Baca EPUB: Menuju Kamar Durhaka

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. MENUJU KAMAR DURHAKA
  2. UTUY. T. SONTANI
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. MENUJU KAMAR DURHAKA
  6. CC BY-SA 4.0

UTUY. T. SONTANI


KOLOFON

MENUJU KAMAR DURHAKA

oleh

UTUY. T. SONTANI



1949

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Koleksi Pribadi Muhammad Reza Magistra

Ilustrasi sampul: The Accused Desdemona 1973, karya Leonard Baskin

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam. com



TATKALA jam 4 lebih aku berjalan menjinjing koper sepanjang jalan kecil, sekacau-kacaunya ingatan, aku masih dapat merasakan bahwa ada satu dua laki-laki yang memandang kepadaku dengan hati memuji kecantikanku. Tapi perempuan mana yang dapat membuka hati terhadap pandangan laki-laki, bila baru saja bertengkar dengan suami sehingga menimbulkan akibat perceraian? Ketika suamiku mulai bertemu dengan aku, ia pun memandang aku dengan pandangan seperti yang dipandangkan laki-laki selama aku berjalan itu. Tapi di waktu yang achiir-achir ini ia tidak lain dari seekor binatang berkedok manusia; hampir tiap malam meninggalkan rumah, pergi ke tempat lacur di Gang M.

Apakah yang dapat lagi kukatakan dalam hatiku terhadap laki-laki di jalan itu selain dari ucapan: “Hih, tak usah engkau mencoba merayu hatiku. Aku ini kurban manusia semacam engkau dan mesti benci kepadamu!”

Betul aku pernah merasakan kesenangan hidup bersama dengan suamiku, pernah mengecap madu cinta bersama. Tapi kejadian itu sudah dua tahun ke belakang, sedang barusan, sepuluh menit yang lalu, ... aduh, sampai tidak terasa jalan yang ditempuh sudah jauh, tidak terasa tangan sakit menjinjing koper; yang terasa hati merasa sakit, sungguh sakit digigit-gigit ucapan kasar yang barusan keluar dari mulut suamiku: “Pergilah engkau! Tak sudi aku serumah dengan kau.” Masih nampak-nampak betapa bengis mukanya dikala melahirkan kata-kata itu. Seperti ia sudah terlupa samasekali terhadap pembaktianku sebagai isterinya, atau seperti aku ini dipandangnya perempuan jalang. Ya, lebih rendah dari itu malah, lantaran perempuan jalang di Gang M. dia puja sampai lupa pulang ke rumah, seperti yang teryadi di malam-malam dalam minggu yang achiir-achir ini,—seperti juga yang teryadi tadi malam, sampai-sampai ia baru pulang ke rumah jam dua tadi siang dengan muka kecut menantang bertengkar.

Di dalam aku teringat kepadanya, rupanya ia senang-senang saja tidur dengan perempuan itu. Di dalam aku tidur sedirian menanti-nanti kedatangannya, rupanya ia asyik saja memeluk mencium perempuan itu.

Hati siapa yang tidak akan panas seperti hatiku sekarang dan tidak ada keinginan menemui itu perempuan jahat yang menyebabkan sampai teryadi perceraian sehingga aku kini mesti berjalan meninggalkan rumah?

Sayang, sungguh sayang, perempuan itu tak pernah kokenal. Kalau sudah, biar botol yang kupukulkam kepada suamiku tapi dapat ditangkisna tadi, kulemparkan pula kepada muka perempuan itu! Biar ia mendapat bagiinnya, biar sekurang-kurangnya mukanya rusak sebagai hukuman atas perbuatannya yang durhaka yang menyebabkan aku kini mesti bertanya: ke mana mesti pergi?

