BLORA
PRAMUDYA ANANTA TUR
KOLOFON
BLORA
oleh
PRAMUDYA ANANTA TUR
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Koleksi Pribadi Muhammad Reza Magistra
Ilustrasi sampul: Untitled (Woman and Child in War Landscape) 1938, karya David Bekker
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam. com
BLORA
Saudara! Engkau tahu apa yang dicita-citakan oleh tiap tawanan? Engkau pasti tahu! Keluar—mendapat kebebasan kembali, hidup bergaul dengan kawan, saudara dan sesama manusia. Buat saudara, mungkin perkataan “keluar” itu tak memberi kesan apa-apa. Tapi buat tawanan dan bekas tawanan, kata itu alangkah merdu menggairahkan. Sama saktinya dengan lagu kebangsaan.
Dan hari ini, saudara, alangkah senang. Mengapa tidak? Serdadu penjaga ber-lari-larian masuk ke dalam kamp. Voorman dipanggil. Dan keributan ketil itu semata-semata hanya untuk kesenanganku. Begini, saudara. Voorman kembali dari kantor kamp dan berteriak, “Pram”! Aku jua berteriak menyahut. Dan dia meneruskan, “Kau dibebaskan. Kumpulkan semua barang inventaris”. Seperti gagak dilempari batu datang saja seruan dari mulutku, “Oke—oke.”
Aku lari masuk ke dalam selku dan mengemas pakaian, alat tidur dan alat makan. Kawan-Kawan ramai memasuki sel mengadayuk tukar pakaian. Dan banyak pula yang berdiri menutup pintu dengan mata kuyu. Ada yang mengucapkan syukur dan ada pula yang menggerutui nasibuya. Dan aku terharu. Memang ada saat-saat manusia akan terharu betapa diya pun akan materialistinya. Terutama waktu aku berjalan ke kantor kamp dan mereka mengacu-ngacukan tinjunya sambil memekik lemah. “Merdeka! Merdeka! Jangan lupa pada penjara! Jangan lupa pada perjuangan.” Kemudian teriak nyaring yang tak kan mungkin bisa kulupakan seumur hidup. “Keju enak, bung. Dan susu kental membuat buta!” Dan aku tak bisa menyawab satu per satu. Kepalaku tunduk—tak berani menentang mata kawan-kawan yang masih menderita.
Pintu besi yang pertama dibuka. Aku melalui. Kemudian pintu itu dikunci pula. Dan di belakang penghalang yang setinggi dua meter ini kawan-kawan menurutkan aku dengan matanya yang kuyu. Barang inventaris kuserahkan. Dan semua bawaanku digeledah. Apa yang akan didapatkan daripada aku? Hanya pakaian yang kupakai dan satu setel lagi dan beberapa buku. Kemudian aku menerima surat ontslag yang pada bagian bawah ada capna begini, “de facto krijgsgevangenen kamp”. Dan hampir saja aku kena salah lagi. Aku tersenyum membataya tulisan itu. Pandang tadiyam mengunci senyumku. Sebentar kupandang kawan-kawan yang memoncongkan hidungnya di-sela-sela jari besi.
Pintu besi kedua aku lalul. Kawan-Kawan di balik pintu masih mengacu-acukan tinjunya. Dan mata yang kuyu dadi berapi-api meneriak pandang “Merdeka! Merdeka!”
Aku sampai dipintu ketiga. Sekali lagi aku menengok. Kemudian hilanglah kawan-kawan itu dari mataku. Dipunggungku tersengkang tas dari terpal. Tas ini kubuat dikamp, sedang bahannya kudapat dari mencuri waktu aku kena kerjapaksa dibengkel militer. Isinya satu setel pakaian pendek, satu buku Weststrate, satu buku Exupery dan Tagore dan buku pelajaran bahasa Perancis yang tak pernah ku-pegang-pegang—seluruh kekayaan! Dan terkuncilah pintu yang ketiga itu.
Dan sekali lagi aku menengok ke belakang. Oh! Kotak yang aman. Hampir dua tahun aku dikurung dalam kotak itu. Tidak, saudara—aku tak berani menengok lagi. Pelan aku berjalan. Dan tiba-tiba hatiku sedih amat. Dulu aku percaya, kesedihan hanya timbul bila keangkaraan manusia tak terpenuhi. Tiap kali ini aku bersedih hati malah oleh tercapninya keangkaraanku—besar-besaran! Dunia yang penuh rahasia! Dan pada telingaku berdengkingan teriak kawan-kawan yang selalu didengkingkan pada kawan yang dilepas. “Wah, banjir malam ini!” Dan aku bertambah sedih.
Kini aku melihat matahari bebas lagi. Melihat simpang silur bebas pula. Semua yang kulihat serba bebas. Dan terasa sekali olehku, bahwa penglihatan manusia itu tergantung pada keadaan hatinya.
Saudara, engkau tahu apa yang kukerjakan selanjutnya? Mula-Mula begini: Aku makan sate di pasar Jatinegara—sekenyang-sekenyangnya. Dan kubayar belanya itu dengan satu ceyana pendek. Cica-Cica yang kedua terpenuhi. Kemudian ini: Aku pergi ketoko emas dan menjual cincin kawin. Mau tak mau, saudara. Kalau perahu diterak badai, orang tak boleh sayang kehilangan tiang agung. Seterusnya: buku-buku yang kukasihi melayang pula. Dan achirnya keloket. Beli karcis. Melompat kekereta-api. Berjalan, saudara—menuju kekota kelahiran: Blora!
Aku sendiri tak mengerti, saudara, mengapa sekali ini perjalanan kereta-api begitu cepat. Dan yang teringat olehku kini: laut! Laut, saudara. Sudah lama aku tak melihat laut. Dan tiba-tiba membentanglah laut lepas dari jendela kereta. Hanya dua menit. Kemudian hutan menusul. Sekali lagi tampak pula laut tadi dengan perahunya yang memerak di dasar yang biru. Tapi hanya lima menit. Kereta menjurus pula kepedalaman. Semarang! Di sini aku pernah antre karcis dua hari dua malam. Tapi sekarang tak perlu lagi. Sebab. Jepang sudah dihukum mati dan digantung di-mana-mana. Orang yang kalah perang.
