Baca EPUB: Mariam

16 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. MARIAM
  2. SO KHUAN HONG
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. EPIGRAF
  6. I
  7. II
  8. III
  9. IV
  10. V
  11. VI
  12. VII
  13. VIII
  14. IX
  15. X
  16. XI
  17. UNCOPYRIGHT

MARIAM

SO KHUAN HONG


KOLOFON

MARIAM

oleh

SO KHUAN HONG



Drukkerij & Illustratie Bureau

HAHN &CO.

Suikerstraat 1-3—Surabaya.

1929

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: digitalcollections.universiteitleiden.nl

Ilustrasi sampul: Liebesgram (Travails of Love) from the periodical Kündung, vol. 1, no. 3 1921, karya Franz Radziwill

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam.com



EPIGRAF

“Dunia ini yang luas ada penuh dengen kotoran,

Sebab begitu kabincanaan sekalu ada diamperen,

Delem segala hal bila tida di laku'en dengen aturan,

Kacilake'an dan baheya nanti dateng ibarat eer pancoren.”

(LIE KIEM HOK)


I

Tida ada dosa paling besar dalem

penghidupan manusia daripada

dosanya satu lelaki yang kapirken

penghidupannya suatu prempuan

—satu prempuan yang masih suci.

M. Novel

Itu tempo ada jam 4 pagi di pertengahan bulan Maart dari taun 1897. Hawa ada dingin dan udara tertetutop dengen mendung-mendung tebel, sementara itu, sang ujan yang dari semalemnya turun rincik-rincik suda bikin bumi jadi becek, didalem keada'an begitu, sedengnya orang-orang yang termasuk golongan mampu masih rebah di atas pembaringan, adalah itu orang-orang desa suda kliatan di straat-straat—ada yang pikul apa-apa, juga ada yang menyourung grobak, buat bawa barang dagangannya di pasar-pasar.

Ini ada kejadian di satu tanah pedusunan Sekar Putih; satu tempat yang jauh dari passisir, tapi penduduknya dibri berkah oleh Allah sebab tanahnya ada subur, ampir setiap musim penduduknya bisa pungut dengen ba'gus hasilna marika punya tetaneman seperti: jagung, padi, kedele, kacang, wijen d.l.l.

Taikala itu, didalem satu rumah petak kecil yang pernanya di tepi straat tikungan, terayu dengen satu puhun asem yang besar, ada tinggal saorang prempuan T.H. muda dengen satu babu dan satu anaknya kecil yang baru sedikit bulan dilahirken. Dari mana asainya itu nyonya muda? Apa pakerja'annya? dan siapa familienya? Ini ada perkara yang kita mau terangken diblakang, buat sekarang kita mau tuturken itu prempuan ada sedeng sakit keras.

Itu rumah ada amat kecil, payonnya tertutup dengen zink, dindingnya dari papan, dan diliat dari keduduckannya yang suda banyak reyot, daon jendela dan pintunya yang suda bobrok ada kasi kentara bahua rumah itu suda tua sekali, sementara orang-orang yang menempati musti terdiri dari familie miskin adanya.

Prabotannya itu rumah ampir tida ada yang bisa disebut berharga. Kita cuma bisa liat di ruwangan depan sama sekali kosong kacuwali satu meja knap dan dua krosi tua, disebla dalem satu baleh dari bambu dan di sampingnya ada berdiri satu meja besar yang terbikin dari papan suren. Di pojok sebla kirinyia ada terliat satu lemari pakean dengen kacanya suda ditambal sama kertas lantaran bekas pica, di atas mana ada diato satu koffer dari zink, dan percies diseblah itu lemari, ada lagi satu divan.

Penerangan satu-satunya dari itu rumah yalah satu lampu templek yang dicantelken pada satu tiang dari kayu jati yang saolah-olah menyadi penahan bagian tengah dari itu rumah, dan dari sinarnya itu lampu yang gurem kita bisa liat di atas itu baleh-baleh ada sedeng rebah satu badan, sementara di sampingnya ada duduk satu prempuan Bumiputra, dan seperti orang yang sanget lela ia tutup mukanya dengen kadua tangannya sembari jateoken itu di atas lututnya.

Di dalem itu rumah kita liat ada sunyi sekalii, selaennya sebentar kita denger satu ngelahan napas yang panjang, sedeng begitu, diluear ada terdenger jatunya aer hujan, dibarengin dengen suaranya pikulan dan roda-roda grobak dari itu orang-orang desa yang berjalan sebagian besar me-nuju ka satu jurusan.

Sesa'at itu, badan yang menggletak di atas itu baleh-baleh kliatan sedikit bergerak, ampir berbareng dengen itu ada terdenger suara berkata:

“Sima, kau cape ya?”

Itu bujang jadi terpranjat dan dengan gugup menyaut:

“Tida nona, aku tida cape.”

“Kau tida cape? Kau tida bosen tungkulin aku yang begitu lama dalem sakit?”

“Kenapatah kau tanya begitu, nona? Aku punya kacinta'an padamu ada telalu besar buat aku merasai cape dan bosen.”

“Oh, kau ini ada saorang yang baek amat, biarlah Allah berkain kau, Sima” sembari berkata begitu itu nyonya muda rabah-rabah tangannya iapunya bujang yang nyata ada setia sekali padanya.

Tiba-Tiba dari itu divan kecil ada terdenger suara tanginsnya anak bayi.

“Sima, apa kau mau tulung bawa itu anak kemari?”

Sembari menyaut “baek” Sima lantas berbang- kit, dan sedikit sa'at kamudian balik lagi dengen empo itu bayi. Sekarang Sima menyampirin itu lampu, dan dengan puter sedikit knoopnya bikin pemandengan di situ jadi sedikit lebih terang, dan kita bisa liat lebih teges apa yang tadinya kita cuma bisa tau dengen samar.

Itu prempuan yang rebah di atas balee-balee, menurut taksiran usianya tida lebih dari 25 taun. la punya badan ada sanget kurus, warna mukanya ada amat pucat; rambutnya yang gompiuk ada item jengat dan tida terkonde. Biarpun ia punya penyakit yang menyerang lama pada dirinya bikin ia punya paras jadi berobah, tapi, dikoompul jadi satu, itu mata, alis, idung, mulut dan janggut, ada kasi kentara bahua. tadinya itu prempuan ada berparas eilok.

Itu nyonya ada kliatan layu;· layu seperti bunga roos yang pata dari tangkenya dan kasegerannya suda di isep oleh panasnya matalhari. la ada berpakean bajoae kaen panas warna ijo muda, dan dibetulan dadanya yang tida terkan-cing rapet ada kasi liat ‘kulitinya’ yang putih meletak laksana bunga melati, napasnya ada sengal-sengal lantaran apa membikin itu dada jadi seperti berombak. la batuk dan batuk lagi sampe tenaganya klia-tan habis. la punya mata tinggal terbuka maski pun gerak-gerakannya tida gesit, dan ada bersorot begitu rupa hingga bagi satu akhli kebatinan manusia, dengen memandeng sekejap bisa bade dengen jitu, di situ musti ada tersimpen satu hati yang jujur dan mulia.

“Oh, Sima”, berkata ia akhir-akhir sembari cium kepala anaknya “tida salah apa yang orang sering bilang, kita orang idup seperti mengimpiah, dan aku sekarang bakal sedar dari kapulesan.” “Aku tida mengerti maksudmu, nona.” “Aku mau bilang yang aku bakal tinggalken ini dunia, tinggalken sekalian isinya yang tercinta....” “Tapi nona...... akh! tapi kau masih ter-lalo muda” menyacet Sima dengen swara ter-haru.

“Kematian tida menunggu tempo—dia seret pada siapa yang musti diseret.” “Tapi kau tokh kasian pada ini anak? Ini anak yang perlu dapat kau punya kacinta'an, sekali pun hal tanggungan merawati ada jato pada aku punya kwajiban” jawab Sima kita yang berbudi.

“Oh, Sima, janganlah kau ucapken itu omo-ngan, sebab tiap-tiap perkata'anmu ada seperti duri yang menuseook aku punya hati. Aku punya sumanget tinggal terang, aku cinta betul pada itu anak seperti ujung langit yang tida watesnya, tapi aduh...... aku punya raga suda rus-sak, dan saupama gedong aku suda sampe diajalnya buat jadi ambruk; Sima, kalu anak-ku besok suda bisa bicara dan mengerti apa-apa, sampekenlah aku punya perkata'an bahua aku ini ada cinta padanya lebih-lebih dari laen ibu pernah menyinta pada anaknya, dan...... dan.......”

.Belon habis nyonya itu ucapken perkata'annya ia lantas batuk lagi, dan ini kali dari mulutnya ada kluar sedikit darah.

Buru-buru Sima angkat itu bayi dari sam- ping ibunya, ia taro padanya di atas divan yang kamudian sendirinya lantas tulung itu nyonya muda.

Menurut kebisa'an, kalu habis batuk ia punya keada'an lantas jadi lebih payai‘, tapi ini kali itu nyonya muda kliatan lebih kuat, dengen swara tetep ia berkata:

“Sima, sobatku, sang tempo ada sedikit sekali, lekas kau buka itu lemari dan tulung bawa padaku itu peti kecil.”

Zonder ucapken sepata perkata'an Sima sigra ambil itu barang yang diminta. Itu nyonya lantas ambil dari bawah bantalnya satu kunci kecil dengen apa itu peti sebentar jadi terbuka.

“Sima, kau suda berbuat banyak kebaekean atas diriku selamanya ini 5 taun. Aku belon bisa bales, aku memang tida bisa bales, dan sekarang dateng itu waktu di mana aku perlu kau punya pertulungan.”

“Bilanglah, nona, bilang apa yang kau mau?”

“Aku mau taro pikaelan di atas pundakmu, pikaelan yang berat sekali.”

“Aku takut nona...... Biarpun sabetul- nya aku sanggup.”

“Kau takut? Apa kau tida kasian dan cinta padaku?”

“Aku kasian dan cinta kau lebih dari jiwako sendiri.”

“Baeklah sekarang aku pesen, ini anak aku serahken padamu.”

“Tapi nona.........”

“Diam! Aku merasa kematianku ada menung-gu deket sekali; kau ambil itu anak, rawat dia dengen baek, bikin apa yang kau rasa pantes seperti anakmu sendiri, dan ini” sembari berkata begitu ia kluarken dari itu peti satu envelop “ini surat kau pegang sampe dia suda umur 20 taun, kau lantas seraken padanya.”

“Aku mengerti nona.”

“Seande...” berkata lagi itu nyonya sesu-danya buwang napas panjang saolah-olah ilang-ken rasa ca'penya “seande dia tida bisa hidup sampe umur sebagitu, dan........”

“Dan?”

“Dan kau bakar itu socrat.”

“Baek, nona, aku mengerti kau punya pesenan dan aku nanti lakuken seperti yang kau ingin.”

“Trima kasi Sima, sekarang hatiku seneng.”

Kombali itu bayi yang tadi disingkirken di atas itu divan kedengeran menangis. Sima sampirin padanya dan bawa itu dideket ibunya.

Itu nyonya muda tida ucapken sepata perkata'an lagi. la punya napas kedengeran mem-buru, bibirnya kliatan sedikit bergerak seperti mau bicara apa-apa tapi tida bisa kluarken suara. Sima mengerti maksodcnya iapunya majikan, ia lantas angkat dengen pelahan itu bayi dan dengan hati-hati sekali ia tempelken kepala-nya itu anak pada mulut ibunya.

Nyonya itu kliatan girang, dan cuma mata yang tajem itu tempo bisa meliat yang iapunya tangan ada sedikit bergerak ampir tida kentara.

Tapi helaas! Itu cahaya kagirangan cuma kliatan sebentaran saja. la punya mata yang ta-dinya masih kliatan terang sekarang jadi gurem, gurem seperti sinarnya sang lampu templek yang apinya ampir padem lantaran keabisan minyak. Ia punya gigi ada terkancing, bibirnya yang memang pucet sekarang jadi sedikit birce.

“Oh, nona, nona!” meratab Sima dengen suara ketakutan Oh, Allahku! apa sekarang suda sampe diajalnya—kasianlah Gusti, kasian pandanya yang masih begitu muda.“

Sesa'at itu dari jauh ada kadengeran kentongan terpukul 5 kali, menyataken yang dunia suda fajar—di atas puhun di luar rumah tida ada terdenger nyanyiannya burung sebagimana biasanya bila maeo terang tanah, dan sebagai gantinya, orang cuma denger suaranya angin yang memukul pada cabang? puhun dengen dibarengin sama turcennya ujan yang lebih santer.

Sima kita sedari bebrapa menuut yang paling blakang tinggal bengcng seperti satu orang yang tida berdaya. Ia punya mata terbuka lebar mengawasin mukanya itu nyonya yang itu tempo suda deket pada ajalnya. Pemandangan di itu rumah jadi sanget serem, keada'an ada gelap sebab sang lampu suda tida bisa kasi penerangan lagi, Sima coba kasi kluar sumbunya supaia api bisa menyala terus, tapi percuma! Minyak suda habis, api musti padem. Demikianlah dalem keada'an yang begitu ngenes, Siem Hiang-nio, saorang prempuan muda yang baru berusia 24 taun, dan yang seharus:nya masih banyak pengharepan buat rasaken manisnya penghidu-pan, suda musti tinggalken ini dunia, tinggal ken orang-orang yang ia cinta dari sebab minyak dari

Cerita Roman kehidupannya suda habis, seperti yang kejadian cengen itu lampu.

Oh, ibuku, ibuku! kenapa kau gitu tega hati? Begitu muda kau suda brangkat mati. Kacinta'an padaku. oh siapatah yang aken ganti? Dan apatah yang bakal jadi padaku di hari nanti?


II

Buat prempuan penggoda yang

paling besar dan jail dalem dunia

adalah itu roman cakep,

omongan manis dari suatu lelaki.

Buat lelaki penggoda yang paling

besar dan jail dalem dunia adalah

itu roman cilok, sorot mata dari

suatu prempuan. Cuma itu

ada satu-satunya penggoda yang

orang jarang mampu menyingkir

kendati liat di muka ada iblis dan

mengadang banyak rintangan.

M. Novel

“Sekarang, buat yang pengabisan aku kasi tau padamu, Hiang, supaia itu persobatan antara kau dan Tong-liat dari ini hari dibikin putus. Aku lebih suka korbanken segala apa laen yang ada padaku, daripada liat kau hidup dengan itu lelaki. Aku tau dia ada putranya saorang hartawan, tapi ia punya kekaya'an tida cukup buat bikin silo mataku, hingga aku musti serahken dengen ridlah hati satu barang yang aku cinta lebih dari jiwaku sendiri.

“Oh Hiang, kau musti jadisatu orang tua baru kau bisa merasa seperti aku ada merasai sekarang ini.” Perkata'an-perkata'an tersebut ada diucapken oleh saorang tua, Siem Gie-hian, satu sudayar kaen dan satu antara pendu'auk Tionghoa yang paling lama di Bumirejo.

Yang diajak bicara ada satu gadis umur kira 20 taun. Badannya langsing, kulitnyia putih muka eilok dan dari hal klakuannya, menurut orang-orang yang pernah bergaul padanya tida ada satu apa yang bisa dicelah, ia punya watek alus, hatinya murah dan gampang kasian pada sesamanya yang dalem susa. Itu gadis ada bernama Siem Hiang-nio, anak satu-satunya dari siansing Siem Gie-hian, dan pada waktu ini cerita terjadi Hiang-nio suda tida mempunyai ibu; ia idup berdua'an dengan ayahnya, beserta satu babu bernama Sima, yang telah ikut pada waktu itu familie sedari Hiang-nio baru bisa belajar jalan.

Pembicara'an di atas dilakuken waktu soree jam 9 di ruangan seblah dalem dari ia punya rumah yang pernahna di samping ia punya toko. Gie-hian duduk di krosi males, anaknya duduk di atas divan betulan sebrangnya.

“Kau musti inget, Hiang”, berkata Gie-hian lebih jauh “sedari berusia lima taun kau punya ibu suda meninggal dunia. Brapa besar aku tanggung duka itu tempo? Aku punya penghidupan ada melarat; begitu rupa hingga satu waktu pikiran pendek dateng padaku; lebih satu kali aku inget buat habisken jiwaku lantaran aku sendiri selalu berpenyakitan, tapi senantiasa aku inget pada dirimu saorang! Siapa nanti yang piara kau jika aku tida di dunia? Dari sebab begitu, jadilah aku bisa kuwatken hati buat lawan segala kasukeran; aku banting tulang, zonder merasa cape aku bekerja sekuat tenaga guna kumpul uwang aken bikin baek kita punya penghidupan, sampe akhirnya, trima kasi pada Allah kita bisa hidup begini rupa.”

Hiang-nio tinggal tunduki kepalanya, aer matanya turun berketel-ketel bikin basa ia punya pangkuan, samentara Gie-hian lanjutken omongannya:

“Kau masih ada terlalu muda, Hiang, buat bisa bedahken perkera baek dan jahat. Apa lagi dalem sual cinta, sunggu kau harus jangan gegaba buat terjunken diri, sebab satu kali kau suda anyut, tida gampang kau bisa tulung dirimu. Kau nanti kintir seperti satu kayu balok yang kintir digelumbang sungi Brantas, dan terdampar di segala tempat di mana dia sampe.”

“Tapi, tapi ayah, dia ada sanget cinta padaku”. berseru Hiang-nio dengen swara seperti minta diampuni.

“Dia cinta padamu? Bagimana kau boleh tau itu? Buat bilang kau cinta padanya itu aku mengerti, tapi atas ia punya kacinta'an padamu aku merasa sangsi. Tida, Hiang, aku orang tua, aku punya pemandangan lebih tajem dari kau. Laen dari itu, kau baru kenal padanya cuma buat sedikit bulan, bagimanatah kau bisa kenal dia punya keada'an yang betul? Jikaludia brani nyataken cinta padamu, tentu itu palsu adanya, dan justru cinta palsu ada satu hal yang harus ditakuti bagi saorang prempuan seperti kadudukanmu.“

Hiang-nio coba buka mulutnyia seperti hendak bilang apa?, tapi sebelonnya kluarken swara, Gie-hian geraken tangannya dan berkata lebih jauh:

“Anakku, lama sekali aku pikir, cara bagimana buat atur kau punya penghidupan supaia beruntung diblakang hari. Banyak lamaran sebagitu jauh aku belon dapatken satu lelaki, yang aku menuju aken jadi kau punya pasangan, sampe pada satu hari, yatlu satu bul'an di muka tempo aku dateng di Sumberdadi, di sana aku suda berjumpa pada sobatku lama yang ada mempunyai satu anak lelaki, dan atas mufakatnya kita berdua kau punya diri aku suda tunangken pada ia punya jejaka.”

“Ayah......!”

