Baca EPUB: Sebuah Cerita Malam Ini

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. SEBUAH CERITA MALAM INI
  2. S. RUKIAH
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. SEBUAH CERITA MALAM INI
  6. CC BY-SA 4.0

SEBUAH CERITA MALAM INI

S. RUKIAH


KOLOFON

SEBUAH CERITA MALAM INI

oleh

S. RUKIAH

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Koleksi Pribadi Muhammad Reza Magistra

Ilustrasi sampul: Tired (Müde) 1913, karya Erich Heckel

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam. com



SEBUAH CERITA MALAM INI

(FRAGMEN)

SEMALAM aku batuk lagi yang banyak sekali. Padahal baru kemarin aku dapat injeksi dan baru kemarin aku mengeluarkan duit banyak buat dokterku. Tapi rupanya duit itu tak kuasa menahan batukku malam ini, dan bisa kiranya aku minta tolong atau menyeraikan semua kepercayaan pada duitku, Sekalipun kata orang-orang di sebelah kamarku, duit itu paling kuasa, dan paling bisa diberi kepercayaan.

Sambil berbaring dan membarut-barut leher dan dadaku dengan obat kayu putih, ada melintas pikiran gila tapi murni: “aku ingin lari malam-malam dari kamar yang menakutkan ini. Biarlah akan kucari satu jalan sendiri yang lurus cepat ke muka. Aku tak memerlukan orang lain. Aku tak membutuhkan dokterku, dan tak ingin lagi menyeraikan kepercayaan pada duit. Juga aku tak memerlukan orang-orang pengetahuan, atau orang -orang politik, atau orang-orang yang ada di sebelah kamarku ini. Aku ingin lari saja dengan jalan dan ruang yang menyendiri”.

Tapi malam ini batukku sangat banyaknya. Malah jika umpananya saja engkau kebetulan liwat di depan jendelaku dan mendengar semua ini, (Sekalipun buat engkau soal batuk ini tidak jadi soal yang begitu menarik perhatian), tapi kali ini tentu akan merasa ngeri juga. Dan memang sesungguhnya, kali ini aku sangat mengerikan, dan banyak membisingkan telinga orang-orang yang ada di sebelah kamar-tidurku. Keadaan seperti malam ini, suatu keadaan yang sangat aku takutkan. Apa pula ceritanya orang-orang di sebelah kamar itu besok hari? Akan disuruhnya pula aku pergi dari rumah sini? Atau akan disuruhnya pula aku diam di rumah-sakit buat kesekian kalinya? Ah, minta am pun saja, aku tak mau sampai 4-5 kali diam di rumah dingin-kaku seperti tempat orang-orang yang mau mati itu. Di sana tak ada orang. Cuma penjaga-penjaga malikulmaut yang ada bergelandangan berbaju putih di mana sewaktu-waktu mereka mempersilahkan kita dengan di-nginnya buat datang menghadap maut. “Ingatlah akan Tuhan” katanya berkali-kali pada tiap-tiap orang yang sakit. Tapi semakin diperintagi tiap waktu, semakin jauh aku daripadaNya. Dan penyakit yang kuderita ini kadang-kadang makin menambah reng-gangnya hubungan antara aku dan Dia. Dulu tak pernah aku punya pemberontakan ingin lari dari genggamannya. Tapi sekarang aku main kejar-kejaran dengan Dia. Bilamana aku sudah merasa cae lari dan cae pula memukirkan segala yang simpang-siur dalam otakku terasa kelesuan pemberontakan ini datang berachir, dan pelan-pelan seperti ada tentera merah yang datang dibawaNya ke depaku. Dan diteranginyia semua dadaku hingga isinya terang seperti terbuka: kecintian, kegelisahan, keimbangan, dan pemberontakan kepada nasib yang diberikan. Sebenarnya aku malu akan keterus-terangan dada terbuka di bawah lentera ini. Untuk menghilangkan rasa malu ini, aku tutupi dengan pura-pura berbuat sombong. Tapi dalam matonta-ronta ingin lari dari cahaya lentera merah ini, biasa Dia mengusap rambutku dan seperti bicara pelan-pelan: “Engkau terlalu jauh dan terlalu ingin lari dari genggamanKu”.

Jika sudah sampai pada suara ini, aku biasa tak bicara apa-apa padanya. Cuma ada satu keinginan dalam hatiku: aku ingin memecahkan lentera merah itu hingga remuk dilantai dan gelas-nya menjadi beling kecil-kecil yang sangat kecilnya! Aku tahu, dalam lentera merah itulah adanya maut. Dan maut itu ada dalam genggaman tangannya. Maut itu Tuhan, kata mereka penjaga-penjaga rumah-sakit yang berbaju putih itu, jika mereka sedang menghibur aku dalam kelengangan di kamar yang menyendi. Tapi aku tak mau percaya akan hiburannya ini. Itu sebabnya aku ingin lari dari Dia yang kata mereka menggenggam maut. Aku tak ingin maut! Dan bila kebetulan aku disebutkan tak ingin Tuhan, aku takkan menolak. Apa boleh buat!