Banyak kota hangus diseanjang jalann kereta. Banyak dusun mati. Banyak jambatan ringsek dan terpaksa perjalanan putus-putus bersambung dengan titian perahu. Dan aku makin tak mengerti mengapa perjalanan secepat itu. Dan Blora—sebentar lagi sampai. Dulu, aku selalu mendengar desah mesin dan geleter roda pada rel. Tapi kini jalannya tenang saja dan cepat.
Blora! Manis rasa suara itu dalam perasaanku. Saudara, engkau pun akan begitu pula bilin sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah menginjakkan kaki di tanah kelahiran sendiri. Dan tanah di mana orang tua dan saudara yang dikasihi ada di situ. Tapi, rasa—seperti daerah pedalaman—pun tak punya keamanan yang abadi, saudara! Karena, ketakutan itu datang juga jungkir-balik dalam benakku. Mungkin seluruh keluarga sudah mati. Oleh Kemunis Muso atau oleh T. N. I. atau oleh Belanda. Siapa yang membencanai keluarga itu tak menyadi soal bagiku. Tapi bencana itulah yang aku takuti. Dan ketakutan yang lain laiah ini: gerakan perbersihan yang sama saja ngerinya dengan gerakan pembersihan di-mana-mana—dan gerakan gerila, seperti gerila lainnya di-mana-mana. Dua-Duanya sama hebatnya. Dan sekarang memang jaman perang. Memang begini, saudara, kadang-kadang orang jemu pada keamanan dan ingin perang. Kalau perang sudah meletus, orang bosan dan ingin keamanan lagi. Presis seperti ini, saudara, saudara jemu pada kekasih yang selalu berkeluh-kesah dan minta uang. Tetapi kalau kekasih sudah pergi, saudara ingin pula duduk berjajar. Barangkali memang beginilah sifat manusia. Dan dalam segala hal pula.
Blora, saudara. Blora! Engkau sudah pernah ke Blora? Kota yang termashur miskin itu? Nanti kuceritakan. Kini, gunung cadas Kendeng ‘lah nampak Garang, saudara! Seperti bangkai rakssaa yang mulai pudar—ke-kuning-kuningan. Dan baunya, saudara! Bau yang mengganggu penduduk di situ. Bau—kemiskinan. Dan seperti sudah tradisi di sini—orang harus hidup miskin. Sebab di sini, saudara, orang yang kuat membeli daging seminggu sekali tak termasuk rakyat jelata lagi dan sudah termasuk “ndoro”. Tapi jagal tak termasuk dalam istilah ini.
Blora, saudara! Dan aku sampailah. Dan baru mulai di sini ceritaku. Mula-Mula yang kulihat ini: setasiyun runtuh. Dan ini diruntuhkan oleh pasukan Amir. waktu mereka diserbu oleh T. N. I. Di depan setasiyun berjajar gedung-gedung orang Tionghoa. Semua ini pun telah runtuh belaka. Runtuh oleh peluru bikinan Amerika. Dan aku tak peduli siapa yang mengerjakkan.
Para penumpang berbaris keluar, dan aku turut serta. Di sudut dekat pintu keluar aku lihat Inah. Engkau belum kenal Inah, saudara. Dia adalah gadis yang tercantik dikampungku. Dan juga yang tersombong. Saudara tahu juga mengapa dia sombong. Karena, dia cantik sekali dan lamaraniku ditolak. Suratku dibalas juga. Tapi isinya, saudara, nasihat! Hanya nasihat semata! Sungguh menyakitkan hati. Tapi sekarang dia bukan sicantik dulu. Dia sudah lesam dan badannya reot. Bedak mukanya tebal dan bibirnya semerah cenger jago Rambutoya tipis, matanya jalang dan tingkahnya genit.
“Mas,” tegurnya. Dan aku menundukkan kepala. Saudara tahu sendiri sebabnya, bukan? Aku takut diajak kawin. Dan aku diam saja berjalan. Dan dia memanggil lagi. Dan aku menulikan kuping. Dan dia berseru-seru. Aku ceptakan jalan. Tas kempes masih tersengkak di punggung. Dan bawaan lainnya hanya uang se-tengah rupiah berwarna merah. Tiba-tiba dia keras tertawa terbahak-bahak. Kurang ajar! Aku ditertawakan. Dan tiba-tiba pula panas hatiku timbul. Aku berhenti. Membalikkan badan. Dan dia sudah diremas-remas oleh serdadu pendudukan. Panas hatiku lenyap, cair. Oh! Inilah daerah merdeka yang di-merdekakan.
Sebentar aku duduk dibatuan melihat tingkah pujaanku dulu. Dia meng-geliat-geliat senang. Dan serdadu itu duduk tak berani berdiri dan tangannya menggerayangi apa saja yang bisa digerayang pada tubuh bekas pujaanku itu. Saudara, terang atau gelap hari itu bukan sesuatu yang menentukan ke-benaran. Dan yang teryadi ituIah yang benar. Dan sekali ini kebenaran itu tergelar di hari terang-benderang: pujaanku dulu diremas-remas serdadu.
Terbit niatku akan membawanya—turut menolong membimbingnya kembali ke dunia yang baik. Dan aku berdiri. Berjalan. Menghampiri pelan. Dan dia tetap terbelit dalam remasan serdadu yang bermata kucing. Tertawa terbahak-nya hilang. Geliat-senangnya hilang. Dan matanya pudar memandang aku—menitikkan air. Dia meronta kuat akan melepaskan diri dari pelukan. Aku makin menghampiri. Aku jadi perasa. Tangannya kupegang erat. Kutarki akan merenggutkan Inah dari kekuasaan serdadu. Dan karena perasaku ini aku mendapat tendang di pinggang.
