UTUSAN ALLAH
M. NOVEL
KOLOFON
UTUSAN ALLAH
oleh
M. NOVEL
SAMBUNGAN DARI “THE BELLE OF MENADO”
Drukkerij & Illustratie Bureau
HAHN &CO.
Suikerstraat 1-3—Surabaya.
1932
© 2026 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: digitalcollections.universiteitleiden.nl
Ilustrasi sampul: The Kiss III (Kyss III) 1898, karya Edvard Munch
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam.com
SEDIKIT UCAPAN
APAKAH memang begitu sifat-nya cinta: bengis di waktu bengis, nakal di waktu nakal? Dan apakah betul adanya itu ucapan yang membilang: cinta ada sebagai tali, yang sabentar bisa mengiket hati ja-di benci dan di lain waktu bisa mengiket hati jadi terkenang?
Di waktu dingin cinta sifatnya bro-bah melebihin dinginnya ys, diwak-tu panas sifatnya brobah melebihin panasnya bara. Dan di waktu bening cinta merupaken seperti beningnya aer dari tuju-saringan, di waktu butek merupaken seperti aer yang tida punya bayangan. Demikian ada azasnya cinta.
M. NOVEL.
I
“If we did meet again, why we shall smile?” JULIUS CAESAR.
(Kenapa kita ketawa kapan kita berjumpah pulah?)
JUNI 27, hari rebo jam 7 soreh. Dalem restaurant L. K. L. (Surabaia) ada duduk ampat pamuda Tionghoa yang sedeng asik bicara. Sabentar-sabentar kadengeran suara ketawa dan saben-saben angkat masing-masing punya glas yang terisi bier. laorang rupanya ada golongan kaum muda yang suka bergaul.
“Itelah tida boleh heran iapunya kakuatan tenaga memang asal dari natuur. iapunya taktiek boks ada begitu alus samentara pukulannya ada begitu keras. ‘Nko Sie Tiat, ’nko Cwan-liong sendiri pernah mengakuh, ia ada harepan buat jadi satu bokser yang baek............”
“Apa kau maksudken ‘nko Cihiang-in?” menumpang yang lain. “’Nko Cihiang-in punya penggawakan dan tenaga memang pantes buat jadi satu bokser. Liat baru ini waktu dibikin demonstratie, ia ampir saja bikin knockout itu saingan kapan lagi satu minuut, gong tida keburu kasi tanda mengaso.“
“Buat itu sabenennya kita boleh tida begitu heran,” menyambung yang lain pulah, “cuma kita tida mengerti, kenapa tadinya iapunya sikep yang pendiam sebagi reco, mendadak brobah begitu gumbira dan jinaka. Apa kau lupa belon lama tokh kita sering ketemuken ia duduk termenung dan membisu sebagi orang pertapa'an? Dan sekarang bukankah itu probahan bikin kita musti heran?”
“Justru itu sampe sekarang kita masih ingin ta- u apa yang menyadi sebab hingga bikin ia ampir rusaken penghidupannya,” menjawab itu kawan yang lain.
“Kita duga pasti tentu tida ada sebab lain daripada hatinya tercokeri dan kamudian dipataken sate-ngah jalan! Cuma kita tida tau nona siapa yang tangannya begitu jail....................”
“Saia inget sedari ia baru balik dari Menado, ia- punya keada'an kliatan seperti orang yang tida punya sumanget. Kendati kita satu tempo bisa bikin ia ke- tawa tapi itu ketawa'an ada asem. Apakah boleh ja- di nyawanya kena kacubit sama durinya kembang yang tumbu di Menado?”
“Siapa tau? Tapi tokh kita sangsi buat percaia kabenerannya, kerna ‘nko Cihang-in tida gampang tun- duk dibawa kaeilokan. Kau tau sendiri ia tida seneng kalu kita bicaraken adanya kembang-kembang di Su- rabaya............”
“Kateguhannya orang punya hati tokh tida bisa diukur dari situ? Satu kapal yang besar masih bi- sa dibikin tenggelem oleh gelombang, satu kawa gu- nung merapi yang besar masih bisa dibikin lahar sama aer lumpurnya, dus kau orang tra usa heran kalu ‘nko Cihang-in punya kateguan hati kena dibikin rubu............”
“Tapi kita sekarang jangan bicaraken lagi itu per- kara,” menyambung pulah itu orang yang terkenal pande bicara. “Maka kita boleh bersokeur yang ia sekarang suda brobah lagi sebagi satu orang yang punya sumanget penuh: gumbira dan jinaka............. Oh ya, apa kau orang denger ia sekarang ambil lagi les piano sama meneer Hopman?”
“Ya, kita suda denger, tapi ia sendiri punya per- mainan tokh suda sampe baek?”
“Boleh jadi begitu, tapi rupanya ia belon puas, ia mau yakinken itu ilmu plajaran lebih tinggi.”
Pembicara'an lantas diganti lain sua!, dan tida lama kamudian satu orang yang berbadan tegep dan pa- kean necis roman berseri, ada masuk dalem itu restaurant.
“Hallo, khap I!” berseru itu orang yang baru da- teng sembari hampirin itu brapa anak muda yang sedeng duduk. “Pantes: saia cari kau orang di club- gebouw Hak Sing Hwee tida ada............”
“Akh, di sana kita sendiri tadi tunggu kau lama se- kali,” duduk dengan muka girang. “Kita kira ini soreh kau memang tida mau kluar; kau punya piano rupanya lebih bisa menarik kau dari kita orang.”
Cihang-in, itu orang yang baru dateng, lantas am- bil tempat duduk dan marika lantas bicara perkara- perkara yang menggumbiraken antaranya ada sua sport.
AMPIR satu taun sedari Cihang-in kombali dari Menado, ia menanggung kesangsara'an hati be- gitu rupa, hingga iapunya kawan-kawan namaken ia seperti boneka hidup. Ia tida mau bergaul seperti dulu-dulu, ia melinken bantu sang ayah punya pakerja'an, dan sa'abisnya itu iapunya tempo digu-naken duduk termenung sendirian dalem kamar. Ia sering kasi alesan tra enak badan jika salah satu sobatnya ada dateng dan ingin ketemu. Dalem tempo tida lama iapunya badan lantas berubah sebagai daun yang layu. Itu senyuman yang gumbira dan itu laku yang diyinaka suda tertiup pergi oleh lembarnya itu kembang dari Menado.
Brapakali ia coba lupaken Liang-nio, itu Ratu Kembang, tapi tida berhasil. Itu kepala yang pernah rebah di atas iapunya lengan tangan dan itu lembaran rambut yang pernah kipasin hatinya, selalu masih bisa dirasaken, dan selalu masih jadi kenangan. Ia baru aku kabenerannya itu ucapan: “Cinta Ada Tanggahnya Noraka.”
Blakangan, setau Allah kasi pengaruh apa, ia lantas mengerti yang itu sikep ada tida baek, ada sanget merintangin iapunya kamajuan hidup dan segalanya.
Liwatnya bulan kisikin pikirannya yang ia musti lantas tindes itu sumanget yang lemah atawa ia nanti jadi satu orang yang tida bearti dalem penghidupannya.
Orang dalem usia muda seperti dirinya perlu ada punya katabahan, kakersan dalem perkara yang bisa merubuken nasibnya. Ia selekasnya musti kubur itu segala peringetan edan, dan selekasnya ia musti bawa dirinya di muka itu penghidupan yang penuh harepan dan kagumbira'an.
Lebih jau ia inget perkata'annya George Herbert yang membilang: “Lelaki bukannya lelaki siapa yang tra mampu tindes nabsunya hati sendiri.”
Sedari itu waktu ia lantas robah sikepnya jadi kli-atan gumbira seberapa bisa. Ia jadi mulai banyak kluar, kunjungin iapunya kawan-kawan, pasiar di-gunung-gunung atawa plesir di tempat pemandian. Kagumbira'annya iapunya kawan-kawan kasi ia pengaruh banyak buat lupaken perkara yang menindi hatinya.
Liwatnya taun telah membawa Tjhiang-in bukan lagi sepri boneka hidup, hanya sebagi Tjhiang-in yang terkenal dalem pergaulan, terkenal iapunya suara ketawa yang jinaka................. Dalem berbagi-bagi sport: boks, vootbal, tooneel, atawa muziek, di situ musti ada dirinya, dan oleh kawan-kawannya ia tida bisa dilopea.
Itu pedut yang menutupin iapunya pikiran suda pergi, suda musna! ia suda lupa............ roman- nya itu Ratu Kembang!! ia sekarang bisa bersut! bisa ketawa.
Badannya yang tadinya kering, jadi seger kombali, malah lebih tegep dan lebih gaga.
Iapunya familie dan sobat-sobat nyataken girang menampak itu perobahan, dan bersukur yang ia tida jadi kelebu!
Anggepan diri sendiri ada lebih kwasa dari lain orang. Begitulah kalu Khiang -in sendiri anggep yang itu mendung gelap suda tersapu pergi dari hatinya, dan itu tusukan duri suda tida tinggalken bekasnya, apakah lain orang bran“bilang: ”Tida bisa jadi.“?
Itulah “bisa jadi” sebab berkali-kali Tjhiang-in bilang sama diri sendiri sambil ketawa: “Hati saia tokh bukan terdiri dari potongan kain-sutra yang gam- pang disulam sama benang-emas dan kamudian lantas disobek!? Jam 9 Tjhiang-in bersama kawan-kawannya baru kluar dari itu rumah makan, dan sa'abisnya mam-pir sabentar di mana clubgebouwnya Hak Sing Hwee, ia lantas kombali pulang.
“S AIA ada pikiran dalem ini bulan aken pasiar ka tanah Celebes,” berkata ‘ncek Hok-po pada suatu pagi pada Tjhiang-in, “saia minta kau turut dalem itu perjalanan.” “Di tempat mana saja kau aken kunjungin, ayah?” Tjhiang-in meneges. “Tentu saia nanti suka turut kalu rasanya kerja'an di Surabaya bisa di-tinggal.” “Tadi malem saia suda bicara sama kau punya oom, dan saia pasrahken semua urusan padanya.” Tjhiang-in berdiam: ia jadi inget sama iapunya per-jalanan ka Menado pada taun dulu, dan ia jadi berbayang lagi sama itu kajajan-kajajan yang ia pernah alamken. Tida brapa sa'at itu ayah berkata pulah. “Pertama saia aken kunjungin Makassar, terus Menado dan lain-lain tempat.” Dengen itu perkata'an Menado, Tjhiang-in jadi se-mingkin tunduk, sa'olah-olah itu tempat ada sem-buni pengaruh yang menakutken. “Bukankah kau masih inget dulu kau pernah per-gi Menado waktu hari pesta shejitnya ’ncek Bing-liong?” itu ayah berkata lebih jau. “Itu hari ia ada tulis surat buat harel kita orang suka pasiar kasa-na.”
Di atas dek kapal. Tjhiang-in petaken di mana pernanya kota..... Menado.
Tjhiang-in tinggal bungkem, ia seperti tida da-pef denger itu omongan. Iapunya pikiran itu waktu mendadak jadi pepet dan ‘bingung. la aken kasi alesan buat tida bisa turut, tapi seperti ada perasahan apa-apa yang bikin ia tida bisa kluarken itu perkata'an; terutama guna jaga kabaekannya iapunya ayah kepaksa tida boleh membanta.
Sedari sang ayah punya niat buat pasiar ka tanah Sabrang di bicaraken; dalem brapa hari Tjhiang-in kli-atan masgul dan kandang-kandang kadapetan temenung-menung. Buat sekian lamanya ia suda bruntung lupaken itu peringetan, lupaken itu tempat dan segalanya di mana iapunya perasahan hati suda terkubor, mendadak dateng lagi satu kutika buat bawa dirinya di mana itu pulo yang pernah ja-di kuburannya iapunya sumanget............
Dua hari sabelonnya brangkat ia dapet tegoran dari iapunya ayah kenapa ia kliatan seperti orang yang tida gumbira, tapi ia kasi keterangan yang bikin itu orang tua merasa puas.
Tanggal 8 Yuli, dengan kapal Van Cloon, Tjhiang-in dan ayahnya mulai brangkat dari Sourabaya buat se-brangken dirinya di antara itu gelombang lautan yang aernya biru.
Saben soreh dan pagi Tjhiang-in sering berdiri dan bergandang di atas deknya itu kapal yang tamba minuut dirasaken itu tali tarik dirinya lebih deket dan le-bih deket di itu tempat yang pernah simpen iapunya lelaken.
Di situ ia sering layangken pikirannya di mana letaknya kota Makassar dan di mana letaknya kota............... Menado.
Di kota Makassar ia nanti boleh gumbira buat jumpahin ‘nko Teng Cong Ha-E dan ’nko Huang Sung Khie, tapi di Menado, pada siapa ia musti ketemu? Pada siapa?
Diam-diam Tjhiang-in lantas bersenyum sendiri seperti juga hendak seselken hatinya kenapa musti begitu kwatir. la inget bahua satu lelaki perlu sama satu katabahan, perlu sama katetepan buat kemu-diken praunya pengidupan dan layarnya nasib..........
Begitulah ia lantas berjanji sendirian aken saterusnya, di mana tempat, berlakuh gumbira dan ta-bah sebrapa bisa.
Kita boleh gagal dalem segala perkara,
Tapi kita kudu tetep tinggal gumbira,
Senyuman jiangan di ilangken ‘gitu kentara,
Roman kecut jiangan dijoael ’gitu mura.
II
“Was the idea of true love given, and true love
given in return, really a fallacy after all?”
—Garvice.
(Adakah sifatnya cinta sejati yang di briken
dan dibales semua cuma ada fantasie melulu?)
SATU badan yang punya penggawakan tida besar dan romannya ada kliatan sedikit gurem, sering-kali kita menampak ia ada duduk diruwangan te-ngah sembari tangannya yang ketiyil ada mainken ja-rum sulaman. Tiap-tiap brapa sa'at ia angkat dada-nya sembari tarik napas, dan tempo-tempo aermatanya ada menetes turun yang kamudian lantas disusut sama setangannya yang telah disediaken di samping. la rupanya tida perduliken itu kasunyian, ia ru-panya puas berada sendirian dengen iapunya prabot sulaman sebagi kawannya. Cuma satu tempo ada satu prempuan tua yang manganterin thee dan du-duk menydaga di situ.
Itulah ada Liang-nio dan Alima.
Liang-nio bawa penghidupannya begitu sunyi dan ngenes sedari tau yang Cihang-in telah kombali ka Sourabaya. Ia merasa sumangetnya ada turut kabawa tapi pada siapa ia mau minta kombali?
Itu rumah yang biasanya terisi sama iapunya suara ketawa sekarang jadi probah sunyi. Iapunya piano yang sabenkali biasa kadengeran kluarken laguk-laguk yang meresept sekarang tinggal tertetup, ti-da pernah dimainken kombali.
Iapunya semua perhiasan yang terdiri dari brilliant juga ada tersimpen dalem lemari yang biasa ada menggantung di mana iapunya leher, kuping etc. Ia sekarang seperti merasa bukan hidup di satu pulo yang rameh hanya disatu pulo yang kosong.
Banyak iapunya kawan-kawan prempuan yang dateng padanya buat ajak pasiar, tapi ia cuma bisa menjawab sembari paksa bersenyum: “Saia rasaken duduk di rumah ada plesiran yang lebih seneng dari pasiar di luar. Tapi saia harep kau orang tida punya serupa anggepan seperti saia, dan plesirlah dengan gumbira kendati zonder ada saia.”
Pada itu waktu kita punya kaum muda di Mendo diyarang sekali atawa ampir tida pernah liat lagi megarnya itu Ratu kembang.
Samentara Tiong-sin masih suka dateng bersambang atawa buat nyataken menyeselnya tapi ia jarang sekali bisa ketemu.
Begitulah itu perobahan dalem penghidupannya Liang-nio berjalan sampe berminggae dan sampe berbulan-bulan tida brobah kendati satu tempo ia sendiri merasa bodo dan gelo kenapa selalu musti mau turutin nabsunya hati buat rontoken nasibnya. Ia mengerti penghidupan bagi ia masih berharga terutama di mana iapunya samping ada iapunya ayah dan tante yang suda berumur tinggi. Siapa lagi oleh marika yang bakal diandelken kalu bukan dirinya?
Memikir sampe di situ ia dapat satu tenaga baru buat lupaken itu semua peringetan edan. Ia mau anggpeg itu kejadian bukan terdapat dalem iapunya penghidupan aseli, tapi terjadi diafas panggung opera atawa dalem komidie gambar!
Ya, suatu orang ada ibarat suatu acteur yang pegang rol dalem suatu pertunjukan: ini hari boleh memegang lelakon sedih; di lain sa'at boleh ganti pegang lelakon gumbira. Dan ini hari boleh memegang rol pengemis; di lain sa'at boleh pegang rol sebaga Raja.
Demikian Liang-nio ada memikir dan sekarang ia ma-u coba ganti iapunya rol sedih dan gagal sama rol yang gumbira dan berhasil.
Edward Jer pernah bilang:
“Saia punya pikiran ada menyadi saia punya Keraja'an.”
LIWATNYA sang taun dan dibantu sama kerasnya percobahan; Liang-nio telah berhasil wajiibken iapunya Pikiran sebagai iapunya Keraja'an. Ia usir segala perkara yang bodo dan gelo dari astananya sang Hati, sebaliknya prentah iapunya Kamauan buat menjurus di tempat yang terang dan permei. Bakar semua “verdrag” yang jadi peringetan sedih, dan pikirken yang baru buat ka'amannya iapunya penghidupan yang bakal dateng................
Ia lantas mulai pake lagi perhiasannya yang suda brapa lama tida terpake, sementara suara piano ada mulai terdenger lagi dalem itu rumah, hingga itu gedong yang tadinya sunyi lantas rameh yang mana telah bikin Liang-nio punya ayah dan tante jadi heran dan girang.
Ampir saben minge ia ajak ayahnya menonton bioscope yang mana telah bikin anak-anak muda di'itu kota pada berbisik dengen bilang yang itu Ratu Kembang unjuken lagi dirinya di mana sorot mata hari dan tetesannya aer-‘mbun!
Dalem tempo tida lama Liang-nio punya kasehatan badan jadi kombali seperti sediakala, malah romannya kliatan selalu bersenyum kapan ia sedeng bicara pada ayah dan tantenya atawa pada sobat-sobatnya.
Samentara babu Alima diam-diam bilang dalem hati sendiri bahua ibarat prau;iapunya nona tida jadi kalebu. la trima kasi kepada Allah!
Liang-nio jarang lagi mau tampik ajakannya ia-punya kawan-kawan prempuan buat plesir ka pinggir laut atawa melancong di tempat pemandian. la bawa dirinya begitu gumbira hingga ia................. lupa sama sekali romannya itu orang yang suda pernah curi iapunya hati dan suda pernah menjadi tawon yang pertama dateng coyem iapunya lembaran daon.
Tida kurang jumblahnya anak-anak muda lamar dirinya, tapi pada ayahnya ia kasi alesan buat singkirin itu semua lamaran. la tida bilang yang hatinyia sekarang suda dingin, tapi ia bilang tida ingin buat lantas-lantas terpisa dari orang tua yang ia masih perlu menjaga dan merawat lebih lama.
Selainnya trima itu lamaran ada juga brapa anak muda yang kurang sabar suda pernah nyataken hatiya dengan surat Maupun dengan mengadep sendiri.
Yang dengen surat tinggal tida terjawab, sametara yang mengadep sendiri ia kasi jawaban dengen membilang: “Harep kau tida kecil hati, saia belon ada pikiran dengen tuker penghidupan buat tambah satu kwajiiban.” Dan kalu itu anak muda bilang ia suka menanti maski brapa lama pun, tapi Liang-nio cuma goyang kepala selakuh menetepken atas ia-punya penolakan.
Keada'an penghidupan manusia memang tida ten-tu, sebentar berombak besar, di lain sa'at berombak kecil dan di lain sa'at lagi jadi aman dan tentrem. Kalu kita liat ini hari ada satu burung yang zonder berkawan, tida lama kita tentu jumpahin ia ada punya pasangan, sobat atawa kenalan. Demikian sama keada'annya Liang-nio; yang tida lama kamuedian ada kadatengan satu tetamu dari Banjarmasin yang masih ada tersangkut familie, puta dari sanaknyia iapunya tante. Itu tetamu ada satu anak muda yang kliatan terplajar dengen punya klakuan manis budi.
Adanya iapunya dateng bikin Liang-nio ada punya kawan buat beromong hingga siapa tambah tida jadi kasepihan.
Kapan hari suda jadi soreh, Siok-ing, namanya itu tetamu, suka bergandang di mukanya piano sama Liang-nio sembari pilihken lagu-lagu yang baek buat itu nona mainken.
Begitu kekel adanya iaorang punya pergaulan, yang mana telah bikin sobat-sobatnya itu ratu Kembang, lelaki Maupun prampuan, pada mengirih hati,
Apakah itu sifat anak-anak masih terus belengket didasarnya hati yang suda brangkat dewasa: gampang lupa yang satu, dan gampang dapat kawan main yang lain?
Antara brapa orang yang terpata sama parangnya Amor adalah Tiong-sin yang paling lemah. Ia tida mam-pu besarken hatinyia seperti lainnya pernah berbuat. Sedari ia dapat penolakan paling pengabisan dari Liang-nio, ia terus joaoken diri dari pergaulan. Membantu pakeja'annya iapunya ayah ada menyadi hiburan safu-satunya bagi iapunya kasunyian. Ia dapat tindesan dari dua perasahan: kasatu gagal-nya iapunya harepan; kadua ia merasa berdosa pi-saken Cihiang-in pada Liang-nio dengan jalan cu-rang. Hal mana ia menyesel dan merasa malu sama bayangan diri sendiri. Pada Liang-nio ia juga suda pernah nyataken ma-af, tapi ia rupanya tida boleh harep buat dapatken itu sa'anteronya. Ia masih selalu terkenang sama romannya itu nona kendati bagi ia itu mustika ibarat suda tenggelem dalem dasarnya lautan yang da'lem. Ia sering tanyah diri sendiri, apakah ia musti meni-kah sama lain prempuan kalu sumangetnyia lebih dulu suda karendam dan bekuh? Pada suatu soreh kapan Tiong-sin kebetulan du-duk di luar,Koe-kway, ia punya sobat lama menda-tengin dengen lagah seperti ada urusan yang pen-ting. “Nko Tiong-sin,” ia kata dengen zonder diundang ambil tempat duduk. “Apa kau tida tau probahan paling blakang atas dirinya Liang-nio?” “............. Akh! lagi-lagi kau dateng ma-u ceritaken iapunya perkara!” memutus Tiong-sin dengen unjuken roman tida seneng. “Pendek saia mau, kalu kau dateng kemari, lebih baek omong sa-ja lain perkara.”,Bukan begitu. Buat atas namanya kau punya kwarasan saia dateng kemari, dan buat atas namanya. Allah saia musti bertauken kau itu perkara,“ Koe-kway berkata pulah sambil mesem simpui. ”Lebih brapa ribukali saia bilang didiyelmaken jadi orang lelaki jangan gampang putus harepan. Kau gado hati sendiri sampe seperti orang mau jadi suhu de-ngen zonder cari daya. Kalu begitu kau punya hati besarnya seperti menir-beras.“ ”Sudalah, kau jangan banyak dongeng............“ ”Kalu saia mendongeng tentu itu dongengan juga buat kau punya kabaekan. Kau jarang kluar dari rumah, tentu kau tida tau apa yang teryadi diluaran. Liang-nio ini hari bukan Liang-nio brapa bulan di muka. Iapunya sikep pasiar sama kawan-ka-wannya prempuan, dan juga seringkali nonton bos-cope sama ayahnya. Satu kali saia pernah ketemu padanya didiyalan, saia bukain topi, saia manggutin, ia membales: itu wakte hati saia jadi besar......... Oh, ‘nko Tiong-sin! iapunya roman selalu kliatan berseri. Saia jadi tida terlalu salahken kau kalu kau pikirin sampe begitu.Saia sendiri sa'ande bruntung bisa dapat istri begitu, brangkali saia punya umur bisa tambah seratus taun sebab; menurut kata-nya satu proffessor, hati yang seneng bisa panjang-usia.“ Tiong-sin tida menyawab atas perkata'annya itu so-bat yang kebanyakan melantur, tapi kendati begitu, ia masih suka mendengerken kalu apa yang diceri-taken ada berhubung sama Liang-nio. Koe-kway ambil sigaret dan di'isep, kamudian ber-kata lebih jau. ”Kau tra perlu malu atawa pen-asaran sama itu anak Sourabaya, ia sampe bisa me-nang, atawa kalu ia sampe bisa menang, tentu ia pa-ke kakuatannya............ dukun, sebab kabanyakan saia denger orang di Yava suka pake dukun. Bikin suami supaya menyinta, idungnia bisa diberingus, juga pake jimatna orang-berilmu. Bikin barang yang ilang supaya ketemu kombali juga ia orang lari sama dukun, hingga tra usa heran kalu Tjhiang-in juga gunaken itu kajelekian. Kalu ini perkara saia tau sabelonnya ia lari dari Menado, tentu saia nanti pluntir iapunya bantang leher l!“
“Jangan omong yang tida karuan,” memutus Tiong-sin.