Tapi kini aku kembali pula pada keadaan malam ini, dan ingin bertanya: keputusan apa dan tindakan yang bagaimana yang akan diterima besok hari? Akan dicucinya pula kamar tidurku dengan lysol tiap pagi? Atau akan dipisahkannya pula semua bajuku dan pakaian cuciyian d'sudut kamar mandi, hingga aku sendiri yang mesti mencucinya? Ah, lemasnya tubuh ini bukan main, telah dipaksa mesti mencuci baju sendiri. Padahal dalam beberapa hal aku sudah banyak mengalah. Umpamanya saja gelasku, piringku, dan sendok-sendok garpu kepunyaanku telah kutempeli dengan kertas yang memuat namaku besar-besar. Dan semua perabot ini aku sendiri yang mencucinya, dan kusimpan semua dalam kamarku supaya jangan bersinggungan atau berganti dengan perabot punya mereka. Ini semua adalah penerimaanku sebagai manusia yang tahu-diri. Tapi rupanya ini belum cukup. Dan ditambahnya pula dengan larangan yang menyakitkan: aku tak dibolehkan mendukung dan mencium anak-anaknya lagi. yang bagiku ini hanya satu-satunya hiburan murni yang mengingatkan aku akan keagunganNya. Kenikmatan dalam mencium anak-anak kecil ini hanya satu-satunya lagi tali yang masih menghubungkan aku denganNya. Tapi setelah kenikmatan ini diputuskan, maka putuslah pula tali hubungan ini, dan retaklah segala kepercayaan pada keagunganNya. Barangkali tak ada lagi yang menjadikan aku pedih, selain dari larangan menciium dan mendukung mach-luk-machluk yang lembut murni ini. Aku masih ingat, bagaimana gelapnya dunia bagaimana jahatnya yang berkuasa itu, ketika pada satu hari pernah aku berdua di beranda dengan anaknya yang paling kecil. Anak itu sangat lucunya dan lembut seperti doa-doa dari orang yang penuh percaya di atas tikar sembahyang. Anak itu merangkak dan mulai memegang bajuku yang kebetulan baju itu kugarisi dengan renda sutera merah tua. Dulu—ketika dia masih dibolehkan main-main dalam dukunganku, dia sangat senang merenggut-renggut dan menggigit renda-renda itu. Dan sekarang rupanya dia teringat lagi akan permainannya yang dulu. Tapi memang sangat kejamna semua yang berkuasa itu. Tiba-tiba saja mereka keluar, dan sangat cepatnya anak itu direnggut dan hampir diseretnya. Sembari berjalanan ia menggerutu dengan ucapan yang hanya sebagian terdengar: “tak tahu diri dia tak serupa dengan yang lain”. Kepedihan dari ucapan ini ditambah lagi dengan kepedihan dari gerak-geraknya: anak itu seketika itu juga dimandikan dan diganti pakaianya.

Sambil berbaring di kamar yang merupakan persebunyianku tiap hari, hati ini menyala dan menantang seperti yang mau membakar Tuhan. Tapi pemberontakan padaNya ini, biasa aku damaikan pula dengan ingatan akan ucapan nenekku yang baru saja meninggal tuduh bulan yang liwat. Dulu,—ketika aku pulang dari dukun yang mengtakan bahwa penyakitku tak mungkin bisa sembuh, aku menangis tersedud-sedud dilutut nenekku, ingin diberi berkah supaya disembuhkan. Tapi ia bicara dengan suara rebek rendah dan tangannya yang sudah penuh kerut-kerut itu meraba tanganku “Jika di seberang langit senja itu sudah dimestikan petang ini mesti ada garis merah, mengapa pula garis itu mesti dicoret? Garis merah itu indah, dan garis itu suatu kejadian yang dimestikan. Dan kejadian ini, kebetulan kejadian yang indah. Tapi Sekalipun kejadian ini umpamanya kejadian yang tidak indah dan jahat dan buruk, kejadian ini tetap tak boleh dicoret. Artinya kita tak boleh mencoret apa yang digoreskan yang Maha Agung”.

Dulu,—kira-kira 9 tahun yang lalu, aku masih bisa tunduk akan ucapan ini. Dan dengan ucapan ini aku dapat kedamaian. Bagiku, tak ada lagi ucapan yang lebih sedap didengar, selain dari ucapan kekuasaan yang Maha Agung ini. Tapi sekarang ucapan ini cuma jadi obat dingin yang lumayan dikata hati sedang nyala mau membakar. Dan jika sudah liwat dari peristiwa ini, kembali pula aku dalam pemberontakan, tak mau menerima kepada segala nasib yang diberikan daripadaNya.

Aku capai obat minyak kayu-putih itu sekali lagi, dan kubarutkan dileher, didada, di tangan dan di kaki berkali-kali. Aku belitkan pula selendang merah api yang dari wol itu. Dan aku pakai selimut hingga ke dada. Ini semua adalah perbuatan yang memanjangkan ingatanku pada ibu yang begitu menyayangi aku. Inilah satu-satunya warisan dari ibu yang tidak aku tinggalkan dan tak pernah pula terlupa! Juga jika mejaku selalu penuh dengan obat-obat kuat, obat tidur, lengkap dengan minyak ikannya sekali, ini adalah warisan ibu yang begitu percaya pada semua perintah dan ucapan tabib-tabib.

Sembilan tahun yang lalu, sebelum aku sadar akan kekejaman penyakitku hingga menyadi siksaan yang begini beratnya atas kebebasan hidupku sehari-hari, aku sangat senangnya hidup dalam kesayangan yang begini. Tapi sekarang, aku tahu, bahwa kesayangan ibu yang berlebih-lebihan itu, hanya disebabkan karena penyakitku saja. Jika umpamanya aku biasa serupa dengan saudara-saudaraku lainnya, tentu ibu tak kan begitu hati-hati dan tak kan begitu menyayangi aku, hingga aku selalu merupakan raja kecil di sekitar rumah dan keluarga.