“Tunggu dulu Hiang, aku bicara belon habis. Aku punya sobat itu bukan orang harta-wan, anakna juga ada bekerja pada satu toko, tapi ia punya adat ada baek, dan sepanjang kabar yang aku denger dia ada terkenal satu anak muda yang alim serta sopan, dari itu, akce ampir brani pastiken, jikalud kau hideop sebagai swami-istri padanya, niscaia kau nanti jadi orang yang paling seneng dalem dunia.”

“Ayah”, menyaot Hiang-nio sesudanya Gie-hian diam sedikit sa'at, “belon pernah selama aku membantah apa yang kau punya kainginan-tapi, tapi am pun, ayahku, idinkenlah ini kali aku bawa kemauanku sendiri........”

“Tida, Hiang, tida! Allah tau sampe habis brapa besar aku sayang padamu, tapi dalem ini urusan, demi atas nama ibumu di tempat bakah, aku melarang dan aku manyega buat kau lanjutken niatenmu aken menikah pada itu lelaki. Tapi” berkata Gie-hian lebih jauh dengan swara sedikit murka “jikalud ini kali kau melanggar aku punya mau, niscaialah kau nanti rasaken satu kamanyeselan yang hebat, yang kau nanti tanggung saumur hideopmu; sebab, sebabna aku nanti pandeng di dunia ini aku hideop sendirian, dengen tida ada orang yang menyinta padaku dan tida ada makhluk yang aku cintai.”

“Kau kejem, ayah”! menjerit Hiang-nio yang sekarang jadi menangis sesenggukan.

“Aku tida kejem, anak, aku melakuken sebagi kwajiiban dari satu ayah yang menyinta.”

Precies baru saja itu perkata'an habis diucapken, babu Sima masuk kedalem dan kasi tau yang diluear ada tamu kepingin ketemu.

Gie-hian berdiri dari krosi dan berjalan kluar buat sambut tamunya, tapi dengen mendadak ia punya paras yang tadinya memang kasi tunjuk kurang seneng sekarang jadi kliatan lebih kentara temoo liat itu tamu bukan laen dari Tong-liat adanya.

Tan Tong-liat ada saorang muda yang usianya baru masuk antara 25 dan 27. Iapunya badan ada tegep, kulitnya warna kuning, aer mukanya ada sehat. Ia pcenya swara ada lancar dan jika bicara ada terdenger begitu rupa, hingga segala orang yang baru kenal lantas kepingin kumpul lebih lama.

Ia ada putranya saorang hartawan di Kotagede, satu antara tempat pesisir diseblah utara dari Yava yang paling rameh, dan paling penting, di mana, segala sudagar-sudagar besar dari rupa-rupa bangsa ada berdiam dan lakukeen pakerja'annya sehari-hari.

Tong-liat suda pernah menikah pada gadis bangsanya, tapi sesudanya hidup 6 taun, sang istri telah meninggal dunia dengen tinggalken satu anak lelaki yang berusia 5 taun, Tan Poocu namanya. Itu anak sekaran ikot pada Tan Cien-cwan, papa cangnya, sebab familie dari fihak ia punya ibu suda tida accoord dengen familie dari Tong-liat, lantaran begitu perhubungan familie jadi putus sedari sekean tacon lamanya. Lebih jauh ada tersiar kabar bahua meninggalnya ia punya istri ada disebabken lantaran terlalu banyak dirongrong oleh Tong-liat, yang sekali pun suda ada anak, tapi ia masih gemar hidup dengen laen prempuan diluaren.

Waktu ini cerita kejadian, istrinya Tong-liat baru meninggal sedikit bulan di muka. Di Bumirejo ia ada mengorus satu pakerja'an ayahnya, yaitu satu cnderneming kapok yang ia baru ambil over dari satu orang laen, di sini Tong-liat baru tinggal kira 4 bulan, dan berdiam disatu rumah yang ia sewa sebagai pesanggrahan.

Saben kali bila Tong-liat habis bekerja ia suka duduk di tokonya Gie-hian, sebab antara itu dosa sudagar ada sedikit perhubungan. Satu tempo kalu Gie-hian perlu kirim pembayaran utang pada toko-toko di Kota-gedeh ia lakukeen itu dengen beli surat-surat wissel dari Tong-liat.

Begitulah adanya hal hingga dengen pelahan Tong-liat punya perhubungan pada familie Gie-hian jadi lebih rapet. Gie-hian percaya Tong-liat ada satu anak muda yang pantes, lantaran apa ia liat tida ada sebab buat nyataken keberatan aken iapunya gadis berkenalan padanya.

Dalem perkenalannya pada Hiang-nio tida jarrang orang dapetken Tong-liat duduk berdua'an, dan justru di itu waktee oleh Tong-liat di gunaken sebagi satu kutika yang baek buat tanem iapunya bibit percinta'an di hatinya itu gadis yang masih bersih, seperti juga itu bibit dapet tanah yang subur, pelahan tapi tentu ia bersemi hingga saben hari jadi berakar lebih dalem.

Gie-hian, sebagi orang tua bukan tida tau adanya hal, tapi ia tida mau menghalang-halangi, sebab didalem hati sendiri ia pun dapat rasa penuju pada itu jejaka, yang selaennya ca-kep, juga pande atur pakerja'an.

Tapi sesudanya Gie-hian kenal Tong-liat lebih lama, anggepan baek atas dirinya itu orang muda lantas jadi brobah; itu keharga'an yang tadinya ia kasi begitu tinggi sekarang jadi kurang, lantaran dapet tau, dalem cara hidupnya sebagai saorang muda Tong-liat tida kasi unjuk kabersian sebagimana lebih dulo ada dikira, bukti-bukti sering kasi liat, yang di rumah pesanggrahannya, Tong-liat acap-kali berbuat perkara-perkara yang boleh menurunken drajatnya sendiri, yaitu dengan bawa prempuan-prempuan jalang, dan satu kali ampir kejadian satu perklaian heibat kerna ia suda kesala'an bawa di situ itu prempuan yang justru ada suaminya.

Dari wates itu waktu Gie-hian mulai ku-rang kapercaya'an atas dirinya Tong-liat, Biarpun itu ia tida kasi kentara, dengan akal ia mau cega supaia tali perhubogenan pada Hiang-nio jadi lekas terputus.

Sedeng begitu, Tong-liat juga seperti merasa yang Gie-hian punya prilaku terhadep padanya ada laen dari biasa, tapi dalem hal itu ia tida mau bilang apa-apa, maka seperti kita suda liat di seblah atas, antara itu dua orang sekarang ada berjumpa.

“Aku mau kasi tau satu kabar baek cek” berkata Tong-liat sesudanya ambil tempat du-duk. “Tadi aku ada trima surat dari ayahku yang menyataken setuju atas aku punya voor-stel buat kasi kluar kapitaal paling sedikit f 100.000.—guna berdiriken satu fabriek beras di ini tempat, yang aku tau ada kasi kluar hasil padi besar sekali.”

Gie-hian belon menyaut samentara Tong-liat lanjutken omonganuya: “Ini hal aku hendak lakuken begitu lekas sebisanya supaia lantas kejadian, segala apa suda sedia, tapi, tepi cu-ma ada satu yang kurang.”

Gie-hian berdehem.

“Seperti kau tau cek” berkata lagi itu anak muda “jikalu itu fabriek dibikin suda tentu aku bakal jadi pengurosnya, dan buat itu aku kudu ada punya rumah tangga yang pantes. Sebab sekarang aku hiup bersendirian, maka jikalu kau suka idinken, dengen hormat aku menyataken padamu bahua aku kepingin pilih nona Hiang-nio buat jadi aku punya istri, pada siapa aku nanti bagiken aku punya ka-bruntungan hidup.“

“Aku harus bertrima kasi atas kau punya keharga'an atas diri anakku, neef” jawab Gie-hian dengen sabar “tapi aku menyesel buat bilang bahua datengnya kau punya lamaran ada sedikit laat, sebab sedari satu bulan di muka Hiang-nio punya tangan aku suda seraken pada laen orang.”

Tong-liat punya muka jadi pucet; ia jadi kaget sabab tida dug bakal denger hal begitu, kringet dingin kliatan kluar dari jidatnia yang lebar, dengen suara sember ia berkata: “Kau suda seraken iapunya tangan pada laen orang? Tapi ma'af cek, aku bilang terus terang, yang, yang atas kahendakannya nona Hiang-nio sendiri iapunya HATI suda diseraken padaku.”

Sama sikali Gie-hian punya muka tida bero-bah mendenger itu, dan dengen swara tetep ia menyaut:

“Neef Tong-liat, seande katamu itu ada betul, kau harus tida lupa bahua Hiang-nio masih punya papa, oleh siapa ia punya diri ada terlin-dung, dan di bawah kekwasa'an siapa ia ada hidup.”

“Tida sala apa yang kau bilang cek, tapi juga, dengen hormat aku minta kau tida lupa, jikalo kau cega apa yang kita berdua suda pikir baek, ini lantas berarti kau bikin dua kesalahan. Pertama kau bikin hancur hatinya nona Hiang-nio dan kadua kau bikin luka hatiku.”

“Tida neef, tida! biar bagimana juga aku bilang sekarang, bahua perkawinan antara kau dan Hiang-nio tida bisa kejadian, sebab aku tau pasti yang itu tida nanti bawa kabruntungan.”

Perkata'an-an dari Gie-hian yang bilang: “terlin-dung” “kekwasahan” dan “tida bawa kabruntungan” bikin Tong-liat mengerti yang itu orang tua suda tau lebih banyak adanya ia punya rasia, dari sebab itu ia lantas berkata:

“Cik, aku seperti merasa tau apa yang jadi sebab kenapa kau trima aku cara begini, dan-jikalu kau mau kasi aku pengharepan, aku berjanji yang kesananya aku hendak tuntoot penghidupanku lebih baek.”

Biar bagimana terang Tong-liat meminta, tapi Gie-hian punya jawaban tinggal tetep seperti bermula, akhir-akhir dengan perasa'an malu Tong-liat ambil slamet tinggal dan berjalan pigi, sampirin ia punya gula-gula dan bawa itu ka ia punya pesanggrahan.

Cinta, kau ini ada barang yang amat mulia.

Tapi satu waktu kau juga ada berbahaya.

Kau menyamber dengen heibat pada sekalian manusia,

Dengen tida perduliken dia miskin atawa kaya.


III

Seribu banyak penuturannya orang tua

ada seribu banyak buat

kabekannya ia punya anak.

Langgar ia punya mau ada seperti

langgar maunya Allah

-kamenyesel nanti dateng lambat

atawa cepet.

M. Novel

Rita ada di permulaan dari bulan November, udara ada gelap gulita lantaran tertotuop oleh mendung, dan maski pun itu waktu baru jam 9 malem, di Sumberdadi keadaan suda sepi.

Di itu waktu perhubungan jalanan tida seperti adanya sekarang, di mana dengen gampang orang bisa pigi dari satu kalaen tempat dengen gunaken auto. Itu tempo kalu orang hendak pigi ke mana-mana, selaennya kreta api tida ada laen kandaran yang lebih ceplet, dan laen dari itu, satu kasokekeran laen lagi, adalah berhu-bung dengen aturan pas yang berlaku keras pada bangsa T.H., tida satu orang bisa kluar dari satu ka laen bilangan zonder bawa surat-surat katrangan yang perlu dari kepala pendudocek.

Seperti biasa pada saben 3 atau 4 bulan sekali Gie-hian pigi ka Kotagedeh buat beli barang-barang dagangannya, begitulah tempo ini cerita sampe di ini bagian, sedari kemarennya Gie-hian suda brangkat. Di rumahnya itu cuma tinggalken Hiang-nio berdua Sima dan satu bujang lelaki. Buat'thal ini Gie-hian tida taro kwatir, sebab, laen dari kebanyakan bangsa T.H. kaum kolot, Gie-hian itu didik gadisnya dengen cara merdika, yaitu satu kamerdika'an yang pantes.

Tatkala itu di bawah sinarnya satu lampu gasolin yang terang kita liat Hiang-nio duduk berhadapan dengan Tong-liat, orang siapa seperti pembaca suda tau ada jadi kecinta'annya kita punya gadis. Di atas meja ada ditaro dua cingkir thee dan satu piring terisi kuwe-kuwe. Brapa lama itu orang-orang muda suda duduk bicara ini tida bisa dibilang dengan pasti, tapi dari puntungnya sigaret di tempat abu roko yang ada begitu banyak, dapetlah diduga banua marika suda duduk lama sekali.

“Hiang” kadengeran yang satu berkata sesudanya saling memandeng dengan penuh kacin-ta'an sekean waktu lamanya “jadi kau percaya bahua didalem aku punya dada sekarang ada tersimpem satu hati yang luka, dan melingken kau saorang di dunia ini yang bisa sembuhken?”

“Aku percaya begitu besar padamu, ‘nko, seperti aku percaiya di dunia ini kahidupan kita ada dikwasai oleh Allah,” menyaut Hiang-nio dengan swara lembut.

“Kau masih tetepken perkata'anmu yang sampe di ini sa'at kau cinta padaku?”

“Aku tetepken demi segala apa yang aku pandang suti.”

“Jika begitu mengapatah kau tida suka menurut aku punya mau buat pigi dari ini rumah sebab ayahmu dengan terang menyataken yang ia tida setuju buat kita punya perkawinan?”

“Ko Tong-liat” sautnya itu gadis dengan swara yang memiluhkken hati “kalu kau bener kasian padaku, kau tentu bisa mengerti seande itu hal kejadain, brapa besar ayahku menanggung sedih? Dan apa yang orang luar nanti bilang atas diriku? Oh, dunia nanti pandeng padaku dengan kajemuan.“

“Tentang hal itu aku mengerti Hiang” jawab Tong-liat dengan swara tida berubah “Tapi kau juga tida harus lupa yang kau tinggalken rumah ayahmu buat pigi pada tempat kabrun-tungan. Barangkali buat sedikit tempo kau punya ayah nanti gusar atawa sedih sebab kau tida menurut prentahnya, tapi, diblakang jikalu ia tau kau hidup seneng, tentu ia turut seneng, dan penghabisan aku percaya pasti yang kau bisa hidup kumpul pula padanya; ini ada buat perkara yang kasatu, sedeng buat hal yang kadua” berkata ia lebih jauh dengan kebulken asep rokonya “kau kata apa orang nanti bilang kalu kau tinggalken rumah ayahmu? Tobat! kau ini seperti satu orang tua yang terlalu pikir banyak, tidakah kau ini tau, yang, didalem dunia ‘kita, bukan orang-orang pertama yang pernah berbuat itu hal, satu hal yang sama sekali bukan ada perkara kejahatan.”

“Kau punya bicara aku trima baek Ko Tong-liat, tapi sekarang begini: jikalu satu lelaki ingin punyaken satu istri, sedikitnya ia harep kesetia'an dari istrinya, dan jikalu sebagai satu anak yang pernah trima kacinta'an besar dari orang tuanya, serta dengan lupaken kasenengannya sendiri, itu orang tua, piara didik dan rawat itu anak sampe diyadi besar, aken kamudian sesudanya besar dengan tega hati itu anak sia-siaken kacinta'an orang tuanya dengan tinggalken itu ayah sendirian zonder ada yang merawati, apatah dari anak yang begitu, atawa dari satu istri yang semacem itu orang bisa harep kasetiannya dan justru itu lelaki ada kau sendiri.“ Tong-liat tida bisa buka mulut. la merasa kawalahan dengan tangkisannya Hiang-nio, yang selaaennya pinter atur perkata'an pun kasi nyata agungnyia ia punya budi pakerti, dan justru lantaran ini jadi bikin Tong-liat lebih tergila-gila.

“Apa boleat Hiang” akhir-akhir berkata Tong-liat dengan swara dalem, sementara dari sakunna ia kasi kluar sapu tangan yang berbaeoh hauem, dengan apa ia susut matanya sendiri “dasar aku punya peruntungan ada terlalu tipis. Aku sekarang cuma inget pada satu jalan; aku nanti batalken semua aku punya pakerja'an—aku punya pengharepan suda gagal—aku mau pigi disatu tempat yang jauh, jauh dari segala pergaulan—aku mau trima hukuman yang Allah kasi dan berbareng dengan itu, aku nanti bawa segala peringetan yang berhubeng dengan dirimu, sembari siang dan malem aku memuja supaia kau hiduo beruntung pada itu lelaki yang kau- punya Ayah telah pilih buat jadi swamimu, dan penghabisannya, jikalu aku suda cukup menanggung sengsara lantas....... ya lantas aku brentiken kahidupanku sendiri.”

“Adu, ko Tong-liat....!” treak Hiang nio seraya menubruk pada jejaka kacinta'annya “binasakenlah aku ini tapi jangan.... ja- gan kau ambil tindakan begitu nekat.”

“Sekarang Hiang-nio menangis dengen sedih di dalem pelukannya itu anak muda. ”Aku musti binasaken kau Hiang? oh diyiwaku, aku lebih suka badanku ancur lebur daripada ganggu kau punya selembar rambut“ dengen ucapken itu perkata'an Tong-liat tida brentinya cium orang punya batuk dikepaia. Lonceng berbuni 12 kali. Baru beberapa mennuut yang lalu Tong-liat tinggalken rumahnya ‘ncek Gie-hian, dan sekarang kita liat Hiang-nio didalem kamarnya sendirian. la duduk bengong di atas pembaringan, sebentar-sebentar ia tutup mukanya di atas bantal, dan bina kita perhatiken lebih deket kita nanti dapetken itu bantal suda dibikin basa dengen aer matanya.

“Oh Allah.....!” itulah saja perkata'an-an yang kita denger ia ucapken dengen di serta napas panjang. Dua perasa'an ada berperang dengen heibat didalem iapunya kepala. Apa ia begitu tega hati tinggalken ayahnya dan turut pada itu orang yang suda curi iapunya hati? Atawa, apatah ia begitu kejem biarken itu kacinta'an rubuhken sendiri iapunya penghi-dupan? Dua hal ini ia musti pilih! Mana yang dapat kamenangan itu nanti pembaca lekas tau sama bagian di bawah ini.

** Sepuluh hari berselang sesudanya teryadi seperti yang tersebut di atas, satu hal penting suda kejadian pada familie Gie-hian, yaitu, kita punya Hiang-nio yang baek suda tinggalken rumah ayahnya, dengen tinggalken sepotong surat yang begini bunyinya:

“Papaku yang tercinta, Hiang minta papa kasi am pun buat kadosa'an yang Hiang berbuat ini hari. Biarpun sekarang Hiang kasi liat seperti satu anak yang tida berbakti, tapi Allah menyadi saksi yang Hiang tetep menyinta pada papa dengen segenap juwa.

Dengan segala hormat, SIEM HIANG NIO.“

Jikalu langit jadi ambruk, atawa bumi di mana ia berdiri jadi ambles, atawa seantero ia punya milik dengen mendadak tersapu bersih oleh aer banjir, Gie-hian tida jadi kaget dan rasaken menyesel seperti itu tempo kutika ia baca itu tulisan. Sebagi saorang tua ia ada punya pemandangan awas, tapi buat kira yang Hiang-nio bisa tinggalken rumah tangganya dengen cara begitu, inilah sama sekali Gie-hian tida duga.