Dengan kesaktian aku pergi ter-sipu-sipu. Aku berani bertaruh, tiga hari ujiana-nya, dan nyeri tendangan itu baru hilang. Kembali aku duduk dibatuan tadi. Memandangi Inah masih meronta-ronta. Matanya terpusat kepada aku. Mata yang minta dikasihani. Mata yang menyampaikan kata tentang perjalan yang hidupnya sesudah aku meninggalkannya. Aku mengerti juga siratan pandangan itu. Siapakah di antara wanita yang dengan suka rela mau menjau dirinya? Dan mata itu mengatakan, “Jangan aku dipersalahkan mengapa aku jadi begini”.
Tiba-Tiba Inah didekapkan pada dadanya. Kakinya terangkat. Dan dia makin meronta. Insyaflah dia akan keadaan dirinya—medan kehidupan yang diben-cinya tetapi yang dia harus masuki. Dan dada serdadu itu tertutup oleh tubuh Inah. Berjalan ke-yeep-nya. Masth ada juga terdengar seruan pelan. “Mas—Mas—”. Kemudian lenyap seruan itu digulung oleh derum motor. Dan masih jua terbayang olehku. Inah yang reot itu menitikkan airmata. Datang mendadak pertaanya padaku, saudara. Siapakah yang sebenarnya memiliki hidup manusia ini? Teranglah manusia tak memiliki hidunya sendiri. Dan siapakah yang mempunyai hidup Inah itu? Aku tak sanggup menjawab, saudara. Di-mana-mana pun jua, hawa penjara melemahkan ketahanan berpikir. Ja-wallah sendiri, saudara.
Kuturutkan yeep itu dengan matakui sampai hilang menuruni jembatan kali Lusi. Aku berdiri. Pelan berangkat ke arah tentang jurusan yeep. Gairah ‘kan bertemu dengan rumah tangga dan keluarga meruyak kembali. Mobil militer mondar-mandir. Juga ciak yang kulihat di mana aku masih kanak-kanak. Dan run-tuhan rumah batu. Dan arang kayu rumah. Dan anak-anak yang telanjang yang baru diduduki. Dan di mana-mana sama saja. Kota mati—kota yang tak punya pemuda.
Tiba-tiba ada orang yang memanggil aku: “Agus, Agus.” Dan aku berha-dapan dengan nenek kerdil yang berkerinyut mukanya. “Agus,” panggilnya pula pelan dan dipeluknya aku dengan tenaga tua. Dan dia tersenak-senak menangis. “Engkau masih hidup, gus? Aku tahu juga engkau masih hidup.” Dan aku perasa lagi. Sebab, aku jadi terharu lagi. Lebih terharu oleh bau pakaian dan badannya yang terlalu tengik. Dan lebih tengik dari pakaianku sendiri. Si Inah ada juga teringat sedikit. Tapi tidak seluruhnya. Dan di bawah mataku: rambut putih, kumal dan masam. Mukanya hilang dalam dadaku. Kuduknya penuh kudis dan pada bahu kanannya tampak tali serat nanas—ke bawah terikat pada karung tikar. Dia pengemis, saudara dan sebetuinya aku tak mau menyebut pengemis. Sebab, semua orang juga pengemis—lahir atau batin. Tapi memanglah sudah adat dunia, nama yang jelek itu selalu dikasihkan kepada orang yang tak bisa mempertahankan diri. Dan lagi, saudara, orang yang tak punya duit tak boleh masuk jadi anggota masyarakat. Dan mereka dinamai sampah masyarakat. Orang yang didepanku itu adalah pengemis—sampah masyarakat.
“Siapa nenek?” tanyaku jijik.
Tangisnya meningkat. Pegangannya dieratkan, tak aku lepas dari pegangan-nya. Antara tangisnya terdengar ini:
“Gus, Gus. Engkau tak mau kenal aku lagi? Aku nenekkau.”
Nenekku! Dan aku jadi perasa pula. Ya, nenekku memang sekerdil itu. Kupeluk dia erat-erat. Di pinggir jalan dekat setasiun. Kemudian kami pun berjalan. Berjalan saja. Tangannya tak lepas memegangi aku. Dan oleh pegangan ini kawan-kawan perempuan dulu tak mau tahu lagi. Baik juga. Kami mampir dikuburan bunda. Kuburan yang tak sebersih dulu. Seluruhnya telah tertutup lalang tinggi dan tebal. Berdua kami cari kuburan bunda. Hanya dengan susah-payah saja bisa kami dapati. Kemudian kami cabuti rumputnya.
Kalau keadaan pembukaan begini buruk, pujaan jadi barang remasan serdadu, nenek jadi pengemis, kuburan jadi ladang lalang, gampanglah mengira-ngirakan betapa keadaan rumah tanggaku. Dan engkau pun bisa mengira-ngirakan sendiri, saudara.
Dalam menyabuti lalang itu terbayang keadaan dulu, saudara. Ini: tentara Hindia Belanda yang kurang lebih satu resimen lari puntang-panting waktu satu seksi Jepang mendarat di Lasem. Kemudian pertempuran yang hebat terjadi. Dan yang diamuk—teng-teng bensin di sekitar Blora. Dan Jepang masuk dengan amannya. Dan ibuku mati dua bulan kemudian. Begitu besar keper-calaan bunda. Belanda akan mengangkat bapak jadi “schoolopziener”. Ke-nyataan mengajarakan padanya, beslit tak bisa dibuat oleh pemerintah yang ka-lah. Dalam menit, jam, hari, bulan dan tahun yang sama, adikku yang terkeciI menyusul pula ke alam baka. Kuburan bunda bersatu lahhat dengan adikku itu.