“Bukan saia omong besar. Kalu tida percaia, kau boleh panggil ia dateng lagi di Menado, kau nanti da-pet bukti yang Koe-kway bukan cuma bisa omong tapi berbuat.”
Keada'an jadi sirep, tapi tida lama Koe-kway kade-ngeran melanjutken lebih jau. “Saia ada lagi lain kabar yang penting. Apa kau belon dapat denger ada satu anak muda baru dateng dari Banjarmasin?”
“Tida, kenapa?” menjawab Tiong-sin.
“la baru dateng kemari belon brapa lama dan men-jadi kawan paling rapet dari............. kita punia Ratu Kembang............”
“Kau jangan memainan!” membentak Tiong-sin.
“Di sumpah seratuskali saia tida omong kosong! Saia denger ia di sini katanya bekerja sama kantoor K. P. M. Saia tida kenal iapunya nama sebab ia tida sudi bergaul sama kita orang, ia rupanya lebih som-bong dari itu anak Sourabaya. la suka pergi nonton bioscope sama Liang-nio bersama ayahnya.”
Tiong-sin merasa ketarik sama itu penuturan, ia lantas majuken krosinya sembari berkata: “Apa kau liat mata sendiri, apa kau cuma denger dari lain orang?”
“Dengen dua mata bersama sepasang alias saia da- pet nyataken sendiri,“ Koe-kway menjawab dengan ha-ti merasa girang yang ini kali. Tiong-sin ambil perhati-an. ”Minggu yang lalu dan tadi malem ia orang te-rus kedapetan menonton. Brapa orang bilang itu anak dari Banjarmasin masih ada tersangkut familie sama Liang-nio, tapi itu familie suda jau.“
“Apa di sini ia brangkali menumpang tinggal sama Liang-nio?”
“Tida, menumpang di Hotel, cuma saben soreh atawa saben vriy ia bergandang di sana sampe sepanjang hari. Oh, ya, besok malem bakal diputer film paling baek, ia orang tentu nonton, dan kalu kau ma-u saksiken dengen mata sendiri mari kita dateng. Di-situ kau nanti percaia yang Koe-kway punia mulut ada seperti lemari besi yang bisa dipercaia rapetnya, juga bisa dipercaia kuatnya.”
Bagimana hatinya satu orang yang menyinta, kendati suda tida ada harepan, tokh buat liat romannya dan buat mendenger lagi urusannya itu prempuan yang dicinta, ia tida merasa bosen. Demikian sama Tiong-sin. la lantas janji pada Koe-kway buat pergi nonton besok malem. la aken buktiken Koe-kway pu-nya omongan; bukan sebab terserung oleh irih hati, tapi oleh satu perasahan yang ia sendiri tida bisa ar-tiken. Iapunya cinta pada itu Ratu Kembang bu-kan buat nabsu dan ini ternyata satelah ia pisaken itu nona dari Tjhiang-in, yang berarti sengsara bagi dua fihak; ia jadi merasa sangget menyesel. Sekarang yang masih katinggalan buat ia adalah satu kaingin-an buat harep biar itu Kembang bisa terawat baek dan bruntung dalem tanganraya lain tukang kebon; kendati ia sendiri suda tida bruntung.
Pada itu malem yang dit tepken, ia bersama Koe-kway pergi menonton dan ketu juga ia dapat liat
Liang-nio dan ayahnya bersama satu anak muda suda dateng lebih dulu dan duduk di mana loge. Ia dapet liat juga romannya itu nona ada gumbira dan terang, tida salah apa yang Koe-kway bilang. Sa-mentara itu anak muda ada beromar: caep dan sorot matanya tadiyem. Itu orang rupanya terdidik baek dan mempunyain katajeman pikiran.
Pada marika ia memanggut dan ambil tempat du- duk sedikit jau.
“Nko Tiong-sin, apa saia bilang?” berkata Koe-kway dengan girang. “Saia punya mulut ada lemari besi! bukan lemari kayu!!”
Brapa orang yang duduk disampingnyia yyadi melonggong dan mesem tatkala denger Koe-kway pu- nya perkata'an yang membilang mulutnyia ada lemari besi, bukan lemari kayu. laorang tida tau diartiken bagimana sama itu omongan.
Tiong-sin kasi tanda buat Koe-kway tida bicara le- biih banyak.
Ia buktiken Liang-nio ini malem bukan Liang-nio brapa bulan di muka yang kliatan sebagai puhun kembang tubu di padang pasir: begitu layu dan ti- da dapetken siraman aer!
Kalu itu film suda diputer abis, ia berjalan pulang dengan tida bicara apa-apa cuma dalem hatinya berdoa buat kabruntcengannya itu merpati.
III
“Love were not Love, if it were seasonal, it burns
as brightly in winter as in summer.”
—H.M.
(Cinta bukannya Cinta, jika itu prasahan mengikut
ke'ada'an musim, ia selalu bercahaya mengkilap
maski dalem musim rendeng atawa ketiga.)
KOMBALI brapa minggu telah liwat kapan Ku- kway dengan napas seperti mau putus ia la- ri karoomahnyia Tiong-sin dan siapa kebetulan duduk membafya diruwangan luar.
............. ‘Nko Tiong-sin! ’Nko Tiong-sin!! kabar penting“ ia berseru sabelonnya ambil tempat duduk.
Tiong-sin angkat mukanya dan pandeng roman so- batnya dengen sikep sabar kerna ia suda tau u- rusan besar.
“Kau tida nanti bisa duga apa yang saia kata ka- bar penting,” Koe-kway menyambung pulah. “Kau tau: Cihang-in, itu anak dari Sourabaya, ia dateng lagi di sini.........”
“Kau pungut dari mana itu kabar?” Tiong-sin menanyah sembari mesem tida percaia.
“Jadi kau tida percaia sama saia punya mulut lemari-besi? Saia pergi saksiken sendiri di mana hotel Wilhelmina di mana ia ada menumpang. Betul seka- li saia liat ia ada di situ sama satu orang lelaki se- tengah tua, saia tida tau siapa. lapunya badan kli- atan tambah besar, dan rupanya juga tambah....... kuat dari waktu iapunya dateng pertama.”
“Kau tau, hari kapan ia boleh dateng?” tanyah Tiong-sin.
“Hari datengnyia saia kurang tau.” “Apa Jiet-cing tokh suda pergi ka Makassar? Cuma ‘nko Tek-lok dan Hian-ling brangkali suda dapet denger.”
Tiong-sin lantas ajak Koe-kway pergi ka rumah- nyia Tek-lok buat cari tau kabar lebih jau.
Di tengah perjalanan Koe-kway berkata: “Nko Tiong-sin, itu anak dari Sourabaya kliatan tambah besar dan kuat, kau jangan aduh saia. Tegesnia saia tarik kombali itu omongan yang saia mau pluntir batang -leher nyia. Tiong-sin kapaksa mesem tapi tida menjawab apa-apa. ‘Ncek Bing-liong, ayahnya Tiong-sin, itu soreh kabetulan duduk di kamar samping beromong sama'ncek Hien-an, siapa memang ada menyadi iapunya sobat baek. Sedeng ia enaknya bicara, satu jongos menghampirin kasi tau yang di luar ada tetamu. la lantas hampirin kluar dan ketemuken Cihang-in bersama ayahnya. la sambut marika punya kadatengan dengen girang dan tanyahken masing-masing punya kwarasan. Cihang-in memanggut dengen muka gumbira pada ’ncek Hien-an yang ia tau ada ayahnya Liang-nio. “Tiong-sin baru saja kluar,” berkata ‘ncek Bing-liong pada Cihang-in sembari silahken tetamunya du-dulek, “Kapan kau orang boleh dateng?” “Kemaren,” yawab ’ncek Hok-po, sekalian'ia ceritaken lain-lain perkara yang berhubeng sama iapunya pasar kalain kalain tempat serta nyataken girangnya bisa kunjungin kota Menado. Samentara Cihang-in dapet kawan ‘ncek Hien-an buat tukar bicara tentang probahan kota Menado paling blakan yang terkabar ada banyak maju, dalem urusan perniaga'an copra maeupen pergerakan dalem pergaulan. Pada itu orang tua sama sekali ia tida tanyah bagimana keada'annya Liang-nio. “Kau musti kunjungin juga kita punya rumah,” akhirnya ’nytek Hien-an berkata. “sekalian boleh ajak kau punya ayah. Saia amat girang yang kita bisa berjumpah kombali.” Cihang-in berjanji buat trima itu tawaran kalu sang tempo tida terlalu kaburu. Begitulah marika sanget getol bolehnya pasang omong. ‘Ncek Bing-liong yang bercakep sama ’ncik Hok-po kadengeran saben-saben pada ketawa sembari mainken tangannya pergi dateng. Marika satu sama lain bicara urosan dagang. Itu pertemuan telah bikin begitu girang. ‘Ncek Bing-liong minta tetamunya suka bermalem di rumahnya, tapi siapa terpakasa menampik kerna lebih dulu suda dapat kamar di mana Wilhelmina hotel. Begitulah sampe ampir malem masing-masing baru berpisa dan berjanji besok bertemu kombali.
COBALAH kau pikir dengen adil, kita punya perhubungan suda begitu kekel, lebih kekel dari apa yang kita bisa bilang, tapi begitu lama orang di luar belon denger apakah kita suda iket tali, per-tundangan; itulah buat kita sunggu tida enak, sementara kau selalu kasi alesan bukan kah kau tida sangsi aken pertiyaiken kau punya kenal banyak bulan? Saia tida bilang, apa dengen saia punya tenaga sebagi kaeom kuli, bisa bikin kau bruntung, tapi kaiu kabruntungan bisa diundang dari perasahan Menyinta seperti sering dibilang, saia nanti mampu haturin kau itu saote perasahan yang banyaknya se-perti mengalirinya aer di sungi Niagara. Sedari saia tinggal di Banjarmasin, pertiyaialah hati saia masih tinggal kosong ibarat satu doos yang belon di'isi sam-pe nasib bawa saia dateng di Menado dan jumpahin kau.“ Pembicara'an di atas ada diucapken oleh Siok-ing dihadepan Liang-nio.
Itu gadis tinggal tunduk kamudian lantas ber-kata dengen suara tetep.
“Saia percaia apa yang kau bilang. Kau tra perlu kwatir sama luar orang. Kita bertundangan atawa tida, itu ada kita punya perkara. Tokh pantes kalu kita bergaul kekel, kita tokh masih teriket familie.”
“Tapi sedikitinya kau musti janji kapan kau bisa kasi katetepan,” menjawab pulah itu anak muda.
“Saia tida janji, sebab keada'an hati manusia ti-da tentu............”
“Tapi, Liang, hati saia buat kau ada tetep, tida ada musim rendeng, atawa ketiga, selalu tinggal berca-haya dan penuh harepan............”
Bicara sampe di situ, ‘ncek Hien-an ada menda-tengin dari luar.
“Ayah, dari mana kau pulang sampe telat?” Liang-nio menegor sembari berbangkit.
“Saia baru dateng dari rumahnya Tiong-sin, dan kebetulan di sana saia ketemu juga dari Sourabaya............”
Liang-nio pandeng muka ayahnya seperti hendak meneges tapi itu orang-tua suda berjalan masuk. Buat sakutika lamanya ia berdiri termenung dan baru duduk kombali kapan Siok-ing menanyah pa-danya.
“Apa brangkali kau kenal sama itu orang dari Sou-rabaya yang barusan kau punya ayah ada bilang?”
“A ada.......... kenalannya ayah,” jawab Liang-nio dengan perkata'an mengambang tida brapa sa-at ia bisa tetepken hatinya kombali seperti juga itu kabar ada tida perlu buat dibicaraken lebih ba-nyak.
Siok-ing juga tida mau meneges lebih jau ha- nya mengulangin iapunya omongan yang barusan terputus oleh datengnia ‘ncek Hien-an.
“Sebagimana tadi saia bilang, Liang,” ia kata, “ba-hua hati saia buat kau ada tetep, tida ada musim rendeng atawa ketiga, selalu tinggal bercahaia dan penuh harepan.”
“Jangan bicaraken lagi itu perkata'an, ‘nko Siok-ing,” diyawab Liang-nio. “Saia belon pikir dan juga saia belon bisa janji............”
“Abis kapan kau mau pikir? Bukankah kita suda bergaul lama?”
“Saia dasarken itu pergaulan bukan buat lain Saia pergaul atas namanya familie.........”
Siok-ing tida jadi putus harepan, hanya lantas berkata pulah: “Saia tida brani paksa, Liang, kalu kau suda ambil anggepan begitu. Saia tida brani merkosa hatinya itu orang yang saia cinta, kendati cinta saia jato di tempat salah, tegesnia jato ditem-pat yang tinggi. Kalu kau minta buat saia bersabar, saia nanti bersabar, dan kalu kau minta saia pergi, saia nanti pergi, saia anggep kau sebagi saia punya junjungan, saia mengikut apa yang kau prenthah.”
Liang-nio merasa terharu denger itu perkata'an. Iapunya hati memang ada lemah dan bertabiat mur-rah-kasihaan. la tida menjawab apa-apa tapi dalem hatinya ada menyatet bahua Siok-ing ada punya adat alus dan tida sembarangan kata seperti itu orang dari.................. Sourabaya.
Diam-diam ia lantas bandingken Siok-ing punya ka-sopanan bicara pada Cihang-in ada berbeda jau, seperti barang putih dan kuning. Kalu duloie ia begitu edan mau serahken hatinya pada Cihang-in kenapa ia mau taro sangsi pada Siok-ing? la ampir tida dapat alesan.
Kelu ia musti inget bagimana ia pernah diusir dan dikatain begito keras oleh Tjhiang-in, ia jadi sanget benci sama itu nama—benci! la tida nanti sudi buat liat lagi! tida nanti!!!
Kamudian ia angkat mukanya yang membawa probahan terang seperti juga ada apa-apa yang dateng-ken kagirangan. “Nko Siok-ing, kita masih ada banyak tempo buat bicaraken itu urusan. Kau tentu mengerti satu katetepan belon bisa dikasi zonder lebih dulu orang pikir mateng, apa-lagi itu urusan yang kau nyataken ada menyangkut kita punya peng-hidupan diblakang hari; harep kau jangan begitu keburu.”
Siok-ing nyataken trima kasinya yang ia masih dikasi harepan buat menanti—menanti dengen sabar.
Begitulah iaorang lantas ganti pembicara'annya ka lain jurusan, antara lain-lain buat atur itu persedian'an aken pergi Picnic ka Sario pada nanti hari minggu yang bakal dateng.
KAPAN Siok-ing suda pulang ia lantas masuk dan atur barang-hidangan buat iapunya ayah. Ka-mudian ketemu itu orang tua yang sedeng du-duk di bangku blakang.
“Saia kira kau terus tida pulang, ayah,” kata itu gadis sambil bersenyum. “Biasanya kau pulang tida lebih telaat dari diyam tuju.”
“Tjhiang-in dan ayahnya tadi dateng rumahnya Tiong-sin yang bikin kita duduk omong sampe lupa tempo,” jawabnya itu ayah. “Apa Siok-ing suda pulang?”
“Barusan pulang. Ayah, makanan buat kau saia suda sediaken,” berkata pulah Liang-nio dengan tida perlue tanyah lagi urusan itu tetamu dari Souraba- ya. la lantas tuntun itu ayah diruwangan makan.
“Apa kau sendiri tida makan, dan mana kau punya tante?”
Itu gadis bersenyum: “Saia dan tante tadi suda bersantap, sebab buat tunggu sampe liwat tempo, kita takut kalaparan.” la jaga dan laiani sampe itu ayah abis berdahar.
“Tjhiang-in dan ayahnya punya dateng kemari melu-lu buat pasiar ka Celebes,” mulai berkata itu ayah semabri sulut sigaret. “Iaorang ada bersobat baek sama ayahnya Tiong-sin, sebab lama sekali ada berhubogenang dagang. Dan juga tadi saia minta supaia ia suka singga kemari.”
“Apa, apa kau denger besok malem bioscope ganti film apa?” Liang-nio memetus dan puterken pembicara'an ka lain jurusan.la tida seneng buat denger perkara itu tetamu dari Sourabaya.
“Besok malem? Akh, saia tida tau, kau tanyah saja sama Siok-ing, ia tentu lebih tau dari kita.”
BESOK harinya.
‘Ncek Hien-an, seperti biasa, sedari pagi suda kluar dari rumah, sebab sedari iapunya istri meninggal ia merasa tida karasan tinggal di rumah kendati disampingnyia ada Liang-nio yang saben sa'at suka perhatiken iapunya kaperluan.
Liang-nio satelah sediaken koffie buat tantenya, lantas mulai kerjaken iapunya pakerj'a‘an tangan. Dengan tida terasa jam suda mengunjuken pukul 12 tengah hari. la tunda pakerj'a‘an buat atur barang hida-ngan yang sabentar ayahnya bakal pulang. la omong sabentar sama iapunya tante dan lantas kerjain itu kain tutup lemari yang ampir kelaar, kamudian du-duck diluear, menunggu ayahnya.
Buat ilangken iapunya lelah dan waktu sunyi, ia lantas hampirin iapunya piano dan coba mainken bra-pa laguh. Tida sengaja ia dapat pegang brapa note yang dulu pernah dimainken oleh Tjhiang-in di pes-tanya ‘ntiek Bing-liong. Itu ada laguh dari: To The Rose of My Heart. Buat brapa sa'at ia jadi kesima, tapi sigra juga ia mainken itu laguh seperti tida ada apa-apa.
Apakah memang begitu sifatnya cinta: bengis di-waktu bengis, nakal di waktu nakal? Dan apakah be-tul itu ucapan yang memilang cinta ada sebagai tali, yang sabentar bisa mengiket hati diyadi benci dan di lain waktu bisa mengiket hati diyadi terkenang? Di-waktu dingin cinta sifatnya brobah melebihin dingin-nya ys, di waktu panas sifatnya brobah melebihin pa-nasnya barah. Dan di waktu bening cinta merupaken seperti beningnya aer dari tuju saringan, di waktu butek merupaken aer yang tida punya bayangan. Demikian ada azasnya cinta.
Liang-nio sedeng enaknya mainken itu laguh, dari luar ada kadengeran suara tindakan mendatengin. la menoleh dan mendadak romannya lantas brobah pu-cet, dan suara piano lantas brenti............+.... la pandeng itu orang yang berdiri di muka pintu dengan mata sangsi, tapi berbareng itu sa'at iapu-nya katetepan hati dateng kombali. la berbangkit dan dateng menghampirin.
Itulah ada Tjhiang-in yang suda berdiri di muka pintu. lapunya muka tida mengunjuken bro-bahan apa-apa ia rupanya suda reken dan pesen sama hatinya lebih dulu sabelonnya dateng ka itu taman—tamannya itu ratu kembang yang pernah ambil tempat dalem iapunya sumanget.
Kutika Liang-nio sedeng main piano. Tjhiang-in dateng dengen sekunyung-kunyung.
“Saia dateng kemari buat ketemu sama kau punya ayah,” ia mulai berkata sembari memanggut.
“Ayah masih belon pulang,” Liang-nio menjawab dengan sikep tida kurang angkuhnya dari Tjhiang-in.
“Apa kau bisa kasi tau di mana ia suda pergi?”
“Saia tida tau kamana iasuda pergi”.
Tjhiang-in merasa sedikit likat tatkala dapat liat bagimana dingin sikepnya itu nona; ini ada di luar iapunya duga'an. Buat tida kentaraken itu rasa likat, ia lantas berkata pulah: “Kemaren ia ampirken saia buat dateng kemari, tulung nanti kasi tau padanya yang saia suda dateng kemari............”
“Apa sampe begitu perlu ayah minta kau dateng kemari?” Liang-nio meneges dengan suara tetep. “Kalu sampe begitu perlu, kau boleh balik lagi nanti soreh atawa kapan saja, sebab ayah jarang ada di rumah.”
“Saia tida ada tempo..........,” menjawab Tjhiang-in dengan merasa kurang seneng dapat itu pertanyahan yang ketus.
“Kau tida ada tempo bukan saia punya perkara,” memutus itu nona. “Saia cuma bisa kasi tau yang ayah jarang di rumah.”
Tjhiang-in seperti berada di mana satu jalan yang buntu, tapi ia paksa bicara pulah: “Kalu begitu kau tida perlu bilang apa-apa sama kau punya ayah atas saia punya dateng, sebab kita memang tida ada urusan buat dibicaraken,” sembari kata begitu ia lantas berpamit dan berjalan kluar.
Liang-nio tinggal berdiri sampe itu tindakan suda pergi jau. ia kombali di mana iapunya piano dan minken lagi itu laguh-laguh dengan seperti tida keja- dian apa-apa. la baru brenti kapan tantenya menda-tengin.
“Saia denger tadi ada suaranya orang bicara: sia-pa, Liang, yang dateng kemari?” tanyah itu tante.
“Oh, itu tetamu dari Sourabaya yang tadi malem ayah bicaraken,” jawab Liang-nio sambil bersenyum dan tuntun itu tante masuk ka dalem.
“Apa itu anak yang dulu kita pernah katemu dalem pestanya ‘ncek Bing-liong? Kenapa kau tida silahkan menanti sabentar, kau punya ayah suda wak-tunya dateng.”