Ia baca dan baca lagi itu surat seperti ku-rang percaya sama iapunya mata; iapunya kringet bikin basa seantero iapunya tubu; iapunya muka yang suda jadi sanget pucet seperti mayit kliatannya ada tersenyum, satu senyuman yang lebih mirib satu iblis daripada satu ma-musia‘ biasa.

Ia punya badan sekarang jadi gumeter lak-sana puhun yang tertiup angin santer; ia pandeng itu surat dengen rasa jemu dan remes“ itu dalem iapunya kepelan, kamudian ia bantingken dirinya di atas satu krosi.

Tida satu perkata'an kita denger di ucapken oleh itu orang tua; ia sekarang meremken ka- dua matanya dan cuma kuping yang tajem baru bisa denger suaranya iapunya gigi yang beradu satu pada laen.

“Ia suda mati” berkata Gie-hian dengen suara ampir tida kadengeran, sementara dari matanya sekarang ada kliatan sedikit basa “dalem pikiranku ia suda tida ada di dunia.”

Oh, nyatalah Gie-hian kita itu sedeng tang-gung satu kaduka'an yang teramat besar, begitu besar hingga dengen perkata'an tida dapat dilookiskien.

Sedeng di rumah Gie-hian ada kejadian begitu, adalah di kampung Sewudoso, di tempat mana pesanggrahan dari Tong-liat ada terletak, kita dapetken Hiang-nio sedeng kelelep dalem lautan percinta'an.

Dunia ini yang luas ada penuh dengen kotoran.

Sebab begitu kabincana'an selalu ada diampiran,

Dalem segala hal bila tida dilakuken dengen aturan.

Kacilaka'an dan bahaya nanti dateng ibarat aer pancuran.

(LIE KIEM HOK.)


IV

Dalem dunia tida ada kabruntungan

lebih meresep daripada

dapet cicipin madunya Batara Kama

—madu dari dewanya kacintaan.

Tapi di sampingnya ada menunggu

Hiang Yamadipati yang

tida kenal kasihan.

“Hati hati anak, sabelonnya kau

masuk dalem itu sarang madu

dari Batara-Kama, betul manis

tapi ada antupnya.” itulah ucapannya

dewa dari Gunungrejo.

M. Novel

Jalannya hari ada ceplet, kita sekarang suda liwatken satu taun sedari terjadi hal-hal tersebut di atas.

Perobahan apa yang kita menampak sepanjang itu watu yang tida bisa dibilang lama? Oh ada banyak, banyak sekali!

Satu bulan lebih sasudanya Gie-hian ditinggal pergi oleh gadisnya, ia lantas kasi over tokonya pada laen orang, joael antero miliknya begitu juga sekalian rumah-rumahnya, sesudanya ia punya uwang terkumpuel diyadi satu, sebagian besar ia serahken itu pada bebrapa perkumpu-lan amal, kamudian ia sendiri lantas pergi ka laen tempat yang tida satu orang biar pun sobatnya tau. Ada yang bilang Gie-hian sekarang pigi disatu tanah pegunungan buat suciken diri, terpisa dari segala pergaulan, dan singkirken diri dari kabusukan dunia, ada yang kata Gie-hian suda mininggal dunia di rumah sala satu sobatnya di tempat anu, lebih jauh juga ada yang menerangken bahua Gie-hian suda pigi kluar Yava buat tukar ia punya penghidupan, tapi mana antaranya yang betul kita tida dapat tau. Biarlalh apa yang terjadi dengan Gie-hian sekarang tinggalken, dan sebab ia ada satu orang baek, kita cuma bisa bilang kasian sekali pada-nya.

Sedeng begitu adanya hal yang terjadi dengan Gie-hian, adalah dibawa ini yang kejadian dengan Hiang-nio.

Satu taun lamanya ia rasaken kasedepannya penghidupan yang dunia bisa kasi pada makh-luknya. Ia hidup menyinta dan tercinta, sekali pun kadang-kadang ia mereres sendirian lantaran memikirken apa yang telah terjadi dengan ayahnya. Tapi Tong-liat itu bisa sekali kasi hibu-ran padanya. Tida ada satu apa yang Hiang-nio kepingin oleh Tong-liat tida dilolusin, dan tida ada serupa barang yang Hiang-nio mau Tong-liat rasa terlafu mahal buat tida dibeliken, sebab, ia itu mengerti bahua ia ada orang satu-satunya di dunia yang telah seret itu gadis dari tangan ayahnya yang menyinta sampe kamudian lantaran merasa sanget sedih itu ayah jadi singkirken dirinya, ke mana tida satu orang dapet tau. Tida jarang Hiang-nio meratap pada Tong-liat, katanya: “Nko aku merasa trima kasi pada Allah yang suda kirim kau ka dunia, pada siapa aku menyinta dengen seantero aku punya diyiwa, dan dari siapa aku merasa dapet kacinta'an yang tida ada tali cukup panjang buat mengukur brapa dalemnya, tapi ‘nko, di sebelah aku punya kabruntungan, ada apa-apa yang senantiasa aku buat sedih, yaitu hal piginya aku punya ayah yang tercinta, yang, sampe ini jam aku tida tau di mana adanya“

Tong-liat kita lantas menyaut: “Aku perhati-ken kau punya omongan Hiang, aku juga mengerti, jikalu di dunia ini aku merasa ada punya kwajiban, dan kwajiban yang paling besar yalah aku musti dapatken ayahmu. Sebe-tulna juga, zonder kau minta aku suda bekerja banyak dalem itu urusan; tida ada onkost aku pandeng terlalu banyak buat diklu-arkeen kalu saja aku bisa dapat tau, di mana adanya kau punya ayah sekarang, tapi ternyata semingkin dicari jadi semingkin gelap lagi bagiku buat bisa dapat tau, sebab itu orang-orang yang aku prentah buat menyerepin semua kombali dengen bilang marika dapatken jalanen buntu.”

Dalem hidupnya dengen Hiang-nio, Tong-liat merasa kabruntungannya sampe di graad yang paling tinggi, Sekalipun itu kapitaal f 100,000,—yang didanjiken oleh ayahnya di Kotagedeh buat berdiriken satu fabriek beras di Sumberdadi tida jadi dikasi, lantaran itu ayah denger Tong-liat hidup dengen Hiang-nio di luar ia punya perkenan, tapi Tong-liat tida perduli. Buat ia sekarang tida banyak pakerja'an yang dilakuken, apa lagi itu pakerja'an onderneming kapok yang ia kepalaian didalem satu taun cuma pada bulan-bulan September sampe December yang minta tenaga banyak, lantaran didalem itu waktu musimnyia buah randu dipongut hasilinya.

Sebagimana telah diakui oleh banyak orang,

Fyerita Roman keada'an dalem dunia tida selamanya bisa kekel, begitu juga dengen peruntungan manusia ada saupama puternya roda, yang di bagian ba-wah sebentar naek ke atas, dan yang atas turun kabawah.

Begitulah sekarang kita menampak dengen penghidupannya Hiang-nio dan Tong-liat, sesu-danya marika hidup seneng setaun lebih, mega-mega gelap sekarang kliatan mengadang dide-pannya.

Pada satu hari Tong-liat trima surat dari ayahnya, dalem mana ada dinyataken yang itu ayah tida seneng sama Tong-liat punya prilaku. Ia ancem jikalu ia tida lekas cereken Hiang-nio, atawa jikalu ia tida lantas menika pada itu gadis di Kotagedeh pada siapa dirinya suda ditundangken, ia nanti tida mau pandeng Tong-liat seperti anaknya, dan berbareng dengen begitu, Tong-liat punya hak buat dapatken pusaka dari ayahnya bakal terhilang.

“Tong-liat” begitu antara laen-laen itu surat ada tertulis “aku rasa sekarang kau suda mengerti dengen maksudku, dan seperti kau suda kenal baek aku punya tabiat, selamanya aku buktiken dengen sunggu-sunggu apa yang satu kali aku suda ucapken, dari sebab begitu, sekarang kau masih ada tempo SATU bulan buat berpikir dan ambil putusan!”

Sedari trima itu surat dari ayahnya, Tong-liat punya hati jadi bingung; ia punya prilaku terhadep pada Hiang-nio jadi banyak berobah, itu perkata'an-perkata'an menyinta yang sering ia ucapken sekarang tida terdenger lagi. Hiang-nio juga mengatahui itu hal, tapi ia pandeng itu seperti tida ada apa-apa. Siapa tau barangkali Tong-liat punya perobahan itu disebabken lantaran ibuk memikir pakerja'an? yang ternyata dalem tempo paling blakang ini ada banyak munduer.

Samentara itu Hiang-nio kita suda berhamil tuju bulan.

Liwat lagi setengah bulan sesuda kita menampak apa yang teryadi disebla atas, Tong-liat punya keada'an jadi berobah lagi. Tida sekali ia kliatan binung seperti bermula, itu sual yang ia hadepken dan yang bikin dalem sedikit hari ia berpikir banyak rupanya ia suda bisa picaken, dan satu putusan tetep ia suda ambil.

Begitulah telah kejadian, pada satu hari Tong-liat menyataken pada istrinya yang ia hendak pigi ka Kotagedeh sebab dapat panggilan dari ayahnya. Hiang-nio tida kebratan, malahan ia sendiri maeo ikut, tapi oleh Tong-liat dicega dengan membri alesan sebab ia suda deket melahirken anak jadi tida baek berpegian.

“Tida necis tokh Ko Tong-liat” katanya Hiang-nio itu “sedeng kita suda hidup setaun lebih tapi kau belon kenalken aku pada kau punya familie, terutama kau punya ayah sendiri.”

Buat itu Tong-liat tida menyaut selaennya'di ia punya paras orang liat ada berlukis tandatanda yang menyataken menyeselnya hati.

Sampe satu minggu lamanya Hiang-nio ditinggalken oleh Tong-liat di Sewudoso dengan cu-ma babu Sima saorang yang jadi temennya, satu hal yang tida pernah kejadian selamanya marika

Cerita Roman hidup setaun lebih. Hiang-nio punya batin ada terlalu halus buat bisa menduga apa yang orang telah berbuat atas dirinya, ia punya pikiran ada terlalu bersi buat bisa taro sangkahian jahat atas diri laen orang, apa lagi itu orang yang ia cinta dengen segeneb jiwanya, dan ia punya pikiran masih belon sedar bahua itu awan-awan gelap suda berkumpul sanget tebel di atas ia punya penghidupan, dan juga ia belon mengetahui bahua ia sekarang seperti berdiri di atas tubirnya jurang yang dalem, di mana, dalem segala sa'at ia punya diri boleh terplanting ancur seperti jatuhnya glas di atas batu hingga jadi berkeping-keping.

Sekarang kita ada disatu tenga hari dari hari Slasa, satu hari yang paling sial dalem Hiang-nio punya penghidupan. Itu tempo kita dapetken Hiang-nio duduk di atas satu krosi dengan rambutnya teruwe sebab baru dicuci, ia punya pakean ada sanget saderhana, dan ia punya mata ada memandeng kasatu jurusan dengen tida berkesip sekean lamanya, seperti juga ia sedeng layangken pikirannya kasatu tempat yang jau sekali.

Tiba-tiba satu opas post masuk di ia punya pekarangan dan serahken padanya satu surat.

Hiang-nio pandeng itu envelop dengen muka girang, ia liat tulisan dan kenalin itu ada dari Tong-liat, dengen zonder buang tempo lagi ia sigra buka dan baca isinya.

Seperti satu pesakitan yang berhati lemah mendenger vonnis putusan mati dijatuhken atas dirinya, kita dapetken itu waktu Hiang-nio punya muka ada begitu pucet, ia bertreak dengen satu swara yang kita tida denger betul apa maksudnya, dan sekejap lagi kita liat dia jatuh pangsan.

Mendenger treakan dari Hiang-nio, Sima dari dalem pertengahan rumah buru-buru kluar, dan alangkah terkejut tempo ia dapatken nonanya sedeng pangsan. Dengen sekuat tenaga ia gotong Hiang-nio ka atas pembaringan, di mana tida lama kamudian ia jadi sedar.

Nona pembaca, ada satu perkara yang saia aken meminta. Bukan laen yalah suatu hal dalem perkara cinta. Jangan gegaba serahken hati, tegesnya jangan membuta, Pembayarannya kliwat maha!—rentenya berlipet yuta.

M. Novel.

Pembaca tentu ingin tau bagimana bunyinya itu surat hingga membikin Hiang-nio jadi tida inget dirinya?

Dalem itu surat ada tersebut Tong-liat terpaksa putusken perhuboungannya pada Hiang-nio atas paksa'an dari ayahnya yang dengen sanget. Ia mengaku sebetulnya ia sendiri tida ada hati begitu tega buat tinggalken Hiang-nio setengah jalan, tapi iapunya ayah sedeng menanggung penyakit yang amat berat, dan dengan tida lulusken iapunya kainginan, nanti berarti ia bina-saken jiwanya itu orang tua. “Oh Hiang, Hiang,” begitulah sebagai penutupnia itu surat ada tertelois “kematian aku nanti rasaken lebih seneng daripada musti perlakuken kau cara begini, tapi dasar Allah mau hukum padaku, jadi aku sekarang hadepken ini perkara.

“Sekarang begini Hiang, segala apa milikku yang ada di rumah Sewudoso kau boleh ambil, didalem lemari besi yang kuncnya ada tersimpan disatu laci dari aku punya meja tulis, kau nanti dapatken uwang sejumbla kira-kira f 12.000.—itu juga kau boleh pake menu-rut sesukamu, diblakang jika kau ada keku-rangan apa-apa lagi inget lebih aulu padaku sabelonnya kau jawab pada laen orang. Dari aku yang bersusa hati enz.-enz. Tan Tong-liat.“

Sima sekarang jadi repot dan kirain Hiang-nio masuk angin, buru-buru dia lari didapur buat bikin aer jaeh, dan sembari tergupuh-gupuh tida brentinya mulutnya menyomel, katana: “Dari tadi aku juga suda kasi inget, jangan cuci kepala, jangan cuci kepala sebab ini hari tida baek.”

Samentara itu kita dapatken Hiang-nio masih rebah di atas pembaringan. Ia punya napas dirasaken sesek, iapunya kringet mengucur banyak di seantero tubunya, dan dengan suara terputes-putes ia saben sesambat. “Oh, Allah, Oh Ayahku—aku berasa yang diriku terhukum.”

Dengen mendadak ia lantas berdiri seperti lakunya orang kalap- ia sampirin satu kaca toilet yang pernahnyia di samping iapunya pembaringan- ia awasken mukanya dengen beringas—iapunya mata terbuka lebar sembari kadua tangannya dicekekken iapunya leher. “Ya, ya,” katanya Hiang-nio dengen suara ditenggorokan “begitu lebih baek, begitu lebih baek” sehabisnya ucapken itu perkata'an ia sampirin satu lemari, dari mana ia kluarken satu angkin panjang.

Kamudian dengen sebet ia naek di atas pembaringan, ia iket satu ujung dari itu angkin dibetulan tiang pojokan seblah atas dari itu tempat tidur yang terbikin dari kayu jati dengan terukir, sedeng ujung yang laen ia iketken di lehernya sendiri.

Hiang-nio niat habisker. jiwanya.

Baru saje ia bergerak hendak loncatken dirinya dari itu pembaringan, babu Sima kliatan masuk didalem kamar dengan bawa cangkir terisi aer jaeh di tangannya. Bahna saking kagetnya sama pemandangan yang ia liat hingga dengan tida terasa ia lempar itu cangkir di atas jukin, ia sendiri lantas tubruk pada Hiang-nio.

“Nona” treak ia dengen mewek “kenapa kau jadi begini nekat? Bilanglah, bilanglah apa yang jadi sebabnya?”

Yang ditanya tida menyaut. Sima zonder buwang tempo terus buka itu tali yang mengiket Hiang-nio punya leher, dan dengen penuh kacin-taan seperti satu sudara ia peluek Hiang-nio yang sekarang jadi menangis tersedu-sedu.

“Kau kasian padaku Sima?” tanya Hiang-nio dengen swara merinti “pergilah tinggalken aku sendirian di sini.”

“Aku tinggalken kau sendirian? Dan dalem keada'an begini? Oh, tida nona, tida. Aku tida nanti berlalu, Biarpun lantaran itu kau jadi benci padaku.”

Dengen plahan Hiang-nio lantas ceritaken apa yang telah terjadi atas dirinya dan sebagai penutepnya ia punya bicara ia bilang: “sebab begitu Sima, jikalu kau ada hati kasian padaku biarlah aku berbuat menurut kahendakanku sendiri.”

“Sebab aku kasian padamu nona, jadi sekarrang aku cega itu perbuatan yang aku tau bukan dari kau punya mau sendiri.”

“Jadi kau lebih seneng meliat aku hidup dengen tanggung sengsara?”

“Nona, aku percaya kematian dirasaken lebih seneng dari kesangsara'an, aku juga mufakat orang lantas mati kalu mustinya begitu, tapi, tapi kematian seperti itu jalan yang kau ambil sekarrang ada bawa kadosahan besar. Kau nanti dihukum dengen hukuman yang paling berat, bukan di dunia, tapi diakherat, sebab, berbareng dengen bunuh ragamo sendiri, kau juga membunuh kau punya anak yang tida berdosa satu apa.”

“Suda Sima, suda, kau jangan bicara lagi” sesambat Hiang-nio dengen swara yang memiluhken hati “aku sekarang terhukum, dan aku trima itu hukuman yang Allah kasi.”

Pengarang Melati van Yava ada pernah kasi mengarti. Penghidupan ada tiga perkara yang harus ditakuti. Ka I Cinta. ka II Api. ka III Singa yang ‘ta boleh dideketi. Siapa brani langgar. sengsaranya musti. bahayanya pasti!

M. Novel.

Berselang sedikit waktu sesudanya terjadi hal yang tersebut di atas, itu majikan dan bujang orang liat pinda disatu desa namanya Sekarpu-tih, tinggalken segala apa yang ada dirumannya Sewudoso, dan tida ada satu barang kepu-nya'annya Tong-liat yang oleh Hiang-nio dibawa.

Di Sekarpu-tih Hiang-nio sewa satu rumah kecil seperti yang kita suda tau pada bagian pertama dari ini cerita; buat penghidupannya sehari-hari ia buruh menjait. Sedikit minggu sesudanya ia berdiam di itu tempat Hiang-nio lantas melahirken satu anak prempuan yang di bri nama Lian-hwa.

Dalem keada'an yang mengenesken hati itu, kita punya babu Sima suda unjuk kasetian-nya lebih dari perkata'an bisa memuji. Ia rawat Hiang-nio berduwa Lian-hwa dengen tida kenal bosen dan cape, dan berbareng itu ia bantu pekerj'aan menjait buat tutup onkostnya sehari-hari.