Dengan tangan lesu kuhapus tonggak-kepala yang penuh oleh lumpur kering dan muncullah tulisan dari ter yang berbunyi. “Siti Saidah dan Sri Susanti”.
Aku benci pada doa. Tapi sekali ini aku terpaksa mendoa juga dan ber-bisik, “Bu, anakkau datang”. Dan terbayang ibuku duduk termenung-menung diteritis depan dengan rambutoya yang tipis dibuai-buai angin. Waktu itu aku berumur tujuhbelas. Dan aku bilang, “Bu, aku minta cincin”. Dan ia men-jawab, “Apa yang kau minta lagi dari aku? Aku tinggal menunggu matiku saja, Muk”. Dan sebulan kemudian matilah ibu. Sejak itu aku tak pernah minta apa-apa lagi sampai sekarang. Saudara, adik-adik dan semua kerabat memanggil aku Muk.
Sekali ini aku tak mau bercerita tentang matahari yang terbit dan terbenam. atau tentang huyan dan badai. Aku sudah bosan. Sekarang aku mau bercerita tentang bunga—aku tak tahun namanya—satu-nya yang tumbuh dikuburan. Aku petik dia. Dan warnanya biru muda. Warna yang kusukai. Dan aku pasang bunga itu di atas tonggak kepala. Agak lama aku memandangi bunga itu. Dan nenek berdiam diri saja. Tangannya masih jua memegangi lenganku.
Kemudian kami berjalan pula. Tiap bertemu dengan serdadu pendudukan hatiku kutabahkan. Kalau mereka tahu aku bekas tawanan dan belum minta ijin datang di daerah baru, pasti aku ditangkap lagi. Selamat—selamat selalu.
Kota sepi saja. Tambah masuk ke kampung tambah kerap kami bersua dengan kanak-kanak. Achiirnya kami melalui sekolahanku dulu “Budi Utomo”. Untuk lulus kelas tujuh, sepuluh tahun aku duduk di bangku itu. Kini, sekolahanku itu bukan kepunyaan bapakku lagi. Sudah dibaktikan bapakku kepada Jepang. Dan bukan lagi nama ”Budi Utomo” yang terpasang diatru. Ganti waktu, ganti keadaan.
Neneck masih tetap memegangi lenganku. Dan jalan nyia sangat pelan. Kini sampailah kami ke kampung—dulu. Tapi kini kampung orang. Dan tiap muka yang terpapas dijalan, pengap oleh ketakutan. Tiap mata lesu tapi ceptat seperti putar dadu oleh kecurigaan. Peluru sangat murah, saudara, dan jiva tiga kali lebih murah. Dan bertambah banyak Amerika mendatangkan peluru, bertambah turun harga jiva manusia. Tapi aku tak suka mengumbar kecurigaan.
Dari jauh tampak pagar-hidup pekaranganku—ke-kuning-kuningan. Tapi atap rumahku tak kelihatan lagi, Dan datang saja pikiranku. Komunis yang membakarnya. Bapakku anti Komunisme. Dulu aku pernah bertanya begini. “Pak, bagaimana kalau pengajaran di Indonesia diselaraskan dengan pengajaran di Rusia?” Dia menjawab, “Itu? Angkat saja Indonesia ke Rusia dan nanti kau mendapat jawaban sendiri. Dan aku berdiam diri. Pokok kelapa yang selama itu berdiri di belakang dapur dan sudah bertahun lamanya berjasa mengurangi belanja ibu. kini kulihat sudah gundul, tonggak tinggi yang tak berdaun lagi.
Jalan yang kulalui itu dari batu. Tapi suasana kanak-kanakku lenyap. Tak ada lagi anak-anak bermain bal di tengah jalan dengan ting yang goal dari baju dan batu. Sunyi saja. Jalan itu membelok. Dan bila terus saja sampailah jalan kerbau yang menuyu kekali Lusi. Jauh dikelokan ini kulihat anak kecil te-lanjang membawa kapak penangkap belalang. Dan di belakangnya mengikuti ayam-kecilinya.
Baru neneckku membuka mulut lagi: “Guz, itu adikkau”.
“Siapa? Cuk?” tanyaku. Neneck mengngguk. Dan aku berteriak memanggil. Dari jauh dia mengamati. Kemudian ber-lari-larian kepada aku dengan kaki pincang. Di tengah jalan ia berhenti. Kemudian lari lagi. Aku pun menceptakan jalan. Cepat aku angkat dia, aku gendong. Umurnya baru tujuh tahun—telanjang bulat.
“Mengapa engkau pincang. Cuk?” tanyaku. Dan dia menangis. Aku cumi dia sambil berjalan. Pelan anak itu menjawab. “Kata bapak dimakan borok, mas”. Neneck berdiam diri saja.
“Mas, mbak Kun tiap hari merendam kakiku di air garam. Aku lantas bisa berjalan sedikit. Tapi sekarang yadi pincang”. Dia tersedau-sedan. “Engkau bisa mengobati, mas? Engkau membawa obat, mas? Pasti engkau membawa obat”. Tangisnya hilang. “Dulu engkau datang dan aku kaubelikan kambing. Sekarang kambing itu hilang, mas. Kata mbak Kun dimakan luak. Engkau mau membelikan lagi, mas? Engkau mau, bukan, mas?
Dan adikku menangis lagi—seperti neneck? tangisnya. Aku jadi perasa lagi. Dia toh adikku? Aku toh boleh turut merasakan kakinya yang besar se-belah? Dan aku menyawab menggembiral. “Tentu”. Dan adikku diam.