Seperti kau ketahui, dulu aku pernah tahu dan tak pernah merasakan malam-panjang. Aku cuma tahu, bahwa malam itu bagiku pendek, malah terlalu pendek. Dan di malam pendek ini aku diberi macam-macam impian, dan sekali-sekali mulai bertemu denganNya. Mimpi-mimpi ini sangat indahnya, seperti anugerah yang diberikan dari keagungannya sampai pagi. Dan pabila sudah tiba pada pagi begini, aku benci kepada pagi yang baru datang, dan aku menggerutu di bawah selimut “Alangkah pendeknya malam ini. Aku masih mau tidur dan mau mimpi yang nikmat. Apa pula yang dilihat pagi ini? Muka guru laki-laki yang buruk dan penuh jerawat itu? Ah, bencinya aku bukan buatan padanya. Dia sering meraba tangan dan mengusap-usap punggungku yang selalu sakit-sakit dan pegal ini. Jika umpamanya saja guru laki-laki itu mati dengan tiba-tiba, alangkah berbahagianya aku. Dan memang ini keinginanku, membunuh semua yang buruk-buruk di dunia.

Gerutu ini biasa berhenti, pabila terdengar ibu membuka pintu kamarku dan menyingkapkan “kelambu suteraku yang putih dan membangunkan: ”Sudah jam 7, Rika. Kau mau pergi sekolah?“. Diusapnya keningku dan diciumnya lembut seperti kain beledu. ”Masih juga kau berkeringat pagi-pagi, Rik“, katanya. ”Tapi mukamu telah mulai berdarah“.

Waktu ini aku tak begitu ambil pusing akan ucapannya. Keringat pagi-pagi itu bagiku tak ada artinya, dan aku tak mengerti, mengapa begitu cemas ibu akan keringat pagi-pagi? Juga tentang mukaku yang selalu pucat tidak berdarah itu, aku tak begitu ambil pusing. Tidakkah untuk menyempurnakan semua yang pucat ini, aku biasa mencuri bedak merah dan gincu pipi kepunyaan bibik?

Bila ibu telah memberi perintah kepada si Kasim bujangku buat mengambil air panas, hendak, sabun wangi dan sikat gigi, biasa aku dibimbingnya ke kamar mandi oleh ibu. Dan ditunggunya aku mandi beberapa menit dengan sabarnya. Ah, memang ibu begitu sayang!

Saudara-saudaraku semua tak ambil pusing jika aku berlalu dari kamar mandi dalam bimbingan ibu. Mereka sudah tahu, aku sakit, dan caranya ibu menyayangi aku dengan berlebih-lebihan begini, memang telah dianggap satu kemestian oleh mereka.

Mulanya perasaan jadi raja ini menikmatkan aku benar. Tidur panjang, bangun selalu siang, dan makan diutamakan yang sedap-sedap. Saudara-saudaraku biasa makan roti pagi- itu hanya dengan mentega dan gula jawa saja, dan sedikit pula. Dan pergi ke sekolah, mereka tak membawa apa-apa. Tapi aku sendiri setelah siap berpakaian dibantu ibu, aku disediakan roti dengan mentega dan keju. Juga pabila hendak berangkat, dimasukkannya pula bungkusn roti yang banyak ke dalam tasku dan buah jeruk. Dipintu selalu ia berkata: “Baik-baik di sekolah, ya Rik. Kau jangan ikut gerak badan dan jangan main kejar-kejaran. Duduk-duduk saja di bawah pohon dan matahari. Rotinya dan jeruknya mesti kau makan habis, supaya kau lebih gemuk dan mukamu lebih berdarah”.

Sekalipun aku telah jauh dari pintu, bila aku menoleh ke belakang, masih tampak ibu dipintu dengan senyum-pandang kesayangan dan penuh kasihan. Pandangan inilah satu-satunya pandangan yang kemudian membuat aku yadi curiga dan menimbulkan perasaan tahu-diri. Mengapa di balik pandangan sayang ini selalu ditambah pula dengan pandangan kasihan? Mestikah aku dikasihan? Tidakkah aku di sini merupakan raja kecil? Raja itu berbahagia, dan aku pun mesti berbahagia dalam kerajaanku di sekitar rumah dan keluarga.

Rasa curiga dan rasa tahu-diri ini, sehari demi sehari makin membesar. Dan datangnya ini semua selalu dari ucapan manusia dan gerak-geraknya. Jika rajin dipikirkan, tentu menyakitkan hati juga. Dan aku kadang-kadang punya perasaan benci pada Nya, mengapa aku semuda ini telah disuruh sakit hati dan kemudian disuruhnya pula membenci Dia sendiri yang memberi segala ini? Misalnya saja sekali ketika aku mendekati mereka yang sedang bersiap untuk perlumbaan lari di sekolah, tiba-tiba aku didorongkan si Wiesye juara lari itu ke belakang, dan dengan muka dan gerak-gerak ingin dianggap lucu ia berkata rusuh: “Jangan dekat-dekat sini, Rika. Engkau batuk!”.

Mungkin bagi yang lain, dia sangat lucu. Tapi buatku, ucapan-nya ini merupakan pisau tajam yang menyayat-nyayat daging dan jantung. Alangkah jahatnya dia, pikirku. Dan esok harinya aku paksakan diri ini ikut gerak badan dan lari-larian, Sekalipun guruku yang penuh jerawat itu melarangnya. Sampai habis permainan, aku tak apa-apa, cuma kulit muka tambah pucat. “Tidakkah ini bisa kutambal lagi dengan bedak merah dan gincu pipi kepunyaan bibik?”, pikirku. Tapi kesombongan pikiran ini kemudian lenyap, setelah malam harinya ternyata aku tak bisa tidur karena batuk-batuk dan ibuku berkali-kali bertanya: “Engkau ikut lari-larian tadi di sekolah, ya Rik? Engkau tak juga mau tahu-diri, bahwa keadaan badanmu, tak serupa dengan yang lain. Besok tentu doktermu marah, dan terpaksa engkau mesti diam lagi di rumah sakit”.

