Baca EPUB: Awal dan Mira: Drama Satu Babak

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. AWAL DAN MIRA
  2. DRAMA SATU BABAK
  3. UTUY T. SONTANI
  4. KOLOFON
  5. DAFTAR ISI
  6. AWAL DAN MIRA
  7. CC BY-SA 4.0

AWAL DAN MIRA

DRAMA SATU BABAK

UTUY T. SONTANI


KOLOFON

AWAL DAN MIRA

DRAMA SATU BABAK

oleh

UTUY T. SONTANI

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Koleksi Pribadi Muhammad Reza Magistra

Ilustrasi sampul: The Widow I (Die Witwe I) 1922/1923, karya Käthe Kollwitz

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam. com



AWAL DAN MIRA

DRAMA SATU BABAK

PERISTIWA INI TERJADI PADA SUATU MALAM dalam tahun 1951 di depan kedai-kopi kepunyaan seorang perempuan cantik bernama Mira.

Yang dimaksudkan dengan kedai-kopi kepunyaan Mira itu sebenarnya serambi-muka dari rumah Mira yang dibangun jadi kedai-kopi. Dan rumah Mira itu rumah-bambu, kecil tapi masih baru, letaknya menghadap ke jalan, didirikan di atas bekas runtuh rumah-batu yang hancur oleh peperangan.

Entah kapan rumah itu didirikan di sana, entah mulai kapan pula serambi-muka rumah itu dibangun jadi kedai-kopi. Tapi yang sudah pasti, kedai-kopi Mira itu seperti juga kedai-kedai-kopi yang lain, selain dialati oleh perabotan-perabotan yang bersangkutan dengan keperluan penjualan kopi, di sana juga ada disediakan barang-barang dagangan yang sudah biasa dijual dikedai-kopi. Ada kueh-kueh, ada limun, ada sigaret, geretan dan sebagainya. Dan seperti juga kedai-kedai-kopi yang lain, di depan kedai-kopi Mira itu pun ada bangku panjang tempat duduk para pembeli, dan antara ruangan kedai dan bangku panjang itu teralang oleh meja dan rak-dagangan setinggi dada—dan tidak ada pintu.

MALAM itu pukul 9 lebih. Mira yang cantik nampak duduk di belakang dagangan, di bawah lampu listrik, hanya kelihatan dari dada ke atas. Ibunya, perempuan sudah berusia lanjut, ada di luar ruangan kedai, asik menyapu-nyapu halaman kedai. Dan di depan kedai, di atas bangku duduk seorang laki-laki masih muda, menghadapi gelas kopi di atas meja.

Laki-laki itu menghabiskan kopinya seraya katanya: ... Berapa, Mira?“ Tiga talen,” jawab Mira ... Kembali setalen,“ kata laki-laki itu pula seraya menyerahkan uang.

Tapi Mira tidak mengasih uang-pengembalian. Setelah menerima uang dari laki-laki, ia terdiam saja ... Mana kembalinya?“ tanya laki-laki ... Bah!” jawab Mira ... Lho, setalen ya setalen.“ Tapi engkau terlalu lama duduk,” kata Mira lagi ... Terlalu lama melihat wajahku.“ Melihat wajahmu mesti bayar? Terlalu!” Mengapa terlalu?“ balas Mira pula ... Toh isterimu di rumah tidak secantik aku.”

Laki-laki itu kebingungan. Tapi akhirnya ia bangkit berdiri seraya katanya:

“Ya, apa boleh buat.”

Dan dengan tidak berkata lagi ia terus berjalan meninggalkan kedai, pergi ke arah kanan.

LAKI-LAKI berabe!“ kata Mira setelah laki-laki itu jauh berjalan. ”Setalen saja dihitung.“ ”Maklum sekarang sudah bulan tua, Mira,“ kata ibunya. ”Sudah tiga malam berturut-turut kita kekurangan pembeli. Rupanya orang sudah pada kehabisan duit.“

Dan setelah berkata demikian, orang tua itu terus melihat ke arah jauh ke sebelah kiri. ”Heh, sepi saja,“ ujarnya lagi. ”Kulihat hanya ada seorang laki-laki yang berjalan menuju ke sini.“ Tapi tiba-tiba ia terkejut. Dan katanya tergopoh-gopoh:

”Mira! Orang itu kiranya den Awal.“

Dan mendengar itu, Mira yang duduk di belakang dagangan terkejut pula. Tergopoh-gopoh ia meninggalkan tempat duduknya, membungkuk-bungkuk memasuki pintu ke dalam rumah yang ada di sampingnya sebelah kiri, seraya katanya kepada ibunya:

”Katakan saja saya pergi ketoko!“

LAKI-LAKI yang bernama Awal itu berumur antara 27 dan 30 tahun. Badannya kurus, rambutna gondrong tidak dipelihara. Dan ia datang ke depan kedai dengan langkah lesu terhuyung-huyung. Berat bunyi suaranya yang diperdengarkan di depan ibu Mira:

“Mira ada, bu?”

“Ketoko, den,” jawab ibu Mira. “entah akan membeli apa.”

“Sudah lama?”

“Lama jua.”

Awal yang berbadan kurus itu lesu duduk di atas bangku. Duduk membekangi dagangan. Kemudian memperdengarkan lagi suaranya yang berat:

“Kapan anak ibu itu berhenti mempertahankan?”

“Mempertahankan.... ?” tanya ibu Mira.

“Mau disebut apa lagi, kalau selama saya sakit, Meskipun berkali-kali saya mengirim surat ke sini minta supaya Mira sudi menengok saya ke rumah, tapi dia tak pernah datang?”

“Dia banyak urusan, den.”

“Banyak urusan? ! Hm ya, sekarang saya memaksa diri datang di sini, dia tidak ada.” Ibu Mira tidak menjawab lagi. Diam-diam ia memasuki pintu di samping rumah sebelah kiri, tak lama kemudian keluar dari pintu yang tadi dimasuki Mira, ada di dalam ruangan kedai.

Dari dalam kedai ia bertanya:

“Kopi-susu, den?” “Biar, tak usah.”

Sejurus lamanya ibu Mira terdiam membelakang kepada Awal. Ahirnya diam-diam ia menghampiri radio yang ditaruh tidak jauh dari pintu ke dalam rumah dan terus diam-diam menyetel radio itu. Sebentar kemudian radio pun berbunyi, memecah kesunyian, mendengungkan suara perempuan nyaring-lantang:

“... dari itu, adalah sudah menyadi kewadiyiban kita kaum wanita, supaya di zaman sekarang ini, setelah kita banyak kehilangan sebagai akibat peperangan, kita kaum wanita mesti lebih giat berjuang berdampingan dengan kaum laki-laki guna membangun masyarakat damai ditanahair kita Indonesia yang indah dan molek ini. Marilah kita menyingsingkan lengan-baju kita....”

Hanya sampai itu saja radio berbunyi. Sebab Awal yang duduk merenung-terhuyung tiba-tiba bangkit berdiri seraya katanya dengan tangan terkepal:

“Tutup radio itu, bu!”

“Menga.... mengapa, den?” ibu Mira bertanya sambil menurut.

“omong kosong semuanya juga!” jawabnya. “Omongan badut. Hh, berjuang berdampingan—tanahair yang indah dan molek! Enak saja bicara. Dia sendiri tak akan tahu apa yang dikatakan-nya. Asal saja berbunyi.”

Tapi setelah meluapkan kata-kata itu, kembali ia duduk terhuyung.

“Be ... betul, den, tidak akan minum?” tanya ibu Mira.

“Saya mau bicara dengan Mira, bu,” jawabnya.

“Tapi barangkali akan lama juga dia pergi. Tidak dapatkah ibu menolong menyampaikan pesan aden kepadanya?”

“Saya mau bicara dengan Mira sendiri,” jawabnya lagi. “Lain. lain dari omongan oranglain yang akan saya saya katakan padanya.”