“la bilang tida ada tempo, dan itu bukan kita punya kwajiiban buat minta ia menanti yang berarti bikin temponya yang berharga jadi lebih kurang,” kombali Liang-nio bersenyum. “Tante, kalu kau lapar lebih baek kau makan dulu, jangan tunggu ayah,” ia berkata pulah sembari panggil Alima bantu atur lagi itu barang hidangan.. Itu tante tida menampik kerna orang tua memang jarang tahan lapar atawa makan sedikit telaat.
Kapan Liang-nio kombali lagi di mana iapunya kamar, ia jadi termemung dan orang tida tau apa yang ia sedeng pikirken.
IV
Love MAY bring mukh suffering;
WITHOUT love there can be no real happiness.
= Cinta umum-nya membawa banyak siksa'an;
ZONDER ada cinta di sana bakal tida ada kabruntungan sejati.
DI ITU soreh Tiong-sin yang di ikut oleh Koe-kway cari Tek-lok dan Hian-ling buat meneges apakah itu kabar ada betul yang Tjhiang-in ada kombali dateng di Menado. Dari siapa ia dapet kapastian yang itu kabar ada betul.
“La dateng ini kali sama ayahnya,” Tek-lok kasi kerangan. “La orang aken pasiar di mana Celebes dan Flores.”
“Saia turut girang denger ini kabar,” menjawab Tiong-sin. “Mari kita nanti sama-sama kunjungin padanya.”
“Buat apa?” memotong Koe-kway dengan sengit. “La tokh ada kau punya musu. Saia tida mufakat kalu kita mau kunjungin padanya sebab seperti juga kita mau nyataken pasang bendera-putih.”
“Kita tida boleh selalu anggep musu tinggal musu, ada waktu buat kita musu berobah jadi satu sobat,” menjawab Tiong-sin sambil bersenyum.
“Itu ada alesannya anak kecil,” membanta Koe-kway yang merasa ‘mkamgwam. “Kau juga rupanya mau kena pengaru dukun—inget, ’nko Tiong-sin, orang dari Yava kalu pergi-pergi musti bawa jimat, lain sama orang Menado atawa Makassar, kalu mengubara ka lain negri membawa hatinya macan...
............
“Kau mau artiken bagimana sama itu perkata'an hatinya macan?” Tek-lok campur menanyah.
“Saia mau artiken orang Menado atawa Makassar hatinya besar, mempunyain katabahan seperti hatinya macan, bisa menggerung dan menyakar.”
“Kalu begitu kau sendiri bisa menggerung dan menyakar?” Tek-lok meneges pulah. “Kalu begitu kita nanti bikin tantangan pada itu orang atas kau punya nama?”
Koe-kway tida ‘bisa lantas menjawab, ia celingu-kan seperti burung dapet denger suara karesenan Kamudian ia lantas menjawab dengan iapunya per- kata'an yang penuh filosofie: “Dari kau mau bikin diri saia sebagi pancing buat ditembung sama itu ikan? Nyata kau ada seperti kacang yang tida setia sama lanjaran.”
Hian-ling sigra menjawab: “‘Nko Koe-kway, kalu saia tilik kau punya perkata'an perkata'an kau bakal ada harepan buat menyadi akhli dalem bahasa melayu tinggi. Kau merendahkan diri selaku umpennya pancing buat tida mau diteien dalem perutnyia ikan, sementara kau ceIah ’nko Tek-lok sebagai saorang kalahiran Menado tida setia sama kawan dari tanah aernya sendiri............ Akh, betul-betul kau ampir mempunyain kapandean seperti Bing-cu, itu pujonggo yang termashur.”
Koe-kway jadi kagirangan dapetken itu pujian-lapunya roman lantas brobah terang. “Dan sekarang, satelah kau tau saia punya ales-alesan, apa kauorang masih mau pasang bendera putih?” akhirnya ia menanyah.
“Kalu kau yang jadi macannya, kita nanti pasang saja bendera abu-abu!” menyeletuk Tek-lok.......
.........
“Sudalah kita trausa buwang tempo percuma,” memutus Tiong-sin. “Kita sekarang boleh tukar pakean dan mari kita pergi.”
Koe-kway hendak buka lagi mulutnyia tapi Tiong-sin stop padanya dengen berkata:
“Kau jangan beriaga seperti satu pujonggo, cuma-cuma bikin kitapunya tempo jadi ilang per-cuma.”
Koe-kway lantas merengut sebagi anak yang mengambek, dan berkata: “Saia tadi disamaken seperti pujonggo Bing-cu, blakangan kau katain saia jangan berlaga seperti pujonggo. Kalu begitu orang puji saia bukan dengen satulusnya seperti tulusnya itu lanjaran yang mengiket kacangnya?“ la jadi tunjang janggut tatkala iapunya perkata'an tida dapet sambutan. Tida antara lama marika suda berada di Hotel ”Wilhelmina“, di mana Tjhiang-in dan ayahnya ada tinggal. Tjhiang-in sambut marika dengan cara amat gumbira. Marika lantas pasang omong begitu familiar, ka-coaeli Koe-kway selalu kliatan merengut. Dalem Tjhiang-in dan Tiong-sin punya percakepan sama sekali tida ada sedikit menyangkut sama itu urusan lama, saolah-olah itu urusan yang duludelue cuma dianggep teryadi di atas panggung komidie. Itu cara dari Tiong-sin ada di luar Tjhiang-in punya anggepan. Lantaran mana ia sanget merasa sukur dan diam-diam dalem hati puji Tiong-sin bukan satu orang yang punya deradat sembarangan. Kalu dulue itu anak muda berlakouh begitu bengis dan berlakouh curang sama berbuatannya, itulah brangkali ada disebabnya oleh kakwasa'an Cinta atas dirinya itu Ratu Kembang yang tida mengidzinken dipetik oleh lain tangan. Buat mana ia sekarang boleh lupaken itu semua kejadian yang teramat gelo. Waktu liat yang Koe-kway tida mau turut bicara: Tjhiang-in lantas mulai ajak omong:.”Nko Koe-kway, saia nanti girang kaleo satu waktu saia bisa ajak kau di mana itu tempat-tempat yang berharga buat dikoondungin oleh suatu tetamu dari lain tempat, seperti: Tosari, Prigen, Nongkojajar, Lebaksari. Itu semua ada tempat yang punya pemandengan natuur yang cantik-cantik dengan hawa-
UTUSAN ALLAH nya yang sejuk. Pendek saia janji, kalu kau dateng ka Yava, kau nanti dapetken kapuasan betul-betul“. Dapet itu tawaran hatinya Koe-kway yang keras seperti buntuotnya burung merak, lantas mulai lumer, sorot girang mulai dateng di romannya. ”Banyak trima kasi atas itu pribudi kabetiykan yang terlampao lampao besarnya.“ ia menjawab dengan iapunya letterkude melayu yang terkenal. ”Saia nanti hargaken itu tawaran yang harganya bukan buatan! Itulah mengirangken hati saia bukan sedikit!!“ Tek-lok, Hian-ling dan Tiong-sin tida brani liatken senyumannya. Marika cuma sedot serutunya buat tida turut campoor dalem itu percakepan. Tjhiang-in haturken Koe-kway satu serutu dengan disulutken sekali yang oleh siapa ditrima sambil nyataken trima kasinya. ”Sunggu enak rasanya ini sigaren,“ Koe-kway memuji waktu suda isep brapa sedotan. ”Kau dapet ini barang dari Sourabaya? Pantes, Sourabaya memang ada kota yang masuk itungan.“ ”Nko Koe-kway, bagimana kau sekarang berbalik jeleken kota Menado, kitapunya tempat kelahiran?“ memutus Tek-lok dengen cara menggoda. ”Kalu begitu kau sebagi kacang yang tra setia sama lanjaranya“. Koe-kway lantas mendusin iapunya kakliruan, ia suda ketlanjur ucapken itu perkata'an. Tapi selalu satu advocaat ia sigra menumpang: ”Saia mau bilang, dalem perkara kajelekkan kota Menado tida masuk itungan, tapi dalem perkara kabaekan kota Menado masuk klasse satu. Apa dengen bilang begitu kau orang mau kata saia ada............ kacang yang tida setia sama lanjaran?“
Tek-lok tida ladeni lagi, hanya Cihang-in yang mene-rusken bicara: “Nko Koe-kway, kalu kau kejadian dateng ka Yava, lebih dulu musti kasi saia tau, agar kita punya tempo tida kasisipan.” “Tentu sekali,” jawabnya, “sebab saia juga ta-kut kalu dateng zonder ada kawan yang menun-tun, kerna saia denger, kalu boleh di'ibaratken be-nang yang ruwet, begitulah katanya ada ruwetnya straat-straat di Sourabaya.” sampe di sini ia angkat dadanya dengan iapunya perkata'an yang berletter-kunde! “Kau jangan sangsi, saia nanti wadiyibken diri se-laku kau punya Sian-hong. Pendek kau nanti dateng dengan slamet dan kombali dengan slamet.” Koe-kway sambut itu perkata'an lagi sama iapu-nya letterkunde: “Kalu kau tau itu kagirangan dari satu kapal yang urung kalebu di antara galombang lautan besar begitulah adanya saia punya kagi-rangan yang kau aken suka jadi saia punya pengi-kut, Sian-hong. Dan kalu kau tau trima kasinya dari saorang kalaparan yang ditulung begitulah adanya saia punya rasa trima kasi atas itu kebaekean dari kau, itu kebaekean dari kau yang besarnya bukan buatan.” Tek-lok, Hian-ling dan Tiong-sin tinggal mesem.
Marika lantas ganti itu pembicara'an ka lain-lain sual. Jam 8 soreh baru marika permisi pulang dan berjanji: selekasnya berjumpah kombali.
Dalem perjalanan pulang Koe-kway berkata: “Sa-ia sekarang merasa suka sama ‘nko Cihang-in, ia se-karang rupanya tida angkuh lagi seperti dulu................ Cuma saia sedikit sangsi, jangan-jangan saia dipassangin jimatnya dukun! sebab tadinya wak-tu ia kasi saia serutu, mulutnya kliatan kemak-kemik seperti baca du.”
Tiong-sin dan begitu juga yang lain lantas ketawa, samentara Koe-kway jadi lebih tida enak hati. “Pendek besok saia mau bikin peritungan pada-nya!” ia kata dengen sikep penasaran. “Saia besok mau cari perkara sampe saia bisa membenci lagi pa-danya, atawa kalu ini malem saia tida bisa tidur, ini malem juga saia nanti bikin pertempuran sam-pe saia atawa ia musti angkat kaki di mana kuburan. Di situ ia nanti tau yang saia punya marah bukan buatan!”
Iapunya pembicara'an tida ada yang jawab sam-pe satu sama lain berpisa'an buat masing-masing pulang ka rumahnya.
Waktu Koe-kway sampe dan masuk dalem iapu-nya kamar ia rasaken tenggorokannya sanget aus, itu boleh jadi sangking banyaknya buka suara. Di atas meja kebetulan ada sacangkir koffie, ia lantas mi-num itu semua dengen sekali ceglak.
Sa'abisnya dahar soreh ia baringken badannya, ia coba meremken mata, tapi tida rasaken ngantuk hingga sampe lama sekali ia tida bisa tidur, biasanya jam 10 ia suda mengeros-geros, itu rupanya ada kerja-nya koffie. Ia lantas hampirin di mana satu toilet, ia kat-yain mukanya, dan dapet liat sang mata masih gesit dan terang seperti matanya kucing.
“Aneh!” ia mengrendeng sendirian. “Ini ada luar biasa. Mata mau tidur, tapi hati mau melek, apa-kah artinya ini?”
Lama sekali ia duduk termenung sendirian. Itu waktu ia liat lonceng mengunjuken jam 11. Dengen hati penasaran ia lantas tukar pakean, kamudi-an lantas kluar buat parani............. Cihang-in, ia duga tentu ia kena............ guna-guna! Sesampenya di itu hotel ia ketok pintu kamarnya Cihang-in dengen zonder sangsi lagi, dan kutika pinterbuka ia ketemuken Cihang-in dengen pakean tidur yang bisa liatken kuwatnya itu lengan tangan dengen urat-urat yang besar dan menglanteng. Inilah ada satu tandingan yang suker dirubucken. Memikir itu semua, iapunya hati jadi maju-mundur.
“Begini malem kau dateng, ada urusan apa, ‘nko Koe-kway?” Cihang-in menanyah. Koe-kway tida bisa lantas menjawab, kerna hatinya sabentar brani, sabentar kedar, ia merasa tida lawanan buat adu tenaga. Akhirnya ia lantas berkata: “Oh, saia dateng kemari perlu............, perlu............ perlu kasi tau yang............, yang nanti hari Minggu kita aken ajak kau buat............ picnic ka Sario.” “Akh, kau terlalu capeken diri,” Cihang-in menjawab sambil bersenyum. “Besok pagi tokh boleh dibicaraken. Tapi apa brangkali kau ada urusan lain?” “Saia tida ada urusan lain, cuma saia tida bisa tidur, jadi saia bikin jalan-jalan,” sembari kata begitu ia lantas pamitan pulang, tinggalken Cihang-in dengen merasa tida mengerti.
TU omongan dari Koe-kway yang tida disengaja buat ajak Cihang-in bikin picnic ka Sario telah berbukti, kerna besoknya Tiong-sin berembuk pada Tek-lok dan Hian-ling buat ajak itu tetamu dari Sourabaya pergi pasiar di hari minggu. Begitulah pada hari yang telah ditetepken marika bersama Cihang-in telah kunjungin itu tempat yang dimaksuedken dengen laku begitu gumbira, antara siapa Koe-kway juga tida katinggalan. Gui-nio, Tek-lok punya kaponakan prempuan, yang juga turut dalem itu picnic, ada Cihang-in punya kawan bicara yang paling rece, satu sama lain membawa sikep seperti suda kenal lama, pada hal masih berkenalan baru. Buat bicaraken perkara kaeilokan di sana tida ada apa-apa yang perlu diureiken, cuma Gui-nio punya sikep yang tida sombong dan omongan yang manis budi, banyak orang taro endah dari ajar berkenal. Sario ada satu tempat yang punya pangkalan di-pinggir laut. Pemandangan di situ ada sanget eilok, selaininya kita bisa liat berdansanya itu aer ombak di-lautan juga di situ ada tumbuh-banyak puhun klapa yang kasi ayupan sejuk dari sorot panasnya mata-hari. Kalu marika suda sampe di mana itu tempat, marika pada bawa tindakannya dengan cara begitu gumbira. Saben-saben Hian-ling kerjaken kodaknya buat ambil gambar-gambar dari pemandangan atawa dibuat portret kawan-kawannya. Satelah puas mundar-mandir kian-kemari, marika lantas duduk-duduk di bawah tanah dan Gui-nio lantas gelar tiker dari daonnya puhun pisang dan di atas mana ia atur itu barang makanan yang dapat dibawa dari rumah. Marika lantas pada berdahar, dan justru kapan mau diambil potretnya oleh Tiong-sin; Koe-kway unjuken tingka begitu dinaka, ia pernahken sikepnya dengen tangan angkat piring, mulutnya dibuka salebar-lebaranya, mirip seperti sa'orang yang kelaparan betul-betul. Sedeng enaknya marika makan, dari jurusan ilir ada mendatengin tiga orang sembari pimpin tindakan-nya begitu sabar...............
“Kalu tida salah itu ada ‘ncek Hien-an,” berkata Tek-lok lebih dulu dan yang lain lantas menengok ka-itu jurusan............ Dan betul juga itu tiga orang yang sedeng mendatengin ada ’ncek Hien-an, Liang-nio dan Siok-ing.
“Slamet dateng ‘cek,” berkata Tiong-sin pada ’ncek Hien-an sembari menawarin makan. “Harep dapet banyak plesir.”
“Akh, apa suda lama kau orang ada sini?” menjawab itu ‘ncek dengan senyum girang. “Kau juga ada di sini, neef Tjhiang-in? Mana kau punya ayah?
Tjhiang-in memanggut sambil menjawab: “Ayah tadi pergi sama ‘ncek Bing-Liong. Sunggu kebe-tulan kita orang bisa berjumpah di sini.”
Ia pandeng sabentar pada Liang-nio yang itu sa'at berdiri di sampingnya Siok-ing. Lain orang tida tau bagimana iapunya perasahan itu sa'at, tapi iapunya roman tida kasi perobahan apa-apa.
Koe-kway sebagai orang yang linglung sabentar pandeng Tiong-sin, sabentar pandeng Tjhiang-in dan sabentar lantas pandeng Liang-nio yang berdiri di sampingnya itu anak dari Banjarmasin. Iapunya hati seperti hendak jajiakin masing-masing orang punya perasahan yang duluna pernah memegang satu lelakon—yaitu lelakon yang mustinya tida bisa dilupa!
Tapi ia merasa heran, kerna diromannya Tiong-sin ma-upen Tjhiang-in ada tinggal dalem keada'an seperti biasa, sunggu di luar iapunya duga'an. Cuma ia dapet liat sikepnya itu anak dari Banjarmasin yang kli-atan seperti tida beta buat berdiri di situ lebih lama, sementara Liang-nio kliatan sabentar tunduk dan sabentar memandeng di mana Tjhiang-in ada berduduk.
Itu pertemuan tida lama kerna ‘ncek Hien-an lan-tas permisie berlalu.
“Akh, itu anak dari Banjarmasin rupanya begitu angkuh,” mengrutu Koe-kway satelah marika suda pergi, “angkuhnya bukan buatan!”
“Ia kliatan angkuh tapi sabetulnya tida,” menjawab Tiong-sin. “Sebab ia masih belon kenal pada kita, bagimana ia bisa omong-omong banyak seperti kita orang?”
“Tapi kenapa ia tida mau bladiyar kenal pada kita?” membanta pulah Koe-kway sembari jejel mulut-nya sama buah pisang. “Dasar ia sombong, sombong bukan buatan! Nko Tjhiang-in, apa kau tra brani padanya? Bertaro mengapit saia brani pegang kau.”
Tjhiang-in yang ditanyah cuma tinggal mesem, demikian sama yang lain.
“Sabetulnya iapunya sombong bukan lantaran ia tida kenal pada kita,” menyambung pulah Koe-kway, “tapi dari sebab ia suda dapetken dirinya itu Ratu Kembang dari Menado, The Belle of Menado!”
Pada itu sa'at kalu orang amatin sikepnya Tjhiang-in dan Tiong-sin, itu perkata'an paling blakang dari Koe-kway, seperti kena menuseok hatinya, kerna dua-dua lantas tunduken kepalanya.
“Saia denger katanya ia orang suda iket tali per-tundangan,” Koe-kway menerusken, “cuma kapan dirayahken hari nikahnya kita belon tau.”
Tek-lok lantas posterken pembiycara'annya Koe-kway kalain jurusan, kerna ia pikir tida enak dan bisa kasi peringetan apa-apa bagi pendengerannya Tjhiang-in dan Tiong-sin.
Samentara Liang-nio tida duga kalu di situ ia ketemuken Tjhiang-in dan Tiong-sin. Dalem hatinya menanyah dan merasa heran kenapa iaorang sekarang bi- sa campur bergacel seperti di antara iaorang tida pernah kejadi apa-apa. Tapi ia tida terlalu ibukin itu perkara, cuma dalem itu pertemuan ia da-petken rasa apa-apa yang tida enak dan timbulken rasa............... irih hati kerna ia dapat liat Cihang-in ada berada di sampingnya satu nona!
Kenapa tokh ia musti tida enak dan irih hati? Bukankah ia sekarang suda benci sama itu tetamu dari Sourabaya? Bukankah ia suda amat benci?
Ia bawa itu rasa mengirih terus sampe ka rumah hingga ia sendiri tida mengerti kenapa ia boleh jadi begitu. Ia tokh tida punya sebab aken campur perkaranya itu orang yang ia suda tida punya sang-kutan lagi!
Dalem perjalanan pulang Siok-ing tanyah padanya: “Siapa yang tadi duduk di sampingnya itu nona apa ada itu anak dari Sourabaya?” Liang-nio cuma jawab itu pertanyahan dengan secara pendek.
TU ada waktu soreh kapan ‘ncek Bing-liong pang-gil Tiong-sin.
“Besok soreh saia aken adaken sedikit thee-hwee buat Cihang-in dan ayahnya yang hendak melanjut-ken perjalannya ka Ternate............”
“Jadi kapan iaorang aken brangkat, ayah? Kena-pa ‘nko Cihang-in belon kasi tau apa-apa pada kita-orang?” Tiong-sin menanyah.
“Saia tida tau, tapi ayahnya tadi bilang hendak brangkat sama kapal besok lusa. Dalem itu Theehwee kau boleh undang brapa ada kau punya kawan-kawan buat bantu meramehken............”
“Apa kau juga suda kasi tau sama ‘ncik Hien-an?” tanyah pulah Tiong-sin yang rupanya ambil perhatian banyak atas dirinya itu orang yang jadi ayahnya Liang-nio, itu Ratu Kembang dari Menado. “Tadi saia suda kasi tau, dan ia berjanji mau dateng............”
Tiong-sin hendak meneges pulah apa Liang-nio juga bakal dateng, tapi ia lantas urungken dan tida ingin buat tau itu perkara.
Pada hari yang suda ditetepken rumahnya ‘ncek Bing-liong suda penuh sama tetamu yang kebanyakan ada sobat andenya sendiri dan juga ada dari sobat-sobatnya Tiong-sin.
Lampu buat terangin itu Thee-hwee ada cukup terang, tida bedah seperti kalu ‘ncek Bing-liong bikin hari shejit.
Suara tetamu pada berisik yang masing-masing ada punya group sendiri-sendiri. ‘Ncek Hok-po yang sedari tadi suda dateng, ada dikawanin oleh ’ncek Bing-liong. Marika pasang bicara dengen laku begitu gumbira.
Kapan lonceng menguntaraken jam pukul 1/28 keada'an tetamu lebih tambah berisik kerna di luar ada klaitan mendatengin ‘ncek Hien-an dan Liang-nio dengan di sampingnya ada di'iringken oleh Siok-ing.
Nyata kadatengan marika dapet banyak perhatian. ‘Ncek Hien-an ambil tempat duduk di bagian kaeum tua, Liang-nio pergi diruwangan dalem di mana ada berkumpul brapa kaeum prampuan antaranya ada mamania Tiong-sin.
Samentara Siok-ing yang belon ada punya kenalan merasa sedikit likat, dan tida tau musti duduk di mana, tapi sedengnya ia bingung, ada dateng Tiong-sin yang kenalken dirinya dan ajak ia dudu bersama-sama Hian-ling, Koe-kway dan lain-lain pulah.
Cuma di situ orang belon menampak Tek-lok dan Cihang-in.
“Saia heran, kenapa iaorang sampe sekarang belon dateng,” kata Tiong-sin tatkala Cihiang-in dan Tek-lok yang ditungguin belon kliatan muncul.
“Saia kira iaorang............... kalelep kali!” menyawab Koe-kway.
Tiong-sin tida ladenin itu omongan, hanya berkata pada Hian-ling:
“Supaya tida jadi kasepihan, saia harep kau menyadi orang pertama buat mainken itu piano.”
“Kau jangan bikin malu saia, ‘nko Tiong-sin,” jabwab Hian-ling sambil bersenyum. “Saia punya permainan ada pasaran, tida surup buat di denger oleh kupingnyia lain-lain tetamu yang lebih pande. Kau minta saja sama ’nko Siok-ing atawa Liang-nio.”