Dan memang sesungguhnyalah, tiga hari kemudian, aku berbaring kembali di rumah sakit beberapa bulan, dan mejaku penuh lagi dengan tablet dan poeder macam-macam, lengkap dengan minuman minyak ikannya sekali.

Sejak saat-saat inilah aku mulai memisahkan diri dan mulai memelihara perasaan tahu-diri. Dan untuk menutupi malu dari segala ketidak sempurnaan ini, aku sengaja bikin benteng kesombongan antara dua garis yang masing-masing tak dapat kita saling meliwatinya. Sejak saat-saat inilah pula aku dapat merasakan dan aku bisa tahu malam panjang! Di malam panjang ini aku tak pernah lagi menerima mimpi-mimpi indah sebagai anugerah daripadaNya. Aku hanya tahu, bahwa malam ini sangat panjang, dan mata ini sangat capenya melihat lampu kuning yang tegang tak berperasaan itu. Buat menghilangkan cape dalam kepanjangan malam begini, mulailah aku menghafalkan macam-macam ajian dari nenekku yang didahului oleh bacaan ayat limabelas, dan mulailah aku me-ngenal tikar sembahyang. Di atas tikar sembahyang ini mulanya aku merasa betah, dan merasa punya kawan tempat mengadu hati. Tapi lama-lama tikar ini merupakan pekuburan, dan aku kembali merasa sangat dipisahkan dari mereka. Padahal di hati ini menyala keinginan buat mengadakan pergaulan dan kontak dengan mereka. Aku ingin bercerita tentang keinginan dan cita-cita mereka. Aku ingin bekerj berbuat jasa kepada mereka. Tapi perasaan tahu-diri tak serupa dengan yang lain ini, makin lama makin menebal, dan menjauhk rasa pergaulan dari mereka. Aku takut mereka mendo-rongkan aku lagi ke belakang karena diriku tak serupa dan tak kuat sekuat mereka.

Bila segala keinginan ini terus merajalela mengisi malam yang panjang, aku mulai berpikir: tak mungkin keinginan ini bisa sampai karena aku selalu di atas tikar sembahyang. Dengan kese-pian tikar sembahyang ini, aku jadi bertambah jauh dari kerja yang berjasa buat mereka. Itu sebabnya, lama-lama tikar sem-bahyang kuganti dengan meja tulisku, dan tasbeh yang dijadikan dari untaian biji-biji hitam yang seratus biji itu, kuganti dengan penaku. Saat-saat inilah aku jadi senang pada malam panjang, dan aku merasa tak cape lagi melihat lampu yang tegang tak ber-perasaan itu. Malah kini sebaliknya, lampu itulah kuanggap sebagai kawan tempat mengadu. Dan tikar sembahyang bersama tasbehnya tinggal bergulung di sudut kamar merupakan benda-benda terlupa yang sudah terlalu kuno!

Engkau tahu, aku ingin berbuat jasa pada mereka. Tapi dalam ketika ini, kata jasa itu masih merupakan sesuatu yang jauh dan mesti aku kagumi. Dan semua ini menjengkelkan selalu! Aku tak bisa bikin kerja, tapi aku rindu pada jasa. Betapa malunya jadi manusia rumah yang kerjanya tiap hari cuma: makan, tidur, berpakaian, jalan-jalan, kawin, punya anak seperti bibik, kemudian tidur lagi sepanjang malam.

Mulanya banyak melintas pikiran yang gila-gila tapi lucu: “Kalau aku tidak punya penyakit cape dan batuk-batuk begini, aku ingin jadi pemain sandiwara yang modern. Dan di sana aku ingin berceritera apa yang aku punyai di dalam hati. Di sana aku berhadap-hadapan dengan mereka yang ingin kuberi jasa”. Atau kadang-kadang aku ingin jadi pemimpin rapat dialun-alun dan dipertemuan-pertemuan: “Kalau aku tukang pidato. dengan gampang saja aku sampaikan segala ini kepada mereka. Dan bahagia orang yang bisa bertemu berdekat-dekatan saling tanya dan membuka hati. Di kamar sendirian ini cuma berperang dengan hati sendiri saja. Yang kemudian si hati itulah yang repot terbunuh dengan tak pernah ada kepuasan.”

Tapi semua kini berachir dengan suatu perintah baru: “menulislah.” Dan memang aku benarkan perintah ini, sebab ternyata sekarang, aku tak perlu ikut main sandiwara dipanggung. Toch tidak dengan ini juga, keinginanku bisa dibuka dan dimainkan? Juga tidak perlu aku jadi tukang pidato tarik urat panjang dialun-alun. Malah sebaliknya, dengan melihat semua ini aku jadi cape dan geli mau tertawa. Dan jika sekali-sekali aku bicara tentang kerja pada ibuku, biasa ibu bicara dengan suara seperti menghibur: “Engkau tak boleh bekerja, Rika. Seorang pekerja mesti punya sep. Dan sep itu tukang memerintah. Engkau tak biasa diperintah, dan tak senang. Ketidak-senangan ini nanti menyadikan engkau sakit pula. Dan sakitmu menakutkan aku benar! Bagi yang lain mungkin perintah itu tak terasa apa-apa, tapi bagimu cuma jadi siksaan tiap hari. Penyakitmu menghendaki kebebasan!”