“Mas, engkau sekarang membawa obat, bukan? Mereka menamai aku si pincang. Aku tak mau, mas. Tapi mereka menamai saja. Kalau ada engkau, tentu mereka tak berani lagi. Bukan, mas? Tak berani lagi, bukan? Pasti mereka kau gebuki, seperti dulu engkau menggebuki mas Lik karena tak mau mandi. Tapi aku selalu mau mandi, mas. Engkau membawa obat, ya mas?” “Ya, aku membawa obat.” “Aku juga tahu, engkau mestii membawa obat.” “Engkau sudah kelas berapa. Cuk?” Adikku menangis lagi. Lama baru bisa menjawab. “Aku tak bersekolah. mas.” Dia tersedau-sedan. “Kata bapak aku cengeng. Aku tak cengeng, bukan. mas? Tak cengeng, bukan?”
“Tidak,” dan aku ciun pula pada mukanya yang basah oleh air-mata—muka yang pucat.
“Kalau begitu, nanti aku boleh ikut ke Jakarta, bukan? Naik mobil dan lihat Pasar Gambir? Bukan, mas? Aku boleh turut ke Jakarta. bukan?” “Tentu saja boleh.” “Aku tahu juga. Pasti boleh. Mana mobil kau sekarang, mas? Diminta Jepang? Aku selalu tanya pada bapak, engkau tak pulang-pulang juga. Kata bapak engkau ditangkap Nica. Engkau tak ditangkap, bukan? Engkau berani bukan?” “Tidak, aku tak ditangkap.” “Mobilkau tak dirampas Nica, bukan?” “Tidak.” “Aku tahu juga, bapak bohong.” “Engkau masih suka menyanyi. Cuk?” “Tidak boleh, mas.” tiba-tiba tangisnya meledak sejadi-jadinya. . Dan kembali aku ciuni dia. “Mengapa menangis, Cuk? Siapa yang melarang? Engkau dulu senang menyanyi dipohon jambu.” “Mas, semua melarang aku menyanyi,” sedu-sedan. “Dan pohon jambu sudah dibakar. Dibakar komunis, mas.” Sedu-sedan. “Sekarang engkau datang. Aku mesti boleh menyanyi lagi.” Mata Cuk, adikku yang terkeci berseri-seri. “Mas, mbak Kun bilang, kalau aku menyanyi ‘Dari Barat sampai ke Timur,’ katanya nanti Nica datang dari Barat dan Timur dan membakar kakiku yang pincang. Sekarang tidak lagi. Aku boleh menyanyi lagi, bukan mas?” Sedu-sedannya yang terachir lenyap. Dengan suara lantang ia berteriak menyanyi, “Dari Barat sampai...” “Cepat-cepat aku sumbat mulutnya dengan tapak tangan. Ia meronta dan menangis. Tanganku gementar oleh teriaknya. ”Jangan. Jangan menangis!“ aku melarang. Tangisnya hilang. Tinggal sedu-sedan. Dan tanganku kulepas. Alangkah kurus adikku. Dengan mata benci dipandangnya aku. Dan air-matanya tetap menggelineang. Di antara sedu-sedannya dia berkata, ”Engkau juga melarang, mas? Ah. Jangan gendong aku. Aku mau pulang sendiri. Aku mau mencari ayamku. Jangan gendong aku. Engkau Nica, mas! Engkau Nica.“ ”Tidak, Cuk,“ hiburku. Dan mataku telah sebak. ”Nanti kakikau kuobati. Kalau sudah sembuh nanti boleh menyanyi lagi.“ Sedan-sedannya terpatah-patah. Dan Cuk mulai gembira lagi. ”Engkau mengajar aku abese nanti, ya mas? Seperti dulu mbak Kus kau-ajari. Tapi engkau tak kan mengetuki kepalaku dengan sendok, bukan? Dan aku boleh turut ke Jakarta. Dan naik mobil, ya mas? Dan melihat kapal.“ ”He-e: Mbak Kus masih sekolah. Cuk?“ ”Tak ada yang sekolah lagi sekarang, mas. Mbak Kus sudah pulang dari Pati jalan kaki. Katanya tak ada sekolahan lagi.“ ”Mas Lik di mana, Cuk?“ ”Dibawa Nica, mas. Kata tuan, dia pemuda.“ Dadaku berdentam. Oh, dia masih kanak-kanak, baru empat belas. Tapi apakah salahnya? Penjara yang baru kutinggalkan pun berisi dua orang anak seumur itu. ”Bapak di mana, Cuk?“ ”Bapak di bawah pohon duat.“ ”Tidak dibakar pohon itu?“ ”Tidak, mas. Bapak di situ saja, mas, menulis dan menembang.“ ”Menembang apa?“ ”Permadi dan Sumbodro, mas. Dan menulis saja sampai malam.“ Kami berjalan terus. Nenek tetap berdiam diri. Rumah sudah dekat tapi tak jua tampak atapnya. Disela-sela pagar hidup yang kuning kecoklat-coklatan aku lihat runtuhannya rumahku—tembok dan arang. Dan sama saja seperti di mana-mana. Sampai dibelokan jalan, jauh aku lihat sepasukan serdadu sedang berpatroli. Dan adikku menuding ke arah patroli itu.
“Dia datang lagi, mas. Si tuan. Dia selalu datang kesini. Aku kerap dikasih permen dan dia senangnya mengobrol dengan mbak Kus. Bapak tak senang. Dia senang di bawah pohon duat dan menulis dan menembang saja. Dan kalau si tuan datang, mbak Kus terus lari ke belakang dan menangis dan aku turut menangis.”
“Mengapa menangis, Cuk?”
“Engkau tak datang-datang juga mas. Dan katanya si tuan mau membawa mbak Kus, jauh—jauh sekali. Itu, mbak Kus, mas!”
Cuk menuding ke arah dekat unggukan batu. Oh, adikku perempuan yang tercantik dan tercerdas. Dia baru berumur enambelas dan baru di kelas dua S. M. P. Pati. Di antara sela-sela pagar-hidup yang mati itu kulihat parasnya yang jernih sudah keruh. Dan kulitnya yang kuning kini kehitam-hitaman. Cuk berteriak keras-keras. “Mbak Kus, mbak Kus! Mas Muk datang.”