Tiong-sin sigra minta pada Siok-ing, tapi oleh siapa telah ditolak dengan manis dan dengan alesan tida begitu bisa.
Liang-nio yang tukar bicera sama ‘ntiyim Bing-liong saben-saben memandeng di ruwangan luar kerna sedari tadi ia tida liat Cihiang-in. Sabetulnya ia tida musti ibukin itu orang yang ia suda benci, tapi, setau bagimana, ia sendiri tida mengarti kenapa ia masih maeo pusing.............
Pada itu sa'at ia denger suara berisik di luar tambah keras, dan berbareng itu ia dapet liat Cihiang-in mendatengin dengan brapa kawan, Tek-lok dan Gui-nio, itu prempuan yang ia ketemuken waktu picnic di Sario.
Ia lantas tunduk seperti juga perasahan mengiri dateng padanya. Tapi begitu lekas ia lantas tukar bicera lagi pada ‘ntiyim Bing-liong.
Cihiang-in sigra di sambut oleh Tiong-sin dan Koe-kway, sementara Gui-nio ambil tempat duduk di bagian nyonya rumah.
“‘Nko Cihiang-in, kenapa kau orang dateng telaat?” tanyah Koe-kway. “Saia kira kau orang kalelep kali!”
Cihiang-in bersenyum. “Saia kepingin dateng lebih siang, tapi ‘nko Tek-lok dan nona Gui-nio punya berdandan meminta saia menunggu lebih lama.”
Tiong-sin sebagai orang tengah yang kenalken Cihiang-in dan Tek-lok pada Siok-ing.
Kamudian Tiong-sin minta Cihiang-in suka bikin rameh itu Thee-hwee sama suara piano.
“Tetamu yang dateng lebih dulu musti trima itu kwajiiban,” menjawab Cihiang-in, dan kamudian ia dapat liat Liang-nio yang duduk di seblah dalem. “Saia rasa kau boleh minta lebih dulu sama nona Liang-nio, ia memang ada punya kasuka'an dan kabisa'an buat main piano.”
Siok-ing memandeng sedikit lebih tajem pada Cihiang-in seperti juga ia tida ingin dalem pembicera'an orang sebut namanya Liang-nio, itu orang yang ia cinta.
“Tapi, kalu ia tida maeo?” tanyah Tiong-sin pada Cihiang-in.
“Kita boleh seret tangannya dan ia musti main,” memutus Koe-kway sembari manggut-manggut. “Jangan kasi ia berlakuh aleman!”
Siok-ing unjuken sorot mata gusar waktu denger itu perkata'an yang orang hendak paksa Liang-nio buat memain. Ia memang belon tau tabiatnyia Koe-kway.
“Saia mufakat sama ‘nko Cihiang-in, yang dateng lebih siang, dapet giliran lebih dulu,” Koe-kway nyambung pulah dengan tida perduliken ia diamatin oleh Siok-ing dengan penasaran. “Pendek Liang-nio jangan dikasi lepas dari kita punya tangan”
Kau mau artiken bagimana sama itu perkataan?“ memotong Siok-ing dengan suara gusar. ”Kau musti hati-hati sama kau punya perkata'an.“
“Saia berkata suda sampe hati-hati atawa saia nanti tida sampe bisa bitiara dengen teges”, menjawa Koe-kway yang tida tau orang lagi marah pada-nya bahasa melayu, keu tanyah saja sama ‘nko Tek-lok. Dalem pembicar'an saia sering gunaken perkata'an yang tinggi hingga kadangkali sampe orang tida bisa mengerti, seperti juga brangkali kau tida bisa mengerti kalu saia bilang: “kau punya mulut ada lemari besi, bukan seperti lemari kayu, rapetnyia bukan buatan!”
“Kau punya perkata'an rupanya mau ajak berklai,” berkata Siok-ing yang ampir tida bisa tahan sabar. “Kalu kau mau setori, di sini bukan tempatnya.”
“Apa? Kau mau setori?” tanyah Koe-kway dengan heran. “Kau jangan salah mengerti. Saia bilang kau punya mulut seperti lemari besi artinya saia muji bahoae kau punya mulut kena dipercaia! Kenapa kau mau setori?”
“Jangan banyak bicara! Saia larang kau sebut lagi namanya Liang-nio,” memotong Siok-ing dengan aseran.
“Liang-nio ada Menado punya Ratu Kembang, kenapa saia tida boleh panggil iapunya nama?” ber-kata pulah Koe-kway yang juga mulai jadi sengit.
Siok-ing yang memang ada punya sifat brangasan, tertambah orang hendak bikin permainan namanya itu orang yang ia cinta, telah bikin ia lantas berdiri dan hendak cekek Koe-kway punya batang leher kapan Tiong-sin dan lain-lain tida pisaken padanya.
“Kau rupanya biasa bergaul sama kambing!” ber- seruh Koe-kway kutika ia dipisaken. “Saia bisa panggil namanya Hongte, bisa panggil namanya Ratu, kenapa kau mau larang saia panggil namanya Liang-nio?............. Liang-nio! Liang-nio!! Liang-nio!! Liang-itunio!!! Nou saia panggil namanya itu orang, kau mau apa?” Koe-kway jadi lebih penasaran kutika inget yang kamerdika'annya memanggil mau di'iket.
Dalem itu group jadi sedikit ribut, tapi selekas-nya bisa dibikin sirep kombali.
Itu perkata'an yang diseruhken oleh Koe-kway begitu keras telah dapat didenger oleh Liang-nio dan siapa tida tau apa artinya.
“Liang, di luar rupanya kadengeran suara panggil kau?” tanyah ‘ncim Bing-liong yang denger ku-mandangnya itu suara.
Liang-nio belon bisa menjawab kapan Tiong-sin dateng menghampirin dan berkata:
“Nona Liang, saia harep kau suka menyadi orang pertama buat mainken itu piano, agar ini Thee-hwee tida terlalu sepih,” berkata Tiong-sin. “Diluor orang sedeng ibukin siapa yang mustinya memain lebih du-lu: ada yang minta kau dan ada yang minta Khian-gin,” ia katelanjur ucapken itu nama paling blakang.
“Kasi saja ia yang main, ini malem saia tida ada nabsu, cuma saia suka buat denger,” menjawab Liang-nio dengen dingin.
“Kalu begitu saia nanti minta ia ambil giliran lebih dulu, kamudian saia nanti minta kau?”
Liang-nio cuma menjawab dengen goyang kepala sebagai satu kapastian dari iapunya penolakan.
Tiong-sin terpaksa kombali pada Khian-gin.
“‘Nko Khian-gin, jangan kita buwang tempo per-cuma,” ia berkata. “Sang tempo tida mau me- nunggu perkara yang lambat. Pendek kau boleh mulai dan blakangan saia sendiri nanti ambil giliran.“ Tjhiang-in yang suda lama memang ketagihan sama itu instrument, ia sigra berbangkit dan hampirin itu piano yang pernahnya tida jau dari Liang-nio du-du. Dengen sabar ia pilih satu laguh: ”No Boj but you.“ Tida brapa sa'at dalem itu ruwangan lantas sirep dan berganti dengen suara merdu dari itu piano yang dipukul oleh Tjhiang-in punya jari-jari yang gapa. Liang-nio dengerken itu laguh dengan penuh perhatian dan dalem hatinya memuji orang yang me-main punya kapandean. Siok-ing juga tida luput musti memuji, sementara Koe-kway yang duduk berdamping sama Tek lok, masih tinggal merengut kerna merasa penasaran yang lehernya mau dicekek seperti begitu gampang orang mau cekek lehernya bebek! Buat brapa sa'at suara piano brenti kamudian dilanjutken pulah dengan membawa lain lagu, yang merdunya tida kalah sama yang pertama. Inikali yang dimainken ada ”YOU ARE THE ROSE OF MY HEART,“ itu lagu yang populair. Saking resepnya Tjhiang-in merasa dirinya berada di-mana pulo dari paradise, itu taman dari Eden, dan dengen tida merasa ia lantas nyanyiken sekali itu lagu yang mana telah bikin pendengerannya itu ruwangan jadi lebih muluk dan semua mata memandeng di mana iapunya jurusan:
1 st. VERSE: “I had a wonderful dream, dear, a garden so deary I saw; Till a beautiful rose came to bloom there, and brought back the sun-shine once more; ‘Twas then that I met you, my love one, and found that my dream had come true, for that garden was in my own heart, dear, and that beautiful rose was you.
CHORUS: “You are the rose of my heart, dear, you are my sun-shine too; You are the star of my life, dear, you made my dream all come true; You are my sweet rose for ever, never more darling to part, you are my beautiful flower, you are the rose of my heart” (bis) etc.
(Saia dapet impihan aneh, jiwa, saia dapet liat satu kebon yang merawanken hati; sampe kamudian di sana ada tumbu satu bungah roos yang megar, dan kombaliken lagi itu sorot mata-hari yang terang-benderang. Begitulah saia lantas jumpahin kau, bidadari, dan nyata impihan saia ada berwujut, kerna itu kebon ada terdiri dari hati saia sendiri; samentara itu bungah yang eilok ada kau.)
(Kau ada bungah dari hati saia, jiwa, juga ada menjadi saia punya penyulu; kau ada diyadi sumanget dari penghiduapan saia, jiwa, dan bikin semua impihan saia tida kilru; kau ada saia punya bungah penawar buat selamanya, tida ada lain merpati yang pernah rasaken, kau ada saia punya bungah yang eilok, kau ada bungah roos yang belengket di hati saia.)
Demikian Tjhiang-in nyanyiken itu laguh dan 2nd. Verse diulangin. lapunya suara yang bagus telah kasi pendengeran begitu resep terutama dalem pendengerannya Liang-nio yang memang suka sama mu-ziek. Tjhiang-in lantas berbangkit satelah itu laguh dimainken tamat, dan dengen roman sedikit bersenyum ia hampirin Gui-nio sembari berkata: “Kita girang kalu kau suka ambil bagian.” “Trima kasi,” yawab Gui-nio sambil bersenyum. “Tapi kita orang semua ingin lebih baek kau tida menyingkir dari kita punya piano.” Cihang-in menengok sabentar pada Liang-nio yang duduk tida jau dari situ dan siapa klaitan tida ambil perhatian atas dirinya sama sekali. Pada itu saat Tiong-sin menghampirin sembari pegang iapunya pundak. “Nko Cihang-in, kenapa begitu lekas kau bikin ruwangan jadi sunyi lagi?” ia tanyah. “Cuma dualaguh kau suda brenti?” “Saia musti kasi giliran buat lain orang, dan baresan saia minta sama nona Gui buat ambil bagian............” “Di sini tokh ada lain tetamu yang bisa diminta buat turut ambil giliran?” memutus Gui-nio sembari memandeng pada Liang-nio. Tiong-sin sigra hampirin Liang-nio dan nyataken supaya itu nona suka turut ambil bagian, tapi oleh siapa suda ditolak dengan berkeras. Samentara Tiong-sin tida memaksa lebih jau. Itu roman dari Liang-nio yang sedari tadi ada klaitan tunduk, mendadak seperti ada memberi pengrasahan apa-apa dalem pemandengannya Cihang-in—itu lelakon yang dulu-dulu rupanya aken terpetak lagi. Dengan tida terasa iapunya tindakan telah bawa dirinya maju lebih deket dan kamudian lantas berkata dengen suara pelahan: “Nona Liang, kau musti ambil bagian.........” “Musti?” memutus itu Ratu Kembang dengan dongaken kepalanya. “Tida ada satu orang yang boleh mustiken saia buat ambil bagian.” Itu suara yang ketus dan klaitan marah telah bikin Cihang-in jadi bungkem dan tunduk. Ia rasaken itu perkata'an seperti memukul di mana kepala tida brapa sa'at kamudian ia tantas bersenyum: “Saia tida tau kalu itu perkata'an ‘musti’ bikin kau jadi marah besar,” ia berkata. “Saia bukan bermaksud memerentah, tapi saia ada bermaksud minta.” Liang-nio tida perduliken itu omongan hanya lantas berpaling dan tukar bicara lagi pada ‘ncim Bingliong. Dari luar Siok-ing awasin sikepnya Cihang-in dan ia merasa kurang enak hati tatkala itu tamu dari Sourabaya ajak Liang-nio bicara. Sementara Cihang-in waktu tida diladeni, buat brapa sa'at ia berdiri di situ sebagai tunggak dan kamudian lantas bertindak kluar. Dalem itu ruwangan kombali lantas jadi rameh dengen suaranya piano yang dimainken oleh Tiong-sing sendiri, tapi iapunya kabisa'an pada itu instrument belon bisa ukulin Cihang-in.
KAPAN Cihang-in suda menyingkir, Liang-nio lantas menengok di jurusan mana itu pamuda ada berlalu. Ia rasaken keada'an hatinya tida tetep dan apa sebabnya. Ia suda benci pada Cihang-in tapi kenapa ia ada irih hati kalu itu anak muda berdeket dan beromong pada lain prempoan. Memikir sampe di situ diam-diam ia merasa malu sendirian. Kendati ia ada duduk beromong sama ‘ncim Bingliong, tapi ia tida tau dan tida denger terang apa yang diucapken kerna antero iapunya pikiran telah kumpui diyadi satce buat satu perasahan yang pa-ling aneh.
Tida lama ia minta permisi pada itu nyonya rumah buat kluar cari angin dikebon samping, kerna dalem itu ruwangan ia rasaken hawanya kliwat panas hingga suda bikin badannya basa sama kringet.
Suara piano yang dimainken oleh Tiong-sin masih terdenger terus, sementara itu Thee-hwee berjal- lan dengan gumbira, cuma sikepnya Siok-ing kliatan tida begitu laluasa, saben-saben ia memandeng di-jerusan mana Liang-nio ada duduk. la ada bicara sedikit sekali dan ingin itu Thee-hwee lantas di-tutup supaya ia bisa ajak Liang-nio pulang.
Sementara Koe-kway joga kliatan tida begitu gumbira seperti biasa. la lebih banyak merengut daripada bicara, kerna ia inget yang lain orang mau bikin lehernya seperti lehernya bebek. la sunggu sa-kit hati dan berjangyi dalem hati buat bikin pembalesan, tapi lebih duloie ia mau cari konco, kerna buat lawan sendiri ia kwatir katitir. la mau tarik Tjhiang-in buat berdiri di mana iapunya fihak.
Begitulah kutika ia dapat liat Tjhiang-in mendatengin dari dalem, ia lantas berdiri menghampirin dan tuntun tangannya itu anak muda buat diaja'k duduk berdekatan.
“Nko Tjhiang-in, sunggu mati kau punya kapan-dean main piano musti terpuji,” Koe-kway mulai berkata buat cari muka, “terpuji bukan buatan. Kalu saia mengantuk, pasti itu laguh yang merdu bisa bikin saia pules. Laguh apa tokh kau pukui tadi?”
Sabelonnya menjawab Tjhiang-in isep duloie iapunya glas yang terisi lemon: “Yang duluan ada lagu ‘No boj but you’ dan yang blakangan: ‘You are the rose of my heart’”ia berkata sambil bersenyum, “itu laguh sabetulnya suda tua tapi saia tida tau kenapa saia masih suka.”
“Tentu kau masih suka sebab itu laguh memang merdu, merdunya bukan buatan,” mengumpak Koe-kway sembari cari jalan buat adu itu anak dari Sourabaya sama itu anak dari Banjarmasin. “Pendek saia mau bilang dengan terus terang, dengan atas namanya Yesus Khristus, yang kau punya kapan-dean main piano di sini tida ada lain orang bisa lawan. Cuma selainnya main piano, apa kau tida pernah main vutball?”
“Duloie saia pernah yakinken itu permain sebagai kiri-dalem, tapi blakangan males buat train lagi,” menyawab Tjhiang-in dengan sabenernya dan tau kalu dirinya mau di “kotak.”
“Sayang. Saia denger di Sourabaya punya gerakan vutball ada sanget digemarin, kau salah kalu kau tida mau yakinken lagi permainan. Oh, ya,” Kukway menyambung pulah sembari tarik krosinya lebih deket, “apa betul ‘nko Khin Hoat, itu back dari ”Tiong Hoa“ kakinya sabesar............. gaja, dan tendangan-na bolah seperti larinya pelor?”
Tjhiang-in memanggut sembari bersenyum: “la memang ada menyadi tiang atas dari ”TiongHoa“. Tapi kalu dibilang iapunya kaki seperti sebesar kakinya gaja, itu tida betul, ia tentu tida bisa lari keras.”
Koe-kway turut ketawa dan sumpt mulutnya dengan setangan seperti laganya ‘Neng Bandung yang aleman.
“Dan lagi, apa betul ‘nko Sie-lok, ”Tiong Hoa“ punya kanan-luar, larinya seperti kilat bulang-baling?” ia menanyak pulah.
Cihang-in memanggut.
“Dan lagi, apa betul ‘nko Hian-bie, ’Tiong Hoa‘ punya back, bisa makan kaki zonder yang di makan bisa tau?” Koe-kway tanyah pulah.
“Datenglah saja di Sourabaya, kau nanti nyataken sendiri iapunya permainan yang esay,” menjawab Cihang-in sembari tepok tepok orang punya pundak. “Seperti itu hari saia pernah bilang, saia nanti anterken kau dan unjuken kau apa yang kau ingin tau di Sourabaya dan daerahnya.”
“ Atas namanya Mokhamad, saia junjung tinggi kau punya tawaran, saia junjung tinggi dari jereji kaki sampe di ujung rambut kepala yang paling atas,” menjawab Koe-kway dengan kluarken iapunya letterkunde. “Biarlah tida lama lagi saia bisa di berkehken turun ka Sourabaya.”
Buat brapa sa'at itu pembicara'an dibrentiken dan mendadak Koe-kway berkata pulah saolah-olah orang baru inget apa-apa.
“Nko Cihang-in, saia liat kau punya penggawakan badan begitu bagus, lengan tangan begitu ulet, apa kau pernah blajar boks?”
“Saia memang ada yakinken itu macem sport tapi belon begitu lama,” jawab Cihang-in.
“Tapi tokh kau suda bisa boks?” tanyah pulah Koe-kway dengen girang. “Kalo seande zonder pake bokshandskhun, apa sekali pukul kau bisa bikin orang cum tanah?”
Cihang-in bersenyum: “Liat-liat orang yang di pukul, kalu itu orang kuwat, cuma bisa sepoyongan saja............”
Koe-kway lantas memandeng di mana Siok-ing ada duduk. “Kalu sepertinya kau pukul itu anak da-
UTUSAN ALLAH ri Banjarmasin, apa sekali dorong kau bisa bikin rubu?“
Cihang-in menengok pada itu orang yang di unjuk dan kamudian berkata:
“la rupanya kuwat, tida gampang dicu-dangin............”
“Tapi saia percaia kau bisa cudangin padanya”, mengumpak Koe-kway sembari manggut-manggut. “Anak Sourabaya terkenal simpen hati besar, punya kabranian bukan buatan dan punya hawa seperti hawanya macan.”
Cihang-in tinggal mesem, kamudian Koe-kway menyambung pulah:
“Seande ia brani ajak kau boks, apa kau trima?”
“Di sini tokh tida biasa dilakuken itu macem sport?” tanyah Cihang-in yang tida merasa kalu dininya mau diaduh.
“Justru itu kau sekarang boleh kasi conto, agar itu macem sport bisa turut diyakinken oleh kita punya anak muda di sini. Itu anak dari Banjarmasin rupanya bisa boks. Kalu kau mufakat dan brani saia nanti suka jadi orang tengah buat atur itu pertandingan.”
Cihang-in belon menjawab apa-apa, Koe-kway lantas berkata pulah dengan menjusta: “Itu anak dari Banjarmasin memang suda lama cari musu di sini buat aduh boks, tapi belon ada orang yang brani trima itu tawaran kerna di Menado punya kaum muda tida ada yang mengerti tentang itu permainan. Lantaran ia tida dapatken musu, jadi selalu ia mau cari perkara, dan barusan tadi ia mau cekek saia punya leher............”
Cihang-in tida dapat denger teges apa yang diomong oleh Koe-kway kerna iapunya perhatian ada pada di rinya Liang-nio, dan iapunya pikiran diyadi menanyak kutika dapat tau yang Liang-nio suda tida ada di mana itu ruwangan. la tida tau kamana itu nona suda pergi.
Kapan ia tida dapat yawaban Koe-kway lantas hampirin Siok-ing dengan hati tida sabar.
“Nko Siok-ing,” ia kata dengan pelahan sebrapa bisa. “Kau tadi hinaken saia, mari di luar kita nanti bikin peritungan.”
Sick-ing tentu suda ikirim kepelanya kalu ia tida inget ada di tempat Thee-hwee. la merasa sanget jemu sama Koe-kway.
“Kapan saja kau suka dan di tempat mana saja saia nanti sedia,” jawabnia dengan aseran.
“Baek, nanti sabentar kalu kita pulang, di tempat mana saja kita boleh bikin perhitungan, tapi bukan pada saia............”
“Abis pada siapa?” tanyah Siok-ing dengan tida mengerti.
“Pada ‘nko Tjhiang-in, ia ada saia punya trainer.” Siok-ing tida jawab itu perkata'an, hanya iapunya sorot mata sedeng memandeng kajurusan dalem mencari kamana Liang-nio suda pergi, kerna ia tida dapet liat lagi di mana itu nona suda duduk.
Kapan Koe-kway kombali lagi di mana iapunya tempat duduk, ia ketemuken yang Tjhiang-in suda tida ada di situ.
V
“How can I tell when I'm really in Love—
when it's the real thing, the final great Love of my life?”
—Shakespeare.
(Bagimana saia musti bilang kalu saia ada Menyinta dengan sasunggunya—
kalu itu ada satu perkara yang suti, perkara Cinta yang paling terbesar dari
penghidupan saia?)
TATKALA menyingkir dari itu ruwangan yang rameh Liang-nio lantas bawa tindakannya di mana satu kebon yang berada di samping itu rumah. la jalan pelahan dengen bertunduk. la lama sekali hi-burin dirinya di situ dan lantas berdiri termenung di mana itu tempat yang dulo pertamakali Tjhiang-in pegang dirinya dan coong brapa cioman. Mengignet itu, ia diyadi penasaran dan romannya berobah merah. Itu kejadian yang gandiyil ia bayangken teges seperti masih baru terjadi brapa minuut berselang. Itu puhun johar yang ia pake buat senderan kutika ia joroken Tjhiang-in, masih tetep tumbu di situ............... Apa, bagimana lama kliatan sang Tempo liwat tapi pada hal yang sabenernya masih satu ketipan kerna segala peringetan masih terpeta teges.
Kutika ia dalem keada'an begitu, di samping la dapet denger suara tindakan kaki mendafengin. la berpaling dan ketemuken Tjhiang-in ada berdiri tida jau dari situ.
“Saia tida tau kalu kau juga ada di sini,” Tjhiang-in lebih dulo berkata. “Didalem terlalu ribut dan hawanya juga ada terlalu panas.”
Liang-nio tida pusingken itu perkata'an hanya menyingkir pergi di lain bagian. iapunya hati ada ingin buat lantas masuk ka dalem, tapi setau bagimana iapunya kaki seperti tida mau mencerut prentah. Tjhiang-in menghampirin kombali dan berkata: “Lu-paken perkara yang suda ada perbuatan mulia, kenapa sampe sekarang kau masih kliatan begitu membenci pada saia? Saia masih hargaken itu persobatan yang lama............”
