta?‘.”

Yanie sembunyiken senyumannya dengen menoleh ka samping. Kamudian ia kata: “Yanta, jangan kau berjanda. Marilah sekarang kita pulang. Kita sudah lama kluar dari rumah, kwatir nanti dimarahin oleh ibu.”

Begitulah dengen mulut bungkem, tapi di hati masing-masing penuh dengen lukisan perkata-

‘an-perkata'an yang muluk, marika lalu pada brangkat pulang.

Itu sa'at udara mendadak dilimputin mendung dan tida brapa lama ujan lalu turun menuang atas bumi.

Yanta kepaksa kasiken iapunya baju jas yang tebel buat dipake oleh Yanie dan kemudian pimpin itu gadis buat mencari teduhan di satu cuperan dari satu gubuk.

Inilah ada satu sa'at yang Yanta tida aken lupaken.

Sukur marika tida berdiam lama di situ, kerna tida brapa lama ada mendatengin satu taxie kosong dari jerusan Garung. Marika brentiken itu taxie dan lalu pulang ka rumah dengen menumpang itu kendaraan.

Ibunya Yanie telah tungguin marika punya kedatengan dengen penuh kekwatiran.

Sajiek itu sa'at Yanta saolah-olah mendapat tenaga kahidupan yang baru hingga ia berbesar hati buat menempuh plajaran dan samurnaken penghidupannya, kerna ia mendapat bayangan bahua hidupnya nanti aken penuh dengen madu.

Begitulah marika telah liwatken itu tempo yang pendek dengen penuh kemanisan.

Yanta lalu tinggalken Wanasaba dan pergi ka Jokya buat buru itu plajaran yang ia telah tinggalken begitu jau.


IV

YANTA akhirnya telah bisa lulus dari A M.S. dengen pujian baek. Dengen sambil gondol itu diploma, itu pamuda lalu dateng di Wanasa-ba, ketemuin itu gadis yang jadi iapunya kenang-kenangan.

“Yanie,” katanya Yanta sambil genggem jari-jari tangannya Yanie yang lancip mungil, “aku telah lulus dari A. M. S. Tapi ini masih belon memuasken hatiku. Buat guna kau, aku kepingin jadi seorang laen. Aku aken menerusken plajaranku ka G. H. S.”

Yanie ada saorang gadis Timur yang alus perasa'an dan budi pakertinya. Ia tida bisa luapken perasa'annya dengen berupa pralaku, tida bisa unjuken iapunya rasa cinta dengen perkata'an-perkata'an yang muluk, kacuali cuma dengen iapunya sinar mata yang mengandung artian yang suci, yang dalem dan yang tida sembarang bisa diajakkin.

Begitulah, guna menuntut plajarannya lebih jau dan buat menyambung cita-citanya, Yanta telah tinggal di Batavia.

Maski terpisah ratusan kilometer, tapi perpisa-han itu tida dianggep jau, kerna boleh dibilang ampir saben minggu antara Yanta dan Yanie sering surat menyurat.

Yanie punya penghidupan pun dapet banyak perobahan. Ia bersama ibunya dalem hidup seneng, gumbira dan tida kekurangan. Terutama bagi Yanie, kerna dalem hatinya ada terisi Yanta punya bayangan, Yanta punya sumanget, gadis itu rasa- ken bahua hidupnya telah mendapat kurnia'an yang tinggi dari Sorga. Yanta berada di tempat yang jau, tapi dianggepnya ia itu senantiasa berada di dampingnya, kerna itu jejaka yang cakep punya bayangan senantiasa berada dalem hatinya itu gadis.

Aken tetapi, dua taun kemudian, keada'an yang begitu macem telah berobah banyak. Sekarang Yanta jarang sekali surat menyurat pada Yanie, kalu telah ditegor, Yanta membales bahua sanget repot dengan plajarannya, dibalesnya dengen barisan-barisan perkata'an yang pendek saja.

Kemudian Yanie telah mendapat laen kasusahan. Ibunya yang dicinta telah jato sakit. Sudah dua kali Yanie menulis surat pada Yanta, membertauken tentang sakit ibunya. Tapi dari Yanta tida mendapat balesan apa-apa. Kamudian kapan ditegor, jejaka itu membales bahua ia pudiyken itu ibu lekas sembuh, sementara ia tida bisa dateng menyambangin kerna kerepotan dengen plajarannya.

Sakit ibunya Yanie makin lama makin keras, sahingga tida suka makan lagi. Siang dan malem terus terlentang atas pembaringan dan pun bra-pa kali telah pangsan.

Setiap pulang dari pakerja'an, Yanie tentu menungguin ibunya, kadang-kadang ia sendiri sampe lupa makan, kerna memikirken sakit ibunya yang dicinta.

Kapan thabib yang merawat memreksa keadaaan ibunya ditanyak oleh Yanie, ia cuma menjawab: “Manusia punya bisa, tapi Allah punya kwasa. Aku aken berdaya buat bikin sembuh sakitnya kau punya ibu.”

Kerna menilik sakit ibunya tambah berat, Yanie sigra kirim telegram kepada Yanta di Batavia, me-wartaken tentang sakit yang berat dari ibunya serta minta ia dateng di Wanasaba.

Pada hari Saptu sore, selagi Yanie menungguin ibunya, ia itung jam bahua sore itu tentelah Yanta aken sampe. Tetapi ditunggu-tunggu sampe petang, tida saorang pun ada dateng.

Meliat putrinya termenung-menung, tiba-tiba ibunya melekin matanya dan kata: “Yanie, anakku, taukah kau aken sakit ibumu?”

“Ibu, jangalah banyak memikirken tentang sakit kau. Pertayalah kau sakit tentu cuma sebab sedikit kurang kuat badan.”

“Tida, Yanie. Marilah aku ceritaken di sini, du-duklah deketku,” itu ibu kata lebih jau dengen suara tida lampias. “Yanie, letaken tanganmu atas dada ibu. Terasakah dadaku panas?” Ia brentiken ucapannya sabentaran, kamudian lanjutken pula: “Oh, Yanie, ibu sakit kerna banyak memikirken........... halmu........”

“Ibu, jangalah banyak memikirken halku. Bersenengkenlah hatimu, anakmu tida kenapa-kenapa.”

“Tida, anaku, ibu kepingin ikut memikul kau punya segala kesusahan hati. Tapi, maski pun ibu coba melawan dengen kekerasan hati, buat senantiasa bercoba tida aken tinggalken kau, tapi nasib, oh....... Yanie, bagimana hidup kau nanti apabila zonder ibu...........?”

“Tida, ibu, Tuhan nanti berkahin kau........”

“Tida, Yanie, itu ada harepan kosong, kerna ibumu punya keada'an telah begini rupa. Maka itu ibu ingin tinggalken sedikit pesenan. Buat kau bisa terlepas dari kesusahanmu, tida ada laen jalan, anakku, kecuari....... lupakenlah pada Yanta.“

Yanie tepas aer-matanya kutika denger ucapan-nya sang ibu itu. Ia tida bisa menjawab itu pertanyakan, kerna ia pun belon dapet menjawab pertanyakan yang terbit dari hatinya sendiri. Adakah ia bisa lupaken Yanta?

Sesa'at itu mendadak pintu telah terpentang dengan plahan dan saorang pamuda yang gagah dan cakep telah masuk ka dalem itu kamar seraya kata: “Ma'afkenlah, ibu dan adek Yanie, aku ma-suk dengen tida meminta ijin lebih dulo.”

“Ya, ‘nak Sunjata,” sautnya R. A. Cakra dengan suara lemah, “kau tida perlu memake banyak peradatan. Kau punya dateng ada kebetulan sekali, Sun.”

“Ya, dan muhun ibu tida kecil hati. Sebab ber-pergian ka Surabaia dan Semarang, baru sekarang aku bisa sambangin kau, ibu,” Sunjata kata pula.

“Kedatengan kau ada sanget menggirangken aku, Sun, dan aku aken bisa meninggalken ini dunia dengen mata merem,” kamuedian R. A. Cakra lanjutken ucapan-nya dengan suara lemah. “Kalu aku sudah tida ada, berjanjilah, Sun, bahua kau aken menjaga dan lindungin ademu sebagi satu sudara tua. Dan selidikinlah halnyia Yanta, bagimanakah keada'annya pada sekarang ini...........”

“Ya, ibu, segala kau punya perkata'an aken aku perhatiken........” sautnya Sunjata dengen terharu.

Begitulah semaleman itu Yanie dan Sunjata telah gadangin si sakit. Kira deket jam 6 pagi, ibunya minta minum. Satelah dikasi minum, ibu itu mengawasin Yanie dengen penuh perasa'an kesian kemudian meremin matanya—tutup matanya buat selamanya.

Yanie menjerit dan lalu tida inget diri, hingga Sunjata jadi tergupuh-gupuh menulung si gadis dibawak ka kamarnya sendiri.

Meninggalna sang ibu ada berarti satu puku-lan sanget heibat bagt Yanie yang telah patah hati, makalah kerna tida sanggup memikul itu kesedihan yang seolah-olah satu gunung telah menimpah lapangan hatinya. Sajek itu keada'an ke-skhatannya Yanie ada sanget berbahaya, hingga atas advies dokter kepaksa Sunjata bawk Yanie ka kamar sakit. Sementara Sunjata balik ka Sema-rang buat melakuken pakerja'an, cuma pada saben minggu ia dateng sambangin Yanie. Sunjata sanget kwatir kerna keada'annya Yanie tida tambah baek, hanya paras mukanya tertampak bertambah ciowong.

Ada sanget kebetulan sekali, itu tempo Sunjata telah dipindah ka Wanasaba buat menggan-tiken pangkat Mantri Politie yang kebetulan lowong.

Dengen perpindahannya di itu tempat, lantaslah bikin Sunjata laluasa buat menyambangin dan hiburin Yanie, siapa plahan-plahan akhirnya telah mendapat kesembuhan, tapi bukan sembuh seba-gi sedia kala, hanya Yanie punya tubuh tertampak sanget kurus dan kecantikannya cuma tinggal sebagian saja, iapunya senyuman dan sujen-sujen yang manis ampir tida pernah tertampak lagi. Kalu tida Sunjata yang sering dateng sambangin dan hiburin dirinya, setau bagimana Yanie rasaken arti hidupnya.

Satelah rasaken tubuhnya rada bertenaga, Yanie lalu laokuken pula pekerja'annya mengajar dan buat samentara cuma sampe jam 10 sampe jam 11. Dengan melakuken pekerja'annya pula, ia dapet juga sedikit hiburan, kerna kapan bra-pa murid-muridnya ada yang berlaku lucu, ia bisa juga tertawa sedikit.

Pada Sunjata yang baek budi, Yanie merasa utang budi bukan sedikit.

Sunjata maski jato cinta padanya, tapi ia tida mau kentarakken, kerna ia tau bahua lapangan hatinya Yanie masih terisi oleh laen bayangan dan ia tida mau memaksa atawa merusak perasa'an-nya itu gadis. Maka kapan mengunjungi Yanie, ia berlaku tida lebih cuma sebagi sudara saja, maski sebenernya ia kepingin peseot itu aer-mata yang sering mengembeng di kedua matanya Yanie. Tida, ia tida aken berbuat yang egoistiskh. Ia aken cari Yanta dan bawak ka hadepannya Yanie, maski pun sebenernya ia tida ingin Yanie dipunyaken oleh laen lelaki.

Setengah taun kemudian kapan Sunjata dapet verlof, ia ingin gunaken buat pergi ka Batavia. Begitulah itu sore ia lalu ketemuin Yanie buat nyataken maksudnya.

“Yanie, adeku,” katanya Sunjata, “aku mendapat verlof dan aku aken gunaken tempo itu buat pergi ka Betawie............”