Dan sesungguhnya, kian kupikir-pikirkan kian terasa adanya keharusan menghukum perempuan itu, sebab mengapa setelah nampak di hadapan mataku banyak toko berderet dan terdengar disikitarku suara silang-siur kendaraan, masih juga aku mesti bertanya: ke mana mesti aku pergi? Mesti kestasiun saja untuk terus mengendarai keretaapi menuyu rumah orangtuaku? Padahal orang banyak di jalan itu, tentu tidak semuanya akan memuji kecantikanku, tentu diantaranya ada juga yang akan mencemooahkan nasibku atau memandang rendah kepadaku, seperti itu perempuan kenalanku yang kulihat gembira berjalan hendak mendekati aku dan tentu akan bertanya apa sebab aku membawa koper.

Kupanggil saja delman yang lewat kehadapan, kunaiki delman itu dengan cepat seraya melemparkan kata kepada kusirnya: “Kestasiun!”

Tapi setelah delman maju, rumahku lagi saja yang terbayang di hadapan muka. Sesungguhnya suatu perbuatan yang dengu, sebab rumah itu bukan rumahku, tapi rumah suamiku yang sejak barusan menyadi bekassu amiku. Tapi dengu atau tidak dengu, siapa orangnya yang akan lupa kepada rumah yang didiaminya selama dua tahun, dipelihara perabotannya setiap waktu, dan baru- san, sepuluh menit yang lalu, tiba-tiba mesti ditinggalkan? Padahal suamiku yang sejak barusan sudah bukan suamiku lagi dan kini kuitinggalkan di rumah itu, mulai nanti malam juga tentu akan tidur dengan perempuan yang akan didatangkannya ke sana, di atas tempattidur yang biasa ditidurinyia bersama aku yang barusan jadi isterinya, tapi kini ada di jalan dan nanti malam entah akan tidur dengan siapa.

Kejam, sungguh kejam laki-laki itu! Lebih kejam lagi perempuan yang akan merebut tempatku. Sepatutnya dia kurangsang seperti juga suamiku yang tadi kurangsang, ketika ia mengatakan: “Memang di Gang M. aku lebih senang daripada dirumahku sendiri!”

Uh, kalau perempuan jahat itu sekarang ada di hadapan!

“Apa, Neng?” bunyi suara kusir delman yang mengejutkan dan memaksa aku mau atau tidak mau mesti memandang kumisnya yang menyebalkan.

“Jangan kestasiun, ke Gang M. saja!” yawabku dengan keinginan supaya ia lekas memalingkan lagi mukanya, tidak lama memperlihatkan kumisnya yang diyarang seperti sikat kakus itu. Tapi ia malah bertanya: “Ke Gang M. ?”

“Ya, ke Gang M. , goblok!” kataku seperti aku tadi berkata kepada suamiku: “Ya, engkau binatang!”, atau seperti yang ingin kukatakan kepada itu perempuan jalang di Gang M. yang sudah berani melantarkan aku sekarang menjadi janda: “Ya, engkau jalang jahanam!” Untung ia tidak berkata lagi dan pada simpang-empat, ia membelokkan delman ke arah jalan yang terus ke Gang M. , tidak terus menuju kestasiun.

Duduknya yang agak tertunduk, tak salah lagi lantaran ia takut kepadaku, dan jika kuperhatikan kericut kulit lehernya yang mengutarakan bahwa dia sudah tua, sebenarnya memang tidak usah aku memandang sebal kepadanya, tidak usah pula tadi melemparkan kata-kata marah kepada orang setua itu. Ya, tidak usah aku tadi menyuruh dia membawa aku ke Gang M. , sebab buat apa sesung guhnya aku ke sana?

Oh, berharap benar aku supaya ia sudi memandang lagi kepadaku dan mengajak berkata kepadaku. Biar dia akan kupandang sebagai orang tua yang menghibur susahku. Biar dia nanti kusuruh lagi dengan ramah supaya membelokkan lagi delmannya. Tapi ia terdiam saja, rupanya sedang merasakan sakit hati lantaran tadi kumarahi. Padahal jika kulepaskan pandanganku dari dia, melihat kesekitar, nampak toko manisan yang dilalui, yang biasa-biasa kudatangi dengan perasaan lega, ketika itu mengajak aku berdebaran memandangnya, serasa-rasa merek toko itu berkata: “Awas kau! Lima menit lagi akan kau sampai ke sana!”