Liang-nio angkat mukanya dan menyawab: “Kau masih hargaken atawa tida itu bukan saia punya perkara............... Kenapa kau turut-turutan dateng kemari?“
“Saia tida tau kalu kau ada di sini atawa saia nanti lebih seneng berada didalem,” menjawab Tjhiang-in. “Tapi saia tida menyesel, boleh jadi yang Tempo kasi saia kasemptan buat saia, haturken slamet atas kau punya pertundangan sama ‘nko Siok-ing.”
Liang-nio lantas awasin Tjhiang-in dengen zonder berkesip dan dada berombak. Dari sorotnya lampu di mana salah-satu kamar yang menembus antara itu kebonan, orang nanti bisa dapat liat, itu mata yang tida berkesip, ada mengalirken aer mata.
Dan............... dan Tjhiang-in dapat liat itu aer-mata yang mengalir turun, yalah itu aer-mata dari satorang prempuan yang ia masih............... cintaken.
Kalu satu orang yang ambil tempat seperti Tjhiang-in, hadepin satu prempuan yang ia cinta segenep hati, apa ia mau manda sama turunnya itu aer-mata? Apa ia mau mengerti dan apa ia bisa kwasa lagi atas dirinya buat tida memegang dan bantu susut itu aer-mata? Apa ia ada punya kakerasan hati yang besar buat tinggal diam atawa menyingkir? Itulah tida bisa jadi!
Demikian juga sama Tjhiang-in. la hendak tabahken hatinya, tapi satu perasahan yang tida tau dari mana datengnyia, telah bawa ia maju lebih deket dan lebih deket.............
Di lain sa'at Liang-nio lantas berada dalem pelukannya Tjhiang-in dan ia tinggal manda sebagai satu badan yang tida mempuniyain sumanget.
Tida ada satu pata perkata'an yang kluar dari iaorang punya bibir saolah-olah iaorang terlahir dengan zonder mempuniyain bahasa.
Di satu sa'at Liang-nio lantas berada dalem pelukannya Tjhiang-in dan ia tinggal manda sebagai badan yang tida bersumanget—mendadak Siok-ing dateng.
Tjhiang-in isep itu aer-mata yang mengalir di antara itu sepasang mata yang sedikit tertetutop, dan dirasaken seperti ‘mbun menyiram akarnya puhun yang suda berwindu tida dapat siraman aer. Justru dalem keada'an begitu satu tangan yang kuwat telah sontak iapunya pundak hingga ia musti mencelat brapa meter............... la berdiri sempoyongan dan di situ ia ketemuken Siok-ing dengan mata terputer bahan gusarnya.
Bertiga lantas saling memandeng.
Liang-nio romannya pucet dan bibirnya gumeter. Iapunya keada'an seperti saorang yang baru dibikin kaget dari tidurnya.
“Kenapa............., Kenapa kau cium saia?!” ia berkata dengan penasaran sembari menuding pada Cihang-in. la betul-betul seperti baru mengimpiah ia tida tau perkata'an apa yang ia ucapken. “Kenapa............., kenapa............. kau cium saia?!” ia mengulangin dengan badannya kliatan begitu lemah.
Samentara Siok-ing suda bersedia selaku sikepnya satu macan yang hendak terkem korbananya.
“Kenapa............, kenapa kau cium saia?!” Liang-nio mengulangin pulah sembari menuding pada Cihang-in. Iapunya sikep betul-betul seperti orang yang baru abis mengimpiah dan lupa ingetan. Iapunya badan ada terlalu lemah buat bisa berdiri dengan tetep. Buat brapa sa'at ia manda tatkala Siok-ing pengangin padanya, dan kamudian ia lantas singkirken tangannya itu anak muda dan menyingkir mundur sedikit diyau.
Siok-ing sigra paranin Cihang-in lebih deket.
“Kenapa kau berbuat begitu melangka wates?” ia menegor dengan suara aseran. “Kau hendak merkosa kasuciannya satu prempuan.................”
Cihang-in seperti tida dapat denger itu perkata'an kerna ia hendak sampirin pada Liang-nio, tapi Siok-ing tarik tangannya.
“Saia tida idzinken kau pergi dengen membawa kau punya perbuatan yang biadab!” berseru Siok-ing dengen tambah gusar. “Saia harep kau tida berlaku sebagi satu pengecut!”
Cihang-in menengok seperti sa'orang tuli yang baru bisa mendenger. Iapunya kesima lantas musna dan sekarang ia mengerti yang orang aken ajak ia setori.
“Saia tida denger, apa yang kau tadi bilang?” ia menanyah dengen cara sabar.
“Saia bilang kau biadab! Siok-ing menjawab. ”Kau cium satu prempuan dengen cara merkosa!“
“Biadab? Merkosa??” Cihang-in mengulangin. “Apa sengaja kau mau cari setori? Saia cium ia dengen kacinta'an, dan ia kasi dengen ikhlas”.
Siok-ing memandeng Liang-nio dengen cara menanyah, dan kamudian ia hampirin itu gadis yang sorot matanya masih unjuken penasaran dan bibirnya gumeter.
“Apa betul, Liang, iapunya keterangan, yang ia tida merkosa?” ia berkata dengen sangsi.
“Justa! ia kasi keterangan tida betul!!” menjawab itu gadis dengen suara gumeter dan dada berombak.
Siok-ing merasa legah dan lantas awasin pulah pada Cihang-in dengen sorot mata menyalah.
“Apa kau mau pungkir yang kau ada biadab?” ia menegor sembari menghampirin di mana Cihang-in ada berdiri.
Cihang-in rasaken Liang-nio punya perkata'an sebagi satu pukulan yang hebat! la tida mengerti kena- pa boleh begitu. la tau terang yang itu gadis tadi tinggal manda dalem iapunya pelukean, tapi kenapa, kenapa sekarang jadi berbalik begitu?
“Liang, saia tokh tida............. merkosa kau?” ia menanyah dengan suara dirasaken sember. “Kita tokh masih sama menyinta?” ia hendak dateng mengham-pirin tapi dihalangin oleh Siok-ing. “Kenapa kau ma-u turut campur kita punya perkara?” ia mena-nyah pada itu jejaka dari Banjarmasin. “Saia tida ingin cari setori dalem ini perkara.”
“Tapi itu ada saia punya perkara buat campur,” menjawab Siok-ing dengan sikep tida begitu sabar. “Saia larang buat satu pengecut deket pada diri-nya itu nona yang ada di bawah saia punya perlin-dungan.”
Cihang-in belon sempet menjawab kerna pada itu sa'at Siok-ing punya kepelan kanan suda kunjungin di mana iapunya muka. la mundur brapa tindak tapi sikepnya tinggal sabar. “Saia harep kau tida cari perkara,” ia meminta dan hendak mengalah, “apa-lagi di sini bukan tempatnya kita berklai............”
Siok-ing tida perduli, ia kombali kirim pukulan dan selalu dialesin oleh Cihang-in yang sengaja tida membales, Siok-ing dapat hati jadi semingkin galak. la kombali menerjang dan kirim jotosan yang akhir-nya bikin juge Cihang-in jadi sempoyongan.
Liang-nio yang berdiri sebagai patung unjuken satu kakwatiran. la hendak dateng pisaken tapi kaki tangannya dirasaken seperti teriket. la sembuniken mukanya ka samping kutika dapt liat Siok-ing kirim satu pukulan keras yang mengenaken betul dimane Cihang-in punya dada dan bikin itu anak muda ja-di sempoyongan.
Siok-ing terus maju mendesek dan kirim seri pu-kulan maski saingannya suda kepukul mundur. Cihang-in sama sekali tida bales memukul, hanya menangkis kerna ia tida ingin buat berklai di muka-nya itu nona yang ia cinta maski ia tau itu nona suda membenci lagi padanya.
“Di sana masih ada lain tempat buat kita berklai, bukan di sini,” ia berkata sembari tangkis brapa serangan, tapi oleh Siok-ing tida diperduliken. Pada itu kutika Cihang-in diyadi kapepet betul-betul, ia tida bisa mundur lebih jau, kerna terhalang oleh pager tembok.
Waktu dapat liat keada'an mengwatirken bagi Cihang-in, dengen tida merasa, Liang-nio lantas pergi memburu dan pegang tangannya Siok-ing yang kom-bali mau kirim serangan.
“Nko Siok-ing, saia tida ingin liat kau orang berklai,” ia meratap sembari tarik itu anak muda kablakang, “laginya di sini ada lain orang punya rumah.”
Siok-ing yang suda diyadi hilap tida mau mengerti sama itu perkata'an. la singkirken Liang-nio punya tangan, dan dengen lakoh amat sebat ia kombali ki-rim serangan yang mengenaken Cihang-in punya leher sampe begitu rupa hingga Liang-nio meluarken satu treakan.
Dapet itu pukulan yang seru, buat brapa sa'at Cihang-in rasaken kepalanya puyeng, tapi kamudian ia bisa tetepken lagi sikepnya dan mulai jadi pemasaran kerna Siok-ing nyata tida tau diri.
“Saia terpaksa musti layanin kau,” berseru Cihang-in dan mulai bales menyerang yang bisa ditangkis ju-ga oleh musunya. Tambah seconde itu penyerangan dari dua fihak tam- bah seruh, dan satu sama lain hendak coba rubuken musuna.
Nyata marika ada satu tandingain, cuma, Tjhiang-in punya tacktiek memuku dan menangkis ada lebih unggul.
Liang-nio liatin dengen tida berdaya, sekujur badannya ada gumeter. Ia hendak lari ka dalem buat minta orang pisaken, tapi kakinya dirasaken seperti teriket.
Itu perklaian berjalan dengen sengit, dan tida la- ma kamudian Siok-ing kliaitan ketitir mundur. Ia sekarang lebih banyak menangkis daripada menyerang.
Disatu sa'at yang kebetulan, Tjhiang-in punya pu- kulan kiri yang berat, telah mengenaken Siok-ing pu- nya bagian mata hingga siapa lantas tekep mukanya dengen kadua tangan sembari senderken dirinya di- mana satu puhun.
Tjhiang-in liat Siok-ing tida bisa melawan lebih jau dan ia tida mau gunaken itu kutika baek buat bikin rubu saingannya, ia cuma berdiri mengawasin dengen sikep menanti buat musuna kumpulken tenaga baru, tapi mendadak Liang-nio menghampirin dengen roman mengunjuken penasaran.
“Kau............, kau tida tau aturan!” berkata itu gadis dengen jari menuding. “Harep kau lan- tas kluar dari sini atawa saia nanti panggil ‘nko Tiong- sin buat usir kau............”
Itu suara telah diputus oleh jatonya satu pu- kulan di mukanya Tjhiang-in yang dikirim oleh Siok- ing dengan sekunyung-kunyung dan tida disangka.
Tjhiang-in sempoyongan dengen tekep mulutnyia yang mengalirken darah. Dalem keada'an begitu, kom- bali ia lantas trima satu seri pukulan dibetulan leher yang bikin iapunya mata jadi gelap dan ber- kunang.
Liang-nio meluarken treakan ngeri tatkala dapet liat itu darah yang mengalir, dan ia sigra tarik tangan- nya Siok-ing kutika siapa hendak titir musuna yang suda kawala'an.
“Kau pengecut!” itu gadis berseru dengen menuding Siok-ing. “Kenapa kau pukul orang de- ngen cara menggelap?” ia hendak hampirin Khiang- in, tapi oleh Siok-ing lantas ditank mundur.
Justru dalem keada'an begitu, dari dalem kluar Tiong-sin dan Koe-kway yang memang sengaja cari marika.
“Kenapa kau orang tida duduk didalem sebalik- nya gandangin tempat gelap?” berseru Tiong-sin sem- bari menghampirin dan tida duga kalu ada keja- dian apa-apa.
Waktu dateng deket Tiong-sin jadi tercenggang tatkala dapet liat iaorang punya sikep yang begitu rupa. Dalem hati Tiong-sin lantas bisa duga apa yang barusan ada terjadi.
“Yesus Khristus!!!” berseru Koe-kway, “jadi kau- orang abis............... boks? Itulah ada di luar saia punya duga'an atawa lebih siang saia tentu da- teng menyasiken.”
Tida brapa minuut Tjhiang-in bisa pernahken lagi sikepnya seperti biasa, dan ia lantas bersenyum kuti- ka dapet liat Koe-kway dan Tiong-sin ada berkumo- pul di situ. “Kau dateng kurang siang, ‘nko Ku- kway,” ia berkata sambil bikin bersi pakeannya susut bibirinya yang masih ada sedikit darah.
“Kenapa lebih dulu kau tida mau bilang?” ber- kata Koe-kway “Sunggu slamet saia tida kira! Abis apa kau kala............ Eh, kenapa kau punya mulut?“ ”Oh, tida apa, cuma sedikit kesampir.“ Tiong-sin tida bisa bicara apa-apa, hanya sabentar pandeng romannya itu anak dari Sourabaya dan sabentar awasin itu anak dari Banjarmasin, sementara ia tida tega liat mukanya Liang-nio yang pucet dan membisu. Siok-ing tinggal berdiri dengen sikep masih liatken penasaran, dan ia'tinggal tida mau bicara maski diha-depannya ada Tiong-sin dan Koe-kway. Koe-kway menghampirin dan pegang tangannya Cihiang-in sembari berkata dengan berbisik: ”Apa sunggu kau kala? Akh, saia tida percaia. Dipandeng dari ampat penjuru, dan diliat dari ujung kaki sampe ujung rambut, kau ada difihak lebih ku-wat dan lebih atas bukan............ buatan.“ Cihiang-in tida dengerken itu perkata'an, hanya ia-punya mata memandeng pada Liang-nio. Itu gadis tida lama lagi lantas tinggalken itu tempat dengen tida berkata apa-apa, dan kamudian lantas di'ikut juga oleh Siok-ing. ”Nko Cihiang-in, saia tida tau apa yang menjadi sebab, saia menyesel tida dateng lebih siang,“ berkata Tiong-sin satelah Liang-nio dan Siok-ing masuk'ka dalem. ”Itu cuma terjadi dalem sa'at yang kebetulan saja,“ menjawab Cihiang-in sambil bersenoyem. ”Sebab lain tida ada, yalah cuma kebetulan saja.“ Tiong-sin tida meneges lebih banyak, kerna ia suda mengerti yang dalem itu sebab ”kebetulan“ tentu ada menyangkut atas dirinya Liang-nio, itu Ratu kembang dari Menado.
“Nko Cihiang-in, kau salah besar, salah besar bukan buatan,” berkata Koe-kway sembari pimpin tangan-nya Cihiang-in berdiyalan masuk. “Di sini tokh bukan tempatnya boks, di sini ada lain orang punya kabon. Kalu tadi kau trima accoord atas saia punya voorstel, pasti saia suka sediaken tempat di lapangan luar, taro kata di mana saia punya pelataran sendiri.” Marika sampe didalem dan duduk lagi di mana marika tadi punya krosi, sementara Tiong-sin terus ka ruwangan tengah dan kasi denger pulah suara pianonya buat tida bikin itu Thee-hwee jadi sunyi atawa kalut. Seperti yang lain Liang-nio juga kombali duduk deket ‘ncim Bing-liong, cuma Siok-ing ambil tempat duduk diseblah pojok, deket kaum tua, dengan saben-saben mengawasin jurusannya Liang-nio. “Kau setadian dari mana?” tanyah ’ncim Bing-liong pada itu gadis. “Kita tadi cari kau buat minta kau turut ambil bagian main piano, tapi kita tida bruntung ketemuken kau.” “Saia dikebon samping,” jawabna dengan coba lukiskien senyuman. “Sukur kau orang tida bisa ketemuken saia, sebab saia tokh tida bisa turut main, kerna ini malem saia terlalu cape.” sembari berkata begitu iapunya pikiran melayang ka itu kebon, di-tempat mana, buat kaduakalinya, iapunya pipi telah tercuri (?) oleh itu lelaki yang ia............... benci. Mendadak ia lantas susut mukanya dengan setangan sa'olah-olah buat tutupin itu cahaya semu-merah di antara itu urat-urat pipi yang alus. Kamudian ia tinggal termenung, dan orang tida tau kamana iapunya pikiran sedeng dilayangken. Tek-lok yang tadinya enak duduk beromong sama iapunya kawan lain, ia lantas hampirin pada Cihiang-in tatkala dapat liat itu sobat muncul dari pintu samping dan duduk di tempatnya.
“Nko Tjhiang-in, kita orang semua ingin liat lagi kau punya jari jalan-jalan buat undang suaranya itu piano,” berkata Tek-lok sambil bersenyum dan tida tau perkara apa yang suda teryadi pada sobatnya. “Kita harep kau jangan jual mahal.”
Tjhiang-in tida menjawab hanya tinggal bersenyum. Wakteo laguh yang dimainken oleh Tiong-sin suda tamat, ia sendiri lantas berdiri dan hampirin itu instrument. Brapa tepokan tangan ada terdenger kutika ia angkat tindakannia.
“Hupp, Tjhiang-in!!” Koe-kway berseruh dengan kagirangan. “Saia minta kau musti nyanyi sekali. Ti-ulplash kau punya suara yang merdunya bukan buatan!! Astaga Muhamatdiah! kenapa kau punya jalan begitu pelahan seperti orang aleman?!”
Tjhiang-in menengok dan bersenyum. Ia sampe di-hadepan itu piano dan ia sigra mainken satu lagu dengen zonder cari note lagi. Ia pukul itu laguh yang terkenal: “I KISS YOUR LITTLE HAND MADA-ME.”
Mendadak itu ruwangan jadi sunyi, cuma terdenger suara merdu dari itu piano yang dimainken oleh jari-jari Tjhiang-in.
Koe-kway tepok-tepok tangan bahna kagirangan, sementara Siok-ing lebih merengut bahna irih dan penasaran.
Tiong-sin, lukiskan satu senyuman, samentara Liang-nio kliatan sabentar tunduk dan sabentar memandeng dijurosan mana Tjhiang-in ada.
Kutika itu laguh dipoukul tamat, tepok surak yang rlu ada kadengeran dengan diberikutin suara “bis,” cuma Liang-nio tinggal lebih anteng.
Tjhiang-in lantas ulangin itu laguh buat kadua-kalinya dengen disertain nyanyian dari iapunya suara yang muluk. Dalem nyanyian itu perkata'an. “Mada-me” ia sengaja ganti dengen perkata'an “My-Love”:
Verse )
My-love, I love you, now I have spoken
The spell that held me silent is yust broken
No longer dare I, my feelings smother,
No longer care I though you love another.
You may deny me if you will,
I'll never cease to hope until.
Chorus)
I kiss your little hand, My-love
And dainc fingertips,
I'm sure you understand, My-love,
I yust adore your lips.
My very heart and soul, My-love,
Are in wild eclipse.
I simply can't forget, My-love,
The first day that we met, My-love.
I kiss your little hand, My-love,
I long to kiss your lips.
Tjhiang-in sengaja bikin suara piano begitu pe-lahan sebisanya agar iapunya nyanyian terdenger teges, dan yang mana betul juga telah bikin Liang-nio mengerti apa yang diucapken dalem itu nyanyian.
Liang-nio saben-saben romannya berobah merah dan poscet. Ia merasa dapet sindiran jiote dalem itu nyanyian, kerna antara lain-lain seperti ada dibilang: bahua ia suda pernah terciom, tapi sekarang ia suda lupaken itu kerna di iapunya samping kata-nya ada berdiri lain kacinta'an!
Ia terus bertunduk sampe itu suara piano bren-ti dan Tjhiang-in berjalan kluar. Ia mengelah napas dengan pikirannya dirubengin sama macem-macem perasahan yang seeker dipicaken.
SATELAH abis mainken itu piano Cihang-in lantas kombali di mana-iapunya tempat duduk. Ia kepingin bisa mempunyin mata lebih dari sepasang buat menengok di jurusan blakang di tempat mana itu Ratu kembang ada berduduk.
Koe-kway dari jau suda papak padanya dengan roman berseri-seri:
“Kasi tangan, ‘nko Cihang-in!” ia berkata sembari ulurken tangannya. “Kasi tangan lagi sampe tigakali! Ini ada saia punya slamet buat kau punya kapandean main piano yang bukan buatan! Yezus Khristus! itu laguh yang kau pukul betul? ampir bikin saia tida inget orang, kerna mata rasanya ngantosok, sumangget rasanya terbang melayang............ bukan buatan!”
Cihang-in kasi tangannya buat dikasi tabe oleh itu kawan, dan kamudian sama duduk dengan isih gorokannya sama lemonade warna merah.
Tiong-sin, Tek-lok dan yang lain-lain joga dateng di situ dengan angsurken tangannya pada Cihang-in selakuh briken pujian.
Koe-kway yang kliatan tida mau mengerti dan tida mau mengalah sigra berdiri dan angsurken tangan-nya: “Kasi tangan lagi, ‘nko Cihang-in,” ia berseruh. “Jangan kwatir, saia punya tangan lebih alus dari lainnya, joga lebih banyak rejeki dari lainnya, dan joga boleh............... dicum kalu kau mau.”
Cihang-in bersenyum dan kombali kasi tangannya dipegang oleh itu kawan.
Siok-ing, yang duduk terpisa jau dari kawan- kawan lain, cuma liatin saja kakocakannya penasar-an pada Cihang-in.
Tida lama kamudian diam telah mangunjuken pukul 12 tengah malem, yang mana telah bikin se-mua tetamu pada bubaran pulang.
Didalem itu ruwangan Thee-hwee ada berjalan dengen baek, cuma di luarnya ada kejadian satu hal yang kusut dengen adanya itu perklaian antara Cihang-in dan Siok-ing.
Apakah itu bakal menyadi satu alamat yang tida baek di hari-hari yang bakal dateng?
VI
Cinta ada satu penghibur yang terutama.
Jika cinta ketemu kasetia'an, kasucian nanti
menjadi satu tiang yang paling tegoh dan tra
gampang diruboken sa'olah-olah menjadi
imbangannya-pati.
M. Novel.
ITU ada waktu pagi sekali kapan Liang-nio ada du-duk diruwangan luar dari iapunya rumah. Rambutnyia ada kusut dan romannya ada kliatan le-su, suatu tanda semalem ada kurang tidur.
Memang joga ada begitu, kerna iapunya pikiran selalu tergoda oleh itu kejadian-kejadian semalem, terutama itu............ cuman yang ia trima de-ngen zonder diduga.
Iapunya rasa penasaran dan bimbang tercampur aduk tra karuan hingga bikin ia duduk atawa ber-diri serba salah.
Babu Alima suguken ia sacingkir thee, dan ku-tika ia minum, dalem mana seperti ada kasi kaca bayangan dari romannya‘ itu orang yang ia ingin............ lupaken.
Tida lama kamudian dari luar Siok-ing—seperti biasa ia singga rumahnya Liang-nio sabelonnya masuk kerja.
Ia haturken slamet pagi yang dibales oleh itu gadiis dengen dingin sekali.
“Saia rasa kau punya ayah belon bangun, sebab semalem kita pada pulang telaat,” Siok-ing mulai berkata dengen coba bersenyum. “Tapi kau rupanya bangun pagi sekali.”
Liang-nio tida menjawab hanya panggil babu Ali-ma buat anterin lagi sacangkir thee.