Denger itu ucapan “Betawie”, parasnya Yanie tertampak berobah merah.

“Kau aken titip apa, adek,” kamudian Sunjata kata pula.

“Aku tida tau apa yang aku harus titip pada kau, mas.......,” sautnya Yanie dengen kurang terlampias. “Maka aku paserah pada kau saja, apa yang kaeo aken oleh-olehken buat aku.”

“Masa kaeo tida ada laen keperluan. Ingetlah, kaeo tida perlu sungkan kepadaku, sebab aku senantiasa sediaken tenagaku gunamu.”

Yanie tundukin kepalanya dan berpikir.

“Ya, kanda, kalu kaeo telah sampe di sana, sukalah kaeo kunjungin...........” katanya Yanie dan kemudian tida bisa lanjutken ucapannya kerna tenggorokannya seperti terkancing.

Sunjata awasin padanya dengen penuh perasa'an kesian, kemudian kata sebagi menyambungin ucapannya Yanie yang tida dapet terlampias: “Ka Yanta.............?”

Aer-mata kliatan meleleh di kedua matanya Yanie.

“Kau telah dapet baca isi hatiku, mas,” kata-nya. “Sabener-benernya aku harus marah, harus benci kepada Yanta, kerna ia suda tida ada harga buat aku pikirin lebih jau. Tapi dengen cara bagimana aku bisa membenci ia dan bisa marah kepadanya, kerna aku tida punyaken kemampuan buat lupaken padanya...........” Yanie tutup mukanya buat sembuniken mengalirnya iapunya aer-mata.

Sunjata hatinya mencelos kutika menampak itu pemandangan.

“Kalu kaeo ka sana, sudilah kaeo cari dan mampir padanya,” kamudian Yanie berkata. “Kalu tida bisa ketemu, cukup dengen iapunya kabar saja.“

“Ya, Yanie,” Sautnya Sunjata, “janganlah kwaitir. Aku nanti cari ia, kalu bisa bawak ia dateng kemari, dan kalu tida, aku nanti bawak kabar tentang ia.”

“Kapankah kau aken pergi, kanda?” “Esuk pagi-pagi kau aken brangkat.” Sunjata kamudian berlalu dari situ dengen perasa'an sanget kesian pada Yanie yang kurang bruntung.

Yanie kamudian merasa menyesel kerna ia merasa rada kurang aturan, tatkala Sunjata berlalu, ia tida ucapken trima dan pun tida haturken slamet jalan. Kerna mana Yanie lalu tulis sapucuk surat dan suruan bujangnyia anterken kepada Sujata dengen mana ia haturken slamet jalan berserta trima kasinya.

Sujata itu ada satu pamuda cakep kluaran dari Osvia dan sekarang menjabat pangkat Mantri Politie di Wanasaba. Pengawakannya tinggi tegep, matanya celi dan kulitinya ‘nyawo mateng’ (nembaga). Suaranya menyenengken telingga, antep tapi ulem. Iapunya tabeat ada pendiam dan agung.

Pada Yanie ia itu masih terkenak familie. Di tempat kediemannya yang baru, Wanasaba, Sunjata itu sebagi Mantri Politie sanget dicin- ta oleh penduduk dan disungkanin oleh kawanan penjahat.

Sunjata itu terhadep kaum penjahat ada berlaku sanget keras. Ia sanget gemar menangkep penjahat-penjahat, tapi ia pun sanget suka menasehatken dan membri pitutur-pitutur yang baek pada itu orang-orang jahat yang berdosa, hingga maski marika itu kena tertangkep dan kena terhukum, tapi iaorang tida merasa penasaran, malah menghaturken trima kasinya itu mantri yang telah bagiken banyak pitua-pitua yang becik.

Begitulah, bukan saja terkenal sebagi satu ambtenaar yang keras pegang kewajiban, tapi Sunjata pun ada terkenal satu pemimpin yang budiman.

Sujata itu ada sanget tertarik, kesengsem, sanget cinta kepada Yanie yang cantik, lemah lembut dan manis budi. Tapi iapunya kecinta'an itu lebih suci dan lebih agung dari apa yang dibilang cinta. Iapunya cinta itu, kalu diupamaken cuaca, adalah cuaca pagi dari musim semi, terang, sejuk dan tenang. Atawa kalu diupamaken kebeningan, cintanya itu laksana aer dari telaga tanah padas, putih, seger dan jernih, be- ning, hingga tertampak nyata yang jadi dasarnya.

Besarnya iapunya cinta tida bisa diukur. Tapi ia tida aken nyataken itu di depannya Yanie, kerna ia tau bahua Yanie itu telah kasiken hatinya di isi oleh laen lelaki.

Sekarang ia merasa berkewajiban buat membi- kin beruntung itu gadis. Dan kebruntungan itu aken didapat oleh itu gadis apabila ia bisa ketemu pada Yanta.

Begitulah, esook paginya itu, masih pagi-pagi sekali, Sunjata lalu tinggalken rumahnya dan menuju ka Betawie, tinggal Yanie yang menanti di rumahnya dengen perasa'an penuh pertanyakan.

Yanie sekarang bukan saja memikirin dirinya yang sebatang karang, tapi pun lebih banyak lagi memikirin dirinya Yanta yang sampe sebegitu lama tida ada kabarnya.

Ia sanget harel-harep Sunjata aken lekas balik, bukan harep-harep kedatengannya Sun, hanya tunggu dengen ampir tida sabaran iapunya kaba- ran. Pasti saja ia aken haturken trima kasihnyia dengen tida ada abisnya kepada Sunjata, kalu saja itu pamuda bisa ketemuken Yanta. Tapi bagimanakah rasa hatinya apabila Sunjata balik de- ngen tangan kosong? Yanie tida dapat menjawab itu pertanyakan kecoiali lalu melelehken sang aer-mata.

Kerna menginget dirinya ada saorang putri Ja- wa, maka ia blajar mutih, makan saja nasih pu- tih dan zonder ikan apa pun, agar apa yang ia angen-angenken, iapunya maksud hati, bisalah mempunain tenaga buat terkabul. Maka, tubuh Yanie itu, kalu dulu montok dan molek, adalah sekarang tertampak kurus kering, layu, seperti puhun di waktu mocsin ketiga. Iapunya sorot mata dulu sebagi sinar rembulan purnama, adal- lah sekarang sinar itu sebagi rembulan yang ke- alingan mendung.

Tapi maski ia dalem keada'an begitu rupa, ia- punya kaeilokan lahir dan batin masih menyeng- semken pada siapa saja.

Boleh dibilang ampir setiap minggu Yanie su- ka pergi ka kuburan dari ibunya sambil membawak kembang. Dan kapan telah berada di sana, ia lantas suka duduk ngelamun, termenung-me- nung sampe sekean jam, dan inilah ada seolah- olah iapunya hiburan.

Pun Yanie tida alpaken iapunya kewajiban pa- da pekerja'annya, begitu juga kewajibannya dalem perkumpulan.

Buat hiburken hatinya yang duka dan yang ter- luka, Yanie suka tulis menulis atawa karang mengarang, yang tentu saja tulis-tulisannya itu bersifat kesedihan melulu.

MAMPIR

Restaurant “DEPOT 7” Kudusan 15—Malang.

Tuan - tuan nanti aken dapet hidangan yang ledzat.


V

KAPAN Sunjata brangkat ka station, hari masih pagi sekali dan hawa amat dingin. Ia naeek pada spoor yang kesatu. Ia duduk dalem itu kreta api yang bawak dirinya dengan pikiran kusut, kerna semalem ia tida dapat tidur, otaknya penuh dengan rupa-rupa impian dan pikiran.

Kapan ia sedikit longoken kepalanya di jendela kreta, ia lalu dapat meliat gunung Sumbing dan Sindara yang berdiri berjejeran sebagai sepasang kemanten baru. Matahari masih belon kluar hanya cuma sedikit dari sedikit telah kluarken cahyanya yang semu merah.

“Oh, gunung Sindara senantiasa bersanding dengan gunung Sumbing,” begitulah Sunjata lalu ngelamunken pikirannya. “Sindara itu boleh diupamaken Yanie yang agung. Tapi siapakah Sumbing, Yanta atawakah Sunjata?”

Kalu pikir sampe di situ, ia lalu merasa jeelus pada Yanta. Tapi kemudian ia bantras sendiri itu perasa'an, kerna dengan itu berarti ia aken perkosa angen-angennya satu gadis yang suci?

Yanie belon menjadi istri dari Yanta, tapi rupanya iapunya kesetia'an pada itu jejaka telah membuktiken lebih dari brapa istri setiawan dirangkep menjadi satu.

“Tida, aku tida harus merusaken kebruntungannya Yanie,” kamudian Sunjata ngelamun lebih jau. “Aku menyinta padanya dengan sege-nep jiwa, tapi hatinya ia telah dikasiken laen orang, inilah ada aku punya nasib badan dan tida haruslah aku merusak kebruntungannya.”

Kapan telah sampe di Betawie, Sunjata tinggal menumpang pada sala-satu familienya.

Esuknya Sunjata lalu pergi ka G. H. S. menanyaken tentang Driyanta pada bebrapa student di situ. Tapi dari marika ia dapet keterangan bahua sudah berselang satu taun Driyanta tida ada ma-suk sekolah lagi dan tida ketauan bagimana kabarnya.

Sunjata berlalu dari situ dengen penuh keheranan. Rupa-rupa pertanyakan lalu mengaduk dalem otaknya. Ke mana Yanta telah pergi dan apa sebabnya ia berlalu dengen zonder kabar?

Itu pemuda lalu pergi ka pondokan yang bekas ditempatin oleh Yanta. Dari tuan-rumahnya itu pondokan Sunjata dapat tau bahua sekarang Driyanta telah pindah di Bandung.

Dengen tida buang banyak tempo lagi Sunjata lalu pergi ka Bandung dan kunjungin pada adres yang diunjuken. Di situ betulah ada bertinggal Driyanta, kerna itu ada rumah....... mer-tuanya Yanta. Tapi Yanta tida berada di rumah, hanya masih berada di Palembang, berdagang di sana.

“Esuk ia dengen istrinya aken turun di Priok,” katanya itu orang tua. “Aku telah trima iapunya surat bahua ia aken dateng kemari.”

Sunjata rada tercenggang kutika denger pe-nuturannya itu orang-tua, kerna semua apa yang dituturken ada di luar iapunya duga'an.

Kapan ditanyak, Sunjata tida kasi yawaban yang betul tentang maksud iapunya kedatengan.

Sunjata-kemudian berpamitan dan buru-buru kombali ka Betawie.

Esuk paginya Sunjata lalu menanti kedatengannya Yanta di pelabuhan.

Kerna itu hari ada kebetulan hari minggu, maka keada'an di pelabuan itu pagi ada amat rame. Itu orang tua yang Sunjata ketemuin di Bandung pun ada terdapat di situ.

“Kau sedeng menanti siapa, ‘nak?’ itu orang tua menanyak pada Sujata.

“Seperti juga kau, bapa, aku pun sedeng menanti Driyanta,” sautnya Sunjata.

Itu prau-prau dari Palembang yang ditung-gu-tunggu akhirnya telah rapet pada pelabuan.

Betul saja, di sala satu prau ada kliatan tu-run Yanta bersama istrinya. Itu orang tua dan Sunjata telah sambut marika punya kedatengan.

Satelah Yanta punya barang-barang bekelan dipreksa, ia dan istrinya lalu dibawak ka rumah familienya Sunjata.

Yanta merasa sanget heran menampak Sunjata memapak di pelabuhan.