Gadis itu berlari-lari kejalan. Dia masih setangkas dun tahun yang lalu. Segera dipeluknya aku. Berkata gairah, “Engkau datang, mas. Alangkah lama engkau dipenjara. Engkau kurus sekali, mas. Mas, rumah dibakar. Engkau tak punya kamar lagi. Dan baku-buku kirimankau dulu, semua sudah dirampas mas To.”
“Mas To siapa?” “Kawankau main musik dulu.” “Mengapa dirampas?” tanyaku. “Karena, karena, engkau dan mas Wit Tentara.” “Dia Nica?” “Komunis. Aku tak bisa belajar lagi mas. Oh, alangkah tipis lengankau. Engkau mash mau makan nasi jagung, mas?” Kami masuk ke dalam pelataran. Dan aku menjawab. “Masih”. Semua adik datang mengerubung. Kun, Um, Kus, dan Cuk. Bapak meninggalkan pohon duat sambil membawa bukunya. Bertanya. “Selamat, Muk?” “Pangestu, bapak.” Dan bapak kembali ke bawah pohon duat. “Mas Muk,” tegur Kun. “Suratkau melalui Palang Merah setahun yang lalu sudah kuterima.” “Mengapa tak kau balas?” “Sudah lima belas kali aku menulis. Tapi suratkau tak datang lagi.” dan ia menarik nafas panjang. “Aku tak pernah menerima.” Kemudian aku berhisik pada Kun, adikku yang sudah berumur delapan belas dan sudah menikah dengan perajurit dari Divisi Jatikusumo—. “Mengapa nenek kaubiarkan jadi pengemis?” Nenek yang membisu saja dari tadi tersedan-sedan dan menyembunyikan muka-nya ke dalam kainnya. Kemudian dia menjauh, duduk di tengah pintu gubuk dan membungkuk seperti katak. Kun menyinarkan penyesalan pada matanya. “Mas, Makan kami hanya dari tanaman jagung pekarangan yang tak lebar ini. Adik-adikmu yang mengerjakan. Bapak menulis saja di bawah pohon dan tak kan bergerak dari situ bila matahari belum terbenam. Maksudku, aku tak mau memaksu bapak mencangkul. Malah waktu letnan Belanda datang kemari me-nawarkan pangkat pegawai pengajaran untuk karesidenan Pati. aku juga yang menjawab, ”Bapak sudah tua, aku tak mengijinkan dia bekerjia lagi.“ Karena itu penghasilan sedikit sekali dan makanan harus dibagi seadil-adilnya. Dan nenek mencuri bagian Cuk. Aku marahi dan dia pergi. Adik-adik bilang, nenek jadi pengemis di setasiun. Mereka kusuruh membawa pulang nenek. Tapi nenek tak mau. Aku sendiri mengadayakno pulang. Dan dia bilang, ”Aku tak mau pulang. Aku menunggu gus Muk.“ Dan aku bilang, ”Mas Muk tak pulang. Dia ditangkap Nica.“ Tapi dia tak mau peduli dan selalu tinggal di setasiun. Nenek menangis. Dalam sedu-sedannya. ”Nek,“ panggilku. Tapi dia tak peduli.
Pelahan kami masuk ke dalam gubuk. Kosong saja. Kami duduk ditikar. “Kun, di mana suamikau?” Kun berdiam diri. Kus datang membawa dua piring tanah hitam, berisi nasi jagung. “Mas, makan, mas, dengan nenek.” Kami duduk ditikar di atas lantai tanah. Adik-adik mengerubung. “Di mana suamiku, Kun?” tanyaku lagi. Bimbang dia menjawab, “Belum pernah datang, mas. Aku tak tahu. Tak ada kabarnya.” Cuk yang berdiri di belakangku, merangkul leherku meletupkan suaranya, “Bohong! Tadi malam datang membawa bedil.” Kun meloncat kebelakangku, menutup mulut Cuk. Anak kecil itu meronta membela diri dan kebenarannya. “Kun, engkau tak percaya padaku?” Sumbatannya pada Cuk dilepas dan dia berdiam diri. Cuk menangis lagi dan merebahkan badan dipangkuanku. Aku cumi pula dia. “Mas, aku tak bohong,” katanya membela diri. Kun menutup mukanya. Dan semua adik menundukkan kepala. “Mas Yus tadi malam datang mbawa bedil dan granat. Aku lihat sendiri, mas. Aku tak bohong. Waktu aku tanya mau ke mana, mbak Kun membungkus aku dengan kain. Dan aku menangis. Waktu aku bangun aku takut, mas. Aku takut sekali. Di sana ada perang. Aku tak tahu di mana. Tapi aku sudah tak dibungkus lagi dan mbak Kun mengaji. Mengaji saja. mBak Um juga, dan mbak Kus juga. Bapak datang dan aku dikeloni...” Adik-adikku tak ada yang berani memandang aku. Semua menundukkan kepala. Kebimbangan dan ketakutan terpancar pada mata mereka. “Mas,” kata Cuk pula. “Aku tak senang di sini. Aku tak boleh nyanyi. Aku tak boleh main jauh. Kalau aku ngomong dengan orang mulutku ditutup mbak Kun. Mas, aku mau turut ke Jakarta saja. Di sana aku boleh menyanyi dan main-main dan ngomong dengan mas, bukan? Aku takut sama perang. Di Jakarta tak ada, bukan?” “Ya, nanti kubawa.” Kun pergi—diam-diam. Um pergi—diam-diam. Kus mendekati aku. Bertanya, “Engkau merasa pahitnya orang dipenjara Nica, bukan, mas?” Aku mengangguk. “Dan imankau tak goyang, bukan?” Aku menggeleng. “Dan engkau tak mengchianati kami, bukan?” Aku menggeleng. Dan Kus mengambil pisau yang putih mengkilat. Ujung yang tajam itu dicukilkkan pada tapak kakinya. Darah keluar. Dan aku terkejut. “Mengapa kaulukai dirikau?” “Akan mencoba, mas, sakit atau tidak.” “Tentu saja sakit.” “Dan aku rela kesakitan oleh pisau ini. Aku rela kaukupas kulitku dan kau-bunuh sebelum engkau dibunuh mbak Kun dan mbak Um. apabila engkau ternyata pengchianat.” “Mas, ayo ke Jakarta,” rengek Cuk. “Kalau aku pengchianat, aku rela kaubunuh rame-rame,” kataku. “Aku sudah banyak menderita. Engkau hanya berkata saja, ”Aku tak percaya pada kau, dan engkau akan kubunuh.“ Kemudian aku menarik nafas panjang dan kepalaku kuangkat. Tiba-tiba tampak olehku-sosok tubuh yang layu duduk di kursi besar tua. Kedua kakinya buntung sampai dipaha. Kedua tangannya lengkap tapi jari tangan kanan hilang empat. Mukanya kehilangan bentuk aslinya. Hidungnya berlubang di antara lubang hidung dan kaki kening. Dan lubang itu disumbat dengan kapas kotor. Dari lubang disumbat sampai kekuping menggaris bekas luka dalam dan dari mata kiri sampai ke belakang telah terkupas kulitnya. Rambutnya hanya tumbuh separuh tengkorak. Kuping kanan hilang terkupas. Dan matanya menitikkan air.