Utcapan ini tiap-tiap malam panjang selalu kupikirkan. Memang aku juga takut menghadapi perintah. Aku biasa memerintah, dan aku punya bakat-bakat: bahwa semua orang mesti tunduk atas perintahku. Kata-kata perintah dan diperintah ini biasa mengingatkan pada scorang kawan yang tak tentu tempatnya dia malam ini. Si kawan ini selalu menamakan aku: raja kecil. Sekali kami jalan-jalan malam hari melalui toko buku. “Kau punya duit?”. kataku. “Duitku banyak”, katanya. “Tapi adakalanya aku tak punya apa-apa. Tapi kau mau apa? Tiap-Tiap bertemu, selalu tanyamu yang pertama kautujukan pada duit. Pantas badanmu makin hari makin lemah. Tahuksi engkau bahwa duit itu melemahkan semangat?”.

“Tak terpikirkan olehku”, kataku. “Duit dan semangat itu berpisahan tempat. Duit ada di luar, dan semangat ada di dalam. Bagaimana bisa bersatu dan melahirkan kelemahan? Dan malam ini ada kebutuhanku pada duit itu. Belikan aku buku! Dengan buku-buku, penyakitku bisa berkurang“.

Perintah ini dia turutkan. Padahal baru tadi dia sangat ciapenya berkeliling membelikan aku obat-obat buat malam itu. “Engkau merupakan raja keciil”, katanya sambil memegang pinggangku. Memegang pinggang ini adalah satu-satunya kebiasaan yang tak bisa aku larang. Malah kemudian sangat ganjilnya bila dia lupa tak memegang pinggangku. “Selalu ada apa-apa yang teryadi”, pikirku.

Dia tahu, aku sering sakit-sakit. Malah rupanya dia merasa bis sing kadang-kadang bila aku banyak bercerita dan batuk-batuk di sampingnya. “Kau mesti pindah ke tempat dingin”, katanya. “Yang paling baik di Sukabumi”.

“Sukabumi itu kampung”, kataku pendek. “Kalau tak mau di sana, pindahlah ke Bandung”, katanya. “Aku benci Bandung, kataku lebih pendek. ”Pemudanya selalu pakai dasi dan mukanya penuh jerawat. Kau tak tahu, bahwa aku benci jerawat?“ ”Bicaramu seperti anak-anak“, katanya. ”Yang penting di sini bukan jerawatnya, tapi kesehatanmu. Engkau tak perlu berhubungan dengan dasi dan jerawat“. ”Tapi aku lekas tersinggung. Bila aku melihat yang buruk-buruk macam jerawat atau melihat yang tak kuwingini, tiba-tiba saja kedamaian hati ini jadi terganggu. Achirnya aku punya keinginan, bahwa semua yang buruk-buruk ini mesti terbunuh sama-sekali“. ”Itu karena engkau biasa terpisah dari keramaian masyarakat. Hidupmu cuma di sekitar kamarmu yang sempit itu. Dan pergaulanmu dengan manusia, cukup dengan buku-buku saja. Engkau tidak tahu, bahwa keburukan yang diceritakan dalam buku, dan keburukan yang engkau rasakan sendiri, lebih nikmat dan berlainan“. ”Itu aku tahu“, kataku. ”Memang aku sengaja menjauhi kenyataan. Kekotoran-kekotoran dan kekasaran yang di luar kamarku sekarang, bisa merusak jiwa, dan hargaku bisa merosot ke bawah. Aku ingin, bahwa semua yang kulihat dan semua yang kuciptakan, selalu indah mengagumkan dan mengingatkan kita kepada sesuatu yang jauh-jauh“. ”Yang jauh-jauh itu tak tercapai oleh si rakyat rendahan, dan tak ada artinya buat bikin jasa pada mereka“. ”Ah, mengapa pula mesti menyamakan derajat kita dengan rakyat? Rakyat itu kotor, bodoh, dan tak tahu kesusilaan“, kataku pendek. ”Di sinilah perbedaan kita, Rika“, katanya. ”Kau mau jauh jalan sendiri tapi meninggalkan rakyat, sedang aku biar dikatakan kotor menyamai mereka, tapi sanggup membawanya maju ke muka.

. .Tapi rakyat itu sangat buruk. Dan aku takut akan keburukan yang terus-terang. Keburukan itu selalu menyinggung dan biasa menjadikan aku sakit. Engkau tak tahu, bahwa aku rindu akan segala yang indah-indah!“.

“Engkau belum mencoba dan memeriksa, bahwa keburukan yang kaurasakan sendiri di masyarakat, lebih tinggi dan lebih menghidupkan. Cobalah engkau keluar dari kamarmu yang sempit itu. Gantilah corakmu, isimu dan pandangan hidupmu. Aku sanggup mengajarimu”.

“Gampang saja engkau mau membunuh keindahanku dan mau mengganti corakku”.

“Kalau sudah begitu kemauanmu, carilah nanti di sana perempuan yang indah-indah macam engkau”, katanya mengejek.