Di hadapan banyak orang Yanta tida bisa utara-ken iapunya keheranan. Tapi kapan telah berada di itu rumah familie dan telah berada berdua'an, Yanta lalu kata:

“Meliat kau punya rupa, mas Sun, rupanya ada suatu urusan penting?”

“Tida, hanya cuma sebab aku dapet verlof dan gunaken ini kutika buat jumpahin kau yang lama tida ketemu,” sautnya Sunjata.

“Dan kau pegri sendiriian, tida dengen istrimu?”

“Istri? Kau artiken aku sudah beristri? Sia-pa?”

“Siapa lagi, mas, tentulah dia...........”

“Dia.........?” “...............Yanie.”

“Oh, kau salah duga ‘dek,’ sautnya Sunjata, ”Sunjata masih merdika....... malah aku punya kedatengan sekarang ada atas iapunya kehendakan. Ia kepingin dapet kabar, bagimanakah keada'an kau? Kenapakah lama sekali kau tida ada kabarnya? Aku telah berjanji aken membawak itu kabaran kepadanya. Tapi kabar apakah sekarang aku harus wartaken padanya............?“

Yanta lalu tundukin kepalanya kerna rasaken hatinya seperti mendapet pukulan yang hebat.

“Aku kiraken kau telah menjadi anak mantu-nya R. A. Cakra,” kamudian Yanta berkata de-ngen suara kurang lampias.

“Dan kerna itu kira'an kau lantas menikah pa-da laen prempuan?”

“Tida; bukan begitu saja, mas,” sautnya Yan-ta lebih jau. “Dengerlah, ini bukan satu ceri-ta'an karangan, hanya satu kejadian yang bener.

“Aku punya riwayat perhubongan kepada Yan-nie kau tentu telah mengetaeoin. Aku cintain padanya lebih daripada cinta, begitu pun aku tau bahua ia cintain diriku lebih daripada apa yang aku berbuat.

“Sampe aku menyadi student, kecinta'anku padanya masih berkobar dan menjadiken satu su-manget buat aku menempuh plajaran-plajaran.

“Tapi satu hari na'as telah sampe. Satu hari aku bersama kawanku, Abdurrakhman, telah pergi ka Bandung dengan naek motorfiets. Abdur yang pegang stuur, samentara aku membonceng di blakangnyya.

“Tatkala aken masuk kota Bandung dan di satu simpangan, kita mendapat kecilaka'an hebat. Abdur rupanya kurang awas dan tabrak satu grobak yang lagi brenti di samping itu tikungan. Aku terpental dari itu kandaran dan lantas tida inget diri lagi. Tau-taunya, kapan aku tersedar, aku telah berada di kamar sakit dan dengen layap-layap aku menampak saorang gadis cantik yang tida dikenal berada di depan pembaringanku. Tapi aku tida perhatiken itu sebab aku rasaken kesakitan hebat dan kepalaku amat sakit.

“Brapa hari kemudian, satelah aku punya keada'an rada baakan, aku telah dibri tau bahua Abdurrakhman telah meninggal dunia sakutika terjadi itu kecilaka'an.

“Aku sendiri mendapat patah satu tulang rusuk dan dapet luka di tulang kepala. Satu bulan lebih aku musti tinggal di rumah-sakit Yuliana.

“Ayahnya Abdurrakhman dan putrinya, Zubaenah, telah berlaku sanget baek sekali. Adalah marika yang sering dateng mengunjungin dan membawaken makanan-makanan.

“Satelah aku sembuh, tapi badan masih amat lemah, dokter ijinken aku boleh tinggalken kamar sakit, tapi larang aku masuk sekolah dan harus cukup mengaso sahingga itu luka-luka di tulang kepala sudah baek betul.

“Ayahnya Abdur itu yuma punyaken dua anak, yalah Abdur dan Zubaenah. Kematiannya Abdur itu ada sanget menuseok hatinya. Maka itu ia ada sanget kasih dan sayang kepadaku yang ketelungan dari bahaya maoot.

“Kapan aku di ijinken kluar dari itu kamar sakit, ayahnya Abdur lalu bawak aku ka rumahnya, titahken aku harus turut adviesnya dokter, tida masuk sekolah hanya mengaso di rumahnya itu orang tua yang baek, tinggal di Bandung yang sejuk hawanya...........“ Yanta brentiken penuturannya dan layangken pikirannya pada itu hal-hal heibat yang ia pernah alamken.

“Apa cuma ini saja kaeo punya cerita'an, ‘dek?’ kemudian Sunjata menanyak.

“Belon, mas Sun,” Yanta berkata lebih jau. “Masih ada banyak hal yang aku perlu ceritaken padamu.

“Zubaenah itu kluran dari Van Deventer Skhool dan bukan saja cantik, tapi pun sanget baek dan manis budi. Aku sanget tertarik sekali padanya. Tapi dengen ini bukan lantas aku lupaken pada Yanie.

“Di kamar sakit berkali-kali aku menulis surat kepada Yanie, minta Zunbaenah masuken itu di bus surat. Tapi selalu tida mendapat kabar. Begitu pun sampe aku kluar dari kamar sakit dan bertinggal di rumah ayahnya Abdur, berkali-kali aku tulis dan menanyaken tentang iapunya kabar, tapi selalu tida mendapat balesan dari ia, sahingga aku jadi kesel dan penasaran serta pikirken yang tida-tida, duga tentulah ia telah menikah padamu...........” Sampe di sini Yanta tida lanjutken ucapannya dan tundukin kepalanya, kamudian ia lalu lanjutken penuturannya. “Kemudian kerna itu, aku telah berdosa dan kena goda.

“Zubaenah sedari aku masih dalem kamar sakit telah taro hati, tapi aku selalu berdaya buat simpangken iapunya perhatian dengen kataken bahua aku telah bertunangan pada Yanie yang aku cin- ta segenep nyawa. Tapi perhatiannya Zubaenah ti-da terkurang.

“Tatkala aku pindah di rumah Zubaenah dan menanti-nanti tapi tida mendapat kabar dari Yanie, kerna kesel baaanku yang lemah jadi begitoie lambat buat daptken kesembuhan, hingga Zubaenah setiap hari senantiasa repot merawat dan melade-nin diriku.

“Plahan-plahan aku punya perhatian telah ber-pindah pada Zubaenah dan akhirnya dengen zonder dipikir lagi satu hari aku telah sambut iapunya pernyata'an cinta sehingga aku menikah padanya dan telantarken...........” Yanta tida dapet lanjut-ken ucapannya lebih jau, kerna tenggorokan-nya seperti terkancing.

Sunjata tinggal diam, kerna ia tida tau apa yang musti ditanyaken.

“Sekarang aku merasa sanget berdosa, mas Sun,” kamudian Yanta berkata lebih jau, “yalah sia-siaken kecinta'an dan kesetia'annya Yanie yang suci. Tapi apa dan bagimana aku harus berbuat sekarang? Bagimana aku harus berbuat?”

Kombali Sunjata tida menjawab itu pertanya-kan. Begitu pun Yanta sendiri tida dapat jawab pertanyakan itu, hingga marika berdua lalu pada tinggal menjublek.

“Mas Sun,” kemudian Yanta berkata pula, “ba-gimanakah keada'annya Yanie dan ibunya ini wak-tu?”

“Masya'allah! Masakah kaeo belon tau bahua ibunya Yanie sudah meninggal dunia,” katanya Sunjata dengen penuh keheranan.

“Astaga! Inallilahi wainallilahi rojiun!” Yanta berseruh dengen ampir tida terkluar kerna terta-

YANIE: han di dalem tenggorokannya. “Jadi ibunya Yanie sudah meninggal? Kapan?” “Berapa bulan berselang.” “Oh, Allah, kesian si Yanie, ia harus hidup se-batang karang dan hidup.......... dihianatin oleh se-orang yang ia cintain. Bagimana, mas Sun, bagi-mana aku harus berbuat? Adakah aku harus meminta am pun padanya dan perbaekin pri kehi-dupan dan kesetia'annya yang terusak?” “Adek Yanta, jangnalah kaeo berpikir dengen gampang. Ingetlah, kaeo telah beristri dan lagi is-tri kaeo itu sedeng mengandung. Bagimana rasa-nya iapunya hati apabila mengetauin bahua sua-minya hatinya sekarang telah aken bercabang........” “Ya, mas Sun. Dan ceritakenlah bagimana kea-da'annya Yanie ini waktu?” “Oh, Yanie ada sanget tersengsara, layu ibarat kembang yang sia-sia menanti menetesnya sang em-bun dan terbitnya sang matahari pagi yang sejuk. Ibunya meninggal pun kerna memikirin keada'an putrinya.” begitulah Sunjata lalu menutur. “Yanie telah jadi puties pengharepan kerna tida mendapat kabar suatu apa tentang diri kaeo. Ya-nie punye keada'an jadi semangkin heibat tatka-la ibunya telah meninggal hingga aku menaro ke-kwatiran besar atas keada'an dirinya, tapi aku tida bisa berbuat banyak, kerna itu waktu aku masih bekerja di Semarang dan cuma tempo-2 saja bisa kunjungin Yanie. Tapi kemudian satelah dengen kebetulan aku dipindah ka Wanasaba, lan-taslah aku bisa berbuat banyak buat hiburin Yanie sahingga kesehatannya kombali sedikit dan bisa bekerja kombali. Kerna aku tau Biarpun sudah begitu lama tida ada mendenger kabar dari kaeo,

CERITA ROMAN tokh senantiasa ia masih senantiasa tungguin dan harep-harep kaeo punya dateng Maupun cuma kabar saja, maka aku telah ambil verlof dan gunaken buat dateng di sini dengen membawak ia-punya pesenan: ‘Aku cuma titip, kalu pulang bawaklah kabar bagimanakah keada'annya Yanta’............‘

Yanta rasaken hatinya seperti diremes ancur, sukur ia punyaken itu kekerasan hati buat tida kucurken aer-mata, coba tida begitu pasti mengalirnya sang aer-mata sudah tida bisa ditahan pula.

“Adek Yanta, bagimanakah aku musti bawak kabar buat Yanie?” kemudian Sunjata berkata.

“Tidurlah dulu, mas Sun, hatiku pepet dan ti-da dapet memikir,” sautnya Yanta. “Esuk pagi aku aken pikirken itu.”

“Nah, slamet tidur, ‘dek,’ katanya Sunjata dan lalu masuk ka dalem kamarnya.

Yanta pun lalu masuk ka dalem kamarnya. Di situ ia ketemuken bahua istrinya lagi tengku-repken di atas bantal dan sesenggukan.

“Zub, kenapa kaeo?” Yanta menyamperin dan menanyak, tapi sang istri tinggal tida menjawab dan terus menangis sesenggukan.

Yanta angkat kepalanya sang istri dan dapet menampak bahua paras istrinya itu telah basah de-nyen aer-mata.

“Kenapa kaeo, Zub? Adakah kaeo sakit?” tanyak Yanta.

Tapi Zubaenah tinggal menjublek saja.

“Bilang, Zub, kenapa kaeo? Kaeo sakit atawakah ada laen hal yang membikin kaeo sedih atawa jengkel?” Yanta tanyak pula.

“Tida, aku tida sakit,” kamudian Zubaenah menyaut. “Aku barusan telah mendenger semua kaeo dan mas Sun punya pembicara'an, kerna itu aku jadi sanget bersedih dan merasa berdosa. Maka biarlah kita punya perhubungan cuma sampe di sini saja...........”

“Oh, istriku, janganlah kaeo berpendapetan yang demikian,” Yanta berkata sambil rangkul is-trinya dengen perasa'an penuh menyayang. “Jangalah kaeo salah mengerti dengen apa yang kaeo denger. Apa yang kaeo-denger, itu semua cuma satu lamunan yang kosong, bukan terkluar dari pikiran yang sehat. Yanta tida aken jadi laen ke-cuali jadi kepunya'an kaeo.”