Siok-ing tau yang Liang-nio rupanya kurang seneng hati sama kajadian semalem, maka ia lantas berkata: “Saia harep kau tida ketiyl hati sama kajadian tadi malem. Sabetulnya bukan saia punya maksud buat setori, tapi terpaksa saia musti perbuat begitu, kerna saia tida ingin liat lain orang permainken kau.”
“Saia memang menyesel sama kajadian tadi malem,” mengakuh Liang-nio. “Itu kerusuan cuma bisa diterbitken oleh orang-orang yang tida tau kasopanan.”
Siok-ing merasa malu sama itu perkata'an. “Sabetulnya itu semua bukan saia punya salah,” ia coba menjawab dengen belahken dirinya. “Saia gunaken kasopanan buat terhadep sama orang yang sopan, tapi buat terhadep sama orang yang biadab, seperti itu anak dari Sourabaya, saia musti gunaken kakasaran, la pantes dapet ajaran.”
“Kalu kau niat berklai tokh tida mustinya bertempat di lain orang punya rumah?” berkata Liang-nio yang merasa sedikit penasaran.
“Keada'an meminta begitu,” jawabnya.
“Justru orang yang tida bisa liat keada'an ada orang yang kurang sopan. Laginya kau suda berklai bukan dengen cara semustinya, kau suda berlaku curang............”
“Liang,” memutus Siok-ing sembari majuken krosinya, “kau tokh tida musti menudu saia begitu. Kau musti tau yang saia ada belahken kau.”
“Saia tida mau dibelah dengen jalan begitu; kau serang musu yang tida bikin penjaga'an, itu sebabnya saia bilang kau curang.”
“Kau rupanya sengaja mau ciari setori,” Siok-ing berkata pulah yang hatinya memang terkenal gampong penasaran. “Kau ada satu orang yang kurang trima. Saia belahken kau tapi kau menyelah.”
“Saia musti menyelah buat perkara yang pantes dicelah dan justru kau punya sikep pantes dicelah.”
“Saia nanti minta pertimbangannya kau punya ayah, di situ kau nanti mengerti yang kau punya cielahan ada kliru, ada tida adil,” sembari berkata begitu Siok-ing berpamit pergi dengen hati rasa mendongkol.
Liang-nio sikepnya tinggal sabar dan tida lama kamudian ia juga berjalanan masuk.
SIOK-ING terus menuju di mana iapunya tempat pakerja'an. Ia tida bisa lakuken pakerjaannya seperti sari-sarinya, kerna iapunya pikiran ada terlalu ribut. Ia selalu bayangken itu probahan dari sikepnya Liang-nio terhadep padanya. Menginget itu ia jadi sanget menasaran sama itu anak dari Sourabaya yang menyadi symbool dari itu probahan tida enak. ia ingin dikasi satu kans buat remas lehernya itu orang.
Dalem itu kantoor ia rupanya tida beta tinggal duduk, sabentar berdiri sabentar jalan dengan ti-da tau apa yang musti dikerja. ia ingin jarum lonceng memuter seperti titiran buat lantas pulang kerja dan jumpahin ayahnya Liang-nio, atawa kalu perlu, ia nanti bikin peritungan lagi pada Tjhiang-in sampe yang memuasken sabelonnya siapa angkat kaki dari tanah Menado. Ya, ia musti bikin beres itu peri-tungan dengan cara laki-laki, ia tida sudi telen itu hina'an yang orang kataken ia ada curang. Jau dari tempat kalahirannya, ia mau bawa dirinya tida jadi lain orang punya buah tertawa'an. Begitulah ia su-da ambil katetepan.
“Waktu ia duduk kombali di mana iapunya meja tulis, ia dapetken di situ ada banyak kertas-kertas yang bekas baru katuwang tinta. Dengan sigra ia kakokin jongos yang biasa bikin bersi itu tempat.
“Siapa yang bikin tumpah ini tinta?” ia menegor pada sa'orang bangsa Bugis yang jadi jongos dalem itu kantoor.
“Barusan saia bikin bersi ini meja, tuan, dan tida sengaja saia telah bikin jato tempat tinta.” jawab-nya sembari meminta ma'af.
“Apa kau tida punya mata?!” membentak Siok-ing dengen mata melotot. “Kau bekerja seperti ba-bi............”
“Saia tida sengaja, tuan............”
“Tutup kau punya mulut.”
“Tuan sendiri tanyah saia dan saia menjawab, tapi sekarang tuan minta saia tutup mulut........”
“...........Babi! Kau mau melawan?!” sembari ber- kata Siok-ing lantas berdiri dan sigra dorong itu jon-gos sampe mencelat brapa meter.
Lain-lain kawan yang bekerja dalem itu kantoor lantas dateng pisaken.
Siok-ing agaknya masih tida puas kirim itu satu pukulan, ia hendak kirim lagi runtunannya, tapi dicega oleh kawannya.
Ia cuma bisa tinggal memaki.
Itu jongos trima itu pukulan dengen tida melawan, hanya denge amat sabar berjalan pergi. ia tida berkata apa-apa maski satu perkata'an.
Siok-ing kombali lagi di mana mejanya dengen hati masih mendongkol kebaniyakan buat dirinya itu anak dari Sourabaya.............
TU perlain yang teryadi itu malem antara Tjhiang-in dan Siok-ing, ada seperti membawa alamat apa-apa, begitu kerna hari siangnya ‘ncek Hok-po daptet sakit demem, yang mana dikwatirken ia tida bisa lan-jutken perjalanannya begitu lekas.
Hal mana karuan saja bikin Tjhiang-in merasa tida gumbira, ia kwatir ayahnya daptet malaria, ia hendak panggil dokter tapi itu orang tua menampik.
Tiong-sin, Tek-lok, Hian-ling dan Koe-kway juga dateng di situ dan nyataken menyeselnya kutika daptet kabar itu orang-tua daptet sakit, tapi marika perca-ia itu penyakit cuma disebabken lantaran terlalu cape dan bakal sembu kombali dalem tempo tida la-ma kamudian.
Tjhiang-in jadi tida terlalu kasepihan tatkala ka-wan-kawannya ada dateng. ia merasa daptet banyak hiburan.
Marika pada beromong lain-lain hal dan sebagian urusan Thee-hwee tadi malem tapi tentang itu per- kleian tida ada dalem itu pembicara'an.
Seperti orang yang baru inget apa-apa, dari sam-ping Koe-kway lantas berdiri:
“.,Tadi pagi saia suda ukor lebarinya saia punya pelateran,” ia kata. “Saia rasa suda sampe cukup buat tempatnya orang bergulet maski sampe ada yang mampus. ‘Nko Cihang-in, apa boleh saia atur itu perklaian pada besok pagi-pagi?”
Cihang-in belon sempet menjawab kapan Tiong-sin lantas berkata:
“Kau sendiri pengecut mau adu orang........”
“Ayam prempuan mana bisa punya nyali lelaki?” menumpang Tek-lok sembari ketawa.
Koe-kway merengut: “Jadi kau namaken saia ayam prempuan?” ia berkata dengan suara penasaran. “Kau jangan sembarangan namaken anaknya orang. Kau boleh bilang terus terang kalu kau mau cari perkara.”
Tiong-sin dan Tek-lok sengaja tida menjawab ker-na tau Koe-kway mulai mau kluar tanduknya, hani-ya tinggal mesem saja.
“S AIA bukan maksud adu ‘nko Cihang-in,tapi saia ada maksud buat majuken tanah Menado,” berkata pulah Koe-kway, “sebab di sini tida ada permainan boks seperti di lain-lain tempat, agar kita punya kota tida katinggalan. Bagimana kau mau kataken saia adu orang dan upamaken saia seperti ayam prempuan?”
Kombali Tek-lok tida mau ladenin, sementara Cihi-ang-in cuma awasin dengen bersenyum.
“Kau jangan sembarangan namaken anaknya-orang,” Koe-kway terus menggrendeng. “Kalu perlu saia brani berklai maski pada siapa juga asal itu orang tida pegang senjata. Apa kau kira saia penge-cut? Saia boleh mati kalu saia mustinya mati. Apa dengen begitu kau mau namaken saia............... ayam prempuan?”
Tek-lok tinggal tunduk, sementara Cihang-in lan-tas pegang pundaknya Koe-kway sambil berkata:
“Harep kau tida marah, ‘nko Koe-kway. Perkata-annya ’nko Tek-lok buat mainan saja.”
“Kalu buat main-main saja tida apa,” jawab Koe-kway yang hatinya memang gampang dingin. “Tapi kalu itu ayam prempuan diartiken sunggu......... Akh! ‘nko Cihang-in, apa kau tau kawahnya gunung Merapi, bagimana kalu ia tumpahken marah, tapi untung kau minta saia tida boleh marah. Saia bisa marah heibatnya bukan buatan.”
Cihang-in kombali tepok-tepok pundaknya Koe-kway selakuh minta itu kawan sabar kombali.
“‘Nko Cihang-in, abis sekarang bagimana, apa saia boleh atur itu permainan boks?” Koe-kway kombali ulangken itu perkara. “Kau jangan ketiyil hati, saia nanti berfihak pada kau. Pendek kalu kau katitir, saia nanti pukol gong buat tanda mengaso kendati masih belon temponya mengaso; dan sebaliknya kalu kau punya musu kadesek. saia nanti larang buat kasi bunyi gong kendati suda sampe tempo mengaso. Pasti kau nanti menang dan kau boleh bi-kin itu musu sampe kalenger buat menyebut nama-nya.......... hongtee Lie Sie Bin.”
Semua orang jadi ketawa, sementara Koe-kway yang tida tau apa yang diketawain cuma tinggal melonggong saja, kerna tadi ia ada bicara dengen sunggu. Sebab suara ketawa semingkin keras hingga bikin iapunya muka jadi merah dan lantas bro- bah penasaran.!a sigra berdiri dengan cincing tangan baju, sementara matanya terputer seperti singa. la rupanya marah betul-betul, marah bukan buatan!
“Siapa mau tantang saia berklai?” ia berseru. “Apa maksudnya kau orang ketawa?”
“Kita ketawa sebab kita merasa girang denger kau punya bahasa melayu begitu tinggi,” menjawab Tek-lok, “Kau upamaken diri sendiri seperti bekerja-nya gunung Merapi kalu kau justru marah; itu ada satu runtoonan perkata'an yang berarti begitu dalem seperti dalemnya lautan Atlantic. Dan lagi kau ada menyabut namanya Hong-tee Lie Sie Bin, me-ngunjuken kau punya pikiran yang tinggi seperti tingginya............... sorga, satu tanda kau keyang sama buku hikayat. Apa kita tida boleh ketawa lantaran kau ada kita punya............ sobat?”
Mendadak Koe-kway punya keada'an seperti api kena kasiram aer. Itu ada satu pujian yang menyocokin betul sama iapunya angen-angen. Iapunya muka lantas brobah terang, dan bibirnya melukiskan satu senyuman.
“Kalu begitu saia sendiri salah duga,” ia berkata sembari pegang tangannya Tek-lok. “Kasi tangan, ‘nko Tek-lok. Nyata kau ada satu orang yang baek. Tadinya saia kira kau ada batu bodas, tida tau kau ada batu inten,” ia berkata lebih jau sama iapunya behasa melayu yang tinggi.
Koe-kway tida bicaraken lagi perkara adu Cihang-in pada Siok-ing sahingga iaorang pulang. Iapunya pikiran penuh sama itu pujian muluk dari Tek-lok, dan lantaran itu boleh jadi yang menyebabken ia lupa hendak mengatur urosan boks.
KAPAN iapunya sobat-sobat suda brangkat pulang, Cihang-in masuk dalem kamar ayahnya yang ketemuken itu orang tua suda bangun tapi masih tinggal berbaring.
“Bagimana, ayah, apa kau rasaken ada enakan?” ia menanyah sembari duduk di sampingnya. “Saia rasaken badan masih meriang,” jawabnya. “Apa Tiong-sin dan yang lain-lain suda pulang?” “Barusan saja iaorang pulang. Ayah, apa kau tetep aken lanjutken perjalanan besok soreh?” “Saia belon bisa bilang............” “Saia pikir lebih baek kita tunda perjalanan lebih dulu, ayah, sampe kau jadi sembu betul. Tokh kita tida perlu kesusu atawa ada urosan penting?” Itu ayah berdiam buat sakutika lamanya, dan ka-median lantas berkata: “Kalu begitu kita nanti brangkat saja sama lain kapal............”
“Saia pikir begitu memang ada baek,” memotong Cihang-in yang merasa legah ayahnya tida ambil mau sendiri. Ia tadi kwatir kalu ayahnya tetep brangkat besok pagi sedeng kwarasannya belon begitu enak nanti bisa dapat halangan apa-apa di perjalanan tere-tama kalu di laut ada banyak ombak dan angin. “Dan jika besok pagi kau rasaken badan masih tida begitu waras”,—ia menerusken—“baek saia nanti panggilken dokter.” “Tida perlu, cuma nanti soreh kau boleh pergi rumahnya ‘ncek Bing-liong dan Hien-an buat kasi ta-u yang kita tida jadi brangkat besok pagi”. Sepanjang itu siang Cihang-in duduk menjaga di samping ayahnya sembari membaca buku. Ia banyak tida tau apa yang ia baca kendati saben-seben sinkap lembarannia. Ia kombali bakal kunjugin rumahnia ‘ncek Hien-an, di mana ia bakal berjumpah lagi pada itu Ratu Kembang dari Menado! Akh, inilah ada satu perkara yang ia tida terlalu inginken. Ia tida mau siksa hatinya lebih banyak dari apa yang sekarang ia suda dapat. Ia suda alamken sekian hal-hal yang tida enak, ia ingin lekas angkat kakinya dari kota................. Menado, dan ingin tida liat lagi romannya itu prempuan............ Tapi..........., tapi itu kainginan selalu kena dipengaruhin oleh serupa pengrasahan yang ia tida mampu tiptaken dalem perkata'an.
Oh, apakah artinya itu!
Nyata ia sekarang lebih ibook lebih gado hati sendiri daripada sabelonnya ia citiyipin lagi itu bibir buat kaduakalinya.
Ia masih inget teges kutika ia diatoken ciuman-nya di atas itu bibir, itu mata yang eilok ada tertu-tup dan manda sampe begitu rupa, tapi kenapa............ kenapa itu satu bibir juga yang ucapken itu perkata'an: “Justa, ia kasi keterangan tida betul!?”
Cihang-in romannya lantas brobah pucet dan mengunjuken satu kamasgulan.
Ia rasa kilru kalu itu nona ada cintaken dirinya dan lupaken itu hal tida enak dalem brapa taun berselang............
SAMUNGKURNYA Siok-ing di'itu pagi Liang-nio ketemuken ayahnya masih juga belon bangun kendati jarum lonceng suda mengunjuken jam 8 dan aer thee yang disediaken suda menyadi dingin.
“Begini waktu kau punya ayah masih tidur, apa kau tida trima pesenan, buat kasi bangoan?” tanyah iapunya tante.
“Ayah tida ada pesenan apa-apa,” jawab Liang-nio, “laginya ini pagi ia tida aken pergi kamana-mana.”
“Jam brapa semalem kau orang pulang?” “Ampir jam setenga satu............” “Begitu telaat,” memutus itu tante sembari minum koffienya. “Kau orang tentu dapet banyak ple-sir, tapi apa kau punya ayah tida mabok-mabokan?” “Ia ada minum tapi tida banyak..........” “Apa ada banyak tetamu yang kunjungin itu Thee-hwee?”
“Banyak juga,” menjawab Liang-nio dengan ca-ra tida begitu bernabsu. Ia ingin tida bicara banyak berhubung jalanya itu Thee-hwee, sebab di situ ada membawa peringatan yang mudiyidat.
“Begitu besar ‘ncek Bing-liong taro perhatian sama iapunya tetamu,” menerusken itu tante. “Bo-leh jadi marika punya perhubungan dagang suda berjalan lama dengen baek dan sampe menyadiken satu persobatan.”
Liang-nio ampir tida dengerken itu semua perka-ta'an, kerna justru itu sa'at iapunya pikiran menyebrang pada itu kejadian-kejadian yang sabentar suda bikin iapunya roman brobah pucet, dan sabentar brobah merah dengan hatinya berdebar............ Tapi, apakah betul-betul 100% ia dalem penasaran?
“Jadi sama kapal besok marika aken brangkat?” kombali itu tante menanyah yang rupanya ambil perhatian juga atas dirinya itu tetamu dari Sourabaya.“
“Begitu katanya suda ditetepken,” Liang-nio terpaksa menjawab sembari kepala tunduk.
“Oh, ya, bukankah Siok-ing juga tadi malem ada turut dateng? Dan apa ini pagi ia tida singga kemari?”
“Ya tadi malem turut dateng sama-sama kita-orang, dan ‘barusan tadi ada singga kemari sabentar.’”
Marika punya pembicara'an jadi terputus oleh datengnya babu Alima sembari berkata dengan suara gugup.
“‘Ba besar suda bangun, dan barusan tumpah-tumpah............”
Liang-noi dan tantenya sigra hampirin dalem itu kammar dan di mana iaorang ketemuken ‘ncek Hien-an duduk di pinggir pembarangan sembari menerkem guling.
“Kau kenapa, ayah?” tanyah Liang-nio sembari pegangin ayahnya.
Itu ayah tida bisa lantas menjawab kerna iapunya napas ada segal-segal. Liang-nio ibuk dan ambil minyak gosok dan lantas digosoken di atas lehernya itu orang-tua.
“Kau dapet sakit, ayah,” akhirnya Liang-nio berkata satelah tau badannya itu orang-tua ada dirasaken panas.
“Saia dapet demem,” jawabnya dengan suara lemah.
“Saia kira semalem kau terlalu banyak minum,” Liang-nio nyataken dengen menyesel.
“Bukan lantaran minum,” menyangkal itu ayah.
“Sabelonnya pergi saia suda merasa badan sedikit meriang............”
“Tapi kenapa kau terus pergi............”
“Saia tida enak, saia sungkan sebab suda jang-ji.”
“Waktu badan kurang waras tokh tida halangan buat kita tida dateng?”
“Saia pikir besok pagi Tjhiang-in baka‘ brangkat...........”
“Ya boleh brangkat, tapi tokh tida ada berhu-bungan sama kau punya ‘kwarasan,’ berkata pulah Liang-nio dengen............gemes, gemes sama dirinya itu anak-muda dari Yava.
“Tapi kita musti hormatken atas kita punya persobatan—ia ada baek sama kita, dan ia bakal brangkat besok pagi dengen tida tau kapan lagi kita musti ketemu.”
Liang-nio lantas bertunduk dan hatinya merasa terharu, tapi ia tida bisa tau perasahan apa yang bikin ia jadi terharu.
Ampir antero hari Liang-nio duduk menjaga dalem itu kamar sembari layani sang ayah punya kaperluan. Ia kasi minum itu ayah sama brapa biji aspirin.
Kutika hari suda menyadi soreh dan baru saja ia kluar dari kamar, di pertengahan ruwangan ia berpapasan pada Siok-ing yang rupanya baru pulang dari kantoor.
“Begini waktu kau belon mandi,” Siok-ing berkata sembari kasi slamet soreh. “Mana kau punya ayah?”
“Apa kau niat jugal omongan dalem perkara tadi malem?” Liang-nio menegor dengan penasaran dan kwatir. Ia kwatir itu anak muda betul-betul nanti ceritaken itu hal di hadapan iapunya ayah yang ju-stru sakit.
Siok-ing menggigit bibir tatkala dapet itu jawaban.
“Kalu saia jul omongan, saia jul omongan buat kau punya kabaeken,” ia menjawab.
“Itu tokh bukan kau punya perkara, dan saia ti-da ingin dapat kabaeken dari kau punya jul omongan............”
“Tegesnia, kalu begitce, kau.......... cintaken itu orang............”
Sorot merah diambu tersebar di antara itu urat- urat pipi yang alus. “Kau jangan bicara terlalu edan,” Liang-nio memotong.
“Edan?” Siok-ing meneges. Iapunya rasa meng- iri mendatengken kagemesan. “Kau sekarang terhadep saia ada lain sekali dari sabelonnya itu anak dari Sou-rabaya dateng. Sebab saia tau itu perbedahan, ma- ke kau kataken saia bicara edan?”
“Saia tida sangka kalu kau punya pri klakuan ada berobah begitu jau—tadinya kau berlakuh seperi ti orang yang hargain kasopanan, tapi sekarang.......”
“Sekarang lain?” memutus Siok-ing. “Sekarang lain, sebab kau juga lain terhadep saia.”
Liang-nio tida meladenin lebih banyak, hanya te- rus masuk ka dalem.
Siok-ing tida trima manda, hanya menyusul ma- suk buat ketemun ‘ncek Hien-an. la berpapasan pada babu Alima dan dari siapa ia dikasi tau yang itu ’ncek dapet sakit dan sekarang berbaring di kamar. la hampirin dalem itu kamar dan ketemuken ‘ncek Hien-an ada rebahan, tapi tida tidur.
“Apa kau baru pulang dari kantoor?” tanyah itu ‘ncek.
Siok-ing duduk di samping ranjang. “Saia barusan saja pulang dan singga kemari. Apa kau dapet sakit demem?”
“Saia rasa begitu, sedari mulai tadi pagi”
“Tapi bagimana sekarang, apa ada kurangan?”
“Sedikit kurangan.”
Siok-ing tida bicara banyak kerna kwatir menggang- gu temponya itu ‘ncek yang sakit, terutama ia ter- paksa tunda itu maksud buat mengadu-biru atawa aken cari muka berhubung sama itu kejad- dian semalem. la berpamit pulang zonder ketemu lagi sama Liang-nio. Tapi justru ia sampe diserambi depan; ia ketemu pada Cihang-in yang rupanya suda berdiri di situ sedari tadi. la jadi sedikit ter- cenggang, tapi ia tida kasi kentara tatkala ia menegor dengen suaranya yang ketus: “Ada urusan apa kau dateng kemari?”
Cihang-in memanggut dengen sabar dan kamudi- an lantas menjawab: “Apa kau musti perlu mau tau?”
“Saia ada teritung familie dari ini gedong.”
“Tapi tokh kau bukan teritung itu orang yang sa- ia aken ajak bicara,” menjawab Cihang-in sembari bersenyum yang bikin Siok-ing dadanya seperti dibakar.
“Kalu saia............ melarang?” ia tanyah.
“Kalu kau melarang, kau seperti aken nyalaken lagi itu api yang suda padem.”
“Apa yang kau mau artiken?”
“Saia artiken yang kau mau tantang perkara.” Siok-ing menggigit bibir seperti menahan gemes.
“Kalu kau niat bikin ruso dalem ini rumah, kepaksa saia nanti belahken itu perkara,” ia berka- ta. “Semalem kau suda unjuken klakuan tida pan- tes dihadepan nona Liang-nio, dan sekarang kun- jungin kemari, apa kau mau aturken ma'af?”
Cihang-in goyang kepala. “Itu ada perkara kecil, saia tida perlu aturken ma'af. Begitu memang ke- banyakan kapalsuannya lelaki: kalu terhadep sama prempuan sedikit eilok; tida ada apa-apa minta ma'af, rambut ketiup angin minta ma'af, batuk sedikit minta ma'af............
“Jangan melantur!” memotong Siok-ing yang ampir tida tahan sabar.