Dan seperti Allah suda cukup hukum pada Hiang-nio, disatu pagi dalem kamiskinannya yang sanget dia suda menutuo mata buat selamalamanya, tinggalken ia punya anak yang berumur delapan bulan pada Sima punya rawatan.

Begitu sesudanya Sima di tinggal mati oleh nonanya, ia lantas brangkat pulang ka kampung-nya sendiri, di sana, liwat sedikit tempo dia lantas bekerj'a pada satu familie Putra negri, Raden Pramudiprojo, satu Ass.-Wedana yang suda lama dalem diensnya, dan justru lantaran itu familie tida mempunyai anak, maka atas mufakatnya masing-masing fihak, Lian-hwa dipongut anak oleh itu ambtenaar, dan sedari itu waktu itu bayi dib'i nama Mariam.

Dunia ini yang luas sering kali dirasai cupet.

Kasusahsan dan sengsara sekalu mendesek rapet.

Apa yang kita tramau itulah sering kita dapet.

Yang kita sering rasai melingken pait dan sepet.

(Lie Kiemhok.)


V

Ukuman mati dari suatu

kejabatan ada satu ukuman enteng.

tida berat seperti menanggung

kamenyeselan hati di hari nanti.

M. Novel

Raden Pramudiprojo sesudanya pungut anak pada Lian-hwa, ia punya kadudukan sebagi satu ambtenaar jadi semingkin jaya, baru saja itu Mariam dikukut setengah taun lamanya, tiba-tiba besluit Gouvernement dateng yang angkat padanya buat jadi Patih dari satu tempat nama Rejomukti. Dan seperti juga pada kadiamannya yang lama, demikian pun dalem tempat yang baru ini ia lekas sekali dicinta oleh sekalian orang.

Sekarang Mariam suda masuk usia 6 taun. la suda dikirim ka rumah sekolah Europeeskhe Lager Skhool, satu rumah sekolahan yang melu-lu trima anak anak bangsa Europa, dan cuma ada sedikit sekali jumblanya anak-anak Tionghoa dan Putraneegri yang bisa blajar di situ, yaitu putra-putra dari officier, ambtenaar atawa orang-orang yang mampeo dan ternama baek. Biarpun Mariam masih kecil, tanda-tanda ada kasi kentara bahua ia bakal jadi satu prempuwan yang eilok sekali, hal mana tida sedikit bikin Raden Pramudiprojo dengen istrinya jadi bangga. Satu waktu, kalu sobat-sobatnya tanya padanya dari siapa ia pungut itu anak, marika cuma jawab “Ini anak dikirim oleh Allah yang Mulia.” Sebetulnya marika tida tau asal usulnya yang bener, selaennya cuma mengerti yang itu anak ada berasal dari darah Tionghoa, sebab babu Sima tempo serahken itu bayi cuma ada bilang yang Lian-hwa suda tida mempunyai ayah bunda, pendeknya di dunia ia tinggal sebatang karang.

Begitulah bola dunia terus terputer, dan di atas panggung komidi—demikian Shakespeare kasi perupama'an bagi manusia hidup—terus menerus pertunjuken lelakoninya; sebentar yang satu jadi rubuh dan sedikit waktu kamudian yang laen jadi raja.

Raden Pramudiprojo punya bintang semingkin hari semingkin jadi terang. Rejomukti tadinya ada satu negeri yang ada sedikit rusu, srenta diduduki oleh kita punya Patih yang baru, jadi lebih baek dan lebih baek. Ia lakuken kwajiibannya dengen adil; ia perhatiken segala apa yang berhubung dengan kaperluannya rayat, seperti: Prikasehatan, plajaran, penghidupan dan pertanian, sedeng begitu, ambtenaar-ambtenaar yang seblah atas tida diam awasken ia punya jasa-jasa yang besar, lantaran begitu rapport-rapport yang dikasi masuk pada Pemerentah berhubung dengan ia punya kadudukan seperti satu orang berpangkat, dan seperti manusia, ada bagus sekali.

Pada satu tempo, sesudanya ia pegang pangkat Patih lima taun lamanya, kebetulan Regent di itu tempat dipinda ka laen bilangan, dengen berkah Allah itu lowongan pangkat yang mulia kita punya Patih yang gantiken, dan sedari wates

Fyerita Roman itu kutika, namanya Raden Pramudiprojo terganti dengen sebutan Raden Tumenggung Pramudiprojo, samentara pada gadisnya orang panggil Raden Ajeng Mariam.

Berhubung dengen keangkatannya kita punya Regent yang baru, penduduk di Rejomukti ada bikin kramean. Gedong kabuapaten dirias dengen bagus, dialoon-aloon dibikin rupa-rupa keramean, seantero gelongan penduduk pada kirim wakiniya buat kasi slamet pada itu bupatih yang selaennya bijaksana juga ada budiman.

Terbalik dari apa yang tadinya orang sangka kutika ia masih baru dilahirken, Raden Ajeng Mariam sekarang hidup dalem kamelia'an, ia terdidik dalem satu pendidikan paling baek yang orang boleh harel; disekiternya ia ada tersedia pergaulan-pergaulan dari orang-orang yang berderajat pantes, dan apa yang ia liat didalem kabuapaten, semua ada serba kabesaran sebagaimana layiknya familie bangsawan harus dapat, sedeng begitu tokh kita punya Raden Ajeng tida jadi beradat tinggi. Ia sekarang berusia 15 taun, ia punya watek ada sabar, ia punya prangi ada halus serta berhati murah pada sesamanya, baek orang yang ia baru kenal, Maupun pada bujang-bujang sendiri, tereotama pada babu Sima ia ada cinta betul-betul dan pandeng itu orang tuwa seperti familienya sendiri. Seringkali kalu Sima tida enak badan R. A. Mariam tungkulin hingga berjam-jam buat bikin seneng hatinya itu bujang tua yang setia.

Dari hal kecantikannya itu gadis, seperti kita suda utaraken diseblah atas, ia ada melukisken sebagi gambarnya bidadari yang baru menjelma- la punya tingka laku yang alim ada setimpal betul dengen suaranya yang alus, satu kali orang pernah denger iaqunya suara niscaya orang itu nanti kepingin duduk berjam-jam buat denger suaranya lebih jauh.

Kalu paras eilok, bagi yang pandeng boleh datengken rasa kasenangan.

Adalah Mariam punya rupa bisa dianggep satu kamenangan.

Ia ada meropaken seperti bidadari turen dari kayangan.

Yang satu kali meliat orang senantiasa buat kenangan.

Mariam bukan tida tau yang pada itu Regent ia cuma ada satu anak pungut. Tapi siapa Ayah dan ibunya yang betul? Ini baginya tinggal gelap! Ia cuma tau jikaludalem dunia ini satu anak ada kwadiyiban buat menyinta pada bondanya, itu orang-orang yang harus dicinta bukan laen melingken pada Regent dan Raden ayunya, pada siapa, Mariam punya kacinta'an ada begitu besar, hingga kalu sala satu antaranya ada dapet sakit, Mariam merasa lebih suda ia sendiri yang tanggung kesakitannya.

Sedeng begitu adanya Mariam punya perasa'an terhadep pada ayah bonda pungutnya, difihak Regent dan istrinya tida kurang marika punya kacinta'an. Satu kali kita punya bupatih ada berkata pada Raden ayunya; “Istriku, kalu aku bayangken brapa besar aku punya kacinta'an pada anak Mariam, aku merasa puas sekali yang kita orang tida dikuniaken laen putra oleh Allah, sebab, siapa bisa tau, kalu dari lantaran terlahirnya anak sendiri kita punya kacinta'an pada Mariam nanti jadi terbagi?”

Raden Ayu manggutken kepalanya selaku menyataken mufakat dengan pikiran suaminya. Pada satu kutika selagi ada bersendirian de- ngen Sima, cuma satu kali Mariam pernah ta- nya begini pada itu bujang tua: “Emak, aku percaya dalem dunia ini cuma kau sendiri yang tau tentang aku punya keada'an tempo masih keciil, juga kau ada itu orang yang kenal baek pada ayah dan ibuku; apatah kau sekarang mau bilang siapakah ia itu? dan di mana iaorang berada? apa masih hidup atawa suda mati? Jikalu nyata iaorang suda mati, aku kepingin sekali liat dan menyiram dikuborannya.” Atas pertanya'an itu, Sima yang tua tida me- nyaut; ia cuma rapetken matanya dari mana ada terliat aer berlinang.

“Oh Mak,” katanya Mariam “janganlah kau jadi keciil hati atas pertanya'anku itu. Kalu lantaran itu hal kau jadi terkenang perkara yang bikin kau jadi sedih, aku pun nanti ting- gal seneng buat tida majuken pertanya'an apa-apa lagi berhubung dengen itu, dan tokh dalem hatiku sekarang ini dikolong langit, tida ada laen orang yang aku cinta lebih banyak daripada Romo dan Ibu.” Sima tarik napas lega.

Jikalu kita punya layar sekarang tergulung pula ke atas, buat kasi liat pada pembaca bagian laen dari ini cerita, kita telah melalui lagi lima taun dari apa yang dituturken duolean. Ini tempo, Tan Tong-liat yang kita kenal dua pulo taun berselang suda pernah hidup sebagai suami-istri dengan Hiang-nio di Bumirejo, sekarang masih tetep berdiam di Kota-gedeh. Buat bicara-ken hal uwang, kita boleh bilang Tong-liat ada satu hartawan besar; betul sekarang ia suda brentiken perdagangannya, sebab terkena rugi ampir dua milliun lantaran perang Europa bikin iapunya barang-barang hasil bumi tida bisa dikirim kluar negri, tapi ia ada saorang cerdik, dalem keada'an begini ia pikir baek brenti bekerjia, dan buat iapunya hideop ia dapat saben bulan tida kurang dari sepelu ribu rupiah sebagai hasil dari sewanya iapunya rumah-rumah dan perceel-perceel laen.

Orang bilang, dengan punya banyak uwang satu orang bisa hideop beruntung; nyata anggepan begitu ada kliru bila kita telik dengen Tong-liat sekarang. Apatah orang kira dengen pengasilan seratus duwa pulu ribu satu taun Tong-liat ini ada hideop dalem kasenengan sebagimana yang kita sangka? Oh tida! Atas ia punya diri, kita tau ada apa-apa yang penghi-dupan dirasaken kurang sedep; dalem ia punya pikiran, kita tau ada apa-apa yang penghidupan dirasaken kurang manis. Ini ada nyata sama ia punya klakuan yang senantiasa kliatan berduka, dan sekalian pun ini waktu ia punya usia baru lima pulu duwa atawa tiga taun, tapi rupanya ada kasi unjuk umur yang lebih tinggi.

Tida jarang kita dapetken Tong-liat duduk saorang diri sampe berjam-jam sembari matanya memandeng kasatu jurusan dengen tida banyak berkesip, atawa kalu tida begitu, ia nanti meremken matanya sembari tangannya ditutup-

Fyerita Roman ken di ia punya jidat sebagi lakunya orang yang lagi asik memikirken perkara lama, dan sebab ia punya perbuatan itu saben kali diakhirken dengen tarikan napas panjang, jadi kita boleh beranggepan, bahua perkara yang dipikirken oleh-nya tentu hal-hal sedih adanya.

Tong-liat suda pernah menikah tiga kali. Yang pertama dengen ibunya Poo-tjoe sebagimana du-luan kita suda pernah terangken; kadua dengen Hiang-nio yang berakhir dengen kegagalan, katiga kalinya dengen gadisnya familie The dan, seperti juga sama yang pertama, begitu pun pada istri yang blakangan Tong-liat tida hideop lama, sebab baru satu taun setengah ia menikah, sang istri lantas meninggal dunia.

Menilik sama ia punya penghidupan tadi, bagi kita jadi terbit satu pertanya'an: Tidakah bisa jadi sekali Tong-liat punya tida beruntung itu disebabken lantaran ia tida bisa hideop lama dengen istri-istrinya? Jikalu betul begitu, buat istri yang manatah yang Tong-lia: paling dukaken, hingga ia punya kekaya'an yang besar suda tida menulung buat bikin ia hideop dalem kase-nengan?

Aken jawab ini lebih dulu kita harus cari tau, pada istri yang manatah yang Tong-liat paling cinta? dan buat ini ada jadi kita punya kwa-jiban musti terangken pada pembaca.

Pada istrinya yang pertama betul Tong-liat suda hideop sampe anem taun, dengen siapa ia beruleh satu anak laki bernama Poo-tjoe yang ini waktu suda berusia 27 taun, tapi, pada istrinya ini dari bermula Tong-liat memang tida hideop terlalu rukun. Sesodanya ia punya nyonya meninggal dunia Tong-liat lantas pigi di Bumi-rejo, di sana ia suda berkenalan dengan Hiang-nio, dan apa yang ia telah berbust terhadep padanya kita suda tau semua.

Sedari ia tinggalken Hiang-nio, sampe menikah yang katiga kalinya, sampe ia trima warisan besar dari ayahnya, sampe kamudian istrinya yang blakangan meninggal dunia, Tong-liat punya prilaku ada kasi unjuk sebagai satu orang yang kurang beruntung. Betu ia punya klakuan pada segala orang ada lebih manis dari dulunya; ia tida sayang kasi kluar uwang di mana pertulungan ada dirasa perlu; ia masi banyak bergaul pada sobat-sobatnya, dan juga ia sering tertawa-tertawa, tapi satu mata yang tajem, atawa satu sobat yang tajem, atawa satu sobat yang biasa bergaul rapet padanya nanti bisa terangken, bahua ia punya tertawa itu tida ada sarinya dari kagiranngan yang sejati.

Sedikit waktu sesudanya ia tinggalken Bumi-rejo atas panggilan dari ayahnya, di mana dengan cara getas ia tinggalken Hiang-nio di rumahnya, di kampung Sewudoso, orang masih sering liat Tong-liat saben dateng di itu tempat, ia tanyak katerangan pada orang-orang yang kenal baek, di mana adanya Hiang-nio, tapi dalem halnya itu nyonya muda tida banyak orang yang bisa kasi katrangan betu, sampe pada satu kutika, dengen kebetu-lan ia dapet katrangan dari satu kosir dokar, oleh siapa ia dikasi tau bahua ia ada itu orang yang dulunya pernah muat Hiang-nio dengan babu-nya pigi pindah di satu desa nama Sekarpuitih.

Sebetulnya Tong-liat punya kacinta'an terhadep pada Hiang-nio tinggal tetep dalem ia punya hati, Sekalipun itu satu kutika ia suda jadi lupa sebeb inget sama hartanya yang besar nanti jadi ilang jika ia tida menurut pada ayahnya buat tinggalken itu istri yang ia dapat pilih sendiri. Tapi biar bagimana juga itu api dari kacinta'an masih menyala terus dalem iapunya sumanget. la sekarang baru sedar dari kakliroannya, bahua itu harta besar tida bisa bikin ia jadi saorang bruntung zonder ada itu kacinta'an yang sejati. Begitulah tempo ia denger Hiang-nio tinggal di desa Sekarpuitih, ia suda jadi begitu girang, rasanya ia kepingin tukar antero iapunya uwang kaleo ia bisa susul itu istri yang tercinta. la bayangken yang ia nanti tida ditrima dengen manis oleh Hiang-nio, tapi buat itu ia tida terlalu kwatirken, sebab ia tau Hiang-nio punya kacinta'an sampe brapa besar terhadep padanya. Didalem hatinya Tong-liat ada berpikir: “Biar apa juga yang bakal jadi aku musti dateng pada Hiang, aku nanti pe-luk iapunya lutut buat mengaku yang diriku ada berdosa padanya, dan kaleo aku musti di kurangken aku punya umur, aku juga suka trima asal saja aku bisa dapetken kombali iapunya kacinta'an seperti bermula.”

Tapi iapunya pengharepan itu jadi ilang, buyar seperti asep tertiup angin, tempo sampe di Sekarpuitih, ia dapet ketrangan bahua itu orang yang ia cinta, buat guna siapa ia mau tukar dengen jiwanya sendiri, suda meninggal dunia satelah alamken hidup dalem kemlaratan besar.

Pembaca, kita tida sanggup buat dapatken perkata'an yang surup betul guna melukiskien brapa besar kasusahannya Tong-liat tempo denger itu warta, dan sedari itu menuut ia rasaken dunia ini diyadi gelap gulita, dan sedari itu waktu juga orang tida pernah ketemuken Tong-liat dateng di Bumirejo.

“Aku berdosa” itulah saja perkata'an yang ia sering ucapken kalu ia sedeng berada sendirian “dan buat itu aku kepingin terhukuom oleh Allah.”

Oh cinta, kau ini sunngu mulia sekali,

Dengan harta besar kau tida bisa dibeli:

Dan juga kau ini upama aer di kali.

Yang terces mengalil majoce tida pernah kombali.



Juga kau ini lebih berharga dari harta!

Lantaran kau pikiran terang bisa jadi buta;

Lantaran kau penghidupan dirasaken gelap gulita.

Dan lantaran kau hati keras bisa menyadi pata.

Begitulah buat Tong-liat sekarang, yang hidupl dalem kekaya'an besar yang dengan hartanya ia bisa beli kasenengan dunia menurut apa yang ia mau, yang dengan satu kali taro tanda-tangan ia bisa kasi kluar uwangnya dari bebrapa bank di Kota gede, berselip dari itu semua, iapunya hati senantiasa ada luka, satu luka yang tida ada satu docter di antero dunia bisa bikin sembuh. Ia hidupl dalem gedongnya yang begitu bagus dengen dijaga oleh banyak bujang, ia sebrapa bisa jauhken diri dari pergaelan pada prempuan-prempuan, dan harepan satu-satunya yang ada dalem iapunya hati, melingken pada Poo-tjoe saorang, satu jejaka muda, yang selaennya cakep juga ada berhati baek.


VI

Manusia anggep dunia ada

lebar, bisa dibuet sembuniken

segala kajahatan dan kacurangan

dengan santausa, tapi pada hal

kita manusia ada berdiri di atas

tempat yang sempit seperti itu

binatang Semut berada di tengah

tetampa yang kilatannya saja ada

lebar dan luas! tapi siapa tau

lebarna cuma brapa jengkang jari!!

M. Novel

Itu waktu lonceng baru mengutaraken jam 9 pagi tempo kita dapatken Tong-liat duduk berdua'an dengen saorang Europa dalem ia punya kamar tamu. Ruwangan dari kamar ada luas, prabotannya tida banyak, tapi apa yang ada, semua dari kwaliteit yang paling baek, dan pantes buat jadi perhiasan dari gedongnya saorang hartawan seperti Tong-liat.

Satu orang yang pernah ketemu pada Tong-liat sebulan di muka, dan lantas berjumpa padanya sekarang, tentu orang itu jadi kaget meliat adanya perbedahan dari Tong-liat punya muka. Ia punya jidat dan ia punya mata yang senantiasa melukiskien tanda-tanda dari kaduka'an besar, sekarang lebih kentara lagi. Ia kliatan banyak lebih kurus, sedeng parasnya ada pucat.