Tapi Zubaenah rupanya tida jadi puas dengen itu hibouran saja, hingga sampe lama Yanta hares rus menghiburin.

Kamudian kapan sang istri telah tidur, Yanta lalu kluar mandi kerna dari tadi masih belon mandi. Satelah bersihken badannya Yanta lalu kluar di pekarangan maski keada'an cuaca itu waktu ada sanget gelap. Di situ ia layangken pi-kirannya pada hal-hal yang telah lalu dan kemu-dian pada hal-hal yang aken dateng. Bagimanakah sekarang ia harus berbuat? Cereken Zubaenah dan menikah pada Yanie? Oh, inilah ada perbua-tan yang sanget rendah dan durhaka, kerna Zub dalem perasa'annya tida punyaken kedosa'an apa-apa dan laginya sekarang lagi mengandung. Tapi bagimana kalu ia telantarken Yanie, yang bukan saja menyinta, tapi pun telah unjuken kesetia-‘annya sampe begitu macem, bukankah ini ada satu perbuatan yang kejem terhadep satu gadis yang suci sebagai Yanie?

Yanta rasaken kepalanya ampir pecah kerna digunaken buat coba pecahken itu perkara yang sulit.

Kamudian satelah tida dapetken keputusan suatu apa, Yanta lalu beranggepan: “Ah, menocerut adat Islam, saorang lelaki boleh beristri lebih dari satu. Maka bukankah ada sepantesna kalu aku ambil Yanie sebagai bini kedua?”. Begitulah Yanta telah berpikir. Tapi kamudian ini pikiran lalu dibantah oleh iapunya laen pikiran yang lebih sehat. “Tapi, ah, ini anggepan ada sanget gelo, sanget menghina pada dirinya Yanie yang suci dan sanget merendahkan derajatnya kaum prempuan yang terplajar. Ini bukan anggepan dari saorang yang terplajar...........” Kerna ini anggepan yang paling blakang, Yanta lalu mendapat putusan, adalah lebih terhormat ia becere dari Yanie, maski sebenernya ia belon nikah padanya.

“Yanie, biarlah kau hideop beruntung dengen laen lelaki yang lebih berharga,” begitulah Yanta mengelah napas sambil dongaken kepalanya ke atas memandeng itu bintang-bintang yang berkelap-kelip di itu atas langit yang gelap hingga laksana ribuan butir batu-batu inten yang berkelap-kelip di salembar beludru item yang indah.

Satelah memikir sampe di situ, Yanta lalu masuk ka dalem rumah dan lalu menulis sepotong surat buat Yanie.

Ia tulis: Ayunda Yanie yang tercinta, Maski pun dengen tangan yang dingin dan berat, aku telah paksa tulis ini sepotong surat buat sebagi gantinya bahua aku tida bisa dateng sambang di Wanasaba.

Aku tida aken membri keterangan panjang lebar, kerna mas Sun nanti bisa cerita lebih luas. Maka dengen ini aku cuma minta kau punya ma'af dan am pun. Aku punya peng-hidupan telah berobah banyak sekali dan telah sia-siaken kau punya pengharepan.

Aku tida bersekolah lagi berhusbung dengen satu kecilaka'an motorfiets dan sekarang menyadi sudagar, melanjutken perdagangannya aku punya mertua, dan sudah brapa bulan telah bertinggal urus perdagangan di Palembang.

Aku telah menikah dengen Zubaenah, sia-pa tida lama pula aken menyadi ibu, kerna sekarang telah mengandung hamilan.

Yanieku, biarlah Allah berkahkan kau dan aku pujiken kau aken dapat hideop beruntung dengen laen lelaki yang lebih berharga.

Salam dan minta ma'af dari Yanta.

Satelah menulis itu surat, masuken envelop dan kemudian simpen dalem kantong bajunya, Yanta lalu naek atas pembaringan, tapi semalem itu ia tida dapet tidur barang sekejab, maski ia telah meremken matanya berjam-jam.

Esuknya Sunjata dan Yanta bertemu kombali. Yanta serahken itu surat kepada Sunjata supaya disampeken pada Yanie.

“Sampeken aku punya ma'af padanya,” katanya Yanta. “Dan aku pujiken biarlah itu gadis yang suci, yang setiawan, tida aken menyadi kepu-

CERITA ROMAN nya'annya orang laen, biarlah Allah nanti kurnia-ken padamu.............

“Oh, ‘dek, kecinta'an itulah berada pada se-suatu orang, tapi jodo itulah berada di tangan Allah,” sautnya Sunjata dengen terharu.

Itu pagi Yanta, istrinya dan mertuanya lalu berpamit pulang ka Bandung, samentara Sunjata pun lalu kombali pulang ka Wanasaba.

Buat apa Hidup? inilah ada kalimat dari cerita yang bakal jadi pengisinya “Cerita Roman” December depan ini, ditulis oleh tuan Pouw Kiu An.

“Buat Apa Hidup?” bukan cuma menjadi kalimat saja, tapi juga menjadi satu pertanyakan besar yang sekalian pembaca bakal jadi penjawabnya.

Buat apa hidup dan apa artinya hidup, inilah ada satu sual yang selalu menjadi teka-teki.

“Buat Apa Hidup?” bukan cuma aken me-lukisken tentang romans yang langkah, tapi pun menggenggyem filosofie tentang penghi-dupan, ditulis oleh

Tuan Pouw Kiu An dan segaja disuguhken pada sekalian pembaca buat sebagai bingkisan penutup taun 1937.


VI

KOTA Wanasaba yang terkenal banyak ujan, pada malem itu telah dilimputin oleh kegelapan, ujan menuang dengen deres, angin meniup dengen santer dan kilat gledek bersamberran dan bergemuruh kean kemari hingga mem-bikin takut pada siapa yang bernyali kecil. Kerna mana maka jalan-an-jalan an di itu kota jadi sepi, orang mau pun kandaran ampir tida ada yang liwat di jalan-an.

Hawa udara pun tambah semangkin dingin hingga rumah-rumah yang berdinding bambu bukan saja musti ketakutan buat mengadepin serangannya sang angin dan menampsenya ujan, tapi pun marika pada kedinginan juga.

Pada malem itu, satu rumah di kampung kauman masih tertampak penerangan yang terang di bagian ruangan dalem. Rumah itu ada sader-hana, tapi diatur sanget necis. Di dinding tembok ada terdapet gambaran-gambaran yang teratur baek dan di atas meja ada terdapet vaas yang ter-isi kembang roos yang masih seger.

Di atas meja tulis ada satu lampu duduk dan di sana ada kliaitan satu gadis yang maski parasnya tertampak rada layu, tapi masih tertampak iapunya kecantikan, duduk di situ sambil mem-baca buku. Gadis itu memake kaen kebaya su-tra biru hingga menambahken kaindahannya ia-punya kulit yang warna kuning langsat itu.

Ia itu kliaitan nyya membaca, tapi sebenernyya tida membaca, kerna pikirannya tida menuju pada itu lembaran-lembaran kertas, hanya ka tempat-tempat yang jau.

Kadang-kadang ia suka memandeng satu portret di depannya, dan kapan ia meliat itu dengen perhatian, aer-mata lalu kliatan meleleh di sepasang matanya.

“Oh, ibu, kenapakah kau buru-buru tinggal-ken anakmu sebelonnya ia bisa berdiri sendiri?” begitulah itu gadis telah mengelah napas.

Gadis itu adalah Yanie yang setiap sore selalu menantiken kedatengannya Sunjata. Adakah Sunjata itu bisa ketemuin Yanta? Adakah Yanta itu nanti aken dateng bersama-sama ia? Inilah ada pertanyakan-pertanyakan yang selalu timbul dalem otaknya.

Maski itu waktu telah liwat buat tempo makan, tapi Yanie masih belon mau dahar, maski Ilem sudah berkali-kali persilahkan juragannya buat lantas santap barang-barang hidangan yang telah disediaken.

Ilem itu duduk di bawahnya Yanie dan ajak bercakep-cakep sang juragang agar bisa hibur-ken sedikit itu kesunyian.

“Kenapa mas Sun masih belon ada dateng?” begitulah Yanie kemudian berkata.

“Boleh jadi ia masih belon ketemuken ’ndara Yanta,” Ilem menyautin. ”Atawa, upama ’ndara Sunjata dateng ini sore, tidalah ia bisa dateng kemari kerna ujan turun begini lebet.”

“Bisa jadi begitu, ’bi Lem.”

“Maka itu lebih baek sekarang ’den-ajeng dahar dulu dan kemudian lantas masuk tidur, tentulah nanti aken dapet mengeros yang nyenyak sekali.”

“Tida ’bi; aku belon lapar dan lagi mataku belon berasa ngantuk.”

Marika itu lalu pada berdiam. Yanie melayang-ken pikirannya lebih jau dan coba membayang-ken bahua Sunjata itu telah kombali dengen sambil membawk Yanta.

Tapi selagi ia ngelamunken itu lamunan, mendadak terdenger suara ketokan pintu.

“Siapa?” tanyak Yanie dengen terkejut, kerna ada luar biasa di dalem turun ujan angin begini lebet ada orang mengetok pintu.

“Aku, ’dek Niek. Bukalah pintu.

Yanie kenalin bahua itu ada suaranya Sunjata. Maka buru-buru ia sigra buka itu pintu dan berkata: “Ah, kiranya kau, mas Sun! Masuklah.”

Sunjata itu maski memake mantel ujan, tapi pakeannya masih mendapat basah di brapa bagian kerna dari saking deresnya sang ujan yang me-nuang.

Tatkala itu Yanie telah sambut kedatengannya Sujata dengen dada berdebaran dan paras seben- tar kliatan merah dan sekejap pula pucet.

“Slamet dateng, mas Sun.......” kemudian Yanie berkata.

“Ya, trima kasi, ’dek Niek.”

“Kapankah kau dateng dari Betawie dan kenapakah dalem malem yang gelap begini serta ujan turun dengen deres, kau perluken dateng kemari?”

“Aku baru dateng dan belon pulang rumah. Spoor cuma sampe di Purwakerta saja hingga aku menerusken perjalanan kemari dengen taxie,” sautnya Sujata dengen kalm, dan lalu kasiken iapunya barang-barang oleh-oleh pada Yanie.

Biarpun Sunjata bawaken barang-barang yang aneh-aneh, tapi Yanie itu tida tertampak terlalu girang, kerna sebenernya yang ia harep-harep bu-kan oleh-oleh barang yang bagimana pun, tapi haya kabaran tentang Yanta. Kalu ia tida inget ba-hua itu bukan perbuatannya satu gadis Timur yang alim, adalah ia dengen tida sabar lagi ia aken majuken pertanyakan: ‘Adakah kau telah ketemuken Yanta, mas Sun?’ Tapi Yanie tida dapet buat buru-buru majuken itu pertanyakan selagi itu pemuda masih belon duduk mengaso. Maka Yanie cuma awasin saja sikepnya Sunjata dengen penuh pertanyakan. Meliat sikepnya Sunjata, Biarpun rupanya itu pemuda coba umpetken, Yanie seperti mendapat firasat tida baek.

“Adalah kau sudah makan, mas Sun?” kamedian Yanie menanyak.

“Belon, ‘dek, kerna dari kesusunya aku kemari,” sautnya Sunjata.

Yanie lalu ajak dahar Sunjata. Sunjata dahar biasa saja, tapi Yanie ampir tida mempunyain tenaga buat telen itu butiran nasih yang ia kunyah. Marika berdahar dengen bungkem mulut.