“Paling sukar, aku cari kawan perempuan. Kau tak tahu, sekali ketuka aku pergi ke Bandung, aku bertemu dengan seorang perempuan yang indah dan genit seperti bibik. Perempuan itu bercerita: Aku turunan priyayi, katanya seperti yang propaganda tentang priyayinya. Tapi suamiku yang pertama, seorang Tionghoa. Setelah aku kaya, aku berpisah. Dan suamiku kemudian ganti dengan seorang mayoor tentara. Aku tak bisa punya suami satu, dan lama-lama si mayoor suamiku ini sakit dan mati. Sekarang aku kawin lagi dengan mayoor. Mayoor yang kedua. Tapi kemarin aku berdansa di hotel dengan seorang kolonel yang sengaja dia perlop dari seberang buat aku. Dengan sendirinya si mayoor kedua ini mengalah, dan pagi-pagi sekali aku telah pergi jalan-jalan dengan kolonel seberang ini melihat air terjun Dago melalui kebun-kebun dan semak-semak belukar. Ketika itu aku tak bisa menurun, aku digendongnya, juga bila aku tak bisa mendaki, aku ditariknya ke atas. Lihatlah tanganku banyak rusak kena duri.” Dia banyak menyebut-nyebut nama kolonel dari seberang itu seperti yang propaganda. Dan kolonel itu memang seorang pahlawan Indonesia yang ternama di koran-koran. Tapi aku tak bicara apa-apa dengan perempuan itu. Cuma kasihan aku pada negaramu dan rakyatmu yang selalu kau bela itu. Kasihan Indonesia, banyak ditipu pahlawan-pahlawanya,“ pikirku

“Ceritamu itu tak aneh,” katanya seperti menghina. “Karena kau tak pernah campur dengan kekotoran masyarakat, baru mendengar yang begitu saja sudah dianggap mengherankan. Bila dibandingkan dengan kekotoran lain-lainnya, ceritamu itu hanya kejadi yang sewajaryna.” katanya senyum.

“Tapi aku bersyukur tak dekat-dekat kekotoran yang begitu. Aku tak mau kotor-kotor. Kau bisa lihat keadaanku sehari-hari: jika aku mau naik beca saja umpamanya, pertama sekali aku lihat bentuknya beca itu. Bila beca itu tutupnya telah robek-robek dan cat pada tilamnya luntur-luntur, atau bentuknya pendek dan menceng, aku tak jadi naik, Sekalipun beca itu telah kupanggil.

Apa lagi jika tukang becanya terlalu kurus dan bajunya robek-robek mengerikan, aku tak mau sama sekali.“

“Di sini kau tak ingat, bahwa yang penting dalam becamu itu, bukan bentuknya, tapi ialah: sampai tidaknya engkau ke tempat dituju. Bentuk tak usah kau bikin pusing, asal isi dan tujuan sampai ke tempat yang kau ingin.”

“Bagiku tak begitu. Yang pertama-tama adalah bentuk. Si bentuk itu bisa memberi pengaruh kepada isi. Isi yang bagus, bisa menjadi buruk karena dirusak dan dipengaruhi bentuk yang buruk.”

“Itulah pikiran-pikiran cetakan borjuis kecil yang keinginannya menyadi raja.”

“Borjuis itu indah,” kataku dengan puas. Tapi kelihatan warna mukanya jadi merah mendengar kataku ini.

“Jadi karena segala keburukan-keburukan itu, engkau mau pin-dah dan tak mau mencoba keluar dari kamarmu melihat kenyataan-kenyataan?”

“Bukan tak mau keluar, tapi aku takut jika aku sudah ada di luar, aku didorong kembali ke belakang, karena penyakitku yang menakutkan ini. Engkau tahu sendiri, bahwa penyakitku adalah satu-satunya penyakit yang dijauhi manusia.”

“Itu hanya cita-citamu saja. Dan aku tahu, engkau terlalu banyak fantasi dalam tiap-tiap kejadian.”

Aku diam sebentar, dan aku sangsi akan kata-katanya ini. Tidakkah mereka tahu semua, bahwa aku punya penyakit batuk? Kemudian kataku: “Dan kau? Kau sendiri tak takut? Eengkau be-lium tahu, bahwa pernah ada seorang pemuda yang kugemari, dan pemuda itu menyayangi aku. Tapi setelah dia tahu bahwa aku suka batuk-batuk, dia pergi dan menulis dari jauh: ”Kita tak bisa kawin, Rika. Penyakitmu berbahaya buat keturunan kita. Tidakkah kita kawin hanya semata buat menciptakan turunan yang tak berpenyakit?“

Sejak ini aku jadi takut dekat-dekat pemuda, dan takut pula didekati. Untuk menutupi takut ini, aku pura-pura sombong, dan aku tak membutuhkan mereka. Aku mau lari saja sendiri lurus ke muka!

“Pemuda itu gila!”, katanya. “Dia terlalu mementingkan upacara dan terlalu meletakkan perhatian pada membikin turunan. Seakan-akan tak ada lagi kerja yang lebih penting, selain dari berpikir tentang membikin turunan”.

“Dan kau?”, kataku. Kau tak takut penyakitku?“.

Dia diam saja seperti tak ada yang penting-penting. Hanya terasa kemudian dia menciium rambutku. Ini pun kebiasaan nyya Kebiasaan yang kedua. Dalam kebiasaan yang kedua ini aku merasa seperti ada dalam satu pelindungan.

“Tapi terpikirkan juga olehmu tentang kawin?”, katanya.

“Tak tahu aku. Aku belum sampai kepada soal itu, atau mungkin juga sudah liwat. Sebab memikirkan tentang penyakitku juga sudah begini capenya. Dan kata ibu, kawin itu hanya satu kesengsaraan saja buatku. Dan dalam kesengsaraan itulah letaknya penyakitku. Juga jika melihat perkawinan bibikku yang genit itu, memang kata-kata ibu sedikit-banyak ada benarnya. Bibikku punya diploma buat guru sekolah rumah tangga. Tapi setelah kawin, dia diam di rumah dan punya anak. Kau tahu bagaimana hidupnya dia tiap hari? Tidur, bangun, masak, menanti suami dari kantor, kemudian bercumbu-cumbuan diranjang sambil tertawa membisingkan telinga. Dia tak pernah keluar berjalanan, jika tidak dengan suaminya. Seakan-akan hidupnya itu bulat-bulat diberikan pada suami, dan hidup-hidup menyerahkan diri dalam genggaman suaminya. Dan si suami itu praktis hanya jadi tukang perintah. Alangkah takutnya aku diberi hidup begitu. Padahal aku rindu pada jasa!“

“Itu cuma kebetulan bibikmu saja, dan ia tolol tak bisa cari suami. Pilihlah laki-laki yang tak mementingkan sakunya”.