“Saia tida melanturr, sekedar saia bicara bagimana kabanyakan lelaki kalu berhadapan pada prempuan, sepuh dirinya begitu rupa. Tapi saia dateng kamari bukan niat ketemu pada Liang-nio dan haturken ma'af seperti tadi kau ada kira. Saia dateng buat ketemu sama ‘ncek Hien-an.”
Siok-ing duga'annya diyadi brobah lain, ia kwatir Cihang-in nanti mengadu-biru pada itu orang-tua dan dapat muka lebih dulu, laginya itu ‘ncek punya pergaulan pada itu anak muda kliatan ada begitu rengsep.
“‘Ncek Hien-an ada dalem sakit, saia rasa ada tempo kurang baek aken kau berjumpah padanya................”
“Sakit? Akh, saia menyesel”, menjawab Cihang-in dengan sasunggunya. “Tapi tokh tida halangan buat saia bicara barang brapa perkata'an, sekalian buat sambangin padanya?”
Siok-ing tida menjawab hanya terusken tindakan-nya kluar sementara Cihang-in tinggal berdiri dengan melonggong. Ia liat dalem itu ruwangan ada sanget sunyi, tida satu orang yang ia:boleh ajak bicara. Dalem keada'an begitu, sekunyung-kunyung di luar ada terdenger suara rusu. la menengok dan dapet liat Siok-ing ada bercecok pada satu orang yang sikepnya ada menakutken. Cihang-in sigra menghampirin ka luar dan nyata Siok-ing sedeng berhadapan pada satu bangsa Bugis.
“Kau cegat saia mau cari setori?” antara lain-lain Siok-ing ada menanyah pada itu orang. Yang ditanyah tinggal tida menjawab, hanya memandeng dengen tajem, tapi sikepnya ada mengawatirken.
“Apa kau ingin trima persen lagi seperti di kantoor tadi pagi?” meneges Siok-ing tatkala jalannya ada dihalangin.
“Justru itu ”persen“ tadi pagi yang sekarang saia aken kasi kombali.” menjawab itu orang Bugis. “Kau terlalu percaia sama kabranian sendiri hingga kau suda begitu enteng tangan..........!”
“Jangan banyak mulut!” memutus Siok-ing dengan murka, dan berbareng itu ia lantas kirim satu pukulan.
“Kau jangan harep bisa pukul lagi begitu merdika seperti tadi pagi!” berseru itu orang Bugis sembari menangkis, dan kamudian lantas tarik kluar satu Badi dari pinggangnya. Dengen itu senjata ia sigra tancepken dibetulan Siok-ing punya dada seblah kiri, hingga siapa suda jadi sempoyongan dan jato tengkurup dengen badan mandi darah. Itu orang Bugis lantas memburu dan hendak tanem pulah itu Badi buat kaduakalinya, tapi satu tangan yang kuwat telah sontak ia dari blakang hingga ia jadi mencelat mundur.
“Kau rupanya juga mau mampus!” berseru itu orang Bugis pada Cihang-in. “Kenapa kau campoor lain orang punya perkara?” zonder menanti yawaban ia sigra kirim satu tusukan, tapi Cihang-in keburu kelit dan pasang kuda-kuda buat sedia cara bagimana aken menangkis.
Waktu serangannya jato di tempat kosong itu orang Bugis jadi lebih kalap. Dengen zonder liat angin ia kombali menubruk, Cihang-in membales dan berbareng itu ia susulken satu pukulan keras yang mengenaken jitu dibadannya itu saingan, dan bikin siapa jadi berdiri limbung.
Cihang-in tida sia-siaken tempo. Ia susulken lagi brapa pukulan dan dengen sebat, ia lantas pegang itu tangan buat lepasken itu senjata.
Cihang-in tau diywanya ada dalem bahaya. Ia berkutet dengan antero tenaga sebab musunya bukan orang yang lemah. Lama sekali ia belon bruntung bisa rebut itu senjata. Dengan sa'antero kekowetan ia tahan itu senjata yang hendak di tancapken padanya, dan satu kali ia ampir saja tida kuwat menahan kalu itu sa'at ia tida keburu kasi tendangan di bawah perutnyia itu musu yang bikin sia-pa tenaganya jadi kurangan.
Cihang-in undang betul-betul kakuwatannya buat tida kasi lepas itu tangan yang ada pegang senjata, sekali lepas berarti terlepas juga iapunya selembar jiwa dari badannya.
Itu orang Bugis juga tida gampang manda. Brapakali ia coba lepasken tangannya buat ukurdadanya itu musu sama Badinya, tapi ia tida bruntung. Ia rasaken itu tangan yang memegang ada terlalu keras dan kuwat, tapi ia tida mau terpisa dari senjata kendati itu pukulan di bawah iapunya perut bikin ia mustinya bersambat.
Begitulah marika saling menerkem saolah-olah ker-boyang sedeng berklai.
Tambah seconde tenaganya itu orang Bugis kliatan tambah kurangan, napasnya tambah memburu.
Cihang-in tunggu ada kans yang baek buat rubuken itu saingan, atawa sedikitnyia bisa bikin terlepas itu senjata dari tangannya itu musu. Ia du- ga itu perguletan bakal berakhir lama, tapi tida nyana, mendadak itu orang Bugis lepasken senjatanya, jato di tanah. Cihang-in juga lantas lepasken musunya dan memburu canndak itu gaman. Wakte ia sedia lagi buat trima datengnyia serangan, ia dapt liat itu orang Bugis suda lari sedikit jau, sia-pa rupanya takut mati sama senjatanya sendiri.
Cihang-in juga tida memburu kerna keada'an-nya ada amat paya, ampir tida punya tenaga lagi buat berdiri tetep. Kringetnyia basa disekujur badan, napasnya segal-segal dan ia merasa sedikit lega tatka'a musunya suda lariken diri.
Ia menghampirin Siok-ing yang menggeletak seperti mayit dengen pakeannya penoh sama darah, matanya sedikit tertuutop, napasnya kendor.
“Nko Siok-ing, saia menyesel dateng terlalu telaat sampe kau dapetken satu tusukan,” berkata Cihang-in dengen rasa sanget kwatir sama keada'an-nya itu korban. “Dan lebih menyesel lagi saia suda lepasken itu jahanam........”
Siok-ing buka matanya klitan ada berlinang: “Ta-pi, tapi............... ‘nko Cihang-in,kau suda berbuat banyak guna saia............” ia paksa berkata dengen suara terputus putus. Berbareng itu sa-at ia kluarken satu treakan sembari tekep dadanya, dan di lain sa'at matanya tertuutop, bibirnya terkan-cing.....................
Cihang-in tida tau musti berbuat apa. Ia bingung tra karuan dan justru dalem keada'an begitu, brapa orang di luar menoblos masuk. Tida la-ma lagi rumahnya ‘nciek Hien-an suda diroobungin oleh banyak orang yang satu sama lain pada bertreak “Ada pembunuhan!”
‘Nciek Hien-an yang denger itu suara rusu lan- tas paksaken diri turun dari pembarangan, dan dengen di'ikut oleh Liang-nio iaorang lantas pada memburos ka luar.
‘Ncek Hien-an ’ampir tida percaia sama matanya sendiri waktu dapet pandeng Siok-ing manggeletak dengen badan mandi darah, dan di sampingnya ada berdiri Cihang-in dengen tangan masih pegang senjata.
Liang-nio mengluarken satu jeritan ngeri. Romannya sigra jadi pucet. Ia pandeng pada Cihang-in begitu rupa seperti mengunjuken besarnya iapunya marah:
“Kau............., kau! satu lelaki yang rendah, suda jadi satu pembunuhan!” ia berseruh sembari jarinya menuding pada Cihang-in “Ayah! ia jadi satu pembunuhan............, jadi satu pembunuhan!!!!”
Sabelonnya Cihang-in mampu kasi katerangan, brapa orang politie suda menoblos masuk dan tangkep padanya. Zonder banyak bicara itu orang-politie hendak borgol iapunya tangan, tapi ia lantas muntdur.............
“Apa kau mau melawan?! mau melawan politie?!! berseru salah satu dari itu hamba wet.
“Saia tida melawan, tapi.................”
“Tapi kau diyadi satu pembunuh!” memutus itu orang politie yang rupanya tida mau denger katerangan lebih jau. “Kasi kita itu senjata!”
Cihang-in tida membanta, ia serahken itu gaman yang masih ada bekas darah. Ia tida dikasi kasempetan buat tuturken duduknya perkara, kerna itu orang-orang politie terlalu percaia “kacerdikannya” sendiri bahua itu orang yang pegang senjata ada itu orang yang jadi............... pembunuhan— cuma itu gaman yang dianggop punya mulut dan dianggop menjadi satu bukti. Lantaran mana Cihang-in digiring ka kantoor politie dengen tangan diborgol!
‘Ncek Hien-an tida bicara apa-apa, ia klitan seperi orang yang baru mendusin dari impihan. Liang-nio pandeng itu anak muda yang ditudu jadi persakit, dengen sorot mata gemes dan jemu.
Samentara Siok-ing, itu korban, lantas diangkat ka hospital.
Dalem sakejep saja itu kabar pembunuhan telah tersiar diantero tempat dari kota Menado.
VII
Tida ada Ka'amanan zonder lebih dulu membawa
perusuhan, dan tida ada Kebeneran zonder lebih
dulu membawa kasalahan.
M. N.
‘N CEK Hok-po karuan saja jadi seperti gila waktu dikabarin bahua anaknya jadi satu pembunuhan dan yang sekarang suda ditahan dalem kantoor politie. Dengan tida pikir dirinya ada sakit, di'itu soreh juga ia lantas ganti pakean, dan ku-tika baru saja kluar sampe dipintu kamar ia ber-papasana pada Tiong-sin, Hian-ling, Tek-lok dan Koe-kway.
“Apa............., apa kau suda denger ‘ncek, atas itu kabar tida enak?!” Tiong-sin menegor lebih dulu. Itu ’ncek cuma memangut, bibirnya gume-ter tapi “tida bisa petaken perkata'an.
“Mari kita sekarang pergi rumahnya ‘ncek Hien-an, dari siapa baru kita nanti dapat keterangan pasti.” berkata pulah Tiong-sin. “Kau jangan gugup dan duka ‘ncek, kerna itu kabar belon tentu kalu betul dan lagi kita semua tida percaia kalu ’nko Cihang-in lakuhken itu kajahatan.“
Marika berameh pada menujoce ka Kema-weg, di mana marika ketemuken ‘ncek Hien-an suda ganti pakean dan hendak kluar.
“Kau hendak ke mana, ‘ncek?” Tiong-sin menegor lebih dulu sembari semuanya memandeng dengan mata sangsi.
“Kamana? Apa kau belon dapat denger?” bales menanyah ‘ncek Hien-an dengan setengah gugup.
“Apa betul di sini ada tempat teryadininya itu perkara yang tida enak?” menumpang Hian-ling dengan tida sabaran, sementara Koe-kway sedakepken kadua tangannya sembari mulut kemak-kemik seperti orang membaca kitab buat minta berkah sla-met buat dirinya itu anak dari Sourabaya.
“Betul, Cihang-in suda diyad'i pembunuh—Siok-ing suda jadi korban!” menjawab ‘ncek Hien-an dengan zonder bisa dicega lagi.
Oh! bagimana............... bagimana saia punya anak musti diyadi begitu,“ meratap ‘ncek Hok-po dengan kakinya tambah gumeter. ”Apa kau suda tau pasti, ’nko Hien-an, ia ada jadi pembunuhnyia Siok-ing?“
‘Ncek Hien-an baru tau kalu di antara itu tetamu ada ayahnya Cihang-in.
“Saia tau pasti, ‘nko Hok-po, dengan mata sendiri saia saksiken itu, dan saia menyesel musti kasi katerangan begitu.”
............. Oh, Allah! Gusti!!“ berseruh ‘ncek Hok-po sembari tangannya tekep iapunya batok seperti itu kepala dirasaken hendak pica.
“la gunaken senjata Badi yang ditancepken di atas dadanya Siok-ing,” menyambung ‘ncek Hien-an dengan lakuh tida sabar. “la sekarang suda ketangkep............”
“Tapi kau tida bilang yang ‘nko Siok-ing kena kebunuh............... mati?” menanyah Tiong-sin, samentara Koe-kway meramken matanya............
“Saia belon bisa bilang, tapi waktu ia diangkut ka hospitaal, ia masih bernapas............”
“Ailah yang tunggal! Malaikat yang baek! Bidadari yang berbudi! Nona yang manis!” meratap Koe-kway dengan sikep seperti bersembayang. “Tulung itu orang-orang yang kurang bruntung.”
“Apa sekarang kita musti bikin?” tanyah ‘ncek Hok-po.
“Pergi ka Hospitaal dan kamodedian pergi ka politie bureau,” yawab Tiong-sin.
Marika lantas pada brangkat. Sesampenya di itu rumah sakit, dengan gampang marika bisa ketemu sebab kebetulan dokter yang tilik itu korban ada kenal baek pada Tiong-sin.
Marika ketemuken Siok-ing ada tinggal rebah dengan keada'an seperti mayit. Matanya tertotuop, mulutna mengluarken busa, napasnya ada begitu enteng. Iapunya badan dislimutin sama kain panas sebates leher, di atas kepalanya ada dikomprees sama ys. Pendek dibilang, iapunya keada'an ada sanget menyedihken dan jiwanya ada sanget dikwatirken.
“Apa kita boleh harel buat iapunya kwarasan, tuan dokter?” Tiong-sin menanyah.
Itu orang berlimu angkat pundak: “Kita cuma boleh harel 25% dari 100. Iapunya luka ada begitu rupa.” duka ‘ncek, kerna itu kabar belon tentu kalu betul dan lagi kita semua tida parcaia kalu ’nko Cihang-in lakoshken itu kajahatan.“
Marika berameh pada menuju ka Kema-weg, di mana marika ketemuken ‘ncek Hien-an suda ganti pakean dan hendak kluar.
“Kau hendak ke mana, ‘ncek?” Tiong-sin menegor lebih dulo sembari semuanya memandeng dengan mata sangsi.
“Kamana? Apa kau belon dapet denger?” bales menanyah ‘ncek Hien-an dengan setengah gugup.
“Apa betul di sini ada tempat terjadinya itu perkara yang tida enak?” menumpang Hian-ling dengan tida sabaran, sementara Koe-kway sedakepken kadua tangannya sembari mulut kemak-kemik seperti orang membaica kitab buat minta berkah slamet buat dirinya itu anak dari Sourabaya.
“Betul, Cihang-in suda diyad i pembunuh—Siok-ing suda diyadi korban!” menjawab ‘ncek Hien-an dengan zonder bisa dicega lagi.
Oh! bagimana............., bagimana saia punya anak musti jadi begitu,“ meratap ‘ncek Hok-po dengan kakinya tambah gumeter. ”Apa kau suda tau pasti, ’nko Hien-an, ia ada jadi pembunuhnia Siok-ing?“
‘Ncek Hien-an baru tau kalu di antara itu tetamu ada ayahnya Cihang-in.
“Saia tau pasti, ‘nko Hok-po, dengan mata sendiri saia saksiken itu, dan saia menyesel musti kasi katerangan begitu.”
“............ Oh, Allah! Gusti!” berseruh ‘ncek Hok-po sembari tangannya tekep iapuna batok seperti itu kepala dirasaken hendak pica.
“la gunaken senjata Badi yang ditancepken dia-tas dadanya Siok-ing,” menyambung ‘ncek Hien-an dengan lakuh tida sabar. “la sekarang suda ketang-kep............”
“Tapi kau tida bilang yang ‘nko Siok-ing kena kebunuh............. mati?” menanyah Tiong-sin, sementara Koe-kway meramken matanya.............
“Saia belon bisa bilang, tapi waktu ia diangkut ka hospitaal, ia masih bempas............”
“Allah yang tunggal! Malaikat yang baek! Bidadari yang berbudi! Nona yang manis!” meratap Koe-kway dengan sikpe seperti bersembayang. “Tulung itu orang-orang yang kurang bruntung.”
“Apa sekarang kita musti bikin?” tanyah ‘ncek Hok-po.
“Pergi ka Hospitaal dan kamudian pergi ka politie bureau,” jawab Tiong-sin.
Marika lantas pada brangklat. Sesampenya di itu rumah sakit, dengan gampang marika bisa ketemu sebab kebetulan dokter yang tilik itu korban ada kenal baek pada Tiong-sin.
Marika ketemuken Siok-ing ada tinggal rebah dengan keada'an seperti mayit. Matanya tertootup, mulutnya mengluarken busa, napasnya ada begitu teng. lapunya badan dislimutin sama kain panas sebates leher, di atas kepalanya ada dikompres sama ys. Pendek dibilang, iapuna keada'an ada sanget menyedihkan dan diywanya ada sanget dikwatinke.
“Apa kita boleh harel buat iapuna kwarasan, tuan dokter?” Tiong-sin menanyah.
Itu orang berlimu angkat pundak: “Kita cuma boleh harel 25% dari 100. lapunya luka ada begitu rupa.”
“Apa sekarang ia tidur atawa......... pangsan?” “Sedari diangkut ia suda pangsan dan sampe sekarang belon bisa sedar kendati kita suda berdaya dengan kasi brapa inyectie.” Tida lama kamodien marika kombali dari itu hospitaal dan terus pergi dipolitie kantoor dan di mana marika pertama berjumpah pada Commissaris-politie. “Buat samentara waktu ia dilarang aken berjumpah pada siapa juga,” itu Commissaris kasi keterangan tatkala Tiong-sin minta ketemu pada Cihang-in. “Tuan commissaris,” menumpang Koe-kway, “apa kliwat pasti meneer Cihang-in jadi tukang dudet orang? Apa pasti yang itu bukan berbuatannya............ orang lain?” Itu commissaris tida begitu mengerti sama itu pertanyahan, tapi ia menjawab juga: “Sebab ia selalu mungkir jadi kita belon bisa tetepken apa ia ada itu orang yang lakohken itu percobahan membunuh.” “Kalu begitu tegesinya, politie taro duga'an pasti ia yang jadi pembunuhnya?” tanyah pulah Koe-kway dengen sikep sunggu-sungu. “Boleh jadi begitu, sebab bukti ada mengun-juken ia yang berdosa.” ‘Niyek Hok-po susut diyiyatnya yang basa sama kringet dengen setangan. Bibirinya pucet dan gume-ter sampe tida mampu buat turut bicara. “Bukti? Bukti apa, tuan commissaris?” Koe-kway kurang puas. “Itu senjata............” “Itu korban tokh suda dibenuh sama tangan?” “Tida! sama senjata tajem............”
“Kaga betul! itu percobahan membunuh yalah............... sama tangan!” “Bagimana kau bisa tau perkara?” tanyah itu commissaris dengen tida mau mengerti. “Saia ‘tau berdasar pemandangan yang luas. Kata bener itu korban dibenuh pake senjata, tokh itu senjata tida bisa menusuk sendiri kalu tida diker-jaken sama tenaganya tangan manusia? Sebab begitu, jadi pokoknyia perkara yang musti dipegang, ada sama itu tangan—itu tangan yang dipake bu-at membunuh.” Sabelonnya itu commissaris bisa menjawab, Koe-kway menyambung pulah: “Kau tadi bicara.perkara bukti, itu senjata, sabenernya itu ada salah seperti sama salahnya letter ”A“ dibaca ”Z“. Brapa banyak orang yang tida salah seringkali kejatoan bukti hingga menyusaken diri-nya lantaran berbuatan dari muse-museuna atau dari orang jahat. Maka pengadilan yang adil tida musti seret itu senjata buat kuwatken itu buk-ti, hanya yang penting, carilah itu tangan yang ker-jaken itu senjata masuk di dadanya itu korban.” “Kau bicara seperti satu advocaat,” menjawab itu commissaris sambil bersenyum. “Kau orang jangan kwatir, bagimana juga kita orang politie nanti bikin penyelidikan sampe teliti.” Waktu berjalan pulang Koe-kway angkat tindak-annya sedikit lebih gaga bahna sangking girangnya ia dianggup seperti............ satu advocaat! “Kalu ’nko Cihang-in kejadian kena perkara, saia nanti majue sebagai pembelahnya. Saia nanti belah padanya kendati bumi boleh terbalik dan setan liatken rupanya,” demikian ia bicara sendiri dalem hati.
Sedari itu soreh orang tida bisa bade bagimana nanti jadinya ‘ncek Hien-an kalu tida dapet hiburan dari kawan-kawannya Cihang-in. Sakombalinya dari kantoor politie, di tengah perjalanen, ia ketemu pada ’ncek Bing-liiong yang kebetulan cari padanya, dan te- rus ajak ia menginep di rumahnya.
Di mana itu rumah antero malem ia tida mampu tidur, tapi centung tida jadi kasepihan, kerna ‘ncek Bing-liiong Idan Tiong-sin selalu ada didampingnya de- ngen kasi banyak hiburan buat entengken itu rasa duka kwatir.
‘Ncek Hien-an waktu sampe di rumah telah di- sambut oleh Liang-nio dengen ditanyahin keada'an- nya Siok-ing.
“la belon bisa ditanyah keterangan,” manjawab itu ayah, “iapuna keada'an ada begitu rupa, dok- ter sanget kwatirken iapuna jiwa.”
“Kau lama sekali baru kombali, saia menunggu warta ampir tida sabaran.”
“Sebab kita orang terus ka kantoor politie buat tengok Cihang-in....................”
“Oh, ayah, kau masih mau tengok padanya?” ber- kata Liang-nio “la suda menyadi pembunuhnya kita punya familie, tida pantes buat kita............. inget lagi iapuna nama,” tida tau kenapa, aer-ma- tanya lantas menetes turun.
‘Ncek Hien-an tida bisa menjawab apa-apa, tapi dalem hatinya masih ada terkenang rasa kasihan atas dirinya itu anak muda dari Sourabaya yang baru sa- ja kemarennya masih bicara padanya begitu lemah lembut.
Liang-nio suda berada sendiran dalem kamarnya, ia lantas jadi termenug, romannya Cihang-in seper- ti berbayang di mukanya. Kamudian ia lantas inget bagimana dirinya suda pernah terpegang, suda per- nah tertiyum oleh itu orang yang ternyata sekarang menyadi satu pembunuh!.Pembunuh!
Sakunung-kunung ia kluarken satus treakan dan lantas recebuken dirinya di atas pembaringen sem- bari aer-matanya turun seperti pancoran.
.................. Oh! kau............ kau pembunuh! ia meratap.
CIHANG-IN waktu dibawa ka kantoor politie, tin- dakannya tinggal tetep dan sabar, cuma badan- nya klaitan lemah sekali lantaran itu perklaian. Anta- ra perkata'an-perkata'an yang masih berkumandang adalah itu nista'an dari Liang-nio yang tudu ia se- bagi satu pembunuh.
Tuan Homer, kepala politie, yang pertama preksa iapuna perkara. Satelah ia ditanyah pergi dateng, itu kepala politie lantas berkata:
“Kau punia kasalahan suda terang, kau jangan coba pungkir, kerna itu Badi, itu bukti, masih terpegang kau punya tangan waktu kau ketangkep.”
“Sunggu saia tida merasa lakuken itu kadosa- an,” Cihang-in menjawab. “Itu pembunuhan dilakaehken oleh sa'orang Bugis dan saia cuma dateng pisaken.”
“Lagi sekali kita bilang, kau jangan coba pung- kir, atawa kau nanti dapet ukuman lebih berat.”