Sunjata rasaken hatinya ancur meliat paras-nya Yanie yang begitu rupa. Bagimana sekarang ia harus bercerita kepada Yanie? Tuturken de-ngen terus terang? Oh, inilah ia merasa tida te-gah dan tida aken mampu ucapken itu perkata-‘an-perkata'an yang aken membikin sakit hatinya itu gadis yang telah terluka. Maka itu Sunjata ta sampe sekean lama tinggal diam dan tida menyeritaken tentang iapunya pertemuan-pertemuan kepada Yanta.

Sesudah makan, marika lalu berdudukan di ruangan tengah kombali.

“Mas, kabar apa yang kau bisa bagiken pada-ku tentang kau punya perjalanan di Betawie? Adakah kau telah ketemu........?” kemudian Yanie paksa menanyak.

“Ya, aku ketemuin Yanta........” sautnya Sujata dengen kalm.

Parasnya Yanie tertampak bersinarken cahyanya yang merah.

“Bagimanakah keada'annya ia sekarang?” kemudian Yanie menanyak pula.

“Baek, ‘dek.”

“Dan kenapa ia tida pernah dateng di Wanasaba atawa maepoien cuma kirim sepucuk surat sa-ja?”

“Katanya ia sanget repot dengen pekerj'a‘nnya. Tapi boleh jadi nanti brapa minggu lagi ia aken buang sedikit tempo lagi buat berkunjung di sini.”

Yanie awasin parasnya Sunjata dengen penuh sinar pertanyakan.

“Mas,” Yanie kata pulah dengen suara rada tergeter, “kau tida bicara sebenernya, rupanya kau sengaja aken sambuniken apa yang kau liat dan yang kau denger. Aku telah perhatiken kau punya sikep.”

Sunjata rasaken hatinya seperti terpukul mendenger itu tegoran. Bagimanakah ia sekarang harus berbuat satelah menetauin bahua Yanie tida kena dibodoin.

“Kau punya sinar mata seperti membawak kabar bahua Yanta sudah tida aken kombali lagi di sini, maka apakah perlunya kau coba aken sembuniken itu padaku?” kemudian Yanie kata lebih jau.

“Niek, ya, ya, seharunsya memang aku tida musti bohongin kau,” kemudian Sunjata menyaut. “Tapi bagimanakah aku bisa ucapken perkata'an-perkata'an yang aku tida aken mampu ucapken?”

“Tida, mas; aku harus berbicara terus terang,” mendesek Yanie dengen rada kurang sabar.

“Tapi aku harep kau harus coba mendengerken dengen tenang, ‘dek.’”

“Itulah aku berjanji, mas.”

Kerna Sunjata tida tegah buat lebih dulu tuturken tentang keada'annya Yanta dengen ucapan, maka sigra ia lalu ambil itu sepotong surat dari Yanta dan dikasiken kepadanya.

“Inilah nasibku,” begitulah katanya Yanie dengen suara tergeter.

Dengen tangan bergumeter Yanie buka itu envelope, kemudian tarik kluar itu lembaran kertas dan baca isinya. Satelah membaca itu surat, Yanie tertampak seantero tubuhnya tida bergerak dan matanya memandeng itu surat dengen tida berkesip, kemudian kekejap lagi dibarengin dengan jatonya iapunya badan tindihin itu meja. Yanie pangsan!

Sujata sanget terkejut. Sigra ia lalu briken pertulungan. Dengen dibantu oleh Ilem kemudian ia bawak masuk itu gadis ka dalem pembaringannya.

Kerna keada'annya Yanie ada begitu rupa, Sunjata taro banyak kekwatiran, maka dokter lalu dipanggil buat membri pertulungan.

Dokter yang dipanggil telah dateng dan membri pertulungan hingga plahan-plahan itu keada'an yang menguwatirken rada kurangan.

Malem itu Sujata tida pulang dan kepaksa menjagain Yanie, Biarpun itu malem ia rasaken tubuhnya sanget lelah.

Dokter menyataken bahua peparunya Yanie sanget lemah dan dikwatir Yanie nanti kena tering serta membri advies supaya Yanie jangan bekerja berat dan harus banyak mengaso serta tentremken pikiran.

Maka sajek itu Yanie lantas tida bekerja lagi dan selalu banyak berdiam di rumah dengen Sunjata yang selalu perhatiken segala iapunya kepentingan dan selalu coba hiburken iapunya kesedihan.

Yanie sanget bertrima kasi dan hormatken Sunjata yang perlakuken dirinya lebih-lebih dari sa-tu sudara.


VII

YANTA sedari medapet tau bahua Yanie dengan setia masih senantiasa menungguin dirinya, dalem hatinya lantas selalu tida aman dan selalu merasa bahua dirinya ada seorang berdosa. Maka seringkali ia suka ngelamunken pikirannya, memikirken tentang dirinya Yanie.

Terhadep pada istrinya Yanta masih berlaku seperti biasa, senantiasa perhatiken dan perlakuken dengen manis budi dari apa yang satu suami bisa kasiken. Tapi Zubaenah punya perasa'an dan mata ada sanget tajem seolah-olah bisa tembusin lapisan apa saja yang mengandang. Biarpun sang suami coba sembuniken, tapi Zub telah dapat mengetauin bahua suaminya lagi mengandung kedoka'an yang besar.

Sebenernya memang begitu. Biarpun Yanta co-ba berlaku seperti biasa, tapi boleh dibilang ampir setiap malem ia susah mendapat tidur nyenyak.

Zub yang dapet mengetauin kesekeran yang lagi menindih hatinya sang suami, bukan jadi marah hanya malah ia merasa sanget berdosa, merasa bahua ia berkewajiiban buat perbaekin itu keada'an.

Satu waktu Yanta telah ngelamun begitu heibat, seolah-olah lupaken kesedaran dirinya, hingga tida mengetauin tatkala Zub telah menyemperin dirinya dari blakang. Yanta baru mendusin dengen sanget terkejut apabila Zub telah pegang iapu-nya pundak dan menegor: “Suamiku, apakah yang kau sedeng pikirin sampe begini macem.”

Yanta dengen terpranjat buru-buru pegang tangan istrinya yang mungil dan menyaut: “Oh, Zub, tida pikirin apa-apa. Aku cuma pikirken dengen keras tentang plajaran yang aku telah terlantarken. Aku sanget kepingin sekali buat bi-sa lanjutken pelajaran di G. H. S.”

“Ya, kau nanti bisa lanjutken itu angen-angen dan kau nanti merdika, kalu nanti Zub sudah tida ada, sudah tinggalken ini dunia yang fana....”

“Zub, kenapa kau ucapken itu perkata'an,” katanya Yanta dan lalu pelu istrinya. “Ma'afken-lah kalu kiranya ucapan tadi ada menyakitin hatimu.”

“Sooamiku, kau boleh justain mata dan ku-pingku, tapi jangalah kau justain perasa'an-ku,” Zub kata pula. “Biarlah suatu hari nanti kau akhirken itu...........” Istri itu lalu menangis kerna tida dapet menahan perasa'an hatinya.

“Tida, istriku; kau harus tida melanturken pikiranmu sampe begitu macem. Percayalah, Yanta nanti aken selalu berada di damping kau.”

Tapi Zub punya luka di hati ada begitu besar dan barangkali tida aken dapet dirapetken pula. Itu kejadian-kejadian ada sanget menuseok hatinya.

Akhirnya telah sampe itu tempo buat Zub me-lahirken anak. Dokter lalu dipanggil.

Satelah ditunggu berjam-jam, akhirnya itu bayi telah terlahir, satu anak prempuan yang mungil, terlahir dengen rada susah kerna sang ibu punya keada'an tubuh ada lemah.

“Zub, besarkenlah hatimu, kau telah lahirken satu putri yang mungil dan mirip...........” katanya

Yanta buat hiburken istrinya yang dalem keada'an lelah.

“Mirip Yanta atawa............. Yanie?” sautnya Zub dengen suara lemah.

Zubaenah punya keada'an tida jadi tambah baek, hanya tertampak tambah lemah kerna mengluarken dara terlalu banyak. Dokter yang merawat coba tulung dengan seadanan iapunya pengatauan buat hindarken itu ibu dari bahaya maut.

Sampe di hari ketiga Zub punya keada'an masih sanget lemah.

Hari ketiga itu, selagi Yanta berada di luar kammar dan bercakep dengan mertuanya, mendadak ia denger suara jeritannya sang istri: “Oh, suamiku............!”

Yanta buru-buru masuk ka dalem kamarnya dan ketemuken istrinya sudah tida inget diri.

“Zub! Ingetlah!” Yanta ccba sedarken istrinya, tapi Zub tida berkutik.

Dokter lalu dipanggil, tapi ini thabib pun tida bisa menulung jiwanya Zubaenah.

Begitulah Zubaenah telah tinggalken ini du-nia yang fana dalem usia 21 taun dan baru saja menyadi ibu buat tiga hari.

Kesedihan yang dipikul oleh Yanta ada terlalu heibat sehingga ia tida bisa menglocarken aer-mata lagi. Sesa'at lagi, satelah rasaken tindihan yang menindih hatinya ada entengan, barulah ia bisa menangis menggerung-gerung seperti satu anak kecil.

Satelah mait istrinya terkubuer, dengen disetujuin oleh sekalian familie, Yanta bawak itu anak bayi ka rumah sakit bagian bayi agar itu anak yang masih begitu muda bisa dapet perawatan yang semustinya.

Penghidupannya Yanta boleh dibilang sekarang telah ancur berantakan, hingga apa yang ia bisa berbuat kalu lagi berada di rumah adalah du-duck termenung seorang diri.

Satu hari ia membersihin lemari pakean yang dulunya telah terisi Zub dan ia sendiri punya pakean, mendadak ia telah ketemuken satu envelope yang terisi surat yang diadresken kepadanya. Ia kenalin bahua muka surat itu ada memake tulisan tangan dari Zubaenah.

Dengen hati penuh perasa'an kepingin tau Yanta lalu jumput itu envelope, dibuka dan lalu dibacanya:

Kanda Yanta yang tercinta, Maski keada'anku ada sanget payah, tapi tokh aku bisa paksaken buat menulis ini sepotong surat. Aku merasa pasti, kalu ini surat terjato di tangan kaeo, adalah aku sudah tida aken berada lagi bersama-sama kaeo di ini dunia yang fana. Sebelon aku menulis lebih jau, aku meminta ma'af dan minta am pun buat aku punya segala kesalahan dan kedosa'an. Sekarang terpaksa aku musti buka itu resia selagi aku telah menghadepin bahaya maut. Kutika mula-mula aku ketemu padamu, aku punya perasa'an cinta ada terlampau besarnya, hingga maski kemudian mendapat tau bahua kaeo telah punyaken tunangan, tokh aku tida mampu pademken itu rasa cinta yang telah berakar. Dengen segala apa yang aku mampu aku telah coba pengaruken kau. Hatiku merasa sanget sirik dan dengki bahua kau telah dipunyaken oleh laen hati.

Tida ada satu surat yang kau suru aku kirimken telah terkirim pada Yanie. Begitu pun tida ada sepotong surat dari Yanie yang tersampe padamu. Semua itu aku buka sendiri dan kemudian lantas dibakar. Sampe pun kau telah sembuh dan bertinggal di rumah ayah, aku selalu jaga dengan tertip supaya tida ada surat-surat dari Yanie yang tersampe pada kau dan pun tida ada suratsurat dari kau yang bisa tersampe pada Yanie.

Begitulah akhiirnya aku telah dapetken itu kemenangan, tapi satu kemenangan yang sanget rendah.

Acu ada satu pengrusak dari dua jiwa. Tapi, ah, biarlah Allah ampunken diriku sate- lah sekang aku tebus itu kedosa'an dengen jiwaku.