“Tuan Docter” kadengeran akhir-akhir ia berkata pada itu orang Europa dengen sorot mata seperti orang sanget kwatir “kau musti bilang terus terang padaku, apatah ia punya keada'an sekarang ada berbahaya?”

“Tuan Tan, aku menyesel musti bilang adanya hal memang begitu.”

Mendenger yawabannya itu thabib, Tong-liat jadi gumeter seantero tubunya, sementara ia punya kringet dingin ada mengucur di ia punya jidat.

“Oh Allah!” katanya Tong-liat itu dengan swara sesambat “Kasianlah padaku, satu orang yang selama hidupnya suda banyak tanggung sengsara. Aku sendiri lebih suka mati asal saja kasehatannya Poo-tjoe bisa dikombaliken seperti biasa.”

Kita punya docter sekarang berdiri, ia berjalan mundar-mandir di itu ruwangan selaku orang berpikir, kamudian dengen tepek orang punya pundak, ia berkata: “Tuan Tan, lagi sekali aku bilang, dalem hal ini kau jangan putus pengharepan. Jikalu kau terlalu berduka, itu kadukahan bikin kau punya pikiran jadi pepat, dengen begitu kau jadi tida kasian pada kau punya anak. Menurut aku punya pikiran, begini: kita sekarang perlu musti bikin kuat ia punya badan, dan jikalu ia punya keada'an suda mengidinken, begitu lekas sebisanya baek kirim ia pigi di Zwitserland, di mana aku percaya sesudanya ia tinggal sedikit lama tentu ia jadi baek betul.”

“Kalu kau punya advies itu ada bener tuan Docter, aku sama sekali tida kebratan buat menurut, sekarang aku pasrah padamu buat jiwanya aku punya anak. Ingetlah tuan, fatsal uwang kau jangan pikir, kau tau yang aku ada cukup........”

Itu thabib memanggut dalem, dan sesudanya

Cerita Roman berjanji yang sebentar soreh ia aken dateng kombali dengen bawa laen docter buat consult, ia berjabatan tangan dan terus berlalu.

Sekarang tinggal Tong-liat bersendirian pula, dengen tindakan ampir tida berswara ia masuk kadalem menuju di kamarnya Poo-tjoe, srenta pintu dari kamar suda terbuka, kita dapetken satu anak muda dengen muka sanget pucat ada rebah di atas pembaringan, di samping siapa ada duduk satu juru rawat bangsa Europa.

Itu zuster kasi tanda dengen tangannya supa-ia Tong-liat tida bikin swara apa-apa sebab si sakit seneng tidur. Tong-liat mengerti dengen itu tanda lantas mundur kombali, dan sedikit sa'at kamudian kita dapetken ia sedeng duduk lagi di kamarnya yang tadi.

Dalem itu gedong yang besar ada sunyi sekali. Tida ada swara apa-apa yang terdenger selaennya tak-tiknya lonceng di ruwangan tengah. Tong-liat tinggal rebahken dirinya di atas satu banku yang tertetutop dengen bludru kuning, sembari se-bentar-sebentar terdenger ia punya kelahan napas.

Tiba tiba pintu dari itu kamar jadi terbuka, dan satu jongos kliatan masuk,

“Ba Besar” katanya itu bujang dengen hor-mat “di luar ada satu tamu kepingin ketemu.”

“Dermo” menyaut Tong-liat dengen swara sedikit ketus “aku tokh suda pesen padamu yang tida satu orang aku kepingin ketemu ini hari?”

“Saia inget Ba Besar punya prenta, dan juga saia suda kasi mengerti pada itu tamu, tapi ia punya perminta'an ada begitu sanget, ia punya rupa ada datengken rasa kasian, sampe saia tida tega buat tida sampeken pada Ba Besar, apa lagi ia ada satu prempuan yang............“ ”Apa? Satu prempuan kau bilang?“ ”Betul Ba Besar, dan ia ada sebangsa dengan saia.“ ”Tida bisa jadi Dermo, ia tentu kliru, aku tida kenal pada prempuan baek siapa juga.“ ”Saia tida kliru Ba Besar, apa lagi dalem keada'an seperti sekarang, saia selamanya lebih hati-hati aken tida ganggu Ba Besar punya kasenengan.“ ”Silahken ia masuk Dermo, tapi inget, laen dari Docter aku tida kepingin ketemu lagi biar siapa juga.“ Dermo manggutken kepalanya terus berjalan kluar, dan sebentar pula suda berdiri dihade-pannya Tong-liat, satu prempuan muda, sekira umur dua pulo taun. Tong-liat tadinya kira, itu orang yang kepingin ketemu padanya, dan yang menurut katrangan-nya ada kliatan susa, tentu orang itu mau minta pertulungan apa-apa dari ianya, tapi besar ia punya kaheranan tempo dapatken, bahua itu orang yang sekarang ia liat, bukan seperti yang ia lebih duu ada sangkah. Potongan badannya itu prempuan ada langsing, ia punya kulit muka ada putih laksana bungah melati, parasnya ada eilok, sementara laku-nya ada kasi kentara bahua ia ada terlahir dan terdidik baek. Ia punya kaen ada buatan dari Solo yang alus, ia punya kabayak ada dari kaen voil warna kuning muda dengan kembang-kembang ijo sementara ia punya perhiasan badan, ada kentara yang ia ada saorang mampu. Meliat itu prempuan yang berdiri dihadepan-nya Tong-liat jadi terkejut. Ia sigra berdiri dari tempat duduknya dan maju bebrapa tindak, ia deliken matanya sembari mulutnya terbuka lebar seperti mau bilang apa-apa, tapi sebagitu jaouh tida ada terdenger swara yang diucapken olehnya. Ia punya napas sekarang jadi sengal-sengal, ampir saja ia jadi rubuh kalu itu tempo ia tida lekas pegangan pada meja yang memang kebetulan ada di sampingnya. Meliat lakunya Tong-liat yang begitu rupa itu prempuan jadi memburu maju, dan dengen tida diminta ia pimpin Tong-liat pada tempat duduknya yang tadi. “Tuan”, katanya itu prempuan dengen swara merdu “apa kau dapat sakit? Aku menyesel sekali kalu datengku kemari ada ganggu kau punya kasenengan.” Tong-liat tida diyawab itu pertanya'an. Ia cuma meremken matanya buat bebrapa seconde, sasu-danya tetepken pikirannya baru kadengeran ia berkata: “Nona, siapatah kau ini? Bilanglah apa kau perlu dengen pertulunganku? Aku inget, ya aku seperti merasa suda pernah berjumpa pada kau dan denger kau punya swara, tapi di mana atawa kapan itu aku lupa?” “Kau kliru tuan, dan kau sekarang ada terlalu bingung.” Aku bernama Mariam, putri dari Regent di Sidomukti, Raden Tumenggung Pramudiprojo yang sekarang suda marhum, dan selama hidupku aku belon pernah berjumpa padamu kacuali baru sekarang ini.“ ”Oh ma'af Raden Ajeng, kalu begitu“ menyaut Tong-liat yang sekarang pikirannya suda mulai terang. ”Betul apa yang kau bilang, aku punya bingung suda bik'n aku inget perkara yang bukan-bukan. Duduklah-duduklah ten-tu kau ada perlu sekali padaku ya?“ ”Ya, aku memang perlu, dan juga aku pikir kau ini baek sekali suda idinken aku berjumpa, sebab dari kau punya bujang tadi aku suda dikasi tau yang sebetulnya kau tida kepingin dapat kunjungan dari siapa juga.“ Tong-liat punya muka sekarang jadi lebih terang, dan buat pertama kali sajek Poo-tjoe sakit Tong-liat kita kliatan tida males bicara. ”Oh ya, aku sekarang inget semua, barusan aku punya pikiran terlalu limbung lantaran suda bebrapa malem aku tida dapat tidur dengan baek, aku sekarang mengerti, jadi kau ini ada putrinya almarhum Regent Sidomukti? atas diri siapa aku suda sering denger dari Poo-tjoe tempo ia itu sekolah di Betawi? Sung-gu ini pertemuan bikin aku merasa enak di hati, tapi Raden Ajeng, idinkenlah aku menyataken di sini bahua kau punya rupa dan swara ada kenangken padaku satu hal yang.......“ Tong-liat belon habisen iapunya perkata'an lantas dari matanya ada kliatan aer yang berlinang, hal mana bikin kita punya Raden Ajeng dapat rasa tida enak, maka dengan buru-buru ia lantas berkata:

“Tuan, datengku kemari sabetulnya aku kepingin liat miynheer Tan (ia bahasaken buat Poo Cu) yang aku kenal tempo kita sama-sama blajar di sekolah. Aku denger ia sakit, bilanglah tuan, apa sekarang ia suda banyak baek? Aku lantas kepingin permisi pulang, sebab aku kwaitir kau nanti jadi banyak terganggu bila aku berdiam lebih lama di sini, sedeng begitu, ji-kalu kau perkenankan, dilaen hari aku kepingin dateng pula di sini.” “Raden Ajeng, ketahuilah olehmu, bahua datengmu kemari sama sekali tida ganggu aku punya kasenangan, malahan sebaliknya dari itu, aku ada girang. Juga aku tau yang Poo-tjoe ada taro cinta padamu, sebab begitu ia pun nanti jadi turut seneng jikalu tau yang kau dateng tengokin padanya.” “Tuan, kau bilang yang miynheer Tan ada taro cinta padaku?” meneges Mariam dengan parasanya jadi merah. “Betul! la suda menyataken itu lebih dari satu kali, dan juga ia bilang bahua kau sendiri ada bales itu kacinta'an.” “Tapi, tapi itu hal tida aken bisa menyadi, tuan” sautnya Mariam dengan aer mata meleleh. “Apatah salanya anak? Jikalu dua jiwa saling menyinta, jikalu masing-masing suda ada kacocokan pikiran, aku liat tida ada sebab kenapa pernika'an tida dibikin?” “Tapi kita ada berlaenan bangsa, dan aku, aku punya ibu......” Mariam tida bisa lan-jutken perkata'annya, sebab itu waktu ia jadi nangis sasengguakan. “Mariam” berkata pula Tong-liat dengan suara terharu sembari ia kepel orang punya tangan dengan keras. “Kau tida harus merasa malu, ketahuilah anak, bahua perkara kacinta’an itu ada barang yang paling mulia bagi manusia punya penghidupan, tapi itu kacinta’an harus kudu di sertain dengan hati yang bersi dan pe-nuh dengan kasucian. Tapi ada satu makhluk dalem ini alam yang terluput dari rasa cinta, sebab itu suda warisan dari Allah. Aku suda pernah jadi orang muda, lantaran begitu aku mengerti baek sekali apa yang diartiken cinta, jikalu dua orang suda ada kapercaya’an besar, satu sama laen hormatken kemauannya, dan masing-masing ada saling menyayang dan saling menyinta, tida perduli itu orang ada dari bangsa apa, perkawinan yang diciptaken dari dasar begitu niscaya datengken kemanisan di hari kamu-dian.”

Yang diajak bicara tida menyaut, ia tutup mukanya dengan kadua tangannya sembari terus sasenggukan, sementara Tong-liat lanjutken omongannya: “Kau tentu jadi heran, Mariam. Kalu kau berhadapan pada seratus ayah seperti kadudukanku sekarang, niscaya kau nanti de-nger laen omongan. Marika tentu tida mufakat kalu anaknya, apa lagi cuma satu-satunya se-perti Poo-tjoe, ambil gadis laen bangsa buat jadi istuinya, tapi aku ada beranggepan laen. Padanya aku tida berlaku sebagi ayah yang bengis, aku pandeng satu anak ada seperti barang pengasih dari Allah, yang aku wajiib cintai, sayang didik dengen baek, kasi plajaran cukup, kasi kamer- dika’an memikir, dan dalem hal cinta, aku me-mang kasi ia kalonggaran buat turut iapunya kainginin hati. Dari sebab itu, tempo pertama kali ia menulis padaku yang ia cintaken kau, aku lantas bales suratnya yang aku tida aken menghalang-halangin, selaennya aku cuma minta supaia ia pikir dan pikir lagi, timbang dan tim-bang lagi sampe anem bulan lamanya, sebab itu waktu aku rasa cukup temponya buat satu lelaki menjajaki hatinya itu prempuan yang ia cinta dan yang bakal brangkat hidup bersama-sama hingga di hari tua.“ Tong-liat brenti sebentar, kamudian berkata lagi: “jadi kau se-karang mengerti Mariam, bahua sebagi saorang tua aku tida aken perkosa kemauannya aku punya anak, tegesnya, aku ini sebagi ayahnya, ada berkwdayiban buat melindungin padanya jikalu ia berlaku kliru dan berbuat apa-apa yang berbahaya, bagi dirinya sendiri dan bagi pergaulan.“

Itu gadis terus tinggal bungkem, sementara Tong-liat lanjutken omongannya:

“Laen dari itu aku pun kepingin menyataken apa-apa padamu. Jikalu seande tadinya aku merasa sangsi buat tergabungnya kau dengan anakku, kesangsian itu sekarang jadi ilang sebab aku suda bisa berhadapan padamu. Mariam, aku tida perlu dengen pertanya’an apa-apa dari kau punya swara, tapi dari kau punya mata, dan dari kau punya prilaku, cukuplah buat aku bisa kira, bahua kau ini ada saorang prempuan yang teolus hati. Jangan kau kwatir anak, jikalu kau serahken kau punya tangan pada Poo-tjoe, pertiyayalah bahua kau nanti bisa jadi satu orang yang paling beruntung, aku, sebagi ia punya ayah, nanti coba sebrapa bisa buat bikin kau hidup sebagi satu ratu, dan apa kau punya kainginan yang bisa didapet dengan gunaken uwang, semua itu nanti terkabul.“

Tiap-tiap pata perkata'an yang diucapken oleh Tong-liat ada didenger dengen betul oleh Raden Ajeng kita. la punya pikiran ada penuh dengen rasa terharu hingga itu gadis yang biasanya pintter bicara sekarang jadi bungkem seperti orang gagu. la dongaken kepalanya dan pandeng Tong-liat punya mata dengen penuh kebaktian. Kalu saja ia boleh ikutken kainginannya hati, Mariam itu kepingin sekali berlutut dihadeppanya itu orang tua, buat menyataken besar ia punya rasa sukur dan trima kasi pada Tong-liat yang berbudi.

Seperti juga dengen kita punya gadis, begitu pun dengen Tong-liat punya perasahan. la sedari ampir dua pulo taun lamanya banyak singkirken diri dari pergaelan pada orang-orang prempuan. la punya kacinta'an suda terkubuer bersama-sama dengen Hiang-nio tatkala ia dapet tau itu istri yang tercinta manutup mata. Tapi heran, apatah ia punya darah yang ngalir di urat-uratinya, atawa ia punya instinct (pirasat diberi oleh natuur) yang kisikin ia punya hati hingga waktu pertama kali meliat pada itu Raden Ajeng ia punya hati sua terbit rasa kasian, dan cuma dalem pertemuan sedikit tempo saja itu rasa kasian, suda tertonem begitu dalem?

“MARYAM”

Kalu saja ia boleh menuruti maunya hati, Tong-liat itu kepingin sekali bisa peluk itu gadis dan ciom ia punya jidat berulang-ulang sembari nyataken yang ia ada cinta padanya sebagi satu ayah menyinta pada anaknya.

Tapi itu hal suda tida kejadian. Masing-masing seperti merasa sungkan buat lakuken itu. Helaas, kalu saja ia berdua ada tau duduknya hal yang bener! Kalu saja marika mendusin bahua antara ia orang satu bapa dan anak........!

Oh Allah, Oh Tuan yang Maha Esah,

Betulkah nasib manusia dalem kau punya kwasa?

Jika begitu, ampunkenlah itu orang-orang yang berdosa.

Lindungkenlah marika dari bincana dan binasa.



Tapi manusia, kau juga harus mengerti.

Dalem hidupmu kau harus berhati-hati.

Jika kau berbuat jahat lekaslah di bikin brenti.

Jangan sampe kau dapatken murkahnya Gusti!


VII

Cinta sifatnya ada alus, datengna

ampir tida dirasa, tida dinyana.

Sekali menancep cuma bisa dicabut

oleh uratnya hati, akarnya

sumanget, ujannya aer mata!

M. Novel

Pada bagian di atas kita suda denger dari Raden Ajeng Mariam, bahua ayah pungutnya, Regent Sidomukti, telah menutup mata. Hal ini kita sekarang parlu wartaken pada pembaca bahua itu bupatih yang baek memang betul suda meninggal dunia sedari setaun yang lalu, dan sekarang tinggal ia punya istri, Raden Ayu Regent sama gadisnya hidup sendirian dengan dapat pensiun dari Pemerentah.

Raden Ayu Regent, tatkala swaminya suda menutup mata, ia tida seneng tinggal lebih lama di Sidomukti, sesudanya ia panggil pulang Mariam yang itu tempo masih blajar di Betawi, pengabisannya ia ambil putusan buat pindaken rumah tangganya ka Kotagedeh, di tempat mana ia sewa satu rumah yang pantes di straat Lawangagung, dan sebab itu Mariam ada punya banyak tempo, ia gunaken itu buat kasi plajaran pada gadis-gadis bangsanya dari satu rumah sekolah particulier.

Dalem pergaulan pada bangsanya sigra juga namanya Raden Ayu kita jadi terkenal, apalagi berhubung sama Mariam punya pekerja'an yang ada beruna buat umum, ia ada dihar- gaken sekali. Dari sebab parasnya itu Raden Ajeng ada eilok, kepandean ada cukup, tida heran sebentar saja lamaran buat ia punya diri ada dateng dari kanan keri, tapi, saben kali ia ditanya oleh ibunya apa ia suka trima itu lamaran dari si ini atawa si itu, Mariam cuma jawab:

“Ibu, aku sekarang belon pikir buat kawin, sebab aku masih seneng hidup sendirian.” Raden Ayu tida mau paksa pada Mariam. dan sebab ia sanget cinta pada anaknya itu, jadi ia ikutken saja Mariam kita punya kemauan. Satu duа kali selamanya tinggal di Kotagedeh, Raden Ajeng kita dapet kunjungan dari saorang Tionghoa muda, yalah Tan Poo-tjoe, Tong-liat punya putra, dan saben kali ada kejadian begitu ibunya lantas kasi inget pada sang gadis, katanya: “Anakku Mariam, buat aku sendiri sampe percaya bahua kau punya perhubungan pada itu orang muda ada berwates pada kalangan yang betul, tapi musti inget anak, orang luar punya cerita harus dijaga; siapa bisa tau lantaran kau punya pergaulan yang terlalu rapet pada itu jejaka nanti tida terbitken swarawara jelek diluaran?” Kalu ditegor begitu Mariam kita tida menyaut, selaennya ia punya muka jadi berobah merah, dan ia lantas masuk di kamar buat susut aer matanya. Tapi kacinta'an ada menangken segalanya, biar pun sang ibu ada melarang, Raden Ajeng kita, dengen berjusta atawa dengen sembuni, saben kali bikin pertemuan pada itu orang muda.