Ah, bagaimana aku mesti menyuruh orang yang sedang luka hati supaya balik lagi; bagaimana aku harus memulai berkata kepadanya, supaya ia tidak nanti berkata dalam hatinya, bahwa aku ini perempuan gila lantaran bercerai dengan suami? Biar saja ia terus membawa aku sepanjang jalan itu, Meskipun jantungku terasa keras memukul-mukul dada, lebih keras dari suara langkah kuda. Biar terus melewati Gang M. , terus jangan berhenti di sana, entah akan ke mana saja.

Tapi sungguh tak kunyana, bahwa kusir itu bukan orang berbudi; senang saja nampaknya dikala ia menarik kendali menghentikan kuda di depan Gang M. ; seperti tak diacuhkannya rasa kasihanku yang dilimpahkan kepadanya tadi, atau memang dasarnya goblok, ingin menerima pukulan selop yang serasa-rasa hendak kulemparkan kebatang hidungnya.

Sudah hendak kusemprotkan perintah: “Terus!” sebagai ganti nyia selop, tapi ya, tapi apakah ruginya dari atas delman aku melihat jalan yang ada dikelopak mata, yang biasa dilalui suamiku di malam hari itu? Kalau sudah melihat jalan itu, baru delman boleh disuruh maju lagi.

Jalan itu kecil, hanya cukup untuk dua orang berjalan bergandengan tangan. Dipinggirnya ada solokan, airnya kotor, tapi tidak lebih kotor dari itu rumah petak dikapur putih terdiri atas beberapa kamar, letaknya di ujung jalan.

Tapi kamar manakah yang didatangi suamiku tadi malam? Semua kamar nampaknya sama saja; setiap kamar menyebutkan dirinya kamar, lantaran ada pintunya untuk masuk. Pintu mana yang sering dilalui suamiku tentu tak mudah ditebak, sebab semua pintu dibikin dari kayu!

“Mencari siapa, Neng?” bunyi suara perempuan mengiang di-telinga.

Ternyata perempuan setengah tua yang duduk diwarung kopi di tepi jalan kecil, yang mengatakannya. Mukanya yang dihadapkan kepadaku persis seperti muka kera yang pernah kulihat di kebun binatang dulu; tak salah lagi dialah centeng yang biasa menghubung-hubungkan perempuan-perempuan lacur di sana dengan laki-laki yang mau pelesir, juga yang melantarankan suamiku senang datang ke sana. Peniti dolar mas yang bergantung di dadanya tentu diperolehnya dari hasil pekerjaannya yang durhaka itu dan gelang mas sebesar kelingking membelit tangannya adalah keuntungan dari perbuatannya yang menyebabkan aku kini sampai menjadi janda claka yang mesti melepaskan dendam kepadanya dengan mencekik lehernya yang seperti leher babi itu.

Segera saja aku membayar delman dan terus turun, mendatangi warung kopi itu, duduk di kursi yang disodorkan anak kecil kepadaku. Beberapa saat lamanya mataku terus dipandangkan kepada kera tidak berbulu itu dengan hati menembak-nembakkan kutuk: “Engkualah yang jahat!”

“Adakah yang Eneng cari?” tanyanya dengan senyum seperti senyum penjahat yang pernah kulihat dalam pilem.

“Ya, ... tapi berilah aku kopi-susu,” jawabku seraya memalingkan muka.

Ia menyediakan apa yang kuminta. Ketika meletakkan gelas kopi-susu dihadapanku, jelas kelihatan matanya yang seperti mata anjing itu ditatapkan kepada koperku yang kutaruh disampingku.

“Eneng mencari kamar untuk menginap barangkali?” tanyanya; suaranya berirama, tak salah lagi seperti yang biasa disuarakan kepada suamiku juga, yang boleh jadi merdu bagi oranglain, tapi bagiku tidak.

Tapi apa yang dimaksudkannya dengan pertanyanan itu? Sudah tahukah gerangan orang kotor itu bahwa aku ini perempuan diusir dari rumah suaminya? Atau ia bertanya untuk bertanya saja, berlagak manusia baik budi?