Biarlah kau dan ia nanti dapat hidup be-runtung, satu keberuntungan yang kau berdua semustinya harus dapat.

Cuma saja, rawatlah yang baek dan cintalah putrimu agar nanti di waktu dewasanya bisa menyadi satu gadis yang bijaksana.

Kalu nanti ia sudah besar, bilanglah pada- nya bahua iapunya ibu yang telah mangkat ada sanget menyinta padanya, maski cuma brapa hari saja.

Slamet tinggal dari kau punya

Zubaenah.

Satelah membaca abis bunyinya itu surat, Yanta tertampak diam sebagai patung, kerna dari heibatnya rasa terharu yang menyerang hatinya yang telah ancur.

“Oh, Zub, kenapa kau tida bawak sekali diriku!” begitulah kemudian Yanta berkata pada diri sendiri dan lalu menangis.

Seribu satu pikiran telah mengaduk di dalem otaknya. Ia masih sanget dukaken kematiannya sang istri, pikirin tida abisnya pada Yanie yang tersia-sia dan pun pikirin juga nasib sendiri pada sekarang ini.

Ke mana sekarang ia aken tujuken hidupnya?


VIII

SUDA H lazimnya (umumnya) kalu musin paceklik (mahal makanan) tentu banyak pencurian, perampokan dan laen-laen peruseohan. Orang lantas tida inget aken kebaeakn atawa kebecikan, asal saja bisa tangsel perutnya. Kalu pencuri yang mencuri kerna lapar itu dapet ditangkep, marika malah merasa sukur, sebab dengen begitu ia di penjara lantas dapet makan dan perawatan yang lebih baek. Maka itu dalem tempo begitu itu kaum penggawe negri pada sanget ibuk dan merasa kewalahan. Baru saja coba aken dapetken kepulesan, mendadak tong-tong lantas terdenger, tanda di sini ada perampukan atawa di sana ada pencuri yang dikepung penduduk yang murka. Atawa di sana ada pembunuhan dan di situ ada rumah terbakar. Demikianlah nasibnya kaum penggawe negri pada tempo begitu.

Di district Loano pun telah kena hinggapannya itu musin paceklik.

Wedana, kepala dari itu district, baru saja dibenum.

Sedari menjabat pekerja'an yang baru, boleh dibilang itu wedana tida pernah berada di rumah, kerna temponya banyak digunaken di luaran buat urus perkara pembunuhan, perampokan d.l.l.

Tatkala itu sang Wedana itu sudah berselang tiga hari telah tinggalken iapunya kawedanan, kerna perlu urus dan tindes perusuhan di satu desa yang termasuk daerah dari districtnya.

Samentara di kawedanan ada dua putri yang tungguin iapunya kedadengan dengen penuh kekwatiran.

Putri itu yang satu badannya bagus, rada montok, dan kulitinya putih bersih, samentara yang laen ada berpengawakan lencir, kulitinya kuning, yang maski pun cantik,tapi iapunya mata seperti lampeo yang keabisan minyak, surem dan layu.

Kapan marika berdua berada di luar pendapa, mendadak ada satu joli yang dipikul oleh brapa orang-orang desa telah dibawak masuk ka situ dengen di'iring oleh satu Mantri Politie.

“Paduka Wedana telah mendapat luka,” kata-nya itu M. P.

Dua putri itu buru-buru bantu tulung bawak masuk itu Wedana yang rupanya sanget lelah.

Dokter lalu dipanggil dateng. Itu thabib sate-lah memreksa luka, kasi Perubalsem dan kemu-dian dibungkus dengen baek, lalu menyataken bahua lukanya sang Wedana tida berbahaya, cuma harus dijaga supaya jangan dibutat banyak bergerak sebelonnya sembuh. Dan, kerna si sakit tat-kala itu perutnya sanget kosong, sang thabib pun suru masaken barang makanan yang enteng, bu-bur dan sebaginya.

Sri, itu gadis yang montok, lalu pergi ka dapur dan sediaken itu semua keperluan.

Itu thabib kemudian berlalu dan samentara itu gadis yang lencir tungguin si sakit.

Itu ambtenaar kutika melekin matanya dan dapt meliat itu gadis di samping pembaringannya, ia lalu kata: “Oh, kau, Niek...........”

“Ya, dan bagimana dengen kaeo punya keada'an, mas Sun?” sautnya itu gadis yang ternyata bukan laen hanya Yanie sendiri.

“Aku sanget cape dan lelah sekali.”

Yanie melelehken sang aer-mata kerna sanget terharu. Dulu, tatkala ia berada dalem kesusahan dan kesakitan, Sunjata selalu unjuken iapunya perhatian. Dan sekarang bagimananak ia harus berlaku setelah Sunjata yang lepasken banyak budi padanya sekarang mendapat ini kecilaka'an.

“Niek, kenapa kaeo melelehken aer-mata?” kemudian itu ambtenaar menegor, siapa bukan laen yalah Sunjata sendiri, yang kerna kecakepannya sekarang telah diangkat menyadi Wedana dalem tempo yang tida begitu lama sedari ia mulai menjabat pekerja'an negri.

“Aku menangis kerna seselken kaeo, kenapa kaeo tida menikah, coba kaeo telah beristri, dalem keada'an begini tentulah kaeo aken dapat perawatan yang terlebih baek.”

“Dengen ucapken itu perkata'an, adakah kaeo kwatir nanti kaeo banyak repot merawat diriku?”

“Tida, tida, mas; aku nanti rawatin kaeo seperti satu juru-rawat yang tida bisa didapetken pada laen juru-rawat. Aku nanti tungguin kaeo dan rawat kaeo sehingga kaeo nanti sembuh. Kalu aku kataken itu, itulah sekedar aku peringetken kaeo, bahua satu istri bagi kaeo aken lebih berharga daripada siapa pun.”

“Tapi aku cuma aken menikah satelah meliat kaeo kawin, Niek.”

Yanie awasin itu padanya dengen mata yang penuh sinar dari perasa'an kesian.

“Kawin? Pada siapakah aku harus nikah? Adakah di dunia ini ada orang yang kedua dari Mas Sunjata?”

“Adakah Sunjata tida ada itu harga buat menjadi satu suami dari seorang gadis yang suci?” Sunjata kata lebih jau. “Kaeo tau, bahua sudah bertaun-taun aku tungguin terbukanya kaeo punya pintu hati, tapi sampe itu sekean taun aku belon menampak pintu itu terbuka.............”

“Aku tau.......... Cuma kaeo tida tau bahua ibarat kembang, bungah itu telah layu pada sebelonnya mekar! Hatiku sudah kosong, sumangetku sudah linyap, maka adakah aku ada itu harga buat berdiri di damping kaeo?”

“Aku tida cintain kaeo punya harga, Niek. Aku cintain kaeo punya kesengsara'an dan cintain kaeo punya sumanget.”

Yanie tida bisa menjawab hanya tengkurepken kepalanya atas itu slimut yang menutupin da-danya Sunjata.

Sunjata paksa klocarken satu tangannya dan usap-usap kepalanya Yanie.

“Kenapa kaeo berlaku kejem padaku, Niek?” kemudia Sunjata berkata pula.

Yanie lalu angkat kepalanya dan cium itu laen mulut yang ucapken itu perkata'an yang mengharuken.

“Bukan aku berlaku kejem, mas. Aku cuma ingginken satu hari laen prempuan yang lebih berharga nanti menempatin lapangan hatimu,” katanya Yanie dengen suara tida lampias.

“Ya, Niek, seperti juga kaeo, aku pun senantiasa ingin menjaga supaya tida menambahken luka di kaeo punya hati yang masih terluka.” Begitulah akhirnya Sunjata tokh menangken juga itu hati yang tadinya selalu tinggal beku. Dengen tangan yang anyep dan gumeter Sunjata lalu pegang tangannya Yanie dan dengen suara meratap lalu berkata: “Akhirnya aku tokh menangken kaeo, Niek........... Kapankah kita nanti menikah?” “Begitu kaeo sembuh, kita nanti menikah. Maka sekarang kita harus tida recokin laen kecoaeli kaeo punya kesehatan.” Marika punya pembicara'an akhirnya dibikin putus kerna Sri telah mendaetengin dengen membawak barang makanan buat sang Wedana itu. Yanie dengen tida mengenal cape telah rawat Sunjata dengen penuh perhatian hingga Sunjata dapetken kesembuhannya dengen cepet. Kapan Sunjata telah sembuh dan tenaga tubuhnya telah balik sebagi sediakala, iapunya pertunangan pada Yanie telah dilangsungken dengen perkawinan Hari itu telah diadaken perjamuan besar, ker-na dalem pesta kawin itu ada dihadlirin juga oleh Bupati dan laen-laen pembesar tinggi. Sunjata dan Yanie duduk berjejer di korsi kemanten seolah-olah Batara Kemajaya dan Dewi Ratih. Pertujukan wayang orang telah dipertunjuken dan dimaenken oleh golongan kaum priyayi dari Purwareja. Satelah itu upacara perkawinan selesai, Sunjata dan Yanie lalu bikin perjalanan buat liwat- ken itu bulan madu dengen pergi kunjungin Wanasaba, sambangin kuburannya R. A. Cakra, lantas ka Semarang, kunjungin kediaman dari ibunya Sunjata, kemudian dari situ marika lantas mengaso di Kopeng. Di itu tempat Yanie lantas inget pada kutika ia masih kecil, tatkala mana ia sudah sering pergi ka Kopeng. Satu hari marika jalan-jalan buat isep se-juknya hawa dan kemudian brenti mengaso di tepi sungi yang jernih aernya, berdudukan atas-nya itu batu-batu sambil mendengeri suaranya itu aliran yang membentur batu-batu. “Istriku, suaranya aliran aer yang membentur batu-batu ada laksana muziek dari sorga,” Sunjata berkata. “Ya, dan buat merameken kita punya kebruntungan...........” sautnya Yanie. Dan marika kemudian pada tinggal bungkem kerna marika tida bisa lukiskien dengen perkata'an marika punya kebruntungan itu waktu. “Niek, adakah kaeo cuma inget aken kebruntungan saja?” kemudian Sunjata pecahken itu kesunyian dengen majuken itu pertanya-kan. “Tida; aku pun memikirken juga pada hal-hal yang telah liwat. Sekarang aku berpendapatan ba-hua cinta pertama itu ada sebagi satu penyakit, timbulnya cepet tapi pun sembuhnya lekas. Cinta pertama itu cuma tercipta dari perasa'an, bukan dari pikiran. Liat pada Yanta, bertaun-taun aku menanti dan pikirin dirinya, tapi ia cuma angggep itu sebagi maen-maen.”

“Itulah kerna dari kau punya pri kesetiawan nan, Niek.”

“Dengen aku terlalu membuta, tida bisa bedaken mana yang berharga dan mana yang tida berharga. Maka aku sanget menyesel sekali telah siasiaken kau punya perhatian.”

Sebenernya Sunjata ada satu pemuda yang luar biasa. Kerna iapunya cinta yang suci, bertaun-taun ia telah punyaken itu kesabaran buat menanti, menungguin dengen penuh keridilahan hati terbukanya sendirinya itu pintu dari hatinya Yanie yang agaknya seperti telah terkancing buat selamanya.

Banyak sekali gadis-gadis dan orang-orang tua yang ingin ambil suami atawa anak mantu kepadanya. Tapi Sunjata selalu tutup hatinya buat marika. Apalagi satelah ia diangkat menjadi Werdana, kerna iapunya kepandean atawa kecakepan, banyak ayah bonda dari kalangan kaum priyayi yang seperti dengen terus terang tawarken putri-putrinya.