Begitulah sampe itu waktu yang Poo-tjoe dapet sakit, itu berdua merpati jadi tida bisa saling berjumpa.

Jaceh di mata deket di hati. Ini pepatah sunggu tida berarti, Bagi orang yang sedeng bercinta, Berpisa lama tentu tida beta.

Cuma buat satu bulan Mariam tida berjumpa pada Poo-tjoe dari sebab yang blakangan ini dapet sakit di peparu, tapi itu tempo suda dirasaken lama sekali. Segala apa dirasaken tida enak; berdiri bingung, kerja tida seneng. Apa musti bikin sekarang? Tida laen ia musti ketemuken itu orang yang tercinta. Begitulah akhirnya ia ambil putusan buat dateng di rumahnya Tong-liat, maski apa juga yang bakal jadi ia musti ketemuken itu kekasih. Mariam punya maksuk itu suda berhasil, sebab, sebagimana kita suda tau, bukan saja ia dipersilahken buat berjumpa pada Poo-tjoe, malahan Tong-liat suda sambut padanya dengan cara yang manis sekali.

Belon lama Mariam duduk dalem itu kamar tamu dengen Tong-liat, lantas kita punya anak muda yang sakit suda sedar dari tidurnya, dan sesudanya orang kasi tau yang di luar ada bernanti putri Regent, kamudian gadis kita dipersilahken masuk ke dalem kamar sisakit. Dalem itu kamar yang luas kita sekarang da-petken Poo-tjoe dan Mariam ada berdua'an sa- ja, sebab, seperti orang mau bikin supaia itu dua orang muda bicara dengen laluasa, kita punya zuster dan Tong-liat tungguin di luar. Mata-hari pagi yang terang ada sorotken cahayanya menembus di itu kamar. Dalem kebon yang letaknya di samping situ ada terdenger suara nyanyian dari burung-burung dengen gumbira, samentara di antara puhun-puhun bunga yang siarkan bauh harum ada terliat bebrapa pasang kupu-kupu saling terbang ke sana kemari saolah-olah tida kenal cape. Di atas pembaringan, di mana Poo-tjoe ada rebahken dirinya, kita liat di sampingnya ada duduk kita punya Raden Ajeng yang cantik. la punya tangan yang keri ada memegang rapet Poo-tjoe punya jari-jari yang pucet, sementara tangan kanannya ada di gunaken buat usap-usap orang punya jidat. Tida satu pata perkata'an kita ada denger diucapken olehnya, kacuari dua pasang biji mata yang penuh dengan rasa cinta dan yang ada berlinang aer kliatan saling memandeng satu pada laen. Berduanya punya mulut ada ter-tutup rapet, en tokh masing-masing punya dada ada kliatan seperti ombak. Oh, kalu saja itu hati yang terpukul keras bisa utarakken perasa'annya, bahua marika itu ada sanget menyayang satu pada laen, bahua aken guna yang satu yang laen tida berat buat korbanken jiwa sendiri! Seperti juga udara suda penuh dengen mendung, dalem keada'an mana sang ujan tida bisa dicega turunnya, begitulah akhir-akhir kasunyian dalem itu kamar suda dibikin pica dengan Mariam punya suara sasenggukan, dan sembari ciumin berulang-ulang jejaka kita punya muka, Mariam sekarang menangis sedih.

“Ah, miynheer Tan” katanya ia itu dengan suara penuh kaduka'an, “kenapatah kau tida lebih siang wartaken padaku yang kau punya sakit ada begini berat? Kalu saja aku tau, suda tentu dari tempo hari aku suda dateng kemari buat tengokin kau.”

“Mariam” sautnya Poo-tjoe dengan senyum seperti nyataken girangnyia hati “kalu dalem hal itu aku dianggep berdosa, apa boleh buat aku trima salah, tapi taulah kau, yang aku kepingin kau tida turut sedih hati.”

“Justru lantaran kau punya diam jadi aku susa hati.”

“Kau ini ada satu anak yang baek sobatku, dengen jalan apatah aku nanti bisa bales budimu?”

“Kau maeo bales budiku? Mynheer, janganlah kau bilang begitu. Tidakah aku ini yang berutang budi besar padamu? Zonder ada kau yang tulung tempo aku ampir terbakar dalem rumah penginepan kita di Betawi, niscaya ini hari aku suda tida hidup di dunia lagi.”

Poo-tjoe meremken matanya. Ia punya tangan yang lemes ia rebahken di Mariam punya rambut yang gombiok, dan akhirnya dengen suara terharu ia menanya:

“Mariam, Mariam, apatah kau seneng jika selalu berada di sampingku?

“Kau tanya apa aku seneng berada di samping-

Fyerita Roman mu? Tanyalah miynheer, pada itu burung dara, apa dia itu tida seneng berada di samping pasangannya?“

Pembaca. buat sesa'at pengarang minta kau bayangken sendirian.

Tidakah sedep amat dua orang meeda itu punya impian?

Tapi, kalu saja orang tau apa yang diblakang bakul kejadian.

Niscaya pembaca nanti dapat sedikit rasa kasian.



Diliat begini rasanya marika itu bruntung terlalu.

Cinta dan terbales cinta ada apatah lagi yang perlu?

Tapi siapa bisa tau bahua semua itu impian melulu?

Yang bakal berakhir dengan kasedian dan hati pilu?


VIII

“Anak. aku idziken kau memaen

itu panah-waja yang terbikin dari

bingkil gunung Bromo. maski

landepnya ada seribu tajem, tapi

aku larang kau deket-deket atawa

tioba pegang-pegang itu panah

dari Hianq-Kama, itu pamornya

dewa Percinta'an. Betul tida liatken

tajemnya. tapi...... Adu,

anak! la bisa pathiken tulang,

kubur badan kita yang masih

hidup seperti mati.” - itulah ada

kataanya ‘mbah Kawelasan.

M. Novel

Di luar dari apa yang orang kira, berselang sedikit minggu sedari dapat kunjungan dari Raden Ajeng Mariam, Poo-tjoe punya kasehatan jadi banyak maju. Boleh dibilang ampir saben dua atawa tiga hari sekali kita punya Raden Ajeng musti dateng di Tong-liat punya rumah, dan saben kali ia dapet sambutan yang manis. Sekarang Poo-tjoe punya penyakit suda banyak sembuh, dan menurut adviesnya ia punya docter, perlu sekali ia musti tira di tanah dingin. Akhirnya diambil putusan yang selekasnya ia aken pigi di Batu, satu tanah pegunungan di Jawa Wetan.

Tong-liat punya hati sekarang jadi girang. Ia tida brentinya bersukur pada Allah yang suda pulangken kombali kasehatannya ia punya putra. Ia sekarang cuma pikir, selekasnya ia kepingin ka rumahnya itu Raden Ayu Pramudiprojo, buat bicaraken hal perjodoannya Tong-liat dan Raden Ajeng Mariam. Sebegitu jauoh Tong-liat kita tida liat ada sebab apa-apa yang nanti bakal jadi halangan dengan adanya itu perbedahan bangsa antara ia punya putra dengen itu gadis yang dipenuju. Ia sendiri merasa yang ia punya kahidupan jadi banyak tanggung sangsara lantaran gagai dalem ia punya percin-ta'an, sebab ia sendiri suda mengalamin paitnya penghidupan, ia tida mau liat anaknya yang ter-cinta jadi kurang beruntung kalu ia punya niatan musti dicega. Tong-liat pikir: Poo-tjoe suda cinta pada itu gadis, sebaliknya itu gadis juga suda bales itu kecinta'an, ini perasahan saling menyinta suda cukup buat dijadiken dasar yang teguh guna berdiriken penghidupan yang beruntung. Tentang apa yang orang nanti bilang berhubung dengen itu pergabungan laki istri? Ini Tong-liat tida mau pikir banyak sebab, tidakah ia punya anak bukan orang pertama yang hidup dengen laen bangsa? Apa lagi, selaennya ia sendiri suda kenal pada dirinya itu gadis, yang dengen kebetufan sekali ia pun ada taro rasa kasian!

Dengen berpikir seperti di atas, Tong-liat itu jadi bersenyum saorang diri. Ia punya muka kliatan terang saolah-olah umurnya jadi lebih muda sedikit. “Aku musti dateng pada Raden Ayu” katanya ia pada diri sendiri. “Aku musti dateng biar apa juga yang bakal jadi! Aku denger dia ada beradat kolot, tapi dengen aku punya kabisahan bicara aku rasanya sanggup buat kalahken ia punya hati, apa lagi aku ini ada saorang yang berharta, dengen apa aku sanggup bikin itu familie hidup seperti mustinya...........”

Itu waktu ada jam 4 di waktu soreh tempo kita liat Raden Ayu Pramudiprojo duduk berdua'an dengen gadisnya diruwangan tengah dari rumahnya di Lawangagung. Buat sedikit sa'at lamanya kita tida denger marika ada berkata apa-apa, selaennya itu bekas istri Regent sabensaben awasken Mariam yang kutika ada duduk bengong terlongo-longo.

“Anakku” berkata ia akhir-akhir sembari mengunya sirih. “Ketahuilah olehmu bahua sajek sedikit tempo ini aku liat kau banyak berobah. Kau sekarang jadi lebih kurus; kau senantiasa terliat berduka. Apatah yang jadi sebabnya anak?

Kalu lantaran kasi plajaran pada itu murid-murid yang bikin kau jadi begini, aku pikir lebih baek kau brentiken saja itu pakerja'an. Buat hal itu kau tida usa kwatir, kita ada pu-nya banyak alesan buat dimajuken pada bestuur dari itu rumah perguruan, upama, bilang saja yang kita aken pinda ka laen tempat.“

Mariam yang sedari tadi pikirannya melayang jauh, melayang di itu tempat di mana Poo-tjoe berada, jadi sedikit terpranjat tempo ditegor begitu rupa oleh ibunya. la merasa, sebetuinlyia ia punya hati ada bersusa, dan dengan seboleh-boleh ia cobah mau ilangken itu tanda kasedihan yang terlukis di mukanya, ia paksas bersenyum sembari berkata:

“Kau salah ibu, dalem hal menduga bahua aku ada susa hati, kerna aku selamanya ada seneng. Yang dalem hal mengajar itu murid-murid satu tempo aku ada jengkel, itu memang bener, tapi, kalu menginget sama hiburan besar yang aku dapet oleh melakuken itu pe-kerja'an, sunggu itu kajengkelan aku tida pikir.”

“Jadi kau mau tetep saja sama keada'anmu sekarang?” Ya ibu.“ ”Tapi kenapa anak, kau senantiasa kliatan se-perti kesel di hati?“ Mariam mengelah napas. ”Tida ibu“ katanya ia itu dengen swara begitu rupa seperti juga ia hendak sembuniken perasahan hatinya. ”Tida ada satu apa yang aku buat keselken.“

..MARIAM“

Tapi Raden Ayu kita ada saorang tua yang cinta anaknya, dan sebab ia selalu perhatiken pada Mariam, biar bagimana juga sang anak hendak umpetken ia punya kasedihan, tokh ibunya “masih tida percaya, begitulah dengan simpangken sual yang dibicaraken ka laen jurusan, Raden Ayu kita berkata lebih jauh: ”Mariam, anakku, ibu sekarang hendak bicaraken padamu satu hal yang amat penting bagi kau punya kahidupan dan kabruntungan di blakang hari, dari sebab itu aku minta kau pikir dengen sunggu-sunggu.“ Raden Ajeng kita mengangkat muka dengen kaget. Ia punya rupa jadi pucat; ia punya hati memukul keras seperti juga ia suda dapet pirasat dari apa yang hendak diucapken oleh itu orang tua.

“Tadi pagi” berkata Raden Ayu Pramudipro-jo lebiih jauh “ada dateng kemari istri dari Patih di Mojo; ia punya kemari perlunya lamar kau punya diri buat ia punya putra......”. “Ibu....... ” “Tunggu dulu anak, aku belon bicara habis. Ia punya putra sekarang suda jabat peker-ja'an negeri, dan ia itu lulus dari opleiding skhool. Menurut aku punya pikiran, seperti satu orang tua yang kepingin liat kau seneng, aku merasa suka kalu itu lamaran kita bisa trima.” Mariam tida menjawab, tapi sekarang ia menangis. Sang ibu suda merasa tau dari lantaran apa anaknya jadi menangis. Didalem hatie ia berpi-ikir: “apatah bisa jadi sekali seperti apa yang aku sangka, bahua anakku ini ada jatuh cinta pada itu lelaki....... “ Buat hal ini Raden Ayu kita ada sampe cerdik aken tida kasi kentara ia punya sangkahan pada anakna.

“Lagi kau harus mengerti anakku” berkata ia sesudanya brenti sedikit sa'at “kau sekarang suda umur dua pulu taun, dan dalem usia sebegitu suda temponya satu orang prempocean musti kawin. Bilanglah Mariam, yang kau mau bikin seneng hati ibumu, dan sebab begitu kau jadi mau sampeken ibu punya kainginan.”

“Ibu..... oh Ibu.......”

“Kau menangis, apa sebab kau menangis begitu sedih?”

“Sebab...... sebab aku lebih suda mati daripada bikin kau berduka, sedeng kalu aku musti jawab pertanya'anmu, aku tau kau niscaya jadi susah.”

Yang menangis sekarang bukan satu orang; ibu dan anak berduanya menangis sedih.

“Oh anakku, anakku” berkata sang ibu dengan suara piluh “bilanglah Mariam, apa kau punya kasedian itu di sebabken kau tida mau menuruti ibu punya kainginan, sebab kau punya hati barangkali suda di kasiken pada laen lelaki?”

Mariam tida menjawab, ia bangun dari du duknya dan rubuhken diri di pangku ibunya dengan menangis sasenggukan seperti lakunya anak kecil yang minta diwelasin oleh orang tuanya.

Dengan klakuannya ini gadis, Raden Ayu Pramudiprojo ampir mengerti pada duduknya

Cerita Roman semua perkara, sebetulnya ia kepingin kerasken iapunya hati buat lantas bilang yang Mariam punya resia hati ia suda tau semua, yang ia tida seneng sama itu kejadian, dan juga ia mau menyataken yang ia tida setuju jikalu Mariam sampe menika pada laen bangsa, tapi iapunya kacinta'an dan iapunya kesayangan pada dirinya itu gadis ada begitu besar, dari sebab itu, dalem keada'an begini ia tida bisa ucapken satu pata perkata'an, selaennya ia menangis de ngan sedih.

Kita punya Sima yang tua, yang sedari tadi ada berdiam di kamar, seblah samping dari itu ruwangan, jadi kluar tempo denger suara tangisan dari itu dua orang, dan seperti lakunya orang yang lata, ia pun teturutan menangis Sekalipun ia tida tau betul duduknya hal yang bikin itu dua orang jadi begitu.

“Ibu tau, Mariam” berkata Raden Ayu kita pula “yang kau ini ada cinta pada laen orang. Bilanglah sekarang siapa adanya itu lelaki yang kau suda dan bakal percayaken nasibmu?”

Mariam tida menjawab, ia angkat kepalanya dan dengan sorot mata yang penuh kacinta'an, ia awasken Raden Ayu kita punya muka. “Ibu” katanya ia akhir-akhir dengen suara ditenggorokan “ampunlah aku ini satu anak yang berdosa.”

“Ya Mariam, aku ampunken kau, tapi bilanglah siapa adanya itu orang yang telah ambil hatimu?”

“Itu orang..... ia..... ia... ada berlaenan bangsa dari kita, ibu.”

“Laen bangsa anak...” meneges itu orang tua dengen tida kaget, sebab ia pun suda merasa yang ia bakal denger begitu.

“Ya” menjawab Mariam, “tapi ia ada terdidik baek, berdrajiat baek dan berhati baek.” “Mariam, apa itu orang yang kau maksudken ada Poo-tjoe, itu jejaka Tionghoa yang tempo hari suda pernah dateng di sini lebih dari satu kali, dan kau bilang putra dari Tan Tong-liat, hartawan di ini kota?” Mariam memanggut, dan berbareng dengan manggutnya Mariam itu, kita punya Sima yang sedari tadi ada berdiri di deket itu tempat jadi rubuh. Meliat itu kejadian, sakutika itu, ibu dan anak jadi lupa dengen apa yang ada dipikir dan dibicaraken barusan. Buru-buru Mariam panggil bujang buat diminta tulung gotong Sima kadalem kamar, dan sasudanya direbahken di atas pembaringan, serta dikasi sedikit Eau de Cologne itu bujang tua mulai sedar lagi. “Kenapa kau Sima? Apa kau dapet sakit?” menanya Mariam berulang-ulang dengen hati penuh rasa kwatir buat kasehatannya itu babu. “Tida Jeng, aku tida kenapa, sabentar juga aku jadi baek lagi.” Samentara itu, kita punya Raden Ayu yang tadinya pigi buat ambil obat, sekarang masuk pula dalem itu kamar dengen bawa secangkir terisih aer dan hofman. “Minumlah ini Sima,” berkata itu orang bangsawan dengen suara lembut “kau musti banyak mengaso supaia tida gampang sakit.” Sima kita sambut itu obat dengen hormat, sembari menyataken banyak trima kasi.

Sedikit sa'at kamudian Sima punya keada'an suda jadi baek pula seperti biasa. Sesuda ia mengelah napas panjang sembari susut ia punya kringet, lalu ia minta tulung pada Raden Ajeng kita buat diambilken tempat siri, buat kaperluan mana, dengen tida tunggu lebih lama Mariam lantas berlalu dari itu kamar dan ambil itu barang yang diminta. Sesudanya itu gadis ‘berlalu’, Sima lantas duduk mendeketin pada itu bekas istri Regent, kamudian dengen swara ampir tida kadengeran ia berkata: “Bendoro Raden Ayu, kau tentu jadi sedikit kaget kenapa dengen mendadak tadi aku jatuh pangsan?” “Ya Sima, aku kaget bukan kepalang. Tapi tokh sekarang kau suda baek ya?” “Betul Bendoro, sekarang aku suda baek, tapi apa kau suka kasi ma'af kalu aku sekarang hendak tanya apa-apa padamu?” “Bicaralah saja Sima.” “Tadi aku ada denger, Raden Ajeng Mariam ada cinta lelaki, dan itu lelaki ada..... ” “Ia ada bangsa Tionghoa.” “Namanya Bendoro, namanya?” “Ia punya nama sendiri ada Tan Poo-tjoe, dan ayahnya ada bernama Tan Tong-liat, saorang hartawan besar di ini kota” sautnya Raden Ayu kita dengen swara kalm. “Apa kau setuju hati dengen itu perjodoan, Bendoro Raden Ayu?” “Aku sendiri tida setuju, tapi kenapa kau tanya begitu, Sima?” “Sebab, sebab ada satu rasia besar dalem per- kara itu, lantaran apa kau harus cega sebrapa bisa itu perjodoan.“

“Aku tida bisa cega itu Sima” menyaut itu Raden Ayu dengen swara duka, “sebab terpu-tusnya itu, berarti satu kasengsarahen bagi anaku.”