Kus turut melihat ke arah sosok tubuh dan dengan tak kurasa pisaunya telah sampai di tangan kananku.
“Dia sudah seminggu di sini, mas,” kata Cuk. “Hanya duduk saja di situ. Tak mau bicara. Kadang-kadang nyuruh aku ambil kertas dan pen dan tinta. Tapi tak mau bicara.”
Sepasang mata sosok tubuh itu tetap mengawasi aku dengan pandang sayu. Dan airmatanya tenang meluncuri pipinyia.
Kus aku pandang. Dan gadis yang berumur enamabelas itu menajamkan pandang. Berkata, “Daripada engkau akan membuat korban seperti itu, lebih baik bila engkau sesungguhnya pengchianat, bunuh saja kami semua. Tangankau sudah berisi pisau, mas Muk.”
Aku lemparkan pisau itu kepojok gubuk. Dan kembali kupandang sosok tubuh yang terlalu cecat itu. Kemudian dengan diam-diam Kus pergi pula keluar gubuk. Aku berdiri menghampiri. Kuulurkan tanganku dan salamku diterimanya. Terasa dia menarik aku supaya mendekat. Dan aku menyebut namaku, “Pram”. Tapi dia tak menjawab. Hanya tangannya meraba-raba kemejanya yang usang amat. Kancingnya dilepas. Dibuka, dan tampak olehku di dalamnya menggarang uniform perajurit. Pada tutup sakunya tersemat tanda pangkat Sersan Mayor Tentara. Sekejut meledakkan perasanku. Aku menangis. Saudara, sekarang aku sendiri yang menangis. Betapa kan tidak, saudara. Batu yang keras itu hancur jua oleh air. Dan sosok tubuh itu adikku sendiri... Ini adikku yang pertama Sersan Mayor Wit dari polisi tentara.
“Aku tahu, engkau bukan pengchianat, mas Muk,” katanya pelan. “Walau badanku sudah kena kutukan perang, dengan gampang aku bisa membunuh kau.” Dan dari celananya dikeluarkannya pestol-piti *). “Aku juara menembak. Dan dari jarak sepuluh meter aku bisa tepat menembak ujung telunjukkan, sekaliun engkau sedang berdiyalan.”
“Aku membungkuk dan bertanya. ”Engkau tidak takut membawa senjata di-daerah terkepung?“
Wit tertawa. “Kalau aku sudah bersumpah jadi perajurit mengapa aku takut berpakaian militer dan membawa senjata? Dan semua adikkau sudah bersumpah pula. Dan di sini, aku menantikan saat perjuangan terachir.”
“Dengan pestol-piti itu?”
Wit tertawa lagi. Giginyia menyeringai kuning.
“Senjataku cukup, mas Muk. Padaku ada granat tangan tiga. Dan dalam radius satu kilometer barisanku masih siap.”
Kemudian badanku ditarik. Aku membungkuk. Wit berbisik. “Cuk harus dibunuh!”
Hampir aku terpelanting mendengar bisikan itu.
“Dia tak berguna. Dia gampang membencanai kita semua. Dan engkau nanti malam harus membawanya kekali Lusi dan menyembelihuya.”
Dan aku jatuh terduduk. Cuk kembali merangkul leherku.
Alangkah kurus dia. Pincang pula dan harus mati.
“Aku komandan di daerah ini, engkau harus menjalankan perintahku,” dan mukanya yang terkupas-kupas itu merengut kejam. Dan aku menggigil.
“Mas, mari ke Jakarta, mas. Sekarang saja,” rengek Cuk pula.
“Engkau dengar, mas Muk?”
Aku berdiam diri. Dan mata Wit berkilat-kilat.
“Semua hidup dan mati dalam daerah radius satu kilometer ini ada ditanganku. Aku dendam. Dulu aku memang orang yang punya perikemanusiaan. Aku suka memuja keindahan. Tapi bangsat-bangsat itu membuat aku begini dan mukaku dituangi air keras. Dan aku diajiari tak segan-segan berbuat begitu pula. Engkau harus menjalankan perintahku.”
*) damespistool
Aku berdiri. Cuk aku cumi. Dan aku tahu sudah dan pasti, dia pasti mati oleh tanganku.