“Kamar-kamar di sini bersih, Neng,” katanya lagi. “Yang suka datang di sini bukan laki-laki dari golongan rendah.”

Memang siapa pernah mengatakan, bahwa suamiku orang rendah? Banyak perempuan meladeni dia, justru lantaran ia tidak bermatabat rendah. Maka tanyaku dengan menggemeretukkan geraham: “Seringkah tuan Suminta datang di sini?”

“Suminta mana?” tanyanya seraya mengerut-ngerutkan alis, persis seperti monyet menemui kutu.

“Klerk di kantor K.” “Bisa jadi, tapi yang pangkatnya lebih tinggi dari klerk juga sering datang di sini.” “Siapa?” tanyaku dengan ingatan mengatakan: “Laki-laki bukan suamiku masabodoh saja!” “Tuan camat juga sering datang di sini,” jawabnya. Ya, camat memang lebih tinggi dari suamiku, kedudukannya lebih tinggi, gajinya juga lebih besar. Seorang camat ada disampingku dan bersukasenang dengan daku, tentu akan memuaskan hatiku dan akan membikin ketil bekas suamiku yang sudah berani memandang rendah kepadaku. Sayang, aku tak pernah mengenal seorang camat. “Eneng lesu sekali kelihatannya,” bunyi suara tukang warung kopi lagi. “Mari diminum kopinya; kalau belum merasa segar juga boleh nanti tidur-tiduran.” Tidur-tiduran? Apa maksudnya? Pertanyaan-pertanyaan ini kulemparkan kepadanya bersama pandangan mata menatap. Ia tersenyum; bermula senyumnya itu masih dapat kutentang dengan hati bertanya: “Kau mau menyuruh aku tidur dengan camat?” Kemudian terasa suruhan hati untuk lebih baik memandang ke arah kueh. Ketika hendak kutanyakan berapa harga kueh itu, terdengar lagi ia berkata: “Ya, Bagaimanapun juga dikatakan orang, tapi menyadi kesenangan bibi memberi pertolongan pada oranglain.” “Hh, kedatangan suamiku dan camat di sini, tentu saja memberi kesenangan padamu!” kata hatiku. Dan aku kian tak sudi menghadapkan muka kepadanya. Biar saja ia terus berkata: “Siapa pun juga yang datang di sini, bibi anggap sebagai orang yang mesti bibi ladeni untuk menolongnya.” “Tapi laki-laki yang datang di sini, semuanya juga binatang, baik suamiku, Maupun camat itu!” kata hatiku. Dan kupegang gelas kopi susu, hendak kuhirup isinya. “Eneng cape sekali nampaknya,” katanya lagi, “seperti orang kurang tidur. Padahal bibi juga menyediakan tempat untuk tidur-tiduran.” Gelas yang kupegang itu mau rasanya kulemparkan kepada mukanya yang kupandang lagi dengan tajam sampai jelas kelihatan kericut kulit di bawah kelopak matanya. Dalam mulutku serasa-rasa sudah berkumpul kata-kata yang ingin kutampakan: “Kau mau menyuruh aku tidur dengan sembarangan laki-laki? !” Tapi ia lekas menyusul dengan ucapan: “Tak ada yang akan mengganggu Eneng, kalau Eneng mau tidur. Sebab kebetulan kamar itu kosong. Tu, kamar itu!” Mau atau tidak mau kulayangkan matakui ke arah yang ditunjuk telunjuknya, ke kamar petak yang paling ujung, yang tadi nampak tidak berbeda dengan kamar-kamar yang lain, tapi sekarang jelas kelihatan di depan pintunya yang tertutup ada sapulidi dan ember, menunjukkan bahwa kamar itu akan atau baru saja dibersihkan dari segala kutubusuk dan segala tanda-tanda yang akan menerangkan siapa laki-lakinya yang sering datang ke sana, juga yang akan menerangkan, bahwa suamiku tadi malam tidur di sana.