“Dengen begitu kau nanti berdosa.”

“Aku? aku nanti berdosa? oh ceritaken lekas-lekas Sima apa yang kau tau dan apa yang aku harus berbuat” sesambat Raden Ayu Pramu-diprojo dengen swara sedih.

Sima hampirin lebih deket pada itu bekas istri Regent, dan dengen swara sanget plahan ia kisikin brapa perkata'an yang laen orang tida dapat denger.

Tapi helaas! Itu omongan dari Sima yang di ucapken tida dengen keras, ada didenger seperti bunyinya guntur oleh Raden Ayu Regent. Bahna saking kagetnyia itu ibu jadi goometer seku-jur badannya. la punya muka jadi pucat, ia punya mata dan mulut terbuka lebar.

“Astaga firulah! Astaga firulah!” ini perka-ta'an tida brentinya ia ucapken sembari tangannya tepuk-tepuk ia punya pangkuan “Kerna Allah, aku musti cega itu, aku musti cega biar apa juga yang bakal jadi.”

Sima meremken matanya seperti orang merasa cape. la punya mulut kliatan bersenyum, satu senyuman yang orang susa artiken apa maksud-nya.


IX

Allah bisa pisaken segala perkara,

tapi tida bisa pisaken anak pada

ayahnya kerna marika memang ada

berasal dari satu poko-puhun.

bagimana jauh atawa bagimana

lama marika berpisa, itu akar nanti

menyambung kombali dengan

zonder disangka.

M. Novel

Pada satu soreh, baru saja lonceng mengu-taraken jam 4, satu auto cet merah yang di jalanken tida dengen keras ada menuju ka straat Lawang-agung. Seperti juga sang khauffeur suda dikasi tau lebih dulu, dengen zonder di prentah lagi, itu kendara'an di brentiken per-cies di muka rumahnya Raden Ayu Pramu-diprojo.

Yang duduk dalem itu auto cuma satu orang, satu lelaki umur kira-kira lima puiu taun lebih yang kita kenal Tong-liat adanya.

Tong-liat bertindak dengen pelahan sampirin itu rumah, dan sasudanya ketok pada daonnya pintu tida lama kamudian ada kluar satu prempuan.

Sang tetamu memanggut dengen hormal, sa-sudanya ia kenalken diri sendiri siapa adanya, lalu ia menanya:

“Apatah aku sekarang sedeng berhadapan pada Raden Ayu Pramudiprojo sendiri?”

Itu prempuan memanggut dan silahken Tong-liat duduk, sembari matanya awasken itu te-tamu dengen tajem.

“Raden Ayu” berkata Tong-liat kita sasudanya. ambil tempat duduknya “apa aku boleh tanya padamu, di mana kau punya putri, Raden Ayu Mariam sekarang berada?”

“Oh dia pigi tuan” sautnya Raden Ayu kita dengan suara tida brobah “dia pigi sedari tadi pagi buat rewang di pestanya iapunya salah satu sobat, tapi apatah kau ada perlu padanya?”

“Padanya aku tida perlu, Raden Ayu, tapi BUAT iapunya diri yang aku suda perluken kemari guna bicaraken padamu.”

“Jikalul tu percara ada buat kebaekan, ceritakenlah tuan, aku sedia buat denger.”

Datengku kemari sabetuinya buat menadah celahan dari kau, tapi saking besarnya aku punya kacinta'an pada aku punya anak, yang cuma satu-satunya daem ini dunia, aku suda lupaken itu semua, maka aku minta, jikalul aku ada kesalahan bicara kau nanti suka ma'afken.“

Itu bekas istri Regent tida menyaut, ia sedikit bersenyum selaku menyataken mufakat dengen omongan tetamunya, kamuedian Tong-liat berkata lebih jauh:

“Dengen tida simpangken terlalu jauh sama makssud kedatenganku, sekarang idzinken aku bicara padamu pokonya perkara yang bikin aku perluken dateng di sini. Raden Ayu, seperti tadi aku bilang, anakku itu, yang cuna satu-satunya di ini dunia, ia ada kenal baek pada kau punya putri, Raden Ajeng Mariam, dan didalem perkenalaninya itu marika suda jadi saling menyinta......”

“Saling menyinta bukan ada perkara busuk tuan” menyaut Raden Ajeng kita yang memotong orang punya omongan.

“Ya, marika punya kacinta'an itu ada dengen ketelusan hati, dan aken guna marika berdua punya kabruntungan, sekarang aku kemari buat minta tangannya kau punya gadis supaia bisa hidu? bersame-sama dengen aku punya anak, Poo-tjoe namanya.”

“Tapi itu tida bisa menyadi tuan, sebab antara kita ada berlaenan bangsa.”

“Menurut aku punya pikiran, perkara itu tida menjadi sebab kenapa kita orang tua musti gunaken buat menghalangi kabruntungannya kita punya anak-anak.”

“Justru buat marika punya kabruntungan aku musti tolak kau punya perdamian tuan.”

“Kenapa kau bilang begito Raden Ayu?” mendesek Tong-liat yang tida maeo menyerah kalah.

“Sebab aku tida gampang percaya pada kacinta'annya orang-orang muda kebanyakan, dan bukan ada perkara yang tida bisa menjadi, kalu kacinta'annya kau punya anak itu ada berdasar atas tabiatnya orang muda yang gampang sekali jadi lumer kalu ia suda bosen, apa lagi gadsisku bukan ada sebangsa dengen kau, serta kita orang bukan familie hartawan.”

“Jikalul cuma lantaran itu yang jadi kau punya sangkutan, oh Raden Ayu, aku nanti bisa atur supaia perkawinan itu dilakuken menurut wet, dengen begito supaia haknya kau punya gadis jadi terlindung.

“Ma'afken aku tuan, itu wet dibikin oleh manusia, dan atas itu aku terus terang bilang yang aku ada kurang kapercaya'an“ menyaut Raden Ayu kita dengan swara tetep, sedeng mukanya tinggal berlaku manis seperti bermula.

“Raden Ayu” berseru sekarang Tong-liat dengen swara sedikit berobah “Kau musti inget, kau punya gadis juga menaro cinta besar sekali pada anakku, apa kau tida kasian, kau lantaran penolakanmu itu nanti bikin kahidupan putrimu jadi sengsara?”

“Tuan, aku suda pernah jadi orang muda, dengen begitu aku jadi tau tabiatnya pemuda. Aku percaya perkata'anmu tuan, bahua dengen caraku ini bisa bikin Mariam, anakku, jadi susa, tapi aku lebih suka ia pikul susa buat satu, dua atawa tiga bulan, daripada liat ia tanggung sengsara saumur hidup.”

“Raden Ayu.......”

“Tunggu dulu tuan, aku bicara belon habis. Kau sekarang jadi satu ayah satu ayah yang cinta pada anaknya, dan tersurung oleh kau punya kacinta'an yang begitu besar maka kau sekarang kemari buat hubungken kita punya anak-anak dengan harepan diblakang jadi hidup seneng. Tapi sekarang aku minta kau bayangken tuan, seandenna itu anak yang kau kepingin penghidupannya jadi seneng, sebaliknya jadi cilaka, lantas, seperti satu orang tua bagimana-tah rasanya kau punya hati? Apa lagi kalu itu anak saorang prempuan adanya?”

Tong-liat tida menyaut, dari ia punya muka yang kliatan kusut ada kasi kentara yang ia punya hati berasa kena tertusuk dengan

Cerita Roman itu Raden Ayu punya perkata'an. Tapi seberapa boleh ia tahan sabar, dan dengen kepel-kepel ia punya tangan sendiri ia coba tabahken hatinya, sementara Raden Ayu Pramudiprojo lanjut-ken perkata'annya:

“Kita manusia hidup di ini dunia tida lama, dari sebab itu, kalu dalem hidupku aku suda tida bisa berbuat banyak kebaekan, aku tida kepingin tambahken kadosahanku dengan berbuat kajahatan. Bukantah aku nanti jadi berdosa lebih besar lagi, kalu sampe aku menyadi sebab hingga Mariam jato sengsara, sebab justru Mariam itu bukan aku punya anak sendiri?”

“Apa kau bilang Raden Ayu? Kau kata itu gadis bukan kau punya anak sendiri?”

“Bukan tuan, ia ada aku punya anak pungut. Itu Mariam masih kecil tempo orang bawa padaku, dan menurut katrangannya itu orang, yang sampe ini waktu masih hidup, Mariam baru dilahirken cuma sedikit bulan saja, sementara ibunya ada menanggung nasib yang amat sengsara, lantaran ia suda di sia-sia dan dibikin telantar oleh swaminya.”

“Apa Mariam tau yang dirinya ada anak pungut dari kau Raden Ayu?” meneges Tong-liat dengen swara terharu.

“Barangkali ya, dan barangkali tida, tuan. Sebab, selamanya ia mengerti omongan, belon satu kali kita omongken itu hal padanya, dan juga belon satu kali ia pernah tanya apa-apa kapadaku.”

“Tapi siapa ia punya orang tua? Apa ia masih hidup? Kalu perlu, dan dengen kau punya idzin Raden Ayu, aku suka dateng padanya.”

“Percuma tuan, sebab ibunya suda mati taikala itu anak diserahkan padaku; ia meninggal dalem kamlaratan besar.” “Dan ayahnya?” “La punya ayah masih hidup.” “Jika begitu ia tentu hidup dalem kasusahan, bukan?” “Siapa bisa tau tuan, apa ia hidup dalem sengsara atawa tida, yang aku tau ia hidup dalem kamulia'an, sebab ia ada kaya sekali.” Tong-liat sama sekali tida kira yang itu perkata'an lebih banyak di tujuken padanya daripada buat laen orang, tapi Biarpun begitu ia punya jantung ada berdebar keras, dan buat sembuniken itu ia cuma bisa gigit bibirnya. “Raden Ayu” katanya Tong-liat itu sasudanya saling memandeng sekutika lamanya “apa kau suka unjuk padaku siapa iapunya ayah dan di mana iapunya tempat tinggal? Kerna Allah kita musti kasi tau padanya duduknya hal yang bener supaia ia mengerti kesalahannya.” “Jadi kau perlu tau ayah dari Mariam tuan?” “Ya dengen kau punya idzin.” “Ma'af tuan, aku tida kepingin bikin kau jadi menyesel, tapi, sebab kau sendiri yang minta, jadi aku terpaksa bilang: Itu ayah dari Mariam sebetulnya tida perlu dicari terlalu jauh, ia sendiri ini tempo sedeng duduk dihadepanku, dan sasudanya pada dua pulut taun yang berselang ia berbuat dosa dengan telantarken ia punya istri, sekarang ia mau tamba kadosa'annya

Fyerita Roman dengen kasi menikah dua orang muda yang jadi sudaranya sendiri!“ Kaget seperti dipagut uler Tong-liat berlompat dari duduknya. Ia berbuat begitu rupa hingga satu tangannya suda sambit gelas di atas meja hingga jato ancur ke bawah, dan ampir di sa'at itu juga ia lantas rubuhken dirinya lagi di atas itu krosi di mana ia tadi ada duduk. Kalu itu waktu upamanya ada satu musuh nanti dapet rasa kasian liat Tong-liat punya laku. Ia punya muka ada pucet laksana mayit; iapunya napas ada sengal-sengal laksana satu penjahat dikejer oleh politie. Rasa menyesel, rasa sedih, rasa malu dibarengin oleh rasa terkejut semua teraduk jadi satu membikin penuh iapunya otak. Begitu kusut iapunya pikiran, begitu limbung iapunya perasa'an hingga di sa'at itu Tong-liat ada seperti saorang yang tida bersumanget cukup. Ia punya ketabahan hati yang dalem laen-laen hal ia bisa kasi nyata sekarang musna sama sekali. Dengan seantero badannya bergumeter seperti puhun tertiup angin, dan dengen suara yang terputus-putus ia tida brentinya bersambat: ”Oh Allah....... Oh Allah....!“ Dan buat pertama kali selamanya hidup sebagi orang dewasa, sekarang Tong-liat menangis, menangis seperti anak keciil yang minta dikasianin.

Dunia. dunia, kan ini laksans panggung komidi.

Apa yang tida dikira sering kali bisa menyadi.

Manusia yang jadi isinya lebiih banyak rasaken sedi.

Dan lebih banyak alamken sengsara dengan perasa'an tertindi.

Raden Ayu Pramudiprojo tida perlu bicara banyak buat kuwatken kabenerannya iapunya penuturan, sebab dengen kasi kluar babu Sima suda cukup terang buat bikin Tong-liat pertayya sama segala apa yang ia denger.

Begitulah sasudanya Tong-liat dapat tetepken pula perasa'an hatinya yang tergoncang ia lalu berkata pada itu bekas istri Regent:

“Raden Ayu, kau sekarang tau yang aku ada berdosa, yang aku punya hati ada sanget bersengsara, apa dalem halku seperti sekarang ini kau mau unjuk rasa kasihan dan mau unjuk sedikit kebaekan padaku?”

“Suda tentu sekali tuan” sautnya Raden Ayu kita dengen suara terharu.

“Aku, aku harep kau dan juga Sima suka tutup ini perkara di luar itu anak punya ketauan, sampe aku nanti suda pikir baek cara apa aku harus berbuat padanya.”

Raden Ayu Pramudiprocyo memanggut.

Begitulah tida lama kamudian Tong-liat lantas ambil slamet tinggal dari rumahnya itu bekas istri Bupatih, dan dengen tindakan limbung ia sampirin autonya yang sedari tadi ada menunggu.


X

Kalu orang suda pernah jato

dalem percinta'an, ia nanti merasa

bagimana pedes, paat dan ngeri

mendenger laguhnya “Cinta”. Itu

satu perkara bisa menjadiken

brapa-ribu perkara: girang, bruntung,

duka, sengsara mereres,

gaib dan mujijat, tapi yang sering

dateng adalah: sengsara dan mujijat!

M. Novel

Belon pernah selama hidupnya Tong-liat alam-ken satu malem yang jelek seperti itu waktu di mana sorehnya kita c'apetken ia bikin pertemu-an pada itu bekas istri bupati, Raden Ayu Pramudiprojo. Tida satu menuut dari itu malem Tong-liat bisa tidur; ia punya pikiran ada sanget terganggu dengen itu kejajan yang ia menampak di waktu sorehnya. Sima punya penuturan panjang lebar berhrubung dengan Hiang-nio punya keada'an dari dua pulu taun yang lalu, bikin ia punya pikiran jadi penuh sama rasa sedih. Apatan yang ia musti bikin sekarang? Bagimana jadinya dengen itu Mariam, atawa Lian-hwa sebagimana ia sekarang dapet tau itu nama dari Sima, jikalo seandenya itu anak tida jatu dalem tangannya itu Raden Ayu yang baek? Apa nanti jadi kalu itu gadis dapet tau bahua ia ada ayahnyia yang tulen? Bahua ia punya ibu suda dibikin terlantar olehnhya? Bahua lantaran inget pada harta ia suda sia-siaken ibunya hingga ia ini meninggal dunia dalem kamiskinan besar? Dengan sebab begitu apatah itu anak nanti tida jadi benci padanya? Sedeng ia sekarang suda dapet rasa cinta dan kasihan pada itu gadis, bagimana rasanya ia punya hati kalu itu perasahan nanti dibales dengan kajemuan oleh orang yang bukan laen dari anaknya sendiri? Lebih jauh, bagimanatah nanti yadi dengen Poo-tjoe kalu sampe ia dapat tau bahua gadis yang dicinta bukan laen dari sudaranya sendiri? Apa ia harus tinggal diam? Tida, itu tida bisa menyadi! Tapi bagimana ia musti buka itu rasie? Apatah itu anak nanti bisa taro hromat pada satu ayah yang telah cemarken penghidupannya dengen itu macem kadosahan? Ini semua pertanya'an di atas bikin pusing betul-betul Tong-liat punya kepala. Begitu heibat itu kasukeeran ada menindih ia punya pirasat hingga ia sendiri ampir tida tau cara bagimana ia harus berbuat

Pada esok harinya maski pun suda terang tanah Tong-liat itu masih belon kliatan kluar dari kamar. Ia rasaken badannya kliwat cape. Memang buat satu usia seperti Tong-liat sabetuinla ada. terlalu berat jika musti pikirken perkara yang begitu ruwet sebagimana ia sedeng hadepken sekarang. Dari lantaran semalemnya ia tida dapet pules Biarpun sekejaban saja, dan ketambahan lagi sorehnya ia tida bersantap, tida heran. Tong-liat sekarang dapat sakit, sedeng begitu olehnya sendiri itu penyakit tida dirasaken.

Satu hari, dua hari, itu penyakit tida kentara ada berat, tapi paca hari yang katiga sang penyakit yadi lebih heibat. Docter yang dipanggil ada kasi keterangan bahua Tong-liat punya penyakit tida boleh dipandeng enteng, buat sementara

Cerita Roman waktu perlu sekali itu orang tua mengaso dan tida boleh kerjaken pikirannya terlalu banyak, dan sebab dalem rumahnya Tong-liat tida ada familie prempuan, seperti biasa kalu ada kejadian begitu lantas diundang juru rawat dari luar.

Bagi marika yang tinggai di Jawa Wetan, siapatah yang tida kenal gunung Arjuno? Satu gunung letaknya di Residentie Pasuruan.

Pada kaki sebelah selatan dari gunung tersebut ada satu kota kecil yang orang sebut Batu, dan trima kasi pada natuur, keada'an di itu tempat, baek hawanya dan nyaman, Maupun pe-mandengan alamnya yang endah, semua itu bikin penghidupan di itu tempat yadi serba gumbira, terutama bagi marika yang ada banyak harta, dengen apa segala kaiginannya gampang disampeken.

Antara hartawan-hartawan di Kotagedeh yang ada punya rumah pesanggrahan di itu tempat, ada terhitung kita punya Tong-liat. Ia punya gedong yang besar dengen pekarangannya yang luas, di mana banyak rupa-rupa puhun buah dan kembang yang tertonem di itu tempat, dan yang senantiasa terawat baek, yadi satu perhiasan bagi itu kota pegunungan.

Itu waktu ada kira jam 10 pagi tempo kita dapetken Poo-tjoe berjalan saorang diri dengen dibootutin oleh saekor anjingnyra yang besar. Langit ada bersih, angin pegunungan yang alus ada menup dengan plahan sembari bawa ha-rumnya bungah kemuning yang ada tertonem banyak dipelataran dari itu rumah, dan sekali-pun itu tempo matahari suda naek tinggi, oleh Poo-tjoe tida dirasaken panasnya.

Dergen tindakan pelahan sembari bersuwit-suwit Poo-tjoe berjalay menooju ka serambi depan dari rumahnya, di mana ada menunggu satu bujang lelaki.