Yanie bukan tida tau bahua Sunjata telah cintain dirinya. Tapi Yanie tida aken suka imba ngin itu perasa'an kerna iapunya perasa'an kesian padanya ada terlebih besar dari iapunya perasa'an suka.

Begitulah dua-dua telah pada saling umpet ken masing-masing punya perasa'an sahingga sam pe teryadinya itu kecilaka'an yang menerbitken perledakan dari masing-masing hatinya.

Kecinta'an adalah manuisia yang punyaken, ta pi jodo itulah Allah yang kwasaken.


IX

TIGA taun telah lalu. Yanie dan Sunjata telah hidup dalem kebruntungan yang asli. Sunjata selalu indahken dan tida lakuken apa-2 yang bisa mengganggu kesenengannya sang istri. Samentara sang istri selalu menjaga dan perhatiken segala keperluannya sang suami serta ia ti da berbuatken apa yang suaminya tida suka. Kalu sang suami pulang dari tournee, Yanie itu suka menyambut di luar pendapa. Kebruntu ngan itu agaknya di rasaken lebih-lebih dari biasa kerna sekarang Yanie telah berbadan dua, mengandung anak yang bakal jadi penyambung dari marika punya turunan.

Hamilan itu akhirnya telah sampe temponya buat melahirken satu bayi.

Sujata lalu panggil vrudvrouw buat menulung itu kelahiran. Vrudvrouw telah dateng dan membantu uroses itu bakal ibu. Tapi ternyatalah itu vrudvrouw tida bisa berbuat banyak, kerna Yanie telah hadepin bahaya susah melahirken anak berhubong dengan brapa keada'an salah yang satu vrudvrouw punya kepandean tida dapet menulung itu. Maka itu kepaksa musti memanggil dokter. Tapi sanget lacur itu waktu dokter satu-satunya yang berada di itu tempat telah berpergian ka luar kota.

Yanie telah menderita kesakitnan yang heibat hingga membikin bingung orang sedalem rumah.

Puter telefoon ka rumahnya itu dokter telah diputer berkali-kali, barangkali dokter itu telah pulang.

Beruntunganlah, kapan Yanie telah berada dalam keada'an yang berbahaya, dokter itu, Dr. Sujana, telah dateng dengan membawak seorang kawannya, satu dokter juga, satu specialist buat orang branak.

Dr. Sujana kutika pulang dan dibri tau tentang itu perminta'an tulung yang perlu dari Sunjata buat menulung istrinya yang menda-pet bahaya kerna kesusahan branak, buru-buru ia beli telefoon ka kawedanan dan membri tauken bahua ia aken dateng bersama saorang dokter specialist branak.

Begitoleah, buat hormatken kawannya, Dr. Sunjata telah bawa itu kawan ka kawedanan dan dikasi kewajiiban buat menulung itu bakal ibu yang berada dalem bahaya.

Datengnyia itu thabib ada sanget kebetulan sekali, kerna tatkala itu Yanie telah jatoh pangsan kerna tida dapat menahan lagi pada perasa'an sikit yang diderita.

Dalem kegugupan itu Sunjata tida perhati-ken dengen teges itu dokter dari luar kota yang dipoojiken oleh Dr. Sujana, kerna iapunya pikiran telah ditumpleken seanteronya kepada sang istri yang dalem bahaya.

Itu dokter telah coba gunaken seantero ia pun-ya kepandean buat menulung Yanie.

Akhirnya pengisinya itu rumah dibikin legah dengan terdengernya suara tangisan dari satu bayi.

Yanie telah dapet melahirken satu anak laki de-nyen slamet, maski ia masih dalem keada'an payah

Satelah bayi itu terlahir, dokter itu pun masih gunaken kepandeannya dengan kesungguan hati buat tulung keada'annya sang ibu yang sa-nget lemah. Membetulken apa yang tida betul dan kasiken recept obat buat bikin itu ibu punyaken tenaganya kombali.

Sampe jau malem dokter itu masih belon pu-lang, kerna ia kepingin tungkulin sehingga itu ibu yang barusan melahirken dalem slamet. Sa-ben-2 ia timbang panaasnya badan dan pun saben-saben perksain iapunya urat nadi.

Dokter itu merasa girang, kerna ternyatalah keada'annya Yanie ada memuasken. Satelah dapet ti-dur sesa'at saja dan kemudian mendusin, Yanie punya keada'an ada baekan, dan kutika ia melekin matanya dan menampak dokter yang lagi menim-bang obat, ia lalu terkejut kerna ia kenalin ba-hua itu thabib ada............

“Dokter, kau........... kau ada............”

“Ya, aku Yanta. Adalah kau masih kenalin aku, ‘mbak-yu?” sautnyia itu thabib yang ternyata ada Yanta.

“Tentu, ‘dek. Kalu aku ampir tida kenalin kau punya paras muka yang berobah begitu banyak, tapi tidalah aku lupa pada kau punya suara dan kau punya bayangan...............”

Sunjata itu sedari tadi bersama vrudvrouw repot urus itu bayi yang selalu menangis.

Kemudian ‘bayi itu ditidurken di laen kamar supaya tida mengganggu pada ibunya.

Kutika di laen kamar ia denger suara istrinya bercakep, Sunjata lalu paranin itu kamar.

Sunjata agaknya kurang seneng kutika menampak bahua itu thabib telah berduduk di samping ranjang istrinya. Tapi akhirnya Sunjata rada terkejut kutika sekarang tegesken roman- nya itu thabib.

“Mas, kaeo tau siapa ini dokter?” kemudian Yanie berkata dengen suara lemah.

“Yanta?” Sunjata tahan suaranya yang aken bertreak.

“Ya, mas Sun,” Yanta menyaut dan lalu jabat tangannya Sunjata.

“Satu pertemuan yang tida terduga,” kemu- dian Sunjata kata lebih jau. “Sedari kapankah kaeo bersekolah lagi dan pun sedari kapankah kaeo menjadi thabib? Di manakah kaeo punya is- tri, apakah tida ikut kemari?”

“Istriku...........” Yanta melelehken aer-matanya. “Ia telah meniggal dunia kerna melahirken anak...........”

“Innallilahi wainallilahi rojiun...........” katanya Sunjata sambil sedakepken tangannya. “Sama se- kali aku tida punya duga'an bahua istri kaeo berumur begitu pendek.”

“Ia pun mendapat kasukearan susah branak, yang maski dokter coba tulung, tapi tida berhasil. Bayi dapat dilahirken dengen slamet, tapi ibunya tida bruntung............”

“Di mana sekarang kaeo tinggal?”

“Aku baru saja buka praktiyk di Magelang.”

“Sedari kapan kaeo sekolah lagi?”

“Ah, mas Sun, riwayatku ada dari tetesan aer- mata. Aku kira janglah dituturken sekarang, nanti mengganggu ‘mbak-yu Yanie yang perlu me- ngaso.”

“Tida, kaeo boleh bicara, dek. Aku pun kepi- ngin dapet tau prihal keada'an kaeo,” sautny Ya- nie.

“Kapan istriku meninggalken ini dunia, aku kira aku sendiri pun brangkali aken menyusul. Aku tida punyaken aer-mata lagi, kerna itu su- dah terkuras abis.

“Kapan ibunya meninggal, bayi itu baru beru- mur tiga hari. Kaeo bisa bayangken sendiri bagi- manakah sedihnya orang yang menjadi iapunya ayah.

“Bayi itu aku lalu taruk di kamar sakit ba- gian anak-anak bayi. Dan sekarang bayi itu telah menjadi satu putri yang mungil dan lucu, menjadi aku punya hiburan satu-satunya.

Penghidupanku telah ancur, telah ambrek, se- hingga berbulan-bulan aku seperti orang gila. Tapi akhirnya aku tersedar, aku harus tida sia- siaken hidupku dengen itu cara, kerna aku ada menjadi ayah dari satu anak yang hidupnya men- jadi aku punya tanggungan.

“Dengan kerasken hatiku, aku bersekolah lagi dengen kegiatan yang luar biasa, ingin menjadi satu specialist branak, kerna aku telah kandung niatan buat guanken tempoku guna menulung orang-orang prempuan yang mendapat kesukeran branak, kepingin bisa citaken itu angen-angen de- gen satu gerakan yang secara luas.”

“Dan di mana sekarang kaeo punya anak itu?” Yanie memotong Yanta punya pembicara'an.

“Ia sekarang ikut padaku di Magelang,” saut- nyya Yanta.

“Dan adakah kaeo sekarang telah kawin lagi?” Sunjata kemudian menanyak.

“Kawin........?” Yanta bersenyum. “Aku kira dengen putriku yang mungil itu sudah yukoop hiburken penghidupanku...........”

Begitulah marika bercakep-cakep dengan asik. Yanie sanget terharu dan taro banyak kesian pada Yanta.

Yanta tida di'iyjinken pulang dan dipaksa menginep di kawedanan sampe brapa hari.

Dengen tinggalnya Yanta di itu rumah sampe bebrapa hari, Yanta bisa berbuat banyak buat bikin Yanie dan bayinya yadi sehat.

Putranya Yanie itu telah dibri nama Wuryanta.

Suatu waktu, kebetulan Yanie berada berdua‘ an dengen Yanta, Yanie lalu menanyak: “Satelah kaeo tulis itu surat yang paling akhir, kenapakah kaeo lantas tida mau kabarken pula tentang keada'an kaeo?”

“Aku pikir, aku sudah tida ada harganya lagi buat kabarken apa-apa lagi pada kaeo, laginya aku telah duga, tentulah kaeo ada sanget benci............”

“Ya, aku sanget benci sekali, tapi belon pernah aku lupaken kaeo.”

“Sudalah, anggep saja itu urusan ada satu mayit yang telah dikubur dan tida perlu dibongkar lagi. Allah berkahkan kaeo............”

Kalu ada orang dibikin jato bangun oleh cinta, adalah cuma cinta pertama yang membriken luka yang tida aken bisa sembuh betul. Satu waktu, Biarpun sudah lama sekali, luka itu aken masih terasa sakit.

Yanie punya kecinta'an pada Sunjata ada sanget agung dan bersih. Tapi dengen ini tida berarti ia lantas lupaken sama sekali dirinya Yanta.


X

SUATU sore yang sejuk, satu sore dari malem minggu, udara ada bersih dan nyaman. Tatkala mana taneman kembang-kembang di muka pendapa kawedanan tertampak pada seger dan kembang-kembangnya pada megar, saling bersaing unjuken kecantikannya dan saling sebiarken keharumannya.

Di waktu mana, dalem taman kembang itu ada tertampak satu gadis lagi memetikan kembang-kembang pranti ditaruk dalem vaas.

Gadis itu kultnya putih, parasnya bunder seperti rembulan purnama, alinsya yang item je-ngat melengkung laksana bianglala, rambutnya, maski rupanya tida diminyakin, tapi tertampak rapi dan item gompiuk dan terkonde dengen baek. Potongan badannya ada baek dan montok, menandaken bahua kesehatannya ada baek.

Siapa gadis itu? Bukan laen yalah Sri Sumarsih, ade prempuan dari Sunjata.

Ia itu bukan cuma memetikin kembang saja, tapi pun juga sambil melayangken pikirannya. Dan lamunan apakah yang ia layangken itu? Bukan laen tentulah lamunken lamunan yang muluk.

Tiba-tiba sa'at itu ia dibikin terkejut oleh brentinya satu auto di depan kewedanan itu. Kemudian tertampak Dr. Driyanta telah teerun dari itu kandaran, siapa pun lantas pimpin kluar satu anak prempuan kecil kira usia 4—5 taun.

Menampak Yanta yang dateng, Sri hatinya amat berdebaran dan bingung. Bagimanakah ia harus berbuat, adakah ia memapak ka depan atawakah tinggal masuk ka dalem. Tapi belon ia sempet mengambil putusan, Yanta suda masuk ka dalem pekarangan dan membri hormal.