“Tapi, den, Mira.... anak ibu itu manusia biasa saja. Jangan aden mengharapkan yang bukan-bukan dari dia.”

Awal mengangkat kepala, tegak memandang ibu Mira. Dan katanya:

“Siapa pula yang mengharapkan yang bukan-bukan? Saya tidak mengharapkan yang bukan-bukan dari Mira. Harapan saya dari Mira adalah harapan laki-laki sewajaryna yang menginginkan supaya perempuan itu jadi kawan-hidup laki-laki. Itulah harapan saya. Dan harapan itu tidak bukan-bukan.”

“Maksud ibu, den,” kata ibu Mira lagi, “Mira itu bukan perempuan terpelajar. Dia hanya tukang-kopi.”

Lagi sekali Awal yang berbadan kurus itu tegak memandang ibu Mira. Dan katanya:

“Apa arti terpelajar di zaman edan seperti sekarang ini? Sangka ibu perempuan yang tadi berpidato diradio itu terpelajar? Perempuan bicara asal berbunyi? Orang-orang semacam itulah yang menguasai masyarakat kita sekarang—orang-orang yang merasa diri ada di atas yang lain, tak tahu jiwanya sendiri kering dangkal, dunianya sendiri sempit. Lebih sempit dari ini kedai-kopi!“

Ibu Mira tidak berkata lagi.

DUA orang laki-laki datang dari kanan; kedua-duanya berumur lebih dari 30 tahun. Yang seorang berbadan besar-tinggi dan memakai baju biru. Dan yang seorang lagi, yang badannya agak pendek memakai baju putih. Mereka datang ke depan kedai dengan langkah ringan. Dan ringan pula suara yang diperdengarkan Si Baju Biru:

“Mana Mira, bu?”

“Ketoko,” jawab ibu Mira.

“Ah,” kata Si Baju Putih, “kalau tidak ada Mira, kurang senang kita minum di sini.”

“Biar,” susul Si Baju Biru lagi. “Kita tunggu sampai dia datang.”

Dan mereka lalu duduk tidak jauh dari Awal. Duduk menghadapi dagangan. Tapi Awal yang didekati, setelah memperhatikan gerak-gerik yang baru datang, terus saja bangkit berdiri dan melangkah akan pergi.

“Ke mana, den?” tanya ibu Mira. “Duduk-duduk dulu.”

“Biar, bu,” jawabnya pandak seraya terus berjalan ke arah kanan, tidak menoleh lagi ke belakang.

Langkahnya yang terhuyung-huyung dipandang oleh Si Baju Biru. Dan jika yang dipandang sudah jauh berjalan, berkata yang memandang itu kepada kawannya:

“Mengapa dia kecut?”

“Seperti marah kepada kita,” jawab Si Baju Putih.

“Dia orang terpelajar,” kata ibu Mira.

“Tapi nampknya seperti orang tidak waras otak,” sambung Si Baju Biru. “Ya, di zaman setelah peperangan sekarang ini banyak sekali orang tidak waras otak.”

“Kalau tak salah,” kata Si Baju Putih, “dia sering datang di sini.”

TIBA-TIBA Mira yang tadi masuk ke dalam rumah, tampil dari pintu. Tampil dengan perkataan: “Sudah! Jangan membicarakan dia.”

“Lho, engkau ada, Mira?” kata Si Baju Biru. “Hampir saja aku percaya bahwa kau pergi ketoko.” Dan sambungnya diarahkan kepada kawannya. “Tahu kau sekarang, bahwa Mira pergi ketoko bukan untuk kita, tapi hanya untuk pemuda yang tidak waras otak-nya itu?”

“Ya,” jawab Si Baju Putih, “kasihan——sungguh kasihan dengan pemuda yang sial itu.”

“Aku bilang,” kata Mira seraya duduk lagi di belakang dagangan, “jangan membicarakan dia.” “Katakanlah, Mira,” balas Si Baju Biru, “bahwa bagimu kami lebih berarti daripada pemuda itu.”

“Apa yang lebih berarti? Kalian datang di sini untuk membeli dagangan yang kujual. Dan itu mesti kuladeni sebagaimana mes-tinya orang dagang. mencari duit. Tapi pemuda itu.... ”

“Pemuda itu bagaimana?” tanya Si Baju Putih.

“Itu urusan aku dan dia. Kalian jangan turut-campur. Kalau mau minum, lekas katakan! Kopi-pait, manis, atau pakai susu?”

Si Baju Biru yang sudah ringan berkata jadi ringan tertawa. Dan katanya:

“Dengar bagaimana gagahnya kekasih kita ini berkata! Dan inilah yang menyenangkan kita duduk di sini, bukan? Sampai larut malam, senang kita nongkrong di sini.”

“Lekas katakan!” kata Mira. “Kopi-pait? Manis? Atau pakai susu?”

Tertawa pula Si Baju Putih seraya katanya:

“Oh! Dia menyerang terus.”

Dan Si Baju Biru yang sudah tertawa melebarkan tawanya:

“Tapi kita jangan kalah. Minta kopi-susu! Biar taripnya dinaik-kan, kita tak akan mundur.”

“Dua-duanya kopi-susu?” tanya ibu Mira.

“Tentu saja dua, bu. Masakan beda!” jawab Si Baju Putih.

Dan sambungnya lagi diarahkan kepada Mira: “Mengapa radionya tidak disetel, Mira? Biar kita lebih senang duduk di sini.”

“Bah!” jawab Mira. “Hanya pidato omong kosong melulu.”

“Biar setel saja.”

“Tak usah,” kata Si Baju Biru, “tak usah dengan radio. Lihat Mira saja sudah puas.”

PADA saat itu, dikala ibu Mira menyodorkan gelas kopi-susu ke depan Si Baju Biru dan kawannya, lewat ke depan kedai dari kanan seorang laki-laki dan seorang perempuan berpakaian bagus-bagus. Yang perempuan berdiyalan di muka dan yang laki-laki berdiyalan di belakangnya. Tapi di depan kedai yang laki-laki melambatkan langkah, memandang kepada Mira yang duduk di belakang dagangan. Dan ia memandang terlalu lama: demikian lama, sehingga perempuan yang diiringkannya berkata kepadanya seraya menarik tangannya:

“Ayoh!”

Yang diperintah menurut, mempercepat langkah. Tapi yang memerintah terus melihat Mira, dan setelah lama melihat terus meludah.

“Heil!” teriak Mira. “Apa arti ludah itu? Takut suamimu direbut?”

Meludah lagi perempuan yang sudah meludah itu. Dan katanya: “Memangnya? !”

Tapi setelah mengatakan itu ceapat ia berjalan menjauh.

“Pengecut!” teriak Mira. Dan ia terus menyemberukan air. Dan tambahnya lagi setelah ternyata semburan itu tak berhasil: “Mengapa kau tidak protes kepada moyangmu yang melahirkan kau tidak lebih cantik dari aku?”

Si Baju Biru enak tertawa. Katanya:

“Engkau juga pengecut, Mira! Mengapa perempuan itu tidak kaukejar?”

“Hm,” jawab Mira, “memangnya mesti meributkan laki-laki begitu macam?”

“Ada-ada saja Mira ini,” kata Si Baju Putih. “Baiknya kita tidak sampai melihat darah.”

“Siapa tahu,” balas Si Baju Biru, “antara suami-isteri itu sesampainya di rumah keluar darah.”

“Untung saja kita belum kawin,” kata Si Baju Putih lagi.

“Katakanlah masih bujang,” kata Mira. “Hanya orang edan yang mau percaya.”

Tertawa lagi Si Baju Biru seraya katanya:

“Kau tidak percaya. Mira, bahwa kami belum kawin?”

“Hm, apa percaya? Mesti aku percaya kepada omongan orang yang ngomong lantaran ada aku?”