“Dan kau sekarang jadi apa? Masih terus kerjamu seperti du-lu menindas individualismemu?”.

“Mengapa mesti berganti?”, katanya.

“Dan kau tak pernah jadi mahasiswa”, kataku.

“Aku lebih berguna daripada mahasiswa”, katanya. “Aku tak kan bisa mengisi kekosongan jiwa dan keyakinan dengan diploma yang berjubel-jubel, atau dari pagi sampai jauh malam mencari dan mencari duit melulu untuk kehidupan dan posisi diri sendiri. Aku tak kan mungkin seperti itu. Sejak nabi Adam, dunia ini sudah penuh dengan manusia-manusia macam itu. Kini akan kucoba menyadi manusia berguna untuk sesama dan untuk angkatan yang akan datang”.

Sebulan sesudah pertemuan ini lampau, kami jumpa pula. Dan ketika ini penyakitku sedang berat, dan tiga hari sekali pergi kedokterku.

“720 jam sejak dulu itu kita tak jumpa, Rik”, katanya tiba-tiba.

“Tapi kau begitu gemuk”, kataku. “Dan pakaianmu tak menyedapkan aku. Kau melupakan perintahku”.

“Mulai besok aku pilih lagi pakaian yang menyedapkan”, katanya.

“Tapi ini buat egoisme-mu seorang saja”.

“Tapi kenapa kau begitu gemuk?”, tanyaku kedua kalinya.

“Itulah keanehanku”, katanya. Jika lama tak jumpa, aku gemuk, karena pikiran ini bulat saja kepada kerjaku. Aku damai, tak mendengar ceritamu yang selalu bertentangan itu, dan aku senang tak mendengar batuk-batukmu dari dekat. Sebaliknya jika sering jumpa, aku jadi kurus. Dan engkau?“.

“Tak tahu aku,” kataku. “Aku tak ada waktu buat memecah soal-soal antara gemuk dan tidak gemuk. Cuma yang terang, penyakitku makin bertambah, dan tiga hari sekali aku dapat injeksi supaya ingin makan dan tak begitu lemah. Kau tahu, bahwa mereka yang kutumpangi rumahnya sekarang ini, kini sudah mulai takut pula akan penyakitku. Bila aku batuk, Sekalipun jauh, mereka mesti memalingkan mukanya kepinggir. Dan selalu menutup hidungnya. Aku jadi sedih, di mana aku mesti berdiam?“

“Kau mesti pindah dan cepat-cepat keluar dari kamarmu”. “Sekarang mukamu begitu putih. Kau mau minum?”.

“Aku mau”, kataku. “Tapi di rumah-minum yang tidak laku. supaya tak ada orang. Bagiku orang-orang itu selalu menyinggung dan mengganggu kedamaian hati”.

“Aku cuma punya waktu satu jam, buatmu. Sebentar lagi aku ditunggu orang-orang yang mau rapat”, katanya.

“Buruknya jadi orang politik itu begitu. Selalu dibatasi waktu. Tapi hari ini aku tak punya reaksi apa-apa. Kalau dulu, mungkin aku akan minta tambah lagi 30 menit. Dan sekarang kau menetap di sini?”, tanyaku.

“Tak tentu. Ada kalanya dalam sebulan aku mesti keliling Jawa. Dan dalam perjalanan ini aku makin tahu, bahwa seluruh alam ini hampir penuh ditutupi keburukan. Perjangan antara keburukan dan keindahan ini sudah hampir tak terasa lagi. Dan keindahan yang dulu kau pertahankan itu, sekarang tak ada artinya sama-sekali. Jika umpamanya engkau mau mempertahankan keindahan macam dulu, jangan keindahan yang begitu lama, tapi bikinlah keindahan baru, sebab keindahan lama sudah hampir habis ditelan keburukan yang kau benci”.

“Aku begini lemah. Tak terpikirkan olehku buat mempertahankan keindahan lama itu. Malah adakalanya terpikir olehku, bahwa aku ingin melebur diriku sendiri buat mengadakan diri yang baru. Tapi aku masih sangsi”.

“Kau mesti pergi dari kamarmu, dan kau mesti cari tempat dialamku. Kalau tak salah, di sinilah engkau boleh melebur dirimu yang kini, dan kau bentuk dirimu dengan satu keinginan dan kepercayaan yang baru. Bulan depan achir Desember ini aku akan berlayar ke seberang melalui lautan. Kau mau ikut? Kalau mau, nanti kutunggu penghabisan bulan depan. Kau mesti tahu, bahwa penyakitmu ada dalam kamarmu sendiri!”.

“Tak tahu aku”, kataku sangsi. “Aku mau juga mencoba ikut. Tapi aku masih sangsi. Sekarang aku mau pulang. Alangkah lemahnya”.

“Achir Desember aku melalui lautan. Tapi engkau akan terbunuh oleh kesangsianmu. Cepat-cepatlah kautinggalkan kamar itu”.

Kemudian di sini kami berpisah. Dia kutinggalkan sendirian di rumah-minum yang tidak laku.