“Bagimana saia musti bilang yang sabetulnya?” Cihang-in menanyah.
“Kau musti bilang yang kau mengaku jadi pem- bunuhnya, dengen begitu kau nanti dapet uku- man enteng.”
“Tapi, kalu saia bilang, yang saia bukan jadi pembunuhnya............?” Cihang-in menanyah pu- lah dengan penasaran yang anggop itu pamereksa'an amat tida necis, yalah orang disuru mengakuh barang yang tida betui.
“Kalu kau terus tida mengakuh, ini malem kau tida bisa tidur, kita nanti paksa sampe kau mengakuh,” ijawab itu kepala politie sambari amatin orang punya roman.
Cihang-in lantas ketawa yang bikin itu hamba wet merasa heran.
“Kenapa kau ketawa?”
“Saia ketawa liat tuan punya cara tanyah katerangan begitu rupa.” Cihang-in menjawab dengen tetep, “seperti juga di'ini jajan tida punya pengadilan selainnya orang mau merkosa............”
“Terpaksa kita merkosa sebab kau tida suka mengakuh.”
“Tuan mau paksa saia tida tidur buat sampe dapet saia punya pengakuhan? Sabetulnya ini malem saia kliwat tiape dan saia perlu dapat tidur............”
“Maka itu kau perlu mengakuh.”
“Tapi tokh itu pengakuhan nanti percuma,” ber Kata lagi Cihang-in dengen sikep begitu sabar.
“Kenapa percuma?”
“Dihadepan kau saia sekarang boleh bikin pengakuhan yang saia jadi itu pembunuh, tapi dihadepan hakim saia nanti bilang yang saia dipaksa musti kasi itu keterangan kliru lantaran saia diperkosa tida boleh tidur.”
Itu kepala politie berdiam, ia rupanya memikir bahua omongannya Cihang-in ada sedikit beralesan, lagiinya ia memang masih bersangsi buat tetepken Cihang-in apa betul berdosa, kerna ia dapat awasin dengan kacerdikannya bahua romannya itu anak
UTUSAN ALLAH muda tida ada mengunjosken sedikit rasa takut atawa gugup, hanya tinggal tetep dan gaga, yang tida pernah terdapat diromannya suatu orang yang lakuhkun kadosa'an.
“Tapi................., tapi apa sabenernya bukan kau yang berbceat itu kajahatan?” akhirnya ia menanyah seperti suda putus harepan.
“Besok pagi kau dapet kapastian kalu meneer Siok-ing suda ditanyah ‘katerangannya.’”
Besok paginya ‘ncek Hien-an kirim kawat ka Banjar-masin, kasi tau yang Siok-ing dapet itu kacilaka'an, dan kamudian, bersama Liang-nio iaorang terus ka Hospitaal.
Ia orang ketemuken itu pintu kamar dalem mana Sick-ing ada dirawat, masih ‘kliatan tutup. Iaorang sanggisi buat masuk, tapi berbareng itu satu jurce rawat ada mendatengin dengen lakuhnya yang hormat:
“Ia tadi malem diyam 3 baru bisa sedar dari pang-sannya,” mulai berkata itu juru rawat atas pertanyahannya ‘ncek Hien-an. “Saia kwatir ia sekarang masih tidur............ Sabentar saia liat,” ia masuk dan sabentar kluar kombali. “Ia suda banggun, tapi tuan dokter tadi pesen ia tida boleh diajak omong dan juga dilorang dalem kamar terdapat banyak orang.”
Marika pada bertindak masuk.
Siok-ing kliatan segeran sedikit dari kemaren. Ia tinggal rebah, dengen tida boleh bergerak. Ta'tkala dapet liat ‘ncek Hien-an dan Liang-nio, aer-matanya kliatan rada-rada berlinang. Ia agaknya mau bicara tapi dilarang oleh itu juru rawat.
‘Ncek Hien-an seret dua krosi buat ia sendiri dan Liang-nio duduk dideket‘ itu pembaringan.
Lama sekali dalem itu kamar yang sunyi baru kadengeran ‘nciek Hien-an berkata Siok-ing: “Saia harrep kau lekas baek. Kau jangan buat penasaran apa yang suda, apa lagi itu orang sekarang suda ketangkep dan bakal dapat bagiannya yang setimpal.”
“Ya ketangkep............?” meneges Siok-ing dengan suara paksa.
“Ya, ia suda ketangkep sedari kemaren soreh. Saia sunggu tida nyana, Ing, satu orang yang saia liat begitu baek dan sopan, bisa lakoahken percobahan membunuh............... Sunggu mati saia tida nyana.” berkata ‘nciek Hien-an, sementara Liang-nio melihat keada'annya Siok-ing dengan hati ngeri dan kasihan.
“Itu orang kau maksudken siapa, ‘nciek? tanyah Siok-ing yang tida mengerti.
“Saia maksudken, itu anak dari Sourabaya......... Bukankah ia yang tusuk kau............?”
“Oh Allah!” meratap Siok-ing sembari meremken matanya. “Apa ia yang ditangkep............ Gusti!”
‘Nciek Hien-an dan Liang-nio diyadi binung. Ia kwatir utakna Siok-ing tida beres.
“Betul, ia yang ditangkep,” menjawab itu ‘nciek.
“Gusti! ia tida berdosa........ ia tida berdosa.” Siok-ing berseruh sembari buka lagi matanya. “Denger, ia tida berdosa, malah ia jadi saia punya penelung hingga saia bisa bernapas sampe sekarang............”
“Coba, terangken duduknya perkara,” meminta ‘nciek Hien-an dengan gugup, dan Liang-nio juga kesima.
Kendati oleh itu juru rawat sudah dilarang tapi Siok-ing paksaken diri buat kasi keterangan duduknya perkara.
Ia tuturken cara bagimana itu orang Bugis sudah tikem padanya dan cara bagimana Cihiang-in diyadi iapunya penelung hingga diywanya sendiri terancem bahaya. Lebih jau ia kasi tau bagimana seruh Cihiang-in bergulet pada itu orang Bugis yang bisa diupamaken sebagai macan yang sadeng berklaai dan bagimana akhirnya Cihiang-in beruntung bisa rebut sendiyatanya itu orang Bugis; cuma begitu apa yang ia tau, kerna itu kutika ia lantas mendiadi pangsan.
‘Nciek Hien-an diyadi termenung waktu denger abis itu penuturan, sementara Liang-nio berdiri hampirin ayahnya dengen zonder bisa ucapken satu patah perkata'an. Tangannya dirasaken dingin, badanya layu dan tiga tetes aer mata ada mangalir tu-ruon.
“Guna saia, tulung ‘nciek, lepasken ’nko Cihiang-in dari tahanan,” berkata pula Siok-ing. “Atawa kalu perlu Commissaris-politie bisa dapat keterangan sendiri dari saia”.
Baru saja ‘nciek Hien-an dan Liang-nio hendak melangka kaluar, ada masuk satu politie-opziener bersama commissaris dengen niat dapat keterangan dari Siok-ing.
‘Nciek Hien-an hendak kombali lagi, tapi Liang-nio ajak itu orang tua teruk anterken ia pulang dan di tengah jalan kabetulan berpapasan pada Tiong-sin, Tek-lok, Hian-ling dan Koe-kway yang juga aken kunjungin Siok-ing.
“Kita barusan dateng dari Siok-ing” kata ‘nciek Hien-an. “Ia punya keada'an ada sedikit baekan dari kemaren dan kabar baek buat Cihiang-in.”
“Kabar apa?” tanyah Tiong-sin dengan tida sabar.
“La tida berdosa, tapi satu orang Bugis yang co-pha iakuheken itu pembunuhan.”
“Astaga Dewa yang becik!” berseru Koe-kway dengan berjingkrak. “Apa kau mau disumpah, ‘ncek?”
‘Ncek Hien-an melonggong. “Disumpah”...........?...“
“Disumpah yang ‘ncek kasi kabar tida salah......?...”
Tiong-sin pikir tida ada tempo buat main omongkosong, maka ia lantas ajak ‘ncek Hien-an pertama anterken Liang-nio pulang dan kamudian berameh pergi politie bureau, di mana marika ketemu ’ncek Hok-po dan Bing-liong yang sedeng bicara pada salah-satu politie opziener buat coba minta bicara pada Cihang-in.
Trausa dibilang lagi bagimana itu ayah,jadi berjingkrak bahna kagirangan tatkala dikabarin yang sang anak tida berdosa sebaliknya diyadi satu penelung. Berbareng itu sa'at, itu commissaris yang tadi dateng sendiri pada Siok-ing tanyah katerangan, juga suda kombali.............
“Kita suda kasalahan tangkep,” berkata itu kepala politie dengen suara menyesel pada marika. “Meneer Cihang-in tida berdosa, dan kita menyesel suda salah iakuheken penangkepan.”
“Daaarrrooom, diyadi saia punya pledoi kamaren, benernya bukan buatan!” menumpang Koe-kway. “Kemaren tokh saia bilang, itu Badi tida perlu diributin, yang perlu dicari yalah itu tangan yang kasi kerja itu senjata.”
Tida lama kamudian marika pada berdiumpah pada Cihang-in, ‘ncek Hien-an pegang tangan anaknya seperti ia pegang satu barang yang kwatir nanti menyadi ilang.
Nyata itu rasa kagirangan yang besar telah bikin satu sama lain tida bisa bicara banyak.
Cihang-in tida diyadi terprajiat waktu itu commissaris kasi tau yang ini hari ia dimerdikaken, sebab tida berdosa.
“Bukan saja kau tida bersalah,” antara lain-lain itu hamba wet berkata, “tapi juga kau suda menyadi satu penelung. Kwajiiban kita telah memaksa kita tida percaia sama kau punya katerangan kemaren. Kita harep kau tida ketiyil hati.”
Cihang-in memanggut dan berlalu dari itu kan-toor dengen tindakan amat sabar sekali, srenta itu senyuman ampir tida pernah menyingkir dari bibirnya.............
Berbareng itu jam juga kota Menado masih berbisik oleh suaranya itu orang-orang yang tu-rut angin dengen bilang Cihang-in menyadi satu pembunuh. Dan‘ sekarang marika kacelek, Cihang-in tida berdosa, malah ia sendiri ampir jadi korban-nya itu orang Bugis punya Badi justru cuma belahken Siok-ing punya salembar jiwa.
Liang-nio kutika idianterken pulang oleh ayahnya, ia terus sikep dirinya dalem kamar dan di mana ia menangis sesegukan. Nyata ia suda menduga begitu curang, begitu renda atas dirinya Cihang-in, itu orang yang ia............. benci.
Mendenger suara tangisan, ia punya tante lantas masuk dan menanyah, dengen bingung.
“Kau kenapa, kenapa kau menangis?” Liang-nio cuma susut aer-matanya.
“Bilang, Liang, kenapa kau menangis?” Liang-nio tinggal tida mau menjawab. Iapunya ka'angkuhan melarang buat ia ‘bicara apa-apa tentang dirinya itu anak dari Sourabaya.
Sampe hari menyadi soreh, soreh menyadi malem, malem kombali pagi dan ipagi kombali siang, Liang-nio lebih banyak berada di kamar daripada diluear. Dan di'itu waktu siang, kebetulan ayah dan tante-nya pada tidur, ia sendirian dosduk diruwangan tengah sembari tangan buka lembarranya buku tapi tida tau apa yang dibaca. Tida lama ia denger tindakan kasut mendatengin dari luar, dan kutika ia berpaling, ia diyadi terprajiat dapat tau siapa yang mendatengin. Iapunya roman mendadak brobah lebih pucet, ia berdiri dengan kaki gumeter, sa-mentara itu buku yang tadi dipegang jato terle-tak di media, tida brapa sa'at............... Tjhiang-in suda berdiri dihadepannya.
“Apa saia boleh ketemu sama kau punya ayah, nona yang baek?” Tjhiang-in menanyah sembari me-manggut dan selakuh jinaka, “sebab ini soreh saia aken tarik ia sebagai kita punya kawan.” Liang-nio romannya brobah merah, kamudian pu-cet kombali.
“Ayah masih tidur,” jawabnya sama bibir gume-ter.
“Kapan kiranya bisa bangun, nona yang baek?” Liang-nio unjuken roman penasaran, tapi ia men-jawab juga.
“Saia tida tau kapan bangunnya.” “Apa kau bisa ‘tulung, nona yang baek, buat ka-si tau yang sabentar soreh saia dateng lagi kema-ri?”
“Kau bicara begitu rupa terhadep pada siapa?” akhirnya Liang-nio menegor dengan suara ketus. “Saia terhadep pada Liang-nio, itu Ratu Kem-bang dari Menado, itu nona yang baek suda gelar-ken satu orang sebagai satu pembunuh zonder itu orang dikasi kasemptan buat belahken diri...
............“
“Kau..........., kau menyendir!” Liang-nio berse-ruh dengen dada berdebar. “Saia tokh bilang sabetulnya, nona yang baek?” berkata pulah Tjhiang-in sembari bersenyum. Zonder berkata lagi Liang-nio lantas tinggalken Tjhiang-in sendirian dan terus berjalan masuk.
Buat brapa sa'at Tjhiang-in melonggong, tapi katetepannya sigra dateng kombali, ia tida manda begitu saja. ia menengok kanan-kiri, dan didisket sit-tu ia dapat liat satu piano yang tutupnya masih terbuka. Zonder merasa lagi kalu dirinya ada di rumahnya lain orang, ia lantas hampirin itu piano dan dengen pelahan mainken itu laguh: “..I KISS YOUR LITTLE HAND, MY-LOVE.”
Waktu denger itu suara piano Liang-nio kombali menghampirin kluar dengen perasahan seperti bu-kan maunya sendiri, dan justru itu Tjhiang-in nyai-niyiken itu laguh sampe bagian:
I simply can't forget, My-love,
The first day that we met, My-love.
I kiss your little hand, My-love,
I die to kiss your lips.
Liang-nio merandek dan berdiri termenung tida jau dari Tjhiang-in. la tida tau musti berbuat apa, ia seperti berada dalem impihan. Suara piano fantas brenti dan Tjhiang-in hampirin padanya.
Berdua saling memandeng seperti terkena pengarohnya jimat dari dukun yang sakit.
Dengan tida terasa Liang-nio mengalirken aer-mata yang menetes turun berketel-ketel............. Oh, kamana iapunya ka'angkuhan?! Kamana?
Tjhiang-in bertindak lebih deket dan lebih deket. Seperti Liang-nio ia pun merasa seperti sumanget-nya ilang separo—ia dapet liat itu aer-mata yang ia masih sangsiken apa artinya.
............ Liang, kau............, kau menangis,“ ia berkata dengen suara tida lampias.
Itu gadis tida menjawab hanya terus bertunduck.
Sebagi ada pengaru apa-apa yang dateng kisikin, Tjhiang-in sigra pegang itu kadua tangan yang ia rasaken dingin sekali. Berbareng itu sa'at Liang-nio suda berada dalem pelekannya.
............ Liang, bilanglah kau cintaken saia, My-love.“ ia berbisik.
Yang ditanyah tida menyaut tapi tinggal meram.
Tjhiang-in tida perlu tanyah lagi, sebab ia rasaken jalannya sang seconde ada amat berharga, hanya ujani itu roman yang rebah di atas tangannya sama aer'mbun yang berupa cuman, sementara Liang-nio rupaken dirinya ibarat kembang kakeringan yang tinggal manda trima itu tetesan ujan dari aer'mbun.............
“Sedari ini menit kau bakal tida terlepas lagi dari saia,” berbisik Tjhiang-in, “Saia nanti ajak ayah buat dateng melamar, buat lamarken kau sebagai saia punya istri............ Cuma buat sekarang saia masih ada kakurangan sama ‘kau punya tiga perkata'an................”
Satu suara yang lemah dengan kepalanya tida ter-
UTUSAN ALLAH angkat, Liang-nio ada menjawab: ‘Nko.........., saia cintaken kau.“
Pembaca, siapakah bisa lukiskien itu rasa girang dan bruntung dari Tjhiang-in?
Ia tida pernah impihken dateng lagi di Menado, en tokh, seperti dengen maunya ALLAH, ia kombali di'itu tempat dan bakal punyaken itu Ratu Kem-bang dari Menado buat selama-lamanya............!
Pembaca, apa ada lain kagirangan yang bisa ungkuli, Dari kagirangannya sa'orang yang menyinta dicinta kombali? Kalu ada, pasti itu orang ada satu penjusta aseli, Seperti justanya duit satu cent dibilang............ setali.
M. N.
Dalem keada'an seperti dalem dunia cuma terisi ia berdua, itu sepasang merpati tida tau, kalu di-deket luar pintu ada satu orang yang mengintip dengen sikep seperti sa'orang yang karongsokan setan. Itu orang bukan lain hanya............ Koe-kway, yang kebetulan susul Tjhiang-in dan menampak itu pemandengen dari tamannya Amor.
Zonder pamit lagi, dan zonder dapat diliat, ia mencolot lari dan terus menuju ka rumahnya Tiong-sin pada siapa ia wartaken itu kabar girang dari Tjhiang-in.
“Saia girang............, saia girang kalu ia bruntung, sebab ia ada sa'orang yang baek,” Koe-kway menyataken dengen napas segal-segal dan tida sabaran.
Tiong-sin tida heran malah merasa sukur, kerna paling ‘blakangan ia sanget sympathyie atas persobatannya sama itu anak-muda dari Sourabaya.
Zonder mengaso Koe-kway sendirian terus menu- ju ka rumahnya Tek-lok, dan Hian-ling. Pada siapa ia tuturken itu kajajan.
“Sunggu mati saia tida duga ada terjadi itu kabar yang girang,” antara lain-lain ia berkata.
“Apa kau tida kliru?” tanyah Tek-lok.
“Kliru? Kau jangan tanyah begitu, saia nanti bisa jadi satu pembunuh. Dengan mata sendiri, yang bisa liat lobang jarum dibagi 1000, saia dapet awasin saterangnya............ Malah............ malah Liang-nio rebahken kepalanya di tangannya ‘nko Tjhiang-in seperti dulu saia biasa dipondong ibu.”
Dalem tempo sakejab saja itu warta yang girang telah menjalar kian-kemari bahua Ratu Kembang dari Menado sekarang suda ada yang punya.
Koe-kway kombali pulang di rumahnya dengan bajue basa kringet, gorokannya aus, badannya lelah...
“Akh, saia jadi Radio zonder kawat,” ia berka'ta sendirian sembari bersenyum selakuh sa'orang yang baru ketemuken pendapatan baru. Ia rebahan di atas pembaringan, dan dalem sekejeb ia suda jadi kapulesan. Ia dapat mengimpilh Tjhiang-in dan Liang-nia jadi sepasang penganten, sementara rumahnya ‘ntiek Hien-an adaken pesta besar. Tetamu-Tetamu yang diundang antaranya ada dirinya sendiri. Ia menyadi itu orang yang pertama pegang seglas anggur buat kasi slamet pada penganten. Semua pada berdiri berjejel diblakangnyia buat tunggu giliran.
Koe-kwaij memberi slamet pada berdua penganten.
“Sudara Tjhiang-in dan nona Liang-nio yang bi-jaksana,” ia mulai speekh sembari angkat itu seglas anggur, “bersama ini saglas anggur ada terisi sama anggur sungguan terbikin oleh fabriek ‘Good Luck’ di Amerika. Itu fabriek terdiri sampe sekarang tida kurang dari 100 taun, dan demikianlah saia harep sudara berdua punya pernikahan dan umur nanti membawa kakekelan seperti keada-anniya itu fabriek anggur. Lebih jau diminta pada Allah yang Maha Gusti, jau dari karewelan deket sama karokeknun seperti deketnya sudara sekarang saling ‘bergandengan. “—ia berdehem—” Satu perkara yang saia minta poma-poma, yaloh sudara, satu sama lain jangan suka merenggut, sebab nanti bisa datengken setan didalem rumah. Harep sama menyinta, upama sabiji beras di bagi dua; satu sama lain jangan suka menjusta, nanti bisa menggugurken kapercaia'an. Demikianlah adanya, harep sudara simpen dalem hati, jangan sampe dilopeaken............... Hupp! Hore! Hupp, hore! Hupp bu-kan buatan!!!“
Itu ruwangan jadi sanget riunya.
Mendadak Koe-kway mendusin dari tidurnya, dan tau kalu itu semua cuma terjadi dalem impihan. Ia duduk susut kringetnya.
“Yesus Cristus!! jadi saia cuma mengimpiah? Astaga firullah!”
SETENGAH taun kamudian nyata Koe-kway punya impihan berbukti.
Pada suatu hari dari tanggal 1 hari minggu di rumahnya ‘ntiek Hien-an telah dirayahken hari nikah-nya iapunya putri, Liang-nio, pada Tjhiang-in. Itu pesta ’berdiyalan sanget rameh dan gumbira teruta-ma penganten lelaki dan prempuan unjuken roman berseri-seri seperti juge marika suda bayang-ken hadepin satu penghidupan yang bruntung sampe di hari kamudian.
Seperti dalem impihannya demikian juge Koe-kway menyadi orang pertama yang kasi slamet pada penganten dengen iapunya perkata'an-perkata'an yang tida lebih tida kurang seperti pernah diucap-ken dalem itu............. impihan. Nyata iapunya, impihan berbukti dan tida percuma.............
Cuma sebagi penutup dari iapunya Yanswat, ia tambahin: “Ini malem sudara berdua bisa dianggep sebagai Hongte dan Honghouw. Maka kita min-ta, kalu Hongte kluar pintu atawa bergaul pada sobat-sobatnya, teritung juge Koe-kway, jangan Honghouw iket sama vergunning, sebaliknya kita minta juge pada Hongte, jangan gunaken itu kamer-dika'an dengan semau-maunya sendiri yang nanti bisa menyebabken murkanya Honghouw.........”
Tepok surak rameh sekali buat sambut itu speekh yang rupanya sanget menarik.............
EBIH jau bisa diwartaken, Siok-ing diminta oleh familienya kombali ka Banjarmasin satelah luka-lukanya sembu. Ia kirim p. f. berikut satu bouquet waktu itu pernikahan dari Tjhiang-in dan Liang-nio sampe dan ia nyataken turut girang atas terangkep-nya itu perjodoan.
Sementara itu orang Bugis tida terleput dari matanya politie yang cerdik. Padanya wet kasi ganjaran satimpal atas itu kadiyahatan yang ia laku-hken.
Sedeng Gui-nio, itu kawan picnic ka Sario dari Tjhiang-in, saterusnya jadi satu sobat yang kekel dan saling percaia.
Sampe ini cerita ditutup, pergaulan di Menado ada kliatan sanget aman dan rukun. Tjhiang-in, di sampingnya Liang-nio dan di samping itu pergaulan dari sobat-sobatnya yang rukun, suda lupaken kota Sourabaya, ia sekarang turut teritung jadi salah- satu penduduk di'itu tempat; hal mana sanget didukaken oleh iapunya kawan-kawan di Sourabaya.
Liang-nio yang tadinia tida begitu suka bergaul, kita harel di bawah pimpinannya iapunya suami, nanti suka terjunken diri dan bekerja banyak guna “Fu Nie H's‘h Khin Hwie,” satu vereeniging di Menado yang utamaken kapentingan kacem prempuan, di bawah pimpinannya nona-nona Ho Sien Yuan, Cia Han Nio dan lain-lain.
My best wishes!
TAMAT.
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.