“Apa, Mira?” tanya Si Baju Putih. “Apa maksud perkataanmu?”

“Kalau tidak mengerti, sudah!”

DARI kanan datang seorang anak laki-laki kira-kira berumur 13 tahun. Langkahnya tegas. Dan ucapannya yang diarahkan kepada Mira tegas pula bunyinya:

“Nona Mira?”

“Benar,” jawab Mira.

Anak laki-laki itu mengunjukkan secarik kertas seraya katanya:

“Ini surat.”

“Dari siapa?”

“Dari tuan yang tadi datang di sini.”

“Di mana dia sekarang?”

“Di sana, menunggu di gardu.”

Mira tidak bertanya-tanya lagi. Secarik kertas yang diunjukkan anak laki-laki itu diterimanya. Terus dibaca tulisannya.

Sedang Mira membaca, bertanya si Baju Biru kepada anak laki-laki:

“Disuruh oleh tuan yang badannya kurus, rambutnyia gondrong?”

“Benar,” jawabnya.

“Celaka tigabelas!” kata Si Baju Biru seraya tertawa. “Bohong-nya ketahuan juga.” Dan tambahnya diarahkan kepada Mira: “Dia tentu marah, Mira.”

Tapi Mira yang asik membaca, tidak membalas.

“Bagaimana, bu,” kata Si Baju Biru kepada ibu Mira, ... kalau sudah ketahuan bohong?“

“Orang tua seperti ibu ini,” jawab ibu Mira, “tidak tahu apa-apa.”

“Ya, orang tua jangan dibawa-bawa,” kata Si Baju Putih seraya mereguk isi gelas yang dihadapi. Dan ia, seperti juga kawannya, terus memperhatikan Mira membaca surat.

Hanya sebentar Mira membaca. Katanya kepada anak laki-laki: “Katakan saja padanya, bahwa saya tak dapat meninggalkan kewajiiban di sini. Lebih baik dia saja yang datang kemari.”

“Baik,” jawab anak laki-laki seraya melangkah akan pergi.

“Katakan, saya menunggu, ya?”

“Ya.”

Dan anak lak-laki itu terus berjalan ke kanan. Langkahnya tegas seperti ketika ia datang ke depan kedai.

Setelah anak laki-laki jauh berjalan, bertanya Si Baju Biru kepada Mira:

“Apa isi suratnya, Mira?”

“Itu urusanku,” jawab Mira.

Si Baju Biru yang sudah sering tertawa, lagi sekali tertawa. Kemudian ia mendekati kawannya dan terus berbisik di telinga kawannya.

“Berbisik apa?” tanya Mira.

“Itu urusanku,” jawab Si Baju Biru. Dan ia tertawa lagi. Dan kawannya pun tertawa. Terkekeh-kekeh mereka tertawa

Tiba-tiba Si Baju Putih menunjuk ke arah jauh ke sebelah kiri seraya katanya:

“Lihat, Mira! Itu apa?”

Mira yang duduk di belakang dagangan melengong melihat ke arah yang ditunjuk Si Baju Putih. Lalai ia akan surat di tangan, tak tahu bahwa surat akan direbut Si Baju Putih. Dan secepat Si Baju Putih merebut surat dari tangan Mira secepat itu pula ia melemparkan surat kepada kawannya.

“Kurangajar kau!” teriak Mira. Dan ia mencoba memukul kepala Si Baju Putih. Tapi lantaran teralang oleh meja dan rak-dagangan, pukulannya tidak kena.

Si Baju Biru yang tertawa-tawa mendapat surat, gembira membaca isinya:

“Mira! Meskipun kau barusan mendustai aku, tapi jiwamu dan duniamu bagiku tetap merupakan soal.—Oh, jiwamu, duniamu! Betul-betul orang ini sudah tidak waras otaknya.”

“Jadi Mira ini mempunyai dunia?” kata Si Baju Putih. Dan ia menggeleng-gelengkan kepala.

“Sudah!” teriak Mira.

Tapi si Baju Biru tak mengacuhkan teriakan Mira. Ia membaca lagi:

“Kau bagiku tetap bukan tukang-kopi.”

“Lho ” sela Si Baju Putih. “Kalau bukan tukang-kopi, apa?”

“Dengar dulu! Dengar dulu!” kata Si Baju Biru. Dan ia membaca lagi:

“Karena itu aku ingin bicara dengan kau berdua. Jangan ditempatmu, sebab ada.... He, kita disebut badut-badut! Apa maksudnya?”

“Sudah!” teriak Mira.

Tapi Si Baju Biru melanyutkan membaca:

“Dapatkah sekarang juga kau meninggalkan tempatmu barang sebentar? Aku menunggu di gardu.”

Sampai itu berhenti ia membaca. Katanya seraya menyerahkan surat kepada Mira:

“Dan sekarang dia boleh menunggu, ya Mira? Menunggu, sampai kami yang disebut badut-badut ini pada pergi dari sini.”

“Tapi kami tak akan pergi,” kata Si Baju Putih.

“Kalian kurangajar!” kata Mira. “Biadab!”

“Katakan padanya, Mira,” ujar Si Baju Biru lagi, “bahwa di zaman sekarang ini sudah bukan waktunya lagi untuk memupuk perasaan rindu-dendam seperti di zaman sebelum perang.”

“Sekarang zaman serba cepat,” kata Si Baju Putih. “Kalau tidak cepat, tidak akan kebagian. Dan kalau tidak kebagian sekarang, kapan lagi? Bayangan perang dunia ketiga sudah dekat.”

“Bah!” bantah Mira. “Kau tahu apa tentang perang dunia ketiga? Jangan kau bicara tentang perkara yang kau sendiri tidak tahu!”

“Aku tidak tahu?” balas Si Baju Putih lagi. “Oh, gampang saja kau menuduh. Buat apa orangtuaku dulu membayar uang-sekolah supaya aku sekarang pandai membaca koran?”

“Hm, kau percaya pada koran?”

“Lantas? Di zaman sekarang ini, siapa yang tidak membaca koran, ketinggalan!”

“Patut!”

“Patut apa?”

“Patut kau ketinggalan, sebab kau dikelabui koran!”

“Lho....”

“Sudah, sudah, jangan bicara.” kata Si Baju Biru seraya memandang ke kanan. “Itu tuan yang menyebut kita badut-badut menuju ke sini.”

Dan ia lalu pura-pura minum. Dan kawannya pun pura-pura minum.

LAMA dulu sebelum Awal yang berbadan kurus itu tampil lagi dari kanan dengan langkah lesu terhuyung-huyung. Sampai di depan kedai, ia tidak terus mendekati bangku. Setelah Mira yang duduk di belakang dagangan berkata:

“Silakan duduk, mas”, baru ia duduk di atas bangku. Duduk membelakangi dagangan.

“Kopi, mas?” tanya Mira.

“Ya,” jawabnya. “Kopi untuk tuan Awal. bu!” kata Mira kepada ibunya.

“Pakai susu, den?” tanya ibu Mira.

“Ya, pakai susu.”

Tiba-tiba, setelah ibu Mira menyodorkan gelas kopi-susu ke dekat Awal, berkata Si Baju Biru diarahkan kepada Mira:

“Mira! Meskipun kau barusan mendustai aku, tapi jiwamu dan duniamu bagiku tetap merupakan soal.” Awal yang duduk membela kanggi dagangan mendadak tegak. Tegak memandang Si Baju Biru. Tapi yang dipandang pura-pura tidak tahu dipandang. Dengan suara nyaring berkata lagi ia seraya menghadapkan muka kepada Mira:

“Kau bagiku bukan tukang-kopi, Mira. Dan aku ingin bicara berdua dengan kau. Jangan ditempatmu, sebab ada badut-badut. Karena itu.... ”

“Sudah!” tukas Awal.

“Bicara pada siapa, bung?” tanya Si Baju Biru.