“Kasih manusia hanya karena kebiasaan saja,” kata Wit pula. “Dia mati gampang gantinya. Manusia memang suka membuat anak. Tak usah dengan perintah. Hilangkan perasaan kasihan.” Diam. Dan malam tak juga datang. Tiba-tiba Cuk memekik keras. “Darah Rakyat mulai berjalan. Menderita sakit dan miskin. Kini datangnya pembalasan. Kita yang menyadi Hakim. Kita yang menyadi Hakim...” Adikku Wit terbahak-bahak dan mukanya yang peot-peot seperti muka Sukosrono—buta kerdil dalam wayang. Dan Cuk terdiam memandangku. Bertanya, “Mas, aku boleh nyanyi, bukan?” Aku mengangguk. Nenek datang menghampiri dan berbisik. “Gus Muk, engkau sehat walafiat. Engkau sudah kembali di sini. Bialrah aku pergi. Pergi lagi. Aku tak mau jadi tanggungan.” “Ke mana mau pergi, nek? Engkau tak senang di sini?” “Mengapa aku harus di sini, Gus? Manusia yang mengikat diri pada tempat yang tak disukainya adalah sebodoh-bodoh binatang.” Dan dia berjalan. Tak membutuhkan yawaban lagi. Dan hilang. Aku pandang adikku yang pertama itu minta pertimbangan. Dia menggelengkan kepala pelahan—dua kali. Aku berdiri menghampiri pintu. Hampir saja sampai dan Wit memanggil. “Engkau mau ke mana, mas Muk?” tanyanya kemudian. “Mencari bapak. Aku belum lagi berbicara agak panjang.” “Sudahkah aku memberi ijin?” “Aku harus menurut perintahkau dalam segala hal?” “Dalam segala hal,” katanya penuh ketentuan. Kemudian, “Jiwakau tak ada harganya sekepeng pun dibandingkan dengan beribu-ribu penduduk gunung dan dusun terpentil yang tak berdosa dan yang harus mati untuk sandera. Kalau engkau meninggalkan tempat ini sebelum mendapat perintahku, mungkin engkau jadi sebab matinya beratus-ratus orang di sini. Mengerti?” “Aku masih perajurit. Aku masih punya hak atas pangkat letnanku. Dan engkau tak boleh sembarangan memerintah.” yawabku menggagahi. Dan hatiku mulai panas. Dia tertawa. Heran, dia tak mau menangis seperti tadi. Berkata penuh kepastian, “Perajurit yang ditawan dan pernah tertawan tak punya kehormatan-diri lagi. Dan engkau sekarang datang sebagai tamu di tempatku. Dan tamu harus tunduk pada peraturan tuan-nyonya-rumah. Mengerti?” Sekali lagi aku menganggukkan kepala dan dia tertawa lagi. “Mas Muk, mas Muk!” sela Cuk. “Aku pernah mimpi, mbak Kun punya uang banyak—banyak sekali. Dan ada orang laki-laki bilang, ‘hati-hati menyimpan uang itu,’ katanya, ‘kalau dirampas bangsat-bangsat itu matilah napas perlawan-an kita.’” Aku pandang adikku yang pertama. Dia mengerutkan muka. Tiba-tiba dia membentak, “Itu sudah terlalu.” Cuk memandang Wit. Kemudian menyembunyikan mukanya ke dalam pangkuan-ku. Ia menangis dan minta dilindungi. Katanya, “Mas, aku takut pada dia. Aku takut, mas. Mari ke Jakarta, mas, sekarang juga.” “Mas, Muk,” tegur Wit. “Sampailah sekarang. Saatnya telah tiba. Mulutnya harus dibungkem. Dia pangkal bencana.” Kemudian berkata dalam bahasa Belanda “Bunuh dia.” Seakan-akan Cuk mengerti perkataan itu dan memekik sekuat-kuatnya. Mataku kuarahkan pada Wit dan tampak dia mencabut pisau belati—putih mengkilat. Senjata itu dilemparkan kepada aku. Ai, nyeri berdiri pada daging pahaku. Di-bawah mataku: kepala Cuk yang memekik-mekik. “Satu...” aba Wit dari kursinya. Belati itu kucabut. Dan darah mengalir. Militer tetap militer, tapi aku masih punya peri kemanusiaan. Aku menangis. “Dua...”
Tangisku menyadi dan senjata kuangkat. Adikku yang tak berdosa harus mati oleh tanganku sendiri.
“Tiga l” dan ceapat sebagai kilat lenyaplah senjata itu kepinggang, terus lenyap sampai hulunya mengenai jantung Cuk. Sekejut tangisinya hilang menjadi raung. Darah menyembur. Aku menangis terisak-isak. Mati, Cuk! Kau mati—oleh tanganku, oleh kakak yang mengasihi. Bau amis darah mengawang. Dan aku berdiri pula. Bangkai adikku kusepak kesamping dan aku menghampiri Wit.
“Sekarang aku kau bunuh juga?”
Dan malam tak juga datang. Dan dia menyerengai, berkata, “Engkau masih berguna untukku.”
Airmataku kuhapus dengan lengan kemeja. Datang suara ribut di luar.
“Patroli datang,” bisik adikku. “Tutup si Cuk dengan jagung.”
Suara degap kaki makin terang—jaman Yan Pieters zoon Coen berulang lagi. Tak sempat saudara. Baru kepalanya tertutup oleh ikatan jagung patroli telah memasuki rumah. Salah scorang berteriak, “Kusye Kusye,” dengan logat Friesland. Dan melihat darah di tanah. Adikku Witlalh sedia mengacukan pestol-pitinya. Dan semua serdadu pembebas yang ada di dalam tegang terpaku di tanah. Serdadu-serdadu itu mengangkat tangannya. Wit memerintahkan aku berkawal di luar. Aku berjalan. Tertumbuk kakiku oleh kayu melintang. Dan bangunlah aku dari pengelamunanku.
Aku masih dalam penjara. Betul, ada kudengar degap kaki serdadu penjaga bergilir. Dan dua bulan lagi cukuplah dua tahun aku dalam penjara...
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.