“Warso” menanya Poo-tjoe pada itu bujang “apa ada dateng surat-surat dari post?”

“Ada tuan” menanya yang ditanya dengan laku hormal “dua surat dalem envelop yang laen surat-surat kabar.”

Poo-tjoe lantas sampirin satu meja di mana itu surat-surat ada ditaruk. Ia punya paraskliatan bergirang kutika ia liat itu envelop sebab ia suda kenalin tulisan dari sipengirimnya. Sasudanya ia prenta pada Warso buat ambil satu gelas aer ia lalu jatohken dirinya di atas satu krosi panjang, dan dengen muka berseri-seri ia buka envelop yang pertama:

“Miynheer Tan,”

Jikalu ini surat sampe padamu, aku harep kau punya kasehatan jadi lebih baek dan lebih baek. Oh sobatku, kita punya perpisahan sebetulnya tida terlalu lama, tapi dalem perasa'an hati itu seperti suda bertaun-taun. Kapantah dateng itu tempo yang bruntung yang kita impiken, supaia kita bisa hiduo berkumpul selamanya?

Sedikit hari yang lalu ada dateng dirumahku istri dari Patih di Mojo, ia punya kunjungan perlunya buat lamar diriku, tapi, atas pertanya'an dari ibu, aku suda tolak itu kahormatan. Bukantah hati dan nyawaku suda jaci kapunya'annya laen orang, yaiah yang sekarang baca suratku ini?

Juga aku perlu wartaken. Kita punya resia sekarang suda diketahui oleh ibu. Ia tau yang aku ada menyinta kau, maski pun dalem hal itu bermula rupanya ia kurang setuju, tapi blakangan ini ia kasi unjuk seperti rasa mufakat. Kalu saja aku boleh percaya pada pengliatanku, aku boleh bilang yang kita punya maksud bakal bisa kesampean zonder terhalang.

Buat ini waktu, sembari berharep kau lekas baek, aku tida lupa pesen dua perkata'an: Tunggu dan bersabarlah!

Dari kau punya

MARIAM.

Poo-tjoe baca dan baca lagi itu surat lebih dari satu kali. Ia punya hati penuh dengan rasa girang, ini bisa dinyataken dengan iapunya muka yang kliatan terang dan sembari bersenyum ia simpen itu surat dalem sakunya.

Kamudian ia ambil surat yang kadua, ia tau itu ada dari ayahnya sendiri. Seperti matahari terang dengan mendadak di tutup mendung yang tebel, begitu kita liat pada Poo-tjoe punya muka tatkala membaca itu surat dari ayahnya. Ia buka lebar-lebar ia punya mata seperti ia belon percaya dengan apa yang ia liat, tapi tokh, Biarpun ia baca dan baca lagi, isinya tinggal satu rupa seperti tadi. Ia sekarang bantingken kepala sendiri dibetolcan senderannya itu krosi; ia tarik-tarik iapunya rambut dengan meremken kadua matanya, sementara dari mulutnya tida terdenger laen suara daripada tarikan napas panjang.

Itu surat dari Tong-liat berbunyi begini:

Poo-tjoe, anakku,

Bila kau betul cinta pada ayah, didalem satu minggu sasudanya trima ini surat kau musti tinggalken Yava. Jika kau pigi di Switzerland aku pikir paling baek, sebab di sana kau bisa dapet hawa nyaman buat lekas sembuhken kau punya penyakit. Aken kau punya onkost-onkost, kau boleh tarik uwang dari bank brapa banyak yang kau perlu.

Hal kau punya perhubogenan pada Mariam, kau musti bikin putus; kau tida bisa ambil ia buat istri, sebab ia bukan laen orang dari kau punya sudara sendiri, sekali pun ia ada terlahir dari laen ibu.

Anakku, jangan kau kepingin tau lebih banyak, sebab ini ada aku punya rasia di waktu muda yang aku tida sangkal, dengen tulis begini padamu, aku punya rasa hati ada tertindih dengan satu kamenyeselan yang amat besar.

Dari ayahmu

TAN TONG LIAT.

“Jikalu bisa diupamaken seperti orang pelayaran, Poo-tjoe punya keada'an tadinya bisa di anggep suda berlayar di lautan yang teduh. Ia dapet angin baek dan penuh dengan pengharepan gilang-gumilang di mukanya. Lapat-lapat dalem hatinya seperti suda bayangken itu puloh dari kaberuntungan di mana ia dan kacinta'an nya bakal tinggal dan rasaken manisnya penghi-dupan selama-lamanya, tapi, dengen tida ada tanda-tanda lebih dulo, dengen tida disangka, itu prauw, di atas mana ia ada duduk, dengen mendadak suda terdampar dibateau karang yang besar. Ia rasaken dirinya tenggelem dalem gelumbang, dan begitu heibat ia rasaken itu bincana yang memukui dirinya hingga buat sekutika lamanya itu anak muda tida tau apa yang ia harus berbuat.

Sang anjing, yang sedari tadi duduk di sampingnya sembari matanya awasken ia punya tuan, rupanya mengerti bahua Poo-tjoe berada dalem kaduka'an besar, dan seperti maeo kasi hiburan, itu binatang suda jilat-jilat Poo-tjoe punya tangan yang tergantug dilengennya krosi.

Apatah memang suda jadi kabiasan dalem penghidupan manusia, bahua kasusahan itu sering membawa temen? Itu pukulan heibat yang dirasaken oleh Poo-tjoe belon ilang rasa sakitinya, dan sekarang menyusul laen hal lagi, dengen ditrimanya satu telegram yang orang post baru kirim padanya.

Dengen tida ayal Poo-tjoe lantas buka dan baca begini buninya:

“LEKAS DATENG PAPA SAKIT.”

Itu anak muda yang biasanya berlaku sabar dalem laen perkara, sekarang kliatan gugup, dengen tida buang tempo sigra ia lari kadalem kamarnya, dan berselang setengah jam kita liat dia suda berkandaran dengan autonya sendiri dalem perjaianan antara Batu dan Kotagedeh.

Lebih dari satu kali orang dapetken Poo-tjoe ampir dapat kacilaka'an lantaran ia lariken autonya sanget kenceng. la punya pikiran ada sanget kaloot tercampur dengen buru-buru kepingin lekas sampe di rumahnya. Begitulah disatu sa'at yang jelek, dibetulan satu tikungan yang berbahaya di mana sang jalan anada turun dengen tajem, justru dari laen jurusan ada laen auto yang mendatengin, Poo-tjoe tida sempet buat kendorken lajunya ia punya kreta sendiri, sebab kwatir sama benturan yang bakal jadi, ia suda lempar stuurnya kesamping, dan helaas, satu swara keras terdenger, sang auto suda bentuer satu puhun di tepi jalan an, sementara Poo-tjoe sendiri terlempar disatu tempat yang jauhnya kira lima meter dengen keada'an pangsan.


XI

Kematian ada tempat meneduh

paling aman dan taman yang suci

buat kubur itu hati yang luka,

itu pengalaman yang sedih. Dan

Kematian ada jadi layar pembuntut

dari suatu lelakon dalem

penghidupan manusia.

Kenapa orang musti takut sama

kematian kapan hidupnya merasa dosa???

M. Novel

Itu kacilaka'an yang terjadi atas dirinya Poo-tjoe suda bawa ia punya kematian dengen ting-galken dua hati yang sekarang menjadi ancur dalem dunia; yaitu Tong-liat, ayahnya, dan Mariam, kacinta'annya.

Kita tida perlu ceritaken satu persatu bagimana kagetnyia itu dua orang tempo denger kabar. Bagi orang yang tida pernah kailangan orang-orang yang tercinta seperti: ibu ayah, anak, swami atawa istri, ini kita tinggalken kesamping, tapi bagi marika yang suda pernah alamken itu kejadian, niscaya bisa bayangken sendiri bagima-na ngenes marika punya hati, dan lebih besar kasusahan yang nemimpaa atas Tong-liat dan Raden Ajeng kita, sebab justru kematian yang Poo-tjoe dapetken bukan dengen suwajaryna.

Marilah sekarang kita tida usa ceritaken lebih banyak ini kejadian. Kita suda mengerti yang Poo-tjoe telah meninggal dunia; yang ia punya jinasat suda diurus sebagimana layiknya satu orang hartawan yang ada punya banyak sobat; sekarang kita mau ajak pembaca tengoki Tong-liat dan itu gadis yang bersusa.

Itu orang tua yang bersengsara, sajek anak-nya meninggal dunia ia seperti bosen idup. Ia tolak obat yang Docter kasi, ia makan hampir sedikit sekali, dengen lantaran begitu tida heran kalu ia punya penyakit jadi bertamba berat.

Barangkali ia itu merasai bahua kahidupanya bakal sampe di ajalnya dalem kutika yang tida lama lagi, demikianlah pada satu hari ia suda undang satu notaris buat suru bikin satu surat tastement, supaya, jika ia meninggal dunia, ia punya harta benda yang ada besar jumblanya bisa jato pada tangan yang ia ingin-ken.

Sedang begitu adanya hal yang terjadi dengan Tong-liat, dibawa ini ada apa yang telah kejadi sama Mariam. Sejak Poo-tjoe meninggal dunia, olehnya, penghidupan ini dirasaken laen sekali. Ia tida banyak menangis sebagimana kebanyakan terjadi prempuen, tapi itu senyuman manis yang sering kali tersungging di mukanya sama sekali suda tida ada lagi. Berat sekali itu kasedihan yang Mariam rasaken. Ia punya hati yang masih putih bersi suda ditumobei oleh bibit kacinta'an dari Poo-tjoe, dan sasudanya itu bibit berakar dalem, Nasip suda cabut itu kacinta'an dengen zonder kenal kasian. Oh bagimane ancur ia punya hati? Ia rasaken saben menuut itu dara ada mangucur dari hatinya yang terluka!

Didalem itu keada'an yang serba susa, Sima inget bahua pada dua pulu taun yang lalu tempo hendak manutup mata, Hiang-nio, ibunya

Cerita Roman itu gadis suda serahken padanya satu peti keciil, ia pikir sekarang dateng itu waktu yang ia harus sampeken itu pesenan.

Begitulah di satu pagi, dihadapen ibunya dan juga Sima, Mariam suda buka itu peti. Apatah yang kita dapatken di situ? Tida laen, melingken surat-surat dari Hiang-nio dan Tong-liat, satu potret keciil dan satu cincin.

Dengen baca isinya itu tulisan, dengen di bantu oleh Sima punya penuturan, Mariam, seperti orang tidur sekarang jadi sedar dari kapulesannya. Ia pandeng dengen tida bosen itu gambar dari ibunya sendiri yang mirip pada ia punya diri.

Akhir-Akhir Mariam lantas jatuken dirinya dipangkuan ibu pungutnya, dan dengen swara penuh kasedian ia bersambat: “Oh ibu, ibu, apatah sekarang aku musti berbuat?”

“Kau harus senengken hati anak” jawab Raden Ayu kita dengen swara piluh.

“Apatah ia tau bahua aku ini ada ia punya anak?”

“Ia tau, sebab aku yang bilang padanya tempo ia lamar dirimu.”

“Lantas bagimana, ibu?”

“Ia jadi kaget, dan dengen kamenyeselan besar ia tinggalken kita orang.”

“Oh ibu, aku tida tahan rasanya hati. Aku... aku musti.......”

Dengen tida terusken perkata'annya, itu gadis sekarang menangis sasengukan. Ia bilang yang ia musti..... Musti apatah itu? Apa ia aken bales kejahatan pada itu ayah yang dulunya suda persakitin ibunya hingga ampir ia jadi satu anak yang terlantar kalu tida ada familie dari Raden Ayu Pramudiprojo?

Pada sorehnya dari itu hari, sebelonnya matahari silem kabarat yaitu kira pada jam 4 lepas lohor, kita dapatken Mariam suda duduk di atas satu krosi tida jauh dari tempat tidur di mana Tong-liat ada rebahken dirinya. la tida pake pakean berwarna sebagimana biasanya kita sering dapatken, hanya ia ada berpakean baju kebaya putih terbikin dari kain yang alus, sementara sarongnya ada berwarna biru terbikin dari Pekalongan. la dandanken dirinya begitu rupa hingga kentara sekali bahua ia berada dalem kaduka'an.

Satu jam lamanya ia suda duduk di itu tempat dengan laku anteng. la punya mata tida brentinya awasken itu orang tua yang tatkala itu ada tidur niyenyak. Di atas satu meja ketil, tida jauh dari pembarangan orang dapatken ada penuh dengan obat-obat yang kliatannya tida banyak terpake, sementara di atas satu divan, di sala satu pojok dari itu kamar ada duduk satu zuster dengan rupa mengantuk.

Akhir-akhir dengan gerakan lemah, Tong-liat mulai sedar dari tidurnya. Sang zuster sigra berdiri dari duduknya dan sampirin sisakit dengan menanya, apatah ia kepingin apa-apa, tapi yang ditanya cuma menyaut dengan meremken kom-bali matanya.

“Sesaa't lagi ia buka matanya, dan inikali ia dapet pandeng Mariam.

“Hiang” berkata Tong-liat tiتا-tiba dengan suara pelahan, tapi cukup buat di denger oleh orang-orang yang berada dalem itu kamar “kau baru sekarang dateng? Sesudanya aku tunggu bertaun-taun.......? Poo-tjoe, oh anakku ke mana kau pigi........?”

Satu-satunya perkata'an yang diucapken oleh Tong-liat ada di denger terang oleh Mariam. la rasaken iapunya napas ada sesek, iapunya dada sekarang jadi berombak, dan dengen tida bisa ditahan lagi iapunya mata jadi mengucurken aer kasedian.

Tong-liat seperti terkejut. la punya pikiran-pikiran yang barusan ada menyelimur sekarang jadi lebih terang ia buka lebih lebar iapunya mata, dan dengen suara lebih keras sekarang ia memanggil:

“Mariam.......?”

Yang di panggil tida menyaut, tapi berbareng dengen itu ia jadi berdiri dari duduknya.

“Kau di sini a....n...a...k.....?”

Berlompat seperti orang tangkep burung yang kwatir terbang, itu gadis sekarang pegang tangannya itu orang tua yang gapein padanya. la berlutut di muka itu tempat tidur, kepalanya diletaken Tong-liat punya dada, dan dengen tangannya yang lemes, tida brentinya itu ayah usap-usap gadis kita punya rambut dengan laku yang penuh sama rasa cinta.

Tida satu perkata'an ada terdenger diucapken oleh itu dua orang, ayah dan anak! Rasa girang, rasa duka dan rasa menyesel ada teraduk jadi satu begitu rupa hingga jatuhnya aer mata di kadua fihak tida bisa ditaahan lagi.

Kita punya zuster tida mengerti apa maksudnya itu kejadian, tokh sembari memandeng itu dua orang, tida luput hatinya turut dapat rasa sedih.

“Trima kasi Allahku” katanya Tong-liat akhir-akhir “aku sekarang dapetken kombali pusa-kaku yang terhilang, dan, dan aku sekarang boleh mati dengen hati legah.”

“Ayah” saut Mariam dengan suara ditenggorokan “tida boleh, kau tida boleh mati, ayah, sebelonnya aku unjuk kacinta'anku padamu.”

“Kau tida benci padaku, anak, satu ayah yang bersala?

“Oh aku musti benci kau? Dalem hal apatah yang aku musti benci? Apa ada satu orang yang benci sama terangnya Matahari? Tida ayah, aku tida benci padamu biar apa juga yang telah menjadi.”

Sedikit menuut kamu'dian, satu bujang lelaki masuk dalem itu kamar, kasi tau yang diluear ada dua orang Europa mau ketemu.

Tong-liat sekarang duduk, dan dengan kum-pulken semua tenaganya ia trima itu tetamu yang bukan laen yalah Notaris dengen saksinyia.

“Tuan Tan” berkata Notaris sesudanya ambil tempat dudunna “aku sekarang dateng kemari dengen bawa itu surat-surat yang aku suda bikin klaar. Seperti kau punya kainginan, jikalo'e kau menutup mata, kau punya milik apa yang ada, bakal diserahken pada saorang prem- puan nama Raden Ajeng Mariam, anak pungut dari Raden Ayu Pramudiprojo, istri dari almar-hum Regent di Sidhomuki. Aku sekarang baca-ken itu surat tastement harep kau denger.“

Tong-liat memanggut dengen muka terang, tapi itu gadis yang sekarang duduk di sampingnya sembari pegangin ayahnya punya pundak, berkata dengen swara berbisik. “Ayahku, kenapatah kau bikin itu surat? Kerna Allah aku kepingin liat kau hideop lebih lama. Oh ayahku, bilanglah pada itu tuan Notaris bahua itu surat kau batalken.”

Tong-liat pandeng Mariam punya muka dengen rasa kasian, tapi ia punya kemauan tida bisa dirobah.

Begitulah di itu soreh sampe pada malemnya Tong-liat punya keada'an kliatan banyak lebih baek dari tadinya. Ia minum obat yang Mariam kasi, juga ia makan barang makanan yang gadis kita bawa padanya.

Docter yang dateng saben soreh menyataken girangnya, ia bilang, bila terus Tong-liat punya keada'an bisa seperti sekarang, harepan lekas baek ada besar sekali.

Itu malem, dengen idinnya sang ibu Mariam menginep dalem itu gedong dari itu Millionair. Ki-ta rasa tida perlu diterangken bahua itu bekas istri Bupati dan juga babu Sima jadi amat girang denger itu kabar baek dari hal Mariam.

Pada esok paginya, kira jam 5 sebelonnya terang tanah, orang denger swara tangisan dalem kamarnya Tong-liat, serta kita perhatiken lebih tertip, kita dapet tau yang swara tangisan itu ada dari Mariam.

Nyatalah pada kita, pembaca, bahua Tong-liat suda meninggal dunia, meninggal dalem tung-kulannya ia punya anak yang baru diketemu-ken. Zuster yang saksiken sama-sama kutika itu orang tua menutup mata ada bilang bahua itu millionair punya muka ada kliatan terang.

Sedikit lama sesudanya terjadi hal tersebut di atas, orang liat dalem gedongnyia Tong-liat ada ditinggalin oleh itu bekas istri Regent dengen gadisnya Raden Ajeng Mariam. Sekalipun ini tempo ia ada kaya besar dengen trimanya itu warisan, tapi ia tuntut penghidupannya dengen cara saderhana. Apa ia aken jadi bangsa Tiong-hoa sebagimana asalnya ia ada? Tida! la tinggal jadi Raden Ajeng Mariam yang baek, cuma, tempo-tempo ia buang napas panjang dengen sebut namanya satu orang yang bukan laen Poo-tjoe adanya.

Begitulah sajek itu waktu kita tida denger apa-apa lagi tentang dirinya itu familie. Apa ia masih hidup? Apa ia suda menikah? Dan apa ia tetep dalem kekaya'annya? Ini semua cuma Allah saja yang tau!

TAMAT


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.