“Kau bicara pada siapa?” balas Awal dengan dada naik-turun.

“Aku bicara pada Mira. Betul, tidak, Mira? Kutunggu engkau di gardu, ya Mira?”

Awal bangkit berdiri. Sebentar ia memandang Mira. Kemudian memandang Si Baju Biru. Dan katanya: “Perlu apa kau mencampuri surat oranglain? Perlu apa?”

“He,” jawab Si Baju Biru, “Saudara marah pada siapa?”

“Kau buat apa mencampuri urusan oranglain?” balas Awal lagi dengan suara lengking-gemetar. “Mencampuri apa? Gampang saja marah pada orang. Pakai otak yang sehat, dong. Jangan gampang berkata. Dan gampang saja menyebut badut segala macam pada oranglain.”

“Memang kau badut!” jawab Awal lagi dengan tangan terkepal.

“Kau bukan manusia!”

Si Baju Biru berdiri, “Gila kau!” katanya. “Gampang saja menyebut bukan manusia padaku.”

Awal yang sudah mengepalkan tangan tidak berkata lagi. Terus saja ia menyerbu, meninjukan kepalan tangannya kepada Si Baju Biru Tapi Si Baju Biru yang berbadan besar-tinggi—jauh lebih besar dari badan Awal—cepat menangkis dan terus membalas dengan mengasih pukulan sengit. Sekali—dua kali—tiga kali ia melepaskan pukulannya. Dan Awal yang berbadan kurus itu pun tak sanggup menahan serangan pembalasan. Jatuh ia, tersungkur ke tanah.

“Terus hajar!” kata Si Baju Putih.

“Sudah!” teriak Mira.

Tapi Si Baju Biru tak mengindahkan teriakan Mira. Ia mengangkat kaki akan menginjak badan Awal.

“Sudah!” teriak Mira lagi. Dan ia cepat mengambil gelas kopi-susu Si Baju Biru. Dan katanya lagi seraya menyemburkan isi gelas kebadan Si Baju Biru: “Kau memang kurangajar! Ayoh nyah!” Kemudian kepada Si Baju Putih:

“Kau juga pergi! Lekas!”

“Lho? !” kata Si Baju Putih.

“Pergi!” teriak Mira. “Kalau tidak ... ” Dan ia cepat mengambil gelas kopi-susu Si Baju Putih, terus beragak akan menyemburkan isinya.

“Mira!” kata Si Baju Putih “ ... Kau mau mengusir langganan?”

“Jangan banyak bicara!” jawab Mira. “Ayoh pergi!”

“Kami mungkin tak akan ke sini lagi.”

“Masabodoh. Ayoh pergi! Pergi!”

“Gara-gara ini, nih!” kata Si Baju Biru seraya menyepak badan Awal. Dan sambungnya diarahkan kepada kawannya: “Biar, kita pergi saja. Mari!”

Dan ia bersama kawannya terus berjalan ke arah kanan dengan tak meninggalkan lagi sepatah kata.

SEPENINGGAL kedua laki-laki itu, berkata Mira kepada ibunya yang kecemasan:

“Bangunkan dia, bu!”

Ibu Mira tak membantah lagi; ia memasuki pintu ke dalam rumah, tak lama kemudian keluar dari pintu di samping rumah, ada di luar ruangan kedai, terus mendapatkan Awal yang terlena di tanah.

“Den,” katanya seraya mengoncang-goncang badan Awal. “eling, den.... ”

Bertatih-tatih Awal yang berbadan kurus itu bangkit berdiri. Tapi setelah berdiri, ia terus memandang Mira yang duduk di belakang dagangan. Memandang dengan pandangan ngeri.

“Sampai hati kau membiarkan aku dihina orang dihadapanmu?” katanya.

Dan lantaran Mira yang duduk di belakang dagangan tidak menjawab, berkata lagi ia dengan suara mengeras:

“Kau kejam! Tak sedikit juga kau merasakan perasaanku. Tak sedikit juga. Sudah ckup tadi mempermainkan aku dengan mendusta, sekarang kau senang, ya, melihat aku dihina orang setelah kepercayaanku kaurusakkan di depan orang lain?”

Tapi Mira yang duduk di belakang dagangan tidak menjawab. Dan lantaran Mira tidak menjawab. Awal yang berbadan kurus itu menghampiri seraya katanya lagi:

“Mira! Kau senang melihat aku dipukuli orang? Melihat aku dihina sambil tetap duduk ditempatmu?” Dan lantaran Mira yang duduk di belakang dagangannya tetap tidak menjawab, Awal kian dekat menghampiri seraya katanya lagi:

“Mira! Untuk itukah kau menyuruh aku datang di sini? Untuk merusakkan kepercayaanku?”

Tapi Mira tidak pula bersuara.

“Mira!” teriak Awal lagi.

“Duduk, mas,” jawab Mira “jangan bicara.”

“Tidak! Aku ingin mendengar jawaban. Untuk apa kau permainkan aku, mendustai aku, membikin aku dihina orang? Untuk apa?”

Dan lantaran Mira yang duduk di belakang dagangan terdiam lagi tidak memerdengarkan suara, Awal terus saja menjangkau leher Mira dari depan dagangan seraya katanya:

“Kau rupanya senang, ya, melihat aku mati untukmu?”

“Den, eling, den ... .” ujar ibu Mira cemas.

Tapi Awal tak melepaskan pegangan. Ia berkata lagi:

“Kau senang membikin aku jadi kurban kecantikanmu?”

Ibu Mira jadi keb ngungan. Akhirnya ia melolong sekuat tenaga:

“To ... tolong!”

Pelahan-lahan Awal melepaskan ceikian. Tangannya gemetar. Kemudian lesu ia menjatuhkan badan di atas bangku. Katanya dengan suara berat-sayup-sayup:

“Ya, di dalam aku gelisah, kau ... kau tetap tenang ... ”

PADA saat ibu Mira masuk lagi ke dalam ruangan kedai, datang tergopoh-gopoh dari kiri dua orang pemuda. Kedua-duanya berumur di bawah 20 tahun. Tergopoh-gopoh pula pemuda yang berjalan di muka melahirkan pertanyanyaan:

“Ada apa?”

“Mengapa?” jawab Mira. “Di sini tidak ada apa-apa.”

“Lho!” kata pemuda yang seorang lagi. “Tadi ada yang minta tolong.”

“Tidak. Tidak ada apa-apa,” jawab Mira. Dan tambahnya dengan suara berlainan: “Kalau mau minum, silakan duduk.”

Pemuda-pemuda itu saling pandang. Pemuda yang berjayan di muka tadi bertanya kepada kawannya: “Minum kita?”

Tapi kawannya menjawab dengan menunjukkan isarat tak punya uang. Dan katanya kepada Mira: “Biar, lain kali saja.”

Dan mereka lalu mengayun kaki ke arah kiri. Tapi baru tiga langkah, pemuda yang berjalan di muka tadi berhenti berjalan, menoleh lagi ke belakang. Dan katanya kepada kawannya:

“Padahal akan senang kalau kita minum di sini.”

“Mengapa pula tidak?” belas Mira. “Silakan duduk!”

“Lain kali saja kami datang lagi di sini.” jawab pemuda yang seorang lagi. Dan ia terus mengajak kawannya berjalan mening-galkan kedai.

SETELAH pemuda-pemuda itu tidak ada. Awal yang duduk membelakangi dagangan berkata dengan suaranya yang berat:

“Mira, kau ... kau memaafkan aku?”

“Jangan bicara, mas,” jawab Mira. “Itu kopi-susu dingin!”

“Kau ... kularang aku bicara,” kata Awal lagi. “Tapi orang-lain kau beri hati supaya bicara.” “Mereka pembeli dagangan, mas. Dan antara kita tak ada yang mesti dibicarakan.”