Anak kecil itu mendadak lari di jurusan itu taneman kembang-kembang dan kata: “Papie, ini kembang-kembang begini banyak, Niek minta.” “Eh, ini bukan papie punya kembang,” sautnya Yanta. “Siapa punya, pap?” “Itu,” Yanta tudingken jarinya pada Sri, “ia yang punya.” “Siapa ia, pap? Ia ibu?” “Bukan, ia ada kau punya tante.” Sri tertawa dan lalu samperin itu anak. “Ini anak begini lucu. Adakah ini kau punya anak, dokter?” “Ya, ‘dek-ajeng,” sautnya Yanta. Sri lalu angkat dan gendong itu anak. “Siapakah kau punya nama, ’nak?” “Niek,” sautnya itu anak dengan lancar. “Cuma Niek saja, laen tida?” Sri tanyak pula. “Driyanie...........” “Kau amat lucu,” katanya Sri lebih jau dan lalu cium itu anak berulang-ulang. Sri lalu petiken brapa kembang dan kasiken pada itu anak kecil. Begitulah sampe brapa sa'at marika berjanda dengan itu anak kecil di pekarang depan situ. Kemudian Yanta menanyaken Sunjata dan Yanie. “Oh, marika lagi berada di serambi blakang. Marilah aku anterken kau,” sautnya Sri dan lalu ajak tamunya itu masuk ka dalem.

Sunjata dan Yanie sambut kedatengannya Yanta dengen sanget girang. “Inilah kaeo punya anak?” katanya Yanie. “Ia sanget mungil. Cuma sayang ia tida beribu. Kesian.” “Papie aken cariken Niek ibu,” Driyanie menyautin maski tida diajak bicara. Semua tertawa kutika dengen bicaranya itu anak yang lucu. “Dan yang gendong kaeo ini bukankah kaeo punya ibu?” kata Yanie. Driyanie tida menyaut hanya awasin Sri Sumarsih sambil bersenyum. Sri punya selebar muka lalu tertampak berobah merah. Marika itu lantas pada beromong-omong dengen uplek. Kemudian Sunjata menyataken, bahua Driyanie harus tida diajak pulang lagi, hanya kudu ditinggal di kawedanan situ, di mana tentulah itu anak aken mendapat rawatan terlebih baek daripada di bawah rawatan ayahnya, satu duda. “Ia ada menjadi penghibur dari penghidupanku, mas. Kalu ia dipisah bagimanakah rasa hatiku?” sautnya Yanta. “Sedeng aku telah berjan-ji bahua aku aken senantiasa menjadi ayah dan berbareng merangkep jadi ibu........” Sri Sumarsih denger itu ucapan hatinya seperti merasa tertusuk. Ia taruk banyak kesian pada Yanta yang sial. Maka kutika dapet jalan, ia lantas berlalu tinggalken marika. Kemudian Driyanie kutika meliat bahua Sumarsih tida tertampak, lalu menanyak pada ayahnya: “Papie, mana ibu Sri...........” “Siapa! Kau punya ibu, kaeo punya mamie?”

Yanie menggoda. “Ya,” sautnya Driyanie. Semua tertawa kutika mendenger katanya itu anak kecil. “Adakah kau sudah kepingin punya mamie?” Yanie tanyak pula. “Ya.” “Liatlah, ‘dek Yanta, Driyanie sudah kepingin punyaken satu ibu, adakah kau tida kesian pada nya,” kemudian Sunjata berkata. “Tapi tokh kau punya papie ada menjadi juga mamie?” katanya Yanta sembari angkat sang putri dan taruk atas pangkuannya. “Katanya papie aken cariken Niek satu mamie,” itu anak kata pula. Kombali semua pada tertawa. Yanie bangun dari duduknya dan angkat itu anak dari pangkuannya sang ayah. “Ayo, ’nak, cari'in kau punya ibu........” katanya Yanie dan sambil tuntun itu anak. Driyanie dibawak ka kamarnya Sumarsih, siapa yang lagi lamunken pikirannya jadi sanget terkejut kutika dengen mendadak dapet tau bahua Yanie bersama Driyanie telah masuk ka dalem kamarnya. “Ini kau punya ibu, turutlah padanya,” kata nya Yanie. “Kau punya ibu memang nakal, ya, bareu ketemu sudah tinggalken pada Niek.” Sri Sumarsih bersenyum dengen mukanya berobah merah. Itu gadis lalu angkat itu anak, gendong dan lalu ciumin pipinya yang montok beru lang-ulang. “Kalu panggil dia, panggilah ibu, ya Niek,” katanya Yanie.

Driyanie manggutken kepalanya. “‘Bu, Niek minta kembang lagi,” kemudian Driyanie berkata. “Minta kembang? Ayolah aku bawak ka kebonan,” sautnya itu gadis dan gendong itu anak menuju ka pekarang depan. Yanie telah samperin kombali pada Yanta yang masih asik bercakep kepada Sunjata. “Liat, kau punya anak rupanya suda sanget setuju punyaken Sri sebagai ibunya,” katanya Yanie sambil bersenyum. “Kau selalu menggoda, ’mbak-yu,” sautnya Yanta dengen muka kemerahan. “Tapi tokh pantes kalu ia menjadi ibunya?” Yanie kata pula. “Tapi anak itu nanti aken terlebih girang menganggep iapunya ayah ada sebagi ibunya juga, dua dirangkep menjadi satu,” Yanta kata pula. Yanie awasin Yanta dengen sinar mata penuh artian. Kerna dipaksa, Yanta kepaksa itu malem menginep di kawedanan situ. Malem itu Driyanie tida tidur dengen ayahnya, hanya tidur sama Sumarsih. Pagi-pagi bangun, Yanta sudah dapetken bahua anaknya bersama Sri telah berada di taman dan petikin brapa kembang. “Eh, masih pagi begini kau sudah bikin repot tante kau, Niek,” kata Yanta. “Apa kau tida suka ia bikin repot padaku, mas?” kata Sumarsih. “Tida; cuma aku kwatir ia banyak menganggu kau.”

“Kalu aku kwatir diganggu, tentu aku tida ajak ia petikin kembang.” Yanta bersenyum simpu. Yanie kutika kluar dan meliat marika lalu bersenyum dan kata: “Niek, yang akur ia sama ibunya...........” Yanta dan Sumarsih cuma bisa saling bersenyum. “Niek, sudalah nanti kau jangan pulang, tinggal saja di sini bersama ibu Sri........” Yanie kata pula. “Ya,” sautnya itu anak, “kalu sama papie di sini.” Kombali marika tertawa. “Kalu kau punya papie tida mau tinggal di sini?” Yanie tanyak pula. “Niek juga tida mau.” “Dan kalu ibu Sri ikot ka rumah kau, boleh?” “Boleh............” Marika kombali tertawa. “Ah, ‘mbak-yu masih pagi-pagi begini sudah menggodain orang!” kata Sri dengan muka kemerahan. “Masih begini kecil kau sudah pinter biycara, Niek.” Gadis itu lalu cium kedua pipinya itu anak. Kemudian, kapan kebetulan Yanta dan Yanie berada berdua'an di kamar tamu, di mana Yanie sembari pangku iapunya putra ia sambil bercakep-cakep kepadanya. “Kau musti menikah pula, ’dek Yanta,” kata-nya Yanie. Denger itu ucapan Yanta kliautan aken mengembengken aer-mata, tapi akhirnya rupanya ia dapat tindes aken terkluarnya itu dengen iapunya kekerasan hati. “Aku telah namaken putriku Driyanie, inlah sudah cukop buat aku nanti liwatken penghi-dupanku sampe di akhirnya,” kemudian Yanta menyaut. “Yanta sudah cukop berdosa dan tida harus coba aken mempersakitin hatinya saorang prempuan laen............” Apa yang Yanta ucapken, sebenernya memang bukan ucapan kosong, hanya itu telah tercipta dari iapunya keyakinan. Ia tida aken lupaken Yanie maka ia namaken putrinya dengen mengambil sebagian-sebagian dari dua nama yang tergabung. Yanie pun tida aken lupaken bahua satu hari ia pernah kasiken iapunya hati kepada Yanta dan peringetken itu dengen namaken iapunya putra dengen nama Wuryanta—dua bagian nama yang tergabung. “Tapi keyakinan itu ada sanget menyakitin hatiku,” kemudian Yanie kata pula. “Kau sanget ke-jem dan kau rupanya aken senantiasa membiar-ken luka-luka itu tida aken sembuh........” Yanta awasin padanya dengen sinar mata menanyak. “Dan perbuatan bagimanakah yang tida bikin kau sakit hati?” tanyak Yanta. “Kau menikah dan hideop bruntung dengen itu pernikahan, itulah aken bikin aku nanti bisa tinggalken ini dunia dengen mata merem apabila telah sampe itu tempo............” Aer-mata yang sedari tadi ditahan, sudah tida dapat ditahan pula, lalu menggalir kluar. Yanta buru-buru pesut itu aer-mata supaya nanti tida dipergokin orang.

“Ya, aku nanti menikah pula...........” sautnya Yanta.

Yanie hatinya sanget terharu, tapi ia awasin Yanta dengen sinar mata yang menggenggem kepuasan kerna itu jawaban.

Siangnya, setelah makan tengah hari, Yanta lalu berpamitan pulang.

Itu waktu berpisahan ada sanget mengharu-ken, kerna Driyanie agaknya berat berpisahan pada Sri dan minta itu gadis ikut padanya.

Semua pada tertawa dengen mengalirken aer-mata kerna kelucuannya itu anak.

Sri Sumarsih hatinya terasa kosong dan rumah itu mendadak terasa sunyi, satelah tamu itu ter-linyap dari depan mata.

Ternyatalah kejadian kemaren, satu hari saja, telah merobah banyak sifatnya iapunya peng-hidupan.

Sadiek itu, boleh dibilang ampir saben malem minggu, Yanta bersama putrinya telah kunjungin itu kawedanan, kerna Driyanie pun selalu minta itu kepada ayahnya.

Satu hari Yanta telah dapet kepastian dari Sri tentang sikep dan batinya.

“Sri,” katanya Yanta,“ sebenernya aku sudah ti-da berharga pula buat mengrecokin kesucian-nya satu gads yang suci. Tapi itu keada'an dan itu laen jiwa, memaksas bahua aku tida harus kukuhin keyakinan sendiri...........”

Sri tida menyawab kecuali tundukin kepalanya.

“Kau perlu tau, Sri, kau telah serahken kau punya kemulia'an, keagungan dan kesucian, pendeknya segala apa dari kau punya kepunya'an. Tapi, ya tapi, kau tida aken dapetken kebruntu-ngan sebagi selayiknya istri-istri yang laen. Kau bukan cuma aken jadi istri, tapi pun aken jadi ibu dari saorang anak yang bukan dari kau punya kandungan........”.

“Aku pun cuma bertujuan sekedar jadi ibu dari Driyanie yang aku suka........” begitulah sautnya Sri dengen muka merah dan sembari usap-usap rambutnya Driyanie yang berada atas pangkuannya.

Yanta sanget terharu dan lalu cium putrinya.

Begitulah itu ucapan-ucapan dan itu perjanjian-perjanjian, brapa bulan kemudian telah dilangsungken dengen pernikahan yang dirayhken sanget rame dan dikunjungin oleh ampir semua golongan ambtenaar dan orang-orang ter-nama, kerna yang menikah ada adenya satu Wedana yang bijaksan dan Dr. Driyanta yang harum namanya berhubeng dengan iapunya pekerja'an di kalangan sociaal.

TAMAT.


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.