Tapi mengapa kamar itu kosong? Mengapa perempuan yang mendiaminyna pergi? Adakah gerangan perginya itu untuk pindah ke rumah suamiku? Untuk nanti malam mulai tidur di atas tempat-tidurku?

“Kapan kamar itu mulai kosong?” tanyaku dengan mengharap jawaban penuh.

“Baru tadi,” yawabnya, dan ia tentu tidak dusta mengingat bahwa kamar itu akan atau baru saja dibersihkan.

Entah berapa teguk aku menghirup kopi-susu, sebelum aku dapat merasakan bahwa bertanya: “Siapa nama perempuan itu?”

“Hatimah.”

Hatimah? Tapi nama itu tak pernah disebut-sebut suamiku. Ia pernah menyebut nama Netc ketika di dalam tidur memeluk aku.

“Bukan Netc?” tanyaku lagi.

Ia tersenyum; katanya: “Seribu nama boleh dipakainya, Neng.”

“Seribu nama bagaimana?”

“Ya, untuk bibi dia bernama Hatimah, tapi apa salahnya ada laki-laki yang memanggil dia Netc atau Hapsah atau apa saja.”

Kalau begitu apa salahnya Hatimah itu dipanggil Netc oleh suamiku dan apa salahnya kamar yang kosong itu kulihat untuk terus dibakar sampai jadi lebu? Biar aku puas bertperai dengan suamiku.

“Akan Eneng pergi ke kamar itu?” bunyi suara tukang warung kopi lagi.

“Tidak. Tidak usah,” yawabku; di dalam hati terasa sedih membayangkan betapa akibatnya kalau aku melakukan perbuatan sampai sampai kepada membakar rumah oranglain. Orang tentu akan mengatakan aku ini gila kegila-gilaan lantaran dicerai dan itu perempuan jalang yang sudah dan akan bersenang-senang dengan suamiku, akan lebih merasa puas saja.

Kuangkat badanku, lalu bertanya: “Berapa harga kopi-susu ini?”

“Setalen.”

Setelah memberikan uang setalen, lekas saja kujinjing koperku, lalu berjalan keluar dengan hati bertanya: ke mana sekarang?

Ya, ke mana? Tadi aku mau saja kestasiun untuk terus pulang ke rumah orangtuaku. Tapi sekarang di dalam perempuan jalang meninggalkan kamar durhakanya dengan keinginan tak salah lagi untuk mengubah nasib, mengapa aku, aku yang sedang jadi sepah terbuang, mesti menyerah kepada nasib buruk, datang ke rumah orangtua, memandang orangtuaku sebagai keranjang? Oh, di mana letak hargaku yang lebih tinggi dari perempuan jalang? Di mana letak hargaku yang mesti kelihatan oleh bekas suamiku bahwa sesungguhnya bekas isterinya itu bukan sepah yang dia buang setelah dia habiskan manisnya?