Awal menegakkan kepala, memandang Mira. “Tak ada yang mesti dibicarakan?” tanyanya. “Kauanggap antara kita tak ada yang mesti dibicarakan?”

“Antara kita tidak untuk dibicarakan. Tapi untuk dirasakan.”

“Hm, jawabanmu jawaban manusia-dewi,” kata Awal lagi seraya bangkit berdiri. “Tapi sampai mana kau merasakan perasaanku? Aku gelisah, kau tak mau tahu. Aku sakit, kau tak acuh. Aku dihina, kau diam melihat. Tidak! Kau tidak merasakan perasaanku. Kau menutup hatimu.”

“Mas, pintu hati hanya dapat dibuka oleh hati. Dan hati saya sudah terbuka.”

“Terbuka untuk mempermainkan hatiku.”

“Itu menurut rasamu. Menurut rasaku, aku tak mempermainkan.”

“Kau tak merasakan rasaku!”

“Itu menurut rasamu.”

Duduk lagi Awal yang berditi itu. Duduk dengan kepala tertunduk. Dan ujarnya dengan suara seperti bicara pada diri sendiri:

“Hm ya, soal antara kita ialah kau bukan aku dan aku bukan kau. Tapi salahkah aku, kalau aku mau merasakan kau jadi aku?”

“Itu kopi-susu dingin, mas,” kata Mira.

“Biar!” balas Awal lagi seraya tegak. “Aku mesti bicara padamu. Selama kau bukan aku, aku mesti bicara padamu—bicara sampai antara kita tak ada soal.”

“Antara kita sudah tak ada soal. Apa pula yang mest dipersoalkan?”

“Kau belum menenteramkan hatiku.”

“Itu menurut hatimu.”

“Kau belum memberi ketegasan!”

“Itu menurut pendapatmu. Bagiku semuanya sudah tegas.”

DARI kanan datang seorang laki-laki tua, berumur lebih-kurang 58 tahun, berbaju kampret dan bersarung palekat. Dan melihat kedatangan orang tua itu, Mira yang duduk di belakang dagangan gembira menyambut:

“Ah, bapak! Silakan duduk.”

“Sepi sekali malam ini, Mira,” kata yang datang.

“Orang rupanya sudah pada bosan datang di sini.”

Masakan bosan? Siapa pula yang bosan datang di sini?“ balas orang tua itu pula seraya duduk di atas bangku. Dan sambungnya dengan muka dihadapkan kepada Awal: ”Bukan bosan, tapi sudah bulan tua, ya anak muda?“

“Kopi, pak?” tanya Mira.

“Jangan, jangan,” jawabnya ceapat. “Teh-pait saja. Kalau minum kopi, nanti bisa tidak tidur. Dan jika di rumah tidak bisa tidur, berat.”

“Mengapa berat?”

“Kalau rumah yang kudiami sekarang sebesar rumahku sebelum peperangan dulu, tak apa aku membuka mata di rumah pada malam hari, sebab pemandangan tidak sempit. Tapi rumahku sekarang, hm, namanya saja sudah bukan rumah, hanya cukup untuk tidur.”

“Tapi di zaman sekarang ini sudah umum begitu,” kata ibu Mira seraya menyodorkan gelas teh-pait.

“Ya, siapa yang dulu rumahnya gedung, sekarang belum tentu bisa diam lagi dalam gedung. Dan di atas runtuhun gedung—seperti rumahmu ini, Mira—hanya bisa didirikan rumah-bambu. Tapi Bagaimanapun juge, dengan adanya kedai-kopimu di sini, engkau membuat jasa banyak.”

“Mengapa?” tanya Mira.

“Orang-orang yang merasa tak betah diam di rumah itu, di malam hari terpaksa keluar rumah. Dan di sini bisa duduk-duduk sambil bicara-bicara melupakan kerudetan. Betul, tidak, anak-muda?”

Awal tegak, memandang kepada yang mengajak bicara. Dan katanya:

“Tidak. Tidak betul.”

“Lho, apa tidak betulnya?”

“Bapak seperti orang banyak, datang di sini untuk melupakan kerudetan?”

“Ya, begitulah.”

“Jadi bapak ini seorang badut?”

“Badut?”

“Ya, badut. Tukang-omong kosong. Bukan manusia.”

“Bapak ... bapak kurang mengerti:”

“Tentu saja tak akan mengerti. Kalau mengerti, tak akan saya sebut badut. Tapi orang semacam bapak ini, di zaman sekarang ini banyak. Kalau mereka bicara, asal saja berbunyi. Di sini, dikedai-kopi bicara mereka asal saja menimbulkan rasa suka bagi dirinya sendiri dan bagi yang dibawa bicara. Tapi orang yang bukan badut. tentu akan menganggap Mira bukan sebagai pengusir kerudetan.” “Jadi ... jadi bagaimana mestinya kita menganggap Mira?”

“Itu terserah.”

Orang tua itu terdiam sebentar. Setelah menghirup teh-pait sereguk, ia berkata lagi:

“Bapak ini sudah tua, anak-muda, sudah banyak mengalami pertukaran zaman. Dan menurut pengalaman bapak, Bagaimanapun diyuga keadaan zaman, tapi akhir-akhirnya dalam hal menempatkan perempuan bagi laki-laki, tak ada yang lebih sempurna seperti di zaman kebesaran Nabi Muhamad.”

Tiba-tiba Awal bangkit berdiri seraya katanya:

“Zaman kebesaran Nabi Muhamad! Hh, enak saja bicara, seperti pernah hidup di zaman itu. Justru perkataan semacam itu-lah yang mesti dibrantas, perkataan asal dikatakan. Pak! Dengan omongan bapak itu jelas bahwa bapak seorang badut, berarti tak ada gunanya bicara dengan saya!”

Dan sehabis mengatakan itu, ia melangkah, berjalan ke arah kiri.

SEJURUS lamanya orang tua itu terdiam saja. Terdiam keheranan. Akhirnya ia berkata: “Siapa sih pemuda itu, Mira? Nampaknya dia pintar, tapi ... ”

“Hm ya,” tukas Mira, “hanya saya yang tahu siapa dia.”

“Dan kaupermainkan dia!”

“Siapa bilang?”

“Sebenarnya aku tadi mendengar percakapan kamu berdua. Dan aku bertanya-tanya apakah kamu sedang berkasih-kasihan atau sedang bercakaran? Tapi yang sudah pasti, pemuda itu nampaknya sudah kehilangan pegangan.”

“Memang, dia sudah lama merindukan manusia.”

“Merindukan manusia? Apa maksudmu?”

“Di zaman sekarang ini, di mana ada manusia?”

“Memang, Mira, sebagai orang tua, hidup di zaman setelah peperangan sekarang ini aku pun sering bertanya-tanya: apakah dunia sekarang sudah akan kiamat? Di mana-mana teryadi kekacauan, di mana-mana teryadi penggedoran, perampokan, pembunuhan, seolah-olah sudah tak ada lagi cinta di antara sesama manusia. Antara kita dan kita saling curigai, sedang para pemimpin dunia-pun pada berteriak menganjurkan damai tapi sambil bersedia-sedia akan perang lagi. Ini semuanya menimbulkan kegelisahan. Dan kegelisahan ini kurasakan pula. Tapi Bagaimanapun juga, sebagai orang tua aku masih ada pegangan. Dan pegangan itu ialah pegangan kita bersama, yaitu kepercayaan kepada Tuhan yang lebih berkuasa dari manusia. Akan tetapi pemuda itu nampaknya sudah kehilangan pegangan samasekali. Dan itu sangat berbahaya.”

“Tapi dia masih ada pegangan.”

“Apa?”

“Dia percaya pada saya.”

“Tapi ... .. tapi kaupermainkan dia?”

“Siapa bilang?”

“Kau cinta padanya?”

“Hm, apa cinta?”