7 hari sejak ini aku tak bisa keluar kamar lagi. Tak bisa pula jalan-jalan melalui toko-toko buku. Tubuhku terlalu lemas dan selalu ingin berbaring, sampai tiba saatnya pada malam kini yang mengerikan. Tapi kata-katanya yang kutinggalkan di rumah-minum yang tidak laku itu masih mengiang: “Penyakitmu ada dalam kamarmu sendiri! Pergilah cepat-cepat dari kamar yang penuh penyakit itu. Bulan depan aku akan pergi melalui lautan, menyeberangi batas alam yang telah habis diliputi keburukan. Kau mau ikut? Cobalah ganti cobakmu, isimu, dan pandangan hidupmu”.

Memang ada terpikirkan malam ini bahwa percobaan ini akan kumulai. Tapi cuma percobaan saja. Aku ingin lari dari kamar ini, menyeberangi batas alam melalui lautan berlayar lurus ke muka. Tapi aku ingin, bahwa segala tanggung jawab kuletakkan di atas bahuku sendiri. Dan segala cobak, isi dan pandangan hidup yang tadi dan kini aku miliki, akan tetap kubawa hingga ke-nanti.

‘Bantal ini kutambah satu lagi dan kutinggalkan. Sebab jika sedang lemas begini, dadaku mesti bersandar. Ini pesanan ibuku dulu ketika kami masih bersatu dan belum berpisah seperti kini. Pesannanya ini banyak benar yang kini kurombak sama-sekali. “Kau jangan kerja di bawah perintah satu kepala atau satu sep. Rika”, katanya. Tapi kini aku bekerja juga tiap pagi sehari penuh. “Kau jangan terlalu lambat masuk tempat tidur. Paling lambat jam 9”. Tapi kini selalu aku tahu malam-panjang dan sering merasakan angin-dingin difajar menyingsing. “Kau tak boleh berpuasa, Rika”. Tapi bila aku kebetulan tidak sedang batuk-batuk, aku sering mencoba-coba berpuasa. Hanya ada pesanan-na yang kini masih kupegang, ialah: “Kau sebenarnya tak boleh kawin, Rika. Dalam perkawinan itulah letakna penyakitmu. Aku chawatir, kau akan mendapatkan seorang suami yang membawa kau ke-kepayahan penyakitmu”. Pesanan inilah yang kini masih kupegang, Sekalipun ibu sudah pergi meninggalkannya. Dan memang soal ini belum pernah terpikirkan olehku. Bukannya begitu sulit, cuma barangkali terlalu ke bawah soalnya, dan soal ini bukan bagianku, juga tidak patut pula jadi pembicaraanku.

Tapi untuk mempertahankan pesanan ibu ini, terpaksa aku mesti bekerja sendiri mencari duit ‘buat melindungi kesehatan dan keseluruhan hidupku. Memang bila terpikirkan kini, pesanan ini satu kemustahilan. Dan kemustahilan ini selalu membawa ke tempat sangsi. Bagaimana aku akan bisa terus memperpanjang hidupku, jika aku mesti bekerja selalu, sedang kesehatanku terganggu karena kerja?

Dalam kesangsian ini aku meronta-ronta ingin mencari Dia kembali yang dulu pernah kucari dan kujumpai ditikar sembah-yang dan bilangan tasbeh. Tapi aku sudah terlalu malu, karena begitu lama aku tak mengacuhkan Dia. Malam ini kucoba bangun pelan-pelan dan kucari tasbeh dalam laci lemariku. Aku mulai memegang tasbeh itu kembali sambil berbaring, dan bibirku bergerak tak tentu bunyi dan ucapanannya: “alif laammim. .. .. .. .. ..”. Tapi tiba-tiba saja hati ini jadi malu, karena tak tentu hendak ke mana aku menuju. Dan ajian ini sama-sekali jadi terlupa, dan jadi barang yang sangat asing!

Tasbeh itu berjuntai kepinggir tempat tidur bersama tanganku, dan kemudian ia jatuh menimpa obat nyamuk yang sedang mengepul asapnya melalui hidung, mata, dan pipiku yang sangat putih. Obat nyamuk itu patah ditimpa tasbeh dan apinyna tak merah lagi, sedang lama-lama matilah ia dengan tidak ada reaksi apa-apa. Aku biarkan nyamuk-nyamuk mengiang ditelingaku, dan aku bersandar dibantal dua tumpuk dengan mata terpejam, sedang batukku mulai reda berkurang. Tapi dalam kepejaman matakui ini, aku tak melihat lagi lentera merah yang biasa dibawa Dia kedepanku, Sekalipun aku minta supaya lentera merah itu datang lagi. Dan yang penting buatku, malam ini bukan lentera merahnya, tapi Dianya, Dia itulah yang tiba-tiba kurindui. “Aku ingin jumpa”, pikirku.

Dalam kerinduan padaNya, dan dalam kerinduan pada usapan tanganNya dirambutku, aku merasa, bahwa aku telah mengusir satu kepercayaan. “Alangkah miskinnya aku”, pikirku. “Kekayaan yang cuma satu-satunya lagi yang tinggal, kini kulepaskan dengan tiada perasaan tabu-diri”.

Tapi besok aku ingin pergi dari kamar ini sebelum terusir, dan akan kucari si kawan yang mau melalui lautan itu. Barangkali dengan kepergianku hari-besok ini, aku masih bisa mengejar kepercaan yang tinggal satu-satunya lagi kekayaanku. Kepercayaan yang Dia genggam dan Dia punyai seluruhnya dari bentuk hingga ke-isi!


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.