Tapi ya, mesti ke mana aku pergi? Ke mana? Tak kuacuhkan tukang warung kopi terdengar berseru: “Neng, ini saputangan ketinggalan!” Biar saja ia menyusul aku untuk menyerahkan saputangan itu. Jawabku cukup dengan menghentikan langkah menunggu dia datang menghampiri. Setelah ia ada dihadapanku, mukanya tak hendak kupandang. saputangan yang disodorkan kepadaku juga tak hendak kuamati. Bahwa aku sudah datang diwarung kopinya, cukup rasanya dijadikan terimakasihku. “Eneng sekarang mau ke mana?” tanyanya. Ya Allah! Mengapa manusia buruk itu seperti tahu apa yang kutanyakan, seperti sudah tahu tentang keadaan diriku? Tahu pulakah ia gerangan, bahwa suamiku tak mencintai aku? Kupandang mukanya. Nampak jelas bibirnya renyut, persis seperti bibir monyet; tak salah lagi akan mengeluarkan kata-kata penghinaan yang halus: sebal, jijik dan benci memandangnyga, lebih benci daripada aku melihat suamiku tersenyum mengejek. Mau rasanya aku mangasih tamparan atau melemparkan botol ke arah kepalanya yang bersanggul kecil seperti tahi ayam itu. Sayang, kami ada di tepi jalan besar, kalau ada di tempat yang tiada lagi oranglain, sudah pasti paling sedikit aku melemparkan ludah kehidungnyga yang pesek. Itu juga ludahku terasa sudah terkumpul dalam mulut, ketika kuayun langkahku untuk menjauhi nyga, untuk melenyapkan mukanya yang buruk itu dari kelopak mata. Kalau kupikir-pikirkan, memang rupanya sudah menyadi kesenangan orang, ikut memukul oranglain yang sudah lesu dipukul, ikut menghina oranglain yang sudah lesah dihina. Seperti halnya dengan monyet tidak berbulu itu. Ia menghina aku yang sudah dihina suamiku sudah barang tentu dengan merasa senang, sebagaimana diutarakan oleh senyumna tadi. Demikian senangnyga, sampai-sampai di dalam aku berjalan juga, setelah aku menjauh juga, ia terus saja memandang belakangku dengan masih tersenyum. Ini takkan salah lagi, sebab pantatku serasa-rasa berat diangkat dan ketika kakiku tersintuh kepada batu sehingga aku jatuh duduk, terkejut hatiku adalah lantaran dikejutkan bunyi pekinyga. Dia tidak akan memekik secepat itu, kalau tidak memandang belakangku sejak dari tadi. Ya, tak perlu ia memekik, kalau tidak merasa berdosa sudah menghina! Apakah yang patut kulakukan selain dari ingin meludahi mukanya juga, dikala ia datang lagi kesampingku, memegang tanganku dan membantu membangkitkan badanku? Tangannya kukuatkan kesamping dan perkataannya berbunyi: “Sudah bibi katakan, bahwa Eneng sangat lesu”, kubalas dengan ucapan di dalam hati: “Pergi jauh, kau!” Kuangkatkan badanku dengan tenaga sendiri, Meskipun terasa berat diberatkan kaki dan pantat yang ngilu sakit dan Meskipun hati ingin menangis meratapi untung malang, mempunyai badan tidak kepalang sengsara, sampai-sampai mesti jatuh di tepi jalan.

Sudah cukup rasanya dengan mendapat penghinaan dari suamiku, sudah cukup pula dengan kegelapan tak tahu ke mana mesti pergi, terumbang-ambing tiada dikasihani dicumbu orang, mengapa sekarang mesti ditambah lagi dengan keharusan serasa-rasa akan mencucurkan airmata di hadapan orang banyak? Mengapa tidak manusia lain saja yang jatuh itu, jangan aku, manusia yang sudah cukup direndah-rendahkan orang. Atau memang rupanya sudah menyadi nasib perempuan dicerai, mesti menderita lara di balik bekas suaminya yang sukassenang, mesti menangis di balik bekas suaminya yang tertawa-tawa. Aduh, hampir tidak tertahan lagi kehendak airmata, padahal jika telah kusapu matak u dengan saputangan, jelas kelihatan di depan toko tidak jauh dari tempat jatuhku ada dua pasang mata laki-laki ditentangkan kepadaku, seolah-olah orang jatuh itu dianggapnya tontonan, seolah-olah orang sengsara itu baik untuk dilihat. Kepada siapa aku mesti berlindung minta pertolongan, biar segera lenyap dari perasaan malu ini?

“Mari, Neng, bibi tolong,” bunyi suara tukang warung kopi, tangannya memegang pinggangku. “Mari tidurkan, nak, jangan menyiksa badan sendiri,” katanya lagi; suaranya terasa lebih sejuk menyelinap ke dalam hati, melengangkan dada untuk menurut melangkahkan kaki dengan bertatih-tatih menuju arah yang dituju langkahnya.

Di hadapan pintu tidak jauh dari sapulidi dan ember, terdengar lagi ia berkata sambil membuka pintu itu: “Silakan masuk, nak.”

Aku pun melangkahkan kaki melalui pintu itu dengan merasa sakit-sakit dan lesu sekujur badan.

17 Juli 1949


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.