Orang tua menghela nafas. Setelah mereguk isi gelas sampai habis ia berkata lagi: “Kau ini memang orang aneh juga. Mira. Ya, entah barangkali aku ini sudah terlalu tua, orang-orang muda di zaman sekarang ini bagiku banyak yang aneh. Tapi sudahlah! Aku tak akan lama mengganggu.” Dan ia bangkit berdiri, menyerahkan uang.

“Mengganggu apa?” tanya Mira. “Duduk-duduk dulu.

”Aku tak akan membiarkan pemuda itu terlalu lama menunggu kesempatan untuk dapat bicara lagi dengan kau.“

”Percaya bapak, bahwa dia akan datang lagi di sini?“

”Aku sudah tua, Mira. Dan Meskipun aku bukan pemuda di zaman sekarang, tapi aku pun pernah merasakan apa yang dirasakan pemuda itu.“

Dan setelah berkata demikian, orang tua itu terus berjalan ke kanan.

BEBERAPA saat lamanya di-depan kedai itu sunyi saja. Mira yang duduk di belakang dagangan tetap duduk menghitung uang. Dan ibunya, setelah membersihkan gelas bekas teh-pait, terus duduk-ngantuk. Tiba-tiba ibu Mira memperdengarkan suara:

“Kalau terus sepi begini, aku diyadi ngantuk. Mira .”

“Kalau sudah mau tidur, tidurlah.” jawab Mira. “Toh sekarang sudah malam, tak akan datang lagi banyak tamu.”

Ibu Mira tidak berkata lagi. Diam-diam ia memasuki pintu ke-dalam rumah dan terus tak muncul lagi.

LONCENG dikejauhan ter-dengar berbunyi sepuluh kali. Dan sebentar setelah terdengar suara lonceng yang penghabisan, datang dari kiri Awal dengan langkah-nya yang terhuyung-huyung seperti tadi. Dan seperti tadi saja, sesampai di depan kedai lama dulu baru ia duduk di atas bangku. Duduk membela kanggi dagangan.

“Ganti kopi-susunya, mas?” tanya Mira.

“Biar, tak usah,” jawabnya.

“Minumlah, supaya badan mas segar.”

“Hm,” jawabnya lagi, “kau merisaukan badanku, tapi rohaniku tak kauacuhkan.”

“Sebab badan lebih nyata.”

“Tapi hanya badut-badut yang matanya terbatas kepada jasmani.”

“Maksud mas jasmani tidak penting?”

“Datangku ke sini untuk mempersoalkan jiwa kita, Mira. Itulah soal kita.”

“Tapi saya sudah bilang, antara kita sudah tak ada soal.”

“Kau belum tahu keinginanku.”

“Saya sudah tahu.”

“Kalau sudah tahu, tentu kau sekarang mau meninggalkan kedai.”

“Itu tak perlu. Lagi pula saya tak dapat meninggalkan kewajiban.”

Sebentar Awal tegak memandang Mira, menghela nafas sekali, kemudian menundukkan lagi kepala. Lama dulu sebelum ia mem-perdengarkan lagi suara:

“Mira, kau tahu bahwa selain dari kau, orang banyak itu bagiku tak ada artinya.”

“Saya tukang-kopi, mas.”

“Tapi kau dengan diywamu lain dari yang lain.”

“Sudah mas. Ini kedai-kopi. Dan itu orang-orang menuju ke sini.”

YANG datang itu dua orang laki-laki; kedua-duanya sebaya dengan Awal, datang dari sebelah kanan. Laki-laki yang berjalan di muka bercelana pendek dan menjinjing kodak. Dan yang seorang lagi memakai kacamata, tangannya memegang map tempat surat-surat.

Masih jauh mereka ke depan kedai, Mira yang duduk di belakang dagangan sudah menyambut: “Selamat malam, jurupotret!”

“Selamat malam, Mira,” jawab laki-laki yang menjinjing kodak.

“Bagaimana? Sudah selesai dengan potretku?”

“Sudah, sudah,” jawab Si Celana Pendek lagi seraya duduk di atas bangku. “Ini ada saya bawa. Tapi saya perkenalkan dulu kawan saya ini. Dia wartawan.”

Dan ia menunduk kepada kawannya. Dan kawannya yang disebut wartawan itu manggut pada Mira. Dan Mira yang duduk di belakang dagangan membalas manggut seraya katanya:

“Silakan duduk.”

“Terimakasih,” jawab Si Kacamata. Dan ia pun terus duduk di samping kawannya.

Laki-laki yang disebut jurupotret mengeluarkan potret dari kantong-bajunya. Kemudian ia menyerahkan potret itu pada Mira. Dan katanya setelah Mira melihat-lihat potret:

“Bagaimana? Puas kau dengan potretmu?”

“Hm ya,” jawab Mira. “Ini untukku?”

“Boleh kausimpan. Aku bik'n banyak. Dan satu diantaranya sudah diminta kawan saya ini.”

“Untuk apa?”

“Dalam minggu ini juga,” jawab Si Kacamata, “mungkin nona akan melihat potret nona itu dalam majalalah yang saya pimpin.”

“Apa saya sudah sepenting itu?”

“Mengapa tidak?” jawab Si Kacamata lagi.

Tapi saya lihat, koran-koran dan majalalah-majalah di zaman sekarang lebih mementingkan potret-potret orang resmi daripada misalnya potret seorang rakyat biasa yang cecat badannya oleh kecelakaan, lebih mementingkan potret pembesar-pembesar, opsir-opsir, pemimpin-pemimpin pulitik yang diinterpiu....“

“Sekalipun omongan mereka ketika diinterpiu, asal saja ngomong,” sambung Awal yang sejak tadi diam mendengarkan, “asal saja mengisi halaman koran.”

Si Kacamata memandang kepada Awal. Demikian juga kawannya. Tapi Si Kacamata tak lama kemudian menghadapkan lagi muka kepada Mira seraya katanya:

“Dari itu, majalah yang saya pimpin itu akan memuat potret'nona, potret rakyat jelata.”

“Tapi apa kepentingannya potret saya dimuat?” tanya Mira.

“Oh!” jawab Si Celana Pendek. “Belum kau sadar, Mira, bahwa kau cantik?”

“Bahwa aku cantik, aku lebih tahu dari siapa pun juga.”

“Dan kau sudah tahu pula, Mira,” kata Awal, “bahwa jika seseorang di zaman sekarang ini minta sesuatu padamu, itu adalah untuk kepentingan orang itu. Untuk itulah potretnu akan dimuat dalam majalah.”

Lagi sekali Si Kacamata menoleh kepada Awal. Katanya:

“Maaf, saudara. Kita belum berkenalan.”

“Dengan mendengar omongan saudara, saya sudah mengenal jiwa saudara,” jawab Awal. “Dan itu bagi saya sudah cukup, lebih cukup daripada mengenal nama atau jabatan.”

“Saudara!” kata Si Kacamata. “Saya rasa di zaman sekarang ini sudah bukan waktunya lagi untuk menempatkan diri sebagai dewa; sudah bukan waktunya lagi bicara dengan menggunakan kata-kata yang tidak mudah dipahami orang.”

“Siapa pula yang menempatkan diri sebagai dewa?” balas Awal lagi. “Kalau perkataan saya tidak dimengerti orang, bukan saya yang menempatkan diri sebagai dewa, tapi orang itu yang mestii disesalkan jiwanya. Tapi dimasarakat kita sekarang, orang-orang yang kering dan dengkal jiwanya itu banyak. Banyak sekali!”

Sebentar Si Kacamata memandang kepada kawannya. Dan jika kawannya sudah membalas memandang kepadanya, berkata lagi ia diarahkan kepada Mira:

“Bagaimana, nona? Setuju, kalau potret nona itu dimuat dalam majalah saya?”

“Berapa akan saya dibayar?” balas Mira.

“Lho!” kata Si Celana Pendek. “Bukan kau mestii minta dibayar, Mira, tapi kau mestii berterimakasih.”

“Tapi dimisalkan saya mestii membayar,” kata Si Kacamata, “berapa nona minta?”

“Seribu rupiah!”

Si Kacamata tertawa. “Nona,” katanya, “di mana di dunia ini ada majalah yang pernah membayar seribu rupiah untuk pemasangan sebuah potret? Bahkan bintang-bintang-pilem yang sudah mashur, banyak yang menyerahkan potretnya kepada majalah dengan begitu saja.”

“Tapi saya bukan bintang-pilem. Dan tak mau disamakan dengan bintang-pilem.”

“Dari itu.... ,” sela Si Celana Pendek.

“Dari itu saya minta dibayar mahal!” kata Mira.

“Begini saja, nona,” kata Si Kacamata. “Harap nona tahu bahwa majalah yang saya pimpin itu majalah kepunyaan bangsa sendiri. Kalau nona sudah sadar atas panggilan zaman dan insaf atas kewajiaban sebagai bangsa, apa salahnya kita bekerja bersama-sama, untuk bangsa dan untuk tanahair yang kita cintai ... .. .”

“Bekerja bersama-sama! Tanahair yang kita cintai!” kata Awal saraya bangkit berdiri. “Ayoh! Apa lagi? Mengapa tidak dikatakan pula bahwa tanahair itu indah dan molek? Biar lebih enak dikata-kannya!”

“Saya tidak bicara pada saudara,” kata Si Kacamata.

“Atas nama Mira saya minta supaya saudara bicara yang benar. bicara sebagai manusia, jangan asal saja berbunyi,” balas Awal lagi dengan dada naik-turun. “Betul di sini kedai-kopi. Tapi lihat! Orang yang duduk di belakang dagangan itu manusia. Manusia! Bukan boneka atau keranjang sampah yang boleh dilempari kata-kata asal dikatakan!”

“Siapa pula yang menyamakan nona ini dengan keranjang sampah?”

“Siapa pula? Hh, bahwa omongan sendiri keluar dari jiwa yang picik sudah tidak disadari! Sangkamu apa yang kaukatakan tadi itu tidak merupakan omong kosong bagi pihak yang mendengar? Sangkamu orang yang kauajak bicara itu mempunyai dunia yang sama dengan duniamu—duniamu yang sempit-picik, asal ngomong?”

Sekali lagi Si Kacamata memandang kepada kawannya. Sekali ini, setelah kawannya membalas memandang kepadanya, terus saja ia bangkit berdiri seraya katanya kepada Mira:

“Nona, biar lain kali saja saya datang lagi.”

“Tidak akan minum dulu?” tanya Mira.

“Biar, terimakasih,” jawabnya. Dan ia terus berisarat kepada kawannya, mengajak pergi meninggalkan kedai.

Kawannya bangkit berdiri. Dan katanya seraya berjalan ke arah kanan mengiringkan yang mengajak:

“Selamat malam, sampai ketemu lagi. Mira.”

“Selamat malam,” jawab Mira.

HM,“ kata Awal setelah tinggal berdua, ”badut-badut melulu yang datang di sini.“

”Dari itu,“ jawab Mira, ”mas lebih baik tinggal diam di rumah. Di sini kedai-kopi.“

”Tapi selama kau tak dapat kubawa, aku tak akan pergi.“

”Itu menyiksa diri sendiri. Nanti mas kedinginan.“

”Apa arti diri sendiri, jika ada diri lain tempat menyerahkan kepercayaan?“

”Tapi di zaman sekarang, mas, kita mesti percaya diri sendiri, jangan percaya oranglain.“

”Mira! Masarakat kita sekarang banyak badutnya adalah karena orang tak mau menyerahkan kepercayaan pada oranglain. Tapi aku, selama perempuan dilahirkan ke dunia untuk jadi kawan-hidup laki-laki, selama itu aku harus dan mesti menyerahkan kepercayaan pada oranglain yang akan kujadikan kawan-hidupku. Dan bagiku sekarang sudah jelas, bahwa kau dengan duniamu yang tidak sempit adalah manusia yang kucari-cari selama ini.“

”Saya tukang-kopi, mas!“

”Kau dengan jiwamu yang tinggi-dalam adalah keindahan surga yang kumimpikan dan kepahitan dunia yang kurasakan. Kaulah wanita utama.“

”Hm, kau memuji! Tapi siapa mau percaya bahwa di dunia sekarang ini ada manusia yang leb'h mencintai oranglain daripada mencintai dirinya sendiri?“

”Siapa pula yang percaya? Engkau tidak. Aku pun tidak. Tapi untukmu, aku akan mencoba.“

”Tapi sekarang mas lebih baik pulang. Ibu saya sudah tidur. Dan sebentar lagi kedai ini akan ditutup.“

”Kalau kedai ditutup, kau akan kubawa. Dan kalau kau tak dapat dibawa, aku akan ikut ditutup di dalam kedai.“

”Itu tak bisa jadi.“

”Kalau begitu, kedai ini jangan ditutup!“

”Jadi mas akan menyiksa oranglain? Menyiksa saya? Itukah percobaan mas di dalam hendak menunjukkan bahwa mas lebih mencintai oranglain daripada mencintai diri sendiri?“

Awal tidak menjawab. Dan lantaran Awal tidak menjawab, Mira yang duduk di belakang dagangan berkata lagi:

”Itukah tandanya mas cinta? Tandanya mas berlainan dari oranglain yang mas sendiri namakan badut?“ Dan lantaran Awal yang duduk membelaangi dagangan tidak juga menyahut, menyambung lagi Mira dengan suara lebih tegas:

”Saya tahu, mas, saya tahu bahwa perkataan yang akan saya saka kan ini bagimu tajam, lebih tajam daripada diam saya selama ini. Tapi saya terpaksa mengatakannya. Tidak lain supaya mas tahu bagaimana anggapan saya terhadap mas.“

Dan ia memandang lagi kepada Awal. Dan jika Awal yang dipandang tetap terdiam tidak bergerak-gerak, berkata lagi ia dengan suara tetap:

“Mas, apa yang kaulakukan selama ini dihadapanku bagiku lebih membadut daripada kelakuan orang-orang yang kau sendiri nama-kan badut. Kau mencela jiwa oranglain, tapi kau sendiri merangkak-rangkak di bawah kaki mereka. Kau badut besar. Akibat peperangan kau sudah kehilangan pegangan, kehilangan keperca-yaan pada diri sendiri. Padahal di zaman setelah peperangan sekarang, bagi kita tidak ada yang mesti dipercaya selain dari diri sendiri. Tidak ada. Sungguh tidak ada!”

Awal masih saja terdiam tidak bergerak-gerak. Tapi t'ba-t'ba ia tersenyum. Tersenyum pahit. Dan katanya:

“Kalau itu yang kaukatakan, keindahan surga yang kumimpikan tinggal tetap impian, dan kau bagiku adalah kepahitan dunia belaka.”

Dan ia terus bangkit berdiri seraya katanya lagi:

“Selamat tinggal, Mira!”

“Mengapa selamat tinggal?” tanya Mira.

“Aku tak akan datang lagi kehadapanmu. Dan tidak kehadapan siapa pun juga.”

“Hm, kau mau bunuh diri! Mengapa kau tidak berani mem-bunuh aku?”

“Sebab aku manusia, dan bukan badut!”

Dan setelah mengatakan itu, ia terus melangkah.

Tapi Mira yang akan ditinggalkan cepat menusul:

“Nanti dulu! Aku belum habis bicara.”

“Sudah, Mira! Kita sudah kebanyakan bicara, sudah kebanyakan menghambur-hamburkan kata. Dan bagiku sudah jelas: selama kau bukan aku, tak mungkin kau merasakan aku; selama duniamu bukan duniaku, tak mungkin kau mengetahui apa yang tersimpan dilubuk-hatiku. Tadinya aku percaya bahwa di dalam aku merasakan kesebalan hidup di zaman sekarang, di dalam aku melihat orang-orang sudah pada membadut, sudah pada kering dan dangkal jiwanya sebagai akibat peperangan, aku akan masih menjumpai cinta dalam hatimu. Cinta manusia, yang merasakan perasaan yang dicintai. Tapi cinta semacam itu ternyata tidak ada dalam hati siapa pun juga. Tidak ada di dalam hati manusia di zaman sekarang. Juga tidak dalam hatimu!”

Dan sehabis mengatakan itu, ia melangkah lagi. Melangkah akan meninggalkan kedai.

Tapi Mira yanng akan ditinggalkan cepat menusul:

“Kalau kau bunuh diri, aku pun bunuh diri!”

Berhenti lagi Awal berjalan. Dan tanyanya seraya menoleh:

“Mengapa?”

“Aku cinta padamu,” jawab Mira. Dan tambahnya seraya me-nyapu-nyapu mata: “Cinta dengan segenap jiwa rohaniku.”

Dan lantaran Awal tidak menjawab, ditambahkannya lagi dengan suara tegas: “Aku cinta padamu. Tapi aku tidak percaya cintamu padaku akan melebihi cintamu pada dirimu sendiri. Tidak! Aku tidak percaya.”

Awal yang akan meninggalkan kedai jadi bimbang. Tapi akhirnya ia menghampiri lagi Mira. Dan katanya:

“Jadi kau masih juga menuduh aku badut? Menuduh aku sama dengan orang banyak yang suka omong kosong dihadapanmu!”

“Kalau kau cinta padaku,” jawab Mira, “bunuh aku! Bunuh dengan segenap cintamu.”

“Gila kau! Aku cinta padamu karena ada cita-cita, karena menginginkan hidup-bersama.”

“Tidak! Kau dan aku mesti mati. Mati-bersama. Sebab aku tidak percaya kau dan aku bisa hidup-bersama. Aku tidak percaya cintamu padaku akan melebihi cintamu pada dirimu sendiri.”

Awal terdiam. Bingung ia. Tapi tiba-tiba ia berkata lagi dengan suara menurun:

“Mira. Mari kita tinggalkan kedai ini. Kita bicara di alam luas, di bawah cahaya bintang.” “Bicara di bawah cahaya bintang memang nikmat.” jawab Mira.

“Ya, mari kita pergi.”

“Tapi saya tak dapat meninggalkan kewajiban sebagai tukang-kopi.”

Mendadak tegak lagi Awal yang sudah mengendurkan suara itu. Tegak dengan tangan terkepal. Dan katanya dengan suara mengeras:

“Mira! Mengapa kau terikat benar oleh kedaimu ini? Mesti kuhancurkan kedai ini untuk membuktikan bahwa kau bagiku bukan tukang-kopi?”

“Hm,” jawab Mira, “aku tidak percaya cintamu padaku akan bisa menimbulkan kesanggupan menghancurkan kedai. Kedaiku ini duniaku. Dan kedaiku ini kuat. Sedang tenaga-jasmanimu lemah.”

“Katakanlah, Mira, bahwa kau mau kubawa hanya jika kedai ini kubongkar!”

“Kau tak akan mempunyai tenaga sampai ke sana. Dan jika kau mengatakan sanggup membawa aku dari sini dengan membongkar kedai ini, itu hanya omong kosong belaka. Omong kosong seperti orang banyak.” “Kau tidak percaya?”

“Bagiku tetap, tak ada yang mesti dipercaya selain dari diri sendiri!”

Awal tidak membalas lagi. Tangannya yang sudah dikepalkan terus saja dijangkaukan kepada stoples-stoples di atas rak di hadapan Mira. Kemudian stoples-stoples itu diambil dari tempatnya diturunkan ke tanah.

Tapi sebelum semua stoples pindah dari rak ke tanah, nafasnya sudah megap-megap.

“Kau cape, mas,” kata Mira.

“Biar,” jawabnya. Dan ia terus menurun-nurunkan setiap barang yang ada di atas rak-dagangan. Dan keringatnya keluar.

“Sudah, mas,” kata Mira.

“Tidak,” jawabnya. Dan ia terus bekerja. Terus mengeluarkan tenaga dan keringat. Sampai akhiirnya barang-barang di atas rak-dagangan itu semuanya pindah ke tanah. Dan Mira yang tadi hanya kelihatan dari dada ke atas jadi kelihatan dari perut ke atas.

“Kau menangis lagi, Mira?” tanya Awal tiba-tiba, suaranya terengah-engah kecapayain. “Aku cinta padamu,” jawab Mira, “tapi aku tidak percaya cintamu padaku akan melebihi cintamu pada dirimu sendiri.”

Bukan Awal menjawab lagi. Dengan tangannya yang kurus ia terus mencoba-coba akan membongkar meja dan rak-dagangan yang mengalangi dia dan Mira. Megap-megap nafasnya. Dan kian bercucuran keringatnya.

“Sudah, mas,” kata Mira.

“Tidak,” jawabnya. Dan ia terus mengeluarkan tenaga. Dan terus mengeluarkan tenaga. “Sudah, mas, sudah,” kata Mira lagi seraya menyapu-nyapu mata.

“Kau bagiku bukan tukang-kopi. Kau mesti kubawa,” jawabnya. Dan dengan tangan yang sudah gemetar dan badan sudah bemandikan ker'ngat ia terus berusaha membongkar meja dan rak-dagangan.

Akhiirnya meja dan rak-dagangan yang dihadapi Mira itu dapat diangkat-dibongkar. Tapi yang membongkarnya jatuh. Tangannya berdarah. Dan jika ia bangkit lagi, sempoyongan ia berdiri. Dan nafasnya pendek-pendek.

“Ma ... mari, Mira,” katanya megap-megap, “ki ... kita pergi.”

Mira bangkit berdiri, terus berjalan keluar kedai, mendapatkan Awal. Berjalan dengan menggunakan kruk pada kedua ketiaknya.

Dan melihat itu, Awal yang sudah bernafas pendek-pendek itu mundur. Tangannya yang berdarah meraba kepalanya. Matanya yang berkeringat dikedip-kedipkan.

“Oh ... ,” katanya hampir tidak kedengaran. Dan ia mundur lagi. Mundur dengan langkah sempoyongan akan jatuh.

“Ya, mas,” kata Mira seraya menyapu-nyapu airmata dipipi, “inilah kenyataanku. Kakiku dua-duanya buntung. Buntung karena peperangan. Tapi lantaran inilah, mas, lantaran ke atas aku cantik dan ke bawah aku cacat. aku bagimu merupakan keindahan surga yang kaumimpikan dan kepahitan dunia yang kaurasakan—merupakan wanita utama. Tapi sekarang....”

Awal yang berbadan kurus itu mundur lagi. Dan mundur lagi. Tangannya yang gemetar-berdarah diacukan. Mulutnya menganga.

“Mi ... ,” katanya hampir tidak kedengaran.

Tapi tiba-tiba suaranya terus memekik:

“Mi ... Miraaaaa!”

Dan setelah mengucapkan kalimat itu, ia jatuh tertelungkup. Segera Mira mendapatkan. Badan Awal yang kurus itu dirangkul. Dan katanya seraya mengisak:

“Aku tahu, mas, aku tahu bahwa kau tak akan dapat mencapai cita-citamu. Tapi kau bagiku, mas, kau bagiku adalah satu-satunya laki-laki yang mesti kumuliakan. Kau dengan kejujuranmu sudah menumbuhkan cinta dan menimbulkan kepercayaan baru dalam hatiku....”

Dan setelah itu, di depan kedai-kopi yang sudah rusak berantakan itu pun terus sunyi. Yang kedengaran hanya isakan Mira. Seolah-olah isakan itu minta didengar kesegenap penjuru dunia.

Jakarta.

Juni 1951.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.